Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Salafi Wahabi

Wahabi Tak Berkutik di Arena Dialog Terbuka di Balikpapan

Dialog Terbuka di Balikpapan, Wahabi Tak Berkutik

Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Balikpapan, Sabtu (17/12/2011) melantik pengurus ranting NU se-Kota Balikpapan. Bertempat di Auditorium PT. Kilang Mandiri. Sehingga saat ini PCNU Balikpapan memiliki 5 MWC dan 27 Ranting.

Aswaja vs Wahabi - Wahabi Tak Berkutik di Arena Dialog Terbuka di Balikpapan

Pelantikan yang dikemas dengan seminar tentang internalisasi Ahlussunnah Wal Jama’ah itu diikuti oleh 300 orang pengurus NU se-Balikpapan. Mulai dari tingkat cabang hingga tingkat ranting.

Pada kesempatan itu, hadir sebagai pembicara Ustadz Muhammad Idrus Ramli, salah satu anggota Tim Kaderisasi ASWAJA PWNU Jawa Timur. Dalam seminar tersebut, Ustadz Idrus Ramli memaparkan tentang makna dan hakikat Ahlussunnah Wal Jama’ah berdasarkan al-Qur’an, hadits dan pemahaman para ulama yang mu’tabar.

Kegiatan ini sebagai salah satu langkah untuk membendung gerakan Wahabisasi yang semakin marak di Kota Balikpapan. Selama ini Balikpapan pusat gerakan aliran Wahabi. Dengan demikian, dibawah kepemimpinan KH. Abbas Alfas, PCNU Kota Balikpapan melakukan langkah-langkah strategis. Terutama penataan organisasi yang selama ini vakum.

BACA JUGA:  MIQAT HAJI MENYINGKAP MISTERI NAJD DAN FITNAH TANDUK (QARN) SETAN ?

Untuk memberikan pemantapan terhadap warga Nahdliyyin di Balikpapan, PCNU juga menggelar dialog terbuka antara Ustadz Muhammad Idrus Ramli dengan Ustadz Adzro’i Abdusysyukur seorang tokoh Wahabi. Dialog yang dikemas dalam acara bedah buku “Kiai NU atau Wahabi Yang Sesat Tanpa Sedar? Jawaban Terhadap Buku-Buku Mahrus Ali”, yang ditulis oleh Ustadz Muhammad Idrus Ramli bersama Habib Muhammad Syafiq Al-Idrus, itu digelar di Masjid Agung At-Taqwa, Balikpapan dengan diikuti oleh sekitar 1000 orang lebih.

Selama ini Ustadz Adzro’i dalam ceramahnya di berbagai tempat dan melalui radio tidak pernah berhenti membid’ahkan dan mensyirikkan warga nahdliyyin yang melakukan istighatsah dan tawassul. Tak ayal, warga nahdliyyin Balikpapan sangat menunggu kehadirannya dalam acara dialog tersebut. Sehingga ketika Ustadz Adzro’i diketahui kehadirannya, suasana menjadi tegang. Para peserta menunggu apa yang akan dibicarakan oleh kedua pembicara berbeda aliran itu.

BACA JUGA:  Peraturan Baru Bagi Para Pengirim Komentar

Ustadz Idrus Ramli diberi waktu untuk mengawali dialog Terbuka dengan Wahabi

Ustadz Idrus Ramli diberi waktu untuk mengawali dialog dengan memaparkan hakikat istighatsah dan tawassul beserta dalil-dalilnya dari hadits-hadits shahih dan amaliah para sahabat. Usai Ustadz Idrus, moderator memberi kesempatan dan meminta Ustadz Adzro’i untuk memberikan tanggapannya.

Namun, jawaban Adzro’i ternyata tidak memuaskan. Ia justru mengaku tidak memusyrikkan orang yang melakukan istighatsah dan tawassul, karena dasarnya sangat kuat sebagaiman dipaparkan oleh Ustadz Idrus di awal. Jawaban tersebut membuat para peserta yang hadir tertawa dan bersorak sorai, karena selama ini memang warga Balikpapan sering mendengar sendiri pernyataan Adzro’i yang memusyrikkan istighatsah. Tetapi dalam dialog tersebut, Adzro’i justru tidak mengakuinya.

BACA JUGA:  Encyclopedia Britannica dan Sejarah Fiktif Wahabi Rustumiyyah

Kemudian moderator meminta tanggapan Adzro’i tentang ziarah umat islam ke makam para auliya’, apakah syirik atau tidak. Ternyata Adzro’i menjawab secara diplomatis, bahwa ziarah kubur dapat mengingatkan kita pada kematian, sehingga dibolehkan. Akhirnya Ustadz Idrus Ramli memaparkan ziarah kubur dalam berbagai aspeknya beserta dalil-dalilnya. Setelah Ustadz Idrus memaparkan hal ini secara detail beserta dalil-dalilnya, Ustadz Adzro’i segera meninggalkan acara dan berpamitan tidak bisa melanjutkan dialog dengan alasan ada acara lain di luar.

Melihat ulah Ustadz Adzro’i yang kabur melarikan diri setelah dirinya tidak berkutik itu, para hadirin semuanya tertawa. Selanjutnya acara dialog dilanjutkan tanpa kehadiran pembanding dari pihak Wahabi hingga selesai pukul 13.00.

 

(Disadur dari Majalah AULA Edisi Januari 2012, Dapatkan Majalahnya di toko / kios buku dan agen Majalah terdekat di kota Anda)

http://www.sarkub.com/2012/dialog-terbuka-di-balikpapan-wahabi-tak-berkutik/

 

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

100 thoughts on “Wahabi Tak Berkutik di Arena Dialog Terbuka di Balikpapan”

  1. Alhamdulillah, Aswaja selalu unggul dalam pembuktian kebenaran berdasar fakta dalil-dalil yg kuat. Wahabi terbukti hanya sebatas klaim kebenaran sepihak yg selalu gagal dalam pembuktiannya…. Itulah kebathilan tidak akan menang dalam pembuktiannya.

    Di mana-mana di seluruh dunia Islam Wahabi selalu gagal begitu diadu dalam arena pembuktian berdasar dalil-dalil yg benar. Ternyata Wahabi itu menyalahi kebenaran, semoga Wahabi dapat petunjuk-NYA dan dilunakkan hatinya sehingga berhenti dari penyebaran fitnah-fitnah kepada ajaran Islam yg diamalkan kaum muslimin…. amin….

    1. is@

      Ya wajar kalau disorakin, itu kan akibat kelakuan Ustadz Adzro’i Abdusysyukur yg pengecut. Di radio koar-koar memusyrikkan membid’ahkan kok berhadapan langsung gak berkutik? Orang kaya gitu merasa mewakili kebenaran, apa gak malu antum is@ punya ustadz Wahabi yg mutunya gak seimbang itu?

      Apa antum gak malu punya ustadz yg rata2 seperti itu? Kalau monolog (ngomong sendirian) sok bener, tapi begitu dialog (ngomong berhadapan) tidak berkutik. Opo ora isin toh para pengikutnya?

      1. Di dalam Hadist di jelaskan bahwa debat itu dilarang,,mungkin bukan debat tapi Diskusi,.apapun yg di sampaikan olh ust. adzro’i selagi itu berdasarkan Alqur’an dan sunnah mestinya di sambut dengan Kalimat takbir,,kalau di katakan bahwa tidak memuaskan,,memang kedatangannya bukan ingin memuaskan para hadirin tetapi hanya menghadiri undangan sekaligus menyampaikan yang Haq,,mungkin para hadirin berpikir bahwa ust.adzori’e adalah seorang pengecut,,,sadarilah saudaraku,,apa yg anda anggap baik belum tentu baik di sisi Allah,dan kata2 anda tersebut sudah di catat oleh Malaikat dan tidak bisa di cabut lg, dan harus di pertanggung jawabkan di sisi Allah kelak,,

        1. Udin saya ulangi lagi nih ye… ust.adzori’e PENGECUT..!. objektif saja menilai orang. Emang pertahanan paling baik adalah menyerang. (kelakuan wahabi memang seperti itu, di kampungku, Kebumen tepatnya petanahan juga tak beda. bahkan debat lewat HP saja dia kabur *ganti nomor. oalah…. dasar tanduk setan…)

        2. @Udin

          “memang kedatangannya bukan ingin memuaskan para hadirin tetapi hanya menghadiri undangan sekaligus menyampaikan yang Haq”

          betullll sekali : “Adzro’i menjawab secara diplomatis, bahwa ziarah kubur dapat mengingatkan kita pada kematian, sehingga dibolehkan”

          Dah pas kan??!! yuk ikut ziarah..

        3. Din udin kam urang mana din??? Banjarkah??? Supan dinai amun bepender kada suah dgn klakuan. Amun sudah penderan kamarian,hari ini dgn isuk beubah apa handak di Takbiri??? Urang nang diingkut penderannya dinay….amun aku suatu saat dibari’I ALLAH TA’ALA bedapat lgsg dgn ikam atau guru wahabi ikam,sapa ngarannya???Ustadz Adzro’i Abdusysyukur kutampar mulut ikam bedua.kelawasan didiamkan bubuhan wahabi ni meulah fitnah. ALLAH kada picak,bisu,tuli udin!!!!

    2. untung cuma disorakin, klo anda menganggap kayak tinju maka klo anda atau wahabi tak ajak debat dan kalah akan tak kasih bogem mantah, spy tinju yang anda maksud jadi kenyataan

  2. begitulah gaya ikhwan wahabi… klw diajak munadloroh ilmiah di forum terbuka susah.. tapi klw ngomong single.. banternya bukan main..

  3. menurut saya alasannya mungkin ada 2, tidak bisa kemukakan dg ilmunpada waktu dialog tsb atau si utstadznya agak jiper karena banyaknya massa aswaja di sana…

    1. Kalau menurut saya memang Ustzadz Wahabi tsb sudah KO di ronde Awal karena pukulan straight yg kuat dari ust Idrus Ramli. Jadi Ust Wahabi tidak mungkin lagi memberi perlawanan agar tidak semakin fatal akibatnya.

      Lihat Ustz wahabi itu Mengakui kekuatan pukulan Ust Idrus Ramli: “Ia justru mengaku tidak memusyrikkan orang yang melakukan istighatsah dan tawassul, karena dasarnya sangat kuat sebagaiman dipaparkan oleh Ustadz Idrus di awal.”

    2. @Nasrullah :

      Yang mungkin ditanggapi dengan yang mungkin juga ya…

      Anda bilang : menurut saya alasannya mungkin ada 2, tidak bisa kemukakan dg ilmunpada waktu dialog tsb atau si utstadznya agak jiper karena banyaknya massa aswaja di sana…

      Menurut saya juga “Mungkin si ustadznya jiper karena ga punya ilmu untuk membantah”

      dan yang pasti begini nih :
      “katakanlah yang haqq itu walaupun pahit”

      Para Nabi tidak ada kena virus jiper berhadapan dengan musuh. Contoh dong.. katanya

  4. @Admin Ummati, Untuk kebaikan website ini saya menyarankan agar lebih teliti. Sebagian akhlaq dari Ulama terdahulu apabila mensarah sebuah kitab maka tidak ketinggalan matannya. Untuk itu saya sarankan agar memperbaiki tulisan-tulisan yang masih kurang. Khususnya Al Qur’an dan As Sunnah ; diharap agar menuliskan arabnya sebagaimana aslinya dan jika diterjemahkan maka tulis terjemah.
    Misal TQS atau THR

  5. Kampus adalah tempat penyebaran ajaran Sal-Wah yang paling banyak dan paling berhasil, krn itu untuk memberikan pencerahan kpd mhs sebaiknya diadakan dialog semacam ini di kampus2 seluruh Indonesia, agar para mhs yang terkena virus Sal-Wah cepat sadar atas kekeliruannya dalam menyikapi ajaran islam selama ini.

    1. Saya setuju, sebaiknya kiayi atau ulama2 Aswaja mempunyai jadwal dialog terbuka dari kampus ke kampus, sebab banyak mahasiswa sekarang yg karena keawamannya masalah agama cuma mau menerima doktrin dari “misionaris wahabi” tanpa mau mengkritisi dan membandingkan dengan pendapat ulama2 yg muktabar akibatnya fanatik buta dan sikap keras yg ektrim dan merasa paling benar sendiri.

  6. kesiaaan deh lo…..ust wahabi ky macan kertas aja,,,klo ngomong sendiri minta amplop ganasx,,pas ketemu pawangx langsung ngacir,,wkwkwk…makax klo jd org tuh,hrs gentlelmen….

  7. apakah yang kita dilakukan sesuai dengan isi buku tersebut? kalau sesuai berarti salah orang yang menuduh kita bid’ah.
    misal kalau kita perhatikan orang2 yang berziarah kubur orang alim (wali, tuan guru, dsb) apakah hanya untuk mengingat mati. kalau Anda perhatikan mereka meminta tolong kepada arwah yang dikunjungi tersebut (baca: bertawasul) untuk meminta kekayaan dsb (contoh kasus: pelampaian, martapura). bertawasul cara inilah yang salah

  8. fahrullah@ anda menuduh org yg ziarah ke pelampayan,martapura,,,utk minta kekayaan?,,,jgn fitnah bung!! bagaimana anda tahu mrk minta kekayaan,,,apakah kamu sendiri pernah membuktikan?,,,spengetahuan saya,mrk rata2 cuma ziarah,,

    1. Ulun kada menuduh (tapi ulun juga kada menggeneralisir bahwa yang berziarah itu semuanya bermaksud seperti itu). Tapi itu faktanya, soalnya keluarga ulun juga ada yang bermaksud seperti itu (bukan cuma minta kekayaan, tetapi juga agar diampihkan penyakitnya) …

      niat sidin kesana diungkapkan secara terbuka baik sebelum kesana maupun imbah sampai dirumah ….

      semoga kita tetap diberi hidayah

      iyya kana budu wa iyya kanasta’in

      salam ukhuwwah …..

  9. Memang sebagian peziarah ke Pelampaian tujuan utamanya hajatnya dikabulkan dengan berdoa di makam Muhammad Arsyad Al Banjary dan berharap dapat bertawassul di sana. Demikian pengakuan sebagian peziarah atau yang terungkap dari percakapan antar sesama peziarah. Sebagian besar peziarah tidak tahu siapa sebenarnya Muhammad Arsyad Al Banjary sehingga seenaknya menuduh wahabi terhadap orang yang tidak melaksanakan tahlilan setelah ada yang meninggal, padahal Muhammad Arsyad Al Banjary sebenarnya tidak setuju dengan tahlilan. Tapi mengapa beliau tidak dianggap wahabi?

    1. Assalamu alaikum,
      @anang gegauk ..dikitab mana Syekh Muhammad Ar-Syad Al Banjari, melarang untuk bertahlilan?? (sabilal muhtadin,tughfaturrogibin, miftahul jannah dsb),bisakah saudara menunjukkan halaman dan juznya.
      Krn setahu kami bani Arsyadi dan murid2nya selalu mengerjakan tahlilan.
      Bagaimana caranya saudara bisa lebih tahu dari pada Bani Arsyadi sendiri mengenai siapa Syekh Muhammad Ar-Syad Al Banjar ?

      1. M.husaini@ begitulah wahabi mrk slalu fitnah sana fitnah sini,,jangankan datu kalampayan, imam syafi’i aja juga mrk fitnah,,,,,mrk ngira kita2 langsung percaya apa kt mrk,,

  10. Wah..wah.. wahabi pintar2 klo ngarang cerita, coba tunjukkan sumbernya klo Muhammad Arsyad Al Banjary sebenarnya tidak setuju dengan tahlilan, buktinya yang autentik ya !

    1. MAAF ULUN ORNG AWAM MAU NANYA SMA YG UDAH FAHAM, TERSERAH DIA MAU ASWAJA SALAFI ATO WAHABI…..TOLONG DALIL NYA JG DISEBUT KAN (QUR’AN & HADITS) BIAR ULUN KADA KESASAR….APAKAH NABI MUHAMMAD & PARA SAHABAT/KULAFAUR ROSYIDIN MELAKSANAKAN TAHLILAN/YASINAN?? COZ BANYAK BNGET PARA PEJUANG MUSLIM YG GUGUR SBGAI SYUHADA DIZAMAN NABI…..KLO NABI YASINAN/TAHLILAN APAKAH NABI ASWAJA & KLO NABI GA YASINAN/TAHLILAN BERARTI NABI SALAFI/WAHABI DONG… TRUS SAYA IKUT YG MANA?? IKUT ULAMA YG JELAS2 ISLAM NYA JG DR NABI ATO IKUT NABI MUHAMMAD YG JELAS2 MEMBAWA ISLAM ITU SENDIRI LANGSUNG DR ALLOH SWT..??? TOLOOOOOOOOOOOONG….JG UKUWAH ISLAMIYAH, KITA SMUA SMA2 BERTUHAN KAN ALLOH NABI NYA JG NABI MUHAMMAD, TRIMAKASIH BUAT SODARA2KU YG BISA MENJELASKAN NYA DGN ILMU….WASSALAM SAYA TUNGGU JAWABAN DR USTADZ2 SMUA

      1. ari@ sebelum saya menjawab pertanyaan anda, saya juga ingin bertanya pd anda; adakah ayat alqur’an/hadits yg secara pasti mengharamkan yasinan/tahlilan?,,,klo ada tolong tuliskan,,,,

      2. ARi@#

        yg mulai duluan hujat sana huja sini kan wahabi, ya kan? Aswaja kan hanya memberi respon, ya kan? Kenapa Nte kok ngomong seolah2 Nte Wahabi gak merasa berbuat jahat kepada muslimin selain Wahabi, ya kan?

        Wahabi kan merasa satu2nya kebenaran yang lain kebatilan, ya kan? Lalu kenapa Nte seolah2 merasa bersaudara dan seolah2 merasa punya Tuhan yang sama, ya kan?

  11. fahrullah@ itu kan kluarga mu,,org lain blm tentu,,klo anda gak dengar secara lagsung mrk minta kekayaan pd arwah tsb,jgn langsung vonis,soalnya saya sering ziarah kesana,sekalipun gak prnah liat org minta kekayaan,,yg ada cuma baca yasin,tahlil,doa arwah,,gitu aja apa salah?… anang@ klo ngomog,jgn asal asalan, memangnya ente hidup dijaman beliau?,,,hehe..emang wahabi suka menghalalkan sgala cara utk menjatuhkan org yg bertentangan dgn mrk…tp saya yakin akang2 yg ada di blog ini bukan org2 bodoh,yg mudah dikibulin ama org2 wahabi pengecut….

  12. Menarik memang kalau kita mencermati pola dakwah Wahabi yang menghalalkan berbagai cara. Tapi hal ini sebenarnya tidak aneh kalau kita melihat rekam jejak pendiri Wahabi sendiri yang telah melakukan makar terhadap pemerintahan yang sah di tanah haram. Dengan menyepakati perjanjian bersama Klan Bani Su’ud dan Inggris, Wahabi berhasil merebut tanah haram dan menggulingkan pemerintahan sah yang kebetulan keturunan Rasulullah SAW.
    Perlu juga untuk diketahui, antara Muhammad bin Abdil Wahhab sang pendiri Wahabi dan Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari adalah sama-sama murid Syaikh Sulaiman Kurdi. Sayangnya, berbeda dengan Syaikh Muhammad Arsyad al-Banjari yang menjadi murid baik dan meneruskan dakwah guru beliau, Muhammad bin Abdul Wahhab malah berpaling. But, kita tidak perlu heran, karena Syaikh Sulaiman al-Kurdi sendiri pernah mengatakan perihal Muhammad bin Abdil Wahhab, “Anak ini kelak akan sesat dan menyesatkan”.

  13. abu zein@ ana setuju dgn ente,,,tentang sejarah wahabi,ana pernah baca buku tentang konspirasi tsb,klo gak salah pengarang nya eks mata2 inggris namanya hempher,,,namun ttg syekh muhammad arsyad albanjary satu guru dgn muhammad bin abdul wahab,ana baru tau,,klo gitu nambah lgi deh pengetahuan ane,,syukron yaa akhii….

  14. Imam al-Harawi meriwayatkan dari ‘Aisyah bin Abdul Aziz, katanya, saya mendengar Imam Malaik berkata: “Hindarilah bid’ah”. Kemudian ada orang yang bertanya, “Apakah bid’ah itu, wahai Abu Abdillah?”. Imam Malik menjawab: “Penganut bid’ah itu adalah orang-orang yang membicarakan masalah nama-nama Allah, sifat-sifat Allah, kalam Allah, ilmu Allah, dan qudrah Allah. Mereka tidak mau bersikap diam (tidak memperdebatkan) hal-hal yang justru para Sahabat dan Tabi’in tidak membicarakannya.” [6]

  15. bener memang harus disampaikan ke publik. Harus ada dialog bersama. Bukan debat. tapi diskusi. Membandingkan dalil. Jika ada yang lebih kuat, harus menyadari kalo miliknya ada yang lebih membandingi. Yang jelas harus gentle, ketika sendirian dan di hadapan orang perkataannya harus sama. Jika tidak sama maka harus mengakui ketidaksamaannya. Penting. Supaya gak gampang ngomong bid’ah dsb.

  16. untuk semuanya, hentikan perdebatan tentang agama, perhatikan keterangan berikut, jangan hanya mementingkan hawa nafsu kalian, ulama salafy menghindari hal yang ada dalam keterangan berikut sehingga terlihat mengalah

    Imam al-Harawi meriwayatkan dari ‘Aisyah bin Abdul Aziz, katanya, saya mendengar Imam Malaik berkata: “Hindarilah bid’ah”. Kemudian ada orang yang bertanya, “Apakah bid’ah itu, wahai Abu Abdillah?”. Imam Malik menjawab: “Penganut bid’ah itu adalah orang-orang yang membicarakan masalah nama-nama Allah, sifat-sifat Allah, kalam Allah, ilmu Allah, dan qudrah Allah. Mereka tidak mau bersikap diam (tidak memperdebatkan) hal-hal yang justru para Sahabat dan Tabi’in tidak membicarakannya.” [6]

  17. ARI:
    Ini mah pendapat pribadi, punten kalo salah
    – Aku juga nggak tahlilan..tapi aku nggak mencela orang tahlilan. Krn kalau mencela takutnya aku yg dosa, krn lebih baik ngurus diri sendiri yg banyak berbuat dosa drpd mencela.
    – Aku tidak mencela orang yg Maulid Nabi Saw, krn aku tahu mrk cinta pd Nabi Saw…sebagaimana cintanya para kaum Wahabi di Arab Saudi sehingga mrk mengadakan Maulid bagi syekh Ustmaimin.
    – Aku kalau sehabis shalat juga tidak keberatan jika ada yg mengulurkan tangan untuk salaman, aku akan tersenyum…dan menyambut salaman orang tsb.
    – Aku tidak mencela orang yg melakukan dzikir berjama’ah dg satu suara di komando seperti majelis dzikir ustadz Arifin Ilham…krn aku senang mendengar ustadz Arifin bertausyiah, dan ikut meneteskan air mata.
    – Aku kadang2 mengucapkan niat ketika hendak shalat, atau pun tidak…krn aku tahu mengucapkan niat pun tidak merusak shalatku krn itu dilakukan di luar rukun shalat…sekedar untuk menentramkan hati krn terlintas waswas.
    – Aku kalau ziarah kubur pun hanya sekedar mendoakan waliyullah, tidak suka juga sih kalau ada yg menuduh aku kuburiyyin. Tapi biarlah itu menjadi urusan si penuduh di hadapan Allah Swt…
    – Tapi aku sedih, manakala aku membaca fatwa syekh al-bani yg menyuruh saudara2ku di Palestina keluar dr negerinya…:-( aku tidak rela Palestina diserahkan pd Israel…
    – aku juga sedih manakala membaca kuburan nabi Muhammad Saw hendak dikeluarkan dari masjid Nabawi oleh syekh Binbaz dan syekh Utsmaimin…:-(

    Oleh karenanya aku ikut nongkrong di ummati…karena apa? Karena aku orang awam yg pernah stress baca tulisan di salah satu web Wahabi…yg di situ ada fatwa yg mengkafirkan orang yg tidak lolos diuji pertanyaan “Allah ada dimana?”
    Aku stress sampai nangis2..ketakutan..takut berakidah secara salah. Tapi aku koq ya gak terima ustadz Arifin Ilham dan ustadz2 yg lain dibilang sesat…shodaqollahuladzim dibilang sesat…dsb..(Bid’ah menurut Wahabi sama dg sesat..masuk neraka).
    Jadi aku cari2 informasi…terdamparlah aku di blog2 Wahabi, yg membuat hati ada penolakan…lalu aku terdampar pula di blog2 aswaja yg alhamdulillah dapat perbandingan…

    @mas Dadan:
    Jadi kritisasi itu penting…sangat penting sekali
    Open mind, mau menerima pendapat orang…mau membaca dari kedua sisi…
    Mungkin sebaiknya bukan debat, tapi sharing…

    Kita memang harus mau belajar dari 2 sisi, sehingga kita bisa mendapati berbagai informasi…

    Dari situ kita bisa saling menghormati…

    @Ummati:
    Tengkyu ya Ummati…:-)

    1. kang prabu, memang kepada sesama muslim harus saling menghormati, jika ada yang tahlilan, maulidan, dzikir berjamaah, salaman habis shalat, nyoblos pemilu saya pun tidak ikut, salaman habis salat saya pun tetap menerimanya, tetapi lbih baik di peringatkan bahwa hal tsb tidak boleh, alangkah baiknya sebelummnya atau nanti setelah semua ibadah orang yang ajak kita salaman selesai, jika semua hal itu ditanya alasannya kenapa saya tidak melakukannya, maka saya bilang itu tidak ada dalam As Sunnah dan Al Qur’an, tapi mereka malah mencelanya..ingatlah bahwa di akhir jaman kita menjalankan yang sesuai syariat itu bagaikan memegang bara api, jika ada kemunkaran di dekat kita maka kita harus menghentikannya…ingatlah hadist berikut

      “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

  18. rekan-2 ane mau tanya apa benar waktu Ustadz Idrus Ramli debat sama ustadz wahabi asal malang di Surabay, kalah debat/hujjah, katanya pake bawa-2 massa & malah ngejar-2 ustadz tsb krn mungkin ga puas…..

    kata temen wahabi ane nih katanya sih punya VCD nya….

    apa benar yah????

    1. …”tinggalkan bid’ah yg sesat”…… ane ngelakuin bid’ah yg baik hehehehe, coba tunjukkan bid’ah yg sesat itu spt apa, tunjukkan kalo bid’ah itu pasti sesat……
      ayo komen dg ilmu….

      1. jelas ibadaha yang diada adakan yang tidak dirujuk dari As Sunah dan Al Qur’an itu adalah bid’ah dan bid’ah adalah sesat,

        “Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa Ar-Rasyidin setelahku, gigitlah dengannya dengan gigi geraham kalian.”

        (HR.At-Tirmidzi :2891, Ibnu Majah dalam muqaddimah: 44, Ahmad: 17606, dari hadits Irbadh bin Sariyah radhiyallahu anhu. Dishahihkan Al-Albani dalam silsilah Ash-shahihah: 936);

        “Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami yang tidak berasal darinya maka ia tertolak”.

        (HR.Bukhari dalam kitab shulh:2697, Muslim dalam kitab Al-Aqdhiyah:4589, Abu Dawud dalam as-sunnah: 4608, Ibnu Majah dalam muqaddimah: 14, Ahmad: 26786, dari hadits Aisyah radhiallahu anha).

        “Barangsiapa yang mengamalkan satu amalan yang tidak berasal darinya maka ia tertolak.”

        (HR.Muslim dalam Al-Aqdhiyah:4590, Ahmad:25870, Ad-Daruquthni dalam sunannya: 4593, dari hadits Aisyah Radhiayallahu anha)

        1. Mas @dadan
          Coba tunjukin dong sama aswaja, mana bid’ah kami yang sesat, agar kami aswaja tidak tersesat.
          Jangan bilang semua bid’ah itu sesat tanpa mengerti Ilmu para Imam, Jika ente bilang suatu perkara ibadah itu sesat, tapi dimata Allah tidak apakah ente mau mempertanggungjawabkan omongan ente. Padahal banyak orang yang mau beribadah sesuai dengan Imam Madzhab, kenapa ente halangin perkara tesebut. Belum tentu juga perkara itu syirik, bid’ah atau menjurus kepada kekafiran.
          Kalau kita kembalikan kepada Al Qur’an dan hadist, dimana ayat-ayat Al Qur’an yang menyatakan perkara/ibadah yang di Kaji sama Imam Madzhab dianggap Bid’ah.
          Atau kah ente sudah berani berfatwa, sebuah perkara itu sesat atau tidak? yah silahkan kalau menurut ente itu, tapi jangan mengatasnamakan Al Qur’an dan sunnah.

          1. “Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami yang tidak berasal darinya maka ia tertolak”.

            (HR.Bukhari dalam kitab shulh:2697, Muslim dalam kitab Al-Aqdhiyah:4589, Abu Dawud dalam as-sunnah: 4608, Ibnu Majah dalam muqaddimah: 14, Ahmad: 26786, dari hadits Aisyah radhiallahu anha).
            itu sudah jelas….silakan di perlajri sendiri…trims..

          2. @dadan
            Belajar yang banyak, “Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami yang tidak berasal darinya maka ia tertolak”.
            Kata “membuat perkara baru dalam urusan kami”, kan sangat jelas, perkara dalam hal keagamaan yaitu Islam. Jadi hal/perkara baru yang sesuai dengan syariat, dibolehkan.
            Contoh saat Umar ibn Khatab, membuat Al Qur’an dalam bentuk buku.
            Kalau semua bid’ah adalah dholalah (sesat), bagaimana dengan menggunakan sajadah yang bagus2, membuat ornamen Masjid atau gak bid’ah dholalah kalau Tauhid dibagi menjadi 3, kan dijaman Nabi saw gak ada.

  19. untuk semua wahabi@ semua yg kalian tuduhkan itu adlh masalah khilafiyah,yg semenjak dulu sdh ada,jd gak bakalan nyambung deh,lebih baik kalian berdakwah kpd non muslim daripada sesama muslim,krn memang semenjak dulu sdh beda penafsiran masalah qur’an/hadits,jd lbh baik jalankan amalan sesuai penafsiran masing2,kalau kalian masih ngotot menyalahkan mazhab lain,sama saja dgn merusak islam dari dalam,wassalam

  20. Asalamualaikum admin dan teman2 aswaja sekalian, sy baru bikin blog yg di isi oleh tulisan2 oleh ustadz ala kulli hall, nah kl ada postingan yg admin mau dr blog sy silahkan copy aja di sini sebab kata ustadz ala kulli hall memang beliau sengaja menulis untuk membantu para pembela aswaja didumay, tp jg silahkan jika admin bersedia untuk kembali mengkoresi ejaan dr tulisan ustadz ala kulli hall, sebab dlm tulisan beliau banyak menggunakan singkatan kata dan kekurangan lainnya…
    Nama blog ustadz ala kulli haal yg sy bikinkan dgn bersama tmn blogger lain
    PECINTA RASULULLAH.COM

    Syukron

  21. Kemudian moderator meminta tanggapan Adzro’i tentang ziarah umat islam ke makam para auliya’, apakah syirik atau tidak. Ternyata Adzro’i menjawab secara diplomatis, bahwa ziarah kubur dapat mengingatkan kita pada kematian, sehingga dibolehkan..

    emang siapa yang mengharamkan Ziarah kubur ???
    Albani? Ibnu Taymiyah? Syaikh Bin Baz? atau siapa ya ?
    jangan2 ga ada lagi.

  22. “Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)

    Ini konteksnya setelah kewafatan Imam Mahdi Ra

  23. “Barangsiapa yang membuat perkara baru dalam urusan kami yang tidak berasal darinya maka ia tertolak”.

    (HR.Bukhari dalam kitab shulh:2697, Muslim dalam kitab Al-Aqdhiyah:4589, Abu Dawud dalam as-sunnah: 4608, Ibnu Majah dalam muqaddimah: 14, Ahmad: 26786, dari hadits Aisyah radhiallahu anha).

    Yg saya pelajari, hadist di atas maksudnya yg tidak sejalan dg syariat. Misalnya, shalat dg sengaja tidak menghadap ke Masjidil Haraam, shalat 2 bahasa, shalat dg 1 sujud, shalat memakai sandal di dalam mushola/masjid, puasa nge-bleng, memindahkan makam Rasulullah Saw krn ghuluw terhadap syirik, memindahkan jalur sa’i, dsb…

    1. @dani kaing-kaing
      >>>Alhamdulillah WAHABY semakin berkembang PESAT di indonesia
      == alhamdulilah.. banyak orang wahaby yg sudah tobat.. dan yg belum tobat justru saling menuding sesat sesame wahaby.. kwkwkkwk
      >>>makanya banyak kyai2 dan Habaib pada takut lahan bisnisnya hilang . . .
      Geli ah . .
      == ini mah ucapan oran yg sirik sama kyai dan benci pd katurunan rosul.. paling dihatinya juga sering berontak, “mengapa ana gak jadi kyai atau gak terlahir sbg habib?” kacian deh elu…

  24. anti wahabi says:
    January 30, 2012 at 10:07 pm (Quote Coment) (Reply)
    ari@ sebelum saya menjawab pertanyaan anda, saya juga ingin bertanya pd anda; adakah ayat alqur’an/hadits yg secara pasti mengharamkan yasinan/tahlilan?,,,klo ada tolong tuliskan,,,,

    Saya katakan : Betul, saya dah berusaha mencari dalam al-Qur’an dan Hadits, ternyata tak satupun ayat ataupun hadits yang mengharamkan yasinan / tahlilan. Sehingga kami warga NU melaksanakan sholat jum’at pada hari selasa dan waktunya jam 5 sore, karena tidak ada larangan dari al-Qur’an maupun hadits.

    1. YRQ @

      afwan ya, antum ini pengasuh Kitab Qur’an kok logikanya amburadul spt itu? Ingatlah, Sholat Jum’at itu sudah ditentukan waktunya seperti sholat Dhuhur. Untuk ibadah Mahdhoh seperti sholat JUM’AT dalilnya sudah jelas. Tidak boleh sholat JUM’AT jam 5 sore.

      Kalau ibadah ghoiru Mahdhoh seperti Yasinan dan Tahlilan, lau Wahabi melarangnya harus bisa menunjukkan mana dalil larangannya. Sebab ibadah ghoiru mahdhoh itu boleh dikerjakan selama tidak ada Dalil yg melarangnya.

  25. ya salam…bodohnya anak2 wahabi…

    pertanyaan bodoh itu yg bertanya : apakah rasul atau sahabat melakukan tahlilan atau tdk?

    kok bisa at-tark dijadikan kaidah pengharaman…… tdk ada dalam hukum islam sesuatu yg tdk dilakukan rasul apalagi sahabt dihukumi haram terutamadalam masalah ibadah…. sebelum membidahkan orang blajar dulu ushul fiqh yang bner…

    tuh ada lagi yang nanya sholat jumat hari selasa jam 5 sore….. wooiii anak2 wahabi…blajar yg bner….. klo sholat ini jelas syariat kok bisa di qiyas dgn tahlilan yg hanya kena pada adat?sedang jenis ibadahnya saja udah beda…. ngawur bgt menqiyas seperti ini

    1. Wahabi emang dari dulu nggak pinter2 walaupun sudah berguru ke Najd, atau mungkin sumber dari mana mengambil; ilmunya itu yg bikin mereka nggak pinter2 ?
      biikin qiyas kok ngawur, nggak memperhatikan illat2nya, duh… kepriben kiye lah….

      Kalau nggak mudeng tanya nih mumpung ada kang Senopati Alap2, siap menjawab, monggo silahkan bertanya yg belum paham.

  26. sejak dulu orang wahabi tidak puas dg budayanya orang NU, berbagai cara dilakukan mulai yg halus sampek yg menyeramkan, mereka tdk tau balas budi orang indonesia bs 99% Islam adalah hasil muballiq yg amaliahnya dilakukan oleh org2 NU

  27. Wahabi hanya memperkeruh kedamaian, kerukunan diindonesia, sy kuatir ujung-ujungnya kekuasaan, buktinya mereka menguasai masjid dg cara halus, pd akhirnya masjid dikuasai dan mengharamkan orang lain sholat dimasjid, padahal masjid bukan buatan orang2 wahabi

  28. Bismillah,

    Saya mengajak semuanya baik yang disebut Wahabi maupun yang anti Wahabi untuk istiqomah berpegang teguh pada Qur’an dan Sunnah dengan pemahaman para sahabat, tabiin dan tabiut tabiin. Dengan demikian, semoga kita akan selamat di dunia dan akhirat.

    Wallaahu a’lam.

  29. Kenapa yaa kaum wahabi itu memusuhi&membenci para Wali Songo yg dgn jelas menyebarkan Agama Islam di Nusantara??dgn menuduh ajarannya berbau syirik dan bid’ah. Padahal jelas2 Wali Songo telah mengislamkan 90% penduduk negeri ini.

    Apakah kaum wahabi bisa mengislamkan sisanya yang 10%??hahaha,lha mempertahankan yg 90% Islam dr terkaman orang kafir saja tidak mampu. Malah skrng koar2 membuat keresahan warga,sana sini membuat onar,sehingga orang yg beragama lain yg semula ingin mempelajari Islam malah takut dgn Islam dan mengurungkan niatnya untuk belajar Islam.

    Ingatlah,jika Allah tdk menakdirkan Wali Songo menyebarkan Islam diNusantara ini,maka tidak hanya kita yg skrg sebagai Aswaja saja yg masih jd animisme,tp mreka yg skrg jd corong2 kaum wahabi di Negeri ini pasti masih jd animisme.Na’udzubillah.

    Hai wahabi,jngnlah sombong!dgn melarang berziarah kemakam yg mulia,berarti sama dgn menganggap orng2 alim bahkn Rosulullah SAW yg tlah wafat itu tdk berguna lagi!!itu jelas,sprti pendahulumu yg brkoar2&mencaci Rosulullah SAW dgn brkata,”Tongkatku yg sekarang lebih berguna dr pada tongkat Nabi Muhammad yang telah wafat!tongkatku yg skrng masih bisa untuk membunuh ular,sedangkan tongkat Nabi Muhammad tidak bisa”

    Na’idzubillah,menangis hati ini krn mendengar ucapan wahabi2 itu 🙁

    1. kl bisa, memandang satu aliran itu bkn berdasarkan kebencian, jd kita dapat ilmu.sy yakin tidak semua faham NU benar dan tidak semua faham wahabi salah, kita ambil sj yng baik darikeduanya.ok bos?

      1. alangkah indahnya jika perbedaan pendapat disikapi dengan santun seperti sikap bang ujang ucok ini , hanya sayang sikap seperti ini hanya disampaikan kepada reaksi warga NU , sementara kepada yang memancing reaksi ( tukang bid`ah2in , tukang ngafir2in , tukang musyrik2in tukang nyalah2in) dibiarin aja ,

        kaya abang ucok ini ngomongnya manis tapi sambil nyalah2in , menyimpanglah , tidak sesuai ajaran Rosul lah , padahal kalo bang ucok ini bener bener punya sikap seperti diatas , jangan ikut nyalah2in dong……..? belum tentu jugakan , jika bang ujang ucok ini gak menyimpang dalam aqidah dan amaliyahnya……?

  30. Bismillaah,

    Betul, Bang Ujang Ucok. Kita ikuti saja yang benar dari Qur’an dan Sunnah. Jangan ikut NU. Jangan ikut Wahabi. Ikut saja Allah dan RasulNya. Pasti selamat di dunia dan akhirat.

    Wallaahu a’lam.

    1. akhuna Ibnu suradi ini , ingin langsung ikut Allah dan Rosulnya saya mo nanya caranya gimana…….? mau Ijtihad sendiri……..? syukurlah kalo antum dah nyampe derajat Mujtahid , selamat ber-ijtihad semoga selamat sampai tujuan.

  31. Bismillaah,

    Akhi Ahmad Syahid,

    Antum sudah mengetahui bagaimana cara saya mengikuti Allah dan RasulNya dari komentar-komentar saya di thread sebelah yang berjudul: “Kembali kepada Qur’an dan Sunnah.”

    Wallaahu a’lam.

    1. Jangan ikut NU. Jangan ikut Wahabi. Ikut saja Allah dan RasulNya. Pasti selamat di dunia dan akhirat.

      inikan semboyan kaum wahabi , supaya Ummat meninggalkan mazdhab yang 4 yang dianjurkan NU , dan masuk ke perangkap wahabi , cerdik (licik) juga wahabi ini. seolah madzhab yang 4 itu tidak mengikuti Allah dan Rosulnya , hanya wahabi yang ikut Allah dan Rosulnya SAW.

      baik saya akan tanya (uji) tentang cara kembali kepada qur`an dan hadist versi antum , tapi nanti setelah antum selesai dengan mas Amr , monggo jawab mas amr dulu.

  32. Saya asli banjarmasin dan mertua saya asli dari Dalam Pagar Martapura jadi saya tahu apa yang terjadi di makam Muhammad Arsyad al Banjari, bukan asal ngomong.

    Kitab Kuning Sabilal Muhtadin (versi Arab Melayu) ditulis oleh Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari (bemazhab Syafi’i) . Pada halaman 87 juz 2 , beliau mengatakan :

    Makruh lagi bid’ah bagi yang kematian memperbuat makanan yang diserukannya sekalian manusia atas memakannya, sebelum dan sesudah kematian seperti yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat

    1. Assalau ‘alaikum
      @anang gegauk..
      Jangan suka merubah perkataan seorang ulama !!! Atau anda salah ketik…silahkan diperbaiki lagi. Jangan membuat malu orang Dalam Pagar.

      Maaf kalau ada salah kata.

  33. Banyak orang banyak penafsiran, kalau kita uraikan alasan atau dalil yang dipakai tentu akan ada (banyak) pertentangan. Saya hanya menyebutkan fenomena yang terjadi ketika sebagian orang ‘berkunjung’ ke makam Muhammad arsyad Al Banjari, tujuan mereka bukan lagi mengingat kematian atau mendoakan beliau tapi hanya ingin mencapai kepentingan dunia semata. Saya melakukan tahlil tapi tidak tahlilan yang berkenaan dengan orang telah meninggal sebagaimana yang dilakukan sebagian besar masyarakat Indonesia, saya berziarah ke kubur tanpa baca yasin dan hanya mendoakan si ahli kubur serta saya sendiri. Namun sepanjang yang pernah saya lihat (atau yang bersangkutan menyatakan sendiri) adalah suatu kenyataan banyak yang berkunjung ke makam orang yang dianggap wali agar hajat mereka terkabul, banyak yang melakukan tahlilan untuk kerabatnya yang meninggal tapi mereka sama sekali tidak mendoakan si almarhum/almarhumah dan banyak undangan yang tidak mau datang jika hidangan dari tuan rumah diketahui sebelumnya tidak sesuai selera. Secara umum tidak ada larangan untuk ziarah kubur atau bertahlil, tapi sebaiknya ada kehati-hatian agar tidak menjadi bertentangan dengan ajaran Islam. Sok tahu? Tidak ! Wahabi? Tidak !

  34. wa alaikum salam wr wb saudara Husaini. Coba anda baca Kitab Sabilall Muhtadin yang disalin ulang oleh Prof H.M Asywadie Syukur Lc ke dalam bahasa Indonesia. Saya tidak punya kompetensi untuk menterjemahkannya, tapi apa mungkin seorang Asywadie Syukur akan seenaknya mengubah perkataan ulama besar seperti Muhammad Arsyad al Banjary?

    1. Saudara @anang gegauk

      Saya tunjukan kata-kata yg janggal pada tulisan anda dan kemudian silahkan anda pelajari kembali.

      “..SEBELUM DAN SESUDAH KEMATIAN..”

      Kalau saudara berpikiran acara makan2 termasuk Tahlilan…maka saya tanyakan pada saudara….Adakah orang yg belum meninggal ditahlilkan ?

      Maaf kalau ada salah kata

  35. @anang gegauk
    Kita lihat dari silsilah pembelajarannya, dimana syeikh Muhammad Arsyad al Banjari belajar.
    Syeikh Muhammad Arsyad al Banjari belajar di Mekkah pada guru-guru yang berMadzab Syafi’i seperti syeikh Nawawi al bantani yang bermadzhab Syafi’i, Dia rahimatumullah sebelum pulang kekalimantan dia ikut berjuang melawan belanda di Banten bersama Sultan Ageng Tirtayasa, juga mempelajari Tarekat Naqsyambandiyah dibanten, jadi gak mungkin Syeikh keluar dari Madzhab Syafi’i yang dipelajarinya.
    Banyak kitab-kitab asli diubah oleh golongan Wahabi, seperti kitab Al Ibanah karangan Al Asyari :
    1. Al ibanah An Ushul Al Diyanah
    2.Al Ibanah an Syari’at al Firqah al Najiyah wa Mujanabat al Firq al Mudzmunah karangan Ibnu Bathal al Ukbari
    3.Al Ibanah al Shughra (al Syarh wa al Ibanah ala Ushul al Diyanah) karangan Ibnu Bathal al Ukbari

    Dari 3 kitab itu, sekarang gak ada yang asli, semuanya ASPAL alias isinya sudah dirubah oleh orang yang tidak bertanggung jawab, di 3 buku itu Allah dinyatakan bertempat seperti Mahluk.
    Cobalah anda cari tahu dimana, dari mana Syeikh Muhammad Arsyad al banjari belajar.
    Kalau mau cari kitab-kitab (khusus di Jakarta ) :
    1. Perpustakaan LIPI Jl. Gatot Subroto jakarta
    2. Perpustakaan Nasional Jl. Salemba Raya Jakarta
    3. Perpustakaan Nahdatul Ulama Jl. Kramat Raya

    Coba cari di perpustakaan itu, Mau yang Klasik (alias ASLI ) atau yang ASPAL ada disana.

  36. Saudara M.Husaini tidak ada yang janggal dalam kata-kata itu. Sebelum seseorang meninggal misalnya sakit keras, banyak yang berkunjung dan disuguhi makanan dan itu terkadang membebani keluaraga si sakit. Bagi sebagian orang acara tahlilan pasti disertai makan-makan. Saya tak mau berkomentar panjang tentang siapa memalsukan kitab siapa karena sepanjang yang saya analisis kedua pihak sama-sama mengklaim kitab-kitab atau data lainnya yang dipakai rujukan oleh mereka dipalsukan oleh pihak yang berseberangan. Sebagai contoh orang yang mengaku aswaja mempublikasikan foto Muhammad Abd Wahab (MAW) berkumpul dengan tentara Inggris sebagai bukti MAW antek-antek Inggris, tapi yang dituduh wahabi menyatakan bukti-bukti bahwa foto itu palsu karena yang mengaku pembuat foto lahir jauh setelah MAW meninggal. Ada lagi yang mengaku aswaja protes kitab-kitab ABC di palsukan oleh pihak yang dianggap wahabi, tapi yang dianggap wahabi ternayata punya bukti juga justru pihak lain yang memanipulasi kitab-kitab tersebut. Yang mana yang benar ? Kedua pihak saling punya bukti (tentu saja menurut versi masing-masing). Seperti yang saya katakan sebelumnya akan ada banyak penafsiran dan pertentangan. Karena itu saya hanya mencoba mengikuti nurani saya dan semoga mendapat hidayah.

    1. Saudara @anang gegauk

      Pendapat Ulama yg saudara cantumkan itu ada di BAB JENAZAH. Jadi tidak ada hubungannya dengan mengujungi orang sakit. Orang sakit keras itu bukan jenazah…jadi silahkan buka kembali kitabnya, benarkah tertulis “…sebelum dan sesudah KEMATIAN..” ?

      Perhatikan Statement saudara ini : “Sebelum seseorang meninggal misalnya sakit keras, banyak yang berkunjung dan disuguhi makanan dan itu terkadang membebani keluaraga si sakit.”

      Kalau saudara menyandarkan statement itu kepada pendapat Ulama tersebut artinya “memberi makan kepada ORANG YG MENGUNJUNGI orang sakit adalah makruh lagi bid’ah. Apakah benar Syekh M.Arsyad Al Banjari berpendapat demikian ? Atau hanya pendapat saudara sendiri? Berhati-hatilah dalam menyandarkan suatu pendapat ?

      Maaf kalau ada salah kata.

    2. @Anang Gegauk : tapi yang dianggap wahabi ternayata punya bukti juga justru pihak lain yang memanipulasi kitab-kitab tersebut.

      Saya ingin bertanya, apa kitab yang telah dimanipulasi oleh pihak lain, seperti yg dituduhkan wahabi?

  37. Saudara Ucep bagi saya masalah mana yang palsu atau asli adalah hal yang sulit dan selalu berkepanjangan pembahasannya karena kita tidak hidup di jaman para ulama tersebut. Jarak yang jauh dan perbedaan masa dapat menimbulkan distorsi sehingga tidak menutup kemungkinan kitab yang jadi rujukan kedua belah pihak ( aswaja dan yang dituduh wahabi) dimanipulasi atau termanipulasi. Adapun seorang Asywadie Syukur saya pikir tidak sembarangan mengambil sumber tulisan beliau, di samping sebagai seseorang yang punya ilmu agama juga asli orang kalimantan sehingga akses ‘menuju’ ulama seperti Muh.Arsyad al banjary relatif lebih ‘dekat’. Namun terlepas dari itu semua yang ingin saya sampaikan adalah mencoba berhati-hati dalam ibadah, sebagai contoh ada orang yang mencium tangan habib begitu semangatnya padahal lebaranpun tidak pernah mencium tangan orangtuanya sendiri dan tidak hanya samapai disitu ia juga menyimpan bekas tisu si habib karena dianggap berkah. Masih banyak masyarakat kita yang mengkultuskan para ulama atau para habib. Saya tidak anti cinta ulama dan tidak anti ziarah kubur, saya hanya ingin menyampaikan ada yang salah (bukan semua salah) dalam praktik cinta kepada ulama dan ziarah kubur. Ada peziarah yang terang-terangan mengaku mencari berkah di makam ‘Datu Kelampayan’ (apakah itu tujuan ziarah dalam agama?). Ada yang diam, tapi dalam hati siapa tahu? Ada juga orang kafir yang biasa ke gunung kawi ‘berziarah’ juga. Saya hanya coba berhati-hati.

  38. @anang gegauk
    “bagi saya masalah mana yang palsu atau asli adalah hal yang sulit dan selalu berkepanjangan pembahasannya karena kita tidak hidup di jaman para ulama tersebut”
    Itu menurut anda, sebenarnya adalah sangat2 mudah, yaitu kita pergi keperpustakaan yang menyimpan arsip nasional. Atau anda tanyakan lansung kepada keturunannya yang masih menyimpan aslinya (Ini masih dekat tahun 1772).
    Disini karena anda sudah termakan Isyu SUNNAH dan BID’AH dari kaum wahabi, maka anda menjadi Paranoid SUNNAH dan BID”AH, segala sesuatu yang berbau Agama anda menutup mata dan telinga. Sehingga anda malas untuk belajar untuk membuktikannya.
    Isyu kata SUNNAH dan BID’AH adalah kata yang sangat Ampuh yang tercipta dikalangan sekte Wahabi, sehingga orang awan sangat dengan mudah termakan isyu ini. Sehingga Surga dan Neraka menjadi Miliknya.

    “Ada peziarah yang terang-terangan mengaku mencari berkah di makam ‘Datu Kelampayan’ (apakah itu tujuan ziarah dalam agama?). Ada yang diam, tapi dalam hati siapa tahu? Ada juga orang kafir yang biasa ke gunung kawi ‘berziarah’ juga. Saya hanya coba berhati-hati.”
    Ini bisa anda buktikan, kenapa buku gak bisa ????

    Coba saya mau tau difinisi Bid’ah dan Sunnah menurut anda sendiri atau kitab yang anda baca ?

  39. @Anang Gegauk, disana disebutkan makruh, bukan haram. Makruh dan haram itu jelas berbeda. Menafsirkan kalimat “makruh” adalah hal yang dibenci, tentu mereka salah besar, karena berbicara hukum syariah, bukan bicara dicintai atau dibenci, makna makruh berbeda secara bahasa dan secara syariah, maknanya secara bahasa adalah sesuatu yang dibenci, namun dalam syariah adalah hal yang jika dilakukan tidak dapat dosa dan jika ditinggalkan mendapat pahala

    Dalam mazhab syafe’i, bid’ah itu ada dua macam, bid’ah yg baik dan bid’ah yg tercela. Imam Nawawi berpendapat bid’ah terbagi 5 bagian, yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan haram (rujuk Syarh Nawawi ala Shahih Muslim Juz 6 hal 164-165).

    Hukum darimana makruh dibilang haram?, makruh sudah jelas makruh, hukumnya yutsab ala tarkihi wala yu’aqabu ala fi’lihi (mendapat pahala bila ditinggalkan dan tidak mendapat dosa bila dilakukan).

    Berkata Shohibul Mughniy :
    Bila keluarga mayyit membuat makanan untuk orang, maka makruh, karena hal itu menambah atas musibah mereka dan menyibukkan, dan meniru – niru perbuatan jahiliyah. (Almughniy Juz 2 hal 215)

    Lalu Shohibul Mughniy menjelaskan kemudian :
    Bila mereka melakukannya karena ada sebab atau hajat, maka hal itu diperbolehkan, karena barangkali diantara yang hadir mayyit mereka ada yang berdatangan dari pedesaan, dan tempat – tempat yang jauh, dan menginap dirumah mereka, maka tak bisa tidak terkecuali mereka mesti dijamu (Almughniy Juz 2 hal 215).

    disini hukumnya berubah, yang asalnya makruh, menjadi mubah bahkan hal yang mulia, karena tamu yang berdatangan dari jauh, maka jelaslah kita memahami bahwa pokok permasalahan adalah pada keluarga duka dan kebutuhan tamu.

    Dijelaskan bahwa yang dimaksud adat jahiliyyah ini adalah membuat jamuan besar, mereka menyembelih sapi atau kambing demi mengundang tamu setelah ada kematian, ini makruh hukumnya, sebagian ulama mengharamkannya, namun beda dengan orang datang karena ingin menjenguk, lalu shohibulbait menyuguhi ala kadarnya, bukan kebuli dan menyembelih kerbau, hanya sekedar hadiahan dan sedekah.

    Dari Ahnaf bin Qeis ra berkata : “Ketika Umar ra ditusuk dan terluka parah, ia memerintahkan Shuhaib untuk membuat makanan untuk orang – orang” (Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar pada Mathalibul ‘Aliyah Juz 1 hal 199 No.709, dan ia berkata sanadnya Hasan)

    Dari Thaawus ra : “Sungguh mayyit tersulitkan di kubur selama 7 hari, maka merupakan sebaiknya mereka memberi makan orang – orang selama hari hari itu” (Diriwayatkan Oleh Al Hafidh Imam Ibn Hajar pd Mathalibul ‘Aliyah Juz 1 hal 199 dan berkata sanadnya Kuat).

    Demikian pula riwayat shahih dibawah ini :
    Ketika Umar ra terluka sebelum wafatnya, ia memerintahkan pada Shuhaib untuk memimpin shalat, dan memberi makan para tamu selama 3 hari hingga mereka memilih seseorang, maka ketika hidangan – hidangan ditaruhkan, orang – orang tak mau makan karena sedihnya, maka berkatalah Abbas bin Abdulmuttalib ra : Wahai hadirin.., sungguh telah wafat Rasulullah saw dan kita makan dan minum setelahnya, lalu wafat Abubakar ra dan kita makan dan minum sesudahnya, dan ajal itu adalah hal yang mesti, maka makanlah makanan ini..!”, lalu beliau ra mengulurkan tangannya dan makan, maka orang – orang pun mengulurkan tangannya masing – masing dan makan. (Al Fawaidussyahiir Li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqatul Kubra Li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110)

    Mengenai fatwa Imam Syafii didalam kitab I’anatutthaalibin, yang diharamkan adalah Ittikhadzuddhiyafah, (mengadakan jamuan besar), sebagaimana dijelaskan “Syara’a lissurur”, yaitu jamuan makan untuk kegembiraan. Namun bila diniatkan untuk sedekah, hal itu tidak ada larangannya, bahkan mendapat pahala.

    Dari Aisyah ra bahwa sungguh telah datang seorang lelaki pada Nabi saw seraya berkata
    : Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal mendadak sebelum berwasiat, kukira bila ia sempat bicara mestilah ia akan bersedekah, bolehkah aku bersedekah atas namanya?, Rasul saw menjawab : “Boleh” (Shahih Muslim hadits No.1004). Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi rahimahullah.

    “Dan dalam hadits ini (hadits riwayat shahih muslim diatas) menjelaskan bahwa shadaqah untuk mayit bermanfaat bagi mayit, dan pahalanya disampaikan pada mayyit, demikian pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, dan demikian pula mereka bersepakat atas sampainya doa doa” (Syarh Imam Nawawi ala Shahih Muslim juz 7 hal 90)

    Maka bila keluarga rumah duka menyediakan makanan dengan maksud bersedekah maka hal itu sunnah, apalagi bila diniatkan pahala sedekahnya untuk mayyit. Demikian kebanyakan orang – orang yang kematian, mereka menjamu tamu – tamu dengan sedekah yang pahalanya untuk si mayyit, maka hal ini sunnah.

  40. @Ucep dan Agung. Darimana saya tahu jika ada yang mengharap berkah dari ahli kubur waktu ziarah? Karena saya dulu pernah melakukannya dan sebagian orang disekitar saya juga melakukannya bahkan diajak pula orang kafir mata sipit untuk mendapat ‘berkah’ di kuburan. Saya pikir buku bisa membuktikan itu, hanya kadang pembacanya yang pilih-pilih ini buku karangan golongan ini atau golongan itu. Pendapat saya tentang bid’ah: tidak ada yang hasanah. Sedangkan sunnah adalah apa yang telah dicontohkan Rasul kepada umat Islam dalamm urusan ibadah berdasarkan nash yang shahih. Masalahnya sekarang (dalam forum ini) apa yang menurut saya shahih belum tentu menurut orang lain shahih.
    Seperti yang saya sebutkan sebelumnya masalah memberi makan tamu ini kadang (bukan selalu) membebani tuan rumah. Memang sebaiknya di lihat per kasus dan saya melihatnya dari kasus yang sebenarnya agama tidak menghendakinya (karena menganiaya diri sendiri) seperti memaksakan berutang untuk kenduri dan selamatan arwah.

    1. @anang, jadi menurut anda memberi makan tamu saat kematian/kenduri/selamatan arwah itu apa hukumnya ? anda mengatakan sebaiknya dilihat per kasus, lalu kasus yg mana saja ? he…he..he… monggo kang anang yg “mungkin lebih alim” dari pengunjung blog ini menjawab pertanyaan saya.

  41. @anang gegauk
    Baik kita pilih aja 2 hadist yang Shahih dari Bukhari dan Muslim :
    1.Kullu bidatin Dholalah (Setiap bid’ah adalah sesat), kalau kata kullu diartikan setiap.
    2.Siapa yang melakukan perbuatan yang baik, maka baginya pahala dan pahala orang yang beramal dengannya sampai hari kiamat, dan siapa yang melakukan sunnah yang buruk, maka atasnya dosa dan dosa orang beramal dengannya sampai hari kiamat.
    Anda pilih yang mana?

    Kalau selamatan/kenduri, dikampung ane kalau ada kematian tetangga yang menyediakan kain kafan, urus surat tanah kuburan, Tenda, minuman, makanan, itu dihasilkan dari kumpulan tiap bulan di Kas RT, jadi yang berduka gak keluarkan sepeserpun untuk kematian.

  42. @anang gegauk
    Anda yakin gak, dengan amalan yang ada amalkan itu dalam rangka ikut sunnah dan menjauhi kata bid’ah anda pasti masuk syurga ?
    Kalau mau masuk syurga, anda harus banyak baca kitab, baru jelas apa kriteria Syurga menerima kita, kalau cuma baru dengar kata bid’ah aja, waallahu a’lam.
    Setahu ane sih, kita ini pasti merasakan yang namanya Neraka, Kecuali ahli Badar.

  43. @Anang gegauk.
    Pendapat saya tentang bid’ah: tidak ada yang hasanah.

    Jawaban : dalam hadits dijelaskan: “Berpegamg teguhlah dengan sunnahku dan sunnah para khulafaurrasyidi.” ‘Umar ibn Khaththab RA berkomentar mengenai sholat tarawih : sebaik-baik bid’ah adalah ini (yaitu sholat tarawih berjama’ah dalam satu masjid dengan seorang imam).

    @Anang gegauk.
    Sedangkan sunnah adalah apa yang telah dicontohkan Rasul kepada umat Islam dalamm urusan ibadah berdasarkan nash yang shahih.

    Jawaban : Hadist itu banyak pembagiannya. Misal, hadist mutawattir. Hadist mutawattir adalah pasti dan yakin. Artinya sama sekali benar. Adapula hadist sahih, hasan, dhaif dan maudhu’. Hadist sahih dapat menjadi hujjah. Hadist hasan pun bisa menjadi hujjah.

    Mengenai hadist dhaif, berkata Imam Nawawi : “para ulama sudah sepakat tentang bolehnya beramal dengan hadist dhaif yg berisi keutamaan keutamaan amal”. Hadist dhaif tidak dapat menjadi hujjah. Tapi, hadist dhaif yang banyaknya jalur periwayatan atas hadits dhaif tersebut, dan ia saling mendukung, tidak lagi menjadi hadits dhaif, dan kedudukan hadits ini menjadi Hasan Lighairihi, sehingga dapat dijadikan hujjah.

    @Anang Gegauk
    Masalahnya sekarang (dalam forum ini) apa yang menurut saya shahih belum tentu menurut orang lain shahih.

    Jawab : Anda kan bukan muhadist, jadi perkataan anda yg mensohihkan atau mendhaifkan hadist tidak bisa menjadi pegangan.
    Menurut al-Hafizh al-Dzahabi dalam Siyar A’lam al-Nubala’ (juz 16, hal. 405), jika terdapat suatu hadits, sanadnya
    shahih, akan tetapi para ulama mujtahid tidak ada yang mengamalkannya, maka kita tidak boleh mengamalkan hadits tersebut.
    Al-Imam al-Hafizh Ibn Rajab al-Hanbali berkata dalam kitabnya, Bayan Fadhl ‘Ilm
    al-Salaf ‘ala ‘Ilm al-Khalaf (hal. 57): “Adapun para imam dan fuqaha ahli hadits, mereka mengikuti hadits shahih di
    mana pun berada, apabila hadits tersebut diamalkan oleh para sahabat dan generasi sesudahnya, atau diamalkan oleh sekelompok mereka. Adapun hadits shahih yang disepakati ditinggalkan oleh kaum salaf, maka tidak boleh
    diamalkan. Karena mereka tidak meninggalkan hadits tersebut, melainkan setelah mengetahui bahwa hadits tersebut memang tidak diamalkan. Umar bin Abdul Aziz berkata: “Ikutilah pendapat yang sesuai dengan pendapat orang orang.

    Jadi, tidak cukup hanya bermodalkan hadist sahih saja, perlu juga diperhatikan pendapat pendapat ulama ulama yg muktabar.

    Jadi, menurut saudara anang gegauk, hukum nya makruh atau haram bagi yang kematian memperbuat makanan yang diserukannya sekalian manusia atas memakannya, sebelum dan sesudah kematian seperti yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat?

  44. @Anang Gegauk
    Darimana saya tahu jika ada yang mengharap berkah dari ahli kubur waktu ziarah? Karena saya dulu pernah melakukannya dan sebagian orang disekitar saya juga melakukannya bahkan diajak pula orang kafir mata sipit untuk mendapat ‘berkah’ di kuburan.

    Jawab :
    Berkah (barokah) diartikan dengan tambahnya kebaikan (ziyadah al-khair). Sedangkan tabarruk bermakna mencari tambahnya kebaikan atau ngalap barokah (thalab ziyadah al-khair).

    Di antara amal yang dapat mendekatkan seseorang kepada Allah subhanahu wa ta’ala adalah ziarah makam para nabi atau para wali. Baik ziarah tersebut dilakukan dengan tujuan mengucapkan salam kepada mereka atau karena
    tujuan tabarruk (ngalap barokah) dengan berziarah ke makam mereka. Maksud tabarruk di sini adalah mencari barokah dari Allah subhanahu wa ta’ala dengan cara berziarah ke makam para wali.

    Orang yang berziarah ke makam para wali dengan tujuan tabarruk, maka ziarah tersebut dapat mendekatkannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan tidak menjauhkannya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Orang yang berpendapat bahwa ziarah wali dengan tujuan tabarruk itu syirik, jelas keliru. Ia tidak punya dalil, baik dari al-Qur’an maupun dari hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Al-Hafizh Waliyyuddin al-’Iraqi berkata ketika menguraikan maksud hadits:
    “Sesungguhnya Nabi Musa u berkata, “Ya Allah, dekatkanlah aku kepada tanah suci sejauh satu lemparan dengan batu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, seandainya aku ada disampingnya, tentu aku beritahu kalian letak makam Musa, yaitu di tepi jalan di sebelah bukit pasir merah.”

    Ketika menjelaskan maksud hadits tersebut, al-Hafizh al-’Iraqi berkata:
    “Hadits tersebut menjelaskan anjuran mengetahui makam orang-orang saleh untuk dizarahi dan dipenuhi haknya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan tanda-tanda makam Nabi Musa u yaitu pada makam yang
    sekarang dikenal masyarakat sebagai makam beliau. Yang jelas, tempat tersebut adalah makam yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.” (Tharh al-Tatsrib, [3/303]).

    Masyarakat kita seringkali mendatangi orang-orang saleh dan para ulama sepuh dengan tujuan tabarruk. Para ulama dan orang saleh memang ada barokahnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
    “Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Berkah Allah bersama orang-orang besar di antara kamu.” (HR. Ibn Hibban (1912), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (8/172), al-Hakim dalam al-
    Mustadrak (1/62) dan al-Dhiya’ dalam al-Mukhtarah (64/35/2). Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai kriteria al-Bukhari, dan al-Dzahabi menyetujuinya.)

    Al-Imam al-Munawi menjelaskan dalam Faidh al-Qadir, bahwa hadits tersebut mendorong kita mencari berkah Allah subhanahu wa ta’ala dari orang-orang besar dengan memuliakan dan mengagungkan mereka. Orang besar di sini bisa dalam artian besar ilmunya seperti para ulama, atau kesalehannya seperti orangorang saleh. Bisa pula, besar dalam segi usia, seperti orang-orang yang lebih tua.

    JADI, NGALAP BERKAH (BAROKAH) ATAU TABARRUK ITU PADA DASARNYA ADALAH SUNNAH.

    NAMUN, JIKA PADA PELAKSANAANNYA TERJADI PENYIMPANGAN, BUKAN BERARTI NGALAP BERKAH (BAROKAH) ATAU TABARRUK ITU LANTAS DIHARAMKAN.

    MEREKA YANG MELAKUKAN PENYIMPANGAN DALAM NGALAP BERKAH (BAROKAH) ATAU TABARRUK HENDAKNYA DISADARKAN DAN DIBERI NASEHAT.

  45. Bagi penganut toriqot atau sufi manapun, pasti menghindari: SuUdzon, ngrasani, berkata yg menyakitkan, menyalahkan orang lain, mengumbar kemarahan, sekalipun…… dia dibegituin. Bagi penganut toriqot atau sufi manapun pasti akan memusatkan perhatiannya kepada ibadah yg ikhlas dan menanti kematian . Bagi penganut toriqot atau sufi manapun Dunia adalah tercela, hina, penunh dengan dendam kesumat. betul?

  46. @Admin : Mudah2an anda dan temen2 aswaja selalu diberkahi dan dipanjangkan umur semuanya..biar aswaja tetap eksis dimana pun dan sampai kapan pun..salut dengan perjuangan2 kebenaran asyairah dan maturidiyah yang selalu mendapat fitnah ahlu bid’ dholalah dari kaum wahabi/salafi saudi dan syi’ah iran..

    @rusdarmawan: jangan ambil video atau ceramah singkat saja..pelajari dulu sufi atau ceramah atau kitab tasawwuf yang diambil…dalam konteks apa dulu mereka berbicara dunia…saya ikut guru thoriqoh tidak benci pada dunia, malah dunia jadiin ladang amal untuk bekal akhirat…kok beda dengan pendapat ente???hehehe terus terang saja anda ijtihad sendiri lalu disesuai dengan pemikiran m abdul wahab dan ustadz2 lc mekkah dan madinah yang wahabi kan???…lebih baik ikuti ulama mekkah dan madinah yang ahlu sunnah wal jamaah insyaallah lebih mendekati kebenaran

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker