Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Inspirasi Islam

Shahih Bukhari: Rasulullah Saw Bertawassul dengan Tanah Dan Air Liur Muslimin

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

 

” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. (al-ma’idah :35)

Tawassul adalah berdoa dengan perantara, sedari dulu ulama dipenjuru dunia memperbolehkan dan mengamalkan tawassul baik dengan amal sholih, ataupun dengan pribadi dan kedudukan nabi Muhammad SAW serta para auliya’. Hanya saja semenjak datangnya gelombang pembaharuan yang dihembuskan oleh Muhammad Bin Abdul wahhab, maka terjadi goncangan ditubuh umat Islam. Mereka yang mengamalkan tawassul kepada Nabi dan para wali dicap sebagai biang Bid’ah dan Syirik. Bukan cuma itu, sejumlah auliya’ Alloh dihujat habis-habisan mulai dari Syaikh Ahmad Badawi sampai para wali songo di tanah jawa.  ( Ada CD rekaman ceramah ustadz mereka pada penulis ).

mosque - Shahih Bukhari: Rasulullah Saw Bertawassul dengan Tanah Dan Air Liur Muslimin

Sebenarnya Allah Swt memerintahkan kepada kita untuk mengambil perantara antara kita dengan Allah. ( Lihat QS. Al Maidah : 35 di atas ). Rasulullah saw adalah sebaik-baik perantara, dan beliau  sendiri bersabda : “Barangsiapa yang mendengar adzan lalu menjawab dengan doa : “Wahai Allah Tuhan Pemilik Dakwah yang sempurna ini, dan shalat yang dijalankan ini, berilah Muhammad (saw) hak menjadi perantara dan limpahkan anugerah, dan bangkitkan untuknya Kedudukan yang terpuji sebagaimana yang telah kau janjikan padanya”. Maka halal baginya syafaatku” (Shahih Bukhari hadits no.589 dan hadits no.4442)

Hadits ini jelas bahwa Rasul menunjukkan bahwa beliau  tak melarang tawassul pada beliau saw, bahkan orang yang mendoakan hak tawassul untuk beliau  sudah dijanjikan syafaat beliau dan hak untuk menjadi perantara ini tidak dibatasi oleh keadaan beliau, baik ketika masih hidup ataupun di saat wafatnya.

Tawassul ini boleh kepada amal shalih, misalnya doa : “Wahai Allah, demi amal perbuatanku yang telah aku lakukan saat itu kabulkanlah doaku”, sebagaimana telah teriwayatkan dalam Shahih Bukhari dalam hadits yang panjang menceritakan tiga orang yang terperangkap di dalam goa dan masing masing bertawassul pada amal shalihnya.

Dan boleh juga tawassul pada Nabi saw atau orang lainnya, sebagaimana yang diperbuat oleh Umar bin Khattab ra, bahwa Umar bin Khattab ra shalat istisqa lalu berdoa kepada Allah dengan doa : “wahai Allah.., sungguh kami telah mengambil perantara (bertawassul) pada Mu dengan Nabi kami Muhammad saw agar kau turunkan hujan lalu kau turunkan hujan, maka kini kami mengambil perantara (bertawassul) pada Mu Dengan Paman Nabi Mu (Abbas bin Abdulmuttalib ra) yang melihat beliau sang Nabi saw maka turunkanlah hujan” maka hujanpun turun dg derasnya. (Shahih Bukhari hadits no.964 dan hadits no.3507).

Riwayat diatas menunjukkan bahwa :

* Para sahabat besar bertawassul pada Nabi saw dan dikabulkan Allah swt.
* Para sahabat besar bertawassul satu sama lain antara mereka dan dikabulkan Allah swt.
* Para sahabat besar bertawassul pada keluarga Nabi saw (perhatikan ucapan Umar ra : “Dengan Paman nabi” (saw). Kenapa beliau tak ucapkan namanya saja?, misalnya Demi Abbas bin Abdulmuttalib ra?, namun justru beliau tak mengucapkan nama, tapi mengucapkan sebutan “Paman Nabi” dalam doanya kepada Allah, dan Allah mengabulkan doanya, menunjukkan bahwa Tawassul pada keluarga Nabi saw adalah perbuatan Sahabat besar, dan dikabulkan Allah.

* Para sahabat besar bertawassul pada kemuliaan sahabatnya yang melihat Rasul saw, perhatikan ucapan Umar bin Khattab ra : “dengan pamannya yang melihatnya” (dengan paman nabi saw yang melihat Nabi saw) jelaslah bahwa melihat Rasul saw mempunyai kemuliaan tersendiri disisi Umar bin Khattab ra hingga beliau menyebutnya dalam doanya, maka melihat Rasul saw adalah kemuliaan yg ditawassuli Umar ra dan dikabulkan Allah.

Dan boleh tawassul pada benda, sebagaimana Rasulullah saw bertawassul pada tanah dan air liur sebagian muslimin untuk kesembuhan, sebagaimana doa beliau  ketika ada yang sakit : “Dengan Nama Allah atas tanah bumi kami, demi air liur sebagian dari kami, sembuhlah yang sakit pada kami, dengan izin Tuhan kami” (shahih Bukhari hadits no.5413, dan Shahih Muslim hadits no.2194), ucapan beliau: “demi air liur sebagian dari kami” menunjukkan bahwa beliau saw bertawassul dengan air liur mukminin yang dengan itu dapat menyembuhkan penyakit, dengan izin Allah swt tentunya, sebagaimana dokter pun dapat menyembuhkan, namun dengan izin Allah pula tentunya, juga beliau bertawassul dengan tanah, menunjukkan diperbolehkannya bertawassul pada benda mati atau apa saja karena semuanya mengandung kemuliaan Allah swt. Dalam riwayat lain diterangkan

عَنْ عُثْمَانَ بْنِ حُنَيْفٍ
أَنَّ رَجُلًا ضَرِيرَ الْبَصَرِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ادْعُ اللَّهَ أَنْ يُعَافِيَنِي قَالَ إِنْ شِئْتَ دَعَوْتُ وَإِنْ شِئْتَ صَبَرْتَ فَهُوَ خَيْرٌ لَكَ قَالَ فَادْعُهْ قَالَ فَأَمَرَهُ أَنْ يَتَوَضَّأَ فَيُحْسِنَ وُضُوءَهُ وَيَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ إِنِّي تَوَجَّهْتُ بِكَ إِلَى رَبِّي فِي حَاجَتِي هَذِهِ لِتُقْضَى لِيَ اللَّهُمَّ فَشَفِّعْهُ فِيَّ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ

 

BACA JUGA:  Tawassul dengan Nabi Saw Itu Sunnah, Pelaku Tawassul Bukan Musyrik

Dari ustman bin hanif sesungguhnya seseorang yang sakit mata datang kepada nabi saw lalu berkata, berdoalah kepada Allah agar Dia menyembuhkanku, Nabi menjawab, jika kamu mau, maka aku akan berdoa (untukmu) dan jika kamu ingin, maka bersabarlah dan itu lebih baik bagimu, lalu dia berkata, berdoalah. Ustman Bin Hanif berkata, lalu Nabi memerintahkannya untuk berwudhu dengan baik lalu berdoa dengan doa ini, ya Allah sesungguhnya hamba  mohon kepadaMu dan hamba menghadap kepadaMu dengan NabiMu Muhammad Nabi pembawa rahmat, sesungguhnya aku menghadap kepada Tuhanku dengan engkau ya Rasuulullah supaya hajatku ini dikabulkan, ya Alloh jadikanlah ia pemberi syafaat hajatku untukku.

(Shahih Ibn Khuzaimah hadits no.1219, Mustadrak ala shahihain hadits no.1180 dan ia berkata hadits ini shahih dg syarat shahihain Imam Bukhari dan Muslim). Hadist ini dishahihkan oleh Al hakim, Ibnu Khuzaimah dan disetujui oleh adz Dzahabi.

Hadits diatas ini jelas jelas Rasul saw mengajarkan orang buta ini agar berdoa dengan doa tersebut, Rasul saw yang mengajarkan padanya, bukan orang buta itu yang membuat buat doa ini, tapi Rasul saw yang mengajarkannya agar berdoa dengan doa itu, sebagaimana juga Rasul saw mengajarkan ummatnya bershalawat padanya, bersalam padanya.

Lalu muncullah pendapat saudara saudara kita, bahwa tawassul hanya boleh pada Nabi saw, pendapat ini tentunya keliru, karena Umar bin Khattab ra bertawassul pada Abbas bin Abdulmuttalib ra. Sebagaimana riwayat Shahih Bukhari diatas, bahkan Rasul saw bertawassul pada tanah dan air liur.

Adapula pendapat mengatakan tawassul hanya boleh pada yang hidup, pendapat ini ditentang dengan riwayat shahih berikut :

“telah datang kepada Utsman bin Hanif ra seorang yang mengadukan bahwa Utsman bin Affan ra tak memperhatikan kebutuhannya, maka berkatalah Utsman bin Hanif ra : “berwudulah, lalu shalat lah dua rakaat di masjid, lalu berdoalah dengan doa ini : “: “Wahai Allah, Aku meminta kepada Mu, dan Menghadap kepada Mu, Demi Nabi Mu Nabi Muhammad, Nabi Pembawa Kasih Sayang, Wahai Muhammad, Sungguh aku menghadap demi dirimu (Muhammad saw), kepada Tuhanku dalam hajatku ini, maka kau kabulkan hajatku, wahai Allah jadikanlah ia memberi syafaat hajatku untukku” (doa yang sama dengan riwayat diatas)”, nanti selepas kau lakukan itu maka ikutlah dengan ku kesuatu tempat.

Maka orang itupun melakukannya lalu utsman bin hanif ra mengajaknya keluar masjid dan menuju rumah Utsman bin Affan ra, lalu orang itu masuk dan sebelum ia berkata apa apa Utsman bin Affan lebih dulu bertanya padanya : “apa hajatmu?”, orang itu menyebutkan hajatnya maka Utsman bin Affan ra memberinya. Dan orang itu keluar menemui Ustman bin Hanif ra dan berkata : “kau bicara apa pada Utsman bin Affan sampai ia segera mengabulkan hajatku ya..??”, maka berkata Utsman bin Hanif ra : “aku tak bicara apa-apa pada Utsman bin Affan ra tentangmu, Cuma aku menyaksikan Rasul saw mengajarkan doa itu pada orang buta dan sembuh”. (Majma’ zawaid Juz 2 hal 279), Imam Thabrani meriwayatkannya dalam Al Kabir yang dalam sanadnya terdapat Rauh bin Sholah, Ibnu Hibban dan Al Hakim menstiqahkannya ( Syarah Ibnu Majjah 1/99 ).

Ada juga sebuah hadist dari Malik ad Daar diriwayatkan dalam kitab Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah 12/31 Kitab Fadhail bab Fadhail Umar bin Khattab RA hadis no 32665 dan juga terdapat dalam Musnad Umar Bin Khottob Juz 25/388.

حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنِ الأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ مَالِكِ الدَّارِ , قَالَ : وَكَانَ خَازِنَ عُمَرَ عَلَى الطَّعَامِ , قَالَ : أَصَابَ النَّاسَ قَحْطٌ فِي زَمَنِ عُمَرَ , فَجَاءَ رَجُلٌ إِلَى قَبْرِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم , فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللهِ , اسْتَسْقِ لأُمَّتِكَ فَإِنَّهُمْ قَدْ هَلَكُوا , فَأَتَى الرَّجُلَ فِي الْمَنَامِ فَقِيلَ لَهُ : ائْتِ عُمَرَ فَأَقْرِئْهُ السَّلامَ , وَأَخْبِرْهُ أَنَّكُمْ مُسْتَقِيمُونَ وَقُلْ لَهُ : عَلَيْك الْكَيْسُ , عَلَيْك الْكَيْسُ , فَأَتَى عُمَرَ فَأَخْبَرَهُ فَبَكَى عُمَرُ , ثُمَّ قَالَ : يَا رَبِّ لاَ آلُو إلاَّ مَا عَجَزْت عَنْهُ

 

BACA JUGA:  Kisah Nyata: Nabi Muhammad SAW Sang Maha Cinta Insani

Telah menceritakan kepada kami Abu Mu’awiyah dari ‘Amasy dari Abi Shalih dari Malik Ad Daar dan ia seorang bendahara gudang makanan pada pemerintahan Umar. Ia berkata “Orang-orang mengalami kemarau panjang saat pemerintahan Umar. Kemudian seorang laki-laki datang ke makam Nabi SAW dan berkata “Ya Rasulullah SAW mintakanlah hujan untuk umatmu karena mereka telah binasa”. Kemudian orang tersebut mimpi bertemu Rasulullah SAW dan dikatakan kepadanya “datanglah kepada Umar dan ucapkan salam untuknya beritahukan kepadanya mereka semua akan diturunkan hujan. Katakanlah kepadanya “bersikaplah bijaksana, bersikaplah bijaksana”. Maka laki-laki tersebut menemui Umar dan menceritakan kepadanya akan hal itu. Kemudian Umar berkata “Ya Tuhanku aku tidak melalaikan urusan umat ini kecuali apa yang aku tidak mampu melakukannya”.

Hadis Malik Ad Daar ini juga diriwayatkan oleh Al Hafiz Abu Bakar Baihaqi dalam Dalail An Nubuwah 7/47 hadis no 2974 dan Al Khalili dalam kitabnya Al Irsyad Fi Ma’rifah Ulama Al Hadits 1/313. Keduanya dengan sanad masing-masing yang bermuara pada ‘Amasy dari Abu Shalih dari Malik Ad Daar.

Hadist ini dishahihkan oleh Ibnu hajjar Al Asqolaniy dalam fathul Bari 3/441 Bab  dan juga oleh Ibnu Katsir dalam An Nihayahnya 7/106. Meskipun Syaikh al Albani mendhoifkannya dengan alasan yang dibuat-buatnya ( Suatu saat nanti dengan izin Allah penulis akan menyangkal pernyataan Al Albani dalam At Tawassul 1/120 ). Dengan demikian berdasarkan hadits tersebut, tawassul dengan Nabi Muhammad baik ketika beliau masih hidup maupun setelah wafatnya adalah boleh dan bukan perbuatan syirik.

Tawassul merupakan salah satu amalan yang sunnah dan tidak pernah diharamkan oleh Rasulullah saw, tak pula oleh ijma para Sahabat Radhiyallahu’anhum, tak pula oleh para tabi’in dan bahkan oleh para ulama serta imam-imam besar Muhadditsin, bahkan Allah memerintahkannya, Rasul saw mengajarkannya, sahabat radhiyallahu’anhum mengamalkannya.

Mereka berdoa dengan perantara atau tanpa perantara, tak ada yang mempermasalahkannya apalagi menentangnya bahkan mengharamkannya atau bahkan memusyrikan orang yang mengamalkannya.

Tak ada pula yang membedakan antara tawassul pada yang hidup dan mati, karena tawassul adalah berperantara pada kemuliaan seseorang, atau benda (seperti air liur yg tergolong benda) dihadapan Allah, bukanlah kemuliaan orang atau benda itu sendiri, dan tentunya kemuliaan orang dihadapan Allah tidak sirna dengan kematian, justru mereka yang membedakan bolehnya tawassul pada yang hidup saja dan mengharamkan pada yang mati, maka mereka itu malah dirisaukan akan terjerumus pada kemusyrikan karena menganggap makhluk hidup bisa memberi manfaat, sedangkan akidah kita adalah semua yang hidup dan yang mati tak bisa memberi manfaat apa apa kecuali karena Allah memuliakannya, bukan karena ia hidup lalu ia bisa memberi manfaat dihadapan Allah. Demi Allah bukan demikian, Tak ada perbedaan dari yang hidup dan dari yang mati dalam memberi manfaat kecuali dengan izin Allah swt. Yang hidup tak akan mampu berbuat terkecuali dengan izin Allah swt dan yang mati pun bukan mustahil memberi manfaat bila memang di kehendaki oleh Allah swt. (Lihat perkataan asy Syaukaniy yang dikutip oleh Abdurrahman Al Mubarokfury dalam Tuhfatul Ahwadzi 8/476 )

Ketahuilah bahwa pengingkaran akan kekuasaan Allah swt atas orang yang mati adalah kekufuran yang jelas, karena hidup ataupun mati tidak membedakan kodrat Ilahi dan tidak bisa membatasi kemampuan Allah SWT. Ketakwaan mereka dan kedekatan mereka kepada Allah SWT tetap abadi walau mereka telah wafat.

Imam Asy Syaukaniy dalam Kitab Faidhul Qodir 2/170 berkata :

قال السبكي ويحسن التوسل والاستعانة والتشفع بالنبي إلى ربه ولم ينكر ذلك أحد من السلف ولا من الخلف حتى جاء ابن تيمية فأنكر ذلك وعدل عن

 

BACA JUGA:  Memahami Hadis yang Terkesan Diskriminatif, Bagaimana Caranya ?

“ Imam Subuki berkata,tawassul, minta tolong dan minta syafaat kepada Alloh melalui Nabi adalah baik dan tidak ada satupun ulama salaf dan kholaf yang mengingkarinya, hingga datanglah Ibnu Taymiyyah yang mengingkarinya, menganggapnya berpaling dari jalan yang lurus serta membid’ahkannya padahal tidak ada seorang alim pun sebelumnya yang berkata seperti itu”.

Sebagian sahabat berusaha untuk menyangkal dibolehkannya tawassul dengan mengkritik sanad sebuah hadist tentang tawasssulnya Nabi adam Alaihissalam dengan kemuliaan Nabiyullah Muhammad Saw yang diriwayatkan oleh Imam hakim dalam Mustadroknya, hadist tersebut berbunyi :

حدثنا أبو سعيد عمرو بن محمد بن منصور العدل ثنا أبو الحسن محمد بن إسحاق بن إبراهيم الحنظلي ثنا أبو الحارث عبد الله بن مسلم الفهري ثنا إسماعيل بن مسلمة أنبأ عبد الرحمن بن زيد بن أسلم عن أبيه عن جده عن عمر بن الخطاب قال : قال رسول الله ( [ لما اقترف آدم الخطيئة قال : يا رب أسألك بحق محمد إلا ما غفرت لي فقال الله تعالى : يا آدم كيف عرفت محمداً ولم أخلقه ؟ قال : يا رب إنك لما خلقتني رفعت رأسي فرأيت على قوائم العرش مكتوباً (( لا إله إلا الله محمد رسول الله )) فعلمت إنك لم تضف إلى اسمك إلا أحب الخلق إليك فقال الله تعالى صدقت يا آدم إنه لأحب الخلق إليّ وإذا سألتني بحقه فقد غفرت لك ولولا محمد ما خلقتك ) رواه الحاكم وصححه

 

Abu Said Amr bin Muhammad bin Manshur al-Adl menyampaikan hadits kepada kami dari Abu Hasan Muhammad bin Ishaq bin Ibrahim al-Hanzhali dari Abu al-Harits Abdullah bin Muslim al-Fihri dari Ismail bin Maslamah dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam dari ayahnya dari kakeknya dari Umar bin Khathab bahwa Rasulullah saw bersabda, “Ketika Nabi Adam melakukan kesalahan, ia berdoa, ‘Ya Tuhanku, aku memohon kepada-Mu dengan hak Muhammad agar Engkau mengampuniku.’ Maka Allah berfirman, ‘Wahai Adam, bagaimana kamu mengetahui Muhammad dan aku belum menciptakannya?’ Adam menjawab, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau ketika menciptakanku, aku mengangkat kepalaku, lalu aku melihat tulisan di penyangga-penyangga Arsy ‘Tidak ada tuhan selain Allah, Muhammad utusan Allah’. Maka aku tahu bahwa sesungguhnya Engkau tidak menyandingkan nama-Mu kecuali kepada makhluk yang paling Engkau sukai.’ Allah berfirman, ‘Kamu benar wahai Adam. Sesungguhnya dia adalah makhluk yang paling aku sukai. Jika kamu meminta kepadaku dengan haknya, maka aku mengampunimu. Jika bukan karena Muhammad, aku tidak menciptakanmu.’”

Sepanjang pengetahuan penulis Abdurrahman Bin Zaid Bin Aslam adalah rawi yang dilemahkan oleh para ulama hadits dan hampir semua kitab rijal hadits menjarhnya bahkan Adz Dzahabi menganggapnya pemalsu hadist. Oleh karena itu secara kasat mata hadits ini jelas gugur sebagai hujjah karena kedhoifan rawinya, sehingga tidak perlu untuk diperbincangkan lagi. Akan tetapi kehujjahan tawassul tidak serta merta gugur dengan runtuhnya hadits di atas, sebab hadist-hadist yang telah penulis paparkan dimuka sudah sangat cukup untuk menegaskan kepada kita bahwa tawassul kepada Nabi baik ketika beliau masih hidup atau sesudah wafatnya adalah hal yang diperbolehkan.

Ibnu Katsir dalam Sirah Nabawiyyah 1/320 mengutip hadist ini dan mengatakan bahwa Abdurrahman Bin Zaid Bin aslam ini diperbincangkan, sementara al baihaqi mendhoifkannya.

Al Alamah Muhammad Bin Alwi Al Maliki meriwayatkannya dalam Mafahim Yajiibu An Tushohah dan beliau mengikuti penshahihan al Hakim. Al Hafidz Al Qostholaniy juga menshahihkan hadist ini dalam kitab Mawahib 2/392. Penerimaan mutlak Al Maliki terhadap penshahihan al hakim maupun al Qostholaniy ini bukanlah suatu perbuatan tercela, sebab dalam ushulul hadist dijelaskan jika seorang hafidz mu’tamad menghukumi shahih suatu hadist, maka diperbolehkan untuk menerimanya secara mutlak. Hal ini pun diungkapkan oleh Syaikh Yusuf Qaradhawiy ketika menanggapi kritikan al Albani dalam Ghayatul marom.

Oleh sebab itu, kritik terhadap cara penshahihan Al Maliki tersebut sangat tidak tepat, namun mengkritisi sanad hadits riwayat Al Hakim di atas adalah terpuji. Sebab bisa jadi ada yang tampak oleh ulama’ satu akan tetapi tersembunyi dari ulama’ lainnya.

Wallohu a’lam

 

Tawassul Dalam Perspektif Hadits

Oleh: Ahmad Ar-Rifa’i*

*Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Miftahul Ulum Pati, murid KH Rois Yahya Dahlan Allahu Yarham

SUMBER

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

72 thoughts on “Shahih Bukhari: Rasulullah Saw Bertawassul dengan Tanah Dan Air Liur Muslimin”

  1. Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

    Tawassul adalah sunnah, oleh sebab itulah ulama’ ahlussunnah wal jamaah mengamalkannya. Seperti halnya Imaam Syafii rahimahullah yang berziarah ke makam Imam Abu Hanifah rahimahullah dan bertawassul dengannnya.

    Hal ini tercantum dalam kitab Tarikh Baghdadi, karya al-Imam al-Hafizh Abu Bakr Ahmad bin Ali; yang lebih dikenal dengan al Khathib al Baghdadi (w 463 H)

    http://jundumuhammad.wordpress.com/2011/02/23/imam-syafii-setiap-hari-ziarah-ke-makam-imam-abu-hanifah-dan-tawassul-dengannya-sementara-wahabi-mengatakan-syirik-dan-kufur/

  2. Kepada Penganut Wahabisme (Salafy Wahabi), gemana tanggapan antum semua atas perbuatan Nabi Saw yg bertawassul dg tanah dan air liur sebagian muslimin? Kalian berani bilang Nabi Saw musyrik? Ayo, berani konsisten dg ilmu kalian nggak, he he he…. Kalau konsisten dg ilmu agama kalian tentunya anda-anda harus mengatakan Nabi Saw Musyrik, na’dzubillah mindzalik. Semoga kaum muslimin diselamatkan oleh Allah swt dari belitan ilmu-ilmu kewahabian yg jelas-jelas beretntangan dg sunnah-sunnah Nabi saw, amin amin amin…..

    1. wahabi , mana ada yang konsisten… ? kalo konsisten dengan kesesatannya sih banyak… semoga saudaraku Ajam dan dufal tidak konsisten dalam ksesatan dan kebathilan Tauhid ala Ibnu Taymiyah al-harrani , amien ya Allah ya Robbal Alamien.

  3. Ali@

    “Tawassul ada 2;
    Tawassul Masyru’ dan Tawassul Bid’ah..”,

    Itulah ilmu kewahabian (wahabisme).

    Terus yg dilakukan Nabi Saw seperti dalam shahih Bukhori itu masyru’ apa bid’ah?

  4. Matur suwun , Kang. Aretikelnya sungguh bermanfaat bagi yang benar benar mengakui kekuasaan Alloh SWT. Tiada sesuatu yang mustahil bagi Alloh SWT…………Syukron.

  5. Yang jelas dan pasti, kalau kita bertawasul akan merasakan cahaya barokah Ilahi yang luar biasa. Namun sayang dan sayang sekali ini hanya bisa dirasakan oleh hati dan sangat sulit untuk diceritakan.

  6. berbahagialah orang yang merasakan agama itu suatu kenikmatan yang luarrrrrr biasa ………bagi yang merasakan biasa raihlah luarrrrrr biasa itu ……..

  7. @mamo
    Tinggal kita bisa merasakan ndak. Lha wong sing bisa merasakan itu hati, bukan akal pikiran. Walau otak cemerlang dan menguasai ribuan kitab tapi kalau hawa nafsu dan hatinya tidak bersih, pasti ndak bisa merasakan nikmatnya IMAN dan TAUHID.

  8. Dibawah ini adalah Logika Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhaab yang disimpulkan Oleh Abu abdil muhsin Firanda andirja yang mungkin juga diikuti oleh Ajam dan all wahabis , berkata firanda andirja :

    Logika beliau rahimahullah tergambarkan pada dua poin berikut ini :

    Pertama : Kesyirikan kaum musyrikin Arab bukanlah pada tauhid rububiyyah akan tetapi pada tauhid Uluhiyyah

    Kedua : Hakekat kesyirikan mereka adalah penyembahan terhadap patung-patung orang sholeh atau penyembahan terhadap para malaikat. Akan tetapi :

    Penyembahan tersebut bukan karena meyakini bahwa para malaikat dan orang-orang sholeh memiliki hak independent dalam rububiyyah (pengaturan alam semesta dan hal memberi rizki), akan tetapi karena menjadikan sesembahan-sesembahan mereka sebagai perantara yang bisa mendekatkan mereka kepada Allah dan juga sebagai pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah dalam memenuhi hajat dan kebutuhan mereka dalam kehidupan dunia.

    Karenanya kesimpulannya berdoa kepada ruh para nabi dan orang-orang sholeh merupakan kesyirikan

    kajian
    1. : Kesyirikan kaum musyrikin Arab bukanlah pada tauhid rububiyyah akan tetapi pada tauhid Uluhiyyah.
    Saya Ahmad Syahid berkata
    1. ayat2 al-qur`an dan Hadist2 Rosulallah SAW tidak ada yang membedakan makna Ilah dan Robb.
    2. apa dasarnya syeikh mengatakan ” Pada Tauhid rububiyah ” sementara Kafir quresy adalah Musyrikin … ? dan tidak mungkin jika syirk dan tauhid bisa bersatu…. ? inilah logika syeikh yang fasid. Logika tanpa dasar baik dari Qur`an maupun Sunnah. Yang dibela oleh Ustadz Firanda.
    Ustadz firanda melanjutkan :
    2. Hakekat kesyirikan mereka adalah penyembahan terhadap patung-patung orang sholeh atau penyembahan terhadap para malaikat.
    Saya Ahmad Syahid berpendapat : Pernyataan syeikh ini benar namun sayang kemudian jadi salah dan keliru , perhatikan Ucapan syeikh yang dijelaskan oleh Ustadz firanda selanjutnya , : Akan tetapi :

    ” Penyembahan tersebut bukan karena meyakini bahwa para malaikat dan orang-orang sholeh memiliki hak independent dalam rububiyyah (pengaturan alam semesta dan hal memberi rizki), ” sampai disini syeikh masih bisa dibenarkan, namun kalimat berikutnya salah kaprah silahkan perhatikan :

    ” akan tetapi karena menjadikan sesembahan-sesembahan mereka sebagai perantara yang bisa mendekatkan mereka kepada Allah dan juga sebagai pemberi syafaat bagi mereka di sisi Allah dalam memenuhi hajat dan kebutuhan mereka dalam kehidupan dunia.”
    Saya Ahmad Syahid katakan : Pernyataan syeikh ini, salah karena beberapa sebab

    1. ketika ” selain Allah ” disembah terjadilah kemusyrikan ,
    2.bukan karena ” menjadikan sesembahan-sesembahan mereka sebagai perantara. Dst ” yang menjadikan mereka Musyrik ,
    tetapi karena ” menyembah selain Allah ,” itulah yang menjadikan mereka Musyrik.
    Sehingga kesimpulan Sang Syeikh itu jelas Salah , kemudian ustadz firanda melanjutkan : ” Karenanya kesimpulannya berdoa kepada ruh para nabi dan orang-orang sholeh merupakan kesyirikan. ”
    Saya Ahmad Syahid katakan : Kesimpulan syeikh yang dibela Ustadz Firanda ini , salah kaprah
    karena kafir Quresy disamping menyembah ALLAH serta meyakini adanya manfaat dan mudhorot dari allah swt , mereka juga MENYEMBAH selain ALLAH swt.
    Semoga Ustadz Firanda , Ajam dan All Wahabi menyadari akan kekeliruan Syeikh kalian , Silahkan bolak balik lagi , pelajari ayat – ayat al-qur`an dan hadist yang syeikh kalian bawakan, wabil Khusus qs. Azzumar ayat 3 apakah mendukung kesimpulan akhir yang syeikh kalian nyatakan atau tidak ?.

      1. dufal aku dah jawab pertanyaan dufal , silahkan klik artikel dimana dufal memposting pertanyaan untuk saya judul artikelnya perpecahan sekte wahabi karena dolar dst.

        1. debat model apa kayak gitu..huuuuhhh..lari meninggalkan perdebatan tanpa ngasih taw lagi…gak jawab pertanyaan aku, eh,malah ngasih link orang…nt gak cara berdebat ya???ywdah nti kapan2 ane ajarin…jangan ngerumpi lagi..

  9. mbah Redhy……guru ana alm dulu pesan apabila Shalat kita ada sebersit berpikir / mengingat selain Alloh itu sudah termasuk musyrik …….ada metodanya shalat yang bisa khusuk semua itu ada di ilmu tasawuf yang dianggap oleh golongan wahabi justru bukan dari islam ????? gitu mbah ……dan ana yakin mereka shalat pasti blom khusyuk ……..karena menolak metodanya ……

  10. namanya juga gelap hati…walo dah di jelaskan secar detil pun ya tetep aja Gelep.
    Logikanya harus di gunakan, hati di jernihkan, buka mata terhadap kenyataan, banyak baca sejarah, dan selidiki kekurangan masing kelompok seperti para wahabi suka memalsukan kitab, mambajak kitab2 salaf Nauzubillah….Istighfar aja untuk para pemeluk sekte2 wahabi.

    1. @. adelia
      Kisah Nabi Muhammad SAW sewaktu menemui ajalnya – betapa mulia dan indahnya akhlak baginda

      Ya Rasulullah

      Nabi Muhammad s.a.w adalah manusia agung yang ideal dan
      sebaik-baik contoh sepanjang zaman. Semulia-mulia insan di dunia…!!

      untuk mengingatkan kita…

      Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan
      menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”.”Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,”tutur Fatimah

      lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut,” kata Rasulullah,Fatimah pun menahan ledakan tangisnya.

      Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti rohmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

      “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi. “Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.”Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.”

      Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku. “Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.

      Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, mendekatkan telinganya.“Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum – peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.” Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii!” – “Umatku, umatku, umatku”

      Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wa’alaihi wasohbihi wasallim. Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.

      adelia apanya yang lucu…?

  11. Ketika orang2 wahabi menjadi minoritas di suatu daerah, mereka pasti akan bilang “jangan tertipu dg mayoritas!” trus ngeluarin dalil “kam min fiatin qolilatin gholabat fiatan katsirotan bi idznillah. . . -albaqoroh 249”. Tapi ketika mereka sudah jadi mayoritas, pasti bilang “jangan keluar dari jama’ah!” pake dalil “inna alladzina farroqu dinahum wa kanu syiya’an lasta minhum. . . Al-an’am 159”.
    Ya Allah, tunjukkanlah kepada kami kebenaran itu benar, dan kebatilan itu batil! Tunjukkan kami jalan lurusMU!

    1. Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

      Bukankah ini termasuk menerapkan dalil sesuai dengan hawa nafsu? Mari kita sama-sama saling bahu-membahu menyadarkan saudara kita dari kaum Wahhabi agar kembali ke manhaj Ahlussunnah wal jama’ah yang sebenarnya.

      1. jundumuhammad, begitulah Salafy Wahabi sudah terkenal di seluruh jagad raya, mereka adalah kaum yg paling gemar berdalil yg sesuai selera nafsunya.

  12. Alhamdulillah ya Allah,,akhirnya ana bahagia dan berkah setelah keluar dari wahabi,sungguh sebagai orang awam,ana ngga nyangka cara dakwah mereka yang tidak dengan hati nurani.

    1. satu lagi korban penipuan doktrin yang kembali kejalan yang LURUS …..insyaAlloh…..Amiin selamat @ Ogha ……

    2. Mas Oga, bisakah antum menceritakan sedikit pengalaman batin sewaktu masih menganut Wahabisme? Kalau tidak keberatan, bagi-bagi dong ceritanya, insyaallah bermanfaat.

  13. saudara-saudara ku yang seiman,, udah ya,,, saling celanya,,, jangan diterusin lagi,,, ga da manfaatnya,,, malah bikin perpecahan,,,
    saya memang lebih condong ke pemahaman ormas muhammadiyah, tapi saya juga ga suka kalo ada orang muhammadiyah yang mencela orang NU,,, tapi saya bangga dengan orang-orang NU damn muhammadiyah di tempat saya,, mereka begitu rukun,,, saling toleransi,, mereka apabila ditanya mengapa bisa seperti itu mereka menjawab,,, dulu aja imam malik dan imam syafi’i bisa saling toleransi,, walaupun beda pemahaman,,, saat shalat shubuh imam syafi’i yang mengimami imam malik , beliau tidak baca qunut secara jahr saat i’tidal,, untuk menghormati imam malik ,, begitu pun imam malik,, saat jadi imam ,, beliau memang tidak membaca qunut,,, tapi beliau memberikan waktu bagi imam syafi’i untuk membacany,,
    kenapa kita tidak mencontoh mereka,,, yang ilmu dan keimanannya telah jauuuuuuh diatas kita,,,
    ahlak mereka jauh lebih tinggi dari ilmunya,,, subhanallah,,,

    1. @ rifa …..itulah hebatnya para Imam mahzab …..kalau wahabi kayaknya susah ya untuk spt mereka rata2 keilmuannya cetek namun merasa lebih membandingkan dgn lawan bicara …….malah2 mencela lawan diskusi …..nauzubillah…..

    2. rifa ,siapa yang saling cela…? lagipula perbedaan diantara para Imam Madzhab Ahlu Sunnah seperti Imam Hanafi ,Imam Malik , Imam Syafi`i dan Imam Ahmad adalah perbedaan Masalah Furu` bukan perbedaan masalah Ushul ,sangat berbeda dengan perbedaan dengan faham Wahabi yang coba diangkat oleh Blog Ahlu Sunnah seperti Blog Ummati ini , Wahabi biasa membid`ahkan , biasa mem Musyrikkan bahakan tidak jarang juga mengkafirkan , inilah Aqidah dan Faham Menyimpang yang perlu diungkap agar Ummat tidak terjebak dalam kabathilan.

  14. Setuju Mas Fahmi Hasan, ahsan jiddan. Salam kenal dan selamat bergabung berjuang menyadarkan Ummat Islam dari bahaya kesesatan Wahabisme.

    1. Sama-sama mas….. sebenarnya diskusi ini tidak akan ada ujungnya sampai kapanpun, karena masing-masing mempunyai dalil yang kuat, hanya saja berbeda cara memahaminya. Imam Ahmad bin Hanbal adalah murid dari Imam Syafi`i, Beliau banyak berbeda pendapat dengan Imam Syafi`i, namun tidak pernah membantahnya apalagi mencelanya….. itulah yang harus jadi pelajaran…. hehe

  15. ahmadsyahid
    kalau menurut akhi ormas muhammadiyah itu wahabi atau bukan?
    dan bagaimana tanggapan akhi tentang pemahamannya di masalah furu’ yang mereka shalat tanpa ushalli, tidak merayakan maulid nabi dan tidak juga mensunahkan tahlilan dirumah ahli mayit?
    harap penjelasannya
    syukron.

    1. Bismillah Ar-rahmaan Ar-rahiim.

      Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad dan yang semisalnya, adalah Wahhabiyyun juga. Namun yang membedakan mereka dengan Wahhabiyyun lainnya seperti salafy, MTA, MMI, JAT adalah toleransi di dalam perbedaan. Muhammadiyah lebih cenderung moderat, mampu bertoleransi dengan baik dengan kalangan Ahlussunnah Wal Jama’ah.

      Sangat berbeda dengan Salafy dan MTA (Majelis Tafsir Al-Quran), mereka secara terang-terangan memusuhi mereka yang berbeda pemahaman. Dapat kita lihat kenyataan dari ceramah-ceramah mereka di radio-radio mereka. Mereka menghujat amalan-amalan yang umum dilakukan ahlussunnah wal jama’ah dengan nada-nada sinis bahwa pelakunya ahlul bid’ah yang pantas masuk neraka. Mereka memproklamirkan sebagai satu-satunya firqotun naajiyyah, golongan yang selamat dari sekian golongan ummat Islam.

      Silakan antum dengarkan sendiri kajian2 mereka di radio2 mereka, misalnya radio Rodja dan radio MTA. Saran saya, pada saat mendengarkan radio ini hendaknya didampingi oleh Guru ahlussunnah wal jama’ah yang antum kenal ke-ahlussunnah wal jama’ah-annya.

      Semoga bermanfaat.

    2. Sedikit tambahan untuk penjelas kaum Muhammadiyah.

      Di surakarta, ketika Habib Syech bin Abdul Qodir Assagaf mengadakan acara maulid di Masjid Agung Surakarta pada beberapa waktu lalu, diantara tamu yang diundang adalah pimpinan Ormas Muhammadiyah, dan pada kesempatan itu hadir sebagai pemberi kata pembuka/sambutan adalah seorang Ketua Muhammadiyah di Surakarta.

      Beliau dan beberapa perwakilan dari Muhammadiyah menghadiri dan mengikuti acara maulid sampai selesai.

      Demikianlah sebagian dari toleransi Muhammadiyah yang moderat walaupun mereka termasuk dari golongan Wahhabiyyun.

    3. @. Rifa
      jawaban mas JunduMuhammad sudah sangat bagus , bahwa mereka satu Masyrob (sumber)hanya ada yang moderat ada juga yang Radikal, adapun mereka shalat tanpa ushalli, tidak merayakan maulid nabi dan tidak juga mensunahkan tahlilan dirumah ahli mayit ? adalah ciri jika mereka moderat , dan tidak masalah jika Sholat tidak men Jaharkan Niat , tidak melakukan Maulid ataupun tidak Tahlilan , yang jadi Masalah jika ada yang memperkarakan (membid`ahkan) amalan2 trb.

      1. @Rifa ……orang awam yang masuk muhamadiyah biasanya mudah terserang virus wahabi ……….namun mereka nggak mau di katakan wahabi, malah nggak kenal apa itu wahabi ……aneeeeeh kan ……kesalahan jelas dari ustadz2 nya nggak mau mengabarkan ini faham wahabi sebab kalau dikabarkan dari awal pasti nggak laku makanya mereka memakai jargon kembali ke Al Qur’an dan hadist dgn tauhid murni …….siapa yang nggak tertarik ????? nggak taunya ….padahal….padahal……padahal……

  16. @rifa
    Sedikit tambahan ya, memang ada beberapa dari kalangan muhammadiyah yang kerasnya seperti salafy wahaby. Saya pernah setahun jum’atan di masjid muhammadiyah dan seorang khatibnya selalu mengutip syekh ibnu abdul wahhab. Kalau diajak diskusi pasti sumbernya ulama wahabi.

    Salah satu dari kerabat saya juga muhammadiyah-wahabi asli, jadi ya sering benturan dengan keluarga yang lain terutama soal kebiasaan jawa.
    Sebetulnya NU pun juga kritis terhadap adat Jawa tetapi memang caranya tidak kaku dan frontal kayak wahabiyun.

  17. wah,,, makasih dah berkenan menjawab pertanyaan saya,,,he

    jadi tidak apa-apa kalo muhammadiyah berbeda dalam hal furu’?

    dan apabila muhammadiyah itu toleransi terhadap kelompok lain,,dan tidak serta-merta menyalahkan amalan-amalan kelompok lain,, apakah mereka bisa disebut ahlussunnah wal jama’ah juga,,,?

  18. @. rifa
    Ahlu Sunnah Wal-jama`ah tidak sekedar klaim (pengakuan) tetapi harus berdasarkan Hujjah , mereka harus bisa mendatangkan Bukti jika amaliyah keseharian mereka adalah aplikasi dari Sunnah Rosulallah SAW dan para Sahabatnya.

  19. betul sekali mas syahid,, memang bukan sekedar pengakuan saja,, tapi sepanjang saya mempelajari pemahaman muhammadiyah itu,, mereka sangat berhati-hati dalam masalh amaliyahnya,, apabila mereka beramal syarat pertama adalha disertai hujjah yang kuat mas.

    1. sepengatuhan saya, muhammadiyya di waktu periode awal merupakan gerakan yang sangat toleran seperti zaman KH. AHmad Dahlan, Buya Hamka. Tetapi, yg saya lihat sekarang ini muhammadiyyah mulai mirip dengan wahabi seperti pembid’ahan terang-terangan yang mereka lakukan di masjid sekitar rumah saya sehingga menimbulkan keresahan. Padahal amaliyah tawassul, zikir berjamaah, maulid memiliki sandaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Kalaupun mereka tidak berpendapat demikian tidak perlu memecah belah umat seperti itu..

  20. ROBBANA MA KHOLAQTA HAADZA BATHILA SUBHAANAKA FAQINAA ADZABANNAAR ..WALIKULLINJA’ALNAA MINKUM SYIR’ATAW WAMINHAJAN..WALAUSYAA ALLOOHU LAJA’ALAKUM UMMATAWWAAHIDAH..WALAAKILLIYABLUWAKUM FIIMAA AATAAKUM FASTABIQULKHOIROOT ILALLOHI MARJI’UKUM JAMMII’A FAYUNABBI UKUM BIMA KUNTUM FIIHI TAKHTALIFUUN… ..MAA AJMALAAH MAA AUSA’AAH–BIBIHARI’UMQI’ILMIKA… ..FA’TIQ LANAA RIQOOBANAA –MINNAARINAA FA AULAA NAARIK..semoga langkah benar panjenenan semua penbela ahlussunnah ini min’alamaatil istiibaq ilalkhoir manfa’at mashlahah lil amtsaal wal ummah waljamii’.. .dunyan waukhroo maqbuulan mardliyyan ‘indallooh..

  21. Sedikit tambahan sebagai sumbangsih hamba yang dha’if ini.

    Tentang Tawassul pada Lata ‘Uzza dan Manah, itu saya fikir bukan karena praktek tawassulnya, tetapi karena patungnya. (Lata, ‘Uzza dan Manah adalah nama 3 orang shalih pada zamannya)

    Pembuatan patung itulah yang dilarang dan diharamkan oleh agama-agama samawi.

    Jadi, salah besar kalau ada yang berhujjah bahwa tawassul yang dimaksud dalam banyak hadits tsb (sehingga menjadi pelengkap dalil haditsnya dikatakan dha’if bahkan maudhu’) disamakan dengan praktek beribadah tawassul dengan perantaraan patung Lata, ‘Uzzsa dan Manah yang dilakukan kebanyakan bangsa Arab pada waktu itu.

    Bisa dikatakan bahwa yang diberantas Nabi dan para sahabat pada waktu itu bukan tawassulnya, tetapi pembuatan patungnya itu. Jangankan membuat patung sebagai perantara menuju Allah, membuat patung itu sendiri meskipun untuk seni (apapun bentuk patungnya) diharamkan oleh Allah.

    Terima kasih dan mohon maaf sebelumnya.

  22. kenapa untuk bertawassul/perantara kepada orang2 yang sudah mati diharamkan. Baca QS az zumar ayat 3. Dan perlu diketahui, orang kafir Quroisy menyembah berhala yang nama’y dinamakan dari orang2 sholeh terdahulu, dengan maksud sebagai perantara.
    Untuk logika, kenapa tidak mencari perantara menuju jalan kepada Alloh swt. Dengan mengkaji Al-Qur’an dan Hadits serta melaksanakan kebiasa’an Rosululloh saw dahulu, bukan dengan perantara orang2 sholeh yang sudah meninggal yang dikramatkan kuburan’y. Atau minta dido’akan kepada orang2 sholeh yang masih hidup, yang jelas2 bisa mendo’akan.

    1. LUNA

      Emang yg paling top memahami ayat yg nt sebutin itu cuman kaum wahabi doang. Jangan sombong mas dan paling menguasai ayat-ayat suci Al Qur’an.

      Tawasul dengan auliya yg sudah meninggal itu SANGAT, SANGAT DAN SUPER SANGAT JAUH dengan berhala yg di sembah kaum kafir. So, jangan disamakan.

    2. Luna@,
      Ente bilang tawassul bid’ah/haram/syirik, ente lihat bacaan tahiyat akhir.
      Assalamualaika ayuhannabiyu…., Assalamualaina wa ala ibadihi shalihin. Adakah Nabi yang masih hidup dan kenapa mengucapkan salam sama orang shaleh yang dah mati.
      Kalau pake otak yang waras, Munafik gak kita sementara bilang bid’ah,sesat, syirik, kenyataannya lima waktu kita ucapkan itu.

      1. Mas Ucep, siiip deh, mantabbbb….. semoga teman-teman Wahabi salafi mendapatkan pencerahan dari koment-koment yg disampaikan oleh anak-anak ASWAJA. Dan memang seandainya mereka bukan “berkepala batu” tentulahh dapat paham apa-apa yg sudah dijelaskan dg sangat jelas.

  23. luna,

    dalam QS az zumar ayat 3, berhala sama sekali tidak dijadikan perantara (tawassul) tetapi benar-benar disembah oleh musyrik Makkah ketika itu. Antara menyembah berhala dg tawassul/perantara sangat jauh berbeda. Silahkan simak baik-baik ayat tsb, perhatikan “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.” (Q.S. Az Zumar,3)

    Kalimat: tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah, perhatikan kata “melainkan” yg dg ini berarti bahwa kaum musyrik ketika itu benar-benar menyembah berhala. Saya kasih contoh kalimat yag lain; Luna tidak makan melainkan sedikit saja, berarti si Luna benar-benar makan walaupun sedikit. Contoh lain, Luna tidak tidur melainkan cuma sebentar. Berarti si Luna benar-benar tidur walaupun cuma sebentar. Nah, bunyi ayat: “Kami tidak menyembah mereka/berhala melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah, berati kaum musyrik tersebut benar-benar menyembah berhala bukan menjadikannya Washilah. “Menyembah” sangat berbeda dg “perantara/tawassul”, perantara/tawassul itu bukan menyembah. TAWASSUL adalah Syari’at dari Allah swt, dan dicontohkan oleh Rasul Saw.

    Jadi kalau ada orang bertawassul dg Nabi Saw, yg demikian itu bukan menyembah Nabi saw tapi menjadikan Nabi Saw sebagai perantara (washilah). Dan mencari Washilah adalah perintah Allah Swt, dan juga diajarkan oleh Rasul Saw. Perlu diingat yg dapat dijadikan perantara dalam kajian ini adalah khusus orang-orang Shalih, sedangkan Nabi Saw adalah pemimpin orang-orang shalih. Wallahu a’lam…..

  24. Jadi mau tambahin : “tidak …. melainkan”. Contoh : “Tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah ….”. Kata tidak pada kalimat di atas bukan berarti “Allah tidak menciptakan”. Yang benar “Allah menciptakan” yang dapat diartikan. “Allah menciptakan jin dan manusia hanya untuk beribadah …”. Maaf kalau salah saya mohon ampun kepada Allah Rabul “alamin.

  25. Seseungguhnya amal saleh kita, keimanan dan ketakwaan kita hakikatnya adalah anugerah dan rahmat Allah. Begitu juga kemulyaan dan kedudukan orang-orang saleh baik yang masih hidup maupun sudah wafat, hakikatnya adalah milik Allah. Allah yang memberi kemulyaan dan kedudukan, Allah yang memberikan kita hidayah sehingga kita beriman dan dengan rahmat serta karuniaNya kita mampu beramal. Maka bertawasul dengan anugerah dan rahmat Allah adalah sesuai syariat, karena keberkahan orang saleh yang wafat adalah anugerahNya juga. Semua itu tidak lain adalah perwujudan dari sifat-sifatNya dan nama-namaNya Asmaul Husna.

  26. @all,
    Na’am, kalau begitu masing2 dari kita memiliki pemahaman dan dalil. dan saya memohon kepada Alloh swt, agar diberikan petunjuk ke jalan yang benar2 Lurus Fisabilillah. silahkan antum pakai pemahaman antum yang tujuan’y sama. Iaitu Alloh swt. Kita Muslim, selama tidak menyekutukan Alloh. Mari kita bersatu, demi tegak’y kalimat Alloh swt di alam ini.
    Allohuma sholi ‘ala muhammad, wa ‘ala ali muhammad.
    wassalamu’alaikum, salam ukhuwah. 🙂

    1. Mbak Luna yg cakeppppp

      Maaf komen lagi nih…….begini ya mbak Luna, saya memang punya pemahaman sendiri mengenai rububiyah dan uluhiyah Allah yg saya peroleh dari guru saya. Setelah saya pahami ternyata kok beda dengan wahabi, beda banget gitu lhoooo……

      Saya tetap yakin bahwa ilmu paling tinggi, paling mulia, paling luas, paling agung dan juga paling suci adalah ilmu tauhid. Dan saya yakin bahwa ini juga diyakini oleh semua mukmin.

      Perlu mbak ketahui, saya meyakini dengan keyakinan penuh dan total mengenai tauhid justru dari tasawuf dan ternyata kaum sufi terutama para tokoh2nya dan juga semua muridnya dalam memahami ilmu tauhid sangat utuh dan dalam.

      Nah, mbak tentu sudah tahu kan syaikhul akbar Ibnu Arabi yg menurut semua salafy/wahabi dianggap sesat karena tidak mampu memahami karya–karyanya.

      Dalam karyanya, beliau mendefinisikan tasawuf sebagai berikut: Tasawuf adalah mengikatkan diri dengan kebaikan-kebaikan menurut syariat secara lahir dan bathin serta TIDAK akan berhasil seseorang dalam menempuh tasawuf jika meremehkan ilmu syariat walau setitikpun.

      Bagaimana pemahaman rububiyah dan uluhiyah saya, tentu msh belum bisa saya tulis disini saat ini. Lain kali akan saya tulis kok.

      Soal tawasul kepada nabi, sahabat, tabiin dan auliya yg sdh wafat ada ilmu dan aturannya. Jika ada sebagian dari mayarakat kita yg kurang tepat dalam tawasul itu kita maklumi karena belum memperoleh pencerahan ilmu yg benar. Jadi, tuduhan syirik tidak bisa seenaknya ditimpakan kpd pelaku tawasul secara umum.

      Ingatlah sabda Rosul: Demi Allah, aku tidak khawatir kesyirikan menimpa umatku tetapi yg aku khawatirkan umatku bersekutu mencintai dunia.

      Syirik dalam hal ini sebagimana kaum kafir.

      1. he…he…mesra banget bikin ngiri tuh …..mbah …….yang muda nanti dapat apa mbah …..he…he…salam

  27. Luna@
    Jawaban para wahabi muda, dah ada cakep-cakep. Kalau Bab khilafiyah ada pangkal tapi gak ada ujungnya, yang kalimat Tauhid kita samakan dan syahadat kita sama, terus kita lantunkan didalam kehidupan sehari-hari seperti doa nabi Ibrahim “Sesungguhnya, Shalatku, Ibadah/amal perbuatanku, Hidupku dan Matiku hanya untuk Allah, lima waktu kita berikrar. Tapi tauhid ya tetap satu.
    Al Maaidah : 73 :”Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan yang Esa. jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih.
    Wassalamualaikum.

    1. Emang jahil loe…
      Loe fikir ketika orang salafy menyebut tauhid uluhiyah, tuhannya beda..
      Trus waktu nyebut rububiyah, tuhannya beda lagi…
      Dan waktu nyebut tauhid asma’ wa shifat, tuhannya beda juga…
      Semuanya satu,,,dasar juhal loe…
      Pelajari dulu baru ngomong, biar jahi loe gak keliatan..

  28. contoh video dialog wahabi vs aswaja:
    KLIK

    JUDUL: 1.Dialog Tawasul dr buya yahya vs ustadz thoharoh Lc.
    2.Mudzakarah dr.buya yahya vs prof.dr.salim bajri

    untuk mp3

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker