Fikih Sunnah

TAQLID ITU PERLU !

 

PERLUNYA TAQLID BAGI YANG BUKAN MUJTAHID

Oleh: Abu Hilya

Dibawah ini kita kutip penjelasan tentang TAQLID dari kitab AL LUMA’ FI USHULIL FIQHI karya AL IMAM ABI ISHAQ IBROHIM BIN ALI AS SYAIROZI semoga bermanfaat.

باب بيان ما يسوغ فيه التقليد وما لا يسوغ ومن يسوغ له التقليد ومن لا يسوغ

قد بينا الأدلة التي يرجع إليها المجتهد في معرفة الحكم وبقي الكلام في بيان ما يرجع إليه العامل في العمل وهو التقليد وجملته أن التقليد قبول القول من غير دليل . والأحكام على ضربين عقلي وشرعي فأما العقلي فلا يجوز فيه التقليد كمعرفة الصانع وصفاته ومعرفة الرسول صلى الله عليه و سلم وغير ذلك من الأحكام العقلية وحكي عن أبي عبيد الله بن الحسن العنبري أنه قال يجوز التقليد في أصول الدين وهذا خطأ لقول الله تعالى { إنا وجدنا آباءنا على أمة وإنا على آثارهم مقتدون } فذم قوما اتبعوا آباءهم في الدين فدل على أن ذلك لا يجوز لأن طريق هذه الأحكام العقل والناس كلهم يشتركون في العقل فلا معنى للتقليد فيه

Kesimpulan : Taqlid adalah : Menerima pendapat tanpa (mengetahui) dalil. Adapun hukum-hukumnya terbagi menjadi dua, yakni ’Aqliy dan Syar’iy. Terhadap hukum yang bisa didapati dari dalil aqliy tidak diperkenankan Taqlid, seperti mengetahui adanya Sang Pencipta dan Shifat-Shifat-Nya, mengetahui atau mengenali Rosululloh SAW, dan yang lain yang dalilnya dapat diketahui dengan Akal, karena semua manusia dengan akal yang sehat akan menyimpulkan adanya Sang Pencipta dan dapat mengetahui Rosululloh dengan dalil akal mereka, sehingga tidak ada artinya taqlid dalam masalah ini.

BACA :  Ziarah Kubur dan Tawassul Versi Ahlussunnah Waljama'ah
banner gif 160 600 b - TAQLID ITU PERLU !

فصل وأما الشرعي فضربان ضرب يعلم ضرورة من دين الرسول صلى الله عليه و سلم كالصلوات الخمس والزكوات وصوم شهر رمضان والحج وتحريم الزنا وشرب الخمر وما أشبه ذلك فهذا لا يجوز التقليد فيه لأن الناس كلهم يشتركون في إدراكه والعلم به فلا معنى للتقليد فيه وضرب لا يعلم إلا بالنظر والاستدلال كفروع العبادات والمعاملات والفروج والمناكحات وغير ذلك من الأحكام فهذا يسوغ فيه التقليد وحكي عن أبي علي الجبائي أنه قال إن كان ذلك مما يسوغ فيه الاجتهاد جاز وإن كان مما لا يجوز فيه الاجتهاد لم يجز . والدليل على ما قلناه قوله تعالى { فسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون } ولأنا لو منعنا التقليد فيه لاحتاج كل أحد أن يتعلم ذلك وفي إيجاب ذلك قطع عن المعاش وهلاك الحرث والزرع فوجب أن يسقط

Kedua : Syar’iy : Yakni Taqlid terhadap permasalahan yang hanya didapati sumber hukumnya dari dalil-dalil Syara’. Taqlid atas permasalahan semacam ini terbagi menjadi dua:

BACA :  Hukum Sholat Mayit bagi si Mayit yang Tak Pernah Sholat

1. Taqlid dalam masalah-masalah yang sumber hukumnya sudah jelas dan mudah difahami oleh setiap ummat islam, misal dalam masalah Wajibnya Sholat lima waktu, Zakat, Puasa Romadhon, Hajji, serta larangan Berzina, meminum Khomer dan yang lain. Terhadap masalah-masalah semacam ini yang dalilnya bersifat Dhorury dan mudah difahami, kita tidak diperkenankan Taqlid.

BACA :  Boleh Pindah Madzhab Tapi Tidak Boleh Taqlid Sahabat

2. Taqlid dalam masalah-masalah yang sumber hukumnya dibutuhkan Nadzhor atau analisa dan Istidlal pencarian dalil berikut memahaminya dengan benar sesuai porsinya, seperti masalah-masalah dalam Furu’il Ibadah, Mu’amalah, Furuj, Munakahah, dll. Dalil yang memperkenankan Taqlid dalam hal ini adalah Firman Alloh:
فسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون
“ Maka Bertanyalah kepada Ahli al Dzikri jika kalian tidak tahu”

 

Dan juga seandainya kita dilarang taqlid dalam masalah-masalah seperti ini sungguh kita akan menghabiskan waktu untuk belajar sampai menjadi Mujatahid, dan ini akan memutus Ma’isyah, menghentikan system perekonomian baik pertanian maupun perdagangan, atau yang lain, serta pengabaian atas kwajiban-kewajiban yang lain. Selain itu juga dibutuhkan persyaratan ilmu yang bukan main-main. Oleh karena itu, TAQLID ITU PERLU !

Wallohu a’lam

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

88 thoughts on “TAQLID ITU PERLU !”

    1. Alhmdulillh,artikel diatas juga menenangkan bagi orang awam (sprti saya)yg tidak mempunyai kmampuan beristimbat.Maaf kpd para ustad di ummati,sy mau tny tntang hal2 : 1. Amalan (sprti wirid,sedekah,shalawat,bc alquran,dsb.)bila dilakukan jarang2 menjadi berpahala,tapi bila dijadwal pada hari tertentu menjadi bidah sesat. 2. Amalan tersebut bila dilakukan tanpa keteraturan jumlah,waktu,tempat,dan urutan menjadi berpahala.Namun bila dilakukan dgn keteraturan waktu,cara,dan urutan menjadi bidah sesat (sprti mengumpulkan shalawat,zikir,silaturahmi,sedkah,thalabul ilmi pd acara maulid).Tanya : Apakah hal2 diatas menjadi kaidah fiqih? Pasalnya rekan wahabi sering berdalil dgn kaidah diatas.Mhn penjelasannya.Trmksh.

      1. masya Allah Mas eko pertanyaan yang bagus untuk didiskusikan , meskipun memang banyak sekali fatwa2 ganjil , aneh bin nyeleneh muncul dari kaum wahabi , seperti panggilan ” haji ” kepada yang telah menunaikannya , wirid menggunakan Tasbih dll menurut mereka adalah Bid`ah.

        untuk persoalan diatas yang mas eko sharekan , mungkin hal ini diinspirasi dari Definisi Bid`ah asy-syathibi : Thoriqotun fi din Mukhtaro`ah ” Tudhohi ” as-syari`ah , kata ” Tudhohi ” ini mungkin yang meninspirasi mereka mengatakan hal itu , namun sayang mereka ( wahabiyun ) tidak ingat jika hal ini hanyalah pendapat Asyathibi tentang Istilah atau definisi Bid`ah , sama sekali bukan Dalil Syar`i yang dapat dijadikan Hujjah.

        monggo kepada yang lainnya untuk melengkapi

          1. Al-hamdulillah akhuna Ustadz Abu Hilya diskusinya sudah selesai , mohon maaf baru dijawab kebetulan ada gangguan speedy 2 hari enggak jalan , mudah2an kedepan bisa lancar.

          2. Bismillah,

            Alhamdulillah, semoga Alloh memudahkan perjuangan anda dan semua saudara ASWAJA, jujur kami katakan : bahwa kami akan cukup tenang jika para asatidz seperti mas Ahmad Syahid, mas Diant, mas Agung, mas Lasykar, mas Ucep serta para Asatidza yang lain masih aktif dan eksis di forum ini…

            semoga Allo melindungi kita semua….

          3. @ mas abu khilya, amin amin amin, duaakum alal istiqoomah dan sejujurnya kami katakan juga bahwa hanya sekian persen waktu kami untuk mengikuti ummati, karena kesibukan mengais rizki dan belajar. Sangat berbeda dengan teman-teman salafi yang menurut pengamatan kami hampir seratus persen dalam dakwah via maya. Semoga aswaja, ummati.press dan para “penjaganya” mudawamah ila yaumil qiyamah. Wallohu a’lam

          4. akhuna wa ustadzuna Abu hilya Lasykar dan asatidz lainnya terimakasih atas kesitiaan antum semuanya dalam membela Aqidah Ahlu Sunnah Wal-jama`ah Asy`ariyah maturidiyah , semoga Allah memudahkan kita semua amin.

  1. @ mas eko
    Wiridan dan lain sebagainya menurut imam nawawi boleh dijadikan wadzifah (kebiasaan/dijadwal pada jam dan hari tertentu) dengan bertendensikan pada hadist nabi dari sayyidina Umar ra. Yang artinya: “barang siapa tertidur (dan) MENINGGALKAN HIZBNYA atau sesuatu darinya kemudian membacanya (meng-qodloi) antara sholat subuh dan dzuhur, maka akan dituliskan (pahala) padanya seperti kalau orang tersebut membacanya malam hari ” seperti keterangan berikut:
    الأذكار النووية ًص: 9
    ينبغي لمن كان كان له وظيفة من الذكر في وقت من ليل او نهار او عقيب صلاة او حالة من الأحوال ففاتته ان يتداركها ويأتي بها إذا تمكن منها ولا يهملها فإنه اذا اعتاد الملازمة عليها لم يعرضها للتفويت وإذا تساهل في قضا ئها سهل عليه تضييعها في وقتها وقد ثبت في صحيح مسلم عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه قال : ٌرسول الله صلى الله عليه وسلم :” من نام عن حزبه او عن شيء منه فقرأه ما بين صلاة الفجر وصلاة الظهر كتب له كأنما قرأه من الليل”
    Wallohu a’lam

    1. Alhmdlh,trimaksih ustadz(sdr)Ahmad Syahid,Laskar,dan UD_aja,atas ktrngannya..Namun pada kenyataannya kaidah inilah yg dipakai kaum wahabi untuk menistakan kgiatan Maulid Nabi. Bisa dilihat jwbn syaikh utsaimin saat mmbedakan antara maulid MBAW dan Maulid Nabi. Maulid Nabi bidah sesat hukumnya—>krn rutin. Maulid MBAW boleh hukumnya—>krn tdk rutin. Jika kaidah ini benar,mohon dijelaskan kevalidan kaidah tersebut.Namun jika kaidah ini salah,sudilah kiranya menjelaskan dimana kebatilan kaidah tersbut..Trimakasih..

      1. mas eko betul sebaiknya mari kita diskusikan , silahkan antum sampaikan apa yang disampaikan Ibn utsaimin , plus Dalil beliau jika Muwadzobah atau rutinitas sebuah ” amalan ” adalah Bid`ah , silahkan mas eko……..

        1. Menambahi mas ahmad syahid, semoga berkenan.

          @Mas eko, sebenarnya ada dua golongan besar tentang permasalahan bid’ah ditinjau dari segi ibadah dan adat (kebiasaan/pengkhususan).
          1. membagi bid’ah jadi dua hasanah dan sayyiah dan tidak masalah dengan adanya ibadah dan adat, dan ini adalah pendapat:
          Golongan syafiiyyah: Imam Syafi’I, Imam Izz ibn abd salam, Imam Nawawi, Imam Abi syamah. (etc.)
          Golongan malikiyyah: Imam Qorofi, Imam Zarqoni, (etc.)
          Golongan Hanafiyyah: Imam Ibn abiding, (etc.)
          Golongan Hanabilah: Imam Ibn al Jauzi (etc.)
          Golongan dlohiriyyah: Imam Ibn Hazm (etc.)
          Karena menurut beliau-beliau bid’ah adalah: Setiap hal baru yang tidak ditemukan didalam al Qur’an dan al hadist, baik berupa ibadah atau adat baik tercela atau terpuji, maka beliau-beliau diatas membagi bid’ah jadi dua hasanah dan sayyiah.

          2. mengatakan semua bid’ah sesat, namun pendapat ini ada yang mempersalahkan adat dan ada yang tidak mempermasahkan adat. Yang berpegang pada hal ini:
          Golongan malikiyyah: Imam Syathibi, Imam Thurtusyi (etc.)
          Golongan Hanafiyyah: Imam Assummuniy, Imam Ayniy (etc.)
          Golongan Syafiiyyah: Imam Baihaqi, Imam Ibnu hajar al Asyqolani, Imam Ibnu hajar Al haitami (etc.)
          Golongan Hanabilah: Imam Ibn Rojab, Imam Ibn Taimiyyah (etc.)
          Karena menurut beliau-beliau pengertian bidah terbagi menjadi dua:
          a. Tidak mempermasalahkan adat: metode baru dalam beragama, dimana (unsur) berlebihan dalam beribadah pada alloh yang dituju dengan bid’ah tersebut.
          b. Mempermasalahkan adat: metode baru dalam beragama yang menyerupakan pada syariat. Dimana tujuannya (menyamakan) metode syariat dengan cara bid’ah tersebut.
          Dengan ibarat sbb:
          الموسوعة الفقهية الكويتية الجزء الثاني ص: 23
          أَمَّا فِي الِاصْطِلَاحِ, فَقَدْ تَعَدَّدَتْ تَعْرِيفَاتُ الْبِدْعَةِ وَتَنَوَّعَتْ ; لِاخْتِلَافِ أَنْظَارِ الْعُلَمَاءِ فِي مَفْهُومِهَا وَمَدْلُولِهَا. فَمِنْهُمْ مَنْ وَسَّعَ مَدْلُولَهَا, حَتَّى أَطْلَقَهَا عَلَى كُلِّ مُسْتَحْدَثٍ مِنْ الْأَشْيَاءِ, وَمِنْهُمْ مَنْ ضَيَّقَ مَا تَدُلُّ عَلَيْهِ, فَتَقَلَّصَ بِذَلِكَ مَا يَنْدَرِجُ تَحْتَهَا مِنْ الْأَحْكَامِ. وَسَنُوجِزُ هَذَا فِي اتِّجَاهَيْنِ.
          الِاتِّجَاهُ الْأَوَّلُ: 2 – أَطْلَقَ أَصْحَابُ الِاتِّجَاهِ الْأَوَّلِ الْبِدْعَةَ عَلَى كُلِّ حَادِثٍ لَمْ يُوجَدْ فِي الْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ, سَوَاءٌ أَكَانَ فِي الْعِبَادَاتِ أَمْ الْعَادَاتِ, وَسَوَاءٌ أَكَانَ مَذْمُومًا أَمْ غَيْرَ مَذْمُومٍ. وَمِنْ الْقَائِلِينَ بِهَذَا الْإِمَامُ الشَّافِعِيُّ, وَمِنْ أَتْبَاعِهِ الْعِزُّ بْنُ عَبْدِ السَّلَامِ, وَالنَّوَوِيُّ, وَأَبُو شَامَةَ. وَمِنْ الْمَالِكِيَّةِ: الْقَرَافِيُّ, وَالزَّرْقَانِيُّ. وَمِنْ الْحَنَفِيَّةِ: ابْنُ عَابِدِينَ. وَمِنْ الْحَنَابِلَةِ: ابْنُ الْجَوْزِيِّ. وَمِنْ الظَّاهِرِيَّةِ: ابْنُ حَزْمٍ. وَيَتَمَثَّلُ هَذَا الِاتِّجَاهُ فِي تَعْرِيفِ الْعِزِّ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ لِلْبِدْعَةِ وَهُوَ: أَنَّهَا فِعْلُ مَا لَمْ يُعْهَدْ فِي عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إلى أن قال…..
          الِاتِّجَاهُ الثَّانِي: 3 – اتَّجَهَ فَرِيقٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ إلَى ذَمِّ الْبِدْعَةِ, وَقَرَّرُوا أَنَّ الْبِدْعَةَ كُلَّهَا ضَلَالَةٌ, سَوَاءٌ فِي الْعَادَاتِ أَوْ الْعِبَادَاتِ. وَمِنْ الْقَائِلِينَ بِهَذَا الْإِمَامُ مَالِكٌ وَالشَّاطِبِيُّ وَالطُّرْطُوشِيُّ. وَمِنْ الْحَنَفِيَّةِ: الْإِمَامُ الشُّمُنِّيُّ, وَالْعَيْنِيُّ. وَمِنْ الشَّافِعِيَّةِ: الْبَيْهَقِيُّ, وَابْنُ حَجَرٍ الْعَسْقَلَانِيُّ, وَابْنُ حَجَرٍ الْهَيْتَمِيُّ. وَمِنْ الْحَنَابِلَةِ: ابْنُ رَجَبٍ, وَابْنُ تَيْمِيَّةَ. وَأَوْضَحُ تَعْرِيفٍ يُمَثِّلُ هَذَا الِاتِّجَاهَ هُوَ تَعْرِيفُ الشَّاطِبِيِّ, حَيْثُ عَرَّفَ الْبِدْعَةَ بِتَعْرِيفَيْنِ: الْأَوَّلُ أَنَّهَا: طَرِيقَةٌ فِي الدِّينِ مُخْتَرَعَةٌ, تُضَاهِي الشَّرْعِيَّةَ, يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَلَيْهَا الْمُبَالَغَةُ فِي التَّعَبُّدِ لِلَّهِ سُبْحَانَهُ. وَهَذَا التَّعْرِيفُ لَمْ يُدْخِلْ الْعَادَاتِ فِي الْبِدْعَةِ, بَلْ خَصَّهَا بِالْعِبَادَاتِ, بِخِلَافِ الِاخْتِرَاعِ فِي أُمُورِ الدُّنْيَا. الثَّانِي أَنَّهَا: طَرِيقَةٌ فِي الدِّينِ مُخْتَرَعَةٌ تُضَاهِي الشَّرِيعَةَ يُقْصَدُ بِالسُّلُوكِ عَلَيْهَا مَا يُقْصَدُ بِالطَّرِيقَةِ الشَّرْعِيَّةِ. وَبِهَذَا التَّعْرِيفِ تَدْخُلُ الْعَادَاتُ فِي الْبِدَعِ إذَا ضَاهَتْ الطَّرِيقَةَ الشَّرْعِيَّة.َ

          Jadi kesimpulanya andai ada orang yang mengikuti faham kedua, kemudian memfonis pengikut syafiiyah yang tidak mempermasalahkan adat, apakah ini benar? Apakah ini sah? Sedangkan kita tahu semua itu adalah masalah ijtihadiyyah, dan masalah furuiyyah dan kamipun juga taqlid/naqil dari pendapat ulama kibar, dan alangkah ruginya orang-orang yang memaksakan kehendak mereka pada masalah khilafiyyah. Dan kamipun yakin berapapun dalil yang diberikan kalau tanggapan yang ada dari golongan yang berseberangan pastilah tidak akan ketemu. Bukankah islam itu rhmatan lil alamin? Fataammal….
          Wallohu a’lam

  2. maaf mungkin bisa sedikit urun rembug…

    mas eko..
    mungkin saya bisa sedikit memberi masukan…
    kalau membaca komennya mz eko mungkin saya bisa menyimpulkan yg dimksd disitu adalah menganggap adanya tauqif pada ibadah2 mutlak, contohnya baca quran jika kita menganggapnya ada tauqif pada waktu tertentu ya pasti jatuhnya pada bid’ah dholalah krna tauqif pada ibadah itu dibatasi dalil…tpi tdk menjadi msalah jika pada pengerjaan itu hanya diniatkan utk istiqomah saja pada amalan..

    jadi mungkin bisa kita bedakan antara istiqomah dengan menganggap adanya sebuah tauqif pada amalan….

    itulah yang kadang2 teman2 salafy rancu dalam memahaminya…..kadang sebuah bentuk istiqomah dalam amalan dianggap haram krna dianggap kita menganggap adanya tauqif pada ibadah itu… padahal beda antara istiqomah n menganggap adanya tauqif

  3. Bismillaah,

    Kita hanya taqlid pada ulama yang menunjukkan kepada kita dalil ayat Qur’an dan hadits yang kita jadikan dasar amalan ibadah kita. Kita jangan taqlid kepada yang selainnya.

    Wallaahu a’lam.

  4. assalamu’alaikum,,,ustadz2 yg saya hormati,,,saya pengen buat artikel atau mengprint artikel yg sudah ada tentang akidah2 aswaja,,tapi saya bingung,,,mau pilih2 tulisan2 yg mana karena artikel itu akan saya copy n akan saya perbanyak untuk orng2 disekitar saya agar tifdak terpengaruh golongn2 sesat,,,,mohon bimbingannya,,,,,,terima kasih,,,,

    1. Niat dan tujuan yang mulia , semoga akhuna Mashudi diberi kemudahan dalam menjalankannya , untuk tema silahkan antum pilih sesuai isu paling hoty dikalangan ( komunitas antum).

  5. bismillah,
    bertaqlid itu memang perlu bagi orang yang tidak sampai pada tingkatan mujtahid, supaya ibadahnya tidak keliru akibat memutuskan hukum yang salah. seperti sholatnya usman roy yang bacaan sholatnya diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia. hal itu disebabkan karena pemahaman yang salah akibat mau menjadi mujtahid.

  6. Bismillaah,

    Banyak orang salah memahami taqlid sehingga mereka asal taqlid kepada gurunya meski gurunya tidak menunjukkan dalil ayat Qur’an dan hadits sebagai dasar amal ibadahnya. Alhasil, ibadah mereka bukanlah benar tapi malah jauh dari Qur’an dan hadits. Sebagai contoh, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan umat Islam untuk merapatkan dan meluruskan shaf shalat berjamaah. Kenyataannya, shaf shalat mereka renggang-renggang dan tidak lurus. Bila diajak merapatkan shaf, mereka enggan atau tidak mau bahkan menolak dengan alasan bahwa gurunya mengatakan bahwa rapat shaf itu boleh renggang asal tidak sampai seukuran badan orang yang shalat.

    Sebenarnya, hakikat taqlid kepada guru adalah mengikuti dalil ayat Qur’an dan hadits yang ditunjukkan guru tersebut. Dengan demikian, amal ibadah kita sesuai dengan yang dikehendaki Allah dan contoh yang diberikan Rasulullaah shallallaahu ‘;alaihi wa sallam.

    Mari kita betaqlid yang benar. Jangan bertaqlid buta.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi

      Imam Bukhori dan Imam Nawawi bermazhab Syafi’i. Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad bin Hasan bermazhab Hanafi dsb. Boleh tidak saya mengikuti jejak mereka dengan mengikuti salah satu dari mazhab yg empat?

    2. @Ibnu Suradi

      Niat sholat itu termasuk rukun atau syarat sah, atau syarat wajib sholat, tolong tunjukkan dalil yg secara tegas dan jelas menenrangkan hal tersebut. trm ksh.

  7. @Mas Agung
    Insya Allah “Pakar Sholat Ala Al-Bani, Syech Ibnu Suradi” akan menjelaskan kepada kita tentang dalil-dalil yang diminta. Kita bisa dapat pencerahan nih.

  8. Mungkin taqlid yang diungkapkan mas ibnu suradi agak berbeda dengan pemahaman kami, sebelum melebar kami minta tanggapan mas ibnu suradi tentang perbedaan antara:
    Ijtihad:
    Ittiba’:
    Taqlid:
    Karena masalah tiga diatas adalah ijtihadiyyah, kalau asalnya gak sama akankah furuiyahnya sama? Dan akankah ada titik temunya? Silahkan, dan makasih sebelumnya. Wallohu a’lam

    1. Mas @mashudi
      Pertama-tama ente buka dan copas diblog ini tentang pengertian Bid’ah, pengertian At Tark yang ditulis oleh Mas @Abu Hilya dan Mas @Agung.
      Kedua ente buka dan copas tentang Tauhid menjadi 3
      Ketiga ente buka dan copas tentang siapa sih albani.

      Itu pengalaman ane dan berhasil. Semoga ente juga berhasil.

    1. @Ibnu Suradi

      hahahah…. lucu sekali pernyataan anda ini. Imam Nawawi itu seorang Mujtahid, namun beliau masih saja mengikatkan diri pada salah satu mazhab, yaitu mazhab Syafi’iyyah. Apakah Imam Nawawi tidak mengetahui dalil? Apakah orang seperti Bin Baz, Utsmaini, Al Bani dkkny, lebih mengetahui dalil daripada Imam Nawawi.

      Mazhab yang empat itu, sumber rujukan nya adalah Al-Qur’an dan Hadist. Masalahnya bukan terletak pada Al-Qur’an dan Hadistnya, tapi pada pemahaman akan kedua sumber hukum tersebut.

      Misal, anda mengikuti tata cara sholat menurut Al Bani, memang benar sumbernya adalah Al-Qur’an dan Hadist, tapi, benar tidak pemahaman al bani akan hal tersebut? Sebenarnya hal tersebut tidak lebih dari ijtihad atau pemahaman al bani akan al-Qur’an dan Hadist. Artinya, saudara pun bermazhab, tapi mazhab Al-Bani.

      Saya ini kuliah di bidang kesehatan, kalau disuruh meneliti satu persatu dalil yang ada, kapan saya sholatnya, kapan saya puasanya dll. Saya Ilmu Al-Qur’an dan Ilmu Hadist pun tidak paham, bila disuruh meneliti hadist dsb saya tidak bisa hahahaha

  9. Bismillaah,

    Kang Agung,

    Apakah maksud anda bahwa Imam Nawawi bertaqlid kepada Madzhab Syafi’iyah? Kalau ya, terus bagaimana cara beliau bertaqlid?

    Anda menulis: “Saya ini kuliah di bidang kesehatan, kalau disuruh meneliti satu persatu dalil yang ada, kapan saya sholatnya, kapan saya puasanya dll.”

    Pertanyaan: “Apakah anda shalat, puasa dll tanpa dalil?”

    Anda mau meluangkan waktu betahun-tahun untuk mempelajari masalah kesehatan sehingga mengetahui banyak dalil dari masalah kesehatan. Apakah anda tidak bersedia menyisakan waktu untuk mempelajari shalat sehingga mengetahui dalil-dalil tentang shalat, puasa dan lain-lain yang disampaikan ulama?

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi

      aduh,,, pernyataan bodoh lagi yg keluar dari mulut anda. begini ya mas, saya sholat, puasa dll, mengikuti penjelasan dari guru guru saya, dimana penjelasan mereka bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist juga, namun, pemahaman mereka berdasarkan mazhab Syafi’i.

      Seorang sahabat saya yg berkuliah di IAIN pernah berkata, orang yg kuliah di bidang tafsir qur’an, belum tentu menguasai tafsir hadist, begitu pun sebaliknya. Logikanya, apalagi saya, mana mungkin saya menguasai ilmu Al-Qur’an dan Hadist, bahasa arabpun saya tidak menguasainya.

    2. Bismillah

      Saudaraku kang @Ibnu Suradi,

      Menanggapi pertanyaan anda kepada mas Agung, berikut kami sampaikan pola Bermadzhab bagi kalangan “Ahlus Sunnah Wal jama’ah”. Namun sebelumnya sebagai penghantar perlu kiranya anda merenungkan beberapa hal berikut :

      Pertama Firman Alloh :

      فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

      “Maka bertanyalah kepada orang yang memiliki pengetahuan jika kalian tidak mengetahui” (QS. An Nahl : 43)

      Perhatikan ayat Alloh diatas, betapa luas kemurahan Alloh pada hamba-Nya, karena Dia Maha Mengetahui bahwa sebagian hamba-Nya ada yang tiada atau belum mempunyai pengetahuan, hingga Dia jadikan “Bertanya” sebagai solusi bagi hamba yang belum/tidak tahu.

      Kedua : Sabda Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam :

      مَنْ قَالَ فِي الْقُرْآنِ بِغَيْرِ عِلْمٍ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

      “Barangsiapa berbicara tentang al qur’an tanpa ilmu, maka hendaklah mengambil tempatnya di neraka” (HR. At Tirmidzi, dan beliau nyatakan sebagai hadits hasan shohih)

      Ketiga : Pernyataan para Ulama

      a. Pernyataan Imam Ahmad yang dinukil oleh Ibnul Qoyyim dalam I’laamul Muwaqqi’in :

      إذا كان عند الرجل الكتب المصنفة فيها قول رسول الله ص – واختلاف الصحابة و التابعين فلا يجوز أن يعمل بما شاء ويتخير فيقضي به ويعمل به حتى يسأل أهل العلم ما يؤخذ به فيكون يعمل على أمر صحيح

      “Jika seseorang mempunyai beberapa kitab yang didalamnya terdapat sabda Rosululloh shollallohu ‘alai wasallam, dan khilafiyah para sahabat dan tabi’in, maka ia tidak boleh sekehendaknya mengamalkan dan memilih dan lalu memberi putusan dengan itu semua sampai ia bertanya peda ahli ilmu, pendapat mana yang boleh diambil. Jika demikian maka ia telah menjalankan sesuatu yang benar” (I’laamul Muwaqqi’iin, vol. I, hlm.44 )

      Imam Ahmad juga berkata :

      “Barangsiapa mempunyai anggapan bahwa ia tidak ber-Taqlid dan tidak ber-Taqlid kepada seseorang dalam agamanya, maka itu adalah pendapat orang fasiq menurut Alloh dan Rosul-Nya”. (Ibnu Abi Ya’la Al Farro’ – Thobaqotul Hanabilah, vol. 1, hlm. 31 dan 65)

      b. Pernyataan Al Hafidz Adz Dzahabi ketika menolak orang yang berkata : “Mengambil hadits lebih baik daripada mengambil ucapan As Syafi’iy dan Abu Hanifah”. Imam Adz Dzahabi berkata :

      هذا جيد، لكن بشرط أن يكون قد قال بذلك الحديث إمام من نظراء هذين الامامين مثل مالك، أو سفيان، أو الاوزاعي، وبأن يكون الحديث ثابتا سالما من علة، وبأن لا يكون حجة أبي حنيفة والشافعي حديثا صحيحا معارضا للآخرة.

      “Pendapat tersebut baik, akan tetapi dengan syarat orang yang berkata tentang hadits tersebut adalah seorang Imam yang sepadan dengan kedua Imam tersebut (Imam As Syafi’iy dan Abi Hanifah), seperti Imam Malik, Sufyan, Al Auza’iy. Dan hendaknya hadits yang ditetapkannya adalah hadits yang tidak mengandung ‘Illat (steril), juga hendaknya hadits yang dijadikan hujjah bagi Imam Abi Hanifah dan Imam As Syafi’iy adalah bukan hadits yang shohih serta bertentangan (Ta’aarudh) dengan yang lain”. (Al Hafidz Adz Dzhabi dalam – Siyaaru A’laamin Nubalaa, vol. 16, hlm. 405)

      c. Pernyataan Imam As Syathibi dalam Al Muwafaqoot pada masalah ke sembilan :

      فتاوى المجتهدين بالنسبة إلى العوام كالأدلة الشرعية بالنسبة إلى المجتهدين.
      والدليل عليه أن وجود الأدلة بالنسبة إلى المقلدين وعدمها سواء؛ إذ كانوا لا يستفيدون منها شيئا؛ فليس النظر في الأدلة والاستنباط من شأنهم، ولا يجوز ذلك لهم البتة وقد قال تعالى: {فَاسْأَلوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ}
      والمقلد غير عالم؛ فلا يصح له إلا سؤال أهل الذكر، وإليهم مرجعه في أحكام الدين على الإطلاق، فهم إذن القائمون له مقام الشارع، وأقوالهم قائمة مقام [أقوال] الشارع.

      “Fatwa para Mujtahid bagi orang awam bagaikan dalil Syar’iy bagi para Mujtahid. Adapun dalil (yang menjadi dasar) atas ahal tersebut adalah : Bahwasannya adanya dalil atau tidak adanya dalil bagi orang-orang yang ber-Taqlid adalah sama, mengingat mereka tidak akan dapat mengambil manfaat dari dalil-dalil tsb. Dan tidak akan ada (tidak dapat) Nadzor (analisa) terhadap dalil-dalil dalam kondisi mereka (orang awam), dan hal tersebut (menganalisa dalil-dalil) tidak diperkenankan samasekali bagi mereka.”
      Dan bagi orang yang tidak ‘alim yang ber-taqlid, tidak sah baginya kecuali hanya bertanya kepada para ahli ilmu. Dan para ahli ilmulah tempat yang menjadi rujukan bagi orang awam yang ber-taqlid…. dst . (Al Muwaafaqoot – vol.5, hlm. 336-337)

      Bersambung…. Insya Alloh

    3. Kang @Ibnu Suradi,

      tentang pertanyaan anda :

      Apakah maksud anda bahwa Imam Nawawi bertaqlid kepada Madzhab Syafi’iyah? Kalau ya, terus bagaimana cara beliau bertaqlid?

      berikut penjelasan kami :

      MELURUSKAN KESALAHPAHAMAN MEMAKNAI BERMADZHAB

      Bismillah

      Banyak kalangan keliru dalam mengartikan “BERMADZHAB”, terlebih bagi kalangan yang menolak bermadzhab. Tulisan kami kali ini tidak dalam rangka menjelasan alasan serta dasar hukum bermadzhab, akan tetapi lebih kepada penjelasan tentang pola ummat islam dan para ulama’nya dalam bermadzhab.Hal ini penting agar tidak ada lagi kekeliruan dalam mengartikan bermadzhab.

      Sebagai bukti adanya kalangan yang tidak memahami maksud dan pola dalam bermadzhab adalah : Adanya tuduhan sesat terhadap amaliyah atau pendapat yang tidak difatwakan oleh Imam Madzhab.

      Ketahuilah saudaraku, para Aimmatul Madzahib (para Imam Madzhab) khususnya yang empat, secara garis besar mewariskan setidaknya dua hal yang dapat diikuti (dijadikan pedoman) ummat islam untuk mengetahui hukum-hukum dalam islam. Dua hal tersebut adalah Qouliy dan Manhajiy. Dari dua hal tersebut, dalam prakteknya kita dapati Tiga Pola bagi para ulama dan ummat islam dalam mengaplikasikan bermadzhab.

      Pertama : METODE QOULIY

      Bermadzhab secara Qouliy adalah mengikuti pendapat para Imam Madzhab tentang hukum suatu perkara, dalam hal ini kita ambil contoh : Sunnahnya Qunut dalam sholat shubuh, Dianjurkannya Talaffudz Niyat (bacaan Usholli atau Nawaitu) Sunnahnya Ziyarah Kubur, dll (dalam Madzhab Imam As Syafi’iy dan Syafi’iyyahh).

      Pada contoh-contoh diatas, ummat islam menjadikan pendapat (hasil ijtihad) para Mujtahid sebagai rujukan dalam mengetahui dan menetapkan hukum atas perkara-perkara tsb. Sedangkan para ulama/para Kiyai dan Asatidza hanya sebatas sebagai penyampai informasi atas pendapat-pendapat yang telah menjadi ketetapan para Mujtahid.

      Kedua : METODE ILHAQIY

      Bermadzhab dengan cara “Ilhaqiy” secara garis besar hampir sama dengan penggunaan “Qiyas” dalam ber-Istinbath/ menggali hukum. Perbedaannya adalah jika dalam “Metode Qiyas” yang menjadi rukun ”Ashal” (Musyabbah Bih atau perkara yang dengannya perkara lain disamakan untuk diketahui hukumnya) adalah Nash yang bersifat “Qoth’iy” (pasti benar). sedangkan dalam “Metode Ilhaqiy” yang menjadi rukun ”Ashal” adalah pendapat para Mujtahid yang bersifat “Dzhonniy” (memiliki kemungkinan salah/keliru).

      “Metode Ilhaqiy” biasa digunakan oleh para Ulama atau para Asatidz dipesantren (dalam Bahtsul Masaail) atas perkara-perkara baru yang belum difatwakan hukumnya oleh para Mujtahidin, dimana perkara baru tersebut memiliki kesamaan dengan perkara yang telah difatwakan oleh para Mujtahid.

      Dalam hal ini kita ambil contoh Fatwa para Ulama NU tentang “Kenduri Kematian”, dimana dalam tradisi tersebut memiliki kesamaan dengan “Ma’tam” yang dimakruhkan oleh Imam As Syafi’iy atau “Wahsyah, Juma’ atau Arba’in” yang juga dimakruhkan oleh para Ulama Syafi’iyyah.

      Disini perlu kami tegaskan sekali lagi, bahwa “Tahlilan” dalam kenduri kematian bukanlah “Ma’tam, Juma’ atau Arba’in” yang dimaksud oleh Imam As Syafi’iy dan para ulama Syafi’iyyah.
      Dalam tradisi “Tahlilan/Kenduri Kematian” makanan yang dihidangkan bersifat seadanya dalam rangka menghormat para tamu, dan memang fakta yang terjadi di daerah kami adalah : dengan atau tanpa hidangan makanan para tetangga tetap akan hadir dirumah keluarga simati untuk mendo’akan si mati. Berbeda dengan Ma’tam, Juma’ atau Arba’in, dimana dalam tradisi tersebut keluarga si mati membuat hidangan makanan dengan tujuan menghadirkan orang lain di rumah mereka (hampir menyerupai walimah), sehingga kita dapati Illat (alasan) yang menyebabkan tradisi seperti Ma’tam dihukumi Makruh adalah “Tajdiidul Huzni” dan “Takliful Mu’nah” (menambah kesedihan dan beratnya ongkos/biaya yang ditanggung keluarga si mati) (Lihat Al Umm, vol. 1, hlm. 279).
      Disamping itu dalam tradisi “Ma’tam, Juma’ atau Arba’in” yang dimaksud oleh Imam As Syafi’iy dan para ulama Syafi’iyyah tidak disebutkan adanya acara do’a untuk si mati.

      Dalam hal ini para Ulama NU dalam fatwanya No : 18, menghukumi “Makruh” atas perkara yang berupa “Tahlilan/ Kenduri Kematian” karena memiliki kesamaan dengan “Ma’tam, Juma’, Wahsyah atau Arba’in” yang terletak pada adanya berkumpul dirumah keluarga si mati dan adanya hidangan makanan dalam tradisi tsb.
      Inilah yang kami maksud bermadzhab dengan cara “Ilhaqiy”.

      Ketiga : METODE MANHAJIY

      Bermadzhab dengan Metode/cara/pola “Manhajiy” adalah : Menggunakan Manhaj atau Metode yang digariskan oleh para Imam Madzhab dalam Ber-Isthinbath (menggali hukum dari sumber utamanya yakni al qur’an dan as sunnah). Pola ini biasanya diterapkan oleh para “Mujtahid Muqoyyad” (para ulama yang memiliki kapasitas untuk menggali hukum langsung dari sumbernya, akan tetapi penggaliannya tetap menggunakan Manhaj atau Metode yang telah digariskan oleh para Imam Madzhab yang dianutnya).
      Dalam hal ini kita ambil contoh Al Imam Ar Rofi’iy, Al Imam An Nawawiy, Al Imam Ibnu Hajar, yang kesemuanya dinisbatkan sebagai “As Syafi’iy” atau “Ash-haabus Syafi’iy” (para ualama yang bermadzhab As Syafi’iy) meskipun dalam banyak hal mereka berpendapat berbeda dengan Al Imam As Syafi’iy sendiri. Akan tetapi karena Manhaj atau metode yang digunakan mereka dalam ber-Isthinbath adalah metode yang digariskan oleh Imam Syafi’iy, karenanya mereka disebut sebagai para Ulama Syafi’iyyah.

      Dalam hal ini kita ambil contoh fatwa para Ulama Syafi’iyah tentang “Maulid Nabi”, diantaranya ada Al Allamah Abu Syamah dalam Al Ba’its, Al hafizh Jalaluddin As Suyuthi dalam As Syamil, As Sayyid Abu Bakar Syatho dalam I’anah, As Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dalam Siroh An Nabawiyyah dll. Meskipun perayaan Maulid Nabi belum terjadi pada masa Imam As Syafi’iy dan tentunya tidak kita dapati fatwa beliau tentang Maulid Nabi, akan tetapi “Maulid Nabi” adalah “Bid’ah Hasanah” dalam Madzhab Syafi’iyyah, karena Isthinbath (penggalian hukum) dalam perkara tersebut menggunakan “Manhaj/Metode” yang telah digariskan oleh Imam As Syafi’iy.

      Bermadzhab dengan pola semacam ini sangat diperlukan diera sekarang dan para ulama NU merekomendasikan dan mendorong bermadzhab dengan cara ini (sebagaimana keputusan MUNAS 1992), mengingat banyaknya perkembangan perkara baru yang belum didapati ketentuan hukumnya dari para Imam Madzhab. Diantaranya tentang “Tausi’ul Mina” (perluasan area Mina), “Tausi’ul Mas’a” (pelebaran lalulintas Sa’i), “Wujubu Idzni Zaujah” (mewajibkan izin dari istri sah bagi pelaku poligami), dst.

      Semoga tulisan singkat ini dapat menambah wawasan yang bermanfaat bagi kita guna meminimalisir “Perpecahan” yang tidak kita inginkan bersama akibat dari kebodohan dalam mensikapi “Khilafiyah”. Wallohu A’lam…

      1. Wah kalau @ibnu suradi gak jelas juga, pemerhati yang bingung nih. Begitu detail dan jelas uraian mas @abu hilya.
        Dulu ane dan @ibnu suradi pernah diskusi masalah ini juga tapi tetap aja, jurus ngeyelnya keluar, yah tapi apa mau dikata : anak panah sudah lepas dari busurnya, agak susah dan alooot.

      2. Wah mantap pisan penjelasannya kang @bu Hilya…! Tapi bener juga apa kata kang Ucep, kalo kang Ibnu masih ga mudeng juga malah kita nih yang bingung…. bingung teu manggih tungtung! hehe..

      3. Bismillaah,

        Kang Abu Hilya,

        Terima kasih atas penjelasan anda.

        Selanjutnya, saya ingin bertanya. Bagaimana cara bertaqlid yang benar dalam pandangan anda dalam shalat? Saya persempit lagi pertanyaan saya. Bagaimana cara bertaqlid dalam melakukan amalan gerakan bertakbir untuk shalat?

        Wallaahu a’lam.

        1. Maaf-maaf kang Abu Hilya saya menyela, saya mengikuti diskusi yang menarik ini.
          Menurut saya “cara bertaqlid” dengan melihat guru kita saat takbirotul ikhrom gerakan tangannya seperti apa? bacaannya apa? dan kita mengikutinya.
          Apakah ada cara lain? Kalau ada boleh dong berbagi.
          Kalau kita tanya “kenapa guru gerakannya seperti itu?” Ini namanya bertanya.
          Kalau kita tanya “berdasarkan hadist ini dan itu, gerakannya tidak seperti itu Guru” Ini namanya menyanggah.
          Mohon maaf atas kesederhanaan cara berfikir saya.
          atau
          Adakah pengertian lain dari pertanyann @Ibnu Suradi ini? Silakan diteruskan, asyik kok diskusinya

        2. Bismillah,

          Syukron Lakum Mas Suparlan, Baarokallohu Fiikum

          selanjutnya buat Kang @Ibnu Suradi,

          Diatas telah kami sampaikan dengan singkat metode bermadzhab, yang berarti menunjukkan cara bertaqlid… selanjutnya dengan cara atau metode yang mana kita ber-taqlid ? jawabnya : bergantung pada kapasitas kita masing-masing. Oleh karenanya dalam menentukan pola atau cara ber-taqlid bagi kita masing-masing, hendaknya kita bercermin untuk mengetahui siapa kita dan kapasitas keilmuan yang telah Alloh anugerahkan kepada kita ? Adakah diri kita memiliki keilmuan yang cukup untuk memahami seandainya ada dalil nash yang kita ketahui ?

          1. @Ustadz Abu Hilya
            Sangat jelas uraian dan contoh dari Ustadz bagi orang yang mau membuka hatinya.

            Di kampung saya, banyak orang buta huruf ga bisa baca-tulis Al Qur’an. Tapi, dengan sabar Ustadz Kampung itu mengajarkan sholat yang kita ketahui sebagai tiang agama. Mereka akhirnya mengerjakan sholat, walau mereka tidak mengetahui dalil-dalil. Mereka ikut saja yang diajarkan gurunya. Kalau mereka disuruh Taklid kepada “Pakar Sholat Ala Albani” mungkin mereka akan mengalami hambatan. Walaupun demikian, mereka berakhlak baik, ga pernah tawuran, ga pernah korupsi seperti tokoh Partai Kesandung Sapi, ga pernah mencela orang. Mereka hidup dan bermasyarakat saling menghargai.
            Sebaliknya, banyak orang yang ngerti dalil malah ga mencerminkan akhlak yang diajarkan Rasulllah. Ilmu belum cukup, sok langsung dari Quran dan hadits. Sok paling sunnah, sholatnya paling sesuai Rasulullah. Bahkan mengartikan hadits sesuai nafsu …

          2. Bismillaah,

            Kang Bima,

            Alangkah lebih baik bila ustadz tersebut langsung mengajarkan warga kampung tersebut bagaimana cara Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam shalat, bagaimana cara Rasulullaah berdiri, takbir, ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, duduk tasyahud dan salam. Berdasarkan hadits riwayat Bukhari, misalnya, jika bertakbir untu shalat, Rasulullah mengangkat tangan setinggi pundak, dst,dst. Dengan demikian, warga kampung tersebut merasa bahwa mereka shalat mengikuti Rasulullaah seperti yang diperintahkan Allah: “Katakanlah wahai Muhammad: “Jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku……”, bukan mengikuti gurunya.

            Jika nanti ditanya orang lain: “Kok kamu shalatnya seperti itu?, maka mereka akan menjawab: “Saya shalat mengikuti tata cara shalat Rasulullaah yang disampaikan guru saya.” Mereka tidak menjawab: “Habis, guru saya shalat seperti itu.”

            Wallaahu a’lam.

          3. @Kang Ibnu Suradi
            Ustadz di kampung saya itu juga ga cukup ilmu untuk menyampaikan dalil-dalil, karena dia hanya berbekal ilmu yang terbatas. Jangan membayangkan dengan orang yang pernah menempuh pendidikan di pesantren apalagi di universitas ya …? Di kampung saya itu, jangankan buat sekolah, buat makan saja harus banting tulang. Dia mau mengajari orang saja sudah syukur. Apakah dia harus berhenti mengajar karena tidak menguasai dalil-dalil dalam beribadah?

          4. @Bima AsSyafi’i
            Mas bima Partai Kesandung sapi itu, adalah Allah telah menunjukkan apa sipa partai kesandung sapi itu sebenarnya, masihkah kita percaya denganya Partai Kesandung Sapi…..ha ha ha sapi ngamuk ni ye.

  10. Bismillaah,

    Kang Agung menulis: “aduh,,, pernyataan bodoh lagi yg keluar dari mulut anda. begini ya mas, saya sholat, puasa dll, mengikuti penjelasan dari guru guru saya, dimana penjelasan mereka bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist juga, namun, pemahaman mereka berdasarkan mazhab Syafi’i.”

    Komentar:

    Tidak semestinya anda menggunakan kata-kata kasar seperti “bodoh” dan “mulut”. Kalau dari nama, saya menduga anda orang Jawa. Bukankah orang Jawa terkenal sopan santunnya? Bukankah anda shalat setiap hari? Dan Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar.” Penggunaan kata-kata kasar merupakan bentuk dari kekejian dan kemungkaran. Anda musti memperbaiki shalat anda sehingga anda tidak lagi menggunakan kata-kata kasar.

    Seseorang yang memiliki aqidah yang lurus akan beribadah dengan benar. Dan seseorang yang beribadah dengan benar akan berakhlak mulia. Berkata-kata lembut.

    Anda mengatakan bahwa shalat dan puasa mengikuti penjelasan guru anda. Apakah penjelasan guru anda itu berujung pada penyampaian dalil-dalil yang menjadi dasar shalat anda dari berdiri, takbir hingga salam. Misalnya, saat berdiri untuk shalat, seorang musholli hendaknya menghadap sutrah atau pembatas karena Rasulullah s.a.w. pernah bersabda, “Janganlah kamu solat kecuali memasang (meletakkan) sutrah dan jangan biarkan seorangpun melintas di hadapanmu. Apabila ia tetap berkeras, maka lawanlah dia kerana dia ditemani syaitan”.” (Hadis Riwayat Ibnu Khuzaimah, no. 820), dan lain sebagainya.

    Bila ya, maka itulah yang saya maksud dengan taklid yang benar: mengikuti guru hingga mengetahui dalil Qur’an dan hadits yang ditunjukkan guru anda. Bila tidak, maka sebenarnya anda hanya sekedar mengikuti guru anda saja tanpa mengetahui dalil amalan anda.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi

      Maaf mas, saya ini orang Sumatera Selatan, bukan orang jawa. Kalau menurut anda perkataan saya “KURANG AJAR”, ada yg “LEBIH KURANG AJAR” lagi, yaitu salafi, tapi lebih dikenal dengan wahabi.

      Berikut KEKURANG AJARAN SALAFI WAHABI yg PATUT UNTUK DIHAJAR HABIS PAHAM MEREKA.

      1. Wahabi mengatakan bahwa Allaah swt. itu meiliki sifat sakit. Hal tersebut dikarenakan mereka menolak takwil.

      2. Saking menolak takwil, mereka memvonis sesat Imam Hambali, Imam Mujahid, Imam Bukhori, Imam Muslim dsb.

      3. Mereka memberi gelar kuburiyyun pada orang orang yg bertawassul dan bertabarruk. padahal, riwayat tentang tawassul diceritakan pula oleh imam Ibnu Katsir, Imam Nawawi dsb.

      Kemudian Anda berkata : “Bila tidak, maka sebenarnya anda hanya sekedar mengikuti guru anda saja tanpa mengetahui dalil amalan anda.”

      kalau begitu, tolong jawab pertanyaan saya :
      1. Kami diajarkan, bahwa ada yg namanya, syarat sah sholat, syarat wajib sholat, rukun sholat, dan sunah sunah dalam sholat. Benar atau salah pembagian tersebut? Mana dalilnya?

      2. Wudhu merupakan syarat sah sholat. benar atau tidak, mana dalilnya yg secara tegas mengatakan bahwa wudhu adalah syarat sah sholat?

      3. salah satu rukun wudhu adalah membasuh muka. apa yg dimaksud dengan muka, tlng sebutkan batasan atau minimal bagian muka yg harus terbasuh beserta dalilnya?

      4. Niat sholat itu termasuk rukun atau syarat sholat. Kapan niat sholat itu dilakukan, sebelum, bersamaan, atau setelah takbiratul ihram?

      5. Apa hukum membaca Basmalah?

      Menurut ulama Syafi’iyyah, basmalah adalah bagian dari surah Al-Fatihah, jadi, bila tidak di baca, maka sholatnya tidak sah, jika dia tidak mengulangi bacaannya. mereka berdalil berdasarkan riwayat dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad saw. bersabda : “apabila kalian membaca surah Al-Fatihah, maka bacalah Bismillahirrahmanirrahim, karena itu adalah salah satu ayatnya”. (HR. Daruqutni). dan ada juga hadist yg sejenis dari jalur lain yg diriwayatkan oleh an-Nasa’i, ibnu khuzaimah dan ibnu hibban.

      sementara itu, dalam pandangan ulama malikiyyah, membaca basmallah hukumnya makruh kecuali untuk bermaksud keluar dari persoalan khilafiyyah. mereka berdalil berdasarkan riwayat dari Anas, yaitu : “suatu ketika Nabi, Abu Bakar dan Umar memulai sholat dengan bacaan alhamdulillahhirobbil’alamin”. (Muttafaqun ‘alaihi). Imam Muslim menambahkan, mereka tidak menyebutkan Bismillahirrahmanirrohim pada awal dan akhir bacaan.

      Itu dulu pertanyaan saya, mohon anda mau menjawabnya.

  11. @ibnu suradi
    Udah ikutin aja cara albani, itu juga sdh bertaqlid dan bermadzhab, kali aja albani benar.
    Benar apa gak, kan kita kudu mati dulu. Kalau dineraka berarti salah, kalau surga berarti benar. Mungkin menurut ente “shalat ala albani” sama 1000 % dengan “Shalat ala Rasulullah”.

    1. Bismillaah,

      Kang Ucep,

      Kebenaran memang milik Allah. Dan Allah telah menyampaikan kebenaran itu lewat lisan Rasulullaah dalam bentuk Qur’an dan Hadits. Mengapa kita musti mati terlebih dahulu untuk mengetahui kebenaran bila kita dapat menemukan kebenaran semasa hidup di dunia dengan mengkaji Qur’an dan Hadits di bawah bimbingan guru yang lurus?

      Wallaahu a’lam.

      1. Masyaallah….Laa halawalaa quwwata illa billah…!

        Kang Ibnu Suradi, anda sudah pernah baca Cara Shalat Nabi yang ada di kitab2 Madzhab? Apakah di dalam kitab2 tersebut shalat diajarkan tanpa dasar hadist2 Nabi Saw? Silahkan jawab kang, nanti kita lanjut diskusinya insyaallah kalau waktunya cukup hari ini. Maklum saya sambil sibuk aktifitas kerja harian.

        1. Bismillaah,

          Mbak Aryati,

          Saya percaya bahwa semua ulama madzhab menyampaikan kepada kita dalil-dalil Qur’an dan hadits sebagai dasar amalan ibadah kita. Makanya, taqlid yang benar adalah mengikuti guru, ustadz, kyai, habib, ulama dan imam yang menunjukkan kepada kita dalil ayat Qur’an dan hadits untuk dijadikan dasar amalan ibadah kita.

          Kalau kita asal mengikuti guru sedangkan guru tersebut tidak menunjukkan dalil ayat Qur’an dan hadits sebagai dasar amalan ibadah kita, maka itu yang disebut taqlid buta.

          Allah berfirman: “Katakanlah Wahai Muhammad: ‘Jika engkau mencintai Allah, maka ikutilah aku…..” dan “Jika engkau tidak tahu, maka bertanyalah kepada orang yang tahu.” Kita diperintahkan untuk bertanya tentang ilmu atau dalil Qur’an dan hadits tentang bagaimana cara mengikuti Rasulullaah kepada orang yang memiliki ilmu.

          Makanya, guru yang baik selalu menunjukkan kepada para muridnya ilmu atau dalil ayat Qur’an dan hadits yang dijadikan dasar amalan ibadah para muridnya. Bila semua guru seperti itu, maka cara ibadah umat Islam akan sama. Kalau ada perbedaan, maka itu sedikit saja. Tidak seperti keadaan zaman sekarang. Beda guru, beda cara ibadah. Maka, terjadi banyak perbedaan yang sering menjurus pada perselisihan dan mengancam persatuan umat Islam.

          Wallaahu alam.

          1. Kang Ibnu Suradi,

            Kang Ibnu Suradi, kalau paham antum tidak nyempal dan mau bergabung dg Mayoritas Ummat islam di dunia (ASWAJA), maka tidak ada lagi perselisihan kecuali hanya yg ringan2 aja. Disebabkan kalian menyempal dalam memahami agama, lalu kalian menginginkan agar Ummat Islam mengikuti kalian, maka itulah penyebab terbesar dari perselisihan. Semua Madzhab yg empat bersatu kang, lihatlah para Ulamanya saling sayang menyayangi di antara mereka dan saling menghormati.

          2. Bismillaah,

            Mbak Aryati,

            Anda jangan menutup mata. Lihatlah thariqah yang ada di Padang dan di Jombang. Mereka sama-sama satu Thariqah Naqsakhbandiyah, namun memulai puasa Ramadhon pada hari yang berbeda. Mereka yang di Padang mulai puasa sehari sebelum hari yang ditetapkan pemerintah. Sedangkan mereka yang di Jombang mulai puasa sehari sesudah ketetapan pemerintah. Hal ini diberitakan secara jelas oleh banyak stasiun TV di Indonesia. Ini karena apa? Ini karena taqlid buta kepada gurunya, bukan mengikuti Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam seperti yang diperintahkan Allah. Kalau mereka mengikuti Rasulullaah, maka mereka akan mengikuti ketetapan pemerintah.

            Wallaahu a’lam.

          3. Kang Ibnu Suradi,
            Antum sebagai orang merasa ikut Rasulullah sawa, dalam hal yg antum contohkan itu, mana yg benar dan diterima Allah Swt? Silahkan dijawab Kang….

          4. Bismillaah,

            Mbak Aryati,

            Untuk mengetahui jawaban dari pertanyaan yang anda ajukan tersebut, anda yang mengaku sebagai Ahlussunnah wal Jamaah musti mengetahui sikap Ahlussunnah wal Jamaah kepada penguasa. Allah berfirman: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan penguasa di antara kalian.”

            Dalam hal penetapan awal dan akhir puasa Ramadhon, kita musti mengikuti ketetapan pemerintah sebagai bukti pengamalan ayat Qur’an tersebut. Kalau anda taqlid buta kepada guru anda, maka anda bisa mulai puasa di hari yang berbeda darai harai yang ditetapkan pemerintah.

            Wallaahu a’lam.

          5. Bismillah,

            Kang @Ibn Suradi, mohon maaf sebelumnya ikut nyela…

            Apa maksud anda dengan pernyataan “Taqlid Buta” ? apa anda sudah membuktikan praktek mereka ? Lantas bagaimana anda menanggapi pernyataan Imam AsSyathibi diatas ?

            berikut kami cuplikkan kembali pernyataan tsb :

            Fatwa para Mujtahid bagi orang awam bagaikan dalil Syar’iy bagi para Mujtahid

            Sedang dalam tahqiq-nya dijelaskan :

            أي: قائمة مقامها، فكما أن المجتهدين ملزمون باتباع الأدلة الشرعية من الكتاب والسنة… إلخ، فكذلك المقلدون ليس لهم أهلية الاجتهاد يلزمهم اتباع قول المجتهدين والأخذ بفتواهم؛ كما قال الآمدي في “الأحكام” “4/ 306

            yakni : Bahwa posisi fatwa (bagi orang awam) menempati posisi dalil-dalil syar’iy, maka sebagaimana para mujtahid berkewajiban melazimi dalil-dalil syari’ah baik dari al qur’an dan as sunnah… dst. Wajib pula bagi Muqollidin (orang-orang yang ber-taqlid) yang tiada memiliki kemampuan berijtihad untuk berpegang pada pendapat para mujtahid dan mengambil fatwa mereka..

            Lebih jauh Imam As Syathibi berkata :

            Bahwasannya adanya dalil atau tidak adanya dalil bagi orang-orang yang ber-Taqlid adalah sama, mengingat mereka tidak akan dapat mengambil manfaat dari dalil-dalil tsb.

            Coba kita perhatikan pernyataan Imam As Syathibi tsb, “Bahwa dalil tidak memiliki arti bagi orang awam”. Selanjutnya bagaimana tanggapan anda atas pernyataan Imam As Syathibi tsb ?

          6. Bismillaah,

            Kang Abu Hilya,

            Seawam-awamnya orang, Allah pasti telah membekalinya dengan pendengaran, penglihatan, lisan, akal dan hati. Dengan bekal tersebut, ia dapat menanyakan kepada gurunya: “Apa dalil amalan ini?” Dan sudah menjadi kelaziman bahwa ulama berfatwa dengan menyertakan dalil ayat Qur’an dan hadits yang mendasari fatwanya. Jadi, mengikuti fatwa ulama pada hakikatnya mengikuti dalil yang disampaikannya.

            Wallaahu a’lam.

          7. Ustadz Abu Hilya@

            Wah…. Kang Ibnu Suradi tentunya lebih “AHLI” dibanding Imam Asy Syathibi, bukankah Kang Ibnu Suradi sudah “MERASA” ikut Rasulullah saw? Tapi apakah nanti Nabi Muhammad mangakuinya sebagai pengikut atau tidak, Wallohu a’lam.

          8. Saya tambahkan sedikit,
            walaupun mereka berbeda dalam masalah itu, akan tetapi mereka tetap saling menghormati dan saling menyayangi, betul nggak Kang?

            Itulah yg saya maksudkan dg bersatu Kang Ibnu Suradi, mereka tidak saling sesat menyesatkan. Bandingkan dg ustadz2 Salafi wahabi, di antara mereka sendiri saling sesat menyesatkan, betul nggak kang? Mana yg benar di antara Syaik2 dan Ustadz2 Salafi Wahabi itu?

          9. @ibnu suradi
            Sejauh mana ente tahu tentang Tasawuf ?
            Pernah ente praktekan atau katanya ? kalau ente praktekan boleh kita diskusi, kalau cuma katanya, ente tutup pembahasan tentang tasawuf dari pada diskusinya melebar.

          10. Buat Kang Ibnu Suradi,
            Ada lho kang cara Ittiba’ yang Rasulullah SAW. sendiri ajarkan seperti kutipan dibawah ini.

            Kutipan (sumber:http://cahayaperjalanan.blogspot.com/2012/03/peringtan-nabi-akan-munculnya-fitnah.html)
            Syarah Shahih Muslim, Jilid. 17, NO.171.
            Dengan sedikit keraguan, Khalid bin Walīd bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, orang ini memiliki semua bekas dari ibadah-ibadah sunnahnya: matanya merah karena banyak menangis, wajahnya memiliki dua garis di atas pipinya bekas airmata yang selalu mengalir, kakinya bengkak karena lama berdiri sepanjang malam (tahajjud) dan janggut mereka pun lebat
            Rasulullah Saw menjawab : camkan makna ayat ini : qul in’kuntum tuhib’būnallāh fattabi’unī – Katakanlah: “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-osamu. karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
            Khalid bin Walid bertanya, “Bagaimana caranya ya Rasulullah ?”
            Nabi Saw menjawab,
            Jadilah orang yang ramah seperti aku, bersikaplah penuh kasih, cintai orang-orang miskin dan papa, bersikaplah lemah-lembut, penuh perhatian dan cintai saudara-saudaramu dan jadilah pelindung bagi mereka.

      2. @ibnu suradi

        kebeneran ada ente nih…!
        saya mau tanya sama ente, beberapa waktu yang lalu saya sengaja memperhatikan cara solat seorang wahabi di masjid deket rumah saya, sejauh penglihatan saya tidak ada perbedaan yang signifikan, pas setelah satu rokaat eh dia jalan beberapa langkah pindah dari tempat yang tidak bersejadah ke tempat yang bersejadah.
        barangkali ada, saya minta dalil pindah tempat dari yang tidak bersejadah ke tempat bersejadah

        terima kasih sebelumnya

        1. Bismillaah,

          Abi (Abu) Raka,

          Mengapa anda tidak bertanya kepadanya tentang tindakannya pindah ke tempat yang ada sajadahnya? Dugaan saya, dia pindah untuk mencari atau menghadap sutrah atau pembatas. Perlu anda ketahui bahwa menghadap sutrah atau pembatas saat shalat adalah perintah Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Mungkin guru anda belum menyampaikan masalah sutrah ini. Mungkin juga ini akibat dari taqlid buta. Oleh karenanya, anda tidak memiliki keinginan untuk mengetahui dalil-dalil dari Qur’an dan hadits yang mendasari amalan shalat anda dari berdiri, takbir hingga salam.

          Wallaahu a’lam.

          1. Bismillah,

            Kang @Ibnu Suradi,

            Kami jadikan perkara yang anda sampaikan (penetapan puasa) sebagai ilustrasi. Tentang perkara tsb anda menyampaikan :

            anda yang mengaku sebagai Ahlussunnah wal Jamaah musti mengetahui sikap Ahlussunnah wal Jamaah kepada penguasa. Allah berfirman: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan penguasa di antara kalian.”

            sedangkan disisi lain Rosululloh Bersabda :

            صُومُوا لِرُؤْيَتِهِ وَأَفْطِرُوا لِرُؤْيَتِهِ

            “Berpuasalah kalian karena melihat bulan dan berbukalah kalian karena melihat bulan”

            Bagaimana menurut anda, jika ada orang yang mengawali dan mengakhiri puasa berdasar -Ru’yah (melihat) bulan yang kebetulan tidak sama dengan tanggal yang ditetapkan pemerintah ?
            Siapa yang dianggap “Taqlid Buta” dalam masalah tsb ? apakah yang berpegang pada dzahirnya hadits atau yang mengikuti ketetapan pemerintah ?

            Selanjutnya apa makna “Ru’yah” menurut anda ?
            Siapa yang wajib melakukan usaha “Ru’yah” ?
            Apa konsekwensi bagi orang yang tidak mengikuti hasil “Ru’yah-nya”?
            Adakah kita wajib mengikuti ketetapan pemerintah dalam masalah-masalah Ibadah semacam sholat, zakat dst.. ?

          2. @ibnu suradi

            terimakasih atas jawaban ente! maaf saya nanya sama ente karena kayanya ente lebih mumpuni ilmunya gitu n ente juga sering ngebahas masalah solat disini lagian sesama wahabi masa beda tata cara solatnya!
            tapi maaf nih jawaban ente masih belum jelas! saya minta dalilnya, klopun dugaan ente benar..!

    2. Yang Jelas cara shalat Albani, yang diikuti ibnu suradi yang ngakunya cara shalat nabi terlihat lucu dan gak enak diikuti, gimana gak enak shalat kok ngangkang lebar2 nyentuh kaki jamaah disebelahnya yg akan mengganggu kekhusuk’an orang lain belum lagi kalo sujud tangan dilebarkan menyikut kanan kiri, bangun dari sujud tangan dikepalkan bertumpu pada sajadah kayak orang mau push-up, pada tasyahud jari telunjuk digerak-gerakkan yg katanya memukul setan….ha ha ha…… banyak setan babak belur dipukul orang wahabi shalat.

  12. @ibnu suradi
    kenapa anda kayanya membenci orang yang Taqlid,
    Jika kita membaca kitab Ushul min ‘Ilmil Ushul karya Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaymin, maka akan kita dapati bahwa beliau dan Syaikh ibnu Taymiyyah membolehkan taqlid.
    Salah satu jenis taqlid menurut Muhammad al-Utsaymin adalah taqlid bagi orang awam, dimana beliau membolehkan seseorang yang awam untuk berpegang pada suatu madzhab tertentu yang ia mengambil rukhshoh-rukhshohnya dan azimah-azimahnya dalam semua urusan agamanya.
    Syaikh ibnu Taymiyyah berkata:
    من التزم مذهبا معينا ثم فعل خلافه من غير تقليد لعالم آخر أفتاه و لا استدلال بدليل يقتضي خلاف ذلك و لا عذر شرعي يقتضي حل ما فعله فهو متبع لهواه ، فاعل للمحرم بغير عذر شرعي ، و هذا منكر

    “Barangsiapa beriltizam (berkomitmen) dengan suatu madzhab tertentu, lalu ia melaksanakan yang menyelisihi madzhabnya tanpa taqlid kepada ‘ulama lain yang memberinya fatwa dan tanpa istidlal dengan dalil yang menyelisihinya, dan tanpa udzur syar’i yang menunjukkan halalnya perbuatan yang dilakukannya, maka ia adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, pelaku keharoman tanpa ada udzur syar’i, dan ini adalah mungkar.”
    klo kita yang beriman kepada Allah SWT dan Rosulnya, pasti kita akan mengikuti apa yang dilakukan para Sahabat dan mereka yang mengikutinya tanpa memperselisihkannya. yg disampaikan Saudara @bu Hilya adalah Firman Allah SWT tetapi kenapa harus diperdebatkan? para Sahabat ketika mendengar Firman Allah SWT di atas ia akan berkata Wa Samina wa athona. bukan memperselisih seolah-olah paling benar2.
    Wallahu alam

  13. menambahi teman-teman aswaja, semoga berkenan.
    @mas ibnu suradi, Setelah saya amati, mungkin konsep panjenengan tidak beda dengan fatwa berikut:

    فتاوى الشبكة الإسلامية – (ج 172 / ص 438)
    أن مذهب العامي هو ما يفتيه به العالم الثقة، وإذا اختلف عليه أهل العلم أخذ برأي من يثق في علمه ودينه، ولا يجب عليه تلقيد شخص بعينه لقول ابن تيمية : ولا يجب على أحد من المسلمين تقليد شخص بعينه من العلماء في كل ما يقول، ولا يجب على أحد من المسلمين التزام مذهب شخص معين غير الرسول صلى الله عليه وسلم في كل ما يوجبه ويخبر به . اهـ

    Artinya: “Sesungguhnya madzhab orang awam adalah: sesuatu hukum yang terfatwakan oleh orang alim yang bisa dipercaya, dan apabila terjadi perbedaan antara para ahli ilmu maka (bisa:pent) mengambil pendapat orang yang dipercaya keilmuan dan keagamaannya, dan TIDAK WAJIB TAQLID pada seseorang saja, karena perkataan Ibnu Taimiyyah: DAN TIDAK WAJIB BAGI SESEORANG DARI ORANG-ORANG MUSLIM BERTAQLID PADA SESEORANG SAJA DALAM SETIAP PERKATAANNYA, DAN TIDAK WAJIB BAGI SESEORANG DARI ORANG-ORANG MUSLIM MENETAPI MADZHAB SESEORANG YANG DITENTUKAN (mengikuti satu madzhab saja:pent) SELAIN ROSUL SAW DALAM SETIAP HAL ROSUL WAJIBKAN DAN ROSUL KHABARKAN”.

    oleh karena metodologi mas ibnu suradi agak berbeda dengan kami. Ada beberapa pertanyaan untuk mas ibnu suradi:

    1. apa yang dimaksud dengan orang awam dalam kesimpulan fatawa sabkah diatas?

    2. apakah berdosa bagi orang awam yang terlanjur sibuk dengan urusan dunia tidak mengetahui masalah-masalah pelik agama beserta qur’an hadistnya, seperti: hukum rokok, zakat pakai uang, makan pakai sendok, hukum menonton tv, hukum memakai hape, menonton bioskop, memakai celana jins, drumband, alcohol, dan yang lainnya?

    3. apakah ada dalil yang menunjukkan keharusan untuk mempelajari ilmu agama sampai taraf bisa mujtahid? Sampai taraf bisa mengupas kandungan alquran dan hadist?

    4. dan apakah imam ibnu taimiyyah melarang bertaqlid?

    Terimakasih atas tanggapannya.
    Wallohu a’lam.

  14. @ibnu suradi
    Maaf ane baru bisa koment malam, karena ada keperluan.
    Begini @ibnu suradi :
    Dalam hadist dinyatakan sikap bersidakep tangan setelah takbiratul ikhram adalah diatas dada, sekarang pertanyaan ane :
    1. Kenapa para Imam tidak mengikuti cara yang ada dihadist tersebut secara letterlux ?, apakah mereka tidak tahu atau apa?
    2. Siapa yang lebih dekat antara Imam 4 Madzhab dengan albani, sehingga albani mengajarkan kepada letterlux hadist.
    3. Apakah salah jika kami aswaja mengikuti Imam2 yang lebih dekat hidupnya, bahkan Imam Abu Hanifah masih sezaman dengan Sahabat Ali ibn Abu Thalib ra. Daripada albani.
    4. Apakah albani pernah berjumpa dengan Rasulullah saw, sehingga dia mengatakan Shalat ala Nabiy. Sedangkan para Imam tidak ada yang pernah menyebut Shalat ala Nabi.

    Pertanyaan ini yang belum pernah ente jawab, dari diskusi yang lalu2. Ente jawab dengan jujur.

    1. Saya yakin, kang Ibnu suradi itu telah salah berguru, sebab sebagai seorang salafi wahabi kenapa menyalahi ajarannya Syaikh utsaimin dan Ibnu Taymiyah? Mereka berdua membolehkan bertaqlid bagi orang awam, tetapi anehnya kang Ibnu Suradi menentangnya? Padahal kang Ibnu Suradi sendiri, saya yakin masih tergolong sangat awam. Sangat kelihatan dari komnet2nya selama ini.

  15. @Mbak Aryati
    Saya sependapat dengan Mbak, cuma Ibnu Suradi itu merasa paling tahu semua dalil sehingga sudah berani mengartikan hadits. Demikian juga merasa sholatnya sudah sama seperti Rasulullah, karena telah membaca kitab sholat karya Albani. Lebih dari itu, dia sangat mempersoalkan orang-orang yang tidak memahami hadits tentang aspek-aspek bacaan dan gerakan sholat. Saya kasihan orang-orang di kampung saya, termasuk saya yang sedang merantau mungkin tidak sampai 20% memahami dalil-dalil tersebut. Kami khawatir dengan pemahaman hadits Ibnu Suradi bahwa “apabila sholatnya baik, maka baiklah seluruh amalnya”. Sholat saya dan orang-orang di kampung saya itu sangat jauh dari sholatnya Ibnu Suradi yang hafal semua dalil-dalil. Apalagai kami hanya Taklid pada ustadz Kampung. Udah taklid, kampungan lagi. Nasib!

    1. Menurut Ibnu Suradi, taklid yang paling benar dan wajib itu taklid kepada ulama2 wahabi seperti Al Bani, Bin Baz, Utsaimin dll ulama penjilat dinasti saud. sedangkan bertaklid kepada ulama mazhab dan ulama ASWAJA adalah haram dan perlu dijauhi karena ilmu mereka tidak sebanding dengan Albani dkk.

      1. Bismillaah,

        Kawan-kawan semua,

        Semua ulama berfatwa dengan menyertakan dalil baik dari Qur’an maupun hadits. Perhatikan baik-baik fatwa yang disampaikan ulama-ulama dari MUI, NU, Muhammadiyah, PKS, Hisbut Thahrir, Majelis Mujahiddin Indonesia, Al Irsyad, kalangan habaib, lembaga fatwa negara-negara Islam di Timur Tengah, dll. Fatwanya pasti disertai dalil baik dari Qur’an dan Hadits. Adakah fatwa ulama tanpa dalil baik dari Qur’an maupun hadits?

        Ketika membaca fatwa, kita hendaknya membaca juga dalilnya. Dengan demikian, kita menjadi yakin bahwa bila kita mengikuti fatwa ulama, sebenarnya kita mengikuti Qur’an dan hadits. Apabila kita mengikuti ulama yang berfatwa seperti itu, pada hakikatnya kita mengikuti Allah dan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.

        Tugas ulama itu adalah mengajak umat untuk dekat kepada Allah dan rasulNya. Maka dari itu, mereka senantiasa menyampaikan firman Allah dan sabda Rasulullaah kepada umat. Bila umat Islam sering membaca dan mendengarkan firman Allah dan sabda Rasulullaah yang disampaikan ulama, maka dengan sendirinya mereka akan beramal ibadah sesuai dengan yang dikehendaki Allah dan Rasulullaah. Mereka benar-benar beribadah kepada Allah dengan cara-cara yang benar-benaar diajarkan Rasulullaah. Amal ibadah seperti inilah yang mendekatkan manusia kepada Allah dan Rasulullaah.

        Beginilah cara taqlid saya.

        Wallaahu a’lam.

        1. @ibnu suradi
          Makanya silahkan ente bertaqlid ke albani, itu haq ente, jangan memaksakan kami untuk bertaqlid kepada albani.
          Tolong jawab pertanyaan ane !!!!!!!!

        2. Mas ibnu suradi saya tertarik dengan statemen anda dibawah ini:

          “Ketika membaca fatwa, kita hendaknya membaca juga dalilnya. Dengan demikian, kita menjadi yakin bahwa bila kita mengikuti fatwa ulama, sebenarnya kita mengikuti Qur’an dan hadits. Apabila kita mengikuti ulama yang berfatwa seperti itu, pada hakikatnya kita mengikuti Allah dan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam”.

          Namun ada sedikit ganjalan dalam hati tatkala kami mencoba terjun ke masyarakat Indonesia yang notabene majemuk ini, dan ini ada sedikit pertanyaan untuk mas, semoga bisa terjawab dan berkenan.

          1. apakah ada dalil wajib bagi ulama yang berfatwa untuk mengucapkan, saya tekankan, mengucapkan al qur’an dan hadist yang jadi dasar fatwa beliau-beliau?

          2. Apakah wajib bagi penanya, untuk menanyakan dalil dari fatwa tersebut?

          3. Dan terakhir menurut panjenengan apakah bedanya ittiba’ dan taqlid? Serta taqlid menurut versi anda diambil dari keterangan apa? Dari kitab mana atau ulama siapa? Tolong disebutkan, mungkin kami punya referensi tersebut, dan menambah khazanah keilmuan kami. Karena yang kami ketahui, “taqlid” yang anda paparkan sepengetahuan kami adalah ittiba’.

          Terimakasih atas tanggapannya. Wallohu a’lam

  16. Bismillaah,

    Kang Lasykar,

    Taqlid itu mengikuti guru. Ittiba’ itu mengikuti Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Taqlid yang benar adalah mengikuti guru yang menunjukkan dalil Qur’an dan hadits. Untuk selanjutnya, yang kita ikuti adalah dalil yang disampaikan guru. Jadi, kita mengikuti dalil ayat yang ditunjukkan guru untuk mengikuti Rasulullaah. Pada dasarnya kita semua adalah penuntut ilmu yang masih awam. Kita tidak bisa ittiba’ tanpa taqlid kepada guru yang menunjukkan dalil Qur’an dan hadits.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi :

      Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

      Apa kabar saudara Ibnu Suradi ?

      Dengan jelas diatas saudara mengatakan :

      “Taqlid itu mengikuti guru. Ittiba’ itu mengikuti Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.”

      Itu artinya saudara membuat definisi perbedaan kedua kata tersebut (Ittba’ dan Taqlid).

      Saya ingin bertanya, baik secara bahasa (lughat) maupun dari sisi istilah saudara membedakan itu berdasarkan apa ? Di Kitab apa ?

      Lalu saudara mengikuti cara shalat Nashirudin al Albani, atau mengikuti ucapan Shalih Utsaimin itu disebut apa ? (Taqlid/Ittba’) atau ada istilah lain ???

      Sebutkan dasar ucapan saudara sebelum bicara lebih luas lagi.

      Terimakasih.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. Mas ibnu suradi ternyata keterangan taqlid anda agak bertentangan dengan ungkapan panutan anda, syaikh al albani. Sbb:
      الحديث حجة بنفسه – (ج 1 / ص 86) محمد ناصر الدين الألباني
      ولم تختلف العلماء أن العامة عليها تقليد علمائها وأنهم المرادون بقول الله عز وجل : [ فاسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون ] وأجمعوا على أن الأعمى لا بد له من تقليد غيره ممن يثق بمعرفته بالقبلة إذا أشكلت عليه فكذلك من لا علم له ولا بصر بمعنى ما يدين به لا بد له من تقليد عالمه وكذلك لم يختلف العلماء أنه لا يجوز للعامة الفتيا وذلك – والله أعلم – لجهلها بالمعاني التي منها يجوز التحليل والتحريم والقول في العلم ”

      “para ulama tidak berbeda pendapat, sesungguhnya orang awam wajib taqlid pada ulama’nya dan merekalah yang dikehendaki dengan firman Alloh azza wa jalla BERTANYALAH PADA AHLI DZIKIR APABILA KALIAN TIDAK TAHU, dan para ulama sepakat sesungguhnya orang awam wajib taqlid pada orang lain yang terpercaya untuk menunjukkan kiblat apabila kesulitan, begitu pula orang orang yang tidak berilmu dan melihat dengan pengertian orang yang tidak (mendalam) agamanya wajib taqlid pada ulama’nya. BEGITU PULA ULAMA TIDAK BERBEDA PENDAPAT SESUNGGUHNYA TIDAK BOLEH BAGI ORANG AWAM UNTUK BERFATWA, HAL TERSEBUT-wallohu a’lam- KARENA KEBODOHAN MEREKA DENGAN PENGERTIAN-PENGERTIAN YANG MEMPERBOLEHKAN PENGHALALAN DAN PENGHARAMAN SERTA UNGKAPAN DALAM ILMU”. (selanjutnya beliau berkata:pent)

      على أنني أرى إطلاق الكلام في العامي وأنه لا بد له من تقليد لا يخلو من شيء . لأنك إذا تذكرت أن التقليد هو العمل بقول الغير من غير حجة فمن السهل في كثير من الأحيان على بعض أذكياء العامة أن يعرف الحجة لوضوحها في النص الذي بلغه فمن الذي يزعم أن مثل قوله صلى الله عليه وآله وسلم : ” التيمم ضربة واحدة للوجه والكفين ” لا تبين الحجة فيه لهم بل ولمن دونهم في الذكاء ؟ ولذلك فالحق أن يقال : إن من عجز عن معرفة الدليل فهو الذي يجب عليه التقليد . ولا يكلف الله نفسا إلا وسعها

      “Oleh karena itu sesungguhnya aku (syaikh albani:pent) telah melihat mutlaknya perkataan perihal orang awam, dan sesungguhnya wajib baginya untuk bertaqlid yang tidak sepi dari sesuatu. Karena sesungguhnya apabila engkau menuturkan bahwa sesungguhnya taqlid adalah beramal dengan perkataan orang lain tanpa (mengetahui) hujjah, maka adalah hal yang mudah dalam banyak tempat bagi sebagian orang-orang awam yang pintar untuk mengetahui hujjah, karena jelasnya hujah tersebut dalam nash yang sampai padanya…… (sampai perkataan.pent). oleh karena itu yang benar di ucapkan: SESUNGGUHNYA ORANG YANG LEMAH UNTUK MENGETAHUI DALIL, MAKA ORANG ITULAH YANG WAJIB TAQLID, (karena firman Alloh:pent) dan Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. (QS. Albaqoroh 286)”.

      Kesimpulan:
      SYAIKH ALBANI MEMPERBOLEHKAN TAQLID BAGI ORANG YANG TIDAK MAMPU, BAHKAN MEWAJIBKANNYA, sekarang yang menjadi pertanyaan adalah sebatas manakah orang tersebut boleh taqlid? Orang awam yang bagaimana.? Terimakasih atas tanggapannya. Wallohu a’lam

      1. Mas @lasykar
        Kalau memang demikian, ada dua kemungkinan : pertama Albani nya yang salah, kedua pengikutnya yang salah menafsirkan perkataan albani.
        Tapi kalau dilihat pertama, albani bertaqlid kepada siapa, karena dia tidak punya guru (gak tahu apakah buku dapat dikatakan guru ?).

        1. Wallohu a’lam mas ucep….. saya sendiri juga bingung dengan konsep konsep syeikh albani…. wallohu al muwaffiq ila aqwamitthoriq…..

  17. bismillah,
    @ibnu suradi
    “Taqlid itu mengikuti guru. Ittiba’ itu mengikuti Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Taqlid yang benar adalah mengikuti guru yang menunjukkan dalil Qur’an dan hadits. Untuk selanjutnya, yang kita ikuti adalah dalil yang disampaikan guru.”

    klo Fatwa Ulama: Syekh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin ditanya tentang membaca surat Al-Fatihah dan ayat kursi setelah shalat berjamaah. Beliau menjawab: “Membaca surat al-Fatihah, ayat kursi dan setelah shalat fardhu secara berjamaah dengan suara keras adalah BID’AH. coba anda lihat lebih lengkap di Fatawa Arkanil Islam, Ibnu Utsaimin, hal 340 atau dimajalah ” QIBLATI” edisi 05 tahun III 02-2008/01-1429 halaman 20. itu dalilnya dari mana yakh???? (ada gak di Al Qur’an dan Al Hadist mungkin Saudara Ibnu Suradi yang “PINTAR” tau dalilnya??? klo saya sampai saat ini hanya bisa mengigit erat-erat sesuai pesan Rosul (Al Qur’an Al ‘Alaq dan Hadist Rosulullah SAW Dari Abu Umamah ra. dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Bacalah Al Qur’an sesungguhnya ia akan datang di hari Kiamat menjadi syafaat (penolong) bagi pembacanya.”(Riwayat Muslim) dan dari Shahihul Bukhari dari Ibnu Abas ra., ia berkata: “Mengangkat suara dalam berzikir setelah Shalat Wajib merupakan perkara yang dilakukan di Zaman Nabi” (Muttafaq’alaihi)) . sampe sekarang saya gak dapat dalil larangan membaca Al Fathihah & Ayat Kursi setelah Shalat Fardu di Rumah Allah (Mesjid) yang pesankan Rosulullah SAW kepada para sahabat dan ulama yang mengikuti para shabat kecuali Ulama Akhir Zaman yang pengikutnya mengatakan “Ikuti kami Manhaj Salaf kamu akan selamat” dan pandai Menilai amalan seseorang apakah akan diterima Allah dan masuk surga atau Ditolak/masuk neraka (Kullu Bid’ahtin Dholalah). Klo saya simpulkan Fatwa di atas, yang baca Al qur’an Surat Al Fathihah dan ayat qursi di atas kan Masuk “NERAKA” Masya Allah…..
    Wallahu Alam

    1. Bismillaah,

      Kang Mas Derajad,

      Sebelumnya saya tidak mengetahui shalat dengan benar. Saya hanya ikut-ikutan shalat kepada guru, ustadz dan orang-orang yang shalat di masjid. Kemudian saya mendapatkan guru yang mengajari saya shalat dengan benar. Ia menyampaikan dalil-dalil dari Qur’an dan hadits tentang shalat. Kemudian saya shalat mengikuti guru saya yang menyampaikan dalil-dalil tentang shalat. Untuk selanjutnya, saya mengikuti dalil-dalil yang disampaikan guru saya.

      Saya mengikuti Albani, karena beliau menyampaikan dalil-dalil tentang shalat. Untuk selanjutnya, saya mengikuti dalil-dalil yang disampaikan Albani.

      Kang Wijaya,

      Dalam masalah dzikir setelah shalat wajib, saya mengikuti Imam Syafi’i yang mengatakan dalam Kitab Al Um: “Pada awalnya dzikir setelah shalat itu pelan. Tidak mengapa dzikir dikeraskan untuk mengajari makmum. Jika makmum sudah bisa berdzikir, maka dzikir kembali pelan.” Imam Syafi’i mengatakan itu setelah melihat dua dalil yang kelihatannya saling berlawanan, yakni, ayat tentang perintah dzikir dengan tidak mengeraskan suara dan hadits yang anda sampaikan tadi.

      Wallaahu a’lam.

      1. Salah antum sendiri kang ibnu syradi, kenapa dulu antum nggak belajar dulu di Ibtida’iyyah, biar tahu shalat yg benar, Kang. Di Ibtida’iyyah Pesantren-pesantren itu diajari Bulughul Marom, yg merupakan kitab sumber2 dalil bagaimana shalat yg benar.

        1. Bismillah,

          Mbak Aryati,

          Alhamdulillaah, setelah mendapatkan pengajaran dari guru, saya menjadi tahu dalil-dalil tentang shalat dari berdiri, takbir hingga salam. Saya menjadi lebih mantab dalam shalat.

          Saya ingin bertanya kepada anda. Rasulullaah bersabda: “Tidak sah / sempurna shalat seseorang yang tidak meluruskan punggungnya saat ruku’ dan sujud.” Bagaimana cara meluruskan punggung saat sujud?

          Wallaahu a’lam.

          1. Shalat shifat Al Albani ya kang, hati2 kang, Al AlBani itu bukan Ulama, lho Kang. Kemungkinan tergelincirnya lebih besar jika dibanding Imam2 Madzhab yg Empat.

          2. Ibnu Suradi kok ga di artikel A ga di artikel B.Komennya tentang sholaaaaat terus. Harus bilang “wow” gitu?? Mbok kalo mau menyanggah artikel sbaiknya yg nyambung dgn artikel. Jaka sembung mau sholat…Ayo bung kita sholat…

      2. Bismillah
        @ibnu suradi
        Bukankah itu artinya Taqlid itu perlu??? ketika ada orang yang mengikuti Imam Syafi’i rahimahullah untuk mengajari Makmum untuk zikir masa Harus di bilang “BIDAH” sementara menurut orang yg suka membid’ahkan orang yang wirid tersebut SELURUH BID’AH ADALAH SESAT—–>NERAKA, ini pengalaman saya ketika saya hijrah ke Medan ketika mengaji dengan orang-orang yang mengaku manhaj Salaf. bahkan ketika saya tak mau mengikuti pengajian mereka krn mrk membid’ahkan orang yang Baca Al Qur’an Surat Al Fathihah, Ayat Qursi dan Surat Yasin teman saya langsung menghindari tidak mau bersahabat dengan saya (tapi Alhamdulillah ketika Ilmu mrk telah cukup, akhirnya mrk sadar krn satu pertanyaan saya pada mrk yaitu Apakah Kamu Berani Mentakfirkan Ayah dan Ibumu, klo saya tidak berani krn saya takut kepada Allah SWT dan saya berikan alasan saya di atas). ketika saya hijrah ke Jakarta ternyata ditempat saya kerja saya bertemu lagi dengan orang-orang yg mengaku Manhaj Salaf/Gol yg selamat dari 72 gol itu kata mrk, selama ini saya diam ketika orang yg dipanggil ustad oleh mrk mengirimkan Hadist Rosul ke Komputer saya. sampai pada saat tertentu Mr SP (sang Ustad) berkata “Wali Allah itu tidak Ada” coba kalian sebutkan siapa Wali Allah, teman saya yang baru pindah dari Palembang menyebutkan salah satu Wali Songo namun di Jawab dengan dengan ketus “Itu Bukan Wali Allah” . teman saya yg lain menyebut nama Sheikh Abdul Qodir Al Zailany dan Imam Al Ghozali. apa jawaban sang Ustad dengan ketus ” Mereka itu SESAT!”, kemudian saya berkata bagaimana dengan LUMANUL HAKIM apakah kamu akan berkata bahwa ia juga sesat??? sang Ustad berkata ia itu Nabi bukan Wali Allah. kemudian saya IP ke Komputernya tentang surat yunus 62-63 dan Hadist Qutsi tentang Wali Allah namun dibantah dengan IP dg mengirimkan kalimat ” WALI SUFI”. Trus saya tanya siapa ulama salaf yang mengajarkan anda (ia menyebutkan Al BANI, BIN BAZ, Sheikh Utsaimin, Sheikh Fauzan). setahu saya mrk tidak pernah mengajarkan yg demikian??? (saya tanya pada sang “USTAD”)…sekarang tugas saya sama seperti wkt saya di Medan, menyadarkan orang-orang yang tertipu dengan orang yang mengaku Manhaj Salaf sesuai kemampuan saya. (Alhamdulillah sebagian yang pernah belajar dari sang “USTAD” sekarang telah sadar karena Al Qur’an dan hadist yg dipelintir oleh sang “USTAD” utk menyesatkan orang diluar kelompoknya dapat saya jelaskan asbabulnya).

        1. Mas @wijaya
          Wah hebat juga tuh pengalammnya, kita memang kudu hati2 sama hal2 yang ente kemukakan, baik didalam rumah sendiri, teman2 baik ditetangga maupun dikantor2. Mari kita berusaha menyadarkan mereka yg baru terkena virus.

  18. maaf mohon penjelasan ini :

    Asy-Syafi’iy rahimahullah berkata :

    من قلَّد معيَّنًا في تحريم شيء أو تحليله، وقد ثبت الحديث على خلافه، ومنعه التقليد عن العمل بالسنة، فقد اتخذ من قلَّده ربًّا من دون الله تعالى، يحل له ما حرم الله، ويحرم عليه ما أحل الله.

    “Barangsiapa yang bertaqlid kepada seseorang dalam pengharaman atau penghalalan sesuatu, dimana ia mengetahui ada hadits menyelisihinya, sehingga sikap taqlid itu menghalanginya untuk beramal sesuai dengan sunnah; sungguh ia telah mengambil orang yang ditaqlidinya itu sebagai Rabb selain Allah ta’ala. Ia menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan Allah”

    apa maksudd perkataan Imam Syfi’i tsb? makasih sebelumnya

    1. Bismillah,

      Mas @aswaja saja, tolong anda sebutkan, perkataan Imam As Syafi’iy tersebut anda kutip dari kitab apa, berikut vol dan hlm…. terimakasih…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker