sapi qurban 2017 di jakarta
Hosting Unlimited Indonesia
Inspirasi Islam

Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan Adalah Amal-amal Shalih

ID FashionWeek 300x250 - Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan Adalah Amal-amal Shalihaff i?offer id=7474&file id=157046&aff id=176058 - Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan Adalah Amal-amal Shalih

Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan Adalah Amal-amal Shalih. Kenapa kalian berani mengharamkan dengan membid’ahkannya? Waspadai Dirimu, Siapa Tahu Anda Termasuk Penjahat Terbesar Bagi Kaum Muslimin! Sebagai seorang Muslim, maukah anda menjadi Penjahat Besar bagi kaum Muslimin? Pastinya anda tidak mau kan?

Tapi secara tidak sadar selama ini mungkin anda sudah termasuk bagian dari Penjahat-penjahat Besar terhadap kaum muslimin.  Cobalah teliti apakah anda hobby mempermasalahkan amal-amal shalih kaum muslimin? Misalnya, apakah anda gemar meneriaki muslimin yang sedang baca surat Yasin (Yasinan) di malam jum’at sebagai Ahli Bid’ah sesat dan masuk neraka?

Banyak isu-isu bid’ah yang disebarkan di tengah ummat Islam yang kesemuanya menimbulkan fitnah terhadap Islam. Akibat dari tersebarnya isu-isu bid’ah mampu merubah persepsi yang Mubah jadi haram bahkan yang halal pun jadi haram. Inilah fitnah kepada Islam dan sekaligus menjadi kejahatan terbesar. Pernyataan ini bukan ngawur  lho, sebab yang mengatakan demikian adalah Rasulullah Saw. Mari kita simak dan hayati perkataan Rasul Saw berikut ini….


قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ
الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ
مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ

(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw :
“Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang
mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram
sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

IDSmartphonesYearEndSale370x300 - Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan Adalah Amal-amal Shalihaff i?offer id=3733&file id=76783&aff id=176058 - Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan Adalah Amal-amal Shalih

Berdasar pada hadits Shahih di atas sangat jelas, bahwa mempermasalahkan amalan muslimin yang tidak haram dikatakan haram (bid’ah terlarang) itu adalah kejahatan terbesar. Itu Nabi Saw yang mengatakannya. Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan, sesungguhnya adalah amal-amal shalih kaum muslimin. Tetapi karena dipermasalahkan membuatnya menjadi haram karena dianggap bid’ah terlarang (dosa bagi pengamalnya).

Set1 niagahoster 600x400 - Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan Adalah Amal-amal Shalih 

Maulid Nabi diharamkan, Dzikir berjama’ah juga diharamkan

Kaitannya dengan itu, dalam melancarkan missi dakwahnya Kaum Wahabi di Indonesia sangat gemar mempermasalahkan Tahlilan yang tidak haram dikatakan haram. pengertian bid’ah menurut Wahabi adalah: berdosa jika melakukan hal bid’ah. Ini artinya tidak lain adalah haram. Ini sekaligus mereka menjadikan bid’ah sebagai hukum. Padahal bid’ah itu bukan hukum.

Maulid Nabi tidak haram dikatakan haram. Dzikir berjama’ah juga diharamkan. Tawassul dengan Nabi Saw tidak haram dikatakan haram bahkan pelaku Tawassul dikatakan Musyrik oleh kaum Wahabi. Kenapa Kaum Wahabi hobby berbuat demikian? Tidak sadarkah  mereka telah melakukan kejahatan terbesar kepada Ummat Islam menurut pandangan Nabi saw?

Bagi yang merasa pengikut Wahabi mari kita simak kembali dan renungkan sedalam-dalamnya hadits yang mulia ini agar sembuh dari Maksiat Kejahatan Terbesar kepada  Kaum Muslimin:

قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ
أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
(صحيح البخاري)

Sabda Rasulullah saw :
“Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

11 11 600x300 - Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan Adalah Amal-amal Shalihaff i?offer id=2&file id=10&aff id=28020 - Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan Adalah Amal-amal Shalih

Dari penjelasan analisa singkat di atas dapat kita katakan bahwa setiap yang haram itu dosa akan tetapi bid’ah itu tidak selalu haram.  Semoga kita selamat dari pengaruh fitnah Wahabisme. Dan yang selama ini sudah terlanjur jadi Tukang Fitnah kepada ajaran Islam semoga sadar dan tidak enggan bertaubat. Wallohu a’lam….

IDSmartphonesYearEndSale370x300 - Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan Adalah Amal-amal Shalihaff i?offer id=3733&file id=76783&aff id=176058 - Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan Adalah Amal-amal Shalih
Tags
kirim email unlimited

Related Articles

208 thoughts on “Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan Adalah Amal-amal Shalih”

    1. Parah bener si penulis artikel ini
      serampangan dalam menerjemahkan hadits..kata سأل yang seharusnya artinya “bertanya” malah diartikan “mempermasalahkan”

      terjemahan yang lebih tepat adalah sebagai berikut:
      إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
      “Sesungguhnya kaum muslimin yang paling besar dosanya adalah yang bertanya tentang sesuatu yang tidak diharamkan, lalu diharamkan dengan sebab pertanyaannya.”

      hadits ini berkaitan dengan firman Allah..
      Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepadamu akan menyusahkan kamu dan jika kamu menanyakan di waktu Al Qur’an itu diturunkan, niscaya akan diterangkan kepadamu, Allah mema’afkan tentang hal-hal itu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS 5:101)

      dan dampak dari keslahan ini sudah melanda kaum muslimin secara luas..
      saya sarankan bagi penulis artikel ini untuk segera bertaubat..
      wa billahi at taufiq..

  1. Maksudnya bertanya untuk mempertanyakan/mempermasalahkan, gitu Maz Avif Hayana.

    Arti yg dalam artikel itu arti dg RASA BAHASA.
    Sedangkan antum mengartikan secara harfiyyah.
    Antum benar dalam arti harfiyyah, tetapi arti dalam artikel di atas lebih tepat dan enak karena sesuai dg RASA BAHASA INDONESIA sehingga lebih sesuai dg maksud dari hadits tsb.
    Afwan….

  2. saya mau bertanya kepada yg menulis artikel ini, di akhir tulisan artikel ini ada kalimat “setiap yang haram itu dosa akan tetapi bid’ah itu tidak selalu halam”. yg perlu digaris bawahi adalah kalimat “bid’ah itu tidak selalu halam”. tolong di perjelas bid’ah mana yg anda maksud?bid’ah dalam urusan ibadah kepada Alloh atau bid’ah dalam urusan hubungan sosial kemasyarakatan? soalnya kalau bid’ah dalam urusan ibadah kepada Alloh, Rosul sudah jelas2 menerangkan bahwa semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu tempatnya di neraka.

    1. Ya Gus Pur, ya benar memang seperti itu Gus pur….

      Memang semua yang haram itu pasti dosa jika dilakukan. Akan tetapi BID’AH ITU TIDAK SELALU HARAM. Sebab hukum bid’ah (hal baru) itu ada lima (5):
      -bid’ah WAJIBAH,
      -bid’ah Mandzubah,
      -bid’ah MAKRUHAH,
      -bid’ah MUBAHAH,
      -bid’ah Muharromah (haram).

      Perlu Gus Pur tahu bahwa BUD’AH ITU BUKAN HUKUM, akan tetapi BID’AH ITU BISA DIHUKUMI. Demikian Gus Pur….

      Syukron atas kritiknya yang bagus, jazakallohu khoron katisiiro.

  3. Teruskan ustad penjelasannya.
    Dalam tulisan di atas antum belum menjelaskan tentang mengapa yasinan, maulid, tahlilah dan seterusnya itu adalah amalan shaleh, dan bukan amal sesat seperti yang diklaim oleh para wahabis.
    Saya ingin antum sertakan dalil dalil yang bisa kami pakai untuk menangkal hujahnya para wahabis itu.
    Afwan bila terlalu lancang.

  4. Izin menambahkan.
    Nabi tidak pernah bersabda “Setiap bid’ah sesat”. Yang ada adalah “Kullu bid’atin dolalah”. Ada orang yang hantam kromo aza mengartikan “kullu” dengan arti Indonesia “semua”. Padahal arti lain “kullu” adalah “sebagian” atau “sebagian besar”. Makanya Imam Syafi’i sebagai salah satu salafussholeh membagi dengan “bid’ah terpuji/jhasanah” dan bid’ah sesat/tercela”. Oleh Imam Nawawi “dihukumi” dengan lima hukum fiqih : wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram. Tapi ada ulama bukan salafussholeh, bilangnya “pokoknya semua bid’ah sesat”, tapi dibagi lagi dengan “bid’ah agama dan bid’ah dunia”. Eh dibagi lagi manfa’at-mudharat, dll. Padahal tadi bilangnya “semua bid’ah sesat”. Nah, sekarang mau ikut siapa? Shalafussholeh atau ulama yang ga memenuhi syarat sebagai imam mujtahid?

  5. lucu deh artikel nya,,judul nya ga nyambung :p

    judulnya maulid, tahlil dll adalah amal shalih,, tapi sama sekali TIDAK ADA membahas tentang amal salih nya, ALASAN kenapa disebut amal shalih, alesan kenapa tidak haram, ckck

    sori mas, artikelnya kurang berbobot dan tidak beralasan. :p

    1. Afwan … orang yang numpang lewat,

      Lihat itu dalam artikel pada alenia ke 4, ini bunyi tulisan di alenia ke 4 tsb:
      Berdasar pada hadits Shahih di atas sangat jelas, bahwa mempermasalahkan amalan muslimin yang tidak haram dikatakan haram (bid’ah terlarang) itu adalah kejahatan terbesar. Itu Nabi Saw yang mengatakannya. Tahlilan, Maulid Nabi, Dzikir Berjama’ah, Yasinan, sesungguhnya adalah amal-amal shalih kaum muslimin, tetapi karena dipermasalahkan membuatnya menjadi haram karena dianggap bid’ah terlarang (dosa bagi pengamalnya).

      Nah, itulah intinya, antum sudah baca belum sih kok gak bisa nankap maksud artikel di atas? Intinya mempermasalahkan amal sholih itu menurut Nabi saw adalah kejahatan terbesar. Kaum apa hayo… yang hobby mempermasalahkan amal2 sholih? Wahabi kah atau Syi’ah kah? Jawab dong!

  6. @Arif
    Banyak kok contoh dari bid’ah yang sesat. Emang Nabi bilang “sebagian besar bid’ah sesat”. Seperti merubah Syariat yang telah ditetapkan oleh Allah dan Rasul. Misalnya sholat sudah diatur waktu dan tata caranya. Sholat subuh pada waktu subuh (sesuai batasan yang telah ditentukan) dengan 2 rakaat. Kalau ada yang mengubah dengan memindahkan ke waktu yang lain dan merubah jumlah rak’atnya berarti dia melakukan bid’ah sesat. Tapi kalau ada yang baca-tidak baca usholi atau qunut, itu hanyalah perbedaan furu’iyah. Dalam bahasa lain, bid’ah sesat itu, seperti mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkan Allah dan Rusul. Mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan Allah dan Rasul. Mohon maaf kalau ada yang salah.

  7. Yang mempermasalahkan Thalil, Yasin, ZIkir berjamaah, Peringatan hari2 besar Islam itu justru yang bermasalah. Tahlil, Yasin, Zikir sendiri/berjamaah itu ada dalilnya. jadi amalan tersebut adalah amalan shalih, Insya Allah.

    1. Mas Sabar, yg sabar ya?

      Antum sudah tahu apa belum bahwa Lau kaana khoiron dst… itu bukan hadits juga bukan ayat Qur’an. Tetapi itu adalah perkataan Ibnu katsir? Jelas itu bukan dalil yang kuat, sebab banyak kebaikan (amal-amal sholih) di masa sekarang yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh para Sahabat Nabi.

      Apakah antum sudah tahu apa belum, bahwa perkataan “Lau kaana khoiron dst…”, itu adalah meniru perkataan kaum kafir Musyrik untuk meledek Nabi Muhammad ketika mereka diajak masuk Islam oleh Rasul Muhammad Saw? Coba simak ayat berikut:

      وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا لَوْ كَانَ خَيْرًا مَا سَبَقُونَا إِلَيْهِ ۚ وَإِذْ لَمْ يَهْتَدُوا بِهِ فَسَيَقُولُونَ هَٰذَا إِفْكٌ قَدِيمٌ

      Artinya: Dan orang-orang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: “Kalau sekiranya di (Al Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului kami (beriman) kepadanya. Dan karena mereka tidak mendapat petunjuk dengannya maka mereka akan berkata: “Ini adalah dusta yang lama”. Al Ahqaaf(46):11

      Jadi… apakah antum sedang meledek kaum muslimin yang sedang melakukan kebaikan-kebaikan (amal-amal sholih), ketahuilah perbuatan antum itu meniru kelakuan kaum kafir / musyrik di zaman rasul Muhammad saw. Na’udzu billah min dzaalik.

  8. “..sebab banyak kebaikan (amal-amal sholih) di masa sekarang yang tidak pernah dilakukan sebelumnya oleh para Sahabat Nabi”

    apakah anda ingin mengatakan bahwa anda lebih faham ibadah dalam agama ini dari pada sahabat dan Nabi sekalipun ?

    Jika menurut anda baik hari ini, sekarang ini, apakah Nabi dan Para Sahabat tidak tau ? atau mereka tidak mau mengamalkanya ?

    Subhanallah, sungguh mereka para sahabat adalah sebaik-baik muslim, sebaik-baik mukmin, sebaik-baik ummat, summalladzi nayalu nahum, summalladzi nayalu nahum

    1. Bismillah….

      Kang Sabar, sebagai orang awam ana mau tanya ttg ungkapan:
      لو كان خيرا لسبقوانا
      “Jika memang perkara itu baik niscaya mereka akan mendahului kita”
      – Adakah Ungkapan ini merupakan Nash al qur’an atau Hadits atau Atsar para Sahabat, Tabiin, kaidah Ushul, kaidah Furu’, atau apa?
      – Jika Ungkapan tersebut adalah argument, maka bersandar pada dalil apa? Mengingat dalam penerapannya ungkapan tersebut sering digunakan sebagai pen-takhsis dalil dalil umum.
      Sekedar saran yang mungkin gak substansial banget, Coba antum perhatikan translit antum “sebaik-baik ummat, summalladzi nayalu nahum, summalladzi nayalu nahum”, sudah tepatkah?

      1. Bismillah,
        Pola pikir saya sederhana saja. Begini;

        Bahwa Rasulullah SAW sebagai pembawa syariat, saya yakin seyakin-yakinnya telah menyampaikan semua apa yang Baik dan Tidak Baik dalam urusan Syariat. Nash dalam alqurannya jelas, nash hadistnya juga ada. Pendek kata lah wong urusan ke toilet aja ada tuntunannya, mana mungkin ada kebaikan yang ketinggalan.

        Sahabat adalah Muslim pertama yang amalannya langsung di bina dan diawasi oleh Baginda Rosul SAW. Nggak mungkin meleset. kalo meleset berarti jarang hadir di Majelis Rosul SAW 🙂
        Kalo ada yang aneh, atau bikin sendiri, bisa ditakrir langsung oleh Baginda Nabi SAW. Boleh diteruskan ato Tidak.

        Saya percaya Amalan kita hari ini adalah mencontoh dari Para Sahabat berdasarkan dalil-dalil, atsar atau riwayat yang ada dan shahih tentunya.

        Tinggal dari siapa dan bagaimana kita mengambil pelajaran atau pemahaman itu, agar amalan kita sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Pada fase ini kita pribadi bebas menentukan pilihan kita. Nggak ada urusan ama orang laen.

        ALLAH SWT Ridho kepada Generasi Muhajirin, saya tak termasuk generasi itu
        ALLAH SWT Ridho kepada Generasi Anshor, sayapun tak termasuk generasi itu,
        ALLAH SWT Ridho kepada generasi yang mengikuti mereka (Aqidah, Iman, Akhlaq, amal ibadahnya, dll), saya ingin ikut termasuk dalam generasi ini.

        Bagi saya Statement “Lau Kaa na Khoiran lasabakuna ilaihi” adalah sebuah rambu-rambu agar tetap sesuai tuntunan Baginda Rosulullah SAW. dan masuk kepada generasi yang ALLAH Ridho. Tak peduli statement itu sumbernya dari mana atau oleh siapa.

        ALLAH mentaqdirkan Abu Hurairoh mendapatkan info bahwa Ayat Qursi sebagai benteng dari gangguan Syaiton dari Syaiton sendiri

        wallahu ‘alam

  9. @bu hilya

    Subhanallah, sungguh mereka para sahabat adalah sebaik-baik muslim, sebaik-baik mukmin, sebaik-baik ummat, summalladzi nayalu nahum, summalladzi nayalu nahum

    Artinya Para sahabat generasi terbaik, setelahnya pada Tabi’in, setelahnya para Tabiut Tabi’in
    alangkah eloknya jika kita mengambil agama in dari mereka, agar sampai kepada Rosulullah SAW

    Kaitannya dengan “Lau kaana khoiron lasabakuna ilaihi” adalah sebagai rambu-rambu agar jalan/torikoh yang kita tempuh sesuai teladan dari 3 generasi yang ujungnya adalah Suri Tauladan yang langsung diPuji oleh ALLAH SWT yaitu Rosulullah Muhammad SAW

    1. mang sabar

      Anda mengutip sebuah Hadits

      sebaik-baik mukmin, sebaik-baik ummat, summalladzi nayalu nahum, summalladzi nayalu nahum

      , anda juga mengusung jargon KEMBALI PADA AL QUR’AN DAN SUNNAH, trus anda mengambil ungkapan Lau Kaana Khoiron Lasabaquuna ilaihi, dimana anda sendiri tidak dapat menjelaskan darimana ungkapan yang anda gunakan untuk membatasi ibadah tsb, adakah ia dari al qur’an, as sunnah, atsar para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in atau dari mana?

      Lalu anda pun mengatakan :

      ke toilet aja ada tuntunannya

      terus mengapa anda mengambil rabu-rambu yang bukan dari tuntunan? gimaana konsistensi anda?…

      1. Bismillah,
        apanya yang nggak konsisten Buya?

        kalau yasinan itu baik, maka pasti ada Nash/Cerita/Shiroh/Asar Nabiwiyah yang menceritakan Sunnah itu dikerjakan oleh Nabi SAW dan Para Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in
        Karena begitu banyak para Sahabat yang menjadi Syuhada di medan Jihad.

        Silahkan dicari saja Nash/Siroh/Sunnah yang menjelaskan tentang amalan itu.
        Kalu ada ya Alhamdulillah, saya bisa kembali ikut ngamalin dengan baik.
        Kalau nggak ada ya juga Alhamdulillah, saya sudah tinggalkan.

        Wallahu’alam

        1. Hanya setan dan anak buahnya yg anggap baca Yasin dalam Yasinan itu tidak baik. Memang mereka (setan dan anak buahnya) anti dg kebaikan (kesholihan). Setan dan anak buahnya punya cara pandang berbeda dg orang2 beriman. Setan dan kroco2nya anti kebaikan, orang2 beriman cinta kebaikan.

          1. Sabar@

            Apa yg dikatakan oleh Mbak Putri itu benar lho kang sabar, walaupun mbak Putri tidak menyebut ayat atau hadits nya, tetapi memang benar bahwa setan dan anak buahnya paling benci kalau ada orang baca ayat2 Qur’an termasuk ayat2 yg ada di surat Yasin. Makanya setan2 itu ngajak manusia-manusia (kroco2nya setan) untuk menghalang-halangi ummat Islam agar tidak usah baca Yasin dalam Yasianan. Dg dalih tidak ada contoh dari Rasul Saw, maka Yasinan yg sejatinya baik oleh setan ditampakkan keburukannya. Wallhu a’lam.

            Tetapi emang setan2 itu sangat girang kalau ada orang baca Qur’an untuk pamer atau riya atau bahkan ujub.

          2. yg dimaksud adalh yasinan yg dilakukan pd saat kematian..secara terperinci apakh generasi terdahulu ga faham akan hal itu??apakh anda lebih mengerti dr para sahabat,bacaan yasin adalh ibadah mulia….seyogyanyalah kita beragama mengambilnya dri mereka2,bukan dari hal2 yg kita anggap baik saja

          3. @dikn
            Mas coba lihat di ayat al Hasyr :10
            Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan Saudara-saudara kami yang Telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.
            Coba lagi di surat Muhammad:19
            Maka Ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Illah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

            Apakah semuanya gak ada dalilnya?
            contoh lagi : Rasulullah mengajarkan bahwa puasa yang paling baik adalah Puasanya Nabi Dawud, disini apakan Rasulullah dan para sahabat pernah mengerjakannya. Tapi Umat setelahnya banyak yang melaksanakannya, apakah diluar konteks itu mas?

          4. @mas ucep..ayat tersebut adalh dalil nash2alquran,konteknya adalh pernhkah dlm tarikh yg shohih dr gnrasi awal scara trperinci mngadakn yasinan meninggal 7hr atw bbrapa hari,klo tdk ada..lntas kita mengamalknnya pd saat2 skrng ini mengikuti siapa?klo kita muter2 menyikapi hal ini,niscaya akan semaunya memahami pndpat masing2.

          5. @dikn
            Kalau beribadah kapan kita saja bisa mas, seperti kita Haji atau umroh berkali-kali boleh gak ? kan boleh padahal gak pernah dilakukan Nabi maupun sahabat. Begitu juga mengadakan doa untuk mayyit berkali-kali boleh kan, asal keuangannya cukup.
            Masing-masing muslim kan punya dalil dan gak usah lah dibilang ini itu bid’ah. Kalau ente gak mau melaksanakan tahlilan yah jangan dibilang bid’ah, wong yang mengadakan punya dalil.
            Ibnu taimiyah mengatakan bahwa setiap doa yang dipanjatkan untuk mayyit sampai, begitu juga Ibnu Qayyim al Jauziah dalam kitab Ar Ruh, mengatakan samapi doa yang dipanjatkan untuk mayyit. Jadi ada dalilnya.

          6. dalil yg secara umum brdoa bwt mayit atau sprti tahlil,yasin itu jelas ibadah yg mulia..tp scara terperinci waktu kapan dan dmna dikhususkan itu yg membuat jadi baru prkranya.lah wong dulu ga prnh trjadi….akhirnya apa?? kerabat saya atw saudara2 qt yg yg menghususkan..taukah anda mereka sampe ngutang2 buat acara tahlilan!.krn sudah menjadi kebiasaan bahkan merasa brdosa bila tdk brbuat sprti itu,yg akhirnya agama mnjadi beban..itukh yg dimaksud contoh amal soleh? krna prbuatan yg baik paling tdk akn berakibat baik bgi qt yg melakukannya

          7. @dikn
            Dulu-dulu dikampung ane nih, kalau ada orang yang meninggal masing-masing tetangga yang bergotong royong, ada yang dirikan tenda, beli kain kafan, mengurus tanah kuburan sampai ijin dikelurahan, bahkan sampai mengadakan acara tahlilan pun tetangga yang menyediakan.
            Melihat itu sekarang kampung ane ada yang berinisiatif, bagaimana hal itu dikumpulkan di Kas Rt, jadi kebutuhan dananya cukup satu pintu yaitu Kas Rt. Jadi gak ngutang-ngutang.

            @dikn ane mau tanya, kalau acara maupun peringatan Tahlilan, maulid Nabi, Dzikir berjamaah, Yasinan, Istighasah dll, hilang dari masyarakat. Jadilah masyarakat islam individualistis. Coba deh dipikir-pikir. Hidupkan acara maupun peringatan agar setiap muslim ingat sama agamanya.

          8. @dikn, yasinan, tahlilan, dll ibadah umat islam itu pada dasarnya hanyalah sebuah sebutan untuk suatu forum agama, sama dengan sebutan untuk madrasah, panti asuhan dll, coba tunjukkan dalil untuk madrasah dan panti asuhan, pasti tidak ada kan ? masa dengan analogi ini anda masih belum jelas juga ?

          9. @ucep..usahanya sih sprti itu maunya,tp pas 7hari bagi2 berkat dan 40hri,strusny?praktek umum kejadian yg sbenarny pastilah qt udh tau,mungkin dikmpung anda berkecukupn atwsolidernya tinggi,tp didaerah yg lainny?..
            ane jg mau tanya apa dizaman dahulu tdk ada tahlilan,dan lainlain berakibat pra sahabat dan gnerasi sesudahnya jadi individualis?.coba deh fikir2..apa mereka trkadang lupa sm agamany..krena suatu pembaharuan dlm dunia smakin baru akan smakin tinggi nilainya,dan mengenai peribadatan smakin kuno akan smakin tinggi jg nilainya.. jauh qt ibadahnya dibanding mereka

          10. @dikn
            Begitu juga bagi-bagi berkat, dengan iuran Rp. 5000/bulan x 30 warga, masuk kas Rt. Coba aja ente jadi pioneer (berinisiatif) tentang itu.
            Para sahabat sangat dekat dengan Rasulullah, jadi kalau ada apa2, mereka langsung tanya kepada Baginda Rasulullah. nah kite yang jauhnya 1443 tahun, mau nanya siapa?, paling-paling baca buku klasik (itupun kalau belum dipalsu) atau ulama-ulama yang mumpuni ilmu tentunya.
            Para sahabat tidak pernah mikirin dunia, Nah kite 99 % masih mikirin dunia, contoh Khalid bin Walid, warisannya cuma pedang satu, umar, abu bakar gak punya warisan apalagi Rasulullah.

          11. @ucep..klo teori sprti itu kan dlm knyataanya belum tentu spert itu,,qt kmbali kekonteksnya klo umar dan abu bakar memberikan contoh perbuatan sprti itu,insyaallah saya akan mengikutinya paling ga jdi simpatisan mengadakan tahlilan..,kan masih banyak ibadah2 sunah lainya..

          12. @dikn
            Nah gitu, gak apa2 jadi simpatisan, ente punya dalil yang mengerjakan punya dalil, dari pada berdalil bid’ah tapi kite gak tau atau belum pernah baca kitab2 dalil yang sudah ada, yang repot diakhirat, belum tentu yang mengadakan acara itu bid’ah mungkin kite yang mengerjakan bid’ah…..repot dah, surga sama neraka yang menentukan Allah bukan kite.
            Yang paling sunnah : Tahajut tiap malam (Rasulullah dan Sahabat gak pernah liwat), Shaum (senin kamis dan 3 hari pertengahan bulan).
            Kalau yang masalah sifatnya khilafiyah buat apa kite ributin, sampai kiamat juga gak bakalan selesai.

          13. @Putri Karisma,; Justru Syetan/Iblis sangat berbahagia jika BANYAK orang berbuat BID’AH atau yg menganggap bid’ah itu baik,dari pada yg berbuat ma’siat. Karena si pelaku”bid’ah “itu tdk sadar bahwa perbuatannya itu SESAT shg tidak pernah bertobat sampai matinya.Sdgkan pelaku “maksiat” tau/sadar kalo perbuatannya itu “dosa”,shg suatu waktu dia akan bertobat. Silakan aja anda Yasinan,Tahlilan,Tawassul atau Isighatsah seumur hidup,mudah2an tdk masuk Neraka nanti di Akhirat.

        2. @sabar
          Mas, mungkin ente kurang banyak baca kitab ya.

          Dari hadist Qudsy karya Imam Nawawi dan Al-Qasthalani dari No. 1 (HR. Bukhari) dan No. 2 (HR. Muslim). Ane gak kurangin titik komanya.

          Diceritakan oleh Qutaibah bin Sa’id, diceritakan oleh Jarir, dari A’masy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT mempunyai para malaikat yang banyak menjalankan keutamaan. Mereka mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka menemukan sebuah majelis yang didalamnya mengumandangkan zikir, maka mereka (para malaikat) duduk bersama mereka dan sebagian mereka (para malaikat) berkerumunan diantara sebagian mereka (manusia) dengan membentangkan sayap-sayapnya hingga memenuhi sesuatu diantara meraka dan langit dunia. Apabila mereka majelis zikir telah selesai, mereka (para malaikat) naik kembali kelangit. Allah SWT bertanya kepada mereka (malaikat) yang sebenarnya Dia lebih mengetahui dari mereka, “dari mana kalian datang ?” Mereka (para malaikat) menjawab : “Kami datang dari hamba-hambamu dibumi, mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, bertahmid dan memohon kepadaMu.” Allah SWT bertanya, “Mereka (manusia) minta apa kepadaKu ?” mereka menjawab : “Mereka memohon SurgaMu”. Allah SWT bertanya, “Apakah mereka (manusia) melihat SurgaKu ?” Mereka (malaikat) menjawab : “Tidak, wahai Tuhan Kami” Allah SWT bertanya, “Bagaimana jika mereka melihat SurgaKu ?” Mereka menjawab : “Mereka pasti minta perlindungan kepadaMu”. Allah SWT bertanya, “Dari apa mereka minta perlindungan kepadaKu ?” mereka menjawab : “Dari NerakaMu, wahai Tuhan kami.” Allah SWT bertanya, “Apakah mereka melihat NerakaKu ?” mereka menjawab :”Tidak”. Allah SWT bertanya : “Bagaimana jika mereka melihat nerakaKu?”. Mereka menjawab : “Mereka pasti akan minta ampunan padaMu.” Allah berfirman : “Aku telah mengampuni mereka, memberikan apa yang mereka minta dan Aku memberikan Pahala sebagaimana yang mereka minta.” Para malaikat berkata : “Wahai Tuhan, dalam kelompok itu ada fulan, seorang hamba yang berbuat dosa. Bahwasannya dia pergi, biasanya dia bersama mereka”. Allah SWT berfirman : “Baginya Aku telah ampuni, Mereka adalah satu kelompok, salah seorang anggotanya tidak bisa mencelakakan mereka”. (HR. Muslim, Baab Majaalis adz-Dzikr, juz 10), juga (HR. Bukhari, Baab Fadhl Allah Ta’ala, Juz 8 hal. 86-87)

          Dari Tsabit ia bekata, Ketika sahabat Salman Al-Farisi beserta kawan-kawannya sedang sibuk berkumpul berzikir, lewatlah Rasulullah saw dihadapan mereka. Maka mereka terdiam sebentar. Lalu beliau bertanya, ” Apa yang sedang kalian lakukan?” Mereka menjawab : “Kami sedang berzikir”. Kemudian Rasulullah saw bersabda. “Sungguh aku melihat rahmat Allah turun di atas kalian, maka hatiku tertarik untuk bergabung bersama kalian membaca zikir”. Lantas beliau bersabda yang artinya. ” Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan dari umatku orang-orang yang aku perintahkan duduk bersama mereka .” (H.R. Imam Ahmad).

          Coba ente baca baik-baik, kalau berkumpul dengan menyebut kalimat tauhid akan diberi Hidayah Ampunan oleh Allah swt.

        3. Mang Sabar@, Inilah dasar amalan yasinan :

          وقال الحافظ أبو يعلى: حدثنا إسحاق بن أبي إسرائيل، حدثنا حجاج بن محمد، عن هشام بن زياد، عن الحسن قال: سمعت أبا هريرة يقول : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من قرأ يس في ليلة أصبح مغفورًا له. ومن قرأ: “حم” التي فيها الدخان أصبح مغفورًا له”. إسناد جيد

          Dan juga Hadits Riwayat Ibnu Hibban dalam Shohihnya:

          وقال ابن حبان في صحيحه: حدثنا محمد بن إسحاق بن إبراهيم -مولى ثقيف-حدثنا الوليد بن شجاع بن الوليد السكوني، حدثنا أبي، حدثنا زياد بن خَيْثَمة، حدثنا محمد بن جُحَادة،عن الحسن، عن جُنْدَب بن عبد الله قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “من قرأ يس في ليلة ابتغاء وجه الله، غفر له

          Sekarang giliran anda harus menjawab dari mana ungkapan LAU KANA KHOIRON LASABQUUNA ILAIHI atau kalau ditulis arab Insya Alloh yang anda maksud adalah لو كان خيرا لسبقوانا اليه apakah ia termasuk sebagaimana coment anda berasal dari

          Nash/Cerita/Shiroh/Asar Nabiwiyah yang menceritakan Sunnah itu dikerjakan oleh Nabi SAW dan Para Sahabat, Tabi’in, Tabiut Tabi’in

          1. @sabar n @dikn
            Cukup jelas kan koment yang diberikan oleh @bu hilya !!!
            Ini ane tambahin lagi.
            Hadits riwayat Abu dawud, Nasa’I, Ahmad dan ibnu Hibban:
            “Dari ma’qil bin yasar dari Nabi SAW, Beliau bersabda : “Bacakanlah surat yaasin untuk orang yang telah mati diantara kamu”.

            Nah sekarang ente sebutin riwayat yang melarang, sebagai dalil ente ?????

          2. Bismillah,
            Shahihkah hadist itu ?
            sekalian mas terangkan sanad dan matannya. Biar kita2 jadi tau juga nih

            Wallahu’alam

          3. @sabar, mungkin bisa anda jelaskan juga hadits tentang celana cingkrang berikut sanad dan matan nya, karena ibnu suradi teman anda sampai detik ini belum menemukannya

          4. @sabar
            Itu ane salin dari buku “Fatwa-fatwa Seputar ibadah dan Muamalah halaman 27″ pengarangnya Prof.Dr. Quraisy Shihab” cuplikannya buku itu:

            Nilai keshahihan hadits diatas ini dan semacamnya masih ada yang memperselisihkannya. Sekalipun ada golongan yang mengatakan hadits-hadits tersebut lemah atau tidak ada sama sekali tidak ada halangan untuk membaca ayat Al-Qur’an bagi orang yang akan wafat atau telah wafat. Dikalangan para ulama hadits, dikenal kaidah yang menyatakan bahwa hadits-hadits yang tidak terlalu lemah dapat diamalkan khususnya dalam bidang fadhail (keutamaan) !.
            Para Ulama juga menyatakan bahwa membaca Al-Qur’an pada dasarnya, dibenarkan oleh agama dan mendapat pahala, kapan (kecuali orang yang sedang junub/haid) dan dimanapun berada (kecuali di wc). Diantara perselisihan ulama itu adalah ‘Apakah dapat diterima hadiah pahala bacaan tersebut oleh almarhum atau tidak! (Jadi bukan masalah pembacaannya!).

          5. Mang Sabar,

            Disini ketahuan ketidak konsistenan anda, disatu sisi anda menggumakan Ungkapan dari Imam Ibnu Katsir yakni “LAU KANA KHOIRON LASABAQUUNAA ILAIHI” untuk membatasi dalil-dalil umum, namun disisi yang lain anda juga meragukan dua Hadits yang juga diangkat oleh Imam Ibnu Katsir dalam tafsirmya.

          6. Mang Sabar,

            Hadits yang telah kami sampaikan, sungguh telah kami sampaikan pula sanad beserta matannya, sekarang siapa diantara Rijal dari dua hadits tersebut yang anda ragukan? juga pada bagian mana matannya yang anda lemahkan?…

  10. judul artikel diatas adlh suatu ibadah yg dkerjakan dahulu baru cari2 pendalilan,tidak usah pake dalil tuk menyanggahnya…apakah imam mazhab yg4,assyafii rahimahullah yg ada dalam tarikh prnh mmbuat acara maulid nabi scara spektakuler? atau para sahabat memperingati tahun baru hijriyah,padahal merekalah yg paling berhak melaksanakan untuk pertama kalinya..sebagai umat yg awam dgn kaidah seprti itu saja,bisa menilai ibadah kita sudah sesuai ga dgn generasi islam terdahulu? itu aqidah yg aman,tdk tercampur dgn amalan2 yg lain diluar islam

    1. dikn@

      Ya, karena Wahabi mempertanyakan dalilnya maka kemudian dicarikan dalilnya. Intinya segala kebaikan itu bisa diniatkan untuk ibadah, makanya kalau ada ummat Islam melakukan kebaikan antum2 tidak usah tanya dalilnya biar tidak bikin repot Ummat Islam mencari dalil. Masak sih kalian sampai nggak ngerti tentang kebaikan? Masak sih kebaikan di mata kalian itu kok bisa berubah jadi keburukan? Setan itu kelakuannya melihat kebaikan sebagai hal yg buruk, ingat ini ya?

      1. Betul Aryati, semua dilakukan yang penting ada unsur kebaikan, yang lagi ngetren dari ajaran nenek moyang kita soal kenduri arwah itu baik, tahlilan itu baik, sholawatan itu juga baik, zikir bareng bareng itu juga baik, saya juga berpikir kalau yang dilakukan semua itu banyak unsur baiknya yang telah diajarkan turun temurun dai kakek nenek kita, berarti tidak salah juga nanti saya akan ciptakan suatu acara SUJUD berjamaah, jadi acaranya sujud terus sambil menagis merenungi kesalahan, sujud menhadap kiblat, semua jamaah yg hadir wajib sujud kepada allah dan acara ini diluar dari wakto sholat, kan ini baik juga, ngajak orang sujud kepada Allah, tidak perlu pakai dalil lah, yang penting untuk kebaikkan , dari pada nonton bola, kan bagus sujud beramai ramai, kira2 ARYATI, DIK, UCEP DAN MINJAKJINGGO setuju ga??? dengan niatan saya ini membuat suatu kegiatan yg baik

      2. Hati hati Mbak, komentar anda yang umum gitu
        Nanti ada yang berkata saya merampok untuk menolong fakir miskin, niat saya kan ibadah gimana menjelaskan kepada ummat
        Imam An-nawawi dalam kitab Riyadusholihin menjelaskan bahwa syarat diterimanya amal ada 2 yaitu :
        Niat Ikhlas karena ALLAh SWT, dan Itiba’ kepada Rosul SAW
        Lah kalo membersihkan got atau gorong2 rumah ya jelas nggak ada tuntunannya, kan bukan syariat. Cuma kita berniat ibadah saja. itupun masih belum jelas diterima ato tidak.

  11. bilamana sholat terawih didahului dng iqomat,krna iqomat adalah amalan2 soleh..beranikah kita melaksanakan sprti itu? karena dgn amalan2 ibadah yg tidk ada dahulu,lantas banyaknya amalan yg disangka kita ibadah maka akan tidak murninya ajaran2 yg ada dlm agama kita…itulh yg terjadi dgn kaum nasrani dan lain2y

  12. @dikn, tampaknya pemahaman anda semakin parah dg mencontohkan iqomah sbl sholat tarawih, spt nya anda tidak faham dengan ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh, he…he…he…skrg saya tanya pada anda apakah ceramah/kultum antara sholat terawih dan witir pernah dicontohkan Nabi SAW ? karena dimasjid2 yg dikelola wahabi hal ini sering dilakukan saat bulan ramadhan, bahkan ceramahnya lebih lama dari pada shalat terawihnya

  13. maka dr itu semua ibadah yg bertujuan taqorub kpda allah hrus qt lihat apakh pernh dilaksanakan oleh generasi trdahulu..klo tidak?.. ngapain qt bersungguh2 dalam bid’ah.mengenai kultum teraweh,qt semua hrus bnyak blajar,trmasuk ana jg baru2 ini tahu tntang hal itu,dan tdk semua mngadakan yg sprti itu dr kalangn yg antum sebut”wahabi”..yah akhi mendingan qt bersederhana dalam sunnah dlm kehidupn sehri2

  14. @dikn, saya mau tanya pada anda, ceramah antara shalat terawih dan witir itu dicontohkan Nabi SAW apa tidak ? termasuk bid’ah apa tidak ? kalau Nabi SAW tidak mencontohkan dan itu termasuk bid’ah, beranikah anda mengoreksi amal ibadah anda dan golongan anda sendiri sbl mengoreksi ibadah org lain ?

  15. @dikn, bersederhana dalam sunnah bukan berarti kita tidak mau belajar agama untuk menambah sunnah, diatas sudah saya sebutkan apakah anda memahami ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh ? kalau belum paham pantesan saja pemikiran anda sempit tentang islam

  16. @kakang prabu,saling mengoreksi atw menasehati adlah kewajiban setiap muslim.memang ceramah sprti itu perkara bidah,krn tdk ada contohny.kalo anda baca dialog realita yg saya kirikmkn paling ga distu ada penjelasan ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh.
    yg saya mau katakan bid’ah syar’i yg bertujuan mendekatkan diri kpd allah harus sesuai SYARIAT.jng dikatakan ibadah ghoiru madhoh tdk apa2 dilaksanakn walaupu ga ada tuntunanny yg terpenting sepanjang tuk kebaikan,krna yg smcam itu relatif dlm pandangan manusia.klo pemikiran qt yg sperti itu ga lapang fikirn qt.nnti dikatakn..kita menulis smcam ini dlm ranka ibadah ada tuntunannya ga?klo ga ada nnti slah persepsi,brrti bid’ah..klo ada seseorng yg berdoadgn tari2an bahkan berjoged ria dgn semau fikiranny..kan ini bukan ibadah mahdhoh,ga prlu ada dalilny!banyk lg macam2 lainny.insyaallah kita berlindung dr perkara2 yg sprti itu.

  17. @dikn, apakah Nabi SAW pernah menyebutkan adanya bid’ah syar’i ? jangan mencari2 pembenaran sendiri, kalau ibadah org lain anda nilai bid’ah apapun alasannya, sementara anda sendiri menyebutkan adanya bid’ah syar’i, yang tidak konsisten ini skrg siapa ? memang org kalau sejak kecil tidak pernah kenal agama islam kemudian mulai beranjak dewasa kenal islam dg pemahaman ala wahabi ya spt anda itulah jadinya, saya kira para pengunjung blog inipun sudah tau sampai dimana pemahaman anda tentang islam, kalau anda bilang saling mengoreksi… maka saya katakan saya tidak mau mengoreksi ibadah org lain, memang nya siapa kita ini kok senang mengoreksi ibadah org lain, sekarang coba anda jawab apakah ibadah anda ini sudah paling benar kok anda berani menggunakan kalimat saling mengoreksi ? kami penganut aswaja sudah diajari mulai kecil adab lisan dalam menyampaikan pendapat dan berbicara dg org lain, kalau anda sendiri bgmn ?

  18. @dikn, kalau ibadah mahdhoh dan ghoiru mahdhoh sudah diuraikan panjang lebar sesuai dg ilmu ushul fiqih, kalau anda menyebutkan adanya bid’ah syar’i, dari mana asal usulnya ? mungkin anda bisa uraikan dalam forum diskusi ini.

  19. @dikn : walahhhhh pakde-pakde kalau cuma mendefinisikan saja semua org pasti bisa, tapi definisi itu menurut siapa dan dari kitab apa ? apakah Nabi SAW pernah membagi2 bid’ah sesuai dg pemahaman anda ? ketahuilah bahwa Nabi SAW tidak pernah membagi2 bid’ah dan jika anda membagi2 bid’ah sesuai dg pemahaman anda tsb, maka pada dasarnya anda telah melakukan bid’ah, saran saya pada anda kalau masih sama2 belajar agama jan itugan gampang mengoreksi ibadah org lain, dan sesuai dg pernyataan anda : “mau dibawa kemana agama ini ” kalau org2 yg masih belajar spt anda sudah pandai mengoreksi bahkan menyalahkan org lain ?

    1. Bismillah,
      yang membagi-bagi bidah itu ya sampeyan mas coba cek ini:
      Ummati says:
      May 18, 2012 at 7:48 am

      Ya Gus Pur, ya benar memang seperti itu Gus pur….

      Memang semua yang haram itu pasti dosa jika dilakukan. Akan tetapi BID’AH ITU TIDAK SELALU HARAM. Sebab hukum bid’ah (hal baru) itu ada lima (5):
      -bid’ah WAJIBAH,
      -bid’ah Mandzubah,
      -bid’ah MAKRUHAH,
      -bid’ah MUBAHAH,
      -bid’ah Muharromah (haram).

      Perlu Gus Pur tahu bahwa BUD’AH ITU BUKAN HUKUM, akan tetapi BID’AH ITU BISA DIHUKUMI. Demikian Gus Pur….

      Syukron atas kritiknya yang bagus, jazakallohu khoron katisiiro.

      bandingkan dengan ini :

      Prabu Minakjinggo says:
      August 29, 2012 at 4:46 pm

      @dikn : walahhhhh pakde-pakde kalau cuma mendefinisikan saja semua org pasti bisa, tapi definisi itu menurut siapa dan dari kitab apa ? apakah Nabi SAW pernah membagi2 bid’ah sesuai dg pemahaman anda ? ketahuilah bahwa Nabi SAW tidak pernah membagi2 bid’ah

    2. @kakang prabu..yg dmaksud diatas adalah bid’ah atau sesuatu yg baru dlm rangka peribadatan mendekatkan diri kpd allah.klo yg menurut anda bid’ah hasanah setiap orng pasti bisa mandefinisikannya…nanti akan muter2 trus cara pandang kita ..dimana peran atw definisi para sahabat2 nabi yg tidak pernah mengamalknnya sprti tahlilan,yasinan kematian,atau berdoa dgn joged2 ria..mungkinkah qt menuduh para sahabat tlah berhianat tdk memberikn keterangan itu smpai kpda qt? atw mereka tdk faham bid’ah hasanah?..afwan klo ada salah ucap cara penyampaian yg diatas tntang koreksi atw menasehati,barokallahufik.

      1. @dikn, biar langsung ke permasalahan, coba tunjukkan mana sumber rujukannya/dalilnya tentang bid’ah sesuai dg yang anda paparkan itu (bid’ah syar’i)? setelah kita berdiskusi tentang bid’ah menurut versi anda, nanti kita lanjutkan diskusinya tentang bid’ah hasanah, terus yang anda maksud berdoa dg joged2 ria itu apa ?

        1. setiap amalan yg tdk ada contohnya akan tertolak,,anda pasti familiar dgn hal itu..jd hal baru dlm pribadatan yg brtujuan mendkatkn diri kpd allah hrus sesuai syari,anda sdh meliht beribadah dng jingkrak2anyg saya paparkan?apa tanggapannya?

          1. @dikn, berarti kalau menurut pemahaman antum, ceramah antara sholat terawih dan witir juga merupakan amalan yang tertolak dong, begitu juga pendirian madrasah2, panti asuhan, rumah sakit dan di tempat saya ada masjid yang di kelola wahabi mengadakan pengajian pengkhususan pada hari minggu juga tertolak dong amalannya karena tidak pernah dicontohkan Nabi SAW, wahhh….payah kalau mengikuti pemahaman antum, karena sesuatu yang bermakna khusus anda maknai secara umum/keseluruhan,

          2. @dikn :
            Saudaraku mari kita bahas istilah bid’ah dari Ilmu Nahwu :

            كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

            Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkandalam hadits di atas;

            Dalam Ilmu Balaghah dikatakan,

            حدف الصفة على الموصوف

            “membuang sifat dari benda yang bersifat”.

            Jadi jika ditulis lengkap dengan sifat dari bid’ah kemungkinannya adalah

            a. Kemungkinan pertama :

            كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ

            Semua “bid’ah yang baik” itu sesat (dholalah), dan semua yang sesat (dholalah)masuk neraka

            Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat (dholalah)berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil.

            b. Kemungkinan kedua :

            كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِىالنَّاِر

            Semua “bid’ah yang jelek” itu sesat (dholalah), dan semua yang sesat (dholalah)masuk neraka

            Jadi kesimpulannya bid’ah yang sesat masuk neraka adalah bid’ah sayyiah (bid’ah yang jelek).

            Rasulullahshallallahu alaihi wasallam bersabda “Jauhilah oleh kalian perkara baru, karena sesuatu yang baru (di dalam agama) adalah bid’ah , kullu bid”ah dholalah (HR Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi & Hakim)

            Telah menceritakan kepada kami Ya’qub telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari bapaknya dari Al Qasim bin Muhammad dari ‘Aisyah radliallahu ‘anha berkata; Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang membuat perkara baru dalam “urusan kami ” ini yang tidak ada perintahnya maka perkara itu tertolak“. Diriwayatkan pula oleh ‘Abdullah bin Ja’far Al Makhramiy dan ‘Abdul Wahid bin Abu ‘Aun dari Sa’ad bin Ibrahim (HR Bukhari 2499)

            Dari Ibnu ‘Abbas r.a. berkata Rasulullahshallallahu alaihi wasallam bersabda, “sesungguhnya agama itu dari Tuhan, perintah-Nya dan larangan-Nya.” (Hadits riwayat Ath-Thabarani)

            Rasulullahshallallahu alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah telah mewajibkanbeberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakandia; dan Allah telah memberikanbeberapa larangan (dikerjakan berdosa)),maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkanbeberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankanoleh an-Nawawi)

            Dari keempat hadits di atas dapat diketahui bahwa bid’ah yang sayyiah (jelek) adalah bid’ah dalam urusan agama atau “urusan kami” atau perkara syariat (segala perkara yang telah disyariatkanNya/diwajibkanNya) atau mengada-ada dalam urusan yang merupakan hak Allah ta’ala menetapkannya yakni melarang sesuatu yang tidak dilarangNya, mengharamkan sesuatu yang tidak diharamkanNya, mewajibkansesuatu yang tidak diwajibkanNya.

            Sedangkan Rasulullahshallallahu alaihi wasallam menyampaikan bahwa contoh atau suri tauladan atau perkara baru di luar perkara syariat , baik atau buruk, ke dalam sunnah hasanah atau sunnah sayyiah

            حَدَّثَنِيزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَاجَرِيرُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِعَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُوسَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ وَأَبِي الضُّحَى عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هِلَالٍ الْعَبْسِيِّ عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ نَاسٌ مِنْ الْأَعْرَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْالصُّوفُ فَرَأَى سُوءَ حَالِهِمْ قَدْ أَصَابَتْهُمْ حَاجَةٌ فَحَثَّ النَّاسَ عَلَى الصَّدَقَةِ فَأَبْطَئُوا عَنْهُ حَتَّى رُئِيَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ قَالَ ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ جَاءَ بِصُرَّةٍ مِنْ وَرِقٍ ثُمَّ جَاءَ آخَرُ ثُمَّ تَتَابَعُوا حَتَّى عُرِفَ السُّرُورُفِي وَجْهِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

            Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir bin ‘Abdul Hamid dari Al A’masy dari Musa bin ‘Abdullah bin Yazid dan Abu Adh Dhuha dari ‘Abdurrahman bin Hilal Al ‘Absi dari Jarir bin ‘Abdullah dia berkata; Pada suatu ketika, beberapa orang Arab badui datang menemui Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengenakanpakaian dari bulu domba (wol). Lalu Rasulullahmemperhatikan kondisi mereka yang menyedihkan. Selain itu, mereka pun sangat membutuhkan pertolongan.
            Akhirnya, Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan para sahabat untuk memberikansedekahnyakepada mereka. Tetapi sayangnya,para sahabat sangat lamban untuk melaksanakan anjuran Rasulullahitu, hingga kekecewaanterlihat pada wajah beliau. Jarir berkata; ‘Tak lama kemudian seorang sahabat dari kaum Anshar datang memberikanbantuan sesuatu yang dibungkus dengan daun dan kemudian diikuti oleh beberapa orang sahabat lainnya. Setelah itu, datanglah beberapa orang sahabat yang turut serta menyumbangkan sedekahnya(untuk diserahkankepada orang-orang Arab badui tersebut) hingga tampaklah keceriaan pada wajah Rasulullahshallallahu ‘alaihi wasallam.’Kemudian Rasulullahshalallahu‘alaihi wassalam bersabda: “Siapa yang melakukan satu sunnah hasanah dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnyatanpa mengurangipahala-pahala mereka sedikitpun. Dan siapa yang melakukan satu sunnah sayyiah dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnyatanpa mengurangidosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR Muslim 4830)

            Hadits di atas diriwayatkan juga dalam Sunan An-Nasa‘i no.2554, Sunan At-Tirmidzi no. 2675, Sunan Ibnu Majah no. 203, Musnad Ahmad 5/357, 358, 359, 360, 361, 362 dan juga diriwayatkan oleh yang lainnya.

            Arti kata sunnah dalam sunnah hasanah atau sunnah sayyiah bukanlah sunnah Rasulullahatau hadits atau sunnah (mandub) karena tentu tidak ada sunnah Rasulullahyang sayyiah, tidak ada hadits yang sayyiah dan tidak ada perkara sunnah (mandub) yang sayyiah

            Jadi arti kata sunnah dalam sunnah hasanah atau sunnah sayyiah adalah contoh atau suri tauladan atau perkara baru, sesuatu yang tidak dilakukan oleh orang lain sebelumnya

            Kesimpulannya,

            Sunnah hasanah adalah contoh atau suri tauladan atau perkara baru di luar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits , termasuk ke dalam bid’ah hasanah

            Sunnah sayyiah adalah contoh atau suri tauladan atau perkara baru di luar perkara syariat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits , termasuk ke dalam bid’ah dholalah

            Imam Mazhab yang empat yang bertalaqqi(mengaji) dengan Salaf Sholeh, contohnya Imam Syafi’i ~rahimahullah menyampaikan

            قاَلَ الشّاَفِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -ماَ أَحْدَثَ وَخاَلَفَ كِتاَباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاًأَوْ أَثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُالضاَلَةُ ، وَماَ أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخاَلِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُالمَحْمُوْدَةُ -(حاشية إعانة 313 ص 1الطالبين -ج )

            Artinya ; Imam Syafi’i ra berkata –Segala hal yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan bertentangan dengan Al-Qur’an,Al-Hadits,Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bid’ah yang sesat (bid’ah dholalah).Dan segala kebaikan yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak bertentangan dengan pedoman tersebut maka ia adalah bid’ah yang terpuji (bid’ah mahmudah atau bid’ah hasanah), bernilai pahala. (Hasyiah Ianathuth-Thalibin –Juz 1 hal. 313).

            Contoh sunnah sayyiah (termasuk bid’ah dholalah) yakni perkara baru atau mencontohkan atau meneladankan perkara di luar perkara syariat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits, perbuatan mempergunakan jejaring sosial facebook untuk bergunjing, menghasut,mencela, menghujat saudara muslim lainnya

            Contoh sunnah hasanah (termasuk bid’ah hasanah) perkara baru atau mencontohkan atau meneladankan perkara di luar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits, perbuatan mempergunakan jejaring sosial facebook untuk menyampaikan apa yang disampaikan oleh Rasulullahshallallahu alaihi wasallam atau sekedar mempergunakannya untuk membaca dan memahami uraian agama dalam rangka tholabul ilmi.

            Jadi kullu bid’ah menerima pengecualian pada bid’ah di luar perkara syariat yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits

            Hal ini sesuai pula jika ditinjau dari ilmu nahwu

            Kalimat bid’ah (بدعة) di sini adalah bentuk ISIM (kata benda) bukan FI’IL (kata kerja).

            Dalam ilmu nahwu menurut kategorinya Isim terbagi 2 yakni Isim Ma’rifat (tertentu)dan Isim Nakirah (umum).

            Nah.. kata BID’AH ini bukanlah
            1. Isim dhomir
            2. Isim alam
            3. Isim isyaroh
            4. Isim maushul
            5. Ber alif lam
            yang merupakan bagian dari Isim Ma’rifat.

            Jadi kalimat bid’ah di sini adalah Isim Nakiroh dan KULLU di sana berarti tidak ber-idhofah (bersandar) kepada salah satu dari yang 5 di atas. SeandainyaKULLU ber-idhofah kepada salah satu yang 5 di atas, maka ia akan menjadi ma’rifat. Tapi pada ‘KULLU BID’AH’, ia ber-idhofah kepada nakiroh. Sehingga dhalalah-nya adalah bersifat ‘am (umum). Sedangkan setiap hal yang bersifat umum pastilah menerima pengecualian.

            Ulama yang sholeh, bersanad ilmu tersambungkepada Rasulullahshallallahu alaihi wasallam seperti Imam Nawawi ra yang bermazhab Syafi’i mengatakan

            قَوْلُهُ وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ هَذَاعَامٌّ مَخْصٍُوْصٌ وَالْمُرَادُ غَالِبُ الْبِدَعِ .

            “Sabda Nabi Shallallahu alaihi wasallam, “Kullu Bid’ah dlalalah” ini adalah ‘Amm Makhshush,kata-kata umum yang dibatasi jangkauannya. Jadi yang dimaksud adalah sebagian besar bid’ah itu sesat, bukan seluruhnya.” (Syarh Shahih Muslim, 6/154).

            Hadits “Kullu Bid’ah dlalalah” berdasarkan ilmu atau menurut tata bahasanya ialah ‘Amm Makhshush,artinya “makna bid’ah lebih luas dari makna sesat” sehingga “setiap sesat adalah bid’ah akan tetapi tidak setiap bid’ah adalah sesat”.

            Sebagian ulama berpendapat bahwa pengecualian itu pada perkara baru “urusan dunia” atau bid’ah duniawiyyah.

            Sangat keliru jika berpendapat bahwa bid’ah yang diperbolehkan atau bid’ah yang tidak masuk neraka adalah bid’ah urusan dunia (bid’ah duniawiyyah) karena bid’ah urusan dunia (bid’ah duniawiyyah) ada yang hasanah (baik) dan ada pula yang sayyiah (buruk).

            Jadi kalau saudara faham bahasa Arab atau paling tidak dari uraian diatas seharusnya saudara sudah mengerti.

            Kebenaran hakiki hanya milik Allah
            Hamba Allah yang dhaif dan faqir
            Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  20. @dikn : walahhhhh pakde-pakde kalau cuma mendefinisikan saja semua org pasti bisa, tapi definisi itu menurut siapa dan dari kitab apa ? apakah Nabi SAW pernah membagi2 bid’ah sesuai dg pemahaman anda ? ketahuilah bahwa Nabi SAW tidak pernah membagi2 bid’ah dan jika anda membagi2 bid’ah sesuai dg pemahaman anda tsb, maka pada dasarnya anda telah melakukan bid’ah itu sendiri, saran saya pada anda kalau masih sama2 belajar agama itu jangan gampang mengoreksi ibadah org lain, dan sesuai dg pernyataan anda : “mau dibawa kemana agama ini ” kalau org2 yg masih belajar spt anda sudah pandai mengoreksi bahkan menyalahkan org lain ?

  21. @dikn : saran saya pada anda kalau masih sama2 belajar agama itu jangan gampang mengoreksi ibadah org lain, dan sesuai dg pernyataan anda : “mau dibawa kemana agama ini ” kalau org2 yg masih belajar spt anda sudah pandai mengoreksi bahkan menyalahkan org lain ?

  22. @sabar, baca dulu yang jelas/teliti donk comment “sepupu” antum si dikn diatas, klo kami para aswaja kan memang sudah di cap ahli bid’ah kan oleh antum dan kelompok antum, maka nya kami tidak mengelak/berkelit dg cap itu, krn bid’ah yang kami lakukan pada dasarnya adalah bid’ah hasanah dan kami mempunyai dasar rujukan yang jelas tentang ibadah kami baik dari Alqur’an, Hadits Nabi SAW, yang dilakukan para sahabat Nabi SAW, maupun para tabiit tabiin, sekarang bandingkan dg antum dan klp antum yg suka mengecap bid’ah tapi pada dasarnya juga melakukan bid’ah sendiri, ibaratnya jeruk kok makan jeruk, he..he..he…, belum lagi si dikn “sepupu” antum yang menyebutkan adanya bid’ah syar’i, tp sampai sekarang belum menguraikan sumber dan dasar penyebutan bid’ah syar’i tsb, bersumberkah dari Alquran, dari Hadits Nabi SAW, atau yang dilakukan para sahabat Nabi SAW, maupun dari para tabiit tabiin ? dari sini saja sudah kelihatan jelas siapa sebenarnya ahli bid’ah sesat yang sebenarnya,

  23. Marilah kita hidupkan ukhuwah islamiyah dengan mengadakan acara-acara maupun peringatan keagamaan khususnya Islamiyah, agar Ukhuwah diantara muslim itu hidup ditengah masyarakat walaupun kita hidup yang sudah sangat jauh dengan Sumber Agama yaitu Rasulullah.
    Kalau kita tidak menghidupkan acara maupun peringatan, maka musuh-musuh islam akan senang dan bangga, karena masyarakat islam sudah bersifat Indivialistis dan materialistis dengan meninggalkan acara maupun peringatan berarti masyarakat muslim sudah jauh dari Ukhuwah islamiyah, apakah itu yang masyarakat islam inginkan ???

    Dengan mengadakan acara maupun peringatan ukhuwah islamiyah seperti Maulid Nabi, Tahlilan, Yasinan maupun Istighasah yang merupakan sebagian dari sifat Ukhuwah, berarti masyarakat islam masih layak untuk diperhitungkan oleh lawan.

    Ane pernah baca buku di salah satu perpustakaan di Jakarta, ane dapatin buku (ane lupa judulnya) dah lama, disalah satu halaman nya berbunyi : “Nina bobokan lah umat islam, jangan sampai kata jihad muncul lagi dalam benak setiap Muslim, berilah mereka makan, minum sampai kenyang lalu nina bobokanlah mereka”.

    Ini terbukti banyak orang yang sudah muslim menjadi pengikut-pengikut mereka, seperti sebagian wilayah jakarta, semarang dll. Tapi ini kita tidak bisa pungkiri, karena ukhuwah islam sudah memudar dan hampir dipastikan hilang dari peredaran hati setiap muslim.

        1. adalh segala ucapan,perbuatan atu sifat nabi salallahualahiwasalam,tp klo kaitannya dgn fiqh adalh suatu yg dkerjakan mendpt pahala&mnunggalknnya pun tdk apa2..klo ada yg kurang coba dilngkapi bu ya tntag sunnah menrut anda?

          1. Trus apa makna Sunnah dalam hadis berikut?

            مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

          2. “Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.”

            Dalam hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan adanya sunnah yang baik dan sunnah yang buruk sehingga diambil kesimpulan adanya bid’ah yang baik dan bid’ah yang buruk.

            Jawaban :

            sesungguhnya diantara tata cara memahami hadits adalah dengan melihat sebab terjadinya hadits tersebut, sehingga kita dapat memahaminya dengan benar. Dengarkanlah kisah berikut ini yang merupakan sebab terjadinya hadits itu :

            Jarir radliyallahu ‘anhu berkata,” Kami berada disisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di waktu siang, lalu datanglah suatu kaum dengan telanjang kaki, telanjang badan dan memakai nimar (sarung wol yang bergaris-garis) sambil menghusunkan pedang, kebanyakan mereka dari Mudlor bahkan semuanya. Maka berubahlah wajah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena melihat mereka yang sangat papa, beliaupun masuk lalu keluar, dan menyuruh Bilal untuk adzan kemudian iqomat, setelah sholat beliau berkhutbah :

            “Wahai Manusia, bertaqwalah kamu kepada Rabbmu yang telah menciptakanmu dari satu jiwa… sampai akhir ayat, dan ayat dalam surta Al Hasyr : 18. Hendaklah seseorang bershodaqoh dengan dinarnya, dirhamnya, pakaiannya, sha’ burrnya, sho’ kurmanya sampai beliau bersabda : walaupun dengan setengah kurma”.

            Lalu datanglah seseorang dari kalangan anshor dengan membawa kantung yang tangannya hampir tidak bisa membawanya bahkan tidak mampu, kemudian orang-orang pun mengikuti sehingga aku melihat dua tumpukan besar dari makanan dan pakaian, maka aku melihat wajah Rosulullah berseri-seri bagaikan perak bersepuh emas, lalu beliau bersabda :

            مَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أُجُوِْرِهمْ شَيْءٌ. وَمَنْ سَنَّ فِي الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْقَصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ.

            “Barangsiapa mencontohkan suatu perbuatan baik di dalam islam, maka ia akan memperoleh pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkannya setelahnya dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa mencontohkan suatu perbuatan buruk di dalam islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.”

            Perhatikanlah saudaraku, hadits tersebut berhubungan dengan shodaqoh yang dilakukan oleh seorang shahabat yang diikuti oleh shahabat lain, tentu pembaca semua mengetahui bahwa shodaqoh bukanlah perkara yang diada-adakan, maka berdalil dengan hadits tersebut untuk menyatakan adanya bid’ah hasanah adalah sebuah pemahaman yang aneh.

          3. Mas dink,

            Sebenarnya pertanyaan ana sederhana : Apa makna kata SUNNAH pada hadits tsb?

            Baiklah, berikut sanggahan kami atas uraian anda.
            Atas dasar apa anda membatasi keumuman sebuah dalil hanya dengan asbabul wurud atau asbabun nuzulnya? Mengingat jika kita mengikuti pola anda akan morat-marit agama ini, tak kasih satu contoh:
            سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (142) وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (143) قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (144)

            Dari ayat diatas jika kita mengikuti pola anda dalam memahaminya maka kewajiban menghadap Qiblah (ka’bah) hanya terjadi ketika terjadi cemoohan dari orang-orang Non Muslim, sebaliknya jika tidak terjadi cemoohan dari orang-orang kafir kita sholat menghadap Baitul Maqdis, apa benar begitu kang?

  24. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Cara paling efektif menjaga ukhuwah atau persatuan Islamiyah adalah shalat berjamaah. Dalam shalat berjamaah, lengan yang lembut (Sabda rasulullaah: “Dan yang paling baik di antara kalian adalah yang melembutkan lengannya) bersentuhan dengan lengan yang lembut. Hati jadi lembut dan akrab antara satu makmum dan makmum lainnya. Mata kaki bertemu dengan mata kaki sampai tidak ada celah sedikitpun di antara makmum satu dan yang lainnya sehingga syaitan tidak dapat masuk dalam shaf shalat dan tidak dapat mencerai-beraikan hati para makmum (Rasulullaah bersabda: “Rapatkan dan luruskan shaf kalian atau Allah akan mencerai-beraikan hati kalian).

    Hati yang lembut, akrab dan tidak ada permusuhan membuahkan persatuan yang kokoh. Dan persatuan yang kokoh membuahkan kekuatan dahsyat yang ditakuti oleh musuh.

    Mohon dikoreksi bila teks haditsnya kurang tepat. Mohon maaf bila ada perkataan yang tidak berkenan di hati anda.

    Wallaahu a’lam.

  25. @Ibnu Suradi,

    Menjalin Ukhuwah itu luas cakupannya, bukan hanya dalam shalat tapi dalam segala kegiatan hablum minallah maupun hablum minannas, ya termasuk menghibur ahli mayyit (keluarga yang anggota keluarganya meninggal) dengan bersama berdoa dengan segala media doa. Sesungguhnya istilah Tahlilan, Yasinan dls itu merupakan rangkaian bacaan dimana para ulama mengambil beberapa surat atau ayat khusus untuk dihadiahkan bacaannya kepada ahli kubur. Termasuk juga acara maulid nabi dengan membaca Kitab Burdah, Barjanji dls, hal tersebut termasuk amal shalih dan dianjurkan.

    Dalam tanggapan saudara malah membahas masalah shaf shalat berjamaah yang menurut anda sesuai dengan sunnah Rasulallah Muhammad S.A.W. Padahal mohon maaf, setahu saya shaf shalat kelompok salafi/wahabi dan “sak piturute” itu cenderung berdesakan secara berlebihan (karena saya juga pernah shalat dengan kelompok yang anda ikuti), bukan lembut seperti anda katakan, bahkan posisi kaki juga mbegagah, makanya saudara sebutkan “mata kaki bertemu”. Hal itu cenderung menjadikan kita dengan sesama jamah saling ngotot/berlebihan dalam shaf shalat, kalau sudah begitu dimana letak lembutnya. Terus terang saya belum mendapatkan keterangan dalam beberapa kitab ulama yang mu’tabar dan menjadi ijma’ ulama’. Keterangan tentang shaf shalat pernah saya baca adalah sebagi berikut :

    1. Dalam Kitab Bughyatul Murtasyidin halaman 112 yang disusun Syaikh `Abdur Rahman bin Muhammad bin Husain bin `Umar al-Masyhur rhm. sebagai berikut :

    وُتُعْتَبَرُ الْمَسَافَةُ فِيْ عَرْضِ الصُّفُوْفِ بِمَا يُهَيَّأُ لِلصَّلاَةِ وَهُوَ مَا يَسَعُهُمْ عَادَةً مُصْطَفِّيْنَ مِنْ غَيْرِ إِفْرَاطٍ فِي السَّعَةِ وَالضَّيْقِ

    (Bahu saling menempel. Kaki renggang sejajar bahu saja. Jangan sampai melampaui lebar bahu / mbegagah. Biasanya nanti di raka’at kedua, kaki-nya mingkup alias sudah nggak renggang lagi, sehingga shof-nya malah tidak rapat.)

    2. Dalam Kitab Bugyatul Murtasyidin juga halaman 140

    وتعتبر المسافة في عرض الصفوف بما يهيأ للصلاة وهو ما يسعهم عادة مصطفين من غير إفراط في السعة والضيق

    (Disebutkan bahwa ukuran lebar shaf ketika hendak shalat yaitu yang umum dilakukan oleh seseorang, dengan tanpa berlebihan dalam lebar dan sempitnya)

    Dari keterangan kitab diatas jelas bahwa shaf shalat yang rapat adalah tidak berlebihan.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  26. Bismillaah,

    Mas Derajad (bukannya Darajat?),

    Shalat berjamaah bukanlah satu-satunya acara untuk menggalang ukhuwah Islamiyah. Ada cara lain. Silahkan melakukannya.

    Saya hanya menambah komentar @bu Hilya tentang cara menggalang persatuan umat Islam. Mungkin anda pernah mendengar tokoh Yahudi yang mengatakan bahwa umat Islam tidak akan menang melawan Yahudi sebelum masjid selalu penuh saat shalat subuh berjamaah. Yahudi takut kekuatan shalat berjamaah yang makmumnya berbaris rapat dan lurus tanpa ada celah sedikitpun bagi setan untuk masuk dalam barisan.

    Saya setuju dengan anda bahwa kaki direnggangkan tidak melebihi lebar bahu. Siapapun yang merenggangkan kaki melebihi lebar bahu – tidak peduli dari Wahabi maupun yang lain – , maka ia menyelisihi dalil bahwa bahu musti menempel bahu. Hadits tentang hal itu sering disampaikan di situs diskusi sini. Silahkan mencarinya.

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi :
      Persetujuan saudara janggal. Saya katakan janggal karena tidak sesuai dengan pernyataan sebelumnya, dimana anda sebut :

      “Mata kaki bertemu dengan mata kaki sampai tidak ada celah sedikitpun di antara makmum satu dan yang lainnya…”

      Jelas disitu pernyataan saudara “bertemunya mata kaki” alias “mbegagah”, bagaimana mungkin tidak mbegagah karena secara anatomi tubuh manusia bahu posisinya secara vertikal terletak lebih luar dari kaki atau mata kaki. Ini jelas berlebihan. Sedangkan jawaban saudara, jika melelebihi posisi bahu jelas menyelisihi dalil (sunnah Rasulullah Muhammad S.A.W.).

      Selanjutnya karena anda sepakat menggalang ukhuwah tidak hanya dalam shalat, lalu apa masalahnya dengan Majelis Dzikir yang istilah kemasan luarnya disebut tahlilan, yasinan, maulidan, shalawatan dan lain sebagainya ??? (sama dengan pertanyaan saudara @bu hilya kepada saudara)

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

      1. Bismillaah,

        Mas Derajad,

        Kita tidak perlu “mbegagah” atau merenggangkan kaki melehihi lebar bahu untuk menempelkan mata kaki kita dengan mata kaki. Kalau kaki renggang melebihi lebar bahu, maka bahu pasti tidak bisa ditempelkan ke bahu kawan kita. Jadei, kita mengikuti perkataan sahabat yang bernama Nu’man bin Bashir: “menempelkan bahu dengan bahu dan mata kaki dengan mata kaki.”

        Amalan itu sudah kami jalankan di masjid Walidain di Cilebut, Bogor, Jawa barat. Sesekali silahkan Mas Derajad datang ke masjid tersebut untuk merasakan betapa nikmatnya shalat berjamaah dengan shaf yang rapat dan lurus (bahu bertemu bahu dan mata kaki bertemu mata kaki) plus bacaan imam yang merdu dan tartil dan gerakan yang thuma’ninah, tenang dan tidak buru-buru.

        Wallaahu a’lam.

        1. @Ibnu Suradi :
          Saudara Ibnu Suradi saya sudah pernah berjamaah di Masjid yang seperti anda sebutkan, walaupun tidak di Walidain seperti saudara sebut, tapi kesannya seperti yang saya katakan diatas dipaksakan menempel sehingga gerakan tubuh berpengaruh ke gerakan jamaah yang lain.

          Tapi sesuai artikel dan pertanyaan saya dan saudara @bu hilya diatas, apa masalahnya majelis dzikir yang kita lakukan dengan ukhuwah yang anda maksud ? Apa ada yang salah ? Tolong dijelaskan.

          Kebenaran hakiki hanya milik Allah
          Hamba Allah yang dhaif dan faqir
          Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  27. Bismillah……..
    Untuk Saudara-saudaraku seiman semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah kepda kita semua
    Sekedar ungkapan dari isi hati setelah membaca dialog ini..
    “Jika agama ini kita jalankan sebagaimana Rasulullah serta umat terdahulu / para shahabat menjalankannya, maka InsyaAllah dapat dipastikan ridho Allah akan kita dapatkan, sebagaimana Allah memberikan ridho kepada para shahabat padahal mereka tidak prernah melakukan amalan-amalan yang baru di zaman sekarang…. Oleh karena itu tidaklah terkena adzab bagi orang – orang yang meninggalkan tahlilan, yasinan atau maulidan sebagaimana Rasulullah dan para shahabat tidak diadzab karena tidak melakukannya… tetapi jgn khawatir pula bagi anda yang suka melakukannya, karena jika anda benar maka tentu anda akan selamat dari adzab Allah begitu pula kami yang tidak melakukannya. Tetapi yang perlu dikhawatirkan oleh anda adalah bagaimana jikalau amalan tersebut adalah Bid’ah Dhalallah sebgaimana yang dimaksud oleh Rasulullah SAW dalam sbdanya, maka tentu akan hilanglah keselamatan anda di akhirat… Jadi coba pikirkan baik-baik mnakah yang lebih selamat??? Orang yang melakukannya ataukah orang yang meninggalkannya??? Mudah-mudahan hal ini menjadi bahan renungan yang bermanfa’at…

    1. @abu zamil :
      Terimakasih saudara sudah mengingatkan, dengan sedikit pakai ancaman. 😀 Keyakinan saudara menganggap amalan kaum sarungan seperti kami ini yang mengikut Ahlus Sunnah Waljamaah secara umum dan secara khusus mengikut para Kyai/Habaib yang kami pedomani adalah kesunahan. Karena kami yakin Kyai-kyai kami adalah orang yang alim, tawadu’, dan istiqamah yang tidak mungkin akan menjerumuskan kami ke jurang kenistaan. Kebanyakan ijazah sanad keilmuan beliau musalsal sampai kepada Rasulullah Muhammad SAW. Tapi mohon maaf bagaimana dengan guru/ustadz saudara? Karena kami sering menemukan kelompok saudara memang pandai berbahasa Arab, Nahwu dan Sharaf, tapi secara ijazah keilmuan mereka tidak punya sanad. Kitab Qur’an dan hadits diartikan menggunakan arti harfiah dan akal, tidak mau merujuk kepada Ijma’Ulama yang mu’tabar dan musalsal.

      Jadi sebaiknya marilah kita mengaji kitab kepada ahlinya, sehingga kita mendapat tuntunan yang jelas.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

      1. Asslamualkm, sekarang ini pemikiran orang pakai ancaman juga masih membadel apalagi memfonis Bid ah……kufarat , dholalah , sudah tak terpikirkan hal ini jadi manusia sekarang harus pinter2 kalau mau ber Ibadah , mencari Ilmu Agama,…sudah banyak guru2 berbagai faham. dan ini jangan membingungkan orang baru mendalami ilmu Islam yg Rahmatan Ilahi ini , jangansampai tidak pernah mengambil Al Qur’an sebagai petunjuknya shubanallah ..

  28. Catatan untuk direnungi:

    Termasuk dalam kategori hukum yang manakah Tahlilan [selamatan Kematian] ?

    Klasifikasi hukum dalam Islam secara umum ada 5 (lima) kalau tidak termasuk; Shahih, Rukhsoh, Bathil, Rukun, Syarat dan ‘Azimah.(Mabadi’ awaliyyah, Abd Hamid Hakim)

    1. Wajib : Apabila dikerjakan berpahala, ditinggalkan berdosa.
    2. Sunnah/Mandub : Apabila dikerjakan berpahala, ditinggalkan tidak apa-apa.
    3. Mubah : Tidak bernilai, dikerjakan atau tidak dikerjakan tidak mempunyai nilai.
    4. Makruh : Dibenci, apabila dikerjakan dibenci, apabila ditinggalkan berpahala.
    5. Haram : Dikerjakan berdosa, ditinggalkan berpahala.

    Pertanyaan :

    1. Apakah Tahlilan [yang dimaksud :Selamatan Kematian] di dalamnya terkandung ibadah ?
    2. Termasuk dalam hukum yang mana Tahlilan tersebut ?

    Jawab :
    1. Karena didalamnya ada pembacaan do’a, baca Yasin, baca sholawat, baca Al Fatikhah, maka ia termasuk ibadah. Hukum asal ibadah adalah “haram” dan “terlarang”. Kalau Allah dan Rasulullah tidak memerintahkan, maka siapa yang memerintahkan ? Apakah yang memerintahkan lebih hebat daripada Allah dan Rasulullah

    2. Jika hukumnya “wajib”, maka bila dikerjakan berpahala, bila tidak dikerjakan maka berdosa. Maka bagi negara lain yang penduduknya beragama Islam, terhukumi berdosa karena tidak mengerjakan. Ternyata tahlilan, hanya di lakukan di sebagian negara di Asia Tenggara

    Wajibkah Tahlilan ? Ternyata tidak, karena tidak ada perintah Allah dan Rasul untuk melakukan ritual tahlilan (Selamatan Kematian : red)

    Sunnahkah Tahlilan ? Ternyata ia bukan sunnah Rasul, sebab Rasulullah sendiri belum pernah mentahlili istri beliau, anak beliau dan para syuhada.

    Nah…..berarti hukumnya bukan Wajib, juga bukan Sunnah.

    Kalau seandainya hukumnya Mubah, maka untuk apa dikerjakan, sebab ia tidak mempunyai nilai (tidak ada pahala dan dosa, kalau dikerjakan atau ditinggalkan). Sudah buang-buang uang dan buang-buang tenaga, tetapi tidak ada nilainya.

    Jadi, tinggal 2 (dua) hukum yang tersisa, yaitu Makruh dan Haram. Makruh apabila dikerjakan dibenci, apabila ditinggalkan berpahala. Haram : Dikerjakan berdosa, ditinggalkan berpahala.

    Jadi….sekarang pilih yang mana ? Masih mau melakukan atau tidak ?
    __________________________

    Wallahu a’lam

    1. pada dasarnya setiap amalan2 atau ibadah yg bertujuan mndekatkn diri pd allah semua bersumber dari nabi sallalahualaihiwasalam,kmudian diamalkn oleh generasi sesudahny smpailah ke kita skrg ini.semaksimal mungkin ibadah yg kita lakukan,sangat jauh dibandingkn para salaf.jadi kalo mmbuat prkara2 baru dlm rangka itu,berarti menganggap agama kita ini belum sempurna masih ada peribadatan yg harus ditambahkan..hal semacam itu sebenarny mudah dicerna akal dan hati tuk mmpelajarinya,jadi ga perlu muter2atau mncari2 pembenaran dlm memahaminya. ikhlas dan itiba kpda nabi salallahualaihiwasallam itu adlah syarat mutlak dlm beragama.smoga allah memberikan nikmat iman dan islam kpd qt smua

    2. @Abu Zamil :
      Catatan saudara sudah saya baca dan renungi. Kalau itu disampaikan kepada orang yang tidak berilmu pasti akan berfikir persis seperti saudara memahami dalil itu menggunakan jalan fikir anda sendiri tentang hukum Islam.

      Saya membetulkan penjelasan saudara tentang hukum Islam tersebut. Tapi penjelasan saudara selanjutnya bahwa hukum tahlilan itu tidak masuk salah satu hukum itu terlalu gegabah dan tidak memperhatikan kaidah hukum Islam itu sendiri. Sesungguhnya Tahlilan, Yasinan, dll adalah hanya nama yang berkembang di masyarakat didalamnya terkandung rangkaian bacaan yang baik, sedangkan tujuan utamanya adalah dzikrullah dan ini jelas adalah Sunnat Muakadah. Banyak hadits tentang dzikrullah ini dengan segala pendukung bacaan-bacaan yang khusus atau sering dibaca oleh Rasulullah Muhammad S.A.W. Didalamnya terkandung pujian, shalawat dan do’a. Apa ada yang salah ???

      Mengenai Rasulullah belum pernah melakukannya paling tidak ada dua jawaban :
      1. Apa yang belum pernah dilakukan di masa Rasulullah, lalu dilakukan pada masa para sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman belum tentu semuanya salah (atau mungkin anda menyebut bid’ah dhalallah). Contoh : Shalat Tarawih Berjamaah dengan satu Imam sebanyak 23 Rakaat di Masa Sayyidina Umar itu jelas di masa Rasulullah belum pernah dilakukan, Adzan Jumat sebanyak 2 kali di masa Sayyidina Utsman jelas juga belum pernah dilakukan di masa Rasulullah dan masih banyak lagi.

      2. Saudara memahami kata bid’ah sebagai dhalalah saja. Padahal asal kata bid’ah adalah “Bada‘asy syai-a, yabda‘uhu bad‘an wabtada‘ahu artinya menciptakan sesuatu atau mengawali penciptaan sesuatu. Allah bersifat atau memiliki asmaul husna Al Badi’ yang artinya Maha Menciptakan Tanpa Contoh. Jadi jelas kata bid’ah itu memiliki arti yang umum, dan kata bid’ah itu merupakan isim (kata benda) bukan fi’il (kata kerja). Setiap isim itu mempunyai paling tidak 2 (dua) sifat baik dan buruk. Untuk penjelasan lengkapnya silahkan anda baca ulasan saya pada bagian atas, maka akan jelas makna bid’ah sesungguhnya.

      Dus, karena itu jawabannya jelas Yasinan, Tahlilan, Shalawatan atau sebutan lain itu tergolong dzikrullah dan itu adalah tergolong Sunnah Muakadah (Sunnat yang dikuatkan karena adanya hujjah).

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  29. @Abu Zamil, kalo gitu ilmu hadits juga mubah dong, soalnya wajib juga gak, sunnah apalagi soalnya nabi dan para sahabat gak pernah tu nyuruh bukukan hadis (bahkan sahabat umar bin khatab termasuk yg bersikeras melarang pembukuan hadis) and membagi kualifikasi hadis berdasarkan syarat2 tertentu. So berdasarkan logika mas abu zamil hukumnya ilmu hadis ni mubah yakni maka untuk apa dikerjakan, sebab ia tidak mempunyai nilai (tidak ada pahala dan dosa, kalau dikerjakan atau ditinggalkan). Sudah buang-buang uang dan buang-buang tenaga, tetapi tidak ada nilainya. (saya copas aja tulisan anda hehehehehe)

  30. Bismillah,

    Mas Abu Zamil.

    1. Karena didalamnya ada pembacaan do’a, baca Yasin, baca sholawat, baca Al Fatikhah, maka ia termasuk ibadah. Hukum asal ibadah adalah “haram” dan “terlarang”. Kalau Allah dan Rasulullah tidak memerintahkan, maka siapa yang memerintahkan ? Apakah yang memerintahkan lebih hebat daripada Allah dan Rasulullah

    Sanggahan dari kami :

    1. Dalam uraian anda tersebut dengan jelas anda mengatakan kalau Yasinan, baca sholawat, baca alafatihah, adalah termasuk Ibadah, yang berarti kesemuanya ada dalilnya, terus mengapa anda membatasi keumuman Mathlub dalam dalil-dalil amalan tersebut tidak menggunakan dalil pula?

    2. Anda menggunakan kaidah yang diperselisihkan yakni : “Asal Ibadah adalah haram dan terlarang”. Setidaknya kaidah ini tidaklah bersifat umum sebagaimana akan kami contohkan selanjutnya.

    3. Dalam pernyataan anda selanjutnya dapat kami simpulkan bahwa Pelaku kebaikan yang sebelumnya tidak ada perintah dari Alloh dan Rosul-Nya berarti ia lebih hebat dari Alloh dan Rosul-Nya. Apakah anda mau mengatakan Kholifah Abu Bakar, Zaid bin Tsabit Rodhiyallohu ‘Anhuma dalam menghimpun al qur’an, (padahal tidak ada contoh dan perintah dari Alloh dan Rosul-Nya), berarti lebih hebat dari Alloh dan Rosul-Nya?….. Atau Amirul Mukminin Umar bin Khotthob RA, melakukan hal yang haram dan terlarang (sebagaimana kaidah yang anda sampaikan) dan juga lebih hebat dari Alloh dan Rosul-Nya karena telah menghimpun jamaah sholat tarowih 20 Rokaat dengan satu Imam?….. Apakah juga Amirul Mukminin Utsman bin Affan RA, yang telah menambah Adzan jum’ah hingga tiga kali, padahal tidak ada perintah dan contoh dari Rosululloh, berarti lebih hebat dari Alloh dan Rosul-Nya?… Ma’adzalloh…

    Selanjutnya dalam uraian anda:

    2. Jika hukumnya “wajib”, maka bila dikerjakan berpahala, bila tidak dikerjakan maka berdosa. Maka bagi negara lain yang penduduknya beragama Islam, terhukumi berdosa karena tidak mengerjakan. Ternyata tahlilan, hanya di lakukan di sebagian negara di Asia Tenggara

    Apa ada dari kami yang mewajibkan tahlilan (selamatan kematian) tsb ? …. Disini Nampak anda mau menghukumi masalah sebelum mentashowwurkan masalah yang akan anda hukumi…

    Berikutnya dalam uraian anda:

    Sunnahkah Tahlilan ? Ternyata ia bukan sunnah Rasul, sebab Rasulullah sendiri belum pernah mentahlili istri beliau, anak beliau dan para syuhada.

    Disini nampak anda tidak memahami Sunnah…. Apakah yang anda maksud dengan sunnah hanya prilaku Rosululloh SAW?… Bagaimana dengan Sabda Rosululloh SAW, baik yang ‘Am maupun yang Makhshus, bagaimana pula dengan Taqrir Rosululloh SAW?…

    Saudaraku, meskipun Ijtima’iyyah atau rangkaian berikut juga kemasan dalam acara Yasinan dan tahlilan adalah sesuatu yang baru, apakah dalam Afrod atau parsial dari acara tersebut seperti shodaqoh, baca tahlil, baca Yasin, baca sholawat ada yang salah?…. tunjukkan dimana kesalahannya…

    Wallohu a’lam

  31. @abu zamil
    Kita beribadah hanya karena Allah bukan karena mengharap Surga atau neraka, kalau kita beribadah mengharap surga atau lepas dari neraka, kita berarti sudah munafik kepada Allah. Bukankah ucapan Syahadat kita tidak berharap Surga dan neraka?
    Kita mesti membedakan antara Acara, peringatan atau Ibadah, makanya kita butuh guru yang ahli dimana kita bisa menempatkan Acara, peringatan atau Ibadah dalam kehidupan kita sehari-hari.
    Contoh Ibadah yang kadang kita lupa. Anda pasti punya simpanan di Bank dan dapat dipastikan uang anda akan sedikit bertambah karena adanya keuntungan Bunga (Riba) 12%/tahun, Ini kan jelas bahwa memakan Riba tidak dianjurkan oleh Agama. tapi tetap saja kita terima bahkan kita makan.
    Jadi kita ini sebenarnya sudah munafik kepada Allah, kita berharap surga atau lepas dari neraka tapi ibadah kita bukan karena Illah.

    Jadi….sekarang cari guru yang mu’tabar dengan ilmunya.

  32. Saya sih kalo baca pendapat, yg diambil dari Hadis & Al Qur ‘an , ya semua bagus saya pikir dan untuk lebih kita semua lebih ber takwa jadi muslim tanpa harus mesti mencemoohkan muslim yg lain tahlil, yasinan, tablik akbar,peringatan besar islam, yg tentunya memerlukan luang waktu, material ,tenaga , kebersamaan.. ya tentu ini suatu silahturahim bagi kaum muslim yg ingin lebih mendekatkan diri pada Allah (QS.Al.maidah 35)…ini pada benak saya dan masih saya luangkan semuanya demi kebersamaan umat muslim, dan pada diri sendiri bagaimana hati kita kepada Allah ….terimakasih Wasslamkm

  33. Ana mau bertanya dari teman2 salafi…langsung aja..satu permasalahan saja biar nggak ribet,
    jadi menurut antum perayaan maulid nabi itu boleh tidak?
    bagaimana hukum nya jika ada yg melak sanakannya?
    itu saja…thanks..

  34. Penjelasan Dari Nahdalatul Ulama (NU), Para Ulama Salafus salih, WaliSongo, 4 Mahzab Tentang Bid’ahnya Tahlilan

    Segala puji bagi Allah, sholawat serta salam kita haturkan kepada Nabi Muhammad beserta keluarga dan sahabat-sahabatnya. Do’a dan shodaqoh untuk sesama muslim yang telah meninggal menjadi ladang amal bagi kita yang masih di dunia ini sekaligus tambahan amal bagi yang telah berada di alam sana. Sebagai agama yang mencerahkan dan mencerdaskan, Islam membimbing kita menyikapi sebuah kematian sesuai dengan hakekatnya yaitu amal shalih, tidak dengan hal-hal duniawi yang tidak berhubungan sama sekali dengan alam sana seperti kuburan yang megah, bekal kubur yang berharga, tangisan yang membahana, maupun pesta besar-besaran. Bila diantara saudara kita menghadapi musibah kematian, hendaklah sanak saudara menjadi penghibur dan penguat kesabaran, sebagaimana Rasulullah memerintahkan membuatkan makanan bagi keluarga yang sedang terkena musibah tersebut, dalam hadits:

    “Kirimkanlah makanan oleh kalian kepada keluarga Ja’far, karena mereka sedang tertimpa masalah yang menyesakkan”.(HR Abu Dawud (Sunan Aby Dawud, 3/195), al-Baihaqy (Sunan al-Kubra, 4/61), al-Daruquthny (Sunan al-Daruquthny, 2/78), al-Tirmidzi (Sunan al-Tirmidzi, 3/323), al- Hakim (al-Mustadrak, 1/527), dan Ibn Majah (Sunan Ibn Majah, 1/514)

    Namun ironisnya kini, justru uang jutaan rupiah dihabiskan tiap malam untuk sebuah selamatan kematian yang harus ditanggung keluarga yang terkena musibah. Padahal ketika Rasulullah ditanya shodaqoh terbaik yang akan dikirimkan kepada sang ibu yang telah meninggal, Beliau menjawab ‘air’. Bayangkan betapa banyak orang yang mengambil manfaat dari sumur yang dibuat itu (menyediakan air bagi masyarakat indonesia yang melimpah air saja sangat berharga, apalagi di Arab yang beriklim gurun), awet dan menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Rasulullah telah mengisyaratkan amal jariyah kita sebisa mungkin diprioritaskan untuk hal-hal yang produktif, bukan konsumtif; memberi kail, bukan memberi ikan; seandainya seorang pengemis diberi uang atau makanan, besok dia akan mengemis lagi; namun jika diberi kampak untuk mencari kayu, besok dia sudah bisa mandiri. Juga amal jariyah yang manfaatnya awet seperti menulis mushaf, membangun masjid, menanam pohon yang berbuah (reboisasi; reklamasi lahan kritis), membuat sumur/mengalirkan air (fasilitas umum, irigasi), mengajarkan ilmu, yang memang benar-benar sedang dibutuhkan masyarakat. Bilamana tidak mampu secara pribadi, toh bisa dilakukan secara patungan. Seandainya dana umat Islam yang demikian besar untuk selamatan berupa makanan (bahkan banyak makanan yang akhirnya dibuang sia-sia; dimakan ayam; lainnya menjadi isyrof) dialihkan untuk memberi beasiswa kepada anak yatim atau kurang mampu agar bisa sekolah, membenahi madrasah/sekolah islam agar kualitasnya sebaik sekolah faforit (yang umumnya milik umat lain),atau menciptakan lapangan kerja dan memberi bekal ketrampilan bagi pengangguran, niscaya akan lebih bermanfaat. Namun shodaqoh tersebut bukan suatu keharusan, apalagi bila memang tidak mampu. Melakukannya menjadi keutamaan, bila tidak mau pun tidak boleh ada celaan.

    Sebagian ulama menyatakan mengirimkan pahala tidak selamanya harus dalam bentuk materi, Imam Ahmad dan Ibnu Taimiyah berpendapat bacaan al- Qur’an dapat sampai sebagaimana puasa, nadzar, haji, dll; sedang Imam Syafi’i dan Imam Nawawi menyatakan bacaan al-Qur’an untuk si mayit tidak sampai karena tidak ada dalil yang memerintahkan hal tersebut, tidak dicontohkan Rasulullah dan para shahabat. Berbeda dengan ibadah yang wajib atau sunnah mu’akad seperti shalat, zakat, qurban, sholat jamaah, i’tikaf 10 akhir ramadhan, yang mana ada celaan bagi mereka yang meninggalkannya dalam keadaan mampu. Akan tetapi di masyarakat kita selamatan kematian/tahlilan telah dianggap melebihi kewajiban- kewajiban agama. Orang yang meninggalkannya dianggap lebih tercela daripada orang yang meninggalkan sholat, zakat, atau kewajiban agama yang lain. Sehingga banyak yang akhirnya memaksakan diri karena takut akan sanksi sosial tersebut. Mulai dari berhutang, menjual tanah, ternak atau barang berharga yang dimiliki, meskipun di antara keluarga terdapat anak yatim atau orang lemah. Padahal di dalam al-Qur’an telah jelas terdapat arahan untuk memberikan perlindungan harta anak yatim; tidak memakan harta anak yatim secara dzalim, tetapi menjaga sampai ia dewasa (QS an-Nisa’: 2, 5, 10, QS al- An’am: 152, QS al-Isra’: 34) serta tidak membelanjakannya secara boros (QS an- Nisa’: 6)

    Dibalik selamatan kematian tersebut sesungguhnya juga terkandung tipuan yang memperdayakan. Seorang yang tidak beribadah/menunaikan kewajiban agama selama hidupnya, dengan besarnya prosesi selamatan setelah kematiannya akan menganggap sudah cukup amalnya, bahkan untuk menebus kesalahan-kesalahannya. Juga seorang anak yang tidak taat beribadahpun akan menganggap dengan menyelenggarakan selamatan, telah menunaikan kewajibannya berbakti/mendoakan orang tuanya.

  35. Imam Syafi’i rahimahullah dalam kitab al-Umm berkata:

    “…dan aku membenci al-ma’tam, yaitu proses berkumpul (di tempat keluarga mayat) walaupun tanpa tangisan, karena hal tersebut hanya akan menimbulkan bertambahnya kesedihan dan membutuhkan biaya, padahal beban kesedihan masih melekat.” (al-Umm (Beirut: Dar al-Ma’rifah, 1393) juz I, hal 279)

    Namun ketika Islam datang ke tanah Jawa ini, menghadapi kuatnya adat istiadat yang telah mengakar. Masuk Islam tapi kehilangan selamatan-selamatan, beratnya seperti masyarakat Romawi disuruh masuk Nasrani tapi kehilangan perayaan kelahiran anak Dewa Matahari 25 Desember.

    Dalam buku yang ditulis H Machrus Ali, mengutip naskah kuno tentang jawa yang tersimpan di musium Leiden, Sunan Ampel memperingatkan Sunan Kalijogo yang masih melestarikan selamatan tersebut:“Jangan ditiru perbuatan semacam itu karena termasuk bid’ah”. Sunan Kalijogo menjawab: “Biarlah nanti generasi setelah kita ketika Islam telah tertanam di hati masyarakat yang akan menghilangkan budaya tahlilan itu”.

    Dalam buku Kisah dan Ajaran Wali Songo yang ditulis H. Lawrens Rasyidi dan diterbitkan Penerbit Terbit Terang Surabaya juga mengupas panjang lebar mengenai masalah ini. Dimana Sunan Kalijaga, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Gunungjati dan Sunan Muria (kaum abangan) berbeda pandangan mengenai adat istiadat dengan Sunan Ampel, Sunan Giri dan Sunan Drajat (kaum putihan). Sunan Kalijaga mengusulkan agar adat istiadat lama seperti selamatan, bersaji, wayang dan gamelan dimasuki rasa keislaman.

    Sunan Ampel berpandangan lain: “Apakah tidak mengkhawatirkannya di kemudian hari bahwa adat istiadat dan upacara lama itu nanti dianggap sebagai ajaran yang berasal dari agama Islam? Jika hal ini dibiarkan nantinya akan menjadi bid’ah?” Sunan kudus menjawabnya bahwa ia mempunyai keyakinan bahwa di belakang hari akan ada yang menyempurnakannya. (hal 41, 64)

    Dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, para Wali dibagi menjadi tiga wilayah garapan

    Pembagian wilayah tersebut berdasarkan obyek dakwah yang dipengaruhi oleh agama yang masyarakat anut pada saat itu, yaitu Hindu dan Budha.

    Pertama: Wilayah Timur. Di wilayah bagian timur ini ditempati oleh lima orang wali, karena pengaruh hindu sangat dominan. Disamping itu pusat kekuasaan Hindu berada di wilayah Jawa bagian timur ini (Jawa Timur sekarang) Wilayah ini ditempati oleh lima wali, yaitu Syaikh Maulana Ibrahim (Sunan Demak), Raden Rahmat (Sunan Ampel), Raden Paku (Sunan Giri), Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Kasim (Sunan Drajat)

    Kedua : Wilayah Tengah. Di wilayah Tengah ditempati oleh tiga orang Wali. Pengaruh Hindu tidak begitu dominan. Namun budaya Hindu sudah kuat. Wali yang ditugaskan di sini adalah : Raden Syahid (Sunan Kali Jaga), Raden Prawoto (Sunan Muria), Ja’far Shadiq (Sunan Kudus)

    Ketiga : Wilayah Barat. Di wilayah ini meliputi Jawa bagian barat, ditempati oleh seorang wali, yaitu Sunan Gunung Jati alias Syarief Hidayatullah. Di wilayah barat pengaruh Hindu-Budha tidak dominan, karena di wilayah Tatar Sunda (Pasundan) penduduknya telah menjadi penganut agama asli sunda, antara lain kepercayaan “Sunda Wiwitan”

    Dua Pendekatan dakwah para wali.

    1. Pendekatan Sosial Budaya
    2. Pendekatan aqidah Salaf

    Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Drajat, Sunan Gunung Jati dan terutama Sunan Giri berusaha sekuat tenaga untuk menyampaikan ajaran Islam secara murni, baik tentang aqidah maupun ibadah. Dan mereka menghindarkan diri dari bentuk singkretisme ajaran Hindu dan Budha. Tetapi sebaliknya Sunan Kudus, Sunan Muria dan Sunan Kalijaga mencoba menerima sisa-sisa ajaran Hindu dan Budha di dalam menyampaikan ajaran Islam. Sampai saat ini budaya itu masih ada di masyarakat kita, seperti sekatenan, ruwatan, shalawatan, tahlilan, upacara tujuh bulanan dll.

    Pendekatan Sosial budaya dipelopori oleh Sunan Kalijaga, putra Tumenggung Wilwatika, Adipati Majapahit Tuban. Pendekatan sosial budaya yang dilakukan oleh aliran Tuban memang cukup efektif, misalnya Sunan Kalijaga menggunakan wayang kulit untuk menarik masyarakat jawa yang waktu itu sangat menyenangi wayang kulit. Sebagai contoh dakwah Sunan kalijaga kepada Prabu Brawijaya V, Raja Majapahit terakhir yang masih beragama Hindu, dapat dilihat di serat Darmogandul, yang antara lain bunyinya; Punika sadar sarengat, tegese sarengat niki, yen sare wadine njegat; tarekat taren kang osteri; hakikat unggil kapti, kedah rujuk estri kakung, makripat ngentos wikan, sarak sarat laki rabi, ngaben aku kaidenna yayan rina” (itulah yang namanya sahadat syariat, artinya syariat ini, bila tidur kemaluannya tegak; sedangkan tarekat artinya meminta kepada istrinya; hakikat artinya menyatu padu , semua itu harus mendapat persetujuan suami istri; makrifat artinya mengenal ; jadilah sekarang hukum itu merupakan syarat bagi mereka yang ingin berumah tangga, sehingga bersenggama itu dapat dilaksanakan kapanpun juga). Dengan cara dan sikap Sunan Kalijaga seperti tergambar di muka, maka ia satu-satunya Wali dari Sembilan Wali di Jawa yang dianggap benar-benar wali oleh golongan kejawen (Islam Kejawen/abangan), karena Sunan Kalijaga adalah satu-satunya wali yang berasal dari penduduk asli Jawa (pribumi).

    [Sumber : Abdul Qadir Jailani , Peran Ulama dan Santri Dalam Perjuangan Politik Islam di Indonesia, hal. 22-23, Penerbit PT. Bina Ilmu dan Muhammad Umar Jiau al Haq, M.Ag, Syahadatain Syarat Utama Tegaknya Syariat Islam, hal. 51-54, Kata Pengantar Muhammad Arifin Ilham (Pimpinan Majlis Adz Zikra), Penerbit Bina Biladi Press.]

    Nasehat Sunan Bonang

    Salah satu catatan menarik yang terdapat dalam dokumen “Het Book van Mbonang”[1] adalah peringatan dari sunan Mbonang kepada umat untuk selalu bersikap saling membantu dalam suasana cinta kasih, dan mencegah diri dari kesesatan dan bid’ah. Bunyinya sebagai berikut:

    “Ee..mitraningsun! Karana sira iki apapasihana sami-saminira Islam lan mitranira kang asih ing sira lan anyegaha sira ing dalalah lan bid’ah“.

    Artinya: “Wahai saudaraku! Karena kalian semua adalah sama-sama pemeluk Islam maka hendaklah saling mengasihi dengan saudaramu yang mengasihimu. Kalian semua hendaklah mencegah dari perbuatan sesat dan bid’ah.[2]

    [1] Dokumen ini adalah sumber tentang walisongo yang dipercayai sebagai dokumen asli dan valid, yang tersimpan di Museum Leiden, Belanda. Dari dokumen ini telah dilakukan beberapa kajian oleh beberapa peneliti. Diantaranya thesis Dr. Bjo Schrieke tahun 1816, dan Thesis Dr. Jgh Gunning tahun 1881, Dr. Da Rinkers tahun 1910, dan Dr. Pj Zoetmulder Sj, tahun 1935.

    [2] Dari info Abu Yahta Arif Mustaqim, pengedit buku Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan, Istighosahan dan Ziarah Para Wali hlm. 12-13.

    Muktamar NU ke-1 di Surabaya tanggal 13 Rabiuts Tsani 1345 H/21 Oktober 1926 mencantumkan pendapat Ibnu Hajar al-Haitami dan menyatakan bahwa selamatan kematian adalah bid’ah yang hina namun tidak sampai diharamkan dan merujuk juga kepada Kitab Ianatut Thalibin. Namun Nahdliyin generasi berikutnya menganggap pentingnya tahlilan tersebut sejajar (bahkan melebihi) rukun Islam/Ahli Sunnah wal Jama’ah. Sekalipun seseorang telah melakukan kewajiban-kewajiban agama, namun tidak melakukan tahlilan, akan dianggap tercela sekali, bukan termasuk golongan Ahli Sunnah wal Jama’ah. Di zaman akhir yang ini dimana keadaan pengikut sunnah seperti orang ‘aneh’ asing di negeri sendiri, begitu banyaknya orang Islam yang meninggalkan kewajiban agama tanpa rasa malu, seperti meninggalkan Sholat Jum’at, puasa Romadhon,dll. Sebaliknya masyarakat begitu antusias melaksanakan tahlilan ini, hanya segelintir orang yang berani meninggalkannya. Bahkan non-muslim pun akan merasa kikuk bila tak melaksanakannya. Padahal para ulama terdahulu senantiasa mengingat dalil-dalil yang menganggap buruk walimah (selamatan) dalam suasana musibah tersebut. Dari sahabat Jarir bin Abdullah al-Bajali: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit)”. (Musnad Ahmad bin Hambal (Beirut: Dar al-Fikr, 1994) juz II, hal 204 & Sunan Ibnu Majah (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 514)

    MUKTAMAR I NAHDLATUL ULAMA (NU) KEPUTUSAN MASALAH DINIYYAH NO: 18 / 13 RABI’UTS TSAANI 1345 H / 21 OKTOBER 1926 DI SURABAYA

    TENTANG KELUARGA MAYIT MENYEDIAKAN MAKAN KEPADA PENTAKZIAH

    TANYA :
    Bagaimana hukumnya keluarga mayat menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziah pada hari wafatnya atau hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayat tersebut? Apakah keluarga memperoleh pahala sedekah tersebut?

    JAWAB :
    Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya MAKRUH, apabila harus dengan cara berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tersebut tidak menghilangkan pahala itu.

    KETERANGAN :

    Dalam kitab I’anatut Thalibin Kitabul Janaiz:
    “MAKRUH hukumnya bagi keluarga mayit ikut duduk bersama orang-orang yang sengaja dihimpun untuk berta’ziyah dan membuatkan makanan bagi mereka, sesuai dengan hadits riwayat Ahmad dari Jarir bin Abdullah al Bajali yang berkata: ”kami menganggap berkumpul di (rumah keluarga) mayit dengan menyuguhi makanan pada mereka, setelah si mayit dikubur, itu sebagai bagian dari RATAPAN (YANG DILARANG).”

    Dalam kitab Al Fatawa Al Kubra disebutkan :
    “Beliau ditanya semoga Allah mengembalikan barokah-Nya kepada kita. Bagaimanakah tentang hewan yang disembelih dan dimasak kemudian dibawa di belakang mayit menuju kuburan untuk disedekahkan ke para penggali kubur saja, dan TENTANG YANG DILAKUKAN PADA HARI KETIGA KEMATIAN DALAM BENTUK PENYEDIAAN MAKANAN UNTUK PARA FAKIR DAN YANG LAIN, DAN DEMIKIAN HALNYA YANG DILAKUKAN PADA HARI KETUJUH, serta yang dilakukan pada genap sebulan dengan pemberian roti yang diedarkan ke rumah-rumah wanita yang menghadiri proses ta’ziyah jenazah.

    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan. Kalau mereka melaksanakan adat tersebut dan bersedekah tidak bertujuaan (pahala) akhirat, maka bagaimana hukumnya, boleh atau tidak?

    Apakah harta yang telah ditasarufkan, atas keingnan ahli waris itu masih ikut dibagi/dihitung dalam pembagian tirkah/harta warisan, walau sebagian ahli waris yang lain tidak senang pentasarufan sebagaian tirkah bertujuan sebagai sedekah bagi si mayit selama satu bulan berjalan dari kematiannya. Sebab, tradisi demikian, menurut anggapan masyarakat harus dilaksanakan seperti “wajib”, bagaimana hukumnya.”

    Beliau menjawab bahwa semua yang dilakukan sebagaimana yang ditanyakan di atas termasuk BID’AH YANG TERCELA tetapi tidak sampai haram (alias makruh), kecuali (bisa haram) jika prosesi penghormatan pada mayit di rumah ahli warisnya itu bertujuan untuk “meratapi” atau memuji secara berlebihan (rastsa’).

    Dalam melakukan prosesi tersebut, ia harus bertujuan untuk menangkal “OCEHAN” ORANG-ORANG BODOH (yaitu orang-orang yang punya adat kebiasaan menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh, dst-penj.), agar mereka tidak menodai kehormatan dirinya, gara-gara ia tidak mau melakukan prosesi penghormatan di atas. Dengan sikap demikian, diharapkan ia mendapatkan pahala setara dengan realisasi perintah Nabi terhadap seseorang yang batal (karena hadast) shalatnya untuk menutup hidungnya dengan tangan (seakan-akan hidungnya keluar darah). Ini demi untuk menjaga kehormatan dirinya, jika ia berbuat di luar kebiasaan masyarakat.

    Tirkah tidak boleh diambil / dikurangi seperti kasus di atas. Sebab tirkah yang belum dibagikan mutlak harus disterilkan jika terdapat ahli waris yang majrur ilahi. Walaupun ahli warisnya sudah pandai-pandai, tetapi sebagian dari mereka tidak rela (jika tirkah itu digunakan sebelum dibagi kepada ahli waris).

    [Buku “Masalah Keagamaan” Hasil Muktamar/ Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang. Kata Pengantar Menteri Agama Republik Indonesia : H. Maftuh Basuni]

  36. Keterangan lebih lengkapnya lihat dalam Kitab I’anatut Thalibin Juz 2 hal. 165 -166 , Seperti terlampir di bawah ini :
    نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر

    وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا
    الناس إليه، بدعة مكروهة

    ولا شك أن منع الناس من هذه البدعة المنكرة فيه إحياء للسنة، وإماته للبدعة، وفتح لكثير من أبواب الخير، وغلق لكثير من أبواب الشر،

    ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع

    ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت

    Terjemahan kalimat yang telah digaris bawahi di atas, di dalam Kitab I’anatut Thalibin :

    1. Ya, apa yang dikerjakan orang, yaitu berkumpul di rumah keluarga mayit dan dihidangkannya makanan untuk itu, adalah termasuk Bid’ah Mungkar, yang bagi orang (ulil amri) yang melarangnya akan diberi pahala.

    2. Dan apa yang telah menjadi kebiasaan, ahli mayit membuat makanan untuk orang-orang yang diundang datang padanya, adalah Bid’ah yang dibenci.

    3. Dan tidak diragukan lagi bahwa melarang orang-orang untuk melakukan Bid’ah Mungkarah itu (Haulan/Tahlilan : red) adalah menghidupkan Sunnah, mematikan Bid’ah, membuka banyak pintu kebaikan, dan menutup banyak pintu keburukan.

    4. Dan dibenci bagi para tamu memakan makanan keluarga mayit, karena telah disyari’atkan tentang keburukannya, dan perkara itu adalah Bid’ah. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad yang Shahih, dari Jarir ibnu Abdullah, berkata : “Kami menganggap berkumpulnya manusia di rumah keluarga mayit dan dihidangkan makanan , adalah termasuk Niyahah”

    5. Dan dibenci menyelenggarakan makanan pada hari pertama, ketiga, dan sesudah seminggu dst.

  37. Muhammadiyah, PERSIS dan Al Irsyad, sepakat mengatakan bahwa Tahlilan (Selamatan Kematian) adalah perkara bid’ah, dan harus ditinggalkan

    Dari Thalhah: “Sahabat Jarir mendatangi sahabat Umar, Umar berkata: Apakah kamu sekalian suka meratapi mayat? Jarir menjawab: Tidak, Umar berkata: Apakah di antara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan memakan hidangannya? Jarir menjawab: Ya, Umar berkata: Hal itu sama dengan meratap”. (al-Mashnaf ibn Aby Syaibah (Riyad: Maktabah al-Rasyad, 1409), juz II hal 487) dari Sa’ied bin Jabir dan dari Khaban al-Bukhtary, kemudian dikeluarkan pula oleh Abd al-Razaq: “Merupakan perbuatan orang-orang jahiliyyah niyahah , hidangan dari keluarga mayit, dan menginapnya para wanita di rumah keluarga mayit”. (al-Mashnaf Abd al-Razaq al-Shan’any (Beirut: al-Maktab al- Islamy, 1403) juz III, hal 550. dikeluarkan pula oleh Ibn Abi Syaibah dengan lafazh berbeda melalui sanad Fudhalah bin Hashien, Abd al-Kariem, Sa’ied bin Jabbier) Dari Ibn Aby Syaibah al-Kufy: “Telah berbicara kepadaku Yan’aqid bin Isa dari Tsabit dari Qais, beliau berkata: saya melihat Umar bin Abdul Aziz melarang keluarga mayit mengadakan perkumpulan, kemudian berkata: kalian akan mendapat bencana dan akan merugi”.

    Dari Ibn Aby Syaibah al-Kufy: “Telah berbicara kepada kami, Waki’ bin Jarrah dari Sufyan dari Hilal bin Khabab al Bukhtary, beliau berkata: Makanan yang dihidangkan keluarga mayat adalah merupakan bagian dari perbuatan Jahiliyah dan meratap merupakan bagian dari perbuatan jahiliyah”.

    Syekh Nawawi al-Bantani, Syekh Arsyad al-Banjary dan Syekh Nuruddin ar- Raniry yang merupakan peletak dasar-dasar pesantren di Indonesia pun masih berpegang kuat dalam menganggap buruknya selamatan kematian itu. “Shadaqah untuk mayit, apabila sesuai dengan tuntunan syara’ adalah dianjurkan, namun tidak boleh dikaitkan dengan hari ke tujuh atau hari- hari lainnya, sementara menurut Syaikh Yusuf, telah berjalan kebiasaan di antara orang-orang yang melakukan shadaqah untuk mayit dengan dikaitkan terhadap hari ketiga dari kematiannya, atau hari ke tujuh, atau keduapuluh, atau keempatpuluh, atau keseratus dan sesudahnya hingga dibiasakan tiap tahun dari kematiannya, padahal hal tersebut hukumnya makruh. Demikian pula makruh hukumnya menghidangkan makanan yang ditujukan bagi orang-orang yang berkumpul pada malam penguburan mayit (biasa disebut al-wahsyah), bahkan haram hukumhukumnya biayanya berasal dari harta anak yatim”. (an-Nawawy al-Bantani, Nihayah al-Zein fi Irsyad al-Mubtadi’ien (Beirut: Dar al-Fikr) hal 281).

    Pernyataan senada juga diungkapkan Muhammad Arsyad al-Banjary dalam Sabiel al-Muhtadien (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 87, serta Nurudin al-Raniry dalam Shirath al-Mustaqim (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 50) Dari majalah al-Mawa’idz yang diterbitkan oleh NU pada tahun 30-an, menyitir pernyataan Imam al-Khara’ithy yang dilansir oleh kitab al-Aqrimany disebutkan: “al-Khara’ithy mendapat keterangan dari Hilal bin Hibban r.a, beliau berkata: ‘Penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari perbuatan orang-orang jahiliyah’. kebiasaan tersebut oleh masyarakat sekarang sudah dianggap sunnah, dan meninggalkannya berarti bid’ah, maka telah terbalik suatu urusan dan telah berubah suatu kebiasaan’. (al-Aqrimany dalam al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.286).

    Dalam Kitab Kuning Sabilal Muhtadin (versi Arab Melayu) ditulis oleh Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari (bemazhab Syafi’i) . Pada halaman 87 juz 2 , beliau mengatakan :

    Makruh lagi bid’ah bagi yang kematian memperbuat makanan yang diserukannya sekalian manusia atas memakannya, sebelum dan sesudah kematian seperti yang sudah menjadi kebiasaan di masyarakat

    Dalam Kitab yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Arsyad Al Banjari, seorang ulama besar dari Kalimantan Selatan yang bermazhab Syafi’i. Beliau mengatakan :

    “Makruh lagi bid’ah bagi yang kematian membikin makanan untuk dimakan oleh orang banyak baik sebelum maupun sesudah mengubur seperti kebiasaan dikerjakan oleh masyarakat”.

    Lihat hal. 741 alinea terakhir Buku Jilid 2, Bab Jenazah.

    Al Mawa’idz merupakan sebuah nama bagi majalah yang dikelola oleh organisasi Nahdatul Ulama Tasikmalaya, terbit sekitar pada tahun 30-an. Di dalam majalah ini, pihak NU (yang biasa dikenal sebagai pendukung acara prevalensi perjamuan tahlilan) menyatakan sikap yang sebenarnya terhadap kedudukan hukum prevalensi tersebut. Berikut kutipannya :

    Tjindekna ngadamel rioengan di noe kapapatenan teh, ngalanggar tiloe perkara :

    1. Ngabeuratkeun ka ahli majit; enja ari teu menta tea mah, orokaja da ari geus djadi adat mah sok era oepama henteu teh . Geura oepama henteu sarerea mah ?
    2. Ngariweuhkeun ka ahli majit; keur mah loba kasoesah koe katinggal maot oge, hajoh ditambahan.
    3. Njoelajaan Hadits, koe hadits mah ahli majit noe koedoe di bere koe oerang, ieu mah hajoh oerang noe dibere koe ahli majit.

    Kesimpulannya mengadakan perjamuan di rumah keluarga mayat yang sedang berduka cita, berarti telah melanggar tiga hal :

    1. Membebani keluarga mayat, walaupun tidak meminta untuk menyuguhkan makanan, namun apabila sudah menjadi kebiasaan, maka keluarga mayat akan menjadi malu apabila tidak menyuguhkan makanan. Tetapi coba kalau semua orang tidak melakukan hal serupa itu ?

    2. Merepotkan keluarga mayat, sudah kehilangan anggota keluarga yang dicintai, ditambah pula bebannya.

    3. Bertolak belakang dengan hadits. Menurut hadits justru kita tetangga yang harus mengirimkan makanan kepada keluarga mayat yang sedang berduka cita, bukan sebaliknya.

    Kemudian ditempat lain :

    Tah koe katerangan Sajjid Bakri dina ieu kitab I’anah geuning geus ittifaq oelama-oelama madhab noe 4 kana paadatan ittiehadz tho’am (ngayakeun kadaharan) ti ahli majit noe diseboetkeun njoesoer tanah, tiloena, toejoehna dj.s.t. njeboetkeun bid’ah moenkaroh.

    Nah, berdasarkan keterangan Sayid Bakr di dalam kitab I’anah tersebut, ternyata para ulama dari 4 mazhab telah menyepakati bahwa kebiasaan keluarga mayit mengadakan perjamuan yang biasa disebut dengan istilah Nyusur Tanah, tiluna (hari ketiganya), tujuhnya (hari ketujuhnya), dst, merupakan perbuatan bid’ah yang tidak disukai agama.

    Selanjutnya :

    Koeninga koe ieu toekilan-toekilan noe ngahoekoeman bid’ah moenkaroh, karohah haram teh geuning oelama-oelama ahli soennah wal Djama’ah, lain bae Attobib, Al Moemin, Al Mawa’idz. Doeka anoe ngahoekoeman soennat naha ahli Soennah wal Djama’ah atawa sanes ?

    Melalui kutipan-kutipan tersebut, diketahui bahwa sebenarnya yang menghukumi bid’ah mungkarah itu ternyata ulama-ulama Ahlu Sunnah wal Jama’ah, bukan hanya majalah Attobib, Al Moemin, Al Mawa’idz. Tidak tahu siapa yang menghukumi sunnat, apakah Ahlu Sunnah wal Jama’ah atau bukan ?

    Berdasarkan kutipan-kutipan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa warga Nu pada waktu itu sepakat pandangannya terhadap hukum prevalensi perjamuan tahlilan, yaitu bid’ah yang dimakruhkan dengan makruh tahrim, (menjadi haram karena sebab lain) apabila biaya penyelenggaraan acara tersebut berasal dari tirkah mayit (peninggalan mayit) yang di dalamnya terdapat ahli waris yang belum baligh atau mahjur ‘alaihi ( di bawah pengampuan/curatel).

    Demikian isi majalah tersebut. [Al Mawa’dz; Pangrodjong Nahdlatoel Oelama Tasikmalaya (Tasikmalaya: Nahdlatoel Oelama, 1933)]

    Dan para ulama berkata: “Tidak pantas orang Islam mengikuti kebiasaan orang Kafir, oleh karena itu setiap orang seharusnya melarang keluarganya dari menghadiri acara semacam itu”. (al-Aqrimany hal 315 dalam al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.285) Al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati dalam kitabnya I’anah at- Thalibien menghukumi makruh berkumpul bersama di tempat keluarga mayat, walaupun hanya sebatas untuk berbelasungkawa, tanpa dilanjutkan dengan proses perjamuan tahlilan. Beliau justru menganjurkan untuk segera meninggalkan keluarga tersebut, setelah selesai menyampaikan ta’ziyah. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati, I’anah at- Thalibien (Beirut: Dar al-Fikr, 1414) juz II, hal 146)

    Ibn Taimiyah ketika menjawab pertanyaan tentang hukum dari al-Ma’tam: “Tidak diterima keterangan mengenai perbuatan tersebut apakah itu hadits shahih dari Nabi, tidak pula dari sahabat-sahabatnya, dan tidak ada seorangpun dari imam-imam muslimin serta dari imam madzhab yang empat (Imam Hanafy, Imam Maliki, Imam Syafi’i, Imam Ahmad) juga dari imam-imam yang lainnya, demikian pula tidak terdapat keterangan dari ahli kitab yang dapat dipakai pegangan, tidak pula dari Nabi, sahabat, tabi’ien, baik shahih maupun dlaif, serta tidak terdapat baik dalam kitab-kitab shahih, sunan-sunan ataupun musnad-musnad, serta tidak diketahui pula satupun dalam hadits-hadits dari zaman nabi dan sahabat.

    ” Menurut pendapat Mufty Makkah al-Musyarafah, Ahmad bin Zainy Dahlan yang dilansir dalam kitab I’anah at-Thalibien: “Tidak diragukan lagi bahwa mencegah masyarakat dari perbuatan bid’ah munkarah tersebut adalah mengandung arti menghidupkan sunnah dan mematikan bid’ah, sekaligus berarti menbuka banyak pintu kebaikan dan menutup banyak pintu keburukan”. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati, I’anah at-Thalibien juz II, hal 166) Memang seolah-olah terdapat banyak unsur kebaikan dalam tahlilan itu, namun bila dikembalikan ke dalam hukum agama dimana Hadits ke-5 Arba’in an- Nawawiyah disebutkan: “Dari Ummul mukminin, Ummu ‘Abdillah, ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang mengada-adakan sesuatu dalam urusan agama kami ini yang bukan dari kami, maka dia tertolak”. (Bukhari no. 2697, Muslim no. 1718)

    Ahli Sunnah wal Jama’ah adalah instrumen untuk menjaga kemurnian Islam ini meskipun sampai akhir zaman Allah tidak mengutus Rasul lagi. Dibalik larangan bid’ah terkandung hikmah yang sangat besar, membentengi perubahan- perubahan dalam agama akibat arus pemikiran dan adat istiadat dari luar Islam. Bila pada umat-umat terdahulu telah menyeleweng agamanya, Allah mengutus Rasul baru, maka pada umat Muhammad ini Allah tidak akan mengutus Rasul lagi sampai kiamat, namun membangkitkan orang yang memperbarui agamanya seiring penyelewengan yang terjadi. Ibadah yang disunnahkan dibandingkan dengan yang diada-adakan hakikatnya sangat berbeda, bagaikan uang/ijazah asli dengan uang/ijazah palsu, meskipun keduanya tampak sejenis. Yang membedakan 72 golongan ahli neraka dengan 1 golongan ahli surga adalah sunnah dan bid’ah. Umat ini tidak berpecahbelah sehebat perpecahan yang diakibatkan oleh bid’ah. Perpecahan umat akibat perjudian, pencurian, pornografi, dan kemaksiatan lain akan menjadi jelas siapa yang berada di pihak Islam dan sebaliknya. Sedang perpecahan akibat bid’ah senantiasa lebih rumit, kedua belah pihak yang bertikai kelihatannya sama-sama alim. Ibn Abbas r.a berkata: “Tidak akan datang suatu zaman kepada manusia, kecuali pada zaman itu semua orang mematikan sunnah dan menghidupkan bid’ah, hingga matilah sunnah dan hiduplah bid’ah. tidak akan ada orang yang berusaha mengamalkan sunnah dan mengingkari bid’ah, kecuali orang tersebut diberi kemudahan oleh Allah di dalam menghadapi segala kecaman manusia yang diakibatkan karena perbuatannya yang tidak sesuai dengan keinginan mereka serta karena ia berusaha melarang mereka melakukan apa yang sudah dibiasakan oleh mereka, dan barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka Allah akan membalasnya dengan berlipat kebaikan di alam Akhirat”.(al- Aqriman y hal 315 dalam al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.286)

    Sekali lagi kami ulangi…

    Sehingga disimpulkan oleh Majalah al-Mawa’idz bahwa mengadakan perjamuan di rumah keluarga mayit berarti telah melanggar tiga hal:

    1. Membebani keluarga mayit, walaupun tidak meminta untuk menyuguhkan makanan, namun apabila sudah menjadi kebiasaan, maka keluarga mayit akan menjadi malu apabila tidak menyuguhkan makanan.

    2. Merepotkan keluarga mayit, sudah kehilangan anggota keluarga yang dicintai, ditambah pula bebannya.

    3. Bertolak belakang dengan hadits. Menurut hadits, justeru kita (tetangga) yang harus mengirimkan makanan kepada keluarga mayit yang sedang berduka cita, bukan sebaliknya. (al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, hal 200)

    Kemudian, berdasarkan keterangan Sayid Bakr di dalam kitab ‘Ianah, ternyata para ulama dari empat madzhab telah menyepakati bahwa kebiasaan keluarga mayit mengadakan perjamuan yang biasa disebut dengan istilah nyusur tanah, tiluna, tujuhna, dst merupakan perbuatan bid’ah yang tidak disukai agama (hal 285). Melalui kutipan-kutipan tersebut, diketahuilah bahwa sebenarnya yang menghukumi bid’ah munkarah itu ternyata ulama-ulama Ahl as-Sunnah wa al- Jamaah, bukan hanya (majalah) Attobib, al-moemin, al-Mawa’idz. tidak tau siapa yang menghukumi sunat, apakah Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah atau bukan (hal 286). Dan dapat dipahami dari dalil-dalil terdahulu, bahwa hukum dari menghidangkan makanan oleh keluarga mayit adalah bid’ah yang dimakruhkan dengan makruh tahrim (makruh yang identik dengan haram). demikian dikarenakan hukum dari niyahah adalah haram, dan apa yang dihubungkan dengan haram, maka hukumnya adalah haram”. (al-Aqrimany hal 315 dalam al- Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.286) Kita tidaklah akan lepas dari kesalahan, termasuk kesalahan akibat ketidaktahuan, ketidaksengajaan, maupun ketidakmampuan. Namun jangan sampai kesalahan yang kita lakukan menjadi sebuah kebanggaan. Baik yang menghukumi haram maupun makruh, sebagaimana halnya rokok, tahlilan, dll selayaknya diusahakan untuk ditinggalkan, bukan dibela-bela dan dilestarikan.

  38. BERIKUT INI ADALAH FATWA-FATWA DARI ULAMA 4 MADZHAB MENGENAI SELAMATAN KEMATIAN

    I. MADZHAB HANAFI

    HASYIYAH IBN ABIDIEN

    Dimakruhkan hukumnya menghidangkan makanan oleh keluarga mayit, karena hidangan hanya pantas disajikan dalam momen bahagia, bukan dalam momen musibah, hukumnya buruk apabila hal tersebut dilaksanakan. Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan hadits dengan sanad yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah, beliau berkata: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah”. Dan dalam kitab al-Bazaziyah dinyatakan bahwa makanan yang dihidangkan pada hari pertama, ketiga, serta seminggu setelah kematian makruh hukumnya. (Muhammad Amin, Hasyiyah Radd al- Muhtar ‘ala al-Dar al-Muhtar (Beirut: Dar al-Fikr, 1386) juz II, hal 240)

    AL-THAHTHAWY

    Hidangan dari keluarga mayit hukumnya makruh, dikatakan dalam kitab al- Bazaziyah bahwa hidangan makanan yang disajikan PADA HARI PERTAMA, KETIGA, SERTA SEMINGGU SETELAH KEMATIAN MAKRUH HUKUMNYA. (Ahmad bin Ismain al-Thahthawy, Hasyiyah ‘ala Muraqy al-Falah (Mesir: Maktabah al-Baby al-Halaby, 1318), juz I hal 409).

    IBN ABDUL WAHID SIEWASY

    Dimakruhkan hukumnya menghidangkan makanan oleh keluarga mayit, karena hidangan hanya pantas disajikan dalam momen bahagia, bukan dalam momen musibah. hukumnya bid’ah yang buruk apabila hal tersebut dilaksanakan. Imam Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah, beliau berkata: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah”. (Ibn Abdul Wahid Siewasy, Syarh Fath al-Qadir (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 142)

    II.MADZHAB MALIKI

    AL-DASUQY

    Adapun berkumpul di dalam rumah keluarga mayit yang menghidangkan makanan hukumnya bid’ah yang dimakruhkan. (Muhammad al-Dasuqy, Hasyiyah al- Dasuqy ‘ala al-Syarh al-Kabir (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 419)

    ABU ABDULLAH AL-MAGHRIBY

    Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut dimakruhkan oleh mayoritas ulama, bahkan mereka menganggap perbuatan tersebut sebagai bagian dari bid’ah, karena tidak didapatkannya keterangan naqly mengenai perbuatan tersebut, dan momen tersebut tidak pantas untuk dijadikan walimah (pesta)… adapun apabila keluarga mayit menyembelih binatang di rumahnya kemudian dibagikan kepada orang- orang fakir sebagai shadaqah untuk mayit diperbolehkan selama hal tersebut tidak menjadikannya riya, ingin terkenal, bangga, serta dengan syarat tidak boleh mengumpulkan masyarakat. (Abu Abdullah al-Maghriby, Mawahib al-Jalil li Syarh Mukhtashar Khalil (Beirut: Dar al-Fikr, 1398) juz II, hal 228)

    III.MADZHAB SYAFI’I

    AL-SYARBINY

    Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut, hukumnya bid’ah yang tidak disunnahkan. (Muhammad al-Khathib al-Syarbiny, Mughny al-Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 386) Adapun kebiasaan keluarga mayit menghidangkan makanan dan berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut, hukumnya bid’ah yang tidak disunnahkan. (Muhammad al-Khathib al-Syarbiny, al-Iqna’ li al-Syarbiny (Beirut: Dar al-Fikr, 1415) juz I, hal 210)

    AL-QALYUBY

    Guru kita al-Ramly telah berkata: sesuai dengan apa yang dinyatakan di dalam kitab al-Raudl (an-Nawawy), sesuatu yang merupakan bagian dari perbuatan bid’ah munkarah yang tidak disukai mengerjakannya adalah yang biasa dilakukan oleh masyarakat berupa menghidangkan makanan untuk mengumpulkan tetangga, baik sebelum maupun sesudah hari kematian.(a l- Qalyuby, Hasyiyah al-Qalyuby (Indonesia: Maktabah Dar Ihya;’) juz I, hal 353)

    AN-NAWAWY

    Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit berikut berkumpulnya masyarakat dalam acara tersebut tidak ada dalil naqlinya, dan hal tersebut merupakan perbuatan bid’ah yang tidak disunnahkan. (an-Nawawy, al-Majmu’ (Beirut: Dar al-Fikr, 1417) juz V, hal 186) IBN HAJAR AL-HAETAMY Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit, dengan tujuan untuk mengundang masyarakat, hukumnya bid’ah munkarah yang dimakruhkan, berdasarkan keterangan yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah. (Ibn Hajar al-Haetamy, Tuhfah al-Muhtaj (Beirut: Dar al-Fikr) juz I, hal 577)

    AL-SAYYID AL-BAKRY ABU BAKR AL-DIMYATI

    Dan sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan dari pada penghidangan makanan oleh keluarga mayit, dengan tujuan untuk mengundang masyarakat, hukumnya bid’ah yang dimakruhkan, seperti hukum mendatangi undangan tersebut, berdasarkan keterangan yang shahih dari sahabat Jarir bin Abdullah. (al-Sayyid al-Bakry Abu Bakr al-Dimyati, I’anah at-Thalibien (Beirut: Dar al-Fikr) juz II, hal 146)

    AL-AQRIMANY

    Adapun makanan yang dihidangkan oleh keluarga mayit pada hari ketiga, keempat, dan sebagainya, berikut berkumpulnya masyarakat dengan tujuan sebagai pendekatan diri serta persembahan kasih sayang kepada mayit, hukumnya bid’ah yang buruk dan merupakan bagian dari perbuatan jahiliyah yang tidak pernah muncul pada abad pertama Islam, serta bukan merupakan bagian dari pekerjaan yang mendapat pujian oleh para ulama. justeru para ulama berkata: tidak pantas bagi orang muslim mengikuti perbuatan-perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang kafir. seharusnya setiap orang melarang keluarganya menghadiri acara-acara tersebut. ((al-Aqrimany hal 314 dalam al-Mawa’idz; Pangrodjong Nahdlatoel ‘Oelama Tasikmalaya, Th. 1933, No. 18, hal.285)

    RAUDLAH AL-THALIBIEN

    Adapun penghidangan makanan oleh keluarga mayit dan pengumpulan masyarakat terhadap acara tersebut, tidak ada dalil naqlinya, bahkan perbuatan tersebut hukumnya bid’ah yang tidak disunnahkan. (Raudlah al-Thalibien (Beirut: al- Maktab al-Islamy, 1405) juz II, hal 145)

    IV. MADZHAB HAMBALI

    IBN QUDAMAH AL-MAQDISY

    Adapun penghidangan makanan untuk orang-orang yang dilakukan oleh keluarga mayit, hukumnya makruh. karena dengan demikian berarti telah menambahkan musibah kepada keluarga mayit, serta menambah beban, sekaligus berarti telah menyerupai apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah. dan diriwayatkan bahwa Jarir mengunjungi Umar, kemudian Umar berkata: “Apakah kalian suka berkumpul bersama keluarga mayat yang kemudian menghidangkan makanan?” Jawab Jarir: “Ya”. Berkata Umar: “Hal tersebut termasuk meratapi mayat”. Namun apabila hal tersebut dibutuhkan, maka diperbolehkan, seperti karena diantara pelayat terdapat orang-orang yang jauh tempatnya kemudian ikut menginap, sementara tidak memungkinkan mendapat makanan kecuali dari hidangan yang diberikan dari keluarga mayit. (Ibn Qudamah al-Maqdisy, al-Mughny (Beirut: Dar al-Fikr, 1405) juz II, hal 214)

    ABU ABDULLAH IBN MUFLAH AL-MAQDISY

    Sesungguhnya disunahkan mengirimkan makanan apabila tujuannya untuk (menyantuni) keluarga mayit, tetapi apabila makanan tersebut ditujukan bagi orang-orang yang sedang berkumpul di sana, maka hukumnya makruh, karena berarti telah membantu terhadap perbuatan makruh; demikian pula makruh hukumnya apabila makanan tersebut dihidangkan oleh keluarga mayit) kecuali apabila ada hajat, tambah sang guru [Ibn Qudamah] dan ulama lainnya).(A bu Abdullah ibn Muflah al-Maqdisy, al-Furu’ wa Tashhih al-Furu’ (Beirut: Dar al-Kutab, 1418) juz II, hal 230-231)

    ABU ISHAQ BIN MAFLAH AL-HANBALY

    Menghidangkan makanan setelah proses penguburan merupakan bagian dari niyahah, menurut sebagian pendapat haram, kecuali apabila ada hajat, (tambahan dari al-Mughny). Sanad hadits tentang masalah tersebut tsiqat (terpercaya). (Abu Ishaq bin Maflah al-Hanbaly, al-Mabda’ fi Syarh al-Miqna’ (Beirut: al-Maktab al-Islamy, 1400) juz II, hal 283)

    MANSHUR BIN IDRIS AL-BAHUTY

    Dan dimakruhkan bagi keluarga mayit untuk menghidangkan makanan kepada para tamu, berdasarkan keterangan riwayat Imam Ahmad dari Shahabat Jarir. (Manshur bin Idris al-Bahuty, al-Raudl al-Marbi’ (Riyadl: Maktabah al-Riyadl al-Hadietsah, 1390) juz I, hal 355)

    KASYF AL-QANA’

    Menurut pendapat Imam Ahmad yang disitir oleh al-Marwadzi, perbuatan keluarga mayit yang menghidangkan makanan merupakan kebiasaan orang jahiliyah, dan beliau sangat mengingkarinya…dan dimakruhkan keluarga mayit menghidangkan makanan (bagi orang-orang yang sedang berkumpul di rumahnya kecuali apabila ada hajat, seperti karena di antara para tamu tersebut terdapat orang-orang yang tempat tinggalnya jauh, mereka menginap di tempat keluarga mayit, serta secara adat tidak memungkinkan kecuali orang tersebut diberi makan), demikian pula dimakruhkan mencicipi makanan tersebut. Apabila biaya hidangan makanan tersebut berasal dari peninggalan mayit, sedang di antara ahli warisnya terdapat orang (lemah) yang berada di bawah pengampuan, atau terdapat ahli waris yang tidak memberi izin, maka haram hukumnya melakukan penghidangan tersebut. (Kasyf al-Qina’ (Beirut: Dar al-Fikr, 1402) juz II, hal 149)

    IBN TAIMIYAH

    Adapun penghidangan makanan yang dilakukan keluarga mayit (dengan tujuan) mengundang manusia ke acara tersebut, maka sesungguhnya perbuatan tersebut bid’ah, berdasarkan perkataan Jarir bin Abdillah: “Kami (para sahabat) menganggap kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka merupakan bagian dari niyahah”. (Ibn Taimiyah, Kutub wa Rasail wa Fatawa Ibn Taimiyah fi al-Fiqh (Maktabah Ibn Taimiyah) juz 24, hal 316)

    Akhirnya, semoga tulisan ini bermanfaat, bila ada kesalahan mohon maaf dan koreksinya. Sampaikanlah kepada saudara-saudara kita sebagai upaya untuk memperbaiki umat Islam ini

    1. BANTAHAN UNTUK UST. ABU ZAMIL BAG I

      1. Berkumpul untuk Tahlilan

      Imam As Syaukani dalam Ar Rosailu as Salafiyah berkata :

      العادة الجارية في بعض البلدان من الاجتماع فى المسجد لتلاوة القرأن على الاموات و كذلك فى البيوت و سائر الاجتماعات التي لم ترد فى الشريعة, لا شك ان كانت خالية عن معصية سليمة من المنكرات فهي جائزة لان الاجتماع ليس بمحرم بنفسه لا سيما اذا كان لتحصيل طاعة كالتلاوة و نحوها و لا يقدح في ذلك كون تلك التلاوة مجعولة للميت, فقد ورد جنس التلاوة من الجماعة المجتمعين كما في حديث ” اقرأوا يس على موتاكم ” وهو حديث صحيح ولا فرق بين تلاوة يس من الجماعة الحاضرين عند الميت او على قبره و بين تلاوة جميع القرأن او بعضه لميت في مسجده او بيته
      Artinya : “ Kebiasaan disebagian negara mengenai perkumpulan atau pertemuan di masjid, rumah, untuk membaca al qur’an yang pahalanya dihadiahkan kepada orang yang telah meninggal dunia, tidak diragukan lagi hukumnya boleh (Jaiz) jika didalamnya tidak terdapat kemaksiatan dan kemungkaran, meskipun tidak ada penjelasan (secara dzahir) dari syari’at. Kegiatan melaksanakan perkumpulan itu pada dasarnya bukanlah sesuatu yang haram (Muharrom fi Nafsihi), apalagi jika di dalamnya diisi dengan kegiatan yang dapat menghasilkan Ibadah seperti membaca al qur’an atau lainnya. Dan tidaklah tercela menghadiahkan pahala membaca al qur’an atau lainnya kepada orang yang telah meninggal dunia. Bahkan ada beberapa jenis bacaan yang didasarkan pada Hadits Shohih seperti: “ Bacalah Yasiin untuk orang yang mati diantara kamu “ . tidak ada bedanya apakah pembacaan surat Yasiin tersebut dilakukan bersama-sama didekat mayyit atau diatas kuburnya, dan membaca al qur’an secara keseluruhan atau sebagian, baik dilakukan diMasjid atau di rumah.” ( Ar Rosa’ilu As Salafiyyah, 46 )

      Selanjutnya beliau mengatakan :

      فقد كان الصحابة الراشدون يجتمعون في بيوتهم و في مساجدهم و بينهم نبي الله صلى الله عليه و سلم و يتناشدون الاشعار و يتذاكرون الأخبار و يأكلون و يشربون, فمن زعم ان الاجتماع الخالية عن الحرام بدعة فقد أخطأ, فإن البدعة التى تبتدع في الدين و ليس من ذلك ( الرسائل السلفية, 46 )

      Artinya : “ Para Sahabat juga mengadakan perkumpulan dirumah-rumah mereka atau di Masjid, melagukan sya’ir, mendiskusikan Hadits, kemudian mereka makan dan minum padahal ditengah mereka ada Nabi SAW. Maka siapa saja yang mengharamkan perkumpulan yang didalamnya tidak terdapat kemaksiatan, maka sungguh ia telah salah. Karena sesungguhnya Bid’ah itu adalah sesuatu yang dibuat-buat dalam masalah agama, sedangkan perkumpulan semacam ini tidak tergolong bid’ah.” (Ar Rosa’ilu As Salafiyah, 46)

      2. Tentang memberi makan ( Shodaqoh ) untuk mayyit.

      Berkata Ibnul Qoyyim Al Jawzy dalam kitab Ar Ruh :

      قال ابن القيم الجوزية فأفضل ما يهدى الى الميت العتق و الصدقة و الإستغفار له و الدعاء له و الحج عنه, و اما قرأة القرأن و إهداؤها له تطوعا بغير اجرة فهذا يصل اليه كما يصل ثواب الصوم و الحج ( الروح, ص 142)

      Artinya : “ Ibnul Qoyyim Al Jawziyah mengatakan bahwa sebaik-baik amal yang dihadiahkan kepada mayyit adalah memerdekakan budak, sedekah, istighfar, do’a dan haji. Adapun pahala membaca al qur’an secara suka rela dan pahalanya diberikan kepada mayyit, juga akan sampai kepada mayyit tersebut. Sebagaimana pahala puasa dan haji.” ( Ar Ruh, 142 )

      Tentang tuduhan bahwa menjamu selama tujuh hari berturut-turut ketika ada yang meninggal dunia sebagai sinkritisme dari agama Hindu dan Budha, hal tersebut sama sekali tidak benar. Justru itu adalah tradisi salaf ( para Sahabat dan Tabi’in ) ( al Hawi li al-Fatawi, Juz II, hal 391 ). Syeh Nawawi al Bantani seorang Ulama Mutaakhkhirin menyebutnya sebagai suatu kebiasaan yang tidak bertentangan, bahkan sejalan dengan tuntunan agama Islam, sehingga tidak ada alasan untuk melarangnya.

      و التصدق عن الميت بوجه شرعي مطلوب ولا يتقيد بكونه سبعة ايام او اكثر او اقل, و تقييد ببعض الأيام من العوائد فقط,, كما افتى بذلك السيد احمد دخلان , وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت في ثالث من موته و في سابع و في تمام العشرين و في الأربعين و في المائة و بعد ذلك يفعل كل سنة حولا في يوم الموت كما افاد شيخنا يوسف السنبلاويني ( نهاية الزين, 281 )

      Artinya: “ Bersedekah atas nama mayyit dengan cara yang sesuai dengan Syara’ adalah dianjurkan, tanpa ada ketentuan harus tujuh hari, atau lebih, atau kurang dari tujuh hari. Sedangkan penentuan sedekah pada hari-hari tertentu itu hanya merupakan kebasaan masyarakat saja. Sebagaimana di-Fatwakan oleh Sayyid Ahmad Dahlan. Sungguh telah berlaku di masyarakat adanya kebiasaan bersedekah untuk mayyit pada hari ketiga dari kematian, ketujuh, keduapuluh, dan ketika genap empat puluh hari serta seratus hari. Setelah itu dilakukan setiap tahun pada hari kematian (HAUL). Sebagaimana disampaikan oleh Syaih kita Yusuf Al Sunbulawini.” ( Nihayah Az Zain, 281 )

      Bahkan Imam Ahmad bin Hanbal RA, dalam kitab Az Zuhd menyatakan bahwa bersedekah selama tujuh hari itu adalah perbuatan Sunnah, karena merupakan salah satu bentuk do’a kepada mayyit yang sedang diuji didalam kuburan selama tujuh hari. Sebagaimana yang dikutip oleh Imam Suyuthi dalam kitab Al Hawi Li Al Fatawi :

      حدثنا هاشم بن القاسم قال حدثنا الأشجاعي عن سفيان قال : قال طاوس ان الموتى يفتنون في قبورهم سبعا فكانوا يستحبون ان يطعموا عنه تلك الأيام

      Artinya: “ Berkata Imam Ahmad bin Hanbal, Hasyim bin al Qosim meriwayatkan kepada kami, ia berkata, al Asyja’iy meriwayatkan kepada kami dari Sufyan, Imam Thowus berkata: Orang yang meninggal dunia diuji selama tujuh hari didalam kubur mereka. Maka kemudian kalangan salaf mensunnahkan bersedekah makanan untuk orang yang meninggal dunia selama tujuh hari itu.” ( al Hawi li al Fatawi Juz II, hal 178 )

      3. Pendapat Imam Syafi’iy RA, tentang “Ma’tam”

      و أكره المأتم و هي الجماعة و ان لم يكن لهم بكاء فإن ذلك يجدد الحزن و يكلف المؤنة

      Artinya: “ Dan aku tidak senang pada “ma’tam” yakni adanya perkumpulan, karena hal itu akan mendatangkan kesusahan dan menambah beban. (Al Umm, Juz I hal 318)

      Kata ”ma’tam” dalam kamus al Munjid dijelaskan :

      المأتم مجتمع الناس عموما و قد غلب على مجتمعهم في حزن

      “ Ma’tam secara umum adalah berkumpulnya manusia, namun lebih digunakan kata tersebut untuk berkumpulnya manusia dalam kesusahan “

      Penjelasan:
      Adakah berkumpulnya manusia dalam tahlil kematian menambah kesusahan dan beban kepada keluarga yang tertimpa mushibah, atau mereka mengeluarkan sedekah karena malu sebagaimana yang anda tuduhkan ? Ketahuilah!! kebanyakan keluarga yang ditinggal justru merasa susah ketika tidak bersedekah untuk keluarga yang telah meninggal bukan karena malu, dan juga tidak menambah beban mereka karena yang terjadi di banyak daerah mereka bersedekah untuk jamuan tahlilan justru dari sedekah orang-orang yang berta’ziyah yang berupa beras, gula, semangka, air mineral, uang dll… tidak sebagaimana yang dituduhkan oleh Ust. Abu Zamil ( disini nampak Ust. Abu Zamil mau menghukumi sesuatu sebelum men-Tashowwurkan Mahkum ‘alaih-nya dan hanya berdasar ilustrasinya ). Maka jelaslah tradisi ini bukanlah ma’tam yang di benci Imam Syafi’iy RA.

      4. Tentang pendapat para Mufti Makkah dalam I’anah at Tholibin

      Sudah menjadi kebiasaan kaum salafi wahabi, menggunting pendapat untuk keuntungan mereka, dan inilah pendapat yang ada dalam kitab I’anah at Ttholibiin, juz II hal 165-166 Darul Fikr 1993 :

      ويحرم تهيئه للنائحات لأنه إعانة على معصية وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه بدعة مكروهة كإجابتهم لذلك لما صح عن جرير رضي الله عنه كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة ووجه عده من النياحة ما فيه من شدة الاهتمام بأمر الحزن ومن ثم كره اجتماع أهل الميت ليقصدوا بالعزاء بل ينبغي أن ينصرفوا في حوائجهم فمن صادفهم عزاهم اه

      Pada Qodhiyah yang berhuruf tebal dijelaskan bahwa mereka (para Mufti Mekah pada saat itu ) berpandangan bahwa berkumpul untuk mayyit dan menghidangkan makanan setelah pemakaman adalah termasuk “Niyahah” (meratap) dan alasan mereka menganggap Niyahah dalam masalah tersebut adalah “ maa fiihi min Syiddatil Ihtimam bi amril Khuzni” oleh karenanya mereka memakruhkan hal tersebut dan menganjurkan harta benda mereka (shohibul Musibah) untuk memenuhu kebutuhan mereka.

      Penjelasan :
      Sekali lagi disini kita dapati Ust. Abu Zamil belum sepenuhnya memahami persoalan yang akan dihukumi sebagaimana yang telah kami uraikan diatas. Adakah perkumpulan tahlilan yang ada disekitar kita semakin menyusahkan shohibul Mushibah? Atau dalam jamuannya membebani mereka secara ekonomi? Dimana keduanya menjadi Illat (sebab) para perkumpulan dan jamuan tersebut masuk kategori “Niyahah”…. kami sarankan Ust. Abu Zamil untuk memahami persoalan dulu sebelum menghukuminya.

      Memang ketika perkumpulan tersebut mengandung dua unsur yang mengakibatkan ia dikategorikan “Niyahah” maka makruhlah hukumnya, namun ketika dua Illat tersebut Yakni “Syiddatul Ihtimam bi Amril Khuzni” dan “Membebani secara ekonomi terhadap Sohibul Mushibah” telah hilang maka penetapan perkumpulan tersebut sebagai “Niyahah” otomatis hilang pula berikut Hukum Makruh yang ditimbulkannya. Sebagaimana Rambu-rambu Ushul fiqh :

      ولا تدل العلة إلا على الحكم الذي نصبت له فإن نصبت للإثبات لم تدل على النفي أو أن نصبت للنفي لم تدل على الإثبات وإن نصبت للنفي والإثبات وهي العلة الموضوعة لجنس الحكم دلت على النفي والإثبات فيجب أن يوجد الحكم بوجودها ويزول بزوالها ومن الناس من قال إن كل علة تدل على حكمين على الإثبات والنفي فإذا نصبت للإثبات اقتضت الإثبات عند وجودها والنفي عند عدمها وإن نصبت للنفي اقتضت النفي عند وجودها والإثبات عند عدمها وهذا خطأ لأن العلة الشرعية دليل ولهذا كان يجوز أن لا يوجب ما علق عليها من الحكم والدليل العقلي الذي يدل بنفسه يجوز أن يدل على وجود الحكم في الموضع الذي وجد فيه ثم يعدم ويثبت الحكم بدليل آخر والدليل الشرعي الذي صار دليلا بجعل جاعل أولى بذلك

      Dalam Qodhiyah yang berhuruf tebal kita dapati ketentuan Hukum harus wujud jika sebab/illatnya wujud dan hukum harus hilang ketika sebab/illatnya hilang. (al Luma’ fi Ushul al Fiqh, 57 )

      Demikian bantahan dari kami, dan Insya Alloh akan kami lanjutkan dengan HUJJAH MAULIDAN, semoga akan lebih menjelaskan sipa yang hanya COPPASS tanpa memahami Copinya…

      Wallohu a’lam…

  39. @Abu Zamil :
    Kelihatan sekarang saudara pengagum Makhrus Ali yang shalatnya pakai sandal jepit. Selain itu anda memang seorang Salafi Wahabi tulen yang menghalalkan segala cara untuk mempengaruhi umat Islam khususnya pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah termasuk dengan cara memotong-motong kalimat dalam Kitab Aswaja, atau malah hanya copas dari artikel semacam Makhrus Ali dan konco-konconya. Salah satu kitab yang kelompok saudara comot adalah kitab I’anatut Thalibin. Saya pernah membahasnya di situs lain tentang hal itu. Bahkan keterangan saudara loncat sana sini, makin meyakinkan saya memang saudara kelompok yang (maaf) licik. Saya akan jelaskan dan bongkar kebohongan tulisan saudara terkait Kitab I’anatut Thalibin, Mantan Kyai NU menggugat dls itu, di comment saya berikut ini :

  40. @Abu Zamil :
    Saudara sudah memutarbalikkan fakta terkait kutipan dari Kitab I’anatut Thalibin, setelah kami baca ulang kitab tersebut dan kami juga baca artikel dari Ikhwan Kami Warga NU juga, berikut kutipan dan jawaban kami :

    Nukilan-Nukilan Palsu Dari Kitab I’anatuth Thalibin

    التفقه في الدين من اختاره من العباد، وأشهد أن لا إله الله، شهادةتدخلنا دار الخلود، وأشهد أن سيدنا محمدا ورسوله، صاحب المقام المحموم، صلى الله وسلم عليه وعلى آله وأصحابهالامجاد صلاة وسلاما أفوز بهما يوم المعاد. وبعد
    PENGANTAR

    Mengusik amalan seseorang Muslim dengan menukil pernyataan Ulama dari kitab Muktabar secara serampangan (mengguting-gunting kalimat) merupakan perbuatan keji dan sangat tidak berakhlak. Selain termasuk telah menyembunyikan kebenaran, juga termasuk telah memfitnah Ulama yang perkataannya telah mereka nukil, merendahkan kitab Ulama dan juga telah menipu kaum Muslimin. Dakwah mereka benar-benar penuh kepalsuan dan kebohongan. Mengatas namakan Madzhab Syafi’I untuk menjatuhkan amalan Tahlil, sungguh mereka keji juga dengki.

    Kitab I’anatuth Thalibin (إعانة الطالبين) adalah kitab Fiqh karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh Al-Imam Abi Bakr Ibnu As-Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathiy Asy-Syafi’i, yang merupakan syarah dari kitab Fathul Mu’in (فتح المعين لشرح قرة العين بمهمات الدين لزين الدين بن عبد العزيز المليباري الفنانى). Kitab ini sangat masyhur dikalangan masyarakat Indonesia dan juga salah satu kitab yang menjadi rujukan pengikut madzhab Syafi’iyyah dalam ilmu Fiqh diseluruh dunia. Namun, sayang, ada sebagain kecil kalangan yang tidak bermadzhab Syafi’i (anti Madzhab), mengaku pengikut salaf, mencomot-comot isi kitab ini untuk mengharamkan Tahlilan yang merupakan amalan sudah masyhur dikalangan pengikut madzhab Syafi’i. Bukannya berdakwah secara benar namuan yang mereka lakukan, malah menunjukkan kedengkian hati mereka dan ketidak jujuran mereka dalam menukil perkataan ulama. Ini hanya salah satu kitab yang kami coba luruskan dari nukilan tidak jujur yang telah mereka lakukan, masih banyak lagi kitab Ulama yang dicomot serampangan oleh mereka, seperti kitab Al-Umm (Imam Syafi’i), Al-Majmu’ Syarah Muhadzab Imam An-Nawawi, Mughni al-Muhtaaj ilaa Ma’rifati Ma’aaniy Alfaadz Al Minhaj, dan kitab-kitab ulama lainnya.
    PEMBAHASAN

    Setidak-tidaknya ada 5 pernyataan yang kami temukan, yang “mereka” comot dari kitab I’anah at-Thalibin secara tidak jujur dan memelintir (mensalah-pahami) maksud dari pernyataan tersebut untuk mengharamkan Tahlilan. Ini banyak dicantumkan disitus-situs mereka dan dikutip oleh sesama mereka secara serampangan pula. Berikut ini yang mereka nukil secara tidak jujur.
    1. Sumber : http://ibnumaulay.multiply.com/journal/item/3

    “Ya, apa yang dilakukan manusia, yakni berkumpul di rumah keluarga si mayit, dan dihidangkan makanan, merupakan bid’ah munkarah, yang akan diberi pahala bagi orang yang mencegahnya, dengannya Allah akan kukuhlah kaidah-kaidah agama, dan dengannya dapat mendukung Islam dan muslimin” (I’anatuth Thalibin, 2/165)

    Teks arabnya ;

    (نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر)
    2. Sumber : http://ibnumaulay.multiply.com/journal/item/3

    “Dan apa yang dibiasakan manusia tentang hidangan dari keluarga si mayit yang disediakan untuk para undangan, adalah bid’ah yang tidak disukai agama, sebagaimana datangnya para undangan ke acara itu, karena ada hadits shahih yang diriwayatkan dari Jarir Radhiallahu ‘Anhu: Kami menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga si mayit, mereka menghidangkan makanan setelah penguburannya, adalah termasuk nihayah (meratap) –yakni terlarang.”

    Teks arabnya ;

    وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة – كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه. كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة
    3. Sumber : http://ibnumaulay.multiply.com/journal/item/3

    “Dalam Kitab Al Bazaz:Dibenci menyediakan makanan pada hari pertama, tiga, dan setelah tujuh hari, dan juga mengirim makanan ke kuburan secara musiman.”

    Teks arabnya ;

    وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم
    4. Sumber : http://fauzyachmed.blogspot.com/2009/10/bismillah-assalaamualaikum-wa.html

    “Dan diantara bid’ah yang munkarat yang tidak disukai ialah apa yang biasa dikerjakan orang tentang cara penyampaian rasa duka cita, berkumpul dan acara hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145-146)
    5. Sumber : http://fauzyachmed.blogspot.com/2009/10/bismillah-assalaamualaikum-wa.html

    “Dan tidak ada keraguan sedikitpun, bahwa mencegah umat dari bid’ah munkarat ini adalah menghidupkan Sunnah Nabi SAW , mematikan BID’AH, membuka seluas-luasnya pintu kebaikan dan menutup serapat-rapatnya pintu-pintu keburukan, karena orang-orang memaksa-maksa diri mereka berbuat hal-hal yang akan membawa kepada hal yang diharamkan. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145-146)

    Itulah yang ‘mereka’ comot secara serampangan dan menterjemahkannya dengan memelintir maknanya. Kami akan mulai membahas point-point diatas, sebagai berikut :

    Point Pertama (1)

    Nukilan diatas merupakan bentuk ketidakjujuran, dimana orang yang membacanya akan mengira bahwa berkumpul di tempat ahlu (keluarga) mayyit dan memakan makanan yang disediakan adalah termasuk bid’ah Munkarah, padahal bukan seperti itu yang dimaksud oleh kalimat tersebut. ‘Mereka’ telah menggunting (menukil secara tidak jujur) kalimat tersebut sehingga makna (maksud) yang dkehendaki dari kalimat tersebut menjadi kabur. Padahal, yang benar, bahwa kalimat tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan yang ditanyakan sebelumnya. Itu sebabnya, kalimat yang ‘mereka’ nukil dimulai dengan kata “na’am (iya)”.

    Berikut teks lengkapnya;

    وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام. وجواب منهم لذلك. (وصورتهما). ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة. فهل لو أراد رئيس الحكام – بما له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي – بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟

    “Dan sungguh telah aku perhatikan mengeni pertanyaan yang ditanyakan (diangkat) kepada para Mufti Mekkah (مفاتي مكة المشرفة) tentang apa yang dilakukan oleh Ahlu (keluarga) mayyit perihal makanan (membuat makanan) dan (juga aku perhatikan) jawaban mereka atas perkara tersebut. Gambaran (penjelasan mengenai keduanya ; pertanyaan dan jawaban tersebut) yaitumengenai (bagaimana) pendapat para Mufti yang mulya (المفاتي الكرام) di negeri “al-Haram”, (semoga (Allah) mengabadikan manfaat mareka untuk seluruh manusia sepanjang masa) , tentang kebiasaan (‘urf) yang khusus di suatu negeri bahwa jika ada yang meninggal , kemudian para pentakziyah hadir dari yang mereka kenal dan tetangganya, lalu terjadi kebiasaan bahwa mereka (pentakziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dan karena rasa sangat malu telah meliputi ahlu (keluarga mayyit) maka mereka membebani diri dengan beban yang sempurna (التكلف التام), dan (kemudian keluarga mayyit) menyediakan makanan yang banyak (untuk pentakziyah) dan menghadirkannya kepada mereka dengan rasa kasihan. Maka apakah bila seorang ketua penegak hukum yang dengan kelembutannya terhadap rakyat dan rasa kasihannya kepada ahlu mayyit dengan melarang (mencegah) permasalahan tersebut secara keseluruhan agar (manusia) kembali berpegang kepada As-Sunnah yang lurus, yang berasal dari manusia yang Baik (خير البرية) dan (kembali) kepada jalan Beliau (semoga shalawat dan salam atas Beliau), saat ia bersabda, “sediakanlah makanan untuk keluarga Jakfar”, apakah pemimpin itu diberi pahala atas yang disebutkan (pelarangan itu) ?

    أفيدوا بالجواب بما هو منقول ومسطور. (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده. اللهم أسألك الهداية للصواب. نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.
    “Penjelasan sebagai jawaban terhadap apa yang telah di tanyakan, (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده, Ya .. Allah aku memohon kepada-Mu supaya memberikan petunjuk kebenaran”.

    “Iya.., apa yang dilakukan oleh manusia dari berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayyit dan menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah munkarah, yang diberi pahala bagi yang mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan mengukuhkan dengannya kaidah-kaidah agama dan mendorong Islamd serta umat Islam”

    Betapa apa yang dikehendaki dari pernyataan diatas telah keluar konteks saat pertanyaannya dipotong sebagaimana nukilan mereka dan ini yang mereka gunakan untuk melarang Tahlilan. Ketidak jujuran ini yang mereka dakwahkan untuk menipu umat Islam atas nama Kitab I’anatuth Thalibin dan Al-‘Allamah Asy-Syekh Al-Imam Abi Bakr Ibnu As-Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathiy Asy-Syafi’i.

    Dalam pertanyaan dan jawaban diatas, yang sebenarnya termasuk bagian dari bid’ah Munkarah adalah kebiasaan pentakziyah menunggu makanan (بأنهم ينتظرون الطعام) di tempat ahlu (keluarga) yang terkena mushibah kematian, akal sehat pun akan menganggap bahwa kebiasaan itu tidak wajar dan memang patut untuk di hentikan. Maka, sangat wajar juga bahwa Mufti diatas menyatakan kebiasaan tersebut sebagai bid’ah Munkarah, dan penguasa yang menghentikan kebiasaan tersebut akan mendapat pahala. Namun, karena keluasan ilmu dari Mufti tersebut tidak berani untuk menetapkan hokum “Haram” kecuali jika memang ada dalil yang jelas dan sebab-sebabnya pun luas.

    Tentu saja, Mufti tersebut kemungkinan akan berkata lain jika membahasnya pada sisi yang lebih umum (bukan tentang kasus yang ditanyakan), dimana pentakziyah datang untuk menghibur, menyabarkan ahlu (keluarga) mayyit bahkan membawa (memberi) bantuan berupa materi untuk pengurusan mayyit dan untuk menghormati pentakziyah yang datang.

    Pada kegiatan Tahlilan orang tidak akan datang ke rumah ahlul mushibah dengan kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak tuan rumah. Jika tuan rumah merasa berat tentu saja tidak perlu mengadakan tahlilan dan tidak perlu mengundang. Namun, siapa yang lebih mengerti dan paham tentang “memberatkan” atau “beban” terhadap keluarga mayyit sehingga menjadi alasan untuk melarang kegiatan tersebut, apakah orang lain atau ahlu (keluarga) mayyit itu sendiri ? tentu saja yang lebih tahu adalah ahlu (keluarga) mayyit. Keinginan ahlu (keluarga) mayyit untuk mengadakan tahlilan dan mengundang tetangga atau orang lain untuk datang ke kediamannya merupakan pertanda ahlu (keluarga) mayyit memang menginginkannya dan tidak merasa keberatan, sementara para tetangga (hadirin) yang diundang sama sekali tidak memaksa ahlu (keluarga) mayyit untuk mengadakan tahlilan. Ahlu (keluarga) mayyit mengetahui akan dirinya sendiri bahwa mereka mampu dan dengan senang hati beramal untuk kepentingan saudaranya yang meninggal dunia, sedangkan hadirin hanya tahu bahwa mereka di undang dan memenuhi undangan ahlu (keluarga) mayyit.

    Sungguh betapa sangat menyakitkan hati ahlu (keluarga) mayyit jika undangannya tidak dipenuhi dan bahkan makanan yang dihidangkan tidak dimakan atau tidak disentuh. Manakah yang lebih utama, melakukan amalan yang “dianggap makruh” dengan menghibur ahlu (keluarga) mayyit, membuat hati ahlu (keluarga) mayyit senang atau menghindari “yang dianggap makruh” dengan menyakiti hati ahlu (keluarga) mayyit ? Tentu saja akan yang sehat pun akan menilai bahwa menyenangkan hati orang dengan hal-hal yang tidak diharamkan adalah sebuah kebaikan yang berpahala, dan menyakiti perasaannya adalah sebuah kejelekan yang dapat berakibat dosa.

    Disisi yang lain antara ahlu (keluarga) mayyit dan yang diundang, sama-sama mendapatkan kebaikan. Dimana ahlu (keluarga) mayyit telah melakukan amal shaleh dengan mengajak orang banyak mendo’akan anggota keluarga yang meninggal dunia, bersedekah atas nama mayyit, dan menghormati tamu dengan cara memberikan makanan dan minuman. Pada sisi yang di undang pun sama-sama melakukan amal shaleh dengan memenuhi undangan, mendo’akan mayyit, berdzikir bersama, menemani dan menghibur ahlu (keluarga) mayyit. Manakah dari hal-hal baik tersebut yang diharamkan ? Sungguh ulama yang mumpuni benar-benar bijaksana dalam menetapkan hokum “makruh” karena melihat dengan seksama adanya potensi “menambah kesedihan atau beban merepotkan”, meskipun jika seandainya hal itu tidak benar-benar ada.

    Adanya sebagian kegiatan Tahlilan yang dilakukan oleh orang awam, yang sangat membebani dan menyusahkan, karena ketidak mengertiannya pada dalam masalah agama, secara umum tidak bisa dijadikan alasan untuk menetapkan hokum haram atau terlarang. Bagi mereka lebih pantas diberi tahu atau diajari bukan di hukumi.

    Selanjutnya,

    Point Kedua (2) :

    Juga bentuk ketidak jujuran dan mensalah pahami maksud dari kalimat tersebut. Kata yang seharusnya merupakan status hokum namun diterjemahkan sehingga maksud yang terkandung dari pernyataan tersebut menjadi berbeda. Ungkapan-ungkapan ulama seperti akrahu” (saya membenci), “makruh” (dibenci), “yukrahu” (dibenci), “bid’ah munkarah” (bid’ah munkar), “bid’ah ghairu mustahabbah” (bid’ah yang tidak dianjurkan), dan “bid’ah mustaqbahah” (bid’ah yang dianggap jelek), semua itu mereka pahami sebagai larangan yang berindikasi hokum haram mutlak. Padahal didalam kitab tersebut, berkali-kali dinyatakan hokum “makruh” untuk kegiatan berkumpul di rumah ahlu (keluarga) mayyit dan dihidangkan makanan, terlepas dari hokum-hukum perkara lain seperti takziyah, hokum mendo’akan, bersedekah untuk mayyit, dimana semua itu dihukumi sunnah.

    Terjemahan “mereka” :

    “Dan apa yang dibiasakan manusia tentang hidangan dari keluarga si mayit yang disediakan untuk para undangan, adalah bid’ah yang tidak disukai agama, sebagaimana datangnya para undangan ke acara itu, karena ada hadits shahih yang diriwayatkan dari Jarir Radhiallahu ‘Anhu: Kami menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga si mayit, mereka menghidangkan makanan setelah penguburannya, adalah termasuk nihayah (meratap) –yakni terlarang.”

    Berikut teksnya (yang benar),

    وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة – كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه. كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة
    “Dan kebiasaaan dari ahlu (keluarga) mayyit membuat makanan untuk mengundang (mengajak) menusia kepadanya, ini bid’ah makruhah (bid’ah yang makruh), sebagaimana mereka memenuhi ajakan itu, sesuai dengan hadits shahih dari Jarir ra, “Kami (sahabat) menganggap bahwa berkumpul ke ahlu (keluarga) mayyit dan menyediakan makanan (untuk mereka) setelah dikuburnya (mayyit) <adalah bagian dari meratap (an-Niyahah)”.

    Mereka secara tidak jujur menterjemahkan status hokum “Makruh” pada kalimat diatas dan hal itu sudah menjadi tuntutan untuk tidak jujur bagi mereka sebab mereka telah menolak pembagian bid’ah. Karena penolakan tersebut, maka mau tidak mau mereka harus berusaha memelintir maksud bid’ah makruhah (bid’ah yang makruh) tersebut.

    Padahal bid’ah juga dibagi menjadi lima (5) status hukum namun mereka tolak, sebagaimana yang tercantum dalam kitab al-Imam an-Nawawi yaitu Syarah Shahih Muslim ;

    أن البدع خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة
    “Sesungguhnya bid’ah terbagi menjadi 5 macam ; bid’ah yang wajib, mandzubah (sunnah), muharramah (bid’ah yang haram), makruhah (bid’ah yang makruh), dan mubahah (mubah)” [Syarh An-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim, Juz 7, hal 105]

    Bila ingin memahami perkataan Ulama madzhab Syafi’I, maka pahami juga istilah-istilah yang ada dan digunakan didalam madzhab Syafi’i. Penolakan mereka terhadap pembagian bid’ah ini, mengandung konsekuensi yang besar bagi mereka sendiri saat dihadapkan dengan kitab-kitab ulama Madzhab Syafi’iyyah, dan untuk menghidarinya, satu-satunya jalan adalah dengan jalan tidak jujur atau mengaburkan maksud yang terkandung dari sebuah kalimat. Siapapun yang mengikuti pemahaman mereka maka sudah bisa dipastikan keliru.

    Status hokum yang disebutkan pada kalimat diatas adalah “Makruh”. Makruh adalah makruh dan tetap makruh, bukan haram. Dimana pengertian makruh adalah “Yutsab ala tarkihi wala yu’aqabu ala fi’lihi yaitu mendapat pahala apabila ditinggalkan dan tidak mendapat dosa bila di lakukan”. Makruh yang disebutkan diatas, juga terlepas dari hokum takziyah itu sendiri.

    Kemudian persoalan “an-Niyahah (meratap)” yang pada hadits Shahih diatas, dimana hadits tersebut juga dikeluarkan oleh Ibnu Majah ;

    عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ: كُنَّا نَرَى اْلاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنَ النِّيَاحَةِ
    “Kami (para sahabat) memandang berkumpul di ahlu (keluarga) mayyit dan membuat makanan termasuk bagian dari meratap”

    “An-Niyahah” memang perbuatan yang dilarang dalam agama. Namun, bukan berarti sama sekali tidak boleh bersedih atau menangis saat ada anggota keluarga yang meninggal dunia, sedangkan Rasulullah saja menangis mengeluarkan air mata saat cucu Beliau (Fatimah) wafat. Disaat Beliau mencucurkan air mata, (sahabat) Sa’ad berkata kepada Rasulullah ;

    فَقَالَ سَعْدٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذَا فَقَالَ هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ
    “..maka Sa’ad berkata ; Ya .. Rasulullah (يَا رَسُولَ اللَّهِ) apakah ini ? “Ini (kesedihan ini) adalah rahmat yang Allah jadikan di hati para hamba-Nya, Allah hanya merahmati hamba-hamba-Nya yang mengasisihi (ruhama’)” [HR. Imam Bukhari No. 1284]

    Rasulullah juga menangis saat menjelang wafatnya putra Beliau yang bernama Ibrahim, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf,

    فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ
    “..maka Abdurrahmah bebin ‘Auf berkata kepada Rasulullah, “dan anda wahai Rasulullah ?, Rasulullah berkata, “wahai Ibnu ‘Auf sesungguhnya (tangisan) itu rahmat, dalam sabda yang lain beliau kata, “sesungguhnya mata itu mencucurkan air mata, dan hati bersedih, dan kami tidak mengatakan kecuali apa yang menjadi keridhaan Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang bersedih karena perpisahanku dengan Ibrahim”. [HR. Imam Bukhari No. 1303]

    Rasulullah juga menangis di makam ibunda beliau sehingga orang yang bersamanya pun ikut menangis sebagaimana diriwayatkan di dalam hadis-hadis shahih [lihat Mughni al-Muhtaaj ilaa Ma'rifati Ma'aaniy Alfaadz Al Minhaj, Al-Allamah Al-Imam Muhammad al-Khathib asy-Syarbini, Dar el-Fikr, juz 1, hal. 356).
    Maka meratap yang sebenarnya dilarang (diharamkan) yang disebut sebagai “An-Niyahah” adalah menangisi mayyit dengan suara keras hingga menggerung apalagi diiringi dengan ekspresi berlebihan seperti memukul-mukul atau menampar pipi,
    menarik-narik rambut, dan lain sebagainya.
    Kembali kepada status hokum “Makruh” diatas, sebagaimana juga dijelaskan didalam Kitab al-Mughniy ;

    فأما صنع أهل الميت طعاما للناس فمكروه لأن فيه زيادة على مصيبتهم وشغلا لهم إلى شغلهم وتشبها بصنع أهل الجاهلية
    “Maka adapun bila ahlu (keluarga) mayyit membuat makanan untuk orang, maka itu Makruh, karena bisa menambah atas mushibah mereka, menambah kesibukan mereka (merepotkan) dan meniru-niru perbuatan Jahiliyah” [Al-Mughniy Juz
    II/215]

    Makruh bukan haram, dan status hokum Makruh bisa berubah menjadi Mubah (Jaiz/boleh) jika keadaannya sebagaimana digambarkan dalam kitab yang sama, berikut ini ;

    وإن دعت الحاجة إلى ذلك جاز فإنه ربما جاءهم من يحضر ميتهم من القرى والأماكن البعيدة ويبيت عندهم ولا يمكنهم إلا أن يضيفوه
    “Dan jika melakukannya karena ada (sebab) hajat, maka itu diperbolehkan (Jaiz), karena barangkali diantara yang datang ada yang berasal dari pedesaan, dan tempat-tempat yang jauh, dan menginap dirumah mereka, maka tidak bisa (tidak mungkin) kecuali mereka mesti di jamu (diberi hidangan)” [” [Al-Mughniy Juz II/215]

    Selanjutnya,

    Point Ketiga (3)

    Penukilan (pada point 3) ini juga tidak tepat dan keluar dari konteks, sebab pernyataan tersebut masih terikat dengan kalimat sebelumnya. Dan mereka juga mentermahkan status hokum yang ditetapkan dalam kitab Al-Bazaz.

    Terjemahan “Mereka” :

    “Dalam Kitab Al Bazaz: Dibenci menyediakan makanan pada hari pertama, tiga, dan setelah tujuh hari, dan juga mengirim makanan ke kuburan secara musiman.”

    Berikut teksnya

    وقال أيضا: ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت، لانه شرع في السرور، وهي بدعة. روى الامام أحمد وابن ماجه بإسناد صحيح، عن جرير بن عبد الله، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة. اه. وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم إلخ
    “Dan (juga) berkata; “dan dimakruhkan penyediaan jamuan besar (الضيافة) dari Ahlu (keluarga) mayyit, karena untuk mengadakan kegembiran (شرع في السرور), dan ini adalah bi’dah. Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan isnad yang dshahih, dari Jarir bin Abdullah, berkata ; “kami (sahabat) menganggap berkumpulnya ke (tempat) ahlu (keluarga) mayyit dan menyediakan makanan bagian dari merapat”. Dan didalam kitab Al-Bazaz, “diMakruhkan menyediakan makanan pada hari pertama, ke tiga dan setelah satu minggu dan (juga) dikatakan (termasuk) makanan (yang dibawa) ke kuburan pada musiman”.

    Apa yang dijelaskan didalam kitab Al-Bazaz adalah sebagai penguat pernyataan Makruh sebelumnya, jadi masih terkait dengan apa yang disampaikan sebelumnya. Namun sayangnya, mereka menukil separuh-separuh sehingga maksud dari pernyataan tersebut melenceng, parahnya lagi (ketidak jujuran ini) mereka gunakan untuk melarang Tahlilan karena kebencian mereka terhadap kegiatan tersebut dan tidak menjelaskan apa yang sebenarnya dimakruhkan.

    Yang dimakruhkan adalah berupa jamuan besar untuk tamu (“An-Dliyafah/الضيافة”) yang dilakukan oleh ahlu (keluarga) mayyit untuk kegembiraan. Status hokum ini adalah makruh bukan haram, namun bisa berubah menjadi jaiz (mubah) sebagaimana dijelaskan pada point 2 (didalam Kitab Al-Mughniy).

    Selanjutnya,

    Point Ke-Empat (4)

    Lagi-lagi mereka menterjemahkan secara tidak jujur dan memenggal-menggal kalimat yang seharunya utuh.

    Terjemahan ‘mereka’ ;

    “Dan diantara bid’ah yang munkarat yang tidak disukai ialah apa yang biasa dikerjakan orang tentang cara penyampaian rasa duka cita, berkumpul dan acara hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram.” (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145-146)

    Mereka telah memotong kalimatnya hanya sampai disitu. Sungguh ini telah memfitnahatas nama ulama (Pengarang kitab I’anatuth Thabilibin).

    Berikut teks lengkapnya (yang benar);

    وفي حاشية العلامة الجمل على شرح المنهج: ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها: ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام إن كان من مال محجور، أو من ميت عليه دين، أو يترتب عليه ضرر، أو نحو ذلك.
    “Dan didalam kitab Hasiyatul Jamal ‘alaa Syarh al-Minhaj (karangan Al-‘Allamah asy-Syekh Sulaiman al-Jamal) ; “dan sebagian dari bid’ah Munkarah dan Makruh mengerjakannya yaitu apa yang dilakukan orang daripada berduka cita , berkumpul dan 40 harian, bahkan semua itu haram jika (dibiayai) dari harta yang terlarang (haram), atau dari (harta) mayyit yang memiliki (tanggungan) hutang atau (dari harta) yang bisa menimbulkan bahaya atasnya, atau yang lain sebagainya”

    Begitu jelas ketidak jujuran yang mereka lakukan dan penipuan terhadap umat Islam yang mereka sebarkan melalui website dan buku-buku mereka.

    Buku mereka yang memuat terjemahan tidak jujur diatas adalah buku yang berjudul“Membongkar Kesesatan Tahlilan”, hal. 31, disana ditulis :

    “Dan di antara bid’ah munkaroh yang sangat dibenci adalah apa yang dilakukan orang di hari ketujuh dan di hari ke-40-nya. semua itu haram hukumnya” (lihat buku Membongkar Kesesatan Tahlilan, hal. 31).

    Dan juga dalam buku “Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan”:

    “Di antara bid’ah munkarat yang tidak disukai ialah perkara yang sangat biasa diamalkan oleh individu dalam majelis untuk menyampaikan rasa duka cita (kenduri arwah), berkumpul dan membuat jamuan majelis untuk kematian pada hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram” (lihat buku Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan, hal. 69).

    Kalimat yang seharusnya di lanjutkan di potong. Mereka telah menyembunyikan maksud yang sebenarnya dari ungkapan ulama yang berasal dari kitab aslinya. Mereka memenggal kalimat secara “seksama” (penipuan yang direncanakan/disengaja, red) demi tercapainya tujuan mereka yaitu melarang bahkan mengharamkan Tahlilan, seolah olah tujuan mereka didukung oleh pendapat Ulama, padahal hanya didukung oleh tipu daya mereka sendiri yang mengatas namakan ulama. Bukankah hal semacam ini juga termasuk telah memfitnah Ulama ? menandakan bahwa pelakunya berakhlak buruk juga lancang terhadap Ulama ? Ucapan mereka yang katanya menghidupkan sunnah sangat bertolak belakang dengan prilaku penipuan yang mereka lakukan.

    Selanjutnya,

    Point Ke-Lima (5)

    Terjemahan mereka,

    “Dan tidak ada keraguan sedikitpun, bahwa mencegah umat dari bid’ah munkarat ini adalah menghidupkan Sunnah Nabi SAW , mematikan BID’AH, membuka seluas-luasnya pintu kebaikan dan menutup serapat-rapatnya pintu-pintu keburukan, karena orang-orang memaksa-maksa diri mereka berbuat hal-hal yang akan membawa kepada hal yang diharamkan. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145-146)

    Kalimat diatas sebenarnya masih berkaitan dengan kalimat sebelumnya, oleh karena itu harus dipahami secara keseluruhan. Berikut ini adalah kelanjutan dari kalimat pada point ke-4.

    . وقد قال رسول الله (ص) لبلال بن الحرث رضي الله عنه: يا بلال من أحيا سنة من سنتي قد أميتت من بعدي، كان له من الاجر مثل من عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئا. ومن ابتدع بدعة ضلالة لا يرضاها الله ورسوله، كان عليه مثل من عمل بها، لا ينقص من أوزارهم شيئا. وقال (ص): إن هذا الخير خزائن، لتلك الخزائن مفاتيح، فطوبى لعبد جعله الله مفتاحا للخير، مغلاقا للشر. وويل لعبد جعله الله مفتاحا للشر، مغلاقا للخير.
    “Dan sungguh Rasulullah bersabda kepada Bilal bin Harits (رضي الله عنه) : “wahai Bilal, barangsiapa yang menghidupkan sunnah dari sunnahku setelah dimatikan sesudahku, maka baginya pahala seperti (pahala) orang yang mengamalkannya, tidak dikurangi sedikitpun dari pahala mereka (orang yang mengamalkan) dan barangsiapa yang mengada-adakan (membuat) bid’ah dhalalah dimana Allah dan Rasul-Nya tidak akan ridha, maka baginya (dosa) sebagaimana orang yang mengamalkannya dan tidak dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. dan Nabi bersabda ; “Sesungguhnya kebaikan (الخير) itu memiliki khazanah-khazanah, khazanah-khazanah itu ada kunci-kuncinya (pembukanya), Maka berbahagialah bagi hamba yang telah Allah jadikan pada dirinya pembuka untuk kebaikan dan pengunci keburukan. Maka, celakalah bagi hamba yang telah Allah jadikan pada dirinya pembuka keburukan dan pengunci kebaikan”

    ولا شك أن منع الناس من هذه البدعة المنكرة فيه إحياء للسنة، وإماته للبدعة، وفتح لكثير من أبواب الخير، وغلق لكثير من أبواب الشر، فإن الناس يتكلفون تكلفا كثيرا، يؤدي إلى أن يكون ذلك الصنع محرما. والله سبحانه وتعالى أعلم.
    “dan tidak ada keraguan bahwa mencegah manusia dari bid’ah Munkarah ini,padanya termasuk menghidupkan as-Sunnah, dan mematikan bagi bid’ah, dan membuka pada banyak pintu kebaikan, dan mengunci kebayakan pintu keburukan..Maka jika manusia membebani (dirinya) dengan beban yang banyak, itu hanya akan mengantarkan mereka kepada perkara yang diharamkan.”

    Jika hanya membaca sepintas nukilan dari mereka, akan terkesan seolah-olah adanya pelarangan bahwa berkumpulnya manusia dan makan hidangan di tempat ahlu (keluarga) mayyit adalah diharamkan sebagaimana yang telah mereka nukil secara tidak jujur dipoint-4 atau bahkan ketidak jelasan mengenai bid’ah Munkarah yang dimaksud, padahal pada kalimat sebelumnya (lihat point-4) sudah dijelaskan dan status hukumnya adalah Makruh, namun memang bisa mengantarkan pada perkara yang haram jika membebani dengan beban yang banyak (تكلفا كثيرا) sebagaimana dijelaskan pada akhir-akhir point ke-5 ini dan juga pada point-4 yaitu jika (dibiayai) dari harta yang terlarang , atau dari (harta) mayyit yang memiliki (tanggungan) hutang atau (dari harta) yang bisa menimbulkan bahaya atasnya.
    PENUTUP

    Demikian apa yang bisa kami sampaikan untuk meluruskan nukil-nukilan tidak jujur dari “pendakwah salaf” yang katanya “pengikut salaf” namun sayang sekali prilaku mereka sangat bertolak belakang dengan prilaku salaf bahkan lebih buruk.

    Kami menghimbau agar jangan terlalu percaya dengan nukilan-nukilan mereka, sebaiknya mengecek sendiri atau tanyakan pada ulama atau ustadz tempat antum masing-masing agar tidak menjadi korban internet dan korban penipuan mereka. Masih banyak kitab ulama lainnya yang mereka pelintir maksudnya. Maka berhati-hatilah.

    والله سبحانه وتعالى أعلم
    Abdurrohim ats-Tsauriy

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang faqir dan dhaif
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  41. Saudara sudah memutarbalikkan fakta terkait kutipan dari Kitab I’anatut Thalibin, setelah kami baca ulang kitab tersebut dan kami juga baca artikel dari Ikhwan Kami Warga NU juga, berikut kutipan dan jawaban kami :

    Nukilan-Nukilan Palsu Dari Kitab I’anatuth Thalibin

    التفقه في الدين من اختاره من العباد، وأشهد أن لا إله الله، شهادةتدخلنا دار الخلود، وأشهد أن سيدنا محمدا ورسوله، صاحب المقام المحموم، صلى الله وسلم عليه وعلى آله وأصحابهالامجاد صلاة وسلاما أفوز بهما يوم المعاد. وبعد
    PENGANTAR

    Mengusik amalan seseorang Muslim dengan menukil pernyataan Ulama dari kitab Muktabar secara serampangan (mengguting-gunting kalimat) merupakan perbuatan keji dan sangat tidak berakhlak. Selain termasuk telah menyembunyikan kebenaran, juga termasuk telah memfitnah Ulama yang perkataannya telah mereka nukil, merendahkan kitab Ulama dan juga telah menipu kaum Muslimin. Dakwah mereka benar-benar penuh kepalsuan dan kebohongan. Mengatas namakan Madzhab Syafi’I untuk menjatuhkan amalan Tahlil, sungguh mereka keji juga dengki.

    Kitab I’anatuth Thalibin (إعانة الطالبين) adalah kitab Fiqh karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh Al-Imam Abi Bakr Ibnu As-Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathiy Asy-Syafi’i, yang merupakan syarah dari kitab Fathul Mu’in (فتح المعين لشرح قرة العين بمهمات الدين لزين الدين بن عبد العزيز المليباري الفنانى). Kitab ini sangat masyhur dikalangan masyarakat Indonesia dan juga salah satu kitab yang menjadi rujukan pengikut madzhab Syafi’iyyah dalam ilmu Fiqh diseluruh dunia. Namun, sayang, ada sebagain kecil kalangan yang tidak bermadzhab Syafi’i (anti Madzhab), mengaku pengikut salaf, mencomot-comot isi kitab ini untuk mengharamkan Tahlilan yang merupakan amalan sudah masyhur dikalangan pengikut madzhab Syafi’i. Bukannya berdakwah secara benar namuan yang mereka lakukan, malah menunjukkan kedengkian hati mereka dan ketidak jujuran mereka dalam menukil perkataan ulama. Ini hanya salah satu kitab yang kami coba luruskan dari nukilan tidak jujur yang telah mereka lakukan, masih banyak lagi kitab Ulama yang dicomot serampangan oleh mereka, seperti kitab Al-Umm (Imam Syafi’i), Al-Majmu’ Syarah Muhadzab Imam An-Nawawi, Mughni al-Muhtaaj ilaa Ma’rifati Ma’aaniy Alfaadz Al Minhaj, dan kitab-kitab ulama lainnya.
    PEMBAHASAN

    Setidak-tidaknya ada 5 pernyataan yang kami temukan, yang “mereka” comot dari kitab I’anah at-Thalibin secara tidak jujur dan memelintir (mensalah-pahami) maksud dari pernyataan tersebut untuk mengharamkan Tahlilan. Ini banyak dicantumkan disitus-situs mereka dan dikutip oleh sesama mereka secara serampangan pula. Berikut ini yang mereka nukil secara tidak jujur.
    1. Sumber : http://ibnumaulay.multiply.com/journal/item/3

    “Ya, apa yang dilakukan manusia, yakni berkumpul di rumah keluarga si mayit, dan dihidangkan makanan, merupakan bid’ah munkarah, yang akan diberi pahala bagi orang yang mencegahnya, dengannya Allah akan kukuhlah kaidah-kaidah agama, dan dengannya dapat mendukung Islam dan muslimin” (I’anatuth Thalibin, 2/165)

    Teks arabnya ;

    (نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر)
    2. Sumber : http://ibnumaulay.multiply.com/journal/item/3

    “Dan apa yang dibiasakan manusia tentang hidangan dari keluarga si mayit yang disediakan untuk para undangan, adalah bid’ah yang tidak disukai agama, sebagaimana datangnya para undangan ke acara itu, karena ada hadits shahih yang diriwayatkan dari Jarir Radhiallahu ‘Anhu: Kami menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga si mayit, mereka menghidangkan makanan setelah penguburannya, adalah termasuk nihayah (meratap) –yakni terlarang.”

    Teks arabnya ;

    وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة – كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه. كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة
    3. Sumber : http://ibnumaulay.multiply.com/journal/item/3

    “Dalam Kitab Al Bazaz:Dibenci menyediakan makanan pada hari pertama, tiga, dan setelah tujuh hari, dan juga mengirim makanan ke kuburan secara musiman.”

    Teks arabnya ;

    وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم
    4. Sumber : http://fauzyachmed.blogspot.com/2009/10/bismillah-assalaamualaikum-wa.html

    “Dan diantara bid’ah yang munkarat yang tidak disukai ialah apa yang biasa dikerjakan orang tentang cara penyampaian rasa duka cita, berkumpul dan acara hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145-146)
    5. Sumber : http://fauzyachmed.blogspot.com/2009/10/bismillah-assalaamualaikum-wa.html

    “Dan tidak ada keraguan sedikitpun, bahwa mencegah umat dari bid’ah munkarat ini adalah menghidupkan Sunnah Nabi SAW , mematikan BID’AH, membuka seluas-luasnya pintu kebaikan dan menutup serapat-rapatnya pintu-pintu keburukan, karena orang-orang memaksa-maksa diri mereka berbuat hal-hal yang akan membawa kepada hal yang diharamkan. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145-146)

    Itulah yang ‘mereka’ comot secara serampangan dan menterjemahkannya dengan memelintir maknanya. Kami akan mulai membahas point-point diatas, sebagai berikut :

    Point Pertama (1)

    Nukilan diatas merupakan bentuk ketidakjujuran, dimana orang yang membacanya akan mengira bahwa berkumpul di tempat ahlu (keluarga) mayyit dan memakan makanan yang disediakan adalah termasuk bid’ah Munkarah, padahal bukan seperti itu yang dimaksud oleh kalimat tersebut. ‘Mereka’ telah menggunting (menukil secara tidak jujur) kalimat tersebut sehingga makna (maksud) yang dkehendaki dari kalimat tersebut menjadi kabur. Padahal, yang benar, bahwa kalimat tersebut merupakan jawaban atas pertanyaan yang ditanyakan sebelumnya. Itu sebabnya, kalimat yang ‘mereka’ nukil dimulai dengan kata “na’am (iya)”.

    Berikut teks lengkapnya;

    وقد اطلعت على سؤال رفع لمفاتي مكة المشرفة فيما يفعله أهل الميت من الطعام. وجواب منهم لذلك. (وصورتهما). ما قول المفاتي الكرام بالبلد الحرام دام نفعهم للانام مدى الايام، في العرف الخاص في بلدة لمن بها من الاشخاص أن الشخص إذا انتقل إلى دار الجزاء، وحضر معارفه وجيرانه العزاء، جرى العرف بأنهم ينتظرون الطعام، ومن غلبة الحياء على أهل الميت يتكلفون التكلف التام، ويهيئون لهم أطعمة عديدة، ويحضرونها لهم بالمشقة الشديدة. فهل لو أراد رئيس الحكام – بما له من الرفق بالرعية، والشفقة على الاهالي – بمنع هذه القضية بالكلية ليعودوا إلى التمسك بالسنة السنية، المأثورة عن خير البرية وإلى عليه ربه صلاة وسلاما، حيث قال: اصنعوا لآل جعفر طعاما يثاب على هذا المنع المذكور ؟

    “Dan sungguh telah aku perhatikan mengeni pertanyaan yang ditanyakan (diangkat) kepada para Mufti Mekkah (مفاتي مكة المشرفة) tentang apa yang dilakukan oleh Ahlu (keluarga) mayyit perihal makanan (membuat makanan) dan (juga aku perhatikan) jawaban mereka atas perkara tersebut. Gambaran (penjelasan mengenai keduanya ; pertanyaan dan jawaban tersebut) yaitumengenai (bagaimana) pendapat para Mufti yang mulya (المفاتي الكرام) di negeri “al-Haram”, (semoga (Allah) mengabadikan manfaat mareka untuk seluruh manusia sepanjang masa) , tentang kebiasaan (‘urf) yang khusus di suatu negeri bahwa jika ada yang meninggal , kemudian para pentakziyah hadir dari yang mereka kenal dan tetangganya, lalu terjadi kebiasaan bahwa mereka (pentakziyah) itu menunggu (disajikan) makanan dan karena rasa sangat malu telah meliputi ahlu (keluarga mayyit) maka mereka membebani diri dengan beban yang sempurna (التكلف التام), dan (kemudian keluarga mayyit) menyediakan makanan yang banyak (untuk pentakziyah) dan menghadirkannya kepada mereka dengan rasa kasihan. Maka apakah bila seorang ketua penegak hukum yang dengan kelembutannya terhadap rakyat dan rasa kasihannya kepada ahlu mayyit dengan melarang (mencegah) permasalahan tersebut secara keseluruhan agar (manusia) kembali berpegang kepada As-Sunnah yang lurus, yang berasal dari manusia yang Baik (خير البرية) dan (kembali) kepada jalan Beliau (semoga shalawat dan salam atas Beliau), saat ia bersabda, “sediakanlah makanan untuk keluarga Jakfar”, apakah pemimpin itu diberi pahala atas yang disebutkan (pelarangan itu) ?

    أفيدوا بالجواب بما هو منقول ومسطور. (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده. اللهم أسألك الهداية للصواب. نعم، ما يفعله الناس من الاجتماع عند أهل الميت وصنع الطعام، من البدع المنكرة التي يثاب على منعها والي الامر، ثبت الله به قواعد الدين وأيد به الاسلام والمسلمين.
    “Penjelasan sebagai jawaban terhadap apa yang telah di tanyakan, (الحمد لله وحده) وصلى الله وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والسالكين نهجهم بعده, Ya .. Allah aku memohon kepada-Mu supaya memberikan petunjuk kebenaran”.

    “Iya.., apa yang dilakukan oleh manusia dari berkumpul ditempat ahlu (keluarga) mayyit dan menghidangkan makanan, itu bagian dari bid’ah munkarah, yang diberi pahala bagi yang mencegahnya dan menyuruhnya. Allah akan mengukuhkan dengannya kaidah-kaidah agama dan mendorong Islamd serta umat Islam”

    Betapa apa yang dikehendaki dari pernyataan diatas telah keluar konteks saat pertanyaannya dipotong sebagaimana nukilan mereka dan ini yang mereka gunakan untuk melarang Tahlilan. Ketidak jujuran ini yang mereka dakwahkan untuk menipu umat Islam atas nama Kitab I’anatuth Thalibin dan Al-‘Allamah Asy-Syekh Al-Imam Abi Bakr Ibnu As-Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathiy Asy-Syafi’i.

    Dalam pertanyaan dan jawaban diatas, yang sebenarnya termasuk bagian dari bid’ah Munkarah adalah kebiasaan pentakziyah menunggu makanan (بأنهم ينتظرون الطعام) di tempat ahlu (keluarga) yang terkena mushibah kematian, akal sehat pun akan menganggap bahwa kebiasaan itu tidak wajar dan memang patut untuk di hentikan. Maka, sangat wajar juga bahwa Mufti diatas menyatakan kebiasaan tersebut sebagai bid’ah Munkarah, dan penguasa yang menghentikan kebiasaan tersebut akan mendapat pahala. Namun, karena keluasan ilmu dari Mufti tersebut tidak berani untuk menetapkan hokum “Haram” kecuali jika memang ada dalil yang jelas dan sebab-sebabnya pun luas.

    Tentu saja, Mufti tersebut kemungkinan akan berkata lain jika membahasnya pada sisi yang lebih umum (bukan tentang kasus yang ditanyakan), dimana pentakziyah datang untuk menghibur, menyabarkan ahlu (keluarga) mayyit bahkan membawa (memberi) bantuan berupa materi untuk pengurusan mayyit dan untuk menghormati pentakziyah yang datang.

    Pada kegiatan Tahlilan orang tidak akan datang ke rumah ahlul mushibah dengan kehendaknya sendiri, melainkan atas kehendak tuan rumah. Jika tuan rumah merasa berat tentu saja tidak perlu mengadakan tahlilan dan tidak perlu mengundang. Namun, siapa yang lebih mengerti dan paham tentang “memberatkan” atau “beban” terhadap keluarga mayyit sehingga menjadi alasan untuk melarang kegiatan tersebut, apakah orang lain atau ahlu (keluarga) mayyit itu sendiri ? tentu saja yang lebih tahu adalah ahlu (keluarga) mayyit. Keinginan ahlu (keluarga) mayyit untuk mengadakan tahlilan dan mengundang tetangga atau orang lain untuk datang ke kediamannya merupakan pertanda ahlu (keluarga) mayyit memang menginginkannya dan tidak merasa keberatan, sementara para tetangga (hadirin) yang diundang sama sekali tidak memaksa ahlu (keluarga) mayyit untuk mengadakan tahlilan. Ahlu (keluarga) mayyit mengetahui akan dirinya sendiri bahwa mereka mampu dan dengan senang hati beramal untuk kepentingan saudaranya yang meninggal dunia, sedangkan hadirin hanya tahu bahwa mereka di undang dan memenuhi undangan ahlu (keluarga) mayyit.

    Sungguh betapa sangat menyakitkan hati ahlu (keluarga) mayyit jika undangannya tidak dipenuhi dan bahkan makanan yang dihidangkan tidak dimakan atau tidak disentuh. Manakah yang lebih utama, melakukan amalan yang “dianggap makruh” dengan menghibur ahlu (keluarga) mayyit, membuat hati ahlu (keluarga) mayyit senang atau menghindari “yang dianggap makruh” dengan menyakiti hati ahlu (keluarga) mayyit ? Tentu saja akan yang sehat pun akan menilai bahwa menyenangkan hati orang dengan hal-hal yang tidak diharamkan adalah sebuah kebaikan yang berpahala, dan menyakiti perasaannya adalah sebuah kejelekan yang dapat berakibat dosa.

    Disisi yang lain antara ahlu (keluarga) mayyit dan yang diundang, sama-sama mendapatkan kebaikan. Dimana ahlu (keluarga) mayyit telah melakukan amal shaleh dengan mengajak orang banyak mendo’akan anggota keluarga yang meninggal dunia, bersedekah atas nama mayyit, dan menghormati tamu dengan cara memberikan makanan dan minuman. Pada sisi yang di undang pun sama-sama melakukan amal shaleh dengan memenuhi undangan, mendo’akan mayyit, berdzikir bersama, menemani dan menghibur ahlu (keluarga) mayyit. Manakah dari hal-hal baik tersebut yang diharamkan ? Sungguh ulama yang mumpuni benar-benar bijaksana dalam menetapkan hokum “makruh” karena melihat dengan seksama adanya potensi “menambah kesedihan atau beban merepotkan”, meskipun jika seandainya hal itu tidak benar-benar ada.

    Adanya sebagian kegiatan Tahlilan yang dilakukan oleh orang awam, yang sangat membebani dan menyusahkan, karena ketidak mengertiannya pada dalam masalah agama, secara umum tidak bisa dijadikan alasan untuk menetapkan hokum haram atau terlarang. Bagi mereka lebih pantas diberi tahu atau diajari bukan di hukumi.

    Selanjutnya,

    Point Kedua (2) :

    Juga bentuk ketidak jujuran dan mensalah pahami maksud dari kalimat tersebut. Kata yang seharusnya merupakan status hokum namun diterjemahkan sehingga maksud yang terkandung dari pernyataan tersebut menjadi berbeda. Ungkapan-ungkapan ulama seperti akrahu” (saya membenci), “makruh” (dibenci), “yukrahu” (dibenci), “bid’ah munkarah” (bid’ah munkar), “bid’ah ghairu mustahabbah” (bid’ah yang tidak dianjurkan), dan “bid’ah mustaqbahah” (bid’ah yang dianggap jelek), semua itu mereka pahami sebagai larangan yang berindikasi hokum haram mutlak. Padahal didalam kitab tersebut, berkali-kali dinyatakan hokum “makruh” untuk kegiatan berkumpul di rumah ahlu (keluarga) mayyit dan dihidangkan makanan, terlepas dari hokum-hukum perkara lain seperti takziyah, hokum mendo’akan, bersedekah untuk mayyit, dimana semua itu dihukumi sunnah.

    Terjemahan “mereka” :

    “Dan apa yang dibiasakan manusia tentang hidangan dari keluarga si mayit yang disediakan untuk para undangan, adalah bid’ah yang tidak disukai agama, sebagaimana datangnya para undangan ke acara itu, karena ada hadits shahih yang diriwayatkan dari Jarir Radhiallahu ‘Anhu: Kami menganggap bahwa berkumpul di rumah keluarga si mayit, mereka menghidangkan makanan setelah penguburannya, adalah termasuk nihayah (meratap) –yakni terlarang.”

    Berikut teksnya (yang benar),

    وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه، بدعة مكروهة – كإجابتهم لذلك، لما صح عن جرير رضي الله عنه. كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة
    “Dan kebiasaaan dari ahlu (keluarga) mayyit membuat makanan untuk mengundang (mengajak) menusia kepadanya, ini bid’ah makruhah (bid’ah yang makruh), sebagaimana mereka memenuhi ajakan itu, sesuai dengan hadits shahih dari Jarir ra, “Kami (sahabat) menganggap bahwa berkumpul ke ahlu (keluarga) mayyit dan menyediakan makanan (untuk mereka) setelah dikuburnya (mayyit) <adalah bagian dari meratap (an-Niyahah)”.

    Mereka secara tidak jujur menterjemahkan status hokum “Makruh” pada kalimat diatas dan hal itu sudah menjadi tuntutan untuk tidak jujur bagi mereka sebab mereka telah menolak pembagian bid’ah. Karena penolakan tersebut, maka mau tidak mau mereka harus berusaha memelintir maksud bid’ah makruhah (bid’ah yang makruh) tersebut.

    Padahal bid’ah juga dibagi menjadi lima (5) status hukum namun mereka tolak, sebagaimana yang tercantum dalam kitab al-Imam an-Nawawi yaitu Syarah Shahih Muslim ;

    أن البدع خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة
    “Sesungguhnya bid’ah terbagi menjadi 5 macam ; bid’ah yang wajib, mandzubah (sunnah), muharramah (bid’ah yang haram), makruhah (bid’ah yang makruh), dan mubahah (mubah)” [Syarh An-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim, Juz 7, hal 105]

    Bila ingin memahami perkataan Ulama madzhab Syafi’I, maka pahami juga istilah-istilah yang ada dan digunakan didalam madzhab Syafi’i. Penolakan mereka terhadap pembagian bid’ah ini, mengandung konsekuensi yang besar bagi mereka sendiri saat dihadapkan dengan kitab-kitab ulama Madzhab Syafi’iyyah, dan untuk menghidarinya, satu-satunya jalan adalah dengan jalan tidak jujur atau mengaburkan maksud yang terkandung dari sebuah kalimat. Siapapun yang mengikuti pemahaman mereka maka sudah bisa dipastikan keliru.

    Status hokum yang disebutkan pada kalimat diatas adalah “Makruh”. Makruh adalah makruh dan tetap makruh, bukan haram. Dimana pengertian makruh adalah “Yutsab ala tarkihi wala yu’aqabu ala fi’lihi yaitu mendapat pahala apabila ditinggalkan dan tidak mendapat dosa bila di lakukan”. Makruh yang disebutkan diatas, juga terlepas dari hokum takziyah itu sendiri.

    Kemudian persoalan “an-Niyahah (meratap)” yang pada hadits Shahih diatas, dimana hadits tersebut juga dikeluarkan oleh Ibnu Majah ;

    عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ: كُنَّا نَرَى اْلاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنْعَةَ الطَّعَامِ مِنَ النِّيَاحَةِ
    “Kami (para sahabat) memandang berkumpul di ahlu (keluarga) mayyit dan membuat makanan termasuk bagian dari meratap”

    “An-Niyahah” memang perbuatan yang dilarang dalam agama. Namun, bukan berarti sama sekali tidak boleh bersedih atau menangis saat ada anggota keluarga yang meninggal dunia, sedangkan Rasulullah saja menangis mengeluarkan air mata saat cucu Beliau (Fatimah) wafat. Disaat Beliau mencucurkan air mata, (sahabat) Sa’ad berkata kepada Rasulullah ;

    فَقَالَ سَعْدٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذَا فَقَالَ هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ
    “..maka Sa’ad berkata ; Ya .. Rasulullah (يَا رَسُولَ اللَّهِ) apakah ini ? “Ini (kesedihan ini) adalah rahmat yang Allah jadikan di hati para hamba-Nya, Allah hanya merahmati hamba-hamba-Nya yang mengasisihi (ruhama’)” [HR. Imam Bukhari No. 1284]

    Rasulullah juga menangis saat menjelang wafatnya putra Beliau yang bernama Ibrahim, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abdurrahman bin ‘Auf,

    فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ
    “..maka Abdurrahmah bebin ‘Auf berkata kepada Rasulullah, “dan anda wahai Rasulullah ?, Rasulullah berkata, “wahai Ibnu ‘Auf sesungguhnya (tangisan) itu rahmat, dalam sabda yang lain beliau kata, “sesungguhnya mata itu mencucurkan air mata, dan hati bersedih, dan kami tidak mengatakan kecuali apa yang menjadi keridhaan Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang bersedih karena perpisahanku dengan Ibrahim”. [HR. Imam Bukhari No. 1303]

    Rasulullah juga menangis di makam ibunda beliau sehingga orang yang bersamanya pun ikut menangis sebagaimana diriwayatkan di dalam hadis-hadis shahih [lihat Mughni al-Muhtaaj ilaa Ma'rifati Ma'aaniy Alfaadz Al Minhaj, Al-Allamah Al-Imam Muhammad al-Khathib asy-Syarbini, Dar el-Fikr, juz 1, hal. 356).
    Maka meratap yang sebenarnya dilarang (diharamkan) yang disebut sebagai “An-Niyahah” adalah menangisi mayyit dengan suara keras hingga menggerung apalagi diiringi dengan ekspresi berlebihan seperti memukul-mukul atau menampar pipi,
    menarik-narik rambut, dan lain sebagainya.
    Kembali kepada status hokum “Makruh” diatas, sebagaimana juga dijelaskan didalam Kitab al-Mughniy ;

    فأما صنع أهل الميت طعاما للناس فمكروه لأن فيه زيادة على مصيبتهم وشغلا لهم إلى شغلهم وتشبها بصنع أهل الجاهلية
    “Maka adapun bila ahlu (keluarga) mayyit membuat makanan untuk orang, maka itu Makruh, karena bisa menambah atas mushibah mereka, menambah kesibukan mereka (merepotkan) dan meniru-niru perbuatan Jahiliyah” [Al-Mughniy Juz
    II/215]

    Makruh bukan haram, dan status hokum Makruh bisa berubah menjadi Mubah (Jaiz/boleh) jika keadaannya sebagaimana digambarkan dalam kitab yang sama, berikut ini ;

    وإن دعت الحاجة إلى ذلك جاز فإنه ربما جاءهم من يحضر ميتهم من القرى والأماكن البعيدة ويبيت عندهم ولا يمكنهم إلا أن يضيفوه
    “Dan jika melakukannya karena ada (sebab) hajat, maka itu diperbolehkan (Jaiz), karena barangkali diantara yang datang ada yang berasal dari pedesaan, dan tempat-tempat yang jauh, dan menginap dirumah mereka, maka tidak bisa (tidak mungkin) kecuali mereka mesti di jamu (diberi hidangan)” [” [Al-Mughniy Juz II/215]

    Selanjutnya,

    Point Ketiga (3)

    Penukilan (pada point 3) ini juga tidak tepat dan keluar dari konteks, sebab pernyataan tersebut masih terikat dengan kalimat sebelumnya. Dan mereka juga mentermahkan status hokum yang ditetapkan dalam kitab Al-Bazaz.

    Terjemahan “Mereka” :

    “Dalam Kitab Al Bazaz: Dibenci menyediakan makanan pada hari pertama, tiga, dan setelah tujuh hari, dan juga mengirim makanan ke kuburan secara musiman.”

    Berikut teksnya

    وقال أيضا: ويكره الضيافة من الطعام من أهل الميت، لانه شرع في السرور، وهي بدعة. روى الامام أحمد وابن ماجه بإسناد صحيح، عن جرير بن عبد الله، قال: كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام من النياحة. اه. وفي البزاز: ويكره اتخاذ الطعام في اليوم الاول والثالث وبعد الاسبوع، ونقل الطعام إلى القبر في المواسم إلخ
    “Dan (juga) berkata; “dan dimakruhkan penyediaan jamuan besar (الضيافة) dari Ahlu (keluarga) mayyit, karena untuk mengadakan kegembiran (شرع في السرور), dan ini adalah bi’dah. Diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan isnad yang dshahih, dari Jarir bin Abdullah, berkata ; “kami (sahabat) menganggap berkumpulnya ke (tempat) ahlu (keluarga) mayyit dan menyediakan makanan bagian dari merapat”. Dan didalam kitab Al-Bazaz, “diMakruhkan menyediakan makanan pada hari pertama, ke tiga dan setelah satu minggu dan (juga) dikatakan (termasuk) makanan (yang dibawa) ke kuburan pada musiman”.

    Apa yang dijelaskan didalam kitab Al-Bazaz adalah sebagai penguat pernyataan Makruh sebelumnya, jadi masih terkait dengan apa yang disampaikan sebelumnya. Namun sayangnya, mereka menukil separuh-separuh sehingga maksud dari pernyataan tersebut melenceng, parahnya lagi (ketidak jujuran ini) mereka gunakan untuk melarang Tahlilan karena kebencian mereka terhadap kegiatan tersebut dan tidak menjelaskan apa yang sebenarnya dimakruhkan.

    Yang dimakruhkan adalah berupa jamuan besar untuk tamu (“An-Dliyafah/الضيافة”) yang dilakukan oleh ahlu (keluarga) mayyit untuk kegembiraan. Status hokum ini adalah makruh bukan haram, namun bisa berubah menjadi jaiz (mubah) sebagaimana dijelaskan pada point 2 (didalam Kitab Al-Mughniy).

    Selanjutnya,

    Point Ke-Empat (4)

    Lagi-lagi mereka menterjemahkan secara tidak jujur dan memenggal-menggal kalimat yang seharunya utuh.

    Terjemahan ‘mereka’ ;

    “Dan diantara bid’ah yang munkarat yang tidak disukai ialah apa yang biasa dikerjakan orang tentang cara penyampaian rasa duka cita, berkumpul dan acara hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram.” (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145-146)

    Mereka telah memotong kalimatnya hanya sampai disitu. Sungguh ini telah memfitnahatas nama ulama (Pengarang kitab I’anatuth Thabilibin).

    Berikut teks lengkapnya (yang benar);

    وفي حاشية العلامة الجمل على شرح المنهج: ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها: ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والاربعين، بل كل ذلك حرام إن كان من مال محجور، أو من ميت عليه دين، أو يترتب عليه ضرر، أو نحو ذلك.
    “Dan didalam kitab Hasiyatul Jamal ‘alaa Syarh al-Minhaj (karangan Al-‘Allamah asy-Syekh Sulaiman al-Jamal) ; “dan sebagian dari bid’ah Munkarah dan Makruh mengerjakannya yaitu apa yang dilakukan orang daripada berduka cita , berkumpul dan 40 harian, bahkan semua itu haram jika (dibiayai) dari harta yang terlarang (haram), atau dari (harta) mayyit yang memiliki (tanggungan) hutang atau (dari harta) yang bisa menimbulkan bahaya atasnya, atau yang lain sebagainya”

    Begitu jelas ketidak jujuran yang mereka lakukan dan penipuan terhadap umat Islam yang mereka sebarkan melalui website dan buku-buku mereka.

    Buku mereka yang memuat terjemahan tidak jujur diatas adalah buku yang berjudul“Membongkar Kesesatan Tahlilan”, hal. 31, disana ditulis :

    “Dan di antara bid’ah munkaroh yang sangat dibenci adalah apa yang dilakukan orang di hari ketujuh dan di hari ke-40-nya. semua itu haram hukumnya” (lihat buku Membongkar Kesesatan Tahlilan, hal. 31).

    Dan juga dalam buku “Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan”:

    “Di antara bid’ah munkarat yang tidak disukai ialah perkara yang sangat biasa diamalkan oleh individu dalam majelis untuk menyampaikan rasa duka cita (kenduri arwah), berkumpul dan membuat jamuan majelis untuk kematian pada hari keempat puluh, bahkan semua itu adalah haram” (lihat buku Mantan Kiai NU Menggugat Tahlilan, hal. 69).

    Kalimat yang seharusnya di lanjutkan di potong. Mereka telah menyembunyikan maksud yang sebenarnya dari ungkapan ulama yang berasal dari kitab aslinya. Mereka memenggal kalimat secara “seksama” (penipuan yang direncanakan/disengaja, red) demi tercapainya tujuan mereka yaitu melarang bahkan mengharamkan Tahlilan, seolah olah tujuan mereka didukung oleh pendapat Ulama, padahal hanya didukung oleh tipu daya mereka sendiri yang mengatas namakan ulama. Bukankah hal semacam ini juga termasuk telah memfitnah Ulama ? menandakan bahwa pelakunya berakhlak buruk juga lancang terhadap Ulama ? Ucapan mereka yang katanya menghidupkan sunnah sangat bertolak belakang dengan prilaku penipuan yang mereka lakukan.

    Selanjutnya,

    Point Ke-Lima (5)

    Terjemahan mereka,

    “Dan tidak ada keraguan sedikitpun, bahwa mencegah umat dari bid’ah munkarat ini adalah menghidupkan Sunnah Nabi SAW , mematikan BID’AH, membuka seluas-luasnya pintu kebaikan dan menutup serapat-rapatnya pintu-pintu keburukan, karena orang-orang memaksa-maksa diri mereka berbuat hal-hal yang akan membawa kepada hal yang diharamkan. (I’anatut Thalibin, Sarah Fathul Mu’in, Juz 2 hal. 145-146)

    Kalimat diatas sebenarnya masih berkaitan dengan kalimat sebelumnya, oleh karena itu harus dipahami secara keseluruhan. Berikut ini adalah kelanjutan dari kalimat pada point ke-4.

    . وقد قال رسول الله (ص) لبلال بن الحرث رضي الله عنه: يا بلال من أحيا سنة من سنتي قد أميتت من بعدي، كان له من الاجر مثل من عمل بها، لا ينقص من أجورهم شيئا. ومن ابتدع بدعة ضلالة لا يرضاها الله ورسوله، كان عليه مثل من عمل بها، لا ينقص من أوزارهم شيئا. وقال (ص): إن هذا الخير خزائن، لتلك الخزائن مفاتيح، فطوبى لعبد جعله الله مفتاحا للخير، مغلاقا للشر. وويل لعبد جعله الله مفتاحا للشر، مغلاقا للخير.
    “Dan sungguh Rasulullah bersabda kepada Bilal bin Harits (رضي الله عنه) : “wahai Bilal, barangsiapa yang menghidupkan sunnah dari sunnahku setelah dimatikan sesudahku, maka baginya pahala seperti (pahala) orang yang mengamalkannya, tidak dikurangi sedikitpun dari pahala mereka (orang yang mengamalkan) dan barangsiapa yang mengada-adakan (membuat) bid’ah dhalalah dimana Allah dan Rasul-Nya tidak akan ridha, maka baginya (dosa) sebagaimana orang yang mengamalkannya dan tidak dikurangi sedikitpun dari dosa mereka”. dan Nabi bersabda ; “Sesungguhnya kebaikan (الخير) itu memiliki khazanah-khazanah, khazanah-khazanah itu ada kunci-kuncinya (pembukanya), Maka berbahagialah bagi hamba yang telah Allah jadikan pada dirinya pembuka untuk kebaikan dan pengunci keburukan. Maka, celakalah bagi hamba yang telah Allah jadikan pada dirinya pembuka keburukan dan pengunci kebaikan”

    ولا شك أن منع الناس من هذه البدعة المنكرة فيه إحياء للسنة، وإماته للبدعة، وفتح لكثير من أبواب الخير، وغلق لكثير من أبواب الشر، فإن الناس يتكلفون تكلفا كثيرا، يؤدي إلى أن يكون ذلك الصنع محرما. والله سبحانه وتعالى أعلم.
    “dan tidak ada keraguan bahwa mencegah manusia dari bid’ah Munkarah ini,padanya termasuk menghidupkan as-Sunnah, dan mematikan bagi bid’ah, dan membuka pada banyak pintu kebaikan, dan mengunci kebayakan pintu keburukan..Maka jika manusia membebani (dirinya) dengan beban yang banyak, itu hanya akan mengantarkan mereka kepada perkara yang diharamkan.”

    Jika hanya membaca sepintas nukilan dari mereka, akan terkesan seolah-olah adanya pelarangan bahwa berkumpulnya manusia dan makan hidangan di tempat ahlu (keluarga) mayyit adalah diharamkan sebagaimana yang telah mereka nukil secara tidak jujur dipoint-4 atau bahkan ketidak jelasan mengenai bid’ah Munkarah yang dimaksud, padahal pada kalimat sebelumnya (lihat point-4) sudah dijelaskan dan status hukumnya adalah Makruh, namun memang bisa mengantarkan pada perkara yang haram jika membebani dengan beban yang banyak (تكلفا كثيرا) sebagaimana dijelaskan pada akhir-akhir point ke-5 ini dan juga pada point-4 yaitu jika (dibiayai) dari harta yang terlarang , atau dari (harta) mayyit yang memiliki (tanggungan) hutang atau (dari harta) yang bisa menimbulkan bahaya atasnya.
    PENUTUP

    Demikian apa yang bisa kami sampaikan untuk meluruskan nukil-nukilan tidak jujur dari “pendakwah salaf” yang katanya “pengikut salaf” namun sayang sekali prilaku mereka sangat bertolak belakang dengan prilaku salaf bahkan lebih buruk.

    Kami menghimbau agar jangan terlalu percaya dengan nukilan-nukilan mereka, sebaiknya mengecek sendiri atau tanyakan pada ulama atau ustadz tempat antum masing-masing agar tidak menjadi korban internet dan korban penipuan mereka. Masih banyak kitab ulama lainnya yang mereka pelintir maksudnya. Maka berhati-hatilah.

    والله سبحانه وتعالى أعلم
    Abdurrohim ats-Tsauriy

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang faqir dan dhaif
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  42. @abu zamil, gini aja wes.. kalau ada saudara anda yg meninggal, dan ada saudara anda yang dari luar kota datang untuk ta’ziyah, maka saudara anda yg dari luar kota tadi jangan sampai anda beri makan dan minum walau setetes air termasuk juga kalau saudara anda itu membawa anak kecil bahkan bayi, awas… ya kalau sampai anda beri karena nantinya anda akan menjadi seorang yang munafik, biarkan mereka membeli di warung2 dekat rumah anda saja, setuju kan ???

  43. Masya Allah…….. Meskipun sudah jelas pembahasannya masih mengingkari juga dengan akal-akal kalian naudzubillah… hati-hati mas jgan sampai akal yang lebih diutamakan buat menolak ayat, hadits juga fatwa ulama… ane juga tau melihat dari jawaban-jawaban kalian itu murni pendapat sendiri tanpa ilmu dan satu lagi bahwa kita tidak melihat ini tulisan dari mana mau copas atu kagak yang penting isinya coy….

    kalo begini caranya disini bukan namanya tempat untuk mencari kebenaran
    afwan..

    1. @abu zamil, sama juga antum dan kawan2 antum, sudah dijelaskan kebenaran tapi selalu antum dan klp antum mengingkarinya, lebih parah lagi berani berfatwa tanpa ilmu dan hanya copas isinya, mengartikan ayat2 Alqur’an dan Hadits Nabi juga hanya secara harfiah/teks book saja, Masya Allah…. itukah yang anda banggakan sebagai generasi yang islami ??

  44. Kalo maslah maulidan ane kagak berkomentar tapi biarlah para ulama yang menjelaskan kepada antum semua mudah-mudahan antum bisa memuliakan pendapat mereka dan tidak menganggap remeh fatwanya:

    Penjelasan Samahatu asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz rahimahullah

    Beliau berkata: “Tidak boleh menyelenggarakan perayaan maulid (kelahiran) Rasul Shallallahu ‘alaihi Wasallam atau kelahiran selain beliau. Dikarenakan hal itu tidak pernah dilakukan Rasul Shallallahu ‘alaihi Wasallam, para khulafa’ur rasyidin, para sahabat lain dan para pengikut mereka dari generasi yang utama. Padahal, mereka adalah orang yang lebih mengerti tentang sunnah nabi, lebih sempurna kecintaan dan ittiba’nya terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam daripada generasi setelahnya. Telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam bahwa beliau bersabda (artinya): “Barangsiapa membuat perkara baru di dalam urusan (agama) kami yang sebenarnya tidak ada contohnya maka ia tertolak.”

    Beliau bersabda dalam hadits lain (artinya) : “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah khulafa’ur rasyidin setelahku. Berpegang teguhlah dengannya. Gigitlah dengan gigi geraham kalian. Hati- hatilah dari perkara- perkara yang diada- adakan, karena setiap perkara yang diada- adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” Di dalam 2 hadits ini terdapat peringatan tegas terhadap perkara yang diada- adakan dan mengamalkan perkara tersebut…”

    Selanjutnya asy-Syaikh berkata: “Dan membuat perayaan kelahiran seperti ini dapat dipahami bahwa Allah Ta’ala belum menyempurnakan agama ini. (Di-pahami pula) bahwa Rasul ‘alaihi ash-Shalaatu Was Salaam belum menyampaikan sesuatu yang semestinya dilakukan umat ini. Lalu datanglah orang- orang belakangan dan membuat perkara baru di dalam syariat Allah yang Dia tidak memberi ijin untuk itu. Ini mereka lakukan karena persangkaan bahwa perayaan maulid nabi itu termasuk taqarrub kepada Allah. Tentu, ini mengandung bahaya yang besar. Sekaligus penentangan terhadap Allah dan rasul-Nya. Padahal Allah itu telah menyempurnakan agama ini untuk hamba- hamba-Nya sekaligus Dia telah mencukupkan kenikmatan ini kepada mereka…”

    Lalu asy-Syaikh pun berkata: “Dan sekelompok ulama telah terang- terangan mengingkari perayaan maulid (kelahiran-pen) ini dan memperingatkan darinya, dalam rangka mengamalkan dalil- dalil yang disebutkan tadi dan dalil semisalnya. (Namun), sebagian orang- orang belakangan justru menyelisihi dalil-dalil tersebut. Orang- orang ini membolehkan perayaan maulid nabi selama tidak terdapat kemungkaran padanya seperti berlebih- lebihan menyanjung Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam, campur baur antara pria dengan wanita atau penggunaan alat- alat musik dan selain itu yang memang diingkari oleh syariat yang suci ini. Orang- orang ini menduga bahwa perayaan maulid nabi itu adalah perkara baru yang baik. Padahal, kaidah syar’i menyatakan agar mengembalikan perkara yang diperselisihkan manusia itu kepada Al Qur’an maupun sunnah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam…”

    Kemudian asy-Syaikh bertutur: “Dan termasuk perkara yang aneh dan mengherankan bahwa banyak manusia bersemangat, beersungguh- sungguh menghadiri perayaan ini dan membelanya, namun (di sisi lain) menjauhi kewajiban dari Allah berupa shalat jum’at atau shalat berjama’ah. Manusia tidak peduli terhadap kewajiban tersebut, dan tidak merasa kalau dirinya telah melakukan kemungkaran yang besar…” [Dinukil dari Hirasatut Tauhid].

    Penjelasan Fadhilatu asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rahimahullah

    Beliau berkata: “Dan di antara sejumlah perkara yang diada- adakan adalah perkara yang dibuat- buat oleh sebagian orang di bulan Rabi’ul Awwal yaitu perayaan Maulid Nabi. Mereka berkumpul di malam ke-12 bulan tersebut di masjid atau rumah lalu bershalawat atas Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam dengan shalawat- shalawat yang dibuat- buat. Mereka membaca pujian- pujian terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam sampai melewati batas yang sebenarnya hal itu dilarang oleh beliau. Kadang-kadang mereka juga membuat makanan dan begadang semalaman. Mereka telah menyia-nyiakan harta, waktu dan badan untuk sesuatu yang tidak disyariatkan Allah, Rasul-Nya, tidak pula pernah diamalkan oleh para khulafa’ur rasyidin, para sahabat, kaum muslimin di masa yang memiliki keutamaan dan para pengikut mereka. Andaikata perayaan maulid nabi itu adalah perkara yang baik, nicaya mereka (orang-orang terbaik ini-pen) akan mendahului kita dalam mengerjakannya. Seandainya perayaan tersebut itu adalah sesuatu yang baik, niscaya Allah Ta’ala tidak mencegah pendahulu umat ini –yang di antara mereka ada para khulafa’ur rasyidin dan imam- imam besar- untuk menyelenggarakannya. Niscaya Allah tidak mencegah mereka bila perayaan maulid nabi itu adalah sebuah kebaikan. Lalu datanglah generasi manusia di abad ke-4 Hijriah yang selanjutnya membuat sesuatu yang diada-adakan ini…”

    Lalu asy-Syaikh berkata: “Sesungguhnya maulid nabi yang diselenggarakan pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal itu tidak memiliki dasar sama sekali menurut sejarah. Hal ini disebabkan tidak bisa dipastikan bahwa kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam itu pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal. Para ulama sejarah berbeda pendapat tentang penentuan tanggal kelahiran Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam. Ada yang mengatakan tanggal 2, 8, 9, 10, 12, 17 dan 22 Rabi’ul Awwal. Masing-masing pendapat ini tidak lebih kuat daripada pendapat lainnya, sehingga penentuan tanggal kelahiran beliau adalah sesuatu yang tidak diketahui pasti oleh kita. Hanya saja sebagian peneliti masa sekarang (justru) menguatkan pendapat bahwa beliau lahir pada tanggal 9 Rabi’ul Awwal.

    Bila perayaan maulid nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam itu tidak memiliki dasar sama sekali menurut sejarah, maka perayaan itu pun juga tidak memiliki dasar sama sekali menurut agama. Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam tidak pernah mengerjakannya dan tidak pula memerintahkannya. Tidak pula dilakukan oleh seorang pun dari kalangan sahabat dan pengikut mereka…” [Adh Dhiyaa’ul Laami’ Minal Khuthabil Jawaami’].

    Penjelasan Fadhilatu asy-Syaikh Shalih bin Fauzan bin Abdillah Al Fauzan hafizhahullah

    Beliau menyatakan : “Maka perayaan yang mereka ada- adakan yang berkaitan dengan kelahiran Rasul ini adalah perkara yang terlarang dan tertolak dari beberapa sisi:

    Pertama: Perayaan ini bukan dari tuntunan Rasul Shallallahu ‘alaihi Wasallam dan tuntunan para khulafa’ur rasyidin. Bila demikian maka termasuk perbuatan bid’ah yang terlarang, berdasar sabda beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam (artinya): “Wajib bagi kalian untuk berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para khulafa’ur rasyidin sepeninggalku. Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan geraham kalian. Hati- hatilah kalian dari perkara yang diada- adakan, karena setiap perkara yang diada- adakan itu adalah bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan.”

    Perayaan maulid nabi itu adalah perkara yan diada- adakan oleh kaum Syi’ah Fathimiyah (Rafidhah-pen) setelah berlalunya generasi terbaik untuk merusak agama umat Islam. Siapa saja yang melakukan sesuatu dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah namun ternyata sesuatu itu tidak pernah dilakukan Rasul, tidak pula beliau perintahkan, atau tidak pernah dilakukan para khalifah beliau setelahnya, maka orang tersebut telah menganggap rasul tidak menjelaskan perkara agama kepada manusia. Orang tersebut mendustakan firman Allah Ta’ala (artinya): “Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama ini, telah Aku cukupkan bagi kalian nikmatKu dan telah Aku ridhai Islam itu menjadi agama kalian.” [Al Maidah : 3].

    Kedua: Perayaan maulid nabi itu menyerupai orang-orang Nashara, yang orang-orang Nashara itu merayakan maulid (kelahiran) nabi Isa ‘alaihis Salaam. Menyerupai mereka ini sangat diharamkan. Di dalam sebuah hadits terdapat larangan dari menyerupai orang- orang kafir dan perintah untuk membedakan diri dengan mereka. Terlebih bila meniru sesuatu yang menjadi syiar agama mereka…”

    Kemudian asy-Syaikh menyebutkan sisi-sisi yang lain. [Lihat Al Khuthab Al Minbariyah].

    Alasan Dan Sanggahannya

    Terdapat beberapa alasan yang dikemukakan untuk menyelenggarakan perayaan maulid nabi yang dapat kami simpulkan sebagai berikut:

    1.Menyelenggarakan perayaan maulid nabi merupakan wujud kecintaan terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

    Sanggahannya adalah sebuah pertanyaan yang tidak membutuhkan jawaban yaitu apakah kecintaan kita terhadap beliau itu melebihi kecintaan Abu Bakr, Umar, Utsman, Ali dan seluruh sahabat terhadap beliau ?! Kenapa para khalifah dan sahabat ini tidak menyelenggarakan perayaan maulid nabi padahal mereka sangat mencintai beliau ?! Sesungguhnya mereka ini tidak menyelenggarakan perayaan maulid nabi karena beliau tidak mensyariatkan bahkan melarangnya.

    2.Menyelenggarakan perayaan maulid nabi dapat mengingatkan kita kepada perjuangan, kedudukan dan kemuliaan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

    Sanggahannya adalah mengingat perjuangan, kedudukan dan kemuliaan beliau mestinya dengan mengikuti bimbingan beliau sepanjang hidup kita, bukan (justru) dengan menyelisihi bimbingan beliau. Mengingat perjuangan dan kedudukan Rasul mestinya dilakukan sepanjang kehidupan kita, bukan sekedar saat perayaan maulid nabi. Itu pun kalau perayaan tersebut merupakan tuntunan beliau Shallallahu ‘alaihi Wasallam.

    Wallahu a’lamu bish Shawaab

    1. tuh pendapat kebanyakan dari ulama golongan wahabi/salafi kan ? itulah kebiasaan antum dan kebanyakan wahabi berfatwa hanya mempertimbangkan pendapatnya sendiri, merasa paling pintar dan paling islami, apa ulama lain dianggap tidak punya ilmu ? ternyata pengajaran golongan wahabi/salafi juga penuh dengan pendapat, dan ternyata apa yang dikatakan si ibnu suradi bahwa pengajaran wahabi/salafi jauh dari pendapat dan hanya bersumber langsung dari Alqu’an dan Hadits Nabi SAW adalah OMONG KOSONG belaka.

  45. @abu zamil

    ane minta pendapat ente…

    nggak usah pendapat para ulama ente,..
    ane juga bisa kasih pendapat para ulama yg keilmuan/kefahaman nya teramat-amat,
    sangat-sangat jauh dari ulama yang ente kasih…

    sudah jawab aj pertanyaan ane…

  46. @abu zamil
    makasih mas abu zamil atas ilmunya..
    pada artikel anda banyak sekali ulama-ulama besar yang bilang bid’ah dan makhruh.. dsb..
    saya bisa simpulkan itu yang menjadi alasan anda menolak tahlilan dan disisi lain anda mengakui adanya bid’ah hasanah… karena menurut hemat saya tidak mungkin sesuatu yang dholalah yang bisa membawa pelakunya ke neraka, dihukumi makhruh oleh ulama” besar diatas… jika memang benar semua bid’ah itu sesat maka ulama” yang mengerti dan hafal ribuan hadist” Nabi tidak akan menghukumi Makhruh.. cukup dengan kata bid’ah saja.. krena sesuatu yang dholalah pasti haram..
    InsyaAllah teman” dari Ummati sudah punya jawaban atas artikel smpyan…
    saya cuma orang awam mas, gak bisa diajak debat, ilmu saya gak nyampek hehehe… tapi melihat komen” sebelumnya saya jadi yakin dgn apa yang saya lakukan.. thk Ummatipress.com 😀
    tolong koreksi dari senior” ummatipress klo komentar saya ada yang salah

  47. @Abu Zamil :
    Wah saudara Abu Zamil ini “kutu loncat” juga ya…=D Tidak bisa menjawab kebohongannya tentang asal comot/potong-potong fatwa/copas Kitab I’anatut Thalibin sekarang membahas maulid dari fatwa bin baz dan utsaimin lagi. Berarti pikiran saudara benar-benar kacau. Kalau saudara benar bantah dulu “pembongkaran” saya tentang kebohongan saudara diatas, baru ke topik yang lain.

    Selain itu yang anda gunakan fatwa ulama Wahabi yang kebetulan juga tidak memiliki keistiqamahan, pantas pengikutnya kacau seperti saudara Abu Zamil ini.

    Saya baca beberapa penelusuran ulama Aswaja di situs-situs yang lain menunjukkan bahwa para ulama Salafy Wahabi yang saudara banggakan itu orang-orang yang keblinger, bagaimana tidak keblinger, mereka memfatwakan haram atas peringatan maulid Rasulullah SAW. yang jelas sebagai suri teladan umat Islam, tapi mereka malah memperbolehkan dan menganjurkan maulid atas Bani Saud dan kerajaan Saudi, Maulid Syaikh Abdul Wahab (Pendiri Wahabi), termasuk maulid Si Utsaimin yang anda sebut, bahkan mereka menyebut sangat mulya memperingatinya. Na’udzu billah tsumma na’udzubillah.

    Maaf-maaf saja, yang jelas kami kaum sarungan ini lebih memilih memperingati Maulid Rasulullah Muhammad SAW. yang jelas sebagai suri teladan dan memang ada perintah bershalawat dan memuliakan beliau.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    1. Astagfirulloh, tdk adakah perkataan yg jelek lagi selain itu sdr Derajat?? apakah agama antum mengajarkan demikian?? sungguh Rasululloh memiliki akhlak yg plg baik bahkan terhadap org2 kafir sekalipun, tdk demikian bagi antum yg berakhlak suka merendahkan org lain dan mencaci, segera mohon ampunlah engkau pd Alloh….

    2. @Abu Zamil, Abu Dzar, Gunawan dan teman-teman Salafy Wahabinya
      Nah, saudara kebakaran jenggot kan ? Saya harap saudara memang tidak tahu, karena dengan pembuktian saya saudara sekalian sadar untuk tidak main kata bid’ah, khurafat dan kata-kata keji lainnya. Saudara juga menganggap saya bak ulama yang sudah hafal kitab. Jelas bukan, saya hanya santri sarungan dari Kyai ndeso, yang saya patuhi ucapannya dan saya ikuti pengajian kitabnya karena saya yakin beliau membimbing kami dengan tulus.

      Saya santri sarungan yang haus ilmu karena saya hamba yang dhaif dan faqir, tapi saya tetap taqlid kepada Kyai saya yang dalam ilmunya tapi tidak pernah menyalahkan kelompok lain seperti Wahabi yang sukanya “ngafirke marang liyane”.

      Biar tidak penasaran, ini saya tunjukkan situs yang membahas ucapan saya sebelumnya agar tidak disebut fitnah :

      1. Tentang Maulid Bani Saud/Kerajaan Saudi Arabia yang dianggap mulia dan maulid Syaikh Abdul Wahab (Pendiri Wahabi) silahkan baca/diklik : http://salafytobat.wordpress.com/2012/06/29/fatwa-sesat-mufti-saudi-mahabi-memperingati-maulid-nabi-bidah-tapi-peringati-hut-maulid-negara-saudi-tidak-bidah/

      2. Tentang Maulid Syaikh Utsaimin silahkan baca/diklik : http://deleteisrael.pun.bz/wahabi-memperingati-maulid-untuk-al-utsa-2.xhtml

      Semoga dengan membacanya terbuka pikiran dan hati saudara sekalian.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  48. @abu zamil
    Ane dah baca semua koment ente, ternyata ente copas habis dari blog -http://baubau……com, coba juga ente buka blog http://ashhabur-royi.blogspot.com/2011/01/hukum-tahlilan-kenduri-arwah-menurut.html.

    Ane baca isinya banyak dipelintir sana-sini dan ane lihat banyak kebohongan lihat aja Hadist bukhari dan Muslim.
    Ini yang ane punya, kitab Shahih bukhari dan Shahih muslim.
    Bukhari no. 2697
    Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhriy berkata telah bercerita kepadaku Sinan bin Abi Sinan dan Abu Salamah bahwa Jabir mengabarkan kepadanya. Dan diriwayatkan pula, telah bercerita kepada kami Musa bin Isma’il telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Sa’ad telah mengabarkan kepada kami Ibnu Syihab dari Sinan bin Abi Sinan Ad-Du’aliy bahwa Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhuma mengabarkan kepadanya bawa dia pernah berperang bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian mereka menjumpai sungai di bawah lembah yang banyak pepohonannya. Maka orang-orangpun berpencar mencari tempat berteduh di bawah pohon begitu juga Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berteduh di bawah pohon lalu menggantungkan pedang Beliau pada pohon tersebut kemudian Beliau tidur sejenak. Ketika Beliau bangun dari tidur ternyata ada seorang laki-laki di hadapan Beliau dimana Beliau tidak menyadarinya sebelumnya. Kemudian Beliau berkata: Orang ini telah mengambil pedangku lalu dia berkata: Siapa yang dapat melindungimu dariku? Aku jawab: Allah. Maka orang itu memasukkan kembali pedang ke dalam sarungnya sedangkan di terduduk lemas dan tidak dapat berbuat apa-apa.
    Muslim no. 1718
    Telah menceritakan kepada kami Nashru bin Ali Al Jahdlami dan Zuhair bin Harb dan Abdu bin Humaid mereka berkata, Telah menceritakan kepada kami Umar bin Yunus telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar telah menceritakan kepada kami Syaddad ia berkata, saya mendengar Abu Umamah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai anak Adam! Sesungguhnya jika kamu mensedekahkan kelebihan hartamu, itu lebih baik bagimu daripada kamu simpan, karena hal itu akan lebih berbahaya bagimu. Dan kamu tidak akan dicela jika menyimpan sekedar untuk keperluan. Dahulukanlah memberi nafkah kepada orang yang menjadi tanggunganmu. Tangan yang di atas adalah lebih baik, daripada tangan yang di bawah.”

    Penulisan aja sudah salah, ini sangat berbahaya buat yang ingin belajar.

    Tentang Makhrus Ali, ente tanya siapa yang menulis bukunya makhrus ali, bukan dia yang menulis tapi penerbitnya yang menulis, untuk bukti dia punya manuskript sunan ampel bicara kepada sunan kalijaga adalah kebohongan besar atas nama sunan ampel.

    Dahulu ane suka sama bin bazz, tapi setelah dia mengeluarkan fatwa bahwa matahari yang mengelilingi bumi dan bumi ini datar, maka ane gak percaya lagi sama dia. (buka aja blognya binbazz.co.sa – buku fatwa no. 5 hilang setelah diprotes, padahal dibuku itu fatwa tentang bumi dan matahari).

    Coba ente baca-baca lagi copasan ente kemudian baca kitab-kitab yang disebutkan disana, jangan asal copas tanpa meneliti terlebih dahulu.
    Semoga kita dijalan yang benar bukan pembenaran.

  49. Hebat jawbannya bak para ulama yang sudah hafal semua kitab sampe-sampe merendahkan ulama segala padahal ane tau apa yang keluar dari mulutnya hanya dari otaknya sndiri yang jauh keilmuannya dari ulama yang dia rendahkan sendiri (Semoga Allah berikan hidayah atas kejahilannya)…. maaf-maaf ni ane bukan ulama yang berhak berfatwa n ikhwan-ikhwn kami tidak berani mengatakan sesuatu pendapat dari otaknya sendiri kaya ente-ente yang asal bicara dan asal tuduh

    1. @abu zamil

      ane minta pendapat ente,..
      bukan ulama ente…jika hanya pendapat ulama,
      sekali lagi ane bisa tampilkan pendapat ulama yg tingkatan nya melibihi jauh-jauh dr yg ente kasih….
      bukan pengertian asal baca tulisan ane..yg ente jadi nggak faham, faham ente?

      skali lagi tolong jawab,santai aja men…

    2. @abu zamil
      Kan ane dah bilang, ane baca dulu, kemudian ane lihat dikitab yang ane punya, ternyata yah beda sama kitab aslinya, kok beda (teliti sebelum membeli alias COPAS). Ane juga dah buka blog yang dicopas habis 100% sama ente dan ane bandingkan isinya sama blog Ashabur Royi, waduh juga beda… Nah begitu.

  50. mas derajat…
    siapa ulama yang menganjurkan maulid atas Bani Saud dan kerajaan Saudi, Maulid Syaikh Abdul Wahab, termasuk maulid syaik Utsaimin yang anda sebut, bahkan mereka menyebut sangat mulya memperingatinya.
    tuduhan yang dituduh aswaja adalah dusta.

  51. Bismillah…

    Salam ukhuwah kwn2 semua, afwan ana hanya hamba Alloh yg baru belajar mendalami Islam baru2 ini. sebelumnya ana merupakan penganut Bid’ah yg mengamalkan sesuatu yg tdk ada tuntunannya dr Rasululloh Shalallahu’alaihi wassalam tp setelah ana mengenal manhaj yg haq ini (ahlus sunnah) ana merasa lebih tenang dlm beribadah krn semua kegiatan ibadah ini ada tuntunannya dr Rasululloh shalallahu’alaihi wassalam..

    disini ana mlihat penulis artikel ini asal tafsir aja hadist2 nabi, asal mengartikan, comot sana dan comot sini, penulis artikel hendak melakukan penipuan yg besar thdp ummat tetapi sesungguhnya dia menipu diri sendiri, naudzubillah….ehm…

    Hadits dari Jabir bin Abdullah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam sering mengatakan dalam khutbahnya:

    “Amma ba’ad.”Sesungguhnya sebenar-benar ucapan adalah Kitabulloh (Al-Quran) dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Nabi Shalallahu ‘alai wassalam (As-Sunnah). seburuk-buruk perkara adalah perkara yg diada-adakan (dlm agama), setiap yg diada-adakan (dlm agama) adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di Neraka.”

    Maka suatu amalan dapat digolongkan sebagai bid’ah:

    1. Amalan tersebut baru, diada-adakan atau dibuat-buat.
    2. Amalan tersebut disandarkan sebagai bagian dari ajaran agama.
    3. Amalan tersebut tidak memiliki landasan dalil baik dari dalil yang sifatnya khusus atau umum. (Qowa’id Ma’rifatil Bida’, Muhammad bin Husain Al Jizaniy, hal. 18)

    Sesuatu yg tidak dilakukan oleh Rasulullah tidak lepas dari tiga keadaan :

    1. Rasulullah tidak melakukan karena belum ada pendorongnya, misalnya, ilmu nahwu yang ada pada zaman Rasulullah.
    2. Rasulullah tidak melakukan karena masih ada penghalangnya, misalnya pembukuan al-Qur’an, karena al-Qur’an pada saat itu masih terus turun.
    3. Rasulullah tidak melakukan, padahal pendorongnya ada, dan penghalangnya tidak ada, namun Rasulullah tinggalkan, berarti ini tidak disyari’atkan, inilah yg dinamakan “bid’ah”. (Al I’tisham 1/361, majmu’ fatawa ibnu taimiyah 26/172)

    Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari surga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu ” (HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)

    Jelas bahwa amalan yg tdk ada contoh sebelumnya dari Nabi dan para Sahabat merupakan bid’ah, spt halnya tahlilan, yasinan, maulid, menujun hari, dan lain sebaginya, apakah dizaman Nabi dan Para Sahabat amalan tsb bisa dilakukan?? ya jelas bisa donk, tapi mengapa Beliau tdk melakukan??

    Loh mengapa umat islam sekrg ini melakukannya?? apakah Islam yg dibawa Nabi waktu itu belum sempurna?? sehingga amalan2 yg tdk ada contohnya diamalkan?? naudzubillah, ya Alloh berilah hidayah bagi org2 yg menyebarkan berita2 bohong ini ya Alloh….

    Alloh berfirman :” …..Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu utkmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu..” (QS Al-Ma’idah 3)

    Malik bin Anas Rahimahullah berkata: “Barangsiapa yang melakukan suatu bid’ah dalam Islam yang dia menganggap baik bid’ah tersebut, maka sungguh ia telah menuduh bahwa Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah mengkhianati risalah ini. Sebab Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan bagimu agamu dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam sebagai agamamu”. (QS. Al-Ma’idah: 3) Oleh sebab itu apa saja yang bukan merupakan agama pada hari itu, maka ia bukan termasuk agama pada hari ini”( al-I’tisham oleh asy-syaathibiy,1/64)

    Asy-Syaukani Rahimahullah berkata : ”Maka jika Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menyempurnakan agama-Nya sebelum Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam wafat, maka apa artinya pendapat bid’ah yang di buat buat oleh kalangan ahli bid’ah tersebut!!? Kalau memang hal tersebut merupakan agama menurut mereka,, berarti mereka telah beranggapan bahwa agama ini belum sempurna kecuali dengan tambahan pemikiran mereka, dan itu berarti pmbangkangan terhadap Al Qur’an. Kemudian jika pemikiran mereka itu tidak termasuk dalam agama, maka apa manfaatnya mereka meyibukan diri mereka dengan sesuatu yang bukan dari agama ini”!?

    Dari ‘Irbadh bin Saariyah [/i]Radhiyallahu ‘anhu[/i] ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam pernah memberikan kepada kami suatu nasihat yang menggetarkan hati dan membuat air mata kami berlinang, lalu kamipun berkata: “Ya Rasulullah sepertinya ini merupakan nasehat perpisahan maka nasehatilah kami wahai Rasulullah! Beliaupun lalu bersabda:

    “Aku wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla, (agar) mendengarkan dan mentaati, sekalipun kalian diperintah oleh seorang hamba sahaya. Karena sesungguhnya barangsiapa di antara kalian yang dipanjangkan umurnya, maka ia akan melihat banyak terjadi perselisihan (dalam agama), maka hendaklah kalian berpegang dengan sunnahku dan sunnah khulafa’urrasyidin yang mendapatkan petunjuk sesudahku, berpegang teguhlah padanya, gigitlah sunnah itu dengan gigi gerahammu. Dan berhati-hatilah kamu terhadap perkara-perkara yang dibuat-buat (dalam agama), karena sesungguhnya setiap bid’ah itu adalah kesesatan.” (HR. Ahmad 4/126, Abu Dawud no. 4607, At-Tirmidzy no. 2676, Ibnu Majah no. 44, Ad-Darimy (1/44-45).

    telah terang sudah saudara2ku, bertobatlah memohon ampun pd Alloh azza wa jalla, sesungguhnya Alloh maha pengampun atas dosa2, dan saran bagi penulis artikel agar berhati-hati dlm menukil…, ingat penglihatan, pendengaran, perbuatan akan dipertanggung jawabkan dihadapan Alloh subhanahu wata’ala…

    wallahu’alam bishsowab…..

    1. @abu dzar
      Ini ane ambil dari Kitab Umar Bin Khatab ra karangan Muhammad Husein Haekal Hal : 695-6, tanpa dikurang titik komanya, buku terbaik yg universal tentang riwayat sahabat dan diakui Profesor2 Islam dunia.
      Sehubungan dengan Sunnah Rasulullah ini Umar memegang peranan penting sekali yang patut kita perhatikan dengan seksama. Umar termasuk orang sangat kuat imannya kepada Allah dan kepada Rasulullah dan yang sangat besar hasratnya ingin mengikuti segala yang dibawa oleh Rasulullah yang datang dari Allah serta meneladani segala yang dikatakan dan dilakukan oleh Rasulullah saw. Tetapi juga besar sekali hasratnya tidak ingin mencampuradukan Kitabullah dengan apapun dan merintangi apa yang kadang memalingkan Muslimin dari Al Qur’anul Karim. Dalam hal ini ia sangat kuat mematuhi prilaku Rasulullah dan prilaku Abu Bakar ra sesudahnya. Mengutip sumber tentang Rasulullah yang berkata :
      “Jangan menuliskan sesuatu tentang aku selain Qur’an. Barang siapa menuliskan itu selain Al Qur’an, hendaklah dihapus.”
      Dan katanya lagi : “Kalian akan berselisih sesudah kutinggalkan. Karena nya, apa yang dikatakan orang tentang diriku, cocokkanlah itu dari aku dan mana yang bertentangan, bukan dari aku.”
      Dari kecenderungan inilah yang dilihat Umar dalam kehidupan Nabi sampai ia wafat.

      Hal diatas ane nukil pada saat Umar bin khatab, membukukan Al Qur’an.
      Pertanyaan ane, bagaimana dengan kitab-kitab hadist, kitab fatwa dan ijma ulama yang ada sekarang, apakah gak bid’ah semuanya?

  52. Ya Alloh Ya tuhanku sesungguhnya aku memohon ampun kepada-mu dan bertaubat kepada-mu.
    Ya Alloh betapa banyak kesalahanku di dalam beribadah kepada-mu yang jauh dari sunnah nabi-mu dan jauh dari sunnah generasi terbaik umat ini yang telah aku lakukan. jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi. maka dari itu ampunilah kesalahan-kesalahanku dan terimalah taubat-ku, sesungguhnya engkau maha pengampun lagi maha penerima taubat.
    Ya Alloh bukakanlah hatiku agar aku dapat menerima kebenaran yang datangnya darimu dan istiqomahkanlah aku di dalam mengamalkannya.
    orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.

    1. @Gunawan :
      Doa saudara baik dan boleh-boleh saja, tapi coba jelaskan tentang maulid ala Salafy Wahabi di 2 situs yang saya sebutkan. Bukankah tadinya saudara menantang menunjukkan bukti. Saya tunggu.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  53. Mas Abu Dzar,

    Nggak perlu membabi buta gitu, coba baca lagi coment kami dalam “Bantahan Untuk Ust. Abu Zamil”, disana disebutkan kok pendapat Imam As Syaukani dalam masalah tahlilan, Yasinan yang anda tuduh bid’ah….

  54. @Abu Dzar :
    Sudah baca jawaban saya diatas dengan merujuk pada keterangan yang jelas, bagaimana ulama Salafi Wahabi membuat fatwa yang keblinger yaitu dengan mengatakan haram dan bid’ah kepada kaum Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang memperingati Maulid Junjungan Kita Rasulullah Muhammad SAW. yang jelas sebagai suri tauladan dan pemegang syafaat yang utama dengan berharap bahwa dengan memperingatinya kita mengetahui dan memahami perjalanan hidup dan suri tauladan beliau, sementara ulama Salafy Wahabi malah menganjurkan memperingati Maulid Kerajaan Saudi, Maulid Abdul Wahab bahhkan Maulid Utsaimin.

    Bagaimana saudara menyuruh saya bertaubat padahal kami mengikut Kyai dan Habaib, para pecinta Rasulullah SAW. daripada seperti fatwa ulama saudara sekalian yang keblinger. Ingat, Rasulullah SAW. lebih mulia dan berhak disanjung daripada ulama kalian yang suka “ngafirke marang liyane”, sementara “kafire dewe ora digatekke”. Sebaiknya saudara sekalian yang rujuk dan bertaubat bersama-sama kami.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  55. @prass

    sudahlah, tak usah memaksakan,biarlah…
    lebih baik antum ke halaman tetangga salafy sebelah,saja..nanti tak cariin yang nggak pakai moderasi,
    moga2 mas syahid,dianth,ajam masih setia berkunjung ke ummatinya..

  56. @bu hilya, afwan, jangan Ge Er dulu antum, siapa yg membabi buta?? Ana memberikan dalil (As-Sunnah) antum blg membabi buta, coba buka lagi hati antum yg telah dibutakan oleh kebatilan, gini simpel aja y, coba antum jwb pertanyaan ana, apakah pernah Nabi dan Para sahabat melakukan yasinan?? atau Tahlilan?? atau Maulidan?? atau Doa berjama’ah?? HARAP DIJAWAB JIKA ENGKAU BENAR??? DAN SERTAKAN SUMBERNYA /DALILNYA YG SAHIH, AYO..ANA TUNGGU,

    Pertanyaan ini jg buat yg lain, jika ada dalil yg sahih dan pernah Nabi dan Para sahabat melakukannya ana pasti akan mengamalkannya, dan Bila ternyata TIDAK ADA…., Ana pasti akan meninggalkannya…….

    1. Mas Abu Dzar,

      Anda menganggap Imam as Syaukani memandang Bid’ah dalam masalah tahlilan, padahal sudah saya sampaikan pendapat beliau tentang perkumpulan tahlilan yang menyatakan bahwa “Barang siapa beranggapan hal tersebut adalah bid’ah berarti Faqod Akhtho’a, coba antum buka dulu dalam ar Rosa-ilu as Salafiyah, nggak usah sewot dulu…

    2. @abu dzar
      Coba ente lihat koment-koment sebelunya ya.
      Sekarang coba dijawab : apakah pernah Nabi dan para sahabat shalat memakai Sajadah, memakai Kitab Al qur’an dalam mengajar, apakah Rasulullah dan sahabat membangun masjid secara megah. Dalilnya ane tunggu.

      ane copas koment ente ya ….”Bila ternyata TIDAK ADA…., Ana pasti akan meninggalkannya…….”.
      Kalau gak ada ente wajib mengamalkan koment ente.

  57. @mas Derajat, apakh antum beriman pd Kitabulloh (Al-Quran)??? apakah antum engkar/membangkang pada Al-Quran (Al-Ma’idah ayat 3)?? ga usah jauh2 memberi Dalil yg tdk jelas kabsahannya….., Coba Buka hati antum yg telah dibutakan oleh kesesatan…. renungkan Al-Quran dan Hadits Nabi Shalallhu’alaihiwassalam……

  58. @Mas Derajat, : Afwan akhi, hati2 dlm berbicara, Astagfirulloh, tdk adakah perkataan kotor selain itu?? mencap Para Periwayat hadits salah satunya Imam Muslim kafir??? mencap dalil Al-Quran khusunya yg ana jelaskan di atas Al-ma’idah ayat 3 kafir??? naudzubillah, apakah antum lebih mulia, apakah kiai2 antum lebih mulia dari Rasul?? renungkan lagi ya, jangan berbicara dgn menurutkan nafsu saja, hati2 berbicara nti masuk neraka sampaian…

  59. @Abu Dzar :
    Hai Abu Dzar, sudah jelas kelompokmu itu suka mengafirkan ke orang lain. Saya sudah menunjukkan fakta 2 situs yang membahas Maulid kelompokmu yang justru jauh dari tuntunan, kalau maulid kami jelas mengenalkan siapa junjungan umat Islam, yaitu Rasulullah SAW., justru dengan alasan tidak jelas saudara mengatakan saya ingkar pada Qur’an terkhusus Al Maidah ayat 3, dan hadits terkhusus sahih Imam Muslim, sungguh jawaban yang ngawur dan lompat-lompat. Sangat benar bahwa saudara kelompok yang suka main potong ayat Qur’an dan hadits, serta mengartikan sesuai akal pikiran saja. Betapa dangkal pemahamanmu. Bahkan asbabun nuzul ayat tidak diperhatikan.

    Terpenting dalam pesan saya adalah silahkan jelaskan 2 alamat situs tentang Maulid ala Salafy Wahabi itu yang lebih memuliakan ulama dan negara Wahabi, daripada memulyakan Rasulullah Muhammad SAW. Jelaskan daripada mengatakan sesuatu yang tidak jelas, apalagi mengkafirkan umat Islam yang lain.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  60. Abu Hilyah
    sebenarnya hujjah yang kami bawa belum terbantahkan antum hanya memberikan perkataan-perkataan ulama saja… tapi oke ana hargai itu…
    coba antum bantah dengan ayat qur’an atau hadits nabi yang shahih.. ingatlah setiap perkataan manusia itu bisa salah bisa juga benar sehingga perkataannya bisa kita bantah tapi yang tidak bisa kita bantah adalah Allah dan Rasul-Nya karena kebenarannya adalah mutlak..
    dan antum juga harus tahu dari mana ulama tersebut mengambil perkataannya itu? dan apakah antum bisa membuktikan para ulama yang perkataannya antum jadikan dalil untuk membenarkan amalan antum pernah berbuat amalan seperti yang antum amalkan ??
    Bila dibandingkan hujjahnya para ulama yang membid’ahkan jelas itu lebih kuat dari hujjahnya yang antum bawa hanya sekedar perkataan manusia

    1. Ust. Abu Zamil,

      Anda berpendapat dan merasa bersandar pada al qur’an dan hadits itu sah-sah saja, tapi ketika anda menuduh pendapat para Ulama tidak bersandar pada al qur’an dan Sunnah ini yang luar biasa, santai saja ustadz!!! biar nggak kepleset…

      Sebuah pertanyaan buat anda : ” Tunjukkan kepada saya letak keutamaan anda, sehingga ana harus meninggalkan pendapat Imam As Syaukani dan lebih memilih pendapat anda.

      Selanjutnya ana merespek setinggi-tingginya kepada anda yang merasa lebih hebat dari para ulama’ sehingga mampu menganalisa dan mengunggulkan pendapat sebagian ulama dan melemahkan pendapat yang lain. Lihat coment anda :

      Bila dibandingkan hujjahnya para ulama yang membid’ahkan jelas itu lebih kuat dari hujjahnya yang antum bawa hanya sekedar perkataan manusia

  61. Ust. Abu Zamil,

    Membaca coment anda ana jadi teringat dialog antara Buya Yahya vs Prof. Salim Bajri, dimana setelah ditunjukkan pendapat para Ulama ia meminta Hadits yang shohih dengan alasan karena para Ulama tidak ma’shum, lantas setelah ditunjukkan dalil dari Hadits-Hadits Shohih iapun enggan mengakui kesalahannya karena beranggapan Nabi pun bisa salah dengan mengajukan ayat Surat “‘Abasa” dan ” At Tahrim “, namun setelah ditunjukkan bukti ayatpun ia tetap belum sepenuhnya dapat menerimanya. Menurut kesimpulan saya ternyata Prof. Salim Bajri dan mungkin juga anda hanya mau Taslim (menerima) pada pendapat yang menguntungkan diri dan kelompoknya.

    Lantas apa jaminannya jika ana dapat menunjukkan bukti-bukti dari hadits-hadits shohih atau al qur’an apa anda akan mengikutinya atau setidaknya berhenti mem-Bid’ahkan ummat yang tidak sama dengan anda?

  62. 21 Dalil Jawaban Peringatan Maulid

    Bismillah,

    Sebelum kami kemukakan Dalil atau Hujjah Maulid perlu sebelumnya kami sampaikan beberapa hal:

    Pertama : Kami berpendapat BOLEH dalam hal Perayaan Maulid dan berkumpul untuk mendengarkan Siroh Nabi SAW, serta bersholawat salam atas Beliau dan mendengarkan pujian-pujian yang memang pantas bagi Beliau.

    Kedua : Kami tidak pernah MEN-SUNNAH-KAN Perayaan Maulid pada malam tertentu, semisal setiap 12 Robi’ul Awal atau setiap Senin, karena bagi kami mengingat dan menyebut Beliau adalah kebaikan ( Amal Sholih ) yang tidak dibatasi pelaksanaannya, meskipun mengingat dan bersyukur atas jasa Beliau lebih menggugah hati jika bertepatan dengan hari kelahiran Beliau SAW.

    Ketiga : Berkumpul dalam Perayaan Maulid adalah WASILA KUBRO untuk berdakwa mengajak diri dan Ummat kejalan Alloh, dan itu merupakan kesempatan emas yang tidak sepatutnya dilewatkan, bahkan wajib bagi para Da’i, para Ulama, senantiasa mengingatkan Ummat ini pada Nabinya, tentang Akhlaqnya, kesantunannya, Sirohnya, Ibadahnya dst… Sehingga Perayaan Maulid Nabi bukanlah tujuan melainkan wasilah untuk mencapai tujuan Mulia. Berkata As Sayyid Muhammad bin ‘Alwi “Barang siapa yang tidak mampu mengambil sedikitpun manfaat dari agamanya maka ia terhalang dari kebaikan kelahiran Nabi SAW, yang mulia”.

    DALIL BOLEHNYA MERAYAKAN (IKHTIFAL) MAULID NABI SAW

    Pertama : Perayaan Maulid Nabi yang mulia adalah sebagai salah satu ungkapan wujud kegembiraan dan kebahagiaan karena diutusnya Beliau. Bukankah berbahagia dan bergembira karena kelahiran Beliau telah memberikan kemanfaatan kepada Abu Lahab yang ekspresi kegembiraannya ketika kelahiran Rosululloh SAW, ia memerdekakan budak perempuannya (Tsuwaybah) dan ia jelas-jelas kafir, sebagaimana Hadits riwayat Imam Bukhory :

    حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ أَنَّ زَيْنَبَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّ أُمَّ حَبِيبَةَ بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ أَخْبَرَتْهَا أَنَّهَا قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ انْكِحْ أُخْتِي بِنْتَ أَبِي سُفْيَانَ فَقَالَ أَوَتُحِبِّينَ ذَلِكِ فَقُلْتُ نَعَمْ لَسْتُ لَكَ بِمُخْلِيَةٍ وَأَحَبُّ مَنْ شَارَكَنِي فِي خَيْرٍ أُخْتِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ ذَلِكِ لَا يَحِلُّ لِي قُلْتُ فَإِنَّا نُحَدَّثُ أَنَّكَ تُرِيدُ أَنْ تَنْكِحَ بِنْتَ أَبِي سَلَمَةَ قَالَ بِنْتَ أُمِّ سَلَمَةَ قُلْتُ نَعَمْ فَقَالَ لَوْ أَنَّهَا لَمْ تَكُنْ رَبِيبَتِي فِي حَجْرِي مَا حَلَّتْ لِي إِنَّهَا لَابْنَةُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ أَرْضَعَتْنِي وَأَبَا سَلَمَةَ ثُوَيْبَةُ فَلَا تَعْرِضْنَ عَلَيَّ بَنَاتِكُنَّ وَلَا أَخَوَاتِكُنَّ قَالَ عُرْوَةُ وثُوَيْبَةُ مَوْلَاةٌ لِأَبِي لَهَبٍ كَانَ أَبُو لَهَبٍ أَعْتَقَهَا فَأَرْضَعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا مَاتَ أَبُو لَهَبٍ أُرِيَهُ بَعْضُ أَهْلِهِ بِشَرِّ حِيبَةٍ قَالَ لَهُ مَاذَا لَقِيتَ قَالَ أَبُو لَهَبٍ لَمْ أَلْقَ بَعْدَكُمْ غَيْرَ أَنِّي سُقِيتُ فِي هَذِهِ بِعَتَاقَتِي ثُوَيْبَةَ

    Maka Akal yang waras tidak akan mempertanyakan dengan pertanyaan : “Mengapa kalian memperingatinya ?”, karena pertanyaan ini sama saja dengan bertanya : Mengapa kalian bergembira dengan adanya Nabi Muhammad SAW ?”. Ini adalah pertanyaan yang tidak masuk akal bagi orang beriman.

    Kedua : Rosululloh SAW sendiri mengagungkan hari kelahiran Beliau, sebagaimana Hadits riwayat Imam Muslim :

    و حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ عَنْ غَيْلَانَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَعْبَدٍ الزِّمَّانِيِّ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ الْأَنْصَارِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْه ُأَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ صَوْمِ الِاثْنَيْنِ فَقَالَ فِيهِ وُلِدْتُ وَفِيهِ أُنْزِلَ عَلَيَّ

    Puasa Rosululloh SAW, pada hari senin mengandung pengertian bahwa Beliau merayakan Kelahirannya, meskipun dengan bentuk yang berbeda dengan apa yang kita lakukan, namun makna yang terkandung didalamnya yakni bersyukur dan berbahagia atas kelahiran Beliu SAW, tetap ada.

    Ketiga : Bergembira dan berbahagia karena kelahiran Rosululloh SAW, adalah perkara yang dituntut oleh Alloh, sebagaomana terdapat dalam al qur’an S. Yunus : 58

    قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

    Artinya : “Katakanlah : “ Dengan karunia Alloh dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira, karunia Alloh dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan “. (QS. Yunus : 58)

    Dan rahmat terbesar didunia ini adalah Baginda SAW, sebagaimana dalam al qur’an :

    وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

    Artinya : “ Dan tiadalah kami mengutus kamu melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam “. (QS. Al Anbiya : 107)

    Keempat : Nabi SAW, senantiasa memperhatikan kaitan antar masa dan kejadian-kejadian keagamaaan yang besar yang telah lewat. Apabila datang waktu ketika peristiwa itu terjadi, itu merupakan kesempatan untuk mengingatnya dan mengagungkan harinya. Sebagaimana yang kita jumpai dalam hadits-hadits shohih diantaranya tentang hari ‘Asyuro.

    Kelima : Peringatan Maulid Nabi, meskipun tidak ada dizaman Rosululloh SAW, sehingga merupakan bid’ah, namun ia adalah bid’ah hasanah karena ia tercakup dalam dalam dalil-dalil syara’ dan kaidah-kaidah kulliyah, dan ia dipandang bid’ah dari segi kemasannya belaka bukan rangkaian isi yang terkandung didalamnya.

    Keenam : Peringatan Maulid Nabi SAW, mendorong orang untuk bersholawat salam atas Beliau, dan ini diperintahkan oleh Alloh dalam QS. Al Ahzab : 56

    إِنَّ اللهَ وَ مَلاَئِكَتَهُ يُصَلّونَ عَلىَ النَّبِيّ يَا أَيُّهَا الّذِيْنَ أمَنُوا صَلّوا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوا تَسْلِيْمًا

    Ketujuh : Dalam peringatan Maulid Nabi disebut tentang kelahiran Beliau, mu’jizat beliau, siroh beliau, dan pengenalan tentang pribadi beliau yang agung. Bukankah kita diperintahkan untuk mengenalnya serta dituntut meneladaninya, mengimani mu’jizatnya, membenarkan ayat-ayat yang disampaikannya? Dan kitab-kitab maulid adalah karya yang merangkum itu semua.

    Kedelapan : Peringatan Maulid Nabi adalah salah satu cara untuk menunjukkan balas budi kita kepada beliau dengan menunaikan sebagian kewajiban kita kepada beliau dengan menjelaskan sifat-sifat beliau yang utama dan akhlaq beliau yang agung. Dimasa Nabi para penyair datang melantunkan qoshidah-qoshidah yang memuji beliau, diantaranya ada Ka’ab bin Zuhair (sebagaimana diriwayatkan Imam al Bayhaqi dalam Sunan al Kubro-nya), dan Rosululloh ridho dengan apa yang mereka lakukan. Kalau Nabi SAW, ridho terhadap orang-orang yang memujinya, lalu kenapa ada orang yang tidak suka dengan orang yang menyampaikan keterangan tentang perangai Beliau SAW?

    kesembilan : Mengenal perangai beliau SAW, mu’jizatnya, irhas-nya (kejadian-kejadian luar biasa yang Alloh berikan kepada seorang Rosul sebelum diangkat menjadi Rosul), dapat membuahkan bertambahnya iman, menambah mahabbah, karena adalah sudah menjadi watak manusia menyukai dan mengagumi keindahan baik “KHULUQON” maupun “KHOLQON”. Dan tidaklah ada diantara para makhluq yang lebih sempurna “KHULUQON” maupun “KHOLQON” melebihi Rosululloh SAW. Bukankah menambah Mahabbah dan Iman adalah sesuatu yang dituntut oleh Syara’? maka hal yang dapat mendorong perkara yang dituntut Syara’ adalah dituntut pula sepanjang tidak menyalahi dalil-dalil syar’iy.

    Kesepuluh : Memuliakan Rosululloh SAW adalah perkara yang diperintahkan agama, dan bergembira dihari kelahiran beliau dengan menampakkan kebahagiaan dan membuat jamuan-jamuan, berkumpul untuk berdzikir, menyantuni yang faqir, adalah bagian dari menampakkan kebahagiaan dan pengagungan kepada beliau serta rasa syukur kepada Alloh yang telah memberi hidayah berupa agama yang qowiim.

    Kesebelas : Dalam sebuah sabda Nabi SAW tentang keutamaan hari jum’at, disebutkan baha salah satu diantara maziyahnya adalah “ Pda hari itu Adam AS, diciptakan “. Hal ini menunjukkan kemuliaan waktu dimana seorang Nabi dilahirkan, maka bagaimana dengan hari dilahirkannya Rosululloh SAW? Sayyidu Waladi Adam… sekali lagi bukankah Rosululloh menganggap penting terhadap peristiwa-peristiwa besar keagamaan? Sehingga beliau pernah Sholat di “Baitul Lahm” karena disana tempat dilahirkannya Nabi Isa AS…

    Kedua belas : Peringatan Maulid Nabi adalah hal yang dipandang baik oleh para Ulama dan ummat islam dipenjuru Negri (selain dalam komunitas salafi wahabi tentunya) dan sudah berlangsung ratusan tahun, bukankah sebuah kaidah yang bersandar pada perkataan Ibnu Mas’ud yang ditakhrij oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya :

    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ عَنْ زِرِّ بْنِ حُبَيْشٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ إِنَّ اللَّهَ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ فَابْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ فَوَجَدَ قُلُوبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ يُقَاتِلُونَ عَلَى دِينِهِ فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ وَمَا رَأَوْا سَيِّئًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ سَيِّئٌ

    “ Apa yang dipandang baik oleh ummat islam maka baik pula disisi Alloh, dan apa yang dipandang buruk oleh ummat Islam maka buruk pula disisi Alloh “

    Ketiga belas : Dalam Peringatan Maulid Nabi terangkum didalamnya Perkumpulan Dzikir, Shodaqoh, memuji dan pengagungan pada baginda Nabi SAW, dan ini adalah perkara-perkara yang diperintahkan agama.

    Keempat belas : Firman Alloh SWT,

    وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ وَجَاءَكَ فِي هَذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَذِكْرَى لِلْمُؤْمِنِينَ

    “ Dan semua kisah-kisah para Rosul, Kami ceritakan kepadamu yang dengannya kami teguhkan hatimu “ (QS. Hud:120)

    Dari ayat diatas jelaslah bahwa diantara hikmah dikisahkannya para Rosul adalah untuk meneguhkan hati Nabi SAW. Maka sesungguhnya kita lebih membutuhkan peneguhan hati dengan mengetahui berita-berita tentang Nabi SAW, lebih dari kebutuhan beliau akan kisah para Nabi sebelumnya.

    Kelima belas : Tidak setiap yang tidak dikerjakan oleh Salaf dan tidak ada pada masa masa qurun terbaik adalah Bid’ah Munkaroh dan buruk yang haram untuk dikerjakan ummat Islam pada saat ini, namun sesuatu yang baru tersebut haruslah diuji dulu dan di-crosschek dengan dalil-dalil syara’, apakah ia tercakup dalam dalil-dalil syara’ atau menyalahinya, jika ia tidak menyalahi dalil-dalil syara’, maka ketahuilah bahwa LIL WASAA-IL HUKMUL MAQOOSHID.

    Keenam belas : Sesuatu yang rangkaian atau kemasannya (ijtima’iyyah-nya) tidak terdapat dalam “masa awal” namun isi muatannya (afrod-nya) berupa hal yang diperintahkan syara’, maka sesuatu tersebut diperintahkan pula.

    Ketujuh belas : Tidaklah setiap Bid’ah adalah Haram dan sesat, karena jika demikian adanya maka bagimana dengan penghimpunan al qur’an oleh Kholifah Abu Bakar, yang khawatir akan kepunahan al qur’an mengingat banyaknya para penghafal al qur’an yang syahid? Padahal Alloh telah menjamin dalam Firman-Nya: “ Sesungguhnya Kami telah menurunkan adz-Dzikro, dan sesungguhnya kami adalah Pelindung baginya”. Dan haramlah apa yang dilakukan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khotthob dalam menghimpun Jama’ah tarowih dengan satu imam, juga Haram pula apa yang dilakukan Amirul Mukminin Utsman bin Affan yang telah menambah adzan jum’ah hingga tiga kali, bukankah semua itu terjadi setelah Alloh menyatakan kesempurnaan agama-Nya sebagaimana yang terkandung dalam QS. Al Maidah : 3. Juga Haram pula segala macam Ilmu seperti Tajwid, Qiro’ah, Nahwu-Shorof, Mustholah Hadits, dll, juga Haram pula pendirian –pesantren-pesantren, Majlis Ta’lim, Panti asuhan dan kebaikan-kebaikan yang lain… Renungkanlah kembali konsep anda tentang Bid’ah!!!

    Kedelapan belas : Imam Syafi’iy menjelaskan tentang Bid’ah :

    ما أُحدِثَ وخالف كتاباً أو سنة أو إجماعاً أو أثراً فهو البدعة الضالة، وما أُحْدِثَ من الخير ولم يخالف شيئاَ من ذلك فهو البدعة المحمودة

    “ Segala sesuatu yang di ada-adakan dan menyalahi al qur’an, atau sunnah, atau ijma’ atau atsar, maka itulah Bid’ah Dholalah, sedang sesuatu yang berupa kebaikan yang diadakan dan tidak menyalahi sesuatupun dari semua maka ia adalah yang terpuji “

    Kesembilan belas : Setiap kebaikan yang tercakup dalam dalil-dalil Syara’ dan tidak dimaksudkan menyalahi syari’at serta tidak terdapat kemunkaran didalamnya, maka sesuatu tersebut termasuk ajaran agama. Adapun pendapat sebagian kelompok ekstrim yang mengatakan “INI TIDAK DILAKUKAN OLEH PARA SALAF”, tidak bisa dijadikan dalil sekaligus membuktikan tidak adanya dalil atas pendapat mereka. Bukankah Rosululloh memberi keluasan dalam mengerjakan kebaikan sepanjang tidak bertentangan dengan syari’at? Sebagaimana Hadits Riwayat Imam Muslim :

    مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

    “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)

    Kedua puluh : Memperingati Maulid Nabi SAW, berarti menghidupkan ingatan (kenangan) tentang Rosululloh SAW, dan itu menurut kami Masyru’ adanya. Sebagaimana yang anda lihat dalam sebagian besar amaliyah dalam Haajji pun menghidupkan ingatan tentang peristiwa-peristiwa terpuji yang telah lalu.

    Kedua puluh satu : Sebagai penutup kami berikan catatan bahwa : Peringatan Maulid sebagaimana dalil-dalil yang telah kami sampaikan akan menjadi amalan terpuji jika didalamnya tidak disertai kemungkaran (perbuatan-perbuatan tercela) semisal di rayakan dengan menghadirkan musik-musik yang nyimpang, atau menciptakan huru-hara, dll.

    PENDAPAT SYAIKHUL ISLAM IBNU TAIMIYYAH TENTANG MAULID

    Berkata Ibnu Taimiyyah :

    فتعظيم المولد واتخاذه موسما قد يفعله بعض الناس ويكون له فيه أجر عظيم لحسن قصده وتعيظمه لرسول الله صلى الله عليه وآله وسلم كما قدمته لك أنه يحسن من بعض الناس ما يستقبح من المؤمن المسدد ولهذا قيل للامام أحمد عن بعض الأمراء إنه أنفق على مصحف ألف دينار ونحو ذلك فقال دعه فهذا أفضل ما أنفق فيه الذهب أو كما قال ( إقتضاء الصراط المستقيم جز 1 ص 297)

    Maka mengagungkan Maulid Nabi SAW, dan menjadikannya sebagai musim raya sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian manusia dan akan begitu adanya, terdapat pahala yang besar didalamnya karena baiknya tujuan Mauild dan adanya pengagungan pada Rosululloh SAW, sebagaimana yang telah aku sampaikan pada anda.” (Ibnu Taymiyyah dalam Iqtidho’us Shirothil Mustaqim, Juz I hal 297)

    Disarikan dari kitab Dzikroyaat wa Munaasabaat karya Prof. Dr. As Sayyid Muhammad bin ‘Alwi bin Abbas al Maliki.

    Wallohu a’lam.

  63. supaya tidak ribut, yang ingin umat islam bersatu dan tidak berpecah belah, marilah kita beribadah mencontoh rosululloh muhammad sholollohu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. insya Alloh umat islam akan bersatu.

  64. Imam Syaukani adalah seorang ulama yang harus dihormati pendapatnya akan tetapi bukan berarti kita langsung membenarkan pendapatnya tapi yang harus kita lkukan adalah meneliti dan mengetahui dari mana beliau berpendapat seperti itu dan kenapa ada ulama yang berbeda dengan pendapatnya..
    JIKA TERJADI PERBEDAAN PENDAPAT DIANTARA PARA ULAMA MAKA AMBILAH PENDAPAT YANG LEBIH MENDEKATI SUNNAH NABI / KEBENARAN DENGAN TETAP MENGHORMATI DAN MEMULYAKAN PENDAPAT ULAMA YANG TIDAK KITA AMBIL PENDAPATNYA inilah sikap kami terhadp ulama wahai saudara.. bukan menghina mereka jika berbeda pendapat dengan keinginan kita seperti kawan-kawan antum yang merendahkan para ulama………..
    jadi tuduhan yang keji jika antum menuduh saya adalah orang yang merasa lebih hebat dari Imam Asy-Syaukani INGAT SAYA HANYA MENGAMBIL PENDAPAT DARI ULAMA YANG MENURUT SAYA HUJJAHNYA LEBIH KUAT DENGAN TETAP MENGHORMATI MEREKA JUGA TIDAK MENGHINA MEREKA BAHKAN SAYA MEMOHON AGAR ALLAH MENGAMPUNKAN APABILA ADA KEKELIRUAN YANG DILAKUKANNYA
    coba baca lagi deh di komen ana tentang masalah tahlil dari awal sampe akhir dan antum bandingkan dengan hujjah antum mana yang lebih kuat???
    dan jika antum bisa buktikan kalo Rasulullah pernah lakukan amalan tersebut dengan menunjukkan hadits atau dengan ayat alqur’an Insya Allah ana ikut antum… tapi kalo antum

    1. @abu zamil
      Ane dan kawan disini gak pernah merendahkan ulama-ulama, yang ane koment silahkan ente crosschekh sama kitab aslinya, atau ente cek di blog yang ane kasih dikoment sebelumnya.

      Dalil al Qur’an dan Hadist yang memperkuat koment ane (ini koment ane ya), karena ente minta dalilnya.
      Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan CARILAH JALAN yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (al Maidah:35)
      “Bersabarlah kamu (tekunlah kamu) takkala bersama dengan orang-orang yang MENYERU kepada Tuhan mereka (berdoa dan berzikir), sejak pagi ataupun petang, dalam mengharapkan RidhaNya…” (Al-Kahfi: 28)
      Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.(al Ahzab:56)
      Hadist Nabi saw :
      Hadist yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal berasal dari Anas ra (lihat Musnad Imam Ahmad bab Anas ra), bahwa Rasulullah bersabda :
      Amal perbuatan kalian akan dipelihatkan kepada sanak keluarga yang telah meninggal dunia. Jika baik, mereka akan menyambutnya dengan gembira, jika tidak demikian, mereka berdoa, “Ya Allah, janganlah mereka Engkau wafatkan sebelum kepada mereka Engkau berikan hidayah seperti yang telah Engkau berikan kepada kami.”
      Juga Al Hafidz Ismail al Qadhi dalam Kitabnya Shalawat ala Nabiy :
      Hidupku baik bagi kalian dan wafatku pun baik bagi kalian. Kalian berbicara dan aku (Rohku) pun berbicara kepada kalian. Amal perbuatan kalian diperlihatkan (Allah) kepadaku. Bila aku melihat amal yang baik, kupanjatkan puji syukur kepada Allah dan jika melihat amal yang buruk, kumohonkan ampunan kepada Nya bagi kalian.
      Hadist tersebut juga dinilai shahih oleh Al Haitsami dalam kitabnya Majma’uz Zawa’id.

      Ane dan kawan2 mohon maaf jika ada kata-kata yang salah.

  65. Imam Syaukani adalah seorang ulama yang harus dihormati pendapatnya akan tetapi bukan berarti kita langsung membenarkan pendapatnya tapi yang harus kita lkukan adalah meneliti dan mengetahui dari mana beliau berpendapat seperti itu dan kenapa ada ulama yang berbeda dengan pendapatnya..
    JIKA TERJADI PERBEDAAN PENDAPAT DIANTARA PARA ULAMA MAKA AMBILAH PENDAPAT YANG LEBIH MENDEKATI SUNNAH NABI / KEBENARAN DENGAN TETAP MENGHORMATI DAN MEMULYAKAN PENDAPAT ULAMA YANG TIDAK KITA AMBIL PENDAPATNYA inilah sikap kami terhadp ulama wahai saudara.. bukan menghina mereka jika berbeda pendapat dengan keinginan kita seperti kawan-kawan antum yang merendahkan para ulama………..
    jadi tuduhan yang keji jika antum menuduh saya adalah orang yang merasa lebih hebat dari Imam Asy-Syaukani INGAT SAYA HANYA MENGAMBIL PENDAPAT DARI ULAMA YANG MENURUT SAYA HUJJAHNYA LEBIH KUAT DENGAN TETAP MENGHORMATI MEREKA ULAMA YANG TIDAK SAYA AMBIL PENDAPATNYA JUGA TIDAK MENGHINA MEREKA BAHKAN SAYA MEMOHON AGAR ALLAH MENGAMPUNKAN APABILA ADA KEKELIRUAN YANG DILAKUKANNYA
    coba baca lagi deh di komen ana tentang masalah tahlil dari awal sampe akhir dan antum bandingkan dengan hujjah antum mana yang lebih kuat???
    dan jika antum bisa buktikan kalo Rasulullah pernah lakukan amalan tersebut dengan menunjukkan hadits atau dengan ayat alqur’an Insya Allah ana ikut antum… tapi kalo antum

    1. Bismillah,

      Ust. Abu Zamil,

      Inilah pendapat Syaikh Nawawi dalam Nihayatuz Zain :

      والتصدق عن الميت بوجه شرعي مطلوب ولا يتقيد بكونه في سبعة أيام أو أكثر أو أقل وتقييده ببعض الأيام من العوائد فقط كما أفتى بذلك السيد أحمد دحلان وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت في ثالث من موته وفي سابع وفي تمام العشرين وفي الأربعين وفي المائة وبعد ذلك يفعل كل سنة حولا في يوم الموت كما أفاده شيخنا يوسف السنبلاويني أما الطعام الذي يجتمع عليه الناس ليلة دفن الميت المسمى بالوحشة فهو مكروه ما لم يكن من مال الأيتام وإلا فيحرم كذا في كشف اللثام

      Artinya: Adapun sedekah yang pahalanya untuk mayyit dengan cara yang Syar’iy adalah diperintahkan, dan sedekah tersebut tidak dibatasi dengan keberadaannya pada tujuh hari atau lebih banyak atau lebih sedikit, sedangkan pembatasan sedekah dengan sebagian hari hanyalah bagian dari tradisi semata sebagaimana yang telah difatwakan oleh As Sayyid Ahmad Dahlan, dan sungguh telah berlaku kebiasaan manusia bersedekah sebagai ganti dari mayyit pada hari ketiga dari kematian si mayyit, dan hari ketujuh, genap dua ouluh, empat puluh, seratus, dan setelah itu dilakukan setiap tahun sebagai “HAUL” dihari kematian, sebagaimana yang telah disampaikan Syaikhuna Yusuf As Sunbulawini. Adapun menghidangkan makanan yang dengan tujuan mengumpulkan orangorang dimalam pemakaman si mayyit yang disebut dengan “AL WAHSYAH” (malam berkabung) maka iadalah makruh selama tidak diambil dari harta yatim, jika tidak, alias diambilkan dari harta yatim, maka Haram sebagaimana yang ada dalam Kasyful Litsam”.

      Dan inilah terjemah anda :

      “Shadaqah untuk mayit, apabila sesuai dengan tuntunan syara’ adalah dianjurkan, namun tidak boleh dikaitkan dengan hari ke tujuh atau hari- hari lainnya, sementara menurut Syaikh Yusuf, telah berjalan kebiasaan di antara orang-orang yang melakukan shadaqah untuk mayit dengan dikaitkan terhadap hari ketiga dari kematiannya, atau hari ke tujuh, atau keduapuluh, atau keempat puluh, atau keseratus dan sesudahnya hingga dibiasakan tiap tahun dari kematiannya, padahal hal tersebut hukumnya makruh. Demikian pula makruh hukumnya menghidangkan makanan yang ditujukan bagi orang-orang yang berkumpul pada malam penguburan mayit (biasa disebut al-wahsyah), bahkan haram hukumhukumnya biayanya berasal dari harta anak yatim”.

      Ustadz, diatas telah ana sampaikan redaksi asli dari kitab Nihatuz Zain yang kebetulan saudara ana ada yang punya, namun ana bingung dari teks yang mana anda menterjemahkan dengan

      namun tidak boleh dikaitkan dengan hari ke tujuh atau hari- hari lainnya, sementara menurut Syaikh Yusuf

      , padahal redaksinya berbunyi:

      والتصدق عن الميت بوجه شرعي مطلوب ولا يتقيد بكونه في سبعة أيام أو أكثر أو أقل وتقييده ببعض الأيام من العوائد فقط كما أفتى بذلك السيد أحمد دحلان

      Pertanyaan ana : Dari mana anda dapati terjemahan namun tidak boleh dikaitkan juga kata sementara menurut Syaikh Yusuf, dan juga dimana terjemah dari kalimat :

      وتقييده ببعض الأيام من العوائد فقط

      selanjutnya dalam terjemah anda :

      telah berjalan kebiasaan di antara orang-orang yang melakukan shadaqah untuk mayit dengan dikaitkan terhadap hari ketiga dari kematiannya, atau hari ke tujuh, atau keduapuluh, atau keempat puluh, atau keseratus dan sesudahnya hingga dibiasakan tiap tahun dari kematiannya, padahal hal tersebut hukumnya makruh

      ,
      disini ana mempertanyakan dua kata : 1. Dari teks redaksi yang mana anda menerjemahkan dengan kata dengan dikaitkan terhadap dan juga kalimat padahal hal tersebut hukumnya makruh coba sekali lagi anda perhatikan redaksi aslinya!!!

      وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت في ثالث من موته وفي سابع وفي تمام العشرين وفي الأربعين وفي المائة وبعد ذلك يفعل كل سنة حولا في يوم الموت كما أفاده شيخنا يوسف السنبلاويني

      selanjutnya apakah ada yang disebut “WAHSYAH” (malam berkabung) dalam tradisi tahlilan?… maaf Ust, jika ini adalah sebuah kesalahan semoga anda melakukannya tidak dengan sengaja, namun jika anda memang sengaja, ma’adzalloh… semoga Alloh melindungiku dari hal yang demikian….

      Tentang apa yang termaktub dalam I’anathut Tholibin Juz II hal 165 telah ana sampaikan sanggahannya…

      Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan

      Nampak sekali disini anda menghukumi sesuatu berdasarkan sebuah ilustrasi, bukan obyek permasalahan yang sebenarnya, jadi ana ngga’ pelu nanggapi karena mungkin itu terjadi hanya dalam keluarga anda….

      Maaf Ustadz kiranya cukup ini saja koreksi yang perlu ana sampaikan, mengingat jika jika ana sampaikan semua itu tidak baik untuk kehormatan anda… saran ana koreksi kembalilah sebelum anda menyampaikan coment-coment anda karena akibatnya fatal, bisa memutar balik pendapat para Ulama… jika coment anda adalah hasil Coppas, nggak usah malu ana pun sering melakukannya, namun ada baiknya anda crosschek kembali pada kitab aslinya sebelum coment tsb anda sampaikan….

      Selanjutnya ana mohon maaf yang sebesar-besarnya, jika dalam koreksi ana ada yng menyinggung perasaan anda….

  66. Kemarin hari minggu pagi tgl 2 sept 2012, saya ikut istigotsah dan sholawat di pendopo sabha swagata kota Banyuwangi bersama Bupati Bwi, hadir KH.R. Cholil As’ad dari Ponpes Wali Songo Situbondo, saat beliau memimpin pembacaan shalawat nariyah …… tak terasa air mata ini berlinang, tampak gambaran Kanjeng Nabi Muhammad SAW saat memperjuangkan agama Islam, terbersit semua dosa2 yang pernah saya lakukan, dan dengan tawassul nampak jelas kekotoran diri saya bila dibandingkan kanjeng Nabi Muhammad SAW dan kekecilan diri saya dihadapan Allah SWT, ya Allah…. dg menghidupkan Sunnah Nabi SAW sesuai dengan tradisi Aswaja (Istigotsah, tawassul dan sholawatan) ternyata telah membakar semua perasaan sombong, iri dengki, penyakit2 hati yang lain, dan membersihkan hati yang berkarat/berkerak, biarlah org lain tidak mau menghidupkan Sunnah spt yg kami lakukan, biarlah saya dihujat sbg ahli bid’ah, karena dalam bid’ah hasanah yg saya lakukan saya menemukan arti sbg muslim yang sangat mencintai Nabi SAW, menemukan kedamaian dan yang jelas telah menghidupkan Sunnah Nabi SAW. Tidak usah kita banyak berteori, tidak usah mengoreksi ibadah org lain, tidak usah mengkafir-syirikkan org lain, karena kita memiliki dasar/dalil/landasan ibadah sendiri2, nanti pada saatnya kita dipanggil menghadap kepada-Nya, maka saat itulah kita akan mengetahui siapa yg paling islami, siapa yang paling mencintai Nabi SAW dan amal ibadah siapa yang paling benar serta siapa yang akan dibakar dalam Neraka-Nya.

    1. @Prabu Minakjinggo
      Betul Kang Prabu apa yang saudara sampaikan, kita tidak perlu ikut-ikutan mereka yang suka mengkafirkan/membid’ahkan/mengkhurafatkan dll kepada amalan kita kaum sarungan. Kita memiliki Kyai/Habaib/Ulama’ yang jelas jalur sanadnya, karena setiap akhir atau awal belajar kitab kita terutama Warga Nahdhiyin selalu tabarukan kepada Mushannif dimulai dari Kyai yang mengajarkan sampai musalsal periwayatannya kepada Rasulullah Muhammad SAW. Semoga hidup kita semua mendapat Rahmah/Maghfirah/Barakah/Makrifah dari Allah SWT. dan mendapatkan pula syafaat dari Syafa’atul Udzma yaitu Rasulillah Muhammad SAW.

      Semoga situs-situs seperti Ummati Press, Sarkub, Salafy Tobat, Abu Salafy dan situs juga radio-radio serta ponpes Ahlus Sunnah Wal Jamaah selalu dalam lindungan Allah dari kelompok-kelompok yang merusak tatanan keilmuan para ulama kita semua. Khusus kepada para asatidz/Kyai/Ulama yang mendukung situs-situs Ahlus Sunnah Wal Jamaah, kami menyampaikan banyak terimakasih atas penalarannya yang baik untuk membimbing umat dari fitnah-fitnah yang keji. Kami mendoakan semoga semua umat Islam mendapat hidayah dari Allah SWT.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  67. Untuk Abu Hilyah..
    Mohon antum terbuka dan jangn menutupi sebenarnya apa maksud dari fotonya syaikh bin Baz juga ulama lainnya disandingkan dengan fotonya orang-orang yahudi yang terdapat di Blog ini ?? kalo bukan penghinaan lantas apa namanya?? padahal beliau seorang ulama yang memliki akhlak baik… antum bisa baca kisah-kisah tentang beliau mengenai kemuliaan akhlaknya bahkan Syaikh Yusuf Qardhawi pun yang berbeda manhaj menyanjung beliau…. antum bisa lihat komentarnya di VCD Biografi syaikh bin Baz
    jika antum meminta maaf ana tidak segan untuk memaafkan antum namun ana menginginkan foto tersebut dihapus

    mengenai dialog kita.. Skarg antum sudah menyertakan dalill ayat qur’an juga hadits.. yang ingin ana tanyakan dari sisi mana antum memahami bahwa ayat dan hadits tersebut menunjukkan kalo rasulullah mengamalkan tahlilan seperti yang antum amalkan ??

    dan saya juga ingin menanyakan kalo kita ingin membuat suatu amalan yang tidak dicontohkan Rasulullah apa syaratnya agar amalan tersebut dpat dikategorikan sebagai bid’ah hasanah ??

  68. Bismillah,..

    Maaf Ust, soal foto Syekh bin Baz dapat anda tanyakan langsung pada mas admin, disini posisi ana sama dengan anda, hanya sebagai pengunjung dalam forum diskusi yang difasilitasi oleh Blog Ummati Press…

    Jika anda merasa keberatan atas ditampilkannya foto tsb, anda bisa langsung mengajukannya pada admin…

    mohon maaf, sekali lagi… selanjutnya kalau anda berkenan, kita diskusikan kembali konsep ttg bid’ah, mengingat inilah kata yang nantinya kita pakai untuk menghukumi setiap permasalahan yang baru…

    1. Bismillah,

      Ustadz Abu Zamil, Insya Alloh Diskusi tentang Tahlilan akan kita lanjutkan kembali setelah kita fahami bersama konsep tentang “BID’AH”, karena boleh jadi dalam kosep tentang “BID’AH” tersebut ana yang salah.

      Bagaimana, apa anda setuju? Kalau anda setuju silahkan anda sampaikan dulu konsep bid’ah menurut anda…

      Tafaddhol Ustadz….

  69. Buat Ucep Juga…
    Mohon antum terbuka dan jangn menutupi sebenarnya apa maksud dari fotonya syaikh bin Baz juga ulama lainnya disandingkan dengan fotonya orang-orang yahudi yang terdapat di Blog ini ?? kalo bukan penghinaan lantas apa namanya?? padahal beliau seorang ulama yang memliki akhlak baik… antum bisa baca kisah-kisah tentang beliau mengenai kemuliaan akhlaknya bahkan Syaikh Yusuf Qardhawi pun yang berbeda manhaj menyanjung beliau…. antum bisa lihat komentarnya di VCD Biografi syaikh bin Baz
    jika antum meminta maaf ana tidak segan untuk memaafkan antum namun ana menginginkan foto tersebut dihapus

    mengenai dialog kita.. Skarg antum sudah menyertakan dalill ayat qur’an juga hadits.. yang ingin ana tanyakan dari sisi mana antum memahami bahwa ayat dan hadits tersebut menunjukkan kalo rasulullah mengamalkan tahlilan seperti yang antum amalkan ??

    dan saya juga ingin menanyakan kalo kita ingin membuat suatu amalan yang tidak dicontohkan Rasulullah apa syaratnya agar amalan tersebut dpat dikategorikan sebagai bid’ah hasanah ??

    1. @abu zamil
      Mungkin jawaban ane sama dengan @bu hilya, tentang foto, kita mintakan saja sama mas @admin untuk menghapus foto tersebut, karena ane disini juga pengunjung.
      Untuk diskusi, ane serahkan kepada mas @bu hilya, agar fokus pada pertanyaan dan jawaban, sehingga pembaca dan pemerhati mudah memahami apa yang menjadi topik bahasan diskusi.

      Semoga dengan diskusi dihasilkan pengertian yang sebenarnya dan ane setuju bagaimana dibahas tentang konsep yang sebenarnya tentang Bid’ah.
      Selamat berdiskusi, yang lain sebagai pemerhati, sehingga ilmu hasil diskusi kita wejahwantahkan kedalam kekehidupan amaliayah sehari-hari.

  70. @ Semua sdr2 ku seiman : Jangan hanya percaya pd situs2 yg mengadu domba antara kita umat islam, perlu kiranya kita teliti dulu keabsahan isinya, dan jangan cepat kita menanggapi dan men iya kan apa2 yg terkandung didalamnya, boleh jadi situs2 yg katanya berkedok Ahlus Sunnah, Sunni, Salafy, Anti Wahhabi, Wahhabi, dll bisa jadi sebenarnya adalah Syiah atau sebangsanya, dgn tujuan mengadu domba dan menyebar firnah atas para Ulama yang taat pd Alloh sehingga dikabarkan bertolak belakang dari sejarah yg sebenarnya, jangan cepat percaya penulisan Dalil-dalil yg ternyata diselewengkan maknanya, hal ini banyak sekali terjadi…., jadi teman2 kita yg awam dgn agama akan terpengaruh oleh berita2 tsb, ingat sampai kiamat nanti musuh2 islam akan selalu menyerang islam dari sisi mana pun…, jadi intinya apabila ada dr sdr2 yang memberikan hujjah/dasar/bantahan/referensi dari artikel2/situs2 ini dan situs2 itu utk memperkuat argumen sdr2 agar harap diteliti kembali…. jangan sampai kita menyampaikan ketidakbenaran/kebohongan yg kita tdk mengetahui atasnya…..

    Alloh subhanahu wata’ala berfirman :
    “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

    Nabi shalallahu’alaihi wassalam bersabda :
    “Cukuplah seorang dianggap pendusta, jika dia menceritakan setiap yang dia dengarkan.” (HR. Muslim)

    Alloh subhanahuwata’ala berfirman :
    “Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya adzab yang besar.” (QS. An-Nur: 11)

    harap menjadi renungan utk semua 🙂

    1. Mas Abu Dzar,

      Berikut Coment anda:

      jangan cepat percaya penulisan Dalil-dalil yg ternyata diselewengkan maknanya, hal ini banyak sekali terjadi…

      Silahkan anda buktikan !! Dalil mana yang kami selewengkan? Jika anda tidak dapat membuktikan, lalu sebenarnya siapa yang mengadudomba Ummat ini…

  71. Pertanyaan saya ttg dalil2 pernahkah Nabi melakukan yasinan, tahlilan dan doa berjama’ah dan yg lainnya belum terjawab…, monggo siapa yg bisa memberikan dalilnya yg sahih….

    kalau ada dalil yg sahih, saya akan mengamalkan amalan2 tsb…..

    1. @Abu Dzar :
      Saudaraku Abu Dzar, kan sudah sering kami katakan, apa yang belum pernah dilakukan di masa Rasulillah SAW. tidak semuanya menyalahi sunnah Rasulillah SAW.

      Sabda Rasulillah SAW. :

      حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُوسَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ وَأَبِي الضُّحَى عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ هِلَالٍ الْعَبْسِيِّ عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ جَاءَ نَاسٌ مِنْ الْأَعْرَابِ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ الصُّوفُ فَرَأَى سُوءَ حَالِهِمْ قَدْ أَصَابَتْهُمْ حَاجَةٌ فَحَثَّ النَّاسَ عَلَى الصَّدَقَةِ فَأَبْطَئُوا عَنْهُ حَتَّى رُئِيَ ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ قَالَ ثُمَّ إِنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ جَاءَ بِصُرَّةٍ مِنْ وَرِقٍ ثُمَّ جَاءَ آخَرُ ثُمَّ تَتَابَعُوا حَتَّى عُرِفَ السُّرُورُ فِي وَجْهِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً فَعُمِلَ بِهَا بَعْدَهُ كُتِبَ عَلَيْهِ مِثْلُ وِزْرِ مَنْ عَمِلَ بِهَا وَلَا يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

      Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir bin ‘Abdul Hamid dari Al A’masy dari Musa bin ‘Abdullah bin Yazid dan Abu Adh Dhuha dari ‘Abdurrahman bin Hilal Al ‘Absi dari Jarir bin ‘Abdullah dia berkata; Pada suatu ketika, beberapa orang Arab badui datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan mengenakan pakaian dari bulu domba (wol). Lalu Rasulullah memperhatikan kondisi mereka yang menyedihkan. Selain itu, mereka pun sangat membutuhkan pertolongan.
      Akhirnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan para sahabat untuk memberikan sedekahnya kepada mereka. Tetapi sayangnya, para sahabat sangat lamban untuk melaksanakan anjuran Rasulullah itu, hingga kekecewaan terlihat pada wajah beliau. Jarir berkata; ‘Tak lama kemudian seorang sahabat dari kaum Anshar datang memberikan bantuan sesuatu yang dibungkus dengan daun dan kemudian diikuti oleh beberapa orang sahabat lainnya. Setelah itu, datanglah beberapa orang sahabat yang turut serta menyumbangkan sedekahnya (untuk diserahkan kepada orang-orang Arab badui tersebut) hingga tampaklah keceriaan pada wajah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.’ Kemudian Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Siapa yang melakukan satu sunnah hasanah dalam Islam, maka ia mendapatkan pahalanya dan pahala orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan siapa yang melakukan satu sunnah sayyiah dalam Islam, maka ia mendapatkan dosanya dan dosa orang-orang yang mengamalkan sunnah tersebut setelahnya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.” (HR Muslim 4830)

      Hadits di atas diriwayatkan juga dalam Sunan An-Nasa‘i no.2554, Sunan At-Tirmidzi no. 2675, Sunan Ibnu Majah no. 203, Musnad Ahmad 5/357, 358, 359, 360, 361, 362 dan juga diriwayatkan oleh yang lainnya.

      Hal-hal sunnah seperti Tarawih dengan 1 Imam 23 rakaat (termasuk witir) di masa Sayyidina Umar Bin Khatab, Adzan Jum’at 2 kali di masa Sayyidina Utsman Bin Affan, Pembukuan Qur’an dalam satu mushaf di masa Sayyidina Utsman Bin Affan (mushaf Utsmani) dan hal-hal lain serupa itu belum pernah dilakukan di masa Rasulillah SAW. Tapi hal tersebut dipandang sebagai kesunnahan (yang baik).

      Untuk Tahlilan, Yasinan, Shalawatan dls itu merupakan amal shalih karena berhubungan dengan Dzikrullah. Lalu dimana letak salahnya ??

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. Bismillah,..

      Saudara Abu Dzar, Bukankah anda yang menghakimi amalan kami sebagai amalan yang sesat, Bid’ah? terus apa penjelasan anda tentang “APA ITU BID’AH?”

      Mungkinkah anda menghukumi sesuatu dengan apa yang anda sendiri belum sepenuhnya memahaminya?

      Saudara Abu Dzar, disini kami mendahulukan permasalahan tentang ‘KONSEP BID’AH” karena kami memandang kata inilah yang menjadi Induk masalah, sedang masalah tahlilan, maulidan adalah sub-sub masalah yang akarnya ada pada pemahaman tentang “MA HIYA AL BID’AH?”

      Oleh karenanya, karena anda yang menghakimi amalan kami sebagai amalan bid’ah dan sesat, maka sudah seharusny anda bertanggung jawab menjelaskan tentang apa itu Bid’ah…

      Ayolah saudaraku, jika anda yakin dengan Hujjah anda mengapa anda mesti sungkan?

      Please, Tafaddhol, Monggo, Silahkan..

      1. Ustadz @bu Hilya,

        Setuju tadz, jangan-jangan asal kata Bid’ah dari Ilmu Nahwu dan Balaghah saudara Abu Dzar ini belum mengerti.

        Ikut nyimak tadz.

        Kebenaran hakiki hanya milik Allah
        Hamba Allah yang dhaif dan faqir
        Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    3. Bismillah,…

      Sekedar peringatan khusus buat saudara Abu Dzar, anda tak kasih waktu sampai hari ini, jika ternyata anda tidak mampu menyampaikan Konsep tentang “BID’AH”, maka tuduhan anda yang menyatakan tentang amalan-amalan kami sebagai amalan Bid’ah Sesat adalah BATAL, Karena anda sendiri kami anggap sama sekali tidak memahami apa yang anda tuduhkan!!!

  72. @Abu Dzar :
    Terimakasih peringatannya.

    Lebih baik kembali ke pokok masalah diatas. Silahkan bantu temanmu Abu Zamil untuk menyampaikan kepada kami tentang bid’ahnya amalan kami yang kami yakini sebagai amal shalih. Kalau benar adanya semoga menjadi petunjuk bagi kami, tapi kalau kami punya hujjah kami akan sampaikan agar kalian juga mengerti. Hal ini lebih baik daripada saudara mengatakan sesuatu yang keluar dari topik. Jaka sembung naik helikopter, gak nyambung muter-muter… 😀

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dgaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  73. Bismillah,

    sekedar mengingatkan pertanyaan untuk ust. Abu zamil dari ust abu hilya bisa dijawab takutnya karena kebanyakan lloncat2 dan muter2 pertanyaan penting ini jdi kelewat…

    Ana ijin menyimak dan mengambil pelajaran…monggo…

    Ust. Abu Zamil,
    Inilah pendapat Syaikh Nawawi dalam Nihayatuz Zain :
    والتصدق عن الميت بوجه شرعي مطلوب ولا يتقيد بكونه في سبعة أيام أو أكثر أو أقل وتقييده ببعض الأيام من العوائد فقط كما أفتى بذلك السيد أحمد دحلان وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت في ثالث من موته وفي سابع وفي تمام العشرين وفي الأربعين وفي المائة وبعد ذلك يفعل كل سنة حولا في يوم الموت كما أفاده شيخنا يوسف السنبلاويني أما الطعام الذي يجتمع عليه الناس ليلة دفن الميت المسمى بالوحشة فهو مكروه ما لم يكن من مال الأيتام وإلا فيحرم كذا في كشف اللثام
    Artinya: Adapun sedekah yang pahalanya untuk mayyit dengan cara yang Syar’iy adalah diperintahkan, dan sedekah tersebut tidak dibatasi dengan keberadaannya pada tujuh hari atau lebih banyak atau lebih sedikit, sedangkan pembatasan sedekah dengan sebagian hari hanyalah bagian dari tradisi semata sebagaimana yang telah difatwakan oleh As Sayyid Ahmad Dahlan, dan sungguh telah berlaku kebiasaan manusia bersedekah sebagai ganti dari mayyit pada hari ketiga dari kematian si mayyit, dan hari ketujuh, genap dua ouluh, empat puluh, seratus, dan setelah itu dilakukan setiap tahun sebagai “HAUL” dihari kematian, sebagaimana yang telah disampaikan Syaikhuna Yusuf As Sunbulawini. Adapun menghidangkan makanan yang dengan tujuan mengumpulkan orangorang dimalam pemakaman si mayyit yang disebut dengan “AL WAHSYAH” (malam berkabung) maka iadalah makruh selama tidak diambil dari harta yatim, jika tidak, alias diambilkan dari harta yatim, maka Haram sebagaimana yang ada dalam Kasyful Litsam”.
    Dan inilah terjemah anda :
    “Shadaqah untuk mayit, apabila sesuai dengan tuntunan syara’ adalah dianjurkan, namun tidak boleh dikaitkan dengan hari ke tujuh atau hari- hari lainnya, sementara menurut Syaikh Yusuf, telah berjalan kebiasaan di antara orang-orang yang melakukan shadaqah untuk mayit dengan dikaitkan terhadap hari ketiga dari kematiannya, atau hari ke tujuh, atau keduapuluh, atau keempat puluh, atau keseratus dan sesudahnya hingga dibiasakan tiap tahun dari kematiannya, padahal hal tersebut hukumnya makruh. Demikian pula makruh hukumnya menghidangkan makanan yang ditujukan bagi orang-orang yang berkumpul pada malam penguburan mayit (biasa disebut al-wahsyah), bahkan haram hukumhukumnya biayanya berasal dari harta anak yatim”.

    Ustadz, diatas telah ana sampaikan redaksi asli dari kitab Nihatuz Zain yang kebetulan saudara ana ada yang punya, namun ana bingung dari teks yang mana anda menterjemahkan dengan
    namun tidak boleh dikaitkan dengan hari ke tujuh atau hari- hari lainnya, sementara menurut Syaikh Yusuf

    , padahal redaksinya berbunyi:
    والتصدق عن الميت بوجه شرعي مطلوب ولا يتقيد بكونه في سبعة أيام أو أكثر أو أقل وتقييده ببعض الأيام من العوائد فقط كما أفتى بذلك السيد أحمد دحلان
    Pertanyaan ana : Dari mana anda dapati terjemahan namun tidak boleh dikaitkan juga kata sementara menurut Syaikh Yusuf, dan juga dimana terjemah dari kalimat :
    وتقييده ببعض الأيام من العوائد فقط
    selanjutnya dalam terjemah anda :
    telah berjalan kebiasaan di antara orang-orang yang melakukan shadaqah untuk mayit dengan dikaitkan terhadap hari ketiga dari kematiannya, atau hari ke tujuh, atau keduapuluh, atau keempat puluh, atau keseratus dan sesudahnya hingga dibiasakan tiap tahun dari kematiannya, padahal hal tersebut hukumnya makruh

    ,
    disini ana mempertanyakan dua kata : 1. Dari teks redaksi yang mana anda menerjemahkan dengan kata dengan dikaitkan terhadap dan juga kalimat padahal hal tersebut hukumnya makruh coba sekali lagi anda perhatikan redaksi aslinya!!!
    وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت في ثالث من موته وفي سابع وفي تمام العشرين وفي الأربعين وفي المائة وبعد ذلك يفعل كل سنة حولا في يوم الموت كما أفاده شيخنا يوسف السنبلاويني
    selanjutnya apakah ada yang disebut “WAHSYAH” (malam berkabung) dalam tradisi tahlilan?… maaf Ust, jika ini adalah sebuah kesalahan semoga anda melakukannya tidak dengan sengaja, namun jika anda memang sengaja, ma’adzalloh… semoga Alloh melindungiku dari hal yang demikian….
    Tentang apa yang termaktub dalam I’anathut Tholibin Juz II hal 165 telah ana sampaikan sanggahannya…
    Mereka melakukan semua itu tujuannya hanya sekedar melaksanakan kebiasaan penduduk setempat sehingga bagi yang tidak mau melakukannya akan dibenci oleh mereka dan ia akan merasa diacuhkan
    Nampak sekali disini anda menghukumi sesuatu berdasarkan sebuah ilustrasi, bukan obyek permasalahan yang sebenarnya, jadi ana ngga’ pelu nanggapi karena mungkin itu terjadi hanya dalam keluarga anda….
    Maaf Ustadz kiranya cukup ini saja koreksi yang perlu ana sampaikan, mengingat jika jika ana sampaikan semua itu tidak baik untuk kehormatan anda… saran ana koreksi kembalilah sebelum anda menyampaikan coment-coment anda karena akibatnya fatal, bisa memutar balik pendapat para Ulama… jika coment anda adalah hasil Coppas, nggak usah malu ana pun sering melakukannya, namun ada baiknya anda crosschek kembali pada kitab aslinya sebelum coment tsb anda sampaikan….

    1. @KK :
      Menurut saya, saudara Abu Zamil tidak akan mampu menjawab perihal tersebut, karena :
      1. Dia (Abu Zamil) hanya copas dari situs lain yang beraliran Salafy Wahabi, karena dari pernyataannya sebelumnya memang pernah saya membacanya dan kalimatnya persis sekali. Apalagi membawa Kitab-kitab kuning yang dia sendiri belum pernah baca. Hal ini berbeda dengan saudara @bu Hilya yang langsung mengutip dari Kitab Aslinya yaitu Nihayatuz Zain. Saudara Abu Zamil ini juga menyebut beberapa produk hasil keputusan NU, ada juga yang disebut berbahasa Sunda, kalau dia sendiri belum pernah baca aslinya (hanya hasil copas) percuma juga membahasnya.
      2. Saya juga sudah pernah membantah saudara Abu Zamil ini, terkait keterangannya dari Kitab I’anatut Thalibin, bahkan secara khusus dia membahas fatwa di kitab tersebut pada Juz 2 halaman 165. Saya yakin dia, Abu Zamil ini belum pernah baca kitab aslinya, jadi hanya copas dari situs Salafy Wahabi lain, yang konyolnya adalah dia tidak tahu kalimat aslinya, sehingga dipotong pada kalimat “ya,…dst”. Padahal sebelum kalimat itu ada pertanyaan yang cukup panjang sampai muncul jawaban itu. Untuk jelasnya silahkan baca ulasan saya yang membongkar kebohongan dengan menggunakan Kitab I’anatut Thalibin diatas pada artikel ini.

      Dari dua hal diatas, saya simpulkan, Dia Abu Zamil ini adalah memang kelompok Salafy Wahabi yang suka memotong-motong isi Kitab, baik itu Qur’an, hadits dan kitab fiqh ulama. Atau lebih parah lagi, dia ini hanya copas dari situs lain yang dia tidak tahu isi sebenarnya. Kacau kan? Lebih parah lagi, kelompok Salafy Wahabi ini sering saya baca di situs-situs Ahlus Sunnah Waljama’ah sering menghilangkan atau merubah isi kitab. Dus, karena itu wajar Admin mensejajarkan ulama mereka dengan Rabi Yahudi, seperti Yudas Iskariot yang mengutak atik isi Kitab Injil Nabi Isa AS.

      Sekarang begini saja, kalau memang Si Abu Zamil ini benar-benar mengambil fatwa langsung dari Kitab tersebut diatas (saya yakin sih tidak, dia hanya bertujuan mempengaruhi warga Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang tidak/belum pernah baca Kitab supaya mengikuti aqidah Salafy Wahabi). Batasi saja pembahasan pada dua kitab induk fiqh, yaitu I’anatut Thalibin dan Nihayatuz Zain, saya dan Ustadz @bu Hilya akan menunggu pembahasan Si Abu Zamil ini dan konco-konconya. Insya Allah.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  74. agaknya debat kusir seperti ini nggak akan pernah berakhir. kenapa? ya karena yg dipelajari “sumbernya tidak sama”. padahal, kalaulah yang di sumbernya Al Quran dan Al Hadits tentu pemahamannya bisa sama. Bila taat pada Rasul berarti taat pada Allah, tidak taat pada Rasul berarti tidak taat pada Allah, orang yang tidak taat pada Allah kan kafir…? Menyelisihi sunnah berarti tidak taat Rasul. para pelaku bid’ah, yang saya pahami, mereka tidak bisa berlepas diri dengan sanak keluarganya krn malu klo untuk meninggalkan, dan juga kepada lingkungan (tetangganya). misalnya nih….., mas, kok nggak yasinan? kan baru nempati rumah baru….akhirnya krn sungkan diadakanlah acara itu… maaf klo terlalu maju saya menulis..

    1. @Satyo :
      Menurut saudara bid’ah itu berdasarkan ilmu nahwu berasal dari jenis fi’il atau isim ? Berasal dari kata apa ? sifatnya bagaimana jika ditinjau dari balaghah ? secara ta’rif apa definisnya ? dalam kedudukannya di kalimat seperti apa ?

      Mohon dijelaskan, baru kita bicara tentang bid’ah itu secara jelas. Karena kata-kata saudara Satyo seakan sudah paham sekali tentang bid’ah, karena itu mohon penjelasannya !? Monggo !? 😀

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. @satyo, sptnya anda baru belajar tp sdh pandai berbicara, skrg bagaimana kedudukan umat bila dikaitkan dengan ketaatan pada pemerintah ? karena Allah memerintahkan kita taat pda Allah pada Nabi SAW dan pada pemerintah, logika sesuai dengan pemahaman anda kalau kita tidak taat pada pemerintah, maka kita tidak taat pada Nabi SAW dan kalau kita tidak taat pada Nabi SAW maka kita tidak taat pd Allah, anda tampaknya sudah dibiasakan dengan memenggal2 dalil oleh pendoktrin2 faham anda, skrg kita ambil contoh yg gampang saja, kelompok wahabi/salafi dalam penentuan awal puasa dan hari raya kan banyak yang tidak mematuhi keputusan pemerintah, apakah mereka layak disebut kafir sesuai dengan pemahaman anda diatas ? he..he…he.. tampaknya doktrin2 wahabi/salafi sdh banyak merasuki saudara2 kita sesama muslim terutama yang awam atau baru belajar agama spt sdr satyo ini, sampai2 masalah muamalah pun mereka sangat tidak memahami.

      1. Bismillaah,

        Mas Prabu,

        Siapapun dia apakah Wahabi, NU maupun yang lainnya wajib taat kepada pemerintah sepanjang tidak memerintahkan kepada kesyirikan dan kemaksiatan. Pun dalam penentuan awal dan akhir Ramadhon. Dalilnya sudah jelas: Allah berfirman: “Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul dan penguasa sah kalian”

        Wallaahu a’lam.

  75. MAA HIYA AL BID’AH ?

    Muqoddimah

    Bismillah, ….

    Kata BID’AH adalah salah satu label yang dipakai oleh sekelompok ummat Islam untuk menyudutkan dan memojokkan Ummat Islam yang lain, khususnya Kaum Sarungan di Indonesia, sehingga tidak terhindarkan terjadi perpecahan akibat dari kesalahan dalam memahami kata tersebut.

    Mengingat sumber dari kata BID’AH adalah Hadits yang mulia baginda Rosululloh SAW, yang notabene berbahasa arab, maka perlu kiranya bagi kita orang ‘ajam mempelajari beberapa fan ilmu yang diantaranya adalah ilmu gramatika arab, berikut yang berkaitan dengannya semisal balaghoh, mantiq, dan yang lain dalam memahami bahasa tersebut. Selanjutnya tidak kalah pentingnya fan-fan ilmu yang lain semisal Ushul Fiqih, agar kita dapat memahami dalil-dalil agama dengan proporsional. Sehingga jika ada orang lain menyampaikan masalah, kita tidak hanya bisa bertanya MANA DALILNYA? tapi lebih dari itu kita juga dapat menanyakan Tepatkah pemahaman anda atas dalil tsb?

    Adalah tidak bijak, bahkan sangat ironi jika kita menghukumi sebuah masalah bersandar pada al qur’an atau hadits dengan mengikuti terjemahan orang lain, bagaimana mungkin kita akan menjadi HAKIM alias menghukumi sebuah masalah, jika terjemah dari al qur’an ataupun hadits saja kita masih taqlid pada orang lain? Darimana kita bisa menyalahkan penjelasan orang lain tentang penjelasan sebuah dalil, jika kita sendiri tidak memiliki sarana untuk mengoreksinya? Bahkan hanya dari arti bahasanya saja? Namun inilah faktanya… banyak disekitar kita orang mengaku paling sunnah, paling sesuai dengan al qur’an, sementara ilmu bahasa arab saja nihil… Makanya bijak rasanya jika ada ungkapan ”Jangan sekali-sekali merasa memahami al qur’an atau hadits jika bahasa arab saja anda tidak faham”.

    Kajian Hadits-hadits tentang Bid’ah

    Selanjutnya kita mulai kajiannya dengan mengangkat beberapa hadits berikut gramatika arab seperlunya agar kita dapati terjemahan berikut pemahaman yang sesuai. Kita mulai dengan Hadits dari Ummul Mukminin ‘Aisyah RA, yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori :

    حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَوْنٍ الْهِلَالِيُّ جَمِيعًا عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ قَالَ ابْنُ الصَّبَّاحِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

    Berikut tarkib yang kita dapati dari setiap kata pada hadits diatas :

    (مَنْ) ادة شرط مبني على السكون في محل رفع لأنه مبتدأ (أَحْدَثَ) فعل ماض مبني على الفتح و فاعله ضمير مستتير جوازا في محل جزم لأنه فعل شرط, (فِي) حرف جر مبني على السكون متعلق بأحدث, (اَمْرِنَا)امر مجرور بفي وعلامة جره كسرة ظاهرة في اخره لأنه اسم المفرد و امر مضاف و نا مضاف اليه في محل جر مبني على السكون لانه اسم ضمير, (هَذَا) اسم اشارة مبني على السكون في محل جر لأنه يقع صفة او تأكيدا لامر ويذكر للتعظيم, (مَا) من جملة الاحرف الموصولة مبني على السكون في محل نصب لأنه مفعول من أحدث, (لَيْسَ) فعل مض ناقص من اخوات كان التي ترفع الإسم و تنصب الخبر واسمها ضمير مستتير جوازا تقديره هو (مِنْهُ) جار و مجرور في محل نصب لأنه خبر ليس (فَهُوَ) الفأ الجواب الشرط و هو ضمير منفصل في محل رفع لأنه مبتدأ (رَدٌّ) اسم فاعل و قيل اطلق للمفعول مرفوع لأنه خبر المبتدإ و علامة رفعه ضمة ظاهرة في أخره لأنه اسم المفرد, و جملة المبتدإ و خبره في محل جزم يقع جوابا للشرط قبله

    Dari tarkib diatas kita dapati terjemah haditsnya sebagai berikut : ” Barang siapa membuat hal yang baru (yang sebelumnya tidak ada contohnya) dalam agama kami ini dengan perkara yang tidak ada (bersumber) darinya, maka perbuatan tersebut tertolak ”

    Dari terjemah hadits diatas kita dapati pengertian tentang tiga hal :

    – Sesuatu yang baru tersebut belum terdapat contoh sebelumnya (ditinjau dari penggunaan kata “AHDATSA”)
    – Sesuatu yang baru tersebut berupa urusan agama
    – Sesuatu yang baru tersebut tidak terdapat sumber hukumnya sama sekali dari dalil syara’ baik yang ‘Am maupun yang makhsush.

    Dari pengertian diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa tidak setiap yang baru itu tertolak, karena dalam hadits diatas kita dapati qoyyid yang berupa sifat dalam susunan “LAISA MINHU”, dimana kata tersebut membatasi keumuman perkara baru yang terkandung dalam hadits diatas, dan model takhsish semacam ini disebut dalam kaidah usul fiqih sebagai takhsis muttashil.

    Sekarang kita belanjut pada hadits-hadits yang lain :

    حَدَّثَنَا الضَّحَّاكُ بْنُ مَخْلَدٍ عَنْ ثَوْرٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْفَجْرَ ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا فَوَعَظَنَا مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ لَهَا الْأَعْيُنُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ قُلْنَا أَوْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ كَأَنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَأَوْصِنَا قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ كَانَ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى بَعْدِي اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ رواه احمد و ابو داود و النسائى

    Pada Qodhiyah hadits yang berhuruf tebal kita dapatai terjemahnya : ” Maka sesungguhnya setiap yang baru adalah bid’ah dan sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat “. Dalam qodhiyah matan hadits yang berhuruf tebal diatas kita bagi menjadi dua :
    – Pada qodhiyah فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ tidak kami temukan pen-takhsish keumuman madlulnya sehingga dapat kita tarik kesimpulan bahwa setiap مُحْدَثَةٍ (perkara baru) adalah بِدْعَةٌ
    – Pada qodhiyah وَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ tidak kita jumpai pula pen-takhsisan madlulnya yang muttashil, namun keumuman makna (madlul) yang terdapat pada qodhiyah tersebut dapat kita jumpai dalam hadits-hadis yang lain, sehingga pen-takhshishan-nya bersifat munfashil. Dan berikut diantara dalil-dalil yang mentakhsih keumuman dari hadits diatas, diantaranya adalah HR Imam Muslim dari Jarir bin Abdillah RA,:

    عن جرير بن عبد الله البجلي قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فله أجرها و اجر من عمل بها بعده من غير ان يَنْقُص مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كان عليه وزرها و وزر من عمل بها من بعده من غير ان يَنْقُص مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ ( رواه مسلم )

    “Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang memulai perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim [1017]).

    Juga hadits-hadits tentang :

    Bid’ah (perkara baru) ketika Rosululloh SAW, masih hidup

    Tentang do’a dalam I’tidal oleh seorang lelaki

    عَنْ رِفَاعَةَ بْنِ رَافِعٍ الزُّرَقِيِّ قَالَ كُنَّا يَوْمًا نُصَلِّي وَرَاءَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمَّا رَفَعَ رَأْسَهُ مِنْ الرَّكْعَةِ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ قَالَ رَجُلٌ وَرَاءَهُ رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ فَلَمَّا انْصَرَفَ قَالَ مَنْ الْمُتَكَلِّمُ قَالَ أَنَا قَالَ رَأَيْتُ بِضْعَةً وَثَلَاثِينَ مَلَكًا يَبْتَدِرُونَهَا أَيُّهُمْ يَكْتُبُهَا أَوَّلُ ( رواه البخاري )

    Tentang Sholat dua roka’at setelah wudhu oleh sahabat Bilal RA, :

    حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ أَبِي حَيَّانَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ عِنْدَ صَلَاةِ الْفَجْرِ يَا بِلَالُ حَدِّثْنِي بِأَرْجَى عَمَلٍ عَمِلْتَهُ فِي الْإِسْلَامِ فَإِنِّي سَمِعْتُ دَفَّ نَعْلَيْكَ بَيْنَ يَدَيَّ فِي الْجَنَّةِ قَالَ مَا عَمِلْتُ عَمَلًا أَرْجَى عِنْدِي أَنِّي لَمْ أَتَطَهَّرْ طَهُورًا فِي سَاعَةِ لَيْلٍ أَوْ نَهَارٍ إِلَّا صَلَّيْتُ بِذَلِكَ الطُّهُورِ مَا كُتِبَ لِي أَنْ أُصَلِّيَ قَالَ أَبُو عَبْد اللَّهِ دَفَّ نَعْلَيْكَ يَعْنِي تَحْرِيكَ ( رواه البخاري )

    Tentang cara menambah rok’at bagi makmum masbuq oleh sahabat Mu’adz bin Jabal RA, :

    عن عبد الرحمن بن ابي ليلى قال : ( كان الناس على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم اذا جاءه الرجل وقد فاته شيئ من الصلاة اشار اليه الناس فصلى ما فاته ثم دخل في الصلاة ثم جاء يوما معاذ بن جبل فاشاروا اليه فدخل و لم ينتظر ما قالوا , فلما صلى النبي صلى الله عليه وسلم ذكروا له ذلك فقال لهم النبي صلى الله عليه وسلم : ” سن لكم معاذ ” و في رواية سيدنا معاذ بن جبل : ( انه قد سن لكم معاذ فهكذا فاصنعوا ). رواه ابو داود و احمد و ابن ابي شيبة, و غيرهم, و قد صححه الحافظ ابن دقيق العيد و الحافظ ابن حزم

    Bid’ah (perkara baru) oleh para sahabat setelah wafatnya Rosululloh SAW,

    Tentang menghimpun jama’ah tarowih 20 rokaat dengan satu imam oleh Amirul Mukminin Umar bin Khotthob RA, :

    عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيِّ أَنَّهُ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَيْلَةً فِي رَمَضَانَ إِلَى الْمَسْجِدِ فَإِذَا النَّاسُ أَوْزَاعٌ مُتَفَرِّقُونَ يُصَلِّي الرَّجُلُ لِنَفْسِهِ وَيُصَلِّي الرَّجُلُ فَيُصَلِّي بِصَلَاتِهِ الرَّهْطُ فَقَالَ عُمَرُ إِنِّي أَرَى لَوْ جَمَعْتُ هَؤُلَاءِ عَلَى قَارِئٍ وَاحِدٍ لَكَانَ أَمْثَلَ ثُمَّ عَزَمَ فَجَمَعَهُمْ عَلَى أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ ثُمَّ خَرَجْتُ مَعَهُ لَيْلَةً أُخْرَى وَالنَّاسُ يُصَلُّونَ بِصَلَاةِ قَارِئِهِمْ قَالَ عُمَرُ نِعْمَ الْبِدْعَةُ هَذِهِ وَالَّتِي يَنَامُونَ عَنْهَا أَفْضَلُ مِنْ الَّتِي يَقُومُونَ يُرِيدُ آخِرَ اللَّيْلِ وَكَانَ النَّاسُ يَقُومُونَ أَوَّلَهُ (رواه البخاري)

    Tentang penambahan adzan Jum’ah hingga tiga kali oleh Amirul Mukminin Utsman bin Affan RA, :

    و عن السائب بن يزيد رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قال : كان النداء يوم الجمعة اوله اذا جلس الإمام على المنبر في عهد النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ و ابي بكر و عمر رضي الله عنهما فلما كان عثمان رضي الله عنه و كثر الناس زاد النداء الثالث على الزَّوْراء وهي دار في سوق المدينة ( رواه البخاري )

    Dan juga tentang penghimpunan al qur’an oleh Kholifa Abu Bakar as Shiddiq dan penulisnya Sahabat Zaid bin Tsabit Rodhiyallohu ‘Anhuma, tentang hukuman cambuk bagi peminum khomer yang dilipat gandakan oleh AM Umar bin Khotthob RA, dan masih banyak yang lain yang karena keterbatasan forum, tidak patut kiranya kami sampaikan semua redaksi haditsnya, namun kami Insya Alloh akan bertanggung jawab menyampaikannya jika diperlukan.

    Dari paparan diatas kita dapati adanya dalil-dali yang membatasi (men-takhsis) keumuman dari hadits sebelumnya yakni “Dan sesungguhnya setiap Bid’ah adalah sesat”, karena jika kita paksakan hadits tersebut sebagaimana redaksi matannya dengan tanpa membandingkan dengan hadits-hadits yang lain maka akan sesatlah setiap yang baru yang belum ada contoh atau perintah sebelumnya, termasuk apa yang dilakukan oleh para sahabat baik di masa Rosululloh SAW, masih hidup maupun sudah wafat. Bukankah Rosululloh SAW, memuji sholat dua roka’at yang dilakukan oleh sahabat Bilal bin Robah RA, padahal Beliau SAW, belum memerintahkannya maupun mencontohkannya, juga terhadap apa yang dilakukan oleh Mu’adz bin Jabal RA, dan seorang lelaki yang berjama’ah sebagaimana hadits dari Rifa’ah bin Rofi’.

    Pendapat para Ulama tentang Bid’ah

    Imam Nawawi dalam Syarah Muslim pada Kitab Jum’ah

    قوله صلى الله عليه و سلم وكل بدعة ضلالة هذا عام مخصوص والمراد غالب البدع قال أهل اللغة هي كل شيء عمل على غير مثال سابق قال العلماء البدعة خمسة أقسام واجبة ومندوبة ومحرمة ومكروهة ومباحة

    “ Adapun Sabda Rosululloh SAW, “ Dan setiap bid’ah adalah sesat “ hadits ini adalah (dalil) ‘Am Makhshush (dalil umum yang dibatasi/dikhususkan), dan yang dikehendaki adala kebanyakan/umumnya bid’ah (bukan semua bid’ah). Berkata ahli lughot : Ia (yakni bid’ah) adalah segala sesuatu yang dikerjakan tanpa ada contoh yang mendahului. Berkata para Ulama : “ Bid’ah itu lima bagian: wajib, mandzubah (sunnah), haram, makruh dan mubah.”

    Selanjutnya beliau berkata :

    وقد أوضحت المسألة بأدلتها المبسوطة في تهذيب الأسماء واللغات فإذا عرف ما ذكرته علم أن الحديث من العام المخصوص وكذا ما أشبهه من الأحاديث الواردة ويؤيد ما قلناه قول عمر بن الخطاب رضي الله عنه في التراويح نعمت البدعة ولا يمنع من كون الحديث عاما مخصوصا

    “ Dan sungguh telah aku jelaskan permasalahan ini berikut dalil-dalilnya yang luas dalam “Tahdzibul Asma’ Wal Lughoot”. Maka ketika telah diketahui apa yang aku sebutkan, pasti diketahui pula bahwa sesungguhnya hadits ini bersifat “AL ‘AM AL MAKHSHUSH”, Dan begitu juga hadits-hadits serupa yang telah sampai. Dan pendapat Umar bin Khotthob RA, tentang masalah tarowih yakni “Sebaik-baik Bid’ah” menguatkan apa yang telah aku sampaikan, dan ungkapan Sahabat Umar RA, tersebut tidaklah menghalangi adanya hadits tsb sebagai hadits ‘am makhshus.”

    Imam Badruddin Al ‘Ayniy : ‘Umdatul Qory Bab Imamatul Maftun wal Mubtadi’

    قوله والمبتدع وهو الذي يرتكب البدعة والبدعة لغة كل شيء عمل علي غير مثال سابق وشرعا إحداث ما لم يكن له أصل في عهد رسول الله وهي عل قسمين بدعة ضلالة وهي التي ذكرنا وبدعة حسنة وهي ما رآه المؤمنون حسنا ولا يكون مخالفا للكتاب أو السنة أو الأثر أو الإجماع والمراد هنا البدعة الضلالة

    Dan pendapatnya (yakni al Bukhori) : Adapun “ al Mubtadi’ “ adalah orang yang mengerjakan Bid’ah, sedang Bid’ah menurut arti bahasa adalah : Segala sesuatu yang dikerjakan tanpa ada contoh yang mendahului. Sedang menurut syara’ adalah : Mengadakan (sesuatu yang baru) yang tidak terdapat asalnya dimasa Rosululloh SAW. dan Bid’ah terbagi atas dua bagian yakni BID’AH DHOLALAH yakni bid’ah yang sebagaimana apa yang telah kami sebutkan, dan BID’AH HASANAH yakni setiap apa yang dipandang baik oleh mukminin dan ia tidak menyalahi al qur’an, atau as sunnah, atau atsar, atau ijma’. Sedang yang dikehendaki disini (dalam hadits tentang Sayyidina hasan yang ditanya soal menjadi makmum dibelakang imam ahli bid’ah) adalah Bid’ah Dholalah.”

    Al Hafidz Ibnu Hajar al ‘Asqolaniy : Fathul Bari Bab al Iqtida’u Bi Sunani Rosulillah SAW

    والمحدثات بفتح الدال جمع محدثة والمراد بها ما أحدث وليس له أصل في الشرع ويسمى في عرف الشرع بدعة وما كان له أصل يدل عليه الشرع فليس ببدعة فالبدعة في عرف الشرع مذمومة بخلاف اللغة فان كل شيء أحدث على غير مثال يسمى بدعة سواء كان محمودا أو مذموما

    Dan adapun kata “ALMUHDATSAAT” dengan difathah Dal-nya adalah bentuk jamak dari kata “MUHDATSAH” dan yang dikehendaki dengan kata tersebut adalah : “Segala sesuatu yang diada-adakan yang baginya tidak terdapat asal (sumber) dari Syara’, dan sesuatu tersebut dalam “uruf Syara’ disebut Bid’ah. Sedang sesuatu yang baginya terdapat asal (sumber) dalil syara’ yang menaunginya maka tidak disebut dengan Bid’ah, maka Bid’ah menurut ‘uruf syara’ (ma’na therminologi syara’) adalah tercela, berbeda dengan bid’ah secara bahasa, maka sesungguhnya setiap segala sesuatu yang diadakan tanpa ada contohnya disebut bid’ah baik yang terpuji maupun yang tercela.”

    Selanjutnya beliau berkata mengutip pendapat Imam Syafi’iy RA, :

    قال الشافعي البدعة بدعتان محمودة ومذمومة فما وافق السنة فهو محمود وما خالفها فهو مذموم أخرجه أبو نعيم بمعناه من طريق إبراهيم بن الجنيد عن الشافعي وجاء عن الشافعي أيضا ما أخرجه البيهقي في مناقبه قال المحدثات ضربان ما أحدث يخالف كتابا أو سنة أو أثرا أو إجماعا فهذه بدعة الضلال وما أحدث من الخير لا يخالف شيئا من ذلك فهذه محدثة غير مذمومة انتهى وقسم بعض العلماء البدعة إلى الأحكام الخمسة وهو واضح

    Berkata As Syafi’iy RA, : “ Bid’ah itu ada dua MAHMUDAH dan MADZMUMAH, maka sesuatu (bid’ah) yang sesuai sunnah maka itu adalah yang terpuji, sedang sesuatu (bid’ah) yang menyalahi sunnah maka ia adalah yang (bid’ah) tercela.” Pendapat ini ditakhrij oleh Abu Nu’aim dengan maknanya dari jalur Ibrohim bin al Junaid dari As Syafi’iy. Dan telah datang pula dari As Syafi’iy pendapat yang ditakhrij oleh al Bayhaqi dalam manaqibnya, As Syafi’iy berkata : “Sesuatu yang diadakan yang menyalahi al qur’an, atau sunnah atau atsar, atau ijma’ maka inilah Bid’ah Dholalah, sedang sesuatu yang diadakan yang tidak menyalahi sedikitpun dari semua maka inilah Muhdatsah yang tidak tercela, selesai. Sebagian Ulama membagi Bid’ah pada hukum yang lima dan itu adalah hal yang jelas “

    Dari uraian diatas kita dapati dua model pendekatan para ulama dalam mengartikan Bid’ah :

    – Dengan pendekatan bahasa (ethimologi) : yakni setiap perkara baru (yang sebelumnya tidak terdapat contoh yang mendahului). Pendapat ini bersandar pada beberapa hal :

    1. Mengacu pada keumuman yang terdapat dalam hadits Fa Inna Kulla Muhdatsatin Bid’atun
    2. Bid’ah dengan arti bahasa inilah yang dipergunakan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khotthob RA, dalam mengomentari berhimpunnya jama’ah sholat tarowih dengan satu imam, dan juga Sahabat Abdulloh bin Umar RA, ketika ditanya tentang sholat Dhuha sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Mujahid.

    Pendekatan model ini menyimpulakn bahwa setiap yang baru yang sebelumnya tidak terdapat contohnya disebut bid’ah, baik ia sesuai dengan dalil syara’ atau menyalahi dalil syara’. Konsekwensi dari pemahaman bid’ah dengan pendekatan bahasa adalah harus membagi Bid’ah setidaknya dalam dua kategori yakni : BID’AH DHOLALAH/SAYYIAH dan BID’AH HASANAH atau BID’AH MADZMUMAH dan BID’AH MAHMUDAH sebagaimana pendapat Imam Syafi’iy. Namun ada pula sebagian Ulama yang membagi bid’ah sesuai dengan hukum islam yakni menjadi lima bagian : wajib, sunnah, makruh, haram dan mubah sebagaimana yang kita dapati dalam syarah muslim-nya Imam Nawawi diatas.

    – Dengan pendekatan ‘Urfi Syar’iy atau Ishthilahi (terminologhi) : yakni setiap perkara baru (yang sebelumnya tidak ada contohnya) yang menyalahi dalil-dalil syara’. Pendapat ini juga memiliki landasan hukum yakni :

    1. Berpijak pada hadits dari Sayyidah ‘Aisyah, hadits yang ‘Am Makhshus, dimana pada hadits tersebut memberi pengertian tidak setiap yang baru itu tertolak, dengan mafhum berarti sesuatu yang baru dan memiliki landasan hukum syar’iy tidak tertolak atau tidak disebut Muhdatsah/Bid’ah.

    Kesimpulan

    Apapun model pendekatannya terhadap pemahaman tentang bid’ah, dapat kita garis bawahi sebagai berikut :

    1. Sesuatu yang baru itu disebut bid’ah (istilah syar’iy) atau bid’ah dholalah (bahasa) bukan disebabkan perkara tersebut tidak dikerjakan oleh Rosululloh dan para sahabat Rodhiyallohu ‘Anhum Ajma’in, atau tidak ada pada masa-masa awal Islam.
    2. Sesuatu yang baru disebut bid’ah (menurut istilah syar’iy) atau bid’ah dholalah (menurut arti bahasa) jika menyalahi dalil-dalil syar’iy, (baik ‘Am maupun Makhsush) baik al qur’an, sunnah, atsar, atau ijma’.
    3. Terhadap sesuatu yang baru kita tidak dapat langsung menghukuminya sebagai amalan bid’ah sesat, namun hendaknya diuji dulu dengan dalil-dalil syar’iy.
    4. Tidak dikerjakannya sebuah amalan dimasa Rosululloh SAW, dan masa generasi awal tidak otomatis mengindikasikan haramnya amalan tersebut.

    Dengan demikian gugurlah pertanyaan dan pernyataan sebagai berikut :

    – “Pernahkah hal tersebut dilakukan oleh Rosululloh SAW atau para sahabat, maupun generasi awal Islam ?” pertanyaan yang tepat adalah “ apakah hal tersebut memiliki landasan hukum syar’iy”?
    – “Jika memang hal itu baik, niscaya para sahabat dan ummat dari generasi awal pasti telah mendahului kita.”
    – Pembatasan amal baik dengan mengacu pada QS al Maidah : 3

    أَلْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

    “Pada hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku sempurnakan bagimu nikmat-Ku.” (QS. al-Maidah : 3)”

    Mengingat ayat tersebut turun sebelum Kholifah Abu Bakar RA, menghimpun al qur’an karena khawatir al qur’an akan musnah seiring banyaknya para sahabat penghafal al qur’an yang syahid, Bukankah Alloh telah menjamin dalam firman-Nya : “ Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan ad Dzikro, dan sesungguhnya Kami (pula) yang menjadi Pelindung baginya “ Juga apa yang dilakukan oleh Amirul Mukminin Umar bin Khotthob RA, tentang sholat tarowih dan jilid 80 kali bagi peminum khomer, juga apa yang dilakukan Amirul Mukminin Utsman bin Affan dalam adzan jum’ah, bukankah itu semua terjadi setelah Alloh menyatakan kesempurnaan agamanya ?

    Kepada teman-teman Ummati Press kami mohon dengan hormat kesediaannya untuk memberikan koreksi atas kesalahan yang ada pada tulisan diatas, sebelumnya kami haturkan terima kasih, teriring do’a “ Waffaqonallohu Wa Iyyakum Ilaa Maa Yuhibbu Wa Yardho, Wa Yarhamuna bil Ittihadi Wal I’tishomi Bihablillahil Matiin “

    Wallohu a’lam….

    1. السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
      Saudaraku @bu Hilya sangat terkesan sekali membaca uraian tentang bid’ah diatas. Sebenarnya saya menunggu jawaban mereka, pengikut Salafy Wahabi, macam Abu Dzar, Gunawan, Abu Zamil dkk tentang pemahaman mereka tentang bid’ah, baik dari sudut ilmu Nahwu, Balaghah dan mustholah hadits.

      Tapi walaupun demikian saya sangat terkesan dan senang dengan paparan saudaraku @bu Hilya semoga benteng-benteng Ahlus Sunnah Wal Jamaah diberi kekuatan Iman, Keluasan Ilmu dan Barakah fid dini wad dunya wal akhirat.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. @Mas Derajad, saya setuju dengan anda. paparan yg d uraikan oleh @bu Hilya sudah cukup gamblang, bahkan mengutip jg pendapat para Imam Imam yg muktabar, dan tentu saja, pendapat Imam Imam muktabar tersebut lebih layak di ikuti.

      Menurut saya, KOMENTAR “ANEH” SAUDARA SATYO yang berbunyi: “agaknya debat kusir seperti ini nggak akan pernah berakhir. kenapa? ya karena yg dipelajari “sumbernya tidak sama”. kalaulah yang di sumbernya Al Quran dan Al Hadits tentu pemahamannya bisa sama”.

      Dari perkataan saudara Satyo, seolah olah perbedaan itu hal yg tercela, dan perbedaan yg terjadi karena tidak berhukum dengan Al-Qur”an dan Hadist. Mengapa saya katakan aneh, karena Dalam tradisi bermadzhab, perbedaan pendapat merupakan sebuah keniscayaan dan termasuk khazanah kekayaan fiqih kaum Muslimin.

      Sebagai contoh: Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Sepulangnya dari peperangan Ahzab, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Jangan ada yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” (HR. al-Bukhari [894]).

      Sebagian sahabat ada yang memahami teks hadits tersebut secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar–walaupun waktunya telah berlalu– kecuali di tempat itu. Sebagian lainnya memahaminya secara kontekstual, sehingga mereka melaksanakan shalat Ashar, sebelum tiba di perkampungan yang dituju. Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam menerima laporan tentang kasus ini, beliau tidak mempersalahkan kedua kelompok sahabat yang berbeda pendapat dalam memahami teks hadits beliau.” (HR. al-Bukhari [894]).

      Sayidina Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata:
      “Nabi mendera orang yang minum khamr sebanyak empat puluh kali. Abu Bakar mendera empat puluh kali pula. Sedangkan Umar menderanya delapan puluh kali. Dan kesemuanya adalah sunnah. Akan tetapi, empat puluh kali lebih aku sukai.” (HR. Muslim (3220) dan Abi Dawud (3384).

      Dalam hadits ini, Ali bin Abi Thalib menetapkan bahwa dera empat puluh kali yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan Abu Bakar, sedang dera delapan puluh kali yang dilakukan oleh Umar kepada orang yang minum khamr, keduanya sama-sama benar. Hadits ini menjadi bukti bahwa perbedaan pendapat di antara sesama mujtahid dalam bidang fiqih, tidak tercela, bahkan eksistensinya diakui berdasarkan hadits tersebut.

      Khalifah yang shaleh, Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu juga berkata: “Aku tidak gembira seandainya para sahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak berbeda pendapat. Karena seandainya mereka tidak berbeda pendapat, tentu tidak ada kemurahan dalam agama.” (Jazil al-Mawahib, 22).

  76. Alhamdulilah nyampe juga di blog ini, ane dapet banyak pencerahan dan modal buat diskusi sama “orang-orangan sawah “, afwan ana belum berani comment masih fakir ilmu tapi tetap istiqomah, aswaja ….allahu akbar

    1. ari,
      kamu merasa terkena sentilan artikel di atas ya, tapi kenapa cuma bisa bilang artikelnya tidak berbobot, kok bukannya segera menyadari dosa-dosa kalian atas kejahatan kalian kepada kaum muslimin?

      1. Mas @bu Hilya, saya mempunyai seorang teman, jargonnya kembali kepada Al-Qur’an dan Hadist. Dalam kamusnya, sepertiny cuma ada kata sunnah dan bid’ah. Namun, ketika berbicara tentang Ushul Fiqih, dia kemudian balik bertanya, apa itu Ushul Fiqih. Jadi, sungguh aneh, bagaimana mungkin seseorang dapat berhukum dari Al-Qur’an dan Hadist tp Ushul Fiqih saja tidak tahu. orang yg suka memvonis bid’ah adalah mereka yg tidak tahu cara mengeluarkan hukum dalam islam.

        Sebenarnya berbeda pendapat antara madzhab atau golongan muslimin atau antara para ulama itu selalu ada, karena masing-masing mempunyai sudut pandang yang tersendiri. Umpamanya satu hadits didhoifkan oleh satu ulama, tapi hadits ini bisa juga oleh ulama’ lainnya dishohihkannya. Yang kita sesalkan dan sayangkan golongan Salafi/Wahabi dan pengikutnya sering menyalahkan, mensesatkan sampai-sampai memvonis syirk golongan muslimin lainnya karena tidak sepaham atau sependapat dengan mereka ini dan mereka merasa yang paling pandai, murni dalam syari’at Islam!.

        Sehingga cukuplah hadits dari Baginda Nabi saw. ”Akan datang nanti suatu masa yang penuh dengan penipuan hingga pada masa itu para pendusta dibenarkan, orang-orang yang jujur didustakan; para pengkhianat dipercaya dan orang-orang yang amanah dianggap khianat, serta bercelotehnya para ‘Ruwaibidhoh’. Ada yang bertanya: ‘Apa itu ‘Ruwaibidhoh’? Beliau saw. menjawab: ”Orang bodoh pandir yang berkomentar tentang perkara orang banyak” (HR. Al-Hakim jilid 4 hal. 512 No. 8439 — ia menyatakan bahwa hadits ini shohih; HR. Ibn Majah jilid 2 hal. 1339 no. 4036; HR. Ahmad jilid 2 hal. 219, 338 No. 7899,8440; HR. Abi Ya’la jilid 6 hal. 378 no. 3715; HR. Ath-Thabrani jilid 18 hal. 67 No. 123; HR. Al-Haitsami jilid 7 hal. 284 dalam Majma’ Zawa’id).

        1. Bismillah,

          @Mas Agung, sebenarnya semangat dari jargon “Kembali kepada al qur’an dan sunnah” adalah sangat bagus dan mulia, namun jika tidak dibarengi dengan sarana yang memadai rasanya akan sulit termasuk bagi saya pribadi.

          ada ungkapan bijak mutiara didasar lautan adalah permata yang sungguh mulia, maka beruntunglah mereka yang mendapatkannya, akan tetapi mencoba menyelam guna mengambilnya tanpa sarana yang memadai adalah bunuh diri

  77. @ari
    “artikelnya tdk berbobot…….”, inilah kata-kata seorang yang sudah menjadi “PARANOID Bid’ah dan Sunnah” alias gak bisa bedain 2 kata “Bid’ah dan Sunnah”. Akibat terkena Virus Wahabi, yang selalu bilang “gak ada dalilnya, gak dikerjakan oleh Rasulullah, Bid’ah masuk neraka”.

  78. Contoh yang dikemukakan oleh abu hilya tentang amalan yang dilakukan oleh Para Sahabat semasa Rasululloh hidup tidak benar disebut sebagai bid’ah, karena ketika mereka mengerjakan amalan-amalan tersebut masa pensyariatan masih berlangsung terbukti dengan disetujuinya amalan-amalan tersebut oleh Rasululloh meskipun beliau belum mengajarkan amalan tersebut kepada mereka. Dengan kata lain amalan-amalan tersebut bukanlah bid’ah seperti yang abu hilya simpulkan, melainkan bagian dari sunnah takririyah dari Rasululloh.

    Jadi membandingkan amalan-amalan sahabat yang belum diajarkan Rasululloh semasa beliau masih hidup atau proses pensyariatan masih berlangsung dengan amalan-amalan kalian adalah seperti membandingkan emas dengan tembaga. Siapa yang berhak menyatakan amalan-amalan yang kalian lakukan adalah sebagai amalan sunnah kalau ternyata tidak pernah dilakukan oleh Rasululloh dan para sahabat, tidak pula diperintahkan, tidak pula dicontohkan, dan tidak pula dianjurkan? Apakah Kiyai atau Habib berhak melakukannya?

    Firman Allah:

    “APAKAH MEREKA MEMPUNYAI SEMBAHAN-SEMBAHAN SELAIN ALLAH yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak DIIZINKAN ALLAH? Sekiranya tak ada Ketetapan yang menentukan (dari ALLAH) tentulah mereka telah dibinasakan. DAN SESUNGGUHNYA ORANG-ORANG YANG ZALIM ITU AKAN MEMPEROLAH AZAB YANG AMAT PEDIH”

    Sedangkan perbuatan yang dilakukan oleh para Amirul Mukminin sepeninggal Rasululloh bukanlah bid’ah sama sekali, karena Rasululloh semasa hidup beliau telah berpesan kepada umatnya untuk berpegang teguh kepada sunnah Rasul dan sunnahnya para Khulafaur Rasyidin.

    Suatu perbuatan dinyatakan baik atau buruk bukanlah ditentukan oleh manusia, melainkan ditentukan oleh pembuat syariat. Bukankah kita sering membaca dan mendengar firman Allah yang menyatakan ‘barangkali kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagimu dan barangkali kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagimu. Allah Maha Mengetahui sedangkan kalian tidak tahu’.

    Sekian dan mohon maaf kalau tanggapan saya tidak berkenan di hati pembaca.

  79. Maaf Firman Allah diatas terdapat dalam S. as-Syuro ayat 21, yang berbunyi:

    ““APAKAH MEREKA MEMPUNYAI SEMBAHAN-SEMBAHAN SELAIN ALLAH yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak DIIZINKAN ALLAH? Sekiranya tak ada Ketetapan yang menentukan (dari ALLAH) tentulah mereka telah dibinasakan. DAN SESUNGGUHNYA ORANG-ORANG YANG ZALIM ITU AKAN MEMPEROLAH AZAB YANG AMAT PEDIH”

    1. @Bukan Munafik :

      Saudara kurang cermat dan hati-hati dalam membaca. Silahkan baca lagi dengan cermat. Apakah shalat tarawih berjamaah dengan 20 rakaat, adzan jum’at 2 kali dan lain sebagainya ada ketika Rasulallah Muhammad Shalallahu ‘alaihi Wasallam masih hidup ?

      Baca dengan cermat baru komentar.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  80. @Bukan Munafik dan All Wahabi (salafi) dkkny

    Ilmu itu ada dua, yg bersifat qothi dan zhanni. yang qothi adalah pasti, dan tidak boleh berselisih akan hal tersebut, seperti wajibnya sholat fardhu, wajibnya puasa di bulan romadhon, larangan zina dll.

    dalam soal zhanni, yg tidak ada dalilnya secara pasti, maka dalam soal inilah yg menjadi lapangan ijtihad, dan berbeda dalam soal soal yg zhanni tidak berdosa.

    Diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmudzi dari Syu’bah ra. bahwa ketika Nabi saw. mengutus Mu’az bin Jabal ke Yaman, beliau saw.bersabda: ‘Apa yang akan kamu perbuat jika kamu menghadapi satu perkara?’. Mu’az menjawab: ‘Saya akan memutuskan dengan apa yang terdapat dalam Kitabullah’. Rasulallah saw. kembali bertanya; ‘Jika tidak ada dalam Kitabullah..?’. Mu’az menjawab:’Saya akan putuskan dengan Sunnah Rasulallah’. Rasulallah bertanya lagi: ‘Jika tidak ada dalam Sunnah Rasulallah…?’. Mu’az menjawab: ‘Saya akan berijtihad dengan pendapatku dan saya tidak akan melebihkannya’. Mu’az berkata:’Rasulallahpun akhirnya menepuk-nepuk dada saya dan bersabda: ‘Segala puji bagi Allah yang telah menjadi- kan utusan Rasul-Nya sesuai dengan apa yang diridhoi olehnya’.

    Nabi Muhammad saw. bersabda :
    hakim apabila berijtihad kemudian mencapai kebenaran, maka ia mendapat dua pahala. apabila ia berijtihad dan tidak mencapai kebenaran, maka ia mendapatkan satu pahala (HR. Bukhori dan Muslim).

    Saran saya, pahami dulu, apa itu ijtihad. Perbanyak membaca perbandingan mazhab, disaa, akan kalian temukan perbedaan pendapat dikalangan Imam Imam terdahulu.

    kalau pola pikir kalian dengan mudahnya memvonis bid’ah, maka akan banyak imam imam terdahulu yg kalian vonis bid’ah.

  81. Asslamualaikum

    Setiap orang yg membuat perkara baru oleh golongan antum disebut ahli bid’ah dan sesat. makanya tidak heran semua orang salafi wahabi mengclaim JT dgn khurujnya 3 hari/bulan 40 hari/thn dan 4 bulan utk berdakwah adalah bid’ah dholallah. Begitu juga org yasinan dan tahlillan, maulid nabi dan isra mi’raj kalian sebut jg bid’ah.

    ketika orang menjelaskan berdasarkan dalil dan dapat diterima akal kalian salafi-wahabi akan berkata :

    1. apakah agama islam ini belum sempurna sehingga perlu ada penambahan
    2. apakah Rasulullah pernah memerintahkan, mengucapkan ? kalo tdk pernah kenapa kalian melakukannya
    3. kalolah perbuatan itu baik pasti rasulullah, sahabat dan tabi’in melakukannya karena mereka yg paling tau ttg agama mrk.

    tapi anehnya salafi wahabi jg mengerjakan perkara baru yg bid’ah dan sesat, contoh :
    a. salafi membagi tauhid menjadi 3 bagian yaitu Rububiyah,Uluhiyah, dan asma wa sifat

    b. Mengadakan tabliqh akbar dimana laki2, perempuan dan anak2 berkumpul disatu tempat

    c. Mengadakan pengajian seminggu sekali

    coba antum jawab pertanyaan saya jika antum orang berilmu :
    1. coba kasih tau saya doktrin a,b dan c tersebut apakah pernah diucapkan, diperintahkan oleh rasulullah.
    sesuai dgn doktrin anda salafi wahabi seharusnya juga bid’ah dan sesat kalo orang-orang salafi wahabi itu termasuk orang2 yg jujur.
    Tp kenyataannya kan tidak. kalian orang2 yg suka berbuat kerusakan dan menyebar fitnah dgn segala macam cara bangkai tersebut kalian tutupi agar tidak menyebar aroma bau busuknya.

    2. Kalo kalian jawab itu adalah 2 hal yg berbeda dgn alasan A-Z. sekarang kita ikuti saja aturan main antum jika itu tdk bid’ah menurut antum.

    1. apakah agama islam ini belum sempurna sehingga perlu ada penambahan

    2. apakah Rasulullah pernah memerintahkan, mengucapkan ? kalo tdk pernah kenapa kalian melakukannya

    3. kalolah perbuatan itu baik pasti rasulullah, sahabat dan tabi’in melakukannya karena mereka yg paling tau ttg agama mrk.

    silahkan jawab dengan kebenaran jgn menjawab dgn doktrin dan mencari pembenaran.
    INGAT :
    selama kalian jujur dan berpengang teguh pada Al-Quran dan Al-Hadist kalian tidak akan bisa menjawabnya.

    sehingga benar perkataan ulama-ulama dunia yg mengatakan salafi-wahabi adalah orang yg suka menyebarkan fitnah dan termasuk orang yg tidak berilmu dan taqlid buta pada ulama diarab saudi.

    salam

    younedi

  82. Assalamu’alaikum utk @bu hilya, mas derajad dan kawan2 lain pengamal setia yasin tahlil maulid dll cukup sudah penjelasannya saya pribadi sangat suka mendengarnya namun biar saja kalau kawan kita mas abu, abu, dikn dll itu ga setuju mereka itu sudah lebih tinggi ilmunya dan sudah lebih yakin masuk surga makanya sudah tidak perlu bagi mereka acara pembacaan yasin tahlil dll mohon maaf kalau ada salah2 kata wa’alaikumsalam wr.wb.

Tinggalkan Balasan

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker