Inspirasi Islam

Kembali Ke Ulama Nusantara

Kembali Ke Ulama Nusantara – Para Ulama Ahlus sunnah wal jamaah telah menetapkan bahwa ada 4 mazhab besar yang sah dijadikan rujukan kaum muslimin dalam beragama. Keempat mazhab itu adalah Mazhab Hanafi yang di bangun oleh Imam Abu Hanifah (W 150 H), Mazhab Maliki yang dibangun oleh Imam Malik bin Anas (W 179 H), Mazhab Syafi’i yang didirikan oleh Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (W 204 H), dan Mazhab Hambali yang dibangun oleh Imam Ahmad bin Hanbal ( W 241 H). Mereka bersepakat bahwa keempat ulama mujatahid mutlak ini memenuhi sepenuhnya ketentuan syariat dalam beragama dan teguh dalam berpegang kepada al-Qur’an dan Sunnah. Mazhab-mazhab itu tersebar diseluruh dunia dan dengan rahmat Allah setiap daerah atau wilayah memiliki mazhab tersendiri yang menjadi anutannya. Adapun generasi pertama yang menyebarkan Islam di Nusantara adalah para penganut Mazhab Syafi’i. Itulah sebabnya hingga kini sekitar 80% ummat islam yang ada di Indonesia istiqomah dalam mengikuti Mazhab Syafi’i.

Ulama Nusantara adalah para Ulama Aswaja Ahlussunnah wal Jamaah. - Kembali Ke Ulama Nusantara

Tetapi beberapa tahun terakhir muncul sejumlah aliran atau mazhab yang ingin juga eksis di negeri ini. Salah satunya adalah yang menamakan diri Salafi atau disebut orang dengan mazhab Wahhabi. Secara umum tokoh anutan mereka yang paling utama adalah syeh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, Syeh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin damn Syeh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Tetapi bagaimanakah hukumnya mengikuti fatwa-fatwa mereka? Sebagai jawabannya kita dapat merujuk kitab-kitab mereka sendiri.

Tentang Syekh Muhammad Nashiruddin Al-Albani misalnya, seorang ulama dari Madinah Al-Munawwarah, Yaitu Syeh Muhammad ‘Awwamah menuliskan sebuah peristiwa  yang dinilainya “lucu dan menyedihkan” yang diterima dari syeh Abdul Aziz ‘Uyun As-Sud, Katanya :

“ Suatu hari menjelang Zuhur datang seorang lelaki menemui aku di dalam masjid yang ketika itu aku belum mengenalnya” (Syekh menyebutkan bahwa ternyata namanya itu Nashiruddin Al-Albani).

Orang itu duduk menanti datangnya azan. Ketika muazzin mengucapkan kalimat “Allahu Akbarallahu Akbar” dengan berfathah pada huruf “ra”, orang itu sambil mencak-mencak berkata : “Ini salah, ini bid’ah!!!”. Ketika itu Syaikhuna (Syeh Abdul Aziz ‘Uyun) bertanya : “apa yang anda maksud dengan salah dan bid’ah itu? ”.  Al-Albani menjawab: “Orang ini azannya menyalahi Shahih Muslim”. Syaikhuna bertanya lagi kepadanya : “Apakah yang ada di Shahih Muslim itu?”. Orang tadi berkata : “Yang di Shahih Muslim itu bacaanya Allahu Akbarullahu Akbar” dengan dhammah pada huruf “ra”. Maka syaikhuna pun kembali berkata dengan tatakrama-nya yang telah dikenal serta tenang : “Adakah anda mendapatkan Shohih Muslim dari syeh-syekh anda dari Syeikh-Syeikh mereka hingga Imam Muslim bahwa ia meriwayatkan Hadits tersebut dengan dhommah huruf “ra” ataukah hanya berdasarkan yang dibuat oleh penerbit buku?”.  Syaikhuna kemudian mengatakan : “Orang itupun diam lalu menunaikan sholat dan terus pergi”.

BACA JUGA:  Semoga Kita Semua Jadi Orang-orang Beriman dan Taqwa

Penulis buku itu kemudian menutup kesannya dengan mengatakan :

??????? ??????? !! ?? ?? ??? ????? ??? ?? ?? ?????? ??? ??? ???? – ?? ????? ??? – ????????? ?? ??????? ? ???????? ? ????????…

Artinya : “Hendaklah orang-orang yang berakal merenungkan masalah ini. (bagaimana ia dapat di ikuti) padahal ia tidak memiliki Syekh kecuali seorang saja – Dari Ulama Halb (dalam kajiannya itu) dan itupun hanya dalam bentuk ijazah bukan dengan talaqqi, mushahabah dan mulazamah”.  (Lihat kitab Atsar Al-Ahadits Asy-Syarif Fi Iktilaf al Fuqaha, cetakan keempat Dar Al-Basya’ir Al-Islamiyyah, Beirut Libanon pada catatan kaki halaman 47).

Kesimpulan dari tulisan tersebut adalah bahwa Syekh Muhammad Nahiruddin Al-Albani tidak patut diikuti fatwa-fatwanya. Karena tidak memenuhi amanah ilmiyah berupa talaqqi, mushahabah, dan mulazamah dalam mempelajari hadits. Ketiga ishtilah tersebut maknanya adalah bahwa seorang yang akan mendalami ilmu hadits harus bertemu dengan seorang ahli hadits, belajar langsung kepadanya serta cukup waktu bersama dengannya hingga pengetahuannya tentang hadits itu benar-benar sesuai yang diajarkan oleh para ulama sebelumnya secara turun temurun bukan sekedar didaktik (otodidak) atau berdasarkan analisanya sendiri. Menurutnya Al-Albani tidak menempuh jalan ini.

Pernyataan lebih keras disampaikan Ulama Saudi Arabia Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, murid dari Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ini mengomentari tentang syekh Al-Albani antara lain sebagai berikut :

?? ???? ??? ?? ??? ????? ??? ?? ??? ?? ????? ????? ???? ?????? ????? ???? ???? ??? ?????? ??? ??? ?????? ??? ???? ???? ? ??? ???? ?? ????? ??? ?????? ?????? ??? . ????? ?? ??? ????? ??? ???? ??? ??? ????? ??? ?? ????? ??? ???? ???? ??? ???? ???? ? ??? ??? ??? ??? ?? ??????? ????? ?? ???? ??? ????? ??? ??? ???? ????????……

Artinya : Kemudian datanglah seorang lelaki di zaman ini yang tidak memiliki sedikitpun ilmu pengetahuan dan mengatakan bahwa azan yang pertama itu bid’ah karena tidak dikenal pada masa Rasulullah Saw dan kita wajib membatasi hanya dengan azan yang kedua saja. Maka kami katakan kepadanya: sesungguhnya sunnah Utsman RA itu sunnah yang patut diikuti jika tidak menyalahi sunnah Rasulallah SAW. Dan tidak ada seorang sahabat pun yang lebih tau dan lebih cemburu dari kamu dalam berpegang kepada agama Allah dari orang yang menentangnya…… (Lihat dalam Majmu’ Fatawa Wa Rasa’il Syekh Ustaimin pada bagian Syarh Aqidah Thahawiyah Juz 8 halaman 638-639).

Maksud dari ucapan Syekh Utsaimin ini jelas, Syeh Albani itu orang yang tidak punya pengetahuan apa-apa alias bukan Ulama. Dengan demikian maka tidak dibenarkan mengikuti fatwa-fatwanya. Disinilah masalahnya, karena para pengikut Salafi di Indonesia justru menjadikan Syeh Albani sebagai rujukan utama dalam pembahasan Haditsnya. Inilah penyebab kekacauan Ummat Islam dalam menjalankan ibadahnya.

BACA JUGA:  Lanjutan..... Koreksi Buat Ustadz Firanda Wahabi Tentang Bid'ah Hasanah

Adapun Syekh-syekh Saudi Arabia, seperti Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz dan Syekh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, dikategorikan sebagai Pelaku Bid’ah oleh Al-Albani sendiri.  Diantara penyebabnya adalah karena mereka menetapkan hukum tanpa dalil seperti fatwa mereka tentang bersedekap dalam i’tidal. Telah diketahui secara umum bahwa ulama Saudi Arabia itu menfatwakan disyari’atkannya meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri dan meletakkannya di dada pada saat berdiri setelah ruku’ (pada waktu i’tidal). Al-Albani mengatakan :

????? : ?? ?????? ?? ??? ?????? ??? ???? . ??? ????????? ?? ??? ?????? . ? ??? ??????? ??? ??????? ?? ??? ?????? ? ????? ???? ?????? ?????????? ??? ?????? ??? ?????? ?? ??? ?????? ????? ??? ?? ????? ????? ?????? ?? ?? ??????? ???? …… ??? ??? ?? ?? ??? ?????? ??? ????? ?? ??? ?????? ???? ? ?????…………

Artinya : “ Perhatian : Sesungguhnya yang dituju oleh hadits diatas adalah terang dan jelas sekali yaitu wajibnya tuma’ninah dalam berdiri I’tidal ini. Dan adapun Istidlal sebagian saudara kita dari para penduduk hijaz (mekkah, madinah, dan sekitarnya) dengan hadits ini untuk mengatakan disyari’atkannya meletakkan tangan kanan diatas tangan kiri pada saat berdiri I’tidal itu jauh sekali dari kesimpulan riwayat hadits bahkan ia adalah istidlal batil.. dan saya tidak ragu-ragu lagi mengatakan bahwa meletakkan kedua tangan di dada pada waktu berdiri i’tidal adalah bid’ah dan kesesatan.. ( Lihat Kitab sifat sholat Nabi karya Al-Albani pada bagian catatan kaki halaman 105).

BACA JUGA:  Imam Ghozali: "Yang Terdekat Dengan Kita di Dunia Ini Adalah Kematian"

Dari ucapan ini jelas,  Albani menilai meletakkan tangan di dada pada saat i’tidal adalah bid’ah. Dengan demikian berarti para ulama Saudi Arabia yang bertahan dengan fatwa meletakkan tangan didada – menurut jalan fikiran Albani ini – dapat dikategorikan Ahli Bid’ah. Dan itu artinya mengikuti fatwa-fatwa mereka adalah tidak dibenarkan.

Barangsiapa membaca fatwa dari ulama-ulama tersebut secara komprehensif niscaya akan mengetahui bahwa tidak satupun diantara mereka kecuali telah ditetapkan kesesatan atau kebid’ahannya oleh yang lain sesama penganut Wahabisme. Dan efek kelanjutannya adalah kebingungan bagaimana seharusnya beramal ibadah bagi orang-orang awam. Akibatnya mereka memiliki pandangan sempit dan cenderung global dalam penalaran. Dan ironisnya, jika mencoba bernalar secara terperinci maka akan mentok dengan dalilnya sendiri.

Kembali Ke Ulama Nusantara

Dari pemaparan fakta di atas, apabila dikaitkan dengan praktek keislaman di Indonesia, dapat disimpulkan bahwa kekacauan sejumlah Ummat Islam dalam beribadah adalah akibat dari munculnya berbagai mazhab baru di negeri ini. Padahal sebelumnya Ummat Islam selalu merasa yakin dengan apa yang dikerjakannya. Oleh karena itu sikap yang paling bijak adalah kita kembali kepada ajaran yang telah berjalan sejak lama dan sedapat mungkin bersikap hati-hati dan kritis atas diterbitkannya buku-buku mazhab baru. Ini jangan diasumsikan bahwa kita menuduh sesat mazhab-mazhab itu, akan tetapi menjaga stabilitas  dan kepastian beragama kita sendiri.

Selama aliran-aliran baru diterima di negeri ini oleh masyarakat, maka selama itu pula kita dalam kebimbangan dan permusuhan dengan sesama. Ada yang lebih menghawatirkan dari tersebarnya aneka mazhab di negeri ini. Ummat Islam menjadi terpecah belah dan permusuhan tak dapat dihindarkan lagi. Jadi, tidak ada cara lain kecuali kita tetap berada dalam keislaman yang telah lebih dulu eksis di negeri ini. Biarkan masing-masing mazhab hidup di negeri asalnya yang sejak semula Allah telah menanamnya. Harapannya tentu dengan tetap memelihara persaudaraan dalam perbedaan, sehingga efek fitnah bisa dieliminir sebisa mungkin. Hendaknya tidak ketagihan dalam hobby membid’ahkan yang berbeda dengan suatu golongan. Juga tidak cepat mensyirikkan atau mendlolalahkan jama’ah yang lain. Wallahu A’lam.

Ahmad Khoiruddin, Depok, 28 January 2010

Oleh: Ahmad Khoiruddin

Simpan

Simpan

Simpan

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Kembali Ke Ulama Nusantara
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

21 thoughts on “Kembali Ke Ulama Nusantara”

  1. Assalamu’alaikum, menurut saya itu bukan sikap yang bijak. Sikap yang bijak adalah sikap yang obyektif akan tetapi mampu memberi solusi yang tepat. Analisa anda di atas adalah tidak obyektif, dan hanya mencomot sebagian perkataan kemudian dibenturkan dengan perkataan yang lain. Bagi yang telah membaca berbagai literatur dalam khasanah ilmu-ilmu syari’at seharusnya sudah bisa memahami tentang berbagai penyebab perbedaan dalam fatwa. Dan bagi yang telah mengetahui hubungan dari ketiga masyayikh salafiyiin di atas juga mampu mendudukkan apa yang terjadi diantara mereka. Sebaiknya anda mampu berlapang dada dengan apa yang datang kemudian berbeda dengan apa yang anda yakini selama ini. Yang terpenting adalah dari mana sumbernya? kemudian mencoba menelusuri dan memahaminya agar kita mampu bersikap bijak seperti yang anda inginkan. Sikap bijak itu sudah dicontohkan oleh para ulama madzahib baik yang empat maupun para imam madzhab yang lain.

    1. Wa’alaikumussalam, Abu Khodijah. Wah…, senang dengan kunjungan dan komentar Anda. Tuduhan Anda bahwa kami tidak obyektif itu sungguh memutar balik fakta. Justru kami harus mencomot (menurut Anda) perkataan-perkataan itu. Kalau tidak mencomot, lalu bagaimana cara kami mengatakannya? padahal kami harus mengungkap fakta yang bisa dilacak kebenaranya, kan? Nah, dengan mencomot itu, kalau ada pihak yang ingin melacak sumbernya bisa tahu apakah kami benar atau pendusta. Gitu lho….

      Kalau soal membenturkan diantara perkatan-perkataan itu, kami tidak bermaksud membenturkannya. Sebab kami hanya mengungkap dan kemudian mempublikasikan faktanya. Tujuannya jelas, agar kesyubhatan mereka tidak dijadikan pegangan Ummat Islam.

      Kalau Anda sebagai pengikut bisa memahami pertentangan mereka, ya jelas dong? Itulah yang disebut guluw, sudah transparan ‘kacaunya’ kok bisa dimaklumi? Bukankah orang-orang semacam Anda gemar menuduh kami guluw ketika kami mengagungkan Rasulullah SAW sebagai ekspresi cinta kami? Lalu siapa yang lebih layak diagungkan oleh Ummat Islam, Rasulullah SAW atau ulama-ulama semacam syekh Al-Abani? Please…, renungkanlah wahai Akhina Abu Khodijah.

      Mengenai apakah kami berlapang dada, kami juga ingin bertanya apakah Anda juga berlapang dada ketika kami mengungkap fakta-fakta tentang syekh-syekh di atas? Tampaknya anda sangat tidak berlapang dada, buktinya adalah komentar Anda di atas. Semoga Allah SWT melembutkan hati kita semua, amin….

      1. Amin, semoga Alloh melembutkan hati kita semua.
        Alhamdulillah kami bisa berlapang dada dengan apa yang anda ungkapkan, karena kami mengetahui betapa amat sangat kebencian anda pada ulama-ulama saudi dan yang seperti mereka. Alhamdulillah juga kami tidak mengagungkan mereka lebih dari mengagungkan Rosululloh ??? ???? ???? ????. Justru kami mendapatkan betapa besar kecintaan para ulama tersebut terhadap Rosululloh ??? ???? ???? ???? , sehingga mereka membela sunnah-sunnah Beliau dan menyingkirkan segala hal yang bisa mengotorinya. Sebagaimana para imam terdahulu dari kalangan para imam madzhab yang empat atau para muhadditsiin. Justru orang-orang yang benci terhadap mereka adalah orang-orang yang banyak meninggalkan sunnah-sunnah Rosul ??? ???? ???? ???? dan beralih pada pendapat-pendapat manusia atau hawa nafsu yang terselubung.
        Akhi, sebenarnya ada satu titik temu antara kita yaitu kembali pada sunnah Rosul ??? ???? ???? ???? dan pemahaman para ulama yang gigih membela sunnah Rosul ??? ???? ???? ???? tersebut. Sebaiknya energi kita ini kita kerahkan untuk menyebarkan sunnah tersebut yang benar-benar sunnah, dan bukan hanya perasaan itu adalah sunnah. Nas alulloha at taufiiq was sadaad.

  2. Maaf, kami tahlilan dulu, jadi jawabnya tertunda. Begini ya, kalau kami mengungkap fakta, itu tidak identik dengan kebencian, ya akhi Abu Khodijah. Contohnya: Bapak polisi membongkar suatu kasus penipuan, bukan berarti Pak poslisi benci pada si penipunya. Ya kan? Hal itu dimaksudkan agar orang-orang yang mengetahuinya bisa bersikap lebih proporsional kepada si penipu tersebut.

    Adapun orang-orang seperti Anda hoby mengatakan bahwa kami pakai hawa nafsu tanpa dalil, itu kan memang gaya salafy wahabi selalu seperti itu dalam setrategi komunikasinya. Maaf ya, kami tidak terpengaruh, sebab kami punya dalil. Coba sebutkan contohnya, hal apa yang biasa kami lakukan yang gak ada dalinya. Biar kami bisa menunjukkan dalilnya. Tahlilan? INI dan ini dalilnya. Tawassul? INI dan ini dalalinya. Atau tabarruk? Ini Dalilnya.
    Setelah membaca dalil-dalil yang baru kami sebutkan, terserah kalian mau meneruskan hobby menuduh kami tidak berdalil, atau memilih bertobat. Bertobat itu lebih baik jika kalian mengetahui.

    Wallahu A’lam…. Allah satu-satunya dzat yang paling mengetahui isi hati hamba-hambanya.

    1. oh tahlilan toh, teng pundi mas tahlilane? enak dong makan-makan gratis plus ada yg dijinjing lagi, wah wah wah emang rejeki.
      wus pembicaraan kita jadi melebar nih, kumaha ie teh?
      Ya wis dilanjutkeun sakedap.

      Jujur aja lah mas sampean itu suka apa benci sama masyayikh saudi itu? sampean itu mau suka atau benci sebenarnya bukan urusan saya, tapi cara pengungkapan faktanya itu loh, mas mas, saya kira akhi ini orang yang pandai, tapi malah begitu, tapi yah gak apa-apa lah buat temen ngobrol supaya gak sepi. Akhi ini begitu bencinya sama salafi wahabi, kenapa toh mas?

      Trus akhir-akhirnya malah berbicara masalah tahlilan, ibarat mau belok harusnya mas nyalakan sen dulu. iya toh? Maaf bahasanya jadi campur sari.

      Baik begini akhi, apa yg jadi pembicaraan kita sdh tidak nyambung lagi, masalah dalil dalil yang anda tunjukkan disini itu tidak valid. Lah nyebutkan pengarang kitab saja nggak bener, ya itu temen anda salafi tobat dia nukil untuk dalil tabaruk : (Dikeluarkan dari Thabrani dalam Jami’ushaghir dan juga Hakim dan Abu Nu’aim dan Baihaqi keduanya dalam dalam kitab ad-dalail). Kalau boleh tahu dari mana sih mas temen anda ini kopy pastenya? Kalau yang saya tahu kitab Jami’ush Shoghir itu tulisan Imam As Suyuthi, terus dia katakan Hakim dan Abu Nu’aim dan Baihaqi keduanya dalam kitab dalail. Harusnya ketiganya buka keduanya, kalau keduanya siapa keduanya itu? Hakim dan Abu Nu’aim? atau Hakim dan Baihaqi? atau Abu Nu’aim dan Baihaqi. Terus yang nulis kitab Dalail ini sopo mas?

      ‘Ala kuli hal kalu mau kopi paste itu harus cerdas mas. Punten mas jagi nggurui 🙂
      Permisi mas. Mari kita sama-sama taubat, semoga Alloh menenerima taubat kita, dan menunjukkan pada kita kebenaran/hidayah, sebagaimana selalu kita ucapkan dalam setiap rokaat kita.

      1. He-he-he…. makan2 gratis? Nggak tuh Bang, tahlilannya di kuburan sih? Mau bilang kami Penyembah Kuburan, ya? He-he-he….

        Btw, soal kebencian yang akhi tuduhkan, itu adalah persepsi Anda. Kami tidak ada maksud mengubah persepsi Anda, kami memaklumi atas persepsi yang sudah kadung berkarat itu. Sebab penjelasan tentang hal itu sudah bertebaran di internet atau di rak toko buku, tapi toh tidak bisa mengubah persepsi yang sudah terlanjur berkarat kan? Yah, kami sih nyantai aja, tidak usah ngotot, sebab Hidayah itu karunia dari Allah SWT.

        Soal hadits, tanyalah Akhi Salafy Tobat, beliau Insyaallah akan memberi jawaban. Beliau tentu tidak sebodoh yang anda kira. Anda terlalu leterlek, jadi itulah yang sering membuat orang-orang seperti anda salah mempersepsikan sesuatu permasalahan.

        ‘ala kulli hal dan wal hasil, he-he-he…. (ketawa dulu, lucu banget sish?), itu bukan copy-paste, tapi link supaya ada ping balik dengan Salafy Tobat. Dengan demikian Akhi Salafy Tobat tahu, kami mengelink-nya.

        Kami sudah bertobat setiap saat dan waktu. Kami diajari oleh guru-guru kami untuk selalu beristighfar. Dan ini adalah ekspresi tobat kami. Jadi kalau kami mengajak bertobat, Itu bukan untuk melecehkan seseorang termasuk Abu Khodijah, justru kami juga sudah melakukannya. Itu adalah amalan kami, untuk mengharap Khusnul Khotimah. Amin….

        Akhirnya, Kami mohon maaf kalau ada kata-kata yang kurang berkenan. Wassalam….

  3. Ping-balik: Gus Dur Sang Imam Politik « UMMATI PRESS
  4. Assalamu`alaikum..

    kepada penulis artikel ini ustadz ahmad khoiruddin..

    ustadz tinggal dimana? saya ingin diskusi dengan ustadz.. tentang:

    perkataan syaikh al-utsaimin mengenai syaikh albani maupun sebaliknya?

    saya akan membawa kitab yg ustadz sebut2kan diatas..

    saya cuma ingin iqamatul hujjah.. 🙂

    kalau ustadz berhalangan, mungkin admin blog ini bisa mewakilkan..

    =================================================

    Alhamdulillah, semoga berkah….

    Akhi Khoiruddin tinggal di Jakarta, beliau baru semester 4…. aktif di kelompok diskusi di Kampus Santri. Beliau juga sudah sering berdiskusi dengan mahasiswa LIPIA.

    Silahkan tulis nama dan nomor telepon antum di sini, nanti dihubungi kapan waktu dan tempat dilaksanakan diskusinya.

  5. Akhi Khoiruddin tinggal di Jakarta, beliau baru semester 4…. aktif di kelompok diskusi di Kampus Santri. Beliau juga sudah sering berdiskusi dengan mahasiswa LIPIA.
    Jakarta mana??dan tinggal dimana??gue anak jakarta nich,,Komplek Cijantung,,ketemu di cijantung tuk Khoiruddin

  6. purwanto @

    Maaf Mas Purwanto, sekarang sudah ada ada pasar modal syari’ah lho. Nymplung aja di situ kalau tertarik dalam kegiatan pasar modal. Berarti sudah ada yang halal hukumnya, yaitu pasar modal Syari’ah, reksa dana syri’ah, islamic fund.

  7. assalamu’alaikum.wr,wb.
    maaf sebelumnya saya harus panggil apa nih.? mas atau bpk…….?
    saya adalah salah satu dari sekian banyak orang yang awam tentang fiqih islam,..
    saya sudah membaca buku karangan nasirudin al banan tentang sholat..dan saya juda pernah beberapa kali melihat vcd tentang sholat,disitu banyak perbedaan seperti sholat yang selama ini saya kerjakan jadi timbul fikiran apakah sholat saya salah atau tidak,seandainya salah berarti guru-guru saya dulu mengajari tatacara sholat kpd saya salah dong……..? saya perhatikan ulama – ulama sepuh dijawa sholatnya seperti yang saya kerjakan (tata caranya).kalau emang yang ada diVCD ataupun pd bukunya nasyiruddin al banan itu benar berarti selama ini sholat saya salah… dan bisajadi guru guru saya pun salah juga sholatnya…
    kenapa MUI tidak menciptakan VCD tentang sholat yang benar ala ahlus sunah..
    mohon penjelasannya terimakasih…wassalam……….

    1. Nah kan, bisa berabe kan konsekwensi ajaran sholat ala Nasiruddin Al Bannai? Yang slah bukan hanya guru-guru sampean, tapi terus ke atas sampai ke Imam Syafi’i dan ulama-ulama Salfussholih.

      Lha yo, sholat di perbarui Oleh Albani, edan opo Ora? Udah gitu mengatasnamakan Sholat Sifat Nabi, opo gak semakin gemblung itu para pengikut dan pengekornya?

    2. Terus aja belajar dan pelajari akh, ana kasih jalan…
      Coba antum bandingkan buku Sifat Syaikh Albani dengan dengan buku Sifat Sholat yang biasa kita baca sejak kita kecil dulu, yang pake Ushalli,…
      Coba antum lihat, kalo buku Syaikh Albani selalu meletakkan riwayat hadist, coba buku Sifat sholat yang biasa, ada gak mereka menaruh riwayat hadist,,,
      Gak akan antum jumpai akh, karena sumbernya gak jelas dan takkan berani mereka menulis riwayat hadistnya, misal riwayat dari Bukhori, Muslim, Abu Daud ato sebagainya. Itulah yang kita pake dari dulu akh, gak jelas.
      Dan kalo antum baca komentar Akh Semprul di bawah,,,,
      Syaik Albani tidak memperbarui sholat akh, tapi beliau memperbaiki sholat kita…

  8. assalamualaikum,wr,wb.
    saya mau tanya nih……….
    apa hukumnya investasi dipasar modal atau bursa efek..
    mohon penjelasannya terimakasih…wassalamualaikum,wr,wb.

  9. gara-gara abu khodijah, intisari artikelnya jadi kurang di tanggapi, buat abe gimana dah ketemu blm sama penulis artikelnya ? oh ya kalo mo Iqomatul Hujjah lebih baik disini aja biar semua tahu, kebenaran hujjah yang nt mo bawakan.

    dari artikel diatas, sungguh heran jika masih ada saja orang yang mo ikutin bahkan jadiin al-bani sebagai rujukan, heran bin aneh pada taro dimana akal sehatnya orang kaya al-bani kok masih diikuti ?

  10. Ping-balik: - Ummati Press
  11. Bismillaah,

    Kawan-kawan semua,

    Saya juga begitu. Setelah membaca buku Sifat Shalat Nabi karya Albani, saya menjadi kaget. Kok banyak yang berbeda dari shalat yang sudah biasa saya kerjakan sejak kecil?

    Kemudian saya bandingkan dengan buku panduan shalat yang saya punya. Berbeda sangat jauh. Buku panduan shalat yang saya pakai sejak kecil ditulis dengan sederhana tanpa mencantumkan riwayat hadits yang dinukil. Sedangkan, buku Sifat Shalat Nabi mencantumkan riwayat hadits serta kitab induknya.

    Saya terus bertanya dan membaca hadits-hadits tentang shalat. Lalu saya dapati hadits tentang cara berdir dalam shalat. Hadits tersebut riwayat Bukhari dari Abi Humaid yang berkata: “Beliau (Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam) menghadapkan jari-jari kakinya ke kiblat.” Lalu, hadits ini saya hubungkan dengan hadits tentang meluruskan dan merapatkan shaf shalat berjamaah yang diriwayatkan Abu Dawud dari Nu’man bin Bashir yang mengatakan: “Dan setiap dari kami menempelkan bahunya dengan bahu kawannya dan mata kakinya dengan mata kaki kawannya.”

    Bila cara berdirinya sama dengan cara berdiri Rasulullaah, maka kita tidak akan berkesulitan dalam menempelkan mata kaki kita dengan mata kaki kawan kita saat merapatkan shaf shalat berjamaah.

    Banyak orang enggan dan bahkan menolak diajak merapatkan shaf dengan mengatakan: “Shalat kok berdesak-desakan. Tidak nyaman. Jari kelingking saya diinjak, dll”. Di antara sebabnya adalah karena mereka salah berdiri dari awal. Bila berdiri untuk shalat, mereka menyerongkan jari-jari kaki ke kiri untuk kaki kirinya dan ke kanan untuk kaki kanannya. Cara berdiri ini menyelisihi cara berdirinya Rasulullaah.

    Wallaahu a’lam.

  12. @Ibnu Suradi
    Yang namanya Sunnah itu tetap sunnah, bukan suatu kewajiban.
    anda selalu berpatokan pada text, saya masih bingung memikirkan anda mengenai menempelkan mata kaki
    sudah kah anda praktekkan dalam sholat terus menerus mulai dari takbir hingga Salam ? anda jaga terus bahu dan mata kaki supaya terus menmpel ?, Rasulullah tidak pernah melakukan itu karena Rasulullah selalu Jadi Imam
    berdiri sendiri di depan, dengan siapa Rasulullah menempelkan mata kaki?.
    Jangan anda katakan kami menolak hadits shohih anda keliru, hadits tetap kami terima jika memang shohih (lagi pula hadits yg datangnya dari golongan anda tetap harus di cek lagi dari golongan Aswaja karena terkadang ditambah-tambahi ataupun dikurangi sudah terbukti dimana-mana) hanya penerapannya tidak harus seperti yg anda praktekkan seolah memaksa-maksakan.

    selanjutnya… umumnya dari golongan anda itu lebih mementingkan Kulit daripada Isi, pakaian, gerakan, bacaan seolah yg paling sesuai Tapi ketika sholat khusyuk.nya melayang entah kemana, dalam sholat matanya melotot kiri kanan, ada yg sambil mengelus jenggot yg hanya 4 lembar, sambil garuk-garuk dll. dimana semua itu menandakan ketidak pahaman anda tentang hukum-hukum dalam sholat, lalu yg seperti anda kah yg harus diikuti?, ahlaknya jauh dari kelemah lembutan seperti yg dicontohkan Rosulullah dan sahabat.

  13. Bismillaah,

    Mas Brigadir,

    Berbicara tentang akhlak, kita bisa melihat akhlak kawan-kawan dari bahasa yang digunakan dalam berkomentar di forum diskusi ini. Saya perhatikan kawan-kawan yang anda anggap Wahabi malah berkomentar dengan kata-kata yang lembut. Sebaliknya, kawan-kawan anda sering berkomentar dengan kata-kata yang kasar dalam tata bahasa yang tidak beraturan.

    Mengenai perintah merapatkan dan meluruskan shaf, sepanjang cara beragama anda masih mengikut apa kata orang, kebiasaan, tradisi, kelaziman dan keumuman di suatu tempat, maka saya jamin anda tidak akan dapat merapatkan dan meluruskan shaf shalat berjamaah.

    Nama anda berbahu militer. Seharusnya anda sudah memahami bagaimana cara berbaris yang benar. Dan bila anda militer atau kagum terhadap militer, seharusnya anda lebih mudah mengamalkan perintah tersebut daripada saya.

    Wallaahu a’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker