Berita Fakta

Sujud Penuh Takdzim dan Asal Muasal Gosongnya Jidatku

Dulu, beberapa tahun yang lalu sering aku heran dan agak sedikit sinis melihat jidat seseorang yang menghitam. Kok bisa sih jidat sampai hitam sedemikian rupa hanya gara-gara dipakai bersujud? “Hm, rupanya mau pamer dia. Biar semua orang tahu kalau dia seorang ahli sujud.”  Demikian aku membatin tentang si pemilik jidat hitam. Dan kesinisanku semakin menjadi-jadi ketika aku melihat teman-teman Salafy yang baru saja rajin ikut ta’lim belum setahun tiba-tiba jidatnya berubah gosong menghitam.

Ada sepotong  ayat terkenal dalam al-Qur’an yang bunyinya begini: ”  سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ  , artinya: tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud“.  Ayat ini mendiskripsikan keadaan para sahabat Nabi saw bahwa wajah mereka terdapat bekas sujud, yaitu perilaku yang Islami karena mereka adalah ahli sujud. Nah, mungkin karena ayat inilah maka sebagian orang menafsirkan aplikasinya adalah dengan menggosongkan jidat. Karena jidat (dahi) adalah bagian anggota sujud yang paling fital dan sangat mungkin untuk diciptakan bekas sujud. Tanpa jidat maka mustahil seseorang akan melakukan sujud secara sempurna dan sulitlah praktek membuat bekas sujud. Nah, bagaimana agar jidat memiliki bekas sujud yang menghitam di dahi secara cepat seperti teman-temanku? Aku tidak tahu, sebab aku tidak pernah bertanya tentang caranya kepada mereka, karena itu aku hanya bisa bilang wallohu a’lam.

BACA JUGA:  Inilah Ciri-ciri Aliran Sesat, Semuanya Ada di Salafy Wahabi

Waktu berikutnya terus berjalan dan berlalu. Di suatu hari ketika kami kumpul-kumpul dan bercengkrama dengan keluarga menjelang shalat Isa, tiba-tiba anak putriku yang masih kelas 2 SD menunjuk jidatku yang katanya gosong. Ah, masa sih? Aku tidak langsung percaya kecuali setelah aku memeriksanya lewat cermin lemari. Hm, benar juga kata anakku. Ada dua bulatan hitam di dahiku kelihatan cukup jelas. Bagaimana ini bisa terjadi? Apakah karena kuwalat sebab aku merasa sinis kepada pemilik jidat hitam? Wallhu a’lam….

Rupanya selama ini aku tidak menyadari kalau jidatku sendiri ternyata sudah cukup lama gosong akibat kapalan. Hanya karena aku tidak begitu teliti saat bercermin, maka aku tidak melihat dua noda hitam di jidatku sendiri. Juga isteriku tidak pernah memberitahuku, padahal dia sudah cukup lama tahu tentang keadaan jidatku. Dengan keadaan jidatku ini tentu aku malu sekali, malu kepada Allah Swt juga malu kepada diriku sendiri.

BACA JUGA:  Bom Bunuh Diri Taliban Tewaskan 65 Orang di Pakistan

 

*****

 

Setelah lama aku mencoba mengingat-ingat kenapa sampai jidatku gosong, akhirnya ketemu juga jawabnya. Dulu sewaktu sekolah di Madrasah Aliyah aku punya guru seorang Kiyai bernama Siroj Hasan, intinya beliau pernah di depan kelas memberi kiat  bagaimana cara bersujud yang benar. Diantaranya kalau bersujud itu kepala harus ditekan di tempat sujud seberat kurang lebih sama dengan berat kepala kita. Dan itu sudah aku praktekkan sejak itu pula. Artinya, aku bersujud dengan cara yang diajarkan oleh guruku yang mulia tersebut sudah sangat lama sebelum aku melihat jidat-jidat gosong dari teman-teman Salafy.

 

Meskipun aku tidak tahu dalilnya, sebab guruku saat mengajarkan cara sujud yang demikian itu juga tanpa menyebutkan dalilnya, tapi aku yakin dan percaya guruku tidak membohongi kami murid-muridnya. Yang jelas tujuan dari sujud yang diajarkannya itu bukan ingin agar jidat menghitam akibat gosong. Beliau hanya memberi alasan bahwa cara sujud yang demikian itu sebagai wujud dari kesungguhan kita merendahkan diri di hadapan Allah Swt yang maha tinggi (agung): “Subhana robiyal a’la wabihamdih.” Dengan demikian kita bisa sujud dengan penuh takdzim dan khusu’. Kalau terbukti sujud yang diajarkan guruku tersebut salah karena tanpa dalil, lalu apakah sujud yang penuh takdzim dan khusu’  ini masuk kategory bid’ah sesat?

BACA JUGA:  Kenapa Ruang Kantor PKS di Gedung DPR Digeledah KPK ?

Baiklah, mari lupakan sejenak dengan kemungkinan bid’ah sesat terhadap cara sujuddku. Ini cerita lanjutannya, suatu hari aku bertemu teman karib sekelasku di sekolah dulu. Pernah beberapa tahun mukim di Makkah sehingga dia sempat menimba ilmu kepada Sayyid Muhammad Alwi Almaliki. Ternyata teman karibku itu jidatnya juga lebih kapalan sampai kelihatan jendolnya. Tapi aku tidak pernah membahas jidat hitam akibat kapalan yang kami alami. Hanya saja dengan jidatku yang hitam ini sebenarnya aku malu sekali. Terutama ketika sedang bersilaturrohmi ke Ulama dan Kiyai, mereka jidatnya bersih bercahaya tanpa noda hitam di dahinya. Padahal mereka pastilah lebih takdzim dan khusu’  sujudnya dibandingkan sujudku. Pernah aku mencoba menghilangkan “bekas sujud” ini dengan cara merubah cara sujudku. Tapi akibatnya bahuku menjadi sakit karena menahan beban kepalaku agar tidak terlalu menancap di tempat sujudku.

Oleh: Qodrat Arispati

Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

47 thoughts on “Sujud Penuh Takdzim dan Asal Muasal Gosongnya Jidatku”

  1. cerita nyata yg inspiratif, syukron ummati.

    Saya kira karena tokoh cerita di atas sujudnya tidak bertujuan menggosongkan dahinya, sehingga dahinya sudah ada bulatan hitam tidak menyadarinya sampai anaknya sendiri yg menunjukkan. Barokallohu lakum, amin….

    1. Benar, inspiratif sekali.

      Sudah terlanjur Kang Penulis, bekas sujudnya tidak usah dihilangkan, biarkan saja, perbaiki aja hati dan lupakan jidat hitammu seperti dulu sehingga tidak lagi merasa punya jidat hitam. Syukron sharingnya ya…..?????

  2. kayaknya tu ada kaitannya dg keadaan kulit dahi yg mudah kapalen..
    ane punya temen sholatnya bolong2 tp jidatnye item.. he..he..he..

  3. Ane punya pengalaman tentang jidal hitam ini, suatu hari ane kenal sama seorang wahabi yang jidatnya hitam kapalan, ane tanya kenapa jidat ente hitam buanget. trus dia terangkan ayat yang sama persis artikel diatas, dia jelaskan cara membuat jidat hitam :
    1. pakai topi yang agak ketat
    2. letakan tangan waktu sujud didepan lutut, sehingga penekanan ada pusat kepala
    3. gerakan kepala sedikit sesuai irama bacaan sujud.
    4. penempatan pertemuan lantai dengan kepala adalah batas topi pinggir.

    setelah dia terangkan, ane tanya, bisakah pada saat itu kita tuma’ninah atau khusu’. Dia jawab sangat bisa. ane tanya lagi walau dengan menggerak2an kepala, dia jawab bisa.
    Ane tanya lagi, Apakah Rasulullah yang shalatnya sangat hebat, dibandingkan kita yang sangat khusu’ sekalipun, apakah jidatnya hitam, si wahabi langsung diam dan bergerak pulang tanpa basa basi lagi.

    1. ane juga punya temen spt itu, di jidatnya ada 3 bulatan hitam…tapi ane ga nanya sih kok bs bgitu, cuma cukup ngerti aja maksud ayat di atas yg ditampilkan ttg hasil dari sujud, bukan noda bekasnya yg jadi patokan ke aliman seorang muslim, tapi perilakunya yg menjadi lebih muslim lagi, lbih alim & bijaksana lagi, akan terpancar cahaya ke silaman dari mukanya…subhanalloh….

    2. @mas ucep…
      hwa…ha..ha..ha..ha… moga2 tman wahabi ente yg jidatnya hitam kelam tu “hati n Fikiran”nya segera terang benderang oleh sinar hidayah.. gak hitam kelam sekelam jidatnye.. moga2 qt jg…

    3. Mas Ucep, teman Wahabi mu itu motivasi sujudnya sangat beda dg penulis artikel di atas. Kalau penulis artikel sujudnya untuk benar-benar merendahkan dirinya di hadapan Allah Swt, sedangkan teman Wahabi mu itu sujudnya agar agar gosong jidatnya. Beda jauh lho ya?

      1. @aryati kartika
        Maksud ane surat yang ada diartikel ayat Al Qur’an “tanda-tanda mereka tampak pada wajah mereka dari bekas sujud“ secara letterlux / harfiah memang bener, orang yang sujud terus menerus yah pasti hitam. Memang dalam hati ane waktu itu “Ini shalat tujuannya menghitamkan jidat atau Ikhlas karena Allah”, Makanya salah kaprah kalau ayat diartikan secara harfiah.
        Wahabi temennya temen ane itu mencontohkan posisi jidat dan tangan seperti yang albani contohkan.

  4. Cerita yg menarik penuh makna. Menimbulkan banyal efek penafsiran, salut deh.

    Ana kira sang Penulis tidak kuwalat, itu hanya efek logis dari cara sujud yg diajarkan gurunya di SMA dulu. Rupanya sudah cukup bertahun-tahun dilakukannya sehingga wajar saja kalai dahinya kapalan. Asalkan sujudnya ikhlas pastilah tidak bid’ah. Yang tidak ikhlas itulah yg bid’ah. Semoga sujud yg sedemikian itu diterima Allah Swt, amiinn….

    Ada dalilnya gak ya? Ini masukan bagus buat ana walaupun sepertinya gak cocok buat perempuan sepertiku, qi qi qii….

    Tapi kalau memang itu cara sujud yg benar, ana akan coba semampu ana, agar tidak kapalan pakai saja sajadah yg empuk kali ya? Teman-teman semuanya, kasih tipsnya dong? Syukron

    1. @aryati kartika
      Artikel diatas sangat pas, untuk mencounter anak2 sawah. Sang penulis pun sangat jitu memilih tema, yang selama ini belum ada yang bahas tentang jidat hitam (kebanggan sawah), walau dengan pengalamannya itu lebih baik.
      Menurut ane cara sujudnya albani yang diberitahu sama temen ane itu salah bener2. kalau diikutin pasti gak sebulan seminggu dah pasti ada hitamnya, makanya orang yang baru kenal sawah pasti jidatnya hitam.
      Cara sujud ane :
      1. posisi jari2 tangan total lurus kearah qiblat (dari ibnu mas’ud : Jika ibu jariku tidak menghadap qiblat, maka aku akan potong keduanya).
      2. letakan jari2 tangan, dimana ujung ibu2 jari pas sejajar hidung, kalau wanita telapak tangan merapat, kalau laki2 lebarkan sebahu.
      3. Waktu sujud, yang menempel ujung hidung dan dahi (dalam riwayat (ane lupa) setelah pertempuran Rasulullah shalat, setelah shalat ada seorang sahabat melihat ujung hidung Rasulullah masih tersisa pasir2 di ujung hidungnya).

      Jadi gak perlu sajadah yang empuk, sekalipun empuk, kalau caranya seperti temennya temen ane pasti hitam, ane jamin gak sebulan.
      Itu cara ane ya, ane belum dapatin kitab tentang bagaimana posisi tubuh waktu shalat, cuma kitab2 dipasaran banyak yang karangan wahabiyun, mungkin ada team ummati yang bisa bantu ane dikitab mana? ane punya yang dari kitab Imam Nawawi Al Bantani.

  5. مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

    Yang artinya, “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. kamu Lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (QS al Fath:29).

    Banyak orang yang salah paham dengan maksud ayat ini. Ada yang mengira bahwa dahi yang hitam karena sujud itulah yang dimaksudkan dengan ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’. Padahal bukan demikian yang dimaksudkan. Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksudkan dengan ‘tanda mereka…” adalah perilaku yang baik. Diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang kuat dari Mujahid bahwa yang dimaksudkan adalah kekhusyuan. Juga diriwayatkan oleh Thabari dengan sanad yang hasan dari Qatadah, beliau berkata, “Ciri mereka adalah shalat” (Tafsir Mukhtashar Shahih hal 546).

    عَنْ سَالِمٍ أَبِى النَّضْرِ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى ابْنِ عُمَرَ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ قَالَ : مَنْ أَنْتَ؟ قَالَ : أَنَا حَاضِنُكَ فُلاَنٌ. وَرَأَى بَيْنَ عَيْنَيْهِ سَجْدَةً سَوْدَاءَ فَقَالَ : مَا هَذَا الأَثَرُ بَيْنَ عَيْنَيْكَ؟ فَقَدْ صَحِبْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُمْ فَهَلْ تَرَى هَا هُنَا مِنْ شَىْءٍ؟

    Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umar. Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut. Ibnu Umar melihat ada bekas sujud yang berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakr, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3698)

    عَنِ ابْنِ عُمَرَ : أَنَّهُ رَأَى أَثَرًا فَقَالَ : يَا عَبْدَ اللَّهِ إِنَّ صُورَةَ الرَّجُلِ وَجْهُهُ ، فَلاَ تَشِنْ صُورَتَكَ.

    Dari Ibnu Umar, beliau melihat ada seorang yang pada dahinya terdapat bekas sujud. Ibnu Umar berkata, “Wahai hamba Allah, sesungguhnya penampilan seseorang itu terletak pada wajahnya. Janganlah kau jelekkan penampilanmu!” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3699).

    عَنْ أَبِى عَوْنٍ قَالَ : رَأَى أَبُو الدَّرْدَاءِ امْرَأَةً بِوَجْهِهَا أَثَرٌ مِثْلُ ثَفِنَةِ الْعَنْزِ ، فَقَالَ : لَوْ لَمْ يَكُنْ هَذَا بِوَجْهِكِ كَانَ خَيْرًا لَكِ.

    Dari Abi Aun, Abu Darda’ melihat seorang perempuan yang pada wajahnya terdapat ‘kapal’ semisal ‘kapal’ yang ada pada seekor kambing. Beliau lantas berkata, ‘Seandainya bekas itu tidak ada pada dirimu tentu lebih baik” (Riwayat Bahaqi dalam Sunan Kubro no 3700).

    عَنْ حُمَيْدٍ هُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ : كُنَّا عِنْدَ السَّائِبِ بْنِ يَزِيدَ إِذْ جَاءَهُ الزُّبَيْرُ بْنُ سُهَيْلِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ فَقَالَ : قَدْ أَفْسَدَ وَجْهَهُ ، وَاللَّهِ مَا هِىَ سِيمَاءُ ، وَاللَّهِ لَقَدْ صَلَّيْتُ عَلَى وَجْهِى مُذْ كَذَا وَكَذَا ، مَا أَثَّرَ السُّجُودُ فِى وَجْهِى شَيْئًا.

    Dari Humaid bin Abdirrahman, aku berada di dekat as Saib bin Yazid ketika seorang yang bernama az Zubair bin Suhail bin Abdirrahman bin Auf datang. Melihat kedatangannya, as Saib berkata, “Sungguh dia telah merusak wajahnya. Demi Allah bekas di dahi itu bukanlah bekas sujud. Demi Allah aku telah shalat dengan menggunakan wajahku ini selama sekian waktu lamanya namun sujud tidaklah memberi bekas sedikitpun pada wajahku” (Riwayat Baihaqi dalam Sunan Kubro no 3701).

  6. mohon penjelasan dari rekan-2 ummati sekalian perihal hadist :

    Rasulullah bersabda “… Jika Allah ingin memberikan rahmat kepada ahli neraka yang di kehendaki-Nya, Allah memerintahkan para malaikat untuk mengeluarkan ahli neraka yang menyembah Allah, maka para malaikat mengeluarkan mereka, para malaikat tahu dari TANDA BEKAS-BEKAS SUJUD MEREKA, dan Allah mengharamkan BEKAS SUJUD tersebut dimakan apineraka, maka mereka dikeluarkan dari api neraka. Dan sesungguhnya setiap anak Adam akan dimakan api neraka, kecuali TANDA BEKAS SUJUD.” (Al-Bukhari, Sahih al-bukhari,(III/287.no.hadits,764)

    mungkin ini pegangan wahabi yg berjidat hitam…… afwan jika merepotkan, mungkin dari kitab-2 ulama terdahulu ada dibahas hadist ini….

  7. mas @nasrulloh
    Kata kunci disini kan “bekas sujud”, mungkin tanyakan lagi sama wahabi “kalau manusia bersujud apa cuma kepalanya?, bagaimana anggota tubuh yang lain. apa gak sujud juga!!. kalau ikut sujud semua kenapa gak dihitamin semua?.
    Disini lah kalau arti sujud itu diartikan secara letterlux.
    Secara kasat mata aja, kalau kita lihat muka seorang ulama / ahli shalat, kenapa lebih enak dilihat dan adeeem daripada orang yang shalatnya gak pernah khusu’. Bekas sujud juga dilihat dari cara bicara, kelakuan dan kehidupan seseorang.

    Kalau jidat hitam dia koruptor, atau memakan riba atau tukang fitnah atau tukang bohong, apa bekas sujudnya gak terbakar api neraka?
    Komen ane sebelumnya, cara sujud untuk mendapatkan jidat hitam kan gampang buanget, seminggu aja udah pada cemong, ini tujuan ahli surga yang gak dibakar api neraka? emang neraka ama surga milik mereka?
    Kalau ane dibalikin begitu, kenapa Rasulullah yang waktu sujudnya paling lama, gak hitam?. Kalau jidat Rasulullah hitam, pasti para sahabat melihat nya dengan mudah dan pasti ada hadistnya di Kitab as syamiil atau hadist Bukhari.

    Dari A’isyah berkata : Rasulullah melaksanakan shalat malam sebelas raka’at. Lamanya sekali sujud dalam shalat tersebut sama dengan lamanya salah seorang diantara kamu membaca lima puluh ayat. Itupun Rasulullah belum mengangkat kepalanya (belum selesai sujudnya)”. (HR Bukhari 1123, An Nassai’ dalam Al Kubra (I/116) dan ath thabari dalam musnad asy syamiyyin (IV/196)).
    Bagaimana mas @nasrulloh, kalau demikian pasti jidat Rasulullah saw hitam buanget ya, tapi gak ada hadist yang menunjukan bahwa jidat Rasulullah saw hitam legam. Lihat aja foto ulama aswaja yang ditempel mas admin disisi kanan, apa jidat mereka hitam2, apa mereka gak rajin shalat?, atau kalah hebat sama orang yang baru seminggu shalatnya ?.
    He he he maaf mas ya.

    1. makasih @kang ucep atas tambahan penjelasannya, saya pun sudah jelaskan begitu, saya bilang jgn mengartikan Qur’an dan hadist dg zahir/harpiah/tekstual, kita harus memahami dari penjelasan ulama2 terdahulu, dan saya pun meminta adakah hadist menceritakan Nabi saw jidatnya hitam, tapi mereka tdk menjawabnya…..

      1. Mas @Nasrulloh
        Kalau kita mengartikan Qur’an dan hadist dg zahir/harpiah/tekstual, maka kita bingung bahkan nanti kita bilang Qur’an dan hadist saling bertentangan. Contohnya :
        “Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar). (Al–Isra’ : 72).”
        Nah kasihan kan! sama orang yang buta matanya didunia, maka orang2 buta yang sekarang lebih buta dan sesat diakhirat, Nah gimana juga nasib Bin Baz, syeik nya mereka !!!!.

        1. hehehehe benar sekali mas, ane dikasih tambahan lagi nih dari temen salafy ane :

          “Saudara sekalian, saya yakin kita semua pernah melihat seseorang yang kita kenal religius (multazim) memiliki tanda legam, atau hitam samar di dahinya atau bagian diatas hidungnya.Yakni bekas tanda sujud (atsar as-sujud).Silahkan simak, dan koreksi.Apakah benar ini lambang keshalehan dan kebaikan seseorang?Bagaimana jika kita tidak punya tanda ini,patutkah kita bersedih?Atau patutkan kita memiliki rasa bangga dan riya bagi yang memiliki bekas tanda sujud di dahi/jidat kita?

          Simahum fii Wujuhihim Min Atsaris Sujud

          Allahu ta’ala berfirman dalam surat Al-Fath ayat 29:

          “Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud . Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir . Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar”

          Kalimat yang di bold diatas sesuai dengan subject tulisan ini yakni berbunyi
          سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

          Al-Imam Ibnu Jarir At-thabari rahimahullah berkata mengenai ucapan Allah : Simahum fii Wujuhihim Min Atsaris Sujud .Kata beliau rahimahullah yakni :”tanda-tanda mereka di wajah-wajah mereka dari bekas-bekas sholat mereka”
          Ahli tafsir berbeda pandangan dalam menafsirkan makna “As-Sima” (tanda-tanda) yang Allah ta’ala maksudkan dalam ayat ini.

          Pendapat pertama:Tanda yang dimaksud adalah tanda-tanda yang Allah jadikan di wajah-wajah kaum mukminin dihari kiamat kelak,mereka dikenali karena bekas sujudnya di dunia.

          Diantara yang berpendapat dengan pendapat diatas diantaranya adalah sebagai berikut:
          1. Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhu, beliau berkata mengenai ayat “Simahum fi wujuhihim min atsaris sujud”: Sholat mereka yang nampak pada wajah-wajah mereka di hari kiamat

          2. Khalid Al-Hanafiy, dia berkata bahwa mereka dikenal dihari kiamat pada wajah-wajah mereka dari bekas sujud didunia.Ini seperti ucapan Allah “ta’rifu fi wujuhihim nadhrotan na’im” (Kamu dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan mereka yang penuh kenikmatan-Al- Muthoffifin 24)

          3. Dari ‘Athiyah(?), dia menjelaskan maksudnya :”Tempat-tempat sujud di wajah-wajah mereka di hari kiamat sangat putih”

          4. Dari Muqotil bin Hayan, beliau menafsirkan “Cahaya di hari kiamat”

          5. Al-Hasan menjelaskan maksudnya :”Putihnya wajah-wajah mereka dihari kiamat”.Pendapat ini pula yang dinisbatkan kepada Ibnu Zubair (lihat penjelasan imam al-Qurtubi dalam tafsirnya) .Tapi Al-Hasan juga disebutkan dalam Tafsir Imam Quthubi mengatakan Idza roaytahum hasibtahum mardho wa ma hum bi mardho (Jika engkau melihatnya akan kau kira mereka sedang sakit, padahal mereka tidak sakit)

          Pendapat kedua:Tanda yang dimaksud adalah tanda-tanda keislaman,kekhusyu’ an dan bisa saja dapat dilihat didunia.

          Diantara yang berpendapat demikian diantaranya:
          1. Perkataan Ibnu Abbas yang lain, beliau mengatakan maksud “simahum fi wujuhihim” yakni samt (penanda) yang baik.Ini bisa diliat juga dalam tafsir Ibn Katsir.

          2. Dari Mujahid beliau berkata tentang ayat ini,maksudnya khusyu’ dan tawadhu’. Mujahid juga pernah ditanya sebagaiamana disebutkan dalam tafsir Imam Qurthubi, apakah tanda ini yang nampak pada diantara kedua bagian mata seorang lelaki, kata beliau bukan tetapi kadang bisa saja ada tanda itu,sesungguhnya adalah cahaya pada wajah-wajah mereka karena khusyu’

          3. Dari Ibnu Humaid ….dari Mujahid,maksud dari “Simahum fi wujuhihim min atsaris sujud” adalah Khusyu’.Bisa dilihat juga di Tafsir Ibn Katsir.

          4. Berkata Syahr bin Hawsyab(?) : Adalah tempat sujud dari wajah-wajah mereka seperti bulan malam purnama

          5. Berkata Syamr bin ‘Athiyah : Yakni kuning wajahnya akibat qiyamul lail.Ad-Dhohak juga berkata semisal ini.

          Berkaitan dengan pendapat nomor 2 ini, dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan pula akan hubungan ini.Kata beliau rahimahullah, sebagian salaf mengatakan “Man katsuro sholatuhu bil lail hasuna wajhuhu bin nahar” (siapa yang banyak sholat malam, akan nampak wajahnya yang bagus di siang harinya).Bahkan ucapan ini adalah hadist mauquf olehh Imam Ibnu Majah dalam sunannya.

          Sebagian salaf juga mengatakan “innal lil hasanah nuuron fil qolbi, wa dhiya’ a fil wajhi wa si’atan fir rizqi wa mahabatan fi qulubin naas” (sesungguhnya bagi kebaikan itu ada cahaya di hati, cerah di wajah, kelapangan rezeki, serta rasa cinta di hati-hati manusia).Sampai sini saya teringat pembahasan yang bagus dari Ustad Abdul Hakim Abdat dalam sebuah kaset yang pernah saya dengar sekitar 8 tahun lalu mengenai tafsir ayat “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam mereka rasa kasih sayang” (QS Maryam ayat 96).Coba didengar tapi entah apa masih diperjualbelikan kaset ini atau tidak.

          Masih dalam tafsir ibn katsir,diriwayatkan dari Umar bin Khattab radhiallah anhu, kata beliau: “Man ashlaha sariritahu ashlahallahu ta’ala ‘alaniyatahu” (siapa yang membaguskan (amalan) yang tersembunyinya, maka Allah akan baguskan penampakan dzahirnya)

          Maka para sahabat Rasulullah, mereka ikhlas niatnya serta baik amalnya maka setiap orang yang melihatnya akan terkagum akan samt dan ketenangannya.

          Pendapat ketiga:Tanda yang dimaksud adalah tanda sujud pada wajah bekas debu tanah.

          Diantara yang berpendapat ini antara lain pendapat Ikrimah :

          Kata beliau maksudnya adalah jejak tanda tanah (debu).Pendapat hampir serupa ini dinisbatkan pada Said bin Zubair
          حدثنا ابن سنان القزاز , قال : ثنا هارون بن إسماعيل , قال : ثنا علي بن المبارك , قال : ثنا مالك بن دينار , قال : سمعت عكرمة يقول : { سيماهم في وجوههم من أثر السجود } قال : هو أثر التراب

          Yang rajih dalam pandangan mengenai makna “simahum fi wujuhihim min atsar as-sujud” adalah pendapat yang mengatakan bahwa ini cahaya ketaatan dan ibadah.Adapun tanda yang bisa saja muncul bukanlah tanda mutlak keshalehan seseorang atau keikhlasannya. Bukan pula dalil bagi yang tidka memiliki tanda ini sebagai rang yang kurang dalam keshalehan atau keikhlasannya. Karena ini hanya Allah ta’ala yang mengetahuinya.

          Sebagaimana Pendapat Al-Imam Ibnu Utsaimin rahimahullah ta’ala

          سئل فضيلة الشيخ: هل ورد أن العلامة التي يحدثها السجود في الجبهة من علامات الصالحين ؟

          Syaikh Utsaimin ditanya apakah ada keterangan bahwa alamat bekas tanda sujud di jidat sebagai alamat orang sholeh.

          Syaikh menjawab, ini bukan (mutlak) tanda orang sholeh.Hanya saja ini yang dimaksud adalah cahaya yang nampak pada wajah,lapang dada, dan akhlak yang baik..dan yang semisal dengannya…..adapun bekas tanda akibat sujud pada wajah maka bisa juga tampak pada orang tidak sholat kecuali sholat wajib saja.Karena jenis kulit yang tipis.Dan terkadang juga tidak muncul pada orang yang banyak sholat serta sujudnya lama.
          (Fatawa Islamiyah 484/1 atau bisa di lihat di http://www.binothaimeen.com

          Kesimpulan :

          Kita tidak bisa sama rata dalam menghukumi seseorang yang nampak padanya bekas sujud di dahinya. Dan tulisan ini bukan pula sebuah larangan atau kejelekan bagi yang nampak padanya bekas sujud. Juga janganlah hal ini menimbulkan riya, kebanggan bagi seseorang yang demikian terhadap manusia lain yang tidak demikian. Allahu ta’ala a’lam.”

          Abu Umair As-Sundawy

          mohon bisa ditanggapi apakah sudah benar dg komen temen ane….

          1. mas @nasrulloh
            Komen yang ente tulis kan sangat jelas, cuma temen ente kurang jeli membacanya, atau kurang pinter. Nah lihat :
            1.”tanda-tanda mereka di wajah-wajah mereka dari bekas-bekas sholat mereka”
            2. “Tanda yang dimaksud adalah tanda-tanda yang Allah jadikan di wajah-wajah kaum mukminin dihari kiamat kelak,mereka dikenali karena bekas sujudnya di dunia.”
            3. “Sholat mereka yang nampak pada wajah-wajah mereka di hari kiamat”
            Trus ente lihat lagi :
            1. “Tempat-tempat sujud di wajah-wajah mereka di hari kiamat sangat putih”.
            2. “Cahaya di hari kiamat”
            3. ”Putihnya wajah-wajah mereka dihari kiamat”

            Dari situ kan ente bisa lihat, bukan JIDAT tapi “WAJAH”, kalau wajah kenapa gak wajahnya aja yang dihitamin, kan jelas !!! ya.
            Lihat lagi ayat al fath : 29 : “….tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud”, disini kan jelas juga “TAMPAK MUKA” bukan jidat, ya gak. Maksudnya: pada air muka mereka kelihatan keimanan dan kesucian hati mereka, dihari mahsyar.

            Pertanyaan ane : kenapa para sahabat dan para ulama yang lebih dulu dari kita, jidatnya gak ada tanda hitam dijidatnya (zhahir) ?? bahkan albani sendiri !!

          2. benar sekali kang ucep, ane juga ga teliti juga yah….maaf ya kang….

            kemudian disambung lg begini, mrk tanya :

            akhi…ana mau tanya nih,kenapa ya sholawat yg dalam tahiyat awal dan akhir itu selalu ada dalam sholat??maaf kalo pertanyaan ana begini,soalnya ana mau pake shalawat yg sering ada di Majelis Rasulullah…..syukran

            mohon bisa dijelaskan kembali

          3. mas@nasrulloh
            “Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebagian kamu kepada sebagian (yang lain). Sesungguhnya Allah Telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih. (An-Nur : 63)”.
            Nah disini kan jelas buanget, kalau hai Muhammad pantas gak? atau Muhammad pantas gak?.

            kalau shalawat di tahiyat awal dan akhir, yah itu memang letterlux susunan shalat dan bacaan yang diajarkan oleh Rasulullah saw kok, mau dirubah ? yah terserah.

          4. @kang ucep, makasih atas penjelasanya yg sangat banyak, semoga pahala berlimpah untuk kang ucep & keluarga…amiiin

          5. mas @nasrulloh.
            Ane dapat sambungannya dari hadist. Ini :
            Dari Ibnu Qatadah ra, Rasulullah saw bersabda : “Aku adalah sayyid (pemimpin/panutan) anak Adam pada hari kiamat”. (HR. Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Bukhari dan Imam Muslim).
            Dan masih banyak lagi hadist2 yang mengatakan demikian (nti terlalu panjang yang intinya sama).

            Mungkin mereka yang memakai hadist ini : “Laa tusayyiduunii fis-shalah” artinya “Jangan menyebutku (Nabi Muhammad saw) sayyid didalam shalat”.
            Hadist ini Palsu dan Bathil, karena kata “tusayyiduunii”, tidak ada dalam bahasa arab.
            Imam Jalaluddin Al-Muhli, Imam As-Syamsur-Ramli, Imam Ibnu Hajar Al-Haitsami, Imam Al-Qari, para ahli Fiqih madzhab Sayfi’i dan madzhab Maliki dan lain-lainnya, semuanya mengatakan : “Hadits itu sama sekali tidak benar”.
            Dalam kitab Al-Hawi Imam Jalaluddin As-Suyuthi menjawab tegas : “Tidak pernah ada (hadits tersebut), itu bathil !”.

  8. Bismillah,
    @All
    Koq jadi ngurusin bekas sujud orang lain
    mo ikhlas, mo enggak. yang penting dia sujud (sholat) ALLAH yang maha tau kepada siapa niat kita ditujukan
    saya kira di forum ini adalah orang2 yang arif dan bijak, ternyata cuma sekelompok orang yang suka mengklaim bahwa dirinyalah yang paling benar. aswaja apanya !
    ternyata nggak jauh jauh juga ama kelompok yang dibicarakan.

    Temen saya orang JT jidanya hitam banget, orang sufi juga hitam banget
    Temen saya orang kafir jidadnya bening juga kayak sampeyan2 yang katanya sujudnya bener

    wallahu’alam

    1. Kang Sabar,
      ada apa kang, kok ngamuk malam2 begini? Kalau baca artikel yg sabar kang, ojo grusa grusu, atau antum belum baca artikelntya?

      Sujud kang, sujud yg bener, jangan lupa wudhu dulu ya?

  9. Setelah saya baca lagi artikelnya, hmmm ternyata ini adalah artikel yg sangat bagus, ini artikel kritik keluar dan kedalam, kix kix kix….

    1. sallam…
      artikel diatas sangat menarik,mungkin org yg tidak ada tanda hitam pada dahinya..punya rasa iri….kalo tidak knp harus d permasalahkn ada tanda hitam atau tidak….yang penting perbaiki akhlak kita…karena Allah Swt tidak melihat kepada tubuh jasad kalian,melainkan kepada hati kalian…wasallam…. 🙂

      1. reyy@

        Saya sangat setuju bahwa artikel di atas sangat menarik. Tetapi menurut saya tidak seperti itu memahaminya bahwa orang yg jidatnya hitam merasa iri kpd Salafy2 yg jidatnya hitam, masalahnya adalah banyak dari pengikut Wahabi or Salafy itu sengaja menghitamkan jidatnya dg cara2 tertentu. Bayangkan baru beberapa bulan masuk Salafy jidatnya menjadi gosong, sedangkan dalam artikel di atas jidatnya menjadi hitam akibat proses sujud bertahun2 dan beliau tdk menyadari kalau jidatnya kapalan sampai anknya memberitahukannya kakalu jidatnya menghitam.

  10. Saya setuju ama Mbak Aryati. Tema “bekas sujud” ini diangkat bukan karena ada kasus iri. Yah kalo pengikut Sufi itu punya jidat item, maka kita kagak punya soalan lagi. Karena kaum Sufi itu terima takwil. Ada juga kaum Sufi jidatnya bening. Begitu juga, kalo jidat kaum Kafir itu bening, gak ada apa yang perlu dipersoalkan. Karena mereka kagak terima nas2 dari Al-Qur’an dan Hadis.

    Jadi tema “bekas sujud” ini diangkat, karena kita mau meneliti maksudnya. Apakah harus kita maknai pake letterleck sehingga hanya seputar “jidat”, atau memangnya harus ditakwil dengan hadis-hadis lain, sehingga dimaknai dengan seluruh “wajah”? Jadi kasusnya cuma “letterleck” atau “takwil”, bukan kasus “iri” disini.

  11. mohon maaf sebelumnya, bila saya pun mengalami seperti yg dialami penulis. walau tidak sama persis. jidat saya menghitam dan saya merasa malu dengan olok2 teman bahwa saya ahli sujud. bahkan sering diolok2 -walau bercanda – sebagai “minhum”. tapi yg sebenarnya terjadi, kulit saya termasuk jnis kulit yg sensitif. jadi untuk bagian2 tertentu yg sering bersentuhan dengan benda lain secara berulang-ulang muncul warna hitam. tidak hanya jidat tapi jg mata kaki kanan dan lutut. cuman dalam hati saya berazzam semoga bisa benar2 menjadi ahli sujud. tidak sekedar bekas hitamnya yg muncul, namun dalam perilaku nyata.
    Terima kasih dengan blog ini yg memperkuat aqidah umat dari rongrongan SAWAH. Syukron katsiro!

  12. Dalam masalah bekas sujud ini mungkin kita lihat Kitab Bulughul maram karangan Imam Ashqalani :
    Sabda Rasulullah : Aku diperintahkan sujud dengan bertumpu pada Tujuh bagian : Jidat sambil Rasulullah menunjuk hidung, kedua tangan (telapak tangan), kedua kaki (lutut) dan kedua ujung kaki (HR Bukhari).
    Keterangannya : Jidat disini meliputi hidung dan kening
    Dalam suatu riwayat dikisahkan, seorang sahabat melihat pasir2 diujung hidung Rasulullah pada bekas sujud Rasulullah.Serta Kata bertumpu ini, adalah seluruh bagian yang disebutkan, bukan satu titik tumpuan pada kening.
    Kalau kata bertumpu ini kita artikan dengan benar, berarti semua titik mempunyai beban yang sama sehingga gak bakalan hitam, tapi kalau sujud cuma bertumpu dijidat maka hitam jidatnya.
    Lihat aja foto2 Ulama diatas, Indah-indah raut muka nya, ane gak bakalan bosan melihat ulama diatas.

  13. Bismillaah,

    Sikap yang salah jika kita mengedepankan su’udhdhan, bahkan sampai terlontar kata-kata, bahwa orang yang mempunyai bekas/tanda hitam di dahinya merupakan orang yang tidak ikhlash dalam beramal.

    Apakah ada nash dari Allah dan Rasul-Nya shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang shahih bahwasannya tanda hitam di dahi merupakan tanda kemunafikan lagi ketidakikhlashan ?. Apakah ada malaikat yang membisiki yang memberitahukannya bahwa orang itu tidak ikhlash dalam beramal, sementara keikhlashan itu merupakan amal hati ?.
    Allah ta’ala berfirman :
    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
    “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa” [QS. Al-Hujuraat : 12].

    Bahkan ada riwayat shahih dari ‘Ikrimah bahwa ia menafsirkan ayat : ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’ (QS. Al-Fath : 29) adalah dhahir tanda yang melekat di wajah/dahi.
    حَدَّثَنَا ابْنُ مَرْزُوقٍ، حَدَّثَنَا هَارُونُ بْنُ إسْمَاعِيلَ الْخَزَّازُ، عَنِ ابْنِ الْمُبَارَكِ، عَنْ مَالِكِ بْنِ دِينَارٍ قَالَ: سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ، وَسُئِلَ ” سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ، قَالَ: أَثَرُ التُّرَابِ ”
    Telah menceritakan kepada kami Ibnu Marzuuq : Telah menceritakan kepada kami Haaruun bin Ismaa’iil Al-Khazzaaz, dari Ibnul-Mubaarak, dari Maalik bin Diinaar, ia berkata : Aku pernah mendengar ‘Ikrimah ditanya tentang ayat : ‘tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud’, maka dia menjawab : ‘Bekas tanah/debu (yang ada di dahi)” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Musykilul-Aatsaar no. 305; shahih].
    Maksudnya, orang yang banyak melakukan shalat, maka akan ada di dahinya bekas tanah dari tempat ia sujud. Dan sebagian salaf kita mempunyai tanda tersebut.
    فَحَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ، قال: حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ عَمْرٍو، قَالَ: ” رَأَيْتُ فِي جَبْهَةِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ أَثَرَ السُّجُودِ ”
    Telah menceritakan kepada kami Al-Hakam bin Naafi’, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Shafwaan bin ‘Amru, ia berkata : “Aku pernah melihat dahi ‘Abdullah bin Busr ada tanda/bekas sujud” [Diriwayatkan oleh Abu Zur’ah dalam At-Taariikh no. 178; shahih].
    ‘Abdullah bin Busr adalah salah seorang shahabat kecil (shighaarush-shahaabah).
    حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ. ح وَحَدَّثَنَا أَبُو حَامِدِ بْنُ جَبَلَةَ، وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ، ثنا الْوَلِيدُ بْنُ شُجَاعٍ، حَدَّثَنِي أَبِي، ثنا الْعَلاءُ بْنُ عَبْدِ الْكَرِيمِ الأَيَامِيُّ، قَالَ: ” كُنَّا نَأْتِي مُرَّةَ الْهَمْدَانِيَّ، فَيَخْرُجُ إِلَيْنَا، فَنَرَى أَثَرَ السُّجُودِ فِي جَبْهَتِهِ وَكَفَّيْهِ وَرُكْبَتَيْهِ وَقَدَمَيْهِ……
    Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Maalik : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ahmad bin Hanbal. Dan telah menceritakan kepada kami Abu Haamid bin Habalah, dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ishaaq : telah menceritakan kepada kami Al-Waliid bin Syujaa’ : Telah menceritakan kepadaku ayahku : Telah menceritakan kepada kami Al-‘Alaa’ bin ‘Abdil-Kariim Al-Ayaamiy, ia berkata : “Kami pernah mendatangi Murrah Al-Hamdaaniy, lalu ia pun keluar menemui kami. Kami melihat bekas sujud di dahinya, kedua telapak tangannya, kedua lututnya, dan kedua kakinya….” [Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Al-Hilyah, 4/162; shahih].
    Murrah bin Syaraahiil Al-Hamdaaniy, seorang ulama dari kalangan kibaarut-taabi’iin.
    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَعْدٍ، قَالَ: أخبرنا مَعْنُ بْنُ عِيسَى، قَالَ: أَخْبَرَنَا بِلالُ بْنُ أَبِي مُسْلِمٍ، قَالَ: ” رَأَيْتُ أَبَانَ بْنَ عُثْمَانَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ أَثَرُ السُّجُودِ قَلِيلا ”
    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa’d, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Ma’n bin ‘Iisaa, ia berkata : Telah mengkhabarkan kepada kami Bilaal bin Muslim, ia berkata : “Aku melihat Abaan ‘Utsmaan, di antara kedua matanya terdapat sedikit bekas sujud” [Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Al-Kubraa, 5/78; namun sanadnya dla’iif karena Bilaal bin Abi Muslim, seorang yang majhuul].
    قَالَ أَبُو الْيَمَانِ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: ” رَأَيْتُ فِيَ جَبْهَةِ حَكِيمِ بْنِ عُمَيْرٍ أَثَرَ السُّجُودِ ”
    Telah berkata Abul-Yamaan, dari Shafwaan bin ‘Amru ia berkata : “Aku melihat di dahi Hakiim bin ‘Umair ada bekas/tanda sujud” [Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Al-Kubraa, 7/212; shahih].
    Al-Hakiim bin ‘Umair Al-Ahwash Al-‘Ansiy adalah seorang ulama generasi taabi’iin pertengahan.
    قَالَ أَبُو الْيَمَانِ، عَنْ صَفْوَانَ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ: ” رَأَيْتُ فِيَ جَبْهَةِ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ أَثَرَ السُّجُودِ ”
    Telah berkata Abul-Yamaan, dari Shafwaan bin ‘Amru, ia berkata : “Aku melihat di dahi Khaalid bin Ma’daan terdapat bekas/tanda sujud” [Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d dalam Al-Kubraa, 7/214; shahih].
    Khaalid bin Ma’daan Asy-Syaamiy Al-Himshiy, seorang ulama ahli ibadah dari generasi taabi’iin pertengahan.

    1. @ibnu suradi
      Yang su’uzhon itu siapa ? ane sih biasa2 aja, mau jidat hitam sampai kapalan kek ! atau hitam benjol kek ane gak ada su’uzhon.
      Yang ane heraaaaan, sekarang banyak orang yang jidatnya hitam, padahal orang itu baru 1-2 bulan shalat atau baru terbuka pikirannya untuk agama. Itu yang ane heran, kalau pikiran ane apakah pasti dia khusu, itu bukan wewenang ane, itu hak prerogatif Allah artinya cuma Allah yang tahu.

      1. Bismillaah,

        Kang Ucep,

        Kalau anda heran ada orang yang menurut pengamatan anda tiba-tiba jidatnya hitam padahal baru saja kenal shalat, lebih baik anda menanyakan langsung kepada orang tersebut. Jangan sampai rasa heran anda itu berubah menjadi su’udzon.

        Mungkin ada dari kawan-kawan yang telah mengetahui riwayat-riwayat yang mencela tanda hitam di dahi. Agar berimbang, maka saya menyampaikan riwayat-riwayat tentang tanda hitam di dahi sejumlah salaf. Dan juga untuk memberi dorongan kepada penulis artikel ini agar tidak berkecil hati. Dia tidak sendirian. Ada contoh dari generasi terdahulu dari umat Islam ini.

        Untuk Neng Aryati,

        Dugaan anda bahwa ada orang yang sengaja menjedot-jedotkan dahinya saat shalat agar ada tanda hitam di dahinya itu sngat berlebihan. Ini lebih condong kepada su’udzon. Tanya saja langsung kepada orang anda ceritakan tersebut. Maka, anda akan mendapatkan jawabannya.

        Wallaahu a’lam.

        1. @ibnu suradi
          Ini memang nyata dan kenyataan, ane gak pernah mengada-ada, tahun 2001 itu jarang ada yang jidatnya hitam, tapi tahun belakangan ini, waduh banyak buanget.
          Lihat artikel diatas, berapa tahun penulis mengalami hal demikian, juga lihat koment ane di no 2 baris atas.
          Ente yang su’udzhon sama ane, dikira ane berpikir su’udzhon sama yang jidatnya hitam, ane gak kepikiran begitu.
          Ane lihat dibanyak kitab bahwa Jidat Rasulullah aja gak hitam (kalau ada pasti kitab2 ada yang meriwayatkannya), masa ane iri sama yang jidatnya hitam. Parah ente.

    2. kang ibnu Suradi sebaiknya baca dulu artikelnya baru koment. Kalau baca dulu nanti kan ngerti permasalahan yg dibicarakan itu apa, biar antum gak asal koment.

      Belajarlah koment yg baik kang, jangan asal koment gitu. Artikel dalam postingan di atas itu sangat bagus lho, ternyata ada juga orang ASWAJA yg keningnya hitam akibat sujud. Itu sangat menarik bukan? Cobalah baca kang, nanti silahkan komentari postingan di atas.

  14. Bismillaah,

    Neng Aryati,

    Komentarmu berikut ini adalah berlebihan:

    “masalahnya adalah banyak dari pengikut Wahabi or Salafy itu sengaja menghitamkan jidatnya dg cara2 tertentu. Bayangkan baru beberapa bulan masuk Salafy jidatnya menjadi gosong”

    Ini jelas-jelas su’udzon.

    Wallaahu a’lam.

    1. Lha…, kang Ibnu Suradi….

      Bukankah sdh jelas itu perbuatan yg sengaja menghitamkan jidat kalau baru beberpa bulan sudah gosong, bagaimana akang bilang saya su’udzon? Bukankah sangat logis pendapat saya? Coab baca artikel di atas, beliau bertahun2 baru sadar kalau jidatnya hitam bekas sujud.

      Saya lihat sendiri lho, anak2 Salafy jidatnya ada bulatan hitamnya akibat sengaja dihitamkan, itu kelihatan sekali, kang.

  15. Mungkin jidat hitamnya bapak itu pertanda yang baik. Soalnya bapak mendapatkan itu secara tidak sengaja. Menurut saya yang penting jidat hitam tersebut tidak membuat kita (maaf) riya’.

    Semoga kita diberi ilmu yang bermanfaat.

    1. Bismillaah,

      Betul, Mas Ilmu Kimia. Terserah apakah ada tanda hitam di dahi atau tidak. Yang penting tidak riya’. Dan riya’ itu adanya di dalam hati. Hanya Allah dan pelakulah yang mengetahui apakah dia riya’ atau ikhlas.Kita orang lain tidak mengetahuinya. Kalau mengaku mengetahuinya, maka itu adalah su’udzon.

      Wallaahu a’lam.

  16. ini ada comment salah satu blog, tolong dicermati isinya:

    Astagfirullah hal adziiim, ustadz, membaca postingan ini, sungguh hati saya teriris-iris serasa ingin menangis. Betapa tidak, karena Beberapa tahun yang lalu, saya termasuk ahli Bid’ah dalam beribadah, saya rajin sholat, namun bid’ahpun tetap saya lakukan. Tapi sekarang alhamdulillah saya bisa meninggalkannya, dan mulai beribadah mengikuti sunnah rasul (sunnah yang sesuai dengan pandangan para sahabat ). Saya merasa jiwa ini lebih tenang, Ikhlas dan khusyuk dalam beribadah, dibanding pada saat saya masih ahli bid’ah dulu. tapi yang terjadi, di dahi saya muncul tanda tersebut. Saya takut setelah membaca postingan diatas. Haruskah saya kembali menjadi ahli bid’ah lagi agar tanda hitam di dahi saya hilang….??? ATAUKAH INI ADALAH TANDA DARI ALLAH BAHWA SAYA INI ADALAH BEKAS AHLI BID’AH…???

    __________________________

    terjemahkan masing-masing ya, karena Rasulullah sendiri tidak memiliki gosong di dahinya

  17. Anda tanda hitam atau tidak dikening seorang muslim itu tidak menjadi persoalan,kalau terjadinya secara alamiah asal beliau bisa menjaga hatinya pasca keningya hitam juga bukan persoalan,kalau ada orang yang melakukan dengan sengaja dengan tujuan yang tidak baik,baru itu bisa menimbulkan persoalan bagi orang itu dihadapan Allah SWT

  18. Bekas sujud bukan dibikin bikin… Sujud yang benar hidung menempel disajadah bersama dahi. Kadang kadang kita lihat bekas sujud di dahi dan di ujung hidung. Mungkin akibat sajadahnya yang rada kesat atau karpetnya kasar. Kalau karpetnya lembut tidak akan terjadi. Namun kita tidak sholat disatu mesjid saja, kadang dimesjid lain karena dalam perjalanan.

    Biasanya kalau dah kembali dari khuruj, iktikaf di mesjid 3 hari 3 hari selama 40 hari atau 4 bln itu jidah jadi menghitam, dan kalau dah kembali kerumah mberangsur berkurang tetapi masih terlihat bekasnya.

    Namun barusan baca hadits Nabi sendiri jidatnya nggak hitam atau ada tanda bekas sujud. Apakah haditsnya palsu atau pengaruh sajadah yg berbeda, Wallahu’alam. Yang kita dengar kaki beliau membengkak karena lamanya berdiri saat sholat. Yang benar di punggung nabi juga ada bekas tikar daun korma, apalagi didahi. Yang penting kita sholat dengan ikhlas. Sholat dengan konsentrasi bathin dengan merendahkan diri dihadapan Allah sesuai dengan cara Rasulullah. Insya Allah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker