akidah

Tiga Bukti Penting Wahabi Tasyabbuh Yahudi

Benarkah Salafi Wahabi Tasyabbuh Yahudi ? Ketika kaum Salafi Wahabi selalu mencemo’oh kaum muslimin selain golongannya sebagai “ahlul tasyabbuh” yang tak pernah bisa dibuktikan kecuali hanya berdasar prasangka buruk, mereka lupa dengan diri mereka sendiri bahwa mereka sesungguhnya adalah “Ahlul Tasyabbuh” yang tak ada tara bandingannya.

Tak percaya, minta buktinya? Inilah jawabannya full gambar plus video sebagai bukti-bukti kuat Salafi Wahabi tasyabbuh Yahudi.

 

Bukti ke – 1, Wahabi Tasyabbuh Yahudi: Penampilan Syaikh-syaikh Wahabi Meniru Rabbi – rabbi Yahudi

Penampilan Syaikh-Syaikh Wahabi Sangat serupa dengan penampilan Rabbi-rabbi Yahudi, sedangkan Penampilan Para Ulama Aswaja sangat mirip dengan Nabi Saw. Silahkan lihat hadits-hadits yang menggambarkan penampilan Nabi Muhammad saw.  Sebagian dari hadits-hadits tersebut ada di bawah gamabar ini….

Keutamaan Memakai Imamah ( udeng-udeng ) Dalam Shalat Bagi Laki-laki

رَكْعَتَانِ بِعِمَامَةٍ أَفْضَلُ مِنْ سَبْعِيْنَ رَكْعَةٍ بِغَيْرِ عِمَامَةٍ.

Sholat dua roka’at bagi laki-laki memakai imamah/udeng-udeng lebih utama pahalanya dari pada tuju puluh roka’at tanpa memakai imamah. (hadis diriwayatkan oleh sahabat Jabir RA)

Abu Sheikh melaporkan dari Ibnu Abbas R.Anhu bahawa Nabi S.A.W mempunyai 3 penutup kepala sepanjang kehidupannya. (Bajhul Majhood, jilid ke-6, hal. 52)

Di dalam “mukhtasar”, kehidupan Nabi S.A.W, terdapat 3 jenis penutup kepala yang didapati,

– Petama ialah seperti rupa kopiah yang mana di dalamnya mempunyai garisan padanya.

– Yang kedua ialah yang diperbuat daripada kain hibara.

– Dan yang ketiga ialah penutup kepala yang menutupi telinga, yang mana selalunya Baginda memakainya di dalam safar (perjalanan).

Adapun sorban yang diselendangkan dibahu bukan disebut ‘imamah tapi rida (selndang). Dalam keterangan hadist lain juga diterangkan tentang keutamaan memakai imamah (sorban / penutup kepala) sebagaimana telah diriwayatkan dalam hadist :

Qoola Rosululloh SAW. “i’tamu tajdaaduu hilman, waqoola shollalahu ‘alaihi wasalam: ‘al’amaaimuu tijaanul ‘arobi yu’thol ‘abdu bikulli kaurotin yudawwiruuhaa ‘ala ro’sihi aw qolansuwatuhatihi nuuron.

Bersabda Rasulullah SAW. “Pakailah sorban, maka akan bertambah wibawamu”‘, dan Nabi bersabda: “Sorban adalah mahkota orang arab yang diberikan kepada hamba, setiap putaran yang dililitkan pada kepala atau kopyah berupa cahaya.”

Dalam keterangan hadist ini Rosululloh menganjurkan utk memakai sorban (untuk udeng-udeng) yang dililitkan melingkar diatas kepala. Dengan memakai sorban akan menambah kewibawaan seseorang karena bagaikan mahkota yang bercahaya menyinari di sekelilingnya. Dan yang sering kita jumpai seorang memakai sorban melingkar diatas kepalah adalah para alim – ulama’, atau habaib, mereka terliahat sangatlah anggun dan berwibawa menyapa umatnya dengan pakaian Sunnahnya.

BACA JUGA:  Bukti Kebenaran Akidah Asy'ariyyah Sebagai Akidah Ahlussunnah Wal Jamaah

 

Bukti ke – 2, Wahabi Tasyabbuh Yahudi: Shalat Salafy Wahabi Mirip dengan Ibadah Yahudi

Sebagai bukti pelengkap, kami menemukan link ke YouTube yang menggambarkan bagaimana Yahudi beribadah. Silahkan anda langsung melihat videonya, dan video ini menunjukkan tata cara ibadah orang Yahudi yang mirip shalat, ada rukuk, sujud dan mendekapkan tangan didada. Bedanya orang Yahudi membaca ayat-ayat Taurat dan Talmud.

Ada 3 video yang kami temukan tentang ibadah orang Yahudi. Semua video ini memperjelas praktek ibadah agama samawi sebelum Nabi Muhammad, sebagaimana terilustrasikan dalam surat Maryam ayat 30 dan 31.

Dikisahkan dalam Quran, Berkata Isa: “Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Kitab dan Dia menjadikan aku seorang nabi.” QS. Maryam (19) : 30

“Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku dengan shalat dan zakat selama aku hidup.” QS. Maryam (19) : 31

Mungkin anda sebelum membaca ayat di atas bertanya-tanya, masa nabi Isa shalat ? Tapi jawabannya sudah jelas ada dalam video ini. Jelaslah nabi Isa pun dulu shalat karena beliau orang Yahudi. Dengan bukti ini kita semakin percaya dengan cerita guru-guru kita bahwa shalat sebenarnya sudah diamalkan jauh sebelum nabi Muhammad Saw. Perintah shalat yang diterima nabi Muhammad waktu Isra Miraj  berupa shalat wajib lima waktu, tata cara shalatnya berbeda dengan yang ada di video yang dilakukan oleh orang Yahudi – Nasroni pada zaman ini.

Dibawah ini  adalah 3 video ibadah kaum Yahudi

 

Tahukah anda, ibadah orang Yahudi ternyata ada wudhunya seperti dalam Islam.

 

BACA JUGA:  Darurat Wahabi, Wahabi Sudah Merambah Perkampungan

Video yang memperlihatkan keluarga Yahudi ibadah berjamaah

 

………………

Bonus Video Ibadah  Kristen Koptik

Video shalatnya orang Kristen koptik kuno yang diliput oleh National Geographic Chanel. Sayang video itu berdurasi singkat tidak seperti video shalat orang Yahudi itu,  jadi belum jelas gerakannya walaupun sama ada sujudnya.

 

 

Bukti ke – 3, Wahabi Tasyabbuh Yahudi : Aqidah Wahabi Mirip Aqidah Buatan Yahudi Berupa Aqidah TRINITAS

Pendapat kaum Wahabi yang membagi tauhid kepada tiga bagian; tauhid Ulûhiyyah, tauhid Rubûbiyyah, dan tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât adalah bid’ah batil yang  menyesatkan. Pembagian tauhid seperti ini sama sekali tidak memiliki dasar, baik dari al-Qur’an, hadits, dan tidak ada seorang-pun dari para ulama Salaf atau seorang ulama saja yang kompeten dalam keilmuannya yang membagi tauhid kepada tiga bagian tersebut. Pembagian tauhid kepada tiga bagian ini adalah pendapat ekstrim dari kaum Musyabbihah masa sekarang; mereka mengaku datang untuk memberantas bid’ah namun sebenarnya mereka adalah orang-orang yang membawa bid’ah.

Di antara dasar yang dapat membuktikan kesesatan pembagian tauhid ini adalah sabda Rasulullah:

أمِرْتُ أنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتىّ يَشْهَدُوْا أنْ لاَ إلهَ إلاّ اللهُ وَأنّيْ رَسُوْل اللهِ، فَإذَا فَعَلُوْا ذَلكَ عُصِمُوْا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وأمْوَالَهُمْ إلاّ بِحَقّ (روَاه البُخَاريّ

“Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka bersaksi bahwa tidak ada Tuhan (Ilâh) yang berhak disembah kecuali Allah dan bahwa saya adalah utusan Allah. Jika mereka melakukan itu maka terpelihara dariku darah-darah mereka dan harta-harta mereka kecuali karena hak”. (HR al-Bukhari).

Dalam hadits ini Rasulullah tidak membagi tauhid kepada tiga bagian, beliau tidak mengatakan bahwa seorang yang mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh” saja tidak cukup untuk dihukumi masuk Islam, tetapi juga harus mengucapkan “Lâ Rabba Illallâh”. Tetapi makna hadits ialah bahwa seseorang dengan hanya bersaksi dengan mengucapkan “Lâ Ilâha Illallâh”, dan bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah maka orang ini telah masuk dalam agama Islam (ber-tauhid). Hadits ini adalah hadits mutawatir dari Rasulullah, diriwayatkan oleh sejumlah orang dari kalangan sahabat, termasuk di antaranya oleh sepuluh orang sahabat yang telah medapat kabar gembira akan masuk ke surga. Dan hadits ini telah diriwayatkan oleh al-Imâm al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya.

BACA JUGA:  Koreksi Total Buat Abahna Jibril Soal Pembagian Tauhid

Tujuan kaum Musyabbihah membagi tauhid kepada tiga bagian ini adalah tidak lain hanya untuk mengkafirkan orang-orang Islam ahli tauhid yang melakukan tawassul dengan Nabi Muhammad, atau dengan seorang wali Allah dan orang-orang saleh. Mereka mengklaim bahwa seorang yang melakukan tawassul seperti itu tidak mentauhidkan Allah dari segi tauhid Ulûhiyyah. Demikian pula ketika mereka membagi tauhid kepada tauhid al-Asmâ’ Wa ash-Shifât, tujuan mereka tidak lain hanya untuk mengkafirkan orang-orang yang melakukan takwil terhadap ayat-ayat Mutasyâbihât. Oleh karenanya, kaum Musyabbihah ini adalah kaum yang sangat kaku dan keras dalam memegang teguh zhahir teks-teks Mutasyâbihât dan sangat “alergi”  terhadap takwil. Bahkan mereka mengatakan: “al-Mu’aw-wil Mu’ath-thil”; artinya seorang yang melakukan takwil sama saja dengan mengingkari sifat-sifat Allah. Na’ûdzu Billâh.

Dengan hanya hadits shahih di atas, cukup bagi kita untuk menegaskan bahwa pembagian tauhid kepada tiga bagian di atas adalah bid’ah batil yang dikreasi oleh orang-orang yang mengaku memerangi bid’ah yang sebenarnya mereka sendiri ahli bid’ah. Bagaimana mereka tidak disebut sebagai ahli bid’ah, padahal mereka (wahabi) membuat ajaran tauhid yang sama sekali tidak pernah dikenal oleh orang-orang Islam?! Di mana logika mereka, ketika mereka mengatakan bahwa tauhid Ulûhiyyah saja tidak cukup, tetapi juga harus dengan pengakuan tauhid Rubûbiyyah?! Bukankah ini berarti menyalahi hadits Rasulullah di atas?! Dalam hadits di atas sangat jelas memberikan pemahaman kepada kita bahwa seorang yang mengakui ”Lâ Ilâha Illallâh” ditambah dengan pengakuan kerasulan Nabi Muhammad maka cukup bagi orang tersebut untuk dihukumi sebagai orang Islam (Ahli Tauhid).

Tentang Bantahan atas Pembagian Tauhid silahkan baca di sini>>>>>

>>>> Membantah Pembagian Tauhid Jadi 3 (Trinitas) dengan Dalil-dalil Shahih ….

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Tiga Bukti Penting Wahabi Tasyabbuh Yahudi
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

123 thoughts on “Tiga Bukti Penting Wahabi Tasyabbuh Yahudi”

  1. kok gambar yang medekap dada kek orang deket rumah ane ya 😀

    emang aneh sih ibadahnya…..kalo berdiri bangun dari sujud, pasti sibuk ngerapetin pinggir kaki…

  2. tiga bukti yg mantab, sekarang mau bilang apa saudara-saudara Wahabi? Masihkah bisa mengelak? Setelah kalian tahu mirip Yahudi, apakah masih akan bilang tahlilan tasyabbuh dg ritual Hindu yg ternyata sudah dibantah oleh pendeta2 Hindu bahwa tidak ada di Hindu ritual yg mirip tahlilan?

    Okelah, yg penting kalian jangan lupa bahwa kalian sangat mirip Yahudi dalam segala aspeknya. Itu yang terpenting kudu selalu kalian ingat sampai mati, oke? :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

  3. Subhanallah…
    semoga bermanfaat untuk saudara” salafy dan wahabi sebagai renungan…
    untuk teman” aswaja.. semoga web ini bukan jadi ajang pembuktian dan pembenaran saja.. tapi didasari tujuan mencerahkan orang awam seperti saya mengenai dasar” ibadah qt dan menjawab fitnah bid’ah dan syirik yang di tuduhkan oleh pihak tak bertanggung jawab kepada kita..
    Semangat ummati, ust. @bu hilya, ust. agung, ust. A. fawwaas al Q. dkk

  4. syukron atas paparan bukti mengenai kemiripan Wahabi dg Yahudi. sangat bagus smg bisa menyadarkan kesombongan Wahabi dan bertobat, amiiin. lanjuut …. ➡ ➡ ➡

  5. SANGAT berbeda jwe, yahudi ktika berdiri kakinya merapat, sdangkan wahabi gx tuh…
    kmudian guru sy yg Muhammadiyyah tangannya sperti gambar, yakni sperti gambar seorang muslim yang diatas!
    berarti guru sy yg muhammadiyyah sesat dunk??
    wah kagak bner nih..

    1. WONK BINGUNG@

      Justru yg jadi point penting dalam postingan ini adalah ketika Wahabi berdiri sholat dengan mendekap dada, di situlah letak tasyabbuhnya dg Yahudi. Maaf, mungkin antum keterlaluan “cerdasnya” sehingga nggak bisa nangkap dari bukti yg ditampilkan.

      Mau Muhammadiyah kek, Mau Salafy kek, mau persis kek, kalau sholatnya mendekap dada itu artinya tasyabbuh dg ibadahnya Yahudi. Tidak ada ajaran nabi Muhammad shalat mendekap dada, kalian ditipu Al Albani, tahu? :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen:

      1. Ada selebaran gelap yang diedarkan oleh salah satu awam Wahabi, yang isiinya mengadu domba antara NU dan Muhammadiyah. Dikatakan, KH Ahmad Dahlan dengan Muhammadiyahnya adalah kyai yang mengajarkan Islam yang murni dengan membernatas bid’ah. Lalu KH Hasyim Asy’ari datang melawan dengan ajaran yang penuh bid’ah dengan mengajarkan Islam bercampur agama Hindu. Dikatakan pula bahwa Antara Sunan Ampel yang berpaham Wahabi ditentang oleh Sunan Kalijogo yang berpaham kejawen. Menurut penulisnya, referensi tulisan tersebut antara lain didapat dari hasil wawancara dengan seorang pemeluk Hindu. Persis seperti pengunjung disini, membawa-bawa gurunya dari Muhammadiyah lah …. padaha sih … udah kelihatan dari awal … Maksudnya seolah-olah antara NU dan Muhammadiyah saling menyesatkan. Dulu NU dan Muhammadiyah tuh akuuuuuuuuuuuuuur banget. Setelah datang Wahabi semua ingin dipecah belah

        1. @Bima anda mengatakan:
          Persis seperti pengunjung disini, membawa-bawa gurunya dari Muhammadiyah lah …. padaha sih … udah kelihatan dari awal … Maksudnya seolah-olah antara NU dan Muhammadiyah saling menyesatkan.

          jadi, anda menganggap saya wahabi toh??
          wonk guru saya campuran sih gimana ??
          saya ngomong apa adanya…
          jangan prasangka dulu??

  6. Ping-balik: Untuk Banyak Individu, Judi Kenikmatan Mungkin Menjadi Berasal Dari Hanya Memperoleh A Lotto Tiket Atau Duduk Di Atas Tinggi Poker Online Permainan! | Ibcbet Sbobet 338A Casino Online
  7. okelah guru saya memang ada yg NU,Muhammadiyyah, & Wahabi. namun yg lebih dominan adalah wahaby. karena ajaran mereka mudah sekali diterima oleh akal saya, karena keislamanya masih murni, tdk ada tambahan dan pengurangan.
    Tapi anehnya saya belum yakin spenuhnya kalau wahaby adalah ahlussunnah waljama’ah yg asli..
    so,
    #saya lagi nyari yg asli.

    1. Lebih 5 tahun yang lampau, saya pernah berforum di forum Sidogiri. Seorang forumer Wahhaby mendakwa kami, kaum Sunny beraqidah Allah dimana-mana (al-Baqarah 115). Lalu dia menyerang kami – apakah Allah ada dalam setiap najis dan kotoran? Dia benar kerana bumi ini adalah makhluk, sentiasa bersifat hina, tempat orang-orang berbuat dosa dan tempat orang-orang membuang segala najis dan kotoran. Namun dia tetap salah atas dua alasan.

      Pertama, kami kaum Sunny selalu mentakwil atau mentafwidh ayat2 mutasyabihat, dan tidak mengambil makna dzohirnya. Kedua, dia sebagai seorang Wahhaby juga tidak bisa mensucikan Allah daripada segala najis dan kotoran. Karena kaum Wahhaby itu percaya Allah di atas Arasy, Arasy di atas langit dan langit di atas bumi.

      Malangnya bumi ini bulat seperti bola. Sehingga Arasy dan langit itu keliling bumi. Maka, seorang Wahhaby di kutub Utara, bisa aja kencing di atas Tuhan Wahhaby di kutub Selatan. Dan seorang Wahhaby di kutub Selatan, bisa aja berak di atas Tuhan Wahhaby kutub utara. Kaum Wahhaby sampai kapan pun akan kencing dan berak atas Tuhan mereka sendiri, dan tidak bisa mensucikan Tuhan mereka daripada segala najis dan kotoran.

      Padahal Allah itu Mahasuci.

    2. @Wonk Bingung

      Lha saya koq malah sebaliknya. Saya mungkin termasuk orang yang rasional dan logis.
      Saya bahkan melihat sebaliknya yang terjadi di Wahaby, mazhab ini sangat tidak logis:
      1. Banyak kontradiksi.
      2. Sering mengharamkan akal.
      3. Tidak bisa konsisten.
      4. Kaku/picik/sempit.
      5. Paham mereka tidak universal.
      6. Menghalalkan segala cara.
      7. Dll
      Betul memang untuk mereka yang awam seolah2 Wahaby adalah menggunakan akal/logis. Klaim itu hanya berlaku ketika mereka bertemu orang yang awam (kurang paham mengenai islam), sehingga mereka bisa berlindung pada logika sesat (yang orang awam tsb tidak tahu kalau itu logika sesat).
      Namun ketika bertemu dengan mereka yang berilmu maka argumen mereka akan bertolak belakang (ini menunjukkan ketidak konsisten mereka), yaitu melarang menggunakan akal dengan menyatakan mereka yang berilmu telah men-tuhankan akal.. hehehe :mrgreen:

      Rasa2nya kalau anda mau jujur maka begitulah yang selalu terjadi di kelompok internal wahaby.

      salam.

  8. Rasulullah berpuasa di hari kelahirannya oleh orang yang ngaku ahlussunah dibilang Rasulullah merayakan maulid. Rasulullah memerintahkan untuk mendo’akan kaum muslimin yang telah wafat oleh orang yang ngaku ahlussunah dibilang tahlilan. Lha … dimana ahlussunahnya?.

    1. @Ibn Abdul Chair

      “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu (para Nabi dan Rasul) terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal”. (S.Yusuf:111).

      “Dan semua kisah para Rasul kami ceriterakan kepadamu, yang dengan kisah-kisah itu Kami teguhkan hatimu “. (S. Hud: 120)

      Firman-Nya: “Demikianlah (perintah Allah) dan barangsiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah (lambang kebesaran) Allah, itu sesungguhnya (timbul) dari hati yang takwa” (S. Al-Hajj: 32)

      Firman-Nya: “Demikianlah (perintah Allah), dan barangsiapa mengagungkan apa yang mulia disisi Allah, itulah yang terbaik baginya disisi Tuhannya”. (Al-Haj: 30)

      Allah swt. didalam kitab suci Al-Qur’an telah menceriterakan riwayat-riwayat para Nabi dan Rasul berulang–ulang dibeberapa Surah. Umpama riwayat Nabi Isa as. dalam surah Maryam, disini kisah beliau mulai kelahirannya hingga dewasa, bahkan dikisahkan juga da’wah dan mu’jizatnya. Juga riwayat Nabi Ibrahim as banyak dalam Al-Qur’an, Nabi Yusuf as., Nabi Sulaiman as. dan nabi-nabi lainnya. Allah mengisahkan bagaimana kehidup- an, kemuliaan/kedudukan para Rasul ini dan lain sebagainya. Tidak lain tujuan dan maksud Allah swt. untuk mengisahkan riwayat para Nabi dan Rasul sebagaimana firman-Nya yang telah dikemukakan tadi adalah jelas untuk dijadikan pelajaran dan memperteguh iman dalam hati.

      Jadi kalau kisah para Nabi dan Rasul yang lain saja sudah sedemikian besar arti dan manfaatnya, apalagi kisah kelahiran dan kehidupan junjungan kita Nabi besar Muhammad saw., yang telah diriwayatkan sebagai penghulu para Nabi dan Rasul!

      Begitu juga telah dikemukakan bahwa diantara tanda-tanda orang yang ber- taqwa adalah orang yang mau mengagungkan syi’ar Allah swt. dan orang yang mengagungkan apa yang mulia disisi Allah swt. itu adalah yang terbaik baginya disisi Allah swt. Tidak diragukan lagi Rasulallah saw. adalah makhluk yang paling mulia diantara makhluk-makhluk Ilahi, dengan kenabian dan ke-Rasul-annya, dengan segala mu’jizat termasuk mu’jizat yang ter- besar yaitu Al-Qur’an yang dikaruniakan Allah kepada beliau saw. adalah lambang kebenaran dan kebesaran (syi’ar) serta lambang kekuasaan Allah swt.. Memuliakan dan mengagungkan syi’ar Allah ini adalah bukti dari hati yang bertakwa kepada Allah swt.

      Allah swt. berfirman: “ ’Isa putera Maryam berdo’a, ‘Ya Tuhan kami turun- kanlah kiranya kepada kami suatu hidangan dari langit (yang hari turunnya) akan menjadi hari Raya bagi kami yaitu orang-orang yang bersama kami dan yang datang sesudah kami, dan menjadi tanda bagi kekuasaan Engkau; beri rezekilah kami, dan Engkaulah pemberi rezeki yang paling Utama’ ”. (QS. Al-Maidah [5]:114)

      Turunnya makanan dari Allah swt. untuk ummat nabi ‘Isa saja sudah sebagai suatu kenikmatan dan hari Raya untuk ummat ‘Isa dan untuk yang datang sesudah mereka. Bagi ummat Muhammad Allah swt. telah memberikan berbagai kenikmatan dan kemuliaan karena lahirnya dan turunnya makhluk yang paling mulia yaitu Nabiyullah Rasulallah saw. kedunia ini.

      Allah swt.. berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Musa dengan membawa ayat-ayat kami, (dan Kami perintahkan kepadanya), ‘Keluarkanlah kaummu dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dan ingatkanlah mereka kepada hari-hari Allah”. Sesunguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi setiap orang penyabar dan banyak bersyukur. ” (QS. Ibrahim [14]: 5)

      Yang dimaksud dengan hari-hari Allah pada ayat itu ialah peristiwa yang telah terjadi pada kaum-kaum dahulu serta nikmat dan siksa yang dialami mereka. Ummat nabi Musa disuruh oleh Allah swt. untuk mengingat kembali peristiwa-peristiwa yang telah lalu baik itu yang berupa nikmat atau berupa adzab dari Allah swt.. Dengan adanya peringatan maulid itu kita selalu di ingatkan kembali kepada junjungan kita Rasulallah saw. sebagai penghulu para Nabi dan Rasul!

      “Pada suatu hari Abubakar Ash-Shiddiq ra datang kepada ‘Aisyah ra (putri nya). Pada saat itu dikediaman ‘Aisyah r.a. ada dua orang wanita Anshar sedang menyanyikan lagu-lagu yang biasa dinyanyikan oleh kaum Anshar pada hari Bi’ats. Siti ‘Aisyah ra. memberitahu ayahnya, bahwa dua orang wanita yang sedang menyanyi itu bukan biduanita. Abubakar menjawab: ‘Apakah seruling setan dibiarkan dalam tempat kediaman Rasulallah?’ Peristiwa tersebut terjadi pada hari raya. Menanggapi pernyataan Abubakar ra., Rasulallah saw. berkata: ‘Hai Abubakar, masing-masing kaum mem- punyai hari raya, dan sekarang ini hari raya kita’ “. (Shohih Muslim III/210 dan Shohih Bukhori 1/170).

      Yang dimaksud dalam hadits kata hari raya kita ialah hari terlimpahnya nikmat Allah swt.kepada kita, oleh karenanya kita boleh merayakannya. hari Biats yaitu hari kemenangan suku-suku Arab melawan Persia, sebelum Islam.

      Dalam hadits yang lain lagi Siti ‘Aisyah ra.menuturkan: “ Pada suatu hari raya beberapa orang kulit hitam negro dari Habasyah bermain darq (perisai terbuat dari kulit tebal) dan hirab. Saat itu, entah aku yang minta kepada Rasulallah saw. ataukah beliau yang bertanya kepadaku: ‘Apakah engkau ingin melihat’? Aku menjawab: ‘Ya’. Aku lalu diminta berdiri di belakang beliau demikian dekat hingga pipiku bersentuhan dengan pipi beliau. Kepada orang-orang yang bermain-main itu Rasulallah saw. ber- sabda: ‘Hai Bani Arfidah…teruskan, tidak apa-apa’! Kulihat mereka terus ber- main hingga merasa jemu sendiri. Kemudian Rasulallah saw. bertanya kepadaku; ‘Sudah cukup’? Kujawab; ‘Ya’. Beliau lalu menyuruhku pergi, ‘kalau begitu pergilah’ “!.

      Dalam Shohih Muslim diriwayatkan juga sebuah hadits berasal dari ‘Atha ra yang menuturkan bahwa yang bermain-main itu entah orang-orang Persia, entah orang-orang Habasyah (Ethiopia). Mereka bermain hirab didepan Rasulallah saw. Tiba-tiba ‘Umar Ibnul Khattab datang, ia lalu mengambil beberapa buah kerikil dan dilemparkan kepada mereka. Ketika melihat kejadian tersebut Rasulallah saw. berkata: ‘Hai Umar, biarkan saja mereka’!

      diketengahkan oleh Ibnu Taimiyah dari hadits Ahmad bin Hanbal yang menuturkan sebagai berikut: “Aku mendengar berita, pada suatu hari sebelum Rasulallah saw. tiba (disuatu tempat di Madinah) diantara para sahabatnya ada yang berkata: ‘Alangkah baiknya jika kita menemukan suatu hari dimana kita dapat berkumpul untuk mem- peringati nikmat Allah yang terlimpah kepada kita’. Yang lain menyahut: ‘Hari Sabtu!’. Orang yang lain lagi menjawab; ‘Jangan (karena) berbarengan dengan harinya kaum Yahudi’! Terdengar suara yang mengusulkan; ‘Hari Minggu saja’! Dijawab oleh yang lain: ‘Jangan (karena) berbarengan dengan harinya kaum Nasrani’! Kemudian menyusul yang lain lagi berkata; ‘Kalau begitu, hari ‘Arubah saja’! Dahulu mereka menamakan hari Jum’at hari ‘Arubah. Mereka lalu pergi berkumpul dirumah Abu Amamah Sa’ad bin Zararah. Dipotonglah seekor kambing cukup untuk dimakan bersama“. (Iqtidha’us Shirathil Mustaqim).

      Dalam shohih Muslim, juga memperkuat dalil-dalil keabsahan peringatan maulid (kelahiran) Nabi saw. yaitu mengenai puasa setiap hari Senin yang dilakukan oleh Nabi saw. Beberapa orang sahabat beliau saw. bertanya apa sesungguhnya motifasi beliau berpuasa tiap hari Senin? Beliau saw. menjawab: “Pada hari itu yakni hari Senin adalah hari kelahiranku dan hari turunnya wahyu (pertama) kepadaku”. Dengan adanya hadits ini kita memandang bahwa hari Senin sebagai hari yang bersejarah, karena men- cakup dua peristiwa besar. Jika Rasulallah saw. sendiri berpuasa setiap hari Senin untuk memperingati dan mensyukuri hari kelahiran beliau sendiri, bukankah sangat utama jika kita sebagai ummat beliau saw. berbuat mengikuti jejak beliau yaitu giat memperingati hari maulid beliau.

      Sekarang telah kita ketahui, bahwa bentuk perayaan atau peringatan sebagaimana yang dituturkan oleh hadits-hadits tersebut di atas ternyata bermacam-macam. ada yang dengan cara berpuasa, memotong kambing lalu dimakan bersama, ada yang merayakan dengan nyanyian, dan ada pula yang merayakan dengan bermain-main tombak serta perisai.

      Berikut beberapa pendapat ulama tentang peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. :
      Dalam kitab al-Madhkal oleh Ibnu al-Hajj disebutkan: “Menjadi satu kewajiban bagi kita untuk memperbanyak kesyukuran kepada Allah setiap hari Senin bulan Rabi’ul Awwal karena Dia (Allah swt.) telah mengurniakan kepada kita nikmat yang besar yaitu diutus-Nya Nabi saw. untuk menyampaikan Islam”.

      Dalam kitab Kasyfudz-Dzunun dikemukakan bahwa orang pertama yang menulis kitab Maghazi (Manakib atau perilaku kehidupan Nabi Muhammad saw.) ialah Muhammad bin Ishaq terkenal dengan nama Ibnu Ishaq wafat pada tahun 151 H (pada zaman tabi’in). Dengan indah dan cemerlang ia menguraikan riwayat maulid Nabi serta menjelaskan berbagai manfaat yang dapat dipetik dari bentuk-bentuk peringatan, seperti walimah, shadaqah dan kebajikan-kebajikan lainnya yang semuanya bersifat ibadah.

      Allamah Nuruddin ‘Ali dalam kitabnya yang berjudul Wafa-ul-Wafa bi Akhbari Daril-Mushtofa mengatakan bahwa Siti Khaizuran, bunda Musa Amirul Mu’minin, pada tahun 170 H sengaja datang ke Madinah, lalu menyuruh penduduk menyelenggarakan peringatan maulid Nabi saw. di dalam masjid Nabawi.

      Imam Al-Jauzi (Al-Hafidz Jamaluddin ‘Abdurrahman Al-Jauzi) seorang imam madzhab Hanbali wafat tahun 567 H mengatakan; “Manfaat istimewa yang terkandung dalam peringatan maulid Nabi saw. ialah timbulnya perasaan tenteram disamping kegembiraan yang mengantarkan ummat Islam kepada tujuan luhur. Dijelaskan pula olehnya bahwa orang-orang pada masa Daulat ‘Abbasiyah dahulu memperingati hari maulid Nabi saw. dengan berbuat kebajikan menurut kemampuan masing-masing, seperti mengeluar- kan shadaqah, infak dan lain-lain. Selain hari maulid, mereka juga memper- ingati hari-hari bersejarah lainnya, misalnya hari keberadaan Nabi saw. di dalam goa Hira sewaktu perjalanan hijrah ke Madinah. Penduduk Baqdad memperingati dua hari bersejarah itu dengan riang gembira, berpakaian serba bagus dan banyak berinfak.

      Imam Nawawi (Al-Hafidz Muhyiddin bin Syarat An-Nawawi) yang wafat dalam tahun 676 H bahkan mensunnahkan peringatan maulid Nabi saw.. Fatwa Imam Nawawi tersebut diperkuat oleh Imam Al-Asqalani (Al-Hafidz Abul-Fadhl Al-Imam bin Hajar Al-‘Asqalani) yang wafat dalam tahun 852 H. Dengan berdasarkan dalil-dalil yang meyakinkan, Imam Al-‘Asqalani memastikan bahwa memperingati hari maulid Nabi saw. dan mengagungkan kemuliaan beliau merupakan amalan yang mendatangkan pahala.

      Seorang ulama terkenal, Imam Taqiyyuddin ‘Ali bin ‘Abdul-Kafi As-Sabki  wafat tahun 756 H menulis kitab khusus tentang kemuliaan dan kebesaran Nabi Muhammad saw. Bahkan ia menfatwakan, barangsiapa menghadiri pertemuan untuk mendengarkan riwayat maulid Nabi Muhammad saw. serta keagungan maknanya ia memperoleh barokah dan ganjaran pahala.

      Imam Syihabuddin Ahmad bin Muhammad bin ‘Ali bin Hajar Al-Haitsami As-Sa’di Al-Anshari Asy-Syafi’i wafat tahun 973 H menulis kitab khusus mengenai kemuliaan Nabi saw.. Ia memandang hari Maulid Nabi saw. sebagai hari raya besar yang penuh barokah dan kebajikan.

      Imam ‘Abdur-Rabi’ Sulaiman At-Thufi As-Shurshuri Al-Hanbali terkenal dengan nama Ibnul-Buqiy wafat tahun 716 H. Ia menulis sajak dan sya’ir-sya’ir bertema pujian memuliakan keagungan Nabi Muhammad saw., ke agungan yang tidak ada pada manusia lain mana pun juga. Tiap hari maulid Nabi para pemimpin Muslim berkumpul dirumahnya. Ia lalu minta salah seorang dari hadirin supaya mendendangkan sya’ir-sya’ir Al-Buqiy itu.

      Bila saudara mengingkari peringatan Maulid Nabi Muhammad saw. ya silahkan. Kemudian komentar saudara : “dimana ahlussunahnya?”… Sekarang saya tanya, Imam Imam muktabar yg telah saya sebutkan diatas, apakah mereka bukan ahlussunah? Apakah anda dan komunitas anda merasa paling mengerti sunnah di banding imam imam yg agung tersebut?

    2. @Ibn Abdul Chair

      Bentuk atau cara bacaan Tahlilan/Yasinan yang dibaca di Indonesia, lebih kurang seperti ini: Pertama-tama berdo’a dengan di-iringi niat untuk orang muslimin yang telah lama wafat dan baru wafat tersebut, kemudian disambung dengan bacaan surat Al-Fatihah, surat Yaasin, ayat Kursi (Al-Baqoroh:255) dan beberapa ayat lainnya dari Al-Qur’an, tahlil (Pengucapan Lailahaillallah), tasbih (Pengucapan subhanallah), sholawat Nabi saw. dan sebagainya. Setelah itu ditutup dengan do’a kepada Allah swt. agar pahala bacaan yang telah dibaca itu dihadiahkan untuk orang orang yang telah wafat terutama dikhususkan untuk orang yang baru wafat itu, yang oleh karenanya berkumpulnya orang-orang ini untuk dia. Juga berdo’a pada Allah swt. agar dosa-dosa orang muslimin baik yang masih hidup maupun telah wafat diampuni oleh-Nya dan lain sebagainya.

      “Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka, “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah”. Mereka memulai dan
      menutup dzikirnya dengan al-Qur’an, lalu mendo’akan kaum Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illa billaah) dan shalawat kepada Nabi SAW. Lalu Ibn Taimiyah menjawab: “Berjamaah dalam berdzikir, mendengarkan al-Qur’an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhrrya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka memanggil, “Silahkan sampaikan hajat kalian”, lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi, “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”… Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membaca’a Qur’an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta padi sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisi Rasulullah SAW dan hambahamba Allah yang saleh, zaman dulu dan sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 22, hal. 520)

      Nah, dalam hal ini apanya yang salah…?

    3. Ya udah terserah anda, mau dikasi nama apa, tapi apakah yang Rasulullah lakukan tsb memperingati hari lahir Beliau saw?
      Jadi menurut anda yang salah adalah namanya? ataukah hakikatnya yang salah?
      Kemudian apa yang dilakukan oleh Wahaby untuk memperingati hari lahir Beliau saw?
      Kemudian pula apa yang dilakukan oleh Wahaby untuk memperingati kelahiran ulama2 besar Wahaby?

      salam

  9. Peringatan maulid nabi tidak ada dalilnya. jadi sesuai kaidah, tidak ada ikhtilifah pada yang tidak ada dalil. Ini saja cukup bagi orang-orang yang berilmu.
    Lagipula, semua pendapat/fatwa dari para imam mu’tabar yang dikemukakan oleh Agung, sama sekali tidak ada hubungannya dengan perayaan maulid nabi.
    Tapi….maulid asyik juga sih, orang awwamnya bisa makan enak berbulan-bulan, terus… ustadz/kyai-nya dapat amplop bertumpuk-tumpuk. Gimana bisa ninggalinnya…?

    1. @Ibn Abdul Chair

      Saudara ini, dibaca tidak tulisan saya diatas? Disana para Imam Imam Muktabar tersebut memperbolehkan peringatan Maulid Nabi dan tidak mengingkarinya. Apa yg saya kemukakan diatas, seperti Ayat Al-Qur’an dan Hadist, apa bukan dalil?

      Allah swt. dalam surat Al-Hajj:77: ‘Hendaklah kalian berbuat kebajikan, agar kalian memperoleh keberuntungan’ .

      Abu Mas’ud (Uqbah) bin Amru Al-Anshory ra berkata; bersabda Rasulallah saw.;
      ‘Siapa yang menunjukkan kepada kebaikan, maka ia mendapat pahala sama dengan yang mengerjakannya’. (HR.Muslim)

      Al-Baihaqi dalam Manakib Imam Syafi
      ‘Perkara-perkara baru itu ada dua macam. Pertama, perkara-perkara baru yang menyalahi Al-Qur’an, Hadits, Atsar atau Ijma’. Inilah bid’ah dholalah/sesat. Kedua, adalah perkara-perkara baru yang mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan salah satu dari yang disebutkan tadi, maka bid’ah yang seperti ini tidaklah tercela’.

      Al-Muhaddits Al-Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi) “Penjelasan mengenai hadits: ‘Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yang dosanya….’, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw: ‘semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua yang Bid’ah adalah sesat’, sungguh yang di maksudkan adalah hal baru yang buruk dan Bid’ah yang tercela ” . (Syarh An-nawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

      Imam Syafi’i, Al-Izz bin Abdis Salam, Imam Nawawi dan Ibnu Atsir ra. serta para ulama lainnya menerangkan: “Bid’ah/masalah baru yang diadakan ini bila tidak menyalahi atau menyimpang dari garis-garis syari’at, semuanya mustahab (dibolehkan) apalagi dalam hal kebaikan dan sejalan dengan dalil syar’i adalah bagian dari agama”

      Darisini kita bisa ambil kesimpulan bahwa semua bentuk amalan-amalan, baik itu dijalankan atau tidak pada masa Rasulallah saw. atau zaman dahulu setelah zaman Nabi saw. yang tidak melanggar syariát serta mempunyai tujuan dan niat mendekatkan diri untuk mendapatkan ridha Allah swt. dan untuk mengingatkan (dzikir) kita semua pada Allah serta Rasul-Nya itu adalah bagian dari agama dan dapat diterima.

      Itulah yang dimaksud oleh kesimpulan para ulama yang mengatakan, bahwa sesuatu yang diminta oleh syara’ baik yang bersifat khusus maupun umum, bukanlah bid’ah, kendati pun sesuatu itu tidak dilakukan dan tidak diperintah- kan secara khusus oleh Rasulallah saw.!

      Sebagaimana hadits Rasulallah saw.:
      ‘Sesungguhnya segala perbuatan tergantung kepada niat, dan setiap manusia akan mendapat sekadar apa yang diniatkan, siapa yang hijrahnya (tujuannya) karena Allah dan Rasul-Nya, hijrahnya itu adalah karena Allah dan Rasul-Nya (berhasil)’. (HR. Bukhori).

      Al-Qur’an surat An-Nisa: 63: “Sekiranya mereka menyerahkan (urusan itu) kepada Rasulallah dan Ulul-amri (orang-orang yang mengurus kemaslahatan ummat) dari mereka sendiri, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahui dari mereka (ulul-amri)”.

      Para alim-ulamabukan kaum awamyang mengurus kemaslahatan ummat Islam, khususnya dalam kehidupan beragama. Sebab, mereka itulah yang mengetahui ketentuan-ketentuan dan hukum-hukum agama. Ibnu Mas’ud ra. menegaskan: “Allah telah memilih Muhammad saw. (sebagai Nabi dan Rasulallah) dan telah pula memilih sahabat-sahabatnya. Karena itu apa yang dipandang baik oleh kaum muslimin, baik pula dalam pandangan Allah ” . Demikian yang diberitakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal didalam Musnad-nya dan dinilainya sebagai hadits Hasan (hadits baik).

      Sekarang saya tanya, siapa ulama yg melarang dan mengingkari Maulid Nabi, adakah mereka setara dengan para Imam Imam yg telah saya sebutkan diatas?

    2. @Ibn Abdul Chair
      Itulah bedanya antara kaum SAWAH dengan ASWAJA, Maulid itu kita rayakan sebagai peringatan bukan Ibadah. Kalau kita berpikir sehat, maka kata peringatan dan Ibadah dapat kita pisahkan. Coba bayangkan kalau hari peringatan2 Islam tidak dilakukan, maka sepi lah dakwah Islam, seperti kaum lain. Maka setiap Muslim akan menjadi seorang Individualism.
      Kalau ente menuduh Maulid sebagai Ibadah ya terserah ente.

      1. @Ucep

        Saudara kita ini telah menuduh ulama ulama yg membolehkan peringatan Maulid Nab seperti Imam Al-Jauzi (Al-Hafidz Jamaluddin ‘Abdurrahman Al-Jauz), mam Nawawi, Imam Taqiyyuddin ‘Ali bin ‘Abdul-Kafi As-Sabki dll , tidak menggunakan dalil. sebagaimana perkataan saudara kita ini : “Peringatan maulid nabi tidak ada dalilnya”.

        Padahal para ulama telah berkata : “sesuatu yang diminta oleh syara’ baik yang bersifat khusus maupun umum, bukanlah bid’ah, kendati pun sesuatu itu tidak dilakukan dan tidak diperintah- kan secara khusus oleh Rasulallah saw.! “. Artinya, walaupun tidak ada perintah khusus mengenai peringatan Maulid Nabi, namun jika masih sesuai dengan kaidah kaidah umum syari’at, maka iya boleh dilakukan.

        al-Imam Abu Ishaq Asy-Syathibi telah menguraikan dalam kitabnya, al-I’tisham tentang tanda-tanda ahli bid’ah atau aliran sesat salah satunya adalah :
        mengikuti hawa nafsu sebagaimana diingatkan oleh firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan (zaigh)”, (QS. 3 : 3). Kesesatan (zaigh) adalah lari dari kebenaran karena mengikuti hawa nafsu. Dalam ayat lain, “Dan siapakah yang lebih sesat dari pada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun.” (QS. 28 : 50).

        Al-Imam Asy-Syathibi dalam kitabnya al-I’tisham membuat sebuah pertanyaan yang dijawabnya sendiri, mengapa seseorang itu mengikuti hawa nafsu dan kemudian pendapat-pendapatnya menjelma dalam bentuk sebuah aliran sesat?

        Menurut Asy-Syathibi, setiap orang itu mengetahui terhadap dirinya apakah ilmunya sampai pada derajat menjadi mufti atau tidak. Ia juga mengetahui apabila melakukan introspeksi diri ketika ditanya tentang sesuatu, apakah ia berpendapat dengan ilmu pengetahuan yang terang tanpa kekaburan atau bahkan sebaliknya. Ia juga mengetahui ketika dirinya meragukan ilmu yang dimilikinya. Oleh karena itu, menurut Asy-Syathibi, seorang alim apabila keilmuannya belum diakui oleh para ulama, maka kealimannya dianggap tidak ada, sampai akhirnya para ulama menyaksikan kealimannya.

        Sehingga cukuplah hadits dari Baginda Nabi saw., agar kita tidak menafsirkan sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya: Artinya: ”Akan datang nanti suatu masa yang penuh dengan penipuan hingga pada masa itu para pendusta dibenarkan, orang-orang yang jujur didustakan; para pengkhianat dipercaya dan orang-orang yang amanah dianggap khianat, serta bercelotehnya para ‘Ruwaibidhoh’. Ada yang bertanya: ‘Apa itu ‘Ruwaibidhoh’? Beliau saw. menjawab: ”Orang bodoh pandir yang berkomentar tentang perkara orang banyak” (HR. Al-Hakim jilid 4 hal. 512 No. 8439 — ia menyatakan bahwa hadits ini shohih; HR. Ibn Majah jilid 2 hal. 1339 no. 4036; HR. Ahmad jilid 2 hal. 219, 338 No. 7899,8440; HR. Abi Ya’la jilid 6 hal. 378 no. 3715; HR. Ath-Thabrani jilid 18 hal. 67 No. 123; HR. Al-Haitsami jilid 7 hal. 284 dalam Majma’ Zawa’id).

      2. @kang ucep

        muludan bukan ibadah tah??

        bukankah muludan itu kumpul2 dzikir brjama’ah, baca sholawatan DLL.. itu bukan ibadah?? dilihat dari mananya kalau hal itu bukan ibadah??

        mohon penjelasannya..
        trimakasih..

        1. @WONK BINGUNG
          Ente mesti bedain kalau Ibadah itu bacaan nya tetap, Waktu tetap dilakukan secara Rutin.
          Seperti Shalat, Puasa, Zakat, Haji, Wudhu, Percaya kepada Kitab, percaya adanya Malaikat dll
          Kalau Peringatan Bacaannya gak tetap, waktunya gak tetap kapanpun bisa.
          Seperti Maulidan : apakah bacaan tetap ?, Waktunya tetap ? Memang disini kita berharap mendapat semoga Pahala dari Allah, makanya diisi dengan Pembacaan Al Qur’an maupun bersalawat, semoga aja Allah memberikan Rahmat. Mau dilaksanakan juga gak apa2, ditinggalkan juga gak apa2, karena Maulidan kan peringatan. Kalau ane sih tetap melaksanakan Maulidan, apapun resiko diakhirat kelak, ane cuma berusaha mencari amal buat bekal.
          Tapi coba ente bayangin, kalau gak dihidupkan Napas keagamaan seperti Maulidan, apakah gak sepi dunia Islam.

      3. @ ucep

        ente mbingungin, kayanya ente ga mudeng apa itu ibadah. penjelasan ente tentang definisi ibadah amburadul tanpa dasar ilmu. ibadah menurut ulama yang paling dianggap sempurna adalah ” sebuah nama yang mencakup segala ucapan dan perbuatan yang dicintai dan diridhoi oleh Alloh Ta’ala baik lahir maupun bathin ” demikian secara singkat makna ibadah. dan ibadah haruslah mencakup dua unsur yang tidak boleh tidak harus ada dalam beribadah. pertama bahwa amalan itu harus ikhlas hanya ditujukan kepada Alloh Ta’ala. kedua amalan itu harus ada perintah atau contohnya dari Rosululloh Sholalloohu ‘alaihi wa sallam. maka lihat aja apakah maulidan itu mencakup dua hal di atas apa tdk? kalo ada 2 unsur tersebut ya maulidan termasuk ibadah yg dibolehkan, tpi jika hanya ada satu unsur trsebut atau bahkan tidak ada satupun unsur, maka ente harus ihlas menrima bahwa maulidan itu adalah perkara yang baru dlam agama dan itu perkara bid’ah yang tidak perlu dikerjakan. dan pendapat ulama2 tersebut tidaklah bisa dijadikan landasan pembolehan pelaksanaan maulidan jika tdk terpenuhi 2 syarat tersebut. lagi pula pendapat2 ulama di atas tidak terlihat adanya indikasi khusus mengarah pd pembolehan perayaan maulid nabi. wallohu a’lam

        1. stop..!!! jgn ribut dulu,,,aku tanya nih,,,,, bukankah apapun yg kita lakukan maupun ucapkan dgn niat karena Allah,,bukankah itu juga ibadah ?? n,,,apa-apa sih ngributin amalan org lain,,,,,,udah suci kah ??? paling juga dalil-dalilnya copas dri mbah gugel,,,,heheh,,,afwan,,,,,,gak penting banget debat sektarian,,,,,emang kita Tuhan yg memberi pahala ? nggak kan ??? klo gitu,,ya lanaa a’malunaa wa lakum a’malukum,,, thangkyu,,,

  10. Artikel terlebay yang gue baca…
    Emang kalo berdekap di dada sama seperti yahudi di bilang tasyabuh,,,
    very-very lebay…
    Sekarang loe liat semua ketika si yahudi la’natullah ini mau sujud. dia meletakkan kali lebih dahulu, tidak seperti orang wahabi salafy yang meletakkan tangan lebih lebih dahulu, begitu juga ketika bangkit dari sujud, mengangkat tangan dulu baru kakinya sama seperti sholat aswaja…
    Gimana? sudah pada loe tengok..sama kayak aswaja ketika turun sujud dang bangkit dari sujud khan..?? Apa kalian mau bilang tidak tasyabuh…berkacalah…! Lebay nie artikel..!!! ^_^

    1. Ishar@

      Kalau ada dalilnya atau tuntunannya dari Rasulullah saw maka itu bukan tasyabbuh, demikian akhi Ishar. Tuntunan dan contoh dari nabi saw adalah meletakkan lutut terlebih dulu sebelum tangannya. Adapaun meletakkan tangan di dada itu tidak ada tuntunan atau contoh dari rasulullah saw. Hayo, mau ikut Nabi atau ikut Yahudi? Silahkan pilih, yg jelas saya yakinseyakin-yakinnya apa yang diajarkan dalam Aswaja semuanya sudah ada tuntunan dari Rasulullah saw.

      Berikut ini saya kutipkan terjemahan dari buku: “Shahih Shifat an-Nabi”, Judul Bahasa Indonesia: “Shalat Seperti Nabi Saw,” Karya Hasan bin ‘Ali as-Saqqaf, Cetakan III, Rabi al-Awwal/April 2006, Hal. 170 – 173, Pustaka Hidayah, Bandung

      Hal yang disunnahkan adalah turun untuk sujud dengan mendahulukan lutut, bukannya mendahulukan tangan. Hal ini didasarkan pada hadist dari Wa’il ibn Hujr radhiallahu ‘anhu. Ia berkata,”Aku melihat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam ketika hendak sujud meletakkan lututnya sebelum tangannya.” (HR Abu Dawud I:222, HR. At Turmudzi II: 56, HR. Ibn Majah I:286, Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya ( I:318 ) dan Ibnu Hibban dalam Shahihnya)

      (Untuk HR Abu Dawud jika mencari di buku Shahih Sunan Abu Dawud oleh Nasruddin Al Bani maka hadist 839 itu tidak akan ditemukan. Setelah hadist ke 836 langsung lompat ke hadist 840 dan 841. Berarti hadist ke 839 ini didhoifkan oleh Nasruddin Al Bani -red)

      Hadist tersebut Shahih. Akan tetapi ada sebagian orang yang berusaha melemahkan (mendhoifkan) hadist tersebut karena (di sanadnya -red) ada Syarik, meskipun usaha itu gagal. Sesungguhnya, orang yang meriwayatkan dari Syarik dalam hadist ini adalah Yazid bin Harun. Ia termasuk yang meriwayatkan dari Syarik seblum Syarik berubah dan mengurus al-qadhaa (pengadilan atau menjadi hakim)

      Al Hafidz Ibn Hibban dalam Ats-Tsiqaat (VI:444) , mengatakan, “Syarik pada masa tuanya melakukan kesalahan terhadap apa yang diriwayatkan. Daya hafalnya berubah. Orang terdahulu yang mendengar darinya adalah orang-orang yang mendengar lewat perantara (waasith) dan tidak mengandung takhlith (kekacauan). Mereka mendengar dari Syarikh lewat penengah itu, seperti Yazid bin Harun, Ishaq al Arzaq. Sementara mendengarakan hadist yang dilakukan orang-orang kemudian dari Syarik di Kufah itu elah mengandung banyak wahm (kebimbangan atau keraguan, kekacauan).” Demikian menurut Ibn Hibban.

      Menurut pengarang (buku Sholat seperti Nabi saw yaitu Hasyim bin Ali as Saqqaf): pendapat orang mengenai Syarik tampaknya hanya berkaitan dan didasarkan kepada masalah tersebut. Demikian pula mengenai tasyayyu’ (kesyi’ahan)-nya. Tapi itu tidak menjadi cela atau aib. Silakan kembali melihat Risalah al-’Atb al-Jamil ‘ala Ahl al-Jahr wa at-Tahdil karangan Sayyid Muhammad in ‘Aqil, supaya Anda mengetahui upaya tajrih (mencari kesalahan) para periwayat hadist dengan (sebab) tasyayu’ dan memahaminya secara baik.

      Bagaimanapun, para Imam menganggap bahwa syariq itu tsiqah (dapat dipercaya). Berikut komentar sebagian imam mengenai Syariq:

      Ibnu Mu’in mengatakan bahwa Syarik itu tsiqoh-tsiqoh (sangat terpercaya). Ibn Sa’id menilai,” Syarik itu tsiqoh dan bagus hadis (pembicaraannya).” Ibn Hibban dan Ibn Syahin pun menganggapnya tsiqoh. Sementara menurut penilaian Abu Dawud, Syariq itu tsiqoh yukhtu’tu (terpercaya, tetapi suka salah dalam meriwayatkan hadist).

      Ibn ‘Adi menilai,”Umumnya hadist Syarik itu shahih dan adil (shahihah wa al-istiwa). Aib (nakrah) yang menimpa hadistnya itu timbul akibat hafalannya yang buruk. Ia tidak pernah sengaja melakukan sesuatu dalam periwayatan hadistnya yang mengakibatkan kedhaifan hadistnya.”

      Kejelekan hafalan itu terjadi setelah ia mengurus al-qadha’ (menjadi hakim peradilan). Sementara Yazid bin Harun meriwayatkan hadist dari Syarik itu sebelum ia memangku jabatan tersebut. Jadi hadist dari Syarik tersebut Shahih

      Imam al-Hafizh Ibn al-Mundzir dalam al-Ausath (III:166) mengatakan,” Hadist Wa’il bin Hur itu tsabit (kuat) dan atas dasar hadist itu pula kami berpendapat

      Imam at-Turmudzi-semoga Allah merahmatinya- berkata,”Untuk mengamalkan hadist tersebut- menurut kebanyakan ahli ilmu – hendaklah seseorang meletakkan kedua lututnya sebelum tangannya. HR Abu Dawud (I:222 no 839) dan Ibn al-Mundzir dalam al-Awsath (III:166). Hadist tesebut hasan. Bahkan, karena banyak penguatnya, nilainya menjadi shahih.

      Abu Hurairah ra meriwayatkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian sujud, maka janganlah berderum (berlutut) seperti unta. HR Abu Dawud (I:222 no 840) An-Nasai (II:207) dan yang lainnya. Hadist tersebut shahih. Dalam hadist itu ada tambahan yang dhaifah, bahkan batilah (salah), yaitu pada akhirnya: walyadha’ yadaihi qabla rukbataihi (hendaklah meletakkan kedua tangannya sebelum lututnya). Penggalan hadist tersebut hanya diriwayatkan (tafarrud) ‘Abdal ‘Aziz bin Muhammad ad-Darawardi; dan ia orang yang dhaif (lemah). Apalagi perawi lain yang mengikutinya-menurut riwayat Abu Dawud (no 841) dari perawi lainnya – tidak menyebutkan penambahan tersebut.

      Meskipun Ad-Darawardi termasuk perawi dalam sanad Imam Muslim, tetapi ia suka ragu-ragu (meragukan) jika menghadistkan dari hafalannya. Hal ini seperti diakui Imam Ahmad bin Hanbal. Ia menambahkan, bahwa ad-Darawardi itu laisa bi syaiin (bukan apa-apa), dan sesungguhnya jika meriwayatkan hadist dari hafalannya, ia (suka) melakukan kebatilan-kebatilan.

      Penilaian berikut ini tersamuk sebagian kejelekannya. Abu Hatim mengatakan bahwa ad-Darawardi tidak dapat dijadikan hujjah. Abu Zarah mengatakan bahwa ia jelek hafalannya. Imam Ahmad juga menilai,”Ia suka membaca dari kitab-kitab orang lain dan salah; mungkin ia membalikkan (mengubah) hadist Abdullah bin Umar ra, maka ia meriwayatkannya (dengan menyebutkan) dari Ubaidillah bin Umar ra.

      An Nasai juga mengatakan bahwa ia tidak kuat. Ibn Sa’d berkata,”Ia tsiqoh dan banyak meriwayatkan hadist, tapi suka salah. Atas dasar itu, maka al-Bukhori tidak meriwayatkan hadistnya, kecuali jika diikuti perawi yang lainnya.” Sebetulnya masih banyak lagi pendapat dan penilaian yang lebih daripada itu. Maka tidak perlu diragukan lagi bahwa penambahan, “hendaklah meletakkan kedua tangan sebelum kedua lutut” tersebut adalah batil.

      Sedang apa yang dikomentari oleh al-Bukhori bahwa Ibn Umar ra pernah meletakkan kedua tangannya sebelum kedua lututnya, adalah tidak sah. Sebab pada sanadnya ada ad-Darawardi yang menyatakan bahwa, ia meriwayatkan dari Ubaidillah bin Umar. Para ahli hadist teah membicarakan periwayatannya dari ad-Darawardi mengenai hadist tersebut. Dan itu termasuk riwayat yang mengandung keraguan, seperti dijelaskan pada al-Fath al-Bari karangan Inb Hajar Al-Asqalani (II:291) yang dikutip dari Al-Baihaqi. Apalagi riwayat dari Ibn Umar sendiri menyatakan kebalikannya. Hanya Allahlah yang memberi hidayah kepada kita.

      Dalam mendirikan shalat, kita dilarang menyerupai binatang, sebagaimana telah dikemukakan lewat beberapa hadist shahih mengenai itu. Semua orang yang berakal mengetahui secara pasti, bahwa jika untuk berlutut atau berderum, ia mendahulukan melipat kedua tangannya (kaki depannya), lalu turun merendahkan badannya dengan bertumpu pada tangannya itu, sementara kaki belakangnya tetap tegak untuk kemudian diturunkan. Sedangkan orang yang melaksanakan shalat terlebih dahulu harus melipat kedua kakinya sambil turun ke bumi (tempat sujud) kemudian meletakkan tangannya. Hal itu tentunya merupakan sesuatu yang sangat mudah dilakukan dan tidak memerlukan pemikiran yang panjang. Demikianlah sunnah Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam yang benar.

      Imam An-Nasai – semoga Allah merahmatinya- dalam sunannya juga menggunakan hadist tersebut. Bahkan ia menuliskan satu bab khusus mengenai itu dengan judul: “Bab Cara Merunduk Untuk Sujud.” Ia menggunakan dalil dengan keumuman hadist Hakim, yang mengatakan,” Aku membaiat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam untuk tidak merunduk, kecuali sambil berdiri.” (HR An Nasai (II:205) dan hadist tersebut shahih

      Merunduk seperti itu hanya akan sempurna dengan lutut terlebih dahulu. Turun ketika sujud dengan mendahulukn lutut sebelum tangan telah dilakukan oleh para sahabat mulia dan para tabiin dari kalangan ulama salaf. Antara lain diriwayatkan dari al-Aswad an-Nakhai ra. Ia mengatakan bahwa Umar bin al-Khattab ra turun untuk sujud dengan mendahulukan lututnya. (HR In Abi Syaibah dalam al-Mushannaf-nya (I:294 no.3 Cet. Dar al-Fikr) dengan sanad yang shahih.

      Diriwayatkan dari Abdullah bin Muslim bin Yasar ra bahwa jika ayahnya sujud, ia meletakkan kedua lututnya, kemudian kedua tangannya, lalu kepalanya. (HR Ibn Abi Syaibah (I:295 no.5) dengan sanad yang shahih)

      Diriwayatkan pula dari Ibrahim an-Nakhai -semoga Allah merahmatinya- bahwa ia pernah ditanya oleh seseorang mengenai orang yang meletakkan tangannya sebelum lututnya. Ia tidak menyukai itu, lalu berkata,” Adakah yang melakukan hal itu selain orang gila?” (HR Ibn Abi Syaibaah (I: 295 no.5) dengan sanad yang shahih pula)

      Imam as-Syafi’i -semoga Allah merahmatinya- (terdapat dalam al-Umm-nya asy-Syafi’i (I:98)) berkata,” Aku suka memulai takbir sambil berdiri dan turun menuju tempat untuk sujud. Aku juga menyukai orang yang meletakkan lututnya terlebih dahulu ketika sujud, lalu tangannya, lalu wajahnya atau mukanya. Jika ia meletakkan wajahnya sebelum kedua tangannya, atau meletakkan tangan sebelum lututnya, aku tidak menyukai it. Tetapi jika ada yang melakukn itu, ia tidak perlu mengulangi shalatnya dan tidak perlu sujud syahwi. (Dengan demikian menurut Imam asy-Syafi’i, hukum meletakkan lutut sebelum tangan, dan meletakkan tangan sebelum meletakkan wajah atau dahi hannya sunah saja, bahkan hanya sunah biasa dan bukan pula sunah muakkadah -Pen)

      Dikutip dari buku: “Sifa-sifat Shalat Nabi Muhammad saw yang Benar”. Halaman 170-173. Terbitan Pustaka Hidayah

    2. Gambar yg paling atas kok ulama Aswajanya ganteng2 ya, ehem….. masih di dunianya aja sudah ganteng2 gitu…. nanti di surga semakin ganteng. Cambang dan jenggotnya rapi tidak acak2an seperti jenggot Syaik2 Wahabi.

      Ketiga Ulama Aswaja itu memakai selendang yg tersampir di pundaknya, sama seperti tampilan Nabi Saw yg juga memakai selendang juga pakai udeng2. Sangat jelas dari penampilan Syaikh2 Wahabi sangat menyerupai rahib-rahib Yahudi, maka dari sini bisa ketahuan ajaran apa yg diikuti Wahabi. Terbukti memang sebagian ajaran ada muatan ajaran Yahudi. Lihat bukti no 3, aqidah “Tauhid tiga” yg dianut Wahabi serupa dengan ajaran Trinitas Yahudi.

    3. Ishar@
      Bagus antum mau membela Wahabi, tapi sayang…. hanya dg kemampuan penuh emosi. Sebaiknya merenung memikirkan bukti2 yg ditampilkan, mulai dari bukti ke-1 sd bukti ke-3…. siapa tahu dari merenung itu turun hidayah-NYA sehingga diberi kekuatan untuk bertobat.

      Merenung memikirkan hal2 yg berguna untuk keselamatan akhiratmu itu lebih berharga dari emas sebesar Uhud, wallohu a’lam.

  11. Dari Wa’il bin Hujr radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

    صليت مع رسول الله صلى الله عليه وسلم ووضع يده اليمنى على يده اليسرى على صدره

    “Aku pernah shalat bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, beliau meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya, di dadanya” [Diriwayatkan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 479].

    Hadits Hulb radliyallaahu ‘anhu :

    عن قبيصة بن هلب عن أبيه قال : رأيت النبي صلى الله عليه وسلم ينصرف عن يمينه وعن يساره ورأيته قال يضع هذه على صدره

    Dari Qabiishah bin Hulb, dari ayahnya, ia berkata : “Aku pernah melihat Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berpaling ke arah kanan dan kirinya, dan sungguh aku telah melihat beliau berbuat seperti itu. Ia (Al-Hulb) berkata : Beliau meletakkan ini (tangan) di dadanya” [Diriwayatkan oleh Ahmad 5/226].

    Hadits Thaawus rahimahullah :

    عن طاوس قال : كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يضع يده اليمنى على يده اليسرى ثم يشد بينهما على صدره وهو في الصلاة

    Dari Thaawus, ia berkata : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam meletakkan tangan kanannya di atas tangan kirinya dengan erat di dadanya dalam shalat” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud no. 759].

    Atsar ‘Ali bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu.

    عن عقبة بن صهبان كذا قال أن عليا رضى الله تعالى عنه قال في هذه الآية فصل لربك وإنحر قال وضع يده اليمنى على وسط يده اليسرى ثم وضعها على صدره

    Dari ‘Uqbah bin Shuhbaan, ia berkata : “Bahwasannya Ali radliyallaahu ta’ala ‘anhu menafsirkan ayat : ‘Maka shalatlah kepada Rabb-mu dan menyembelihlah” (QS. Al-Kautsar : 2), yaitu dengan meletakkan tangan kanannya di tengah-tengah tangan kirinya, kemudian meletakkannya di dada” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa 2/30].

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi

      Shohih tidak itu hadist? Siapa ulama yg mempraktikkan bersedekap dengan meletakkannya diatas dada?

      “Sunnah meletakkan tangan yang kanan di atas yang kiri, diposisikan di bawah dada di atas pusar. Ini adalah yang masyhur dalam madzhab Syafi’i, sejalan dengan pendapat mayoritas ulama. Sementara menurut Abu Hanifah, Sufyan ats-Tsauri, Ishaq ibn Rahawaih dan Abu Ishaq al-Marwazi dari kalangan Ash-haabusy-Syafi’i meletakkan kedua tangan tersebut di bawah pusar.” (Shahih Muslim bi Syarh an-Nawawi)

      Cara seperti inilah yang dianjurkan dalam bersedekap. Dan telah diamalkan oleh para shahabat Nabi Shollallaahu ‘alaihi wa sallam dan generasi sesudahnya. Al-Imam at-Turmudzi Rahimahullaahu Ta’aala berkata:
      “Cara ini telah diamalkan oleh ahli ilmu dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi sesudahnya. mereka semua meriwayatkan bahwa posisi bersedekap adalah meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri. Di antara mereka ada yang meriwayatkan bahwa posisi kedua tangan itu adalah di atas pusar, sebagian yang lain mengatakan di bawah pusar.” (Sunan at-Tirmidzi)

      1. Bismillaah,

        Alhamdulillaah, Kang Agung sekarang sudah memperhatikan shahih dan dhaifnya hadits. Kebanyakan orang tidak memperhatikannya. Bahkan cerita orang tak jelas saja dipercaya dan dijadikan hujjah dalam masalah agama.

        Wallaahu a’lam.

          1. Bismillaah,

            Kehadiran Wahabi ternyata besar manfaatnya bagi umat Islam. Minimal, mereka sekarang mulai memperhatikan shahih dan dhaifnya hadits yang digunakan sebagai dasar amal ibadahnya. Mereka menjadi rajin menuntut ilmu tentang hadits.

            Wallaahu a’lam.

          2. @Ibnu Suradi

            Setahu saya wahabi ni cuma menimbulkan fitnah. Semua ulama menyatakan sunnah tawassul dan tabarruk, wahabi malah melarang dan memberi gelar kuburiyyun bagi para pelakuny.

            dalam memahami ayat ayat mutasyabihat, Ahlussunah wal jama’ah menggunakan pendekatan Tawfidh dan takwil. Wahabi malah melarang takwil, malah menjurus ke akidah tajsim.

            Hadist dhoif boleh digunakan untuk keutamaan amal, wahabi malah melarangnya.

            ketika ahlussunah wal jama’ah menunjukkan dalilny, wahabi tetap saja ngenyel.

            menurut ahlussunah wal jama’ah, tauhid itu tidak dibagi bagi. tapi wahabi membaginya menjadi tiga. Dan orang musryik saja masih dibilang bertauhid.

  12. @Ibnu Suradi
    Pernah sholat pakai sandal yang pernah dicontohi Nabi belum? Katanya harus mengikuti contoh Nabi. Bagaimana kalau bacaan surat-surat AlQuran di luar contoh Nabi. Sesat dan menentang sunnah ga? Jangan lompat sana lompat sini melempar pernyataan seolah-olah sholatnya paling nyunah dan mirip nabi.

  13. @bima as-syafi’i
    Biarkan aja @ibnu suradi bicara shalat, dia berusaha untuk menyuruh Aswaja mengikuti “shalat ala Albani”. Lihat aja koment2 nya disemua artikel pasti ada aja dia memberikan koment tentang shalat ala albani, padahal artikelnya gak bicarakan shalat ala albani.
    Dari zaman 4 madzhab sampai Imam Daruquthni, gak ada yang berani bilang Shalat ala Nabi, tapi hebat albani, dia berani mengatakan Shalatnya sudah seperti Rasulullah saw. Mungkin albani sudah bicara langsung dengan Rasulullah, Waullahua’alam.
    Jadi gak usah dikomen (menurut ane), nti kebawa cara “SHALAT ALA ALBANI”.

    1. Bismillaah,

      Kalau Albani menyampaikan hadits shahih, kita mengambilnya. Kalau ada ulama kondang menyampaikan bukan hadits, maka kita musti hati-hati. Kita musti bertanya kepadanya: “Mana dalilnya?”

      Wallaahu a’lam.

  14. Assalamu’alaikum, akhi semuanya.

    Sampaikan pada ana dalil seputar maulid nabi :
    1. Nyundut petasan. 2. nyambut pake band tabok. 3. cium tangan kyai/habib bolak-balik sambil ngarep berkah. 4. baca (nyanyi?) riwayat nabi sambil berdiri dan berfantasi ruh rasulullah datang. 5. Berebutan sisa makanan kyai/habib. 5. ikhtilat ikhwan-akhwat sambil menutup jalan umum.

    ditunggu

    1. @Ibn abdul chair

      1. Menyudut petasan dan Main Band Tabok
      Riwayat bahwa Rasul saw melihat orang – orang Afrika bermain di Masjid Nabawiy, maka para sahabat marah, maka Rasul saw berkata : “Biarkan mereka, ini adalah hari Ied” dan Rasul saw duduk menonton perbuatan mereka dengan senang. (Shahih Bukhari)

      Riwayat lain ketika Abubakar shiddiq ra marah melihat dua orang wanita menghibur Aisyah ra dengan alat musik Mizmar dan syair, Abubakar ra berkata : “apakah alat musik syetan dihadapan Rasulullah..?!!”, maka Rasul saw keluar dari dalam selimut karena sedari tadi beliau berselubung selimut, seraya bersabda : “Biarkan mereka wahai Abubakar, ini adalah Ied kita”, padahal hari itu bukan hari Iedul Adha atau Iedul fitri, tapi hari Mina (Shahih Bukhari)

      Maka jelaslah sudah segala bentuk kegembiraan, adalah diperbolehkan Dan bahkan Rasul saw menonton dan asyik tersenyum, menunjukkan selama kegembiraan yang berkaitan dengan syiar Islam maka tak apa.

      2. Cium tangan kyai/ngalap berkah
      diriwayatkan oleh Abu Jahiifah ra kulihat para sahabat mengambil kedua tangan beliau dan mengusapkannya kewajah mereka, maka kuambil pula tangan beliau dan kututupkan kewajahku, maka sungguh tangan itu lebih sejuk dari es dan lebih lembut dari sutra” (Shahih Bukhari 3289 Bab Manaqib).

      Dan dari tsabit ra bahwa ia sungguh mencium tangan Anas ra. Dan dikeluarkan pula bahwa Sungguh Ali kw mencium tangan Abbas ra dan kedua kakinya. Dan diriwayatkan oleh Imam Ibnul Muqriyy, dan diriwayatkan dari Abi Malik Al Asyja’iyy berkata : kukatakan pada Ibn Abi Awfa : ulurkan tanganmu yang kau berbai’at dengannya pada Nabi saw, maka ia mengulurkannya dan aku menciumnya.

      Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi : Mencium tangan orang karena zuhudnya (sederhana dalam hidup karena keshalihannya), atau karena shalihnya, atau karena ilmunya, atau karena kemuliaannya, atau kebaikannya atau yang semisalnya dari kemuliaan pada agama bukanlah hal makruh bahkan hal yang baik, namun jika karena kekayaannya atau kejahatannya atau karena kedudukannya pada ahli dunia maka sangat makruh, dan berkata Abu Sa’id ALmutawalli hal itu dilarang.

      Para ulama dan orang saleh memang ada barokahnya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
      “Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Berkah Allah bersama orang-orang besar di antara kamu.” (HR. Ibn Hibban (1912), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (8/172), al-Hakim dalam al- Mustadrak (1/62) dan al-Dhiya’ dalam al-Mukhtarah (64/35/2). Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai kriteria al-Bukhari, dan al-Dzahabi menyetujuinya.)

      Al-Imam al-Munawi menjelaskan dalam Faidh al-Qadir, bahwa hadits tersebut mendorong kita mencari berkah Allah subhanahu wa ta’ala dari orang-orang besar dengan memuliakan dan mengagungkan mereka. Orang besar di sini bias dalam artian besar ilmunya seperti para ulama, atau kesalehannya seperti orang orang saleh. Bisa pula, besar dalam segi usia, seperti orang-orang yang lebih
      Tua.

      3. Baca (nyanyi?) riwayat nabi sambil berdiri dan berfantasi ruh rasulullah dating
      Mereka itu bukan bernyanyi, tapi melantunkan syair. Rasulallah saw. amat menyenangi syair yang indah seperti yang diriwayat- kan Bukhari didalam al-Adab al-mufrad dan kitab-kitab lain. Rasulallah saw. bersabda: “Terdapat hikmah didalam syair”. Paman Nabi saw. Al-‘Abbas mengarang syair memuji kelahiran Nabi saw. diantara bait terjemahannya sebagai berikut: ‘Dikala dikau dilahirkan, bumi bersinar terang hingga nyaris-nyaris pasak-pasak bumi tidak mampu untuk menanggung cahayamu, dan kami dapat terus melangkah lantaran karena sinar dan cahaya dan jalan yang terpimpin’ (Imam as-Suyuti dalam Husn al-Maqsid: 5 dan Ibnu Katsir dalam kitab Maulid: 30 dan juga didalam kitab Ibnu Hajar, Fath al-Bari).

      Ibnu Katsir menerangkan didalam kitabnya bahwa para sahabat ada me- riwayatkan bahwa Nabi saw. memuji nama dan nasabnya serta membaca syair mengenai diri beliau semasa peperangan Hunain untuk menambah semangat para sahabat dan menakutkan para musuh. Pada hari itu beliau saw berkata: ‘Aku adalah Rasulallah! Ini bukanlah dusta. Aku anak ‘Abdal–Muttalib!’ Beliau saw. juga sering berkata: Akulah ashabul-yamin yang terkemuka (dalam Dala’ilun Nubuwwah:5 , …..Akulah khairussabiqin (dalam Syarhul Mawahib 1:62) ….dan akulah anak Adam yang paling bertakwa dan paling mulia di sisi Allah dan aku tidak sombong….” (HR. At-Thabrani dan Al-Baihaqi didalam Dala’ilun Nubuwwah),
      Sabda beliau saw.: “Saya adalah sayyid (orang yang paling mulia) anak Adam di hari Kiamat nanti’ (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Turmudzi) atau sabda beliau saw.: ‘Aku adalah sayyid semua manusia di hari kiamat’ (HR. Ahmad, Bukhori dan Muslim).

      Mengenai soal berdiri dalam peringatan maulid, yaitu pada saat disebut detik-detik kelahiran Nabi saw. dialam wujud ini, dikalangan sementara orang memang terdapat dugaan-dugaan yang tidak benar dan tidak berdasar.

      Imam Malik ra mengatakan: “Saya mendengar hadits Nabi saw. yang menyatakan bahwa ’ruh’ adalah lepas bebas dapat bepergian kemana saja menurut kehendaknya”. Salman Al-Farisy (sahabat Nabi saw) berkata: Bahwa ia mendengar dari Rasulallah saw; “bahwa arwah (ruh-ruh) kaum mu’minin berada di alam barzakh (tidak jauh) dari bumi, dan dapat bepergian menurut keinginannya”.

      Karenanya soal berdiri dalam peringatan maulid Nabi bukan soal wajib dan bukan soal sunnah. Mempercayainya sebagai soal wajib atau sunnah sama sekali tidak dapat dibenarkan. Itu bukan lain hanya suatu harakah (gerak) yang mencerminkan keriangan dan kegembiraan para hadirin dalam peringatan maulid. Pada saat mereka mendengar kisah kelahiran Nabi saw. disebut, tiap pendengarnya (yang memahami maknanya) membayangkan seolah-olah pada detik-detik itu seluruh alam wujud gembira menyambut ni’mat besar yang dikaruniakan Allah swt. Soal kegembiraan adalah soal biasa, bukan soal keagamaan, bukan soal ibadah, bukan syari’at dan bukan sunnah. Itu hanya merupakan kebiasaan yang lazim dilakukan orang, dan pernyataan sukaria demikian itu dipandang baik oleh para ulama pakar dan dilakukan oleh kaum muslimin

      Hal itu dikatakan sendiri oleh pengarang kitab maulid terkenal yaitu Syeikh Al-Barzanjiy. Beliau mengatakan: “Para Imam ahli riwayat dan ahli rawiyyah (ahli pikir) memandang baik orang berdiri pada saat kisah kelahiran Nabi saw. disebut. Bahagialah orang yang memuliakan beliau saw. dengan segenap pikiran dan perasaannya”.

      Syeikh Al-Barzanjiy berkata: ‘Soal berdiri itu hanya untuk membayangkan pribadi Al-Mushthafa (Rasulallah saw.) didalam imajinasi (dzihn). Mem- bayangkan pribadi beliau saw. adalah suatu yang terpuji, diminta dari setiap muslim, bahkan perlu sering dilakukan oleh setiap muslim yang mukhlish. Sering membayangkan pribadi beliau akan menambah kepatuhan dan kecintaan kepada beliau saw. yang pada akhirnya gemar sekali mengikuti ajaran dan teladan yang beliau saw. berikan kepada ummatnya. Berdiri ini hanya soal kebiasaan, maka orang yang tidak berdiri pun tidak apa-apa, ia tidak berdosa dan tidak melanggar ketentuan syari’at

      Dalam hadits Qudsi beliau saw. mengatakan:
      “Aku duduk menyertai orang yang menyebutku”.

      Menurut sumber riwayat lain:
      “ Aku bersama orang yang menyebutku”.

      “Tiada seorang yang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku hingga dapat menjawab salam “. (Abu Dawud)

      4. Ikhtilat ikhwan akhwat
      Sedangkan berkumpulnya banyak orang pria dan wanita dalam satu majlis terbuka, umpama dalam majlis peringatan keagamaan atau lainnya, dimajlis terbuka ini tidak mungkin dapat mengantarkan perzinaan, apalagi bila tempat duduk mereka terpisah. Dengan demikian hal tersebut tidak dinilai sebagai sesuatu yang haram atau terlarang dalam agama. (Umpama dimajlis ter- sebut ada orang yang bermaksiat atau perbuatan munkar, maka orang itulah yang bertanggung jawab pada Allah swt., jadi bukan majlis dzikirnya yang harus dilarang atau diharamkan karena perbuatan maksiat pribadi tersebut–pen).

    2. @Ibn Abdul Chair

      5. Berebutan sisa makanan kyai/habib
      Dari Ja’far ibn Abdillah ibn Al-Hakam bahwa Khalid ibnu Al-Walid kehilangan peci miliknya saat perang Yarmuk. “Carilah peciku,” perintah Khalid kepada pasukannya. Mereka mencari peci tersebut namun gagal menemukannya. “Carilah peci itu,” kata Khalid lagi. Akhirnya peci itu berhasil ditemukan. Ternyata peci itu peci yang sudah lusuh bukan peci baru. “Rasulullah melaksanakan umrah lalu beliau mencukur rambut kepalanya kemudian orang-orang segera menghampiri bagian-bagian rambut beliau. Lalu saya berhasil merebut rambut bagian ubun-ubun yang kemudian saya taruh di peci ini. Saya tidak ikut bertempur dengan mengenakan peci ini kecuali saya diberi kemenangan,” jelas Khalid.
      Al-Haitsami berkata, “Hadits semisal di atas diriwayatkan oleh At-Thabarani dan Abu Ya’la dengan perawi yang memenuhi kriteria hadits shahih.

      Al-Imam Al-Bukhari mengatakan beserta sanadnya, “Kemudian ‘Urwah mengamati para sahabat Nabi SAW dengan matanya. “Demi Allah,” kata “urwah, “Rasulullah tidak mengeluarkan dahak kecuali dahak itu jatuh pada telapak tangan salah satu sahabat yang kemudian ia gosokkan pada wajah dan kulitnya. Jika beliau memberikan perintah maka mereka segera mematuhi perintahnya. Jika beliau berwudlu maka nyaris mereka berkelahi untuk mendapat air sisa wudlu’nya. Jika beliau berbicara mereka memelankan suara di depan beliau. Dan tidak ada yang berani memandang tajam kepada beliau semata-mata karena menghormatinya.” ‘Urwah lalu pulang menemui teman-temannya. “Wahai kaumku!” seru ‘Urwah, “Demi Allah, saya pernah diutus menemui para raja, kaisar, kisra dan najasyi. Demi Allah, tidak ada sama sekali raja yang mendapat penghormatan seperti penghormatan yang diberikan para sahabat Muhammad kepada Muhammad SAW. Demi Allah, ia tidak berdahak kecuali dahak itu jatuh pada telapak tangan salah seorang dari mereka lalu dahak itu diusapkan ke wajah dan kulitnya. Jika ia memberikan perintah maka mereka segera mematuhinya. Jika ia berwudlu maka mereka nyaris berkelahi untuk memperebutkan sisa air wudlunya. Jika mereka berbicara, mereka memelankan suaranya di dekatnya. Dan mereka tidak berani memandang dengan tajam semata-mata karena menghormatinya.”

      Imam Ahmad dan perawi lain meriwayatkan dari Anas bahwa Nabi SAW masuk menemui Ummu Sulaim dan di rumah terdapat kantong air dari kulit yang tergantung. Lalu beliau minum air dari mulut kantong air tersebut dalam keadaan tidur. Ummu Sulaim kemudian memotong mulut kantong kulit itu yang kini berada di tangan saya. Maksud dari hadits ini adalah bahwa Ummu Sulaim memotong mulut kantong kulit yang merupakan tempat beliau menelan air minum dan mulut kantong itu ia rawat di rumahnya dengan alasan memohon keberkahan dari peninggalan beliau.
      Hadits ini diriwayatkan oleh At-Thabarani dan di dalam sanadnya ada Al-Bara’ ibnu Zaid yang hanya disebutkan oleh Abdul Karim Al-Jazari. Ahmad tidak menilai Al-Bara’ sebagai perawi lemah. Adapun perawi lain sesuai dengan kriteria perawi hadits shahih.

      Dari Nafi’ bahwa Abdullah ibnu ‘Umar menceritakan kepadaku bahwa para sahabat bersama Rasulullah singgah di Al Hijr, tanah kaum Tsamud. Mereka mengambil air dari sumur-sumur kaum Tsamud dan membuat adonan roti dengan air tersebut. Kemudian Rasulullah menyuruh mereka untuk menumpahkan air yang mereka ambil dan memberikan adonan roti kepada unta serta menyuruh mereka mengambil air dari sumur yang didatangi unta Nabi Shalih.
      Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabuzzuhdi bab An- Nahyi ‘an Ad-Dukhul ‘ala Ahli Al-Hijr. Al-Imam An-Nawawi berkata, “Hadits ini mengandung banyak faidah di antaranya tabarruk dengan peninggalan-peninggalan orang-orang shalih.

      1. Mantaab…. kalau gak jelas juga buat @Ibnu Abdil Chair, ane gak bisa bilang lagi apa, mungkin Ruh didalam hatinya sudah tertutup oleh ajakan kaum SAWAH.
        Hanya orang-orang yang gak pernah baca kitab aja yang selalu menuduh amalan muslim yang lain sesat.

  15. @Ibnu Abdil Chair
    Tolong berikan kepada kami bahwa Allah, Rasulullah, para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in samapi Imam Mazhab yang empat membagi tauhid menjadi tiga.
    Ditunggu

  16. Bismillah,
    Saya sempat mencari siapakah ummatipress, dan terjawab sudah bahwa mereka adalah manusia2 Ahlul Hawa yg bicaranya ga pake dalil Quran dan Sunnah seperti contoh diatas, dan ketika ada dalil quran atau sunnah dipahami sesuai dengan nafsu mereka untuk mendukung apa yg ada di perut mereka.
    maka Barangsiapa menuduhkan sesuatu kepada suatu kaum dan tidak terbukti maka tuduhan tersebut akan berbalik kepada yang menuduh, aamiin Allahumma aamiin.
    Allah maha mengetahui siapa manusia yg menjaga agama Islam ini, dan semoga hancur leburlah manusia yang mencoba menghancurkan agama ini walau banyak manusia menilainya sebagai kebaikan, aamiin Allahumma aamiin.
    Semoga hancur leburlah manusia2 yang memfitnah ulama2 Ahlussunnah dan membela ulama2 Ahlul Ahwa, aamiin Allahumma aamiin
    Semoga Allah ta’ala melindungi Mukmin dan mukminah pembela quran dan sunnah dari Azab Allah ta’ala ketika ditimpakan kepada manusia2 ahlul hawa, aamiin Allahumma aamiin.
    ana sedang safar (mencari rezeki) insyaAllah apa yang ana makan dan minum dari yang halal, begitupun pakaian yang ana kenakan insyaAllah dari hasil yang halal, maka semoga Allah ta’ala memperkenankan do’a hamba…

    Amateous Fajar
    Dammam- KSA

    1. Amateous fajar@ Hehe.. marah ya bro? Senyum bro, senyum bisa nggak? Eh, masa sih di postingan ini nggak pakai dalil? Lihat yg bener kenapa, biar antum bisa lihat dalil2 yg dipakai dalam postingan ini.

      Doa antum itu mencerminkan bahwa antum sendiri kelewat batas dalam mengekor hawa nafsu. Sadar nggak antum, bro? Gemana kalau doa jelek antum itu justru berbalik ke antum dan ajaran-ajaran batil Wahabi? sebab, cepat atau lambat, Wahabi dan ajarannya pasti akan lenyap dari muka bumi, dan kebenaran pasti menang. Dan kebatilan yg selama ini dipertontonkan oleh para Muthowe’ (rahib/pendeta/rabbi) Wahabi akan hancur!

      Islam pasti akan menang dan jaya di akhir zaman, dan Wahabi akan kembali ngumpet di ketiak induk semangnya, siapa? Tentu saja Yahudi, you know?

      Atau begini saja, kalau antum merasa benar, silahkan bantah bukti2 yang ditampilkan dari bukti ke-1 sampai bukti ke-3. Oke, saya tunggu pembelaan antum dan juga wahabiyyun yg laain… 😆 😆 😆

    2. @Amateous fajar
      Siapa yang Ahlul Hawa, coba ente lihat temen2 ente yang koment disini, jangankan ilmu, bahasa arab aja gak ngarti, ini yang disebut Ahli dalam Agama ? terus mengartikan Ayat Al Qur’an dan As Sunnah (Hadist) tanpa Ilmu, bukankah ini akan menjadi kacau nantinya, mengartikan Al Qur’an dan Sunnah dan memakai nya secara langsung, seperti Kaum Yahudi dan Nasrani membaca Al Kitab. Coba dipikir, kalau saja satu ayat di artikan sesuai dengan keiingan masing2 kepala tanpa bimbingan ulama, maka kacaulah jadinya.
      Mertua ane ex Pastur Katolik Roma, dia kagum sama islam, karena setiap muslim tidak sembarangan membaca dan mengartikan Al Qur’an dan Sunnah, hal itu harus ada pembimbing, disinilah Islam itu Kuat dalam mengkaji Kitabnya. Sehingga Islam tidak tergoyahkan dan terus kuat sampai akhir zaman.
      Lihat Syeikh wahabi Albani, mengeluarkan fatwa “Orang-orang muslim yang ada di Palestina segera keluar dari negara Palestina dan negara Palestina diserahkan ke Israel”. Fatwa macam apa ini, apakah kata JIHAD telah mati dihati setiap Muslim ????? Mana Arab Saudi sebagai pusat Wahabi yang katanya pembela sunnah?????
      Allahuma ini audzubika min Fitnatti Masyihid Dajjal, Amin ya Rabbul Alamin.

    3. oom Amateous fajar ini lucu ,mungkin menurut oom hanya dalil dr ulama oom yg shahih dan faqih dlm agama Islam padahal 0 besar 😳

  17. Ping-balik: MENGGALI ILMU AGAMA ISLAM
  18. Lihat artikel diatas, koq beda dengan kenyataannya ya?
    ( Ini kisah nyata lagi….) Di masjid complex saya tingaal, mrk yang dzikir berjama’ah keras2 stlh sholat, yg sholawatnya ditambah “sayyidina” itu bersedakap dalam sholatnya lebih tinggi dari saya yg salafi. Mrk letakkan kedua tangan mrk diatas dada sdgkan sy meletakkan keduan tangannya sedikit diatas ulu hati.

    Oh ya… blm diberitahu sebelumnya. cara mrk sholat dgn meletakkan kedua tangan diatas dada itu belum lama lho, kira2 kurang lebih enam bulanan ini. Padahal sy blm pernah bicarakan hal ini lho ama mrk. Maaf, saya sebut dgn mereka krn jumlah mrk lumayan banyak.

    1. Ibn Abd Chair@

      Antum kok pandai sekali mengarang Cerita dari mana ilmunya Mas? Jujur dah, saya tidak percaya dg cerita antum, sebab setahu saya kaum Wahabi itu memang suka banget ngarang cerita bohong demi membela apa yg diyakininya, jika sudah kehabisan dalil. Begini saja, berani enggak antum bersumpah disambar petir jika cerita antum ternyata cerita bohong?

      Kenapa saya minta antum bersumpah disambar petir, sebab kalau sumpah dg Wallohi, demi Allah itu sudah biasa diucapkan oleh orang2 Wahabi seakan sumpah yg demikian sebagai mainan saja. Makanya saya minta antum “SUMPAH SAMBAR PAETIR”, biar saya bisa percaya. Antum berani? Kalau berani saya akan percaya cerita antum, hehe…

  19. Dear All,

    Taurat, Injil dan Al-Quran itu sumbernya dari Allah SWT, artinya ke-3 agama Samawi tersebut pasti mempunyai kemiripan2 tertentu dalam menjalankan ibadahnya (topik : Sholat), pasti dong, wong sumbernya sama kok.

    Dan menurut saya… Bahwa artikel ini terlalu mendeskreditkan golongan tertentu, TIDAK BAIK jika selalu mengedepankan pemahaman dari golongan sendiri.

    Siapakah yang dituduh Wahabi….? Apa yang mengikuti Muhammad Abdul Wahab atau Ibnu Taimiyyah…?
    Menurut apa yang saya tahu, paham Wahabi sudah ada semenjak dahulu kala, dan biasanya Salafi menamakan Khawarij. Ada yang mengatakan bahwa Muhammad Abdul Wahab adalah pencipta Wahabi, padahal penambahan (i) dalam suatu kata dalam bahasa arab adalah mengikuti nama golongan atau orang yang mencetuskan yaitu Wahab — Wahab(i). Kalau begitu harusnya kalau mengikuti pemahaman MAW, berarti penamaannya adalah Muhammad(i), karena MAW adalah namanya Muhammad, bukan Wahab.

    Lagipula Wahabi (Khawarij) sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW, dan bisa dipastiakan MAW belum lahir pada saat itu. Jadi dalam pemahaman saya yang sederhana ini, tidaklah sama antara Salaf(i) dengan Wahab(i).

    Saya bukan Wahabi
    Saya bukan Syiah
    Saya bukan Ahmadiyah
    Saya bukan Sufi
    Saya bukan Tasawuf

    Tapi saya mencoba menjalankan perintah agama sesuai dengan Al Quran dan Sunnah dengan berusaha mengikuti perilaku Muhammad SAW. Mungkin bisa juga saya dianggap menganut Ahlus Sunnah Wal Jamaah, karena kalimat tersebut tidak bisa diclaim hanya milik dari aliran tertentu.

    Semoga bisa dapat berguna.

    Terima kasih

    1. @Dodol

      ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang
      populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd
      al-Muhtar sebagai berikut:
      “Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci.
      Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa
      mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan
      mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan
      membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah
      kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum
      Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr
      al-Mukhtar)

    2. @Dodol: “Saya bukan Sufi, Saya bukan Tasawuf”. Dari pernyataan anda tersebut, seolah olah sufi dan tasawuf adalah sesuatu hal yg tercela.

      padahal, Fudlail ibn ‘Iyaadl, Al-Junaid, Al-Hasan al-Bashri, Sahl Al-Tusturi, Al-Muhasibi, dan Bisyr al-Haafi.” Fudlail ibn ‘Iyaadl, Al-Junaid, Al-Hasan al-Bashri, Sahl Al-Tusturi, Al-Muhasibi, dan Bisyr al-Haafi adalah tokoh-tokoh tashawwuf.

      1. @Agung,

        Loooh… Sayakan membahasnya ditopik utama sesuai judul artikel ini, saya coba copas ya dibawah ini :
        “Taurat, Injil dan Al-Quran itu sumbernya dari Allah SWT, artinya ke-3 agama Samawi tersebut pasti
        mempunyai kemiripan2 tertentu dalam menjalankan ibadahnya (topik : Sholat), pasti dong, wong sumbernya
        kok… Dan menurut saya… Bahwa artikel ini terlalu mendeskreditkan golongan tertentu, TIDAK BAIK
        jika selalu mengedepankan pemahaman dari golongan sendiri. Atau mau dibantah bahwa Taurat dan Injil bukan
        bersumber dari Allah SWT….? Jadi persamaan2 diatas adalah NONSEN, tidak layak untuk ditelaah.

        Naaahh… Kan Wahabi (Khawarij) sudah ada sejaka zaman Rasulullah masih hidup, dan kurang lebih
        100 tahunan kemudian barulah Muhammad Abdul Wahab lahir. Artinya mana mungkin dinisbahkan
        Aliran Wahabi kepada Muhammad Abdul Wahab (atau orang tuanya WAHAB, yang mana diketahui
        orangtua MAW menggunakan Mahzab Hambali), wong waktu zaman Rasulullah beliau belum lahir.
        Dinisbahkan kepada siapa pengertian Wahab(i)….? Sekalian menjawab Mas Derajad

        Saya tidak bilang Sufi, Tasawuf TERCELA, anda saja kan yang menyimpulkan itu dengan kalimat anda sendiri
        bukan…? Seandainya anda juga tidak bisa menerima aliran lain seperti Wahabi, Syiah, Ahmadiyah dll,
        Maka hak saya juga dong untuk merasakan tidak cocok terhadap aliran2 yang sudah disebutkan diatas.

        Mau 1, 10, 100 tokoh Tasawuf pun, karena hati merasa tidak “sreg” ya tidak ada pengaruh apa2 dengan
        dimunculkan nama tersebut. Sama seperti anda juga kan, kalau ditampilkan tokoh2 yang tidak sesuai
        dengan pemahaman anda.

        Jadi tidak usah kita perdebatkan lagi untuk masalah itu, karena kita masing2 mempunyai hak yang sama.

        1. @Dodol:

          Bagian yang mana menjawab penisbahan nama ???

          Saya sudah tunjukkan penisbahan nama, bahwa Wahabi itu ya menunjuk Muhammad bin Abdul Wahab. Lalu sauadara katakan sekalian menjawab Mas Derajad. Pada bagian mana ???

          Kebenaran hakiki hanya milik Allah
          Hamba Allah yang dhaif dn faqir
          Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

        2. Abu Dodol Said:

          “Taurat, Injil dan Al-Quran itu sumbernya dari Allah SWT, artinya ke-3 agama Samawi tersebut pasti
          mempunyai kemiripan2 tertentu dalam menjalankan ibadahnya (topik : Sholat), pasti dong, wong sumbernya
          kok… Dan menurut saya… Bahwa artikel ini terlalu mendeskreditkan golongan tertentu, TIDAK BAIK
          jika selalu mengedepankan pemahaman dari golongan sendiri. Atau mau dibantah bahwa Taurat dan Injil bukan
          bersumber dari Allah SWT….? Jadi persamaan2 diatas adalah NONSEN, tidak layak untuk ditelaah.

          Ana jawab: Sama dg Yahudi tidak apa2 asal ada contohnya dari Rasul saw, bukankah begitu Abu Dodol@ ?
          Naaahhh…. kalau sholat mendekap dada seperti ibadahnya Yahudi tsb apakah dicontohkan oleh Rasul saw? Kalau hal itu dicontohkan oleh Rasul saw, tentunya para Imam Madzhab sudah melakukannya, tetapi faktanya tidak ada dar empat Imam Madzhab yg shalat mendekap dada. Ya, karena sholat mendekap dada itu tidak dicontohkan oleh Nabi Saw. bagaimana, apakah sudah ngerti sekarang Abu Dodol?

          1. Abu Alvin Abani,

            Anda tidak mengerti kalimat saya, saya cuma bilang ada kemungkinan sama, bukan mengikuti atau mencontoh.

            Islam itu mudah, tapi jangan dipermudah. Jika anda mengatakan dicontohkan Rasulullah atau tidak…? Siapa yang bisa menjamin mana yang benar kalau dari kedua belah pihak mempunyai dalil tersebut, ada yang pernah melihat Rasulullah didekapkan didada, ada yang pernah lihat sedikit dibawah dada…?

            Kalau anda mutlak pengikut Sunnah Rasulullah, bukan hanya gerakan disholat, apakah anda sudah mengikuti semua Sunnah Rasulullah dengan baik….? saya khawatir anda pilih-pilih Sunnah berdasarkan yang mampu anda kerjakan,
            1. Poligami…?
            2. Jenggotan (walaupun sedikit)
            3. Cukur kumis
            4. Mesra2an dengan istri
            5. Dlsbnya.

            Kalau belum semuanya… Lakukan saja Sholat sebagai bentuk kewajiban, masalah perbedaan yang sangat sedikit itu, ABAIKAN. Yang penting kewajiban sebagai muslim sudah dilaksanakan, Allah lah yang mempunyai Kebenaran secara Hakiki.

          2. Akhi dodol@ ini kok mbulet seperti dodol ya, sudah pas dg namanya. Padahal koment akhina Alvin Albani itu sudah sangat nyambung dg apa yg ada dalam diblockquote.

            yang nggak nyambung itu koment2 akhi dodol, yg terdorong oleh nafsu MBULET-nya, pas dg namanya.

          3. Mba Putri Karisma,

            Terima kasih atas pujian anda, wanita seperti anda kok bisa selembut itu ya di aliran ini.

            Sayakan hanya membahas ada kemiripian, bukan mencontoh.

            Kalau hanya ada perbedaan gerakannmendekap didada, ya sudahlah terima saja perbedaan itu, toh itu hanya dimasalah Sunnah dan jangan dinukil kalau mereka mengikuti atau mencontoh Yahudi.

            Copas kalimat saya diatas :
            “Lakukan saja Sholat sebagai bentuk kewajiban, masalah perbedaan yang sangat sedikit itu, ABAIKAN. Yang penting kewajiban sebagai muslim sudah dilaksanakan, Allah lah yang mempunyai Kebenaran secara Hakiki.”

            Dimana yang Mbulet….?
            Apa saya mengajak untuk perpecahan ummat….?
            Saya hanya menyarankan bagaimana dengan perbedaan2 kecil tersebut dapat seiring sejalan dengan baik.

            Mba Putri dalam kehidupan rumah tangga anda pun pasti pernah mengalami perbedaan dengan suami anda, mungkin anda emosi, bersuara tinggi atau bahkan mendiamkan suami anda. Tapi….. Apakah anda langsung memutuskan tidak mau bersuami dengan suami anda lagi…..?, dan anda memutuskan untuk berpisah….?

        3. @Dodol :

          Yang dimaksud Wahabi=Khawarij itu karena aqidahnya sama, yaitu menganggap Tuhan tempatnya di arsy, Tuhan memiliki tangan, kursi dan lain sebagianya, dimana itu adalah majaz.

          Sedangkan pengakuan Wahabi zaman sekarang tidak mau disebut Wahabi, tapi salafy, karena sebagian mereka mengingkari Kitab Tamanniyil Maut yang dinisbahkan kepada Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab yang berisi pengakuan aqidah ahlus sunnah waljamaah maturidiyyah seperti bolehnya ziarah kubur, sampainya pahala kepada mayyit dan sebagainya. Dan saudara Dodol ini adalah salah satu diantaranya, Wahabi berbungkus istilah Salafy yang mereka sendiri tak faham maksudnya, atau malah istilah yang digunakan untuk mempengaruhi Kaum Aswaja yang selama ini memang mengikut Ulama Salaf. Bukan salaf bohongan.

          Kebenaran hakiki hanya milik Allah
          Hamba Allah yang dhaif dan faqir
          Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

          1. @ Mas Derajad,

            Maksud saya, kalau zaman Rasulullah sudah dibilang Wahab(i), nama tersebut di nisbahkan ke siapa Mas, sedangkan Muhammad Abdul Wahab belum lahir. Kok bisa2nya dia dibilang pendiri Wahab(i)

            Ituloh Mas maksud saya Mas

          2. @Dodol :

            Pembicaraan saudara makin kacau. Yang mengatakan demikian siapa ? Kalau dikaitkan dengan hadits Rasulullah, itu adalah cara pandang Rasulallah tentang munculnya kelompok ini.

            Kebenaran hakiki hanya milik Allah
            Hamba Allah yang dhaif dan faqir
            Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

          3. @Mas Derajad,

            Ini kan dasar teman2 disini bahwa cikal bakal Wahab(i) dari kalimat yang saya copas dibawah ini :
            “Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata, telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdur Rahman bahwa Abu Sa’id Al Khudriy radliallahu ‘anhu berkata; Ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang sedang membagi-bagikan pembagian(harta), datang Dzul Khuwaishirah, seorang laki-laki dari Bani Tamim, lalu berkata; Wahai Rasulullah, tolong engkau berlaku adil. Maka beliau berkata: Celaka kamu!. Siapa yang bisa berbuat adil kalau aku saja tidak bisa berbuat adil. Sungguh kamu telah mengalami keburukan dan kerugian jika aku tidak berbuat adil. Kemudian ‘Umar berkata; Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk memenggal batang lehernya!. Beliau berkata: Biarkanlah dia. Karena dia nanti akan memiliki teman-teman yang salah seorang dari kalian memandang remeh shalatnya dibanding shalat mereka, puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari target (hewan buruan). (HR Bukhari 3341)”

            Yang kacau yang mana ya Mas Derajad….? Justru saya ingin bertanya, apakah ditulis secara jelas aliran tersebut aliran apa…? Artinya bisa kena keseluruh 73 golongan, dan bukan Mas Derajad yang menentukan golongan mana yang akan diterima Allah SWT.

          4. @Dodol :

            Yang kacau pembahasan Kang Dodol itu. 😀 Saya sebenarnya mengerti arah bicara Kang Dodol, tapi maksud saya atu-atu Kang. Biar tuntas bahasnya.

            Kang Dodol awalnya kan membicarakan penisbahan nama Wahabi kepada Syekh Muhammad Ibn Abdul Wahab yang menurut Kang Dodol harusnya Muhammadi. Lalu saya jelaskan penisbahan nama dalam budaya Arab mengikut nama kunyahnya. Contohnya Imam Syafi’i. Ini dulu saudara sepakat atau tidak ??? Kalau tidak silahkan ajukan sanggahan dengan jelas. Supaya saudara dan saya faham tingkat pemahaman saudara tentang bahasa dan budaya Arab.

            Selanjutnya baru kita bicarakan pembahasan tentang hadits tersebut. Ok saudara Dodol ?

            Kebenaran hakiki hanya milik Allah
            Hamba Allah yang dhaif dan faqir
            Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

          5. Sepakat Mas…

            Imam Syafii – Syafiiyyah (waktu dan tempat pas)
            Muhammad Abdul Wahab – Wahabiyyah (ini waktunya ngga pas Mas).

            Dalam hal kunyah, kita sepakat. Cuma ada yang didalam kurung itu aja kok masalahnya.

            Kan kalau ada jalan bebas hambatan, kita maunya straight to the point 😆 , saya pikir Mas juga “ngeh” , ternyata Mas baru reply untuk bahas satu persatu 😉

            Monggo dilanjutkan Mas.

          6. @Dodol :

            Nah, sebaiknya begitu. Jadi lain kali saudara tidak lagi berbicara tanpa Ilmu yang jelas. Karena penisbahan nama itu sudah jelas, yaitu Wahabi pada Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab.

            Mengenai hadits yang saudara kemukakan benar adanya dan orang yang tersebut dalam hadits itu, Dzul Khuwaishirah at Tamimi al Najdi, adalah seorang yang keluar dari pemahaman mayoritas ulama dalam istilah Arabnya Kharaja, dan karena itu kelompok orang-orang yang seperti ini disebut kelompok khawarij. Bahkan dalam sejarahnya orang ini juga yang membunuh Sayyidina Ali Ra.

            Ciri-ciri kelompok khawarij inilah yang kemudian difahami oleh para ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang disamakan dengan kelompok Wahabi.

            Paling tidak dalam pandangan ulama ada 6 ciri kesamaannya, yaitu :

            1. Suka mengkafirkan kelompok lain, khususnya aswaja. Mungkin sedikit lebih halus, Wahabi menyebut kelompok lain sebagai ahli bid’ah, khurafat, syirik dan lain-lain. Tapi apa bedanya ?

            2. Pembantai kelompok Muslim lain yang tidak sejalan dengan mereka. Coba tengok kembali sejarah Duo Wahabi Syekh Muhammad Bin Abdul Wahab dan Muhammad Bin Saud yang juga mendapat bantuan dari Inggris.

            3. Mempunyai keyakinan yang lain, bahkan yang penting harus beda dengan ijma’ ulama yang sudah ada.

            4. Mempunyai sikap jumud (kaku). Seakan paling benar mengamalkan Qur’an dan Sunnah yang lain salah dan harus diperangi. Hal ini cocok dengan cerita lanjutan hadits riwayat Imam Bukhari yang saudara sebutkan yaitu orang tersebut akhirnya membunuh Sayyidina Ali Ra. Karena dianggap keluar dari ajaran Rasulallah.

            5. Memiliki ciri-ciri khusus dalam penampilannya, seperti rambut dicukur habis (Lihat Sahih Bukhari 7123), hitam jidatnya, cingkrang celananya dan lain-lain.

            6. Ngotot mendirikan Darul Islam (Negara Islam). Jika ada negara yang tidak menggunakan hukum Islam secara total, maka dikelompokkan Darul Harb atau Negara Zona Perang. Maka karena itulah muncul pemahaman teroris dari hal tersebut.

            Semoga saudara Dodol (Abdurrahman) memahami hal ini dan memahami lagi ajaran Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang benar-benar mengikut Rasulullah Muhammad SAW.

            Kebenaran hakiki hanya milik Allah
            Hamba Allah yang dhaif dan faqir
            Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    3. @Dodol

      Al Hafizh Murtadla az-Zabidi (W 1205 H) dalam al Ithaf mengatakan: “Jika dikatakan Ahlussunnah Wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah al Asy’ariyyah dan al Maturidiyyah”.

      Mereka adalah ratusan juta ummat Islam (golongan mayoritas). Mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, para pengikut madzhab Maliki, para pengikut madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al Hanabilah).

      Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam telah memberitahukan bahwa mayoritas ummatnya tidak akan sesat.
      “…maka barang siapa yang menginginkan tempat lapang di surga hendaklah berpegang teguh pada al Jama’ah; yakni berpegang teguh pada aqidah al Jama’ah”. (Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim, dan at-Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih)
      Alangkah beruntungnya orang yang senantiasa mengikuti mereka.

      1. @Agung,

        Saya juga mengukuti ke-4 Mahzab tersebut, dan sya tidak sendiri, tetapi bergabung juga dengan jamaah yang lain.

        Agung punya tokoh2 yang percaya menganut Mahzab tersebut
        Saya juga punya tokoh2 yang percaya menganut Mahzab tersebut.

        Artinya… Saya dan Agung mempunyai kedudukan yang sama dan juga mempunyai hak yang sama juga dalam hal ini. Makanya saya bilang, tidak usah ditampilkan tokoh tersebut, wong masing2 punya hak yang sama kok.

        Kalau boleh saya berkomentar, belum tentu juga yang mayoritas akan dijamin dan digaransi untuk dianggap yang paling benar.

        Bukankah Islam akan terbagi 73 golongan, dan hanya 1 golongan yang masuk surga….? Kalau kita berandai andai, jika didunia ini hanya ada 73 Manusia yang mewakili 73 golongan tersebut, berarti hanya 1 orang saja yang diterima, 72 orangnya lagu tidak bukan….? Jadi tidak menjamin juga yang mayoritas akan diprioritas.

        1. @Dodol

          Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah golongan mayoritas umat Muhammad. Mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam dasar-dasar aqidah. Merekalah yang dimaksud oleh hadits Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam:
          “…maka barang siapa yang menginginkan tempat lapang di surga hendaklah berpegang teguh pada al Jama’ah; yakni berpegang teguh pada aqidah al Jama’ah”. (Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim, dan at-Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih)

          Setelah tahun 260 H menyebarlah bid’ah Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya. Maka dua Imam yang agung Abu al Hasan al Asy’ari (W 324 H) dan Abu Manshur al Maturidi (W 333 H) -semoga Allah meridlai keduanya- menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama’ah yang diyakini para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nash-nash al Qur’an dan al hadits) dan ‘aqli (argumen rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhah-syubhah (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) Mu’tazilah, Musyabbihah dan lainnya, sehingga Ahlussunnah Wal Jama’ah dinisbatkan kepada keduanya. Mereka (Ahlussunnah) akhirnya dikenal dengan nama al Asy’ariyyun (para pengikut al Asy’ari) dan al Maturidiyyun (para pengikut al Maturidi). Jalan yang ditempuh oleh al Asy’ari dan al Maturidi dalam pokok-pokok aqidah adalah sama dan satu.

          Al-Asya’irah dan Al-Maturidiyah adalah para imam simbol hidayah dari kalangan ulama muslimin yang ilmu mereka memenuhi bagian timur dan barat dunia dan semua orang sepakat atas keutamaan, keilmuan dan keagamaan mereka. Mereka adalah tokoh-tokoh besar ulama Ahlussunnah yang menentang kesewenang-wenangan Mu’tazilah.

          Dalam versi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Al-Asya’irah digambarkan sbb : Para ulama adalah pembela ilmu agama dan Al-Asya’irah pembela dasar-dasar agama (ushuluddin). Al-Asyaa’irah (penganut madzhab Al-Asy’ari) terdiri dari kelompok para imam ahli hadits, ahli fiqih dan ahli tafsir seperti :
          • Syaikhul Islam Ahmad ibn Hajar Al-‘Asqalani, yang tidak disangsikan lagi sebagai gurunya para ahli hadits, penyusun kitab Fathul Baari ‘ala Syarhil Bukhaari.
          • Syaikhul Ulama Ahlissunnah, Al-Imam An-Nawaawi, penyusun Syarh Shahih Muslim, dan penyusun banyak kitab populer.
          • Syaikhul Mufassirin Al-Imam Al-Qurthubi penyusun tafsir Al-Jaami’ li Ahkaamil Qur’an.
          • Syaikhul Islam Ibnu Hajar Al-Haitami, penyusun kitab Az-Zawaajir ‘aniqtiraafil Kabaa’ir.
          • Syaikhul Fiqh , Al-Ahujjah Ats-Tsabat (Hujjah Terpercaya ) Zakaaria Al-Anshari.
          • Al-Imam Abu Bakar Al-Baaqilani
          • Al-Imam Al-Qashthalani.
          • Al-Imam An-Nasafi
          • Al-Imam Asy-Syarbini
          • Abu Hayyan An-Nahwi, penyusun tafsir Al-Bahru Al-Muhith.
          • Al-Imam Ibnu Juza, penyusun At-Tashil fi ‘Uluumittanziil.

          Mereka adalah ratusan juta ummat Islam (golongan mayoritas). Mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, para pengikut madzhab Maliki, para pengikut madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al Hanabilah).

          Pada zaman tabi’in, daerah ijtihad bertambah luas dan kaum muslimin pada zaman itu menggunakan cara yang sama seperti cara yang dipakai oleh para sahabat Rasulallah saw. Hanya saja ijtihad dimasa tabi’in dapat digolongkan kepada dua madzhab utama yaitu Madzhab Ahlu al-Ra’yi di Irak dan madzhab Ahlu al-Hadits.

          Diantara tokoh-tokoh madzhab Ahlu al-Ra’yi di Irak ialah Alqamah bin Qais an-Nakha’I; Sa’id bin Jubair; Masruq bin Al-Ajda’ al-Hamdani dan Ibrahim bin Zaid an-Nakha’i. Orang-orang awam Irak dan sekitarnya selalu bertaqlid kepada madzhab ini tanpa ada yang mengingkari.

          Adapun tokoh-tokoh madzhab Ahlu al-Hadits di Hijaz adalah; Sa’id bin al-Musayyab al-Makhzumi; ‘Urwah bin Zubair; Salim bin Abdullah bin Umar; Sulaiman bin Yasar dan Nafi’ Maula Abdullah bin Umar. Penduduk Hijaz dan sekitarnya senantiasa bertaqlid kepada madzhab ini tanpa ada seorangpun yang mengingkari.

          Saat ini, mazhab fiqih yg muktabar dan sampai kepada kita adalah mazhab yg empat. Oleh karena itu, Ahlussunah Wal Jama’ah, dalam masalah aqidah mengikuti mazhab Al-As’ariyyah Al Maturidiyah, dalam masalah fiqih berpegang pada mazhab yg empat.

          Sekarang saya tanya, saudara, dalam masalah aqidah mengikuti siapa?

          1. Agung…

            Insya Allah saya juga mengikuti Mahjab yang 4 tersebut.

            Tapi berusaha untuk memilih Kyai ataupun Ustadz yang tidak mau dikultuskan.

          2. @Dodol

            tidak ada dari kalangan kami yg mengkultuskan kyai atau ustadz, kami menghormati dan mengagungkan mereka, karena itulah yg diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. beserta para sahabatnya.

            Mazhab yg empat itu kan masalah fiqih, berbeda dalam masalah cabang itu bukanlah hal yg tercela, tapi merupakan rahmat. Tapi menyempal dari perkara aqidah, maka itu tercela.

          3. Siiiip Agung…

            Berarti kita sama dan hanya ada perbedaan sedikit saja.

            Saya lebih menghormati dan menghargai kedua orang tua saya tanpa mengesampingkan peranan Kyai atau Ustadz.

            Ini yang saya lakukan pribadi terhadap kehidupan saya.

            Jika….
            5x saya mencintai Orang Tua, maka
            4x saya mencintai Kyai
            3x saya menghormati Orang Tua, maka
            2x saya menghormati Kyai
            1x saya mencium tangan Orang Tua, maka
            0x saya mencium tangan Kyai.

            Kita bersaudara berarti Agung.

            Salam Ukhuwah Islamiyah ya Agung.

          4. @Dodol

            “Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Berkah Allah bersama orang-orang besar di antara kamu.” (HR. Ibn Hibban (1912), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (8/172), al-Hakim dalam al- Mustadrak (1/62) dan al-Dhiya’ dalam al-Mukhtarah (64/35/2). Al-Hakim berkata,
            hadits ini shahih sesuai kriteria al-Bukhari, dan al-Dzahabi menyetujuinya.

            Al-Imam al-Munawi menjelaskan dalam Faidh al-Qadir, bahwa hadits tersebut mendorong kita mencari berkah Allah subhanahu wa ta’ala dari orang-orang besar dengan memuliakan dan mengagungkan mereka. Orang besar di sini bisa dalam artian besar ilmunya seperti para ulama, atau kesalehannya seperti orangorang saleh. Bisa pula, besar dalam segi usia, seperti orang-orang yang lebih tua.

            Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi : Mencium tangan orang karena zuhudnya (sederhana dalam hidup karena keshalihannya), atau karena shalihnya, atau karena ilmunya, atau karena kemuliaannya, atau kebaikannya atau yang semisalnya dari kemuliaan pada agama bukanlah hal makruh bahkan hal yang baik, namun jika karena kekayaannya atau kejahatannya atau karena kedudukannya pada ahli dunia maka sangat makruh, dan berkata Abu Sa’id ALmutawalli hal itu dilarang.

            Dan berkata Imam Al Abhariy sungguh Imam Malik mengingkarinya hanya jika untuk kesombongan dan pengagungan yang berlebihan bagi yang melakukannya, namun jika seorang manusia mencium tangan manusia lainnya atau wajahnya, atau badannya, yang selain auratnya semata mata ingin dekat pada Allah swt, karena keimanan orang tsb pada agamanya, atau ilmunya, atau kemuliaannya (disisi Allah swt) maka hal itu diperbolehkan, dan mencium tangan Nabi saw mendekatkan diri kepada Allah swt, dan itu sungguh bukan memuliakan keduniawian atau kekuasaan, atau menyerupai bentuk bentuk kesombongan, jika untuk kesombongan dan keduniawian maka tidak dibolehkan. Selesai ucapan Imam Almundziry.

            Kasihan ya saudara dodol ini, tidak pernah mencium tangan kyai atau ulama, padahal pada diri mereka terdapat berkah dari Allah swt.

            Mungkin ulama atau kyai yg jadi panutan saudara dodol ini memang tidak ada berkahnya.

          5. Insya Allah saya lebih yakin kepada orang tua dalam hal ini.

            Dan memang saya tidak pernah mencium Tangan Kyai ataupun Ustadz saya.

            Seandainya saya dikasih 1 Milyard untuk mencium tangan Kyai anda, saya sumbangkan uang tersebut (kalau tetep dikasih) dan saya cium rasa sayang saya sebagai anak kepada orang tua.

            Kalau memang itu Shahih…. Berarti Rasulullah SAW kerjaannya tiap hari cape dong nyodorin tangan untuk dicium seluruh sabahat dan umatnya, bukankah lebih afdol cium tangan Nabi dibandingkan cium tangan Kyai….? Kalau menurut pendapat diatas.

            Jalankan saja yang WAJIB2 terlebih dahulu dengan baik (nasihat untuk saya sendiri juga), dibandingkan menjalankan hal2 yang masih didalam perdebatan.

            Lebih baik tekanin kepada pengikut anda, jalanin Sholat Sunnah dulu deh, daripada ikut antrian hanya untuk mencium tangan Kyai. Bukankah lebih Afdol….?

            Nyatanya banyak yang melakukan itu dilandaskan mungkin dengan niat yang baik. Siapa yang bisa melihat hati manusia…? Itulah kekhawatran Imam Malik dalam hal ini

          6. @Dodol : “Dan memang saya tidak pernah mencium Tangan Kyai ataupun Ustadz saya.”

            @Dodol : “Kalau memang itu Shahih…. Berarti Rasulullah SAW kerjaannya tiap hari cape dong nyodorin tangan untuk dicium seluruh sabahat dan umatnya”

            Jawab :
            diriwayatkan oleh Abu Jahiifah ra kulihat para sahabat mengambil kedua tangan beliau dan mengusapkannya kewajah mereka, maka kuambil pula tangan beliau dan kututupkan kewajahku, maka sungguh tangan itu lebih sejuk dari es dan lebih lembut dari sutra” (Shahih Bukhari)

            Dan dari hadits yang Jayyid (bagus sanadnya) adalah riwayat Azzari’ Al’abdiy, ketika wafd abdulqeis berkata : kami berebutan turun dari tunggangan kami, dan kami mencium tangan Nabi saw dan kaki beliau saw. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, dan dari hadits riwayat Mazidah Al Ashriy drngan riwayat yang sama, dan dari hadits Usamah bin Syariik, berkata kami berdiri untuk mencium tangan Nabi saw, dan sanadnya kuat. Dan dari hadis Ibn Umar ra bahwa Umar ra berdiri kepada Nabi saw dan mencium tangan beliau saw (Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy)

            kalimat anda : “Berarti Rasulullah SAW kerjaannya tiap hari cape dong nyodorin tangan untuk dicium seluruh sabahat dan umatnya”.

            Menurut saya itu adalah kalimat yg merendahkan Nabi Muhammad saw.
            “Barangsiapa yang tak menyukai sunnahku maka ia bukan golonganku” (Shahih Bukhari).
            Silahkan bantah sunnah Nabi saw, Imam Syafii mengeluarkan fatwa bila seorang muslim menghina sunnah maka hukumnya kufur.

            Dodol :”bukankah lebih afdol cium tangan Nabi dibandingkan cium tangan Kyai….?”

            Jawab :
            diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya Al Aadabul Mufrad dari riwayat Abdurrahman bin Waziin, berkata : diriwayatkan pada kami oleh Salmah bin Al Uku’ ra bahwa ia mengeluarkan telapak tangannya yang kasar
            dan besar seperti telapak tangan unta, (tanganku ini membai’at tangan Nabi saw), maka kami berdiri dan menciumnya. Dan dari tsabit ra bahwa ia sungguh mencium tangan Anas ra. Dan dikeluarkan pula bahwa Sungguh Ali kw mencium tangan Abbas ra dan kedua kakinya. Dan diriwayatkan oleh Imam Ibnul Muqriyy, dan diriwayatkan dari Abi Malik Al Asyja’iyy berkata : kukatakan pada Ibn Abi Awfa : ulurkan tanganmu yang kau berbai’at dengannya pada Nabi saw, maka ia mengulurkannya dan aku menciumnya. (Hujjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy)

            Lihatlah contoh yg ditunjukkan oleh para sahabat, mereka bukan hanya mencium tangan sahabat lainnya. Dan ulama adalah pewaris para Nabi.

          7. @Mas Agung
            Maunya sih … saya nyium tangan Rasul. Tapi sudah ga ada. Waktu ke Masjid Nabawi mau cium pusara Rasul, tapi dihalangi dibilang syirik sama “pasukan pemurni tauhid”. Katanya tingkah laku sahabat boleh diikuti termasuk saling mencium tangan. Kok ada yang USIL sih kalo kita mencium tangan kyai. Waktu orang tua saya masih hidup, tinggal satu rumah jika sholat berjamaah, sehabis sholat kami cium tangan orang tua, tidak mengurangi itu, setiap ada Kyai saya dan orang tua saya cium tangan kyai.Kalau soal yang WAJIB, SUNNAH, insya Allah kita lakukan semampu kita, tapi mencium tangan kyai juga ada anjurannya. Kalau memang ga setuju yang cukup diri sendiri, ga usah mempersoalkan orang lain.

          8. @Dodol :

            Saya hanya menambahkan penjelasan Ustadz Agung berkaitan mencari barakah Allah melalui mencium tangan dan atau hal lain barakah dari Rasulallah dan ulama, yaitu :

            1. Rambut Rasulallah pun diakui mempunyai barakah, seperti tercantum dalam Hadits Riwayat Bukhari berikut :

            عَنْ أَنَسٍ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، لَمَّا حَلَقَ رَأْسَهُ، كَانَ أَبُو طَلْحَةَ، أَوَّلَ، مَنْ أَخَذَ مِنْ شَعَرِهِ

            (صحيح البخاري)

            Dari Anas bin Malik Ra: Sungguh ketika Rasulullah SAW mencukur rambutnya (di perjanjian Hudaibiyah) bahwa Abu Thalhah (Ra) yang pertama kali mengambil rambut beliau SAW” (Shahih Bukhari)

            عَنْ ابْنِ سِيرِينَ، قَالَ: قُلْتُ لِعَبِيدَةَ، عِنْدَنَا، مِنْ شَعَرِ النَّبِيِّ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَصَبْنَاهُ، مِنْ قِبَلِ أَنَسٍ، أَوْ مِنْ قِبَلِ أَهْلِ أَنَسٍ فَقَالَ لَأَنْ تَكُونَ عِنْدِي شَعَرَةٌ مِنْهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا

            (صحيح البخاري)

            Dari Ibn Siiriin (ra) berkata, kukatakan pada Ubaidah (ra) aku memiliki sehelai Rambut Nabi SAW, kudapatkan dari Anas (ra) atau dari keluarga Anas (ra), maka ia berkata (Ubaidah ra): Jika kumiliki sehelai Rambut beliau SAW lebih kusukai dari dunia dan segala isinya” (Shahih Bukhari)

            2. Dalam Sahih Bukhari 3289
            “Telah bercerita kepada kami Al Hasan Bin Manshur, Abu Ali telah bercerita kepada kami Hajjaj bin Muhammad Al A’war di Mashishah telah bercerita kepada kami Syu’bah dari Al Hakam berkata; Aku mendengar Abu Juhaifah berkata; Pada suatu hari Nabi Shalallahu ‘alaihi Wasallam keluar pada siang hari menuju Batha’; kemudian berwudu’; lalu beliau shalat dhuhur dua rakaat dan ashar dua rakaat dan dihadapan beliau diletakkan tongkat; Syu’bah berkata; dan ‘Aun menambahkan dalam riwayat hadits ini dari bapaknya Abu Juhaifah, berkata; “Saat itu lewat dari belakang tongkat itu seorang wanita, maka orang-orang berdiri lalu memegang tangan beliau, kemudian mengusap-usapkannya pada wajah mereka. Dia (Abu Juhaifah) berkata “Maka aku pegang tangan beliau lalu kuusapkan ke wajahku yang ternyata tangan beliau lebih dingin daripada salju dan lebih wangi daripada minyak kasturi.”

            3. Berkaitan dengan hal mencium tangan ini berkata Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy dalam Kitab Fathul Bari Bab Al Akhdz bilyadayn Juz 8 hal 1 :

            ا خْألَْذ بِالْيَدِ هُوَ مُبَالَغَة الْمُصَافَحَة وَذَلِكَ مُسْتَحَبّ عِنْد الْعُلَمَاء ، وَإِنَّمَا اِخْتَلَفُوا فِي تَقْبِيل الْيَد فَأَنْكَرَهُ :
            مَالِك وَأَنْكَرَ مَا رُوِيَ فِيهِ ، وَأَجَازَهُ آخَرُونَ وَاحْتَجُّوا بِمَا رُوِيَ عَنْ عُمَر أَنَّهُمْ “ لَمَّا رَجَعُوا مِنْ الْغَزْو
            حَيْثُ فَرُّوا قَالُوا نَحْنُ الْفَرَّارُونَ ، فَقَالَ : بَلْ أَنْتُمْ الْعَكَّارُونَ أَنَا فِئَة الْمُؤْمِنِينَ ، قَالَ فَقَبَّلْنَا يَده “ قَالَ “
            وَقَبَّلَ أَبُو لُبَابَة وَكَعْب بْن مَالِك وَصَاحِبَاهُ يَد النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِين تَابَ اللَّه عَلَيْهِمْ “ ذَكَرَهُ
            ا بْألَْهَرِيّ ، وَقَبَّلَ أَبُو عُبَيْدَة يَد عُمَر حِين قَدِمَ ، وَقَبَّلَ زَيْد بْن ثَابِت يَد اِبْن عَبَّاس حِين أَخَذَ اِبْن عَبَّاس
            بِرِكَابِهِ ، قَالَ ا بْألَْهَرِيّ : وَإِنَّمَا كَرِهَهَا مَالِك إِذَا كَانَتْ عَلَى وَجْه التَّكَبُّر وَالتَّعَظُّم ، وَأَمَّا إِذَا كَانَتْ عَلَى
            وَجْه الْقُرْبَة إِلَى اللَّه لِدِينِهِ أَوْ لِعِلْمِهِ أَوْ لِشَرَفِهِ فَإِنَّ ذَلِكَ جَائِز . قَالَ اِبْن بَطَّال : وَذَكَرَ التِّرْمِذِيّ مِنْ حَدِيث
            صَفْوَان بْن عَسَّال “ أَنَّ يَهُودِيَّيْنِ أَتَيَا النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلَاهُ عَنْ تِسْع آيَات “ الْحَدِيث
            وَفِي آخِره “ فَقَبَّلَا يَده وَرِجْله “ قَالَ التِّرْمِذِيّ حَسَن صَحِيح قُلْت : حَدِيث اِبْن عُمَر أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيّ
            فِي “ ا دْألََب الْمُفْرَد “ وَأَبُو دَاوُدَ ، وَحَدِيث أَبِي لُبَابَة أَخْرَجَهُ الْبَيْهَقِيُّ فِي “ الدَّلَائِل “ وَابْن الْمُقْرِي ،
            وَحَدِيث كَعْب وَصَاحِبَيْهِ أَخْرَجَهُ اِبْن الْمُقْرِي ، وَحَدِيث أَبِي عُبَيْدَة أَخْرَجَهُ سُفْيَان فِي جَامِعه ، وَحَدِيث
            اِبْن عَبَّاس أَخْرَجَهُ الطَّبَرِيُّ وَابْن الْمُقْرِي ، وَحَدِيث صَفْوَان أَخْرَجَهُ أَيْضًا النَّسَائِيُّ وَابْن مَاجَهْ وَصَحَّحَهُ
            الْحَاكِم . وَقَدْ جَمَعَ الْحَافِظ أَبُو بَكْر بْن الْمُقْرِي جُزْءًا فِي تَقْبِيل الْيَد سَمِعْنَاهُ ، أَوْرَدَ فِيهِ أَحَادِيث كَثِيرَة
            وَآثَارًا ، فَمِنْ جَيِّدهَا حَدِيث الزَّارِع الْعَبْدِيّ وَكَانَ فِي وَفْد عَبْد الْقَيْس قَالَ “ فَجَعَلْنَا نَتَبَادَر مِنْ رَوَاحِلنَا
            فَنُقَبِّل يَد النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرِجْله “ أَخْرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ ، وَمِنْ حَدِيث مَزِيدَة الْعَصَرِيّ مِثْله
            ، وَمِنْ حَدِيث أُسَامَة بْن شَرِيك قَالَ “ قُمْنَا إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلْنَا يَده “ وَسَنَده قَوِيّ
            وَمِنْ حَدِيث جَابِر “ أَنَّ عُمَر قَامَ إِلَى النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَبَّلَ يَده “ وَمِنْ حَدِيث بُرَيْدَةَ فِي
            قِصَّة ا عْألَْرَابِيّ وَالشَّجَرَة فَقَالَ “ يَا رَسُول اللَّه اِئْذَنْ لِي أَنْ أُقَبِّل رَأَسَك وَرِجْلَيْك فَأَذِنَ لَهُ “ وَأَخْرَجَ
            الْبُخَارِيّ فِي “ ا دْألََب الْمُفْرَد “ مِنْ رِوَايَة عَبْد الرَّحْمَن بْن رَزِين قَالَ “ أَخْرَجَ لَنَا سَلَمَة بْن ا كْألَْوَع كَفًّا
            لَهُ ضَخْمَة كَأَنَّهَا كَفّ بَعِير فَقُمْنَا إِلَيْهَا فَقَبَّلْنَاهَا “ وَعَنْ ثَابِت أَنَّهُ قَبَّلَ يَد أَنَس ، وَأَخْرَجَ أَيْضًا أَنَّ عَلِيًّا
            قَبَّلَ يَد الْعَبَّاس وَرِجْله ، وَأَخْرَجَهُ اِبْن الْمُقْرِي ، وَأَخْرَجَ مِنْ طَرِيق أَبِي مَالِك ا شْألَْجَعِي قَالَ : قُلْت لِابْنِ
            أَبِي أَوْفَى نَاوِلْنِي يَدك الَّتِي بَايَعْت بِهَا رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَاوَلَنِيهَا فَقَبَّلْتهَا . قَالَ النَّوَوِيّ
            : تَقْبِيل يَد الرَّجُل لِزُهْدِهِ وَصَلَاحه أَوْ عِلْمه أَوْ شَرَفه أَوْ صِيَانَته أَوْ نَحْو ذَلِكَ مِنْ ا مْألُُور الدِّينِيَّة لَا يُكْرَه
            بَلْ يُسْتَحَبّ ، فَإِنْ كَانَ لِغِنَاهُ أَوْ شَوْكَته أَوْ جَاهه عِنْد أَهْل الدُّنْيَا فَمَكْرُوه شَدِيد الْكَرَاهَة وَقَالَ أَبُو سَعِيد
            . الْمُتَوَلِّي : لَا يَجُوز
            Berkata Hujjjatul Islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy : Berkata Imam Ibn Battal :
            mengambil tangan adalah bermakna bersalaman, dan hal itu adalah hal yang baik
            dilakukan demikian dijelaskan para ulama, dan sungguh berbeda pendapat mengenai
            mencium tangan, hal ini diingkari oleh Imam Malik dan ia mengingkari apa – apa yang
            diriwayatkan dalam hal ini, dan yang lainnya memperbolehkannya, mereka berdalil dengan
            yang diriwayatkan Umar ra bahwa ketika diantara para sahabat pulang dari peperangan,
            dan dikatakan pada mereka : Kalian lari dari peperangan!, maka Umar ra berkata : Bahkan
            kalian ‘akkaaruun, akulah pimpinan orang orang mukmin, maka kamipun mencium
            tangan beliau. Dan dikatakan bahwa Abu Lubabah dan Ka’ab bin Malik dan sahabat
            mereka mencium tangan Nabi saw ketika Allah menerima taubat mereka, dan dikatakan
            oleh Al Abhariyy bahwa Abu Ubaidah ra mencium tangan Umar ra ketika datang. Dan
            Zeyd bin Tsabit ra mencium tangan Ibn Abbas ra ketika Ibn Abbas ra memegang tali
            kudanya, dan berkata Al Abhariy bahwa Imam Malik mengingkarinya jika disebabkan
            kesombongan dan kecongkakan, namun jika disebabkan kedekatannya pada Allah swt,
            karena kuatnya imannya, atau karena ilmunya, atau karena kehormatannya maka hal itu
            diperbolehkan, dijelaskan oleh Imam Ibn Battal bahwa Imam Tirmidziy menukil riwayat
            hadits shafwan bin Assal, bahwa orang – orang Yahudi datang dan menanyakan pada
            Nabi saw akan 9 ayat, dan pada akhir hadits mereka mencium tangan Nabi saw dan kaki
            beliau saw, dan berkata Imam Tirmidziy bahwa hadits ini hasan shahih.
            Kukatakan (menanggapi hal ini) dengan hadits Ibn Umar ra yang diriwayatkan oleh
            Imam Bukhari dalam kitabnya Al Adabul Mufrad dan Imam Abu Dawud, dan Hadits
            riwayat Abi Lubabah yg diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam kitabnya Addalail, dan
            hadits Ka’ab dan kedua sahabatnya yang dikeluarkan oleh Ibn Al Muqriyy, dan hadist
            Abi Ubaidah yang diriwayatkan Sufyan dalam Jami’ nya, dan hadits Ibn Abbas ra yang
            diriwayatkan Imam Attabariy dan Ibnul Muqriy, dan hadtist Shafwan yang diriwayatkan
            pula olehnya dan oleh Imam Nasa’iy dan Imam Ibn Majah dan dishahihkan oleh Imam
            Hakim, dan telah dilkumpulkan oleh Al Hafidh Abubakar Ibnul Muqriyy dalam sebuah
            bab khusus tentang “Cium tangan” dan telah ia riwayatkan dalam hadits yang banyak
            dan perbuatan para sahabat.
            Dan dari hadits yang Jayyid (bagus sanadnya) adalah riwayat Azzari’ Al’abdiy, ketika
            wafd abdulqeis berkata : kami berebutan turun dari tunggangan kami, dan kami mencium
            tangan Nabi saw dan kaki beliau saw. Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, dan dari
            hadits riwayat Mazidah Al Ashriy drngan riwayat yang sama, dan dari hadits Usamah bin
            Syariik, berkata kami berdiri untuk mencium tangan Nabi saw, dan sanadnya kuat. Dan
            dari hadis Ibn Umar ra bahwa Umar ra berdiri kepada Nabi saw dan mencium tangan
            beliau saw, dan dari hadits buraidah dalam kisah seorang dusun dan pohon, seraya berkata
            : Wahai Rasulullah (saw), izinkan aku untuk mencium dahimu dan kedua kakimu!,
            maka Rasul saw mengizinkannya, dan diriwayatkan oleh Imam Bukhari dalam kitabnya
            Al Aadabul Mufrad dari riwayat Abdurrahman bin Waziin, berkata : diriwayatkan pada
            kami oleh Salmah bin Al Uku’ ra bahwa ia mengeluarkan telapak tangannya yang kasar
            dan besar seperti telapak tangan unta, (tanganku ini membai’at tangan Nabi saw), maka
            kami berdiri dan menciumnya. Dan dari tsabit ra bahwa ia sungguh mencium tangan
            Anas ra. Dan dikeluarkan pula bahwa Sungguh Ali kw mencium tangan Abbas ra dan
            kedua kakinya. Dan diriwayatkan oleh Imam Ibnul Muqriyy, dan diriwayatkan dari Abi
            Malik Al Asyja’iyy berkata : kukatakan pada Ibn Abi Awfa : ulurkan tanganmu yang kau
            berbai’at dengannya pada Nabi saw, maka ia mengulurkannya dan aku menciumnya.
            Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi : Mencium tangan orang karena zuhudnya
            (sederhana dalam hidup karena keshalihannya), atau karena shalihnya, atau karena
            ilmunya, atau karena kemuliaannya, atau kebaikannya atau yang semisalnya dari
            kemuliaan pada agama bukanlah hal makruh bahkan hal yang baik, namun jika karena
            kekayaannya atau kejahatannya atau karena kedudukannya pada ahli dunia maka sangat
            makruh, dan berkata Abu Sa’id ALmutawalli hal itu dilarang.

            Jadi dengan hadits-hadits sahih diatas (yang tidak perlu dipertanyakan lagi kesahihannya), saudara Dodol bagaimana menanggapinya ??? Kalau kami pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah jelas menganggap sunnah hal tersebut dengan dalil-dalil yang sahih.

            Kebenaran hakiki hanya milik Allah
            Hamba Allah yang dhaif dan faqir
            Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  20. @Dodol :

    Sebaiknya saudara belajar lagi tentang penisbahan nama dalam budaya Arab yang dinisbahkan kepada kunyahnya atau orang tuanya.

    Lihat saja Imam Syafi’i bernama lengkap Muhammad ibn Idris ibn Abbas ibn Utsman ibn Syafi’ ibn Saib ibn Ubaid ibn Abdi Yazid ibn Hasyim ibn Muththalib ibn Abdi Manaf ibn Qushay ibn Kilab ibn Murrah ibn Kaab ibn Lu’aiy ibn Ghalib ibn Fihir ibn Malik ibn Nadhar ibn Kinanah, tapi penisbahan namanya menggunakan kunyahnya, Syafi’i. Mazhabnya juga Mazhab Syafi’iyyah bukan Muhammadiyyah seperti asli namanya.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    1. Ishar@

      Perlu antum tahu bahwa penampilan yg ditiru oleh syaikh2 Wahabi itu adalah para Rabbi Yahudi israel yaitu Yahudi Ektreem, sedangkan yg antum kasih linknya itu Rabbi Yahudi yg moderat yg masih ingin menjalin hubungan baik dg kaum muslimin. Bagimana antum tidak bisa membedakan, jadi yg ditiru oleh syaikh2 Wahabi itu justru Rabbi Yahudi yg keras permusuhannya kepd kaum muslimin.

      Sedangkan pakaian Ulama Syi’ah itu bukan mirip Habib Munzir, tetapi Ulama Syi’ah tsb meniru penampilan Rasulullah Saw, apakah jadi masalah buat antum jika ada ulama yg mengikuti cara berpakaian Nabi saw?

      Ini saya COPAS-kan dari penjelasan postingan di atas :

      رَكْعَتَانِ بِعِمَامَةٍ أَفْضَلُ مِنْ سَبْعِيْنَ رَكْعَةٍ بِغَيْرِ عِمَامَةٍ.

      Sholat dua roka’at bagi laki-laki memakai imamah/udeng-udeng lebih utama pahalanya dari pada tuju puluh roka’at tanpa memakai imamah.
      (hadis diriwayatkan oleh sahabat Jabir RA)

      Abu Sheikh melaporkan dari Ibnu Abbas R.Anhu bahawa Nabi S.A.W mempunyai 3 penutup kepala sepanjang kehidupannya. (Bajhul Majhood, jilid ke-6, hal. 52)

      Di dalam “mukhtasar”, kehidupan Nabi S.A.W, terdapat 3 jenis penutup kepala yang didapati,

      – Petama ialah seperti rupa kopiah yang mana di dalamnya mempunyai garisan padanya.

      – Yang kedua ialah yang diperbuat daripada kain hibara.

      – Dan yang ketiga ialah penutup kepala yang menutupi telinga, yang mana selalunya Baginda memakainya di dalam safar (perjalanan).

      Adapun sorban yang diselendangkan dibahu bukan disebut ‘imamah tapi rida (selndang). Dalam keterangan hadist lain juga diterangkan tentang keutamaan memakai imamah (sorban / penutup kepala) sebagaimana telah diriwayatkan dalam hadist :

      Qoola Rosululloh SAW. “i’tamu tajdaaduu hilman, waqoola shollalahu ‘alaihi wasalam: ‘al’amaaimuu tijaanul ‘arobi yu’thol ‘abdu bikulli kaurotin yudawwiruuhaa ‘ala ro’sihi aw qolansuwatuhatihi nuuron.

      Bersabda Rasulullah SAW. “Pakailah sorban, maka akan bertambah wibawamu“‘, dan Nabi bersabda: “Sorban adalah mahkota orang arab yang diberikan kepada hamba, setiap putaran yang dililitkan pada kepala atau kopyah berupa cahaya.”

      Dalam keterangan hadist ini Rosululloh menganjurkan utk memakai sorban (untuk udeng-udeng) yang dililitkan melingkar diatas kepala. Dengan memakai sorban akan menambah kewibawaan seseorang karena bagaikan mahkota yang bercahaya menyinari di sekelilingnya. Dan yang sering kita jumpai seorang memakai sorban melingkar diatas kepalah adalah para alim – ulama’, atau habaib, mereka terliahat sangatlah anggun dan berwibawa menyapa umatnya dengan pakaian Sunnahnya.

      Semoga bisa memacu antum untuk terinspirasi mencari kebenaran, syukron atas perhatiannya.

    1. @Ibn Abdul Chair

      Anda juga ya, belajar fiqih yg benar. jangan lagi menganggap mencium tangan kyai/Habib dengan tujuan tabarruk sebagai bid’ah. tolong dijelasin juga ya sama ustadz nya situ. mks.

  21. Mas@agung, sy dan ustadz sy yg manapun tdk pernah melarang mencium tangan kpd orang tua, guru/ustadz dan siapa saja org yg dianggap lebih dihormati, sebab semua itu adalah “urf” dari syariat yg menghormati tradisi. Namun, jika mencium tangan itu diikuti oleh mengharap mendptkan barokah, ya ndak boleh mas. Juga hrs diketahui bhw melaksanakan “urf” tdk boleh senantiasa dan terus-menerus, sebab nanti jadi menyerupai ibadah. Jika para shahabat ridwanallah jami’an mencium tangan Rasulullah Sholallahu alaihi wasalam, itu memang seharusnya ..mas. Jangankan tangannya mas, keringat, air liur, riak dll dari Rasulullah saja diperebutkan shahabat.Lha habaib/kyai? Ingat mas, “Inna akromakum indallahi atqokum”. Setelah Rasulullah wafat, shahabat saja ada yg menjadi kafir karena jadi pengikut Muzailamah Al-kadzdzab dan mati dlm keadaan kafir. Apa itu jug gak bisa terjadi terhdp habaib dan kyai. “Ya muqolibbal Quluub tsabbit qolbi alaa diniik”

    1. @Ibn Abdul Chair: “jika mencium tangan itu diikuti oleh mengharap mendptkan barokah, ya ndak boleh mas”.

      Artinya saudara mengingkari hadist berikut ini

      “Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Berkah Allah bersama orang-orang besar di antara kamu.” (HR. Ibn Hibban (1912), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (8/172), al-Hakim dalam al- Mustadrak (1/62) dan al-Dhiya’ dalam al-Mukhtarah (64/35/2). Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai kriteria al-Bukhari, dan al-Dzahabi menyetujuinya.)

      Al-Imam al-Munawi menjelaskan dalam Faidh al-Qadir, bahwa hadits tersebut
      mendorong kita mencari berkah Allah subhanahu wa ta’ala dari orang-orang
      besar dengan memuliakan dan mengagungkan mereka. Orang besar di sini bisa
      dalam artian besar ilmunya seperti para ulama, atau kesalehannya seperti orangorang saleh. Bisa pula, besar dalam segi usia, seperti orang-orang yang lebih tua.

    2. @Ibn Abdul Chair

      Dan berkata Imam Al Abhariy sungguh Imam Malik mengingkarinya hanya jika untuk kesombongan dan pengagungan yang berlebihan bagi yang melakukannya, namun jika seorang manusia mencium tangan manusia lainnya atau wajahnya, atau badannya, yang selain auratnya semata mata ingin dekat pada Allah swt, karena keimanan orang tsb pada agamanya, atau ilmunya, atau kemuliaannya (disisi Allah swt) maka hal itu diperbolehkan, dan mencium tangan Nabi saw mendekatkan diri kepada Allah swt, dan itu sungguh bukan memuliakan keduniawian atau kekuasaan, atau menyerupai bentuk bentuk kesombongan, jika untuk kesombongan dan keduniawian maka tidak dibolehkan.

      Berkah (barokah) diartikan dengan tambahnya kebaikan (ziyadah al-khair). Sedangkan tabarruk bermakna mencari tambahnya kebaikan atau ngalap barokah (thalab ziyadah al-khair).

      Lihatlah, dalam perkataannya, Imam Al Abhariy mengatakan : “………semata mata ingin dekat pada Allah swt …………..”

      Itulah yg diharapkan oleh orang yg mencium tangan kyai, habib atau ulama, untuk mencari tambahan kebaikan, dengan tujuan ingin mendekatkan diri kepada Allah swt. Karena itu adalah sunnah Nabi Muhammad saw :
      “Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Berkah Allah bersama orang-orang besar di antara kamu.” (HR. Ibn Hibban (1912), Abu Nu’aim dalam al-Hilyah (8/172), al-Hakim dalam al- Mustadrak (1/62) dan al-Dhiya’ dalam al-Mukhtarah (64/35/2). Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai kriteria al-Bukhari, dan al-Dzahabi menyetujuinya.)

      Al-Imam al-Munawi menjelaskan dalam Faidh al-Qadir, bahwa hadits tersebut mendorong kita mencari berkah Allah subhanahu wa ta’ala dari orang-orang besar dengan memuliakan dan mengagungkan mereka. Orang besar di sini bias dalam artian besar ilmunya seperti para ulama, atau kesalehannya seperti orangorang saleh. Bisa pula, besar dalam segi usia, seperti orang-orang yang lebih tua.

    3. @Ibn Abdul Chair : “Sy dan ustadz sy yg manapun tdk pernah melarang mencium tangan kpd orang tua, guru/ustadz dan siapa saja org yg dianggap lebih dihormati, sebab semua itu adalah “urf””.

      Jawab :

      Sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Jahiifah ra kulihat para sahabat mengambil kedua tangan beliau dan mengusapkannya kewajah mereka, maka kuambil pula tangan beliau dan kututupkan kewajahku, maka sungguh tangan itu lebih sejuk dari es dan lebih lembut dari sutra” (Shahih Bukhari)

      Dan dari hadits yang Jayyid (bagus sanadnya) adalah riwayat Azzari’ Al’abdiy, ketika wafd abdulqeis berkata : kami berebutan turun dari tunggangan kami, dan kami mencium tangan Nabi saw dan kaki beliau saw.

      Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, dan dari hadits riwayat Mazidah Al Ashriy drngan riwayat yang sama, dan dari hadits Usamah bin Syariik, berkata kami berdiri untuk mencium tangan Nabi saw, dan sanadnya kuat. Dan dari hadis Ibn Umar ra bahwa Umar ra berdiri kepada Nabi saw dan mencium tangan beliau saw

      Lantas, mengapa saudara mengatakan bahwa mencium tangan itu adalah ‘Urf atau adat?

      Mengapa karena ustadz saudara tidak ingin dicum tangannya, lantas saudara hubungkan dengan kalimat : “spt org-org nasrani menyambut kedatangan Isa AS”. Orang Nasrani menyambut kedatangan Isa AS, karena menuhankan Nabi Isa. itu yg dilarang.

      Itulah yg diajarkan Nabi Muhammad saw dan merupakan sunnah Nabi. “Barangsiapa yang tak menyukai sunnahku maka ia bukan golonganku” (Shahih
      Bukhari).
      Imam Syafii mengeluarkan fatwa bila seorang muslim menghina sunnah maka hukumnya kufur.

  22. oh ya satu lagi, sejak ana belajar agama dgn benar ttg agama yg haq ini, tak ada satupun ustadz yg ana cium tangannya, dan para ustadz pun tdk rela mendapat penghormatan yg demikian. sekedar info nih… kl dikajian temen2 udah pd hadir dan kebetulan ustadz-nya dtg belakangan, tak ada satupun dari kami yang “bangun menyambut” spt org-org nasrani menyambut kedatangan Isa AS. Kami diajarkan utk menghormati manusia spt yg diajarkan Rasulullah.

    1. @Ibn Abdul Chair : “tak ada satupun dari kami yang “bangun menyambut” spt org-org nasrani menyambut kedatangan Isa AS.”

      Jawab :
      penghormatan yang dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika Sa’ad bin Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk tuan kalian” (Shahih Bukhari hadits dan Shahih Muslim), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.

      Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yang adil dan yang semacamnya merupakan hal yang baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yang dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yang duduk, dan Imam Nawawi yang berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang

      Jadi, orang yg berdiri ketika menyambut kedatangan kyai, habib atau ulama, mengikuti sunnah Nabi.

      Komentar anda : “Kami diajarkan utk menghormati manusia spt yg diajarkan Rasulullah.”

      hal itu berangkat dari ketidaktahuan kalian dan guru guru kalian. Buktinya, berdiri ketika ada seseorang yg datang merupakan sunnah Nabi seperti yg diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.

  23. Mas @Agung :jika untuk kesombongan dan keduniawian maka tidak dibolehkan.
    Begini…mas agung, skrg mas agung coba, sekali-sekali ktk bertemu dgn kyai/habib antum… jgn dicium tangannya… lihat reaksi si habib atau kyai tersebut. Disitu mas agung bisa melihat (biasanya sih paling nggak dipelototin) Nah…maknai sendiri deh tuh arti pelototannya.

    1. @Ibn Abdul Chair

      Ciyus miapah? Enelan nih…. Tapi ditempat kami, kyai atau ulama tidak seperti yg saudara ceritakan?

      Kalaupun cerita anda benar, bukan berarti dapat digeneralisir dan diambil kesimpulan bahwa semua ulama atau kyai akan marah jika tidak di cium tangannya dengan cara melotot.

  24. @ibn abdul chair
    “lihat reaksi si habib atau kyai tersebut. Disitu mas agung bisa melihat (biasanya sih paling nggak dipelototin) Nah…maknai sendiri deh tuh arti pelototannya”
    Masa sih, itu su’udzhon ente aja, ane sering gak begitu tuh. Janganlah su’udzhon. Kalau mau buktikan coba aja sekali.

  25. Ilmu terbatas nuduh orang ga ilmiah. Diajak diskusi, alasan macam-macam. Orang berdiri menghormati kyai di bilang bukan ajaran Rasul. Bahkan nuduh kaya Nasrani. Eh sadar nape, kita ini ga pernah nentang Rasul, apalagi ngikut Nasrani. Kata-kata kamu tuh menyakitkan hati muslimin tahu. Emang kamu ga tahu Nabi bilang apa kepada orang yang nyakitin Muslimin?

  26. merhatiin hujjah atau komen dari anak2 wahhabi bwat yg kurang sabar, bisa bikin darah tinggi…. Masya Alloh ngeyel kok di makan sendiri. Pgen ngejedotin palanya tp takut dosa, haha…pis!

  27. Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS Annisa 59)
    Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).(QS Al an’am 116)
    Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan (Al Quran) mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu. (QS Al mu’minun 71)
    Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata. (QS Al Ahzab 36)

  28. @Ibnu Abdul Chair
    Yang Anda tulis itu, semuanya benar ayat-ayat Qur’an yang mulia. Intinya kita harus taat pada Allah dan pada Rasul. Salah satu ketaatan kepada Rasul kan kita melaksanakan sunnahnya. Tapi kok komentar anda sbb:

    ibn abdul chair says:
    November 4, 2012 at 7:36 pm

    oh ya satu lagi, sejak ana belajar agama dgn benar ttg agama yg haq ini, tak ada satupun ustadz yg ana cium tangannya, dan para ustadz pun tdk rela mendapat penghormatan yg demikian. sekedar info nih… kl dikajian temen2 udah pd hadir dan kebetulan ustadz-nya dtg belakangan, tak ada satupun dari kami yang “bangun menyambut” spt org-org nasrani menyambut kedatangan Isa AS. Kami diajarkan utk menghormati manusia spt yg diajarkan Rasulullah.

    Agung says:
    November 5, 2012 at 2:28 pm

    @Ibn Abdul Chair : “tak ada satupun dari kami yang “bangun menyambut” spt org-org nasrani menyambut kedatangan Isa AS.”

    Jawab :
    penghormatan yang dianjurkan oleh Rasul saw adalah berdiri, sebagaimana diriwayatkan ketika Sa’ad bin Mu’adz ra datang maka Rasul saw berkata kepada kaum anshar : “Berdirilah untuk tuan kalian” (Shahih Bukhari hadits dan Shahih Muslim), demikian pula berdirinya Thalhah ra untuk Ka’b bin Malik ra.

    Imam Alkhattabiy bahwa berdirinya bawahan untuk majikannya, juga berdirinya murid untuk kedatangan gurunya, dan berdiri untuk kedatangan Imam yang adil dan yang semacamnya merupakan hal yang baik, dan berkata Imam Bukhari bahwa yang dilarang adalah berdiri untuk pemimpin yang duduk, dan Imam Nawawi yang berpendapat bila berdiri untuk penghargaan maka taka apa, sebagaimana Nabi saw berdiri untuk kedatangan putrinya Fathimah ra saat ia datang

    Jadi, orang yg berdiri ketika menyambut kedatangan kyai, habib atau ulama, mengikuti sunnah Nabi.

    Komentar anda : “Kami diajarkan utk menghormati manusia spt yg diajarkan Rasulullah.”

    hal itu berangkat dari ketidaktahuan kalian dan guru guru kalian. Buktinya, berdiri ketika ada seseorang yg datang merupakan sunnah Nabi seperti yg diriwayatkan oleh Bukhori dan Muslim.

    Komentar saya :
    Atas ayat-ayat Qur’an yang Anda tulis di atas, jadi ingat kata-kata Syayidina Ali (kalau tidak salah dan mohon koreksi) : “Kalimatu haqqin urida bihil batil. Jadi, Apakah ayat-ayat tersebut hanya untuk orang lain, tidak untuk Anda?

  29. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian.
    (oleh krn itu sy tidak maulidan, tahlilan, tawassul dgn qubur dll krn sy ruju’ kpd Al Qur’an dan hadist Shohih)
    Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.
    (Kebanyakan org berdoa dan berdzikir berjama’ah yg tdk ada contohnya dr Rasullah, maka saya pun tidak)
    Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. ( sy tundukkan hawa nafsu sy utk klimis tampil selebriti, sy ikuti memelihara jenggot spt manusia yg paling tampan hingga akhir zaman)
    Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka.
    ( sy tidak pernah tawa menawar dgn mencari cari dalil bila Allah dan Rasul-NYA telah memutuskan)

    1. @Ibn Abdul Chair

      1. Maulidan, sudah saya jelaskan

      2. Tahlilan
      Bentuk atau cara bacaan Tahlilan/Yasinan yang dibaca di Indonesia, Malaysia, Singapora, Yaman Selatan ialah: Pertama-tama berdo’a dengan di-iringi niat untuk orang muslimin yang telah lama wafat dan baru wafat tersebut, kemudian disambung dengan bacaan surat Al-Fatihah, surat Yaasin, ayat Kursi (Al-Baqoroh:255) dan beberapa ayat lainnya dari Al-Qur’an, tahlil (Pengucapan Lailahaillallah), tasbih (Pengucapan subhanallah), sholawat Nabi saw. dan sebagainya. Setelah itu ditutup dengan do’a kepada Allah swt. agar pahala bacaan yang telah dibaca itu dihadiahkan untuk orang orang yang telah wafat terutama dikhususkan untuk orang yang baru wafat itu, yang oleh karenanya berkumpulnya orang-orang ini untuk dia. Juga berdo’a pada Allah swt. agar dosa-dosa orang muslimin baik yang masih hidup maupun telah wafat diampuni oleh-Nya dan lain sebagainya. Nah, dalam hal ini apanya yang salah…?
      Dalam kitab Majmu’ Fatawa Syaikh al-Islam Ibn Taimiah disebutkan:
      “Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka, “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah”. Mereka memulai dan menutup dzikirnya dengan al-Qur’an, lalu mendo’akan kaum Muslimin yang
      masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illa billaah) dan shalawat kepada Nabi SAW. Lalu Ibn Taimiyah menjawab: “Berjamaah dalam berdzikir, mendengarkan al-Qur’an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al-Bukhari, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhrrya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka memanggil, “Silahkan sampaikan hajat kalian”, lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi, “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”… Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membaca’a Qur’an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta padi sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisi Rasulullah SAW dan hamba hamba Allah yang saleh, zaman dulu dan sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah)

      Untuk penjamuan tamu itu bukan suatu larangan, kewajiban dan paksaan, setiap orang boleh mengamalkan menurut kemampuannya, tidak ada hadits yang mengharamkan atau melarang keluarga mayyit untuk menjamu tamu orang-orang yang ta’ziah atau yang berkumpul untuk membaca do’a bersama untuk si mayyit..
      diriwayatkan dalam hadits bahwa Rasulallah saw. tatkala datang berita wafatnya Ja’far bersabda; ‘Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, karena telah datang kepada mereka urusan yang menyibukkan’

      Tetapi riwayat itu bukan berarti keluarga si mayyit haram untuk mengeluar- kan jamuan kepada para tamu yang hadir. Begitu juga orang yang hadir tidak diharamkan untuk menyuap makanan yang disediakan oleh keluarga mayyit. Penjamuaan itu semua adalah sebagai amalan sedekah dan suka rela terserah pada keluarga mayyit. Rasulallah saw. sendiri setelah mengubur mayit pernah diundang makan oleh keluarga si mayyit dan beliau memakan nya.

      Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu dawud dan Baihaqi dari Ashim bin Kulaib dari ayah seorang sahabat Anshar, berkata:
      “Kami telah keluar menyertai Rasulallah saw. mengiringi jenazah, maka kulihat Rasulallah saw. berpesan kepada penggali kubur, kata beliau saw., ‘perluaslah arah kedua kakinya, perluaslah arah kepalanya’. Ketika beliau pulang ditemuilah orang yang mengundang dari pihak istrinya (istri mayyit), beliau pun memenuhi undangan itu dan kami menyertainya lalu dihidangkan makanan, maka beliau mengulurkan tangannya, kemudian hadirin mengulur- kan tangan mereka, lalu mereka makan, dan aku melihat Rasulallah saw. mengunyah suapan di mulutnya”.

      Ada riwayat hadits dari Thawus al-Yamani seorang tabi`in terkemuka dari kalangan penduduk Yaman yang bertemu dengan para sahabat Nabi saw. yang menyatakan; ’bahwa orang-orang mati di fitnah atau di uji atau di soal dalam kubur-kubur mereka selama tujuh hari, maka mereka menyukai untuk di berikan makanan sebagai sedekah bagi pihak si mayit sepanjang waktu Ada riwayat hadits dari Thawus al-Yamani seorang tabi`in terkemuka dari kalangan penduduk Yaman yang bertemu dengan para sahabat Nabi saw. yang menyatakan; ’bahwa orang-orang mati di fitnah atau di uji atau di soal dalam kubur-kubur mereka selama tujuh hari, maka mereka menyukai untuk di berikan makanan sebagai sedekah bagi pihak si mayit sepanjang waktu
      Para ulama dalam tiga madzhab (Hanafi, Maliki dan Hanbali) menyatakan bahwa hadits mursal marfu’ ini boleh dijadikan hujjah/dalil secara mutlak, sedangkan ulama madzhab Syafi`i menyatakan boleh dijadikan hujjah jika mempunyai penyokong (selain dari mursal Ibnu Mutsayyib). Dalam konteks hadits Thawus ini, ada dua riwayat penyokongnya yaitu hadits dari ‘Ubaid dan dari Mujahid.

      Sebagaimana yang telah dibahas oleh Imam Ibnu Hajar al-Haitami dalam ’al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah’. Beliau ini ditanya dengan satu pertanyaan yang berhubungan dengan adanya pendapat ulama yang mengatakan bahwa orang mati itu difitnah/diuji atau disoal tujuh hari dalam kubur mereka, apa hadits ini mempunyai asal dari syari’at? Imam Ibnu Hajar menjawab; Bahwa pendapat tersebut mempunyai asal yang kokoh (ashlun ashilun) dalam syara’ di mana sejumlah ulama telah meriwayatkan; 1). Dari Thawus dengan sanad yang shahih, 2). Dari ‘Ubaid bin ‘Umair, dengan bersanad dalilnya dengan Ibnu ‘Abdul Bar, yang merupakan seorang yang lebih terkenal kedudukannya (maqamnya) dari kalangan tabi`in daripada Thawus, bahkan ada yang berkata dan menyatakan bahwa ‘Ubaid bin ‘Umair ini adalah seorang sahabat karena beliau dilahirkan dalam zaman Nabi s.a.w. dan hidup pada sebagian zaman Sayyidina ‘Umar di Makkah. 3). Dari Mujahid. Dan tiga riwayat ini adalah hadits mursal marfu’ karena masalah yang di- katakan itu (berkaitan dengan orang mati) adalah perkara ghaib yang tidak bisa diketahui melalui/secara akal. Apabila masalah semacam ini datangnya dari tabi`in maka ia dihukumkan mursal marfu’ kepada Rasulallah s.a.w. sebagaimana dijelaskan oleh para imam hadits;
      ’Hadits Mursal adalah boleh dijadikan hujjah menurut tiga imam (Hanafi, Maliki dan Hanbali) dan juga di sisi kita (yakni Syafi`i) apabila ia (hadits ini) disokong oleh riwayat lain. Dan Mursal Thawus telah disokong dengan dua (riwayat) mursal yang lain (yaitu Mursal ‘Ubaid dan Mursal Mujahid), bahkan jika kita berpendapat bahwa ‘Ubaid itu seorang sahabat niscaya bersambungan riwayat nya dengan junjungan Nabi saw.’

      Selanjutnya Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa telah sah riwayat daripada Thawus, ’mereka menyukai/memustahabkan untuk diberi makan bagi pihak si mati selama waktu tujuh hari tersebut’. Imam Ibnu Hajar menyatakan bahwa ’mereka’ di sini mempunyai dua pengertian di sisi ahli hadits dan ushul. Pengertian pertama ialah ’mereka’ adalah ’umat pada zaman Nabi saw. di mana mereka melakukannya dengan diketahui dan di persetujui oleh Nabi saw.’. Pengertian kedua mengenai ’mereka’ berarti ’para sahabat saja tanpa dilanjutkan kepada Nabi saw.’. (yakni hanya di lakukan oleh para sahabat saja)”.

      Imam as-Sayuthimengatakan: ”Sesungguhnya sunnat memberi makan tujuh hari, telah sampai kepadaku (yakni Imam as-Sayuthi) bahwasanya amalan ini selalu diamalkan sehingga sekarang (yakni zaman Imam as-Sayuthi) di Makkah dan Madinah. Maka dzahirnya amalan ini tidak pernah ditinggalkan sejak masa para sahabat sehingga sekarang, dan generasi yang datang kemudian telah mengambilnya dari generasi terdahulu sehingga ke generasi awal Islam lagi (ash-shadrul awwal). Dan aku telah melihat kitab-kitab sejarah sewaktu mem- bicarakan biografi para imam, banyak menyebut: ’dan telah berhenti/berdiri manusia atas kuburnya selama tujuh hari di mana mereka membacakan al-Quran’ ”.

      Didalam Islam kita dibolehkan serta dianjurkan untuk berdakwah dengan cara apapun selama cara tersebut tidak keluar dari garis-garis syariat akidah Islam. Berdzikir pada Allah swt. itu boleh diamalkan setiap detik, menit, hari, bulan dan lain-lain lebih sering lebih baik

    2. @Ibn Abdul Chair

      3. Dzikir berjama’ah
      Dalam hadits qudsi, dari Abu Hurairah, Rasulallah saw. bersabda: Allah swt.berfirman:
      Aku ini menurut prasangka hambaKu, dan Aku menyertainya, dimana saja ia berdzikir pada-Ku. Jika ia mengingat-Ku dalam hatinya, maka Aku akan ingat pula padanya dalam hati-Ku, jika ia mengingat-Ku didepan umum, maka Aku akan mengingatnya pula didepan khalayak yang lebih baik. Dan seandainya ia mendekatkan dirinya kepada-Ku sejengkal, Aku akan mendekatkan diri-Ku padanya sehasta, jika ia mendekat pada-Ku sehasta, Aku akan mendekat- kan diri-Ku padanya sedepa, dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, Aku akan datang kepadanya dengan berlari”. (HR. Bukhori Muslim, Turmudzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Baihaqi).

      Allamah Al-Jazari dalam kitabnya Miftaahul Hishnil Hashin berkata: ‘Hadits di atas ini terdapat dalil tentang bolehnya berdzikir dengan jahar/agak keras’. Imam Suyuthi juga berkata: ‘Dzikir dihadapan orang orang tentulah dzikir dengan jahar, maka hadits itulah yang menjadi dalil atas bolehnya’

      Hadits qudsi dari Mu’az bin Anas secara marfu’: Allah swt.berfirman:
      “Tidaklah seseorang berdzikir pada-Ku dalam hatinya kecuali Aku pun akan berdzikir untuknya dihadapan para malaikat-Ku. Dan tidak juga seseorang berdzikir pada-Ku dihadapan orang-orang kecuali Akupun akan berdzikir untuknya ditempat yang tertinggi’ “. (HR. Thabrani).

      Al Mundziri berkata: ‘Isnad hadits di atas ini baik/hasan. Sama seperti pengambilan dalil yang dikemukakan tadi bahwa berdzikir dihadapan orang-orang maksudnya ialah berdzikir secara jahar ’!

      Hadits dari Abu Sa’id Khudri dan Abu Hurairah ra. bahwa mereka mendengar sendiri dari Nabi saw. bersabda:
      “Tidak satu kaum (kelompok) pun yang duduk dzikir kepada Allah Ta’ala, kecuali mereka akan dikelilingi Malaikat, akan diliputi oleh rahmat, akan beroleh ketenangan, dan akan disebut-sebut oleh Allah pada siapa-siapa yang berada disisi-Nya”. (HR.Muslim, Ahmad, Turmudzi, Ibnu Majah, Ibnu Abi Syaibah dan Baihaqi).

      Hadits dari Mu’awiyah:
      “Nabi saw. pergi mendapatkan satu lingkaran dari sahabat-sahabatnya, tanyanya; ‘Mengapa kamu duduk disini?’ Ujar mereka: ‘Maksud kami duduk disini adalah untuk dzikir pada Allah Ta’ala dan memuji-Nya atas petunjuk dan kurnia yang telah diberikan-Nya pada kami dengan menganut agama Islam’. Sabda Nabi saw.; ‘Demi Allah tak salah sekali! Kalian duduk hanyalah karena itu. Mereka berkata; Demi Allah kami duduk karena itu. Dan saya, saya tidaklah minta kalian bersumpah karena menaruh curiga pada kalian, tetapi sebetulnya Jibril telah datang dan menyampaikan bahwa Allah swt. telah membanggakan kalian terhadap Malaikat’ “. (HR.Muslim)

      “Nabi saw. pergi mendapatkan satu lingkaran dari sahabat-sahabatnya, tanyanya; ‘Mengapa kamu duduk disini?’ Ujar mereka: ‘Maksud kami duduk disini adalah untuk dzikir pada Allah Ta’ala dan memuji-Nya atas petunjuk dan kurnia yang telah diberikan-Nya pada kami dengan menganut agama Islam’. Sabda Nabi saw.; ‘Demi Allah tak salah sekali! Kalian duduk hanyalah karena itu. Mereka berkata; Demi Allah kami duduk karena itu. Dan saya, saya tidaklah minta kalian bersumpah karena menaruh curiga pada kalian, tetapi sebetulnya Jibril telah datang dan menyampaikan bahwa Allah swt. telah membanggakan kalian terhadap Malaikat’ “. (HR.Muslim)

      Hadits riwayat Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulallah saw. bersabda:
      “Sesungguhnya Allah memilik sekelompok Malaikat yang berkeling dijalan-jalan sambil mencari orang-orang yang berdzikir. Apabila mereka menemukan sekolompok orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka saling menyeru: ‘Kemarilah kepada apa yang kamu semua hajatkan’. Lalu mereka mengelilingi orang-orang yang berdzikir itu dengan sayap-sayap mereka hingga kelangit. Apabila orang-orang itu telah berpisah (bubar dari majlis dzikir) maka para malaikat tersebut berpaling dan naik kelangit. Maka ber- tanyalah Allah swt. kepada mereka (padahal Dialah yang lebih mengetahui perihal mereka). Allah berfirman: ‘Darimana kalian semua’? Malaikat berkata: Kami datang dari sekelompok hamba-Mu dibumi. Mereka bertasbih, bertakbir dan bertahlil kepada-Mu.
      Allah berfirman; ‘Apakah mereka pernah melihatKu’? Malaikat berkata: Tidak pernah! Allah berfirman; ‘Seandainya mereka pernah melihatKu’? Malaikat berkata; Andai mereka pernah melihat-Mu niscaya mereka akan lebih meningkatkan ibadahnya kepada-Mu, lebih bersemangat memuji-Mu dan lebih banyak bertasbih pada-Mu. Allah berfirman; ‘Lalu apa yang mereka pinta pada-Ku’? Malaikat berkata; Mereka minta sorga kepada-Mu.
      Allah berfirman; ‘Apa mereka pernah melihat sorga’? Malaikat berkata; Tidak pernah! Allah berfirman; ‘Bagaimana kalau mereka pernah melihatnya’? Malikat berkata; Andai mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan ber- tambah semangat terhadapnya, lebih bergairah memintanya dan semakin besar keinginan untuk memasukinya. Allah berfirman; ‘Dari hal apa mereka minta perlindungan’? Malaikat berkata; Dari api neraka. Allah berfirman; ‘Apa mereka pernah melihat neraka’? Malaikat berkata; Tidak pernah!
      Allah berfirman: ‘Bagaimana kalau mereka pernah melihat neraka’? Malaikat berkata; Kalau mereka pernah melihatnya niscaya mereka akan sekuat tenaga menghindarkan diri darinya. Allah berfirman; ‘Aku persaksikan kepadamu bahwasanya Aku telah mengampuni mereka’. Salah satu dari malaikat berkata; Disitu ada seseorang yang tidak termasuk dalam kelompok mereka, dia datang semata-mata karena ada satu keperluan (apakah dia akan diampuni juga?). Allah berfirman; ‘Mereka (termasuk seseorang ini) adalah satu kelompok dimana orang yang duduk bersama mereka tidak akan kecewa’ “. Sedangkan dalam riwayat Muslim ada tambahan pada kalimat terakhir: ‘Aku ampunkan segala dosa mereka, dan Aku beri permintaan mereka’.

      Al-Baihaqiy meriwayatkan Hadits dari Anas bin Malik ra bahwa Rasulallah saw. bersabda:
      “Sungguhlah aku berdzikir menyebut (mengingat) Allah swt. bersama jamaah usai sholat Shubuh hingga matahari terbit, itu lebih kusukai daripada dunia seisinya.”
      Juga dari Anas bin Malik ra riwayat Abu Daud dan Al-Baihaqiy bahwa Nabi saw. bersabda: ‘Sungguhlah aku duduk bersama jamaah berdzikir menyebut Allah swt. dari sholat ‘ashar hingga matahari terbenam, itu lebih kusukai daripada memerdekakan empat orang budak.’

      Riwayat Al Baihaqy dari Abu Sa’id Al Khudrij ra, Rasulallah saw bersabda:
      “Allah jalla wa ‘Ala pada hari kiamat kelak akan bersabda: ’Pada hari ini ahlul jam’i akan mengetahui siapa orang ahlul karam (orang yang mulia). Ada yg bertanya: Siapakah orang-orang yg mulia itu? Allah menjawab, Mereka adalah orang-orang peserta majlis-majlis dzikir di masjid-masjid ”.

    3. @Ibn Abdul Chair
      4. Tawassul
      Pada dasarnya ziarah kubur itu sunnat dan ada pahalanya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda:
      “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Dulu aku melarang kamu ziarah kubur. Sekarang ziarahlah.” (HR. Muslim). Dalam satu riwayat, “Barangsiapa yang henda ziarah kubur maka ziarahlah, karena hal tersebut dapat mengingatkan kita pada akhirat.” (Riyadh al-Shalihin)

      Al-Hafizh Waliyyuddin al-’Iraqi berkata ketika menguraikan maksud hadits:
      “Sesungguhnya Nabi Musa u berkata, “Ya Allah, dekatkanlah aku kepada tanah suci sejauh satu lemparan dengan batu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, seandainya aku ada disampingnya, tentu aku beritahu kalian letak makam Musa, yaitu di tepi jalan di sebelah bukit pasir merah.”
      Ketika menjelaskan maksud hadits tersebut, al-Hafizh al-’Iraqi berkata:
      “Hadits tersebut menjelaskan anjuran mengetahui makam orang-orang saleh untuk dizarahi dan dipenuhi haknya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan tanda-tanda makam Nabi Musa u yaitu pada makam yang sekarang dikenal masyarakat sebagai makam beliau. Yang jelas, tempat tersebut adalah makam yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.”
      (Tharh al-Tatsrib).

      Allah swt berfirman : “Hai orang – orang yang beriman, bertakwalah atau patuhlah kepada Allah swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah SWT dan berjuanglah di jalan Allah swt, agar kamu mendapatkan keberuntungan” (QS.Al-Maidah-35).

      1. Tawassul adalah salah satu metode berdoa dan salah satu pintu dari pintu-pintu untuk menghadap Allah SWT. Maksud sesungguhnya adalah Allah. Obyek yang dijadikan tawassul berperan sebagai mediator untuk mendekatkan diri kepada Allah. Siapapun yang meyakini di luar batasan ini berarti ia telah musyrik.
      2. Orang yang melakukan tawassul tidak bertawassul dengan mediator tersebut kecuali karena ia memang mencintainya dan meyakini bahwa Allah mencintainya. Jika ternyata penilaiannya keliru niscaya ia akan menjadi orang yang paling menjauhinya dan paling membencinya.
      3. Orang yang bertawassul jika meyakini bahwa media yang dijadikan untuk bertawassul kepada Allah itu bisa memberi manfaat dan derita dengan sendirinya sebagaimana Allah atau tanpa izin-Nya, niscaya ia musyrik.
      4. Tawassul bukanlah suatu keharusan dan terkabulnya do’a tidaklah ditentukan dengannya. Justru yang asli adalah berdoa kepada Allah secara mutlak, sebagaimana firman Allah yang artinya : “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Q.S.Al.Baqarah : 186),
      Juga dalam firmanNya : “Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai Al-Asmaa Al-Husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam shalatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu.” (Q.S.Al-Israa` : 110)

      pada riwayat Shahih Bukhari :
      Dari Anas bin Malik ra sungguh Umar bin Khattab ra ketika sedang musim kering ia memohon turunnya hujan dengan perantara Abbas bin Abdulmuttalib ra, seraya berdoa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami (Muhammad saw) agar Kau turunkan hujan lalu Kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas
      bin Abdulmuttalib ra) yang melihat beliau Sang Nabi saw maka turunkanlah hujan maka hujanpun turun dengan derasnya.”
      Berkata Hujjatul Islam Al imam Ibn Hajar Al Asqalaniy mensyarahkan hadits ini :
      maka diambil faidah dari kejadian Abbas ra ini menjadi hal yang baik memohon syafaat pada orang – orang yang baik dan shalih, dan keluarga Nabi saw, dan pada hadits ini pula menyebutkan keutamaan Abbas ra dan keutamaan Umar ra karena rendah dirinya, dan kefahamannya akan kemuliaan Abbas ra.

      al-Hafizh Ibn Katsir al-Dimasyqi, murid terkemuka Syaikh Ibn Taimiyah, dalam kitabnya al-Bidayah wa al-Nihayah. Beliau berkata:
      “Al-Hafizh Abu Bakar al-Baihaqi berkata, Abu Nashr bin Qatadah dan Abu Bakar al-Farisi mengabarkan kepada kami, Abu Umar bin Mathar mengabarkan kepada kami, Ibrahim bin Ali al-Dzuhli mengabarkan kepada kami, Yahya bin Yahya mengabarkan kepada kami, Abu Muawiyah mengabarkan kepada kami, dari al-A’masy, dari Abu Shalih, dari Malik al-Dar, bendahara pangan Khalifah Umar bin al-Khaththab, bahwa musim paceklik melanda kaum Muslimin pada masa Khalifah Umar. Maka seorang sahabat (yaitu Bilal bin al-Harits al-Muzani) mendatangi makam Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan mengatakan: “Hai Rasulullah, mohonkanlah hujan kepada Allah untuk umatmu karena sungguh mereka benar-benar telah binasa”. Kemudian orang ini bermimpi bertemu dengan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam dan beliau berkata kepadanya: “Sampaikan salamku kepada Umar dan beritahukan bahwa hujan
      akan turun untuk mereka, dan katakan kepadanya “bersungguh-sungguhlah melayani umat”. Kemudian sahabat tersebut datang kepada Umar dan memberitahukan apa yang dilakukannya dan mimpi yang dialaminya. Lalu Umar menangis dan mengatakan: “Ya Allah, saya akan kerahkan semua upayaku kecuali yang aku tidak mampu”. Sanad hadits ini shahih.

  30. Mungkin menurut Ibnu Abdul Chair, ulama-ulama yang disebut Mas Agung itu tidak paham Al Qur’an dan Hadits. Dengan kata lain Ibnu Abdul Chair merasa lebih pandai dari para imam tersebut. Atau mungkin Ibnu Abdul Chair, ilmunya belum sampe, karena hanya membaca buku-buku yang diterbitkan Wahabi. Belum membaca kitab-kitab ahlus sunnah yang asli, bukan terjemahan yang telah diubah. Atau ada yang berpendat lain?

  31. :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen: :mrgreen: 💡 🙄 😈 😈 😈 😈 😈 😈 😈 😈 😈 😈
    ini blog macam apa,,,naya bs jawab bisa pake satu email,,cuma ganti nama

    MAA HIYA AL BID’AH ?

    Muqoddimah

    Bismillah, ….

    Kata BID’AH …..

    1. Memang antum bisa ganti-ganti nama, tapi coba perhatikan GRAVATAR antum tetap berwarna ungu dengan corak yang sama persis. Itu artinya penyamaran antum ketahuan. Nah, kasus antum ini sama seperti Abdul kholik@ yang menyamar dengan ganti-ganti nick-name kemarin, tapi ketahuan oleh Mas Yanto Jenggot karena GRAVATAR-nya tetap hijau semua.

      Sekali lagi coba perhatikan GRAVATAR antum, tetap sama kan, meskipun nama antum berbeda?

  32. ibn abdul chair says:
    October 28, 2012 at 9:17 pm

    Peringatan maulid nabi tidak ada dalilnya. jadi sesuai kaidah, tidak ada ikhtilifah pada yang tidak ada dalil. Ini saja cukup bagi orang-orang yang berilmu.
    Lagipula, semua pendapat/fatwa dari para imam mu’tabar yang dikemukakan oleh Agung, sama sekali tidak ada hubungannya dengan perayaan maulid nabi.
    Tapi….maulid asyik juga sih, orang awwamnya bisa makan enak berbulan-bulan, terus… ustadz/kyai-nya dapat amplop bertumpuk-tumpuk. Gimana bisa ninggalinnya…?

    mari kita buktikan orang wahabi orang2 yg bodoh dan jika mrk bisa menjawab pertanyaan saya mereka adalah benar sedangang orang lain adalah salah saya kasih hadiah 10 juta
    silahkan jawab

    Assalamu’alaikum
    setiap orang salafi-wahabi sepakat bahwa jema’ah tabliqh dgn khurujnya 3 hari/bln, 40 hari/thn dan 4 bln adalah bid’ah begitu jg orang NU, NW dan siapa saja yg mengamalkan yasinan, tahlilan, isra mi’raj serta mengadakan maulid nabi dan hal2 baru yg tdk pernah dicontohkan dan diucapkan nabi termasuk perbuatan bid’ah dan pelakunya divonis sesat dan berakhir dineraka.
    dalilnya adalah :
    “Berhati-hatilah dari hal yang baru, karena setiap yang baru itu bid’ah dan setiap kebid’ahan itu sesat.(HR. Tirmidji dan Ibnu Majah).
    “Barangsiapa yang membuat-buat dalam perkaraku(agamaku) ini, sesuatu yang bukan darinya maka dia tertolak.”(HR. Bukhari Muslim).
    “Barangsiapa yang beramal satu amalan yang tidak ada perintahku padanya, maka dia tertolak.”(HR. Muslim).
    ketika ada org yg menjelaskan hal tsb dgn alasan yg logis maka org salafi-wahabi akan berkata :
    1. Bukankah agama islam ini sudah sempurna sehingga tdk perlu ada penambahan
    2. Apakah Rasulullah pernah merintahkannya ? jika tdk kenapa anda melakukannya.
    3. Kalolah perbuatan itu baik pasti Rasulullah, sahabat dan tabi’in akan mengamalkannya terlebih dahulu.
    Lalu timbul pertanyaan, bagaimana dengan orang2 salafi-wahabi yg melakukan hal (perkara baru) yg sama seperti jemaah tabligh, NU,NW dll seperti :
    a. Membagi tauhid menjadi 3 (Rubbubiyah, Uluhiyah dan asma wa sifat)
    b. mengadakan tabliqh akbar dimana wanita, pria dan anak2 berkumpul disatu tempat
    c. mengadakan pengajian sekali seminggu
    Sepengetahuan saya bukankah ketiga hal (a,b dan c) tsb juga tdk pernah dilakukan/diucapkan/diperintahkan nabi, dan bagaiman jika pernyataan point 1,2,3 yg diatas ditanyakan kembali kepada salafi yg melakukan point a,b dan c.
    yang ingin saya tanyakan kenapa jika orang2 diluar salafi yg melakukannya itu adalah perbuatan bid’ah dan sesat tp jika orang2 salafi-wahabi yg melakukannya, hal tsb menjadi halal. (murni utk mencari kebenaran dan utk menambah pengetahuan agama). mohon penjelasannya

  33. MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB BUKAN TSIQOH.

    Penulis : Von Edison Alouisci
    Palembang. Sumatra Selatan. Indonesia

    Web : http://v-e-alouisci.blogspot.com

    Assalamu`alaikum warokhmatullahi wabarokatuh.

    Saudaraku kaum muslimin Yang di berkahi Allah.

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Rabbku memerintahkanku untuk mengajarkan yang tidak kalian ketahui yang Ia ajarkan padaku pada hari ini: ‘Semua yang telah Aku berikan pada hamba itu halal, Aku ciptakan hamba-hambaKu ini dengan sikap yang lurus, tetapi kemudian datanglah syaitan kepada mereka. Syaitan ini kemudian membelokkan mereka dari agamanya, dan mengharamkan atas mereka sesuatu yang Aku halalkan kepada mereka, serta mempengaruhi supaya mereka mau menyekutukan Aku dengan sesuatu yang Aku tidak turunkan keterangan padanya”. (HR Muslim 5109)
    Allah Azza wa Jalla berfirman, “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )
    Ketika Nabi ditanya terkait dengan ayat ini, “apakah mereka menyembah para rahib dan pendeta sehingga dikatakan menjadikan mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah?” Nabi menjawab, “tidak”, “Mereka tidak menyembah para rahib dan pendeta itu, tetapi jika para rahib dan pendeta itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka menganggapnya halal, dan jika para rahib dan pendeta itu mengharamkan bagi mereka sesuatu, mereka mengharamkannya“
    Pada riwayat yang lain disebutkan, Rasulullah bersabda ”mereka (para rahib dan pendeta) itu telah menetapkan haram terhadap sesuatu yang halal, dan menghalalkan sesuatu yang haram, kemudian mereka mengikutinya. Yang demikian itulah penyembahannya kepada mereka.” (Riwayat Tarmizi)
    Jadi mereka yang melarang yang tidak dilarangNya, mengharamkan yang tidak diharamkanNya atau mewajibkan yang tidak diwajibkanNya, telah bertasyabuh dengan kaum kafir yakni menjadikan ulama-ulama mereka “sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 )

    Lihatlah saudaraku.tanpa disadari Muhammad Bin Abdul Wahab menjadikan dirinya seakan Tuhan selain Allah sebagaimana rahib rahib dan pendeta itu.mengharamkan sesuatu yang belum tentu haram. Mengkafirkan sesama muslim dengan ketentuan yang belum jelas pokok persoalannya terhadap sesama muslim.men syirikkan sesama muslim sementara akar persoalannya tidak memenuhi ketentuan hukam Islam sesungguhnya sebagai syarat mutlak.Membidahkan amalan sesama muslim sementara ia tidak menyadari dirinya sebagai pelaku bid`ah dan tidak pula memenuhi syarat secara umum menurut kesepakatan ulama ulama mukhtabar, salafus sholeh.kurafur rasyidin.ahli ahli hadits terdahulu yang jauh lebih mumpuni di bidangnya.siapa yang syirik ??

    sementara telah kita lihat mengenai pengikutnya.ketika Muhammad bin abdul wahab mengangap itu haram maka merekapun mengharamkannya. Ketika dia menganggap itu kafir merekapun mengkafirkannya.ketika dia mensyirikkannya,merekapun mensyirikkannya dan ketika membidahkan amalan org lain maka pengikutpun yang belum paham pokok pokok ketentuannya juga ikut ikutan membidahkan amalan org lain.mereka lupa jika Muhammad bin Abdul Wahab belum ada apa apanya ketimbang ulama ulama besar sebelum dirinya.mereka lupa ada byk sekali Ulama ulama hebat yang sebenarnya lebih pantas sebagai panutan namun mereka tidak mengharapkan sesuatu nilai kesombongan karna mereka mengenal hakekat zuhud. Wara`.qonaah.sebagai ulama sejati.mereka tidak gila untuk menjadi pemimpin Umat, membuat Firqoh Firqoh yang menimbulkan benih perpecahan sesama muslim walau sebenarnya mereka lebih mampu ketimbang muhammad bin abdul wahab .cobalah saudara renungi dalam dalam hekekat kehidupan mereka dan cobalah saudara renungi, ketika mereka dihadapkan pada suatu persoalan agama maka mereka menyelesaikannya secara bersama sama yang pada akhirnya muncul kesepakatan secara keseluruhan. Walau ada sebagian kecil perbedaan,mereka tidak pula memaksa agar apa yang mereka yakini harus dituruti karna merasa benar.lihatlah para imam madzab.mereka tidak pernah memaksa mengikuti keyakinan mereka jika bertentangan dgn Quran dan sunnah serta ketentuan bersama para Ulama ketika itu.siapa yang syirik ??

    Dari Abul Abbas — Sahl bin Sa’ad As-Sa’idy — radliyallahu ‘anhu, ia berkata: Datang seorang laki-laki kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata: “Wahai Rasulullah! Tunjukkan kepadaku suatu amalan yang jika aku beramal dengannya aku dicintai oleh Allah dan dicintai manusia.” Maka Rasulullah menjawab: “Zuhudlah kamu di dunia niscaya Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang ada pada manusia niscaya mereka akan mencintaimu.” (Hadist shahih diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya).

    kita bandingkan dgn Muhammad bin abdul wahab. Adakah ia bersikap zuhud sebagaimana petunjuk Rasulullah ?? apakah semua umat muslim mencintainya seperti Imam Ahli hadits Buhari. Muslim dll yang di jadikan patokan seluruh umat Islam dalam ilmu hadits ?? Muhammad bin abdul wahab hanya berpegang teguh pada keyakinan diri sendiri secara sepihak.memaksakan kehendak agar minta diikuti sementara apa yang menjadi pegangannya tidak sekalipun menjadi kesepakatan seluruh ulama sebelumnya bahkan semasa dgn dirinya kecuali org org yang telah dipengaruhinya dan menjadikannya sebagai pemimpin dalam kelompoknya.sekali lagi seperti firman Allah Azza wa Jalla , “Mereka menjadikan para rahib dan pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah“. (QS at-Taubah [9]:31 ) dan “orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang beriman adalah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik” (QS Al Maaidah [5]: 82) bukankah muhammad bin abdul wahab termasuk paling keras permusuhannya dengan sesama muslim ??

    Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa memilih seseorang menjadi pemimpin untuk suatu kelompok, yang di kelompok itu ada orang yang lebih diridhai Allah dari pada orang tersebut, maka ia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.” (HR. Hakim) Tidakkah pengikut wahabi menyadari hal ini ?? tidakkah wahabi menyadari masih ada pemimpin yang jauh lebih memahami ilmu ilmu agama ketimbang muhammad bin abdul wahab dan bukankah muhammad bin abdul wahab sebelumnya hanya belajar dari sebagian kecil ilmu ilmu mereka ?? Sungguh tidak ada seorang muslim sejati yang takut kepada Muhammad bin Abdul wahab selain hanya kepada Allah.Dan sungguh kewajiban seorang muslim untuk ber amar ma`ruf dan bernahi munkar terhadap pemimpin yang demikian dantidak pula menjadi rujukkan ulama kebanyakan dan bahkan bukan tergolong tsiqoh.

    Syaikh Ahmad bin Muhammad al-Amin bin Ahmad Asy-Syinqithi dalam bukunya Majalis Ma’a Fadhilah asy-Syaikh Muhammad al-Amin al-Jakna Asy-Syinqithi’ menuliskan bahwa Syaikh Muhammad al-Amin al-Jakna asy-Syinqithi pernah mengatakan dihadapan mufti kerajaan dinasti Saudi, “Siapa yang mengabarkanmu bahwa Nabi yang diutus kepadaku dan yang wajib aku imani bernama Muhammad bin Abdul Wahhab?!! Sesungguhnya Nabi yang diutus kepadaku dan yang wajib aku imani namanya Muhammad bin Abdullah, yang dilahirkan di Makkah bukan dilahirkan di Huraimla, dikubur di Madinah bukan dikubur di Dir’iyyah, dia datang dengan membawa kitab namanya al-Qur’an, dan al-Qur’an itu aku bawa diantara dua lempengku. Dialah yang wajib diimani“.

    Syaikh Ahmad bin Muhammad al amin adalah salah satu ulama besar dan sangat paham apa yang terjadi terhadap diri pribadi muhammad bin abdul wahab.dan menunjukan Nilai Minus terhadap muhammad bin Abdul wahab sebagai seorang yang tidak pantas untuk dia ikuti.
    Dan sebuah fakta menarik lihatlah sudut pandang ulama ulama hebat madazb masa lalu mengenai diri muhammad bin abdul wahab yang jelas menunjukkan Dia org yang cacat dan tidak tergolong Tsiqoh bahkan KUFUR

    1. ‘ULAMA KALANGAN MADZHAB HANAFI

    Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar tantang Wahhabi sebagai berikut:

    “مَطْلَبٌ فِي أَتْبَاعِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْخَوَارِجِ فِيْ زَمَانِنَا :كَمَا وَقَعَ فِيْ زَمَانِنَافِيْ أَتْبَاعِ ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ الَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ نَجْدٍ وَتَغَلَّبُوْا عَلَى الْحَرَمَيْنِ وَكَانُوْايَنْتَحِلُوْنَ مَذْهَبَ الْحَنَابِلَةِ لَكِنَّهُمْ اِعْتَقَدُوْا أَنَّهُمْ هُمُ الْمُسْلِمُوْنَ وَأَنَّ مَنْ خَالَفَاعْتِقَادَهُمْ مُشْرِكُوْنَ وَاسْتَبَاحُوْا بِذَلِكَ قَتْلَ أَهْلِ السُّنَّةِ وَقَتْلَ عُلَمَائِهِمْ حَتَى كَسَرَ اللهُشَوْكَتَهُمْ وَخَرَبَ بِلاَدَهُمْ وَظَفِرَ بِهِمْ عَسَاكِرُ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَ ثَلاَثٍ وَثَلاَثِيْنَ وَمِائَتَيْنِوَأَلْفٍ.” اهـ (ابن عابدين، حاشية رد المحتار، ٤/٢٦٢).

    “Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).

    2. ‘ULAMA KALANGAN MADZHAB MALIKI

    Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:

    هَذِهِ اْلآَيَةُ نَزَلَتْ فِي الْخَوَارِجِ الَّذِيْنَ يُحَرِّفُوْنَ تَأْوِيْلَ الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ وَيَسْتَحِلُّوْنَ بِذَلِكَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَأَمْوَالَهُمْ كَمَا هُوَ مُشَاهَدٌ اْلآَنَ فِيْ نَظَائِرِهِمْ وَهُمْ فِرْقَةٌ بِأَرْضِ الْحِجَازِ يُقَالُ لَهُمُ الْوَهَّابِيَّةُ يَحْسَبُوْنَ أَنَّهُمْ عَلىَ شَيْءٍ أَلاَ إِنَّهُمْ هُمُ الْكَاذِبُوْنَ. (حاشية الصاوي على تفسير الجلالين، ٣/٣٠٧).

    “Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, juz 3, hal. 307).

    3. ‘ULAMA KALANGAN MADZHAB SYAFI’I

    Dari kalangan ulama madzhab Syafi’i, al-Imam al-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, guru pengarang I’anah al-Thalibin, kitab yang sangat otoritatif (mu’tabar) di kalangan ulama di Indonesia, berkata tentang Wahhabi :

    وَكَانَ السَّيِّدُ عَبْدُ الرَّحْمنِ الْأَهْدَلُ مُفْتِيْ زَبِيْدَ يَقُوْلُ: لاَ يُحْتَاجُ التَّأْلِيْفُ فِي الرَّدِّ عَلَى ابْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ، بَلْ يَكْفِي فِي الرَّدِّ عَلَيْهِ قَوْلُهُ صلى الله عليه وسلم سِيْمَاهُمُ التَّحْلِيْقُ، فَإِنَّهُ لَمْ يَفْعَلْهُ أَحَدٌ مِنَ الْمُبْتَدِعَةِ اهـ (السيد أحمد بن زيني دحلان، فتنة الوهابية ص/٥٤).

    “Sayyid Abdurrahman al-Ahdal, mufti Zabid berkata: “Tidak perlu menulis bantahan terhadap Ibn Abdil Wahhab. Karena sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu “Tanda-tanda mereka (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam ajaran Wahhabi, harus mencukur rambutnya)”. Karena hal itu belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan ahli bid’ah.” (Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Fitnah al-Wahhabiyah, hal. 54).

    4. DARI ‘ULAMA KALANGAN MADZHAB HAMBALI YANG KATANYA WAHABI NGIKUT MADZAB HAMBALI

    Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut:

    عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ سُلَيْمَانَ التَّمِيْمِيُّ النَّجْدِيُّ وَهُوَ وَالِدُ صَاحِبِ الدَّعْوَةِ الَّتِيْ انْتَشَرَشَرَرُهَا فِي اْلأَفَاقِ لَكِنْ بَيْنَهُمَا تَبَايُنٌ مَعَ أَنَّ مُحَمَّدًا لَمْ يَتَظَاهَرْ بِالدَّعْوَةِ إِلاَّ بَعْدَمَوْتِ وَالِدِهِ وَأَخْبَرَنِيْ بَعْضُ مَنْ لَقِيْتُهُ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ عَمَّنْ عَاصَرَ الشَّيْخَ عَبْدَالْوَهَّابِ هَذَا أَنَّهُ كَانَ غَاضِبًا عَلىَ وَلَدِهِ مُحَمَّدٍ لِكَوْنِهِ لَمْ يَرْضَ أَنْ يَشْتَغِلَ بِالْفِقْهِكَأَسْلاَفِهِ وَأَهْلِ جِهَتِهِ وَيَتَفَرَّسُ فِيْه أَنَّهُ يَحْدُثُ مِنْهُ أَمْرٌ .فَكَانَ يَقُوْلُ لِلنَّاسِ: يَا مَا تَرَوْنَ مِنْ مُحَمَّدٍ مِنَ الشَّرِّ فَقَدَّرَ اللهُ أَنْ صَارَ مَاصَارَ وَكَذَلِكَ ابْنُهُ سُلَيْمَانُ أَخُوْ مُحَمَّدٍ كَانَ مُنَافِيًا لَهُ فِيْ دَعْوَتِهِ وَرَدَّ عَلَيْهِ رَدًّا جَيِّداًبِاْلآَياَتِ وَاْلآَثاَرِ وَسَمَّى الشَّيْخُ سُلَيْمَانُ رَدَّهُ عَلَيْهِ ( فَصْلُ الْخِطَابِ فِي الرَّدِّ عَلىَمُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الْوَهَّابِ ) وَسَلَّمَهُ اللهُ مِنْ شَرِّهِ وَمَكْرِهِ مَعَ تِلْكَ الصَّوْلَةِ الْهَائِلَةِ الَّتِيْأَرْعَبَتِ اْلأَبَاعِدَ فَإِنَّهُ كَانَ إِذَا بَايَنَهُ أَحَدٌ وَرَدَّ عَلَيْهِ وَلَمْ يَقْدِرْ عَلَى قَتْلِهِ مُجَاهَرَةًيُرْسِلُ إِلَيْهِ مَنْ يَغْتَالُهُ فِيْ فِرَاشِهِ أَوْ فِي السُّوْقِ لَيْلاً لِقَوْلِهِ بِتَكْفِيْرِ مَنْ خَالَفَهُوَاسْتِحْلاَلِ قَتْلِهِ. اهـ (ابن حميد النجدي، السحب الوابلة على ضرائح الحنابلة، ٢٧٥).

    “Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).

    Ada banyak sekali Ulama ulama besar lainnya yang tidak bisa dijelaskan satu persatu namun jelas membuktikan tidak layaknya seorang muhammad bin abdul wahab sebagai panutan bagi umat muslim dan tentu saja bagi yang berfikir jernih lebih memilih suara terbanyak yang jelas dan bukan pula suara ulama ulama sembarangan.Ibarat ilmu hadit maka seringkali hukum sanad adalah penting menentukan nilai suatu hadits. Begitu juga ulama. Maka ulama ulama bersanad adalah lebih utama ketimbang pemimpin yang tidak jelas sanad ilmunya karna dgn tidak jelas maka berarti cacat dan tidak tsiqoh.bukankah jika Hadits saja ada rawi yang cacat mengurangi nilai hadits bahkan bisa menjadi hadits munkar ?? begitu juga dgn muhammad bin abdul wahab.bukankah dari seluruh data ulama ulama muktabar tidak menunjukkan dia Tsiqoh ?? maka apakah pantas dia jadi panutan ?? Cobalah renungi dalam dalam jika kita ambil contoh seperti hadits yang cacat karna rawinya tercela.

    Mari kita simak lagi pelaku pelaku utama dalam melihat prilaku Muhammad bin Abdul wahab berikut ini :

    1.PERNYATAAN SAUDARA KANDUNGNYA

    Lihat apa yang dikatakan adik Muhhamad Abdul Wahab ini kepada kakaknya. Sulaiman bin Abdul Wahhab adalah tokoh murni Ahlu Sunnah wal Jammaah beliau dalam kitabnya yang berjudul [Ash-shawa’iq Al-ilahiyyah fi Ar-radd ‘ala Al-wahabiyyah], kepada Muhammad Abdul Wahhab beliau bertutur: “Sejak jaman sebelum Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu pada jaman para imam Islam, belum pernah ada yang meriwayatkan bahwa seorang imam kaum Muslimin mengkafirkan sesama, mengatakan kepada mereka murtad dan memerintahkan untuk memerangi mereka. Belum pernah ada seorang pun dari para imam kaum Muslimin yang menamakan negeri kaum Muslimin sebagai negeri syirik dan negeri perang, sebagaimana yang Anda [Muhammad Abdul Wahab. Red] katakan sekarang. Bahkan lebih jauh lagi, Anda mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkan perbuatan-perbuatan ini, meskipun dia tidak melakukannya. Kurang lebih telah berjalan delapan ratus tahun atas para imam kaum Muslimin, namun demikian tidak ada seorang pun dari para ulama kaum Muslimin yang meriwayatkan bahwa mereka [para imam kaum Muslimin] mengkafirkan orang Muslim. Demi Allah, keharusan dari perkataan Anda ini ialah Anda mengatakan bahwa seluruh umat setelah jaman Ahmad -semoga rahmat Allah tercurah atasnya- baik para ulamanya, para penguasanya dan masyarakatnya, semua mereka itu kafir dan murtad. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” [lihat perkataan Muhammad Wahhab dalam novel Risalah Arba’ah Qawa’id, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal 4].

    Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab juga berkata di dalam halaman 4 dalam kitabnya: “Hari ini umat mendapatkan musibah dengan orang yang menisbahkan dirinya kepada Al-qur’an dan As-sunnah, menggali ilmu dari keduanya, namun tidak mempedulikan orang yang menentangnya. Jika dia diminta untuk memperlihatkan perkataannya kepada ahli ilmu, dia tidak akan melakukannya. Bahkan, dia mengharuskan manusia untuk menerima perkataan dan pemahamannya. Barangsiapa yang menentangnya, maka dalam pandangannya orang itu seorang yang kafir. Demi Allah, pada dirinya tidak ada satu pun sifat seorang ahli ijtihad. Namun demikian, begitu mudahnya perkataannya menipu orang-orang yang bodoh. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ya Allah, berilah petunjuk orang yang sesat ini, dan kembalikanlah dia kepada kebenaran.”

    2.PERNYATAAN AYAH KANDUNGNYA

    Mari kita simak lagi peranan sang bapak untuk meluruskan kembali pemikiran rusak si anak durhaka Muhammad Abdul Wahhab. Dikatakan bahwa Mufti Makkah, Zaini Dahlan mengatakan:”Abd Al-wahhab sang alim, bapak Muhammad bin abdul wahab adalah seorang yang salih, qadhi dan merupakan seorang tokoh ahli ilmu, begitulah juga dengan Al-syaikh Sulayman. Al-syaikh bin Abd Al-wahhab dan al-Syaikh Sulayman, kedua-duanya sejak awal ketika Muhammad mengikuti pengajarannya di Madinah al-Munawwarah telah mengetahui pendapat dan pemikiran Muhammad yang meragukan. Keduanya telah mengkritik, menasehati dan mencela pendapatnya dan mereka berdua pulalah yang memperingatkan kepada masyarakat mengenai bahaya pemikiran Muhammad ini “ [Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, h.357.]

    Disana dijelaskan lagi bahwa Zaini Dahlan mengatakan:” Bapaknya [Abd al-Wahhab], saudaranya Sulayman dan guru-gurunya sejak dini telah mengenali tanda-tanda penyelewengan agama (ilhad) dalam dirinya melihat dari perkataan, perbuatan dan tentangan Muhammad bin abd wahab terhadap banyak persoalan agama”.[Zaini Dahlan, al-Futuhat al-Islamiyah, Vol. 2, h.357.]

    ulama besar bersanad yang jelas sangat mengerti kejadian kejadian masa lampau terkait muhammad bin abdul wahab.

    Tulisanku ini hanya sebagai bahan renungan bagi diriku.keluargaku.sanak familiku dan saudara saudaraku sesama muslim yang masih diberikan Akal yang jernih, Mata hati yang yang senantiasa melihat.Telinga bathin yang senantiasa mendengar.dan Qalbu yang penuh dgn perenungan sebagai wujud kecintaan dari Allah untuk memahami mana yang pantas dijadikan pedoman hidup sebelum ajal menjemput menghadap diriNya..

    pesan ku hati hatilah memahami ayat ayat mutasyibat karna itu kunci baik atau buruknya keyakinan seseorang dalam memahami Allah.jika kita salah meletakkan pemahaman tentang hal ini maka seribu kali sholat sehari semalam. Naik haji sejuta kali. Zakat triliunan.puasa tak berkesudahan maka itu hanya sebuah cerita sia sia.ibarat orang kristen naik haji.bayar zakat.puasa..jelas tidak ada gunanya karna akidahnya kristen.ibarat yahudi naik haji.bayar zakat.puasa,jelas tidak ada gunany karna dia yahudi menafikkan hukum islam.ibarat org islam nai haji. Sholat. Zakat maka itu juga sia sia jika ia menganggap tuhan seolah olah atau paling tidak dibayangkan berwujud makhluk .karna ini sama saja dgn bertuhan dgn berhala walau menyebut Allah sebagai namanyadan islam sebagai jalannya.tentu saja Islamnya menjadi islam versi lain.

    Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, “Sunu ‘Aqaidakum Minat Tamassuki Bi Dzahiri Ma Tasyabaha Minal Kitabi Was Sunnati Lianna Dzalika Min Ushulil Kufri”, “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

    Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbiat Al-Ghabiy Bi Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh Allah, yad , ain dan istiwa sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir (kufur dalam i’tiqod) secara pasti.”

    semoga Ahlusunnah wal jama`ah senatiasa mendapat berkah.senantiasa menjadi besar dimana pengikutnya adalah insan insan yang berfikir cerdas karna dikaruniai akal yang ia pergunakan bijak melalui bimbingan .ulama ulama bersanad yang kadar ilmunya bersambung secara jelas dgn ulama ulama muktabar terbaik ,kulafur rasidin.salafus sholeh dan pada akhirnya kepada Rasulullah dimana akidahnya jelas ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TIDAK BERARAH.

    Terakhir. Hati hatilah terhadap sikap Riya`.dan khusus ahlussunnah waljama`ah (Bukan yang palsu) kita tidak perlu mengaku ‘ PENGIKUT SALAFUS SHOLEH .ATAU BERMANHAJ SALAF “ karna akidah kita sudah jelas menunjukan hal itu tanpa perlu berbangga bangga diri dgn gelaran itu.Biarkan wahabi bangga dgn astributnya ‘ BERLANDASKAN QURAN DAN SUNNAH BERDASAR PEMAHAMAN SALAFUS SHOLEH” karna kita juga tahu dan tidaklah bodoh bahwa pemahaman salafus sholeh adalah pemahaman ulama ulama muktabar,Ahlusunnah waljamaahu.bersanad.ahli ahli hadist yang disepakati seluruh ulama bukannya albani yang satupun ia tidak terlibat dalam penyusunan hadist masa kulafur rasidin..dan peneltian hadits oleh ulama salaf dll ketika itu.bukan pula muhammad bin abdul wahab tanpa sanad.tidak tsiqoh yang baru muncul jauh sesudahnya bahkan masih jauh masanya dari ibnu tamiyah sendiri. Biarkan mereka bangga mengaku bermanhaj salaf yang yang justru byk mereka kafirkan,mereka bidahkan dan mereka syirikkan.kita lebih berakal saudaraku sehingga mengerti kerancuan semacam ini yang terkadang membuat kita tertawa lucu karna kebodohan mereka.jadi kita tidak perlu ada astribut semacam wahabi ‘ BERMANHAJ SALAF” mari kita jauhi sipat sipat sombong.riya` karna itu juga Sunnah dan Wajib kita ikuti karna kita sesungguhnya AHLUS SUNNAH terbanyak” WAL JAMA`AH. Dan kita dianjurkan bersikap zuhud.wara`.qona`ah bukannya sombong.gila harta.dan tak pandai bersyukur.ini juga sunnah yang wajib kita ajarkan pada anak anak kita.saudara saudara kita seakidah dan biarkan wahabi yang katanya mengikuti sunnah.. namun justru melalaikan sunnah ini.kita maklumi karna pemimpin mereka bagai Tuhan yang wajib mereka ikuti sebagimana dijelaskan diatas.

    Menyikapi sikap berlebihan dgn gelaran yang wah dan merasa paling baik dimata kaum muslimin sebagai ‘PENGIKUT SALAFUS SHOLEH” maka perhatikanlah sebuah riwayat seorang sahabat Rasulullah yang melihat Rasululah menangis.Ia bertanya mengapa beliau menangis,Rasulullah menjawab dalam sabdanya :

    “Aku khawatir kalau umatku berlaku syirik.Syiriknya bukan menyembah matahari,bukan menyembah bulan dan bukan pula menyembah batu batu akan tetapi amal baiknya ingin dipertontonkan kepada sesama manusia” (Al hadits)

    Inilah yang dikhawatirkan Rasulullah.Rasulullah tidak mencemaskan Syirik besar melainkan syirik kecil karna syirik besar bagi umatnya telah dibekali dgn ajaran Tauhid.peng ESA an terhadap Sang khalik.ini diungkapkan dalam sebuah hadits hasan :

    Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan terhadap kamu adalah syirik yang paling kecil yakni Riya`.Hr.Ahmad.sanad hasan.

    maka sudahkah wahabi yang katanya menegakan sunnah memahami ini ?? bukankah tanpa sadar hal yang dianggap kecil menjadikan syirik ?? siapa yang syirik ?

    Rasulullah bersabda “ Sesungguhnya kamu orang orang yang bodoh.kamu betul betul mengikut kelakuan umat sebelum kamu” hr.Thirmidzi dari Abu Waqid al laitsi dgn sanad sahih.

    begitu hebatnya pengaruh syirik ini terhadap hati sesorang, terkadang orang cendrung meniru niru perbuatan orang orang musyrik.bangga dgn status. Bangga dgn pujian. Bangga karna merasa paling baik.yang tanpa sadar cendrung pula merendahkan amalan orang lain.

    Tetaplah berpegang teguh pada Akidah Ahlusunnah wal jama`ah karna Nabi juga memerintahkan supaya berpegang teguh pada jamaah mayoritas dan biarkan wahabi dgn angan angannya sebagai Makhluk paling sempurna walau antar sesama manusia.Allah maha tahu siapa yang bakal menjadi Penghuni surga atau neraka bukannya Muhammad bin Abdul wahab yang sedkitpun tidak tahu kisi hati seorang hamba Allah dalam beramal ibadah.seorang yang keras kepala tidak pantas menjadi panutan.hati yang keras bagai batu adalah tanda insan insan hanya memahami agama sebatas tenggorokkan.tidak lebih. Agama itu nasehat dan nasehat adalah kelembutan serta kasih sayang bukannya begitu dgn mudah mengucapkan kata kata KOTOR. Kafir.syirik.bid`ah padahal baru melihat dari sudut pandang umum dan tidak menelitinya lebih jauh dan tidak pula bertanya pada ahlinya karna sombong.
    Dari Anas bin Malik ra berkata : “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadinya perselisihan, maka ikutilah kelompok mayoritas.” [HR. Ibnu Majah (3950), Abd bin Humaid dalam Musnad-nya (1220) dan al-Thabarani dalam Musnad al-Syamiyyin (2069).
    Al-Hafidz Ibnu Hajar Rahimaullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari Rahimahullah yang menyatakan : “Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa Jama’ah adalah Sawadul A’dzam (Mayoritas Umat).

    Telah menceritakan kepadaku Harun bin Abdullah dan Hajjaj bin As Sya’ir keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin Muhammad dia berkata; Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu Az Zubair bahwa dia pernah mendengar Jabir bin Abdullah berkata, “Saya pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Senantiasa ada sekelompok dari ummatku yang selalu menang memperjuangkan kebenaran sampai hari Kiamat.” (HR Muslim 3547)
    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
    “إِنَّ اللهَ لَا يُجْمِعُ أُمَّةِ عَلَى ضَلَالَةٍ وَيَدُ اللهِ مَعَ الجَمَاعَةِ وَمَنْ شَذَّ شَذَّ إِلَى النَّارِ”
    “Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummatku diatas kesesatan. Dan tangan Allah bersama jama’ah. Barangsiapa yang menyelewengkan, maka ia menyeleweng ke neraka“. (HR. Tirmidzi: 2168).

    kehadiran wahabi adalah bencana bagi kita kaum muslimin atas doktrin doktrin mereka dan Pembelaan kita sebagai ahlussunnah wal jamaah dari kecaman.ejekan.dianggap salah semua oleh wahabi semoga menjadikan diri kita jauh lebih bernilai dlm pandangan Allah. Sebagaimana Rasulullah telah bersabda “Tidak ada suatu bencanapun yang menimpa org mukmin walaupun hanya sepotong duri atau lebih kecuali pastilah dgn bencana itu Allah akan mengurangi satu kesalahan ( dosa) Hr. Muslim dar Aisyah ra.

    Ahlussunnah wal jamaah semoga senantiasa tetap menjadi terbesar dimanapun tempat didunia ini.Tidaklah mungkin jutaan ulama besar diseluruh dunia menilai bodoh untuk memilihi Ahlusunnah waljamah sebagai jalan keyakinan.mereka lebih tahu lebih memahami dari dulu sampai detik ini jika ahlusunnah wal jamaah adalah jalan yang benar. Dan memang terbukti hingga sekarang tetap berdiri tegak sebagai pengikut terbanyak (jema`ah) walau hujatan. Fitnah.datang silih berganti mulai dari masa khawarij hingga muncul wahabi sebagai penerus akidah khawarij abad kini.. . Allahu Akbar !

    semoga menjadi renungan kita bersama.

    Salam Ukhuwah khusus bagi pengikut ahlussunnah wal jama`ah.! Ahli ahli hadits.ulama ulama mukhtabar. Para habaib. Keturunan ahlul bait.Ulama ulama sufi yang di sepakati dan seakidah. Ulama thoriqoh yang disepakati dan seakidah.cendiakawan. ahli sejarah. pakar pakar peneliti Quran dan sunnah dari ahlussunnah wal jama`ah,sunni, as asyairah.maturidy sejati di seluruh dunia dimanapun berada.ALLAH ADA TANPA TEMPAT DAN TIDAK BERARAH !

    27.nov 2012

    By. Von Edison Alouisci

  34. pasti yg koment di atas orang tdk paham masalah,,, siapa yg anda maksud sbgai wahabi sbenarnya,,, kok orang cinta dakwah, cinta ilmu, cinta sunnah, cinta masjid, cinta shalat berjamaah, cinta menutup aurat,,dibilangin sesat??? sy mau tanya satu kalian d atas,, mana shalat berjamaah anda??? mana sunnah nabi pd diri anda??? apakah istri anda menutup aurat??? jawab

    1. @kata wahabi muncul dari mulut orientalis
      Ane tanya dulu diri ente, sudahkah ente berpakaian Gamis dan menggunakan Imammah setiap hari ??, sudahkah ente tahajut setiap malam ??, sudahkah ente menginfakan seluruh harta ente ??, sudahkah ente berpuasa senin kamis dan shaum tgl 13, 14 dan 15 ??, sudahkah ente bersiwak, terutama sebelum wudhu ??
      Kalau sudah ente laksanakan Alhamdulillah !!!

      Kalau tentang Wahabi ane dapat dari berbagai kitab :
      Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang populer dengan sebutan Ibn Abidin, berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd al-Muhtar tantang Wahhabi sebagai berikut:
      “Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci. Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr al-Mukhtar, jil 4, hal. 262).

      Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 H dan sezaman dengan pendiri Wahabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut :

      “Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah dan oleh sebab itu mereka menghalalkan darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain, jil 3, hal. 307).

      Dari kalangan ulama madzhab Syafi’i, al-Imam al-Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan al-Makki, guru pengarang I’anah al-Thalibin, kitab yang sangat otoritatif (mu’tabar) di kalangan ulama di Indonesia, berkata tentang Wahhabi :

      “Sayyid Abdurrahman al-Ahdal, mufti Zabid berkata : “Tidak perlu menulis bantahan terhadap Ibn Abdil Wahab. Karena sabda Nabi saw cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu “Tanda-tanda mereka (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam ajaran Wahabi, harus mencukur rambutnya)”. Karena hal itu belum pernah dilakukan oleh seorang pun dari kalangan ahli bid’ah.” (Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, Fitnah al-Wahhabiyah, hal. 54).

      Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi, sebagai berikut :

      “Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.” Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau, Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah menyelamat-kan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya, dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan, maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah, hal. 275).

      Lihat apa yang dikatakan adik Muhammad Abdul Wahab ini kepada kakaknya. Sulaiman bin Abdul Wahhab adalah tokoh murni Ahlu Sunnah wal Jamaah beliau dalam kitabnya yang berjudul : Ash-shawa’iq Al-ilahiyyah fi Ar-radd ‘ala Al-wahabiyyah, kepada Muhammad Abdul Wahhab beliau berkata : “Sejak zaman sebelum Imam Ahmad bin Hanbal, yaitu pada zaman para Imam Islam, belum pernah ada yang meriwayatkan bahwa seorang Imam kaum Muslimin mengkafirkan sesama, mengatakan kepada mereka murtad dan memerintahkan untuk memerangi mereka. Belum pernah ada seorang pun dari para Imam kaum Muslimin yang menamakan negeri kaum Muslimin sebagai Negeri syirik dan Negeri perang, sebagaimana yang Anda (Muhammad Abdul Wahab) katakan sekarang. Bahkan lebih jauh lagi, Anda mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkan perbuatan-perbuatan ini, meskipun dia tidak melakukannya. Kurang lebih telah berjalan delapan ratus tahun atas para imam kaum Muslimin, namun demikian tidak ada seorang pun dari para ulama kaum Muslimin yang meriwayatkan bahwa mereka (para imam kaum Muslimin) mengkafirkan orang Muslim. Demi Allah, keharusan dari perkataan Anda ini ialah Anda mengatakan bahwa seluruh umat setelah Zaman Ahmad ibn Hanbali, baik para ulamanya, para penguasanya dan masyarakatnya, semua mereka itu kafir dan murtad. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.” (lihat perkataan Muhammad Wahhab dalam Risalah Arba’ah Qawa’id, Muhammad bin Abdul Wahhab, hal 4).
      Syeikh Sulaiman bin Abdul Wahhab juga berkata di dalam hal. 4 dalam kitabnya : “Hari ini umat mendapatkan musibah dengan orang yang menisbahkan dirinya kepada Al qur’an dan As sunnah, menggali ilmu dari keduanya, namun tidak mempedulikan orang yang menentangnya. Jika dia diminta untuk memperlihatkan perkataannya kepada ahli ilmu, dia tidak akan melakukannya. Bahkan, dia mengharuskan manusia untuk menerima perkataan dan pemahamannya. Barangsiapa yang menentangnya, maka dalam pandangannya orang itu seorang yang kafir. Demi Allah, pada dirinya tidak ada satu pun sifat seorang ahli ijtihad. Namun demikian, begitu mudahnya perkataannya menipu orang-orang yang bodoh. Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Ya Allah, berilah petunjuk orang yang sesat ini dan kembalikanlah dia kepada kebenaran.”

      Demikian mas @kata wahabi muncul dari mulut orientalis, sepengathuan ane tentang Wahabi. Silahkan ente rujuk kitab2 nya dan silahkan ente bantah !!!!

  35. subhanallah…. ulama ahlus sunnah berwajah… indah dengan bertabur cahaya yang sangat jelas tampak diwajahnya. lembut… bijaksana… tutur kata yang baik dan tidak menyakitkan.

  36. Ping-balik: Inilah Bukti Tak Terbantah, Salafi Wahabi Tasyabbuh (mirip) dengan Yahudi | BERITA FAKTA INSPIRASI ISLAM | UmmatiPress
  37. bagus nih artikel, saya sangat suka dengan artikel ini. Dengan begitu “TERBUKTI JELAS” mana ajaran yang “MELENCENG” dan mana ajaran yang masih di dalam “JALURNYA”, dan perlu diketahui bahwasannya orang” wahabi akan mengadakan pemberantasan terhadap ahlus sunnah wal jama’ah jikalau pengikutnya sudah mencapai target ..

    syuqroan katsiron, jazakallah kher ..

  38. Assalamu’alaykum WR Wb

    Setiap ada forum seperti ini selalu aja sesama muslim saling mengolok-olok,,saling menyalahkan,,ketahuilah bahwa yg kalian salahkan belum tentu salah dan yg kalian anggap benar belum tentu benar,, kebenaran hanya dari Allah SWT.

    Lebih baik kita sesama muslim BERSATU berdakwah terus,,jangan cuman mengkafirkan sesama muslim karena muhammadiyah, Wahabi, NU, Yasinan, Qunut, dll.

    Disana kaum Yahudi MUSUH kita sebenarnya, yg telah banyak membantai saudara2 kita. Merekalah yg pantas kalian perangi, yg pantas kalian olok2.

    Dengan bersatunya umat MUSLIM kaum Yahudi pasti akan ketakutan. Untuk itu kita sesama MUSLIM jangan smpai pecah belah,, boleh kita berbeda aliran, madzab, Imam, Ulama, dll tp teguhkan tali PERSATUAN dan KESATUAN UMAT.

    Seperti halnya SAPU LIDI, kalau cuma satu atau sepuluh lidi akan sulit bwt membersihkan sampah bandingkan kalau ratusan, ribuan, jutaan, atau milyaran lidi InsyaAllah bisa membersihkan sampah2 di dunia ini.

    Wassalamu’alaykum Wr Wb

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker