Bedah Aliran Sesat

Siapa yang Dimaksud dalam Hadits Rasulullah Saw Ini

Dalam Hadits Rasulullah Saw terungkap Jenggot Tebal dan Celana Cingkrang Telah Ada Sejak Zaman Rasulullah Saw ….  Dan siapakah yang dimaksud oleh Rasulullah saw dalam hadits berikut in…?

أَقْبَلَ رَجُلٌ، غَائِرُ الْعَيْنَيْنِ، مُشْرِفُ الْوَجْنَتَيْنِ، نَاتِئُ الْجَبِينِ، كَثُّ اللِّحْيَةِ، مَحْلُوقٌ، فَقَالَ، اتَّقِ اللَّهَ
يَا مُحَمَّدُ، فَقَالَ رسنول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : منْ يُطِعْ اللَّهَ إِذَا عَصَيْتُ؟، أَيَأْمَنُنِي اللَّهُ، عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ، فَلَا تَأْمَنُونِي؟، فَسَأَلَهُ رَجُلٌ قَتْلَهُ، أَحْسِبُهُ خَالِدَ بْنَ الْوَلِيدِ، فَمَنَعَهُ، فَلَمَّا وَلَّى، قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا، أَوْ فِي عَقِبِ هَذَا، قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ، لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ، مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ، يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ، وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ، لَئِنْ أَنَا أَدْرَكْتُهُمْ، لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ.

BACA :  Fakta Wahhabi: Peran Mr. Hempher dan Campur Tangan Inggris Di Balik Kelahiran Wahabisme

(صحيح البخاري)

Berkata Abu sa’id Al Khudriy ra saat Nabi saw sedang membagi bagi harta pada beberapa orang, maka datanglah seorang lelaki, matanya membelalak. Kedua pelipisnya tebal cembung ke depan, dahinya besar, janggutnya sangat tebal, rambutnya gundul, sarungnya pendek, berkata: Bertakwalah pada Allah wahai Muhammad…!, Sabda Rasulullah SAW: “Siapa yang taat pada Allah kalau aku bermaksiat? apakah Allah mempercayaiku untuk mengamankan penduduk bumi dan kalian tidak mempercayaiku?” dan berkata Khalid bin Walid ra: Wahai Rasulullah, kutebas lehernya..! Rasul SAW melarangnya, lalu beliau SAW melirik orang itu yang sudah membelakangi Nabi saw, dan Rasul saw bersabda: “Sungguh akan keluar dari keturunan lelaki ini suatu kaum yang membaca Al-Qur’an namun tidak melewati tenggorokannya (tidak meresap ke hatinya), mereka semakin jauh dari agama seperti menjauhnya panah dari busurnya, mereka memerangi orang Islam dan membiarkan penyembah berhala”, jika kutemui kaum itu akan kuperangi seperti diperanginya kaum ‘Aad”
(Shahih Bukhari).

BACA :  Mengaku Ahlussunnah Waljamaah, Tapi Anggap Sesat Asy'ariyyah
banner gif 160 600 b - Siapa yang Dimaksud dalam Hadits Rasulullah Saw Ini

Perhatikan kata : sarungnya pendek ( mereka membangga-bangakan diri non isbal )
Perhatikan kata : janggutnya sangat tebal ( mereka bangga diri dengan jenggot )

Abu Abdullah al Syami yang memiliki nama asli Abdurrahim Attuan adalah merupakan salah satu tokoh terkemuka anggota dari Dewan Syari di Jabhah Nusrah. - Siapa yang Dimaksud dalam Hadits Rasulullah Saw Ini

Kemudian perhatikan kata ini sekali lagi :
Rasul saw bersabda: “Sungguh akan keluar dari keturunan lelaki ini suatu kaum yang membaca Al-Qur’an namun tidak melewati tenggorokannya ( tidak meresap ke hatinya ), mereka semakin jauh dari agama seperti menjauhnya panah dari busurnya, mereka memerangi orang Islam dan membiarkan penyembah berhala”, jika kutemui kaum itu akan kuperangi seperti diperanginya kaum ‘Aad.

BACA :  Masalah Yasinan Baca Surat Yasin Itu Bukan Masalah

Dan ternyata keturunan mereka juga ada di Indonesia. Mereka menyebarkan paham yang menyimpang  berupa faham-faham eksklusif dan ekstrim (karena menyempal dari pemahaman Para Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah). Siapakah Mereka ?

 

https://www.facebook.com/photo.php?fbid=269073713181400&set=a.172252222863550.45823.100002363213308&type=1&permPage=1

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

77 thoughts on “Siapa yang Dimaksud dalam Hadits Rasulullah Saw Ini”

  1. Bismillaah,

    Wahai para pengelola website Ummati,

    Janganlah engkau berburuk sangka kepada Muslim yang berjenggot tebal dan berpakaian tidak isbal. Engkau mengatakan bahwa mereka sombong dengan kedua ciri khas tersebut. Apakah engkau mengetahui hati mereka? Sedangkan Rasulullaah memarahi Ali yang membunuh seorang kafir yang sebelumnya mengucapkan kalimat syahadat. Waktu itu Ali menyampaikan bahwa kafir tersebut mengucapkan syahadat hanya untuk menyelamatkan diri. Rasulullaah lalu mengatakan: “Apakah engkau mengetahui apa yang ada dalam hatinya?”

    Wallaahu a’lam.

    1. @Ibnu Suradi
      Mungkin anda merasa tidak, tapi gue tahu dari kelakuan temen2 gue yang merasa paling nyunnah. Nggak percaya, terserah ente aja. Ente jg gak tahu kan?

    2. Ibnu Suradi…
      Kami tidak mengatakan sombong pada mereka,
      coba lihat lagi di postingan di situ kami mengatakan MEREKA BANGGA DIRI dengan cirikhas tsb dan itu fakta di lapangan.

      1. mas ummaty,
        1- apa org yg berjanggut dan tidak isbal itu berdosa to mas? (setahuku kok sunnah nabi, apalagi dilakukan dlm rangka ittiba’ kpd rosulullah).

        2- kata sampean:
        “Dan ternyata keturunan mereka juga ada di Indonesia menyebarkan paham yang menyimpang berupa faham-faham eksklusif (karena menyempal dari pemahaman Para Ulama Ahlussunnah Wal Jamaah), siapakah Mereka ?”

        Ini pernyataan yg mahal sekali (menurutku) selama mas bs menunjukkan buktinya dng akurat yg bersumber dr pihak yg berhak.
        kl tidak, sngt ditakutkan pernyataan mas ini justru malh menjd “provokator utk mengobarkan kebencian dan saling mencurigai sesama muslim”.
        (Bgmn tdk, wong kl ada org yg berciri2 spt tsb lalu serta merta disikapi dgn sikap “bgmn gitu” kok. (pengalaman pribadi).

        3- mbok gini saja mas, kl mas itu aswaja, ajak aja org2 utk mlkukan amalan2 aswaja(yg mas yakini kebenarannya), kalo lalu amalan2 mas itu dicela orang, ya biarin aja, wong kita beramal itu bkn utk cari pujian mereka kok. (Ktnya nabi jg dicela dan beliau tdk bls mencela lho mas). dicela jg tdk PATHEKen (kata pak Harto), GITU AJA KOK REPOT (kata gus Dur).

        4- ini hnya mskan saja lho mas, blm tentu jg benar kt2 saya itu. Hny ungkapan keprihatinan saya, melihat sodara sesama muslim yg berbeda pandangan lalu saling memusuhi, menghujat, merendahkan dll. Maafkan saya ya mas..!

        1. Ibnu Amir@

          Orang2 Wahabi seperti antum kalau gak mampu membantah artikel pasti yg dilakukannya adalah menyerang pengelola situs. Jangankan situs Ummati, situs Habib Munzir di Websitenya juga diserang dg cacian makian kaum Wahabi / salafy. Saya sih tidak kaget dg kelakuan orang2 seperti antum.

          Bagi saya, jenggot dan muka Wahabi itu terasa beda kalau dilihat, saya bisa bedakan dalam hati saya mana Jenggot Wahabi dan bukan. Sama2 berjenggot tapi kok terasa beda kalau dilihat?

          Jenggot itu sebagian sunnah tapi tak perlu bangga diri kalau berjenggot, karena bangga diri itu DOSA. Jenggotnya sunnah tapi bangga diri itu perbuatan setan. Apalagi kalau gara2 punya jenggot lalu merasa paling nyunnah dan yg lain ahlul bid’ah gara tak berjenggot. Kan ada yg seperti itu saya lihat di lapangan? Tidak berjenggot tidak menyeabkan masuk neraka, anda setuju apa nggak?

          1. assalaamualaikm mas ibnu jarir,
            kehormatan bg saya ats tanggapan sampean.

            1. maaf yg banayk ya mas kl saya dianggap “menyerang” pemilik blog ini. Walaupun sbnrnya saya gak bermaksd spt itu. Lagian di no 4 sy sdh minta maaf.
            2. mas, saya tdk membanggakan hal itu mas, (sampean blg membanggakan itu dosa), sy pernah dngar org bawakan hadits ktnya (krg lbhnya aja) bhw amalan seseorang itu tdk memadai untuk memasukkan ke sorga(atau “utk menghindarkan dari neraka”) kecuali dng rahmat Allah.
            jd intinya saya cm minta kepastian hal itu sunnah apa bkn ?
            kl sunnah ya jng dijelek2in. adapun ada org yg berjggot lalu sikapnya tercela, ya sikapnya aja yg dikoreksi.
            3. urusan apakah seseorang itu masuk neraka ato sorga saya gak ngerti mas. Bg saya yg utama adalah “berusaha” untuk menjlnkn perintah dan meninggalakn larangan Allah dgn ikhlas dan sesuai tuntunan Rosullullah.
            4. maaf ats kebodohan saya. smoga Allah membimbing saya dan mas ibnu jarir diatas jalan yg diridhoiNya.

  2. Betul Mas Ibnu Suradi..
    Sy setuju dgn pendapat Anda…tapi tidak sedikit diantara sodara kita yang menyesatkan,dan yg lebih miris mengkafir2 kan sodara muslimnya (yg juga melaksanakan perintah agama) hanya karena tidak sepemahaman dgn kelompoknya..Bahkan sampai hati mengatakan orang tua kanjeng Rosul kafir…piye iki..?

  3. @ibnu Suradi
    Apakah asli bunyi hadistnya seperti itu “Sedangkan Rasulullaah memarahi Ali yang membunuh seorang kafir yang sebelumnya mengucapkan kalimat syahadat. Waktu itu Ali menyampaikan bahwa kafir tersebut mengucapkan syahadat hanya untuk menyelamatkan diri. Rasulullaah lalu mengatakan: “Apakah engkau mengetahui apa yang ada dalam hatinya?”
    Tolong klarifikasinya.

  4. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Kalau nggak salah saya pernah mendapatinya di Kitab Riyadhus Shalihiin Imam Nawawi di Bab Niat. Mohon bantuan Kang Ahmad Syahid yang lebih mengetahui tentang hadits.

    Wallaahu a’lam.

  5. Bismillah,

    Hadits: “Sungguh akan keluar dari keturunan lelaki ini suatu kaum yang membaca Alqur’an namun tidak melewati tenggorokannya” mustinya dialamatkan kepada orang-orang yang hafal Surat Yasin tapi tidak mengetahui artinya, maknanya, maksudnya, tujuannya, perintah dan larangan yang ada di dalamnya serta pelajaran-pelajaran yang dimuatnya. Bila mereka membaca, maka bacaan Qur’an mereka hanya sampai di kerongkongan, tidak sampai ke hati.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      “Kalau nggak salah saya pernah mendapatinya di Kitab Riyadhus Shalihiin Imam Nawawi di Bab Niat”.
      Itu bab tauhid kenapa ada dalam bab niat , coba cek lagi Kitab Riyadhus Shalihin!!!
      Dalam bab niat Riyadhus shalihin ada dalam awal-awal kitab kan, gampang ceknya, ane minta tolong di tulis disini.

      Tulisan ente “Hadits: “Sungguh akan keluar dari keturunan lelaki ini suatu kaum yang membaca Alqur’an namun tidak melewati tenggorokannya” mustinya dialamatkan kepada orang-orang yang hafal Surat Yasin tapi tidak mengetahui artinya, maknanya, maksudnya, tujuannya, perintah dan larangan yang ada di dalamnya serta pelajaran-pelajaran yang dimuatnya. Bila mereka membaca, maka bacaan Qur’an mereka hanya sampai di kerongkongan, tidak sampai ke hati”.
      Maksud nya bisa dijelaskan?

  6. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Sahabt Ali radhliyallaahu ‘anhu menyampaikan bahwa orang kafir tersebut mengucapkan kalimat syahadat agar selamat dari tebasan pedang Ali. Menurut Ali, itulah niat di balik ucapan syahadat orang kafir tersebut. Padahal niat itu adanya di dalam hati. Hanya Allah dan orang yang berniatlah yang mengetahui niatnya. Bukan orang lain termasuk Ali. Makanya Rasulullaah menegur Ali dengan bersabda: “Apakah engkau mengetahui apa yang ada dalam hatinya.”

    Syahadat adalah kalimat Tauhid. Tapi seseorang memiliki niat dalam mengucapkan kalimat tersebut.

    Tentang membaca Qur’an hanya sampai tenggorokan, saya hanya bisa bertanya: “Bagaimana orang yang tidak mengerti arti, makna, perintah dan larangan serta pelajaran yang terkandung dalam sebuah ayat atau surat Qur’an, dapat membacanya hingga meresap ke dalam hatinya?”

    Wallaahu a’lam.

  7. Ibnu Suradi:
    Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Sahabt Ali radhliyallaahu ‘anhu menyampaikan bahwa orang kafir tersebut mengucapkan kalimat syahadat agar selamat dari tebasan pedang Ali. Menurut Ali, itulah niat di balik ucapan syahadat orang kafir tersebut. Padahal niat itu adanya di dalam hati. Hanya Allah dan orang yang berniatlah yang mengetahui niatnya. Bukan orang lain termasuk Ali. Makanya Rasulullaah menegur Ali dengan bersabda: “Apakah engkau mengetahui apa yang ada dalam hatinya.”

    Syahadat adalah kalimat Tauhid. Tapi seseorang memiliki niat dalam mengucapkan kalimat tersebut.

    Tentang membaca Qur’an hanya sampai tenggorokan, saya hanya bisa bertanya: “Bagaimana orang yang tidak mengerti arti, makna, perintah dan larangan serta pelajaran yang terkandung dalam sebuah ayat atau surat Qur’an, dapat membacanya hingga meresap ke dalam hatinya?”

    Wallaahu a’lam.

    haditsnya ndak saya temukan di bab niat, ada apa ini , ada apa ini??
    ada versi bedakah r.sholihinnya??:) (waspada:D)

    hmm..ada muhaddits baru:P,memaknai hadits ““Sungguh akan keluar dari keturunan lelaki ini suatu kaum yang membaca Alqur’an namun tidak melewati tenggorokannya (tidak meresap ke hatinya), mereka semakin jauh dari agama seperti menjauhnya panah dari busurnya, mereka memerangi orang islam dan membiarkan penyembah berhala”, jika kutemui kaum itu akan kuperangi seperti diperanginya kaum ‘Aad”
    (Shahih Bukhari).”

    seingat saya, haditsnya ditujukan ke orang arab,yg paling ndak ngerti bahasa arab,tpi ttp aja dikatakan oleh Rasulullah “membaca Alqur’an namun tidak melewati tenggorokannya”…sooo??

    lalu mengapa sang muhaddits mengartikannya ditujukan untuk

    Ibnu Suradi:
    Bismillah,

    Hadits: “Sungguh akan keluar dari keturunan lelaki ini suatu kaum yang membaca Alqur’an namun tidak melewati tenggorokannya” mustinya dialamatkan kepada orang-orang yang hafal Surat Yasin tapi tidak mengetahui artinya, maknanya, maksudnya, tujuannya, perintah dan larangan yang ada di dalamnya serta pelajaran-pelajaran yang dimuatnya. Bila mereka membaca, maka bacaan Qur’an mereka hanya sampai di kerongkongan, tidak sampai ke hati.

    Wallaahu a’lam.

    mengapa harus surat yaa siin???
    mengapa tidak surat arrohmaan??
    mengapa tidak surat al waqi’ah???
    mengapa tidak surat al mulk???
    mengapa tidak surat addukhon??/
    mengapa bukan surat assajdah???
    mengapa bukan surat al ikhlash???

    mungkin sang muhaddits memiliki hadits2 lain yang mendukung fatwanya,,,krena biasanya ulama2 dahulu itu jika berfatwa menilik tdak hanya satu dua hadits saja,,bisanya mereka berhati-hati sekali dalam berfatwa,,,jadi,,,qta tunggu saja saudara2 sekalian:)

  8. @ibnu suradi
    Ane tulisin dah
    Diriwayatkan dari HR Bukhari dari Abi Dzibyan. Abi Dzibyan berkata : “Saya mendengar Usamah ibn Zaid berkata : “Rasulullah saw mengirim kami ke desa Al-Huraqah. Kemudian kami menyerang mereka di waktu pagi dan berhasil mengalahkan mereka. Saya dan seorang laki-laki Anshor mengejar seorang laki-laki Bani Dzibyan.
    Ketika kami berdua telah mengepungnya tiba-tiba ia berkata : “La Ilaaha illallah”. Ucapan laki-laki ini membuat temanku orang Anshor mengurungkan niat untuk membunuhnya namun saya menikamnya dan diapun mati. Ketika kami tiba kembali di Madinah, Nabi SAW telah mendengar informasi tentang tindakan pembunuhan yang saya lakukan. Beliau pun berkata : “Wahai Usamah! Mengapa engkau membunuhnya setelah dia mengatakan “La Ilaaha illallah”?. “Dia hanya berpura-pura”, Jawabku. Nabi mengucapkan pertanyaannya berulang-ulang sampai-sampai saya berharap baru masuk Islam pada hari tersebut.

    Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Rasulullah SAW berkata kepada Usamah, “Mengapa tidak engkau robek saja hatinya agar kamu tahu apakah dia sungguh-sungguh atau berpura-pura?”. “Saya tidak akan pernah lagi membunuh siapapun yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah”. Kata Usamah.

    Tulisan ente “Tentang membaca Qur’an hanya sampai tenggorokan, saya hanya bisa bertanya: “Bagaimana orang yang tidak mengerti arti, makna, perintah dan larangan serta pelajaran yang terkandung dalam sebuah ayat atau surat Qur’an, dapat membacanya hingga meresap ke dalam hatinya?”

    Coba ente baca asbabun wurujnya dulu, baru ente tafsir itu hadist, jangan serampangan ente tafsir menafsir.

  9. @Ucep
    Mantap Kang Ucep. betul kan dalam hadis itu bukan imam Ali kw. tu org (Ibnu Suradi) dh baca dulu baru koment ato asal komen aja Y. BTW ust ahmad syahid kok gak pernah muncul y, ada info dr tmn2 aswaja? gue pengen jg baca komen2 Ust Ahmad Syahid

  10. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Terima kasih anda telah menyampaikan hadits sebenarnya tentang sahabat Usamah bin Zaid yang membunuh seseorang yang telah mengatakan kalimat tauhid. Saya minta maaf dan rujuk kepada hadits yang anda sampaikan.

    Makanya kita hendaknya tidak menilai isi hati seseorang. Karena hanya Allah dan orang yang memiliki hati yang mengetaahui isi hatinya.

    Banyak kawan-kawan yang mengatakan: “Wahabi hatinya sombong dan merasa paling benar. Padahal mereka tidak mengetahui isi hati dan perasaan Wahabi.” Janganlah begitu. Nanti orang akan mengatakan: “Ada dukun.”

    Wallaahu a’lam.

  11. @ibnu suradi
    Pertama Ente sudah memutar balik hadist, dengan mengatakan Rasulullah marah sama Syaidina Ali ra, yang kedua coba baca baik-baik.
    “Banyak kawan-kawan yang mengatakan: “Wahabi hatinya sombong dan merasa paling benar. Padahal mereka tidak mengetahui isi hati dan perasaan Wahabi.” Janganlah begitu. Nanti orang akan mengatakan: “Ada dukun.”
    Apa ente gak terbalik
    “Tentang membaca Qur’an hanya sampai tenggorokan, saya hanya bisa bertanya: “Bagaimana orang yang tidak mengerti arti, makna, perintah dan larangan serta pelajaran yang terkandung dalam sebuah ayat atau surat Qur’an, dapat membacanya hingga meresap ke dalam hatinya?”

    Lihat dua tulisan ente ya, kalau ente pahami bagaimana?

  12. Kang Bima Syafii dan Kang Ucep,

    Tentang hadits Usamah bin Zaid, saya sudah rujuk.

    Selanjutnya, sekali lagi saya ingin bertanya: “Bagaimana orang yang tidak mengerti arti, makna, perintah dan larangan serta pelajaran yang terkandung dalam sebuah ayat atau surat Qur’an, dapat membacanya hingga meresap ke dalam hatinya?”

    Bagaimana seseorang bisa menghayati perkataan yang dia ucapkan sedangkan dia tidak mengerti arti ucapannya? Tolong jelaskan itu kepada saya.

    Wallaahu a’lam.

    1. Syekh Ibnu Suradi@

      Yang dimaksud baca Qur’an gak sampai ke hati atau gak melewati tenggorokan itu bukan berarti gak tahu artinya seperti kata antum. Mereka yg disebut Nabi dalam hadits tsb juga tahu artinya cuma gak masuk ke hati….

      Contohnya kaum Wahabi itu ya… Ustadz2 Wahabi itu tahu dong artinya, tapi gak sampai masuk hati alias cuma buat gagah2an. Banyak contoh ustadz2 Wahabi sperti itu, nanti akan saya tulis di sesi berikutnya kalau saya ada waktu. Sebab sekarang saya mau pergi dulu adas urusan bisnis dulu. Oke ya syekh Suradi, tunggu nanti aku kasih contohnya banyak sekali.

  13. Bismillaah,

    Ibnu Jarir,

    Orang yang mengetahui arti ayat Qur’an saja bila membaca Qur’an bacaannya ada yang nggak bisa melewati kerongkongan. Apalagi orang yang tidak mengerti artinya. Bacaannya bisa jadi hanya sampai bibir.

    Anda menuduh Ustadz yang anda sebut sebagai “Wahabi” membaca Qur’an tapi bacaannya tidak melewati tenggorokannya. Bagaimana anda membuktikan tuduhan anda ini? Hati-hati anda membuat tuduhan. Bukankah Rasulullaah menegur Usamah bin Zaid karena menganggap orang yang dia bunuh telah mengucapkan kalimat tauhid dengan tujuan supaya tidak dibunuh oleh Usamah.

    Hati orang itu tidak ada yang mengetahui kecuali dia sendiri dan Allah.

    Wallaahu a’lam.

  14. @Ibnu Suradi
    Coba anda ke kampung-kampung pelosok di seluruh tanah air. Banyak mereka tidak mengerti ayat Qur’an yang dibacanya, tapi mereka merasa tenang dengan membaca Al Qur’an, karena mereka yakin Qur’an sebagai “obat”. Ada yang bisanya cuma Yasinan, tapi itu sudah membuat mereka tenang dan hati tenteram. Jangan mengukur kaum Muslimin semuanya sama seperti Anda yang sudah berstatus Muhadits yang bisa mengratikan hadits. Ga usah jauh-jauh, di pelosok Bogor aja masih banyak orang yang belum bisa baca Qur’an, tapi mereka bisa tentram hatinya hanya dengna senandung Sholawat yang telah mereka hafal tanpa mereka mengerti artinya. Bahkan mungkin mereka lebih iklhas hatinya daripada orang yang mengerti Qur’an tapi kerjanya hanya menuduh-nuduh bid’ah, kubriyun dan bahkan kafir kepada orang-orang bersahadat. Termasuk menuduh orang yang baca Yasinan tidak sampai meresap dalam hati. Kok tahu sih hati manusia? Dari mana tahunya? Dari dukun?

    1. Mas Bima Assyafi’i,
      Antum benar sekali. Semoga apa yang antum sampaikan itu bisa menjadi bahan renungan buat Syekh Ibnu Suradu dan teman2nya.

  15. Bismillaah,

    Bima menulis: “Coba anda ke kampung-kampung pelosok di seluruh tanah air. Banyak mereka tidak mengerti ayat Qur’an yang dibacanya, tapi mereka merasa tenang dengan membaca Al Qur’an.”

    Komentar:

    Keadaan seperti inilah yang memprihatinkan. Kebanyakan mereka bisa membaca Qur’an tapi tidak mengerti artinya dalam bahasa Indonesia. Otomatis mereka tidak menegerti makna bacaannya, perintah dan larangan serta pelajaran yang ada dalam bacaannya.

    Dalam Qur’an, Allah memerintahkan wanita-wanait Muslim menutup aurat. Kenyataannya, kebanyakan wanita membuka aurat. Allah memerintahkan shalat berjamaah. Kenyataannya, kebanyakan umat Islam di Indonesia shalat sendiri-sendiri di rumah atau di tempat kerja. Disuruh shalat dengan thuma’ninah, mereka malah shalat dengan terburu-buru. Diperintahkan untuk meluruskan dan merapatkan shaf, banyak dari mereka yang menolak dengan alasan tidak nyaman. dst.

    Kalau ditanya: “Apa pegangan hidupmu?” Mereka menjawab: “Islam.” Ditanya: “Apakah rujukan pegangan hidupmu?” Mereka menjawab: “Qur’an dan Sunnah.” Apakah engkau mengetahui perintah dan larangan serta pelajaran-pelajaran dalam Qur’an dan Sunnah?” Mereka menjawab: “Tidak tahu.”

    Mereka mengaku pegangan hidupnya adalah Islam tapi tidak mengerti apa itu Islam.

    Bisa jadi inilah penyebab mengapa banyak umat Islam di Indonesia hidup berkekurangan meski tanah negerinya subur makmur. Bukan kemakmuran yang didapat, tapi Lumpur Lapindo, gempa, gunung meletus, banjir, kekeringan panjang, dll.

    Wallaahu a’lam.

  16. @ibnu suradi
    “Selanjutnya, sekali lagi saya ingin bertanya: “Bagaimana orang yang tidak mengerti arti, makna, perintah dan larangan serta pelajaran yang terkandung dalam sebuah ayat atau surat Qur’an, dapat membacanya hingga meresap ke dalam hatinya?”

    Maksud “dapat membacanya hingga meresap ke dalam hatinya?” ini bagaimana?
    Apa ente sudah sampai ditingkat itu atau itu adalah tuduhan diluar kalangan ente?

    Seharusnya manusia islam sudah hapal al Qur’an max usia 12 tahun, kemudian belajar bahasa arab (komplit), baru diterapkan dikehidupan sehari-hari. Istilah ane (juga pesantren) nih ada 3 : Mengaji kemudian di Kaji kemudian di Uji. Jadi bagaimana mungkin seorang yang setelah hapal kemudian dia tahu arti kandungan isi al qur’an dan diterapkan di masyarakat, gak meresap ke hati (itu namanya sudah Sombong).
    Kalau proses belajar itu agak terbelakang (cuma ngajinya 3 Kul tapi…), mungkin seperti yang ente bilang ““Bagaimana orang yang tidak mengerti arti, makna, perintah dan larangan serta pelajaran yang terkandung dalam sebuah ayat atau surat Qur’an”.

    Coba ente jalan-jalan dikampung-kampung seperti saran mas @Bima asSyafi’i, lebih hebat mana ente sama orang-orang yang dikampung. Contoh nih yang paling utama : Walaupun hidupnya melarat, tapi orang kampung bisa pergi haji, apa ini gak meresap dihati??????

  17. Syekh Ibnu Suradi@

    Ada kisah nyata tentang orang yg tidak tahu artinya tetapi ikhlas mengamalkan bacaan yg diajarkan gurunya. Alkisah-nyata, ada seorang MUALAF Chinese, beliau bangkrut bisnisnya setelah menjadi muslim. Kemudian sang Muallaf ini pergi kepada gurunya yaitu Mbah Muhaimin Gunardo Popongan, minta nasehat dan saran apa yg mesti dilakukannya. Oleh gurunya tsb sang muallaf Chinese diberi amalan agar membaca ALFATIHAH 100x setiap ba’da sholat wajib. Lalu sang muallaf benar2 mengamalkannya setiap ba’da sholat wajib, begini dzikirnya: “Al Fatihah, al fatihah, alftihah…. 100x setiap ba’da sholat Wajib.

    Beberapa bulan kemudian sang muallaf datang lagi ke Mbah Muhaimin Gunardo Popongan mau mengajak gurunya tsb berangkat haji. Oleh Mbah Muhaimin ditolaknya dg halus sebab beliau sudah bolak-balik pergi haji. Sang muallaf tsb mengaku di hadapan gurunya bahwa amalan “dzikir al fatihah” diijabah oleh Allah Swt, bisnisnya bangkit dan sukses dalam waktu sangat singkat.

    Nah, itulah cerita singkat kisah nyata seorang muallaf yg gak mudeng artinya, disuruh baca surat al fatihah malah cuma baca AL FATIHAH-nya doang tetapi diijabah oleh Allah Swt apa yg menjadi maksud hatinya.

    Dari contoh kisah ini semoga Syekh Ibnu Suradi bisa ambil pelajaran penting. Bahwa itulah salah satu praktek bacaanya sampai meresap di dalam hati bukan cuma berhenti sampai tenggorokan saja. Dan Allah Mahatahu apa isi hati hamba-hambanya. Dan si Muallaf tsb hatinya nyambung / connect langsung kepada Allah swt sebab ikhlas melaksanakan nasehat gurunya yg ikhlas pula dalam memberi nasehat dan saran.

    Di Indonesia ini banyak kisah seperti itu. Ada seorang muslimah yg sudah meninggal dan dikuber selama puluhan tahun tetapi jasadnya masih utuh segar, selidik punya selidik wanita tsb ngamalin bacaan LAA ILHA ILLALLAH sepanjang waktu hidupnya. Padahal Wanita tsb dikenal bukan orang yg mengerti bahasa Arab. Jadi, mengerti bahasa Arab atau tidak Mengerti bukan menjadi tolok ukur. Sebab nanti di sorga kita menggunakan bahasa Arab, apkah hanya orang2 Arab dan yg mengerti bhs Arab saja yg nmasuk surga?

    Kita membaca Al Qur’an mendapat pahala 10 kebaikan untuk setiap hrufnya, baik mengerti artinya maupun tidak mengerti artinya. Apakah Syekh Suradi tidak tahu akan hal ini?

    Ada pun Contoh Ustadz2 Wahabi Salafi yg menjadi bukti mereka baca Qur’an cuma sampai tenggorokan saja itu banyak contohnya. Mereka mudah sekali menuduh bahkan men-CAP kafir musyrik kuburiyyun kepada Ahli Kiblat. Ini hanya salah satu contoh saja yg menjadi bukti kalau Ustadz2 Salafu Wahabi itu baca Qur’an cuma sampai tenggorokan doang. Bukankah Allah Swt melarang bersu’udzon kepada orang beriman? Ketahuilah, cap-cap musyrik kuburiyyun kepada muslimin selain wahabi itu cuma berdasar su’udzon belaka. Syekh Suradi dan teman2nya tidak tahu apa isi hati muslim yg kalian kafir-musyrikkan. Nau’udzubillah min dzaalik.

  18. Bismillaah,

    Kang Ibnu Jarir,

    Kisah-kisah perorangan yang anda sampaikan itu janganlah terlalu digembar-gemborkan. Sebab ia bisa meninabobokan umat Islam. Penyampaian cerita-cerita semacam ini secara berlebihan membuat orang malas belajar mengerti dan memahami arti, perintah dan larangan serta pelajaran dalam ayat dan surat dalam Qur’an. Makanya, banyak orang islam yang tidak mengerti apa itu Islam karena terlalu banyak mendengar dan membaca kisah-kisah seperti itu.

    Mengapa kita tidak lebih menekankan pada penyampaian perkataan Allah dan rasulNya. Dengan cara ini, insyaallaah, umat Islam menjadi tahu apa itu Islam.

    Wallaahu a’lam.

    1. Ibnu Suradi@

      Syekh Ibnu Suradi, saya tidak gemabar-gemborkan kisah nyata tsb sebab saya baru sekali ini bercerita tentang kisah tsb. Itu pun hanya merupakan satu contoh yg sebetulnya banyak sekali contohnya. Itu juga saya maksudkan sebagai pembelaan saya terhadap orang2 yg gak ngerti bahasa Arab tetapi ihlas menjalani agama yg diajarkan guru2nya yang ihlas. Sebab antum menyerang mereka dan melecehkan mereka.

      Padahal maksud sebenarnya dari MEREKA BACA QUR”AN TIDAK MEWATI TENGGOROKAN itu adalah mereka baca dan tahu artinya tetapi mempermainkannya secara sengaja atau tak sengaja. Contoh, su’udzon itu dilarang dalam Al Qur’an, tetapi ada segolongan kaum yg kerjaannya memusyrikkan Muslimin yang ziarah kubur sebgai kuburiyyun. Apakah para peziarah itu sudah dibelah dadanya sehingga ketahuan jelas sebagai PENYEMBAH KUBURAN, atau penilaian semata-mata berdasar su’udzon? Bukankah ziarah kubur itu Sunnah Nabi?

      Bukankah hanya Allah saja yang tahu isi hati para Peziarah tsb, lalu kenapa ustadz2 wahabi itu mengajari pengikutnya untuk menjuluki para Peziarah sebgai kuburiyyun? Bukankah itu perbuatan dosa besar, dan apabila julukan itu tidak benar maka akibatnya bisa berbalik kepada orang2 Wahabi sendiri? Itulah yg dimaksud dg MEREKA BCA QUR’AN tidak MELEWATI TENGGOROKAN alias cuma hiasan bibir belaka, tidak meresap dalam hati.

  19. @Ibnu Suradi
    Yang jelas, orang yang dituduh tidak mengerti Qur’an tersebut tidak pernah menjerumuskan orang dengan mengatasnamakan Nabi Saw, seperti Anda menuduh Nabi Muhammad memarahi Syayidina Ali karena membunuh orang yang mengucap La Ilaa ha Illallah. Bagaimana kalau kalimant Anda itu sampai kepada orang yang tidak mengerti hadits? Dia akan menelan pendapat Anda yang seolah sudah paling mengetahui Quran dan Hadits. Belum lagi fatwa Anda yang menggiring dan mengarahkan hadits “membaca Quran tidak melewati kerongkongan” kepada orang-orang yang baca Yasinan. Beranikah Anda bersumpah demi Allah bahwa benar Rusulullah mengarahkan hadits tersebut terhadap orang yang Yasinan? Karena kalau kalimat Anda dibaca oleh orang awam, bisa jadi hal tersebut diterima “sebagai kebenaran” seolah-olah dari Rasulullah.

  20. @ibnu suradi
    “Bisa jadi inilah penyebab mengapa banyak umat Islam di Indonesia hidup berkekurangan meski tanah negerinya subur makmur. Bukan kemakmuran yang didapat, tapi Lumpur Lapindo, gempa, gunung meletus, banjir, kekeringan panjang, dll.”
    Coba ente kaji dan tafsir sendiri surat Al Zalzalah!!
    Itu gajala alam yang diterangkan disurat itu, apakah dengan hanya mengerti arti dan Makna Al Quran lantas alam bisa diam? – coba pikirkan baik-baik.

    “Mengapa kita tidak lebih menekankan pada penyampaian perkataan Allah dan rasulNya. Dengan cara ini, insyaallaah, umat Islam menjadi tahu apa itu Islam”.
    Yang seperti apa penyampaiannya, apakah dengan asal baca arti alqur’an atau menurut faham kebenaran dari para ahli. Seperti : surat al Israa : 72 : “Dan barangsiapa yang buta di dunia ini, niscaya di akhirat (nanti) ia akan lebih buta (pula) dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)”.
    Nah kalau cara wahabi gak boleh mentakwil kan repot Bin Baz (maaf).

    Cerita seperti @ibnu jarir harus dibangkitkan, karena ini akan menjadi pelajaran yaitu Allah sendiri yang akan mengajarkan kepada mahluknya, supaya manusia bersyukur.
    Ane mau tanya, kalau ente punya dana, apa yang lebih penting beli mobil sebagai alat transportasi atau pergi haji (melengkapi rukun islam) ???

  21. Bismillaah,

    Kang Bima,

    Mengenai hadits Usamah bin Zaid, saya sudah rujuk. Dan mengenai membaca Qur’an hanya sampai tenggorokan, saya hanya menyampaikan: “Orang yang hafal Surat Yasin dst, dst….,” Saya tidak menyebut orang yang yasinan.

    Tolong jelaskan kepada saya: “Bagaimana bisa orang mengucapkan suatu perkataan dengan penuh penghayatan hingga ke dalam hati, padahal dia tidak mengerti apa yang dia ucapkan?” Mengerti arti ucapannya saja tidak, kok bisanya dia menghayati ucapannya.

    Daripada anda bersusah payah menjawab pertanyaan saya, lebih baik anda mengajari orang yang hafal surat dalam Qur’an tapi tidak mengerti arti ayat-ayat dalam surat tersebut hingga mereka mengerti apa yang mereka baca. Jangan sampai mereka seperti itu sampai tua. Kasihanilah mereka.

    Wallaahu a’lam.

  22. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Silahkan anda menganggap remeh akibat dari orang yang tidak mengetahui arti, makna, perintah dan larangan serta pelajaran dalam ayat dan surat Qur’an. Kalau tidak mengerti arti dan seterusnya, maka dia tidak akan menjalankan perintah dan menjauhi larangan dalam ayat tersebut sebab dia tidak mengetahui adanya perintah dan larangan dalam ayat dan surat tersebut. Hal ini adalah kemaksiatan. Bukankah Allah akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi jika penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa?

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      “Kalau tidak mengerti arti dan seterusnya, maka dia tidak akan menjalankan perintah dan menjauhi larangan dalam ayat tersebut sebab dia tidak mengetahui adanya perintah dan larangan dalam ayat dan surat tersebut. Hal ini adalah kemaksiatan”.

      Itu kan berdasarkan pemikiran ente sendiri, bukan berdasarkan kenyataan yang ada, mungkin perlu ente jalan-jalan sama ane keliling daerah, lihat keadaan yang sebenarnya umat islam di Indonesia (ane bukan jama’ah tabliq).
      Itu sama aja ente menuduh dan menghina, Umat islam di Indonesia tidak mengerti arti dan Makna Al Qur’an dan As Sunnah. Praduga ente timbulnya bencana-bencana, akibat umat muslim Indonesia tidak mengerti arti dan makna Al Qur’an dan As Sunnah. Nauzubillah.

  23. Bismillaah,

    Kang Ucep,

    Saya tidak menuduh tapi menyampaikan kenyataan bahwa banyak umat Islam di Indonesia hafal suatu surat dalam Qur’an tapi tidak mengetahui arti – meski hanya arti terjemahan – ayat-ayat dalam surat tersebut. Banyak umat Islam hafal banyak doa tapi tidak mengetahui arti terjemahannya.

    Makanya, Allah berfirman: “Janganlah mengikuti kebanyakan orang karena kebanyakan orang dapat menyesatkanmu.” Ikutilah orang yang mengetahui masalah agama dengan benar, maka engkau akan selamat.

    Wallaahu a’lam.

  24. @Ibnu Suradi
    Kalau Qur’an hanya dipandang sebagai kumpulan tulisan berbahasa Arab, ya mungkin tidak ada pengaruhnya bagi yang tidak mengetahui artinya. Tapi masyarakat buta huruf di Indonesia itu meyakini bahwa Quran itu Wahyu Allah, Mu’jizat Rasulullah, dan merupakan “obat”, maka walaupun mereka buta huruf dan hanya diajarkan beberapa “hafalan”, terasa menyerap di dalam hati. Apakah kita mau bantah kenyataan ini. “Jangan dibilang mana mungkin”, kenyataannya begitu. Tolong hitung berapa orang desa yang melek baca Al Quran? Pasti sangat sedikit dibanding yang tidak bisa. Apa benar hadits tersebut Rasulullah maksud kepada orang-orang yang hafal surat Yasin? Karena di tempat saya banyak orang-orang tua miskin buta huruf yang hafal surat Yasin. Apakah begitu gegabah Rasulullah menuduh mereka? Sungguh malang nasib mereka dengan kecaman Rasulullah tersebut (kalau benar seperti tafsiran Anda).

  25. assalaamu’alaikm
    sodara2ku, sy ketemu di buku imam ahmad bin hanbal (terjmahan, tp lalu aku donlod aslinya di www .syamela), beliau menerangkan pokok2 sunnah itu diantaranya adalah:
    “wa tarku almirooi wa aljidaali wa alkhusumaati fii addiin”
    arti terjmhannya:
    “meninggalkan perdebatan,adu argumentasi dan pertikaian dlm urusan agama”

    lalu tulisan beliau ini disyarah org lain, pensyarah membawakan dalil2 diantaranya:
    hr tirmidzi dan ahmad: Nabi sholallohu ‘alaihi wa sallam bersabda,”ma dholla qoumun ba’da hudan kaanuu ‘alaihi illa uutu aljadal” lalu membacakan qs. az zukhruf 58.
    diterjemahkan begini:
    “tdklah suatu kaum mnjd sesat setelah sebelumnya diatas petunjuk melainkan mereka akn diberi perdebatan, lalu beliau membaca ayt 58 az zukhruf”.

    maaf ya sodara2, ini masukan saja bkn menggurui, mdh2an ada manfaatnya.

    1. Yang dilarang itu berdebat sesama Aswaja, kalau debat sama Wahabi sih hukumnya SYAH dan halal. Karena Wahabi itu bukan Ahlussunnah Wal Jamaah tapi musuh ASWAJA di seluruh dunia. Ngerti Kang Ibnu Amir?

      Lihat saja di seluruh dunia, sekarang ini Siapa yg kelihatan “PERANG/DEBAT” kecuali Wahabi VS ASWAJA?

      1. Wahhaby itu contohnya seperti siapa sih mas ibnu jarir, krn org2 yg berciri khusus (clana cingkrg, janggut pnjg, jidat belang) itu kl sy dngar mengaku ahlu sunnah juga lho, dan saya perhatikan perbuatan dan penampilan mereka dlm bnyk hal persis spt yg diperintahkan nabi.

        lalu aswaja itu (yg kata mas ahlu sunnah asli) apa mereka yg tdk berciri khusus diatas dan mereka pemilik dan simpatisan logo diatas (bumi dikelilingi bintg 9)? kl jwbnya ya, padahal saya melihat mayoritas mereka itu mlh banyak tdk mengamalkan ajaran nabi lho mas. (di kampg saya tarakan kaltm ini yg saya ceritakan, di sukoharjo solo jg saya saksikan)
        ibu2nya pd tidak pake jilbab,
        bhkan saya melihat termasuk tokohnya yg laki2, kok salaman sama ibu2 yg saya yakin bkn mahromnya. apalagi kl lebaran..(wah pokoke ngerti dhewe lah mas…).
        mereka jg cs dng org yg melakukan amalan yg tdk islami, misalnya melakukan sedekah laut, berupa makanan dan sembelihan yg ditujukan kpd yg mbaureksa laut lalu dilarung, saya yakin ditmpat mas jg ada.( mas di kota mana?)

        lalu pertanyaan saya: 1- ahlu sunnah wal jamaah itu sprt apa sih mas? (mnrt yg mas pahami dr perkataan ulama)
        2- bgmn dgn aswaja versi imam ahmad di buku ushulus sunnah, jg imam albarbahari dlm bukunya syarhus sunnah, bgmn pandangan beliau ini mnrt mas ibnu jarir? (bk beliau ini bs di donlod di www. shamela mas)

        oya mas, hadsits di artikel diatas aku dpt penjlsan dari ust firanda, bhw itu berkaitan ttg kaum khawarij, beliau jelaskan agak detail mnrt perkataan ulama2 hadits yg enulis hadits tsb, berdsrkan judul bab yg mereka tulis. (www.firanda.com)
        maaf kl ada yg salah ya mas.

        1. Assalamu alaikum
          @ibnu amir
          Sebagian coment anda:”saya melihat termasuk tokohnya yg laki2, kok salaman sama ibu2 yg saya yakin bkn mahromnya.”

          Silahkan simak hadits dibawah ini:
          Dari Anas bin Malik r.a., ia berkata, “Seorang perempuan sahaya dari sahaya-sahaya warga Madinah menggandeng tangan Rasulullah saw. dan pergi bersama beliau ke tempat mana saja yang ia kehendaki.” (HR Bukhari, Ahmad,Ibnu Majah)

          Mungkin tergantung situasi dan kondisinya…apakah mendatangkan fitnah atau tidak.

          Maaf kalau ada salah kata.

          1. trimakasih mas hussain infonya,
            tolong bisa ditulis hadits diatas bunyi arabnya? coba nanti tak lihat di cd kutubuttis’ah.

        2. Ibnu Amir@

          Antum kok cerdas amat sih, Kok sampai gak bisa bedakan NU dg Aswaja? Menurut yang saya tahu, NU itu Ormas Islam yang isinya orang2 Aswaja. NU itu Organisasi lokal Indonesia sama seperti Muhammadiyah, Persis, LDII, dan masih banyak lagi. Sedangkan ASWAJA itu adalah sekte/golongan yang sifatnya global (mendunia), sama seperti sekte/golongan Wahabi (Salafy) juga mendunia dimana-mana ada walaupun minoritas di mana2. Baik Aswaja maupun Wahabi, keduanya adalah termasuk sekte/golongan yang jumlahnya 73 golongan.

          Aswaja itu orang-orangnya dalam fikih mengkuti madzhab Syafi’i, Maliki, Hanafi, dan Hambali. Sedangkan dalam Aqidah mengikuti Imam Asy’ariy dan Imam Maturidi. Dalam Tasawuf mereka mengikuti Imam Ghozali atau Imam Al Junaid Al Baghdadi. Yang mana para Imam tsb, baik di bidang Fikih, Aqidah dan Tasawwuf, kesemuanya mengikuti Nabi saw melalui guru-guru dari Imam2 tsb. Artinya, Aswaja mengikuti Imam2 Madzhab berarti mengikuti Nabi saw, itulah yg disebut (mata rantai) sanad. Lihat salah satu contoh sanad Aswaja dari jalur Warga NU, klik! http://ummatipress.com/2012/04/23/nu-sebagai-salah-satu-benteng-ahlussunnah-wal-jamaah-di-indonesia/

          Coba bandingkan dg Salafy wahabi, mereka anti dan menolak Madzhab apapun, bahkan jelas2 menolak tasawwuf yang merupakan ciri2 Aswaja, lalu tiba2 Salafy wahabi mengaku ikut Nabi dan Para Sahabat, apakah Wahabi langsung loncat ke Nabi tanpa melalui mata rantai sanad? Coba pikir deh, kan antum punya akal buat mikir kan ya?

          Kalau antum bertanya Contoh Wahabi itu seperti siapa, jawabnya ya Seperti orang2 yang bertentangan dengan Aswaja. Itulah Wahabi, sebab tidak ada kaum selain Wahabi yang jelas2 berlawanan secara terbuka kepada faham2 Aswaja. Wallohu a’lam…….

          Oh ya, mengenai Firanda yg antum ambil ilmunya, ketahuilah saya dulu sering membantah tulisannya tetapi tidak pernah dimunculkan di kolom komentar. Dan di blog Ummati ini Firanda sudah ditelanjangi dusta2 dan Tipu Muslihatnya habis2an. Ini merupakan obat atas kekecewaan saya karena saya dan anak2 Aswaja yg lain sulit menembus moderasi blog Firanda.

          1. top dan menarik mas ibnu, jazakaLLoh khoir.
            – yg bikin bego kplku ini, bhw org2 muhammadiyah itu jg ngaku ahlu sunnah (sy dl sekolah sma muhammadiyah sukoharjo), tp tetanggaku pegawai depag(sering pake baju batik logo nu diatas) bilang kl muhammadiyah itu wahhaby, begitu mas. (mana yg betul?)
            makanya kmrn sy usul kpd ummaty, itinya stop jelek2in klmpk lain, ajarkan pokok2 ajaran anda saja. beliau tdk nanggapi mlh mas ibnu menuduh saya menyerang blog ummaty. (tambah bego aku)

            -tolong mas kl sempat tulis artikel ttg definisi aswaja berdasarkan alquran dan sunnah, berdasarkan pemahaman ulama 4.

            -lalu bgmn dng org2 yg ngaku aswaja, tapi tidak mengamalkan ajarn islam dan menyerang yg menjalankan syariat dng tuduhan wahhaby
            bhkn TERORIS. padahl org tsb tidak pernah memvonisi kafir, bid’h, fasiq kpd org lain. cuma dia memang tdk mau andil dlm perbuatan2 yg mereka tidak tahu dalilnya.

          2. Ibnu Amir,

            Muhammadiyah dulunya memang orangg2nya mayoritas berpaham Wahabi. Dulunya sebelum seperti sekarang yg cukup moderat, Muhammadiyah terdiri dari orang2 yg persis kelakuannya seperti orang2 Salafy zaman sekarang. Kerjaannya dulu sama seperti salafy yg hobby membid’ah-bid’ahkan amalan kaum muslimin, memusyrik-musyrikkan kaum muslimin yang berziarah kubur.

            Alhamdulillah dalam perkembangannya sekarang ini Muhammadiyah bisa duduk berdampingan dalam usaha dakwah, Orang2 Muhammadiyah sudah tercerahkan ehingga tidak seekstreem dulu lagi. Memang masih ada sebagian kecil orang2 dalam Muhammadiyah yang cenderung ke Salafy atau bahkan sudah pindah menjadi Salafy.

            Coba baca cerita tentang DR Muslimin Nasution salah seorang tokoh Muhammadiyah, zaman mudanya sangat memusuhi bedug, tahlilan, yasinan, dll, sekarang lihat beliau sudah menyadari atas kekeliruannya. Dan menjadi muslim moderat yang tidak sembarangan memusyrikkan, membid’ahkan, mengkafirkan. Dan orang2 dalam Muhammadiyah sekarang mayoritas sudah tercerahkan, dan mereka orang2 bermadzhab dan tidak anti tasawuf, alhamdulillah.

            Mungkin tidak tepat kalau dikatakan mengaku Ahlussunnah Waljamaah, tetapi memang sudah Aswaja dari sononya kok, he he . Kalau Wahabi itu bisa diktakan mengaku-ngaku sebab sejak awal kemunculannya mereka bukan ASWAJA, Wahabi lebih suka menyebut dirinya MUWAHIDUN (orang2 bertauhid), dan menganggap selain golongannya sebagai kafir musyrik.

            Mengenai Devinisi Aswaja kan sudah ada di ummati ini dan saya sdh kasih linknya di atas di klik dong, lihat link ini saya ulangi klik http://ummatipress.com/2012/04/15/apa-itu-ahlussunnah-wal-jamaah/

  26. Bismillaah,

    Kawan-kawan semua,

    Sebenarnya yang menjadi pokok bahasan dari hadits dalam artikle tersebut adalah orang yang berani menentang Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dengan berbagai alasan. Itulah ciri khowarij. Bila ada orang yang hafal Qur’an dan mengerti maknanya, kalau dia menentang Rasulullaah, maka dia adalah khowarij.

    Mengenai ciri fisik seperti lebat jenggotnya dan kain di atas mata kaki, maka Rasulullaah dan para sahabat memiliki citi fisik seperti itu. Makanya, jangan keburu menilai bahwa seseorang itu khowarij hanya kaarena berjenggot dan berpakaian di atas mata kaki.

    Wallaahu a’lam.

    1. Syaikh Ibnu Suradi@

      Orang ngomongin Wahabi ato Syi’ah kok antum lari ngomongin Khowarij? Pertanyaannnya Syi’ah atau Wahabi? Ojo lari ke Khowarij dong? Lucu deh Syekh Suradi ini.

      ngomong2 jenggot lebat Nabi Saw, mana buktinya? Ojo ngarang melulu Syekh Suradi….

    2. @ibnu suradi
      Mungkin ente kudu mengerti dulu kata Khawarij, Mu’tazilah baru ente keluarkan kata-kata itu, jangan mudah mengeluarkan kata-kata itu, sangat berbahaya buat ente di akhirat. Atau memang ente mudah menuduh khawarij atau mu’tazilah kepada muslim yang mengamalkan kebajikan seperti tawasul, maulidan dan ziarah kubur.
      Ane kasih contoh sifat Mu’tazilah adalah memaknai Al Qur’an dan As Sunnah secara leterlux apa adanya.

      Kalau memang ente gak suka dengan yang memperbanyak / mencari kebajikan, coba dong ente kasih dalil yang menolak, jangan serampangan.
      Tulisan ente : “Makanya, Allah berfirman: “Janganlah mengikuti kebanyakan orang karena kebanyakan orang dapat menyesatkanmu.” Ikutilah orang yang mengetahui masalah agama dengan benar, maka engkau akan selamat”.
      Ini ditujukan kepada siapa? coba ente baca asbabun Nuzulnya ayat itu.
      Bagaimana kalau ini dialamatkan kepada orang-orang yang bertasawuf (kaum minoritas yang sangat jelas Illah nya), menurut ente bagaimana???? bukan kepada Wahabi.
      Semoga ente mengerti!!!!

  27. Bismillaah,

    Hadits dalam artikel itu jelas diarahkan kepada orang yang menentang Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Apakah seseorang itu berjenggot atau klimis, berpakaian di atas mata kaki atau menyapu jalanan, bergolongan Wahabi atau Syiah, NU atau Muhammadiyah, bila ia menentang Rasulullaah, maka ia terkena dengan hadits itu.

    Orang yang menentang Rasulullaah sudah pasti bacaan Qur’annya hanya sampai di tenggorokan, tidak sampai ke hati.

    Wallaahu a’lam.

  28. Bismillaah,

    Ucep menulis:

    “Ane kasih contoh sifat Mu’tazilah adalah memaknai Al Qur’an dan As Sunnah secara leterlux apa adanya.”

    Komentar:

    Bukankah Mu’tazilah itu golongan yang mengandalkan akal fikiran mereka? Silahkan buka lagi kitab-kitab referensi anda tentang Mu’tazilah.

    Wallaahu a’lam.

    1. @ibnu suradi
      Iya kan setelah mereka memaknai secara letterlux, kemudian mereka akal-akali ayat-ayat al qur’an sesuai dengan akal pikiran mereka

  29. Bismillaah,

    Kang Ibnu Jarir,

    Hadits tentang jenggot Rasulullaah:

    Jabir bin Abu Samuroh r.a. berkata: Rosululloh -shollallohu alaihi wasallam- dulu telah muncul sedikit uban di bagian depan rambut kepala dan jenggotnya. Jika beliau meminyaki rambutnya, uban itu tidak tampak, tapi jika rambutnya kering, uban itu tampak. Dan beliau adalah seorang yang banyak rambut jenggotnya. (HR. Muslim)

    Wallaahu a’lam.

    1. Yess, antum benar Syekh Suradi, tapi perlu saya tambahi sedikit biar jenggot kita lebat tapi rapi dan elegant.

      Yuk kita simak: Diriwayatkan dari Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Rosululloh Saw suatu saat memegang janggut. Panjang dan lebat janggut beliau berukuran sama. (HR. Al-Qurthubi dalam tafsirnya).

      Bayangkan bagaimana itu rapinya jenggot beliau Saw kan? Itulah yg kudu diikuti, jangan sampai jenggot kita itu jenggot awut-awutan yg menyeramkan sehingga tidak enak dilihat.

  30. Bismillaah,

    Kang Ibnu Jarir,

    Saya setuju dengan anda bahwa kita musti merapaikan jenggot dengan menyela-nyela saat wudhu, dll.

    Yang musti kita ingat adalah bahwa orang yang berjenggot tidak boleh menentang Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Bila ia menentangnya, maka ia ia lah yang disebeutkan dalam hadits dalam artikel di thread ini.

    Wallaahu a’lam.

    1. Assalamu alaikum
      @Ibnu Suradi
      Kalau kita baca ulang hadits diatas…kata-kata “janggutnya sangat tebal…sarungnya pendek” tdk ada sangkut pautnya dgn Sabda Rasulullah. Sebab kata-kata itu adalah perkataan dari Abu sa’id Al Khudriy ra pribadi, yg mengungkapkan ciri-ciri seseorang dan bukan suatu kaum, kerena masih ada kata-kata “matanya membelalak, kedua pelipisnya tebal cembung kedepan, dahinya besar,rambutnya gundul”.

      Jadi utk jaman sekarang utk mengenali kaum “keturunan lelaki” yg dimaksud Rasulullah..marilah kita cermati ulang poin-poinnya :
      1)Kaum yang membaca Alqur’an namun tidak melewati tenggorokannya (tidak meresap ke hatinya).
      Kalau poin 1 ini ditujukan kepada orang-orang yg TIDAK MENGERTI ARTI apa yg dibaca….sepertinya akan menimbulkan fitnah…pertama kita tdk tahu apakah orang-orang itu kaum dari keturunan lelaki yg dimaksud Rasulullah. Kedua keturunan atau bukan… kenyataannya jaman sekarang masih banyak yg tidak mengerti arti dari yg dibaca.

      2)Mereka memerangi orang islam dan membiarkan penyembah berhala.
      Sepertinya pada poin 2 ini kita lebih bisa bercermin apakah kita termasuk yg dimaksud Rasulullah atau bukan.

      Maaf kalau ada salah kata.

  31. Bismillaah,

    Kang Husaini,

    Saya membuat uratan ciri keturunan orang yang disebutkan dalam hadits itu sebagai berikut:
    1. Menentang Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, Ciri ini berdasarkan ucapan lancang dari orang tersebut: “Bertakwalah pada Allah wahai Muhammad…!,” Penentangan tersebut menyebabkannya:
    2. Membaca Qur’an tidak melewati tenggorokan.
    3. memerangi orang islam dan membiarkan penyembah berhala.

    Maka dari itu, saya rujuk dari perkataan saya sebelumnya dengan mengatakan: “Orang yang membaca Surat Yasin meski tidak mengetahui arti terjemahannya bukan termasuk golongan orang yang tersebut dalam hadits tersebut.”

    Saya minta maaf kepada kawan-kawan semua.

    Wallaahu a’lam.

    1. Assalamu alaikum
      @Ibnu Suradi

      Terlepas dari keturunan atau bukan.
      Jadi menurut anda… orang seperti apakah yg dimaksud “Membaca Qur’an tidak melewati tenggorokan” kalau dilihat dari sifat atau perbuatannya dijaman sekarang. ? Sudilah kiranya memberikan contohnya.

      1. Bila menentang Rasulullaah shallallaahu a’alaihi wa sallam, maka orang yang membaca Qur’an baik dia mengetahui arti terjemaahannya maupun tidak mengetahuinya terrmasuk dalam golongan orang yang disebutkan dalam hadits tersebut.

        Yang perlu diperhatikan adalah tindakan penentangan yang sering orang tidak sadari. Contohnya, Rasulullaah memerintahkan merapatkan dan meluruskan shaf shalat berjamaah dan para sahabat mencontohkan bagaimana merapatkan dan meluruskan shaf. Lalu ada orang yang menolak perintah imam shalat untuk merapatkan dan meluruskan shaf dengan mengatakan: “Ngapain sih shalat berdesak-desakan. Tidak nyaman tahu. Tidak khusyu’ shalat saya jadinya.”

        Perkataan seperti itu merupakan bentuk penentangan kepada Rasulullaah.

        Walaahu a’lam.

        1. @ibnu suradi
          Maksud dari mas M Husaini “Membaca Qur’an tidak melewati tenggorokan” kan bisa ente lihat di surah al Qiyamah, bahwa Allah akan memberi penjelasan setelah hamba-hambanya menghafal Al qur’an :
          Al Qiyamah 16-21:
          16.Janganlah kamu gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al Quran Karena hendak cepat-cepat (menguasai)nya[1532].
          17.Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.
          18.Apabila kami Telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.
          19.Kemudian, Sesungguhnya atas tanggungan kamilah penjelasannya.
          20.Sekali-kali janganlah demikian. Sebenarnya kamu (hai manusia) mencintai kehidupan dunia,
          21. Dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.
          Nah dari ayat itu kita sangat jelas bahwa Allah SWT sendiri yang akan memberikan hidayah kepada Hambanya yang menghafal Al Qur’an, entah dengan memberi hidayah belajar atau mendengar ceramah atau membaca buku yang semuanya adalah petunjuk Allah SWT.

          Kalau yang ente contohkan adalah termasuk dalam Hidayah/petunjuk belajar dan prakteknya, makanya untuk itu kita ini kudu hafal al qur’an agar kita tahu Islam yang sebenarnya, Itulah yang terjadi di Zaman Rasulullah SAW, semua sahabat pasti hafal Al Qur’an, kalau mereka gak mengerti maknanya mereka bertanya kepada Rasulullah atau Ibnu Mas’ud atau 4 sahabat.

          Zaman sekarang ini banyak Muslim yang membaca Al qur’an seperti membaca Zabur atau Injil. Yah ini mungkin karena keterbelakangan pengembangan dan pendistribusian Kitab2 ke daerah-daerah.
          Contoh yang konkrit, Saat ini bencana yang datang, selalu dikatakan itu adalah gejala alam, padahal di al Qur’an jelas2 sudah memperingatkan (Surat Al Zalzalah), agar manusia berpikir tentang kehidupan akhirat.

          1. Bismillaah,

            Kang Ucep menulis:

            “Contoh yang konkrit, Saat ini bencana yang datang, selalu dikatakan itu adalah gejala alam, padahal di al Qur’an jelas2 sudah memperingatkan (Surat Al Zalzalah), agar manusia berpikir tentang kehidupan akhirat.”

            Komentar:

            Maka dari itu, bila kita menghafal Qur’an termasuk Surat Yasin, hendaknya kita juga menghafal minimal arti terjemahan, syukur-syukur tafsirannya sehingga kita mengetahui perintah dan larangan serta pelajaran-pelajaran yang terkandung dalam ayat yang kita hafal.

            Bila kita hafal suatu surat tanpa mengetahui arti terjemahan hingga wafat, maka kita tidak akan mengetahui kandungan ayat. Hal ini berakibat pada ketidakfahaman kita tentang Islam yang kita anggap sebagai pegangan hidup ini. Jangan sampai kita memiliki pegangan hidup tapi tidak mengerti pegangan hidup kita.

            Karenanya, kebanyakan orang mengartikan gempa hanya sekedar gejala alam, bukannya teguran, ujian atau azab bagi umat manusia. Mereka bisa jadi tidak sungguh-sungguh berpegang pada Islam dalam kehidupannya.

            Wallaahu a’lam.

          2. @ibnu suradi
            Ente baca komen ane gak sik?,
            Begitu gamblang Allah memberi penjelasan di surah Al Qiyamah.

        2. Assalamu alaikum
          @Ibnu Suradi

          Maaf kalau saya salah dan silahkan dikoreksi.
          Kalau tdk salah “lelaki” didalam hadits tersebut “meragukan kejujuran Rasulullah dalam membagi harta “. Padahal didalam Al-Qur’an yaitu Surah Yaasiin khususnya ayat 2,3,4. Allah saja sudah menyatakan “Rasulullah itu berada diatas jalan yang lurus”.

          Jadi kalau bahasa gampangnya ” sudah baca AQ tapi kok tdk tau”
          Note : “Lelaki” tersebut orang arab.

          Kita teruskan ke “Membaca Qur’an tidak melewati tenggorokan”
          Benar apa yg dikatakan kang ucep bahwa rujukan saya adalah Al Qiyamah 16-21. Bahwasanya dalam membaca AQ itu diperlukan adab-adab sebagai mana sudah tercantum dalam ayat-ayat tersebut. Dan pada ayat 20-21…kalau membaca AQ LUANGKANLAH WAKTU utk membaca AQ agar kita mendapat HIKMAH dari apa yg kita baca. Tanda-tanda orang mendapatkan hikmah dari membaca AQ adalah perubahan dalam hidupnya yaitu menjadi lebih baik dari sebelumnya. Sebagai contoh: Apabila selama ini suka berbuat maksiat maka perbuatan tersebut tdk akan dilakukannya lagi setidak-tidaknya akan berkurang. .

          Jadi kalau ada orang yg membaca AQ tapi tdk membawa perubahan bagi dirinya maka bisa dikatakan “Membaca Qur’an tidak melewati tenggorokan”. Salah satu contohnya adalah apa yg dilakukan “lelaki” tersebut. Di dalam AQ diperintah utk bersholawat….eh malah meragukan kejujuran Rasulullah.

          Maaf kalau ada salah kata.

  32. Lanjutan:

    Namun bila si pembaca Surat Yasin tersebut menentang Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka ia masuk dalam golongan yang disebut dalam hadits tersebut.

    Wallaahu a’lam.

  33. @Ibnu Suradi

    Anda berkata :
    Lanjutan:

    Namun bila si pembaca Surat Yasin tersebut menentang Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, maka ia masuk dalam golongan yang disebut dalam hadits tersebut.

    Komentar saya :
    Jangankan hanya hafal surat Yasin, hafal Qur’an dan Hadits serta mengetahui artinya PUN, apabila dia menentang Rasullullah ya pastilah terkena hadits tersebut. Bahkan lebih berat resikonya. Jadi bukan yang hanya hafal surat Yasin saja …

  34. Bismillaah,

    Kang Bima,

    Jadi, intinya hadits tersebut tentang orang yang menentang Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Kalau seseorang menentang Rasulullaah, maka sudah pasti bacaan Qur’an nya hanya sampai di tenggorokan dan dia mengadakan permusuhan terhadap umat Islam dan membiarkan kesyirikan, tidak peduli apakah ia Wahabi, NU, Muhammadiyah, PKS, Jamaah Tabligh, pengikut Majelis Rasulullaah, dll.

    Wallaahu a’lam.

  35. @Ibnu Suradi
    Kalau dari semula Anda bilang hadits itu berkenaan dengan orang yang menentang Rasul, pasti tidak ada yang protes. Tetapi Anda telah menghakimi dengan membawa-bawa nama Rasul yang mulia bahwa hadits tersebut ditujukan untuk orang yang hafal Yasin tapi tidak mengeti artinya. Itu yang jadi masalah. Apakah seorang pendakwah yang mengaku memahami Qur’an dan Hadits sesuai pemahaman sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan ittiba kepada Rasul seperti Anda, boleh menghakimi secara serampangan begitu? Coba ingat-ingat kata-kata Anda, jangan tiba-tiba belok kepada penentang Rasul. Kalo itu, anak saya yang SMP kelas II aja sudah tahu.

  36. Ibnu Amir,

    Muhammadiyah dulunya memang orangg2nya mayoritas berpaham Wahabi. Dulunya sebelum seperti sekarang yg cukup moderat, Muhammadiyah terdiri dari orang2 yg persis kelakuannya seperti orang2 Salafy zaman sekarang. Kerjaannya dulu sama seperti salafy yg hobby membid’ah-bid’ahkan amalan kaum muslimin, memusyrik-musyrikkan kaum muslimin yang berziarah kubur.

    Alhamdulillah dalam perkembangannya sekarang ini Muhammadiyah bisa duduk berdampingan dalam usaha dakwah, Orang2 Muhammadiyah sudah tercerahkan ehingga tidak seekstreem dulu lagi. Memang masih ada sebagian kecil orang2 dalam Muhammadiyah yang cenderung ke Salafy atau bahkan sudah pindah menjadi Salafy.

    Coba baca cerita tentang DR Muslimin Nasution salah seorang tokoh Muhammadiyah, zaman mudanya sangat memusuhi bedug, tahlilan, yasinan, dll, sekarang lihat beliau sudah menyadari atas kekeliruannya. Dan menjadi muslim moderat yang tidak sembarangan memusyrikkan, membid’ahkan, mengkafirkan. Dan orang2 dalam Muhammadiyah sekarang mayoritas sudah tercerahkan, dan mereka orang2 bermadzhab dan tidak anti tasawuf, alhamdulillah.

    Mungkin tidak tepat kalau dikatakan mengaku Ahlussunnah Waljamaah, tetapi memang sudah Aswaja dari sononya kok, he he . Kalau Wahabi itu bisa diktakan mengaku-ngaku sebab sejak awal kemunculannya mereka bukan ASWAJA, Wahabi lebih suka menyebut dirinya MUWAHIDUN (orang2 bertauhid), dan menganggap selain golongannya sebagai kafir musyrik.

    Mengenai Devinisi Aswaja kan sudah ada di ummati ini dan saya sdh kasih linknya di atas di klik dong, lihat link ini saya ulangi klik http://ummatipress.com/2012/04/15/apa-itu-ahlussunnah-wal-jamaah/

  37. bismilahirohmanirrohiim

    Aku berlindung dari godaan syaitan yang terkutuk.
    Semoga Alloh melindungi kita semua dari fitnah akhir zaman.

    Sesungguhnya salah satu tanda kiamat yang sudah dikabarkan adalah makin banyaknya perselisihan, saya rasa kita sudah berada di jamannya, berhati-hatilah 😀

    Kesombongan adalah hal yang menutupi kebenaran, dan menutupi hati dari cahaya..

  38. Bukti bacaan al-qur’an gak meresap di hati………lihat Saudi wahhabi ulamanya suka menghujat dan mencaci ulama lain yang berbeda faham dengan mereka, rajanya jadi “khadim alzi’bain” kacung dua serigala (AS-Israel), kaum laki2nya banyak yang “kawin kontrak”, memperkosa TKW, pengadilannya linglung; kalau ada TKW “membunuh” majikannya karena membela diri diseret ke pengadilan, tapi majikan yang memperkosa TKW bisa “sentosa, tenteram, aman dan nyaman…………..”

    Memang benar omangan guru saya bahwa Abu Jahal dan Abu Lahabpun jago bahasa arab, faham dengan bahasa Al-qur’an, tapi kalau udah kepala batu ya…..begitulah jadinya……..

  39. mas, yg dimaksud hadis di atas adalah para khawarij (pemberontak thd pemerintah muslim yg sah) dan mereka mengkafirkan orang di luar kelompoknya. sprti kelompoknya Usamah bin Laden dkk.
    jangan asbun!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker