Bedah Aliran Sesat

Salah Memahami Ibadah Menyebabkan Kaum Wahabi Terkenal Ngawur

Asal Muasal Munculnya Pertanyaan: “MANA DALILNYA”

 

 

Kepada teman-teman Salafi Wahabi yang masih dalam kebingungan memahami persoalan ibadah sehingga masih tetap saja  ngeyel membid’ahkan amal-amal shalih kaum muslimin….  Marilah kita belajar bersama. Simak dulu uraian berikut ini dan apabila masih ada yang belum paham silakan bertanya…, nanti teman-teman Ummati insyaallah akan memberikan jawabannya.

Baiklah, yuk kita mulai saja pelajarannya…. Kita ambil salah satu contoh kasus dari isu-isu bid’ah yang anda selalu menganngapnya bid’ah yang haram. Misalnya MAULID Nabi. Contoh kasus MAULID yang semenjak dulu sampai sekarang terus selalu saja anda  menganggapnya berdosa jika melakukannya. Walaupun sudah banyak penjelasan dijelaskan oleh para pelaku Maulid, tetapi rupanya anda sekalian belum bisa paham-paham juga. Sebabnya mungkin karena hati yang keras atau mungkin hanya karena belum mengerti persoalan ibadah.

Apakah anda sudah pernah mengikuti acara peringatan MAULID NABI? Jika pernah mengikutinya, tentunya anda tahu bahwa di dalam acara maulid itu berisi aktifitas yang isinya antara lain  tholabul ilmi, shodaqoh, dzikir, pembacaan biografi Nabi dan biasanya di akhir acara ada tausiyah keislaman. Nah… anda pastinya sangat hafal dengan dalil-dalil tentang tholabul ilmi, shodaqoh, dzikir dan tausiyah, dalil-dalilnya sudah banyak tersebar di seantero Dunia Maya, silakan cari sendiri atau tanya saja kepada ustadz Gugel.

Oke, bisa ditebak apa yang ingin anda tanyakan disini dan ini bagi anda adalah sangat bermasalah yaitu adakah Dalil dari “Peringatan MAULID”? Benar-benar adakah dalilnya atau tidak ada? Hemmm, baiklah memang selama ini anda selalu bertanya: MANA DALILNYA? Seakan-akan menggambarkan isi kepala anda yang sudah yakin 100 persen bahwa MULID itu tidak ada dalilnya. Benar demikian kan keyakinan anda?

Sebelum menjawabnya, di sini sebaiknya akan dijelaskan sedikit tentang kaidah ushul fiqh. Kita mulai dari suatu kaidah dalam ushul fiqh yang sering digembar-gemborkan oleh teman-teman Salafi Wahabi bahwa:  “Asal semua ibadah adalah haram, sampai ada dalil yang menghalalkannya atau menyuruhnya”.

Bermula dari kaidah ini suatu amalan yang diangap ibadah selalu muncul pertanyaan: “Mana Dalilnya?”  Ini karena amalan dipersepsikan kepada sifat dari ibadah yang tauqif. Permasalahannya adalah sudah tahukah anda, untuk ibadah yang jenis atau macam apakah kaidah tersebut seharusnya diterapkan?

 

Penjelasan dari Kitab

Kita akan coba mengambil penjelasan dari kitab ushul Fiqh:

الأصل في العبادات التوقيف

وفي هذه الليلة أود أن أقف عند قضية أساسية في العبادات جميعاً وهي قاعدة معروفة عند أهل العلم، ” أن الأصل في العبادات التوقيف ” كما “أن الأصل في المعاملات والعقود الإباحة”، وهذه قاعدة نفيسة ومهمة جداً ونافعة للإنسان، فبالنسبة للعبادات لا يجوز للإنسان أن يخترع من نفسه عبادةً لم يأذن بها الله عز وجل، بل لو فعل لكان قد شرع في الدين ما لم يأذن به الله، فلم يكن لأحدٍ أن يتصرف في شأن الصلاة أو الزكاة أو الصوم أو الحج زيادة أو نقصاً أو تقديماً أو تأخيراً أو غير ذلك، ليس لأحد أن يفعل هذا، بل هذه الأمور إنما تتلقى عن الشارع، ولا يلزم لها تعليل، بل هي كما يقول الأصوليون: غير معقولة المعنى، أو تعبدية، بمعنى أنه ليس في عقولنا نحن ما يبين لماذا كانت الظهر أربعاً، والعصر أربعاً، والمغرب ثلاثاً، والفجر ركعتين، ليس عندنا ما يدل على ذلك إلا أننا آمنا بالله جل وعلا، وصدّقنا رسوله صلى الله عليه وسلم، فجاءنا بهذا فقبلناه، هذا هو طريق معرفة العقائد وطريق معرفة العبادات، فمبناها على التوقيف والسمع والنقل لا غير، بخلاف المعاملات والعقود ونحوها، فإن الأصل فيها الإباحة والإذن إلا إذا ورد دليل على المنع منها، فلو فرض مثلاً أن الناس اخترعوا طريقة جديدة في المعاملة في البيع والشراء عقداً جديداً لم يكن موجوداً في عهد النبوة، وهذا العقد ليس فيه منع، ليس فيه رباً ولا غرر ولا جهالة ولا ظلم ولا شيء يتعارض مع أصول الشريعة، فحينئذٍ نقول: هذا العقد مباح؛

Langsung ke maksudnya …. Bahwa yang dinamakan ibadah sifatnya tauqif yaitu sudah ditetapkan dan tidak boleh ditambah-tambah atau dikurangi atau mendahulukan atau melebihkan atau apapun itu…., contohnya ibadah wajib shalat lima waktu, ibadah haji, dll. Tentunya ini berbeda dengan muamalah yang asalnya boleh sampai adanya dalil yang melarangnya… Nah sekarang kita lihat apakah sebenarnya ibadah tauqif  itu….

BACA JUGA:  Mencermati dan Menjawab Gerakan Salafi Wahabi

التوقيف في صفة العبادة
العبادة توقيفية في كل شيء، توقيفية في صفتها -في صفة العبادة- فلا يجوز لأحد أن يزيد أو ينقص، كأن يسجد قبل أن يركع مثلاً أو يجلس قبل أن يسجد، أو يجلس للتشهد في غير محل الجلوس، فهيئة العبادة توقيفية منقولة عن الشارع

 

Tauqifi dalam sifat ibadah
Ibadah itu tauqifi dalam semua hal, dalam sifatnya….
Maka tidak boleh untuk menambah dan megurangi, seperti sujud sebelum ruku’, atau duduk sebelum sujud, atau duduk tasyahud tidak pada tempatnya… oleh karena itu, yang namanya ibadah itu tauqifi dinuqil dari syari’ ( pembuat syari’ah yaitu Allah ).

التوقيف في زمن العبادة
زمان العبادة توقيفي -أيضاً- فلا يجوز لأحد أن يخترع زماناً للعبادة لم ترد، مثل أن يقول مثلاً

Tauqifi dalam waktu pelaksanaan ibadah
Waktu pelaksanaan ibadah juga tauqifi. Maka tidak boleh seseorang itu membuat-buat ibadah di waktu tertentu yang syari’ tidak memerintahkannya.

التوقيف في نوع العبادة
كذلك لابد أن تكون العبادة مشروعة في نوعها، وأعني بنوعها أن يكون جنس العبادة مشروعاً، فلا يجوز لأحد أن يتعبد بأمر لم يشرع أصلاً، مثل من يتعبدون بالوقوف في الشمس، أو يحفر لنفسه في الأرض ويدفن بعض جسده ويقول: أريد أن أهذب وأربي وأروض نفسي مثلاً، فهذه بدعة!

Tauqifi dalam macamnya ibadah
Begitu juga ibadah juga harus disyaratkan sesuai dengan syari’at…. Artinya termasuk dari macam / jenis ibadah yang disyari’atkan. Maka tidak sah bagi orang yang menyembah sesuatu yang tidak disyari’atkan, seperti menyembah matahari. Atau memendam jasadnya sebagian sembari berkata: aku ingin melatih badanku misalkan. Maka ini semua bid’ah.

التوقيف في مكان العبادة
كذلك مكان العبادة لابد أن يكون مشروعاً، فلا يجوز للإنسان أن يتعبد عبادة في غير مكانها، فلو وقف الإنسان -مثلاً- يوم عرفة بالـمزدلفة فلا يكون حجاً أو وقف بـمنى، أو بات ليلة المزدلفة بـعرفة، أو بات ليالي منى بالـمزدلفة أو بـعرفة، فإنه لا يكون أدّى ما يجب عليه، بل يجب أن يلتزم بالمكان الذي حدده الشارع إلى غير ذلك.

Begitu juga tauqifi dalam tempat ibadah.
Maka ini juga harus masyru’. Maka tidak boleh beribadah tidak pada tempat yang sudah disyari’atkan. Seperti jika seseorang wukuf di Muzdalifah, maka ini bukan haji. Atau wuquf di Mina, atau bermalam ( muzdalifah ) di ‘Arafah, dan sebaliknya, maka ini semua bukanlah sesuatu yang masyru’. Kita wajib melaksanakan ibadah sesuai tempat yang sudah disyari’atkan oleh syari’.

BACA JUGA:  Wahabi dan Wahabisme dalam Pandangan Ulama Sunni Dunia

 

 Ibadah Mahdhoh, Ghoiru Mahdhoh, Wasail dan Maqosid

Berdasarkan dari penjelasan kitab di atas dapat ditangkap 4 point, dan bila diperhatikan maka di situ didapat kesimpulan bahwa ibadah yang sifatnya tauqif  itu adalah ibadah mahdhoh… faham? Jadi yang dimaksud ibadah dalam kaidah “Asal semua ibadah adalah haram, sampai ada dalil yang menghalalkannya atau menyuruhnya”, adalah diterapkan untuk ibadah yang sifatnya mahdoh saja, bukan semua ibadah.

Nah untuk bisa membedakannya, ibadah harus dilihat wasail (perantara) dan maqoshidnya (tujuan). Untuk ibadah yang sifatny mahdhoh Cuma ada maqoshid, sedangkan untuk ghoiru mahdhoh ada maqoshid juga ada wasail. Baiklah, langsung contoh saja…. biar gampang dan cepat mudeng, perhatikan baik-baik ya mas-mas Wahabi …?

Ibadah Sholat, ini sudah jelas karena ibadah yang dzatnya adalah ibadah, maka yang ada Cuma maqoshid (tujuan) tidak ada wasail.

Misalnya Anda seorang penulis di blog, kegiatan menulis sendiri itu bukan ibadah maka hukumnya mubah. Tapi karena anda mengharapkan ridho Allah dalam rangka dakwah dengan jalan menulis di blog maka dalam Islam ini berpahala dan termasuk ibadah. Setuju kan? Padahal ini nggak ada lho contoh dari Rasulullah, ya kan? Wasailnya anda menulis di blog, maqoshidnya anda mengharapkan ridho Allah dalam rangka berdakwah. Pekerjaan menulis yang begini ini juga termasuk ibadah, tapi ibadah semacam ini tidak dicontohkan oleh Rasul Saw, juga tidak dicontohkan oleh Para Sahabat Nabi.
Nah, yang salah kaprah ketika anda menganggap kegiatan menulis ini disamakan dengan ibadah yang dzatnya adalah ibadah seperti ibadah mahdhoh. Kalau dipandang sedemikian maka seharusnya MENULIS dianggap bid’ah sesat (dholalah). Begitulah, karena salah anggapan seperti inilah, maka selama ini sedikit-sedikit anda bilang bid’ah! Tahlilan itu bid’ah, Maulid juga bid’ah, Yasinan itu bid’ah dan berdosa para pelakunya. Padahal semua ini adalah ibadah ghoiru mahdhoh yang ada wasail dan maqosid-nya sebagaimana contoh di atas. Jadi kalau semua itu ditanya mana dalilnya pasti ada di maqosidnya, demikianlah.

Kita kasih contoh lagi biar semakin jelas ya? Di Indonesia ada macam-macam kegiatan Pengajian (kajian ilmiyyah) dan Tabligh Akbar. Awalnya bentuk kedua kegiatan ini bukan ibadah dan tidak ada contoh dari Rasul jadi hukumnya mubah. Tapi karena isi dari kegiatan ini adalah ibadah berupa tholabul ilmi dan tausiyah atau bahkan dakwah maka kegiatan pengajian dan tabligh akbar insyaallah berpahala, bernilai ibadah. (wasailnya kegiatan pengajian dan tabligh akbar, maqoshidnya mengharapkan ridho Allah dalam rangka tholabul ilmi dan berdakwah). Sekali lagi jika anda menganggap kegiatan pengajian dan tabligh ini sebuah ibadah yang dzatnya adalah ibadah seperti ibadah mahdhoh maka sudah pasti ini namanya bid’ah dholalah.

Demikian juga dengan Maulid, bahwa maulid adalah wasail (perantara atau ada yang bilang sarana), maqoshidnya adalah mengenal Rasul dan mengagungkannya. Bagaimanakah hukum awal dari Maulid? Jawabnny adalah mubah, boleh dilakukan juga boleh tidak dilakukan. Tapi kenapa menjadi sunah? Menjadi sunah dikarenakan hukum maqoshidnya adalah sunah (mengenal dan mengagungkn Rasul adalah Sunah). Karena yang namanya hukum wasail itu mengikuti hukum maqoshid (Lil Wasail hukmul Maqoshid) – ini adalah kaidah ushul fiqh.

 

BACA JUGA:  Pentingnya Mengenali Akar-akar Radikalisme Atas Nama Agama

Pertanyaan yang Salah Bagaimana Bisa Dijawab?

Contoh gampangnya untuk penjelasan Lil Wasail hukmul Maoshid: anda membeli air hukumnya mubah, mau beli atau nggak, gak ada dosanya. Tapi suatu saat tiba waktu sholat wajib sedangkan air sama sekali tidak ada kecuali harus membelinya dan anda punya kemampuan untuk itu maka hukum membeli air adalah wajib.

Kembali lagi ke Maulid. Apakah maulid bisa menjadi sesuatu yang bid’ah (dholalah)? Ya, bisa jika anda menganggap Maulid adalah sebuah ibadah yang dzatnya adalah ibadah seperti ibadah mahdhoh. Perlu digaris bawahi pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah ada dalilnya memperingati maulid Nabi? INI ADALAH PERTANYAAN YANG SALAH. Tidak ada ceritanya namanya wasail ada dalil qoth’inya.

Contoh lagi biar lebih gampang mencerna: anda berangkat bersekolah, ini adalah wasail. Maqoshidnya adalah tholabul ilmi. Karena tholabul ilmi itu hukumnya wajib maka berangkat ke sekolah pun menjadi wajib dan bernilai ibadah. Dalil yang ada adalah dalil tentang tholabul ilmi. Jika ditanya: “Manakah dalil yang menyuruh kita berangkat ke sekolah?” JELAS TIDAK ADA!! Karena ini adalaha wasail atau sarana.

Begitu pula dengan Maulid, kalau anda tanya dalil maqoshidnya yaitu tentang mengenal dan mengagungkan Rasul ya pasti ada dalilnya dong? Tapi jika anda tanya dalil wasailnya, yaitu memperingati Maulid? JELAS TIDAK ADA!! Karena ini adalaha wasail atau sarana.

 

Dalil Wajibnya Bermadzhab

Sedikit tambahan;  ini juga dalil kenapa bermadzab itu wajib hukumnya bagi kita, karena madzab adalah wasail, dan ini satu-satunya cara yang bisa dilakukan untuk mengerti agama ini, kita gak mungkin bertanya langsug ke Rasul. Sedangkn maqoshidnya agar kita bisa mengerti tentang agama Islam sehingga kita bisa mengamalkannya dengan benar (ini hukumnya ini wajib). Maka bermadzab menjadi wajib. Kalau anda tanya mana dalil naqlinya secara leterleg yang menyuruh kita bermadzab? Yaa gak ada, lha wong bermadzab itu cuma wasail kok, Mas? Bagaimana teman-teman Wahabi…. apakah anda semua sudah paham?

 

Demikianlah, kita semua berharap setelah penjelasan ini anda-anda bisa belajar dan lebih mengerti sehingga tidak serampangan dalam bertanya. Ingatlah, sebaiknya anda tidak lagi sering-sering membuat pertanyaan-pertanyaan yang salah. Kalau pertanyaannya saja salah, bagaimana menjawabnya?

Jangan sedikit-sedikit bertanya “MANA DALILNYA” tanpa tahu sesuatu hal itu perlu dalil atau tidak. Sadarlah kalian, bagaimana pertanyaan bisa dijawab kalau pertanyaannya saja salah? Sejak sekarang mulailah belajar membedakan apakah sesuatu itu butuh dalil atau tidak. Sebab tidak semua hal itu harus ada dalilnya.

Wallahu a’lam…..

 

 

(Hasil eksplorasi dari perbincangan Facebooker Aswaja – Wahabi. Syukron katsir untuk Mas Ummat Dhoif, barokallohu fik).

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Salah Memahami Ibadah Menyebabkan Kaum Wahabi Terkenal Ngawur
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

144 thoughts on “Salah Memahami Ibadah Menyebabkan Kaum Wahabi Terkenal Ngawur”

  1. perbedaan adalah rahmah. Bilamana perbedaan menjadi perpecahan mana dalilnya.
    dalilnya yg menjadikan perpecahan ya mereka itu pengikut syetan, menghambakan hawanafsunya, dan mereka itu pengikut almasih-dajjal.

    Fenomena perbedaan menjadi Perpecahan seperti yg terjadi ahir2 ini bahkan sampai mengkafirkan ahlulqiblah, ini adakah betul2 bodoh dan sangat sombong seperti syetan merasa terbuat dari api lalu dg sombong membangkang perintah Allah SWT untuk sujud kpd Nabi Adam AS.

    dan SUJUD disini jg disalahartikan wah ini sudah musyik sujud kok kpd Adam AS, ttp ini bisa terjadi bila
    ORANG YG JUMUD LAGI SOMBONG dan sok alim seperti kelompok sempalan yg sekarang lagi marak tumbuh subur bak cendawan di musim hujan karena dana besar dari kongsinya Zionis yahudi-amerika negara saudiarabia.

    kelompok sempalan ini seperti alwahabiyah di negara kita ini boro2 mengislamkan orang kafir, yg nyata2 bersaksi Allahurobbi dan Muhammad SAW bener2 utusanNya mereka kafirkan.

    juga MTA/majelis tafsir AlQuran. dilihat namanya bagus banget
    ana begitu yakin Tafsir alquranya tandatanya dan bisa jadi mengikuti hawanafsunya.
    Ibnu Muljam sang eksekutor / pembunuh sahabat mulia dan menantu Rosulullah SAW Ali ra karena menafsirkan Alquran mengikuti hawanafsunya membunuh Ali ra dikira masuk surga (surganya dajjal)

    kurang apa IbnuMuljam ini : puasanya melebihi rata2,Sholatnya wah jidadnya ampai hitam, Baca Alquranya tdk diragukan lagi bahkan IbnuMuljam ini dikirim ke mesir untuk mengajar penduduk Mesir.

    Dan apa yg dilakukan IbnuMuljam waktu akan di eksekusi karena membunuh Ali ra , IbnuMuljam ingin di eksekusi di preteli anggota tubuhnya satu persatu AGAR MERASAKAN PEDIHNYA JIHAD DIJALAN ALLAH SWT.

    RENUNGKAN : APAKAH ANDA SEPERTI IBNUMULJAM YG MENGHARAP RIDLO ALLAH TP YG DIDAPAT RIDLO DAJJAL.

    1. Al Qudsy@

      kalau kerjaannya mengkafirkan orang2 ahluh Qiblat, dan suka menganggap musyrik kaum muslimin juga selalu membid’ahkan amal-amal sholih kaum muslimin, jelaslah Iblis dan dajjal sangat ridho dg kerjaan seperti itu.

  2. Mas admin,
    makasih artikelnya, sangat2 bermanfaat. ana jadi mengerti cara menjelaskan seandainya ada yg tanya “MANA DALILNYA.”

    artikelnya very2 good, dan ana baru dengar pelajaran seperti ini. teman2 ummati pastilah sangat terbantu dg munculnya artikel ini, full manfaat dan mencerahkan,jadi tambah ilmu.

  3. Assalamu’alaikum Warrahmatullah…. sebelumnya saya mengucap syukur Alhamdulillah kepada Allah karena telah memberikan saya ptunjuk ke jalan yg benar lewat ummati ini, terima kasih jg kepada ummati yg memberikan kebenaran atas apa yg salah di masyarakat skrg ini tentang ISLAM, bertahun” saya meyakini pemahaman yg salah karena ajaran sesat wahabi ini, alhamdulillah saya tdak terjerumus lbh dalam,di ummati ini saya banyak membaca komen” dri para sahabat” aswaja yg benar,mohon kiranya jg diperbolehkan saya ingin sekali mengenal mereka agar dapat blajar lgi dengan benar tentang ISLAM secara keseluruhan , saya tdak mau salah lagi….mohon bantuannya ^_^ terima kasih banyak semoga kita semua slalu berada dalam lindungan ALLAH dan slalu diberi kebenaran untuk mengikuti agama-NYA…aminn ya rabbal alamiin….

  4. http://www.majelisrasulullah.org/
    apa ini adalah website yg benar? maaf klo saya lancang untuk mempertanyakan, tapi saya hanya tidak mau salah lagi… mohon kiranya jika berkenan mencantumkan nama” website yg corong ke wahabi/salafy agar kita tdak salah lgi untuk mempelajari sesuatu yg benar tentang ISLAM…terima kasih…mohon responnya dri saudara” sekalian ^_^

  5. adakah yg bsa memberi penjelasan yg sebenar”nya tentang asal usul habib? apakah benar mereka kturunan dri Rasulullah SAW…???

  6. maaf mas woko , untuk membuktikan benar tidaknya habib sebagai keturunan Rosulallah SAW , bukti seperti apa yang antum butuhkan………..?

  7. Assalamu’alaikum warrahmatullah, mohon maaf kepada saudara” sekalian, bukan maksud hati ini untuk meragukan garis keturunan Baginda Rasul SAW, tapi saya hanya org awam yg ingin belajar mengenal dan menghindar dari kesalahan untuk kedepannya, belakangan ini banyak beredar habib” palsu (maaf sebelumnya) mungkin kang ahmad bisa menjelaskan kepada saya bagaimana kita mengetahui habib yg asli dan membedakan yg palsu, sungguh yg saya lakukan hanya untuk mencintai rasulullah bukan untuk meragukan baginda….maaf sebelumnya

    1. maaf mas woko , antum bisa mengatakan : ” belakangan ini banyak beredar habib” palsu (maaf sebelumnya , tapi antum sendiri bingung : ” bagaimana kita mengetahui habib yg asli dan membedakan yg palsu,

      kalo hemat saya sebaiknya kita husnudzon , berbaik sangka saja kepada sesama muslim , pengakuan seseorang akan Nasab dirinya , palsu dan tidak kita serahkan kepada Allah , toh habib yang asli gak pernah tuh ngaku2 , atau mungkin mas woko pernah dirugikan………?

    2. Mas Woko, hati2 ngambil rujukan jangan dari Wahabi / Salafy. Mereka itu pengacau kelas berat, Hb Munzir aja yg sudah sangat jelas mereka berani bilang dajjal kepadanya, itu lebih2 dari palsu kan?

      Atau begini saja, Hababib di seluruh dunia itu punya keistimewaan HAFAL NASABNYA.
      untuk tahu asli atau bukan test aja suruh nyebutin nasabnya sampai ke rasul Saw.

      Ini silsilah/ nasab habib munzir :

      Munzir bin Fuad bin Abdurrahman bin Ali bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Ahmad bin Abdurrahman bin Umar bin Abdurrahman bin Sulaiman bin Yaasin bin Ahmad Almusawa bin Muhammad Muqallaf bin Ahmad bin Abubakar Assakran bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Mauladdawilah bin Ali bin Alwi Alghayur bin Muhammad Faqihil Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Marbath bin Ali Khali’ Qasim bin Alwi bin Muhammad bin Alwi bin Ubaidillah bin Ahmad Almuhajir bin Isa Arrumiy bin Muhammad Annaqibm Ali Al Uraidhiy bin Jakfar Asshadiq bin Muhammad Albaqir bin ALi Zainal Abidin bin Husein Dari Fathimah Azahra Putri Rasul saw.

      1. Alhamdulillah….Puji Syukur ke hadirat-Mu Ya Allah Yang Maha Pengasih, ditunjukkan lgi oleh-Mu hari ini 1 kebenaran buat keraguan hamba ini, terima kasih banyak kang ahmad&mas gondrong aas bantuuanya, sebenarnya saya malu mempertanyakan ini atas dsar kedangkalan pengetahuan saya tentang ISLAM dan juga saya yg dibodoh”i oleh kaum sesat WAHABI yg beredar di masyarakat, Terimakasih banyak kang ahmad dan mas gondrong, sebenarnya saya pun menyukai pribadi dan apa yg disampaikan oleh habib mundzir,sungguh saya senang beliau walaupun saya baru membaca tentang beliau….terima kasih arahannya akang” sekalian ^_^

  8. Artikel gaya baru yg mencerahkan, matur nuwun mas admin.
    Pertanyaan MANA DALILNYA dari teman2 Wahabi terkadang memang sangat aneh. Masalah sejarah aja di tanya MANA dalilnya.

    Memang mereka tidak bisa membedakan mana ibadah mahdhoh dan mana ibadah ghoiru mahdhoh. Makanya ngawur dalam berfatwa. Sungguh sangat menyesatkan ummat Islam yg awam, jadi ikut2an terjerumus dalam vonis2 ngawur terhadap amal-amal sholih yg termasuk ibadah ghoiru mahdhoh.

  9. Saya juga ikut berharap Mas admin, semoga setelah penjelasan dari artikel ini teman2 Salafy Wahabi bisa belajar dan lebih mengerti sehingga tidak serampangan dalam bertanya. Jangan salah lagi dalm bertanya, masak tanya aja bisa salah? Berarti itu kurangnya pengetahuan, makanya belajar lagi. saya juga masih terus belajar kok.

    makasih mas admin.

    1. Terima kasih mas jenggot sebelumnya sudah membantu saya, maaf kalo saya manggilnya mas jenggot, gpp khan ^_^, klo boleh dan diperkenankan boleh kah saya berteman dengan mas jenggot, mau blajar banyak tntg agama ya saya ingin cri tmn tmpt bertanya,apakah ada sarana yg bisa dijadikan wadah berkomunikasi mas? maaf sebelum dan sesudahnya jika saya banyak merepotkan ^_^

  10. Assalamu’alaykum wrwb.

    Alhamdulillah…artikel ini sangat indah..seindah pagi penuh barokah dibulan Romadhon ini…
    Bukan hanya teman wahaby saja yang “sebenarnya” bisa memetik ilmu dari artikel ini, bahkan kami yg sama-sama aswaja saja masih seperti diguyur hujan ilmu dengan membaca artikel ini.
    Sangat berterima kasih pada admin…
    wassalam

  11. Alhamdulilah dapat petunjuk. thanks kang admin

    Mereka mana tau ngaji yang beginian
    orang merka ngajinya dari buku tanpa guru hehehe

  12. kalau para wahabi membaca penjelasan diatas ini masih belum tobat juga
    benar benar “TERLALU”
    mudah mudahan banyak wahabi yang membaca artikel diatas agar banyak yang insaf
    saya angkat 2 jempol untuk umati press ,artikel diatas sangat briliant
    baru saya temukan artikel yang sangat ampuh untuk menghadapi wahabi ini…
    salut untuk umati press
    semoga Allah SWT memberkahi perjuangan anda….Amiiin.

  13. Bismillaah,

    Pertanyaan “Mana Dalinya?” itu masih perlu disampaikan oleh orang yang belajar kepada gurunya. Seorang pelajar hanya bisa bertanya: “Mana dalilnya?”. Gurunya wajib menjelaskan dalil yang diminta muridnya dengan merujuk kepada Qur’an, hadits, atsar sahabat, perkataan para imam, dst. Pertanyaan semacam itu dibutuhkan untuk memantapkan keyakinan bahwa ibadah kita benar-benar sesuai dengan ibadah yang diajarkan Rasulullaah kepada umat Islam.

    Keawaman umat Islam terjaga lestari karena mereka tidak mau bertanya: “Man dalinya?” Mereka hanya mengikuti apa yang disampaikan oleh orang yang dianggapnya berilmu. Mereka sudah yakin bahwa setiap yang disampaikan orang berilmu tersebut benar, tidak mungkin salah.

    Ada juga yang bertanya tentang dalil dari apa yang disampaikan oleh gurunya. Bila gurunya mengetahui dalilnya, maka ia akan menyampaikannya. Bila tidak mengetahui dalilnya, ia akan mengatakan: “Saya belum mengetahuinya.” Namun, tidak sedikit guru yang asal menjawab: “Pokoknya ikuti saja apa yang saya sampaikan.” Atau dia menjelaskan panjang lebar, padahal dia tidak mengetahui dalilnya.

    Banyak guru yang tidak siap menerima pertanyaan: “Mana Dalilnya?”

    Wallaahu a’lam.

    1. Ibnu Suradi, maaf ya, dari koment antum itu saya kok curiga antum belum baca artikel di atas?

      Ibnu Suradi, apakah antum sudah baca tulisan artikel yg ada di postingan di atas? Jika sudah baca, apa kesimpulan antum tentang artikel yg sangat jelas di atas? Tapi kalau antum belum baca, monggo dibaca dulu biar makin pintar, syukur2 antum nantinya antum mau tobat dan rujuk ke pemahaman yg benar.

  14. Bismillaah,

    Mbak Aryati,

    Saya sudah membaca artikel tersebut. Saya hanya mengomentari bagian tentang bahasan pertanyaan: “Mana Dalinya?” Saya perlu menyoroti hal itu karena banyak orang di majlis taklim bertanya kepada gurunya: “Bagaimana cara ibadah ini, ibadah itu?” Gurunya menjawab pertanyaan tersebut sering tanpa dalil. Dan, si penanya puas dengan jawaban ustadz tanpa menanyakan dalil Qur’an dan hadits dari penjelasan gurunya.

    Makanya, ketika muncul orang yang menanyakan dalil tentang penjelasan ustadz, dia pun dianggap aneh dan lancang oleh jamaah majlis taklim tersebut. Celakanya, banyak ustadz yang tidak siap menerima pertanyaan: “Mana Dalilnya?” karena untuk menjawab pertanyaan tersebut dibutuhkan keluasan ilmu agama Islam.

    Ketahuilah, bahwa barangsiapa sering bertanya: “Mana Dalilnya?, maka ia akan mendapatkan banyak ilmu tentang agama ini. Untuk itu, Mbak Aryati musti membiasakan diri bertanya: “Mana Dalilnya?” kepada guru anda.

    Wallaahu a’lam.

    1. Ibnu Suradi@

      Maaf ya Mas, biasanya pertanyaan MANA DALILNYA itu muncul dari mulut2 Wahabi or Salafy yg mencoba-coba mengharamkan MAULID NABI, TALILAN, YASINAN dan isu2 bid’ah lainnya. Karena menurut kalian semua itu tidak ada dalilnya, maka dg pongah kalian tanya MANA DALINYA?

      Selama 9 tahun saya jadi murid, saya nggak pernah tanya MANA DALILNYA. Saya terima aja apa yg disampaikan atau dijarkan guru2 kepada saya dan murid2 lainnya.

      Saya kira teman2 yg lain juga sama seperti saya. Jadi Akhi Ibnu Suradi jangan kebanyakan ngarang2

  15. Sesuai tulisan di atas, pertanyaan “mana dalilnya” adalah pertanyaan yang “salah”, pertanyaan yang “salah” mustahil bisa dijawab dengan benar. Kebiasaan bertanya “mana dalilinya” adalah kebiasaan yang buruk yaitu kebiasaan para pendebat yang nihil ilmu dan jauh dari sifat tawadhu.
    Afwan..

  16. Bismillaah,

    Zainal Arifin,

    Sebenarnya kewajiban menyampaikan dalil adalah kewajiban guru. Ketika menjelaskan suatu masalah agama Islam kepada muridnya, guru wajib menunjukkan dalil Qur’an dan Hadits dari penjelasannya tersebut. Contoh, guru menjelaskan cara shalat yang benar dengan menyampaikan hadits-hadits tentang cara shalat Rasssulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Guru menjelaskan cara berdiri untuk shalat yang benar dengan menunjukkan hadits-hadits tentang cara berdirinya Rasulullaah untuk shalat.

    Kalau gurunya tidak menyampaikan dalil, maka murid berhak bertanya: “Mana dalilnya?” untuk mendapatkan kepastian kebenaran penjelasan gurunya. Murid yang pintar akan melakukannya dan guru yang lurus akan menjawab pertanyaan bila ia mengetahui jawabannya. Bila tidak tahu, guru bisa menjawab: “Saya belum tahu. Saya akan mencarinya atau menanyakan kepada guru saya.”

    Kalau anda melarang orang bertanya: “Mana dalilnya?”, maka sama saja anda mencegah orang untuk mendapatkan kebenaran.

    Wallaahu a’lam.

    1. maaf kang Suradi, pernakah anda bertanya pada guru anda bahwa cara baca al qur’an yang diajarkan kepada anda adalah benar-benar dari Rosululloh? Jika beliau menjawab Benar bahwa cara baca al qur’an yang diajarkan pada anda adalah dari Rosululloh SAW, pernakah anda menanyakan dalilnya?

    2. wah benar sekali mas….
      kita harus tau dalil, biar tidak tertipu, penuntut ilmu untuk mencari kebenaran tentu akan menanyakan dasarnya…..
      agar jelas apa2 yang akan dilakukan….

    3. assalaamualaikum, ilmu tajwid selama sya bertanya ama nyari2 kok ga ada dalil qur’an ama hadisnya ya, terus jadinya gmna tuh bang ibnu.

  17. Bagaimana mungkin kita mendapatkan kebenaran jika kita salah dalam membuat pertanyaan dalam rangka mencari kebenaran tadi? Dalam tulisan di atas dengan begitu jelas penulis menjelaskan masalah yang sering jadi biang perdebatan yang disebabkan oleh pertanyaan yang salah “MANA DALILNYA” semoga anda tercerahkan dengannya. Aamiin.

    Wassalaamu’alaikum

    1. To all@

      alhamdulillah, syukron kepada mas admin, mas hamad syahid, abu hilya dll, dan semua yg selalu ikut diskusi di sini. Juga syukron atas semangat membela ajaran yg dijarkan oleh para ulama ahlussunnah waljamaah. Pemahaman Salafy Wahabi memang wajib diluruskan agar tidak semakin banyak Ummat Nabi Muhammad yg disesatkannya.

      Salah satu usaha untuk meluruskan pemahaman Wahabi di zaman modern ini adalah dengan dakwah melalui website seperti ini, alhamdulillah UMMATIPRESS muncul dan eksis dg gaya tersendiri. Sangat enak dan asik untuk disimak, alhamdulillah.

      1. Bismillaah,

        Sesungguhnya, pertanyaan: “Mana Dalilnya?” itu hanya muncul ketika seseorang apakah ia ustadz atau orang biasa menyampaikan pernyataan atau penjelasan mengenai masalah agama Islam tanpa disertai dalil dari Qur’an dan hadits. Kalau ustadz atau orang biasa tersebut menyampaikan ayat Qur’an dan hadits dalam pernyataannya atau penjelasannya, maka pertanyaan: “Mana Dalilnya?” tidak akan muncul.

        Makanya, guru, ustadz atau siapa saja hendaknya selalu menyertakan ayat Qur’an dan hadits bila memberi penjelasan tentang masalah agama Islam. Karena agama ini milik Allah yang firmannya ada dalam Qur’an dan disampaikan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang perkataan, perbuatan dan ketetapannya ada dalam hadits.

        Wallaahu a’lam.

    2. Bismillaah,

      Kang Zainal Arifin,

      Biang perdebatan bukanlah pertanyaan: “Mana Dalilnya?” tapi penjelasan tentang suatu masalah agama Islam, penyampaian atau pengaajaran suatu amalan tanpa dalil. Kalau anda menjelaskan suatu masalah agama atau menyampaikan atau mengajarkan suatu amalan ibadah dengan dalil, maka anda tidak akan mendapatkan pertanyaan: “Mana Dalilnya?”

      Pertanyaan tersebut disampaikan tidak saja oleh orang dewasa tapi juga anak kecil yang sudah ditanamkan pemahaman bahwa beribadah musti dengan ilmu atau dalil dari Qur’an dan hadits. Orang yang tidak pernah mendapatkan pengajaran bahwa beribadah musti dengan ilmu atau dalil dari Qur’an dan hadits tidak akan pernah mengajukan pertanyaan: “Mana Dalilnya?” Ia hanya mengikuti apa yang disampaikan orang lain yang dianggap pintar.

      Wallaahu a’lam.

      1. kang Suradi… gimana udah dapat dalil yang melegitimasi bahwa bacaan qur’an anda benar seperti yang diajarkan Rosululloh?….

        1. Bismillaah,

          Kang @bu Hilya,

          Saya melihat banyak kawan di sini dan juga mungkin kebanyakan ustadz-ustadz menjadi gerah karena pertanyaan: “Mana Dalilnya?” Padahal, bila mengethaui dalilnya, mereka tinggal menyampaikannya. Dan bila tidak mengetahui dalilnya, mereka tinggal bilang: “Saya tidak tahu” seperti yang diteladankan oleh para imam umat ini.

          Wallaahu a’lam.

          1. @ibnu suradi, sebenarnya bukan gerah krn pertanyaan ‘ mana dalilnya ‘ tapi karena anda dan golongan anda yang tidak bisa atau tidak mau menerima dalil2 yang dipakai landasan amal ibadah golongan aswaja dan cenderung menyalahkan amal ibadah golongan aswaja, sekarang coba saya balik bertanya pada anda 1 pertanyaan saja, mana dalilnya pemakaian celana cingkrang yang selama ini digunakan golongan wahabi-salafi atau mungkin yang anda gunakan sendiri ?

          2. Kang Suradi yang kami hormati,…

            Jika seorang guru tidak menunjukkan dalilnya, memang tidak tertutup kemungkinan karena beliau belum tahu ttg dalil tsb, namun tidak otomatis semua guru tidak mengerti dalilnya, akan tetapi pemahaman seorang guru atas kapasitas anak didiknya kebanyakan menjadikan seorang guru megambil kebijakan untuk menyampaikan dalil atas suatu amal pada saat yang tepat, yakni ketika anak didik dianggap memiliki kapasitas untuk memahami dalil tsb sebagaiman yang dikehendaki Syari’.

            mengingat memahami dalil atas suatu amal tidaklah semudah yang antum bayangkan, tidak jarang kita jumpai para ulama yang berpbeda pendapat dalam ijtihadnya padahal Nash yang mereka pakai satu.

            kita ambil contoh sikap para sahabat atas Sabda Rosululloh SAW:

            عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنَا لَمَّا رَجَعَ مِنْ الْأَحْزَابِ لَا يُصَلِّيَنَّ أَحَدٌ الْعَصْرَ إِلَّا فِي بَنِي قُرَيْظَةَ فَأَدْرَكَ بَعْضَهُمْ الْعَصْرُ فِي الطَّرِيقِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ لَا نُصَلِّي حَتَّى نَأْتِيَهَا وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ نُصَلِّي لَمْ يُرَدْ مِنَّا ذَلِكَ فَذُكِرَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَمْ يُعَنِّفْ وَاحِدًا مِنْهُمْ

            “Jangan ada yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah….” (HR. al-Bukhari [894]).

            Perintah Rosululloh diatas disikapi oleh para sahabat dengan dua cara :

            ada yang sholat ashar sebelum sampai di Bani Quraizha karena khawatir tidak mendapati waktu ashar, dan ada yang tetap sholat ashar di Bani Quraizha sebagaimana dzahirnya perintah Nabi….

            juga hal yang demikian banyak kita jumpai dalam kitab-kitab para Ulama’, Misal “Fiqih ‘Ala Madzahibil Arba’ah” atau “Bidayatul Mujtahid” dan yang lain…

            kesimpulannya: ketika menanyakan Mana Dalilnya? hendaknya kita brtanya lebih dulu pada diri kita sendiri, apakah kita sudah punya kapasitas memahaminya?…

            Wallohu a’lam

  18. apakah amalan yang kita kerjakan tanpa ada dalil namun hanya di tujukan kepada Alloh akan membuat kita sesat dan masuk neraka?

  19. Bismillaah,

    Kang Minakjinggo,

    Kalau gak gerah, terus mengapa pertanyaan: “Mana Dalilnya” dibahas panjang lebar di sini? Lagian, wajar saja bila ada orang yang bertanya: “Mana Dalilnya?” untuk mengetahui dalil amalan yang baru bagi dia.

    Tentang pakaian di atas mata kaki, ada banyak hadits tentangnya di antaranya:

    Rasulullah b bersabda :

    إِزْرَةُ الْمُسْلِمِ إِلَى نِصْفِ السَّاقِ وَلاَ حَرَجَ فِيْمَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْكَعْبَيْنِ [رواه أبو داود بإسناد صحيح]

    “Kain laki-laki muslim itu (batasnya) sampai setengah betis dan tidak ada dosa dalam (jarak pemakaian) antara betis dan kedua mata kaki.” (HR. Abu Daud).

    Saya jawab pertanyaan tentang dalil dari amalan mengenakan pakaian di atas mata kaki. Kalau saya gak tahu, saya akan menjawab: “Saya tidak tahu.” Saya tidak gerah dan marah-marah karena pertanyaan anda. Gampang, kan.

    Wallaahu a’lam.

  20. he…he..he… kang ibnu, tampaknya itu alasan menurut versi anda, saya tanya mana dalilnya pemakaian celana cingkrang, bukan kain, klo hadits yang anda kemukakan itu kain, lantas mana dalilnya yang menyebutkan celana ?

    1. Bismillaah,

      Kang Minakjinggo,

      Kalau begitu bertanyanya jangan: “Mana dalil celana cingkrang atau di atas mata kaki?” tapi “Mana dalil celana panjang?”. Lalu, kita bahas dalil celana panjang yang dikenakan kebanyakan umat Islam di Indonesia dan dunia. Oke?

      Wallaahu a’lam.

      1. Asllm ,Kalau se tahu saya sih Zaman Rasul itu berpakaian Gamis, dan pada waktu umatnya memakai sampai menyapu jalan dan menjadi kebanggaan,atau kesombongan maka Rasul, meng ultimatum bahwa memakai kain Gamis /baju Gamis harus diatas mata kaki.. dan ini Khusus dan diperuntukan pakaian Gamis wassl

  21. Bismillaah,

    Kang Minakjinggo,

    Saya dan mungkin anda sebenarnya tidak mempermasalahkan celana panjang. Saya mengenakan celana panjang. Anda juga mengenakan celana panjang. Yang anda permasalahkan adalah “cingkrangnya” celana panjang yang mungkin anda anggap aneh di Indonesia. Yang saya permasalahkan adalah isbalnya (turunnya pakaian hingga di bawah mata kaki) celana panjang yang saya anggap boros dan mudah terkena kotoran saat berjalan.

    Pakaian di atas mata kaki adalah pakaian orang beriman. Dalilnya sudah saya sampaikan. Pakaian yang turun hingga di bawah mata kaki adalah pakaian siapa?

    Wallaahu a’lam.

  22. Bismillaah,

    Kang @bu Hilya,

    Saya setuju dengan anda bahwa penyampaian dalil disesuaikan dengan kesiapan murid sesuai dengan umur dan pengetahuannya. Ketika mengajarkan cara shalat yang benar kepada anak TK, kita bisa menyampaikan dalil dengan perkataan: “Rasulullaah berdiri menghadap kiblat untuk shalat”, “Rasulullaah bertakbir dengan mengangkat tangan setinggi pundak”, “Rasulullaah rukuk dengan meluruskan punggungnya”, “Rasulullaah meluruskan punggungnya saat sujud”, dst.

    Selanjutnya, setelah mulai mengerti saat dia SD, kita sampaikan bahwa yang bercerita seperti itu adalah Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, Imam Abu Dawud, dst. Saat dia SMP, kita sampaikan bahwa Imam Bukhari, Imam Muslim dapata cerita tersebut dari sahabat ini dan itu. Dan seterusnya.

    Cara pengajaran seperti ini yang disampaikan oleh para ustadz dan orang tua yang anda anggap Wahabi membuat anak didik kritis. Makanya begitu dia menemui orang melakukan amalan yang baru bagi dia, dia akan bertanya kepada orang tersebut: “Apa dalil amalanmu itu?” atau “Mana Dalilnya?” Kalau dia tak berani bertanya kepada pengamal tersebut, maka dia akan menanyakannya kepada orang tua atau ustadznya.

    Namun, bila seseorang tidak biasa mendapatkan pengajaran berdasarkan dalil seperti tersebut di atas, maka ia akan jengah mendapatkan pertanyaan: “Mana Dalilnya?” Seorang ustadz pun akan merasa jengah karena dia tidak biasa menyampaikan dalil-dalil amalan yang ia ajarkan kepada muridnya.

    Wallaahu a’lam.

    1. Kang Ibnu Suradi,

      Maaf ya kang, bukannya Aswaja jengah dg pertanyaan “MANA DALILNYA”, boleh saja bertanya MANA DALILNYA. Akan tetapi tidak semuanya mesti ditanyakan MANA DALILNYA. Seperti sudah dijelaskan dalam artikel di atas, bahwa pertanyaan MANA DALILNYA sangat bagus jika menyangkut ibadah MAHDHOH, karena ibadah MAHDHOH itu bersifat TAUQIFI. Kalau TAUQIFI sudah jelas dong ada Dalilnya. Contoh, ketika ada orang melakukan ibadah MAHDHOH secara aneh, misalnya sohlat berdiri mendekap dada (ini sholat aneh karena seperti ibadah Yahudi) itu wajib ditanya MANA DALINYA. Atau sewaktu duduk tahiyat meggerak-gerakkan atau memutar-mutar jari telunjuk (dalam sholat tidak boleh bergerak-gerak) itu wajib ditanyakan MANA DALILNYA. Nah…, Kang Ibnu Suradi pernah nggak bertanya MANA DALILNYA untuk kedua contoh di atas?

      Sedangkan untuk ibadah GHOIRU MAHDHOH tentu tidak ada dalilnya secara langsung tetapi dalilnya ada pada MAQOSIDNYA. Itu lho yg dimaksud bertanya MANA DALILNYA tidak pada tempatnya. Contoh, Tahlilan yang selalu ditanya MANA DALILNYA. Tahlilan itu WASAIL (sarana) jelas tidak ada dalilnya, tetapi MAQOSID dari Tahlilan jelas2 ada DALILNYA. MAQOSIDNYA adalah mendo’akan almarhum, bersedakah, bedzikir…. banyak kang Maqosid dari Tahlilan dan semua Maqosid dari Tahlilan itu ada dalilnya semuanya.

      Kang Ibnu Suradi, baca Kang Artikel di atas biar semakin pintar, itu artikel sangat bagus Kang Ibnu Suradi, baca dg kepala dingin jangan emosi biar dapat ilmunya, afwan….

      1. Bismillaah,

        Mbak Aryati,

        Dalil menggerak-gerakkan jari telunjuk saat tasyahud sudah banyak disampaikan. Anda bisa bertanya kepada guru anda atau mengklik Google searching machine, lalu menulis kanta kunci: menggerak-gerakkan jari telunjuk saat tasyahud.

        Untuk amalan bersedekap di dada yang anda katakana seperti ibadah Yahudi, anda bisa buka thread di situs ini dengan judul: Kembali kepada Qur’an dan Sunnah Hanya untuk Mujtahid”. Saya sudah sampaikan dalilnya dalam komentar paling akhir saya. Khusus amalan ini, sebaiknya Mbak Aryati jangan seperti Mbak Putri Karisma yang menuduh amalan tersebut sebagai amalan orang Yahudi sebelum ia mengetahui dalilnya.

        Wallaahu a’lam.

  23. Bismillah,,,
    ALhmdulillah blog ini menambah wawasan saya dan semakin yakin akan keyakinan yang selama ini saya ikuti..
    @ibnu Suradi
    kenapa Anda hanya bertanya ini itu saja??
    kalau mau membantah,,,, ya silahkan Anda bantah dengan blog dan ilmu yang
    Anda kuasai….
    Trimakasih Admin

  24. Bismillah..

    Kang Suradi yang kami hormati,

    Apa yang anda sebut dengan bahasa “Jengah”-nya seorang guru, tidak otomatis membuktikan bahwa beliau tidak mengetahui dalil atas sebuah amal, karena boleh jadi ke-jengahan beliau ditimbulkan akibat pertanyaan sang anak didik yang belum waktunya. Bukankah orang tua akan senantiasa bersikap bijak terhadap permintaan anaknya? Kiata ambil contoh seorang anak yang minta kepada orang tuanya untuk dikawinkan padahal usianya masih 12 th, jika permintaan tersebut berkali-kali diajukan oleh sang anak maka orang tua juga akan merasa “jengah” (maaf ana pinjam bahasa antum).

    Dari uraian antum ttg system pendidikan dalam lingkungan anda, saya bias menarik kesimpulan yang jelas tentang adanya perbedaan mendasar dalam standarisasi berkenaan kelayakan anak didik untuk memahami dalil-dalil nash.

    Kami akan sampaikan sedikit yang ana tahu tentang standar dalam dunia pendidikan kami yang kalau ada kekurangan atau mungkin kesalahan, kami mengharap kesediaan Ust Ahmad Syahid dan teman-teman Umati yang lain untuk mengoreksinya.

    Sebelum kami memahami dalil-dalil Nash terlebih dahulu kami diajarkan Gramatika bahasa Arab guna meminimalisir kesalahan peng-artian dali-dalil nash yang sumber utamanya memeng berbahasa arab. Juga jika terjadi penyimpangan dalam penerjemahan atas sebuah dali-dalil nash, kami dapat mengetahunya. Diajarkan pula Balaghoh dan Manthiq yang diantara fungsinya guna men-tashowwur-kan setiap detail kata dan permasalahan.

    Disamping itu diajarkan pula pada kami Ushul Fiqih sebagai modal berikutnya, mengingat tidak semua kata dalam dalil nash bisa diartikan secara haqiqi karena kadang harus diartikan dengan arti majaznya, dan juga dai ilmu tsb kami mendapati pembagian “amar” apakah ia berindikasi wajib atau sunnah, kalau wajib apakah bersifat “fauron” atau tidak, apakah amar tersebut bersifat temporer atau berlaku sepanjang masa, dst. Termasuk memahami “Nahi”, at Tark, dll.

    Dari uraian singkat kami dapat disimpulkan, bahwa belum disampaikannya sumber dalil nash-nya suatu amal oelh guru-guru kami lebih karena faktor kehati-hatian agar jangan sampai terjadi pengawuran dalam menempatkan sebuah dalil atas sebuah amal. Mengingat kesalahan menempatkan Dalil atas semua amal bisa berakibat fatal terlebih jika diikuti masyarakat banyak.

    Coba antum perhatikan hadits dibawah ini :

    98 – حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

    “ Sesungguhnya Alloh tidak mengambil ilmu dengan mencabutnya dari hamba, tapi Alloh mengambil ilmu dengan mengambil para Ulama’ ( mewafatkannya ) hingga tidak tersisa seorang alim, maka manusia mengangkat pimpinan orang-orang bodoh maka ketika mereka ditanya mereka akan berfatwa tanpa Ilmu, maka mereka tersesat dan menyesatkan.” (HR.Bukhory)

    Wallohu a’lam.

    1. Al-hamdulillah akhuna Abu Hilya ahsantum , hal ini juga menjadi pemikiran saya kenapa kaum wahabi sering bawa dalil yang gak nyambung , sering menanyakan persoalan yang tidak perlu dipersoalkan , atau sering keliru dalam memhami dalil.

      adalah benar kita perlu menanyakan Dalil namun perlu sebelum menanyakan hal itu , kita fahami dulu apa itu dalil………? terlebih dalil menurut Ulama Ushul dan Ulama fiqh berbeda , setelah memahami dalil segaimana difahami Ulama Ushul fiqh dan ulama fiqh , kita fahami juga madlulatnya , ringkasnya benar kata Ustadz Abu Hilya , ada serangkaian Ilmu atau kapita selecta sebagai dasar untuk memahami Nash.

      nampaknya saudara-saudara kita (wahabi ) tidak diajari tatacara dan ilmu pendukung untuk memahami Nash , sehingga sering kita melihat mereka ” ngawur ” . mungkin akhuna Ibnu suradi atau yang lainnya bisa bercerita tentang sistem pendidikan Agama versi mereka……….?

      1. mudah2an methode pendidikan agama yg ada sekarang ini dlm lingkungan aswaja adalah methode yg sudah baik dan bagus…semua sesuai dengan tingkatan pengetahuan yg di ajarkan nya..,thanks…

      2. Salam,

        Saya menyikapi komentar Ibnu Suradi adalah sebuah kewajaran semata dari sisi konsep belajar yang Aktif ” Bertanya”

        Seperti di sekolah kita sejak dari TK, SD, SMP, SMA dan PT selalu saja digalakan untuk bertanya apa saja agar kita menjadi kritis dan tajam. Dari tidak tahu menjadi tahu

        Saya juga setuju bahwa Guru pasti menyampaikan sesuai kemampuan akal muridnya

        Kalau anak SD tidak bertanya, yah karena memang akalnya belum sampai untuk bertanya yang macam. Dapat aja dari gurunya ilmu baru udah mantap rasanya, bisa jadi ada yang pusing 🙂

        Begitu pula murid SMP, SMA, PT S1, S2, S3, Profesor, mereka akan bertanya sesuai kemampuan akal mereka. Jika dari SD nggak pernah bertanya maka akalnya akan tumbuh biasa-biasa saja. Nah yang suka bertanya, tentu akalnya akan berkembang lebih cepat.

        Jadi kesimpulannya sebagai murid kalau mau bertanya ya silahkan, nggak mau tanya juga nggak apa-apa. sesuai akal masing-masing saja. nggak usah repot.

        benang merahnya buat saya:
        kalau urusan pitagoras, persamaan diferesial salah rumus aja kita paling dapet nol pakai pena merah.
        gimana kalo salah rumus (red. dalil) dalam ibadah, weleh weleh bisa repot urusannya

        Selamat Berpuasa, Semoga ALLAH Subhanahuwata’ala menerima Puasa dan Amal Ibadah kita yang lainnya, amin.

  25. @bu Hiya dan Mas Ahmad Sahid
    Kayanya Ibnu Suradi tidak melalui tahap yang demikian, buktinya gampang berfatwa seperti memaknai “hadits membaca Quran tidak melalui kerongkongan”, katanya ditujukan kepada para “penghafal yasin”. Bagaimana kalau pengertian tersebut diikuti oleh orang yang membaca “fatwa” Ibrnu Suradi? Mana dalilnya dari para sahabat dan tabi’in …. atau ualama muktabar? Dia bilang dia mengikuti ulama klasik seperti Imam Nawawi, tetapi menolak bid’ah hasanah dan sampainya pahala membaca Qur’an bagi mayit. Dia bilang jangan ikuti ulama temporer yang mengatakan “wahabi khawarij”, tetapi dia fanatik pada sifat sholat Al Bani. Jadi binggung deh …

  26. @ ibnu suradi, comment anda tgl 2 agustus’12 : “Kalau begitu bertanyanya jangan: “Mana dalil celana cingkrang atau di atas mata kaki?” tapi “Mana dalil celana panjang?”. Lalu, kita bahas dalil celana panjang yang dikenakan kebanyakan umat Islam di Indonesia dan dunia.”
    Kemudian comment anda tgl 3 agustus’12 : “Saya dan mungkin anda sebenarnya tidak mempermasalahkan celana panjang. Saya mengenakan celana panjang. Anda juga mengenakan celana panjang. Yang anda permasalahkan adalah “cingkrangnya” celana panjang yang mungkin anda anggap aneh di Indonesia. Yang saya permasalahkan adalah isbalnya (turunnya pakaian hingga di bawah mata kaki) celana panjang yang saya anggap boros dan mudah terkena kotoran saat berjalan.”
    Alhamdulillah…. pemahaman anda sudah bertambah sekarang tentang islam, he..he..he.. buktinya kalau pendapat/comment anda tsb dianalogkan dengan kebiasaan amal ibadah aswaja misalnya tentang maulid Nabi SAW, Tahlilan dll, terbukti bahwa tidak ada dalil yang melarang maulid Nabi SAW ataupun tahlilan, sedangkan dalil tentang maulid Nabi SAW dan tahlilan, hmm… jangan ditanya lagi berapa banyak ulama yang telah membahasnya, mungkin yang jadi permasalahan adalah dalil2 tsb terasa asing di pemahaman anda karena anda sudah terbawa arus pemahaman wahabi/salafi.
    Kang ibnu, apa yang saya ungkapkan ini kan sudah klop dengan pemikiran anda dan analog anda tentang celana cingkrang spt yg saya tanyakan pada anda, kalau begitu mengapa anda masih tidak mau terbuka dengan alur pemikiran orang2 aswaja, atau anda sendiri yang sengaja membuat beda demi mencari “kebenaran” yang anda paksakan sendiri ?
    Maaf kang ibnu, karena kesibukan saya baru bisa balas comment anda sekarang

  27. Bismillaah,

    Kang Minakjinggo,

    Saya ingin beragama Islam, berakidah, beribadah dan bermuamalah sesuai dengan diajarkan oleh Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya yang sampai kepada umat Islam melalui guru-guru mereka dan kitab-kitab para ulama seperti Imam Hanafy, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Tirmidzi, Imam Nasa’i, Imam Nawawi, Imam Ibnu Hajar, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnu Qayim, Albani, Bin Baz da seterusnya.

    Dalam beribadah saya sangat berhati-hati, tidak mau melakukan amalan ibadah yang tidak diajarkan oleh Rasulullaah. Saya berusaha sekuat tenaga untuk mengikuti sunnah dan menghindari bid’ah meski banyak orang menganggapnya baik.

    Dalam shalat, saya ingin melakukannya seperti shalat yang diajarkan oleh Rasulullaah kepada para sahabatnya mulai dari cara berdirinya, mengangkat tangan untuk takbir, meluruskan punggung untuk rukuk dan sujud, dst berdasarkan hadits shahih. Saya hanya melakukan suatu amalan setelah saya mengetahui dasar dari Qur’an dan hadits yang shahih.

    Wallaahu a’lam.

  28. Bismillaah,

    Kang @bu Hilya,

    Saya sangat tertarik pada cara pengajaran agama Islam yang anda sampaikan. Ilmu bahasa Arab, balaghah, manthiq, ushul fiqih, tafsir dan sebagainya memang sangat diperlukan untuk memahami dalil Qur’an dan hadits. Ilmu-ilmu tersebut musti dipelajari oleh calon ustadz atau orang-orang yang memiliki minat tinggi terhadap Islam sehingga mereka dapat menunjukkan dalil Qur’an dan hadits dari amalan-amalan yang ia sampaikan kepada orang lain terutama muridnya.

    Bagi orang awam, mereka hanya memilki kemampuan bertanya kepada gurunya tentang hal-hal yang tidak mereka ketahui termasuk dalil Qur’an dan hadits. Gurunya menyampaikan dalilnya dan muridpun menjadi yakin bahwa amalannya benar-benar sesuai dengan amalan yang diajarkan Rasulullaah kepada umat Islam.

    Yang terjadi adalah bahwa banyak ustadz tidak menyampaikan dalil amalan-amalan yang harus diajarkan kepada muridnya. Akibatnya, murid hanya mengikuti penjelasan gurunya. Begitu bertemu orang yang mengamalkan bersedekap di dada, menggerak-gerakkan tangan saat tasyahud, merapatkan shaf dengan menempelkan bahu dengan bahu kawannya dan mata-kaki dengan mata kaki kawannya, para murid bahkan ustadznya menganggap bahwa amalan tersebut aneh. Bahkan, ada orang yang menuduh bahwa salah satu amalan itu adalah amalan Yahudi.

    Intinya, setelah anda menguasai ilmu-ilmu itu, maka sampaikan dalil Qur’an dan hadits yang diminta oleh orang lain sesuai dengan umurnya.

    Wallaahu a’lam.

    1. Bismillah….

      Kang Ibnu Suradi yang kami hormati,

      Sebelumnya saya secara pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya kapada anda dan segenap sahabat Ummati Press, bila terdapat kesalahan baik berupa kata maupun tuduhan yang tidak tepat, sekali lagi ana mohon maaf.

      Berikutnya kami sampaikan, bahwa kami memahami tidak semua ummat islam memiliki kapasitas yang sama dalam keber-agama-an mereka, ada yang diberi Alloh kesempatan dan kemampuan lebih memahami agama ini, namun tidak sedikit pula yang sangat terbatas dalam memahaminya, dan harus diakui justru inilah kelompok mayoritas ummat islam disekitar kita.

      Adalah tidak atau kurang bijak jika terhadap mereka yang tiada berkesempatan memahami agama ini dengan baik, kita menuntut pengamalan mereka atas agamanya harus didasarkan pada dalil Nash baik al qur’an maupun Hadits. Mengingat untuk menyandarkan sebuah amaliah pada sebuah dalil Nash bukanlah hal yang mudah melainkan diperlukan sarana penunjang yang tidaklah sedikit dan memerlukan waktu yang cukup panjang. Terhadap mereka kiranya cukup mendasarkan amal mereka pada pendapat para Mujtahid, mengingat Taklif telah jatuh atas mereka ( seperti kewajiban sholat, puasa, zakat, larangan untuk berzina, mencuri dan yang lain ).
      Disisi lain kesempatan belum diberikan oleh Alloh untuk memahami perintah-perintah tsb langsung dari sumbernya yakni Al qur’an maupun Hadits serta sumber hukum yang lain seperti ijma’ dan qiyas.
      Kita ambil contoh ttg cara kita membaca al qur’an yang notabene mengikuti bacaan Imam Hafsh, berdosakah kita yang membaca al qur’an hanya mengikuti car abaca seorang Imam Qiro’ah tanpa tahu bagaimana sebenarnya Rosululloh membacanya? Atau harus kita tinggalkan dulu ibadah yang berupa membaca Al qur’an sampai kita dapati dalil yang menunjukkan ttg bagaimana Rosululloh SAW, membacanya?…..
      Mencermati uraian anda yang tidak akan mengerjakan suatu amal sebelum mendapati dalilnya baik dari al qur’an mauun Hadits shohih, kiranya anda sebenarnya sudah dalam kategori Mujtahid, setidaknya Mujtahid Muqoyyad atau sederajat dengan mereka… Bahkan mungkin anda adalah seorang Muhaddits yang sudah memiliki kapasitas memilah dan memilih mana hadits yang Shohih, Hasan, Dhoif, berikut pembagiannya…namun sadarilah bahwa kapasitas yang anda miliki tidaklah dapat anda paksakan terhadap ummat islam yang lain, dengan selalu menanyakan dalil atas amal-amal mereka…

      Selanjutnya kami haturkan puji syukur yang mendalam serta terima kasih kepada semua sahabat Ummati Press, yang forum diskusinya semakin santun, hal ini sangat bermanfaat guna menekan emosional yang justru akan membatasi bobot ilmiyah dari forum diskusi ini. Semoga Ummati Press menjadi Forum diskusi percontohan yang meng Eksploitasi kesantunan, keilmuan yang berbobot dan akhirnya bermanfaat bagi Ummat…. Amiiin.

  29. @kang ibnu, apakah anda merasa sepenuhnya sudah mengamalkan agama spt yg diajarkan Nabi SAW, dan apakah org lain yang memiliki pemahaman yg berbeda dg yg anda pahami itu berarti tidak sepenuhnya mengamalkan ibadah sesuai dg yg di ajarkan Nabi SAW, fakta dilapangan justru org2 wahabi/salafi lah yg sering memberangus sunnah Nabi SAW dg dalih pemurnian agama islam agar terhindar dari bidah tapi kenyataannya malah menciptakan bidah, apakah dalam kamus wahabi/salafi ada yg namanya toleransi dan dlm memahami ibadah spt sholat yg anda contohkan, anda belajarnya dari mana, apakah lgs dari Nabi SAW ?

  30. Bismillaah,

    @Kang Minakjinggo,

    Belum. Saya belum sepenuhnya mengamalkan agama seperti yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Justru itu, saya sedang berusaha kuat untuk terus belajar sehingga bisa mengamalkan agama ini sesempurna mungkin sesuai yang diajarkan oleh Rasulullaah. Mungkin anda bisa membantu saya dalam usaha itu.

    Wallaahu a’lam.

  31. @kang ibnu, kita sama2 belajar, dulu saya juga pernah berguru pada seorang wahabi/salafi karena saya sangat tertarik dengan konsep beragamanya, akan tetapi saat konsep beragama diterapkan di masyarakat, sang guru saya lebih sering atau bahkan lebih senang menyalahkan dan menghakimi org lain seakan-akan dialah yang paling islami dan paling mengikuti sunnah Nabi SAW sama dengan konsep beragama yang sering anda paparkan di blog ini, maka konsep tinggallah konsep sementara kenyataannya sang guru lebih berperan sebagai “pengadil”, dari sini saya mulai berfikir apakah seperti ini konsep sebenarnya dalam beragama islam dan saya mulai mencari pembanding untuk berguru (bukan mencari kesalahannya spt yang sering juga anda tampilkan dalam memberikan comment pada artikel2 di blog ini), dan Alhamdulillah saya di pertemukan dengan orang2 aswaja yang saya lihat memiliki kedalaman ilmu agama islam yang melebihi dari sang guru wahabi/salafi tadi, sangat berhati2 dalam beribadah, toleran dg orang lain dan tidak suka menyalahkan orang lain karena memiliki prinsip “Pendapat saya benar tetapi mungkin juga terdapat kesalahan, dan pendapat orang lain salah tetapi mungkin juga terdapat kebenaran”.

  32. Bismillaah,

    Kang @bu Hilya,

    Saya bukanlah mujtahid. Saya hanya penuntut ilmu. Bila tak tahu dalil dari suatu amalan, saya bertanya kepada guru dan dia menunjukkan dalilnya bila ia mengetahuinya dan bila tidak mengetahuinya, ia bilang: “Saya belum tahu. Saya akan mencari tahu.”

    Afwan, Kang @bu Hilya, saya dan teman-teman sudah dibiasakan sejak dini untuk mendengarkan firman Allah dan sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam agar kami menjadi dekat dengan Allah dan RasulNya.

    Kami biasa menyampaikan kepada anak kami bahwa Allah berfirman: Taatilah Allah, taatilah Rasulullaah dan penguasa yang sah dia antara kalian.” Kami juga biasa menyampaikan kepada anak kami bahwa Rasulullaah bersabda: “Janganlah engkau makan dan minum dengan tangan kiri karena syaithon makan dan minum dengan tangan kiri.”

    Mungkin cara belajar kita berbeda. Oleh karena itu, mungkin cara beragama kita juga berbeda. Kami biasa mendapatkan pengajaran yang penuh dengan penyampaian ayat dan hadits. Sedangkan, anda mendapatkan pengajaran yang penuh dengan penyampaian pendapat orang.

    Afwan bila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati anda dan kawan-kawan semua.

    Wallaahu a’lam.

  33. Setuju sekali dengan penyampaian Prabu Minakjinggo tentang siapa si ibnu suradi, tuh terlihat nyata sekali dari apa yg dia sampaikan untuk @bu Hilya : ” Kami biasa mendapatkan pengajaran yang penuh dengan penyampaian ayat dan hadits”. “Sedangkan anda mendapatkan pengajaran yang “penuh” dengan penyampaian pendapat orang” Menurut saya percuma saja anda mendapatkan pengajaran spt anda maksudkan kalau toh tidak membuahkan akhlak yang baik, masih merasa paling benar, masih suka seenaknya menyalahkan amaliah orang lain (yang menurut anda tidak ada dalil dan contoh Rasul) masih jauh dari sifat tawadhu?. Saya khawatir jangan jangan ayat dan hadits yang sampai ke telinga anda pemahamannya jauh dari pemahaman sebenarnya. Afwan.

  34. Bismillaah,

    Kang Zainal Arifin,

    Saya tidak merasa paling benar. Saya hanya mencoba untuk terus belajar untuk menemukan kebenaran.

    Tentang menyalahkan amalan orang lain, saya justru melihat banyak kawan-kawan di forum ini yang memperolok-olok amalan orang lain dengan perkataan: “Celana cingkrang”, “Shalat kok berdesak-desakan, injak-injak kaki, gak nyaman, ah”, “Jidat dijedot-jedotkan di lantai saat sujud”, “Bersedekap di dada saat shalat adalah amalan Yahudi”. “Jenggot acak-acakan”, dll.

    Tentang akhlak, lihatlah komentar-komentar kawan-kawan di forum ini. Banyak-kawan-kawan di sini mengeluarkan kata-kata kasar, apalagi saat berbicara tentang masalah Wahabi. Juga perhatikan kekejian dan kemungkaran yang masih banyak terjadi di negeri ini. Padahal, kebanyakan orang dinegeri ini shalat, tapi mengapa perbuatan keji dan mungkar masih merajalela. Padahal Allah berfirman: “Sesungguhnya shalat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar.”

    Marilah kita instropeksi bersama-sama tentang shalat kita. Mengapa shalat kita belum bisa mencegah perbuatan keji dan mungkar di negeri ini? Ada apa dengan shalat kita? Jangan-jangan shalat kita tidak sesuai dengan shalat yanag diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya. Bagaimana shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya? Jangan-jangan kita belum mengetahuinya kecuali hanya ikut-ikutan.

    Wallaahu a’lam.

  35. Kalau Ibnu Suradi ga pernah merasa kalau dirinya “merasa paling benar” seperti komentar Kang Zainal di atas. Saking PD-nya sudah berani “memanipulasi hadits Nabi”. Lihat pendapatnya tentang “Hadits Membaca Qur’an tidak sampai tenggorokan”. Banyak saksi di sini dia bilang “hadits tersebut ditujukan kepada penghafal Yasin”. Dia bilang, “lebih baik ikut Imam Nawawi jangan ikut ulama kontemporer”, tetapi dia selalu menolak bid’ah hasanah yang dikatakan Imam Nawawi dan mengagung-agungkan shifat sholat Al Bani yang ternyata lebih kontemporer dari ulama yang menyebut Wahabi Khawarif. Jadi silakan rekan-rekan menilai …

  36. Ma’af kang ibnu suradi, demi Allah saya sungguh kasihan sama anda, saya hanya bermaksud mengingatkan anda akan kesalahan2 anda khususnya tentang kesalahpahaman2 yang karenanya anda tertipu. Dari dulu2 anda bicara tentang shaf sholat, jenggot, isbal dan mempermasalahkan saudara saudara kita yang tidak berjenggot, tidak isbal dan lainlain. Kang, Islam itu akhlak, Allah hanya melihat hati kita bukan yang lain. Terlebih lagi saat kita melaksanakan ibadah shalat. Allah tidak melihat panjangnya jenggot anda atau celana yang anda kenakan atau yang lainnya melainkan khusyu nya shalat kita. Anda jangan khawatir tentang shalat nya saudara kita yang lain apakah dia berjenggot atau tidak, apakah mata kaki mata kaki mereka sudah saling ketemu atau tidak atau apakah mereka sudah bersedekap dengan benar atau tidak. Yang anda perlu perhatikan adakah sholat anda khusyu? Karena hanya Shalat yang khusyu lah yang bermanfaat bagi lingkungan sosial kita, yang bisa mencegah pelaku2nya dari perbuatan keji dan mungkar, yang bisa menundukkan ego kita, yang bisa menjauhkan kita dari Al Whan dan segala prilaku buruk manusia.

    Wallahu a’lam

    1. Assalamu ‘alaikum
      @zainal arifin
      Itulah kalau membaca Al-Qur’an dan Hadits tapi dipergunakan lebih banyak utk menilai ibadah orang lain dan sedikit utk menilai ibadah diri sendiri.

      Kutip dari Saudara Ibnu Suradi

      Marilah kita instropeksi bersama-sama tentang shalat kita. Mengapa shalat kita belum bisa mencegah di negeri ini? Ada apa dengan shalat kita? Jangan-jangan shalat kita tidak sesuai dengan shalat yanag diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya. Bagaimana shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya? Jangan-jangan kita belum mengetahuinya kecuali hanya ikut-ikutan.

      Saudara Ibnu Suradi…
      Maaf….sholatnya Rasulullah SAW adalah yang terbaik diantara hamba-Nya. Apakah tidak ada perbuatan keji dan mungkar diwaktu itu.

      Sholat itu mencegah perbuatan keji dan mungkar bagi yang mengerjakan sholat bukan bagi orang lain.

      Maaf kalau ada salah kata.

      1. Bismillaah,

        Kang Husaini,

        Apakah setiap koruptor di negeri ini tidak shalat sehingga mereka melakukan kekejian dan kemungkaran dalam bentuk korupsi? Apakah setiap orang yang berzina di negeri ini tidak shalat sehingga mereka melakukan kekejian dan kemungkaran dalam bentuk perzinahan? Apakah setiap orang yang membuka auratnya itu tidak shalat sehingga mereka melakukan kekejian dan kemungkaran dalam bentuk pamer aurat? Apakah setiap orang yang senang mendengarkan gosip dari infotainment tidak shalat sehingga mereka melakukan kekejian dan kemungkaran dalam bentuk gosip?

        Banyak dari koruptor, orang yang berzina, orang yang pamer aurat dan pegosip melakukan shalat. Namun, apakah shalatnya sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya?

        Saya berkeyakinan bahwa seseorang tidak akan bisa shalat sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya sampai dia mengetahui dalil Qur’an dan hadits tentang shalat yanag diaajarkan Rasulullaah. Dan pengetahuan tentang dalil shalat Rasulullah bisa didapat di antaranya dengan bertanya: “Mana Dalilnya?”

        Wallaahu a’lam.

        1. Ingat kang suradi, shalat adalah ibadah ruhani jadi anda jangan terpaku pada gerakan2 jasmaniahnya saja. Mereka yang meskipun dia shalat namun sebatas melakukan gerakan2 shalat tanpa disertai menghadapkan ruhnya kehadirat Allah SWT atau dia tiada mengenal siapa yang menyembah dan siapa yg disembah dia tidak aman dari kemaksiatan2 spt yang anda sebutkan di atas.

          Wallahua’lam

          1. Bismillaah,

            Kang Arifin,

            Saya yakin bahwa Rasulullaah mengajarkan shalat kepada para sahabatnya tidak sekedar gerakannya, tapi juga bacaan, thuma’ninah, kekhusyu’an dan niat yang ikhlas. Semuanya tentang shalat sudah diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya.

            Wallaahu a’lam.

        2. Saudara Ibnu Suradi..

          Apakah anda pernah survey terhadap mereka ?
          Apakah mereka istiqamah mengerjakan sholat lima waktu ?
          Kemudian anda baca Surah Al-Maa’uun ayat 4 hingga 7.
          Dan sudahkah sholat itu diterapkan dalam pekerjaan mereka ?

          Maaf …bukan bermaksud menggurui…
          Selesai salam dalam sholat bukan berarti sholat kita berakhir tapi tahu harus diterapkan dalam pekerjaan(kehidupan). Sholat adalah do’a dan penerapan adalah syare’at…dan keduanya tidak bisa dipisahkan. Tentu anda tahu dalilnya….Alllah SWT tidak akan merubah [..]. Jadi kalau hanya sholat tapi sholat itu tidak diterapkan…mana mungkin bisa mencegah kemungkaran.

          Biar lebih paham apa yg saya maksud ….saya kasih contoh sebagian :
          1. Niat
          Niatkan bekerja hanya kerena mencari ridha Allah SWT.

          2. Berdiri bagi yang mampu
          Bekerja sesuai dgn kapasitas diri. Jangan sampai utk mendapatkan pekerjaan hingga memalsukan ijazah. Atau kalau seorang ustadz tetapi belum bisa menjawab banyak pertanyaan dari masyarakat sekitar….ya duduk dulu belajar lagi…biar khusuk.

          3. Takbiratul ikhram
          Dengan semangat Allahu Akbar bekerjalah dengan keras dan jujur. Kerena Allah SWT benci dengan orang pemalas lagi curang.

          4. Membaca Al-faatihah
          Apapun hasilnya…senantiasa bersyukur dan berdo’a.
          ………..
          11. Membaca shalawat Nabi
          Jgn lupa mengucapkan terima kasih kepada Rasulullah SAW. Kalau sarana saya…ya maulidan…tapi kalau anda punya sarana yang lain silahkan…yang penting istiqamah.

          12.Salam
          Silaturahmi kepada tetangga kanan kiri kita…kalau ada yg lagi kesusahan…berikan sedekah kepada mereka. Dalilnya tentu anda lebih tahu…tidak akan diterima sholatnya orang yg tidur kerena kekenyangan sementara tetangganya tidak bisa tidur kerena kelaparan.

          13. Tertib
          Jangan sampai tertinggal rukunnya. Contoh..niat oke tapi kerjanya malas.

          Nah …saudara Ibnu Suradi..jika sholat kita sudah diterapkan maka insya Allah tidak akan terjadi kemungkaran dinegeri ini. Dan selebihnya apabila masih terjadi kemungkaran maka saya katakan saya beriman kepada takdir yang baik dan yang buruk.
          “Agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath-Thalaq: 12)

          “Dan kamu tidak dapat menghendaki (mengerjakan sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)

          “Allah menciptakan segala sesuatu.” (QS. Az-Zumar: 62)

          “Allah telah menuliskan takdir bagi semua makhluk 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi.” (HR. Muslim no. 4797)

          Wallahu a’lam

          Jadi kalau anda belum pernah survey sebelumnya silahkan survey dulu…baru bicara seperti diatas.

          Maaf kalau ada salah kata.

          1. Koreksi pada :
            “tidak akan diterima sholatnya orang yg tidur kerena kekenyangan sementara tetangganya tidak bisa tidur kerena kelaparan.”

            Seharusnya:
            “tidak akan diterima sholatnya orang yg TIDAK BISA tidur kerena kekenyangan sementara DI SEBELAH RUMAHNYA ADA tetangganya tidak bisa tidur kerena kelaparan.”

            Maaf.

          2. Bismillaah,

            Kang Husaini,

            Allah berfirman: “Shalat mencegah perbuatan keji dan mungkar.”

            Bila seseorang shalat meski rajin, apalagi malas, namun masih berbuat keji dan mungkar, maka perlu dipertanyakan shalatnya. Bisa jadi, shalatnya belum sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya. Bisa jadi ia hanya ikut-ikutan orang-orang yang shalat di masjid atau surau di dekat tempat tinggalnya atau tempat kerjanya. Kalau orang yang diikuti benar shalatnya, maka benar juga shalat orang yang mengikutinya. Kalau salah, salah pula shalatnya.

            Wallaahu a’lam.

          3. Saudara Ibnu Suradi..

            Bila seseorang shalat meski rajin, apalagi malas, namun masih berbuat keji dan mungkar, maka perlu dipertanyakan shalatnya. Bisa jadi, shalatnya belum sesuai ..[..]

            Kalau masalah sesuai ….kaum khawarij lebih sesuai dari pada kita-kita sekarang.
            Tapi apa yg terjadi ?
            Silakan ambil pelajaran dari kaum khawarij….

            Bisa jadi ia hanya ikut-ikutan orang-orang yang shalat di masjid atau surau di dekat tempat tinggalnya atau tempat kerjanya. Kalau orang yang diikuti benar shalatnya, maka benar juga shalat orang yang mengikutinya. Kalau salah, salah pula shalatnya

            Ibnu Hajar : “Tidak cukuplah dalam ta’dil (menganggap adil) dari keadaan lahiriahnya, walau sampai yang dipersaksikan akan keadilannya itu pada puncak ibadah, miskin, wara’, HINGGA DIKETAHUI KEADAAN BATHINNYA”. [Fathu Al-Bari XII/302].

            Maaf kalau ada salah kata

          4. Assalamu’alaikum,

            Dengan penjelasan dari M. Husaini di atas, seharusnya sdr. ibnu suradi sudah bisa introsfeksi diri atau bertanya pada diri sendiri apakah selama ini anda dalam berdiskusi di Ummati sekedar mencari pembenaran atas apa yang anda yakini atau memang berniat mencari kebenaran khususnya pada bahasan masalah shalat.

            Afwan

          5. Bismillaah,

            Kanmg Husaini,

            Tentang kaum khawarij, kita menilainya dari sisi aqidah. Aqidahnya menyimpang karena menentang Rasulullaah sebagai penguasa yang sah memiliki wewenang membagikan harta rampasan perang. Kaum khawarij itu menentang penguasa yang sah. Meski shalat mereka benar, tetap saja mereka tidak dapat memperbaiki akhlak dalam hubungannya dengan penguasa yang sah karena aqidahnya.

            Namun bagi kita yang beraqidah benar, maka shalat yang benar sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar.

            Tentang keadaan batin, apakah menurut anda shlat yang benar sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah tidak meliputi keadaan batin. Lalu bagaimana pendapat anda tentang niat yang ikhlas? Bagaimana dengan keikhsanan yang diajarkan Rasulullaah dalam beribadah termasuk shalat? Apakah nita yang ikhlas dan keihsanan itu masalah lahiriyah, bukan batiniyah?

            Sebaiknya, anda juga menyimak perkataan Imam Syafii: “Janganlah engkau menganggap hebat orang yang dapat berjalan di atas air dan terbang di udara sampai engkau melihat kesesuaian ibadahnya dengan Qur’an dan Sunnah.” Mohon maaf, bila ada kesalahan redaksi dalam pengutipan perkataan Imam Syafii tersebut. Mohon dikoreksi bagi yang mengetahuinya.

            Jadi, melakukan ibadah shalat yang benar sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya adalah hal yang sangat pokok bagi seorang ytang beriman.

            Wallaahu a’lam.

          6. @ibnu suradi say:
            “Namun bagi kita yang beraqidah benar, maka shalat yang benar sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dapat mencegah perbuatan keji dan mungkar”

            mudah2an dengan akidah yg benar dan sholat yg benar tsb,mencegah perbuatan keji dan mungkar seperti :

            1.tak adalagi kaum yg gemar merubah2 kitab karya ulama agar sesuai dengan hawa nafsu nya…
            2.tak ada lagi kata2 kuburiyyun, penyembah kubur,bida’h,sesat pada amalan2 orang lain yg beda pemahaman dengannya..
            3.tak ada lagi kata sesat menyesatkan sesama kaum nya sendiri..

            amiiin…

          7. bagus klo begitu mas,biar mas suradi ceramah sama ustadz2 dan syeh2 nya di sana kaum wahabers, agar tak ada lagi perbuatan keji dan mungkar spt tsb di atas,…

            berarti klo begitu selama ini,akidah dan sholat nya…???

          8. Saudara Ibnu Suradi..

            Ini pernyataan anda..point 1:

            Saya berkeyakinan bahwa seseorang tidak akan bisa shalat sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya sampai dia mengetahui dalil Qur’an dan hadits tentang shalat yanag diaajarkan Rasulullaah

            Bandingkan dgn yg ini..point 2:

            Tentang kaum khawarij, kita menilainya dari sisi aqidah.[..] Kaum khawarij itu menentang penguasa yang sah.[..]

            Dan pada point 3:

            Banyak dari koruptor, [..] melakukan shalat. Namun, apakah shalatnya sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada para sahabatnya?

            Sekarang kita bahas argument2 anda itu;
            Pada point 1:”sampai dia mengetahui dalil Qur’an dan hadits”
            Pada point 2:” kita menilainya dari sisi aqidah ”
            Jelas anda menyatakan pada ponit 1…Pertanyaannya adalah…Mana yg lebih tahu dalil AQ dan Hadits …anda atau kaum khawarij ?
            Kemudian anda katakan kalau kaum khawarij ” kita menilainya dari sisi aqidah ” kerena ” Kaum khawarij itu menentang penguasa yang sah.” Tapi mengapa anda memasukan para koruptur(point 3) kedalam kategori :”sampai dia mengetahui dalil Qur’an dan hadits”. Sedangkan para koruptur itu sudah jelas menentang pemerintah yang sah yg melarang korupsi dan anehnya anda tidak melihat dari sisi aqidahnya. Jadi silahkan betulkan dulu kerancuan anda itu. Dan jelaskan menurut anda bagaimana sebenarnya sholat yg sesuai dgn AQ dan hadits itu secara bathin kerena gerak dan bacaan yg keluar dari mulut itu hanya zahir. Saya ingin tahu dari orang yg bersumber langsung dari AQ dan Hadits.

            Tentang keadaan batin, apakah menurut anda shlat yang benar sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah tidak meliputi keadaan batin.[..]

            Meliputi dan sudah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Pertanyaannya adalah…apakah bathin kita sudah ikut sholat ?

            Sebaiknya, anda juga menyimak perkataan Imam Syafii: “Janganlah engkau menganggap hebat orang yang dapat berjalan di atas air dan terbang di udara sampai engkau melihat kesesuaian ibadahnya dengan Qur’an dan Sunnah.”

            Apa hubungannya dgn pernyataan saya ? Kapan saya beranggapan orang seperti itu hebat ? Yang hebat hanyalah Allah SWT.
            Orang arif berkata (Syeikh Abdul Qadir Al-Jailani) :“Kewujudan dirimu merupakan dosa, menyebabkan segala dosa menjadi kecil jika dibandingkan dengannya”.

            Jadi, melakukan ibadah shalat yang benar sesuai dengan shalat yang diajarkan Rasulullaah kepada para sahabatnya adalah hal yang sangat pokok bagi seorang ytang beriman.

            Biar lebih dalam lagi mengenai sholat…Pertanyaan adalah…apakah benar anda(Ibnu Suradi) yg berkehendak sholat ?

            Maaf kalau ada salah kata.

  37. To Mas Zainal Arifin.
    Kami setuju banget atas pendapat anda………..
    Ada cerita nih di kampung kami diperantauan, ada sejumlah golongan yang wahabi / salafy yang kerjanya mengoreksi amal orang lain , yang gak berdalil kek atau apakek.
    Namun ada satu dua orang yang berpaham seperti wahabi namun Beliau beliau ini sungguh dalam pemahamannya atau paling tidak mempunyai prinsip yang sungguh sangat toleran sekali YAITU : Yang namanya BEDA ya BEDA sampai kiamat gak Mungkin SAMA. sehingga menimbulkan aura yang positif dimasyarakat. Yang kelompok pertama yang sering mengoreksi orang di masyarakat juga kurang dianggap.
    Kami berharap teman teman Wahabi/salafy mempunyai Prinsip seperti Beliau beliau ini. Jadi Timbul rasa saling menghormati…………. sungguh ini adalah actual.
    Syukron buat team admin Ummati. jangan pernah menyerah………….

  38. @kang ibnu, kalau pemehaman demi pemahaman yang ada disini selalau saja anda tepiskan dan disanggah sesuai dengan versi anda, sekarang kembali pada 1 saja pertanyaan yg pernah saya tanyakan pada anda, tentang mana haditsnya tentang pemakaian celana cingkrang yang pernah dicontohkan Nabi SAW, yang selama ini anda yakini sebagai bagian ibadah yang dicontohkan Nabi SAW, ingat kang ibnu…bukan hadits tentang kain, anda sendiri mengatakan bahwa kalau apa yang anda lakukan itu berdasar pada Alquran dan Hadits Nabi SAW yang shahih ? tolong pertanyaan saya dijawab tdk usah ngelantur kesana kemari,

  39. @kang ibnu, anda mengatakan : Saya bukanlah mujtahid. Saya hanya penuntut ilmu. Bila tak tahu dalil dari suatu amalan, saya bertanya kepada guru dan dia menunjukkan dalilnya bila ia mengetahuinya dan bila tidak mengetahuinya, ia bilang: “Saya belum tahu. Saya akan mencari tahu.”

    Kang ibnu, anda tahu apa tidak ciri2 orang munafik, anda mengatakan mendapatkan pengajaran yang penuh dg penyampaian ayat, tapi anda sendiri mengatakan Bila tak tahu dalil dari suatu amalan, saya bertanya kepada guru dan dia menunjukkan dalilnya bila ia mengetahuinya dan bila tidak mengetahuinya, ia bilang: “Saya belum tahu. Saya akan mencari tahu.”
    he..he…he… apakah guru anda hanya membaca teksbook untuk suatu dalil amalan, ataukah dia menambah juga dengan penafsiran menurut versinya saat anda diterangkan tentang dalil suatu amalan, saya rasa tidak mungkin guru anda hanya menyampaikan secara teksbook tentang suatu dalil, pastinya dia juga menafsirkan sesuai dengan pemahamannya, wahh..kalau sudah begini itu namanya kan sama saja dengan pengajaran yang penuh pendapat, lalu kalau di hubungkan dengan pernyataan anda sblm nya, maka dapat disimpulkan yang anda lakukan selama ini adalah lain dimulut, lain kenyataannya, itu namanya apa kang suradi ? selain itu ternyata kaum wahabi/salafi juga senang mempraktekkan taqlid yg selama ini mereka paling anti, itu terbukti juga pada ungkapan anda diatas yang menanyakan dalil suatu amalan pd guru anda, mengapakah tidak anda tafsirkan sendiri atau mencari sendiri dalil2 yang berkaitan dg suatu amalan, kalau orang itu lain dimulut lain pula perbuatannya itu namanya apa kang ibnu ?

  40. Bismillaah,

    Kang Minakjinggo,

    Mungkin itulah bedanya cara belajar saya dari cara belajar orang lain. Bila guru memberikan suatu amalan yang belum ada dalil dari Qur’an dan hadits, maka saya menanyakan ayat Qur’an dan hadits yang mendasari amalan itu. Saya menanyakan dalil Qur’an dan hadits untuk meyakinkan diri saya bahwa amalan tersebut benar-benar berasal dari Allah dan RasulNya. Ingin mengetahui apa yang diperintahkan Allah dan RasulNya. Ingin mengetahui bagaimana Rasulullaah mengajari bagaimana cara pelaksanaan amalan tersebut. Apakah ini taklid?

    Muingkin ada orang yang menerima begitu saja amalan yang diberikan gurunya tanpa menanyakan dalil dari Qur’an dan hadits yang mendasari amalan tersebut. Ia begitu yakin bahwa amalan tersebut benar karena gurunya tak mungkin mengajarkan amalan yang salah. Apakah ini bukan taklid?

    Kalau gurunya benar, maka alhamdulillaah. Bila gurunya salah, maka ia akan beramal salah hingga akhir hayatnya kecuali bila dia mau mengubah cara belajarnya dengan rajin bertanya: “Mana Dalilnya?”

    Wallaahu a’lam.

    1. Bismillah….

      Kang Suradi@. Afwan ana baru on, ini ada beberapa pertanyaan buat antum?

      1- Wajibkah bagi semua ummat Islam untuk mengetahui dalil atas amal yang mereka kerjakan?

      2- Bagaimanakah hukum sholat seseorang yang belum mengetahui cara pelaksanaannya dari dalil Nash (al qur’an/hadits)?

      Mari berdiskusi dengan argumen ilmiyah dan santun…Syukron.

  41. Asik nih pengen menyimak diskusi antara orang yang mengaku paling kritis terhadap dalil Quran dan Hadits dengan @bu hilya yang dituduh “hanya mengikuti kata orang”. Pengen tahu nih berani ga ya … Jangan sombong ngaku-ngaku doang …..

  42. Bismillaah,

    Kang @bu Hilya,

    Untuk mengetahui dalil dari amalan yang dikerjakan, seseorang harus menuntut ilmu kepada guru atau membaca kitab bila sudah mampu membaca kitab. Tidak mungkin seseorang mendapatkan dalil malannnya tanpa menuntut ilmu.

    Dalam hadist yang diriwayatkan oleh anas ibnu malik  , Rosullullah  bersabda:

    عن أنس بن مالك رضى الله عنه، عن النبى صلى الله عليه وسلم أنه قال : طلب العلم فريضة على كل مسلم

    Artinya:”Dari anas bin malik , nabi  berkata:”menuntut ilmu wajib atas setiap orang islam”

    Jadi, menuntut ilmu untuk mendapatkan dalil amalan ibadah adalah wajib bagi setiap muslim.

    Allah memberikan bekal untuk menuntut ilmu kepada manusia berupa penglihatan untuk membaca firman Allah, sabda Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan melihat yang boleh dilihat, pendengaran untuk mendegarakn mendengarkan perkataan yang haq (qur’an, hadits, atsar sahabat, pendapat imam, dll) dan mendengarkan hal yang boleh didengar) dan akal untuk memikirkan yang haq.

    Bila sampai mati seseorang tidak pernah menuntut ilmu untuk mendapatkan dalil amalannya, maka ia akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah tentang bekal hidup yang disudah diberikan kepadanya. Apakah selama hidupnya ia menggunakan pendengaran, penglihatan dan akalnya untuk menuntut ilmu atau tidak? Apakah selama hidupnya ia menggunakannya untuk mengetahui dalil amalannya atau tidak?

    Dalam surat Al Mulk, Allah berfirman: “Katakanlah: ‘Dia yang menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan hati/akal. Namun hanya sedikit orang yang bersyukur’ ” (Mohon dikoreksi bila salah terjemahannya).

    Maka mari kita bersyukur atas nikmat Allah tersebut dengan mencari dalil amalan ibadah kita.

    Afwan bila ada kata-kata yang tidaak berkenan di hati anda. Mohon dikoreksi bila ada kesalahan dalam raangka saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

    Wallaahu a’lam.

    1. Bismillah…,

      Maaf Kang Ibnu Suradi, anda belum menjawab pertanyaan kami dengan tegas, disini akan kami ulangi pertanyaan tsb, dan mohon anda fokus agar tidak kabur permasalahannya.

      1- Wajibkah bagi semua ummat Islam untuk mengetahui dalil atas amal yang mereka kerjakan?

      2- Bagaimanakah hukum sholat seseorang yang belum mengetahui cara pelaksanaannya dari dalil Nash (al qur’an/hadits)?

      Pertanyaan pertama hanya memberi anda opsi jawaban WAJIB atau TIDAK, berikut argument dan dalil.

      Pertanyaan kedua anda bisa jawab SAH/TDK SAH/ atau yang lain berikut argument dan dalilnya…

      Mohon maaf dalam hal ini ana juga masih dalam rangka belajar, mohon sahabat Ummati yang lain sudi memberikan koreksi atas kesalahan2 ana. sebelumnya ana haturkan terima kasih

      1. Bismillaah,

        Kang @bu Hilya,

        Saya sudah sampaikan hadits tentang wajibnya menuntut ilmu bagi setiap Muslim. Dalil amalan ibadah shalat adalah ilmu. Maka, menuntut ilmu tentang dalil amalan shalat adalah wajib.Apalagi kalau dikaitkan dengan hadits: “Shalat adalah amalan ibadah yang pertama dihisab pada hari kiamat. Bila benar shalatnya, maka benar pula amalan lainnya. Bila rusak shalatnya, maka rusak pula amalan lainnya.”

        Untuk orang yang belum mengetahui dalilnya, sah atau tidak shalatnya? Wallaahu a’lam. Dipastikan bahwa ia meniru orang lain shalat. Bisa jadi shalatnya sesuai dengan dalil atau tidak sesuai dengan dalil. Yang jelas dia berkewajiban menuntut ilmu untuk mengetahui dalil shalat. Sebab perintahnya sudah jelas seperti saya sampaikan sebelumnya.

        Wallaahu a’lam.

        1. Kang Suradi@.

          Yang anda sampaikan dalil kewajiban mencari Ilmu yang semua anak kecil Insya Alloh juga pada hafal.

          Kang Suradi@. awalnya ana sempat mengira anda adalah orang punya cukup modal ilmu untuk mempertanggung jawabkan argument-argument anda, tapi semakin kesininya ana justru semakin mendapati ketidak tahuan anda atas masalah-masalah agama.

          Sekedar saran, Untuk memahami pertanyaan yang saya ajukan kiranya butuh anda baca pertanyaan tsb sekurang-kurangnya 10 kali. Insya Alloh mungkin jawabannya agak nyambung!

        2. TAQLID

          Dibawah ini kita kutip penjelasan tentang TAQLID dari kitab AL LUMA’ FI USHULIL FIQHI karya AL IMAM ABI ISHAQ IBROHIM BIN ALI AS SYAIROZI semoga bermanfaat.

          باب بيان ما يسوغ فيه التقليد وما لا يسوغ ومن يسوغ له التقليد ومن لا يسوغ

          قد بينا الأدلة التي يرجع إليها المجتهد في معرفة الحكم وبقي الكلام في بيان ما يرجع إليه العامل في العمل وهو التقليد وجملته أن التقليد قبول القول من غير دليل . والأحكام على ضربين عقلي وشرعي فأما العقلي فلا يجوز فيه التقليد كمعرفة الصانع وصفاته ومعرفة الرسول صلى الله عليه و سلم وغير ذلك من الأحكام العقلية وحكي عن أبي عبيد الله بن الحسن العنبري أنه قال يجوز التقليد في أصول الدين وهذا خطأ لقول الله تعالى { إنا وجدنا آباءنا على أمة وإنا على آثارهم مقتدون } فذم قوما اتبعوا آباءهم في الدين فدل على أن ذلك لا يجوز لأن طريق هذه الأحكام العقل والناس كلهم يشتركون في العقل فلا معنى للتقليد فيه

          Kesimpulan : Taqlid adalah : Menerima pendapat tanpa (mengetahui) dalil. Adapun hukum-hukumnya terbagi menjadi dua, yakni ’Aqliy dan Syar’iy. Terhadap hukum yang bisa didapati dari dalil aqliy tidak diperkenankan Taqlid, seperti mengetahui adanya Sang Pencipta dan Shifat-Shifat-Nya, mengetahui atau mengenali Rosululloh SAW, dan yang lain yang dalilnya dapat diketahui dengan Akal, karena semua manusia dengan akal yang sehat akan menyimpulkan adanya Sang Pencipta dan dapat mengetahui Rosululloh dengan dalil akal mereka, sehingga tidak ada artinya taqlid dalam masalah ini.

          فصل وأما الشرعي فضربان ضرب يعلم ضرورة من دين الرسول صلى الله عليه و سلم كالصلوات الخمس والزكوات وصوم شهر رمضان والحج وتحريم الزنا وشرب الخمر وما أشبه ذلك فهذا لا يجوز التقليد فيه لأن الناس كلهم يشتركون في إدراكه والعلم به فلا معنى للتقليد فيه وضرب لا يعلم إلا بالنظر والاستدلال كفروع العبادات والمعاملات والفروج والمناكحات وغير ذلك من الأحكام فهذا يسوغ فيه التقليد وحكي عن أبي علي الجبائي أنه قال إن كان ذلك مما يسوغ فيه الاجتهاد جاز وإن كان مما لا يجوز فيه الاجتهاد لم يجز . والدليل على ما قلناه قوله تعالى { فسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون } ولأنا لو منعنا التقليد فيه لاحتاج كل أحد أن يتعلم ذلك وفي إيجاب ذلك قطع عن المعاش وهلاك الحرث والزرع فوجب أن يسقط

          Kedua : Syar’iy : Yakni Taqlid terhadap permasalahan yang hanya didapati sumber hukumnya dari dalil-dalil Syara’. Taqlid atas permasalahan semacam ini terbagi menjadi dua: 1. Taqlid dalam masalah-masalah yang sumer hukumnya sudah jelas dan mudah difahami oleh setiap ummat islam, misal dalam masalah Wajibnya Sholat lima waktu, Zakat, Puasa Romadhon, Hajji, serta larangan Berzina, meminum Khomer dan yang lain. Terhadap masalah-masalah semacam ini yang dalilnya bersifat Dhorury dan mudah difahami, kita tidak diperkenankan Taqlid. 2. Taqlid dalam masalah-masalah yang sumber hukumnya dibutuhkan Nadzhor atau analisa dan Istidlal pencarian dalil berikut memahaminya dengan benar sesuai porsinya, seperti masalah-masalah dalam Furu’il Ibadah, Mu’amalah, Furuj, Munakahah, dll. Dalil yang memperkenankan Taqlid dalam hal ini adalah Firman Alloh:
          فسألوا أهل الذكر إن كنتم لا تعلمون
          “ Maka Bertanyalah kepada Ahli al Dzikri jika kalian tidak tahu”
          Dan juga seandainya kita dilarang taqlid dalam masalah-masalah seperti ini sungguh kita akan menghabiskan waktu untuk belajar sampai menjadi Mujatahid, dan ini akan memutus Ma’isyah, menghentikan system perekonomian baik pertanian maupun perdagangan, atau yang lain, serta pengabaian atas kwajiban-kewajiban yang lain.

          Wallohu a’lam

  43. @ibnu suradi, terus mana dalilnya penggunaan celana cingkrang spt yg diajarkan guru anda ? kalau guru anda yang salah bagaimana ? berarti akan beramal salah juga sampai akhir hayatnya ?

  44. @kang Bima, saya setuju dengan apa yang anda ungkapkan, biar kita org2 aswaja tidak dikira main “keroyokan”, setelah ini saya juga akan ikut nyimak diskusi antara kang hilya dan kang ibnu, tapi setelah kang ibnu menjawab pertanyaan saya diatas, dan untuk kang hilya saya mohon sabar dulu untuk bercoment, sekali lagi biarkan kang ibnu menjawab pertanyaan saya tentang celana cingkrang, bagaimana kang ibnu ?

  45. kang Ibnu, saya menanyakan dalil celana cingkrang bukan pakaian, mungkin anda bisa menanyakan pada guru anda, dan bagaimana bila pemahaman guru anda yang salah menyikapi dalil ttg pakaian ?

    1. Kang Ibnu Suradi, maaf menyela sedikit….
      Sepertinya maksud Kang Prabu adalah kenapa harus celana cingkrang? Bukankah Gamis/jubah lebih dekat ke Sunnah Rasulullah Saw? Apakah Nabi dan Sahabat memakai pakaian Celana Cingkrang?
      Ingat lho Kang Ibnu Suradi, banyak dari para penganut Wahabi menganggap muslim yg tidak pakai celana cingkrang sebagai Ahli bid’ah. Habib-habib dan para Kiyai itu pakai gamis dan atau jubah, mereka dianggap sebagai ahli bid’ah, padahal gamis atau Jubah adalah pakaian lebih sesuai Sunnah.

      Maaf Mas Prabu, kami ikut nimbrung, lanjut Mas….

  46. muryanto says:
    August 2, 2012 at 2:30 pm

    Asllm ,Kalau se tahu saya sih Zaman Rasul itu berpakaian Gamis, dan pada waktu umatnya memakai sampai menyapu jalan dan menjadi kebanggaan,atau kesombongan maka Rasul, meng ultimatum bahwa memakai kain Gamis /baju Gamis harus diatas mata kaki.. dan ini Khusus dan diperuntukan pakaian Gamis wassl

  47. muryanto says:
    August 2, 2012 at 2:30 pm

    Asllm ,Kalau se tahu saya sih Zaman Rasul itu berpakaian Gamis, dan pada waktu umatnya memakai sampai menyapu jalan dan menjadi kebanggaan,atau kesombongan maka Rasul, meng ultimatum bahwa memakai kain Gamis /baju Gamis harus diatas mata kaki.. dan ini Khusus dan diperuntukan pakaian Gamis wassl

    mengutip perkataannya kang muryanto, brarti jaman Rasulullah dahulu itu gak ada celana panjang khan? adanya gamis? nah brarti itu wahabi yg slalu ngatain orang” bid’ah disana sini juga termasuk bid’ah dunk/sesat atas dasar perkataan mereka sendiri, khan di jaman Rasulullah gak ada celana panjang? trus knp org wahabi juga pake clana panjang? di cingkrangin lagi, apa bukan bid’ah itu namanya? hayo…kemakan omongan sndri khan,bagaimana itu kang ibnu suradi? mohon maaf jika ada yg salah, saya hanya org awam yg mikir pakai logika, insyaAllah sesuai dengan hati nurani, nah brarti seharusnya org” wahabi selalu memakai gamis donk dimanapun mreka berada sama seperti jaman Rasulullah khan disaat itu pakaian mereka gamis, bukan celana panjang atau baju muslim,brarti wahabi semua juga bid’ah,logikanya khan bgitu menurut pemahaman ente para wahabi???? hayo loh mo ngomong apa????….

  48. @kang ibnu, saya tanya mana dalilnya tentang celana cingkrang bukan kain dan bukan tentang pakaian, ada atau tidak ? kalau anda mengemukakan tentang pakaian atau juga tentang kain, nantilah kita bahas bareng2 masalah pakaian/kain dalam syariat islam, anda sendiri yang mengatakan dalam setiap ibadah anda harus ada dalil shohih yang mendasarinya, kini saat saya ingin tahu dalil yang shohih tentang celana cingkrang malah anda tidak bisa menunjukkan, orang islam itu yang dipegang adalah satunya kata dengan perbuatannya, bukan hanya pandai berteori.

  49. TIDAK SETIAP YANG BARU ITU BID’AH DHOLALAH

    Bismillah….

    Setelah kita dapati pemahaman tentang ibadah dari artikel yang ditulis oleh Akhina Ust. H. Ahmad Syahid disini ana ingin menambahkan sedikit apa yang mungkin bermanfaat bagi kita semua.

    Sebagaimana yang telah kita fahami, bahwa ibadah terbagi menjadi dua: ada Ibadah Mahdho dan ada Ibadah Ghoiru Mahdho berikut kami tambahkan bahwa Ibadah Mahdho terbagi menjadi dua:

    1. Ibadah Mahdho Muqoyyad: Ibadah murni yang ketentuan cara pelaksanaannya telah ditetapkan oleh Syara’, baik waktu pelaksanaannya, tempat, jumlah, dan detail pelaksanaan yang lain dan akhirnya pelaksanaan Ibadah semacam ini bersifat Tauqify, dan tidak boleh kita berinofasi terhadap ibadah semacam ini, semisal dengan Mengurangi jumlah putaran Thowaf dalam Hajji, atau menambahkan jumlah Rokaat dalam solat, atau menambah jumlah mustahiq zakat dari delapan yang telah digariskan. Terhadap jenis Ibadah ini berlaku baginya Kaidah : الاصل فى الاشياء التحريم حتى يدل الدليل على الامر به “ Asal dari segala sesuatu itu haram sampai ada dalil yang memerintahkannya”

    2. Ibadah Mahdho Muthlaq: Ibadah murni yang sumber dalilnya bersifat ‘Am dan tidak dijelaskan Tekhnis pelaksanaannya, semisal Baca Al Qur’an, berdzikir. terhadap tekhnis pelaksanaan ibadah semacam ini kita bebas mengaktualisasi tekhnis pelaksanaannya, baik waktu, tempat, sendiri atau berjama’ah, sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan syara’. Semisal membaca al qur’an atau berdzikir di kamar mandi atau tempat-tempat kotor yang lain.

    Ibadah Ghoiru Mahdho: sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ust. Ahmad Syahid, Yakni setiap pekerjaan yang hukum asalnya Mubah namun kemudian bisa bernilai Ibadah bergantung pada MAQOSHID atau tujuan dari pelaksanaan pekerjaan itu sendiri. Untuk pekerjaan jenis ini berlaku baginya kaidah :
    الاصل فى الاشياء الاباحة حتى يدل الدليل على تحريمه “Asal dari segala sesuatu itu Mubah, sampai ada dalil yang menunjukkan atas keharamannya.”

    Selanjutnya, jenis amal semacam ini dapat kita klasifikasikan dalam dua bagian :

    Pertama : Jenis amalan yang yang dapat bernilai Ibadah ditinjau dari Niat atau tujuannya, Contoh : PEMBERIAN UANG KEPADA ORANG LAIN, ia bisa menjadi Zakat dan hukumnya wajib apabila pelaksanannya telah memenuhi ketentuan pelaksanaan zakat, dan ia bisa menjadi Shodaqoh Sunnah, Bisa menjadi Hibbah tanpa nilai Ibadah, Bahkan bisa dikategorikan Mony Politic jika diberikan dengan maksud agar dipilih menempati jabatan tertentu.

    Kedua : Amalan atau pekerjaan yang Nilainya apakah ia termasuk Ibadah atau bukan bergantung pada amalan berikutnya yang menjadi Maqoshid-nya dimana pekerjaan ini hanya berfungsi sebagai WASILAH penghantar atau sarana untuk dapat dilaksanakannya amalan yang dimaksud. Amalan jenis berlaku baginya kaidah LIL WASA-IL HUKMUL MAQOSHID dimana hukumnya bergantung pada amaliah yang menjadi MAQOSHID atau MAUSUL ILAIH Contoh : mempelajari Ilmu Tajwid, ia menjadi wajib mengingat tuntutan membaca al qur’an dengan tartil adalah wajib. tentang hal ini dapat kita pelajari dalam disiplin Ilmu ushul Fiqih pada Fasal MA LAA YATIMMU AL WAJIB ILLAA BIHI

    Semoga bermanfaat, dan kami haturkan Ribuan terima kasih kepada Ust. Ahmad Syahid juga semua sahabat Ummati Press yang berkenan memberikan koreksi dan meluruskan kesalahan yang terdapat dalam tulisan diatas.

    Walloho a’lam….

  50. Assalamu Alaikum, Saya orang awam, saya orang yang haus ilmu apalagi soal islam, jadi bingung nich, mana islam yg bener mana yg nggak bener. tolong dong kasih tahu website yang bener untuk mempelajari agama islam, terimakasih.

  51. Allah Ta’ala berfirman, “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukakan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nissa’: 115)

    Kepada kaum muslimin berikut WEB/BLOG Sunnah pembawa kebenaran di Indonesia :

    muslim.or.id
    almanhaj.or.id
    firanda.com
    radiorodja.com
    qaulan-sadida.blogspot.com
    moslemsunnah.wordpress.com
    abusalma.net
    abangdani.wordpress.com
    darussalaf.or.id
    almakasari.com
    zaenalabidin.org
    jilbabonline.or.id
    kajian.net
    Gsalaf.com
    dan banyak lagi yang lainya

    wallahu’alam.

    1. kebenaran islam (akhi ahsan) says: August 17, 2012 at 4:04 pm:

      Kepada kaum muslimin berikut WEB/BLOG Sunnah pembawa kebenaran di Indonesia :

      muslim.or.id
      almanhaj.or.id
      firanda.com
      radiorodja.com
      qaulan-sadida.blogspot.com
      moslemsunnah.wordpress.com
      abusalma.net
      abangdani.wordpress.com
      darussalaf.or.id
      almakasari.com
      zaenalabidin.org
      jilbabonline.or.id
      kajian.net
      Gsalaf.com
      dan banyak lagi yang lainya

      Koment ane:
      Setahu ane sih blog tsb penyebar ajaran sesat Wahabi. Maaf, yg bilang sesat Wahabi itu bukan ane tetapi para Ulama Ahlussunnah Waljamaah yg asli. Wahabi ngaku2 ahlussunnah juga padahal ajarannya sesat dan menjadikan Qur'an dan Hadits sebagai jargon ato semboyan saja, prakteknya mereka sebenarnya cuma pengikut hawa nafsunya tidak lebih dari itu…

      1. Yang ente maksud ‘Ulama Ahlussunnah Waljamaah’ yang asli itu siapa? Kiyai dan Habib?
        Mimpi kali ye, he.. he.. he..!

        Pret, lah, yau!!!

        1. Yang jelas, secara umum Wahabi itu bukan Ahlussunnah Waljamaah, karena Wahabi adalah tanduk Setan dari Najd pembawa fitnah Islam. Maka saya yakin 100% Wahabi bukan ahlussunnah waljamaah, sebab munculnya dari Najd, ini sudah sangat jelas tidak perlu dicarikan alasan lebih lanjut, karena apa, sebab sudah pas dg yg disinyalir oleh Nabi saw dalam hadits2nya. wallohu a’lam.

  52. @ kebenaran islam (akhi ahsan) : hmm… blog pembawa kebenaran apa blog yang salah memahami kebenaran ? dari ayat yang anda kemukakan diatas saja anda sendiri tidak tahu untuk siapa ayat itu di tujukan, apakah untuk orang kafir, atau untuk sesama muslim yang sering anda dan kelompok anda kafir-kafirkan atau mungkin ayat itu untuk anda dan kelompok anda sendiri ?

  53. @kebenaran islam (akhi ahsan) :hmm….yang anda tampilkan itu blog tentang pembawa kebenaran apa blog yang salah memahami kebenaran ?

  54. mz ibnu suradi

    maaf mz…sampeyan baca artikelnya coba diperhatikan baik-baik, jadi prtanyaan sampeyan tdk salah arah (atau mungkin sengaja mengaburkan arah neh?)

    pertanyaan “MANA DALILNYA” yg dianggap salah di artikel di atas adalah ditujukan hanya utk hal2 yg umum yg sebenarnya memang tdk mempunyai dalil qoth’i bukan utk semua hal dilarng bertanya “MANA DALILNYA”

    sampeyan ini sngaja mengaburkan penjelasan dgn menggeneralisasi seakan2 bertanya dalil adalah haram, padahal bukan seperti itu mkna tulisan di atas…. tapi tulisan di atas merupakan koreksi atas kejahilan salafy dalam memahami permsalahan sehingga permsalahan yg merupakan wasail yg seharusnya tdk ada dalil qoth’i-pun ditanyan dalil qoth’i….

    ini point utama tulisan diatas…
    jadi tolong lhaaa jgn OOT gtu…

  55. ibnu suradi
    ente masih ngeyel aje
    gak malu ente….
    cari dalil celana cingkrang sampe mati juga gak bakalan ketemu
    dalilnya gak ada kok,
    katanya ibadah harus ada dalilnya
    MAKAN TUH DALIL….
    kalo begini namanya senjata makan tuan
    ngatain orang bid’ah dia sendiri bid’ah
    sadar dari sekarang sebelum terlambat.
    ikuti aswadul azhom jangan ikuti faham sempalan(Wahabi) …
    biar ente selamat.

  56. agan2 tolong jaga saudara kita, keluarga kita tetangga kita (klo bisa) dari paham dan pengaruhnya wahabi/salafy…….bakalan rusak tuh aqidah kite…..jidat dioles minyak biar item, celana cungkring dan jenggot kagak diurus……liat aje kagak ade cahayanye sedikit pun……coba perhatiin ulama-ulama ASWAJA yg asli…wajahnye Addeemm banget dihati….

  57. agan2 tolong jaga saudara kita, keluarga kita tetangga kita (klo bisa) dari paham dan pengaruhnya wahabi/salafy…….bakalan rusak tuh aqidah kite…..jidat dioles minyak biar item, celana cungkring dan jenggot kagak diurus……liat aje kagak ade cahayanye sedikit pun……coba perhatiin ulama-ulama ASWAJA yg asli…wajahnye Addeemm banget dihati…. 😛

  58. “Dan orang-orang yang menjadikan sembahan-sembahan selain Allah, (mereka mengatakan): “kami tidak beribadah kepada mereka, melainkan supaya mereka itu mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya”. Sesungguhnya Allah memutuskan diantara mereka dihari kiamat dalam apa yang telah mereka perselisihkan, sesungguhnya Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang yang dusta lagi sangat kafir” (QS. Az Zumar [39]: 3)

  59. Bismillah,

    Kesalahan mengidentifikasi penyebab orang-orang musyrik mekkah menjadi kufur adalah kesalahan fatal…

    kesalahan-kesalahan tsb akan kami buktikan di lain waktu, Insya Alloh…

    sedang kami tulis comment bertemakan “BENARKAH SEMATA MENGANGGAP ADANYA PERANTARA ADALAH PENYEBAB ORANG-ORANG KAFIR MEKKAH DI ANGGAP MUSYRIK?” mohon ditunggu…

  60. saya sudah cukup banyk pengalaman masalah wahabi ini,,,,, satu yang saya pesan untuk kalian semua,,,, sudah merupakan takdir allah itu akan mencabut ilmu dengan dimatikannya para ulama,, jadi banyk kesalahpahaan orang wahabi ini yang ngawur,,, pilih2 tempat berguru ya teman-teman muslim. demi allah saya takut kepada allah,,, membawa serta guru besar lombok maulana sekh hamzan wadi…..,,, ulamaaa besar dunia dimana yang pada masanya beliau sangat dikagumi kepintarnnya, hingga sampai gurunya bersumpah dialah orrang yang tidak tertandingi kepintarannnya di abad ini…..,,, belia berkata,,,, esok akan ada ulama di akhir zaman yang akan keluar pitnah dari mulutnya dan pitnah itu akan kembali pada dirinya sendiri……

  61. Irbadl bin Sariyah berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya: ‘Aku wasiatkan kepada kalian untuk selalu bertaqwa kepada Allah, mendengar dan taat meskipun yang memimpin seorang budak Habsyi. Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah Khulafa Ar-Rosyidin Al-Mahdiyyin (para khalifah yang terbimbing dan yang mendapatkan petunjuk),……”

    Karena Fiqih Ibadah adalah aturan yg lgsung dbuat oleh Allah dan dipublikasikan serta dcontohkan oleh Rasulullah Muhammad SAW, maka sgala tata cara penerapannya harus sesuai Alquran dan Sunnah. Apa yg dkatakan oleh kdua dasar hkum tsb, maka sperti itulah plaksanaannya. Jgn meNGAWURkan suatu perkara ibadah dari hasil pikiran kita yg sbnarnya sangat2 terbtas. Oleh karena itu, marilah kita sama2 belajar dan bfikir scara jernih (tanpa melibatkan ego kita yg sok pintar) dalam melihat aturan ibadah sesuai tuntunan Alquran dan Sunnah. Wassalam…

  62. Al Bukhari berkata: Aku menyaring hadits-hadits (dalam kitabku ini) dari 600 ribu hadits”. Beliau juga berkata: “Aku hanya memasukkan dalam kitabku ini hadits-hadits yang shahih saja, namun banyak hadits shahih yg aku tidak masukkan agar kitabku tidak terlalu tebal”.

    Beliau juga berkata: “Tidaklah aku meletakkan satu hadits pun dalam kitabku ini kecuali aku mandi dahulu dan shalat dua rakaat”.

    Beliau menamai bukunya dengan nama: Al Jami’ Ash Shahih Al Musnad Min Hadits Rasulullah Wa Sunnatihi Wa Ayyaamihi.

    ***
    Coba tanya sama ustadz Salafy, Imam Bukhori mandi dan Shalat dua Rakaat sebelum menuliskan Hadiits Shohih dalam kitabnya, itu mandi dan shalat dua rakaatnya bid’ah bukan??
    Apakah Nabi dan Sahabat pernah melakukan hal demikian..??

    1. Jempol mas Faiz Fauzan!

      Ayo temen2 Wahabi, tanyain ke ustadz kalian ya, atau tanmyakan ke Syaikh Alu Syaikh, oke ditunggu jawabannya.

  63. Bermadzhab adalah WAJIB….
    Ciiiuuussss..???????
    Hendaknya kita harus berhati2 menghukumi sesuatu karena imam mazhab pun demikian. siapalah kita yg sampai berani bilang ini wajib, ini sunah, ini mubah sebelum ada kejelasan dalil hukumnya.
    Imam syafi’i bukanlah orang yg Ma’shum (terlepas dari kesalahan) seperti Nabi Muhammad SAW. sehingga kita juga tidak boleh taklid buta (menelan mentah2) semua pendapatnya.
    Imam Syafi’i berkata:
    Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku –dan dalam riwayat lain Imam Syafi’i mengatakan– maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang. (lihat Al Majmu’ syarh Al Muhadzdzab 1/63)
    Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku, dan kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok. (Siyar A’laamin Nubala’ 3/3284-3285).
    Semua yang pernah kukatakan jika ternyata berseberangan dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka hadits Nabi lebih utama untuk diikuti dan janganlah kalian taqlid kepadaku.
    Ar Rabie’ (murid Imam Syafi’i) bercerita: Ada seseorang yang bertanya kepada Asy Syafi’i tentang sebuah hadits, kemudian (setelah dijawab) orang itu bertanya: “Lalu bagaimana pendapatmu?”, maka gemetar dan beranglah Imam Syafi’i. Beliau berkata kepadanya: “Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian aku berpendapat lain…!?” (lihat: Hilyatul Auliya’ 9/107)

    Masih banyak perkataan Imam Syafi’i yang intinya menjelaskan bahwa beliau mengajak kita untuk kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah. dan kalau ada pendapatnya yang salah harus ditinggalkan.
    Kalau yang anda maksud bermadzhab itu adalah wajib berarti kita harus mengikuti mutlak pendapat dari seorang imam maka berhati-hatilah!! jangan2 anda sudah membuat madzhab baru yaitu madzhab PIKIRAN ANDA SENDIRI.

    Untuk masalah Maulid Nabi kenapa kita haruslah repot berdebat, Kalau memang anda adalah orang yg berpikir BERMADZHAB ITU WAJIB ikutilah madzhab anda. Dahulu Imam Syafi’i mengerjakan Gak? dalam hal ibadah Lebih Getol mana Imam syafi’i dibanding dgn anda?
    Yang anehnya anda mengaku sebagai orang bermadzhab tapi disisi lain anda mengingkari madzhab anda.
    sebagai contoh adalah maulid.
    di dalam maulid memang terdapat Ibadah2 spt, Tholabul Ilmi, Dakwah dsb. namun di dalam maulid itu sendiri juga terdapat hal2 yang tidak disyariatkan dalam islam, seperti: menabuh Rebana, melantunkan Lagu2, yang sudah jelas hukumnya dalam islam adalah TIDAK BOLEH.
    Imam syafi’i berkata:
    “Aku tinggalkan Baghdad (yang padanya terdapat) sebuah perkara yang dibuat-buat oleh orang-orang zindiq, mereka menamakannya dengan at-Taghbir, dengannya mereka memalingkan manusia dari al-qur`an.” At-Taghbir adalah sya’ir-sya’ir yang mengajak untuk zuhud di dunia, dimana salah seorang vokalis melantunkannya sesuai dengan nada-nada pukulan gendang dan semisalnya.
    Diriwayatkan Al Khaalal dalam Al Amru bil Ma’ruuf: 107, Abu Nu’aim dalam Al Hilyah: 9/147, Ibnul Jauzy dala Talbiis Ibliis: 282-283.

    Kalau memang mau menuntut ilmu kenapa tdk langsung aja ke Majlis Ilmu? Kalau mau berdakwah kan banyak cara lain mas.. kenapa harus dicampur gendang2an? kenapa kita harus mencampuradukkan yang Hak dengan Yang Bathil?
    Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil, dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui (QS. Al-Baqoroh : 42)

    Contoh kedua adalah Yasin-an di malam Jum’at
    Membaca surah Yasin boleh gak sih?? Itu sih jelas hukumnya “BOLEH” dan membacanya Insya Alloh akan mendapatkan Pahala. kita sepakat akan hal itu. namun ketika Yasin-an di khususkan dimalam Jum’at gimana?
    Gak usah Rempong cari kesana kemari dalilnya, cukup Ulama madzhab anda sendiri yang mengharamkannya.
    “Janganlah kalian mengkhususkan malam jum’at dari malam-malam yang lain dengan sholat malam, dan janganlah kalian mengkhususkan hari jum’at dari hari-hari yang lain dengan puasa, kecuali pada puasa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian” (yaitu maksudnya kecuali jika bertepatan dengan puasa nadzar, atau ia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, atau puasa qodho –lihat penjelasan Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaaj 8/19)
    Memang disana beliau tidak menyebutkan pembacaan surah Yasin pada malam jum’at namun perhatikanlah kalimat “Janganlah kalian mengkhususkan malam jum’at dari malam-malam yang lain”. dan berikutnya beliau memberikan contoh ibadahnya seperti sholat malam dan puasa karena pada saat beliau ada ibadah itulah yang dijalankan oleh orang sekelilingnya.
    Inilah mengapa kita tidak boleh mengkhususkan ibadah tertentu pd hari atau waktu tertentu apapun bentuknya sebelum ada dalil yang menjelaskan. kesimpulannya kalau kita beranggapan MEMBACA SURAH YASIN DI MALAM JUM’AT ITU ADALAH TERMASUK IBADAH ADALAH ” SALAH” karena tidak ada dalil yang menjelaskan. namun ketika kita bernaggapan MEMBACA SURAH YASIN ADALAH IBADAH ADALAH BENAR karena kita sudah tahu banyak dalil yang memerintahkan membaca Al-Qur’an dan keutamaannya.
    Sebenernya masih banyak yg ingin disampaikan tp gak enak karena halaman ini penuh dgn comment dari saya.
    Marilah kita berdialog untuk sama2 mencari kebenaran, sesungguhnya Hidayah itu datang kepada orang yang mau mencari.
    Wallahu A’lam

    1. @riri

      Bermadzhab adalah WAJIB….
      Ciiiuuussss..???????
      Hendaknya kita harus berhati2 menghukumi sesuatu karena imam mazhab pun demikian. siapalah kita yg sampai berani bilang ini wajib, ini sunah, ini mubah sebelum ada kejelasan dalil hukumnya.

      Jawab :

      Memang tak ada perintah wajib bermadzhab secara shariih (shariih : jelas). Namun bermadzhab wajib hukumnya, karena kaidah syariah adalah Maa Yatimmul waajib illa bihi fahuwa wajib, yaitu apa – apa yang mesti ada sebagai perantara untuk mencapai hal yang wajib, menjadi wajib hukumnya.

      Misalnya kita membeli air, apa hukumnya? tentunya mubah saja, namun bila kita akan shalat fardhu tapi air tidak ada, dan yang ada hanyalah air yang harus beli, dan kita punya uang, maka apa hukumnya membeli air? dari mubah berubah menjadi wajib tentunya. karena perlu untuk shalat yang wajib.

      Demikian pula dalam syariah ini, tak wajib mengikuti madzhab, namun karena kita tak mengetahui samudera syariah seluruh madzhab, dan kita hidup 14 abad setelah wafatnya Rasul saw, maka kita tak mengenal hukum ibadah kecuali menelusuri fatwa yang ada di Imam – Imam Muhaddits terdahulu, maka bermadzhab menjadi wajib, karena kita tak bisa beribadah hal – hal yang fardhu atau wajib kecuali dengan mengikuti salah satu madzhab itu, maka bermadzhab menjadi wajib hukumnya.

      Imam Imam seperti Imam Abu Yusuf dan Imam Muhammad hasan pun bermazhab Hanafi. Imam Ibnu Qudamah dan Imam Al Jauzi bermazhab Hambali. Imam Nawawi, Imam Bukhori dan Imam Izzudin bin abdussalam bermazhab Syafi’i dsb. Mereka saja bermazhab, padahal ketinggian ilmu mereka tidak diragukan lagi. Apalagi orang awam seperti kami, maka harus bermazhab.

      jika anda merasa mampu menggali hukum hukum islam dari sumbernya, silahkan kalau anda ingin melepaskan diri dari mazhab yg empat.

    2. @riri

      Kalau ada hadits shahih, maka itulah mazhabku, dan kalau ada hadits shahih maka campakkanlah pendapatku ke (balik) tembok. (Siyar A’laamin Nubala’ 3/3284-3285).

      Jawab :

      Para ulama menjelaskan, bahwa maksud perkataan al-Imam al-Syafi’i, “Idza shahha al-hadits fahuwa madzhabi (apabila suatu hadits itu shahih, maka hadits itulah madzhabku)”, adalah bahwa apabila ada suatu hadits bertentangan dengan hasil ijtihad al-Imam al-Syafi’i, sedangkan al-Syafi’i tidak tahu terhadap hadits tersebut, maka dapat diasumsikan, bahwa kita harus mengikuti hadits tersebut, dan meninggalkan hasil ijtihad al-Imam al-Syafi’i. Akan tetapi apabila hadits tersebut telah diketahui oleh al-Imam al-Syafi’i, sementara hasil ijtihad beliau berbeda dengan hadits tersebut, maka sudah barang tentu hadits tersebut memang bukan madzhab beliau. Hal ini seperti ditegaskan oleh al-Imam al- Nawawi dalam kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab 1/64.

      Al-Imam al-Hafizh Ibn Khuzaimah al-Naisaburi, seorang ulama salaf yang menyandang gelar Imam al-Aimmah (penghulu para imam) dan penyusun kitab Shahih Ibn Khuzaimah, ketika ditanya, apakah ada hadits yang belum diketahui oleh al-Syafi’i dalam ijtihad beliau? Ibn Khuzaimah menjawab, “Tidak ada”. Hal tersebut seperti diriwayatkan oleh al-Hafizh Ibn Katsir dalam kitabnya yang sangat populer al-Bidayah wa al-Nihayah (juz 10, hal. 253).

    3. @riri

      Untuk masalah Maulid Nabi kenapa kita haruslah repot berdebat, Kalau memang anda adalah orang yg berpikir BERMADZHAB ITU WAJIB ikutilah madzhab anda. Dahulu Imam Syafi’i mengerjakan Gak? dalam hal ibadah Lebih Getol mana Imam syafi’i dibanding dgn anda?

      Jawab :

      Itu adalah pernyataan bodoh bin bahlul. Para Imam Mazhab, bukan hanya meninggalkan fatwa atau pendapat mereka, namun juga mewariskan metode ijtihad. Imam Syafi’i menyusun sebuah kitab yg berjudul Ar-Risalah yg berisikan cara cara mengistinbatkan hukum.

      Imam Ibnu Katsir dan Imam Nawawi, yg merupakan ulama mazhab Syafi’i, membolehkan peringatan maulid Nabi. Ijtihad itu berlangsung sepanjang masa, bukan hanya terbatas pada generasi salaf.

    4. @riri

      Membaca surah Yasin boleh gak sih?? Itu sih jelas hukumnya “BOLEH” dan membacanya Insya Alloh akan mendapatkan Pahala. kita sepakat akan hal itu. namun ketika Yasin-an di khususkan dimalam Jum’at gimana?
      Gak usah Rempong cari kesana kemari dalilnya, cukup Ulama madzhab anda sendiri yang mengharamkannya.
      “Janganlah kalian mengkhususkan malam jum’at dari malam-malam yang lain dengan sholat malam, dan janganlah kalian mengkhususkan hari jum’at dari hari-hari yang lain dengan puasa, kecuali pada puasa yang dilakukan oleh salah seorang dari kalian” (yaitu maksudnya kecuali jika bertepatan dengan puasa nadzar, atau ia berpuasa sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya, atau puasa qodho –lihat penjelasan Imam An-Nawawi dalam Al-Minhaaj 8/19)

      Jawab :

      “Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari, maka pagi harinya ia diampum oleh Allah. Barangsiapa yang membaca surat al-Dukhan, maka ia diampuni oleh Allah.” (HR Abu Ya’la). Menurut al-Hafizh Ibn Katsir, hadits ini sanad-nya jayyid (shahih). Komentar Ibn Katsir ini juga dikutip dan diakui oleh al-Imam al-Syaukani dalam tafsimya Fath al-Qadir, bahwa sanad hadits tersebut jayyid, alias shahih.

      “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mencari ridha Allah, maka Allah akan mengampuninya,” (HR.
      Ibn Hibban dalam Shahih-nya).

      Hadits ini dishahihkan oleh al-Imam Ibn Hibban dan diakui oleh al-Hafizh Ibn Katsir dalam Tafsir-nya, al- Hafizh Jalahiddin al-Suyuthi dalam Tadrib al-Rawi, dan al- Imam al-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir dan al-Fawaid al- Majmu’ah. Al-Syaukani berkata dalam al-Fawaid al- Majmu’ah sebagai berikut:
      “Hadits, “Barangsiapa membaca surat Yasin karena mencari ridha Allah, maka Allah akan mengampuninya diriwyatkan oleh al-Baihaqi dari Abu Humairah secara marfu’ dan sanadnya sesuai dengan kriteria hadits shahih. Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan al- Khathib. Sehingga tidak ada alasan merryebut hadits tersebut dalam kitab-kitab al-Maudhu’at (tidak benar menganggapnya sebagai hadits maudhu’).” (Al-Syaukani, al-Fawaid al-Majmu’ah fi al-Ahadits al-Maudhu’ah, haL 302-303).

      Diwayatkan bahwa Imam Masjid Quba menambahi bacaan surat Al Ikhlas setelah fatihah, ia selalu selesai fatihah ia membaca surat Al Ikhlas dulu, baru surat lainnya, maka ia telah menyamakan Fatihah dengan surat Al Ikhlas, ia membuat surat Al Ikhlas mesti ada pada setiap rakaatnya. bukankah hal ini tidak pernah diajarkan oleh Rasul saw..? Maka makmumnya protes, dan ia tetap bersikeras, maka ia dilaporkan pada Rasul saw, maka Rasul saw memanggilnya, dan menanyakan apa sebab perbuatannya itu..? Maka Imam Masjid Quba itu berkata : aku mencintai surat Al Ikhlas, maka aku tak mau melepasnya pada setiap rakaat. Maka Rasul saw menjawab : Cintamu pada surat Al Ikhlas akan membuatmu masuk sorga! (Shahih Bukhari Bab Adzan).

      Berkata Hujjatul islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy dalam kitabnya Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari mensyarahkan makna hadits ini beliau berkata :
      Pada riwayat ini menjadi dalil diperbolehkannya mengkhususkan sebagian surat Alqur’an dengan keinginan diri padanya, dan memperbanyaknya dengan kemauan
      sendiri, dan tidak bisa dikatakan bahwa perbuatan itu telah mengucilkan surat lainnya” (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari Juz 3 hal 150 Bab Adzan).

      Jelaslah sudah kebodohan mereka akan ilmu hadits, bahwa Rasul saw tak pernah melarang seseorang mengkhususkan Alqur’an atau lainnya dari beragam ibadah untuk dibaca disuatu waktu atau tempat, bahkan jika hal itu karena cintanya pada ibadah itu maka itu akan membuatnya masuk sorga, demikian kabar gembira dari Rasulullah saw.

      Guru guru kami bermazhab syafi’i, tentu saja mereka lebih paham perkataan Imam Imam dalam mazhab syafi’i dibandingkan anda yg tidak bermazhab, yang hanya bisa menukil menukil pendapat para imam seenak perutnya saja.

  64. maaf mas / mbak riri nampaknya antum belum membaca artikel tentang kerancuan salafi/wahabi dalam memahami Bid`ah , setelah baca silahkan dialog jika antum masih belum paham.

  65. @Mbak Riri says
    Marilah kita berdialog untuk sama2 mencari kebenaran, sesungguhnya Hidayah itu datang kepada orang yang mau mencari.

    Betul Mbak, kebetulan Mas Ahmad Syahid siap berdialog dengan Mbak. Semoga hidayah Allah selalu menyertai kita. Mohon kalau dialog, benar-benar sampai tuntas yaa … biar kami dapat tambahan ilmu. Trims

    1. Mas Bima assyafi’i@
      Yang saya kuatirkan dan yang akan menjadi masalah adalah apakah Mbak Riri mengerti apa yg diongkannya sendiri? Kalau ternyata nggak mengerti kan bisa mumet nanti Mas Syahid menghadapinya? Sebab menurut feeling saya arahnya menunjukkan ketidak-pahaman Mbak Riri terhadap persoalan yg diomonggkannya di atas.

      Maaf… itu sekedar feeling aja, semoga Mbak Riri benar2 mengerti atau memahami benar2 apa yg telah diomongkannya di atas.

    2. mas bima rupanya mas/mbak riri juga mengajak kita untuk tidak bermadzhab , saya menduga justru mas / mbak riri ini mengajak kita mengikuti madzhab Ibnu taimiyah , hanya sulit bagi kita untuk membedakan Fatwa Ibnu taimiyah dengan Fatwa syaithon.

      mohon pencerahan dari Mbak / mas riri.

  66. @Mbak Aryati dan Mas Ahmadsyahid
    Mudah-mudahan Mbak Riri ini termasuk yang pengecualian, tidak seperti kabanyakan Wahabi yang masuk di sini, yang seperti “burung beo” yang hanya menirukan kata orang tanpa mengetahui yang diomongkannya sendiri.
    @Mbak Riri
    Saya masih percaya bahwa Anda mengajak berdiskusi karena memahami persoalan yang anda ingin diskusikan. Semoga bermanfaat bagi kita semua. Trims

  67. Mmm gampang kok bantah kalian klo maulid itu ibadah ya bid`ah dan haram,klo itu adat ya haram hukum merayakannya(karena bertasyabuh dengan orang kafir yaitu membuat peryaan hari ulangtahun), maaf Rasulullah bersabda “barangsiapa mengerjakan amalan yang bukan berasal dari kami maka tertolak” dan satu lagi Rasulullah bersabda SETIAP KAUM MEMILIKI HARI RAYA,MAKA HARI RAYA KITA(IDUL FITRI DAN IDUL ADHA) ADALAH INI. Ini kaidah yang dipegang kenapa hari raya tak sembarangan dibuat2 contoh ada di Indonesia ada Hari Ibu 22 Desember maka hukum haram kenapa bertasyabuh dengan orang kafir karena orang kafir lah mengadakan perayaan ini INGAT SETIAP KAUM MEMILIKI HARI RAYA ^_^

    1. emang ada dalil maulid nabi haram hukumnya ?
      kalau hari ibu 22 desember haram, hari kemerdekaan RI 17 agustus haram, anda tinggal aja di saudi…. jangan di NKRI. ngaco aja !!

      1. itu lah mbak…mereka mengharamkan maulid Nabi, tapi mengadakan maulid partai mereka secara besar-besaran 😀

        mereka sendiri melakukan bid’ah tapi gak merasa 😀

    2. @Mas Yudith

      Dakwah itu ibadah, benar tidak? boleh tidak berdakwah lewat Facebook dan media sosial lainnya? Facebook. kan buatan orang yahudi. Apakah berdakwah lewat Facebook di haramkan?

      Internet, yg menemukannya adalah orang barat, yg notabene nya adalah kristen. orang kristen pun berdakwah lewat internet, apakah kita orang islam dilarang berdakwah lewat internet?

    3. Islam akan menjadi “DESTROYER” kalau dipegang oleh orang2 seperti Mas Yudith, nilai rahmatan lil alamin-nya langsung berubah menjadi “azab lil alamin”. Sampai-sampai memperingati Har Ibu juga diharamkan. Kenapa tidak sekalian “ibadah dakwah” lewat radio dan TV juga diharamkan? Kan ibadah Dakwah semacam ini tidak dicontohkan oleh Rasul Saw?

  68. @riri
    “Imam syafi’i bukanlah orang yg Ma’shum (terlepas dari kesalahan) seperti Nabi Muhammad SAW. sehingga kita juga tidak boleh taklid buta (menelan mentah2) semua pendapatnya.”

    Kalau yang dekat aja gak maksum, apalagi kita ya yang sangat jauuuuh dari Hijriyah. Kalau gak taqlid sama yang lebih dekat, kepada siapa lagi kita harus bertaqlid ? Jangankan bahasa arab yang gundul, wong yang gondrong aja kita gak ngarti !!!!!!! Yang parah lagi, kalau kita secara langsung menafsirkan sendiri ayat Al Qur’an dan Hadist.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker