akidah

Kenapa Salafi Wahabi Anggap Ulama Aqidah Asy’ariyyah Sebagai Musuh ?

Aqidah Asy’ariyyah – Di forum-forum offline maupun online, para penganut Wahabisme itu adalah kaum yang sangat benci dengan muslimin yang mengikuti aqidah Asy’ariyyah. Mereka mengatakan Asy’ariyah itu sesat, tahukah anda bahwa imam-imam ulama yang punya nama besar semacam Ibnu Hajar Atsqolani, Imam Nawawi, Imam Baihaqy adalah para penganut Aqidah Asy’ariyyah yang notabene adalah kaum Ahlussunnah Wal Jamaah.

Pertanyaannya, lalu kenapa Para Wahabiyyun itu sangat benci dengan kaum penganut aqidah Asy’ariyyah dan menganggapnya sebagai musuh abadi? Lalu serta merta dengan itu kaum Wahabi membajak nama besar Ahlussunnah Wal Jama’ah sebaga label baru Wahabi/Salafi?

Untuk tahu jawabnya, mari kita simak pemaparan yang disertai pertanyaan-pertanyaan kritis dari seseorang yang menamakan dirinya dengan nama pena “Qultu Man Ana” berikut ini…..

Ulama pengikut aqidah asyariyyah dalam Muktamar Ulama Aswaja. - Kenapa Salafi Wahabi Anggap Ulama Aqidah Asy'ariyyah Sebagai Musuh ?
Para Ulama pengikut aqidah asy’ariyyah dalam Muktamar Ulama Aswaja di Malaysia 2015.

Salafi Wahabi Menganggap Para Ulama yang Mengikuti Imam Abul Hasan Al-Asy’ari dalam Masalah Aqidah Adalah Musuh Abadi.

Bahkan seorang tokoh salafi bernama Zainal Abidin, menukil sejumlah pendapat ulama termasuk Ibn Hazm (walaupun nukilan seperti ini harus diteliti lebih lanjut, sayang kitab-kitab yang disebutkan belum kami miliki -pent) yang berisi kritik, celaan dan ‘vonis’ kafir kepada para Ulama Pengikut Imam Abul Hasan Asy-Asy’ari dalam masalah aqidah atau lebih dikenal dengan aqidah Asy’ariyyah (Lihat majalah As-Sunnah hal. 38 edisi khususVIII1425 H2004 M).

Padahal hampir seluruh ulama yg namanya ditulis dengan “tinta emas”dalam sejarah Islam. Dan menjadi pelita umat sepanjang umur umat Islam dengan ilmu yang mereka miliki adalah mengikuti Imam Abu Hasan Al-Asy’ari dalam masalah aqidah.

Para ulama besar yang mengikuti aqidah Asy’ariyyah ini bisa kita lihat nama-nama besar seperti: Imam Abu Hasan Al-Bahilii,Imam Abu ishaq Al-Isfarainii, Al-Hafidz Abu Nu’aim AL-Asbahani, Qadhi Abdul Wahab Al-Maliki. Imam Abu Muhammad Al-Juwaini, dan outranya Abu Ma’alii Imam haramain AL-Juwaini, Abu Manshur At-Tamimi Al-Baghdadi, Al- Hafidz Al-Isma’ili, Al-Hafidz Al-Baihaqi, AL-Hafidz Al-Daruqutni, Al-Hafidz AL-Khatib AL-Baghdadi, Imam Abul Qosim AL-Qusyairi,dan putranya Abu Nashr,Imam Abu Ishaq Asy- Syairazi, Nasr Al-Maqdisi, Al-Farawi, Imam Abul Wafa’ ibn Uqil Al-Hambali,  Qadhi Qudhat Ad-Damaghani Al-Hanafi, Abul Walid Al-baji Al-Malik, Imam Ass-Sayid Ahmad Ar-Rifa’I,Al-Hafidz Abul Qasim Ibn Asakir, Ibn Sam’ani, Al- hafidz As-Salafi, Qadhi Iyadh, Imam An-Nawawi, Imam Fakhrudin Ar-Razi, Imam Iz Ibn Abdis Salam, Abu Umar, Imam Ibn Hajib Al-Maliki, Al-Hafidz Ibn Daqiqil ied, Imam llaudin Al-Baji, Qadhi Qudhat As- Subki, Al-Hafidz Alaai, AL-Hafidz Zainudin AL-Iraqi,dan putranya Al-Hafidz Waliyudin, Khatimatul Hufadz Ibn Hajar Al-Asqolani, Khatimatul LughawiyinAl-hafidz murtadha Az-Zubaidi Al-Hanafi, Imam Zakariya AL-Anshori, Imam Bahaudin Ar-Ruwas, Mufti makah Ahmad Zaini Dahlan, Musnadul Hindi Waliyullah Ad-Dahlawi, Mufti Mesir Imam Muhammad Ulaisyi Al-Maliki, SyaikhAl-Jami’ Al-Azhar Abdullah Az-Zarqawi, Imam Abdul Fatih Fathullah mufti Beirut,Imam Abdul basist Al-fakhuri Mufti Beirut, Imam Mustafa Naja Mufti Beirut, Imam Abu Muhammad Al-Malaibari Al-Hindi, Qadhi Abu bakar Al-baqilani, AL-Hafidz IbnFaruk, Imam Al-Ghozali, Imam Abul fatah Asy-Syahrantani, Imam Abu Bakar Asy-Syasyi Al-Qofal,Abu Ali Ad-Diqaqi An-Naisaburi, Al-Hakim An- Naisaburi Sohibul Mustadrak, Imam Ibn Alan As-Shadiqi Asy-Syafi’I, Imam Abu Abdullah Muhammad As-Sanusi dll. Semua pemilik nama-nama besar di atas adalah para pengikutImam Abul Hasan Al-Asy’ari dalam aqidahnya, yang para ulama menyebut aqidah Asy’ariyah dengan Ahlussunnah Wal Jama’ah.

BACA JUGA:  Fatwa Mufti Wahabi : Haram Bunuh Orang Zionis Israel

Kalau menurut kalian wahai Wahabiyyun, bahwa Al-Hafidz Ibnul Jauzi, Imam Ibn Hibban, Al-Hafidz Ibn Rajab Al-Hambali, Al-Hafidz Al-Isma’ili, Al-Hafidz Al-Baihaqi, Al-Hafidz Al- Daruqutni, Al-Hafidz Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Hafidz As-Salafi, Qadhi Iyadh, Imam An-Nawawi,Al-Hafidz Alaai, Al Hafidz Zainudin Al-Iraqi, dan putranya Al-Hafidz Waliyudin, Khatimatul Hufadz Ibn Hajar Al-Asqolani dll, bukan termasuk ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah, maka siapakah yang kalian maksud dengan Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu?

Mungkin kalian akan mengatakan bahwa Albani, Utsaimin, Ibn Baz, Al-Jazairi, Al-Fauzan, Rabi Ibn Hadi dll dari kalangan ulama Neo Salafi adalah Ahli Hadis! Dan merekalah menurut kalian yg paling layak untuk menyandang gelar pewaris satu-satunya ahlus sunnah wal jama’ah ?

Kami ingin bertanya apakah ada di antara ulama kalian seperti Albani, Utsaimin, Ibn Baz, Al-Jazairi, Al-fauzan, Rabi Ibn Hadi dll  yang punya karya yang lebih baik dari kitab Fathul Bari-nya Ibn Hajar? Atau kitab sunan-nya Imam Al-Hafidz Al-Baihaqi, Al-Hafidz Al-Daruqutni, atau karya-karya lain dari para Hufadz Hadis yang sebenarnya (bukan seperti yang sering diaku-aku oleh Salafi) seperti  Al-Hafidz Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Hafidz As-Salafi, Qadhi Iyadh, Imam An-Nawawi dengan Syarh Shohih Muslim-nya, Al-Hafidz Alaai, Al-Hafidz Zainudin Al-Iraqi dll !?

Tidak, sekali-kali tidak, karya-karya kalian dipenuhi dengan nukilan dari para Ulama ini !!! Entah bagaimana kualitas buku atau kitab yang ditulis oleh ulama- ulama kalian, jika tidak mengutip dari ucapan dan pendapat mereka dari kitab-kitab dan karya tulis mereka (yaitu para hufadz Ahli hadis ini) yang tidak terhitung nilainya itu?! Tapi bagaimana bisa kalian mengambil pendapat mereka dan mengklaim mereka berada di pihakmu, sementara itu kalian tidak memasukkan mereka dalam daftar Ulama Ahus Sunnah? Bahkan kalian mencap mereka sesat dan menyimpang aqidahnya karena mengikuti aqidah Asy’ariyah, lalu menyamakan mereka dengan firqoh-firqoh sesat lainnya seperti mu’tazilah, jabariyah dll !?

BACA JUGA:  Wahhabi Adalah Ahlus Sunnah Waljamaah, Benarkah?

Lalu yang lebih mengherankan lagi kalian masih berani mengklaim mengikuti manhaj para Ahli Hadits. Sedangkan pada saat yang bersamaan kalian memvonis aqidah Asy’ariyyah yg mereka adalah salah dan sesat (menurut anggapan kalian). Bahkan kalian mengingatkan umat dari penyimpangan aqidah Asy’ariyah yg terdapat dalam kitab-kitab mereka ! Adakah orang yang akan percaya dengan ucapan sekelompok orang yang mengaku-aku mengikuti manhaj para imam ahli hadis dan ahlus sunnah tapi aqidahnya sesat. Atau kalian berkata : Manhaj kami di atas manhaj Para Ahli Hadis seperti Al-Hafidz Ibn Hajar, Imam Al-Hafidz Al-Baihaqi, Al-Hafidz Al-Daruqutni, Al-Hafidz Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Hafidz As-Salafi, Qadhi Iyadh, Imam An-Nawawi, Al-Hafidz ‘Alaai, Al-Hafidz Zainudin Al-Iraqi , tapi aqidah kami berbeda – kami memegangi aqidah yang shohih sedang mereka (para ahli hadis tsb) aqidahnya menyimpang dan sesat karena mengikuti aqidah Asy’ariyyah!

Ajib Kulu Ajib hadzal qaul min rajol Al-Ghulat Al-Mudzabdzib As-Salafi (sungguh sangat mengherankan ucapan yang aneh yang berasal dari Al- Ghulat Al-Mudzabdzib As-Salafi ini) !!!

Seandainya para Ulama seperti Al-Hafidz Ibn Hajar, Imam Al-Hafidz Al-Baihaqi, Al-Hafidz Al-Daruqutni, Al-Hafidz Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Hafidz As-Salafi, Qadhi Iyadh, Imam An-Nawawi, Al-Hafidz Alaai, Al-Hafidz Zainudin Al-Iraqi dll masih hidup. Pastilah mereka akan melarang kalian untuk menggunakan karya mereka untuk menjadi bahan bagi tulisan dan kitab kalian. Kenapa, karena jelas kalian telah menganggap mereka sesat aqidahnya bahkan kafir !

Lalu mana ada seorang Ulama yang bersedia karyanya dinukil oleh orang atau kelompok yang telah mencemarkan nama baiknya dengan vonis sesat dan kafir !? Tapi yang aneh bahwa pendapat-pendapat para ahli hadis yang mengikuti aqidah asy’ariah  ini seperti : Al-Hafidz Ibn Hajar, Imam Al-Hafidz Al- Baihaqi, Al-Hafidz Al-Daruqutni, Al-Hafidz Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Hafidz As-Salafi, Qadhi Iyadh, Imam An-Nawawi, Al-Hafidz Alaai, Al-Hafidz Zainudin Al-Iraqi dll, para ulama besar ini mengikuti aqidah asy’ariyah, lalu kenapa kalian senatiasa nukil di dalam berbagai kitab dan makalah yang kalian buat ?!

BACA JUGA:  Tiga Bukti Penting Wahabi Tasyabbuh Yahudi

Kalau mau konsisten dengan pendapat kalian bahwa mereka telah menyimpang dan memasukkan mereka sesat dalam aqidah Islam. Maka jangan lagi gunakan kitab dan karya mereka apalagi menukil pendapat mereka dalam masalah aqidah untuk mendukung pendapat kalian dalam masalah aqidah pula. Sungguh aneh !?

Tapi ternyata hal itu tidak terjadi. Bahkan dalam majalah edisi khusus  yang mereka tulis dalam masalah hadis, pertama kali mereka menunjukkan apa yang mereka anggap sesat dan menyimpang dari aqidah kaum asy’ariyah lalu diberilah vonis sesat bahkan kafir. Tapi yang aneh setelah itu pendapat-pendapat dari para Ulama Hadis pengikut aqidah Asy’ariyah seperti Al-Hafidz Ibn Hajar, Imam Nawawi, Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Iraqi, Ibn Shalah dll menjadi rujukan utama unutk memberi justifikasi dalam masalah aqidah versi mereka. Bukankan ini sebuah keanehan yang menggelikan ?!

Lalu kalian berkata lagi: Ulama kan bukan hanya mereka! Tapi ingat bukankan Salafi Wahabi telah mengadopsi pendapat sebagian Ulama’ yang menyatakan bahwa Ahlus sunnah wal jama’ah adalah Ulama ahli hadits seperti perkataan Imam Ahmad yang mengatakan Kalau bukan ahli hadis, aku tidak tahu lagi siapa mereka ? dll! Biasanya kalian akan berkelit dengan mengatakan : Ulama Ahli Hadis-kan tidak terbatas pada mereka !!? Lalu apakah Al- Hafidz Al-Isma’ili, Al-Hafidz Al-Baihaqi, Al-Hafidz Al-Daruqutni, Al-Hafidz Al-Khatib Al-Baghdadi, Al-Hafidz As-Salafi, Qadhi Iyadh, Imam An-Nawawi, Al-Hafidz Alaai, Al-Hafidz Zainudin Al-Iraqi, dan putranya Al-Hafidz Waliyudin, Khatimatul Hufadz Ibn Hajar Al-Asqolani dll, bukan termasuk ahli hadis !?

Lalu siapa Ahli hadits yang kalian maksud ?! Lalu manhaj ahli hadis mana yang kalian ikuti !!? Kalau ternyata sebagian besar Para Hufadz Ahli Hadis berada dalam posisi yang berlawanan dengan posisi kalian, ternyata semua Ahli Hadits adalah pengikut aqidah Asy’ariyyah !? Hendaknya ini menjadi bahan renungan bagi orang-orang yg mampu berpikir dengan jujur!

 

 SUMBER

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Kenapa Salafi Wahabi Anggap Ulama Aqidah Asy'ariyyah Sebagai Musuh ?
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

257 thoughts on “Kenapa Salafi Wahabi Anggap Ulama Aqidah Asy’ariyyah Sebagai Musuh ?”

  1. Begitulah golongan sekte sesat, mereka memusuhi ulama Al Asyairah kerana mereka tidak dapat mempengaruhi imam2 dari golongan Al Asyairah malah
    Imam2 Al Asyairah menentang Wahhabi secara total melalui lisan dan pemulisan semenjak hadir tokoh sandaran mereka lagi iaitu Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qayyim al Jawziyyah sekitar akhir abad 600 H. Pengasas Wahhabiyun, si Muhammad ibnu Abdil Wahhab manusia baru muncul sekitar 1143H -1206H sahaja dan pendapatnya telah ditentang oleh seluruh ulama Al Asyairah termasuk Ayah dan saudara kandungnya sendiri. Pastinya keadaan ini membuat mereka marah lantas mengkafirkan ulama Asyairah sebagai serangan balas.
    Selain itu Wahhabiyun ini merasa bertanggungjawab menjaga kesinabongan
    Dinasti Saud dan pastinya menentang apa saja yang boleh menjejaskan kedudukan raja mereka ini. Ulama Asyairah adalah golongan yang tidak dapat berkempromi dengan kemungkaran dengan itu mereka memandang ini suatu ancaman kepada pemerintahan keluarga Saud yang banyak menyeleweng.
    Apabila golongan itu merasa mereka lemah maka mereka mencari helah untuk menunjukkan kepada umum bahawa mereka kuat dan bener. Serangan mereka ke atas ulama Asyairah adalah semata2 mahu memperlihatkan kekuatan mereka wal hal mereka sangat lemah.

    1. Masyaallah, artikel ini membuktikan ketidakjujuran Wahabi Salafi. Di satu sisi mereka menganggap sesat kaum beraqidah Asy’ariyah di sisi lain mereka mecatut nama-nama ulama besar Asy’ariyah untuk melegitimasi klaim aliran Wahabi sebagai ahlussunnah Wal jamaah.

      Pertanyaan yg cukup menggelitik nalar kita untuk diajukan kepada mereka adalah sejak kapan Wahabi/Salafi itu jadi ahlussunnah wal jamaah? Bukankah dalam sejarahnya mereka sama sekali tidak pernah dikenal sebagai Ahlussunnah Wal jamaah? Setahu ana, mereka menyebut dirinya sebagai Ahlussunnah Waljamaah sejak Albani naik jadi petinggi Wahabi, wallohu a’lam bisshawab….

  2. Mas @admin artikel yang bagus sebagai pencerahan.
    Wahabiyun kadang dia menyebut Ahlusunnah Wal Jamaah, kadang mereka menyebut Kelompok Salafi, sampai dengan saat ini mereka tidak berani menyebut “Ana Wahabi”, betapa munafiknya mereka, mereka membenci Ahlusunnah Wal Jamaah Al Asy’ariyah, tapi dalam pergaulan mereka menyebut Kelompok Ahlusunnah WalJamaah, mereka menyebut Salafi / Salafus shaleh, tapi mereka membenci 4 madzhab. Ini yang disebut MUNAFIK.
    Mereka sangat membenci Jamaah Tabliq (kebon jeruk), tapi cara mereka sehari-hari mengikuti cara keseharian Jamaah Tabliq. Dasar Munafik.
    Di Negara asalnya Arab Saudi saja mereka gak berani menyebut wahabi tapi Ahlussunnah Wal Jamaah. Inilah golongan MUNAFIK, telah hadir di penjuru Dunia.

    1. Alhamdulillah, Wahabi semakin terkuak kebohongannya. Semoga memberi dampak positif bagi perkembangan Islam ke depan. Jangan ada lagi fitnah2 Wahabi menyebar di tengah ummat Islam. Terimakasih sharingnya, mudah-mudahan dapat pahala yg banyak, amin………………….

  3. Ummati PEMBOHONG umat!!!Sejak kapan sbagian para Ulama yg anda sebutkan diatas se-Aqidah dgn Abul Hasan al asy’ari? Jika anda mengatakan bahwa mereka(para Ulama yg anda sebutkan) ber-Aqidah Sama sprti Abul Hasan al Asyari SEBELUM beliau Keluar dari Aqidah asy’ariyyah,maka skali lagi akan saya katakan, “Ummati PEMBOHONG UMAT!!!
    Lainhalnya jika anda katakan para ulama yg anda sebutkan diatas Aqidahnya sama sprti Abul Hasan al Asyari pasca beliau KELUAR dari aqidah asy’ariyyah(stelah bergabung selama 40 thn) kemudian Beliau mengikuti aqidah yg dibawa oleh para salafhus sholeh,maka kami katakan”benar,aqidah asy’ariyyah adalah aqidah yg SALAH.Dan benar pula jika kami katakan bahwa mereka(sbagian ulama yg anda sebutkan diatas) adalah ulama ahlusunnah wal jama’ah sbgaimana yg di pahami oleh salafi ( BUKAN ASWAJA!!!).

    1. Dufal@

      Alhamdulillah, kami tidak memiliki tradisi Merekayasa Kebohongan dalam menyampaikan dakwah. Jika antum ingin tahu bohong atau tidak apa-apa yg ditulis dalam artikel di atas, caranya sangat mudah sekali. Baca saja biografi mereka dan lihat apa aqidah yg mereka anut. Apakah aqidah Asy’ariyyah atau aqidah ‘ala wahabi?

      1. @ummati apakah seperti ini

        Biografi Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Asqalany Asy-Syafi’i

        NAMA DAN NASAB BELIAU

        Nama sebenarnya Syihabuddin Abul Fadhl Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Hajar, al Kinani, al ‘Asqalani, asy Syafi’i, al Mishri. Kemudian dikenal dengan nama Ibnu Hajar, dan gelarnya “al Hafizh”. Adapun penyebutan ‘Asqalani adalah nisbat kepada ‘Asqalan’, sebuah kota yang masuk dalam wilayah Palestina, dekat Ghuzzah.

        Beliau lahir di Mesir pada bulan Sya’ban 773 H, namun tanggal kelahirannya diperselisihkan. Beliau tumbuh di sana dan termasuk anak yatim piatu, karena ibunya wafat ketika beliau masih bayi, kemudian bapaknya menyusul wafat ketika beliau masih kanak-kanak berumur empat tahun.

        Ketika wafat, bapaknya berwasiat kepada dua orang ‘alim untuk mengasuh Ibnu Hajar yang masih bocah itu. Dua orang itu ialah Zakiyuddin al Kharrubi dan Syamsuddin Ibnul Qaththan al Mishri.

        PERJALANAN ILMIAH IBNU HAJAR

        Perjalanan hidup al Hafizh sangatlah berkesan. Meski yatim piatu, semenjak kecil beliau memiliki semangat yang tinggi untuk belajar. Beliau masuk kuttab (semacam Taman Pendidikan al Qur’an) setelah genap berusia lima tahun. Hafal al Qur’an ketika genap berusia sembilan tahun. Di samping itu, pada masa kecilnya, beliau menghafal kitab-kitab ilmu yang ringkas, sepeti al ‘Umdah, al Hawi ash Shagir, Mukhtashar Ibnu Hajib dan Milhatul I’rab.

        Semangat dalam menggali ilmu, beliau tunjukkan dengan tidak mencukupkan mencari ilmu di Mesir saja, tetapi beliau melakukan rihlah (perjalanan) ke banyak negeri. Semua itu dikunjungi untuk menimba ilmu. Negeri-negeri yang pernah beliau singgahi dan tinggal disana, di antaranya:

        Dua tanah haram, yaitu Makkah dan Madinah. Beliau tinggal di Makkah al Mukarramah dan shalat Tarawih di Masjidil Haram pada tahun 785 H. Yaitu pada umur 12 tahun. Beliau mendengarkan Shahih Bukhari di Makkah dari Syaikh al Muhaddits (ahli hadits) ‘Afifuddin an-Naisaburi (an-Nasyawari) kemudian al-Makki رحمه الله. Dan Ibnu Hajar berulang kali pergi ke Makkah untuk melakukah haji dan umrah.
        Dimasyq (Damaskus). Di negeri ini, beliau bertemu dengan murid-murid ahli sejarah dari kota Syam, Ibu ‘Asakir رحمه الله. Dan beliau menimba ilmu dari Ibnu Mulaqqin dan al Bulqini.
        Baitul Maqdis, dan banyak kota-kota di Palestina, seperti Nablus, Khalil, Ramlah dan Ghuzzah. Beliau bertemu dengan para ulama di tempat-tempat tersebut dan mengambil manfaat.
        Shana’ dan beberapa kota di Yaman dan menimba ilmu dari mereka.

        GURU DAN MURID BELIAU

        Semua ini [rihlah], dilakukan oleh al Hafizh untuk menimba ilmu, dan mengambil ilmu langsung dari ulama-ulama besar. Dari sini kita bisa mengerti, bahwa guru-guru al Hafizh Ibnu Hajar al ‘Asqlani sangat banyak, dan merupakan ulama-ulama yang masyhur. Bisa dicatat, seperti: ‘Afifuddin an-Naisaburi (an-Nasyawari) kemudian al-Makki (wafat 790 H), Muhammad bin ‘Abdullah bin Zhahirah al Makki (wafat 717 H), Abul Hasan al Haitsami (wafat 807 H), Ibnul Mulaqqin (wafat 804 H), Sirajuddin al Bulqini رحمه الله (wafat 805 H) dan beliaulah yang pertama kali mengizinkan al Hafizh mengajar dan berfatwa. Kemudian juga, Abul-Fadhl al ‘Iraqi (wafat 806 H) –beliaulah yang menjuluki Ibnu Hajar dengan sebutan al Hafizh, mengagungkannya dan mempersaksikan bahwa Ibnu Hajar adalah muridnya yang paling pandai dalam bidang hadits-, ‘Abdurrahim bin Razin رحمه الله –dari beliau ini al Hafizh mendengarkan shahih al Bukhari-, al ‘Izz bin Jama’ah رحمه الله, dan beliau banyak menimba ilmu darinya. Tercatat juga al Hummam al Khawarizmi رحمه الله. Dalam mengambil ilmu-ilmu bahasa arab, al Hafizh belajar kepada al Fairuz Abadi رحمه الله, penyusun kitab al Qamus (al Muhith-red), juga kepada Ahmad bin Abdurrahman رحمه الله. Untuk masalah Qira’atus-sab’ (tujuh macam bacaan al Qur’an), beliau belajar kepada al Burhan at-Tanukhi رحمه الله, dan lain-lain, yang jumlahnya mencapai 500 guru dalam berbagai cabang ilmu, khususnya fiqih dan hadits.

        Jadi, al Hafizh Ibnu Hajar al Asqalani mengambil ilmu dari para imam pada zamannya di kota Mesir, dan melakukakan rihlah (perjalanan) ke negeri-negeri lain untuk menimba ilmu, sebagaimana kebiasaan para ahli hadits.

        Layaknya sebagai seorang ‘alim yang luas ilmunya, maka beliau juga kedatangan para thalibul ‘ilmi (para penuntut ilmu, murid-red) dari berbagai penjuru yang ingin mengambil ilmu dari beliau, sehingga banyak sekali murid beliau. Bahkan tokoh-tokoh ulama dari berbagai madzhab adalah murid-murid beliau. Yang termasyhur misalnya, Imam ash-shakhawi (wafat 902 H), yang merupakan murid khusus al Hafizh dan penyebar ilmunya, kemudian al Biqa’i (wafat 885 H), Zakaria al-Anshari (wafat 926 H), Ibnu Qadhi Syuhbah (wafat 874 H), Ibnu Taghri Bardi (wafat 874 H), Ibnu Fahd al-Makki (wafat 871 H), dan masih banyak lagi yang lainnya.

        KARYA-KARYANYA

        Kepakaran al Hafizh Ibnu Hajar sangat terbukti. Beliau mulai menulis pada usia 23 tahun, dan terus berlanjut sampai mendekti ajalnya. Beliau mendapatkan karunia Allah Ta’ala di dalam karya-karyanya, yaitu keistimewaan-keistimewaan yang jarang didapati pada orang lain. Oleh karena itu, karya-karya beliau banyak diterima umat islam dan tersebar luas, semenjak beliau masih hidup. Para raja dan amir biasa saling memberikan hadiah dengan kitab-kitab Ibnu hajar رحمه الله. Bahkan sampai sekarang, kita dapati banyak peneliti dan penulis bersandar pada karya-karya beliau رحمه الله.

        Di antara karya beliau yang terkenal ialah: Fathul Baari Syarh Shahih Bukhari, Bulughul Marom min Adillatil Ahkam, al Ishabah fi Tamyizish Shahabah, Tahdzibut Tahdzib, ad Durarul Kaminah, Taghliqut Ta’liq, Inbaul Ghumr bi Anbail Umr dan lain-lain.

        Bahkan menurut muridnya, yaitu Imam asy-Syakhawi, karya beliau mencapai lebih dari 270 kitab. Sebagian peneliti pada zaman ini menghitungnya, dan mendapatkan sampai 282 kitab. Kebanyakan berkaitan dengan pembahasan hadits, secara riwayat dan dirayat (kajian).

        MENGEMBAN TUGAS SEBAGAI HAKIM

        Beliau terkenal memiliki sifat tawadhu’, hilm (tahan emosi), sabar, dan agung. Juga dikenal banyak beribadah, shalat malam, puasa sunnah dan lainnya. Selain itu, beliau juga dikenal dengan sifat wara’ (kehati-hatian), dermawan, suka mengalah dan memiliki adab yang baik kepada para ulama pada zaman dahulu dan yang kemudian, serta terhadap orang-orang yang bergaul dengan beliau, baik tua maupun muda. Dengan sifat-sifat yang beliau miliki, tak heran jika perjalanan hidupnya beliau ditawari untuk menjabat sebagai hakim.

        Sebagai contohya, ada seorang hakim yang bernama Ashadr al Munawi, menawarkan kepada al Hafizh untuk menjadi wakilnya, namu beliau menolaknya, bahkan bertekad untuk tidak menjabat di kehakiman. Kemudian, Sulthan al Muayyad رحمه الله menyerahkan kehakiman dalam perkara yang khusus kepada Ibnu Hajar رحمه الله. Demikian juga hakim Jalaluddin al Bulqani رحمه الله mendesaknya agar mau menjadi wakilnya. Sulthan juga menawarkan kepada beliau untuk memangku jabatan Hakim Agung di negeri Mesir pada tahun 827 H. Waktu itu beliau menerima, tetapi pada akhirnya menyesalinya, karena para pejabat negara tidak mau membedakan antara orang shalih dengan lainnya. Para pejabat negara juga suka mengecam apabila keinginan mereka ditolak, walaupun menyelisihi kebenaran. Bahkan mereka memusuhi orang karena itu. Maka seorang hakim harus berbasa-basi dengan banyak fihak sehingga sangat menyulitkan untuk menegakkan keadilan.

        Setelah satu tahun, yaitu tanggal 7 atau 8 Dzulqa’idah 828 H, akhirnya beliau mengundurkan diri.

        Pada tahun ini pula, Sulthan memintanya lagi dengan sangat, agar beliau menerima jabatan sebagai hakim kembali. Sehingga al Hafizh memandang, jika hal tersebut wajib bagi beliau, yang kemudian beliau menerima jabatan tersebut tanggal 2 rajab. Masyarakatpun sangat bergembira, karena memang mereka sangat mencintai beliau. Kekuasaan beliau pun ditambah, yaitu diserahkannya kehakiman kota Syam kepada beliau pada tahun 833 H.

        Jabatan sebagai hakim, beliau jalani pasang surut. Terkadang beliau memangku jabatan hakim itu, dan terkadang meninggalkannya. Ini berulang sampai tujuh kali. Penyebabnya, karena banyaknya fitnah, keributan, fanatisme dan hawa nafsu.

        Jika dihitung, total jabatan kehakiman beliau mencapai 21 tahun. Semenjak menjabat hakim Agung. Terakhir kali beliau memegang jabatan hakim, yaitu pada tanggal 8 Rabi’uts Tsani 852 H, tahun beliau wafat.

        Selain kehakiman, beliau juga memilki tugas-tugas:

        – Berkhutbah di Masjid Jami’ al Azhar.

        – Berkhutbah di Masjid Jami’ ‘Amr bin al Ash di Kairo.

        – Jabatan memberi fatwa di Gedung Pengadilan.

        Di tengah-tengah mengemban tugasnya, beliau tetap tekun dalam samudra ilmu, seperti mengkaji dan meneliti hadits-hadits, membacanya, membacakan kepada umat, menyusun kitab-kitab, mengajar tafsir, hadits, fiqih dan ceramah di berbagai tempat, juga mendiktekan dengan hafalannya. Beliau mengajar sampai 20 madrasah. Banyak orang-orang utama dan tokoh-tokoh ulama yang mendatanginya dan mengambil ilmu darinya.

        KEDUDUKANNYA

        Ibnu Hajar رحمه الله menjadi salah satu ulama kebanggaan umat, salah satu tokoh dari kalangan ulama, salah satu pemimpin ilmu. Allah Ta’ala memberikan manfaat dengan ilmu yang beliau miliki, sehingga lahirlah murid-murid besar dan disusunnya kitab-kitab.

        Seandainya kitab beliau hanya Fathul Bari, cukuplah untuk meninggikan dan menunjukkan keagungan kedudukan beliau. Karena kitab ini benar-benar merupakan kamus Sunnah Nabi صلي الله عليه وسلم. Sedangkan karya beliau berjumlah lebih dari 150 kitab.

        WAFATNYA

        Ibnu Hajar wafat pada tanggal 28 Dzulhijjah 852 H di Mesir, setelah kehidupannya dipenuhi dengan ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, menurut sangkaan kami, dan kami tidak memuji di hadapan Allah terhadap seorangpun. Beliau dikuburkan di Qarafah ash-Shugra. Semoga Allah merahmati beliau dengan rahmat yang luas, memaafkan dan mengampuninya dengan karunia dan kemurahanNya.

    2. Dufal PEMBOHONG umat!!!Sejak kapan ente seneng banget berbohong seehh…???

      Hahaiii…ketemu lg sama ane nih, masih inget pan..? Sodare2 sekedar ngingetin, si Dufal nih pernah ngotot nantangin off line sm ane trus die kasih alamat rumenye supaya ane dateng, ehh kagak taunyeee begitu ane mo dateng, ane ngider2in nyari tuh alamat gak taunye…PALSU ntu alamat yg dikasih adalah FIKTIF, katanye berpegang teguh pada Sunnah Nabi SAW, tp ko’ doyan ngibul….? Ude gt die bilang Masjid Ash-Sholihin di Condet ude “dipegang” sm Salafi Wahabi tmn2 si Dufal. Tapi bgt ane survey lgs ke TKP, kgk sesuai ame omongannye…ntu Masjid masih punye Ahlussunnah wal Jama’ah…Lha entu Masjid pan kampungnye Engkong ane, coba2 deh orang SAWAH ngebajak disono…!!!

      JAdi kalo si Dufal masih suka bekoar-koar dimari, jangan ditanggepin serius. Tapi buat seru2an bolehlah….kali aje insyaf . Koboy aje bisa insyaf (ade pelemnya pan…), masa’ kalah ame Koboy seehhh….heheheheh, afwan Om Dufal…

  4. @Dufal, tolong deh ente banyak belajar n baca buku Ahlussunah wal jamaah, jangan ente baca buku dari pengarang n penerbit Wahabi, supaya ente bisa bandingin mana yang salah atau sesat, dari situ baru ente ngomong yang bener tentang Islam yang sebenarnya.
    Akibat banyak dicekok oleh ustad2 wahabi, sekarang banyak orang gampang ngomong bid’ah, syirik, kurafat atau apalah, padahal kalau dilihat gak begitu mudah bilang begitu.
    Minal aidin wal fa idzin dulu @dufal.

  5. Dufal@
    Sejak kapannya Abu Hassan Al-Asya’ari keluar dari aqidah Asyairah? Yang diketahui dia keluar dari kelompok mu’tazilah kemudian kembali ke aqidah salafussholeh yang dikenali sebagai Asyairah dan aqidah ini sama alirannya
    dengan Abu Mansor Al-Maturidi. Penggabungan aqidah mereka yang sealiran maka dikenali sebagai Al Asyairah Wal Maturiddiyah.Kedua2 mereka ini menentang aqidah menyimpang mu’tazilah. Abu Hassan Al-Asya’ari adalah pengikut mazhab Syafie manakala Abu Mansor Al-Maturidi adalah dari mazhab Hanafi. Ente ini bener faham2 loh atau hanya ikut-ikutan yang ama dua mata. Aqidah Wahhabi adalah aqidah bidaah rekaan Ibnu Taimiyah bukannya berlandaskan naqal tapi aqal semata, teolog yang mengelirukan bersyubhah menjisimkan dan mentasybihkan Allah. Dalam kita mencari kebenaran jangan taksub atau ghuluw semborono tapi harus berusaha dan memohon pertunjuk dari Illahi. Kenyataan ente itu jelas menunjukkan bahawa
    ente hanya mengetahui disebelah pihak sahaja dan tidak berlapang dada
    mengambil tahu di sebelah pihak lagi. Harus di ingat aqidah yang menentukan kedudukan kita. Sama2lah kita berdoa semoga beroleh pertunjuk
    dan hidayah dari Allah ,Maliki yau Middin.

  6. Blog ini seperti biasanya selalu aja menyerang wahabi.
    kenapa ya kok hanya wahabi? karena wahabi perkembangannya pesat. dan itu menjadi suatu ancaman. umat islam sekarang sudah mau berpikir mana yang ajarannya aneh2 dan mana yang tidak aneh2.

    1. Tuuuh…kan akhirnye ade yg ngaku Wahabi juga. Gitu dong coy (ikutan AUA mode on) baru gentle, kgk kayak temen2 antum yg laen, masih malu2 gimane gitcuu…kadang dompleng SALAFI kadang dompleng Aswaja….???

      Ehm, ralat yeh…mksd ente semua pada milih Wahabi ntu sape aje..??? semua orang Islam gitu… Ohhh tentu tiddaaakk (sule mode on). Ntu namenye pembohongan publik dan ente bisa dijerat pasal bla…bla…bla…(ane gak paham pasal2 begituan, hehehe…) Tapi kagak segitu ribetnya dah, ente kagak kite tuntut macem2, cuman kite sentil dikit2 aje yeh…pake petuah2 bijak Ummati…hehehe…

      Coba tunjukin Pesantren2, Masjid2, Lembaga2 atw ape aje yg ente mksd sebagai Wahabi dan membuktikan data kuantitas yg valid kalo emang perkembangannye pesat spt yg ente bilang. Jangan asal komeng dah…. Lagian nih, yg jadi ancaman itu bukan Wahabi, tapi Aswaja yg menjadi ancaman dakwah Wahabi yg susssaaaaahhh bgt berkembang terutama di Indonesia, terlebih khusus lagi di Tanah Jawa. Liat aje tuh bikin Radio di Cileungsi, pinggiran kota ngumpetttt…nyari tanah yg murahan yeh, emang dana dari Saudi dikemanain…???

      Udeh Bang Abu Umar, kagak bakal nempil dah argumen2 ente dimari… yg ade malah nanti ente “ditelanjangin” Aqidahnye ame Ustadz2 Ummati…
      hehehehe…afwan

  7. Tuh kan @abu umar abdillah wahabiyun, sudah merasa paling bener aja belum apa-apa, kalau ente paling bener, ente kudu mati dulu, baru ente tau bahwa amalan n aqidah wahabiyun bener — siksa kubur lewat. he he wahabiyun.
    Masalah perkembangannya kite lihat aja nanti Allah yang akan menentukan semuanya.

  8. abu umar ama dufal, mending ikut daftar aja utk mubahalah di artikelislami.wordpress.com

    tapi hati2.
    SID ama abu hannan dah ga keliatan aktivitasnya setelah beberapa bulan bersebrangan dg AI di halaman mubahalahnya.
    Mau nyusul?

  9. asyariyah dan maturidiyah pada akidah, dan 4 mazhab fikih adalah pewaris manhaj salaf. Mereka semua adalah ahlussunah wal jamaah. Kalau bukan mereka siapa lagi? masak wahabi….. yang sanadnya putus dan imamnya keilmuannya nggak ada apa-apanya dibandingkan para imam aswaja.

    Jadi tunggu apalagi pengikut wahabi..? kalau mau selamat ikuti ilmu akidah dan fikih yang jelas jelas ilmu akidah WARISAN dari Rasul…. karena yang namanya ulama adalah pewaris Rasul, yang namanya pewaris itu tentulah punya sanad. Janganan ilmu, warisan harta aja harus punya silsilah , baru dapat.

    Sebelum terlambat … ayo ikut paham islam asli dari Rasulullah.

    1. dianth@

      Wah, Mas dianth ke mana saja nih, lama nggak terlihat koment2-nya yg khas dan mencerahkan? Mas, kalau punya waktu mungkin antum bisa bikin tulisan/artikel untuk menanggapi tulisan2 blog/situs Salafy Wahabi. Nanti diposting di sini. Gemana setuju, Mas?

      1. Insyaallah mas admin, saya akan coba buat artikel yg ok buat situs keren ini. Salam buat semuanya. Semoga Allah senantiasa melindungi kita semua.

  10. @ummati

    sepertinya @dufal perlu diajak mubahala dengan mas AI diblognya. karena dia dufal sangat keras kepala dan meanggap semua asawaja adalah pembohong dan penjerumus ummat. tapi beranikah dufal??????

    1. Super Nova@

      Silahkan Mas Super Nova, langsung tawari bang Dufal ke sana. Tapi kasihan ya, sebab mubahalah di sana sangat berbahaya bagi orang-orang yg salah. Sedangkan Ustadz Artikel Islami sudah berada dalam pihak yg benar.

  11. @dufal

    jikalau antum merasa benar dan kami aswaja penyebar dan pembohong ummat, silakan ente masuk ke blog artikelislaami disana ada mubahala dengan mas AI. sudah ada yang telah melakukannya dgn nick SID. Silakan kalo dufal mubahala dengan mas AI, bukan saya adu domba namun memang blog mas AI sudah memberi wadah mubahala bagi siapa saja yang menuduh kafir dan musyrik atau sejenisnya pada amalan atau hujjah2 oleh aswaja.

    gentleman kah ente?????? silkan…………….jangan ngeles ya

  12. Salam…. Ada sedikit tambahan…

    Orang Salafi beranggapan bahwa Imam Abu Hasan Al-Asy`ari melewati 3 fase kehidupan. 1. Fase Mu`tazilah, 2. Fase keluar dari mu`tazilah dan ikut kepada Imam Abdullah bin Sa`id bin Kullab, 3. Fase Taubat kembali ke manhaj salaf dengan kitabnya Al-Ibanah.

    karena anggapan inilah, mereka bersikeras menyesatkan orang2 yang mengikuti beliau karena menurut mereka ajaran yang ada sekarang adalah ajaran dari Ibnu Kullab, sedangkan Imam Asy`Ari sendiri sudah kembali kepada manhaj salaf (menurut mereka).

    Ada buku yang mengupas habis tuduhan mereka terhadap Asy`ariyah, di antaranya:
    1. “Ahlu As-Sunnah Al-Asya`irah” Karya Hamad Sinan dan Fauzi Al-Anjary, Percetakan Dar Adh-Dhiya` Kuait.
    2. Aqa`id Al-Asya`irah fi hiwar hadi ma`a Syubuhat Al-Munawi’in. Karya Shalahuddin bin Ahmad Al-Idlabi, Percetakan Darussalam

    (Beberapa tulisan yang menjelaskan 3 fase itu bisa di lihat di…
    http://www.mail-archive.com/assunnah@yahoogroups.com/msg03686.html
    http://almanhaj.or.id/content/3011/slash/0
    http://ahlussunnah.info/artikel-ke-29-asy%E2%80%99ariyyah-bukan-ahlus-sunnah
    http://abufahmiabdullah.wordpress.com/2010/10/27/asy%E2%80%99ariyyah-bukan-ahlus-sunnah/
    dan ratusan artikel atau tulisan lainnya…. dan anggapan itu sudah terbantahkan.

    Semoga bermanfaat… afwan.

  13. Yang benci sama Wahabi, kalau naik Haji jangan ke Mekkah, karena di sana tempat ngumpulnya Wahabi, nanti bisa ketularan virus Wahabi. Silahkan ziarah saja di makam Gus Dur di Tebuireng, Jombang, Kalau pengurusan Masjidil Haram dan Mekkah diserahkan ke PBNU, bisa rusak jadinya, bisa2 orang Yahudi dan Nasrani boleh ke sana dengan dalih yang mendirikan adalah Nabi Ibrahim, lalu orang kafir boleh ke sana karena pada jaman dulu orang kafir juga ke sana, apalagi ketuanya sekarang cenderung Syi’ah walaupun dulu pernah sekolah di KSA.

    1. Abdullah@

      Lha bukannya Arab Saudi sudah melakukannya, minta perlindungan kepada kaum kafir dari serbuan kaum muslimin? Sebetulnya muslim nggak sih pemerintah Arab Saudi kok takut kepada kaum muslimin?

      Pak Abdullah, tolong antum jawab itu pertanyaan, muslim apa bukan sih Arab Saudi itu kok takut kepada kaum muslimin? 😆 😆 😆

  14. Mengungkap tipu muslihat Firanda

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, semoga salawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah.

    Sungguh merinding tatkala membaca tulisan-tulisan tentang dimana Allah yang ditulis oleh Abu Salafy dan pemilik blog salafytobat. Karena tulisan-tulisan mereka penuh dengan tuduhan-tuduhan serta manipulasi fakta yang ada. Ternyata mulut-mulut mereka sangatlah kotor. Cercaan dan makian memenuhi tulisan-tulisan kedua orang ini yang pada hakekatnya mereka berdua takut menunjukkan hakekat mereka berdua. Begitulah kalau seseorang merasa berdosa dan bersalah takut ketahuan batang hidungnya. Allahul Musta’aan.

    Sesungguhnya apa yang mereka berdua perjuangkan hanyalah lagu lama yang telah dilantunkan oleh pendahulu-pendahulu mereka yang bingung sendiri dengan aqidah mereka.

    Maka pada kesempatan kali ini penulis mencoba mengungkapkan manipulasi fakta yang telah mereka lakukan dan mengungkap kerancuan cara berpikir kedua orang ini.
    Dan tulisan kali ini terkonsentrasikan pada pengakuan Abu Salafi cs bahwasanya aqidah mereka tentang dimana Allah adalah aqidah yang disuarakan oleh sebagian sahabat seperti Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu dan juga sebagian ulama salaf. Sebagaimana pengakuan mereka ini tercantumkan dalam : http://abusalafy.wordpress.com/2010/04/11/ternyata-tuhan-itu-tidak-di-langit-8/ (dalam sebuah artikel yang berjudul : Ternyata Tuhan itu tidak di langit).

    Sebelum membantah pengakuan mereka tersebut maka kami akan menjelaskan tentang 3 point yang sangat penting yang merupakan muqoddimah (pengangtar) untuk membuktikan tipu muslihat mereka. Point-point tersebut adalah :
    1. Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas.
    2. Perkataan para ulama Islam (dari kalangan sahabat, para tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak.
    3. Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.

    Ijmak para ulama tentang keberadaan Allah di atas langit

    Keberadaan Allah di atas langit merupakan konsensus para ulama Islam. Bahkan telah dinukilkan ijmak mereka oleh banyak para ulama Islam. Diantara mereka:
    ———————————————————————————————————-===========================================================
    Bismilahirohmanirohim, Al-hamdulillah wa sholatu wasalmu `ala Sayyidina wa Mawlana Muhammad Saw wa ala alihi wa shohbihi waman tabi`ahum bi Ihsanin ila yau middin, amma ba`du.
    tulisan ini ditulis semata – mata hanya untuk meluruskan pemahaman atas apa yang diklaim oleh Ustadz Firanda dalam situsnya , andai tulisan ustadz Firanda ini tidak bisa diakses kecuali hanya oleh orang-orang tertentu , niscaya saya tidak akan capai – capai untuk membuat bantahan ini , tulisan ini ditujukan untuk mengungkap apakah Klaim dan dakwa`an Ustadz Firanda soal :
    1. Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas.
    2. Perkataan para ulama Islam (dari kalangan sahabat, para tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak.
    3. Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.

    adalah benar …..? atau itu hanya sekedar Klaim kosong yang mengelabui Ummat……? Sekedar tipu muslihat untuk menyesatkan Ummat………? Mari kita lihat , baca dan kaji secermat mungkin agar mendapatkan kesimpulan yang benar , kesimpulan yang mengedepankan aspek obyektifitas dan sportifitas demi menemukan kebenaran sejati , sebelum membahas lebih lanjut saya ingin menyampaikan beberapa kaidah penting yang digunakan oleh Ulama Ahlu Sunnah Wal-jama`ah ( Asya`irah ) dalam menetapkan Asma dan sifat Allah , sebagai sebuah manhaj atau metodologi dalam memahami kitab dan Sunnah , hal ini juga untuk memberikan patokan bagi siapapun yang ingin mengetahui Aqidah Ahlu Sunnah ( asy`ariyah) sehingga tidak menggunakan prasangka dalam memahami pernyataan-pernyataan Ulama asy`ariyah.

    Seperti kita ketahui bersama Agama Islam yang kita anut ini , bersandarkan kepada apa yang diriwayatkan (Al-qur`an dan As-sunnah ) , sama sekali tidak bersandar kepada akal-akalan , namun tentu saja tanpa membuang pentingnya akal dalam memahami apa yang diriwayatkan , disamping itu Ulama Asy`ariyah memahami jika Agama ini terdiri dari tiga hal utama yang tidak bisa dipisahkan
    1. masalah pokok ( Aqidah ) sebagai pondasi dasar
    2. masalah Furu` atau cabang atau yang biasa disebut dengan Mua`amalat baik antara hamba dengan Tuhan atau antara hamba itu sendiri
    3. masalah kamaliyat atau kesempurnaan atau yang biasa disebut dengan Akhlak atau prilaku
    1. dalam masalah pokok (Aqidah) Ulama Asy`ariyah hanya menerima riwayat (dalil-dalil) yang bersifat Pasti ( qoth`i) seperti hadist Mutawatir hadist Mustafidh dan Hadist Masyhur.
    2. dalam masalah Furu` atau cabang atau Mu`amalat Ulama Asy`ariyah disamping menggunakan Riwayat yang Qoth`I juga menggunakan riwayat yang bersifat Dzonni seperti hadist ahad
    3. dalam masalah kamaliyat atau kesempurnaan atau Akhlak dan prilaku disamping menggunakan dua jenis Hadist diatas Ulama Asy`ariyah juga menggunakan Hadist Dha`if sebagai hujjah dan tentu ada syarat-syarat untuk digunakannya Hadist Dhaif tersebut sebagai Hujjah dalam masalah kamaliyyat.
    Dengan kaidah – kaidah ini Ulama Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah ) berjalan memahami dan mengamalkan Agama , terkait dengan tulisan Ustadz Firanda tentang ” keberadaan Allah ” Ulama Asy`ariyah hanya menerima Riwayat atau hadist – Hadist yang bersifat Qoth`I (pasti ) baik dari sisi periwayatan maupun dari sisi dalalah (petunjuk dari riwayat ) sebab tulisan Ustadz Firanda ini berkaitan dengan masalah pokok , masalah yang sangat esensi sebagai Pondasi yang dibangun diatas nya keyakinan-keyakinan.
    Mungkin standar Ulama Asy`ariyah ini dibawah standar yang ditetapkan oleh Ulama-Ulama Salafi (wahabi) dalam memahami Kitab dan Sunnah karena standar mereka adalah : hanya menggunakan Hadist-Hadist Shahih serta membuang jauh Hadist – Hadist Dhaif meskipun hanya dalam masalah kamaliyyat, disamping itu Ulama Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah) juga berpegang kepada Prinsip ” Al-Jam`u wa at-taufiq bainal adillah ” menggabungkan dan men selaraskan antar dalil sepanjang masih bisa dilakukan penggabungan dan penselarasan (al-jam`u wa at-taufiq) antar dalil atau antar Riwayat sepanjang itu pulalah kewajiban penggabungan dan penselarasan antar dalil atau riwayat sesuai dengan Syarat-syarat yang tertera dalam kitab-kitab mereka . sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu hajar dalam Fathul Bari : ” dan penggabungan (antar riwayat dalam masalah yang sama ) dikedepankan daripada tarjih (pengguguran salah satu riwayat) ,fathul bari juz 13 hal 421″ harus dilakukan, hal senada juga dikatakan oleh Imam an-nawawi dalam sarh Muslim : ” tidak ada perbedaan antar ulama bahwa jika dimungkinkan penggabungan antar Hadist maka tidak boleh meninggalkan salah satunya tetapi Wajib penggabungan diantaranya ( syarh muslim juz 3 hal. 155)
    Hal ini penting saya sampaikan karena melihat cara atau metode Istidlal atau pendalilan Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya ini tidak berjalan diatas Manhaj atau metodologi yang digariskan dan digunakan oleh Ulama Ahlu Sunnah (Asy`ariyah) , sebagai contoh Ustadz firanda hanya membawakan perkataan Imam al-Awza`I yang mendukung tujuannya saja , sementara Ucapan Imam Al-Auza`I yang lainnya tidak dia bawakan , cara pendalilan Ustadz firanda seperti ini bukanlah cara pendalilan yang dianut Ulama Ahlu Sunnah (asy`ariyah) , ala Kulli Hal itulah metode yang digunakan Ustadz Firanda dalam tulisannya ini beliau hanya menyebutkan riwayat yang hanya mendukung maksud yang ingin dicapainya saja tanpa melihat riwayat-riwayat lain yang lebih Shahih , baiklah mari kita kaji dan cermati riwayat-riwayat yang disampaikan Ustadz Firanda yang dijadikannya sebagai Hujjah dan Sandaran dalam menetapkan Kosensus atau Ijmak bahwa : ” Allah berada dilangit ” .
    Catatan :1.ketika saya sebutkan ” Ahlu Sunnah Wal-jama`ah ( Asy`ariyah ) ” maka yang saya maksud adalah ( Asy`ariyah, Maturidiyah, Atsariyah dan Sufiyah al-hiqqoh) 4 kelompok inilah yang saya maksud dengan Ahlu Sunnah wal-jama`ah.
    2. qoul atau perkataan para ulama bukanlah Hujjah Syar`iyah , Hujjah syar`iyah (sumber hukum) adalah Al-Qur`an al-Karim dan Hadist2 yang Shahih.
    Baik kita mulai dengan mengkaji sandaran2 ustadz Firanda dalam klaim Ijmaknya :

    riwayat Pertama yang dijadikan sandaran untuk klaim adanya Ijmak tentang keberadaan Allah dilangit :
    Al-Imam Al-Auzaa’i rahimahullah (wafat 157 H)

    Al-Auzaa’i berkata : “Ketika kami dahulu –dan para tabi’in masih banyak-kami berkata : Sesungguhnya Allah di atas arsyNya, dan kita beriman dengan sifat-sifatNya yang datang dalam sunnah” (Al-Asmaa’ was sifaat li Al-Baihaqi 2/304 no 865, Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/940 no 334, dan sanadnya dinyatakan Jayyid (baik) oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/406-407)
    Tanggapan : tidak ada keraguan jika al-Imam al-awza`I adalah Ulama besar panutan Ahlu Sunnah ( asy`ariyah) yang wajib diikuti , hanya apakah riwayat ini bersifat Qoth`I ( pasti) atau riwayat ini bersifat Dzani ( tidak pasti) yang sama sekali tidak diterima oleh Ulama Ahlu Sunnah karena riwayat yang bersifat Dzani tidak bisa dijadikan sandaran dalam masalah aqidah , mari kita kenali rawi-rawi dalam riwayat ini ,:
    dalam sanad riwayat ini terdapat rawi yang bernama Muhammad bin katsir al-mashishi (urut 4) al-mashishi menurut Imam Ahmad Hadistnya Mungkar atau meriwayatkan sesuatu yang mungkar hal ini disebutkan oleh ibnu adi dalam al-kamil , dan ibnu adi mengatakan al-mashishi mempunyai riwayat-riwayat dari Ma`mar dan Al-aw-za`I khususnya Hadist2 A`dad yang tidak diikuti oleh seorangpun , demikian juga disebutkan dalam kitab al-jarh wa at-ta`dil juz 8 hal 69 al-mashishi di dha`ifkan oleh Imam ahmad, disifati sangat lemah, jika para Imam Ahli jarh wa-ta`dil sudah melakukan Jarh seperti ini maka riwayatnya sama sekali tidak bisa diterima apalagi dijadikan Hujjah dalam Aqidah.
    Terlebih Dalam riwayat ini al-mashishi meriwayatkannya dari Ibrohim bin al-haitsam (urut 3), berkata al-Uqoili dalam kitab ad-du`afa juz 1 hal 274 : dia (Ibrohim al-haitsam) meriwayatkan Hadist yang dianggap Dusta oleh ahli Hadist dan ahlul Hadist menyerangnya dengan periwayatan Hadist yang dianggap dusta itu. Dua orang rawi dalam atsar ini jatuh , al-mashishi tertuduh meriwayatkan yang Mungkar dan al-haitsam tertuduh dusta , hukum atsar ini Maudhu`. Sandaran pertama Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya ini Gugur.
    Riwayat kedua yang dijadikan sandaran oleh Ustadz firanda

    Kedua : Qutaibah bin Sa’iid (150-240 H)

    Beliau berkata :

    هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى

    “Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)
    Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103).
    Tanggapan : Qutaibah bin said syeikh Khurosan tidak diragukan ke Imamannya , hanya saja riwayat ini diriwayatkan oleh Abu bakar an-naqosy seorang Pemalsu hadist lihat lisanul mizan juz 5 hal 149 , an-naqosy juga disebutkan dalam al-kasyf al-hatsist tentang rawi2 yang tertuduh dengan pemalsuan dengan nomer 643 meninggal tahun 351 hijriyah , sementara abu ahmad al-hakim meninggal tahun 398 hijriyah terpaut waktu 39 tahun , sehingga tidaklah benar jika dia meriwayatkan dari Abul abbas as-siraj , karena as-siraj lahir pada tahun 218 h meninggal tahun 313 sebagaimana disebutkan dalam Tarikh baghdad juz 1 hal 248 artinya ketika as-siraj meninggal al-hakim baru berusia 7 tahun bagaimana bisa shahih riwayatnya…….? Jelas ucapan ini adalah Dusta yang dibuat an-naqosy , terlebih an-naqosy terkenal sebagai pemalsu !
    Saya jadi heran kenapa Ustadz Firanda sebagai salah satu tokoh salapi (wahabi) indonesia kok ber Hujah dengan yang dusta alias Palsu………? Status Hujjah : gugur.
    Qoul ketiga yang dijadikan sandaran dan Hujjah oleh Ustadz Firanda

    Ketiga : Ibnu Qutaibah (213 H- 276 H)

    Beliau berkata dalam kitabnya Takwiil Mukhtalaf al-Hadiits (tahqiq Muhammad Muhyiiddin Al-Ashfar, cetakan keduan dari Al-Maktab Al-Islaami) :

    “Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran” (Takwiil Mukhtalafil Hadiits 395)
    Tanggapan : Ibnu qutaibah seorang Mujassim lihatlah perkataannya perhatikan : “Seluruh umat “–baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran” perkataan ini sama sekali tidak menunjukkan adanya Ijma` sebagaimana yang di dakwakan Ustadz firanda , terlebih Ulama Asy`ariyah hanya menerima Qur`an dan hadist yang bersifat qoth`I sebagai Hujjah dalam Aqidah , kalaupun ada Ijma` ia harus bersandar kepada Qur`an dan hadist bukan bersandar kepada perkataan seluruh Ummat , Ibnu qutaibah mencoba berdalil dengan omongan semua orang baik hidu atheis konghucu dan sebagainya dan ini Bathil. Status hujjah Gugur.
    Saya jadi semakin heran terhadap ustadz Firanda sampai-sampai igauan Bathil Ibnu qutaibahpun dijadikan sandaran dalam Aqidah…..! apakah Ibnu qutaibah menganggap seorang Atheispun ber-Aqidahkan ” Allah dilangit “……..? sehingga berani mengatakan SELURUH UMMAT dst….…” dan apakah Ustadz Firandapun mengigau seperti ini…..? Ya akhi jangan main-main lho ini Aqidah pondasi dasar keyakinan.
    Atsar ke empat yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda
    Keempat : Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimi (wafat 280 H)

    Beliau berkata dalam kitab beliau Ar-Rod ‘alal Marriisi
    “Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini, jika seorang anak kecil tersusahkan dengan sesuatu perkara maka ia mengangkat kedua tangannya ke Robb-Nya berdoa kepadaNya di langit, dan tidak mengarahkan tangannya ke arah selain langit. Maka setiap orang lebih menetahui tentang Allah dan dimana Allah daripada Jahmiyah” (Rod Ad-Darimi Utsmaan bin Sa’iid alaa Bisyr Al-Mariisi Al-‘Aniid Hal 25)
    Tanggapan :
    1. Abu said Ustman bin said ad-darimi as-sajzi bermadzhab hanbali mujassim musyabih dari golongan Hasywiyah wafat tahun 282 hijriyah konon wafat tahun 280 hijriyah , Tasybih yang jelas terlihat dari Ucapannya : ” bahwa orang yang berada dipuncak gunung lebih dekat kepada Allah ketimbang orang yang berdiri dibawah gunung ” lihat al- maqolat il allamah al-kautsari hal 282 , saya ahmad syahid katakan : sungguh ucapan ini bertentangan dengan Hadist shahih didalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Huraira , Rosulallah SAW bersabda : ” seorang Hamba Lebih dekat kepada Tuhannya ketika ia dalam keadaan Sujud “, dan bahkan bertentangan dengan Al- Qur`an.” Sujudlah dan mendekatlah ” (qs. Al-alaq. 19) , dalam ayat ini posisi sujud digandengkan dan diidentikkan dengan kedekatan dengan Allah , ayat ini jelas bertentangan dengan perkataan dan keyakinan Abu said ad-darimi diatas.

    2. status Hujjah gugur karena dua hal 1. abu said ad-darimi menyandarkan aqidahnya ini kepada ucapan ummat islam (entah ummat islam yang mana ) dan ucapan Ummat Kafir ( yang tantu aqidahnya berbeda dengan muslimin ) harusnya abu said ustman ad-darimi menyandarkan Aqidahnya kepada Qur`an dan Hadist yang shahih atau minmal kepada pernyataan Ulama Muslimin (ahlu Sunnah ) , bukan kepada Ucapan orang Kafir. 2. Aqidah abu said ustman ad-darimi bertentangan dengan Qur`an dan Hadist sebagaimana saya sebutkan diatas.

    3. abu said ustman ad-darimi bukanlah Imam Ahlu sunnah yang terkenal itu , sebab Imam ahlu sunnah adalah : Al-imam Al-hafidz Abu Muhammad abdullah bin abdurohman bin fadl bin bahrom ad-darimi at-tamimi as-samarqondi beliaulah penulis kitab Sunan ad-darimi wafat tahun 255 hijriyah. Hati-hatilah jangan sampai tercapur aduk antara ad-darimi Imam ahlu sunnah dengan ad-darimi ahlu Bid`ah.. status hujjah gugur. Karena omongan ini keluar dari Ahlul Bid`ah Ustman ad-darimi yang bertentangan dengan Qur`an dan Hadist diatas.

    Qoul ke 5 yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda dalam klaim Ijma` nya
    Kelima : Zakariyaa As-Saaji (wafat tahun 307 H)

    Beliau berkata :

    القول في السنة التي رأيت عليها أصحابنا أهل الحديث الذين لقيناهم أن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء”.

    “Perkataan tentang sunnah yang aku lihat merupakan perkataan para sahabat kami –dari kalangan Ahlul Hadits yang kami jumpai- bahwasanya Allah ta’aala di atas ‘arsyNya di langit, Ia dekat dengan makhluknya sesuai dengan yang dikehendakiNya”
    (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 no 482)
    Adz-Dzahabi berkata : As-Saji adalah syaikh dan hafizhnya kota Al-Bashroh dan Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil ilmu hadits dan aqidah Ahlus Sunnah darinya (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 dan Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah li Ibnil Qoyyim hal 185)
    Tanggapan : qoul ini diriwayatkan oleh ibn Bathoh al-U`kbari nama lengkapnya : abu abdullah ubaidillah ibn Muhammad ibn Bathoh al- U`kbari , seorang Mujassim bermadzhab Hanbali sekaligus seorang pemalsu hadist (wadho`) dilahirkan tahun 304 dan wafat pada tahun 387 hijriyah , konon dialah pencetus Aqidah Pembagian Tauhid , al-hafidz Ibnu Hajar al-astqolani mengatakan dalam kitabnya Lisanul Mizan juz 4 hal 113 : aku memikirkan Ibnu Bathoh atas sebuah perkara yang sangat besar hingga kulitku merinding darinya , kemudian aku tetapkan bahwa dia adalah seorang pemalsu hadist (wadho`) , dan dia mempunyai kebiasaan mencungkil nama-nama imam-imam ahli hadist , kemudian dia letakkan Namanya ditempat nama Imam yang dicungkilnya. , begitu juga al-khotib al-baghdadi menyebutkan sebuah Hadist dimana sanad hadist tersebut terdapat Ibnu Bathoh , kemudian al-khotib al-baghdadi mengatakan Hadist ini palsu dengan jalur sanad ini , karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Bathoh. Ibnu Bathoh meriwayatkan atsar ini dari Ahmad ibn as-saji , al-albani dalam Mukhtasor al-uluw hal. 223 mengakui Bahwa ahmad ini tidak dikenal alias majhul , status Hujjah GUGUR. Ustadz Firanda kok seneng yang palsu-palsu ya…?

    Qoul ke enam yang dijadikan Hujjah oleh Ustadz Firanda untuk klaim Ijma` keberadaan Allah dilangit.
    Keenam : Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223 H-311 H)

    Beliau berkata dalam kitabnya At-Tauhiid 1/254

    “Bab : Penyebutan penjelasan bahwasanya Allah Azza wa Jalla di langit:
    Sebagaimana Allah kabarkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan melalui lisan NabiNya –’alaihis salaam- dan sebagaimana hal ini dipahami pada fitroh kaum muslimin, dari kalangan para ulama mereka dan orang-orang jahilnya mereka, orang-orang merdeka dan budak-budak mereka, para lelaki dan para wanita, orang-orang dewasa dan anak-anak kecil mereka. Seluruh orang yang berdoa kepada Allah jalla wa ‘alaa hanyalah mengangkat kepalanya ke langit dan menjulurkan kedua tangannya kepada Allah, ke arah atas dan bukan kearah bawah”
    Tanggapan : Ibnu Khuzaimah Mujassim terkenal dan sangat sadis beliaulah yang berfatwa Kafirnya orang yang tidak mengakui Bahwa Allah berada diatas langit orang tersebut harus dibunuh jika tidak mau tobat dan mayatnya dibuang ke tempat sampah ” namun al-hamdulillah akhirnya beliau tobat dari Aqidah tajsim ini seperti yang dinyatakan oleh Imam al-baihaqi dalam asma wa as-sifat hal. 269 begitu juga dinyatakan oleh al-hafidz ibnu hajar dalam fathul bari juz 13 hal 492 , jadi rupanya Ustadz firanda belum tahu atau pura pura tidak tahu jika penulis kitab ” at-tauhid ” (ibnu khuzaimah) telah tobat dari aqidah yang tertulis dalam kitabnya itu , sehingga gugur lah sandaran ke enam atas klaim Ijmaknya Ustadz Firanda ini , sebab penulisnyapun sudah Tobat.
    Atsar ke tujuh yang dijadikan Hujjah atas klaim Ijma`
    Ketujuh : Al-Imam Ibnu Baththoh (304 H-387 H)

    Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah ‘an Syarii’at Al-Firqoh An-Naajiyah :

    “باب الإيمان بأن الله على عرشه بائن من خلقه وعلمه محيط بخلقه”

    أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه فوق سمواته بائن من خلقه وعلمه محيط بجميع خلقه

    ولا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية وهم قوم زاغت قلوبهم واستهوتهم الشياطين فمرقوا من الدين وقالوا : إن الله ذاته لا يخلو منه مكان”. انتهى

    “Bab Beriman Bahwa Allah di atas ‘Arsy, ‘Arsy adalah makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi Makhluk-Nya”

    Kaum muslimin dari para sahabat, tabiin dan seluruh ulama kaum mukminin telah bersepakat bahwa Allah -tabaraka wa ta’ala- di atas ‘arsy-Nya di atas langit-langit-Nya yang mana ‘arsy merupakan Makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi seluruh makhluknya. Tidaklah menolak dan mengingkari hal ini kecuali penganut aliran hululiyah, mereka itu adalah kaum yang hatinya telah melenceng dan setan telah menarik mereka sehingga mereka keluar dari agama, mereka mengatakan, “Sesungguhnya Dzat Allah Berada dimana-mana.” (al-Ibaanah 3/136)
    Adz Dzahabi berkata, “Ibnu Baththoh termasuk Pembesarnya Para Imam, Seorang yang Zuhud, Faqih, pengikut sunnah.” (Al-‘uluw li Adz-Dzahabi 2/1284).
    Tanggapan : Lagi-lagi ustadz firanda ber Hujjah dengan seorang Wadho` alias pemalsu , status Hujjah gugur lagi. Lihat tanggapan saya atas poin ke 5
    Qoul ke 8 yang dijadikan Ustadz firanda sebagai sandaran atas Klaim Ijma`nya
    Kedelapan: Imam Abu Umar At-Tholamanki Al Andalusi (339-429H)

    Beliau berkata di dalam kitabnya: Al Wushul ila Ma’rifatil Ushul

    ” أجمع المسلمون من أهل السنة على أن معنى قوله : “وهو معكم أينما كنتم” . ونحو ذلك من القرآن : أنه علمه ، وأن الله تعالى فوق السموات بذاتـه مستو على عرشه كيف شاء”

    وقال: قال أهل السنة في قوله :الرحمن على العرش استوى:إن الاستواء من الله على عرشه على الحقيقة لا على المجاز.”.

    “Kaum Muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat (ijmak) bahwa makna firman-Nya: “Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada” (QS. Al Hadid 4) dan ayat-ayat Al Qur’an yg semisal itu adalah Ilmu-Nya. Allah ta’ala di atas langit dengan Dzat-Nya, ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya sesuai kehendak-Nya”

    Beliau juga mengatakan, “Ahlussunah berkata tentang firman Allah, “Tuhan yang Maha Pemurah, yang ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS Thoohaa : 5), bahwasanya ber-istiwa-nya Allah di atas Arsy adalah benar adanya bukan majaz” (Sebagaimana dinukil oleh Ad-Dzahabi dalam Al-‘Uluw 2/1315)

    Imam Adz Dzahabi berkata, “At-Tholamanki termasuk pembesar para Huffazh dan para imam dari para qurroo` di Andalusia” (Al-‘Uluw 2/1315).
    Tanggapan : tahukah Ustadz firanda jika Adzahabi juga mengatakan dalam siar a`lam an-nubala juz 17 hal 567 ad-dzahabi berkata : saya melihatnya ( at-tholamanki ,pent) menulis kitab yang diberi judul as-sunnah dua jilid secara umum kitab itu baik hanya saja dalam beberapa bab dalam kitab tersebut ada hal yang selamanya tidak akan sejalan (denganku-pent), seperti bab janb (lambung / sisi Allah ) dalam bab itu dia menyitir firman Allah : sungguh rugi atas apa yang aku lalikan dissi Allah , hal ini merupakan bentuk keterglinciran seorang Alim . , orang ini Mujassim omongannya tidak perlu dianggap. Sandaran ustadz firanda yang ke 8 pun gugur. Karena Imam Adz-dzahabi pun tidak sejalan dengannya.
    Atsar ke sembilan yang dijadikan sandaran klaim Ijma` ustadz firanda
    Kesembilan: Syaikhul Islam Abu Utsman Ash Shabuni (372 – 449H)

    Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab(Al Qur’an)….
    Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44)
    Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-‘Uluw 2/1317)
    Tanggapan : yang shahih dari Ucapan Imam As-shobuni hanya : , “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an) ….kata-kata setelah ini (para pemuka dst….) adalah tambahan yang entah Imam adzahabi dapet dari mana….? Silahkan rujuk ” majmu`ah ar-Rosail al-muniriyah juz 1 hal 109 risalah as-shobuni, pernyataan al-imam as-shobuni ini sama sekali tidak mendukung klaim Ijma` tentang keberadaan Allah dilangit sebagaimana yang di Klaim oleh Ustadz firanda , inilah yang disebut dengan tafwidh yang juga ditolak oleh salafi / wahabi. Status Hujjah salah alamat.
    Atsar ke 10 yang dijadikan Hujjah untuk mendukung klaim Ijma` sang ustadz

    Kesepuluh : Imam Abu Nashr As-Sijzi (meninggal pada tahun 444 H)

    Berkata Adz-Dzahabi (Siyar A’laam An-Nubalaa’ 17/656) :

    Berkata Abu Nashr As-Sijzi di kitab al-Ibaanah, “Adapun para imam kita seperti Sufyan Ats Tsauri, Malik, Sufyan Ibnu Uyainah, Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid, Abdullah bin Mubaarak, Fudhoil Ibnu ‘Iyyaadh, Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Ibrahim al Handzoli bersepakat (ijmak) bahwa Allah -Yang Maha Suci- dengan Dzat-Nya berada di atas ‘Arsy dan ilmu-Nya meliputi setiap ruang, dan Dia di atas ‘arsy kelak akan dilihat pada hari kiamat oleh pandangan, Dia akan turun ke langit dunia, Dia murka dan ridho dan berbicara sesuai dengan kehendak-Nya”

    Adz-Dzahabi juga menukil perkataan ini dalam Al-‘Uluw 2/1321
    tanggapan : kenapa Ustadz firanda tidak sekalian menyertakan perkataan adz-dzahabi dalam al-uluw ketika berbicara tentang As-sajzi….? Berkata adz-dzahabi : bahwa lafadz ” Dzat ” bukanlah pernyataan yang masyhur dan terjaga dari para Imam yang disebutkan oleh as-sijzi , lafadz ” Dzat ” itu dari kantongnya As-sijzi bukan dari para Imam , as-sijzi juga terkenal dengan Tahrif (merubah) hadist sebagai contoh as-sijzi merubah Hadist ar-rohmah al-musalsal bil awliyah dari jalur abi Qobus al-Majhul dengan Lafadz ” yarhamkum man fi as-sama ” padahal lafadz hadist dari Abu Qobus al-majhul dalam musnad ahmad juz 2 hal. 160 ” yarhamkum Ahlu as-sama ” begitu juga yang dinyatakan oleh al-hafidz Ibnu hajar dalam mu`jam al-syaikhokh maryam (makhtut) masih berupa manuskrip bahwa aba daud juga meriwayatkan dengan Lafadz ” Yarhamkum Ahlu as-sama ” , apakah menurut ustadz firanda riwayat seorang Muharif ( tukang merubah) bisa diterima……….? Apakah riwayat (berita) yang telah dirubah isinya dapat dijadikan Hujjah……….? Mengingat riwayat – riwayat palsu pun dijadikan sandaran oleh Ustadz firanda seperti riwayat2 yang telah lalu , tidak aneh jika riwayat yang telah dirubahpun dijadikan sandaran oleh ustadz firanda.
    Status Hujjah Gugur bagi orang yang berakal waras.

    Kesebelas : Imam Abu Nu’aim -Pengarang Kitab al Hilyah-(336-430 H)

    Beliau berkata di kitabnya al I’tiqod,

    “Jalan kami adalah jalannya para salaf yaitu pengikut al Kitab dan As Sunnah serta ijmak ummat. Di antara hal-hal yang menjadi keyakinan mereka adalah Allah senantiasa Maha Sempurna dengan seluruh sifat-Nya yang qodiimah…

    dan mereka menyatakan dan menetapkan hadits-hadits yang telah valid (yang menyebutkan) tentang ‘arsy dan istiwa`nya Allah diatasnya tanpa melakukan takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (memisalkan Allah dengan makhluk), Allah terpisah dengan makhluk-Nya dan para makhluk terpisah dari-Nya, Allah tidak menempati mereka serta tidak bercampur dengan mereka dan Dia ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya di langit bukan di bumi.” (Al-‘Uluw karya Adz-Dzahabi 2/1305 atau mukhtashor Al-‘Uluw 261)

    Adz Dzahabi berkata, “Beliau (Imam Abu Nu’aim) telah menukil adanya ijmak tentang perkataan ini -dan segala puji hanya bagi Allah-, beliau adalah hafizhnya orang-orang ‘ajam (non Arab) di zamannya tanpa ada perselisihan. Beliau telah mengumpulkan antara ilmu riwayat dan ilmu diroyah. Ibnu Asaakir al Haafizh menyebutkan bahwa dia termasuk sahabat dari Abu Hasan al Asy’ari.” (Al-‘Uluw 2/1306)
    tanggapan : 1. kitab al-I`tiqod karya Abu Nu`aim Al-ashfahani tidak ada wujudnya , ini merupakan kitab Majhul yang hanya diketahui oleh Imam Adz-dzahabi , terlebih adz-dzahabi sendiri telah meninggalkan faham yang dianutnya dalam kitabnya al-Uluw ini , saya minta Ustadz Firanda untuk menunjukkan wujud asli kitab i`tiqod yang dinisbatkan kepada abu Nu`aim , atau kitab Majhul pun menurut Ustadz Firanda bisa dijadikan referensi……..? status Hujjah gugur karena kitab al-I`tiqod Abu Nu`aim adalah kitab Majhul, terlebih dalam tulisan ini Ustadz Firanda banyak menyandarkan Hujjahnya pada para Pembohong dan Pemalsu seperti yang telah lewat diatas.
    2.
    Atsar ke 12 yang dijadikan sandaran ustadz Firanda Untuk menguatkan Klaim Ijma`nya
    Kedua belas: Imam Abu Zur’ah Ar Raazi (meninggal tahun 264H) dan Imam Abu Hatim (meninggal tahun 277H)

    Berkata Ibnu Abi Hatim :

    “Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim-pent) dan Abu Zur’ah tentang madzhab-madzhab ahlussunnah pada perkara ushuluddin dan ulama di seluruh penjuru negeri yang beliau jumpai serta apa yang beliau berdua yakini tentang hal tersebut? Beliau berdua mengatakan, “Kami dapati seluruh ulama di penjuru negeri baik di hijaz, irak, syam maupun yaman berkeyakinan bahwa:

    Iman itu berupa perkataan dan amalan, bertambah dan berkurang…

    Allah ‘azza wa jalla di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menanyakan bagaimananya, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”(Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah karya Al-Laalikaai 1/198)

    Ibnu Abi Haatim juga berkata berkata,

    “Aku mendengar bapakku berkata, ciri ahli bid’ah adalah memfitnah ahli atsar, dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh adalah mereka menamai ahlussunnah dengan naasibah.” (selesai)
    Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal jama’ah lil imam al Laalikai 1/200-201.
    Tanggapan : riwayat ini tidak sah dinisbatkan kepada Abu Zur`ah begitu juga jika dinisbatkan kepada Abu hatim , riwayat ini diriwayatkan dari tiga jalur sebagaimana disebutkan oleh Adz-dzahzbi dalam Al-Uluw , dua jalur pertama terdapat dua Rawi yang majhul , keduanya yaitu : Ali ibn Ibrohim meriwayatkan dari Ibn Jami` , rawi majhul satunya Al-hasan bin Muhammad bin Hubaisy Al Muqri tidak ada bioghrafi yang jelas tentangnya dan tidak ada seorangpun Ahli jarh wa ta`dil yang men tsiqoh kannya dan dia adalah Majhul , sebagaimana riwayatnya terdapat dalam sarh Sunnah Al-lalikai juz 1 hal 176 , jalur ketiga atsar ini diriwayatkan oleh Ibn Murdik jarak kematiannya dengan Abu Hatim 60 tahun sebagaimana disebutkan dalam tarikh baghdad juz 12 hal 30.
    Seperti diketahui secara luas oleh ahli bahwa Abu Zur`ah dan Abu Hatim tidak dikenal berbicara dalam masalah seperti ini sebagaimana keduanya juga dikenal tidak mempunyai karya tulis dalam Bab Aqidah percis seperti Teman keduanya yaitu Imam Ahmad Ibn Hambal yang juga mengatakan : tidak ada yang melewati jembatan Baghdad orang yang lebih Hafidz dari Abu Zur`ah , beliau adalah termasuk salah satu Wali Abdal yang dengannya Bumi terjaga. Saya ahmad syahid katakan : andai pernyataan itu Muncul dari golongan Asy`ariyah atau Sufiyah Pasti kaum wahabiyyin akan menuduh Kafir Musyrik ahli bid`ah.
    Status Hujjah gugur , karena rawi-rawinya Majhul.

    Ketiga belas : Imam Ibnu Abdil Bar (meninggal tahun 463H)

    Beliau berkata dikitabnya at Tamhiid setelah menyebutkan hadits nuzul (turunnya Allah ke langit dunia, pent),

    “Pada hadits tersebut terdapat dalil bahwa Allah berada di atas yaitu di atas ‘arsy-Nya, di atas langit yang tujuh, hal ini sebagaimana dikatakan oleh para jama’ah. Hal ini merupakan hujjah bagi mereka terhadap mu’tazilah dan jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla berada dimana-mana bukan di atas ‘arsy” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/8)

    Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil terhadap hal ini, di antaranya, beliau berkata :

    “Diantara dalil bahwa Allah di atas langit yang tujuh adalah bahwasanya para ahli tauhid seluruhnya baik orang arab maupun selain arab jika mereka ditimpa kesusahan atau kesempitan mereka mendongakkan wajah mereka ke atas, mereka meminta pertolongan Rabb mereka tabaaraka wa ta’ala…”” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/12)

    Beliau juga berkata :

    “Dan kaum muslimin di setiap masa masih senantiasa mengangkat wajah mereka dan tangan mereka ke langit jika mereka ditimpa kesempitan, berharap agar Allah menghilangkan kesempitan tersebut” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/47)

    tanggapan : inilah pentingnya menggabungkan antar riwayat sebagaimana saya sebutkan dalam awal Mukadimah , sehingga memberikan pemahaman yang utuh sesuai dangan maksud penulis , sebab Ibnu Abdil Bar dalam dalam at-tamhid juga mengatakan :
    pertama bahwa Khobarul wahid (hadist ahad ) tidak memberikan keyakinan pasti (ilm) hanya mewajibkan untuk diamalkan ( hanya berlaku dalam furu`, pent) tentu hal ini bertentangan dengan kaum wahabiyyin , yang menjadikan khobarul wahid (hadist ahad) sebagai Hujjah dalam Aqidah , bahkan dalam tuilisan ini Ustadz Firanda membawakan atsar – atsar Mungkar tidak sah bahkan Maudu` untuk landasan Aqidah , sebagaimana yang telah lewat diatas.
    Kedua : Ibnu Abdil Bar juga mengingkari pernyataan Nu`aim bin Hammad yang menyatakan bahwa ” Allah turun dengan Dzatnya sementara dia diatas kursinya ” , berkata Ibnu Abdil Bar : ” ucapan ini bukanlah sesuatu (yang dapat dipegang- pent.) dikalangan ahli , karena ini merupakan kaifiyah ( membagaimanakan-pent) sementara Ahli Ilmu Lari dari pernyataan seperti ini karna pernyataan seperti itu tidak bisa difahami kecuali terhadap sesuatu yang terlingkupi penglihatan. ( bersifat fisik-pent)
    Ketiga : Ibnu Abdil bar juga mengatakan : telah bersepakat Ulama shahabat dan tabi`in yang dari mereka dibawakan takwil dst…. Menunjukkan jika takwil itu boleh dan dibenarkan karena datang dari para sahabat dan tabi`in , lalu kenapa Wahabiyyin dalam masalah istiwa pun melarang takwil………? Dan menganggap sesat orang yang melakukan Takwil……?
    Ke empat : Ibnu Abdil bar mengatakan : telah berkata Ahli Atsar (tentang Hadist Nuzul –pent) bahwa yang turun adalah Perintah dan rahmatnya , kemudian beliau menyebutkan riwayat hingga Imam Malik rodiuallahu anhu dan berkata : bisa jadi (pentakwilan ini -pent) seperti perkataan imam malik rohimahullah yang bermakna ” turunnya Rohmat dan Qodhonya (ketetapan-pent) dengan pengampunan dan penerimaan , at-tamhid 7/ 144 ,
    Ke lima : dari pernyataan pernyataan yang digabungkan ini , jelas lah Aqidah sang Imam bahwa Beliaiu adalah seorang Mufawwidh , yang salah difahami oleh sang Ustadz sehingga dijadikan landasan dan Hujjah akan Klaim Ijmaknya , lihatlah sang Imam mengingkari istiwa dengan ” Dzatnya ” dan sang Imam pun membolehkan Takwil , lalu mengikuti siapakah kawan-kawan wahabiyiin ini …….? Mereka dan juga Ustadz Firanda menolak Tafwidh dan takwil, padahal keduanya ( Tafwidh dan Takwil) adalah Manhaj atau metodologi yang dianut Ulama Ahlu Sunnah (Asy`ariyah) sepanjang masa , sehingga status Hujjah Ustadz Firanda Gugur karena Imam Ibnu Abdil Bar adalah seorang Mufawwidh.
    ustadz Firanda mengatakan :
    Para pembaca yang budiman, demikianlah jelas bagi kita ijmak salaf yang disampaikan oleh para ulama mutaqodimin, sepuluh lebih ulama mutqoddimin yang menyebutkan ijmak para salaf.
    Jawab : para pembaca yang budiman ternyata setelah dilakukan pengecekan secara seksama semua riwayat yang ustadz firanda jadikan sandaran adalah tidak sah , Mungkar bahkan maudu` sebagaimana tadi kita kupas satu per satu, bukankah ustadz Firanda dan All wahabiyyin menolak Hadist – hadist dhaif meskipun hanya untuk Fadailul a`mal……..? tetapi kenapa justru pada masalah Pokok (Aqidah) sebagai Pondasi Iman seorang Muslim , Ustadz Firanda menyuguhkan dan bahkan menggunakan perkataan Ulama yang riwayatnya tidak sah , Mungkar bahkan maudhu`….? Diletakkan Dimana semboyan ” hanya menggunakan hadist-hadist shahihnya “…..? Ijmak yang Ustadz klaim itu hanya berdiri diatas ketidak absahan , kemungkaran dan kepalsuan………!
    Demikian kajian atas Klaim ijma tentang ” keberadaan Allah Dilangit ” telah gugur seiring dengan gugurnya para Rawi yang meriwayatkannya , dan sebenarnya masih banyak qoul –qoul lainnya yang dinisbatkan kepada para Ulama Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah ) yang jika diteliti sanadnya akan menghasilkan hal yang sama dengan atsar-atsar yang ditampilkan Ustadz Firanda statusnya akan sama (gugur) karena riwayat-riwayat itu 95 % adalah Tidak Sah , Mungkar , dan maudhu` , adapun Ijmak yang benar dikalangan Ahlu Sunnah Wal-jama`ah adalah keyakinan Bahwa ” Allah ada tanpa Tempat dan Arah ” , Ijmak ini dinukil Oleh Al-imam Al-hafidz An-nawawi dalam Syarh Muslim juz 5 hal. 24 cet. Darul Fikr , Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-atsqolani Al-Imam Al- Hafidz az-zabidi , Ijmak inipun dinukil oleh Ibnu Hazm dalam maratibul Ijmak halaman 167.
    Ustadz Firanda mengatakan :

    Perkataan salaf dan para ulama mutaqoddimin yang menunjukan bahwa Allah berada di atas langit

    Adapun perkataan para ulama yang menunjukan bahwasanya Allah berada di atas langit maka sangatlah banyak. Perkataan mereka telah dikumpulkan oleh Al-Imam Al-Muhaddits Ad-Dzahabi As-Syafii dalam kitabnya Al-‘Uluw li Al-‘Aliyyi Al-‘Adziim (bisa di download di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2414 dan http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2413 dua cetakan dengan dua pentahqiq yang berbeda) demikian juga kitab Al-Ijtimaa’ al-Juyuusy Al-islaamiyyah karya Ibnul Qoyyim (bisa di download di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2835). Sungguh dua kitab ini telah mengumpulkan banyak sekali perkataan sahabat, para salaf, dan para ulama dari abad yang berbeda-beda dan dari madzhab yang berbeda-beda.

    Oleh karenanya tidak ada seorang ulama salafpun –apalagi para sahabat- yang perkataannya menunjukan bahwasanya Allah tidak berada di atas.
    Jawab : tahukah Ustadz Firanda jika Penulis kitab Al-Uluw al-Hafidz adzahabi telah tobat dan meninggalkan kitab itu , sehingga beliau menulis sebuah risalah yang diberi nama Zaghlul Ilmi….? Dan dalam risalah itu pulalah Adzahabi mencantumkan nasehatnya untuk ibnu Taimiyah…..? lalu kenapa ustadz masih menganjurkan Orang untuk mempelajarinya ……..? tahukah ustadz jika 98% sanad dan riwayat atsar yang terdapat dalam kitab al-Uluw adalah tidak sah , Mungkar bahkan PALSU alias MAUDHU`……. Begitu juga halnya dengan kitab Ijtimaa al-juyusy al-Islamiyah percis tidak jauh beda dengan riwayat atau sanad yang terdapat dalam kitab al-uluw , 98% tidak Sah Mungkar bahkan Maudhu` kalo tidak percaya silahkan sampaikan atsar dari kedua kitab itu Insya Allah akan saya kasih tahu statusnya lalu silahkan Ustadz lakukan cek n ricek untuk membuktikan sendiri kebenaran yang coba saya tunjukkan itu , hal ini saya sampaikan semata – mata hanya untuk mengingatkan fa dzakir Fa inna dzikro tanfa ul mu`minin, semoga Allah memberikan Hidayah kepada kita semua untuk mengikuti kebenaran.
    Bukti jika Al-Hafidz Adz-dzhabi telah berlepas diri dari kitab yang dikarangnnya ( Al-Uluw ) terdapat dalam sampul manuskrip kitab tersebut :

    perhatikan pernyataan Adz-dzahabi diatas : saya tidak sepakat dengan ibarat (pernyataan2 ) itu , dan saya pun tidak mengikuti mereka (pernyataan2 yang dinukil Adz-dzahabi dalam Al-uluw yang pernah beliau tulis-pent).
    Lantas siapakah para Imam yang nama2nya beliau kumpulkan dalam Al-uluw….? Jika adz-dzahabi sendiri tidak sepakat dan tidak mengikutinya….? Segera buang jauh – jauh kitab Al-uluw dan kitab Ijtima Juyusy al-islamiyah.
    Berikut adalah risalah Adz-dzahabi Untuk Ibnu Taimiyah :
    Dalam risalah Bayân Zghl al-‘Ilm, adz-Dzahabi menuliskan ungkapan yang diperuntukan bagi Ibn Taimiyah sebagai berikut [Secara lengkap dikutip oleh asy-Syaikh Arabi at-Tabban dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, lihat kitab j. 2, h. 9/ bukunya ada sama saya]:
    “Hindarkanlah olehmu rasa takabur dan sombong dengan ilmumu. Alangkah bahagianya dirimu jika engkau selamat dari ilmumu sendiri karena engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari musuhmu atau engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari dirimu sendiri. Demi Allah, kedua mataku ini tidak pernah mendapati orang yang lebih luas ilmunya, dan yang lebih kuat kecerdasannya dari seorang yang bernama Ibn Taimiyah. Keistimewaannya ini ditambah lagi dengan sikap zuhudnya dalam makanan, dalam pakaian, dan terhadap perempuan. Kemudian ditambah lagi dengan konsistensinya dalam membela kebenaran dan berjihad sedapat mungkin walau dalam keadaan apapun. Sungguh saya telah lelah dalam menimbang dan mengamati sifat-sifatnya (Ibn Taimiyah) ini hingga saya merasa bosan dalam waktu yang sangat panjang. Dan ternyata saya medapatinya mengapa ia dikucilkan oleh para penduduk Mesir dan Syam (sekarang Siria, lebanon, Yordania, dan Palestina) hingga mereka membencinya, menghinanya, mendustakannya, dan bahkan mengkafirkannya, adalah tidak lain karena dia adalah seorang yang takabur, sombong, rakus terhadap kehormatan dalam derajat keilmuan, dan karena sikap dengkinya terhadap para ulama terkemuka. Anda lihat sendiri, alangkah besar bencana yang ditimbulkan oleh sikap “ke-aku-an” dan sikap kecintaan terhadap kehormatan semacam ini!”.
    Adapun nasehat adz-Dzahabi terhadap Ibn Taimiyah yang ia tuliskan dalam risalah an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah, secara lengkap dalam terjemahannya sebagai berikut [Teks lebih lengkap dengan aslinya lihat an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah dalam dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, j. 2, h. 9-11]:
    “Segala puji bagi Allah di atas kehinaanku ini. Ya Allah berikanlah rahmat bagi diriku, ampunilah diriku atas segala kecerobohanku, peliharalah imanku di dalam diriku.
    Oh… Alangkah sengsaranya diriku karena aku sedikit sekali memiliki sifat sedih!!
    Oh… Alangkah disayangkan ajaran-ajaran Rasulullah dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya telah banyak pergi!!
    Oh… Alangkah rindunya diriku kepada saudara-saudara sesama mukmin yang dapat membantuku dalam menangis!!
    Oh… Alangkah sedih karena telah hilang orang-orang (saleh) yang merupakan pelita-pelita ilmu, orang-orang yang memiliki sifat-sifat takwa, dan orang-orang yang merupakan gudang-gudang bagi segala kebaikan!!
    Oh… Alangkah sedih atas semakin langkanya dirham (mata uang) yang halal dan semakin langkanya teman-teman yang lemah lembut yang menentramkan. Alangkah beruntungnya seorang yang disibukan dengan memperbaiki aibnya sendiri dari pada ia mencari-cari aib orang lain. Dan alangkah celakanya seorang disibukan dengan mencari-cari aib orang lain dari pada ia memperbaiki aibnya sendiri.
    Sampai kapan engkau (Wahai Ibn Taimiyah) akan terus memperhatikan kotoran kecil di dalam mata saudara-saudaramu, sementara engkau melupakan cacat besar yang nyata-nyata berada di dalam matamu sendiri?!
    Sampai kapan engkau akan selalu memuji dirimu sendiri, memuji-muji pikiran-pikiranmu sendiri, atau hanya memuji-muji ungkapan-ungkapanmu sendiri?! Engkau selalu mencaci-maki para ulama dan mencari-cari aib orang lain, padahal engkau tahu bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyebut-menyebut orang-orang yang telah mati di antara kalian kecuali dengan sebutan yang baik, karena sesungguhnya mereka telah menyelesaikan apa yang telah mereka perbuat”.
    Benar, saya sadar bahwa bisa saja engkau dalam membela dirimu sendiri akan berkata kepadaku: “Sesungguhnya aib itu ada pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak pernah merasakan kebenaran ajaran Islam, mereka betul-betul tidak mengetahui kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad, memerangi mereka adalah jihad”. Padahal, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti terhadap segala macam kebaikan, yang apa bila kebaikan-kebaikan tersebut dilakukan maka seorang manusia akan menjadi sangat beruntung. Dan sungguh, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal (tidak mengerjakan) kebodohan-kebodohan (kesesatan-kesesatan) yang sama sekali tidak memberikan manfa’at kepada diri mereka. Dan sesungguhnya (Sabda Rasulullah); “Di antara tanda-tanda baiknya keislaman seseorang adalah apa bila ia meninggalkan sesuatu yang tidak memberikan manfa’at bagi dirinya”. (HR. at-Tirmidzi)
    Hai Syekh…! (Ibn Taimiyah), demi Allah, berhentilah, janganlah terus mencaci maki kami. Benar, engkau adalah seorang yang pandai memutar argumen dan tajam lidah, engkau tidak pernah mau diam dan tidak tidur. Waspadalah engkau, jangan sampai engkau terjerumus dalam berbagai kesesatan dalam agama. Sungguh, Nabimu (Nabi Muhammad) sangat membenci dan mencaci perkara-perkara [yang ekstrim]. Nabimu melarang kita untuk banyak bertanya ini dan itu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya sesuatu yang paling ditakutkan yang aku khawatirkan atas umatku adalah seorang munafik yang tajam lidahnya”. (HR. Ahmad)
    Jika banyak bicara tanpa dalil dalam masalah hukum halal dan haram adalah perkara yang akan menjadikan hati itu sangat keras, maka terlebih lagi jika banyak bicara dalam ungkapan-ungkapan [kelompok yang sesat, seperti] kaum al-Yunusiyyah, dan kaum filsafat, maka sudah sangat jelas bahwa itu akan menjadikan hati itu buta.
    Demi Allah, kita ini telah menjadi bahan tertawaan di hadapan banyak makhluk Allah. Maka sampai kapan engkau akan terus berbicara hanya mengungkap kekufuran-kekufuran kaum filsafat supaya kita bisa membantah mereka dengan logika kita??
    Hai Bung…! Padahal engkau sendiri telah menelan berbagai macam racun kaum filsafat berkali-kali. Sungguh, racun-racun itu telah telah membekas dan menggumpal pada tubuhmu, hingga menjadi bertumpuk pada badanmu.
    Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya diisi dengan tilâwah dan tadabbur, majelis yang isinya menghadirkan rasa takut kepada Allah karena mengingt-Nya, majelis yang isinya diam dalam berfikir.
    Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang saleh, karena sesungguhnya, ketika orang-orang saleh tersebut disebut-sebut namanya maka akan turun rahmat Allah. Bukan sebaliknya, jika orang-orang saleh itu disebut-sebut namanya maka mereka dihinakan, dilecehkan, dan dilaknat.
    Pedang al-Hajjaj (Ibn Yusuf ats-Tsaqafi) dan lidah Ibn Hazm adalah laksana dua saudara kandung, yang kedua-duanya engkau satukan menjadi satu kesatuan di dalam dirimu. (Engkau berkata): “Jauhkan kami dari membicarakan tentang “Bid’ah al-Khamîs”, atau tentang “Akl al-Hubûb”, tetapi berbicaralah dengan kami tentang berbagai bid’ah yang kami anggap sebagai sumber kesesatan”. (Engkau berkata); Bahwa apa yang kita bicarakan adalah murni sebagai bagian dari sunnah dan merupakan dasar tauhid, barangsiapa tidak mengetahuinya maka dia seorang yang kafir atau seperti keledai, dan siapa yang tidak mengkafirkan orang semacam itu maka ia juga telah kafir, bahkan kekufurannya lebih buruk dari pada kekufuran Fir’aun. (Engkau berkata); Bahwa orang-orang Nasrani sama seperti kita. Demi Allah, [ajaran engkau ini] telah menjadikan banyak hati dalam keraguan. Seandainya engkau menyelamatkan imanmu dengan dua kalimat syahadat maka engkau adalah orang yang akan mendapat kebahagiaan di akhirat.
    Oh… Alangkah sialnya orang yang menjadi pengikutmu, karena ia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (az-Zandaqah) dan kekufuran, terlebih lagi jika yang menjadi pengikutmu tersebut adalah seorang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas, dan bersyahwat besar, namun ia membelamu mati-matian dengan tangan dan lidahnya. Padahal hakekatnya orang semacam ini, dengan segala apa yang ia perbuatan dan apa yang ada di hatinya, adalah musuhmu sendiri. Dan tahukah engkau (wahai Ibn Taimiyah), bahwa mayoritas pengikutmu tidak lain kecuali orang-orang yang “terikat” (orang-orang bodoh) dan lemah akal?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah orang pendusta yang berakal tolol?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah aneh yang serampangan, dan tukang membuat makar?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah seorang yang [terlihat] ahli ibadah dan saleh, namun sebenarnya dia adalah seorang yang tidak paham apapun?! Kalau engkau tidak percaya kepadaku maka periksalah orang-orang yang menjadi pengikutmu tersebut, timbanglah mereka dengan adil…!
    Wahai Muslim (yang dimaksud Ibn Taimiyah), adakah layak engkau mendahulukan syahwat keledaimu yang selalu memuji-muji dirimu sendiri?! Sampai kapan engkau akan tetap menemani sifat itu, dan berapa banyak lagi orang-orang saleh yang akan engkau musuhi?! Sampai kapan engkau akan tetap hanya membenarkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang baik yang akan engkau lecehkan?!
    Sampai kapan engkau hanya akan mengagungkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang yang akan engkau kecilkan (hinakan)?!
    Sampai kapan engkau akan terus bersahabat dengan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang zuhud yang akan engkau perangi?!
    Sampai kapan engkau hanya akan memuji-muji pernyataan-pernyataan dirimu sendiri dengan berbagai cara, yang demi Allah engkau sendiri tidak pernah memuji hadits-hadits dalam dua kitab shahih (Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim) dengan caramu tersebut?!
    Oh… Seandainya hadits-hadits dalam dua kitab shahih tersebut selamat dari keritikmu…! Tetapi sebalikanya, dengan semaumu engkau sering merubah hadits-hadits tersebut, engkau mengatakan ini dla’if, ini tidak benar, atau engkau berkata yang ini harus ditakwil, dan ini harus diingkari.
    Tidakkah sekarang ini saatnya bagimu untuk merasa takut?! Bukankah saatnya bagimu sekarang untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah)?! Bukankah engkau sekarang sudah dalam umur 70an tahun, dan kematian telah dekat?! Tentu, demi Allah, aku mungkin mengira bahwa engkau tidak akan pernah ingat kematian, sebaliknya engkau akan mencaci-maki seorang yang ingat akan mati! Aku juga mengira bahwa mungkin engkau tidak akan menerima ucapanku dan mendengarkan nesehatku ini, sebaliknya engkau akan tetap memiliki keinginan besar untuk membantah lembaran ini dengan tulisan berjilid-jilid, dan engkau akan merinci bagiku berbagai rincian bahasan. Engkau akan tetap selalu membela diri dan merasa menang, sehingga aku sendiri akan berkata kepadaku: “Sekarang, sudah cukup, diamlah…!”.
    Jika penilaian terhadap dirimu dari diri saya seperti ini, padahal saya sangat menyangi dan mencintaimu, maka bagaimana penilaian para musuhmu terhadap dirimu?! Padahal para musuhmu, demi Allah, mereka adalah orang-orang saleh, orang-orang cerdas, orang-orang terkemuka, sementara para pembelamu adalah orang-orang fasik, para pendusta, orang-orang tolol, dan para pengangguran yang tidak berilmu.
    Aku sangat ridla jika engkau mencaci-maki diriku dengan terang-terangan, namun diam-diam engkau mengambil manfaat dari nasehatku ini. “Sungguh Allah telah memberikan rahmat kepada seseorang, jika ada orang lain yang menghadiahkan (memperlihatkan) kepadanya akan aib-aibnya”. Karena memang saya adalah manusia banyak dosa. Alangkah celakanya saya jika saya tidak bertaubat. Alangkah celaka saya jika aib-aibku dibukakan oleh Allah yang maha mengetahui segala hal yang ghaib. Obatnya bagiku tiada lain kecuali ampunan dari Allah, taufik-Nya, dan hidayah-Nya.

    Segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan salam semoga terlimpah atas tuan kita Muhammad, penutup para Nabi, atas keluarganya, dan para sahabatnya sekalian. Terjemahan ini saya Nukil dari situs ” kenapa takut Bid`ah ” . word Press . com
    Lanjutan
    Ustadz Firanda mengatakan :
    Perkataan para ulama Asyaa’iroh yang mengakui Allah di atas langit

    Ternyata kita dapati bahwasanya sebagian pembesar madzhab Asyaa’iroh juga mengakui keberadaan Allah di atas langit. Sebagaimana hal ini telah ditegaskan oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Al-Asmaa’ wa As-Sifaat (2/308)

    Beliau berkata, “Dan atsar dari salaf seperti hal ini (yaitu bahwasanya Allah berisitwa di atas ‘arsy -pent) banyak. Dan madzhab As-Syafii radhiallahu ‘anhu menunjukan di atas jalan ini, dan ini madzhab Ahmad bin Hanbal…Dan Abu Hasan Ali bin Ismaa’iil Al-‘Asy’ari berpendapat bahwasanya Allah melakukan suatu fi’il (perbuatan) di ‘arsy yang Allah namakan istiwaa’… Dan Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Mahdi At-Thobari dan juga para ahli nadzor bahwasanya Allah ta’aalaa di langit di atas segala sesuatu, ber-istiwa di atas ‘arsynya, yaitu maknanya Allah di atas ‘arsy. Dan makna istiwaa’ adalah tinggi di atas sebagaimana jika dikatakan “aku beristiwa’ di atas hewan”, “aku beristiwa di atas atap”, maknanya yaitu aku tinggi di atasnya, “Matahari beristiwa di atas kepalaku”

    Dari penjelasan Al-Imam Al-Baihaqi di atas nampak ;
    – Banyaknya atsar dari salaf tentang Allah di atas.
    – Ini merupakan madzhab As-Syafi’i dan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal
    – Ini merupakan madzhab sebagian pembesar Asyaa’iroh seperti Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abul Hasan At-Thobari.
    Jawab : sebaiknya Ustadz Firanda juga menyertakan perkataan Al-Imam Al-baihaqi dalam Asma wa sifat halaman 410 , beliau berkata : ” dan Dzat yang Qodim yang maha suci adalah Tinggi diatas Arsy tidak duduk , tidak juga berdiri , tidak menempel tidak juga terpisah ( wala mubayin lil arsy) dari Arsy , jika yang diinginkan dengan mubayanah itu adalah Makna menjauh atau berpisah , karena menempel dan terpisah merupakan kebalikannya , dan berdiri dan duduk adalah sifat Jisim (tubuh-pent) , dan Allah azza wa jalla satu somad yang tidak dilahirkan tidak pula melahirkan , yang tidak ada satupun bandingannya tidak boleh disifati dengan sifat-sifat Jisim (tubuh-pent) , kemudian pensifan akan ketinggian Allah tidak hanya disebutkan oleh Al-baihaqi tetapi juga dikatakan oleh Ibnu mahdi dan Imam At-thobari dimana maksud mereka semuanya adalah ketinggian martabat dan kedudukan sama sekali bukan ketiunggian fisik dan dzat sebagaimana yang diinginkan oleh Ustadz firanda , jadi qoul yang dibawakan oleh Ustadz Firanda ini mendukung pendapat Ulama Asy`ariyah yang menetapkan ketinggian martabat kedudukan dan kekuasaan.
    Begitu juga jika Ustadz Firanda menyertakan perkataan Imam al- Baihaqi dalam kitabnya al-i`tiqod ” halaman 69 – 73 tepatnya pada halaman 72 beliau katakan : ringkasnya (bil-jumlah) wajib diketahui bahwa ” Istiwa allah ” yang maha suci dan maha tinggi bukanlah Istiwa yang lurus dari yang bengkok bukan pula berdiam dalam tempat , bukan pula menempel / menyatu disalah satu makhluknya , akan tetapi Istiwa diatas Arsy nya sebagaimana diberitakan tanpa Bagaimana dan DIMANA tidak menyatu tidak pula terpisah (ba inun) dari seluruh Makhluknya dan bahwasannya kedatangan Allah bukanlah kedatangan dari tempat ke tempat dan tanpa Gerakan dst….. perhatikanlah beliau menafikan kata DIMANA , kesimpulan dari atsar yang dibawakan oleh Ustadz Firanda ini beserta isinya menunjukan jika Al-Baihaqi dan Ulama yang disebutkannya menginginkan Istiwa dalam makna ” ketinggian Martabat , kedudukan dan kekuasaan ” sama sekali Bukan ketinggian Fisik (Dzat) sebagaimana yang di inginkan Ustadz Firanda.
    Ustadz Firanda mengatakan :

    Pertama : Imam Abul Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah

    Merupakan perkara yang mengherankan bahwasanya diantara para ulama yang menyebutkan konsensus salaf tersebut adalah Imam besar kaum Asyaa’iroh yaitu Imam Abul Hasan Al-‘Asy’ari yang hidup di abad ke empat Hijriah. Dialah nenek moyang mereka, guru pertama mereka, sehingga merekapun berintisab (berafiliasi) kepada nama beliau menjadi firqoh Asyaa’iroh.
    Berkata Imam Abul Hasan Al-‘Asy’ari rahimahullah dalam kitabnya Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr:

    Ijmak kesembilan :
    Dan mereka (para salaf) berkonsensus (ijmak) … bahwasanya Allah ta’aala di atas langit, diatas arsyNya bukan di bumi. Hal ini telah ditunjukan oleh firman Allah
    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ

    Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu (QS Al-Mulk : 16).

    Dan Allah berfirman
    إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
    kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (QS Faathir : 10).

    Dan Allah berfirman
    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏

    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
    Dan bukanlah istiwaa’nya di atas arsy maknanya istiilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh qodariah (Mu’tazilah-pent), karena Allah Azza wa Jalla selalu menguasai segala sesuatu. Dan Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih samar dari yang tersembunyi, tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi bagi Allah, hingga seakan-akan Allah senantiasa hadir bersama segala sesuatu. Hal ini telah ditunjukan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firmanNya
    وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

    Dia bersama kamu dimana saja kamu berada (QS Al-Hadiid : 4)
    Para ahlul ilmi menafsirkan hal ini dengan ta’wil yaitu bahwasanya ilmu Allah meliputi mereka di mana saja mereka berada” (Risaalah ilaa Ahli Ats-Tsagr 231-234)

    Ini merupakan hikayat kumpulan perkataan Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah

    ….

    Dan bahwasanya Allah –subhaanahu- diatas arsyNya, sebagaimana Allah berfirman
    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏

    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
    Dan Allah memiliki dua tangan tanpa ditanyakan bagaimananya… dan Allah memiliki wajah… (Maqoolaatul Islaamiyiin 1/345).
    Jawab : 1. kebesaran nama Al- Imam Abul Hasan Al-Asy`ari membuat begitu banyak orang yang ingin mendimpleng / menumpang dalam nama besarnya , bahkan tidak jarang perkataan-perkataan aneh muncul dalam kitab-kitab yang dinisbatkan kepada beliau , sehingga banyak Ahli dalam lingkungan Ulama Asy`ariyah meragukan keaslian kitab-kitab yang dinisbatkan kepada beliau , hal ini pulalah yang kemudian mendorong Al-Hafidz Ibnu Asakir untuk menjelaskan kebohongan-kebohongan yang dinisbatkan kepada Sang Imam , beliau menulis sebuah kitab Tabyinul kadzib al- muftari `ala al- Imam Abul hasan Al-Asy`ari.
    Akidah shahihah yang dianut salaf as-shalih adalah Allah ada tanpa tempat dan arah , kekeliruan Ustadz Firanda adalah menukil perkataan sang Imam dari kitab-kitab yang oleh kalangan Asy`ariyah sendiri kitab-kitab tersebut tidak digunakan sebagai pegangan Utama seperti kitab Al-ibanah , Maqolat Islamiyyin , risalah ila ahli tsagr dan yang lainnya , kalangan Asy`ariah hanya menggunakan pernyataan-pernyataan Sang Imam yang betul-betul Tsabit dari sang Imam bukan kitab-kitab Muharraf (yang telah diubah ) oleh tangan – tangan Jail seperti hasyawiyun, sebab Pemahaman teks Mutasyabihat secara literal bukanlah Manhaj al- Imam Abul Hasan Al- Asy`ari , seperti yang dinyatakan oleh al-imam Ibnu A`sakir dalam kitab Tabyinul kadzibil muftari , begitu juga ditegaskan oleh al-imam tajuddin al-subki dalam tobaqot syafi`iyah , coba perhatikan pernyataan Imam abul hasan al-asy`ari :
    ” Allah ada tanpa tempat , menciptakan Arsy dan kursi tanpa butuh kepada keduanya sebagai tempat , dan Allah setelah menciptakan tempat , tetap seperti sebelum menciptakan tempat.” ( tabyinul kadzibil muftari hal 150).
    Oleh karena Itu bagi siapapun termasuk ustadz Firanda jika ingin mengambil Hujjah Untuk mempelajari ( menyerang ) Asy`ariyyin ambil dan pelajarilah Tabyinul Kadzib karya Al-Hafidz Ibn `Asakir , sehingga apa yang didakwakan Ustadz firanda bahwa : para Ulama Asy`ariyah pun mengakui Jika Allah berada dilangit , adalah dakwa`an yang tertolak karena kitab-kitab yang dijadikan sandaran oleh ustadz firanda , dikalangan kalangan Asy`ariyah pun tidak menggunakannya sebagai pegangan Utama , karena kitab-kitab tersebut tidak Tsabit dan tidak lagi murni Asli karangan Sang Imam.
    Bukti kedua yang dijadikan Hujjah oleh ustadz Firanda
    Kedua : Abu Bakr Al-Baaqillaani (wafat 403 H)

    Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah

    “Jika dikatakan : Apakah kalian mengatakan bahwa Alla berada dimana-mana?, dikatakan : Kita berlindung kepada Allah (dari perkataan ini-pent). Akan tetapi Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, dan Allah berfirman “Kepada-Nyalah naik perkatan-perkataan yang baik”, dan Allah berfirman “Apakah kalian merasa aman dari Allah yang berada di atas?”

    Beliau berkata, “Kalau seandainya Allah di mana-mana maka Allah akan berada di perut manusia, di mulutnya, …

    (Sebagaimana dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-‘Uluw 2/1298 (Mukhtsor Al-‘Uluw 258)).
    Jawab :1. pernyataan beliau bahwa Allah ada dimana – mana adalah Jawaban terhadap Jahmiyah dan Mu`tazilah yang menyatakan Allah berada Dimana – mana sementara Aqidah Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah ) adalah Allah ada tanpa tempat dan tanpa Arah.
    2. pernyataan beliau : Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, adalah Manhaj atau metodologi Tafwidh (salah satu dari dua metodologi yang digunakan Ulama asy`ariyah dalam memahami ayat Mutasyabihat) pernyataan beliau ini merupakan bantahan bagi kaum Mujassimah (wahabiyah) yang mengartikan Istawa dengan arti yang Bathil mereka mengartikan Istawa dengan : Istiqroru Dzat ( berdiamnya Dzat Allah dilangit )
    3. bukti yang dibawakan Ustadz Firanda ini justru menjadi Bumerang bagi Ustadz Firanda dan golongannnya yang mengartikan Istawa dengan makna Istiqror ( berada / berdiam ) karena Al- Baqilani tidak menentukan arti secara Khusus untuk lafadz Istawa , yang beliau katakan adalah : ” Akan tetapi Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, perhatikan : sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, inilah yang disebut Tafwidh yang juga di tolak oleh Ustadz Firanda dan kelompoknya.
    Bukti ke tiga yang dibawakan Ustadz Firanda :
    Ketiga : Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H)

    Beliau berkata dalam kitabnyaAl-I’tiqood wal Hidaayah ilaa Sabiil Ar-Rosyaad, tahqiq : Abul ‘Ainain, Daar Al-Fadhiilah, cetakan pertama bab Al-Qoul fi Al-Istiwaaa’ (hal 116)

    “Dan maksud Allah adalah Allah di atas langit, sebagaimana firmanNya, “Dan sungguh aku akan menyalib kalian di pangkal korma”, yaitu di atas pangkal korma. Dan Allah berfirman “Berjalanlah kalian di bumi”, maksudnya adalah di atas muka bumi. Dan setiap yang di atas maka dia adalah samaa’. Dan ‘Arsy adalah yang tertinggi dari benda-benda yang di atas. Maka makna ayat –wallahu a’lam- adalah “Apakah kalian merasa aman dari Dzat yang berada di atas ‘arsy?”.
    Jawab : lagi-lagi ustadz Firanda menyebut Nama Al-Hafidz Al- baihaqi untuk mendukung hipotesanya , dan Sangat disayangkan Ustadz firanda hanya mengambil pernyataan Al- Baihaqi yang belum tuntas demi mendukung kesimpulan Bathilnya , saya minta Ustadz firanda untuk membaca tulisan Al-Baihaqi secara utuh dalam bab Al-qoul fil Istiwa jangan main- penggal – penggal begitu karena akan memberikan pemahaman yang salah , coba baca terus sampai halaman berikutnya yang menunjukkan jika Al-baihaqi ” hanya ” sedang menyebutkan ayat dan hadist yang berkaitan dengan istwa belum kepada kesimpulan , sebagaimana potongan bab oleh Ustadz Firanda seakan itu adalah kesimpulan sang Imam al- baihaqi dalam memahami Istawa.
    sementara kesimpulan yang shahih dari sang Imam adalah : ” ( wa Fil Jumlah ……) kesimpulannya adalah wajib diketahui bahwa Itiwa Allah yang maha suci dan maha tinggi , bukanlah Istiwa t

    1. @ustadz Ahmad Syahid:
      kita ini kekurangan buku
      sementara salafy wahhabi memerangi kita melalui buku
      banyak sudah pemuda2 yg ditembak jatuh oleh buku2 mereka sehingga mereka masuk ajaran wahhabi
      banyak sudah para pemuda yg menjadi mujassim dan musyabbih
      adakah ustadz mengarang buku guna membentengi generasi penerus Ahlus Sunnah?
      hamba sedih sekali dg kondisi orang2 spt Abdullah dan Abu Umar
      semoga Allah berkenan menolong mereka utk keluar dr pemahaman wahhabi
      aamiin

      1. Mereka pemuda-pemuda kaum muslimin septi Abdullah dan Abu Umar sudah kita kasih inspirasi agar mereka mau merenungkan apa-apa yg dianutnya itu. Semoga mereka di lain waktu sempat merenungkannya secara mendalam sehingga dg demikian hidayah akan turun kepada mereka. Tanpa mau merenung atau memikirkan apa2 yg telah dianutnya dari faham Wahabisme, mustahil mereka akan mendapatkan kesadaran. Sebab jargon KEMBALI KEPADA ALQUR’;AN Dan SUNNAH yg didoktrinkan Wahabisme sungguh dapat menanamkan kebanggaan tersendiri dalam dada anak2 muda, walaupun tentunya kebanggaan semu di mata kita.

        Padahal hakekat jargon tsb sesungguhnya kembali kepada PEMAHAMAN WAHABI dan bukan kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Artikel-artikel di Ummati dan di blog-blog yg dikelola oleh kaum Aswaja telah membantah dan membuktikan bahwa Jargon KEMBALI KEPADA AL QUR’AN dan Sunnah itu dalam praktek nyatanya hanyalah KEMBALI KEPADA PEMAHAN ALA WAHABI.

      2. @. Ustadz Artikel Islami , Afwan ana bukan ustadz ana hanya komentator yang ikut prihatin dengan penyebaran Bid`ah yang disebarluaskan oleh Wahabiyyun khususnya , kalo soal buku ana rasa buku2 berbahasa Arab (yang membongkar syubhat2 dan Bid`ah2 kaum wahabi) sudah cukup banyak beredar , hanya memang perlu untuk diterjemahkan biar manfaatnya lebih luas,

        hamba juga ikut sedih sekali dg kondisi orang2 spt Abdullah dan Abu Umar

        semoga Allah berkenan menolong mereka utk keluar dr pemahaman wahhabi
        aamiin

  15. Mas Ahmad Syahid, ini artikel sepertinya tidak terkirim secara tuntas mungkin karena terlalu banyak. Kirimkan saja dg cara dibagi beberapa bagian, biar nanti kami yg kumpulkan menjadi artikel yg utuh. Jangan lupa kasih nomor pengiriman (Kiriman satu, kiriman dua, kiriman tiga, dst…) biar mudah bagi kami mengumpulkannya. Syukron….

  16. Pemberitahuan kepada seluruh komentator, bahwa blog ini tidak dimoderasi. Namun demikian kenyataannya terkadang ada beberapa komentar yg nyangkut di kolom Moderasi, harap maklum sebab ini adalah sitem buatan manusia yg tidak sempurna.

  17. Mengungkap tipu muslihat Firanda kiriman 1.

    Alhamdulillah, segala puji bagi Allah, semoga salawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah.

    Sungguh merinding tatkala membaca tulisan-tulisan tentang dimana Allah yang ditulis oleh Abu Salafy dan pemilik blog salafytobat. Karena tulisan-tulisan mereka penuh dengan tuduhan-tuduhan serta manipulasi fakta yang ada. Ternyata mulut-mulut mereka sangatlah kotor. Cercaan dan makian memenuhi tulisan-tulisan kedua orang ini yang pada hakekatnya mereka berdua takut menunjukkan hakekat mereka berdua. Begitulah kalau seseorang merasa berdosa dan bersalah takut ketahuan batang hidungnya. Allahul Musta’aan.

    Sesungguhnya apa yang mereka berdua perjuangkan hanyalah lagu lama yang telah dilantunkan oleh pendahulu-pendahulu mereka yang bingung sendiri dengan aqidah mereka.

    Maka pada kesempatan kali ini penulis mencoba mengungkapkan manipulasi fakta yang telah mereka lakukan dan mengungkap kerancuan cara berpikir kedua orang ini.
    Dan tulisan kali ini terkonsentrasikan pada pengakuan Abu Salafi cs bahwasanya aqidah mereka tentang dimana Allah adalah aqidah yang disuarakan oleh sebagian sahabat seperti Ali bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu dan juga sebagian ulama salaf. Sebagaimana pengakuan mereka ini tercantumkan dalam : http://abusalafy.wordpress.com/2010/04/11/ternyata-tuhan-itu-tidak-di-langit-8/ (dalam sebuah artikel yang berjudul : Ternyata Tuhan itu tidak di langit).

    Sebelum membantah pengakuan mereka tersebut maka kami akan menjelaskan tentang 3 point yang sangat penting yang merupakan muqoddimah (pengangtar) untuk membuktikan tipu muslihat mereka. Point-point tersebut adalah :
    1. Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas.
    2. Perkataan para ulama Islam (dari kalangan sahabat, para tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak.
    3. Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.

    Ijmak para ulama tentang keberadaan Allah di atas langit

    Keberadaan Allah di atas langit merupakan konsensus para ulama Islam. Bahkan telah dinukilkan ijmak mereka oleh banyak para ulama Islam. Diantara mereka:
    ———————————————————————————————————-===========================================================
    Bismilahirohmanirohim, Al-hamdulillah wa sholatu wasalmu `ala Sayyidina wa Mawlana Muhammad Saw wa ala alihi wa shohbihi waman tabi`ahum bi Ihsanin ila yau middin, amma ba`du.
    tulisan ini ditulis semata – mata hanya untuk meluruskan pemahaman atas apa yang diklaim oleh Ustadz Firanda dalam situsnya , andai tulisan ustadz Firanda ini tidak bisa diakses kecuali hanya oleh orang-orang tertentu , niscaya saya tidak akan capai – capai untuk membuat bantahan ini , tulisan ini ditujukan untuk mengungkap apakah Klaim dan dakwa`an Ustadz Firanda soal :

    1. Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas.

    2. Perkataan para ulama Islam (dari kalangan sahabat, para tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak.

    3. Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.

    adalah benar …..? atau itu hanya sekedar Klaim kosong yang mengelabui Ummat……? Sekedar tipu muslihat untuk menyesatkan Ummat………? Mari kita lihat , baca dan kaji secermat mungkin agar mendapatkan kesimpulan yang benar , kesimpulan yang mengedepankan aspek obyektifitas dan sportifitas demi menemukan kebenaran sejati , sebelum membahas lebih lanjut saya ingin menyampaikan beberapa kaidah penting yang digunakan oleh Ulama Ahlu Sunnah Wal-jama`ah ( Asya`irah ) dalam menetapkan Asma dan sifat Allah , sebagai sebuah manhaj atau metodologi dalam memahami kitab dan Sunnah , hal ini juga untuk memberikan patokan bagi siapapun yang ingin mengetahui Aqidah Ahlu Sunnah ( asy`ariyah) sehingga tidak menggunakan prasangka dalam memahami pernyataan-pernyataan Ulama asy`ariyah.

    Seperti kita ketahui bersama Agama Islam yang kita anut ini , bersandarkan kepada apa yang diriwayatkan (Al-qur`an dan As-sunnah ) , sama sekali tidak bersandar kepada akal-akalan , namun tentu saja tanpa membuang pentingnya akal dalam memahami apa yang diriwayatkan , disamping itu Ulama Asy`ariyah memahami jika Agama ini terdiri dari tiga hal utama yang tidak bisa dipisahkan :

    1. masalah pokok ( Aqidah ) sebagai pondasi dasar

    2. masalah Furu` atau cabang atau yang biasa disebut dengan Mua`amalat baik antara hamba dengan Tuhan atau antara hamba itu sendiri

    3. masalah kamaliyat atau kesempurnaan atau yang biasa disebut dengan Akhlak atau prilaku

    1. dalam masalah pokok (Aqidah) Ulama Asy`ariyah hanya menerima riwayat (dalil-dalil) yang bersifat Pasti ( qoth`i) seperti hadist Mutawatir hadist Mustafidh dan Hadist Masyhur.

    2. dalam masalah Furu` atau cabang atau Mu`amalat Ulama Asy`ariyah disamping menggunakan Riwayat yang Qoth`I juga menggunakan riwayat yang bersifat Dzonni seperti hadist ahad

    3. dalam masalah kamaliyat atau kesempurnaan atau Akhlak dan prilaku disamping menggunakan dua jenis Hadist diatas Ulama Asy`ariyah juga menggunakan Hadist Dha`if sebagai hujjah dan tentu ada syarat-syarat untuk digunakannya Hadist Dhaif tersebut sebagai Hujjah dalam masalah kamaliyyat.
    Dengan kaidah – kaidah ini Ulama Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah ) berjalan memahami dan mengamalkan Agama , terkait dengan tulisan Ustadz Firanda tentang ” keberadaan Allah ” Ulama Asy`ariyah hanya menerima Riwayat atau hadist – Hadist yang bersifat Qoth`I (pasti ) baik dari sisi periwayatan maupun dari sisi dalalah (petunjuk dari riwayat ) sebab tulisan Ustadz Firanda ini berkaitan dengan masalah pokok , masalah yang sangat esensi sebagai Pondasi yang dibangun diatas nya keyakinan-keyakinan.

    Mungkin standar Ulama Asy`ariyah ini dibawah standar yang ditetapkan oleh Ulama-Ulama Salafi (wahabi) dalam memahami Kitab dan Sunnah karena standar mereka adalah : hanya menggunakan Hadist-Hadist Shahih serta membuang jauh Hadist – Hadist Dhaif meskipun hanya dalam masalah kamaliyyat, disamping itu Ulama Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah) juga berpegang kepada Prinsip ” Al-Jam`u wa at-taufiq bainal adillah ” menggabungkan dan men selaraskan antar dalil sepanjang masih bisa dilakukan penggabungan dan penselarasan (al-jam`u wa at-taufiq) antar dalil atau antar Riwayat sepanjang itu pulalah kewajiban penggabungan dan penselarasan antar dalil atau riwayat sesuai dengan Syarat-syarat yang tertera dalam kitab-kitab mereka . sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu hajar dalam Fathul Bari : ” dan penggabungan (antar riwayat dalam masalah yang sama ) dikedepankan daripada tarjih (pengguguran salah satu riwayat) ,fathul bari juz 13 hal 421″ harus dilakukan, hal senada juga dikatakan oleh Imam an-nawawi dalam sarh Muslim : ” tidak ada perbedaan antar ulama bahwa jika dimungkinkan penggabungan antar Hadist maka tidak boleh meninggalkan salah satunya tetapi Wajib penggabungan diantaranya ( syarh muslim juz 3 hal. 155)
    Hal ini penting saya sampaikan karena melihat cara atau metode Istidlal atau pendalilan Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya ini tidak berjalan diatas Manhaj atau metodologi yang digariskan dan digunakan oleh Ulama Ahlu Sunnah (Asy`ariyah) , sebagai contoh Ustadz firanda hanya membawakan perkataan Imam al-Awza`I yang mendukung tujuannya saja , sementara Ucapan Imam Al-Auza`I yang lainnya tidak dia bawakan , cara pendalilan Ustadz firanda seperti ini bukanlah cara pendalilan yang dianut Ulama Ahlu Sunnah (asy`ariyah) , ala Kulli Hal itulah metode yang digunakan Ustadz Firanda dalam tulisannya ini beliau hanya menyebutkan riwayat yang hanya mendukung maksud yang ingin dicapainya saja tanpa melihat riwayat-riwayat lain yang lebih Shahih , baiklah mari kita kaji dan cermati riwayat-riwayat yang disampaikan Ustadz Firanda yang dijadikannya sebagai Hujjah dan Sandaran dalam menetapkan Kosensus atau Ijmak bahwa : ” Allah berada dilangit ” .

    Catatan :1.ketika saya sebutkan ” Ahlu Sunnah Wal-jama`ah ( Asy`ariyah ) ” maka yang saya maksud adalah ( Asy`ariyah, Maturidiyah, Atsariyah dan Sufiyah al-hiqqoh) 4 kelompok inilah yang saya maksud dengan Ahlu Sunnah wal-jama`ah.

    2. qoul atau perkataan para ulama bukanlah Hujjah Syar`iyah , Hujjah syar`iyah (sumber hukum) adalah Al-Qur`an al-Karim dan Hadist2 yang Shahih.
    Baik kita mulai dengan mengkaji sandaran2 ustadz Firanda dalam klaim Ijmaknya :

    riwayat Pertama yang dijadikan sandaran untuk klaim adanya Ijmak tentang keberadaan Allah dilangit :

    Al-Imam Al-Auzaa’i rahimahullah (wafat 157 H)

    Al-Auzaa’i berkata : “Ketika kami dahulu –dan para tabi’in masih banyak-kami berkata : Sesungguhnya Allah di atas arsyNya, dan kita beriman dengan sifat-sifatNya yang datang dalam sunnah” (Al-Asmaa’ was sifaat li Al-Baihaqi 2/304 no 865, Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/940 no 334, dan sanadnya dinyatakan Jayyid (baik) oleh Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 13/406-407)

    Tanggapan : tidak ada keraguan jika al-Imam al-awza`I adalah Ulama besar panutan Ahlu Sunnah ( asy`ariyah) yang wajib diikuti , hanya apakah riwayat ini bersifat Qoth`I ( pasti) atau riwayat ini bersifat Dzani ( tidak pasti) yang sama sekali tidak diterima oleh Ulama Ahlu Sunnah karena riwayat yang bersifat Dzani tidak bisa dijadikan sandaran dalam masalah aqidah , mari kita kenali rawi-rawi dalam riwayat ini ,:

    dalam sanad riwayat ini terdapat rawi yang bernama Muhammad bin katsir al-mashishi (urut 4) al-mashishi menurut Imam Ahmad Hadistnya Mungkar atau meriwayatkan sesuatu yang mungkar hal ini disebutkan oleh ibnu adi dalam al-kamil , dan ibnu adi mengatakan al-mashishi mempunyai riwayat-riwayat dari Ma`mar dan Al-aw-za`I khususnya Hadist2 A`dad yang tidak diikuti oleh seorangpun , demikian juga disebutkan dalam kitab al-jarh wa at-ta`dil juz 8 hal 69 al-mashishi di dha`ifkan oleh Imam ahmad, disifati sangat lemah, jika para Imam Ahli jarh wa-ta`dil sudah melakukan Jarh seperti ini maka riwayatnya sama sekali tidak bisa diterima apalagi dijadikan Hujjah dalam Aqidah.

    Terlebih Dalam riwayat ini al-mashishi meriwayatkannya dari Ibrohim bin al-haitsam (urut 3), berkata al-Uqoili dalam kitab ad-du`afa juz 1 hal 274 : dia (Ibrohim al-haitsam) meriwayatkan Hadist yang dianggap Dusta oleh ahli Hadist dan ahlul Hadist menyerangnya dengan periwayatan Hadist yang dianggap dusta itu. Dua orang rawi dalam atsar ini jatuh , al-mashishi tertuduh meriwayatkan yang Mungkar dan al-haitsam tertuduh dusta , hukum atsar ini Maudhu`. Sandaran pertama Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya ini Gugur.

    Riwayat kedua yang dijadikan sandaran oleh Ustadz firanda

    Kedua : Qutaibah bin Sa’iid (150-240 H)

    Beliau berkata :

    هذا قول الائمة في الإسلام والسنة والجماعة: نعرف ربنا في السماء السابعة على عرشه ، كما قال جل جلاله:الرحمن على العرش استوى

    “Ini perkataan para imam di Islam, Sunnah, dan Jama’ah ; kami mengetahui Robb kami di langit yang ketujuh di atas ‘arsy-Nya, sebagaimana Allah Jalla Jalaaluhu berfirman : Ar-Rahmaan di atas ‘arsy beristiwa” (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103 no 434)
    Adz-Dzahabi berkata, “Dan Qutaibah -yang merupakan seorang imam dan jujur- telah menukilkan ijmak tentang permasalahan ini. Qutaibah telah bertemu dengan Malik, Al-Laits, Hammaad bin Zaid, dan para ulama besar, dan Qutaibah dipanjangkan umurnya dan para hafidz ramai di depan pintunya” (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1103).

    Tanggapan : Qutaibah bin said syeikh Khurosan tidak diragukan ke Imamannya , hanya saja riwayat ini diriwayatkan oleh Abu bakar an-naqosy seorang Pemalsu hadist lihat lisanul mizan juz 5 hal 149 , an-naqosy juga disebutkan dalam al-kasyf al-hatsist tentang rawi2 yang tertuduh dengan pemalsuan dengan nomer 643 meninggal tahun 351 hijriyah , sementara abu ahmad al-hakim meninggal tahun 398 hijriyah terpaut waktu 39 tahun , sehingga tidaklah benar jika dia meriwayatkan dari Abul abbas as-siraj , karena as-siraj lahir pada tahun 218 h meninggal tahun 313 sebagaimana disebutkan dalam Tarikh baghdad juz 1 hal 248 artinya ketika as-siraj meninggal al-hakim baru berusia 7 tahun bagaimana bisa shahih riwayatnya…….? Jelas ucapan ini adalah Dusta yang dibuat an-naqosy , terlebih an-naqosy terkenal sebagai pemalsu !

    Saya jadi heran kenapa Ustadz Firanda sebagai salah satu tokoh salapi (wahabi) indonesia kok ber Hujah dengan yang dusta alias Palsu………? Status Hujjah : gugur.

    Qoul ketiga yang dijadikan sandaran dan Hujjah oleh Ustadz Firanda

    Ketiga : Ibnu Qutaibah (213 H- 276 H)

    Beliau berkata dalam kitabnya Takwiil Mukhtalaf al-Hadiits (tahqiq Muhammad Muhyiiddin Al-Ashfar, cetakan keduan dari Al-Maktab Al-Islaami) :

    “Seluruh umat –baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran” (Takwiil Mukhtalafil Hadiits 395)

    Tanggapan : Ibnu qutaibah seorang Mujassim lihatlah perkataannya perhatikan : “Seluruh umat “–baik arab maupun non arab- mereka berkata bahwasanya Allah di langit selama mereka dibiarkan di atas fitroh mereka dan tidak dipindahkan dari fitroh mereka tersebut dengan pengajaran” perkataan ini sama sekali tidak menunjukkan adanya Ijma` sebagaimana yang di dakwakan Ustadz firanda , terlebih Ulama Asy`ariyah hanya menerima Qur`an dan hadist yang bersifat qoth`I sebagai Hujjah dalam Aqidah , kalaupun ada Ijma` ia harus bersandar kepada Qur`an dan hadist bukan bersandar kepada perkataan seluruh Ummat , Ibnu qutaibah mencoba berdalil dengan omongan semua orang baik hidu atheis konghucu dan sebagainya dan ini Bathil. Status hujjah Gugur.

    Saya jadi semakin heran terhadap ustadz Firanda sampai-sampai igauan Bathil Ibnu qutaibahpun dijadikan sandaran dalam Aqidah…..! apakah Ibnu qutaibah menganggap seorang Atheispun ber-Aqidahkan ” Allah dilangit “……..? sehingga berani mengatakan SELURUH UMMAT dst….…” dan apakah Ustadz Firandapun mengigau seperti ini…..? Ya akhi jangan main-main lho ini Aqidah pondasi dasar keyakinan.

    qoul ke empat yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda

    Keempat : Utsmaan bin Sa’iid Ad-Daarimi (wafat 280 H)

    Beliau berkata dalam kitab beliau Ar-Rod ‘alal Marriisi
    “Dan telah sepakat perkataan kaum muslimin dan orang-orang kafir bahwasanya Allah berada di langit, dan mereka telah menjelaskan Allah dengan hal itu (yaitu bahwasanya Allah berada di atas langit -pent) kecuali Bisyr Al-Marrisi yang sesat dan para sahabatnya. Bahkan anak-anak yang belum dewasa merekapun mengetahui hal ini, jika seorang anak kecil tersusahkan dengan sesuatu perkara maka ia mengangkat kedua tangannya ke Robb-Nya berdoa kepadaNya di langit, dan tidak mengarahkan tangannya ke arah selain langit. Maka setiap orang lebih menetahui tentang Allah dan dimana Allah daripada Jahmiyah” (Rod Ad-Darimi Utsmaan bin Sa’iid alaa Bisyr Al-Mariisi Al-‘Aniid Hal 25)

    Tanggapan :
    1. Abu said Ustman bin said ad-darimi as-sajzi bermadzhab hanbali mujassim musyabih dari golongan Hasywiyah wafat tahun 282 hijriyah konon wafat tahun 280 hijriyah , Tasybih yang jelas terlihat dari Ucapannya : ” bahwa orang yang berada dipuncak gunung lebih dekat kepada Allah ketimbang orang yang berdiri dibawah gunung ” lihat al- maqolat il allamah al-kautsari hal 282 , saya ahmad syahid katakan : sungguh ucapan ini bertentangan dengan Hadist shahih didalam Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Huraira , Rosulallah SAW bersabda : ” seorang Hamba Lebih dekat kepada Tuhannya ketika ia dalam keadaan Sujud “, dan bahkan bertentangan dengan Al- Qur`an.” Sujudlah dan mendekatlah ” (qs. Al-alaq. 19) , dalam ayat ini posisi sujud digandengkan dan diidentikkan dengan kedekatan dengan Allah , ayat ini jelas bertentangan dengan perkataan dan keyakinan Abu said ad-darimi diatas.

    2. status Hujjah gugur karena dua hal 1. abu said ad-darimi menyandarkan aqidahnya ini kepada ucapan ummat islam (entah ummat islam yang mana ) dan ucapan Ummat Kafir ( yang tantu aqidahnya berbeda dengan muslimin ) harusnya abu said ustman ad-darimi menyandarkan Aqidahnya kepada Qur`an dan Hadist yang shahih atau minmal kepada pernyataan Ulama Muslimin (ahlu Sunnah ) , bukan kepada Ucapan orang Kafir. 2. Aqidah abu said ustman ad-darimi bertentangan dengan Qur`an dan Hadist sebagaimana saya sebutkan diatas.

    3. abu said ustman ad-darimi bukanlah Imam Ahlu sunnah yang terkenal itu , sebab Imam ahlu sunnah adalah : Al-imam Al-hafidz Abu Muhammad abdullah bin abdurohman bin fadl bin bahrom ad-darimi at-tamimi as-samarqondi beliaulah penulis kitab Sunan ad-darimi wafat tahun 255 hijriyah. Hati-hatilah jangan sampai tercapur aduk antara ad-darimi Imam ahlu sunnah dengan ad-darimi ahlu Bid`ah.. status hujjah gugur. Karena omongan ini keluar dari Ahlul Bid`ah Ustman ad-darimi yang bertentangan dengan Qur`an dan Hadist diatas.

    Qoul ke 5 yang dijadikan sandaran oleh Ustadz Firanda dalam klaim Ijma` nya
    Kelima : Zakariyaa As-Saaji (wafat tahun 307 H)

    Beliau berkata :

    القول في السنة التي رأيت عليها أصحابنا أهل الحديث الذين لقيناهم أن الله تعالى على عرشه في سمائه يقرب من خلقه كيف شاء”.

    “Perkataan tentang sunnah yang aku lihat merupakan perkataan para sahabat kami –dari kalangan Ahlul Hadits yang kami jumpai- bahwasanya Allah ta’aala di atas ‘arsyNya di langit, Ia dekat dengan makhluknya sesuai dengan yang dikehendakiNya”
    (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 no 482)
    Adz-Dzahabi berkata : As-Saji adalah syaikh dan hafizhnya kota Al-Bashroh dan Abul Hasan Al-Asy’ari mengambil ilmu hadits dan aqidah Ahlus Sunnah darinya (Al-‘Uluw li Al-‘Aliy Al-‘Adziim li Adz-Dzahabi 2/1203 dan Ijtimaa’ Al-Juyuusy Al-Islaamiyah li Ibnil Qoyyim hal 185)

    Tanggapan : qoul ini diriwayatkan oleh ibn Bathoh al-U`kbari nama lengkapnya : abu abdullah ubaidillah ibn Muhammad ibn Bathoh al- U`kbari , seorang Mujassim bermadzhab Hanbali sekaligus seorang pemalsu hadist (wadho`) dilahirkan tahun 304 dan wafat pada tahun 387 hijriyah , konon dialah pencetus Aqidah Pembagian Tauhid , al-hafidz Ibnu Hajar al-astqolani mengatakan dalam kitabnya Lisanul Mizan juz 4 hal 113 : aku memikirkan Ibnu Bathoh atas sebuah perkara yang sangat besar hingga kulitku merinding darinya , kemudian aku tetapkan bahwa dia adalah seorang pemalsu hadist (wadho`) , dan dia mempunyai kebiasaan mencungkil nama-nama imam-imam ahli hadist , kemudian dia letakkan Namanya ditempat nama Imam yang dicungkilnya. , begitu juga al-khotib al-baghdadi menyebutkan sebuah Hadist dimana sanad hadist tersebut terdapat Ibnu Bathoh , kemudian al-khotib al-baghdadi mengatakan Hadist ini palsu dengan jalur sanad ini , karena dalam sanadnya terdapat Ibnu Bathoh. Ibnu Bathoh meriwayatkan atsar ini dari Ahmad ibn as-saji , al-albani dalam Mukhtasor al-uluw hal. 223 mengakui Bahwa ahmad ini tidak dikenal alias majhul , status Hujjah GUGUR. Ustadz Firanda kok seneng yang palsu-palsu ya…?

    Qoul ke enam yang dijadikan Hujjah oleh Ustadz Firanda untuk klaim Ijma` keberadaan Allah dilangit.
    Keenam : Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (223 H-311 H)

    Beliau berkata dalam kitabnya At-Tauhiid 1/254

    “Bab : Penyebutan penjelasan bahwasanya Allah Azza wa Jalla di langit:
    Sebagaimana Allah kabarkan kepada kita dalam Al-Qur’an dan melalui lisan NabiNya –’alaihis salaam- dan sebagaimana hal ini dipahami pada fitroh kaum muslimin, dari kalangan para ulama mereka dan orang-orang jahilnya mereka, orang-orang merdeka dan budak-budak mereka, para lelaki dan para wanita, orang-orang dewasa dan anak-anak kecil mereka. Seluruh orang yang berdoa kepada Allah jalla wa ‘alaa hanyalah mengangkat kepalanya ke langit dan menjulurkan kedua tangannya kepada Allah, ke arah atas dan bukan kearah bawah”

    Tanggapan : Ibnu Khuzaimah Mujassim terkenal dan sangat sadis beliaulah yang berfatwa Kafirnya orang yang tidak mengakui Bahwa Allah berada diatas langit orang tersebut harus dibunuh jika tidak mau tobat dan mayatnya dibuang ke tempat sampah ” namun al-hamdulillah akhirnya beliau tobat dari Aqidah tajsim ini seperti yang dinyatakan oleh Imam al-baihaqi dalam asma wa as-sifat hal. 269 begitu juga dinyatakan oleh al-hafidz ibnu hajar dalam fathul bari juz 13 hal 492 , jadi rupanya Ustadz firanda belum tahu atau pura pura tidak tahu jika penulis kitab ” at-tauhid ” (ibnu khuzaimah) telah tobat dari aqidah yang tertulis dalam kitabnya itu , sehingga gugur lah sandaran ke enam atas klaim Ijmaknya Ustadz Firanda ini , sebab penulisnyapun sudah Tobat.

    qoul ke tujuh yang dijadikan Hujjah atas klaim Ijma`

    Ketujuh : Al-Imam Ibnu Baththoh (304 H-387 H)

    Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah ‘an Syarii’at Al-Firqoh An-Naajiyah :

    “باب الإيمان بأن الله على عرشه بائن من خلقه وعلمه محيط بخلقه”

    أجمع المسلمون من الصحابة والتابعين وجميع أهل العلم من المؤمنين أن الله تبارك وتعالى على عرشه فوق سمواته بائن من خلقه وعلمه محيط بجميع خلقه

    ولا يأبى ذلك ولا ينكره إلا من انتحل مذاهب الحلولية وهم قوم زاغت قلوبهم واستهوتهم الشياطين فمرقوا من الدين وقالوا : إن الله ذاته لا يخلو منه مكان”. انتهى

    “Bab Beriman Bahwa Allah di atas ‘Arsy, ‘Arsy adalah makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi Makhluk-Nya”

    Kaum muslimin dari para sahabat, tabiin dan seluruh ulama kaum mukminin telah bersepakat bahwa Allah -tabaraka wa ta’ala- di atas ‘arsy-Nya di atas langit-langit-Nya yang mana ‘arsy merupakan Makhluk-Nya, dan Ilmu-Nya meliputi seluruh makhluknya. Tidaklah menolak dan mengingkari hal ini kecuali penganut aliran hululiyah, mereka itu adalah kaum yang hatinya telah melenceng dan setan telah menarik mereka sehingga mereka keluar dari agama, mereka mengatakan, “Sesungguhnya Dzat Allah Berada dimana-mana.” (al-Ibaanah 3/136)
    Adz Dzahabi berkata, “Ibnu Baththoh termasuk Pembesarnya Para Imam, Seorang yang Zuhud, Faqih, pengikut sunnah.” (Al-‘uluw li Adz-Dzahabi 2/1284).

    Tanggapan : Lagi-lagi ustadz firanda ber Hujjah dengan seorang Wadho` alias pemalsu , status Hujjah gugur lagi. Lihat tanggapan saya atas poin ke 5
    Qoul ke 8 yang dijadikan Ustadz firanda sebagai sandaran atas Klaim Ijma`nya

    Kedelapan: Imam Abu Umar At-Tholamanki Al Andalusi (339-429H)

    Beliau berkata di dalam kitabnya: Al Wushul ila Ma’rifatil Ushul

    ” أجمع المسلمون من أهل السنة على أن معنى قوله : “وهو معكم أينما كنتم” . ونحو ذلك من القرآن : أنه علمه ، وأن الله تعالى فوق السموات بذاتـه مستو على عرشه كيف شاء”

    وقال: قال أهل السنة في قوله :الرحمن على العرش استوى:إن الاستواء من الله على عرشه على الحقيقة لا على المجاز.”.

    “Kaum Muslimin dari kalangan Ahlus Sunnah telah bersepakat (ijmak) bahwa makna firman-Nya: “Dan Dia bersama kalian di manapun kalian berada” (QS. Al Hadid 4) dan ayat-ayat Al Qur’an yg semisal itu adalah Ilmu-Nya. Allah ta’ala di atas langit dengan Dzat-Nya, ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya sesuai kehendak-Nya”

    Beliau juga mengatakan, “Ahlussunah berkata tentang firman Allah, “Tuhan yang Maha Pemurah, yang ber-istiwa di atas ‘Arsy” (QS Thoohaa : 5), bahwasanya ber-istiwa-nya Allah di atas Arsy adalah benar adanya bukan majaz” (Sebagaimana dinukil oleh Ad-Dzahabi dalam Al-‘Uluw 2/1315)

    Imam Adz Dzahabi berkata, “At-Tholamanki termasuk pembesar para Huffazh dan para imam dari para qurroo` di Andalusia” (Al-‘Uluw 2/1315).
    Tanggapan : tahukah Ustadz firanda jika Adzahabi juga mengatakan dalam siar a`lam an-nubala juz 17 hal 567 ad-dzahabi berkata : saya melihatnya ( at-tholamanki ,pent) menulis kitab yang diberi judul as-sunnah dua jilid secara umum kitab itu baik hanya saja dalam beberapa bab dalam kitab tersebut ada hal yang selamanya tidak akan sejalan (denganku-pent), seperti bab janb (lambung / sisi Allah ) dalam bab itu dia menyitir firman Allah : sungguh rugi atas apa yang aku lalikan dissi Allah , hal ini merupakan bentuk keterglinciran seorang Alim . , orang ini Mujassim omongannya tidak perlu dianggap. Sandaran ustadz firanda yang ke 8 pun gugur. Karena Imam Adz-dzahabi pun tidak sejalan dengannya.

    qoul ke sembilan yang dijadikan sandaran klaim Ijma` ustadz firanda
    Kesembilan: Syaikhul Islam Abu Utsman Ash Shabuni (372 – 449H)

    Beliau berkata, “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab(Al Qur’an)….
    Para ulama dan pemuka umat dari generasi salaf tidak berselisih bahwasanya Allah di atas ‘arsy-Nya dan ‘arsy-Nya berada di atas langit-Nya.” (Aqidatus Salaf wa Ashaabil hadiits hal 44)
    Adz Dzahabi berkata, “Syaikhul Islam Ash Shabuni adalah seorang yang faqih, ahli hadits, dan sufi pemberi wejangan. Beliau adalah Syaikhnya kota Naisaburi di zamannya” (Al-‘Uluw 2/1317)

    Tanggapan : yang shahih dari Ucapan Imam As-shobuni hanya : , “Para Ahli Hadits berkeyakinan dan bersaksi bahwa Allah di atas langit yang tujuh di atas ‘arsy-Nya sebagaimana tertuang dalam Al Kitab (Al Qur’an) ….kata-kata setelah ini (para pemuka dst….) adalah tambahan yang entah Imam adzahabi dapet dari mana….? Silahkan rujuk ” majmu`ah ar-Rosail al-muniriyah juz 1 hal 109 risalah as-shobuni, pernyataan al-imam as-shobuni ini sama sekali tidak mendukung klaim Ijma` tentang keberadaan Allah dilangit sebagaimana yang di Klaim oleh Ustadz firanda , inilah yang disebut dengan tafwidh yang juga ditolak oleh salafi / wahabi. Status Hujjah salah alamat.

    qoul ke 10 yang dijadikan Hujjah untuk mendukung klaim Ijma` sang ustadz

    Kesepuluh : Imam Abu Nashr As-Sijzi (meninggal pada tahun 444 H)

    Berkata Adz-Dzahabi (Siyar A’laam An-Nubalaa’ 17/656) :

    Berkata Abu Nashr As-Sijzi di kitab al-Ibaanah, “Adapun para imam kita seperti Sufyan Ats Tsauri, Malik, Sufyan Ibnu Uyainah, Hammaad bin Salamah, Hammaad bin Zaid, Abdullah bin Mubaarak, Fudhoil Ibnu ‘Iyyaadh, Ahmad bin Hambal dan Ishaq bin Ibrahim al Handzoli bersepakat (ijmak) bahwa Allah -Yang Maha Suci- dengan Dzat-Nya berada di atas ‘Arsy dan ilmu-Nya meliputi setiap ruang, dan Dia di atas ‘arsy kelak akan dilihat pada hari kiamat oleh pandangan, Dia akan turun ke langit dunia, Dia murka dan ridho dan berbicara sesuai dengan kehendak-Nya”

    Adz-Dzahabi juga menukil perkataan ini dalam Al-‘Uluw 2/1321

    tanggapan : kenapa Ustadz firanda tidak sekalian menyertakan perkataan adz-dzahabi dalam al-uluw ketika berbicara tentang As-sajzi….? Berkata adz-dzahabi : bahwa lafadz ” Dzat ” bukanlah pernyataan yang masyhur dan terjaga dari para Imam yang disebutkan oleh as-sijzi , lafadz ” Dzat ” itu dari kantongnya As-sijzi bukan dari para Imam , as-sijzi juga terkenal dengan Tahrif (merubah) hadist sebagai contoh as-sijzi merubah Hadist ar-rohmah al-musalsal bil awliyah dari jalur abi Qobus al-Majhul dengan Lafadz ” yarhamkum man fi as-sama ” padahal lafadz hadist dari Abu Qobus al-majhul dalam musnad ahmad juz 2 hal. 160 ” yarhamkum Ahlu as-sama ” begitu juga yang dinyatakan oleh al-hafidz Ibnu hajar dalam mu`jam al-syaikhokh maryam (makhtut) masih berupa manuskrip bahwa aba daud juga meriwayatkan dengan Lafadz ” Yarhamkum Ahlu as-sama ” , apakah menurut ustadz firanda riwayat seorang Muharif ( tukang merubah) bisa diterima……….? Apakah riwayat (berita) yang telah dirubah isinya dapat dijadikan Hujjah……….? Mengingat riwayat – riwayat palsu pun dijadikan sandaran oleh Ustadz firanda seperti riwayat2 yang telah lalu , tidak aneh jika riwayat yang telah dirubahpun dijadikan sandaran oleh ustadz firanda.
    Status Hujjah Gugur bagi orang yang berakal waras.

    Kesebelas : Imam Abu Nu’aim -Pengarang Kitab al Hilyah-(336-430 H)

    Beliau berkata di kitabnya al I’tiqod,

    “Jalan kami adalah jalannya para salaf yaitu pengikut al Kitab dan As Sunnah serta ijmak ummat. Di antara hal-hal yang menjadi keyakinan mereka adalah Allah senantiasa Maha Sempurna dengan seluruh sifat-Nya yang qodiimah…

    dan mereka menyatakan dan menetapkan hadits-hadits yang telah valid (yang menyebutkan) tentang ‘arsy dan istiwa`nya Allah diatasnya tanpa melakukan takyif (membagaimanakan) dan tamtsil (memisalkan Allah dengan makhluk), Allah terpisah dengan makhluk-Nya dan para makhluk terpisah dari-Nya, Allah tidak menempati mereka serta tidak bercampur dengan mereka dan Dia ber-istiwa di atas ‘arsy-Nya di langit bukan di bumi.” (Al-‘Uluw karya Adz-Dzahabi 2/1305 atau mukhtashor Al-‘Uluw 261)

    Adz Dzahabi berkata, “Beliau (Imam Abu Nu’aim) telah menukil adanya ijmak tentang perkataan ini -dan segala puji hanya bagi Allah-, beliau adalah hafizhnya orang-orang ‘ajam (non Arab) di zamannya tanpa ada perselisihan. Beliau telah mengumpulkan antara ilmu riwayat dan ilmu diroyah. Ibnu Asaakir al Haafizh menyebutkan bahwa dia termasuk sahabat dari Abu Hasan al Asy’ari.” (Al-‘Uluw 2/1306)

    tanggapan : 1. kitab al-I`tiqod karya Abu Nu`aim Al-ashfahani tidak ada wujudnya , ini merupakan kitab Majhul yang hanya diketahui oleh Imam Adz-dzahabi , terlebih adz-dzahabi sendiri telah meninggalkan faham yang dianutnya dalam kitabnya al-Uluw ini , saya minta Ustadz Firanda untuk menunjukkan wujud asli kitab i`tiqod yang dinisbatkan kepada abu Nu`aim , atau kitab Majhul pun menurut Ustadz Firanda bisa dijadikan referensi……..? status Hujjah gugur karena kitab al-I`tiqod Abu Nu`aim adalah kitab Majhul, terlebih dalam tulisan ini Ustadz Firanda banyak menyandarkan Hujjahnya pada para Pembohong dan Pemalsu seperti yang telah lewat diatas.
    2.

    qoul ke 12 yang dijadikan sandaran ustadz Firanda Untuk menguatkan Klaim Ijma`nya

    Kedua belas: Imam Abu Zur’ah Ar Raazi (meninggal tahun 264H) dan Imam Abu Hatim (meninggal tahun 277H)

    Berkata Ibnu Abi Hatim :

    “Aku bertanya pada bapakku (Abu Hatim-pent) dan Abu Zur’ah tentang madzhab-madzhab ahlussunnah pada perkara ushuluddin dan ulama di seluruh penjuru negeri yang beliau jumpai serta apa yang beliau berdua yakini tentang hal tersebut? Beliau berdua mengatakan, “Kami dapati seluruh ulama di penjuru negeri baik di hijaz, irak, syam maupun yaman berkeyakinan bahwa:

    Iman itu berupa perkataan dan amalan, bertambah dan berkurang…

    Allah ‘azza wa jalla di atas ‘arsy-Nya terpisah dari makhluk-Nya sebagaimana Dia telah mensifati diri-Nya di dalam kitab-Nya dan melalui lisan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam tanpa menanyakan bagaimananya, Ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat”(Syarh Ushuul I’tiqood Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah karya Al-Laalikaai 1/198)

    Ibnu Abi Haatim juga berkata berkata,

    “Aku mendengar bapakku berkata, ciri ahli bid’ah adalah memfitnah ahli atsar, dan ciri orang zindiq adalah mereka menggelari ahlussunnah dengan hasyawiyah dengan maksud untuk membatalkan atsar, ciri jahmiyah adalah mereka menamai ahlussunnah dengan musyabbihah, dan ciri rafidhoh adalah mereka menamai ahlussunnah dengan naasibah.” (selesai)
    Syarh Ushul I’tiqod Ahlissunnah wal jama’ah lil imam al Laalikai 1/200-201.

    Tanggapan : riwayat ini tidak sah dinisbatkan kepada Abu Zur`ah begitu juga jika dinisbatkan kepada Abu hatim , riwayat ini diriwayatkan dari tiga jalur sebagaimana disebutkan oleh Adz-dzahzbi dalam Al-Uluw , dua jalur pertama terdapat dua Rawi yang majhul , keduanya yaitu : Ali ibn Ibrohim meriwayatkan dari Ibn Jami` , rawi majhul satunya Al-hasan bin Muhammad bin Hubaisy Al Muqri tidak ada bioghrafi yang jelas tentangnya dan tidak ada seorangpun Ahli jarh wa ta`dil yang men tsiqoh kannya dan dia adalah Majhul , sebagaimana riwayatnya terdapat dalam sarh Sunnah Al-lalikai juz 1 hal 176 , jalur ketiga atsar ini diriwayatkan oleh Ibn Murdik jarak kematiannya dengan Abu Hatim 60 tahun sebagaimana disebutkan dalam tarikh baghdad juz 12 hal 30.

    Seperti diketahui secara luas oleh ahli bahwa Abu Zur`ah dan Abu Hatim tidak dikenal berbicara dalam masalah seperti ini sebagaimana keduanya juga dikenal tidak mempunyai karya tulis dalam Bab Aqidah percis seperti Teman keduanya yaitu Imam Ahmad Ibn Hambal yang juga mengatakan : tidak ada yang melewati jembatan Baghdad orang yang lebih Hafidz dari Abu Zur`ah , beliau adalah termasuk salah satu Wali Abdal yang dengannya Bumi terjaga.

    Saya ahmad syahid katakan : andai pernyataan sepert itu Muncul dari golongan Asy`ariyah atau Sufiyah Pasti kaum wahabiyyin akan menuduh Kafir Musyrik ahli bid`ah.

    Status Hujjah gugur , karena rawi-rawinya Majhul.

    Ketiga belas : Imam Ibnu Abdil Bar (meninggal tahun 463H)

    Beliau berkata dikitabnya at Tamhiid setelah menyebutkan hadits nuzul (turunnya Allah ke langit dunia, pent),

    “Pada hadits tersebut terdapat dalil bahwa Allah berada di atas yaitu di atas ‘arsy-Nya, di atas langit yang tujuh, hal ini sebagaimana dikatakan oleh para jama’ah. Hal ini merupakan hujjah bagi mereka terhadap mu’tazilah dan jahmiyah yang mengatakan bahwa Allah ‘azza wa jalla berada dimana-mana bukan di atas ‘arsy” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/8)

    Kemudian beliau menyebutkan dalil-dalil terhadap hal ini, di antaranya, beliau berkata :

    “Diantara dalil bahwa Allah di atas langit yang tujuh adalah bahwasanya para ahli tauhid seluruhnya baik orang arab maupun selain arab jika mereka ditimpa kesusahan atau kesempitan mereka mendongakkan wajah mereka ke atas, mereka meminta pertolongan Rabb mereka tabaaraka wa ta’ala…”” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/12)

    Beliau juga berkata :

    “Dan kaum muslimin di setiap masa masih senantiasa mengangkat wajah mereka dan tangan mereka ke langit jika mereka ditimpa kesempitan, berharap agar Allah menghilangkan kesempitan tersebut” (Fathul Barr fi at Tartiib al Fiqhi li at Tamhiid li Ibni Abdil Barr 2/47)

    tanggapan : inilah pentingnya menggabungkan antar riwayat sebagaimana saya sebutkan dalam awal Mukadimah , sehingga memberikan pemahaman yang utuh sesuai dangan maksud penulis , sebab Ibnu Abdil Bar dalam dalam at-tamhid juga mengatakan :

    pertama bahwa Khobarul wahid (hadist ahad ) tidak memberikan keyakinan pasti (ilm) hanya mewajibkan untuk diamalkan ( hanya berlaku dalam furu`, pent) tentu hal ini bertentangan dengan kaum wahabiyyin , yang menjadikan khobarul wahid (hadist ahad) sebagai Hujjah dalam Aqidah , bahkan dalam tuilisan ini Ustadz Firanda membawakan atsar – atsar Mungkar tidak sah bahkan Maudu` untuk landasan Aqidah , sebagaimana yang telah lewat diatas.

    Kedua : Ibnu Abdil Bar juga mengingkari pernyataan Nu`aim bin Hammad yang menyatakan bahwa ” Allah turun dengan Dzatnya sementara dia diatas kursinya ” , berkata Ibnu Abdil Bar : ” ucapan ini bukanlah sesuatu (yang dapat dipegang- pent.) dikalangan ahli , karena ini merupakan kaifiyah ( membagaimanakan-pent) sementara Ahli Ilmu Lari dari pernyataan seperti ini karna pernyataan seperti itu tidak bisa difahami kecuali terhadap sesuatu yang terlingkupi penglihatan. ( bersifat fisik-pent)

    Ketiga : Ibnu Abdil bar juga mengatakan : telah bersepakat Ulama shahabat dan tabi`in yang dari mereka dibawakan takwil dst…. Menunjukkan jika takwil itu boleh dan dibenarkan karena datang dari para sahabat dan tabi`in , lalu kenapa Wahabiyyin dalam masalah istiwa pun melarang takwil………? Dan menganggap sesat orang yang melakukan Takwil……?

    Ke empat : Ibnu Abdil bar mengatakan : telah berkata Ahli Atsar (tentang Hadist Nuzul –pent) bahwa yang turun adalah Perintah dan rahmatnya , kemudian beliau menyebutkan riwayat hingga Imam Malik rodiuallahu anhu dan berkata : bisa jadi (pentakwilan ini -pent) seperti perkataan imam malik rohimahullah yang bermakna ” turunnya Rohmat dan Qodhonya (ketetapan-pent) dengan pengampunan dan penerimaan , at-tamhid 7/ 144 ,

    Ke lima : dari pernyataan pernyataan yang digabungkan ini , jelas lah Aqidah sang Imam bahwa Beliau adalah seorang Mufawwidh , yang salah difahami oleh sang Ustadz sehingga dijadikan landasan dan Hujjah akan Klaim Ijmaknya , lihatlah sang Imam mengingkari istiwa dengan ” Dzatnya ” dan sang Imam pun membolehkan Takwil , lalu mengikuti siapakah kawan-kawan wahabiyiin ini …….? Mereka dan juga Ustadz Firanda menolak Tafwidh dan takwil, padahal keduanya ( Tafwidh dan Takwil) adalah Manhaj atau metodologi yang dianut Ulama Ahlu Sunnah (Asy`ariyah) sepanjang masa , sehingga status Hujjah Ustadz Firanda Gugur karena Imam Ibnu Abdil Bar adalah seorang Mufawwidh.

    ustadz Firanda mengatakan :

    Para pembaca yang budiman, demikianlah jelas bagi kita ijmak salaf yang disampaikan oleh para ulama mutaqodimin, sepuluh lebih ulama mutqoddimin yang menyebutkan ijmak para salaf.

    Jawab : para pembaca yang budiman ternyata setelah dilakukan pengecekan secara seksama semua riwayat yang ustadz firanda jadikan sandaran adalah tidak sah , Mungkar bahkan maudu` sebagaimana tadi kita kupas satu per satu, bukankah ustadz Firanda dan All wahabiyyin menolak Hadist – hadist dhaif meskipun hanya untuk Fadailul a`mal……..? tetapi kenapa justru pada masalah Pokok (Aqidah) sebagai Pondasi Iman seorang Muslim , Ustadz Firanda menyuguhkan dan bahkan menggunakan perkataan Ulama yang riwayatnya tidak sah , Mungkar bahkan maudhu`….? Diletakkan Dimana semboyan ” hanya menggunakan hadist-hadist shahihnya “…..? Ijmak yang Ustadz klaim itu hanya berdiri diatas ketidak absahan , kemungkaran dan kepalsuan………!

    Demikian kajian atas Klaim ijma tentang ” keberadaan Allah Dilangit ” telah gugur seiring dengan gugurnya para Rawi yang meriwayatkannya , dan sebenarnya masih banyak qoul –qoul lainnya yang dinisbatkan kepada para Ulama Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah ) yang jika diteliti sanadnya akan menghasilkan hal yang sama dengan atsar-atsar yang ditampilkan Ustadz Firanda statusnya akan sama (gugur) karena riwayat-riwayat itu 95 % adalah Tidak Sah , Mungkar , dan maudhu` , adapun Ijmak yang benar dikalangan Ahlu Sunnah Wal-jama`ah adalah keyakinan Bahwa ” Allah ada tanpa Tempat dan Arah ” , Ijmak ini dinukil Oleh Al-imam Al-hafidz An-nawawi dalam Syarh Muslim juz 5 hal. 24 cet. Darul Fikr , Al-Imam Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-atsqolani Al-Imam Al- Hafidz az-zabidi , Ijmak inipun dinukil oleh Ibnu Hazm dalam maratibul Ijmak halaman 167.

  18. membongkar tipu muslihat Firanda kiriman 2.

    Ustadz Firanda mengatakan :

    Perkataan salaf dan para ulama mutaqoddimin yang menunjukan bahwa Allah berada di atas langit

    Adapun perkataan para ulama yang menunjukan bahwasanya Allah berada di atas langit maka sangatlah banyak. Perkataan mereka telah dikumpulkan oleh Al-Imam Al-Muhaddits Ad-Dzahabi As-Syafii dalam kitabnya Al-‘Uluw li Al-‘Aliyyi Al-‘Adziim (bisa di download di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2414 dan http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2413 dua cetakan dengan dua pentahqiq yang berbeda) demikian juga kitab Al-Ijtimaa’ al-Juyuusy Al-islaamiyyah karya Ibnul Qoyyim (bisa di download di http://www.waqfeya.com/book.php?bid=2835). Sungguh dua kitab ini telah mengumpulkan banyak sekali perkataan sahabat, para salaf, dan para ulama dari abad yang berbeda-beda dan dari madzhab yang berbeda-beda.

    Oleh karenanya tidak ada seorang ulama salafpun –apalagi para sahabat- yang perkataannya menunjukan bahwasanya Allah tidak berada di atas.

    Jawab : tahukah Ustadz Firanda jika Penulis kitab Al-Uluw al-Hafidz adzahabi telah tobat dan meninggalkan kitab itu , sehingga beliau menulis sebuah risalah yang diberi nama Zaghlul Ilmi….? Dan dalam risalah itu pulalah Adzahabi mencantumkan nasehatnya untuk ibnu Taimiyah…..? lalu kenapa ustadz masih menganjurkan Orang untuk mempelajarinya ……..? tahukah ustadz jika 98% sanad dan riwayat atsar yang terdapat dalam kitab al-Uluw adalah tidak sah , Mungkar bahkan PALSU alias MAUDHU`……. Begitu juga halnya dengan kitab Ijtimaa al-juyusy al-Islamiyah percis tidak jauh beda dengan riwayat atau sanad yang terdapat dalam kitab al-uluw , 98% tidak Sah Mungkar bahkan Maudhu` kalo tidak percaya silahkan sampaikan atsar dari kedua kitab itu Insya Allah akan saya kasih tahu statusnya lalu silahkan Ustadz lakukan cek n ricek untuk membuktikan sendiri kebenaran yang coba saya tunjukkan itu , hal ini saya sampaikan semata – mata hanya untuk mengingatkan fa dzakir Fa inna dzikro tanfa ul mu`minin, semoga Allah memberikan Hidayah kepada kita semua untuk mengikuti kebenaran.
    Bukti jika Al-Hafidz Adz-dzhabi telah berlepas diri dari kitab yang dikarangnnya ( Al-Uluw ) terdapat dalam sampul manuskrip kitab tersebut :

    scan manuskrip tidak mau muncul

    perhatikan pernyataan Adz-dzahabi diatas : saya tidak sepakat dengan ibarat (pernyataan2 ) itu , dan saya pun tidak mengikuti mereka (pernyataan2 yang dinukil Adz-dzahabi dalam Al-uluw yang pernah beliau tulis-pent).

    Lantas siapakah para Imam yang nama2nya beliau kumpulkan dalam Al-uluw….? Jika adz-dzahabi sendiri tidak sepakat dan tidak mengikutinya….? Segera buang jauh – jauh kitab Al-uluw dan kitab Ijtima Juyusy al-islamiyah.

    Berikut adalah risalah Adz-dzahabi Untuk Ibnu Taimiyah :

    Dalam risalah Bayân Zghl al-‘Ilm, adz-Dzahabi menuliskan ungkapan yang diperuntukan bagi Ibn Taimiyah sebagai berikut [Secara lengkap dikutip oleh asy-Syaikh Arabi at-Tabban dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, lihat kitab j. 2, h. 9/ bukunya ada sama saya]:

    “Hindarkanlah olehmu rasa takabur dan sombong dengan ilmumu. Alangkah bahagianya dirimu jika engkau selamat dari ilmumu sendiri karena engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari musuhmu atau engkau menahan diri dari sesuatu yang datang dari dirimu sendiri. Demi Allah, kedua mataku ini tidak pernah mendapati orang yang lebih luas ilmunya, dan yang lebih kuat kecerdasannya dari seorang yang bernama Ibn Taimiyah. Keistimewaannya ini ditambah lagi dengan sikap zuhudnya dalam makanan, dalam pakaian, dan terhadap perempuan. Kemudian ditambah lagi dengan konsistensinya dalam membela kebenaran dan berjihad sedapat mungkin walau dalam keadaan apapun. Sungguh saya telah lelah dalam menimbang dan mengamati sifat-sifatnya (Ibn Taimiyah) ini hingga saya merasa bosan dalam waktu yang sangat panjang. Dan ternyata saya medapatinya mengapa ia dikucilkan oleh para penduduk Mesir dan Syam (sekarang Siria, lebanon, Yordania, dan Palestina) hingga mereka membencinya, menghinanya, mendustakannya, dan bahkan mengkafirkannya, adalah tidak lain karena dia adalah seorang yang takabur, sombong, rakus terhadap kehormatan dalam derajat keilmuan, dan karena sikap dengkinya terhadap para ulama terkemuka. Anda lihat sendiri, alangkah besar bencana yang ditimbulkan oleh sikap “ke-aku-an” dan sikap kecintaan terhadap kehormatan semacam ini!”.

    Adapun nasehat adz-Dzahabi terhadap Ibn Taimiyah yang ia tuliskan dalam risalah an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah, secara lengkap dalam terjemahannya sebagai berikut [Teks lebih lengkap dengan aslinya lihat an-Nashîhah adz-Dzahabiyyah dalam dalam kitab Barâ-ah al-Asy’ariyyîn Min ‘Aqâ-id al-Mukhâlifîn, j. 2, h. 9-11]:

    “Segala puji bagi Allah di atas kehinaanku ini. Ya Allah berikanlah rahmat bagi diriku, ampunilah diriku atas segala kecerobohanku, peliharalah imanku di dalam diriku.

    Oh… Alangkah sengsaranya diriku karena aku sedikit sekali memiliki sifat sedih!!
    Oh… Alangkah disayangkan ajaran-ajaran Rasulullah dan orang-orang yang berpegang teguh dengannya telah banyak pergi!!
    Oh… Alangkah rindunya diriku kepada saudara-saudara sesama mukmin yang dapat membantuku dalam menangis!!
    Oh… Alangkah sedih karena telah hilang orang-orang (saleh) yang merupakan pelita-pelita ilmu, orang-orang yang memiliki sifat-sifat takwa, dan orang-orang yang merupakan gudang-gudang bagi segala kebaikan!!
    Oh… Alangkah sedih atas semakin langkanya dirham (mata uang) yang halal dan semakin langkanya teman-teman yang lemah lembut yang menentramkan. Alangkah beruntungnya seorang yang disibukan dengan memperbaiki aibnya sendiri dari pada ia mencari-cari aib orang lain. Dan alangkah celakanya seorang disibukan dengan mencari-cari aib orang lain dari pada ia memperbaiki aibnya sendiri.
    Sampai kapan engkau (Wahai Ibn Taimiyah) akan terus memperhatikan kotoran kecil di dalam mata saudara-saudaramu, sementara engkau melupakan cacat besar yang nyata-nyata berada di dalam matamu sendiri?!
    Sampai kapan engkau akan selalu memuji dirimu sendiri, memuji-muji pikiran-pikiranmu sendiri, atau hanya memuji-muji ungkapan-ungkapanmu sendiri?! Engkau selalu mencaci-maki para ulama dan mencari-cari aib orang lain, padahal engkau tahu bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian menyebut-menyebut orang-orang yang telah mati di antara kalian kecuali dengan sebutan yang baik, karena sesungguhnya mereka telah menyelesaikan apa yang telah mereka perbuat”.

    Benar, saya sadar bahwa bisa saja engkau dalam membela dirimu sendiri akan berkata kepadaku: “Sesungguhnya aib itu ada pada diri mereka sendiri, mereka sama sekali tidak pernah merasakan kebenaran ajaran Islam, mereka betul-betul tidak mengetahui kebenaran apa yang dibawa oleh Nabi Muhammad, memerangi mereka adalah jihad”. Padahal, sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang sangat mengerti terhadap segala macam kebaikan, yang apa bila kebaikan-kebaikan tersebut dilakukan maka seorang manusia akan menjadi sangat beruntung. Dan sungguh, mereka adalah orang-orang yang tidak mengenal (tidak mengerjakan) kebodohan-kebodohan (kesesatan-kesesatan) yang sama sekali tidak memberikan manfa’at kepada diri mereka. Dan sesungguhnya (Sabda Rasulullah); “Di antara tanda-tanda baiknya keislaman seseorang adalah apa bila ia meninggalkan sesuatu yang tidak memberikan manfa’at bagi dirinya”. (HR. at-Tirmidzi)

    Hai Syekh…! (Ibn Taimiyah), demi Allah, berhentilah, janganlah terus mencaci maki kami. Benar, engkau adalah seorang yang pandai memutar argumen dan tajam lidah, engkau tidak pernah mau diam dan tidak tidur. Waspadalah engkau, jangan sampai engkau terjerumus dalam berbagai kesesatan dalam agama. Sungguh, Nabimu (Nabi Muhammad) sangat membenci dan mencaci perkara-perkara [yang ekstrim]. Nabimu melarang kita untuk banyak bertanya ini dan itu. Beliau bersabda: “Sesungguhnya sesuatu yang paling ditakutkan yang aku khawatirkan atas umatku adalah seorang munafik yang tajam lidahnya”. (HR. Ahmad)

    Jika banyak bicara tanpa dalil dalam masalah hukum halal dan haram adalah perkara yang akan menjadikan hati itu sangat keras, maka terlebih lagi jika banyak bicara dalam ungkapan-ungkapan [kelompok yang sesat, seperti] kaum al-Yunusiyyah, dan kaum filsafat, maka sudah sangat jelas bahwa itu akan menjadikan hati itu buta.

    Demi Allah, kita ini telah menjadi bahan tertawaan di hadapan banyak makhluk Allah. Maka sampai kapan engkau akan terus berbicara hanya mengungkap kekufuran-kekufuran kaum filsafat supaya kita bisa membantah mereka dengan logika kita??

    Hai Bung…! Padahal engkau sendiri telah menelan berbagai macam racun kaum filsafat berkali-kali. Sungguh, racun-racun itu telah telah membekas dan menggumpal pada tubuhmu, hingga menjadi bertumpuk pada badanmu.
    Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya diisi dengan tilâwah dan tadabbur, majelis yang isinya menghadirkan rasa takut kepada Allah karena mengingt-Nya, majelis yang isinya diam dalam berfikir.
    Oh… Alangkah rindunya kepada majelis yang di dalamnya disebutkan tentang orang-orang saleh, karena sesungguhnya, ketika orang-orang saleh tersebut disebut-sebut namanya maka akan turun rahmat Allah. Bukan sebaliknya, jika orang-orang saleh itu disebut-sebut namanya maka mereka dihinakan, dilecehkan, dan dilaknat.

    Pedang al-Hajjaj (Ibn Yusuf ats-Tsaqafi) dan lidah Ibn Hazm adalah laksana dua saudara kandung, yang kedua-duanya engkau satukan menjadi satu kesatuan di dalam dirimu. (Engkau berkata): “Jauhkan kami dari membicarakan tentang “Bid’ah al-Khamîs”, atau tentang “Akl al-Hubûb”, tetapi berbicaralah dengan kami tentang berbagai bid’ah yang kami anggap sebagai sumber kesesatan”. (Engkau berkata); Bahwa apa yang kita bicarakan adalah murni sebagai bagian dari sunnah dan merupakan dasar tauhid, barangsiapa tidak mengetahuinya maka dia seorang yang kafir atau seperti keledai, dan siapa yang tidak mengkafirkan orang semacam itu maka ia juga telah kafir, bahkan kekufurannya lebih buruk dari pada kekufuran Fir’aun. (Engkau berkata); Bahwa orang-orang Nasrani sama seperti kita. Demi Allah, [ajaran engkau ini] telah menjadikan banyak hati dalam keraguan. Seandainya engkau menyelamatkan imanmu dengan dua kalimat syahadat maka engkau adalah orang yang akan mendapat kebahagiaan di akhirat.

    Oh… Alangkah sialnya orang yang menjadi pengikutmu, karena ia telah mempersiapkan dirinya sendiri untuk masuk dalam kesesatan (az-Zandaqah) dan kekufuran, terlebih lagi jika yang menjadi pengikutmu tersebut adalah seorang yang lemah dalam ilmu dan agamanya, pemalas, dan bersyahwat besar, namun ia membelamu mati-matian dengan tangan dan lidahnya. Padahal hakekatnya orang semacam ini, dengan segala apa yang ia perbuatan dan apa yang ada di hatinya, adalah musuhmu sendiri. Dan tahukah engkau (wahai Ibn Taimiyah), bahwa mayoritas pengikutmu tidak lain kecuali orang-orang yang “terikat” (orang-orang bodoh) dan lemah akal?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah orang pendusta yang berakal tolol?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah aneh yang serampangan, dan tukang membuat makar?! Atau kalau tidak demikian maka dia adalah seorang yang [terlihat] ahli ibadah dan saleh, namun sebenarnya dia adalah seorang yang tidak paham apapun?! Kalau engkau tidak percaya kepadaku maka periksalah orang-orang yang menjadi pengikutmu tersebut, timbanglah mereka dengan adil…!

    Wahai Muslim (yang dimaksud Ibn Taimiyah), adakah layak engkau mendahulukan syahwat keledaimu yang selalu memuji-muji dirimu sendiri?! Sampai kapan engkau akan tetap menemani sifat itu, dan berapa banyak lagi orang-orang saleh yang akan engkau musuhi?! Sampai kapan engkau akan tetap hanya membenarkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang baik yang akan engkau lecehkan?!

    Sampai kapan engkau hanya akan mengagungkan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang yang akan engkau kecilkan (hinakan)?!
    Sampai kapan engkau akan terus bersahabat dengan sifatmu itu, dan berapa banyak lagi orang-orang zuhud yang akan engkau perangi?!
    Sampai kapan engkau hanya akan memuji-muji pernyataan-pernyataan dirimu sendiri dengan berbagai cara, yang demi Allah engkau sendiri tidak pernah memuji hadits-hadits dalam dua kitab shahih (Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim) dengan caramu tersebut?!

    Oh… Seandainya hadits-hadits dalam dua kitab shahih tersebut selamat dari keritikmu…! Tetapi sebalikanya, dengan semaumu engkau sering merubah hadits-hadits tersebut, engkau mengatakan ini dla’if, ini tidak benar, atau engkau berkata yang ini harus ditakwil, dan ini harus diingkari.

    Tidakkah sekarang ini saatnya bagimu untuk merasa takut?! Bukankah saatnya bagimu sekarang untuk bertaubat dan kembali (kepada Allah)?! Bukankah engkau sekarang sudah dalam umur 70an tahun, dan kematian telah dekat?! Tentu, demi Allah, aku mungkin mengira bahwa engkau tidak akan pernah ingat kematian, sebaliknya engkau akan mencaci-maki seorang yang ingat akan mati! Aku juga mengira bahwa mungkin engkau tidak akan menerima ucapanku dan mendengarkan nesehatku ini, sebaliknya engkau akan tetap memiliki keinginan besar untuk membantah lembaran ini dengan tulisan berjilid-jilid, dan engkau akan merinci bagiku berbagai rincian bahasan. Engkau akan tetap selalu membela diri dan merasa menang, sehingga aku sendiri akan berkata kepadaku: “Sekarang, sudah cukup, diamlah…!”.

    Jika penilaian terhadap dirimu dari diri saya seperti ini, padahal saya sangat menyangi dan mencintaimu, maka bagaimana penilaian para musuhmu terhadap dirimu?! Padahal para musuhmu, demi Allah, mereka adalah orang-orang saleh, orang-orang cerdas, orang-orang terkemuka, sementara para pembelamu adalah orang-orang fasik, para pendusta, orang-orang tolol, dan para pengangguran yang tidak berilmu.

    Aku sangat ridla jika engkau mencaci-maki diriku dengan terang-terangan, namun diam-diam engkau mengambil manfaat dari nasehatku ini. “Sungguh Allah telah memberikan rahmat kepada seseorang, jika ada orang lain yang menghadiahkan (memperlihatkan) kepadanya akan aib-aibnya”. Karena memang saya adalah manusia banyak dosa. Alangkah celakanya saya jika saya tidak bertaubat. Alangkah celaka saya jika aib-aibku dibukakan oleh Allah yang maha mengetahui segala hal yang ghaib. Obatnya bagiku tiada lain kecuali ampunan dari Allah, taufik-Nya, dan hidayah-Nya.

    Segala puji hanya milik Allah, Shalawat dan salam semoga terlimpah atas tuan kita Muhammad, penutup para Nabi, atas keluarganya, dan para sahabatnya sekalian. Terjemahan ini saya Nukil dari situs ” kenapa takut Bid`ah ” . word Press . com

    Lanjutan
    Ustadz Firanda mengatakan :

    Perkataan para ulama Asyaa’iroh yang mengakui Allah di atas langit

    Ternyata kita dapati bahwasanya sebagian pembesar madzhab Asyaa’iroh juga mengakui keberadaan Allah di atas langit. Sebagaimana hal ini telah ditegaskan oleh Imam Al-Baihaqi dalam kitabnya Al-Asmaa’ wa As-Sifaat (2/308)

    Beliau berkata, “Dan atsar dari salaf seperti hal ini (yaitu bahwasanya Allah berisitwa di atas ‘arsy -pent) banyak. Dan madzhab As-Syafii radhiallahu ‘anhu menunjukan di atas jalan ini, dan ini madzhab Ahmad bin Hanbal…Dan Abu Hasan Ali bin Ismaa’iil Al-‘Asy’ari berpendapat bahwasanya Allah melakukan suatu fi’il (perbuatan) di ‘arsy yang Allah namakan istiwaa’… Dan Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Mahdi At-Thobari dan juga para ahli nadzor bahwasanya Allah ta’aalaa di langit di atas segala sesuatu, ber-istiwa di atas ‘arsynya, yaitu maknanya Allah di atas ‘arsy. Dan makna istiwaa’ adalah tinggi di atas sebagaimana jika dikatakan “aku beristiwa’ di atas hewan”, “aku beristiwa di atas atap”, maknanya yaitu aku tinggi di atasnya, “Matahari beristiwa di atas kepalaku”

    Dari penjelasan Al-Imam Al-Baihaqi di atas nampak ;
    – Banyaknya atsar dari salaf tentang Allah di atas.
    – Ini merupakan madzhab As-Syafi’i dan madzhab Imam Ahmad bin Hanbal
    – Ini merupakan madzhab sebagian pembesar Asyaa’iroh seperti Abul Hasan Al-Asy’ari dan Abul Hasan At-Thobari.

    Jawab : sebaiknya Ustadz Firanda juga menyertakan perkataan Al-Imam Al-baihaqi dalam Asma wa sifat halaman 410 , beliau berkata : ” dan Dzat yang Qodim yang maha suci adalah Tinggi diatas Arsy tidak duduk , tidak juga berdiri , tidak menempel tidak juga terpisah ( wala mubayin lil arsy) dari Arsy , jika yang diinginkan dengan mubayanah itu adalah Makna menjauh atau berpisah , karena menempel dan terpisah merupakan kebalikannya , dan berdiri dan duduk adalah sifat Jisim (tubuh-pent) , dan Allah azza wa jalla satu somad yang tidak dilahirkan tidak pula melahirkan , yang tidak ada satupun bandingannya tidak boleh disifati dengan sifat-sifat Jisim (tubuh-pent) , kemudian pensifan akan ketinggian Allah tidak hanya disebutkan oleh Al-baihaqi tetapi juga dikatakan oleh Ibnu mahdi dan Imam At-thobari dimana maksud mereka semuanya adalah ketinggian martabat dan kedudukan sama sekali bukan ketiunggian fisik dan dzat sebagaimana yang diinginkan oleh Ustadz firanda , jadi qoul yang dibawakan oleh Ustadz Firanda ini mendukung pendapat Ulama Asy`ariyah yang menetapkan ketinggian martabat kedudukan dan kekuasaan.

    Begitu juga jika Ustadz Firanda menyertakan perkataan Imam al- Baihaqi dalam kitabnya al-i`tiqod ” halaman 69 – 73 tepatnya pada halaman 72 beliau katakan : ringkasnya (bil-jumlah) wajib diketahui bahwa ” Istiwa allah ” yang maha suci dan maha tinggi bukanlah Istiwa yang lurus dari yang bengkok bukan pula berdiam dalam tempat , bukan pula menempel / menyatu disalah satu makhluknya , akan tetapi Istiwa diatas Arsy nya sebagaimana diberitakan tanpa Bagaimana dan DIMANA tidak menyatu tidak pula terpisah (ba inun) dari seluruh Makhluknya dan bahwasannya kedatangan Allah bukanlah kedatangan dari tempat ke tempat dan tanpa Gerakan dst….. perhatikanlah beliau menafikan kata DIMANA , kesimpulan dari atsar yang dibawakan oleh Ustadz Firanda ini beserta isinya menunjukan jika Al-Baihaqi dan Ulama yang disebutkannya menginginkan Istiwa dalam makna ” ketinggian Martabat , kedudukan dan kekuasaan ” sama sekali Bukan ketinggian Fisik (Dzat) sebagaimana yang di inginkan Ustadz Firanda.

    Ustadz Firanda mengatakan :

    Pertama : Imam Abul Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah

    Merupakan perkara yang mengherankan bahwasanya diantara para ulama yang menyebutkan konsensus salaf tersebut adalah Imam besar kaum Asyaa’iroh yaitu Imam Abul Hasan Al-‘Asy’ari yang hidup di abad ke empat Hijriah. Dialah nenek moyang mereka, guru pertama mereka, sehingga merekapun berintisab (berafiliasi) kepada nama beliau menjadi firqoh Asyaa’iroh.

    Berkata Imam Abul Hasan Al-‘Asy’ari rahimahullah dalam kitabnya Risaalah ila Ahli Ats-Tsagr:

    Ijmak kesembilan :
    Dan mereka (para salaf) berkonsensus (ijmak) … bahwasanya Allah ta’aala di atas langit, diatas arsyNya bukan di bumi. Hal ini telah ditunjukan oleh firman Allah
    أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ أَنْ يَخْسِفَ بِكُمُ الأرْضَ

    Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu (QS Al-Mulk : 16).

    Dan Allah berfirman
    إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ
    kepada-Nyalah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya (QS Faathir : 10).

    Dan Allah berfirman
    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏

    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
    Dan bukanlah istiwaa’nya di atas arsy maknanya istiilaa’ (menguasai) sebagaimana yang dikatakan oleh qodariah (Mu’tazilah-pent), karena Allah Azza wa Jalla selalu menguasai segala sesuatu. Dan Allah mengetahui yang tersembunyi dan yang lebih samar dari yang tersembunyi, tidak ada sesuatupun di langit maupun di bumi yang tersembunyi bagi Allah, hingga seakan-akan Allah senantiasa hadir bersama segala sesuatu. Hal ini telah ditunjukan oleh Allah Azza wa Jalla dengan firmanNya
    وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ

    Dia bersama kamu dimana saja kamu berada (QS Al-Hadiid : 4)
    Para ahlul ilmi menafsirkan hal ini dengan ta’wil yaitu bahwasanya ilmu Allah meliputi mereka di mana saja mereka berada” (Risaalah ilaa Ahli Ats-Tsagr 231-234)

    Ini merupakan hikayat kumpulan perkataan Ahlul Hadits dan Ahlus Sunnah

    ….

    Dan bahwasanya Allah –subhaanahu- diatas arsyNya, sebagaimana Allah berfirman
    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏

    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arasy.” (QS. Thâhâ;5)
    Dan Allah memiliki dua tangan tanpa ditanyakan bagaimananya… dan Allah memiliki wajah… (Maqoolaatul Islaamiyiin 1/345).

    Jawab : 1. kebesaran nama Al- Imam Abul Hasan Al-Asy`ari membuat begitu banyak orang yang ingin mendimpleng / menumpang dalam nama besarnya , bahkan tidak jarang perkataan-perkataan aneh muncul dalam kitab-kitab yang dinisbatkan kepada beliau , sehingga banyak Ahli dalam lingkungan Ulama Asy`ariyah meragukan keaslian kitab-kitab yang dinisbatkan kepada beliau , hal ini pulalah yang kemudian mendorong Al-Hafidz Ibnu Asakir untuk menjelaskan kebohongan-kebohongan yang dinisbatkan kepada Sang Imam , beliau menulis sebuah kitab Tabyinul kadzib al- muftari `ala al- Imam Abul hasan Al-Asy`ari.

    Akidah shahihah yang dianut salaf as-shalih adalah Allah ada tanpa tempat dan arah , kekeliruan Ustadz Firanda adalah menukil perkataan sang Imam dari kitab-kitab yang oleh kalangan Asy`ariyah sendiri kitab-kitab tersebut tidak digunakan sebagai pegangan Utama seperti kitab Al-ibanah , Maqolat Islamiyyin , risalah ila ahli tsagr dan yang lainnya , kalangan Asy`ariah hanya menggunakan pernyataan-pernyataan Sang Imam yang betul-betul Tsabit dari sang Imam bukan kitab-kitab Muharraf (yang telah diubah ) oleh tangan – tangan Jail seperti hasyawiyun, sebab Pemahaman teks Mutasyabihat secara literal bukanlah Manhaj al- Imam Abul Hasan Al- Asy`ari , seperti yang dinyatakan oleh al-imam Ibnu A`sakir dalam kitab Tabyinul kadzibil muftari , begitu juga ditegaskan oleh al-imam tajuddin al-subki dalam tobaqot syafi`iyah , coba perhatikan pernyataan Imam abul hasan al-asy`ari :
    ” Allah ada tanpa tempat , menciptakan Arsy dan kursi tanpa butuh kepada keduanya sebagai tempat , dan Allah setelah menciptakan tempat , tetap seperti sebelum menciptakan tempat.” ( tabyinul kadzibil muftari hal 150).
    Oleh karena Itu bagi siapapun termasuk ustadz Firanda jika ingin mengambil Hujjah Untuk mempelajari ( menyerang ) Asy`ariyyin ambil dan pelajarilah Tabyinul Kadzib karya Al-Hafidz Ibn `Asakir , sehingga apa yang didakwakan Ustadz firanda bahwa : para Ulama Asy`ariyah pun mengakui Jika Allah berada dilangit , adalah dakwa`an yang tertolak karena kitab-kitab yang dijadikan sandaran oleh ustadz firanda , dikalangan kalangan Asy`ariyah pun tidak menggunakannya sebagai pegangan Utama , karena kitab-kitab tersebut tidak Tsabit dan tidak lagi murni Asli karangan Sang Imam.
    Bukti kedua yang dijadikan Hujjah oleh ustadz Firanda

    Kedua : Abu Bakr Al-Baaqillaani (wafat 403 H)

    Beliau berkata dalam kitabnya Al-Ibaanah

    “Jika dikatakan : Apakah kalian mengatakan bahwa Alla berada dimana-mana?, dikatakan : Kita berlindung kepada Allah (dari perkataan ini-pent). Akan tetapi Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, dan Allah berfirman “Kepada-Nyalah naik perkatan-perkataan yang baik”, dan Allah berfirman “Apakah kalian merasa aman dari Allah yang berada di atas?”

    Beliau berkata, “Kalau seandainya Allah di mana-mana maka Allah akan berada di perut manusia, di mulutnya, …

    (Sebagaimana dinukil oleh Imam Adz-Dzahabi dalam kitabnya Al-‘Uluw 2/1298 (Mukhtsor Al-‘Uluw 258)).

    Jawab :1. pernyataan beliau bahwa Allah ada dimana – mana adalah Jawaban terhadap Jahmiyah dan Mu`tazilah yang menyatakan Allah berada Dimana – mana sementara Aqidah Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah ) adalah Allah ada tanpa tempat dan tanpa Arah.

    2. pernyataan beliau : Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, adalah Manhaj atau metodologi Tafwidh (salah satu dari dua metodologi yang digunakan Ulama asy`ariyah dalam memahami ayat Mutasyabihat) pernyataan beliau ini merupakan bantahan bagi kaum Mujassimah (wahabiyah) yang mengartikan Istawa dengan arti yang Bathil mereka mengartikan Istawa dengan : Istiqroru Dzat ( berdiamnya Dzat Allah dilangit )

    3. bukti yang dibawakan Ustadz Firanda ini justru menjadi Bumerang bagi Ustadz Firanda dan golongannnya yang mengartikan Istawa dengan makna Istiqror ( berada / berdiam ) karena Al- Baqilani tidak menentukan arti secara Khusus untuk lafadz Istawa , yang beliau katakan adalah : ” Akan tetapi Allah beristiwa di atas ‘arsy-Nya sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, perhatikan : sebagaimana Allah kabarkan dalam kitabNya “ArRahman di atas ‘arsy beristiwaa”, inilah yang disebut Tafwidh yang juga di tolak oleh Ustadz Firanda dan kelompoknya.

    Bukti ke tiga yang dibawakan Ustadz Firanda :

    Ketiga : Imam Al-Baihaqi (wafat 458 H)

    Beliau berkata dalam kitabnyaAl-I’tiqood wal Hidaayah ilaa Sabiil Ar-Rosyaad, tahqiq : Abul ‘Ainain, Daar Al-Fadhiilah, cetakan pertama bab Al-Qoul fi Al-Istiwaaa’ (hal 116)

    “Dan maksud Allah adalah Allah di atas langit, sebagaimana firmanNya, “Dan sungguh aku akan menyalib kalian di pangkal korma”, yaitu di atas pangkal korma. Dan Allah berfirman “Berjalanlah kalian di bumi”, maksudnya adalah di atas muka bumi. Dan setiap yang di atas maka dia adalah samaa’. Dan ‘Arsy adalah yang tertinggi dari benda-benda yang di atas. Maka makna ayat –wallahu a’lam- adalah “Apakah kalian merasa aman dari Dzat yang berada di atas ‘arsy?”.

    Jawab : lagi-lagi ustadz Firanda menyebut Nama Al-Hafidz Al- baihaqi untuk mendukung hipotesanya , dan Sangat disayangkan Ustadz firanda hanya mengambil pernyataan Al- Baihaqi yang belum tuntas demi mendukung kesimpulan Bathilnya , saya minta Ustadz firanda untuk membaca tulisan Al-Baihaqi secara utuh dalam bab Al-qoul fil Istiwa jangan main- penggal – penggal begitu karena akan memberikan pemahaman yang salah , coba baca terus sampai halaman berikutnya yang menunjukkan jika Al-baihaqi ” hanya ” sedang menyebutkan ayat dan hadist yang berkaitan dengan istwa belum kepada kesimpulan , sebagaimana potongan bab oleh Ustadz Firanda seakan itu adalah kesimpulan sang Imam al- baihaqi dalam memahami Istawa.
    sementara kesimpulan yang shahih dari sang Imam adalah : ” ( wa Fil Jumlah ……) kesimpulannya adalah wajib diketahui bahwa Itiwa Allah yang maha suci dan maha tinggi , bukanlah Istiwa tegak dari yang bengkok , bukan pula Ber Diam (berada) pada tempat , tidak pula bersentuhan dengan suatu apapun dari makhluknya , akan tetapi Istiwa diatas Arsynya sebagaimana yang diberitakan tanpa bagaimana dan Dimana , tidak menyatu tidak pula terpisah (ba inun) dari seluruh Makhluknya , dan datangnya Allah bukanlah datang dari tempat ke tempat , dan datangnya Allah tidak dengan Gerakan , dan turunnya pun bukan dengan berpindah , dan nafsnya bukanlah Tubuh (jisim) dan Wajahnya tidak lah gambar (shuroh) , dan tangannya Bukanlah Anggota Tubuh , dan matanya bukanlah bola mata , hanya saja sifat-sifat ini telah ditentukan maka kami mengatakannya dengan menafikan bagaimananya Allah berfirman : tidak ada sesuatupun yang menyerupainya dan ber Firman : tidak ada yang sebanding dengannya dan Allah berfirman : apakah engkau tahu nama baginya……..

    coba bandingkan Aqidah sang Imam (al-baihaqi) dengan Aqidah Salafiyyin ( wahabiyyin ) Aqidah sang Ustadz yang mengatakan Istiwa dengan Istiqror ( berdiam / bertempat ) yang mengatakan Istiwa dengan qu`ud ( jongkok) Julus ( duduk) sebagaimana dinyatakan Imam Imam mereka : mengatakan Allah duduk di dikursi , disebutkan dalam kitab ” Fathul Majid ” hal. 356 penulis abdurrahman bin hasan bin muhammad bin abdil Wahhab. Cet. Darusalam riyad. Dan masih banyak lainnya seperti hamud at- tuwajiri , bin baz dll

    kesimpulan : bukti ketiga yang dibawakan Ustadz Firanda ini Justru menjadi senjata makan tuan , yang membabat habis Aqidah Ustadz firanda dan kelompoknya yang mengartikan Istiwa dengan berdiam bertempat dan duduk dikursi diatas Arsy. Dari tiga bukti yang dibawakan sang Ustadz ini ternyata memiliki pemahaman yang berbeda dengan apa yang dipahami Ustadz Firanda cs , sehingga Klaim Ustadz Firanda lagi-lagi gugur karena sang Ustadz salah dalam memahaminya akibat dari pemahaman yang dipenggal – penggal.

    Terlebih Imam Al- baihaqi dalam kitab inipun, setelah menyebutkan kesimpulan tadi , memberikan kaidah yang tidak digunakan bahkan tidak ditampilkan oleh ustadz firanda yaitu beliau berkata : telah mengabarkan kepada kami muhammad bin abdullah al-hafidz memberitakan kepada kami abu bakar bin muhammad bin ahmad bin ba lawih , mengatakan kepada kami muhammad bin bisr bin mator mengatakan al-haitsam bin Khorijah mengatakan kepada kami al-walid bin muslim beliau berkata : telah ditanya Al- Auza`I , Imam malik , sufyan ats-tsauri dan laits bin sa`ad tentang ayat-ayat ini ( ayat mutasyabihat / Istiwa dll-pent) mereka semuanya menjawab ” Ammiruha kama Jaa at tanpa bagaimana ” perhatikanlah para Imam itu menjawab : ” lewati saja sebagaimana dia datang tanpa membagaimanakan ” kemudian untuk mempertegas ini Al-baihaqi juga menyebutkan dengan sanadnya dari sufyan bin Uyainah bahwa : setiap sifat yang Allah sifati dirinya dalam KITABnya maka penjelasannya (tafsirnya) adalah membacanya lalu diam.

    Bandingkan dengan metodologi kaum salafiyyin wahabiyyin termasuk Ustadz firanda yang mengharuskan ayat-ayat itu difahami dengan Dzahir dan hakekat dari setiap lafadz dalam ayat itu ( lihat risalah at-tadmuriyah – Ibnu taimiyah) , bahkan mereka mensifati Allah dengan Riwayat-riwayat yang tidak sah , isroiliyat , Mungkar dan maudhu` seperti yang tertera dalam Kitab Tauhid Karya Syeikh Muhammad bin Abdul Wahhab , kitab Rodd alal jahmiyah karya Ad-darimi kitab al-Uluw adz-dzahabi , kitab Ijtima` juyusy Ibnu Qoyyim dan kitab-kitab pegangan mereka lainnya seperti risalah al-hamawiyah dan al-Arsy karya Ibnu Taimiyah, sangat jauh dari petunjuk para Aimmah.

    Sampai disini kiranya tanggapan (bantahan) atas beberapa materi pokok , dalam tulisan Ustadz Firanda dimana Klaim :

    1. Para ulama Islam telah berkonsensus bahwa Allah berada di atas. —————————Hanya berdasar kepada Riwayat – riwayat yang Tidak Sah , Mungkar bahkan Palsu ( maudhu`) sebagaimana tadi kita kaji bersama ternyata dari 13 riwayat yang dibawakan Ustadz Firanda itu semuanya GUGUR

    2. Perkataan para ulama Islam (dari kalangan sahabat, para tabi’iin, dan yang lainnya) tentang keberadaan Allah di atas sangatlah banyak.—————-
    ——————-Klaim ini pun gugur , karena dua kitab yang dijadikan sandaran Oleh Ustadz Firanda ( al-uluw dan Ijtima` al-juyusy ) hanya bersandarkan kepada riwayat-riwayat yang tidak Sah , Mungkar bahkan Maudhu`

    3. Penjelasan bahwa ternyata sebagian pembesar dari para ulama Asyaa’iroh juga berpendapat bahwasanya Allah berada di atas langit.—————————————klaim ini juga Gugur , karena

    1. Ustadz Firanda dalam pembuktian perkataan Ulama Asy`ariyah , mengambil sandaran dari kitab-kitab yang tidak digunakan oleh ulama Asy`ariyah ,

    2. ustadz Firanda salah dalam memahami perkataan Ulama asy`ariyah dalam hal Ini Al-baqilani yang menggunakan Manhaj Tafwidh , kesalah pemahaman Ustadz Firanda diakibatkan karena ” membaca ” yang tidak utuh komprehensif.

    3. Ustadz Firanda hanya mengambil potongan-potongan pembahasan para Ulama Asy`ariyah , terlebih Sang Ustadz tidak mengindahkan / memperhatikan Metodologi yang ditetapkan Oleh Ulama Ahlu Sunnah (Asy`ariyah). Sehingga ustadz Firanda tidak mampu membedakan antara Manhaj Tafwidh dan Manhaj Takwil yang kedua-duanya merupakan metodologi yang digunakan Ulama Ahlu Sunnah (Asy`ariyah).
    Itulah inti dari tulisan Ustadz firanda yang semunya sudah Gugur dan yang

    berikutnya adalah kajian atau kritisi Ustadz Firanda terhadap tulisan Ustadz Abu salafy , Untuk memperjelas persoalan mungkin perlu juga untuk disimak mudah-mudahan ada faidahnya.

  19. Sekarang banyak orang yang berdoa dan memohon kepada orang mati di kuburan.
    Coba bayangkan.
    Mau tes Ujian Akhir Nasional, banyak yang berbondong2 ke makam Gusdur. Apa bisa lulus coba, kalau ga mau belajar.. bener2 PAYAH.

  20. @ahmadsahid

    assalamualaikum ustad, sangat mencerahkan bahkan lebih, lanjutkan ustad dan perlu dicetak menjadi buku kecil2, suapaya mudah dijangkau ummat.

    lanjutkan
    syukron

  21. membongkar tipu muslihat firanda kiriman 3

    Ustadz Firanda mengatakan :

    Oleh karenanya ana meminta Abu Abu Salafy Al-Majhuul dan pemilik bloig salafytobat untuk mendatangkan satu riwayat saja dari para sahabat atau para salaf dengan sanad yang shohih bahwasanya mereka mengingkari Allah berada di atas langit. Kalau mereka berdua tidak mampu mendatangkan satu riwayatpun maka ketahuilah bahwasanya aqidah yang mereka bawa hanyalah aqidah karangan mereka berdua sendiri dan merupakan wahyu dari syaitan.

    Jawaban : justru saya meminta kepada yang terhormat Ustradz Firanda untuk mendatangkan satu Riwayat saja yang Shahih dari para Sahabat atau para Salaf As-shalihin bahwasannya mereka memahami dan mengartikan ” Istawa ” dengan ” Istiqror ” : ” Allah berdiam / berada di atas langit ” dan tolong jangan lagi membawakan Riwayat-riwayat yang tidak Sah , Mungkar bahkan Maudhu` karena semuanya akan terbongkar sebagaimana riwayat-riwayat diatas tadi . Kalau Ustadz Firanda dan All salafiyyin Wahabiyyin tidak mampu mendatangkan satu riwayatpun maka ketahuilah bahwasanya aqidah yang mereka bawa hanyalah aqidah karangan mereka sendiri dan merupakan wahyu dari syaitan.

    Ustadz Firanda mengatakan :

    Tipu muslihat Abu Salafy

    Dari sini kita akan membongkar kedustaan Abu salafy yang berusaha menggambarkan kepada masa bahwasanya aqidah batilnya tersebut juga diyakini oleh para sahabat.

    Jawab : pembaca yang Budiman mari kita ikuti pembongkaran Tipu Muslihat Abu Salafy yang dilakukan Ustadz Firanda apakah benar-benar terbongkar atau malah Justru tipu Muslihat sang Ustadz yang akan terkuak , mari kita ikuti bagaimana Lihainya sang ustadz dalam BERKELIT ketika dicengkram kuat Oleh Hujjah Abu Salafy , ketika sang Ustadz berkelit dari Hujjah yang tidak mampu untuk dijawabnya.

    Abu Salafi berkata :
    (http://abusalafy.wordpress.com/2010/04/11/ternyata-tuhan-itu-tidak-di-langit-8/) ”

    Pegenasan Imam Ali as.

    Tidak seorang pun meragukan kedalaman dan kelurusan akidah dan pemahaman Imam Ali ibn Abi Thalib (karramalahu wajhahu/semoga Alllah senantiasa memuliakan wajag beliau), sehingga beliau digelari Nabi sebagai pintu kota ilmu kebanian dan kerasulan, dan kerenanya para sahabat mempercayakannya untuk menjelaskan berbagai masalah rumit tentang akidah ketuhanan. Imam Ali ra. berkata:

    كان ولا مكان، وهو الان على كان.

    ”Adalah Allah, tiada tempat bagi-Nya, dan Dia sekarang tetap seperti semula.”

    Beliau ra. juga berkata:

    إن الله تعالى خلق العرش إظهارًا لقدرته لا مكانا لذاته.

    ”Sesungguhnya Allah – Maha Tinggi- menciptakan Arsy untuk emnampakkan kekuasaan-Nya bukan sebagai tempat untuk Dzat-Nya.”[ Al Farqu baina al Firaq:333]

    Beliau juga berkata:

    من زعم أن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود.

    ”Barang siapaa menganggap bahwa Tuhan kita terbatas/mahdûd[2] maka ia telah jahil/tidak mengenal Tuhan Sang Pencipta.”[ Hilyatul Awliyâ’; Abu Nu’aim al Isfahani,1/73, ketika menyebut sejarah Ali ibn Abi Thalib ra.] )) -demikian perkataan Abu Salafy-.
    Ustadz Firanda berkata :
    Ini merupakan kedustaan Abu Salafy terhadap Ali Bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu. Hal ini akan jelas dari beberapa sisi:

    Pertama : Sesungguhnya atsar ini dibawakan oleh orang-orang Syi’ah Rofidoh dalam buku-buku mereka tanpa ada sanad sama sekali. Diantaranya dalam kitab mereka Al-Kaafi (karya Al-Kulaini). Al-Kulaini berkata:

    وَ رُوِيَ أَنَّهُ سُئِلَ ( عليه السلام ) أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ سَمَاءً وَ أَرْضاً فَقَالَ ( عليه السلام ) أَيْنَ سُؤَالٌ عَنْ مَكَانٍ وَ كَانَ اللَّهُ وَ لَا مَكَانَ

    Dan diriwayatkan bahwasanya Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salam ditanya : Dimanakah Robb kami sebelum menciptakan langit dan bumi?, maka Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam berkata, “Mana pertanyaan tentang tempat?! padahal Allah dahulu tanpa ada tempat (Al-Kaafi 1/90 dalam بَابُ الْكَوْنِ وَ الْمَكَانِ)

    Ternyata memang aqidah orang-orang Asyaa’iroh semisal Abu salafy dan pemilik blog salafytobat cocok dengan aqidah orang-orang Syi’ah Rofidhoh dalam masalah dimana Allah. Karena memang orang-orang Rofidhoh beraqidah mu’tazilah, dan Asya’iroh dalam masalah dimana Allah sepakat dengan Mu’tazilah (padahal Mu’tazilah adalah musuh bebuyutan Asya’iroh, sebagaimana nanti akan datang penjelasannya).

    Atsar ini dibawakan oleh Al-Kulaini dengan tanpa sanad, bahkan dengan sighoh “Diriwayatkan” yang menunjukan lemahnya riwayat ini.

    Jawab :
    1. Ustadz Abu Salafy mungkin masih lebih baik Dari Ustadz Firanda yang membawakan Riwayat dengan Sanad yang tidak sah , Mungkar bahkan Maudhu` berapa banyak orang yang akan terbawa oleh tipuan sanad yang tidak sah Mungkar bahkan Palsu yang dibawakan oleh ustadz firanda diatas …..? sementara riwayat tanpa sanad yang dibawakan Ustadz Abu Salafy tidak akan berpengaruh sehebat pengaruh Riwayat yang ber sanad .

    2. menyamakan Aqidah Syi`ah Rofidhoh , Mu`tazilah dangan Asy`ariyah adalah menunjukkan jika Ustadz Firanda tidak memahami perbedaan antar Firqoh dalam islam , atau Ustadz Firanda ingin menumbuhkan kebencian terhadap Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah) kepada orang awam. Dan menjauhkan orang awam dari Faham Ahlu Sunnah wal-jama`ah.

    ustad firanda mengatakan :
    Kedua : Demikian juga yang dinukil oleh Abu Salafy dari kitab Al-Farqu bainal Firoq karya Abdul Qohir Al-Baghdadi adalah riwayat tanpa sanad sama sekali.
    Abdul Qohir Al-Baghdadi berkata :

    “Mereka telah bersepakat bahwasanya Allah tidak diliputi tempat dan tidak berlaku waktu baginya, berbeda dengan perkataan orang-orang yang menyangka bahwasanya Allah menyetuh ‘Arsy-Nya dari kalangan Hasyimiyyah dan Karroomiyyah. Amiirul Mukminin Ali –radhiollahu ‘anhu- berkata : Sesungguhnya Allah telah menciptakan Al-‘Arsy untuk menunjukan kekuasaanNya dan bukan untuk sebagai tempat yang meliputi dzatNya. Beliau berkata juga : Allah dahulu (sendirian) tanpa ada tempat, dan Allah sekarang sebagaimana Dia dulu” (Al-Farqu baynal Firoq hal 33)

    Ustadz Firanda berkata :

    Para pembaca yang budiman, ternyata riwayat-riwayat dari Ali bin Abi Tholib yang dibawakan oleh Abdul Qohir Al-baghdadi tanpa ada sanad sama sekali. Dan hal ini tentunya diketahui oleh Abu Salafy cs, akan tetapi mereka tetap saja menampilkan riwayat-riwayat dusta dan tanpa sanad ini demi untuk mendukung aqidah mereka yang bathil.

    Jawab : 1. pembaca yang budiman ternyata Riwayat-riwayat yang dibawakan Ustadz Firanda meskipun sebagiannya bersanad ternyata sanadnya tidak ada yang sah , mungkar bahkan Maudhu` , Dan hal ini tentunya diketahui oleh Ustadz Firanda cs, akan tetapi mereka tetap saja menampilkan riwayat-riwayat dusta dengan sanad yang tidak sah , Mungkar dan Palsu , demi untuk mendukung aqidah Ustadz Franda cs yang bathil.

    2. menurut saya riwayat yang dibawakan Ustadz Abu Salafy yang tanpa sanad itu , masih lebih baik ketimbang riwayat yang bersanadkan Palsu , sebagaimana banyak dibawakan Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya , sebab meskipun Tanpa sanad Riwayat yang dibawakan Ustadz Abu salafy itu sesuai dan didukung oleh Hadist yang Shahih yang akan dibawakan nanti dibawah.

    3. dan dengan tanpa sanad , orang akan mudah untuk menghindarinya , sementara Riwayat dengan sanad yang tidak sah tidak semua orang tahu hukum dari sanad itu , perlu ilmu yang cukup untuk mengetahui keabsahan sebuah sanad , diperlukan waktu yang tidak sebentar Untuk Mentakhrij sebuah atsar atau riwayat , kemungkinan orang terbawa dan tertipu lebih besar, terlebih ustadz Firanda dalam membawakan riwayat-riwayat tidak menyertakan Hukum dari status sanad itu , ustadz Firanda tidak menyebutkan atsar ini shahih kah , dhaif kah , tidak sah kah atau malah Mungkar dan maudhu`, disini ustadz Firanda telah Melakukan Tadlis pengkianatan atas amanah ilmiyah.

    4. Aqidah Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah) bahwa : ” Allah ada tanpa tempat ”
    atau yang semakna dengan itu seperti yang dicontohkan dalam riwayat tanpa sanad Abu Salafy sebenarnya berlandaskan kepada Hadist Shahih : ” kaa na Allah walam yakun Syaiun Ghoiruhu ” Allah telah ada pada saat tidak ada selainnya ” (HR Bukhori ). Jadi meskipun riwayat yang dibawakan oleh Abu Salafy tanpa sanad , maka Makna dari riwayat itu senada dengan Hadist yang Shahih ini.

    Ustadz firanda berkata :

    Ketiga : Selain riwayat-riwayat tersebut tanpa sanad ternyata Abdul Qohir Al-Baghdadi sama sekali tidak dikenal sebagai seorang Muhaddits, namun demikianlah Abu Salafy cs tetap aja nekat mengambil riwayat dari orang yang tidak dikenal sebagai Muhaddits

    Jawab : 1. entah kurang pengetahuan atau ada maksud lain ustadz Firanda menyatakan Jika Abdul Qohir al-Baghdadi sama sekali tidak dikenal sebagai Muhaddits , Tahukah Ustadz Firanda Jika Al-hafidz Ibnu Sholah menilai Khotib al-Baghdadi sebagai seorang Hafidz…….? Sebagaimana dijelaskan oleh Doktor ,Subhi as-shalih , begitu juga As-suyuthi dalam Tobaqotul Huffadz……? Silahkan lihat Ululumul Hadist wa Mushtolahuh ” hal. 172 karya DR. Subhi Shalih cet. Darul Ilm lil malayin. Ada maksud apa sang Ustadz men tadlis lagi….. apa karena beliau tahu jika Ijma` akan Allah ada tanpa tempat ” juga dinukil oleh Al-Imam Abdul Qohir al-Baghdadi…..? sehingga ketika Al-Imam Abdul Qohir Al-baghdadi sudah jatuh dimata kalangan awam maka mudah bagi Ustadz Firanda untuk menyebarkan Aqidah Bathilnya….? Wallahu a`lam bhishowab.

    2. perkataan Ustadz Firanda : ” namun demikianlah Abu Salafy cs tetap aja nekat mengambil riwayat dari orang yang tidak dikenal sebagai Muhaddits ” , merupakan pembunuhan Karakter terhadap Imam Abdul Qohir Al-Baghdadi , dimana Imam Abdul Qohir Al-Baghdadi dipuji Oleh Amirul Muhadistin Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolani sebagai Orang yang paling mengerti : ” perbedaan antar kelompok ” bandingkan dengan pengambilan Riwayat yang dilakukan Ustadz Firanda yang nekat mengambil riwayat dari para Pemalsu Hadist , seperti Ibn Bathoh Al-`Ukbari dan sejenisnya.

    Ustadz Firanda berkata :

    Keempat : Abdul Qohir Al-Baghadadi tentunya lebih rendah kedudukannya daripada kedudukan super gurunya yaitu Abul Hasan Al-‘Asy’ari

    Jawab : betul Al-Imam Abdul Qohir Al-baghdadi lebih rendah dari Al- Imam Abul Hasan Al-Asy`ari karena beliau adalah Muqollid terhadap Imam Al-Asy`ari , Namun demikian beliau Jauh lebih terhormat dan jauh lebih Mulia ketimbang para Pemalsu Hadist yang dijadikan sumber rujukan Oleh Ustadz Firanda.

    Ustadz Firanda berkata :

    Kelima : Kalau seandainya riwayat-riwayat di atas shahih maka tidak menunjukan bahwasanya Ali bin Abi Tholib mengingkari adanya Allah di atas langit. Paling banter dalam riwayat-riwayat di atas beliau –radhialllahu ‘anhu- hanyalah mengingkari bahwasanya Allah diliputi oleh tempat, dan pernyataan tersebut adalah pernyataan yang benar.

    Ahlus sunnah tidak mengatakan bahwa Allah berada di suatu tempat yang meliputi Allah, akan tetapi mereka mengatakan bahwasanya Allah berada di atas, yaitu di arah atas.

    Jangan disamakan antara tempat dan arah

    Jawab : 1. Rupanya Ustadz Firanda Pura – pura Tidak tahu akan Landasan dari pernyataan Al-Imam Ali Karromallahu Wajhah, ( hadist yang tadi disebutkan “)

    2. meskipun Ustadz firanda meragukan keshahihan atsar sayidina Ali krmh , namun karena dihati sang Ustadz mengetahui sandaran perkataan Imam Ali , akhirnya sang Ustadz mengatakan : ” Paling banter dalam riwayat-riwayat di atas beliau –radhialllahu ‘anhu- hanyalah mengingkari bahwasanya Allah diliputi oleh tempat ” , menarik untuk dicermati kata kata ” Diliputi ” ini merupakan jurus sang Ustadz untuk berkelit dari cengkraman Hujjah Abu Salafy , yang berarti menurut Ustadz firanda ” Allah hanya bertempat saja “, tanpa diliputi oleh tempat , Ustadz , diliputi atau tidak diliputi selagi dikatakan Allah bertempat adalah SALAH , sebab bertentangan dengan Hadist diatas tadi : bahwa Allah telah ada sebelum selainnya ada.

    3. jurus “cerdik” lainnya sang ustadz mengatakan : Jangan disamakan antara tempat dan arah
    apakah menurut Ustadz firanda tempat dan arah itu bukan makhluknya Allah…..? sehingga mengatakan : jangan samakan tempat dan arah ” bukankah keduanya sama-sama Makhluknya Allah…….apakah jika Allah berada pada arah tertentu , tidak berarti Allah bertempat dalam Arah itu……? (logika Ustadz Firanda mulai kocar kacir)

    Ustadz firanda mengatakan :
    Adapun penjelasan maksud dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwasanya Allah berada di atas, maka melalui point-point berikut ini:

    1- Ketinggian itu ada dua, ada ketinggian relatif dan ada ketinggian mutlaq. Adapun ketinggan relatif maka sebagaimana bila kita katakana bahwasanya lantai empat lebih tinggi daripada lantai satu, akan tetapi hal ini relatif, karena ternyata lantai empat lebih rendah daripada lantai enam.

    Jawab : ketinggian Relatif : lantai empat lebih tinggi dari lantai satu , ( adalah salah , karena ketinggian relatif adalah ketinggian Maknawi yang tidak bersifat Fisik , seperti menteri lebih tinggi dari bupati atau presiden diatas para menteri ), Firanda : tetapi lantai 4 lebih rendah dari lantai 6 , benar tapi juga salah , sebab yang Ustadz Firanda Bandingkan adalah lantai 4 dengan lantai 1 , lantai enam tidak Ustadz bandingkan tetapi tiba-tiba dimunculkan inilah yang disebut dengan perkeliruan. Ketinggian Relatif yang Ustadz Firanda Karang ini menunjukkan jika sang Ustadz memahami jika Dzat Allah adalah Jisim sehingga dalam mencontohkan ketinggian relatif pun Ustadz Firanda mencontohkan dengan contok Fisik yaitu bangunan bertingkat , maha suci Allah dari segala percontohan ini.

    Ustadz Firanda mengatakan :

    2- Adapun ketinggian mutlak adalah ketinggian kearah atas. Semua manusia di atas muka bumi ini bersepakat bahwasanya semakin sesuatu ke arah atas maka semakin tinggilah sesuatu tersebut. Maka jadilah poros bumi sebagai titik nol pusat kerendahan, dan semakin ke arah atas (yaitu ke arah langit) maka berarti semakin kearah yang tinggi. Oleh karenanya sering juga kita mendengar perkataan para fisikawan “Tinggi gunung ini dari permukaan tanah…. atau dari permukaan air laut..”. Oleh karenanya kita harus paham bahwasanya langit senantiasa letaknya di atas. Taruhlah jika kita sedang berada di bagian bumi bagian selatan, maka langit pada bagian bumi selatan adalah di atas kita, demikian juga langit pada bagian bumi utara juga berada di atas kita, demikian juga langit pada bagian bumi barat dan langit pada bagian bumi timur.

    Jawab :
    1. ketinggian Muthlak , disini tampak jelas jika yang diinginkan oleh sang ustadz adalah ketinggian Fisik / Dzat Allah , disini tampak jelas jika sang Ustadz membagaimanakan Istiwanya Allah , padahal dari awal jelas sekali perkataan semua Ulama tanpa membagaimanakan ( bila Kaif )

    2. falsafat sang Ustadz ini meniscayakan bentuk Allah Subhanahu Wata`ala berbentuk Bulat atau Bundar , karena beliau mengatakan ” dimanapun engkau berada Niscaya langit selalu berada diatasmu “, jika demikian logika Ustadz Firanda berarti : ” karena Allah selalu berada pada Arah atas , dan Bumi itu Bulat berarti Allah itu Bulat , entah dari mana Ustadz firanda mendapatkan ” filsafat ngawur ” yang bertentangan dengan akal sehat dan Qur`an yang jelas telah mengatakan : Laista kamistlihi syai`, la tudrikuhul Abshar wahuwa yudrikul Abshar , keyakinan dan Filsafat Ustadz firanda ini bisa menyebabkan Kekefuran , wal-I`adzu Billah. Bagaimana pun kau gambarkan Allah dalam benakmu , maka Allah pasti tidak seperti itu.

    Ustadz firanda mengatakan :

    3- Apa yang ada dalam alam wujud ini hanyalah ada dua, Kholiq (yiatu Allah) dan alam semesta (yaitu seluruh makhluk). Dan bagian alam yang paling tinggi adalah langit yang ke tujuh, dan Allah berada di atas langit yang ketujuh, yaitu Allah berada di luar alam. Janganlah di bayangkan bahwa setelah langit yang ke tujuh ada ruang hampa tempat Allah berada, karena ruang hampa juga merupakan alam. Intinya kalau dianggap ada yang lebih tinggi dari langit ketujuh dan merupakan penghujung alam semesta dan yang tertinggi maka Allah berada di balik (di luar) hal itu, dan lebih tinggi dari hal itu. Sehingga tidak ada suatu tempat (yang tempat merupakan makhluk Allah) yang meliputi Allah, karena Allah di luar alam semesta.

    Jawab : pernyataan ustadz dalam point 3 ini membatalkan point ke 2 dan juga terdapat banyak kesalahan :

    Kesalahan 1. ” bagian alam yang paling tinggi adalah langit yang ke tujuh ” pernyataan ini salah besar dan bertentangan dengan Qur`an dan hadist Shahih yang menyatakan diatas langit ke 7 ada Arsy dan diatas Arsy masih ada Lauhul Mahfudz

    Kesalahan 2. dan Allah berada di atas langit yang ketujuh ” pernyataan ini salah , karena tidak ada satupun Ayat Qur`an Maupun Hadist yang mengatakan ” Allah berada pada langit ke 7 , pernyataan ini juga salah dan kekufuran , karena jika Allah berada dilangit ke 7 berarti Allah berada dibawah Arsy dan Lauhul mahfudz , Allah maha tinggi dari semua itu.

    Kesalahan 3. yang juga fatal disamping juga meruntuhkan pernyataan pernyataan ustadz Firanda sebelumnya , pernyataan : ” Sehingga tidak ada suatu tempat (yang tempat merupakan makhluk Allah)————————- ” falsafat bathil Ustadz Firanda meng – Isyaratkan adanya ” tempat yang bukan makhluknya Allah yang tidak meliputi Allah ” ini adalah Syirik Akbar dan kekufuran , karena sesunguhnya tidak ada pencipta selain Allah , sehingga tidak mungkin ada tempat yang bukan Makhluknya Allah meskipun tempat itu tidak meliputi Allah. Sebagaimana di tegaskan oleh pernyataan Ustadz Firanda . bahwa ada Arah yang tidak ada . saya minta Ustadz Firanda membawakan dalil yang shahih atas pernyataannya ini.

    Ustadz firanda mengatakan ;

    4- Dari penjelasan di atas, maka jika Ahlus Sunnah mengatakan bahwa Allah di jihah (di arah) atas maka bukanlah maksudnya Allah berada di suatu tempat yang merupakan makhluk. Akan tetepi Allah berada di luar alam, dan berada di arah atas alam. Dan jihah tersebut bukanlah jihah yang berwujud akan tetapi jihah yang tidak berwujud karena di luar alam. (lihat penjelasan Ibnu Rusyd Al-Hafiid dalam kitabnya Al-Kasyf ‘an Manhaj Al-Adillah hal 145-147)

    jawab : point ke 4 ini semakin menjelaskan keyakinan Bathil sang Ustadz disamping juga menunjukkan betapa Goncangnya Aqidah Ustadz Firanda , keyakinan Bathil : bahwa Allah berada pada arah atas secara Fisik , keyakinan yang Goncang : ketika ustadz Firanda juga tahu Ulama meng-kafirkan Aqidah Hulul (aqidah yang menyatakan Allah menempati Makhluknya ) akhirnya Ustadz Firanda mengalihkan dan mereka-reka , seakan-akan bahwa diluar alam sana ada Arah yang tidak ber-wujud disitulah Allah berada , tidak tahukah Ustadz firanda Bahwa Arah khayalannya itu (arah yang tidak ber-wujud ) adalah ADA dalam khayalan sang Ustadz. Dan itu berarti melajimkan 2 hal :

    1. jika dinyatakan Jihah / Arah yang tidak ber-wujud itu bukanlah Makhluknya Allah , maka Ustadz Firanda telah Kafir , sebab Ummat Islam berkeyakinan (sesuai Qur`an dan Hadist ) tidak ada pencipta selain Allah , sebab jika dinyatakan Jihah / arah yang tidak ada itu , bukan Makhluknya Allah berarti ada pencipta lain selain Allah dan ini adalah Syrik Akbar.

    2. jika dinyatakan Jihah / Arah yang tidak ber-wujud itu adalah makhluknya Allah , maka Ustadz Firanda pun ( dengan keyakinannya ini ) telah kafir , karena sudah menyatakan Aqidah Hulul , bahwa Allah menempati / menyatu dengan Makhluknya yang bernama : Jihah yang tidak ber-wujud.

    ustadz Firanda mengatakan :
    5- Imam Ahmad pernah menjelaskan sebuah pendekatan pemahaman tentang hal ini.
    Beliau berkata

    “Jika engkau ingin tahu bahwasanya Jahmiy adalah seorang pendusta tatkala menyangka bahwsanya Allah di semua tempat bukan pada satu tempat tertentu, maka katakanlah : Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?. Maka ia akan menjawab : Iya.

    Katakan lagi kepadanya, “Tatkala Allah menciptakan sesuatu apakah Allah menciptakan sesuatu tersebut dalam dzat Allah ataukah di luar dzat Allah?”. Maka jawabannya hanya ada tiga kemungkinan, dia pasti memilih salah satu dari tiga kemungkinan tersebut.

    Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah.

    Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakannya di luar dzat Allah kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya maka ini juga merupakan kekufuran tatkala ia menyangka bahwasanya Allah masuk di setiap tempat dan wc dan setiap kotoran yang buruk.

    Jika ia mengatakan bahwasanya Allah menciptakan mereka di luar dzatnya kemudian tidak masuk dalam mereka maka ia (si jahmiy) telah meninggalkan seluruh aqidahnya dan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah” (Ar-Rod ‘alaa Al-Jahmiyyah wa az-Zanaadiqoh hal 155-156)

    jawab : 1. kitab Ar-rod alal jahmiyah adalah kitab yang dinisbatkan secara PALSU kepada Imam Ahmad bin Hanbal sebagaimana dinyatakan oleh Al- Imam adz-dzahabi dalam siar a`lam an-nubala juz 11 hal. 286 , dan pada halaman berikutnya dalam kitab itu , pada Hasyiah no 1 bahwa kitab Palsu ini ( ar-rod alal jahmiyah) diriwayatkan oleh al-Khollal dari seorang yang Majhul yang bernama al-khodir bin al-mutsanna dari abdullah bin Ahmad bn Hanbal , lantas dari manakah Al-khollal mendapatkan nama yang majhul itu…..! sebagaimana kita ketahui bersama Al-khollal ini adalah :
    Abu bakar ahmad bin muhammad bin harun al-baghdadi yang terkenal dengan julukan Al-kholal , bermadzhabkan hanbali , dia seorang ahli Bid`ah Mujassim Musyabih , orang ini pulalah yang diikuti Ibnu taimiyah dalam menetapkan Aqidah Julus (Allah duduk) di Arsy , dia ini banyak menggunakan Hadist palsu , wahi dan Isroiliyat dalam bab aqidah makanya banyak sekali hal aneh yang dia kemukakan , dia menulis sebuah kitab yang diberi nama As-sunnah dalam kitab itu pulalah dia terang-terangan mengatakan jika Allah duduk diatas singasana (arsy) dan dia katakan barang siapa yang mengingkarinya dialah Jahmi penolak sifat yang zindiq. Sehingga periwayatan Al-Khollal ini tertolak disamping dalam sanadnya ada Rawi yang MAJHUL.
    Kalaupun kita (Aswaja) mengalah kepada Ustadz Firanda , karena sebenarnya ( riwayat kitab tersebut sudah Gugur dan tertolak sehingga sudah tidak perlu dilirik ) namun demi menghargai usaha Sang Ustadz baiklah mari kita bahas .

    Ustadz firanda berkata :
    6- Perkataan Imam Ahmad أَلَيْسَ اللهُ كَانَ وَلاَ شَيْءَ (Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?) sama dengan perkataan كان الله ولا مكان (Allah dahulu (sendirian) tanpa ada tempat.) Perkataan Imam Ahmad ini di dukung oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam shahihnya
    كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

    “Dahulu Allah (sendirian) dan tidak ada sesuatupun selainNya” (HR Al-Bukhari no 3191)
    Dan kalimat disini memberikan faedah keumuman, yaitu tidak sesuatupun selain Allah tatkala itu, termasuk alam dan tempat.

    Meskipun Imam Ahmad mengatakan demikian akan tetapi beliau tetap menetapkan bahwasanya Allah berada di atas. Dari sini kita pahami bahwa penetepan adanya Allah di atas tidaklah melazimkan bahwasanya Allah berada atau diliputi oleh tempat yang merupakan makhluk.

    Jawab : 1. darimakah Ustadz Firanda tahu jika Imam Ahmad : ” beliau tetap menetapkan bahwasanya Allah berada di atas ” ……………………? Apakah Ustadz Firanda mengetahui Hal yang Ghaib….. sehingga tahu maksud Imam Ahmad tanpa riwayat……? Bukankah sudah sangat jelas perkataan Imam ahmad : (Bukankah Allah telah ada (sendirian) tanpa ada sesuatu lainnya ?) yang bertolak belakang dengan keyakinan Ustadz Firanda bahwa Allah berada pada arah yang tidak berwujud…….? Yang berarti Arah yang tidak ber-wujud itu ada berbarengan dengan adanya Allah…….? Terlebih perkataan Imam Ahmad didukung Hadist : ” Allah telah ada (sendirian) dan tidak ada sesuatupun selainNya” (HR Al-Bukhari no 3191)
    Lantas mengikuti siapakah Ustadz firanda ini……? Bahwa Allah berada pada arah yang tidak Ada ……..? (yang berarti arah yang tidak ada itu ada)……kenapa Ustadz Firanda tidak mengikuti Rosulallah SAW saja…….? : “Allah telah ada (sendirian) dan tidak ada sesuatupun selainNya” (HR Al-Bukhari no 3191)
    Andai Ustadz Firanda mengikuti Rosulallah SAW sebagaimana Imam Ahmad mengikuti Rosulallah Saw , ustadz Firanda tidak akan mengatakan : ” Dari sini kita pahami bahwa penetepan adanya Allah di atas tidaklah melazimkan bahwasanya Allah berada atau diliputi oleh tempat yang merupakan makhluk. ” , yang berarti menurut Ustadz Firanda ” Arah / Jihah yang tidak ada itu ” adalah Bukan makhluk tentu ini adalah kekufuran diatas kekufuran , sebagaimana telah dijelaskan diatas.

    Ustadz firanda mengatakan :
    Perkataan Imam Ahmad ini mirip dengan perkataan Abdullah bin Sa’iid Al-Qottoon sebagaimana dinukil oleh Abul Hasan Al-Asy’ari dalam kitabnya maqoolaat Al-Islamiyiin 1/351

    Abul Hasan Al-Asy’ari berkata, “Dan Abdullah bin Sa’iin menyangka bahwasanya Al-Baari (Allah) di zaman azali tanpa ada tempat dan zaman sebelum penciptaan makhluk, dan Allah senantiasa berada di atas kondisi tersebut, dan bahwasanya Allah beristiwaa’ di atas ‘arsyNya sebagaimana firmanNya, dan bahwasanya Allah berada di atas segala sesuatu”

    Perhatikanlah para pembaca yang budiman, Abdullah bin Sa’iid meyakini bahwasanya Allah tidak bertempat, akan tetapi ia –rahimahullah- tidak memahami bahwasanya hal ini melazimkan Allah tidak di atas. Sehingga tidak ada pertentangan antara keberadaan Allah di arah atas dan kondisi Allah yang tidak diliputi suatu tempat.

    Jawab : 1. diatas sudah dikatakan jika kitab al-Ibanah dan Maqolat Islamiyyin adalah kitab-kitab yang oleh kalangan Asy`ariyah pun tidak menggunakannya sebagai pegangan Utama , karena kitab-kitab tersebut tidak lagi murni Asli karangan Sang Imam.

    2.kembali kita mengalah demi menghormati usaha ustadz firanda , meskipun seakan akan saya berhadapan dengan orang yang tidak bisa menerima keberadaan Allah tanpa Tempat dan Arah , padahal sudah begitu jelas pernyataan Imam Ahmad yang didukung oleh Hadist Rosulallah SAW
    Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Awal, maka tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Mu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Akhir, maka tidak ada sesuatu setelah-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Zhahir, maka tidak ada sesuatu di atas-Mu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Bathin, maka tidak ada sesuatu di bawah-Mu. Ya Allah, lunaskanlah hutang-hutang kami dan bebaskanlah kami dari kefaqiran’
    [Shahih Muslim no.4888]
    Hadist ini tegas menyatakan Tidak ada sesuatu diatas Allah , dan tidak ada sesuatu dibawah Allah , yang berarti Allah ada tanpa tempat dan Arah. Yang sekaligus membabat habis Aqidah Ustadz Firanda yang menyatakan ” Allah berada diatas Makhluknya ”

    kenapa sih Ustadz Firanda masih nekat…….? Ustadz Firanda hanya mengerti bahwa ketinggian itu hanya bersifat Fiskly , Ustadz Firanda tidak Mau menerima Ketinggian yang bersifat Maknawi sehingga dari tadi kita lihat betapa Goncangnya Falsafat Ustadz firanda sampai-sampai menabrak Ijmak bahwa Allah Ada tanpa tempat dan Arah sebagaimana dinyatakan dalam hadist diatas . bahkan keyakinan Ustadz Firanda ini dapat membawa pada kekufuran.

    4. tolong perhatikan pernyataan ustadz Firanda ” Abdullah bin Sa’iid meyakini bahwasanya Allah tidak bertempat, akan tetapi ia –rahimahullah- tidak memahami bahwasanya hal ini melazimkan Allah tidak di atas. ”

    jawab ; 1. Ustadz Firanda mengakui jika banyak ulama seperti Abdullah bin said meyakini bahwasannya Allah tidak Bertempat , namun kemudian dia salah memahami ” atas (al-Fawq ) dan ketinggian (al-uluw) yang dimaksud oleh para Ulama.

    2. yang dimaksud oleh ulama tentang atas (fawq0 ) dan ketinggian ( al-uluw) Allah , adalah ketinggian , derajat ,. martabat , kedudukan dan kekuasaan , sama sekali Bukan ketinggian Fisik atau dzat Allah , sebab Ulama memahaminya dengan mengabungkan seluruh riwayat tentang ” atas dan ketinggian ” sehingga ketinggian yang dimaksud oleh Ulama Ahlu Sunnah tidak bertentangan dengan Qur`an dan Hadist , seperti ayat ” Sujudlah dan mendekatlah ” (Qs. Al-alaq : 19 ) sujud di identikkan dengan mendekat kepada Allah , jika ketinggian diartikan secara Fisik / Dzat maka Posisi Sujud tentu akan lebih Jauh ketimbang posisi berdiri , sehingga Sujud adalah menjauh dari Allah , karena Allah secara Fisik dan Dzat berada diatas Langit bahkan jauuuh diatas langit menurut pemahaman Ustadz Firanda . tentu keyakinan seperti aqidah ustadz firanda ini bertentangan dengan ayat al-qur`an tadi.

    3. jika Atas ( Fawq) dan ketinggian ( al-Uluw) difahami secara Fisik dan ber-jarak, sebagaimana yang difahami Ustadz Firanda , Niscaya tergambar jika Allah itu Bundar mengikuti bentuk Bumi yang Bulat ini dimana pada tiap sisi bumi ada langit , sehingga Allah itu berbentuk mengikuti bundarnya Bumi , tentu pemahaman seperti ini akan mengakibatkan kesesatan dan kekufuran , wal-I`adzu Billah , ( rupanya ustadz Firanda mengikuti al-albani) atau jika Atas (Fawq) dan ketinggian (al-uluw) dipahami secara Fisik / Dzat , sehingga ditetapkanlah Arah bagi Allah sebagaimana dipahami oleh Ustadz Firanda , maka meniscayakan Jika Allah itu Tidak Ahad (Esa) , sebab manusia itu terlingkupi oleh arah yang enam , sehingga manusia yang Utara Allahnya satu , yang di selatan Allahnya satu , yang ditimur satu yang dibarat satu yang dibawah bumi Allahnya Satu , dan yang dibumi bagian diatas Allahnya satu . Keyakinan dan Aqidah seperti ini hanya cocok bagi orang-orang yang tidak berakal waras. Syeikh Bin Baz Faham betul jika bulatnya bumi akan merusak aqidah wahabi.

    Ustadz firanda berkata :
    Sehingga tidak ada pertentangan antara keberadaan Allah di arah atas dan kondisi Allah yang tidak diliputi suatu tempat. ”

    Jawab : andai kata ” Atas ” tidak ditambahkan dalam kata ” Arah ” niscaya tidak ada pertentangan dengan Aqidah Ahlu Sunnah wal-jama`ah (Asy`ariyah) bahwa Allah ada tanpa tempat dan Arah. Andai kata Atas ” yang dimaksud adalah ketinggian secara Maknawi tentu Aqidah Ustadz firanda akan sama dengan Aqidah Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah) hanya sayang dari awal hingga Akhir , Ustadz Firanda selalu menggandeng ” Atas ” dengan Arah , yang difahami secara Fisik dan dzat. Yang menyebabkan kegoncangan dan Kontradiksi yang parah , dan bertentangan baik dengan Al-qur`an , Hadist maupun akal yang sehat.

    Ustadz Firanda mengatakan ;
    Pemahaman Imam Ahmad dan Abdullah bin Sa’iid bertentangan dengan pemahaman Abu Salafy cs yang menyangka bahwa kalau kita menafikan tempat dari Allah melazimkan Allah tidak di atas. Atau dengan kata lain Abu Salafy cs menyangka kalau Allah berada di arah atas maka melazimkan Allah diliputi oleh tempat.

    jawab : 1. ustadz Firanda mulai terlihat sempoyongan sehingga mengatakan : ” Pemahaman Imam Ahmad dan Abdullah bin Sa’iid bertentangan dengan pemahaman Abu Salafy cs ” , tanpa menjelaskan dimana letak Pertentangannya. Atau jangan-jangan Ustadz Firanda tidak Faham dengan Ucapannya sendiri…..?

    2. dan justru yang saya Fahami adalah sebaliknya , yang saya fahami : Pemahaman Imam Ahmad dan Abdullah bin Sa’iid bertentangan dengan pemahaman Ustadz Firanda dkk , sebab kedua Imam itu mengatakan : ” Allah telah ada sebelum selainnya ada ” sementara Ustadz Firanda mengatakan : ” Allah ada diatas langit ” , padahal Langit itu diciptakan oleh Allah dari tidak ada menjadi ada ) perbedaan pemahaman antara para Imam dengan Ustadz Firanda sangat jelas. Lalu pertanyaannya sejak kapankah (menurut Ustadz Firanda ) Allah berada diatas langit…………..? sejak langit itu diciptakan atau setelah langit itu diciptakan……………..? atau langit itu ada bersamaan dengan adanya Allah …….? Semua jawabannya akan mengakibatkan kekufuran.

    3. ternyata Aqidah (keyakinan) Ustadz Firanda juga labil , dimana diawal diskusi Ustadz Firanda berkeyakinan bahwa ” Allah berada diatas Langit ” namun kemudian berubah menjadi ” Allah ada diatas Arsy ” kemudian berubah lagi dan ustadz Firanda menegaskan keyakinannya (Aqidahnya) jika sebenarnya ” Allah ada pada Arah yang tidak ber-Wujud ” , inilah kegoncangan luar biasa aqidah Ustadz firanda yang sekaligus bertentangan dengan pemahaman para imam diatas. Entah mana tepatnya Aqidah yang Ustadz Firanda Yakini. Diatas langit kah …….? Atau diatas Arsy………? Atau malah Diatas Arah yang tidak ber-wujud………? Lalu dari manakah Ustadz firanda Tahu jika Allah berada pada Arah yang tidak ber-Wujud………..? sebab ” Arah yang tidak ber-wujud itu ” tidak pernah disebutkan dalam Al-qur`an dan Al-Hadist , dan tidak pernah diucapkan seorang Ulama Islam kecuali sekte Mujassimah Karomiyah dan para pengikutnya (Ibnu Taimiyah) . Ternyata Ustadz Firanda ini pengikut sekte Karomiyah toh………..?

    Ustadz Firanda berkata :
    Adapun riwayat Abu Nu’aim dalam hilyatul Auliyaa 1/73

    Adapun sanad dari riwayat diatas sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 1/72 adalah sbb:

    Ana berharap Abu Salafy cs mendatangkan biografi para perawi di atas dan menghukumi keabsahan sanad di atas !!!

    Jawab : 1. pertanyaan Ustadz Firanda ini merupakan bentuk ke tidak berdayaan ustadz Firanda dalam menjawab Hujjah Abu Salafy , dan ini merupakan salah satu contoh berkelitnya sang Ustadz dari cengkraman kuat Hujjah Abu Salafy , bukannya memberikan jawaban , sang Ustadz malah meminta bioghrafi para Rawi , jika Ustadz Firanda seorang pencari kebenaran sejati , tentu sebagai orang yang mempunyai pendidikan dan mempunyai kemampuan untuk MenTakhrij , Ustadz Firanda akan Tunjukkan jika Riwayat ini tidak sah , Mungkar , maudhu` atau hukum sanad lainnya . bukan malah minta disuapin , kecuali jika Ustadz Firanda ini bukan LC atau bukan sarjana dalam bidang keagamaan, semoga Ustadz Firanda sadar akan hal itu karena beliau sebagai orang yang berpendidikan mempunyai kewajiban untuk mengawal Aqidah Ummat agar tetap pada Aqidah Yang benar. Bukan malah menyesatkan Ummat dengan riwayat – riwayat yang tidak sah Mungkar bahkan Maudhu`.

    2. bukankah Ustadz Firanda juga dalam ” Klaim Ijmaknya ” tidak menyertakan Bioghreafi para rawinya…..? bahkan Ustadz Firanda juga tidak menyertakan status hukum dari atsar yang dibawanya , bahkan nama rawinyapun banyak yang tidak disertakan , lalu kenapa sekarang ustadz Firanda , bersifat ” pura-pura ” kritis terhadap sanad dalam riwayat yang dibawakan Ustadz Abu Salafy …..? Subhanallah sebenarnya apa yang dicari Ustadz Firanda ini………?

    3. ketika Ustadz Abu Salafy membawakan Riwayat tanpa sanad , sikap Ustadz Firanda begitu antipati , dan bersikap kasar seolah ingin menelan bulat-bulat Abu Salafy . namun ketika Ustadz Abu Salafy mebawakan Riwayat yang bersanad , sikap ustad Firanda malah berkelit , bak seorang pengecut menghadapai kilauan pedang Lawan.

    Abu Salafy berkata :
    Penegasan Imam Imam Ali ibn Husain –Zainal Abidin- ra.

    Ali Zainal Abidin adalah putra Imam Husain –cucu terkasih Rasulullah saw.- tentang ketaqwaan, kedalaman ilmu pengatahuannya tentang Islam, dan kearifan Imam Zainal Abidin tidak seorang pun meragukannya. Beliau adalah tempat berujuk para pembesar tabi’in bahkan sehabat-sabahat Nabi saw.

    Telah banyak diriwayatkan untaian kata-kata hikmah tentang ketuhanan dari beliau ra. di antaranya adalah sebagai berikut ini.

    أنت الله الذي لا يحويك مكان.

    ”Engkaulah Allah Dzat yang tidak dirangkum oleh tempat.”

    Dalam hikmah lainnya beliau ra. berkata:

    أنت الله الذي لا تحد فتكون محدودا

    ”Engkaulah Allah Dzat yang tidak dibatasi sehingga Engkau menjadi terbatas.”[ Ithâf as Sâdah al Muttaqîn, Syarah Ihyâ’ ‘Ulumuddîn,4/380])) -Demikan perkataan Abu Salafi-

    ustadz Firanda berkata:
    Ana katakan kepada Abu Salafy, dari mana riwayat ini? Mana sanadnya?, bagaimana biografi para perawinya? Apakah riwayat ini shahih…??!!

    Para pembaca yang budiman, berikut ini kami akan tunjukan sumber pengambilan Abu Salafy yaitu kitab Ithaaf As-Saadah Al-Muttaqiin 4/380

    Dalam buku ini dijelaskan bahwasanya atsar Zainal Abidin ini bersumber dari As-Shohiifah As-Sajjaadiyah, kemudian sanadnya sangatlah panjang, maka kami meminta Al-Ustadz Abu Salafy al-Majhuul dan teman-temannya untuk mentahqiq keabsahan sanad ini dari sumber-sumber yang terpercaya. Jika tidak maka para perawi atsar ini dihukumi majhuul, sebagaimana diri Abu salafy yang majhuul. Maka jadilah periwayatan mereka menjadi riwayat yang lemah.

    Jawab : kembali Ustadz Firanda al—makdhzuul menggunakan gaya ” pengecut ” dalam menghadapi kilauan pedang Abu Salafy , bukannya men-Takhrij sendiri malah lempar batu sembunyi tangan.

    Ustadz Firanda berkata :
    Tahukah Al-Ustadz Abu salafy Al-Majhuul bahwasanya As-Shohiifah As-Sajjadiyah adalah buku pegangan kaum Rofidhoh?, bahkan dinamakan oleh Rofidhoh dengan nama Ukhtul Qur’aan (saudarinya Al-Qur’an) karena menurut keyakinan mereka bahwasanya perkataan para imam mereka seperti perkataan Allah.

    Sekali lagi ternyata Abu Salafy cs doyan untuk bersepakat dengan kaum Syi’ah Rofidhoh, doyan dengan aqidah mereka…???!!!

    Ana sarankan ustadz Abu salafy untuk membaca buku yang berjudul Haqiqat As-Shahiifah As-Sajjadiah karya DR Nasir bin Abdillah Al-Qifarii (silahkan didownload di .

    Jawab : 1. Tahukah Al-Ustadz Firanda Al-makhdzuul (yang terhinakan ) , (karena sebenarnya ustadz Firanda sudah menentang Qur`an dan Hadist serta kalah telak oleh Abu Salafy) jika kebenaran itu tidak memandang dari mana kebenaran itu diambil , dimanapun yang namanya kebenaran tetaplah kebenaran , meskipun jika ia keluar dari orang yang paling hina, perkeliruan dan logika konyol Ustadz Firanda ini , melazimkan Ummat Islam ( ahlu Sunnah ) untuk tidak berpegang pada Al-Qur`an karena Al-qur`an juga adalah pegangan sekte-sekte sesat seperti Syi`ah Rofidhoh , Khowarij Juga Karomiyah mujassimah, inilah logika konyol dan perkeliruan Ustadz Firanda , yang juga melazimkan : ” Sekali lagi ternyata Firanda cs doyan untuk bersepakat dengan kaum Karomiyah mujassimah , doyan dengan aqidah mereka…???!!! ,

    2. silahkan Ustadz Firanda kaji dan teliti sanad dari riwayat itu , silahkan ustadz Firanda men-Takhrij sanad dari riwayat yang dibawakan Abu salafy , jangan hanya bisa ngeles , dan perlu Ustadz Firanda ketahui jika pernyataan seperti itu (yg terdapat dalam it-tihaf ) adalah Ijmak Ahlu Sunnah yang berlandaskan hadist Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari Amrom bin Hushain dengan dua jalur periwayatan 1. dari `A`masy dengan lima jalur periwayatan dan 2. dari Mas`udi kholid bin Harist dengan tujuh jalur periwayatan, yang menunjukkan jika Hadist tersebut adalah Hadist yang Mutawatir. Pertanyaannya kenapa Ustadz Firanda menolak perkataan Imam Ali (dengan alasan2 konyol dan tidak ilmiyah) padahal perkataan Itu bersumber dari Hadist yang mutawatir ini……?

    3. mengenai hadist tersebut berkata Al-hafidz Al-baihaqi : dan perkataannya ” Allah telah ada sebelum sesuatu ada ” menunjukkan tidak ada sesuatu selain Allah ” tidak air tidak Arsy tidak pula selain keduanya (al-asma wa-as-shifat hal 375-376) , dan berkata Al-hafidz Ibn Abdil Bar : dan benar menurut Akal , dan tetap (tsabit) menurut dalil yang jelas bahwasannya Allah ada pada Azal tidak berada pada tempat ( At-tamhid Ibn abdil Bar juz 7 hal 136 ) tentu masih banyak pernyataan Ulama Ahlu Sunnah lainnya yang senada , apakah pernyataan-pernyataan Ulama ini juga Aqidah Rofidhoh …………………?

    Abu Salafy berkata :
    Penegasan Imam Ja’far ash Shadiq ra. (W. 148 H)

    Imam Ja’far ash Shadiq adalah putra Imam Muhammad -yang digelaru dengan al Baqir yang artinya si pendekar yang telah membela perut ilmu pengetahuan karena kedalaman dan kejelian analisanya- putra Imam Ali Zainal Abidin. Tentang kedalam ilmu dan kearifan Imam Ja’far ash Shadiq adalah telah menjadi kesepakatan para ulama yang menyebutkan sejarahn hidupnya. Telah banya dikutip dan diriwayatkan darinya berbagai cabang dan disiplin ilmu pengetahuan, khususnya tentang fikih dan akidah.

    Di bawah ini kami sebutkan satu di antara pegesan beliau tentang kemaha sucian Allah dari bertempat seperti yang diyakini kaumm Mujassimah Wahhabiyah. Beliau berkata:

    من زعم أن الله في شىء، أو من شىء، أو على شىء فقد أشرك. إذ لو كان على شىء لكان محمولا، ولو كان في شىء لكان محصورا، ولو كان من شىء لكان محدثا- أي مخلوقا.

    ”Barang siapa menganggap bahwa Allah berada dalam/pada sesuatu, atau di attas sesuatu maka dia benar-benar telah menyekutukan Allah. Sebab jika Dia berada di atas sesuatu pastilah Dia itu dipikul. Dan jika Dia berada pada/ di dalam sesuatu pastilah Dia terbatas. Dan jika Dia terbuat dari sesuatu pastilah Dia itu muhdats/tercipta.”[ Risalah al Qusiariyah:6])) –demikian perkataan Abu Salafy-

    Firanda berkata :
    Demikianlah Abu Salafy Al-Majhuul, tatkala tidak mendapatkan seorang salafpun yang mendukung aqidahnya maka diapun segera mencari riwayat-riwayat yang mendukung aqidahnya meskipun riwayat tersebut lemah, bahkan meskipun tanpa sanad. Inilah model pendalilalnnya sebagaiamana telah lalu.

    Berikut ini kami nukilkan langsung riwayat tanpa sanad tersebut dari kita Ar-Risaalah Al-Qusyairiyyah

    Dan nampaknya Abu Salafy tidak membaca buku ini secara langsung sehingga salah dalam menyebutkan nama buku ini. Abu Salafy berkata ” Risalah al Qusiariyah ”

    Jawab : demikianlah Ustadz Firanda Al-Makhdzul , menolak seluruh pernyataan Ulama yang dibawakan Ustadz Abu Salafy , dengan alasan tidak ada sanadnya , namun ketika pernyataan itu bersanad dengan konyol Ustadz firanda meminta bioghrafi para rawinya , padahal ustad Firanda sendiri tatkala tidak mendapatkan seorang salaf pun yang mendukung aqidahnya maka ustadz Firanda pun segera mencari riwayat-riwayat yang mendukung aqidahnya meskipun riwayat tersebut tidak sah , Mungkar bahkan Palsu (lihat riwayat2 klaim Ijmak ustadz firanda , yang semuanya sudah Gugur , diatas) . Inilah model pendalilalnnya sebagaiamana telah lalu. Dan Nampaknya kesalahan pengetikanpun disikapi secara kasar oleh Ustadz Firanda .

    bersambung…………….

  22. lanjutan kiriman ke 4

    Ustadz Firanda berkata :

    Dan rupanya Abu Salafy sadar bahwasanya tipu muslihatnya ini akan tercium juga –karena kami yakin Al-Ustadz Abu Salafy Al-Majhuul adalah ustadz yang mengerti akan ilmu hadits, dan mengerti akan definisi hadits shahih, oleh karenanya berani untuk mengkritik As-Syaikh Al-Albani rahimahullah-. Oleh karenanya agar tidak dituduh dengan tuduhan macam-macam,

    Jawab : rupanya Ustadz Firanda tidak sadar jika tipu muslihatnya ini , akan tercium juga –karena kami yakin Al-Ustadz Firanda Al-Makhdzuul adalah ustadz yang mengerti akan ilmu hadits, dan mengerti akan definisi hadits shahih, namun tetap saja membawakan riwayat-riwayat dengan Sanad yang Tidak sah Mungkar bahkan Palsu (maudhu`) , padahal dalam Mukhtashar Al-uluw As-Syaikh Al-Albani pun , mengakui adanya Rawi-rawi yang majhul dalam sanad yang dibawakan Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya itu, Silahkan lihat Mukhtashor al-uluw al-albani

    Ustadz Firanda berkata :
    maka Al-Ustadz Al-Majhuul segera membungkusi tipu muslihatnya ini dengan berkata :

    Peringatan:

    Mungkin kaum Wahhabiyah Mujassimah sangat keberatan dengan penukilan kami dari para tokoh mulia dan agung keluarga Ahlulbait Nabi saw. dan kemudian menuduh kami sebagai Syi’ah! Sebab sementara ini mereka hanya terbiasa menerima informasi agama dari kaum Mujassimah generasi awal seperti ka’ab al Ahbâr, Muqatil dkk.. Jadi wajar saja jika mereka kemudian alergi terhadap mutiara-mutoara hikmah keluarga Nabi saw. karena pikiran mereka telah teracuni oleh virus ganas akidah tajsîm dan tasybîh yang diprogandakan para pendeta Yahudi dan Nasrani yang berpura-pura memeluk Islam!

    Dan sikap mereka itu sekaligus bukti keitdak sukaan mereka terhadap keluarga Nabi Muhammad saw. seperti yang dikeluhkan oleh Ibnu Jauzi al Hanbali bahwa kebanyakan kaum Hanâbilah itu menyimpang dari ajaran Imam Ahmad; imam mereka dan terjebak dalam faham tajsîm dan tasybîh sehingga seakan identik antara bermazhab Hanbali dengan berfaham tajsîm, dan di tengah-tengah mereka terdapat jumlah yang tidak sedikit dari kaum nawâshib yang sangat mendengki dan membenci Ahlulbait Nabi saw. dan membela habis-habisan keluarga tekutuk bani Umayyah; Mu’awiyah, Yazid …. .[ Muqaddimah Daf’u Syubah at Tasybîh; Ibnu Jauzi])) –demikianlah perkataan abu.

    Jawab : justru ustadz Firanda yang membungkus tipu muslihatnya dengan sanad-sanad riwayat yang tidak sah , Mungkar dan Palsu. Ustadz firanda juga membungkus tipu muslihatnya dengan tekhnik-tekhnik licik dalam bantahannya untuk Abu Salafy ini , semoga para pembaca budiman bisa mencermati hal ini.

    Firanda berkata :
    Lihatlah bagaimana buruknya akhlaq Abu Salafy yang hanya bisa menuduh Ahlus Sunnah dengan tuduhan-tuduhan yang kasar namun tanpa bukti. Perkataannya ini mengandung beberapa pengakuannya :

    1. Dia sudah sadar kalau bakalan dituduh mengekor Syia’h namun kenyataannya adalah demikian. Oleh karenanya dengan sangat berani dia mengkutuk Sahabat Mulia Mu’aawiyah radhiallahu ‘anhu. Bukankah ini adalah aqidah Syi’ah Rofidhoh???, bukankah meyakini Allah tidak di atas adalah aqidah Rofidhoh??. Imam Ahlus Sunnah manakah yang mengutuk Mu’aawiyah radhiallahu ‘anhu???!!. Kita Ahlus Sunnah cinta dengan Alu Bait, akan tetapi ternyata semua riwayat Alu Bait yang disebutkan oleh sang Ustadz Abu salafy Al-Majhuul riwayat dusta tanpa sanad.

    Jawab :
    1.ustadz Firanda tidak sadar jika tipu muslihatnya dalam ” Klaim Ijmaknya “, melalui riwayat-riwayat yang tidak sah Mungkar bahkan Maudhu` akan terbongkar.

    2. ustadz Firanda menuduh ustadz Abu Salafy sebagai orang yang berakhlak buruk , karena katanya Abu Salafy menuduh Ahlu Sunnah (wahabiyah) tanpa bukti , hanya sayang Ustadz firanda lagi-lagi tidak sadar jika dia juga banyak menuduh riwayat Abu salfy tanpa bukti , , (seperti tuduhan dusta firanda terhadap riwayat Az-zabidi yang dinukil dari Shahifah as-sajaadiyah , yang dilakukannya tanpa bukti ) , saya berharap agar Ustadz Firanda ngaca diri .

    3.Ustadz Abu Salafy bukanlah orang yang Maksum , bisa jadi abu Salafy juga membuat kesalahan , dan jika benar Abu Salafy mengutuk Sayidina Mu`awiyah Rodhiallahu anhu sayapun tidak sependapat dengan Abu Salafy dalam kutukannya itu (meskipun mu`awiyah layak mendapat celaan ) , lagi pula celaan kepada Sahabat Nabi tidak hanya Muncul dari kaum syi`ah , sebab kaum Wahabiyah pun sama mencela para Sahabat Mulia hanya caranya saja yang berbeda.

    4. sejak kapan Wahabiyyun jadi Ahlu Sunnah………..? sebab salah satu ciri Ahlu Sunnah disamping ” tidak mencela Sahabat Nabi ” juga tidak menetapkan ” Arah bagi Allah “, sedangkan kaum wahabi yang ngaku salafy , mencela Sahabat Nabi (dengan cara yang berbeda dengan Syi`ah) dan menetapkan Arah bagi Allah.

    5. sukurlah Jika kaum Wahabiyah mengaku mencintai Ahlul Bait , hanya saja klaim cinta itu tidak pernah berbukti , bahkan banyak bukti menunjukkan jika dihati kaum wahabiyyah sangat membenci Ahlal Bait , Contoh kecil dari bukti itu , perkataan Ustadz Firanda : ” akan tetapi ternyata ” semua ” riwayat Alu Bait yang disebutkan oleh sang Ustadz Abu salafy Al-Majhuul riwayat dusta tanpa sanad ” , cermati kata ” semua “padahal dua (2) dari 4 riwayat yang dibawakan Ustadz Abu Salafy memiliki sanad seperti riwayat Abu Nu`aim dan riwayat Al-Hafidz As-sayyid Az-zabidi dalam it-tihafnya , Akhlak Buruk Ustadz Firanda terlihat jelas ketika mengatakan : ” riwayat Dusta ” tanpa menyebut Alasan kenapa riwayat itu dicap sebagai riwayat Dusta……?

    Ustadz Firanda berkata :

    2. Dia menuduh bahwa Ahlus Sunnah (yang disebut Wahhabiah olehnya) benci terhadap keluarga Nabi…, manakah buktinya ada seorang Wahhabi yang benci terhadap keluarga Nabi??. Bukankah As-Syaikh Muhammad Bin AbdilWahaab guru besarnya para Wahhabiyyah telah menamakan enam anak-anaknya dengan nama-nama Alul bait???.

    Jawab : lagi-lagi ustadz Firanda (wahabiyah) mengklaim sebagai Ahlu Sunnah ? ? padahal menetapkan arah dan mencela Sahabat Nabi bukanlah ciri ahlu Sunnah, sedangkan soal bukti seorang wahabi benci terhadap keluarga Nabi sangat banyak dua contoh diatas kiranya cukup membuktikan hal itu, Syeikh Muhammad bin Abdil wahhab boleh saja menamakan anak-anaknya dengan nama Ahlul bait (sebagai tameng ) , sebab yang dibutuhkan adalah bukti nyata dalam Prilaku beragama bukan sekedar penamaan anak .

    Ustadz Firanda berkata :
    3. Menuduh Muqotil dkk sebagai mujassimah. Ana ingin tahu apa maksud dia dengan “dkk”??!!

    Jawab : lagi-lagi Ustadz Firanda berlagak Pilon dan seakan tidak tahu pernyataan Ulama tentang Muqotil dan Hajjaj bin yusuf as-saqofi , menurut saya ini juga trik firanda untuk menghindar dari tuduhan Tasybih dan Tajsim.

    Ustadz firanda berkata ;
    Setelah ketahuan kedoknya dan tipu muslihatnya terhadap para Alul Bait, maka Abu Salafy tidak putus asa, maka ia melancarkan tipu muslihat berikutnya. Yaitu berusaha menukil dari para imam madzhab. Namun seperti biasa, ia hanya mampu mendapatkan riwayat-riwayat tanpa sanad. Sungguh aneh tapi nyata, sang ustadz berani mengkritik syaikh Al-bani namun ternyata ilmu hadits yang dimiliki sang ustadz hanya digunakan untuk mengkritik, dan tatkala berbicara tentang aqidah –yang sangat urgen tentunya- ilmu haditsnya dibuang, dan berpegang pada riwayat-riwayat tanpa sanad. Wallahul Musta’aan.

    Jawab : seperti biasa lagi-lagi ustadz firanda menuduh tanpa bukti dengan mengatakan : ” Setelah ketahuan kedoknya dan tipu muslihatnya terhadap para Alul Bait ” , ternyata sekalipun sekolah dimadinah tidak membuat akhlak ustadz Firanda menjadi baik , sebab Ustadz firanda hanya bisa menuduh tanpa Bukti , yang berarti Fitnah , terlebih dalam Klaim Ijmaknya pun Ustadz Firanda banyak membawakan Riwayat Tanpa sanad , lupakah jika diapun melakukan hal yang sama……..? bahkan jauh lebih parah karena sebagian riwayat yang dibawakan Ustadz Firanda adalah riwayat Maudhu` alias palsu.

    Abu Salafy berkata :
    Penegasan Imam Abu Hanifah ra.

    Di antara nama yang sering juga dimanfa’atkan untuk mendukung penyimpangan akidah kaum Mujassimah Wahhabiyah adalah nama Imam Abu Hanifah, karenanya penting juga kita sebutkan nukilan yang nenegaskan akidah lurus Abuhanifah tentang konsep ketuhanan. Di antaranya ia berkata:

    ولقاء الله تعالى لأهل الجنة بلا كيف ولا تشبيه ولا جهة حق

    ”Perjumpaan dengan Allah bagi penghuni surga tanpa bentuk dan penyerupaan adalah haq.”[ Syarah al Fiqul Akbar; Mulla Ali al Qâri:138]))- demikian perkatan Abu Salafy

    Firanda berkata :
    Para pembaca yang budiman marilah kita mengecek kitab-kitab yang merupakan sumber pengambilan riwayat Abu Hanifah yang dilakukan Abu Salafy

    Berkata Mulla ‘Ali Al-Qoori dalam syarah Al-Fiqh Al-Akbar hal 246 :

    “Dan berkata Al-Imaam Al-A’dzom (maksudnya adalah Abu Hanifah-pent) dalam kitabnya Al-Washiyyah : Dan pertemuan Allah ta’aala dengan penduduk surga tanpa kayf, tanpa tasybiih, dan tanpa jihah merupakan kebenaran”. Selesai” (Minah Ar-Roudh Al-Azhar fi syarh Al-Fiqh Al-Akbar, karya Ali bin Sulthoon Muhammad Al-Qoori, tahqiq Wahbi Sulaimaan Gowjiy hal 246)

    Ternyata riwayat Imam Abu Hanifah di atas berasal dari sebuah kitab yang berujudl “Al-Washiyyah” yang dinisbatkan kepada Abu Hanifah.

    Sebelum melanjutkan pembahasan ini, saya ingin meningatkan pembaca tentang sebuah riwayat yang dinisbahkan kepada Imam Abu Hanifah.

    Riwayat tersebut adalah perkataan beliau rahimahullah :

    مَنْ قال لا أعْرِفُ ربِّي في السماء أم في الأرضِ فقد كفر، لأَنَّ اللهَ يقول: {الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏}، و عرشه فوق سبع سماواته.

    “Barang siapa berkata, ‘Aku tidak mengetahui apakah Allah di langit atau di bumi maka ia benar-benar telah kafir. Sebab Alllah telah berfirman:

    الرَّحْمنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوى‏.

    “(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah, Yang ber-istiwa di atas Arsy.” (QS. Thâhâ;5)

    dan Arsy-Nya di atas tujuh lapis langit.”

    Riwayat Abu Hanifah ini termaktub dalam kitab Al-Fiqhu Al-Akbar, dan buku ini telah dinisbahkan oleh Abu Hanifah. Akan tetapi buku ini diriwayatkan oleh Abu Muthii’ Al-Balkhi.

    Al-Ustadz Abu Salafy tidak menerima riwayat ini dengan dalih bahwasanya sanad periwayatan buku Al-Fiqhu Al-Akbar ini tidaklah sah karena diriwayatkan oleh perawi yang tertuduh dusta.

    Abu Salafy berkata :

    ((Pernyataan yang mereka nisbahkan kepada Abu Hanifah di atas adalah kebohongan dan kepalsuan belaka!! Namun kaum Mujassimah memang gemar memalsu dan junûd, bala tentara mereka berbahagia dengan penemuan pernyataan-pernyataan palsu seperti contoh di atas!!

    Pernyataan itu benar-benar telah dipalsukan atas nama Imam Abu Hanifah… perawi yang membawa berita itu adalah seorang gembong pembohong dan pemalsu ulung bernama Abu Muthî’ al Balkhi.

    Adz Dzahabi berkata tentangnya, “ia seorang kadzdzâb (pembohong besar) wadhdhâ’ (pemalsu). Baca Mîzân al I’tidâl,1/574.

    Ketika seorang perawi disebut sebagai kadzdzâb atau wadhdhâ’ itu berarti ia berada di atas puncak keburukan kualitas… ia adalah pencacat atas seorang perawi yang paling berat. Demikian diterangkan dalam kajian jarhi wa ta’dîl !

    Imam Ahmad berkata tentangnya:

    لا ينبغي أن يُروى عنه شيئٌ.

    “Tidak sepatutnya diriwayatkan apapun darinya.”

    Yahya ibn Ma’in berkata, “Orang itu tidak berharga sedikitpun.”

    Ibnu Hajar al Asqallani menghimpun sederetan komentar yang mencacat perawi andalan kaum Mujassimah yang satu ini:

    Abu Hatim ar Razi:

    كان مُرجِئا كَذَّابا.

    “Ia adalah seorang murjiah pembohong, kadzdzâb.”

    Adz Dzahabi telah memastikan bahwa ia telah memalsu hadis Nabi, maka untuk itu dapat dilihat pada biografi Utsman ibn Abdullah al-Umawi.” (Lisân al Mîzân,2/335) ))-demikian perkataan Abu Salafy sebagaiamana bisa dilihat di

    Demikianlah penjelasan Al-Ustadz Abu Salafy Al-Majhuul.

    Sekarang saya ingin balik bertanya kepada Pak Ustadz, manakah sanad periwayatan kitab Al-Washiyyah karya Abu Hanifah???

    Dan sungguh aneh tapi nyata, ternyata meskipun Ustadz Abu Salafy telah menyatakan dusta tentang buku Al-Fiqh Al-Akbar yang merupakan periwayatan Abu Muthii’ Al-Balkhi, namun… ternyata Pak Ustadz Abu Salafy masih juga nekat mengambil riwayat dari buku tersebut.

    Jawab : 1. Ustadz Firanda menanyakan Sanad riwayat kitab ” Al- Washiyah ” perntanyaannya : begitu penting kah ‘ Sanad ” , bagi Ustadz Firaanda ……..? sehingga menanyakan Sanad Riwayat kitab Al-Washiyah……? sebab ketika Abu Salafy membawakan riwayat-riwayat yang bersanad pun , tetap saja Ustadz Firanda menolaknya tanpa alasan yang ilmiyah…….?

    2.bisakah Ustadz Firanda Al-makhdzuul, menunjukkan dimana letak pernyataan Abu salafy : ” yang telah menyatakan dusta tentang buku Al-Fiqh Al-Akbar yang merupakan periwayatan Abu Muthii’ Al-Balkhi…………? (jangan-jangan Fitnah Lagi aja) , sebab kata – kata Ustadz Abu salafy tidak menyinggung Nama Kitab . atau nama buku , yang beliau tolak adalah soal riwayat Ucapan Imam Abu Hanifah “Barang siapa berkata, ‘Aku tidak mengetahui apakah Allah di langit atau di bumi maka ia benar-benar telah kafir. Sebab Alllah telah berfirman: dst , jadi yang ditolak Abu Salafy bukan kitabnya tapi sebagian isi kitab khususnya pernyataan Imam Abu Hanifah diatas , silahkan ustadz Firanda cermati kata-kata Abu Salafy : ” ((Pernyataan yang mereka nisbahkan kepada Abu Hanifah di atas adalah kebohongan dan kepalsuan belaka!! Namun kaum Mujassimah memang gemar memalsu dan junûd, bala tentara mereka berbahagia dengan penemuan pernyataan-pernyataan palsu seperti contoh di atas!!

    Pernyataan itu benar-benar telah dipalsukan atas nama Imam Abu Hanifah… perawi yang membawa berita itu adalah seorang gembong pembohong dan pemalsu ulung bernama Abu Muthî’ al Balkhi.

    3. sehingga pernyataan ustadz Firanda : ” Dan sungguh aneh tapi nyata, ternyata meskipun Ustadz Abu Salafy telah menyatakan dusta tentang buku Al-Fiqh Al-Akbar yang merupakan periwayatan Abu Muthii’ Al-Balkhi, namun… ternyata Pak Ustadz Abu Salafy masih juga nekat mengambil riwayat dari buku tersebut ” . Pernyataan Ustadz Firanda ini Tampak benar , semata mata karena Ustadz Firanda memelintir kata-kata Abu Salafy , dari sini terlihat jika Ustadz Firanda hanya mencari kemenangan bukan semata-mata mencari Kebenaran.

    4. penolakan Ustadz Abu Salafy diatas (soal kata-kata Imam Abu Hanifah diatas) sama sekali tidak berarti bahwa seluruh isi kitab itu ditolak oleh Abu Salafy , meskipun Ustadz Abu salafy menolak Rawinya ( Abu Muthi Al-Bakhli ) karena kitab Fiqhul Absath itu adalah kitab Fiqhul Akbar itu sendiri, hanya yang diriwayatkan oleh Hammaad Bin Abi Hanifah disebut Fiqhul Akbar sementara yang diriwayatkan Oleh Abu Mu`thi ( Rawi yang ditolak Asbu Salafy ) disebut / dikenal dengan nama Fiqhul Absath , dalam fiqhul Absath itulah terdapat Ucapan Imam Abu Hanifah yang tidak terdapat dalam Fiqhul Akbar , sehingga Abu Salafy menolak kata-kata Imam Abu Hanifah yang terdapat dalam Fiqhul Absath itu , bukan menolak seluruh isi kitab , sebagaimana yang di tuduhkan oleh Ustadz Firanda. Sehingga sah-sah saja Abu Salafy menukil dari Fiqhul Absath selagi sesuai dengan Fiqhul Akbar , karena Fiqhul Akbar diriwayatkan oleh Rawi yang tsiqoh (terpercaya).

    5. dibawah ini , silahkan pembaca yang budiman cermati , betapa lihainya Ustadz Firanda memelintir pernyataan Ustadz Abu Salafy , yang kemudian dia modifikasi sehingga digunakan untuk menjatuhkan Abu Salafy

    Abu Salafy berkata :
    Dan telah dinukil pula bahwa ia (yaitu abu hanifah) berkata:

    قلت: أرأيت لو قيل أين الله تعالى؟ فقال- أي أبو حنيفة-: يقال له كان الله تعالى ولا مكان قبل أن يخلق الخلق، وكان الله تعالى ولم يكن أين ولا خلق ولا شىء، وهو خالق كل شىء.

    ”Aku (perawi) berkata, ’Bagaimana pendapat Anda jika aku bertanya, ’Di mana Allah?’ Maka Abu Hanifah berkata, ’Dikatakan untuk-Nya Dia telah ada sementara tempat itu belum ada sebelum Dia menciptakan tempat. Dia Allah sudah ada sementara belum ada dimana dan Dia belum meciptakan sesuatu apapun. Dialah Sang Pencipta segala sesuatu.” [ Al Fiqhul Absath (dicetak bersama kumpulan Rasâil Abu Hanifah, dengan tahqiq Syeikh Allamah al Kautsari): 25])) –demikian perkataan Abu Salafy-

    Ustad Firanda berkata :
    Para pembaca sekalian tahukah anda apa itu kitab Al-Fiqhu Al-Absath?, dialah kitab Al-Fiqhu Al-Akbar dengan periwayatan Abul Muthii’ yang dikatakan dusta oleh Abu Salafy sendiri.

    Lihatlah perkataan Al-Kautsari :

    “Dan telah dicetak di India dan Mesir syarh Al-Fiqh Al-Akbar dengan riwayat Abu Muthii’, dan dialah yang dikenal dengan Al-Fiqh Al-Absath untuk membedakan dengan Al-Fiqh Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Hammaad bin Abi Haniifah”

    Al-Kautsari juga berkata di muqoddimah tatkala mentahqiq Al-Fiqh Al-Absath :

    “Dia adalah Al-Fiqhu Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Abu Muthii’, dikenal dengan Al-Fiqh Al-Absath untuk membedakannya dengan Al-Fiqhu Al-Akbar yang diriwayatkan oleh Hammad bin Abi Haniifah dari ayahnya. Dan perawi Al-Fiqh Al-Absath yaitu Abu Muthii’ dia adalah Al-Hakam bin Abdillah Al-Balkhi sahabatnya Abu hanifah…”

    Sungguh aneh tapi nyata, ternyata Al-Ustadz Abu Salafy yang telah menyatakan kedustaan kitab Al-Fiqhu Al-Absath ternyata juga menjadikan kitab tersebut sebagai dalil untuk mendukung hawa nafsunya. Maka kita katakan kepada Al-Ustadz Abu Salafy–sebagaimana yang ia katakan sendiri- : Anda wahai Abu Salafy.

    Yang anehnya dalam buku Al-Fiqhu Al-Absath yang ditahqiq oleh ulamanya Abu Salafy yang bernama Al-Kautsari terdapat nukilan yang “mematahkan punggung” kaum jahmiyyah dan Asyaa’iroh muta’akkhirin, dan neo Asya’iroh seperti Abu Salafy cs. Dalam buku tersebut Abu Haniifah berkata :

    Abu Hanifah berkata, “Barang siapa berkata, ‘Aku tidak mengetahui apakah Allah di langit atau di bumi maka ia benar-benar telah kafir. Demikian juga orang yang mengatakan “Sesunguhnya Allah di atas ‘arsy (tapi) aku tidak tahu apakah ‘arsy itu di langit atau di bumi”

    …..

    Inilah kitab Al-Fiqh Al-Absath tahqiq Al-Kautsari yang dijadikan pegangan oleh Al-Ustadz Abu Salafy. Ternyata Abu Hanifah mengkafirkan orang yang tidak mengatakan Allah di atas langit dengan berdalil dengan hadits Jaariyah (budak wanita) yang tatkala ditanya oleh Nabi “Dimanakah Allah” maka sanga budak mengisyaratkan tangannya ke langit.

    Penjelasan saya ini juga saya anggap cukup untuk menyingkap kesalahan pemilik blog salafytobat (lihat

    Jawab :
    1. pembaca yang budiman demikianlah kelihaian Ustadz Firanda dalam memlintir kata-kata lawan diskusinya (Ustadz Abu Salafy) , yang kemudian dengan lihainya dijadikan senjata untuk menjatuhkan Ustadz Abu Salafy , sebagaimana telah saya jelaskan diatas. (tentang penolakan Ustadz Abu Salafi terhadap kata-kata Imam Abu Hanifah yang terdapat dalam Fiqhul Absath).

    selanjutnya :…………
    Abu Salafy berkata ((Dalam kesempatan lain dinukil darinya (yaitu dari Abu Hanifah):

    ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه، وهو حافظ العرش وغير العرش من غير احتياج، فلو كان محتاجا لما قدر على إيجاد العالم وتدبيره كالمخلوقين، ولو كان محتاجا إلى الجلوس والقرار فقبل خلق العرش أين كان الله، تعالى الله عن ذلك علوا كبيرا.

    ”Kami menetapkan (mengakui) bahwa sesungguhnya Allah SWT beristiwâ’ di atas Arsy tanpa Dia butuh kepadanya dan tanpa bersemayam di atasnya. Dialah Tuhan yang memelihara Arsy dan selainnya tanpa ada sedikit pun kebutuhan kepadanya. Jika Dia butuh kepadanya pastilah Dia tidak kuasa mencipta dan mengatur alam semesta, seperti layaknya makhluk ciptaan. Dan jika Dia butuh untuk duduk dan bersemayam, lalu sebelum Dia menciptakan Arsy di mana Dia bertempat. Maha Tinggi Allah dari anggapan itu setinggi-tingginya.”[ Syarah al Fiqul Akbar; Mulla Ali al Qâri:75]

    Pernyataan Abu Hanifah di atas benar-benar mematahkan punggung kaum Mujassimah yang menamakan dirinya sebagai Salafiyah dan enggan disebut Wahhâbiyah yang mengaku-ngaku tanpa malu mengikuti Salaf Shaleh, sementara Abu Hanifah, demikian pula dengan Imam Ja’far, Imam Zainal Abidin adalah pembesar generasi ulama Salaf Shelah mereka abaikan keterangan dan fatwa-fatwa mereka?! Jika mereka itu bukan Salaf Sheleh yang diandalkan kaum Wahhabiyah, lalu siapakah Salaf menurut mereka? Dan siapakah Salaf mereka? Ka’ab al Ahbâr? Muqatil? Atau siapa?))- demikianlah perkataan Abu Salafy-

    Firanda berkata :
    Kami katakan :
    1- Isi dari nukilan tersebut sama sekali tidak berententangan dengan aqidah Ahlus Sunnah, karena Ahlus Sunnah (Wahhabiyah/As-Salafiyah) tatkala menyatakan Allah beristiwa di atas ‘arsy tidaklah melazimkan bahwasanya Allah membutuhkan ‘arsy. Dan tidak ada kelaziman bahwasanya yang berada di atas selalu membutuhkan yang di bawahnya. Jika kita perhatikan langit dan bumi maka kita akan menyadari akan hal ini. Bukankah langit berada di atas bumi?, bukankah langit lebih luas dari bumi?, bukankah langit tidak butuh kepada bumi? Apakah ada tiang yang di tanam di bumi untuk menopang langit?. Jika langit yang notabene adalah sebuah makhluq namun tidak butuh kepada yang di bawahnya bagaimana lagi dengan Kholiq pencipta ‘arsy.

    Jawab : 1. lagi-lagi ini merupakan perkeliruan dan Talbis (penyamaran dan pencampur adukan) dari Ustad Firanda , dia menekankan persoalan pada ” membutuhkan ” dan ” tidak membutuhkan ” , padahal pernyataan Imam Abu Hanifah yang dinukil ustadz Abu Salafy yang berbunyi : ” Dialah Tuhan yang memelihara Arsy dan selainnya tanpa ada sedikit pun kebutuhan kepadanya.” Hanyalah sebuah ” taukid atas lawazim / kelaziman-kelaziman “sesuatu” yang berada pada sesuatu ” atau penguatan dari kata kata sebelumnya silahkan perhatikan perkataan sang Imam :
    ” ونقر بأن الله سبحانه وتعالى على العرش استوى من غير أن يكون له حاجة إليه واستقرار عليه
    Dan kami mengakui Bahwasannya Allah yang maha Suci dan maha Tinggi diatas arsynya Istawa ” , tanpa membutuhkan kepadanya dan Tanpa ber-Diam (berada) diatasnya kata-kata sang Imam yang saya Bold diatas Luput dari pembahasan Ustadz Firanda , atau Ustadz Firanda sengaja melakukan Talbis sehingga kata-kata- Sang Imam tidak ditekankan dalam pembahasannya, sebab Ustadz Firanda mempunyai Aqidah yang ber-beda dengan Aqidah sang Imam , Aqidah Ustadz Firanda ” Allah berada diatas Arsynya ” (mengartikan Istawa dengan Istiqror (ber-diam / berada)) ” sementara Aqidah Imam Abu Hanifah menetapkan Istawa ” Tanpa ber-diam (min ghoiri istiqror) diatas Arsy.

    2. untuk mendukung Aqidahnya Ustadz Firanda meng-qiyaskan / meng-analogikan Sang Maha Pencipta dengan makhluknya , dia mencontohkan jika Langit tidak butuh kepada Bumi , tahukah Ustadz Firanda jika tidak ada Bumi Niscaya tidak ada langit (secara Logika), tahukah Ustadz Firanda , jika Tidak ada Bawah tidak mungkin ada Atas (secara logika)………….? Fahamkah Ustadz Firanda apa yang dimaksud dengan kata Butuh (ihtiaj) dan tidak butuh (min ghoiri ihtiaj) dalam masalah ini…….? Saya yakin sebenarnya Ustadz firanda faham , hanya saja hawa Tasybih dan Tajsim begitu dominant dalam hatinya

    Ustadz Firanda berkata :
    2- Nukilan dari Abu Hanifah tersebut sesuai dengan aqidah As-Salafiyyah dan justru bertentangan dengan aqidah Abu Salafy cs. Bukankah dalam nukilan ini Abu Hanifah menetapkan adanya sifat istiwaa? Dan tidak mentakwil sifat istiwaa sebagaimana yang dilakukan oleh Abu Salafy cs??. Abu Hanifah menjelaskan bahwasanya Allah beristiwaa (berada di atas) ‘arsy akan tetapi tanpa ada kebutuhan sedikitpun terhadap ‘arsy tersebut.

    jawab : lagi-lagi ustadz Firanda men-Talbis (menyamarkan) duduk persoalan sebenarnya , adalah benar jika Imam Abu Hanifah menetapkan ” Istiwa ” tapi Ingat , Imam Abu Hanifah tidak memahami ” Istiwa ” sebagaimana yang dipahami oleh Ustadz Firanda , perhatikan perkataan Imam Abu Hanifah diatas : ” Dan kami mengakui Bahwasannya Allah yang maha Suci dan maha Tinggi diatas arsynya Istawa ” , tanpa membutuhkan kepadanya dan Tanpa ber-Diam (berada) diatasnya ” bandingkan dengan pemahaman ” Istiwaa ” nya Ustadz Firanda yang memahami ” Istiwa ‘ dengan Istiqror , berdiam dan berada.

    2. adapun soal takwil , ketika Imam Abu Hanifah menetapkan ” Istiwaa ” beliau juga mengatakan : ………” dan Tanpa ber-Diam (berada) diatasnya ” inilah Tafwidh atau Takwil Ijmali yang dilakukan oleh Imam Abu Hanifah ra , beliau tidak mengartikan Istiwaa dengan ” makna asalnya ” yaitu : ” Istiqror ” ( ber-diam / berada ) oleh karena itu beliau katakan : min ghoiri Istiqror alaihi . semoga Ustadz Firanda faham.

    ustad Firanda berkata :
    3- Oleh karenanya kita katakan bahwa justru nukilan ini merupakan boomerang bagi Abu Salafy cs yang selalu mentakwil istiwaa’ dengan makna istaulaa (menguasi) –dan inysaa Allah hal ini akan dibahas pada kesempatan lain. Bahkan dalam halaman yang sama yang tidak dinukil oleh Abu Salafy ternyata Mulla ‘Ali Al-Qoori menyebutkan riwayat dari Abu Hanifah yang membungkam Ustadz Abu Salafy cs. Marilah kita melihat langsung lembaran tersebut yaitu dari buku Syarh Al-Fiqh Al-Akbar karya Mulla ‘Ali Al-Qoori (hal 126)

    Dan Abu hanifah rahimahullah ditanya tentang bahwasanya Allah subhaanahu turun dari langit. maka beliau menjawab : Allah turun, tanpa (ditanya) bagaimananya, …

    Bukankah dalam nukilan ini ternyata Abu Hanifah menetapkan sifat nuzuulnya Allah ke langit dunia?, Abu Hanifah menetapkan hal itu tanpa takwil dan tanpa bertanya bagaimananya. Karena memang bagaimana cara turunnya Allah tidak ada yang menetahuinya.

    Jawab : justru nukilan ini semakin memperjelas jika Imam Abu Hanifah menetapkan Tafwidh atau Takwil Ijmali , dan memperjelas jika Imam Abu Hanifah tidak mengartikan Istiwa dengan Istiqror (berdiam / berada ) , dari nukilan ini semakin mempertegas perbedaan antara Aqidah Imam Abu Hanifah dengan Aqidah Ustadz Firanda.

    Berkata Abu Salafy :
    Penegasan Imam Syafi’i (w. 204 H)

    Telah dinukil dari Imam Syafi’i bahwa ia berkata:

    إنه تعالى كان ولا مكان فخلق المكان وهو على صفة الأزلية كما كان قبل خلقه المكان لا يجوز عليه التغيير في ذاته ولا التبديل في صفاته.

    ”Sesungguhnya Allah –Ta’ala- tel;ah ada sedangkan belum ada temppat. Lalu Dia menciptakan tempat. Dia tetap atas sifat-Nya sejak azali, seperti sebelum Dia menciptakan tempat. Mustahil atas-Nya perubahan dalam Dzat-Nya dan pergantian pada sifat-Nya.”[ Ithâf as Sâdah,2/24])) –demikian perkataan Abu Salafy-

    Firanda berkata :
    Para pembaca yang budiman marilah kita melihat sumber pengambilan Abu Salafy secara langsung dari kitab Ithaaf As-Saadah Al-Muttaqiin 2/24

    Ana katakan bahwasanya –sebagaimana kebiasaan Abu Salafy- maka demikian juga dalam penukilan ini Abu Salafy menukil perkataan Imam As-Syaafi’i tanpa sanad, maka kami berharap pak Ustadz Abu Salafy cs untuk mendatangkan sanad periwayatan dari Imam As-Syafii ini.

    Jawab : gaya ustadz Firanda yang seolah berjiwa besar dan bertindak Ilmiyah , nyatanya jika didatangkan sanadnya dia akan tolak lagi dengan mengatakan : mana Bioghrafi para rawinya…..? mana Hasil Takhrijnya…………….? Apakah diambil dari sumber-sumber terper caya…..? dan lain sebagainya. Padahal Ustadz Firanda sendiri membawakan riwayat tanpa sanad , dan kalaupun bersanad Ustadz Firanda juga tidak menyertakan bioghrafi para rawinya , tidak pula menyertakan hasil Takhrijnya , oleh karena itu sebelum menanyakan dan meminta pada orang lain sebaiknya ustadz Firanda Instrospeksi diri.

    Abu Salafy berkata :
    Penegasan Imam Ahmad ibn Hanbal (W.241H)

    Imam Ahmad juga menegaskan akidah serupa. Ibnu Hajar al Haitsami menegaskan bahwa Imam Ahmad tergolong ulama yang mensucikan Allah dari jismiah dan tempat. Ia berkata:

    وما اشتهر بين جهلة المنسوبين إلى هذا الإمام الأعظم المجتهد من أنه قائل بشىء من الجهة أو نحوها فكذب وبهتان وافتراء عليه.

    ”Adapun apa yang tersebar di kalangan kaum jahil yang menisbatkan dirinya kepada sang imam mulia dan mujtahid bahwa beliau meyakini tempat/arah atau semisalnya adalah kebohongan dan kepalsuan belaka atas nama beliau.”[ Al Fatâwa al Hadîtsiyah:144.] –demikian perkataan Abu Salafy-

    Firanda berkata :
    Pada nukilan di atas sangatlah jelas bahwasanya Abu Salafy tidak sedang menukil perkataan Imam Ahmad, akan tetapi sedang menukil perkataan Ibnu Hajar Al-Haitsami tentang Imam Ahmad. Ini merupakan tadliis dan talbiis. Abu Salafy membawakan perkataan Ibnu Hajr Al-Haitsami ini dibawah sub judul “Penegasan Imam Ahmad”, namun ternyata yang ia bawakan bukanlah perkataan Imam Ahmad apalagi penegasan. Seharusnya sub judulnya : “Penegasan Ibnu Hajr Al-Haitsami”.

    Jawab : ya sudah tinggal ganti aja sub judulnya menjadi “Penegasan Ibnu Hajr Al-Haitsami”. Silahkan ustadz firanda menkomentarinya , jangan Cuma mengalihkan perhatian pada soal lain.
    Abu Salafy berkata:
    Penegasan Imam Ghazzali:

    Imam Ghazzali menegaskan dalam kitab Ihyâ’ ‘Ulûmuddîn-nya,4/434:

    أن الله تعالى مقدس عن المكان ومنزه عن الاقطار والجهات وأنه ليس داخل العالم ولا خارجه ولا هو متصل به ولا هو منفصل عنه ، قد حير عقول أقوام حتى أنكروه إذ لم يطيقوا سماعه ومعرفته ”

    “Sesungguhnya Allah –Ta’ala- Maha suci dari tempat dan suci dari penjuru dan arah. Dia tidak di dalam alam tidak juga di luarnya. Ia tidak bersentuhan dengannya dn tidak juga berpisah darinya. Telah membuat bingun akal-akal kaum-kaum sehingga mereka mengingkari-Nya, karena mereka tidak sanggunp mendengar dan mengertinya.”

    Dan banyak keterangan serupa beliau utarakan dalam berbagai karya berharga beliau.

    Penegasan Ibnu Jauzi

    Ibnu Jauzi juga menegaskan akidah Isla serupa dalam kitab Daf’u Syubahi at Tasybîh, ia berkata:

    وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه ، لان الدخول والخروج من لوزام المتحيزات.

    “Demikian juga harus dikatakan bahwa Dia tidak berada di dalam alam dan tidak pula di luarnya. Sebab masuk dan keluar adalah konsekuensi yang mesti dialami benda berbentuk.”[ Daf’u Syubah at Tasybîh (dengan tahqiq Sayyid Hasan ibn Ali as Seqqaf):130])) –demikian perkataan Abu Salafy-

    Firanda berkata :

    Rupanya tatkala Abu Salafy tidak mampu untuk menemukan satu riwayatpun dari kalangan salaf dengan sanad yang shahih yang mendukung aqidah karangannya maka ia terpaksa mengambil perkataan para ulama mutaakhkhiriin semisal Al-Gozaali yang wafat pada tahun 506 H dan Ibnu Jauzi yang wafat pada tahun 597 H.

    Adapun Al-Gozaali maka Abu Salafy menukil perkataannya dari kitab Ihyaa ‘Uluum Ad-Diin. Sesungguhnya para ulama telah mengingatkan akan kerancuan pemikian aqidah Al-Gozaali dalam kitabnya ini. Diantara kerancuan-kerancuan tersebut perkataan Al-Gozaali :

    “Dihikayatkan bahwasanya Abu Turoob At-Takhsyabi kagum dengan seorang murid, Abu Turob mendekati murid tersebut dan mengurusi kemaslahatan-kemaslahatan sang murid, sedangkan sang murid sibuk dengan ibadahnya dan wajd-wajdnya. Pada suatu hari Abu Turob berkata kepada sang murid, “Kalau seandainya engkau melihat Abu Yaziid”, sang murid berkata, “Aku sibuk”. Tatkala Abu Turob terus menerus dan serius mengulang-ngulangi perkataannya, “Kalau seandainya engkau melihat Abu Yaziid”, akhirnya sang muridpun berkata, “Memangnya apa yang aku lakukan terhadap Abu Yaziid, aku telah melihat Allah yang ini sudah cukup bagiku sehingga aku tidak perlu dengan Abu yaziid”. Abu Turoob berkata, “Maka dirikupun naik pitam dan aku tidak bisa menahan diriku, maka aku berkata kepadanya : “Celaka engkau, janganlah engkau terpedaya dengan Allah Azza wa Jalla, kalau seandainya engkau melihat Abu Yaziid sekali maka lebih bermanfaat bagimu daripada engkau melihat Allah tujuh puluh kali”. Maka sang muridpun tercengang dan mengingkari perkataan Abu Turoob. Iapun berkata, “Bagaimana bisa demikian?”. Abu Turoob berkata, “Celaka engkau, bukankah engkau melihat Allah di sisimu, maka Allahpun nampak untukmu sesuai dengan kadarmu, dan engkau melihat Abu Yaziid di sisi Allah dan Allah telah nampak sesuai dengan kadar abu Yaziid”. Maka sang murid faham dan berkata, “Bawalah aku ke Abu Yaziid”…

    Aku berkata kepada sang murid, “Inilah Abu Yaziid, lihatlah dia”, maka sang pemuda (sang murid)pun melihat Abu Yaziid maka diapun pingsan. Kami lalu menggerak-gerakan tubuhnya, ternyata ia telah meninggal dunia. Maka kamipun saling bantu-membantu untuk menguburkannya. Akupun berkata kepada Abu Yaziid, “Penglihatannya kepadamu telah membunuhnya”. Abu Yaziid berkata, “Bukan demikian, akan tetapi sahabat kalian tersebut benar-benar dan telah menetap dalam hatinya rahasia yang tidak terungkap jika dengan pensifatan saja (sekedar cerita saja). Tatkala ia melihatku maka terungkaplah rahasia hatinya, maka ia tidak mampu untuk memikulnya, karena dia masih pada tingkatan orang-orang yang lemah yaitu para murid, maka hal ini membunuhnya”.

    Al_Gozzaalii mengomentari kisah ini dengan berkata, “Ini merupakan perkara-perkara yang mungkin terjadi. Barangsiapa yang tidak memperoleh sedikitpun dari perkara-perkara ini maka hendaknya jangan sampai dirinya kosong dari pembenaran dan beriman terhadap mungkinnya terjadi perkara-perkara tersebut….”

    Oleh karenanya para ulama memperingatkan akan kerancuan-kerancuan yang terdapat dala kitab Ihyaa’ uluum Ad-Diin.

    Yang anehnya… diantara para ulama yang keras dalam memperingatkan kerancuan kitab ini adalah Ibnu Jauzi sendiri.

    Ibnul Jauzi berkata (dalm kitabnya Talbiis Ibliis, tahqiq DR Ahmad bin Utsmaan Al-Maziid, Daar Al-Wathn, 3/964-965):

    Dan datang Abu haamid Al-Gozzaali lalu iapun menulis kitab “Ihyaa (Uluum Ad-Diin-pent)”… dan dia memenuhi kitab tersebut dengan hadits-hadits yang batil –dan dia tidak mengetahui kebatilan hadits-hadits tersebut-. Dan ia berbicara tentang ilmu Al-Mukaasyafah dan ia keluar dari aturan fiqh. Ia berkata bahwa yang dimaksud dengan bintang-bintang, matahari, dan rembulan yang dilihat oleh Nabi Ibrohim merupkan cahaya-cahaya yang cahaya-cahaya tersebut merupakan hijab-hijabnya Allah. Dan bukanlah maksudnya benda-benda langit yang sudah ma’ruuf.”. Mushonnif (Ibnul Jauzi) berkata, “Perkataan seperti ini sejenis dengan peraktaan firqoh Bathiniyah”. Al-Gozzaali juga berkata di kitabnya “Al-Mufsih bil Ahwaal” : Sesungguhnya orang-orang sufi mereka dalam keadaan terjaga melihat para malaikat, ruh-ruh para nabi, dan mendengar suara-suara dari mereka, dan mengambil faedah-faedah dari mereka. Kemudian kondisi mereka (yaitu orang-orang sufi) pun semakin meningkat dari melihat bentuk menjadi tingkatan derajat-derajat yagn sulit untuk diucapkan”

    Dan masih banyak perkataan para ulama yang mengingatkan akan bahayanya kerancuan-kerancuan pemikiran Al-Gozzaali, diantaranya At-Turtusi, Al-Maaziri, dan Al-Qodhi ‘Iyaadh.

    Maka saya jadi bertanya tentang kitab Ihyaa Uluum Ad-Diin, apakah kita mengikuti pendapat Ustadz Abu Salafy yang majhuul untuk menjadikan kitab tersebut sebagai sumber aqidah?, ataukah kita mengikuti perkataan Ibnu Jauzi??

    Adapun perkataan Ibnul Jauzi maka sesungguhnya Ibnul Jauzi dalam masalah tauhid Al-Asmaa was sifaat mengalami kegoncangan, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Rojab Al-Hanbali. Beliau berkata :

    “Dan diantara sebab kritkan orang-orang terhadap Ibnul Jauzi –yang ini merupakan sebab marahnya sekelompok syaikh-syaikh dari para sahabat kami (yaitu syaikh-syaikh dari madzhab hanbali-pent) dan para imam mereka dari Al-Maqoodisah dan Al-‘Altsiyyiin mereka marah terhadap condongnya Ibnul Jauzi terhadap takwiil pada beberapa perkatan Ibnul Jauzi, dan keras pengingkaran mereka terhadap beliau tentang takwil beliau.

    Meskipun Ibnul Jauzi punya wawasan luas tentang hadits-hadits dan atsar-atsar yang berkaitan dengan pembahasan ini hanya saja beliau tidak mahir dalam menghilangkan dan menjelaskan rusaknya syubhat-syubhat yang dilontarkan oleh para ahli kalam (filsafat). Beliau mengagungi Abul Wafaa’ Ibnu ‘Aqiil… dan Ibnu ‘Aqiil mahir dalam ilmu kalam akan tetapi tidak memiliki ilmu yang sempurna tentang hadits-hadits dan atsar-atsar. Oleh karenanya perkataan Ibnu ‘Aqiil dalam pembahasan ini mudhthorib (goncang) dan pendapat-pendapatnya beragam (tidak satu pendapat-pent), dan Abul Faroj (ibnul Jauzi) juga mengikuti Ibnu ‘Aqiil dalam keragaman tersebut.” (Adz-Dzail ‘alaa Tobaqootil Hanaabilah, cetakan Daarul Ma’rifah, hal 3/414 atau cetakan Al-‘Ubaikaan, tahqiq Abdurrahman Al-‘Utsaimiin 2/487)

    Para pembaca yang budiman, Ibnu Rojab Al-Hanbali telah menjelaskan bahwasanya aqidah Ibnul Jauzi dalam masalah tauhid Al-Asmaa’ was Sifaat tidaklah stabil, bahkan bergoncang. Dan Ibnul Jauzi –yang bermadzhab Hanbali- telah diingkari dengan keras oleh para ulama madzhab Hanbali yang lain. Sebab ketidakstabilan tersebut karena Ibnul Jauzi banyak mengikuti pendapat Ibnu ‘Aqiil yang tenggelam dalam ilmu kalam (filsafat).

    Jawab : sangat disayangkan Ustadz Firanda tidak menyertakan perkataan Ibnu Rojab Al-hanbali seperti yang dinukil oleh Al-Imam At-taqi al-Hashni yang sezaman dengannya dalam kitab Daf`u Syabah man Syabbah wa tamarrad halaman 123 yang mengatakan : Adalah Syeikh Zainuddin Ibn Rojab Al-hanbali yang meyakini Kafirnya Ibnu Taimiyah dan beliau mempunyai tulisan sebagai bantahan Untuk Ibnu Taimiyah , dan beliau (Ibn Rojab) berkata dengan suara yang paling lantang dalam majlis-majlis (Ilmu-pent ) As-subki mempunyai Udzur untuk mengkafirkan Ibnu Taimiyah , lihatlah dan resapi pernyataan Ibnu rojab untuk Ibnu Taimiyah Imam Ustadz Firanda dan All Wahhabi.

    Adapun pernyataan Ibnu Rojab yang dibawakan Ustadz firanda adalah pernyataan sebelum Ibnu Rojab Tobat dari Aqidah tasybih dan Tajsim, adapun setelah Taubat dari Aqidah Ibnu Taimiyah itulah perkataannya sebagaimana saya nukil diatas.

    Ustadz Firanda berkata :
    Ibnul Jauzi dalam kitabnya Talbiis Ibliis mendukung madzhab At-Tafwiidh, sedangkan dalam kitabnya Majaalis Ibni Jauzi fi al-mutasyaabih minal Aayaat Al-Qur’aaniyah menetapkan sifat-sifat khobariyah, dan pada kitabnya Daf’ Syubah At-Tasybiih mendukung madzhab At-Takwiil (lihat penjelasan lebih lebar dalam risalah ‘ilmiyyah (thesis) yang berjudul “Ibnul Jauzi baina At-Takwiil wa At-Tafwiidh” yang ditulis oleh Ahmad ‘Athiyah Az-Zahrooni. Dan bisa didownload di

    Jawab : Tafwidh dan Takwil adalah manhaj atau metodologi yang digunakan ulama Ahlu Sunnah (Asy`ariyah) dalam memahami ayat mutasyabihat , jadi tidak aneh jika Ibnu Jauzi menggunakan dua metodologi itu , dan sama sekali tidak menunjukkan kegoncangan Aqidah Imam ibnu Jauzi , karena dua manhaj itulah yang digunakan Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah), yang aneh justru Ustadz Firanda dan kelompoknya yang menolak Tafwidh juga Takwil , disamping juga menunjukkan kegoncangan Aqidah Ustadz Firanda sampai-sampai terjebak dalam Filsafat ” arah yang tidak ber-wujud.”

    Ustadz Firanda berkata :
    Adapun perkataan Ibnu Jauzy rahimahullah sebagaimana yang dinukil oleh Abu salafy yaitu :

    وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه ، لان الدخول والخروج من لوزام المتحيزات.

    “Demikian juga harus dikatakan bahwa Dia tidak berada di dalam alam dan tidak pula di luarnya. Sebab masuk dan keluar adalah konsekuensi yang mesti dialami benda berbentuk

    Maka saya katakan :
    Pertama : Abu Salafy kurang tepat tatkala menerjemahkan “Al-Mutahayyizaat” dengan benda berbentuk. Yang lebih tepat adalah jika diterjemahkan dengan “perkara-perkara yang bertempat”.

    Jawab : ustadz firanda bisa meng-koreksi penterjemahan namun sayang tetap saja salah dalam memahaminya , tidak tahukah Ustadz Firanda jika “perkara-perkara yang bertempat”. Niscaya perkara-perkara itu berbentuk…..? Allah maha Suci dan Maha Tinggi dari sifat-sifat ber-tempat dan berbentuk ,
    sebagaimana tergambar dalam Aqidah Bathil Ustadz Firanda.

    Ustadz Firanda berkata :
    Kedua : Kalau kita benar-benar merenungkan perkataan Ibnul Jauzy ini maka sesungguhnya perkataan ini bertentangan dengan penjelasan Imam Ahmad sebagaimana telah lalu tatkala Imam Ahmad berkata :”Jika engkau ingin tahu bahwasanya Jahmiy adalah seorang pendusta tatkala menyangka bahwsanya Allah di semua tempat bukan pada satu tempat tertentu, maka katakanlah : Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?. Maka ia akan menjawab : Iya. Katakan lagi kepadanya, “Tatkala Allah menciptakan sesuatu apakah Allah menciptakan sesuatu tersebut dalam dzat Allah ataukah di luar dzat Allah?”. Maka jawabannya hanya ada tiga kemungkinan, dia pasti memilih salah satu dari tiga kemungkinan tersebut.

    Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah.

    Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakannya di luar dzat Allah kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya maka ini juga merupakan kekufuran tatkala ia menyangka bahwasanya Allah masuk di setiap tempat dan wc dan setiap kotoran yang buruk.

    Jika ia mengatakan bahwasanya Allah menciptakan mereka di luar Dzat-Nya kemudian tidak masuk dalam mereka maka ia (si jahmiy) telah meninggalkan seluruh aqidahnya dan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah” (Ar-Rod ‘alaa Al-Jahmiyyah wa az-Zanaadiqoh hal 155-156)

    Jelas di sini perkataan Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan bahwa Allah di luar ‘alam, tidak bersatu dengan makhluknya. Hal ini jelas bertentangan dengan peraktaan Ibnu Jauzi yang berafiliasi kepada madzhabnya Imam Ahmad bin Hanbal.

    jawab : 1. aqidah Jahmiyah mengatakan : Allah berada pada semua tempat dengan Dzatnya ” Aqidah Mu`tazilah mengatakan Allah berada pada semua tempat dengan Ilmunya ” sementara Aqidah Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah ) mengatakan : Allah ada tanpa tempat dan tanpa Arah ” sementara Aqidah sekte Karomiyah mengatakan : Allah berada pada Arah atas , Aqidah sekte Karomiyah ini percis sama dengan Aqidah Ustadz Firanda cs.
    2.sekali lagi kita katakan : katakanlah kita terima jika kitab Ar-rodd ala Jahmiyah adalah kitab Asli karya Imam Ahmad Ibnu Hanbal , tetap saja pemahaman : Baa-inun min Kholqih ” bukanlah berarti ” terpisah dari makhluknya ” , bukan pula berarti bahwa Allah diluar Alam sebagaimana salah difahami oleh Ustadz firanda , makna yang benar dari kata Baaa-inun adalah sebagaimana diterangkan Oleh al-Hafidz Al-Baihaqi dalam al-asma wa as-sifat halaman 382 bab hal-hal yang datang dalam Firman Allah :” Ar-rohman ala Arsy Istawa ” beliau berkata : ” diatas sesuatu berbeda darinya dengan makna sesuatu itu tidak menempatinya , tidak pula tempat itu menempatinya , tidak menyentuhnya tidak pula menyerupainya , dan Bainunah (baaa-inun) bukanlah terpisah , maha suci Allah Robb (tuhan-pen) Kami dari Hulul (menempati dan menempel , begitu juga Bainunah bukan berarti terpisah dan menjauh karena hal itu Mustahiil bagi Allah. (Alasma wa as-sifat hal 217). penjelasaqn ini senada dengan penjelasan Imam Al- Khuthobi dalam kitab A`lamul Hadist halaman 187. pertanyaannya apakah Ustadz Firanda lebih Faham dari Al-Imam Al-Hafidz Al-Baihaqi……? Sehingga mengartikan lafadz ” Baa-inun ” dengan terpisah bahkan jauh diluar alam sana …..? adakah Ulama Ahlu Sunnah yang memahami kata Baa-inun ” seperti yang difahami Ustadz Firanda…..?

    3. saya minta kepada Ustadz Firanda untuk menunjukkan dimanakah letak kata-kata Imam Ahmad yang mengatakan : ” bahwa Allah di luar ‘alam ” di alinea ke berapa atau di baris ke berapa……? Perkataan Imam Ahmad yang ustadz Firanda Nukil dari kitab AR-Rodd alal Jahmiyah sama sekali tidak ada yang menunjukkan jika Imam Ahmad mengatakan ” bahwa Allah di luar ‘alam ” pernyataan ini murni dari Ustadz Firanda yang salah dalam memahami perkataan Imam Ahmad ” Baaa-inun min Kholqihi ” yang sekaligus menunjukkan Tadlis dan plintiran perkataan Imam Ahmad oleh Ustadz Firanda. ( kalau bahasa ustadz Firanda ” ber Dusta atas nama Imam Ahmad ” )

    4. berkata Al-Imam Al-Hafidz An-nawawi dalam kitabnya Roudhotu Tholibin 10/ 64 : sesungguhnya sebagian dari perkara-perkara yang menyebabkan kemurtadan dari Agama Islam dan menjadikannya kafir dalam I`tiqod adalah ” menetapkan bagi Allah sifat ” Bersatu ” maupun ” terpisah ” dengan Makhluknya. Penjelasan ini senada dengan penjelasan Imam Al-Baihaqi juga Imam Al- Khuthobi sehingga pernyataan Imam Ibn Jauzi senada dan selaras dengan para Imam Lainnya yang tidak mensifati terpisah maupun bersatu dengan Makhluknya.

    5. pernyataan Imam Ahmad diatas yang dinukil Ustadz Firanda Justru bertentangan dengan Aqidah Ibnu Taimiyah (imamnya firanda cs) yang mengatakan : ” Bahwa Allah menciptakan Makhluknya dalam dirinya ” ( Mahallan lil Hawadist ) sementara Imam Ahmad mengatakan : ” Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah ” , bahkan Ibnu Taimiyah lebih jauh mengatakan ” bahwa Allah mungkin saja bersentuhan dengan Syetan dan kenajisan ” (silahkan lihat bayan Talbisul Jahmiyah karya Ibn Taimiyah juz 2 hal. 555dan 556) inilah Bid`ah I`tiqod terburuk yang dimunculkan Ibnu Taimiyah maha guru sekaligus Imam Ustadz Firanda CS. Yang diambil dari sekte sesat Karomiyah mujassimah.

    Ustadz Firanda berkata :
    Ketiga : Peraktaan Ibnul Jauzy –rahimahullah- “bahwasanya Allah tidak di dalam ‘alam semesta dan juga tidak di luar alam” melazimkan bahwasanya Allah tidak ada di dalam kenyataan, akan tetapi Allah hanya berada dalam khayalan. Karena ruang lingkup wujud hanya mencakup dua bentuk wujud, yaitu Allah dan ‘alam semesta, jika Allah tidak di dalam ‘alam dan juga tidak di luar ‘alam berarti Allah keluar dari ruang lingkup wujud, maka jadilah Allah itu pada hakekatnya tidak ada.

    Jawab : perkataan ustadz Firanda diatas (point ketiga) menunjukkan jika dalam benak Ustadz Firanda ” Allah adalah benda ” perhatikan ucapan ustadz Firanda : “, jika Allah tidak di dalam ‘alam dan juga tidak di luar ‘alam berarti Allah keluar dari ruang lingkup wujud, maka jadilah Allah itu pada hakekatnya tidak ada.” Kesimpulan prematur ini diKarenakan dalam benaknya ustadz Firanda ” Allah itu benda ” akhirnya Ustadz Firanda tidak dapat menerima perkataan Ibnu Jauzi bahwa Allah tidak diluar tidak juga didalam alam ” ustadz Firanda tidak sadar jika Allah itu bukan benda yang bisa disifati : berada diluar alam , atau disifati berada dalam Alam. Allah adalah Kholiqu kulli sya`I pencipta segala sesuatu yang tidak boleh disifati dengan sifat-sifat yang melekat pada benda (Makhluknya ), karena Allah Laista kamistlihi sya`I , tidak ada yang menyerupainya sementara sifat diluar atau didalam adalah Sifat Makhluk.

    Keismpulan Ustadz Firanda :

    Kesimpulan :
    Demikianlah para pembaca yang budiman penjelasan tentang hakikat dari artikel yang ditulis oleh Abu Salafy.
    Kesimpulan yang bisa di ambil tentang abu salafy adalah sebagai berikut :

    Pertama : Ana masih bingung apakah Ustadz Abu Salafy adalah seseorang yang berpemahaman Asyaa’iroh murni ataukah lebih parah daripada itu, yaitu ada kemungkinan ia berpemahaman jahmiyah atau mu’tazilah. Karena ketiga firqoh ini sepakat bahwasanya Allah tidak di atas langit.

    Jawab : ustadz firanda bingung karena dalam benaknya telah mengakar sifat-sifat makhluk , sehingga ketika Tuhan (Allah) tidak disifati oleh sifat-sifat makhluk Ustadz Firanda Bingung. Ditambah dengan minimnya pemahaman atas perbedaan antar kelompok Ahlu Sunnah (Asy`ariyah) dengan kelompok Bid`ah seperti Jahmiyah dan Mu`taziilah, membuat ustadz Firanda semakin bingung.

    kesimpulan firanda Kedua : Atau bahkan ada kemungkinan Al-Ustadz berpemahaman Syi’ah Rofidhoh yang juga berpemahaman bahwasanya Allah tidak di atas langit. Semakin memperkuat dugaan ini ternyata Al-Ustadz Abu Salafy banyak menukil dari buku-buku Rafidhoh. Selain itu Al-Ustadz Abu Salafy juga dengan tegas dan jelas mengutuk Mu’awiyyah radhiallahu ‘anhu. Oleh karenanya ana sangat berharap Al-Ustadz Abu Salafy bisa menjelaskan siapa dirinya sehingga tidak lagi majhuul. Dan bahkan ana sangat bisa berharap bisa berdialog secara langsung dengan Al-Ustadz.

    Jawab : selain sekte Mujassimah Karomiyah wahabiyah dan yang sejenisnya (taimiyah) , berkeyakinan jika Allah maha tinggi diatas segalanya bukan secara Fisik tetapi maha Tinggi diatas segalanya secara Hakiki dan Mutlak tanpa Arah , adapun kutukan terhadap Mu`awiyah Rodhiallahu anhu , tidak serta merta bisa ” menodai ” kebenaran yang dibawa Abu Salafy bahwa Allah tidak berada dilangit , ana juga berharap agar Ustadz Firanda jangan hanya koar-koar didunia maya , jangan hanya menyebarkan faham-faham menyimpangnya didunia Internet , dan ana sangat berharap agar Ustadz Firanda berdialog secara Langsung dengan Ustadz-ustadz Ahlu Sunnah wal-jama`ah ( Asy`ariyah).

    kesimpulan firanda Ketiga : Dari penjelasan di atas ternyata Al-Ustadz Abu Salafy nekat mengambil riwayat dari buku yang telah difonis oleh Al-Ustadz sendiri bahwa buku tersebut adalah kedusataan demi untuk mendukung aqidah Abu Salafy. Maksud ana di sini adalah buku Al-Fiqhu Al-Akbar karya Abu Hanifah dari riwayat Abu Muthii’ Al-Balkhi.

    Jawab :dari penjelasan diatas tidak ada kata-kata Ustadz Abu Salafy yang memvonis Dusta terhadap buku Al-Fiqhu Al-Akbar karya Abu Hanifah dari riwayat Abu Muthii’ Al-Balkhi. Yang ada adalah Vonis Dusta terhadap ” Riwayat salah satu Ucapan Imam Abu Hanifah ” yang terdapat dalam buku riwayat Abu Mu`thi Al-balkhi, mohon dengan Hormat ustad Firanda tunjukkan jika yang divonis Abu Salafy adalah BUKUnya bukan hanya salah satu riwayat dalam buku itu……..? tolong jangan main Plintir pernyataan teman diskusi.

    kesimpulan firanda Keempat : Abu Salafy juga ternyata melakukan tadlis (muslihat) dengan memberi sub judul “Penegasan Imam Ahmad”, namun yang dinukil oleh Al-Ustadz adalah perkataan Ibnu Hajr Al-Haitsami.

    Jawab : jika kita hitung Tadlis (muslihat) Ustadz Firanda ternyata jauh lebih banyak ketimbang yang dilakukan Ustadz Abu Salafy, sebagaimana telah kita tunjukkan diatas.

    kesimpulan firanda Kelima : Aqidah yang dipilih oleh Abu Salafy adalah sebagaimana yang dinukil oleh Abu Salafy dari Ibnul Jauzi

    وكذا ينبغي أن يقال ليس بداخل في العالم وليس بخارج منه

    “Hendaknya dikatakan bahwasanya Allah tidak di dalam alam dan juga tidak diluar alam”

    Inilah aqidah yang senantiasa dipropagandakan oleh Asyaa’iroh Mutaakhirin seperti Fakhrurroozi dalam kitabnya Asaas At-Taqdiis.

    Dan aqidah seperti ini melazimkan banyak kebatilan, diantaranya :

    – Sesungguhnya sesuatu yang disifati dengan sifat seperti ini (yaitu tidak di dalam alam dan juga tidak di luar alam, dan tidak mungkin diberi isyarat kepadanya) merupakan sesuatu yang mustahil. Dan sesuatu yang mustahil menafikan sifat wujud. Oleh karenanya kelaziman dari aqidah seperti ini adalah Allah itu tidak ada

    – Perkataan mereka “Allah tidak di dalam alam dan juga tidak di luar alam” pada hakekatnya merupakan penggabungan antara naqiidhoin (penggabungan antara dua hal yang saling bertentangan). Hal ini sama saja dengan perkataan “Dia tidak di atas dan juga tidak di bawah” atau “Dia tidak ada dan juga tidak tidak ada”. Dan penggabungan antara dua hal yang saling kontradiksi (bertentangan) sama halnya dengan meniadakan dua hal yang saling bertentangan. Maka perkataan “Allah tidak di alam dan juga tidak diluar alam” sama dengan perkataan “Allah tidak tidak di alam dan juga tidak tidak di luar alam”. Dan telah jelas bahwasanya menggabungkan antara dua hal yang saling bertentangan atau menafikan keduanya merupakan hal yang tidak masuk akal, alias mustahil

    – Pensifatan seperti ini (yaitu : tidak di dalam alam dan tidak di luar alam, tidak di atas dan tidak di bawah) merupakan sifat-sifat sesuatu yang tidak ada. Jika perkaranya demikian maka sesungguhnya orang yang beraqidah terhadap Allah seperti ini telah jatuh dalam tasybiih. Yaitu mentasybiih (menyerupakan) Allah dengan sesuatu yang tidak ada atau mentasybiih Allah dengan sesuatu yang mustahil.

    – Pensifatan Allah dengan sifat-sifat seperti ini masih lebih tidak masuk akal dibandingkan aqidah orang-orang hululiah (seperti Ibnu Arobi yang meyakini bahwa Allah bersatu atau menempati makhluknya). Meskipun aqidah hulul juga tidak masuk akal akan tetapi masih lebih masuk akal (masih lebih bisa direnungkan oleh akal) dibandingkan dengan aqidah Allah tidak di atas dan tidak di bawah, tidak di alam dan juga tidak di luar alam, tidak bersatu dengan alam dan tidak juga terpisah dari alam.

    Jawab : kesimpulan prematur ke 5 dari Ustadz Firanda menunjukkan dengan jelas Jika ustad Firanda tidak bisa memahami keberadaan Tuhan ” Allah ” jika tidak disifati dengan sifat-sifat Makhluk , oleh karena itu beliau katakan : ” Pensifatan seperti ini (yaitu : tidak di dalam alam dan tidak di luar alam, tidak di atas dan tidak di bawah) merupakan sifat-sifat sesuatu yang tidak ada ” , hal ini terjadi karena Ustadz Firanda menggunakan ukuran-ukuran dan sifat-sifat Makhluk untuk menunjukkan keberadaan Tuhan (Allah), dia (ustadz Firanda ) lupa jika Allah bukanlah Makhluk yang bisa disifati dengan sifat-sifat Makhluk , ustadz firanda juga lupa jika Allah mengatakan ” Tidak ada sesuatupun yang menyerupainya. Fahamkah Ustadz Firanda dengan : ” TIDAK ADA YANG MENYERUPAINYA……..? ”

    2. bagi Ustad firanda Aqidah Ahli Bid`ah lebih Masuk akal ketimbang Aqidah Ahlu Sunnah (Asy`ariyah) , sehingga Ustadz Firanda lebih memilih Aqidah Ahlu Bid`ah ” Karomiyah ” ketimbang Aqidah Ahlu Sunnah (Asy`ariyah) , sehingga tidak aneh jika ustadz Firanda pun akhirnya bersepakat dengan sekte orang-orang hululiah (seperti Ibnu Arobi yang meyakini bahwa Allah bersatu atau menempati makhluknya “-Ibnu Arobi terlepas dari aqidah hulul- ahmad syahid). Karena Ustadz Firanda mengatakan : ” bahwa Allah berada pada Arah Yang tidak berwujud ” yang artinya Allah Hulul atau menempati Makhluknya yang bernama Arah yang tidak ber-wujud , lupakah ustadz firanda jika ” apapun namanya Selain Allah adalah Makhluknya…….?

    kesimpulan firanda Keenam : Abu Salafy menolak keberadaan Allah di atas karena meyakini hal ini melazimkan Allah akan diliputi oleh tempat yang merupakan makhluk. Maka kita katakana, aqidahnya ini menunjukan bahwasanya Abu Salafylah yang terjerumus dalam tasybiih, dan dialah yang musyabbih. Kenapa…??. Karena Abu Salafy sebelum menolak sifat Allah di atas langit ia mentasybiih dahulu Allah dengan makhluk. Oleh karenanya kalau makhluk yang berada di atas sesuatu pasti diliputi oleh tempat. Karenanya Abu Salafy mentasybiih dahulu baru kemudian menolak sifat tingginya Allah.

    Ternyata hasil aqidah yang diperoleh Abu Salafy juga merupakan bentuk tasybiih. Karena aqidah Abu Salafy bahwasanya Allah tidak di dalam ‘alam dan juga tidak di luar alam merupakan bentuk mentasybiih Allah dengan sesuatu yang tidak ada atau sesuatu yang mustahil (sebagaimana telah dijelaskan dalam point kelima di atas). Jadilah Abu Salafy musyabbih sebelum menolak sifat dan musyabbih juga setelah menolak sifat Allah.

    jawab : 1. Aqidah Ahlu Sunnah Wal-jama`ah ( Asy`ariyah) meyakini jika Allah diatas seluruh makhluknya dan Allah Istawa diatas Arsynya , hanya saja , atas , Istawa juga ketinggian tidak difahami secara fisikly / dzat , sebagaimana yang difahami Ustadz Firanda cs , sehingga menetapkan Arah dan tempat yang bernama Arah yang tidak ber-wujud , begitu juga Aqidah Abu salafy berlandaskan kepada Hadist Shahih ” kaana Allah walam yakun Syai`un Ghoiruh ” Allah telah ada sebelum selainnya ada ” ditegaskan oleh Hadist : ” Allahumma anta dhair fa laista fawqoka Sya`I wa anta Bathin falaista duunaka Sya`iy , ” ya Allah engkaulah Adz-dzhahir yang tidak ada sesuatu diatasmu dan engkaulah al-bathin yang tidak ada sesuatu dibawahmu. Dua hadist ini bertentangan dengan Aqidah ustadz firanda cs.

    2. jika dalam membayangkan adanya Arah dan tempat (untuk menetapkan hukum) saja sudah disebut dihukumi dan di cap sebagai Musyabih , lantas bagaimana dengan Ustadz Firanda cs, yang menetapkan Arah dan Tempat Bagi Allah….…..? inilah perkeliruan Ustadz Firanda untuk mendukung Aqidahnya yang Fasid.

    3. dari jawaban point satu jelaslah jika Abu Salafy bukanlah Musyabbih seperti yang dituduhkan Ustadz Firanda , dan jelas jika Abu Salafy adalah Muttabi` , pengikut Aqidah Rosulallah SAW , Justru Ustadz Firandalah yang Musyabih karena menetapkan Arah dan tempat bagi Allah , layaknya Makhluk yang tidak bisa lepas dari Arah dan tempat , bahkan ustadz firanda pun ber Aqidah Hulul karena bagi ustadz Firanda , Allah berada (bertempat) di Arah yang tidak ber-wujud -, yang berarti Allah menempati makhlunya yang bernama ” Arah yang tidak ber-wujud”. Dan jelaslah jika Ustadz firanda adalah seorang Mubtadi` (Ahlul Bid`ah ) sebab dalam Alqur`an maupun Hadist tidak pernah disebut adanya ” Arah yang tidak ber-wujud ” .

    kesimpulan firanda Ketujuh : Abu Salafy tidak menemukan satu perkataan salaf (dari generasi sahabat hingga abad ke tiga) yang mendukung aqidahya, oleh karenanya Abu Salafypun nekat untuk berdusta atau mengambil dari riwayat-riwayat yang tidak jelas dan tanpa sanad, atau dia berusaha mengambil perkataan-perkataan para ulama mutaakhiriin.

    Jawab : 1. sangat banyak perkataan Salaf As-shalihin yang mendukung Aqidah ” Allah ada tanpa tempat dan tanpa Arah ” , (jika ingin disebutkan satu-persatu tentu bisa jadi satu buku Full karena jumlahnya ratusan ) , satu contoh yang tidak bisa dipungkiri (meskipun Bin Baz dan pembesar wahabi lainnya memungkiri) adalah ” kitab Aqidah At-thohawiyah yang menyebutkan : ” jika Allah maha suci dari batasan-batasan (huduud) dan ujung sesuatu / akhir sesuatu (ghoyaat). , ( batasan hanya melekat pada sifat-sifat makhluk begitu juga akhir sesuatu atau ujung sesuatu hanya melekat pada makhluk.-pent)

    2. semua riwayat yang dibawakan ustadz Firanda untuk mendukung aqidah fasidnya , hanya berdasarkan kepada Riwayat – riwayat yang tidak sah , Mungkar bahkan Palsu (maudhu`) sebagaimana telah kita Ungkap satu-persatu dalam ” Klaim Ijmak ” yang di da`wakan oleh ustadz Firanda , dan ternyata Salaf bagi Ustadz Firanda tidak sama dengan salaf versi Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah) , salaf versi ustadz Firanda adalah para Pembohong dan pemalsu Hadist seperti Ibnu Bathoh al-`ukbary , al-hakari dan yang sejenisnya. ( entah ditaro dimana jargon ” hanya mengunakan hadist2 Shahihnya ” atau itu hanya sekedar jargon untuk mengelabui orang awam…..?

    3. riwayat – riwayat tidak sah , Mungkar dan Maudhu` yang dibawakan Ustadz firanda ternyata hanya dijadikan bumpher dan batu loncatan untuk menyemir Aqidah (falsafat) Asli sang ustadz yaitu Allah berada Pada ” Arah yang tidak ber-wujud ” , hal ini dia lakukan untuk menghindar dari Hukuman Ulama yang meng-Kafirkan Aqidah Hulul , namun sayang usahanya ini gagal total dan hanya menyebabkan kekufuran diatas kekufuran. Sebagaiman telah dijelaskan diatas , dimana falsafat ustadz firanda ini hanya berbuah pada dua kemungkinan yang kedua-duanya adalah kekufuran.

    4. setelah semua Tipu Muslihat Ustadz Firanda terbongkar , dimana seluruh riwayat yang dibawakannya ” Jatuh ” dimata Ulama Ahlu Sunnah ( Asy`ariyah ) dan ” Jatuh ” dimata Ulama Jarh wa at-ta`dil , apakah sikap selanjutnya yang akan diambil oleh Ustadz firanda………..?

    Ala kulli Haal , sesungguhnya semua Bani Adam adalah pembuat kesalahan , dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang mau ber-Taubat .

    Demikian semoga bermanfa`at .

    Ahmad Syahid 7 oktober 2011

    1. Mas Ahmad Syahid,

      Artikel sepertinya sudah berhasil terkirim seluruhnya dan siap diterbitkan sebagai postingan Utama. Tapi walaupun demikian, untuk menghindari kesalahan yg berakibat tidak nyambungnya artikel tolong cek lagi di bagian terakhir dari masing-masing kiriman barangkali ada bagian dari tulisan yg hilang. Ini sangat penting, dan apabila menurut Mas Syahid sudah lengkap/tidak ada yg hilang segera konfirmasikan ke kami. Demikian kami tunggu konfirmasinya. Syukron, barokallohu fik.

      1. ana rasa dah lengkap , hanya scan manuskrip yang menunjukkan tobatnya adz-dzahabi dari aqidah yang beliau tulis dalam kitab Al-uluw gak bisa tampil , mungkin mas admin bisa bantu cara kirimnya….?

        1. Cara kirimnya bisa lewat email Mas Syahid ke email kami:

          admin@ummatipress.com

          -Pertama siapkan file gambar manuskripnya di komputer antum, misalnya di My Dolument.

          -Kemudian tulis beberapa kata di email antum, misalnya “Ini adalah manuskrip kitab Al Uluw tentantang taubatnya Ad-Dzahabi”,

          -lalu berikutnya klik tab “lampiran” yg ada di atasnya itu dan cari file gambar manuskripnya di my dokument. Kemudian klik file gambar tersebut maka akan terupload ke email.

          -Setelah terupload selanjutnya klik kirim email. Silahkan coba semoga berhasil.

          1. Ustadz Ahmad Syahid, sebaiknya tanya langsung kepada teman atau siapa saja yg dekat dg Ustadz di situ bgmana cara kirim file lewat email. mungkin keponakan atau saudara Ustz adayg tahu caranya. Mungkin Utadz belum biasa kirim file gambar dg gunakan email, padahal sangat mudah lho. Tapi kalau nggak biasa yg bingung juga sih, sama kaya ana dulu jg begitu. Sabar, insyaallah ada ketemu caranya. 😀

            Oh ya terimakasih artikelnya itu, sungguh ana bahagia dan tercerahkan dg tulisan antum. Ternyata di mata orang yg ngerti ilmunya, ustadz Firanda itu benar-benar PENDUSTA MUROKKAB, kwk kwk kwk kwkk….

          2. Kang Yanto, benar sekali antum, Firanda mang PENDUSTA MUROKKAB sebagamana telah dibuktikan oleh Kang Ahmad Syahid. Sangat jelas sekali apa yg ditulis Kang Ahmad menelanjangi kedustaan Firanda. Bisa2 Firanda nanti kebakaran jenggot (hi hi hi … bukan nyindir Kang Yanto Jenggot lho, swer deh, hei hi hi….) .

            Semoga Firanda segera bertaubat setelah menyadari kedustaannya terbongkar lebar2, amin…. 😉 😉 😉

          3. Ya benar kata Mas Yanto, mungkin Mas Syahid bisa coba tanya langsung kepada orang-orang yg dekat di situ. Sebetulnya mudah, hanya Mas Syahid mungkin belum terbiasa.

      2. Mas @admin ijin Copas buat pencerahan. Bingung juga sama ungkapan2 Firanda, ungkapannya banyak berselisih dengan ungkapannya sendiri.

  23. jika di perkenankan, saya ingin menyanggah tanggapan ahmad syahid.”Mengungkap tipu muslihat Firanda” dan seterusnya..jika boleh,tolong di tampilkan komentar saya.Namun jika tidak,saya pikir ummati lebih tau apa yang harus di lakukan terhadap komentar saya.

    1. dufal @

      Katanya Nte gak punya jenggot, kok belum apa2 Nte sudah kebakaran jenggot? Apa ada koment antum yg diumpetin oleh Admin? Dasar Wahabi jongkok Nte, hhi hi hi…

    2. Dufal, Silahkan ditanggapi, kami tidak gemar ngumpetin komentar. Bukankah dulu antum selama berbulan-bulan sudah membuktikannya? Kenapa sekarang antum ngomong seolah-olah kami suka main curang?

      Apakah antum lupa selama ini antum giat berkomentar di blog ini dan tidak ada satu pun komentar antum yg disembunyikan? Bukankah antum dulu pernah menyatakan salut kpd blog Ummati ini karena selalu memunculkan komentar antum?

    3. dufal mulut kamu yang harus diumpetin, jangalah membunuh karakter orang lain mas

      berbulan2 dufal comment dimari adakah yang diumpetin?

      saya juga pingin denger bantahan dari fihak ustad firanda. sepertinya begitulah cara berdiskusi dengan adab yang baik.

      mas Ummati tolong diijinkan dufal menyanggah (bukan copas)
      syukron

  24. soal manuskrip ini memang rada kendala juga ya kalo ga ada scanner. Makanya ana sekarang cukup terbantu setelah punya maktabah syamilah beberapa bulan yg lalu. Tinggal copas aja.
    Kalo bisa, setiap kita juga punya. Ga hrs lkp. Sekarang kan bs di download mesinnya dulu (sktr 20mb). Terus bukunya dicicil aja downloadnya. Yg sekiranya perlu aja dulu. Yg minat, kunjungin aja shamela.ws
    dari kitab2 aswaja smp kitab2 aliran penyempal semua ada. Banyak, tp bukan berarti lkp banget.

    1. Afwan Ustadz AI@ Maktabah Syamilah itu sepertinya agak aneh, sebab di direktorinya mencantumkan secara khusus kitab-kitab Albani seakan sejajar dg Ulama-ulama mu’tabar. Sangat terasa sekali unsur Wahabinya. Kuatir isi kitab2 yg lain sudah diobok-obok oleh tangan2 jahil yg tidak bertanggung jawab. Mungkin para ahli Aswaja perlu menelitinya, dan kalau terbukti banyak kepalsuannya sebaiknya diserukan kepada muslimin agar tidak menggunakan Maktabah Syamilah.

      Kebetulan kami punya versi agak lengkap berukuran 14 GB. Dan kami cari kitab Al-‘Uluwnya Adz-dzhabi yang dirujuk oleh Mas Syahid tsb belum ketemu.

  25. saliq:
    @dufalbagai mana kalau kopi darat sama ms ahmad shahid ,siapa tau bisa… ??????

    Hehehe…mane berani si Dufal Kopdar/offline apelagi sm Ust. Ahmad Syahid, ane udah buktiin sendiri ko dulu pernah mo offline ame die, tp malah die kasih alamat palsu…

    Tapi kalo emang si Dufal ini gentle dan berani berdiskusi untuk mencari kebenaran, mari kite tunggu jawabannya apakah berani die untuk offline sm Ust. Ahmad Syahid… 🙄

    Ini serius lho Om Dufal, kalo perlu kite siapin tempatnye dan dokumentasinye. Atau kalo ente masih takut sendirian, ajak dah tuh si Firanda biar sekalian seru dah diskusinye… 😀

    Pegimane akhi……

    1. @Bang Nur
      Gak usah begitulah, aswaja kan dah punya pengalaman waktu bedah buku karangan Mahrus Ali di UIN Jatim, eeh pengarangnya ditungguin gak datang2. Berarti kan lempar batu sembunyi tangan. he he ……

      1. hehehe…kang ucep, ane sih geregetan aja dah bawannye kalo anak SaWah pade komeng. Abis kebanyakan asal goblek n’ keras kepala bgt, parahnye terkadang mereka cuma ngata-ngatain doang tanpa dasar jelas. Mangkenye ane dukung Mas Saliq untuk bikin kopdar/off line antara Ust. Ahmad Syahid dan Dufal (kalo perlu tambah Firanda). Nantinya, hasil diskusi terbuka tersebut bisa kita tampilkan di Ummati untuk menjadi referensi valid bagi Ummat Muslim lainnye. Dan kalo emang akhirnye si Dufal gak berani diskusi offline, berarti akan menambah sejarah baru ttg ketakutannye orang SaWah jika berdiskusi dg Ahlussunnah wal Jama’ah…. 😆

  26. Ente itu pernah baca kitab Al-Ibanah apa tidak? katanya pengikut Abu Hasan Al-Asy’ari. Coba bacalah. Mudah2 ente menemukan kebenaran.

    Untuk Para Pembaca Yang budiman, Coba Baca Kitab Al-Ibanah karya Abu Hasan Al-Asy’ari.

    1. @abu umar
      Ane dah baca Al Ibanah
      Ane dah beli n baca juga Fathul Majid karangan Muhammad bin abdul wahab (terjamahan Indonesia), buku tauhid nye wahabi, ane diskusiin ini buku sama ustad2 ane, eh aneh tauhid dibagi 3, ustad2 ane terbelalak …. ade ape nih buku …….. buku sekte baru nih.

      1. Ya pantas aneh, Ust ente itu pake ilmu laduni. Makane aneh bin ajaib.
        ” Masa cuma tangan nempel di kitab sudah tau isi bukunya. Aneh bin ajaib. Pasti bantuan JIN.”

        1. @abu umar
          Ane sama ustad2 ane pelajarin tuh buku cukup lama kurang lebih sebulan, akhirnye ditemuin kejanggalan2 itu.
          Ustad2 ane belajar sama KH Syafi’i Hazami, sekarang tinggal murid2nye, dulu ane belajar sama dia, tapi sekarang belajar sama ustad2 itu 2 x seminggu, jadi ane belajar sama ustad yang bener. Gak kayak ente, ketemu temen dah dianggap ustad.

    2. oh ya………………………..

      coba abu umar baca ini

      sedikit copasnnya ya

      WAHHABI KELIRUKAN KITAB AL-IBANAH (2)
      Oleh: Abu Syafiq (012-2850578)

      Setelah merujuk kepada semua cetakan kitab Al-Ibanah didapati tiada suatu cetakan pun yang mengatakan “Allah Bersemayam Atas Arasy” dan tidak wujud langsung perkataan “Allah Duduk Atas Arasy” sepertimana yang didakwa oleh Wahhabi. Bahkan tertera pada cetakan kitab Al-Ibanah ‘An Usuli Adiyanah oleh Imam Abu Hasan Al-Asya’ry yang diTahkik Oleh Dr. Fauqiyah Husain Mahmoud Prof Di Universiti “ain Syams Kaherah Mesir cetakan 2 Tahun 1987M didapati dalam kitab Al-Ibanah tersebut

      Imam Abu Hasan Al-Asya’ary menyatakan : ” Istiwa Allah bukan bersentuhan, bukan menetap, bukan mengambil tempat, bukan meliputi Arasy, bukan bertukar-tukar tempat, bukanlah Allah di angkat oleh Arasy bahkan arasy dan malaikat pemikul arasylah yang diangkat oleh Allah dengan kekuasaanNya, dan mereka dikuasai oleh Allah dengan keagunganNya “. Lihat kitab di atas yang telah Disacn dan perhatikan pada line yang telah dimerahkan.

      Amat jelas Imam Abu Hasan Al-Asy’ary menafikan TEMPAT bagi Allah dan juga beliau menolak akidah kufur yang mendakwa Allah Berada Diatas Arasy Mengambil Arasy Sebagai TempatNya… Ini adalah akidah kufur yang ditolak oleh Imam Al-Asy’ary.

      Sungguh jijik dan jahat golongan Wahhabi menokok dan menukar serta membohongan kitab Imam Sunnah Abu Hasan Al-Asy’ary.”

      coba ente bantah tu (dengan ilmiah) apa betul al ibanah tidak dipalsukan

  27. Assalamu’alaikum…

    ane izin ikut baca & share nih, artikel-2 di mari…ane dapet referensi dari temen ane di kantor, terutama izin share punya nya Ustadz Ahmad Syahid, yang sangat-2 bermanfaat, berilmu & jelas sekali sumber-2nya, terus terang garis ane dari ortu pastinya aswaja, tapi berjalannya waktu, supaya ane ga ikut-2an nerima fahamnya wahabi, juga buat bekel ke istri & anak ane nanti niih Ustadz yg budiman. Di kantor ane lagi rame soalnya perbedaan antara aswaja & anak baru gede yg ikut wahabi, ane sih tetep hormatin mereka, karena ane anti fahamnya bukan org nya, jadi tetep bertemen baik, meski di antara mereka yg tahu ane sering share & copas dari sumber-2 aswaja ke facebook ane, ada yg sinis banget ma ane, ampe ane diberi gelar ABU SYIBR ( orang yg dangkal ilmunya ), ane tetep terima, karena memang betul ane masih dangkal ilmunya, tapi faham ane masih untuk aswaja. Ada juga yg kasih pinjem ke ane buku pedoman Salafy…katanya…ane terima & baca meski baru beberapa lembar, sambil ane juga bilang ke dia, supaya cari info,ilmu seluas-2nya jgn hanya 1 or beberapa guru dari mereka, cari pembanding seluas-2nya, temen ane yg kasih pinjem sih kalo sholat jum’at masih ikut jama’ah ma ane sholat…mdah-2an dia ga ikut terlalu dalam..spt ane cuma sekedar ingin tahu apa sih isi ajaran Wahabi dalam buku itu…insya Alloh nanti ane infoin judul & pengarang bukunya, karena ada di rumah hehehehe….

    Sekali lagi, mohon share & copas dari sahabat-2 aswaja sekalian yg ilmunya sangat jauh di atas ane….

    Wassalam….

    1. Kami semua beriman dengan firman Allah maupun sabda nabiNya, istiwa diatas arsy atau Zat yang diatas langit.

      Tapi kami tidak beriman dengan Allahberada pada arah atas atau bertempat dan Allah bersemayam atau mendiami/menetap pada arsy, sebagaimana perkataan Imam Sulaiman Al Khitabi, kita membenarkannya, tetapi tidak menetapkan seperti keadaan ini.

      Sekarang saya mau tanya kepada ente. ente beriman atau tidak Surga itu ditelapak kaki Ibu?

      Jawab ya….

      1. Al Ustadz Abu Zakariya Abdurrahman Rizki

        Bismillahirrahmanirrahim, lafazh hadits yang dimaksud adalah:

        “Surga berada dibawah telapak kaki para ibu, bagi siapa yang mereka kehendaki mereka akan masukkan kedalam surga dan bagi siapa yang mereka kehendaki mereka akan keluarkan dari surga.”

        Al-Hindi menyebutkan hadits ini di dalam al-Kanz no. 45439, dari hadits Anas bin Malik. Dan hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Qudha’i, ad-Daulabi, Abu asy-Syaikh di dalam al-Fawa`id dan selain mereka. Pada sanadnya terdapat Manshur bin al-Muhajir dan Abu an-Nazhar al-Abaar keduanya perawi yang tidak dikenal.

        Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Adi dan al-’Uqaili dari hadits Ibnu Abbas. Pada sanadnya terdapat Musa bin Atha` dan dia seorang pendusta.

        Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan, “Saya tidak mengetahui hadits ini secara lafazh diriwayatkan secara marfu’ dengan sanad yang shahih.” Ibnu Thahir menghukumi hadits ini sebagai hadits yang mungkar.

        Syaikh al-Albani menghukumi hadits dengan lafazh ini sebagai hadits yang maudhu`, seperti tertera di dalam adh-Dha’ifah no. 593, untuk lebih jelas silahkan merujuk kepada kitab beliau rahimahullah ta’ala.

        Dan sebagai faidah, asy-Syaikh al-Albani di dalam kitab tersebut dan juga di dalam al-Irwa` (5/21)menyebutkan hadits yang semakna dari hadits Mu’awiyah bin Jahimah, bahwa Jahimah datang menemui nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata,

        “Wahai Rasulullah saya berkeinginan untuk turut berperang, dan saya datang untuk bermusyawarah dengan anda? Maka beliau menjawab, “Apakah engkau memiliki ibu?” Dia menjawab,” Iya.“ Beliau lalu bersabda, “Tetaplah engkau bersamanya, karena surga beada dibawah kedua kakinya.“

        HR. An-Nasa`i (no.3104), al-Hakim (2/104, 4/151), Ahmad (3/429), Ibnu Abi Syaibah di dalam al-Musnad (2/7/2). Al-Hakim berkata sanadnya “shahih” dan disetujui oleh adz-Dzahabi.

        Saya (al-Albani) berkata,”Demikian yang mereka katakan, sedangkan Thalhan bin abdullah tidak seorangpun yang men-tsiqahkannya selain Ibnu Hibban, namun beberapa perawi telah meiwayatkan darinya. Dengan begitu dia seorang yang hasan hadits-nya insya Allah. Di dalam at-Taqrib disebutkan tentang dirinya-, Maqbul. Dan terdapat mutaba’ah (penguat) baginya oleh Muhammad bin Ishaq bin Thalhah, diriwayatkan oleh Ibnu Majah (2781)

          1. saya mau tanyakan dimanakah surga itu ? apakah benar surga itu letaknya atau posisinya memang berada ditelapak kaki Ibu?

          2. Seperti halnya neraka, surga berada di tempat mulia dan tinggi yaitu langit tingkat ke-7.
            Ente tanya letak keberadaan surga di telapak kaki ibu. Coba ente liat sendiri aja ditelapak kaki ibumu. Dasar o-on.

          3. berarti anda mengingkari sabda baginda Nabi, bukankah Nabi mengatakan Surga itu ditelapak kaki Ibu. Itu artinya anda tidak beriman pada hadist nabi Muhammad.

          4. Katanya ente berpendidikan.. kenapa hal sperti iu di tanyakan, bukankah ente sudah mengetahui maksudnya. orang2 sudah pada mengetahui tentang itu. kenapa ente tanya. ooo.. ane tahu bahwa ente akan mengaitkan keterkaitan tentang letak di manakah Allah. Masyaallah… sungguh tragis pemikiran ente kalau seperti itu..

          5. tidak tragis….

            yang tragis itu mengingkari ada takwil pada ayat mutasyabihat.

            Kalau ente bisa memahami bahwa surga di bawah kaki Ibu itu adalah ungkapan yang tidak bisa dimaknai zhahir, kenapa pada ayat istiwa atau Allah atas langit itu anda tidak bisa memahaminya?

          6. tepat perkataan Anda, ‘orang2 memahami perkataan itu’
            dan mereka tak pernah mengartikannya secara zhahir, kecuali orang yg lugu

            begitu pula dg “ar-Rahman ‘alal ‘arsyistawa”
            Hal itu dpt dipahami, tetapi tdk ada yg mengartikannya secara zhahir

            begitu pula jawaban budak tsb
            dapat dipahami, tetapi tdk diartikan secara zhahir

          7. ustadz Abu Umar
            saya ini kan orang goblog. Boleh dong nanya ama yg pinter..
            1. mana yg lebih besar, ‘arsy atau langit k7?
            2. ‘arsy itu di mana?
            Ini saya bukan pengen debat ataupun diskusi. Saya cuma pengen tanya. Namanya juga saya ini o’on.

        1. Dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan, bahwa hadits dengan lafazh “Surga itu di bawah telapak kaki ibu” adalah lemah, bahkan ada riwayat lain yang palsu.

          Namun ada hadits lain yang secara makna menjelaskan bahwa ungkapan di atas adalah benar. Maka itu, ungkapan tersebut tidak dapat kita katakan salah secara mutlak lantaran adanya hadits hasan yang memperkuatnya. Wallahu a’lam. (Red)

          1. ente kan pake ilmu laduni, aliran sufi. lebih pahamlah tentang uangkapan2. ente seperti mengarahkan ke arah paham filsafat. fisafat kok di besar-besarkan.. Apa mau di pelajari lagi. kalau mempelajari tauhid harus melebur ke tauhid itu, dan mempelajari iblis melebur jadi iblis dulu.. sungguh konyol sekali.. dah dari dulu ente itu ya seperti itu.

          2. saya tidak membahas sufi atau filasafat.

            saya mau tanya apa maksud perkataan nabi itu.

            terus saya mau tanya juga dimanakah surga itu, posisinya atau letaknya. Apakah ditelapak kaki ibu atau bukan? karena nabi sudah mengatakan bahwa surga itu ditelapak kaki ibu.

          3. Seperti halnya neraka, surga berada di tempat mulia dan tinggi yaitu langit tingkat ke-7.
            Ente tanya letak keberadaan surga di telapak kaki ibu. Coba ente liat sendiri aja ditelapak kaki ibumu. Dasar o-on.
            Kata ente kan ungkapan. Dah paham kan kenapa di tanyakan. Ga penting mengalihkan perhatian. Intinya ente itu keimanannya ada 2. yang satu mengakui keberadaan Allah istiwa di atas ‘Arsy. Yang satunya bertolak belakang tidak bertempat. Aneh bin Ajaib.

          4. berarti anda mengingkari sabda baginda Nabi, bukankah Nabi mengatakan Surga itu ditelapak kaki Ibu. Itu artinya anda tidak beriman pada hadist nabi Muhammad.

            saya tidak bilang itu ungkapan, yang bilang ungkapan kan ente duluan.

            Artinya Intinya ente itu keimanannya ada 2. yang satu mengakui hadist nabi Surga itu ditelapak kaki Ibu. Yang satunya menolak hadist dan mengatakan bertolak belakang di langit ke tujuh. Aneh bin Ajaib.

          5. Benar kan apa yang ane maksudkan.. bahwa ente mengaitkan letak keberadaan Allah, dengan letak keberadaan surga. Benar2 tragis ente itu pemikirannya.. benar2 seorang ahli FILSAFAT. PARAH. Hati2 lho.. jangan berbicara tanpa berdasarkan ilmu. Ancamannya sungguhlah berat.

  28. Jawabanmu kok dua.. aneh. PLIN-PLAN. nomor 2 dalilnya apa? kok berbicara tanpa ilmu.

    Maka barangsiapa yang meng-ingkari nama-nama Allah dan sifat-sifatNya atau menamakan Allah dan menyifatiNya dengan nama-nama dan sifat-sifat makhlukNya, atau men-ta’wil-kan dari maknanya yang benar, maka dia telah berbicara tentang Allah tanpa ilmu dan berdusta terhadap Allah dan RasulNya.

    Allah Subhannahu wa Ta’ala berfirman: “Siapakah yang lebih zalim daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?” (Al-Kahfi: 15)

  29. Yang GOBLOG itu ente, orang badui itu lugu apa tidak, apa orang badui mikir sampai kepalanya pusing.
    Dimana Allah?
    Jawab: Allah di langit.
    Ya jelas itu dimaknai dzohir. Orang badui masa bisa ta’wil.. berarti ente itu lebih GOBLOG dari orang badui

    1. Namanya juga orang badui…. ya tentu saja lugu.

      kenapa harus dimaknai zhahir ?

      ada ayat dimana kita disuruh berlari menuju Allah…. bukan terbang ke atas…. malah dalam hadist qudsi dikatakan Allah mendatangi kita dengan berlari ..bukan turun dari atas…. kok bertentangan dengan keyakinan ente?

    2. Wahabi kumat, kalau terpojok pasti goblok-goblokin lawan diskusinya. Baik di offline maupun di online. Tidak heran, sebab ane sudah sering mengalaminya. Orang baca Qur’an belum jegos pun lagaknya seperti ulama, itulah kroco-kroco n ustadz2 Wahabi.

      Ane penya teman asal cilacap yg jadi Salafi Wahabi, orangnya sangat lugu dan bisa di kategorikan sebgai orang dodol alias telmi. Sekitar setahun ikut ngaji mingguan, jenggotnya jadi panjang n celanyanya naik di bawah lutut. Eh, sekarang dengar kabar terakhir lagi bangun rumah di kampungnya n mau buka pengajian di sana. Na’dzu billah, semoga ummat Islam selamat dari pengaruhnya.

      Yang jadi agak heran, dari mana biaya bikin rumah jika mengingat kondisi ekonominya selama ini yang ane tahu persis sebagai keluar di bawah garis keminkinan? Tebak sendiri deh, …. itulah Wahabi.
      Hebat, menyulap orang dodol jadi ustadz di kampungnya, apakah tidak mikir hal itu mungkin akan menimbulkan crash/benturan dg masyarakatnya nantinya?

      Bahkan anak Aswaja sudah nyantri 6 tahun pun tidak berani jadi ustzdz lho?

      1. 🙂 seingat saya, kmrn ada yg menasihati agar orang2 yg belajar kpd Habib Munzir itu tdk menyelisihi sikap habib Munzir, berdiskusi secara sopan sbgmn habib Munzir ketika berdiskusi

        padahal mereka itu tukang takfir, nyebut2 goblog, musyrik, dsb
        tragis.. ironis.. :mrgreen:

    3. @Abu Umar
      He he he
      “Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abdu bin Humaid; Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdur Razzaq; Telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Az Zuhri dari Abu Al Musayyab dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Allah Azza wa Jalla berfirman: Anak Adam suka mencela-Ku. Katanya; ‘Alangkah sialnya masa.’ Karena itu janganlah kamu berkata demikian. Karena sesungguhnya Akulah pencipta masa. Akulah yang menggilir siang dan malamnya. Jika Aku mau, Aku kuasa menghentikan pergantian keduanya.” (HR Muslim)

  30. orang polos juga ngerti dg kata2 ‘naik hajji’, ‘naik daun’, ‘di atas angin’, ‘berebut kursi’, ‘mengejar dunia’, ‘turun tangan’, ‘sembunyi tangan’, ‘cuci tangan’, ‘tangannya menggenggam’, ‘ringan tangan’, ‘keras kepala’, ‘saya terima dg tangan terbuka’, ‘lapang dada’.

    Tak ada orang polos yg mengartikannya secara zhahir. Jika ada, dia terlalu lugu.

  31. Yang heran ketika saya kasih dalil … baru satu dalil bahwa Allah tidak bertempat dan berarah dengan mengatakan Allah yang Awal….. langsung menuduh orang lain muktazilah dsbnya…. padahal dalil kita belum pula dibantah atau dibahasnya…. aneh kan?

      1. ustad @artikel islami
        Jangan begitu dong ustad, mereka juga sebenarnya sadar, makanya kita kudu sabar ngadepin wahabiyun, mereka perlu juga kita sabarin, mereka cuma terbawa nafsu nya temen jadi begitu. kadang ane juga sebel ngadepinnya. mereka kan cuma copas2 aja, isinya gak tau.
        Kalau gak ada ustad siapa lagi yang jadi mediatornya kite2 ini yang masih perlu banyak belajar.

  32. Sabar Kang Dianth….makin keluar kata-2 kasarnya, makin kelihatan kebodohannya….kita tetep tanggapi dg kepala dingin, arif, bijaksana, tentunya dg dasar ilmu, guru, Hadits yg shahih, serta sanad-2 nya….aswaja 4ever….

    1. saya selalu berusaha sabar…. Alhamdulillah…. dan saya akan berusaha selalu sabar. Semoga dengan kesabaran, kita semua mendapat hidayahNya.

      1. Mas @dianth
        Sing Sabar. Allahuma anta robbi, lailahaila anta kholaqtani, wa ana abduka wa ana ala ahdika wawadika masy’tathotu auzhubika min sarry ma sana’tu abu’ulaka bini’matika allayya wa bau’u bidzanbii fagfirly fainnahu layagfiru zunubba illa anta. wa auzhubika min fitnati masyihid dajjal amiin.

  33. kalo mereka fair, ga apa2
    tapi kalo dah mulai tengil, males ane
    liat aja si bedul copas soal tahlilan
    berasa bener sendiri dia
    padahal yg dia copas ga utuh
    kalo ane tanggepin, paling dia cuma diem dan kabur
    tp kalo dia mau janji utk ruju’ setelah ane tanggepin dg benar, baru gentle
    copasan semacam itu dah di copas abu hannan dan lainnya di blog ane
    ane dah tanggepin di halaman mubahalah
    soal baca quran di quburan juga dah ane tanggepin
    soal kirim hadiah pahala bagi mayyit juga dah ditanggepin

    tapi mereka dg tengilnya berkata, ‘ga ilmiah’
    🙂 tengil banget, kan?

    1. Abu Umar juga mulai tengil tuh dia
      dari kemarin ngotot bhw Allah bersemayam di atas arsy, Allah berada di langit (textually). Padahal istiwa tdk bisa diterjemahkan dg bersemayam. Dan dia sendiri tau bahwa ‘kursi’ itu meliputi langit dan bumi, sedangkan ‘arsy lbh agung dari kursi. Dan Allah adalah pemilik dan penguasa ‘arsy. Wa Huwa Rabbul ‘arsyil ‘azhim.

    2. Apakah ada yg sekufu dg Allah? Ataukah langit itu lebih tinggi dan lebih agung dari Allah? Apakah ‘arsy itu lbh agung dari Allah sehingga Dia bersemayam di atasnya? Allah itu al-‘Aliyyul ‘Azhim.

  34. Tenang ustad, mereka belum melek hatinya (summun bukmun……), ntar kalau mereka sering tahajut juga pada tau.
    Ane rasa siapa Allah swt aja mereka gak tau kali !!!, abis ane lihat coment2nya SaWah masih diselimuti nafsu, apalagi cuman copas.

  35. @ sabar ya mas dianth, ustad AI dan saudara2 Aswaja sekalian,
    Alhamdulillah mas dianth, kita diajarin oleh guru2 kita untuk slalu sabar, itulah keutama2 ulama2 terdahulu, dan keberkahan guru2 kita untuk kita, dan slalu diajarkan untuk tidak mudah mengeluarkan kata2 yg sia-sia dan mencontohkan ahlak-ahlak mereka yg tawadhu, maaf jd rindu2 sama almarhum2 guru2 ana,,,,

  36. Insya Allah, semoga para kawan2 dari kaum sa-wah mendapat hidayah dan pencerahan dari Allah tuk kembali pada akidah Aswaja,….amiin..

  37. ha ha ha ha 😀 ane setuju ama mas AI mereka seperti kerbau dicocok hidungnya, kontradiksi pemahaman alias konselet pemekiran. mereka taqlid dengan ustadnya yang katanya punya (ada yang comment) mempunyai sanad sampai rosullallah, saya minta bukti malah kabur dan bahas yang lain.

    di blog mas AI udah dibahas dan gamblang mengenai tahlilan dan membaca alquran di qubur, masih aja ditanyakan dengan dalil2 yang mudah terbantahkan. masalah istawa udah dibahas juga di blog ini baik jawaban mas syahid atau yang lainnya.

    meski pertanyyaan mereka muter2 wajib kita membantu diri kita dan mereka biar tidak mengkafirkan sesama muslim dan tidak bertauhid yang ditambah2i, dengan adab dialog yang baik dan sabar.

    😀

  38. Blog ini isinya tidak Ilmiah, tidak ada bobot nya, ilmu tipu yg di terapkan,
    sekitar 95% artikelnya Pembohongan/Penipuan/Pemalsuan !!!
    Alhamdulillah…. orang2 indonesia sekarang sudah pada Pinter2, bukan seperti dulu yg gampang di bodohi oleh segelintir kaum pendusta.
    Makanya Da’wah Tauhid (Manhaj Salaf)) mendapat tempat yg tinggi di masyarakat, sehingga Buanyak sekali dari mereka yg meninggalkan Ritual2 Bid’ah, syirik, khurafat, tahayul Dll seperti misal nya Mauludtan, Tahlilan Mayit, meminta-minta pada kuburan keramat, Tawassul (menyeru pada roh), Jimat2 syirik, wirid2 syirik, Transper Pahala (Hadiah fatehah/yasinan).

  39. Abu Yaman@

    Bapak Abu Yaman, koment kok begini doang? Kasih dong bantahannya atas artikel-artikel yg antum katakan tidak berbobot.

    Kalau menurut ana ya, artikel2 di sini sangat mencerahkan dan memberikan kesadaran baru tentang apa itu Salafi atau Wahabi. Agar kita tak mempan dikibuli lagi sama ustadz2 Salafi yg emang tukang ngibul.

    Salafi Wahabi antum sebut berdakwah Tauhid, apa gak salah ketik antum Pak Abu Yaman? Sebab setahu ana, dan ini berkat info-info blog kontra Wahabi/Salafi, bahwa Wahabi itu sesungguhnya perusak tauhid, dan itu terbukti dg fakta Wahabi membagi tauhid jadi tiga, uluhiyah, rububiyah, asma wa sifat. Pembagian seperti ini justru menghancurkan esensi Tauhid itu sendiri. Layakkah dengan demikian itu Wahabi salafi disebut pendakwah Tauhid? Nonsens itu Pak Abu Yaman!

  40. Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah ulama yang mengerti mana tauhid dan mana syirik sehingga Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki pun menggelarinya dengan sebutan “Imam at-tauhid wa Ra`su al-Muwahhidin” (pemimpin tauhid dan kepala orang ahli tauhid) dalam kitabnya Mafahim Yajib an-Tushahhah[1] halaman 202:

  41. dianth@ “Tapi kami tidak beriman dengan Allahberada pada arah atas”
    maaf maaf mas mo nanya kenapa kalau kita berdoa kita mengangkat tangan keatas, bahkan orang buta pun kalau berdoa ngangkat tangan keatas, tolong jawab kenapa yah ❓

    1. @ihsan

      suatu pertanyaan,lamaaa banget en dah di jawab di ummati,..

      Salah satu ulama Al Azhar, Al Muhaddits Syeikh Ahmad bin Shiddiq Al Ghumari Al Maghribi (1380 H) telah menyebutkan alasan kenapa disyariatkan menengadahkan tangan ke langit saat berdoa. Dalam beliau, Al Manhu Al Mathlubah fi Istihbabi Raf’i Al Yadaini fi Ad Du’a` ba’da As Shalawati Al Maktubah (hal.61), beliau mengatakan,

      ”Jika ada yang mengatakan,’kalau Allah Ta’ala terbebas dari arah, lantas kenapa menengadahkan tangan ke langit saat berdoa?’”

      Beliau menjawab pertanyaan itu dengan jawaban Imam At Thurthusi (529 H), ulama Malikiyah dari Iskandariyah, yang termaktub dalam Ithaf As Sadah Al Muttaqin, syarah Ihya Ulum Ad Din (5/34,35). Dalam jawaban itu, At Thurthusi memberikan dua jawaban:

      Pertama: Hal itu berkenaan dengan masalah ubudiyah, seperti menghadap kiblat saat melaksanakan shalat, dan meletakkan kening ke bumi saat sujud, yang juga mensucikan Allah dari tempat, baik itu Ka’bah maupun tempat sujud. Sehingga, seakan-akan langit merupakan kiblat saat berdoa.

      Kedua : Karena langit adalah tempat turunnya rizki, rahmat dan keberkahan, sebagaimana hujan turun dari langit ke bumi. Demikian pula, langit merupakan tempat para malaikat, dimana Allah memutuskan maka perintah itu tertuju kepada mereka, hingga mereka menurunkannya ke penduduk bumi. Ringkasnya, langit adalah tempat pelaksanaan keputusan, maka doa ditujukan ke langit.

      Jawaban At Thurtusi di atas sejatinya merujuk kepada jawaban Al Qadhi Ibnu Qurai’ah (367 H), saat ditanya oleh Al Wazir Al Muhallabi (352 H), seorang menteri Baghdad yang amat dekat dengan para ulama. Dimana suatu saat Al Muhallabi menanyakan,“Saya melihatmu menengadahkan tangan ke langit dan merendahkan kening ke bumi, di mana sebenarnya Dia (Allah Ta’ala)?
      Ibnu Qurai’ah menjawab,”Sesungguhnya kami menengadahkan tangan ke tempat-tempat turunnya rizki. Dan merendahkan kening-kening kami ke tempat berakhirnya jasad-jasad kami. Yang pertama untuk meminta rizki, yang ke dua untuk menghindari keburukan tempat kematian. Tidakkah engkau mendengar firman Allah Ta’ala (yang maknanya),”Dan di langit rizki kalian dan apa-apa yang dijanjikan.” (Ad Dzariayat: 22). Dan Allah Ta’ala berfirman (yang maknya),”Darinya Kami ciptakan kalian, dan padanya Kami kembalikan kalian.” (Thaha: 55).

  42. Maaf maaf mas Prass says ;Kedua : Karena langit adalah tempat turunnya rizki, rahmat dan keberkahan yang nurunin rizki, rahmat & berkah itu sopo Mas, Jadi Alloh itu ada dimana Mas ❓

  43. Yang nurunkan Rahmat ya Allah doong. Dan Allah tidak terikat dengan tempat.

    Beda dengan bom yang dijatuhkan dari langit oleh pesawat, maka pesawatnya yang menjatuhkan harus berada di langit.

    Kecuali kalau ente menyamakan Allah dengan pesawat….

  44. wahh tambah bingung akoe “Allah ada tanpa tempat,” Allah ada tanpa tempat, ❓ ❓ , mas prass ada tanpa tempat, jadi mas prassnya apa nggak ada ❓ ❓ mas prass nya di mana dong kalau nggak ada tempatnya, bukan di atas, bukan di bawah, bukan di depan bukan di belakang, bukan di kiri bukan di kanan jadi mass prass dimana adanya ❓ ❓
    Naka says: Dan Allah tidak terikat dengan tempat. artinya opo Mas Naka

  45. Ente telah menyamakan Dzat Allah dengan makhluk….

    Mas Prass ada tanpa tempat=Tidak ada : Hal ini benar karena keberadaan Mas Prass terikat dengan tempat.

    Beda dengan Allah yang dzat-Nya tidak terikat dengan tempat, maka tanpa tempat pun keberadaan-Nya tidak berubah.

    Itulah perbedaan antara khalik dan makhluk.

  46. wadauuuu makin jelimet tambah pening….. Yang Nyamain Dzat Alloh dgn mahluk sopo mas akoe nggak bilang gitu, itu prasangka mas Naka aja
    kayaknya dah sedikit masuk ama mas Naka “Mas Prass ada tanpa tempat=Tidak ada” Jadi kalo mas bilang Alloh ada tanpa tempat = ?? ❓ ❓ ” bukan Nyamain Alloh ama mahluk, sesama mahluk aja belum tentu sama, contoh mas punya Kaki meja punya kaki, opo sma kaki mas ama kaki meja, monyet punya wajah mas naka punya wajah opo sma wajah monyet ama wajah mas, jadi maaf maaaaaf, betulkan sesama mahluk aja nggak sma apa lagi gd Kholiq, it’s simple ngga jlimet

    1. @ abuihsan
      komentator pendatang baru ya di blog ini ?
      jawaban anda sama dengan pengikut wahabi lainnya, cuma komentar ngeles alias cuma untuk nutup2i faham sesat wahabi supaya dimata awam kelompok kalianlah yg paling benar, tapi bagi orang2 yg mau berfikir dan gak mau cuma didoktrin tanpa dibuktikan kebenarannya gak mungkin tertipu dengan siasat kalian pengikut sesat wahabi laknatuLLAH.

    2. Jadi menurut antum, Allah itu punya kaki, tetapi kaki Allah beda ama kaki makhluq-Nya? Bukankah itu berarti bahwa antum menjisimkan Allah?

    3. Kakinya makhluk itu sama semua yakni sama-sama jauhar (benda). Wajah makluk sama semua yakni sama-sama jauhar, tangan makluk juga sama- sama jauhar.

      Ente tidak selamat dari akidah tasybih dengan hanya menyatakan bahwa Allah memiliki tangan yang berbeda dengan tangan makluk, jika ente masih berkeyakinan bahwa kedua-duanya merupakan jauhar.

  47. Back to topic ya agan2, mas mas tapi akoe minta syarat, ngga ada ejek ejekan, saling melecehkan dsb, dkk, etc, semoga Alloh memberi hidayah kpd kita semua, krn kita takut kalo saling ejek & mencela ujung ujungnya kita mencela Kallamullah atau sabda Nabi yg Shohih, Nauzdubillah semoga Alloh melunakkan hati2 kita yg keras yg lebih keras dp batu yg paling keras, semoga Alloh memaafkan dosa2 kita, kalo trjd Jidal, saling hina akoe mundur,.. 💡 ( mana katanya orang indonesia itu orangnya ramah2, Islam itu agama lemah lembut ) note: menunjukan kesalahan perbuatan bukan termasuk katagori menghina / mengejek, tp meluruskan & nggak langsung memvonis yang berbuat salah itu, SALAH ato SESAT setuju nggak…. 💡 💡 tapi kalo perbuatannya yg salah kita katakan salah BUKAN PERSONNYA

    Akoe nanya ama anakku yang TK turun itu apa dari atas kebawah ato dari bawah ke ats, di bilang yang namanya turun itu dari Atas ke bawah,
    sooooo, Rahmat turun dari Atas,,,, Berarti yng nurunkan Rahmat ( Alloh ) ada di ❓ ❓ ❓ ,
    pertanyaan : – Haq atau Batil pernyataan Alloh berada di Atas tlg, agan2, mas mas, JAWAB HAQ ato BATIL
    -Apa ada ayat dlm Al Qur’an yang menyatkan persis bukan prasangka, tertulis “Allah ada tanpa tempat,”
    – Apa ada perkataan Rassululloh, dlm kitab hadist yg shoheh Beliau bersabda ““Allah ada tanpa tempat,”
    -Apa ada Perkataan Abu Bakar, Umar, Ustaman, Ali yang mereka berkata ““Allah ada tanpa tempat,”
    – Apa ada perkataan para imam yng empat abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, & Imam Ahmad bin Hambal yg mereka mengatakan “Allah ada tanpa tempat,”

    TOLONG AGAN2, MAS2, HABAIB2 berijawabannya

    1. abuihsan@

      abuihsan: tapi kalo perbuatannya yg salah kita katakan salah BUKAN PERSONNYA

      kata2 antum itu kalau dijabarkan pakai contoh lain, misalnya maling mencuri, yg salah mencurinya, personnya (maling) tidak salah. Oleh karena itu yg dihukum perbuatannya (mencuri) malingnya bebas. Coba logika apa itu, kok perbuatannya yg salah personnya tidak salah?

      Perbuatannya salah otomatis person pelakunya salah, itu baru logis, agan-agan. Kalau bernalar itu yg tertib, oke agan-agan?

  48. Satu dulu mas yg ini tolong jawab : Haq atau Batil pernyataan Alloh berada di Atas tlg, agan2, mas mas, JAWAB HAQ ato BATIL, jangan lari dari topik sampai bawa2 pasukan paskibraka biar jelas

    1. ane ga lari bos
      ente pake analogi
      ane juga bs pk analogi utk mematahkan analogi ente bhw yg menurunkan itu blm tentu ada di atas. Artinya, analogi ente batal.

      Utk pertanyaan ente yg ini, ente harus paham dulu bhw ‘berada di atas’ dlm bhs mana pun punya banyak makna.
      Ente setuju ga kalo ane bilang bhw Presiden berada di atas wakil Presiden dan para menteri?

  49. waduh masss aku nanya sangat sederhana tolong jawab benar atau salah, Haq opo Bathil pernyataan yang menyatakan Alloh berada di Atas, tolong jawab Haq atau Bathil ngga usah jelimet kesana kemari…. ❓ ❓ ❓ HAQ ato BATHIL
    (tadi pasukan paskibra, sekarang president ama wakilnya ) yg kayak gini tlng di kesampingkan dulu
    Jawab aja APA HAQ ato BATHIL PERNYATAAN YG MEYATAKAN ALLOH ADA DI ATAS ‘ sekali lagi akoe mohon maaf tolong kedepankan ahlak mulia bukan saling ejek, kita mencari kebenaran semoga Alloh merahmati kita semua, semoga Alloh memberikan hidayah kpd kita semua, semoga Alloh meluluhkan hati kita yang keras, yg lebih keras dp batu yang paling keras

    jadi tgl Jawab dulu Haq ato bathil itu saja

    1. @ abuihsan
      Haq kalo pengertian Allah berada diatas dalam arti Allah Maha Kuasa, Maha Segalanya, tapi Batil Kalo pengertiannya secara fisik atau bendawi seperti misalnya gelas berada daiatas meja, rumah diatas bukit. karena Allah tiada sama dengan makhluk ciptaanNYA dan tiada satupun yang sama dan menyerupaiNYA.

  50. artikelislami says:
    October 22, 2011 at 6:50 am
    Jadi menurut antum, Allah itu punya kaki, tetapi kaki Allah beda ama kaki makhluq-Nya? Bukankah itu berarti bahwa antum menjisimkan Allah?
    Abu Ihsan says: ( selingan ……, sebagai mukadimah, tapi akoe nunggu dulu jawaban pertanyaan ku yg pertama HAQ ato Bathil …….)
    Mas yg mengatakan Alloh Punya kaki itu Alloh sendiri melalui lisan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, ini juga yg di pahami oleh Ulamanya sahabat Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu
    Perkataan orang yang paling kita cintai, yang perkataannya adalah Wahyu Alloh bukan Hawa Nafsunya dari sahabat Anas bin Malik Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “ Akan di lemparkan ke dalam api neraka, dan ia ( neraka ) akan mengatakan ‘ Apakah masih ada tambahan ?’ Sehingga Alloh meletakan kaki-Nya disana, maka Neraka pun berkata:’ Cukup – cukup ‘[HR al – Bukhari & Muslim] ( pingin lebih jelas buka tafsir Ibnu Katsir surat Qaaf ayat 30 )
    Dari Sa’id bin Jubair bahwasanya ketika Sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu menafsirkan firman Allah: “Dan Kursi Allah meliputi langit dan bumi.” [Al-Baqarah : 255] [ lihat Tafsir Ibnu Katsir tenatang ayat kusri ini ] ,” beliau Abdullah bin ‘Abbas Radhiyallahu ‘anhu berkata:
    “Kursi adalah tempat meletakkan kaki Allah, sedangkan ‘Arsy tidak ada yang dapat mengetahui ukuran besarnya melainkan hanya Allah Ta’ala.” [Diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 12404), al-Hakim (II/282) dan dishahihkannya serta disetujui oleh adz-Dzahabi. Lihat Syarhul ‘Aqiidah ath-Thahaawiyah (hal. 368-369), takhrij dan ta’liq Syu’aib al-Arnauth dan ‘Abdullah bin ‘Abdil Muhsin at-Turki]

  51. Mas Abah Asra, barraqallohufiq atas jawabannya muanntaaaap, tapi makin bikin aku bingung tambah jlimet koq nggak konsisten, nggak istiqomah masih abu abu, akoe Ulang pertanyaanya APA HAQ ato BATHIL PERNYATAAN YG MEYATAKAN ALLOH ADA DI ATAS ‘ seharusnya peryataannyakan simple aku minta satu jawaban aja Haq ato bathil

    1. APA HAQ ato BATHIL PERNYATAAN YG MEYATAKAN ALLOH ADA DI ATAS ?

      saya katakan hak. kenapa memangnya, itukan perkatannya bukan tafsir atau maknanya.

      terus ente mau apa?

  52. @abuihsan
    Dari makna Haq dapat dijelaskan bahwa kata ALLAH mencakup segala sifat-sifatNya, WujudNya, PembalasanNya bahkan Dialah yang menyandang sifat-sifat, Wujud, PembalasanNya tersebut. Jika kita berkata “Ya Allah”, maka semua nama-nama/sifat-sifatNya, WujudNya, PembalasanNya telah dicakup oleh kata tersebut. Dari sisi lain jika berkata “Ya Rahman (Yang Maha Pengasih)” maka sesungguhnya yang kita maksud adalah Allah, tetapi tidak mencakup pembalasanNya atau sifat-sifat yang lain. Itulah dalam syahadat kita mengucapkan “La Illaha Ilallah”, tidak mengganti nama Ilallah dengan sifatNya yang lain seperti Rahman, Rahim atau lainnya.
    Dalam hal yang bathil bagi Allah kita lihat hadist Rasulullah : “Kalimat yang Haq diucapkan seorang penyair adalah kalimat Labid yaitu “Segala sesuatu selain Allah pasti disentuh kebathilan” (HR Bukhari, Muslim dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah).
    Bagaimana @abuihsan?

  53. teman teman hati hati itu pertanyaan jebakan si abuihsan….cuma mau mancing biarin dia dialog ama mas Dianth coba kita liat sampai dimana tuh abugosok katanya dia mau cari KEBENARAN …….moonnggggooooo mas Dianth …

  54. @ mamo cemani gombong: Assalamu’alaikum waRahmatullahi wabarakatuh, semoga Alloh merahmati anda dan kita semua ini yg terakhir tolong nggak ada ejek mengejek, saling mencela, tunjukan kita org indonesia yg ramah, umat islam yang yg penuh hikmah dan berahlaq mulia, ini lagi seru kalo mengejek tolong kepinggir dulu,,, ato bicaranya ama cermin ato tembok hanya untuk yg serius mencari kebenaran

    Mas Husaini, nanya maksudnya atas itu apa mas coba panggil anaknya dulu tanya ama anak mas Atas itu dimana. atas itu apa ????

    Mas Artikel Islam Assalamu’alaikum waRahmatullahi wabarakatuh, piye kabare mana pilihan mas,
    Mas Abah Arsa Assalamu’alaikum waRahmatullahi wabarakatuh, kamana bah kumaha damang mana jawabannya

    Mas Dianth Assalamu’alaikum waRahmatullahi wabarakatuh, koq ngmbek pasti mas lebih gangteung kalo pas ngambek coba lihat di cermin ( dianth says:
    October 22, 2011 at 11:16 am

    APA HAQ ato BATHIL PERNYATAAN YG MEYATAKAN ALLOH ADA DI ATAS ?

    saya katakan hak. kenapa memangnya, itukan perkatannya bukan tafsir atau maknanya.

    terus ente mau apa? )
    yang Jelas donk jawabannya
    OK aku sederhanakan lagi pertanyaannya a. Alloh haq ada di atas atau b. Bathil Alloh ada di Atas, ayo mas mas, agan agan, akang akang, habaib2 mana jawabannya (pikir mask2 jg sampe kita berdusta atas nama Alloh BERBAHAYA ingat setiap ucapan yg kita keluarkan dr lisan kita ada malaikat yg mencatatnya taakan luput satu hurup pun )

  55. @abuihsan:
    ayat dan hadits yg menyebut sifat Allah seperti wajah, kaki, tangan, dsb itu mutasyabihat. Tdk bs dimaknai secara zhahir begitu.

    Anda bertanya haq atau bathil pernyataan ‘Allah berada di atas’.
    Saya katakan bathil.
    Bingung kan? Skrg antum ngadepin 2 aswaja yg beda jawabannya.

    1. hehehehe kalo abu ihsan bingung mau diskusi sama siapa, & ga bisa lanjut, kalo mau ngomongin bola, bisa kok sama ane, td ada tuh yg pake skor 2-1 untuk Mancity, la wong lagi diskusi ngelantur ke bola hehehehe..sekedar selingan aja kang…

  56. agan agan tolong jawab donk salam akeo apa akoe ini wong kafir sehingga nggak harus dijawab salamnya ( tapi tak Apalah Malaikat yg di sampingku pasti menjawab salamku )
    @dianth : Barrakallohufiq semoga Anda dirahmati Alloh dan meneguhkan pendirian Anda smpai ajal menjemput, banyak2 berdoa minta pertolongan Alloh, yaa muqolibal qulb tsabit qolbi a’la dinika ( Ya Dzat yang membolak balikan hati tetapkan hati kami di atas Agama-Mu )

    mas artikelislami semoga Alloh merahmati Anda, anda berpendapat bahwa Bathil Alloh ada di Atas, jadi yang Haq Alloh dimana mas…..Saya nggak bingung ato mas yang bingung

    1. saya jawab salam Anda di hati
      Jadi jangan suuzhon gitu ya
      Kenapa Anda hanya bertanya dimana Allah?
      dan tidak bertanya tentang alasan saya berkata bhw itu bathil?
      Apa Anda tidak ingin tahu?

  57. artikelislami: ayat dan hadits yg menyebut sifat Allah seperti wajah, kaki, tangan, dsb itu mutasyabihat. Tdk bs dimaknai secara zhahir begitu.

    Kalo Allah punya tangan, punya kaki, punya wajah, Emang elo gak seneng? Emang apa ada yang salah..???

  58. @ Mas artikelislami : Jazakallohu khoiron katsiron mau jawab salam akoe meski dlm hati, bukun su’udzon, mas akoe kan nggak tahu apa yang ada dlm hati mas, Hanya kita sendiri & Alloh yg tahu isi hati kita,
    Knp mas bilang Alloh ada di atas itu Bathil, akoe nggak mau tahu alasannya itu kan keyakinan mas yg Bathil, akoe mau tahu yang Haq- haqnya Aja, jadiiii. menurut keyakinan mas yang Haq itu Alloh ada dimana ❓ ❓ ❓

    1. kalo Anda husnuzhon, mungkin Anda akan berkata, “ah mungkin dijawab dalam hati”
      Tetapi Anda tdk berfikir ke situ, malah Anda berfikir, ‘apa saya dianggap kafir shg salam saya tdk dijawab’

  59. Anda sendiri yg berkata agar jangan lari dari topik ‘apakah pernyataan “Allah berada di atas” itu haq atau bathil?’
    Dan saya tidak pernah lari dari topik itu
    Jadi jangan harap bahwa saya mau Anda bawa lari dari topik tsb dg pertanyaan ‘Allah dimana?’

  60. Barrokallohufiq mas mamo
    mas artikelislami maaf maaf kalao akoe mmenurut mas lari dari topik
    kita urut dari Awal ya Mas, akukan nanya APA HAQ ato BATHIL PERNYATAAN YG MEYATAKAN ALLOH ADA DI ATAS, mas lantas menjawab batil, trus aku nanya lagi jadi yang Haq itu menurut mas Alloh ada dimana ( coba mas periksa lagi dari atas siapa tahu memang akoe yang salah ato mas yang kurang menyimak )

    1. “Allah berada di atas” itu satu pembahasan
      “Dimana Allah” itu pembahasan lain
      kita bahas satu2 seperti yg Antum mau
      Kita blm selesai bahas “Allah berada di atas” jadi jangan lari ke pembahasan “Dimana Allah”

  61. eh lupa mas mamo bukannya salah satu tanda kecintaan kita pada saudara kita adalah saling nasehat menasehati, bukankah tanda kesempurnaan iman itu adalah kita menginginkan kebaikan bagi saudara kita sesama muslim
    coba mas punya anak anak mas bandelnya bukan maen pokoke super bandel trus apa namanya sayang ama anak kalao kita membiarkan aja anak kita yng bouandel tsb nggak menasehatinya mau apa aja terserah nggak menasehatinya untuk kebaikan….ato kalo kita lagi naek motor di bonceng kawan, di ugal ugalan super ngebuuut nggak pake hlm lg sementar kita di bonceng ama dia apa kita nggak menasehatinya supaya pelan pelan maaf maaf kalau sedikit ngelantur,,,, bukan apa apa sunggung akoe benar benar menginginkan kebaikan bagi kita SEMUA kalo akoe salah tlg ingetin yach

  62. ohh mas ar salah yah aku nulis makasih koreksinya tapi koq ngeledek kayak gitu ( antum nulis gitu aja blm becus) mana donk sifat lemah lembutnya itu kan yang diajarin para Habib…. kalo di ajarin habib kaya kitu yah mas kalo salah langung bilang gitu aja blm becus ,,,, trus kalo mas ngajarin anak kalo anaknya salah mas lnsg bilang “”gitu aja blm becus) katanya org islam itu agama lemah lembut

    mas akoe ulangi lagi akukan nanya APA HAQ ato BATHIL PERNYATAAN YG MEYATAKAN ALLOH ADA DI ATAS, mas lantas menjawab batil, trus aku nanya lagi jadi yang Haq itu menurut mas Alloh ada dimana
    Jadi yg nanya pertama itu akeo dan jawabannya aku dah dapat trus aku nanya lagi nyambung dari pertannyaan pertama tadi kalo mas bilang adalah bathil Alloh ada di Atas, lantas yang Haq itu Alloh ada dimana shohihkan para penonton,,,,

  63. @abuihsan
    ane ga ngledek ente
    kalimat 1, ane lurusin tulisan ente
    kalimat 2, ane lurusin cara berfikir ente
    ente blm becus nulis ky gitu, jd jangan sok2an bahas ilmu yg ky gini
    terbukti, ente berfikir bhw pembahasan Allah berada di langit sudah selesai
    sedangkal itukah pemikiran ente?

  64. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

    Mas Mamo Semoga Alloh selalu merahmati kita semua

    Aku memulai tulisan ini, atas nama cinta. Cinta kepadamu, yang membuatku ingin menuliskannya, menjelaskannya, mudah-mudahan kau mengerti.

    Tapi Sebelumnya perkenalkan ( ada istilah ditempat kita tak kenal maka tak sayang ) namaku Adang Supriatna, kunyah Abu Ihsan Al Ibuny ( Ihsan nama Anak laki laki pertamaku )
    Ibun…adalah Sebuah kecamatan di Kabupaten Bandung, sebuah tempat dimana Ibuku melahirkanku 36tahun yg lalu, Ibu yang soleh insyaAlloh dari keturunan orang yang soleh
    Ibun bahasa Sunda dalam bahasa Indonesia artinya Embun, sesuai denagn namanya, Ibun… adalah tempat yang indah udaranya sejuk, pegunungan di Selatan Bandung, di puncak gunung banyak kawah, pemerintah membangun Geothermal dimana listrik di hasilkan untuk menerangi daerah Priangan
    Ibun… di lereng gunung banyak petani yang memanfaatkan lahan untuk menaman berbagaimacam sayur, kala musim hujun biasanya aku dan teman temanku, bermain ke hutan untuk mencari Jangkrik yang bagus suaranya dan Jamur kayu yang enak rasanya bila di masak dengan kerang yang kita ambil di sungai dekat rumahku. Di musim kemarau waktu yang pas untuk bermain layang layang di sawah yang kering dan berenang di sungai yang jernih airnya
    Sungguh tempat yang indah seorang ustadz bilang Indonesia bagaikan Potongan Surga yang Alloh letakkan di Bumi, yang membuat Bule bule jaman dulu ngiler…
    Mungkin benar kata pak Ustadz apalagi tempat kelahirannku ini…
    Sungguh… masa … masa yang indah untuk di kenang……..

    Seiring berlalunya waktu, dalam lingkup pergaulan keluarga, kerabat, sahabat, perbedaan pendapat dan sudut pandang sering kali berbenturan yang terkadang melahirkan konflik. Konflik yang tidak semestinya ada, jika kita selalu mengembalikan setiap perselisihan kepada pedoman kita, Al-Qur’an, dan Sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, sebagaimana yang dipahami oleh para sahabat, generasi awal yang mendapat pengajaran langsung dari manusia yang mulia, suri tauladan terbaik, Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam.

    Pada saat-saat seperti itu, aku terkadang mengatakan sesuatu yang tidak kau sukai. Mungkin karena kau tidak memahami, atau caraku yang keliru dan tidak memahami kondisimu. Dan mungkin terkesan memaksakan kehendak. Tetapi ketahuilah itu karena aku mencintaimu, karenanya aku berusaha menarik tanganmu, manahanmu, agar tidak terlena pada sesuatu yang dapat menjerumuskanmu dan mungkin akan kau sesali nanti.

    Setelah mengalami begitu banyak pengalaman hidup, aku memahami satu hal. Persabahatan yang sangat berarti, bukan pada saat berbagi sedih dan bahagia, bukan hanya saling mendukung di saat susah dan senang. Akan tetapi seberapa perduli engkau, ketika sahabatmu melakukan kesalahan, dan dengan tegas mengatakan kepadanya, ?berhentilah, karena kau telah keliru melangkah,? dan bukannya membelanya dan membiarkannya berlarut-larut dalam kesalahan sedangkan engkau mengetahuinya.

    Cinta yang sebenarnya bukanlah kasih sayang menggebu, bunga dan puisi-puisi manis seperti yang dikisahkan pada roman-roman picisan. Cinta, menggerakkan seseorang untuk mencegah orang yang dicintainya untuk jatuh pada kesalahan yang dapat membinasakan dirinya. Cinta menggerakkan seseorang untuk terus mengarahkan orang yang dicintai, agar senantiasa berada dalam kebaikan ? seperti seorang ibu yang terpaksa harus menghukum anaknya agar jera – meski untuk itu dia harus menerima kepahitan, karena kebenaran tidak selamanya dipahami sebagai sebuah kebaikan, ketika seseorang sedang terlena.

    Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
    “Seorang mukmin itu cermin bagi saudaranya, dan seorang mukmin adalah saudara bagi seorang mukmin lainnya, Membantu memperbaikinya dari kesalahannya dan memperhatikannya dari belakang.” (HR Bukhari dalam kitab Adabul Mufrad,)

    Terkadang aku harus menaris nafas dalam-dalam, agar sesak tidak lagi terlalu menghimpit, karena ada saat-saat di mana niat baik itu, usaha untuk menunjukkan kebaikan dan menjelaskan kesalahan, diartikan sebagai wujud kebencian, cemburu, hasad, dikomentari dengan sinis, seolah aku tidak suka melihatmu bersenang-senang dengan caramu meski sesaat. Sesuatu yang membuatku harus menghembuskan lagi nafas itu sekuat-kuatnya, agar tidak tertinggal perih yang membuatku berhenti mencintaimu. Aku ingin aku tak berhenti, karena aku berharap Allah akan ridha pada cinta karena Dia, dan merahmatiku dan dirimu dengan naungan di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, seperti yang dikatakan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

    “ Ada tujuh golongan yang bakal dinaungi oleh Allah di bawah naungan-Nya, pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu: Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dengan ibadah kepada Allah (selalu beribadah), seseorang yang hatinya bergantung kepada mesjid (selalu melakukan shalat jamaah di dalamnya), dua orang yang saling mengasihi di jalan Allah, keduanya berkumpul dan berpisah karena Allah, seorang yang diajak perempuan berkedudukan dan cantik (untuk berzina), tapi ia mengatakan: Aku takut kepada Allah, seseorang yang memberikan sedekah kemudian merahasiakannya sampai tangan kanannya tidak tahu apa yang dikeluarkan tangan kirinya dan seseorang yang berzikir (mengingat) Allah dalam kesendirian, lalu meneteskan air mata.” (Mutafaq alaihi)

    Adalah tabiat manusia, yang selalu berkeluh kesah. Juga adalah tabiat manusia, pada satu keadaan, tak ingin terlihat salah sepenuhnya karena itu akan membuatnya terkesan rapuh, dan karenanya selalu berusaha mencari sebuah penjelasan, alasan, alibi, agar kesalahannya dapat diabaikan, dilupakan. Dan juga menjadi tabiat manusia, terkadang tidak rela menerima sebuah peringatan… nasihat, dari orang lain, terlebih jika yang mengatakannya adalah seorang yang menurutnya mempunyai ilmu lebih rendah, lebih muda usianya, dan lebih rendah kedudukannya. Hanya saja satu hal yang tidak pernah boleh diabaikan. Kebenaran adalah kebenaran, dari manapun dan dari siapapun datangnya. Seseorang yang lebih muda, lebih rendah kedudukannya tidak membatalkan kebenaran. Sesuatu tidak menjadi benar karena dikatakan oleh seseorang atau sekelompok orang tertentu. Akan tetapi kebenaran adalah sesuatu yang didukung dengan ilmu, dengan dalil.

    Jika aku menyampaikan sesuatu padamu, bukan berarti aku lebih baik darimu. Tidak! Akan tetapi aku ingin, berharap, suatu saat nanti bila aku keliru melangkah, ada seseorang yang perduli mengawasiku, memanggilku, menarik tanganku, dan mengajakku untuk kembali kepada jalan yang lurus, karena dia mencintai untukku kebaikan, sebagaimana dia mencintai kebaikan untuk dirinya. Karena aku, dan dia, sama-sama menginginkan keiman sejati, sebagaimana sabda kekasih yang mulia Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:
    “Tidak beriman salah seorang di antaramu sehingga ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR Bukhari dari Anas radhiallahu anhu)

    Sungguh, aku ingin menjadi seseorang yang benar-benar memiliki keimanan di dalam hati. Dan aku yakin kau pun begitu. Aku mencintai kebaikan untuk diriku, dan menginginkan kebaikan yang sama pada dirimu pula. Aku menginginkan keselamatan dari murka Allah untuk diriku, dan mencintai untukmu keselamtan yang sama. Aku mencintai surga, sebagaimana aku juga menginginkan surga bagimu. Semoga dengan begitu kita bisa bersama-sama saling mengingatkan, tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, merentas jalan untuk meraihnya. Karena untuk berjalan seorang diri itu teramat sulit, bahkan bisa jadi mustahil. Sedangkan musuh kita, syaithan dari golongan jin dan manusia, bersatu padu, memanggil-manggil dengan pesona kelembutan dan daya tariknya, setiap saaat berusaha mengalihkan jalan kita pada kebinasasaan. Sungguh, kau? dan aku. membutuhkan orang lain untuk selalu saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan taqwa dalam meniti jalan ini.

    Karenanya jika ada di antara ucapan atau cara bersikapku yang tidak berkenan bagimu, tolong maafkan, dan yakinlah, sesungguhnya aku melakukannya atas nama cinta, kecintaan kepada saudaraku seiman, dalam islam dan sunnah, agar selalu bersama-sama dalam kebaikan. Karenanya sungguh aku ingin mengatakan ini:

    “Sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah

    Dan membalas orang-orang yang mencitaiku karena Allah dengan doa:
    Semoga Allah mencintai kamu yang cinta kepadaku karenaNya.?
    HR Abu Dawud, 4/133,).

    Yang selalu merindukan perjumpaan dengan Allah
    Yang Selalu mengharapkan Ridha Rabb semesta Alam
    Saudaramu……

    Abu Ihsan Al Ibuny

    “ And be afraid of The Day when you shall be brought back to Allah “

    1. Ane nimbrung @abuihsan, panjang sekali bacaannya.
      Jawabannya Bathil, karena ayat itu adalah mutasyabihat dan jikalau Allah berada diatas, kita telah mengingkari sifat Allah yang lain seperti “Al Azhim (Yang maha Agung) dan Al Malik (Yang Maha menguasai)”, Bumi, Langit dan Arsy beserta isinya adalah ciptaan Allah.

      Sesungguhnya rahasia Allah seperti Ilmu-ilmuNya adalah perkara yang disembunyikan dari mahlukNya, sehingga mereka tidak bisa diketahui dan tidak mungkin dimiliki oleh MahlukNya. KeberadaanNya hanya untuk dipercayai dan diyakini. Orang yang menyimpang dari jalan kebenaran mencoba mencari, menyelidiki dan menyingkapnya. Namun mereka sia-sia dan tidak menghasilkan apa-apa selain kebingungan dan kebutaan. Rahasia Allah adalah ilmu yang tidak diketahui ujungnya seperti lautan yang gelap dan dalam yang tidak diketahui batas akhirnya. Orang yang mencoba merenanginya akan tenggelam dan binasa.

      Diriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda : “Iman yang paling utama adalah seorang hamba yang tahu bahwa sesungguhnya Allah selalu bersamanya, dimanapun ia berada”. (HR Ahmad ibn Hanbal dalam Al Mu’jam Al Mufahras … – jilid 1 hal 110). Juga jawaban Rasulullah atas pertanyaan Jibril tentang makna ihsan, Nabi bersabda : “Engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya”. Jibril langsung meng ia kannya. – Kutipan dari kitab “Al Ilm Al Awliya” Karangan Imam At Tarmidzi.

      ? Jangan pikirkan ZatKu, tapi pikirkan ciptaanKu.
      Manusia diberi akal dan pikiran, disinilah ilmu yang diberikan oleh Allah agar manusia berpikir, hanya kebesaranNya lah kita mengagungkanNya.

  65. ‘Alaykum salam wa rahmatullahi wa barakatuh
    aku menulis ini dengan Asma Allah Yang Mahapengasih lagi Mahapenyayang

    karena Dia aku mengajakmu utk kembali kpd al-Qur’an dan Sunnah. Karena aku telah melihat bhw kedangkalan berfikirmu telah membuatmu keliru memahami keduanya. Engkau mengikuti hawa nafsumu tanpa kau sadari. Kau berfikir bhw kau berhujjah dg al-Qur’an dan hadits. Padahal sebaliknya, al-Qur’an dan hadits merupakan hujjah utk menentangmu.

    Kau ditanya soal nama aslimu, lalu kau membahasnya panjang lebar. Tetapi ketika membahas ‘Allah berada di atas’ kau berfikir bhw pembahasannya sangatlah singkat.
    Entah engkau ini msh bs tertolong atau tdk. Kami di sini hanyalah berusaha. Allah jua yg menentukan.

  66. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
    Saudara saudaraku semoga Alloh tetap merahmati kita semua, mengampuni dosa dosa kita, melunakan hati hati kita setalah di perhatikan dan dipertimbangkan ternyata memang benar ngga ada kebaikkannya ana lama lama di majelis ini di awal dah ana ingatkan ana minta syarat, ngga ada ejek ejekan, saling melecehkan dsb, dkk, etc, semoga Alloh memberi hidayah kpd kita semua, krn kita takut kalo saling ejek & mencela ujung ujungnya kita mencela Kallamullah atau sabda Nabi yg Shohih, Nauzdubillah semoga Alloh melunakkan hati2 kita yg keras yg lebih keras dp batu yg paling keras, semoga Alloh memaafkan dosa2 kita, kalo trjd Jidal, saling hina akoe mundur,.. maka ana mundur ana tinggalkan majelis jidal ini, semoga Alloh memaafkan dosa dosa kita, melembutkan hati hati kita, tetap merahmati kita meski kita sering bermasiat kepada-Nya

    ” Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (At Tahrim-6)

    1. kalau kO nte bilang ini jidal, kalau nte merasa di atas angin bilang apa? bilang ini jidal?

      lagian, ana kira sejak dari awal tidak ada hinaan atau ejekan, nte aja yg emang berhati keras bagaikan batu gunung Uhud.

  67. ‘Alaykum salam wa rahmatullahi wa barakatuh

    Abu Ihsan, antum memang sebaiknya mundur. Semakhn lama antum di sini, semakin sering antum menghina Allah. Jaga diri antum dan keluarga antum dr aqidah mujassima wa musyabbihah. Karena aqidah tsb dpt menjerumuskan ke dalam neraka.

    Wassalamu ‘alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh

  68. ada yg tau haditsnya ga bhw Rasul pernah krm surat dan mengawali suratnya ‘Atas nama cinta’?
    Setau ane, yg nulis begini adalah kaum liberalis, theosophy, Ahmad Dhani.

  69. saya jelaskan juga bahwa perkataan Allah berada diatas itu hak dalam arti :

    “Mereka takut kepada Rabb mereka yang di atas mereka.” (QS. An Nahl : 50)

    dan makna diatas disini bukanlah artinya arah atau tempat/posisi yang berjarak, tetapi diatas dalam artian ketinggian derajat dan penguasaan.

    paham ya.

    1. Mantap mas
      makanya kmrn saya bilang bathil. Soalnya saya tau cara berfikirnya abu ihsan. Ketika ia membaca fawqa, dsb maka ia akan membacanya secara tekstual. Jadi, “Allah berada di atas” dalam benaknya itu benar2 di atas dalam hal arah. maka pernyataan “Allah berada di atas” yg ada di benaknya itu bathil.

      1. yap memang begitulah maksud mereka….

        tapi mereka nggak bisa paham-paham bahwa makna indrawi itu menyebabkan tajsim pada Allah.

        Semoga mereka paham.

        1. mas dianth , Ustadz A I , mungkin mereka bukannya tidak faham , hanya ghuluw terhadap Ibnu Taimiyah yang menolak Majaz , lebih mereka utamakan meskipun hal itu menyebabkan Tasybih dan Tajsim.

  70. abuihsan @ benar sebaiknya mundur bergabunglah nt dgn yang cocok ……..contoh ust firanda dia senang kalau ada murid kayak nt …..nanti anak cucu nt dan ust Firanda suruh sekolah bikin jet ulang alik buat nemuin tuhannya yang diatas langit ……………

  71. Al-hamdulillah mantab ustadz A I , mas ucep dan mas Naka dll , semoga abu ihsan sadar dan mau kembali kepada Aqidah shahihah Ahlu sunnah wal-jama`ah (asy`ariyah) , amin.

  72. Abuihsan itu “lumayan santun” dengan teman lawan diskusinya. Ditanya lawan diskusi mengenai definisi “di atas”, dibalikin agar yang nanya, tanya kepada anaknya. Ditanya Ustadz AI kenapa Ustadz AI menjawab batil, langsung memvonis Ustadz AI berpaham batil. Jadi sebenarnya yang “tukang ejek itu siapa?” Sebaliknya, untuk diri sendiri selalu merasa berpegang teguh pada Al-Quran dan sunnah sesuai pemahaman sahabat yang menerima langsung pengajaran dari manusia panutan, yaitu Rasulullah. Kutu di kepada orang kelihatan, kecoa di kepala sendiri ga terasa.

  73. waduh semalam rame ya… 🙄
    ane dah kantuk berat sih 😎 ,jd nggak jawab ada ptanyaan ke ane dr abuihsan, en jd nggak ngikutin obrolan aswaja sama abu ihsan neh 😥 ,..rugi dunk,… 😀 he..he..

  74. @abu ihsan
    Allah adalah pencipta,makhluk adalah yg di ciptakan Nya
    pkataan ente:
    “Allah ada tanpa tempat,” Allah ada tanpa tempat, , mas prass ada tanpa tempat, jadi mas prassnya apa nggak ada,
    ane hanya berkata cepat2 istighfar ente…
    jauhi pemahaman kaum mujassimah,…
    semoga Allah memberikan pemahaman yg baik pada ente…Amiin

  75. Ass wr wb..
    @abuihsan,

    abuihsan:

    [..]Mas Husaini, nanya maksudnya atas itu apa mas coba panggil anaknya dulu tanya ama anak mas Atas itu dimana. atas itu apa ????[..]

    Sesuai dengan permintaan anda..saya tanya apa maksud “DIATAS” pada anak saya.
    Kemudian dia mengajak saya keluar rumah lantas menunjuk KEATAS(langit).

    Lalu dia bertanya….memangnya ada apa ayah DIATAS(langit) ?
    Saya jawab…..menurut Om abuihsan..Allah itu ada DIATAS.
    Anak saya terdiam sejenak….
    Kemudian dia bilang…..kalau begitu Allahnya Om abuihsan ada “DIBAWAH” juga dong.
    Saya tanya…..kenapa bisa begitu ?
    Jawab anak saya….kerena bumi itu bundar dan berputar….jadi kalau sholat subuh Allah ada “DIATAS” maka sholat maghrib Allah ada “DIBAWAH”

    Inilah pemikiran anak kecil..mudah-mudahan anda puas…. dan amanah anda sudah saya kerjakan.

    Apakah anda setuju dengan pemikiran anak saya ini ?
    Kalau setuju…tidak usah anda jabarkan makna “DIATAS” pada saya.

    Tapi kalau tidak setuju….tolong jabarkan makna “DIATAS” menurut keyakinan anda !

    Kalau anda jabarkan…maka saya akan menjawab HAQ atau BATHIL sesuai pertanyaan anda…insya Allah.

    1. Gak ada Wahabiyyin yg bisa jawab, Mas Husaini. Mereka takut terjebak dg pernyataannya sendiri, maklum mereka kaum kontradiktif yg parah.

  76. kalo ada yg membutuhkan tempat itu MU vs City , klo ga ada tempat ga bisa tanding mreka hehehe, abis masih heran tadi kok ada yg menyamakan diskusi dg ptandingan bola….Astaghfirulloh….

  77. Wis, kelihatannya para wahabis sdh pda gak PEDE lgi msuk blog Ummati. Slalu ditelanjangi ilmu sesatnya, sehingga ilmunya telanjang n tampak batil semuanya. Bagaimana gak akan batil jika aqidah n tauhidnya aja batil? Kebatilan itu hanya akan berkumpul dg kebatilan, mereka tidak akan PEDE lagi masuk sini.

    Mungkin contohnya adalah Yusuf Ibrohim, Ibnu Abi Irfan, ‘Ajam, Dufal, dan masih banyak lagi. Mereka ini dulu dg “gagahnya” ingin coba-coba keberuntungan di sini, tetapi selalu KO semuanya, dan mereka gak berani masuk sini lagi. Tepi mereka masih koar-koar di blog lain, artinya mereka masih hidup semuanya.

    Mungkin Ustadz Firanda, Abul Jauza, Abu Yusuf Sidawi dll perlu masuk sini untuk membuktikan kehebatan ilmunya. Ayo Ustadz2 Wahabi berani nggak antum-antum? Atau justru antum2 juga sudah tidak PEDE juga spt anak buah yg sdh pd KO? 😆 😆 😆

  78. Mana lagi nih para wahabiyun, gak ada yang bela lagi firanda.com dan abul jauza.com, mudah2an aja sudah pada tobat semua atau panggil guru2nya.

  79. yang lebih tahu tentang Alloh adalah Alloh sendiri kemudian Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam Kalau Alloh sendiri dan Rasul-Nya menyatakan Alloh berada di langit kenapa ente ente pada protes,
    tiap taoen ente ente pade peringatin isra mi’raj kemana perginya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Salam untuk bertemu Alloh keperut bumi ape Kelangit, 💡
    Celakalah kalian, janganlah kalian mengada-adakan kedustaan atas nama Allah, karena Dia akan membinasakan kalian dengan siksa”. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.” (QS. Thaha: 61)
    Allah Ta’ala berfirman:
    وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسْوَدَّةٌ
    “Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta atas nama Allah, wajah-wajah mereka menjadi hitam.” (QS. Az-Zumar: 60)
    Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
    “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 107 dan Muslim no. 3)
    Al-Mughirah radhiallahu anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
    “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama orang lain. Karena barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 1209 dan Muslim no. 4)

    1. Ente bilang “Allah berada di langit”
      Gini aja bro, dengan akidah yang ente yakini. Benar gak, jika ada orang memahami bahwa Allah berada dalam makhluk-Nya yang bernama langit itu?

  80. Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah ulama yang mengerti mana tauhid dan mana syirik sehingga Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki pun menggelarinya dengan sebutan “Imam at-tauhid wa Ra`su al-Muwahhidin” (pemimpin tauhid dan kepala orang ahli tauhid) dalam kitabnya Mafahim Yajib an-Tushahhah[1] halaman 202:“Inilah dia Imam Tauhid dan kepala ahli tauhid mengatakan ucapannya yang benar dengan hikmahnya yang lurus yang karenanya dakwahnya tersebar di tengah-tengah manusia dan thariqatnya kesohor di kalangan orang khusus maupun orang kebanyakan.”

    Seorang wahabi berkata : “Tuh lihat, kerajaan Arab Saudi telah puluhan tahun mengatur Masjid Nabawi dan Al-Masjid Al-Haroom, serta kepengurusan haji dan Umroh, bukankah ini bukti bahwasanya Allah meridhoi kaum Wahabi?, dan Allah mengajarkan kepada umat Islam agar meneladani mereka??”, dan seorang wahabi yang lain berkata, “Tuh lihat bukankah kerajaan Saudi pusat wahabi dalam kondisi aman dan makmur, sementara Negara-negara lain seperti yaman –yang pusatnya kaum sufi dan tempat belajarnya para habib (diantaranya habib Munzir)- dalam kondisi kacau dan tidak aman, serta perekonomian terbelakang, bukankah ini adalah menunjukkan bahwa Allah mengajar umat Islam agar meneladani kerajaan Saudi pusat wahabi??
    http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/198-pendalilan-habib-munzir-untuk-membolehkan-istighootsah-kepada-mayat-seri-3

  81. welcome Al Ghuroba, siapkan ilmu anda, sanad2 yg anda yakini sebanyak2 nya, ingat dg ilmu, bukan dg logika, ikut nimbrung ah, sedikit braniin nanya, hadits Rosululloh SAW : Surga ada di bawah telapak kaki ibu ( mudah2an sya ga salah ), menurut anda gimana? jgn ditakwil yah, tar kualat sama ustad n temen2 ente yg anti takwil, mohon jawabannya….

  82. Maaf…, komentar COPAS ini terlalu panjang, jika dibikin buku bisa menjadi satu jilid buku. Memberatkan pembaca dan bikin masalah saja buat loading blog ini. Coba kalau ingin COPAS tolong baca dulu lalu ringkaslah biar tidak terlalu panjang.

    1. @Ghuroba..
      mf tolong lebih diperjelas kang tentang definisi ” Alloh di atas langit itu” sy belum paham bener kang????bukankah pernyataan tersebut bisa mengindikasikan Alloh memiliki ukuran..dan terbatas…terus ada kesan pencipta lebih kecil dari yang diciptakan??? mf sy awam….

    2. Ghuroba (asing) di tengah kaum muslim kok bangga, kalau kaya Wahabi itu namanya bukan Ghuroba tapi kaum sempalan, dan faktanya emang Salafy Wahabi adalah kaum yg nyempal dan mengasingkan diri dari kaum muslim Mayoritas. Kalau yg begini bukan ghuroba atuh akang-akang?

      Ternyata Wahabiyyun itu gak paham apa itu ghuroba, ghuroba kok disamakan dg sempalan, ha ha hi ha ha hi hi….

      COPASANnya banyak amat, amit-amit deh Wahabi pada gak punya kemaluan deh, sebel ma kelakuan wahabi, mendingan kalau paham apa yg diCopasnya. Paling-paling Cuma Copas doang tanpa mudeng babar blas. Biasalah kaum KELEDAI PEMIKUL KITAB. 😆

    1. sukses nih kang komennya yg panjaaaaaang bgt, pasti dah lma bgt nyiapinnya nih, tp cepat skli memposting disini, sungguh persiapan yg matang nih, smg memang dah smpurna isinya mnurut ente, kita tunggu tanggapan rekan ummati lainnya, smg ente bisa terima jawan dr mrk….

  83. Hai Honda ASTUTI bukan Bukan Honda Karisma Cewek nakal – ape bencong,
    Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah ulama yang mengerti mana tauhid dan mana syirik sehingga Sayyid Muhammad Alwi al-Maliki ( SHUHUNYA ente ente pade ) pun menggelarinya dengan sebutan “Imam at-tauhid wa Ra`su al-Muwahhidin” (pemimpin tauhid dan kepala orang ahli tauhid) dalam kitabnya Mafahim Yajib an-Tushahhah[1] halaman 202:
    “Inilah dia Imam Tauhid dan kepala ahli tauhid mengatakan ucapannya yang benar dengan hikmahnya yang lurus yang karenanya dakwahnya tersebar di tengah-tengah manusia dan thariqatnya kesohor di kalangan orang khusus maupun orang kebanyakan.”

    seorang wahabi akan berkata kepada Habib Munzir : “Tuh lihat, kerajaan Arab Saudi telah puluhan tahun mengatur Masjid Nabawi dan Al-Masjid Al-Haroom, serta kepengurusan haji dan Umroh, bukankah ini bukti bahwasanya Allah meridhoi kaum Wahabi?, dan Allah mengajarkan kepada umat Islam agar meneladani mereka??”, dan seorang wahabi yang lain berkata, “Tuh lihat bukankah kerajaan Saudi pusat wahabi dalam kondisi aman dan makmur, sementara Negara-negara lain seperti yaman –yang pusatnya kaum sufi dan tempat belajarnya para habib (diantaranya habib Munzir)- dalam kondisi kacau dan tidak aman, serta perekonomian terbelakang, bukankah ini adalah menunjukkan bahwa Allah mengajar umat Islam agar meneladani kerajaan Saudi pusat wahabi??

    http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/198-pendalilan-habib-munzir-untuk-membolehkan-istighootsah-kepada-mayat-seri-3

    1. tapi kok kang keluarga saudi itu nenek moyangnya org yahudi yah? dAn mereke mengakui di washington post, sept 17, 1969 , klo mrk memang yahudi, kok saudi buat perjanjian dg inggris utk serahkan palestina ke israel? kok ulama wahabi diem aja yah lihat raja n pangeran saudi mesra dg AS? kok saudi ga membela palestina yah? kok ulama wahabi melebarkan safwa dan marwah yah? jd sudah ga sesuai ketentuan haji, padahal sblumnya para ulama wahabi telah menentukan perluasnya ke atas or ke bawah, spy ga menyimpang dr ketentuan safwa dan marwah, itu knapa kang? yg terakhir berarti wahabi dimanfaatin ma ibnu saud tuh buat kepentingan politiknya yah?

    2. diriwayatkan bahwa dihadapan Ibn Abbas ra ada seorang yang keram kakinya, lalu berkata Ibn Abbas ra : “Sebut nama orang yang paling kau cintai..!”, maka berkata orang itu dengan suara keras.. : “Muhammad..!”, maka dalam sekejap hilanglah sakit keramnya (diriwayatkan oleh Imam Hakim, Ibn Sunniy, dan diriwayatkan oleh Imam Tabrani dengan sanad hasan) dan riwayat ini pun diriwayatkan oleh Imam Nawawi pada Al Adzkar.

      Maka jelaslah bahwa Imam ibnus Sunni dan diikuti oleh Imam an-Nawawi telah mengajarkan kita agar menyebut orang yang paling kita cintai karena Allah (disebabkan keshalihannya) ketika kaki kita keram berdasarkan hadits ibnu Umar dan ibnul Abbas. Dan salah satu guru Imam Bukhari yang darinya Imam Bukhari mengambil hadits-hadits shahih yang tercantum dalam Shahihnya, yaitu Ibrahim ibnul Mundzir al-Hazami, menceritakan tentang seseorang yang apabila keram kakinya, tidak akan hilang keramnya kalau belum berkata, “Wahai Utbi!”

      Apakah kita akan
      menyebut para imam
      muhaddits tersebut
      sebagai ahlul bid’ah, musyrik dan sebagainya?

    3. kalo ukuran ridho Alloh itu diliat dari segi ekonomi, ngatur masjidil harom, brarti antum sama saja nganggap abu jahal cs orang yang diridhoi Alloh. Abu jahal cs kan melarang Nabi SAW menyampaikan risalah di masjidil haroom, sehingga beliau SAW menyampaikan risalahnya di rumah Arqom bin Abi Arqom r.a.. coba antum cari dalil yang shohih donk, terus terang ana jadi semakin ragu ke ajaran wahaby, kalau antum begitu caranya.

  84. Kalo merasa bodoh DIAAAAAAAAAAAAM entar ente kwalat jangan comment yg macam macam baca tuh pelajari biar agak pinter dikit dalil dalil di atas ” Celakalah kalian, janganlah kalian mengada-adakan kedustaan atas nama Allah, karena Dia akan membinasakan kalian dengan siksa”. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.” (QS. Thaha: 61)
    Allah Ta’ala berfirman:
    وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسْوَدَّةٌ
    “Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta atas nama Allah, wajah-wajah mereka menjadi hitam.” (QS. Az-Zumar: 60)

    1. pake ilmu ya kang, jgn hawa nafsu, saya cuma nanya, maksud dari Hadits Rosululloh SAW : Surga di bawah telapak kaki ibu, jadi bener ada di bawah kaki ibu gan? menurut agan gimana nih? saya nanya baik2 loooh, ga pake amarah, jawab jg dg baik2, kan ente ustadz yg banyak ilmu ttg dimana Alloh SWT, kata agan di arsy, agan udah kasih penjelasan panjang lebar…berarti agan berilmu, kalo berilmu itu dewasa, jd bisa dg sopan jawabnya..

      1. Sesa ente.. Seharusnya nanya nya ke Rasul karena Rasul yang menyetujui Allah di Langit. dan Ente juga tanya pada Abu Bakr beliau juga mengatakan Allah di Langit…

  85. Maaf bro, jika hanya kopasan ane bisa cari sendiri. Dan ane tidak sedang berdiskusi dengan akidah yang dianut ulama fulan atau siapa, tapi akidah yang ente anut.

    Nah, jika ada orang berkeyakinan bahwa Allah berada di dalam makhluk ciptaan-Nya sendiri yang bernama langit itu, benar tidak keyakinan seperti itu menurut akidah ente?

    Akidah yang tsabit adalah akidah yang bisa dijadikan tolok ukur untuk menilai sesatu itu haq atau bathil. Nah, gimana akidah ente? Bisa gak menilai benar atau tidak keyakinan bahwa Allah berada di dalam makhluk-Nya sendiri yang bernama langit itu?

  86. @alghuroba

    mo tanya,emang siapa yg bilang,kata ente :
    1. Allah ada pada diri kita ini ..!
    2. Allah dimana-mana di segala tempat !
    ane mau tahu,…

    1. pertanyaan kpd kang Ghuroba…..pernyataan kata ”dimana” pengertiannya seperti apa????tolong jelaskan sedetil2ny kang makasih

  87. andri al faqir:
    pertanyaan kpd kang Ghuroba…..pernyataan kata ”dimana” pengertiannya seperti apa????tolong jelaskan sedetil2ny kang…karena ini be rhubungan dengan subjek yang dibahas.
    ”kalimat dmn Alloh….. dan kalimat dmn mobil….. sangat jauh berbeda pemaknaannya…”penjernihan bahasa terlebih dahulu bagi saya sangat penting…

  88. nah luh tuh mas Syahid dah siap jawab, tp MR. COPAS YG PEMARAH-nya kabur, dah bobo krn puas kasih copasan yg banyak x yah, smg mimpi indah dia yaitu betobat dr wahabi, ketika dia bangun diapun sadar akan kekeliruannya….

  89. he..he..di kirain bakal ramai neh,..eh hanya numpang lewat,…
    seperti,ciluuuk…ba…..wkwkwk…
    monggo dilanjut,…mo bikin kopi dulu aah,…

  90. Ass wr wb..
    @alghuroba,

    Dari coment anda yang panjang…

    Al Ghuroba:
    [..]Berkata Imam Adz-Dzahabi setelah membawakan hadits ini, di kitabnya “Al-Uluw” (hal : 81 diringkas oleh Muhammad Nashiruddin Al-Albani).[..]

    Coba anda baca di;

    Untuk yang lainnya sepertinya sudah dibahas (Ahmad Syahid)di:
    http://ummatipress.com/2011/10/21/abul-jauzaa-dan-pembelaannya-terhadap-kedustaan-ustadz-firanda/

    Copas oke…tapi up to date…supaya tidak berulang-ulang.

  91. mumpung yang mpunya blog nih masih tiduurrrr, masa koment2 yg menggigit elo moderasi, elo hapus nggak di tampilin dasar curanggggggg

    “Apakah kamu merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit, bahwa Ia akan menenggelamkan ke dalam bumi, maka tiba-tiba ia (bumi) bergoncang ?” (Al-Mulk : 16)
    “Ataukah kamu (memang) merasa aman terhadap DZAT yang di atas langit bahwa Ia akan mengirim kepada kamu angin yang mengandung batu kerikil ? Maka kamu akan mengetahui bagaimana ancaman-Ku”. (Al-Mulk : 17).
    Nabi kita SAW telah bersabda :
    Artinya :
    “Orang-orang yang penyayang, mereka itu akan disayang oleh Allah Tabaaraka wa Ta’ala (Yang Maha berkat dan Maha Tinggi). oleh karena itu sayangilah orang-orang yang di muka bumi, niscaya Dzat yang di atas langit akan menyayangi kamu”. (Shahih. Diriwayatkan oleh Imam-imam : Abu Dawud No. 4941. Ahmad 2/160. Hakim 4/159. dari jalan Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash. Hadits ini telah dishahihkan oleh Imam Hakim dan telah pula disetujui oleh Imam Dzahabi. Demikian juga Al-Albani telah menyatakan hadits ini shahih dikitabnya “Silsilah Shahihah No. 925”.

    “Barangsiapa yang tidak menyayangi orang yang di muka bumi, niscaya tidak akan disayang oleh Dzat yang di atas langit”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Thabrani di kitabnya “Mu’jam Kabir No. 2497 dari jalan Jarir bin Abdullah. Imam Dzahabi di kitabnya “Al-Uluw” hal : 83 diringkas oleh Al-Albani) mengatakan : Rawi-rawinya tsiqaat/kepercayaan).

    “Tidakkah kamu merasa aman kepadaku padahal aku orang kepercayaan Dzat yang di atas langit, datang kepadaku berita (wahyu) dari langit di waktu pagi dan petang”. (Shahih, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim 3/111 dan Ahmad 3/4 dari jalan Abu Sa’id Al-Khudry).

    “Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya ! Tidak seorang suamipun yang mengajak istrinya ke tempat tidurnya (bersenggama), lalu sang istri menolaknya, melainkan Dzat yang di atas langit murka kepadanya sampai suaminya ridla kepadanya “.(Shahih, diriwayatkan oleh Imam Muslim 4/157 dari jalan Abu Hurarirah).
    Celakalah kalian, janganlah kalian mengada-adakan kedustaan atas nama Allah, karena Dia akan membinasakan kalian dengan siksa”. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.” (QS. Thaha: 61)
    Allah Ta’ala berfirman:
    وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسْوَدَّةٌ
    “Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta atas nama Allah, wajah-wajah mereka menjadi hitam.” (QS. Az-Zumar: 60)
    Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
    “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 107 dan Muslim no. 3)
    Al-Mughirah radhiallahu anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
    “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama orang lain. Karena barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 1209 dan Muslim no. 4)

    sadarlah org2 yg mau sadar taubatlah org2 yg mau taubat
    Ente rubah ayat ayat Alloh
    Kenapa nggak bilang Kami dengar dan kami taat, atou ikut Yahudi Kami dengar dan kami Ingkari tak mau taat
    Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. ( Yaasin. 10)

    1. Antum kebanyakan Copasnya, bikin repot aja bagi pembacanya, oke Akhi?

      Sebaiknya ambil aja intinya lalu sharing ke blog ini biar bisa didiskusikan di sini. Syukron.

      Oh ya, jangan Copas banyak-banyak lagi ya, akhi? Biar gak kena delete. Kami sekarang ketat dalam hal COPAS MengCopas yg terlalu panjang seperti yg antum lakukan. Afwan semuanya…..

    2. kayaknya malah wahaby yang nyerupain yahudi. yahudi kan dulu jadi musuh dalam selimut kaum muslimin. ditengah kaum muslimin sedang bangkit, antum ngatain mereka bid’ah (sesat). tapi pergerakan orang2 kafir antum biarkan saja.

  92. al-ghuroba to artikelislami says:
    October 24, 2011 at 3:49 am ente degil sempet sempetnya promosi ditempat kaya gini, kalo mao jualan sarung sono di majelisnya Habib Munzir ato di tanah abang luaaaaaaasssss.
    Ente bawa riwayat Paslu copas dari Habib Munzir, PASLSUUUUUUUUUUU
    noh Lihat disini
    http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/195–pendalilan-habib-munzir-untuk-membolehkan-istighootsah-kepada-mayat-seri-2
    Ibnu Abbas, berkata

    “Hampir saja akan terjadi hujan batu dari langit. Kusampaikan kepada kalian perkataan Allah dan rasulNya namun kalian bantah dengan mengajukan perkataan Abu Bakar dan Umar”.

    Padahal tidak ada manusia semulia Abu Bakar dan Umar.

    Jika membantah perkataan Rasulullah dengan pendapat Abu Bakar dan Umar saja hampir-hampir mendatangkan murka dan adzab Allah yang demikian mengerikan yaitu hujan batu dari langit yang merupakan adzab Allah untuk kaum Nabi Luth,

    Bagaimana lagi jika sabda Nabi dibantah dengan pendapat seorang imam mazhab yang tentu ilmu dan keutamaannya jauh di bawah Abu Bakar dan Umar.

    Lalu bagaimana dengan orang yang membantah hadits yang shahih dengan perkataan seorang ulama masa sekarang?

    Bagaimana pula dengan orang yang menolak ajaran Nabi beralasan dengan perkataan seorang ustadz yang belum sampai derajat ulama sesungguhnya.

    Celakalah kalian, janganlah kalian mengada-adakan kedustaan atas nama Allah, karena Dia akan membinasakan kalian dengan siksa”. Dan sesungguhnya telah merugi orang yang mengada-adakan kedustaan.” (QS. Thaha: 61)
    Allah Ta’ala berfirman:
    وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ تَرَى الَّذِينَ كَذَبُواْ عَلَى اللَّهِ وُجُوهُهُم مُّسْوَدَّةٌ
    “Dan pada hari kiamat kamu akan melihat orang-orang yang berbuat dusta atas nama Allah, wajah-wajah mereka menjadi hitam.” (QS. Az-Zumar: 60)
    Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    مَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
    “Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 107 dan Muslim no. 3)
    Al-Mughirah radhiallahu anhu berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
    إِنَّ كَذِبًا عَلَيَّ لَيْسَ كَكَذِبٍ عَلَى أَحَدٍ فَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ
    “Sesungguhnya berdusta atas namaku tidaklah sama dengan berdusta atas nama orang lain. Karena barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya dari neraka.” (HR. Al-Bukhari no. 1209 dan Muslim no. 4)

    sadarlah org2 yg mau sadar taubatlah org2 yg mau taubat
    Ente rubah ayat ayat Alloh
    Kenapa nggak bilang Kami dengar dan kami taat, atou ikut Yahudi Kami dengar dan kami Ingkari tak mau taat
    Sama saja bagi mereka apakah kamu memberi peringatan kepada mereka ataukah kamu tidak memberi peringatan kepada mereka, mereka tidak akan beriman. ( Yaasin. 10)

    1. betapa jujur sikap Anda
      jd Anda beranggapan bhw ibnu sunni dan imam an-nawawi itu berdusta atas nama Rasulullah dan karenanya menjadi ahlunnar.

    2. oh, i see. okies, take your time aite, no rush, hehe.though, I must admit, it’s hard to speak french my piirouncoatnons arent great enough.. susah nak sebut perkataan2 french tuh.. berbelit-belit lidah nak sebut, ahaha. but no matter, i’m sure you’re capable of it than me ^^ you’re great anyway, a good role model opsy, am I creeping you in a way? haha

    3. itu surat azzumar : 60, mengingatkan gw pada suatu kelompok yang jidatnya pada hitam…..apa mungkin ayatnya emang buat mereka ya 😆

    1. al-Ghuroba@

      Tidak ada koment antum yg tidak ditampilkan, tetapi yg didelete memang ada karena terlalu panjang. Lagi pula yang kami delete bukan komentar antum, tetapi cuma sebuah COPASAN yg terlalu panjang bikin repot lawan diskusi. Kalau mau koment silahkan kementar sepuas antum tapi jangan COPASAN yg terlalu panjang, Oke Mas? Paham?

      .

    2. waduuuuh kok org berilmu tp akhlaknya kaya gini yah??? agak-2 radikal nih, mau jadi calon pengantin apa yah?? santai aja kang, diskusi dg otak sehat…..ente perjuangkan wahabi tp ustadz-2 ente dpt dari saudi sendiri….slow down….santai aja hehehehehe

  93. @alghuroba
    yang curang itu blog2 kaum wahabbi 😉 ,emang nya ada yg nggak pake moderasi spti di ummati2 ini ? 💡 ,nggak ribet comment nya,…. 😀
    comment saya aja di firanda 2x nggak di tampilin 😯 ,blom mas dianth,mas mutiara zuhud juga sama,…wkwk…
    blom lagi di blog2 lainnya,pagi tampil sore hilang,…ini masih lumayan,
    tp biasanya boro2 di tampilin,….wkwwk… :mrgreen: :mrgreen:

    1. Yahhh gimana mo ngerti agama…?
      Wong ngertinya sputar bin baaz,ngusaimin,ngalbani en cs-cs nya…
      Apalagi yg bru pulang dri madinah dgn oleh2 LC…(tapi tdk smua LC loh..)
      Ngakunya sih ngikut salaf soleh,eh,gak taunya salah noleh..

  94. @every one
    kayaknya nih blog emang mewadahi org2 yg mau sharing ato adu ilmu dengan sudut pandang yg berbeda….salut…memamh harus dengan kepala dingin mas bro…jangan ada emosi apalagi sumpah serapah….karena kita juga gak bisa menilai diri kita sudah sempurna apa belum….sesama muslim bersaudara mas bro…pendapatmu..pendapatmu, pendapatku..pendapatku….lakukanla apa yang diyakini ente2 benar….Insya Allah…

  95. kalo para pengikut sekte wahabi otaknya ngga sanggup mencerna setiap artikel yang ada disini, mending diem duduk manis sembari ngopi, ini lebih bijak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker