Salafi Wahabi

Nasiruddin al-Albani Layakkah Disebut Muhaddits ?

Mereka menyebutnya Al-Imam Al-Mujaddid Al ‘Allamah Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani.

Kaum Salafi Wahabi Pantaskah Membanggakan Syaikh Nasiruddin al-Albani ? Syaikh Nasiruddin al-Albani Layakkah Disebut Muhaddits? Beberapa tahun belakangan banyak kitab, buku, artikel, atau postingan di internet yang memuat kalimat “disahihkan oleh Syaikh Al-Albani”. Selama ini orang setidaknya hanya mengenal seperti : diriwayatkan oleh Syaikhon (Imam Bukhari dan Imam Muslim) atau diriwayatkan oleh Imam Bukhari, sahih Bukhari, sahih Muslim dan yang semisalnya dari Imam-imam Muhaddits yang mu’tabar (kredibel).

Dengan munculnya seorang yang dianggap sebagai ahli hadits abad ini, kini muncul istilah baru yang jadi icon dan ‘jaminan mutu’. Hadits akan tidak dipercaya kecuali apabila sebuah hadits sudah dapat stempel : disahihkan oleh Al-Albani.

Ada juga dari golongan Salafi ini berkata bahwa al-Albani sederajad dengan Imam Bukhori pada zamannya. Sehingga semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan dan sebagainya, oleh beliau ini, sudah pasti lebih mendekati kebenaran. Buat ulama-ulama madzhab sunnah selain madzhab Wahabi, julukan dan pujian golongan Wahabi/Salafi terhadap ulama mereka Al-Albani semacam itu tidak ada masalahnya. Hanya sekarang yang dimasalahkan adalah penemuan ulama-ulama ahli hadits dari berbagai madzhab. Di antaranya dari Jordania yang bernama Syeikh Hasan Ali Assegaf tentang banyaknya kontradiksi dari hadits-hadits dan catatan-catatan yang dikemukakan oleh al-Albani ini jumlahnya lebih dari 1200 hadits!! Angka yang spektakuler…

Para pemuja syaikh kelahiran Albania ini kadang bersikap ghuluw (berlebihan) dalam mempromosikan hadits yg ditakhrijnya dan memuji pribadinya. Mereka menyebutnya Al-Imam Al-Mujaddid Al ‘Allamah Al-Muhaddits Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani. Sayangnya pemujaan terhadap syaikh yang satu ini tanpa disebutkan dari mana sang Mujaddid wal Muhaddits ini mendapatkan sanad hadits.

BACA :  Koreksi Total Buat Abahna Jibril Soal Pembagian Tauhid

Syaikh Al Albani Ahli Hadits Kaum Wahabi - Nasiruddin al-Albani Layakkah Disebut Muhaddits ?

Sebenarnya Siapakah Syeikh Nasiruddin Al-Albani, Mari kita lihat!

Syeikh Nasiruddin Al-Albani adalah seorang tukang jam yang dilahirkan di kota Ashkodera, negara Albania tahun 1914 M. Dan meninggal dunia pada tanggal 21 Jumadal Akhirah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yordania. Pada masa hidupnya, sehari-hari dia berprofesi sebagai tukang reparasi jam. Dia memiliki hobi membaca kitab-kitab khususnya kitab-kitab hadits tetapi tidak pernah berguru kepada guru hadits yang ahli. Dan tidak pernah mempunyai sanad yang diakui dalam Ilmu Hadits.

Keluarga beliau boleh dibilang termasuk kalangan kurang berada, namun bertradisi kuat dalam menuntut ilmu agama. Ayahanda beliau bernama Al-Haj Nuh, lulusan lembaga pendidikan ilmu-ilmu syari’ah di ibukota negara dinasti Utsmaniyah (kini Istambul). Keluarga beliau kemudian berhijrah ke Damaskus, ibu kota Syria, dan menetap di sana.

Beliau boleh dibilang tidak menyelesaikan pendidikan formal yang tinggi, kecuali hanya menyelesaikan sekolah madrasah ibtidaiyah. Kemudian beliau meneruskan ke madarasah An-Nizhamiyah. Dia sendiri mengakui bahwa sebenarnya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah. Meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan kesimpulannya sendiri. Dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadh’ifkan hadits adalah tugas para hafidz (ulama ahli hadits yg menghapal sekurang-kurangnya seratus ribu hadits).

banner gif 160 600 b - Nasiruddin al-Albani Layakkah Disebut Muhaddits ?

Namun demikian kalangan salafi (wahabi) menganggap semua hadits bila telah dishohihkan atau dilemahkan al-Albani mereka pastikan lebih mendekati kebenaran.

BACA :  Wahabi dan Wahabisme dalam Pandangan Ulama Sunni Dunia

Cukup sebagai bantahan terhadapnya, pengakuannya bahwa dia dulunya bekerja sebagai tukang jam. Dan hobinya membaca buku-buku tanpa mendalami ilmu Agama pada para ahlinya dan tidak mempunyai sanad yang diakui dalam Ilmu Hadits. Bahkan sanadnya terputus (tidak bersambung sampai ke Rasulullah), tetapi sanadnya kembali kepada buku-buku yang dibacanya sendiri.

Syeikh Nasiruddin Al-Albani Tidak Hafal 10 hadits

Albani menyenangi ilmu hadits dan semakin asyik dengan penelusuran kitab-kitab hadits. Sampai pihak pengelola perpustakaan adz-Dzhahiriyah di Damaskus memberikan sebuah ruangan khusus di perpustakaan untuk beliau.

Hadits menjadi kesibukan rutinnya, sampai-sampai beliau menutup kios reparasi jamnya. Beliau lebih betah berlama-lama dalam perpustakaan azh-Zhahiriyah, sehingga setiap harinya mencapai 12 jam. Tidak pernah istirahat mentelaah kitab-kitab hadits, kecuali jika waktu sholat tiba. Untuk makannya, seringkali hanya sedikit makanan yang dibawanya ke perpustakaan.

Namun sayangnya, dia menyangka bahwa dirinya telah menjadi profesional dalam urusan agama. Dia memberanikan diri untuk berfatwa dan mentashhieh hadits atau mendha’ifkannya sesuai dengan keinginan hawa nafsunya. Juga dia berani menyerang ulama yang mu’tabar (yang berkompeten di bidangnya) padahal dia mandakwa bahwa “hafalan” hadits telah terputus atau punah.

Dia mengakui bahwa sebenarya dia tidak hafal sepuluh hadits dengan sanad muttashil (bersambung) sampai ke Rasulullah. Meskipun begitu dia berani mentashih dan mentadh’iftan hadits sesuai dengan hawa nafsunya. Dan bertentangan dengan kaidah para ulama hadits yang menegaskan bahwa sesungguhnya mentashih dan mentadhifkan hadits adalah tugas para hafiz saja.

BACA :  BENARKAH SALAFI WAHABI ITU AHLUSSUNNAH WAL JAMAAH ?

Syarat Layak Disebut Muhaddits, Syaikh Nasiruddin al-Albani Layakkah Disebut Muhaddits ?

Sebagai perbandingan salah seorang Muhaddits Indonesia, syaikh Muhammad Yasin ibn Muhammad ‘Isa al-Fadani memiliki rantaian sanad yang bersambung sampai kepada Rasululloh SAW. Sementara syaikh al Albani dapat dikatakan lebih sebagai kutu buku yang banyak menghabiskan waktu di perpustakaan untuk mempelajari hadits, ketimbang sebagai ahli hadits (Muhaddits). Sebab persyaratan untuk dapat dikatakan sebagai Ahli Hadits (Muhaddits) amatlah berat.
Setidaknya ada 3 syarat menurut Imam Ibnu Hajr al Asyqolani Asy Syafi’ie :

1 – Masyhur dalam menuntut ilmu hadits dan mengambil riwayat dari mulut para ulama, bukan dari kitab-kitab hadits saja
2 – Mengetahui dengan jelas Thabaqat generasi periwayat dan kedudukan mereka
3 – mengetahui Jarah dan ta`dil dari setiap periwayat, dan mengenal mana hadit yang shahih atau yang Dhaif, sehingga apa yang dia ketahui lebih banyak dari pada yang tidak diketahuinya, juga menghapal banyak matan haditsnya.

Beliau wafat pada hari Jum’at malam Sabtu tanggal 21 Jumada Tsaniyah 1420 H atau bertepatan dengan tanggal 1 Oktober 1999 di Yoradania.

Nasihat kami bagi seluruh umat Islam untuk tidak membaca kitab-kitab Nasiruddin al-Albani dan tidak merujuk kepada tashih dan tadh`ifnya dalam hadits. Justru kewajiban syar’i adalah melakukan tahzir terhadapnya dan terhadap karangan-karangannya demi membela Islam dan Muslimin.

 

Sumber:
http://jihadwahabi.blogspot.com/2007/09/kesesatan-kesesatan-albani.html

http://www.forsansalaf.com/2009/albani-muhaddits-tanpa-sanad-andalan-wahabi/

http://jerman90.com/syaikh-al-albani.html

– See more at: http://al-albani.blogspot.com/2012/01/siapa-albani_18.html#sthash.GR6rM7wG.dpuf

Save

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

2 thoughts on “Nasiruddin al-Albani Layakkah Disebut Muhaddits ?”

  1. Bertakwalah kepada Allah
    bertakwalah kepada Allah
    bertakwalah kepada Allah.
    Bertaubatlah, jika tidak, cepat atau lambat,
    Semoga Allah melaknatmu dan semua keturunan mu yang mengikuti ajaranmu.

  2. Kalo buat saya, ukuran seseorang berilmu atau tidak bukanlah dr apakah dia belajar dengan guru atau tidak. Sbb buktinya byk org punya guru tapi berada dlm kesesatan.

    Mslh albani memiliki ilmu dr membaca, kita lihat dulu… buku apa yg dia baca? Klo buku karangan ulama, bknkah itu sama saja spt kita ngaji baca kitab kuning yg jg ditulis oleh ulama.

    Juga masalah kesalahan albani, sudah jadi sunatullah bhw manusia tempat salah dan dosa. Tapi sbg mnusia kita hrs adil, jika mmg salah, kita luruskan… tapi kalau benar, kita akui.

    Yang saya lihat dr web2, justru sebaliknya… menggembor2kan kesalahan yg sedikit… tapi pura2 nggak liat kebenarannya yg banyak….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker