Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Inspirasi Islam

Tradisi Nyadran, Tradisi Nusantara yang Diislamkan


Tradisi Nyadran di akhir bulan Sya’ban jelas bukan tradisi haram. Sudah menjadi tradisi di wilayah Jawa,
Bulan Sya’ban menjadi bulan spesial menjelang bulan Ramadhon. Dalam bulan ini ada beberapa tradisi yang berlaku yang tidak dilaksanakan pada bulan-bulan lain. Di antara tradisi itu adalah menengok makam atau meziarahi kubur orang tua, kakek-nenek, saudara, sanak family, suami atau istri, anak atau bapak yang telah mendahului menghadap Allah sang Pencipta.

Ada beberapa nama untuk tradisi ziarah kubur menjelang bulan Ramadhan atau di akhir bulan Sya’ban ini. Orang-orang di wilayah Jawa ada yang mengatakan dengan istilah arwahan, nyekar, nyadran (sekitar Jawa Tengah), kosar (sekitar Jawa Timur), munggahan (sekitar tatar Sunda) dan lain sebagainya. Bagi sebagian orang, hal ini menjadi seperti kewajiban yang bila ditinggalkan terasa ada yang kurang dalam melangkahkan kaki menyongsong puasa Ramadhan.

 

BACA JUGA:  Tafsir Kontekstual, Tafsir Al-Qur’an Abad 21

Tradisi Nyadran adalah salah satu prosesi adat jawa dalam bentuk kegiatan
tahunan di bulan ruwah (Sya’ban), dari mulai bersih-bersih makam
leluhur, masak makanan tertentu, seperti apem, bagi-bagi makanan, dan
acara selamatan atau disebut kenduri. Tradisi Ruwahan, Nyadranan, Gesik
Kubur dll. merupakan bentuk akulturasi budaya-agama.
Masyarakat Jawa telah melestarikan secara turun-temurun tradisi ini. Dan ini
merupakan salah satu metode dakwah walisongo. Walisongo mengislamkan
nusantara dengan memodifikasi budaya yang tidak sesuai dengan Islam
dirubah supaya sejalan dengan Islam dan memiliki nilai positif.

 

Tradisi Nyadran yang mungkin awalnya adalah perkumpulan untuk mengadakan
persembahan pada dewa atau makhluk ghaib, menjadi satu perkumpulan untuk
mengkhatamkan bacaan Al Qur’an, berdzikir dan mendoakan arwah para leluhur yang
telah meninggal dunia.
Amalan yang ada pada tradisi nyadran saat ini tidak sedikitpun bertentangan
dengan ajaran Islam, malah justru sangat diajarkan dalam Islam. Mungkin
ada yang mempermasalahkan bahwa nyadranan adalah amalan orang hindu,
sehingga bukan bagian dari Islam. Apabila diizinkan menjawab kita akan
menjawab, benar bahwa dalil perintah untuk nyadranan memang tidak ada,
namun dalil yang melarang pun juga tidak ditemukan.

Berarti hukum tradisi nyadran  tidak boleh dibilang haram, paling
tidak hukumnya adalah mubah. Semua tradisi entah ulang tahun atau apapun
juga tidak bisa dihukumi wajib atau haram. Untuk menghukumi wajib atau
halal harus ada dalil yang jelas, bahkan menggunakan hadits dhoif saja
tidak boleh. Tapi yang dihukumi adalah isi kegiatan dalam tradisi tersebut,
apabila nyadranan diisi dengan dangdut kita akan katakan haram bukan
karena tradisi nyadran nya tapi karena kegiatan dangdutan yang punya efek maksiat.

Lalu ketika tradisi nyadran diisi dengan membaca Al Qur’an, berdzikir dan
mendoakan orang tua yang sudah meninggal serta ziarah ke makamnya, bukankah itu islamisasi (mengislamkan) sebuah tradisi?

Kenapa masih ada saja yang ngotot mengharamkan kebaikan dari nilai-nilai Islam dalam tradisi Nydran? Mengharamkan hal-hal yang tidak haram adalah perbuatan dosa, perbuatan ini termasuk kafasikan. (al/mm)

 

BACA JUGA:  Habib Munzir: Maulid Nabi Saw dan Dzikir Akbar di Masjid Amaliyah Ciawi
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker