Inspirasional

Sikap dalam Mengahadapi Syiah Menurut Ajaran Ulama

Begini Seharusnya Sikap Kaum Aswaja dalam Menghadapi Syiah

Untuk merangkul kaum Syiah agar kembali, ulama-ulama kita juga mengajari kita untuk memanggil sahabat Ali dan cucu Rasulullah Saw dengan sebutan “Imam”. Bahkan khusus Sahabat Ali kita diajari memanggil dengan gelar “Karramallaahu wajhah” bukan “radhiyallahu ‘anhu” sebagai bentuk penghormatan khusus terhadap beliau.

Tahukah anda kenapa sewaktu khutbah Jum’at di kalangan kaum Aswaja, para khotibnya dalam menyebut nama-nama sahabat Khulafaur Rasyidin dengan menambah Sayyidina di depan namanya? Itu ternyata, asal usulnya adalah ajaran para ulama Aswaja di masa lalu untuk menunjukkan bahwa di antara ke- empat sahabat Nabi Saw itu semuanya adalah figur-figur terhormat. Jadi bukan cuma Sayyidina Ali yang layak dijunjung dan dihormati sebagaimana yang dilakukan kaum Syiah.

Ajaran kepda kaum Aswaja yang dicontohkan oleh para ulama Aswaja di masa lalu itu untuk menjaga kerukunan di antara sesama umat . Dan ajaran itu terus diwaris ke
generasi aswaja terun temurusampai zaman sekarang. Nah, berikut ini uraian sedikit yang dipaparkan oleh Gus Azaz Rulyaqien yang membahas masalah ini. Selamat mengikuti….

 

 

SIKAP ULAMA DAHULU KITA TERHADAP SYIAH:

Sunni-Syiah adalah sejarah panjang dalam dunia Islam, baik dari sisi estimologis dan politis, yang membawa dalam perbedaan yang tajam. Dimana jika tidak disikapi bijak maka terjadi apa yang ada di Irak, Suriah, Libanon dll.

banner gif 160 600 b - Sikap dalam Mengahadapi Syiah Menurut Ajaran Ulama

Ulama-ulama kita, dalam hal ini ulama kalangan kaum Aswaja, sangat cerdas dalam membentengi umat dari paham Syiah tanpa harus membenci Syiah bahkan sangat santun dalam menyikapi Syiah. Ulama kita selalu mengajarkan untuk mengagungkan Khulafaur Rasyidin dengan cara memanggil mereka semua dengan panggilan Sayyidina, mendoakan mereka semua dalam doa doa yang kita baca bahkan setelah terhadap Nabi Saw, menjadikan mereka 4 manusia teladan utama setelah Rasulullah Saw. Sehingga amat sangat sulit jika ada suatu paham untuk mengajak kita menjelek-jelekkan salah satu dari mereka. Sangat amat sulit.

Dan untuk merangkul kaum Syiah agar kembali, ulama-ulama kita juga mengajari kita untuk memanggil sahabat Ali dan cucu Rasulullah Saw. dengan sebutan “Imam”. Bahkan khusus Ali kita diajari memanggil dengan gelar “Karramallaahu wajhah” bukan “radhiyallahu ‘anhu” sebagai bentuk penghormatan khusus terhadap beliau. Selain itu ulama kita jarang mengungkapkan kebaikan dari sahabat Mu’awiyyah bahkan meletakan posisi Mu’awiyyah “agak antagonis” sehingga sampai saat ini saya tidak pernah menemukan seorang di Nusantara dari kaum Aswaja yang pakai nama Mu’awiyyah.

Maka tak heran hanya di Indonesia orang Islam tidak perlu diberikan label Sunni atau Syiah seperti di Timur Tengah. Karena itu di abad 18 M banyak kaum Syiah seperti di Sumatera akhirnya mengikuti paham Sunni, dalam hal ini pahamnya kaum Aswaja. Karena mereka merasa tidak berbeda (di Sumbar, Bengkulu dan Aceh ada acara adat memperingati hari Asyura). Jadi ini sebuah bukti hanya kaum Aswaja yang mampu mempersatukan .

Karena hanya Kaum Aswaja yang konsisten untuk menjadikan Islam sebagai “ummatan wasathan” (moderat) dengan mengajarkan prinsip dari Imam Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah yang sangat terkenal: “Undzur ma qala, wala tandzur man qala.” (Oleh: Gus Azaz Rulyaqien ).

Oleh: Gus Azaz Rulyaqien

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker