Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Sufi - Tasawuf

Wafatnya Imam Al-Ghozali, Kisah Ulama Aswaja

Wafatnya Imam Al-Ghozali – Inilah kisah detik-detik menjelang wafatnya Imam Al-Ghozali. Hujjatul Islam Imam Al-Ghozali. Siapa tak kenal ulama tersohor ini? Kedalaman ilmu ulama bernama lengkap Abu Hamid Muhammad bin Muhammad bin Muhammad al-Ghozali ath-Thusi tersebut tak diragukan lagi. Bahkan oleh para pengkritiknya.

Karya tulisnya ratusan dan dibaca selama berabad-abad hingga sekarang. Madzhab tasawufnya diikuti. Ilmu kalamnya menjadi benteng dari serangan orang-orang lemah akal. Dan ulasan ushul fiqihnya menjadi rujukan. Imam Al-Ghozali juga serius mendalami filsafat. Meski akhirnya ilmu ini ia kritik sendiri.

Reputasi Imam Al-Ghozali sebagai ilmuan diakui oleh kawan maupun lawan. Tapi yang mesti diingat, kehebatannya tak datang tiba-tiba. Ulama yang terkenal dengan karya monumental Ihya’ Ulumiddin ini melalui kehidupan berliku sejak kecil. Al-Ghozali hidup dalam keluarga miskin. Ayahnya yang sangat taat beragama adalah seorang pemintal dan melalui perkejaan sederhana ini pula ia menghidupi keluarga. Ia hanya mau menafkahi keluarga dari hasil jerih payahnya sendiri.

 

 

Wafatnya Imam Al-Ghozali Menawan Hati

Meski diliputi hidup yang serba terbatas, ayah Imam Al-Ghozali menyimpan impian yang begitu menggebu. Yakni agar kedua anaknya, Imam Al-Ghozali kecil dan saudaranya (Imam Ahmad) kelak menjadi orang yang faqîh. Menjadi tonggak dalam suksesnya syiar Islam. Ayah Imam Al-Ghozali memang orang yang gemar mengunjungi majelis-majelis ilmu. Juga gemar melayani para ulama. Ketika mendengarkan kalam guru-gurunya itu ia menangis. Dia merunduk sembari melangitkan doa bagi masa depan anak-anaknya.

BACA JUGA:  Firanda Berdusta, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (1)

Doa tersebut terkabul meski sang ayah tak menyaksikan kebesaran anak-anaknya karena wafat sebelum mereka dewasa. Kerasnya hidup sebagai anak yatim dan semangat menimba ilmu. Terus berkobar membuat Al-Ghozali kecil dan saudaranya tumbuh sebagai manusia yang cerdas dan sangat disegani. Wawasannya luas dan terbuka, pribadinya penuh cinta dan kasih sayang, serta kezuhudan dan ketaatannya dalam beragama amat meyakinkan. Bahkan oleh sang guru, Imam al-Haramain, Al-Ghozali dijuluki “bahrun mughdiq” (lautan luas tak bertepi).

Imam Al-Ghozali pernah diangkat sebagai guru besar di Madrasah Nidhamiyah, Bagdad, era kekuasaan Nidhamul Mulk saat usianya 34 tahun. Ini adalah kedudukan tertinggi di dunia pendidikan dan keislaman zaman itu. Belum pernah kededukan itu disandang siapa pun dalam usia yang relatif muda ketika itu. Meskipun, kehormatan itu sempat ia lepas begitu saja demi pendalamannya terhadap ilmu tasawuf.

BACA JUGA:  Kisah Nyata Mbah Sholeh Darat Ditemui Imam Al-Ghazali

Namun demikian, bukan statusnya sebagai profesor itu yang membuat kisah Imam Al-Ghozali menawan hati. Setelah mengakhiri pengabdian di Madrasah Nidhamiyah, sang Imam pulang ke kampung asal, di Thus. Lalu mendirikan zawiyah atau semacam pesantren untuk meneruskan khidmah mengajar hingga akhir hayat. Pada detik-detik menjelang wafatnya Imam Al-Ghozali, sebuah peristiwa indah terjadi.

 

Wafatnya Imam Al-Ghozali yang Indah

Abul Faraj ibn al-Juuzi dalam kitab Ats-Tsabât ‘indal Mamât memaparkan cerita indah wafatnya Imam Al-Ghozali. Kisah wafatnya Imam Al-Ghozali ini dari Imam Ahmad, saudara kandung Imam Al-Ghozali. Suatu hari, persisnya Senin 14 Jumadil Akhir 505 H, saat terbit fajar, Imam Al-Ghozali mengambil wudhu lalu menunaikan shalat shubuh. Usai sembahyang, Imam Al-Ghozali berkata. “Saya harus memakai kain kafan.” Lalu ia mengambil, mencium, dan meletakkan kain kafan tersebut di kedua matanya.

BACA JUGA:  Alamat Ziyarah Makam Wali di Indonesia

Selanjutnya, menjelang wafatnya Imam Al-Ghozali, sang Hujjatul Islam Imam Al-Ghozali berucap. “Saya siap kembali ke-hadirat-Mu. Dengan penuh ketaatan dan kepatuhan (sam‘an wa thâ’atan lid dukhûli ‘alal mulk).”  Imam Al-Ghozali pun meluruskan kedua kakinya, menghadap arah kiblat. Lalu kembali kepada Sang Kekasih untuk selama-lamanya. Begitu indah wafatnya Imam Al-Ghozali. Innâlillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn.

Wafatnya Imam Al-Ghozali adalah keniscayaan sebagaimana manusia lainnya. Imam Al-Ghozali wafat pada tahun 19 Desember 1111 dan dikebumikan di desa Thabran, kota Thus. Proses wafatnya Imam Al-Ghozali yang tenang, damai, dan indah mencerminkan kualitas kehambaannya selama hidup.

wafatnya Imam Al-Ghozali ditangisi para ulama dan murid-muridnya. Imam Al-Ghozali mewariskan ratusan karya tulis, teladan, dan keilmuan yang tak lekang oleh zaman. (Mahbib Khoiron/Nu Online)

Demikian kisah detik-detik yang indah menjelang wafatnya Imam Al-Ghozali.

Simpan

Simpan

Simpan

Simpan

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

1 thought on “Wafatnya Imam Al-Ghozali, Kisah Ulama Aswaja”

  1. Subhanallah — Maha Suci Allah — yang telah menakdirkan Imam Al-Ghazali seperti itu. Kefasihan keilmuannya selama mnekuni ilmu fiqih (fuqaha) terhanyut oleh kerinduan yang mendalam kepada Allah azza wa jalla. Tak sedikit orang yang telah membaca karya beliau ihya ulumuddin berkata-kata akan kefasihan beliau di dunia ketasawufan. Beliau adalah Sufi Sejati yang tidak dapat dipungkiri. Salam min ana ya Imam Al-Ghazali ra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker