Berita Fakta

Sembuhkan Virus Wahabi Dengan Memahami At Tark Secara Benar

Akhir-akhir ini muncul fenomena yang membingungkan tetapi ironisnya mereka tidak menyadarinya alias merasa normal-normal saja. Dimana sekarang sebagian anak-anak muda muslim telah menjadikan At Tark atau tarku an-Nabi (ترك النبي ) sebagai dasar hukum. At Tark yaitu hal-hal yang ditinggalkan atau tidak dilakukan Nabi Saw, telah lazim dijadikan hujjah (dasar/alasan hukum) untuk mengharamkan amal ibadah kaum muslimin.

Sebagaimana mereka telah menjadikan Bid’ah sebagai hukum haram, begitu juga At Tark dijadikan alasan untuk mengharamkan suatu perkara. Kita jadi bertanya-tanya atas kecerobohan mereka itu, apakah benar jika Rasul Saw meninggalkan atau tidak melakukan suatu perkara, lalu otomatis menjadi haram hukumnya bagi kita untuk melakukan suatu perkara itu?

Sebelum mendapatkan jawaban atas pertanyaan di atas sebaiknya kita memahami dahulu sebuah pertanyaan berikut: apakah benar jika Nabi saw tidak melakukan sesuatu, berarti Nabi ingin memberitahu kita bahwa sesuatu itu haram? Jelaslah tentu jawabannya adalah tidak, karena di sana ada sebab-sebab lain mengapa Rasulullah meninggalkan sesuatu, ini berarti bukan serta-merta sesuatu yang ditinggalkan Rasulullah Saw itu haram dilakukan oleh kaum muslimin.

Untuk lebih memahami secara benar permasalahan At Tark, berikut ini kami sajikan buat anda semua tentang pembahasan tuntas At Tark. Tulisan pertama berupa pembukaan yang ditulis oleh Akhi Agung. Lalu tulisan bagian kedua berupa penjelasan tuntas At Tark ditulis oleh Ustadz Abu Hilya. Yuk kita ikuti dan simak penjelasannya…..

At Tark Itu Bukan Dalil Untuk Mengharamkan atau Memakruhkan

Oleh: Ustadz Agung

Sesuatu yang tidak dilakukan Nabi atau Sahabat – dalam term ulama usul fiqih disebut at-tark – dan tidak ada keterangan apakah hal tersebut diperintah atau dilarang maka menurut ulama ushul fiqih hal tersebut tidak bisa dijadikan dalil, baik untuk melarang atau mewajibkan.

Sebagaimana diketahui pengertian as-Sunah adalah perkatakaan, perbuatan dan persetujuan beliau. Adapun at-tark tidak masuk di dalamnya. Sesuatu perkara yang ditinggalkan Nabi atau Sahabat mempunyai banyak kemungkinan, sehingga tidak bisa langsung diputuskan hal itu adalah haram, makruh atau wajib.

Alasan-alasan kenapa Nabi meninggalkan sesuatu:

1. Nabi meniggalkan sesuatu karena hal tersebut sudah masuk di dalam ayat atau hadis yang maknanya umum, seperti sudah masuk dalam makna ayat: “Dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”(QS Al-Haj: 77). Kebajikan maknanya adalah umum dan Nabi tidak menjelaskan semua secara rinci.

2. Nabi meninggalkan sesutu karena takut jika hal itu beliau lakukan akan dikira umatnya bahwa hal itu adalah wajib dan akan memberatkan umatnya, seperti Nabi meninggalkan sholat tarawih berjamaah bersama sahabat karena khawatir akan dikira sholat terawih adalah wajib.

3. Nabi meninggalkan sesuatu karena takut akan merubah perasaan sahabat, seperti apa yang beliau katakan pada siti Aisyah: “Seaindainya bukan karena kaummu baru masuk Islam sungguh akan aku robohkan Ka’bah dan kemudian saya bangun kembali dengan asas Ibrahim as. Sungguh Quraiys telah membuat bangunan ka’bah menjadi pendek.” (HR. Bukhori dan Muslim).  Nabi meninggalkan untuk merekontrusi ka’bah karena menjaga hati mualaf ahli Mekah agar tidak terganggu.

4. Nabi meninggalkan sesuatu karena telah menjadi adatnya, seperti di dalam hadis: Nabi disuguhi biawak panggang kemudian Nabi mengulurkan tangannya untuk memakannya, maka ada yang berkata: “itu biawak!”, maka Nabi menarik tangannya kembali, dan beliu ditanya: “apakah biawak itu haram? Nabi menjawab: “Tidak, saya belum pernah menemukannya di bumi kaumku, saya merasa jijik!” (QS. Bukhori dan Muslim) hadis ini menunjukan bahwa apa yang ditinggalkan Nabi setelah sebelumnya beliu terima hal itu tidak berarti hal itu adalah haram atau dilarang.

5. Nabi SAW meninggalkannya karena memang tidak pemah memikirkan dan terlintas dalam pikirannya. Pada mulanya Nabi SAW berkhutbah dengan bersandar pada pohon kurma dan tidak pemah berpikir untuk membuat kursi, tempat berditi ketika khutbah. Setelah sahabat mengusulkannya, maka beliau menyetujuinya, karena dengan posisi demikian, suara beliau akan lebih didengar oleh mereka. Para sahabat juga mengusulkan agar mereka membuat tempat duduk dari tanah, agar orang asing yang datang dapat mengenali beliau, dan temyata beliau menyetujuinya, padahal belum pernah memikirkannya.

BACA :  Metode Amsilati: Cara Cepat Bisa Baca Tulisan Arab Tanpa Harakat

Dan Nabi bersabda:” Apa yang dihalalakan Allah di dalam kitab-Nya maka itu adalah halal, dan apa yang diharamkan adalah haram dan apa yang didiamkan maka itu adalah ampunan maka terimalah dari Allah ampunan-Nya dan Allah tidak pernah melupakan sesuatu, kemudian Nabi membaca:” dan tidaklah Tuhanmu lupa”.(HR. Abu Dawud, Bazar dll.) dan Nabi juga bersabda: “Sesungguhnya Allah menetapkan kewajiban maka jangan enkau sia-siakan dan menetapkan batasan-batasan maka jangan kau melewatinya dan mengharamkan sesuatu maka jangan kau melanggarnya, dan dia mendiamkan sesuatu karena untuk menjadi rahmat bagi kamu tanpa melupakannya maka janganlah membahasnya”.(HR.Daruqutnhi)

Dan Allah berfirman:”Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.”(QS.Al Hasr:7) dan Allah tidak berfirman dan apa yang ditinggalknya maka tinggalkanlah.

Maka dapat disimpulkan bahwa “at-Tark” tidak memberi faidah hukum haram. Sehingga, kaidah yang sering digunakan oleh Salafi/Wahabi yang berbunyi : “Jika hal tersebut baik, tentulah Nabi dan para sahabat yang mulia akan melakukannya” atau “Kita harus meninggalkan segala sesuatu yang tidak pemah dikerjakan oleh Rasulullah SAW.” dalil andalan Wahabi or salafi ini tidak dapat digunakan. Dan memang kaidah seperti itu tidak ada dalam ushul fiqih.

Kepada teman teman ASWAJA, jika ada pernyataan saya yang salah, silahkan dikoreksi.

 

 

Salah memahami At Tark Bisa Menajadikan Anda Sebagai Ahlul Fitnah

Oleh: Ustadz Abu hilya

Bismillah,
Sebelumnya kami haturkan jazakumulloh Ahsanal Jaza buat @Mas Agung, atas penjelasannya masalah At Tark, semoga bermanfaat bagi kami dan segenap pengunjung lain yang masih awam seperti kami, semoga Mas Agung dan segenap Asatidzah pemerhati dan pengunjung Ummati Press senantiasa dalam lindungan Alloh SWT.

 

Selanjutnya dengan segala kerendahan hati seraya mengharap Taufiq dan Hdayah Alloh, perkenankan kami menambahkan sedikit Penjelasan Tentang At Tark, guna memperkuat apa yang sudah disampaikan oleh Mas Agung dan mempekaya khazanah keilmuan kita, semoga bermanfaat.
At Tark / Ditinggalkannya atau tidak dilakukannya sebuah perkara tidak otomatis mengindikasikan ke-haram-annya, dengan penjelasan sebagai berikut:

 

At Tark alias ditinggalkannya suatu perkara jika tidak disertai dalil yang menunjukkan bahwa perkara yang ditinggal tersebut adalah terlarang, maka At Tark seperti ini tidak dapat dijadikan Hujjah untuk larangan, cukup baginya dijadikan hujjah bahwa meninggalkan perkara tersebut adalah Masyru’ diakui oleh syara’ dan bukan sebuah kesalahan.
Seperti tentang pendapat yang menolak wiridan atau do’a setelah sholat dengan alasan hal tersebut tidak pernah dilakukan oleh para Salaf as Solih. Kami berpendapat ; seandainya hal itu benar (tidak ada dari kalangan slaf as solih yang wiridan atau berdo’a sesudah solat) kenyataan itu tidak menghasilkan hukum apapun selain bahwa tidak wiridan atau berdo’a sesudah solat adalah boleh apapun kondisinya baik repot maupun longgar. Dan tidak akan berindikasi kemakruhan apalagi keharaman wiridan ba’da solat, terlebih jika memperhatikan ke-mujmal-an dalil tentang dzikir dan do’a.

 

Di dalam kitab Al Mahalli Imam Ibnu Hazm menuturkan hujjah para ulama’ Malikiyyah dan Hanafiyyah yang memakruhkan sholat dua rokaat sebelum maghrib dimana mereka berhujjah dengan pendapat Ibrohim an Nakho’i yang menyatakan ; “sesungguhnya Abu Bakar, Umar dan Utsman tidak melakukannya”. Ibnu Hazm menjawab ; “ seandainya hal itu benar, sungguh tidak ada (bisa dijadikan hujjah) dalam hal tersebut, karena mereka (para sahabat) tidak melarang melaksanakan sholat dua rokaat sebelum maghrib “. (Al Mahalli, 2/254). Terlebih jika kita memandang ke-mujmal-an dalil sholat tahiyyatul masjid.

banner gif 160 600 b - Sembuhkan Virus Wahabi Dengan Memahami At Tark Secara Benar

 

Lebih jauh dalam Al Mahalli disebutkan :
وأما حديث علي، فلا حجة فيه أصلاً، لأنه ليس فيه إلا إخباره بما علم من أنه لم ير رسول الله صلى الله عليه وسلم صلاهما، وليس في هذا نهي عنهما ولا كراهة لهما، فما صام عليه السلام قط شهرًا كاملاً غير رمضان وليس هذا بموجب كراهية صوم شهر كامل تطوعًا اهـ. فهذه نصوص صريحة في أن الترك لا يفيد كراهة فضلاً عن الحرمة
“ Adapun hadits Sayyidina Ali, tidak terdapat hujjah sama sekali didalamnya, karena Sayyidina Ali ra hanya menghabarkan bahwa beliau tidak pernah melihat Rosululloh Saw sholat dua rokaat (ba’da ashar. red), dan didalamnya (perkataan Sayyidina Ali) tidak ada larangan dan kemakruhan solat dua rokaat ba’da ashar. maka (bukankah) Rosululloh Saw, tidak pernah puasa sebulan penuh kecuali dibulan Romadhon, dan ini tidak menyebabkan makruhnya puasa sunnah sebulan penuh. (Al Mahalli, 2/271)

BACA :  Salafy - Wahabi: Menuduh HAMAS Penipu Ummat!

Ini adalah nash yang jelas bahwa tidak dilakukannya atau ditinggalkannya suatu perkara tidaklah otomatis mengindikasikan ke-makruh-annya, apalagi ke-haram-annya.
Sedang terhadap mereka yang menolak kaedah ini, dan menyatakan ini tidak ada dalam kaedah ushul fiqih, berikut kami sampaikan bukti-buktinya:

1. Dalam Ushul Fiqih, dalil yang menunjukkan larangan ditunjukkan dengan tiga hal :

a. Shighot Nahi (bentuk kalimat larangan) seperti :

ولا تقربوا الزنا: Dan Janganlah kalian mendekati zina

ولا تأكلوا أموالكم بينكم بالباطل : Dan Janganlah kamu memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil.

Larangan dengan sighot Nahi tsb pada asalnya berindikasi Haram namun terkadang bisa berindikasi Makruh.

b. Lafadz Tahrim : (lafazh yang menunjukkan keharaman ) seperti :

حرّمت عليكم الميتة : diharamkan atas kalian bangkai

c. Dzammul Fi’li : (adanya cela-an atas perkara tsb, atau adanya ancaman siksa bagi pelakunya), contoh :

من غش فليس منا : Barang siapa memalsukan maka ia bukan termauk golonganku.

Dari tiga hal diatas tidak kita dapati At Tark sebagai salah satunya.

2. Firman Alloh SWT dalam al qur’an :

وَمَا آَتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

“ Apa yang diberikan Rosul bagimu terimalah, Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah “ (QS, Al Hasyr : 7)

Disini Alloh tidak menyatakan و ما تركه فانتهوا “dan apa yang ditinggalkan Rosul maka tinggalkanlah “. Maka At Tark tidak berindikasi terlarang.

3. Rosululloh SAW, bersabda :

مَا نَهَيْتُكُمْ عَنْهُ فَاجْتَنِبُوهُ وَمَا أَمَرْتُكُمْ بِهِ فَافْعَلُوا مِنْهُ مَا اسْتَطَعْتُمْ

“ Apa-apa yang aku cegah atas kalian maka jauhilah (tinggalkanlah), dan apa-apa yang aku perintahkan pada kalian kerjakanlah semampu kalian “ (HR. Bukhori Muslim)

Dalam hadits diatas Rosululloh Saw tidak mengatakan :وما تركته فاجتنبوهdan apa-apa yang aku tinggalkan maka jauhilah. Lantas dari mana At Tark dijadikan kaedah larangan.

4. Para Ulama’ Ushul mendefisikan Sunnah adalah : Perkataan, Perbuatan, dan atau Ketetapan Rosululloh Saw. Dan mereka tidak mengatakan At Tark (apa yang ditinggalkan Nabi Saw) termasuk Sunnah. Karena At Tark tidak menunjukan apa-apa kecuali kebolehan tidak melakukan perkara yang ditinggalkan Nabi Saw.

5. Sumber hukum dalam Islam yang disepakati adalah Al Qur’an dan As Sunnah, sedang Jumhur ulama menambahkannya dengan Ijma’ dan Qiyas. Lantas apakah At Tark adalah salah satu dari sumber hukum Islam untuk menetapkan keharaman atau kemakruhan sesuatu? Tentu tidak.

6. Sebagaimana yang telah kami sampaikan diatas, bahwa ditinggalkannya sebuah perkara oleh Rosululloh Saw maupun para sahabat memiliki banyak kemungkinan sebagai penyebabnya. Boleh jadi para sahabat (sepeninggal Rosululloh) meninggalkan atau tidak mengerjakan sesuatu karena memang sebuah Ijma’, atau karena kesepakatan bahwa hal tersebut tidak boleh, atau karena mereka menganggap ada hal lain yang lebih baik, atau ada sebab-sebab lain. Lantas apakah perkara yang memiliki banyak kemungkinan (at tark) dapat dijadikan dalil untuk menetapkan kemakruhan atau keharaman? Fa Taammal !!!

7. At Tark adalah ashal, karena asal dari sesuatu adalah tidak ada. Maka At Tark tidak dapat membuktikan (dijadikan dalil) terlarangnya sesuatu. Fa Taammal Kay La Takhsar !!!

Catatan : Penulis tidak mengingkari orang yang meninggalkan perkara yang tidak pernah dilakukan Rosululloh Saw dengan alasan Ittiba’, bahkan hal tersebut merupakan kebaikan. Namun mengharamkan apa yang ditinggalkan atau tidak dilakukan Rosululloh Saw dan Salaf as Sholih tanpa adanya dalil yang melarangnya adalah sebuah kedustaan atas nama agama.

BACA :  Awas, Pedofilia Mengancam Negeri Kita

 

 *****

 

Selanjutnya segala apa yang ditinggalkan atau tidak dikerjakan Rosululloh Saw, sampai wafatnya beliau secara garis besar para Ulama membagi dalam dua macam :

– Perkara yang ditinggalkan Rosululloh Saw karena tidak ada hal yang mendorong untuk melakukannya, namun setelah wafatnya Rosululloh Saw didapati pendorong/penyebab yang menghendaki untuk melakukannya. Hal semacam ini pada dasarnya boleh selama tidak menyalahi dalil-dalil nash. Contoh : Penghimpunan Mushaf pada masa Kholifah Abu Bakar RA, Penambahan adzan jum’ah pada masa Kholifah Utsman RA, dan yang lain.

– Perkara yang ditinggalkan / tidak dikerjakan Rosululloh Saw padahal ada faktor yang mendorong untuk melakukannya, dalam hal ini ada dua sebab:

a. Tidak adanya kemaslahatan syar’i dalam perkara tersebut. Maka dalam hal yang demikian hukumnya terlarang.
b. Adanya madhorot yang lebih besar dari pada kemaslahatannya, seperti jamaah solat tarowih, namun ketika madhorotnya (yakni khawatir diwajibkan) hilang sehingga hanya tinggal manfaatnya, hal tersebut dapat dilakukan.

Sebelum kita sampai pada kesimpulan tentang At Tark berikut kami kutipkan sebuah kisah dari Abdulloh bin Al Mubarok yang dituturkan oleh Sayyid Al Ghummari dalam kitabnya (Husnut Tafahhumi Wad Darki Li Mas-alatit Tarki) :

قال عبد الله بن المبارك: أخبرنا سلام بن أبي مطيع عن ابن أبي دخيلة عن أبيه قال: كنت عند ابن عمر فقال: “نهى رسول الله عن الزبيب والتمر يعني أن يخلطا”. فقال لي رجل من خلفي ما قال؟ فقلت: “حرم رسول الله صلى الله عليه وسلم التمر والزبيب” فقال عبد الله بن عمر: “كذبت”! فقلت: “ألم تقل نهى رسول الله صلى الله عليه وسلم عنه؟ فهو حرام” فقال: “أنت تشهد بذلك؟” قال سلام كأنه يقول: ما نهى النبي صلى الله عليه وسلم فهو أدب.

Abdulloh bin Al Mubarok berkata : Telah menceritakan kepadaku Salam bin Abi Muthi’ dari Ibnu Abi Dakhilah dari ayahnya, ia berkata : “ Aku berada disisi Abdulloh bin Umar, maka ia (Ibnu Umar) berkata : “ Rosululloh melarang korma dan kismis yakni mencampur keduanya “. Maka seorang lelaki dibelakangku bertanya : “ Apa yang telah disampaikan Ibnu Umar ?” Maka aku menjawab :” Rosululloh Saw mengharamkan mencampur korma dengan kismis “. Maka Abdulloh bin Umar berkata : “ Kamu berdusta!”. Akupun bertanya : “ Bukankah anda mengatakan bahwa Rosululloh Saw melarang mencampur korma dengan kismis? Maka itu berarti haram” Ibnu Umar RA berkata : “ Apa engkau (berani) bersaksi akan hal itu ?”. Salam berkata : “ Seakan-akan Abdulloh bin Umar berkata bahwa apa yang dilarang Nabi Saw adalah adab (makruh).

Coba perhatikan sikap Abdulloh bin Umar RA salah satu Fuqoha-us Shohabah, dimana beliau menganggap dusta orang yang menafsirkan Nahi dengan Haram, padahal dalam ushul fiqih asal dari Nahi adalah Haram meskipun tidak shorih, namun terkadang Nahi juga bisa berindikasi Makruh.

 

Kesimpulan Tentang At Tark :

• Perkara yang ditinggalkan Rosululloh saw maupun para sahabat tidak otomatis menunjukkan perkara tersebut makruh atau haram, kecuali ada dalil yang menetapkan kemakruhan atau keharaman perkara tersebut.

• At Tark yakni ditinggalkan dan atau tidak dilakukannya sebuah perkara, bukanlah landasan hukum untuk memakruhkan atau mengharamkan perkara tersebut.

• Terhadap perkara baru, tidak langsung dapat divonis sesat atau haram sebelum diuji dengan dalil-dalil yang menjadi landasan agama yakni; Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ dan Qiyas.

• Ungkapan “ Lau Kaana Khoiron Lasabaquunaa Ilaihi “ bukanlah sumber hukum bukan pula kaedah ushul untuk menetapkan kemakruhan atau keharaman suatu perkara. Memaksakan diri memakai ungkapan ini sebagai dasar untuk mengharamkan suatu perkara hanya akan menimbulkan fitnah bagi ajaran Islam.

Disarikan dari Kitab “ Husnu At Tafahhum Wa Al Darki Li Masalai Al Tarki “ karya Sayyid Abdulloh bin As Siddiq Al Ghumari Al husaini. Tak lupa mohon koreksi atas segala kesalahan, terima kasih sebelumnya.

 

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

120 thoughts on “Sembuhkan Virus Wahabi Dengan Memahami At Tark Secara Benar”

    1. Assalamualaikum…..Agan Admin, makasih ulasannya, sangat jelas dan saya jadi tambah ilmu.

      Dari penjelasan postingan di atas maka jelas terlihat kesalahan2 dasar dari pemahaman kaum wahabi. Tapi saya sendiri tidak yakin penjelasan di atas walaupun sedemikian jelas akan mampu menyadarkan mereka.

      Meskipun memang terbukti salah melulu pemahaman Wahabi,kalau diperingatkan mereka terkenal keras kepala dan hatinya, Jadi tdak mempan dinasehati atau diperingatkan. Tak heran kalau selama ini mereka menjadi fitnah di dalam Islam.

      Anehnya mereka merasa benar2 normal pemahamannya, kwk kwk ….

  1. Maaf…. saya cuma mau bilang: SYUKRON atas potingan ini. Nanti akan saya prit untuk saya tunjukkan ke teman saya yg terkena virus Wahabi.

    lagi saya infokan, lagu2 yg menjadi backgroud web ini enak2 di telinga saya terus terang saya suka. terima kasih.

  2. Assalamualaikum…

    semangaatttttt…….. kupas tuntas yg dijadikan dalil oleh wahabi yg akhirnya menyesatkan umat…. terus maju dan kedepankan Ahlak ….itulah aswaja sejati…..bikaromah wa bi syafaati sayidina muhammad wa bikaromati aulia illah wabil khusus jiddana pangeran achmad djaketra wa syarief hidayatulloh … yaaa robb… hasil maqosidana..hasil maqosidana…dan mudah2an ini blok selalu terpancarkan cahaya2 keimanan, cahaya2 taufiq, cahaya2 hidayah, cahaya2keberkahan dan cahaya kebahagian …bagi seluruh umat nya baginda nabi mulya Muhammad SAW …. dan semoga anak keturunan kita tidak mudah disesatkan dan selalu memegang panji2 kecintaan kepada Allah dan kekasihnya sayidina Muhammad SAW..yaitu mengikuti ulama2 ahlusunah wal jamaah … hanya doa yg dapat alfaqir tuangkan mudah2an kita smua dalam ajal kita kelak dengan ijin Allah dapat mengucapkan laa ilahaillawloh muhammad rosululloh dan dihadiri oleh rosululloh ….amin

    salam
    Naufal …

    1. Mana mau ngerti dan membaca para pengikut Salafy mereka sudah taqlid dng ajaran para Ust mereka kagak bakalan bisa sebab masih belum terjangkau cara berpikir mereka sedangkan Imam mereka sendiri mengKafirkan Para Ulama Islam 7 😈 00 Tahun sebelumnya .Jadi pasti mereka yang paling benar ….pastinya

  3. makasih artikelnya, sangat bagus dan menambah wawasan ilmu saya setelah baca ini.

    rekan2 Wahabi / Salafi kalau ada artikel yg semacam ini yg ngupas tuntas masalah kekeliruan paham mereka kok pada gak berani muncul ya? Apakah karena nggak mampu membantahnya sehingga diam aja, atau karena apa ya?

  4. Maaf semuanya, setahu saya pokoknya kalau tidak ada contoh dari Nabi dan Sahabat masuk dalam bid’ah, bid’ah semuanya sesat, gitu aja kok repot?

    kalau nuntut ilmu yg jelas2 aja, jangan yg mbulet seperti di artikel ini. Ruwet spt benang kusut.

    1. @jom
      Kata-kata itulah pertanda adalah orang yang gak mau belajar dan berguru. Kalau naik mobil, pakai sejadah, kan gak dilakukan oleh Rasulullah saw dan sahabat2.
      Janganlah berpikiran kerdil, jaman 2-3 H, kaum muslimin banyak menemukan teknologi, kenapa orang kafir yang menjadikan al qur’an dan sunah sebagai dasar penemuan teknologi.
      Contoh : Sykorsky (penemu helikopter) mengambil ayat al qur’an : “Tirulah burung yang terbang dilangit”. (Baca riwayat hidup sykorsky)
      Kalau seperti ente berpikir, makanya kaum muslimin sekarang gak maju-maju, tetap aja dijajah Yahudi dan Kafir lainnya.

      1. contohlah nabi dan sahabat dalam dien/agama islam nya dan ikutilah semua yg dicontohkanya.. Islam telah sempurna,,, (jangan lakukan bid’ah dalam agama) … hanya orang bodoh yg mengatakan mobil/motor/ atau selain syariat itu bid’ah.. beda…sangat bedaa.. bid’ah yg dimaksud dalam lingkup islam lho.. islam ituh dah sempurna.. klo menambahkan berarti menuduh nabi bohong tentang islah yang sempurna..

        1. @Salaf

          Al-Hafidh Muhammad bin Ahmad Al-Qurtubiy rahimahullah berkata: “Menanggapi ucapan ini (ucapan Imam Syafi’i), maka kukatakan (Imam Qurtubi berkata) bahwa makna hadits Nabi saw yg berbunyi: ‘seburuk buruk permasalahan adalah hal yg baru, dan semua Bid’ah adalah dhalalah’ (wa syarrul umuuri muhdatsaatuha wa kullu bid’atin dhalaalah), yang dimaksud adalah hal-hal yang tidak sejalan dengan Alqur’an dan Sunnah Rasul saw., atau perbuatan Sahabat radhiyallahu ‘anhum, sungguh telah di perjelas mengenai hal ini oleh hadits lainnya: ‘Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barang siapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosa dan dosa orang yg mengikutinya’ (Shahih Muslim hadits no.1017–red) dan hadits ini merupakan inti penjelasan mengenai bid’ah yang baik dan bid’ah yang sesat”. (Tafsir Imam Qurtubiy juz 2 hal. 87)

        2. @Salaf

          Banyak sekali para Imam dan ulama pakar yang sependapat dengan Imam Syafi’i itu. Bahkan banyak lagi yang menetapkan perincian lebih jelas lagi seperti Imam Nawawi, Imam Ibnu ‘Abdussalam, Imam Al-Qurafiy, Imam Ibnul-‘Arabiy, Imam Al-Hafidh Ibnu Hajar dan lain-lain.

          Al-Muhaddits Al-Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf Annawawiy rahimahullah (Imam Nawawi) “Penjelasan mengenai hadits: ‘Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikit pun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yang dosanya….’, hadits ini merupakan anjuran untuk membuat kebiasaan-kebiasaan yang baik, dan ancaman untuk membuat kebiasaan yang buruk, dan pada hadits ini terdapat pengecualian dari sabda beliau saw: ‘semua yang baru adalah Bid’ah, dan semua yang Bid’ah adalah sesat’, sungguh yang di maksudkan adalah hal baru yang buruk dan Bid’ah yang tercela ” . (Syarh An-nawawi ‘ala Shahih Muslim juz 7 hal 104-105)

          Dan berkata pula Imam Nawawi “ bahwa Ulama membagi bid’ah menjadi lima bagian, yaitu bid’ah wajib, bid’ah mandub, bid’ah mubah, bid’ah makruh dan bid’ah haram.

        3. @Salaf

          Menurut Al-Hafidh Ibnu Hajar dalam kitabnya Fathul Baari 4/318 sebagai berikut: “Pada asalnya bid’ah itu berarti sesuatu yang diadakan dengan tanpa ada contoh yang mendahului. Menurut syara’ bid’ah itu dipergunakan untuk sesuatu yang bertentangan dengan sunnah, maka jadilah dia tercela. Yang tepat bahwa bid’ah itu apabila dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap baik menurut syara’, maka dia menjadi baik dan jika dia termasuk diantara sesuatu yang dianggap jelek oleh syara’, maka dia menjadi jelek. Jika tidak begitu, maka dia termasuk bagian yang mubah. Dan terkadang bid’ah itu terbagi kepada hukum-hukum yang lima”.

          Pendapat beliau ini senada juga yang diungkapkan oleh ulama-ulama pakar berikut ini:
          Jalaluddin as-Suyuthi dalam risalahnya Husnul Maqooshid fii ‘Amalil Maulid dan juga dalam risalahnya Al-Mashoobih fii Sholaatit Taroowih; Az-Zarqooni dalam Syarah al Muwattho’; Izzuddin bin Abdus Salam dalam Al-Qowaa’id; As-Syaukani dalam Nailul Author; Ali al Qoori’ dalam Syarhul Misykaat; Al-Qastholaani dalam Irsyaadus Saari Syarah Shahih Bukhori,

        4. @Salaf

          Al-Izz bin Abdis Salam, Imam Nawawi dan Ibnu Atsir ra. serta para ulama lainnya menerangkan: “Bid’ah/masalah baru yang diadakan ini bila tidak menyalahi atau menyimpang dari garis-garis syari’at, semuanya mustahab (dibolehkan) apalagi dalam hal kebaikan dan sejalan dengan dalil syar’i adalah bagian dari agama”.

        5. @Salaf

          Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya Iqtidha’us Shiratil-Mustaqim banyak menyebutkan bentuk-bentuk kebaikan dan sunnah yang dilakukan oleh generasi-generasi yang hidup pada abad-abad permulaan Hijriyyah dan zaman berikutnya.

          Diantara kebajikan yang disebutkan oleh beliau dalam kitabnya itu ialah pendapat Imam Ahmad bin Hanbal diantaranya: Mensunnahkan orang berhenti sejenak disebuah tempat dekat gunung ‘Arafah sebelum wukuf dipadang ‘Arafah bukannya didalam masjid tertentu sebelum Mekkah , mengusap-usap mimbar Nabi saw. didalam masjid Nabawi di Madinah, dan lain sebagainya.

          Ibnu Taimiyyah membenarkan pendapat kaum muslimin di Syam yang mensunnahkan shalat disebuah tempat dalam masjid Al-aqsha (Palestina), tempat khalifah Umar dahulu pernah menunaikan sholat. Padahal sama sekali tidak ada nash mengenai sunnahnya hal-hal tersebut di atas. Semua- nya hanyalah pemikiran atau ijtihad mereka sendiri dalam rangka usaha memperbanyak kebajikan, hal mana kemudian diikuti oleh orang banyak dengan i’tikad jujur dan niat baik.

          1. wah kalo Ibnu Taimiyah sendiri banyak menghalalkan bid’ah, gimana ini sich. saya khuatir, jangan-jangan kaum Salafi yang sering menanyakan sanad itu, ga pernah punya sanad sampe kepada Ibnu Taimiyah. karena, banyak juga bid’ah yang dipuji Ibnu Taimiyah itu ditantang dan dicela oleh kaum Salafi sendiri.

        6. @Salaf

          Imam Jalaluddin Abdurrahman Assuyuthiy rahimahullah berkata: ”Mengenai hadits ‘Bid’ah Dhalalah’ ini bermakna ‘Aammun makhsush’, [sesuatu yang umum yang ada pengecualiannya]

      2. @salaf
        Tolong dong baca dari koment temen ente “Maaf semuanya, setahu saya pokoknya kalau tidak ada contoh dari Nabi dan Sahabat masuk dalam bid’ah, bid’ah semuanya sesat, gitu aja kok repot?”
        kata-kata “Bid’ah semuanya sesat”. Kalau ente hebat tolong jelasin kata bid’ah yang sebenarnya menurut WAHABI yang jago bermain kata-kata

    2. Saudaraku Jom, sabar akhi. Jangan emosi ya?

      Anda sudah pernah denga bahwa Imam Bukhori setiap akan menulis satu hadits selalu melakukan sholat 2 rokaat, ini tidak ada contohnya dari Nabi dan sahabat lho, apakah Imam Bukhori termasuk Ahlul Bid’ah dan akan masuk neraka?

    3. Bismillah,

      Saudaraku @Jom, sebaiknya permintaan maaf anda ditujukan pada diri anda sendiri, karena demi kesetiaan anda pada faham sempit salafi anda rela membiarkan diri anda dalam kebodohan yang menjebak diri anda dalam mengkafirkan sesama saudara muslim…

  5. Assalamualaikum, saya minta contoh amalan Bid’ah Dholalah (yang tidak boleh dikerjakan), biar saya semakin Faham, karena isu yang beredar semua Bida’ah sesat. Mohon contoh minimal 3 aja bid’ah yang Sesat. Jazakumulloh….
    Wassalamualaikum wwb.

    1. @Achmad

      Contoh bid’ah yg sesat :

      1. Berkeyakinan bahwa Allah swt. itu bersemayam di ‘Arasy, memiliki wajah dsb.
      2. Mengaku atau berkeyakinan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad saw.
      3. Mengharamkan Tawassul

  6. Bismillah,

    mas @Ahmad, sejauh yang kami ketahui, sesuatu yang baru itu di anggap bid’ah dholalah jika terdapat kriteria sbb;

    – jika ia berupa kebaikan, maka cirinya adalah keberadaannya menyelisihi sumber hukum, yakni al qur’an, as sunnah, ijma’ dan qiyas seperti sholat dengan pakian ghosab, menetapkan arah kiblat sholat pada selain qiblat yang disyari’atkan, kelompok “Wihdatul Wujud” yang menghalalkan menerjang syari’at (meninggalkan yang wajib dan mengerjakan yang dilarang) jika telah sampai pada maqom tertentu atau yang juga disebut sebagi kelompok “Ibahiyyun”, dll.

    – jika keberadaan tersebut adalah berupa tradisi yang sama sekali tidak terdapat ketetapan dalam agama, maka perkara tsb menjadi bid’ah Madzmumah/ Sayyiah ketika dinisbatkan kepada Syari’ dan dianggap sebagai tuntnan agama. Contoh : Tradisi tingkepan (upacara 7 bulan usia kehamilan), jika penetapan waktu upacara tersebut dianggap sebagai ketetapan Syari’ah yang berhubungan dengan Tsawab (pahala) atau ‘Iqob (siksa), maka ia bisa menjadi Bid’ah Sayyiah / Dholalah, namun jika melaksanakan tradisi tsb hanya sebagai tradisi semata, yang tidak terkait dengan Pahala maupun Dosa, maka tidak dianggap Bid’ah Dholalah.. Hal ini juga berlaku untuk tradisi-tradisi yang lain yang tidak terdapat sumbernya dari agama, semisal peringatan 17 agustus, atau Pekan Syeh Muhammad bin Abdil Wahab di Saudi, dll (sebagaimana yang pernah kami sampaikan, dalam tradisi tingkepan yang diajarkan oleh agama adalah do’a dan sedekahnya yang menjadi isi dari tradisi tsb, sedangkan penetapan waktunya hanyalah tradisi semata dan tidak boleh dianggap sebagai tuntunan agama).

    Bid’ah dengan kriteria kedua sebagaimana kami jelaskan diatas, banyak terjadi khilafiyah (perbedaan pendapat para Ulama) berkaitan dengan perbedaan mereka mengenai status sebuah hadits, cara mensikapi hadits yang dianggap dho’if, Contoh; Sholat dengan cara khusus pada jum’at pertama bulan Rojab dan pada malam Nishfu Sya’ban. pada dua contoh tersebut para Ulama’ yang menganggap hadits yang dijadikan sandaran adalah hadits maudhu’ (palsu) mereka menganggap bid’ah dholalah pada dua sholat tsb, sedang para Ulama’ yang menilai hadits yang dijadikan sandaran dua contoh diatas adalah hadits dho’if yang tidak sampai pada derajat Maudhu’ mereka memperbolehkan mengamalkannya dengan alasan ‘Fadhoilul A’mal”.

    Wallohu a’lam

  7. Jazakalloh Pak Abu Hilya, Afwan saya banyak nanya nich biar virusnya bener2 bersih, saya mau nanya lagi: At Tark itu kan bukan perintah dan bukan larangan, jadi kalo kita mengerjakanya jatuhnya pada hukum apa? apa sunnah, mubah atau apa? terus jika kita mengerjakanya apakah mendapat pahala? Makasih sebelumnya.

    1. Bismillah,

      mas @Ahmad, Mengerjakan perkara yang ditinggalkan dan atau tidak pernah dilakukan oleh Rosululloh saw, ada dua macam :

      – Jika ia berupa qurbah mahdhoh (Ibadah yang ketentuan pelaksanaannya telah ditetapkan oleheh syara’, baik waktu, tempat, caranya) semisal sholat, puasa Romadhon, zakat fitrah, hajji maupun yang lain maka hukumnya tidak boleh, seperti menjama’ (menggandeng) sholat ashar dengan maghrib, atau mengqoshor sholat maghrib, atau berhaji tidak di Baitulloh, menyerahkan zakat kepada orang kaya, berpuasa dihari syak dan tasyrik, atau yang lain. dan ini jika dilakukan termasuk bid’ah dholalah/sesat.

      – jika ia berupa ibadah yang ketentuan pelaksanaannya tidak ditetapkan syara’, maka ketidak bolehannya dibatasi pada hal-hal yang dicegah oleh syara’. contoh membaca sholawat, berdzikir, membaca al qur’an, dimana agama tidak menetapkan kapan waktu kita harus berdzikir, membaca al qur’an, ber sholawat, dan agama juga tidak menetapkan apakah harus dilakukan berjama’ah atau sendiri-sendiri, maka ibadah semacam ini ketidak bolehannya hanya ketika dilakukan pada hal-hal yang dilarang agama, semisal baca al qur’an di kamar mandi atau tempat-tempat kotor yang lain, membaca al qur’qn dengan maksud pamer dll. dan juga terhadap Ibadah jenis ini (Ibadah yang sandaran hukumnya berupa nash-nash yang bersifat umum) kita tidak diwajibkan mencontoh persis sebagaimana yang telah dicontohkan Rosululloh saw, sehingga tidak wajib bagi kita berdzikir sejumlah dzikir Rosululloh, membaca al qur’an ditempat atau diwaktu yang sama dengan Rosululloh membaca al qur’an, bersedekah sejumlah sedekah yang dikeluarkan Rosululloh saw. namun jika kita berupaya mencontoh Rosululloh dalam hal ini adalah kebaikan yang agung.

      – Jika ia berupa perkara yang tidak masuk kategori Ibadah atau kebajikan, maka hukumnya memandang Maqoshid atau tujuannya, jika tujuannya adalah perkara yang di wajibkan agama, maka wajib pula hukumnya, jika tujuannya perkara yang di haramkan agama, maka haram pula hukumnya, dst..

    2. Bismillah,

      mas @Ahmad, Kesimpulannya adalah :

      sebagaimana yang pernah kami sampaikan, perkara baru yang dilakukan oleh seseorang tidak otomatis dihukumi haram harus ditinjau dulu obyek perkaranya, selanjutnya diuji dengan dalil-dalil yang sudah ditetapkan, baik dalil yang bersifat Umum maupun Husus, baru dapat diketahui apakah perkara tersebut baik (berpahala) atau buruk (berdosa) atau hanya mubah (tiada pahala maupun dosa terkait dengannya) atau mekruh, atau sunnah

      wallohu a’lam

  8. saya baca bahasan ini kok ruwet ya?
    kalo saya tinggalkan amalan2 yg diributkan ini lalu saya fokus hanya pada amalan2 yg tdk diributkan (toh banyak jenisnya bhkn bnyak yg blm saya kerjakan) apakah saya berdosa pak ustadz?

    1. Bismillah,

      mas @dakir, sebagaimana yang anda ketahui, ternyata tidak mudah menghukumi sebuah amalan apakah ia baik atau buruk, apakah ia bid’ah sesat atau bukan…oleh karenanya mari kita fokus pada amaliah kita masing-masing dengan hujjah masing-masing tanpa saling menghujat, menuduh amalan orang lain sesat, syirik dsb.

      Ketika anda meninggalkan amalan yang menurut anda adalah bid’ah sesat maka anda telah menetapkan pilihan yang benar, namun ketika anda melempar tuduhan bid’ah sesat terhadap amalan orang lain yang juga memiliki hujjah, ini yang menjadi fitnah…

      1. cocok…
        lha kalo kebalikannya, orang yang semanngat pd amalan2 yg diributkan tadi, tapi pd amalan2 yg disepakati kebaikannya malah ditinggalkan.
        conth:
        1. kl ada org meninggal (asal keluarganya mau) selalu membacakan alquran sampe katam dan baca tahlilan, pdhal bacaannya masih bnyk salah,
        2. dan tdk mau belajar alquran lagi untk membenarkan bacaannya dan memahami maksudnya.
        bgmn orang spt baik ato buruk mas ustadz?

        1. dakir tukang jam, eh tukang elektronik, hehe he…. kalau tuakng jam sih itu syekh Albani atuh?

          kang dakir, apa yg antum katakan itulah su’udzon, su’udzon itulah sumber munculnya fitnah. Sebagaimana Syaikh Muhammad bin AW yg su’udzon kepada kaum muslimin dan para Ulama Ahlussunnah Wal jamaah zaman itu, sehingga main potong leher karena dikiranya musyrik. Itulah dosa2 terbesar dari kaum zaman dahulu…. dan akan selalu dilakukannya jika punya kesempatan….. Karena itu memang ajaran wahabi.

          1. Maksudnya fitnah Tanduk Setan dari Nejed ya? seperti berdusta atas lafat KULLU, mencela ijtihad yang divonis bid’ah dholalah, mendakwa Tauhid 3 bukan bid’ah, etc… begitu kang?

          2. Setuju 100 persen, apa yang dikatakan kang juman, itulah wahabi sekte yg diperalat kaum zionis untuk mengadu domba dan menghancurkan Islam dari dalam.

            sekte yang demi kekuasan dan duniawi(dinasti saud) serta kaki tangannya di Indonesia dan negara2 muslim lainnya maka rela umat Islam menjadi miskin dan bodoh demi fulus.

          3. JUMAN TUKANG NGACO..(krn cengengesan, mengalihkan masalah ke yg lain).
            su’uzhonnya yg mana thole..? saya hnya bertanya disertai contoh gambaran perbuatan.
            justru perhatikan kata2mu:
            tulah dosa2 terbesar dari kaum zaman dahulu…. dan akan selalu dilakukannya jika punya kesempatan….. Karena itu memang ajaran wahabi.

            Read more: http://ummatipress.com/2012/10/19/sembuhkan-virus-wahabi-dengan-memahami-at-tark-secara-benar/#ixzz2AAVTg9e5

          4. kang dakir tukang Jam, eh elektronik, jangan emosian kang nanti cepat tua lho?

            Coba simak kata2 antum ini :

            1. kl ada org meninggal (asal keluarganya mau) selalu membacakan alquran sampe katam dan baca tahlilan, pdhal bacaannya masih bnyk salah,

            2. dan tdk mau belajar alquran lagi untk membenarkan bacaannya dan memahami maksudnya.
            bgmn orang spt baik ato buruk mas ustadz?

            Apakah itu bukan Su’udzon namanya? Padahal setahu saya mereka memiliki ilmu tajwid yg benar.

            Mengenai sejarah hitam Wahabi yg berkubang darah kaum muslimin adalah fakta sejarah, silahkan kalau antum mengingkarinya bukan masalah buat saya. Menumpahkan darah kaum muslimin adalah dosa2 terbesar: “Tidak halal darah seorang muslim yang telah bersaksi bahwa “Tiada tuhan yang berhak untuk disembah selain Allah dan aku adalah utusan Allah”, kecuali satu dari tiga orang berikut ini; seorang janda yang berzina, seseorang yang membunuh orang lain dan orang yang keluar dari agamanya dan meninggalkan jama’ah” (shohih muslim)

            Simak juga hadits ini yg merupakan gambaran kerjaan Wahabi yg suka mempermasalahkan amal-amal shalih kaum muslimin:

            قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ
            أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ
            (صحيح البخاري)
            Sabda Rasulullah saw :
            “Sebesar – besar kejahatan muslimin (pada muslim lainnya) adalah yang mempermasalahkan suatu hal yang tidak diharamkan, namun menjadi haram sebab ia mempermasalahkannya (Shahih Bukhari)

        2. Bismillah,

          Kang@dakir, kalo bacaan qur’an seseorang salah akibat keterbatasannya,apa pasti ia tidak mendapat pahala dari bacaannya?…

          sadarilah pembagian pahala bukanlah hak kita, apa anda sudah mendapat mandat untuk menerima atau menolak amalan seseorang?

          1. ustadz sptnya salah memahami. saya tdak mengatakan amalan org itu tertolak, ato diterima. saya hanya bertanya bgmn keadaan org yg saya contohkan diatas?
            yaitu org yg semangat dlm amalan yg “diributkan” (mksdnya yg diperselisihkan) yaitu membckan alquran sampe katam dlm acara kematian, dan tdak memperdalam mempelajari alquran baik bacaan maupun maknanya (pdhal bukankah ini disepakati akan kebaikannya?)

          2. Bismillah,

            kang @dakir, amalan yang terjadi khilaf para ulama dalam mensikapinya, tidak otomatis salah untuk mengamalkannya, justru kesalahannya terletak pada saat kita meributkan atau mempermasalahkan amalan orang lain…

  9. @Dakir
    Bagaimana kalau misalnya yang melakukan hal tersebut dari jajaran ulama. Contoh keluarga Prof. Dr. Quraish Shihab dan keluarganya ketika ada kerabanya yang meninggal. Kemudaian Prof. Quraish Shihab memimpin membaca Quran sampai khatam, baca tahlil, dll. Apakah Anda akan mempersoalkan juga? Mohon jawab yang jujur. Sebenarnya yang meributkan itu siapa sih?

  10. @Dakir tukang elektronik
    Diatas anda berkata : org yg semangat dlm amalan yg “diributkan” (mksdnya yg diperselisihkan) yaitu membckan alquran sampe katam dlm acara kematian

    Apakah benar amalan itu diributkan seperti perkataan saudara. Berikut sedikit penjelasan dari kami :
    Hadits tentang wasiat Ibnu Umar ra yang tertulis dalam syarah Aqidah Thahawiyah hal. 458:
    “Dari Ibnu Umar ra: “Bahwasanya beliau berwasiat agar di atas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awal-awal surat al-Baqarah dan akhirnya..”.

    Hadits ini menjadi pegangan Muhammad bin Hasan dan Imam Ahmad bin Hanbal padahal Imam Ahmad ini sebelumnya termasuk orang yang meng- ingkari sampainya pahala amalan dari orang yang hidup pada orang yang telah mati. Namun setelah beliau mendengar dari orang-orang kepercayaan tentang wasiat Ibnu Umar ini beliaupun mencabut pengingkarannya itu (Mukhtasar Tazkirah Qurtubi hal. 25).
    Hadits dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulallah saw.bersabda: ”Jika mati seorang dari kamu, maka janganlah kamu menahannya dan segeralah mem- bawanya kekubur dan bacakanlah Fatihatul Kitab disamping kepalanya”. (HR. Thabrani dan Baihaqi)

    Abu Hurairah ra.meriwayatkan bahwasanya Nabi saw. bersabda:
    “Barangsiapa yang berziarah di kuburan, kemudian ia membaca ‘Al-Fatihah’, ‘Qul Huwallahu Ahad’ dan ‘Alhaakumut takatsur’, lalu ia berdo’a Ya Allah, kuhadiahkan pahala pembacaan firman-Mu pada kaum Mu’minin dan Mu’minat penghuni kubur ini, maka mereka akan menjadi penolong baginya (pemberi syafa’at) pada hari kiamat”.

    Abu Hurairah ra.meriwayatkan bahwasanya Nabi saw. bersabda:
    “Barangsiapa yang berziarah di kuburan, kemudian ia membaca ‘Al-Fatihah’, ‘Qul Huwallahu Ahad’ dan ‘Alhaakumut takatsur’, lalu ia berdo’a Ya Allah, kuhadiahkan pahala pembacaan firman-Mu pada kaum Mu’minin dan Mu’minat penghuni kubur ini, maka mereka akan menjadi penolong baginya (pemberi syafa’at) pada hari kiamat”.

    Imam Sya’bi mengatakan: ‘Orang-orang Anshor jika ada diantara mereka yang wafat, maka mereka berbondong-bondong kekuburnya sambil membaca Al-Qur’an disampingnya (kuburan nya)’

    Imam Nawawi dalam Syahrul Muhadzdzib mengatakan: ‘Disunnahkan bagi orang yang berziarah kekuburan membaca beberapa ayat Al-Qur’an dan berdo’a untuk penghuni kubur’.

    Menghadiahkan Fatihah, atau yaasiin, dan lain – lain, itu semua sampai kepada Mayyit, dengan nash yang jelas dalam Shahih Muslim hadits No.1149, bahwa “seorang wanita bersedekah untuk ibunya yang telah wafat dan diperbolehkan oleh Rasul saw”, dan adapula riwayat Shahihain Bukhari dan Muslim bahwa “seorang sahabat meng-hajikan untuk ibunya yang telah wafat”, dan Rasulullah saw pun menghadiahkan Sembelihan Beliau saw saat Idul Adha untuk dirinya dan untuk ummatnya, “Wahai Allah terimalah sembelihan ini dari Muhammad dan keluarga Muhammad dan dari Ummat Muhammad” (Shahih Muslim hadits No.1967).

    Dan hal ini (pengiriman amal untuk mayyit itu sampai kepada mayyit) merupakan Jumhur ulama seluruh madzhab dan tak ada yang memungkirinya apalagi mengharamkannya, dan perselisihan pendapat hanya terdapat pada madzhab Imam Syafi’i, bila si pembaca tak mengucapkan lafadz : “Kuhadiahkan”, atau wahai Allah kuhadiahkan sedekah ini, atau dzikir ini, atau ayat ini..”, bila hal ini tidak disebutkan maka sebagian Ulama Syafi’iy mengatakan pahalanya tak sampai.

  11. tanggapan utk semuanya (mdh2n mencukupi).
    1. contoh yg saya tulis adalah kisah nyata yg saya saksikan (jd bkn su’udzon thole juman, dan kamu tdk th keadaan org yg saya contohkan itu), perhatikan to thole, kebencianmu pada wahhaby membuat kamu gak jernih dlm menelaah perkataan org,dan saya gak ada urusan dng kesalahan2 yg kamu tuduhkan kpd wahhaby kl mmg benar yg kamu katakan ttg wahhaby, apa urusannya dng saya?.
    2. maaf ustadz, jwbn ustadz serasa “mbulet”. (cb ustadz perhatikan baik2 pertanyaan saya.)
    3. bima, gak usah bw2 prof. quraisy syihablah, saya ulang pertanyaan saya dng redaksi yg lain,
    SAYA SAKSIKAN ADA ORANG YG BACAANNYA BANYAK SALAH, (bkn su’uzhon) DIA RAJIN DNG AMALAN YG TLH SAYA SEBUTKAN. TETAPI DIA MENINGGALKAN (kesan yg saya tangkap, dia merasa cukup dng kemampuannya td) UNTUK MEMBETULKAN BACAANNYA.
    PERTANYAAN: BGMN “ORG SPERTI INI”? (BKN bgmn UST. QURAISYI SHIHAB….dst)

    4. ust agung, apa yg ustd sampaikan itu saya baca bnyk yg membantahnya. (jng minta saya untk sebutkan ya, krn saya gak hafalin tempat2nya, tp siapa saja yg mau googling pst ketemu). itulah maksud dr kata “yg diributkan” td.
    dan saya tidak bisa pastikan mana yg pasti benar. makanya saya bertanya dng pertanyaan diatas.

  12. @Dakir berkata :
    3. bima, gak usah bw2 prof. quraisy syihablah, saya ulang pertanyaan saya dng redaksi yg lain,
    SAYA SAKSIKAN ADA ORANG YG BACAANNYA BANYAK SALAH, (bkn su’uzhon) DIA RAJIN DNG AMALAN YG TLH SAYA SEBUTKAN. TETAPI DIA MENINGGALKAN (kesan yg saya tangkap, dia merasa cukup dng kemampuannya td) UNTUK MEMBETULKAN BACAANNYA.
    PERTANYAAN: BGMN “ORG SPERTI INI”? (BKN bgmn UST. QURAISYI SHIHAB….dst)

    Oh …. kok menuduh orang pake kata “kesan saya”.Kamu sudah tanya bahwa “DIA MENINGGALKAN (kesan yg saya tangkap, dia merasa cukup dng kemampuannya td) UNTUK MEMBETULKAN BACAANNYA”? Dari mana kamu tahu? Bukankah memang Allah telah menciptakan makhluk-Nya bermacam-macam. Ada yang pintar kaya kamu, sampai sudah merasa yakin amalannya paling benar. Ada yang diciptakan dengan segala keterbatasannya, baik waktu, kemampuan, biaya, dll sehingga belum mampu memperbaiki bacaan Qur’annya yang mungkin menurut kamu orang seperti ini ahlul bid’ah penghuni neraka. Selamat untuk Anda orang pintar dan paling benar.

    1. sekali lg saya tegaskan, yg saya contohkan itu adalah teman dekat saya, dan saya dulunya satu “regu” dngnya.
      jd saya merasa paham betul keadaan dia.
      lalu saya tanyakan kpd ustadz keadaan org spt ini. (jd SAYA TDK MEMVONIS DIA INI AHLI BIDAH, YG AKAN MASUK NERAKA). Terlalu tergesa2 mas !! apalagi merasa diri paling benar dan paling pintar.
      (sebenarnya saya tanya ke ustadz, (bkn ke kamu), lalu kamu tb2 nimbrung dng kata2mu diatas. kl begitu siapa yg sok pintar?

  13. @Dakir bilang :

    conth:
    1. kl ada org meninggal (asal keluarganya mau) selalu membacakan alquran sampe katam dan baca tahlilan, pdhal bacaannya masih bnyk salah,
    2. dan tdk mau belajar alquran lagi untk membenarkan bacaannya dan memahami maksudnya.
    bgmn orang spt baik ato buruk mas ustadz?

    @bu hilya says:
    October 24, 2012 at 10:51 am

    Bismillah,

    kang @dakir, amalan yang terjadi khilaf para ulama dalam mensikapinya, tidak otomatis salah untuk mengamalkannya, justru kesalahannya terletak pada saat kita meributkan atau mempermasalahkan amalan orang lain…..

    dakir-tukang-elektronik says:
    October 29, 2012 at 7:32 pm

    tanggapan utk semuanya (mdh2n mencukupi).
    1. contoh yg saya tulis adalah kisah nyata yg saya saksikan (jd bkn su’udzon thole juman, dan kamu tdk th keadaan org yg saya contohkan itu), perhatikan to thole, kebencianmu pada wahhaby membuat kamu gak jernih dlm menelaah perkataan org,dan saya gak ada urusan dng kesalahan2 yg kamu tuduhkan kpd wahhaby kl mmg benar yg kamu katakan ttg wahhaby, apa urusannya dng saya?.
    2. maaf ustadz, jwbn ustadz serasa “mbulet”. (cb ustadz perhatikan baik2 pertanyaan saya.)
    3. bima, gak usah bw2 prof. quraisy syihablah, saya ulang pertanyaan saya dng redaksi yg lain,
    SAYA SAKSIKAN ADA ORANG YG BACAANNYA BANYAK SALAH, (bkn su’uzhon) DIA RAJIN DNG AMALAN YG TLH SAYA SEBUTKAN. TETAPI DIA MENINGGALKAN (kesan yg saya tangkap, dia merasa cukup dng kemampuannya td) UNTUK MEMBETULKAN BACAANNYA.
    PERTANYAAN: BGMN “ORG SPERTI INI”? (BKN bgmn UST. QURAISYI SHIHAB….dst)

    4. ust agung, apa yg ustd sampaikan itu saya baca bnyk yg membantahnya. (jng minta saya untk sebutkan ya, krn saya gak hafalin tempat2nya, tp siapa saja yg mau googling pst ketemu). itulah maksud dr kata “yg diributkan” td.
    dan saya tidak bisa pastikan mana yg pasti benar. makanya saya bertanya dng pertanyaan diatas.

    Tuh …. lihat jawaban kamu di atas, semua tidak ada yang benar. Ustadz Abu Hiya yang menjawab dengan santun saja kamu bilang “mbulet”. (cb ustadz perhatikan baik2 pertanyaan saya.). ITU TANDANYA KAMU MERASA PALING PINTAR …. Nggak merasa yaaaa ?

    1. “merasa paling pintar = bodoh?”, iya memang benar saya bodoh, mknya saya nanya biar pinter. tapi jwbn yg ustadz berikan malah nambah nggak ngerti,
      ustadz nanya yg lain ya…
      kisah nyata lagi nih….(bkn su’udzon)
      – ada org setiap habis adzan maghrib pasti nyanyi (mis lagu tombo ati, eling2 siro menungso dll) dan gak pernah sholat sunnah antara adzn dan iqomat bhkn tahiyatul masjid saya liat ditinggalkan jg berdo’a antara adzn daniqomat.
      pertanyaan: MANA YG LBH AFDHOL ORANG YG NYANYI DAN MENINGGALKAN SHOLAT TAHIYATUL MASJID, BERDO’A, dengan ORANG YG SHOLAT TAHIYATUL MASJID ATAU BERDOA DAN TIDAK BERNYANYI?

      1. Bismillah,

        @mas dakir,

        atas pertanyaan anda kami jawab dengan tegas : “Lebih baik orang yang anda anggap menyanyi yang tidak usil dengan amalan orang lain daripada sholat sunnah Tahiyyatal masjid namun sibuk mempermasalahkan amalan orang lain”

        ketahuilah!! orang yang anda anggap menyanyi ternyata mendapat hikmah dari senandungnya sehingga ia tidak mudah menganggap dirinya lebih baik, sedang orang yang sholat seperti yang anda maksud tidak mendapati sari dari sholatnya, terbukti ia mudah menuduh orang lain sesat”

        wallohu a’lam

        1. pak ustadz, kl org yg sholat tahiyatul masjid dll td tdk usil dan menuduh org lain sesat, mana yg lebih baik?
          atau kalo keduanya sama2 ikhlas dan sama2 tdk usil, mana yg lbh baik ustadz.?
          mana dr kedua amalan itu yg ada perintah yg terang dari rosululloh sholallohu ‘alaihi wasalam?
          apakah betul kata orang yg berkata bhwa berbicara masalah suatu amalan itu baik ato buruk mesti hrs berdasarkan qur’an dan hadits dan tdk berdasar hawa nafsu?

  14. Assalamualaikum, pengalaman di sekitar kami, orang orang yang terkena virus Salafi Wahabi kebanyakan dari membaca buku2 terbitan & karangan Salafi. Pernah ketika saya berada di daerah sekitar UPN Jogja ada seorang pensiunan AU, dia membaca buku terbitan dari salafi, padahalal dia seorang awam, setelah membaca buku itu maka dikit dikit ngomong bid’ah sesat, syirik, ibaratnya yang di dzikirkan hanya bidah, sesat, syirik, jarang sekali bicara kebesaran Alloh, Alloh Malik, Alloh Rozik. Alloh Kholik, jarang bicara keutaman amal tapi bicaranya ancaman ancaman, suatu ketika saya dengan teman teman mau pergi untuk Bekam (Khijamah), saya ajak sekalian: ayo pak kita mau bekam ikut sekalian, dia menjawab langsung dengan angkuhnya: ah.. saya ngamalkan yang sunah sunah aja lah…. , dalam hati saya sempat ketawa, yah saya cuma diam dan mbatin inilah salah satu orang awam korban virus wahabi.

  15. Alhamdulillah bisa nyimak ummati lagi, @kang derajad artikelnya sangat berbobot dan sangat mencerahkan, maaf baru sekarang bisa masuk lagi di ummati setelah beberapa saat sibuk dengan tugas2 sbg akademisi, salam tuk keluarga di Denpasar Bali, monggo dilanjut lagi Kang Abu Hilya, Kang Ucep, Kang Agung, dan seluruh pejuang aswaja, saya ikut nyimak… Allahumma sholli alaa Sayyidina wa Maulaana Muhammad

  16. bertanya ustaz…..
    1. kata ustadz at tark itu tidak menunjukkan hharam atu mekruh, apakh dia menunjukkan ttg halal ato mustahabnya suatu amalan?
    (ustdz ktkan dng tegas kalo menyanyi ba’da adan maghrib dan meninggalkan sholat sunnah itu lbh baik drpada org yng sholat sunnah dan tdk menyanyi)

    2. saya prnh dgr kt ustadz yg lain, bhw sholat sunnah antara adzan dan iqomah, jg berdo’a, katanya ada dalilnya (kl betul brarti sunnah ya..?), lalu ustdz katakan kok itu lbh buruk, bgmn penjelasannya mas ustadz?.

    3. apakh betul ada hadist (ktnya haditskhutbah hajjah) yg artinya “kurang lbh” begini:
    ” sesungguhnya sebaik2 petunjuk adalah petunjuk Muhammad sholallohu ‘alaihi wasalam, dan seburuk2 perkara adalah yg diada2kan, dan setiap yg diada2kan itu adalah bid’ah….. dst”.
    mhn ditampilkan aslinya dong ustadz kl memang ada dan sekaligus penjlsannya, biar kita paham.

    1. @Dakir Tukang Jam

      1. setiap perkara perkara baru yg tidak ada contohnya maka dinilai dengan Al-Qur’an dan Hadist, bila hal tersebut sesuai dengan jiwa syari’at dan tidak keluar dari dalil dalil umum maka ia diperbolehkan.

      2. Hadits riwayat Bukhori dan Muslim: “Dari Abdullah bin Mughaffal al-Muzanni, ia berkata; Rasulallah saw. bersabda: ‘Antara dua adzan itu terdapat shalat’”.

      Menurut para ulama yang dimaksud antara dua adzan ialah antara adzan dan iqamah.

      Mengenai hadits ini tidak ada seorang ulamapun yang meragukan keshohih-annya karena dia disamping diriwayatkan oleh Bukhori Muslim juga diriwayat kan oleh Ahmad dan Abu Ya’la dalam kitab Musnadnya. Dari hadits ini saja kita sudah dapat memahami bahwa Nabi saw. menganjurkan supaya diantara adzan dan iqamah itu dilakukan sholat sunnah dahulu,

      3. Hadist tersebut memang ada, dan masih ada hadist yg lain yg serupa. Namun, ada jg hadist yg berbunyi :
      “Barangsiapa yg merintis dalam islam sunnah (perbuatan) yg baik, maka baginya pahala dari perbuatan tersebut………”

      Kemudian perkataan salah seorang sahabat :”…..inilah sebaik baik bid’ah……”

      riwayat Al-Baihaqi dalam Manakib Imam Syafi’i:
      ‘Perkara-perkara baru itu ada dua macam. Pertama, perkara-perkara baru yang menyalahi Al-Qur’an, Hadits, Atsar atau Ijma’. Inilah bid’ah dholalah/sesat. Kedua, adalah perkara-perkara baru yang mengandung kebaikan dan tidak bertentangan dengan salah satu dari yang disebutkan tadi, maka bid’ah yang seperti ini tidaklah tercela’.

      saya mau bertanya, apa yg saudara maksud dengan bernyanyi, apakah bernyanyi seperti qasidah atau zikir berjama’ah? trm ksh.

      1. @ustadz al agung
        2. berarti sholat diantara adzan dan iqomah itu sunnah ya?
        lalu saya minta ketegasan kpd ustadz apakah “bernyanyi sehabis adzan sambil menunggu iqomah”, dan tdk melakukan sholat sunnah baik tahiyatul masjid maupun sholat antara adzan dan iqomah itu ada sunnahnya?

        bernyanyi disini ya benar2 bernyanyi, contoh liriknya begini:
        eling2 siro menungso
        temenono anggonmu ngaji
        mumpung durung katekanan
        moloekat juru pati.

        ato yg lain:
        tombo ati iku limo wernane
        moco quran angen2 ing maknane dst…. lali aku.

        3. jd antara hadits khutbah hajjah dgn hadits yg ustdz sampekan itu mksdnya apa?
        sy memaminya begini :
        – hadits khutbah berisi larangan bidah/ membuat” perkara baru”
        – hadits ustadz 1 berisi anjuran untuk menjadi pelopor(sunnah) kebaikan. dan jng menjd pelopor keburukan
        -hadits ustadz 2 berisi agar berpeang teguh dng al quran dan sunnah. dan berijtihad dlm perkara2 yg tdk ada penjlsan yg jelas di alquran dan sunnah.

    2. @Dakir Tukang Elektronik

      Maaf mas, saya salah tulis, mau tulis elktronik tertulis jam….. Maaf y.

      Ketika Nabi Muhammad saw. mengutus Mu’adz bin Jabal ke Yaman, Nabi Muhammad saw. bertanya, bagaiman cara Mu’adz bin Jabal menyelesaikan masalah. Kemudian Mu’adz bin Jabal menjawab :Saya hukumkan berdasarkan kitabullah.

      Nabi Muhammad saw. : Bila tidak ada dalam kitabullah?

      Mu’adz bin Jabal : Maka dengan Sunnah Rasulullah

      Nabi Muhammad saw. : Bila tidak ada?

      Mu’azd bin Jabal : Saya akan berijtihad sekuat mungkin.

      Maka Rasulullah saw. menepuk dadanya, sambil berkata : Syukur kepada Allah swt. yg telah memberi petunjuk kepada utusan dari utusan Allah swt…..

      Nabi Muhammad saw. tidak pernah berkata : “……….Dan apabila sesuatu itu tidak pernah aku kerjakan, maka jauhilah dia!…………”

      Nabi Muhammad saw. tidak pernah berkata : “jika sesuatu itu tidak ada keterangan pasti dari Al-Qur’an dan Sunnah maka jauhilah itu”.

      Dan dalam hadist yg lain, Nabi Muhammad saw. bersabda yg menerangkan bahwa, ijtihad, jika benar mendapat dua pahala dan jika salah mendapatkan satu pahala.

  17. Bismillah,

    Kang @dakir, atas pertanyaan anda kami jawab :

    1. At Tark bukan landasan hukum, sehingga ia tidak melahirkan hukum haram, wajib, makruh, sunnah, ia hanya menunjukkan kebolehan tidak mengerjakannya.

    2. Tentang pertanyaan sisipan yang terdapat dalam pertanyaan anda No 1. Telah kami jawab dilihat dari sudut pandang pengamalnya, bukan amaliyahnya… coba sima’ kembali jawaban kami atas masalah tsb yang sekaligus termuat didalamnya peringatan untuk tidak usil dengan amalan orang lain.

    3. Sekali lagi kami tegaskan jawaban kami atas perbandingan Sholat dan do’a setelah adzan dibanding dengan Pujian atau dalam istilah anda Nyanyian kami pandang lebih buruk dari sudut pelakunya, bukan murni perbuatan (amaliyahnya).

    4. Pertanyaan anda tentang hadits “Khutbah Hajjah” akan kami jawab jika anda bersedia menyampaikan arti BId’ah dalam pengertian anda….

    mohon maaf jika ada bahasa kami yang menyinggung perasaan anda…

  18. trimakasih dan maaf, maaf, maaf ustadz, itulah yg saya bingung, rupanya salah bertanya saya.
    1. jadi yg saya maksdkan adalah mana yg lbh baik dari sisi amaliahnya???

    2.jadi at tark itu kalo saya tinggalkan gak apa2, apkh berarti kl saya menganjurkan kpd org lain utk meninggalkan jg gak masalah?

    3. bid’ah yg saya pahami itu adalah cara ibadah yg tdk dicontohkan nabi jg shahabat, pdhl nabi tdk ada penghalang utk melakukannya. dan saya yakin ini pasti pemahaman bidah yg msh jauh dr benar.

    lalu praktek saya adalah:
    berusaha meninggalkan semuanya dng penilaian bhwa itu buruk serta berusaha mengamalkan apa2 yg dgn tegas ada perintahnya. dgn motto
    “WONG YG JELAS2 ADA PERINTAHNYA SAJA MSH KOCAR KACIR NGAMALKAN, NGAPAIN MENYIBUKKAN YG JELAS2 TDK BERDOSA JIKA DITINGGAlKEN”
    dan yg perlu dicatat, saya gak memvonis “kamu ahli bid’ah, sesat kamu, masuk neraka kamu…”dll, krn saya th diri siapa saya, bkn bagian saya utk itu.

  19. Bismillah,

    Saudaraku @dakir,

    jawaban atas pertanyaan anda :

    1. Bagi anda yang telah mengetahui fadhilah sholat dan berdo’a antara adzan dan Iqomah berikut tahu tata caranya, maka sebaiknya anda lakukan seperti kebiasaan anda tanpa mengoreksi apa yang dilakukan orang lain, karena dalam apa yang anda sebut nyanyian tsb memungkinkan seseorang masuk dalam medan Tafakkur, dan ingat “Tafakkur sesaat lebih baik dari Ibadah seribu Tahun” atau orang yang sedang pujian tsb memang tidak atau belum tahu cara sholat dan do’a seperti anda, sehingga pujian adalah hal terbaik yang bisa dia lakukan untuk menunggu sholat berjama’ah.

    2. Kalau diri kita merasa masih perlu belajar, mengapa sibuk berdakwah? bisa-bisa kecele (salah alamat) anda melarang orang lain atas apa yang anda tidak ketahui dalilnya, bagaimana jika yang anda larang ternyata tahu dalilnya? apa nggak lucu.. untuk bertanya saja anda bisa salah apalagi berdakwa…

    3. Karena anda menyadari kekurangan anda dan itu adalah hal yang sangat positif tentunya, maka gunakanlah karunia Alloh Swt yang berupa akal ini untuk belajar dan belajar secara merdeka… bebaskan diri anda dalam rangka belajar dari penjara dogma-dogma profokatif… Insy jika kita ikhlash dalam belajar, tidak ada maksud untuk membenarkan diri dan menyalahkan orang lain, Alloh akan menuntun kita pada ilmu yang bermanfaat untuk kita dan Islam….(kami tidak membatasi anda untuk belajar hanya pada satu kelompok, lakukan studi banding atas sebuah masalah dari berbagai sumber… semoga Bimbingan Alloh menyertai kita semua…)

  20. 1 jwbn ustadz msh msh menggak menggok, pdhal pertanyaan saya cuma MANA YG LBH AFDHOL? tp jwbn ttp spt yg sy liat, dan bgmnpun ttp trimakasih kpd ustadz.
    – seakan2 ustadz menilai saya sbg org yg sok usil atu suka mempermasalahkan amalan org lain dsb, mk ini ada kish yg pernah saya dengar dan baca tp lupa asalnya. kira begini kisahnya
    “suatu subuh abu musa al asy’ari mendapti org2 duduk berhalqoh2 dimsjd sambil menunggu shlat subuh. tiap halaqh dipimpin satu org untuk berdzikir bersama, sambil menghitung dgn kerikil.
    melihat ini beliau merasa ganjil, lalu mendatangi ibnu masud utk minta penjelasan ttg hal ini. lalu beliau berdua menuju masjd, lalu ernyata ibnu masud mengingkari perbuatan mereka.

    nah.., yg sy lkukan itu mirip itu, yaitu sy melihat org yg bernyanyi danmeninggalkan sholat sunnah itu serasa ganjil, tp sy tdk menuduh buruk kpd mereka (walu sy pernah dngr ada ustdz lain yg memburukkan ini), lalu say bertanya masalh ini kpd al ustadz abu hilya ttg kesesuaiannya dng sunnah.
    tp jwbn ustadz spt itu.
    bknkah ini jg spt yg ustadz sarankan di poin 3? yaitu agar belajar dari berbagai sumber dan study banding?

    -apakh ““Tafakkur sesaat lebih baik dari Ibadah seribu Tahun”, itu berasal dr hadits yg makbul? mhn dijlskan/

  21. “Berpikir sesaat lebih baik daripada ibadah setahun” lafadz-nya spt ini “tafakkaru saa’atin khoirun min ibaadatin sanah”, bukan hadist sebagaimana diterangkanoleh Al Imam Ali Qori’ – Al mashnu’ fi ma’rifatil haditsil maudhu’. Sumber “Hadist-hadist Dho’if dan Maudhu’ karya Abdul Hakim bin Amir Abdat

  22. @Dakir Tukang Elektronik

    Dakir : berarti sholat diantara adzan dan iqomah itu sunnah ya?
    lalu saya minta ketegasan kpd ustadz apakah “bernyanyi sehabis adzan sambil menunggu iqomah”, dan tdk melakukan sholat sunnah baik tahiyatul masjid maupun sholat antara adzan dan iqomah itu ada sunnahnya?

    Agung :
    Dalam shohih Muslim ketika itu ‘Aisyah ra mengatakan: “Aku melihat Rasulallah saw. berdiri didepan pintu kamarku, pada saat beberapa orang Habasyah sedang bermain hirab (tombak pendek) didalam masjid Nabawi. Kemudian beliau saw. merentangkan baju didepanku agar aku dapat melihat mereka bermain. Setelah itu aku pergi. Mereka mengira diriku seorang budak perempuan Arab yang masih muda usia dan gemar bersenang-senang”.

    Dalam shohih Bukhori 1/119 diriwayatkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra yang berkata: “Pada suatu hari Rasulallah saw. datang kepadaku. Saat itu dirumah terdapat dua orang wanita sedang menyanyikan lagu-lagu Bi’ats. Beliau saw. lalu berbaring sambil memalingkan muka. Tak lama kemudian datanglah Abubakar (ayah ‘Aisyah). Ia marah kepadaku seraya berkata; ‘Apakah seruling setan dibiarkan berada dirumah Rasulallah?’….Mendengar itu Rasulallah saw. segera menemui ayahku lalu berkata: ‘Biarkan sajalah mereka’! Setelah Abubakar tidak memperhatikan lagi keberadaan dua orang wanita itu, mereka lalu keluar meninggalkan tempat”.

    Jd, melakukan kegiatan di dalam masjid boleh boleh saja, asal hal tersebut tidak membawa pada keburukan. Misal, melantunkan qasidah. Yg perlu di garis bawahi adalah, lirik dan cara penyampaian maupun penampilan tidak melanggar.

    Mengenai pertanyaan anda tersebut, maka saya akan mengerjakan sholat sunnah dulu. Karena, melantunkan nyanyian syair dsb, dapat dilakukan setelah sholat. Mengenai hukum yg dilakukan oleh orang tersebut, saya tidak tahu.

    Dakir : jadi at tark itu kalo saya tinggalkan gak apa2, apkh berarti kl saya menganjurkan kpd org lain utk meninggalkan jg gak masalah? bid’ah yg saya pahami itu adalah cara ibadah yg tdk dicontohkan nabi jg shahabat, pdhl nabi tdk ada penghalang utk melakukannya. dan saya yakin ini pasti pemahaman bidah yg msh jauh dr benar. berusaha meninggalkan semuanya dng penilaian bhwa itu buruk serta berusaha mengamalkan apa2 yg dgn tegas ada perintahnya

    Agung :
    saya ingin bertanya, jika saya berpergian. Kemudian waktu sholat telah masuk, namun saya tidak menemukan air. Yg ada hanya air dalam kemasan dan saya mampu untuk membelinya. Apa yg sebaiknya saya lakukan, membeli air atau tayammum dan apa hukum mebeli air dalam kemasan tersebut?

    1. maaf tadz,
      pertanyaan:” MANA YG LBH AFDHOL” ORANG YG NYANYI DAN MENINGGALKAN SHOLAT TAHIYATUL MASJID, BERDO’A, dengan ORANG YG SHOLAT TAHIYATUL MASJID ATAU BERDOA DAN TIDAK BERNYANYI?

      Agung :
      saya ingin bertanya, jika saya berpergian. Kemudian waktu sholat telah masuk, namun saya tidak menemukan air. Yg ada hanya air dalam kemasan dan saya mampu untuk membelinya. Apa yg sebaiknya saya lakukan, membeli air atau tayammum dan apa hukum mebeli air dalam kemasan tersebut?

      -saya ini tkg servis tv lho tadz, kl mslh agama ya gak ahli to ya. tp gak apa2 tak jawab :
      prinsipnya, kl gak dpt air ya saya tayammum. saya blm ngerti hukum air kemasan apakah termsk air suci yg sah utk wudlu.
      lagian islam itu ktnya mudah ya mas?

      1. @Dakir : “Mana yg lebih afdhol”.

        Agung :diats saya jawab “saya akan mengerjakan sholat sunnah dulu. Karena, melantunkan nyanyian syair dsb, dapat dilakukan setelah sholat. Mengenai hukum yg dilakukan oleh orang tersebut, saya tidak tahu”. artinya, saya lebih memilih shalat.

        @Dakir : “kl gak dpt air ya saya tayammum. saya blm ngerti hukum air kemasan apakah termsk air suci yg sah utk wudlu.”

        Agung : apa syarat tayammum? Apa yg dimaksud dengan air suci?

  23. wah kok jd pindah ke tayammum.
    -apa ustadz gak tahu hukum “org yg meninggalkan sunnah nabi dan malh mengutamakan yg ….(mgkin bkn sunnah, ato mgkn at tark, oto mgkn bid’ah hasanah, krn apakah nyanyi tsb ada sunnahnya apa tdk, ustadz jg gak njawab dng tegas). pdhal diatas ustadz tahu hadits khutbah hajjat yg saya tnykan.
    atau hadits irbadh bin sariyah di arbain nawawi ada sabda nabi ” fa’alaikum bisunnati wasunnati kulafa’ur rasyidin …dst?
    dan kalo ustadz mau jwb dng jujur, ini akan ada hbngannya dng tulisan al ustadz agung diatas.

    -yg baru saya phmi ttg tayammum adalah:
    kl mau sholat dan tdk mendptkan air utk wudlu. (dpt dr ustadz yg lain dr penjlsan surat almaidah, aku lupa, ada bunyinya falam yajidu maa’an fatayammamu).
    lalu ada pnjlsan walau dpt air tetapi kl org tsb berbahaya kalo terkena air maka boleh tayammum.(dgn dasar hadits shahabat yg terluka meninggal gara2 mandi)
    kl ditanya apa syaratnya, rukunnya, definisi dsb, ya tentu kagak tahu gue. gue kan tkg servis.

    1. @Dakir

      apa hukum shalat sunnah tahiyyatul masjid, shalat sunnah qobliyah, fardhu ‘ain atau sunnah mu’akkad?

      jika ada hadist Nabi yg memerintahkan sesuatu, apa lantas di hukumkan wajib? ada hadist Nabi yg mengatakan, supaya kita jangan mendekati sholat bila ada keinginan buang hajat. Tapi, orang yg sholat dengan menahan buang hajat di hukumkan makruh, bukan haram.

      kalau di tanya kepada saya, mana yg lebih afdhol, sholat sunnah atau bernyayi? maka saya jawab sholat sunnah. berdosa tidak mereka yg meninggalkan sholat sunnah? saya jawab tidak, karena sholat tahiyyatul masjid dan qobliyah, hukumnya sunnah mu’akkad, bukan wajib.

      berdosa tidak mereka yg bernyayi di masjid? pertama Nabi pernah menonton orang yg sedang bermain di masjid. kedua, nabi tidak mengingkari wanita yg sedang bernyanyi. Artinya, selain ibadah ibadah sholat, masjid juga dapat digunakan untuk kegiatan lainnya.

      jadi, kalau ditanya berdosa atau tidak, saya tidak tahu. untuk memvonis haram, saya tidak berani.

      cerita saya diatas kan tidak ada menyebutkan halangan yg dapat meyebabkan seseorang mendapatkan bahaya jika berwudhu dengan air. jadi mana yg lebih afdhol, membeli air dalam kemasan atau bertayammum?

    2. @Dakir

      mas, saya mau bertanya lagi. pengertian at-tark : “Sesuatu yang tidak dilakukan Nabi atau Sahabat – dalam term ulama usul fiqih disebut at-tark – dan tidak ada keterangan apakah hal tersebut diperintah atau dilarang maka menurut ulama ushul fiqih hal tersebut tidak bisa dijadikan dalil, baik untuk melarang atau mewajibkan.”

      tolong difatwakan kasus berikut ini!

      saya adalah petugas kesehatan berjenis kelamin laki laki. jika dalam perjalanan ada seorang wanita yg mengalami gagal jantung dan gagal napas dan dia bukan muhrim saya, dan hanya saya seorang yg mampu melakukan resusitasi jantung paru yg dapat menolongnya, apa yg sebaiknya saya lakukan?

      dan perlu diketahui, dalam resusitasi jantung paru, ada pemberian napas buatan. bila peralatan tidak mencukupi, maka dilakukan lewat mulut ke mulut.

      satu hal lagi, dalam pemberian kompresi, tangan penolong, diletakkan di dekat dada penderita. dalam kasus tersebut, penderita adalah seorang wanita, otomatis tangan penolong mendekati daerah sensitifnya.

      dalam kasus diatas, tidak ada keterangan pasti dari Rasulullah saw. maupun para sahabat. jika di kembalikan kepada hukum islam yg asal, yaitu wajib, haram, sunnah, makruh dan mubah. apa hukumnya?

      atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih.

    3. @dakir-tukang-elektronik
      “pertanyaan:” MANA YG LBH AFDHOL” ORANG YG NYANYI DAN MENINGGALKAN SHOLAT TAHIYATUL MASJID, BERDO’A, dengan ORANG YG SHOLAT TAHIYATUL MASJID ATAU BERDOA DAN TIDAK BERNYANYI?”

      Dua-duanya afdhol.
      1.ORANG YG NYANYI DAN MENINGGALKAN SHOLAT TAHIYATUL MASJID, BERDO’A,
      Biasanya setelah azan, sebelum iqamah, sambil menunggu jamaah yang lain berkumpul, maka yang lain sambil mengisi waktu mengadakan shalawatan atau puji2an. Disini juga berfaedah untuk mengumpulkan jika banyak anak2 yang berlarian agar tidak lari-lari didalam masjid.
      Hadist nya dibolehkan mengadakan nyanyian didalam masjid-sudah dijelaskan oleh mas @agung diatas.
      2. ORANG YG SHOLAT TAHIYATUL MASJID ATAU BERDOA DAN TIDAK BERNYANYI?”
      Orang yang menunggu dari ba’da shalat Magrib sampai waktu shalat isya bagaikan ia menunggu pintu syurga terbuka.

      Jadi kedua-duanya afdhal.

      Tentang Tayamum :
      Tayamum dilakukan jika tidak ditemukan sama sekali air (syah secara syariat).
      Air mineral dapat dijadikan air wudhu, karena air mineral dapat dikategorikan sebagai air mutlak (air murni yang belum tercampur unsur lain), tapi pengambilan ini setelah tidak didapati sama sekali air (syah secara syariat).
      Tayamum diwajibkan jika didalam pesawat. Didalam pesawat terbang banyak air mutlak, tapi kita tidak diwajibkan berwudhu dengan air, takut air tumpah kemana-mana sehingga akan membahayakan penerbangan, jadi diwajibkan bertayamum.

      Silahkan dilanjut diskusinya, ane nyimak.

      1. @Kang Ucep :

        Setuju sekali dengan penjelasan Kang Ucep.

        Semoga saudara Dakir ini benar-benar bertanya, bukan mempermasalahkan hal yang sudah terang, karena saya baca pertanyaannya hanya diputar-putar saja, sambil mengaku hanya tukang elektronik.

        Kebenaran hakiki hanya milik Allah
        Hamba Allah yang dhaif dan faqir
        Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  24. sodara lik derajad, aku ini bertanya tenan, dan belio2 ini yg muter2 aku lho lik. aku ini pengin tau apa aku ini bervirus. mulone aku kejar sedetil2nya sesuai pedoman kita, gitu. Yg paling bawah 3 baris itu apa maksdnya lik..?

    mas thole ucep, kalo org yg bernyanyi td juga afdhol, tlg dasarnya apa mas thole..?(jng “menurut saya…” gitu ya).
    krn saya pernah dgr kr2 begini,
    – “rosululloh mendapati org yg sholat saling mengeraskan bacaannya lalu ditegur, kata beliau, “sesungguhnya org yg sholat itu sedang bermunajad kpd robbnya, mk jgn mengerasi yg lain….dst(lupa aku), lalu beliau perintahkan agar melirihkan bacaannya..
    (tlg dicek betul ndak hadits yg isinya krg lbh begitu),
    peljrannya adalah, kl baca alquran saja disuruh melirihkan, bgmn dgn nyanyian yg bukan alquran dinyaringkan didekat org yg sholat?

    ust. agung, msh kurang “cong” kata org jw saya, jg muter2 (mlh aku yg diblg muter2)
    -sy tny nyanyi (mdl saya conthkan, bkn model spt hadits abu bakar) “ada sunahnyakah?” (bkn “berdosakah?”). ini penting, agar tdk rancu spt tulisan sebelh, masalah KENDURI ORG MENINGGAL kok larinya ke kirim pahala, shodaqah dsb. khawatir spt org yg ngebom, neror, lalu bilang jihad.

    -hkm tahiyatul masjd sy gak tahu, krn ktnya ulama berbeda2 dlm menghukumi, yg penting semampunya dikerjakan, dan yakin baik dan berpahala krn ada perintah dr nabi.

    – Fatwa?, ojo guyon mas ustdz, kl aku berfatwa sopo nanti yg nyervs tv, emang ustdz bs gantiin nyervis ?
    Pokoke saya pegang rumus “saat darurat membolehlan perkara yg haram”.(ini betul gak tadz?, virus apa bkn?).

    sudah, jgn ditanya lagi saya ya tadz, sampean ustadznya, saya yg bertanya, begitu yg pas.

    1. @dakir-tukang-elektronik
      “- “rosululloh mendapati org yg sholat saling mengeraskan bacaannya lalu ditegur, kata beliau, “sesungguhnya org yg sholat itu sedang bermunajad kpd robbnya, mk jgn mengerasi yg lain….dst(lupa aku), lalu beliau perintahkan agar melirihkan bacaannya..
      Ane compare dengan pertanyaan ente ya :
      “ORANG YG NYANYI DAN MENINGGALKAN SHOLAT TAHIYATUL MASJID, BERDO’A”

      Sekarang dimana letak pertanyaannya ???

      Hadist2nya kan sudah dijelaskan mas @agung tentang bolehnya bernyanyi didalam masjid.

    2. @dakir-tukang-elektronik
      “hkm tahiyatul masjd sy gak tahu, krn ktnya ulama berbeda2 dlm menghukumi, yg penting semampunya dikerjakan, dan yakin baik dan berpahala krn ada perintah dr nabi.”

      Lihat koment ente, jelaskan berarti gak ada yang shalat waktu puji2an itu dilaksanakan.
      Itu menurut ente, he he he

    3. @Dakir

      kan diatas,sudah dijelaskan, kalau Nabi Muhammad saw. pernah menonton kegiatan yg dilakukan di dalam masjid. Nabi pernah membiarkan dua orang wanitayg sedang bernyanyi.

      selain tempat sholat, masjid bisa di gunakan untukkegiatan yg lain. selama kegiatan tersebut tidak bertentangan dengan hukum syari’at, maka di perbolehkan.

      mengenai nyanyian yg di lakukan di dalam masjid, yg terpenting lirik dan cara penyampaian nya tidak bertentangan. jika nyanyian tersebut bersamaan dengan sholat sunnah yg dilakukan jema’ah lain, dan mengganggu, silahkan saudara tegur. mungkin, waktu nya yg tidak tepat.

      mengenai mereka meninggalkan sholat tahiyyatul masjid atau sholat qobliyah, mungkin karena mereka menganggapnya sunnah mu’akkad. tapi, kalau menurut saudara itu wajib, tidak mengapa. sunnah bagi mereka dan wajib jika saudara menyakini seperti itu.

      sebenarnya, arah pembicaraan saudara cuma ingin mengatakan bahwa hal tersebut bid’ah. karena tidak ada dalil yg bersifat qathi mengenai hal tersebut.

      kaidah yg anda sebutkan memang benar. tapi pertanyaan saya adalah, bagaimana hukumnya jika di kembalikan kepada hukum islam yg asal, yaitu wajib, sunnah, makruh, haram dan mubah.

      jika saudara mengatakan wajib, maka berdosa jika saya tdk membantunya.
      jika sunnah, maka di tinggalkan tidak mengapa, di bantu berpahala.
      jika makruh, di tinggalkan mendapat pahala, dikerjakan tdk mengapa.
      jika haram, maka saya akan berdosa jika menolongnya.

      pertanyaan saya tentang air wudhu, tolong di jawab ya. di atas kan sudah dijelaskan, tayammum diperbolehkan jika tidak mendapatkan air sama sekali. sedangkan dalam kasus tersebut, ada airmineral, dan saya mampu untuk membelinya. apa hukum membeli air mineral tersebut untuk digunakan sebagai air wudhu dalam sholat?

  25. Tidak benar tukang servis elektronik ga bisa ditanya. Coba lihat Albany, dia itu juga tukang servis. Malah rame yang tanya dia dan dengan senang hati dia menjawabnya. Tidak pernah Albany berfatwa barangsiapa yang bertanya kepada tukang servis, maka dia udah berbuat bid’ah dan menjadi penghuni neraka. Bahkan Albany tulis banyak kitab juga. Nah kalo mau mengikut sunnah Albany, tukang servis juga harus tulis banyak kitab.

    Berkenaan gelaran “ustadz” itu, sepanjang yang saya tau, ga ada sesiapa disini yang mengaku-ngakuin sebagai Ustadz. Lagi pula, gelaran Ustadz itu bisa jadi bid’ah, karena ga pernah dicontohkan para Salafus-soleh.

  26. @Dakir

    Dalam shohih Muslim ketika itu ‘Aisyah ra mengatakan: “Aku melihat Rasulallah saw. berdiri didepan pintu kamarku, pada saat beberapa orang Habasyah sedang bermain hirab (tombak pendek) didalam masjid Nabawi. Kemudian beliau saw. merentangkan baju didepanku agar aku dapat melihat mereka bermain. Setelah itu aku pergi. Mereka mengira diriku seorang budak perempuan Arab yang masih muda usia dan gemar bersenang-senang”.

    Riwayat bahwa Rasul saw melihat orang – orang Afrika bermain di Masjid Nabawiy, maka para sahabat marah, maka Rasul saw berkata : “Biarkan mereka, ini adalah hari Ied” dan Rasul saw duduk menonton perbuatan mereka dengan senang. (Shahih Bukhari).

    Dalam shohih Bukhori 1/119 diriwayatkan sebuah hadits dari ‘Aisyah ra yang berkata: “Pada suatu hari Rasulallah saw. datang kepadaku. Saat itu dirumah terdapat dua orang wanita sedang menyanyikan lagu-lagu Bi’ats. Beliau saw. lalu berbaring sambil memalingkan muka. Tak lama kemudian datanglah Abubakar (ayah ‘Aisyah). Ia marah kepadaku seraya berkata; ‘Apakah seruling setan dibiarkan berada dirumah Rasulallah?’….Mendengar itu Rasulallah saw. segera menemui ayahku lalu berkata: ‘Biarkan sajalah mereka’! Setelah Abubakar tidak memperhatikan lagi keberadaan dua orang wanita itu, mereka lalu keluar meninggalkan tempat”.

    Maka jelaslah sudah segala bentuk kegembiraan, bahkan main di masjid yang jelas jelas adat Yahudi dan Nasrani, bahkan Rasul saw memperbolehkannya, dimainkan di Masjid pula. Dan bahkan Rasul saw menonton dan asyik tersenyum, menunjukkan selama kegembiraan yang berkaitan dengan syiar Islam maka tak apa.

    mengenai hukum mereka yg bernyanyi di dalam masjid, maka saya tidak tahu. apakah menyanyi di dalam masjid dapat diqiyaskan dengan permainan hirab di dalam masjid nabawi, saya tidak tahu.

    sholat tahiyyatul masjid itu, bagi saya sunnah mu’aakad, jd mereka yg meninggalkannya, bagi saya tidak berdosa. mana yg lebih afdhol, menyanyi atau sholat sunnah, maka akan saya jawab sholat sunnah.

  27. @Dakir

    begini saja ya mas. anda ceritakan, seperti apa nyanyian mereka. kapan di lakukan, ketika di lakukan nyanyian itu, apa saja amalan sunnah yg mereka tinggalkan. InsyaAllah, kalau ada kesempatan, akan saya tanyakan. Ok?

  28. 1. santri, sbg suporter jgn ngganggu ya..? tulisan diatas ditulis oleh “USTADZ” ABU HILYA dan “USTADZ” AGUNG. (BACA2 BAIK2 YA…!!)
    (KPD PARA USTADZ UMMATY MOHON SUPORTER2 YG NGACO AGAR DIPERINGATKAN, AGAR TDK TERJERUMUS KE SALING OLOK DAN MENCELA (KOYO ANAK KECIL)

    2.UCEP,
    – say tny dalil ttg afdholnya bernyanyi setelah adzan blm di jwb mlh balik tanya.
    -ats pertanyaan anda 1 jwbnnya adalh:
    BHW ORG YG MENYANYI DAN TDK SHOLAT TD JELAS MENGGANGU/ MENGGADUHI ORG YG SDG SHOLAT TAHIYATUL MASJD. padahal di hadits yg saya sebutkan (kl mmg ada dan maqbul hadtsnya) itu menunjukkan larangan menggaduhi org yg sdg sholat. (KATA USTADZ SEBRANG SANA)
    -jwbn pertanyaan ke 2″
    YG SHOLAT ADA, (yaitu org2 yg tlh mendengar hadits ttg sholt tahiyatul masjid, sholat baina adzan dan iqomah, dan ijabahnya do’a antara adzan dan iqomah lalu berusaha menjadikan rosululloh sbg teladan dlm ibadah).
    (COBA PERHATIKAN PERTANYAANNYA PLG AWAL TTG MASALAH INI)

    SEANDAINYA TDK ADA YG SHOLAT,
    – BGMN HKMNYA MENINGGALKAN YG “SUNNAH” (sholt tahiyatul masjd) dan MENJALANKAN YG …..? (krn sy blm tahu dasarnya dan saya tanyakan kpd sampean dan group, sampe har ini blm ada jwbn yg jelas dan tegas)
    Krn “virus” yg menghinggapi saya itu adalah HENDAKLAH DLM BERIBADAH ITU KITA MENCUKUPKAN DGN YG DIAJARKAN ROSULULLOH JNG MENAMBAHI APALAGI MENGGANTI. Bkankah kasus yg saya tanyakan itu (dan itu kasus nyata lho) berarti menganti apa yg diajarkan nabi dgn ajaran selain nabi?(DGN CATATAN “kl terbukti tdk ada tuntunannya”, MKNYA SY TANYAKAN KPD USTADZ, ADA KAGAK???, KL ADA SEBUTIN, KL GAK ADA BLG GAK ADA, BERES!!!)

    3. USTD AGUNG,
    -Mmg btl, sya “mencurigai” itu bid’ah, tp sy gak brani ngomong bhw itu bid’ah kecuali th persis bhw itu mmg tdk ada “tuntunannya yg jelas”. itulah mengapa saya bertanya kpd anda, mk tlg jwblah ya ustadz dng jujur dan tegas.
    BKNKAH BERKEYAKINAN MACAM ITU BOLEH2 SAJA??
    -say melihat kasus ini tdk sama dng hadits yg sampean nukil.
    -hdts diatas apakah terjd di masjid? kl iya, apkh mrk diketahui meninggalkan perkara2 sunnah? kl tdk, berarti itu seputar masalah “hkm bernyanyi atau bermain.dlm masjd”. yg saya tanyakan itu “ORG YG MENGERJAKAN ITU TD DGN MENINGGALKAN YG SUNNAH”
    -conth liriknya sdh sy sampekan.
    waktu: antara adzan dan iqomat sholat maghrib.
    yg ditinggalkan: amalan2 sunnah antara adzan dan iqomah (sdh bnyk sy sebutkn)

    1. @dakir-tukang-elektronik
      Dakir ini semuanya mau ada dalil yg khusus dgn bahasa yg jelas tentang tahlil, maulid nabi dll didalam Al Qur’an, kalau diteliti adakah dalil yg khusus dan jelas tentang cara dan perkatek gerakan shalat, seperti cara sujud, rukuk, bersedekap, cara berwudu mulai membasuh tangan sampai kaki didalam Al Qur’an kalau ada kang dakir tolong tunjukkan ? kalau tidak ada darimana dakir tau semua itu dan mengikuti siapa ? apa itu bukan bid’ah karena gak ada dalil yg khusus tentang gerakan shalat dan cara wudu didalam Al Qur’an ?

      1. nasir, betul nich pernah belajar metode salafy (km bilang wahhaby)???
        kl betul pasti gak bertanya spt itu. (USTADZ2 SENIOR…,PERHATIKAN SUPORRTER YG BEGINIAN…!!!! KASIHAN!!)

        THOLE NASIR. semua yg kamu tanyakan itu insyaallah ada dalilnya baik yg ulama sepakat atau terjd perselisihan.
        silahkan beli buku fathul bari, atau bulughul maram ato yg lain, ato cb tanyakan ke ustadz2mu disini.

        1. Bismillaah,

          Kang Nasir,

          Untuk mengetahui hadits-hadits tentang gerakan dan bacaan shalat secara lengkap, baca saja Kitab Sifat Shalat Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Saya dahulu juga seperti anda, tidak tahu apa-apa tentang shalat, hanya ikut-ikutan. Namun, setelah membaca kitab tersebut, Alhamdulillaah saya mulai mengetahui tata cara shalat Rasulullaah secara rinci berdasarkan hadits-hadits shahih.

          Saran saya, angan jadikan diri kita terus awam sampai meninggalkan dunia.

          Wallaahu a’lam.

          1. Kalau soal “Awam” InsyaAllah saya tidak terlau awam, soalnya kalian para wahabiyun dikit2 menanyakan dalil, adakah contohnya dari nabi.
            kalo gak ada berarti bid’ah, seperti tahlilan dan maulid nabi kalian anggap bid’ah. padahal sejak dulu sudah ada gak ada yg mempermasalahkan cuma kalian aja para wahabiyun yg usil dgn amal ibadah orang lain.

            Walaupun saya orang Awam, InsyaAllah pula saya tidak akan tertipu dengan ajran sesat seperti Faham Wahbi, InsyaAllah juga saya, keluraga dan anak cucu saya tidak seorangpun jadi pengikutnya….Amin

          2. Maaf ya ngetiknya belepotan,
            tertulis : ajran, wahbi, keluraga, yg benar : ajaran, wahabi, keluarga.

            Terima kasih.

      2. Bismillaah,

        Kang Nasir,

        Pertanyaan anda “…kalau diteliti adakah dalil yg khusus dan jelas tentang cara dan perkatek gerakan shalat, seperti cara sujud, rukuk, bersedekap, cara berwudu mulai membasuh tangan sampai kaki didalam Al Qur’an kalau ada kang dakir tolong tunjukkan?”

        sebenarnya sebagian terjawab dalam diskusi tata cara shalat Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pada thread berjudul “Apa Itu Ahlussunnah wal Jamaah?” di stitus sini. Sayang diskusi itu terhenti pada bahasan tentang cara berdiri dan takbiratulihram serta bacaan Al Fatihah dan surat-surat Qur’an yang biasa dibaca Rasulullaah. Saya sudah menawarkan untuk melanjutkan pembahasan tentang ruku’. Namun, kawan-kawan di sini menolaknya adengan alasan banyak khilafiyah.

        Jika diskusi itu dilanjutkan, maka anda dan kawan-kawan akan mengetahui hadits-hadits shahih yang menjelaskan secara sangat rinci bagaimana cara Rasulullaah ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, duduk tasyahud awal dan akhir, salam dan bacaan-bacaan yang dibaca saat ruku’, i’tidal, sujud, duduk di antara dua sujud, duduk tasyahud awal dan akhir.

        Sayang sekali, kawan-kawan menolak membahas masalah shalat yang sangat penting dan menjadi barometer semua amalan ibadah lainnya. Kang @bu Hilya ternyata sudah menyampaikan bahwa dia dinasihati ustadznya untuk tidak membahas masalah shalat. Mungkin para ustadz khawatir bila kawan-kawan mengetahui hadits-hadits tentang shalat yang disampaikan dan dijelaskan oleh para ulama, maka kawan-kawan akan melakukan shalat dengan gerakan dan bacaan yang sama dengan orang-orang yang sering disebut Wahabi. Kawan-kawan shalatnya akan sangat berbeda dari shalat kebanyakan orang. Lama-lama orang-orang akan melabeli kawan-kawan sebagai Wahabi.

        Itulah yang saya alami. Setelah mengkaji masalah shalat dengan sungguh-sungguh berdasarkan hadits-hadiots shahih dan mengamalkannya, maka saya disebut Wahabi.

        Wallaahu a’lam.

        1. @ibnu suradi

          terimakasih udah menjawab pertanyaan saya, tapi qo masih klise ya, padahal yang saya inginkan adalah nama kelompok yang merujuk pada katanya-katanya dan yang merujuk pada alqur’an dan hadist pasti mereka punya nama khan ?
          sekali lagi nama kelompok

          mohon maaf saya mau nanya lagi
          1. ulama yang lurus yang ada di jawaban antum maksudnya siapa ya?
          2. klo liat jawaban antum ke kang nasir, seolah antum udah diatas angin karena ustadz abu hilya melunak, setahu saya ustadz2 di sini pernah ngajak anda diskusi langsung, klo emang anda merasa mengikuti hadist yang sohih kenapa anda tidak trima ajakan mereka? atau malah klo bisa ajak mereka dsikusi langsung ..! bukankah dakwah langsung itu lebih baik dari pada lewat tulisan begini.

    2. Bismillah,

      Mas @dakir, kami menghargai keingin tahuan anda, namun dari awal kami mencoba mengarahkan anda pada sikap “Mencukupkan Diri Pada Apa Yang Anda Tahu, Dan Berhenti Mempermsalahkan Amal Orang Lain Yang Anda Sendiri Tidak Cukup Tahu”

      1. ustadz abu,
        -sy bkn “mempermasalhkan”, ttp “saya ingin tahu”, sbgmn hadits abu musa al asy’ary di ataaaas.
        -cb kl ustadz mau melihat dgn jernih artikel ttg WAHHABY TASYABUH DGN YAHUDI, memvonis org yg berusaha menyesuaikan sedekap sesuai petunjuk nabi (yaitu meletakkan di dada) dgn tuduhan tasyabuh dgn yahudi.
        bknkah ini jg “mempermasalhkan” bhkn menuduh dgn tuduhan jelek?
        lalu mana komentar ustadz?
        (standar ganda??)

        1. Bismillah,

          Mas @dakir, Alhamdulillah… bukan maksud kami menggunakan standart ganda dalam menyikapi keadaan yang terjadi seperti sekarang, akan tetapi dalam pandangan kami akan sulit rasanya menghilangkan asapnya kalau tidak dimatikan apinya…

          Sebagaiman apa yang pernah kami sampaikan, bahwa kehadiran kami disini dengan misi meminimalisir kemungkinan fitnah yang akan terjadi akibat kebodohan umat islam…

          Insya Alloh anda menyadari, munculnya reaksi kaum muda aswaja diantaranya dipicu oleh dakwah arogansi kelompok mereka. Jika kita mau kilas balik dengan menoleh kebelakang tidak terlalu jauh, didaerah kami dan Jawa Timur pada umumnya muncul reaksi keras setelah terbitnya buku “Mantan Kiyai NU Menggugat Tahlilan dst…”

          Buku-buku sejenis sebenarnya telah beredar sebelumnya, semisal buku-buku yang oleh pemerintah Kerajaan Saudi Arabiyah dijadikan oleh-oleh gratis untuk para jama’ah haji Indonesia, buku “Ritual Bid’ah dalam Setahun” , dan sejenisnya yang kebetulan kami memiliki beberapa diantaranya. Akan tetapi, demi keutuhan umat islam para ulama kami tidak meresponnya… hingga pada era kebebasan ini dakwah-dakwah arogansi menampakkan jati diri mereka…

          Oleh karenanya, mohon anda mengerti bahwa sengotot apapun para kiyai meredakan suasana bila apinya tidak dipadamkan dulu Insya Alloh asapnya akan tetap mengepul, dan jika api itu semakin menyala.. maka yakinlah asapnyapun akan semakin menyesakkan anda…

          Perlu anda ketahui, kehadiran saya prribadi disini dalam pengawasan dan pantauan serta bimbingan para Asatidza senior yang tergabung dalam “Majlis Roha Bukhori”, dan saya tidak akan bertindak melebihi mandat yang beliau-beliau amanahkan kepada kami. Itu sebabnya mengapa kami enggan menanggapi diskusi-diskusi seputar khilafiyah furuu’iyah dalam masalah sholat, karena dalam pandangan beliau-beliau hal tersebut justru akan semakin memperbanyak apa yang kita perselisihkan dan mempertajam perbedaan yang tidak semestinya.

          Disini kami hanya membatasi diri untuk menjelaskan amaliyah-amaliyah yang telah dituduhkan kepada kami sebagai amaliyah Bid’ah sesat, Syirik dast… Mohon dimengerti

          1. Mas @bu Hilya
            Teruskan dan jangan pernah berhenti untuk mencegah dan meminimalisir “Wahabi”ajaran sesat pemecah belah dan pengadu domba umat Islam.

            Kami para pengikut ASWAJA tetap mendukung sepenuh hati, mudah2an ajaran wahabi akan lenyap di bumi Nusantara tercinta…….Amin

          2. ustadz mas abu’
            bknkah kebenaran itu pahit dan penuh rintangan?, sbg contoh adalah sejarah para nabi dan rosul.
            kl ustadz merasa diatas kebenaran, lalu salafy(wahhaby??) dianggap salah dan penghalang, mestinya ustadz mendakwahi mereka dng hikmah to? bkn dng gelaran2 buruk (spt tulisan ustadz bhw wahhaby itu virus (yg mesti diberantas)), tuduhan2 keji (bnyk tulisan2 di blog ini saya baca), provokasi dsb.
            lalu ktk ustadz menjlskan pasti terjd adu argumen, pertanyaan yg kdg njlimet, mestinya ustadz melayani dgn sabar dan ksh sayang, sbg konsekwensi seorg da’i yg mulia yg dijanjiin balasan yg utama atas kesabaran dan keikhlasan dlm berdakwah yg penuh rintangan.
            bkn malh mencurigai, mengolok2 dsb(spt yg dilakukan bbrp oknum supporter disini, yg ustadz gak memberi peringatan kpd mrk).

            saya tdk tahu apkh saya ini salafy apa bkn, ttp saya bergaul dan belajar sedikit cara mereka memahami dan mengamalkan islam ini, lalu org2 spt saya ini, ustdz cs(ato yg lain pokoknya dr pihak blog ini) paksa gelari “wahhaby”, lalu dikait2kan dgn “tuduhan” kejahatan syikh muhammad ibn.abdul wahhab.
            (gak nyambung blas tadz…)

            terhadap perbuatan sebagian org yg mengaku salafy yg “salah”
            , mestinya tdk digeneralisasi bhw semua begitu, lalu metodenya jg dihujat. SBGMN KETKA ADA BNYK ORG ISLAM YG BERBUAT JAHT, MK TDK BOLEH DIKATAKAN BHW SEMUA ORG ISLAM BEGITU DAN BHKN ISLAM ITU JG JAHAT.

          3. Bismillah,

            Mas @Dakir, Seingat kami Insya Alloh saya secara pribadi nggak pernah nuduh anda sebagai WAHABI, dan saya hadir disini tidak untuk memusuhi mereka melainkan arogansi dakwah mereka yang bisa dan terbukti berakibat perpecahan dikalangan umat islam.

            Selanjutnya, jika anda tidak merasa sebagai penganut dakwah mereka mengapa anda risau dengan respon kaum muda aswaja?

            Kami meyakini jika kelompok wahabi berhenti mempermasalahkan amaliyah orang lain Insya Alloh situasi akan kembali normal. Jadi prinsipnya siapa yang memulai dialah yang harus bertanggung jawab atas situasi yang terjadi saat ini, bukan kami.. Sebaliknya jika mereka enggan mengahiri arogansi mereka, percayalah fitnah besar akan menimpa ummat islam, dan mereka harus bertanggung jawab dihadapan Alloh…

            – Dapatkah kiranya mereka meminta maaf atas cacian serta hujatan mereka terhadap para ulama kamai khususnya para ulama tashowwuf ?…
            – Beranikah mereka meminta maaf kepada seluruh umat islam atas kejahatan penyelewengan karya-karya para ulama ? (dalam hal ini kami tidak mengatakan berdasar berita, tapi ada pada kami dua kitab Adzkar An Nawawi, dua Hasyiyah As Showi, dua Fathul Baari, beberapa Sohih Bukhori, dimana yang satu berbeda dengan yang lain)
            – Kebenaran macam apa yang mereka yakini, kalau pada akhirnya membuat ummat islam saling mencaci ?
            – Manhaj salaf mana yang mereka ikuti yang tega mengkafirkan para ulama’nya?
            – Saya tidak berbicara berdasar rekaan, kami punya bukti berupa tulisan-tulisa para Masyayikh dan para Ustadz mereka…
            – Pantaskah kiranya seorang yang mengaku bermanhaj salaf dan berakhlaq Rosululloh saw menulis buku dengan judul “Darah Hitam Kaum Sufi”?
            – Mereka menghujat kaum sufi, tapi disisi lain tanpa malu menukil mutiara hikmah dari para sufi ?

            Selanjutnya, perlu dicatat !! sebelumnya kami tidak pernah mempermasalahkan saudara kami yang nggak mau Tawassul, Tahlilan, Yasinan, Maulidan dst… bahkan dengan saudara kami dari Muhammadiyah kami dapat hidup rukun berdampingan selama ini, hingga datang dakwah arogansi model salafi dengan berbagai sektenya…

            Semoga Alloh senantiasa melindungi kami dan anda sekeluarga…

          4. Abu Hilya@

            Ustadz…. syukron atas pembelaan antum, semoga mereka menyadari apa yg telah mereka perbuat selama ini menimbulkan respons dari kaum muda Aswaja. Toh kaum muda Aswaja di sini sangat kelihatan unggul dalam berhujjah, itu sangat kelihatan sekali.

            Sebaiknya kita hadapi bersama-sama sampai tak ada lagi fitnah atau setidaknya meminimalkan fitnah dari mereka. Sebab mereka juga tampaknya tidak menyadari kalau mereka itu menyebar fitnah, tahunya mereka berdakwah dalam kebenaran, akibat doktri kebenaran satu2nya ada pada mereka. Doktrin yg tidak terbukti kebenarannya, bukankah selama ini kaum muda Aswaja di mana2 berhasil dengan mudah mematahkan klaim tsb?

            Ini memang problem ummat Islam secara keseluruhan, bukan saja di Indonesia tetapi di seluiruh dunia.

            Semoga Allah senantiasa menjaga Islam dari fitnah orang-orang suka memfitnah, amin………..

          5. ustadz abu’
            kok jadi kesana pembicaraannya.
            sudahlah ” ITU URUSAN MEREKA, JGN TANYAKAN KEPADA SAYA YA USTADZ…!!!
            mmg ustd gak nuduh saya wahhaby, tp suporter ustd scr tersirat (cb liat koment juman dan stlhnya, dan sy yakin ustadz pst tahu, dan sbg senior, ustadz diam, apa salah kl lalu saya katakan ustadz mengamini omongan mereka?)

            1. Ust. menulis ttg AT-TARK, lalu COBA PERHATIKAN YA USTADZ KARIM koment teratas..!!
            2. ibarat ada penjual saya pun membeli.
            tp sy gak bs dgn tulisan2 yg ilmiah spt ustadz, lalu saya cb dng contoh nyata (bkn mengada2) utk menguji kebenaran tulisan ustd.(KRN SY YG BODOH INI MENDAPATI KEJANGGALAN TULISAN USTD (org bodoh gak mudeng itu gak dosa to..?)).
            3.lalu ketika ustd menjlsksn dng penjelasan yg sy anggap kurg memuaskan lalu saya minta yg lbh detil dan tegas sesuai dgn topik, ternyata ustd kurang berkenan dan bahkn suporter ustadz ada yg ngolok2 saya, ustd diam saja.
            4. sypun ttp melayani mereka dgn sabar, eh… ujuhg2nya ustdz malh ngomong spt ini….

          6. @dakir,
            anda merasa pengikut wahabi bukan ?
            kalau pengikut wahabi saya cuma ucapkan Alhamdulillah….
            kalaupun bukan pengikut wahabi, juga Alhamdulillah…. itu urusan anda mau wahabi atau tidak, seharusnya anda bangga jadi orang wahabi karena menurut kalian wahabi itu yg paling benar, tauhidnya paling murni, paling mengikuti Qur’an dan sunnah Nabi dan selain wahabi adalah penghuni neraka.

          7. Bismillah,

            Mas @Dakir, mohon maaf bila anda salah memahami maksud tulisan kami diatas, sungguh pertanyaan-pertanyaan yang kami sampaikan diatas tidaklah tertuju buat anda, kami sampaikan hal tersebut sebagai alasan atas lepasnya kontrol ghiroh kaum muda aswaja, sekali lagi kami mohon maaf jika anda salah dalam memahami isi yang menjadi maksud dari tulisan kami diatas.

            selanjutnya agar anda mendapatkan sesuatu yang mungkin bermanfaat dari interaksi kita dimedia ini akan kami beri jawaban tentang apa yang anda pertanyakan selama ini.

            Jawaban kami adalah : “Sebaiknya anda melakukan sholat dua rokaat sambil menunggu iqomah, kemudian lanjutkan dengan dzikir dan atau do’a jika memungkinkan” tambahan; mari kita berlatih untuk konsentrasi dalam beribadah, apa yang terjadi disekitar kita bukanlah alasan bagi kita untuk tidak berlatih khusyu’, oleh karenanya biarkan orang lain beramal sesuai pengetahuan mereka, mari kita pegang prinsip “Lanaa A’maaluna Wa Lakum A’maalukum”

            Selanjutnya, tentang “At Tark” kami simpulkan bahwasannya bagi kami : “yang Wajib adalah perkara yang diwajibkan Alloh dan rosul-Nya, Sedang yang haram adalah perkara yang diharamkan Alloh dan rosul-Nya bukan perkara yang ditinggalkan Nabi dan para sahabat dan perkara baik adalah perkara yang dianjurkan agama melaui Al Qur’an dan Sunnah meskipun belum ada contohnya” kami tidak akan mengharamkan perkara yang tidak diharamkan agama pun juga kami tidak akan mewajibkan perkara yang tidak diwajibkan agama… wallohu a’lam

          8. ustadz mas abu,
            baiklah mas abu, kita ulangi aja dr sini ttg “definisi at tark”
            – “yang Wajib adalah perkara yang diwajibkan Alloh dan rosul-Nya, Sedang yang haram adalah perkara yang diharamkan Alloh dan rosul-Nya”

            Ini saya setuju berdasarkan pemahaman saya dr sabda rosululloh “inna alhalaala bayyinun wa alharaama bayyinun” (arba’in nawawiyah hadits ke 6)

            -lalu ustadz tambahi , “bukan perkara yang ditinggalkan Nabi dan para sahabat ”
            nah yg ini saya blm th dasarnya (boleh dijlskan tadz??)

            sdg yg saya pahami adalah kelanjutan hadits itu aja yaitu:
            “wa bainahuma umuurun musytabihaatun, laa ya’lamuhunna katsiirun mina naasi, FAMANITTAQO ASYUBUHAATI FAQODISTABRO’A LIDDIINIHI WA ‘IRDHIHI, WA MAN WAQO’A FII SYUBUHAATI WAQO’A FII ALHARAAMI”.

            jd perkara ibadah yg ditinggalkan nabi menurut saya (yg bodoh dan terkena virus ini) pahami termasuk perkara subhat, dimana siapa yg “at taqo” (ktnya artinya, takut lalu meninggalkan) mk dia istabro’a (diartkan menjaga, menyelamatkan (?)) agama dan khormatannya. dan yg jatuh ke subhat mk dia jtuh ke dalam “PERKARA HARAM”
            lalu dijelaskan “SPT ORG YG ANGON DEKAT TANAH LARANGAN,MK HAMPIR SJA IA AKAN MEMASUKINYA”

            lalu sayapun berusaha berhati2 dr perkara ini dgn meninggalkannya, toh ustadz jg setuju kalo saya meninggalkannya?, jg meninggalkan jg tdk berdosa?

          9. Bismillah,

            Alhamdulillah Mas @Dakir :

            Sebelum kita lanjutkan penjelasan tentang At Tark, sebagai bahan tambahan anda dapat melihat hadits No 30 pada kitab Arba’in tsb… Semoga sukses…

          10. @Dakir : “jd perkara ibadah yg ditinggalkan nabi menurut saya (yg bodoh dan terkena virus ini) pahami termasuk perkara subhat….”

            “yg jatuh ke subhat mk dia jtuh ke dalam “PERKARA HARAM””.

            jawab :
            coba saudara terangkan, apa itu ibadah?

            “Apa yang Allah halalkan dalam kitabNya, ia halal, dan apa yg Allah haramkan, ia haram. sedangkan hal hal yg didiamkanNya, ia di maafkan. terimalah pemaafan dari Allah, karena Allah sesungguhnya tidak lupa terhadap sesuatu pun. (beliau membaca sebuah ayat): tidaklah Tuhanmu lupa akan sesuatu (Maryam : 64)” (HR. Hakim, di shahikannya)

            “yang halal adalah segala sesuatu yg Allah halalkan dalam kitabNya, dan yg haram adalah segala sesuatu yg Allah haramkan dalam kitabNya. Sedangkan apa yg didiamkanNya maka ia termasuk yg dimaafkan kepada kalian”. (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)

            sebenarnya, saudara ingin mengatakan bahwa, segala sesuatu yg tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad saw. maupun para sahabat adalah haram.

            kalau saudara berkenan, tolong jawab pertanyaan saya sebelumnya. pertanyaannya adalah, jika seseorang sedang dalam perjalanan, sedangkan waktu shalat telah masuk, dan tidak ada air untuk berwudhu, yg ada hanyalah air dalam kemasan dan orang tersebut sanggup untuk membelinya. apa hukum membeli air dalam kemasan untuk berwudhu? mana dalilnya?

            salah satu contoh ibadah adalah zakat. saya ingin bertanya, apa hukum mebayar zakat fitrah dengan uang. setahu saya, Nabi Muhammad saw. tidak pernah membayar zakat fitrah dengan uang. membayar zakat fitrah dengan uang merupakan pendapat khalifah umar bin abdul aziz, mazhab hanafi. atau saudara ingin mengatakan bahwa mereka adalah ahli bid’ah karena menetapkan sesuatu yg tidak ada keterangannya dari pembawa risalah.

            satu lagi contoh, menurut Imam Maliki, wajib zakat atas buah zaitun, sedangkan menurut imam Nawawi tidak wajib.

            mana yg ahli bid’ah imam maliki atau imam nawawi?

            kalau modal saudara cuma jargon : “jauhilah segala sesuatu yg tidak ada keterangannya dari Nabi Muhammad saw”

            maka akan banyak Imam Imam Ahlussunah yg akan saudara vonis ahli bid’ah.

    3. @dakir-tukang-elektronik
      “BHW ORG YG MENYANYI DAN TDK SHOLAT TD JELAS MENGGANGU/ MENGGADUHI ORG YG SDG SHOLAT TAHIYATUL MASJD”

      Baik disini yang ente fokus kan kata “Mengganggu”, kita lihat Riwayat :
      “Pada saat Rasulullah sedang shalat tiba2 cucu Rasulullah yang bernama Husein dan Hasan menangis, karena Rasulullah sangat sayangnya, maka Rasulullah mengambil kedua cucunya dan menggendongnya, kemudian Rasulullah shalat sambil menggendong kedua cucunya tersebut, pada saat beliau posisi berdiri Rasulullah pegang, saat Rasulullah Ruku’ dan sujud kedua cucunya ditaruh disampingnya dst…..” (Semua perawi hadist meriwayatkannya).

      Coba ente bayangkan bagaimana kita shalat sambil menggendong dua orang anak ??? kalau kata mengganggu sebagai kata Fokus ente !!!!

      1. Bismillaah,

        Kang Ucep,

        Hadits larangan mengganggu orang yang sedang bermunajat dengan suara bacaan Qur’an telah disampaikan oleh Akh Dakir meski tidak menyertakan rawinya. Hadits tersebut meriwayatkan bahwa suatu malam saat beri’tikaf di Bulan Ramadhan, Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam melongok dari bilik i’tikafnya untuk menegur orang-orang yang membaca Qur’an dengan suara keras seraya bersabda: “Sesunggunya kalian sedang bermunajat. Maka, janganlah kalian saling melukai.” Kawan-kawan yang mengetahui hadits ini dengan baik dimohon untuk menyampaikannya di forum ini.

        Rasulullaah saja melarang para sahabat membaca Qur’an dengan suara yang mengganggu orang yang sedang bermunajat saat i’tikaf. Masak kita membiarkan orang-orang yang bernyanyi-nyanyi saat antara adzan dan iqamah.

        Hadits ini selalu disampaikan setiap ada pembahasan dzikir berjamaah selepas shalat dan bernyanyi di antara adzan dan iqamah.

        Wallaahu a’lam.

        1. @ibnu suradi
          Ente tahu gak permasalahan yang dikemukakan oleh mas @dakir-tukang-elektronik ?????. Ane juga udah kasih Riwayat yang dishahihkan oleh semua perawi hadist.

      2. sodara ucep,
        -“mengganggu” itu hny pendapat saya mengikuti penilaian rosululloh, berdasarkan hadits yg jg diulang lg dgn tdk komplit oleh pak sodara ibnu suradi.
        NIH DPT COPASAN:
        “Sesungguhnya orang yang Shalat itu bermunajat kepada RABB-nya, maka lihatlah kepada siapa yang dimunajatkannya, janganlah kalian menyaringkan bacaan Al-Qur’an di antara satu dengan yang lain,” (HR. Abu Dawud).
        Jd rosululloh meLARANG yg demikian itu (yaitu menggaduhi dgn bacaan alquran) .LALU saya menyimpulkan bhw larangan itu krn “mengganggu”(kl kesimplan saya salah ya dicabut saja)
        jd kata kuncinya bkn “mengganggu” tapi “ada larangan”

        -sedang hadits ttg rosululloh sholat sambil gendong anak, walaupun kita anggap itu mengganggu, ttp KRN ROSULULLOH TDK MENGATAKAN ITU MENGGANGGU DAN TDK MELARANG, MK SAYA PUN JG TDK MENGATAKAN ITU SBG GANGGUAN DAN TDK MELARANG.

        – Tetapi intinya adalah ADA SUNNAHNYA NDAK?,
        DAN DIBWH SAYA LIHAT SAMPEAN MENGATAKAN :
        “Memang dijaman Rasulullah tidak ada nyanyian atau puji2an setelah azan sampai iqamah”,
        ITU SDH CUKUP BG SAYA,
        tp saya msh menuggu, apakah sodara mas ustadz yg nulis tulisan diatas jg sprti sampean??

        1. @dakir-tukang-elektronik
          Begini kata “Memang dijaman Rasulullah tidak ada nyanyian atau puji2an setelah azan sampai iqamah” maksud ane, Ane belum dapatkan hadistnya (mungkin ane belum pernah baca) itu maksudnya.
          Kita juga bisa lihat penjelasan mas @agung, dibolehkannya melakukan perkara nyanyian dan pujian didalam masjid, apakah itu belum cukup, buat ente jadikan ilmu.

          Makanya jika itu ente berkenan, maka perhatikan artikel diatas tentang “At Tark” yang ditulis sangat jelas oleh Ustad @abu hilya, kita musti mengetahuinya, tidak asal berucap bid’ah menurut kita, tapi menurut Allah dan Rasulullah suatu perkara tidak bid’ah, bagaimana hukumnya hal tersebut jadinya, bisa2 kita sendiri yang kena getahnya, karena kebodohan kita yang gak mau baca kitab atau belajar !!!
          Jangan melarang orang yang ingin berbuat baik, dimata kita bid’ah tapi disisi Allah Tidak !!!

          Seperti begini, Puasa daud apakah Rasulullah pernah mengerjakan ? tentunya tidak, tapi Rasulullah hanya menyarankan puasa yang baik adalah puasa daud.
          Zaman sekarang kalau ingin mengislamkan seseorang, harus dengan perdebatan Agama, apakah dizaman Rasulullah terjadi itu, tentunya tidak.
          Zaman sekarang banyak akad Nikah dilakukan dimasjid, apakah dizaman Rasulullah seperti sekarang, tentunya tidak.
          Maksud tidak, ane lengkapi supaya gak salah tafsir, itu karena kebodohan ane yang belum banyak baca kitab.

        2. @dakir tukang elektronik

          mohon maaf sebelumnya saya ikut nimbrung…!
          ada yang mau saya tanyakan

          1. yang “nyanyi” di musholah atau masjid di daerah anda antara azan dan iqomah itu orang tua apa anak-anak?
          klo di daerah saya yang “nyanyi” antara azan dan iqomah biasanya anak2 umuran SD dan SMP yang belum begitu mengerti tentang agama..!

          2. hadis yang dibawakan ibnu suradi itu larangan untuk semua umat islam termasuk anak2 atau hanya orang yang mukallaf saja?

          klo saya lihat hadis yang dibawakan ustadz agung ternyata perlakuan Rosulullah ke anak2 berbeda dengan perlakuan rosululah ke orang yang sudah mukallaf (mohon maaf itu hanya kesimpulan saya saja)

          wallahu a’lam

    4. laah sampeyan sekolah ga? emang Nabi dan sahabat2 dulu sekolah? saya acungi jempol kalau anda bilang “saya tidak sekolah”…beres kan?

    5. @dakir-tukang-elektronik
      Ente boleh koreksi, hadist2 anjuran waktu setelah azan dan iqamah, karena waktu itulah salah satu waktu yang pasti di ijabah oleh Allah swt :
      1. Perbanyak shalawat
      2. Shalat Tahiyathul masjid
      3. Perbanyak berdoa.
      4. Perbanyak zikir / puji2an kepada Allah
      Ente buka2 hadist pasti ada ke 4 hal yang ane sebutin.
      Dari hal itulah, dilakukan pengisian waktu luang sambil menunggu iqamah, maka dilakukan secara berjamaah.
      Kalau yang mau shalat sunnah ya lakukan, kalau yang tidak shalat sunnah ikut melakukan puji2an. Hal ini juga untuk menghindari, anak2 yang ikut shalat tidak berlarian ataupun bercanda sana-sini.
      Memang dijaman Rasulullah tidak ada nyanyian atau puji2an setelah azan sampai iqamah, karena dijaman Rasulullah para sahabat dan anak2 sangat Tawadhu’. lain dijaman sekarang ini, terutama anak2.
      Contoh Abu hurairah ra, dia mengerjakan shalat wudhu’ baru kemudian shalat Tahiyatul masjid.

      Kalau hadist yang menyatakan bolehnya bersyair dan melakukan puji2an didalam masjid sudah dijelaskan sama mas @agung.
      Kalau masalah terganggu dalam beribadah silahkan lihat bagaimana Rasulullah shalat sambil menggendong kedua cucunya Husein ra dan Hassan ra. Dari riwayat ini, makanya dizaman sekarang banyak para orang tua yang mengajak anak2 (walaupun baru bisa jalan alias BALITA) kemasjid untuk shalat, Ente bisa lihat diwaktu hari raya Ied dan waktu magrib.
      Apakah membawa anak2 balita kemasjid gak boleh ? boleh, karena sunnahnya ada. Apakah tidak terjadi berisik kalau anak balita ada ? Pasti berisik. Bagaimana mengatasi keberisikan itu ? yah lakukan semaksimal mungkin yaitu dengan shalawat atau berzikir berjamaah atau kasih mainan didalam masjid, seperti ayunan atau bola2 (wah ini lebih parah bid’ah nya – nti disangka Playgroup).

  29. @Dakir

    dari tulisan kami di atas, kesimpulannya adalah, at-tark bukanlah dalil untuk secara langsung memutuskan suatu perkara baru hal itu adalah haram, makruh atau wajib.

    Imam an-Nawawi mengatakan bid’ah sebagai perbuatan yang tidak ada contoh sebelumnya. dan didalam Tahdzibul Asmaa’ wal Lughaat, beliau mendefinisikan :“Bid’ah didalam syara’ adalah mengada-adakan perkara yang tidak ada pada masa Rasulullah shalullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, dan itu terbagi menjadi hasanah dan qabihah”.

    Sulthanul ‘Ulamaa’ al-Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam didalam kitabnya Qawa’idul Ahkam mendefinisikan bid’ah sebagai berikut :“Bid’ah adalah melakukan sesuatu yang tidak ada masa masa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, dan itu terbagi menjadi ; bid’ah wajibah, bid’ah muharramah, bid’ah mandzubah, bid’ah makruhah dan bid’ah mubahah, sedangkan metode dalam mengetahui pembagian yang demikian untuk menjelaskan bid’ah berdasarkan kaidah-kaidah syariah”.

    al-‘Imam ‘Ayni al-Hanafi didalam ‘Umdatul Qari syarh Shahih Bukhari [5/230] menjelaskan :“Bid’ah dari segi lughah : setiap sesuatu amalan tanpa contoh sebelumnya. Sedangkan dari segi syara’ : mengadaadakan perkara yang tidak ada asal pada perkara tersebut di masa Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam, dan itu terbagi menjadi 2 bagian yaitu : bid’ah dlalalah, itu yang telah kami sebutkan, dan bid’ah hasanah, yakni suatu perkara yang orang mukmin memandangnya sebagai kebaikan (hasanah) dan perkara tersebut tidak menyelisihi al-Qur’an atau As-Sunnah atau Atsar atau Ijma’.

    Imam asy-Syafi’i pernah berkata : perkara baru (muhdatsaat) itu terbagi menjadi
    menjadi dua bagian :
    1. Suatu perkara baru yang menyelisihi al-Qur’an, Sunnah, Atsar atau Ijma’, maka ini
    termasuk perkara baru yang disebut bid’ah dlalalah, dan
    2. Suatu perkara baru yang baik yang didalamnya tidak menyelisihi dari salah satu tersebut, maka ini perkara baru (muhdats) yang tidak buruk

    Memang ada ulama yg menolak pembagian bid’ah hasanah. Menurut kalangan ulama yg menolak pembagian bid’ah hasanah, hakikatnya adalah tidak menerima penyebutan bid’ah terhadap masalah yang masih di naungi oleh keumuman nas atau masalah yang masih ada asalnya dari al-Qur’an, as—Sunnah, Ijma’, Qiyas, Mashlahah Mursalah, dan ada fuqaha’ yang menunjuki dalilnya, sehingga menurut mereka, yang seperti ini kenapa harus disebut bid’ah jika ada nasnya (walaupun nas-nya umum).

  30. ustadz agung,
    – kalo nyuapin ank kecil itu ya sesuap dulu, biar dikunyah lalu ditelan, baru disuapin lg dst gitu to yo…, jgn mentg2 bnyk makanan lalu semua dikeluarin srh makam.

    “dari tulisan kami di atas, kesimpulannya adalah, at-tark bukanlah dalil untuk secara langsung memutuskan suatu perkara baru hal itu adalah haram, makruh atau wajib”.

    -tlg liat tanggapan sy utk ust abu hilya diatas saja biar ngirit.

    ma’af ya saya buru2 cari nafkah dl.

  31. agung, mas thole ustadz,
    (komentnya penthalitan lari disini, piye iki paklik admin?)

    sebenarnya, saudara ingin mengatakan bahwa, segala sesuatu yg tidak ada contohnya dari Nabi Muhammad saw. maupun para sahabat adalah haram.

    -(sptnya mas thole bolak balik gak tepat ngarani (nuduh) saya)
    harap dibedakan, KECENDERUNGAN HATI MENILAI HARAM dengan MENGATAKAN HARAM.
    -Jg seakan akan mas thole anggap sy ini tkg vonis ahli bid’ah?

    mas thole ustadz,
    -ttg tayammum sdh dl sy jwb. segitu aja mgkn ilmuku.
    -ttg zakay fitrah, sy ikut hadits yg maqbul saja yg intinya dgn bhn makan pokok yg dimakan sehari2. (betul apa salah?) dan tdk dng uang.
    kl ada ulama yg ijtihad dng uang, sy blm tahu pertimbangan ulama atas ijtihadnya itu. (tlg kasih tau dong…), bknkah “SEBAIK2 PETUNJUK ADALAH PETUNJUK MUHAMMAD SHOLALLOHU ‘ALAIHI WASALM???”
    kl ulama itu ternyata (dan saya tdk tahu) TDK BERDSR DALIL (dan itu janggal) saya ttp menilai perbuatannya itu bid’ah, TAPI SAYA GAK NGECAP AHLI BID’AH KPD ULAMA TSB, dg alasan bhw org yg sdh berhak ijtihad itu walau salah tetap berpahala (gitu to?)
    apalagi sekaliber nama2 yg masthole sebutkan diatas.

    jd tdk setiap yg berbuat bid’ah itu lalu dicap ahli bid’ah,
    jg pelaku syirik tdk serta merta dicap musyrik, kafir dsb, dsb.
    itu diantara yg saya dpt dari “ngintip belajar” dr sdr2 salafy (bljrnya cuma ngintip gak masuk di kelas)

    Ulama yg tersalah dlm ijtihad itu bkn aib, itu biasa namanya jg manusia. dan saya berusaha agar lisan dan tangan serta hati ini tdk sembrono mencela, merendahkan pribadi mereka.
    saya prnh dgr org menukil ucapan imam malik yg intinya “perkataan org bs diambil atau ditinggalkan kcuali org ini (smbil menunjuk makam nabi sholallohu ‘alaihi wasalm)”.

    thole katakan :”kalau modal saudara cuma jargon : “jauhilah segala sesuatu yg tidak ada keterangannya dari Nabi Muhammad saw”

    maka akan banyak Imam Imam Ahlussunah yg akan saudara vonis ahli bid’ah.”
    (jwbnnya sdh jelas to..?)

    -makna ibadah yg saya baru pahami (mgkn sekali salah ato krg): TUNDUK DAN PATUH YG DIISERTAI DGN RASA CINTA(MAHABBAH) DAN MENGAGUNGKAN (TA’DZIM) DGN CARA MELAKUKAN PERINTAH2 DAN MENINGGALKAN LARANGAN.

    USTADZ MAS ABU,

    ttg hadits no 30,
    -kita mesti nyetel persepsi kita dl ttg “APAKAH PERKARA2 YG JD OBYEK PERSELISIHAN ITU” termasuk perkara yg “DIDIAMKAN OLEH ALLOH TA’ALA” ato tdk.

    1. Bismillah,

      Mas @Dakir, Sebelum kami menjawab pertanyaan anda, kami ingit tanyakan terlebih dahulu tentang hadits no 30 tsb :

      – Apakah anda setuju jika kita tidak boleh mewajibkan perkara yang tidak diwajibkan agama ?
      – Apakah anda juga setuju jika kita tidak boleh mengharamkan perkara yang tidak diharamkan agama ?

  32. @Dakir

    Saya kan cuma mengutip perkataan anda, berikut perkataan anda : ““jd perkara ibadah yg ditinggalkan nabi menurut saya (yg bodoh dan terkena virus ini) pahami termasuk perkara subhat….. yg jatuh ke subhat mk dia jtuh ke dalam “PERKARA HARAM”.

    mas dakir, setiap ulama itu, berijtihad pasti mengacu kepada sumber yg sama, yaitu Al-Qur’an dan Hadits. selain kedua sumber utama itu, sumber hukum islam yg telah di sepakati adalah ijma’ dan qiyas. kemudian masih ada lagi metode ijtihad seperti istihsan, maslahah mursalah dll.

    Imam Bukhori bermazhab Syafi’i, namun dalam masalah zakat fitrah, Imam Bukhori sependapat dengan mazhab Hanafi. itu yg saya ketahui.

    anda berani mengatakan bahwa perbuatan tersebut bid’ah, seharusnya saudara dan komunitas saudara mengukur diri, siapa kita, apakah kita memiliki kemampuan untuk berijtihad atau tidak.

    memang benar, para imam imam mazhab adalah manusia basa seperti kita, namun jangan lupa, mereka adalah mujtahid mutlaq yg mampu berijtihad. jadi, walaupun mereka manusia biasa yg bisa benar dan bisa juga salah, tapi kedudukan mereka itu sangat tinggi, orang orang seperti ibnu Taimiyyah, ibn Qayyum, muhammad bin abdul wahab, bin baz, ustmaini dkknya, tidak akan menyamai kedudukan mereka. apa lagi orang orang seperti kita.

    kalau saya, tidak akan berani mengatakan bahwa perbuatan tersebut adalah bid’ah, karena saya sadar, siapa diri saya. untuk apa saya mengomentari bahwa perbuatan tersebut adalah bid’ah, sedangkan ilmu saya tidak sampai ke sana.

    mas dakir, masalah fiqih itu luas, dan masalah masalah baru yg tidak ada keterangan yg jelas dari Al-Qur’an dan Hadist, akan terus di hadapi oleh umat manusia, oleh karena itulah ijtihad itu akan terus tetap ada sepanjang zaman.

    Al-Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Ibn Umar radhiyallahu ‘anhu yang berkata: “Sepulangnya dari peperangan Ahzab, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:“Jangan ada yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” (HR.al-Bukhari [894]).

    Sebagian sahabat ada yang memahami teks hadits tersebut secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar–walaupun waktunya telah berlalu– kecuali di tempat itu. Sebagian lainnya memahaminya secara kontekstual, sehingga mereka melaksanakan shalat Ashar, sebelum tiba di perkampungan yang dituju. Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam menerima laporan tentang kasus ini, beliau tidak mempersalahkan kedua kelompok sahabat yang berbeda pendapat dalam memahami teks hadits beliau.” (HR. al-Bukhari [894]).

    Khalifah yang shaleh, Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu juga berkata:“Aku tidak gembira seandainya para sahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak berbeda pendapat. Karena seandainya mereka tidak berbeda pendapat, tentu tidak ada kemurahan dalam agama.” (Jazil al-Mawahib)

    Seorang ulama salaf dari generasi tabi’in, al-Imam al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar al-Shiddiq berkata: Perbedaan pendapat di kalangan sahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam merupakan rahmat bagi manusia.” (Jazil al-Mawahib)

    Paparan di atas menyimpulkan bahwa perbedaan pendapat di kalangan sahabat telah terjadi sejak masa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Dan ternyata perbedaan tersebut dilegitimasi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan menjadi rahmat bagi umat Islam sebagaimana diakui oleh ulama salaf yang saleh.

    JADI, TOLONG, UNTUK SAUDARA DAKIR DAN ORANG ORANG YG SEPAHAM DENGAN SAUDARA, JANGAN MUDAH MEMVONIS BID’AH PADA AMALAN KAUM MUSLIM YG LAIN.

  33. Enak ya jadi Wahabi. Terkadang bisa berfatwa “layaknya seperti ulama”. Kalau ditanyain dalil, langsung pura-pura bodoh dan mengaku baru belajar. Terkadang bisa juga seperti burung beo, nyerocos tapi ga tahu yang diucap. Yang lebih parah lagi, udah tertipu oleh kitab-kitab palsu, tidak menyadari telah tertipu, kemudian berusaha menipu orang lain. Lengkap dah …

  34. Alhamdulillah………….. sy menemukan blog ini, Smg membawa pencerahan untuk kaum muslimin. Dan mohon untuk para kyai dan ulama’ yang keilmuannya sangat mumpuni, nyuwun tlg blog ini terus dibimbing dan dibina, kasihan para awwam yang tidak tau apa2, tau2 sudah terjerembab dalam kubangan kesesatan yang penuh dg fitnah, sdgkan yg mrk ketahui adalah mrk dalam kebenaran. Kepada sdr2 admin & para ustd di sini, tlg berikanlah layanan dg sebaik dan se-sabar mungkin “RABBANAA AFRIGH ‘ALAINAA SHABRAN WA TSABBIT AQDAAMANAA WAN SHURNAA ‘ALAL QAUMIL KAAFIRIIN”. semoga amal panjenengan semua menjadi jihad yang berhak mendapatkan ridha Allah SWT, Aamiin. Mturnwun (kmi pingin tau kitab2 palsu di atas, gmn caranya tadz?)

  35. Alhamdulillah hampir hampir saja saya terkena virus flu wahabi… tetapi Alloh menyelamatkanku… dan itu menjadi pendorong untuk bersemangat menimba ilmu agar melindungi diri anak istri dan seluruh keluarga dari Fitnah akhir zaman ini,
    Allohumma sholli ala sayyidina Muhammad

  36. Ketika yahudi ngeyel terhadap perintah Alloh utk menyembelih sapi… maka mereka ngeyel.. bukan berarti tidak tahu atau tidak faham tentang perintah Alloh tsbt , tetapi mereka ngeyel karena mempermainkan perintah Tuhan… berlindunglah dari orang2 seperti itu.

    1. ustdz agung bercanda:
      “Imam Bukhori bermazhab Syafi’i, namun dalam masalah zakat fitrah, Imam Bukhori sependapat dengan mazhab Hanafi. itu yg saya ketahui.

      anda berani mengatakan bahwa perbuatan tersebut bid’ah, seharusnya saudara dan komunitas saudara mengukur diri, siapa kita, apakah kita memiliki kemampuan untuk berijtihad atau tidak.”

      saya tersenyum, sambil berguman:
      “wong saya dulu berkata: “kl ulama itu ternyata (dan saya tdk tahu) TDK BERDSR DALIL (dan itu janggal) saya ttp menilai perbuatannya itu bid’ah, TAPI SAYA GAK NGECAP AHLI BID’AH KPD ULAMA TSB, dg alasan bhw org yg sdh berhak ijtihad itu walau salah tetap berpahala (gitu to?)”

      JADI SANGAT BERLEBIHAN KALO SAYA DIBILANG MEMBID’AHKAN ULAMA.
      (tlg org2 yg pintar cermati lg kata2 saya diatas)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker