Fikih Sunnah

Tabarruk Ajaran Nabi, Bertabarruk adalah Sunnah Bukan Musyrik

TABARRUK BUKANLAH PERBUATAN BID’AH SESAT APALAGI SYIRIK. Adapun obyek/perkara yang dijadikan sebagai sarana mencari berkah dari Alloh kadang berupa Para Nabi dan orang-orang sholih. Atau berupa Benda peninggalan para Nabi atau orang-orang sholih, dan terkadang berupa tempat yang pernah dipergunakan oleh para Nabi atau orang-orang sholih dalam beribadah kepada Alloh. Sehingga dapat dikatakan Tabarruk adalah bentuk lain dari Tawassul.

Diantara amaliyah (kebiasaan) yang berlaku dalam kalangan Ahlus Sunnah Wal Jama’ah khususnya warga Nahdliyyin yang sering dituduh sebagai perbuatan “Bid’ah Sesat” bahkan “Syirik” adalah TABARRUK yang dalam kalangan santri biasa dikenal dengan istilah Ngalap Barokah.

Tulisan kami kali ini tiada lain hanyalah sebagai upaya “Tabaayun” klarifikasi bahwa apa yang kami yakini juga memiliki dasar hukum yang sah, yang selanjutnya semoga dapat menghilangkan atau setidaknya mengurangi kesalah fahaman oleh sebagian kalangan demi terciptanya ukhuwah yang kita citakan bersama.

TABARRUK/NGALAP BERKAH adalah istilah yang digunakan oleh sebagian besar ummat islam guna menyebut perbuatan yang bertujuan mencari/mengharap “Barokah/bertambahnya kebajikan” dari Alloh melalui obyek-obyek yang diyakini sebagai obyek yang dikehendaki oleh Alloh untuk beroleh keberkahan dari-Nya. Adapun obyek/perkara yang dijadikan sebagai sarana mencari berkah dari Alloh kadang berupa Para Nabi dan orang-orang sholih atau berupa Benda peninggalan para Nabi atau orang-orang sholih, dan terkadang berupa tempat yang pernah dipergunakan oleh para Nabi atau orang-orang sholih dalam beribadah kepada Alloh. Sehingga dapat dikatakan Tabarruk adalah bentuk lain dari Tawassul.

Sebelum kami kemukakan dalil-dalil yang menjadi dasar/sandaran ummat Islam dalam ber-Tabarruk, perlu kiranya kami tegaskin disini tentang keyakinan kami ketika ber-Tabarruk :

Pertama : Bertabarruk dengan perantara orang-orang sholih, karena kami meyakini keutamaan dan kedekatan mereka kepada Alloh dengan tetap meyakini ketidak mampuan mereka memberi kebaikan atau menolak keburukan kecuali atas izin Alloh.
Praktek yang umum dalam Tabarruk dengan orang-orang sholih adalah Tabarruk dengan do’a-do’a mereka atau dengan mencium tangan mereka, menghabiskan sisa makanan atau minuman mereka dll.

Adapun diantara dalil/hujjah yang menjadi landasan praktek Tabarruk dengan cara diatas adalah :

Sabda Rosululloh Shollallohu ‘alaihi wasallam :

عَنْ ابْنِ عَبَّاس قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلّمَ (( الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ ))

Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Rosululloh shollalloho ‘alaihi wasallam bersabda : “Barokah itu bersama orang-orang bersar diantara kalian.” (HR. Al Hakim dan Ibnu Hibban) Al Hakim berkata : “Hadits ini shohih menurut syarat Al Bukhori, namun beliau tidak meriwayatkannya”. Adz Dzahabi menyetujuinya.

Sedang yang dijadikan contoh dalam Bertabarruk dengan orang-orang sholih diantaranya adalah :

a. Usaid Ibn Hudloir mencium pinggang Rosululloh :

Imam Al Hakim meriwayatkan sebuah hadits dengan sanad yang shohih bersambung sampai kepada Abi Laila, ia menuturkan sebuah kisah sbb :

كَانَ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْر رَضِيَ اللهُ عَنْهُ رَجُلاً صَالِحاً ضَاحِكاً مَلِيْحاً ، فَبَيْنَمَا هُوَ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ وَيُضْحِكُهُمْ ، فَطَعَنَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي خَاصِرَتِهِ ، فَقَالَ : أَوْجَعْتَنِي قَالَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِقْتَصِ قَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ! إِنَّ عَلَيْكَ قَمِيْصاً وَلَمْ يَكُنْ عَلَيَّ قَمِيْصٌ ،قَالَ: فَرَفَعَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَمِيْصَهُ فَاحْتَضَنَهُ ثُمَّ جَعَلَ يُقَبِّلُ كَشْحَهُ ، فَقَالَ : بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَارَسُوْلَ اللهِ ! أَرَدْتُ هَذَا . هَذَا حَدِيْثٌ صَحِيْحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ ، وَوَافَقَهُ الذَّهَبِي فَقَالَ : صَحِيْحٌ.

Suatu ketika Usaid bin Hudloir (seorang sahabat yang sholih dan humoris), bersama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dan para sahabat. Usaid menuturkan cerita yang membuat para sahabat tertawa hingga Rosululloh memukul pinggangnya. Usaid pun mengadu : “Engkau telah membuatku merasa sakit,” kata Usaid.
“Silahkan membalas,” jawab Nabi.
“Wahai Rosululloh, engkau mengenakan gamis sedang saya tidak,” ujar Usaid.
Abi Laila berkata : “kemudian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam melepas gamisnya dan Usaid merangkul beliau dan menciumi pinggang beliau.”
“Ayah dan ibuku menjadi tebusanmu, wahai Rosululloh, saya menginginkan ini,” kata Usaid. (HR. Al Hakim, dan beliau berkata : Hadits ini sanadnya shohih sedang Imam Bukhori-Muslim tidak meriwayatkannya. Adz Dzahabi menyetujuinya dan beliu berkata : Hadits ini Shohih)

b. Para Sahabat Berebut Dahak dan Bekas Wudhu Rosululloh :

Adalah ‘Urwah ketika beliau menceritakan hasil pengamatannya terhadap para sahabat Rosululloh :

وَاللَّهِ إِنْ تَنَخَّمَ نُخَامَةً إِلَّا وَقَعَتْ فِي كَفِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ فَدَلَكَ بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ وَإِذَا أَمَرَهُمْ ابْتَدَرُوا أَمْرَهُ وَإِذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ

“Demi Alloh,” kata ‘Urwah, “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam tidak mengeluarkan dahak kecuali dahak itu jatuh pada telapak tangan salah satu sahabat yang kemudian ia gosokkan pada wajah dan kulitnya. Jika beliau memberikan perintah maka mereka segera mematuhi perintahnya. Jika beliau berwudlu maka nyaris mereka berkelahi untuk mendapat air sisa wudlu’nya.” (HR. Al Bukhori)

Dalam kaitan hadits diatas, Al Imam Al Hadidzh Ibn Hajar berkata :

BACA :  Contoh Para Sahabat dan Salaf Sholih dalam Bertawassul (Bagian 1)

وفيه طهارة النخامة والشعر المنفصل والتبرك بفضلات الصالحين الطاهرة

“Dalam hadits tersebut terdapat (dalil) sucinya dahak dan Rambut yang terpisah, dan (dalil) Tabarruk dengan sisa perkara yang suci dari orang-orang sholih” (Fathul Bari, vol. 5, hlm. 341)

c. Mencium Tangan Orang Lain Yang Pernah Berjabat Dengan Rosululloh :

Yahya ibnu Al Harits Adz Dzimari berkata:

لَقِيْتُ وَاثِلَةَ بْنَ الْأَسْقَعِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فَقُلْتُ : بَايَعْتَ بِيَدِكَ هَذِهِ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ فَقَالَ : نَعَمْ. قُلْتُ : أَعْطِنِي يَدَكَ أُقَبِّلُهَا ، فَأَعْطَانِيْهَا فَقَبِّلْتُهَا
Saya pernah berjumpa dengan Watsilah ibnu Al Asqo’ –rodhiyallohu ‘anhu-.
“Apakah engkau berbai’at kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam dengan tanganmu ini?” tanyaku.
“Benar” jawab Watsilah.
“Julurkan tanganmu, aku akan menciumnya !” kataku. Ia kemudian menjulurkan tangannya dan aku mencium tangan tersebut. (HR. At Thobaroni)

Kedua : Tabarruk Dengan Benda Peninggalan Orang-Orang Sholih

Adapun Tabarruk dengan benda-benda peninggalan orang-orang sholih seperti cincin, baju, sajadah atau yang lain maka karena kami meyakini peninggalan tersebut dinisbatkan kepada orang-orang sholih, di mana kemuliaan peninggalan itu berkat mereka, dihormati, diagungkan dan dicintai karena mereka, dan bukan karena bendanya.

Adapun diantara dalil/hujjah yang menjadi landasan praktek Tabarruk dengan cara tersebut adalah :

1. Firman Alloh :

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلَائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka; ‘ Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya Tabut kepadamu, didalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun,’ tabut itu dibawa oleh malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagimu, jika kamu orang yang beriman.” (QS, Al Baqoroh : 248)

Dalam tafsirnya, Ibnu Katsir menuturkan beberapa riwayat dan pendapat tentang isi Tabut (peti) tersebut : “Di dalam tabut itu ada tongkat Nabi Musa, tongkat Nabi Harun, dua papan dari Taurot dan beberapa baju Nabi Harun. Sebagian ulama berpendapat di dalamnya ada tongkat dan sepasang sandal.” (Tafsir Ibnu Katsir vol. I hlm. 313)

Selanjutnya dalam kitabnya yang lain Al Hafidh Ibnu Katsir menuturkan kisah yang berkaitan dengan firman Alloh diatas sebagai berikut :
Dahulu Bani Isroil jika berperang dengan salah seorang musuh, maka mereka senantiasa membawa Tabutul Mitsaq (peti perjanjian) yang berada dalam Qubbatuz Zaman sebagaimana telah dijelaskan. Mereka mendapat kemenangan sebab keberkahan dari Tabutul Mitsaq itu dan sebab kedamaian dan sisa-sisa peninggalan Nabi Musa dan Harun yang berada di dalamnya. Ketika dalam salah satu peperangan mereka melawan penduduk Ghaza dan ‘Asqolan, musuh berhasil mengalahkan mereka dan merebut Tabutul Mitsaq dari tangan mereka. (Al Bidayah Wan Nihayah, vol. 2 hal. 6)

Dan yang dijadikan contoh dalam Bertabarruk dengan benda/peninggalan orang-orang sholih diantaranya adalah :

a. Tabarruk Dengan Sumur Bekas Unta Nabi Sholih –alaihis salaam- :

أَنَّ النَّاسَ نَزَلُوا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى الْحِجْرِ أَرْضِ ثَمُودَ فَاسْتَقَوْا مِنْ آبَارِهَا وَعَجَنُوا بِهِ الْعَجِينَ فَأَمَرَهُمْ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُهَرِيقُوا مَا اسْتَقَوْا وَيَعْلِفُوا الْإِبِلَ الْعَجِينَ وَأَمَرَهُمْ أَنْ يَسْتَقُوا مِنْ الْبِئْرِ الَّتِي كَانَتْ تَرِدُهَا النَّاقَةُ

Bahwasannya para sahabat bersama Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam pernah singgah di Al Hijr (tempat yang pernah dihuni kaum Tsamud, yakni kaum Nabi Sholih alaihis salaam).
Para sahabat mengambil air dari sumur-sumur kaum Tsamud dan membuat adonan roti dengan air sumur tersebut. Kemudian Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam menyuruh mereka untuk menumpahkan air yang mereka ambil dan memberikan adonan roti kepada unta, dan Rosululloh menyuruh mereka mengambil air dari sumur yang pernah didatangi unta Nabi Sholih. (HR Muslim)

Imam An Nawawi ketika menjelaskan hadits di atas, beliau berkata :
ومنها مجانبة آبار الظالمين والتبرك بآبار الصالحين

diantara faedah yang terkandung dalam hadits ini adalah ; hendaknya menjauhi sumur peninggalan orang-orang dholim serta (dianjurkan) bertabarruk (ngalap barokah) dengan sumur orang-orang sholih. (Syarah Muslim, vol. 18 hal. 112)

b. Tabarruk Dengan Bekas Jubah Nabi Untuk Pengobatan :

Abdulloh -pembantu Asma’ binti Abu Bakar- disuruh menghadap Abdulloh Ibn Umar guna menanyakan tiga hal; yakni tentang puasa bulan Rojab, tentang pelana dari bahan kayu Urjuwan dan tentang pakaian dari sutera. Sekembali dari mengahadap Abdulloh ibnu Umar, sang pembantu Asma’ tersebut menghadap kepada Asma’ binti Abu Bakar dan mengkhabarkan jawaban dari Abdulloh Ibnu Umar.

فَقَالَتْ هَذِهِ جُبَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْرَجَتْ إِلَيَّ جُبَّةَ طَيَالِسَةٍ كِسْرَوَانِيَّةٍ لَهَا لِبْنَةُ دِيبَاجٍ وَفَرْجَيْهَا مَكْفُوفَيْنِ بِالدِّيبَاجِ فَقَالَتْ هَذِهِ كَانَتْ عِنْدَ عَائِشَةَ حَتَّى قُبِضَتْ فَلَمَّا قُبِضَتْ قَبَضْتُهَا وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُهَا فَنَحْنُ نَغْسِلُهَا لِلْمَرْضَى يُسْتَشْفَى بِهَا

BACA :  Mengapa Salafi Wahabi Dianggap Meresahkan
banner gif 160 600 b - Tabarruk Ajaran Nabi, Bertabarruk adalah Sunnah Bukan Musyrik

Kemudian Asma’ mengeluarkan jubah hijau Persia yang bertambalkan sutera dan kedua celahnya dijahit dengan sutera juga.
Kemudian Asma’ berkata : “Ini adalah jubah Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam, jubah tersebut disimpan oleh ‘Aisyah. Saat ia wafat jubah ini aku ambil. Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam pernah mengenakan jubah ini dan saya membasuhnya untuk orang-orang sakit dalam rangka memohon kesembuhan dengannya.” (HR. Muslim)

Dalam hadits diatas kita dapati adanya keterangan bahwa Asma’ binti Abu Bakar menggunakan air bekas cucian (basuhan) jubbah Nabi untuk orang-orang sakit yang mencari kesembuhan dengannya.

c. Tabarruk Dengan Rambut Nabi Untuk Mencari Kesembuhan :

Adalah Utsman Ibn Abdillah Ibn Mauhab bercerita :

أَرْسَلَنِي أَهْلِي إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَدَحٍ مِنْ مَاءٍ وَقَبَضَ إِسْرَائِيلُ ثَلَاثَ أَصَابِعَ مِنْ قُصَّةٍ فِيهِ شَعَرٌ مِنْ شَعَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ إِذَا أَصَابَ الْإِنْسَانَ عَيْنٌ أَوْ شَيْءٌ بَعَثَ إِلَيْهَا مِخْضَبَهُ فَاطَّلَعْتُ فِي الْجُلْجُلِ فَرَأَيْتُ شَعَرَاتٍ حُمْرًا
“Aku pernah diutus keluargaku untuk menemui Ummu Salamah –istri Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam- dengan membawa wadah berisi air. Lalu Ummu Salamah datang dengan membawa sebuah genta dari perak yang berisi rambut Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam. Jika seseorang terkena penyakit ‘ain atau sesuatu hal maka ia datang kepada Ummu Salamah membawakan bejana untuk mencuci pakaian. “Saya amati genta itu dan ternyata saya melihat ada beberapa helai rambut berwarna merah,” kata ‘Utsman. (HR. Al Bukhori)

Al Hafidh Ibnu Hajar, ketika menjelaskan hadits diatas beliau berkata :

وَالْمُرَادُ أَنَّهُ كَانَ مَنْ اِشْتَكَى أَرْسَلَ إِنَاءً إِلَى أُمِّ سَلَمَةَ فَتَجْعَلُ فِيْهِ تِلْكَ الشَّعَرَاتِ وَتَغْسِلُهَا فِيْهِ وَتُعِيْدُهُ فَيَشْرَبُهُ صَاحِبُ الْإِنَاءِ أَوْ يَغْتَسِلُ بِهِ اِسْتِشْفَاءً بِهَا فَتَحْصُلُ لَهُ بَرَكَتُهَا

Maksud hadits adalah : Bahwasannya jika seseorang mengeluh (karena penyakit) maka ia mengirim wadah kepada Ummu Salamah, kemudian Ummu Salamah meletakkan rambut-rambut Nabi dan membasuhnya di dalam wadah tersebut, kemudian wadah tersebut dikembalikan kepada pemiliknya. Selanjutnya sang pemilik wadah tersebut meminum atau membasuh badannya dengan air (bekas basuhan rambut Nabi) dengan tujuan mengharap kesembuhan, maka ia mendapat barokah dari rambut tersebut. (Fathul Bari, vol. 10 hlm. 353)

– Kisah Kholid Ibn Walid dan Rambut Nabi Dalam Perang Yarmuk :

Ja’far ibn Abdillah ibn Al Hakam bercerita :

أَنَّ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيْدِ فَقَدَ قَلَنْسُوَةً لَهُ يَوْمَ الْيَرْمُوكْ فَقَالَ : اُطْلُبُوْهَا فَلَمْ يَجِدُوْهَا فَقَالَ : اُطْلُبُوْهَا فَوَجَدُوْهَا فَإِذًا هِيَ قَلَنْسُوَةٌ خَلَقَةٌ فَقَالَ خَالِدٌ : اِعْتَمَرَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَلَقَ رَأْسَهُ فَابْتَدَرَ النَّاسُ جَوَانِبَ شَعْرِهِ فَسَبَقْتُهُمْ إِلَى نَاصِيَتِهِ فَجَعَلْتُهَا فِي هَذِهِ الْقَلَنْسُوَةِ فَلَمْ أَشْهَدْ قِتَالًا وَهِيَ مَعِي إِلَّا رُزِقْتُ النَّصْرَ

Bahwa Kholid ibnu Al Walid kehilangan peci miliknya saat perang Yarmuk. “Carilah peciku,” perintah Kholid kepada pasukannya.
Mereka mencari peci tersebut namun gagal menemukannya. “Carilah peci itu,” kata Kholid lagi.
Akhirnya peci itu berhasil ditemukan. Ternyata peci itu peci yang sudah lusuh bukan peci baru.
Dan ketika peci tersebut ditemukan, Kholid berkata : “Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam melaksanakan umroh lalu beliau mencukur rambut kepalanya, kemudian orang-orang segera menghampiri bagian-bagian rambut beliau. Lalu saya berhasil merebut rambut bagian ubun-ubun yang kemudian saya taruh di peci ini. Saya tidak ikut bertempur dengan mengenakan peci ini kecuali saya diberi kemenangan.” (HR. At Thobaroni dalam Al Kabir)

– Imam Ahmad Ber-Tabarruk Dengan Rambut Nabi Untuk Kesembuhan :

Al Hafizh Adz Dzahabi menuturkan kebiasaan Imam Ahmad bin Hanbal dalam kitabnya sebagai berikut :

قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ: رَأَيْتُ أَبِي يَأْخُذُ شَعْرَةً مِنْ شَعْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَيَضَعُهَا عَلَى فِيْهِ يُقَبِّلُهَا.وَأَحْسِبُ أَنَّي رَأَيْتُهُ يَضَعُهَا عَلَى عَيْنِهِ، وَيُغَمِّسُهَا فِي الْمَاءِ وَيَشْرَبُهُ يَسْتَشْفِي بِهِ.

Abdullah putra Imam Ahmad bercerita : “Saya melihat ayah mengambil sehelai rambut dari rambut Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam, lalu beliau meletakkan pada mulutnya seraya menciumi rambut tersebut. Saya rasa saya pernah melihat ayah meletakkan rambut itu pada matanya, mencelupkan rambut tersebut ke dalam air dan meminumnya serta memohon kesembuhan dengannya.” (Siyaru A’lamin Nubalaa’ vol. XI hlm. 212)

d. Tabarruk Dengan Keringat Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam :

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ دَخَلَ عَلَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ عِنْدَنَا فَعَرِقَ وَجَاءَتْ أُمِّي بِقَارُورَةٍ فَجَعَلَتْ تَسْلِتُ الْعَرَقَ فِيهَا فَاسْتَيْقَظَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أُمَّ سُلَيْمٍ مَا هَذَا الَّذِي تَصْنَعِينَ قَالَتْ هَذَا عَرَقُكَ نَجْعَلُهُ فِي طِيبِنَا وَهُوَ مِنْ أَطْيَبِ الطِّيبِ

Dari Anas bin Malik, ia berkata : “Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam masuk menemui kami lalu beliau tidur siang dan berkeringat. Kemudiaan ibuku datang membawa botol lalu memasukkan keringat Nabi ke dalam botol tersebut.
Nabi -shollallohu ‘alaihi wasallam- pun akhirnya terbangun dan bertanya, “Wahai Ummu Sulaim !, apa yang kamu lakukan ?”
“Ini adalah keringatmu yang aku campurkan pada wewangianku. Keringat ini adalah wewangian paling harum,” jawab Ummu Sulaim. (HR. Muslim)
Dalam riwayat Ishaq Ibn Abi Tholhah, Ummu Sulaim menjawab :
قالت نرجو بركته لصبياننا فقال أصبت
“Kami berharap keberkahannya untuk anak-anak kami,” maka Rosululloh bersabda : “Engkau benar “.

BACA :  Ajaran Wahabi yang Menyusup ke KHAZANAH TRANS 7

Ketiga : Tabarruk dengan Tempat peninggalan orang-orang sholih

Adapun tabarruk dengan tempat seperti “Pesujudan Sunan Bonang, Pesujudan Syekh Subakir, Makam Orang-Orang Sholih” dan yang lain, maka substansi tempat sama sekali tidak memiliki keutamaan dilihat dari statusnya sebagai tempat. Tempat memiliki keutamaan karena kebaikan dan ketaatan yang berada dan terjadi di dalamnya seperti sholat, puasa dan semua bentuk ibadah yang dilakukan oleh para hamba Alloh yang sholih. Sebab karena ibadah mereka rohmat turun pada tempat, malaikat hadir dan kedamaian meliputinya. Inilah keberkahan yang dicari dari Alloh di tempat-tempat yang dijadikan tujuan tabarruk.
Keberkahan ini dicari dengan berada di tempat-tempat tersebut untuk bertawajjuh kepada Alloh, berdoa, beristighfar dan mengingat peristiwa yang terjadi di tempat-tempat tersebut dari kejadian-kejadian besar dan peristiwa-peristiwa mulia yang menggerakkan jiwa dan membangkitkan harapan dan semangat untuk meniru pelaku peristiwa itu yang notabene mereka adalah orang-orang yang berhasil dan sholih.

Adapun diantara dalil/hujjah yang menjadi landasan praktek tabarruk dengan cara tersebut adalah :

a. Sholat Ditempat Yang Pernah Digunakan Nabi Sholat

Imam Al Bukhori meriwayatkan hadits dengan sanad bersambung sampai kepada Musa bin ‘Uqbah, ia berkata :

رَأَيْتُ سَالِمَ بْنَ عَبْدِ اللهِ يَتَحَرَّى أَمَاكِنَ مِنْ الطَّرِيقِ فَيُصَلِّي فِيهَا وَيُحَدِّثُ أَنَّ أَبَاهُ كَانَ يُصَلِّي فِيهَا وَأَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي تِلْكَ الْأَمْكِنَةِ

Aku pernah melihat Salim bin Abdillah, ia sedang mencari tempat-tempat di tepi jalan, kemudian dia sholat di tempat-tempat tersebut. Salim menceritakan ; bahwa ayahnya (Abdulloh Ibn Umar) pernah sholat di tempat-tempat tersebut, dan beliau pernah melihat Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam sholat di tempat-tempat tersebut. (HR. Al Bukhori)

Ketika menjelaskan hadits diatas, Al Hafidh Ibnu Hajar menyampaikan hadits lain dengan tema yang sama, kemudian beliau berkata :
فَهُوَ حُجَّةٌ فِي التَّبَرُّكِ بِآثَارِ الصَّالِحِيْنَ

Maka hal tersebut menjadi hujjah (dalil) Tabarruk dengan peninggalan orang-orang sholih. (Fathul Bari, vol. 1 hlm. 569)

b. Sholat Di Masjid ‘Asysyar

Imam Abu Dawud meriwayatkan hadits dengan sanad sampai kepada Sholih bin Dirham, ia bercerita :

انْطَلَقْنَا حَاجِّينَ فَإِذَا رَجُلٌ فَقَالَ لَنَا إِلَى جَنْبِكُمْ قَرْيَةٌ يُقَالُ لَهَا الْأُبُلَّةُ قُلْنَا نَعَمْ قَالَ مَنْ يَضْمَنُ لِي مِنْكُمْ أَنْ يُصَلِّيَ لِي فِي مَسْجِدِ الْعَشَّارِ رَكْعَتَيْنِ أَوْ أَرْبَعًا وَيَقُولَ هَذِهِ لِأَبِي هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ خَلِيلِي رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللهَ يَبْعَثُ مِنْ مَسْجِدِ الْعَشَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ شُهَدَاءَ لَا يَقُومُ مَعَ شُهَدَاءِ بَدْرٍ غَيْرُهُمْ

“Kami pergi melaksanakan haji. Kebetulan kami bertemu seorang lelaki yang berkata kepadaku, “Di dekat kalian ada desa yang disebut Ubullah.” “Betul,” jawab kami.
“Siapakah di antara kalian yang bisa memberi jaminan kepadaku agar aku bisa disholatkan di masjid ‘Asysyar dua atau empat roka’at ,” lanjutnya.
Sholih ibnu Dirham berkata : “Ini untuk Abu Huroiroh : Saya mendengar orang yang saya cintai, yakni Abul Qosim shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya Allah SWT membangkitkan dari masjid ‘Asysyar pada hari kiamat para syuhada’ yang tidak berdiri bersama para syuhada’ Badar kecuali mereka,” (HR Abu Dawud.)

As Syaikh Abuth Thoyyib penyusun kitab ‘Aunul Ma’bud syarah Sunan Abi Dawud mengatakan : bahwa masjid ‘Asysyar adalah masjid terkenal yang dimintakan berkah dengan sholat di dalamnya. (Aunul Ma’bud vol. XI hlm. 284)

c. Imam As Syafi’iy Ber-Tabarruk Dengan Kuburan Imam Abi Hanifah

Al ‘Allamah As Syaikh Khothib Al Baghdadi menuturkan kisah dengan sanad para perowi yang tsiqqoh (terpercaya) :

عَنْ عَلِي بِنْ مَيْمُوْن قَالَ سَمِعْتُ الشَّافِعِيَّ يَقُوْلُ اِنِّي لَأَتَبَرَّكُ بِأَبِي حَنِيْفَةَ وَأَجِيْءُ إِلَى قَبْرِهِ فِي كُلِّ يَوْمٍ يَعْنِي زَائِرًا فَإِذَا عَرِضَتْ لِي حَاجَةٌ صَلَّيْتُ رَكْعَتَيْنِ وَجِئْتُ إِلَى قَبْرِهِ وَسَأَلْتُ اللهَ تَعَالَى الْحَاجَةَ عِنْدَهُ فَمَا تَبْعُدُ عَنِّي حَتَّى تُقْضَى

Dari Ali bin Maimun, ia berkata : Aku mendengar Imam As Syafi’i berkata : “Sesungguhnya saya senantiasa bertabarruk dengan Abu Hanifah. Aku senantiasa mendatangi makamnya setiap hari untuk berziyarah. Apabila aku mempunyai hajat, aku sholat dua rokaat, lalu aku datangi makamnya, selanjutnya aku meminta kepada Alloh tentang hajatku disisi kuburnya, tidak lama kemudian hajatku terkabul.” (Tarikh Baghdad, vol. 1 hal. 123)

Selanjutnya, jika ada yang berkata : Bahwa Tabarruk hanya dapat dilakukan khusus dengan peninggalan Nabi, dan jika dilakukan dengan selain Nabi maka dapat menyebabkan “Syirik”.
Terhadap mereka yang berkata demikian perlu anda pertanyakan : Adakah Alloh tidak boleh disekutukan dengan selain Nabi dan boleh disekutukan dengan Nabi ?

Demikian penjelasan singkat tentang Tabarruk, semoga bermanfaat..
Wallohu A’lam…

Oleh: Abu Hilya

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

53 thoughts on “Tabarruk Ajaran Nabi, Bertabarruk adalah Sunnah Bukan Musyrik”

  1. Andaikan itu terjadi pada saat ini, maka oleh kaum yg ciri2nya mirip dg kaum yg sudah ditumpas habis oleh menantu Kanjeng Nabi saw yaitu kaum yg menyempal dari jama’ah muslimin , dan kaum ini sesuai informasi Kanjeng Nabi saw akan tumbuh dan terus tumbuh sampai yg paling ahir ,tentu golongan ini akan berkata :

    Berdasr Qur’an dan Hadist , berdasar dalil yg shohih dan sarih,perbuatan seperti itu
    Syirik , musyrik halal darahnya.

    seperti bagian dari kaum ini yg menamakan dirinya ibnu suradi: yg slalu membanggakan sholat dg shof yg rapat klo niatnya baik Alhamdulillah.

    tetapi klo niatnya mengoreksi kaum awwam NU ya Astaghfirullah.
    Klo kita belajar dg benar mengapa ADA kaum yg dg ciri:
    – Sholatnya aduh hebat banget
    – Shoumnya melebihi rata2
    – Bangun malamnya rajin sekali ,
    – Baca Alqur’an nya fasih betul,

    tetapi Justru kaum merekalah yg membunuh menantu Rosulullah saw, yg katanya sayyidina ‘Ali telah kafir halal darahnya.

    Pd abad 12 Ulama’ Muhammad ibnu Wahab telah mencontoh kaum yg membunuh menantu kanjeng Nabi saw dengan membunuh Ulama’2 sebagian keturunan menantu Kanjeng Nabi saw.

    Nah, Betul sekali kalau “MEREKA SEBURUK BURUK MAKHLUK”
    Mengapa seburuk buruk makhluk bisa jadi karena:
    -kesombonganya meniru Iblis laknatullah
    -Monopoli kebenaranya mencontoh sifat Almasih Dajjal
    -Dalam hal tahrif dan Malsu mencontoh Yahudi (ini dilakukan generasi saat ini)
    -Merasa benar sendiri mengingatkan kita pada kaum nasroni yg tlh tersesat oleh tahrif paulus dari tarsus.
    -kata katanya suka mencela dan sudah dicontohkan oleh syehnya Ahlulhadist abad ini , syeh Agung tanpa tanding tanpa banding,syeh yg bergelar ahli hadist Buku, Syeh jebolan Universitas Perpustakaan, Syeh yg punya cara sholat tersendiri, Syeh pujaan hati tiada cacat, syeh Ahli service hadist,mari ucapkan bersama sama Syeh Albani.

    NU emang pilihan terbukti:
    -Gusdur saja yg dianggap kontroversi bahkan FPI yg sama2 bermadzab Syafi’i Alergi oleh Allah jasadnya masih utuh setelah setahun jasadnya dikandung badan, Apalagi kakeknya Hadrotusysyeh KH Hasyim Asy’ari yg telah nyata perjuanganya untuk agama dan negaranya.
    -Alhamdulillah para cucu Kanjeng Nabi saw banyak yg bergabung ke organisasi NU, itu menandakan NU tdk sesat . Sesuai Hadist Muslim: yg bahasa kita kurang lebih: “Gondelono Alqur’an dan Ahlul baits kanjeng Nabi saw”

    -Bismillahirrohmanirrohim: Ana buat sayembali SIAPA YG MENGETAHI JASAD SYEH ALBANI AHLI SERVICE HADIST BILAMANA KEDAPATAN JASADNYA MASIH UTUH SEPERTI UTUHNYA JASAD CUCU KANJENG NABI SAW SAYYIH MUHAMMAD BIN ALWI ALMALIKI ALHASANI yg dikatakan thoghut ,penganjur kesyirikan,ahlulbid’ah oleh kaumnya syeh albani MAKA ANA SEDIAKAN HADIAH HONDA SUPRA ANYAR KENYES KENYES BISA UNTUK MBONJENGKAN ISTRI YG DINIATI TALAK SESAUAI FATWA SYEH WAHABI.

    maaf Ummatipress, yg berminat bisa kirim email. bila sudah ada bukti utuhnya jasad syeh albani nanti ana beritahu alamat email ana. ana tunggu satu bulan.

    1. setuju tuh…ane ikut nyumbang deh….sarung tangan aja tapinya, email ane juga ya mas admin kalo emang jasad albani utuh…ane tunggu satu bulan juga sama seperti mas Abdusysyukur

      1. Para murid dan pengikut albani (wahabi), boleh dibuktikan dgn digali kuburnya bahwa jasad guru besar panutan ente – ahli hadits dan penganjur tauhid tiga – utuh seutuh-utuhnya tanpa digerogoti rayap dan cacing tanah karena dimuliakan oleh Allah.

    2. wah… sayembarnya bos abdussukur mantab nih, sebaiknya anak2 wahabi segera menyambut tantangan ini, lumayan hadiahnya bisa buat ngebut di jalan kalau dapat.

      tips:
      buat anak2 wahabi, coba cari info ke kedutaan arab saudi di jakarta, tanyakan masalah jsadnya albani tsb apakah masih utuh atau sudah remuk dimakan cacing2 tanah. kedutaan arab saudi biasanya punya info lengkap dg fotonya. silahkan dicoba, saya tunggu hasilnya.

  2. Berita tentang utuhnya Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani:
    Al-Habib Segaf bin Hasan Baharun pengasuh Pondok pesantern darullughoh Adda’wah Bangil Pasuruhan adalah salah satu murid Sayyid Muhammad bin Alwi Cucu Kanjeng Nabi saw dari Al-Hasan beliau bertutur kurang lebih:

    Enambulan setelah wafatnya sayyid Muhammad sudah menjadi kebiasaan di Arab saudi kuburan dibongkar dilihat apakah masih utuh (ternyata wahabi juga percaya kalau jenazah setelah dikubur sekian lama ada yg masih utuh) dan ternyata Jasad Beliau aman dari bumi,

    lalu setahun kemudian dibongkar lagi apakah habis dimakan cacing2 tanah atau kering karena panasnya tanah saudi, lagi2 Subhanallah ,Maha suci Allah yg telah melindungi jasad hambaNya yg dikasihi dari kehancuran.

    Dua tahun kemudian dilihatnya lagi Jasad Orang Shalih guru beliau tiada hancur sedikitpun bahkan kain kafan karena dibalutkan pada Jasad mulia tak mempan oleh rayap2 tanah.

    Empat tahun kemudian kondisinya masih sama.

    Enam tahun setelah wafatnya kuburan kekasih Allah cucu Kanjeng Nabi saw di bongkar lagi yg tentunya oleh Intelijen saudi yg disaksikan Keluarga beliau , dengan harapan kalau Jasadnya Hancur akan difoto disebar kepada ramai agar tuduhan Thoghut yg dialamatkan kepada beliau sayyid Muhammad benar adanya.

    Tetapi Allah Maha Besar ,Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana tetap melindungi hambanya yg dikasihi ,apalah artinya sebutan thoghut yg diucapkan oleh mulut2 penuh bisa, Dan ternyata jasad mulia sayyid Muhammad tetap utuh bahkan kelihatan memanjang rambut juga kukunya ,
    baunya juga harum. Alhamdulillah Ya Allah.

    Sungguh ini adalah bukti kesholihan beliau bagi orang2 yg berakal,
    bagi orang2 yg berpikir, bagi orang2 yg hatinya bersih.

    Kalau ada kaum yg berkata INI DUSTA biarlah karena mereka belum tahu karena kebodohanya.
    Kalau ada kaum yg berkata INI BOHONG tidah shahih biarlah karena hati mereka memang keruh.
    Kalau ada kaum yg berkata INI TAHAYYUL biarlah karena mereka memang selalu dicekoki real2 Najd biangnya tanduk syetan.

    Dan yg patut kami syukuri ternyata sebagian Ulama’ NU di negara kita berguru kpd beliau.
    Alhamdulillah Ya Allah ternyata bukan syeh Albani yg dipilih Ulama’ NU
    bukan pula syeh Utsaimin yg dipilih.

    1. Kita harus maklum, ulama2 atau santri NU dasar2 SWAJAnya cukup kuat walau belajar dan berguru kenegara Arab Saudi pusatnya wahabi, pastilah mereka dapat memilih guru/ulama yang benar yg mempunyai sanad ke Baginda Muhammad SAW.

      Contohnya Ketua NU Said Agil Sirad, S3 nya di universitas Wahabi di Arab Saudi, beliau tetap tidak terpengaruh malah sekarang jadi Ketua NU, yg rajin membongkar kebohongan dan penyimpangan Wahabi yang ngaku2 ASWAJA.

  3. Mantap sekali rubrik diatas ini, masalah tabaruk ini juga di kupas habis oleh Prof. DR. Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki Al-Hasani dalam kitab Mafahim Yajibu At thushohah ( paham2 yang harus di luruskan). Rubrik diatas sangat cocok sekali dengan kitab beliau. Kitab ini seharusnya wajib dibaca oleh wahabi, supaya dapat mengerti tentang kesalahpahaman selama ini. Kalau nggak mau di baca kitab tersebut yaaaaa salah paham terus kecuali kalo mereka dapat hidayah kembali. Semoga Allah SWT dapat membimbing mereka kejalan yang lurus dengan kemuliaan Nabi besar Muhammad SAW ( tawasul nich).
    Maju terus ummati dan semoga dakwah kalian membantu menyadarkan wahabi ( seperti aku ini dulu )

    1. makasih artikelnya mas Admin,
      dan semoga wahabi-wahabi walaupun hatinya keras, saya do’akan semoga memperoleh hidayah seperti Mas Salman.

      Mas Salman,
      bagi2 cerita dong bagaimana jalan ceritanya kok antum bisa sadar dari belenggu mata rantai setan najd? Kalau bisa ceritanya secara kronologis, pasti akan sangat menarik jika nantinya diposting oleh Mas Admin.

      1. Setuju dengan dengan Mas Jamari, kisah nyata terperosoknya seseorang ke ajaran Wahabi lantas kembali sadar ke pangkuan ASWAJA perlu di posting disini, untuk bahan renungan dan pembelajaran bagi kita semua supaya bencana dan malapetaka virus wahabi jangan melanda kita, keluarga, dan anak cucu kita.

  4. Insyaallah nanti di ceritain, mungkin nggak terlalu pengaruh kalo mereka2 wahabi yang udah keras kepala dan tidak mau mengakui kebenaran yang ada. Intinya janganlah kita terlalu takliq terhadap suatu ulama saja dan belajarlah dari semua ulama yang ada, disitulah ada kebenaran akan datang sendirinya. Saya dulu selalu takliq sama Albani dan utsaimin dan bahkan ustadz yang hadir ke pengajian selalu orang salafy terus, kalo bukan salafy maka saya keluar dari pengajian itu. Tapi setelah saya pikir2 kok ustadz salafy bicaranya bid’ah terus dan selalu menvonis umat islam yang beda pandangan sebagai ahlul bid’ah, maka dari itu saya coba belajar kepada mereka yang ahlul bid’ah ternyata selama ini saya salah paham dan banyak sekali perbuatan yang di lakukan oleh ahlul bid’ah hasanah sesuai dengan tuntunan hadist yang shahih. Itu sebagian aja ya. Jadi koreksilah setiap pernyataan ustadz wahabi tersebut dengan menbandingkan pendapat para ulama muktabar dari kitab2 yang ada. Mereka para wahabi sangat jarang mengoreksi setiap pernyataan para ustadz mereka dan selalu menerima keadaannya.

    1. Wah….menarik Mas Salman, ane tunggu kisahnya, insyaallah akan sangat bermanfaat bagi orang2 yg belum mati hatinya.

      untuk Mas Admin tolong kisah nyata dari Mas Salman nanti diposting untuk dijadikan pelajaran bagi siapa saja yg memerlukannya, thanks.

    2. Saya pun ikut nunggu kisah nyatanya, mas Alman….

      o iya,mereka para wahabi sangat jarang mengoreksi setiap pernyataan para ustadz mereka dan selalu menerima apa adanya, itu disebabkan mereka diajari SAMI’NA WA ATHO’NA secara salah, yaitu salah penerapan. Sami’na wa atho’na bukan kpda Allah dan Rasul-NYA, tetapi kepada ustadz2nya, akibatnya malas mikir dan menerima apa adanya dangsung ditelan mentah2, tanpa mikir tanpa analisa. Akibat Sami’na wa Atho’na yg salah penerapannya!

      Mas salman termasuk orang istimewa karena masih mau membandingkan, berarti fungsi berpikir masih bisa berjalan dg baik, sehingga hati tidak mati karenanya. Semoga semakin mantab di jalan Aswaja, jalannya para Ulama Salafus sholihin yg bersanad hingga ke Rasulullah saw, amin…….

  5. Tambahan lagi terhadap pendakwah aswaja, sampaikan lah kepada umat islam yang awam sebuah kebenaran suatu ibadah berikut dengan dalil aqli dan naqli serta pendapat ulama yang muktabar terhadap hadist tersebut tentang sesuatu permasalahan ibadah. Banyak di tempat mesjid kami, mungkin bisa dikatakan gudangnya wahabi di kaltim, banyak orang islam yang awam terkecoh terhadap dakwah2 mereka dan umumnya mereka sangat taqliq terhadap ustadz mereka dan mereka berusaha menyuci otak mereka supaya dapat menerima dakwah mereka tanpa mau belajar kembali terhadap pernyataan ustadz mereka. Alhamdullilah ada berapa orang di tempat majelis saya telah sampaikan dakwah tentang aswaja dan beberapa dari mereka mulai menerima dakwah aswaja yg sebenarnya. Intinya mereka para muslim yang awam sangat kurang menerima dakwah aswaja yang sesungguhnya. Umumnya mereka mengenal ustadz2 dari golongan wahabi yang ceramahnya selama ini sangat mereka senangin karena bertolak belakang dengan kebiasaan aswaja. Kebiasaan ibadah aswaja seperti tahlil, maulid Nabi, nisfu syaban, isro miroj dsb mereka anggap buang2 duit saja mendingan dikasih ke orang fakir miskin ato anak yatim, dan termasuk ibadah sesat,dan tidak pernah dilakukan Rasul sehingga banyak kalangan islam yang awam berfikir bahwa apa yg disampai ustadz wahabi tersebut bener adanya dan akhir orang islam awam tersebut menyampaikan kepada keluarganya dan seterusnya.
    Jadi menurut saya , dakwahkan kepada mereka tentang ibadah menurut hadist yang shahih dan menurut pendapat para ulama yang muktabar. Sehingga dengan begitu mereka secara perlahan2 bisa menerima dakwah aswaja yang sesungguhnya.sesuai QS. Al-Nahl : 125, yang artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.

    1. Bismillaah,

      Kang Salman,

      Saya setuju dengan komentar anda: “dakwahkan kepada mereka tentang ibadah menurut hadist yang shahih dan menurut pendapat para ulama yang muktabar.”

      Dengan begitu, umat Islam menjadi tahu dan mengamalkan ibadah yang benar sesuai dengan yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Dakwah semacam itulah yang akan yang akan mengkikis habis sikap banyak umat Islam yang hanya ikut-ikutan tanpa mengetahui ilmunya atau dalilnya dari Qur’an dan hadits shahih. Dakwah seperti itulah yang akan membuat orang awam menjadi orang berilmu.

      Hentikan cara dakwah: “Shalat yang benar berdasarkan madzhab itu dan itu adalah begini, begini, begini.” tanpa menyampaikan dalil dari Qur’an dan hadits shahih.

      Saya khawatir bila cara dakwah seperti disampaikan kepada umat Islam, maka mereka akan menjadi Wahabi.

      Wallaahu a’lam.

      1. Kang Ibnu Suradi, koment nya kok masih sombong aja? Sudah masuh ibtida’iyyah apa belum, itu lho yg pernah disarankan oleh Mbak Aryati Kartika agar antum masuk Ibtida’yyah dan belajar ilmu-ilmu dasar, agar kalau komentar nanti bisa semakin bermutu, oke kang?

        Oh ya, apakah menurut antum shalat yg diajarkan dalam mazhab2 Islam ini tidak berdasar dalil?

      2. Alhamdulillah, Ummat Islam sudah 1000 tahun lebih menjalankan shalat berdasar dalil2 yg diajarkan dalam mazhab2 Islam, dan mereka selelu tetap istikomah sampai akhir zaman ini, kecuali Wahabi yg merubah-rubah cara shalat berdasar ajaran Albani yg diatas-namakan Shalat Nabi. Ini namanya shalat bid’ah karena shalatnya berdasar kemauan dan pemahaman Albani semata-mata.

        Sudah 1000 tahun lebih tidak ada shalat mendekap dada seperti yg dilakukan Wahabi Albani.

        Sudah ribuan tahun tidak ada dalam duduk tahiyyat sambil memukul-mukulkan jari telunjuk dalam rangka memukul setan. Setannya ketawa kalau dipukul pakai jari

        Sudah ribuan tahun tidak ada Umat islam shalat kakinya ngankang agar setan tidak mbrosot, setannya ketawa karena dg kaki ngangkang lobangnya makin besar dan setan semakin leluasa menerobosnya.

        dll…. lalu shalat penuh bid’ah yg dilakukanWahabi ini diatas-namakan shalat Nabi. Bernai-beraninya Wahabi berdusta atas nama Nabi Saw?

        Gemana kang Ibnu Suradi, masih ngotot shalat Wahabi ini shalat Nabi? Pakai dalil yg shahih Kang, jangan hanya bermodal ngotot belaka.

        Mana bukti kalian hanya mau menggunakan dalil2 shahih dalam berhujjah?

  6. Tambahan lagi ya, ustadz wahabi itu kalo ceramah di majelis sangat cakap dan mengelegar suaranya sehingga banyak orang islam yang awam menganggap mereka para ustadz wahabi sangat pintar dalam agamanya, padahal kalau di koreksi dan diajak debat pasti keliatan banget wajah mereka yang sebelumnya sangar dalam pidato, didebat sedikit aja langsung keliatan merah merona wajahnya, ini sudah saya buktikan sendiri pada waktu saya dialog dengan mereka. Cobalah para ustadz aswaja datangin majelis2 yang wahabi berada disitu dan coba dialog dengan mereka dan semoga disitu orang islam yang awam dapat melihat kekurangan ustadz wahabi mereka dan ini sering saya lakukan terhadap kantong mesjid yang banyak para pengikut wahabi. Semoga Allah SWT meridhoinya amin.

  7. Oh Salman yang malang…..kasihan …enggak bisa membedakan yang haq dan yang bathil.
    Ini berarti kyai antum berhasil dalam mengacaukan bashiroh antum.

    1. @ ummu hasanah,

      Oh ummu hasanah yang dolalah, jadi yang haq menurut antum pasti yang datang dari Ibn abd wahab, al bani, bin baz, ustsaimin dll ulama wahabi, bukan yang datang dari ulama2 yang mempunyai sanad guru bersambung sampai ke Rasulullah SAW.

      Maaf saja, kami ASWAJA bukan pengikut ibnu abdul wahab tapi pengikut (umat) Nabi Muhammad SAW bin Abdullah.

    1. Ekspresi anak2 Wahabi semakin kalap aja kayaknya, akibat nggak bisa analisa fakta2 yg disodorkan dalam artikel, mungkin juga karena terlalu taklid buta kpd muthowa-muthowa Wahabi Najd. Hadits dan ayat Al Qur’an pun dijadikan bahan ejekan kalau tidak sesuai hawa nafsunya.

      Tawassul dan Tabarruk adalah asli ajaran Nabi Muhammad, tapi kaum Wahabi menjadikannya sebagai caci-maki bahwa ajaran nabi sebagi syirik / musyrik, betapa beraninya kalian melecehkan ajaran Nabi Muhammad SAW. Dan sebaliknya kalian begitu menjiunjung ajaram Muhammad bin Abdul wahhab (BAW)

      Jadi… kalian ini Ummat Muhammad SAW atau Ummatnya Muhammad BAW?

    2. Jelaslah…. mereka ini ummatnya Muhammad BAW bukan ummatnya Muhammad SAW, kalau ummatnya Nabi Muhammad SAW tentunya menjujnjung tinggi ajaran Nabi Muhammad SAW.

      Saya sependapat dg pendapat Mas Ansyah Ikbal, dengan catatan mereka sampai mati tidak bertobat. Sebab menganggap musyrik bagi muslimin yg bertawassul adalah dosa besar yg tidak terampuni kalau tidak segera bertobat dan keburu mati. Artinya, mereka menuduh musyrik kpada muslimin yg mengikuti ajaran Nabi Muhammad Saw, tuduhan ini pasti meleset/salah. Sebab tawassul adalah jelas2 ajaran Allah dan rasul-NYA, disebutkan dalam Al Qur’an dan Hadits. Nah…. konsekwensi dari tuduhan yg salah adalah mereka jadi musyrik sendiri, sebagaimana ajaran Nabi Muhammad Saw bahwa jika menuduh musyrik kepada muslim dan tuduhannya salah, maka si penuduh akan menjadi musyrik.

      Karena itu, hati-hatilah dengan ucapan syirik, bila seseorang muslim lalu jadi musyrik akibat salah menuduh, maka pernikahannya batal, istrinya haram dikumpulinya, jima dengan istri terhitung zina, anaknya tak bernasab padanya, kewaliannya atas putrinya tidak sah, dan bila keluarganya wafat ia tak mewarisi dan bila ia wafat tak pula diwarisi, ia diharamkan shalat, diharamkan dikuburkan di pekuburan muslimin.

      Pesan saya: Merenunglah dan berpikirlah semoga Allah menurunkan Hidayah-NYA, amin yaa Robbal alamin…..

      1. Syukron nasehatnya, Mbak Aryati. Saya selalu mengikuti diskusi ini dan sangat bermanfaat untuk menambah pengetahuan agama.

        Berkat menyimak postingan dan diskusi pengunjung blog ini saya jadi sadar ternyata ada Islam Wahabi yg berpaham tidak sesuai ajaran nabi tetapi selalu ngaku2 sbg pengikut Nabi. Terimakasih semuanya.

  8. @ummu hasanah,
    Oh Salman yang malang…..kasihan …enggak bisa membedakan yang haq dan yang bathil.
    Ini berarti kyai antum berhasil dalam mengacaukan bashiroh antum.
    @pemberi peringatan
    website ahlu bid’ah kayaknya nich, silakan hidup terus dngn penuh kemusryikan!!!

    Saya juga sering menyatakan seperti ini sebelum mendapatkan suatu kebenaran yang ada sekarang dan saya belajar dari siapa saja baik dari ulama, kyai atau ustadz2 tapi juga saya harus mengechek semua pernyataan mereka setelah mendapat ilmu dari mereka.
    Anda akan menyaksikan mereka segera memvonis sesat /kafir seseorang hanya karena ia memiliki pandangan berbeda. Vonis yang tergesa-gesa ini bisa membuat jumlah penduduk muslim di dunia tinggal sedikit. Kami, karena husnuddzon, berusaha memaklumi tindakan tersebut serta berfikir barangkali niat mereka baik. Dorongan kewajiban mempraktekkan amar ma’ruf nahi munkar mungkin mendasari tindakan mereka.
    Sayangnya, mereka lupa bahwa kewajiban mempraktekkan amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan dengan cara-cara yang bijak dan tutur kata yang baik (bil hikmah wal mau’idzoh al–hasanah).seperti ayat QS: An-nahl :125.
    Praktek amar ma’ruf nahi munkar dengan cara yang baik ini perlu dikembangkan karena lebih efektif untuk menggapai hasil yang diharapkan. Menggunakan cara yang negatif dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar adalah tindakan yang salah dan tidak semestinya.
    Jika Anda mengajak seorang muslim yang sudah taat mengerjakan sholat, melaksanakan kewajiban-kewajiban yang ditetapkan Allah, menjauhi hal-hal yang diharamkan-Nya, menyebarkan dakwah, mendirikan masjid, dan menegakkan syi’ar-syi’ar-Nya untuk melakukan sesuatu yang Anda nilai benar sedangkan dia memiliki penilaian berbeda dan para ulama sendiri sejak dulu berbeda pendapat dalam persoalan tersebut kemudian dia tidak mengikuti ajakanmu lalu kamu menilainya kafir/sesat hanya karena berbeda pandangan denganmu maka sungguh kamu telah melakukan kesalahan besar yang Allah melarang kamu untuk melakukan ini dan menyuruhmu untuk menggunakan cara yang bijak dan tutur kata yang baik.
    Coba simak hadist berikut ini:
    “Jika seorang berkata kepada saudara muslimnya “Hai kafir!” maka vonis kufur telah jatuh pada salah satu dari keduanya” (HR.Bukhari dari Abu Hurairah R.A)
    Saya dalam hal ini tidak mudah untuk menvonis sesseorang sesat/kafir hanya berbeda pendapat saja.

  9. Ana tetap menunggu ikhwan2 wahabi atas sayembara ini. dan barangkali ada ikhwan wahabi yg menang Puji syukur kehadirat Allah swt. sambil menunggu InsyaAllah ana ke palembang terus ke Makasar minggu depan.

    Ana pernah ketemu ikhwan wahabi indonesia pernah tinggal diMesir, beliau berkata kuranglebih : Beliau berprasangka bahwa Ulama’2 NU keilmuanya tdk nyambung kepada Ulama’2 Arab. Ini yg membuat ana gerah . Klo yg dimaksud Ulama’ Muhammad ibnu Wahab, ataupun Ibnu Sa’adi , memang ana akui.
    Apa memang mereka tlh buta, Siapa Syeh Nawawi Al-Bantani , Siapa Syeh Yasin Al-Fadani beliau adalah ulama’ jawa yg mengajar di MasjidilHaram. Beliau adalah termasuk pembesar Ahlusunnah pd waktu itu. banyak yg ana bicarakan dg ikhwan wahabi, Dan ana menyimpulkan:

    SESUATU YG BARU DALAM AGAMA YG TDK ADA CONTOH DARI KANJENG NABI SAW KALAU YG MELAKUKAN WAHABI BERBAJU ukuran XL(salafi) DIA BILANG “IJTIHAD” TETAPI KALAU YG MELAKUKAN ULAMA’ NU DIA BILANG “BID’AH”

    sebagai contoh:
    – diperbolehkanya mengambil MIQOD haji dari Bandara King Abdul Aziz , ini tdk ada dalil yg shohih yg murni sesuatu yg baru dalam Agama Dia bilang “IJTIHAD”
    – Maulid Kanjeng Nabi saw katanya tdk ada dalil yg shohih alias “BID’AH” SESAT

    *Ziarah kubur, Kuburan para sahabt nabi saw di Baqi sekarang dipagar dg tembok tinggi, katanya takut syirik, menyembah kubur. (Bukankah Ziarah kubur sunnah Nabi saw ?)
    Wahabi menjawab: Dipagar dg tembok tinggi adalah semata2 IJTIHAD ,Iya betul sunnah Nabi (saw) tetapi dalam kaidah Fiqh “Mencegah bahaya lebih baik dari pd mengambil manfaat yg sedikit” (maksudnya Syirik harus dicegah daripada melaksanakan sunnah Nabi saw) begitu kilahnya.

    .ana bertanya: Bagaimana klo yg ziarah orang2 muslim yg tlh mapan tauhidnya, apakah antum tdk takut dikatakan antum termasuk orang yg menghalangi sunnah Nabi saw, bukankah ini adalah bahaya yg besar karena antum bisa digolongkan orang2 yg ingkar sunnah. Apakah antum tdk takut pd Allah swt dan Rosulnya yg telah mensunnahkan Ziarah kubur? Antum mencegah kaum muslim yg awwam ziarah kubur dg dalih takut terjerumus syirik, tetapi antum membiarkan dirimu menjadi kayubakar jahannam karena menghalangi kaum muslimin yg tlh mapan tauhidnya untuk melakukan sunnah Nabi saw?

    Katanya antum Ahlussunnah? kok Ingkar sunnah. apakah ini ajaran Muhammad ibnu wahab?

    coba renungkan INI KONTRADIKSI ATAU MONOPOLI KEBENARAN”
    ataukah ini bentuk kesombongan seperti sombongnya kaum khowarij yg merasa ibadahnya lebih hebat daripada para sahabat rodliyallahuanhum ajma’in, sehingga sanggup membunuh Khalifah arrosyid yg ke-4.

    Gunakan Akal anugerah Illahi sebaik2nya. Bersambung…

  10. Tangisan Imam Hanafi Berjumpa Anak Kecil

    Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit, atau populer disebut Imam Hanafi, pernah berpapasan dengan seorang anak kecil yang tampak berjalan mengenakan sepatu kayu.

    ”Hati-hati, Nak, dengan sepatu kayumu itu. Jangan sampai kau tergelincir,” sang imam menasehati.

    Bocah miskin ini pun tersenyum, menyambut perhatian pendiri mazhab Hanafi ini dengan ucapan terima kasih.

    ”Bolehkah saya tahu namamu, Tuan?” tanya si bocah.

    ”Nu’man.”

    ”Jadi, Tuan lah yang selama ini terkenal dengan gelar al-imam al-a‘dham (imam agung) itu?”

    ”Bukan aku yang menyematkan gelar itu. Masyarakatlah yang berprasangka baik dan menyematkan gelar itu kepadaku.”

    “Wahai Imam, hati-hati dengan gelarmu. Jangan sampai Tuan tergelincir ke neraka gara-gara dia. Sepatu kayuku ini mungkin hanya menggelincirkanku di dunia. Tapi gelarmu itu dapat menjerumuskanmu ke kubangan api yang kekal jika kesombongan dan keangkuhan menyertainya.”

    Ulama kaliber yang diikuti banyak umat Islam itu pun tersungkur menangis. Imam Hanafi bersyukur. Siapa sangka, peringatan datang dari lidah seorang bocah.

    Sumber: http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,51-id,42760-lang,id-c,hikmah-t,Tangisan+Imam+Hanafi+Berjumpa+Anak+Kecil-.phpx

    Semoga menjadi renungan bersama bahwa ulama sekaliber Imam Hanafi sendiri sangat tawadhu’ dan dengan rendah hati untuk menerima kebaikan dan ilmu sekalipun itu datang dari seorang anak kecil… Jauh dari sifat sombong, merasa paling benar, paling sempurna di antara makhluk Allah Swt dan tidak gampang menyalahkan orang.

    Semoga ini jadi salah satu bahan renungan bagi kita semua… krn saya perhatikan teman2 Aswaja selalu dengan cara santun dn dalil yang kuat dan bersanad menyampaikan argumennya dan mematahkan argumen teman2 wahabi… Akan tetapi teman2 wahabi masih tetap tidak mau menerima dan bahkan sekalipun tidak mampu menandingi argumen teman2 Aswaja yang kuat dan bersanad, mereka tetap saja mempertahankan
    argumen yang sudah terbukti dapat dipatahkan oleh teman2 Aswaja.

    Benarlah memang, setiap ilmu itu harus didapat dengan sanad dan matan yang bersambung sampai Rasululloh Saw agar terjaga kebenaran dan kesahihannya…Agar tidak salah mengerti mengenai hakikat yang mulia dari ilmu itu sendiri.

    Al ‘ilmu Nuurun = Ilmu itu cahaya…. Dan cahaya dari Ilmu itu hanya akan masuk ke dalam hati yang bersih, tawadhu’, dan jauh dari kotornya sifat sombong.

    Wallahua’lam

    (Hanya Sekedar Opini, Mohon dikoreksi jika ada yg salah – Semoga bermanfaat utk kebaikan bersama)

    1. Ilmu fiqih, hukum, memang lebih baik bersanad langsung ke baginda Nabiyullah dan tentunya mahzab membuktikan logika ini. Karena hal itu harus berhati-hati agar tidak terjadi pemalsuan oleh penguasa.

      Namun dari beberapa buku yang saya pahami dari kalangan tashawuf, guru-guru tidak pernah membatasi Petunjuk Allah hanya untuk suatu kaum maupun hanya datang dari suatu kaum. Walaupun guru-guru tersebut adalah jelas sanadnya pada jalur Nabiyullah senantiasa sebagai manifestasi kesaksian KekuasaanNya..

  11. assalamualaikum wr.wb

    sebenarnya sy kurang paham masalah tabaruk itu apa.tapi kalau memperhatikan postingan serta komen2 dari saudaraku aswaja,bisa sedikit saya pahami,
    secara pribadi tentang postingan diatas,sy ingin sedikit berpendapat
    Menurut sy,tentang bertabaruk kpd nabi Muhammad saw.sy sangat setuju karena sebagaimana kita ketahui bahwa,

    Nabi Muhammad saw adalah orang yg ma’sum(terbebas dari kesalahan),Beliau juga orang yg telah dijamin Allah akan diampuni dosanya baik yg telah lalu maupun yg akan datang,Beliau juga telah di jamin masuk surga,dan bahkan Allah dan para malaikat senantiasa bersholawat kepada Beliau.

    yg saya khawatirkan,sebagaimana sy sendiri yg masih sangat awam dalam masalah agama,tentang ngalap berkah yg dilakukan mayoritas saudara kita bisa terjerumus dlm kesyirikan karena bnyk yang bertabaruk kpd selain Nabi Muhammad,

    sebagai orang awam,kenapa kalo kita ingin minta berkah tidak langsung minta kpd Allah,karena hanya Allah yg bisa mendatangkan berkah tsb,bahkan syafaat Nabi Muhammad pun tdk akan bermanfaat sebelum diijinkan dan di ridhoi oleh ALLAH,

    Dan kalopun kita tetap ingin bertabaruk selain kpd Nabi Muhammad saw,alangkah lebih mulianya kita bertabaruk kpd para sahabat nabi yg telah di jamin masuk surga oleh rosul.

    terima kasih.mohon maaf jika ada yg kurang berkenan dg pendapat sy ini

  12. Waalaikum salam…. Mas awam, kalau menurut hemat kami dalam tabarruk ada tiga poin yg perlu di cermati:
    1. Kita bertabarruk, tetap harus mempunyai keyakinan bahwa al muatsir (yang mengabulkan/kebaikan) hakiki hanyalah Alloh semata. Bukan lainnya.
    2. Sebagai ilustrasi sederhana: kenapa proposal lebih mudah untuk mendapatkan dana, dari pada cara meminta yang lain? Kenapa kalau kita ingin bertemu persiden harus melewati prosedural yang berbelit? KARENA ADANYA PIHAK KEDUA YANG MEMPERMUDAHNYA. Begitu pula Sahabat dan Imam Madzhab, kenapa beliau-beliau tidak langsung bertabarruk kepada Alloh? Jawabannya sama: Karena adanya pihak kedua yang mempermudahnya.
    3. Tidak adanya larangan bertabarruk. Yang ada hanya kemungkinan-kemungkinan terjerumus syirik karena bertentangan dengan poin satu.
    Wallohu a’lam

  13. Sebagai sebuah renungan…..
    طبقات الشافعية الكبرى – (ج 2 / ص 164)
    قال الحاكم أبو عبد الله سمعت أبا نصر أحمد بن محمد الوراق يقول سمعت أبا حامد أحمد بن حمدون يقول سمعت مسلم بن الحجاج وجاء إلى محمد بن إسماعيل البخارى فقبل ما بين عينيه وقال دعنى حتى أقبل رجليك يا أستاذ الأستاذين ومسند المحدثين ويا طبيب الحديث
    Artinya: Imam Muslim bin Hajjaj mendatangi Imam Muhammad bin Ismail Al Bukhori. Kemudian beliau mencium kening Imam Bukhori dan berkata: “BIARKANLAH AKU UNTUK MENCIUM KEDUA KAKIMU WAHAI GURU PARA GURU, SANDARAN AHLI HADIST DAN YANG MENGHARUMKAN HADIST”.
    Wallohu A’lam

  14. Sebagai tambahan. kesaksian sy awalnya jg pernah ikut-ikutan pengajian wahabi waktu mahasiswa….mereka rata-rata dari sekolah umum,baca qur’annya belepotan..tp berani ngajar…yang lucunya anak buahnya kadang lebih pinter…ujung-ujungya kalo ada masalah disuruh baca buku-buku al bani..saya sempat ragu tahlilan..ragu qunut subuh,,,,sampai-sampai saya pernah agak melawan ustad yang beliau sendiri adalah uwa saya(orang NU) ..saya masih ego..mungkinkah ilmu saya lebih tinggi dari ustad-ustad Nu….saya coba buka hati saya…apa benar tahlil,Qunut subuh dan amalan-amalan NU yang lainya tidak ada dalil…ternyata…saya al hamdulillah saya yakin banget…ulama-ulama ahussunnah tidak sembarangan,,,dalam melakukan amalan-amalanya..ternyata dalilnya ada semua….maju terus aswaja…..terima kasih ummati

  15. Tak ada dalil yg secara eksplisit menunjukkan bhw tabarruk boleh ke salin Rosulullah. Dalil2 yg dinukil diatas tabaruuk kepada Nabi disaat beliau masih hidup. Orang sholih dimaksud cuma dikiaskan sebagai Nabi saja…

    1. Sebagai sebuah renungan mas papul….. apakah semua orang ini sesat?
      (5) طبقات الشافعية الكبرى – (ج 2 / ص 173)
      وقال أبو على الغسانى الحافظ أخبرنا أبو الفتح نصر بن الحسن السكنى السمرقندى قدم علينا بلنسية عام أربع وستين وأربعمائة قال قحط المطر عندنا بسمرقند فى بعض الأعوام فاستسقى الناس مرارا فلم يسقوا فأتى رجل صالح معروف بالصلاح إلى قاضى سمرقند فقال له إنى قد رأيت رأيا أعرضه عليك قال وما هو قال أرى أن تخرج ويخرج الناس معك إلى قبر الإمام محمد بن إسماعيل البخارى ونستسقى عنده فعسى الله أن يسقينا فقال القاضى نعم ما رأيت فخرج القاضى والناس معه واستسقى القاضى بالناس وبكى الناس عند القبر وتشفعوا بصاحبه فأرسل الله تعالى السماء بماء عظيم غزير فقام الناس من أجله بخرتنك سبعة أيام أو نحوها لا يستطيع أحد الوصول إلى سمرقند من كثرة المطر وغزارته وبين سمرقند وخرتنك نحو ثلاثة أميال
      Artinya: Imam Abu Fath Nashor bin Hasan Sakna Assamarkad berkata: “Tahun 464 H. Imam Balnasiah datang kepadaku”. Ia bercerita: “Waktu Samarkand kekeringan, masyarakat telah melakukan sholat istisqo’ (minta hujan) namun hujan belum turun, kemudian ada lelaki soleh yang di ketahui kebaikannya mendatangi kadi Samarkand, lalu dia berkata”: “Aku bermimpi mengenaimu”. “Apa itu?”. Tanya sang Kadi. “Aku bermimpi melihatmu keluar bersama masyarakat menuju makam Imam Bukhori, Kemudian kita melaksanakan sholat Istisqo’ di samping makam Imam Bukhori. Mungkin saja Alloh akan memberikan hujan pada kita”. Sambung lelaki Soleh tersebut. “Betulkah? Aku tidak mengetahui tentang hal tersebut”. Kata sang Kadi. Imam Balnasiah melanjutkan penuturannya: “Kemudian kadi dan masyarakat melaksanakan sholat Istisqo’ di samping makam Imam Bukhori, menangis disana, meminta Syafaat dengan pemilik makam (Imam Bukhori). Maka tidak berselang lama, Alloh menurunkan Hujan yang sangat lebat, Sampai masyarakat menginap di khartanak (nama tempat makam Imam Bukhori) selama Kurang lebih tujuh hari, karena hujan lebat itu menyebabkan mereka tidak bisa melanjutkan perjalanan pulan ke Samarkand. Jarak antara Samarkand dan Khartanak kira-kira tiga mil”. (5)
      Di sarikan dari http://alfattahpule.com/imam-bukhori-indahnya-keharibaan-ilahi-subhanalloh/
      Wallohu a’lam

  16. Mas Papul, tolong dicermati kemusykilan saya:
    Adakah dalil yg secara eksplisit menunjukkan bhw tabarruk tidak boleh ke selain Rosulullah?. Adakah dalil yg secara explisit mengarah tabarruk hanya boleh di lakukan kepada Nabi disaat beliau masih hidup saja?.
    Adakah dalil yang secara explisit melarang pen-Qiyasan Orang sholih pada Nabi?
    Kalau tidak ada, atas dasar apa anda mengkritisi tabarruk?
    Dan bagaimana anda menanggapi sikap Imam Muslim yang mencium kaki Imam Bukhori diatas? Apakah anda mengatakan Imam Muslim sesat, Imam Bukhori menyesatkan? Karena diam waktu beliau di cium kakinya? Kalau sudah begitu, apakah anda pantas mengusung hadist shohih Imam Bukhori-Muslim? Fataammal…
    Wallohu a’lam

  17. @mas abu syifa
    Sayang terjemah dari Syaikh Nashir bin Abdirrahman Al Jadi’ dalam muslim.or.id tersebut perlu di tinjau ulang.
    1. beliau syaikh berkata: “DEMIKIAN JUGA, TIDAK ADA SATUPUN RIWAYAT YANG DINUKIL DARI PARA SAHABAT BAHWA MEREKA BERTABARRUK KEPADA ORANG SELAIN NABI SHALLALLAHU’ALAIHI WASALLAM, BAIK KETIKA MASA RASULULLAH MASIH HIDUP, APALAGI KETIKA BELIAU SUDAH WAFAT.” Dan ini di amini oleh syaikh bin Bazz.
    Pertanyaanya adalah: apakah beliau-beliau menafikan keterangan ini?
    إحياء علوم الدين ومعه تخريج الحافظ العراقي – (ج 1 / ص 98)
    قال الشعبي صلى زيد بن ثابت على جنازة فقربت إليه بغلته ليركبها فجاء ابن عباس فأخذ بركابه فقال زيد خل عنه يا ابن عم رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال ابن عباس هكذا أمرنا أن نفعل بالعلماء والكبراء فقبل زيد بن ثابت يده وقال هكذا أمرنا أن نفعل بأهل بيت نبينا صلى الله عليه وسلم حديث أخذ ابن عباس بركاب زيد بن ثابت وقوله هكذا أمرنا أن نفعل بالعلماء أخرجه الطبراني والحاكم والبيهقي في المدخل إلا أنهم قالوا هكذا نفعل قال الحاكم صحيح الإسناد على شرط مسلم
    Imam Sa’biy berkata: “(waktu) sahabat Zaid bin Tsabit melakukan sholat janazah, beliau mendekatkan kendaraanya (bighol: anak perkawinan kuda dan keledai) untuk di naiki, kemudian datanglah Sahabat Ibnu Abbas dan langsung memegang tali kendali kendaraan sahabat Zaid bin Tsabit (untuk menuntunnya sebagai penghormatan). Sahabat Zaid bin Tsabit berkata: “lepaskanlah wahai anak paman Nabi SAW”. Sahabat Ibnu Abbas menjawab: “Seperti inilah Nabi SAW. memerintahkan kepadaku berbuat bagi ulama dan pembesar agama Islam”, kemudian Sahabat Zaid bin Tsabit mencium tangan Sahabat Ibnu Abbas dan berkata: “Seperti inilah Nabi SAW. memerintahkan kepadaku berbuat pada keluarga Nabi SAW”. (Hadist ini diriwayatkan Imam Thoroni, Imam Hakim dan Imam Baihaqi dalam kitab Al Madkhol. Imam Hakim berkata: hadist ini sanadnya Shohih dari sarat Imam Muslim).
    مفاهم يجب أن تصحح ص: 234
    وأخرج البخاري أيضا في الأدب ص: 144 عن بن جدعان قال ثابت لأنس: أمسست النبي صلى الله عليه و سلم بيدك؟ قال: نعم ,فقبلها.
    Artinya: Dari Ibnu Jad’an, (sahabat )Tsabit berkata (bertanya) kepada (sahabat) Anas: “Apakah engkau menyentuh baginda Nabi SAW. dengan tanganmu?”. (sahabat ) Anas berkata: “Benar”. Maka (sahabat) Tsabit (langsung) mencium tangan (sahabat) Anas.
    مفاهم يجب أن تصحح ص: 234
    وأخرج البخاري أيضا في الأدب ص: 144 عن صهيب قال: رأيت عليا رضي الله عنه يقبل يد العباس رضي الله عنه ورجليه
    Artinya: Dari (sahabat) Suhaib, beliau berkata: “Aku melihat (Sayidina) Ali RA. Mencium tangan (Sayidina) Abbas RA dan kedua kaki beliau”.

    Kalau alasannya sahabat masih hidup, adakah keterangan Qur’an Hadist letterlux yang membedakan hidup dan meninggal dalam masalah tabarruk?
    Dan kalau tidak ada yang shahih tentang riwayat tabarruk sahabat? Bagaimana dengan keterangan diatas? Dan kalau alergi dengan hadist dloif, kenapa dalam lain kesempatan menggunakan hadist/atsar dloif untuk mencari kesalahan aswaja?

    2. Selain alasan diatas Syaikh bin bazz menafikan keterangan Imam Ibnu Hajar karena alasan sadduz dzarii’ah (menutup suatu hal yang jadi perantara), tanpa memaklumi adanya, khilafiyyah ijtihadiyyah. Padahal Syadduz Dzarii-ah adalah masalah khilafiyyah ijtihadiyyah juga. Dan lagian kalau di Tanya apakah ada dasar qur’an hadist letterlux tentang kaidah sadduz dzarii’ah insya alloh saya berani menjamin beliau syaikh akan sangat sangaat kesulitan menemukannya, di tengah jargon kembali ke al qur’an dan al hadist kenapa ini di usung? Sungguh kontradiktif.
    Wallohu a’lam.

  18. Jazakallaah Akh Lasykar, atas penjelasannya. Ana yang bodoh ini sedang terus mencari kebenaran, dari berbagai sumber, yang sesuai dengan Al-Quran dan hadits dengan pemahaman yang benar, yaitu pemahaman salaful ummah (Rosulullah, sahabat, tabi’in dan tabiuttabi’in). Karena generasi inilah sebaik-baik manusia sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda “Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).” (Muttafaq ‘alaih).
    Apakah yang antum jelaskan mengindikasikan bolehnya tabarruk kepada selain Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ? Menghormati/memuliakan apakah sama dengan ngalap berkah ?.
    Akh Woko, apakah salah ana mengambil dari website muslim.or.id, almanhaj.or.id atau web lain, selagi yang disampaikan dalam web tersbut alquran, hadits dengan pemahaman salafil ummah tersebut.
    Hai orang-orang yang beriman, …….Dan janganlah sekali-kali kebencian kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya . Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya (QS Al-Maidah-2). Wallahu a’lam.
    Mudah-mudahan Allah Subhaana Huwata’ala memberikan Rahmat, taufiq & hidayah-Nya kepada kita semua.

  19. Ichwani fiddiien,
    Ngomong-ngomong soal salafi-wahaby, ini ada penjelasan yang selama ini ana juga tidak tahu….ternyata yang dimaksud wahaby……adalah……silahkan dengarkan ceramah di sini…http://www.youtube.com/watch?v=dEay4BKanJM.
    Setelah mendengar secara lengkap penjelasan tersebut silahkan apa yang akan antum sampaikan silahkan sampaikan….apa yang akan antum cela…silahkan cela….Semuanya akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah Subhaana Huwata’ala di yaumil akhir kelak.
    Semoga Allah Subhaana Huwata’ala memberikan Rahmat, taufiq & hidayah-Nya kepada kita semua.

  20. Jazaakallahu Aydlon…. mas abu syifa
    Iya mas syifa, selain nabi pun boleh kita bertabarruk. Dalil aqli dan naqli sudah kami haturkan, mulai bertabarruk dengan nabi (dlm artikel), dengan sahabat, dan tabiittabiin (Imam Syafi’I dan Imam Bukhori) sekarang terserah panjenengan memantapkan hati. Innal huda hudalloh.
    Masalah ta’rif dari tabarruk saya kira di cukupkan dengan artikel. Atau mas punya pandangan lain? Silahkan di share di sini, sekalian saya minta penguat dalil naqli anda. Makasi tanggapannya.
    Wallohu a’lam

  21. Dan kalau anda berkenan tolong jawab juga kemusykilan saya tentang artikel dari Syaikh Nashir bin Abdirrahman Al Jadi’, semoga menjadi bahan renungan bagi saya.
    wallohu a’lam

  22. Al Baqarah 170 :
    Dan apabila dikatakan kepada mereka:”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapata dari nenek moyang kami”.(Apakah mereka akan mengikuti juga)” walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatau apapun, dan tidak mendapat petunjuk”

    Just share aja, dulu saya sangat awam dengan yang namanya agama ( walaupun waktu kecil sering ngaji dan sempat ikut TPA jg, tapi itu semua ‘ditinggalkan’ setelah masuk smp, sma, kuliah ), kemudian ada sedikit perubahan dalam diri saya sewaktu masuk dunia kerja. Ada keinginan untuk belajar kembali, karena saya merasa malu apabila nanti menikah (atau hal lainnya), saya tidak mengerti apa apa tentang agama .
    Alhamdulilah kemudian saya mulai ngaji kembali, mulai dari mesjid dkt kosan yang suka ada pengajian subuhnya ( Hmmm mungkin mereka dari kalangan NU, tapi it’s ok tidak ada masalah), mulai belajar tentang muhamadiyyah juga ( karena saya kerja sambil kuliah di Muhhamadiyah Jakarta, ini pun tidak masalah, saya ikut ngaji juga disini .) dan ikut juga pengajian yang diadakan dikantor setiap resttime ( Hmmmm (setelah saya belajar lebih jauh) ada yang bilang salafy or lebih tepatnya adalah al-furqon, tapi it’s ok juga tidak ada masalah).

    dan sekarang saya ikut pengajian di mesjid Universitas Negeri Jakarta yang ada tiap hari minggu ( hmmm salafy juga or lebih tepatnya LDBII???).
    yah intinya sih saya ngaji di berbagai ‘golongan’ islam yang ada . ,
    karena niat saya cuma 1, ngaji, mengetahui lebih jauh tentang agama ini . Saya tidak ingin menjadi orang yang seperti di ayat alquran tersebut ( hanya ikut2an saja, padahal yang di ikuti mungkin belum tentu benar. ).

    Pesan terkahir dari saya :
    -Ambillah yang benar dan jauhi yang salah .
    -Katakan yang hak kepada yang hak walupun diri belum bisa menjalaninya
    -Jangan bertaqlid kepada siapapun, kalau pun ingin bertaqlid silahkan kepada apa yang diucapkan oleh orang tersebut, apakah sesuai dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah ( Sebaik-baik ucapan adalah Kitab Allah Subhanahu wa ta’ala, sebaik-baiknya petunjuk adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam)

  23. pencari hidayah (PH) : Al Baqarah 170 :
    Dan apabila dikatakan kepada
    mereka:”Ikutilah apa yang telah diturunkan
    Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapata dari nenek moyang kami”.(Apakah mereka akan mengikuti juga)” walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatau apapun, dan tidak mendapat petunjuk”

    saya: maksud anda apa? ? apakah anda mengetahui asbabunnuzul ayat itu? diturunkan untuk menjelaskan siapakah ayat itu? apa anda menganggap kami kafir?

    PH: yah intinya sih saya ngaji di berbagai
    ‘golongan’ islam yang ada . , karena niat saya cuma 1,ngaji, mengetahui lebih jauh tentang agama ini

    saya: apakah anda tidak merasakan apa yang anda lakukan adalah salah satu bentuk taqlid…..? kalau anda tidak ingin dikatakan taqlid, silahkan itu Al Qur-an dan Al hadist di baca sendiri,di artikan sendiri, tidak usah mengikuti pemahaman oran lain, gali sendiri ilmu itu dari sumbernya, gak usah tanya pada ahlinya.. kalau anda tidak sanggup berarti anda sama dengan saya hahaha alias MUQOLLID.

    PH: Saya tidak ingin menjadi orang yang seperti di ayat alquran tersebut ( hanya ikut2an saja, padahal yang diikuti mungkin belum tentu benar. ).

    saya: katanya anda ini pencari hidayah… hehe… tapi belum belum kok udah su’udzon.. mungkin anda perlu ngaji TA’LIMUL MUTA’ALIM, dengan syarat pemahan anda tentang bid’ah harus diluruskan dulu… aneh aneh aneh

    PH: -Ambillah yang benar dan jauhi yang salah .
    saya: ooooo… kalau itu jelas…

    PH: -Katakan yang hak kepada yang hak walupun diri belum bisa menjalaninya

    saya: wah kalau ini bahaya… usahakan dulu untuk menjalani kebenaran yang kita dapat baru sampaikan kepada orang lain… la..itu yang benar, masak orang belum bisa naik motor kok udah ngajari orang lain naik motor.. apa gak aneh.. hahaha lemes lemes…

    PH: -Jangan bertaqlid kepada siapapun, kalau pun ingin bertaqlid silahkan kepada apa yang
    diucapkan oleh orang tersebut, apakah sesuai
    dengan Al-Qur’an dan As-Sunnah ( Sebaik-
    baik ucapan adalah Kitab Allah Subhanahu wa
    ta’ala, sebaik-baiknya petunjuk adalah
    petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa
    Sallam)

    saya: sesuai ucapan saya yang atas, dahulukan husnudzon bila anda bener2 sebagai pencari hidayah wallohu a’lam

  24. Kalo omongin mazhab horor yg 1 ini emang rada2 lucu plus gemesin yah… hehehe, sesamanya aja saling kafir2an…gimana yg ga ngeyakini trinitas ala wahaboy pasti lbh kafirlah……hihihi (ampuuuun ooom, saya jangan di bom yah…..)

  25. trus bagaimana dgn ini???“ ….dan aku benci makhluq diagungkan sampai kuburannya dijadikan sebagai masjid, (karena) dikhawatirkan adanya fitnah untuk dirinya dan untuk orang-orang setelahnya” (lihat al-Majmu’ karya Imam AnNawawi juz 5 halaman 314, al-Umm karya Imam Asy-Syafi’i sendiri juz 1 halaman 317)….apa yg Anda nukil bertentangan dgnnya…mana yang benar dan mana yang salah? mohon pencerahannya. terimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker