Berita Indonesia

Waspadai Gerakan Impor Konflik Timur Tengah ke Indoneia

Hati-hati dan Waspada, Jangan Biarkan Gerakan Impor Konflik Timur Tengah ke Indonesia

Anggapan bahwa komunitas Syiah itu monolitik dan memiliki agenda seragam juga keliru besar. “Rezim Syiah” Irak pernah berseteru dengan Iran gara-gara terlalu banyak intervensi urusan politik domestik Irak. Komunitas Arab-Syiah tidak serta merta pro-Syiah-Iran (Persia) karena berbeda etnik & negara. Kesamaan teologis tidak menjamin persatuan politik. Konflik klasik etnik Arab-Persia masih kuat hingga kini.

 

Hati-hati dan Waspada, Jangan Biarkan Gerakan Impor Konflik Timteng ke Indonesia.

 

Islam-Institute, Syiah & Sunni –  Anggapan bahwa pembelaan terhadap minoritas Syiah di Indonesia sebagai “anti-Arab” (apalagi anti Nabi Muhammad) adalah keliru besar. Hanya orang-orang yang “pikun wawasan” yang menganggap Syiah itu non-Arab. Syiah jelas lintas-etnis. Pemeluk Syiah bukan hanya beretnik Persi tapi juga Arab, Hazara (di Afganistan), Assyria, Pastun Bangash, Khoja, Kurdi dlsb.

BACA :  Dunia dan UNESCO Diseru Agar Stop Agresi Arab Saudi di Yaman

Iran bukan hanya satu-satunya rumah buat kaum Syiah. Komunitas Arab-Syiah tersebar di seantero negara-negara Arab: Bahrain, Kuwait, Irak, Lebanon, Suriah, Yaman, Oman, dan bahkan Saudi. Populasi Syiah sangat besar di negara-negara ini bahkan sebagaian menjadi mayoritas spt di Irak & Bahrain. Di Saudi komunitas Arab-Syiah sekitar 10-15 %, di Lebanon sekitar 35%, di Yaman sekitar 40%. Bukan hny negara2 Arab, komunitas Syiah juga tersebar luas di Turki, Afganistan, Azerbaijan, Pakistan, India, dlsb.

banner gif 160 600 b - Waspadai Gerakan Impor Konflik Timur Tengah ke Indoneia

Anggapan bahwa komunitas Syiah itu monolitik dan memiliki agenda seragam juga keliru besar. “Rezim Syiah” Irak pernah berseteru dengan Iran gara-gara terlalu banyak intervensi urusan politik domestik Irak. Komunitas Arab-Syiah tidak serta merta pro-Syiah-Iran (Persia) karena berbeda etnik & negara. Kesamaan teologis tidak menjamin persatuan politik. Konflik klasik etnik Arab-Persia masih kuat hingga kini.

BACA :  Tudingan Makam Wali Berhala, Serangan di Jantung NKRI

Waktu rezim Syiah Houti Yaman diserbu Saudi, banyak warga Syiah Saudi yang ikut mendukung pemerintah karena mereka beranggapan Syiah Yaman berbeda dengan Syiah Saudi. Karena kepentingan politik-ekonomi dan identitas kesukuan, warga Arab-Syiah di Teluk juga banyak yang pro pemerintah yang dikontrol Sunni ketimbang membelot ke Iran. Meskipun tentu saja ada sejumlah “rezim Syiah” di sejumlah negara-negara Arab yang “berselingkuh” dengan Iran.

Sebagaimana Sunni, Syiah juga terpecah menjadi bercamam-macam golongan: Imamiyah, Zaidiyah, Ismailiyah, Ismaili Nizari, Mustaali Dawoodi Bohra, Alawi, Sulaimani Bohra dlsb, yang masing-masing jauh dari kesan tunggal. Tidak semua dari kelompok Syiah ini membenci para sahabat Nabi (diluar “kubu Ali”) seperit kaum Syiah Zaidi di Yaman, meskipun mereka menganggap sahabat Ali sebagai yang paling pantas menggantikan suksesi kepemimpinan paska wafatnya Nabi Muhammad SAW.

BACA :  Akhi..., Bersyukurlah Atas Persatuan dan Hidup Damai di Indonesia

Saya bukan pro-Syiah atau anti-Sunni atau sebaliknya. Saya hanya ingin semua pihak harus berhati-hati dalam menyikapi konflik & perbedaan. Jangan membawa-bawa perseteruan geo-politik di Arab & Timur Tengah (sejak “klasik” hingga kini) ke Indonesia karena bangsa ini memiliki sejarah politik-kebudayaan-keagamaan serta perjumpaan Syiah-non-Syiah yang berlainan dengan Arab & Timteng.

oleh: Dr. Sumanto Alqurthuby

Judul Asli: Jangan Impor Konflik Timur Tengah ke Indonesia

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker