Salafi Wahabi

Wahabi Sebagai Pengikut Salafuna Shalih, Benarkah ?

Wahabi Pengikut Salafuna Shalih, Benarkah? Wahabi punya slogan top yaitu: ‘Kembali kepada Al-Qur’an dan Al-Sunnah menurut pemahaman Sahabat’. Dengan Slogan inilah Wahabi dengan sombong mengklaim bahwa hanya Wahabi satu-satunya pengikut faham Salaf. Mereka sering berteriak, kebenaran hanya satu yaitu Salafi/Wahabi. Pengakuan Wahabi sebagai pengikut Salaf  serta merta membuat mereka merasa  berhak memakai nama “Salafi”.

Ternyata klaim ini adalah bohong besar. Terlalu banyak fakta yang membantah telak atas klaim Wahabi sebagai pengikut Salaf. Oleh karena itulah di mana-mana di dunia ini Wahabi digugat sebagai penipu dan dikatakan sebagai pengikut palsu Salafuna Shalih. Perkataan-perkataan para Ulama Wahabi yang sering meremehkan ucapan Sahabat Nabi sebagai menyalahi AlQur’an dan Sunnah, kemudian ditiru para pengikutnya secara taqlid buta,  itu semua cukup menjadi bukti atas pengakuan palsu Wahabi sebagai pengikut Salaf.

Kali ini kami akan perlihatkan bagaimana ketika Ulama Wahabi menghadapi persoalan agama, dan kemudian pendapat Ulama Wahabi itu berbenturan dengan perkataan Para Sahabat Nabi saw, maka mudah saja Wahabi mengatakan bahwa Sahabat nabi menyalahi Al-Qur’an dan As-Sunnah. Begitu beraninya meremehklan Para Sahabat Nabi saw, apakah Wahabi-wahabi itu tidak menimbang kadar dirinya dengan Para Sahabat yang Mulia? Tidakkah mereka sadar ucapannya itu sudah merendahkan derajat Para Sahabat sebagai Muttabi’ lalu jatuh menjadi penentang Allah dan Rasul-Nya? Jika sudah demikian faktanya lalu masihkah Wahabi itu tidak malu mengaku sebagai pengikut Salaf?

Jika Sahabat Nabi saja diperlakukan tak sopan  seperti itu, apalagi para Tabi’in, Tabi’t Tabi’in dan para ulama setelahnya semisal Imam Syafi’  dan yang lainnya. Kemudian ulama-ulama berikutnya juga tak luput dari penistaan semacam itu, kita bisa lihat misalnya kasus Ibnu Hajar Al-Atsqolani , Imam Nawawi yang juga dianggap menyalahi dalil-dalil. Sesungguhnya bukan para Ulama Salaf yang  menyalahi Al-Qur’an dan Aa-Sunnah, akan tetapi memang pendapat para Ulama Salaf tidak sesuai selera Wahabi, sehingga oleh Wahabi dikatakan tidak sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Para pembaca yang terhormat,  untuk  menguak lebih jelas lagi permasalahan klaim Wahabi yang penuh kontradiksi ini, kami ajak anda untuk menyimak tulisan kritis dari akhi Dean Sasmita berikut ini, monggo….

satanic building - Wahabi Sebagai Pengikut Salafuna Shalih, Benarkah ?
CC BY-NC-ND by velodenz

WAHABI, BETULKAH KALIAN PENGIKUT ULAMA SALAF ?

oleh Dean Sasmita

Selain menimbulkan polemik tentang definisi bid’ah dan pembagian tauhid, golongan wahabi memang dikenal dengan sifat plin-plan dan kontradiksinya. Ini karena mereka seringkali tidak konsisten dalam mengambil sumber hukum. Walaupun mereka selalu berkata bahwa mereka mengambil dan mengikuti pemahaman manhaj salaf dalam masalah Aqidah dan Syari’at.

Karena pada faktanya ketika ada fatwa seorang sahabat yang berbeda dengan “pemaham akal” seorang ulama wahabi, maka mereka cenderung mengambil pendapatnya sendiri dengan ‘mencampakkan’ fatwa sahabat tersebut, seperti pada kasus Ibn Baz dibawah ini. (beberapa contoh kasus ini diambil dari beberapa dialog antar golongan wahabi yang berbantahan dengan sebuah partai politik yang berideologi Islam di Indonesia dan ini merupakan gambaran berikutnya bahwa wahabi tak pernah harmonis dengan siapa pun atau golongan apa pun bahkan dengan sekte-sekte salafy-nya sekalipun).

Seseorang pernah menyusun buku tentang memelihara janggut. Didalamnya dia menyebutkan pendapat Abu Hurairah, ibn Umar, maupun sahabat-sahabat lainnya tentang kebolehan memotong sebagian janggut jika panjangnya melebihi satu genggam. Maka Ibn Baz berkomentar : “Walaupun ini pendapat Abu Hurairah dan pendapat Ibn Umar, hanya saja yang didahulukan adalah firman Allah SWT dan sabda Rasulullah SAW” !! (Majalah Hidayatullah edisi 03XVIIJuli 2004; hal. 40-41).

Jika seperti itu kenyatannya, lalu mana slogan memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah menurut pemahaman Salaf Ash-Sholeh (Sahabat, tabi’in dan Tabi’ut tabi’in) ? Golongan wahabi ini dengan berani mengklaim’ bahwa ‘pemahaman Ibn Baz, Utsaimin, Albani dkk lebih baik dari pendapat dan fatwa para sahabat yang mulia ini ! Dan menyatakan bahwa mereka (para ulama salafi palsu) lebih mengetahui hadis Rasul SAW dibandingkan para sahabat yang mulia ini, yang senantiasa menemani, melihat dan mendengar perkataan, perbuatan, serta taqrir Rasul SAW !! Lalu dengan beraninya, ia berkilah lagi bahwa hadis itu belum sampai kepada Sahabat tersebut. Tapi malah sudah sampai pada Albani, Utsaimin, Ibn Baz dkk ? Seakan-akan golongan wahabi menyatakan bahwa para ulama salafi palsu ini mengklaim diri merekalah yang ‘lebih nyalaf’ dibandingkan para Salaf As-Sholeh itu sendiri !

Dan banyak lagi kasus ulama wahabi yang lebih mengunggulkan pendapatnya sendiri, ketika pada saat yang bersamaan terdapat pendapat dari Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in yang berbeda dengan pendapat mereka. Sebagaimana contoh berikut :

“ Pada suatu pelajaran, Abdullah Ibn Baz pernah menyatakan bahwa membolehkan pernikahan dengan ahlul kitab dengan persyaratan. Sebagian mahasiswa yang mengikuti pelajaran itu berkata : “Wahai Syeikh, sebagaian Sahabat melarang hal itu !”. Beliau menoleh kepada Mahasiswa itu, lalu berkata : “Apakah perkataan Sahabat menentang Al-Qur’an dan As-Sunnah ? Tidak berlaku pendapat siapapun setelah firman Allah SWT dan sabda Rasul-Nya“ (Majalah Hidayatullah edisi 03XVIIJuli 2004; hal. 40-41).

Lalu bagaimana bisa, golongan wahabi ini mengklaim mengambil manhaj Salaf dalam memahami Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagaimana pemahaman sahabat, sementara pada saat yang bersamaan menolak dan mencampakkan pendapat mereka ? Seraya melontarkan kata-kata keji yang menodai kemulian para Sahabat ini yang telah ditetapkan dengan nash Al-Qur’an dan Al-Hadis, dengan ucapan : “Hadis shahih ini belum sampai pada mereka’, atau ‘apakah anda akan memilih pendapat sahabat atau hadis Rasul SAW’ “!! Sehingga menurut orang-orang salafi palsu ini, seakan-akan mereka para sahabat ini adalah orang awam yang tidak pernah mendengar apalagi mendapat hadis dari Rasul SAW !

Cukuplah hadis Rasulullah SAW untuk menghakimi perbuatan-perbuatan dan ucapan-ucapan mereka : “Jika anda melihat orang-orang yang mecela sahabatku, maka katakanlah; Laknat Allah atas keburukanmu” (HR. AT-Tirmidzi) !!!

Lalu bagaimana juga bisa dikatakan bahwa hasil pemahaman akal Ibn Baz, Utsaimin, Albani dkk atas nash Al-Qur’an dan As-Sunnah adalah selalu mewakili pendapat dan pemahaman Salaf atau dikatakan sebagaimana pemahaman para sahabat ?!, seperti yang dilakukan oleh Ibn Baz ketika ia mengomentari banyak persolan yang diulas oleh seseorang dengan menyebutkan , menurut madzhab ini begini dan menurut madzhab itu begitu. Lalu dia berkomentar : “Bagi kami tidak berpendapat berdasarkan madzhab ini dan madzhab itu. Kami berpendapat dengan firman Allah SWT dan sabda rasul SAW “(Majalah Hidayatullah edisi 03XVIIJuli 2004; hal. 40-41).

Apakah para wahabiyyun itu tidak mengetahui, dari mana para ulama ahlussunnah ini mengambil pendapat madzhabnya ? Mereka mengambil pendapatnya dari Imam Asy-Syafi’i, Abu Hanifah, Malik, Ahmad ibn Hambal dll ! Kitab Al-Muwatho karya Imam Malik (sebagaimana dinyatakan sendiri oleh Imam Malik dalam muqadimah kitabnya) mendapat rekomendasi dari 70 ulama Madinah yang merupakan anak keturunan dan murid sahabat atau tabi’in dan tabiu’ tabi’in di Madinah.

Lalu Fathur Rabani-nya – Imam Ahmad Ibn Hambal yang berisi ribuan hadis nabi SAW, bahkan ketika beliau ditanya apakah seorang yg hafal 100 ribu hadis boleh berijtihad sendiri, Imam Ahmad menjawab : ‘Belum boleh’. Lalu beliau ditanya lagi : ‘apakah seorang yg hafal 200 ribu hadis boleh berijtihad sendiri’ , Imam Ahmad menjawab : ‘Belum boleh’. Ketika beliau ditanya kembali : ‘apakah seorang yg hafal 400 ribu hadis boleh berijtihad sendiri’ , lalu Imam Ahmad menjawab : ‘boleh’. Bahkan Imam Abu Hatim sampai menyatakan bahwa mencintai Imam Ahmad adalah pengikut Sunnah. Abu Hatim berkata : “Jika anda lihat seseorang mencintai Imam Ahmad ketahuilah ia adalah pengikut Sunnah.” (As-Siyar A’lam An- Nubala’ 11/198).

****

Lalu apakah tidak boleh seseorang yang mengambil pendapat Imam Malik (yang menjadi pewaris madzhab Sahabat, tabi’in, tabiut tabi’in); lalu Imam Ahmad (yang hafal 400 ribu hadis), imam syafii yg menulis kitab Al-Umm, Ar-Risalah (yang juga berisi ribuan hadis); dan Imam Abu Hanifah yg menulis kitab Al-Mabsuth dll (yang berisi juga hadis-hadis dan fatwa Salaf Ash-Sholeh) dan Ulama Mujtahid lainnya ?

Apakah ketika ada seseorang mengambil salah satu pendapat Imam Asy-Syafii, Abu Hanifah, Malik, Ahmad ibn Hambal dll dikatakan sebagai Ahlut Taqlid, sedang ketika wahabiyyun mengambil Albani, Ibn Baz, Utsaimin dll, disebut sebagai muttabi (pengikut) Manhaj Salaf ?! Lalu adakah salah satu ulama wahabi yang punya karya melebihi al-Muwatho Imam Malik, atau yg hafal hadis lebih dari 400 ribu seperti Imam Ahmad, atau kitab fiqh sunnah seperti Al-Umm atau Al-Mabsuth !!! Tidak ada !!! Lantas bagaimana kelompok sempalan ini bisa mengatakan hal seperti itu ?

Sungguh ucapan seperti itu merupakan bentuk kekurang ajaran kepada para Ulama Mujtahid yg dilontarkan dari generasi terakhir yang sama sekali tidak mencapai barang secuil pun dari ilmu para Imam Mujtahid (yang sering sok tahu dengan mengklaim paling berpegang dengan madzhab Salaf !!!), dan pada saat bersamaan menuduh para ulama alussunnah yang mengambil pendapat para Imam Mujtahid sabagai Ahlut Taqlid. Padahal sebenarnya Imam Mujtahid  inilah yang paling layak disebut sebagai pewaris madzhab Salaf dalam Aqidah dan fiqh karena dekatnya mereka dengan masa Sahabat, tabiin, dan tabiut tabiin dan banyak ahli ilmu pada masa itu !

banner 2 2 - Wahabi Sebagai Pengikut Salafuna Shalih, Benarkah ?

Tidak cukup sampai disini tatkala ada seseorang atau kelompok menukil atau mengambil pendapat Imam Asy-Syafi’i, Abu Hanifah, Malik, Ahmad ibn Hambal dll, yang berbeda dengan pemahaman seorang tokoh wahabi, maka serta merta kelompok sempalan ini biasanya akan mengatakan : “tinggalkan pendapat Syafi’i atau Hanafi, dan ambilah hadis shohih ini yang telah ditakhrij oleh Albani dalam Silsilah Ahadits Ash-Shohihah atau Adh-Dhoifah !” . Lalu seakan-akan wahabi menuduh Imam Syafi’i, Maliki, dan Hambali adalah ‘anak kemarin sore’ yang tidak tahu dalil, apalagi hadis shohih dan dhoif, lalu untuk memperkuat argumentasinya biasanya dinukil ucapan Para Imam Ini; spt Imam Syafi’i : “ Jika ada hadis shohih, maka tinggalkan pendapatku” atau ucapan Imam Hanafi atau Maliki yang serupa – (tentunya dengan pemahaman yang tidak pada mestinya dan merasa ‘ke pe-de-an’) !

Padahal, sebenarnya para Imam ini tetap berhujjah dengan Al-Qur’an dan Al-Hadis, dimana yang membuat pendapat mereka berbeda bisa karena : perbedaan metode Ushul Fiqh untuk istimbath (mengekstaksi hukum-hukum dari dalil-dali syara), atau mereka berbeda dalam menghukumi apakah nash ini apakah sudah mansukh dan hukum yang baru ditentukan dengan nash yang lain, atau mereka berbeda tentang status keshahihan sebuah hadis atau sebab lain. Itu pun jika wahabiyyun memang mau mencari Al-Haq dangan hujjah yang terkuat dan melepaskan ‘ruh ta’asub’ !!

Disisi lain, ulama wahabiyyun ini juga kadang melakukan penukilan ‘khianat’ dari para ulama tentang keharusan ‘mentahdzir’ (memberi hukuman) ahlul bid’ah yang tidak sesuai dan tidak pada tempatnya atau cara pemahaman mereka yang tekstual, padahal para ulama yang dinukil qaul-nya tadi, juga sebagian besar divonis sesat oleh ulama wahabiyyun !!! Imam Qurthubi, Imam Nawawi, AL-Hafidz Ibn Hajar, Imam Al-Hakim dll divonis menyimpang aqidahnya karena mereka asy’ari, tapi kitab mereka seperti tafsir al-qurthubi, Syarh shohih muslim, al-mustadrak, fathul bari dan karya Ibn Hajar yang lain tentang manakibur rijal al-hadis (biografi para perawi hadis), masih sering dinukil bahkan tidak jarang digunakan unutk menjustifikasi ‘pendapat mereka’ dan digunakan untuk ‘ menohok’ saudara sesama muslim. Apa itu bukan asal comot namanya ?!

Seharusnya, ketika mereka sudah memvonis bahwa ulama tersebut berbeda aqidah dengan aqidah yang mereka peluk, mereka sudah tidak berhak lagi menukil dari karya-karya mereka !!! (tidak konsisten dan standard ganda seperti orang ‘bokek’, maka sepertinya wajar saja ada yang menyebut golongan ini sebagai ‘madzhab plin-plan’ !!!)

Bahkan jika memang kelompok salafi palsu ini berisi oleh ulama yang ‘pilih tanding’, buat saja tafsir yang selevel dengan milik AL-Qurtubi atau Ibn Katsier; atau buat kitab Jarh Wa Ta’dil atau Manakib Ar-rijal Al-hadis yang lebih baik dari karya Al-Hafidz Ibn Hajar atau Al-Hafidz Ibn Asakir dll; atau buatlah kitab hadis yang jauh lebih shohih dari Al-Mustadraknya Al-Hakim atau Kitab Shohihnya Ibnu Hibban, Mu’jamnya Ibn Hajar Al-Asqolani. Itu pun kalau wahabi mampu !!!

Lalu siapakah Albani, Ibn Baz, Utsaimin dkk, jika dibandingkan dengan Imam Syafi’i, Hanafi, Maliki, dan Hambali ?! Padahal kepada mereka inilah (yaitu Imam Syafi’i dkk) para ‘warasatul anbiya’ kita mengkaji dan mengambil Al-Islam ini ! Ditambah lagi dengan mudahnya kelompok sempalan ini menuduh para ulama pengikut Madzhab Imam Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi sebagai Ahlul bid’ah karena punya hasil ijtihad yang berbeda dengan kelompok mereka dalam memahami nash-nash syara’ atau bahkan dicap sesat bahkan disamakan dengan Mu’tazilah atau Jabariyah ketika mereka punya penafsiran yang berbeda terutama dalam masalah aqidah (biasanya dalam masalah Asma dan Sifat) .

Padahal pada hakikatnya yang lebih pantas disebut sebagai penerus madzhab Salaf Ash-Sholeh adalah para Imam ini, seperti Imam Syafi’i, Maliki, Hambali, Hanafi, Al-Auzai, Hasan Al-Bashri dll dari para Mujtahid umat ini, karena dekatnya mereka dengan masa para Salaf Ash-Shalih dan telah terbukti mereka punya metode ushul fiqh; yang dengan metode itu mereka berijtihad dan melakukan istimbath untuk menjawab problematika umat pada masanya, sehingga umat Islam senantiasa terikat dengan hukum syara’ bukan dengan hukum yang lainnya ! Dan bukannya Albani, Utsaimin, dan Ibn Baz atau selain mereka, kecuali mereka bisa menunjukkan metode Ushul Fiqh yang jauh lebih unggul dari para Imam Mujtahid ini !!!

****

Klaim bahwa wahabiyyun mengikuti pemahaman para sahabat itu terbukti kelemahannya, karena tidak ada satu riwayatpun yang shahih – yang menceritakan kepada kita bahwa para sahabat atau salah seorang diantara mereka membukukan metode mereka dalam memahami nash-nash syara’ (metode Ushul Fiqh), kecuali sebagian riwayat yang menjelaskan tentang fatwa sahabat dan tabi’in dalam beberapa masalah seperti yang banyak dicantumkan oleh Imam Malik dalam Kitabnya ‘Al-Muwatho’. Malah ternyata mereka hanya mengikuti pemahaman Albani, Ibn Baz, Utsaimin dkk. Bukannya ini taqlid buta ?! Atau ‘memaksakan’ berijtihad sendiri ?!

Pertanyaannya adalah : dari mana kelompok salafi palsu ini mengklaim mengetahui cara para sahabat, tabiin dan tabiut tabiin ini memahami Al-Quran dan As-Sunnah, padahal mereka (para Sahabat) tidak pernah membukukan metode tersebut ?!!

Jawabnya mudah; baca kitab Ar-Risalah dan Al-Umm-nya Imam Asy-Syafi’i, karena beliaulah yang pertama kali (menurut sebagian Ulama dan sejarawan Islam) yang membukukan metode tersebut (yang kemudian dikenal dengan metode Ushul Fiqh) !!! Yang selanjutnya digunakan ulama-ulama sesudahnya sebagai patokan dan pedoman untuk memahami nash-nash syara dari Al-Kitab dan As-Sunnah !!! Hal sama juga akan kita dapati jika kita mengkaji kitab Fiqh Al-Akbar-nya Imam Abu Hanifah, Al-Muwatho-nya Imam Malik, Fathur Rabani-nya Imam Ahmad Ibn Hambal dll ? Jadi, bukan atas fatwa Albani, Ibn Baz dan Utsaimin !!! Dan ternyata para wahabiyyun banyak terpengaruh kitab-kitab karangan ulama wahabi ini serta ulasan-ulasan mereka mengenai kitab-kitab karangan para Imam madzhab sebagaimana pemikirannya sendiri bahkan dengan kebusukan mereka memalsukan isi-isi kitab klasik karangan para ulama salaf !!!

Lalu dari mana para Imam ini merumuskan metode Ushul Fiqh, kalau tidak dari pendahulu mereka yang mulia, mengingat masih dekatnya masa mereka dengan masa para Salaf Ash-Sholeh tersebut (banyak yang mengatakan bahwa Imam Abu Hanifah dan Imam Malik masih termasuk Tabi’in dan tabi’ut tabi’in), dan banyaknya Ahli Ilmu pada masa itu ?! Apalagi banyak riwayat yang menyebutkan bahwa karya-karya mereka seperti Al-Umm, Ar-Risalah atau Fathur rabbani – Musnad Imam Ahmad diakui oleh jumhur ulama pada masa itu. Bahkan Al-Muwatho (sebagaimana dinyatakan oleh Imam Malik dalam muqadimah kitabnya) mendapat rekomendasi dari 70 ulama Madinah yang merupakan anak keturunan dan murid sahabat atau tabi’in dan tabiu’ tabi’in di Madinah.

Walhasil, yang pantas disebut sebagai penerus Salaf Ash-Sholeh dan berjalan diatas manhaj salaf serta mengerti pemahaman para sahabat adalah mereka yang mengikuti metode Ushul Fiqh yang telah dirumuskan oleh Para Imam Mujtahid ini, untuk menggali hukum dari nash-nash syara’ guna menjawab problematika kontemporer umat saat ini, agar seperti pendahulunya mereka senantiasa terikat dengan Syari’at Islam.

Lalu sekarang darimana wahabiyyun bisa buktikan, bahwa metode yang mereka gunakan itu adalah metode yang sama dengan yang digunakan para salaf ini ? Sedangkan wahabiyyun tidak punya metode ushul fiqh baku yang di-ikuti dalam berijtihad, apalagi membuktikan kalau metode itu berasal dari para Salaf Ash-Sholeh ini !

Selanjutnya, tentang ulama-ulama wahabi yang diaku sebagai Ulama Hadis, apakah memang benar realitanya seperti itu ? Semua orang boleh melakukan klaim, tetapi semua itu harus dibuktikan terlebih dahulu !!!

Coba perhatikan penjelasan Imam Sakhowi tentang siapa Ahli Hadis (muhaddis) itu sebenarnya : “Menurut sebagian Imam hadis, orang yang disebut dengan Ahli Hadis (Muhaddis) adalah orang yang pernah menulis hadis, membaca, mendengar, dan menghafalkan, serta mengadakan rihlah (perjalanan) keberbagai tempat untuk mendapatkan hadis, mampu merumuskan beberapa aturan pokok (hadis), dan mengomentari cabang dari Kitab Musnad, Illat, Tarikh yang kurang lebih mencapai 1000 buah karangan”. Jika demikian (syarat-syarat ini terpenuhi) maka tidak diingkari bahwa dirinya adalah ahli hadis.

Tetapi jika ia sudah mengenakan jubah pada kepalanya, lalu berkumpul dengan para penguasa pada masanya, atau menghalalkan perhiasan lu’lu dan marjan atau memakai pakaian yang berlebihan (pakaian yang berwarna-warni), dan ia hanya mempelajari hadis Al-Ifki wa Al-Butan, maka ia telah merusak harga dirinya, bahkan ia tidak memahami apa yang dibicarakan kepadanya, baik dari juz atau kitab asalnya. Ia tidak pantas dan jauh dari menyan dang gelar seorang Muhaddis. Karena dengan kebodohannya ia telah memakan sesuatu yang haram. Jika ia menghalalkannya maka ia telah keluar dari Agama Islam (Lihat Fathu Al-Mughis li Al- Sakhowi, juz 1hal. 40-41).

Sehingga yang layak menyandang gelar ini adalah Muhaddis generasi awal seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Nasa’i, Imam Ibn Majah, Imam Daruquthni, Imam Al-Hakim Naisaburi ,Imam Ibn Hibban dll. Apakah tidak terlalu berlebihan (atau bahkan termasuk ghuluw) dengan menyamakan mereka (Imam Bukhari, Imam Muslim, imam Abu Dawud dkk) dengan syeikh-syeikh wahabi yang tidak pernah menulis hadis, membaca, mendengar, menghafal, meriwayatkan, melakukan perjalanan mencari hadis atau bahkan memberikan kontribusi pada perkembangan Ilmu hadis yang mencapai seribu karangan lebih ?

Sekarang kita tinggal tanya saja pada pengikut, simpatisan, dan korban doktrin wahabi ini; apakah masih menganggap Albani sebagai muhaddits? Atau utsaimin telah keluar dari kontradiksinya tentang bid’ah? Atau masih mengikuti ulama-ulama mereka yang selalu mengeluarkan fatwa-fatwa nyeleneh yang membuat kemarahan muslim sedunia ? Atau hanyalah pentaqlid buta ulama wahabi yang berlindung dibalik ketiak raja saudi ?!

Jika pernyataan-pernyataan diatas ini masih dianggap kurang, padahal sudah jelas pengungkapan faktanya, jangan-jangan mata hati dan pikiran kalian sudah tertutup untuk melihat kebenaran (al-haq) diluar kelompok kalian karena ‘ruh ta’ashub’ sudah mengalir dalam urat nadi kalian! Namun jika kalian berusaha untuk mencari kebenaran yang haq tanpa menafikan informasi dan ilmu dari luar (objektif), tanpa adanya syak prasangka yang jelek (su’udzon), tanpa rasa benci pada seseorang apalagi ia seorang ulama, insyaAllah hidayah menuju pintu kebenaran akan terbuka.

sumber

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

122 thoughts on “Wahabi Sebagai Pengikut Salafuna Shalih, Benarkah ?”

  1. Kemarin-kemarin Mas Syahid pernah komentar tentang persamaan Wahabi dan Syiah di postingan yg mana ya? Kira-kira koment-nya seperti ini: “Wahabi dan Syiah sama-sama menghina Sahabat Nabi. Kalau Syi’ah menghina Sahabat terang-terangan, sedangkan Wahabi menghina secara samar.

    Mas Syahid masih ingat, atau mungkin Ada teman-teman yg tahu koment tsb di postingan yg mana? Kami mau membacanya lagi, tapi belum ketemu.
    Afwan….Syukron.

    1. Dianth@

      Wah, syukron Mas Dianth. Ternyata itu perpaduan koment Mas Syahid dan Mas Dianth sendiri.

      Bagi pengunjung yg ingin tahu persamaan Wahabi dan Syiah, silahkan klik link di bawah ini, yg merupakan koment dari Mas Syahid dan Mas Dianth.
      Silahkan klik! http://www.ummatipress.com/2011/07/20/koreksi-total-buat-abahna-jibril-atas-pembelaannya-terhadap-pembagian-tauhid/#comment-15114

      http://www.ummatipress.com/2011/07/20/koreksi-total-buat-abahna-jibril-atas-pembelaannya-terhadap-pembagian-tauhid/#comment-15116

      1. Link yg dikasih Mas Admin ini sangat jelas membuktikan bahwa blog ini bukan blog Syiah.

        Tapi yg namanya Wahabi emang susah dikasih tahu, tetap menganggap blog ini syiah. Mungkin karena sifat Wahabiyun yg memang dungu seperti pernah dikatakan oleh Mr Hempher sahabat karib Syaikh Muhgammad bin Abdul Wahab.

      2. ana bertanya tentang suatu persoalan yang tidak dijawab oleh Al Akh Mutiarazuhud, padahal pertanyaan ana cukup sederhana.

        1) jika ada suatu ikhtilaf dalam suatu persoalan, dimana ada pendapat yang menyelisihi pendapat 4 madzhab, apakah langsung dianggap sebagai pendapat yangs alah atau sesat? seharusnya beliau cukup menjawab, YA atau TIDAK

        2) ana bertanya siapa ulama ahlus sunnah yang menyebut Ibnu taimiyah sebagai mujassimah atau musyabbihah, kemudian dijawab oleh beliau mengutip Ibnul Jauzi yang berkata: “Mereka berkata bahwa Allah bertempat di atas arsy dengan cara menyentuhnya…s/d…mereka adalah kaum Musyabbihah…”. lalu ana bertanya, apakah Ibnu taimiyah pernah berkata bahwa Alloh di atas ‘Arsy dengan cara BERSENTUHAN?

        3) siapa saja ulama ahlul hadits yang menghukumi hadits “Dimana Alloh” adalah mudhthorib?

        ana sadar, beliau memiliki kesibukan yang lebih penting daripada sekedar berdiskusi dengan orang bodoh seperti ana. jika admin ummatipress berkenan menjawabkan pertanyaan ana ini untuk al akh mutiarazuhud, maka ana persilakan.

  2. Nice posting, Thank you Ummati. Ngomongin kedustaan Wahabi ternyata ngga akan ada habisnya. Trus semangat semoga semakin membawa kesadaran bagi masyarakat akn Tipu Daya Wahabi yg benar-benar terbukti.

    Bravo Ummati dan All ASWAJA!!!
    Wahabi go to hELL atau TOBAT.

  3. Artikel yang mantab , silahkan wahabiyyun merenungi isinya untuk membuktikan Klaim dusta Pengikut Salaf.

    admin , tolong sekalian buat artikel tentang Ulama Ahlu Sunnah Wal-jama`ah dari jaman Salaf as-shalihin hingga hari ini , sebab Wahabiyyun sudah banyak meng Klaim Ulama ahlu Sunnah sebagai ulama mereka , padahal jika ditelusuri sama sekali itu bukan Ulama Wahabiyyun, bahkan menurut saya Wahabiyyun tidak memiliki Ulama pada setiap generasi , Ulama mereka selalu terputus dalam banyak generasi , ini menunjukkan Jika Faham dan I`tiqod yang mereka ajarkan tidak Nyambung ke generasi Salaf.

    sebagai contoh : Pembagian Tauhid konon katanya diambil dari Ibnu Bathoh al-`akbari yang hidup pada abad 4 hijriyah , Ibnu Bathoh ini seorang Pemalsu Hadist dari kalangan Mujassimah , ajaran tiga tauhid mati seiring dengan kematian Ibnu Bathoh , muncul lagi pada abad 7-8 hijriyah ditangan Ibnu Taimkiyah (berarti ajaran ini hilang selama -+ 3 abad lalu mati lagi seiring dengan meninggalnya Ibnu Taimiyah , dan baru muncul lagi pada abad 12 hijriyah ditangan M. abdul wahhab , mati selama 500 tahun , betapa ajaran ini mati hidup mati hidup mati lagi , adalah pantas jika M. abdul wahhab mengklaim 600 tahun sebelumnya Ummat Islam telah kafir.

    mohon dengan hormat admin membuat artikel tentang Ulama Ahlu sunnah agar tidak terus menerus dibajak oleh wahabiyyun.

    1. Insyaallah Mas Syahid….

      Tapi kalau Mas Syahid ada waktu dan tidak merepotkan, kami degan tulus memohon bantuan Mas Syahid untuk menulisnya, karena tulisan Mas Syahid sangat mudah dipahami…. inysaallah akan banyak yg sadar jika Ummat Islam tahu latar belakang munculnya Wahabisme yg ternyata tidak ada kaitannya dengan Ahlussunnah Waljamaah.

  4. Insyaallah Mas Syahid….

    Tapi kalau Mas Syahid ada waktu dan tidak merepotkan, kami degan tulus memohon bantuan Mas Syahid untuk menulisnya, karena tulisan Mas Syahid sangat mudah dipahami…. inysaallah akan banyak yg sadar jika Ummat Islam tahu latar belakang munculnya Wahabisme yg ternyata tidak ada kaitannya dengan Ahlussunnah Waljamaah.

  5. Sejatinya mereka tidak mengikuti sama sekali ulama’ salaf sholih maupun khollaf sholih.
    Bahkan, yang konon mereka mengaku sebagai pengikut ibn Taimiyyah di dalam aqidah, sejatinya ibn Taimiyyah berlepas diri dari mereka. Mereka tidak sadar/tidak tahu kalau mereka mengikuti ajaran-ajarannya ibn Taimiyyah yang sebelum beliau bertaubat dari aqidah tajsim dan kembali kepada aqidah asy’ariyyah. Memang riwayat pertaubatan ini sangat kontroversial, akan tetapi pendapat yang kuat adalah beliau ibn Taimiyyah bertaubat dari aqidah tajsim dan mengikuti aqidah asy’ariyyah. Silakan simak riwayat ini di
    http://jundumuhammad.wordpress.com/2011/07/28/riwayat-taubatnya-ibnu-taimiyyah-dari-aqidah-tajsim/

  6. ya begitulah sifat orang yang merasa benar sendiri. selalu menyalahkan orang lain meskipun ia sendiri gk faham ttg mslah itu. ada seorang teman yang baru ikut faham salafy/wahabi. baru masuk aja dah berani membid’ahkan orang lain. kalo diajak dialog malah menghindar, tapi klo sm teman yang masih awam, wah semangat sekali membid’ahkan orang lain.

  7. Blog ini memang sangat berguna buat saya. Dari seorang yg tak mengerti sama sekali tentang Wahabi, akhirnya jadi tahu banyak tentang Wahabi dan bahayanya bagi Ummat Islam dan Islam itu sendiri.

    Syukron Ummati dan All komentator senior yg ajib-ajib dan sangat mencerahkan.

  8. Mau tanya kepada Mas Ahmadsyahid, Mbah Redi atau mas dianth dan temen2 aswaja disini.

    Beberapa kali disini saya mendapati pernyataan dari temen2 aswaja bahwa Syiah itu sesat, bahkan seringkali menyamakan kesesatannya dengan wahhabi.

    Padahal sejauh yang saya tahu, NU secara resmi kelembagaan, tidak menganggap sesat terhadap Mazhab Syiah Imamiah. Untuk dipertimbangkan, setiap tahun, NU dan juga beberapa pengurus Muhammadiyah secara aktif terlibat dalam konferensi Sunni-Syiah yang membahas mengenai ikhtilaf diantara kedua mazhab besar ini. Entah acara tersebut di adakan di Indonesia, di Iran atau negara-negara muslim lainnya. Bahkan pernah juga, NU menjadi tuan rumah dalam deklarai Sunni-Syiah sedunia di Bogor.

    Belum lagi, setiap tahunnya, secara aktif NU maupun Muhammadiyah mengirimkan wakilnya untuk menghadiri konferensi2 atau seminar Sunni-Syiah di Iran. Amin Rais, Gus Dur, Syafii Maarif, KH Agil Siradj sering sekali mengunjugi Iran untuk menghadiri acara ini.

    Siapapun juga tahu bahwa semasa hidupnya, Gus Dur juga tidak menganggap Syiah sebagai mazhab syiah, bahkan seingat saya, beliau pernah berkata bahwa Imam Khomeini adalah wali sejati. Bahkan KH Agil Said Siradj, secara terang-terangan menyebutkan bahwa antara budaya NU dan syiah memiliki kedekatan, seperti yang dikatakannya dalam tanya jawabnya dengan Majalah Syiar yang diberi judul “Ja’fari, mazhab resmi Islam kelima” berikut ini kutipanya :

    Kenapa perayaan Maulid Nabi di masyarakat NU itu lebih meriah dan lebih simbolis ketimbang di masyarakat Muhammadiyah?

    Karena di sini ada budaya Syiah. NU menerima budayanya, bukan fikih atau teologinya. Budaya Syiah itu ya mencintai Nabi dan Ahlulbait. Di dalam bait-bait syair Barzanji tidak ada yang memuja dan nyanjung Abu Bakar, Umar dan Usman. Nggak ada.
    Contohnya, “Kami mempunyai bapak yang sangat kami cintai, yaitu Muhammad, kami punya Ali al-Murtadha, kami punya as-Sibthain (Hasan dan Husain), kam Imam min ba’da khalafu (dan imam-imam setelahnya) seperti Ali Zainal Abidin, anaknya Muhammad al-Baqir, sebaik-baiknya wali, dan putranya ash-Shadiq (Imam Ja’far Shadiq) dan putranya Ali Ridha, begitu lho.
    Jadi budaya Syiah masuk ke NU. Bahkan budaya Syiah pun masuk pesantren. Contohnya penghormatan kepada kyainya. Kalau kyainya meninggal maka yang menggantikannya adalah anaknya sekalipun secara kualitas sangat jauh berbeda. Soalnya keilmuannya, ya dia akan bisa mendapatkan dari guru-gurunya yang lain.

    Kalau banyak berasal dari kultur Syiah, apakah masyarakat yang sadar akan beralih ke gaya mencintai Nabi ala Muhammadiyah?

    Nggak. Silakan Maulid Nabi dan Dibaan itu dikritik, tetap saja nggak bisa hilang dari kami. Malah yang kritik itu sendiri yang terpental.

    Mengapa?

    Sebab Allah Swt sendiri yang memuji beliau. Dalam al-Quran, “Innaka la’alâ khuqin azhîm”. Dan kita punya keyakinan bahwa Nabi Muhammad adalah pemberi syafaat sebagaimana yang tercantum di dalam hadis-hadis sahih. Orang-orang yang banyak dosanya, kalau mereka berziarah kepada Nabi Muhammad dan beristigfar, dan Nabi sendiri memintakan ampunan, pasti mereka akan diampuni dosa-dosanya. “Walau annahum zhalamû anfusahum jâ’ûka fastagfaruhumullah wastagfaruhumur-rasul. Lawajadûllaha tawwabar-rahima.”

    Ada yang bertanya, apakah Nabi Muhammad saw masih hidup sampai sekarang? Jawabannya, ya. Nabi masih hidup sampai sekarang. Buktinya, “Assalamu ‘alaika” dalam tahiyat salat, “‘alaika” berarti beliau masih hidup.
    Jadi, mereka yang datang ke kuburan jasad Nabi (di Madinah) lalu dia beristigfar dan Nabi memantau istigfar kita kepada Allah, maka Allah akan pasti akan mengampuni dosa-dosanya.

    Suni plus kultur Syiah ini, apa hanya khas di NU saja ataukah ada di tempat lain juga?

    Tidak. di Mesir Maulid Nabi semarak sekali, ada tahlilan dan tawasulan. Begitu pula di Maroko. Di Saudi nggak semua (mengharamkan), hanya Najd dan Riyadh saja. Orang-orang Hijaz dan Madinah masih (membaca) Barzanji segala macam.
    Pada dasarnya umat Islam yang ada di Nusantara ini pada umumnya, terutama NU, berhutang budi banyak terutama kepada Ahlulbait yang telah menyebarkan Islam di Nusantara sejak dahulu kala. Kita semua tahu bahwa beberapa Wali Songo itu rata-rata keturunan Ahlulbait. Karena itu budaya Ahlulbait, budaya Syiah, mempunyai kesamaan dengan budaya Islam Indonesia. Seperti tawassul kepada Sayidina Ali dan Ahlulbait lainnya. Doa-doa seperti hizib yang dibaca oleh orang-orang kampung itu dimulai dengan (mengirim) surah Al-Fatihah kepada Rasulullah dan Ahlulbait.

    Bagaimana dengan transfer khazanah keilmuan dari Persia ke budaya Indonesia?

    Sangat luar biasa. Contohnya, huruf terakhir kata Arab yang diserap dalam Bahasa Indonesia yang berakhiran “h” dibaca “t”, seperti “surat”. Ini adalah budaya Persia.
    Ada lagi budaya Persia yang masuk ke dalam budaya Indonesia. Kalau kita membaca al-Quran, misalnya “Hudan lil-muttaqin”, maka (di akhir ayat pendengar) akan dijawab dengan “Allah” (dengan nada panjang dan lembut). Itu merupakan budaya Iran yang mencirikan kelembutan khas Iran.
    Mesir tidak begitu. Kalau mereka mendengar kata “Hudan lil-muttaqin” dibacakan maka mereka akan menjawab “Allahu Akbar” (dengan suara lantang). Kalau mereka mendengar orang membaca al-Quran dengan merdu kemudian tersentuh hatinya, seperti bacaan Syekh Abdul Basith, maka mereka akan berucap “Allah” (dengan keras).

    Apakah yang Anda bisa simpulkan dari fenomena ini?

    Kesimpulannya yang ingin saya sampaikan adalah bahwa Islam datang ke Indonesia dulu bil hikmah wal mau’izhah wal mujadalah. Dengan penuh hikmah (wisdom), akhlakul karimah, budaya, mauizhah (ceramah yang bagus), dengan diskusi dan debat yang ideal dan bagus. Semua itu dilakukan oleh Ahlulbait dan diteruskan oleh para mubalig dan para Kyai.
    Konon ada beberapa kyai yang keturunan Ahlulbait, tapi gelarnya dikesampingkan dan ditutupi. Saya sendiri, katanya, ada (garis) keturunan dari Syarif Hidayatullah, Sunan Gunung Jati. Kyai Sahal Mahfudz keturunan Sunan Kudus. Dan apalagi Gus Dur keturunan Sunan Ampel. Semua itu kembali kepada Ahlulbait. Orangtua-orangtua kita menghapus atau tidak menyebutkan al-Haddad, al-Habsyi dan sebagainya. Semua leluhur saya bliang begitu. Kakek saya semuanya keturunan Ahlulbait.
    Kesimpulan kedua, karena dakwahnya bil hikmah, maka budaya itu menyatu dengan kehidupan kita sebagai orang Islam melalui salawatan, puji-pujian dan melalui doa-doa. Jadi kita tidak bisa dipisahkan dengan budaya Ahlulbait. Sekali lagi, budayanya lho, bukan akidah atau politiknya.
    Cara berpikir Syiah boleh kita ambil meskipun kita berfikih Syafi’i dan berakidah Asy’ari. Lama-lama ini akan menjadi sebuah budaya dan nggak usah ditutup-tutupi.
    Di Indonesia juga ada tradisi Asyura (seperti upacara Tabut di Padang dan itu adalah budaya Syiah) juga tradisi mencintai Imam Ali. Semua orang tahu bahwa Sayidina Ali adalah seorang yang hebat dan mulia. Semua ini sudah menjadi sebuah budaya yang turun temurun yang diciptakan di komunitas masyarakat Islam Indonesia.

    Selain itu, Quraish Shihab juga mengatakan bahwa mazhab Jakfari atau yang juga dikenal dengan mazhab Syiah Imamiyah, saat ini diakui sebagai mazhab resmi ke-5 di Univ AlAzhar, dan sejauh sepengatahuan saya, Sayyid Ahmad Tantawi juga pernah mengatakan bahwa bolehnya mengambil hukum mazhab Jakfari sejauh tidak menemukan hukum yang sama di mazhab Sunni yang empat”

    Belum lagi fakta bahwa penganut Syiah diijinkan naik haji dan memasuki 2 Masjid Suci, masjidil Haram dan Masjid Nabawi.

    Sekedar informasi, Jalaluddin Rahmat, dalam salah satu artikel-nya “Dikotomi Sunni-Syiah: Tidak relevan lagi” membagi penganut syiah dalam 3 bagian :
    • Syiah teologis dimana seseorang mengikuti fikih dan akidah syiah sekaligus.
    • Syiah pemikiran dimana seseorang mengikuti fikih Sunni (Syafii) tetapi bertasyayu (mengatakan bahwa Sayyidina Ali lebih mulia dari Sy Abu Bakar, Umar dan Utsman).
    • Syiah Simpatisan, dimana seseorang mengikuti fikih sunni dan tidak bertasyayu tetapi membela syiah ketika syiah diserang.

    Bagi syiah teologis, para penganut syiah pemikiran dan syiah simpatisan itu bukan syiah. Tapi uniknya, bagi orang sunni konservatif dan wahhabi, syiah pemikiran dan syiah simpatisan itu adalah syiah.
    Ada orang yang menyebut Ustad Muhammad Bagir, sebagai Syi’ah karena telah menerjemahkan rujukan-rujukan yang membela Syi’ah. Ia juga membela Syi’ah apabila Syi’ah diserang. Tetapi, orang yang datang ke rumahnya akan tahu bahwa ia seorang Sunni, betul-betul Sunni. Karena ritus-ritusnya, ibadah-ibadahnya, semua serba Sunni. Pernah seorang ulama Syi’ah kecewa melihat Ustad Bagir karena tidak se-Syi’ah seperti yang ia duga. Itu, lagi-lagi, karena masalah definisi.
    Saya beberapa kali mendengar KH Said Agil berpidato, dan dalam pidatonya, KH Said Agil tidak bisa menyembunyikan kekagumannya kepada Sy Ali dan sering beliau memuliakan Sy Ali lebih dari sahabat lainnya. Gus Dur pun demikian. Dan jika mengikuti defini syiah menurut Jalaluddin Rahmat, KH Said dan Gus Dur bisa saja menjadi Syiah pemikiran (atau mungkin syiah simpatisan) walaupun secara fikih keduanya adalah bermazhab Syafii.
    Walhasil, antara sunni (mazhab Syafii) dan syiah imamiyah, memiliki kedekatkan historis. Dan semakin lama, semakin susah untuk menyebut apakah seseorang itu syiah atau bermazhab Syafii, karena kedekatakan diantara keduanya. Apalagi, sejauh yang saya tahu, menurut pemeluk syiah, Imam Syafii mendapatkan kedudukan yang tinggi pula, bahkan diantara mereka adalah biasa memakai nama Syafii dibandingkan nama Imam-imam sunni lainnya.
    Jadi, masihkan Syiah Imamiah diangga sesat oleh NU?
    Mohon temen2 aswaja disini memberikan pencerahan.

  9. Coba masukkan kata kunci “TKW arab saudi diperkosa” maka anda akan mendapati hasil sebanyak : 369,000 hasil

    Jangan heran pula jika di halaman pertama, anda benar-benar mendapatkan berita tentang pemerkosaan TKW yang dialami di Arab Saudi.

    Sekarang, coba ganti kata kuncinya dengan “TKW Hongkong diperkosa” maka anda akan mendapati hasil sebanyak : 190,000 hasil.

    Tetapi ternyata, dihalaman pertama, anda tidak benar-benar mendapatkan berita pemerkosaan TKW di hongkong.

    Bagi yang mengerti bahasa pemrograman, hasil ini tidak mengherankan. Untuk kasus Arab Saudi, google berhasil memberikan halaman-halaman seperti yang diinginkan user, karena memang banyak sekali kasus pemerkosaan yang dialami oleh para TKW. Hal yang berkebalikan untuk Hongkong. Negara sekuler yang bahkan tidak mengenal apa itu arti agama, justru memberikan hasil yang sedikit mengenai kasus pemerkosaan TKW. Padahal, jumlah TKW di hongkong hampir sama banyaknya dengan TKW di arab Saudi. Jumlah kasus pemerkosaan sebanyak 190,000 menurut perkiraan google, adalah false positif. Artinya, tidak benar-benar terjadi kasus pemerkosaan sebanyak 190,000 kali.

    Menurut data dari Migrant Care, kasus pemerkosaan dan penganiyaan terhadap TKW yang tertinggi terjadi di Arab Saudi. Jauh mengalahkan kasus serupa di Hongkong dan negara-negara kristen lainnya. Masih menurut Migrant Care, pada tahun 2010 saja, setiap jam terjadi 2 buah kasus pemerkosaan dan penganiyaan TKW.

    Tentu temen-temen Masih ingat, ketika beberapa bulan yang lalu, di semua televisi swasta di tanah air, ada berita tentang kepulangan sekitar 400 ratusan TKW wanita dari Arab Saudi. Sebagian besar diantara mereka banyak yang dalam keadaan mengandung dan memiliki anak tanpa kejelasan siapa bapaknya.

    Belum lagi fakta banyaknya TKW yang disiksa, disiram air panas, punggung-nya diseterika, jari-jarinya dipotong, pukulan-pukulan benda tumpul di kepala hingga membuat kepala gundul, disundut rokok, dan lain-lain, dan lain-lain, dan lain-lain.

    Ijinkan saya bertanya kepada anda wahai Arab Saudi.

    Apakah benar anda memeluk islam? Apakah benar anda pengikut sejati Nabi Muhammad? Apakah begitu Islam mengajarkan kepada anda bagaimana memperlakukan manusia? Apakah para TKW itu budak-budak anda sehingga anda bebas memperlakukan mereka seakan-akan mereka binatang?

    Tahukah anda bahwa mereka juga manusia, mereka juga beragama islam sebagaiamana anda beragama islam. Atau jangan-jangan anda merasa hanya anda saja yang beragama islam sedangkan mereka bukan? Ataukah anda merasa anda memiliki ras lebih tinggi sedangkan mereka dari ras binatang?

    Perlu anda ketahui, kejadian ini tidak terjadi dalam 1 atau 2 tahun saja Tuan. Kejadian ini sudah berlangsung lebih dari 1 dekade, dan tidak ada perbaikan sama sekali dari pihak anda.

    Saya bertanya kepada anda, berapa orang warga arab saudi yang menerima hukum qishos atau perbuatan biadab mereka???? Nol, tuan. Nol. Anda begitu tegas menegakkan hukum kepada para TKW dan membiarkan dengan warga anda dengan bebas. Anda menjalankan hukum seperti pisau, tajam kebawah dan tumpul keatas.

    Selama bertahun-tahun kekejian demi kekejian menimpa para TKW Indonesia di Arab Saudi. Selama itu pula, suara-suara pembelaan terdengar sumir. Dimana gerangan organisasi islam yang gencar mendemo kedubes Amerika atau Israel? Kenapa suara anda sunyi menyaksikan kezaliman nyata yang terjadi secara terus menerus di tanah suci? Yang semakin menyesakkan dada adalah tuduhan komunis, islam liberal, syiah, islam pluralisme selalu dialamatkan kepada mereka-mereka yang membela kepentingan para TKW.

    Apakah ajaran membela mereka yang lemah adalah ajaran komunis? Bukankah islam juga mengajarkan untuk membela kepada mereka yang tertinda?

    ” Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu para penegak keadilan, sebagai saksi-saksi untuk Tuhan, walaupun bertentangan dengan kepentingan dirimu, atau orang tuamu, atau karib kerabatmu. Dan jika ia pun kaya ataupun miskin; karena Allah lebih baik dalam melindungi mereka. Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu sehingga tidak berbuat adil” (AQ 4:135)

  10. @muda

    Artikelnya kelihatan baik…tapi sebenarnya sangat busuk…
    Masya ALLAH

    Lebih busuk orang wahhabi/salafy yang suka memperkosa TKW Indonesia. Jangan lupa hoi, Arab Saudi menduduki peringkat 1 didunia sebagai negara yang paling banyak memperkosa TKW ! ! !

    Selamat atas prestasi luar biasa wahhabi/salafy ini …

    1. @ wahabi is dead
      Wahabi memang busuk, sebab wahabi itu ngaku2 Islam tapi Islam yang sudah kecampur yahudi busuk jadi wahabi itu dobel busuk.
      kesimpulannya wahabi itu sebenarnya yahudi yang ngaku2 islam yang tujuannya untuk menghancurkan Islam.
      Salam untuk semua All ASWAJA, teruskanlah menelanjangi sekte sesat wahabi.

    1. Wahabi Makin kebakaran jenggot nih@

      Buka kedok sendiri apaan, lha Mas @wahabi is dead itu kan jelas-jelas Syi’ah tapi Syi’ah Imamiyah yg tentunya jauh-jauh lebih lurus ketimbang Wahabi.

      Saya sering katakan, menjalin persatuan Islam bersama Syi’ah lebih diharapkan oleh kaum muslimin secara golbal daripada dg Wahabi. Track record Wahabi itu benar-benar menunjukkan Wahabi adalah musuh ummat Islam secara global. Itulah kesan saya melihat fakta keseharian. Syi’ah tidak resek sedangkan Wahabi biangnya resek dan kisruh di tengah Muslimin.

      Syiah Imamiyah tentunya sangat beda jauh dg Syiah Rofodhoh dan Syi’ah Ghulat. Syiah Imamiyah termasuk dalam kategory Madzhab Islam. Sedangkan Wahabi itu apa, melihat track recordnya saja bingung saya. Disebut muslim tapi kok resek banget dan tidak membawa kedamaian di tengah muslimin. Dan Hobby Wahabi adalah ingin membenturkan ASWAJA dg Syi’ah, padahal jelas di Indonesia ini tidak mungkin karena jumlah Sy’ah sangat kecil. Wahabi selalu ngipas-ngipasi agar ASWAJA panas dan gerah dg Syiah.

      Tapi tidak ASWAJA memiliki pandangan tersendiri tentang Syi’ah yg tentunya Syi’ah lebih simpatik daripada Wahabi/Salafi. Wallohu a’lam.

    1. Mas Syahid, komentarku juga gak ada yg muncul padahal jelas kelihatan di kompiku sedang nongkrong di kolom moderasinya. Saya menggugat Tauhid Trinitas di blog Tsb. Isinya biasa aja kok sampai gak dikeluarin ya?

      Jadi males mampir ke blog itu lagi, adminnya cemen banget sih?

    2. oooh mas Suajrwo juga ikut koment ya…, coba kita lihat besok besok masih moderasi enggak kalaupun masih gak apa2 , soalnya tiga pendekar Ummati sudah mulai nongkrong disana , saya yakin adminnya akan kocar kacir.

    1. adi@

      Adi, yg guobblokk itu Nte sendiri kok nuduh2? Apakah di artikel di atas Majalah Hidayatullah dikatakan sebagai Salafi? Tidak kan? Coba baca yg bener biar Nte paham dan akhirnya tobat Nte dari Wahabi. Ingat ini menjelang Ramadhan sangat bagus untuk bertobat dari ajaran sesat Wahabi.

  11. Sepertinya belum ada koment Wahabi yg membantah tulisan artikel di postingan ini. Ya, pasti akan kesulitan Wahabi membantahnya, fakta/buktinya terlalu kuat. Jadi terbuktilah kebohongan Wahabi, tapi aneh sekali manusia itu kok ada sekte seperti sekte Wahabi yg penuh dusta sperti ini masi punya pengikut. Sungguh aneh bin ajaib. Lalu apa dasar pemikiarn pengikutnya kok mau mengikuti sekte pembohonng seperti Wahabi in?

    Nah, bagi Wahabiyyun tolong jawab keheranan saya ini. Kok masih mau antum semua jadi pengikut sekte pendusta seperti Wahabi ini?

      1. @Ahmad Syahid

        ada nick @susanto di blog mas @jundumuhammad kalo dialog main copas dan tidak pada inti permasalahan. dan copasanya panjang…. banget. Coba antum kunjungi di blog mas jundumuhammad. ane jadi pingin ketawa he he he he he

        bandingkan dengan blog atau web wahabi pasti dipenjara ama moderatornya

        wahabi pengecut

      2. SID@ wah biasa mas….kalo wahabi sdah kepepet pasti ngomongnya dah ga fokus…tuh bahas artikelnya yang fokus cong, belum satu di komentari dah mo buka debat yang laen juga,,,,dasar pinternya ngeles….wuuuuu

    1. @syiah is dead
      saking hati2nya wahabi dalam masalah kubur, orang yang ziarah kubur dianggap menyembah kuburan, orang yang hormat bendera waktu upacara bendera sama dengan orang yang menyembah bendera, orang yg mengadakan Maulid Nabi sama juga dengan menyembah nabi.
      kalau memang begitu kesimpulannya, di arab saudi juga ada yg nyembah Utsaimin sebab diarab saudi maulid utsaimin juga diperingati.
      kalau ente gak percaya buka aja link dibawah ini :

  12. Kalau menurut sy paham wahaby/salafy ini memang didesain oleh oleh zionis israel n antek2nya untuk melemahkan umat islam. Mereka zionis n antek2nya itu paham bener dengan kelebihan umat islam yg dulu sempat menjadi icon kemajuan peradaban dunia hampir distiap bidang ilmu, n sejarah mencatat begitu banyak karya2 para individu aswaja yg karya2nya hingga kini msh byk disimpan jg terus dikaji diperpustakaan2 perguruan tinggi dinegri barat sana. Mereka tau kehebatan, kesuksesan islam generasi masa itu terletak pada pemahamannya yg lurus hingga Rasulullah SAW, nah maka dari itu mereka kamum zionis cs mulai meruntuhkan umat muslim dgn menyusupkan antek2nya lalu merubah, memotong, memalsukan, melenyapkan manuskripnya dll karya2 ulama klasik ASWAJA, berusaha memutarbalikan sejarah hingga pantas saja kaum wahaby/salaf generasi selanjutnya jd pada mental argumentasinya ketika beradu dgn argumentasi ASWAJA yg bersumber dr sejarah asli yg lolos dari perhatian zionis cs. Ditambah lg dgn bukti2 lain yg tak terbantahkan menghantam kaum wahaby/salafy yg terus menerus muncul seiring waktu membuat para pengikut sawah yg ngotot dgn pahamnya jd makin stres n bagi pengikut sawah yg tdk ngototot banyak yg akhirnya mendapatkan hidayah kembali kepangkuan ASWAJA yg asli.

    Sekali lg ini menurut pengamatan sy yg bodo ini lo ya All ASWAJA….!!! ^_^”
    Kl ada yg salah ya monggo koreksinya!!!

    Syukron.

    1. SID@

      Teman, jangan frustrasi dari rahmat allah, teruslah berusah mencati kebenran. Teman, do’aku selalu menyertiamu semoga dapat Hidayah Allah Swt sehingga ringat bertobat dari pikiran sesat Wahabisme. Amin…


  13. Jika harus dikatakan sesat. Maka aku rela. N jika dikatakan benar aku juga rela. Aku bukanlah apapun melainkan kebodohan semata… Namun hatiku hanya kepadaNYA. sembahku adalah untukNYA. n pertentangan tiada dapat ku debat n kufikirkan. Karna hatiku tak mampu berdalih dari genggaman cintaNYA.

  14. Bab 9 maqalah 2 dalam kitab Nashaihul ‘ Ibad bukankah Imam Ibnu Hajar Al-Asqalaniy mengambil perkataannya Sayyidina Abu Bakar Ash-Shidieq yang menerangkan 3 golongan ahli ibadah yang salah satunya karena cinta? Mohon dicek dalam kitab aslinya bagi yang punya^_^ Kita sama-sama belajar^_^

    Jazakumullah ahsanal jaza’

  15. setau saya yg tolol ini, imam ja’far itu bukan syi’i. Tetapi beliau dijadikan panutan oleh syi’i. Sebagaimana imam Ali, sayyidina Hasan dan sayyidina Husein bukanlah syi’i. Justeru orang2 yg mengaku syi’i itu telah membunuh sayyidina Hasan dan Husain.

    1. @abi dela
      wahabi tak perlu dicari sebab wahabi justru mendatangi kita untuk memjerat kita masuk perangkap sesat mereka.
      kalau kita awam masalah agama pastilah kita terjerat perangkap yang menyesatkan.
      itulah perangkap sesat Wahabi Yahudi laknatullah, perusak Islam dan umat Islam.

  16. wah ini baru bahas masalah jenggot ya sudah sedemikian panjang pembahasannya…. kupas dong masalah penyimpangan ulama wahhabi di sisi yang paling prinsip misal msalah tauhid dan letak kesesatannya…disertai dalil yang shohih ya mas..maaf kalo sudah ada dibahas sebelumnya…..

  17. trima kasih mas prass……ana sudah baca …karena masih.penasaran atas akidah imam abul hasan Alasy’ari ana coba cari di mbah google eh ketemunya yang ini . mohon di beri komentar tentang blog ini adakah ini yang dimaksud ahlusunnah wal jamaah yang seperti ummati jadikan rujukan atau beda….?

    1. Warezz , link yang nt berikan mengatakan jika Asy`riyah dan maturidiyah adalah paham sesat , alasannya cuma satu yaitu : hanya menetapkan tujuh Sifat bagi Allah.

      ini adalah pendzaliman , pendustaan dan kejahilan terhadap Madzhab Asy`ariyah maturidiyah ,

      Warezz , madzhab wahabi itu baru muncul 250 tahunan kok ngerasa paling bener dan paling nyunnah ya…..? apa menurut wahabi sebelum M. abdul wahhab muncul semua Ummat Islam telah sesat….?

    2. Warezz Kareema@

      Wahabi mau dikasih dalil kek nggak kek sama aja. Kalau nggak ada dalil minta dalil. begitu dikasih dalilnya masih ngeyel. Warezz Kareema@ itu dikasih link oleh Mas Prass, linknya itu isinya sudah penuh dalil-dalil shohih, eh masih juga minta dalilnya. Minta ampyuuuunnn dehhhh….

      Ngakunya sudah baca link yg dikasih Mas Prasss? Kok masih tanya dalilnya, bukankah disitu sudah berderet dalil-dalil shohih? Ampyunnn, ampyuuunnnn Wahabi dehhhh???!!!

  18. artikelislami@

    Masyaallah, sampai demikian itu wahabi mencatut nama-nama ulama Aswaja. Trims atas linknya, Wahabi memang menghalalkan sgala cara demi mendapatkan pengakuan masyarakat Aswaja. Untung ketahuan ya?

    Di blog ini juga banyak Wahabi-wahabi berpura-pura bukan Wahabi, tapi begitu berlangsung dialog beberapa dialog terbongkarlah behwa mereka itu Wahabi. Mereka suka menyamar dan menipu, na’udzubillah.

    Awas, Aswaja jangan sampai ketipu Wahabi.

  19. Assalamualaikom,

    Ref:@ Wahhabi is dead.
    Memang bener kata2 saudara mengenai pemerkosaan Wahhabi terhadap TKW.Untuk pengetahuan umum Putera2 Raja Wahhabi
    adalah merupakan dalang terbesar pelacuran/perhambaan gadis bawah umur di dunia. Mereka menubuhkan agensi modeling demi untuk mengabui mata khalayak. Mereka menculik gadis bawah umur dan melarikan mereka dan menggunakan immunasi diplomatik untuk mengelak tangkapan. Putera Turki pernah dihalau di kejiranannya di Amerika apabila penduduk mengetahui tentang aktivitasnya. Kepada Syiah is dead anda sebenar terlalu ghuluw sehingga menutup minda dan matahati anda. Anda tidak dapat menerima kebenaran. Cubalah cari maklumat dalam internet.
    Di sini saya paparkan antaranya dan terlalu banyak penglibatan maksiat Raja2 Wahhabi ini melibatkan, pelacuran, alkohol, narkorba,perhambaan dan bermacam lagi.

    Hasil copas:
    SAUDI ROYALS’ PROSTITUTION RINGS

    It is an open secret in Washington that the State Department is extremely sensitive to criticism of its actions regarding Saudi Arabia and its Princes. It is alleged that there are issues related to Saudi Royals which are so embarrassing to Washington that these must be kept secret from public domain.

    The sensitivities of the US State Department are confirmed by the following BBC obituary on the death of King Fahd of Saudi Arabia.

    BBC OBITUARY – KING FAHD – “Monday, August 1, 2005 – King Fahd (1921-2005) ascended to Saudi Throne in 1982. He had a reputation as a playboy in his youth, with allegations of excessive womanizing, drinking and gambling.

    Indeed, it is claimed that he once lost more than $6m in one night at the Monte Carlo casino. There was a joke that new Cadillacs were dumped as soon as their ashtrays were full. King Fahd himself amassed a personal fortune estimated at $18bn”.

    Earlier, King Saud bin Abdul Aziz (1902-1969) who ruled Saudi Arabia between 1953-64 was deposed and lived in exile in Europe for plundering oil wealth, womanizing, gambling and other vices. It is reported that he fathered a total of 109 children, 53 princes and 56 princesses from hundreds of beautiful young women. Read more …

    Readers may be aware that Saudi Kings are officially addressed as ‘Khadim-ul-Haramain wash Sharifain’ (the Custodians of two holy mosques in Makka and Madina).

    It is not just the Kings, the Saudi Royal family as a whole is famous for their lavish spending, womanizing, drinking, gambling and other vices.

    An American diplomatic document reveals a secret party of a Saudi Prince with alcohol, drugs, sex and prostitutes. In yet another flurry of secret documents of U.S. diplomacy, the site WikiLeaks showed, in great detail, a Halloween party organized by a wealthy Saudi prince in Jeddah with the highest quality drink, drugs and sex with prostitutes.

    One of the secret documents, dated 18/11/2009, reported: “Behind the facade of Wahhabi conservatism on the streets, the nightlife for the young elite of Jeddah is thriving and throbbing. The full range of worldly temptations and vices are available – alcohol, drugs, sex – but strictly behind closed doors.”

    Local American consulate officials were invited to the Halloween party, an all-American date, at the mansion of a young Saudi prince in Jeddah. The prince’s name was omitted from the document, as the diplomats themselves acknowledge that their names should be withheld. The only clue is that this Prince belongs to the Al Thunayan huge family.

    According to Sunday Times, UK, Glamorous hostesses were allegedly paid tens of thousands of pounds from a BAE Systems slush fund to attend lavish parties where a Saudi prince and his entourage were guests of honor. The money was paid to Anouska Bolton Lee and Karajan Mallinder to meet mortgage, rent, credit card and council tax bills. The two women went to parties in a penthouse suite at the Carlton Tower hotel in Knightsbridge attended by Prince Turki bin Nasser and other senior Saudis involved in the £40 billion al-Yamamah arms deal. Read Full Story appeared in Sunday Times

    According to Dailymail – Petrina Montrose who is now 37 and lives in Essex, UK, claimed she was one of three women hired to take part in an orgy with a tall and greasy Saudi Prince. Miss Montrose said she and other two women had been told to go to the five-star Dorchester hotel, in Central London.

    Another woman, Denise Hewitt claimed that she and another famous lady had an orgy with her regular client, a Saudi Prince. Read full story appeared in Dailymail

    The Duchess of York’s biographer, Alan Starkie, reported she declined a $ 3 million offer from a Saudi prince she called “Rubber Lips” who wanted to bed her.

    May 30, 2010 : Starkie reported that “Sarah had no real source of income,” When her debts approached 3 million pounds, “I introduced her to a member of the Saudi royal family who was willing to pay it off completely,” Starkie said. “I arranged for Sarah to visit him . . he met her alone, clad in flowing robes and a lascivious grin . “When he tried to kiss her, she fled home and quickly called me, referring to the fellow dismissively as ‘Rubber Lips,’ indicating that when those lips sprung forward and plastered themselves upon her mouth, ‘it felt like extricating oneself from a suction cup’ as she pulled free”. Read more…

    Prince Nayef bin Fawwaz Al Shalaan moved two tons of cocaine from Colombia to an airport outside Paris, using his diplomatic status and a royal family 727 jet, U.S. and French law enforcement authorities told ABC News. He is under indictment by U.S. and French authorities, but living outside the reach of American law in Saudi Arabia, according to Raffanello. The United States and Saudi Arabia have no extradition treaty. A trial for the prince’s alleged co-conspirators is scheduled to begin in a federal court in Miami. Prince Al-Shalaan also has an earlier drug charge — he was indicted in Mississippi on narcotics charges in 1984, and remains a fugitive in that case as well, according to the DEA.

    Fabrice Monti, a former French police investigator, said the powerful Saudi Interior Minister, Prince Nayef bin Abdel Aziz, actually threatened to cancel certain business deals with the French government if the narcotics investigation of a fellow prince continued. “The Saudi government acts as one to set up a protective barrier between the Prince and French justice and threatened to not sign a very important and lucrative contract in the works for a very long time,” said Fabrice Monti, who has written a book on the subject. Read ABC News Full story.

    The Guardian reported – November 16, 2007 – “It is a remarkable shopping list by any standards. And it has landed the Saudi ambassador to Britain, Prince Mohammed bin Nawwaf bin Abdul Aziz, the nephew of King Abdullah, with a possible £3m debt, and the embarrassment of having allegations about the ostentatious spending habits of the royal family laid bare. Bills he is claimed to have run up on an array of luxury amusements include, a selection of handguns and a trip to a hotel in Casablanca that reads : Girls : party night 5″.

  20. Untuk Pencita Wahhabi silalah baca article dibawah
    mengenai Ibnu Wahab dan asal keturunannya.

    Ibn Abd al-Wahhab

    Ibn Abd al-Wahhab (1703-1799), born in Uyayna in Najd, belonged to Banu Tamim Tribe. He studied in his childhood from his father. Later, he spent some time in Basra, Southern Iraq from where he traveled to Makka and Madina. All historians agree that his new thinking of rebellion against Islam was developed when he was in Basra. By the time he returned to his native town Uyayna in 1740 he had completely transformed into a rebel against Islam. He started propagating his new ideology claiming that the entire population of Muslims of Arabian Peninsula and that of the world was Mushrikeen and that what he was preaching was real Islam.

    It is reported that initially Abd al-Wahhab managed to convert Uyayna’s Town In-charge Uthman Ibn Mu’ammar into his new religion and with his support started implementing his new ideology in the town by force. The first evil act committed by Ibn Abd al-Wahhab was, by conspiring with Ibn Mu’ammar, one night, he destroyed the Dome and pious grave of Hadhrat Zayd Ibn al-Khattab (رضئ اللہ تعالی عنہ) who was Sahabi of Prophet Mohammad (صلى الله عليه و آله وسلم) and brother of Hadhrat Umer Ibn al-Khattab (رضئ اللہ تعالی عنہ), the second Caliph of Islam. Destruction of the Dome and his anti-Islam activities in collusion with local Town In-Charge drew the attention of Sulaiman Ibn Mhammad of Bani Khalid, the Tribal Chief of Al-Hasa who was a good Muslim. He ordered the arrest of Ibn Abd al-Wahhab. The news reached Ibn Abd al-Wahhab in time and he fled from Uyayna. Read more…..

    Kenali asal keturunan Ibnu Wahab

    It is in Hadith – ‘A person with eyes protruding, with a long beard and head clean-shaven (named Zul-Khawaisara who was from the tribe of Banu Tamim) came to the Prophet (صلى الله عليه و آله وسلم) and declared: ‘O Muhammad! (صلى الله عليه و آله وسلم) fear Allah (سبحانہ و تعا لی). ‘ The Prophet (صلى الله عليه و آله وسلم) replied: ‘If I disobey Allah (سبحانہ و تعا لی) then who else will obey Him? I am obedient to Allah (سبحانہ و تعا لی) at all times and never disobedient. Allah (سبحانہ و تعا لی) has sent me as Amin (Honest for the entire world, but you don’t accept me as an honest man? A Sahabi (Hadhrat Umer – رضئ اللہ تعالی عنہ ) became infuriated and sought permission to remove him from the presence of the Prophet (صلى الله عليه و آله وسلم). The Prophet (صلى الله عليه و آله وسلم) prevented him from doing so. After the person had left, the Prophet (صلى الله عليه و آله وسلم) said: ‘From his progeny (descendants) will rise a Group who will recite the Holy Quran but it will not go below their throats. They will leave the Deen (Islam) just as an arrow leaves the bowstring. They will kill Muslims but spare the idolaters. If I ever confronted these people I would slaughter them just as the people of Aad had been destroyed’. (Mishkat, pp – 535).

    Since Ibn Abd al-Wahhab also belonged to Banu Tamim, therefore, as per the above Hadith, he is indeed from the direct descendants of Zul Khawaisara. There cannot be two opinions in this context.

  21. Untuk Wahhabiyun marilah kita mengenali Raja Wahhabiyun supaya anda bisa berfikir lebih baik.

    THE ORIGIN AND
    HISTORICAL BACKGROUND OF
    SAUDI ROYAL FAMILY

    Historians have traced that the Sauds belonged to Anza tribe who were settled in Najd around 1450 AD. It is said that Sauds were originally Jews and shrewd Feudal Lords.

    King Faisal (1906-1975), who ruled the Kingdom between 1964-75, confirmed Jewish ancestry of Saudi Royals. In an interview to Washington post on September 17, 1969, King Faisal is reported to have said “We, the Saudi family are cousins of the Jews. We entirely disagree with any Arab or Muslim Authority which shows any antagonism to the Jews; but we must live together with them in peace. Our country (Arabia) is the Fountain head from where the first Jew sprang, and his descendants spread out all over the world.” Read more…..
    At a wider scale, the above statement can also be interpreted that since Jews are the descendants of Prophet Isaac ( علیھ السلا م ) and Arabs are the descendants of Prophet Ismail ( علیھ السلا م ), this way they are cousins.

    It is reported that Saudi Royal family trusts Israeli and US mercenaries as their personal body Guards : US and Israeli mercenary security personnel working for private contractors are allegedly used by Saudi Royal family to guard Saud family Princelings. This Praetorian Guards use balaclava (face cover) and other disguises during security operations which allows for anonymity. Read more…..

    Saudi Royal’s Jewish ancestry is also confirmed from the fact that they have destroyed and eliminated the entire Islamic Heritage and established Salafism, a new religion in Arabian Peninsula. Read more .

  22. Yang ini sambongannya lagi menarik untuk dibaca : Sejarah
    perkembangan dan kospirasi Wahhabi.

    Brief History of Sauds

    Mohammad Ibn Saud was a shrewed tribal Lord of neighboring Diriyya, Najd who cared more about power, money and women, as had been the case with most of the feudal lords in medieval times. He gave protection to Ibn Abd al-Wahhab and quickly envisioned the possibility of forming a State in Arabian Peninsula based on Wahhabism, the new religious theory preached Ibn Abd al-Wahhab.

    Thus, the first Saudi State came into being in the year 1744 AD (1157 AH) when Ibn Abd al-Wahhab and Mohammad Ibn Saud formed an alliance and hatched a political conspiracy to establish a State based on Wahhabism, away from Islam. To cement the alliance further Ibn Saud’s sister was married to Ibn Abd al-Wahhab. As per the terms of alliance, Ibn Abd al-Wahhab became de facto Minister for Religious Affairs whose job was to convert people into the new religion and create religious fanaticism in masses. The plan was to use newly converted religious fanatics to expand Sauds’ territory and eventually form a large Saudi State in Arabian Peninsula.

    The following 190 years, between 1744-1932, Sauds fought wars with all Muslim rulers of Arabian Peninsula and were finally successful in wiping out Islam and Muslims from Arabian Peninsula in 1932 when Abdul Aziz declared himself as King of the newly formed state of ‘Saudi Arabia’.

    Currently Sauds are planning to expand their territory into major part of the Globe using religious fanaticism of their scholars, particularly Dr. Zakir Naik. Read mor

    1. Mas Ahmad Syahid, tampilan yg dulu memang bagus. Tapi tampilan yg sekarang pun menurut ane tidak kalah bagusnya. Lebih hidup malah mneurut ane. Memang awalnya ane kagok juga dg tampilan yg baru ini karena cukup bikin bingung akibat terbiasa dg yang dulu. Tapi lama-lama terbiasa dan enak juga kok, suwer kewer2 deh, kwk kwk kwk….

      Untuk Mas Syahid N all pengunjung di sini ane ucapkan “Minal aidin walfaa’zin mohon maaf lahir batin.” 😆

  23. Mas @ Nasrulloh
    Sering-sering aja kunjungi blog ini nti juga ngerti, saya aja tau wahabi secara rinci dari blog ini dan memang bahayanya waduuuh tuh wahabi.
    Kalau diluar lihat aja orang yang sering bicara Bid’ah, syirik, apalah tau, yang seakan-akan sorga miliknya sendiri, kita aja gak tau masuk sorga atau neraka atau ditengah-tengahnya, yang jelas kan kudu mati dulu baru perbuatan itu bisa dikatakan bid’ah atau apalah.

  24. Dalam artikel di atas disebutkan:

    “ Pada suatu pelajaran, Abdullah Ibn Baz pernah menyatakan bahwa membolehkan pernikahan dengan ahlul kitab dengan persyaratan. Sebagian mahasiswa yang mengikuti pelajaran itu berkata : “Wahai Syeikh, sebagaian Sahabat melarang hal itu !”. Beliau menoleh kepada Mahasiswa itu, lalu berkata : “Apakah perkataan Sahabat menentang Al-Qur’an dan As-Sunnah ? TIDAK BERLAKU PENDAPAT SIAPAPUN SETELAH FIRMAN ALLAH SWT DAN SABDA RASUL-NYA“ (Majalah Hidayatullah edisi 03XVIIJuli 2004; hal. 40-41).

    Apanya yang salah dengan perkataan beliau ini? Bukankah perkataan beliau sudah mencocoki dengan firman Alloh: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang Mukmin dan tidak (pula) bagi wanita yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan sesuatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka …” (Q.s. Al-Ahzab: 36)

    Perkataan beliau ini hampir serupa dengan perkataan Abdullah bin Abbas: “Hampir saja kalian akan dihujani batu dari langit. Aku katakan, ‘Rasulullah bersabda demikian lantas kalian membantahnya dengan mengatakan, ‘Abu Bakar dan Umar berkata demikian.’ “(HR. Ahmad)

    Lagipula, pendapat sahabat yang disebutkan oleh mahasiswa itu apakah sudah menjadi ijma’ sehingga tidak boleh dibantah? Kalau masih ada yang menyelisihinya, maka ambillah yang menyelisihi itu, karena pendapat itulah yang lebih sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah.

    1. Pertanyaan Syaikh bin Baz kepa Mahasiswa itu kan aneh? Atau tepatnya pertanyaan songong, seakan Sahabat salah sedangkan bin Baz yg benar. Sahabat diposisikan sebagai penetang Qur’an dan Sunnah, Bin Baz sendiri seakan tunduk kepada Al Qur’an dan Sunnah. Apakah ini tidak ganjil?

  25. Seandainya hujjah yang disampaikan oleh Bin bazz itu bisa dijelaskan secara bertanggungjawab memang lebih sesuai dengan sunnah, ya nggak apa-apa.

    Yang jadi masalah itu karena justru, wahabi menganggap pendapatnya yang paling benar, bahkan lebih sesuai sunnah daripada pendapat sahabat. Jadi yang dipermasalahkan itu karena menganggap pendapat lain, sebagai pendapat yang salah.

  26. @Ajam
    Dalam Kitab Al Umm Imam Syafi’i berkata : Dihalalkan menikahi wanita-wanita merdeka ahli kitab bagi setiap muslim, karena Allah swt menghalalkan mereka.

    Wanita-wanita ahli kitab yang merdeka dan boleh dinikahi adalah pengikut dua kitab yang masyhur yakni Taurat dan Injil, adapun Majusi tidak masuk dalam golongan ini.
    Wanita ahli kitab pada seluruh pernikahannya dan hukum-hukumnya dalam masalah halal dan haram sama seperti wanita muslimah tanpa ada perbedaan sedikitpun. Tidak boleh menikahi wanita ahli kitab kecuali dihadiri dua saksi yang adil dan beragama islam, serta wali dari pengikut agamanya seperti wali bagi wanita muslimah.

    Laki-laki yang beristrikan wanita ahli kitab berhak memaksa istrinya untuk mandi junub, membersihkan diri dengan mencukur bulu kemaluan dan memotong kuku. Ia berhak juga melarang istrinya pergi kegereja, karena ia berhak juga melarang wanita muslimah pergi kemasjid. Diperkenankan pula baginya melarang istrinya minum khamar dan memakan daging babi.

    Firman Allah dlm (Al Maa’idah : 5) Pada hari Ini dihalalkan bagimu yang baik-baik. makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al Kitab itu halal bagimu, dan makanan kamu halal (pula) bagi mereka. (dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan [wanita-wanita yang merdeka] diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. barangsiapa yang kafir sesudah beriman (Tidak menerima hukum-hukum Islam) Maka hapuslah amalannya dan ia di hari kiamat termasuk orang-orang merugi.

    Hal ini juga sesuai pernikahan Rasulullah SAW dengan Ummu Habibah binti Abu Sufyan dan penyerahan hak perwaliannya kepada Ibnu Sa’ad bin Al Ash (sudah berstatus Muslim) sedangkan abu sufyan masih hidup.

    Berkata Imam syafi’i : Apabila seorang wanita masuk islam atau dilahirkan dalam keadaan islam, atau salah satu dari kedua orang tuanya masuk islam sementara ia masih anak-anak dan belum mencapai baligh, maka haram atas setiap laki-laki musyrik, ahli kitab atau penyembah berhala untuk menikahinya dalam segala keadaan (sesuai firman Allah diatas).
    Nah @ajam, abd ibn bazz mungkin menyamakannya antara laki-laki muslim menikahi wanita ahlul kitab dan laki-laki non muslim menikahi wanita muslim.

    Kita lihat aja sekarang kan banyak, wanita muslimah menikah dengan laki-laki non muslim.

  27. ana pernah ngaji nu , habaib , yg mereka sebarkan hanyalah kebencian kepada wahabi…kalau ditanya wahabi itu sejarahnya gimana mereka gk tau…taunya yg sering berkata bidah , anti maulid , anti tawassul kepada orang mati, setelah saya tanya keorang yg dikatakan ” wahabi” ana dikasih penjelasan yg panjang lebar intinya kembali kpd TAUHID, ana lihat perilaku orang yg dianggap “wahabi” dg orang yg sangat benci kepada wahabi , sangat jauh . dlm hal sholat aj ketika orang yg dianggap “wahabi” mendengar azan orang itu langsung bergegas kemasjid untuk sholat berjamaah , kontras dg orang yg membencinya ketika azan orang yg benci dg nama ” wahabi ” ini masih aja memegang rokoknya , hal yg gk bisa dibandingkan dg kata2 . ana gk benci kepada siapapun tapi ana bisa membedakan akhlak dan manhaj yg benar.

    1. @abuhana: ana setuju banget sama antum, sholat wajib berjamaah itu wajib bagi laki2, sementara jilbab wajib bagi perempuan, coba lihat disekeliling kita sudahkah berjilbab? mungkin setiap kali kondangan, ngaji berjilbab, namun keseharian diluar rumah tidak, bahkan saat melayatpun hanya pakai kerudung, sementara kaki dan tangannya terbuka ga cocok dengan al ahzab ayat 59

  28. Iyalah memang Wahabi paling Nyunnah, yg perempuan pakaiannya tertutup rapat pakai longdress, dalamnya pakai celana panjang, pakai kaos kaki walaupun cuma pakai sendal jepit lantas celana panjangnya dimasukkan kekaus kaki kayak mau main sepak bola, wajah ditutup yg keliatan cuma kedua matanya.
    Sedangkan yang laki2 gak kalah nyunnahnya, celana cingkrang dibawah lutut kayak lagi kebanjiran, rambut plontos, jenggot awut2an gak pernah dirapihkan sebab motong jenggot katanya haram, kening gosong karena sering di-bentur2kan kelantai, wajah tidak pernah tersenyum kepada orang lain kecuali kekawan sesama wahabi, kalo shalat berjamaah nyari kaki jamaah lainnya untuk ditempelkan sehingga kaki ngangkang lebar2 seperti kuda2 pencak silat yg se-olah2 mau nantang tuhan, sedekapnya waktu shalat percis dibawah dagu sambil ngelus-elus jenggot . masih banyak lagi yg nyunnah2 dari wahabi yg katanya pengikut Shalafus Shalih.

    1. abah asra hanya berpendapat pribadi dan subjektif saja seperti tulisannya
      “akai kaos kaki walaupun cuma pakai sendal jepit lantas celana panjangnya dimasukkan kekaus kaki kayak mau main sepak bola, kayak lagi kebanjiran,sering di-bentur2kan kelantai, ngangkang lebar2 seperti kuda2 pencak silat yg se-olah2 mau nantang tuhan,”

  29. Bismillaah,

    Kang Nasrullaah,

    Sebaiknya anda jangan menghubungkan sholat yang benar dan khusyu, bacaan Qur’an yang bagus dan pakaian yang sunnah dengan teroris. Perkataan anda dapat menimbulkan kesan bahwa teroris adalah orang yang shalatnya benar dan khusyu, bacaan Qur’an nya bagus dan pakaiannya sesuai sunnah. Dan orang yang bukan teroris adalah orang yang shalatanya asal-asalan dan buru-buru, bacaan Qur’an nya amburadul dan pakaiannya model cowboy dan menyapu jalan.

    Yang pasti, teroris memiliki ciri menentang pemerintah. Kalau mereka taat pada pemerintah, mereka tidak akan menjadi teroris.

    Wallaahu a’lam.

  30. Bismillaah,

    Abah Asra,

    Terus saja anda memperolok-olok orang yang melaksanakan sunnah Rasulullaah: bercadar, berjenggot, berpakaian di atas mata kaki, merapatkan shaf, dll. Terus saja anda lakukan itu hingga waktu yang telah ditentukan. Atau anda istighfar atas olok-olokan anda kepada pengamal sunnah.

    Wallaahu a’lam.

    1. Mohon Izin masukkan Copasan :

      Rosulullah saw pernah berkata kepada sahabat tentang Khawarij yang rajin shalat dan membaca al-Qur’an:
      “Membaca Al-Quran lebih rajin dari kamu (para sahabat)
      dan solatnya lebih rajin daripada kamu; sampai masing-masing jidadnya(dahinya) hitam , tapi mereka membaca Al-Quran tidak sampai ke lubuk hatinya dan solatnya tidak diterima oleh Allah swt.”

  31. @ibnu suradi
    pengamal sunnah tuh, tp kencingnya masih berdiri,walaupun berjenggot, walaupun celananya cingkrang ( rosulullah SAW nggak pake celana cingkrang ya pake jubah), saff dirapatkan, ya tetap kena najis, padahal masalah kecil atuh, kwkwkwk
    emang antum aja yg paling sunnah,, tuh buktinya!!!

  32. Bismillaah,

    Kang Ferry,

    Saya sudah sampaikan hadits yang meriwayatkan bahwa Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah kencing berdiri. Kalau anda menafikan keberadaan hadits tersebut, silahkan.

    Saya melihat di sini banyak pembenci para pengamal sunnah berjenggot (karena mereka tidak berjenggot), berpakaian di atas mata kaki (karena pakaian mereka menyapu lantai dan jalan sehingga terkena najis yaang dibawa dalam shalat), merapatkan shaf (karena shafnya tidak rapat dan tidak lurus bahkan cenderung berantakan), bercadar (karena mereka tidak bercadar bahkan tidak berjilbab kalaupun berjilbab jilbabnya ketat seperti berpakaian tapi telanjang yang disabdakan Rasulullaah sebagai tidak mencium wangi surga), dll.

    Selamat buat anda semua. Anda telah mematikan sunnah-sunnah tersebut.

    Wallaahu a’lam.

    1. Mu’adz bin Anas Radhiyallahu ‘anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Siapa yang menanggalkan pakaian yang mewah karena tawadlu’ kepada Allah padahal ia dapat membelinya, Allah akan memanggilnya pada hari kiamat di muka sekalian manusia untuk disuruh memilih sendiri pakaian iman yang mana yang ia kehendaki untuk dipakainya.” (HR. Tirmidzi)
      Hadis riwayat Barra’ bin Azib ra., ia berkata:Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk melaksanakan tujuh perkara dan melarang kami dari tujuh perkara. Beliau memerintahkan kami menjenguk orang sakit, mengiringi jenazah, mendoakan orang bersin (mengucap yarhamukallah), melaksanakan sumpah dengan benar, menolong orang yang teraniaya, memenuhi undangan dan menyebarkan salam. Beliau melarang kami dari cincin atau bercincin emas, minum dengan wadah dari perak, hamparan sutera, pakaian buatan Qas (terbuat dari sutera) serta mengenakan pakaian sutera baik yang tebal dan tipis. (Shahih Muslim No.3848)
      Hadis riwayat Hudzaifah bin Yaman ra.: Bahwasanya Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kalian minum dalam wadah emas dan perak dan jangan mengenakan pakaian sutera sebab pakaian sutera itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian di akhirat pada hari kiamat. (Shahih Muslim No.3849)
      Hadis riwayat Ali bin Abu Thalib ra., ia berkata: Dihadiahkan kepada Rasulullah saw. kain sutera bergaris. Rasulullah saw. mengirimkannya kepadaku maka aku pun memakainya. Tetapi aku melihat kemarahan di wajah beliau. Beliau bersabda: Sungguh, aku mengirimkan pakaian itu kepadamu bukannya untuk engkau pakai tetapi aku mengirimkannya agar engkau memotong-motongnya menjadi kerudung buat para wanita. (Shahih Muslim No.3862)
      Hadis riwayat Anas bin Malik ra.: Dari Qatadah ia berkata: Kami bertanya kepada Anas bin Malik: Pakaian apakah yang paling disukai dan dikagumi Rasulullah saw.? Anas bin Malik ra. menjawab: Kain hibarah (pakaian bercorak terbuat dari kain katun). (Shahih Muslim No.3877)
      Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:Bahwa Rasulullah saw. bersabda: Allah tidak akan memandang orang yang menyeretkan pakaiannya dengan sombong. (Shahih Muslim No.3887)
      Hadis riwayat Abu Hurairah ra.: Ia melihat seorang lelaki menyeret kainnya, ia menghentakkan kakinya ke bumi, lelaki itu adalah pangeran (penguasa) Bahrain. Ia berkata: Pangeran datang, pangeran datang! Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya Allah tidak akan memandang orang yang menyeretkan kainnya dengan kecongkakan. (Shahih Muslim No.3893)

      saya tidak melihat dalam Hadist dijelaskan memakai celana pendek spt wahabi pakai….

  33. Bismillaah,

    Kang Nasrulloh,

    Bila ingin mengetahui hadits-hadits tentang pakaian di atas mata kaki, simak saja komentar-komentar saya di thread yang berjudul “Isbal Tidak Otomatis Nyombong, Artinya Tidak Otomatis Haram” di situs ini juga. Atau baca Kitab Riyadhush Shalihiin bab pakaian.

    Wallaahu a’lam.

  34. Bismillaah,

    Kang Nasrulloh,

    Tentang celana panjang, anda dapat menyimak hadits tentang seorang wanita yang jatuh lalu tersingkap pakaian bagian bawahnya. Ketika diceritakan kejadian tersebut kepada Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Apakah dia mengenakan celana panjang bagian dalamnya?” Sahabat menjawab: “Ya”.

    Untuk lebih jelasnya tentang hadits tersebut, anda dapat menanyakan kepada Kang Syahid yang lebih paham tentang hadits.

    Wallaahu a’lam.

      1. bebas memakai pakaian apa saja yang penting menutup aurat dan tidak ketat dan tidak transparan shg seolah olah telanjang tapi berpakaian.
        untuk pria dari lutut sampai diatas mata kaki. Kalau pas solat ya jangan tinggi banget hampir sampai lutut dikhawatirkan kalau lagi sujud bisa terlihat lututnya itu. Jadi sepertinya bebas saja tingginya antara di bawah lutut sampai diatas mata kaki.

        1. iamwin @

          Kalau pakai saraung sampai kebetis, bukan saja lututnya yg kelihatan tapi celana dalamnya juga bisa kelihatan, juga kalau pakai celana atau sarung sampai kebetis kayak lagi kebanjiran…..ha ha ha 3x

  35. bukan orang gila yang bilang, saking gilanya dia bilang gitu, ulama’ wahabi kan buatan yahudi, kok sahabat, Qur’an aja bisa di plintir ayatnya, apalagi baru sabat, gusti Allah aja di tentang, apa lagi manusia biasa, biasa obate lagi habis… jadi pada gila semua ulama’ wahabi

Tinggalkan Balasan

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker