Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Opini Inspiratif

Ziarah Kubur ke Makam Ulama, Wujud Cinta kepada Ulama

Islam Institute – Ziarah Kubur ke Makam Ulama, Wujud Cinta kepada Ulama. Jika Cinta Ulama, Ziarahlah ke Makamnya. Banyak Hikmah dan Manfaat ziarah kubur. Pengasuh Pesantren Tremas Pacitan KH Fuad Habib Dimyathi mengatakan, salah satu wujud cinta kepada para ulama, di antaranya dengan sering menziarahi makamnya.

Setidaknya, orang yang sering melakukan ziarah kubur akan terlihat berbeda dengan orang yang tidak biasa melakukan ziarah ke makam para ulama.

“Banyak sekali hikmah dan manfaat ziarah kubur itu. saya haqqul yaqin, orang-orang yang sering ziarah kubur itu jauh berbeda wajahnya, peraupanya, ahwaliahnya (tingkah lakunya) dengan orang-orang yang tidak terbiasa melakukan ziarah kubur,” ungkap Kiai Fuad dihadapan ribuan peziarah dalam acara Haul pendiri pertama Pesantren Tremas Almagurlah KH Abdul Manan Dipomenggolo, Senin (1/8) lalu.

 

tremas - Ziarah Kubur ke Makam Ulama, Wujud Cinta kepada Ulama
Wujud Cinta Ulama dengan Ziarah kubur ke Makamnya. Banyak Hikmah dan Manfaatnya


Ziarah kubur, imbuhnya, merupakan salah satu amaliyah yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW. Sehingga setiap hari Kamis dan Jum’at, para santri Pesantren Tremas Pacitan melakukan ziarah ke makam para sesepuh yang berada di makam Semanten dan di Gunung Lembu. Para santri percaya, para ulama walaupun sudah wafat, namun sejatinya mereka masih hidup di sisi Allah SWT.

“Kita yakini, bahwasanya beliau (para ulama) Ahyaun ‘inda robbihim. Kita memang tidak mengetahui bagaimana wujud kongkritnya, apalagi gusti kanjeng Rasulullah SAW bersabda dan memerintahkan kita untuk Fazuuru, berziarahlah,” jelas Kiai Fuad yang merupakan alumnus Pesantren Krapyak itu.

Memperingati haul para ulama, seperti Almagfurlah KH Abdul Manan Dipomenggolo, merupakan salah satu cara untuk mengetahui kiprah dan perjuanganya. Kiai Fuad menyebut, Kiai Abdul Manan sebagai peletak batu landasan bagi kebesaran Pondok Tremas Pacitan dan bagi generasi sesudahnya, seperti Kiai Abdullah, Syekh Mahfudz Attarmasi, Kiai Dimyathi, Kiai Ali Murtadho, Kiai Bakri Hasbullah, dan generasi lainya.

“Dari beliau Kiai Abdul Manan, kita akhirnya mengerti mana yang harus dikerjakan, dan mana yang harus kita tinggalkan. Alfadlu lil mubtadi, wa inahsanal muqtadi. Keutamaan itu ada pada beliau (Kiai Abdul Manan) yang mengawali. Sekalipun generasi-generasi penerusnya lebih baik, tapi keutamaan tetap pada yang mengawali, kawitaning-kawitan,” pungkasnya.

Dzikra Haul KH Abdul Manan Dipomenggolo berlangsung khidmat. Haul yang diperingati ini kurang lebih sudah yang ke-147. Rangkaian acara diisi dengan pembacaan manaqib, pembacaan tahlil, dan ditutup dengan pembacaan doa oleh para kiai, seperti KH Rotal Amin, KH Muhammad bin Kiai Harir, Kiai Ahmad, KH Asif Hasyim dan KH Achid Turmudzi. (Zaenal Faizin/Zunus/NU Online)
Jadi, jika anda merasa cinta ke seorang Ulama dan sudah meninggal dunia maka wujudkan cinta anda dengan berkunjung ke Makam Ulama untuk menjalankan Sunnah ziarah Kubur.

 

BACA JUGA:  PENGAJIAN Dauroh Salafi Wahabi, Kesaksian Irwan Winardi
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker