Salafi Wahabi

Salafi Wahhabi Bisakah Berkembang di Bumi Nusantara Jika Masyarakatnya Masih Hindu Budha?

Salafi Wahhabi Adalah Benalu Bagi Jama’ah Kaum Muslimin. Para Ulama Pendakwah Islam di Bumi Nusantara, Mereka Bukan Salafi Wahhabi. Mereka kaum Salafi Wahhabi mungkin perlu kita tanya: “Bisakah Salafi Wahhabi masuk dan berkembang di bumi Nusantara seandainya sekarang ini masyarakatnya masih memeluk agama Hindu Budha?” Pertanyaan seperti ini sungguh tidak mengada-ada, sebab track record dakwah Salafi Wahhabi sejak dulu hingga kini selalu  menjadi benalu bagi jama’ah kaum muslimin di mana saja di seluruh dunia.

Kita tidak pernah dengar keberhasilan dakwah Salafi Wahhabi di tengah-tengah kaum non Islam, lalu kaum non Islam berbondong-bondong memeluk agama Islam ala Salafi Wahhabi. Pernahkan ada di suatu negeri atau wilayah keberhasilan Salafi wahhabi dalam dakwah  mengajak masyarakat beragama non Islam menjadi pemeluk Islam?

Justru yang sering kita dengar adalah dakwah Salafi Wahhabi selalu berseru lantang  memusyrik-musyrikkan orang-orang yang sudah jelas-jelas beragama Islam. Masyarakat beragama Islam yang sedang berziarah kubur mengikuti Sunnah Nabi Saw disebut-sebut oleh Salafi Wahhabi sebagai Penyembah Kuburan, na’udzu billah min dzaalik!

Salafi Wahhabi mengaku sebagai satu-satunya pengikut Sunnah Nabi tapi Sinis dan benci dengan Ziarah Kubur, padahal Ziarah Kubur adalah Sunnah Nabi Saw.  

Salafi Wahhabi tidak punya methode berdakwah di tengah Ummat non Islam, jadi kesimpulannya mereka tidak akan sanggup berdakwah di tengah masyarakat non Islam. Missi dan visi Salafi Wahhabi berdakwah bukan mengajak orang-orang non Islam masuk Islam, tetapi missinya adalah membuat onar dengan menebar isu-isu bid’ah, isu-isu kekafiran dan isu-isu  kemusyrikan di tengah Ummat Islam sendiri. Nah, kira-kira siapa gerangan dalang di balik layar dakwah Salafi Wahhabi?

BACA JUGA:  Inilah Lanjutan Debat Terbuka Sunni VS Wahabi

Demikianlah sekelumit tentang Salafi Wahhabi sebagai pengantar untuk mengikuti uraian artikel yang kritis, dinamis dan retoris tapi logis berikut ini ….

ulama wahabi wahabi ikut siapa 1 - Salafi Wahhabi Bisakah Berkembang di Bumi Nusantara Jika Masyarakatnya Masih Hindu Budha?

Bagaimana jadinya jika Walisongo dari kalangan Salafi Wahhabi?

Bagaimana jika seandainya bangsa Indonesia di awal masuknya Islam, para da’inya bukan dari kalangan Walisongo, melainkan dari kalangan salafi wahhabi? Maka niscaya sedikit sekali orang yang masuk Islam. Atau Islam akan dikenal ekstrem, radikal atau mungkin Islam tak akan dikenal hingga saat ini oleh bangsa Indonesia. Kenapa?

Karena sudah pasti salafi wahhabi tidak akan mentolerir budaya apa saja yang ada dan berkembang saat itu! Mereka tidak akan bisa menghargai budaya bangsa bahkan akan memaksa membumi-hanguskannya.

Sangat berbeda dengan manhaj suci walisongo dalam berdakwah di Indonesia ini. Mereka lebih mengedepankan nilai-nilai santun dan penuh etika menghadapi berbagai macam karakter dan budaya yang ada bagi bangsa Indonesia.

Sebagaimana kearifan dan kecerdikan walisongo yang dalam dakwahnya bisa memposisikan budaya sebagai jembatan dakwah, sehingga mampu membumikan ajaran-ajarannya di hamparan bumi Nusantara sampai dewasa ini.

Renungkanlah hadits-hadits berikut ini :

– Nabi Saw bersabda :

BACA JUGA:  Para Blogger Pendobrak Kepalsuan

انما بعثت لاتمم مكارم الاخلاك

“Sesunngguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak-akhlak mulia”. (HR. Baihaqi)
Dalam hadits tersebut Nabi Saw menegaskan untuk menyempurnakan akhlak karimah yang juga berarti budaya, tradisi dan adat masyarakat. Bukan malah melenyapkannya!

– Nabi Saw juga bersabda :

اتق الله حيثما كنت واتبع السيئة الحسنة وخالق الناس بخلق حسن

“Bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada, susullah kejelakan dengan kebajikan yang biasa meleburnya dan berperilakulah kepada orang lain dengan perilaku yang baik.” (HR. Turmudzi dan Hakim)

Apakah yang dimaksud dengan perilaku yang baik? Sayyidina Ali bin Abi Tholib saat ditanya tentang maksud perilaku yang baik dalam hadits tersebut, belai menjawab :

هو موافقة الناس في كل شيء ماعداامعاصي

“(Makasud perilaku yang baik tersebut) adalah beradaptasi dengan masyarakat dalam setiap hal selama bukan maksyiat “.

Kemudian populer menjadi peribahasa :

لولا الوئام لهلك الانام

“Andaikan tidak ada adaptasi (dalam pergaulan) niscaya manusia akan sirna!”.

Maka jelas, bahwa ajaran Islam mesti disampaikan dengan santun dan menghargai budaya. Nilai-nilai toleransi, adaptasi dan pembauran pada budaya dengan sendirinya akan membuat masyarakat mencintainya. Namun perlu diingat pesan Sayyidina Ali:  “Maa ‘adal ma’ashi.” yaitu budaya atau tradisi yang bukan maksyiat. Artinya budaya atau tradisi yang bisa ditoleransi dan dimaklumi adalah yang tidak bertentangan dengan fitrah manusia sendiri dan tidak bersebrangan dengan nilai-nilai agama.

Inilah manhaj dakwah nubuwwah secara estafet telah diterapkan dan diteruskan dari zaman ke zaman oleh para ulama kita hingga zaman wali sanga dan akan terus dialanjut oleh para ulama Ahlus sunnah waljama’ah hingga akhir zaman. Dakwah kasih sayang, santun, penuh rahmat yang menjadi satu-satunya tujuan kerasulan nabi Muhammad Saw. Sebagaimana telah diisyaratkan oleh Allah Swt dalam Al-Quran :

BACA JUGA:  Tuduhan Sebagai Syi'ah, Fitnah Baru Wahabi Terhadap Umat Islam

وما ارسلناك الا رحمةللعالمين

” Dan tidaklah kami mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam “. (QS. Al-Anbiya : 107)

Inilah manhaj nubuwwah, manhaj salaf Ahlus sunnah waljama’ah yang telah diterapkan oleh mayoritas ulama dan umat muslim sedunia. Dan inilah janji Nabi Saw :

لايجمع امتي على ضلالة ابدا ويدالله على الجماعة

“Allah tidak akan mengumpulkan umatku dalam kesesatan selamanya. Sememntara itu kekuasaan Allah Swt berada pada Jama’ah”.

Maka kita tanyakan kepada salafi wahhabi, manhaj siapakah yang kalian ikuti?

Allah telah memperingatkan dalam Al-Quran :

ومن يشاقق الرسول من بعد ماتبين له الهدى ويتبع غير سبيل المؤمنين نوله ماتولى ونصله جهنم وسائت مصيرا

“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, maka kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam jahannam. Dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali “. (QS. An-Nisa : 115)

(Ibnu Abdillah Al-Katibiy)

 

Sumber

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

238 thoughts on “Salafi Wahhabi Bisakah Berkembang di Bumi Nusantara Jika Masyarakatnya Masih Hindu Budha?”

  1. pasti gagal
    karena mereka akan menghapus tradisi 40 harian
    beda dg wali sembilan yg hanya memperbaiki cara pelaksanaan tradisi 40 harian

    wahhabi juga bakalan menghapus banyak tradisi yg sebenarnya bisa diperbaiki

    dan sekarang, langkah2 wahhabi extreme malah menambah kerjaan bagi ASWAJA
    Sekarang ASWAJA sibuk mengklarifikasi bahwa Islam bukan terorisme

    1. alhamdulillah..”’…
      justru yg antum tuduh salafi wahabi, merekalah yg mendakwahkan
      bahwa islam bukan teroris.
      ana selama mengikuti ahlul bid’ah selama berpuluh-puluh tahun
      itu-itu saja yg didakwahkan ke masyarakat, bagaimana masysarakat
      muslim mau pintar kalo dakwahnya sudah bid’ah’ itu-itu saja lagi.

      1. @org awam
        Ente baca berita disurat kabar gak.
        Lihat ustad Abu Bakar Ba’asyr Ex pimpinan JI yang anak buahnya Noordin M Top
        Lihat Ja’far Umar Thalib yang mengobrak abrik Ambon, dengan Alasan SARA. Akhirnya Ja’far Umar Thalib didepak dari Wahabi atas persetujuan Syeikh Muqbil.
        Lihat Usama bin Laden yang diuber-uber.

  2. Kalau akhlaknya seperti abu salafy, salafi tobat atau abu syafiq yang artikel-artikelnya penuh caci maki, atau yang ngaku2 muridnya Habib Munzir tapi tiap postingannya selalu berisi makian di forum2, ya nggak ada yang bakalan masuk Islam.

    Padahal, kalau mau mencontoh akhlaqul karimah, orang yang disebut “Wahabi” seperti di bawah ini jauh lebih berakhlak daripada yang ngaku2 “Aswaja” yang suka obral makian di forum dan kolom komentar:
    http://www.firanda.com/index.php/artikel/7-adab-a-akhlaq/151-mendulang-pelajaran-akhlak-dari-syaikh-abdurrozzaq-al-badr-hafizhahullah-seri-1

      1. Tidak ada yang mengatakan “bid’ah, kafir, neraka!” kecuali khawarij, karena tuduhan kafir adalah tuduhan berat, kalau tidak terbukti bisa kembali kepada yang menuduh. Atau jangan2 Anda sendiri yang suka nuduh orang takfiri?

        Bid’ah itu ada bertingkat-tingkat. Kalau bid’ahnya adalah bid’ah i’tiqad/tauhid yang bisa menyeret pelakunya kepada kekafiran, seperti syi’ah, mu’tazilah, khawarij, atau yang lagi ngetrend di NU, Islam liberal, maka itu dikatakan ahlul bid’ah. Kalau bid’ahnya hanya masalah amaliah tetapi aqidahnya masih lurus, maka ia dikatakan ia adalah muslim tetapi ada sedikit kebid’ahan dalam dirinya, dan lebih disukai kalau ia meninggalkan bid’ah tersebut,

          1. Mujassimah/musyabbihah adalah bid’ah iqtiqadi, tetapi adalah menunjukkan kedangkalan ilmu jika Anda mengatakan Wahabi adalah mujassimah. Kenapa tidak sekalian saja mengatakan Imam mazhab adalah mujassim karena tidak mau mentakwil sifat2 Allah.

          2. yg dilakukan imam Malik dan lainnya berbeda dg yg dilakukan wahhabi
            Imam Malik dan lainnya itu tafwidh
            sedangkan wahhbi itu tajsim dan tasybih
            mereka ngotot bahwa Allah itu mengambil tempat
            liat Abu Umar, dari kemarin dia ngotot bahwa Allah itu berada di langit ke7, di ‘arsy, dan kata2 lainnya yg menunjukkan bahwa Allah mengambil tempat

            Kemudian, Imam Malik juga berkata bahwa haqiqat “istiwa di atas ‘arsy” itu sulit dijelaskan. Jadi, bukannya beliau berkata bahwa Allah bersemayam di ‘arsy sbgmn i’tiqad Abu Umar. Imam Malik mempercayai sifat “Allah istiwa di atas ‘Arsy”. Tetapi, apa itu sifat “Allah istiwa di atas ‘Arsy”? Sulit dijelaskan haqiqatnya. Jadi, haqiqat dari “Allah istiwa di atas ‘Arsy” bukanlah seperti i’tiqad wahhabi yg berkata bahwa Allah bertempat di ‘Arsy, di langit ke7, dsb
            paham ga, Dul?

          3. dan saya tidak katakan bahwa menolak ta’wil=tajsim dan tasybih
            tetapi yg dilakukan wahhabi itu, memaknai ayat2 dan hadits2 tasybih secara zhahir. sehingga haqiqat ayat dan hadits sama dengan zhahirnya.
            padahal Imam yg empat mengatakan bahwa zhahirnya berbeda dg haqiqahnya, adapun haqiqah dari sifat2 tersebut sulit diketahui.

  3. Yang saya penasaran hingga hari ini adalah, dalam mengritisi metode dakwah Walisanga, mereka (Wahabi) menyatakan bahwa apa-apa peninggalan Walisanga yang masih lestari dalam kehidupan masyarakat sebetulnya adalah semacam ‘kompensasi dakwah’ pada masa itu dengan harapan kelak akan ada penerus mereka yang akan menghilangkan total (baca: dikarenakan masih ditempeli akidah-akidah bid’ah dan syirik) semua ‘kompensasi dakwah’ itu sendiri.

    Mohon maaf saya lupa dengan sumbernya (semacam esai kalau ingatan saya tidak salah), tapi mungkin di sini ada teman-teman Aswaja yang bisa menglarifikasi persoalan ini?

  4. Wahabi dimana-mana memang sesalu bikin kecauan, simak copas dari Republika :

    Dianggap Ekstrimis, Muslim Kosovo tak Diizinkan Bangun Masjid
    Kamis, 08 September 2011 18:25 WIB

    REPUBLIKA.CO.ID,PRISTINA – Komunitas Muslim Kosovo menuntut pemerintah kota Pristina agar mengizinkan pembangunan Masjid. Namun, tuntutan itu tak digubris lantaran pemerintah kota enggan mengambil resiko guna menekan pertumbuhan kelompok fundamentalis.

    Pekan lalu, kehati-hatian itu terlihat jelas saat Rancangan Undang-Undang (RUU) Partai-partai Islam ditolak Majelis Nasional Kosovo terkait memasukan kurikulum agama untuk sekolah-sekolah negeri. RUU yang diajukan Partai Keadilan ditolak, namun itu dilakukan guna menghindari ketegangan antara kalangan Muslim moderat, sekuler dan minoritas.

    Sebab, selama musim panas ini ketegangan telah terjadi. Kelompok Muslim menjalankan aksi protes guna menuntut pembangunan Masjid di ibukota Kosovo, Pristina.

    “Kami pantas untuk mendapatkan tempat untuk beribadah dan menjalankan kewajiban sebagaimana yang diperintahkan Tuhan kami,” papar Fatos Rexhepi, yang merupakan pemimpin jamaah Bashkohu, salah satu kelompok yang turun ke jalan menuntut pembangunan Masjid. “kami tidak akan pernah berhenti beribadah. Jadi, masyarakat diharapkan berhenti untuk menyebut kami radikal atau teroris.”

    Tindak-tanduk Boshkaku nyatanya dinilai terlalu berlebihan. Banyak kritik ditujukan pada kelompok tersebut. Mereka menilai protes keras yang berujung bentrokan akan membawa dampak negatif berupa pembenaran aksi kekerasan dalam demonstrasi.

    Tak Semua Setuju
    Ketua Komunitas Muslim Kosovo, Xhabar Haliti, mengatakan Pristina tidak membutuhkan Masjid baru guna menampung besarnya populasi Muslim di ibukota.

    “Mereka (Boshkaku) tidak resmi mewakili Islam di sini. Ini yang paling penting,” kata Haliti yang juga seorang profesor agama di Universitas Pristina. “Kita tidak harus membiarkan mereka memimpin isu-isu Islam di negara kita.”

    Ia mengungkap sejak kampanye pengeboman NATO guna mengusir pasukan Serbia tahun 1999 dan berakhir penumpasan brutal Slobodan Milosevic terhadap mayoritas etnik Albania Kosovo, organisasi non-pemerintah (LSM) banyak berdatangan dengan dalih membangun kembali bekas zona perang.

    Organisasi Muslim dari Timur Tengah misalnya, ungkap Haliti, dianggap memancing radikalisasi Kosovo dan mengobarkan militansi. Pada tahun 2010, polisi menangkap anggota organisasi asal Timur Tengah sekaligus menyita senjata dan pelindung tubuh. Para tersangka dilaporkan merupakan pengikut aliran Wahhabi dan sekte Muslim ultrakonservatif Arab Saudi.

    “Kami memiliki masalah dengan keberadaan mereka. Yang kami harapkan bukan memacu radikalisasi, tetapi semangat toleransi,” pungkasnya.
    Redaktur: Didi Purwadi
    Reporter: Agung Sasongko
    Sumber: http://www.dw-world.de

    1. Aneh kalau yang dituduh adalah Wahabi, karena Wahabi mengharamkan demonstrasi. Bukannya itu sama dengan kelompok di sini yang suka demonstrasi dan pamer ilmu kebal (dari jin)?

  5. Judul diatas jelas salah. Walaupun penhandaian, tetap saja harus sesuai logika. Salafy jelas menganggap musyrik kpd para sufi dan mustahil orang salafy jadi sufi.

    Sufi itu wajahnya cerah, teduh Dan membuat damai dihati bagi siapapun yg memandangnya. Kebalikammya, muka ulama salafy itu suram, penuh aura iblis, jelek dan entah mengapa seperti buta sebelah walaupun gak buta..

    Mengandaikan salafy jadi sufi adalah penghinaan terhadap kehormatan sufi..

  6. wahabi/salafy biasa menciptakan konsep dan
    mati2an membela konsep ini, dengan hanya dan
    cuma satu tujuan, membela klan Muawiyah.
    Lihat fakta2 dibawah ini :
    1. wahabi membuat konsep keadilan sahabat,
    dan dengan konsep ini mereka akan
    mennghancurkan siapapun yang menghina
    Muawiyah. Benarlah apa kata Imam Nasai :
    “Aku tidak mengetahui satupun hadits sahih
    mengenai Muawiyah kecuali Semoga Allah tidak
    mengenyangkan perut Muawiyah”.
    Salafy tahu persis bahwa mustahil Muawiyah
    memiliki keutamaan. Bahkan anjing Ashabul
    Kahfi masih lebih baik dari Muawiyah. Karena
    itu, konsep keadilan sahabat adalah jurus
    utama untuk menyematkan keutamaan kepada
    Muawiyah.
    2. Lihat saja blog2 atau buku Salafy tentang
    sejarah. Tiba-tiba ketika membahas perang
    uhud, nama Hindun sang celaka, tiba-tiba
    hilang dari sejarah. Siapapun tahu, Hindun si
    pelacur ini adalah ibu Muawiyah laknatullah.
    Karena Muawiyah adalah idola dan pahlawan
    wahabi, maka ibunya Muawiyah pun harus
    dicuci bersih dari segala dosa.
    3. Tiba-tiba saja Wahabi/salafy menciptakan
    konsep trinitas Tauhid. Menurut mereka, orang
    yang hanya mengucapkan syahadat (tauhid
    uluhiyah) belum bisa disebut sebagai kaum
    yang bertauhid selama belum bertauhid
    Rububiyah. Dengan konsep baru yang termasuk
    perkara bidah ini, mereka mengarahkan dua
    mata pisau kepada kaum muslimin. Mereka
    ingin mengatakan bahwa umat islam diluar
    salafy sebagai musryik karena masih
    menjalankan tawassul, ziarah kubur,
    membiasakan zikir shalawat Nabi. Karena
    menurut mereka, orang-orang ini belum
    bertauhid Rububiyah. Parahnya, mereka
    mengatakan bahwa orang2 musyrik dijaman
    Nabi sebagai kaum yang bertauhid Rububiyah
    walaupun menyembah berhala. Sekali lagi,
    dengan konsep ini mereka ingin mengatakan
    bahwa nenek moyang Muawiyah justru lebih
    bertauhid daripada umat islam sekarang ini
    (diluar wahabi/salafy).
    Mereka mengatakan bahwa ayah Imam Ali dan
    ayah Rasulullah sebagai musryik dan
    tempatnya di neraka tetapi pada saat yang
    sama mereka mengatakan bahwa nenek
    moyang Muawiyah sebagai kaum yang
    bertauhid dan tempatnya di surga.
    4. Betapa celakanya wahabi/salafy. Mudah2an
    diriku dan seluruh keturuananku dijauhkan dari
    mazhab celaka ini. Mereka menghancurkan
    semua peninggalan Nabi tanpa sisa termasuk
    rumah Nabi bersama Khadijah dan rumah masa
    kecil Nabi. Syirik kata mereka. Tetapi mereka
    justru membuatkan monumen megah untuk
    mengenang ulama mereka, si Utsaimin.
    Salafy bilang syirik bagi mereka yang
    merayakan maulid atau haul Nabi Muhammad,
    tetapi justru mereka mengadakan haul untuk
    mengenang si Utsaimin.
    Lihat di :

    pemujaan-wahabi/
    Duh, benar-benar celaka si wahhabi ini …

    1. @ Mas Salafy Tobat
      Sebegitu buruknya perilaku dan asal usul muawiyah, pantas pengikut dan keturunan muawiyah yaitu Salafy Wahabi (Sawah) dan Dinasti Saud juga buruk demi harta dan kekuasaan mereka enak saja memelintir Ayat Allah dan Hadits Nabi, itu mungkin karena Muawiyah dan Dinasti Saud masih berdarah Yahudi jadi tidak heran kalau mereka membenci Baginda Nabi beserta keturunan dan peninggalan sejarahnya dihancurkan.

  7. Keji sekali cacian anda terhadap Muawiyah wahai salafy tobat, hendaknya anda betul 2 bertobat karena telah lancang menghina sahabat Nabi yang ikut berjihad dijalan Allah serta dijamin masuk surga dibandingkan anda yang sesat lagi menyesatkan lagi penuh dengan fitnah. Seandainya anda menginfakkan harta sebesar 2 bukit uhud sekalipun, belum akan bisa menandingi sedikit saja dari amal yang dilakukan oleh Muawiyah Ra.

  8. Jadi si salafi tobat ini adalah typical akhlak “Aswaja”. Masya Allah, betapa buruk akhlaknya, tetapi jadi panutan di sini. Padahal isi blog salafi tobat banyak sekali selipan ajaran2 syiah, bahkan bisa dikatakan 99% isinya terjemahan dari situs syiah, lalu dibumbui makian2 kasar. Semoga Allah memberi hidayah sebelum tercabutnya nyawa.

    Kami yakin 100.000% orang yg ngaku “Salafy Tobat” tsb di atas bukan Salafy Tobat sang Legendaris pemilik blog:

    Kaidah para sahabat adalah adil (ash-shahabah kulluhum udul) itu bukan wahabi yang membuat, tetapi para ulama hadits. Adanya huruf Alif Lam di depan kata shahabah menunjukkan tidak semua shahabat yang dimaksudkan adil, tetapi para sahabat perawi hadits Nabi. Hal ini untuk memudahkan menyeleksi hadits, bila berasal dari sahabat, walaupun dia tidak mendengar dari Nabi langsung (irsal, mendengar dari sahabat lain), maka perawi ini dianggap tsiqah.

    1. Apa pun dan siapa pun yg bertentangan dg Wahabi akan dikatakan Syi’ah oleh penganut Wahabisme, mang ni skenario Yahudi yg ditanamkan dalam Tubuh Wahabi/wahabisme. Jadi all pengunjung harap maklum adanya.

  9. Iya betul. Ane bukan salafy tobat yang legendaris.. Tapi yang tobat dari salafy juga bukan cuma salafy tobat yg legendaris itu..

    Tp demi menghormati salafy yg tobat yg asli, nick name ane ganti jadi wahhabi is dead

    1. Untunglah antum ngakuin, jadi mas Admin ketahuan benarnya atas alibinya. Afwan…. kalau memang antum seorang Aswaja Asli tolong jangan terlalu kasar sebab itu tdk akhlak Aswaja. Sebaiknya antum tidak gunakan nickname WAHABI IS DEAD, gunakan aja nama orang biasa, misalnya Maman, Sudono, Wagiman atau apalah asalkan nama orang. Itu menurut ana lebih baik, afwan sekedar usulan dari ana agar efeknya tidak destruktif terhadap Blog Kesayangan ana UMMATI PRESS.

    2. Oh, berarti kamu salafy tobat yang suka komentar mendukung syiah di situsnya Second Prince. Tetapi secara akhlak kamu sama buruknya dengan pemilik blog salafy tobat.

      1. Abdullah@

        Bang Abdullah…,
        Bagamana menurut antu atas pertanyaan artikel di atas? Bisakah Wahabi berkembang di Indonesia/Nusantara seandainya masyarakat di sini masih beragama Hindu/Budha?

        Please jawab deh, pingin tahu jawaban antum kaya apa gitu….

          1. Memang paling ringan mulut menuduh ini itu, walaupun sebenarnya berat timbangan dosanya kalau tidak benar. Ada teroris mati, langsung teriak “wahabi”. Ada orang PKS liqa, wahabi. Orang JT ceramah di masjid, wahabi. Apa2 wahabi.

            Salafi, atau yang biasa disebut “Wahabi” tidak mendukung khawarij/teroris. Bisa dicek bagaimana pernyataan Ulama2 Saudi waktu meninggalnya Usamah bin Ladin.

          2. Yah itu jelas buanget, Usama bin laden sudah berpaling dari AS, sedangkan Saudi + Ulamanya piaran AS yang paling setia.
            Lihat riwayat Usama bin laden, dia pertama kali adalah didikan siapa, buat apa dia dibentuk. Jadi siapa yang teroris sebenarnya dan asalnya.

        1. Tentu saja bisa, kenapa tidak? Apa jawaban Nabi ketika kaum kafir mengajukan kompromi, sehari menyembah berhala, sehari menyembah Allah? Tentu saja jawabannya tidak. Banyak orang Yahudi dan Kristen memeluk Islam karena kesederhanaan konsep tauhid dalam Islam.

          Apa yang dilakukan Wali Songo adalah ijtihad dakwah mereka. Mereka ingin mengislamkan penduduk Jawa sebanyak-banyaknya, dengan harapan penerusnya akan meluruskan akidah mereka. Alhamdulillah, sebagian besar penduduk Jawa menjadi muslim, walaupun masih banyak yang belum lurus akidahnya, itu yang menjadi tugas umat Islam sekarang.

          Ada Ulama yang memakai pendekatan langsung pada akidah yang lurus, misalnya kaum Paderi di Sumatera Barat. Mereka mendapat perlawanan dari kaum Adat yang ingin mempertahankan adat yang tidak sesuai dengan akidah Islam. Akhirnya kaum Paderi menang, dan muncullah pernyataan yang mengagumkan, “Adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah”.

          1. wkwkkwkwkw

            😆

            wahabi akidahnya lurus?

            menjisimkan Allah disebut berakidah lurus?

            menempatkan Allah dilangit secara zhahir disebut lurus?

            wkwkwkwkwk 😆

          2. Ini sebenarnya adalah tuduhan yang bathil, justru penuduh sendiri adalah mujassim. Allah berada di atas tanpa perlu tempat. Tetapi mujassim seperti Anda bermain logika, kok bisa ada di atas tapi tidak bertempat, lalu membuatkan tempat untuk Allah terus dinisbatkan kepada “wahabi”. Nau’dzubillah.

            Kita ambil perkataan Imam Maalik bin Anas tentang permasalahan di mana Allah:
            Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, Allah berbicara kepada Muusaa, Allah berada di langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat – tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya

          3. Bang Abdullah ucapannya kontradiktif tapi gak sadar rupanya? Maklum, kelihatannya dia orang yg malas berpikir.

          4. Apakah kalau tidak bisa dinalar oleh akal lalu disebut kontradiktif? Perkara yang ghaib itu kita diperintahkan untuk mengimani, bukan memikirkannya.

          5. Orang Kristen berkata bahwa Allah terikat pada ruang dan waktu. Allah telah turun ke bumi, mengambil tempat, dsb.

            Orang wahhabi berkata bahwa Allah berada di langit, turun ke langit dunia pada waktu tertentu. Hal ini mereka katakan secara zahirnya dan haqiqahnya.

            Kaum musyabbihah menerima kata ‘yanzilu’ (turun) secara zhahirnya dan haqiqahnya.

            Adapun kaum salaf menerima ayat dan hadits seperti ini tanpa tasybih (menyamakan Allah dengan makhluqnya) dan tanpa mempertanyakan bagaimana. Inilah yang disebut tafwidh, yaitu menyerahkan maknanya kepada Allah. Artinya, mereka mengakui bahwa ayat dan hadits seperti ini adalah ayat dan hadits mutasyabihat yang mana ta’wil yang paling benar itu hanya Allah saja yang tahu. Adapun ahludz dzikr atau ahlul ‘ilm itu, mereka hanya bisa mengusahakan ta’wil yang mendekati tanpa tahu mana ta’wil yang benar-benar pas.

            Jika Allah berada di langit secara haqiqah, apakah ketika kita mendekat kepadanya sejengkal, itu berarti tubuh kita naik sejengkal dan Allah turun kpd kita sedepa?

            Jika Allah turun ke langit dunia pada1/3 malam terakhir, maka berarti, Allah tidak pernah ada di ‘arsy. Karena 1/3 malam yg akhir itu selalu ada selama tatasurya masih ada dan berjalan seperti biasanya. Artinya Allah selalu berada di bagian bumi yg tak pernah terkena sinar matahari kecuali melalui bulan; bukan di ‘Arsy.

            Mahasuci Allah dari yg mereka sifatkan
            Allah itu Mahakaya, Allah tidak membutuhkan makhluq-Nya
            Allah itu Qidam, sedangkan makhluq itu huduts
            Mungkinkah ‘arsy dapat menopang Allah?
            Mungkinkah malaikat dapat menggotong ‘arsy yg diduduki Allah?
            Allah berada di langit, perkataan yg mirip dengan i’tiqad orang Kristen.

            Kita selalu berkata kepada orang Kristen, bagaimana Allah akan turun ke bumi, sedangkan langit yang mengatasi segala langit, yaitu langit yg ketujuh, tak sanggup menampung Dia.
            Tetapi wahhabi dengan entengnya beri’tiqad bahwa Allah BERADA di langit

          6. Ya Anda akan terus muter2 menuduh “wahabi” melakukan tasybih, padahal akal Anda yang melakukan. Anda sendiri yang menafsirkan Allah tidak akan pernah ada di ‘Arsy kalau terus2an turun. Makna istiwa dan nuzul diketahui maknanya (dalam bahasa Arab), bertanya tentang hakekatnya adalah bid’ah.

            “Suatu saat ada yang mendatangi Imam Malik, ia berkata: “Wahai Abu ‘Abdillah (Imam Malik), Allah Ta’ala berfirman, “Allah menetap tinggi di atas ‘Arsy”[QS. Thaha: 5.]. Lalu bagaimana Allah beristiwa’ (menetap tinggi)?”

            Dikatakan, “Aku tidak pernah melihat Imam Malik melakukan sesuatu (artinya beliau marah) sebagaimana yang ditemui pada orang tersebut. Urat beliau pun naik dan orang tersebut pun terdiam.” Kecemasan beliau pun pudar, lalu beliau berkata, “Hakekat dari istiwa’ tidak mungkin digambarkan, namun istiwa’ Allah diketahui maknanya. Beriman terhadap sifat istiwa’ adalah suatu kewajiban. Bertanya mengenai (hakekat) istiwa’ adalah bid’ah. Aku khawatir engkau termasuk orang sesat.” Kemudian orang tersebut diperintah untuk keluar.[Lihat Al ‘Uluw lil ‘Aliyyil Ghofar, hal. 378.]

          7. nah, ane beriman dg ayat tersebut, tetapi haqiqatnya yg sesungguhnya, ana ga tau, ane serahkan haqiqatnya kepada Allah
            Tetapi sebagian ahladz dzikr, demi menyelamatkan orang awwam dari tasybih dan tajsim, mereka melakukan ta’wil yg mendekati kebenaran melalui cara yg dibenarkan agama

            Kami mengakui bolehnya tafwidh, yaitu menyerahkan makna sesungghnya kepada Allah
            Kami juga mengakui bolehnya ta’wil atas ayat2 mutasyabihat
            Sedangkan yg dilakukan wahhabi bukanlah keduanya

            mereka menerima sifat istiwa ini secara zhahirnya dan haqiqatnya, yaitu bahwa Allah benar2 istiwa di ‘Arsy

            padahal haqiqah dari istiwa di ‘Arsy itu, menurut Imam Malik, sulit dijelaskan
            makanya Imam Malik menyerahkan (tafwidh) maknanya kepada Allah

            sekarang saya tanya, imam mana yg mengharamkan ta’wil yg dilakukan ahludz dzikr (ahlul Qur`an) terhadap ayat2 mutasyabihat?

          8. Abdullah berkata: Apa yang dilakukan Wali Songo adalah ijtihad dakwah mereka. Mereka ingin mengislamkan penduduk Jawa sebanyak-banyaknya, dengan harapan penerusnya akan meluruskan akidah mereka.

            Yang bilang seperti itu siapa? Wali Songo kah atau antum sendiri? Jangan suka mereka-reka n ngarang-ngarang, apakah antum gak takut dosa? Sadarkah ucapan antum itu sama dg menghina Wali Songo ? Emangnya dakwah Islamnya Wali Songo itu main-main n coba-coba? Mikirlah sebelum bikin kesimpulan.

            Nah, koment antum semakin ngawur atas pertanyaan mana bukti keberhasilan dakwah Wahabi di tengah masyarakat non Islam? Contoh keberhasilan Wahabi Paderi itu bukan di tengah masyarakat Hindu Budha tapi di tengah kaum muslimin. Mbok ya jangan ngawrlah kalau kasih contoh.

          9. Apakah kamu bersu’udzon bahwa wali songo sengaja mencampurbaurkan Islam sehingga jauh dari apa yang diajarkan Rasulullah?

          10. Abdullah, apakah antum pikun dengan perkataan antum di atas? Atau antum benar-benar tidak paham dg perkataan yg antum katakan sendiri? Baca lagi perkataan antum yg sok tahu itu, sadarlah…. Atau antum lebih memilih gaya burung beo seumur hidup?

  10. alhamduliiah saya mendapat hidayah untuk mengenal dakwah salaf melalui situs ini, dalam mencari referensi saya tidak hanya mengambil darii situs pendukung wahabi, namun dari situs penghujat juga ingin saya ketahui. Kemudian saya bandingkan sisi kevalidan hujjah2nya.

    1. @ummu Abdillah
      semoga ente juga terbuka pikirannya, mari kita buktikan hujjah2 aswaja menurut ente yang bener yang mana tp bukan benarnya namun kesahihannya maka kunjungilah situs ini juga. BUKA PIKIRAN DAN HATI ENTE DALAM MENERIMA HUJJAH. semua amalan aswaja yang dituduhkan bidah oleh salafiwahabi pasti ada dasarnya yang kuat

      jundumuhammad.wordpress.com/
      artikelislami.wordpress.com/
      mutiarazuhud.wordpress.com/

      SYUKRON

  11. @abdullah
    Apakah pada saat penyebaran islam di jawa dan sumatra, kaidah-kaidah adat yang dipandang baik itu dibersihkan juga oleh para wali sanga dijawa?
    Contohnya di jawa wayang kulit, gamelan. disumatera sebutan ninik mamak.
    Rasulullah yang mengijinkan puasa wissol (puasa terus menerus).
    Jangan berpikir islam itu tidak up to date. Islam adalah agama rahmatan lil alamin.

    1. Wayang kulit sebelumnya diperdebatkan antar wali songo, karena penggambarannya yang mirip dengan manusia. Lalu dijadikanlah wayang kulit tidak proporsional: hidung besar, tangan panjang, kaki pendek, sehingga tidak lagi mirip manusia. Ninik Mamak orang2 yang dituakan di Sumatera, bukan wayang. Rasulullah melarang puasa wishol dan hanya membolehkan untuk dirinya sendiri.

      Islam rahmatan lil ‘alamin sering dipakai oleh kaum Liberal untuk mengubah Islam supaya dianggap kawan oleh penganut agama lain. Maksud Islam rahmatan lil ‘alamin bukan seperti “wah, masak orang di luar Islam masuk neraka, berarti Islam nggak rahmatan lil ‘alamin nih”, lalu diubah menjadi dalam Islam, semua orang masuk surga. Yang benar, di dalam Islam, non-muslim juga aman, tidak diganggu, termasuk dalam beribadah. Islam itu sudah sempurna, tidak perlu diupdate. Update2 semacam itu berarti menuduh Rasulullah tidak amanah, nau’dzubillah.

  12. @abdullah
    Nah dari wayang itu kan berarti anda setuju dan membolehkan untuk menghidupkan yang baik dari segi adat. Kalau lihat hadist kan kita dilarang melukis atau membuat seperti mahluk hidup.
    Untuk ninik mamak, anda kan (wahabiyun) melarang untuk mengagungkan, menyembah dan mempertuhankan selain Allah.
    Puasa Wishol, sebelumnya Rasulullah melarang sahabat2nya untuk puasa wishol, tapi kemudian mengijinkan dengan syarat yang melakukan kuat (lihat HR Bukhari).
    Bagaimana mas?

    1. Adat bisa dipertahankan kalau sesuai dengan syariat Islam. Kita lihat di sini Wayang diubah dari bentuk aslinya sehingga tidak melanggar syariat. Masih banyak adat yang tidak sesuai syariat, misalnya penari di Jawa yang cuma pakai kemben, suroan yang thawaf keliling keraton sambil ngarak kebo, ruwatan, dll.

      Mana ada penyembahan di sini? Ninik Mamak adalah orang2 yang masih hidup. Mereka dihormati karena dianggap punya pengalaman hidup yang lebih banyak.

      Hadits puasa wishol:
      ” Jangan kamu semua berpuasa wisol. Kata para sahabat : “(akan tetapi) engkau berpuasa wisol. Jawab Nabi s.a.w. : “sesungguhnya aku tidak sama seperti kamu, sesungguhnya aku diberi makan dan minum oleh tuhanku…”

      1. @abdullah
        1. Intinya adat bisa diterima terutama pada hal-hal yang baik dan berlaku pada banyak masyarakat kan.
        2. Ninik mamak bukankah kita mengagungkan (setuju tidak menyembah) keturunan kita, disini kita sungkan untuk membantah omongan orang-orang tua kan ! bagaimana?
        3. Hadistnya coba lihat lagi di kitab kumpulan ringkasan hadis bukhari.
        Intinya kita boleh memakai adat, asalkan itu baik dan dipakai masyarakat banyak, serta menguntungkan umum – ya gak.

  13. @akmal

    keji sekali cacian anda terhadap Muawiyah wahai salafy tobat, hendaknya ada betul 2 bertobat karena lancang menghina sahabt Nabi yang ikut berjihad di jalan Allah serta dijamin Masuk surga dibandingkan anda yang sesat lagi menyesatkan lagi penuh dengan fitnah. Seandainya anda menginfakkan harta sebsar 2 bukit uhud sekalipun, belum akan bisa menandingi sedikit saja dari amal yang dilakukan Muawiyah ra

    Ini komentar saya :

    1. Dimana kalimat saya mencaci Muawiyah? Apa yang saya ucapkan adalah fakta. Hindun ibunda Muawiyah jelas pelacur. Kalaupun hindun bukan pelacur, maka pemakan Jantung Sayyidina Hamzah as layak dinisbatkan setaraf dengan pelacur. Dari rahim pelacur Hindun inilah, lahir seorang putera bernama Muawiyah yang kelak menjadi khalifah Islam ke-6, sebuah jabatan yang diperoleh dengan cara memberontak. Saya sendiri ragu, apakah Muawiyah adalah putera Abu Sufyan, tapi yang jelas, Muawiyah adalah putera pelacur Hindun. 2. Muawiyah sendiri adalah satu satu dari 3 orang yang dilaknat Imam Ali dalam doa qunutnya. Seseorang yang sudah dilaknat Imam Ali, tidak layak dijadikan panutan. 3. Muawiyah dalam salah satu hadits, juga disebut2 sebagai penganjur api neraka, golongan pembangkang, dan wafat tidak dalam keadaan islam. 4. Mudah2an saya dan keluarga saya tidak menjadikan Muawiyah sebagai panutan. 5. Mengenai hadits 2 bukit uhud,  hohoho .. hadits itu ditujukan kepada sahabat Nabi yang menghina Abdurahman Bin Auf. Jadi tidak ada kaitannya dengan Muawiyah apalagi dengan saya. Biasakan kalo mengutip hadits, bawakan konteksnya.
     

    @abdullah

    oh, berarti kamu salafy tobat yang suka komentar mendukung syiah di situsnya secondprince ..

    Iya betul, ane salafy tobat yang suka komentar2 di situsnya secondprince.wordpress.com

    Ane ngedukung secondprince, bukan karena ane syiah, tetapi lebih karena semua yang ditulis secondprince adalah benar. Ambillah kebeneran dari siapapun juga.

    Ane suka pakai nick salafy tobat kadang2 nick ane wahhabi is dead atau wahabi kampret. Sayang sekali, nick ane tidak disukai oleh @putri .. ☺

    Yang jelas ane masih aswaja, pengikut fikih Imam Syafii, sekaligus pengagum dan pecinta berat Sayyidina Ali kw alaihi salam.

    @abdullah

    Salafy, atau yang biasa disebut wahabi tidak mendukung khawarij/teroris. Bisa di cek pernyataan ulama2 saudi waktu meninggalnya Usamah bin Laden

    Jelas aja salafy tidak mendukung teroris, karena mereka pelakunya atau teroris itu sendiri. Ketika Amrozi atau Noordin M Boh ditangkap, di rumahnya banyak terdapat buku2 terbitan wahabi/salafy. Ulama saudi tidak mendukung Usamah? Jelas aja, karena Usamah memberontak dan mengkafirkan Raja Saud yang bersekutu dengan Amerika. Sampai sekarang Saudi adalah negara yang mengaku Islam tetapi mengijinkan negaranya didirikan pangkalan militer Amerik Serikat!

    Tahukah anda, ketika Amerika Serikat menjajah Afghanistan dan Irak, Amerika menggunakan pangkalan militer-nya di Arab Saudi sebagai basis penyerangan mereka? Amerika berjarak ribuan mil dari Irak dan Afghan, tidak ada satupun pesawat tempur yang mampu terbang dari Amerika ke Irak/Afghan, tanpa mengisi bahan bakar. Karena itu pangkalan militer Amerika di Saudi menjadi sangat strategis karena dengan jalan ini lah Amerika mempunyai cara untuk menguasai Irak dan Afghan dengan cara yang mudah dan murah.

    Parahnya lagi, Pangkalan Militer Amerika di saudi ini, mendapat subsidi langsung dari penguasa Saudi ! ! !

    Teroris yang suka mengganggu umat Islam yang sebenarnya bukan Amerika dan Israel, tetapi justru penguasa Saudi. Dan siapapun tahu, penguasa Saudi masih berdiri karena mendapat dukungan dan legalitas dari ulama2 wahabi yang buruk, utamannya anggota Haiyat Kibarul Ulama Saudi.

    Ulama2 saudi mengharamkan demonstrasi, selama demonstrasi tersebut ditujukan kepada penguasa Saudi ataupun penguasa2 sahabat penguasa Saudi. Tetapi ketika demonstrasi itu ditujukan kepada penguasa2 yang dianggap melawan Saudi, maka ulama2 saudi mendukung total.

    Absolutely hiprokit, munafik sejati khas Muawiyah bin Hindun al pelacuri …

     

     

     

     

     

  14. Ane WID alias wahabi is dead alias salafy tobat tapi versi yang gak
    legendaris itu .. 🙂
    Om momod, numpang posting, moga2 lulus sensor …:)

    @akmal

    keji sekali cacian anda terhadap Muawiyah wahai salafy
    tobat, hendaknya ada betul 2 bertobat karena lancang menghina sahabt
    Nabi yang ikut berjihad di jalan Allah serta dijamin Masuk surga
    dibandingkan anda yang sesat lagi menyesatkan lagi penuh dengan fitnah.
    Seandainya anda menginfakkan harta sebsar 2 bukit uhud sekalipun, belum
    akan bisa menandingi sedikit saja dari amal yang dilakukan Muawiyah ra

    Ini komentar saya :

    1.Dimana kalimat saya mencaci Muawiyah? Apa yang saya ucapkan
    adalah fakta. Hindun ibunda Muawiyah jelas pelacur. Kalaupun hindun
    bukan pelacur, maka pemakan Jantung Sayyidina Hamzah as layak
    dinisbatkan setaraf dengan pelacur. Dari rahim pelacur Hindun inilah,
    lahir seorang putera bernama Muawiyah yang kelak menjadi khalifah Islam
    ke-6, sebuah jabatan yang diperoleh dengan cara memberontak. Saya
    sendiri ragu, apakah Muawiyah adalah putera Abu Sufyan, tapi yang jelas,
    Muawiyah adalah putera pelacur Hindun.
    2.Muawiyah sendiri adalah satu satu dari 3 orang yang dilaknat
    Imam Ali dalam doa qunutnya. Seseorang yang sudah dilaknat Imam Ali,
    tidak layak dijadikan panutan.
    3.Muawiyah dalam salah satu hadits, juga disebut2 sebagai
    penganjur api neraka, golongan pembangkang, dan wafat tidak dalam
    keadaan islam.
    4.Mudah2an saya dan keluarga saya tidak menjadikan Muawiyah
    sebagai panutan.
    5.Mengenai hadits 2 bukit uhud, hohoho .. hadits itu ditujukan
    kepada sahabat Nabi yang menghina Abdurahman Bin Auf. Jadi tidak ada
    kaitannya dengan Muawiyah apalagi dengan saya. Biasakan kalo mengutip
    hadits, bawakan konteksnya.

    @abdullah

    oh, berarti kamu salafy tobat yang suka komentar mendukung
    syiah di situsnya secondprince ..

    Iya betul, ane salafy tobat yang suka komentar2 di situsnya
    secondprince.wordpress.com

    Ane ngedukung secondprince, bukan karena ane syiah, tetapi lebih karena
    semua yang ditulis secondprince adalah benar. Ambillah kebeneran dari
    siapapun juga.

    Ane suka pakai nick salafy tobat kadang2 nick ane wahhabi is dead atau
    wahabi kampret. Sayang sekali, nick ane tidak disukai oleh @putri ..:)

    Yang jelas ane masih aswaja, pengikut fikih Imam Syafii, sekaligus
    pengagum dan pecinta berat Sayyidina Ali kw alaihi salam.

    @abdullah

    Salafy, atau yang biasa disebut wahabi tidak mendukung
    khawarij/teroris. Bisa di cek pernyataan ulama2 saudi waktu meninggalnya
    Usamah bin Laden

    Jelas aja salafy tidak mendukung teroris, karena mereka pelakunya atau
    teroris itu sendiri. Ketika Amrozi atau Noordin M Boh ditangkap, di
    rumahnya banyak terdapat buku2 terbitan wahabi/salafy. Ulama saudi tidak
    mendukung Usamah? Jelas aja, karena Usamah memberontak dan mengkafirkan
    Raja Saud yang bersekutu dengan Amerika. Sampai sekarang Saudi adalah
    negara yang mengaku Islam tetapi mengijinkan negaranya didirikan
    pangkalan militer Amerik Serikat!

    Tahukah anda, ketika Amerika Serikat menjajah Afghanistan dan Irak,
    Amerika menggunakan pangkalan militer-nya di Arab Saudi sebagai basis
    penyerangan mereka? Amerika berjarak ribuan mil dari Irak dan Afghan,
    tidak ada satupun pesawat tempur yang mampu terbang dari Amerika ke
    Irak/Afghan, tanpa mengisi bahan bakar. Karena itu pangkalan militer
    Amerika di Saudi menjadi sangat strategis karena dengan jalan ini lah
    Amerika mempunyai cara untuk menguasai Irak dan Afghan dengan cara yang
    mudah dan murah.

    Parahnya lagi, Pangkalan Militer Amerika di saudi ini, mendapat subsidi
    langsung dari penguasa Saudi ! ! !

    Teroris yang suka mengganggu umat Islam yang sebenarnya bukan Amerika
    dan Israel, tetapi justru penguasa Saudi. Dan siapapun tahu, penguasa
    Saudi masih berdiri karena mendapat dukungan dan legalitas dari ulama2
    wahabi yang buruk, utamannya anggota Haiyat Kibarul Ulama Saudi.

    Ulama2 saudi mengharamkan demonstrasi, selama demonstrasi tersebut
    ditujukan kepada penguasa Saudi ataupun penguasa2 sahabat penguasa
    Saudi. Tetapi ketika demonstrasi itu ditujukan kepada penguasa2 yang
    dianggap melawan Saudi, maka ulama2 saudi mendukung total.

    Absolutely hiprokit, munafik sejati khas Muawiyah bin Hindun al pelacuri

  15. @UmmatiPress

    Kaidah para sahabat adalah adil (ash-shahabah kulluhum udul) itu bukan wahhabi yang membuat tetapi para ulama hadits…

     Iya betul. Ane tahu, kaidah dari ulama hadits untuk sahabat perawi hadits. Tetapi salafy wahabi menarik kaidah ini demi keuntungan klan Muawiyah dan teman2nya. Jadi siapapun yang anti Muawiyah, salafy menggunakan kata pemutus untuk membantahnya, semua sahabat Nabi adalah adil.

  16. Abdullah:
    Ini sebenarnya adalah tuduhan yang bathil, justru penuduh sendiri adalah mujassim. Allah berada di atas tanpa perlu tempat. Tetapi mujassim seperti Anda bermain logika, kok bisa ada di atas tapi tidak bertempat, lalu membuatkan tempat untuk Allah terus dinisbatkan kepada “wahabi”. Nau’dzubillah.

    Kita ambil perkataan Imam Maalik bin Anas tentang permasalahan di mana Allah:
    Iman itu adalah perkataan dan perbuatan, Allah berbicara kepada Muusaa, Allah berada di langit dan ilmu-Nya ada di setiap tempat – tidak ada sesuatupun yang luput dari-Nya

    Ok, menurut keyakinan ente “Allah berada di langit” Apakah berarti Allah berada dalam makhluk yang bernama langit itu?

  17. Kabar tentang keberadaan Dzat Allah Yang Mahasuci berada di atas langit, bersemayam di atas ‘Arsy-Nya ditegaskan dalam banyak ayat, berikut ini adalah beberapa di antaranya:

    “(Artinya) Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?” [QS. Yunus: 3]

    “(Artinya) Allah-lah Yang meninggikan langit tanpa tiang (sebagaimana) yang kamu lihat, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy, dan menundukkan matahari dan bulan. Masing-masing beredar hingga waktu yang ditentukan. Allah mengatur urusan (makhluk-Nya), menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya), supaya kamu meyakini pertemuan (mu) dengan Tuhanmu.” [QS. Ar-Ra’du: 2]

    “(Artinya) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [QS. Thaaha: 5]

    “(Artinya) Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas Arsy, (Dialah) Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah (tentang Allah) kepada yang lebih mengetahui (Muhammad) tentang Dia.” [QS. Al-Furqoon: 59]

    1. @abu umar
      Ente jangan mengartikan Ayat Al Qur’an maupun hadist secara bebas / harfiah, tanya guru yang bener. Kalo ente bisa mengartikan ayat2 Al Qur’an ente mesti jago 8 Ilmu : Ilmu Lughah, fiqih, Nahwu, sharaf, Hadist … nti ente kebentur sama ayat2 lain. Contohnya : 1. Allah dekat dengan urat leher. 2. Jika hamba mendekati Allah dengan berjalan maka Allah akan menghampiri hambaNya dengan berlari.
      Nah kalau begini kan ente yang belon cukup ilmu kan bingung. Ane pesen sama ente jangan mengartikan secara bebas / harfiah, mesti ada gurunya yang bener.

    2. @Abu Umar

      Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam bersabda: “Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada sesuatupun selain- Nya”. (H.R. al Bukhari, al Bayhaqi dan Ibn al Jarud).

      Makna hadits ini bahwa Allah ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan), tidak ada sesuatu (selain-Nya) bersama-Nya. Pada azal belum ada angin, cahaya, kegelapan, ‘Arsy, langit, manusia, jin, malaikat, waktu, tempat dan arah. Maka berarti Allah ada sebelum terciptanya tempat dan arah, maka Ia tidak membutuhkan kepada keduanya dan Ia tidak berubah dari semula, yakni tetap ada tanpa tempat dan arah, karena berubah adalah ciri dari sesuatu yang baru (makhluk).

      Al Imam Abu Hanifah dalam kitabnya al Fiqh al Absath berkata: “Allah ta’ala ada pada azal (keberadaan tanpa permulaan) dan belum ada tempat, Dia ada sebelum menciptakan makhluk, Dia ada dan belum ada tempat, makhluk dan sesuatu dan Dia pencipta segala sesuatu”.

      Al Imam Fakhruddin ibn ‘Asakir (W. 620 H) dalam risalah aqidahnya mengatakan : “Allah ada sebelum ciptaan, tidak ada bagi- Nya sebelum dan sesudah, atas dan bawah, kanan dan kiri, depan dan belakang, keseluruhan dan bagian-bagian, tidak boleh dikatakan “Kapan ada-Nya ?”, “Di mana Dia ?” atau “Bagaimana Dia ?”, Dia ada tanpa tempat”.

      Al Imam al Bayhaqi (W. 458 H) dalam kitabnya al Asma wa ash- Shifat, hlm. 506, mengatakan: “Sebagian sahabat kami dalam menafikan tempat bagi Allah mengambil dalil dari sabda Rasulullah shalllallahu ‘alayhi wa sallam:
      Maknanya: “Engkau azh-Zhahir (yang segala sesuatu menunjukkan akan ada-Nya), tidak ada sesuatu di atas-Mu dan Engkaulah al Bathin (yang tidak dapat dibayangkan) tidak ada sesuatu di bawah- Mu” (H.R. Muslim dan lainnya). Jika tidak ada sesuatu di atas-Nya dan tidak ada sesuatu di bawah-Nya berarti Dia tidak bertempat”.

      sayyidina Ali ibn Abi Thalib -semoga Allah meridlainya berkata:
      “Allah ada (pada azal) dan belum ada tempat dan Dia (Allah) sekarang (setelah menciptakan tempat) tetap seperti semula, ada tanpa tempat” (Dituturkan oleh al Imam Abu Manshur al Baghdadi dalam kitabnya al Farq bayna al Firaq h. 333).

      Al Imam Ali -semoga Allah meridlainya- mengatakan yang maknanya: “Sesungguhnya Allah menciptakan ‘Arsy (makhluk Allah yang paling besar) untuk menampakkan kekuasaan-Nya bukan untuk menjadikannya tempat bagi Dzat-Nya” (diriwayatkan oleh Abu Manshur al Baghdadi dalam kitab al Farq bayna al Firaq, hal. 333)

      “…maka barang siapa yang menginginkan tempat lapang di surga hendaklah berpegang teguh pada al Jama’ah; yakni berpegang teguh pada aqidah al Jama’ah”. (Hadits ini dishahihkan oleh al Hakim, dan at-Tirmidzi mengatakan hadits hasan shahih)

      Aqidahnya Ahlussunah Wal Jama’ah : Allah Ada Tanpa Tempat dan Arah

    1. Saya bukan Abu Umar. Silahkan dicermati pernyataan saya, Allah tidak bertempat. Jadi jangan carikan tempat untuk Allah, terus mengatakan sayalah yang mengatakan Allah bertempat. Sekarang menurut pemahaman bung Naka, Allah ada di mana?

  18. Alhamdulillaaaaah, itulah akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah Al Asy’ariyah akidah kami. Allah wujud tanpa tempat. Dan mengiman ayat-ayat sifatnya, namun tidak mengambil makna dhahir dan menyerahkannya kepada Allah.

    Maaf, ane kira antum Abu Umar.

    Ok, berarti diskusi pindah ke Abu Umar neh….yang akidah menganut akidah bahwa Allah berada di atas langit. Apakah berarti Allah “menetap” (istiqrar) di atas langit pada koordinat tertentu?

  19. @abdullah
    Dari koment2 ente, ane lihat n punya kesimpulan ente baru keserempet faham wahabi, jadi sering2 deh nangkring diblog ini atw ente belajar sama guru yang bener yang bermazhab. Boleh ikut-ikutan tapi jangan sampai tenggelem.

    1. Saya selalu berusaha untuk mengikuti manhaj salaf yang lurus. Tiap pagi mendengarkan Radio Rodja, alhamdulillah bertambah ilmu dan keimanan. Adalah tuduhan yang tidak benar kalau wahabi tidak bermazhab. Mereka bermazhab Hambali. Apa yang kalian sebut “bermazhab” sebenarnya taklid buta kepada guru2, sedangkan yang dilakukan oleh Wahabi adalah ittiba’ kepada Rasulullah.

        1. @Ucep & Super Nova
          Apakah Anda bisa membuktikan mereka tidak bermazhab Hambali? Kalau di Indonesia memang banyak yang ngaku2 bermazhab Syafi’i, tapi melalukan apa yang tidak dikatakan oleh Imam Syafi’i.

          1. ana nilai ente sudah keterlaluan dalam menjastifikasi amalan aswaja.

            baiklah kalo begitu… di blog silakan mubahala dengan ana atau pemilik blog yakni mas AI

            saya pikir kita harus belajar dulu sebelum menuduh suatu faham sampai keakar2 akarnya

            silakan kunjungi blog tsb……

  20. @Abu Umar:

    اللهُمَّ رَبَّ السَّمَاوَاتِ وَرَبَّ الْأَرْضِ وَرَبَّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ، فَالِقَ الْحَبِّ وَالنَّوَى، وَمُنْزِلَ التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْفُرْقَانِ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ كُلِّ شَيْءٍ أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، اللهُمَّ أَنْتَ الْأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الظَّاهِرُ فَلَيْسَ فَوْقَكَ شَيْءٌ، وَأَنْتَ الْبَاطِنُ فَلَيْسَ دُونَكَ شَيْءٌ، اقْضِ عَنَّا الدَّيْنَ، وَأَغْنِنَا مِنَ الْفَقْرِ

    ‘Ya Allah, Tuhan langit dan bumi, Tuhan yang menguasai arasy yang agung, Tuhan kami dan Tuhan segala sesuatu, Tuhan yang membelah dan menumbuhkan biji-bijian, Tuhan yang menurunkan kitab Taurat, Injil, dan Al Qur’an. Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan segala sesuatu, karena segala sesuatu itu berada dalam genggaman-Mu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Awal, maka tidak ada sesuatu pun yang mendahului-Mu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Akhir, maka tidak ada sesuatu setelah-Mu. Ya Allah, Engkaulah Yang Zhahir, maka tidak ada sesuatu di atas-Mu. Ya Allah, Engkaulah Tuhan Yang Bathin, maka tidak ada sesuatu di bawah-Mu. Ya Allah, lunaskanlah hutang-hutang kami dan bebaskanlah kami dari kefaqiran’
    [Shahih Muslim no.4888]

  21. @Abdullah

    tukang ngeles, menempatkan Allah tapi tidak mau mengaku, mengikuti firanda yang mengikuti Adz Zahabi : yang mengatakan Allah tidak bertempat karena ada diluar alam.

    ini ngeles kelas berat.

    Tapi tetap aja memberikan arah kepada Allah, dan lucunya kaum wahabi menolak kalau dikatakan Allah ada tanpa tempat.

    lucu…

    1. Lah itu kan perkataan para Imam Mahzab, mau lewat Firanda, Abul Jauzaa, Abdul Qadir Jawas, etc, sama saja semua.

      Imam Abu Hanifah:
      Siapa berkata, aku tidak mengetahui tuhanku di langit atau di bumi, sesungguhnya dia kafir, dan begitu juga siapa yang berkata, sesungguhnya Dia di atas Arsy, dan tidak aku menngetahui Arsy’ samaada di langit atau di bumi. [Al-Fiqhul Al-Akbar m.s. 46]

      Imam Malik:
      Allah di langit, dan ilmunya disetiap tempat.[Al-Siyar A’lam Al-Nubala]

      Imam Syafi’i:
      Pendapatku tentang sunnah,di mana aku berpegang kepadanya dan juga berpegang kepadanya oleh orang-orang yang aku lihat semisal Sufyan,Malik dan lain-lain,iaitu pengakuan terhadap persaksian bahawa Allah itu di atas Arasy-Nya yang ada di langit-Nya.Dia mendekat makhlukNya menurut apa yang Dia kehendaki dan turun ke ke langit terendah menurut apa yang Dia kehendaki.
      [Az-Zahabidalam kitabnya,Al-‘Uluw lil-‘Aliy al-Ghaffar]

      1. …wah pakai riwayat imam hanafi yang nggak jelas….

        Asy-Syaikh ‘Ali Mulla al-Qari di dalam Syarah al-Fiqh al-Akbar menuliskan sebagai berikut:

        “Ada sebuah riwayat berasal dari Abu Muthi’ al-Balkhi bahwa ia pernah bertanya kepada Abu Hanifah tentang orang yang berkata “Saya tidak tahu Allah apakah Dia berada di langit atau berada di bumi!?”. Abu Hanifah menjawab: “Orang tersebut telah menjadi kafir, karena Allah berfirman “ar-Rahman ‘Ala al-arsy Istawa”, dan arsy Allah berada di atas langit ke tujuh”. Lalu Abu Muthi’ berkata: “Bagaimana jika seseorang berkata “Allah di atas arsy, tapi saya tidak tahu arsy itu berada di langit atau di bumi?!”. Abu Hanifah berkata: “Orang tersebut telah menjadi kafir, karena sama saja ia mengingkari Allah berada di langit. Dan barangsiapa mengingkari Allah berada di langit maka orang itu telah menjadi kafir. Karena Allah berada di tempat yang paling atas. Dan sesungguhnya Allah diminta dalam doa dari arah atas bukan dari arah bawah”.
        Kita jawab riwayat Abu Muthi’ ini dengan riwayat yang telah disebutkan oleh al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam dalam kitab Hall ar-Rumuz, bahwa al-Imam Abu Hanifah berkata: “Barangsiapa berkata “Saya tidak tahu apakah Allah di langit atau di bumi?!”, maka orang ini telah menjadi kafir. Karena perkataan semacam ini memberikan pemahaman bahwa Allah memiliki tempat. Dan barangsiapa berkeyakinan bahwa Allah memiliki tempat maka orang tersebut seorang musyabbih; menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya”. Al-Imam al-Izz ibn Abd as-Salam adalah ulama besar terkemuka dan sangat terpercaya. Riwayat yang beliau kutip dari al-Imam Abu Hanifah dalam hal ini wajib kita pegang teguh. Bukan dengan memegang tegung riwayat yang dikutip oleh Ibn ‘Abi al-Izz; (yang telah membuat syarah Risalah al-‘Aqidah ath-Thahawiyyah versi akidah tasybih). Di samping ini semua, Abu Muthi’ al-Balkhi sendiri adalah seorang yang banyak melakukan pemalsuan, seperti yang telah dinyatakan oleh banyak ulama hadits” (Syarh al-Fiqh al-Akbar, h. 197-198).

        wah, Imam Malik dan Imam Syafei juga dibawa-bawa agar akidahnya yang mensifati Allah dengan arah dan tempat dianggap benar.

        padahal Imam Malik dan Imam Syafei tidak pernah tuh mengatakan Allah ada diatas secara hakiki atau mempunyai arah atau tempat….

        Kalau mengatakan Allah diatas langit dan Istiwa diatas arsy…itu sih bahasa Al Quran, maknanya bukanlah arah dan tempa bagi Allah dong….

        wadud-waduh…

      2. Mas abdullah anda ngaku sendiri bahwa itu ucapan ustadz wahabi yangmengatas namakan imam madzhab. Kenapa saya bilang mengatasnamakan bukan mengambil karena ustadz anda itu ngak pernah ketemu ama imam madzhab. Jadi hujahnya memakai imam madzhab ditolak tuh.
        jadi tolong digaria bawahinya kalo saya ngak percaya ama hujjah ustadz wahabi bukan hujjah dari imam madzhab.

      1. Bener-bener gak mudeng perkataan gus Dur neh Bang Abdullah. Maksudnya Gus Dur itu orang-orang kafir itu diajak masuk Islam kemudian masuk surga bersama muslim lainnya. Jadi berdakwahlah mengajak orang2 kafir untuk masuk Islam, bukan berdakwah memecah belah Ummat Islam seperti kelakuan Wahabi selama ini. Carilah pengikut dari kalangan orang-orang non Islam, seperti Wali songo. Wahabi mana hasil dakwahnya selain menebar isu-isu bid’ah di tengah ummat Islam?

        1. ❓ ❓ 😯
          Yang ada itu Gus Dur menafsirkan orang2 kafir itu juga masuk surga dengan berbekal tafsir plintiran Al-Baqarah 2:62. Bisa marah tuh orang2 kafir kalau Gus Dur Anda tuduh mau mengislamkan mereka 😀
          Lagian yang suka tebar isu itu siapa? Dikit2 Wahabi. Ada maling, wahabi. Teroris, wahabi. Semua yang jelek2, wahabi. Ya ndak apa2, toh para ulama yang difitnah/digunjing dapat pahala dari Anda2.

  22. Abdullah:
    Lah itu kan perkataan para Imam Mahzab, mau lewat Firanda, Abul Jauzaa, Abdul Qadir Jawas, etc, sama saja semua.

    Imam Abu Hanifah:
    Siapa berkata, aku tidak mengetahui tuhanku di langit atau di bumi, sesungguhnya dia kafir, dan begitu juga siapa yang berkata, sesungguhnya Dia di atas Arsy, dan tidak aku menngetahui Arsy’ samaada di langit atau di bumi. [Al-Fiqhul Al-Akbar m.s. 46]

    Imam Malik:
    Allah di langit, dan ilmunya disetiap tempat.[Al-Siyar A’lam Al-Nubala]

    Imam Syafi’i:
    Pendapatku tentang sunnah,di mana aku berpegang kepadanya dan juga berpegang kepadanya oleh orang-orang yang aku lihat semisal Sufyan,Malik dan lain-lain,iaitu pengakuan terhadap persaksian bahawa Allah itu di atas Arasy-Nya yang ada di langit-Nya.Dia mendekat makhlukNya menurut apa yang Dia kehendaki dan turun ke ke langit terendah menurut apa yang Dia kehendaki.
    [Az-Zahabidalam kitabnya,Al-‘Uluw lil-‘Aliy al-Ghaffar]

    Ok, karena kambuh lagi “penyakitnya” dan di Abu Umar dah kabur ane berbalik ajak diskusi ante @Abdullah. Apakah dengan kopasan ente itu, ente menyimpulkan bahwa Allah bertempat di langit?

  23. Lha kamu tetap aja ngotot, di sini sudah saya tuliskan perkataan para Imam mazhab, terus karena yang nulis wahabi, terus kamu buatkan tempat untuk Allah, lalu kamu bilang “Wahabi mengatakan Allah butuh tempat”. Ini akibat kamu berusaha menalar bagaimana sifat Allah.

  24. Abdullah:
    Lha kamu tetap aja ngotot, di sini sudah saya tuliskan perkataan para Imam mazhab, terus karena yang nulis wahabi, terus kamu buatkan tempat untuk Allah, lalu kamu bilang “Wahabi mengatakan Allah butuh tempat”. Ini akibat kamu berusaha menalar bagaimana sifat Allah.

    Ane hanya tanya, apakah dari kopasan antum itu, antum berkesimpulan bahwa Allah bertempat di langit. Antum bisa gak sih nyimpulkan? Atau jangan-jangan hanya bisa kopas aja, tapi tak paham meksudnya.

          1. Saya juga telah jawab, Allah tidak bertempat, berdasarkan pendapat para Imam mazhab tadi. Lucunya kamu bersikeras menuduh saya mengatakan Allah bertempat. Aneh bin ajaib.

    1. Tentu saja tidak, kamu yang dengan gegabah menyimpulkan Allah bertempat di langit. Para Imam mazhab menetapkan sifat2 Allah tanpa mentakwilkan, seperti beristiwa di atas arsy, mempunyai dua tangan, wajah, dll, tanpa menanyakan hakikatnya. Karena kamu memakai hanya mengandalkan akal, kamu tidak terima apa yang Allah sifatkan atas diri-Nya, lalu kamu takwilkan jadinya. Orang yang tidak mau mentakwil, kamu katakan orang itu mujassim. Padahal kamu sendiri yang mujassim karena membuat takwilan seenaknya sendiri untuk menuduh orang mujassim.

  25. wkwkwkw….mengandalkan akal saja ya?

    kalau wahabi apa yang diandalin….?

    kami ahlussunah pakai dalil naqli dan aqli mas…. karena naqli dan aqli tidak bertentangan…. emang orang nasrani yang mempertentangkan akal dan wahyu?

    Kami Menetapkan Apa yang datang sebagaimana bahasanya, tetapi kami menafsirkan yang mutasyabihat tidak sebgaimana zhahirnya, karena Allah mengatakan Hanya Allah yang tahu takwilnya….. dan hanya orang-orang yang berakal yang mengambil pelajaran”.

    Jadi orang yang berakal alias mau menggunakan akal yang dibimbing oleh wahyu (bukan akal-akalan) maka akan dapat mengambil pelajaran.

    Sebaliknya….. ya lihat aja contohnya…

    1. Tidak, kamu menggunakan aqli dan naqli, tetapi aqli didahulukan daripada naqli. Contohnya sifat 20. Pertama ada 7, lalu 9, terus 13, lalu jadi 20. Terus dibuatkan sifat mustahil 20. Lalu ada 1 sifat Jaiz. Lalu tidak mengakui sifat2 yang ditetapkan Allah seperti punya 2 tangan, wajah, betis, beristiwa, dll, bukannya ini karena mikirnya pake akal dulu, baru cari naqlinya?

  26. Abdullah:
    Tentu saja tidak, kamu yang dengan gegabah menyimpulkan Allah bertempat di langit. Para Imam mazhab menetapkan sifat2 Allah tanpa mentakwilkan, seperti beristiwa di atas arsy, mempunyai dua tangan, wajah, dll, tanpa menanyakan hakikatnya. Karena kamu memakai hanya mengandalkan akal, kamu tidak terima apa yang Allah sifatkan atas diri-Nya, lalu kamu takwilkan jadinya. Orang yang tidak mau mentakwil, kamu katakan orang itu mujassim. Padahal kamu sendiri yang mujassim karena membuat takwilan seenaknya sendiri untuk menuduh orang mujassim.

    Jadi apa kesimpulan dari kopasan antum itu? Monggo dibuktikan kalau memang antum memahami kopasan sendiri…

  27. “Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para sahabat telah mendahului kita mengamalkanya”
    “Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para sahabat telah mendahului kita mengamalkanya”
    “Kalau sekiranya perbuatan itu baik, tentulah para sahabat telah mendahului kita mengamalkanya”

  28. mas @aslisalafi
    ana bagi hadist tentang mu’awiyah ya,,,dan untuk All Aswaja Asy’ariahv wal Maturidiyah,saudara2ku yang kukasihi…..ana ambil dari bloq abu Salafy

    Hadist Mu’awiyah Mati Tidak Dalam Agama Islam?

    Terdapat hadis yang mungkin akan mengejutkan sebagian orang terutama akan mengejutkan para nashibi pecinta berat Mu’awiyah yaitu hadis yang menyatakan kalau Mu’awiyah mati tidak dalam agama Islam. Kami akan mencoba memaparkan hadis ini dan sebelumnya kami ingatkan kami tidak peduli apapun perkataan [baca: cacian] orang yang telah membaca tulisan ini. Apa yang kami tulis adalah hadis yang tertulis dalam kitab. Jadi kami tidak mengada-ada.
    Hadist tersebut diriwayatkan oleh Abdullah bin Amru bin Ash ra dari Rasulullah SAW sebagaimana yang tertulis dalam kitab Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 2/120-121.
    عن عبد الله بن عمرو قال كنت جالساً عند النبي صلى الله عليه وسلم فقال يطلع عليكم من هذا الفج رجل يموت يوم يموت على غير ملتي، قال وكنت تركت أبي يلبس ثيابه فخشيت أن يطلع، فطلع معاوية
    Dari Abdullah bin Amru ra yang berkata aku duduk bersama Nabi SAW kemudian Beliau bersabda ”akan datang dari jalan besar ini seorang laki-laki yang mati pada hari kematiannya tidak berada dalam agamaKu”. Aku berkata “Ketika itu, aku telah meninggalkan ayahku yang sedang mengenakan pakaian, aku khawatir kalau ia akan datang dari jalan tersebut, kemudian datanglah Muawiyah dari jalan tersebut”.
    Hadist ini diriwayatkan oleh Baladzuri dalam Ansab Al Asyraf dengan dua jalan sanad yaitu
    حدثني عبد الله بن صالح حدثني يحيى بن آدم عن شريك عن ليث عن طاووس عن عبد الله بن عمرو
    Telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Shalih yang berkata telah menceritakan kepadaku Yahya bin Adam dari Syarik dari Laits dari Thawus dari Abdullah bin Amru [Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 2/121]
    حدثني إسحاق وبكر بن الهيثم قالا حدثنا عبد الرزاق بن همام انبأنا معمر عن ابن طاوس عن أبيه عن عبد الله بن عمرو بن العاص
    Telah menceritakan kepadaku Ishaq dan Bakr bin Al Haitsam yang keduanya berkata telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq bin Hamam yang berkata telah memberitakan kepada kami Ma’mar dari Ibnu Thawus dari ayahnya dari Abdullah bin Amru bin Ash [Ansab Al Asyraf Al Baladzuri 2/120]
    Sanad pertama semuanya adalah perawi Muslim oleh karena itu Syaikh Al Ghumari menyatakan hadis tersebut shahih dengan syarat Muslim. Tetapi walaupun semuanya perawi Muslim terdapat cacat pada sanadnya yaitu Abdullah bin Shalih dan Laits. Mereka berdua walaupun seorang yang shaduq telah diperbincangkan oleh para ulama mengenai hafalannya. Sebagaimana yang disebutkan dalam At Taqrib 1/501 kalau Abdullah bin Shalih jujur tetapi banyak melakukan kesalahan dan At Taqrib 2/48 kalau Laits bin Abi Sulaim jujur tetapi mengalami ikhtilath. Jadi sanad pertama itu dhaif
    Sanad kedua telah diriwayatkan oleh para perawi tsiqat yaitu Ishaq, Abddurrazaq, Ma’mar, Ibnu Thawus dan Thawus. Hanya satu orang yang tidak diketahui kredibilitasnya yaitu Bakr bin Al Haitsam tetapi ini tidak menjadi masalah karena ia meriwayatkan hadis ini bersama dengan Ishaq bin Abi Israil seorang yang tsiqat dan ma’mun.
    • Ishaq adalah Ishaq bin Abi Israil termasuk gurunya Al Baladzuri, ia perawi Bukhari dalam Adabul Mufrad, Abu Dawud dan Nasa’i. Biografinya disebutkan dalam At Tahdzib juz 1 no 415, dimana Ibnu Hajar menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Daruquthni, Al Baghawi, Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Hibban. Dalam At Taqrib 1/79 Ibnu Hajar menyatakan ia shaduq tetapi dikoreksi dalam Tahrir At Taqrib no 338 kalau Ishaq bin Abi Israil seorang yang tsiqat ma’mun.
    • Abdurrazaq bin Hammam adalah perawi kutubus sittah dimana Bukhari dan Muslim telah berhujjah dengan hadisnya. Ia seorang hafiz yang dikenal tsiqat sebagaimana disebutkan Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/599.
    • Ma’mar adalah Ma’mar bin Rasyd perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar dalam At Tahdzib juz 10 no 441 menyebutkan kalau ia dinyatakan tsiqat oleh Ibnu Ma’in, Al Ajli, Yaqub bin Syaibah, Ibnu Hibban dan An Nasa’i. Dalam At Taqrib 2/202 ia dinyatakan tsiqat tsabit.
    • Abdullah bin Thawus adalah putra Thawus bin Kisan, ia seorang perawi kutubus sittah yang dikenal tsiqat. Biografinya disebutkan dalam At Tahdzib juz 5 no 459 dan ia telah dinyatakan tsiqat oleh Nasa’i, Al Ajli, Ibnu Hibban dan Daruquthni. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/503 menyatakan Ibnu Thawus tsiqat.
    • Thawus bin Kisan Al Yamani adalah seorang tabiin yang tsiqat. Ia termasuk perawi kutubus sittah. Ibnu Hajar dalam At Taqrib 1/449 menyatakan kalau Thawus tsiqat.
    Jadi dapat disimpulkan kalau sanad kedua itu diriwayatkan oleh para perawi yang tsiqat sehingga sanadnya shahih. Dengan melihat kedua sanad hadis tersebut maka kedudukan hadis tersebut sudah jelas shahih. Sanad pertama berstatus dhaif tetapi dikuatkan oleh sanad kedua yang merupakan sanad yang shahih. Sekedar informasi hadis ini telah dishahihkan oleh Syaikh Al Ghumari, Syaikh Hasan As Saqqaf, Syaikh Muhammad bin Aqil Al Alawy dan Syaikh Hasan bin Farhan Al Maliki.
    Sudah jelas para Nashibi tidak akan rela dengan hadis ini dan mereka memang akan selalu mencari-cari cara atau dalih untuk melemahkan hadis tersebut. Terus terang kami tertarik melihat dalih-dalih nashibi untuk mencacatkan hadis ini. Kita tunggu saja.

  29. Abdullah:
    Kalau yang kamu maksud paham itu artinya harus sesuai dengan pemahaman kamu, ya nggak bakal pernah kamu anggap paham,

    Kagak haru sama dengan pemahaman ane koq, rileks aja. Pakai pemahaman ente sendiri. So apa kesimpulan dari kopasan antum itu? Monggo dibuktikan kalau memang antum memahami kopasan sendiri…

    Dah, kagak usah komen yang lain dah kebanyakan komen ente, tapi kagak sesuai dengan pertanyaan.Ok, ane tunggu….

  30. @dianth
    ulasan antum di blog tetangga sebelah mantab,..
    bbrp hari nggak buka ummati dah ramai banget,..he..he..lanjutkan,
    ane duduk ambil tiker lanjut kopinya,he..he..

  31. prass:
    @dianth
    ulasan antum di blog tetangga sebelah mantab,..
    bbrp hari nggak buka ummati dah ramai banget,..he..he..lanjutkan,
    ane duduk ambil tiker lanjut kopinya,he..he..

    ana juga bawa kopi tubruk mas ama pisang goreng monggo di makan pisang gorengnya sambil belajar

  32. Abdullah:
    Sayaselaluberusahauntukmengikutimanhajsalafyanglurus.TiappagimendengarkanRadioRodja,alhamdulillahbertambahilmudankeimanan.Adalahtuduhanyangtidakbenarkalauwahabitidakbermazhab.MerekabermazhabHambali.Apayangkaliansebut“bermazhab”sebenarnyataklidbutakepadaguru2,sedangkanyangdilakukanolehWahabiadalahittiba’kepadaRasulullah.

    Jadi antum ini bermadzhab apa ittiba’?
    Jangan2 antum belum paham apa itu bermadzhab dan apa itu ittiba’ menurut wahhabi…
    bermadzhab adalah beriltizam kepada salah satu madzhab, dan itu artinya taqlid
    apa itu taqlid? mengikut kepada pendapat mujtahid

    sedangkan ittiba’ yg diingini wahhabi adalah mengikut kepada Qur`an dan Sunnah tanpa beriltizam kepada salah satu madzhab
    Dalam hal ini, tidak ada taqlid, yg ada ijtihad
    berpegang hanya kpd Qur`an dan hadits; mengesampingkan ijma’ dan qiyas
    dan hal ini adalah bertentangan dengan Qur`an dan Sunnah itu sendiri

    Adapun Qur`an:
    Maka bertanyalah kepada Ahladz Dzikr jika kalian tidak mengetahui [QS. An-Nahl: 43]

    Adapun Sunnah:
    Siapa yang bicara tentang al-Qur`an tanpa ilmu, maka siapkanlah tempat duduknya berupa api neraka. [Sunan al-Kubra an-Nasa`i no. 8084 atau 8030 dalam cetakan lainnya; Musnad Ahmad no.2069, 2429; Mu’jamul Kabir ath-Thabrani no.12392; Sunan at-Tirmidzi no. 2950]

    Siapa yang berfatwa dengan suatu fatwa tanpa ilmu, maka dosanya ditanggung yang berfatwa. [Musnad Ahmad no.8761; Sunan al-Kubra al-Bayhaqi no.20353; al-Mustadrak ‘alash Shahihain no.350]

    apa pendapat ibnu taymiyyah tentang kalian?

    Ibnu Taymiyyah berkata: “Barangsiapa memegang (beriltizam dengan) suatu madzhab tertentu, lalu ia melaksanakan yang menyelisihi madzhabnya tanpa taqlid (tanpa pindah madzhab) kepada ‘ulama (mujtahid dari madzhab) lain yang memberinya fatwa dan tanpa istidlal dengan dalil yang menyelisihinya (tanpa berijtihad dengan benar), dan tanpa udzur syar’i yang menunjukkan halalnya perbuatan yang dilakukannya, maka ia adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya, pelaku keharoman tanpa ada udzur syar’i, dan ini adalah mungkar.” [Lihat al-Ushul min ‘Ilmil Ushul oleh al-Utsaymin hlm. 69]

    Ibnu Taymiyyah membolehkan pindah madzhab, membenarkan seseorang yang sudah mencapai derajat mujtahid muthlaq untuk membangun madzhab sendiri, tetapi tidak membenarkan mencampur-adukkan madzhab atau pun tidak bermadzhab. Ibnu Taymiyyah hanya membenarkan iltizam kepada salah satu madzhab bagi orang awam. Dan dia mengharamkan orang awam untuk tidak bermadzhab. Mujtahid yang belum mencapai mujtahid muthlaq pun tidak dibenarkan untuk tidak bermadzhab. Setidaknya ia harus berpegang kepada ushul fiqh dari salah satu madzhab.

    Muhammad al-Utsaymin menjelaskan bahwa taqlid itu terjadi pada 2 macam orang. Yang pertama : seorang yang taqlid (muqollid) adalah orang awam yang tidak mampu mengetahui hukum (yakni ber-istinbath dan istidlal) dengan kemampuannya sendiri, maka wajib baginya taqlid. Yang kedua : terjadi pada seorang mujtahid suatu kejadian yang ia harus segera memutuskan suatu masalah, sedangkan ia tidak bisa melakukan penelitian maka ketika itu ia boleh taqlid. [Lihat al-Ushul min ‘Ilmil Ushul oleh al-Utsaymin hlm. 68]

  33. ijtihad ala wahhabi ini bathil
    1. karena tanpa ilmu yg memadai
    2. tanpa sumber hukum yg cukup (tidak hafal qur`an, tidak hafal hadits, mengesampingkan ijma’, mengesampingkan qiyas)

    1. Terus apakah taqlid Anda sah karena tidak punya ilmu yang memadai, dan idak hafal qur`an, tidak hafal hadits, mengesampingkan ijma’, mengesampingkan qiyas? 🙂

      Kalau gak yakin sama ilmunya “wahabi”, coba saja pas ada acara tausiyah di radio rodja tiap pagi jam 6, waktu sesi tanya jawab, telpon terus suruh ustadznya membacakan ayat qur’an yang Anda tentukan.

      1. absen pagi

        ga nyambung bro coment ente. orang awam yang tidak mampu dalam ilmu agama menggantungkan amaliahnya pada ahlinya (baca ulama yang bersanad) dengan cerdas itu namanya taqlid. orang yang bertaqlid dengan imam madzhab 4 mulai dari awam sampai dipanggil ustad, atau bahkan ulama dan kebanyakan ulama bukanlah mujtahid, apalagi mujtahid mutlak. setiap permasalahan sosial dan keagamaan para pengikut 4 imam madzhab selalu bereferensi dengan kitab fiqih ulama2 pengikut 4 imam madzhab.

        Abdullah:
        Terus apakah taqlid Anda sah karena tidak punya ilmu yang memadai, dan idak hafal qur`an, tidak hafal hadits, mengesampingkan ijma’, mengesampingkan qiyas?

        Kalau gak yakin sama ilmunya “wahabi”, coba saja pas ada acara tausiyah di radio rodja tiap pagi jam 6, waktu sesi tanya jawab, telpon terus suruh ustadznya membacakan ayat qur’an yang Anda tentukan.

        orang awam yang bertaqlid pada ulama pastilah mengikuti ijma dan qiyas para ulama tersebut. sah kah orang awam bertaqlid tanpa hafal alquran? ya tentunya sah dong dengan dasar ulama yang dianut adalah ilmnya bersanad jelas sampai Rasulullah

      2. menurut utsaymin, orang awwam itu wajib taqlid
        nah, orang yg tidak punya ilmu yang memadai, dan tidak hafal qur`an, tidak hafal hadits, maka ia wajib taqlid
        ini menurut al-Utsaymin, Syaikhnya para ustadz yg suka nongkrong di radio rodja
        taqlid itu tidak berijtihad, tetapi menerima ijtihad dari mujtahid
        mujtahid itulah yg melakukan ijtihad, melakukan qiyas, menggali Qur`an, hadits, dan ijma’.

        sedangkan Anda menolak qiyas
        apa contohnya?
        dzikir berjama’ah atau dzikir secara jahr

        Membaca Qur`an itu dzikir
        adzan itu juga dzikir

        Nabi pernah, dalam suatu pertemuan, menyuruh menutup pintu ruangan, lalu menyuruh para shahabat utk mengucapkan laa ilaaha illallaah

        Nah, ini semua dapat dijadikan qiyas akan bolehnya berdzikir secara jahr dan berjama’ah

        orang yg cerdas dan punya ilmu serta eralatan canggih dapat mengebor ke dalam bumi hingga menemukan emas
        orang pedalaman yg bodoh…. jangan harap 🙂

  34. Abdullah:
    Terus apakah taqlid Anda sah karena tidak punya ilmu yang memadai, dan idak hafal qur`an, tidak hafal hadits, mengesampingkan ijma’, mengesampingkan qiyas?

    Kalau gak yakin sama ilmunya “wahabi”, coba saja pas ada acara tausiyah di radio rodja tiap pagi jam 6, waktu sesi tanya jawab, telpon terus suruh ustadznya membacakan ayat qur’an yang Anda tentukan.

    He he he he…taklid yang paling buruk adalah kopas tanpa bisa memahami maknanya…

    Gimana neh? Dah nyerah? Gak bisa menyimpulkan kopasan sendiri? Gak papa koq, ane gak maksa ente melakukan sesautu di laur kemampuan ente.

    Tapi ane kasih saran neh, lain kali pahami persoalan. Pikir dulu sebelum kopas. Jangan asal ngopas dulu baru berfikir kemudian.

    Tar, kalau ente bicara mengenai akidah lagi, ane Insyaallah nimbrung lagi….

    1. Rupanya Anda yang tidak memahami, karena Anda mencoba mentakwil dengan akal Anda untuk hal2 yang seharusnya diimani, bukan dinalar. Saya sudah jelaskan 3x lebih, Anda masih bertanya terus, Anda yang nggak ngerti rupanya.

      1. Saya benar2 termasuk orang yg sangat heran dg jalan pikiran orang2 Wahabi. Tahlilan kok diharamkan, dari sisi mana mereka melihat tahlilan? Padahal tahlilan dilihat dari berbagai sisinya sungguh sangat mulia dan terpuji, kok bisa para Wahabi itu mengharamkannya? Kok pada tidak takut dosa atas kelakuannya dalam mengharamkan hal2 yang halal? Padahal efeknya juga bisa merusak pemahaman agama Islam, lho.

        1. Ndak ada yang mengharamkan tahlil (mengucapkan laa ilaaha illallah), yang disoroti adalah pelaksanaannya. Nabi pernah menegur sahabat karena dzikir keras2, karena Allah Maha Mendengar. Kita disuruh berdzikir dengan suara lirih, dengan merendahkan diri dan rasa takut.

          1. Umar pernah takbiran, bahkan di pasar
            Jangan2 Anda ga pernah takbiran ya? :mrgreen:

            Memahami hadits itu jangan dg ilmu yg sempit

            orang Indonesia belum sanggup ngebor freeport sedalam itu
            tetapi orang Amrik, dg kecerdasannya dan alat2 yg canggih dapat melakukannya

            Nah, Anda dan ustadz2 Anda itu bagaikan suku pedalaman yg tidak sanggup menggali sedalam itu
            Sedangkan ulama2 ASWAJA itu adalah orang2 cerdas yg menguasai ilmu dan alat2 canggih
            Ulama2 ASWAJA dapat menggali Qur`an dan hadits dg mendalam dan benar.

            Ilmu alat kalian belum memadai, hafalan hadits pun tdk ada, lalu Anda mau jadi mujtahid?
            Inilah akibatnya, Anda haramkan berdzikir keras2, Anda haramkan dzikir berjama’ah
            Anda mengharamkan apa yg dibolehkan Allah
            Sungguh2 terlaluh :mrgreen:

          2. Silahkan dituliskan hadits/atsarnya, dan jangan ngarang. Kalau pake freeport sebagai contoh, itu sebenarnya pemerasan, ngeruk gunung itu gampang. PT Antam saja bisa ngebor di tengah laut yang jauh lebih sulit daripada ngeruk gunung.

            Apanya ilmu dan alat2 canggih? Banyak yang masih pakai kitab kuning, dan celakanya banyak yang gak jelas ini kitab bener atau nggak, sedangkan di Saudi perpustakaan lengkap yang digital juga ada. Gimana nggak terkungkung dalam kejumudan kalau kitabnya itu2 aja, gak boleh baca kitab lain. Makanya gak heran ada tempat cuci kaki di masjid yang isinya air sudah kecoklatan gak pernah diganti-ganti, ditulisi “suci karena lebih dari 2 kullah”.

            Kalau kamu bener sudah baca2 hadits, baca dzikir keras2 itu hanya di awal2 saja, dengan maksud untuk mengajarkan. Lalu setelah masa pengajaran, Nabi menegur sahabat yang melakukannya. Dalam Qur’an kita disuruh berzikir dengan suara lirih, dengan rendah hati dan takut. Sepeninggal Nabi, Ibnu Mas’ud menegur orang2 yang berzikir dengan komando. Sebutkan haditsmu kalau kamu hafal.

      1. Saya maklum dengan akhlak murid2 Habib Munzir, walapun akhlak Habib Munzir sangat baik. Banyak yang ngaku2 murid Habib munzir di forum2 lain tapi mulutnya ringan mengumbar makian.

        1. comment mas AI seperti ini
          artikelislami:
          ijtihad ala wahhabi ini bathil
          1. karena tanpa ilmu yg memadai
          2. tanpa sumber hukum yg cukup (tidak hafal qur`an, tidak hafal hadits, mengesampingkan ijma’, mengesampingkan qiyas)

          jawaban ente

          Abdullah:
          Terus apakah taqlid Anda sah karena tidak punya ilmu yang memadai, dan idak hafal qur`an, tidak hafal hadits, mengesampingkan ijma’, mengesampingkan qiyas?

          Kalau gak yakin sama ilmunya “wahabi”, coba saja pas ada acara tausiyah di radio rodja tiap pagi jam 6, waktu sesi tanya jawab, telpon terus suruh ustadznya membacakan ayat qur’an yang Anda tentukan.

          iniloh yang kita anggap gak nyambung dari comment ente……….
          sudah sering ana perhatikan diskusi wahabi yang pada akhirnya hujjahnya selelu lemah dan mudah terbantahkan

          sekali lagi kunjungilah blog aswaja jika ente mau belajar aswaja bandingkanlah dengan radio roja. hati2lah dengan harta, nabi sdh mengingatkan “bukan kemusyrikan yang aku kuatirkan pada ummatku, namun berebutan harta”. ustad2 salafiwahabi mendapat dana yang banyak dari saudi ini sdh banyak buktinya cari aja di mbah gogle he he he apalagi radio roja

          jangan bawa2 nama Habib Munzir, jawab aja pertanyaan2 dari aswaja jangan mencoba mengalihklan pada permasalahan, shg ente dan ane mendapat tambahan ilmu, kecuali ente sengaja berniat tdk mencari ilmu

          syukur

          1. Terus terang aja, itu bukan comment orang yang berpendidikan. Dia menuduh tanpa bukti.
            Tanpa ilmu yang memadai? Ulama2 “Wahabi” juga punya sanad sampai Nabi Muhammad, tetapi bukan itu yang dibanggakan ke mana2. Coba ente mikir, Nabi Muhammad lahir di Mekkah, berdakwah di Mekkah dan Madinah, Ka’bah di Mekah, terus ada yang bilang Ulama2 Mekkah dan Madinah nggak punya ilmu dan sanad, nggak hafal Qur’an, nggak tahu hadits, yang tahu cuma habib di Indonesia sama Yaman. Lha KH Hasyim Asy’ari dan KH Muhammad Dahlan saja belajar ke Mekkah. Kalau benci Wahabi, ndak usah haji di Mekkah, di sana banyak Wahabi nanti ketularan virus wahabi. Ziarah saja ke Tebuireng atau Mbah Priok.

            Saya sudah membanding-bandingkan web2 salafi dan web2 “aswaja”, perbedaannya adalah web2 salafi berusaha mengetengahkan dalil2 yang shohih, bandingkan dengan web2 aswaja yang banyak memakai hadits dhoif dengan alasan boleh untuk fadhilah amal. Akibatnya karena kurang seleksi, ada juga hadits2 palsu yang ikut dipakai. Lebih jauh lagi, dengan berdasarkan hadits dhoif, dengan bangga mengatakan “bisa membantah/membantai hujjah wahabi”. Ada juga web yang ngaku mempertahankan aswaja misalnya abu syafiq, salafitobat, abusalafy, bank wahabi, dll, tetapi masya Allah, isinya penuh dusta dan caci maki. Contohnya ada yang bikin artikel “Tuhannya Wahabi berambut keriting dan berjambul”, “Tuhannya Wahabi duduk di atas 8 kambing jantan”, dll, yang isinya jauh dari ilmiah.

            Kalau mau cari ilmu, mari, karena kita wajib cari ilmu. Saya kemukakan hujjah, Anda kemukakan hujjah, lalu kita diskusikan. Selama ini kan baru komentar sedikit, langsung diteriaki “wahabi, sawah, khawarij, mujassim, kafir”.

          2. @abdullah

            ente belum tuntas membahas coment ini

            artikelislami:
            ijtihad ala wahhabi ini bathil
            1. karena tanpa ilmu yg memadai
            2. tanpa sumber hukum yg cukup (tidak hafal qur`an, tidak hafal hadits, mengesampingkan ijma’, mengesampingkan qiyas)

            kenapa ijtihad ala wahabi bathil???
            jangan muter2 comentnya, ana lagi cari ilmu ama ente
            mas AI mari kita cermati jawaban @abdullah ini, dan aswaja juga. apakah bener ustad Abdullah punya hujjah yang kuat atas komen diatas.

            monggo dijawab

        2. Abdullah@
          Antum aja yg kelewatan, orang tidak memaki Nte katakan memaki. Itu namanya distorsi karakter atau bahkan pembunuhan karakter. Itu lebih jahat jika dibandingkan dg kelakuan para pelaku bom bunuh diri, ngerti sampeyan?

          1. Ok lah kalau “GOB**K” bukan dianggap makian, saya maklum. Saya orang Jatim, jadi tahu bedanya mana Jancok yang artinya misuh sama Jancok yang artinya guyon. 😆 😆 😆 Tetapi tetap saja itu bukan hal yang pantas.

            Soal distorsi karakter, bukannya Nte sering banget melakukan? Ada teroris mati, dibilang Wahabi, padahal Wahabi mengutuk teroris. Ada yang suka esek2 di puncak, dibilang Wahabi. Padahal itu kan syi’ah kawin mut’ah. dll

        3. @dah lihat ente akhlak para wahabbi di abu salafy en salafy tobat?
          atau akhlak para wahabbi yg muncul bbrapa waktu lalu sampai kita orang minta delet saking parahnya,…??
          tapi aneh nya di blog wahabi hal yg seperti ini sengaja di tamplilkan,.???
          yg jawab atau bantahan tak di tampilkan why en ada apa??
          hmmm…nymmm…ya gitu deeh,…

  35. Orang-orang Asy’ariyah/Toriqot/Sufi sudah pada kebakaran jenggot dengan perkembangan wahabi yang sangat pesat di Indonesia. makanya mereka menyerang habis-habisan wahabi. Lihatlah semua situsnya. Semua membicarakan wahabi. Ha3.
    Orang2 jaman sekarang sudah tidak percaya kibulan aneh2 para Sufi, apalagi dengan ilmu laduninya.

  36. Ayat-ayat Al’Quran yg menerangkan keberadaan Allah, di antaranya :
    (Yaitu) Tuhan Yang Maha Pemurah. Yang bersemayam di atas ‘Arsy .
    (QS. Thaha : 5)
    Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran?
    (QS. Yunus : 3)
    Yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, kemudian dia bersemayam di atas ‘Arsy , Yang Maha Pemurah, maka tanyakanlah kepada yang lebih mengetahui tentang Dia.
    (QS. Al-Furqan : 59)
    “Tidakkah kamu merasa aman dari Allah yang berada DI LANGIT bahwa Dia akan menjungkir-balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang. Atau apakah merasa aman terhadap Allah yang DI LANGIT bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu. Maka kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat) mendustakan peringatan-Ku”.
    (QS Al-Mulk : 16-17)

  37. Abdullah:
    Rupanya Anda yang tidak memahami, karena Anda mencoba mentakwil dengan akal Anda untuk hal2 yang seharusnya diimani, bukan dinalar. Saya sudah jelaskan 3x lebih, Anda masih bertanya terus, Anda yang nggak ngerti rupanya.

    Gak usah beropini bro. Yang ane tanyakan tentang makna kopasan pernyataan para umam bro. Nah, biar ane ngerti jelaskan dengan gamblang bahwa maksud perkatan imam itu adalah bla…bla…bla…

    Pembari tahuan aje. Ante disanggah tue sama si Abu Umar yang gak terima kalau Allah tidak bertempat.

  38. @naka
    NgomOng ajach gag becusss… kalimat ente ngmongnya “ante” kalimat pemberitahuan ngomongya “pembaritahuan.. 😆
    abu umar ane dukung ente…

    orang tipe gini.. nih.. gag layak diladenin… dikasih DALIL maunya dodol.. dasar.. emang MULUDAN banyak DODOL.. 😆

    1. Ibnu Abdillah@

      Ibnu Abdillah yang hobby nyantap dodol…., awas nyangkut di leher Nte dodonya, hi hi hi…

      Afwan…. semua yg punya otak akan tahu kalau Bang Naka itu cuma salah ketik anak kecil juga tahu kok Nte ribut soala salah ketik? Nte itu yg dodol kalah pintar ama anak kecil.

    2. Salah ketik biasa bro, yang penting bukan salah akidah. Abu Umar dah keceplosan tuh. Sampai sekarang gak kasih tanggapan. Gimane klo sekarang ente gantikan die nerusin diskusi ama ane?

  39. @abdullah, @abu umar @ibnu abdillah.
    Dalam kitab insan kamil, ibnu arabi mengatakan “Adam diciptakan bukan cerminan dari sang pencipta”. Nah disini kan jelas bahwa bentuk dan sifat adam as tidak sama dengan Allah swt. Jika adam as sama dengan sang pencipta, maka seluruh mahluk Allah swt akan protes, karena Allah menciptakan seluruh mahlukNya dengan berbagai bentuk, seperti Malaikat, Hewan, Iblis maupun tumbuh2an.
    Dalam Al Baqarah:115 :”Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.
    Disini wajah Allah maksudnya; kekuasaan Allah meliputi seluruh alam; sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, Karena ia selalu berhadapan dengan Allah.
    Mengetahui karakter manusia dan keberagaman macamnya, ada yang cenderung scripturalis yang hanya memperhatikan zahir nash.
    Firman Allah swt Al Imran:7 : ““Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal”.
    Disini Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas Maksudnya, dapat dipahami dengan mudah.
    Dan dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya Hanya Allah yang mengetahui seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang mengenai hari kiamat, surga, neraka, bentuk rupa Allah swt dan lain-lain.
    Dengan Firman Allah diatas Rasulullah saw bersabda “Jika engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat2 mutasyabihat, maka orang2 itulah yang disinyalir oleh Allah swt dalam Al Qur’an, maka hati-hatilah terhadap mereka”.
    (Bukhari & Muslim No.1705 dalam Al Lulu wal marjan fima Ittafaqa alih asy syaiban). Dijelaskan Yaitu mereka yang dalam hatinya terdapat kecondongan kepada kesesatan dan ingin menimbulkan fitnah serta mencari-cari takwilnya seperti firman Allah swt diatas.

  40. Ibnu Abdillah:
    @naka
    NgomOng ajach gag becusss… kalimat ente ngmongnya “ante” kalimat pemberitahuan ngomongya “pembaritahuan..
    abu umar ane dukung ente…

    orang tipe gini.. nih.. gag layak diladenin… dikasih DALIL maunya dodol.. dasar.. emang MULUDAN banyak DODOL..

    Salah satu bukti komeng yg kagak ilmiahmye anak SaWah… 😆 😆 😆

  41. artikelislami: ijtihad ala wahhabi ini bathil1. karena tanpa ilmu yg memadai2. tanpa sumber hukum yg cukup (tidak hafal qur`an, tidak hafal hadits, mengesampingkan ijma’, mengesampingkan qiyas)

    coba bandingkan saja banyakan mana yang apal qur’an wahabi atau penyembah kuburan

    1. pastinya lebih banyak wahabi lah yg hapal qur’an, buat bekal jadi teroris hehehehe, kalo kaga ngakuin para teroris di Indonesia bukan wahabi kebangetan loooo….dari Indo-al qaeda berfaham wahabi kan ???? kok ngaji bener, lebih hapal, sholatnya bagus, shafnya rapat-2, malah radikal jadi teroris….eh tanya kenapa???

      1. pastinya lebih banyak “aswaja” lah yg hapal qur’an, buat bekal jadi dukun hehehehe, kalo kaga ngakuin para dukun di Indonesia bukan “aswaja ala NU” kebangetan loooo….dari dukun2 berfaham asy’ariyah kan ???? kok ngaji bener, lebih hapal, sholatnya bagus, shafnya rapat-2, malah cari duit jadi dukun….eh tanya kenapa???

        Minta bukti? Ini contohnya:
        http://ustadzhaji.blogspot.com/
        http://www.abahsuyuthi.com/
        http://wongalus.wordpress.com/category/amalan-syeh-saidi-raden-kh-md-noor/

        Banser, tentara Aswaja, pake ilmu kebal dari jin bok. Belum kebal? Minta dong sama Gus Nuril.
        http://www.muhsinlabib.com/ada-ada-aja/8000-banser-diisi-ilmu-kebal

        1. Ass wr wb,
          @Nasrulloh…@Abdullah

          Jangan suka memfitnah…tidak ada seorang muslimpun yang menghapal Al-Qur’an dengan tujuan negatif.

          Istighfar saudara-saudaraku…maaf kalau ada salah kata.

          1. kan wahabi faham yg paling bener n merasa paling bener menurut mereka, jadi saya anggap mrk yg paling banyak tp dg hasil yg paling banyak negatifnya

        2. @b’dul

          b’dul say :pastinya lebih banyak “aswaja” lah yg hapal qur’an, buat bekal jadi dukun hehehehe,..
          astaqhfirulloh,..ternyata b’dul dah jadi dukun beneran tahu hati orang2 yg hafal alqur’an…dgn brkata,(pastinya..)

          b’dul say: kalo kaga ngakuin para dukun di Indonesia bukan “aswaja ala NU” kebangetan loooo…
          astaghfirulloh,…sekata2 aja b’dul ini klo ngomong,…

          nggak salah jika para penganut tauhid trinitas wahabbi,mujassimah seperti ini :

          lihat :

          http://salafiah.net/content/bukti-antek-antek-teroris-wahabi-alqaida-nii-mmi-jat-etc-kafirkan-polisi-indonesia

          http://www.akhirzaman.info/islam/saudi-dan-wahhabi/1739-wahabi-penghancur-peradaban-islam.html

          http://allangkati.blogspot.com/2010/07/keganasan-wahabi-di-pakistan.html

          http://masjidsitiaisyah.wordpress.com/2011/08/07/sejarah-keganasan-wahabi/

          http://abna.ir/data.asp?lang=12&Id=221601

          http://www.youtube.com/watch?v=4mIszpuEDIw
          (Peperangan Ahlussunnah dengan Wahabi di Iraq )

      2. Maklum aja wahabikan pemahamannya gak murni Islam, tapi udah kecampur yahudi makanya radikal semua yg gak sepaham dan segolongan halal darahnya untuk dibantai.

        1. mereka ga belajar sejarahnya sih, faham yg menghalalkan darah, kerjasama dg hempher si yahudi, jd kendaraan ibnu saud buat kepentingan poltiknya spy jadi penguasa, ampe skrg ulama2 wahabi di kerajaan saudi ngediemin aja raja n pangeran saudi mesra dg AS, berarti bersekutu dg yahudi…..

          1. Kok ya ada yang percaya sama memoir hempher, yang ngeluarin orang kafir gitu lho. Ya gak heran sih, sejarahnya NU emang gitu, suka menelikung. Dulu jaman orla, gandengan sama PKI untuk mengganyang Masyumi. Di jaman Orba, mengkhianati umat Islam dan menggandeng Golkar menerima asas tunggal pancasila. Banyak Kyai yang dapat Pajero karena menerima asas tunggal. Jaman reformasi, berusaha menghidupkan komunisme dan membela aliran sesat seperti ahmadiyah serta mendukung UU pornoaksi.

          2. sejarahnya dah ada, la wong di kitab abdurahman bin wahab kan ada tertulis dia dg bangga nya membunuh org yg tak sefaham sama dia,ane baca kok di ummati sini jg, makanya baca lg yg teliti, jgn asal bekoar2 aja, kalo hempher bohong, knapa sampe skarang ulama2 yg melindungi kerajaan saudi mendiamkan saja raja n para pngeran mesra dg AS/yahudi? bisa jawab ga? or itu bohong juga?

          3. Ya so pasti percaya dong sama infonya mr. hempher,
            kan mr. hempher itu teman karib n teman seperjuangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab? Jadi Hempher lebih kenal Syaikhul Wahabi tsb dibanding siapa pun. Pakai nalar antum dong biar gak ngawur. Sebab tidak semua orang kafir itu infonya bohong, baca lagi ayat Qur’an tentang masalah ini. Ada ayatnta kok Pak Dul?

    2. @all wahhabi: kalian menolak memoir hempher krna dia non-Muslim, dan percaya kpd ustadz2 kalian yg fasiq ketika mereka menuduh kami sbg penyembah qubur?

    1. Abdullah harus belajar sejarah dulu nih, sudah jelas-2 di “The Washington Post”, 17 September 1969, Raja Faisal Al-Saud menyatakan bahwa: “Kami, Keluarga Saudi adalah keluarga Yahudi. Kami sepenuhnya tidak setuju dengan setiap penguasa Arab atau Islam yang memperlihatkan permusuhannya kepada Yahudi, sebaliknya kita harus tinggal bersama mereka dengan damai. Negeri kami, Saudi Arabia merupakan sumber awal Yahudi dan nenek-moyangnya, dari sana menyebar ke seluruh dunia”. Jadi duet maut dg Abdul Wahab…yaaaah duet Yahudi….

        1. @b’dul

          b’dul say :pastinya lebih banyak “aswaja” lah yg hapal qur’an, buat bekal jadi dukun hehehehe,..
          astaqhfirulloh,..ternyata b’dul dah jadi dukun beneran tahu hati orang2 yg hafal alqur’an…dgn brkata,(pastinya..)

          b’dul say: kalo kaga ngakuin para dukun di Indonesia bukan “aswaja ala NU” kebangetan loooo…
          astaghfirulloh,…sekata2 aja b’dul ini klo ngomong,…

          nggak salah jika : DR. Hendro Priyono (Mantan Ketua BIN ) : Wahhaby (agen yahudi) Dalang semua semua Aksi Teroris!
          nggak salah jika para tauhid trinitas,mujassimah seperti ini :

          lihat :

          http://salafiah.net/content/bukti-antek-antek-teroris-wahabi-alqaida-nii-mmi-jat-etc-kafirkan-polisi-indonesia

          http://www.akhirzaman.info/islam/saudi-dan-wahhabi/1739-wahabi-penghancur-peradaban-islam.html

          http://allangkati.blogspot.com/2010/07/keganasan-wahabi-di-pakistan.html

          http://masjidsitiaisyah.wordpress.com/2011/08/07/sejarah-keganasan-wahabi/

          http://abna.ir/data.asp?lang=12&Id=221601

          http://www.youtube.com/watch?v=4mIszpuEDIw
          (Peperangan Ahlussunnah dengan Wahabi di Iraq )

  42. Pada dasarnya, pihak yang membolehkan acara tahlilan, mereka tiada memiliki argumentasi (dalih) melainkan satu dalih saja yaitu istihsan (menganggap baiknya suatu amalan) dengan dalil-dalil yang umum sifatnya. Mereka berdalil dengan keumuman ayat atau hadits yang menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir ataupun berdoa dan menganjurkan pula untuk memuliakan tamu dengan menyajikan hidangan dengan niatan shadaqah.

    1. Bacaan Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a yang ditujukan/ dihadiahkan kepada si mayit.

    Memang benar Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganjurkan untuk membaca Al Qur’an, berdzikir dan berdoa. Namun apakah pelaksanaan membaca Al Qur’an, dzikir-dzikir, dan do’a-do’a diatur sesuai kehendak pribadi dengan menentukan cara, waktu dan jumlah tertentu (yang diistilahkan dengan acara tahlilan) tanpa merujuk praktek dari Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam dan para sahabatnya bisa dibenarkan.

    Kesempurnaan agama Islam merupakan kesepakatan umat Islam semuanya, karena memang telah dinyatakan oleh Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya. Allah subhanahu wata’ala berfirman (artinya):

    “Pada hari ini telah Aku sempurnakan agama Islam bagi kalian, dan telah Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kalian serta Aku ridha Islam menjadi agama kalian.” (Al Maidah: 3)

    Juga Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    مَا بَقِيَ شَيْءٌ يُقَرِّبُ مِنَ الْجَنَّةِ وَيُبَاعِدُ مِنَ النَّارِ إِلاَّ قَدْ بُيِّنَ لَكُمْ

    “Tidak ada suatu perkara yang dapat mendekatkan kepada Al Jannah (surga) dan menjauhkan dari An Naar (neraka) kecuali telah dijelaskan kepada kalian semuanya.” (H.R Ath Thabrani)

    Ayat dan hadits di atas menjelaskan suatu landasan yang agung yaitu bahwa Islam telah sempurna, tidak butuh ditambah dan dikurangi lagi. Tidak ada suatu ibadah, baik perkataan maupun perbuatan melainkan semuanya telah dijelaskan oleh Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam.

    Suatu ketika Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam mendengar berita tentang pernyataan tiga orang, yang pertama menyatakan: “Saya akan shalat tahajjud dan tidak akan tidur malam”, yang kedua menyatakan: “Saya akan bershaum (puasa) dan tidak akan berbuka”, yang terakhir menyatakan: “Saya tidak akan menikah”, maka Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam menegur mereka, seraya berkata: “Apa urusan mereka dengan menyatakan seperti itu? Padahal saya bershaum dan saya pun berbuka, saya shalat dan saya pula tidur, dan saya menikahi wanita. Barang siapa yang membenci sunnahku maka bukanlah golonganku.” (Muttafaqun alaihi)

    Para pembaca, ibadah menurut kaidah Islam tidak akan diterima oleh Allah subhanahu wata’ala kecuali bila memenuhi dua syarat yaitu ikhlas kepada Allah dan mengikuti petunjuk Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam. Allah subhanahu wata’ala menyatakan dalam Al Qur’an (artinya):

    “Dialah Allah yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji siapa diantara kalian yang paling baik amalnya.” (Al Mulk: 2)

    Para ulama ahli tafsir menjelaskan makna “yang paling baik amalnya” ialah yang paling ikhlash dan yang paling mencocoki sunnah Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam.

    Tidak ada seorang pun yang menyatakan shalat itu jelek atau shaum (puasa) itu jelek, bahkan keduanya merupakan ibadah mulia bila dikerjakan sesuai tuntunan sunnah Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam.

    Atas dasar ini, beramal dengan dalih niat baik (istihsan) semata -seperti peristiwa tiga orang didalam hadits tersebut- tanpa mencocoki sunnah Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam, maka amalan tersebut tertolak. Simaklah firman Allah subhanahu wata’ala (artinya): “Maukah Kami beritahukan kepada kalian tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat sebaik-baiknya”. (Al Kahfi: 103-104)

    Lebih ditegaskan lagi dalam hadits ‘Aisyah radhiAllahu ‘anha, Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam bersabda:

    مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

    “Barang siapa yang beramal bukan diatas petunjuk kami, maka amalan tersebut tertolak.” (Muttafaqun alaihi, dari lafazh Muslim)

    Atas dasar ini pula lahirlah sebuah kaidah ushul fiqh yang berbunyi:

    فَالأَصْلُ فَي الْعِبَادَاتِ البُطْلاَنُ حَتَّى يَقُوْمَ دَلِيْلٌ عَلَى الأَمْرِ

    “Hukum asal dari suatu ibadah adalah batal, hingga terdapat dalil (argumen) yang memerintahkannya.”

    Maka beribadah dengan dalil istihsan semata tidaklah dibenarkan dalam agama. Karena tidaklah suatu perkara itu teranggap baik melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya baik dan tidaklah suatu perkara itu teranggap jelek melainkan bila Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya menganggapnya jelek. Lebih menukik lagi pernyataan dari Al Imam Asy Syafi’I:

    مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَعَ

    “Barang siapa yang menganggap baik suatu amalan (padahal tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah –pent) berarti dirinya telah menciptakan hukum syara’ (syari’at) sendiri”.

    Kalau kita mau mengkaji lebih dalam madzhab Al Imam Asy Syafi’i tentang hukum bacaan Al Qur’an yang dihadiahkan kepada si mayit, beliau diantara ulama yang menyatakan bahwa pahala bacaan Al Qur’an tidak akan sampai kepada si mayit. Beliau berdalil dengan firman Allah subhanahu wata’ala (artinya):

    “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh (pahala) selain apa yang telah diusahakannya”. (An Najm: 39), (Lihat tafsir Ibnu Katsir 4/329).

    2. Penyajian hidangan makanan.

    Memang secara sepintas pula, penyajian hidangan untuk para tamu merupakan perkara yang terpuji bahkan dianjurkan sekali didalam agama Islam. Namun manakala penyajian hidangan tersebut dilakukan oleh keluarga si mayit baik untuk sajian tamu undangan tahlilan ataupun yang lainnya, maka memiliki hukum tersendiri. Bukan hanya saja tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam bahkan perbuatan ini telah melanggar sunnah para sahabatnya radhiAllahu ‘anhum. Jarir bin Abdillah radhiAllahu ‘anhu–salah seorang sahabat Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam– berkata: “Kami menganggap/ memandang kegiatan berkumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh keluarga mayit merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit).” (H.R Ahmad, Ibnu Majah dan lainnya)

    Sehingga acara berkumpul di rumah keluarga mayit dan penjamuan hidangan dari keluarga mayit termasuk perbuatan yang dilarang oleh agama menurut pendapat para sahabat Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam dan para ulama salaf. Lihatlah bagaimana fatwa salah seorang ulama salaf yaitu Al Imam Asy Syafi’i dalam masalah ini. Kami sengaja menukilkan madzhab Al Imam Asy Syafi’i, karena mayoritas kaum muslimin di Indonesia mengaku bermadzhab Syafi’i. Al Imam Asy Syafi’i rahimahullah berkata dalam salah satu kitabnya yang terkenal yaitu ‘Al Um’ (1/248): “Aku membenci acara berkumpulnya orang (di rumah keluarga mayit –pent) meskipun tidak disertai dengan tangisan. Karena hal itu akan menambah kesedihan dan memberatkan urusan mereka.” (Lihat Ahkamul Jana-iz karya Asy Syaikh Al Albani hal. 211)

    Al Imam An Nawawi seorang imam besar dari madzhab Asy Syafi’i setelah menyebutkan perkataan Asy Syafi’i diatas didalam kitabnya Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab 5/279 berkata: “Ini adalah lafadz baliau dalam kitab Al Um, dan inilah yang diikuti oleh murid-murid beliau. Adapun pengarang kitab Al Muhadzdzab (Asy Syirazi) dan lainnya berargumentasi dengan argumen lain yaitu bahwa perbuatan tersebut merupakan perkara yang diada-adakan dalam agama (bid’ah –pent).

    Lalu apakah pantas acara tahlilan tersebut dinisbahkan kepada madzhab Al Imam Asy Syafi’i?

    Malah yang semestinya, disunnahkan bagi tetangga keluarga mayit yang menghidangkan makanan untuk keluarga mayit, supaya meringankan beban yang mereka alami. Sebagaimana bimbingan Rasulullah shalAllahu ‘alaihi wasallam dalam hadistnya:

    اصْنَعُوا لآلِ جَعْفَرَ طَعَامًا فَقَدْ أَتَاهُمْ أَمْرٌ يُشْغِلُهُمْ

    “Hidangkanlah makanan buat keluarga Ja’far, Karena telah datang perkara (kematian-pent) yang menyibukkan mereka.” (H.R Abu Dawud, At Tirmidzi dan lainnya)

    Mudah-mudahan pembahasan ini bisa memberikan penerangan bagi semua yang menginginkan kebenaran di tengah gelapnya permasalahan. Wallahu ‘a’lam.

    1. Sampainya Hadiah Bacaan Al-qur’an untuk mayyit (Orang Mati)

      A. Dalil-dalil Hadiah Pahala Bacaan

      1. Hadits tentang wasiat ibnu umar tersebut dalam syarah aqidah Thahawiyah Hal :458 :

      “ Dari ibnu umar Ra. : “Bahwasanya Beliau berwasiat agar diatas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awa-awal surat albaqarah dan akhirnya. Dan dari sebagian muhajirin dinukil juga adanya pembacaan surat albaqarah”

      Hadits ini menjadi pegangan Imam Ahmad, padaha imam Ahmad ini sebelumnya termasuk orang yang mengingkari sampainya pahala dari orang hidup kepada orang yang sudah mati, namun setelah mendengar dari orang-orang kepercayaan tentang wasiat ibnu umar tersebut, beliau mencabut pengingkarannya itu. (mukhtasar tadzkirah qurtubi halaman 25).

      Oleh karena itulah, maka ada riwayat dari imam Ahmad bin Hnbal bahwa beliau berkata : “ Sampai kepada mayyit (pahala) tiap-tiap kebajikan karena ada nash-nash yang dating padanya dan juga karena kaum muslimin (zaman tabi’in dan tabiuttabi’in) pada berkumpul disetiap negeri, mereka membaca al-qur’an dan menghadiahkan (pahalanya) kepada mereka yang sudah meninggal, maka jadialah ia ijma . (Yasaluunaka fid din wal hayat oleh syaikh DR Ahmad syarbasy Jilid III/423).

      2. Hadits dalam sunan Baihaqi danan isnad Hasan

      “ Bahwasanya Ibnu umar menyukai agar dibaca keatas pekuburan sesudah pemakaman awal surat albaqarah dan akhirnya”

      Hadits ini agak semakna dengan hadits pertama, hanya yang pertama itu adalah wasiat seadangkan ini adalah pernyataan bahwa beliau menyukai hal tersebut.

      3. Hadits Riwayat darulqutni

      “Barangsiapa masuk kepekuburan lalu membaca qulhuwallahu ahad (surat al ikhlash) 11 kali, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah mati (dipekuburan itu), maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu”.

      4. Hadits marfu’ Riwayat Hafidz as-salafi

      “ Barangsiapa melewati pekuburan lalu membaca qulhuwallahu ahad (surat al ikhlash) 11 kali, kemudian menghadiahkan pahalanya kepada orang-orang yang telah mati (dipekuburan itu), maka ia akan diberi pahala sebanyak orang yang mati disitu”.

      (Mukhtasar Al-qurtubi hal. 26).

      5. Hadits Riwayat Thabrani dan Baihaqi

      “Dari Ibnu Umar ra. Bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Jika mati salah seorang dari kamu, maka janganlah menahannya dan segeralah membawanya ke kubur dan bacakanlah Fatihatul kitab disamping kepalanya”.

      6. Hadits riwayat Abu dawud, Nasa’I, Ahmad dan ibnu Hibban:

      “Dari ma’qil bin yasar dari Nabi SAW., Beliau bersabda: “Bacakanlah surat yaasin untuk orang yang telah mati diantara kamu”.

      B. Fatwa Ulama Tentang Sampainya Hadiah Pahala Bacaan kepada Mayyit

      1. Berkata Muhammad bin ahmad al-marwazi :

      “Saya mendengar Imam Ahmad bin Hanbal berkata : “Jika kamu masuk ke pekuburan, maka bacalah Fatihatul kitab, al-ikhlas, al falaq dan an-nas dan jadikanlah pahalanya untuk para penghuni kubur, maka sesungguhnya pahala itu sampai kepada mereka. Tapi yang lebih baik adalah agar sipembaca itu berdoa sesudah selesai dengan: “Ya Allah, sampaikanlah pahala ayat yang telah aku baca ini kepada si fulan…” (Hujjatu Ahlis sunnah waljamaah hal. 15)

      2. Berkata Syaikh aIi bin Muhammad Bin abil lz :

      “Adapun Membaca Al-qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada orang yang mati secara sukarela dan tanpa upah, maka pahalanya akan sampai kepadanya sebagaimana sampainya pahala puasa dan haji”. (Syarah aqidah Thahawiyah hal. 457).

      3. Berkata Ibnu taymiyah :

      “sesungguhnya mayyit itu dapat beroleh manfaat dengan ibadah-ibadah kebendaan seperti sedekah dan seumpamanya”. (yas alunka fiddin wal hayat jilid I/442).

      Di atas adalah kitab ibnu taimiah berjudul majmuk fatawa jilid 24 pada mukasurat 324. Ibnu taimiah ditanya mengenai seseorang yang bertahlil, bertasbih,bertahmid,bertakbir dan menyampaikan pahala tersebut kepada simayat muslim lantas ibnu taimiah menjawab amalan tersebut sampai kepada si mayat dan juga tasbih,takbir dan lain-lain zikir sekiranya disampaikan pahalanya kepada si mayat maka ianya sampai dan bagus serta baik.

      Manakala Wahhabi menolak dan menkafirkan amalan ini.

      Di atas pula adalah kitab ibnu tamiah berjudul majmuk fatawa juzuk 24 pada mukasurat 324.ibnu taimiah di tanya mengenai seorang yang bertahlil 70000 kali dan menghadiahkan kepada si mayat muslim lantas ibnu taimiah mengatakan amalan itu adalah amat memberi manafaat dan amat baik serta mulia.

      4. Berkata Ibnu qayyim al-jauziyah:

      “sesuatu yang paling utama dihadiahkan kepada mayyit adalah sedekah, istighfar, berdoa untuknya dan berhaji atas nama dia. Adapun membaca al-qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada mayyit secara sukarela dan tanpa imbalan, maka akan sampai kepadanya sebagaimana pahala puasa dan haji juga sampai kepadanya (yasaaluunaka fiddin wal hayat jilid I/442)

      Berkata Ibnu qayyim al-jauziyah dalam kitabnya Ar-ruh : “Al Khallal dalam kitabnya Al-Jami’ sewaktu membahas bacaan al-qur’an disamping kubur” berkata : Menceritakan kepada kami Abbas bin Muhammad ad-dauri, menceritakan kepada kami yahya bin mu’in, menceritakan kepada kami Mubassyar al-halabi, menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Ala’ bin al-lajlaj dari bapaku : “ Jika aku telah mati, maka letakanlah aku di liang lahad dan ucapkanlah bismillah dan baca permulaan surat al-baqarah disamping kepalaku karena seungguhnya aku mendengar Abdullah bin Umar berkata demikian.

      Ibnu qayyim dalam kitab ini pada halaman yang sama : “Mengabarkan kepadaku Hasan bin Ahmad bin al-warraq, menceritakan kepadaku Ali-Musa Al-Haddad dan dia adalah seorang yang sangat jujur, dia berkata : “Pernah aku bersama Ahmad bin Hanbal, dan Muhammad bin Qudamah al-juhairi menghadiri jenazah, maka tatkala mayyit dimakamkan, seorang lelaki kurus duduk disamping kubur (sambil membaca al-qur’an). Melihat ini berkatalah imam Ahmad kepadanya: “Hai sesungguhnya membaca al-qur’an disamping kubur adalah bid’ah!”. Maka tatkala kami keluar dari kubur berkatalah imam Muhammad bin qudamah kepada imam ahmad bin Hanbal : “Wahai abu abdillah, bagaimana pendapatmu tentang Mubassyar al-halabi?. Imam Ahmad menjawab : “Beliau adalah orang yang tsiqah (terpercaya), apakah engkau meriwayatkan sesuatu darinya?. Muhammad bin qodamah berkata : Ya, mengabarkan kepadaku Mubasyar dari Abdurahman bin a’la bin al-laj-laj dari bapaknya bahwa dia berwasiat apabila telah dikuburkan agar dibacakan disamping kepalanya permulaan surat al-baqarah dan akhirnya dan dia berkata : “aku telah mendengar Ibnu Umar berwasiat yang demikian itu”. Mendengar riwayat tersebut Imam ahmad berkata : “Kembalilah dan katakan kepada lelaki itu agar bacaannya diteruskan (Kitab ar-ruh, ibnul qayyim al jauziyah).

      5. Berkata Sayaikh Hasanain Muhammad makhluf, Mantan Mufti negeri mesir : “ Tokoh-tokoh madzab hanafi berpendapat bahwa tiap-tiap orang yang melakukan ibadah baik sedekah atau membaca al-qur’an atau selain demikian daripada macam-macam kebaikan, boleh baginya menghadiahkan pahalanya kepada orang lain dan pahalanya itu akan sampai kepadanya.

      6. Imam sya’bi ; “Orang-orang anshar jika ada diantara mereka yang meninggal, maka mereka berbondong-bondong ke kuburnya sambil membaca al-qur’an disampingnaya”. (ucapan imam sya’bi ini juga dikutip oleh ibnu qayyim al jauziyah dalam kitab ar-ruh hal. 13).

      7. Berkata Syaikh ali ma’sum : “Dalam madzab maliki tidak ada khilaf dalam hal sampainya pahala sedekah kepada mayyit. Menurut dasar madzab, hukumnya makruh. Namun ulama-ulama mutakhirin berpendapat boleh dan dialah yang diamalkan. Dengan demikian, maka pahala bacaan tersebut sampai kepada mayyit dan ibnu farhun menukil bahwa pendapat inilah yang kuat”. (hujjatu ahlisunnah wal jamaah halaman 13).

      8. Berkata Allamah Muhammad al-arobi: Sesungguhnya membaca al-qur’an untuk orang-orang yang sudah meninggak hukumnya boleh (Malaysia : Harus) dan sampainya pahalanya kepada mereka menurut jumhur fuqaha islam Ahlusunnah wal-jamaah walaupun dengan adanya imbalan berdasarkan pendapat yang tahqiq . (kitab majmu’ tsalatsi rosail).

      9. Berkata imam qurtubi : “telah ijma’ ulama atas sampainya pahala sedekah untuk orang yang sudah mati, maka seperti itu pula pendapat ulama dalam hal bacaan al-qur’an, doa dan istighfar karena masing-masingnya termasuk sedekah dan dikuatkan hal ini oleh hadits : “Kullu ma’rufin shadaqah / (setiapkebaikan adalah sedekah)”. (Tadzkirah al-qurtubi halaman 26).

      Begitu banyaknya Imam-imam dan ulama ahlusunnah yang menyatakan sampainya pahala bacaan alqur’an yang dihadiahkan untuk mayyit (muslim), maka tidak lah kami bisa menuliskan semuanya dalam risalah ini karena khawatir akan terlalu panjang.

    2. Dalam Madzab Imam syafei

      Untuk menjelaskan hal ini marilah kita lihat penuturan imam Nawawi dalam Al-adzkar halaman 140 : “Dalam hal sampainya bacaan al-qur’an para ulama berbeda pendapat. Pendapat yang masyhur dari madzab Syafei dan sekelompok ulama adalah tidak sampai. Namun menurut Imam ahmad bin Hanbal dan juga Ashab Syafei berpendapat bahwa pahalanya sampai. Maka lebih baik adalah si pembaca menghaturkan doa : “Ya Allah sampaikanlah bacaan yat ini untuk si fulan…….”

      Tersebut dalam al-majmu jilid 15/522 : “Berkata Ibnu Nahwi dalam syarah Minhaj: “Dalam Madzab syafei menurut qaul yang masyhur, pahala bacaan tidak sampai. Tapi menurut qaul yang Mukhtar, adalah sampai apabila dimohonkan kepada Allah agar disampaikan pahala bacaan terbut. Dan seyogyanya memantapkan pendapat ini karena dia adalah doa. Maka jika boleh berdoa untuk mayyit dengan sesuatu yang tidak dimiliki oleh si pendoa, maka kebolehan berdoa denagn sesuatu yang dimiliki oleh si pendoa adalah lebih utama”.

      Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa dalam madzab syafei terdapat dua qaul dalam hal pahala bacaan :

      1. Qaul yang masyhur yakni pahala bacaan tidak sampai

      2. Qaul yang mukhtar yakni pahala bacaan sampai.

      Dalam menanggapai qaul masyhur tersebut pengarang kitab Fathul wahhab yakni Syaikh Zakaria Al-anshari mengatakan dalam kitabnya Jilid II/19 :

      “Apa yang dikatakan sebagai qaul yang masyhur dalam madzab syafii itu dibawa atas pengertian : “Jika alqur’an itu tidak dibaca dihadapan mayyit dan tidak pula meniatkan pahala bacaan untuknya”.

      Dan mengenai syarat-syarat sampainya pahala bacaan itu Syaikh Sulaiman al-jamal mengatakan dalam kitabnya Hasiyatul Jamal Jilid IV/67 :

      “Berkata syaikh Muhammad Ramli : Sampai pahala bacaan jika terdapat salah satu dari tiga perkara yaitu : 1. Pembacaan dilakukan disamping kuburnya, 2. Berdoa untuk mayyit sesudah bacaan Al-qur’an yakni memohonkan agar pahalanya disampaikan kepadanya, 3. Meniatkan samapainya pahala bacaan itu kepadanya”.

      Hal senada juga diungkapkan oleh Syaikh ahmad bin qasim al-ubadi dalam hasyiah Tuhfatul Muhtaj Jilid VII/74 :

      “Kesimpulan Bahwa jika seseorang meniatkan pahala bacaan kepada mayyit atau dia mendoakan sampainya pahala bacaan itu kepada mayyit sesudah membaca Al-qur’an atau dia membaca disamping kuburnya, maka hasilah bagi mayyit itu seumpama pahala bacaannya dan hasil pula pahala bagi orang yang membacanya”.

      Namun Demikian akan menjadi lebih baik dan lebih terjamin jika ;

      1. Pembacaan yang dilakukan dihadapan mayyit diiringi pula dengan meniatkan pahala bacaan itu kepadanya.

      2. Pembacaan yang dilakukan bukan dihadapan mayyit agar disamping meniatkan untuk simayyit juga disertai dengan doa penyampaian pahala sesudah selesai membaca.

      Langkah seperti ini dijadikan syarat oleh sebagian ulama seperti dalam kitab tuhfah dan syarah Minhaj (lihat kitab I’anatut Tahlibin Jilid III/24).

      D. Dalil-dalil orang yang membantah adanya hadiah pahala dan jawabannya

      1. Hadis riwayat muslim :

      “Jika manusia, maka putuslah amalnya kecuali tiga : sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat atau anak shaleh yang selalu mendoakan orang tuanya”

      Jawab : Tersebut dalam syarah Thahawiyah hal. 456 bahwa sangat keliru berdalil dengan hadist tersebut untuk menolak sampainya pahala kepada orang yang sudah mati karena dalam hadits tersebut tidak dikatakan : “inqata’a intifa’uhu (terputus keadaannya untuk memperoleh manfaat). Hadits itu hanya mengatakan “inqatha’a ‘amaluhu (terputus amalnya)”. Adapun amal orang lain, maka itu adalah milik (haq) dari amil yakni orang yang mengamalkan itu kepadanya maka akan sampailah pahala orang yang mengamalkan itu kepadanya. Jadi sampai itu pahala amal si mayyit itu. Hal ini sama dengan orang yang berhutang lalu dibayarkan oleh orang lain, maka bebaslah dia dari tanggungan hutang. Akan tetapi bukanlah yang dipakai membayar utang itu miliknya. Jadi terbayarlah hutang itu bukan oleh dia telah memperoleh manfaat (intifa’) dari orang lain.

      2. Firman Allah surat an-najm ayat 39 :

      “ Atau belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”.

      Jawab : Banyak sekali jawaban para ulama terhadap digunakannya ayat tersebut sebagai dalil untuk menolak adanya hadiah pahala. Diantara jawaban-jawaban itu adalah :

      a. Dalam syarah thahawiyah hal. 1455 diterangkan dua jawaban untuk ayat tersebut :

      1. Manusia dengan usaha dan pergaulannya yang santun memperoleh banyak kawan dan sahabat, melahirkan banyak anak, menikahi beberapa isteri melakukan hal-hal yang baik untuk masyarakat dan menyebabkan orang-orang cinta dan suka padanya. Maka banyaklah orang-orang itu yang menyayanginya. Merekapun berdoa untuknya dan mengahadiahkan pula pahala dari ketaatan-ketaatan yang sudah dilakukannya, maka itu adalah bekas dari usahanya sendiri. Bahkan masuknya seorang muslim bersama golongan kaum muslimin yang lain didalam ikatan islam adalah merupakan sebab paling besar dalam hal sampainya kemanfaatan dari masing-masing kaum muslimin kepada yang lainnya baik didalam kehidupan ini maupun sesudah mati nanti dan doa kaum muslimin yang lain. Dalam satu penjelasan disebutkan bahwa Allah SWT menjadikan iman sebagai sebab untuk memperoleh kemanfaatan dengan doa serta usaha dari kaum mukminin yang lain. Maka jika seseorang sudah berada dalam iman, maka dia sudah berusaha mencari sebab yang akan menyampaikannya kepada yang demikian itu. (Dengan demikian pahala ketaatan yang dihadiahkan kepadanya dan kaum mukminin sebenarnya bagian dari usahanya sendiri).

      2. Ayat al-qur’an itu tidak menafikan adanya kemanfaatan untuk seseorang dengan sebab usaha orang lain. Ayat al-qur’an itu hanya menafikan “kepemilikan seseorang terhadap usaha orang lain”. Allah SWT hanya mengabarkan bahwa “laa yamliku illa sa’yah (orang itu tidak akan memiliki kecuali apa yang diusahakan sendiri). Adapun usaha orang lain, maka itu adalah milik bagi siapa yang mengusahakannya. Jika dia mau, maka dia boleh memberikannya kepada orang lain dan pula jika ia mau, dia boleh menetapkannya untuk dirinya sendiri. (jadi huruf “lam” pada lafadz “lil insane” itu adalah “lil istihqaq” yakni menunjukan arti “milik”).

      Demikianlah dua jawaban yang dipilih pengarang kitab syarah thahawiyah.

      b. Berkata pengarang tafsir Khazin :

      “Yang demikian itu adalah untuk kaum Ibrahin dan musa. Adapun ummat islam (umat Nabi Muhammad SAW), maka mereka bias mendapat pahala dari usahanya dan juga dari usaha orang lain”.

      Jadi ayat itu menerangkan hokum yang terjadi pada syariat Nabi Musa dan Nabi Ibrahim, bukan hukum dalam syariat nabi Muhammad SAW. Hal ini dikarenakan pangkal ayat tersebut berbunyi :

      “ Atau belum dikabarkan kepadanya apa yang ada dalam kitab nabi musa dan nabi Ibrahim yang telah memenuhi kewajibannya bahwa seseorang tidak akan memikul dosa orang lain dan bahwasanya tiada yang didapat oleh manusia selain dari yang diusahakannya”.

      c. Sahabat Nabi, Ahli tafsir yang utama Ibnu Abbas Ra. Berkata dalam menafsirkan ayat tersebut :

      “ ayat tersebut telah dinasakh (dibatalkan) hukumnya dalam syariat kita dengan firman Allah SWT : “Kami hubungkan dengan mereka anak-anak mereka”, maka dimasukanlah anak ke dalam sorga berkat kebaikan yang dibuat oleh bapaknya’ (tafsir khazin juz IV/223).

      Firman Allah yang dikatakan oleh Ibnu Abbas Ra sebagai penasakh surat an-najm ayat 39 itu adalah surat at-thur ayat 21 yang lengkapnya sebagai berikut :

      “Dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya”.

      Jadi menurut Ibnu abbas, surat an-najm ayat 39 itu sudah terhapus hukumnya, berarti sudah tidak bias dimajukan sebagai dalil.

      d. Tersebut dalam Nailul Authar juz IV ayat 102 bahwa kata-kata : “Tidak ada seseorang itu…..” Maksudnya “tidak ada dari segi keadilan (min thariqil adli), adapun dari segi karunia (min thariqil fadhli), maka ada bagi seseorang itu apa yang tidak dia usahakan.

      Demikianlah penafsiran dari surat An-jam ayat 39. Banyaknya penafsiran ini adalah demi untuk tidak terjebak kepada pengamalan denganzhahir ayat semata-mata karena kalau itu dilakukan, maka akan banyak sekali dalil-dalil baik dari al-qur’an maupun hadits-hadits shahih yang ditentang oleh ayat tersebut sehingga menjadi gugur dan tidak bias dipakai sebagai dalil.

      3. Dalil mereka dengan Surat al-baqarah ayat 286 :

      “Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kesanggupannya. Baginya apa yang dia usahakan (daripada kebaikan) dan akan menimpanya apa yang dia usahakan (daripada kejahatan)”.

      Jawab : Kata-kata “laha maa kasabat” menurut ilmu balaghah tidak mengandung unsur hasr (pembatasan). Oleh karena itu artinya cukup dengan : “Seseorang mendapatkan apa yang ia usahakan”. Kalaulah artinya demikian ini, maka kandungannya tidaklah menafikan bahwa dia akan mendapatkan dari usaha orang lain. Hal ini sama dengan ucapan : “Seseorang akan memperoleh harta dari usahanya”. Ucapan ini tentu tidak menafikan bahwa seseorang akan memperoleh harta dari pusaka orang tuanya, pemberian orang kepadanya atau hadiah dari sanak familinya dan para sahabatnya. Lain halnya kalau susunan ayat tersebut mengandung hasr (pembatasan) seperti umpamanya :

      “laisa laha illa maa kasabat”

      “Tidak ada baginya kecuali apa yang dia usahakan atau seseorang hanya mendapat apa yang ia usahakan”.

      4. Dalil mereka dengan surat yasin ayat 54 :

      “ Tidaklah mereka diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan”.

      Jawab : Ayat ini tidak menafikan hadiah pahala terhadap orang lain karena pangkal ayat tersebut adalah :

      “Pada hari dimana seseorang tidak akan didhalimi sedikitpun dan seseorang tidak akan diberi balasan kecuali terhadap apa yang mereka kerjakan”

      Jadi dengan memperhatikan konteks ayat tersebut dapatlah dipahami bahwa yang dinafikan itu adalah disiksanya seseorang sebab kejahatan orang lain, bukan diberikannya pahala terhadap seseorang dengan sebab amal kebaikan orang lain (Lihat syarah thahawiyah hal. 456).

      (ringkasan dari Buku argumentasi Ulama syafi’iyah terhadap tuduhan bid’ah,Al ustadz haji Mujiburahman, halaman 142-159, mutiara ilmu)

      Semoga menjadi asbab hidayah bagi Ummat Islam yang tersesat pemahaman agamanya….

  43. Coba simak ini:

    Teks Arab Kitab Ar-ruh Ibnu qayyim pada halaman 5 (kitab digital) :

    وقد ذكر عن جماعة من السلف أنهم أوصوا أن يقرأ عند قبورهم وقت الدفن قال عبد الحق يروى أن عبد الله بن عمر أمر أن يقرأ عند قبره سورة البقرة وممن رأى ذلك المعلى بن عبد الرحمن وكان الامام أحمد ينكر ذلك أولا حيث لم يبلغه فيه أثر ثم رجع عن ذلك وقال الخلال في الجامع كتاب القراءة عند القبور اخبرنا العباس بن محمد الدورى حدثنا يحيى بن معين حدثنا مبشر الحلبى حدثني عبد الرحمن بن العلاء بن اللجلاج عن أبيه قال قال أبى إذا أنامت فضعنى في اللحد وقل بسم الله وعلى سنة رسول الله وسن على التراب سنا واقرأ عند رأسى بفاتحة البقرة فإنى سمعت عبد الله بن عمر يقول ذلك قال عباس الدورى سألت أحمد بن حنبل قلت تحفظ في القراءة على القبر شيئا فقال لا وسألت يحيى ابن معين فحدثنى بهذا الحديث قال الخلال وأخبرني الحسن بن أحمد الوراق حدثنى على بن موسى الحداد وكان صدوقا قال كنت مع أحمد بن حنبل ومحمد بن قدامة الجوهرى في جنازة فلما دفن الميت جلس رجل ضرير يقرأ عند القبر فقال له أحمد يا هذا إن القراءة عند القبر بدعة فلما خرجنا من المقابر قال محمد بن قدامة لأحمد بن حنبل يا أبا عبد الله ما تقول في مبشر الحلبي قال ثقة قال كتبت عنه شيئا قال نعم فأخبرني مبشر عن عبد الرحمن بن العلاء اللجلاج عن أبيه أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عند رأسه بفاتحة البقرة وخاتمتها وقال سمعت ابن عمر يوصي بذلك فقال له أحمد فارجع وقل للرجل يقرأ

    وقال الحسن بن الصباح الزعفراني سألت الشافعي عن القراءة عند القبر فقال لا بأس بها وذكر الخلال عن الشعبي قال كانت الأنصار إذا مات لهم الميت اختلفوا إلى قبره يقرءون عنده القرآن قال وأخبرني أبو يحيى الناقد قال سمعت الحسن بن الجروى يقول مررت على قبر أخت لي فقرأت عندها تبارك لما يذكر فيها فجاءني رجل فقال إنى رأيت أختك في المنام تقول جزى الله أبا على خيرا فقد انتفعت بما قرأ أخبرني الحسن بن الهيثم قال سمعت أبا بكر بن الأطروش ابن بنت أبي نصر بن التمار يقول كان رجل يجيء إلى قبر أمه يوم الجمعة فيقرأ سورة يس فجاء في بعض أيامه فقرأ سورة يس ثم قال اللهم إن كنت قسمت لهذه السورة ثوابا فاجعله في أهل هذه المقابر فلما كان يوم الجمعة التي تليها جاءت امرأة فقالت أنت فلان ابن فلانة قال نعم قالت إن بنتا لي ماتت فرأيتها في النوم جالسة على شفير قبرها فقلت ما أجلسك ها هنا فقالت إن فلان ابن فلانة جاء إلى قبر أمه فقرأ سورة يس وجعل ثوابها لأهل المقابر فأصابنا من روح ذلك أو غفر لنا أو نحو ذلك

    Membaca Al-qur’an Diatas Kubur Dan Mengadiahkan Pahalanya bagi Mayyit (Muslim)

    Tarjamahannnya :

    Pernah disebutkan daripada setengah para salaf, bahwa mereka mewasiatkan supaya dibacakan diatas kubur mereka di waktu penguburannya. Telah berkata abdul haq, diriwayatkan bahwa Abdullah bin umar pernah menyuruh supaya diabacakan diatas kuburnya surah al-baqarah. Pendapat ini dikuatkan oleh mu’alla bin hanbal, pada mulanya mengingkari pendapat ini kerana masih belum menemui sesuatu dalil mengenainya, kemudian menarik balik pengingkarannya itu setelah jelas kepadanya bahwa pendapat itu betul.

    Berkata Khallal di dalam kitabnya ‘Al-jami’ : Telah berkata kepadaku Al-Abbas bin Muhammad Ad-dauri, berbicara kepadaku Abdul Rahman bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, katanya : Ayahku telah berpesan kepadaku, kalau dia mati, maka kuburkanlah dia di dalam lahad, kemudian sebutkanlah : Dengan Nama Allah, dan atas agama Rasulullah !, Kemudian ratakanlah kubur itu dengan tanah, kemudian bacakanlah dikepalaku dengan pembukaan surat albaqarah, kerana aku telah mendengar Abdullah bin Umar ra. Menyuruh membuat demikian. Berkata Al-Abbas Ad-Dauri kemudian : Aku pergi bertanya Ahmad bin Hanbal, kalau dia ada menghafal sesuatu tentang membaca diatas kubur. Maka katanya : Tidak ada ! kemudian aku bertanya pula Yahya bin Mu’in, maka dia telah menerangkan kepadaku bicara yang menganjurkan yang demikian.

    Berkata Khallal, telah memberitahuku Al-Hasan bin Ahmad Al-Warraq, berbicara kepadaku Ali bin Muwaffa Al-Haddad, dan dia adalah seorang yang berkata benar, katanya :Sekalai peristiwa saya bersama-sama Ahmad bin Hanbal dan Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari menghadiri suatu jenazah. Setelah selesai mayit itu dikuburkan, maka telah duduk seorang yang buta membaca sesuatu diatas kubur itu. Maka ia disangkal oleh Imam Ahmad, katanya : Wahai fulan ! Membaca sesuatu diatas kubur adalah bid’ah !. Apa bila kita keluar dari pekuburan itu, berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari kepada Imam Ahmad bin Hanbal : Wahai Abu Abdullah ! Apa pendapatmu tentang si Mubasysyir Al-Halabi ? Jawab Imam Ahmad : Dia seorang yang dipercayai. Berkata Muhammad bin Qudamah Al-Jauhari seterusnya : Aku menghafal sesuatu daripadanya ! Sangkal Imam Ahmad bin Hanbal : Yakah, apa dia ? Berkata Muhammad bin Qudamah : Telah memberitahuku Mubasysyir, daribada Abdul Rahman Bin Al-Ala’ bin Lajlaj, daripada ayahnya, bahwasanya ia berpesan, kalau dia dikuburkan nanti, hendaklah dibacakan dikepalanya ayat-ayat permulaan surat Al-Baqarah, dan ayat-ayat penghabisannya, sambil katanya : Aku mendengar Abdullah bin Umar (Ibnu Umar) mewasiatkan orang yang membaca demikian itu.

    Mendengar itu, maka Imam Ahmad bin Hanbal berkata kepada Muhammad bin Qudamah : Kalau begitu aku tarik tegahanku (Bhs Ind : penolakanku ) itu. Dan suruhlah orang buta itu membacakannya.

    Berkata Al- Hasan bin As-sabbah Az-za’farani pula : Saya pernah menanyakan hal itu kepada Imam Syafi’i, kalau boleh dibacakan sesuatu diatas kubur orang, maka Jawabnya : Boleh, Tidak mengapa !

    Khalal pun telah menyebutkan lagi dari As-sya’bi, katanya : Adalah Kaum Anshor, apabila mati seseorang diantara mereka, senantiasalah mereka mendatangi kuburnya untuk membacakan sesuatu daripada Al-Qur’an.

    Asy-sya’bi berkata, telah memberitahuku Abu Yahya An-Naqid, katanya aku telah mendengar Al-Hasan bin Al-Haruri berkata : Saya telah mendatangi kubur saudara perempuanku, lalu aku membacakan disitu Surat Tabarak (Al-Mulk), sebagaimana yang dianjurkan. Kemudian datang kepadaku seorang lelaki danmemberitahuku, katanya : Aku mimpikan saudara perempuanmu, dia berkata : Moga-moga Allah memberi balasan kepada Abu Ali (yakni si pembaca tadi) dengan segala yang baik. Sungguh aku mendapat manfaat yang banyak dari bacaannya itu.

    Telah memberitahuku Al-Hasan bin Haitsam, katanya aku mendengar Abu Bakar atrusy berkata : Ada seorang lelaki datang ke kubur ibunya pada hari jum’at, kemudian ia membaca surat Yasin disitu. Bercerita Abu Bakar seterusnya : Maka aku pun datang kekubur ibuku dan membaca surah Yasiin, kemudian aku mengangkat tangan : Ya Allah ! Ya Tuhanku ! Kalau memang Engkau memberi pahala lagi bagi orang yang membaca surat ini, maka jadikanlah pahala itu bagi sekalian ahli kubur ini !

    Apabila tiba hari jum’at yang berikutnya, dia ditemui seorang wanita. Wanita itu bertanya : Apakah kau fulan anak si fulanah itu ? Jawab Abu Bakar : Ya ! Berkata wanita itu lagi : Puteriku telah meninggal dunia, lalu aku bermimpikan dia datang duduk diatas kuburnya. Maka aku bertanya : Mengapa kau duduk disini ? Jawabnya : Si fulan anak fulanah itu telah datang ke kubur ibunya seraya membacakan Surat Yasin, dan dijadikan pahalanya untuk ahli kuburan sekaliannya. Maka aku pun telah mendapat bahagian daripadanya, dan dosaku pun telah diampunkan karenanya.

  44. itu sih gk mungkin, wong wahabi itu kan bentukan Yahudi ntk memecah belah persatuan Umat Islam, para ustad-nya semuanya sbenarnya jg sdh sadar dan tau, tp mereka kan dpt kucuran dolarrr ha..ha..ha.. nanti akan jadi temen2 mereka di NERAKA JAHANNAM…. La’natulloh ‘alaikum Ya Wahhabi……

  45. Walisongo …. kalau mau lihat “Kropak ferara” transkrip bahasa jawa kawi (rangkuman sunan bonang saat sarasehan sunan) yang sudah di terjemahkan dalam bahasa indonesia.
    maka kita akn melihat perdebatan antara sunan ampel dan sunan kalijogo yang membuat bid’ah.
    dari sini kita tahu bahwa wali songo sendiri sebenarnya adalah ahlus sunnah yang jika mereka muncul di zaman ini mereka akan di juluki “Wahaby”

  46. bissmillahirrohaanirrohiim…
    assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh…
    alhamdulillah ana org awam yang baru mendapatkan hidayah, ana berangkat dari keluarga NU
    kemudian ana mengikhlaskan niat karena allah azza wa jala untuk mencari kebenaran belajar
    kesana kemari mencari jati diri agama ana yaitu ISLAM. ternyata ana menemukan kekuatan
    ISLAM yg ada di AHLUSUNNAH WAL JAMAAH atau yg sebagian kaum muslimin menyebutnya
    SALAFI WAHABI. ALHAMDULILLAH ana sekarang jadi pendengar setia RADIO RODJA.
    ana berdoa semoga SAUDARA”ku kaum muslimin yang lainnya allah berikan taufiq dan hidayah
    nya. salam kenal MANTAN NU

    1. @Org Awam

      Al Hafizh Murtadla az-Zabidi (W 1205 H) dalam al Ithaf juz II hlm. 6, mengatakan: “Jika dikatakan Ahlussunnah Wal Jama’ah maka yang dimaksud adalah al Asy’ariyyah dan al Maturidiyyah”.

      Mereka adalah ratusan juta ummat Islam (golongan mayoritas). Mereka adalah para pengikut madzhab Syafi’i, para pengikut madzhab Maliki, para pengikut madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala’ al Hanabilah).

      Ahlussunah Wal Jama’ah adalah, mereka yg mengikuti mazhab al Asy’ariyyah dan al Maturidiyyah dalam teologi, dan mengikuti mazhab yg empat dalam masalah fiqih.

      Kalau salafi wahabi, dalam masalah teologi mengikuti mazhab siapa? dalam masalah fiqih mengikuti mazhab siapa?

  47. Coba saudara”ku yang masih mengusung kebid’ahan antum baca perihal “TAHLILAN” dan “HUKUM CADAR” di MUKTAMAR NU yg pertama disana dijelaskan.
    ana hanya mengingatkan antum” yg mengklaim “ASWAJA” dan masih mengaku MUSLIM
    berkatalah yang baik, karena itu menunjukkan AKHLAK antum sendiri dan akan menunjukkan
    KEBENARAN yang antum” yakini.

    1. Bismillah,

      @org awam, apa anda sudah baca tentang hasil muktamar NU yang anda maksud? kalau sudah, tolong sampaikan dengan benar? kebetulan disebelah ane sekarang sedang ditunggui AHKAMUL FUQOHA” kumpulan hasil-hasil muktamar NU 1926-2010

  48. TUDUHAN YANG SANGAT TIDAK MENDASAR….
    perkataan yg seperti ini bisa” nanti masuk kedalam propaganda yahudi.
    afwan saudaraku ana dulu berasal dari keluarga NU dan alhamdulillah sekarang ana
    mendapatkan cahaya sunnah melalui saudara” kita di salafi.
    coba kita teliti dulu apa yang disampaikan oleh saudara” kita di salafi kebenaran atau
    bukan. ada baiknya kita krosscek dulu, kalo seandainya kebenaran mungkin itu ada
    manfaatnya utk kita, dan kalo seandainya salah tentuny akal pikiran sehat kita
    yang akan mencernanya. jangan kita baru katanya tanpa meng krosscek terlebih
    dahulu sudah kita tolak atau kita katakan salah. ana mengingatkan ini semata-mata
    karena kita sesama kaum muslimin. supaya hati kita tidak tertutup dari kebenaran.

  49. @Org Awam

    “Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah ditanya, tentang seseorang yang memprotes ahli dzikir (berjamaah) dengan berkata kepada mereka, “Dzikir kalian ini bid’ah, mengeraskan suara yang kalian lakukan juga bid’ah”. Mereka memulai dan menutup dzikirnya dengan al-Qur’an, lalu mendo’akan kaum Muslimin yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Mereka mengumpulkan antara tasbih, tahmid, tahlil, takbir, hauqalah (laa haula wa laa quwwata illa billaah) dan shalawat kepada Nabi SAW. Lalu Ibn Taimiyah menjawab: “Berjamaah dalam
    berdzikir, mendengarkan al-Qur’an dan berdoa adalah amal shaleh, termasuk qurbah dan ibadah yang paling utama dalam setiap waktu. Dalam Shahih al- Bukhari, Nabi SAW bersabda, “Sesungguhrrya Allah memiliki banyak Malaikat yang selalu bepergian di muka bumi. Apabila mereka bertemu dengan sekumpulan orang yang berdzikir kepada Allah, maka mereka memanggil, “Silahkan sampaikan hajat kalian”, lanjutan hadits tersebut terdapat redaksi,
    “Kami menemukan mereka bertasbih dan bertahmid kepada-Mu”… Adapun memelihara rutinitas aurad (bacaan-bacaan wirid) seperti shalat, membacaa Qur’an, berdzikir atau berdoa, setiap pagi dan sore serta padi sebagian waktu malam dan lain-lain, hal ini merupakan tradisi Rasulullah SAW dan hambahamba Allah yang saleh, zaman dulu dan sekarang.” (Majmu’ Fatawa Ibn Taimiyah, juz 22, hal. 520)

    Diatas anda berpendapat bahwa Tahlilan adalah Bid’ah. Kemudian saudara berkata : “ana hanya mengingatkan antum” yg mengklaim “ASWAJA” dan masih mengaku MUSLIM”.

    Pertanyaan saya, apakah mereka yg melakukan tahlilan bukan Muslim, tapi hanya pengakuan saja?

    Kalaupun saudara tidak setuju dengan tahlilan, ada baiknya saudara memperhatikan ucapan Imam Hambali: “Seorang faqih tidak sebaiknya, memaksa orang lain mengikuti madzhabnya.”

  50. Ngaku AWAM tapi BERFATWA menuduh amalan orang lain BID’AH dan secara tidak langsung menuduh orang islam yang TAHLILAN bukan MUSLIM.Kalau Anda pernah menjadi anggota NU, mungkin NU sebatas pengakuan … sebab kalau NU yang cerdas dan mau belajar, apalagi dari pesantren, gak bakalan KETIPU WAHABI.

  51. Orang yang lurus Aqidahnya dan Ikhlas gak akan mungkin tertarik dengan Salafy Wahabi, Dhohirnya saja sudah gak ada istimewanya : Wajahnya Kaku, Jalanya Ndegeg nampak sombong, Gak betah di Masjid (Sholat Klepat), Kalo sholat sukanya garuk-garuk, wajahnya gak ada Nurnya, tapi merasa paling Sunnah jih…, justru mereka mencemarkan Sunnah, orang jadi benci Jenggot, benci Cadar, benci Jubah, benci Sorban gara-gara dikotori orang-orang Salafy yang akhlaknya kayak Kebo.., ini saya katakan secara Realita…, yang bisa ikut Salafy biasanya orang-orang awam saja hanya karena baca buku sudah sok sunnah trus membidahkan, padahal bukunya karya tukang jam alias Alba. Nanti kalo imam mahdi muncul akan dikejar-kejar tentara Wahabi/Arab mau dibunuh, tapi sebaliknya Imam mahdi dan Tentaranya akan menghabisi orang orang yang tidak mau berbaiat kepadanya termasuk Salafy Wahabi, Karena Imam Mahdi Muncul bukan dari golongan Salafy Wahabi.

  52. Tauhid VS Syirik
    Haq VS Bathil
    Sunnah VS Bid’ah
    coba kita renungkan bersama apakah akan pernah bersatu”””?
    Alhamdulillah setalah dakwah AHLUSUNNAH WAL JAMAAH (SALAFI) Masuk ke Indonesia
    kini banyak saudara” kita kaum muslimin yang mau belajar islam sebanarnya.

    1. @Org Awam

      Tidak semua bid’ah itu sesat. Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :“Sebagus bid’ah itu ialah ini”.

      Menurut Imam Syafi’i, sebagai berikut; “Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”.

      oleh karena itulah, dikatakan bahwa sesuatu yang diminta oleh syara’ baik yang bersifat khusus maupun umum, bukanlah bid’ah, kendati pun sesuatu itu tidak dilakukan dan tidak diperintah- kan secara khusus oleh Rasulallah saw.! Kalaupun perkara itu baru, namun masih sesuai dengan kaidah kaidah umum dalam syari’at islam, maka iya disebut dengan Bid’ah hasanah.

      Mari kita kembali kepada hadits. “Semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”. Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk.

      Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan, “membuang sifat dari benda yang bersifat”. Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama : “Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”. Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan

      kemungkinan yang kedua : “Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.

      Kemudian, mari kita lihat dari segi kaidah ushul fiqih. “Kullu Bid’atin”, kata kullu itu bermakna ‘aam, artinya umum, banyak, tak terbatas. Para ulama ushul fiqih sudah sepakat bahwa tidak diperbolehkannya menggunakan dalil yg bersifat ‘aam sebelum mencari dalil yg mentakhsisnya.

      Pentakhsisnya adalah hadist berikut :
      “Jarir bin Abdullah al-Bajali radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang memulai perbuatan baik dalam Islam, maka ia akan memperoleh pahalanya serta pahala orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka. Dan barangsiapa yang memulai perbuatan jelek dalam Islam, maka ia akan memperoleh dosanya dan dosa orang-orang yang melakukannya sesudahnya tanpa dikurangi sedikitpun dari dosa mereka.” (HR. Muslim [1017]).

      Namun, ada yg menolak pentakhsisan tersebut dengan mengatakan bahwa hadits tersebut mempunyai latar belakang, yaitu anjuran sedekah.
      dalam ilmu Ushul Fiqih telah kita kenal kaedah, al-’ibrah bi ’umum al-lafzhi la bi-khusush al-sabab, (peninjauan dalam makna suatu teks itu tergantung pada keumuman kalimat, bukan melihat pada konteksnya yang khusus.

  53. Wah kalo Tauhid Rububiyah itu, katanya orang Musyrik juga ahli tauhid dengan bertauhid Rububiyah. Yah semoga aja pejuang Salafi mau menyatakan kebenaran tauhid mereka.

  54. Alhamdulillah…
    sekarang banyak sarana untuk menyebarkan dakwah AHLUSUNNAH WAL JAMAAH (SALAFI)
    baik melaluli radio, tv tidak hanya di bumi yang kita cintai ini namun juga mendunia.
    sangat bermanfaat sekali. semoga allah meridhoi dan dapat menyatukan umat islam tidak
    hanya di indonesia tapi juga seluruh dunia amin…
    semoga allah azza wa jala memberikan taufiq dan hidayahnya kpd kita semua.
    (mantan pengikut bid’ah)

    1. Bismillah,

      Yah gitulah hasilanya kalo ngajinya pada Syeh Radio dan tv…

      dan ternyata anda berhasil dalam belajar pada syeh anda tsb sehingga menuduh jutaan kaum muslimin dari generasi sahabat hingga kini sebagai ahli bid’ah, musyrik…

      dan sekarang kami tunggu, tuduhan apa lagi yang akan anda sematkan kepada seluruh Ummat Islam..

      kami sarankan anda pakai pembangkit listrik sendiri… karena kalo enggak, bisa ilang tu semua ilmu akibat listrik padam, dan akibatnya anda nggak punya modal buat wiridan bid’ah, syirik, bathil, churofat, kan hujjah Coppassannya hilang lantaran listriknya padam?….he..he..he… becanda mas

  55. Alhamdulillah….
    orang2 “KHUSUS” yang ditugaskan untuk menyelidiki dakwah AHLUSUNNAH WAL JAMAAH
    (SALAFI) JUSTRU malah ikut mengaji.

  56. @Org Awam

    Coba saya tanya, Apa itu Ahlussunah Wal Jama’ah?

    Tu, Mas ucep jg nanya, tlng jelaskan tentang pembagian tauhid yg 3?

    Anda ini, lain di tanya, lain di jawab…..

    1. Bismillah,

      @mas Agung dan mas Ucep, Nunggu jawaban ilmiyah dr saudara kita @org awam, butuh kesabaran yang tak terbatas, bisa-bisa sama dengan nunggu onta bisa masuk lubang jarum… he..he..he.. sekedar selingan mas…biar ngga’ bosen ngadepin mereka….

      1. @Mas Abu Hilya… seharusnya mereka itu, kalau tidak tahu, ragu dsb. jawab saja tidak tahu. Menjawab sesuatu dengan kalimat tidak tahu bukanlah hal yg tercela. Bahkan hal tersebut merupakan senjata orang mukmin, sebagaimana Imam Maliki yg pernah di tanya tentang beberapa hal, dan sebagian besar di jawab oleh Imam Maliki dengan kalimat tidak tahu….

        jangan sampai kemudian mengeluarkan pernyataan bodoh, seperti yg sudah sudah. Seperti : “Kapan Allah mendengarnya”. atau memvonis Bid’ah, sesat dan Neraka…..

    2. karena ana org awam”
      ana ditanya apa itu ahlusunnah wal jama’ah?
      ana jawab :
      ahlusunnah wal jama’ah ya… bukan ahlu bid’ah wal jamaah.

      kalo tauhid rububiyah?
      ana jawab:
      tauhid rububiyah ya… tauhid antum sendiri mengakui kalo itu tauhid.

      (sedikit berbagi tips utk mendapatkan hidayah)
      bahwa utk mendapatkan HIDAYAH SUNNAH diperlukan niat yg IKHLAS utk mencari
      kebenaran, hidayah itu tidak bisa dipaksakan. proses ana dulu dari pengusung bid’ah
      awal-awal ana mencari kebenaran sulit sekali utk memahami alqur’an dan sunnah
      diatas pemahaman yg haq. tapi karena niat yg kuat dan keikhlasan alhamdulillah
      akhirnya hidayah kudapatkan juga. dan sekarang ana mengaji di SALAFI.
      semoga antum semua dimudahkan utk memahami alqur’an dan assunnah sesuai dg
      pemahaman salafussholeh

      1. he he… ge-er nih ye, merasa dapat hidayah? Selama anda masih beri’tiqod Tauhid TRINITAS WAHABI, maka selama itulah antum selalu berada dalam ZONA GE-ER dapat hidyah yg kronis.

        Anda bisa sembuh jika mau mendengar informasi-informasi baru yg bisa memaksa anda berpikir. Tanpa mikir maka akan sulit diharapkan bisa sembuh. wallohu a’lam.

  57. @abdullah
    bagaimanapun akhi berdakwah disini merekatidak akan bisa menerima. ini akan menjadi debate yang panjang. kita tunggu aja di yaumil akhir. siapa yang benar siapa yang salah.

    1. @ibinmuksin
      Memang kalau ingin membuktikan kebenaran hakiki yang sebenar-benarnya adalah kita KUDU mati dulu, lantas minta dihidupkan lagi baru kita ngomong.
      Jangan asal ngomong comot sana Ayat alqur’an dan sini al Hadist, tanpa bimbingan Ulama. Yang cuma Kitabnya Internet, Ilmunya Copas, Nalarnya Radio n TV, kelakuannya Paranoid Sunnah dan Bid’ah

  58. Alhamdulillah…
    perkembangan dakwah salafi cukup pesat. banyak juga dari mualaf yg mau mengaji
    di salafi. (seputar info)
    saran aja sebaiknya dialog secara ilmiah dan terbuka!

    1. org awan says:

      saran aja sebaiknya dialog secara ilmiah dan terbuka!

      Emangnya orang2 Salafy Wahabi berani dialog terbuka, tanya dong sama ustadz2 antum berani nggak? Apakah antum tidak lihat video-video dialog Wahabi VS Aswaja yg beredar di internet? Semua Salafy Wahabi KO, baik yg di Indonesia maupun ada di negara2 lainnya.

      Begini aja, tanyakan ke ustadz Abdul Hakim amir abdat mewakili Wahabi seluruh Indonesia, berani nggak dia berdialog terbuka Vs Ustadz Idrus Ramli dari ASWAJA?

      Oh,ya…. kasihan orang2 muallaf, baru masuk Islam sudah salah masuk pintu, semoga di hari2 selanjutnya menemukan pintu masuk yg benar, amin….

  59. antum belum lihat video dialog ustadz abdul hakim hafidzahullah
    dg mui dan da’i seluruh ormas” islam di jakut.
    ustadz zainal abidin bin syamsudin mantan kyiai nu yg dulu nuntun gusdur
    dg menteri agama yg waktu itu masih prof dr said agil munawar.
    alhasil dakwah salafi diakui baik oleh mui maupun menteri agama.
    dan akhirnya berkembang pesat di bumi unsantara ini.

    1. Bismillah,

      saudaraku @org awam, semakin banyak anda berupaya menunjukkan bukti, semakin jelas kebohongannya…. maaf kalau ini terpaksa kami sampaikan, karena kami masih berharap anda sadar… bahwa Islam tidaklah sesempit apa yng ada dibenak anda dan Ustadz anda…

      Gini aja, tlg direnungkan…

      Sejak kapan Ummat Islam saling mem-bid’ahkan, menuduh syirik, kufur, terhadap sesama saudara seiman yang berbeda faham? mengingat perbedaan pendapat atas nash-nash agama ini telah terjadi sejak masa sahabat, dan sampai sekarang ngga’ ada yang bertindak seperti kelompok anda yang ngaku paling sunnah dan ngikut salafus sholih…

      apa saudara pernah dengar Utsman bin Affan atau sahabat yang lain menuduh Umar ra ahli bid’ah lantaran bikin jama’ah tarowih?
      apa anda juga punya riwayat kalau ada sahabat menuduh Utsman bin Affan ahli bid’ah lantaran menambah adzan jum’ah?
      apa saudara pernah dengar Imam Malik menuduh Imam Syafi’i ahli bid’ah lantaran mengeraskan basmalah dalam sholat?

      jika dari generasi terbaik ummat ini tidak ada yang suka menuduh saudaranya ahli bid’ah, lantas diantara kita siapa sesungguhnya yang ahli bid’ah? kami yang dituduh atau yang suka menuduh?…

      Wallohu a’lam

  60. @Org Awam

    Diatas kan anda di tanya, tentang pembagian Tauhid. Salah satunya tentang Tauhid Rububiyah. Apa itu Tauhid Rububiyah? Darimana sumbernya? Siapa ulama yg membagi tauhid seperti itu?

    Kalau anda tidak mau menjelaskannya, ada baiknya saudara perhatikan ucapan berikut ini :

    Al-Imam Asy-Syathibi menjelaskan dalam al-I’tisham, bahwa sebagian besar kaum ahli bid’ah dan pengikut aliran sesat tidak suka berdialog dan berdebat dengan pihak lain. Menurut Asy-Syathibi, mereka tidak akan membicarakan pendapatnya dengan orang yang alim, khawatir kelihatan kalau pendapat mereka tidak memiliki landasan dalil syar’i yang otoritatif. Sikap yang mereka tampakkan ketika bertemu dengan orang alim adalah sikap pura-pura. Tetapi ketika mereka bertemu dengan orang awam, mereka akan mengajukan sekian banyak kritik dan sanggahan terhadap ajaran dan amaliah umat Islam yang sesuai dengan syari’at. Sedikit demi sedikit, mereka masukkan ajaran bid’ahnya kepada kalangan awam.

  61. Saudaraku penggemar bid’ah…
    diatas terkesan antum org” yg alim, menyampaikan dalil ini dan dalil itu…
    tapi antum masih bertanya kpd org awam.
    kalo mau tanya datangi utadz” salafi tanyakan kpd beliau”nya.!
    ana berdo’a semoga allah azza wa jala memberikan hidayah kpd antum,
    istri dan anak” antum semua amin…

    1. @org awam
      Siapa penggemar Bid’ah ??
      Aswaja – Gak mungkin, yang dikerjakan aswaja ada dalil dan Nash Sahabat dan Ulama.
      Wahabi…. Wahabi….. yah Wahabi, terbukti tauhid dibagi 3, coba ente jelaskan dalil dan Nash nya, kalau Allah dan Rasulullah menyuruh TAUHID dibagi 3…… !!!!!

      Ane pernah datangi ustad didaerah kudus, tepatnya Masjid Jl. Nyai dasima, waktu itu ane tanya tentang tawasul, ane sebutin dalil dan Nashnya, sang ustad bingung dan selanjutnya ane disuruh keluar masjid. he he he…. kelakuan wahabi, yang gak mau diskusi.

      1. Bismillah,

        mas @Ucep, maaf sebelumnya, ada baiknya kita biarkan @org awam mengumbar omongannya, karena semakin banyak ia ngomong justru semakin nampak kejahilannya…

        1. Assalamu’alaikum, sahabat Aswaja, orang seperti @org awam itu tidak usah repot2 di berikan pandangan tentang pengertian Bid’ah yg sebenarnya, krn akan percuma saja. Sekarang jujur saya katakan, mereka orang2 islam yang ikut paham salafi wahabi adalah merupakan orang2 yang baru belajar Agama setelah mereka rata2 berusia Dewasa! Begitupun dg ulama panutan mereka syech Albani, beliau belajar agama baru diusia 25 Tahun (ini berdasarkan pengakuan org salafi wahabi sendiri kpd saya). Memang tidak ada salahnya belajar agama diusia yg sudah dewasa, tetapi karena methode pengajaran Salafi wahabi itu menganut system cuci otak, doktrin, maka ketika org yang baru belajar Agama ikut “kajian” salafi wahabi akan mudah sekali terpengaruh, krn sebelumnya tidak punya dasae syari’at dan akidah yg kuat! Saya pernah hampir tergelincir ikut salafi wahabi, krn saya pikir tadinya pengajian biasa, saya diundang utk datang, alhasil ketika saya memenuhi undangan kajian mereka, Astaghfirullah saya kaget! Pertama Kajian terkesan tertutup, kedua Ustadz Salafi Wahabi dg tegas bilang dihadapan Jama’ah “orang Islam diluar kita sesat, bid’ah”! Sungguh tidak memiliki adab! Kepada sesama muslim mereka (salafi Wahabi) tega berkata demikian! Tidak tercermin Ahlakul karimah seperti yg dicontohkan Rosulullah SAW. Sejak saat itu saya setiap diundang utk datang ke Kajian mereka, saya tolak dengan halus. Alhamdulillah, Ayah saya NU dari lulusan Pesantren di Garut, jadi bukan NU yg cuma pengakuan doang! Sejak kecil saya tidak pernah diajarkan utk mengatakan sesat, bid’ah kepada sesama muslim oleh ayah saya, makanya saya kaget, ketika ada paham semacam ini! Harapan saya, jaga anak keturunan kita dari paham salafi wahabi! Kelompok yg so’ mengedepankan Ilmu, ilmu dibuat sombong! Tapi mereka lupa akan ahlakul karimah, jauh dari contoh Rosulullah SAW. Wassalam..

  62. ana merasa prihatin.”’..
    islam besar tapi bagai buih di lautan, terombang-ambing kesana-kemari.
    islam besar tapi terkotak-kotak, berkelompok-kelompok yang masing”
    kelompok membanggakan kelompok dg bid’ahnya.
    harus kita sadari begitulah cara yahudi melemahkan umat islam
    dg cara memasukkan bid’ah ke dalam agama.
    semoga kita semua sadar akan hal itu…!

  63. Setuju Ustadz @bu Hiya, Si orang awam ga usah dilayani. Dia itu USTADZ WAHABI yang NYAMAR PURA-PURA AWAM, untuk mengacaukan diskusi. Itu memang cara Yahudi, agar orang lain tidak bisa menyimak dengan baik paham ASWAJA

  64. tuh…”’… kan lagi-lagi tuduhannya tidak mendasar.
    ana sudah ngaku org awam masih dikatain ustadz wahabi.
    lia eden juga berdalil dg al qur’an akhi…
    terus apakah kalo kita katakan lia eden sesat, kita salah””***?
    terus apa yo nyambung. * * *?
    tapi… mhm…. mungkin kalo secara logika (menurut pendapat saya)
    disambung-sambungin lama-lama nyambung juga sih…
    tapi apa sesuai dg para pendahulu agama ini. (islam)

    1. @org Awam

      Kalau ada amalan kami yg saudara anggap sesat, silahkan di sebutkan?

      Kalau anda tahu mana yg salah, berarti saudara tahu mana yg benar, tlng disebutkan jg?

  65. Ane baru dapat info 1 jam yang lalu dari temen ane di Suriah :
    Christian Missionaries Paying Muslims to Accept Christianity in Syrian Refugee Camps A Muslim sister(Muslimah), from a Syrian refugee camp, details how the Christian missionaries are flooding the camps with Christian literature and offering to pay rent, buy clothes and food if the Muslims take the Bibles and learn them. They are attempting to pay Muslims […]
    Artinya :
    Misionaris Kristen Membayar Muslim untuk menerima Kristen di Kamp Pengungsi Suriah Seorang adik Muslim (Muslimah), dari sebuah kamp pengungsi Suriah, rincian bagaimana misionaris Kristen yang membanjiri kamp dengan literatur Kristen dan menawarkan untuk membayar sewa, membeli pakaian dan makanan jika Muslim mengambil Al kitab dan belajar mereka. Mereka berusaha untuk membayar Muslim […]

    Masya Allah… Masya Allah, semoga cuma 1 atau 2 orang saja.

    1. Gara2 ulah Wahabi hasilnya hancurnya Suriah, begitu juga Libya, mungkin kapan2 bisa aja Indonesia. Pokoknya yg penting hancur Ummat Islam yg dikiranya Musyrikin, selain Wahabi adalah musyrikin yg haruis dihancurkan karena missinya dakwah Tauhid. tentunya Tauhid TRINITAS WAHABI.

      Perlu diketahui pendududk Libya dan syuriah adalah muslim Aswaja. Pastunya Wahabi puas dg hancurnya kedua negara tsb.

      1. @Mba Putri,

        Mba Putri sudah ke Suriah atau belum…? Kalau belum lebih baik tidak usah berkomentar tentang Suriah.

        Populasi masyarakat Suriah sebagai berikut : 72% Sunni, 14% Syiah Alawiyah (kebanyakan di Pemerintahan), 8% Kristiani, 3% Yahudi dan sisanya campuran.

        Awal terjadi konflik hanya sebatas masalah internal yang terjadi disana, ingin terjadinya reformasi disegala bidang, baik pendidikan, demokrasi, ekonomi dlsbnya.

        Tapi karena kekerasan dari Pemimpin Al Asad, maka terjadilah konflik yang berkelanjutan sampai dengan sekarang, yang akhirnya menjadi konflik horizontal. Kenapa bisa seperti itu….? Yang demo adalah Masyarakat Suriah yang umumnya berpaham Sunni dan pemerintah berpaham Syiah Alawiyah, maka dengan sewenang wenangnya warga Suriah yang Sunni dilakukan pembantaian oleh Presidentnya sendiri.

        Mereka warga Suriah, karena terlalu diintimidasi dan dilakukan pembunuhan secara terus menerus, maka dilakukanlah perlawanan terhadap Tentara Al Asad untuk sekedar bertahan hidup, yang akhirnya berkembang untuk menjatuhkan kediktatoran pemimpin yang Dzolim tersebut (gimana ga Dzolim, wong rakyatnya dibantai).

        Apa hubungannya dengan Salaf(i), masyarakat Suriah yang 22 juta jiwa kan ga bodoh, masa gara2 mereka terjadi perang antara sebangsa…?

        Saya melihat bahwa ini Skenario Allah dalam mempersiapkan akhir zaman kelak.

        Sementara Ulama2 besar negara di Timur Tengah, anggaplah di luar Saudi, menyatakan analisanya bahwa memang terjadi akibat dari kekejaman regim Asad yang membesar menjadi konflik Sunni – Syiah.

        Secara Bahasa…
        Secara Letak Geografis…
        Secara Hubungan Emosional…
        Secara Keseluruhan, kemampuan anda dari sudut apapun jelaslah perbedaan yang sangat signifikan. Anda hanya bisa mengutip dan mendengar “katanya dan katanya”.

        Kita tidak usah melebar kedalam konflik Sunni – Syiah (saya juga heran kalau anda tidak melihat itu, kecuali kalau anda berada dibalik keyakinan yang sama dan sejenis dengan Regim Asad, cek Youtube tentang kekejaman yang terjadi dan penindasan oleh regim (Syiah) Asad terhadap Masyarkat (Sunni), saya yakin anda tidak “gaptek” dengan berada di blog sebagus ini).

        Pertanyaan saya,
        Kenapa harus Syam (Suriah)….?
        Kenapa harus Syam (Suriah)….?
        Kenapa harus Syam (Suriah)….?

        Ada sedikit cuplikan Hadis, yang mudah2an Shahih yang akan saya tuliskan dibawah ini Mba Putri, hayati dengan baik-baik.

        “Urusan ini akan sampai pada pasukan yang akan dibariskan. Pasukan di Syam, pasukan di Yaman dan pasukan di Irak. Ibnu Khawalah berkata: wahai rasulullah, pilihkan untuk saya jika aku menjumpai hal tersebut. Beliau bersabda: hendaklah engkau memilih Syam bergabung dengan pasukan Syam) karena mereka pilihan Allah dari muka bumi yang Ia pilih dari hamba-hamba-Nya. Jika engau tidak bisa, maka ke Yaman kalian dan berilah minum dari sumber-sumber mata air kalian, karena Allah memilih untukku Syam dan penduduknya”(hadits dikeluarkan oleh imam Abu Dawud dari Abdullah bin Khawalah yang disahihkan oleh Ibnu hibban dan Syaikh Al-Bani)

        Pemahaman saya yang kerdil, ada skenario Allah untuk mempersiapkan Jundullah yang sedang “dibentuk” untuk mempersiapkan kedatangan Imam Mahdi yang menurut riwayat akan turunnya di Damaskus.

        Siapakah yang sedang dipersiapkan kalau boleh kita mengerucut….? Tentaranya Al Asad yang sudah begiitu kejam membantai rakyatnya sendiri….?

        Silahkan jawab dengan hati yang bersih dan lapang, tanpa terbelenggu dengan taqlid buta yang menguasai fikiran dan hati anda.

        Seluruh Muslim seluruh dunia berlomba lomba untuk membantu saudara seiman di Suriah, dengan cara apapun.

        Apakah ada dari aliran di blog ini yang mau membantu saudaranya disana…? Yang kata Mba Putri kebanyakan Aswaja masyarakat sipilnya.

        Atau hanya sibuk mengadakan Majelis-Majelis yang menutup jalan dan dengan suara motor yang meraung raung, tanpa menggunakan Helm dan kewajiban lainnya yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah untuk keselamatan pengendara…? Bukankah mengikuti ketentuan Ulil Amri / Umaro juga merupakan nasehat dari Al Quran dan Sunnah…?

        Mba Putri… Jika mau ke Suriah, saya bisa atur untuk tiket dan visa turkinya dan anda membantu yang menurut anda se aliran dengan anda. Jauh lebih baik dengan action, dibandingakn dengan “katanya katanya”

        1. @Dodol :

          Saudara cerita tentang Suriah seakan saudara mengerti banyak. Tetapi penisbahan nama Wahabi dari kunyahnya Syaikh Muhammad saja saudara tidak mengerti. Sayang sekali saudaraku, kalaupun benar saudara sering ke negeri-negeri Arab.

          Kebenaran hakiki hanya milik Allah
          Hamba Allah yang dhaif dan faqir
          Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

          1. Hehehehehehe…

            Mas Derajad yang comment, suaminya Mba Putri kah Mas….?

            Masalah Kunyah itu memang saya skip, bukan untuk dibahas dan sudah saya akui bahwa saya sepakat. Boleh dong saya mengukur lawan bicara saya dengan menggunakan kata2, karena memang tidak bertemu langsung kan…?

            Apa tidak boleh saya tahu banyak masalah Suriah, dan memang saya sedang ditugaskan oleh negara untuk memantau situasi kondisi di Timur Tengah, tak terkecuali Suriah. Jadi saya dalam kondisi netral untuk menganalisa situasi disana.

            Masa hanya orang2 disini saja yang boleh mempunyai pengetahuan yang luas….? Waduh Mas… Sudah berbuat apa untuk kesejahteraan umat Muslim di Indonesia…? Tanpa melihat mereka dari aliran mana.

            Ekonomi…?
            Politik…?
            Kerukunan Umat…?
            Budaya…?
            Sosial…?

            Sebutkan saja negarawan dan pejabat yang berasal murni dari situs ini, bukan di baiat dan dicomot sehingga menjadi panutan.

            Mas Derajad yang saya hormati, otak saya dan otak anda sama2 dibuat oleh Sang Khalik untuk dapat mengetahui apapun yang ada dikehidupan ini, cuma hanya porsi yang dipelajari berbeda saja bobotnya.

            Masa baru menjawab kunyah saja, anda sudah merasa paling pintar se-blog ini….?

            Saya akui,
            Saya lemah…
            Saya banyak kekurangan…
            Saya banyak khilaf…
            Saya kurang ilmu…

            Tapi saya tidak pernah mengakui kalau saya lebih hebat dari anda Mas.

            Ada pepatah yang mengatakan :
            “Tong kosong nyaring bunyinya”

          2. @Dodol :

            Kalimat saudara seakan merendah tapi sangat terlihat jumawa. Bahkan saudara mengaku dengan nada riya’ ditugaskan negara. Sebagai apa ? Tentara atau Sipil ?

            Kalaupun apa jasa kita kepada negara ataupun umat muslim, saya tidak perlu bicarakan kepada orang lain. 😀

            Saya tidak merasa pandai, coba baca komentar saya. Saya hanya menyayangkan orang seperti saudara seakan mengerti daerah Jazirah Arab apalagi pakai bawa ditugaskan negara tapi tidak memahami kebenaran ajaran Islam. Tidak kurang saudara mengatakan harusnya bukan Wahabi tapi Muhammadi sebanyak dua kali di situs ini, tanpa pemahaman yang menunjukkan saudara tahu hal tersebut, alias bicara hanya didasarkan rasio tapi lupa sejarah.

            Kalau saudara aparat negara harusnya saudara lebih bijak berbicara. Ingat aparat negara adalah abdi rakyat, bukan hanya bangga dengan kedudukannya. Ingat saudaraku itu semua amanah, dan saudara akan dimintai pertanggungjawaban dunia dan akhirat.

            Kebenaran hakiki hanya milik Allah
            Hamba Allah yang dhaif dan faqir
            Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

          3. 😆 😆 😆

            Siapa yang riya…? Sama seperti anda, anda paham dengan aliran anda, sayapun paham dengan tugas saya. Dan itu saya tuliskan disini, hanya untuk memberi tahu, analisa yang saya laporkan kelak, saya tidak berdiri diatas aliran apapun.

            Tapi apa yang saya temui dilapangan….? Banyak orang Muslim dibelahan bumi lainnya yang mau mengorbankan apa yang dimilikinya untuk membela ISLAM.

            Disini yang katanya Aswaja, dan masyarakat disana juga Aswaja yang sedang menderita, tetep aja tanpa adanya usaha untuk membantu yang katanya sealiran dengan mungkin penggalangan dana, pengiriman bantuan medis, atau apapun deh yang bisa disumbangkan untuk masyarakat Aswaja yang sedang kesusahan disana, kalau anda masih takut masuk ke medan pertempuran.

            Malah menyibukkan diri dengan saling menghujat aliran lain didalam blog ini, agar menggiring pembacanya hanya mempercayai aliran yang dianut dengan anda.

            Saya sih MALU ya, sudah begitu banyak kemampuan berbahasa arab, mampu menyajikan dalil, fasih mengupas hadis, tapi…. Melihat saudaranya yang sealiran sedang di intimidasi saja, tidak pernah dibuatkan ulasan khusus didalam blog ini. Apalagi pergi menuju menuju medan lokasi….? 😥

            Justru kalau mau anda tahu, rakyat Aswaja (yang kata Mba Putri sealiran dengan blog ini) yang berada di Suriah, jelas2 dibunuh, dikubur hidup-hidup, diperkosa beramai ramai, anak2 diberondong tembakan oleh Tentara Al Asad yang memang mereka 100% menganut paham Syiah Alawiyah.

            Tidak pernah anda menghujat Syiah Alawiyah
            Malah menghujat Wahabiyah

            Tidak pernah anda menghujat Al Asad
            Malah marah kalau ditanya sanad

            Menurut pandangan saya, yang bisa lebih bergandengan tangan adalah aliran anda + Wahabiyah dibandingkan dengan aliran anda + Syiah.

            Memangnya kalau saya pergi ke jazirah arab, harus minta persetujuan dulu dengan mengupas kebenaran islam didalam dada saya….? Siapapun bisa pergi kesana, tidak harus Muslim. Banyak orang non Muslim bisa dengan bebasnya menjelajahi jazirah arab. Ini aneh banget perumpamaan Mas Derajad 😯

            Perkataan saya yang mana yang tidak bijak….?
            Kunyah….? Saya hanya melancarkan strategy dengan melempar pertanyaan, agar saya tahu siapa teman diskusi didalam blog ini.

            Aneh ya… Mbulet juga. Bicara tentang kebaikan apa yang sudah diperbuat terhadap umat Muslim, malah disembunyikan, berarti arti dari kalimat diatas adalah “Bicara tentang KEBURUKAN apa yang sudah diperbuat terhadap umat Muslim, malah DIMUNCULKAN”

            Saya tidak bangga dengan kedudukan… Saya bangga kalau saya berusaha untuk melihat permasalahan ini dengan sangat jernih. Aneh ngga sih, kalau saya memaparkan :
            Apa yang saya lihat di Suriah
            Apa yang saya analisa di Suriah
            Apa yang saya saksikan di Suriah
            Apa yang saya akan bawa ke Indonesia
            Apa yang saya coba untuk tidak definisikan agar tidak tertular dengan kejadian Suriah di Indonesia…? Malah diartikan bahwa saya seolah mengerti tentang jazirah arab. Saya yakin 1 jengkalpun Mas Derajad belum menginjakkan kaki ke Suriah (terlalu sibuk ngurusin blog ini soalnya). Jadi wajar dong saya sejengkal lebih maju dari Mas Derajad dalam hal ini.

            Ada baiknya juga buat blog ini, karena listrik akan tetap menyala dan blog in tentunya bukan menjadi onggokan sampah di dunia maya yang tanpa listrik (maksudnya terjadi peperangan yang sama, sehingga merusak semua infrastruktur).

            Mas2 dan Mba2…. Cobalah berfikir dengan akal sehat.

          4. @Dodol :

            Silahkan saja saudara bangga dengan amal-amal saudara yang lebih baik dari saya. Semoga diterima semua amal saudara. Dan Allah adalah sebaik-baik pemberi balasan. Saya tidak akan ikuti pembicaraan saudara dalam hal ini, karena saya berlepas diri dari kebanggaan terhadap amal, karena ujung dari semua itu sebenarnya ridha Allah. Jangan sampai kita sudah merasa beramal banyak tapi dihadapan Allah menjadi sia-sia.

            Situs ini adalah salah satu situs Aswaja yang memperkokoh aqidah. Disini kaum Aswaja mengajukan dalil untuk semua amaliahnya dan menyampaikan kebenaran Aswaja. Kalau kebetulan saudara dan para Salafy Wahabi masuk kesini, ya silahkan sanggah dengan ilmu, kalau tidak mau ya gak usah dibaca atau masuk situs ini. Gitu aja koq repot. :mrgreen:

            Mengenai kelompok Syiah, Khawarij dan lain-lain bahkan dengan Salafy Wahabi pun, kami kelompok Aswaja sudah memiliki pedoman yaitu sikap Tasamuh, Tawasut, I’tidal, tawazun dan amar ma’ruh nahi munkar. Semua itu adalah pedoman sikap yang diajarkan ulama-ulama Aswaja.

            Disini tidak hanya membahas masalah penguatan aqidah tapi juga sejarah. Sebagai contoh pernah diangkat kisah KH. Muhammad Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama’. Bagaimana perjuangan beliau sampai muncul Resolusi Jihad pada waktu perang 10 Nopember 1945. Para pendiri NU banyak berkiprah dalam pendirian bangsa ini. Tapi beliaupara ulama itu sangat tawadu’, yang beliau harapkan hanya ridha Allah, justifikasi manusia tidaklah penting. Dan kami kaum Ahlus Sunnah Wal Jamaah meniru perjuangan beliau para pendiri bangsa.

            Pada prinsip kami ingin kedamaian dan ketentraman, tapi provokasi kelompok SAWAH (Salafy Wahabi) dalam pengajian, situs dan lain sebagainya yang suka menyalahkan dengan kata bid’ah, khurafat dan lain sebagainya, menjadikan kami perlu menjelaskan kepada umat tentang semua amalan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Jadi setiap orang, kelompok dan golongan memiliki kiprahnya sendiri-sendiri dalam kehidupan. Yang penting adalah menuju Bi-idznillah dan Mardhatillah.

            Kebenaran hakiki hanya milik Allah
            Hamba Allah yang dhaif dan faqir
            Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

          5. Mana menurut mas Derajad yang lebih baik untuk kehati hatian Jamaah Indonesia, apakah paham Salafy Wahabi atau Syiah Rafidoh atau Syiah Alawiyah….?

            Salafy Wahabi dengan Aswaja saya berpendapat masih dalam 1 Aqidah.

            Tapi kalau dengan Syiah yang diatas, JELAS JELAS berbeda Aqidahnya, tidak ada satupun materi tentang itu di blog ini. Mungkin saya yang tidak bisa menemukan, tapi kalau ada boleh minta tolongkah, link nya di copas dalam me replay nanti.

            Terima Kasih

          6. Oh iya….

            Ada yang ketinggalan. Saya pernah mengetahui kalimat “…berlomba lombalah kalian dalam kebaikan…”
            Saya lupa Ayat atau Hadits, kayaknya Ayat di Surat Al Baqarah deh.

            Bukankah Diperbolehkan sekali kali memperlihatkan amal kebaikan, agar Umat yang lain termotivasi untuk melakukan kebaikan pula.

            Kalau ga mau menunjukkan, sebatas Suriah saja, artinya bisa saja Mas Derajad tidak melakukan apa2 atau sudah melakukan apa2 tapi tidak mau berbagi kebaikan bagaimana caranya agar dapat dicontoh umat lainnya.

            Mas Derajad dan ma Putri seharusnya berterimakasih kepada Salafi Wahabi yang dengan suka rela membantu warga Suriah, yang menurut Mba Putri adalah penganut paham Aswaja. Gentle kah untuk mengucapkan rasa itu, walaupun mereka juga tidak menuntut untuk dihadiahi terima kasih.

            Apa tidak ada perasaan GA ENAK didalam hati, se aliran dengan warga disana, tetapi tidak melakukan apa yang dilakukan orang2 yang diluar dari paham anda.

            Saya berani dengan nada keras mengatakan “TERIMA KASIH SALAFY WAHABI” atas perjuangan yang telah anda lakukan disana untuk membantu sesama muslim walaupun saya yakin anda tidak menuntut itu.

  66. alhamdulillah… telah hadir radio dan tv yg menebarkan cahaya sunnah…
    radio RODJA (RADIO DAKWAH AHLUSUNNAH WAL JAMAAH) 756 AM….
    kikis BID’AH budayakan SUNNAH

    1. @org awam
      Ada kejadian yang lucu dan menarik, ini benar terjadi didaerah Cakung Jakarta timur disebuah masjid.
      Waktu itu panitia sebuah masjid didaerah itu mengadakan acara judulnya atau Temanya “Dakwah bersama Ustad ….. Radio Rodja”, dengan mengundang salah satu penceramah dari Ustad Radio Rodja, pas kebetulan ane lewat sana dan turut dengerin para ustad berceramah.
      Ustad Radio Rodja membahas Haramnya menyebut kata Sayyidina kepada Rasulullah saw.
      Pada saat selesai ceramah, sang ustad mempersilahkan tanya Jawab bersama peserta yang Hadir, lalu berdiri seorang muda dan bertanya kenapa tidak boleh menyebutkan kata Sayyidina kepada Rasulullah saw, maka dijawab oleh ustad Radio Rodja dgn Hadist, akhirnya sang penanya langsung memanggil sang ustad dengan sebutan namanya tanpa disertai Bapak ataupun ustad untuk bertanya kepertanyaan kedua, tapi sang ustad langsung pergi pulang tanpa salam (dari posisi berdiri dan memegang micropon).
      Langsung para hadirin ketawa. Ini benar-benar terjadi dan tidak ada rekayasa ataupun manipulasi.
      Maaf nama ustad dan alamat tempat ane gak sebut.

  67. 1. bagaimana akal pikiran ana bisa menerima cerita yg tidak ada bukti ”
    sudah bukan rahasia umum lagi ahlulbid’ah ketika dikritisi maka mereka
    membuat dongeng-dongeng. karena ana dulu jg pengikut ahlul bid’ah.
    2. kalo ana gak salah dengar dari ustadz ahlussunah kalo perkataan sayyidina
    disebutkan diluar sholat dan itu sekali-kali tidak mengapa, tapi kalo itu
    dimasukkan kedalam sholawat yg diajarkan oleh rasulullah shallallahu
    alaihi wassallam didalam sholat itu yg dilarang.
    3. yang sesuai adalah ketika disebut nama rasulullah shalallahu alaihi wassalam
    adalah kita bersholawat dg kalimat shallallhu alaihi wassallam. bukan SAW/
    yang lainnya.
    4. ana berdo’a kpd allah subhanahu wata a’la semoga antum diberikan
    hidayah sunnah. seperti mantan” kyiai NU ygtlh mengikuti dakwah yg haq.

    1. @org awam
      1. Demi Allah ane gak bohong, alamat masjidnya di Jalan Kayu Tinggi Cakung Jakarta Timur.
      2. Ente lihat komen sebelumnya dari ustad @mas derajat tentang penyebutan kata Sayyidina.
      3. SAW itu kalau disingkat dalam tulisan, kalau penyebutan “shallallhu alaihi wassallam”.
      4. Mohon maaf ya @org awam ane gak bakalan mengikuti kaum ente. Bagaimana mungkin ane mengikuti sekte yang membagi Tauhid menjadi 3.

      Allahuma ini audzubika min fitnati masyihid Dajjal (Ya Allah aku berlindung kepada Mu dari Finah-fitnah Dajjal), itulah doa ane setiap tahun didepan Ka’bah, sambil ane cium batu Ka’bah.

  68. yg jelas ana sudah melakukan semua apa yg ente yakini,
    yaitu melakukan bid’ah-bid’ah yg sesat dlm agama.
    tapi ente belum bisa merasakan apa yg ana rasakan
    bagaimana nikmatnya mendapatkan hidayah sunnah yg tiada
    duanya di dunia ini.
    akhi ibadah itu harus ada dalil dari alqur’qan dan sunnah
    dan ijma para ulama, dan qias itu langkah terakhir.
    bukan menuruti hawa nafsu kita
    “seperti penyebutan sayyidina kpd rasulullah shalallah
    alaihi wassallam kemudian dikiaskan kpd manusia yg lain”
    ketika seorang ustadz dipanggil namanya kemudian dia
    tdk terima, tentunya tdk demikian akhi. ana tahu karakter”
    ustadz” ahlussunnah wal jamaah beliau”nya tdk mengharapakan
    pujian dr manusia, kami tdk akan marah kalau harga diri kami
    direndahkan tapi kami akan marah kalo agama allah yg dihina.
    tdk seperti kyiai” dan ustadz” ente ketika harga dirinya dikritisi
    mereka marah tapi ketika agama allah dihina mereka diam saja.
    seperti pernyataan ketua ente “mengatakan muslim boleh dipimpin
    oleh seorang kafirpun” bgmn mungkin pemahaman yg spt ini bisa diikiuti
    adapun do’a ente berlindung dr fitnah dajjal adalah pernyataan yg haq
    tapi ente salah menempatkan. kami pun berdo’a berlindung dari
    fitnah dajjal bahkan kami tdk hanya berdo’a didepan ka’bah, setiap
    sholat lima waktu diakhir sholat sebelum salam kami membaca do’a tsb.
    itu yg diperintahkan oleh rasulullah shallallahu alaihi wassallam.
    adapun dajjal yg ente maksudkan kpd ahlussunnah wal jamaah
    sama saja ente mengatakan ahlusunnah wal jamaah kafir.
    masalah kafir mengkafirkan ente harus berhati-hati karena itu
    masalah yg besar, para ulama sendiri sangat berhati-hati dlm masalah
    pengkafiran. karena ada hadits yg melarang akan hal itu.
    “barang siapa mengatakan hai kafir”’ maka kekafiran itu akan kembali
    kepada salah satunya”
    penyebutan SAW adalah penyebutan org” yg kurang kerjaan.

    1. @Org Awam

      Begini saja, kita kan sama sama bukan mujtahid. Coba anda sebutkan amalan yg menurut anda bid’ah yg sesat dan siapa yg berfatwa demikian, serta apa dalilna. Ok?

      Pada zaman tabi’in, ketika islam mulai berkembang luas. Ada dua aliran mazhab, yaitu mazhab ahlul ra’yu di irak dan mazhab ahlul hadist di hijaz. kedua mazhab tersebut seringkali saling bertentangan, namun ulama ulama dari kalangan tabi’in tidak pernah memvonis bid’ah dan sesat kepada tabi’in yg lainnya karena berbeda pendapat.

      Saran saya, coba saudara membaca perbandingan mazhab. seringkali terdapat perbedaan pendapat yg saling bertentangan untuk satu masalah, yg satu mngatakan wajib, satunya lagi mengatakan tidak, padahal sumbernya sama, yaitu Al-Qur’an dan Hadist. Namun para ulama ulama terdahulu tidak pernah memvonis bid’ah karena berbeda pendapat.

      Khalifah Ar Rasyid pernah memerintahkan orang banyak supaya mengikuti kitab Al-Muwattha karangan Imam Malik. tetapi Imam Malik tidak menyetujui pendapat khalifah Ar Rasyid dengan alasan bahwa para sahabat Rasul telah pergi keberbagai tempat, dimana mereka meriwayatkan hadist yg mereka dengar sndiri, maka ditiap tiap negeri terdapat ilmu pengetahuan. Rasulullah saw. pernah bersabda : “perselisihan umatku merupakan suatu rahmat”. dengan demikian, Ar Rasyid mengikuti pendapat Imam Maliki.

      jangan seperti orang yg sepaham dengan saudara, karena tidak setuju dengan peringatan Maulid Nabi. kemudian mengatakan bahwa hal tersebut tidak ada dalilnya. Padahal ulama ulama pakar yg telah mencapai derajat mujtahid memperbolehkannya dengan disertai dalil dalilnya.

  69. @org awam
    Terus terang, ane gak menganggap Salafi/Wahabi itu Dajjal, mereka dan semuanya termasuk ente, ane anggap sebagai saudara dan bagian dari darah Islam untuk tetap berdirinya Islam. Ane juga bangga sama setiap Muslim yang selalu menegakkan Islam secara Kaffah dengan mengikuti Al Qur’an dan Sunnah serta Ulama yang Muktabar.

    Yang ane gak terima adanya sebagian muslim yang mengatakan Kafir, Bid’ah, sesat dsb sama orang yang mengamalkan Bid’ah Hasanah tapi Ilmu mereka baru seumur jagung atau baru mengetahui 3 KULL tapi seakan-akan melebihi ulama yang Muktabar, itulah yang ane antisipasi untuk keluarga dan lingkungan ane.
    Doa yang ente baca sebelum salam, juga ane lakukan bahkan lebih komplit setiap shalat, cuma ane selalu berlindung kepada yang utama yaitu dajjal, karena kita ini hidup sudah diakhir zaman Waallahu a’lam, sehingga kalau gak berlindung kepada Nya, maka ane bisa sesat.
    Ane juga merasa begitu nikmat dengan Bid’ah Hasanah yang dibawa oleh Imam Asy Syafi’i. Ane rasakan begitu limpahan Rahmat yang Allah telah diberikan kepada Ane, sejak ane berpuasa Daud sejak tahun 1978 sampai hari ini.
    Kalau kata Sayyidina lihat penjelasan dari komen ustad @mas derajat dan ane selalu pakai kata itu.
    Mohon maaf, kalau kata2 ane menyinggung buat ente.

    1. alhamdulillah ana sama sekali gak merasa tersinggung…
      Imam asy syafi’i rahimahullah mengatakan bid’ah hasanah’
      terus apakah Imam asy syafi’i rahimahullah melakukan
      seperti apa yang ente dan ulama asy syariah pahami”?
      mana buktinya Imam asy syafi’i rahimahullah melakukan
      yasinan,tahlilan,maulid”an dan bid’ah-bid’ah yang lainnya
      yg ente anggap bid’ah hasanah”?
      padahal Imam asy syafi’i rahimahullah mengatakan “apabila
      hadits itu telah shohih maka itu adalah mahdzabku” aku
      manusia biasa terkadang pendapatku benar tetapi juga
      bisa salah. sedangkan hadits “semua bid’ah itu sesat”
      (hadits shohih).
      adapun penulisan SAW terhadap rasullallah shallallahu alaihi
      wassallam adalah menunjukkan ente kurang memiliki adab
      terhadab rasullallah shallallahu alaihi wassallam. seperti
      penulisan Imam asy syafi’i rahimahullah ente tidak menuliskan
      rahimahullah padahal itu adab terhadap para ulama ahlussunnah
      wal jamaah. (walaupun dalam bentuk tulisan)
      kewajiban kami sesama muslim adalah saling menasehati dalam
      kebenaran dan saling berwasiat dalam hal kesabaran. adapun
      diterima nasehat kami, alhamdulillah… kalo tidak kami berserah
      diri kepada allah subhanahu wata a’la.
      alhamdulillah kalo ente puasa daud dari thn 1998 semoga itu
      diterima allah subhanahu wata a’la karena itu yg disunnahkan
      oleh rasullallah shallallahu alaihi wassallam bukan yang di
      Bid’ah-kan.

      1. @org awam
        Disini temen2 aswaja sudah banyak memeberikan koment tentang Bid’ah Hasanah, coba ente lihat koment mas @agung, ustad @mas derajat, ustad @abu hilya.
        “sedangkan hadits “semua bid’ah itu sesat” (hadits shohih).”
        Coba ente pikirkan dengan Baik2, pada dua hadist menurut ente :
        1. Semua Bid’ah adalah sesat.
        2. Barang siapa yang mengerjakan perbuatan baik….. dst
        Maaf ane singkat aja ya, tapi ane yakin ente tau betul hadist itu, pertanyaannya mana yang ente ambil untuk Hujjah terhadap diri ente sendiri.

        “adapun penulisan SAW terhadap rasullallah shallallahu alaihi wassallam adalah menunjukkan ente kurang memiliki adab terhadab rasullallah shallallahu alaihi wassallam”
        Biasanya ente menanyakan dalil, sekarang mana dalilnya ??

        1. Kaum wahabi sangat kaku dlm memahami hadits Kullu Bidh’atin Dholalah.Tidak setiap kata “kullu” bermakna semuanya.Kullu di sini bermakna ‘am takhsyis. Dengan kata lain, maknanya adalah ba’dhu (sebagian). Jika setiap makna kullu bermakna semua, bagaimana dgn ayat: kullu syai’in khuliqo minal-mai (seluruh makhluk diciptakan dari air). Pertanyaan saya: Apakah jin diciptanakan dr air? Apakah iblis diciptakan dr air? Bahkan, Nabi Adam sendiri bukan dr air, tapi tanah.

          Soal penyebutan SAW, itu ‘kan hanya sebuah sebutan. Yg penting hatinya. Coba suruh kaum wahabi utk memahami makna hadits innamal a’maalu bin-niyyati.

          Betul, mereka para pengikut wahabi pada mengaku pintar semua, seolah-olah mereka adalah mujtahid. Padahal yang sok pintar itu, sekolah saja di umum, bukan di agama, apalagi jadi santri. Tidak ada rasa tawadhu dalam diri mereka.Soalnya sejak awal, mereka sudah meremehkan pengikut ahlussunnah waljamaah.Ulama dan para ustadz ahlussunnah saja diremehkan oleh orang yg tdk ngerti apa2, apalagi orang awam seperti kita. Kalau kita ajak mereka utk berpikir secara ilmiah,mereka pasti tdk akan mampu.Sebab,mereka tahunya hanya ini bid’ah, ini tdk ada pada masa Nabi.

  70. “penyebutan SAW adalah penyebutan org” yg kurang kerjaan”
    Bukankah itu adalah dalam bentuk tulisan bukan kata-kata, apakah hal ini juga gak dibolehkan menurut ente.
    Maaf ane puasa daud sejak tahun 1998 bukan 1978, pas krisis di Indonesia.

    1. @Ucep

      Saya yakin, kalau mujtahid mujtahid kecil dari kalangan salafi (wahabi) ini membaca perbandingan mazhab, maka akan banyak para ulama ulama terdahulu yg di vonis ahlul bid’ah yg sesat hahahahahah

      1. @Agung
        Iya sekarang ini banyak Mujtahid2 tanpa Ilmu bahkan mampu ber Ijtihad, mereka tanpa sadar berijtihad, kalau mereka tahu akibatnya wah mengerikan sekali. Semoga aja kita gak termasuk golongan mereka, yang mudah memvonis Bid’ah, Kafir, Sesat kepada sesama Muslim.
        Ane juga gak tahu, apakah Ibadah dan amalan yang sudah ane kerjain bakalan diterima oleh Sang Pemilik Mahluk Allah SWT.
        Yaah semuanya kita serahkan kepada Allah SWT, apakah kita layak masuk SyurgaNya atau kita masuk Neraka.

  71. Mang @ucep… sy masih banyak kisah-kisah nyata tentang kaum asy’ariyah. tp temen2 disini lebih suka menuduh sy berdusta. jd lebih baik utk tidak bercerita, spy temen2 dikurangin dosanya dari su’uzhon dan caci maki seorg muslim.

    1. Akhi ibn abdul chair, antum sudah benar itu, nggak nyasar akhi. Makanya sebelum koment pastikan dulu mau koment untuk postingan yg mana, lihat judulnya jangan asal koment di sembarang tempat, oke akhi? Tapi memang antum sedang mengomentari Mas Ucep kan, kenapa bilang nyasar?

      Antum keder rupanya, silahkan turunkan sedikit nafsunya, jangan grusa-grusu, he he he….

    1. Makanya itu Mas Admin kasih tahu antum, pastikan dulu tempat komennya, caranya lihat judulnya, pasti nanti nggak nyasar. Akibat kebodohan antum sendiri jangan nyalahi Admin, ngerti Mas?

  72. saya prihatin, semakin banyak yang terseret ke faham wahabi, terutama temen2 yang baru mau memperdalam islam,,,,,syukur sekali ada situs ini, karna sangat banyak situs2 yang bertebaran menularkan faham wahabi saat ini…semoga saya dan keluarga dan semua umat muslim tidak tersesat kedalamnya…..

    1. @ Mas Moerad,
      Amin ….. tentu kita semua berharap malapetaka Wahabi tidak melanda keluarga dan anak cucu kita, semoga pula dalam waktu dekat negara biangnya wahabi “Arab Saudi” akan runtuh dari kekuasannya dan digantikan pemerintahan Islam yang demokratis dari faham ASWAJA atau dari keturunan Ahlul Bait……Amin

      1. amiin..ya robbal ‘alamiin…sekarang sudah ada tandanya kok awal 2012..syeh penasihat raja wahabi udah dipecat….ga usah runtuh kekuasaanya tapi runtuh ajaran wahabinya…sudah cukup

  73. moerad,
    sy juga mau berbagi pengalaman disini, saya sendiri hampir 3 bulan penuh dgn kebimbangandan dan sampe ga keruan tidur ketika mengenal faham wahabi ini… saya jelajahi lewat mbah goggle… dan byk web wahaby/salafy yg saya singgahi, dan cukup “MENCENGANGKAN” bagi saya… yg pada akhirnya timbul pertanyaan bagi saya apakah HAMPIR SEMUA umat Islam seluruh dunia telah tersesat mengingat prosentase umat wahabi/salafy sangat kecil jika diperbandingkan dgn aswaja..
    jujur saya dihantui oleh kebimbangan yg luar biasa, karena jika salah melangkah maka bukan saya saja yg tersesat tp anak istri sudah pasti akan tersesat….
    Alhamdullilah awalnya saya ketemu webnya abu salafy (salafytobat).. disitu saya mulai punya perbandingan dan lebih yakin lagi saya ketika menemukan web ummatipress ini… lambat laun tp pasti saya mulai kembali teguh kepada pemahaman aswaja…Alhamdullilah…
    “ummatipress two thumbs for u….”

    1. Terima kasih Mas karena telah kembali kpd aswaja.Telah jelas dlm hadits bhw aliran yg benar adlh ahlussunnah waljamaah.Telah jelas pula dlm hadits bhw akan tiba biang keresahan umat dr Nejd dan ulama sepakat bhw orang itu adlh pendiri wahabi.Pengikut wahabi hrus tahu dan baca sejarah wahabi,sehingga mereka tidak ikut-ikutan saja mencela umat islam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker