Berita Fakta

Wahabi, Gerakan Pembaharuan Yang Paradok

Neo-Salafisme Wahabi: Ironisme Tauhid dan Pendangkalan Islam

“Awalnya Wahabi adalah sebuah gerakan dakwah, yang diusung oleh Muhammad bin Abdul al-Wahab, seorang Baduwi Najd. Setelah mendapatkan dukungan politik dari Ibnu Sa’ud, seorang politikus handal, Muhammad bin Abdul al-Wahab bersekongkol dengannya membentuk arus oposisi menentang kekuasaan Dinasti Ottoman. Targetnya adalah mewujudkan mimpi terbentuknya kekuasaan independen, yang mengusung ideologi Islam yang bercita-rasa literalis (tekstual), berorientasi ke belakang (semakin ke belakang mendekati zaman Nabi dianggap semakin murni?), dan mengkebiri cara berfikir religius yang substansial dan multi-dimensional: mencemooh filsafat, mantik dan tasawuf.

wahabi dan radikalisasi anak muda - Wahabi, Gerakan Pembaharuan Yang Paradok

Wahabi telah menitik tekankan pada aspek teologi (tauhid) sebagai arena atau wilayah “pemurnian”. Ada pembengkakan wilayah teologi yang diupayakannya. Wahabi berasumsi bahwa anti-tesa tauhid adalah musyrik. Dan musyrik dibagi menjadi dua, yaitu syirik kecil dan besar. Syirik besar bersifat jahri (jelas) adalah sikap yang berlebihan terhadap selain Tuhan, dimana sikap itu sejatinya hanya layak dipersembahkan untuk Tuhan. Jika sikap itu dilakukan, kata Wahabi, maka terejawantahkannya pemberhalaan (tawtsien).

Ziarah dan tawashul terhadap kuburan Nabi, para sahabat dan orang-orang salih, sikap memuliakan batu atau sampah, dan mencintai orang-orang salih dianggap oleh Wahabi adalah sikap yang “berlebihan”, karena itu sebagai wujud pemberhalaan. Pandangan ini akan berimplikasi mensejajarkan Nabi dan orang salih dengan batu atau sampah, yang sama-sama tidak boleh disikapi secara berlebihan, lantaran dianggap sama-sama bukan Tuhan….

Awalnya Wahabi adalah sebuah gerakan dakwah, yang diusung oleh Muhammad bin Abdul al-Wahab, seorang Baduwi Najd. Setelah mendapatkan dukungan politik dari Ibnu Sa’ud, seorang politikus handal, Muhammad bin Abdul al-Wahab bersekongkol dengannya membentuk arus oposisi menentang kekuasaan Dinasti Ottoman. Targetnya adalah mewujudkan mimpi terbentuknya kekuasaan independen, yang mengusung ideologi Islam yang bercita-rasa literalis, berorientasi ke belakang (semakin ke belakang mendekati zaman Nabi dianggap semakin murni?), dan mengkebiri cara berfikir religius yang substansial dan multi-dimensional: mencemooh filsafat, mantik dan tasawuf

Wahabi telah menitik beratkan pada aspek teologi (tauhid) sebagai arena atau wilayah “pemurnian”. Ada pembengkakan wilayah teologi yang diupayakannya. Wahabi berasumsi bahwa ani-tesa tauhid adalah musyrik. Dan musyrik dibagi menjadi dua, yaitu syirik kecil dan besar. Syirik besar bersifat jahri (jelas) adalah sikap yang berlebihan terhadap selain Tuhan, dimana sikap itu sejatinya hanya layak dipersembahkan untuk Tuhan. Jika sikap itu dilakukan, kata Wahabi, maka terejawantahkannya pemberhalaan (tawtsien).

BACA JUGA:  Sadar Bahaya Wahabi, Tunisia Sita 25 Ton Buku Wahabi

Ziarah dan tawashul terhadap kuburan Nabi, para sahabat dan orang-orang salih, sikap memuliakan batu atau sampah, dan mencintai orang-orang salih dianggap oleh Wahabi adalah sikap yang “berlebihan”, karena itu sebagai wujud pemberhalaan. Pandangan ini akan berimplikasi mensejajarkan Nabi dan orang salih dengan batu atau sampah, yang sama-sama tidak boleh disikapi secara berlebihan, lantaran dianggap sama-sama bukan Tuhan

Kita tahu bahwa sikap “berlebihan” adalah masalah yang sangat relatif dan kondisional. Terbukti, betapa hidup keseharian adalah cermin bagi kita untuk mengaca diri, betapa kita telah membeda-bedakan cara penyikapan terhadap sekian banyak jenis manusia. Para orang bijak jaman kuno sudah lama mengingatkan kita akan perlunya sikap adil: meletakkan sesuatu (atau manusia) pada tempatnya. Kata Aristoteles dalam Ethica Nicomachea-nya: “Sikap egaliter (musawa) tidak selamanya cerminan dari sikap adil. Adil adalah sikap proporsional, bukan egalitarianisme total”.

Kebutuhan seorang mahasiswa berbeda dengan seorang siswa SD, SMP dan seterusnya. Menghadap ke presiden akan berbeda dengan menghadapi wong cilik. Perbedaan adalah wajar untuk mewujudkan rasa adil. Tapi bukan berarti berbeda. Wahabi, yang menyamakan Nabi dan orang salih dengan batu atau sampah, yang dianggap sama-sama makhluknya, kiranya tak tepat mengartikan makna adil

Islam idealis dengan patokan teologi rigid yang diandaikan Wahabi menjadikannya sebagai sekelompok Serigala berbulu Domba: menawarkan ke-beradaban dengan cara-cara yang “biadab”. Menyergap kelompok yang lain dan yang berbeda. Nyatanya, setelah gerakan oposan Wahabi mendapatkan bekingan dari Inggris, mereka berhasil memisahkan diri dari Dinasti Ottoman, dan kisah pembantaian terhadap sesama Muslim dimulai. Mekah yang begitu suci dijadikan tempat jagal penyembelihan orang-orang Muslim, yang dianggap sebagai pelaku bid’ah. Wahabi merasa tidak puas menghabisi orang-orang Muslim di kandangnya sendiri (baca; Jazirah Arab), akhirnya Wahabi pun menyembelih orang-orang Muslim Syi’ah di Karbala

BACA JUGA:  Bantahan Terhadap Buku "Hadits Lemah dan Palsu yang Populer di Indonesia"

Jargon pemurnian Islam yang diusung Wahabi menjadi ironi. Lantaran sejatinya mereka bukan memurnikan Islam, tapi mengeringkan Islam. Mendesain Islam sebentuk jalan setapak dan sempit. Sejenis cara berfikir identitas, yang memberikan ukuran-ukuran pasti dan sekematisasi kaku. Siapa pun harus dibentuk, tidak bisa membentuk. Jika sekema itu berbentuk kotak, maka dia harus menjadi kotak. Islam ditonjolkan dalam militansi kesalihan-formalis: bercelana di atas mata kaki, berjenggot, becadar, dll. Hanya dengan itu pula identitas Wahabi dimanifestasikan.

Dada kita akan semakin sesak jika kita melihat betapa Wahabi menselaraskan agama dan pemikiran keagamaan. Lantaran Wahabi tak memberikan sedikit pun hak akal dan intuisi untuk didayagunakan dalam bergumul dengan agama. Sementara kita tahu, bahwa pemikiran keagamaan adalah produk ijtihadi penalaran manusia hasil pergumulan dengan agama dan realita. Pemikiran keagamaan akhirnya akan selamanya majemuk

Wacana teologi yang diusung Wahabi adalah sejenis wacana yang absen dari percaturan ilmiah, dengan mengembalikannya ke dalam wacana “religius murni” yang bertumpu pada makna literalisme teks-teks primer agama (Quran&hadits), yang bersifat univositas. Bahasa metafor (majaz) adalah barang haram. Berteologi dengan berfikir atau penghayatan-intuitif adalah tindakan kriminal! Syahdan, Wahabi dalam menyikapi ayat-ayat ketuhanan pun tetap berpegang pada makna literalisnya. Yadu-Allah, semisal, diartikan bahwa Tuhan mempunyai tangan, seperti pendapatnya para salaf al-salih, demikian Wahabi berkata.

Sejatinya nama besar dan harum “salaf al-salih” di sini sedang dijual sebagai alat legitimasinya. Terbukti, para salaf al-salih dalam menyikapi ayat-ayat ketuhanan, semisal Yadu-Allah, dengan tanpa menentukan makna, dan menyerahkan maknanya kepada Allah. Wa-llahu A’lam. Sementara kita tahu bahwa Wahabi telah menentukan makna literalisnya, dan terperosok ke dalam tajsiem (mempersonifikasi Tuhan yang berjasad). Pengakuan Wahabi sebagai madzhab salaf menjadi musykil. Bahkan, wacana teologi ala Wahabi yang hendak mensakralkan Tuhan, tapi berujung pada desakralisasi Tuhan, bisa jadi akan membawa pada agnostisisme

Prinsip Wahabi ini tak selaras dengan ujaran Nabi, bahwa: “al-Quran bagaikan intan permata, yang setiap sisinya memancarkan cahaya yang beragam”. Ini adalah petanda bahwa bahasa al-Quran adalah bahasa yang ambigu dan bahkan ekuivositas (kemajemukan makna). Ada lapisan makna yang terkandung dalam bahasa al-Quran. Karena itu, semisal para teolog, para filsuf dan sufi dalam merumuskan bangunan teologinya dengan epistemologi filosufis-religius, yang diistilahkan Immanuel Kant dan Heidegger dengan “onto-teologi”. Piranti “analogi”, semisal, telah digunakan. Penalaran dan eksperimentasi didayagunakan untuk menyibak kandungan makna al-Quran yang begitu majemuk, demi meraih penyucian dan pensakralan Tuhan yang jitu

BACA JUGA:  Inilah Bukti Muhammad bin Abdul Wahhab Mengkafirkan Para Ulama

Muhammad Abduh sebagai saksi mata menilai Wahabi adalah gerakan pembaharuan yang paradok: hendak mengibaskan debu taklid yang mengotori, tapi di saat yang sama menciptakan taklid baru yang lebih menjijikan. Muhammad Abduh dan Wahabi sejatinya terikat dalam satu mimpi bersama, yaitu mengembalikan Islam pada masa Islam belum terkotak-kotak dalam beragam sekte. Biasa diistilahkan sebagai “neo-Salafisme”.

Tapi keduanya memilih jalan yang berbeda: Abduh melalui jalan rasionalis, sehingga diklaim sebagai neo-Muktazilah; Wahabi melewati jalan literalis, sehingga diklaim sebagai neo-Khawarij. Pangkal paradoksalitas Wahabi tercium oleh Abduh dalam menjatuhkan pembaharuannya pada jalan literlisme, yang menghantarkan pada “taklid baru yang menjijikan”. Berimplikasi pada pendangkalan Islam yang tak bisa dielakkan: menghempas progresif, mendulang regresif

Baru-baru ini saya mendapatkan buku murah di pasar buku lowak (azbaciah) yang bertajuk “al-Sa’udiyyun wa al-Irhabi: Ru’yah ‘Alamiyah” (Orang-orang Saudi dan Terorisme: Sebuah Pandangan Dunia): Riyadh, 2005. Sejenis bunga rampai, memuat tulisan dari berbagai kalangan. Ada satu sub judul yang membicarakan relasi terorisme dan Wahabi.

Cukup beragam tulisan itu: ada yang menohok bahwa Wahabi adalah salah satu sumber merebaknya terorisme, dan ada yang menyucikan Wahabi dari terorisme. Tapi, penyucian Wahabi dari terorisme menjadi sangsi jika kita melihat kenyataan selalu saja ada pihak yang bergabung dalam komplotan terorisme berkedok agama, yang telah menyerap doktrin Wahabi. Dan benarkah kalau mereka hanyalah sekedar oknum? Wallahu A’lam

.Penulis masih tingkat akhir Akidah-Filsafat, Ushuluddin, Univ. Al-Azhar Kairo

 Oleh: Mukti Ali

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

18 thoughts on “Wahabi, Gerakan Pembaharuan Yang Paradok”

      1. istigfarlah.. sungguh anda orang yang jahil, berbicara tanpa ilmu, sesat dan menyesatkan.. semoga kaum muslimin dilindungi oleh Alloh dari makar kaum yang hasad terhadap dakwah yang haq (salafiyah) berdasarkan al-Qur’an dan as-Sunnah..
        ===================

        UMMATI:
        Akhi, kami tidak terkejut dengan gaya bicara dan cara berpikir Anda yang dengan arogan dan gegabah menuduh kami sesat dan menyesatkan… Itu adalah gaya bahasa khas kaum wahabi (Salafy). Terlalu over acting dalam menyikapi klaim kenaran!

  1. qiqiqiqiqiqqq..

    buat yang merasa wahaby tentu artikel ini akan dianggap tidak bermanfaat

    la wong artikel ini menelanjangi kejumudan mereka koq

    saya minta izin copas dan saya sebarkan di grup saya ya
    grup KTB
    ^_^
    =================================

    Silahkan Mas, kirimi link-nya dong? Biar kami bisa berkunjung…..

  2. Ping-balik: Debat Lucu Ahlussunnah VS Salafy Wahabi « UMMATI PRESS
  3. Mohon beberapa artikel ini dibuat dalam blog antum, supaya dibaca oleh banyak orang; (syukur2 semuanya), Barakallah fik……..!!!!!

    Karya-karya ulama kita yang harus anda baca, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=287937743329&1&index=1

    Materi tauhid dalam menjelaskan ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=276190138329&1&index=2

    Bantahan Terhadap Kaum Anti Takwil [ALLAH MAHA SUCI DARI TEMPAT DAN ARAH; Mewaspadai Ajaran Wahhabi], klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=312724543329&1&index=0

    Materi penjelasan kesesatan aqidah hulul dan wahdah al-wujud, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=178832598329

    Pernyataan sebagian ulama Ahlussunnah terkemuka dalam menjelaskan ALLAH ADA TANPA TEMPAT, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=177358813329

    Dari tulisan al-‘Arif Billah as-Sayyid Abdullah ibn Alawi al-Haddad (Shahib ar-Ratib); supaya anda kenal siapa Ahlussunnah Wal Jama’ah, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=174232968329

    Materi penjelasan hakekat bid’ah dari a sampe z (supaya jangan sembarangan menuduh ahli bid’ah kepada orang lain), klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=171331573329

    Dari tulisan Imam al-Ghazali dalam menjelaskan bahwa ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TANPA ARAH, klik http://www.facebook.com/note.php?note_id=171126758329

    dan berbagai materi lainnya, banyak buuaaanggeeett… klik aja di sini http://www.facebook.com/notes.php?id=1789501505

  4. Ah..ky cerpen nih, ga ada sumbernya, paling2 cuma brdasarkn katanya-katanya, mnafsirkan sndiri, penuh prasangka cenderung fitnah..
    saya maklum, soalnya yg nulis org filsafat, jd ky gtu dh..prkataan Aristoteles dibawa-bawa, pdhl tu org ga beriman kpd Allah..
    bgmn bisa?
    ==========================

    Ente rupanya belum tahu tentang cerpen. Buktinya ente nggak bisa bedain antara cerpen dan bukan cerpen. Makanya jangan sok tahu!

  5. masyaallah
    artikel yg bagus
    ana hanya menginginkan
    umat islam bersatu
    ya Allah.. tunjukanlah kami kepada jalanMu yang lurus
    satukan kami, dan binasakan musuh-musuhMu

  6. artikel yang sangat berguna …. marilah kita bersama sama menjaga anak, cucu, dan seluruh keluarga kita jangan sampai kena virus2 wahhabiisme nauzubillah …..islam itu rahmatan lil allamiiin …..

  7. Ini Aqidah Kita dan Dakwah Kita Oleh: Syaikh Muqbil bin Hadi

    Artikel ini merupakan kutipan dari Kitab “Hadzihi Da’watuna wa ‘Aqidatuna karya Syaikh Muqbil bin Hadi. Artikel ini diambil dari Buletin Al-Manhaj, edisi 7/1419 H/1999 M, yang diterbitkan oleh Lajnah Khidmatus Sunnah wa Muharobatul Bid’ah. Ponpes Ihyaus Sunnah. Degolan-Yogyakarta, dan saya Ahmad Syahid mencoba untuk mengomentarinya, dengan harapan ada perbaikan dari Ulama Ahlu Sunnah., karena syekh Muqbil bin hadi merupakan Representasi dari kaum Wahaby/Salafi yang cukup banyak pengikutnya di Indonesia, namun sayang beliau mencampur adukkan antara Aqidah Dengan Manhaj Da`wah sehingga memberikan kesan da`wah adalah aqidah dan aqidah adalah Da`wah, padahal Aqidah bisa diringkas sebagaimana Hadist Jibril yang diriwayakan oleh Imam Muslim dalam Shohihnya, sementara da`wah lebih teknis lebih dominan kepada strategi penyampaian.

    1. Kita beriman kepada Allah, nama-nama-Nya dan sifat-sifat-Nya, menurut apa yang terdapat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, tanpa tahrif(menyimpangkan maknanya), mentamtsil (memisalkan dengan makhluk), mentasybih(menyerupakan dengan makhluk) dan tanpa menta’thil (meniadakan atau menghapus sifat itu dari Allah).

    As. Ini merupakan rukun Iman yang pertama, namun sayang hanya dijelaskan dari satu sisi saja yaitu asma dan sifat Allah, dan tercampur dengan metodologi / cara memahami ayat asma dan sifat, dan dasar metodologi inilah yang membuat mereka terjatuh kedalam Tasybih(menyerupakan dengan makhluk) dan Tamtsil(memisalkan dengan makhluk), meskipun mereka mengklaim menolak itu semua.

    2. Kita berkeyakinan bahwa berdo’a kepada orang mati, meminta tolong kepada mereka dan begitu juga terhadap orang yang masih hidup pada masalah yang tidak disanggupi kecuali oleh Allah adalah syirik. Begitu juga keyakinan terhadap jimat-jimat, bahwa dia bisa memberikan manfaat bersama Allah atau tanpa Allah adalah syirik. Dan membawanya tanpa keyakinan adalah khurofat.

    As. “, Justeru keyakinan inilah yang membuat mereka terjatuh kedalam kemusyrikan yang nyata, karena meyakini adanya manfa`at dan Mudhorot dari selain Allah yaitu Orang yang masih hidup, Padahal Allah berfirman ” ALLAH telah menciptakan kalian dan apa yang kalian lakukan ” mereka berkeyakinan bahwa pada perkara yang tidak luar biasa, manusia bisa melakukannya, tanpa ada qudrat dan Irodat serta Izin dari Allah swt, keyakinan ini bertentangan dengan ayat diatas.
    Syeikh Muqbil mencampur adukkan antara Syirik dengan Tauhid dengan mengatakan : ” Begitu juga keyakinan terhadap jimat-jimat, bahwa dia bisa memberikan manfaat bersama Allah atau tanpa Allah adalah syirik.” Pernyataan ini jelas bertentangan dengan Al-Qur`an dan Al-Hadist dan menunjukkan beliau tidak Faham apa itu Tauhid apa itu Syirik.

    3. Kita berpegang dengan dhazir ayat dan Sunnah. Kita tidak menta’wilkannya kecuali ada dalil yang membolehkan untuk melakukan itu dari Al-Qur’an dan Sunnah
    As. Metodologi ini merupakan metodologi yang digunakan oleh kaum Mujassimah dan Musyabihah yang jelas telah keluar dari manhaj Ahlu Sunnah Waljama`ah baik Salaf maupun Kholaf, karena manhaj Salaf Ahlu Sunnah adalah Tafwidh (menyerahkan ma`na sepenuhnya kepada Allah tidak berpegang kepada dzahir ayat atau sunnah), sementara manhaj Kholaf Ahlu Sunnah adalah menta`wil sesuai dengan ma`na yang layak. Hingga terhindar dari taybih tajsim.

    4. Kita beriman behwa kaum mukminin akan melihat Rabb mereka pada Hari Akhir tanpa mentakyif (menanyakan bagaimana). Dan kita beriman dengan syafa’at dan akan dikeluarkannya orang-orang yang bertauhid dari neraka.

    As. Keyakinan ini masih sejalan dengan Ahlu Sunnah Waljama`ah.

    5. Kita mencintai para Sahabat Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan membenci orang-orang yang mencela mereka. Kita meyakini bahwa menghina mereka berarti menghina agama ini. Karena merekalah yang membawanya kepada kita. Kita mencintai Ahlul Bait Nabi dengan kecintaan yang berdasar syariat.

    As. Masih sama dengan ahli sunnah, hanya ahli sunnah tidak membenci orang yang mencela Sahabat ,tapi menasehati mereka agar kembali kepada Ahli Sunnah. Adapun pernyataan ” Kita mencintai Ahlul Bait Nabi dengan kecintaan yang berdasar syariat ” patut dipertanyakan karena praktek dilapangan tidak satu pun Ahlul Bait yang mereka dekati , bahkan Justeru cenderung memusuhi Ahlul Bait.

    6. Kita mencintai Ahlul Hadits dan seluruh para salaf (pendahulu) ummat ini dari kalangan Ahlus Sunnah.

    As . Ponit ini lucu, sebab Ahlul Hadist adalah Ahlu Sunnah Wal-Jama`ah itu sendiri

    7. Kita membenci Ilmu Kalam. Dan kita berkeyakinan bahwa dialah penyebab terbesar perpecahan ummat ini.
    As. Ahlu sunnah wal-jama`ah tidak membenci ilmu kalam, namun mereka membatasi diri untuk tidak mempelajarinya terlalu dalam, seperti halnya para Filosof, karena memang beda manhajnya. Ahlu sunnah mempelajari ilmu kalam sebatas untuk Iqomatul Hujjah.

    8. Kita tidak menerima keterangan dari kitab-kitab fiqih, tafsir, cerita-cerita lampau dari sejarah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, kecuali yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya. Bukan berarti kita membuangnya dan tidak butuh kepadanya, tetapi kita mengambilnya dari kesimpulan para ulama kita yang faham dan yang selain mereka. Dan kita tidak menerima hukum kecuali yang berdasarkan argumen yang shahih.

    As. Ponit ini berbahaya bagi orang awam, (yang saya maksud dengan orang awam adalah mereka yang belum sampai derajat Ijtihad baik Juz`I maupun Kulli (muthlaq) sementara manhaj Ahlu Sunnah adalah ” silahkan ikuti salah satu Madzhab yang empat.” Tanpa mempersoalkan Argumen, karena orang awam tidak akan faham atau mengerti hal itu, cukup baginya Taqlid dan haram baginya mengurai kembali apa yang sudah dibangun oleh Imam 4 Madzhab.

    9. Kita tidak menulis dalam kitab-kitab dan pelajaran-pelajaran kita serta kita tidak berkhutbah kecuali dengan Al-Qur’an atau Hadits yang shahih untuk berhujjah. Kita membenci apa yang terdapat dalam kebanyakan kitab-kitab para pemberi nasehat, yaitu cerita-cerita bohong dan hadits-hadits lemah, bahkan palsu.

    As. Point ini berbeda dengan Manhaj Ahlu Sunnah, yang tetap menggunakan Hadist Dhaif dalam rangka ” Targhib wa Tarhib ” sebagaimana kesepakatan para Ahlul Hadist, bahkan Imam Ahmad bin Hanbal, lebih memilih menggunakan Hadist Dhaif ketimbang Qias, karena meskipun Dhaif tetaplah merupakan perkataan / sabda Baginda Nabi, sama sekali tidak boleh disamakan dengan Maudu` atau Palsu.

    10. Kita tidak mengkafirkan seorang muslim kecuali karena kesyirikan atau karena meninggalkan shalat atau murtad. Semoga Allah melindungi kita dari hal-hal itu.

    As. Point ini bisa memudahkan orang untuk mengkafirkan sesamanya, makanya pantas
    jika sebagian Wahaby/Salafy merupakan ahli Takfiri.

    11. Kita beriman bahwa Al-Qur’an adalah Kalamullah (ucapan Allah), bukan makhluk.

    As. Sama dengan Ahli Sunnah

    12. Kita berpendapat wajib saling tolong-menolong sesama muslim mana saja dalam kebenaran. Dan kita berlepas diri dari dakwah-dakwah jahiliyah.

    As. Sama dengan Ahlu Sunnah namun perlu kejelasan apa yang dimaksud dengan dakwah-dakwah jahiliyah ?

    13. Kita berpendapat tidak boleh memberontak terhadap pemerintah kaum muslimin selama mereka masih muslim. Kita tidak berpendapat bahwa revolusi adalah cara yang membawa kebaikan, bahkan itu adalah cara yang merusak masyarakat. ”

    As. Pendapat ini benar namun sangat disayangkan, karena tercoreng oleh sejarah kelam kaum Wahaby yang melakukan pemberontakan terhadap Pemerintahan yang Sah di tanah Hijaz ( termasuk makkah dan Madinah ).

    13. Adapun sikap kita terhadap penguasa ‘Aden (Penguasa yg berhaluan komunis/sosialis), maka kita berpendapat bahwa memerangi mereka adalah adalah wajib hingga mereka mau bertaubat dari penyelewengannya, yaitu sosialisme dan mengajak manusia untuk beribadah kepada Lenin, Karl Mark dan tokoh-tokoh kafir lainnya.

    As. Patut ditelusuri apakah benar bahwa pemerintahan ” `aden mengajak manusia untuk beribadah kepada Lenin, Karl Mark dan tokoh-tokoh kafir lainnya. ? atau hanya sekedar beda faham Tawassul , Tabarruk dan Maulid Nabi ?

    14. Kita berpendapat bahwa jama’ah-jama’ah yang baru dan banyak sekarang ini adalah penyebab perpecahan kaum muslimin dan yang melemahkan mereka.

    As. Termasuk didalamnya Faham Wahaby/Salafy ? tokh mereka juga baru

    15. Kita berpendapat bahwa dakwah Ikhwanul Muslimin tidak cocok dan tidak baik untuk perbaikan masyarakat, karena mereka adalah dakwah politik, bukan dakwah yang bertujuan untuk memperbaiki jiwa. Dan dia juga dakwah bid’ah, karena dia adalah dakwah untuk membai’at orang-orang bodoh. Dan dakwah Ikhwanul Muslimin juga adalah dakwah fitnah, karena berdiri dan berjalan diatas kebodohan.

    As. Ponit 15 ini lebih Pas jika dikomentari oleh Ikhwanul Muslimin, sebab mereka yang menjadi tertuduh, komentar saya Point 15 ini bersebrangan dengan Ahli Sunnah, sebab Ahli Sunnah tidak Mudah menilai apalagi menuduh kelompok tertentu adalah dakwah Bid`ah, Dakwah Fitnah, Ahli Sunnah lebih cenderung mengIntrospeksi diri ketimbang menilai dan menuduh, meskipun jika harus bersikap Ahlu sunnah lebih cenderung menasehati.

    15. Kita menasehati sebagian teman-teman kita yang masih bekerja didalamnya agar mereka segera meninggalkannya, hingga dengan itu dia tidak menyia-nyiakan waktunya pada masalah yang tidak bermanfaat bagi Islam dan kaum muslimin. Dan wajib bagi setiap muslim meyakini bahwa Allah akan menolong Islam dan kaum muslimin melalui tangan muslim mana saja dan jama’ah mana saja.
    As. Nah lebih baik menasehati seperti ini ketimbang mencela dan menuduh, meskipun patut dipertanyakan Empaty seikh terhadap Palestina.

    16. Adapun tentang Jama’ah Tabligh, silakan Anda membaca penuturan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al Washshabi, beliau berkata:
    (a). Mereka mengamalkan hadits-hadits dhaif (lemah), maudhu’ (palsu) dan yang tidak ada asalnya
    (b). Tauhid mereka penuh dengan bid’ah, bahkan dakwah mereka berdasarkan bid’ah, karena dakwah mereka dasarnya adalah Al-Faqra yaitu khuruj (keluar). Dan ini diharuskan setiap bulan 3 hari. Setiap tahun 40 hari dan seumur hidup 4 bulan. Setiap minggu ada 2 Jaulah…Jaulah pertama di masjid yang didirikan shalat padanya. Dan yang kedua berpindah-pindah. Disetiap hari ada 2 halaqah, halaqah pertama di masjid yang didirikan shalat padanya. Yang kedua di rumah. Mereka tidak senang terhadap seseorang kecuali bila ia mengikuti mereka. Tidak diragukan lagi bahwa ini adalah bid’ah dalam agama yang tidak diperbolehkan oleh Allah
    (c). Mereka berpendapat bahwa dakwah kepada tauhid itu memecah belah
    (d). Mereka berpendapat bahwa mengajak manusia kepada sunnah itu memecah belah ummat
    (e). Pemimpin mereka berkata dengan tegas bahwa: bid’ah yang bisa mengumpulkan manusia lebih baik daripada Sunnah yang memecah belah manusia
    (f). Mereka menyuruh manusia untuk tidak menuntut ilmu yang bermanfaat secara halus atau terang-terangan
    (g). Mereka berpendapat bahwa manusia tidak bisa selamat kecuali dengan cara mereka. Dan mereka membuat permisalan dengan perahu Nabi Nuh ‘alaihis salam, siapa yang naik akan selamat dan siapa yang tidak naik akan hancur. Mereka berkata:”Sesungguhnya dakwah kita seperti perahu Nabi Nuh”. Saya sendiri yang mendengarkannya di Urdun dan Yaman
    (h). Mereka tidak menaruh perhatian terhadap Tauhid Uluhiyah dan Tauhid Asma wa Sifat
    (i). Mereka tidak mau menuntut ilmu dan berpendapat bahwa waktu yang digunakan untuk menuntut ilmu hanya sia-sia belaka.

    As. Point ke 15 ini lebih berhak dikomentari oleh Jama`ah Tabligh, karena mereka yang menjadi tertuduh , komentar saya hanya : kenapa sih syeikh Muqbil ini seneng membenci, menuduh dan mencela ?

    17. Kita mengikat pemahaman kita dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang berdasarkan pemahaman Salaf (pendahulu) ummat ini dari kalangan ahli hadits tanpa fanatik terhadap individu mereka, tetapi kita mengambil kebenaran dari orang yang membawanya. Kita tahu ada orang yang mengaku-ngaku sebagai Salafi (pengikut Salaf), padahal Salaf berlepas tangan dengan mereka, sebab dia berteman dengan orang-orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah.

    As. Saya tidak faham maksud dan tujuan syeikh pada point 17 ini. Hanya aroma Prasangka sangat menyengat tercium.

    18. Kita berkeyakinan bahwa politik adalah bagian dari agama ini. Dan orang-orang yang memisahkan antara agama dan politik berarti ingin menghancurkan Dien (agama) ini dan ingin menyebarkan kekacauan seperti yang terjadi disebagian negeri kaum muslimin. Mereka mengatakan “Agama untuk Allah dan negara untuk bersama”. Ini adalah slogan-slogan jahiliyah.

    As. Ponit 18 in bertentangan dengan Point 15 yang menyatakan : ” . Kita berpendapat bahwa dakwah Ikhwanul Muslimin tidak cocok dan tidak baik untuk perbaikan masyarakat, karena mereka adalah dakwah politik” , entah mana yang loebih cocok untuk perbaikan Masyarakat Ikhwanul Muslimin kah ? atau Wahaby salafy ?.

    19. Kita berkeyakinan bahwa tidak ada izzah (kemuliaan) dan pertolongan bagi kaum muslimin, hingga mereka mau kembali kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

    As. Sudah kesiangan pak , Ahlu Sunnah Wal-Jama`ah sudah dari dulu menyatakan itu.

    20. Kita membenci kelompok-kelompok baru: Komunisme, Ba’tsi, Nashiry, Sosialisme, dan Rafidhah yang telah keluar dari Islam. Kita berpendapat bahwa manusia sekarang menjadi 2 golongan, yaitu golongan Hizbur Rahman (kelompok Allah), yaitu orang-orang yang melaksanakan rukun-rukun Islam dan Iman tanpa menolak sedikitpun syariat Allah, dan Hizbusysyaithan (kelompok setan), yaitu yang memerangi syariat-syariat Allah.

    As. Ahlu Sunnah tidak membenci kelompok-kelompok baru: Komunisme, Ba’tsi, Nashiry, Sosialisme, dan Rafidhah yang telah keluar dari Islam, tetapi menasehati dan mengajak mereka kepada Islam.

    21. Kita mengingkari orang yang membagi agama menjadi “kulit” dan “inti”. Dan ini adalah dakwah yang menghancurkan.

    As . itukan hanya pemahaman saja tidak perlu diingkari, karena Kulit dan Inti merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah, sebagaimana dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, apanya yang harus diingkari ?

    22. Kita mengingkari orang yang merasa tidak butuh kepada ilmu Sunnah dan mengatakan “Ini bukan waktu mempelajarinya”. Beginilah orang yang enggan mengamalkan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam.

    As. Ahlu Sunnah mengamalkan Sunnah secara keseluruhan, baik Shohih, Hasan Maupun Dhaif.

    23. Kita berpendapat handaknya kita mendahulukan yang paling penting dari yang penting. Maka wajib bagi seorang muslim untuk bersungguh-sungguh memperbaiki aqidah, kemudian membinasakan komunisme dan Ba’tsiyyah dan itu bisa tercapai dengan persatuan yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.

    As.Ahlusunnah berpendapat ” perbahrui lah iman kalian dengan Lailaha illallah ” entah apa yang dimaksud dengan memperbaiki aqidah, ahlu sunnah tidak menebar kebencian dan permusuhan Benci anu , Binasakan anu !.

    24. Kita berpendapat bahwa jama’ah yang merangkul Rafidhah, Syi’ah, Sufi, dan Sunni tidak bisa menghadapi musuh karena itu tidak akan tercapai kecuali dengan ukuwwah (persaudaraan) yang jujur dan persatuan dalam aqidah.

    As. Bagaimana bisa mengajak persatuan kalo sering menebar kebencian dan permusuhan ? bagaimana bisa mengajak Jujur kalo kita sendiri tidak jujur ?

    25. Kita mengingkari orang yang berkata dan menyangka bahwa para da’i yang mengajak manusia kembali kepada Allah adalah orang-orang Wahhabi. Kita tahu bahwa mereka memiliki maksud yang sangat jijik dan kotor yaitu ingin memisahkan para ulama dengan masyarakatnya.

    As. Kenapa mesti diingkari ? toh sudah banyak juga kan wahaby yang seneng dipanggil wahaby ? atau pengennya dipanggil apa sih ? , dan menurut saya yang ingin memisahkan Ulama dengan Masyarakatnya Justru Wahaby/Salafy dengan Doktrin “Jangan Fanatik kepada Ulama ” dan doktrin “Anti Madzhabnya.”

    26. Dakwah kita dan aqidah kita lebih kita cintai dari diri-diri, harta-harta dan anak-anak kita. Kita tidak akan rela menjualnya dengan emas dan uang…Kita suarakan terus dakwah ini sampai pupus harapan orang yang ingin memperalat dakwah ini. Dia mengira dia bisa mendikte kita dengan uang dan harta. Oleh sebab ini, mereka menjadi putus asa untuk membujuk kita dengan harta dan kedudukan.

    As.ya seperti halnya Ulama Saudi wahaby/Salafy yang memperlebar tempat sa`I tanpa mengindahkan batas yang sudah ditentukan oleh Rosulallah saw ?.

    27. Kita membenci pemerintah-pemerintah yang ada, sekedar (sesuai dengan) kejahatan yang mereka lakukan dan kita mencintai sekedar (sesuai dengan) kebaikan yang ada padanya. Kita tidak boleh memberontak kecuali bila kita telah melihat adanya kekafiran yang jelas pada pemerintahan-pemerintahan itu berdasarkan burhan (bukti nyata) dari Allah.

    As. Ya seperti halnya Pemerintah Saudi yang bergandengan mesra dengan Amerika dan Israel ?, dan seperti Pemberontakan kaum Wahaby/Salafy Terhadap pemerintahan Islam Daulah Ustmaniyah ?

    27. Pemerintah yang paling kita benci sekarang adalah pemerintahan ’Aden yang berhaluan komunis lagi Atheis, semoga Allah segera membinasakannya dan menyucikan negeri-negeri Islam darinya.

    As. Syeikh Muqbil kok penuh dengan kebencian dan pengingkaran sih ? , Agama itukan nasehat Syeikh , kenapa engga dinasehatin aja ?

    28. Kita menerima bimbingan dan nasehat dari siapa saja, karena kita adalah para penuntut ilmu yang bisa benar dan salah.

    As. Mestinya kalo ngaku sebagai penuntut ilmu ikuti saja salah satu madzhab 4 yang sudah diakui dunia Islam, ketimbang bikin Madzhab sendiri Mudhorotnya lebih banyak ketimbang manfa`atnya.

    29. Kita mencintai Ulama Sunnah yang hidup sekarang. Dan kita ingin mengambil faedah dari mereka. Dan kita merasa sedih karena kejumudan sebagian mereka.

    As. Metinya gimana sih seikh yang ga Jumud itu ?

    30. Kita tidak menerima fatwa kecuali berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam yang tsabit (kokoh).

    As. Point ini menyelisihi Ahlu sunnah karena Ahlu Sunnah menerima Al-qur`an dan Sunnah Rosulallah sholallahu alaihi wasallam meskipun Dhaif, karena ada tempatnya tersendiri untuk Hadist yang Dhaif.

    31. Kita mengingkari kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab dan sektor lainnya dengan adanya usaha mengunjungi kuburan Lenin dan tokoh-tokoh sesat lainnya untuk menghormati mereka.

    As. lebih baik menasehati daripada mengingkari.

    32. Kita mengingkari pemerintah muslim yang melakukan kerja sama dengan musuh-musuh Islam, baik itu antek-antek Amerika atau komunis.

    As. Seperti pemerintahan Arab Saudi yah ? kok Syeikh Muqbil malah mesra sih sama pemerintah Arab Saudi ?

    33. Kira mengingkari dakwah-dakwah jahiliyah seperti kesukuan dan fanatisme Arab. Kita menggolongkannya sebagai dakwah-dakwah jahiliyah dan termasuk sebab yang memundurkan umat Islam

    As. Kenapa sih Syeikh tidak dinasehati aja, kok mengingkari terus ?

    34. Kita menunggu seorang mujaddid yang Allah akan memperbaharui agama ini melaluinya. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Daud dalam sunannya dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam:”Sesungguhnya Allah akan membangkitkan bagi umat ini disetiap 100 tahun orang yang akan memperbaharui untuk mereka agama mereka” Dan kita berharap agar kebangkitan Islam menjadi mudah karenanya.

    As. Kaya Syi`ah aja yang menunggu Imam Mahdi, enggak usah ditunggu kali ya ? entar juga dateng kok ?

    35. Kita berkeyakinan bahwa orang yang mengingkari hadits tentang Al-Mahdi dan Dajjal serta turunnya Isa bin Maryam adalah sesat. Dan bukan yang kita maksudkan imam Mahdi dari kalangan Rafidhah, akan tetapi dari Ahlul bait Nabi yang tergolong Ahlus Sunnah. Dia akan memenuhi bumi dengan keadilan sebagaimana sebelumnya bumi ini telah dipenuhi dengan kezaliman. Kita katakan “yang tergolong Ahlus Sunnah”, karena orang yang mencela Sahabat tidak dianggap adil.

    As. Ahlul bait yang ikut Syi`ah jumlahnya sangat Kecil kok, engga perlu ada penekanan ” yang tergolong Ahlu Sunnah ” . Mubadzir.

    36. Ini sekilas tentang aqidah dan dakwah kita. Kalau disebut dengan dalil akan memperpanjang kitab ini. Dan telah kusebut dengan panjang lebar dalam kitab “Al-Makhraj minal Fitnah”. Dan siapa yang memiliki keyakinan yang sebaliknya dari yang telah kita sebutkan ini, maka kami bersedia menerima nasehat jika dia benar dan kami bersedia BERDEBAT jika dia salah serta berpaling darinya jika dia membangkang.

    As. Waduh saya termasuk memiliki keyakinan yang sebaliknya dari yang disebutkan diatas, jangan ajak aku debat ya , lebih baik kita diskusi aja ok ?.

    (Diambil dari Buletin Al-Manhaj, edisi 7/1419 H/1999 M, yang diterbitkan oleh Lajnah Khidmatus Sunnah wa Muharobatul Bid’ah. Ponpes Ihyaus Sunnah. Degolan-Yogyakarta) dialih bahasakan oleh Mummad ‘Ali ‘Ishmah Al-Medani) [ustadz Puji Hartono, 14 April 2002 ]
    dikutip dari: http://www.perpustakaan-islam.com

  8. ahmad syahid @

    32. (Syaikh Muqbil) Kita mengingkari pemerintah muslim yang melakukan kerja sama dengan musuh-musuh Islam, baik itu antek-antek Amerika atau komunis.

    As. (Ahmad Syahid) Seperti pemerintahan Arab Saudi yah ? kok Syeikh Muqbil malah mesra sih sama pemerintah Arab Saudi ?

    Arumi: hwhhe whwhe he he he …. Begitulah Syaikh Wahabi, rekayasa kebohongannya sangat tranparan tapi para pengikutnya asal nglundung ikut saja! Tanpa pernah mau berpikir yang tertib tentang kedustaan syaikh-syaikhnya.

  9. tapi untuk mengungkap kebenaran yang bisa diterima kedua pihak agak sulit …….wasitnya siapa coba ??? keyakinan yang para nabi2 bawakan dgn MUKJIZAT aja banyak yang ingkar apalagi cuma debat …..@ ahmad syahid kita juga tau kan bagaimana kerasnya hati mereka walau dalil n hadist kebenaran kita sampaikan ……kalau menurut saya cocok kalau diskusi apa bila buntu …..ya udah kita amalin menurut keyakinan masing2 dan tetep saling menghormati …….dgn kata lain jangan merasa bener sdr dan jangan menghujat apalagi menyesatkan …..damai kebenaran hanya milik Alloh……

  10. mas arumi thank`s atas komennya, emang seperti itu wahabi/salafi mencela Taqlid , mereka sendiri Taqlid sama pembesarnya.

    buat mas mamo,memang kesimpulan akhirnya seperti itu,hanya mereka dengan gencarnya terus menyebarkan Virus wahabi/salafinya, dan mereka terus mengatakan selain wahabi/salafi adalah sesat, kalo mereka mengajak Debat, karena mungkin dianggap selain mereka telah Musyrik dan Kafir , maka mari kita ajak mereka diskusi karena kita tetap mengenggap mereka muslim hanya sesat, mari kita ajak mereka diskusi satu persoalan-satu persoalan Mudah-mudahan ada yang mau kembali kepada Ajaran Ahlu Sunnah yang sesungguhnya, atau minimal membentengi orang -orang yang kita cintai agar tidak terjangkit Virus Wahabi/Salafi.

    1. yaaa cocok sekali mas Ahmad ……walau kita juga harus siap sakit hati , di cemooh , di lecehkan ,he…he…he … yang paling parah di SESAT kan ….. resiko yang harus kita tanggung ya mas …….. yaa Alloh kuatkan lah iman aku dan rekan2 dalam menyerukan kebenaran…..Amiiin .

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker