Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Inspirasional

TKI Gelap Malaysia Meloloskan Diri dari Belenggu Horor

Saya tidak akan bercerita detail lika-liku perjalanan menuju Sungai Muar untuk meloloskan diri dari Malysia, walaupun sebenarnya di sinilah cerita yang paling menegangkan.

Pada kisah sebelumnya sudah saya ceritakan sedikit bagaimana kehidupan saya di Malaysia setelah saya kabur ke Kuala Lumpur dan akhirnya menjadi TKI Gelap. Pekerjaan yang saya jalani tak ada masalah alias tanpa kendala karena sesuai dengan keahlian saya sebagai ‘dress maker”.

Pelanggan yang saya tangani untuk pembuatan pakaian adalah mereka kalangan atas Malaysia, dan saya selama ini tidak pernah mendapat komplain dari pelanggan. Seiring berjalannya waktu, hari demi hari pelanggan semakin bertambah banyak sehingga saya semakin sibuk tenggelam dalam pekerjaan. Begitulah saya tak ada masalah dalam pekerjaan di tempat kerja, pemilik butik bahkan sering memberi saya tambahan uang selain gaji bulanan.

Klik peta untuk memperbesar gambar

Akan tetapi, ketakutan saya sebagai TKI gelap semakin hari semakin membelenggu dan menjadi horor dalam kehidupan saya. Saya jadi takut akan bertemu polisi dalam perjalanan. Setiap akan keluar dari kamar sewa menuju tempat kerja, saya selalu memikirkan jangan-jangan ada polisi yang memperhatikan saya, padahal jarak ke tempat kerja cuma beberapa langkah saja. Begitu juga hampir setiap akan pergi makan siang atau makan malam ke kedai makanan, saya mesti waspada, saya takut jangan-jangan ada polisi sedang mengincar saya.

Pernah suatu hari saya dilanda ketakutan yang mencekam. Dada saya berdegup kencang, pikiran saya menjadi tegang. Ketika itu pada hari Jum’at pagi saat saya bersiap akan berangkat kerja. Seperti biasa, sebelum berangkat kerja, saya sering melongok keluar jendela kamar untuk melihat-lihat ada apa di luar. Dan pagi itu jantung saya terasa copot begitu melihat keluar jendela. Di bawah sana, tepat di depan pintu gerbang rumah yang saya huni ada dua mobil polisi, dan beberapa polisi sedang berbicara dengan penduduk. Saya segera mundur, menjauh dari jendela. Saya lalu terduduk dilanda ketakutan.

Akhirnya polisi akan segera menangkap saya, demikian pikir saya waktu itu. Tidak, saya tak akan lari. Saya akan menyerah saja karena lari malah akan berbahaya. Masih dengan gemetar, sambil membaca ayat kursi dalam hati, saya segera kemasi barang-barang yang saya anggap paling penting. Ada beberapa buku, ada Al-Qur’an, sajadah untuk shalat, dan beberapa baju. Semuanya dengan cepat saya masukkan dalam tas. Rencananya tas ini akan saya bawa sebagai perlengkapan jika saya nanti dijebloskan dalam penjara.

Setelah seperempat jam berlalu, para polisi belum juga mendobrak pintu kamar saya. Kenapa kok lama, apakah mereka menunggu saya keluar? Dengan sisa-sisa keberanian yang saya miliki, saya mendekat ke jendela. Saya melihat ke bawah di depan pintu gerbang rumah, saya ingin apakah para polisi sedang melakukan pengepungan? Tapi ternyata… sepi tak ada polisi. Saya makin berani menempel ke jendela dan memeriksa ke segala arah sejauh yang bisa saya lihat. Benar, ternyata sudah tidak ada polisi. Tak ada pengintaian ata pengepungan oleh polisi.

BACA JUGA:  Menteri Korut Puji ASEAN dalam Dinner Para Dubes di Pyongyang

Yakin tak ada polisi, saya pun memberanikan diri segera keluar rumah untuk berangkat kerja. Dan Alhamdulillah, saya selamat sampai ke tempat kerja. Polisi tidak menangkap saya, bahkan saya rasa tak ada polisi yang mengincar atau menguntit saya dari belakang. Terima kasih atas perlindungan-MU, yaa Allah…! Pada hari itu, mulut saya tak henti-henti berbisik melafazkan kalimat syukur, Alhamdulillah.

***
Masih ada berapa kejadian yang cukup menegangkan yang saya hadapi terkait ketakutan saya pada polisi. Perasaan takut ini seakan membelenggu kehidupan saya, membuat hidup saya tak bebas. Ketika itu, kemana pun saya pergi senantiasa diliputi perasaan takut ditangkap polisi.

Di dalam mall “Shopping Jaya Centre” di mana butik saya berada, sering saya melihat polisi. Saat saya sedang jalan keluar atau masuk mall sering saya lihat polisi. Kalau saya melihat dari jauh, segera saya masuk ke show room apa saja, pura-pura belanja. Setelah saya lihat tak ada lagi polisi, saya keluar untuk melanjutkan jalan menuju butik atau kluar dari mall untuk pergi makan ke kedai makanan.

Kejadian-kejadian yang saya alami akhirnya saya sampaikan kepada Husin, bos saya. Sebelumnya saya tahu, sebenarnya bukan saya sendiri yang takut ditangkap polisi, tetapi Husin juga sebenarnya kuatir kena denda 20.000 Ringgit akibat menampung pekerja seorang pelarian.

Husin mendengarkan dengan penuh perhatian paparan cerita saya. Benar saja, Husin tampaknya juga cukup kuatir kalau saya sampai ditangkap polisi. Selain saya akan masuk penjara, Husin juga akan terkena denda 20 ribu Ringgit yang waktu itu nilainya sama dengan 54 juta Rupiah. Waktu itu 1 Ringgit Malaysia sama dengan Rp 2.700,-

Sebagai solusi dari kekuatiran kami, saya ususl kepada Husin agar saya diizinkan pulang dulu ke Jakarta untuk mengurus perizinan resmi sebagai TKI. Husin menanggapi serius, dan dia setuju dengan usulan saya.
“Bagaimana caranya ke Jakarta, kamu tidak punya pasport,” kata Husin. Menurutnya, pulang ke Jakarta itu perkara mudah kalau saya punya pasport.

“Ada seseorang yang biasa memulangkan TKI lewat laut, dia tinggal di Muar, dan saya punya nomor telponnya. Saya akan coba menghubunginya jika bang Husin mengizinkan,” sahut saya.
“Ok, segera hubungi dia,” kata Husin langsung setuju.

Kenapa hal ini saya sampaikan kepada Husin, kok saya tidak langsung kabur saja? Karena ini menyangkut sebagian gaji saya yang belum dibayar oleh Husin, tentu saja saya butuh uang untuk biaya perjalanan pulang ke Jakarta.

Singkat cerita, pada malam hari saya segera menghubungi orang yang akan menyebrangkan saya ke Indonesia. Tidak kesulitan menghubunginya, saya langsung tersambung dengan orang tersebut. Setelah memperkenalkan diri dan bercerita sedikit latar belang saya, saya pun menyampaikan maksud saya menghubunginya, yaitu minta tolong kepadanya untuk membantu saya menyebrang ke Indonesia. Akhirnya tanpa negosiasi yang berbelit, dia bersedia “menolong” saya. Kami pun sepakat untuk bertemu, dan janjian untuk bertemu di terminal Muar.

Ketika hal ini saya sampaikan ke Husin, dia setuju, bahkan tampak gembira. Dia wanti-wanti agar secepatnya mengurus perizinan di jakarta. Dan yang membuat saya gembira, akhirnya dia memberikan sisa gaji dan sedikit tambahan uang untuk biaya naik bus menuju kota Muar. Alhamdulillah….

BACA JUGA:  Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan: NU Lahir untuk Indonesia

***

Untuk bertemu dengan seseorang yang belum kita kenal pastilah membutuhkan trik atau cara agar bisa dikenali oleh orang tersebut. Seperti dulu ketika saya akan bertemu Husen di terminal Pudu Raya Kuala Lumpur, kali ini pun saya menggunakan cara yang sama. Saya mengenakan T-Shirt hitam dipadu celana hitam dan memanggul tas hitam. Ya, serba hitam.

Dari terminal Pudu Raya, sebelum berangkat ke Muar saya kontak bang Zay, orang yang akan menjemput saya di terminal: “Hallo, Bang zay, saya memakai te-set hitam, celana hitam dan membawa tas hitam,” kata saya memberi tahu bang Zay.

“Ok, siap. Saya tunggu di terminal,” sahutnya singakat.

Saya pun berangkat ke Muar naik Bus cepat full AC. Dalam perjalanan saya tak henti-henti berdoa dengan membaca kalimat-kalimat dzikir dan sahalawat, memohon kelancaran dan keselamatan dalam perjalanan ini. Oh ya, ketika itu Malaysia sedang menghadapi masa pemilu, operasi keamanan sedang gencar dilakukan di Malaysia. Saya sangat kuatir dalam perjalanan ini tersandung operasi keamanan Malaysia.

Benar saja, baru menempuh kira-kira setengah perjalanan, bus yang saya tumpangi dicegat oleh operasi keamanan. Dua orang polisi masuk memeriksa penumpang, dan saya berusaha tenang walupun dada berdebar kencang. Saya tetap duduk di tempat, polisi tampaknya sedang mencari-cari orang dengan ciri tertentu. Tapi saya tidak tahu persis apa yang sedang dilakukan oleh polisi. Polisis akhirnya sampai di sisi saya, tapi polisi tidak begitu memperhatikan saya dan saya pun terlewati oleh polisi . Mereka tidak menangkap saya, Alhamdulillah….

Setelah kurang lebih 3 jam perjalanan, akhirnya saya sampai ke terminal Muar. Saya pun ikut turun bersama penumpang lain. Sampai di pintu bus, saya lihat ada seseorang di kedai makanan sedang melambaikan tangannya ke arah saya sambil tersenyum. Oh, saya gembira sekali, dialah bang Zay, orang yang menjemput saya.

saya pun berjalan penuh semnagat menuju tempat duduknya tak jauh dari bus. Kami segera bersalaman, bang Zay memberi tahu dengan suara agak berbisik agar saya tidak usah bicara. Dan dia segera mengajak saya pergi. Rupanya dia mengajak saya ke parkir taxi. Saya dipersilahkan masuk taxi, lalu dia segera meluncur meninggalkan terminal muar.

“Bagaimana perjalanan, lancar?” tanya bang Zay memecah kebisuan dalam taxi.

“Alhamdulillah, lancar. Hanya tadi ada pemeriksaan polisi ke dalam bus, masih untung saya tidak ditangkap,” sahut saya.

“Oh ya? Mungkin karena kamu tidak mirip orang Jawa, kamu mirip orang melayu,” timpal bang Zay.
“Saya Jawa asli, Ban Zay.”

“Ya, saya tahu. Maksud saya, kulit kamu tidak seperti orang Jawa yang agak hitam. Kamu kelihatan bersih,” katanya sambil tiba-tiba mengerem mobilnya dan berhenti.

Kenapa mobil tiba-tiba berhenti, padahal tidak ada apa pun yang menjadi penghalang jalan? saat itu keadaan jalan raya cenderung sepi, jarang ada mobil lewat di situ. Belum sampai terjawab apa yang saya herankan, bang Zay pun menyuruh saya turun dari mobil.

BACA JUGA:  6 Bulan di Malaysia, dari TKI Legal Menjadi TKI Gelap

“Kebersamaan kita hanya sampai di sini, maafkan saya tidak bisa menemani lagi. Silahkan pindah ke mobil yang di depan itu, berjalan-lah dengan tenang,” katanya sambil menunjuk ke mobil di depan yang jaraknya sekitar 50 meter. saya pun turun menuruti perintahnya.

“oke bang, terima kasih,” kata saya sambil mengajaknya salaman, dan saya pun masih dalam keadaan belum mengerti, kenapa harus pindah mobil.

Saya pun melangkah sambil setengah berlari menuju mobil tersebut, sedangkan bang zay dengan taxinya sudah putar balik dan meluncur cepat ke arah kota Muar.

“Cepat masuk,” kata pengemudi mobil begitu saya sampai di mobilnya.

Saya segera masuk, mobil pun segera meluncur cepat meninggalkan tempatnya.

“Saya mampir dulu ke rumah teman,” kata bang sopir yang belum saya kenal namanya. “Nanti kalau saya masuk ke rumahnya, kamu tetap di mobil. Sebaiknya kamu tidur di jok agar tidak jadi perhatian orang.” Katanya lagi.

Sampai di rumah temannya, dia pun menyuruh saya tidur untuk istirahat di jok mobil. Dia masuk ke rumah temannya sampai petang menjelang Maghrib baru dia ke mobil lagi dan pergi. Rupanya dia mangajak saya pulang ke rumahnya. Sampai di rumahnya, rupanya sudah ada seorang TKI gelap asal Nusa Tenggara Barat (NTB) yang ingin pulang ke Indonesia. Alhamdulillah, akhirnya saya dapat teman sesama orang Indonesia.

Saya pun mulai mengerti, pekerjaan bang sopir ini rupanya cukup berbahaya. Mereka ini sangat rawan resiko karena jelas-jelas melanggar hukum malaysia, bisa-bisa mereka terjebak jerat polisi yang akan menangkapnya. Baik yang dilakukan oleh bang Zay ataupun bang sopir ini, mungkin untuk mengacaukan jejak, atau entahlah saya tidak tahu pasti.

Kurang lebih 3 Minggu saya ditampung di rumah bang sopir ini, yang kemudian saya tahu namanya adalah bang Rohami. Dia lahir di Muar dari bapaknya seorang Jawa dan ibunya Malayu asli Malaysia. Pekerjaan bang Rohami yang rawan resiko penangkapan ini, selain untuk mendapatkan uang, dia punya misi untuk memulangkan para TKI gelap ke indonesia melalaui jalur laut.

Rupanya bang Rohami tahu, kehidupan TKI gelap di malaysia cukup menderita dan membutuhkan pertolongan. Dan memberikan pertolongan berupa “jalan pulang” ke Indonesia, walaupun secara sembunyi-sembunyi, bagi para TKI gelap itu adalah sebuah pertolongan yang istimewa dan tak akan terlupakan seumur hidup.

Begitulah, singkat cerita saya berhasil keluar dari malaysia melalui jalur laut. Saya tidak akan bercerita detail lika-liku perjalanan menuju Sungai Muar untuk meloloskan diri dari Malysia, walaupun sebenarnya di sinilah cerita yang paling menegangkan. Biarlah cerita ini tetap menjadi rahasia, sebab saya kuatir jika ini saya ceritakan malah akan berakibat buruk bagi para “penolong” di Malaysia. Jangan sampai cara kerja para “penolong” yang berjasa besar dalam aksi memulangkan para TKI gelap ini bocor ke tangan polisi Malaysia. (al/up)

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker