Inspirasi Islam

Syiah dan Sunni Inginkan Persatuan Umat Islam

Syiah dan Sunni – Sebenarnya kedua kaum Syiah dan Sunni sama-sama inginkan persatuan umat Islam. Tapi selalu dirusak oleh Rafidhoh (pengkultus Ahlul Bayt) dan Kaum Nawashib (pembenci Ahlul Bayt).

Terkait hal ini, baru-baru ini seorang tokoh muda NU, Kiyai Alawi Nurul Alam Al-Bantani berkunjung ke Iran. Beliau ke Iran bukan untuk plesir di negeri syiah terbesar di dunia itu. Tetapi kunjungannya untuk menghadiri sebuah konferensi Islam Internasional yang membahas bahaya “Takfirisme”. Yang arah pembicaraannya untuk menggagas terjalinnya persatuan Umat Islam. Antara pengikut dua mazhab besar Islam, yaitu Syiah dan Sunni (Ahlussunnah).

Konferensi Internasional dengan tema besar “Bahaya Ekstremisme dan Takfirisme” di Qom, Iran (23/11/2015). Konferensi ini juga dihadiri oleh para ulama dunia dari berbagai negara. Yang diundang 90 negara, yang tidak hadir 3 negara; Amerika, Inggris, Arab Saudi. Kiyai Alawi Al-Bantani merupakan satu dari enam perwakilan Indonesia yang menghadiri konferensi itu. Hadir juga di antaranya Prof. Dr. Hamka, Prof. Dr. Zainul Kamal, dan tiga perwakilan lainnya.

Berbicara soal bahaya ekstrimisme dan takfirisme, Kiyai Alawi Al-Bantani menekankan agar umat Islam menggunakan akal sehat secara cerdas. Dan sadar sehingga tak mudah menelan mentah-mentah berbagai informasi yang keliru begitu saja. Intinya jangan terlalu ekstrim, sehingga memungkinkan akal bisa mencerna hal-hal yang masuk secara sehat dan seimbang.

BACA :  Awas, Pedofilia Mengancam Negeri Kita
Imamnya Sunni, mamkmumnya Wahabi Salafi.

 

Di Indonesia perlu komunikasi intensif antara Syiah dan Sunni

Kita sering dibenturkan dalam soal fiqh Sunni dan Fiqh Syi’ah. Jika fiqh, jangankan Syiah dengan Sunni, sesama Sunni pun berbeda. Begitu juga sesama Syi’ah sesuai Imamnya masing-masing ini furu’uddin (cabang agama) menurut istilah Syi’ah. Tidak menunjukkan benar atau salah tapi bagaimana cara mereferensikannya, punya dasar yang kuat atau tidak.

Mut’ah misalnya, ada juga Imam Syiah yang mengharamkannya karena alasan akhlak, dlll.  Semuanya menjadi bahan ledekan oleh kaum Nawaashib dari kalangan Wahabi. Dan orang yang terpengaruh ajarannya. Lebih ekstrim, hal itu menggambarkan tajamnya friksi Syiah dan Sunni (Wahabi yg mengklaim sebagai Sunni). Tentunya hal ini merugikan upaya menjalin persatuan umat Islam.

Yang jelas friksi dan konflik Syiah dan Sunni sudah berlangsung lama dengan berbagai sebab yang melatar belakanginya. Kita sebagai pihak yang baru belajar dan mengenal tentang syiah. Yang terbayang di benak kita bahwa Syiah adalah kaum sempalan yang dibikin oleh Abdullan bin Saba’. Seorang Yahudi yang pura-pura masuk Islam. Nah, sekarang zaman serba terbuka, di mana jarak menjadi sedemikian dekat via internet. Seiring itu pula Umat secara blak-blakan menerima informasi sehingga oknum Abdullah bin Saba’ tersebut menjadi diragukan validitasnya.

BACA :  Surat Al-Maidah 51, Penjelasan Ahli Tasfsir Indonesia
banner gif 160 600 b - Syiah dan Sunni Inginkan Persatuan Umat Islam

Sebelum segala sesuatu dalam kaitannya dengan persatuan umat Islam. Tentu kalangan Sunni meminta klarifikasi dari kaum Syiah atau kalau di negara kita ada IJABI. Tentang tuduhan-tuduhan berlebihan bahkan cenderung ke fitnah, betulkah demikian Syi’ah seperti itu? Tolong kang Prof. Jalaludin Rahmat dkk, betulkah Syiah seperti itu?

Dengan komunikasi dan dialog yang santun kita jadi saling memahami dan mngerti. Ketika kita mamahami bukan berarti kita pro dan masuk di dalamnya. Lalu apa manfaatnya? Manfaat besarnya adalah tetap terjagaanya kerukunan antar umat Sayyidina Muhammad saw.

Allahumma ashlih ummata sayyidina Muhammad wa allif baina qulubihim…, amin….

 

Persamaan Syiah dan Sunni (ASWAJA)

Sebenarnya ada persamaan Syiah yang non Rafidhoh dengan Ahlussunnah Wal Jamaa’ah (ASWAJA). Persatuan Umat Islam menjadi sulit diwujudkan karena adanya dua pendompleng dalam dua aliran besar Islam, Syiah dan Sunni. Kalau di Syiah ada Rafidhoh sedangkan kalau di Sunni ada Salafi Wahabi. Keduanya adalah pendompleng sekaligus menjadi duri dalam daging di masing-masing Syiah dan Sunni.

Atau bisa diibaratkan mereka menjadi benalu bagi Sunni dan Syi’ah yang didomplenginya. Rafidhoh adalah minoritas di dalam Syiah dan mengklaim yang paling benar di antara Syi’ah-syi’ah yang ada. Demikian juga Salafi Wahabi adalah minoritas yang ada di Sunni dan mengklaim satu-satunya kebenaran dalam Islam. Walaupun sekarang di Indonesia mereka sudah tidak berani terang-terangan dalam klaim kebenaran tsb.

BACA :  Gus Dur di Mata Kaum Syi'ah Indonesia

Adapun Syiah yang non Rafidhoh sebenarnya memiliki banyak persamaan dengan Sunni (ASWAJA), misalnya:
– Sama-sama tidak mengkafirkan kedua orang tua Nabi Saw
– Sama-sama tidak mengkafirkan Abu Thalib paman Nabi Saw (Wahabi mengkafirkan Abu Thalib)
– Sama-sama mempelajari tasawuf sehingga akhlak mereka pun mirip dengan akhlak ulama-ulama    Aswaja yang santun
– Sama-sama menginginkan persatuan umat Islam

Dan persamaan yang lainnya pastilah masih banyak lagi, kita perlu menggali dengan mengajak mereka berdialog…. Semoga persatuan Umat Islam benar-benar terwujud tidak lama lagi.

Sebenarnya antara kaum Syiah dan Sunni sama-sama menginginkan persatuan umat Islam. Hal ini bisa dilihat dari seringnya tokoh-tokoh kedua aliran Islam ini bertemu dalam forum-forum lokal maupun internasional. Untuk mencari titik-temu persamaan faham. Harapannya jelas, agar penganut kedua aliran bisa saling kenal dan saling memahami persepsi dari sudut pandang berbeda.

Allahumma ashlih ummata sayyidina Muhammad wa allif baina qulubihim…, amin….

 

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker