Inspirasi Islam

Sunni dan Syi’ah Punya Alquran dan Kiblat yang Sama

Ada kelompok Islam yang mengatakan bahwa Alquran Syi’ah itu berbeda. Itu tidak benar, sebab Sunni dan Syi’ah Punya Alquran yang Sama juga Kiblat yang Sama….

Sunni dan syiah adalah dua madzhab besar dalam Islam. Kurang mesranya hubungan antara Sunni dan Syi’ah berlangsung sudah sejak lama. Ketidak mesraan ini dilatar belakangi oleh perbedaan persepsi dalam praktek peribadatan termasuk dalam bermadzhab. Sunni sebagai penganut ajaran Islam yg pertama menganggap ajaran Syi’ah menyimpang dari apa yg diajarkan oleh Muhammad, sebaliknya Syiah menganggap ajaran merekalah yang benar.

Kemudian, perbedaan pandangan ini menimbulkan diskriminasi dalam banyak bidang kehidupan. Wilayah yang mayoritas penduduknya Sunni katanya mengucilkan kaum minoritas (Syiah), dan begitu sebaliknya, wilayah yang mayoritas penduduknya Syi’ah mengucilkan kaum Sunni.

Pergesekan antara kedua kelompok ini (di Timur Tengah), dimanfaatkan oleh pihak luar untuk kepentingan politik mereka dengan cara mengadu domba. Dan anehnya ada sebagian pihak yang mau mengimpor konflik timur tengah ke Indonesia dengan membenturkan antara Sunni dan Syi’ah. Mereka yang anti syi’ah menuding bahwa Alqur’an milik madzhab Syiah berbeda dengan Alqur’an milik mazdhab Sunni. Apa benar demikian? Berikut adalah tulisan penelitian yang dilakukan oleh Prof. Kamaruddin* mengenai Alquran mazhab Syiah.

***

Ketika Sunni dan Syi’ah mengakui tuhan yang sama, nabi yang sama, Alquran yang sama, kiblat yang sama, syahadat yang sama, mengapa perbedaan harus dibesar-besarkan?

Ketika Sunni dan Syi’ah mengakui tuhan yang sama, nabi yang sama, Alquran yang sama, kiblat yang sama, syahadat yang sama, mengapa perbedaan harus dibesar-besarkan?

Sunni dan Syi’ah adalah dua mainstream Islam yang sama-sama post-quranic. Keduanya terbentuk setelah wahyu berhenti diturunkan dan setelah nabi Muhammad saw wafat. Perselisihan paham antarkeduanya berlangsung sejak terbentuknya aliran tersebut di masa-masa awal Islam sampai hari ini. Keduanya saling perang ayat dan riwayat, bahkan tidak jarang keduanya saling mengafirkan. Kontestasi perebutan pengaruh juga berlangsung dari dulu hingga sekarang dan kontak fisik sering tidak terhindarkan. Begitu parahkah perbedaan antarkeduanya sehingga tak ada secercah harapan mendekatkan kedua kekuatan dahsyat Islam ini?

Hasil diskusi intensif penulis (bersama dengan beberapa doktor dan guru besar UIN Alauddin) dengan beberapa Ayatullah (ulama otoritatif) Syi’ah di Hawza Ilmiah Syiah di jantung peradaban Syiah di Qum, Iran, mengungkap sejumlah fakta menarik yang dipatut dipertimbangkan dalam rangka mendekatkan kedua mainstream besar Islam ini.

Sejumlah isu-isu kritis kami diskusikan secara akademik dan kepala dingin. Kami ke Iran mengikuti workshop ilmiah dengan membawa sejumlah pemahaman apriori tentang Syi’ah. Di antaranya adalah asumsi bahwa kitab suci Syi’ah (Alquran) berbeda dengan kitab suci (Alruran) Sunni. Asumsi ini bukan tanpa dasar karena disebutkan dalam ratusan riwayat dalam kitab al-Kafi karya al-Kulayni (salah satu dari empat kitab yang dianggap oleh Syi’ah sebagai kitab suci kedua setelah Alquran, kurang lebih sama dengan Sahih Bukhari dan Sahih Muslim yang diyakini oleh Sunni sebagai kitab kedua setelah Alquran) bahwa terdapat manipulasi atau perubahan (tahrif) terhadap Alquran yang ada sekarang.

Menurut al-Kulayni penulis kitab otoritatif tersebut, Alquran yang ada di tangan kaum muslimin Sunni sekarang sebagian telah diubah. Inilah salah satu penyebab mengapa kaum muslimin Sunni di dunia termasuk di Indonesia, memandang Syi’ah sesat karena meyakini ketidakaslian Alquran.

Begitu kami sampai di Iran kami langsung memeriksa Alquran Syi’ah. Bahkan kami dibawa ke tempat percetakan Alquran dan diberi hadiah Alquran. Ternyata, Alquran Syiah dengan Alquran Sunni tidak ada bedanya sama sekali. Ketika penulis menanyakan hal ini kepada salah seorang Ayatullah di Hawza, beliaupun menjawab tak ada perbedaan. Yang menarik adalah informasi dari kitab al-Kafi berbeda dengan kenyataan di lapangan. Ketika kami menanyakan hal tersebut, Ayatullah menjawab kami tidak menganggap al-Kafi sebagai kitab suci yang tidak mungkin salah. Di situ banyak kesalahan yang kami kritisi, berbeda dengan kalian di Sunni yang menjadikan Sahih al-Bukhari sebagai kitab suci yang tidak boleh dikritisi. Saya sempat sedikit tersindir dengan jawaban tersebut.

banner 2 2 - Sunni dan Syi'ah Punya Alquran dan Kiblat yang Sama

Menurut Ayatullah yang lain, sudah terbit banyak buku yang mengkritik al-Kafi karya al-Kulayni. Poin ini penting karena kitab ini sering dijadikan sumber oleh Sunni untuk menyerang kaum Syi’ah, sementara kitab ini sendiri sudah dikritik oleh Syi’ah.

Poin selanjutnya tentang sahabat. Dalam literatur-literatur yang ditulis kaum Sunni disampaikan bahwa Syi’ah hanya menerima hadis-hadis yang diriwayatkan oleh ahlul bait atau keluarga nabi, sementara hadis yang diriwatkan oleh sahabat-sahabat yang lain mereka tolak mentah-mentah, bahkan mereka, kaum Syiah mencerca sahabat. Para Ayatullah yang sempat kami ajak diskusi mengingkari hal itu. Mereka mengatakan bahwa sepanjang hadis tersebut bisa dibuktikan otentisitasnya dari nabi, siapapun sahabat yang meriwayatkan kami terima. Abu Bakar, Umar dan Usman adalah sahabat nabi yang mereka hormati. Poin ini sangat substantif karena pendapat tentang sahabat nabi telah dan sedang menjadi sumber konflik antara kedua mainstream Islam ini.

Bahkan, ada di antara Ayatullah yang menjelaskan bahwa sedang ada konspirasi besar untuk mendiskreditkan Iran (Syi’ah) yang bertujuan untuk memecah-belah umat Islam. Iran adalah negara Islam terbesar dan terkuat, baik secara ekonomi, karakter, budaya dan politik dan paling resisten terhadap pengaruh hegemoni Barat yang sama sekali tidak bisa didikte oleh Amerika. Terdapat tidak kurang dari 200 chanel televisi di luar negri, terutama di Amerika, yang dibuat dalam bahasa Parsi untuk mendiskreditkan Iran, untuk menyerang budayanya. Stasiun televisi inilah yang sering memunculkan padangan-pandangan miring yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman terhadap Iran secara khusus dan Syi’ah secara umum, agar Sy’iah dan saudaranya Sunni tidak bisa bersatu menurut Ayatullah tersebut.

Tentang nikah mut’a (kawin kontrak), sungguh berbeda dengan apa yang kami pahami sebelumnya. Nikah mut’a memang dibenarkan oleh ulama Syi’ah dengan riwayat-riwayat yang menurut mereka dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya. Bahkan argumentasi quranipun dapat mereka tunjukkan. Menurut mereka, nikah mut’a dipraktikkan pada masa nabi. Banyak sahabat yang telah mempraktikkannya. Nanti pada masa Umar bin Khattab, khalifah kedua, Nikah mut’a dilarang. Mengapa sesuatu di masa nabi dibolehkan kemudian dilarang oleh Umar? Riwayat-riwayat tersebut tentu bisa diperdebatkan, tetapi bukan tempatnya di sini mendiskusikannya. Tetapi, meskipun demikian nikah mut’a di kalangan Syi’ah tidak semudah dan semurah yang dibayangkan.

Nikah mut’a memang masih ada di Iran, tetapi sangat terbatas. Di samping harus tercatat di catatan sipil, juga bukanlah trend terhormat di masyarakat. Praktik nikah mut’a sangat jarang dan hanya dalam kasus tertentu. Di tempat lain, praktik nikah mut’a sering dieksploitasi dan dijadikan sebagai instrumen mengumbar nafsu. Nikah mut’a tentu tidak dimaksudkan untuk tujuan-tujuan tersebut.

Perbedaan yang paling mendasar yang diakui oleh mereka adalah tentang khilafah. Mereka meyakini bahwa yang berhak menjadi khalifah setelah nabi adalah Ali, bukan Abu Bakar, Umar dan Usman. Keyakinan tersebut tentu di-back up oleh riwayat-riwayat yang mereka yakini kesahihannya. Konsep imamah dan wilayatul faqih adalah tema yang juga menarik dan sangat panas dalam diskusi kami, tetapi keterbatasan halaman ini menyebabkan penulis tidak mengurainya di sini.

Poin yang penulis ingin sampaikan adalah baik Sunni maupun Syi’ah memiliki argumennya masing-masing, memiliki dasar-dasar dari Alquran dan hadis masing-masing. Sunni dan Syi’ah berbeda dalam memahami teks, berbeda dalam menilai keabsahan sumber atau riwayat-riwayat. Tetapi, ketika Sunni dan Syi’ah mengakui tuhan yang sama, nabi yang sama, Alquran yang sama, kiblat yang sama, syahadat yang sama, mengapa perbedaan harus dibesar-besarkan. Apatah lagi kalau perbedaan-perbedaan itu dipahami dari sumber yang tidak tepat.

Bagi Sunni yang ingin mengetahui substansi pemikiran dan hakikat ajaran Syi’ah sebaiknya membaca dari literatur Syi’ah. Bukan dari sumber yang tidak suka kepada Syi’ah. Begitu pula sebaliknya, kelompok Syi’ah harus fair membaca literatur otoritatif Sunni untuk mengetahui esensi pemahaman Sunni. Mungkin dengan cara itu, Sunni dan Syi’ah dapat bersinergi membangun peradaban Islam di masa yang akan datang, Amien. Wallahu a’lam.  (al/metroislam/mfa)

 

oleh Prof. Kamaruddin*) Dosen Fakultas Adab dan Humaniora, Pembantu Rektor Bid. Kerjasama, Guru Besar UIN Universitas Islam Negri Alauddin Makassar, Project Manager of the Development and Upgrading of Islamic University of Alauddin, financed by Islamic Development Bank.

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker