Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Buku

Hobby Memvonis ‘Ini Bid’ah Itu Bid’ah’ Adalah Bid’ahnya Bid’ah

Bid’ahnya bid’ah – Di dunia Islam ada satu kaum yang kegemaran utamanya adalah membid’ahkan amalan-amalan umat Islam. Kaum aneh tapi nyata ini, kehadirannya di tengah-tengah Ummat Islam di seluruh dunia bagaikan membawa semacam virus penyakit. Yang mana jika “virus” ini sudah menular dan menjangkiti hati dan pikiran seseorang maka dia akan begitu mudah ikut-ikutan berkata: “Ini bid’ah! itu bid’ah! ini syirik! itu musyrik!” Tidak ada kaum selain kaum ini yang begitu mudahnya berkata ‘ini bid’ah itu bid’ah’.

Mereka kalau diberi penjelasan bahwa amalan ini kalaupun disebut bid’ah adalah bid’ah hasnah, mereka akan dengan bangga bertanya “mana dalil”-nya.  Sebab menurut mereka berdasar hadits Nabi Saw bahwa semua bid’ah adalah sesat dan setiap yang sesat adalah neraka tempatnya.

Sesungguhnya tidak ada Ummat Islam yang membantah shahihnya Hadits tersebut. Yang dibantah adalah cara memahaminya. Karena pemahaman secara salah akan menimbulkan kontradiksi yang luar biasa. Dan ini terbukti akihirnya  Wahabi  juga mau tidak mau harus membagi bid’ah menjadi dua: yaitu Bid’ah Diniyah dan Bid’ah Dunyawiyah. Fakta ini membuktikan Kaum Wahabi tidak konsisten dengan perkataannya bahwa semua bid’ah adalah sesat. Ini juga merupakan pembagian bid’ah yang  tidak memiliki dalil sama sekali.

BACA JUGA:  Koreksi Buat Ustadz Firanda Tentang Bid'ah Hasanah Syubhat Pertama

Kembali ke masalah “Mana Dalil”-nya  yang merupakan jurus andalan Wahabi dalam diskusi, tetapi ironisnya pertanyaan “mana dalil”-nya sering  diajukan untuk hal-hal yang memang tidak perlu  dalil tekstual.  Karena dalilnya biasanya sudah ada  berkaitan dengan dalil perkara yang lain yang ada kaitanya. Contohnya adalah so’al peringatan  Maulid Nabi yang sering jadi perdebatan dan dimintakan dalilnya, padahal dalilnya ada pada kaitan Maqashid-nya. Maulid Nabi Saw adalah Wasail, Maqashidnya adalah mencintai Nabi Saw.

Mencintai Nabi adalah perintah Allah dan rasul-NYA sebagai syarat sempurnanya iman. Justru karena inilah, tidak ada ceritanya orang yang yang tidak  mencintai Nabi Saw akan mau melakukan Maulid Nabi saw. Demikian ini sudah sangat jelas, tetapi masih saja dipermasalahkan oleh “Kaum Pembid’ah” ini.

BACA JUGA:  Ustadz Abu Hamzah Senior Salafi Wahabi VS Mahasiswa

Nah, untuk menghadapi kaum yang hobby membid’ahkan amalan umat Islam itu, kita harus memiliki ilmunya. Berikut ini adalah kabar gembira buat Umat Islam karena telah terbit buku bermutu yang menyajikan perso’alan yang sering dianggap bid’ah oleh kaum yang gemar membid’ahkan tersebut. Apakah anda sudah tahu bahwa tuduhan bid’ah itu sendiri ternyata adalah bid’ahnya bid’ah?

Silahkan ikuti sinopsis-nya…..

Bid’ahnya Tuduhan Bid’ah

Telaah Kritis Atas Buku : “Penjelasan Gamblang Seputar Hukum Yasinan, Tahlilan & Selamatan”

buku bidahnya tuduhan bidah - Hobby Memvonis 'Ini Bid'ah Itu Bid'ah' Adalah Bid'ahnya Bid'ahBuku Bedah Ilmiyah So’al Bid’ah karya Ustadz Abu Ibrahim Muhammad Ali

Oleh: Moh. Halimi

Penerbit: LTN PP Ploso Mojo Kediri

Harga: Rp. 49.000,-

Buku yang membahas bid’ahnya bid’ah yang ditulis oleh salah satu santri kami ini, dirasa penting untuk dibaca. Baik bagi para santri pada khususnya, maupun seluruh lapisan masyarakat pada umumnya.

BACA JUGA:  Di Mana Bisa Mendapatkan Metode Amsilati

Dengan memahami dan menela’ah buku bid’ahnya bid’ah ini, kita akan semakin mantap. Bahwa yasinan dan tahlilan yang selama ini dilestarikan oleh umat Islam tradisional, memiliki landasan dalil yang mapan dari sumber primer hukum Islam, yakni Qur’an dan al-Sunnah.

Disamping itu, juga dapat menyadarkan kaum muslim. Bahwa sudah saatnya mereka terbangun dari tidur panjangnya. Sebab, orang-orang yang hendak merebut dan menodai Ahlussunnah wal Jama’ah, telah berada di sekeliling mereka.

Buku ini, ibarat senjata bagi mereka yang hendak menuju ke medan laga. Dan laksana lentera bagi mereka yang hendak menyusuri jalan yang gelap gulita.

Lembaga Ta’lif Wan Nasyr
JMRT PP Al-Falah Ploso Mojo Kediri

Untuk membeli buku bid’ahnya bid’ah ini silahkan hubungi:

http://toko-buku-albarokah.blogspot.com/2011/02/bidahnya-tuduhan-bidah.html

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

149 thoughts on “Hobby Memvonis ‘Ini Bid’ah Itu Bid’ah’ Adalah Bid’ahnya Bid’ah”

      1. orang salafi pun banyak melakukan bidaah 1 suka hibah.fitnah,suka makan dading bangkai saudaranya,2 kuburan ibnu tamiyah mewah sepeti perhiasan 3 merasa banyak ilmu ,tapi sholatnya selalu masbok

  1. Memang tepat sekali kalau dikatakan bid’ahnya bid’ah, atau dengan kata lain bid’ah dholalah.

    Itu sudah terbukti pada kaum Wahabi dengan jelas sekali.
    Contoh pertama, dalam terminologi Wahabi Bid’ah adalah bid’ah sesat, titik. Tapi kenyataannya mereka akhirnya membagi bid’ah agama dan bid’ah dunia. Pembagian seperti ini justru bid’ahnya bid’ah sebab samasekali tidak ada contoh baik dari Nabi Saw atau dari para Sahabat. Akibatnya dengan pembagian yang ngawur tanpa contoh dari Nabi ataupun Sahabat ini Kaum Wahabi menebar tuduhan bid’ah di tengah ummat Islam. Makanya Wahabi juga dikenal di dunia Islam sebagai FITNAH WAHABI.

    Contoh kedua, Wahabi membagi Tauhid menjadi tiga, uluhiyah, rububiyah, asma’ wa shifat. Pembagian seperti ini adalah bid’ahnya bid’ah, sebab tidak ada contoh baik dari Nabi Saw atau Sahabat. Selain tidak ada contohnya dari Nabi dan Sahabat, pembagian seperti ini adalah sumber fitnah di tengah ummat Islam.

  2. yang mgatakan ” tiap2 bid’ah itu sesat ” adlh rosulullah shalallahu ‘alaihi wasalam bukanya wahabi,, gmna si ????
    mkanya jgn asal ikut2 an,, belajar dlu yg bner..

      1. yg dilarang tu membuat perkara baru/bidah dlm urusan agama cah ayu,,jd ga ada urusannya dgn urusan duniawi,,
        jd klo mba e bikin arem arem,bikin combro,bkin awug awug,itu dikatakan bid’ah ya betul,,tp tdk terlarang,krna dilarang bidah dlm agama jeng…

    1. Kalau pemahaman antum seperti itu, kullu bid’atin dholaalatun, setiap bid’ah itu sesat, dan antum mengingkari pembagian bid’ah ada yang bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah, maka ana boleh dong berkata demikian:

      WAJAH ANTUM itu sebenarnya bid’ah, karena di zaman Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam nggak ada tuh riwayat yang shohih menyebutkan ada WAJAH ENTE. WAJAH ENTE BARU NONGOL SEBAGAI HASIL KERJASAMA BAPAK DAN EMAK ENTE.

      1. We he he he he…..

        Iya sih, dibuat nyantai aja kalau menghadapi wahabi, yah bisa buat obat stress-lah. Untuk mengisi waktu senggang, gitu Mas.

      2. please deh,,, kullu bidatin dolalah itu dlm urusan agama kang…jd ga ada urusnya dgn wajah ane,,
        jgnkan wajah ane,wajah bapak ente aja bidah,wajah ngkong ente bidah,, bahkan RAIMU jg bidah om..

    2. he he he , wahabi kan gak sadar jika pembagian tiga Tauhid rekaan mereka itu Bid`ah sesat. silahkan dilanjut mba apa mas miranda seh ?

      1. Aku ini panggil Mabk aja Mas, biar Wahabi juga tahu kalau perempuan juga bisa koment beginian. Kadang saya gregetan juga sama Wahabi yang lucu-lucu tapi njengkelin. Kontradiksinya itu Mas yg nggak nguati, lho? Mudeng nggak mas Syahid kalau pakai gaya Jowo begini?

    3. Tanggapan untuk Fadil:

      Kalau hadits kullu bid’atin dholaalatun diartikan apa adanya, yaitu semua bid’ah adalah sesat, maka WAJAH ENTE itu juga bid’ah lho, ngga percaya? Di zaman Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam belum ada WAJAH ENTE. Dan ane belum denger satu riwayat shohih yang menerangkan kalo di zaman Nabi sudah ada WAJAH ENTE. Jadi kesimpulannya, kalo semua bid’ah itu sesat, maka WAJAH ENTE itu juga SESAT.
      Yang ane sampaikan ini bener lho…itu kalo menurut pemahaman ente yang tidak menerima pembagian bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah.

      1. Mas Jundumuhammad, sebenarnya hadits tentang bid’ah itu kan ada banyak toh? Antara hadits-hadits bid’ah tsb saling menerangkan dan saling melengkapi. Makanya Imam Syafi’i membaginya jadi bid’ah hasanah dan bid’ah dholalah. Istilah bid;ah hasanah juga berasal dari Sahabat Unma RA, semua tahu asal-usul ini. Nah, kalau pembagian versi Wahabi yg membagi bid’ah dunia dan bid’ah agama itu contoh dari siapa? Apakah ada Imam Madzhab yg membagi seperti itu kecuali pembagian akal-akalan gaya Wahabi zaman ini? Toh akhirnya mereka nggak konsekwen bahwa semua bid’ah itu sesat?

        Inilah salah satu bukti bahwa Wahabi adalah kaum ahlul bid’ahnya bid’ah.

    4. @fadil
      apakah ente merasa sdh nggak perlu belajar???
      hebat ya ente,hm…coba nt baca2 lagi artikel yg lama di ummati2 yg lainnya,ntar nt tahu,dst…dst,….

  3. Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim

    Alhamdulillah terbit lagi buku yang dapat digunakan oleh kaum Ahlussunnah Wal Jamaah untuk memperkokoh aqidah dari pemahaman ala Salafi Wahabi.

    Sebenarnya pemahaman bid’ah yang oleh kaum Salafi Wahabi anut adalah pemahaman bid’ah yang tidak istiqomah. Di satu sisi, mereka menganggap Kullu Bid’atin Dholaalatun, tetapi di sisi lain mereka mentakhsis/membagi bid’ah menjadi dua macam, ada bid’ah dunyawiyyah dan bid’ah agama. Lihat saja bagaimana Syech al-Utsaimin menjelaskan makna bid’ah yang kontradiktif.

    http://jundumuhammad.wordpress.com/2011/02/24/kontradiksi-syaikh-al-utsaimin-dalam-konsep-bid’ah/

    Tanggapan untuk Fadil:
    Kalau hadits kullu bid’atin dholaalatun diartikan apa adanya, yaitu semua bid’ah adalah sesat, maka WAJAH ENTE juga bid’ah lho, ngga percaya? Di zaman Nabi Shollallaah ‘alaih wa sallam belum ada WAJAH ENTE.

    Semoga bermanfaat…

    1. “kullu bid’atin dolalah” itu dlm dlm urusan agama om,,,
      jd ga ada hubunganya dgn wajah ane,,
      bkn cuma wajah ane,,ajah bapak ente,,wajah mbah ente,,trus wajah habib habib yg biasa dipajang di pinggir jalan yg saingan sama iklan rokok ma kecap,,bahkan RAIMU jg bid’ah…
      sekali lg yg terlarang tu bid’ah dlm urusan agama om…

      1. Fadil@ ” kullu bid’atin dhlolalah “= tiap2 ( sebagian ) bid’ah itu sesat . mana DALAM BIDANG AGAMANYA ???????? NGGAK ADA TUH bikin tafsir sendiri bro ?????

  4. Kalau kita perhatikan lebih seksama, ulama-ulama wahabi mempunyai Konsep dan pemahaman tentang bidah dan masalah lainnya yang berbeda dengan para ulama dan imam sebelumnya. Sayangnya mereka membajak nama salaf agar pemahaman dan konsep mereka dijadikan satu-satunya kebenaran. Adakah ulama salaf yang menetapkan pendapatnya menjadi satu-satunya kebenaran? Apakah demikian konsep bidah menurut salaf wahai pengikut wahabi? Lalu ikut siapa pula para imam yang membagi bidah menjadi hasanah dan dholalah? Apakah mereka bukan pengikut salaf? Apa yang dilakukan wahabi tidak lain adalah fanatisme kelompok dan mazhab yang dibungkus nama salaf untuk menipu orang awam sehingga pengikutnya menjadi picik dan dangkal dalam memahami agama. Na’udzubillah.

  5. buku ga bermutu…

    paling isinya ” bela maulid,,bela tahlilan,,bela selamatan ” yaaah pokoknya yang ada makananya,, lumayan dapet ” BREKAT ”

    biar kyainya dpt job…

    1. Tidak ada kaum di alam dunia ini selain kaum Wahabi yang HOBBY UTAMA-nya adalah menyuarakan sekeras-kerasnya: INI BID’AH ITU BID”AH, INI SYIRIK ITU SYIRIK. Dikiranya itu perbuatan yang diridhoi Allah Swt, padahal itu adalah perbuatan bid’ahnya bid’ah alias bid’ah dholalah. Tidak ada contoh dari Nabi Saw, Para Sahabat, Tabi’n, Tabi’ut Tabi’in maupun Ulama Salafus Shalih. Mereka tidak ada memberi contoh HOBBY yang demikian itu, hati-hati dan waspadalah dengan kaum pembid’ah ini, Ftnah Wahabi di dunia Islam adalah keniscayaan realisasi dari kebenaran hadits tentang Kaum TANDUK SETAN DARI NAJDI/NEJD.

    2. All ASWAJA, betul ttu, emang itu pikiran ngeres orang-orang pelit bin medit bin bakhil, he he he….

      Kasihan orang-orang Wahabi, matinya kayak matinya kucing aja tidak di do’akan oleh keluraga dan tetangganya. Itulah akibat negative thinking, tidak dapat kiriman pahala Alfatihah. Bisa keblangsak di alam barzakh, qia qqq qqiq …..

  6. kasian sekali orng indonesia yg ditinggal mati keluarganya…
    udh dpt musibah,msh hrus mikirin bwt acara bid’ah setelah kematian..
    3 hari makan2,,7 hari makan2,,, 40 hari makan2,, 100 hari makan2,, 1000 hari makan2 lagi…
    ga kelar2 tuh ngurusin orang mati,,,

    yg seneng kyainya dpt job om.. heheh…

    bid’ah cuma menyusahkan umat…

    1. Pikiran orang bakhil bni pelit bin medit ya seperti yang dilontarkan oleh Kiyai Modjo AlWafhabi di ats. Padahal kenyataannya tidak ada orang bangkrut gara-gara acara tahlilan. Mereka rela dan ikhlas, itulah yg menyebabkan keluarga mayit selalu dalam kecukupan sesuai kemampuannya. Semoga Allah memberikan keberkahan kepada orang-orang yg ikhlas dalam beramal, amin…..

    2. Bener tuh, emang itu pikiran ngeres orang pelit bin medit bin bakhil, he he he….

      Kasihan orang-orang Wahabi, mati kayak matinya kucing aja tidak di do’akan oleh keluraga dan tetangganya. Itulah akibat negative thinking, tidak dapat kiriman pahala Alfatihah. Bisa keblangsak di alam barzakh, qia qqq qqiq …..

  7. @Fadil:
    Katanya “Semua bid’ah sesat,” lha kok sekarang antum justru membagi bid’ah menjadi bid’ah dunia dan bid’ah agama, kok ngga konsisten? Kenapa antum membagi menjadi bid’ah beberapa bagian???
    1. Kita lihat Statemen pertama antum: “tiap2 bid’ah adalah sesat”.
    itu artinya “SEMUA bid’ah adalah sesat,” arti SEMUA itu mencakup keseluruhan bid’ah, ngga peduli bid’ah dunia maupun bid’ah agama SEMUANYA SESAT. Itu kalau mengikuti statement pertama antum.
    2. Terus tiba2 antum mengatakan HANYA BID’AH AGAMA yang sesat. Coba antum bandingkan statemen pertama dan kedua antum.
    Statemen pertama antum mengatakan SEMUA BID’AH SESAT. Sedangkan statemen kedua antum: HANYA BID’AH AGAMA yang sesat.
    Ternyata antum bukan orang yng Konsisten. Ternyata antum sama saja dengan al-Utsaimin, tidak konsisten dalam pendifinisian bid’ah!!!!
    Kalau begitu boleh dong ane mengikuti fatwa Imam Syafi’i yang membagi bid’ah jadi bid’ah hasanah dan bid’ah madzmumah.

    1. @ jundu

      perhatikan hadits brkut

      ” barang siapa mengada adakan sesuatu dlm urusan agama kami ini,pdhal buka termsuk bagian di dlmnya ,maka ia tertolak ” ( bukhari 2697 & muslim 12/61 )

      ” barang siapa mengamalkan suatu amalan yg tdk ada dasarnya dlm urusan agama kami, maka ia tertolak ” ( muslim 12/16 )

      prhatikan kalimat ” dalam urusan agam kami ”
      kalimat trsbut merupakan dalil bahwa bidah,hanya dibatasi dlm urusan agama.

      ibnu rajab berkata: ” setiap orang yg mengada adakan sesuatu yg baru & mnisbatkannya kpd agama,pdhal tdk ada landasan yg bsa dijdikan rujukan,maka hal semacam ini adlh sesat & agama lepas darinya ” ( jamiul ulum wal hikam 2/128 )

      adapun dlm urusan dunia
      ” dan kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian” ( muslim )

      jd apakah ana yg ga konsisten??? ataukah antum yg tdk memahami dalil???

      1. @. fadil
        sori ikut nimbrung , dil apakah nt mengira jika urusan duniawi tidak diatur oleh Agama Islam ?

        dil , nt tau gak asbabul wurudnya Hadist : Antum a`lamu biumuri dunyakum ?

      2. fadil@

        Rasulullah SAW bersabda:

        ???? ??????? ??? ????????? ????? ??? ?????? ?????? ?????? ????? (???? ??????? ? ????)

        “Barang siapa yang membuat perkara baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya, maka ia tertolak.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

        Mari kita telaah makna Hadits diatas, benarkah Hadits diatas bisa menjadi justifikasi membid’ahkan setiap amalan baru dalam agama?

        Coba antum perhatikan pada kalimat “yang tidak bersumber darinya” pada Hadits tersebut, kira-kira apa makna dari kalimat tersebut. Agar menjadi jelas, bandingkan dua kalimat berikut ini:

        1. “Barang siapa yang membuat perkara baru dalam masalah (agama) kami ini, yang tidak bersumber darinya, maka ia tertolak.”

        2. “Barang siapa yang membuat perkara baru dalam masalah (agama) kami ini, maka ia tertolak.”

        Apabila kalimat ‘yang tidak bersumber darinya’ dibuang, maka sepintas akan dipahami bahwa hal baru apapun akan disebut Bid’ah, walaupun hal baru itu masih berisikan nilai syari’at. Dan kalaupun misalnya kalimat ‘yang tidak bersumber darinya’ itu benar-benar tidak disebutkan dalam Hadits ini, tentu kita juga tidak bisa memfonis semuanya Bid’ah berdasarkan Hadits ini, karena, untuk memahami sebuah Hadits, kita juga harus mempertimbangkan Hadits lain, baik Hadits Qauli (perkataan Nabi) maupun Hadits Iqrari (pembenaran Nabi terhadap tindakan Sahabat).

        Kemudian, ketika Nabi katakan ‘yang tidak bersumber darinya’, itu berarti ada hal baru yang bersumber dari syari’at dan ada hal baru yang tidak bersumber dari syari’at. Kalau yang dilarang adalah hal baru yang tidak bersumber dari syari’at, maka hal baru yang bersumber dari syari’at tidak dilarang.

        Baca lebih lengkap tentang bid’ah ini di sini: http://ummatipress.com

  8. Pilih Syaikh Utaimin AlWahabi atau Imam Syafi’i ? Klau akalnya Waras tentu pilih Imam Syafi’i. Karena Al-utsaimin ilmunya tidak istiqamah/tidak konsisten yang demikian itu bisa menimbulkan kotradiksi yg parah, sudah terbukti!

  9. Postingan yang sangat menarik, Mas Admin. Judulnya sangat menggelitik, he he he…. Seperti itulah Wahabi yang sebenarnya, tidak salah lagi.

    Wah, Mbak Miranda sudah baca yg diprovokasikan oleh Abahna Jibril? Antum dibilang sama dangan ane, Mas Rifan dll. Ada-ada aja ya?

    Mas Admin Ummati, tolong diperiksa IP-Adress ane sama dg teman-teman All ASWAJA apa beda? Jadi penasaran ane, tolong diugkap saja biar pada tahu yg sebenarnya. Abahna Jibril itu apa maksudnya ya? Apakah untuk nyetop koment ane di blognya ya? nggak distop juga sudah males koment lagi di sana, pengunjungnya sedikit, rugi kalau koment di blognya. Rugi nulisnya, cape deh?

    1. Mas Arumi, aku udah baca di blognya abahna jibril. Biarin aja, Mas. Habisnya Nama Mas Arumi seperti nama cewek, sih? He he he…. bercanda ya?

  10. kasian sekali klo ada orng tua yg mninggal, tp anak2nya kya kalian.. di doain nya nunggu 3 hri,7 hari,40 hri,100 hari,1000 hari,, hbs itu udh deh kelar…
    orang tuanya meninggal malah makan makan mulu…

    klo mo doain orng yg udh mninggal tuh kpn aja,, ngga perlu nunggu waktu2 tertentu,, ngga perlu dgn acara2 tertentu,, ga perlu makan2,, tp emang orang macam kalian tu yg dicari tu makananya,,lumayanlaah dpt nasi tumpeng,, dpt rokok gratis,,

    Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasalam tdk prnah memerintahkan hal yg dmikian,bgtu jg para sahabat tdk ada yg mengamalkan hal dmikian…
    ketika ibrahim anak rosulullah mninggal,apakah rosulullah melakukan acara2 dmikian???
    ketika umar bin khatab mninggal,apakah ibnu umar mngumpulkan sahabat2 yg lain untuk tahlilan,7 harian,40 harian,dst,,,
    lantas kalian mngikutu sunnahnya siapa ?????

    1. Kalau ada keluarga kami yang wafat, InsyaAllah kami doakan setiap saat, kalau ada waktu buat berdoa bersama itu lebih baik, apalagi kalau kita punya rezeki lebih untuk berbagi dan sedekah, tentu doanya lebih ijabah.
      “klo mo doain orng yg udh mninggal tuh kpn aja,, ngga perlu nunggu waktu2 tertentu,, ngga perlu dgn acara2 tertentu,, ga perlu makan2”. ini pernyataan yang benar, semua orang yang melakukan tahlilan beranggapan seperti itu juga. “tp emang orang macam kalian tu yg dicari tu makananya,,lumayanlaah dpt nasi tumpeng,, dpt rokok gratis,,” Yang ini yang nggak benar, yang kita lakukan adalah menghibur keluarga yang ditinggalkan dan turut mendoakan. Apakah ada yang bisa menggembirakan selain kedatangan sahabat dan tetangga yang ikit mendoakan.

    2. he…he…he…Fadil@ kejauhan nt …..nt ngga percaya kalau doanya nyampai ????? pembuktiannya harus mati dulu ntar dikirim nyampai ngaak ?????xi…xi…xi,…

  11. kasian sekali klo ada orng tua yg mninggal, tp anak2nya kya kalian.. di doain nya nunggu 3 hri,7 hari,40 hri,100 hari,1000 hari,, hbs itu udh deh kelar…
    orang tuanya meninggal malah makan makan mulu…

    klo mo doain orng yg udh mninggal tuh kpn aja,, ngga perlu nunggu waktu2 tertentu,, ngga perlu dgn acara2 tertentu,, ga perlu makan2,, tp emang orang macam kalian tu yg dicari tu makananya,,lumayanlaah dpt nasi tumpeng,, dpt rokok gratis,,

    Rosulullah shalallahu ‘alaihi wasalam tdk prnah memerintahkan hal yg dmikian,bgtu jg para sahabat tdk ada yg mengamalkan hal dmikian…
    ketika ibrahim anak rosulullah mninggal,apakah rosulullah melakukan acara2 dmikian???
    ketika umar bin khatab mninggal,apakah ibnu umar mngumpulkan sahabat2 yg lain untuk tahlilan,7 harian,40 harian,dst,,,
    lantas kalian mngikutu sunnahnya siapa ?????

    1. Yang perlu dicari apakah ada larangan Rasul terhadap apa yang kita lakukan, atau apakah yang kita kerjakan bertentangan dengan syariat. Tahlilan tidak lain adalah sarana untuk berzikir bersama dan berdoa bersama, serta menggembirakan keluarga yang ditinggalkan. Bagi yang ingin melaksanakannya ya silahkan, bagi yang tidak mau juga tidak apa-apa. Yang kami ikuti adalah Sunnah Rasul, makanya segala sarana kebaikan kita timbang dengan Al Quran dan sunnah.

      1. @kyai modjo

        andai ente kyai beneran,tahu dunk riwayat imam thawus yamani…??
        jika tau nggak akan tuh ngemenk koyo ngono,yayi…..wkwkwkk

  12. Asalamu’alaikum! Ikut nimbrung nih! Boleh kan?

    Jauh sebelum hadis ‘kullu bid’atin dolalah’, ‘man amila . . . ‘, dan ‘man ahdatsa. . .’ keluar dari lisan Rasulullah, telah turun ayat ‘IQRA!’, perintah membaca! Membaca bukan hanya membaca buku saja! Dari satu aliran pula! Membaca bisa dari segala sudut, maka kita akan lebih bijak!
    Kaum wahabi berkeyakinan bahwa kebenaran hanya satu, dan selainnya salah! Mereka hanya mengambil perkataan yang sesuai dg perkataan mereka, dan membuang jauh2 jika bertentangan dg pemahamannya!
    Kalo diliat dari sejarah, selain imam syafi’i, mash bnyak imam lain yang membagi2 bid’ah kepada hasanah dan sayyiah, atw malah bid’ah wajib, sunah, mubah, makruh, haram! Coba rujuk kitab “al-ibda’ fi madhari al-ibtida” karya syaikh ali mahfudz. Di sana tertulis berbagai pendapat ulama tntang bid’ah, diantaranya ibnu hajar asqalani, abu na’im, baihaqi, izzuddin, dll.

    Jadi, para ulama sejak dulu sudah berbeda pendapat tentang bid’ah, maka apakah telah ditemukan titik temu antara dua kubu? Kalo mereka yang ilmunya jauh d atas kita blm dapat titik temu, dan berpegang teguh pada pendapatnya! Maka untuk apa kita ributkan? Baca semuanya! Pilih pendapat yang kita anggap lbih pas dengan ha ti! Dan hargai pendapat orang!
    Syukron!

    1. @Fahmi Hasan. Memang begitulah ajaran wahabi, kebenaran hanya satu, lalu merekalah sebagai kebenaran itu. Ini bisa jadi Bidah, karena sekali lagi kita katakan kepada mereka bahwa para ulama salaf sendiri berbeda pendapat untuk masalah-masalah cabang agama, dan mereka tidaklah menjadikan pendapatnya sebagai standar kebenaran. Sekali lagi kita katakan kepada mereka, bahwa semua mazhab, dan aliran dalam Islam ini berusaha memahami agama sesuai pemahaman salaf dengan pedoman Alquran dan Sunnah, maka para Ulama telah Ijma dengan nama Ahlussunah wal jamaah sebagai manhaj yang membedakannya dengan akidah bidah yang telah disepakati pula kebiadahannya, dimana manhaj ahlussunah ini mencakup semua mazhab fikih yang ada dengan segala perbedaannya. Lalu kita tanyakan lagi kepada mereka bagaimanakah bisa wahabi itu menjadi standar kebenaran dan bagaimana pula menjadikannya sebagai pengikut salaf dengan cara membidahkan dan menyesatkan pendapat lainnya yang berbeda walaupun sama-sama merupakan hasil Ijtihad. Sekali lagi perlu kita tanyakan kepada mereka apa motifnya membajak nama salaf hanya untuk mereka?

      Salam saudaraku.

    2. @ Dian th, @khidir
      Thanks buat dukungannya yak! haha

      sebenarnya perbedaan pendapat ini gak akan ada ujungnya, karena masing-masing mempunyai argumen yang sama2 berdalil… lebih baik baca buku, ngamalin ilmu yang ada dan terus bekali diri untuk hari esok… hehe

  13. @kyai modjo said :
    ” klo mo doain orng yg udh mninggal tuh kpn aja,… ” berarti ente setuju kan kalo doain orang tuh ga ditentukan waktunya? ga kayak sholat yang ditentukan waktunya… jadi kalo doain nunggu 3 hari boleh kan ? halal kan ga haram kan?kalo doain nunggu 7 hari boleh kan ? halal kan ga haram kan? kalo doain nunggu 100 hari boleh kan ? halal kan ga haram kan? kalo doain nunggu 1000 hari boleh kan ? kalo itu perbuatan halal dan diperbolehkan, kenapa ente malah ngelarang-ngelarang… kalo ngelarang2 malah ente telah berbuat zalim ke sesama muslim dengan kezaliman yang paling besar. Kenapa ? Karena ente telah merubah syariat dalam agama, sesuatu yang halal, bukan hanya mubah loh, bahkan sunnah (berpahala) kalau dikerjakan, eh ente malah mengharamkannya….

    Rasul SAAW bersabda : :”sejahat jahat/sebesar-besar dosa muslim pada muslim lainnya pada ummat ini adalah orang yg mempermasalahkan hal yg halal, lalu menjadi haram sebab ia mempermasalahkannya” (Shahih Muslim)

    Terus ente juga nanti di akhirat akan bangkrut, amalan ente akan habis dikasihkan ke orang yang amalannya ente permasalahkan….

  14. fadil dan kyai modjo yg punya koment sama persis @

    kalau do’ain orang tua sih kami ASWAJA setiap habis shalat lima waktu selalu mendo’akannya. Tidak seperti Wahabi, habis shalat lantas jalan, atau pada diam kayak sapi ompong, he he he…..

  15. owh… jd yg harus dicari laranganya toh…
    klo bgtu bgmna pndapat antum apabila ada orang yg melaksanakan shalat shubuh 4 raka’at ??

    bid’ah dlm agama pastialah bertentangan dgn syariat.

    1. @. fadil
      Sholat maktubat itu amrun Tauqifi , bahkan Sholat itu sendiri Ibadah Mahdloh anda fahamkan apa itu Tauqifi dan apa itu Ibadah Mahdloh ?

    1. Ustadz Salafy kualitasnya kayak Fadil ini ya pantas aja ajarannya kaca balau penuh kontradiksi.

      kiyai mojo dan ustadz fadil orangnya satu, eh bisa bertentangan, lucu kan? Wahabi emang lcu-lucu, bisa buat obat stress, he he he….

  16. @fadhil
    jadi ente ga setuju dengan pendapat kyai modjo ya kalo berdo’a boleh kapan aja?
    jadi menurut syariat ente… berdo’a tuh dibatasi sama waktu ? jelasin dong…waktu-waktu kapan aja kita diperintah syariat untuk berdo’a …. beserta dalilnya…
    Kayak sholat… sholat fardhu, wajib 5 kali sehari, terdiri dari…. zhuhur, dilakukan sejak tergelincir matahari sampai masuknya waktu ashar,… dst..dst..

    Coba jelasin ke kita-kita donk batasan2 syariat dari berdo’a, jangan menyembunyikan ilmu donk…. Saya tunggu penjelasannya ya ustadz….

  17. @fadil. Bahasa sederhananya, Sholat subuh 4 rakaat itu bidah, karena sudah ditetapkan secara khusus oleh rasul hanya 2 rakaat. Sedangkan cara atau sarana membaca tahlil atau berdoa tidak ditetapkan secara khusus apakah harus dibaca sendiri atau harus dibaca rame2, keduanya boleh saja. tetapi zikir dan doa dapat dilakukan kapanpun dan dalam kondisi apapun, tentunya yg tidak bertentangan dgn syariat. Seperti halnya membaca surat setelah fatihah dalam sholat tidak ditetapkan sehingga kita bebas membaca surat apa saja, yg ditetapkan adalah harus baca ayat quran tp ayat apa itu tidak ditetapkan. Jadi yg tidak dicontohkan dalam tahlilan adalah sarananya bukan tahlil dan doanya, Jadi apa yg tidak ada contohnya belum tentu menjadi ketetapan bahwa hal itu terlarang, kecuali memang ada larangan atau sudah ada ketetapan bakunya.

    1. @ dianth

      antum mgatakan ” yang perlu kita cari apakah ada larangan rosul thdp apa yg kita lakukan ”
      coba bawakan dalil mengenai larangan shalat subuh 4 rakat..

      antum jg mgatakan ” yang kita ikuti adlh sunah rosul maanya segala sarana kebaikan kita timbang dgn al qur’an dan sunnah ”
      pernahkah rosulullah mencontohkan sunnah yg dmikian ( tahlilan,7 hari dll ) ??

      1. fadil , fadil yang namnya Amrun Tauqifi ketika dilaksanakan tidak sesuai dengan yang digariskan , otomatis terlarang , Bukankah Rosul pernah bersabda : Shollu kama Roaitumuni Usholli ? kenapa fadil masih menyakan larangan Sholat Subuh 4 roka`at ?

        1. Begitulah Mas Syahid, saya sering dengar perkataan ustadz Wahabi seperti itu, sungguh konyol sesuatu yg sudah jelas ditanya dalil larangannya.

          Semakin jelaslah, Wahabi memang lawannya Ahlussunnah Waljama’ah (ASWAJA). Kalau pedoman Wahabi, hukum asal ibadah itu dilarang. Sedangkan ASWAJA berpedoman hukum asal ibadah adalah diperintah.

        2. @ ahmad syahid

          bknya antum sndri yg mgatakn bhw yg dicari adlah laranganya,dalil yg antum bawakan bukanlah mnunjukan larangan,tetapi suatu kaidah agar kita i’tibba/mgnikuti sunnah beliau dlm mlksanakan shalat.
          bgtu halnya dgn perbuatan bid’ah,rosulullah tdk mngatakan bahw tahlialan,7harian dll adlh bid’ah. tetapi beliau mnggunakan ucapan yg sangat jelas tentang amalan2 bid;ah ” barang siapa yg mengamalkan suatu amalan yg tdk ada dasarnya( contohnya ) dlm urusan agama kami,maka ia tertolak ”
          dgn dmikian brarti antum tdk konsisten dgn ucapan antum..

          pertanyaan ana sangat mudah : pernahkah rosulullah dan para sahabatnya melakukan amalan tahlilan,7 harian dan lainya ??

          klo tdk pernah,,maka amalan tersebut adlh amalan bid’ah yg tercela dlm agama.

          1. pertanyaan mana dalil larangannya sholat subuh 4 rokaat itu dari Fadil sendiri , makanya saya katakan kenapa fadil masih menyakan dalil larangannya ? contoh sholat subuh 4 rokaat itu dari fadil sendirikan ? kok malah bilang saya yang tidak konsisten ? malu donk ah….

          2. Orang seperti Fadil inilah cermin kualitas ustadz-ustadz Wahabi, tidak nyambung babar blas, ngalor-ngidul, ngetan-ngulon, nggak karukaruan.

        3. @ abah zahra

          berdoa tdklah ditentukan dlm waktu2 trntu,tetapi yg ada adlh waktu2 yg mustajab utk berdoa.
          tntu antum faham waktu2 yg mustajab.
          sdangakan permasalahan tahlilan,7 harian dll,
          adlh tentang amalan itu tersendiri,bukan hanya waktunya,yg tdk pernah di contohkan oleh rosulullah dan para sahabtnya.

  18. salafy wahaby tuh sebenarnya gatau batasan syariat dari suatu ibadah… tapi lucunya mereka sibuk kesana kemari sambil teriak2, ini bid’ah, itu bid’ah, ini melanggar syariat, itu merubah syariat…. padahal zaman Nabi dan salafussoleh gada orang yang kayak gitu… jadi mereka ,mencontoh siapa ya?

  19. @fadil. Tahlilan itu menjadi bidah apabila menjadi ketetapan hukum atau syariat baru, tahlilan di daerah saya kalimantan mungkin berbeda tatacaranya dgn di jawa, karena emang itu hanya sarana, yg sunnah itu zikirnya atau doanya, bukan urutannya membacanya, berapa hari ke berapa harinya karena itu hanya sarana saja. Yang menjadi bidah itu kalau kita menganggapnya kewajiban dan mewajibkan kepada setiap orang. Sedangkan mentradisikan sebuah sarana yg baik tentulah hal yg terpuji.

    1. Itu alasannya org pemula kenal prenik2 agama, akalu sekilas lalu sprtinya benar kalau kita telusuri secara mendalam … nantinya akan terlihat jelas kesesatannya secara nyata baik mata hati maupun mata kepala dan tidak ada yg tersamar sedikitpun bahkan sangat jelasnya bagaikan melihat sesuatu disiang bolong

      1. Ini adalah juga alasan para ulama kita yang mengajarkannya, justru yang mengharamkan atau membidahkannya dengan menggunakan dalil tentang bidah kalau sekilas lalu sepertinya benar kalau kita telusuri secara mendalam … nantinya akan terlihat jelas kesesatannya secara nyata baik mata hati maupun mata kepala dan tidak ada yg tersamar sedikitpun bahkan sangat jelasnya bagaikan melihat sesuatu disiang bolong. Ya… begitulah dalil Wahabi. Mas Hamzah, Kalau cuma bisa berkomentar kayak gini anak sd huga bisa, ente kayaknya baru belajar agama ya ?

      2. Ini adalah salah satu alasan ulama kita melakukan tahlilan, justru dalil dan alasan kaum wahabi yang mengharamkan dan membidahkannya kalau sekilas lalu sepertinya benar kalau kita telusuri secara mendalam … nantinya akan terlihat jelas kesesatannya secara nyata baik mata hati maupun mata kepala dan tidak ada yg tersamar sedikitpun bahkan sangat jelasnya bagaikan melihat sesuatu disiang bolong. Begitulah dalil Wahabi hanya untuk menipu orang pemula kenal pernik2 agama.

  20. @ khidir

    ” Bahwa seseorang yg berdosa tdk akan memikul dosa orang lain.dan bahwasanya manusia tdk akan memperolah kebaikan kcuali apa yg telah ia usahakan “( An Najm 38-39 )
    brkata ibnu katsir dlm mnafsirkan ayat ini :
    ” yaitu, sbgmana sesorang tdk akan memikul dosa orang lain,dmikian juga seseorang tdk akan memperoleh ganjaran ( pahala ) kecuali apa apa yg telah ia usahakan sendiri.
    dari ayat diatas Al IMAM ASY-SYAFI’IY bersama para ulama yg mgikutinya telah mgeluarkan hukum :
    ” Bahwa BACAAN AL QUR’AN TIDAK AKAN SAMPAI HADIAH PAHALANYA KEPADA ORANG YANG TELAH MATI,KARENA BACAAN TERSEBUT BUKAN DARI AMAL DAN USAHA MEREKA ” ( tafsir ibnu katsir )

    1. penjelasan al-Imam Nawawi tentang sampainya bacaan Al-quran dr madzhab Syafii:

      “Barangsiapa yg ingin berbakti pada ayah ibunya maka ia boleh bersedekah atas nama mereka (kirim amal sedekah untuk mereka), dan sungguh pahala shadaqah itu sampai pada mayyit dan akan membawa manfaat atasnya tanpa ada ikhtilaf diantara muslimin, inilah pendapat terbaik, mengenai apa apa yg diceritakan pimpinan Qadhiy Abul Hasan Almawardiy Albashriy Alfaqiihi Assyafii mengenai ucapan beberapa Ahli Bicara (semacam wahabiy yg hanya bisa bicara tanpa ilmu) bahwa mayyit setelah wafatnya tak bisa menerima pahala, maka pemahaman ini Batil secara jelas dan kesalahan yg diperbuat oleh mereka yg mengingkari nash nash dari Alqur’an dan Alhadits dan Ijma ummat ini, maka tak perlu ditolelir dan tak perlu diperdulikan.

      Namun mengenai pengiriman pahala shalat dan puasa, maka madzhab Syafii dan sebagian ulama mengatakannya tidak sampai kecuali shalat dan puasa yg wajib bagi mayyit, maka boleh di Qadha oleh wali nya atau orang lain yg diizinkan oleh walinya, maka dalam hal ini ada dua pendapat dalam Madzhab Syafii, yg lebih masyhur hal ini tak bisa, namun pendapat kedua yg lebih SHAHIH mengatakan hal itu bisa, dan akan kuperjelas nanti di Bab Puasa Insya Allah Ta’ala.

      Mengenai pahala Alqur’an menurut pendapat yg masyhur dalam madzhab Syafii bahwa tak sampai pada mayyit, namun adapula pendapat dari kelompok Syafii yg mengatakannya sampai, dan sekelompok besar ulama mengambil pendapat bahwa SAMPAINYA PAHALA SEMUA MACAM IBADAH, berupa shalat, puasa, BACAAN AL-QURAN, ibadah dan yg lainnya, sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Bukhari pada Bab : “Barangsiapa yg wafat dan atasnya nadzar” bahwa Ibn Umar memerintahkan seorang wanita yg wafat ibunya yg masih punya hutang shalat agar wanita itu membayar(meng qadha) shalatnya, dan dihikayatkan oleh Penulis kitab Al Hawiy, bahwa Atha bin Abi Ribah dan Ishaq bin Rahawayh bahwa mereka berdua mengatakan bolehnya shalat dikirim untuk mayyit,

      telah berkata Syeikh Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad bin Hibatullah bin Abi Ishruun dari kalangan kita (berkata Imam nawawi dengan ucapan : “kalangan kita” maksudnya dari madzhab syafii) yg muta’akhir (dimasa Imam Nawawi) dalam kitabnya Al Intishar ilaa Ikhtiyar bahwa hal ini seperti ini. (sebagaimana pembahasan diatas), berkata Imam Abu Muhammad Al Baghawiy dari kalangan kita dalam kitabnya At Tahdzib : Tidak jauh bagi mereka untuk memberi satu Mudd untuk membayar satu shalat (shalat mayyit yg tertinggal) dan ini semua izinnya sempurna, dan dalil mereka adalah Qiyas atas Doa dan sedekah dan haji (sebagaimana riwayat hadist2 shahih) bahwa itu semua sampai dengan pendapat yg sepakat para ulama.

      (Syarh Nawawi Ala Shahih Muslim Juz 1 hal 90)

      1. KESIMPULAN :
        Maka jelaslah sudah bahwa Imam Nawawi menjelaskan dalam hal ini ada dua pendapat, dan yg lebih masyhur adalah yg mengatakan tak sampai, namun yg lebih shahih mengatakannya sampai,

        tentunya kita mesti memilih yg lebih shahih, bukan yg lebih masyhur, Imam nawawi menjelaskan bahwa yg shahih adalah yg mengatakan sampai, walaupun yg masyhur mengatakan tak sampai, berarti yg masyhur itu dhoif, dan yg shahih adalah yg mengatakan sampai.

        1. Mas Bhagaskara, wah penjelasan antum semakin mem[perjelas ternyata semua yang diamalkan kaum muslimin di Indonesia semuanya memiliki dalil yang shahih. Rugilah orang-orang yg mengharamkan suatu amalan yang dibolehkan, sebab mereka terbukti mengharamkan yang halal. Semoga semakin banyak orang-orang yang faham sehingga tidak mudah tertipu oleh kebohongan dakwah Wahabisme. Amin…..

    2. @ Fadil…..fadil…..fadil…..kayaknya jawaban mas bhagaskara @ cukup jelas cuma mau nanya nih ……apa nt bermahzab Imam Syafi’i ????? kok nt mencatut nama beliau ????? nanti di marahi lho sama ustadz nt …..

      1. mas mamo , kayaknya ga perlu nunggu Fadil mati dulu , gimana kalo kita doain aja kakenya atau sodara deketnya Fadil yang udah ninggal dengan sejelek-jeleknya doa ?.

  21. teman-teman mau aja ngelayanin yg gak nyambung blas,cape bacanya kalo sama yg gak berilmu,maaf saya masih pake motor biarin bid’ah juga dah

  22. @fadhil 25 Februari 2011 pukul 11:19 pm

    jadi sudah jelas bahwa berdoa nunggu 3 hari, 7 hari, 100 hari dst adalah boleh, dan halal, jadi ente ga boleh mengharamkannya karena akan merubah syariat…..
    masalah kenapa nunggu 3 hari, 7 hari, 100 hari dst, itu adalah suatu sarana, kebiasaan, suatu tradisi yang dikembangkan oleh seseorang yang mengharapkan kucuran pahala bila hal tersebut ditradisikan/dilestarikan, sesuai dengan hadits Nabi SAAW
    “Barang siapa yang mengadakan dalam Islam suatu sunnah hasanah lalu diamalkan orang sunnahnya itu, maka diberikan kepadanya pahala sebagai pahala orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak mengurangkan sedikit juga dari pahala orang yg mengerjakan kemudian itu. Dan barangsiapa yang mengadakan dalam Islam suatu sunnah sayyi’ah, lalu diamalkan orang sunnah sayyi’ah itu, diberikan dosa kepadanya seperti dosa orang yang mengerjakan kemudian dengan tidak dikurangi sedikitpun juga dari dosa orang yang mengerjakan kemudian itu.” [Syarah Nawawi juz’ 14 hlm. 226]. Ini adalah dalil pembagian bid’ah menjadi hasanah dan dolalah.
    Jadi setiap orang yang melalukan bid’ah hasanah, maka si pembuat bidah hasanah juga akan mendapatkan pahala yang sama, bukan pahalanya dibagi 2 ( dikurangi )

    Jadi kalo ente @fadhil membuat tahlilan 4 hari, terus diikuti orang2, maka misalnya suatu saat diikuti oleh 100 orang, maka fadhil mendapat pahala 100, dan mereka juga mendapat 100, jadi bukan pahalanya 100 dibagi 2,… ( dengan asumsi amalan tsb mendapat 1 pahala )

    Seorang penulis lagu/ syair yang isinya mengandung kebaikan dan syiar misalnya lagu tombo ati, berdasarkan hadits diatas akan terus mengucurkan pahala bagi penulisnya selama terus ditradisikan/ dilestarikan / dinyanyikan oleh orang2, dan pahalanya utuh bukan pahala orang2 tsb dibagi 2….

  23. wahabi bilang Bid`ah itu ada dua Agama dan Dunia , padahal Rosulallah SAW bersabda Kullu Bid`atin dolalah . sementara Aswaja bilang Bid`ah itu ada dua Hasanah dan Sayia`h. padahal sama Rosulpun mengatakan tiap Bid`ah itu sesat , kita kaji yuk mana yang lebih pas dan dekat dengan kebenaran, faham Wahabi apa Aswaja .

    ada gak ya wahabi yang berani bahas tuntas soal Bid`ah … ?

      1. iya mas , saya juga pengennya disini Blog Ummati kan sudah terkenal banyak pengunjung , yang ngaku jadi bapaknya Jibril, dua pertanyaan sederhana saja tidak mampu dia Jawab , apalagi menguji Kaidah kayaknya nambah ngawur , ok mas kita tunggu aja berani tidak dia diskusi di tempat yang Netral ?

        1. barusan ada komen dari DIA tp dah di hapus admin karena aturan …..Arumi katanya Dusta pakai nama gontaganti IP nya sama mana yang bener niiih ?????

  24. setuju mas syahid… kepada ummati, dimohon bikin thread khusus buat ruang diskusi antara Mas syahid dengan Abahna Jibril… misalnya judulnya DISKUSI AHMADSYAHID DENGAN ABAHNAJIBRIL atau apalah…. t

    1. @ abah zahra sementara ini sih bapake jibril santun ana liat siapa tau bisa ada titik temu sih …..mas Syahid khusus antum di buka artikel khusus lho jawabannya di blog nya dia tetep bersikeras kalau salafi nggak pernah mengafirkan sesama muslim KATANYA……..

    2. Untuk All AWAJA, intinya adalah jangan terpancing diskusi di blog Abah Jibril. Nanti dia untung, blognya jadi ramai, kita rugi sebab tidak yakin dengan netralitas Abah Jibril. Ane setuju dengan usulan Abah Zahra, sebagaimana Mas Syahid juga sudah siap adu argument denga Abah Jibril.

  25. trims atas penjaelasanx.

    saya sendiri pernah punya pengalaman, pada waktu SMA saya sempat ikut suatu kelompok study Islam. Terus terang saya merasa agak keberatan dengan ajarannya yg selalu membid’ah amalan. Salah satunya adalah bid’ah masalah haul yaitu peringatan 100 hari orang meninggal yg diadakan oleh keluarga almarhum dengan cara mengundang tetangga dan mmbacakan ayat2 suci Al-quran dan memohonkan doa untuk si almarhum. mereka berujar bahwa sebanyak apaun orang yg mndoakan almarhum tidak ada satupun yang diterima kecuali doa dari anak almarhum sehingga perbuatan haul itu sia-sia.

    padahal menurut saya apakah salah jika kita mendoakan kebaikan bagi seorang muslim, bukankah itu yang selalu dilakukan oleh Rasulullah??? dan apa salahnya apabila kita mengadakan selametan dengan menjamu para tetangga dengan memberikan mereka rezeki berupa makanan yg saya yakin di antara tamu tersebut pasti ada yang merasa sangat bersyukur atas jamuan makan itu.

    1. @ Lisa
      wahabi memang sangat gencar menyebarkan ajarannya kesekolah2, SMA, SMP bahkan guru2nya banyak yg berfaham wahabi, didaerah saya lampung banyak anak2 SMA dan SMP yang terkena virus wahabi itu bisa dilihat cara shalatnya yg sedekapnya diatas dada persis dibawah tenggorokan dan berdiri waktu shalat kaki mengangkang lebar2 bersentuhan ke makmum disampingnya serta telunjuk yg di-gerak2an waktu tashahut, mereka juga selesai shalat langsung pergi gak mau doa bersama imam kalupun ikut berdoa gak mau ngangkat tangan mengaminkan, makanya saya kalo lihat wahabi shalat mau terawa apalagi ditambah celana cingkrag jengot awut2an jadinya tambah lucu.

      1. abah asra , salam kenal memang kemaksiatan kesesatan dan kejahilan akan selalu ada poengikutnya , sungguh kasihan mereka yang terjerumus dan terbawa arus Wahabisme semoga da`wah antum di dunia maya ini bisa turut serta mengurangi bahaya virus wahabi semoga.

        1. @ ahmadsyahid
          salam kenal kembali, nickname saya tadinya abu2an karena harus pake nama manusia sekarang jadi “abah asra”
          saya sebenar orang awam dlm agama cuma punya pengalaman di-usik2, dan selalu di bid’ahkan oleh wahabi, jadinya saya geretan sama pengikut wahabi yg merasa benar sendiri
          jadi kalo ada komentator wahabiyun saya selalu ingin ngomentarin juga.

  26. Beberapa ketidak konsistenan pengikut wahabi: 1. Menurut mereka, semua bid’ah sesat,tidak ada bid’ah hasanah, sementara mereka membagi bid’ah menjadi bid’ah duniawi dan agama, bid’ah secara bahasa dan istilah..2. Mereka mensesatkan ulama yg membagi bid’ah menjadi 2 (hasanah & sayiah) tp dilain pihak mereka menukil fatwa yg sesuai dengan mereka dan sering dijadikan hujjah. 3. Melarang taklid kepada imam mahzab tapi mendorong orang mengikuti mahzabnya

  27. Pada jaman nabi ada ndak ilmu tajwid, ilmu hadist, ilmu fiqh. Apa itu msk bid’ah? Apa pd jaman nabi diajarkan tauhid rububiyah, uluhiyah dan asma wa sifat?

    1. @ bang toyib
      abah asra, ya bapaknya asra.
      ente kok nuduh saya melecehkan sunnah ? coba tunjukkan sunnah yg mana yg telah dilecehkan oleh saya. apakah karena faham wahabi merasa paling sunnah dan saya tidak sefaham dgn ente jadi ente menuduh saya melecehkan sunnah….. he he he…GR lu ya !

    1. @ Mbah Redhy Abu Jamal.
      Jibril adalah salah satu nama malaikat dan malaikat adalah makhluk Allah yg paling patuh, mungkin karena dia merasa lebih patuh dari malaikat jibril maka dia menamakan dirinya “abah jibril” alias bapaknya jibril …… he he he LC(lucu) ni ye.

  28. abuasra@pelajari silsilah hadist shahih,diantaranya nt akan mengetahui dalil2 ttg tidak bolehnya isbal dan haram hukumnya memotong jenggot.sementara nt memperolok2nya.

    1. @ bang toyib
      Isbal itu batasnya diatas mata kaki, bukan dibawah lutut seperti orang sedang kebanjiran atau seperti celananya pelawak jojon yg sedang ngelawak supaya lucu. sedangkan dalil haram memotong jenggot setau saya gak ada, yg ada sunnahnya memelihara jenggok dan itupun harus rapi. bayangkan kalo jenggot gak di-potong2 kan serem awut2an, lebih lengkap baca aja masalah isbal di ummati ini linknya :

  29. @bang tyb. Mending pake sarung aja. Nah klu cuman punya 7 helai jenggot, apa hrs dipanjangkan? He he he jd mirip iblis dong….

  30. assalamu’alaikum.boleh ikut urun pendapat kan mas admin.gini lho mas mbak om,aku yang masih awam ini menyarankan kita sesama muslim jng saling menyalahkan.terutama kang wahab.eh maksud aku kawan2 dari wahabi.bolehlah anda2 mendakwahkan paham2 anda,doktrin2 anda skalian.silakan.yang jadi pokok permasalahan adalah anda2 menuduh secara keji dengan cara mengatakan sesat,bid’ah kafir musyrik kpada ssama muslim.perlu anda2 ketahui,nenek moyang,kakek moyang,pendahulu2 kami adalah aswaja.sbagian bsar adalah penganut thoriqoh.itu brarti kami adalah pengamal ajaran tasawwuf.terus anda sekalian pengikut wahabi dg membawa doctrin dari dinasti saud ingin memasarkan ,eh ma’af mendakwahkan paham anda dgn cara kotor.yaitu dg mengkafirkan mengatakan musyrik,tukang bid’ah kepada sesama muslim,yg tidak sesuai dg paham anda.kalao pengin dagangan anda laku,ibaratnya,perbaikilah kwalitasnya,berbicara yang söpan,ramah tamah,tunjukkan akhlak mulia.tapi aku percaya,anda wahabi tidak bisa sprti itu.bagaimana berakhlak mulia.lha wong wahabi anti tasawwuf.tasawwuf itu sarana untuk memperbaiki akhlak2 spt akhlak sampean mas.

  31. Assalamu’alaikum..
    saya kerap membaca blog ini,serasa gatal juga ingin coment yg menunjukan kegelisahan saya,tapi masih saya redam mungkin faktor usia kale yaks,,,tapi saya bangga banyak sahabat aswaja yg masih muda tapi berilmu,jika sudah berilmu Insya Allah tak akan mudah terpengaruh faham2 yang tingginya bak gedung berlantai paling tinggi dan paling mewah,,sayang tak berpondasi

  32. @ firdaus
    Faham yg tinggi bak gedung berlantai tanpa fondasi yg kukuh itu faham menyimpang wahabi yg pusatnya di kerajaan arab saudi, kita doakan saja semoga revolusi yg terjadi di Tunisia, Mesir dll di negara Arab terjadi juga di arab saudi sehingga dinasti saud yg pro yahudi tumabang dan berganti menjadi Republik Islam yang berfaham Aswaja murni dan pemimpinnya dari keturunan Ahlul Bait Rosulullah saw…. Amin.

  33. kalau temen2 tasawuf mengibaratkan “galih kangkung “……artinya nggak ada isinya …tau kan pohon kangkung kan kosong dalamnya …….

  34. Hmm..begitulah sahabatku,saya hanya beribarat,sebab sudah keliatan kemana arahnya perdebatan,hanya itu2 aja yg jadi bahan promosinya,gak ada yg keren gt loh,maksudnya yg mewarisi akhlak yg baik sesuai sunnah,lemah lembut,santun,bikak dll gak jadi bahan promosi produknya. 🙂

    1. @ firdaus.
      wajar saja fihak yg bermodal pas2an mempromosikan produknya diinternet berbeda buku2 wahabi yg peredarannya merajalela di toko2 buku diseluruh indonesia bahkan di-emperan2 masjid yg dijual oleh pengikut2 wahabi sebab arab saudi (biangnya wahabi) mendukung dana besar2an yg didapat dari petro dolarnya untuk menyebarkan faham menyimpang wahabi, belum lagi kaki tangannya yg begitu gencarnya berdakwah untuk menyebarkan faham wahabi diseluruh negara2 Muslim.
      Perdebatan yg itu2 saja, wajar juga sebab blok anti wahabi hanya membela diri dari tuduhan yg itu2 saja dari wahabi (seputar bid’ah, kafir, syirik).

  35. supaya mas fadhil lebih cerdas dikit, silahkan buka kitab I’lamul wuwaqqi’in tulisan Ibnul Jauzie… beliau adalah bermadzhab hambali yang hidup sekitar abad ke-4 hijriyah (lebih salaf dara para pengaku salaf)… tapi banyak sekali kalangan mujaddid dari tanah nejed yang mendompleng nama dan kitab beliau tapi hanya sepenggal-penggal… salah satunya adalah yang dikoar-korakan oleh akhi fahil ini… pernyataan fadhil yang kurang lebihnya mengatakan bahwa setiap amal ibadah itu adalah haram hukumnya sebelum ada dalil yang menghalalkan (tidak bid’ah)… ternyata ini mengutip dari kitab salaffusholih Ibnul Jauzi pada kitab I’lamul muwaqqi’in, dan hebatnya, kutipannya adalah cuma sebagian… lanjutannya “amal ibadah tersebut adalah pada ibadah mahdloh”… nah, kaum mujaddid wahabi ini mencampuradukkan antara mahdloh dan ghoiru mahdloh….. inilah kutipan yang tidak ilmiyah…. subhanAllah…

  36. terima kasih Al-fatih atas ulasannya yg menohok kaum Wahabi yg hobby penggal keterangan ulama sehingga mejadi ngawur tersebut. Selmt berjuang jadi pembela ASWAJA smga barokah, aminx3

    Jangan biarkan Indonesia jd negara Wahabi, bravo ASWAJA!!!

  37. Kaum muhammad bin abdul wahab / wahabisme, gimana wahabi masih pake bacaan tahiyat akhir.Kata wahabi mendoakan yang udah mati itu bid’ah atau sesat

  38. @ Abah Asra sy memang orang awam dan bukan wahbism, tetapi sy pernah baca kitab2 hadist ada banyak hadist yg menceritakan jenggot dan celana ngatung. apakah sy tdk boleh mengamalkannya

    Tks

    Sufyan atsauri

    1. Mas, maaf buat Abah Zahra sebelumnya karena saya yang jawab. Mengamalkan apa yang anda yakini kebenarannya dalam dalam wilayah fikih adalah hak kaum muslimin, yang terlarang adalah mengingkari dan menuduh bidah atau sesat orang yang mempunyai keyakinan lain dalam wilayah fikih apalagi hal itu adalah ikhtilaf. Memanjangkan janggut adalah sunnah begitu juga ‘celana ngatung’, tetapi setiap orang juga berhak berbeda dalam menafsirkan memanjangkan jenggot dan ‘celana ngatung’ begitu juga dengan hukum-hukumnya, oleh karena itu yang tidak boleh adalah menganggap tafsirannya yang paling benar dengan menyalahkan pihak lain, karena kita sama-sama mengikuti ulama panutan kita. Wassalam.

  39. @ Komentar Abah Asra

    …..bisa dilihat cara shalatnya yg sedekapnya diatas dada persis dibawah tenggorokan dan berdiri waktu shalat kaki mengangkang lebar2 bersentuhan ke makmum disampingnya serta telunjuk yg di-gerak2an waktu tashahut,

    1. Maaf ya Abah asra, sy pernah baca hadist yg di riwayatkan Imam Bukhari dlm shahinya, Abu daud, ibnu khuzaimah, imam ahmad, imam tirmidzi, dan dlm kitab al-muwatha dan imam Al-Mawarzi dlm kitab Masa’il hal 222 dan dlm irwa al-ghalil no 374. Bahwa Rasulullah bersedekap di dada, apakah bisa ga diamalkan kalau ada hadist seperti itu. Mohon penjelasnnya dari orang-orang faqih [ASWAJ)bukan dri Whabism….

    2. Ada hadist yg mengatakan bahwa wajibnya meraptkan kaki dg kaki yg lain, sy pernah baca di kitab fathul bari, dan Imam hajar atsqolany menyatakan bahwa sholat berjamaah jika tdk meraptkan shaftnya tdk sempurna, dan dalm kitab Al-Um juga Al-Alamah Imam syafii Rahimahullah memerintahkan bahkan mewajibkan rapat dan lurusnya shaft, bhkan itu adalah syart sempurnanya shalat meluruskan barisan dan merapatkannya..Mohon penjelasannya

    Tks

    Sofyan

    2.

  40. Assalamu’alaikum wr. wb.
    Dibawah ini saya akan menukilkan beberapa hadits yang berkaitan dengan ibadah sholat, yaitu suatu ibadah pokok dan penting dalam Islam, untuk menunjukan istinbath (ijtihad) para sahabat Rasululloh saw dan tidak dikatakan bid’ah meskipun Rasululloh saw tidak memerintahkan hal itu dan tidak pula melakukannya. Meskipun demikian Rasululloh saw tidak melarang dan mengatakan perbuatan sahabat itu bid’ah, bahkan Rasululloh saw membenarkan prakarsa para sahabat tersebut.
    Pertama
    Imam Al Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan sebuah hadits sahih berasal dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah saw. bertanya pada Bilal seusai sholat Subuh, “Hai Bilal, katakanlah kepadaku apa yang paling engkau harapkan dari amal yang telah engkau lakukan di dalam Islam, sebab aku mendengar suara terompahmu di dalam surga”.
    Bilal menjawab, “Bagiku amal yang paling kuharapkan ialah aku selalu bersuci tiap saat (yakni selalu dalam keadaan mempunyai wudhu) siang dan malam, dan dalam keadaan suci seperti itulah aku menunaikan salat”.
    Dala hadits lain yang diketengahkan oleh Tirmidzi dan disebutnya sebagai hadits hasan (baik) dan sahih, Rasululloh saw bertanya kepada Bilal, “Dengan apakah engkau dapat mendahului aku masuk surga?” Bilal menjawab,”Aku tidak pernah meninggalkan salat dua rokaat sehabis adzan, pada tiap saat duwhu-ku batal aku segera mengambil air wudhu, dan aku merasa wajib salat (sunnah) dua rokaat demi karena Allah”.
    Atas jawaban Bilal itu Rasululloh saw berkata, “Engkau telah mencapainya” – yakni engkau telah mencapai martabat (manzilah) itu. (Hadits tersebut diketengahkan juga oleh Al Hakim dan dipandangnya sebagai hadits sahih. Adz-Dzahabiy juga mengakuinya sebagai hadis sahih.
    Al Hafizh Ibnu Hajar dalam kitab Al-Fath mengatakan : dari hadits tersebut dapat diperoleh pengertian bahwa ijtihad menetapkan waktu ibadah diperbolehkan. Apa yang dikatakan Bilal kepada rasulullah saw adalah istinbath (ijtihad)-nya sendiri dan ternyata dibenarkan oleh rasulullah saw. (Fathul-Bari jilid III/276).

    Kedua
    Hadits yang diketengahkan oleh Al Bukhari, Muslim dan lain-lain dalam Kitabus-shalat, Bab “Rabbana lakal hamdu”, hadits tersebut berasal dariRifa’ah bin Rafi’ yang menerangkan sebagai berikut: Pada suatu hari aku sholat di belakang Rasululloh saw. ketika berdiri (i’tidal) sesudah ruku’ beliau mengucapkan “sami’allahu liman hamidah”. Salah seorang yang makmum menyusul ucapan beliau itu dengan berdoa: “Robbana lakal hamdu hamdan katsiiran thayyiban mubarakan fiihi” (“Ya Tuhan kami, puji syukur sebanyak-banyaknya dan sebaik-baiknya atas limpahan keberkahan-Mu”). Seusai sholat Rasulullo saw bertanya, “Siapa tadi yang berdoa?” Orang yang bersangkutan menjawab, “aAku ya rasululloh”. RAsululloh saw berkata, “Aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berpacu ingin mencatat doa itu lebih dulu!”.

    Di dalam Al-Fath Imam Al-Hafizh mengatakan bahwa hadits tersebut menunjukkan diperbolehkannya orang berdoa atau berdzikir di waktu sholat selain dari yang sudah biasa, asalkan maknanya tidak berlawanan dengan kebiasaan yang telah ditentukan. Kecuali itu hadits tersebut memperbolehkan orang mengeraskan suara di waktu sholat dalam batas tidak menimbulkan keberisikan. Demikian Al-Hafizh.

    Ketiga
    Ash Shan’aniy ‘Abdurrazzaq dalam Al-Mushannaf-nya meriwayatkan sebuah hadits dari ‘Abdillah bin ‘Umar ra yang mengatakan sebagai berikut: Di saat orang sudah mulai shalat jama’ah, datang seseorang agak terlambat. Setelah berdiri di shaf, dengan suara agak keras dia berucap : “Allahu akbar kabira, wal hamdu lillahi katsira wasubhanallahi bukratan wa ashiila”. Seusai sholat, rasulullohs aw bertanya, “Siapakah yang tadi mengucapkan kalimat itu?”. orang itu menjawab, “Aku yang Rasulullah. Demi Allah, aku tidak mmenghendaki lain kecuali kebajikan dengan mengucapkan kalimat itu”. Rasulullah saw kemudian berkata, “Aku melihat pintu-pintu langit terbuka dengan kalimat itu”. Sejak mendengar pernyataan Rasulullah saw yang demikian itu’Abdullah bin ‘Umar tidak pernah ketinggalan mengucapkan kalimat tersebut di saat mulai shalat.
    Hadits tersebut diketengahkan juga oleh An-Nasa’iy dengan teks agak berbeda sedikit, tetapi bermakna sama dan diketengahkan juga oleh Muslim.
    Dalam hadits tersebut kita menemukan pembuktian jelas bahwa Rasulullah saw. bukan mempermasalahkan orang yang menambah ucapan takbir dengan kalimat yang lebih sempurna, malah justru meridhai dan menggembirakan orang yang melakukannya. Karena itu kita sungguh merasa heran terhadap sementara orang yang menganggap pembacaan doa qunut dalam shalat subuh sebagai bid’ah. Padahal doa tersebut berasal dari Rasulullah saw sendiri. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Anas Bin Malik ra. dan beberapa shabat Nabi yang lain.

    Adapula sementara orang yang dapat kita pandang lebih aneh lagi. yaitu mereka yang tidak membaca kalimat “bismillah” untuk mengawali pembacaan surat Al-Fatihah di dalam shalat. Atau mungkin membaca “bismillah”, tetapi dengan suara lirih untuk didengar sendiri. Saya katakan aneh karena Al-Fatihah adalah sebuah surat dalam Al Quran yang didahului dengan kalimat “bismillah”. Akan tetapi yang lebih aneh lagi ialah ada beberapa orang dari kalangan mereka yang setelah membaca Al-Fatihah tanpa “bismillah”, mereka membaca “bismillah” dengan suara keras sebelum membaca surat berikutnya!.

    Keempat
    Dalam Kitabut-Tauhid Al Bukhari mengetengahkan sebuah hadits berasal dari Siti ‘Aisyah ra yang mengatakan sebagai berikut: Pada suatu saat Rasulullah menugaskan seorang dengan beberapa temannya ke suatu daerah untuk menangkal serangan kaum musyrikin. Tiap shalat berjamaah, selaku imam ia selalu membaca surah Al-Ikhlas disamping surah lainnya sesudah Al-Fatihah. Setelah mereka pulang ke Madinah, seorang diantaranya memberitahukan hel itu kepada Rasulullah saw. beliau menjawab, “Tanyakanlah kepadanya apa yang dimaksud”. Atas pertanyaan temannya itu orang tersebut menjawab, “Karena surah Al Ikhlas itu menerangkan sifat Ar-Rahman dan aku suka sekali membacanya”. Ketika jawaban itu disampaikan kepada Rasulullah saw., beliau berpesan, ”Sampaikan kepadanya bahwa Allah menyukainya”.
    Apa yang dilakukan oleh orang tadi tidak pernah dilakukan dan tidak pernah diperintahkan oleh Rasulullah saw. Itu hanya merupakan prakarsa orang itu sendiri. Sekalipun begitu Rasulullah saw tidak mempermasalahkan dan tidak pula mencelanya, bahkan memuji dan meridhainya dengan ucapan “Allah menyukainya”.
    Hadits tersebut diketengahkan pula oleh Al Bukhari dalam Kitabush-shalah.

    Wassalam

    Sumber rujukan : Buku berjudul “Pembahasan tuntas perihal Khilafiyah” Penulis “HMH Al-Hamid Al-Husaini”

  41. fadil ,ketauan betul bego luh.aku mau tanya ada tak hadis nabi bahwa nabi pada bulan puasa tarawih sebulan pull dimasjid?kalau tak ada mengapa dimasjidilharam tarawihnya pull sebln?kalau menurut kaedah kau berarti bid,ah dong dimekah tu?dasar anjing wahabi makanya kau pake ulama yg btl,bukan bin baz tanduk syetan

  42. aku cabar kau wahabi2,coba kalau bisa meng wahabikan indonesia,coba lah kalau bisa,dari dulu mana ada wahabi sukses,partai nya jg tak laku2,baik lagi sby jd presiden,coba kalau wahabi yg kuasa,kiamat indon.makanya dari dulu tak menang2 wahabi sebab alloh tdk bersama wahabi2

    1. hero tasik@

      Maca mama Wahabi di Malysia, katanya di sana wahabi berkembang pesat? Apakah ASWAJA (ahlussunnah waljamaah) di malay sia boleh mengatasi Wahabi? Tolong diceritakan, ok aku tunggu ceritanya….

  43. Kita tunggu sampai ajal menjeput, mana perkara-perkara yang benar dan mana yang perkara-perkara yang salah.. semuanya akan ketahuan…
    ooo.. ini benar… ooo in yang salah..
    Bergembiralah orang-orang yang benar dan Bersedihlah orang-orang yang salah

  44. Ha ha ha… sufrit bisa aja seh? Katanya dah dapat hadiyah eh hidayah, maca mana ceritanyo akhi? dishare dung…

  45. @Osamah Al- Waunat yang banyak ilmu
    Assalamu’alaikum akhi……. 😀
    mohon di share dong ilmunya, biar saya juga kebagian ilmunya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker