Kisah Nyata - Kisah Unik

Tomi Lebang: Koppig Kau, Tuan Presiden. Keras Kepala Kau ….

Duh, Jokowi, Jokowi …. kau ini presiden lugu atau koppig? Sudah punya kesempatan jadi presiden, anak sulung kok cuma jualan martabak di kampung. Dua anak lain cuma cengengesan. Tiada mainan. Tak ada bancakan ….

 
Islam-Institute, Jakarta – Dalam Jumpa Pers yang dilakukan oleh Presiden Jokowi menanggapi kasus: “Papa minta saham” Freeport, salah satu kata yang keluar dari lisan presiden salah satunya adalah kata “Koppig (ndabeg istilah jawanya)”.

Berikut adalah kutipan pernyataan Presiden Jokowi: “Saya tidak apa-apa dikatakan Presiden gila! Presiden sarap, Presiden koppig, tidak apa-apa. Tapi kalau sudah menyangkut wibawa, mencatut meminta saham 11 persen, itu yang saya tidak mau. Tidak bisa. Ini masalah kepatutan, kepantasan, moralitas. Itu masalah wibawa negara,” ungkap presiden Jokowi dengan nada tinggi

Pak Jokowi benar. Silahkan orang menghina pribadi Presiden Jokowi dengan sebutan apa pun tapi kalau sudah menyangkut moral dan kewibawaan negara maka siapa pun yang merendahkan “Presiden” dengan cara memfitnah maka dia harus bayar kesalahannnya.

Pernyataan presiden Jokowi mendapat sambutan antusias dari masyarakat, salah satunya adalah Tomi Lebang seorang pengamat media sosial. Dalam akun Facebook-nya dia menulis artikel yang menyindir mereka yang merendahkan Jokowi, dengan judul “Koppig”, berikut adalah ulasannya tentang koppig semoga bisa membuka mata hati kita untuk pro kebenaran ….

BACA :  Jokowi - Ahok Lambang ‘Keemasan’ Bangsa Indonesia

*****

Duduk di puncak singgasana, dengan telunjuk yang bisa mengharu-biru negeri, tak sulit bagi presiden untuk kaya sekaya-kayanya. Untuk hidup sentosa turun-temurun, bergenerasi-generasi.

Saya ingat petani cengkih yang dulu menjadi gambaran kemakmuran petani. Harga cengkeh begitu tinggi, laris, petani sumringah. Di beberapa desa di Sulawesi yang tak terjangkau listrik, petani beli kulkas – perlambang orang kota. Tapi listrik belum menjangkau desa, tapi kulkas sudah ada. Maka diisi baju dan celana.

Anak presiden yang gagah perkasa, Hutomo Mandala Putera, rupanya jadi tergiur. Pada 11 April 1992, ayahnya yang murah senyum, Presiden Soeharto, mengeluarkan Keputusan Presiden tentang Tata Niaga Cengkih. Keppres itu mengatur, petani harus menjual cengkihnya ke koperasi. Tapi koperasi hanya pengepul, seluruh cengkih harus dijual ke Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkih (BPPC) dengan harga yang ditetapkan pemerintah. Lalu, semua pabrik rokok dalam negeri wajib membeli pasokan cengkih dari BPPC ini.

banner gif 160 600 b - Tomi Lebang: Koppig Kau, Tuan Presiden. Keras Kepala Kau ....

BPPC ini terdiri atas Induk KUD, BUMN PT Kerta Niaga dan satu dari swasta: PT Kembang Cengkih Nasional milik Tommy Soeharto. Sang pangeran jadi pemimpin BPPC – lembaga monopoli pengepul dan pemasaran cengkih Indonesia.

BACA :  Presiden Jokowi: Islam Toleran - Moderat Ada di Indonesia Lantaran NU

Sejak itu, petani menjerit. Harga cengkih anjlok. Ribuan petani meninggalkan kebun, beralih ke tanaman lain. Petani cengkih di Sulawesi Utara bahkan membakar lahannya. Sementara, BPPC untung dari selisih harga penjualan ke pabrik rokok diperkirakan sebesar Rp 1,4 Triliun – uang yang tak terkirakan banyaknya.

Saat ayahnya terjungkal di tahun 1998, BPPC dibubarkan dengan meninggalkan hutang di bank 325 juta dolar. Dalam hitungan sementara, negara dirugikan 3 Triliun Rupiah.

Tommy sempat jadi tersangka di Kejaksaan Agung. Lalu menguap….

Bukan cuma cengkih. Melihat banyaknya pesawat televisi yang dimiliki rakyat Indonesia, kakak Tommy, Sigit Harjojudanto juga tak tahan menenggak air liur. Pada tahun 1991, bersama pamannya Sudwikatmono ia membentuk perusahaan PT Mekatama Raya. Perusahaan ini mengumpulkan iuran televisi. Bayangkan: iuran televisi, sodara-sodara.

Setiap pemilik TV berwarna ditarik Rp3000 dan televisi hitam putih Rp1500 per bulan. Dengan jumlah televisi di seluruh Indonesia sekitar 12 juta – berwarna dan hitam-putih — lebih dari Rp 20 milyar diperoleh PT Mekatama Raya setahunnya.

BACA :  Jokowi Amalkan Doa Nabi Musa dalam Debat VS Prabowo

Lalu giliran sang cucu, Ari Sigit – putra Sigit Harjojudanto. dia pandai melihat peluang bisnis.

Mungkin ia sering ke diskotik. Melihat banyaknya orang mabuk-mabukan dengan peredaran hampir 300 juta botol minuman keras golongan A setiap tahun di Indonesia, pada 20 April 1994 ia mendirikan PT Arbamass bersama kawannya Emir Baramuli. Perusahaan ini mencetak stiker untuk ditempelkan ke botol-botol minuman keras yang beredar. Arbamass dapat untung 90 rupiah per botol untuk minuman golongan A, dan 112,5 rupiah dari golongan B dan C.

Dari minuman beralkohol ini Ari Sigit memperoleh sedikitnya Rp 40 Miliar setiap tahun.

Dan banyak trik-trik lain …. berbekal surat ayah dan eyang presiden, sim salabim, semua jadi duit.

Duduk di tahta, di atas singgasana, begitu mudah menjadi super-kaya. Asal mau saja.

Ah, Jokowi, Jokowi …. kau ini lugu atau koppig? Sudah jadi presiden, anak sulung cuma jualan martabak di kampung. Dua anak lain cuma cengengesan. Tiada mainan. Tak ada bancakan.

Koppig kau, Tuan Presiden. Keras kepala kau ….

(Tomi Lebang)

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker