Inspirasi Islam

Shalat Tarawih, Hadits Palsu Seputar Ramadhan (Bagian 2)

Shalat Tarawih – KH Ali Mustafa Yaqub: Hadits – hadits Palsu Seputar Ramadhan (Bagian 2)

Jakarta Berikut kami sampaikan Hadits-hadits palsu seputar Ramadhan yang beredar dan sangat populer di masyakat. Penjelasan dari KH Ali Mustofa Yaqub ini merupakan bagian ke-2. Adapun bagian pertama ada di link ini: Hadits-hadits Palsu Seputar Ramadhan (bagian 1)

shalat tarawih - Shalat Tarawih, Hadits Palsu Seputar Ramadhan (Bagian 2)

……………..

7. Shalat Tarawih Delapan dan Dua Puluh Rakaat

Selama ini, tata cara pelaksanaan shalat tarawih yang kita kenal ada dua versi. Pertama, shalat tarawih sebanyak dua puluh rakaat. Kedua, shalat tarawih sebanyak delapan rakaat.

– Shalat Tarawih dua puluh Rakaat

عَنِ
ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُما كَانَ النَّبِي صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي فِي رَمَضَانَ عِشْرِينَ رَكْعَةً
وَالْوِتْرَ.

Dari Ibn ‘Abbas, katanya, “Nabi Saw shalat pada bulan Ramadhan dua puluh rakaat dan witir.”

Hadis ini diriwayatkan oleh al-Thabrani dalam kitabnya al-Mu’jam al-Awsath, Ibn Abi Syaibah dalam Mushannaf-nya, dan al-Kahatib al-Baghdadi dalam Tarikh Baghdad.

Hadits Palsu Tidak Bisa Jadi Dalil

Ibn Hajar al-Haitami dalam kitabnya al-Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah mengatakan bahwa Hadis riwayat Ibn ‘Abbas ini lemah sekali. Kelemahan Hadis tersebut dikarenakan di dalam sanadnya terdapat rawi yang bernama Abu Syaibah Ibrahim bin ‘Utsman. Al-Bukhari mengatakan bahwa para ulama tidak mau berkomentar tentang Abu Syaibah. Al-Tirmidzi menyatakan bahwa Abu Syaibah munkar Haditsnya. Sementara al-Nasa’i menjelaskan bahwa Abu Syaibah dalah matruk Hadisnya. Bahkan menurut Syu’bah, Abu Syaibah adalah seorang pendusta. Karenanya, Hadis riwayat Ibn ‘Abbas itu palsu atau minimal Hadis matruk (semi palsu).

Shalat Tarawih Dua Puluh Rakaat Benar

Melaksanakan shalat tarawih dua puluh rakaat bukanlah sebuah kesalahan. Kesalahannya adalah jika menjadikan Hadis palsu itu sebagai dalilnya. Shalat tarawih dua puluh rakaat itu adalah benar dengan menggunakan tiga dalil.

Pertama, rakaat shalat tarawih tidak dibatasi berapa jumlahnya, maka dua puluh rakaat itu boleh. Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (رواه البخاري)

“Siapa yang menjalankan qiyam Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahaladari Allah, maka dosa-dosanya (yang kecil) yang telah lalu akan diampuni.”

Kedua, Hadis mauquf riwayat al-Bukhari dan Muslim. Di mana ‘Umar bin al-Khattab ra memerintahkan Ubay bin Ka‘ab untuk menjadi shalat tarwih di masjid. Dan ternyata Ubay juga para sahabat lain shalat tarawih dua puluh rakaat. Dan tidak ada satu pun sahabat yang memprotes hal itu. Padahal pada waktu itu sayyidah Aisyah, ‘Umar bin al-Kattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah. Dan sahabat senior lain, semuanya masih hidup.

Ketiga, Ijma’ sahabat. Menurut Ibn Abd al-Bar, Ibn Qudamah al-Maqdisi, kemudian Abu Hanifah, al-Syafi’i, dan ahmad bin Hanbal. Shalat tarawih dua puluh rakaat adalah jima’ (konsensus). Bahkan Ibn Qudamah dalam kitabnya al-Mughni menuturkan. Bahwa apa yang disepakati oleh para sahabat itu lebih utama dan lebih layak untuk diikuti.


 Shalat Tarawih Delapan Rakaat

 جَابِرُ
بْنُ عَبْدِ الله، قَالَ: جَاءَ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ إِلَى رَسُولِ الله
صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم، فَقَالَ: يَا رَسُولَ الله، إِنَّهُ كَانَ
مِنِي اللَّيْلَةَ شَيْءٌ -يَعْنِي فِي رَمَضَانَ- قَالَ: وَمَا ذَاكَ يَا
أُبَيُّ؟ قَالَ: نِسْوَةٌ فِي دَارِي قُلْنَ: إِنَّا لاَ نَقْرَأُ
الْقُرْآنَ، فَنُصَلِّي بِصَلاَتِكَ، فَصَلَّيْتُ بِهِنَّ ثَمَانَ
رَكَعَاتٍ، ثُمَّ أَوْتَرْتُ قَالَ: فَكَانَ شِبْهُ الرِّضَى، وَلَمْ
يَقُلْ شَيْئًا.

“Dari Jabir bin ‘Abdullah, ia berkata, “Ubay bin Ka’ab datang menghadap Nabi Saw lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tadi malam ada sesuatu yang saya lakukan, maksudnya, pada bulan Ramadhan.” Nabi Saw kemudian bertanya, “apakah itu, wahai Ubay?” Ubay menjawab, “Orang-orang wanita di rumah saya mengatakan mereka tidak dapat membaca al-Qur’an. Mereka meminta saya untuk mengi shalat mereka. maka saya shalat bersama mereka delapan rakaat, kemudian saya shalat witir.” Jabir kemudian berkata, “Maka hal itu merupakan ridha Nabi Saw, karena beliau tidak berkata apa-apa.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Ibn Hibban dalam Shahih-nya dan Abu Ya’la al-Maushuli dalam Musnad-nya. Ada Hadis lain yang lebih kongkrit dari Hadis tersebut, yaitu Hadis riwayat Ja’far bin Humaid, dari Jabir bin ‘Abdullah, katanya:

banner gif 160 600 b - Shalat Tarawih, Hadits Palsu Seputar Ramadhan (Bagian 2)

صَلَّى بِنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً فِيْ رَمَضَانَ ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ وَالْوِتْرَ.

“Nabi Saw pernah mengi kami shalat pada suatu malam Ramadhan delapan rakaat dan witir.”

Dua Hadits ini kualitasnya adalah lemah sekali, karena di dalam sanadnya terdapat rawi bernama ‘Isa bin Jariyah. Menurut ahli-ahli kritik Hadis papan atas, seperti Ibn Ma’in dan al-Nasa’i, Isa bin Jariyah sangat lemah Hadisnya. Bahkan al-Nasa’i pernah mengatakan bahwa ‘Isa bin Jariyah adalah Matruk (Hadisnya semi palsu karena ia adalah pendusta). Maka dari itu, riwayat Ubay bin Ka’ab tentang shalat tarawih delapan rakaat adalah Hadis matruk (semi palsu).


Tarawih Delapan Rakaat Benar

Melaksanakan shalat tarawih delapan rakaat juga bukan sebuah kesalahan. Kesalahannya adalah jika menjadikan Hadis palsu itu sebagai dalilnya. Maka shalat tarawih delapan rakaat itu benar dengan menggunakan dalil Hadis yang tidak membatasi jumlah rakaat shalat tarawih. Rasulullah Saw bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ. (رواه البخاري)

“Siapa yang menjalankan qiyam Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala
dari Allah, maka dosa-dosanya (yang kecil) yang telah lalu akan diampuni.”


8. Bergembira dengan Datangnya Bulan Ramadhan

 مَنْ فَرِحَ بِدُخُوْلِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلَى النِّيْرَانِ.

“Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.”

BACA :  Dua Jamaah Tarawih dalam Satu Masjid, Why Not?

Berikut kami sampaikan Hadis-hadis palsu seputar Ramadhan yang beredar dan sangat populer di masyakat.

9. Lima Perbuatan Pembatal Puasa

 خَمْسُ
خِصَالٍ يُفَطِّرْنَ الصَّائِمَ وَيَنْقُضُ الْوُضُوْءَ: اَلْكَذِبُ
وَالْغِيْبَةُ وَالنَّمِيْمَةُ وَالنَّظْرُ بِشَهْوَةٍ وَالْيَمِيْنُ
الْكَاذِبَةُ.

“Lima hal yang membatalkan orang berpuasa, dan membatalkan wudhu. Berbohong, mengumpat, mengadu domba, melihat lawan jenis dengan syahwat, dan sumpah palsu.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu al-Fath al-Azdi dalam kitabnya al-Dhu’afa’ wa al-Matrukin dan al-Dailami dalam al-Firdaus bi Ma’tsur al-Khitab, berasal dari Anas bin Malik. Hadis ini juga terdapat dalam kitab Ihya’ Ulum al-Din karya al-Ghazali dan Durrah al-Nasihin karya Utsman al-Khubbani.

Hadits ini adalah Hadis palsu. Kepalsuannya cukup parah dikarenakan dalam sanadnya terdapat rawi-rawi pendusta. Antara lain Sa’id bin Anbasah, Muhammad bin al-Hajjaj al-Himsi, dan Jaban. Sa’id bin Anbasah, menurut Yahya bin Ma’in dan al-Iraqi adalah pendusta. Adapun Muhammad bin al-Hajjaj al-Himsi, menurut al-Azdi, Hadisnya tidak boleh ditulis. Sedangkan Jaban, menurut al-Dzahabi tidak dikenal identitasnya, bahkan menurut al-Azdi, Jaban adalah matruk al-Hadits (Hadisnya matruk, semi palsu). Oleh karena itu, Ibn al-Jauzi, Abu Hatim, al-Iraqi dan al-Dzahabi menilai Hadis ini palsu.


10.  Keutaman Shalat Tarawih

عَنْ
عَلِيِّ بْنِ أَبِيْ طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ: سُئِلَ
النَّبِيُّ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالَّسلَامُ عَنْ فَضَائِلِ الترَاوِيْح
فِيْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَقَالَ: يُخْرَجُ الْمُؤْمِنُ مِنْ ذَنْبِهِ فِيْ
أَوَّلِ لَيْلَةٍ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ. فِيْ الْلَيْلَةِ
الثَّانِيَةِ: يُغْفَرُ لَهُ وَلِأَبَوَيْهِ وَإِنْ كَانَا مُؤْمِنَيْنِ.
فِي الْلَيْلَةِ الثَّالِثَةِ: يُنَادِيْ مَلَكٌ مِنْ تَحْتَ الْعَرْشِ
اسْتَاتَنِي اْلعَمَلُ غَفَرَ اللهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ…

“Dari Ali bin Abi Thalib ra, ia berkata: “Nabi Saw pernah ditanya tentang keutamaan shalat tarawih di bulan Ramadhan, Nabi menjawab (bersabda): Malam pertama, dosa seorang mukmin dihapus, ia seperti anak yang baru dilahirkan dari rahim ibunya. Malam kedua, dosanya diampuni, begitu juga dosa kedua orang tuanya jika beriman. Malam ketiga, malaikat berseru di bawah Arsy: beramallah, tentu Allah akan mengampuni dosamu yang telah berlalu. Dan seterusnya…”

Dikutip dari buku “Hadis-Hadis Bermasalah dan Hadis-Hadis Palsu Seputar Ramadhan” Karya Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Yaqub, MA.

 

BACA :  Tahlilan, Yasinan, Maulid Nabi dan Dzikir Berjama’ah

Simpan

Simpan

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker