Berita Fakta

Ustadz Firanda Bisa Musyrik Akibat Pemahamannya Sendiri

Pengantar Redaksi

Di bawah ini adalah ustadz Firanda yang membantah tulisan uztadz Abu Salafy tentang syirik dan kemusyrikan. Akan tetapi karena bantahan ustadz Firanda yang ngawur tidak sesuai standar ilmu yang diajarkan oleh para ulama Ahlussunnah, maka oleh Ahmad Syahid diluruskan agar tidak menyesatkan bagi para pembacanya. Banyak ilmu yang bisa ditimba dari Ahmad Syahid terutama agar kita memperoleh pemahaman yang benar tentang ibadah, syirik dan akibat-akibatnya jika kita salah dalam memahaminya. Penjelasan yang disampaikan oleh Mas Ahmad Syahid menyentak kesadaran kita, betapa selama ini ada yang salah dari pemahaman keislaman yang dianut oleh merka-mereka yang bergelar Ustadz sekali pun. Na’udzubillah tsumma nau’dzu billah min dzaalik.

Tulisan dalam blockquote adalah artikel ustadz Firanda, sedangkan tulisan tanpa blocquote adalah jawaban dari H. Ahmad Syahid. Selamat menyimak semoga bermanfaat bagi kita semua.

Ustadz Firanda Menjadi Musyrik Karena Pemahamannya Sendiri

Oleh: H. Ahmad Syahid

Berkata Ustadz Firanda dengan menukil perkataan Abu Salafy:

Kesyirikan Menurut Abu Salafy

((Abu Salafy berkata:

Syirik adalah sudah jelas, ia menyekutukan Allah SWT. dalam:

A) Dzat, dengan meyakini ada tuhan selain Allah SWT.

B) Khaliqiya, dengan meyakini bahwa ada pencipta dan ada pelaku yang berbuat secara independen di alam wujud ini selain Allah SWT.

C) Rububiyah, dengan mayakini bahwa ada kekuatan selain Allah SWT yang mengatur alam semesta ini secara independen. Adapun keterlibatan selain Allah, seperti para malaikat, misalnya yang mengaturan alam adalah dibawah kendali Allah dan atas perintah dan restu-Nya.

D)Tasrî’, dengan meyakini bahwa ada pihak lain yang memiliki kewenangan secara independen dalam membuat undang-undang dan syari’at.

E) Hâkimiyah, dengan meyakini bahwa ada kekuasaan yang dimiliki oleh selain Allah secara independen.

F) Ibadah dan penyembahan, dengan menyembah dan bersujud kepada arca dan sesembahan lain selain Allah SWT, meminta darinya sesuatu dengan kayakinan bahwa ia mampu mendatangkannya secara independen dan dengan tanpa bantuan dan izin Allah SWT.

Batasan-batasan syirik, khususnya syirik dalaam ibadah dan penyembahan adalah sudah jelas dalam Al Qur’an dan Sunnah. Dari ayat-ayat Al Qur’an yang mengisahkan kaum Musyrikin dapat dimengerti bahwa kendati kaum Musyrikin itu meyakini bahwa Allah lah yang mencipta langit dan bumi, pemberi rizki dan pengatur alam, akan tetapi tidak ada petunjuk bahwa mereka tidak meyakini bahwa sesembahan mereka itu; baik dari kalangan Malaikat maupun Jin memiliki pengaruh di dalam pengaturan alam semesta ini! Dengan pengaruh di luar izin dan kontrol Allah SWT. Mereka meyakini bahwa sesembahan mereka mampu menyembuhkan orang sakit, menolong dari musuh, menyingkap bencana dan kesusahan dll tanpa izin dan restu Allah!)) (http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/31/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas-23/))

Dari sini jelaslah bahwasanya Abu Salafy hanya menyatakan seseorang terjerumus dalam kesyirikan jika meyakini Dzat yang ia ibadahi memiliki hak independent dalam pengaturan alam semesta. Dari sini terungkap rahasia kenapa Abu Salafy ngotot pada dua perkara :

 

– Ngotot kalau kaum musyrikin Arab tidak mengakui adanya Allah. Adapun pernyataan mereka dalam Al-Qur’an bahwasanya Allah adalah pencipta dan pemberi rizki hanyalah sikap berpura-pura, akan tetapi batin mereka tidak beriman kepada Allah. (yang telah saya bantah dalam tulisan saya http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/82-persangkaan-abu-salafy-al-majhuul-bahwasanya-kaum-musyrikin-arab-tidak-mengakui-rububiyyah-allah dan http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/113-sekali-lagi-tipu-muslihat-abu-salafy-cs-bag-2)- Ngotot kalau keyakinan kaum musyrikin bahwasanya malaikat adalah putri-putri Allah maksudnya adalah para malaikat ikut mencipta dan member rizki (sebagaimana telah saya bantah dalam tulisan saya http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab)

Karena dengan dua perkara di atas maka Abu Salafy ingin menggolkan pemikirannya bahwa yang namanya kesyirikan adalah jika seseorang meyakini ada dzat lain yang ikut mencipta dan memberi rizki dan mengatur alam semesta selain Allah.

Oleh karenanya wajar jika Abu Salafy menyatakan bahwa :

Pertama : Berdoa kepada selain Allah jika dilakukan oleh seorang muslim maka itu bukanlah kesyirkian. Jika seseorang berdoa dan berkata ; “Wahai Rasulullah sembuhkanlah aku, wahai Rasulullah selamatkanlah aku” maka ini bukanlah kesyirikan selama orang tersebut tidak meyakini Rasulullah ikut mencipta alam dan pemberi rizki serta ikut mengatur alam semesta. Oleh karenanya wajib bagi kita untuk membawakan lafal orang ini pada artian “Wahai Rasulullah mintalah kepada Allah agar menyembuhkan aku dan agar menyelamatkan aku”

Abu Salafy berkata ((Sebab sebagaimana harus kita yakini bahwa seorang Muslim Mukmin yang meyakini bahwa apapun selain Allah SWT tidak memiliki daya dan kekuatan apapun… tidak dapat memberikan manfa’at atau mudharrat apapun…. kecuali dengan izin Allah, sudah cukup sebagai alasan bagi kita untuk menilai positif apa yang ia lakukan… cukup alasan untuk mengatakan bahwa sebenarnya apa yang ia lakukan adalah tidak lain hanyalah meminta syafa’at dan meminta dido’akan. Andai-kata kita tidak mengetahui dengan pasti apa yang menjadi tujuan dari apa yang ia kerjakan, maka adalah wajib untuk menilai positif amalan dan ucapan seorang Muslim dengan dasar kewajiban penilai positif setiap amalan atau ucapan Muslim selagi bisa dan ada jalan untuk itu, sehingga tertutup seluruh jalan untuk penafsiran positif dan tidak ada penafsiran lain selai keburukan)), Abu salafy juga berakta ((misalnya ketika ia menyeru, ‘Ya Rasulullah sembuhkan aku’ sebenarnya ia sedang meminta agar Rasulullha saw. sudi menjadi perantara kesembuhan dengan memohonkannya dari Allah SWT. kendati ia meyakini bahwa kesembuhan itu dari Allah, akan tetapi karena ia dengan perantaraan do’a dan syafa’at Rasulullah, maka ia menisbatkannya kepada sebab terdekat. Penyusunan kalimat dengan bentuk seperti itu banyak kita jumpai dalam Al Qur’an, Sunnah dan pembicaraan orang-orang Arab. Mereka menamainya dengan Majâzz ‘Aqli, yaitu “menyandarkan sebuah pekerjaan tertentu kepada selain pelakunya, baik karena ia sebagai penyebab atau selainnya, dikarenakan adanya qirînah/alasan yang membenarkan”.

Seperti dalam contoh, “Si Raja membangun Istana yang sangat megah” dalam ucapan di atas, semua tau bahwa bukan maksud si pengucap bahwa sang raja itu sendiri yang membangun dinding-dinding, memasang altar, dan kramik istana itu misalnya, semua mengerti bahwa yang ia maksud ialah bahwa yang membangun adalah para tukang bangunan, yang merancang adalah para arsitek, mereka adalah sebab terdekad terbangunnya istana megah itu, akan tetapi karena semua itu atas peritah sang Raja, maka tidaklah salah apabila ia mengatakan bahwa Sang raja membangun istana! Sebagaimana tidak salah pula apabila ia mengatakan bahwa para pekerja/tukang bangunan telah membangun istana Raja!

Dalam kasus kita di atas misalnya, qarînah yang membenarkan pemaknaan tersebut adalah dzahir keadaan si Muslim. Karena pengucapnya adalah seorang Muslim yang meyakini dan mengikrarkan bahwa selain Allah tidak ada yang memiliki daya dan kekuatan apapun baik untuk dirinya maupun untuk orang lain, baik memberi manfa’at ataupun mudharrat… semua yang terjadi adalah dengan taqdir dan ketetapan Allah SWT… maka hal ini sudah cukup sebagain qarînah yang membenarkannya.

Oleh sebab itu para ulama mengatakan bahwa ucapan seperti: ‘Musim semi itu menumbuhkan tanaman’ jika diucapkan oleh seorang Muslim maka ia tidak menunjukkan kemusyrikan, sebab ia termasuk ketegori majâz ‘aqli, akan tetapi jika pengucapnya adalah seorang ateis atau yang tidak percaya Tuhan, misalnya maka ia menunjukkan kemusyrikan, sebab ia bukan termasuk majâz ‘aqli, ia mengucapkannnya dengan haqîqatan! Ia menisbatkan pelaku penumbuhan tanaman itu kepada musim semi dengan sepenuh keyakinan bahwa musim semi-lah yang yang menumbuhkannya bukan Allah SWT.

Dari sini dapat dimengerti bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan antara ucapan seorang Muslim ‘Musim semi itu menumbuhkan tanaman’ dengan ucapannya “Wahai Rasulullah, sembuhkan aku dari sakitku”?!)), Abu Salafy juga berkata ((Lalu apakah dikarenakan ucapan tersebut di atas seorang Muslim dihukumi telah musyrik/menyekutukan Allah SWT.?! Tentu tidak!!

Benar, apabila seorang yang mengucapkannya meyakini bahwa yang ia seru itu mampu melakukan apa yang ia minta dengan tanpa bantaun dan taqdir Allah maka ia jelas telah menyekutukan Allah SWT. dan pastilah kaum Muslimin akan berlepas diri dari kemusrikan itu. Tetapi permasalahannya, apakah demikian yang diyakini kaum Muslimin ketika mereka ber-istghatsah dan memanggil mana Rasulullah saw., atau nama hamba-hamba shaleh pilihan Allah sepeti Ahlulbait Nabi dan para waliyullah! )) ((lihat http://abusalafy.wordpress.com/2008/05/22/kitab-kasyfu-asy-sybubuhat-doktrin-takfir-wahhabi-paling-ganas-18/))

Kedua : Jika seseorang menyembelih kepada selain Allah, kepada para wali misalnya, maka demikian pula menurut Abu Salafy maka itu bukanlah kesyirikan jika dilakukan oleh seorang muslim. Karena tidak seorang muslimpun yang meyakini wali tersebut ikut mengatur dan mencipta serta memberi rizki. Oleh karenanya jika ada seorang muslim yang menyembelih kepada selain Allah maka harus dibawakan kepada makna orang tersebut menyembelih untuk wali agar sang wali menjadi perantara antara ia dengan Allah dalam memenuhi hajatnya. Abu Salafy juga berkata ((…. ketika ada seorang bernazar menyembelih seekor binatang ternak untuk seorang wali misalnya, maka kaum wahhabi segera menudingnya sama dengan kaum Musyrik yang memberikan sesajen kepada para arca …. padahal yang perlu mereka ketahui bahwa seorang muslim yang sedang bernazar itu ia sedang meniatkan agar pahala sembelihannya diberikan kepada si wali tersebut! Anggap praktik seperti itu salah, tetapi ia pasti bukan sebuah kemusyrikan…))(http://abusalafy.wordpress.com/2008/04/22/kasyf-asy-sybuhat-doktrin-takfir-paling-ganas-14/)

Sanggahan

Untuk menyanggah pernyataan Abu salafy maka saya ingatkan kepada para pembaca tiga perkara:

Pertama : Bahwasanya hakekat kesyirikan adalah menyerahkan ibadah kepada selain Allah. Kita telah mengikrarkan dalam sholat kita

إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ

Hanya Engkaulah yang Kami sembah (QS Al-Faatihah : 5)

Oleh karenanya seluruh peribadatan kepada selain Allah adalah bentuk kesyirikan.

Contoh-contoh ibadah seperti sujud, ruku’, bernadzar, menyembelih, dan merupakan ibadah yang sangat agung adalah berdoa, demikian juga istigotsah yang merupakan bentuk berdoa tatkala dalam keadaan genting.

Oleh karenanya sebagaimana sujud, ruku, menyembelih jika diserahkan kepada selain Allah merupakan kesyirikan maka demikian pula berdoa. Bahkan ayat-ayat yang menunjukan akan larangan berdoa kepada selain Allah lebih banyak daripada ayat tentang larangan sujud dan menyembelih kepada selain Allah.

Jawaban dari Ahmad Syahid:

BACA :  Link - Link Pembongkar Kedustaan Salafy Wahabi

Untuk meluruskan pemahaman ustadz firanda saya sampaikan sebagai berikut :

1. Semua ummat Islam sepakat jika Ibadah hanya untuk Allah, semua sepakat siapa pun yang memalingkan seluruh atau sebagian kecil Ibadah kepada selain Allah maka ia telah keluar dari Islam. Hanya persoalannya apakah Ibadah itu? Dan tampaknya ustadz Firanda keliru dalam memahami apa itu Ibadah. Ustadz Firanda keliru dalam mendifinisikan kata Ibadah.

2. Sujud, ruku, bernadzar dan menyembelih dia kategorikan sebagai Ibadah tanpa menjelaskan sujud ruku menyembelih dan nadzar seperti apakah yang disebut Ibadah. Dengan kata lain ustadz Firanda tidak membedakan antara Ibadah dalam makna bahasa (lughowi ) dengan makna Ibadah secara Isthilah atau syar`i.  Jika seperti ini ibadah difahami / didifinisikan maka telah kafirlah ayah bunda nabi Ya`qub dan saudara-saudara nabi Yusuf  karena telah sujud kepada Nabi Yusuf. Begitu juga dengan ruku` (membungkuk ) kafirlah semua abdi dalem kerajaan kerajaan Islam karena telah ruku` (membungkuk) kepada raja mereka. Begitu juga dengan menyembelih dengan pemahaman seperti itu maka telah musyriklah Nabi Ibrohim karena telah menyembelih sapi untuk para tamunya dst.

3. Kekliruan ustadz Firanda ini sama persis dengan kekeliruan yang dialami oleh pendiri sekte Wahabi, sehingga sejarah mencatat bagaimana sekte Wahabi memerangi (membantai) kaum muslimin yang bertawassul hanya karena pendiri sekte Wahabi keliru dan salah dalam memahami kata Ibadah.

Kedua : Hakekat kesyirikan kaum musyrikin Arab adalah menjadikan sesembahan mereka sebagai perantara untuk mendekatkan mereka kepada Allah dan juga sebagai pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah (sebagaimana telah saya jelaskan di http://www.firanda.com/index.php/artikel/31-bantahan/126-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-5-hakikat-kesyirikan-kaum-muysrikin-arab)

Ar-Roozii berkata : “Mereka (kaum kafir) mereka menjadikan patung-patung dan arca-arca dalam bentuk para nabi-nabi mereka dan orang-orang mulia mereka, dan mereka menyangka bahwasanya jika mereka beribadah kepada patung-patung tersebut maka orang-orang mulia tersebut akan menjadi pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah. Dan yang semisal ini di zaman sekarang ini banyak orang yang mengagungkan kuburan-kuburan orang-orang mulia dengan keyakinan bahawasanya jika mereka mengagungkan kuburan-kuburan orang-orang mulia tersebut maka mereka akan menjadi pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah” (Mafaatiihul Goib/At-Tafsiir Al-Kabiir 17/63)

banner gif 160 600 b - Ustadz Firanda Bisa Musyrik Akibat Pemahamannya Sendiri

Ibnu Katsiir berkata : “Mereka membuat patung-patung di atas bentuk para malaikat yang mendekatkan (kepada Allah-pen) menurut persangkaan mereka. Maka merekapun menyembah patung-patung berbentuk tersebut dengan menempatkannya sebagai peribadatan mereka kepada para malaikat, agar para malaikat memberi syafaat bagi mereka di sisi Allah dalam menolong mereka dan memberi rizki kepada mereka dan perkara-perkara dunia yang menimpa mereka…

Oleh karenanya mereka berkata dalam talbiyah mereka tatkala mereka berhaji di zaman jahiliyyah : “Kami Memenuhi panggilanmu Ya Allah, tidak ada syarikat bagiMu kecuali syarikat milikMu yang Engkau memilikinya dan ia tidak memiliki”

Syubhat inilah yang dijadikan sandaran oleh kaum musyrikin zaman dahulu dan zaman sekarang” (Tafsiir Al-Qur’aan Al-’Adziim 12/111-112)

Para pembaca yang budiman dalam pernyataannya di atas Ar-Roozi dan Ibnu Katsir dengan tegas menyatakan bahwa syubhat mencari syafaat inilah yang telah menjerumuskan kaum muysrikin zaman dahulu dan zaman sekarang.

 

Jawab dari Ahmad Syahid:

Lagi – lagi ustadz Firanda keliru atau sengaja membawa faham keliru terhadap apa yang disampaikan oleh para Mufassir. Ustadz Firanda menampakkan jika mereka (kafir quresy) menjadi Musyrik karena telah menjadikan sesembahan mereka sebagai WASILAH (perantara). Padahal begitu jelas jika pembaca budiman perhatikan, penyebab mereka (kafir quresy) menjadi Musyrik adalah karena mereka menyembah selain Allah.  Mereka telah beribadah kepada selain Allah. Kafir quresy menjadi musyrik bukan semata-mata karena menjadikan sesembahan mereka sebagai perantara.

Ketiga : Beristigotsah kepada selain Allah yaitu kepada para wali yang sudah meninggal atau kepada Rasulullah dengan meyakini bahwa para wali tersebut hanyalah sebagai sebab dan pada hakekatnya Allah-lah yang menolong…itulah hakekat kesyirikan kaum musyrikin Arab di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena beristigotsah kepada selain Allah adalah bentuk berdoa kepada selain Allah. Dan doa merupakan ibadah yang sangat agung, maka barangsiapa yang menyerahkan kepada selain Allah berarti ia telah beribadah kepada selain Allah, dan barangsiapa yang beribadah kepada selain Allah maka dia adalah seorang musyrik.

Jawaban Ahmad Syahid:

Disini ustadz Firanda menegaskan pemahamannya yang keliru / salah terhadap definisi Ibadah , dan ustadz firanda salah dalam menentukan penyebab atau hakekat kesyirikan kaum musyrikin arab zaman Nabi SAW. Ustadz Firanda menyangka jika yang menjadikan musyrikin quresy Musyrik adalah karena mereka mengambil perantara dalam ber-doa.  Padahal yang sebenarnya membuat mereka Musyrik adalah mereka menyembah, mereka ber-ibadah kepada selain Allah, itulah penyebab mereka jadi Musyrik. Ustadz Firanda juga keliru saat menjadikan doa sebagai Ibadah, sebab tidak semua do’a adalah Ibadah.  Karena do’a juga berarti meminta , siapakah yang tidak pernah meminta kepada selain Allah? Jika semua do’a adalah Ibadah maka Ustadz firanda pun telah musyrik karena ustadz Firanda pun saya yakin telah banyak dan sering meminta kepada selain Allah. Dia sering meminta kepada orang tuanya, dia juga sering meminta kepada istrinya. Inilah contoh kekeliruan fatal dalam memaknai kata Ibadah.

Ustadz firanda mengatakan :

Doa adalah ibadah yang sangat penting maka jika diserahkan kepada selain Allah merupakan syirik besar

Ibadah secara bahasa berarti ketundukan dan perendahan, Al-Jauhari rahimahullah berkata:

“Asal dari ubudiyah (peribadatan) adalah ketundukan dan kerendahan…, dikatakan الطَّرِيْقُ الْمُعَبَّدُ (jalan yang ditundukan/mudah untuk ditempuh) dan الْبَعِيْرُ الْمُعَبَّدُ (onta yang tunduk/taat kepada tuannya) (As-Shihaah 2/503, lihat juga perkataan Ibnu Faaris di Mu’jam Maqooyiis Al-Lugoh 4/205, 206 dan perkataan Az-Zabiidi di Taajul ‘Aruus 8/330)

Adapun definisi ibadah menurut istilah adalah tidak jauh dari makna ibadah secara bahasa yaitu ketaatan dan ketundukan serta kerendahan:

At-Thobari berkata pada tafsir surata al-Faatihah:

“Kami hanyalah memilih penjelasan dari tafsir ((Hanya kepada Engkaulah kami beribadah)) maknanya adalah kami tunduk, kami rendah, dan kami patuh… karena ubudiyah menurut seluruh Arab asalnya adalah kerendahan” (Tafsiir At-Thobari 1/159)

Al-Qurthubi berkata :

“((kami beribadah)) maknanya adalah : kami taat kepadaNya, dan Ibadah adalah : ketaatan dan kerendahan, dan jalan yang ditundukan jika ditundukan agar bisa ditempuh oleh para pejalan, sebagaimana dikatakan oleh Al-Harowi” (Tafsiir Al-Qurthubi 1/223)

Sesungguhnya doa merupakan ibadah yang sangat penting, karena pada doa nampaklah kerendahan dan ketundukan orang yang berdoa kepada dzat yang menjadi tujuan doa. Pantas saja jika Nabi bersabda :

الدُّعَاءُ هُوَ الْعِبَادَةُ ثُمَّ قَرَأَ : {وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ}.

“Doa itulah ibadah”, kemudian Nabi membaca firman Allah ((Dan Rob kalian berkata : Berdoalah kepadaKu niscaya Aku kabulkan bagi kalian))” (HR Ahmad no 18352, Abu Dawud no 1481, At-Tirmidzi no 2969, Ibnu Maajah no 3828, dan isnadnya dinyatakan jayyid (baik) oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 1/49)

Ibnu Hajar berkata menjelaskan agungnya ibadah doa :

“Jumhur (mayoritas ulama) menjawab bahwasanya doa termasuk ibadah yang paling agung, dan hadits ini seperti hadits yang lain

الْحَجُّ عَرَفَةُ

“Haji adalah (wuquf di padang) Arofah”

Maksudnya (wuquf di Arofah) merupakan dominannya haji dan rukun haji yang paling besar. Hal ini dikuatkan dengan hadits yang dikeluarkan oleh At-Thirimidzi dari hadits Anas secara marfuu’ :

الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ

“Doa adalah inti ibadah”

Telah banyak hadits dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memotivasi dan mendorong untuk berdoa, seperti hadits Abu Huroiroh yang marfuu’:

لَيْسَ شَيْئٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنَ الدُّعَاءِ

“Tidak ada sesuatupun yang lebih mulia di sisi Allah daripada doa”

Diriwayatkan oleh At-Thirmidzi dan Ibnu Maajah dan dishahihkan oleh Ibnu Hibbaan” (Fathul Baari 11/94)

Oleh karenanya pantas jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda

أقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ؛ فَأَكْثِرُوْا الدُّعَاءَ

“Kondisi seorang hamba paling dekat dengan Robnya tatkala ia sujud, maka perbanyaklah doa” (HR Muslim no 215)

Imam An-Nawawi berkata;

أَقْرَبُ مَا يَكُوْنُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ وَهُوَ مُوَافِقٌ لِقَوْلِ اللهِ تعالى وَاسْجُدْ وَاقْتَرِبْ وَلِأَنَّ السُّجُوْدَ غَايَةُ التَّوَاضُعِ وَالْعُبُوْدِيَّةِ للهِ تعالى

“((Kondisi seorang hamba paling dekat dengan Robnya tatkala ia sujud)) dan ini sesuai dengan friman Allah ((Sujudlah dan mendekatlah)), dan karena sujud merupakan puncak tawadhu’ dan peribadatan kepada Allah” (Al-Minhaaj 4/206)

Oleh karenanya posisi sujud merupakan posisi yang menunjukan rendahnya seorang hamba karenanya merupakan kondisi yang sangat pas bagi seorang hamba untuk memperbanyak doa. Karena tatkala doa nampaklah kebutuhan dan kerendahan seorang yang berdoa di hadapan Allah.

Al-Hulaimi (wafat tahun 403 H) berkata :

“Dan doa secara umum merupakan bentuk ketundukkan dan perendahan, karena setiap orang yang meminta dan berdoa maka ia telah menampakkan hajatnya (kebutuhannya) dan mengakui kerendahan dan kebutuhan kepada dzat yang ia berdoa kepadanya dan memintanya. Maka hal itu pada hamba seperti ibadah-ibadah yang dilakukan untuk bertaqorrub kepada Allah. Oleh karenanya Allah berfirman ((Berdoalah kepadaku niscaya akan Aku kabulkan, sesungguhnya orang-orang yang sombong dari beribadah kepadaku akan masuk dalam neraka jahannam dalam keadaan terhina)). Maka Allah menjelaskan bawhasanya doa adalah ibadah” (Al-Minhaaj fai syu’ab Al-Iimaan 1/517)

Al-Hulaimi juga berkata :

“Hendaknya rojaa’ (pengharapan) hanyalah untuk Allah karena Allah-lah Yang Maha Esa dalam kepemilikan dan pembalasan. Tidak ada seorangpun selain Allah yang menguasai kemanfaatan dan kemudhorotan. Maka barangsiapa yang berharap kepada dzat yang tidak memiliki apa yang ia tidak miliki maka ia termasuk orang-orang jahil. Dan jika ia menggantungkan rojaa (pengharapannya) kepada Allah maka hendaknya ia meminta kepada Allah apa yang ia butuhkan baik perkara kecil maupun besar, karena semuanya di tangan Allah tidak ada yang bisa memenuhi kebutuhan selain Allah. Dan meminta kepada Allah adalah dengan berdoa” (Al-Minhaaj fi Syu’ab Al-Iimaan 1/520)

Ar-Roozi berkata :

“Dan mayoritas orang berakal berkata : Sesungguhnya doa merupakan kedudukan peribadatan yang paling penting, dan hal ini ditunjukkan dari sisi (yang banyak) dari dalil naql (ayat maupun hadits-pen) maupun akal. Adapun dalil naql maka banyak” (Mafaatihul Goib 5/105)

Kemudian Ar-Roozi menyebutkan dalil yang banyak kemudian ia berkata :

“Allah berfirman ((Dan jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang aku maka sesungguhnya aku dekat)), dan Allah tidak berkata ((Katakanlah aku dekat)), maka ayat ini menunjukkan akan pengagungan kondisi tatkala berdoa dari banyak sisi. Yang pertama, seakan-akan Allah berkata : HambaKu engkau hanyalah membutuhkan washithoh (perantara) di selain waktu berdoa adapun dalam kondisi berdoa maka tidak ada perantara antara Aku dan engkau” (Mafaatihul Goib 5/106)

Lantas bagaimana jika kerendahan dan ketundukkan kondisi seseorang yang sedang berdoa ini diserahkan dan diperuntukkan kepada selain Allah?, kepada para nabi dan para wali??!!. Bukankah ini merupakan bentuk beribadah kepada selain Allah alias syirik??!!

Jawaban:

Disini sangatlah jelas jika ustadz Firanda salah dalam mendifinisikan Kata Ibadah, dia katakana : “Ibadah secara bahasa berarti ketundukan dan perendahan.

Dia mengutip perkataan Al-Jauhari rahimahullah:

“Asal dari ubudiyah (peribadatan) adalah ketundukan dan kerendahan…, dikatakan الطَّرِيْقُ الْمُعَبَّدُ (jalan yang ditundukan/mudah untuk ditempuh) dan الْبَعِيْرُ الْمُعَبَّدُ (onta yang tunduk/taat kepada tuannya) (As-Shihaah 2/503, lihat juga perkataan Ibnu Faaris di Mu’jam Maqooyiis Al-Lugoh 4/205, 206 dan perkataan Az-Zabiidi di Taajul ‘Aruus 8/330)

Adapun definisi ibadah menurut istilah adalah tidak jauh dari makna ibadah secara bahasa yaitu ketaatan dan ketundukan serta kerendahan.

Begitulah definisi ustadz Firanda akan Makna Ibadah. Pemaknaan dan pendefinisian seperti ini jelas merusak tatanan kehidupan. Tidak akan ada seorang muslim pun di muka bumi ini yang tidak musysrik, semuanya menjadi musyrik, termasuk Ustadz Firanda sendiri akan menjadi Musyrik. Karena saya yakin tentunya ustadz firanda juga adalah seorang anak yang TAAT, TUNDUK dan MERENDAH di hadapan Orang tuanya. Dengan definisi yang dia tetapkan itu, dia akan banyak mengkafirkan orang bahkan dirinya pun otomatis terjerat oleh pemahamannya yang salah fatal itu.

 

Ustadz firanda melanjutkan :

Sungguh dalil-dalil yang menunjukkan bahwasanya berdoa kepada selain Allah merupakan kesyirikan sangatlah banyak. Diantaranya firman Allah :

وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ

Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? (QS Al-Ahqoof : 5)

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ
Dan Barangsiapa berdoa kepada Tuhan yang lain di samping Allah, Padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, Maka Sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung (QS Al-Mukminun 117)

فَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ فَتَكُونَ مِنَ الْمُعَذَّبِينَ

Maka janganlah kamu berdoa kepada Tuhan yang lain di samping Allah, yang menyebabkan kamu Termasuk orang-orang yang di’azab (Asy-Syu’aroo : 213).

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الأرْضِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلا مَا تَذَكَّرُونَ

Atau siapakah yang mengabulkan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi? Apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? Amat sedikitlah kamu mengingati(Nya). (QS An-Naml : 62)

وَلا تَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا إِلَهَ إِلا هُوَ كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

Dan janganlah kamu berdoa di Tuhan apapun yang lain disamping (berdoa kepada) Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. bagi-Nyalah segala penentuan, dan hanya kepada-Nyalah kamu dikembalikan (QS Al-Qoshosh : 88).

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Dan Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu berdoa seseorangpun di dalamnya di samping berdoa Allah. (QS Al-Jin : 18)

Rasulullah bersabda :

مَنْ مَاتَ وَهْوَ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ نِدًّا دَخَلَ النَّارَ

“Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan berdoa kepada selain Allah maka masuk neraka” (HR Al-Bukhari no 4497)

Itulah dalil yg banyak yang menunjukkan bahwa berdoa kepada selain Allah merupakan kesyirikan.

 

Jawaban:

Ternyata ustadz Firanda banyak keliru dalam memahami dalil, baik Qur`an, Hadist maupun perkataan para Ulama. Dia tidak dapat membedakan kapan do’a menjadi Ibadah dan Kapan Do’a tidak menjadi Ibadah. Ditambah dengan penetapan definisi yang salah akan makna Ibadah lengkaplah sudah jika ustadz Firanda adalah seorang yang menjadi Musyrik karena fahamnya sendiri. Kasihan Ummat Islam jika Do’a dan Ibadah difahami seperti itu.

 

Bersambung ke bagian selanjutnya, tunggu tanggal postingnya….

( Pada postingan berikutnya akan semakin memperjelas bagaimana Ustadz Firanda Menjadi Musyrik sebagai akibat dari pemahamannya sendiri …. )

 

 

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

92 thoughts on “Ustadz Firanda Bisa Musyrik Akibat Pemahamannya Sendiri”

  1. Astaghfirullohal’adziim…. Saya yakin ustadz Firanda itu level nya masih sama saja dengan para pengikutnya, masih sama-sama tidak mengerti kalimat yg diucapkannya sendiri. Kebanyakan mereka itu kan seperti itu, ya kan? Burung beo dong itu?

    1. Sangat setuju kang Mujiono, itu akibat tidak mengerti ucapannya sendiri, akhirnya dia tidak sadar bahwa ucapannya itu juga menyasar ke dirinya sendiri juga. Betapa besar dosa yg ditebarkan Firanda dg pemahamannya itu, bukan dia sendiri yg salah fatal tetapi juga para pengikutnya ikut2an salah.
      nu’dzubillah min dzalik.

  2. wah’
    sebenarnya
    ‘ sya sering nonton debat aswaja dengan salafi argumen.a sama dengan ustad firanda tapi selalu di bantah/di patahkan argumen.a oleh ustad aswaja,
    ustad firanda harus.a dialog secara terbuka nie’ sama ustad2, kiayi aswaja’ pasti diam pas argumen2.a psti mudah di bantah oleh para kiyai’
    tpi beda klu di dunia maya ustad firanda pasti bakalan ngeyeL dan mencari bantahan biar tidak maLu sama diri.a dan pengikut.a ^_^ . . .

  3. Ibarat dalam dunia persilatan ketika mau bertanding si firanda banyak mengeluarkan dan memamerkan gerakan jurus2 mautnya wuzzsh wuzzsh ciatt ciaatt wukhg wukhg ..polah sana polah sini, loncat sana-loncat sini.. begitu BEL berbunyi (TENGG!!!….).. skali maju tiba2 langsung GEBLAK klepek-klepek alias klenger, padahal baru terkena 1 pukulan dan 1 tendangan Utdz Ahmad Syahid saja, belum ada 1 jurus lagi ….. 😀 😀 😀 😀 😀

    ASWAJA YES!!!!…………………WAHABY owww NO WAY!!!!!!!!!

    1. glandangan kismin@

      Firanda kebanyakan pamer jurus tapi dg kuda2 yang rapuh sehingga Firanda langsung terkapar ketika baru terkena angin pukulan Mas Syahid. Seru banget dah bagi yang paham pertarungan seru dalam postingan di atas.

      syukron Mas Syahid, syukron mas admin. Saya tunggu cerita selanjutnya.

  4. akibat pembelajaran yang keliru maka menghasilkan pemahaman dan pendapat yang keliru, Firanda bukanlah sosok dengan derajat keilmuan yang cukup untuk memberikan fatwa,

  5. Begitu baca ini, saya langasung berkerut dahi :

    “Banyak ilmu yang bisa ditimba dari Ahmad Syahid terutama agar kita memperoleh pemahaman yang benar tentang ibadah, syirik dan akibat-akibatnya jika kita salah dalam memahaminya. Penjelasan yang disampaikan oleh Mas Ahmad Syahid menyentak kesadaran kita, betapa selama ini ada yang salah dari pemahaman keislaman yang dianut oleh merka-mereka yang bergelar Ustadz sekali pun. Na’udzubillah tsumma nau’dzu billah min dzaalik.”

    apakah Ahmad Syahid ini seorang yang benar ? sehingga kita harus menimba ilmu darinya
    dan apakah tidak berlebihan kata-kata terakhir, saya kira sama saja artinya dengan kita mengatakan bahwa orang lain semua salah.
    Hendaknya janganlah kita mengukur ukuran badan orang lain dengan baju yang kita pakai

    marilah kita sama-sama mencari KEBENARAN dan bukan mencari PEMBENARAN

    1. Sabar, semoga selalu bersabar@

      Hendaknya janganlah kita mengukur ukuran badan orang lain dengan baju yang kita pakai

      Semboyan antum itu cocok untuk diterapkan ke masalah-masalah selera seperti selera style fashion, selera makan, dan selera-selera yang lain. Akan tetapi, masalah aqidah dan ibadah itu bukan masalah selera, bang Sabar@.

      Coba antum teliti postingan di atas, apakah bantahan Ahmad Syahid ada yang salah? Jika ada coba katakan saja. Oke bang Sabar?

      Semoga Allah senantiasa menganugrahi kesabaran kepadamu sehingga nantinya memperoleh hidayah-NYA.

      1. Biasalah itu Mas admin,
        bang Sabar@ sama seperti gurunya dalam postingan, sama2 tidak mengerti apa yg diucapkan, Bisa ngomongnya tapi tidak tahu penerapannya. Kata teman2 di sini mereka itu kurang mikir dan asal ngomong yg penting kelihatan pintar. Hmmm… tapi kalau mereka ngomong di depan kita selalu ketahuan kurang mikirnya.

        1. Alhamdulillah,
          semoga kita semua di beri hidayah oleh ALLAH SWT tentang agama ini dengan pemahaman yang Haq. Insya ALLAH
          saya hanya ingin mengajak saudara sesama muslim untuk tetap arif menyikapi perbedaan pemahaman ini di mana, kapan saja dan oleh siapa saja.
          Manusia itu tempatnya salah dan dosa, siapapun bisa salah. Kecuali Rosulullah SAW
          Yang saya komentari adalah penekanan kata-kata:
          1. “Belajar pemahaman yang benar tentang ibadah…”
          2. “Menyentak bahwa banyak yg selama ini banyak yang salah…”
          yang menurut saya sebagai penuntut ilmu kita sudah terjebak kepada taqlik bahwa yang benar adalah kita dan yang lain salah.
          saya secara pribadi menaruh hormat dan salut pada Sdr. Ahmad Syahid, dari tulisannya Beliau memang orang yang berilmu. semoga ALLAH merahmati Beliau.

          Untuk itu jika komentar saya kurang berkenan, mohon saudaraku dapat memaafkan.

          “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”

          1. bang Sabar@

            Di situ kan jelas, jika salah memahami tentang aqidah dan ibadah bisa fatal akibatnya. Jelas ini bukan masalah selera, ya kan bang Sabar?
            Buktinya antum kan nggak bisa menunjukkan kesalahan dari jawaban mas ahmad syahid.

            antum bilang:

            Yang saya komentari adalah penekanan kata-kata:
            1. “Belajar pemahaman yang benar tentang ibadah…”
            2. “Menyentak bahwa banyak yg selama ini banyak yang salah…”

            Bang Sabar, maaf ya bang, jangan main pelintir ya, kalau mau mengutip perkataan yang lengkap atau utuh, jangan main potong begitu. Contohnya saya itu mengutip perkataan antum pakai blocquote tak ada yg saya potong.

            Antum kan saya lihat belum bisa memahami kalimat, makanya jangan main potong kutipan kalimat orang lain. Coba periksa, apakah ada dalam postingan kalimat seperti yang antum kutip tsb?

            afwan kalau kritik saya ini membuat antum kebakaran jenggot, afwan.

      2. kok sy gak melihat dalil yg di bawakan oleh mas admin ya?? apa gak perlu dalil untuk membantah Alqur’an dan Hadits yg d bawakan Ust. Firanda?? jd siapa nih yg lebih berilmu yah,,, aku bingung membedakan ini saja, mas admin gak bawa dalil dan ust. firanda bawa dalil, tetapi mas admin mengkritik, dan biasanya yg mengkritik itu mempunyai ilmu ttng yg d kritiknya,,, dan sy yakin mas admin pnya ilmu dan dalil (Qur’an& Sunnah atau perkataan ulama ahlusunnah) yg kuat utk mematahkan argumen ust. firanda hny sj belum dikeluarkan dalilnya,,,:) bg yg suka baca dan yg pernah nulis karya ilmiah di skolahan, perkataan yg tdk pnya referensinya itu ya gak akan kepakai,, jd bg sy kl pun benar yg mas admin sampikan tetep ngerasa ga sebanding dengan Qur’an & Sunnah yg ust. firanda bawakan,,, monggo mas admin keluarkan jurus2 andalanmu dari Qur’an & Sunnah yg antum punya agar ust. Firanda klepek,,, klepek,,,

    2. Bang Sabar…. saya setuju dg Admin, antum pelajari dulu postingan di atas jika antum menemukan kesalahan dari Mas Ahmad Syahid langsung katakan saja.

      Setelah itu barulah antum boleh bilang: “

      marilah kita sama-sama mencari KEBENARAN dan bukan mencari PEMBENARAN

  6. Gak nyangka, ternyata ustadz Firanda kualitasnya cuma seperti “Keledai Pemikul Kitab”. Kasihan para pengikutnya jadi ikut tersesat bersamanya.

    Ya Allah, tolong selamatkan mereka dari jurang kesesatan, kasihan mereka ya Allah…

    1. hehehehh… betul sdr Alvin Albani….

      Ustadzah Fira emg spt yg anda katakan “keledai pemikul kitab” ketika berjalan sudah sering terperosok di dalam lobangan lumpur tetapi msih aja tetap berjalan di tempat yg sama, yg akhirnya sering skali terperosok ditempat yg sama.. hmmm ato mungkin juga klo berjalan suka pke kaca mata KUDA , shg pandangan mata cuma tertuju ke depan saja?? pdhl di samping kanan kirinya masih bnyk sekali jalan yg bagus, yg sempurna, yg tdk menjerumuskan dan tdk menyesatkan….wAllahu a’lam….

  7. Ane udah tahu dari dulu, ustadz firanda itu cuma tong kosong… mulut lebar hati kosong hehehe…

    cuma emang wahabiyun paling doyan ngikut orang-orang sejenis seperti itu hihihihi…

    sebelas duabelas ama almuhaddist terkenal fenomal abad 21 di seantero wahabi raya… siapa lagi kalau bukan… sheik al-bani hihihi…

  8. Akibat salah pemahaman dlm mengkaji Alquran dan Hadist yg telah dijelaskan panjang lebar oleh ulama’ Ahlussunnah, dan akibat menelaah dan mempelajari terjemahan tanpa guru.

    munculah orang2 seperti Firanda yg kerjaanya mensyirikan kaum muslimin.
    3T (Tabdi,takfir ,dan Tasybih menjadi dzikirnya).
    dan karena telah keruh pikiran juga buta hatinya mereka sibuk dan mantab dg neraka,musyik,bid’ah dan semacamnya.

    Bagaimana mungkin Firanda bisa memahami perkataan ArRozi, bagaimana mungkin firanda bisa memahami perkataan ibnu hajar, wong firanda bukan pengikutnya.

    Firanda yg anti madzab = madzab wahabi sedang Ibnu Hajar bermadzab Syafi’i.

    Klo hanya menukil-nukil perkataan ulama dan belajar tanpa sanad kepada penyusun kitab2 ulama’ tersebut bisa dipastikan gurunya adalah syetan sang pemuja hawanafsu.
    Akibatnya Sesat dan menyesatkan kaum muslimin utamanya kaum awam.

  9. Bismillaah,

    Sayang sekali, bantahan Akhi Ahmad Syahid miskin rujukan terutama dari Qur’an dan hadits. Sebaliknya, tulisan Ustadz Firanda sangat mendalam disertai dalil-dalil dari Qur’an dan hadits dan perkataan ulama. Bantahan seharusnya lebih berkualitas dari sisi keilmiahannya, yakni kaya rujukan kepada Qur’an, hadits dan perkataan ulama sehingga tidak kalah dari artikel yang dibantah. Ini menunjukkan bahwa Ustadz Firanda lebih luas pengetahuannya daripada pembantahnya.

    Maaf, saya hanya mengomentari bantahan Akhi Ahmad Syahid dari sisi penulisan, tidak dari sisi kebenaran baik bantahan maupun tulisan yang dibantah.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi

      “Maaf, saya hanya mengomentari bantahan Akhi Ahmad Syahid dari sisi penulisan, tidak dari sisi kebenaran baik bantahan maupun tulisan yang dibantah.”

      banyak orang bicara masalah dalil, tapi tidak faham dengan apa yang ia bicarakan. ada suatu hadis yang mengatakan bahwa, akan datang sekelompok anak muda yang pandai berdalil tapi ilmu mereka tidak sampai pada kerongkongannya.

      o ya, baca juga http://www.abusalafy.wordpress.com
      disana dikupas tuntas bantahan terhadap ustad firanda.

      1. mas Amr terimakasih atas linknya , saya sendiri sedang menulis bantahan atas bantahan ustadz firanda terhadap Habib mundzir , namun ternyata ustadz Abu Salafy sudah lebih dulu menulisnya , meskipun berbeda gaya dan rasa saya rasa tidak ada salahnya untuk berkontribusi meluruskan faham-faham yang disebarkan ustadz firanda.

        untuk mas Sabar dan Ibnu suradi , mohon koreksinya jika ada kesalahan dalam tulisan saya , dan saya siap untuk ruju kepada yang Haq.

    2. Bismillah,

      Kang Suradi@. Pemahaman anda atas tulisan ust. Firanda menunjukkan anda dan ust. Firanda sama-sama sangat terbatas (maaf kalu saya salah menyimpulkan). karena jika merujuk pada Tulisan ust. Firanda tsb sangat jelas bahwa ia tidak memiliki metode yang jelas dalam memahami al-qur’an maupun hadits.

      coba anda perhatikan ketika dia mengangkat QS. ALMU’MINUN 117, AS SYU’ARO 213, AN NAML 62, AL QOSHOS 88, juga HR. Bukhory 4497, yang kesemuanya berbicara ttg mereka yang menganggap adanya ILAH (tuhan) lain yang dapat mengabulkan do’a.

      hal ini bisa ana simpulkan adanya dua kemungkinan :

      1. Ia tidak memahami atas ayat-ayat yang di angkat yang seharusnya mengarah kemana, untuk siapa, dst….
      2. ia salah dalam memahami konsep TAWASSUL, yang berimplikasi menyamakan antara wasilah (perantara) dengan Mutawassal Ilaih (tujuan).

      hal ini sangat berbahaya karena bisa meng-kafirkan mayoritas umat islam dari zaman para sahabat hingga sekarang. Perhatikan Hadits berikut :

      عن أنس بن مالك إن عمر بن خطاب كان إذا قطحوا استسقى بالعباس بن عبد المطلب فقال : اللهم إنا كنا نتوسل إليك بنبينا فتسقينا وإنا ننتوسل إليك بعم نبينا فاسقنا قال : فيسقون (أخرجه الإمام البخارى فى صحيحه ج: 1 ص:137 (

      Riwayat Bukhari: dari Anas bin Malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Abbas berkata: “Ya Tuhanku sesungguhkan kami bertawassul (berperantara) kepadamu melalui Nabi kami maka turunkanlah hujan dan kami bertawassul dengan paman Nabi kami maka turunkanlah hujan, lalu turunlah hujan.

      juga masih banyak riwayat-riwayat yang lain.

      maka dengan konsep TWASSUL yang diusung ust. Firanda meskipun tidak secara xplisit ia telah meng-kafirkan Uamar bin Khottob RA. juga para sahabat dan tabiin yang lain…

      berhati-hatilah menggunakan ayat al qur’an ingat dalam Shihih Bukhory disebutkan ttg pendapa Abdulloh bin Umar RA.:

      وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَرَاهُمْ شِرَارَ خَلْقِ اللَّهِ وَقَالَ إِنَّهُمْ انْطَلَقُوا إِلَى آيَاتٍ نَزَلَتْ فِي الْكُفَّارِ فَجَعَلُوهَا عَلَى الْمُؤْمِنِينَ

      “Mereka mengambil ayat-ayat al-Qur’an yang turun mengenai orang-orang kafir, lalu mereka tuangkan kepada orang-orang beriman”.

      1. Bismillaah,

        Kang Abu Hilya,

        Terjemahan anda sepertinya kurang tepat pada hadits berikut:

        عن أنس بن مالك إن عمر بن خطاب كان إذا قطحوا استسقى بالعباس بن عبد المطلب فقال : اللهم إنا كنا نتوسل إليك بنبينا فتسقينا وإنا ننتوسل إليك بعم نبينا فاسقنا قال : فيسقون (أخرجه الإمام البخارى فى صحيحه ج: 1 ص:137

        Riwayat Bukhari: dari Anas bin Malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Abbas berkata: “Ya Tuhanku sesungguhkan kami bertawassul (berperantara) kepadamu melalui Nabi kami maka turunkanlah hujan dan kami bertawassul dengan paman Nabi kami maka turunkanlah hujan, lalu turunlah hujan.

        Seharusnya terjemahannya: Ya, Allah, dahulu (idzaa kaana) kami bertawasul kepadamu dengan perantara Nabi kami, maka engkau turunkan hujan. Kini kami bertawasul kepadamu dengan perantara paman nabi kami, maka turunkanlah hujan. dst.

        Jadi, ketika Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, para sahabat bertawasul dengan Rasulullaah. Setelah, Rasulullaah meninggal, mereka bertawasul dengan paman beliau, Ibnu Abbas.

        Maaf, bila ada kata yang tidak berkenan.

        Wallaahu a’lam.

        1. Waalupun sudah telat waktunya..tp kayak perlu meluruskan, komentarnya pak ibnu suradi. biar tidak salah paham
          Pak Ibnu itu kata “natawassalu” adalah fiil mudhori’ kenapa anda artikan dahulu kami bertawassul. dalam kaedah ilmu nahwu fiil mudhori’ berarti sedang dilaksanakan atau akan dilaksanakan.

          Coba dibuka lagi buku nahwunya …jgn menerjmahkan sesuai keinginan hawa nafsu

          1. maaf kang shofy, cuma mo klarifikasi. sepertinya terjemahan yang lebih cocok terjemahan pak ibnu suradi. pada kalimat pertama ketika menceritakan tentang tawassul pada nabi Muhammad, ada tambahan kata kunna, yang kata tersebut tidak ada pada kalimat yang menyebutkan tentang tawassul pada nabi. jika seandainya diartikan bahwa kalimat pertama bermakna sedang , maka kenapa pada kalimat kedua tidak menggunakan kata kunna juga.
            maaf baru belajar, cuma butuh penjelasan

          2. Bismillah,

            mas @Zorro, maaf sebelumnya, sebenarnya terjemahan kami berdua (saya dan kang Ibnu Suradi) tidak ada yang tepat, dan atas peringatannya kepada semua kami ucapkan terima kasih, dan berikut kami sampaikan ralatnya :

            اللهم : Ya Alloh
            إنا كنا : Sesungguhnya kami
            نتوسل : kami bertawassul
            إليك : kepada-Mu
            بنبينا : dengan (perantara) Nabi kami
            فتسقينا : maka Engkau menurunkan hujan pada kami
            وإنا ننتوسل : dan sekarang kami bertawassul
            إليك : kepada-Mu
            بعم نبينا : dengan perantara paman nabi kami
            فاسقنا : maka turunkanlah hujan pada kami
            قال : Perowi (Anas bin Malik) berkata
            فيسقون : maka mereka dituruni hujan.

            sehingga terjemahnya adalah: “Ya Alloh sesungguhnya kami bertawassul kepada-Mu dengan (perentara) nabi kami maka Engkau menurunkan hujan kepada kami, dan sekarang sungguh kami bertawassul kepada-Mu dengan perantara paman nabi kami, maka turunkanlah hujan pada kami. Rowi berkata : maka mereka dituruni hujan”

            sekali lagi kami mohon maaf atas kesalahan terjemah sebelumnya.

    3. kang Suradi, antum rupanya belum mampu membedakan antara mana yang perlu dalil dan yang tidak perlu dalil. Membawa dalil sebanyak-banyaknya seperti Firanda sih boleh-boleh aja, tapi masalahnya nyambung nggak dengan kalimat-kalimat yang diuraikannya?

      Tidak musti berarti banyak dalil itu ilmiyyah, bagaimana kalau dalil-dalilnya itu asal-asalan, tidak nyambung atau si pembawa dalil itu gak paham dg dalil yg dibawakannya sehingga salah pasang dalil? Apakah ini masih bisa disebut ilmiyyah? Bagi saya itu adalah bentuk kejahilan murokkab, kang Suradi.

      Nah, kaitannya dg keheranan antum kenapa Mas Ahmad Syahid tidak menyebut dalil, tentu karena tidak semua hal itu harus pakai dalil. Coba cerna aja pakai mikir apa-apa yg disampaikan Mas Ahmad Syahid, insyaallah antum paham nantinya. Kami orang2 Aswaja bukan lah golongan orang2 yg cuma bawa-bawa dalil seperti keledai memikul kitab.

      Maaf, kok orang2 semacam antum ini kok selalu terkagum-kagum dengan dalil-dalil yg dibawakan oleh ustadz2 Wahabi, kenapa ya? Membawa dalil sebanyak2-nya itu boleh asalkan nyambung dg permasalahan yg dibicarakannya. Begitu kang Suradi.

    4. Ibnu Suradi@
      antum bilang begini:

      Ini menunjukkan bahwa Ustadz Firanda lebih luas pengetahuannya daripada pembantahnya.

      Lebih luas kok gak paham dg perkataanya sendiri, itulah masalahnya Ibnu Suradi. Makanya dia jadi musyrik oleh kata-katanya sendiri, di sinilah masalahnya.

      Yang memusyrikkan Firanda itu bukan orang lain tetapi perkataanya sendiri, baca dong yg bener jangan loncat2 biar ngerti.

  10. Ahhh.. itu kan katamu ibnu ibnu…. menurut ane penjelasan bantahan dr Ust Ahmad Syahid malah justru sdh cukup jelas,padat dan berisi dan yg terpenting sdh BENAR dari sisi kebenarannya (insyaAllah)…. gak panjang mulek ra karu2an kyk tulisan si FIRA yg terlalu banyak jauh dari kebenaran alias MENYESATKAN ( Na’udzu billah)….

    Sedikit tapi benar adalah lbih baik drpd panjang tapi SALAH dan MENYESATKAN!!!!!!!!!!!!

    nb: ASWAJA YES!!!!!!!!!!!!…………………….. WAHABY owww NOooooooo……

  11. Bismillaah,

    Saya setuju komentarmu: “ASWAJA YES”. Kita memang harus masuk ke dalam golongan Ahlussunnah wal Jamaah. Kita harus mengikuti jalan hidup yang ditempuh oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Kita harus mengikuti sunnah Rasulullaah, bukan sunnah kebanyakan orang.

    Wallaahu a’lam.

  12. Bismillaah,

    Kang Amr,

    Kira-kira maksud dari kata “sunnah” dalam “Ahlussunnah wal Jamaah” itu sunnah Rasulullaah atau sunnah kebanyakan orang?

    Ingat, Allah melarang kita dari mengikuti kebanyakan orang sebab mereka bisa menyesatkan kita. Makanya, lebih baik ikuti Rasulullaah. Dijamin kita selamat.

    Wallaahu a’lam.

    1. kang Suradi@: antum tak tunggu jawabannya ko’ nongolnya disini…..

      maaf mas amar kalau boleh ana ikut nimbrung….

      ini ada pertanyaan lagi buat kang suradi :

      مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ
      فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَاوَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِاَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

      kang Suradi yang kami hormati, Siapakah yang dimaksud Rosululloh SAW. dengan kata “MAN” pada hadits diatas? dan apa yang dimaksud “SUNNAH” pada hadits tsb ?

    2. @ibnu suradi, tampaknya pemahaman anda tentang islam semakin payah, ingin sekali rasanya saya berdiskusi langsung berhadapan dengan anda tentang islam agar wawasan sempit anda bisa terbuka dan menerima pemahaman islam bukan hanya berasal dari pemahaman sempit wahabi/salafi. he…he… memang sangat susah sekali lepas dari pemahaman dan cuci otak bagi mereka yang terkena virus wahabi/salafi, bukan begitu kang ibnu suradi ?

    3. Kang Ibnu Suradi

      saya faham maksud antum, dalam ayat itu kita dilarang mengikuti kebanyak orang, yaitu orang2 yg kgak ngerti agama. Tapi yang benar adalah mengikuti kebanyakan ulama’ ahlusunnah wal jamaah. Bukankah Rasul juga telah bersabda bahwa Umat beliau tidak akan bersatu dalam kesesatan

    4. 1. yg dimaksud amr adalah sunnah dlm artian bahasa, yg berarti kebiasaan. kebiasaan yg baik itu boleh diikuti selama tidak bertentangan dg Qur`an, sunnah Nabi, dan ijma’. bukankah kita mengikuti sunnah sayyidina utsman ketika beradzan 2x pd shalat jum’at? bukankah kita mengikuti sunnah sayyidina umar ketika shalat tarawih berjama’ah 20 raka’at? ingat, nabi tidak menganjurkan shalat tarawih berjama’ah, bahkan ‘membubarkan’ shalat tarawih berjama’ah dan sayyidina abu bakr tidak mengadakannya. shalat tarawih berjama’ah adalah perkara baru. penulisan al-Qur`an juga merupakan perkara bid’ah. tetapi ia merupakan sunnah para khulafa-ur rasyidin.

      2. sunnah dalam ahlus sunnah wal jama’ah adalah sunnah nabi. dan termasuk sunnah nabi adalah membolehkan sunnah2 yg baik yg tidak bertentangan dg Qur`an, hadits, dan ijma’.

      wallahu a’lam

  13. Maaf, mau tanya. Apakah banyak habaib yang di Arab sudah kemasukan virus wahhabi sebab di blognya sdr firanda diulas? mohon pencerahannya bagi team Admin Ummati. Alhhamdulillah , syukron.

    1. Mas Salafy totok@

      maaf ikut nimbrung, kalau menurut saya, habib idolanya Firanda itu yg palsu. Untuk membuktikannya, test aja dia suruh nyebutin nashabnya. Mudah kan? Kalau yg palsu dijamin tidak akan mampu menyebutkan nashabnya.

      1. sebagian habib memang ada yg kemasukan wahhabi, salafy, dan lainnya. bahkan ada habib yg ahlus sunnah wal jama’ah, tetapi manhaj da’wahnya tidak mengikuti manhaj datuknya, yaitu manhaj kelembutan.

    2. maaf, ada tambahan sedikit mas salafy totok,
      kalau habaib yg asli meskipun masih kanak-kanak juga sudah hapal nashabnya yg begitu panjang. Itu sedikit yg saya tahu. Demikian, silahkan yg lain menambahkan biar lebih lengkap.

  14. Dengan visi dan misi Memurnikan Tauhid dan memberantas TBC (tahayyul,bid’ah,churafat) jamaah 3T(Takfiri,Tabdi,Tasybih) Hempler University jl. Syeh Majmu’i Riyad SaudiArabia membuka pendaftaran baru JURUSAN SERVICE HADIST dg pokok bahasan bagaimana caranya Mendhoifkan Hadist Shohih dan Menshohihkan Hadist Dhoif.

    Dibukanya jurusan Service Hadist KARENA walaupun Al-Imam Bukhori hafal 600rb hadist toh sang Imam manusia biasa juga ada salahnya.

    meminati inilah wartanya:

    PENGUMUMAN
    HEMPLER UNIVERSITY
    JL.SYEH MAJMU’I NO.19 RIYAD SAUDI ARABIA
    BAGI SIAPA SAJA UMAT ISLAM DI INDONESIA TELAH DIBUKA PESERTA DIDIK BARU
    JURUSAN : SEVICE HADIST

    KAPASITAS : 20 SISWA

    SYARAT PEND. : MENGISI PENDAFTARAN (GRATIS)
    IQ.47 MINIMAL
    MENGUASAI BAHASA ARAB
    UMUR MIN.20TH MAK.40TH
    DIUTAMAKAN YG SUDAH BERISTRI
    HAFAL 3 HADIST BERIKUT SANAD MATANNYA

    UJIAN SELEKSI : 30 SYAWAL 1433H

    BAGI YANG LULUS SELEKSI DIBERIKAN FASILITAS Sbb:
    1. BEASISWA SELAMA PENDIDIKAN
    2. BAGI SISWA BERPRESTASI DISEDIAKAN DANA 1 JUTA REAL
    3. ASRAMA MEWAH LENGKAP DG ISINYA BERIKUT PEMBANTU
    SIAP PAKAI
    4. BAGI YG SUDAH BERISTRI KARENA JAUH DARI TEMPAT
    TINGGAL JANGAN CEMAS DAN GELISAH BERDASR FATWA
    PARA SYEH DI HEMPLER UNIVERSITY BAHWA BOLEH
    KAWIN DENGAN NIAT TALAK MAKA PIHAK UNIVERSITY
    MENYEDIAKAN WANITA2 SIAP PAKAI DAN SETIA SETIAP
    SAAT SEPERTI REXONA UNTUK DIKAWIN KONTRAK.

    5. PENDIDIKAN : SELAMA 2 TAHUN

    MASA MOS ADALAH 3 BULAN PERTAMA DG BUKU PANDUAN
    KAMUS CAKIMAKI ALBANI SUSUNAN SYEH HASAN SAQOF
    DARI YORDANIA DIHARAP PARA SISWA MENGUASAINYA.

    6. DOSEN PEMBIMBING : PROF.DR. SYEH JENU,MA
    PROF.DR. SYEH KALI ,MA ,
    PRPF.DR. BIN NGASIMIN
    DOKTOR DULAH , ALUSYEH
    UNTUK LEBIH JELASNYA KUNJUNGI https:www.salafiwahabi@najdi.com

    mohon maaf lahirdan batin
    sukron bang Abu Salafy

  15. ikhwan semuanya ternyata As-sythibi itu beraqidahkan Asy`ariyah , sementara ini kaum wahabi beranggapan jika as-syathibi beraqidahkan seperti mereka . Al-hamdulillah meskipun berbeda dalam memahami Bid`ah namun aqidah beliau sama yaitu Asy`ariyah.

  16. Lillah : segala perbuatan baik, di niatkan hanya beribadah pada alloh swt.
    Billah : senantiasa menyadari bahwa semua yg menciptakan adalah alloh swt.
    Lirrosul : segala perbuatann baik, diniati mengikuti tuntunan rosululloh saw.
    Birrosul : senantiasa menyadari bahwa perbuatan baik kita karena jasa rosuululloh saw.
    Yu’ti kulla dzii haqin haqoh : menunaikan semua bidang kewajiban.
    Taqdiimul ahamm fal ahamm tsummal anfa’ fal anfa’ : mendahulukan yg lbih pnting kemudian yg lbih bermanfaat.
    (diambil dari ajaran wahidiyah, meliputi penerapan iman, plaksanaan islam, perwujudan ihsan) -‘yaa sayyidii yaa rosuulalloh’ diamalkan slma 40 hari, sehari dlm skli duduk +-30 mnit-berfaedah menjernihkan hati dan ma’rifat billah. 081330665333.

  17. Ping-balik: KISAH NYATA: Ustadz Firanda Jadi Musyrik Akibat Pemahamannya Sendiri | UmmatiPress
  18. Dari artikel ini kok ane malah melihat mas ahmad syahid agak kurang pas, pada bantahan pertama point kedua menyatakan bahwa firanda tidak membedakan antara Ibadah dalam makna bahasa (lughowi ) dengan makna Ibadah secara Isthilah atau syar`i. tp dibantahan2 berikutnya malah dia sendiri yg tidak membedakan antara makna bahasa dan istilah.

    1. ini pernyataan ust. firanda : Adapun definisi ibadah menurut istilah adalah tidak jauh dari makna ibadah secara bahasa yaitu ketaatan dan ketundukan serta kerendahan.

      1. Mas Ahmad Syahid, rupanya kang Wagiman tidak lihat pernyataan ustadz Firanda tsb. Padahal jelas ustdz Firanda mengatakannya bahwa definisi ibadah menurut istilah adalah tidak jauh dari makna ibadah secara bahasa yaitu “ketaatan dan ketundukan serta kerendahan.”

        Kang Wagiman, baca lagi yg lebih teliti dong?

  19. Afwan , tapi kenapa H. ahmad syahid tidak melawannya dengan hujjah yang berasal dari nash al quran dan hadist nabi? afwan ana cuma melihat orang yang sakit hati menyatakan membabi buta bahwa ini salah ini salah, ini tidak benar, ini keliru, seakan-akan pemahaman h ahmad syahid lah yang paling benar, tidak mengapa kalau lah tidak setuju,tapi tolong lah membantah dengan dalil,karena beliau ustadz firanda menyanggah dengan dalil dari al quran dan hadist sedangkan h ahmad syahid cuma bisa mengatakan keliru dan sebagainya.

    Afwan, h ahmad syahid seharusnya memposting juga hujjah dari ustadz firanda, agar jelas apa dan dimana letak kesalahan ustadz firanda, dan h ahmad syahid juga seharusnya bisa sopan dalam penulisan judul artikel, karena lisan, hati ,pendengaran kita akan dipertanggung jawabkan kepada Allah Jala waala kelak di akhirat,me-musyrikkan seorang yang muslim yang belum jelas kemusyrikannya adalah bukan suatu hal yang baik untuk dilakukan,karena dapat berbalik kepada diri antum sendiri. Wallahu A’lam

    1. saya hanya meluruskan pemahaman ustd. firanda yang keliru , hingga dirinyapun terjerat dalam pahamnya yang keliru itu .

      pemahaman ust. firanda keliru 1. tentang definisi Ibadah 2. tentang do`a dan 3. tentang penyebab kemusyrikan kafir quresy , dalil-dalilnya tentu sama dengan yg dibawakan ust. firanda , hanya pemahamannya yang berbeda.

    2. Akhina Orang awam@,
      apa yg dimaksud oleh Mas Ahmad Syahid adalah bahwa beliau bermaksud memberi penjelasan terhadap dalil yg dibawakan oleh Ustdz Firanda, karena Firanda salah dalam memahaminya. Tentu dalilnya sama dg yg dibawakan Firanda, ngerti mas Orang awam?

      Orang awam, jadi intinya kesalahan firanda dalam memahami dalil diluruskan oleh Mas Ahmad Syahid. Bacalah yg teliti biar bisa ngerti atau paham.

  20. @ahmad syahid : kalau menurut mas ahmad apa definisi ibadah menurut bahasa dan istilah? tolong dijelaskan , terimakasih

  21. Ping-balik: Antara Muslim.or.id dan Ummatipress.com Tentang Afrokhi Abdul Ghoni | UmmatiPress
  22. Kata Ibnu Suradi “Sayang sekali, bantahan Akhi Ahmad Syahid miskin rujukan terutama dari Qur’an dan hadits. Sebaliknya, tulisan Ustadz Firanda sangat mendalam disertai dalil-dalil dari Qur’an dan hadits dan perkataan ulama. Bantahan seharusnya lebih berkualitas dari sisi keilmiahannya, yakni kaya rujukan kepada Qur’an, hadits dan perkataan ulama sehingga tidak kalah dari artikel yang dibantah. Ini menunjukkan bahwa Ustadz Firanda lebih luas pengetahuannya daripada pembantahnya.”

    BEGITULAH WATAK WAHABI, DAJJAAAL. kata nabi, “Sayakhruju d-dajjaal fi baqiyaatihim” (dajjal akan keluar di tengah mereka yang masih tersisa (mendekati hari kiamat). (HR. Hakim, Ahmad, Ibnu Majah dan lainnya). Baca kembali buku Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi hal. 158.

  23. Membaca artikel diatas untuk firanda, wah mengerikan sekali, rencananya masuk syurga tanpa hisab … eh menjadi bualan pribadinya. Allahuma ini audzibika min fitnati mahya wal mamati Amin
    Terima kasih Ustad

  24. masya Allah, kalau minta kepada yg masih hidup jangankan ustadz Firanda semua orang awampun semua sudah tau itu bukan ibadah, itu bukan do’a. yang tidak boleh adalah meminta kepada orang yang sudah mati, untuk pa haji Ahmad Syahid, abu Salafi dan semua orang yg suka bermohon kpd orang yg sudah mati mohon agar segera menghentikan perbuatan tersebut dan bertobat kepada Allah ta’ala karena tidak diajarkan dan dicontohkan oleh teladan kita Rosululloh salallohu alaihi wasalam

  25. ahmad syahid, antum kok gak malu dengan tanggapan kosong sperti yang antum hamburkan diatas? hehhehehe…Wallahi,tanggapan antum benar-benar kosong melompong!

  26. Bismillah,

    Saudaraku @dufal,

    Apa anda mau kami membuktikan kecerobohan dan kebodohan Ust. Firanda? satu saja pertanyaan dari kami,

    – dalam al qur’an ada berapa makna kata do’a dan yang Musytaq darinya?

  27. “Dan orang-orang yang menjadikan sembahan-sembahan selain Allah, (mereka mengatakan): “kami tidak beribadah kepada mereka, melainkan supaya mereka itu mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah memutuskan diantara mereka dihari kiamat dalam apa yang telah mereka perselisihkan, sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang yang dusta lagi sangat kafir” (QS. Az Zumar [39]: 3)

    1. Bismillah,

      @tasurrun nadhirin,

      Kami tunggu Hujjah anda dalam menolak tawassul, jika memang anda memiliki hujjah maka Insy kami akan bersedia berdiskusi dengan anda… dimanapun kapanpun…

      1. Ya ustadz Abu Hilya, mereka bermasalah dg hujjah, itulah yg selama ini jadi masalah sekaligus fitnah karena Wahabi tak punya hujjah yg jelas mengenai pengharaman bahkan pemusyrikan bagi para pelaku tawassul. Dosanya seperti apa itu ya hobby memusyrikkan orang2 yg baertawassul? Ratusan juta muslimin di seluruh dunia seolah-olah menjadi musyrik gara2 fitnah Wahabi.

        Semoga hidayah segera menghampiri mereka, kasiham kalau sampai terlambat.

    2. @tasurrun naadhirin : “ini namanya akal-akalan untuk melegalkan tawassul”.

      Jawab :

      “Masyarakat telah tertimpa bencana kekeringan di zaman kekhalifahan Umar bin Khattab. Bilal bin Harits –salah seorang sahabat Nabi– datang ke pusara Rasul dan mengatakan: ‘Wahai Rasulullah, mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah (banyak) yang binasa’. Rasul saw. menemuinya di dalam mimpi dan memberitahukannya bahwa mereka akan diberi hujan (oleh Allah) ”. (Fathul Bari)

      Apakah golongan pengingkar lupa siapa Bilal al-Habsyi? Apakah Bilal bukan sahabat mulia Rasulallah saw. yang tergolong Salaf Sholeh yang harus diikuti?

      Berkata al-Hafidz Abu Abdillah Muhammad bin Musa an-Nukmani dalam karyanya yang berjudul ‘Mishbah adz-Dzolam’; Sesungguhnya al-Hafidz Abu Said as-Sam’ani menyebutkan satu riwayat yang pernah kami nukil darinya yang bermula dari Khalifah Ali bin Abi Thalib yang pernah mengisahkan: “Telah datang kepada kami seorang badui setelah tiga hari kita mengebumi- kan Rasulullah. Kemudian ia menjatuhkan dirinya ke pusara Rasulallah saw. dan membalurkan tanah (kuburan) di atas kepalanya seraya berkata: ‘Wahai Rasulullah, engkau telah menyeru dan kami telah mendengar seruanmu. Engkau telah mengingat Allah dan kami telah mengingatmu. Dan telah turun ayat; ‘Sesungguhnya Jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang’ (QS an-Nisa: 64) dan aku telah mendzalimi diriku sendiri. Dan aku mendatangimu agar engkau memintakan ampun untukku. Kemudian terdengar seruan dari dalam kubur: ‘Sesungguhnya Dia (Allah) telah mengampunimu’ ”. (Kitab “Wafa’ al-Wafa’” karya as-Samhudi)

      Dari riwayat di atas menjelaskan bahwa; bertawassul kepada Rasulullah pasca wafat beliau adalah hal yang legal dan tidak tergolong syirik atau bid’ah. Bagaimana tidak? Sewaktu prilaku dan ungkapan tawassul/istigho- tsah itu disampaikan oleh si Badui di pusara Rasul –dengan memeluk dan melumuri kepalanya dengan tanah pusara– yang ditujukan kepada Rasulallah yang sudah dikebumikan, hal itu berlangsung di hadapan Amirul mukminin Ali bin Abi Thalib. Dan khalifah Ali sama sekali tidak menegurnya, padahal beliau adalah salah satu sahabat terkemuka Rasulullah yang memiliki keilmuan yang sangat tinggi dimana Rasulullah pernah bersabda berkaitan dengan Ali bin Abi Thalib kw. sebagai berikut:
      Dalam Kitab “Mustadrak as-Shohihain” , ‘Aku (Rasulallah saw.) adalah kota ilmu dan Ali adalah pintu gerbangnya. Barangsiapa meng- hendaki (masuk) kota maka hendaknya melalui pintu gerbangnya’. Dalam Kitab Mustadrak as-Shohihain”, ‘Engkau (Ali) adalah penjelas kepada kepada umatku tentang apa-apa yang mereka selisihkan setelah (kematian)-ku’. umatku tentang apa-apa yang mereka selisihkan setelah (kematian)-ku’. Dan masih banyak lagi riwayat mengenai Khalifah Ali kw.ini. Jika tawassul/istighotsah terhadap orang yang telah wafat adalah syirik, bid’ah, tidak legal/dibolehkan (ghair syar’i), –sebagaimana yang di-isukan oleh kelompok golongan pengingkar– tidak mungkin Imam Ali bin Abi Thalib kw. yang menjadi saksi perbuatan si Badui muslim akan berdiam diri yakni tidak melarangnya.

      Ad-Darami meriwayatkan: “Penghuni Madinah mengalami paceklik yang sangat parah. Mereka mengadu kepada Aisyah ra (ummul Mukminin). Aisyah mengatakan: ‘Lihatlah pusara Nabi! Jadikanlah ia (pusara) sebagai penghubung menuju langit sehingga tidak ada lagi penghalang dengan langit’. Dia (perawi) mengatakan: Kemudian mereka (penduduk Madinah) melakukannya, kemudian turunlah hujan yang banyak hingga tumbuhlah rerumputan dan gemuklah onta-onta dipenuhi dengan lemak. Maka saat itu disebut dengan tahun ‘al-fatq’ (sejahtera)”. (Lihat: Kitab “Sunan ad-Darami” )

      Jadi, menurut asurrun naadhirin, Bilal bin Harist ra., Ali bin Abi Thalib ra., dan ‘Aisyah telah melakukan akal akalan dengan melegalkan tawassul….

      1. asurrun naadhirin mohon maaf mengingatkan yang betul tasurrun naadhirin, semoga NIAT saudara adalah mengingatkan bukan untuk mencela yang lain karena asu itu sebutan untuk anjing dalam bahasa jawa. Sama-sama memperbaiki karena seringkali manusia itu lupa, Mengingatkan orang lain dengan bahasa yang santun dan bersabar atas usaha yang kita lakukan sebagaimana para ulama mengajarkan.

    3. @tasurrun naadhirin
      “ini namanya akal-akalan untuk melegalkan tawassul”
      Kita persepsikan dulu kata “Tawassul”, kalau wahabi bilang : jika seseorang menyebut selain Allah didalam doanya adalah Syirik.
      Coba kita lihat shalawat Ibrahimiyah yang letterlux nya diberikan dan diajarkan langsung oleh Rasulullah :
      “Allahuma shalli ala Muhammad wa ala ali Muhammad, kamma shalaita ala Ibrahim wa ala ali Ibrahim….dst.
      Lima waktu kita menyebutnya.

      Disini Rasulullah menyebut nama Nabi Ibrahim, apakah Rasulullah ente tafsirkan melakukan kesyirikan atau Rasulullah ente tafsirkan atau Rasulullah mengajarkan muslim kesyirikan supaya semua muslim masuk neraka?

  28. Jadi pemahaman yg bener tentang Ibadah, Tauhid, dan Syirik itu sperti apa?
    Dan pemahaman yg bener tentang dalil2 dibawa akh Firanda seharusnya gimana?
    Jangan hanya main salah2 aj donk? Afwan buat akh Ahmad mudah2an ad penjelasanny.

    1. makanya mas supriman, kalau mau komment itu biasakan baca dulu artikelnya, agar tidak perlu bertanya seperti itu. Karena Mas Ahmad Syahid sudah menjelaskannya dalam artikel di atas apa yg antum tanyakan, oke baca deh.

  29. Berikut saya berikan penjelasan yang sederhana tentang tawassul agar para wahabi atau para salafi dapat memahaminya.

    Anggaplah ada dua orang yang membutuhkan uang. Mereka datang kepada seorang saudagar kaya. Orang pertama langsung menyatakan maksudnya kepada saudagar tersebut kalau ia ingin meminjam sejumlah uang. Orang kedua ia juga mengutarakan maksudnya dan ia menambahkan kalau ia kenal dengan istrinya yg telah wafat. Mereka satu kampung, teman sepermainan sewaktu kecil. Kira-kira siapa yang diprioritaskan untuk mendapatkan pinjaman uang? Tentu orang kedua karena ia dekat dan sayang dengan orang yang dicintai oleh si saudagar.

    Begitu pula kita dengan Allah. Kita tidak memohon kepada orang yang telah wafat. Kita tetap memohon kepada Allah, dengan membawa nama orang atau hal yang dicintai Allah dengan harapan bahwa kalau kita cinta dengan apa yang Allah cintai maka Allah juga akan mencintai kita, menyayangi kita, meridhoi kita dan pada akhirnya akan mengabulkan permohonan kita.

    Mohon koreksinya jika pemahaman saya ini salah.

    1. Mohon Maaf kepada semuanya sya hanya ingin menanyakan hal-hal berikut karena saya masih belum menemukan jawaban pasti :
      1. Apakah yang dimaksud dengan hizib (kata orang kumpulan doa-doa?
      2. Kenapa tidak semua orang boleh mengamalkan hizib kalau memang bermanfaat?
      3. Apakah Nabi pernah menyembunyikan/ tidak mengajarkan doa yang mustajab?
      4. Saya pernah mendengar bahwa sebetulnya kalau mengamalkan hizib adalah akhirnya ada intervensi/bantuan dari jin, baik kewibawaan atau untuk kekuatan, sebagaimana nama-nama hizib?
      5. Kalau memang hizib ada intervensi dari jin berarti alangkah mudahnya bagi orang muslim untuk mengetahui apakah benar hizib ada intervensi dari jin?
      caranya bagaimana? Kepada Orang yang mengaku dapat meruqyah dengan cara syar’i misal ustadz Abu Fadlan meruqyah kiyai yang biasanya memiliki ilmu hizib.
      6. Menanggapi komentar-komentar di atas saya mohon ada yang mengirimkan Biografi dari ustadz firanda dan H. Ahmad Syahid bagaimanakah sebetulnya pengamalan ibadah mereka berdua, apakah sudah ada yang benar-benar mengetahui pengamalan ibadah mereka sehingga yang berkomentar disini seolah ada yang membenarkan dan ada yang menanggap remeh.

      MOHON MAAF SAYA MENCARI KEBENARAN UNTUK KITA SEMUA

  30. Yth. Bapak Puji Santoso.

    Assalaamu ‘alaikum.

    Saudagar kaya tersebut memang tidak mengetahui baik kepada orang pertama maupun kepada orang kedua. Dia hanya mengetahui setelah orang kedua menjelaskan bahwa orang kedua adalah kenal, sepermainan, dan satu kampung dengan isteri yang telah meninggal dari Saudagar Kaya. Makanya orang kedua tersebut yang diprioritaskan oleh Saudagar Kaya.

    Berbeda dengan Allah. Dia itu Maha Mengetahui siapa sebenarnya orang pertama dan siapa sebenarnya orang kedua tersebut. Bahkan Allah sudah mengetahui sebelum alam semesta ini diciptakan. Namun Allah selalu memberikan ujian hambaNya. Setaqwa apapun, seshalih apapun, dan sedekat apapun seorang hamba terhadap Allah, tetap akan mendapatkan ujian dari Allah.

    Oleh karena itu, orang pertama yang tidak mau bertawassaul kepada Kiyayi yang sudah meninggal yang dicintai oleh Allah, dan doanya tidak/belum dikabulkan oleh Allah, itu adalah ujian. Dan ujian itu berlaku, baik bagi orang pertama, maupun bagi orang kedua. Untuk orang pertama, ujiannya adalah apakah orang pertama akan tetap meyakini aqidahnya, bahwa berdoa itu langsung saja kepada Allah, tidak usah bertawassul dengan Kiyayi yang sudah meninggal. Untuk orang kedua, ujiannya adalah apakah orang kedua semakin meyakini bahwa tanpa tawassul kepada Kiyayi yang sudah meninggal, maka doanya tidak dikabulkan oleh Allah.

    Demikian pula sebaliknya. Orang kedua yang senang bertawassaul kepada Kiyayi yang sudah meninggal yang dicintai oleh Allah, dan doanya dikabulkan oleh Allah, itu adalah ujian. Dan ujian itu berlaku baik bagi orang kedua, maupun bagi orang pertama. Untuk orang kedua, ujiannya adalah apakah orang kedua tersebut semakin meyakini bahwa dengan bertawassul kepada Kiyayi yang sudah meninggal, maka doanya semakin dikabulkan oleh Allah. Untuk orang pertama, ujiannya adalah, apakah orang pertama tersebut akan merubah keyakinan bahwa agar doanya dikabulkan oleh Allah, maka sebaiknya harus bertawassul kepada Kiyayi yang sudah meninggal.

    Ganjaran yang diberikan oleh Allah yang sebenarnya adalah, nanti di akhirat. Seluruh ganjaran di dunia, baik menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan menurut hambaNya, sifatnya adalah ujian.

    Resiko yang akan dihadapi adalah:

    1. Jika nantinya benar, bahwa hukum bertawassul kepada Kiyayi yang sudah meninggal adalah boleh karena tidak ada unsur kemusyrikan, maka nanti di akhirat, baik orang pertama maupun orang kedua tidak akan mendapatkan hukuman akibat kemusyrikan. Keduanya selamat.

    2. Jika nantinya benar, bahwa hukum bertawassul kepada Kiyayi yang sudah meninggal adalah haram karena ada unsur kemusyrikan, maka nanti di akhirat orang pertama akan selamat, dan orang kedua akan menerima hukuman akibat kemusyrikan. Dosanya tidak akan diampuni oleh Allah.

    Firman Allah Surat An Nisa ayat 48:

    “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.”

    Jadi? Bagaimanami?

    Saya memilih orang pertama. Salaam.

  31. MasDA Sahibu@

    Masalah tawassul dan syirik dalam khazanah ilmu Ahlussunnah wal Jama’ah, adalah sudah jelas. Menhhayalkan tawassul sebagai hal syirik adalah dosa, sebab tawassul itu sudah jelas bukan syirik. Allah memerintahkan kepada orang2 beriman untuk bertawassul, dan Nabi Muhammad sudah memberikan sebagian contoh bertawassul. Coba cari di google, contoh tawassul Nabi Muhammad.

    Di akhirat sudah jelas, berdasarkan ilmu para Ulama Salafuna Shalih, maka orang2 yg menganggap tawassul sebagai syirik harus mempertanggung-jawabkan “kosombongannya” tsb di hadapan Allah Swt….

  32. Yth. Ibu Sherly

    Assalaamu ‘alaikum.

    Semoga Allah SWT memberikan Umur Panjang, Kesehatan, dan Kesejahteraan, dan Ampunan. Aamiin.

    Silakan Ibu bertawassul sesuai yang disyariatkan. Yang penting jangan bertawassul dengan cara yang dilarang.

    Salam Ibu, dan Mohon Ma’af jika saya telah melukai hati Ibu.

  33. Masda Sahibu@

    Tawassul itu gak ada yg dilarang, coba tolong kasih contoh tawassul yg dilarang, saya tunggu, terimakasih….

    Yang melarang tawassul harus bertanggung jawab di hadapan Allah kelak di akhirat….

  34. CONTOH CARA BERTAWASSUL YANG DILARANG

    SALMAN :

    Assalaamu ‘alaikum KAL. Selamat jumpa. Saya doakan, semoga Allah memanjang umur, memberi kesehatan, memberi kesejahteraan, memberi ampunan, dan memaaf kesalahan. Aamiin.

    KALMAN :

    ‘Alaikum salam SAL. Selamat jumpa. Sayang doamu tadi nilainya kecil. Mungkin tidak diterima oleh Allah. Percuma kalau kamu berdoa seperti itu.

    SALMAN :

    Bagaimana kamu tahu KAL?

    KALMAN :

    Kalau meminta, jangan langsung. Memang Dia itu Maha Pengasih. Tapi kita yang meminta, harus Santun. Caranya, harus melalui orang-orang yang paling Dia sayangi. Orang-orang yang sucilah daripada kita. Seperti Kiyayi, Wali, apalagi Rasulullah. Jadi kalau berdoa, melalui Kiyayi dulu. Nanti Kiyayi yang meneruskan ke Wali. Lalu, nanti Wali akan meneruskan ke Rasulullah. Dan nanti Rasulullah akan meneruskan kepada Allah. Mereka itu orang-orang yang disayangi Allah dan dekat sekali sama Allah. Begiiituuu!

    SALMAN :

    Kenapa harus begitu KAL?

    KALMAN :

    Lhooo, kamu kan kerja di Kantor Desa too?!. Ambillah pelajaran. Kamu tahu kan?! Pak Desa itu kalau mau tanda tangan surat permohonan masyarakat kan, pasti menunggu dulu paraf dari Kepala Urusan, dan Sekretaris Desa. Kalau sudah diparaf, barulah Pak Desa tanda tangan. Itu contohnya. Masyarakat itu tahu, bahwa Penentu adalah Pak Desa. Tapi masyarakat yang tidak tahu aturan, atau masyarakat yang Sombong, selalu mengabaikan paraf dari Kepala Urusan dan Sekretaris Desa. Pak Desa ya, biasanya tetap tanda tangan. Tapi jelas tidak senang, bahkan bisa jengkel. Masyarakat yang sengaja mengabaikan paraf dari Kepala Urusan dan Sekretaris Desa itu karena Sombong. Tidak menghargai Kepala Urusan dan Sekretaris Desa. Pak Desa pasti tidak senang.

    SALMAN :

    Apa hubungannya dengan berdoa?

    KALMAN :

    Berdoa itu begitu juga. Kamu kan tahu, bahwa Penentu permohonanmu adalah Allah. Tapi kalau mau bermohon, harus melalui Kiyayi, Wali, dan Rasulullah. Orang-orang dekatNya. Makanya kalau berdoa, harus mengingat dan melalui Kiyayi, lalu mengingat dan melalui Wali, dan lalu mengingat dan melalui Rasulullah, dan barulah sampai kepada Allah. Itu namanya Jalur, atau Jalan. Mereka-mereka itu kita jadikan Perantara. Itulah namanya Buhul Tali Yang Kokoh. Yang menghubungkan kita dengan Allah. Kan ada firmanNya dalam Surat Luqman ayat 22 : “Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan”. Begitu SAAAL.

    SALMAN :

    Setahu saya kan, Allah berfirman : “ . . . . Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, . . . “ . Lha, terus?

    KALMAN :

    Iya betul. Tapi Allah itu mengutamakan akhlaq mulia hambaNya yang berdoa. Allah berfirman dalam Surat Al Maidah ayat 35 : ” “Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah Kepada Allah dan carilah (wasilah) jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. Makanya kalau berdoa, tetap kepada Allah. Tapi jangan lupa harus melalui Kiyayi, nanti Kiyayi yang meneruskan ke Wali, lalu nanti Wali yang meneruskan ke Rasulullah, dan nanti Rasulullah yang meneruskan kepada Allah. Itulah cara berdoa yang Santun. Tidak Sombong. Inilah maksud dari: “ . . .berjihadlah pada jalan-Nya. . .”. Begitu SAAAL!

    SALMAN :

    Tapi KAL, orang yang kita minta menjadi Perantara itu sendiri juga mencari jalan kepada Allah.

    KALMAN :

    Iya benar. Itu ada ayatnya. Al Israa ayat 57. Tapi kita kan hanya mencari jalan ke Kiyayi. Kalau Kiyayi itu hanya mencari jalan ke Wali. Kalau Wali itu hanya mencari jalan ke Rasulullah. Kalau Rasulullah itu Koordinator seluruh Wali. Dialah yang menyampaikannya kepada Allah. Jadi Allah hanya berhubungan dengan Rasulullah. Lalu Rasulullah hanya berhubungan dengan para Wali. Para Wali hanya berhubungan dengan para Kiyayi. Dan para Kiyayi berhubungan orang-orang yang berdoa yang menjadikan dirinya sebagai Perantara. Itulah cara berdoa yang Santun. Tidak Sombong. Begitu SAAAL.

    SALMAN :

    Kalau kita minta langsung kepada Kiyayi untuk mendoakan kita, itu boleh. Tapi orang-orangnya kan sudah pada meninggal KAL. Bagaimana mereka bisa berdoa untuk kita? Kan Rasulullah pernah bersabda: “Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali dari tiga perkara: shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak saleh yang senantiasa mendoakannya.”

    KALMAN :

    Lhaa iya lah. Ilmunya yang bermanfaat. Ilmunya itu yang tetap berjalan. Ilmunya yang bergerak. Bukan lagi jazadnya. Kamu ndak bisa saksikan. Dan ndak sampai pemahamanmu di tingkat itu. Apalagi kalau sudah meninggal, mereka itu sangat dekat dengan Allah. Sudah tidak pernah lagi berbuat kesalahan dan dosa. Makanya kita ke Kuburannya. Begitu SAAAL.

    SALMAN :

    Kenapa harus ke kuburan? Ada apa?

    KALMAN :

    Kita ke kuburan bukan mau menyembah kuburan. Itu Musyrik SAL. Yang kita sembah hanya Allah. Kuburan itu hanya kita jadikan Perantara. Kuburan itukan tanah. Tanah itukan suci. Makanya kita kalau tidak punya air, kalau mau bersuci, ya, pake tanah. Apalagi kalau kuburan Kiyayi. Tanahnya suci sekali. Bahkan boleh ditelan. Banyak teman-teman saya yang menelan tanahnya. Saya juga pernah. Semoga dapat barokahnya. Jadi, kalau kita ke kuburan, bukan mau menyembah kuburannya. Kita tetap berdoa kepada Allah melalui Kiyayi yang sudah di kuburan. Nanti Kiyayi yang sampaikan kepada Wali dan seterusnya. Inilah salah satu contoh Tawassul. Begitu SAAAL.

    SALMAN :

    Jadi intinya kita ini tidak boleh berkomunikasi langsung dengan Allah ya?!

    KALMAN :

    Iya, boleh-boleh saja. Tapi itu tidak Santun. Bahkan Sombong. Allah itu Maha Suci dan Maha Agung. Kita ini termasuk saya, tidak pantas berkomunikasi langsung dengan Allah. Harus melalui Perantara. Orang yang tidak mau menjadikan Kiyayi, Wali, dan Rasulullah sebagai Perantara dalam berdoa, itu karena Sombong. Sepertinya mereka itu merasa sesuci Kiyayi, sesuci Wali. Waaah, Sombong itu.!!!

    SALMAN :

    Kalau kita shalat kan langsung berhubungan dengan Allah?!.

    KALMAN :

    Iya memang. Kalau hanya sekedar menyembah, memuji, menyanjung, mengingat, itu boleh langsung. Contohnya dengan mengucapkan Subhaanallaah, Alhamdulillaah, Allaahu Akbar. Itu boleh. Tidak ada permintaan. Tapi kalau minta, lain. Harus Santun. Harus melalui orang-orang dekatNya sebagai Perantara. Intinya itu, kita menunjukkan Akhlaqul Karimah. Hormatilah Kiyayi. Hormatilah Wali. Terlebih lagi Rasulullah. Tidak Boleh Sombong. Begituuu!!!. Nanti Allah semakin memperhatikan kita. Wah. Susah kamu. Diberi Tausiyah yang baik kok, malah menyudut.

    SALMAN :

    Okey lah KAL. Mohon ma’af. Terima kasih KAL Tausiyahnya.

    KALMAN :

    Alhamdulillaaah. Wah, sudah lapar nih. Ayo mari kita makan Konro. . . . . . . . Nanti saya yang bayar. . . . . . . . . Oh, . . . . . . . . ASTAGFIRULLAAH. . . . . . . . . Saya lupa bawa dompet.

    SALMAN :

    Tidak apa-apa KAL. Nanti saya yang bayar. . . . . . . . .Tapi kok kamu baru saja minta langsung kepada Allah? . . . . . . . . Istigfar? . . . . . . . . . Kok kamu nyontoh saya? . . . . . . . .. . Katanya kalau minta tidak boleh langsung?

    KALMAN :

    Sudah dululah. . . . . . .. Lapaaar. . . . . . . . . . . Mari cepat sama-sama makan Konro.

    SALMAN :

    He hee.

    @@@@@“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?”. (QS Al-Ahqoof : 5).@@@@@

  35. @masda

    mbo ya kalo mau cerita itu yang nyata to mas jangan cerita fiktif gitu ga mutu cerita fiktif ente bisa jadi fitnah loh dan fitnah itu lebih kejam dari fitnes apa ente ga takut ?

  36. Dari apa yg digambarkan oleh pak Masda Sahibu, jelas sekali beliau ini sama sekali tidak paham apa itu Tawassul. Jelas lah apa yg digambarkannya itu adalah penghinaan terhadap ajaran Allah dan Rasul-NYA tentang Tawassul.

    Perlu diketahui oleh semua pihak, bahwa tawassul itu tidak ada kaitannya dg kesyirikan (kemusyrikan), kesalahan dalam memahami tawassul itulah yg mengakibatkan seolah-olah tawassul itu identik dengan syirik. Kalau tawassul itu identik dg syirik, untuk apa Allah memerintahkan kaum beriman untuk bertawassul?

    Jadi, apa yg dibayangkan oleh orang2 yg anti tawassul bahwa tawassul itu identik dg syrik, maka itu jelas bukan tawassul dalam pengertian ajaran Allah dan Rasul-NYA. Itu adalah tawassul yg sudah dipelintir pemahamannya, na’udz billah min dzaalik.

    Ajaran Allah dan Rasul-NYA saja masih difitnah, apalagi yang lainnya?

  37. wkwkwkwkwk… Masda Sahibu
    dialog.nya membahas tawasul, terus ditutup ayat mengenai sesembahan
    ketahuan asal mencocok-kan aja.
    model bocah yg baru belajar silat.

  38. mas @masda sahibu
    banyak baca kitab klasik ya, jangan dari katanya-katanya, seperti orang buta nyanyi bintang kecil.. bintang kecil katanya… katanya, dilangit yang biru katanya.. katanya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker