Thursday , 24 April 2014
Info Islam
Home » Islam » Zindiq Itu Apa, dan Inilah Asal Muasal Istilah Zindiq

Zindiq Itu Apa, dan Inilah Asal Muasal Istilah Zindiq

Bercermin melihat zindiq di aqidah kita

Ternyata Zindiq Itu Hakikatnya Adalah Sama dengan Kafir

IslamMuhammad Mursi Terguling, Koran Mesir Kompak Merayakan Kejatuhannya. Read more ... » Institute – Kita sering mendengar kata-kata “ZINDIQ”  dilontarkan oleh teman-teman Wahabi yang ditujukan kepada muslimin selain golongannya. Sudah tahukah anda apa itu Zindiq? Inilah penjelasan singkat tentang Pengertian Zindiq, Perkembangan Makna Zindiq, dan Asal Muasal Istilah Zindiq. Dengan mengetahui apa itu Zindiq maka kita tahu yang dimaksud sebenarnya dengan tudingan zindiq yang hakikatnya adalah ternyata sama dengan kafir.

Bisa jadi tudingan teman-teman Wahabi yang sering diarahkan kepada muslimin selain golongannya itu justru sesungguhnya adalah  “cermin”  yang berguna untuk introspeksi, barangkali  aqidah Islam kita ada kotoran zindiq-nya sehingga bisa segera dibersihkan. Dengan demikian Umat IslamUmat Islam Hari ini Tewas 21 di Iraq, 27 Tewas di Sudan. Read more ... » tidak perlu tersinggung dengan segala ucapan mereka… dan selanjutnya silahkan disimak penjelasan tentang Zindiq berikut ini yang disampaikan oleh ustadz Sya’roni As Samfuriy, semoga bermanfaat.

1. Pengertian Zindiq **

Dari segi kata, zindiq artinya kotoran yang membahayakan. Bentuk jamaknya zanadiq atau zanadiqah.

Adapun dari sisi istilah, zindiq adalah golongan atau orang yang dengan sengaja membuat penyimpangan dalam penafsiran nash-nash al-Quran dan hadits. Istilah ini juga ditujukan kepada orang-orang yang anti agama (mulhid, atheis), yang karena penyimpangannya dalam menafsirkan nash-nash agama, mereka merusak kehidupan agama, dan selanjutnya merusak negara. Sering pula istilah zindiq diartikan untuk orang-orang yang pada dzahirnya Islam tapi bathinnya kafir.

2. Perkembangan Makna Zindiq

Dalam Mu’jam al-Wasith, kata zindiq berarti orang yang mempercayai kekufuran. Pada masa Imam Syafi’i, kezindiqan mengalami perkembangan makna yang luas. Salah satunya adalah pengertian dalam konteks aqidah, yakni seseorang yang memeluk agama Islam secara lahiriyah saja sedangkan bathinnya masih memeluk agama Persia, khususnya orang-orang yang mengikuti Madzhab Mani’, sebuah sekte madzhab terbesar dalam agama Persia.

Sedangkan dalam konteks politik, ia menjadi senjata manipulasi untuk mengelabui lawan. Penggunaan kata zanadiqah dalam pengertian ini sudah sangat terkenal.

Sedangkan makna dalam konteks sosial adalah perilaku menyimpang yang menyalahi kaidah umum di masyarakat kala itu, dan terlebih lagi syari’at agama. Misalya, cara berpakaian yang memperlihatkan bagian yang tergolong aurat. Masing-masing ditempatkan dalam pemaknaan zindiq yang berbeda. Orang yang menyimpang dalam aturan berpakaian tidak bisa disebut zindiq dalam aqidah, demikian juga sebaliknya.

Namun umumnya para imam madzhab, sebagaimana Imam Syafi’i, Imam Malik dan Imam Ahmad, mendefinisikan zindiq sebagai orang yang menampakkan keislaman dan menyembunyikan kekafirannya. Seperti pada zaman Rasulullah Saw., yang disebut orang munafik, namun dalam istilah syar’i sering disebut zindiq. Adapun menurut Imam Hanafi dan salah satu riwayat Imam Syafi’i, zindiq adalah orang yang mengharamkan agama.

Dalam sebuah qaul yang cukup termasyhur, yang dinisbatkan kepada Imam Malik, dikatakan: “Man tashawwafa bila tafaqqaha faqad tazandaqa, waman tafaqqaha bila tashawwafa faqad tafassaqa, waman jama’a bainahuma faqad tahaqqaqa” (Siapa yang bertasawuf tanpa berfiqih, ia zindiq. Siapa yang berfiqih tanpa bertasawuf, ia fasik. Dan siapa yang menggabungkan keduanya , ia adalah seorang yang sempurna agamanya).

Makna qaul ini, kita ambil kalimat yang pertama, misalnya, “Siapa yang bertasawuf tanpa berfiqih, ia zindiq”, yakni orang yang melarutkan dirinya dalam kesufian saja tanpa memahami syari’at dan menggali syari’at, digolongkan sebagai zindiq, sebagaimana kaum yang berkhalwat tanpa diisi dengan ibadah. Maka apa isi khalwatnya, kecuali berdiam diri saja? Dan inilah yang disebut sebagai Sufi gadungan, yaitu sufi tanpa Syari’at. 

3. Asal Muasal Istilah Zindiq

Istilah zindiq pada mulanya berasal dari bahasa Persia, yang di-Arab-kan di Baghdad pada tahun 125 H/742 M, tatkala terjadi peristiwa eksekusi terhadap Ja’ad bin Dirham, seorang pendakwah zindiq yang dijatuhi hukuman mati oleh penguasa Abbasiyah kala itu.

Menurut Muhammad Tsabit al-Fandi, dalam Dairah al-Ma’arif al-Islamiyyah (ensiklopedia Islam), istilah zindiq berasal dari bahasa Persia, zind, yang artinya sama dengan tafsir atau takwil.

Dengan demikian, makna zindiq di sini adalah penafsiran atas suatu nash agama yang menyeleweng dan serampangan, yang tidak diterima menurut bingkai atau prinsip ajaran Islam.

Menurut al-Mas’udi, istilah zindiq pada mulanya ditujukan kepada para pengikut aliran Mazdak, yang membuat penafsiran baru atas kitab suci aliran ini yang dinamai Zendavesta. Penafsiran baru ini sangat bertentangan dengan maksud yang sebenarnya.

Al-Biqa’i, ahli tafsir kontemporer Mesir, berpendapat, istilah zindiq ditujukan kepada mereka yang mengingkari adanya wujud AllahIstighotsah dan Dalil-dalilnya, Menurut Al Qur'an dan Al Hadits. Read more ... » Swt. atau mengingkari hukum-hukumNya.

Sementara Imam al-Ghazali dalam kitabnya al-Munqidz min adh-Dhalal menyatakan bahwa kaum zindiq itu ialah orang-orang yang mengingkari wujud Allah Swt., berpendapat bahwa alam ini qadim dan mengingkari adanya hari akhir.

UlamaCerita Mistis : Buya Hamka Berdialog dengan Jin untuk Perdamaian. Read more ... »-ulama madzhab Hanbali mengatakan: “Ada lima golongan yang termasuk zindiq, yaitu:

1. Golongan Mu’aththilah (golongan yang mengingkari adanya Pencipta dan Pengatur alam semesta).

2. Golongan Manuwiyah (politheisme).

3. Golongan Mazdakiyah (sama dengan Manuwiyah, namun mengorganisir keyakinannya dalam sebuah kelompok agama baru).

4. Golongan Abdakiyah (kalangan zuhud yang hanya beribadah dan menolak syari’at).

5. Golongan Ruhaniyah (kalangan sufi yang menolak syari’at, menyatakan bahwa diri mereka telah menyatu dengan Tuhan sehingga syari’at tidak diperlukan).

Berdasarkan pandangan-pandangan di atas, yang dapat digolongkan zindiq adalah sikap atau pernyataan yang melakukan interpretasi ajaran Islam secara menyimpang, tidak mengikuti alur metode ushuli yang baku (metode dasar yang disepakati ulama), yang kesemuanya bermuara pada karakter kemunafikan, liberalisme pemikiran, dan bahkan atheisme.

Wallahu A’lam

 

(**  Sya’roni As Samfuriy Facebooker AswajaPerjanjian Antara Radio Hang FM dengan Kaum Muslimin Batam. Read more ... »)

Incoming search terms:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


5 + four =

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Banyak dibaca, mungkin anda juga sukaclose