Berita Fakta

“Yasinan Itu Bid’ah Sesat”, Demikian Menurut Para Ahli Bid’ah

Yasinan dan Isu-isu Bid’ah….

“Yasinan itu bid’ah sesat, pelakunya berdosa dan masuk neraka”, demikian kata mereka ketika mengomentari acara Yasinan. Orang-orang itu adalah segolongam kaum yang merasa bukan Ahli Bid’ah, namun dari perkataan mereka sudah otomatis menunjukkan bahwa mereka adalah Ahlul Bida’ yang sesungguhnya. Bagaimana mereka bisa mengatakan membaca surat Yasin itu berdosa, bukankah sudah jelas membaca satu huruf dari ayat Al-Qur’an itu mendapat sepuluh pahala? Bagi anda yang menggunakan akal sehat, pastinya anda akan sulit menerima pendapat orang-orang yang mengatakan Pembaca Surat Yasin itu berdosa. Baiklah, kami tidak ingin mengajak anda  menjadi orang-orang yang hanya mengikuti akal. Oleh karena itulah mari kita ikuti Pejelasan TUNTAS Tentang YASINAN berdasar dalil-dalil yang benar…..

Pejelasan TUNTAS Tentang YASINAN

Yasinan Itu Apa Sih?

 Di dalam khazanah keagamaan Islam di Indonesia ada istilah ”Yasinan”. Istilah ini merujuk kepada kebiasaan sebagian umat Islam yang menyelenggarakan acara kumpul bersama dengan membaca Surat Yasin. Itulah Yasinan. Sekalipun diberi istilah ”Yasinan”, isinya tidak sekedar membaca surat Yasin, tapi biasanya dilanjutkan dengan dzikir bersama kemudian musyawarah dan ditutup dengan do’a. ”Yasinan” adalah kekayaan keberagamaan umat Islam Indonesia yang sangat besar jasanya sebagai media dakwah. Tapi tidak semua umat Islam setuju dengan ”Yasinan”. Ada sebagian umat Islam lainnya yang menolaknya. Mereka menganggap praktek ”Yasinan” tidak diteladani oleh Nabi Muhammad dan tidak dianjurkan. Maka kesimpulan mereka ”Yasinan” adalah bid’ah, mengada-ada dalam agama. Dan para pelakunya  dianggap berdosa. Mereka juga memberi alasan bahwa hadits-hadits yang berisi keterangan tentang keutamaan Surat Yasin adalah hadits-hadits dhoif yang wajib dihindari pengamalannya.

 

Yasinan adalah membaca Al Qur’an bersama-sama.

 Pada kenyataannya ”Yasinan” adalah kegiatan membaca Al Qur’an bersama-sama. Membaca Al Qur’an termasuk dzikir kepada Allah SWT. Allah berfirman : “Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas” . (QS Al Kahfi : 28). Dalam bagian hadits Imam Muslim dari Abi Hurairoh ra, Rasulalloh SAW bersabda: ”Tidaklah duduk sekelompok orang di antara rumah-rumah Allah sambil membaca Kitab Allah (Al Qur’an) dan mengkajinya di antara mereka, kecuali turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi kasih sayang, dinaungi malaikat dan sebut-sebut Allah di depan Makhluk yang ada di sisi-Nya (maksudnya para malaikat)”. Al Imam Abi al Husain Muslim bin Al Hajjaj Al Qusyairy An Naisabury, Shohih Muslim, (Libanon, Daar al Fikr, 1992), juz dua, hal: 574. Dalam hadits tersebut tampak sekali anjuran membaca Al Qur’an bersama-sama, dengan berbagai keutamaannya, yaitu menghadirkan ketenangan batin, menghadirkan kasih sayang, mengundang malaikat datang menaungi, dan dibanggakan Allah di antara para malaikat.

 

Hadits-hadits surat Yasin yang berderajat maudhu’

Pada umunya, tradisi ”Yasinan” dilatar belakangi oleh niat menghidupkan sunnah Nabi, yaitu membaca surat Al Qur’an yang berdasarkan hadits Nabi memiliki keutamaan, termasuk surat Yasin. Memang benar, terdapat beberapa hadits yang menerangkan surat Yasin berderajat dha’if (lemah) bahkan sampai berderajat maudhu’ (palsu). Hadits maudhu adalah sesuatu yang dikaitkan pada Nabi dengan cara dibuat-buat, dan dengan kebohongan, padahal Nabi tidak pernah mengucapkannya, melakukannya atau menyetujuinya. DR. Muhammad Ajjaj Al Khothib, Ushuul al Hadits, (Libanon, Daar Al Fikr, 2006), hal: 275. Tegasnya, hadits maudhu’ itu palsu, bukan berasal dari Nabi, tapi dikemukakan sebagai hadits dari Nabi. Membuat hadits palsu haram hukumnya. Bahkan Al Imam Juwaini menganggapnya sebagai kekufuran. Demikian pula, haram meriwayatkan hadits tersebut  Al Khothib, ibid. Dengan demikian haram mengamalkan hadits yang berderajat maudhu’. Contoh hadits surat Yasin yang berderajat maudhu’ ialah hadits di bawah ini yang artinya : Dari Anaas ra. Ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “Barang siapa yang membiasakan membaca surat Yasin pada malam hari  maka ketika mati ia mati syahid”. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Imam Thobroni dalam kitab Al Ausath Ash Shogir. Hadits tersebut dianggap maudhu’ karena dalam susunan rawinya terdapat terdapat nama Sa’id bin Musa al Azdi. Ia adalah seorang pembohong (kadzdzaab). Al Imam Muhammad bin Ali Muhammad Asy Syaukani Al Yamani, Tuhfah Adz Dakirin, (Kairo, Daar al Hadiits, 2004), hal: 419 Orang-orang yang bersemangat menganggap ”Yasinan” sebagai perbuatan bid’ah memperkuat hujjah-nya dengan hadits ini, dan hadits-hadits surat Yasin lain yang maudhu’. Padahal, bagi orang-orang yang melakukan tradisi ”Yasinan”, hadits-hadits surat Yasin yang maudhu’ sama sekali tidak disentuh, apalagi dijadikan hujjah atau dalil.

BACA :  Haul ke-3 Gus Dur di Ciganjur Dibanjiri Ribuan Jamaah dari Berbagai Penjuru Jakarta

 

Hadits-Hadits Surat Yasin Yang Berderajat Hasan Lighoirihi

Hadits Hasan Lighoirihi adalah hadits dho’if yang jalur periwayatannya lebih dari satu, dan sebab kedho’ifannya bukan karena kefasikan atau pembohongnya perawi. Dari makna di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa hadits dho’if  bisa naik derajatnya menjadi hadits Hasan Lighoirihi karena dua hal : Pertama, hadits tersebut diriwayatkan juga oleh seorang perawi lain atau lebih banyak, dimana riwayatnya berderajat sama atau lebih kuat. Kedua, sebab kelemahan hadits tersebut adalah karena buruknya hafalan perawi atau terputus sanadnya (inqitho’) ketidak terkenalan (jahalah) nya perawi. Hadits Hasan Lighoirihi lebih rendah derajatnya dari pada Hasan Lidzatihi, sehingga jika terjadi perbedaan isi di antara keduanya, hadits Hasan Lidzatihi harus lebih didahulukan. Tapi hadits Hasan Lighoirihi termasuk hadits maqbul, diterima sebagai hujjah hukum. DR. Mahmud Ath Thohaan, Taisiir Mushtholah al Hadits, (Libanon, Daar al Fikr), hal: 43. Dalam bidang hadits, ukuran bagi diterima atau tidaknya sebuah hadits harus didasarkan kepada ukuran ilmu hadits. Maka jika seorang menafikan sebuah Hadits dengan kehendaknya sendiri, berarti ia telah melakukan tindakan gegabah, yang tidak perlu dicontoh apalagi dituruti. Untuk memastikan bisa diterima atau tidaknya hadits-hadits surat Yasin, kita wajib menggunakan ukuran-ukuran di atas. Di antara hadits-hadits surat Yasin yang menjadi hujjah adalah hadits-hadits di bawah ini :

Pertama, Nabi Muhammad saw bersabda :

”Hati Al Qur’an adalah surat Yasin, tidaklah seseorang membacanya karena mengharap ridho Allah kecuali Allah pasti akan mengampuninya, bacalah surat Yasin untuk orang mati kalian”. Hadits tersebut diriwayatkan oleh Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majjah dan Ibnu Hibban, hadits tersebut bersumber dari sahabat Ma’qal bin Yasar ra., matan di atas berasal dari kitab An Nasa’i. Hadits tersebut dianggap shohih oleh Ibnu Hibban. Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits tersebut dan menganggapnya shohih. Asy Syaukani, ibid. Dalam sebuah karangannya Ustadz Yazid Abdul Qodir al Jawaz mengatakan bahwa hadits di atas adalah dho’if  karena ada perawi yang majhul (jahalah) dalam susunan perawinya yaitu Abu Utsman. Dan dengan alasan itu pula ia menganggap ”Yasinan” sebagai bid’ah, sebuah tuduhan yang gemar dilancarkannya. Pandangan ustadz Yazid ditelan mentah-mentah dan dianggap benar seratus persen oleh orang-orang yang juga gemar melontarkan tuduhan bid’ah kepada orang lain yang berbeda ijtihadnya (sebuah kegemaran yang paling dibenci ulama-ulama salaf).

Terhadap pandangan ustadz Yazid penulis perlu mengemukakan:

banner gif 160 600 b - "Yasinan Itu Bid'ah Sesat", Demikian Menurut Para Ahli Bid'ah

1. Kalau memang benar hadits ini dho’if  disebabkan kejahalahan / kemajhulan Abu Utsman (ustadz Yazid mengutip sumbernya dari pendapat ahli hadits besar Adz Dzahabi) tidak berarti hadits ini haram dijadikan hujjah, sebab berdasarkan ilmu hadits, hadits dho’if yang kedho’ifannya tidak disebabkan kefasikan dan kebohongan perawi, dan hadits tersebut diriwayatkan lebih dari satu perawi maka hadits tersebut derajatnya naik menjadi hadits Hasan Lighoirihi. Hadits di atas memenuhi syarat-syarat tersebut. Jadi, wajib diamalkan karena berarti kita telah menghidupkan sunah Nabi.

BACA :  Abul Jauzaa dan Pembelaannya Terhadap Kedustaan Ustadz Firanda

2. Sekalipun ternyata bahwa dalam seluruh jalur periwayatan hadits tersebut terdapat nama Abu Utsman, tapi karena hadits tersebut diriwayatkan oleh empat Imam(penulis mengecualikan riwayat dari Imam an Nasai yang hanya menulis nama Abu Utsman tanpa menulis dari bapaknya) Abu al Fida al Hafidh Ibn Katsir Ad Dimsyaqi, Tafsir Al Qur’an Al Adhiim, (Libanon, Daar al Fikr, 1992) jilid ketiga, hal: 678.

Maka berarti pula Abu Utsman meriwayatkan empat kali. Berarti kemajhulan Abu Utsman harus dipertanyakan, sebab seorang perawi disebut majhul diantaranya, kalau hanya sekali saja meriwayatkan hadits. Ath Thohaan, looc.cit. hal: 98 Jika demikian Abu Utsman tidak bisa dianggap majhul.

Dengan begitu hadits di atas shohih, sebagaimana dikatakan Imam Ahmad dan Ibn Hibban. Tapi, dengan tanpa pengandaian-pengandaian, penulis lebih condong mengatakan hadits tersebut di atas derajatnya Hasan Lighoirihi, yang bisa digunakan sebagai hujjah, dan harus diamalkan.

Kedua, ”Al Hafidh Abu Ya’la berkata, ”Meriwayatkan padaku Ishaq bin Abi Isra’il meriwayatkan padaku Hajjaj bin Muhammad dari Hisyam bin Ziyad dari Al Hasan, ia berkata: ”Aku mendengar Abu Hurairoh berkata, Rasulalloh SAW bersabda: barang siapa membaca Surat Yasin di malam hari maka keesokan paginya diampuni Allah. Dan barang siapa yang membaca Haa Mim yang disebut di dalamnya Ad Dukhon maka keesokan paginya diampuni oleh Allah”. Hadits ini isnadnya bagus. Ibnu Katsir, op.cit, hal: 678.Dalam buku ”Yasinan” nya – entah sengaja, pura-pura lupa atau lupa – Ustadz tidak mencantumkan susunan sanad yang lengkap melalui riwayat Abu Ya’la sebagaimana kita lihat hadits di atas. Ia justru menampilkan hadits dengan redaksi (matan) serupa yang diriwayatkan oleh at Thabroni dalam kitab al Mu’jam al Ausath dan al Mu’jam ash Shoghir, yang didalamnya terdapat nama Aghlab bin Tamim yang oleh ahli hadits dianggap dhoif Asy Syaukani, ibid. . Sedangkan dalam riwayat Abu Ya’la di atas sama sekali tidak ada nama perawi tersebut. Bahkan riwayat Abu Ya’la itu diberi komentar isnaaduhu jayyid (susunan sanad/ perawinya bagus). Menurut ahli hadits Indonesia, guru besar Institut Ilmu Al Qur’an (IIQ), Jakarta Profesor Doktor KH. Maghfur Utsman, jika sebuah hadits dikomentari isnaaduhu jayyid  maka hadits tersebut berderajat hasan Wawancaara 14 Februari 2007. Maka jelaslah bahwa hadits tersebut bisa dijadikan hujjah, sehingga orang yang mengamalkannya memperoleh pahala dari Allah, dan berdosalah orang yang dengan sengaja (apalagi dengan semangat kebencian yang meluap-luap) meninggalkan dan menanggalkan isi hadits tersebut. Na’udzubillah!!!

Yasinan Surat Yasin: Mengapa disebut Qalb al Qur’an dan Apa hubungannya dengan orang yang sudah meninggal

As Suyuthi menukil pendapat al Ghazali bahwa Surat Yasin disebut Qolb al Qur’an Menurut kamus al Munawwir qolb artinya : hati, isi, lubuk hati, jantung, inti (lihat kamus al Munawwir, Arab-Indonesia terlengkap, Yogyakarta, Pustaka Progressif, 2000, cet. kedua puluh lima, hal. : 1145)  karena sahnya keimanan diukur dengan pengetahuan terhadap al Hasyr (hari dikumpulkannya seluruh manusia) dan an Nasyr (hari kiamat). Pengenalan tersebut diteguhkan dalam surat Yaasin dengan sebaik-baik pengungkapan. Sedangkan menurut an Nasa’i ia mengatakan bahwa kemungkinannya karena dalam surat tersebut berisi pemantapan tiga pokok ketauhidan, risalah, dan hari kebangkitan, dimana hal-hal tersebut berkait dengan keyakinan hati. Jalal al Din As Suyuthi Asy Syafi’i , Al Itqaan fi Ulum al Qur’an (Libanon, Daar al Fikr, tt), juz kedua, hal. : 159. Adapun maksud kalimat  (bacalah surat Yasin untuk orang mati kalian) adalah karena di dalam Surat Yasin diterangkan tentang kematian dan kehidupan, Asy Syaukani, ibid. contohnya pada ayat yang artinya: Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh) al Qur’an Surat Yasin ayat 12. Dan Artinya : Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka ke luar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. al Qur’an Surat Yasin ayat 12. Imam Al Qurtubi mengatakan bahwa membaca Surat Yasin untuk orang mati maksudnya membaca surat tersebut di sisi orang yang akan mati atau juga membaca di kuburannya. Mengenai pendapat tersebut Ash Suyuthi mengatakan bahwa pendapat yang pertama (dibaca ketika orang akan mati) itu merupakan pendapat jumhur ulama, sedangkan pendapat kedua merupakan pendapat Ibn Abdul Wahid Al Maqdisi.  Imam Jalaluddin as-Suyuthi,Ziarah keAlam Barzakh (terjemahan Syarh ash-Shudur bi Syarh al Mautaa wa al Qubur), Jakarta, Pustaka Hidayah, 2005, cet kesatu, hal. : 393  Menurut Imam As-Saukani jika dibaca untuk orang yang sudah meninggal dunia maka tujuannya adalah untuk meringankan beban (siksa) mayit di dalam kubur.  As-Saukani, ibid   Jadi pada dasarnya surat tersebut dibaca di sisi orang yang mau meninggal dunia maupun sudah meninggal dunia sama-sama dibenarkan dan mendapat pahala.

BACA :  Debat Terbuka NU - Wahabi, Mahrus Ali Ngumpet

 

Yasinan dan Kesimpulan

Kalau saya mengikuti orang yang gemar menuduh bid’ah ibadah orang lain yang tidak sama, tentu saya akan mengatakan begini : “Yasinan adalah kebiasaan atau pekerjaan yang dianggap ibadah karena memiliki sumber hukum berupa hadits Nabi yang menurut ukuran ilmu mustholahah al hadits derajatnya hasan lighoirihi yang bisa diterima sebagai hujjah dan harus diamalkan. Maka orang yang menolak Yasinan adalah pelaku bid’ah tarkiyah senyata-nyatanya dan bisa dianggap sesat dan harus siap merasakan api neraka”  Tapi saya tidak ingin menyimpulkan seperti itu sebab cara pandang seperti itu sungguh sangat jauh dari cara pandang para ulama salaf. Saya hanya ingin memberi kesimpulan sederhana bahwa insya Allah tradisi “Yasinan” yang banyak dilakukan oleh umat Islam tidaklah bertentangan dengan sunah Nabi, dan siapa yang melakukannya insya Allah memperoleh pahala dari Allah. Tapi harus diperhatikan juga bahwa sebaiknya dalam tradisi “Yasinan” tidak hanya diisi  dengan hanya membaca Surat Yasin tapi harus tingkatkan kualitasnya dengan bersungguh-sungguh menkaji dan mendalami ayat-ayat surat tersebut untuk diamalkan. Hanya Allah Yang Maha Benar.

 

REFERENSI :

1.         Al Imam Abi al Husain Muslim bin Al Hajjaj Al Qusyairy An Naisabury, Shohih Muslim, (Libanon, Daar al Fikr, 1992)

2.         DR. Muhammad Ajjaj Al Khothib, Ushuul al Hadits, (Libanon, Daar Al Fikr, 2006)

3.         Al Imam Muhammad bin Ali Muhammad Asy Syaukani Al Yamani, Tuhfah Adz Dakirin, (Kairo, Daar al Hadiits, 2004)

4.         DR. Mahmud Ath Thohaan, Taisiir Mushtholah al Hadits, (Libanon, Daar al Fikr)

5.         Abu al Fida al Hafidh Ibn Katsir Ad Dimsyaqi, Tafsir Al Qur’an Al Adhiim, (Libanon, Daar al Fikr, 1992)

6.         Jalal al Din As Suyuthi Asy Syafi’i , Al Itqaan fi Ulum al Qur’an (Libanon, Daar al Fikr, tt)

7.         AW.  Munawwir, Kamus Al Munawwir, Arab-Indonesia Terlengkap  ( Yogyakarta, Pustaka Progressif, 2000)

8. Imam Jalaluddin as-Suyuthi, Ziarah ke Alam Barzakh (terjemahan Syarh ash-Shudur bi Syarh al Mautaa wa al Qubur), Jakarta, Pustaka Hidayah, 2005.

 

*          Ketua MUI Pusat  (DR. KH. MA. Sahal Machfudh)

**        Ketua Bidang Kajian & Bahsul Masail FOSWAN (Forum Silaturahim Warga Nahdliyiin)

Libih detailnya klik : FOSWAN

 

******************************************************

Penjelasan tambahan juga bisa di lihat di link lainnya, Judul: Tahlil, Yasiin dan Do’a dalam AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH.

Link-nya klik: AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH

Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

176 thoughts on ““Yasinan Itu Bid’ah Sesat”, Demikian Menurut Para Ahli Bid’ah”

  1. Tidak ada yang mengatakan Yasinan (baca Yasin) itu berdosa kecuali mereka yg tercemar oleh faham Wahabi. Sebagaimana dulu ana juga berpikiran buruk seperti itu. Kalau ingat dulu, ana tertawa mengenang kejahilan sendiri.

    Alhamdulillah akhirnya ana bisa menyadarinya, ini sungguh kenikmatan yg luar biasa. Sebab masih banyak oarng2 yg masih terpesona oleh jargon2 Wahabi. Ketahuilah, jargon2 Wahabi seperti KEMBALI KEPADA AlQUR’AN dan ALSUNNAH itu bisa bikin bangga lho, ana dulu merasakan hal itu. Hanya dg pikiran terbuka terhadap informasi yg bisa bikin sadar. Alhamdulillah………………..

    1. Wahabi itu kok nggak takut dikemplang kepalanya oleh Malaikat yo, mosok baca Yasin kok dosa? Apalagi ada anjurannya seperti dijelaskan dalam hadits di atas, semakin parah aja kaum Wahabi dalam berpikirnya.

      Seandainya mereka itu punya pikiran dan hati terbuka, tentunya akan dapat nikmat HIDAYAH seperti yg didapat Umu Aiman@ Semoda Ummu Aiman istiqomah, amin 3x

  2. Kesimpulannya adalah Yasinan itu ada dalilnya, dah biarin aja kalau ada orang Wahabi yg ngatain Yasianan itu dosa. Nanti mereka sendiri yg dosa, gitu aja kok pake reffot?

    1. saya Yasinan tiap malam lagi, bahkan pagi2 sudah yasinan, apalagi malam jumat, yasinan terus, sekarang saya baca yasinan itu setiap mau pergi kerja, setiap mau makan, setiap mau sholat, pokoknya yasinan terus, ga dosa koq, wong baca alquran koq dilarang, dan ini akan aku ajarkan kepada anak cucuku kalo yasinan itu untuk hal2 yg lain , jgn malam jumat aja, bila perlu kalo mau masuk wc harus baca yasin dulu (jgn dilarang, wong baca alquran koq dilarang)

  3. Teman-teman Wahabi salah dalam memahami kata “BID’AH”, makanya mereka salah juga ketika mempraktekkannya. Sebagai contohnya, mereka menganggap berdosa kepada orang2 yg baca surat Yasin dalam Acara Yasinan.

    Kesalahan Wahabi dalam memahami kata “BID’AH”, adalah mereka memahami bid’ah sebagai suatu hukum, yaitu hukum haram. Ini adalah kesalahan fatal. Sebab Bid’ah itu adalah “hal baru” yang mana “hal baru” ini tidak semuanya haram. Tetapi “hal baru” bisa menjadi Haram, Wajib, makruh, mubah, dan sunnah. Demikian pemahaman para Salafus Sholihin seperti Imam Syafi’i, Imam Ibnu Hajar Alatsqolani, Imam Nawawi dll.

    1. Mas Joyo Marto, Mantab. Singkat, padat dan jelas. Saya langsung paham, thank you ya?

      Ohya, thanks juga buat Ummati Press yg telah memposting issu bid’ah yg sangat pentong ini. Semoga dapat mencerahkan ummat Islam pengunjung blog ini. Amin.

    1. @ Ishar yang pintar.
      Yasinan itu diadakan bisa setelah sholat magrib sampai menjelang isya, atau setelah sholat Isya, ini waktu yang lapang bisa dilanjutkan dengan Tausiyah.
      Jadi gak ada orang karena yasinan sampai meninggalkan sholat Isya, ente jangan berprasangka buruk dulu, liat dulu baru komentar.

  4. Mas Ishar… Coba diperiksakan otak sampeyan kedokter jiwa secepatnya, mungkin karna nt sudah terlalu banyak dikibuli oleh dedengkot SAWAH lewat kader2nya yg sungguh amat sangat berbahayaaaaa hingga nt tidak sadar bahwa sebenarnya urat saraf waras nt itu ada begitu banyak yang putus serta makin mendekatkan anda kepintu gerbang syurga hayalan alias neraka jahanam…. 😆 😆 😆

    Mbok yo lekas tobatlah mas Ishar mumpung masih punya nafas…!!!

    1. Mas Wahyu, kalau ingin lihat contoh perkataan Alul bid’ah yg asli maka lihatlah perkataan Mas Ishar, qi qi qi qi….

      Itulah contoh nyata perkataan Ahli Bid’ah yg Asli menganjurkan tidak perlu shalat Isya. Padahal para pelaku Yasinan adalah juga pelaku sholat yg taat, itulah faktanya.

      1. Mbak Putri Karisma…
        Pantesan ada beberapa orang2 sawah dikampung ane yg ngak ngerti sopan santun, sebab dulu ada satu teman ane yang membungkukkan badan saat berjalan melewati depan para orang tua yang sedang duduk mereka mengatakan sikap itu adalah bid’ah, atau sama dengan menyembah para orang tua yang sedang duduk itu ujar mereka!
        Bener2 deh orang2 SAWAH itu…
        Apa mungkin yah orang2 sawah itu masa kecilnya rata2 tdk bahagia hingga setelah gede sikap mereka jadi seperti itu, Atau dalam majelis pengajian mereka tidak diajarkan tentang ADAB :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

  5. Wahabi kalau gak bisa bantah dg dalil maka yg keluar dari perkataannya adalah menunjukkan keasliannya sebagai Ahli Bid’ah. Contohnya Mas Ishar itu….? Nganjurin orang tidak Shalat Isya’, padahal Yasinan itu tidak berarti ninggalin shalat lho? Kok bisa berpikiran seperti itu ya orang2 macam Mas Ishar?

  6. @ishar
    kalau hati sdh dipenuhi kedengkian2 dan su’uzon maka sesuatu yang baik akan terlihat jelek, sesuatu yang terang benderang maka akan dianggap gelap, sesuatu benar yg telah diriwayatkan oleh imam2 besar tanpa ingin mengaharap imbalan dan pujian ( Nasa’i, Abu Dawud, Ibnu Majjah dan Ibnu Hibban, imam Ahmad), maka akan terlihat salah menurut perkataan ustad2nya wahabi!!!!!!

  7. Minta pihak Wahhabi tampilkan suatu dalil larangan Yasinan atau yang menunjukkan Yasinan itu bidaah.
    Ginilah kalau Guru Besarnya “KETAM” ga mungkin santrinya berjalan lurus.

  8. All ASWAJA….
    Jelas para SAWAH itu tidak mengenal hukum sebab akibat, hal ini tampak dari tiap statmen, argumentasi, or komen2 mereka diblog-blog or website2 ASWAJA, landasan mereka selalu saja para imamnya yang tak jelas sanad ilmunya itu, hingga dalam beragama mereka tidak punya pola yang jelas dan cara berpikir dsbnyapun jadi amburadul, kecuali bagi orang2 sawah yang muak atas paham SAWAHnya yang serba tak jelas itu lalu mencari kebenaran yang hakiki hingga mendapatkan hidayah kembali kepangkuan ASWAJA, ini sudah terbukti dari beberapa teman2 ane yang dulunya gabungan diSAWAH kini akhirnya kembali keASWAJA…

  9. seperti biasa, yg selalu sy cermati, banyak munculnya rekan2 SAWAH yg muncul cuma untuk HIT & RUN, dan juga saya pahami, bagi kaum SAWAH, BID’AH adalah salah satu IBADAH mereka, nauzubillah…

  10. Assalamu’alaikum

    @Ummati

    Mohon izin mengcopy artikelnya untuk disebarluaskan didaerah saya. Kerana masih banyak masyarakat awam akan DALIL yasinan…termasuk saya.

    Semoga pahalanya tercurah pada Ummati & staff…amin.

  11. Ini adalah hasil copas dari artikel berkaitan Yasiinan di blog:-

    http://jomfaham.blogspot.com/2009/07/hukum-membaca-surah-yasin-pada-malam.html.

    (Ane edit perkataan dalam bahasa daerah semoga pembaca bisa faham)

    Ustaz Abdullah Al Qari ni salah seorang tokoh ‘sunnah (baca : salafi)’ i.e. adik – beradik golongan kaum muda. Dia ni banyak terjemah buku-buku golongan yang sewaktu dengannya, pernah dianugerahkan dengan Tokoh Ma`al Hijrah Negeri Kelantan.
    Ustaz Abdullah ini yang mempunyai pemikiran `salafi’ telah menulis dalam bukunya “Kursus Qari` dan Qari`ah” mukasurat 145:- “Malam Jumaat : Kedapatan Rasulullah s.a.w. membacakan surah Yaa Siin, ad-Dukhaan dan al-Kahfi.” Di rujuk kaliansemua kepada Ustaz Dollah Qari ni bukan apa, saja mau maklumkan bahawa dalam kumpulan so-called ‘salafi/sunnah’ pun ada perbezaan pendapat mengenai hukum baca Yaasiin malam Jumaat. Jadi buat apa nak perbesarkan isu-isu remeh seperti ini. Apa faedahnya? Biarlah hamba-hamba Allah yang lemah macam aku ni membaca Yaasiin malam Jumaat, sebab nak baca tiap malam tak upaya. Membaca Yaasiin itu ibadah yang punya sumber dalam Syara`, maka sekali-kali tidaklah boleh dikatakan sebagai bid`ah, jika nak kata bid`ah maka ianya hanya bid`ah dari segi bahasa sahaja. Sunnah membacanya setiap malam, tapi berapa ramai yang kuat atau berkesempatan nak baca setiap malam ? Jadi ikutlah kaedah “apa yang tak dapat nak diamalkan semua, jangan ditinggalkan semua”.

    Bagi kita pendokong ulama mazhab, kita tidak ragu lagi bahawa para ulama kita memandang elok akan amalan tersebut. Imam kita as-Sayuthi dalam kitabnya “Khushushiyyaat Yawmil Jumu`ah” menulis:-

    Imam al-Baihaqi dalam kitab “asy-Syu`ab” telah mentakhrijkan daripada Sayyidina Abu Hurairah r.a., katanya:- Junjungan Rasulullah s.a.w. bersabda:- “MAN QARA-A LAILATAL JUMU`ATI HAAMIIM AD-DUKHAAN WA YAASIIN ASHBAHA MAGHFURAN LAHU (Sesiapa yang membaca pada malam Jumaat surah ad-Dukhan dan surah Yaasin, maka berpagi-pagilah dia dalam keadaan terampun)”.
    Al-Ashbihani meriwayatkan dengan lafaz:- “MAN QARA-A YAASIIN FI LAILATIL JUMU`ATI GHUFIRA LAHU ( Sesiapa yang membaca surah Yaasiin pada malam Jumaat, nescaya diampunkan baginya).

    Maka teruskanlah beramal dengan membaca surah Yaasiin yang terlalu besar pahala dan fadhilatnya. Jadikanlah ia sebahagian wirid kamu, siang dan malam, atau setidak-tidaknya pada hari atau malam Jumaat. Janganlah kalian termakan dengan dakwaan pihak yang anti-yaasinan dan anti-tahlilan. Peganglah ajaran para ulama kita terdahulu, yang berkat mereka hidayah Islam dapat kita rasai sekarang. Penutup posting aku kali ini biar aku nak nukil wasiat Imam al-Haddad, tapi sebelum tu, kalau aku lambat nak update blog, kome bawak-bawaklah bersabo, bukan apa tugasan aku banyak dan masa hanya ada 24 jam, doakanlah kebaikan yeee.

    Syaikh Ahmad bin ‘Abdul Karim al-Hasawi asy-Syajjar, murid Imam al-Haddad dalam karangannya “Tatsbitul Fuad” yang menghimpun kalam nasihat dan wasiat gurunya itu menyebut bahawa mengenai surah Yaasin, Imam al-Haddad ada berpesan dengan katanya:-

    Surah Yaasiin dan kalimah La ilaha illa Allah adalah penawar bagi segala sesuatu. Jika engkau payah untuk menghafal (i.e. membaca) surah tersebut dengan lengkap, maka bacalah sehingga ayat ke-9. Yaasiin adalah hati al-Quran, dan bagi orang beriman surah tersebut amat besar ertinya. Bahkan jika ada orang yang sakit, yang terpelosok, yang dipermalukan, yang jatuh, yang tertimpa musibah atau yang mengharapkan kasih sayang, maka kepadanya selalu dikatakan “Hendaklah engkau membaca Yaasiin untuk mendapat lindungan Ilahi.” Demikian besar dan pentingnya kedudukan Yaasiin bagi orang beriman, dan mereka sesungguhnya amat memuliakannya, bahkan hal ini berterusan sehinggalah sekarang.

    Sumber : Bahrusshofa

    Jawapan dari Baheis :(Bahagian Hal Ehwal Islam)
    Di antara fadilat membaca surah Yasin ialah:

    Nabi Muhammad s.a.w menyifatkan surah itu jantung al-Quran.

    “Pernyataan Rasulullah s.a.w itu menyebabkan naluri hati kita ghairah membacanya dengan sempurna, secara beramai-ramai di masjid atau di surau.
    “Pembacaan ini lazimnya dipimpin seorang imam atau syeikh dan dilakukan pada malam Jumaat,” katanya.

    “Inilah sebahagian bentuk amalan yang sudah lama difahami, diamal dan dijadikan tradisi dalam masyarakat Melayu kita di Nusantara.

    “Amalan ini banyak mendatangkan kebaikan dan mencegah seseorang itu daripada melakukan perkara yang sia-sia, maksiat dan dosa.

    “Pendek kata, amalan membaca Yasin umpamanya mempunyai khasiat lapan dalam satu, manakala pihak yang mencela golongan mengamalkan bacaan Yasin secara hakikatnya berada jauh dari rahmat Allah.

    Surah Yasin satu daripada surah yang dimulakan dengan huruf abjad dan dinamakan dengan demikian kerana ia dimulakan dengan lafaz Yasin, termasuk dalam surah Makkiyyah dan diturunkan sesudah surah al-Jin dengan 83 ayat. Ada pendapat mengatakan ia mengandungi 82 ayat.

    Amalan membaca surah Yasin mempunyai banyak kelebihan, sebagaimana diterangkan melalui hadis Nabi Muhammad s.a.w.

    Imam al-A’jiri menyebut satu riwayat dari Ummul Darda, Nabi s.a.w bersabda, maksudnya: “Mana-mana mayat yang dibacakan padanya surah Yasin, nescaya Allah akan mempermudahkan kematiannya.”

    Abu Hurairah meriwayatkan Nabi s.a.w bersabda, maksudnya: “Barangsiapa yang membacakan surah Yasin pada satu malam bertujuan mencari keredaan Allah nescaya Allah akan mengampunkannya pada malam berkenaan.”

    Anas bin Malik meriwayatkan Nabi s.a.w bersabda, maksudnya: “Setiap sesuatu mempunyai hati, hati al-Quran adalah Yasin. Sesiapa membaca surah Yasin, nescaya Allah akan menulis pahala membaca al-Quran baginya sebanyak 10 kali.”

    Imam al-Sya’labi menyebutkan satu riwayat dari Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Sesiapa membaca surah Yasin pada malam Jumaat nescaya dia akan diampunkan Allah.”

    “Terdapat beberapa hadis menunjukkan kelebihan membaca surah tertentu di dalam al-Quran sebagaimana diisyaratkan Imam al-Nawawi dalam kitabnya Riyadh al-Solihin,” kata Zamihan.

    Dalil umum ini menggalakkan umat Islam membaca mana-mana surah di dalam al-Quran. Ia turut merangkumi surah Yasin memandangkan ia satu surah di dalam al-Quran.

    “Perhatikanlah kepada sanad dan matannya secara terperinci. Sekiranya dalil terbabit muncul dengan sanad yang lemah, ia dapat dijadikan hujah kerana masih ada sanad sahih menjelaskan kelebihannya.

    “Manakala sanad yang daif tadi jika dihimpun dan dihubungkan dengan kesaksian yang lain nescaya ia akan mencapai taraf hasan sebagaimana diperakui oleh ulama hadis seperti Imam al-Tirmidzi dan selainnya,” katanya.

    Surah ini mempunyai banyak intipati yang sepatutnya direnung dan dihayati di samping membacanya, seperti kritikan dan penjelasan sikap kaum musyrikin (ayat 7 -12, 60-68), iaitu menggesa kita mengikis hati dari sifat keji.

    Turut diceritakan bukti kewujudan hari berbangkit (ayat 31-54), perbincangan mengenai ilmu, rahmat dan kekuasaan Allah yang tidak terbatas (ayat 71-83) dan sifat syurga yang disediakan untuk orang beriman (ayat 55-59).

    “Selepas kita memahami dan menyedari kedudukan al-Quran, kandungan surah Yasin, tuntutan, galakan dan kelebihannya, kita perlulah membina penghayatan yang mantap dalam diri kita.

    “Ternyata kepada kita, amalan membaca surah Yasin bukan sesuatu yang diharamkan ataupun dihukum sesat dalam agama. Bahkan ia satu kelebihan dalam usaha mendekatkan diri kepada Tuhan,” katanya.

    Sumber : BAHEIS

  12. Tahlilan, yasinan, diba, burdah, barzanji, dalail khairat dan tawasul pd nabi dan wali……PENTING, ENAK, PERLU. gak usah didengerin wong sawah teriak sesat, bid’ah, kafir dll.

  13. Maaf, numpang copas

    Allah ta’ala berfirman :

    الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإسْلامَ دِينًا

    “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai Islam itu jadi agama bagimu” [QS. Al-Maaidah : 3].

    Diantara ucapan para ulama tentang bid’ah hasanah :

    فَقَالَ مُعَاذُ بْنِ جَبَلٍِ يَوْمًَا : إِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ فِتَنًا، يَكْثُرُ فِيْهَا الْمَالُ، وَيُفْتَحُ فِيْهَا الْقُرْانُ، حَتَّى يَأْخُذَهُ الْمُؤْمِنُ وَالْمُنَافِقُ، وَالرَّجُلُ وَالْمَرْأَةُ، وَالصَّغِيْرُ وَالْكَبِيْرُ، وَالْعَبْدُ وَالْحُرُّ، فَيُوْشِكُ قَائِلٌُ أَنْ يَقُوْلَ : مَا لِلنَّاسِ لاَ يَتَّبِعُوْنِي، وَقَدْ قَرَأْتُ الْقُرْانَ ؟ مَا هُمْ بِمُتَّبِعِيَّ حَتَّى أَبْتَدَعَ لَهُمْ غَيْرَهُ ! فَإِيَّكُمْ وَمَا ابْتُدِعَ، فَإِنَّ مَا ابْتُدِعَ ضَلاَلَةٌُ، وَأُحَذُِّرُكُمْ زَيْغَةَ الْحَكِيْمِ، فَإِنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَقُوْلُ كَلِمَةَ الضَّلاَلَةِ عَلَى لِسَانِ الْحَكِيْمِ، وَقَدْ يَقُوْلُ الْمُنَافِقُ كَلِمَةَ الْحَقِّ.

    1) Mu’adz bin Jabal berkata pada suatu hari : ”Sesungguhnya di belakang kalian nanti akan terdapat fitnah, dimana pada waktu itu harta berlimpah ruah dan Al-Qur’an dalam keadaan terbuka hingga semua orang baik mukmin, munafiq, laki-laki, perempuan, anak kecil, orang dewasa, hamba sahaya, atau orang merdeka pun membacanya. Pada saat itu akan ada seseorang yang berkata : ’Mengapa orang-orang itu tidak mengikutiku padahal aku telah membaca Al-Qur’an ? Mereka itu tidak akan mengikutiku hingga aku membuat-buat sesuatu bagi mereka dari selain Al-Qur’an !’. Maka hendaklah kamu hati-hati/waspada dari apa-apa yang dibuat-buat (oleh manusia), karena sesungguhnya apa-apa yang dibuat-buat (bid’ah) itu adalah kesesatan. Dan aku peringatkan kalian akan penyimpangan yang dilakukan oleh seorang hakim ! Karena seringkali syaithan itu mengatakan kalimat kesesatan melalui lisan seorang hakim, dan seringkali seorang munafiq itu berkata tentang kebenaran” [HR. Abu Dawud no. 4611; shahih – Shahih Sunan Abi Dawud 3/120].

    عَنْ عَبْدِ اللهِ (بْنِ مَسْعُوْد) قَالَ : الْقَصْدُ فِي السُّنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الاجْتِهَادِ فِي الْبِدْعَةِ

    2) Dari ’Abdullah (bin Mas’ud) radliyallaahu ’anhu ia berkata : ”Sederhana dalam sunnah itu lebih baik daripada bersungguh-sungguh dalam bid’ah” [Diriwayatkan oleh Ad-Darimi no. 223, Al-Laalikaiy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqad no. 14, 114, Al-Haakim 1/103, dan yang lainnya; sanad riwayat ini jayyid].

    عَنِ ابْنِ الْعَبَاس – رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا – أَنَهُ قَالَ : مَا أَتَى عَلَى النَّاسِ عَامٌ ، إِلّا أَحْدَثُوْا فِيْهِ بِدْعَةً ، وَأَمَاتُوْا فِيْهِ سُنَّةً، حَتَّى تَحْيَا الْبِدَعِ وَتَمُوْتُ السُّنَنُ.

    3) Dari Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma bahwasannya ia berkata : Tidaklah datang kepada manusia satu tahun kecuali mereka membuat-buat bid’ah dan mematikan sunnah di dalamnya. Hingga hiduplah bid’ah dan matilah sunnah” [Al-Haitsami berkata dalam Majma’uz-Zawaaid, 1/188, Bab Fil-Bida’i wal-Ahwaa’ : ”Diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dalam Al-Kabiir, dan rijalnya adalah terpercaya”. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Wadldlaah dalam Kitaabul-Bida’ hal. 39].

    4) ’Abdullah bin ’Umar radliyallaahu ’anhuma berkata :

    كُلُّ بِدْعَةٍِ ضَلاَلَةٌُ وَإِنْ رَآهَا النَّاسُ حَسَنَةًَ

    ”Setiap bid’ah itu adalah sesat walaupun manusia memandangnya sebagai satu kebaikan” [Diriwayatkan oleh Al-Laalikai dalam Syarh Ushulil-I’tiqad no. 205 dan Ibnu Baththah dalam Al-Ibaanah no. 205 dengan sanad shahih].

    Itulah sedikit di antara nash dan atsar dari para pendahulu kita yang shalih (as-salafush-shalih) tentang tercelanya bid’ah. Mereka memutlakkan apa-apa yang baru dalam syari’at yang tidak ada dalilnya dan tidak pernah dikerjakan oleh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam serta para shahabatnya sebagai bid’ah. Mereka tidak pernah mengecualikan bid’ah dengan kata hasanah (baik), karena seluruh bid’ah menurut mereka adalah dlalalah (sesat). Barangsiapa yang mengklaim ada bid’ah yang tergolong hasanah, maka pada hakekatnya ia telah menuduh Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam tidak menyampaikan semua risalah.

    5) Al-Imam Malik rahimahullah – pemimpin ulama Madinah di jamannya – sangat mengingkari bid’ah hasanah. Ibnul-Majisyun mengatakan :

    سمعت مالكا يقول : “من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا – صلى الله عليه وسلم- خان الرسالة ، لأن الله يقول :{اليوم أكملت لكم دينكم}، فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا”

    ”Aku mendengar Imam Malik berkata : ”Barangsiapa yang membuat bid’ah dalam Islam yang ia memandangnya baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam mengkhianati risalah. Hal itu dikarenakan Allah telah berfirman : ”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu”. Maka apa saja yang pada hari itu (yaitu hari dimana Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam beserta para shahabatnya masih hidup) bukan merupakan bagian dari agama, maka begitu pula pada hari ini bukan menjadi bagian dari agama” [Al-I’tisham oleh Asy-Syathibi, 1/49].

    6) Ummul-Mukminin ’Aisyah radliyallaahu ’anhaa berkata :

    وَمَنْ زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَتَمَ شَيْئًَا مِمَّا أَنْزَلَ اللهُ عَلَيْهِ، فَقَدْ أَعْظَمَ عَلَيْهِ الْفِرْيَةًَ، واللهُ يَقُوْلُ : (يَا أَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَه)

    “Dan barangsiapa yang menyangka Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyembunyikan sesuatu dari apa-apa yang diturunkan Allah, sungguh ia telah membuat kedustaan yang sangat besar terhadap Allah. Padahal Allah telah berfirman : ”Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya.” (QS. Al-Maidah : 67) [HR. Al-Bukhari no. 7380 dan Muslim no. 177].

    Diantara contoh bid’ah hasanah yang diingkari oleh sahabat Nabi :

    عن نافع أن رجلا عطس إلى جنب بن عمر فقال الحمد لله والسلام على رسول الله قال بن عمر وأنا أقول الحمد لله والسلام على رسول الله وليس هكذا علمنا رسول الله صلى الله عليه وسلم علمنا أن نقول الحمد لله على كل حال

    1) Dari Nafi’ : Bahwasannya ada seseorang bersin di samping Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu, lalu dia berkata : “Alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasulihi (segala puji bagi Allah dan kesejahteraan bagi Rasul-Nya)”. Maka Ibnu ‘Umar berkata : “Dan saya mengatakan, alhamdulillah was-salaamu ‘alaa Rasuulillah. Akan tetapi tidak demikian Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam mengajari kami. Akan tetapi beliau mengajarikami untuk mengatakan : “Alhamdulillah ‘alaa kulli haal” (Alhamdulillah dalam segala kondisi) [HR. At-Tirmidzi no. 2738, Hakim 4/265-266, dan yang lainnya dengan sanad hasan].

    Membaca shalawat kepada Nabi di waktu yang tidak dicontohkan (yaitu sewaktu bersin) ternyata diingkari oleh Ibnu ‘Umar dengan alasan bahwa hal itu tidak dicontohkan oleh Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Itulah bid’ah. Tidak ada pemahaman di dalamnya adanya bid’ah hasanah (walau dengan alasan membaca shalat kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam).

    Oleh karena itu, Al-Imam Malik rahimahullah – pemimpin ulama Madinah di jamannya – sangat mengingkari bid’ah hasanah. Ibnul-Majisyun mengatakan :

    سمعت مالكا يقول : “من ابتدع في الإسلام بدعة يراها حسنة ، فقد زعم أن محمدا – صلى الله عليه وسلم- خان الرسالة ، لأن الله يقول :{اليوم أكملت لكم دينكم}، فما لم يكن يومئذ دينا فلا يكون اليوم دينا”

    ”Aku mendengar Imam Malik berkata : ”Barangsiapa yang membuat bid’ah dalam Islam yang ia memandangnya baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam mengkhianati risalah. Hal itu dikarenakan Allah telah berfirman : ”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu”. Maka apa saja yang pada hari itu (yaitu hari dimana Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam beserta para shahabatnya masih hidup) bukan merupakan bagian dari agama, maka begitu pula pada hari ini bukan menjadi bagian dari agama” [Al-I’tisham oleh Asy-Syathibi, 1/49].

    (Al-Imam Asy-Syafi’iy) pernah berkata :

    مَن اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

    “Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu (menurut pendapatnya), sesungguhnya ia telah membuat syari’at” [Al-Mankhuul oleh Al-Ghazaliy hal. 374, Jam’ul-Jawaami’ oleh Al-Mahalliy 2/395, dan yang lainnya].

    Dalam Ar-Risalah, Al-Imam Asy-Syafi’iy rahimahullah mengatakan :

    إِنَّمَا الاستحسانُ تلذُّنٌ

    “Sesungguhnya anggapan baik (al-istihsan) hanyalah menuruti selera hawa nafsu” [Ar-Risalah, hal. 507].

    Dan juga dalam kitab Al-Umm (7/293-304) terdapat pasal yang indah berjudul : Pembatal Istihsaan/Menganggap Baik Menurut Akal (Ibthaalul-Istihsaan).

    Perkataan-perkataan di atas tidak mungkin kita pahami bahwa Al-Imam Asy-Syafi’iy menetapkan bid’ah hasanah – satu klasifikasi yang tidak pernah disebut oleh para pendahulu beliau. Bid’ah hasanah pada hakekatnya kembalinya pada sikap istihsan (menganggap baik sesuatu) tanpa dilandasi dalil, dan ini ditentang oleh beliau rahimahullah. Apabila kita tanya kepada mereka yang berkeyakinan adanya bid’ah hasanah : “Apa standar Anda dalam menentukan baiknya satu bid’ah ?”. Niscaya kita akan mendapatkan jawaban yang beragam, karena memang tidak ada standarnya. Akhirnya, jika kita rangkum keseluruhan pendapat mereka beserta contoh-contohnya, tidaklah tersisa bid’ah bagi mereka kecuali ia adalah hasanah.

    Al-‘Allamah Abu Syammah Al-Maqdisi Asy-Syafi’iy (seorang pembesar ulama Syafi’iyyah) berkata :

    فالواجب على العالم فيما يَرِدُ عليه من الوقائع وما يُسألُ عنهُ من الشرائعِ : الرجوعُ إلى ما دلَّ عليهِ كتابُ اللهِ المنزَّلُ، وما صحَّ عن نبيّه الصادق المُرْسَل، وما كان عليه أصحابهُ ومَن بعدَهم مِن الصدر الأول، فما وافق ذلك؛ أذِنَ فيه وأَمَرَ، وما خالفه؛ نهى عنه وزَجَرَ، فيكون بذلك قد آمَنَ واتَّبَعَ، ولا يستَحْسِنُ؛ فإنَّ (مَن استحسن فقد شَرَعَ).

    “Maka wajib atas seorang ulama terhadap peristiwa yang terjadi dan pertanyaan yang disampaikan kepadanya tentang syari’at adalah kembali kepada Al-Qur’an, riwayat shahih dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan atsar para shahabat serta orang-orang setelah mereka dalam abad pertama. Apa yang sesuai dengan rujukan-rujukan tersebut dia mengijinkan dan memerintahkan, dan apa yang tidak sesuai dengannya dia mencegah dan melarangnya. Maka dengan itu dia beriman dan mengikuti. Dan janganlah dia menyatakan baik menurut pendapatnya. Sebab : ‘Barangsiapa yang menganggap baik menurut pendapatnya (istihsan), maka sesungguhnya dia telah membuat syari’at” [Al-Ba’its ‘alaa Inkaaril-Bida’ wal-Hawadits oleh Abu Syaammah, hal. 50].

    Wallahua’lam..

    1. Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah selama hal itu baik dan tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw: “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah.

      dimanakah disebutkan : Yasinan, di dalam Qur’an & Hadist DILARANG ?????

  14. Cuapek juga ngeladeni orang2 sawah ini, kebiasaan koment tanpa mbaca dgn teliti postingan2 ummatipress serta penjelasan2 tambahan oleh rekan2 aswaja di ummatipress ini, ane salut deh dgn kawan aswaja di mari yang punya kesabaran ekstra meladeni agar mereka terbebas oleh kesesatan paham sekte salafi/wahabi itu…

  15. Sedekah itu sunnah. Selain sedekah, terdapat sangat banyak sunnah. Saking banyaknya, maka tak cukup waktu 24 jam untuk mengerjakan semua sunnah tersebut. Dan bila sunnah tersebut dikerjakan semuanya, niscaya kita tidak sempat mengerjakan bid’ah.

    Mengapa kita mengerjakan bid’ah termasuk bid’ah hasanah? Karena masih banyak sunnah yang belum kita kerjakan.

    Jadi, setiap kita mengerjakan sunnah, lalu orang lain mengikutinya, maka kita mendapatkan pahala orang yang mengikuti kita tanpa mengurang pahala pengikut tersebut.

    Wallaahu a’lam.

    1. bukan cuma sedekah yg sunnah, perkara lain pun banyak yg sunah, iya kan? yasinan itu membaca Qur;an, bukan kitab sesat iya kan? berarti HAL YG BAIK, kalau memalsukan kitab syaikh yg asli itu HAL YG BURUK…mengapa memalsukan itu HAL YG BURUK? karena akan mengarahkan para pembaca ke arah kesesatan…..

      ber-TABAYYUN itu HAL YG BAIK, tapi kalo BER-TABAYYUN ke arah kedengkian, sombong, merasa benar, tidak mau merasa salah itu HAL YG BURUK.

      Wallaahu a’lam.

  16. Kalau saya lebih suka membaca surat yasin (ga pake ‘an). Bacanya sendirian, pake al Qur’an biar bacanya lebih khusyu’ dan (tartil).. gak buru2 jd ga baca teksny doank.

    1. Nah…. bagus kalau antum masih mau baca Yasin. yang penting jangan anggap baca Yasin dalam Yasinan itu haram. Sebab yang demikian itu termasuk mengharamkan yang halal. Ini perbuatan merusak Islam. Hat-hati jangan terbawa alur pemahaman yang salah, bisa merusak amal kita sendiri. Intinya sebagai manusia yang dikaruniai akal gunakanlah untuk berpikir maksimal dalam menemukan kebenaran.

      1. kalau saya wajib Yasinan tiap malam lagi, bahkan pagi2 sudah yasinan, apalagi malam jumat, yasinan terus, sekarang saya baca yasinan itu setiap mau pergi kerja, setiap mau makan, setiap mau sholat, pokoknya yasinan terus, ga dosa koq, wong baca alquran koq dilarang, dan ini akan aku ajarkan kepada anak cucuku kalo yasinan itu untuk hal2 yg lain , jgn malam jumat aja, bila perlu kalo mau masuk wc harus baca yasin dulu (jgn dilarang, wong baca alquran koq dilarang)

        1. Nahdatul Ula says:
          August 29, 2012 at 4:23 pm (Edit)

          kalau saya wajib Yasinan tiap malam lagi, bahkan pagi2 sudah yasinan, apalagi malam jumat, yasinan terus, sekarang saya baca yasinan itu setiap mau pergi kerja, setiap mau makan, setiap mau sholat, pokoknya yasinan terus, ga dosa koq, wong baca alquran koq dilarang, dan ini akan aku ajarkan kepada anak cucuku kalo yasinan itu untuk hal2 yg lain , jgn malam jumat aja, bila perlu kalo mau masuk wc harus baca yasin dulu (jgn dilarang, wong baca alquran koq dilarang)

          Afwan yaa Akhii…, janganlah frustrasi dalam da’wah, sampaikan saja hujjah antum tapi kalau adayg bantah sebaiknya nggak usah lah sampai frustrasi seperti itu sampai-sampai antum mewajibkan baca Yasin. Bahkan sampai mau masuk WC pun antum harus baca Yasin?

          Yang benar baca Yasin itu tidak wajib, sedari dulu juga nggak ada kok ulama yg mewajibkan baca Yasin, tapi kalau Wahabi melarang baca Yasin dalam Yasinan itu sih sudah ada sejak ajaran Wahabi masuk di Indonesia. Baca Yasin itu amalan yg ma’ruf (sholih), lho kok dilrang?

    2. @senayan

      Dari hadist Qudsy karya Imam Nawawi dan Al-Qasthalani dari No. 1 (HR. Bukhari) dan No. 2 (HR. Muslim).

      Diceritakan oleh Qutaibah bin Sa’id, diceritakan oleh Jarir, dari A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai para malaikat yang banyak menjalankan keutamaan. Mereka mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang didalamnya mengumandangkan zikir, maka mereka (para malaikat) duduk bersama mereka dan sebagian mereka (para malaikat) berkerumunan diantara sebagian mereka (manusia) dengan membentangkan sayap-sayapnya hingga memenuhi sesuatu diantara meraka dan langit dunia. Apabila mereka majelis zikir telah selesai, mereka (para malaikat) naik kembali kelangit. Allah SWT bertanya kepada mereka (malaikat) yang sebenarnya Dia lebih mengetahui dari mereka, “dari mana kalian datang ?” Mereka (para malaikat) menjawab : “Kami datang dari hamba-hambamu dibumi, mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan memohon kepadaMu.” Allah SWT bertanya, “Mereka (manusia) minta apa kepadaKu ?” mereka menjawab : “Mereka memohon SurgaMu”. Allah SWT bertanya, “Apakah mereka (manusia) melihat SurgaKu ?” Mereka (malaikat) menjawab : “Tidak, wahai Tuhan Kami” Allah SWT bertanya, “Bagaimana jika mereka melihat SurgaKu ?” Mereka menjawab : “Mereka pasti minta perlindungan kepadaMu”. Allah SWT bertanya, “Dari apa mereka minta perlindungan kepadaKu ?” mereka menjawab : “Dari NerakaMu, wahai Tuhan kami.” Allah SWT bertanya, “Apakah mereka melihat NerakaKu ?” mereka menjawab :”Tidak”. Allah SWT bertanya : “Bagaimana jika mereka melihat nerakaKu?”. Mereka menjawab : “Mereka pasti akan minta ampunan padaMu.” Allah berfirman : “Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta dan Aku memberikan Pahala sebagaimana yang mereka minta.” Para malaikat berkata : “Wahai Tuhan, dalam kelompok itu ada fulan, seorang hamba yang berbuat dosa. Bahwasannya dia pergi, biasanya dia bersama mereka”. Allah SWT berfirman : “Baginya Aku telah ampuni, Mereka adalah satu kelompok, salah seorang anggotanya tidak bisa mencelakakan mereka”. (HR. Muslim, Baab Majaalis adz-Dzikr, juz 10), juga (HR. Bukhari, Baab Fadhl Allah Ta’ala, Juz 8 hal. 86-87)

      Dari Tsabit ia bekata, Ketika sahabat Salman Al-Farisi beserta kawan-kawannya sedang sibuk berkumpul berzikir, lewatlah Rasulullah saw dihadapan mereka. Maka mereka terdiam sebentar. Lalu beliau bertanya, ” Apa yang sedang kalian lakukan?” Mereka menjawab : “Kami sedang berzikir”. Kemudian Rasulullah saw bersabda. “Sungguh aku melihat rahmat Allah turun di atas kalian, maka hatiku tertarik untuk bergabung bersama kalian membaca zikir”. Lantas beliau bersabda yang artinya. ” Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan dari umatku orang-orang yang aku perintahkan duduk bersama mereka .” (H.R. Imam Ahmad)

      Bukankah bagus secara berjama’ah?

      1. Arifien,
        kalau begitu antum termasuk Ahlul Bid’ah dong karena mempermasalahkan amal2 ma’ruf (sholih) dari Muslimin, itu dosa besar karena termasuk kejahatan besar menurut Nabi Saw. Ingat ya, Nabi kita tidak pernah mencontohkan perbuatan yg mempermaalahkan amalan2 ibadah ummat muslimin mu’minin.

      2. @arifin
        “Wah,ini yang saya paling setuju.sendiri lebih khusuk.apakah nabi pernah melaksanakan yasinan secara berjamaah?”
        Bid’ah juga dong kalau sendiri, apakah Rasulullah pernah Yasinan Hayooo…. tunjukin dalilnya.

        Kalau begitu – Kapan Yasinan nya ????

  17. Bismillaah,

    Apakah orang yang yasinan setiap malam Jumat membaca juga Surat Al Kahfi yang sudah jelas-jelas sunnah? Saran saya: “Jangan sampai yang jelas-jelas sunnah ditinggalkan, namun yang masih diperselisihkan diamalkan.”

    Wallaahu a’lam

    1. Ibnu Suradi@

      Antum ini masih TK atau suda SD? Pertanyaannya kok lucu banget? Oke, ana jwab ya, tentu saja kami baca Surat Kahfi, ini jawaban jujur. Kalau mau lihat bacaan kami, selain baca kitab Al-Qur’an coba lihat di buku kecil Majmu’ Syarif.

      Bedanya kami dg Wahabi dalam hal ini, kami tidak mengharamkan (justru mengamalkan) Surat Kahfi, sedangkan Wahabi mengharamkan (Membid’ahkan) baca surat Yasin di malam tertentu. Nah, itulah bedanya. Coba mikir deh, masa baca Yasin kok berakibat dosa?

      1. kalau saya sih juga jujur, baru mulai baca & pahami Surat Kahfi, sebelumnya cuma Surat Yasin, selanjutnya insya Alloh saya baca kedua-2 nya…..

        1. Mas @Nasrullah
          Ada 10 surah yang kite kudu hapal : Surah Yasin, Ar Rahman, Al Mulk, As Sajdah, At Tabaruk, Al Waqi’ah, Al Jumu’ah, 10 ayat awal dan 10 ayat akhir Al Kahfi, 5 ayat awal 5 ayat akhir surah Al Baqarah dan ayat Kursi, …..
          Ulama-ulama sebelum ane, surah-surah tersebut dapat diamalkan (dibaca) pada hari-hari tertentu.

          1. terima kasih Kang Ucep, dg kedangkalan ilmu saya, biasanya saya seringnya baca Surah Yasin & Al Baqarah 5 ayat awal & 5 ayat akhir saja, siap laksanakan amalan-2 spt Kang Ucep ajarkan ke saya….

          2. Hati-hati atuh cep…
            nggak nanya dulu ama mas nasrulloh, ada nggak keterangannye kalo Rosul SAW ngamalin bacaan tu pade ? kalo ade sih nggak ape-ape.

            setau ane hafal 30 juz lebih utama, kalo sholat malem 8 rakaat bisa ampe menjelang subuh
            ngapalin ayat qursi ade dalilnye jelas, alkhafi ade, nah yang laen ?

            begitu caranya nuntut ilmu syar’i

            kalo dulu belajar metematika aja, pake nanya asalnya dari mane tu rumus, siape yang nemuin

      2. Aryati…saya Yasinan tiap malam lagi, bahkan pagi2 sudah yasinan, apalagi malam jumat, yasinan terus, sekarang saya baca yasinan itu setiap mau pergi kerja, setiap mau makan, setiap mau sholat, pokoknya yasinan terus, ga dosa koq, wong baca alquran koq dilarang, dan ini akan aku ajarkan kepada anak cucuku kalo yasinan itu untuk hal2 yg lain , jgn malam jumat aja, bila perlu kalo mau masuk wc harus baca yasin dulu (jgn dilarang, wong baca alquran koq dilarang)

  18. @Ucep
    Bunyi hadistnya “Berkumpul berzikir atau berjama’ah berzikir yah?”
    Af1, tlg jelaskan…
    Klo berjama’ah, biasanya otomatis berkumpul dalam satu kelompok dan satu suara dalam aktifitas, Tapi klo berkumpul saja blum tentu mereka berjama’ah mlakukan sesuatu.. Bener gak ya?

    1. addduuuuh si mas senayan, masa’ kata-2 gitu aja dipermasalahkan, berkumpul berzikir, bukankah sama dg berkumpul untuk berzikir? kecuali kata “berzikir” dihilangkan, jadinya berkumpul untuk melakukan sesuatu ( Syahrini bgt nih) or apa aja….

    2. @senayan
      Hadist itu kan hadist mutasyabihat, biasanya ente n wahabiyun yang lebih ahli dalam menerjemahkan ayat atawa hadist mutasyabihat. Tapi ente bisa lihat kata “majelis”, biasanya kata majelis ini sendiri2 atawa bersama-sama ?
      Kalau kata berkumpul bisa sendiri2, tapi mana ada berkumpul sendiri2 tanpa berzikir. tapi bisa aja berkumpul nonton main gaple.
      Coba deh nte praktekin, kalau sebelah kite mengucapkan La Illa Ha Ilallah, kite ikutan gak ?, apalagi disebelah kite banyak yang zikir bersama, terpengaruh gak kata-kata yang banyak itu ?

  19. @NAsrul
    jd bgitu ya. Tp klo begini gimana??
    “mereka berkumpul bermain” atau “mereka berjama’ah bermain”
    Nah itu sama gak pengertiannya??
    Mari kita perhatikan lagi hadits yg dimaksud
    “sahabat berkumpul berzikir” atau “sahabat berjama’ah berzikir”

    1. @ Senayan
      “sahabat berkumpul berzikir” dengan “sahabat berjamaah berzikir” sama saja artinya melakukan zikir secara ber-sama2 yg dipimpin imam.
      daripada shalat berjamaah tapi zikir dan doa masing2 kayak kalian wahabiyun. lama2 shalat juga masing2 padahal dalam satu mejelis.

      1. si senayan dulu belajar bahasa Indonesianya langsung ke Menteri kang, jadi bahasanya lebih tinggi lagi, padahal mah simple aja cara memahaminya…..

  20. @Ummu Aiman says:
    “Intinya sebagai manusia yang dikaruniai akal gunakanlah untuk berpikir maksimal dalam menemukan kebenaran.”
    Biasanya antum kalo ikut yasinan baca teksnya (bahasa indonesia) atau buka Al Qur’an?
    Menurut akal ibu Aiman, lebih utama mana??

  21. barusan dari blog sebelah : http://abisyakir.wordpress.com/2011/11/13/info-buku-baru-bersikap-adil-kepada-wahabi/#comment-5471

    yg punya blog bilang gini :

    Ibnu Taimiyyah sering keluar-masuk penjara. Terakhir beliau di Damaskus, mengajarkan ilmu dan metodenya. Seperti biasa, ketika pengaruh Ibnu Taimiyyah semakin besar, para penguasa kalap. Mereka jebloskan lagi Ibnu Taimiyyah ke sebuah penjara di benteng Damaskus. Namun, alhamdulillah. Meskipun dipenjara, beliau tetap konsisten mengajarkan ilmu melalui tulisan-tulisan. Para penguasa melakukan langkah dramatis yang membuat Ibnu Taimiyyah jatuh sakit, lalu tak lama kemudian wafat. Langkah itu ialah: beliau tak boleh bersentuhan dengan buku, kertas, dan pena. Inilah fitnah terakhir untuk membungkam Ibnu Taimiyyah. Beliau jatuh sakit, tak lama kemudian wafat.

    Kalau benar, Ibnu Taimiyyah bertaubat, lalu berakidah Asyariyyah, buat apa beliau sampai dipenjara? Buat apa beliau dilarang memegang kertas dan pena? Buat apa beliau jatuh sakit? Itu semua membuktikan, bahwa Ibnu Taimiyyah wafat dalam keadaan SANGAT TEGUH dengan akidah Tauhid Salafiyyah-nya.

    dia ga mau mengakui taubatnya Ibnu Taimiyah, seperti pada artikel :

    Mohon info mendalam dari rekan-2 ummati…..

  22. Bismillaah,

    Abah Asra menulis: “sahabat berkumpul berzikir” dengan “sahabat berjamaah berzikir” sama saja artinya melakukan zikir secara ber-sama2 yg dipimpin imam. daripada shalat berjamaah tapi zikir dan doa masing2 kayak kalian wahabiyun. lama2 shalat juga masing2 padahal dalam satu mejelis.”

    Komentar:

    Imam Syafii mengatakan: “Pada awalnya dzikir itu pelan. Tidak mengapa dikeraskan untuk mengajari makmum berdzikir. Setelah makmum bisa berdzikir, maka dzikir kembali dipelankan.”

    Wallaahu a’lam.

  23. Kang Cep. jgn suka ga nyambung akh,, kan nanya nya Lebih utama mana Baca surat Yasin pake al Qur’an atau baca translatenya (udah gitu cepet2 lagi?)??
    @Nasrul,, nasrul.
    Bisa gak sih pikirannya jgn sempit gitu.. ?? ,, lagian Menteri apaan yg ngajarin bahasa indonesia? Ngaco akh.

    1. @senayan
      Aswaja yasinan tidak baca terjemahannya(translatenya) tapi baca surah yasin dengan tulisan arab dan bahasa arab, anda ngaco kalo bilang baca yasin terjemahnya aja se-kali2 coba nguping orang yasinan.
      tentang baca qur’an cepat(murottal) wahabilah biangnya coba dengar cd murottalnya sudais kebanggaan kalian wahabiyun, bandingkan dengan cd musabaqoh tilawatil Qur’an. lebih meresap kehati yg mana membaca dan mendengar cara muratol atau tilawatil.

  24. Kang Abah Asra menulis: “lama2 shalat juga masing2 padahal dalam satu mejelis.”

    Komentar:

    Memang demikian, Kang. Banyak orang shalat berjamaah. Namun sebenarnya mereka berpecah belah karena mereka tidak menyadari telah mengundang setan untuk ikut shalat dengan membiarkan shaf shalat berjamaahnya renggang. Setan telah membuat hati mereka berselisih. Persis seperti yang disabdakan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh aku melihat setan berebut masuk ke dalam shaf yang renggang.” Rasulullaah juga bersabda: “Rapatkan dan luruskan shaf kalian atau Allah akan mencerai-beraikan hati kalian.”

    Wallaahu a’lam.

    1. Ibnu Suradi ini paling orang paling lucu n lugu, Setan kok ikut shalat? Berarti setan beribadah dong? Apa ada dalilnya setan beribadah shalat?

      Lagian, katanya neh yg pernah ana dengar cerita lelucon teman2 mahasiswa, Wahabi Salafy kalau shalat ngangkang dan maksain nginjak kaki orang di sebelahnya? Awas lho kalau ngangkang setannya main-main di selangkangan antum, qi qi qi….

      1. Mbak Aryati,

        Saya ingat Aryati yang diberitakan duduk di pangkuan Gus Dur.

        Mohon diperhatikan sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: “Sungguh aku melihat setan berebut masuk ke dalam shaf yang renggang.”

        Kalau belum mengetahui bagaimana merapatkan shaf, anda lebih baik mencari tahu hadits-hadits tentang merapatkan shaf shalat berjamaah. Janganlah menulis komentar yang akan menjadi blunder bagimu.

        Wallaahu a’lam.

  25. Satu pertanyaan buat Abah, knp antar mesjid dgn mesjid lainnya bacaan zikir setelah sholat fardhu berbeda2 ??
    @NAs
    kNp ya AKhi..? lg ga sehat ya?

    1. Memangnya harus sama, kalau harus sama percis coba sebutkan haditsnya ada gak, yang mengatakan zikir harus sama percis gak boleh beda. tapi yg paling pokok kalimah Tauhid. bukan tauhid trinitas(tiga).

  26. Bismillaah,

    Bila diundang yasinan, banyak orang yang datang. Namun bila diundang untuk menghadiri majelis tafsir Surat Yasin, hanya sedikit orang yang datang. Ini pengalaman di masjid perumahan saya. Mengapa? Apakah mereka takut mengetahui arti dan kandungan yang ada dalam surat tersebut?

    Makanya, banyak orang yang hafal Surat Yasin karena setiap malam Jumat mereka membacanya. Namun, sedikit sekali yang mengetahui arti surat tersebut, apalagi memahaminya.

    Wallaahu a’lam.

    1. pa Suradi

      ane mau tanya sejatinya “mengetahui” itu definisinya gmn?

      dan definisi memahami seperti apa?

      mohon dijelaskan? nanti ane tanya lagi kalu dah dijawab.

      “krn antum merasa paling tahu”

      syukron

  27. Bismillaah,

    Semua ahli tafsir tidak mengetahui arti kata “yaasiin” dan “thaahaa” dan menyerahkan artinya kepada Allaah. Tapi para pengamal shalawatan (shalawat buatan manusia selain Rasulullaah) mengetahui bahwa kedua kata tersebut adalah nama lain Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam seperti termaktub dalam lafadz Shalawat Badar.

    Wallaahu a’lam.

  28. @ para wahabbi
    kalian tuh ngak bisa nyanggah artikel diatas jadinya ngelantur ngomongnya.
    ada yang ngomong baca yasin sendirian aja trus coba baca pake transliterasi dipelajari sendiri. ada juga yang ngebandingin dengan majelis tafsir,ada yang mempersoalkan tafsirnya.
    ente mau yasinan sendiri, barengan ngak ada yang larang.
    ente mau buka majelis tafsir berapa banyak juga ngak ada larang
    hey wahabbi kesimpulannya ente ngak punya hujjah untuk ngelarang orang yasinan gitu kan.

  29. Nggak akan ketemu hujjahnya, Wahabi itu adalah kaum Penjahat bagi kaum muslimin. Merka suka mengharamkan (bagi Wahabi bid’ah sama dg haram) yg mubah dan lebih parah lagi mengharamkan yg halal. Itulah kejahatan Wahabi. Baca surat Yasin kok dikatakan dosa, ntah ajaran apa yg sedang dipelajari oleh kaum penjahat Wahabi?

    Wahabi kaum penjahat bwesar lihat di sini, klik http://ummatipress.com/2011/11/21/jangan-mau-seumur-hidup-jadi-penjahat-besar-bagi-kaum-muslimin/

    1. Mba @Aryati Kartika
      Ketemu hujjahnya :

      Allah berfirman :
      Dan Bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya Telah kami lalaikan dari mengingati kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS Al Kahfi : 28)

      Berkata Imam At tabari : “Tenangkan dirimu wahai Muhammad bersama sahabat-sahabatmu yg duduk berdzikir dan berdoa kepada Allah di pagi hari dan sore hari, mereka dengan bertasbih, tahmid, tahlil, doa-doa dan amal-amal shalih dengan shalat wajib dan lainnya, yg mereka itu hanya menginginkan ridho Allah swt bukan menginginkan keduniawian” (Tafsir Imam At Tabari Juz 15 hal 234)

      Dari Abdurrahman bin sahl ra, bahwa ayat ini turun sedang Nabi saw sedang di salah satu rumahnya, maka beliau saw keluar dan menemukan sebuah kelompok yg sedang berdzikir kepada Allah swt dari kaum dhuafa, maka beliau saw duduk bersama berkata seraya berkata : Alhamdulillah… yg telah menjadikan pada ummatku yg aku diperintahkan untuk bersabar dan duduk bersama mereka” riwayat Imam Tabrani dan periwayatnya shahih (Majmu’ zawaid Juz 7 hal 21)

      Sabda Rasulullah saw : “akan tahu nanti dihari kiamat siapakah ahlul karam (orang-orang mulia)”, maka para sahabat bertanya : siapakah mereka wahai rasulullah?, Rasulullah saw menjawab : ”majelis-majelis dzikir di masjid masjid” (Shahih Ibn Hibban hadits no.816)

      Bersabarlah Aswaja dalam menanggapi wahabiyun2.

      1. Mas Ucep,

        Qi qi qi…, mantab Mas Ucep, maju terus.

        Maksud ana, Wahabi tidak ketemu hujjahnya yang melarang baca Yasin dalam Yasinan. Makanya sampai sekarang belum ada bantahan yg sebanding dg postingan artikel di atas. Karena mereka tidak akan ketemu hujjahnya, meskipun hujjah yg dho’if seklipun mereka tidak akan ketemu. Syukron.

    2. Baca surat yasin BOLEH, yang tidak boleh mengkultuskan surat yasin dibaca setiap malam jumat. Itu artinya surat2 yang lain tidak boleh dibaca pada malam jumat, menganaktirikan surat yang lain. Ini berarti pula hanya mengakui dan menyenangi satu surat saja. sungguh keterlaluan

  30. Bismillaah,

    Allah menurunkan Al Qur’an – yang di dalamnya ada Surat Yasin – untuk dipahami sehingga dapat dijadikan pedoman hidup untuk menempuh jalan yang lurus. Agar orang yang berpegang pada Al Qur’an tidak berjalan di atas jalan yang sesat.

    Kalau hanya hafal Surat Yasin tapi tidak mengetahui arti kata-kata di dalamnya dan tidak memahami maksud kata-kata tersebut, maka bagaimana kita dapat mengetahui perintah-perintah, larangan-larangan dan kisah-kisah hikmah yang ada dalam surat tersebut? Jangan-jangan kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan apa yang ada dalam surat tersebut.

    Kang Assajjad,

    Anda dapat menguji secara acak kepada orang yang hafal Surat Yasin karena selalu membacanya pada malam Jumat. Apakah mereka mengetahui minimal terjemahan dari kata-kata dalam surat tersebut?

    Wallaahu a’lam.

  31. @Aryati says:
    Itulah kejahatan Wahabi. Baca surat Yasin kok dikatakan dosa, ntah ajaran apa yg sedang dipelajari oleh kaum penjahat Wahabi?
    Masya Allah, siapa tuh yg bilang baca surat Yasin berdosa? jgn asal jeplak, coba COPAS kesini siapa yg pernah ngmg gitu?

  32. Kalau ane sih belajarnya : 1. Hapal dulu trus 2. belajar Tajwid trus 3. belajar Nahu saraf trus 4. baru belajar artinye trus Tasir.
    Lihat aja para imam 4 madzhab : Hapal Qur’an rata2 umurnye baru 7 tahun, baru deh belajar yang lain.
    Lihat para sahabat, mereka hapal dulu baru belajar tafsir sama Ibnu Mas’ud ra dan kalau belajar Qira’at & Tajwid sama ibnu Abbas ra. Gak ada yang berani para sahabat belajar tafsir sama sahabat yang lain kecuali sama ibnu Mas’ud ra, makanya sekarang para ahli tafsir selalu menjadikan Tafisr ibnu mas’ud dan tafsir ibnu Abbas ra menjadi rujukan pertama dalam menafsir Ayat2 Al Qur’an.
    Kenapa ….. ? Gak tau dah.

  33. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Saya setuju dengan tahapan-tahapan belajar mengkaji Qur’an yang anda sampaikan. Hanya saja ada koreksi. Tahapan pertama adalah ilmu tajwid terlebih dahulu, baru hafal Surat Yasin.

    Jangan sampai kita hanya sampai pada tahapan hafalan saja sampai ajal tiba sehingga kita tidak mengetahui arti kata-katanya dan memahami kandungan ayat-ayatnya. Sungguh sangat memprihatinkan jika demikian keadaannya.

    Wallaahu a’lam.

  34. Kalau kite belajar tajwid terlalu lama !!!, lihat contoh langsung aje waktu kite shalat, diajarin tajwid dulu ape hafal dulu?
    Umur 7 tahun, muslim diwajibkan shalat, gimana tuh tajwidnye udeh pada bener?
    Kalo ente shalat sampai sekarang ente tau gak arti yang ente ucapin ayat2 waktu ente shalat ? kalo tau ya alhamdulillah, ane sangat bangga dah.
    Ane inget pesen : “Barangsiapa yang hafal Al Qur’an, maka akan diluaskan kuburnya”.

    Lihat aja dibuku Khalid Ibn Walid “Sword of Allah”, bagaimana seorang pedang Allah belajar tahapan Ilmu Al Qur’an.

    Terserah ente kalo mau belajar seperti itu, yang penting mau belajar sampai ajal menjemput. Alhamdulillah.

  35. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Betul. Sampai ajal menjemput, kita musti terus belajar terutama tentang shalat sehingga shalat kita menjadi benar sesuai yang diajarkan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya.

    Koreksi:

    Seseorang diwajibkan shalat bila sudah aqil baligh, bukan pada usia 7 tahun. Rasulullaah bersabda: “Ajarilah anak-anakmu shalat pada usia 7 tahun. Dan pukullah dia pada usia 10 tahun bila tidak mau shalat.”

    Wallaahu a’lam.

  36. Nah yasinan buat menghafal surah yasin kan bisa bantu kite menghafal, sekaligus berharap rahmat Allah sama ikatan talisilaturahmi antar tetangga, biar mati ada yang gotong.

  37. nah mendingan begitu semua harus pake disiplin ilmu silahkan yang menuduh pake dalil yang tertuduh jg harus mengeluarkan dalil..saya rela keluar dari salah satu pemahaman..saya mendukung kebenaran..walau pahit..hindari kata2 menyakitkan.menyindir tampa ilmu dll.ingat kita semua kaum muslim.harus bersatu…

  38. Apakah Salfy Tobat yg dimaksud adalah meninggalkan amalan Nabi Saw para sahabat dan para tabi’in, contohnya: mencukur jenggut, memanjangkan kumis, memanjangkan celana melebihi mata kaki, meniru cara ibadah non muslim, merokok, menyanyi, bermain musik, dll? Kayaknya orang yg benar-benar mengikuti Nabi Saw para sahabat dan para tabi’in akan memilih dan memillah amal ibadah yg ada contohnya atau ga ada… Saya kira dahulu marhabanan dilakukan oleh Nabi saw, puji-pujian setalah adzan, maulidan, puasa mutih dikirain semuanya amalan Nabi Saw. Ternyata saya harus banyak belajar ilmu syari’at yang diajarkan/dicontohkan oleh Nabi Saw para sahabat dan para tabi’in. Saya ingin mengamalkan ajaran Islam murni/asli yg ada contohnya dalam agama (bukan duniawi: Iptek, geofisika, geografi dsb), walaupun mungkin sudah asing di zaman sekarang ini. sehingga banyak yg menjauhi sebab beratnya amalan, sedikit yg sanggup, banyak yg ga sesuai keadaan. Semoga Allah memasukkan saya ke dalam sorga (tanpa hisab) sebab cinta Allah pada saya, sebagaimana saya berharap dan berusaha mengikuti amalan Nabi Saw para sahabat dan para tabi’in.

    1. lohhhhh kang bedul muncul lagi nih??? katanya dah pamit kang ??? wah kangen sangat nih sama kang bedul….apa kabar kang? sehat??? alhamdulillah…

    2. Bismillaah,

      Ya Akhi Abdullah,

      Antum mengatakan kebenaran bahwa melaksanakan sunnah seperti memegang bara api.

      Dari Anas Ra. berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ”Akan datang pada manusia suatu zaman saat itu orang yang berpegang teguh (sabar) di an tara mereka kepada agamanya laksana orang yang memegang bara api. (HR. Tirmidzi)

      Panas rasanya. Pengamal sunnah musti siap menerima hujatan, ejekan, sindiran, pengucilan dan bahkan tindakan kekerasan. Itulah yang dialami oleh orang yang melaksanakan sunnah memelihara jenggot, berpakaian di atas mata kaki, merapatkan shaf, bersujud dengan meluruskan punggungnya, thuma’ninah, dll.

      Namun bila dilepas, maka hilanglah sunnah tersebut. Mayoritas umat Islam di Indonesia kehilangan sunnah-sunnah tersebut di atas. Inilah yang membuat Muslim terhinakan dan tidak memperoleh kejayaan.

      Wallaahu a’lam.

    3. Bismillaah,

      Dari Anas Ra. berkata Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: ”Akan datang pada manusia suatu zaman saat itu orang yang berpegang teguh (sabar) di an tara mereka kepada agamanya laksana orang yang memegang bara api. (HR. Tirmidzi)

      Orang yang melaksanakan sunnah memanjangkan jenggot, berpakaian di atas mata kaki, merapatkan shaf, meluruskan punggung saat sujud dan thuma’ninah sering menerima hujatan, ejekan, hinaan, pengucilan dan bahkan tindakan kekerasan.

      Mereka merasakan panas laksana memegang bara api. Namun bila dilepas, maka hilanglah sunnah-sunnah tersebut. Dan kebanyakan manusia kehilangan sunnah-sunnah tersebut.

      Marilah saudaraku, Hiduplah di atas sunnah.

      Wallaahu a’lam.

  39. TULISAN : ALHAFIDH ABDULLAH BIN ASSHIDDIQ AL HASANY AL GHUMARI.
    Alih bahasa:Rivqi “al muqollid” faletehan.

    BISMILLAHIRAHMANIRRAHIM.

    Ini adalah petikan dari Arrasail al ghomariyah dalam penyanggahan atas Nashir al albani.
    Al muhaddits sayyidy Abdullah bin Ashiddiq al ghomari ra berkata:

    …..dia adalah Nashiruddin, al albani adalah asalnya(Albania).

    Pada awalnya dia ber I’itikaf di dalam kamar perpustakaan “Al Dzahiriyah” Damaskus disana dia berkutat membaca buku dan betah untuk membaca.

    Setelah itu dia menyangka bahwa dirinya telah menjadi profesional dalam urusan agama. Dia memberanikan diri untuk berfatwa dan mentashhieh hadits atau mendha’ifkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya. Juga dia berani menyerang ulama yang mu’tabar(yang berkompeten di bidangnya)padahal dia mandakwa bahwa “hafalan”hadits telah terputus atau punah.

    Maka akibatnya bisa anda saksikan terkadang dia menganggap buruk pendapat para ulama juga mendha’ifkan hadits yang baik-baik dan menganggapnya lemah,sampai sampai shahih Bukhari dan shahih Muslim pun tidak selamat dari koreksinya.

    Berdasarkan hal tersebut(dia tdk berguru) maka isnadnya maqthu’(silsilah keilmuannya terputus)dan kembali kepada kitab kitabnya yang ia teliti,kembali kepada juz juz yang ia baca dengan tanpa Talaqqi(belajar kepada guru).

    Dia pernah mendakwakan dirinya sebagai kholifah(penerus) Assyaikh Badruddin Al Hasani(salah satu guru Al Ghomari,pen)yang beliau adalah seorang ulama yang tidak pernah terlepas dari biji tasbih dari tangannya meskipun sedang mengajar,dan anehnya ia menganggap bid’ah kepada orang yang mengenakannya(biji tasbih).

    Lalu dia (al Albani) mendakwakan dirinya telah mencapai derajat “penghafal hadits” dan mampu mentashhieh hadits sehingga pengikut pengikutnya menyangka bahwa dia adalah “MUHADDITS” dunia seluruhnya. Apakah dengan sekedar ijazah dari sangkaan seseorang lantas dia boleh berbicara /koreksi atas hadits Rasulillah saw..??

    Kemudian berdasarkan PERSAKSIAN DARI PARA ULAMA DI ZAMANNYA dari para ulama Dimasyq menyatakan bahwa dia tidak hafal matan- matan hadits apalagi sanad -sanadnya. Bahkan KEILMUANNYA tidak mencapai untuk menilai sebuah matan hadits kemudian meneliti rijal(para perowi)nya di kitab kitab “Al Jarh watta’diil”,sehingga berangkat darin itu semua dia menghukumi sebuah hadits dengan menshahihkan dan mendha’ifkan nya dalam keadaan “TIDAK TAHU” bahwa sebuah hadits mempunyai jalan riwayat,syawahid (hadits lain sebagai saksi penopang)dan mutaba’at(penelusuran susulan). Dia juga lupa bahwa seorang “AL HAFIDZ”(penghafal 100 ribuan hadits sanad dan matannya) mempunyai “otoritas” menshahihkan dan mendha’ifkan sebuah hadits sebagaimana yang di katakan oleh Al Hafidz Assuyuthy dalam “AL FIYAH” nya(kitab nadzom ilmu hadits diroyah 1000 bait)

    كَما قَال السُيوطِي فِي ألفيته:
    وخذه حَيث حَافظ عليه نص ** أو من مصنَّف بِجمعه يخص

    artinya:
    Maka ambillah hadits ketika telah di” nash” oleh seoranh Al Hafidz………atau dari kitab susunannya yang khushus untuk kodifikasi hadits tersebut.

    Begitulah hukum sebenarnya dimana bahwa ilmu agama tidak diambil dari “MUTHOLA”AH” atas kitab-kitab ansich dengan mengesampingkan “TALAQQI”(mengaji)kepada AHL AL MA’RIFAH WA AL TSIQOH(ahli pengetahuan khushush dan dapat dipercaya)dikarenakan terkadang dalam beberapa kitab terjadi “penyusupan” dan “PENDUSTAAN” atas nama agama atau terjadi pemahaman yang berbeda dengan pengertian para “salaf” maupun “kholaf” sebagaimana mereka(para ulama) saling memberi dan menerima ilmu agama dari satu generasi ke generasi lainnya maka pemahaman yang berbeda dengan ulama salaf maupun kholaf itu dapat berakibat kepada pelaksanaan “IBADAH FASIDAH”(ibadah yang rusak)atau dapat menjerumuskan kedalam “TASYBIHILLAH BIKHOLQIHI”(penyerupaan Allah dengan Makhluq Nya)atau implikasi negative lainnya.

    Cara seperti itu adalah bukan cara “belajar” dan cara menuntut ilmu yang dilakukan ulama salaf dan kholaf sebagaimana yang telah dikatakan oleh AL HAFIDZ ABU BAKAR AL KHATHIB AL BAGHDADY:…..”ILMU TIDAK DAPAT DIAMBIL KECUALI DARI MULUT PARA ULAMA”.

    Maka jelaslah tidak diperbolehkan mempelajari ilmu agama kecuali dari orang yang “arif” dan tsiqoh yang mengambil ilmu dari tsiqoh………..dst sampai ke para shahabat ra. Sehingga orang yang mengambil Al Qur’an dari Mushhaf dinamakan “MUSHHAFY” tidak dapat disebut “QARI’’ begitulah seperti yang dikatakan Al Hafidz Khathib Al Baghdady alam kitabnya yang berjudul “alfaqih wal mutafaqqih” bersumber dari sebagian ulama salaf.

    Cukuplah bagi kita sebagai anjuran untuk “talaqqi”(menerima ilmu dari guru)sebuah hadits Nabi saw:

    :”مَن يُرد الله بهِ خَيراً يُفقّهه فِي الدِين, وفِي رِوَاية زيادة: “إنَما العِلم بالتعلُمِ, والفِقه بالتفقّه

    Artinya: barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah swt maka ia diberi pemahaman dalam agamadalam sebuah riwayat ada tambahan…”bahwa ilmu hanya(didapat)dari belajar….(HR.AL BUKHORY,MUSLIM,AHMAD DI MUSNADNYA DAN LAIN LAIN)

    Terdapat juga di al mu’jam al kabir imam thabrany 19/395 Al Hafidh di Al Fath mengatakan “Isnadnya baik” 131/1

    ورَوى مُسلم فِي صحيحهِ عَن ابن سِيرين أنهُ قَال: ” إنّ هَذا العِلم دِين فانظرُواعمّن تأخذُون دينكُم”.

    Imam Muslim dalam shahihnya meriwayatkan dari Ibnu Sirin ia berkata:”bahwa ilmu ini adalah Agama maka lihatlah kepada siapa kalian mengambil agama kalian”

    أخرجهُ مُسلم فِي صَحيحهِ: المُقدمة: بَاب بَيان أن الإسنَاد مِن الدِين, وأنَ الرِوَاية لا تكُون إلاّ عَن الثقات, وان جرح الرواة بِما هُو فيهم جَائِز بَل وَاجِب وأنهُ ليسَ مِن الغِيبة المُحرّمة بَل مِن الذبّ عَن الشَريعة المُكرّمة

    Hadits tadi diriwayatkan imam Muslim di Muqaddimah shahihnya bab: menerangkan bahwa isnad itu bagian agama dan bahwa meriwayatkan hadits itu tidak boleh terjadi kecuali dari orang yang tsiqot(dipercaya)dan bahwa mencela “periwayatan” itu diperbolehkan asal sesuai dengan kenyataan bahkan wajib bukan termasuk “GHIBAH” yang diharamkan namun dengan tujuan “mempertahankan” syari’at yang dimuliakan.

    Imam Abu Hayyan Al Andalusy berkata:

    وقَال أبو حَيان الأندلسِي:

    يظنّ الغُمْرُ أن الكُتْبَ تَهدي ** أخَا جَهلٍ لإدْراكِ العُلومِ
    ومَا يَدري الجهولُ بأنّ فِيها ** غَوامِض حَيّرت عَقلَ الفهيمِ
    إذا رُمت العُلومَ بغيرِ شيخٍ ** ضللتَ عَن الصِراط المُستقِيم
    وتلتَبِسُ الأمُورُ عليكَ حَتى ** تصيرَ أضلَّ مِن تُوما الحَكيم

    Artinya:
    khalayak ramai menyangka bahwa kitab kitab itu dapat menuntun orang bodoh untuk menggapai ilmu……padahal orang yang amat bodoh tidak tahu bahwa di dalam kitab kitab itu banyak masalah rumit yang membingungkan akal orang cerdas.

    Apabila engkau mencari ilmu tanpa guru…..maka engkau dapat tersesat dari jalan yang lurus.
    Maka segala hal yang berkaitan akan menjadi samar buatmu hingga engkau menjadi lebih sesat disbanding si Thomas (Ahli filsafat).
    (hasyiyah Al Thalib ibnu Hamdun ala lamiyat al ‘af’al hal 44)

    Assyaikh Habiburrahaman al A’dzhami Muhaddits daratan India berkata dalam Muqaddimah bantahan nya terhadap Al Albany dengan judul “mablagh ilm al Albany(kapasitas keilmuan Al Albany)dengan teks sebagai berikut….

    “Syekh Nashiruddin Al Albany adalah orang yang sangat menyukai untuk menyalahkan orang orang yang sangat brilian dari kalangan pembesar para ulama dan dia tidak memperdulikan siapapun orangnya.Maka dapat anda lihat terkadang dia melemahkan riwayat Imam Bukhary dan Imam Muslim dan ulama lainnya yang dibawah level ke dua imam tadi………dan hal itu terjadi di banyak tempat sehingga sebagian orang yang BODOH dan yang terbatas pemikirannya dari kalangan ulama menyangka bahwa Al Albani adalah orang yang profesional pada abad ini dan kemahirannya jarang ditemukan semacam dia di era sekarang. Semacam inilah hal yang dibanggakan olehnya di berbagai tempat dengan mengeluarkan kotorannya sehingga para pembaca melirikkan pandangan mereka dan terkadang dia mengatakan :”aku mendapatkan tahqiq(pernyataan) semacam ini dan tidak akan kau temukan di lain tempat(maksudnya di kitab lain-yang menurut dia- tidak terdapat pernyataan semacam itu).

    terkadang dia mendakwa bahwa dirinya “di istimewakan” oleh Allah di abad ini untuk meneliti atas hadits hadits tambahan dalam kondisi perbedaan riwayatnya yang tersebar di kitab kitab yang berserakan sehingga ia telah mencapai hal yang belum pernah diraih para Muhaqqiqqiin yang telah lampau maupun yang akan dating.

    Namun orang yang “mengenal” al Albany dan orang yang meneliti biografinya ia pasti mengetahui bahwa dia tidak mendapatkan ilmu dari “MULUT PARA ULAMA” dan dia belum pernah duduk bersimpuh di depan pengajian para ulama ,padahal ilmu itu harus didapat dengan cara ta’allum(mengaji).

    Ada berita sampai kepada saya bahwa hafalan kitabnya tidak melebihi “mukhtashor al qodury” dan profesi keahlian sebenarnya adalah “mereparasi jam” yang dirinya mengakui hal ini dan membanggakannya.padahal cara mendapatkan ilmu dengan ta’allum tersebut adalah hal yang telah lazim dikenal dikalangan pelajar hadits di seluruh madrasah kami(india).Begitulah apa yang telah dinyatakan oleh Assyaikh Muhaddits diyar al Hindiyah الألبَانِي أخطاؤه وشُذوذه 1/9

    Inilah kapasitas keilmuan al albany,maka bila kau membaca kitab kitabnya akan kau temukan tanda yang jelas karena dia menyebut apa yang ia katakan shahieh akan berlawanan dengan apa yang dikatakan dengan dha’ief hingga kau temukan dia merubah hadits hadits Nabi saw dengan sesuatu yang tidak boleh diakukan oleh Ahlul ilmi bil hadits. Pada akhirnya dia mendha’ifkan yang shahieh dan menshahiehkan yang dhai’ef. Ini adalah polah tingkah orang yang belum pernah menghirup aroma “ILMU” dan cara orang yang belum pernah mengenal para “GURU” dan belum pernah “SAMA’ “dari teks teks lafadz mereka. Saya tidak melihat dia kecuali orang yang membaca kitab dan menganggap bahwa mencari ilmu itu tidak butuh terhadap bimbingan dan talaqqi para guru. Padahal kita sungguh mengetahui bahwa seorang penghafal hadits tidak hanya mencukupkan diri dengan muthala’ah tanpa berkeliling mencari ilmu dari para guru dari biografi mereka dan mereka sama’(mendengar riwayat hadits) sebagaimana orang orang sebelum mereka ber sama’ kepada para guru ……begitulah adat kebiasaan “AHLI -ISNAD”.

    Termasuk diantara “cacat” al Albany adalah dia berani mengkoreksi Imam imam besar,cukuplah sebagai celaan bahwa dia mengkoreksi dan berani terhadap hadits Shahih imam bukhory dan shahieh Imam Muslim,oh….seandainya saja dia mendhaifkan hadits hadts tadi berdasarkan ilmu dan ma’rifah…..namun sayang dia mendhaifkannya karena “KEBODOHAN” dan keculasan.

    Siapapun orang yang mau melihat kitab kitabnya dengan pemahaman dan pengetahuan yang baik dan menjauhkan diri dari “ta’ashshub”(fanatisme)dan buang jauh jauh kebodohan yang berbahaya maka akan menjadi jelas bagi dia bahwa “AL ALBANY” adalah orang yang sangat lemah dalam ilmu hadits baik matannya maupun rijalnya.

    Diantara cacat Al Albany yang fatal adalah dia menuduh orang yang mengingkarinya dengan si “pembuat bid’ah” dan dia sendiri lah yang sunny dengan pengikutnya sehingga berhak masuk sorga dan penentangnya adalah ahlulbid’ah yg akan masuk neraka. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk mencapai “kemasyhuran” dia ingin menjadi yang terhebat di zamannya dan mengungguli pendahulu pendahulunya.

    Kesimpulannya Al Albany dan fatwa fatwa dan istinbathnya adalah merupakan “BENCANA” untuk kaum muslimin. Bisa anda lihat bagaimana dia membid’ahkan berdzikir dengan biji tasbih,membaca al Qur’an untuk mayyit….juga di kitab kitabnya banyak kesesatan yang nyata apalgi di syarah Al Thohawy. Maka sesuai dengan pernyataan di atas apa yang dikatakan oleh Assyaikh Muhammad Yasin Al fadany yang masyhur bahwa Al Albany itu “Dhaallun mudhillun”(sesat dan menyesatkan).

    Juga sesuai dengan pernyatan Syaikh Al Muhaddits Habiburrahman: ketika aku membaca karangan al albani dalam pembahasan seperti ini dan yg lainnya ,aku menjadi teringat hadits Nabi saw:

    إن ممَا أدرَك النَاس مِن كلام النُبوة الأولى إذا لَم تستحِ فاصْنع مَا شِئت”.

    “sungguh apa yang dapat di tangkap oleh manusia dari perkataan Nubuwwah yang pertama adalah “kalau kau tidak tahu malu maka berbuatlah sesukamu…”

    Sekarang kami katakan kepada para pengikut Al Albani dan yang terbujuk rayu ucapan-ucapannya dan kepada orang orang yang tertipu dengan slogan slogannya …”kembalilah kalian kedalam ajaran yang baik yang sudah ada, ikutilah jalan para Abror…..ikutilah jalan yang lurus campakkan jalan orang yang menyimpang dari “Annahj al mustaqiim”….

    Takutlah kalian untuk memberanikan diri atas kalam Rasulillah saw dengan tanpa didasari ilmu,jangan kalian terperdaya oleh orang yang sesat meskipun dia mempunyai puluhan karangan dan buku.

    Oh…..betapa buruknya keberanian mengkoreksi dan berkecimpung tanpa ilmu atas hadits Nabi saw.
    Ya Allah kami memohon kepada Mu keselamatan dan penjagaan …..
    Allah swt berfirman:

    قَال الله تَعالى: (وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمُ إنَّ السَّمْعَ والبَصَرَ والفُؤَادَ كُلُ أوْلئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولاً) 36 [ سُورة الإسراء].”

    (janganlah kau ikuti apa yang kamu tidak mengetahui karena pendengaran,pengelihatan dan hati itu semuanya akan dipertanggung jawabkan…)……
    sekian.

    *) NOTE:
    Perlu untuk di ketahui bahwa Alhafidh Abdullah al Ghumari Al Hasany adalah Al Allamah di bidang hadits dan ilmu lain. Pada awalnya Hafalan hadits beliau mencapai 50.000 hadits baik sanad maupun matannya,namun setelah beliau meninggal banyak ulama yang menjuluki Al Hafidz..diantara murid beliau adalah Mufty Addiyar al mishriyah Al Allamah al Imam Ali Jum’ah. selengkapnya keterangan tentang beliau bisa di baca disini http://pemudanabawi.religionboard.net/t65-sayyid-abdullah-siddiq-al-ghumari#103

  40. [TANYA] kalau hadis tentang baca yasin di hari ke 3 atau 7 atau 10 atau 40 atau 100 dan atau 1000 itu ada yang soheh gak ya, di kampung saya banyak yang yasinan seperti itu, dan saya masih bingung mau ikut atau nggak? thanks

  41. Ikhwan dan Akhawat …, saudara-saudaraku yang mulia, baik yang nahdhiyin, atau salafiyin, atau yang serupa dgn Nahdhiyin dan Salafiyin. Marilah kita menjaga adab dlm berbeda pendapat.

    Kpd saudara-saudaraku kaum salafi (wahabi), jagalah lisan Anda dr menyerang saudara-saudara Anda baik itu dari NU, ‘Alawiyah, PKS, Jamaah, Tabligh, dan lain-lain. Sebab ulama salaf sangat mampu menjaga etika khilafiyah fiqih dgn sangat santun …

    Kpd saudara-saudaraku yang pernah diserang salafi, khususnya kaum Nahdhiyin dan Alawiyah, bersabarlah dan jawablah dgan ilmu, jgn degan caci makian. Lalu bersikap adil-lah, dan jgn membabi buta, sebab tidak selalu org yang mengkritik Antum adalah dari mereka, melainkan bisa jadi dari kawan-kawan sendiri … bukankah sesama aswaja sendiri juga ada perbedaan pendapat? sbgai contoh, dlm beberapa hal Imam Asy Syafi’i pun blm tentu diikuti oleh pengikutnya seperti sampainya bacaan AlQuran kpd mayit, … kata Imam Nawawi itu adalah pendapat masyhur (terkenal) tetapi bukan mukhtar (pilihan) dlm madzhab Syafi’i.

    Oleh karenanya, … saya sedih melihat keberingasan teman-teman salafi (wahabi) menyerang aswaja, dan saya juga sedih melihat balasan dari aswaja terhadap mereka. Saya tercenung, kapan ini selesai?

    Salam dr saudara kalian yg merindukan Ukhuwah Islamiyah.

  42. Mnurut ana sbnrnya antara ke duanya ga slg ganggu kok & ga ada yg saling mneyalahkan, cm dibalik ini smua ada aktor2 yg senang m’adu-domba umat muslim, itu saja. Sbb pd hakekatnya klo ana liat cara pandang aswaja & salafy wahhabi itu sama kok, Tuhan nya sama, Rasulnya jg sama & kiblatnya pun sama. Cuma beda caranya aja, yg 1 murni & yg 1 lg ganda campuran ^_^.

    Jd saran ana, b’hati2lah umat muslim, sbb musuh qta yg plg nyata adlh org2 nasrani & yahudi, merekalah trs-menerus b’usaha m’hancurkan umat muslim dg b’bagai cara, jd jgn t’tipu atau mudah dihasut dg taktik adu-dombanya!

    1. Apa????
      Adu domba?
      Ya emang benar antum bang Budi.

      Wahabi emang korban adu domba, kok mau2nya mereka dijari oleh YAHUDI agar mau mengharamkan amal-amal sholih kaum muslimin. Baca Yasin, tahlilan dan Maulid Nabi itu adalah amal-amal sholih bernilai ibadah. Tapi Wahabi kok bisa2nya mengharamkannya. Ini ajaran siapa kalau bukan ajaran YAHUDI?

      Jelas2 tidak sama cara pandang Wahabi dg cara Pandang kaum muslimin. Sangat berlawanan arah, hasilnya juga saling berlawanan. Wahabi berpandangan orang2 yg TAHLILAN, YASINAN dan MAULIDAN semuanya masuk neraka, sedangkan Kaum muslimin berpandangan bahwa semua itu bisa menjadi amal-amal sholih yg ada pahalanya di sisi Allah Swt sehingga bisa menjadi sebab masuk surga-NYA. Jadi pandangan Wahabi dan Kaum Muslimin itu benar2 berlawan, itu sangat jelas!!!

    1. Mas Sabar, yg sabar ya?

      Antum sudah tahu apa belum bahwa Lau kaana khoron dst… itu bukan hadits juga bukan ayat Qur’an. Tetapi itu adalah perkataan Ibnu katsir? Jelas itu bukan dalil yang kuat, sebab banyak kebaikan (amal-amal sholih) di masa sekarang yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh para Sahabat Nabi.

      Apakah antum sudah tahu apa belum, bahwa perkataan “Lau kaana khoiron dst…”, itu adalah meniru perkataan kaum kafir Musyrik untuk meledek Nabi Muhammad ketika mereka diajak masuk Islam oleh Rasul Muhammad Saw? Coba simak ayat berikut:

      وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ ۚ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَٰذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

      Artinya: Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya (Al Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”. Al Ahqaaf(46):11

      Jadi… apakah antum sedang meledek kaum muslimin yang sedang melakukan kebaikan-kebaikan (amal-amal sholih), ketahuilah perbuatan antum itu meniru kelakuan kaum kafir / musyrik di zaman rasul Muhammad saw. Na’udzu billah min dzaalik.

  43. “..sebab banyak kebaikan (amal-amal sholih) di masa sekarang yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh para Sahabat Nabi”

    apakah anda ingin mengatakan bahwa anda lebih faham ibadah dalam agama ini dari pada sahabat dan Nabi sekalipun ?

    Jika menurut anda baik hari ini, sekarang ini, apakah Nabi dan Para Sahabat tidak tau ? atau mereka tidak mau mengamalkanya ?

    Subhanallah, sungguh mereka para sahabat adalah sebaik-baik muslim, sebaik-baik mukmin, sebaik-baik pengamal syariat, sebaik-baik ummat, summalladzi nayalu nahum, summalladzi nayalu nahu

    1. mas sabar yang sabar ya…..? kalo ada yang belum tanyakan saja Insya Allah Mas Admin dan crewnya akan dengan senang hati menjawabnya.

    2. Sabar said:

      Jika menurut anda baik hari ini, sekarang ini, apakah Nabi dan Para Sahabat tidak tau ? atau mereka tidak mau mengamalkanya ?

      Baiklah Mas Sabar, kami kasih contoh biar jelas.

      1)- Berdakwah lewat internet adalah amal baik/sholih, padahal berdakwah lewat internet tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan sahabat.

      2)- Membuat dan mengelola panti asuhan anak-anak yatim piatu adalah amal baik/sholih, padahal Nabi dan para Sahabat tidak bikin panti asuhan buat anak2 yatim piatu.

      3)- Akhir-akhi ini Masjid-masjid di pinggir-pinggir Jalan Menyediakan makanan takjil untuk buka puasa bagi kaum muslimin yg lewat di situ, itu adalah amal baik/sholih, padahal nabi dan para Sahabat tidak melakukannya.

      4) Maaf mas Sabar, capek ngetiknya, contoh amal baik/sholih itu sangat banyak di zaman ini padahal Nabi dan para Sahabat tidak melakukannya.

      Kita melakukan amal-amal kebaikan / sholih tidak harus menunggu contoh dari Nabi dan Sahabat. Kita bisa berinisiatif sendiri asalkan baik, tidak melanggar syari’at maka oke-oke saja lho Mas Sabar, seperti ktiga contoh di atas. Itu semua termasuk ibadah ghoiru Mahdhoh, ibadah jenis ini kita bisa berinisitif sendiri tanpa contoh dari Nabi saw. Bahkan Nabi saw mendorong kita untuk berinisiataif sendiri untuk membuat ibadah ghoiru mahdhoh, Nabi bersabda “MAN SANNA SUNNATAN HASANATAN,,,,, dst.

      Kecuali jika kita melakukan amal sholih berupa ibadah MAHDHOH seperti sholat wajib, ibadah puasa romadhon, ibadah haji, maka harus ada contoh dari Nabi Muhammad Saw. Jangan coba-coba ngarang untuk ibadah MAHDHOH ini, kalau ngarang tidak sesuai yg dicontohkan Nabi Saw maka akan jadi bid’ah dholalah.

      Demikian, semoga bermanfaat.

      1. kalo membaca komentar2 kaum wahabi kadang kasihan , mereka ingin lari menjauh dari Bid`ah malah kecebur dalam bid`ah itu sendiri , melarang sesuatu yang Allah dan Rosulnya tidak larang.

        1. Mas Ahmad Syahid,
          mungkin anak2 Wahabi semacam Kang Sabar itu tidak sepenuhnya salah, yg jelas2 bersalah itu guru-gurunya/ustadz2nya. Jadinya saya juga ikut kasihan kepada mereka yg jadi korban pengajaran ngawur seperti itu.

          Hasilnya benar2 luar biasa, ilmu gama anak2 Wahabi jadi kacau. Kang Sabar itu adalah contohnya, semoga dia segera menyadari, bahwa untuk beramal sholih yg ghoiru mahdhoh tidak harus menunggu contoh dari Rasullullah dan para Sahabat. Penjelasan Mas Admin dan contoh2 yg diberikannya itu sudah sangat jelas bagi orang-orang yg berakal.

          syukron Mas Admin.

          1. kalau saya Yasinan tiap malam lagi, bahkan pagi2 sudah yasinan, apalagi malam jumat, yasinan terus, sekarang saya baca yasinan itu setiap mau pergi kerja, setiap mau makan, setiap mau sholat, pokoknya yasinan terus, ga dosa koq, wong baca alquran koq dilarang, dan ini akan aku ajarkan kepada anak cucuku kalo yasinan itu untuk hal2 yg lain , jgn malam jumat aja, bila perlu kalo mau masuk wc harus baca yasin dulu (jgn dilarang, wong baca alquran koq dilarang)

      2. Bismillah
        Alhamdulillah bisa tukar pikiran ama Mas Ahmad Syahid
        sekalian nih belajar bikin quote 🙂

        Berdakwah lewat internet adalah amal baik/sholih, padahal berdakwah lewat internet tidak pernah dilakukan oleh Nabi dan sahabat.

        Kalo internet kan kulitnya mas, baju. Isinya kan Dakwah. Rasulullah SAW ajarkan koq

        Membuat dan mengelola panti asuhan anak-anak yatim piatu adalah amal baik/sholih, padahal Nabi dan para Sahabat tidak bikin panti asuhan buat anak2 yatim piatu.

        Lah ini juga tempatnya aja, Rosulullah bersabda ” Aku dan Yang menyantuni anak Yatim seperti 2 jari ini”. Apalagi Al-Quran, ada di Surat Al-ma’un

        Akhir-akhi ini Masjid-masjid di pinggir-pinggir Jalan Menyediakan makanan takjil untuk buka puasa bagi kaum muslimin yg lewat di situ, itu adalah amal baik/sholih, padahal nabi dan para Sahabat tidak melakukannya.

        Kalo ini namanya Shodaqoh, bisa di mana saja dan kapan aja. Usman bin Affan RA, shodaqohnya paling gede

        Maaf mas Sabar, capek ngetiknya, contoh amal baik/sholih itu sangat banyak di zaman ini padahal Nabi dan para Sahabat tidak melakukannya.

        waduh kalo kulitnya, bajunya, caranya, medianya, sah-sah saja jaman Nabi nggak ada.
        Inti/Isi ajarannya kan udah diajarkan Nabi SAW. Ini yang Boleh, Ini Nggak Boleh, Ini Dosa ke Neraka, Ini Pahala ke Syorga

        Kalo salah tolong benerin saya; Rasulullah SAW bersabda” Kalian lebih tahu urusan Dunia kalian dari pada aku”
        Kalo jaman Rosulullah SAW nggak lengkap ya wajar. Lah Rosul SAW nggak ngajarin ilmu Dunia Koq.

        Kita melakukan amal-amal kebaikan / sholih tidak harus menunggu contoh dari Nabi dan Sahabat. Kita bisa berinisiatif sendiri asalkan baik, tidak melanggar syari’at maka oke-oke saja lho Mas Sabar

        Sebentar…… agak rancu kayaknya nih
        1. Ukuran amalan itu baik/sholih datangnya dari siapa? standar bakunya yg bikin siapa? trus fungsi Nabi sebagai pembawa syariat bagaimana?
        2. Boleh inisiatif, tapi ndak melanggar Syariat. ??? Bukannya Syariat udah sempurna, kalo inisiatif berarti nambah donk

        Kecuali jika kita melakukan amal sholih berupa ibadah MAHDHOH seperti sholat wajib, ibadah puasa romadhon, ibadah haji, maka harus ada contoh dari Nabi Muhammad Saw. Jangan coba-coba ngarang untuk ibadah MAHDHOH ini, kalau ngarang tidak sesuai yg dicontohkan Nabi Saw maka akan jadi bid’ah dholalah.

        gimana ya ngarang sesuai contoh ?

        afwan, mohon nasehat

        1. Kang Sabar@. Silahkan anda sampaikan Konsep Bid’ah versi pemahaman anda dulu, baru kita diskusikan apakah amalan-amalan kami masuk kategori bid’ah Dholalah atau tidak…!

        2. Assalamu ‘alaikum
          @Sabar

          Kalo internet kan kulitnya mas, baju. Isinya kan Dakwah. Rasulullah SAW ajarkan koq

          Jadi menurut anda yg penting ISI tidak bertentangan dgn AQ dan sunnah…maka tidak masalah dilakukan….Apakah benar begitu ?

        3. Jawaban sampeyan Itu namanya NGEYEL kang Sabar, Ngeyel itu modalnya orang2 jahil, sebaiknya natum jangan niru2 sikap oarng jahil, ok?

          1. aryati…Bahaya lisan itu sangatlah besar, kejelekannya tidaklah kecil jika engkau tidak bertaqwa kepada Allah dalam menggunakan lisan ini. Bersemangatlah engkau ketika berbicara untuk tidak mengucapkan kecuali kebaikan, tidaklah bertutur kata kecuali pada perkara-perkara yang positif.

            Menjaga Lisan Bahaya lisan itu sangatlah besar, kejelekannya tidaklah kecil jika engkau tidak bertaqwa kepada Allah dalam menggunakan lisan ini. Bersemangatlah engkau ketika berbicara untuk tidak mengucapkan kecuali kebaikan, tidaklah bertutur kata kecuali pada perkara-perkara yang positif. Allah Subhanahu wa Ta’ala berrfirman

            مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (Qaaf: 18)

            Perkataan-perkataan yang engkau ucapkan itu akan dihitung dan terekam, maka berhati-hatilah engkau dari ketergelinciran ke dalam perbuatan ghibah terhadap seorang muslim, berdusta atas nama dia, ataupun berbuat namimah (adu domba). Berhati-hatilah dari mencela, mencaci, serta ucapan yang mengandung kefasikan dan dosa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

            من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت ،ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik atau diam, dan barangsiapa yang beriman kepada hAllah dan hari akhir, maka hendaknya dia memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia memuliakan tamunya. (HR. Al-Bukhari XI/265, Muslim 47)

          2. Antum@

            Antum benar kita harus menjaga lisan, saya sangat setuju. Akan tetapi apa yg saya katakan tentang tentang kang Sabar@ yg ngeyel itu adalah fakta tentang beliau. NGEYELNYA minta ampyun biangeeets, tampak sekali memaksakan diri agar kelihatan seperti orang2 berilmu. Karena beliau tidak sadar dg eksistensinya yg seperti itu, maka saya harus terang-terangan menyebut dia ngeyel, biar sadar lah beliau ini. Kalau nggak mau juga menyadarinya, yah yg penting saya sudah mengingatkannya.

    1. semua dilakukan yang penting ada unsur kebaikan, yang lagi ngetren dari ajaran nenek moyang kita soal kenduri arwah itu baik, tahlilan itu baik, sholawatan itu juga baik, zikir bareng bareng itu juga baik, saya juga berpikir kalau yang dilakukan semua itu banyak unsur baiknya yang telah diajarkan turun temurun dai kakek nenek kita, berarti tidak salah juga nanti saya akan ciptakan suatu acara SUJUD berjamaah, jadi acaranya sujud terus sambil menagis merenungi kesalahan, sujud menhadap kiblat, semua jamaah yg hadir wajib sujud kepada allah dan acara ini diluar dari wakto sholat, kan ini baik juga, ngajak orang sujud kepada Allah, tidak perlu pakai dalil lah, yang penting untuk kebaikkan , dari pada nonton bola, kan bagus sujud beramai ramai, kira2 ARYATI, DIK, UCEP DAN MINJAKJINGGO setuju ga??? dengan niatan saya ini membuat suatu kegiatan yg baik

  44. @Sabar

    Saya setuju dg antum dan hujjah2 antum…. memang harus terus didakwahkan sunnah ini sampai ajal menjemput kita….memang susah karena mereka sudah turun temurun melakukan ibadah2 yang tidak dicontohkan oleh Nabi SAW. Makanya mereka melihat dakwah sunnah ini dakwah yang asing….. Benar sekali sinyalemen Nabi SAW bahwa Islam pada awalnya asing (ghoriiban) dan pada akhirnya akan menjadi asing….(mohon maaf teks lengkap haditsnya lupa)…..

    Allohu a’lam

    1. Mas Amoh@. Ana ngajukan satu pertanyaan buat antum:

      Apa hukum mengerjakan amal sholih yang sebelumnya tidak ada contoh dari Nabi?

      Tolong dijawab yang jelas berikut dasar hukumnya!

        1. Bismillah,
          @bu Hilya & Aryati Kartika
          saya balik pertanyaannya kira-kira ada nggak amal sholeh yang nggak dicontohkan Nabi SAW ?
          kalo menurut keyakinan saya: semua amal sholeh sudah dicontohkan Nabi SAW
          kalo anda berdua bilang masih ada, artinya bisa saja anda berdua lebih tau dari Nabi SAW tentang amal sholeh

          wallahu’alam

          1. Kang Sabar, antum sudah ngerti apa belum sih tentang apa itu amal sholih?

            Contohnya begini:
            Kalau antum ngasih makan kuda nil yg sedang kelaparan agar tidak mati, perbutan antum termasuk amal sholih apa amal buruk kang? Kalau perbuatan bagus ini diniati ibadah, boleh nggak kang?

            Kalau antum membersihkan got di depan rumahmu agar tidak terjadi banjir, perbuatan antum itu termasuk amal sholih apa amal buruk kang? Kalau perbuatan bagus ini diniati ibadah, boleh nggak kang?

            Sudah dua aja kang, semoga bisa menambah wawasan antum tentang amal sholih. kedua amal sholih tsb tidak pernah dicontohkan oleh Rasul saw. Apakah pernah Rasul saw memberikan contoh ngasih makan kuda nil yg kelaparan? Apakah pernah Nabi Saw mencontohkan bersih2 got agar tidak terjadi banjir? Nah…. paham kang?

            Kesimpulan: segala perbuatan baik (sholih, ma’ruf) bisa diniatkan sebgai ibadah. Antum salah dalam menuntut ilmu kalau mengatakan semua amal sholih sudah dicontohkan oleh Rasul Saw, sebab faktanya banyak amal-amal sholih yg belum pernah dicontohkan oleh rasul saw. OK?

          2. Bismillah,

            Mbak Putri,
            kalo ngasih makan Kuda Nil nya ya enggak lah, Tapi dengan dikhabarkannya kepada kita oleh Baginda Rosul SAW tentang wanita pelacur yang masuk syorga gara-gara ngasih minum anjing yang kehausan. Menjadi pelajaran kepada kita bahwa berbuat baik (diajarkan/dicontohkan Rosul SAW) kepada binatang seperti anjing akan mendapat pahala dari sisi ALLAH SWT
            caranya bisa : Memberi makan, mengobati saat sakit, dll
            Anda tau itu perbuatan baik dari mana ? kalo nggak diajarkan Rosul SAW ?

            Perlu yang satu lagi saya jelaskan juga 🙂

            Wallahu’alam

          3. Bismillah,
            Mang Sabar,

            Pertanyaan anda

            kira-kira ada nggak amal sholeh yang nggak dicontohkan Nabi SAW ?

            membuktikan anda berkomentar tidak berdasar data, mungkin anda lupa atau saking bernafsunya hingga ceroboh…

            Coba anda buka lagi, katanya anda paling ahli Sunnah paling ahli hadits…., lihat HR.Bukhoriy ttg jam’ah sholat Tarowih 20 Rokaat yang digagas oleh Umar bin Khotthob RA, Adzan Jum’ah ditambah menjadi tiga kali oleh Utsman bin Affan RA, dan masih banyak yang lain, yang kesemuanya belum pernah dicontohkan oleh Nabi….

            Kalau pakai Logika anda berarti Umar, Utsman, juga sahabat yang lain Rodhiyallohu ‘Anhum Ajma’in, lebih pintar dari Nabi… makanya kalo coment pake’ ilmu walau sedikit biar nggak ngawur….

            Mohon maaf ana bicara agak kasar mudah-mudahan anda lebih hati-hati dalam coment…

          4. Bismillah,
            Kalau ada sunnah baru dalam agama ini yang dilakukan oleh Sahabat, itu terbatas kepada khulafaurrosidin saja. Dan Baginda Nabi SAW telah mentakrirnya karena mereka mendapat petunjuk. Jangan kita ikut-ikutan bikin sunnah baru dalam agama ini. Legalitasnya nggak ada dari Baginda Rosul SAW
            Namun tetap saja sunnah yang diikuti itu hendaknya mendekati kepada sunnah Baginda Nabi SAW.

            Wallahu’alam

          5. Mang Sabar,

            Bagaimana anda mengatakan

            Dan Baginda Nabi SAW telah mentakrirnya

            sedangkan apa yang digagas oleh Kholifah Umar RA, tentang jama’ah tarowih, dan oleh Kholifah Utsman ttg Adzan Jum’ah terjadi setelah wafatnya Rosululloh SAW?

            Sekali lagi ana sarankan, belajar dulu ttg agama in jangan hanya belajar membid’ahkan, mensyirikkan orang lain…

  45. Susah amat sih ibadahnya ummat islam ini,musti tahu dalil lah,musti sama persis dengan nabi lah.gak boleh beda sama nabi lah..mendingan gak usah ibadah dan amal sholih saja,entar kalau ditanya malaikat di akherat “kenapa kamu gak pernah ibadah” jawabanku : Habis aku ngertinya ibadah dari Kyai dan Ulama katanya gak boleh dikerjakan katanya Bid’ah,terus aku suruh ibadah sama seperti contohnya Nabi Lah bagaimana bisa saya yakin sama contohnya nabi persis. wong jarak hidup saya sama Nabi saja 1500 Tahun lebih,Gini Aja deh…saya ridlo mau ditempatin mana saja Sama ALLOHKU mau di neraka atau di syurga terserah Yang penting ALLoh yang berkehendak Saya Ridlo dan ikhlas…

    1. Wahabi itu tidak ngerti apa itu amal sholih. Mereka mengira HOBBY membid’ahkan, memusyrikkan, mengkafirkan Ummat Islam adalah amal sholih. Makanya mereka antusias berbuat begitu karena menurutnya pekerjaan keji seperti itu dikiranya amal sholih. Aapakah ada contoh dari Nabi Saw perbuatan keji tsb?

      Aapakah Nabi Muhammad Hobby Membid’ahka, memusyrikkan, mengkafirkan Ummat Islam? Jelaslah tidak. Nabi tidak mencontohkannnya, jadi Wahabi itu siapa yg dicontohnya kok malah menghalang-halangi Ummat Islam melakukan amal-amal sholih seperti YASINAN, TAHLILAN, MAULIDAN dll? Yang dicontoh Wahabi itu Iblis dan syetan kali ya kok menghalang-halangi Muslimin beramal sholih? Punten, kalau Iblis dan Syetan kan seperti itu kerjaanya sebagai Penghalang perbuatan amal-amal sholih, ya nggak akang-akang sedayana?

      1. Lek Mujiono…hati hati dalam berkomentar
        Bahaya lisan itu sangatlah besar, kejelekannya tidaklah kecil jika engkau tidak bertaqwa kepada Allah dalam menggunakan lisan ini. Bersemangatlah engkau ketika berbicara untuk tidak mengucapkan kecuali kebaikan, tidaklah bertutur kata kecuali pada perkara-perkara yang positif.

        Menjaga Lisan Bahaya lisan itu sangatlah besar, kejelekannya tidaklah kecil jika engkau tidak bertaqwa kepada Allah dalam menggunakan lisan ini. Bersemangatlah engkau ketika berbicara untuk tidak mengucapkan kecuali kebaikan, tidaklah bertutur kata kecuali pada perkara-perkara yang positif. Allah Subhanahu wa Ta’ala berrfirman

        مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. (Qaaf: 18)

        Perkataan-perkataan yang engkau ucapkan itu akan dihitung dan terekam, maka berhati-hatilah engkau dari ketergelinciran ke dalam perbuatan ghibah terhadap seorang muslim, berdusta atas nama dia, ataupun berbuat namimah (adu domba). Berhati-hatilah dari mencela, mencaci, serta ucapan yang mengandung kefasikan dan dosa. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

        من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت ،ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik atau diam, dan barangsiapa yang beriman kepada hAllah dan hari akhir, maka hendaknya dia memuliakan tetangganya, dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaknya dia memuliakan tamunya. (HR. Al-Bukhari XI/265, Muslim 47)

      1. Oleh Kang Mujiono dikasih penjelasan yg blak blakan sehingga jelas begitu, eh malah bilang lebay? kumaha atuh kang Sabar? Mau dapat hidayah enggak sih, atau sudah terlanjur nyaman jadi temannya syetan dan Iblis?

    2. Bismillah,
      Ya iyalah Mas Wahyu
      sampeyan mo ke Bandung aja pasti nanya2 dulu ke orang yang tau bandung
      dari sini naik apa, trus kemana, ongkosnya brapa ?

      Apalagi syariat, mesti jelas.
      Kan kaidahnya Semua Ibdah hukum asalnya Harom kecuali yang disyariatkan.
      Syariat pasti dicontohkan atau diterangkan oleh Nabi SAW cara atau kaifiatnya.
      Sholat, Shodaqoh, Puasa, Haji, Mandi Junub, Bertamu, Takziah, Perang, Ghonimah, Waris,dll
      Tau bagi waris dari mana ? pasti dari Nash atau Dalil
      Nash atau Dalilnya ? AlQuran dan Sunnah/Hadist

      Wallahu’alam

    1. Bismillah,
      perkara ini sebenarnya sederhana saja:

      Kita ummat Nabi SAW, ya tentu saja harus beribadah sesuai tuntunan Nabi SAW

      Sholat dari mana kita kerjakan kalo nggak dari Nabi SAW. Bahwa cara/kaifiat sholat terjadi khilaf diantara para ulama tidak masalah. yang penting memiliki dasar Nash dan Dalil yang Rojih mendekati tata cara sholat Rosulullah SAW. begitu pula dengan amalan lainnya.

      Jarak Nabi SAW dengan kita terpaut cukup jauh, SANGAT BENAR. Makanya kita belajar dengan mencari Dalil dan Nash yang shahihah dari Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in serta Ulama-ulama yang Mu’tabar dan Amanah

      Tentu kita sebagai penuntut ilmu tidak mau asal comot saja toh
      Lah wong untuk urusan dunia saja kita belajar sampe S3, nyebrang Negara pulak. Masak untuk urusan Dien, kita pasrah saja. Ayo Semangat !

      Pahamilah agama ini sebagaimana generasi terbaik ummat ini memahami dan mengamalkannya, Yaitu Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in dan Para Salafusholeh yang mengikuti mereka

      Tinggal Sami’na waato’na, taslim terhadapa semua sunnah Nabi SAW yang shihihah.
      InsyaALLAH, selamat
      Kalau ada sunnah baru dalam agama ini yang dilakukan oleh Sahabat, itu terbatas kepada khulafaurrosidin saja. Dan Baginda Nabi SAW telah mentakrirnya karena mereka mendapat petunjuk. Jangan kita ikut-ikutan bikin sunnah baru dalam agama ini. Legalitasnya nggak ada dari Baginda Rosul SAW
      Namun tetap saja sunnah yang diikuti itu hendaknya mendekati kepada sunnah Baginda Nabi SAW.

      Hendaknya kaidah kita dalam mencari ilmu agama minimal sama dengan kaidah kita dalam mencari ilmu dunia:

      Ketika kita belajar ilmu dunia, kita banyak bertanya dasar ucapan guru kita. malah kita uji guru kita dengan pertanyaan yang tujuannya membuat kita yakin dan percaya dengan apa yang dikatakannya

      Namun sayang seribu kali sayang, saat kita belajar Ilmu Dien. Yang jelas-jelas terpaut jauh dengan Baginda Rosul SAW, malah taqlik pasrah tak bertanya

      Apa susahnya, atau Apa Dosanya bertanya dengan sopan kepada Ustadz, Kyai, Syaikh, Guru, Buya, Ulama kita;
      Mana/Apa Dlilnya Guru?
      Shahihkah dalil itu Ustadz?
      Di kitab mana/apa kami bisa mempelajarinya Buya?

      Guru mana yang marah jika muridnya bertanya dengan sopan ?

      Katanya kita Cinta Rosul SAW, Katanya kita Pejuang Sunnah, Katanya kita Ahlussunnah

      wallahu’alam

      1. kix kix kix…. jadi nggremeng antum kang Sabar, ngomong sendiri aje? Mungkin sebaiknya antum pergi ke tukang ruqyah Kang Sabar, biar cepat sembuh.

          1. Itu ketawa yg saya tahan biar tidak terdengar keras, maklum kan sudah malam banyak teman2 saya yg sudah tidur di rumah ini. Susah juga nulis ketawa yg tertahan jadinya seperti itu, kang Sabar.

            Kenapa saya ketawa, karena melihat natum ini sangat lucu, seperti ustadz yg sedang kesurupan, ngomong sendirian, bikin pernyataan2 yg dibantah sendiri dijawab sendiri, gitu kang Sabar.

      2. Sabar,
        Tulisan antum bagus klo untuk tukang jamu. tapi sayang klo masalah Dien tulisan antum ngaco tidak bermoral. Dari pada antum gembar-gembor, coba silaturahim ke rumah para Kyai dan Syaikh2, pasti dijelaskan.

  46. apa salahnya baca alqur’an, bukankah baca alqur’an zikir terbaik?. zikir dengan baca alqur’an bisa dg beberapa cara yaitu 1. zikir surat; baca fatihah, al-ikhlas, al-muawwizatain, yasin, almulk dsb. 2. zikir ayat ; ayat kursy, 3 ayat terakhir albaqarah dsb. 3. doa; doa nabi musa robisrohli dst, doa robbana aatina fiddunya hsanah dst, dan banyak tasbih dan istighfar para nabi yg diabadikan alqur’an…..kok disalahin sih……..

    1. Bismillah,
      @asoel-kyo
      Bukan disalahin Mas. Coba deh periksa dan renungkan tanpa emosi dengan hati jernih
      apa salahnya baca alqur’an, bukankah baca alqur’an zikir terbaik?

      Setuju !

      Tahu dari mana kita bahwa bacaan al-quran itu zikir terbaik ? pasti dari Nash/Dalil baik Quran sendiri maupun Hadist
      Nah begitu pula dengan amalan yang lain. Hendaknya kita berdalil dalam mengamalkannya
      Jika ada Suadara muslim yang mengamalkan amalan tanpa dalil, menurut itiqat keyakinan kami maka hal itu akan sia sia berdasarkan hadist Man ‘amila amalan laisa ‘alaihi amruna fahuwa roddhun

      Tentu saja niat kami adalah mengingatkan, Walau tetap diakui bahwa ada beberapa orang yang menyampaikan dengan cara-cara yang kurang mengedepankan kasih sayang sesama muslim (subhat/fitnah dari syaiton)
      sehingga menjadi banyak mudhorot daripada manfaatnya

      Hanya kepada ALLOH kita bertaqwa, dan hanya kepadaNYA kita memohon petunjuk
      wallahu’alam

  47. Kalau saja saudara-saudara dari penganut Wahabi itu tidak keras kepala sehingga mau membaca artikel di atas dg tanpa emosi, pastilah akan paham. Karena artikel di atas itu sudah sangat jelas dalam menerangkan hal2 yg berkaitan dg isu2 bid’ah yg divoniskan oleh kaum Wahabi Indonesia.

    Tapi sayang, sifat keras kepala itu memang sudah otomatis tertanam di dada sebagai penganut kebenaran satu2nya. Saya dulu juga seperti itu, kerasa kepala dan merasa hanya saya yg benar, tetapi alhamdulillah saya bisa sembuh. Berkat baca-baca artikel yg ada di sini lalu terisnpirasi untuk terus mencari kebenran. Alhamdulillah akhirnya dapat hidayah dg membuang Wahabisme yg sdh sekian lama menyumpekkan hati saya.

  48. @Sabar :
    Saudara terlalu tinggi menggunakan ungkapan, dikira para pengamal “istilah” Yasinan, Tahlilan, Waqi’ahan, Al Fatihahan dls sebagai umat yang tidak mengikut Rasulullah S.A.W., Para Sahabat, Tabi’in dan Ulama Penerus Rasulullah Muhammad S.A.W.

    Kami para pengamal hal tersebut diatas, bukan orang yang banyak teori/memperdebatkan masalah-masalah tersebut. Sesungguhnya sudah banyak tersurat di dalam Kitab-kitab Ulama’ tentang fadhilah dan keutamaan tiap-tiap bacaan/amalan/wirid/dzikir dll. Tersbut dalam beberapa kitab seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Riadhus Shalihin, dan masih banyak kitab lain yang menjelaskan. Bahkan untuk memperjelas ulama-ulama mutaakhirin menulis lagi kitab/buku, misalnya Mana Dalilnya, 40 Masalah Agama dan lain sebagainya itu sudah cukup bagi kami meyakini amalan-amalan tersebut. Beberapa ulama pengarang bahkan punya sanad keilmuan yang musalsal sampai kepada Rasulullah Muhammad S.A.W. melalui jalur yang jelas.

    Situs ini dan beberapa situs lain dari Ahlus Sunnah Wal Jamaah jelas membentengi umat Islam untuk tidak terpedaya pada tuduhan bid’ah sesat, khurafat, kufur dan lain sebagainya.

    Sekali lagi kami adalah pengamal apa yang sudah disampaikan Rasulullah S.A.W. dan pengikutnya yang terpilih dan mendapat hidayah, amalan-amalan itu juga tertulis secara jelas dalam kitab-kitab ulama’ yang mu’tabar. Sebaiknya saudara mengaji saja lagi agar lebih terbuka wawasan keilmuan saudara, jangan hanya dari terjemah yang anda pahami semau anda sendiri.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang faqir dan dhaif
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  49. Berikut ini saya kutipkan hadits-hadits (shahih) tentang fadhilah surat Yasin dari Tafsir Ibn Katsir :
    “Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari, maka pagi harinya ia diampum oleh Allah. Barangsiapa yang membaca surat al-Dukhan, maka ia diampuni oleh Allah.” (HR Abu Ya’la).
    Menurut al-Hafizh Ibn Katsir, hadits ini sanad-nya jayyid (shahih). Komentar Ibn Katsir ini juga dikutip dan diakui oleh al-Imam al-Syaukani dalam tafsimya Fath al-Qadir, bahwa sanad hadits tersebut jayyid, alias shahih..

    “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari ridha Allah, maka Allah akan mengampuninya,” (HR. Ibn Hibban dalam Shahih-nya).
    Hadits ini dishahihkan oleh al-Imam Ibn Hibban dan diakui oleh al-Hafizh Ibn Katsir dalam Tafsir-nya, al- Hafizh Jalahiddin al-Suyuthi dalam Tadrib al- Rawi, dan al- Imam al-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir dan al-Fawaid al-
    Majmu’ah. Al-Syaukani berkata dalam al-Fawaid al- Majmu’ah sebagai berikut: “Hadits, “Barangsiapa membaca surat Yasin karena mencari ridha Allah, maka Allah akan mengampuninya diriwyatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Humairah secara marfu’ dan sanadnya sesuai dengan kriteria hadits shahih. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan al- Khathib. Sehingga tidak ada alasan merryebut hadits tersebut dalam kitab-kitab al-Maudhu’at (tidak benar menganggapnya sebagai hadits maudhu’).” (Al-Syaukani, al-Fawaid al- Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, haL 302-303).

    bagaimana seandainya hadits-hadits yang diamalkan oleh kaum Muslimin itu hadits dha’if?
    maka hal tersebut tidak menjadi persoalan. Sebab para ulama sejak generasi salaf yang saleh telah bersepakat
    mengamalkan hadits dha’if dalam konteks fadhail al-a’mal. Syaikhul Islam al- Imam Hafizh al-’Iraqi berkata:
    “Adapun hadits dha’if yang tidak maudhu’ (palsu), maka para ulama telah memperbolehkan mempermudah dalam sanad dan periwayatannya tanpa menjelaskan kedha’ifannya, apabila hadits tersebut tidak berkaitan dengan
    hukum dan akidah, akan tetapi berkaitan dengan targhib dan tarhib seperti nasehat, kisah-kisah, fadhail al-a’mal dan lain-lain. Adapun berkaitan dengan hukum-hukum syar’i berupa halal, haram dan selainnya, atau akidah seperti
    sifat-sifat Allah, sesuatu yang jaiz dan mustahil bagi Allah, maka para ulama tidak melihat kemudahan dalam hal itu. Di antara para imam yang menetapkan hal tersebut adalah Abdurrahman bin Mahdi, Ahmad bin Hanbal,
    Abdullah bin al-Mubarak dan lain-lain. Ibn Adi telah membuat satu bab dalam mukaddimah kitab al-Kamil dan al-Khathib dalam al-Kifayah mengenal hal tersebut.” (Al-Hafizh al-lraqi, al-Tabshirah wa al-Tadzkirah,juz 1, hal. 291).

  50. Bukannya yasinan, tahlillal itu bagian dari dakwah wali songo ya, untuk mengganti ang lebih baik daripada berjudi, bermabukan de el el, saat ngumpul waktu ada yang meninggal?

    benar gak sih salah satu tanda akhir zaman itu ayat2x Allah SWT akan dibaca bagai serungling? (tanpa diresapi makna ayatnya) yg penting bisa tamat/selesai ayatnya?

    Trus saya pernah dengar, saat ada orang kesurupan dibacain ayat kursi yang kerasukan (dalam hal ini katanya dikontrol Jin) malah ikutan balik baca ayat kursi tersebut kemudian tertawa? karena yang baca hanya sekedar baca kali ya, bagai seruling? Tanpa keyakinan Penuh?

    Yang disunahkan itu kegiatan “Mengkaji” atau “Mengaji” Al-Qur’an sih?

    Mengkaji itu memahami secara mendalam isi al-qur’an tersebut atau sekedar membacanya yang penting selesai satu juz atau tamat membaca 30 juz? walau entah apa makna dari ayat yang kita baca?

    Bagai Seruling ini yang seperti digambarkan dengan meninggi rendahkan bacaan ayat, seperti penyanyi, begitukah? Hingga penyanyi ada menganggap perlu mempelajari tilawatil qur’an dulu agar suaranya bagus?

    Mana yang baik? Yang mengerti makna dari al-qur’an itu dari basmallah hingga surat terakhir, atau yang dapat menyelesaikan 30 juz di bulan ramadhan tapi belum bisa menjelaskan apa sih makna (bukan artinya) dari bacaan basmallah?

    1. bang Fauzul Adzim@

      Sadarlah Akhi, membaca Al Qur’an walaupun tanpa tahu artinya akan tetap dapat pahala setiap huruf dg 10 pahala kebaikan, demikian ajaran Rasulullah Saw.

    2. @fauzul adzim
      Kelihatannya ente selalu mengkaji setiap ayat itu sangat bagus, tapi bagaimana tentang ayat al Qiyamah 16-21, bukankah Allah sendiri yang akan mengajarkannya dan memberi penjelasannya bagi orang hafal al Qur’an, ini ane tulis.

      16. Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya.
      17. Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
      18. Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.
      19. Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.
      20. Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,
      21. Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.

      Ente percaya sama Ayat ini atau tidak ???

    3. Bismillaah,

      Saya setuju setiap muslim hendaknya mengerti arti syukur-syukur tafsiran ayat Qur’an sehingga ia dapat berpegang teguh pada Qur’an dalam kehidupannya.

      Apalagi Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” Usaha untuk mengerti arti dan tafsiran ayat Qur’an termasuk perbuatan menuntut ilmu. Dan ilmu tersebut adalah terutama apa kata Allah dan RasulNya.

      Wallaahu a’lam.

      1. anda benar kang ibnu, bahwa ilmu tersebut adalah terutama apa kata Allah dan RasulNya, yang jelas juga bukan kata ulama2 wahabi, sekarang pemahaman celana cingkrang itu menurut siapa ? dan mana dalilnya ?

        1. Bismillaah,

          Kang Prabu,

          Dalil tentang berpakaian di atas mata kaki, saya sudah menyampaikannya. Tentang celana panjang, mungkin kita sama-sama mengenakan celana panjang. Mungkin yang harus dicari adalah dalil boleh tidaknya kita mengenakan celana panjang. Apakah anda mengetahui dalil celana panjang. Kalau boleh, celana panjang yang bagaimana? Apakah celana panjang yang turun hingga di bawah mata kaki atau celana panjang yang hanya sampai di atas mata kaki yang anda sebut sebagai celana cingkrang? Celana panjang model mana yang anda kenakan?

          Mungkin orang merasa risi bila mengenakan celana panjang yang menampakkan bentuk pantatnya sehingga ia musti menurunkan pakaian atasnya hingga menutupi pantatnya. Atau mungkin orang merasa aman-aman saja saat mengenakan celana panjang yang menampakkan bentuk pantatnya sehingga pakaian atasnya dimasukkan ke dalam celana panjangnya. Bagaimana dengan anda? Memasukkan baju dalam celana panjang atau mengeluarkannya?

          Mohon maaf bila ada perkataan saya yang tidak berkenan di hati anda.

          Wallaahu a’lam.

    1. Abu Hanief@

      Kenapa antum setuju dg kejahilan yg dipertontonkan oleh Kang Sabar@, apakah karena antum sendiri merupakan orang sejenis kang Sabar, yaitu orang2 yg malas berpikir? Tentang kebaikan (kesholihan) aja dia nggak ngerti masak mau menyebabkan hidayah bagi orang lain?

      Coba perikasa pernyataan kang Sabar di dalam salah satu koment nya kemarin tentang ZINA yg dikatakannya sebagai kebaikan (silahkan baca koment kang Sabar di link ini ini juga http://ummatipress.com/2011/11/12/yasinan-itu-bidah-sesat-demikian-kata-para-ahli-bidah/#comment-22218 ), apa nggak aneh pernyataan seperti itu? Sejak kapan ada ZINA dikatakan sebgai kebaikan, kecuali oleh orang sesat imajinasinya, na’dzu billah min al dholalatil Wahabiyyah.

  51. Bismillah.
    Inilah liciknya Syiah, mereka mencoba mengadu domba sesama sunni dengan isu-isu perbedaan diantara mereka. Dan betapa banyak saudara kita orang NU yang termakan oleh tipu muslihat mereka. Coba kita renungkan, orang NU tidak akur dengan yang lainnya hanya oleh isu-isu tradisi, adat, dan kebiasaan. Tapi mengapa mereka adem ayem saja dengan mulai bermunculannya orang2 Syi’ah di sekitar mereka. Padahal orang syi’ah telah mengkafirkan hampir semua sahabat, menuduh ummul Mukminin Aisyah sebagi pelacur, menuduh Al Qur’an yang berada di rumah-rumah orang NU itu tidak lengkap, menuduh bahwa Abu Bakar dan Umar yang merupakan sahabat dan mertua rosululloh sebagai dua berhala qurais, dan tuduhan-tuduhan nista lainnya (tuduhan keji syiah selengkapnya baca di sini http://haulasyiah.wordpress.com).
    Wahai saudaraku sunni-ahlus sunnah waljama’ah, janganlah kita terbawa oleh taqiyah (kebohongan2) orang syiah yang ada di blog ini, mereka sekarang sedang menyusun makar terhadap kita semua. Tidakkah kita tergugah melihat saudara kita ribuan orang2 sunni di bantai di irak, suriah, siria, dan di tempat lainnya (lihat video kekejaman syiah di sini http://haulasyiah.wordpress.com/2012/01/19/pembataian-sadis-ahlussunnah-oleh-syiah-rafidhah/).
    Perhatikanlah vidio tersebut dengan cermat wahai saudaraku sunni semuannya, itulah kekejaman mereka kepada sunni, dari dahulu sampai sekarang. maka waspadalah wahai saudaraku sunni semuannya. Tragedi Sampang adalah bara kecil permulaan saja, sekarang ribuan pemuda Indonesia mendapat bea siswa ke IRAN, dan mereka telah dipersiapkan untuk membantai kita orang2 sunni di mana saja.
    Semoga Alloh Ta’ala melindungi kita semua dari makar-makar mereka. Dan memenangkan kita atas mereka, sebagaimana dulu Ali telah memerangi dan membakar mereka > Amin

  52. sungguh artikel yg bagus…
    semoga Allah mebuka hati orang2 yg hasud dan dengki dengan kebaikan dan pencerahan…
    semoga Allah memberikan pahala dan kebaikan yg banyak thp orang yg mau membaca kalam Nya..
    semoga Allah memberikan pahala dan kebaikan yg banyak thp orang yg mau belajar /mempelajari kalam Nya..
    semoga Allah memberikan keberkahan yg banyak thp orang yg mempunyi pengertian dan keilmuan thp kalam Nya..
    semoga Allah memberikan keberkahan yg banyak pula thp orang yg melaksanakan itu semua….amiin

  53. ‘ saudara2ku semua sebangsa dan setanah air, pendapat saudara2 benar semua, karena itu bersumber dari keyakinan yang terbangun dari pengalaman anda, dan juga itu adalah bagian dari rahmat serta rahasia-Nya. jadi tdk usah dibentrokkan (terus terang saya ngeri melihatnya!) mari kita amalkan ajaran Islam dengan tingkat/taraf pemahaman kita masing2 sambil terus melaksanakan salah satu kewajiban orang Islam yaitu belajar dan terus belajar. karena Islam adalah rahmatan lil’alamin, dengan perantara nabi Muhammad yang berdakwah secara lembut juga bijak tanpa secuil pun ungkapan apalagi makian bahkan lagi kekerasan yang menusuk perasaan. beliau tidak pernah menyalahkan atau mengkafirkan namun memberikan contoh/tauladan.
    mari kita ingat sekelumit dari kelemah lembutannya:

    بَشِّرُوا وَلاَ تُُنَفِّرُواوَيَسِّرُوا وَلاَتُعَسِّرُوا

    “Berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari. Mudahkanlah dan janganlah kalian persulit”.

    Al-Bukhari dalam kitab Shahihnya no.220 meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah pernah berkata kepada para sahabatnya pada kisah tentang seorang Arab Badui yang kencing di masjid.

    دَعُوهُ وَهَرِيْقُوا عَلَى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءِ أَوْ ذَنُو بًا مِنْ مَاءٍ فَإِنَّمَا بُعِشْتُمُ مُيَسِّرِينَ وَلَمْ تُبْعَشُوا مُعَسِّرِيْنَ

    “Biarkanlah dia ! Tuangkanlah saja setimba atau seember air. Sesungguhnya kalian diutus untuk mempermudah, bukan untuk mempersulit”

    untuk itu mari kita resapi keimanan/keyakinan kita masing2 (semoga dpt tercapai lezatnya iman) tanpa harus memaksakan kehendak yang berakibat terpecahbelahnya umat. dan sdh saatnya kita bergandeng tangan membangun negeri ini agar para pejuang yang merintis kemerdekaan tidak kecewa dan menangis untuk yg kedua kalinya akibat melihat kekonyolan kita.

    (dengan ilmu manusia akan lebih beretika dan setiap langkahnya akan selalu berestetika)

  54. ” bid’ah merupakan sesuatu yang tidak diperbuat atau diperintahkan pada masa Nabi Muhammad.

    Akan tetapi bid’ah hanya berlaku untuk ibadah yang sifatnya mahdhoh atau aktivitas yang sudah ditentukan syarat dan rukunnya. Sementara bagi ibadah yang sifatnya muamalah tidak berlaku ketentuan bidah.

    Salat, zakat, haji, puasa Ramadan itu adalah ibadah mahdhoh yang sudah ditentukan syarat dan rukunnya. Kalau syarat dan rukun itu ditambahi atau dikurangi, itu baru namanya bid’ah. Sementara kegiatan tahlil, yasinan, memakai sarung dan peci saat salat, bersalaman setelah salat, memakai ponsel, dan lain-lain itu juga tidak dilakukan pada zaman nabi. Tetapi itu bukan bid’ah karena hanya ibadah muamalah. Itu boleh dilakukan selama tidak bertentangan dengan syariat Islam”

  55. Assamualaikum wr.wb.
    sahabat!!! yasinan secara berjamaah yang biasa dilakukan oleh umat islam di indonesia boleh-boleh saja. tapi yang sangat membuat hati menangis ada suatu kampung yang ramai untuk yasinan tetapi di saat waktu shalat tiba ternyata masjid sepi hanya ada beberapa orang saja yang melakukan shalat berjamaah. seperti apa sebenarnya pemahaman kita mengenai Perintah Allah ini sebenarnya. apakah yasinan berjamaah lebih utama dibandingkan dengan shalat berjamaah di masjid, menangis hati melihat fenomena umat islam seperti ini

    1. Mas Aryadi Saputra…
      lho kok antum bilang boleh Yasianan? Bukankah Kaum Wahabi or Salafy sudah terkenal mengharamkan Yasinan? kalau haram kan artinya tdk boleh dilakukan, dosa lho pelakunya, masuk neraka lho? Kok antum bilang boleh?

      Kalau soal cerita masjid sepi sedangkan Yasinan ramai, itu sih sering saya dengar dari mulut anak2 Wahabi, biasalah mereka suka sekali ngarang cerita bohong!

      1. maaf sebelumnya mbak, klo dikampung saya hal itu terjadi..
        klo sholat berjamaah masjidnya memang kosong, mau ada yasinan atau tidak ya tetap kosong… memang kesadaran masyarakat di kampung saya masih kurang

        tapi masalahnya bukan pada yasinannya, klo memang yasinan jadi penyebabnya harusnya jama’ah sholat subuh, dzuhur, ashar, maghrib bisa rame.. faktanya tetep sepi..

        @aryadi saputra
        klo memang anda prihatin, silahkan lakukan tindakan nyata..
        kata anda yasinan itu boleh-boleh saja, jadi tolong nasehati teman-teman anda yang masih melarang orang yasinan…
        bukankah sunnah Rasulullah SAW untuk memperbanyak membaca al-qur’an, berdikir dan berdo’a.. dan beliau bersabda : “Apa yang aku perintahkan maka kerjakanlah semampumu dan apa yang aku larang maka jauhilah“. (HR Bukhari).
        dalam yasinan, mereka kan juga melaksanakan sunnah Nabi saw.. jadi tolong jangan dilarang… mereka mungkin mampunya cuma segitu

        apakah anda berfikir klo yasinan dihapuskan masjid bisa rame pas waktu sholat?? jaka sembung naek becak… gak nyambung cak 🙂

  56. mbak Vira, hadist yg dimaksud mbak vira mungkin Hadist Riwayat Bukhori no. 7288 dan Riwayat Muslim no. 1337 ya?. Lengkapnya begini : “Biarkan aku (dari) apa-apa yang aku tinggalkan, karena sesungguhnya telah binasa org-org sebelum kalian disebabkan mereka banyak bertanya dan banyak menyelisihi Nabi-Nabi mereka, jika aku melarangmu dari sesuatu maka jauhilah dan jika perintahkan kamu untuk berbuat sesuatu, maka lakukakanlah semampumu”.
    – “Biarkan aku (dari) apa-apa yang aku tinggalkan” sy memahaminya jgn menambah–nambah dan jangan kurang-kurangi…
    – “Banyak menyelisihi Nabi-Nabi mereka” sy memahaminya mrk mengamalkan apa yg tdk diamalkan Nabi dan mereka tidak mengamalkan apa yg diamalkan Nabi. Begitu khan mbak Vira?

  57. Bismillah,

    Saudaraku @Ibn abdul chair,

    comment anda :

    “Biarkan aku (dari) apa-apa yang aku tinggalkan” sy memahaminya jgn menambah–nambah dan jangan kurang-kurangi…

    darimana anda memahami demikian ? jika pemahaman anda tidak ada dasarnya berarti anda telah menambah bunyi hadits tsb… Hayo siapa yang suka nambah2 makna hadits?

  58. Masak sih udah dipanggil ustadz, tidak bisa membedakan antara nambah2in ama org yg setlh membaca terus paham. Misalkan ada tulisan “dilarang masuk” terus dipahami (oooh enggak boleh masuk) terus dituduh nambah-nambahin. Masih sama ama ibadahnya nih… suka mengada-mengada.

    1. Bismillah,

      Mas @Ibn Abdul Chair,

      1. Dipanggil Ustadz, atau Cak, atau bro bagi kami sama saja. emang apa untungnya dipanggil ustadz?

      2. Analog anda tidak tepat

      – Sabda Rosul : ” Tinggalkan Aku terhadap apa-apa yang aku tinggalkan ” anda fahami dengan “Jangan Menambah-Nambah dan jangan kurang-kurangi” anda analogikan dengan “Dilarang Masuk” dengan artian (Ooo dilarang masuk)…

      yang kami tanyakan darimana anda berkesimpulan “Jangan menambah-nambah dan jangan kurang-kurangi”? kami senenarnya orang awam biasa, tapi setidaknya kalau analog anda aneh….

  59. @Ibn Abdul Chair :

    Apa kabar saudaraku ? Saya tunggu tanggapan saudara tentang ucapan Nashirudin al Albani tentang “pengkafiran” nya kepada Imam Bukhari Ra. Ternyata saudara malah muncul disini menggunakan Sahih Bukhari, yang saudara jelaskan langsung sendiri dari pemahaman saudara dengan mengabaikan Asbabul Wurud Hadits tersebut. Saya juga masih ingat disitu saudara dengan ungkapan pribadi menyampaikan bolehnya memilih bacaan salam kepada Nabi menggunakan Assalamu ‘alaika ayyuhan Nabi atau Assalamu ‘alan Nabi, karena keduanya punya dalil kuat. Saudara menjelaskan laiknya ulama yang mengerti sekali pengambilan hujjah. Padahal dalam Ahlus Sunnah Wal Jamaah jelas wajib menggunakan Assalamu ‘alaika ayyuhan Nabi dst, bahkan Syekh Bin Bazz dengan Lajnah Daimahpun memfatwakan demikian sesuai kutipan saya. Lalu saudara ini, pakai dasar pengambilan hukum yang mana ? Yang saya tidak suka saudara seakan mengerti Kitab Fathul Bari kemudian menyimpulkan sendiri. Berhentilah saudaraku, jika saudara tidak punya sanad keilmuan yang musalsal lebih baik mengikuti Fatwa Ulama yang muktabar, jangan kita sok seakan ahli fatwa.

    Sekali lagi disini saudara menafikkan Asbabul Wurud hadits, yang itu wajib diketahui sebelum kita memahami suatu hadits.

    Hadits itu bunyinya begini :
    عن أبي هريرة عبدالرحمن بن صخر رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم , فإنما أهلك الذين من قبلكم كثرة مسائلم واختلافهم على أنبيائهم

    Asbabul wurud (latar belakang) hadits tersebut adalah :

     Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu menceritakan bahwa Rasulullah saw berkhotbah, “Wahai manusia, Allah swt mewajibkan kalian berhaji maka berhajilah “Tiba-tiba ada seseorang bertanya: Apakah tiap tahun ya Rasulullah? Rasululah SAW diam hingga orang itu mengulangi pertanyaannya sebanyak tiga kali. Beliau lalu menjawab : “Kalau saya katakan ya maka wajib dilaksanakan tiap tahun. Kalau demikian, kalian pasti tidak bisa melakukannya. Lakukanlah hal-hal yang aku ajarkan, karena ummat-ummat sebelum kalian binasa karena terlalu banyak bertanya dan sering berbeda pendapat tentang ajaran nabi mareka . Jika aku memerintahkan sesuatu maka lakukanlah semampu kalian dan jika aku melarang sesuatu maka tinggalkanlah”. 

    Pernyataan saudara yang mengatakan :
    1. “Jangan menambah-nambah dan jangan kurangi-kurangi” jelas jauh dari makna hadits dan Asbabul Wurudnya. Apa pemahaman saudara tentang kalimat   ما استطعتم , ??? Kalau melihat kata-kata saudara mau mengarahkan kepada makna Bid’ah Dhalalah yang selalu saudara bawa sebagai tema.

    2. Saudara menggunakan kata simpel, yaitu “menyelisihi” nabi-nabi mereka. Lalu saudara menimpali dengan ucapan pribadi saudara sendiri, “mengamalkan apa yg tdk…dst”. Jelas lagi ini diarahkan untuk pemahaman bid’ah dhalalah, yang tidak cocok saudara gunakan untuk dalil itu. Lalu saudara memahami kalimat dibawah ini apa ???

    , فإنما أهلك الذين من قبلكم كثرة مسائلم واختلافهم على أنبيائهم

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    1. @Ibnu Abdul Chair :

      Saudara belum menjawab semua pertanyaan saya diatas, termasuk apakah cocok hadits itu saudara arahkan menjadi dalil bid’ah dhalalah ???

      Apakah saudara tidak takut membawakan hadits Rasulallah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa alihi wasallam untuk hujjah, sedang saudara tidak memahaminya secara jelas ??? Ini bukan main-main saudaraku. Yang saudara bawakan ucapan Rasul yang mulia panutan kita semua. Saudara sudah siap mempertanggungjawabkan ini kelak ???

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. Bismillah,

      @Mas derajad, mungkin hadits yang dimaksud saudara kita Ibn abdul chair yang ditunjukkan buat mbak Vira adalah hadits Imam Bukhori berikut:

      عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ بِسُؤَالِهِمْ وَاخْتِلَافِهِمْ عَلَى أَنْبِيَائِهِمْ فَإِذَا نَهَيْتُكُمْ عَنْ شَيْءٍ فَاجْتَنِبُوهُ وَإِذَا أَمَرْتُكُمْ بِأَمْرٍ فَأْتُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

      Atau mungkin hadits Imam Muslim sbb :

      وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ كُلُّهُمْ قَالَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَرُونِي مَا تَرَكْتُكُمْ وَفِي حَدِيثِ هَمَّامٍ مَا تُرِكْتُمْ فَإِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ثُمَّ ذَكَرُوا نَحْوَ حَدِيثِ الزُّهْرِيِّ

      Dengan penjelasan sbb :

      عن أبي هريرة خطبنا رسول الله صلى الله عليه و سلم فقال يا أيها الناس قد فرض الله عليكم الحج فحجوا فقال رجل أكل عام يا رسول الله فسكت حتى قالها ثلاثا فقال رسول الله لو قلت نعم لوجبت ولما استطعتم ثم قال ذروني ما تركتكم الحديث وأخرجه الدارقطني مختصرا وزاد فيه فنزلت يا أيها الذين آمنوا لا تسألوا عن أشياء ان تبد لكم تسؤكم وله شاهد عن بن عباس عند الطبري في التفسير وفيه لو قلت نعم لوجبت ولو وجبت لما استطعتم فاتركوني ما تركتكم الحديث وفيه فأنزل الله يا أيها الذين آمنوا لا تسألوا عن أشياء ان تبد لكم الآية وسيأتي بسط القول فيما يتعلق بالسؤال في الباب الذي يليه ان شاء الله تعالى قوله ما تركتكم أي مدة تركي إياكم بغير أمر بشيء ولا نهي عن شيء وانما غاير بين اللفظين لأنهم أماتوا الفعل الماضي واسم الفاعل منهما واسم مفعولهما وأثبتوا الفعل المضارع وهو يذر وفعل الأمر وهو ذر (فتح الباري )

      ( ذروني ما تركتكم ) دليل على أن الأصل عدم الوجوب وأنه لا حكم قبل ورود الشرع وهذا هو الصحيح عند محققى الأصوليين لقوله تعالى وما كنا معذبين حتى نبعث رسولا …. الخ

      Kayaknya nggak perlu terjemah, saudara kita Ibn abdul chair kan calon “Syarih Hadits”…. semoga bermanfaat…

  60. Ustadz @bu Hilya :

    Betul Ustadz, hanya saya mengambil lafadznya dari Arba’in Nawawi.

    Kita tunggu tanggapan saudara Ibn Abdul Chair.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  61. Wah … nih orang yang mengaku ILMIAH kok sikapnya seperti itu. Mungkin yang dimaksud ILMIAH oleh WAHABI, ya seperti sikap @Ibnu Abdul Chair itu. Soalnya orang lain dituduh GA ILMIAH. Diajakin diskusi sama Mas Yanto Jenggot ga berani. Tapi kalau melontarkan fatwa semaunya. Kaya ibnu Suradi juga

  62. sy hanya menyampaikan pemahaman sy terhadap hadist tersebut. Sedangkan untuk terus terbawa pada jiddal, sy tidak bisa krn banyak sekali larangan baik dari Rasulullah maupun dari para imam tentang hal ini.
    1. Nabi Muhammad shållallåhu ‘alayhi wa sallam
    “Aku akan menjamin sebuah rumah di dasar surga bagi orang yang meninggalkan debat meskipun dia berada dalam pihak yang benar. Dan aku menjamin sebuah rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan dusta meskipun dalam keadaan bercanda. Dan aku akan menjamin sebuah rumah di bagian teratas surga bagi orang yang membaguskan akhlaknya.”
    (HR. Abu Dawud dalam Kitab al-Adab, hadits no 4167. Dihasankan oleh al-Albani dalam as-Shahihah [273] as-Syamilah)
    2. Nabi Sulaiman ‘alaihissalam
    Nabi Sulaiman ‘alaihissalam berkata kepada putranya:
    “Tinggalkanlah mira’ (jidal, mendebat karena ragu-ragu dan menentang) itu, karena manfaatnya sedikit. Dan ia membangkitkan permusuhan di antara orang-orang yang bersaudara.”
    [Ad-Darimi: 309, al Baihaqi, Syu’abul Iman: 1897]
    3. Muslim Ibn Yasar rahimahullah
    “Jauhilah perdebatan, karena ia adalah saat bodohnya seorang alim, di dalamnya setan menginginkan ketergelincirannya.”
    [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra; Darimi: 404]
    4. Ja’far ibn Muhammad rahimahullah
    “Jauhilah oleh kalian pertengkaran dalam agama, karena ia menyibukkan (mengacaukan) hati dan mewariskan kemunafikan.”
    [Baihaqi dalam Syu’ab: 8249]
    5. al Auza’i rahimahullah
    “Jika Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum maka Allah menetapkan jidal pada diri mereka dan menghalangi mereka dari amal.”
    [Siyar al-A’lam 16/104; Tadzkiratul Huffazh: 3/924; Tarikh Dimsyq: 35/202]
    6. Imran al-Qashir rahimahullah
    “Jauhi oleh kalian perdebatan dan permusuhan, jauhi oleh kalian orang-orang yang mengatakan: Bagaimana menurutmu, bagaimana pendapatmu.”
    [Ibnu Baththah, al-Ibanah al-Kubra: 639]
    7. Muhammad ibn Ali ibn Husain rahimahullah
    “Pertikaian itu menghapuskan agama dan menumbuhkan permusuhan di hati orang-orang.”
    [al-Adab al-Syar’iyyah: 1/23]

    1. Marilah kita kembali kepada Al Qur’an dan Sunnah dan renungkanglah dalam hati apakah ibadah kita sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW karena setiap perkataan, perbuatan semua diminta pertanggungjawaban oleh Allah SWT

      1. Sebaiknya komen ente ditujukan sama gembong-gembong Wahabi, Sebelum kedatangan mereka ummat ayem tentram beribadah dengan khusyu’, meskipun ada khilafiyah dalam hal muamalah.
        Setelah kedatangan wahabi bayaran arab saudi, ummat jadi resah, beribadah tidak tenang, sesama muslim saling mencurigai, dan yang menyedihkan adalah radikalisme dalam beragama karena faham sempit wahabi.
        Jadi khotbah ente sebaiknya ditujukan kepada para gembong Wahabi indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker