Salafi Wahabi

Ustadz Firanda Pendusta, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (3)

Ustadz Firanda Diperingatkan; Aqidah ‘Allah di atas Langit (Fisikly)’ Hanyalah Aqidah Karangan dan Merupakan ‘Wahyu’ dari Syetan

  … Bagian Ke-3 dari Sekelumit Upaya Mengungkap Tipu Muslihat Ustadz Firanda …

 

Oleh: ustadz Ahmad Syahid

Ustadz Firanda mengatakan :

Oleh karenanya ana meminta Abu Abu Salafy Al-Majhuul dan pemilik bloig salafytobat untuk mendatangkan satu riwayat saja dari para sahabat atau para salaf dengan sanad yang shohih bahwasanya mereka mengingkari Allah berada di atas langit. Kalau mereka berdua tidak mampu mendatangkan satu riwayatpun maka ketahuilah bahwasanya aqidah yang mereka bawa hanyalah aqidah karangan mereka berdua sendiri dan merupakan wahyu dari syaitan.

Jawaban:

Justru saya meminta kepada yang terhormat Ustradz Firanda untuk mendatangkan satu Riwayat saja yang  Shahih dari para Sahabat atau para Salaf As-shalihin bahwasannya mereka memahami dan mengartikan ” Istawa ” dengan ” Istiqror ” :  ” Allah berdiam / berada di atas langit ” dan tolong jangan lagi membawakan Riwayat-riwayat yang tidak Sah , Mungkar bahkan Maudhu’  karena semuanya akan terbongkar sebagaimana riwayat-riwayat di atas tadi ( dikupas tuntas di bagian 1 dan di bagian 2 ). Kalau Ustadz Firanda dan All salafiyyin Wahabiyyin tidak mampu mendatangkan satu riwayat pun maka ketahuilah bahwasanya aqidah yang mereka bawa hanyalah aqidah karangan mereka sendiri dan merupakan “wahyu” dari syaitan.

ustadz firanda 1 - Ustadz Firanda Pendusta, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (3)

Ustadz Firanda mengatakan :

Tipu muslihat Abu Salafy

Dari sini kita akan membongkar kedustaan Abu salafy yang berusaha menggambarkan kepada masa bahwasanya aqidah batilnya tersebut juga diyakini oleh para sahabat.

Jawaban :

Pembaca yang Budiman mari kita ikuti pembongkaran Tipu Muslihat Abu Salafy yang dilakukan Ustadz Firanda apakah benar-benar terbongkar atau malah Justru tipu Muslihat Firanda yang akan terkuak? Mari kita ikuti bagaimana “lihainya”  Ustadz Firanda dalam BERKELIT ketika dicengkram kuat oleh Hujjah Abu Salafy,  juga ketika Ustadz Firanda berkelit dari Hujjah yang tidak mampu untuk dijawabnya.

Abu Salafi berkata :
(http://abusalafy.wordpress.com/2010/04/11/ternyata-tuhan-itu-tidak-di-langit-8/) ”

Penegasan Imam Ali AS: 

Tidak seorang pun meragukan kedalaman dan kelurusan akidah dan pemahaman Imam Ali ibn Abi Thalib (karramalahu wajhahu/semoga Alllah senantiasa memuliakan wajah beliau), sehingga beliau digelari oleh Nabi sebagai pintu kota ilmu kenabian dan kerasulan. Dan kerenanya para sahabat mempercayakannya untuk menjelaskan berbagai masalah rumit tentang akidah ketuhanan. Imam Ali ra. berkata:

كان ولا مكان، وهو الان على كان.

”Adalah Allah, tiada tempat bagi-Nya, dan Dia sekarang tetap seperti semula.”

Beliau ra. juga berkata:

إن الله تعالى خلق العرش إظهارًا لقدرته لا مكانا لذاته.

”Sesungguhnya Allah – Maha Tinggi- menciptakan Arsy untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan sebagai tempat untuk Dzat-Nya.” [ Al Farqu baina al Firaq:333]

Beliau juga berkata:

من زعم أن إلهنا محدود فقد جهل الخالق المعبود.

”Barang siapa menganggap bahwa Tuhan kita terbatas/mahdûd [2] maka ia telah jahil/tidak mengenal Tuhan Sang Pencipta.” [ Hilyatul Awliyâ’;  Abu Nu’aim al Isfahani,1/73,  ketika menyebut sejarah Ali ibn Abi Thalib ra.] )) – demikian perkataan Abu Salafy -.

Ustadz Firanda berkata :
Ini merupakan kedustaan Abu Salafy terhadap Ali Bin Abi Tholib radhiallahu ‘anhu. Hal ini akan jelas dari beberapa sisi:

Pertama:  Sesungguhnya atsar ini dibawakan oleh orang-orang Syi’ah Rofidoh dalam buku-buku mereka tanpa ada sanad sama sekali. Diantaranya dalam kitab mereka Al-Kaafi (karya Al-Kulaini). Al-Kulaini berkata:

وَ رُوِيَ أَنَّهُ سُئِلَ ( عليه السلام ) أَيْنَ كَانَ رَبُّنَا قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ سَمَاءً وَ أَرْضاً فَقَالَ ( عليه السلام ) أَيْنَ سُؤَالٌ عَنْ مَكَانٍ وَ كَانَ اللَّهُ وَ لَا مَكَانَ

Dan diriwayatkan bahwasanya Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salam ditanya : Dimanakah Robb kami sebelum menciptakan langit dan bumi?, maka Ali bin Abi Tholib ‘alaihis salaam berkata, “Mana pertanyaan tentang tempat?! padahal Allah dahulu tanpa ada tempat (Al-Kaafi 1/90 dalam بَابُ الْكَوْنِ وَ الْمَكَانِ)

Ternyata memang aqidah orang-orang Asyaa’iroh semisal Abu salafy dan pemilik blog salafytobat cocok dengan aqidah orang-orang Syi’ah Rofidhoh dalam masalah di mana Allah. Karena memang orang-orang Rofidhoh beraqidah mu’tazilah, dan Asya’iroh dalam masalah di mana Allah sepakat dengan Mu’tazilah (padahal Mu’tazilah adalah musuh bebuyutan Asya’iroh, sebagaimana nanti akan datang penjelasannya).

Atsar ini dibawakan oleh Al-Kulaini dengan tanpa sanad, bahkan dengan sighoh “Diriwayatkan” yang menunjukan lemahnya riwayat ini.

Jawaban :

1. Ustadz Abu Salafy mungkin masih lebih baik Dari Ustadz Firanda yang membawakan Riwayat dengan Sanad yang tidak sah , Mungkar bahkan Maudhu’. Berapa banyak orang yang akan terbawa oleh tipuan sanad yang Tidak Sah, Mungkar, bahkan Palsu yang dibawakan oleh Ustadz Firanda? Sementara riwayat tanpa sanad yang dibawakan Ustadz Abu Salafy tidak akan berpengaruh sehebat pengaruh Riwayat yang bersanad .

2. Menyamakan Aqidah Syi’ah Rofidhoh, Mu’tazilah dangan Asy’ariyah adalah menunjukkan jika Ustadz Firanda tidak memahami perbedaan antar Firqoh dalam Islam. Atau Ustadz Firanda ingin menumbuhkan kebencian terhadap Ahlu Sunnah ( Asy’ariyah ) kepada orang awam, dan menjauhkan orang awam dari Faham Ahlu Sunnah wal-jama’ah?

Ustadz Firanda mengatakan :

Kedua : Demikian juga yang dinukil oleh Abu Salafy dari kitab Al-Farqu bainal Firoq karya Abdul Qohir Al-Baghdadi adalah riwayat tanpa sanad sama sekali.
Abdul Qohir Al-Baghdadi berkata :

“Mereka telah bersepakat bahwasanya Allah tidak diliputi tempat dan tidak berlaku waktu baginya, berbeda dengan perkataan orang-orang yang menyangka bahwasanya Allah menyetuh ‘Arsy-Nya dari kalangan Hasyimiyyah dan Karroomiyyah. Amiirul Mukminin Ali –radhiollahu ‘anhu- berkata : Sesungguhnya Allah telah menciptakan Al-’Arsy untuk menunjukan kekuasaanNya dan bukan untuk sebagai tempat yang meliputi dzatNya. Beliau berkata juga : Allah dahulu (sendirian) tanpa ada tempat, dan Allah sekarang sebagaimana Dia dulu” (Al-Farqu baynal Firoq hal 33)

Ustadz Firanda berkata :

Para pembaca yang budiman, ternyata riwayat-riwayat dari Ali bin Abi Tholib yang dibawakan oleh Abdul Qohir Al-baghdadi tanpa ada sanad sama sekali. Dan hal ini tentunya diketahui oleh Abu Salafy cs, akan tetapi mereka tetap saja menampilkan riwayat-riwayat dusta dan tanpa sanad ini demi untuk mendukung aqidah mereka yang bathil.

Jawaban:

1. Pembaca yang budiman, tentunya anda masih ingat dalam pembahasan di bagian satu dan dua, di situ ternyata Riwayat-riwayat yang dibawakan Ustadz Firanda meskipun sebagiannya bersanad ternyata sanadnya Tidak Ada yang  Sah, mungkar bahkan Maudhu’.  Dan hal ini tentunya diketahui oleh Ustadz Firanda cs, akan tetapi mereka tetap saja menampilkan riwayat-riwayat dusta dengan sanad yang tidak sah , Mungkar dan Palsu , demi untuk mendukung aqidah Ustadz Franda cs yang bathil.

2. menurut saya riwayat yang dibawakan Ustadz Abu Salafy yang tanpa sanad itu , masih lebih baik ketimbang riwayat yang bersanadkan Palsu , sebagaimana banyak dibawakan Ustadz Firanda dalam Klaim Ijmaknya. Sebab meskipun Tanpa Sanad,  Riwayat yang dibawakan Ustadz Abu salafy itu sesuai dan didukung oleh Hadist yang Shahih yang akan dibawakan nanti dibawah.

3. Dan dengan tanpa sanad , orang akan mudah untuk menghindarinya , sementara Riwayat dengan sanad yang tidak sah tidak semua orang tahu hukum dari sanad itu. Perlu ilmu yang cukup untuk mengetahui keabsahan sebuah sanad, diperlukan waktu yang tidak sebentar Untuk Mentakhrij sebuah atsar atau riwayat, kemungkinan orang terbawa dan tertipu lebih besar.  Terlebih Ustadz Firanda dalam membawakan riwayat-riwayat tidak menyertakan Hukum dari status sanad itu.  Ustadz Firanda tidak menyebutkan atsar ini shahih kah , dhaif kah, tidak sah kah atau malah Mungkar dan maudhu’.  Disini ustadz Firanda telah Melakukan Tadlis pengkhianatan atas amanah ilmiyah.

4. Aqidah Ahlu Sunnah ( Asy’ariyah) bahwa : ” Allah ada tanpa tempat ”
atau yang semakna dengan itu seperti yang dicontohkan dalam riwayat tanpa sanad Abu Salafy sebenarnya berlandaskan kepada Hadist Shahih : ” kaa na Allah walam yakun Syaiun Ghoiruhu; Allah telah ada pada saat tidak ada selainnya ” (HR Bukhori ).  Jadi meskipun riwayat yang dibawakan oleh Abu Salafy tanpa sanad , maka Makna dari riwayat itu senada dengan Hadist yang Shahih ini.

Ustadz Firanda berkata :

Ketiga : Selain riwayat-riwayat tersebut tanpa sanad ternyata Abdul Qohir Al-Baghdadi sama sekali tidak dikenal sebagai seorang Muhaddits, namun demikianlah Abu Salafy cs tetap aja nekat mengambil riwayat dari orang yang tidak dikenal sebagai Muhaddits

Jawaban :

Perkataan Ustadz Firanda : ” namun demikianlah Abu Salafy cs tetap aja nekat mengambil riwayat dari orang yang tidak dikenal sebagai Muhaddits ”, merupakan pembunuhan Karakter terhadap Imam Abdul Qohir Al-Baghdadi. Padahal dimana Imam Abdul Qohir Al-Baghdadi dipuji oleh Amirul Muhadistin Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-Atsqolani sebagai Orang yang paling mengerti : ”perbedaan antar kelompok”. Bandingkan dengan pengambilan Riwayat yang dilakukan Ustadz Firanda yang nekat mengambil riwayat dari para Pemalsu Hadist, seperti Ibn Bathoh Al-‘Ukbari dan sejenisnya.

Ustadz Firanda berkata :

Keempat : Abdul Qohir Al-Baghadadi tentunya lebih rendah kedudukannya daripada kedudukan super gurunya yaitu Abul Hasan Al-’Asy’ari.

Jawab Ahmad Syahid: 

Ustadz Firanda tahu dari mana  jika  Al-Imam Abdul Qohir Al-baghdadi lebih rendah dari Al- Imam Abul Hasan Al-Asy’ari ? Bukankah inna akromakum ‘indallahi at-qookum?  Hanya Allah lah yang tahu siapa lebih rendah dari siapa…, siapa lebh mulia dari siapa. Saya mohon  Ustadz Firanda untuk tidak mewakili Tuhan “Allah”, hanya karena beliau adalah Muqollid terhadap Imam Al-Asy`ari.  Namun demikian beliau jauh lebih terhormat dan jauh lebih Mulia ketimbang para Pemalsu Hadist yang dijadikan sumber rujukan Oleh Ustadz Firanda.

Ustadz Firanda berkata :

Kelima : Kalau seandainya riwayat-riwayat di atas shahih maka tidak menunjukan bahwasanya Ali bin Abi Tholib mengingkari adanya Allah di atas langit. Paling banter dalam riwayat-riwayat di atas beliau – radhialllahu ‘anhu- hanyalah mengingkari bahwasanya Allah diliputi oleh tempat, dan pernyataan tersebut adalah pernyataan yang benar.

Ahlus sunnah tidak mengatakan bahwa Allah berada di suatu tempat yang meliputi Allah, akan tetapi mereka mengatakan bahwasanya Allah berada di atas, yaitu di arah atas.

Jangan disamakan antara tempat dan arah.

Jawaban :

1. Rupanya Ustadz Firanda pura – pura Tidak tahu akan Landasan dari pernyataan Al-Imam Ali Karromallahu Wajhah, (  hadist yang tadi disebutkan:  ” kaa na Allah walam yakun Syaiun Ghoiruhu; Allah telah ada pada saat tidak ada selain-NYA ”  -HR Bukhori – ).

2. Meskipun Ustadz Firanda meragukan keshahihan atsar sayidina Ali Kw, namun karena di hati sang Ustadz mengetahui sandaran perkataan Imam Ali (hadits shohih di atas), akhirnya Ustadz Firanda mengatakan : ”Paling banter dalam riwayat-riwayat di atas beliau –radhialllahu ‘anhu- hanyalah mengingkari bahwasanya Allah diliputi oleh tempat ”.  Menarik untuk dicermati kata-kata ” Diliputi ” ini merupakan jurus sang Firanda untuk berkelit dari cengkraman Hujjah Abu Salafy, yang berarti menurut Ustadz firanda ” Allah hanya bertempat saja “, tanpa diliputi oleh tempat. Ustadz Firanda, diliputi atau tidak diliputi selagi dikatakan Allah bertempat adalah SALAH, sebab bertentangan dengan Hadist diatas tadi: bahwa Allah telah ada sebelum selainnya ada.

3. jurus “cerdik” lainnya sang ustadz mengatakan : Jangan disamakan antara tempat dan arah.
Apakah menurut Ustadz firanda tempat dan arah itu bukan makhluknya Allah…..? Sehingga harus mengatakan: jangan samakan tempat dan arah!  “Ustadz Firanda, bukankah keduanya sama-sama Makhluknya Allah…? Apakah jika Allah berada pada arah tertentu, tidak berarti Allah bertempat dalam Arah itu…?”  (Logika Ustadz Firanda mulai kocar kacir deh?)

Ustadz firanda mengatakan :

Adapun penjelasan maksud dari aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah bahwasanya Allah berada di atas, maka melalui point-point berikut ini:

1- Ketinggian itu ada dua, ada ketinggian relatif dan ada ketinggian mutlaq. Adapun ketinggan relatif maka sebagaimana bila kita katakana bahwasanya lantai empat lebih tinggi daripada lantai satu, akan tetapi hal ini relatif, karena ternyata lantai empat lebih rendah daripada lantai enam.

Jawaban:

Ketinggian Relatif : Lantai empat lebih tinggi dari lantai satu, ( adalah salah , karena ketinggian relatif adalah ketinggian Maknawi yang tidak bersifat Fisik, seperti menteri lebih tinggi dari bupati atau presiden diatas para menteri ). Firanda : tetapi lantai 4 lebih rendah dari lantai 6 , benar tapi juga salah.  Sebab yang Ustadz Firanda Bandingkan adalah lantai 4 dengan lantai 1, lantai enam tidak Ustadz bandingkan tetapi tiba-tiba dimunculkan inilah yang disebut dengan perkeliruan. Ketinggian Relatif yang Ustadz Firanda karang-karang ini menunjukkan jika sang Ustadz memahami jika Dzat Allah adalah Jisim sehingga dalam mencontohkan ketinggian relatif pun Ustadz Firanda mencontohkan dengan contok Fisik yaitu bangunan bertingkat, maha suci Allah dari segala percontohan ini.

Ustadz Firanda mengatakan :

2- Adapun ketinggian mutlak adalah ketinggian kearah atas. Semua manusia di atas muka bumi ini bersepakat bahwasanya semakin sesuatu ke arah atas maka semakin tinggilah sesuatu tersebut. Maka jadilah poros bumi sebagai titik nol pusat kerendahan, dan semakin ke arah atas (yaitu ke arah langit) maka berarti semakin kearah yang tinggi. Oleh karenanya sering juga kita mendengar perkataan para fisikawan “Tinggi gunung ini dari permukaan tanah…. atau dari permukaan air laut..”. Oleh karenanya kita harus paham bahwasanya langit senantiasa letaknya di atas. Taruhlah jika kita sedang berada di bagian bumi bagian selatan, maka langit pada bagian bumi selatan adalah di atas kita, demikian juga langit pada bagian bumi utara juga berada di atas kita, demikian juga langit pada bagian bumi barat dan langit pada bagian bumi timur.

Jawaban :
1. ketinggian Muthlak, disini tampak jelas jika yang diinginkan oleh sang ustadz adalah ketinggian Fisik / Dzat Allah , disini tampak jelas jika sang Ustadz membagaimanakan Istiwanya Allah. Padahal dari awal jelas sekali perkataan semua Ulama tanpa membagaimanakan ( bila Kaif  )

2. falsafat Ustadz Firanda ini meniscayakan bentuk Allah Subhanahu Wata’ala berbentuk Bulat atau Bundar, karena beliau mengatakan ”dimanapun engkau berada Niscaya langit selalu berada diatasmu“.  Jika demikian logika Ustadz Firanda berarti : ”karena Allah selalu berada pada Arah atas, dan Bumi itu Bulat berarti Allah itu Bulat?  Entah dari mana Ustadz firanda mendapatkan ” filsafat ngawur ” yang bertentangan dengan akal sehat dan Qur’an yang jelas telah mengatakan: Laista kamistlihi syai’,  la tudrikuhul Abshar wahuwa yudrikul Abshar… Keyakinan dan Filsafat Ustadz firanda ini bisa menyebabkan Kekefuran, wal-‘iadzu Billah. Bagaimana pun kau gambarkan Allah dalam benakmu, maka Allah pasti tidak seperti itu….

Ustadz firanda mengatakan :

3- Apa yang ada dalam alam wujud ini hanyalah ada dua, Kholiq (yiatu Allah) dan alam semesta (yaitu seluruh makhluk). Dan bagian alam yang paling tinggi adalah langit yang ke tujuh, dan Allah berada di atas langit yang ketujuh, yaitu Allah berada di luar alam. Janganlah di bayangkan bahwa setelah langit yang ke tujuh ada ruang hampa tempat Allah berada, karena ruang hampa juga merupakan alam. Intinya kalau dianggap ada yang lebih tinggi dari langit ketujuh dan merupakan penghujung alam semesta dan yang tertinggi maka Allah berada di balik (di luar) hal itu, dan lebih tinggi dari hal itu. Sehingga tidak ada suatu tempat (yang tempat merupakan makhluk Allah) yang meliputi Allah, karena Allah di luar alam semesta.

Jawaban:

Pernyataan Ustadz Firanda dalam point 3 ini membatalkan point ke 2 dan juga terdapat banyak kesalahan :

Kesalahan 1. ”Bagian alam yang paling tinggi adalah langit yang ke tujuh”.  Pernyataan ini salah besar dan bertentangan dengan Qur’an dan hadist Shahih yang menyatakan diatas langit ke 7 ada Arsy dan diatas Arsy masih ada Lauhul Mahfudz….

Kesalahan 2. “Dan Allah berada di atas langit yang ketujuh”  Pernyataan ini salah, karena tidak ada satupun Ayat Qur`an Maupun Hadist yang mengatakan ” Allah berada pada langit ke 7. Pernyataan ini juga salah dan kekufuran, karena jika Allah berada dilangit ke 7 berarti Allah berada dibawah Arsy dan Lauhul Mahfudz, Allah maha tinggi dari ketiga tempat itu.

Kesalahan 3.  yang juga fatal disamping juga meruntuhkan pernyataan pernyataan ustadz Firanda sebelumnya, pernyataan : ” Sehingga tidak ada suatu tempat (yang tempat merupakan makhluk Allah)————————- ”.  Falsafat bathil Ustadz Firanda meng – Isyaratkan adanya ”tempat yang bukan makhluknya Allah yang tidak meliputi Allah ” ini adalah Syirik Akbar dan kekufuran, karena sesunguhnya tidak ada pencipta selain Allah , sehingga tidak mungkin ada tempat yang bukan Makhluknya Allah meskipun tempat itu tidak meliputi Allah. Sebagaimana ditegaskan oleh pernyataan Ustadz Firanda,  bahwa ada Arah yang tidak ada.  Saya minta Ustadz Firanda membawakan dalil yang shahih atas pernyataannya ini.

Ustadz firanda mengatakan:

4- Dari penjelasan di atas, maka jika Ahlus Sunnah mengatakan bahwa Allah di jihah (di arah) atas maka bukanlah maksudnya Allah berada di suatu tempat yang merupakan makhluk. Akan tetepi Allah berada di luar alam, dan berada di arah atas alam. Dan jihah tersebut bukanlah jihah yang berwujud akan tetapi jihah yang tidak berwujud karena di luar alam. (lihat penjelasan Ibnu Rusyd Al-Hafiid dalam kitabnya Al-Kasyf ‘an Manhaj Al-Adillah hal 145-147)

Jawaban :

Point ke 4 ini semakin menjelaskan keyakinan Bathil sang Ustadz disamping juga menunjukkan betapa Goncangnya Aqidah Ustadz Firanda. Keyakinan Bathil: bahwa Allah berada pada arah atas secara Fisik. Keyakinan yang Goncang: ketika ustadz Firanda juga tahu Ulama meng-kafirkan Aqidah Hulul (aqidah yang menyatakan Allah menempati Makhluknya ) akhirnya Ustadz Firanda mengalihkan dan mereka-reka, seakan-akan bahwa diluar alam sana ada Arah yang tidak ber-wujud di situlah Allah berada. Tidak tahukah Ustadz firanda Bahwa Arah khayalannya itu (arah yang tidak ber-wujud ) adalah ADA dalam khayalan sang Ustadz  sendiri saja?

Dan itu berarti melajimkan 2 hal :

1. Jika dinyatakan Jihah / Arah yang tidak ber-wujud itu bukanlah Makhluknya Allah , maka Ustadz Firanda telah Kafir.  Sebab Ummat Islam berkeyakinan (sesuai Qur`an dan Hadist ) tidak ada pencipta selain Allah , sebab jika dinyatakan Jihah / arah yang tidak ada itu, bukan Makhluknya Allah berarti ada pencipta lain selain Allah dan ini adalah Syrik Akbar.

2. Jika dinyatakan Jihah / Arah yang tidak ber-wujud itu adalah makhluknya Allah , maka Ustadz Firanda pun ( dengan keyakinannya ini ) telah kafir.  Karena sudah menyatakan Aqidah Hulul , bahwa Allah menempati / menyatu dengan Makhluknya yang bernama : Jihah yang tidak ber-wujud.

Ustadz Firanda mengatakan :
5- Imam Ahmad pernah menjelaskan sebuah pendekatan pemahaman tentang hal ini.
Beliau berkata

“Jika engkau ingin tahu bahwasanya Jahmiy adalah seorang pendusta tatkala menyangka bahwsanya Allah di semua tempat bukan pada satu tempat tertentu, maka katakanlah : Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?. Maka ia akan menjawab : Iya.

Katakan lagi kepadanya, “Tatkala Allah menciptakan sesuatu apakah Allah menciptakan sesuatu tersebut dalam dzat Allah ataukah di luar dzat Allah?”. Maka jawabannya hanya ada tiga kemungkinan, dia pasti memilih salah satu dari tiga kemungkinan tersebut.

Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakan sesuatu tersebut di dalam dzat Allah maka ia telah kafir tatkala ia menyangka bahwasanya jin dan para syaitan berada di dzat Allah.

Jika dia menyangka bahwasanya Allah menciptakannya di luar dzat Allah kemudian Allah masuk ke dalam ciptaannya maka ini juga merupakan kekufuran tatkala ia menyangka bahwasanya Allah masuk di setiap tempat dan wc dan setiap kotoran yang buruk.

banner 2 2 - Ustadz Firanda Pendusta, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (3)

Jika ia mengatakan bahwasanya Allah menciptakan mereka di luar dzatnya kemudian tidak masuk dalam mereka maka ia (si jahmiy) telah meninggalkan seluruh aqidahnya dan ini adalah perkataan Ahlus Sunnah” (Ar-Rod ‘alaa Al-Jahmiyyah wa az-Zanaadiqoh hal 155-156)

Jawaban :

1. kitab Ar-rod alal jahmiyah adalah kitab yang dinisbatkan secara PALSU kepada Imam Ahmad bin Hanbal sebagaimana dinyatakan oleh Al- Imam adz-dzahabi dalam siar a`lam an-nubala juz 11 hal. 286 , dan pada halaman berikutnya dalam kitab itu , pada Hasyiah no 1 bahwa kitab Palsu ini ( ar-rod alal jahmiyah) diriwayatkan oleh al-Khollal dari seorang yang Majhul yang bernama al-khodir bin al-mutsanna dari abdullah bin Ahmad bn Hanbal , lantas dari manakah Al-khollal mendapatkan nama yang majhul itu…..! Sebagaimana kita ketahui bersama Al-khollal ini adalah :
Abu bakar ahmad bin muhammad bin harun al-baghdadi yang terkenal dengan julukan Al-kholal , bermadzhabkan hanbali , dia seorang ahli Bid`ah Mujassim Musyabih , orang ini pulalah yang diikuti Ibnu taimiyah dalam menetapkan Aqidah Julus (Allah duduk) di Arsy , dia ini banyak menggunakan Hadist palsu , wahi dan Isroiliyat dalam bab aqidah makanya banyak sekali hal aneh yang dia kemukakan , dia menulis sebuah kitab yang diberi nama As-sunnah dalam kitab itu pulalah dia terang-terangan mengatakan jika Allah duduk diatas singasana (arsy) dan dia katakan barang siapa yang mengingkarinya dialah Jahmi penolak sifat yang zindiq. Sehingga periwayatan Al-Khollal ini tertolak disamping dalam sanadnya ada Rawi yang MAJHUL.

Kalaupun kita (Aswaja) “mengalah” kepada Ustadz Firanda,  karena sebenarnya ( riwayat kitab tersebut sudah Gugur dan tertolak sehingga sudah tidak perlu dilirik ), namun demi menghargai usaha Ustadz Firanda baiklah mari kita bahas .

Ustadz firanda berkata :

6- Perkataan Imam Ahmad أَلَيْسَ اللهُ كَانَ وَلاَ شَيْءَ (Bukankah Allah dahulu (sendirian) tanpa sesuatu?) sama dengan perkataan كان الله ولا مكان (Allah dahulu (sendirian) tanpa ada tempat.) Perkataan Imam Ahmad ini di dukung oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dalam shahihnya
كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ

“Dahulu Allah (sendirian) dan tidak ada sesuatupun selainNya” (HR Al-Bukhari no 3191)
Dan kalimat disini memberikan faedah keumuman, yaitu tidak sesuatupun selain Allah tatkala itu, termasuk alam dan tempat.

Meskipun Imam Ahmad mengatakan demikian akan tetapi beliau tetap menetapkan bahwasanya Allah berada di atas. Dari sini kita pahami bahwa penetepan adanya Allah di atas tidaklah melazimkan bahwasanya Allah berada atau diliputi oleh tempat yang merupakan makhluk.

Jawaban :

1. Darimakah Ustadz Firanda tahu jika Imam Ahmad : ” beliau tetap menetapkan bahwasanya Allah berada di atas ” …? Apakah Ustadz Firanda mengetahui Hal yang Ghaib….. sehingga tahu maksud Imam Ahmad tanpa riwayat……? Bukankah sudah sangat jelas perkataan Imam ahmad : (Bukankah Allah telah ada (sendirian) tanpa ada sesuatu lainnya ?) yang bertolak belakang dengan keyakinan Ustadz Firanda bahwa Allah berada pada arah yang tidak berwujud…….? Yang berarti Arah yang tidak ber-wujud itu ada berbarengan dengan adanya Allah…….? Terlebih perkataan Imam Ahmad didukung Hadist : ” Allah telah ada (sendirian) dan tidak ada sesuatupun selainNya” (HR Al-Bukhari no 3191)
Lantas mengikuti siapakah Ustadz firanda ini……? Bahwa Allah berada pada arah yang tidak Ada ……..? (yang berarti arah yang tidak ada itu ada)……kenapa Ustadz Firanda tidak mengikuti Rosulallah SAW saja…….? : “Allah telah ada (sendirian) dan tidak ada sesuatupun selainNya” (HR Al-Bukhari no 3191)
Andai Ustadz Firanda mengikuti Rosulallah SAW sebagaimana Imam Ahmad mengikuti Rosulallah Saw , ustadz Firanda tidak akan mengatakan : ” Dari sini kita pahami bahwa penetepan adanya Allah di atas tidaklah melazimkan bahwasanya Allah berada atau diliputi oleh tempat yang merupakan makhluk. ” , yang berarti menurut Ustadz Firanda ” Arah / Jihah yang tidak ada itu ” adalah Bukan makhluk tentu ini adalah kekufuran diatas kekufuran , sebagaimana telah dijelaskan diatas.

Ustadz firanda mengatakan :

Perkataan Imam Ahmad ini mirip dengan perkataan Abdullah bin Sa’iid Al-Qottoon sebagaimana dinukil oleh Abul Hasan Al-Asy’ari dalam kitabnya maqoolaat Al-Islamiyiin 1/351

Abul Hasan Al-Asy’ari berkata, “Dan Abdullah bin Sa’iin menyangka bahwasanya Al-Baari (Allah) di zaman azali tanpa ada tempat dan zaman sebelum penciptaan makhluk, dan Allah senantiasa berada di atas kondisi tersebut, dan bahwasanya Allah beristiwaa’ di atas ‘arsyNya sebagaimana firmanNya, dan bahwasanya Allah berada di atas segala sesuatu”

Perhatikanlah para pembaca yang budiman, Abdullah bin Sa’iid meyakini bahwasanya Allah tidak bertempat, akan tetapi ia –rahimahullah- tidak memahami bahwasanya hal ini melazimkan Allah tidak di atas. Sehingga tidak ada pertentangan antara keberadaan Allah di arah atas dan kondisi Allah yang tidak diliputi suatu tempat.

Jawaban :

1. Diatas sudah dikatakan jika kitab al-Ibanah dan Maqolat Islamiyyin adalah kitab-kitab yang oleh kalangan Asy’ariyah pun tidak menggunakannya sebagai pegangan Utama, karena kitab-kitab tersebut tidak lagi murni Asli karangan Sang Imam Asy’ari.

2. Kembali kita mengalah demi menghormati usaha ustadz firanda , meskipun seakan akan saya berhadapan dengan orang yang tidak bisa menerima keberadaan Allah tanpa Tempat dan Arah.  Padahal sudah begitu jelas pernyataan Imam Ahmad yang didukung oleh Hadist Rosulallah SAW:

“Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Awal, maka tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Mu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Akhir, maka tidak ada sesuatu setelah-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Zhahir, maka tidak ada sesuatu di atas-Mu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Bathin, maka tidak ada sesuatu di bawah-Mu. Ya Allah, lunaskanlah hutang-hutang kami dan bebaskanlah kami dari kefaqiran’
[Shahih Muslim no.4888]
Hadist ini tegas menyatakan Tidak ada sesuatu diatas Allah , dan tidak ada sesuatu dibawah Allah , yang berarti Allah ada tanpa tempat dan Arah. Yang sekaligus membabat habis Aqidah Ustadz Firanda yang menyatakan ” Allah berada diatas Makhluknya ”

Kenapa sih Ustadz Firanda masih nekat? Ustadz Firanda hanya mengerti bahwa ketinggian itu hanya bersifat Fiskly. Ustadz Firanda tidak mau menerima Ketinggian yang bersifat Maknawi sehingga dari tadi kita lihat betapa Goncangnya Falsafat Ustadz firanda sampai-sampai menabrak Ijmak bahwa Allah Ada tanpa tempat dan Arah sebagaimana dinyatakan dalam hadist diatas.  Bahkan keyakinan Ustadz Firanda ini dapat membawa pada kekufuran.

 

Tolong perhatikan pernyataan ustadz Firanda:

” Abdullah bin Sa’iid meyakini bahwasanya Allah tidak bertempat, akan tetapi ia –rahimahullah- tidak memahami bahwasanya hal ini melazimkan Allah tidak di atas. ”

Jawaban ;

1. Ustadz Firanda mengakui jika banyak ulama seperti Abdullah bin said meyakini bahwasannya Allah tidak Bertempat, namun kemudian dia salah memahami ” atas (al-Fawq ) dan ketinggian (al-uluw) yang dimaksud oleh para Ulama.

2. Yang dimaksud oleh ulama tentang atas (fawq0 ) dan ketinggian ( al-uluw) Allah , adalah ketinggian , derajat ,. martabat , kedudukan dan kekuasaan.  Sama sekali bukan ketinggian secara Fisik atau dzat Allah.  Sebab Ulama memahaminya dengan menggabungkan seluruh riwayat tentang ”atas dan ketinggian” sehingga ketinggian yang dimaksud oleh Ulama Ahlu Sunnah tidak bertentangan dengan Qur`an dan Hadist.  Seperti ayat:  ”Sujudlah dan mendekatlah” (Qs. Al-alaq : 19 ),  sujud di identikkan dengan mendekat kepada Allah.  Jika ketinggian diartikan secara Fisik / Dzat maka Posisi Sujud tentu akan lebih Jauh ketimbang posisi berdiri, sehingga Sujud adalah menjauh dari Allah.  Karena Allah secara Fisik dan Dzat berada diatas Langit bahkan jauuuh diatas langit menurut pemahaman Ustadz Firanda, tentu keyakinan seperti aqidah ustadz firanda ini bertentangan dengan ayat al-qur’an tadi.

3. jika Atas ( Fawq) dan ketinggian ( al-Uluw) difahami secara Fisik dan ber-jarak, sebagaimana yang difahami Ustadz Firanda, niscaya tergambar jika Allah itu Bundar mengikuti bentuk Bumi yang Bulat ini dimana pada tiap sisi bumi ada langit , sehingga Allah itu berbentuk mengikuti bundarnya Bumi , tentu pemahaman seperti ini akan mengakibatkan kesesatan dan kekufuran , wal-I`adzu Billah , ( rupanya ustadz Firanda mengikuti al-albani) atau jika Atas (Fawq) dan ketinggian (al-uluw) dipahami secara Fisik / Dzat , sehingga ditetapkanlah Arah bagi Allah sebagaimana dipahami oleh Ustadz Firanda , maka meniscayakan Jika Allah itu Tidak Ahad (Esa) , sebab manusia itu terlingkupi oleh arah yang enam , sehingga manusia yang Utara Allahnya satu , yang di selatan Allahnya satu , yang ditimur satu yang dibarat satu yang dibawah bumi Allahnya Satu , dan yang dibumi bagian diatas Allahnya satu . Keyakinan dan Aqidah seperti ini hanya cocok bagi orang-orang yang tidak berakal waras. Syeikh Bin Baz Faham betul jika bulatnya bumi akan merusak aqidah wahabi, makanya beliau mengatakan bumi itu tidak bulat.

Ustadz firanda berkata :
Sehingga tidak ada pertentangan antara keberadaan Allah di arah atas dan kondisi Allah yang tidak diliputi suatu tempat. ”

Jawaban:

Andai kata ”Atas” tidak ditambahkan dalam kata ”Arah” niscaya tidak ada pertentangan dengan Aqidah Ahlu Sunnah wal-jama’ah (Asy’ariyah) bahwa Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah.  Andai kata “Atas” yang dimaksud adalah ketinggian secara Maknawi tentu Aqidah Ustadz firanda akan sama dengan Aqidah Ahlu Sunnah ( Asy’ariyah),  hanya sayang dari awal hingga Akhir, Ustadz Firanda selalu menggandeng ”Atas” dengan Arah, yang difahami secara Fisik dan dzat. Inilah yang menyebabkan kegoncangan dan Kontradiksi yang parah, dan bertentangan baik dengan Al-qur’an, Hadist maupun akal yang sehat.

Ustadz Firanda mengatakan ;
Pemahaman Imam Ahmad dan Abdullah bin Sa’iid bertentangan dengan pemahaman Abu Salafy cs yang menyangka bahwa kalau kita menafikan tempat dari Allah melazimkan Allah tidak di atas. Atau dengan kata lain Abu Salafy cs menyangka kalau Allah berada di arah atas maka melazimkan Allah diliputi oleh tempat.

Jawaban :

1. Ustadz Firanda mulai terlihat sempoyongan sehingga mengatakan: ”Pemahaman Imam Ahmad dan Abdullah bin Sa’iid bertentangan dengan pemahaman Abu Salafy cs”, tanpa menjelaskan dimana letak Pertentangannya. Atau jangan-jangan Ustadz Firanda tidak Faham dengan Ucapannya sendiri?

2. Dan justru yang saya Fahami adalah sebaliknya, yang saya fahami: Pemahaman Imam Ahmad dan Abdullah bin Sa’iid bertentangan dengan pemahaman Ustadz Firanda dkk , sebab kedua Imam itu mengatakan : ” Allah telah ada sebelum selainnya ada”,  sementara Ustadz Firanda mengatakan : ” Allah ada diatas langit ”,  padahal Langit itu diciptakan oleh Allah dari tidak ada menjadi ada. Perbedaan pemahaman antara para Imam dengan Ustadz Firanda sangat jelas. Lalu pertanyaannya sejak kapankah (menurut Ustadz Firanda ) Allah berada diatas langit?  Sejak langit itu diciptakan atau setelah langit itu diciptakan? Atau langit itu ada bersamaan dengan adanya Allah?  Semua jawabannya akan mengakibatkan kekufuran.

3. Ternyata Aqidah (keyakinan) Ustadz Firanda juga labil, dimana di awal diskusi Ustadz Firanda berkeyakinan bahwa: ”Allah berada diatas Langit”, namun kemudian berubah menjadi: ”Allah ada diatas Arsy”,  kemudian berubah lagi dan ustadz Firanda menegaskan keyakinannya (Aqidahnya) jika sebenarnya: ”Allah ada pada Arah yang tidak ber-Wujud”. Inilah kegoncangan luar biasa aqidah Ustadz firanda yang sekaligus bertentangan dengan pemahaman para Imam di atas. Entah mana tepatnya Aqidah yang Ustadz Firanda yakini. Diatas langit kah ? Atau diatas Arsy? Atau malah Diatas Arah yang tidak ber-wujud? Lalu dari manakah Ustadz firanda Tahu jika Allah berada pada Arah yang tidak ber-Wujud? Sebab ”Arah yang tidak ber-wujud itu” tidak pernah disebutkan dalam Al-qur’an dan Al-Hadist, dan tidak pernah diucapkan seorang Ulama Islam kecuali sekte Mujassimah Karomiyah dan para pengikutnya (Ibnu Taimiyah) . Lho, tanpa disadarinya ternyata Ustadz Firanda ini pengikut sekte Karomiyah toh?

Ustadz Firanda berkata :

Adapun riwayat Abu Nu’aim dalam hilyatul Auliyaa 1/73

Adapun sanad dari riwayat diatas sebagaimana yang disebutkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah 1/72 adalah sbb:

Ana berharap Abu Salafy cs mendatangkan biografi para perawi di atas dan menghukumi keabsahan sanad di atas !!!

Jawaban :

1. Pertanyaan Ustadz Firanda ini merupakan bentuk ke tidak berdayaan ustadz Firanda dalam menjawab Hujjah Abu Salafy.  Dan ini merupakan salah satu contoh berkelitnya sang Ustadz dari cengkraman kuat Hujjah Abu Salafy. Bukannya memberikan jawaban , sang Ustadz malah meminta bioghrafi para Rawi.  Jika Ustadz Firanda seorang pencari kebenaran sejati, tentu sebagai orang yang mempunyai pendidikan dan mempunyai kemampuan untuk MenTakhrij , Ustadz Firanda akan Tunjukkan jika Riwayat ini tidak sah, Mungkar , maudhu’ atau hukum sanad lainnya. Bukan malah minta disuapin, kecuali jika Ustadz Firanda ini bukan LC atau bukan sarjana dalam bidang keagamaan. Semoga Ustadz Firanda sadar akan hal itu karena beliau sebagai orang yang berpendidikan mempunyai kewajiban untuk mengawal Aqidah Ummat agar tetap pada Aqidah Yang benar. Bukan malah menyesatkan Ummat dengan riwayat – riwayat yang tidak sah Mungkar bahkan Maudhu’.

2. Bukankah Ustadz Firanda juga dalam ” Klaim Ijmaknya ” tidak menyertakan Bioghreafi para rawinya…..? Bahkan Ustadz Firanda juga tidak menyertakan status hukum dari atsar yang dibawanya , bahkan nama rawinyapun banyak yang tidak disertakan.  Lalu kenapa sekarang ustadz Firanda,  bersikap ”pura-pura”  kritis terhadap sanad dalam riwayat yang dibawakan Ustadz Abu Salafy? Subhanallah sebenarnya apa yang dicari Ustadz Firanda ini…?

3. ketika Ustadz Abu Salafy membawakan Riwayat tanpa sanad , sikap Ustadz Firanda begitu antipati , dan bersikap kasar seolah ingin menelan bulat-bulat Abu Salafy. Namun ketika Ustadz Abu Salafy mebawakan Riwayat yang bersanad, sikap Ustadz Firanda malah berkelit, bak seorang pengecut menghadapai kilauan pedang Lawan.

Abu Salafy berkata :

Penegasan Imam Imam Ali ibn Husain –Zainal Abidin- ra.

Ali Zainal Abidin adalah putra Imam Husain –cucu terkasih Rasulullah saw.- tentang ketaqwaan, kedalaman ilmu pengatahuannya tentang Islam, dan kearifan Imam Zainal Abidin tidak seorang pun meragukannya. Beliau adalah tempat berujuk para pembesar tabi’in bahkan sehabat-sabahat Nabi saw.

Telah banyak diriwayatkan untaian kata-kata hikmah tentang ketuhanan dari beliau ra. di antaranya adalah sebagai berikut ini.

أنت الله الذي لا يحويك مكان.

”Engkaulah Allah Dzat yang tidak dirangkum oleh tempat.”

Dalam hikmah lainnya beliau ra. berkata:

أنت الله الذي لا تحد فتكون محدودا

”Engkaulah Allah Dzat yang tidak dibatasi sehingga Engkau menjadi terbatas.”[ Ithâf as Sâdah al Muttaqîn, Syarah Ihyâ’ ‘Ulumuddîn,4/380])) – Demikan perkataan Abu Salaf i-

 

Ustadz Firanda berkata:

Ana katakan kepada Abu Salafy, dari mana riwayat ini? Mana sanadnya?, bagaimana biografi para perawinya? Apakah riwayat ini shahih…??!!

Para pembaca yang budiman, berikut ini kami akan tunjukan sumber pengambilan Abu Salafy yaitu kitab Ithaaf As-Saadah Al-Muttaqiin 4/380

Dalam buku ini dijelaskan bahwasanya atsar Zainal Abidin ini bersumber dari As-Shohiifah As-Sajjaadiyah, kemudian sanadnya sangatlah panjang, maka kami meminta Al-Ustadz Abu Salafy al-Majhuul dan teman-temannya untuk mentahqiq keabsahan sanad ini dari sumber-sumber yang terpercaya. Jika tidak maka para perawi atsar ini dihukumi majhuul, sebagaimana diri Abu salafy yang majhuul. Maka jadilah periwayatan mereka menjadi riwayat yang lemah.

Jawaban Ahmad Syahid:

Kembali Ustadz Firanda al—makdhzuul menggunakan gaya ”pengecut” dalam menghadapi kilauan pedang Abu Salafy, bukannya men-Takhrij sendiri malah lempar batu sembunyi tangan.

Ustadz Firanda berkata :

Tahukah Al-Ustadz Abu salafy Al-Majhuul bahwasanya As-Shohiifah As-Sajjadiyah adalah buku pegangan kaum Rofidhoh?, bahkan dinamakan oleh Rofidhoh dengan nama Ukhtul Qur’aan (saudarinya Al-Qur’an) karena menurut keyakinan mereka bahwasanya perkataan para imam mereka seperti perkataan Allah.

Sekali lagi ternyata Abu Salafy cs doyan untuk bersepakat dengan kaum Syi’ah Rofidhoh, doyan dengan aqidah mereka…???!!!

Ana sarankan ustadz Abu salafy untuk membaca buku yang berjudul Haqiqat As-Shahiifah As-Sajjadiah karya DR Nasir bin Abdillah Al-Qifarii (silahkan didownload di http://www.archive.org/download/hsshss/hss.pdf).

Jawaban:

1. Tahukah Al-Ustadz Firanda Al-makhdzuul (yang terhinakan ), (karena sebenarnya ustadz Firanda sudah menentang Qur`an dan Hadist serta kalah telak oleh Abu Salafy) jika kebenaran itu tidak memandang dari mana kebenaran itu diambil. Di mana pun yang namanya kebenaran tetaplah kebenaran, meskipun jika ia keluar dari orang yang paling hina. Perkeliruan dan logika konyol Ustadz Firanda ini, melazimkan Ummat Islam ( ahlu Sunnah ) untuk tidak berpegang pada Al-Qur’an karena Al-qur’an juga adalah pegangan sekte-sekte sesat seperti Syi’ah Rofidhoh, Khowarij Juga Karomiyah mujassimah.  Inilah logika konyol dan perkeliruan Ustadz Firanda , yang juga melazimkan: ”Sekali lagi ternyata Firanda cs doyan untuk bersepakat dengan kaum Karomiyah mujassimah, doyan dengan aqidah mereka rupanya?

2. Silahkan Ustadz Firanda kaji dan teliti sanad dari riwayat itu, silahkan ustadz Firanda men-Takhrij sanad dari riwayat yang dibawakan Abu salafy, jangan hanya bisa ngeles.  Perlu Ustadz Firanda ketahui jika pernyataan seperti itu (yang terdapat dalam It-Tihaf ) adalah Ijmak Ahlu Sunnah yang berlandaskan hadist Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya dari Amrom bin Hushain dengan dua jalur periwayatan:  1. dari `A`masy dengan lima jalur periwayatan dan 2. dari Mas`udi kholid bin Harist dengan tujuh jalur periwayatan, yang menunjukkan jika Hadist tersebut adalah Hadist yang Mutawatir. Pertanyaannya kenapa Ustadz Firanda menolak perkataan Imam Ali (dengan alasan-alasan konyol dan tidak ilmiyah) padahal perkataan itu bersumber dari Hadist yang mutawatir?

3. Mengenai hadist tersebut berkata Al-hafidz Al-baihaqi : dan perkataannya ” Allah telah ada sebelum sesuatu ada ” menunjukkan tidak ada sesuatu selain Allah ” tidak air tidak Arsy tidak pula selain keduanya (al-asma wa-as-shifat hal 375-376). Dan berkata Al-hafidz Ibn Abdil Bar: dan benar menurut Akal, dan tetap (tsabit) menurut dalil yang jelas bahwasannya Allah ada pada Azal tidak berada pada tempat ( At-tamhid Ibn abdil Bar juz 7 hal 136 ).  Tentu masih banyak pernyataan Ulama Ahlu Sunnah lainnya yang senada. Ustadz Firanda, apakah pernyataan-pernyataan Ulama ini juga Aqidah Rofidhoh?

 

Abu Salafy berkata :

Penegasan Imam Ja’far ash Shadiq ra. (W. 148 H)

Imam Ja’far ash Shadiq adalah putra Imam Muhammad – yang digelari dengan al Baqir yang artinya si pendekar yang telah membela perut ilmu pengetahuan karena kedalaman dan kejelian analisanya- putra Imam Ali Zainal Abidin. Tentang kedalam ilmu dan kearifan Imam Ja’far ash Shadiq adalah telah menjadi kesepakatan para ulama yang menyebutkan sejarahn hidupnya. Telah banyak dikutip dan diriwayatkan darinya berbagai cabang dan disiplin ilmu pengetahuan, khususnya tentang fikih dan akidah.

Di bawah ini kami sebutkan satu di antara penegasan beliau tentang kemaha-sucian Allah dari bertempat seperti yang diyakini kaumm Mujassimah Wahhabiyah. Beliau berkata:

من زعم أن الله في شىء، أو من شىء، أو على شىء فقد أشرك. إذ لو كان على شىء لكان محمولا، ولو كان في شىء لكان محصورا، ولو كان من شىء لكان محدثا- أي مخلوقا.

”Barang siapa menganggap bahwa Allah berada dalam/pada sesuatu, atau di atas sesuatu maka dia benar-benar telah menyekutukan Allah. Sebab jika Dia berada di atas sesuatu pastilah Dia itu dipikul. Dan jika Dia berada pada/ di dalam sesuatu pastilah Dia terbatas. Dan jika Dia terbuat dari sesuatu pastilah Dia itu muhdats/tercipta.” [ Risalah al Qusiariyah:6] – demikian perkataan Abu Salafy-

 

Firanda berkata :

Demikianlah Abu Salafy Al-Majhuul, tatkala tidak mendapatkan seorang salafpun yang mendukung aqidahnya maka dia pun segera mencari riwayat-riwayat yang mendukung aqidahnya meskipun riwayat tersebut lemah, bahkan meskipun tanpa sanad. Inilah model pendalilalnnya sebagaiamana telah lalu.

Berikut ini kami nukilkan langsung riwayat tanpa sanad tersebut dari kita Ar-Risaalah Al-Qusyairiyyah

Dan nampaknya Abu Salafy tidak membaca buku ini secara langsung sehingga salah dalam menyebutkan nama buku ini. Abu Salafy berkata ” Risalah al Qusiariyah ”

Jawaban: Demikianlah Ustadz Firanda Al-Makhdzul, menolak seluruh pernyataan Ulama yang dibawakan Ustadz Abu Salafy, dengan alasan tidak ada sanadnya.  Namun ketika pernyataan itu bersanad dengan konyol Ustadz firanda meminta bioghrafi para rawinya.  Padahal Ustad Firanda sendiri tatkala tidak mendapatkan seorang salaf pun yang mendukung aqidahnya maka ustadz Firanda pun segera mencari riwayat-riwayat yang mendukung aqidahnya meskipun riwayat tersebut tidak sah , Mungkar bahkan Palsu (lihat riwayat-riwayat klaim Ijmak ustadz Ffiranda, yang semuanya sudah Gugur, dalam pembahasan bagian satu dan bagian dua).  Inilah model pendalilalnnya sebagaiamana telah lalu. Dan nampaknya kesalahan pengetikan pun disikapi secara kasar oleh Ustadz Firanda. 

Bersambung….

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

84 thoughts on “Ustadz Firanda Pendusta, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (3)”

  1. Semua point dikuliti sampai telanjang, tak ada yg terlewat. Mempertunjukkan bukti bagaimana Firanda itu benar2 jaahil Murokkab tanpa ragu akan kejahilannya. Orang bodoh seperti ini kok jadi Ustadz, kasihan murid2nya tersesat bersama Firanda. Orangf ini beraqidah tajsim tapi tidak menyadarinya, na’dz billah min Firanda CS (sambil mengelus perut, amit2 jabang bayi….?). Padahal para Ulama berkonsensus Aqidah Tajsim adalah aqidah kufur. Semoga para pengagum Firanda menemukan kesadarannya setelah terlena dalam PESONA TIPU DAYA FIRANDA.

    Matur sembah nuwun Mas Ahmad Syahid wa Ummati, barokallohu fikum.

  2. Subhanallah…masing nyambung terus ye artikelnya…??? kayaknya ada baiknye kumpulan artikel ttg Ust Firanda ini dijadikan buku aje, agar masyarakat umum juga bisa lebih banyak yg tau ttg kedustaan2 dan manipulasi data yg telah dilakukan oleh Ust. Firanda, terlebih lagi yg blm pernah mampir di Ummati. Afwan kalo ane salah pendapat…

    >>>pegimane Ummati dan Ust. Ahmad Syahid…???

    1. Bang Nur@

      Agar masyarakat tahu masalah ini, kami memang berpikir untuk menerbitkannya. Juga agar buku ini nantinya bisa menjadi inspirasi bagi para akademisi yg jujur untuk mengkaji maslah yg dapat bikin kufur bagi yg salah persepsinya.

      Insyaallah nanti akan diterbitkan Bang Nur, masih sambil jalan mencari pemodalnya.

  3. Setuju jika nanti dibuat buku untuk sanggahan firanda & abu jauza yg pendusta. Biar masyarakat awam dapat mengetahuinya. Saya doakan semoga buku tersebut mudah /cepat diterbitkan sehingga tidak hanya buku wahabi yang banyak beredar kita harus membendung buku2 tersebut. Terima kasih

  4. Kalian itu sama seperti syiah, masa berbicara tanpa sanad apapun di percaya.. sungguh konyol sekali. ooo… ane tahu emang sih ulama2 kalian mengatakan bahwa “Hatiku mengatakan dari Allah”..
    Apa-apaan coba?
    Dimanakah Surga dan Neraka? pertanyaan seperti ini saja jawabnya muter2, ga tau jawabnya, Ditanyai tentang Isra’ Mi’raj juga bingung.. ga tau jawabnya.

    1. yaaaaahhh dah dijawab sebelumnya masih nanya pula, ga nyimak pisan nih, kebanyakan kasih komen ganti-2 sih, ga ngudeng & ga diurutin jawaban-2 dr rekan-2 ummati yg lain, bedul…bedul….makanya nyimak dooong, jangan cuma kasih komen…kabur…kasih komen….kabur….yaaa ga nyambung laaahhhh, kok akhlak wahabi gini yah??? lihat cewe cantik aja keluar dah bahasa preman pertigaannya, tapi ente punya kesamaan kok, di tempat kerja ane ada tuh ABG wahabi, dah berpakaian cingkrang, jidatnya pada item krn lamaaaa sujudnya or sholatnya, eeehh pas ada karyawati yg cantik di area dia kerja, melototiiiiiiin terus amp tuh karyawati ilang dari pandangannya….nah temen ane perhatiin si ABG wahabi…dia tanya kok gitu yah ??? padahal jidatnya dah pada item2, tapi sama harim mah tetep melotot….haduuuuuhhhh ๐Ÿ˜€

  5. @Mbak Putri
    Hati-hati mengucap “matur sembah”, nanti dituduh menyembah selain Allah. Soalnya saya pernah mendengar ceramah Ustadz mereka yang menyatakan “sungkeman jawa” musyrik, karena katanya ada kata-kata sembah sambil bungkuk-bungkuk. Kok dia tau hati orang yang lagi sungkem? Kan waktu sungkem dia tidak niat “nyembah”, tetapi niat menghormati.

    1. setuju banget dengan permintaan mu bro, perkara di kabulkan atau tidak ga penting, disini saya bisa menangkap apa yang saudara pikirkan sama seperti yang saya pikirkan, bahwa mereka anak2 fakultas islam yang tidak punya dasar ke silaman yang kuat akan memiliki aqidah yang sesat
      maka perlu penjelasan, mahasiswa lepasan institut islam banya yang melenceng aqidahnya walau tidak semua.
      karena percaya atau tidak kampus di kuasai wahabiyah dan pondok milik halussunnah,
      benar seperti permintaan saudara.

      1. yaaaaahhh dah dijawab sebelumnya masih nanya pula, ga nyimak pisan nih, kebanyakan kasih komen ganti-2 sih, ga ngudeng & ga diurutin jawaban-2 dr rekan-2 ummati yg lain, bedulโ€ฆbedulโ€ฆ.makanya nyimak dooong, jangan cuma kasih komenโ€ฆkaburโ€ฆkasih komenโ€ฆ.kaburโ€ฆ.yaaa ga nyambung laaahhhh, kok akhlak wahabi gini yah??? lihat cewe cantik aja keluar dah bahasa preman pertigaannya, tapi ente punya kesamaan kok, di tempat kerja ane ada tuh ABG wahabi, dah berpakaian cingkrang, jidatnya pada item krn lamaaaa sujudnya or sholatnya, eeehh pas ada karyawati yg cantik di area dia kerja, melototiiiiiiin terus amp tuh karyawati ilang dari pandangannyaโ€ฆ.nah temen ane perhatiin si ABG wahabiโ€ฆdia tanya kok gitu yah ??? padahal jidatnya dah pada item2, tapi sama harim mah tetep melototโ€ฆ.haduuuuuhhhh

      2. ane ada hati sama dia?
        Afwan, bukan merendahkan mbak putri, tp ane dah punya bidadari sendiri

        dan ane bukan type cowo buaya macam wahhabi2 di mari

        mbak putri itu dah ky saudari kandung ane
        dah sepantasnya ane ngedamprat cowo2 kurang ajar macam ente yg coba godain dia

  6. saudara-ku se-Islam

    saya dan anda mungkin fakir thd ilmu. bacalah artikel bantahan dr masing-2 ustd. baca dg baik, krn di situlah ada jawaban masing-2. jika anda sudah membaca serahkah kpd Alloh dan timbang dg hati nurani, mana yg benar.

    Saya dan anda adalah pencari hidayah akan kebenaran. cari tanda-2 tsb.

    jaga komentar yg tdk bagus.

    saya salafy, tapi sholat bareng tiap hari 5 waktu, jadi imam, muadzin dg lainya.
    saya tdk memaksa merapatkan kaki, krn saya paham orang lain belum tentu mau / belum paham ilmunya.
    orang yg tidak berjenggot, celana tdk cingkrang, tdk bercadar apa bukan ahlus sunnah.( salafy )….?! kalo mereka men-tauhidkan Alloh dg benar, beragama dan ber-aqidah benar sesuai tuntunan Rasulullah, kemudian di teruskan oleh kulafaur rasyidin lalu sahabat, maka kita sama.

    pertanyaanya adalah apakah cara beragama anda sama dg Rasul, sahabat atau sama dg imam yg 4 apa nggak. atau malah menyimpang/ bertentangan.

    salafy juga tawasul, ziarah kubur, tahlil, istighotsah, namun sesuai syari’at yg tidak ada subhat di dalamnya.
    sedangkan orang lain bertawasul, ziarah kubur, tahlil (an ), istighotsah yg mengandung subhat-2, ada celah menuju kesyirikan dan bid’ah.
    contoh sederhana-nya istighotsah kpd Alloh Semata tanpa perantara mayat maka baik yg salafy maupun yg tidak salafy maka hal ini tdk akan ada yg mengatakan syirik, sebaliknya jika istightsah dg perantara orang sholeh yg meninggal ini, ada celah menuju kesyirikan.

    wallahu a’lam

    1. wiiiiih sekarang para wahabi menurunkan bala tentara preman pertigaan lampu merah yg sering godain cewe’ yah….makin klihatan nih akhlak-2 mrk, di forum diskusi terang-2an mengalihkan dg cara-2 spt ini….nauzubillah….udah pada ga bisa debat, tetep berhati batu ga mau nerima kebenaran yg ada, malah tetep ikut ustadz bayaran saudi wahabi….memang benar kalo wahabi menguasai Indonesia, rasa nasionalisnya akan hilang, akan membantai yg tidak sepaham dg mereka, spt guru besarnya yg bangga membunuh org yg tidak sepaham , sampe sodaranya sendiri Syaikh Sulaiman pun mau dibunuh juga….

    1. tau tuh si abu umar bersifat abu gosok hehehehe,, muncul-2 ane dibilang spt itu, padahal ABG wahabi di tempat ane yg bgitu, la wong saksi mata yg bilang ke ane temen ane sendiri kok….hebat juga semua wahabi dah pinter jadi paranormal….kerjaan sampingan x yah

  7. Anjing mengonggong kafilah berlalu

    Kalo ta’wil dari ane : biarin orang SaWah mo pade bebas ngebacot, kite tetep jalan terus bela Ahlussunnah wal Jama’ah (yg asli yeee…)

    nb : tebak sendiri dah yg mane “anjing” yg mane “kafilah”…hehehe.. ๐Ÿ˜†

    >>>afwan…

    1. Bang Nur, takwil antum bid’ah tuh
      emangnya di zaman Rasulullah ada?
      mana dalilnya? :mrgreen:
      BTW, kemaren yg ngatain ane degil masih nongol ga
      jujur banget tuh dia bawain dalil yg seakan2 ingin mengatakan bahwa ibnu Sunni dan imam an-Nawawi adalah pendusta atas nama Rasulullah dan siap2 menempati neraka. Namanya alGhuroba apa al-gerobak gitu…

  8. afwan semuanya…. sepertinya ana tidak cocok di tengah orang2 yg ada Wahabinya, sejak hari ini ana pamit n mundur dari diskusi di sini.
    Sejak sekarang ana akan mengamati aja, matur nuwun Ummati, Mas Syahid, Ustadz AI, Mas Dianth, Mas Prass , Bang Nur, n smuanya…. barokallohu fikum.

    Wassalamu’alaikum wrohmatullohi wabarokatuh.

    1. waduuuh Mba Putri jadi gini yah? memang para wahabi itu ga bisa nahan syahwatnya, jadi mereka melenceng ngalor ngidul, malah membuat pelecehan ke Mbak Putri, sayang memang mereka menunjukkan diri ingin dilihat berilmu tp sayang, berilmu dh hawa nafsu yg lebih besar…..semoga pahala berlipat ganda untuk mbak Putri & keluarga amiiiin….

    2. Aduh Mbak Putri, maksud kemunculan ana di sini mau nemani mbak Putri…. namun sayang ya, tampaknya mbak Putri sudah keburu pamitan. Aduh…. ana juga jd bingung neh, masa sendirian? Semoga para Wahabiyyin tidak lagi naeh-aneh suka melecehkan perempuan.

      Ana berani kok dg elegant diskusi dg Wahabi soal isu2 bid’ah yg sering dikoar-koarkan di mana-mana , misalnya maslah tawassul dg Nabi Saw yg dianggap musyrik oleh wahabi, dll.

      Jadi mohon deh kpd Wahabi-wahabi jangan lagi suka melecehkan perempuan, kalau berani ayo diskusi aja scra elagant.

      1. Mbak Aryati, mohon maaf ana lupa sebut panjenengan saat pamit tadi.

        Insyaallah ana pamit sementara Mbak aryati, nanti sekali-kali ana akan koment lagi tapi tdk sesering selama ini. Silahkan Mbak Aryati lanjutkan, semoga selamat dari pelecehan orang-rang wahabi semaca Pak Abdullah atau Abu Umar.

        1. Sebaiknya memang kamu mundur saja, dengan bekal logika bakul mlijo, kamu cuma bisa mengiyakan dan membebek apa kata saudara Ahmad Syahid. Dan kamu jangan lupa, yang pertama kali melakukan pelecehan adalah mulut kamu yang kotor, lancang menuduh orang waria. Makanya saya tantang kamu jadi istri kedua untuk membuktikan kejantanan. Apakah memang adab wanita Asy’ariyyah seperti kamu?

          1. @abdullah
            Kata2nya semakin kotor, lebih baik didelete aja nih mas admin, karena semakin dilayani semakin edan, cuma menuhin halaman.
            @abdullah sopan lah sedikit, ente kan punya adab.

          2. @ Abdullah
            Daripada membebek ke firanda dan kalian para wahabiyun pengikut aliran sesat Wahabi laknatuLLAH, katanya Islam tapi sudah tercampur dengan faham yahudi dan Nasrani dengan tauhid trinitasnya.

  9. hai abu umar ente kurang ajra banget. sudah merusak keayakinan semua pengunjung kalo ente mua cari kebenaran aqidah, tapi ente membuat wanita tidak tenang dan menggangu perasaan dia.

    ente sungguh laknatulloh, kurang ajar dan keras kepala. mas ummati ana harap abu umar di delet aja komentnya. sebelum dia mubahala dengan ane????? berani abu umar??????

  10. Abu Umar:
    Hei cewek cantik udah nikah belum?

    Komentar di atas merupakan salah satu bukti ngawur, ngelantur dan ancur nye pola pikir Abu Umar.

    Putri@
    gak use dipikirIn tuh komen si Abu, anggep aje komentar orang STRESS… ๐Ÿ™„

    Ulama2 Ahlussunnah wal Jama’ah malah lebih dahsyat menerima hinaan dan cacian dari para Wahabiyyin. Akankah kita mundur hanya dengan ocehan “SAMPAH” dari mulut seorang Abu Umar…???

    >>>mari kite terus eratkan ikatan Aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah dan jangan pernah gampang menyerah…Allahu Akbar…!!!

  11. @putri
    menurut ane sih sebaiknya anti tak usah mundur.. ๐Ÿ˜ฅ
    tapi..ya terserah putri aja bgm baiknya,…
    anggaplah ini suatu tantangan dan cobaan dr kaum yg pendapatnya sering bersebrangan dgn kita,.. ๐Ÿ™„
    dan dr sini dapat pula kita mengetahui akhlak mereka thp/kpd kaum wanita,ttg apa dan bagaimana,.. ๐Ÿ˜ฅ

    wallahu ‘alam

    1. Alhamdulillah….. situs ini bagus untuk mendidik Ustadz Firanda n para pengagumnya. Semoga mereka sadar di kemudian hari, biarlah sekarang mereka marah-marah gak apa-apa. Ibarat minum jamu, mereka tersedak dan sock melihat situs yg blak-blakan ini.

      Situs baguuusss deeeehhhh.

    2. wah muncul lg wahabi numpang lewat sambil kluar komen2 aneh, selalu bikin komen ini itu sesat, bid’ah dll, kasihan ortunya ga tau anamnya telah disesatkan sama ustadz2 mrk yg berfikiran sempit…..smg mrk kembali ke jln yg benar…..

  12. akhlak buruk abu umar adalah contoh nyata jika pengikut wahabi gak punya malu , Mbak Putri santai aja semakin mbak putri tunjukkan Ilmu Abu Umar akan semakin terlihat akhlaknya , jangan mundur mbak kita jadi tahu pengikut wahabi sama perempuan aja keok.

    1. Mas Ahamad Syahid,

      Afwan Mas Syahid…. Pesan antum via email sudah kami laksanakan walaupun agak terlambat. Tolong dicek ulang, seandainya masih ada kesalahan cetak/ketik silahkan beritahu kami via email. Syukron, jazakallohu khiron katsir….

  13. Alhamdulillah dengan adanya Insan2 mulia seperti Ustadz Ahmad Syahid, Ummati, Al , Salafy Tobat dan rekan2 aswaja yang mewarnai diskusi di situs ini nyata banyak memberi kefahaman dan pencerahan kepada para pengikut situs dan pembaca termasuk ane. terima kasih Tugasan kita hanya menyampaikan kebeneran dan semoga Allah mencatatkan kebajikan kita sakalian.
    Perihal persoalan mengenai tempat bagi Allah telah berlaku dizaman Iman Abu Hanifah masih remaja lagi, dikala Iman Abu Hanifah mewakili gurunya Sheikh Hammad mematahkan hujjah seorang Dahri angkuh yang mencabar pada masa itu( Aqidatun Najin ) yang berfikiran seperti Firanda, menetapkan tempat dan jisim bagi Allah. Kini persoalan sama ditimbulkan kembali oleh golongan SaWah tanpa nazhori dan melihat kepada peristiwa2 yang telah berlaku di era salaf. Inilah kumpulan yang beriman dengan sebahagian dan kufur dengan sebahagian kitab. Usuluddin mereka pincang dan tassauf mereka tolak natijahnya mereka menjadi golongan keras dan tiada kesusilaan

    Ayo ikhwan Wahhabi yang mencari kebeneran lembutkanlah hati kalian dan banyakkan zikir serta solawat juga rajin2lah bertahajjud semoga Allah membuka hijab. Ingatlah dunia bukanlah tempat penyudahnya tetapi akhirat jua tempatnya.

    @puput
    Ane katakan bukan situs tidak mendidik tapi ente tidak terdidik. Segeralah membuat diri ente terdidik sebelum pupus.

  14. @Ustadz Ahmad Syahid
    Tolong beri penjelasan tentang bantahan dari Sdr Firanda soal Habib Mundzir.
    Kami Tunggu, kasihan orang awam akan banyak yang tertipu. Yang mereka tahu mungkin hanya kulitnya saja. Syukron.
    Oh ya jujur, koment di Firanda.Com kok gak muncul ya.
    Sekali lagi Terima kasih buat admin Ummati.

  15. Ini merupakan kedustaan Abu Salafy terhadap Ali Bin Abi Tholib radhiallahu โ€˜anhu. Hal ini akan jelas dari beberapa sisi:

    Pertama: Sesungguhnya atsar ini dibawakan oleh orang-orang Syiโ€™ah Rofidoh dalam buku-buku mereka tanpa ada sanad sama sekali. Diantaranya dalam kitab mereka Al-Kaafi (karya Al-Kulaini). Al-Kulaini berkata:

    ูˆูŽ ุฑููˆููŠูŽ ุฃูŽู†ูŽู‘ู‡ู ุณูุฆูู„ูŽ ( ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ) ุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุฑูŽุจูู‘ู†ูŽุง ู‚ูŽุจู’ู„ูŽ ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽุฎู’ู„ูู‚ูŽ ุณูŽู…ูŽุงุกู‹ ูˆูŽ ุฃูŽุฑู’ุถุงู‹ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ( ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุณู„ุงู… ) ุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ุณูุคูŽุงู„ูŒ ุนูŽู†ู’ ู…ูŽูƒูŽุงู†ู ูˆูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽ ู„ูŽุง ู…ูŽูƒูŽุงู†ูŽ

    Dan diriwayatkan bahwasanya Ali bin Abi Tholib โ€˜alaihis salam ditanya : Dimanakah Robb kami sebelum menciptakan langit dan bumi?, maka Ali bin Abi Tholib โ€˜alaihis salaam berkata, โ€œMana pertanyaan tentang tempat?! padahal Allah dahulu tanpa ada tempat (Al-Kaafi 1/90 dalam ุจูŽุงุจู ุงู„ู’ูƒูŽูˆู’ู†ู ูˆูŽ ุงู„ู’ู…ูŽูƒูŽุงู†ู)

    Ternyata memang aqidah orang-orang Asyaaโ€™iroh semisal Abu salafy dan pemilik blog salafytobat cocok dengan aqidah orang-orang Syiโ€™ah Rofidhoh dalam masalah di mana Allah. Karena memang orang-orang Rofidhoh beraqidah muโ€™tazilah, dan Asyaโ€™iroh dalam masalah di mana Allah sepakat dengan Muโ€™tazilah (padahal Muโ€™tazilah adalah musuh bebuyutan Asyaโ€™iroh, sebagaimana nanti akan datang penjelasannya).

    Atsar ini dibawakan oleh Al-Kulaini dengan tanpa sanad, bahkan dengan sighoh โ€œDiriwayatkanโ€ yang menunjukan lemahnya riwayat ini.

    Aneh, wong yang dinukil adalah atsar yang diriwayatkan Abu Nu’aim, yang jelas-jelas Sunni, dalam Al Hilyah, koq dibelokkan ke Al Kafi? Apa gak liat dia kalau matannya berbeda? Dalam Al Hilyah adalah: ู† ุฒุนู… ุฃู† ุฅู„ู‡ู†ุง ู…ุญุฏูˆุฏ ูู‚ุฏ ุฌู‡ู„ ุงู„ุฎุงู„ู‚ ุงู„ู…ุนุจูˆุฏ

    Artinya: Barang siapa mengira bahwa Ilah kami dibatasi, maka ia bodoh tentang Khalik yang diibadahi.

    Sedangkan dalam Al Kafi adalah: ุฃูŽูŠู’ู†ูŽ ุณูุคูŽุงู„ูŒ ุนูŽู†ู’ ู…ูŽูƒูŽุงู†ู ูˆูŽ ูƒูŽุงู†ูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽ ู„ูŽุง ู…ูŽูƒูŽุงู†ูŽ
    Artinya: โ€œMana pertanyaan tentang tempat?! padahal Allah dahulu tanpa ada tempat.”

    Yang didatangkan adalah riwayat Abu Nu’aim. Kenapa disamakan dengan riwayat dalam Al Kafi? Gak bisakah dia membedakannya?

    Seandainya sama sekalipun, jika ada hadist diriwayatkan Syia’ah kemudian ada yang diriwayatkan Sunni, gak bisa ditolak hanya karena sama. Dan yang dikaji adalah periwayatan Sunninya.

    Lah, ini dari Sunni, yang dikomentari malah periwayatan Syi’ahnya. So, gak kena sanggahannya.

    1. Itulah Mas Naka, bukti mereka tidak nyambung melulu, n dikuasai nafsu ASAL BANTAH tanpa baca dulu scra baik-baik apa yg akan dibantahnya. Hal ini juga ana lihat di blog Abul Jauzza yg ASAL BANTAH kepada Mas Dianth (kesejatian), di mana Abul Jauza kelihatan marah-marah melulu. Duuuhhhh Wahabi emang ajaib ngawurnya. ๐Ÿ˜†

  16. Fanda mengatakan:
    Ketiga : Selain riwayat-riwayat tersebut tanpa sanad ternyata Abdul Qohir Al-Baghdadi sama sekali tidak dikenal sebagai seorang Muhaddits, namun demikianlah Abu Salafy cs tetap aja nekat mengambil riwayat dari orang yang tidak dikenal sebagai Muhaddits

    Abdul Qahir Al Baghdadi, mengambil periwayatan Shahih Al Bukhari dari Muhammad bin Sinan. Mengambil periwayatan Shahih Muslim dari Yahya bin Yahya. Serta An Nasaโ€™I dari Hasan bin Ismail. Dan meriwayatkan dari beliau Imam Al Baihaqi.

    Al Hafidz Abdul Ghafir Al Farisi menyatakan,โ€Bahwa Abdul Qahir menginfakkan hartanya untuk ahli ilmu dan hadits hingga beliau miskin. Dan menguasai 17 disiplin ilmu.โ€ (Thabaqat As Syafiโ€™iyah Al Kubra, 5/133-141)

    Ante belajar apa aja sih di Madinah? Sampai meremehkan ilmu Abdul Qahir Al Baghdadi?

  17. Sebagai renungan kita bersama.
    1. Pendapat Ulama Ikutan Sepanjang Zaman Selama Lebih 14 Kurun

    Kurun Pertama Hijrah:
    Misbahul-Tafrid wa Sabahut-Tawhid al-Sahabi al-Jalil wal-Khalifatur-Rashid Sayyiduna ^Ali ibn Abi Talib radiyaLlahu ^anhu wa-karrama wajhah (w. 40 H) berkata[1]:

    ูƒุงู† โ€“ ุฃูŠ ุงู„ู„ู‡ โ€“ ูˆู„ุง ู…ูƒุงู† ูˆู‡ูˆ ุงู„ุขู† ุนู„ู‰ ู…ุง ูƒุงู†
    Maksudnya:
    “Allah ada azali, dan tempat tidak ada dan Dia sekarang dengan apa yang Dia ada (wujud-Nya azali tanpa bertempat)”. Intaha.

    Al-Tabi^i al-Jalil al-Imam Zaynul-^Abidin ^Ali ibn al-Husayn radiyaLlahu ^anhuma (w. 94 H) berkata dalam kitabnya al-Sahifatus-Sajjadiyyah[2]:

    ุฃู†ุช ุงู„ู„ู‡ ุงู„ุฐูŠ ู„ุง ูŠุญูˆูŠูƒ ู…ูƒุงู†
    Maksudnya:
    “Engkaulah Allah yang tidak diliputi oleh suatu tempat pun”. Intaha. [Dinaqalkan oleh al-Hafiz Muhammad Murtada al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil-Muttaqin]

    Kurun Kedua Hijrah:
    Al-Imam Ja^far al-Sadiq radiyaLlahu ^anhu (w. 148 H) berkata[3]:

    ู…ู† ุฒุนู… ุฃู† ุงู„ู„ู‡ ููŠ ุดูŠุก ุฃูˆ ู…ู† ุดูŠุก ุฃูˆ ุนู„ู‰ ุดูŠุก ูู‚ุฏ ุฃุดุฑูƒ ุฅุฐ ู„ูˆ ูƒุงู† ุนู„ู‰ ุดูŠุก ู„ูƒุงู† ู…ุญู…ูˆู„ุงู‹ ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ููŠ ุดูŠุก ู„ูƒุงู† ู…ุญุตูˆุฑู‹ุง ูˆู„ูˆ ูƒุงู† ู…ู† ุดูŠุก ู„ูƒุงู† ู…ูุญุฏูŽุซู‹ุง โ€“ ุฃูŠ ู…ุฎู„ูˆู‚ู‹ุง โ€“
    Maksudnya:
    “Barangsiapa menyangka bahawa Allah itu berada di dalam sesuatu atau daripada sesuatu atau di atas sesuatu maka sesungguhnya dia telah syirik. Ini kerana jika Dia ada di atas sesuatu nescaya Dia menjadi suatu yang ditanggung, jika Dia di dalam sesuatu nescaya Dia menjadi suatu yang terbatas, dan jika Dia daripada sesuatu nescaya Dia menjadi suatu yang baharu โ€“ iaitu makhluk (yang diciptakan) โ€“ “. Intaha. [Disebut oleh al-Qushayri di dalam kitabnya al-Risalah al-Qushayriyyahi]

    Al-Imam al-Mujtahid Abu Hanifah al-Nu^man ibn Thabit radiyaLlahu ^anhu (w. 150 H) berkata dalam kitabnya al-Fiqhul-Absat[4]:

    ูƒุงู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆู„ุง ู…ูƒุงู† ู‚ุจู„ ุฃู† ูŠุฎู„ู‚ ุงู„ุฎู„ู‚ ูˆูƒุงู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูˆู„ู… ูŠูƒู† ุฃูŽูŠู’ู†ูŒ ูˆู„ุง ุฎูŽู„ู’ู‚ูŒ ูˆู„ุง ุดูŠุก ูˆู‡ูˆ ุฎุงู„ู‚ ูƒู„ ุดูŠุก
    Maksudnya:
    “Allah taala itu ada (azali) dan tempat tidak ada pun sebelum Dia mencipta makhluk. Dan Allah taala itu ada (azali) dan suatu tempat pun tidak ada dan suatu makhluk yang lain pun tidak ada, dan Dia pencipta segala sesuatu”. Intaha.

    Kurun Ketiga Hijrah:
    Al-Imam al-Mujtahid Muhammad ibn Idris al-Shafi^i radiyaLlahu ^anhu (w. 203 H) berkata[5]:

    ุฅู†ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ูƒุงู† ูˆู„ุง ู…ูƒุงู† ูุฎู„ู‚ ุงู„ู…ูƒุงู† ูˆู‡ูˆ ุนู„ู‰ ุตูุฉ ุงู„ุฃุฒู„ูŠุฉ ูƒู…ุง ูƒุงู† ู‚ุจู„ ุฎู„ู‚ู‡ ุงู„ู…ูƒุงู†ูŽ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุชุบูŠูŠุฑู ููŠ ุฐุงุชู‡ ูˆู„ุง ุงู„ุชุจุฏูŠู„ ููŠ ุตูุงุชู‡
    Maksudnya:
    “Sesungguhnya Dia taala ada (azali) dan suatu tempat pun tidak ada, maka Dia mencipta tempat sedangkan Dia di atas sifat keazalian sebagaimana Dia ada (azali) sebelum Dia mencipta tempat. Perubahan tidak harus (pada akal) berlaku ke atas-Nya pada zat-Nya dan tidak juga penukaran pada sifat-Nya”.Intaha. [Dinaqalkan oleh al-Hafiz Muhammad Murtada al-Zabidi dalam kitabnya Ithaf al-Sadatil-Muttaqin]

    Al-Imam al-Mujtahid Ahmad ibn Hanbal radiyaLlahu ^anhu (w. 231 H) tidak berpendapat bahawa Allah ada dengan arah sebagaimana dinaqalkan oleh al-Imam al-Hafiz Ibn al-Jawzi al-Hanbali (w. 597 H) dalam kitabnya al-Bazul-Ashhab[6] dan oleh al-Qadi Badrud-Din Muhammad ibn Jama^ah (w. 833 H) dalam kitabnya Idah al-Dalil[7].

    Kurun Keempat Hijrah:
    Al-Imam al-Faqih Abu Ja^far al-Tahawi radiyaLlahu ^anhu (w. 321 H) dalam risalahnya al-^Aqidatut-Tahawiyyah[8]:

    ูˆุชุนุงู„ู‰ โ€“ ุฃูŠ ุงู„ู„ู‡ โ€“ ุนู† ุงู„ุญุฏูˆุฏ ูˆุงู„ุบุงูŠุงุช ูˆุงู„ุฃุฑูƒุงู† ูˆุงู„ุฃุนุถุงุก ูˆุงู„ุฃุฏูˆุงุช ู„ุง ุชุญูˆูŠู‡ ุงู„ุฌู‡ุงุชู ุงู„ุณูุชู‘ู ูƒุณุงุฆุฑ ุงู„ู…ุจุชูŽุฏูŽุนุงุช
    Maksudnya:
    “Allah Maha Suci dari batasan, sakatan, sudut, anggota besar dan anggota kecil sedangkan Dia tidak diliputi oleh arah yang enam seperti sekalian makhluk”. Intaha.

    Al-Hafiz Muhammad ibn Hibban radiyaLlahu ^anhu (w. 354 H) dalam kitabnya yang masyhur Sahih Ibn Hibban[9]:

    ูƒุงู† โ€“ ุงู„ู„ู‡ โ€“ ูˆู„ุง ุฒู…ุงู† ูˆู„ุง ู…ูƒุงู†
    Maksudnya:
    “Allah ada (azali), sedangkan masa tidak ada dan tempat juga tidak ada”. Intaha.

    Kurun Kelima Hijrah:
    Al-Imam Abu Bakr Muhammad ibn al-Hasan yang dikenali dengan panggilan Ibn Furak radiyaLlahu ^anhu (w. 406 H) berkata dalam kitabnya Mushkilul-Hadith[10]:
    ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุนู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุงู„ุญู„ูˆู„ ููŠ ุงู„ุฃู…ุงูƒู† ู„ุงุณุชุญุงู„ุฉ ูƒูˆู†ู‡ ู…ุญุฏูˆุฏู‹ุง ูˆู…ุชู†ุงู‡ูŠู‹ุง ูˆุฐู„ูƒ ู„ุงุณุชุญุงู„ุฉ ูƒูˆู†ู‡ ู…ูุญุฏูŽุซู‹ุง
    Maksudnya:
    “(Sifat) mendiami tempat itu tidak harus (pada akal) berlaku ke atas Allah taala kerana kemustahilan keadaan-Nya itu terbatas dan berpenghujung, dan itu kerana kemustahilan keadaan-Nya itu baharu”. Intaha.

    Al-Faqih al-Imam al-Shaykh Abu Ishaq al-Shirazi al-Shafi^i (w. 476 H) berkata dalam kitabnya al-Isharah ila Madhhab Ahlil-Haqq[11]:

    ุฅู†ู‡ โ€“ ุฃูŠ ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ โ€“ ูƒุงู† ูˆู„ุง ู…ูƒุงู† ุซู… ุฎู„ู‚ ุงู„ู…ูƒุงู† ูˆู‡ูˆ ุงู„ุขู† ุนู„ู‰ ู…ุง ุนู„ูŠู‡ ูƒุงู†
    Maksudnya:
    “Sesungguhnya Allah taala itu ada (azali) sedangkan suatu tempat pun tidak ada. Kemudian Dia mencipta tempat sedangkan Dia sekarang dengan apa yang telah Dia ada (azali tanpa bertempat)”. Intaha.

    Kurun Keenam Hijrah:
    Al-Shaykh Abu Hamid Muhammad ibn Muhammad al-Ghazali al-Shafi^i (w. 505 H) berkata dalam kitabnya Qawa’idul-^Aqa’id[12]:

    ุชุนุงู„ู‰ โ€“ ุฃูŠ ุงู„ู„ู‡ โ€“ ุนู† ุฃู† ูŠุญูˆูŠูŽู‡ ู…ูƒุงู†ุŒ ูƒู…ุง ุชู‚ุฏุณ ุนู† ุฃู† ูŠูŽุญูุฏู‘ูŽู‡ ุฒู…ุงู†ุŒ ุจู„ ูƒุงู† ู‚ุจู„ ุฎู„ู‚ ุงู„ุฒู…ุงู† ูˆุงู„ู…ูƒุงู† ูˆู‡ูˆ ุงู„ุขู† ุนู„ู‰ ู…ุง ุนู„ูŠู‡ ูƒุงู†
    Maksudnya:
    “Allah Maha Suci dari diliputi oleh suatu tempat pun sepertimana Dia Maha Kudus dari dibatasi oleh suatu masa pun, bahkan Dia ada (azali) sebelum penciptaan masa dan tempat sedangkan Dia sekarang dengan apa yang telah Dia ada (azali tanpa bertempat dan tanpa bermasa)”. Intaha.

    Al-Qadi Abu Bakr Ibnul-^Arabi al-Maliki al-Andalusi (w. 543 H) berkata dalam kitabnya al-Qabas fi Sharh Muwatta’ Malik ibn Anas[13]:

    ุงู„ุจุงุฑุฆ ูŠุชู‚ุฏุณ ุนู† ุฃู† ูŠูุญูŽุฏู‘ูŽ ุจุงู„ุฌู‡ุงุช ุฃูˆ ุฃู† ุชูƒุชู†ูู‡ ุงู„ุฃู‚ุทุงุฑ
    Maksudnya:
    “Al-Bari’ (Allah) Maha Kudus dari dibatasi dengan segala arah atau dilingkungi oleh segala tepian”. Intaha.

    Kurun Ketujuh Hijrah:
    Al-Mufassir Fakhrud-Din al-Razi (w. 606 H) berkata dalam kitab tafsirnya yang berjudul al-Tafsir al-Kabir[14]:

    ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: }ูˆู‡ูˆ ุงู„ุนู„ูŠ ุงู„ุนุธูŠู…{ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจูƒูˆู†ู‡ ุนู„ูŠู‹ุง ุงู„ุนู„ูˆู‘ูŽ ุจุงู„ุฌู‡ุฉ ูˆุงู„ู…ูƒุงู† ู„ู…ุง ุซุจุชุช ุงู„ุฏู„ุงู„ุฉ ุนู„ู‰ ูุณุงุฏู‡ุŒ ููˆุฌุจ ุฃู† ูŠูƒูˆู† ุงู„ู…ุฑุงุฏ ู…ู† ุงู„ุนู„ูŠ ุงู„ู…ุชุนุงู„ูŠ ุนู† ู…ุดุงุจู‡ุฉ ุงู„ู…ูู…ู’ูƒูู†ุงุช ูˆู…ู†ุงุณุจุฉ ุงู„ู…ูุญู’ุฏูŽุซุงุช
    Maksudnya:
    “Firman-Nya taala: {ูˆู‡ูˆ ุงู„ุนู„ูŠ ุงู„ุนุธูŠู…} yang mafhumnya “Dan Dialah Yang Maha Tinggi lagi Yang Maha Agung” tidak harus (pada akal) bahawa maksud keadaan-Nya Yang Maha Tinggi itu sebagai tinggi dengan makna arah dan tempat lantaran pembuktian ke atas kebatilannya telah sabit. Oleh itu, wajib (pada akal) bahawa maksud Yang Maha Tinggi itu ialah Maha Suci dari penyerupaan dengan segala mumkinat (perkara yang harus ada – makhluk – ) dan persamaan dengan muhdathat (perkara yang baharu – makhluk – )”. Intaha.

    Sultanul-^Ulama’ al-Shaykh ^Izzud-Din ibn ^Abdis-Salam (w. 660 H) berkata dalam kitabnya Mulhatul-I^tiqad berkenaan hak Allah taala[15]:

    ู„ูŠุณ ุจุฌุณู…ู ู…ุตูˆู‘ูŽุฑู ูˆู„ุงุฌูˆู‡ุฑ ู…ุญุฏูˆุฏ ู…ูู‚ูŽุฏู‘ูŽุฑู ูˆู„ุง ูŠุดุจู‡ ุดูŠุฆู‹ุง ูˆู„ุง ูŠุดุจู‡ูู‡ ุดูŠุก ูˆู„ุง ุชุญูŠุท ุจู‡ ุงู„ุฌู‡ุงุช ูˆู„ุง ุชูƒุชู†ูู‡ ุงู„ุฃุฑูŽุถูˆู† ูˆู„ุง ุงู„ุณู…ุงูˆุงุช ูƒุงู† ู‚ุจู„ ุฃู† ูƒูˆู‘ู† ุงู„ุฃูƒูˆุงู†ุŒ ูˆุฏุจุฑ ุงู„ุฒู…ุงู† ูˆู‡ูˆ ุงู„ุขู† ุนู„ู‰ ู…ุง ุนู„ูŠู‡ ูƒุงู†
    Maksudnya:
    “(Allah) bukanlah suatu jisim yang memang boleh digambarkan dan bukan suatu jauhar yang memang dapat dibataskan dan diukur. Dan Dia tidak menyerupai sesuatu dan tiada suatu pun yang boleh menyerupai-Nya. Dan Dia tidak diliputi oleh segala arah dan tidak lingkungi oleh segala bumi dan segala langit sedangkan Dia ada (azali) sebelum Dia mengadakan segala makhluk. Dan Dia mentadbir masa sedangkan Dia sekarang dengan apa yang telah Dia ada (azali tanpa berhajat kepada tempat, masa dan sekalian makhluk)”. Intaha.

    Kurun Kelapan Hijrah:
    Al-Qadi Badrud-Din Muhammad ibn Ibrahim yang dikenali dengan nama Ibn Jama^ah al-Shafi^i (w. 733 H) dalam kitabnya Idahud-Dalil[16]:

    ูƒุงู† ุงู„ู„ู‡ ูˆู„ุง ุฒู…ุงู† ูˆู„ุง ู…ูƒุงู† ูˆู‡ูˆ ุงู„ุขู† ุนู„ู‰ ู…ุง ุนู„ูŠู‡ ูƒุงู†
    Maksudnya:
    “Allah ada (azali), dan suatu masa pun tidak ada dan suatu tempat pun juga tidak ada sedangkan Dia sekarang dengan apa yang telah Dia ada (azali tanpa bertempat dan tanpa bermasa)”. Intaha.

    Al-Mufassir al-Muqri’ al-Nahwi Muhammad ibn Yusuf yang dikenali dengan nama Abu Hayyan al-Andalusi (w. 745 H) berkata dalam kitabnya al-Bahrul-Muhit[17] ketika mentafsir ayat 19 surah al-Anbiya'[18]:

    ูˆุนู†ุฏ ู‡ู†ุง ู„ุง ูŠุฑุงุฏ ุจู‡ุง ุธุฑู ุงู„ู…ูƒุงู† ู„ุฃู†ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู…ู†ู€ุฒู‡ ุนู† ุงู„ู…ูƒุงู† ุจู„ ุงู„ู…ุนู†ู‰ ุดุฑู ุงู„ู…ูƒุงู†ุฉ ูˆุนู„ูˆ ุงู„ู…ู†ู€ุฒู„ุฉ
    Maksudnya:
    “Dan perkataan ^inda di sini tidak dikehendaki dengannya makna keadaan tempat kerana Dia taala itu disucikan dari tempat, bahkan makna (yang dikehendaki) ialah kemuliaan kedudukan dan ketinggian martabat”. Intaha.

    Kurun Kesembilan Hijrah:
    Al-Hafiz Ibn Hajar al-^Asqalani al-Shafi^i (w. 852 H) berkata dalam kitabnya Fathul-Bari[19]:

    ูˆู„ุง ูŠู„ุฒู… ู…ู† ูƒูˆู† ุฌู‡ุชูŠ ุงู„ุนู„ูˆ ูˆุงู„ุณูู„ ู…ุญุงู„ุงู‹ ุนู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุฃู† ู„ุง ูŠูˆุตู ุจุงู„ุนู„ูˆ ู„ุฃู† ูˆุตูู‡ ุจุงู„ุนู„ูˆ ู…ู† ุฌู‡ุฉ ุงู„ู…ุนู†ู‰ุŒ ูˆุงู„ู…ุณุชุญูŠู„ ูƒูˆู† ุฐู„ูƒ ู…ู† ุฌู‡ุฉ ุงู„ุญุณุŒ ูˆู„ุฐู„ูƒ ูˆุฑุฏ ููŠ ุตูุชู‡ ุงู„ุนุงู„ูŠ ูˆุงู„ุนู„ูŠู‘ ูˆุงู„ู…ุชุนุงู„ูŠ
    Maksudnya:
    “Dan tidak lazim daripada keadaan dua arah atas dan bawah yang mustahil ke atas Allah itu untuk Dia disifatkan dengan tinggi kerana pensifatan-Nya dengan tinggi dari segi makna. Dan mustahil keadaan (tinggi) itu dari segi hissi (pencerapan deria), dan oleh itu, (sifat-sifat) al-^Ali, al-^Aliyy dan al-Muta^ali telah warid dalam pensifatan-Nya”. Intaha.

    Al-Shaykh Badrud-Din Mahmud ibn Ahmad al-^Ayni al-Hanafi (w. 855 H) berkata dalam kitabnya ^Umadatul-Qari[20]:

    ุชู‚ุฑุฑ ุฃู†ู‘ ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุณ ุจุฌุณู… ูู„ุง ูŠุญุชุงุฌ ุฅู„ู‰ ู…ูƒุงู† ูŠุณุชู‚ุฑู‘ ููŠู‡ ูู‚ุฏ ูƒุงู† ูˆู„ุง ู…ูƒุงู†
    Maksudnya:
    โ€œDitetapkan bahawa Allah bukanlah suatu jisim, maka Dia tidak berhajat kepada suatu tempat yang Dia bertempat padanya, maka sesungguhnya Dia ada azali dan suatu tempat pun tidak ada (bersama dengan keazalian-Nya)โ€. Intaha.

    Kurun Kesepuluh Hijrah:
    Al-Hafiz Jalalud-Din ^Abd al-Rahman ibn Abu Bakr al-Suyuti al-Shafi^i (w. 911 H) berkata ketika menghuraikan hadis((ุฃู‚ุฑุจ ู…ุง ูŠูƒูˆู† ุงู„ุนุจุฏ ู…ู† ุฑุจู‡ ูˆู‡ูˆ ุณุงุฌุฏ)) di dalam kitabnya Sharh Sunan al-Nasaโ€™i[21]:

    ู‚ุงู„ ุงู„ู‚ุฑุทุจูŠ: ู‡ุฐุง ุฃู‚ุฑุจ ุจุงู„ุฑุชุจุฉ ูˆุงู„ูƒุฑุงู…ุฉ ู„ุง ุจุงู„ู…ุณุงูุฉ ู„ุฃู†ู‡ ู…ู†ุฒู‡ ุนู† ุงู„ู…ูƒุงู† ูˆุงู„ู…ุณุงุญุฉ ูˆุงู„ุฒู…ุงู† ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุจุฏุฑ ุจู† ุงู„ุตุงุญุจ ููŠ ุชุฐูƒุฑุชู‡: ููŠ ุงู„ุญุฏูŠุซ ุฅุดุงุฑุฉ ุฅู„ู‰ ู†ููŠ ุงู„ุฌู‡ุฉ ุนู† ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰
    Maksudnya:
    โ€œAl-Qurtubi berkata: โ€œLafaz aqrab (lebih hampir) ini dengan makna tingkatan dan kemuliaan bukannya dengan makna jarak kerana sesungguhnya Dia disucikan dari tempat, jarak dan masa. Al-Badr ibn al-Sahib berkata: โ€œDi dalam hadis tersebut ada suatu isyarat kepada penafian arah buat Allah taalaโ€. Intaha.
    Al-Shaykh Abul-^Abbas Shihabud-Din Ahmad ibn Muhammad al-Qastalani al-Misri (w. 923 H) berkata dalam kitabnya Irshadus-Sari Sharh Sahih al-Bukhari[22]:

    ุฐุงุช ุงู„ู„ู‡ ู…ู†ู€ุฒู‡ ุนู† ุงู„ู…ูƒุงู† ูˆุงู„ุฌู‡ุฉ
    Maksudnya:
    “Zat (Diri) Allah itu disucikan dari sebarang tempat dan arah”. Intaha.

    Kurun Kesebelas Hijrah:
    Al-Shaykh Mulla ^Ali al-Qari al-Hanafi (w. 1014 H) berkata dalam kitabnya al-Rawdul-Azhar fi Sharh al-Fiqhil-Akbar[23]:

    ุฃู…ุง ุนู„ูˆู‘ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ุนู„ู‰ ุฎู„ู‚ู‡ ุงู„ู…ุณุชูุงุฏ ู…ู† ู†ุญูˆ ู‚ูˆู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰: }ูˆู‡ูˆ ุงู„ู‚ู€ุงู‡ุฑ ููˆู‚ ุนุจุงุฏู‡{ (ุณูˆุฑุฉ ุงู„ุฃู†ุนุงู… – ุกุงูŠุฉ 61) ูุนู„ูˆู‘ ู…ูƒุงู†ุฉ ูˆู…ุฑุชุจุฉ ู„ุง ุนู„ูˆู‘ ู…ูƒุงู† ูƒู…ุง ู‡ูˆ ู…ู‚ุฑุฑ ุนู†ุฏ ุฃู‡ู„ ุงู„ุณู†ุฉ ูˆุงู„ุฌู…ุงุนุฉ
    Maksudnya:
    “Adapun ketinggian Allah taala ke atas ciptaan-Nya yang diambil dari seperti firman Allah taala: {ูˆู‡ูˆ ุงู„ู‚ู€ุงู‡ุฑ ููˆู‚ ุนุจุงุฏู‡} [Surah al-An^am, ayat 61], maka (makna ketinggian) ialah ketinggian kedudukan dan martabat bukannya ketinggian tempat seperti yang diakaui di sisi Ahlis-Sunnah wal-Jama^ah”. Intaha.

    Al-Muhaddith al-Shaykh Muhammad ibn ^Ali yang dikenali dengan nama Ibn ^Allan al-Siddiqi al-Shafi^i al-Ash^ari (w. 1057 H) berkata dalam kitabnya al-Futuhat al-Rabbaniyyah[24]:

    ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ููˆู‚ูŽ ูƒู„ ู…ูˆุฌูˆุฏ ู…ูƒุงู†ุฉู‹ ูˆุงุณุชูŠู„ุงุกู‹ ู„ุง ู…ูƒุงู†ู‹ุง ูˆุฌู‡ุฉู‹
    Maksudnya:
    “Sesungguhnya Allah di atas setiap yang wujud dari segi kedudukan dan penguasaan bukannya dari segi tempat dan arah”. Intaha.

    Kurun Kedua Belas Hijrah:
    Al-Shaykh Muhammad ibn ^Abd al-Baqi al-Zarqani al-Maliki (w. 1122 H) berkata dalam kitab huraiannya ke atas Muwatta’ al-Imam Malik[25]:

    ูˆู‚ุงู„ ุงู„ุจูŠุถุงูˆูŠ: ู„ู…ุง ุซุจุช ุจุงู„ู‚ูˆุงุทุน ุฃู†ู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ู…ู†ู€ุฒู‡ ุนู† ุงู„ุฌุณู…ูŠุฉ ูˆุงู„ุชุญูŠุฒ ุงู…ุชู†ุน ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู†ู€ุฒูˆู„ ุนู„ู‰ ู…ุนู†ู‰ ุงู„ุงู†ุชู‚ุงู„ ู…ู† ู…ูˆุถุน ุฅู„ู‰ ู…ูˆุถุน ุฃุฎูุถ ู…ู†ู‡
    Maksudnya:
    “Al-Baydawi berkata: “Oleh kerana telah sabit dengan dalil-dalil yang putus bahawa Allah subhanahu itu disucikan dari kejisiman dan pengambilan ruang, maka sifat turun tertahan dari (menjadi sifat-)Nya dengan makna berpindah dari suatu tempat ke suatu tempat yang lebih rendah darinya”. Intaha.

    Al-Sufi al-Zahid al-^Arif al-Shaykh ^Abdul-Ghani al-Nabulusi al-Dimashqi al-Hanafi (w. 1143 H) berkata dalam kitabnya Raโ€™ihatul-Jannah Sharh Idaโ€™atud-Dujnah[26]:

    ูุชู†ุฒู‡ ุณุจุญุงู†ู‡ ูˆุชุนุงู„ู‰ ุนู† ุฌู…ูŠุน ุงู„ุฃู…ูƒู†ุฉ ุงู„ุนู„ูˆูŠุฉ ูˆุงู„ุณูู„ูŠุฉ ูˆู…ุง ุจูŠู†ู‡ู…ุง
    Maksudnya:
    โ€œAllah subhanahu wa-ta^ala maha suci dari semua tempat yang teratas, terbawah dan suatu yang ada di antara tempat yang teratas dan yang terbawahโ€. Intaha.

    Kurun Ketiga Belas Hijrah:
    Al-Shaykh Muhaddith Bayrut Muhammad ibn Darwish al-Hut al-Husayni al-Sharif al-Shafi^i (w. 1279 H) berkata dalam kitabnya Rasaโ€™il fi Bayan ^Aqaโ€™id Ahlis-Sunnah wal-Jama^ah[27]:

    ูˆู„ุง ูŠุฏุฎู„ ููŠ ูˆุฌูˆุฏู‡ – ุชุนุงู„ู‰ – ุฒู…ุงู† ูˆู„ุง ู…ูƒุงู† ูุฅู†ู‡ ุงู„ุณุงุจู‚ ุนู„ู‰ ุงู„ุฒู…ุงู† ูˆุงู„ู…ูƒุงู†
    Maksudnya:
    โ€œDan tiada suatu masa pun dan tiada suatu tempat pun masuk dalam kewujudan Allah taala kerana sesungguhnya Dia terdahulu (azali) sebelum sebarang masa dan tempatโ€. Intaha.

    Al-Shaykh ^Abdul-Ghani al-Ghanimi al-Maydani al-Hanafi al-Dimashqi (w. 1298 H) berkata dalam kitabnya Sharh al- ^Aqidah al-Tahawiyyah[28]:

    ูˆุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰ ู„ูŠุณ ุจุฌุณู… ูู„ูŠุณุช ุฑุคูŠุชู‡ ูƒุฑุคูŠุฉ ุงู„ุฃุฌุณุงู… ูุฅู† ุงู„ุฑุคูŠุฉ ุชุงุจุนุฉ ู„ู„ุดูŠุก ุนู„ู‰ ู…ุง ู‡ูˆ ุนู„ูŠู‡ุŒ ูู…ู† ูƒุงู† ููŠ ู…ูƒุงู† ูˆุฌู‡ุฉ ู„ุง ูŠูุฑู‰ ุฅู„ุง ููŠ ู…ูƒุงู† ูˆุฌู‡ุฉ ูƒู…ุง ู‡ูˆ ูƒุฐู„ูƒุŒ ูˆูŠูุฑู‰ ุฃูŠ ุงู„ู…ุฎู„ูˆู‚ู ุจู…ู‚ุงุจู„ุฉ ูˆุงุชุตุงู„ู ุดุนุงุน ูˆุซุจูˆุช ู…ุณุงูุฉุŒ ูˆู…ู† ู„ู… ูŠูƒู† ููŠ ู…ูƒุงู† ูˆู„ุง ุฌู‡ุฉู ูˆู„ูŠุณ ุจุฌุณู… ูุฑุคูŠุชูู‡ ูƒุฐู„ูƒ ู„ูŠุณ ููŠ ู…ูƒุงู† ูˆู„ุง ุฌู‡ุฉ
    Maksudnya:
    “Dan Allah taala itu bukanlah suatu jisim. Oleh itu, maka melihat-Nya bukanlah seperti melihat segala jisim. Ini kerana sesungguhnya perbuatan melihat adalah kesudahan bagi sesuatu berdasarkan keadaan sesuatu tersebut. Maka barangsiapa yang ada di suatu tempat dan arah tidak dilihat melainkan di suatu tempat dan suatu arah seperti begitulah. Makhluk dilihat dengan cara berdepan, bersambungnya suatu pancaran cahaya dan tetapya suatu jarak. Oleh itu, sesiapa yang tidak ada di suatu tempat, tidak juga di suatu arah dan tidak berjisim, maka demikian juga melihatnya tidaklah di suatu tempat dan tidak juga di suatu arah”. Intaha.
    Kurun Keempat Belas Hijrah:
    Al-Shaykh ^Abdul-Majid al-Sharnubi al-Azhari (w. 1348 H) ketika menghuraikan kitab Ta’iyyah al-Suluk[29]:

    ูู‡ูˆ ุณุจุญุงู†ู‡ ู„ุง ูŠูŽุญูุฏู‡ ุฒู…ุงู† ูˆู„ุง ูŠุญู…ู„ู‡ ู…ูƒุงู† ุจู„ ูƒุงู† ูˆู„ุง ู…ูƒุงู† ูˆู„ุง ุฒู…ุงู† ูˆู‡ูˆ ุงู„ุขู† ุนู„ู‰ ู…ุง ุนู„ูŠู‡ ูƒุงู†
    Maksudnya:
    “Maka Allah subhanhu tidak dibatasi oleh suatu masa dan tidak ditanggung oleh suatu tempat, bahkan Dia ada (azali) dan suatu tempat pun tidak ada dan suatu masa pun tidak ada, sedangkan Dia sekarang dengan apa yang telah Dia ada (wujud-Nya azali tanpa bertempat dan tanpa bermasa)”. Intaha.

    Al-Shaykh Salamah al-Quda^i al-^Azzami al-Shafi^i (w. 1376 H) dalam kitabnya Furqanul-Qur’an[30]:

    ุฃุฌู…ุน ุฃู‡ู„ ุงู„ุญู‚ ู…ู† ุนู„ู…ุงุก ุงู„ุณู„ู ูˆุงู„ุฎู„ู ุนู„ู‰ ุชูŽู†ู€ุฒู‘ูู‡ู ุงู„ุญู‚ ุณุจุญุงู†ู‡ ุนู† ุงู„ุฌู‡ุฉ ูˆุชู‚ุฏู‘ุณู‡ ุนู† ุงู„ู…ูƒุงู†
    Maksudnya:
    “Ahlul-Haqq (Ahlis-Sunnah wal-Jama^ah) dari kalangan ulama Salaf dan Khalaf berijmak di atas mensucikan al-Haqq (Allah) dari arah dan mengkuduskan-Nya dari tempat”. Intaha.

    Kurun Kelima Belas Hijrah:
    Muhaddith al-Diyar al-Maghribiyyah al-Shaykh ^AbduLlah ibn Muhammad al-Siddiqi al-Ghummari (w. 1413 H) dalam kitabnya ^Aqidah Ahlil-Islam[31]:

    ู‚ุงู„ ุงู„ู†ูŠุณุงุจูˆุฑูŠ ููŠ ุชูุณูŠุฑู‡: ุฃู…ุง ู‚ูˆู„ู‡}ูˆุฑุงูุนูƒ ุฅู„ูŠู‘{ (ุณูˆุฑุฉ ุกุงู„ ุนู…ุฑุงู† – ุกุงูŠุฉ 55) ูุงู„ู…ุดุจู‡ุฉ ุชู…ุณูƒูˆุง ุจู…ุซู„ู‡ ููŠ ุฅุซุจุงุช ุงู„ู…ูƒุงู† ู„ู„ู‡ ูˆุฃู†ู‡ ููŠ ุงู„ุณู…ุงุก ู„ูƒู†ู‘ ุงู„ุฏู„ุงุฆู„ ุงู„ู‚ุงุทุนุฉ ุฏู„ู‘ุช ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู…ุชุนุงู„ู ุนู† ุงู„ุญูŠุฒ ูˆุงู„ุฌู‡ุฉ ููˆุฌุจ ุญู…ู„ ู‡ุฐุง ุงู„ุธุงู‡ุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ุชุฃูˆูŠู„ ุจุฃู†ู‘ ุงู„ู…ุฑุงุฏ: ุฅู„ู‰ ู…ุญู„ู‘ ูƒุฑุงู…ุชูŠ
    Maksudnya:
    “Al-Naysaburi berkata dalam tafsirnya: โ€œAdapun firman Allah {ูˆุฑุงูุนูƒ ุฅู„ูŠู‘}[surah Al ^Imran, ayat 55] maka golongan al-Mushabbihah berpegang dengan semisal firman ini dalam menetapkan tempat bagi Allah dan bahawa Dia di langit, tetapi dalil-dalil yang putus menunjukkan bahawa sesungguhnya Dia maha suci dari ruang dan arah, maka wajib membawa (makna) zahir ini berdasarkan takwil bahawa maksudnya: โ€œke tempat kemuliaan-Kuโ€. Intaha.

    Al-^Allamah al-Faqih al-Muhaddith al-Hafiz al-Shaykh ^AbduLlah al-Harari yang dikenali dengan panggilan al-Habashi (w. 1429 H) berkata dalam kitabnya Izharul-^Aqidah al-Sunniyyah[32]:

    ู‚ุงู„ ุฃู‡ู„ ุงู„ุญู‚ ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ู„ูŠุณ ุจู…ุชู…ูŽูƒูู‘ู† ููŠ ู…ูƒุงู† ุฃูŠ ู„ุง ูŠุฌูˆุฒ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ู…ู…ุงุณุฉ ู„ู„ู…ูƒุงู† ูˆุงู„ุงุณุชู‚ุฑุงุฑ ุนู„ูŠู‡
    Maksudnya:
    “Ahlul-Haqq (Ahlis-Sunnah wal-Jama^ah) berkata sesungguhnya Allah bukanlah bertempat di suatu tempat iaitu tidak boleh berlaku ke atas-Nya perlakuan menyentuh tempat dan menetap di atasnya”. Intaha.
    Bahkan ramai lagi para ulama Ahlis-Sunnah wal-Jama^ah daripada pelbagai bangsa dan bahasa yang menyatakan dalam kitab-kitab mereka bahawa Allah ada tanpa bertempat. WaLlahu a^lam.

    1. Firanda Bicara:

      4- Dari penjelasan di atas, maka jika Ahlus Sunnah mengatakan bahwa Allah di jihah (di arah) atas maka bukanlah maksudnya Allah berada di suatu tempat yang merupakan makhluk. Akan tetepi Allah berada di luar alam, dan berada di arah atas alam. Dan jihah tersebut bukanlah jihah yang berwujud akan tetapi jihah yang tidak berwujud karena di luar alam. (lihat penjelasan Ibnu Rusyd Al-Hafiid dalam kitabnya Al-Kasyf โ€˜an Manhaj Al-Adillah hal 145-147)

      Firanda mulai bermain-main dengan ilmu kalam bathil untuk membela akidahnya. Ok, akan kita uji:

      Dari penjelasan di atas, maka jika Ahlus Sunnah mengatakan bahwa Allah di jihah (di arah) atas maka bukanlah maksudnya Allah berada di suatu tempat yang merupakan makhluk

      Ok, berarti Firanda mengakui bahwa Allah tidak mungkin berada di langit. Karena langit itu merupakan makhluknya. Tidak mungkin Allah berada di dalam makhluk ciptaan-Nya sendiri, karena ini merupakan akidah hulul.

      Namun, ia masih mempertahankan aqidah batilnya bahwa Allah berada di satu tempat, yang ia katakan bahwa tempat itu bukan makhluknya untuk lari dari dakwaan akidah hulul, padahal tetap tidak bisa:

      Akan tetepi Allah berada di luar alam, dan berada di arah atas alam. Dan jihah tersebut bukanlah jihah yang berwujud akan tetapi jihah yang tidak berwujud karena di luar alam

      Ok, bararti di sini menurut dia ada alam ada juga luar alam. Dia menolak Allah ada di alam karena hal ini menyebabkan hulul, akhirnya ia larikan ke luar alam.

      Luar alam bisa membebaskan dari hulul jika luar alam itu bukan makluk. Nah, kalau luar alam bukan makhluk (ciptaan) trus siapa yang mengadakannya????? Kalau ia ada tanpa ada yang mengadakan, maka ini adalah keyakinan syirik! Karena yang memiliki sifat itu hanyalah sang Khalik.
      Di sini Firanda kagak bisa lari kemana-mana sekarang. Antar akidah hulul dan syirik.

      Dan jihah tersebut bukanlah jihah yang berwujud akan tetapi jihah yang tidak berwujud karena di luar

      Lah kalau jihah itu tidak berwujud yang memang gak ada jihah!!! Lah ngapain ente mempromosikan akidah jihah yang memang gak ada eksistensinya!

      Ilmu kalam yang seperti inilah yang bid’ah yang harus dihadapi ilmu kalam Asyairah Ahlu Sunnah waljama’ah.

  18. ust…padahal saya dari kecil berkeyakinan Alloh di atas, sejak kecil saya berdoa kepada Alloh menengadahkan tangan saya ke atas…apakah keyakinan saya sejak kecil salah padahal ini merupkan fithroh tiap manusia?

    kalo Alloh tidak di atas, tidak di bawah, tidak di alam, tidak di luar alam, tidak bertempat…ini seperti sifat sesuatu yang tidak ada…apa dalilnya Alloh tidak diatas, tidak di bawah, tidak di alam, tidak diluar alam, tidak bertempat? klo hanya berdalil dengan ayat yang menyatakan bahwa Alloh tidak serupa dengan makhluk…itu belum buat hati saya tenang karena untuk mencapai kesimpulan Alloh tidak bertempat didahului teori-teori rumit hasil pikiran manusia yang notabene belum tentu benar…kan ini berhubungan dengan perkara yang ghoib, yang ilmu manusia tidak mungkin bisa meliputi Alloh yang Maha Besar..jadi menurut saya, dalilnya hanya aqli semata…belum memuaskan ustadz…

  19. @asnan, ini pembahasan rana tasawuf, ini pembahasan yg sgt tinggi, ana sarankan perlu belajar dengan seorang guru,,,

    Sifat-Sifat Allah (Tafsir QS. al-Ikhlas)

    Dalam sebuah hadits riwayat al-Hafizh al-Baihaqi dari sahabat โ€˜Abdullah ibn โ€˜Abbas bahwa segolongan kaum Yahudi datang kepada Rasulullah. Mereka berkata: โ€œWahai Muhammad, beritahukan kepada kami sifat Tuhanmu yang engkau sembah!โ€. Mereka bertanya bukan karena ingin mengetahui hal sebenarnya atau ingin memperoleh petunjuk, tapi hanya sekedar ingin mengingkari lalu mengolok-oloknya. Kemudian turunlah QS. al-Ikhlas ayat 1 hingga ayat 4. Rasulullah bersabda: โ€œInilah sifat Tuhankuโ€.

    Surat al-Ikhlas ini turun sebagi jawaban atas pertanyaan orang-orang Yahudi tersebut. Meskipun hanya terdiri dari empat ayat yang pendek namun mengandung makna yang sangat luas dan mendalam dalam ketauhidan Allah.
    Ayat pertama merupakan ikrar dan penegasan bahwa tidak ada sekutu bagi Allah. Artinya tidak ada keserupaan bagi-Nya. Dia Maha Esa pada dzat-Nnya. Makna โ€œDzat Allahโ€ artinya โ€œhakikat Allahโ€. Makna โ€œDzatโ€ di sini bukan dalam pengertian bentuk atau benda. Pengertian bahwa Dzat Allah Esa ialah bahwa Dzat Allah tidak menyerupai dzat-dzat makhluk-Nya. Karena Dzat Allah azali; ada tanpa permulaan, sedangkan dzat-dzat selain-Nya baharu; memiliki permulaan, yaitu ada dari tidak ada. Oleh karena itu, Allah mensifati dzat-Nya sendiri dalam al-Qurโ€™an dengan firman-Nya:

    ู‡ููˆูŽ ุงู„ุฃูˆู‘ูŽู„ู (ุงู„ุญุฏูŠุฏ:4)
    โ€œHanya Dia (Allah) al-Awwal (ada tanpa permulaan)โ€. (QS. al-Hadid: 4)

    Kemudian Allah maha Esa pada Sifat-Sifat-Nya. Artinya bahwa sifat-sifat Allah tidak menyerupai sifat-sifat makhluk-Nya. Allah berfirman:

    ูˆูŽู„ู„ู‡ู ุงู„ู…ูŽุซูŽู„ู ุงู„ุฃุนู’ู„ูŽู‰ (ุงู„ู†ุญู„:6)
    โ€œDan bagi Allah sifat-sifat yang tidak menyerupai sifat selain-Nyaโ€.(QS. an-Nahl: 6)

    Sebagaimana kita wajib meyakini bahwa Dzat Allah Azali; tidak bermula, maka demikian pula dengan semua Sifat-Sifat-Nya, kita wajib meyakini itu semua Azali. Karena mustahil bila ada dzat yang qadim dan azali, sementara sifat-sifat-nya baharu. Karena adanya sifat yang baharu pada suatu dzat menunjukkan bahwa dzat tersebut juga baharu. Dengan demikian mustahil bagi Allah mempunyai sifat-sifat yang baharu. Bila sifat-sifat manusia setiap saat dapat mengalami perubahan, maka tidak demikian halnya dengan sifat-sifat Allah. Dia tidak mengalami perubahan atau perkembangan, tidak bertambah atau berkurang.

    Kemudian Allah Maha Esa pada perbuatan-Nya. Artinya, tidak ada dzat yang dapat menciptakan sesuatu dari โ€œtidak adaโ€ menjadi โ€œadaโ€ kecuali Allah saja. Hanya Allah pencipta segala sesuatu. Dia pencipta kebaikan dan kejahatan, keimanan dan kekufuran, ketaโ€™atan dan kemaksiatan. Dia pencipta semua benda, mulai dari benda terkecil, yaitu dzarrah; (Ialah benda yang berterbangan terlihat oleh mata dalam sinar matahari), hingga benda yang paling besar, yaitu โ€˜arsy. Dia pencipta segala perbuatan manusia, baik perbuatan yang mengandung unsur ikhtiar (al-Afโ€™al al-Ikhtiyariyyah), seperti makan, minum, dan lainnya, ataupun perbuatan yang tidak mengandung unsur ikhtiar (al-Afโ€™al al-Idlthirariyyah), seperti detak jantung, rasa takut, dan lainnya. Inilah makna yang tersirat dalam firman Allah:

    ู‚ูู„ู’ ุฅู†ู‘ูŽ ุตูŽู„ุงูŽุชููŠ ูˆูŽู†ูุณููƒููŠ ูˆูŽู…ูŽุญู’ูŠูŽุงูŠูŽ ูˆูŽู…ูŽู…ูŽุงุชููŠ ู„ู„ู‡ู ุฑูŽุจู‘ู ุงู„ุนูŽุงู„ูŽู…ููŠู’ู†ูŽ (ุงู„ุฃู†ุนุงู…:152)
    โ€œKatakanlah (Wahai Muhammad): Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah milik Allah, Tuhan seluruh alamโ€.(QS. al-Anโ€™am:162)

    Shalat dan ibadah adalah dua diantara perbuatan-perbuatan yang mengandung unsur usaha, ikhtiar dan kehendak dari manusia. Sedangkan hidup dan mati adalah sesuatu yang terjadi di luar kehendak manusia, keduanya hanya menjadi wewenang dan kehendak Allah. Dalam doa tersebut ditegaskan bahwa shalat dan ibadah, serta hidup dan mati, pada hakikatnya adalah milik Allah dan hanya dicitakan hanya oleh Allah saja.

    Ayat kedua dari surat QS. al-Ikhas di atas mengandung makna bahwa Allah Maha Kuasa atas seluruh alam ini. Dia tidak membutuhkan kepada sesuatu apapun dari makhluk-Nya. Sebaliknya, seluruh makhluk-Nya selalu membutuhkan kepada-Nya. Allah tidak mengambil manfaat sedikitpun dari perbuatan-perbuatan makhluk-Nya, dan mereka sedikitpun tidak dapat mencelakakan-Nya atau membuat madlarat terhadap-Nya. Seandainya seluruh makhluk ini taโ€™at kepada Allah, maka hal tersebut tidak akan menambah kekuasaan-Nya dan kemuliaan-Nya sedikitpun. Demikian pula bila seluruh makhluk berbuat maksiat kepada-Nya, maka hal itu tidak akan mengurangi kekuasaan dan keagungan Allah sedikitpun.
    Allah menciptakan para Malaikat bukan untuk mendapatkan bantuan dari mereka. Demikian pula Ia menciptakan โ€˜arsy bukan untuk menjadikan tempat bagi dzat-Nya, tetapi untuk menampakkan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya. Tentang hal ini al-Imam โ€˜Ali ibn Abi Thalib berkata:

    ุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ุฎูŽู„ูŽู‚ูŽ ุงู„ุนูŽุฑู’ุดูŽ ุฅุธู’ู‡ูŽุงุฑู‹ุง ู„ูู‚ูุฏู’ุฑูŽุชูู‡ู ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุชู‘ูŽุฎูุฐู’ู‡ู ู…ูŽูƒูŽุงู†ู‹ุง ู„ูุฐูŽุงุชูู‡ู (ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุฃุจููˆ ู…ูŽู†ุตููˆุฑ ุงู„ุจูŽุบุฏูŽุงุฏูŠู‘ ูููŠ ุงู„ููŽุฑู’ู‚ู ุจูŽูŠู’ู†ูŽ ุงู„ููุฑูŽู‚)
    โ€œSesungguhnya Allah menciptakan โ€˜arsy untuk menunjukkan kekuasaan-Nya dan bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nyaโ€. (Diriwayatkan oleh Abu Manshur al-Baghdadi dalam al-Farq Bain al-Firq)[1].

    Ayat ketiga dari QS. al-Ikhlash memberikan penjelasan dalam penafian, peniadaan dan pengingkaran terhadap keyakinan yang menyebutkan bahwa Allah sebagai benda (Jism). Juga bantahan terhadap keyakinan bahwa Allah mempunyai bagian-bagian yang terpisah-pisah dari-Nya. Sekaligus, penjelasan dalam menafikan bahwa Allah sebagai bagian dari sesuatu yang lain.

    Dalam ayat ke tiga ini secara jelas dinyatakan bahwa Allah bukan sebagai โ€œasalโ€ atau โ€œbahanโ€ (Walid) bagi sesuatu, dan juga bukan โ€œcabangโ€ (Walad) dari sesuatu yang lain. Ayat ini berisi bantahan terhadap doktrin trinitas yang diyakini orang-orang Nasrani. Doktrin yang menyatakan ada tiga unsur ketuhanan yang kesemuanya kembali pada unsur yang tunggal. Ayat ini juga merupakan bantahan terhadap keyakinan atau doktrin orang-orang Majusi yang menyatakan bahwa tuhan ada dua, yaitu tuhan kebaikan dan tuhan keburukan.

    Faham serupa yang tak kalah sesatnya adalah faham yang dianut oleh segolongan orang yang terlena dalam kebodohannya (al-maghrurun). Mereka menganggap bahwa diri mereka adalah kaum Sufi yang telah mencapai derajat โ€œtinggiโ€. Padahal keyakinan mereka bertentangan dengan ajaran kaum Sufi sejati sendiri. Mereka berkeyakinan bahwa keseluruhan alam ini adalah sebagai Dzat Allah. Dan setiap komponen-komponen yang ada di dalam alam ini adalah bagian-bagian dari Dzat Allah. Keyakinan mereka ini dikenal dengan nama akidah Wahdah al-Wujud. Mereka menganggap bahwa manusia, hewan, Malaikat, tumbuh-tumbuhan, benda mati dan lain sebagainya adalah bagian dari Dzat Allah.

    Faham semacam ini telah berkembang di sebagaian kalangan yang mengaku sebagai pengikut tarekat dan pengamal โ€œshalawatโ€ yang menyimpang. Keyakinan Wahdah al-Wujud ini lebih sesat dari pada kekufuran orang-orang Nasrani dan Majusi. Kaum Nasrani berkeyakinan ada tiga tuhan, kaum Majusi berkeyakinan adanya dua tuhan, sementara mereka yang meyakini Wahdah al-Wujud meyakini bahwa segala sesuatu di alam ini adalah bagian-bagian dari dzat Tuhan. Kekufuran semacam ini jelas lebih buruk dari pada kekufuran kaum Nasrani dan kaum Majusi.

    Ada pula faham sesat lainnya, yang juga merupakan kekufuran. Ialah keyakinan yang menyatakan bahwa Allah menyatu dengan sebagian mahluk-Nya. Kaum yang berkeyakinan ini mengatakan: โ€œApabila seorang hamba telah mencapai derajat ibadah tertentu, maka Allah akan menempati dan menyatu dengan tubuh orang tersebutโ€. Karenanya, di antara mereka ada yang menyembah sebagian lainnya yang mereka anggap telah sampai pada batasan tersebut dalam ibadahnya tersebut. Keyakinan sesat ini dikenal dengan nama akidah Hulul.

    Dua keyakinan di atas, yaitu akidah Wahdah al-Wujud dan Hulul telah meracuni sebagian orang awam yang hanya mengutamakan dzikir tanpa mempelajari akidah yang benar dan cara beragama mereka. Dari sini mereka menganggap bahwa perbuatan mereka adalah jaminan keselamatan di akhirat kelak. Mereka juga menganggap bahwa mereka telah berbuat kebaikan โ€œbanyakโ€ dan โ€œbesarโ€ tiada tara. Padahal pada hakikatnya mereka tenggelam dalam kekufuran karena keyakinan sesat tersebut.
    Asy-Syekh โ€˜Abd al-Ghani an-Nabulsi berkata:

    ุฅู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‡ูŽ ู„ุงูŽ ูŠูŽุญูู„ู‘ู ูููŠ ุดูŽูŠุกู ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽู†ู’ุญูŽู„ู‘ู ู…ูู†ู’ู‡ู ุดูŽูŠุกูŒ ูˆูŽู„ุงูŽ ูŠูŽุญูู„ู‘ู ูููŠู’ู‡ู ุดูŽูŠุกูŒ ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูƒูŽู…ูุซู„ูู‡ู ุดูŽูŠุกูŒ
    โ€œSesungguhnya Allah tidak bertempat atau menyatu pada sesuatu apapun, dan tidak berpisah dari-Nya sesuatu apapun, serta tidak menyatu dengan-Nya sesuatu apapun. Dia tidak menyerupai segala sesuatu apapun dari makhluk-Nyaโ€[2].
    Syekh Abd al Ghani an-Nabulsi -semoga Allah merahmatinya dalam kitabnya al Faidl ar-Rabbani berkata: “Barangsiapa yang mengatakan bahwa Allah terpisah dari-Nya sesuatu, Allah menempati sesuatu, maka dia telah kafir”.

    Al-Imam Muhyiddin Ibn al-โ€˜Arabi berkata:

    ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุจูุงู„ุญูู„ููˆู„ู ููŽุฏููŠู’ู†ูู‡ู ู…ูŽุนู’ู„ููˆู„ูŒ ูˆูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽ ุจุงู„ุงุชู‘ุญูŽุงุฏู ุฅู„ุงู‘ูŽ ุฃู‡ู’ู„ู ุงู„ุงู„ู’ุญูŽุงุฏ (ุฐูƒูŽุฑู‡ู ุฃุจููˆ ุงู„ู‡ูุฏูŽู‰ ุงู„ุตู‘ูŽูŠู‘ูŽุงุฏูŠ ูููŠ ุฑุณูŽุงู„ุชูู‡ู
    โ€œBarangsiapa berkata (berkeyakinan) Hulul maka agamanya cacat. Dan tidak menyatakan Ittihad (Wahdah al-Wujud) kecuali golongan yang menyimpang (dari Islam)โ€. (Dituturkan oleh Abu al-Huda al-Shayyadi dalam Risalah-nya)
    Al Imam Syekh Muhyiddin ibn ‘Arabi mengatakan: “Tidak akan meyakini Wahdah al Wujud kecuali para mulhid (atheis) dan barangsiapa yang meyakini Hulul maka agamanya rusak (Ma’lul)”.
    Sedangkan perkataan-perkataan yang terdapat dalam kitab Syekh Muhyiddin ibn ‘Arabi yang mengandung aqidah Hulul dan Wahdah al Wujud itu adalah sisipan dan dusta yang dinisbatkan kepadanya. Sebagaimana dijelaskan oleh Syekh Abdul Wahhab asy-Sya’rani dalam kitabnya Lathaif al Minan Wa al Akhlaq menukil dari para ulama. Demikian juga dijelaskan oleh ulama-ulama lain.

    Ayat keempat dari QS. al-Ikhlash merupakan penjelasan bahwa Allah tidak meyerupai segala makhluk-Nya. Ayat tersebut merupakan ayat Muhkamat; artinya merupakan ayat yang jelas maknanya dan tidak mengandung faham takwil. Pemaknaan ayat ini sama dengan pemaknaan ayat Muhkamat lainnya, yaitu dalam firman Allah:

    ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูƒูŽู…ูุซู„ูู‡ู ุดูŽูŠุกูŒ (ุงู„ุดูˆุฑู‰:11)
    โ€œDia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhlukNya, baik dari satu segi maupun semua segi dan, tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai-Nyaโ€. (QS. as-Syura: 11).

    Dalam menafsirkan QS. al-Ikhlash: 4 ini, para ulama Ahlussunnah menyatakan bahwa alam (yaitu segala sesuatu selain Allah) terbagi kepada dua bagian. Yaitu; benda dan sifat benda. Yang pertama; Benda, terbagi kepada dua bagian, yaitu:
    1. Hajm Lathif: Yaitu benda yang tidak dapat dipegang atau disentuh oleh tangan. Seperti cahaya, kegelapan, ruh, dan lain sebagainya.
    2. Hajm Katsif: Yaitu benda yang dapat dipegang atau disentuh oleh tangan. Seperti manusia, dan benda-benda padat lainnya.
    Adapun yang kedua, yaitu sifat benda, artinya sifat-sifat dari Hajm Lathif dan sifat-sifat dari Hajm Katsif. Contohnya bergerak, diam, berubah, bersemayam, duduk, beridiri, terlentang, berada di tempat dan arah (baik atas, bawah, kanan, kiri, depan maupun belakang), turun, naik, panas, dingin, memiliki warna, bentuk, dan sebagainya.
    Ayat QS. al-Ikhlash: 4 ini menjelaskan kepada kita bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya. Bahwa Allah bukan sebagai Hajm Lathif, juga bukan sebagai Hajm Katsif, dan bahwa Allah tidak disifati dengan sifat-sifat benda tersebut. Dari ayat ini para ulama Ahlussunnah Wal Jamaโ€™ah mengambil dalil bahwa Allah ada tanpa tempat dan tanpa arah. Karena bila Allah mempunyai tempat dan arah maka berarti Allah mempunyai banyak keserupaan dengan makhluk-Nya, dan mempunyai dimensi, yaitu panjang, lebar, dan kedalaman. Padahal sesuatu yang memiliki dimensi semacam ini pastilah merupakan makhluk, bukan sebagai Tuhan. Mustahil Allah membutuhkan kepada yang menjadikan-Nya dalam dimensi tersebut. Karena bila Allah โ€œmembutuhkanโ€ maka berarti Allah lemah, dan tidak layak dituhankan.
    Di antara Imam terkemuka di kalangan Ahlussunnah, al-Imam Ahmad ibn Hanbal, dan al-Imam Dzu al-Nun al-Mishri yang seorang sufi kenamaan, juga salah seorang murid terkemuka al-Imam Malik ibn Anas, berkata:

    ู…ูŽู‡ู’ู…ูŽุง ุชูŽุตูŽูˆู‘ูŽุฑู’ุชูŽ ุจูุจูŽุงู„ููƒูŽ ููŽุงู„ู„ู‡ู ุจูุฎูู„ุงูŽูู ุฐู„ููƒูŽ (ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุนู† ุงู„ุงู…ูŽุงู… ุฃุญู’ู…ูŽุฏ ุฃุจููˆ ุงู„ููŽุถู’ู„ ุงู„ุชู‘ูŽู…ููŠู’ู…ูŠู‘ ูููŠ ุงุนุชู‚ุงุฏ ุงู„ุงู…ุงู… ุงู„ู…ูุจูŽุฌู‘ูŽู„ ุฃุญู…ูŽุฏ ุจู† ุญูŽู†ู’ุจูŽู„ ูˆูŽุฑูŽูˆุงู‡ู ุนู†ู’ ุฐูŽูŠ ุงู„ู†ู‘ููˆู† ุงู„ู…ูุตู’ุฑูŠู‘ ุงู„ุฎูŽุทูŠุจู ุงู„ุจูŽุบู’ุฏูŽุงุฏูŠู‘ ููŠ ุชูŽุงุฑูŠู’ุฎ ุจูŽุบู’ุฏูŽุงุฏ)
    โ€œApapun yang terlintas dalam benakmu tentang Allah, maka Allah tidak seperti demikian ituโ€. (Dikutip dari al-Imam Ahmad ibn Hanbal oleh Abu al-Fadl al-Tamimi dalam kitab Iโ€™tiqad al-Imam al-Mubajjal Ahmad ibn Hanbal. Dan diriwayatkan dari al-Imam Dzu al-Nun al-Mishri oleh al-Hafizh al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh Baghdad)

    Semoga kita termasuk Ahl al-Maโ€™rifah dan mengimani Allah dengan seteguh-teguhnya keimanan seperti yang telah digariskan Rasulullah dan para sahabatnya. Amin.

    [1] al-Farq Bain al-Firaq, h. 333

  20. Ping-balik: Firanda Pendusta Murokkab, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (4) - Ummati Press
  21. Ping-balik: Firanda Pendusta Murokkab, Berhujjah dengan Hujjah Dusta dan Palsu (4) - Ummati Press
  22. Allah tidak bisa dikatakan di atas alam, di bawah alam, didalam di alam, dan di luar alam.

    Karena alam adalah ciptaanNya, wujud dari perbuatanNya mencipta. wujudnya alam ini karena perbuatanNya mewujudkan alam.

    Dan wujud alam tergantung sepenuhnya pada perbuatanNya mewujudkan alam.

    Paham ?

    kalau ada yang masih belum paham bahwa ada wujud yang bila disandarkan pada wujud lainnya dia tidak bisa dikatakan diatas, dibawah didalam dan diluar, maka saya buktikan :

    Seorang manusia diberkan Allah mempunyai sifat yang kreatif dan dengan potensi yang dimilikinya dia menciptakan sebuah tarian.

    maka di melakukan perbuatan untuk mewujudkan sebuah tarian yaitu menari….. maka wujudlah sebuah tarian.

    Wujud tarian ini bergantung sepenuhnya pada penari, maka sekejap saja penari ini menghentikan perbuatannya menari, maka lenyaplahlah juga seketika wujud tarian. ……tarian ini ada hanya bila penari itu menari…..

    Sekarang mari kita tanyakan :
    Apakah penari itu ada diatas tarian ? atau dibawah tarian ? atau apakah tarian itu yang diatas penari atau dibawah penari ?
    Apakah penari itu diluar tarian, atau penari itu didalam tarian? atau kita tanyakan, apakah tarian itu diluar penari atau didalam penari ?

    Bisakah kita tanyakan dimana (tempat) penari pada tariannya sendiri ?

    kalau wujud didunia ini ada yang tidak bisa kita tanyakan dimana dan dimana tidak relevan baginya…..

    saya bukan memberikan perbandingan atau perumpamaan bagi zat Allah, tetapi, pahamilah bahwa Ada tanpa arah dan tempat itu seharusnya dapat kita yakini dan pahami.

    kenapa kalian (wahabi) mengingkari Wujud Allah tanpa arah dan tempat ?

    Pahami lagi tulisan Mas ferry ASWAJA.

    semoga kita semua diberi hidayahNya.

  23. semoga Allah memberikan Hidayah Nya pada para kaum Sa-wah,
    agar mereka kembali ke pemahaman aqidah Aswaja,…

    semoga pula Allah memberikan kucuran rahmat,taufik, hidayah, inayah serta rizki yg tak terhingga pada para ustadz ummatipress, ustadz syahid , dianth dll, atas kajian ilmu yg di berikannya….Amiiin…….berikut pula para pembaca setia kajian ilmu di ummatipress ini,…Amiin…

  24. trimakasih penjelasannya temen-temen…

    Asy Syafiโ€™i mengatakan di bagian awal Muqoddimah Kitab Ar Risalah:

    ุงู„ุญู…ุฏ ู„ู„ู‡ ุงู„ู‘ูŽุฐููŠ ู‡ููˆูŽ ูƒูŽู…ูŽุง ูˆุตู ุจูู‡ู ู†ูุณู‡ุŒ ูˆููˆู‚ ู…ูŽุง ูŠุตูู‡ ุจูู‡ู ุฎู„ู‚ู‡.

    โ€œSegala puji bagi Alloh yang (terpuji) sebagaimana sifat yang Dia tetapkan untuk diri-Nya sendiri. Sifat-sifat yang tidak bisa digambarkan oleh makhluknya.โ€

    Dengan demikian beliau rohimahulloh menerangkan bahwa Alloh itu memiliki sifat sebagaimana yang Dia tegaskan di dalam Kitab-Nya dan melalui lisan rosul-Nya shollallohu โ€˜alaihi wa sallam.

    Begitu pula yang dikatakan oleh Ahmad bin Hambal. Beliau mengatakan: Alloh tidak diberi sifat kecuali dengan yang Dia tetapkan sendiri, atau sifat yang diberikan oleh Rosul-Nya shollallohu โ€˜alaihi wa sallam tanpa disertai tahrif (penyelewengan makna), tanpa takyif (memvisualisasikan), tanpa tamsil (menyerupakan dengan makhluk), tetapi mereka menetapkan nama-nama terbaik dan sifat-sifat luhur yang Dia tetapkan bagi diri-Nya. Mereka yakini bahwasanya:

    ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูƒู…ุซู„ู‡ ุดูŠุก ูˆูŽู‡ููˆูŽ ุงู„ุณู…ูŠุน ุงู„ุจุตูŠุฑ

    โ€œTidak ada sesuatu pun yang menyerupai dengan-Nya, Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihatโ€ baik dalam sifat-sifatNya, Zat-Nya maupun dalam perbuatan-perbuatanNya. Kemudian beliau berkata: Dialah yang telah menciptakan langit dan bumi, dan segala yang ada di antara keduanya dalam waktu enam masa kemudian Dia bersemayam di atas Arsy; Dialah yang telah benar-benar berbicara dengan Musa; Dialah yang telah menampakkan diri kepada gunung dan gunung itu pun menjadi hancur terbelah karenanya, tidak ada satu makhluk pun yang memiliki sifat sama persis dengan-Nya, ilmu-Nya tidak sama dengan ilmu siapa pun, kemampuan-Nya tidak sama dengan kemampuan siapa pun, dan kasih sayang-Nya juga tidak sama dengan kasih sayang siapa pun, bersemayam-Nya juga tidak sama dengan bersemayamnya siapa pun, pendengaran dan penglihatan-Nya juga tidak sama dengan pendengaran dan penglihatan siapa pun. Ucapan-Nya tidak sama dengan ucapan siapa pun, penampakan diri-Nya tidak sebagaimana penampakan siapa pun.

    Alloh Subhanahu wa Taโ€™ala telah menginformasikan kepada kita di surga itu ada daging, susu, madu, air, sutera dan emas. Dan Ibnu Abbas telah berkata,

    ู„ูŽูŠู’ุณูŽ ูููŠ ุงู„ุฏู‘ูู†ู’ูŠูŽุง ู…ู…ุง ูููŠ ุงู„ุขุฎุฑุฉ ุฅูู„ุงู‘ูŽ ุงู„ุฃุณู…ุงุก.

    โ€œTidak ada suatu pun di dunia ini yang ada di akhirat nanti kecuali hanya sama namanya saja.โ€

    Apabila makhluk-makhluk yang gaib ini ternyata tidak sama dengan makhluk-makhluk yang tampak ini -padahal namanya sama- maka Sang Pencipta tentu sangat jauh berbeda dibandingkan dengan makhluk-Nya, inilah perbedaan Pencipta dengan makhluk yang diciptakan, meskipun namanya sama.

    Alloh telah menamai diri-Nya Hayyan โ€˜Aliiman (Maha Hidup, Maha Mengetahui), Samiiโ€™an Bashiiran (Maha Mendengar, Maha Melihat), dan nama-Nya yang lain adalah Raโ€™uuf Rahiim (Maha Lembut, Maha Penyayang); Alloh itu hidup tidak seperti hidup yang dialami oleh makhluk, pengetahuan Alloh tidak seperti pengetahuan makhluk, pendengaran Alloh tidak seperti yang dialami pendengaran makhluk, penglihatan Alloh tidak seperti penglihatan makhluk, kelembutan Alloh tidak seperti kelembutan makhluk, kasih sayang Alloh tidak seperti kasih sayang makhluk.

    Nabi bersabda dalam konteks hadits budak perempuan yang cukup populer: โ€œDi mana Alloh?โ€ Budak tersebut menjawab, โ€œ(Alloh) di atas langit.โ€ Akan tetapi bukan berarti maknanya Alloh berada di dalam langit, sehingga langit itu membatasi dan meliputi-Nya. Keyakinan seperti ini tidak ada seorang pun ulama salaf dan ulama yang mengatakannya; akan tetapi mereka semuanya bersepakat Alloh berada di atas seluruh langit ciptaan-Nya. Dia bersemayam (tinggi) di atas โ€˜Arsy, terpisah dari makhluk-Nya; tidak terdapat sedikit pun unsur Dzat-Nya di dalam makhluk-Nya, begitu pula, tidak terdapat sedikit pun unsur makhluk-Nya di dalam Dzat-Nya.

    Malik bin Anas pernah berkata:

    ุฅู† ุงู„ู„ู‡ ููŽูˆู’ู‚ูŽ ุงู„ุณู…ุงุกุŒ ูˆุนู„ู…ู‡ ูููŠ ูƒู„ู‘ ู…ูƒุงู†

    โ€œSesungguhnya Alloh berada di atas langit dan ilmu-Nya berada (meliputi) setiap tempat.โ€

    Maka barang siapa yang meyakini Alloh berada di dalam langit dalam artian terbatasi dan terliputi oleh langit dan meyakini Alloh membutuhkan โ€˜Arsy atau butuh terhadap makhluk lainnya, atau meyakini bersemayamnya Alloh di atas โ€˜Arsy-Nya sama seperti bersemayamnya makhluk di atas kursinya; maka orang seperti ini adalah sesat, pembuat bidโ€™ah dan jahil (bodoh). Barang siapa yang meyakini kalau di atas โ€˜Arsy itu tidak ada Tuhan yang disembah, di atas โ€˜Arsy itu tidak ada Tuhan yang orang-orang sholat dan bersujud kepada-Nya, atau meyakini Muhammad tidak pernah diangkat menghadap Tuhannya, atau meyakini kalau Al Quran tidak diturunkan dari sisi-Nya, maka orang seperti ini adalah Muโ€™aththil…

    Padahal Alloh menciptakan manusia -baik orang Arab maupun non-Arab- yang apabila berdoa maka akan mengarahkan hatinya ke arah atas, bukan ke arah bawah. Oleh karena itu ada orang bijak mengatakan: Tidak pernah ada seorang pun yang menyeru: โ€œYa Alloh!!โ€ kecuali didapatkan di dalam hatinya -sebelum lisan tergerak- dorongan ke arah atas dan hatinya tidak terdorong ke arah kanan maupun kiri.

    Sedangkan musuh-musuh para rosul seperti kaum Jahmiyah Firโ€™auniyah dan lain-lain itu bermaksud mengganti dan mengubah fitrah yang Alloh berikan, mereka lontarkan berbagai syubhat/kerancuan dengan kalimat-kalimat yang tidak jelas sehingga banyak orang itu tidak mengerti maksudnya; dan tidak bisa membantah mereka.

    Sumber kesesatan mereka adalah penggunaan istilah-istilah yang bersifat global dan tidak bersumber dari Al Quran dan Sunnah Rosul-Nya shollallohu โ€˜alaihi wa sallam, juga tidak pernah pula dikatakan oleh salah seorang ulama kaum muslimin, seperti istilah tahayyuz, jisim (jasad/raga), jihhah (arah) dan lain sebagainya.

  25. @ hasnan
    Padahal Alloh menciptakan manusia -baik orang Arab maupun non-Arab- yang apabila berdoa maka akan mengarahkan hatinya ke arah atas, bukan ke arah bawah. Oleh karena itu ada orang bijak mengatakan: Tidak pernah ada seorang pun yang menyeru: โ€œYa Alloh!!โ€ kecuali didapatkan di dalam hatinya -sebelum lisan tergerak- dorongan ke arah atas dan hatinya tidak terdorong ke arah kanan maupun kiri.
    ini bertentangan dengan keterangan
    al-Imam Ahmad ibn Hanbal, dan al-Imam Dzu al-Nun al-Mishri yang seorang sufi kenamaan, juga salah seorang murid terkemuka al-Imam Malik ibn Anas, berkata:

    ู…ูŽู‡ู’ู…ูŽุง ุชูŽุตูŽูˆู‘ูŽุฑู’ุชูŽ ุจูุจูŽุงู„ููƒูŽ ููŽุงู„ู„ู‡ู ุจูุฎูู„ุงูŽูู ุฐู„ููƒูŽ (ุฑูŽูˆูŽุงู‡ู ุนู† ุงู„ุงู…ูŽุงู… ุฃุญู’ู…ูŽุฏ ุฃุจููˆ ุงู„ููŽุถู’ู„ ุงู„ุชู‘ูŽู…ููŠู’ู…ูŠู‘ ูููŠ ุงุนุชู‚ุงุฏ ุงู„ุงู…ุงู… ุงู„ู…ูุจูŽุฌู‘ูŽู„ ุฃุญู…ูŽุฏ ุจู† ุญูŽู†ู’ุจูŽู„ ูˆูŽุฑูŽูˆุงู‡ู ุนู†ู’ ุฐูŽูŠ ุงู„ู†ู‘ููˆู† ุงู„ู…ูุตู’ุฑูŠู‘ ุงู„ุฎูŽุทูŠุจู ุงู„ุจูŽุบู’ุฏูŽุงุฏูŠู‘ ููŠ ุชูŽุงุฑูŠู’ุฎ ุจูŽุบู’ุฏูŽุงุฏ)
    โ€œApapun yang terlintas dalam benakmu tentang Allah, maka Allah tidak seperti demikian ituโ€. (Dikutip dari al-Imam Ahmad ibn Hanbal oleh Abu al-Fadl al-Tamimi dalam kitab Iโ€™tiqad al-Imam al-Mubajjal Ahmad ibn Hanbal. Dan diriwayatkan dari al-Imam Dzu al-Nun al-Mishri oleh al-Hafizh al-Khatib al-Baghdadi dalam kitab Tarikh Baghdad)

    Allah swt. memberikan teguran khusus buat mereka yang beriman. Dalam QS. Al-Hadid ayat 16, Yang Maha Rahman dan Rahim berfirman, โ€œBelumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka). Janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al-Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka. Lalu, hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.โ€

    Hati buat orang-orang yang beriman adalah ladang yang harus dirawat dan disiram dengan zikir. Dari zikirlah, ladang hati menjadi hijau segar dan tumbuh subur. Akan banyak buah yang bisa dihasilkan. Sebaliknya, jika hati jauh dari zikir; ia akan tumbuh liar. Jangankan buah, ladang hati seperti itu akan menjadi sarang ular, kelabang dan sebagainya.

    Hamba-hamba Allah yang beriman akan senantiasa menjaga kesegaran hatinya dengan lantunan zikrullah. Seperti itulah firman Allah swt. dalam QS. Ar-Raโ€™d ayat 28. โ€œ(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.โ€œ

    โ€œ(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), โ€˜Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.โ€ (Ali Imran: 191)

    Rasulullah saw. pernah memberi nasihat, โ€œPerumpamaan orang yang berzikir kepada Rabbnya dan yang tidak, seumpama orang hidup dan orang mati.โ€ (HR.Bukhari dan Muslim)
    tugas kita hanyalah mengingat Allah SWT, dan menjalankan segala perintahnya!!!
    barang siapa meninggalkan empat kalimat maka sempurnalah imannya, yaitu :
    DIMANA, BAGAIMANA, KAPAN dan BERAPA?
    Jika ada org brtanya pada Anda : “DIMANA ALLAH?.
    Maka jawabannya: “ALLAH tdk bertempat dan tdk dilalui oleh masa”.
    Jika anda di tanya: “BAGAIMANA sifat Allah?.
    Maka jwbanlah : “tdk ada ssuatu yg menyamaiNya:
    “Jika anda di tanya: “KAPAN adanya ALLAH?. ”
    Maka Jwbalah : “pertama tanpa permulaan dan terakhir tanpa penghabisan”.
    dan jika ada di tanya : “BERAPAKAH ALLAH?
    Maka jawablah satu tdk dari sedikit, Dialah Allah Maha Esa..
    dan janganlah membanyangkan Allah SWT DIMANA, BAGAIMANA, KAPAN dan BERAPA?! sesungguhnya Allah SWT lah yg menciptakan semua itu…

    ingatlah peristiwa Isro mi’roj, hanya rosulullah SAW yang tau zatnya Allah SWT,,
    NABI MUHAMMAD SAW menjalankan ISRO WAL MIROZ, di dampingi oleh malaikat JIBRIL as,dan kendaraan nya yg bernama BUROK, Rosulullah SAW terbang sampai ke langit ke 7,sampainya mendekati Arasy nya allah,ketika itu malaikat JIBRIL terhenti dan NABI MUHAMMAD berkata ada apa denganmu wahai JIBRIL,,,,?
    JIBRIL menjawab aku tdk kuat melihat sinar nur ILAHIYA (cahaya ALLAH).
    lalu NABI MUHAMMAD melanjut kan perjalan nya ke KHURSI nya ALLAH hingga tembus ke Arasy nya ALLAH, hingga bertemu dgn ALLAH.
    sehinga kembali nya NABI MUHAMMAD ke dunia dan bertemu dgn para sahabat,
    dan berkata nya SYIDINA ALI wahai ya ROSULL bertemu kah kau dgn ALLAH,
    NABI menjawab ya aku bertemu,
    lalu bertanya lagi Sayidina ALI ke pada NABI,
    wahai ROSULL apa kah yg kau bicara kan dgn ALLAH,lalu NABI terdiam, sampai ke dua kali nya NABI terdiam, sampai ke tiga kali nya SYIDINA ALI bertanya NABI pun terdiam, tdk lama kemudian NABI menjawab, wahai SYIDINA ALI kalau aku ceritakan semua proses bertemu nya aku dgn ALLAH, maka seketika ini dunia inii akan hancur…

    dlm cerita ini kita dapat simak bahwasanya malaikat JIBRIL pun tidak mampu menembus proses bertemu nya ROSULL dgn ALLAH krna tak kuat melihat cahaya nya ALLAH, dan NABI pun merahasiakan proses bertemu nya dgn ALLAH kpd sahabat2 nya yaitu manusia…
    pada intii nya ALLAH berbeda dgn ciptaan nya dan hamba nya. dan ALLAh tdk bertempat… kalo ada yg menghakekat kan ALLAH tu ada di atas, adalah salah besar bahkan bisa menjadikannya musyriik di dlm ilmu tauhid,
    tdak ada yg tau ALLAH berkecuali ALLAH.

  26. setuju sekali..

    Allah ada sebelum semuanya tiada…Allah tidak bertempat dan tidak berarah, krn tempat atau arah adalah ciptaan-Nya…

    terua terang sy pusing baca tulisan ust Firanda….memaksakan logika dia thdp sesuatu yg di luar akal dia.

    manusia ilmunya hanya bagaikan setetes air, ilmu Allah tidak terhingga…jd tdk bisa dipikirkan dg otak manusia yg terbatas ini.

Tinggalkan Balasan

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker