Berita Afganistan

Teror Drone dan Pasukan Operasi Khusus AS di Afganistan

Mantan Eksekutif NSA Bongkar Operasi Khusus AS di Afganistan

Dokumen-dokumen rahasia itu juga menunjukkan bahwa orang-orang yang dibunuh dalam serangan udara Afganistan adalah orang-orang tidak bersalah yang menurut AS sendiri, dikatakan bukanlah target militer mereka.

Islam-Institute, WASHINGTON DC – Seorang whistleblower dan mantan eksekutif NSA (Badan Keamanan Nasional AS)  mengatakan bahwa kampanye pembunuhan yang dilakukan oleh Amerika Serikat telah menewaskan lebih banyak warga sipil dari apa yang pernah dilaporkan.

Thomas Drake mengatakan hal ini kepada Sputnik News Agency pada hari Kamis (15/10) kemarin, bahwa program pembunuhan massal Amerika yang selama ini ditutup rapat-rapat telah banyak menimbulkan jumlah korban jiwa dari masyarakat sipil.

“Kami (Amerika Serikat) memiliki pemantauan massal dan kami juga memiliki program pembunuhan massal,” ungkap Drake. “Hal ini adalah dua sisi dari satu koin mata uang yang sama.”

Pada hari Rabu, seri baru dokumen rahasia yang berkaitan dengan program “tangkap-bunuh” militer AS diungkap oleh The Intercept.

Berdasarkan dokumen-dokumen ini, militer AS ternyata telah memiliki program yang telah berjalan selama 14 tahun, dimana program itu menargetkan individu-individu bernilai tinggi (sangat penting).  Dikatakan kampanye ini telah membunuh beberapa teroris namun juga telah lebih banyak lagi membunuh masyarakat sipil yang tidak bersalah.

banner gif 160 600 b - Teror Drone dan Pasukan Operasi Khusus AS di Afganistan

Dokumen-dokumen rahasia itu juga menunjukkan bahwa orang-orang yang dibunuh dalam serangan udara Afganistan adalah orang-orang tidak bersalah yang menurut AS sendiri, dikatakan bukanlah target militer mereka.

Dokumen-dokumen itu juga menunjukkan bahwa dalam waktu 14 bulan, 85 persen orang-orang yang tewas akibat serangan drone Amerika di Afganistan adalah warga sipil. Angkatan Bersenjata Amerika Serikat kemudian mengkategorikan mereka yang jadi korban salah sasaran itu sebagai musuh yang dibunuh saat tengah menjalankan aksinya.

AS dan sekutunya menginvasi Afganistan pada 7 Oktober 2001 sebagai bagian dari apa yang disebut AS sebagai perang Washington melawan teror.

Kini setelah lebih dari 14 tahun, Amerika Serikat masih tidak ingin meninggalkan negara miskin tersebut.

Pada hari Kamis, Presiden Barack Obama mengumumkan rencana untuk tetap mempertahankan hampir 10.000 tentaranya di Afganistan sampai 2016 dan sekitar 5.500 tentara pada tahun 2017.

Obama mengatakan bahwa ia telah berencana untuk menarik hampir semua pasukan AS dari Afganistan pada akhir tahun depan. Dan hanya ingin membiarkan, kehadiran tentaranya di pangkalan militer untuk kedutaannya di Kabul.

Menurut laporan, Washington akan mempertahankan kemampuan pembunuhan yang signifikan melalui teror drone dan pasukan Operasi Khususnya di Afganistan. (AL/SFA/LM/PTV)

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker