Salafi Wahabi

Wahabi dan Ironisme Pemahaman Bid’ah ( 2 )

Postingan Sebelumnya: Wahabi dan Ironisme Pemahaman Bid’ah ( bagian 1 )

 

Mencontoh Bid’ah 10 Sahabat Nabi yang Dijamin Masuk Surga

Oleh: A. Fawwaaz Al Q

 

“Dan barang siapa yang buta (hatinya) di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar).” (Qs. Al-Isra [17]:72)

Ayat ini  adalah peringatan utamanya bagi  pikiran yang lalai hati yang tertipu.

Lalai karena selalu berangan-angan, lalai karena selalu berandai-andai, andaikan aku bisa, andaikan di Arab Saudi asyik ya kawin kontrak dengan niat talak seperti mut’ahnya (syiah), habis manis sepah dibuang aahh.., tapi jangan buruk sangka. Buang hajat seperti ini halal menurut fatwa Syeh wahabi. Heei heei… jangan ikut-ikutan yang bukan wahabi haram lhoo…. nanti dikumpulin sama Madonna?

Tertipu karena jenggot yang panjang biar dikira alim, karena jidad hitam biar dikira ahli sujud, karena celana cingkrang biar dikira suci. Apa kata dunia bila dhohirnya Islami tetapi hatimya sombong seperti Dzulkuwaisaroh dari Najdi, biangnya tanduk syetan. Laahaulawalaquwwataillabillah..

Akibat dari lalai dan tertipu ini mereka mencaci, mencela, merasa benar sendiri daripada amalan golongan muslimin lainya. Mereka sampai melupakan bahwa perbuatan tersebut adalah tuntunan syethan karena Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “mencela seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekufuran”. (HR Muslim). Sedangkan tuntunan junjungan kita baginda Nabi saw sesama muslim dituntut untuk saling mencintai: “Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai.(HR Muslim)

Tetapi karena mereka itu lebih condong mengikuti tuntunan DzulKuwaisaroh apa hendak dikata , kami hanya ingin mengingatkan sesama muslim harus saling mengingatkan dalam kebaikan agar  kami digolongkan sebagai orang-orang  mukmin seperti : Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya). (HR Al-Bukhari, Al-Muslim)

Kita muslimin diperintahkan untuk mengikuti sunnah Khulafaurrosyidin ( termasuk para Sahabat yang dijjamin masuk surga ). Dalam rangka mengingatkan pikiran yang lalai hati yang tertipu , inilah Bid’ah (hasanah) yang dilakukan Khulafaurroshidin :

1. Khalifah ke-1 Abubakar As-siddiq, ra

Ketika terjadi pembunuhan besar-besaran atas para sahabat (Ahlul Yamaamah) yang mereka itu para Huffadh (yang hafal) Alqur’an dan Ahli Alqur’an di zaman Khalifah Abubakar Asshiddiq ra, berkata Abubakar Ashiddiq ra kepada Zeyd bin Tsabit ra :

Sungguh  Umar  (ra)  telah  datang  kepadaku  dan  melaporkan  pembunuhan  atas Ahlul Yamaamah dan ditakutkan pembunuhan akan terus terjadi pada para Ahlulqur’an, lalu ia menyarankan agar Aku (Abubakar Asshiddiq ra) mengumpulkan dan menulis Alqur’an, aku berkata : Bagaimana aku berbuat suatu hal yang tidak diperbuat oleh Rasulullah..?, maka Umar berkata padaku bahwa Demi Allah ini adalah demi kebaikan dan merupakan kebaikan, dan ia terus meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan Umar, dan engkau (zeyd) adalah pemuda, cerdas, dan kami tak menuduhmu (kau tak pernah berbuat jahat), kau telah mencatat wahyu, dan sekarang ikutilah dan kumpulkanlah Alqur’an dan tulislah Alqur’an..!”

BACA :  Mahasiswa UIN Melecehkan Al Qur’an

 

Berkata Zeyd : “Demi Allah sungguh bagiku diperintah memindahkan sebuah gunung daripada  gunung  gunung  tidak  seberat  perintahmu  padaku  untuk  mengumpulkan Alqur’an, bagaimana kalian berdua berbuat sesuatu yang tak diperbuat oleh Rasulullah saw?”,  maka Abubakar ra mengatakannya bahwa hal itu adalah kebaikan, hingga iapun meyakinkanku sampai Allah menjernihkan dadaku dan aku setuju dan kini aku sependapat dengan mereka berdua dan aku mulai mengumpulkan Alqur’an”. (Shahih Bukhari hadits no.4402 dan 6768).

 

Mengapa Abubakar as-siddiq dijernihkan dadanya oleh allah swt karena di dada beliau bersih dari debu kesombongan, bersih dari mencela kaum muslimin dan perlu dicacat bahwa Abubakar As-siddiq, ra tidak punya jargon “kembali kepada Al-quran dan Sunnah”, karena jargon seperti ini “Hatimu tak semanis bibirmu ”.

 

2. Khalifah ke-2 Umar ibnul Khotob, ra

Semoga Allah swt meridloi sahabat mulia Umar bin Khotob beliau juga termasuk 10 orang yang mendapat kabar gembira dari  Rosulullah saw akan masuk surga. Beliau adalah manusia mulia yang syetan selalu menghindar, tidak seperti ana, S3, Doktor, Syeh Alusyeh tiap hari ditemani syetan karena banyak mencela, merasa paling nyunnah, dan merasa punya kapling warisan disurga. Beliau adalah perintis sholat tarawih sebulan full berjamah dengan jumlah rekaat 20. Ini adalah Bid’ah (hasanah) karena Rosulullah saw tidak pernah memberi tuntunan baik itu perintah maupun tindakan.

Dimasa kekhalifahanya beliau memerintahkan Sholat berjamaah seraya berkata: “Inilah sebaik baik Bid’ah!”(Shahih Bukhari hadits no.1906). Bila hal ini terjadi dizaman ini di depan wahabi pastilah Umar bin Khotob diumpat ”Akhi ini bid’ah, neraka.”  Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah kita mengikuti Rosulullah saw, mengikuti sahabat mulia nabi tidak sebatas pengakuan tak sebatas jargon ”kembali kepada alquran dan sunnah”. Yang perlu digarisbawahi mengapa Umar bin Khotob, ra melakukan Bid’ah (hasanah) pastilah  Allah swt menjernihkan dada beliau. Kalau hati kita kotor kemana kan kita obati kalau seorang sufi yang mengajarkan jernihnya hati malah mereka kafir-musyrikkan? Seakan-akan Bid’ah, kafir, syirik warisan leluhurnya. Bagaimana mungkin hati kita menjadi jernih kalau membaca Alqu’ra dan mengikuti Ssunnah Nabi seperti seorang penghardik rosulullah saw yang bernama Dzulkwaisaroh, yang berjidad hitam celana cingkrang berjenggot tebal tetapi hanya identitas tidak meresap di hati? Semoga kita mendapat petunjuk-NYA, amiin….

 

3. Ustman Ibnul Affan, ra

Semoga Allah swt meridlohi, beliau juga termasuk 10 orang yg diberi kabar gembira akan masuk surga.

Beliau perintis Bid’ah (hasanah) Adzan kedua Sholat Jumat.Dalam Shohih Al-Bukhori dijelaskan:”Dari Saib bin Yazid beliau berkata: pada mulanya dimasa nabi saw, Abubakar dan Umar radliyallahu’anhuma adzan di hari jumat dikumandangkan setelah imam duduk di mimbar. Namun dimasa Ustman radliyallahu’anhu saat kaum muslimin sudah banyak maka beliau memerintahkan dikumandangkan adzan yang ketiga di Zaura (nama pasar). Hr Al-Bukhori.

Yang dimaksud adzan ketiga adalah adzan yang dikumandangkan sebelum khatib naik mimbar, sementara adzan pertama adalah adzan setelah khatib naik mimbar dan adzan kedua adalah iqomah. Alhamdulillah khalifah ke empat menantu rosulullah saw meneruskan bid’ah (hasanah) yang dirintis Khalifah ke-3 Ustman,ra .

BACA :  Ketika Ulama Wahabi Dianggap Sebagai Ulama Sunni
banner gif 160 600 b - Wahabi dan Ironisme Pemahaman Bid’ah ( 2 )

Di solo ada sekelompok orang yang gedungnya megah di tengah-tengah kota, Ustadznya menafikan Adzan di hari jumat seperti yang dilakukan Sayyidina Ustman, ra.  Kata Ustadz S: “Ikut rosulullah atau Ustman”, seakan-akan dia ustadz  lebih nyunnah daripada sayyidina Ustman, ra. Sampai-sampai denga sombongnya dia ustadz berkata kurang-lebih ”Ah…, tongkat itu kan kebiasaan ustman, ikut Rosulullah atau Ustman?” Inilah contoh sikap yang perlu dijauhi, inilah akibat tafsir Al Quran berdasar kepalanya (mencontoh DzulKuwaisaroh).  Sebodoh-bodoh kaum muslimin yang pandai melilih tentu akan memilih mengikuti Sayyidina utsman, ra daripada ustadz tersebut.  Mengikuti sayyidina Ustman, ra berarti mengikuti rosulullah saw, mengikuti ustadz tersebut belum tentu benar mengikuti rosulullah saw. Karena Ustman, ra dijamin masuk surga tetapi Ustadz tersebut jangankan masuk surga, husnulkhotimah aja belum tentu.  Lihatlah masalah yang gampang aja dalam agama ustadz teresbut  tidak tahu, bagaimana yang sulit?   Orang bejo pilih bintang tujuh biar gak pusing (memilih yang benar).

 

4. Khalifah ke-4 Ali bin Abitholib, ra

Beliau juga termasuk 10 orang yang dijamin masuk surga berdasar sabda rosulullah saw.

Tahukah anda apa yang dilakukan (bid’ah hasanah) menantu Rosulullah saw? Beliau adalah yang paling banyak melakukan (bid’ah hasanah) diantara Khulafaurrosyidin. Apaaan tuh!!

–         Mengamini Abubakar, ra tentang bid’ah hasanah mengumpulkan musyaf Alquran

–         Mengamini Umar, ra tentang bid’ah hasanah sholat tarawih berjamaah 20 rekaat

–         Mengamini Ustman, ra tentang bid’ah hasanah Adzan jum’at

–         Ali bin Abitholib, ra suami Fatimah Al-Batul, menantu Rosulullah saw perintis Bid’ah hasanah membuat redaksi Sholawat Nabi.

Contohnya : “SHALAWAATULLAAHI WA MALAA IKATIHI WA ANBIYAA-IHII WA JAMII’I KHOLQIHI ‘ALA MUHAMMADIN WA ‘ALAYHII WA ‘ALAYHIMUSSALAAMU WA ROHMATULLAAHI WA BAROKAATUHU”.

Artinya:
“semoga rahmat Allah dan para malaikatnya, para nabinya serta semua makhluknya tercurahkan kepada Nabi Muhammad dan keluarganya, kepadanya dan kepada semua keluarganya semoga mendapat limpahan keselamatan, rahmat Allah dan berkahnya.”

Di riwayatkan selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami….”  Maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf, perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah  khulafa’urrasyidin  yang  mereka  itu  pembawa  petunjuk,  gigitlah  kuat- kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal-hal  yang  baru,  sungguh  sebagian   Bid’ah  itu  adalah  kesesatan….” – (Mustadrak, Al shahihain hadits no.329).

TAKUT BID’AH,  SIAPA TAKUT?

Kita muslimin diperintahkan mengikuti Khulafaurrosyidin yang membawa petunjuk, janganlah mengikuti sekelompok orang muda yang datang belakangan lalu menyalahkan, mencela, memcaci amalan-amalan yang telah dituntun Ulama’ akhirat yang dalam tutur katanya lemah-lembut mencontoh baginda Nabi saw, bukan seperti yang terjadi belakangan ini.

Maka benar kata orang pandai lagi bijak:

Apalah guna amal ibadah ini, kalau wiridanya mencaci-maki

Apalah guna banyak ocehan, kalau ahirnya buat perpecahan.

Seneng ngafirke maring liyane, kafire dewe gak digatekke

Nyelathu tanpo wathon, kuwi tuntunane syethon.

 

Lebihbaik mawas-diri daripada menyakiti, terhadap setiap muslim yang harus dicintai

Ikutilah sunnah rosul dan sunnah khulafaurrosyidin daripada fatwanya pak min

Wong bejo melu ulama’ warisan Nabi tapi ojo ulama-ulama penghancur tinggalane Nabi di Saudi

Yen kepengin slamet ndonyo akhirat ojo melu tuntunane syethan laknat

 

Mulo tho ojo nafsiri alquran sak karepe dewe

Mulo tho ojo nyunnah nuruti akal lan nafsune

Banjur nyalah-nyalahake muslim liyane

Mundak dadi gawe koncone abujahe (abujahal)

 

BACA :  Bahaya Salafy Wahabi Harus Diberitahukan Kepada Muslimin

Di bawah ini ada hadist kabar gembira untuk sahabat-sahabat radliyallahu’anhu semoga kita mendapat pertolongan, ditunjukan jalan yang lurus, seperti kenikmatan jalannya para Nabi, Sahabat, Auliya’, Sholihin. Tidak seperti Yahudi yang suka membunuh Nabi, mengotak-atik kitab suci yang sekarang dicontoh sebagian Wahabi yang suka memalsu kitab Ulama’ Perisan Nabi, tidak seperti kaum Nasrani yang  memfitnah Allahurrobbi yang sekarang dicontoh sebagian Wahabi yang memfitnah Allah sebagai Jisim( Allah bertempat, punya bayang-bayang, tangan, wajah ), layaknya kita para suami. Walaupun mereka berkata tidak seperti yang kita bayangkan. Perkataan ini adalah “lain dibibir lain dihati” berkata ya tapi tidak seperti … , terus mbilung bertanya tempat allah kaya apa, bayang-bayang kaya apa, dst.

Dari Abi Dzar ra. berkata bahwa Rasulullah SAW masuk ke rumah Aisyah ra. dan beliau bersabda: “Wahai Aisyah, maukah kamu kuberikan kabar gembira? Ayahmu (Abu Bakar Ash-Shiddiq ra.) di surga, temannya adalah Nabi Ibrahim as. Umar di surga dan temannya adalah Nabi Nuh as., Utsman di surga dan aku temannya. Ali di surga dan temannya adalah Yahya bin Zakaria. Thalhah di surga dan temannya Nabi Daud as.  Az-zubair di surga dan temannya Nabi Ismail as. Sa’d bin Abi Waqqash di surga dan temannya Nabi Sulaiman bin Daud. Said bin Zaid di surga dan temannya Musa bin Imran. Abdurrahman bin Auf di surga dan temannya Isa bin Maryam. Abu Ubaidah bin Al-Jarrah di surga dan temannya Idris as. Wahai Aisyah, aku junjungan para nabi, ayahmu shiddiqin yang paling utama dan kamu adalah ummul mukminin.”

Dalam Riwayat Hadist Yang lain :

Dari Said bin Zaid ra. berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,”10 orang pasti masuk surga. Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Az-Zubair, Thalhah, Abdurrahman bin ‘Auf, Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah, Sa’d bin Abi Waqqash.” (Said bin Zaid) terdiam dan karena Rasulullah tidak menyebutkan yang ke-10. Ketika Said Bin Zaid menanyakan siapakah yang ke-10, beliau menjawab bahwa orang itu adalah dirinya ( Said bin Zaid ) sendiri. ” (HR At-Tirmizy)

Dalam Riwayat Hadist Yang lain :

Dari Abduurahman bin ‘Auf ra. berkata bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Az-Zubair di surga, Abdurrahman bin ‘Auf di surga, Sa’d bin Abi Waqqash di surga, Said bin Zaid bin ‘Amru bin Nufail di surga, dan Abu ‘Ubaidah ibnul Jarrah di surga.” (HR At-Tirmizy dan Al-Baghawi dalam Al-Mashabih fil Hisan)

 

B e r sa m b u n g…. , nantikan kelanjutannya di bagian ke-3….

 

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

55 thoughts on “Wahabi dan Ironisme Pemahaman Bid’ah ( 2 )”

  1. 1.Pembukuan Al Quran: di beberapa Ayat Al Quran sering di sebut juga “Al Kitab ” ( Kitab : pembukuan lembaran2 ),lagipula Al Quran sudah tertulis sejak zaman Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam, Abu Bakar dan Utsman hanya mengumpulkan yang telah tertulis tersebut dalam sebuah mushaf.Tidak ada bid’ah disini

    2.Tentang teraweh : Rasulullah pernah teraweh,Umar hanya menghidupkan sunnah ( bukan bid’ah )

    Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah shalat pada suatu malam di masjid. Orang-orang pun turut shalat mengikuti shalat beliau. Kemudian pada malam berikutnya beliau shalat lagi dan orang-orang semakin banyak. Kemudian mereka berkumpul pada malam ketiga atau keempat. Namun, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak keluar menemui mereka. Keesokan harinya, Nabi berkata, “Sungguh aku melihat apa yang kalian lakukan, dan tidak ada yang menghalangiku keluar kepada kalian selain aku takut jika ini diwajibkan atas kalian.” Dan itu pada bulan Ramadhan.”

    Takhrij

    Hadits ini diriwayatkan Imam Al Bukhari dari Abdullah bin Yusuf dari Malik bin Anas dari Ibnu Syihab Az Zuhri dari Urwah bin Az Zubair dari Aisyah.[1]

    Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Muslim (1819), Malik (229), Abu Dawud (1166), Ahmad (24274), Ath Thabarani dalam Al Ausath (5439), Al Baihaqi dalam Asy Syu’ab (3120), Ibnu Hibban (2592), dan Al Baghawi (988); juga dari Aisyah.

    3.Adzan pada mas Usman
    Bercerita kepada kami Muhammad bin Muqatil , lalu berkata : Bercerita kepada kami Abdullah , lalu berkata : Bercerita kepada kami Yunus dari Zuhri berkata : Aku mendengar Assaib bin Yazid berkata : Dulunya adzan Jumat itu ketika Imam duduk ( di mimbar ) pada hari jumat di masa Rasulullah , Abu Bakar dan Umar ra . Ketika hilafah Usman bin Affan ra , dan orang – orang tambah banyak , Usman memerintah pada hari Jumat untuk membacakan adzan ketiga . lalu di bacakan adzan di Zaura` ( di pasar ) . Lalu hal itu membudaya .
    Hr Bukhari 912 , 810 Tirmidzi 516 Nasai 1292 , Ibnu Majah dan Imam Ahmad juga meriwayatkannya .

    Disitu ada perawi bernama Yunus,Hadis riwayat Yunus bin Yazid dari Zuhri banyak kemungkaran . Dia juga sering meriwayatkan hadis mungkar .
    Muhammad bin Saad berkata : Dia manis bicaranya ,banyak omong dan tidak boleh di buat pegangan . Terkadang mendatangkan hadis mungkar .
    Hadis tentang adzan pertama di hari Jum`at sama sekali tidak di cantumkan oleh Imam Muslim dalam kitab sahihnya , bahkan beliau tidak kenal kepadanya atau kenal tapi kurang valid hingga beliau tidak meriwayatkannya

    Bahkan imam syafi’i berkata:‘Atha mengingkari kalau yang memulai adzan jum’at 2 kali itu ‘Utsman, justru yang memulai itu adalah Mu’awiyah, wallahu a’lam.

    Oke lah kalau kalian ini anggap bid’ah hasanah,Lagipula artikel diatas sudah menulis untuk mengikuti sunnah Khulafaurrosyidin. Jadi jelas posisi sahabat yg buat bidah hasanah ini sudah diridhoi oleh Nabi SAW,tapi apakah bid’ah – bid’ah yang sekarang ini dibuat oleh sahabat??? ( seperti Maulid,selametan kematian 7,100 hari dll ),apakah mereka yang membuat bid’ah ini setara dengan sahabat??kalau sahabat jelas telah mendapat sunnah Khulafaurrosyidin

    1. – Bacalah berulang2 NO.1 kalau perlu 20x baru boleh komentar lagi.

      – Berapa rekaat Rosulullah saw melakukan sholat tarowih?

      – Rupanya antum pengagum syeh Albani. maaf ya Andini ana lebih mantab Al-Bukhori.
      Syeh Albani yg ana tahu 10 hadist tdk hafal berikut sanad dan matanya kalau hafal 100rb tentu ramai ulama’ menggelari beliau Al-Hafiz kenyataanya tidak saudaraku, kalau baca diperpustakaan sih juara kelas berat.

      – Antum bukan pengikut imam kami Syafi’i mana mungkin antum faham hujah Imam kami.

      – kapan ya baginda nabi saw meridloi (bid’ah hasanah Khulafaurrosyidin), bukankah antum berkeyakinan orang yg sudah meninggal tdk bisa berbuat sesuatu? mungkin antum dapat hadis dari syeh antum “Rosulullah bangun dari kuburnya lalu berkata Aku ridloi kalian(khulafaurrosyidin) biar tdk dianggap bid’ah lalu rosulullah balik ke kuburnya” hee..he.he pergunakanlah anugerah tuhanmu .

    2. Apakah Khulafa ur-Rasyidin dan para sahabat itu pernah mengajarkan Tauhid 3? Atau merubah garis Sa’ie untuk ibadah haji, bagi mendirikan hotel mewah 5 bintang? Atau menganjurkan Dauroh Mingguan? Padahal, sesama ahlu bid’ah dilarang mendahului.

    3. Bismillah,

      @andini, berikut comment anda:
      Oke lah kalau kalian ini anggap bid’ah hasanah,Lagipula artikel diatas sudah menulis untuk mengikuti sunnah Khulafaurrosyidin. Jadi jelas posisi sahabat yg buat bidah hasanah ini sudah diridhoi oleh Nabi SAW,tapi apakah bid’ah – bid’ah yang sekarang ini dibuat oleh sahabat??? ( seperti Maulid,selametan kematian 7,100 hari dll ),apakah mereka yang membuat bid’ah ini setara dengan sahabat??kalau sahabat jelas telah mendapat sunnah Khulafaurrosyidin

      jadi menurut anda qodhiyyah hadits “WA SUNNATIL KHULAFA’ AR ROSYIDIIN” melegitimasi bid’ah yang dilakukan para sahabat apapun bentuknya? sungguh anda tiada memiliki pemahaman bahasa yang benar, coba anda perhatikan sikap awal kholifah Abubakar ra, dan Zaid bin Tsabit ra “Bagaimana engkau mau melakukan apa yang tidak pernah dilakukan Rosululloh?”. apa maksud dari ucapan beliau berdua?

      tentang hadits adzan jum’ah, gaya takhrij anda cukup meyakinkan bagi orang awam, tapi sayang disini anda memperlihatkan kenihilan anda pada teori Tadh’if (pendho’ifan) dan bahkan memperlihatkan anda tidak memahami pengertian hadits dho’if.

      tentang pendapat Imam Syafi’i, tahu apa anda tentang pemikiran Imam syafi’i dan Syafi’iyyah? yakinlah anda akan selamanya dalam kebodohan jika model belajar anda hanya mengutip-ngutip sebagian yang sesuai selera anda…

    4. @Andini

      Nabi Muhammad saw. pernah bersabda, bahwa ulama itu adalah pewaris para Nabi. Waktu zaman Nabi Muhammad saw. tidak dikenal yg namanya mazhab, karena waktu itu, dikalangan masyarakat muslim, masih ada Nabi Muhammad saw. ditengah tengah mereka. Setelah Nabi Muhammad saw. meninggal dunia, muncullah generasi sahabat. Dizaman sahabat, mereka yang tampil memberikan fatwa antara lain Khulafa’ur Rasyidin yang empat, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa al-‘Asy’ari, Mu’az bin Jabal, Ubay bin Ka’ab dan Zaid bin Tsabit dll. kemudian dikenal dengan istilah mazhab sahabat.

      Pada zaman tabi’in, daerah ijtihad bertambah luas dan kaum muslimin pada zaman itu menggunakan cara yang sama seperti cara yang dipakai oleh para sahabat Rasulallah saw. Hanya saja ijtihad dimasa tabi’in dapat digolongkan kepada dua madzhab utama yaitu Madzhab Ahlu al-Ra’yi di Irak dan madzhab Ahlu al-Hadits.

      Diantara tokoh-tokoh madzhab Ahlu al-Ra’yi di Irak ialah Alqamah bin Qais an-Nakha’I; Sa’id bin Jubair; Masruq bin Al-Ajda’ al-Hamdani dan Ibrahim bin Zaid an-Nakha’i.

      Adapun tokoh-tokoh madzhab Ahlu al-Hadits di Hijaz adalah; Sa’id bin al-Musayyab al-Makhzumi; ‘Urwah bin Zubair; Salim bin Abdullah bin Umar; Sulaiman bin Yasar dan Nafi’ Maula Abdullah bin Umar.

      Setelah itu, muncullah mazhab mazhab yg ada, seperti mazhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali dll. Sebenarnya, jumlah mazhab itu ratusan. Namun, yg sampai kepada kita hingga saat ini, hanyalah mazhab yg empat. Oleh karena itu, dalam memahami bid’ah beserta hukumnya, lebih baik kita merujuk kepada mereka.

      Para Imam Mazhab beserta para pengikutnya, telah mengajarkan bagaimana cara mengistinbathkan hukum islam.

    5. @Andini

      Setelah Al-Qur’an, kitab shohih terbaik adalah shohih Bukhori, bukan shohih Muslim. Imam Bukhari adalah rujukan tertinggi dari seluruh Imam Ahli Hadits.

      Dan dari zaman ke zaman, telah disepakati bahwa, hadist yg diriwayatkan oleh Imam Bukhori, Imam Muslim, ataupun oleh keduanya, maka hadist itu sudah dipastikan sohih. Jadi, bila ada “Muhadist” abad ini yg mendhoifkan hadist yg diriwayatkan oleh Imam Bukhori, artinya, “Muhadist” tersebut adalah orang yg patut dipertanyakan keilmuannya.

      Saran saya, lebih baik saudara cari guru yg lain saja.

  2. coment untuk para comentator yg kurang menguasai materi:
    Di Ummati akan ketahuan dan terkesan bahwa para simpatisan Salafi Wahabi tidak lebih pintar,cerdas,dan bijaksana dalam menanggapi materi yang dibahas,apalagi bicara masalah seluk beluk hadist.Terus terang saya sebagai newbie di Ummati saja bisa mengesan hal itu,Dan kesimpulannya Aswaja yang Aseli masih tetap terjaga dari yang gadungan.Bravo ummati.

  3. @bu hilya:berikut comment anda:
    jadi menurut anda qodhiyyah hadits “WA SUNNATIL KHULAFA’ AR ROSYIDIIN” melegitimasi bid’ah yang dilakukan para sahabat apapun bentuknya?

    Sepertinya saya tidak bilang apapun bentuknya,disitu jelas tertulis bid’ah hasanah yg anda maksud

    Kalau begtu tolong ibu jelaskan maksudnya WA SUNNATIL KHULAFA’ AR ROSYIDIIN??

    Berikut komentar anda:

    tentang pendapat Imam Syafi’i, tahu apa anda tentang pemikiran Imam syafi’i dan Syafi’iyyah? yakinlah anda akan selamanya dalam kebodohan jika model belajar anda hanya mengutip-ngutip sebagian yang sesuai selera anda…

    komentar saya:

    Mohon kita tidak usah mencela menggunakan kata ” bodoh”,disini saya hanya bertanya dari pemahaman anda,tidiak sedikit pun kalimat saya yg mencela.Kalau begitu tolong jelaskan juga maksd perkataan Imam syafi’i tsb? 😛

    seperti yg anda bilang ketidak tahuan saya tentang pemikiran Imam syafi’i ,sekaligus saya ingin bertanya menurut anda maksd dari beberapa perkataan imam syafi’i berikut”

    Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu, sesungguhnya ia telah membuat syari’at” [Al-Mankhuul oleh Al-Ghazaliy hal. 374, Jam’ul-Jawaami’ oleh Al-Mahalliy 2/395, dan yang lainnya].

    “Sesungguhnya anggapan baik (al-istihsan) hanyalah menuruti selera hawa nafsu” [Ar-Risalah, hal. 507].

    Dan berikut perkataan guru imam syafi’i,yaitu imam malik:
    “Barang siapa yang membuat bid’ah dalam Islam yang ia memandangnya baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam mengkhianati risalah [Al-I’tisham oleh Asy-Syathibi, 1/49].

    Demikian lah perkataan Imam syafi’i dan Imam malik,bisa tolong jelaskan maksudnya?? karena ketidak tahuan saya

    1. @Andini

      Golongan Hanafiah memegangi Istihsan. Diantara golongan Malikiyah dan Hanbaliyah, banyak juga yg memakai Istihsan. Imam Syafi’i memang mengingkari Istihsan, karena Imam Syafi’i berpendirian bahwa Istihsan itu adalah sesuatu yg dipandang baik oleh seorang mujtahid menurut pikirannya semata mata tanpa dalil. Tetapi, pengertian ini bukan yg dikehendaki oleh golongan Hanafiyah.

      Menurut golongan Hanafiyah, Istihsan adalah : penyimpangan dari suatu qiyas yg nyata, kepada suatu qiyas yg tidak nyata atau kepada suatu uruf. Imam Syafi’i pun menyetujui qiyas seperti ini.

      Dalam kitab Ushul Fiqih disebutkan, bahwa Istihsan adalah meninggalkan suatu hal/peristiwa yg bersandar kepada dalil syara’, menuju hukum lain yg bersandar kepada dalil syara’ pula, karena ada sesuatu dalil syara’ yg mengharuskan peninggalan tersebut.

      Salah satu metode yg dipakai oleh Imam Malik dalam berijtihad adalah Maslahih Mursalah. Maslahih Mursalah adalah kebaikan (maslahat) yg tidak disinggung singgung syara’ untuk dikerjakan atau ditinggalkan, sedangkan kalau ditinggalkan akan membawa manfaat atau menghindari keburukan.

      Dikalangan ahlussunah wal jama’ah, bid’ah itu dibagi menjadi dua. Bid’ah yg terpuji dan bid’ah yg tercela sebagaimana yg telah dijelaskan oleh Imam Syfi’i. Ulama ulama malikiyah, sepengetahuan saya, sependapat dengan perkataan Imam Syafi’i, dan hanya satu Imam saja dari kalangan Malikiyah yg tidak sependapat dengan Imam syafi’i.

  4. Bismillah,

    @andini, pertama kami mohon maaf jika anda tersinggung dengan gaya bahasa kami, selanjutnya tentang :

    comment anda :
    Sepertinya saya tidak bilang apapun bentuknya,disitu jelas tertulis bid’ah hasanah yg anda maksud

    lantas menurut anda masuk kategori apa perkara yang dilakukan oleh para sahabat yang sebelumnya tidak terdapat contoh atau petunjuk langsung dari Rosululloh saw?

    tentang pemikiran Imam Syafi’i dan Syafi’iyyah terutama dalam konsep bid’ah hendaknya tidak dipisah antara satu dengan yang lain…

    pelajarilah pemikiran Imam Syafi’i dan para ulama Syafi’iyyah dalam konsep bid’ah mereka! agar anda mendapatkan jami’ yang tepat atas pernyataan-pernyataan mereka khususnya dalam kata “Istihsan” yang anda maksud…
    mungkinkah Imam Syafi’i atau para ulama Syafi’iyyah telah membuat atau menetapkan Syari’at baru sesuai hawa nafsu mereka disebabkan katetapan mereka adanya bid’ah hasanah (baik)? bukankah dalam konsep bid’ah mereka terdapat bid’ah yang mereka anggap baik?

    perlu juga kiranya anda pelajari perbedaan-perbedaan istilah yang digunakan oleh Imam Syafi’i maupun para Ulama Syafi’iyyah tentang Syak, Dzhonn, Yaqin, Ro’yu dll

    maaf kalau sekarang kami lagi males karena bosen mengangkat konsep bid’ah Imam Syafi’i dan para ulama Syafi’iyyah, sudah terlalu sering, tapi nyatanya datang lagi-datang lagi yang belum menyimak dari awal…

    tapi insya Alloh kalau ada kesempatan akan kami ulang dan kami bahas kembali…

  5. Ping-balik: Wahabi dan Ironisme Pemahaman Bid’ah ( bagian 1 ) | UmmatiPress
  6. Jadi semuanya adalah masalah lafat. Kalaulah kaum Wahhaby mau mentakwil lafat “kullu”, dan mau menerima hadis ijtihad, barangkali udah lama kita berdamai dengan mereka. Malangnya, mereka tidak mau sadar, bahawa “bid’ah hasanah” itu adalah “ijtihad”, hanya lafat yang berbeda, yang terkandung di dalamnya ijma’, qiyas, maslahih mursalah, ihtihsan del el el…..

  7. Bismillah,

    ANALISA KEMUNGKINAN-KEMUNGKINAN PENYEBAB KERESAHAN DAN FITNAH PERPECAHAN

    Diantara kemungkinan-kemungkinan penyebab terjadinya fitnah :

    1. LEPASNYA KAUM AWAM DARI MATA RANTAI MADZHAB

    Upaya memahamkan ummat Islam terhadap al qur’an dan As Sunnah adalah upaya yang mulia, namun ketika melepaskan kaum awam dari mata rantai madzhab dan para ulama yang notabene adalah tali penyambung bagi kaum awam untuk memahami agama, serta membebaskan mereka untuk mengiterpretasikan al qur’an dan as sunnah tanpa sarana yang memadahi dengan hanya bermodalkan terjemah, ibarat melepaskan orang buta ditengah hutan belantara dalam gelapnya malam tanpa adanya pemandu. Akibatnya tabrak sana tabrak sini tak terhindarkan.

    Kenyataan ini melahirkan sikap-sikap yang menghawatirkan :

    – Merasa pendapatnya paling sesuai dengan al qur’an dan as sunnah, karena merasa mengambil langsung dari al qur’an atau as sunnah. Padahal jika mau jujur yang tepat adalah “pandapatnya sesuai dengan al qur’an dan atau as sunnah, berdasar pemahaman guru atau ustadznya”.
    – Adanya anggapan bahwa al qur’an dan as sunnah dapat difahami dengan mudah dengan hanya bermodalkan terjemah.
    – Menganggap para pengikut madzhab berada dalam kesalahan karena “taqlid”, disaat yang sama untuk urusn terjemahan saja “ngekor” (ngikuti terjemah orang lain, dan tidak memiliki sarana menganalisa terjemah berupa dasar-dasar gramatika arab dan kelengkapannya)
    – Sikap mudah menilai sebuah hadits, tanpa dasar-dasar ilmu ushulil hadits dan sejenisnya, akibat dari sikap ini menolak mentah-mentah hadits-hadits yang di stempel “dhoi’f” oleh ulama tertentu, tanpa memperhatikan penilaian ulama lain tentang hadits tsb.
    – Mengalami kebuntuhan ketika mendapati nash-nash yang dzahirnya “mukholafah” (berselisih) atau “ta’arudh” (bertentangan), kebuntuhan ini memaksa menta’wil yang satu dengan menetapkan yang lain, sebuah upaya yang sebelumnya ditolak oleh mereka sendiri (ta’wil).
    – Menuntut orang awam untuk melepaskan diri dari mata rantai madzahib, dengan tanpa sadar memaksa mereka (orang awam) mengikuti metodenya dalam memahami nash. Hal ini sama artinya dengan memaksa orang lain untuk melepaskan madzhab yang dianut dan beralih mengikuti madzhab yang dibangunnya.
    – Dll

    2. DAKWAH DENGAN CARA DOKTRIN

    Metode dakwah yang Dogmatif (menguatkan pembenaran dengan cara menyalahkan pendapat orang lain) tidaklah sepenuhnya salah, akan tetapi ketika metode tersebut dituangkan kedalam masalah-masalah “Khilafiyyah Furu’iyyah” justru berakibat saling menyalahkan, menyesatkan, bahkan saling mengkafirkan dst..

    Di antara kelemahan metode ini ketika diterapkan pada perkara-perkara “Furu’iyyah” yang memang keluasannya memberikan ruang untuk terjadinya Khilaf (perbedaan pendapat) memiliki dampak negatif sbb:

    a. Mematikan daya kritis para pelajar atau orang-orang yang menerima dakwa tsb, dengan akibat minimal mengurangi keinginan untuk mendalamai sebuah fatwa atau konten dakwah dengan lebih dalam dan luas. Dalam kasus ini dapat kita ambil satu perkara sebagai contoh :

    Doktrin Tentang Sesatnya Tradisi Kenduri Kematian atau Tahlilan

    Ketika doktrin dalam masalah tsb disampaikan, terlebih dibarengi berhujjah dengan kitab-kitab Syafi’iyyah semisal I’anah At Tholibin, Fatawi Ibni Hajar dll, sungguh telah mematikan daya kritis para penerima dogma tsb setidaknya dalam hal-hal yang semestinya terfikir oleh mereka, diantaranya:

    Tidak terfikir oleh mereka (para penerima Dogma tsb) untuk memprtanyakan beberapa hal:

    – Mungkinkah para Ulama (kiyai) se Indonesia (khususnya dari kalangan ASWAJA) dari generasi ke generasi belum mengetahui kitab-kitab tsb? Atau yang mengerti kitab-kitab tsb hanya sedikit jumlahnya hingga suaranya (pendapatnya) tidak didengar?
    – Mungkinkah para Ulama (kiyai) se Indonesia (khususnya dari kalangan ASWAJA) dari generasi ke generasi telah bersepakat untuk menyesatkan ummat Islam?
    – Lantas jika hal tersebut memang benar-benar munkar dan sesat, atas dasar apa mereka (para ulama) diam?

    Pertanyaan-pertanyaan kritis seperti diatas akan meghasilkan setidaknya dua hal:

    – Bagi yang memiliki dasar-dasar keilmuan akan mengkaji kembali perkara-perkara yang menjadi konten dogma dengan merujuk ke sumber-sumber kitab sebagaimana dimaksud dan juga kitab-kitab yang lain.
    – Bagi yang kurang atau belum memiliki dasar-dasar keilmuan akan melakukan “TABAAYUN” (klarifikasi) kepada para kiyai yang membidangi kitab-kitab tsb.

    b. Menumbuhkan rasa takut untuk tidak spendapat
    c. Melahirkan pemahaman “bahwa isi atau konten dogma adalah kebenaran mutlak” sehingga tumbuh anggapan siapapun yang tidak sefaham dengan dogma tsb “harus salah” apapun hujjahnya. Sehingga menutup rapat-rapat khilafiyyah yang sesungguhnya adalah rahmat bagi ummat Islam, sepanjang tidak menyalahi dalil-dalil agama.
    d. Meningkatkan semangat “Menyalahkan” terhadap orang lain yang tidak sefaham. Terlebih bagi kalangan muda yang dalam masa-masa “Tafaakhur” (masa-masa ingin membuktikan eksistensi diri).

    3. ORANG-ORANG AWAM YANG TIDAK MEMILIKI KAPASITAS IKUT AMBIL BAGIAN UNTUK BERFATWA

    Dalam hal ini penulis tidak perlu menjelaskan dampak negatif dari kenyataan tersebut, mengingat sebodoh-bodoh ummat Islam yang berakal pasti merasakan dampak negatif yang terjadi ketika kaum awam menghakimi amalan orang lain.

    4. SIKAP YANG KURANG TEPAT DALAM MENSIKAPI FATWA

    Ketahuilah bahwa fatwa-fatwa yang dikeluarkan oleh seorang ulama secara personal (tentunya yang memiliki kapasitas untuk berfatwa) maupun yang tergabung dalam Badan atau Lembaga yang memiliki otoritas untuk mengeluarkan fatwa, semisal MUI, LBM NU, atau sejenisnya, sejauh yang diketahui penulis terbagi menjadi dua, dilihat dari konten fatwa tsb:

    a. Fatwa yang berkaitan dengan perkara-perkara yang masuk kategori Ma’lumun Min ad Diin Bid Dhoruroh (perkara-perkara yang semestinya diketahui seluruh ummat Islam dan telah disepakati sejak masa Rosululloh saw hingga sekarang) seperti tentang Ke-Esa-an Alloh, kerasulan Nabi Muhammad dan keberadaannya sebagai Rosul terakhir, wajibnya sholat lima waktu dll.
    Contoh: fatwa tentang “Sesatnya kelompok yang menganggap adanya nabi setelah Nabi Muhammad saw,” atau tentang “Sesatnya kelompok /aliran yang menganggap tidak wajibnya sholat lima waktu” dll. Terhadap fatwa-fatwa semacam ini semestinya ummat islam wajib menerima dan tidak boleh mengingkarinya.

    b. Fatwa yang berkaitan dengan masalah-masalah Furu’iyyah. Contoh fatwa tentang “Hukum Merokok” atau tentang “Meluruskan arah kiblat untuk masjid atau musholla yang dianggap kiblatnya kurang lurus” dan sejenisnya. Terhadap fatwa jenis ini setidaknya terdapat dua sikap dilihat dari penerima fatwa :

    – Bagi mereka yang mengetahui adanya pendapat lain yang berbeda dan tentunya yang memiliki hujjah syar’iy, boleh menerima dan boleh memilih pendapat yang lain. Namun jika ia menerima fatwa tsb, tidak dibenarkan untuk menghukumi pendapat orang lain yang menolak yang sama-sama berlandas hujjah syar’iy.
    – Bagi yang tidak mengetahui atau belum mengetahui sumber hukum atas perkara yang menjadi konten fatwa tsb selain dari fatwa tsb, atau bagi mereka yang hanya mengetahui hujjah yang sama dengan produk fatwa tsb, maka semestinya menerima fatwa tsb, dan tidak layak baginya menolak fatwa tsb karena hanya itulah sumber hukum yang diketahui atas masalah tsb.

    5. Dan Lain-Lain

    Wallohu A’lam, semoga bermanfaat…

    1. Mantab ustad @abu hilya dan sangat mengena dan tepat sasaran. Sangat bagus kalau diposting jadi artikel, agar kaum SAWAH lebih kebakaran jenggot yang awut-awutan, supaya rapih sedikit.

  8. Salah satu sebab terjadi perbedaan yg sangat mendasar adalah hadist ini:
    “man sanna fil Islamihi sunnatan hasanatan falahu ‘ajruha, wa ‘ajruhu man ‘amilabiha ba’dahu, min ghairi ayankusa nin ujuurihim syaiun, waman sanna fil Islamihi sunnatan sayyi’atan kaana ‘alaihi widzruha wa widzruhum man ‘amilaabiha mimba’dihi, min ghairi ayankusa nin audzaarihim syaiun” (HR. Imam Muslim no.1017)
    Ahlussunah wal jama’ah memahami makna hadist ini dengan:
    “Barang siapa yang menjalankan suatu sunnah yang baik didalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tidak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa yang menjalankan suatu sunnah yang jelek didalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tidak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (HR. Imam Muslim no.1017)
    Ahlussunah yang lain memahami dengan makna ini :
    “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).
    Perhatikan!, dengan ilmu lughotul arabiyah yg ada pd anda semua, tentunya mudah melihat siapa yang betul memahami dan siapa yg salah dlm memahami.

    1. @ibnu abdul khair :

      Wah saudara mau mengambil dari hadits langsung ya pemahaman bid’ah. Baiklah saya hanya sedikit saja menggunakan lughatil Arabiyah untuk membahasnya, dan cukup dari tulisan saudara saja. 😆

      “man sanna fil Islamihi sunnatan hasanatan falahu ‘ajruha…”

      Sing sopo wonge ngelakoni sakjerone agomo Islam Sunnah kang becik mongko kanggone wong iku pahala (piwales kang becik(.

      La….sekarang saudara fikir dan ingat ta’rif / definisi SUNNAH itu apa Kang ?? Apa ada sunnah yang buruk ?? Contonya apa ?? La iya, leh sampean belajar Lughatul Arabiyyah iki ning sopo Kang ???

      Inilah kalau belajar agama dari sumber gak jelas. Mengartikan Qur’an dan hadits semaunya sendiri.

      Wis Mas, belajar lagi saja ke Pondok Pesantren yang benar. Pondok Pesantren NU terbuka untuk saudara belajar.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. Bismillah,

      Mas @Ibnu abdul chair,

      saya cuma mau nanya,

      apa maksud “memaknai” menurut anda?

      apa bedanya “memaknai” dan “menterjemahkan” ?

      lantas apakah terjemahan atau dalam bahasa anda memaknai bisa disebut penjelasan?

      maaf, ini yang ngga’ ngert bahasa arab kami atau siapa?

  9. @Para Ustadz yang kami hormati
    Tampaknya dalam forum-forum ini, WAHABI PADA MENYAMAR, antara lain mengaku masih muda, baru masuk blog ini, masih IQRO, dan lain-lain dengan tujuan PURA-PURA TANYA padahal tujuan sebenarnya “MEMPERSOALKAN” amalan Aswaja. Mereka tidak berani terang-terangan mengakui WAHABI YANG SEBENARNYA, karena akan DITANTANG DISKUSI oleh pengunjung Aswaja, Seperti Mas Yanto Jenggot. Tetapi mereka terkadang keceplosan menuduh orang lain TIDAK ILMIAH. Yang berani melayani diskusi di sini IBNU SURADI, tetapi tidak bisa nyambung karena DILILNYA HANYA POKOKNYA. TEKADANG HARUS BOHONG BERKAL-KALI. BAHKAN SAMPAI MENGARTIKAN AL-QURAN DAN HADITS SEMAUNYA. Coba sekarang di antara mereka kalau memang berniat MENCARI KEBENARAN, coba sekali lagi AJAK DISKUSI di sini. Kalau mereka menolak. Sudah dipastikan mereka hanya ingin MENGALIHKAN PERHATIAN AWAM dengan dalil-dalil PALSU mereka.

  10. Tidak mungkin bisa berdiskusi dgn cara yg selama ini dikembangkan di blog ini. Salafi itu, mecukupkan diri pada ilmu dan amal kepada Al-qur’an dan hadist atas pemahahaman salafussholeh. Sedangkan di blog ini, amal terlebih dahulu baru kemudian dicari-cari dalilnya yang cocok.

    1. @Ibn Abdul Chair

      memangnya saudara orang berilmu apa? Saudara pernah bertanya kepada saya tentang dalil seputar mencium tangan kyai atau Habib. itu kan pertanyaan aneh. mencium tangan itu sunnah, tapi anda masih juga bertanya…..

  11. @ibn abdul chair :
    Saudara yang membuka pembahasan hadits, saudara sendiri yang mengatakan tidak bisa bersiskusi. Kalau saudara memang mengerti dalam pembahasan hadits jawab saja dengan jelas dan sesuai kaidah ilmu hadits. Kelihatan jika saudara bingung dengan maqalah yang saudara bawakan sendiri.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  12. alhamdulillah.. saya sebagai masyarakat pojoan semakin faham tentang islam.. trimakasih kepada para ustadz yang sudah meluangkan waktunya.
    menurut saya yang awam ini, apalah jadinya kalau al-Qur’an dan Al-hadist boleh dan bisa di fahami dengan mudah oleh semua orang tanpa mau merujuk kepada pendapat para ulama’ yang memang telaah kondang ke’alimannya..?? lantas kalau sudah seperti itu dimanakah letak keistimewaan KALAMULLOH kalau saja semua orang bisa memahaminya dengan mudah.

  13. Assalamu’alaikum.
    maaf masnya, coba kalian renungkan kembali hadits yang di kutip penulis di atas

    Di riwayatkan selepas melakukan shalat subuh beliau saw menghadap kami dan menyampaikan ceramah yang membuat hati berguncang, dan membuat airmata mengalir.., maka kami berkata : “Wahai Rasulullah.. seakan akan ini adalah wasiat untuk perpisahan…, maka beri wasiatlah kami….” Maka rasul saw bersabda : “Kuwasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah, mendengarkan dan taatlah walaupun kalian dipimpin oleh seorang Budak afrika, sungguh diantara kalian yang berumur panjang akan melihat sangat banyak ikhtilaf, perbedaan pendapat, maka berpegang teguhlah pada sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mereka itu pembawa petunjuk, gigitlah kuat- kuat dengan geraham kalian (suatu kiasan untuk kesungguhan), dan hati hatilah dengan hal-hal yang baru, sungguh setiap Bid’ah itu adalah kesesatan….” – (Mustadrak, Al shahihain hadits no.329).

    coba renungkan konteks haditsnya dengan lubuk hati kalian yang paling dalam (hehe) kira2 maksud nabi bersabda ikutilah sunnahku dan sunnah khulafa’urrosyidin itu apa ya? apakah untuk menunjukkan adanya bid’ah hasanah? kalau memang maknanya seperti yang aswaja maksudkan tentu kurang nyambung karena di akhir hadits nabi justru mengingatkan bahaya bid’ah, akan sangat pas jika maksud nabi dari hadits ini adalah agar kita menjauhi bid’ah. tapi nabi mengkecualikan bid’ah yang dilakukan khulafa’urrosyidin. karena nabi telah menyatakan mereka (khulafa’urrosyidin) adalah orang2 yang mendapat petunjuk, agar kita tidak ragu untuk mengikuti perkara baru yang mereka buat. karena itulah nabi menggandengkan sunnahku dan sunnah khulafa’urrosyidin sebagai persetujuan nabi atas hal2 baru yang di buat oleh khulafa’urrosyidin. adapun selain khulafa’urrosyidin tidak mendapat rekomendasi ini dari nabi. gimana cocok nggak?

    1. Yang kami tahu, yang mendasari tentang adanya bid’ah hasanah adalah hadits “MAN SANNA FIL ISLAMI SUNNATAN HASANATAN …. dst sampai akhir.”

      Sedangkan KULLU BID’ATIN DHOLAH artinya adalah : SEBAGIAN (bukan setiap) BID’AH adalah sesat.

      “KULLU BID’ATIN DHOLALATUN WA KULLA DHOLATIN FINNAR” artinya adalah sebagian (bukan setiap) bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.

      Jadi yg masuk neraka itu kesesatan, bukan BID’AH, karena faktanya ada BID’AH HASANAH, dan bid’ah hasanah tentunya ada pahalanya, amin….

      Demikian Akhi abdur rohman, antum bisa lihat penjelasan lebih lengkap di sini : http://ummatipress.com/2012/10/02/kaum-wahabi-segera-menyadari-kesalahan-dalam-memahami-bidah/

    2. Bismillah,

      Mas @abdur rohman, Tentang “Sunnah Khulafa’ Ar Rosyidiin” kami punya pertanyaan buat anda ?

      – Apa maksud Sunnah Khulafaa Rosyidin menurut anda?

      – Apa sunnah Khulafaur Rosyidin menurut anda sama dengan Sunnah Rosul? sehingga dapat secara independent menetapkan apa-apa yang tidak ada ketetapannya dalam al qur’an maupun sunnah Nabi ?

      – Apa maksud peng-athofan kata “Wa Sunnatil Khulafaa’ir Rosyidin” dengan tanpa mengulangi amilnya?

      – Apa maksud pertanyaan Abu Bakar as Shiddiq kepada Umar -rodhiyallohu ‘anhuma- ketika diusulkan penghimpunan al qur’an, dimana beliau bertanya “Kaifa Taf’alu Maa Lam Yaf’alhu Rosululloh?”

      – Apa pula maksud dari pernyataan Umar bin Khotthob -rodhiyallohu ‘anhu- “Ni’matil Bid’atu Hadzih”?

      Insya Alloh anda faham, bahwa nash-nash agama ini tidak berdiri secara sendiri-sendiri, akan tetapi sebagian menjelaskan sebagian yang lain…

      1. mas @bu hilya, tolong kalau di tanya jangan balik bertanya yah, bingung yang nanya nantinya. saya lagi mencari kebenaran tentang permasalahn bid’ah ini, makanya saya benturkan pemahaman saya dengan pemahaman kalian supaya mudah2an saya bisa mengetahui mana pemahaman yang paling benar.

        – sunnah : jalan yang di tempuh (petunjuk). sunnah khulafaurrosyidin, jalan/cara yang ditempuh oleh khulafaurrosyidin, begitu kali ya

        – saya kurang paham maksud pertanyaan yang kedua, apa yang tidak terdapat dalam al quran dan sunnah nabi itu contohnya apa? karena setahu saya al quran dan sunnah nabi telah mencakup semua. kalau permasalahn bid’ah hasanah mereka tentu tidak diikuti seandainya tidak ada perintah nabi untuk mengikuti sunnah mereka

        – ini yang saya gak tahu, tolong jelasin dong

        – perkataan itu justru menunjukkan bagaimana takutnya para sahabat untuk membuat sesuatu yang baru dalam agama ini. wlaupun akhirnya ummar bsa meyakinkan abu bakr bahwa itu adalah kebaikan, ustadz saya menjelaskan penghimpunan al quran memang bukan bid’ah sebenarnya karena Alloh sendiri telah menamakan al quran dengan al kitab (sesuatu yang dihimpun / dikumpulkan). itulah kesempurnaan iman sahabat, sangat takut akan bid’ah walau ada pernyataan nabi untuk mengikuti sunnah mereka sebagaimana mereka sangat takut kemunafikan padahal nabi telah menyatakan mereka ahli surga

        – Ibnu Katsir menerangkan, “Bid’ah itu ada dua macam. Kadang yang dimaksud adalah bid’ah syar’iyyah seperti yang disebutkan dalam hadits, “Setiap perkara baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” Terkadang pula bid’ah yang dimaksud adalah bid’ah secara bahasa. Seperti perkataan ‘Umar bin Al Khottob rodhiyallohu ‘anhu ketika beliau membuat jama’ah shalat tarawih dan dilakukan terus menerus, di mana beliau berkata, “Ni’matul bid’ah hadzihi (sebaik-baik bid’ah adalah ini).

        mungkin itu yang bisa saya jawab, mohon maaf kalau banyak kekurangan.

        1. Bismillah,

          Mas @abdur rohman, Alhamdulillah… nampaknya persepsi kita sama tentang bid’ah, sebagaimana yang pernah dijelaskan oleh para asatidz di forum ini, bahwasannya; titik tekan sebuah perkara dianggap bid’ah sesat ternyata bukan pada keberadaan perkara tersebut sudah atau belum dicontohkan oleh Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, akan tetapi sebuah perkara dianggap bid’ah sesat jika ia menyelisihi dalil-dalil syari’at.

          Adapun perkara baru yang tiada menyelisihi (selaras dengan) dalil-dalil syari’at, meskipun perkara tsb belum ada contoh sebelumnya, maka sebagian ada yng menyebut sebagai “Bid’ah Hasanah”, dan sebagian ada yang menyebut bukan termasuk “Bid’ah”.

          Dengan demikian tidak mudah memvonis sebuah perkara sebagai “Bid’ah Sesat”, mengingat begitu luas dan dalam dalil-dalil yang menjadi undang-undang syari’at, sehingga seseorang baru dapat memvonis sebuah perkara sebagai “Bid’ah Sesat” setelah melakukan kajian menyeluruh terhadap dalil-dalil agama, baik yang bersifat umum maupun khusus.

          Jika seseorang telah mendalami al qur’an, as sunnah secara menyeluruh dan mengtahui serta dapat membedakan antara dalil-dalil umum dengan yang khusus, antara Mujmal dengan Mubayyan, antara Mansukh dan Nasikhnya, dst… kemudian ia mendapati bahwa perkara yang ia akan tetapkan statusnya memang benar-benar menyelisihi itu semua, maka barulah dia dapat memvonis sebuah perkara adalah “Bid’ah Sesat”.

          Wallohu A’lam…

  14. Admin, jika betul ada bid’ah hasanah, tolong dong jelaskan qowaid dan dawabit-nya.
    “….Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui”.QS 2 ;216

    1. ibn abdul chair@

      Yang bilang ada Bid’ah Hasanah bukan kami tapi para Imam Mu’tabar Ahlussunnah Wal Jamaah. Mereka tentu lebih paham tentang maksud dari redaksi lafadz hadits, dibandingkan kita. Dan kami mengikuti pemahaman para Imam Ahlussunnah Waljamaah. Nah, kalau anda dan sekte anda mengikuti pemahaman siapa?

      Coba simak pemahaman dari Imam Syafi’i berikut ini:

      حدثَنَا حَرْمَلَة بْنُ يَحْيَى قَالَ : سَمِعْتُ مُحَمَّدَ بْنَ إِدْرِيْسَ الشَّافِعِي يَقُوْلُ : البِدْعَةُ بِدْعَتَانِ بِدْعَةٌ مَحْمُوْدَةٌ وَبِدْعَةٌ مَذْمُوْمَةٌ، فَمَا وَافَقَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَحْمُوْدٌ وَمَا خَالَفَ السُّنَّةَ فَهُوَ مَذْمُومٌ، وَاحْتَجَّ بِقَوْلِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فِي قِيَامِ رَمَضَانَ : نِعْمَتِ الْبِدْعَةُ هِيَ

      Menceritakan kepada kami Harmalah bin Yahya dia berkata, “Saya mendengar Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i berkata, “Bid’ah itu ada dua, bid’ah yang terpuji dan bid’ah yang tercela. Maka bid’ah yang sesuai dengan sunnah adalah terpuji dan bid’ah yang menyelisihi sunnah adalah bid’ah yang tercela”, dan Imam Asy-Syafi’i berdalil dengan perkataan Umar bin Al-Khottob tentang sholat tarawih di bulan Ramadhan “Sebaik-baik bid’ah adalah ini” (Hilyatul Auliya’ 9/113)

      Harmalah bin Yahya At-Tujibi (w. 243H) adalah murid Imam Syafi’i yang merupakan salah satu syaikh Imam Muslim.

      Imam Nawawi berkata dalam al-Minhaj:

      قال العلماء: البدعة خمسة أقسام: واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة، فمن الواجبة نظم أدلة المتكلمين للرد على الملاحدة والمبتدعين وشبه ذلك، ومن المندوبة تصنيف كتب العلم وبناء المدارس والربط وغير ذلك، ومن المباح التبسط في ألوان الأطعمة وغير ذلك، والحرام والمكروه ظاهران

      Berkata para Ulama: Bid’ah itu lima bagian, yaitu bid’ah yang wajib, yang mandub, yang haram, yang makruh dan yang mubah. Bid’ah yang wajib contohnya adalah mencantumkan dalil–dalil pada ucapan–ucapan yang menentang kemungkaran, dsb. Contoh bid’ah yang mandub (mendapat pahala bila dilakukan dan tak mendapat dosa bila ditinggalkan) adalah membuat buku-buku ilmu syariah, membangun majelis ta’lim dan pesantren, dsb. Dan bid’ah yang mubah adalah bermacam–macam dari jenis makanan, dsb. Dan bid’ah makruh dan haram sudah jelas diketahui.

      Dan dalam “Subulus Salam” dijelaskan bahwa bid’ah itu ada 5 macam, yaitu wajib, mandub, mubah, haram, dan makruh. Jadi, tidak semua bid’ah itu sesat, tetapi ada juga yang wajib, mandub, dan mubah. Jika kita bicara wajib dan mandub, maka kita bicara tentang sesuatu yang berpahala jika mengerjakannya, dan ini berarti kita bicara tentang ibadah.
      Wallohu a’lam.

    1. Afwan akhi, ngetiknya buru-buru jadi terlewat, itu sudah kami koreksi tulisannya. Kita semua kan tahu itu redaksi hadits yang sangat terkenal sehingga akan segera ketahuan kalau salah ketik? Oke, syukron atas koreksinya.

  15. mas, bisa tolong berikan contoh bid’ah hasanah yang dilakukan sahabat yang lain selain khulafaur rosyidin? juga yang dilakukan tabi’in (murid2 sahabat) atau tabiut tabi’in (murid2 tabi’in). atau bid’ah hasanah yang dilakukan imam madzhab yang empat terutama imam asy syafi’i? terima kasih.

    1. Bismillah,

      Mas @abdur rohman :

      Imam Syafi’iy Bertabarruk Dengan Kubur Imam Abi Hanifah –rohimahumalloh-

      عن علي بن ميمون قال سمعت الشافعي يقول اني لأتبرك بأبي حنيفة وأجيء إلى قبره في كل يوم يعني زائرا فإذا عرضت لي حاجة صليت ركعتين وجئت إلى قبره وسألت الله تعالى الحاجة عنده فما تبعد عني حتى تقضى

      Dari Ali bin Maimun, ia berkata : Aku mendengar Imam Syafi’i brkata : “Sesungguhnya saya senantiasa bertabarruk dengan Abu Hanifah. Aku senantiasa mendatangi makamnya setiap hari untuk berziyarah. Apabila aku mempunyai hajat, aku sholat dua rokaat, lalu aku datangi makamnya, selanjutnya aku meminta kepada Alloh tentang hajatku disisi kuburnya, tidak lama kemudian hajatku terkabul.”(Tarikh Baghdad Lil Khothib Al Baghdadiy, vol. 1 hal. 123)

      Al Imam Ahmad –rohimahulloh- Bertabarruk Dengan Rambut Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam

      قال عبد الله بن أحمد: رأيت أبي يأخذ شعرة من شعر النبي صلى الله عليه وسلم، فيضعها على فيه يقبلها.وأحسب أني رأيته يضعها على عينه، ويغمسها في الماء ويشربه يستشفي به. ورأيته أخذ قصعة النبي، صلى الله عليه وسلم فغسلها في حب الماء، ثم شرب فيها ورأيته يشرب من ماء زمزم يستشفي به، ويمسح به يديه ووجهه. قلت: أين المتنطع المنكر على أحمد، وقد ثبت أن عبد الله سأل أباه عمن يلمس رمانة منبر النبي، صلى الله عليه وسلم، ويمس الحجرة النبوية، فقال: لا أرى بذلك بأسا. أعاذنا الله وإياكم من رأي الخوارج ومن البدع.

      Abdullah ibnu Ahmad mengatakan, “Saya melihat ayah mengambil sehelai rambut dari rambut Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam lalu meletakkan pada mulutnya seraya menciumi rambut tersebut. Saya rasa saya pernah melihat ayah meletakkan rambut itu pada matanya, mencelupkan rambut tersebut ke dalam air dan meminumnya serta memohon kesembuhan dengannya.

      Saya juga melihat ayah mengambil mangkuk besar Nabi lalu membasuhnya dalam tong air kemudian meminumnya. Saya lihat ayah juga minum air zamzam guna memohon kesembuhan dengannya dan mengusapkannya pada kedua tangan dan wajahnya.

      Saya bertanya di manakah orang yang sok berkata fasih yang berani mengingkari Imam Ahmad padahal telah terbukti bahwa Abdulloh bertanya kepada ayahnya tentang orang yang menyentuh pusat mimbar Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam dan menyentuh kamar Nabi (al hujrah an nabawiyyah) ?, lalu ayah menjawab, “Saya menilai hal ini tidak apa-apa.”

      Semoga Allah melindungi kita dan kalian dari pandangan kaum khawarij dan pandangan-pandangan bid’ah. (Adz Dzahabi dalam Siyaru A’lamin Nubalaa’ vol. XI hlm. 212).

      sengaja kami sampaikan bid’ahnya para Imam dalam konteks Tawassul dan Tabarruk. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui…

      1. maaf mas @bu hilya, tolong jangan melebar dari pembahasan, saya minta contoh amalan bid’ah hasanah sahabat yang lainnya tabi’in, tabiut tabiin dan imam madzhab yang 4, gak usah melebar ke masalah tabarruk segala. agar saya tahu ternyata mereka juga melakukan bid’ah hasanah. seperti yang sudah saya katakan, kalau memang mereka berpemahaman seperti aswaja tentu banyak bid’ah hasanah yang mereka lakukan, karena itukan adalah sunnahnya khulafaurrosyidin yang diperintahkan nabi untuk diikuti…

        kalau tentang imam syafi’i sudah di bantah ustadz firanda

        http://firanda.com/index.php/konsultasi/aqidah/57-imam-as-syafii-bertabarruk-dengan-kubur-imam-abu-hanifah-v15-57

        bertabarruk dengan nabi juga kami tidak ingkari kecuali selain beliau shollallohu ‘alaihi wasallam.

        tolong contoh amalan bid’ahnya ya..

  16. Pertanyaan anda ini seperti Yahudi aja? Terus kalau nanti dikasih tahu apakah antum akan tobat dari kesesatan Wahabi?

    Bukankah kalau antum sudah dikasih tahu tentang Bid’ah hasanah Khulafaurrosyidin seharusnya itu sudah cukup ?

    1. @ udin kalippo, kamu belum lihat komentar saya yang pertama ya soal bid’ahnya khulafaurrosyidin? makanya saya minta tolong contoh bid’ahnya sahbat yang lain setelah wafatnya nabi shollallohu alaihi wasallam, para tabiin, tabiut tabiin dan imam madzhab yang 4. kalau memang pemahaman mereka sama seperti kalian tentu banyak bid’ah hasanah yang mereka lakukan, bukankah bid’ah hasanah adalah sunnahnya khulafurrosyidin yang diperintahkan oleh nabi untuk diikuiti? tapi mengapa mereka tidak bermudah-mudah melakukan bid’ah hasanah seperti yang aswaja lakukan sekarang ❓

  17. Mas Admin, mari kita lihat apakah benar sholat tarawih berjama’ah di zaman Amirul Mukmin Umar ibn Khottob itu bid’ah?. Apakah benar bahwa Umar ibn Khottob rodhiyallahu anhu yang pertama kali membuat sholat tarawih berjama’ah? jika jawaban anda adalah “ya” maka benarlah pemahaman anda. Tapi bukankah kenyataannya Rasulullah dan para shahabat juga pernah melaksanakannya? Dan Rasuullah pun tetap melaksanakan sholat tarawih – walau tidak berjama’ah – krn takut akan memberatkan umatnya.Dan apakah anda tidak mengetahui latar belakang mengapa Umar ibn Khottob memerintahkan kepada shahabat utk sholat tarawih berjama’ah dengan hanya satu imam saja? tidak berpecah-pecah dalam kelompok kecil? Coba perhatikan lagi latar belakangnya.

    1. Mas Ibnu Abdul Chair,
      Yang bid’ah hasanah itu Shalat Tarowih selama sebulan penuh, Nabi Muhammad melakukan tarowih cuma beberapa hari. Jadi, kami tidak mengatakan shalat Tarowih Bid’ah Hasanah, tetapi yang Bid’ah hasanah sholat tarowih sebulan full. Dan memang benar Sayyidina Umar bin khottob yang mempelopori sholat Tarowih sebulan full, ini adalah riwayat yang sangat masyhur di seantero dunia Islam. Apakah ini masih kurang jelas? Seharusnya kalau antum konsisten ikuti saja Nabi yg sholat tarowih cuma beberapa hari bukan sebulan full. Oke Mas?

      1. mas ummati,

        afwan, antum rupanya belum tahu bid’ah itu bagaimana sebenarnya menurut wahabi. bid’ah itu bukan hanya sekedar tidak ada contoh dari nabi. puasa daud juga tidak di contohkan oleh nabi tapi bukan bid’ah karena hal itu disyariatkan oleh beliau. bid’ah adalah ibadah yang tidak ada dalil pengsyriatannya, dan ibadah juga harus sesuai dengan tuntunan nabi, sholat taroweh 1 bulan penuh tentu bukan bid’ah karena nabi telah mengsyariatkan sholat malam selama 1 bulan penuh di bulan romadhon, dan nabi sudah melakukan sholat malam secara berjamaah (taroweh) selama beberapa hari, namun nabi hentikan tapi bukan karena keburukan tapi justru karena sangat bagusnya sampai2 nabi takut hal itu diwajibkan (karena saat itu masih turun wahyu) dan akan memberatkan ummatnya, jadi setelah nabi wafat dan wahyu terhenti maka kekhawatiran itu telah hilang. kholifah ummar hanya kembali menghidupkan sunnah nabi itu saja karena penyebab di hentikannya sudah tidak ada lagi.

        1. Abu Abdullah,

          Apakah pada zaman sayyidina Umar bin khottob, Sunnah sholat Tarowih sudah mati sehingga perlu dihidupkan lagi? Lalu siapa nama Ulama mu’tabar yg mengatakan bahwa Sayyidina Umar menghidupkan Sunnah sholat Tarowih? Kenapa saya bertanya demikian, karena agama ini jangan sampai dikarang-karang oleh orang yang sok berilmu seperti antum.

  18. Wah … kayanya bakal ada DONGENG BARU nih dalam menanggapi pertanyaan Admin. Kita tunggu DONGENG yang bertujuan membodohi umat awam. Alias TIPU-TIPU. Dakwah kok MENIPU?

    1. mas Bima AsSyafi’i :
      emangnya mas admin tanya apa, kok saya nggak melihat pertanyaannya yg siknifikan kepada kawan2 Wahabi? Tolong bantu kasih tahu ya? Nggak apa2 cuma penasaran.

  19. @Mas Junaidi
    Sebenarnya sih pertanyaannya memang sangat sederhana, seperti yang tertanda dengan adanya “tanda tanya (?)”. Biasanya para Wahabier, ditanya atau tidak ditanya, sering menanggapi dengan dongeng-dongeng. Contoh Dongeng Wahabi Rustamiayah, istilah Salafi yang pertama dikemukakan oleh Muhammad Abduh, eh tiba-tiba katanya sudah dilontarkan oleh Adz Dzahabi, yang semuanya itu ternyata bohong. Bagaimana kita bisa percaya cerita tentang dia berjalan di tengah hujan lebat, tetapi tidak basah? Kebetulan saya pernah bertanya kepada seorang Ustadz Wahabi, “Bolehkan kita bersumpah demi Allah dengan berbohong?” Dijawab oleh Ustadz tersebut, “Lebih baik bersumpah demi Allah walaupun berbohong, daripada bersumpah atas nama selain Allah”. Dari pernyataan tersebut, akhirnya saya memaklumi kalau akhirnya mereka mudah mengarang cerita bohong.

    1. Ya betul itu, mereka sering ketahuan berbohong, dan di sini juga ada yg mengatakan Wahabi modal dakwahnya adalah KEBOHONGAN. Makanya mereka takut kalau diajak diskusi face to face, pasti akan ketahuan dusta2nya. Kalau diskusi face to face nanti kan nggak bisa mengelak, kalau di internet kan gampang mengelak, begituah Mas Bima.

  20. Dijawab oleh Ustadz tersebut, “Lebih baik bersumpah demi Allah walaupun berbohong, daripada bersumpah atas nama selain Allah”.
    Begini penjelasannya : Bersumpah atas nama Allah adalah Syari’at, sedangkan bersumpah atas nama selain Allah adalah kemusyrikan. Berdusta adalah berdosa. Mana yg lebih ringan berdosa saja atau terjerumus dalam kemusyrikan?.

    1. @ibn abdul chair
      Itulah yang disebut sebagai “mengatasnamakan Syariat”, padahal jelas2 berbohong walau dalam keadaan bersendau gurau tidak dibolehkan, apalagi ini mengatasnamakan Allah.
      Itulah yang dijelaskan mas @Bima AsSyafi’i.

  21. @Mas Ucep
    Terima kasih atas penjelasannya. Saya kan orang awam, Tapi tetap merasa aneh kalau kita dinyatakan boleh berbohong, asal tidak musyrik. Itu blog-blog yang dirujuk mengenai Wahabi Rustumiyah berarti telah melakukan PEMBOHONGAN PUBLIK secara berjamaah dengan menyebarkan informasi yang tidak benar. Sebaiknya slogan mereka ditambah lagi: “Tegakkan Tauhid Walau Dengan Berbohong”.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker