Inspirasional

Yang Seharusnya, Ketika Memilih Dalam Pilkada

Pemilihan kepala daerah yang selama ini digelar di berbagai daerah belum menunjukan khittoh idealnya. Momen pilkada yang seharusnya digelar untuk mencari calon pemimpin baru yang didambakan, sering memunculkan sentimen baru akibat blok-blok baru yang tersisa paska pemilihan.

Tak sedikit tetangga se-ErTe menjadi acuh hanya gara-gara beda pilihan. Masyarakat berubah image dan cara pandang terhadap tokoh panutan, gara-gara pemihakan. Saudara, kerabat dan famili, tak bertegur sapa akibat mendukung sana dan satunya lagi mendukung sini. Bahkan temanku dipecat oleh mertuanya yang sudah terlalu mabuk di pesta, yang disebutnya sebagai ‘pesta demokrasi’ ini, gara-gara memilih calon pemimpin lain.

Sang mertua itu hingga tak mempedulikan nasib cucunya yang masih kecil dan sangat mengharapkan kehadiran sosok sang ayah. Temanku yang lebih terbuka cara berfikirnya mungkin menganggap itu resiko pemihakan di alam demokrasi ini, hanya ia tidak menyangka jika resiko itu sampai menyebabkan pemecatan dirinya sebagai menantu tunggal. Meski ini peristiwa langka, dan tentu saja sangat disayangkan.

Dampak-dampak seperti itu atau sejenisnya, sering kita jumpai paska pemilu, baik pemilu presiden, legislatif, pilkada, bahkan pemilihan lurah di desa-desa. Hikayat penyakit lima-tahunan ini, hampir selalu dapat dipastikan ada, menghinggapi masyarakat kita, hampir di semua lapisan.

BACA JUGA:  Propaganda Politik Khilafah Islam, Jualan Pesan Suci Qur’an?

Itu baru dari satu sisi. Sedangkan dari sisi yang lain, calon pemimpin baru yang didambakan itu, terkadang tampil paska terpilih yang seharusnya menjadi pemimpin rakyat, berubah menjadi pengkhianat rakyat. Salah satu motivasi terbesar pengkhianatan tersebut, adalah dipicu modal besar yang dikeluarkan untuk membeli suara, demi ambisi terpilih dalam pemilihan. Dosa besar ini hampir-hampir menjadi hal biasa dan dimaklumi, padahal berdampak sangat serius di kedua belah pihak, yakni pemilih dan yang dipilih.

Di pihak pemilih menjadi kehilangan harga diri bahkan hati nurani, karena suaranya dapat dibeli, kadang-kadang oleh sosok yang sama, seorang mantan pemimpin yang tak bisa apa-apa kecuali menghabiskan harta negara di kepemimpinan sebelumnya. Sementara di pihak calon yang dipilih, ambisinya untuk meraup suara sebanyak-banyaknya, dibarengi dengan menghamburkan uang untuk membeli suara rakyat.

Dengan anggapan, pemilu ini adalah gambling, seperti main dadu, kalah atau menang. Semakin banyak modal, semakin banyak memiliki kemungkinan menang. Entah budaya dari mana, ini datangnya…. Saya rasa, ini bukan asli budaya kita.

BACA JUGA:  Agama Jangan Jadikan Sebagai Juru Kampanye

Hanya saja, dampak dari permainan itu, tentu saja tidak ada baiknya, sebab jika kalah maka yang bersangkutan menjadi bangkrut, atau bahkan stress. Sementara yang menang, merasa telah banyak mengeluarkan modal besar, maka tidak hanya harus kembali modal, tapi juga mesti untung besar. Anda tahu? kata para pakar, saat itulah pintu korupsi terbuka menganga. Sementara kesempatan ada, sehingga ibaratnya tinggal nyemplung saja, ‘plung!’ maka terjadilah korupsi itu. Sebuah insiden penilepan uang negara, bahkan kadang-kadang beras jatah rakyat juga di’embat’nya. Seperti yang sering diberitakan di media.

Itukah akhir buah dari pesta demokrasi kita ini? Sampai kapan paradigma seperti itu kita biarkan?
Figur-figur terpandang segenap lapisan masyarakat dari berbagai kelas-kelas tertentu, tampil menawarkan diri untuk memimpin.

Dulu, cerita nenek-nini kami, seorang pemimpin tidak akan maju menjadi pimpinan, sebelum ia benar-benar terbukti menjadi kesatria, memiliki kemampuan ‘linuih’ (istimewa) atau karena menurut masyarakat memang tidak ada yang lebih pantas dibanding dirinya. Berbeda dengan masa kini, orang berlomba mencoba peruntungan, siapa tahu dirinya memiliki sifat-sifat sang ksatria itu. Tidak peduli kalau setelah itu ternyata dirinya adalah seorang begundal juga.

BACA JUGA:  Kenapa Teroris di Sarinah Jakarta Itu Tidak Berjenggot ?

Tiada lain bagi kita para pemilih, hendaknya semakin cerdas mengenali siapa orang-orang yang berani menawarkan dirinya untuk diangkat menjadi pemimpin itu. Apakah ia benar-benar memiliki kualifikasi kepemimpinan yang kita harapkan dapat membawa masyarakat ke arah kemajuan dan kemakmuran yang kita inginkan bersama. Bagaimana latar belakang kehidupannya, apakah ia pernah terlibat tindak pidana korupsi, berakhlak mulia atau sebaliknya, dlsb.

Pengawalan dari berbagai unsur masyarakat terhadap kinerja pemimpin sangat diperlukan. Kawal dan awasi ia, agar tidak mudah tergoda oleh rayuan syaithon yang terkutuk, untuk melakukan hal terkutuk. Pada saat yang sama, apresiasi dan hargai keberhasilannya, hormati kepemimpinannya, dan pilih lagi ‘besok’, jika amanah dan memuaskan!

Selamat berpesta!

 

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Yang Seharusnya, Ketika Memilih Dalam Pilkada
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker