Kajian Ilmiyah

Salafi Wahabi Catut Nama Imam Syafi’i Soal Tahlilan!

Imam Syafi'i Mengharamkan Kenduri Arwah, Tahlilan, Yasinan dan Selamatan.

BERHENTILAH BERDUSTA ATAS NAMA IMAM SYAFI’I DAN PARA ULAMA SYAFI’IYYAH DALAM MENGHARAMKAN KENDURI KEMATIAN !!! (bagian 1)

Sekitar sebulan yang lalu penulis disodori selebaran oleh seorang sahabat, selebaran setebal 14 halaman tsb bertitel “Manhaj Salaf” dengan artikel utama berjudul “Imam Syafi’i Mengharamkan Kenduri Arwah, Tahlilan, Yasinan dan Selamatan.” Setelah kami lakukan penelusuran, ternyata kami yang berdomisili disalah satu kota di Jawa timur adalah orang yang terlambat mengetahui selebaran tersebut, karena selebaran tsb telah beredar pada pertengahan 2011 di Yogyakarta. Namun demikian hal tersebut kami pandang tetap perlu diungkap, karena barang kali ada diantara saudara kita yang belum mengetahuinya dan mungkin bermanfaat baginya.

Selebaran tsb jika dari saudara kita salafi tidak mengakuinya, maka semestinya mereka meluruskan hal tsb, karena sungguh didalamnya kami temui banyak penyelewengan dan atau manipulasi pendapat para Ulama diantaranya :

Pada halaman 2 dalam selebaran tsb terdapat pemotongan (memenggal isi tidak pada tempatnya) dari isi kitab I’anah sbb:
وفي حاشية العلامة الجمل على شرح المنهج ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها ما يفعل الناس من الوحشة والجمع والأربعين بل كل ذلك حرام

Dengan manipulasi terjemah sbb: “ Dan diantara bid’ah yang munkar ialah kebiasaan orang yang melahirkan kesedihannya sambil berkumpul beramai-ramai melalui upacara (kenduri arwah) dihari keempat puluh (empat puluh harinya) padahal semuanya ini adalah haram “.

Selanjutnya hal pada hal. 5 dalam selebaran tsb terdapat kutipan tidak lengkap dari isi kitab Hasyiyah al Jamal dan Syarah Muslim Imam Nawawi sbb:

وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعى أنه لا يصل ثوابها إلى الميت

Dengan terjemah sbb: “Adapun bacaan al Qur’an maka yang masyhur di kalangan madzhab Syafi’i, bahwa tidak sampai pahala bacaan yang dikirim kepada orang yang telah mati”

Selanjutnya pada bagian lain dalam selebaran tsb tertulis : “Sekali lagi Imam an Nawawi rahimahulloh menjelaskan dalam kitab السبكي – تكملة المجموع شرح مهذب juz 10 hlm, 426 bahwa :

وأما قراءة القرآن وجعل ثوابها للميت والصلاة عنه ونحوها فذهب الشافعي والجمهور انها لاتلحق الميت, وكرر ذلك في عدة مواضع في شرح مسلم

Dengan terjemah sbb: “Adapun pembacaan al Qur’an dan menghadiahkan pahalanya kepada orang mati, membayar solatnya dan sebagainya, maka menurut Imam Syafie dan jumhur ulama Syafie adalah tidak sampai kepada si mati. Penjelasan ini telah diulang-ulang (oleh Imam Muslim) dalam kitab syarah Muslim.”

Kami tidak mendapati pernyataan tsb dalam Takmilah al Majmu’ Syarh al Muhadzzab karya al Imam as Subki. Dan sejauh yang kami ketahui Imam as Subki menulis Takmilah Majmu’ tsb hanya seputar Bai’ (jual-beli) dan Mu’amalah, jadi rasanya nggak mungkin jika pernyataan tsb dinisbatkan sebagai pernyataan Imam as Subki dalam Takmilah al Muhadzzab. Dan jika kita perhatikan terjemahnya juga ada yang janggal, karena kami belum mengetahui ada Syarh Muslim oleh Imam Muslim. (maaf jika kami tidak dapat menyampaikan selebaran tsb dlm bentuk copy scann karena keterbatasan sarana, namun kami bertanggung jawab dihadapan Alloh bahwa kami menulis apa adanya/sesuai isi selebaran tsb.)

Selanjutnya kami juga mendapati kejanggalan-kejanggalan lain yang ada dalam selebaran tsb pada hal. 9 dan pada bagian-bagian yang lain.

Kami katakan kepada siapapun yang mengedarkan selebaran tsb, : Berhentilah berdusta atas nama para Ulama!! sesungguhnya hal itu hanya akan mendatangkan murka Alloh baik didunia maupun di akhirat. Dan ketahuilah jika memang apa yang kalian sampaikan adalah kebenaran, lantas mengapa harus anda tempuh dengan cara-cara licik dan tidak bertanggung jawab…!!!

Kepada saudaraku dari Salafi, jika anda tidak mauh dituduh sebagai dalang dibalik beredarnya selebaran tsb, maka kami juga menuntut pertanggung jawaban anda semua untuk menemukan aktor dibalik beredarnya selebaran tsb, mengingat dengan jelas tertulis “Manhaj Salaf”.

Selanjutnya dalam rangka meluruskan itu semua ikuti tulisan kami berikutnya…. Insya Alloh

BENARKAH IMAM SYAFI’IY DAN PARA ULAMA SYAFI’IYYAH MENGHARAMKAN KENDURI KEMATIAN ? (bagian 2)

Berikut kami sampaikan pendapat dan pandangan Imam Syafi’i dan para Ulama Syafi’iyyah dalam masalah kenduri kematian, tahlilan, yasinan dst..

ASPEK-ASPEK YANG TERKANDUNG DALAM PROSESI KEMATIAN :

1. Tradisi penetapan hari: 7 hari, 40, 100, 1000 dst….

Diantara para ulama Syafi’iyyah yang secara spesifik menerangkan hal tersebut adalah:

– Syekh Nawawi Ibn Umar dalam kitabnya “Nihayatuz Zain”, berikut kutipannya :

وتقييده ببعض الأيام من العوائد فقط كما أفتى بذلك السيد أحمد دحلان وقد جرت عادة الناس بالتصدق عن الميت في ثالث من موته وفي سابع وفي تمام العشرين وفي الأربعين وفي المائة وبعد ذلك يفعل كل سنة حولا في يوم الموت كما أفاده شيخنا يوسف السنبلاويني

Artinya: “Sedangkan pembatasannya (sedekah sebagai ganti dari mayit) pada hari-hari tertentu adalah termasuk bagian dari tradisi semata, sebagaimana as Sayyid Ahmad Zaini Dahlan telah berfatwa akan hal tersebut. Dan sungguh telah berlaku kebiasaan (adat/tradisi) manusia berupa sedekah sebagai ganti dari mayyit pada hari ke 3 (terhitung) sejak kematiannya, hari ke 7, pada genapnya hari ke 20, 40, 100, dan selanjutnya dilakukan setiap tahun sebagai Haul tepat pada hari kematian, sebagaimana yang telah di -ifadah-kan Syaikhuna Yusuf as Sunbulawini.” (Nihayah Az Zain, Bab Washiyyah, 1/281)

– Al Hafizh Ahmad Ibn Hajar al Haitami dalam al Fatawa al Kubro :

وَسُئِلَ فَسَّحَ اللَّهُ في مُدَّتِهِ بِمَا لَفْظُهُ ما قِيلَ إنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ في قُبُورِهِمْ أَيْ يُسْأَلُونَ كما أَطْبَقَ عليه الْعُلَمَاءُ سَبْعَةَ أَيَّامٍ هل له أَصْلٌ فَأَجَابَ بِقَوْلِهِ نعم له أَصْلٌ أَصِيلٌ فَقَدْ أَخْرَجَهُ جَمَاعَةٌ عن طَاوُسِ بِالسَّنَدِ الصَّحِيحِ وَعُبَيْدِ بن عُمَيْرٍ بِسَنَدٍ احْتَجَّ بِهِ ابن عبد الْبَرِّ وهو أَكْبَرُ من طَاوُسِ في التَّابِعِينَ بَلْ قِيلَ إنَّهُ صَحَابِيٌّ لِأَنَّهُ وُلِدَ في زَمَنِهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم وكان بَعْضُ زَمَنِ عُمَرَ بِمَكَّةَ وَمُجَاهِدٍ وَحُكْمُ هذه الرِّوَايَاتِ الثَّلَاثِ حُكْمُ الْمَرَاسِيلِ الْمَرْفُوعَةِ لِأَنَّ ما لَا يُقَالُ من جِهَةِ الرَّأْيِ إذَا جاء عن تَابِعِيٍّ يَكُونُ في حُكْمِ الْمُرْسَلِ الْمَرْفُوعِ إلَى النبي صلى اللَّهُ عليه وسلم كما بَيَّنَهُ أَئِمَّةُ الحديث وَالْمُرْسَلُ حُجَّةٌ عِنْدَ الْأَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ وَكَذَا عِنْدَنَا

BACA :  TAHLILAN: PENJELASAN ILMIYYAH SOAL JAMUAN MAKAN

Al Hafizh Ahmad Ibn Hajar al Haitami ditanya tentang ucapan yang redaksinya disampaikan berupa; “Sesungguhnya mayit diuji (ditanya) dalam kuburnya selama 7 hari,” adakah pernyataan tsb memiliki asal (dasar)?… Beliau Ibnu Hajar menjawab; “Benar pernyataan tersebut memiliki sumber yang kuat dan telah diriwayatkan oleh sekelompok (jama’ah) dari Thowus dengan sanad yang shohih, dan (pernyataan tsb juga diriwayatkan) dari ‘Ubaid ibn ‘Umair dengan sanad yang shohih yang dijadikan hujjah oleh Ibn Abdil Barr, dan dia lebih tua dari Thowus dari kalangan Tabi’in, bahkan ada yang mengatakan dia (Ubaid ibn ‘Umair) termasuk Sohabiy (generasi sahabat) karena dilahirkan pada masa Rosululloh saw, dan dia tinggal di Makkah pada masa Umar ra, dan (juga diriwayatkan dari) Mujahid, sedang hukum tiga riwayat tersebut termasuk hadits-hadits mursal yang marfu’, karena apa yang tidak diucapkan bersumber dari pendapat (pikiran semata) jika ia datang dari seorang tabi’in maka keberadaannya masuk dalam kategori hadits Mursal yang Marfu’ pada Nabi saw, sebagaimana telah dijelaskan oleh para Imam Hadits, dan hadits Mursal adalah Hujjah bagi tiga Imam dan juga bagi kami…. dst. (Al Fatawa Al Fiqhiyyah Al Kubro, Bab Janaiz, 2/30)

Dari dua pendapat Ulama’ kalangan Syafi’iyyah diatas yang sekaligus memiliki sandaran Hadits Mursal Marfu’ dari beberapa riwayat, jelaslah bagi kita bahwa penetapan 7 hari bukanlah perkara yang menyalahi syari’at (setidaknya hal ini adalah pandangan sebagian para Ulama Syafi’iyyah). Adapun 40 hari, 100, Haul dst dipandang hanya sebatas tradisi semata sebagaimana yang telah disampaikan Syekh Nawawi Ibn Umar yang merupakan fatwa dari mufti al haromain dari kalangan madzhab Syafi’iyyah as Sayyid Ahmad Zaini Dakhlan. Hal ini sekaligus mematahkan anggapan sebagian kalangan bahwa tradisi tsb merupakan warisan dari agama sebelum Islam masuk tanah Jawa, dimana sampai saat ini anggapan tsb tidak memiliki sumber data yang valid.

2. Ta’ziyah Dengan Membawa Bahan Makanan Untuk Keluarga Yang Tertimpa Musibah

– Imam as Syafi’i dalam al Umm;

وَأُحِبُّ لِجِيرَانِ الْمَيِّتِ أو ذِي قَرَابَتِهِ أَنْ يَعْمَلُوا لِأَهْلِ الْمَيِّتِ في يَوْمِ يَمُوتُ وَلَيْلَتِهِ طَعَامًا يُشْبِعُهُمْ فإن ذلك سُنَّةٌ وَذِكْرٌ كَرِيمٌ وهو من فِعْلِ أَهْلِ الْخَيْرِ قَبْلَنَا وَبَعْدَنَا لِأَنَّهُ لَمَّا جاء نَعْيُ جَعْفَرٍ قال رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم اجْعَلُوا لِآلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا فإنه قد جَاءَهُمْ أَمْرٌ يَشْغَلُهُمْ

“Dan aku suka jika para tetangga si mati atau kerabatnya menyediakan makanan untuk keluarga si mati pada hari kematian dan malam harinya sehingga mengenyangkan mereka. Sesungguhnya hal itu sunnah dan Ibadah yang mulia. Itu juga perbuatan para ahli kebajikan dari orang-orang sebelum dan sesudah kita, karena ketika berita kematian Ja’far datang, Rosululloh saw bersabda; “Sediakan makanan bagi keluarga Ja’far, karena mereka sedang kedatangan urusan (mushibah) yang menyibukkan mereka.” (al Umm, 1/278)

– Obyek Pembahasan (Mahkum Fiih) : Menyediakan bantuan makanan untuk keluarga yang ditinggal si mati
– Status Hukum : Di sukai (Mustahab)

3. Berkumpulnya Orang Banyak di Rumah Keluarga Orang Yang Meninggal dan Menghidangkan Makanan Untuk Mereka

a. Imam as Syafi’iy dalam al Umm:

وَأَكْرَهُ النِّيَاحَةَ على الْمَيِّتِ بَعْدَ مَوْتِهِ وَأَنْ تَنْدُبَهُ النَّائِحَةُ على الِانْفِرَادِ لَكِنْ يُعَزَّى بِمَا أَمَرَ اللَّهُ عز وجل من الصَّبْرِ وَالِاسْتِرْجَاعِ وَأَكْرَهُ الْمَأْتَمَ وَهِيَ الْجَمَاعَةُ وَإِنْ لم يَكُنْ لهم بُكَاءٌ فإن ذلك يُجَدِّدُ الْحُزْنَ وَيُكَلِّفُ الْمُؤْنَةَ مع ما مَضَى فيه من الْأَثَرِ

(Imam As Syafi’iy berkata): “Dan aku membenci Niyahah (meratapi/menangisi) orang yang meninggal setelah kematiannya, dan orang yang meratap menyebut-nyebut kemaikan mayit sambil menyendiri, tetapi hendaknya orang tersebut di ta’ziyahi (dihibur) dengan apa yang telah diperintahkan Alloh Azza Wa Jalla berupa (perintah) sabar dan Istirja’ (Inna Lillah Wa Inna Ilahi Roji’un/mengembalikannya kepada Alloh). Dan aku membenci “Ma’tam” yakni kumpulan (dirumah duka) meskipun didalamnya tidak terdapat tangisan, karena yang demikian bisa memperbaharui kesedihan dan juga membebani secara materi sebagai dampak apa yang telah terjadi” (Imam as Syafi’i, al Umm , 1/279)

– Mahkum Fiih (obyek pembahasan) : Niyaha (meratap) dan Ma’tam (berkumpul untuk menunjukkan ikut berduka)
– Status Hukum : Makruh (di benci)
– Mahkuhm Fiih : Ta’ziyah (menghibur dengan wasiyat Sabar dan Istirja’)
– Status Hukum : di anjurkan

b. Syekh al Bakri dalam I’anatuth Tholibin.

وما اعتيد من جعل أهل الميت طعاما ليدعوا الناس إليه بدعة مكروهة كإجابتهم لذلك لما صح عن جرير رضي الله عنه كنا نعد الاجتماع إلى أهل الميت وصنعهم الطعام بعد دفنه من النياحة ووجه عده من النياحة ما فيه من شدة الاهتمام بأمر الحزن ومن ثم كره اجتماع أهل الميت ليقصدوا بالعزاء بل ينبغي أن ينصرفوا في حوائجهم فمن صادفهم عزاهم اه وفي حاشية العلامة الجمل على شرح المنهج ومن البدع المنكرة والمكروه فعلها ما يفعله الناس من الوحشة والجمع والأربعين بل كل ذلك حرام إن كان من مال محجور أو من ميت عليه دين أو يترتب عليه ضرر أو نحو ذلك

BACA :  Risalah Bid'ah dan Dahsyatnya Konsekwensi mengatakan: " Ini-Itu Bid'ah ! "
banner gif 160 600 b - Salafi Wahabi Catut Nama Imam Syafi'i Soal Tahlilan!

“Apa yang telah dibiasakan (menjadi tradisi) oleh keluarga mayit berupa membuat makanan guna mendatangkan manusia padanya adalah “Bid’ah Makruh” seperti halnya mendatangi undangan tsb, karena adanya riwayat dari Jari ra. Kami menganggap berkumpul di rumah keluarga si mati dan menghidangkan makanan untuk mereka setelah penguburan mayit adalah termasuk “Niyahah”. Sedangkan hal tersebut dipandang sbagai Niyahah dilihat dari sudut pandang keberadaannya menambah kesedihan… dst (hingga pada…) Dalam “Hasyiyah al Jamal Syarah al Minhaj” dijelaskan; “ dan diantara bid’ah yang munkar dan makruh untuk melakukannya adalah tradisi selamatan (kenduri) kematian yang disebut Wakhsyah, Juma’ dan Arba’in (nama-nama tradisi di Hijaz sebelum kerajaan as Su’ud berkuasa). Bahkan semua itu dihukumi haram jika hidangan tersebut diambil dari harta Mahjur (orang yang tidak/belum diperkenankan mentasharrufkan hartanya, semisal anak yang belum dewasa), atau harta si mayyit yang memiliki tanggungan hutang, atau menimbulkan madhorot atas si mayyit atau sejenisnya.” (I’anah, 2/146)

Dari kandungan kitab “I’anah” tsb yang sekaligus tercakup didalamnya keterangan dalam “Hasyiyah al Jamal” kita dapati kesimpulan beberapa hal:

– Obyek pembahasan (Mahkum Fih) : Berkumpulnya manusia di rumah duka dan Menghidangkan makanan untuk mereka. (kami tidak mendapati secara tegas dalam keterangan diatas obyek (mahkum fiih) berupa penetapan hari, bacaan Tahlil maupun Yasinan atau Menghadiahkan Pahala)
– Label amal : Bid’ah Munkaroh
– Status Hukum :
1. Makruh
2. Haram, jika penyajian hidangan diambil dari harta Mahjur (orang yang tidak/belum diperkenankan mentasharrufkan hartanya, semisal anak yang belum dewasa), atau si mati yang memiliki tanggungan hutang atau jika dapat menimbulkan madhorot bagi si mati, atau madhorot yang lain. (Jika kita cermati Illat atau sebab yang menjadi alasan keharaman pada keterangan dalam kitab I’anah tsb, maka kita dapati obyek yang hukumnya bisa menjadi haram terletak pada obyek berupa Penghidangan makanan.)

c. Fatwa NU dalam Ahkamul Fuqoha’ (keputusan Muktamar, Munas dan Konbes NU 1926-2010 M)

Soal : Bagaimana hukumnya keluarga mayit menyediakan makanan untuk hidangan kepada mereka yang datang berta’ziyah pada hari wafatnya atau pada hari-hari berikutnya, dengan maksud bersedekah untuk mayit tersebut? Apakah ia (keluarga) memperoleh pahala sedekah tsb?

Jawab : Menyediakan makanan pada hari wafat atau hari ketiga atau hari ketujuh itu hukumnya makruh, apabila dengan cara harus berkumpul bersama-sama dan pada hari-hari tertentu, sedang hukum makruh tsb tidak menghilangkan pahala sedekah itu.
Maroji’ (kitab-kitab rujukan) : I’anah, 2/145 dan Al Fatawa al fiqhiyyah al Kubro Ibn Hajar, 2/7. (Ahkamul Fuqoha’, soal No:18, hal 17-19, Khalista)

Catatan : Illat atau sebab-sebab kemakruhan pada perkara diatas yang kami dapati adalah; adanya unsur Niyahah, Ritsa’, Ma’tam, dan sejenisnya

4. Sedekah Pahalanya Untuk Orang Yang Telah Meninggal

a. Imam Abu Ishaq as Syirozi dalam al Muhadzab.

وأما الصدقة فالدليل عليها ما روى ابن عباس أن رجلا قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم إن أمه توفيت أفينفعها أن أتصدق عنها فقال نعم قال فإن لي مخرفا فأشهدك أني قد تصدقت به عنها

“Adapun sedekah maka dalil yang menunjukkannya adalah apa yang diriwayatkan Ibnu Abbas, bahwa ada seseorang bertanya kepada Rosululloh Saw: “Sesungguhnya ibuku sudah meninggal, apakah bermanfaat baginya (jika) aku bersedekah atas (nama)nya?”. Roasululloh menjawab; “ Ya “. Orang itu kemudian berkata : “Sesungguhnya aku memiliki sekeranjang buah, maka aku ingin engkau menyaksikan bahwa sesungguhnya aku menyedekahkannya atas (nama)nya.” (al muhaddzab, 1/464)

– Obyek perkara : Manfaatnya (pahala) sedekah orang hidup untuk yang sudah meninggal
– Status : Dapat Bermanfaat

b. Syekh Nawawi dalam Nihayah az Zain :

والتصدق عن الميت بوجه شرعي مطلوب ولا يتقيد بكونه في سبعة أيام أو أكثر أو أقل

“Bersedekah sebagai ganti dari mayyit dengan cara yang syar’iy adalah perkara yang dituntut (untuk dilakukan), dan sedekah tsb tidak dibatasi keberedaannya dalam tujuh hari atau lebih atau kurang (dari tujuh hari).” (Nihayah Az Zain, Bab Washiyyah, 1/281)

– Obyek perkara : sedekah orang hidup sebagai ganti dari orang yang sudah meninggal
– Status : Dianjurkan

5. Berkumpul Untuk Membaca Yasiin, Tasbih, Tahmid, Tahlil dll (tahlilan)

a. Al Hafizh Ibnu Hajar al Asqolani dalam Fathul Bari.

Ketika mensyarah Hadits; “Sesungguhnya Alloh memiliki banyak malaikat yang selalu mengadakan perjalanan, mereka senantiasa mencari orang-orang yang berdzikir….dst (HR. Bukhori [6408]) al Hafizh Ibnu Hajar berkata :

وفي الحديث فضل مجالس الذكر والذاكرين وفضل الاجتماع علي ذلك وان جليسهم يندرج معهم في جميع ما يتفضل الله تعالى به عليهم اكراما لهم ولو لم يشاركهم في أصل الذكر وفيه محبة الملائكة بني ادم واعتناؤهم بهم

“Dalam Hadits tsb mengandung keutamaan majelis-majelis dzikir, orang-orang yang berdzkir dan keutamaan berkumpul untuk berdzikir, orang yang duduk bersama mereka akan masuk dalam golongan mereka dalam semua apa yang Alloh anugerahkan kepada mereka karena memuliakan mereka, meskipun ia tidak mengikuti mereka dalam berdzkir.” (al Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, 11/213)

– Obyek perkara : Berkumpul untuk berdzikir, Majlis dzikir dan orang yang hadir bersama mereka
– Status : Amal yang utama

6. IHDAA’UTS TSAWAB (menghadiahkan pahala kebaikan) UNTUK ORANG YANG TELAH MENINGGAL

a. Imam as Syafi’i sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibn Katsir :

ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم؛ ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء، ولم ينقل ذلك عن أحد من الصحابة، رضي الله عنهم، ولو كان خيرا لسبقونا إليه، وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء، فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما، ومنصوص من الشارع عليهما

BACA :  Penelitian: Cara Asuh Orang Tua Pengaruhi Penghasilan Anak

“Dan dari ayat yang mulia ini (QS, An Najm:39) Imam as Syafi’iy dan orang-orang yang mengikutinya mengeluarkan ketetapan bahwa: Sesungguhnya menghadiahkan pahala bacaan (al qur’an) tidak bisa sampai kepada orang-orang yang telah meninggal, karena hal tersebut bukan amal dan upaya mereka…. dst (sampai pada..) Adapun do’a dan shodaqoh maka keduanya disepakati atas sampainya (pahala untuk mayit) dan ditetapkan dari Syari’ atas keduanya.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/465, shameela)

Catatan : disini penulis mendapati Musykilah (kejanggalan) mengenai alasan yang disampaikan oleh Imam Ibn Katsir bahwa tidak sampainya pahala bacaan qur’an tsb karena bukan termasuk amal dan usaha mayit. lantas bagaiman dengan shodaqoh dan do’a ? dimana pada akhir redaksi diatas dengan tegas dinyatakan sampai, tanpa batasan harus dilakukan mayit atau hasil dari usaha mayit?… Wallohu a’lam, bukan kapasitas penulis untuk membantah beliau rohimahullohu wa a’aadallohu alaina min barokatihi wa ‘uluumihi…

b. Abu Zakariya al Anshori dalam Hasyiyah al Jamal:

وَكَمَا يَنْتَفِعُ الْمَيِّتُ بِذَلِكَ يَنْتَفِعُ بِهِ الْمُتَصَدِّقُ وَالدَّاعِي أَمَّا الْقِرَاءَةُ فَقَالَ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ : الْمَشْهُورُ مِنْ مَذْهَبِ الشَّافِعِيِّ أَنَّهُ لَا يَصِلُ ثَوَابُهَا إلَى الْمَيِّتِ وَقَالَ بَعْضُ أَصْحَابِنَا : يَصِلُ وَذَهَبَ جَمَاعَاتٌ مِنْ الْعُلَمَاءِ إلَى أَنَّهُ يَصِلُ إلَيْهِ ثَوَابُ جَمِيعِ الْعِبَادَاتِ مِنْ صَلَاةٍ وَصَوْمٍ وَقِرَاءَةٍ وَغَيْرِهَا ، وَمَا قَالَهُ مِنْ مَشْهُورِ الْمَذْهَبِ مَحْمُولٌ عَلَى مَا إذَا قَرَأَ لَا بِحَضْرَةِ الْمَيِّتِ وَلَمْ يَنْوِ ثَوَابَ قِرَاءَتِهِ لَهُ ، أَوْ نَوَاهُ وَلَمْ يَدْعُ بَلْ قَالَ السُّبْكِيُّ :الَّذِي دَلَّ عَلَيْهِ الْخَبَرُ بِالِاسْتِنْبَاطِ أَنَّ بَعْضَ الْقُرْآنِ إذَا قُصِدَ بِهِ نَفْعُ الْمَيِّتِ نَفَعَهُ وَبَيَّنَ ذَلِكَ وَقَدْ ذَكَرْتُهُ فِي شَرْحِ الرَّوْضِ

“Sebagaimana mayit mendapatkan kemanfaatan dengan itu semua (sedekah dan do’a oleh yang masih hidup), orang yang bersedekah dan berdo’a juga mendapat kemanfaatan dari sedekah dan do’anya. Adapun tentang bacaan al qur’an Imam an Nawawi dalam Syarah Muslim berkata: “ Yang populer (masyhur) dari madzhab Syafi’iy, “sesungguhnya pahala bacaan al qur’an tidak sampai kepada mayit”, dan sebagian Ashabuna (para Ulama Syafi’iyyah) berkata : “pahala tsb (bacaan qur’an) bisa sampai”, dan segolongan para Ulama’ memilih : “Sesungguhnya pahala semua Ibadah berupa sholat, puasa, bacaan al qur’an dan yang lain bisa sampai kepada si mayit, mengenai pendapat yang masyhur dari “Al Madzhab” (Imam as Syafi’iy tentang tidak sampainya pahala bacaan qur’an kepada mayit) diartikan ketika membaca al qur’an tsb tidak berada di sisi mayit atau tidak diniatkan pahala bacaannya untuk mayit, atau tidak di do’akan untuk mayit…dst (Hasyiyah al Jamal, 16/4 shameela)

c. Imam an Nawawi dalam Syarah Muslim:

وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعى أنه لا يصل ثوابها إلى الميت وقال بعض أصحابه يصل ثوابها إلى الميت وذهب جماعات من العلماء إلى أنه يصل إلى الميت ثواب جميع العبادات من الصلاة والصوم والقراءة وغير ذلك

“Adapun bacaan al qur’an maka yang populer (masyhur) dari madzhab Syafi’iy, “sesungguhnya pahala bacaan al qur’an tidak sampai kepada mayit”, dan sebagian Ashabuna (para Ulama Syafi’iyyah) berkata : “pahala tsb (bacaan qur’an) bisa sampai kepada mayit”, dan segolongan para Ulama’ memilih : “Sesungguhnya pahala semua Ibadah berupa sholat, puasa, bacaan al qur’an dan yang lain bisa sampai kepada si mayit.” (Syarah Muslim, 1/90. Shameela)

– Obyek Perkara : Sampainya Pahala Kebaikan Untuk Orang Yang Telah Meninggal
– Status : Khilaf (terjadi perbedaan pendapat) dengan rincian sbb:

1. Khusus pahala bacaan al qur’an (bukan yang lain)
a. Yang populer dari Imam Syafi’iy : Tidak sampai
b. Sebagian Ulama Syafi’iyyah : Sampai Mutlaq
c. Sebagian yang lain : Sampai, dengan cara meniatkannya untuk mayit, atau membacanya di sisi mayit, atau mendo’akan agar pahalanya di hadiahkan untuk mayit.
2. Berupa shodaqoh, do’a serta kebjikan yang lain : Sampai. (kami tidak mengetahui adanya khilafiyah dalam kalangan syafi’iyyah tentang masalah ini, wallohu a’lam)

KESIMPULAN

Dari beberapa pendapat Imam Syafi’iy dan para Ulama Syafi’iyyah diatas kita dapati beberapa hal :

1. Baik dari Imam Syafi’iy maupun Para Ulama Syafi’iyyah tidak kami dapati mereka mengharamkan kenduri kematian, kecuali jika dalam pembiayaannya menggunakan hak orang lain dengan cara yang tidak dibenarkan syara’, (harta mahjur ‘alaih, atau tirkah mayit yang memiliki hutang, atau bagian dari ahli waris yang tidak setuju bagiannya digunakan selamatan), dan juga jika pelaksanaannya mengarah pada takalluf yang berlebihan.

2. Hukum yang kami dapati dari beberapa pandangan diatas adalah, “Makruh” dengan ketentuan jika tradisi tersebut dianggap “Niyaha, Ma’tam, Ritsa’,” atau memiliki kesamaan dengan tradisi yang dilakukan di Hijaz dengan sebutan “Wakhsyah, Juma’, Arba’in”. Maka sebelum menetapkan hukum tradisi yang ada disekitar kita, hendaknya difahami dulu batasan-batasan “Niyahah, Ma’tam, Ritsa’” menurut ketetapan Imam Syafi’iy dan para Ulama Syafi’iyyah. Selanjutnya dilakukan infestigasi mendalam dan menyeluruh terhadap tradisi-tradisi yang berlaku disekitar kita, apakah masuk dalam batasan-batasan Niyaha, Ma’tam dst…. agar kita tidak terjebak dalam kesalahan menempatkan hujjah.

3. Seandainya tradisi yang ada disekitar kita memang layak dihukumi makruh, kemakruhan tersebut tidak menghilangkan pahala kebaikan yang ada didalamnya, sebagaimana fatwa NU pertama 1926, pada soal No 18 dalam Ahkamul Fuqoha’. … wallohu a’lam. (Abu Hilya)

Oleh: Abu Hilya

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

144 thoughts on “Salafi Wahabi Catut Nama Imam Syafi’i Soal Tahlilan!”

  1. Sebuah upaya pembongkaran atas kedustaan kaum Wahabi, hayo mau mengelak kemana lagi?

    Terbukti kan, emang Kaum Wahabiyyuuun Najdiyyuun itu tukang catut nama Ulama Mu’tabar untuk melegalkan hawa nafsu tanduk setan yg bercokol di hati?

  2. Alhamdulillah…. penjelasan ini sangat lengkap dg hujjah yg kuat, semakin yakin tak ada keraguan sedikit pun tentang amal ma’ruf yg terkandung dalam TAHLILAN.

    Oh ya, selama ini Salafi wahabi suka sekali memfitnah sengaja atau tidak, mereka selalu mengutip hasil; mu’tamar NU pertama 1926. Padahal intinya … mereka tidak mudeng, atau sengaja memelintir pengertian dari fatwa tsb.

      1. memang semua salafi wahabi itu ahli bid’ah dlolalah karena mereka menghalalkan fitnah dan dusta, dan mereka berbuat itu karena mengikuti tokoh sesat mereka yaitu syetan berbentuk manusia si busuk muhammad bin abdul wahhab an-najdi

  3. Alhamdulillah, menambah lagi keterangan hal Ber do’a pada mayit dan apa yang harus kita lakukan bila ada kerabat handaitoulan meninggal dunia ,
    Kemudian bagai mana setelah sehabis Sholat sebagai mana biasanya, pada doa memastikan untuk kedua orang tua, soudara , dan para sahabat yang telah mendahuluinya dan apakah itu entah sampai atau tidak karena menurut Salafi Wahabi ini sudah putus dari yang hidup. dan Salafi ini akan mendo’akan orang tua atau tidak dan apa yang mereka baca…Sedangkan untuk bisa memasuki ranah diterimanya disisi Allah salah satunya adalah do’a dari anak yang Soleh.

    1. @Baru belajar Islam :

      Apakah pertanyaan saudara (yang dikaitkan pendapat kelompok Salafy Wahabi) terkait dengan hadits dibawah ini :

      حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ هُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

      Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah -yaitu Ibnu Sa’id- dan Ibnu Hujr mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Isma’il -yaitu Ibnu Ja’far- dari Al ‘Ala’ dari Ayahnya dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa’at baginya dan anak sholeh yang selalu mendoakannya.” (HR Muslim 3084)

      Jika ya, baru dilanjutkan pembahasannya. Terimakasih.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

      1. Mas derajat, sudah jelas kan? Orang mati sdh putus amalnya kecuali tiga perkara, lalu kenapa para ahlul bid’ah bikin terobosan dg tahlilan? Kok masih pada ngeyel aja, pakai dalil yg shahih baru boleh merasa paling benar.

        1. @Macan Salafi :
          Waduh…ada yang nyolot…he..he..he.. 😆

          Kalau berkenaan hadits yang saya kemukakan diatas, mana yang menyatakan tidak sampainya hadiah do’a kepada mayit ???

          Pada hadits tersebut disebutkan : انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ

          Artinya apa Kang ??? Apa ada menyebutkan hadiah pahala terputus ??? Sekarang saya tanya yang diartikan putus amalnya itu siapa ??? Monggo Kang…. 😀

          Kalau memang hadiah pahala putus. Untuk apa Allah mengajarkan dalam Al Qur’an Al Karim Surat Al Hasyr Ayat 10 berikut :

          وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

          Silahkan jelaskan. Monggo ….??!!! 😀

          Kebenaran hakiki hanya milik Allah
          Hamba Allah yang dhaif dan faqir
          Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  4. Imam as Syafi’i sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibn Katsir :
    ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم؛ ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء، ولم ينقل ذلك عن أحد من الصحابة، رضي الله عنهم، ولو كان خيرا لسبقونا إليه، وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء، فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما، ومنصوص من الشارع عليهما

    “Dan dari ayat yang mulia ini (QS, An Najm:39) Imam as Syafi’iy dan orang-orang yang mengikutinya mengeluarkan ketetapan bahwa: Sesungguhnya menghadiahkan pahala bacaan (al qur’an) tidak bisa sampai kepada orang-orang yang telah meninggal, karena hal tersebut bukan amal dan upaya mereka…. dst (sampai pada..) Adapun do’a dan shodaqoh maka keduanya disepakati atas sampainya (pahala untuk mayit) dan ditetapkan dari Syari’ atas keduanya.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/465, shameela)

    Catatan : disini penulis mendapati Musykilah (kejanggalan) mengenai alasan yang disampaikan oleh Imam Ibn Katsir bahwa tidak sampainya pahala bacaan qur’an tsb karena bukan termasuk amal dan usaha mayit. lantas bagaiman dengan shodaqoh dan do’a ? dimana pada akhir redaksi diatas dengan tegas dinyatakan sampai, tanpa batasan harus dilakukan mayit atau hasil dari usaha mayit?… Wallohu a’lam, bukan kapasitas penulis untuk membantah beliau rohimahullohu wa a’aadallohu alaina min barokatihi wa ‘uluumihi…

    Imam an Nawawi dalam Syarah Muslim:
    وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعى أنه لا يصل ثوابها إلى الميت وقال بعض أصحابه يصل ثوابها إلى الميت وذهب جماعات من العلماء إلى أنه يصل إلى الميت ثواب جميع العبادات من الصلاة والصوم والقراءة وغير ذلك

    “Adapun bacaan al qur’an maka yang populer (masyhur) dari madzhab Syafi’iy, “sesungguhnya pahala bacaan al qur’an tidak sampai kepada mayit”, dan sebagian Ashabuna (para Ulama Syafi’iyyah) berkata : “pahala tsb (bacaan qur’an) bisa sampai kepada mayit”, dan segolongan para Ulama’ memilih : “Sesungguhnya pahala semua Ibadah berupa sholat, puasa, bacaan al qur’an dan yang lain bisa sampai kepada si mayit.” (Syarah Muslim, 1/90. Shameela)

    Melihat dalil yang disebutkan diatas (baik yang tertulis ataupun yang tidak tertulis dalam artikel ini), maka pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan tidak sampainya pahala yang dilakukan oleh orang yang masih hidup kepada si mayit kecuali yang disebutkan secara khusus oleh dalil. QS. An-Najm ayat 39 merupakan nash yang sangat tegas bahwa seseorang itu hanyalah akan mendapat balasan (baik pahala ataupun siksa) dari apa yang ia perbuat sendiri. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu juga menjelaskan bahwa setelah seseorang itu meninggal, maka terputuslah segala amal yang dapat bermanfaat baginya. Adapun beberapa dalil yang menjelaskan tentang sampainya amal dan pahala – yang sama-sama disebutkan oleh kelompok pertama maupun kedua – merupakan kasus-kasus tertentu sebagai pengkhususan (takhshish) atas keumuman ayat. Oleh karena itu, tidak bisa ia diqiyaskan dengan kasus-kasus (amal-amal) lain secara mutlak. Apalagi telah shahih perkataan Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma yang menguatkan tarjih ini :

    لا يصلي أحد عن أحد ولا يصوم أحد عن أحد ولكن يطعم عنه مكان كل يوم مدا من حنطة

    ”Seseorang tidak boleh shalat untuk menggantikan shalat orang lain, dan tidak pula puasa untuk menggantikan puasa orang lain. Akan tetapi memberikan makanan darinya setiap hari sebanyak satu mud biji gandum” [HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 2918 dan Ath-Thahawi dalam Musykilul-Aatsaar 3/141; shahih].

    Pemahamannya adalah, kita tidak diperkenankan untuk melakukan shalat (baik shalat wajib atau sunnah) bagi orang lain (baik yang masih hidup, apalagi yang telah meninggal). Begitu pula dengan amalan puasa [3].

    Selain itu alasan yang menjadi latar belakang tarjih ini adalah :

    Prinsip dasar dalam ibadah yaitu tawaquf (diam) sampai terdapat dalil yang menunjukkan disyari’atkannya. Sedangkan di sini hanya terdapat dalil yang menunjukkan pensyariatan sebagian saja, sehingga diharuskan meninggalkan selain itu.

    Tidak pernah terdengar pada masa Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dan juga masa para shahabatnya bahwa ada seseorang yang membaca Al-Qur’an kemudian menghadiahkan pahalanya kepada si mayit. Kalaupun itu merupakan kebaikan, pastilah mereka telah mendahului kita untuk mengerjakannya, karena mereka adalah orang yang paling mengetahui agama Allah dan Rasul-Nya.

    Pemberlakuan qiyas terhadap ibadah-ibadah yang diterangkan oleh dalil dapat membukakan pintu buat ahli bid’ah untuk memasukkan apa saja yang mereka sukai ke dalam agama Allah.

    Bahwa para ahli bid’ah di masa sekarang telah mengada-adakan hal-hal yang bathil, seperti mengupah para qaari’ untuk membaca Al-Qur’an dan sebagainya, yang seringkali dilakukan terhadap jenazah beberapa waktu setelah kematiannya. Oleh karena itu, menutup pintu ini berarti tidak memberikan peluang kepada mereka untuk berbuat sesukanya.

    Kebanyakan manusia pada masa sekarang (kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah) telah melupakan ibadah-ibadah yang disyariatkan, yang terdapat dalil shahih tentang bolehnya menghadiahkan pahala kepada mayit; sebaliknya, mereka berpegang kepada apa-apa yang tidak terdapat dalil padanya.

    Semoga tulisan ringkas ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan bagi kita semua. Amien.

    allaahu a’lam bish-shawwab.

  5. Para imam madzhab syafiiyah telah menukil perkataan yang masyhuur dari Imam As-Syafii, yaitu perkataan beliau;

    مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَّعَ

    “Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara) maka dia telah membuat syari’at”

    (Perkataan Imam As-Syafi’i ini dinukil oleh para Imam madzhab As-Syafi’i, diantaranya Al-Gozaali dalam kitabnya Al-Mustashfa, demikian juga As-Subki dalam Al-Asybaah wa An-Nadzooir, Al-Aaamidi dalam Al-Ihkaam, dan juga dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Al-Ihkaam fi Ushuul Al-Qur’aan, dan Ibnu Qudaamah dalam Roudhotun Naadzir)

    Oleh karenanya barangsiapa yang menganggap baik suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maka pada hakikatnya ia telah menjadikan ibadah tersebut syari’at yang baru.

    1. @ummu abdillah :

      Disini saudara berusaha merancukan pemahaman istihsan dengan bid’ah yang akan saudara arahkan ke satu pemahaman semua “dhalalah”.

      Jangankan Qaul Imam Syafi’i Ra., Qur’an dan hadits saja kalian ta’wilkan semau kalian sendiri. Licik dan kotor sekali cara saudara dalam mempengaruhi para pengikut Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Sekali lagi disini saudara dan kelompok saudara menggunakan qaul Imam Syafi’i untuk menyerang kami. 😀

      Saudara tidak punya sanad keilmuan dari Imam Syafi’i tapi seenaknya menggunakan ucapan beliau. Seorang ulama harus bersanad agar secara riwayah dan dirayah sampai kepada Rasulallah melalui jalur sanadnya.

      Bagaimana bisa saudara mengartikan ucapan beliau itu dengan menafikkan qaidah ushul fiqih kalangan Imam Syafi’i, yaitu : Al-Ashlu fil ‘ibaadati at tahrim, yang dalam penjelasan ulama Syafi’iyyah kita tidak boleh melarang sesuatu yang tidak dilarangNya, mengharamkam sesuatu yang tidak diharamkanNya, dan mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkanNya. Jelas karena itu ulama Syafi’iyyah menolak Istihsan dalam pengistimbatan hukum. Hal ini jelas jauh berbeda dengan Bid’ah Hasanah yang saudara coba sejajarkan. Bid’ah hasanah paling tidak ada pendekatan qiyas dan ijma’ ulama.

      Maka dari itu saya mengingatkan saudara jangan sok menggunakan pendapat Imam Syafi’i tanpa memiliki sanad keilmuan yang jelas, karena bisa sangat tersesat.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  6. Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata :

    وأكره أن يعظم مخلوق حتى يُجعل قبره مسجداً مخافة الفتنة عليه وعلى من بعده من الناس

    “Dan aku benci diagungkannya seorang makhluq hingga kuburannya dijadikan masjid, khawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya” (Al-Muhadzdzab 1/140, Al-Majmuu’ syarhul Muhadzdzab 5/280)

    Bahkan Imam As-Syafi’i dikenal tidak suka jika kuburan dibangun lebih tinggi dari satu jengkal. Beliau berkata :

    وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُزَادَ في الْقَبْرِ تُرَابٌ من غَيْرِهِ وَلَيْسَ بِأَنْ يَكُونَ فيه تُرَابٌ من غَيْرِهِ بَأْسٌ إذَا زِيدَ فيه تُرَابٌ من غَيْرِهِ ارْتَفَعَ جِدًّا وَإِنَّمَا أُحِبُّ أَنْ يُشَخِّصَ على وَجْهِ الْأَرْضِ شِبْرًا أو نَحْوَهُ وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُبْنَى وَلَا يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلَاءَ… وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك

    “Aku suka jika kuburan tidak ditambah dengan pasir dari selain (galian) kuburan itu sendiri. Dan tidak mengapa jika ditambah pasir dari selain (galian) kuburan jika ditambah tanah dari yang lain akan sangat tinggi. Akan tetapi aku suka jika kuburan dinaikan di atas tanah seukuran sejengkal atau yang semisalnya. Dan aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan…

    Aku telah melihat di Mekah ada diantara penguasa yang menghancurkan apa yang dibangun diatas kuburan, dan aku tidak melihat pera fuqohaa mencela penghancuran tersebut”(Al-Umm 1/277)

    1. @ummu abdillah :

      Untuk masalah ini masalahnya apa ? Tidak ada makam ulama yang dijadikan Masjid. Kalaupun berziarah do’a kita juga “Allahumma…dst” tidak ada penyembahan kubur/makam. Kami berziarah ke makam ulama karena untuk mengingat mati, mengingat perjuangan beliau, memohonkan doa kepada beliau dan meneladani kehidupan beliau yang walaupun sudah meninggalpun masih dikenang dan didoakan orang lain.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  7. Diantara bukti bahwa al-Imam al-Syafi‘i tidak memaksudkan bid‘ah dalam ibadah sebagai Bid‘ah hasanah adalah kritikan beliau terhadap kesinambungan berzikir secara keras selepas solat, yang tentunya amalan ini dianggap perkara yang baik/hasanah oleh sebagian pihak.

    Imam Syafi’i rahimahullah berkata :

    وأختار للامام والمأموم أن يذكرا الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكرَ إلا أن يكون إماما يُحِبُّ أن يتعلّم منه فيجهر حتى يَرى أنه قد تُعُلِّمَ منه ثم يُسِرّ.

    Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berdzikir selepas selesai sholat. Hendaklah mereka memelankan (secara sir) dzikir kecuali jika imam ingin mengajar bacaan-bacaan zikir tersebut, maka ketika itu dikeraskanlah dzikir, hingga dia menduga bahwa telah dipelajari darinya (bacaan-bacaan dzikir tersebut-pen), lalu setelah itu ia memelankan kembali dzikirnya (Al-Umm 2/288).

    Adapun mengenai hadits-hadits yang menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi terdengar suara dzikirnya maka Imam Syafi’i menjelaskan seperti berikut:

    وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلّم الناس منه وذلك لأن عامة الروايات التي كتبناها مع هذا وغيرها ليس يُذكر فيها بعد التسليم تَهليلٌ ولا تكبير، وقد يذكر أنه ذكر بعد الصلاة بما وصَفْتُ، ويذكر انصرافه بلا ذكر، وذكرتْ أمُّ سلمةَ مُكْثَه ولم يذكر جهرا، وأحسبه لم يَمكُثْ إلاّ ليذكرَ ذكرا غير جهْرٍ.

    Menurutku Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan (dzikir) sedikit agar orang-orang bisa belajar dari beliau. Karena kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini atau selainnya, tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil dan takbir. Kadangkala riwayat menyebut Nabi berdzikir selepas sholat seperti yang aku nyatakan, kadangkala disebut bahwa Nabi pergi tanpa berdzikir. Ummu Salamah menyebutkan bahwa Nabi selepas sholat menetap di tempat sholatnya akan tetapi tidak menyebutkan bahwa Nabi berdzikir dengan jahr (keras). Aku rasa beliau tidaklah menetap kecuali untuk berdzikir dengan tidak dijaharkan.

    فإن قال قائل: ومثل ماذا؟ قلت: مثل أنه صلّى على المنبر يكون قيامُه وركوعُه عليه وتَقهْقَرَ حتى يسجدَ على الأرض، وأكثر عمره لم يصلّ عليه، ولكنه فيما أرى أحب أن يعلم من لم يكن يراه ممن بَعُد عنه كيف القيامُ والركوعُ والرفع. يُعلّمهم أن في ذلك كله سعة. وأستحبُّ أن يذكر الإمام الله شيئا في مجلسه قدر ما يَتقدم من انصرف من النساء قليلا كما قالت أم سلمة ثم يقوم وإن قام قبل ذلك أو جلس أطولَ من ذلك فلا شيء عليه، وللمأموم أن ينصرفَ إذا قضى الإمام السلامَ قبل قيام الإمام وأن يؤخر ذلك حتى ينصرف بعد انصرافِ الإمام أو معه أَحَبُّ إلي له.

    Jika seseorang berkata: “Seperti apa?” (maksudnya permasalahan ini seperti permasalahan apa yang lain?-pen). Aku katakan, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersholat di atas mimbar, dimana beliau berdiri dan rukuk di atasnya, kemudian beliau mundur belakang untuk sujud di atas tanah. Nabi tidaklah sholat di atas mimbar pada kebanyakan usia beliau. Akan tetapi menurutku beliau ingin agar orang yang jauh yang tidak melihat beliau, dapat mengetahui bagaimana cara berdiri (dalam solat), rukuk dan bangun (dari rukuk). Beliau ingin mengajarkan mereka keluasan dalam itu semua.

    Aku suka sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sebentar dengan kadar hingga perginya jama’ah wanita sebagaimana yang dikatakan oleh Ummu Salamah. Kemudian imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum itu, atau duduk lebih lama dari itu, tidak mengapa. Makmum boleh pula pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam bangun. Jika dia tunda/akhirkan sehingga imam pergi, atau ia pergi bersama imam, maka itu lebih aku sukai untuknya. ” (Al-Umm 2/288-289)

    Nyata sekali al-Imam As-Syafi’i rahimahullah tidak menamakan ini sebagai Bid‘ah Hasanah, sebaliknya beliau berusaha agar kita semua membiasakan diri dengan bentuk asal yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu asalnya Nabi berdzikir dengan pelan, dan hanya sesekali mengeraskan suara beliau untuk mengajarkan kepada para makmum. Seandainya maksud Bid‘ah Mahmudah/Hasanah yang disebut oleh al-Imam Asy-Syafi’i mencakup perkara baru dalam cara beribadah yang dianggap baik, sudah tentu beliau akan memasukkan dzikir secara kuat selepas sholat dalam kategori Bid‘ah Mahmudah. Dengan itu tentu beliau juga tidak akan berusaha menafikannya. Ternyata bukan itu yang dimaksudkan oleh beliau rahimahullah

    1. @ummu abdillah :

      Sangat halus tapi tetap menunjukkan kelicikan dan kekotoran cara-cara saudara dalam menjelaskan ucapan Imam Syafi’i Ra.

      Diatas sudah jelas saudara mengemukakan pendapat Imam Syafi’i tentang manfaat dzikir jahar, tapi di bagian akhir saudara mengatakan ” Nyata sekali al-Imam As-Syafi’i rahimahullah tidak menamakan ini sebagai Bid‘ah Hasanah, … Dst” Saudara mengatakannya laiknya ulama mujtahid yang mensyarah qaul Imam Syafi’i Ra. Sudah sebegitu dalamnyakah sanad keilmuan saudara dalam Mazhab Syafi’i ???

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. Bismillah,

      JAWABAN BUAT UMMI ABDILLAH

      Dalam menanggapi artikel berikut :

      Imam as Syafi’i sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibn Katsir :

      ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم؛ ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء، ولم ينقل ذلك عن أحد من الصحابة، رضي الله عنهم، ولو كان خيرا لسبقونا إليه، وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء، فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما، ومنصوص من الشارع عليهما

      “Dan dari ayat yang mulia ini (QS, An Najm:39) Imam as Syafi’iy dan orang-orang yang mengikutinya mengeluarkan ketetapan bahwa: Sesungguhnya menghadiahkan pahala bacaan (al qur’an) tidak bisa sampai kepada orang-orang yang telah meninggal, karena hal tersebut bukan amal dan upaya mereka…. dst (sampai pada..) Adapun do’a dan shodaqoh maka keduanya disepakati atas sampainya (pahala untuk mayit) dan ditetapkan dari Syari’ atas keduanya.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/465, shameela)

      Catatan : disini penulis mendapati Musykilah (kejanggalan) mengenai alasan yang disampaikan oleh Imam Ibn Katsir bahwa tidak sampainya pahala bacaan qur’an tsb karena bukan termasuk amal dan usaha mayit. lantas bagaiman dengan shodaqoh dan do’a ? dimana pada akhir redaksi diatas dengan tegas dinyatakan sampai, tanpa batasan harus dilakukan mayit atau hasil dari usaha mayit?… Wallohu a’lam, bukan kapasitas penulis untuk membantah beliau rohimahullohu wa a’aadallohu alaina min barokatihi wa ‘uluumihi…

      Imam an Nawawi dalam Syarah Muslim:

      وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعى أنه لا يصل ثوابها إلى الميت وقال بعض أصحابه يصل ثوابها إلى الميت وذهب جماعات من العلماء إلى أنه يصل إلى الميت ثواب جميع العبادات من الصلاة والصوم والقراءة وغير ذلك

      “Adapun bacaan al qur’an maka yang populer (masyhur) dari madzhab Syafi’iy, “sesungguhnya pahala bacaan al qur’an tidak sampai kepada mayit”, dan sebagian Ashabuna (para Ulama Syafi’iyyah) berkata : “pahala tsb (bacaan qur’an) bisa sampai kepada mayit”, dan segolongan para Ulama’ memilih : “Sesungguhnya pahala semua Ibadah berupa sholat, puasa, bacaan al qur’an dan yang lain bisa sampai kepada si mayit.” (Syarah Muslim, 1/90. Shameela)

      Ukhti Ummi Abdillah Berkata :

      Melihat dalil yang disebutkan diatas (baik yang tertulis ataupun yang tidak tertulis dalam artikel ini), maka pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan tidak sampainya pahala yang dilakukan oleh orang yang masih hidup kepada si mayit kecuali yang disebutkan secara khusus oleh dalil. QS. An-Najm ayat 39 merupakan nash yang sangat tegas bahwa seseorang itu hanyalah akan mendapat balasan (baik pahala ataupun siksa) dari apa yang ia perbuat sendiri. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu juga menjelaskan bahwa setelah seseorang itu meninggal, maka terputuslah segala amal yang dapat bermanfaat baginya. Adapun beberapa dalil yang menjelaskan tentang sampainya amal dan pahala – yang sama-sama disebutkan oleh kelompok pertama maupun kedua – merupakan kasus-kasus tertentu sebagai pengkhususan (takhshish) atas keumuman ayat. Oleh karena itu, tidak bisa ia diqiyaskan dengan kasus-kasus (amal-amal) lain secara mutlak. Apalagi telah shahih perkataan Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma yang menguatkan tarjih ini :

      لا يصلي أحد عن أحد ولا يصوم أحد عن أحد ولكن يطعم عنه مكان كل يوم مدا من حنطة

      ”Seseorang tidak boleh shalat untuk menggantikan shalat orang lain, dan tidak pula puasa untuk menggantikan puasa orang lain. Akan tetapi memberikan makanan darinya setiap hari sebanyak satu mud biji gandum” [HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 2918 dan Ath-Thahawi dalam Musykilul-Aatsaar 3/141; shahih].

      Pemahamannya adalah, kita tidak diperkenankan untuk melakukan shalat (baik shalat wajib atau sunnah) bagi orang lain (baik yang masih hidup, apalagi yang telah meninggal). Begitu pula dengan amalan puasa [3]

      Jawaban kami :

      – Tentang QS An Najm : 39

      Dalam Tafsir Al Khozin :

      { وأن ليس للإنسان إلا ما سعى } أي عمل وهذا في صحف إبراهيم وموسى أيضاً قال ابن عباس هذا منسوخ الحكم في هذه الشريعة بقوله تعالى : { ألحقنا بهم ذريتهم } فأدخل الأبناء الجنة بصلاح الآباء وقيل كان ذلك لقوم إبراهيم وموسى فأما هذه الأمة فلها ما سعوا وما سعى لهم غيرهم لما روي عن ابن عباس « أن امرأة رفعت صبياً لها فقالت يا رسول الله ألهذا حج؟ قال نعم ولك أجراً » أخرجه مسلم وعنه « أن رجلاً قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم إن أمي توفيت أينفعها إن تصدقت عنها؟ قال نعم »

      (“dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”) Yakni yang telah ia kerjakan. Hal ini juga terdapat dalam Shuhuf Nabi Ibrohim dan Nabi Musa. Ibnu Abbas berkata : Ayat ini hukumnya di mansukh dalam syari’at ini dengan firman Alloh (Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka. QS, At Thur 21), maka anak-anak dimasukkan surga karena kesalehan bapak (orang tua mereka). Dan dikatakan ketetapan tsb (yakni kandunga QS, An Najm : 39) berlaku untuk kaum Nabi Ibrohim dan Nabi Musa, sedangkan Ummat ini (Ummat Nabi Muhammad Saw) maka bagi mereka apa-apa yang mereka usahakan dan apa-apa yang orang lain usahakan untuk mereka, karena bersandar pada hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas : “Sesungghnya seorang perempuan yang ditinggal mati anak kecilnya bertanya kepada Rosululloh, Yaa Rosulalloh adakah baginya (anak kecilnya) hajji? Rosululloh menjawab : Ya, dan bagimu pahala. HR. Muslim) dan dari Ibnu Abbas pula : (“Sesungghnya seorang lelaki bertanya kepada Rosululloh Saw, sesungguhnya ibuku telah wafat, adakah akan bermanfaat baginya jika aku bersedekah sebagai ganti darinya? Rosululloh menjawab : Ya.)

      Dalam Anwarut Tanzil Wa Asrorut Takwil Imam Al Baidhowi berkata :

      { وَأَن لَّيْسَ للإنسان إِلاَّ مَا سعى } إلا سعيه أي كما لا يؤاخذ أحد بذنب الغير لا يثاب بفعله ، وما جاء في الأخبار من أن الصدقة والحج ينفعان الميت فلكون الناوي له كالنائب عنه

      (“dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”) kecuali usahanya, Yakni sebagimana seseorang tidaklah disiksa karena dosa orang lain ia tidak pula diberi pahala sebab perbuatan orang lain. adapun apa yang ada dalam beberapa hadits, bahwa shodaqoh dan hajji bisa bermanfaat untuk mayyit hal itu karena orang yang meniyatkannya untuk mayyit seperti/sama dengan pengganti dari mayyit.

      Hal senada juga dapat anda temui dalam tafsir Al Baghowi, Ad Durrul Mantsur, Az Zamakhsyari dll. Kebanyakan para mufassirin yang kami jumpai tidak menggunakan ayat tsb untuk menutup total kemanfaatan dari yang hidup untuk yang sudah meninggal… selanjutnya silahkan periksa sendiri kitab-kitab tafsir mu’tabar…

      Berikutnya anda melarang menggunakan metode qiyas sembarangan, namun disisi lain anda menggunakan hadits “puasa dan sholat tidak dapat diqodho’i oleh orang lain”. Ini yang salah qiyas siapa?… kami faham bahwa sholat dan puasa dalam madzhab Syafi’iyyah adalah Ibadah Badaniyah yang tidak dapat digantikan oleh orang lain dalam pelaksanaannya, meskipun ada sebagian kecil pendapat yang memperbolehkannya. Akan tetapi menggunakan Hadits Qodho’ Sholat dan Puasa untuk menghukumi kenduri kematian, apa ya bisa diterima akal pelajar?

      وفي رواية أن سعد بن عبادة أخا بني سعد وذكر نحوه وأخرجه البخاري وعن عائشة رضي الله عنها قالت : « إن رجلاً قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم إن أمي افتلتت نفسها وأظنها لو تكلمت تصدقت فهل لها أجر إن تصدقت عنها؟ قال نعم . » أخرجاه في الصحيحين . وفي حديث ابن عباس دليل لمذهب الشافعي ومالك وأحمد وجماهير العلماء أن حج الصبي منعقد صحيح يثاب عليه وإن كان لا يجزيه عن حجة الإسلام بل يقع تطوعاً . وقال أبو حنيفة : لا يصح حجه وإنما يكون ذلك تمريناً للعبادة . وفي الحديثين الآخرين دليل على أن الصدقة عن الميت تنفع الميت ويصله ثوابها
      Selanjutnya dalam comment Ummu Abdillah

      Selain itu alasan yang menjadi latar belakang tarjih ini adalah :

      Prinsip dasar dalam ibadah yaitu tawaquf (diam) sampai terdapat dalil yang menunjukkan disyari’atkannya. Sedangkan di sini hanya terdapat dalil yang menunjukkan pensyariatan sebagian saja, sehingga diharuskan meninggalkan selain itu.

      Tidak pernah terdengar pada masa Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dan juga masa para shahabatnya bahwa ada seseorang yang membaca Al-Qur’an kemudian menghadiahkan pahalanya kepada si mayit. Kalaupun itu merupakan kebaikan, pastilah mereka telah mendahului kita untuk mengerjakannya, karena mereka adalah orang yang paling mengetahui agama Allah dan Rasul-Nya.

      Pemberlakuan qiyas terhadap ibadah-ibadah yang diterangkan oleh dalil dapat membukakan pintu buat ahli bid’ah untuk memasukkan apa saja yang mereka sukai ke dalam agama Allah.

      Bahwa para ahli bid’ah di masa sekarang telah mengada-adakan hal-hal yang bathil, seperti mengupah para qaari’ untuk membaca Al-Qur’an dan sebagainya, yang seringkali dilakukan terhadap jenazah beberapa waktu setelah kematiannya. Oleh karena itu, menutup pintu ini berarti tidak memberikan peluang kepada mereka untuk berbuat sesukanya.

      Kebanyakan manusia pada masa sekarang (kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah) telah melupakan ibadah-ibadah yang disyariatkan, yang terdapat dalil shahih tentang bolehnya menghadiahkan pahala kepada mayit; sebaliknya, mereka berpegang kepada apa-apa yang tidak terdapat dalil padanya.

      Jawaban kami :

      Disini nampaknya anda tidak mampu membedakan antara Ibadah yang bersifat Tauqifiy (Ibadah Mahdho yang tekhnis pelaksanannya telah ditetapkan) dengan Ibadah yang bersifat Muthlaq yang berupa kebaikan-kebaikan yang bernaung dibawah dalil-dalil ‘AM dimana tekhnis pelaksanaannya tidak ada ketetapan.

      Yang kedua, anda melarang apa yang tidak dilakukan oleh Rosululloh Saw, maupun para sahabat dengan hujjah “Seandainya hal itu baik, Niscaya mereka pasti telah mendahului kita”

      Ketahuilah Ukhti, Hujjah anda bukanlah kaedah Ushul maupun Kaedah Fiqih yang dapat digunakan sebagai haluan atau rambu-rambu dalam berisntinbath. Selanjutnya jika anda belum memahami “At Tark”, cukup bagi kami mengajukan sebuah pertanyaan. “Beranikah anda mengatakan Rosululloh Saw mengharamkan kenduri kematian” ? jika anda memaksa memberanikan diri untuk mengatakannya, maka cukup sampai disini saja diskusi kita, selanjutnya silahkan anda seenaknya mengharamkan apa yang tidak diharamkan Syari’ mewajibkan apa yang tidak diwajibkan Syari’… dst…. dan kami berlepas diri dari itu semua.. Wal ‘Iyadz Billah

      Selanjutnya tentang comment anda :

      Pemberlakuan qiyas terhadap ibadah-ibadah yang diterangkan oleh dalil dapat membukakan pintu buat ahli bid’ah untuk memasukkan apa saja yang mereka sukai ke dalam agama Allah.

      Pernyataan anda kotradiktif, karena memasukkan perkara sesuai kesukaan berarti meninggalkan metode Qiyas, Karena jika kita beristinhbath dengan menggunakan landasan hukum qiyas itu bererti kita tidak berbuat sesukanya, melainkan menggunakan salah satu landasan hukum yang disepakati….

      Tentang alenia terakhir dalam comment anda diatas, perlu kami tanyakan satu hal: apa yang dimaksud “Dalil” dalam pengertian anda?….

      Bersambung…. Insya Alloh

      1. Klarifikasi…

        JAWABAN BUAT UMMI ABDILLAH

        Dalam menanggapi artikel berikut :

        Imam as Syafi’i sebagaimana disebutkan dalam Tafsir Ibn Katsir :

        ومن وهذه الآية الكريمة استنبط الشافعي، رحمه الله، ومن اتبعه أن القراءة لا يصل إهداء ثوابها إلى الموتى؛ لأنه ليس من عملهم ولا كسبهم؛ ولهذا لم يندب إليه رسول الله صلى الله عليه وسلم أمته ولا حثهم عليه، ولا أرشدهم إليه بنص ولا إيماء، ولم ينقل ذلك عن أحد من الصحابة، رضي الله عنهم، ولو كان خيرا لسبقونا إليه، وباب القربات يقتصر فيه على النصوص، ولا يتصرف فيه بأنواع الأقيسة والآراء، فأما الدعاء والصدقة فذاك مجمع على وصولهما، ومنصوص من الشارع عليهما

        “Dan dari ayat yang mulia ini (QS, An Najm:39) Imam as Syafi’iy dan orang-orang yang mengikutinya mengeluarkan ketetapan bahwa: Sesungguhnya menghadiahkan pahala bacaan (al qur’an) tidak bisa sampai kepada orang-orang yang telah meninggal, karena hal tersebut bukan amal dan upaya mereka…. dst (sampai pada..) Adapun do’a dan shodaqoh maka keduanya disepakati atas sampainya (pahala untuk mayit) dan ditetapkan dari Syari’ atas keduanya.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/465, shameela)

        Catatan : disini penulis mendapati Musykilah (kejanggalan) mengenai alasan yang disampaikan oleh Imam Ibn Katsir bahwa tidak sampainya pahala bacaan qur’an tsb karena bukan termasuk amal dan usaha mayit. lantas bagaiman dengan shodaqoh dan do’a ? dimana pada akhir redaksi diatas dengan tegas dinyatakan sampai, tanpa batasan harus dilakukan mayit atau hasil dari usaha mayit?… Wallohu a’lam, bukan kapasitas penulis untuk membantah beliau rohimahullohu wa a’aadallohu alaina min barokatihi wa ‘uluumihi…

        Imam an Nawawi dalam Syarah Muslim:

        وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعى أنه لا يصل ثوابها إلى الميت وقال بعض أصحابه يصل ثوابها إلى الميت وذهب جماعات من العلماء إلى أنه يصل إلى الميت ثواب جميع العبادات من الصلاة والصوم والقراءة وغير ذلك

        “Adapun bacaan al qur’an maka yang populer (masyhur) dari madzhab Syafi’iy, “sesungguhnya pahala bacaan al qur’an tidak sampai kepada mayit”, dan sebagian Ashabuna (para Ulama Syafi’iyyah) berkata : “pahala tsb (bacaan qur’an) bisa sampai kepada mayit”, dan segolongan para Ulama’ memilih : “Sesungguhnya pahala semua Ibadah berupa sholat, puasa, bacaan al qur’an dan yang lain bisa sampai kepada si mayit.” (Syarah Muslim, 1/90. Shameela)

        Ukhti Ummi Abdillah Berkata :

        Melihat dalil yang disebutkan diatas (baik yang tertulis ataupun yang tidak tertulis dalam artikel ini), maka pendapat yang paling kuat adalah pendapat yang menyatakan tidak sampainya pahala yang dilakukan oleh orang yang masih hidup kepada si mayit kecuali yang disebutkan secara khusus oleh dalil. QS. An-Najm ayat 39 merupakan nash yang sangat tegas bahwa seseorang itu hanyalah akan mendapat balasan (baik pahala ataupun siksa) dari apa yang ia perbuat sendiri. Hadits Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu juga menjelaskan bahwa setelah seseorang itu meninggal, maka terputuslah segala amal yang dapat bermanfaat baginya. Adapun beberapa dalil yang menjelaskan tentang sampainya amal dan pahala – yang sama-sama disebutkan oleh kelompok pertama maupun kedua – merupakan kasus-kasus tertentu sebagai pengkhususan (takhshish) atas keumuman ayat. Oleh karena itu, tidak bisa ia diqiyaskan dengan kasus-kasus (amal-amal) lain secara mutlak. Apalagi telah shahih perkataan Ibnu ’Abbas radliyallaahu ’anhuma yang menguatkan tarjih ini :

        لا يصلي أحد عن أحد ولا يصوم أحد عن أحد ولكن يطعم عنه مكان كل يوم مدا من حنطة

        ”Seseorang tidak boleh shalat untuk menggantikan shalat orang lain, dan tidak pula puasa untuk menggantikan puasa orang lain. Akan tetapi memberikan makanan darinya setiap hari sebanyak satu mud biji gandum” [HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 2918 dan Ath-Thahawi dalam Musykilul-Aatsaar 3/141; shahih].

        Pemahamannya adalah, kita tidak diperkenankan untuk melakukan shalat (baik shalat wajib atau sunnah) bagi orang lain (baik yang masih hidup, apalagi yang telah meninggal). Begitu pula dengan amalan puasa [3]

        Jawaban kami :

        – Tentang QS An Najm : 39

        Dalam Tafsir Al Khozin :

        { وأن ليس للإنسان إلا ما سعى } أي عمل وهذا في صحف إبراهيم وموسى أيضاً قال ابن عباس هذا منسوخ الحكم في هذه الشريعة بقوله تعالى : { ألحقنا بهم ذريتهم } فأدخل الأبناء الجنة بصلاح الآباء وقيل كان ذلك لقوم إبراهيم وموسى فأما هذه الأمة فلها ما سعوا وما سعى لهم غيرهم لما روي عن ابن عباس « أن امرأة رفعت صبياً لها فقالت يا رسول الله ألهذا حج؟ قال نعم ولك أجراً » أخرجه مسلم وعنه « أن رجلاً قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم إن أمي توفيت أينفعها إن تصدقت عنها؟ قال نعم »

        (“dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”) Yakni yang telah ia kerjakan. Hal ini juga terdapat dalam Shuhuf Nabi Ibrohim dan Nabi Musa. Ibnu Abbas berkata : Ayat ini hukumnya di mansukh dalam syari’at ini dengan firman Alloh (Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka. QS, At Thur 21), maka anak-anak dimasukkan surga karena kesalehan bapak (orang tua mereka). Dan dikatakan ketetapan tsb (yakni kandunga QS, An Najm : 39) berlaku untuk kaum Nabi Ibrohim dan Nabi Musa, sedangkan Ummat ini (Ummat Nabi Muhammad Saw) maka bagi mereka apa-apa yang mereka usahakan dan apa-apa yang orang lain usahakan untuk mereka, karena bersandar pada hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas : “Sesungghnya seorang perempuan yang ditinggal mati anak kecilnya bertanya kepada Rosululloh, Yaa Rosulalloh adakah baginya (anak kecilnya) hajji? Rosululloh menjawab : Ya, dan bagimu pahala. HR. Muslim) dan dari Ibnu Abbas pula : (“Sesungghnya seorang lelaki bertanya kepada Rosululloh Saw, sesungguhnya ibuku telah wafat, adakah akan bermanfaat baginya jika aku bersedekah sebagai ganti darinya? Rosululloh menjawab : Ya.)

        Dalam Anwarut Tanzil Wa Asrorut Takwil Imam Al Baidhowi berkata :

        { وَأَن لَّيْسَ للإنسان إِلاَّ مَا سعى } إلا سعيه أي كما لا يؤاخذ أحد بذنب الغير لا يثاب بفعله ، وما جاء في الأخبار من أن الصدقة والحج ينفعان الميت فلكون الناوي له كالنائب عنه

        (“dan bahwasannya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya”) kecuali usahanya, Yakni sebagimana seseorang tidaklah disiksa karena dosa orang lain ia tidak pula diberi pahala sebab perbuatan orang lain. adapun apa yang ada dalam beberapa hadits, bahwa shodaqoh dan hajji bisa bermanfaat untuk mayyit hal itu karena orang yang meniyatkannya untuk mayyit seperti/sama dengan pengganti dari mayyit.

        Hal senada juga dapat anda temui dalam tafsir Al Baghowi, Ad Durrul Mantsur, Az Zamakhsyari dll. Kebanyakan para mufassirin yang kami jumpai tidak menggunakan ayat tsb untuk menutup total kemanfaatan dari yang hidup untuk yang sudah meninggal… selanjutnya silahkan periksa sendiri kitab-kitab tafsir mu’tabar…

        Berikutnya anda melarang menggunakan metode qiyas sembarangan, namun disisi lain anda menggunakan hadits “puasa dan sholat tidak dapat diqodho’i oleh orang lain”. Ini yang salah qiyas siapa?… kami faham bahwa sholat dan puasa dalam madzhab Syafi’iyyah adalah Ibadah Badaniyah yang tidak dapat digantikan oleh orang lain dalam pelaksanaannya, meskipun ada sebagian kecil pendapat yang memperbolehkannya. Akan tetapi menggunakan Hadits Qodho’ Sholat dan Puasa untuk menghukumi kenduri kematian, apa ya bisa diterima akal pelajar?

        Selanjutnya dalam comment Ummu Abdillah

        Selain itu alasan yang menjadi latar belakang tarjih ini adalah :

        Prinsip dasar dalam ibadah yaitu tawaquf (diam) sampai terdapat dalil yang menunjukkan disyari’atkannya. Sedangkan di sini hanya terdapat dalil yang menunjukkan pensyariatan sebagian saja, sehingga diharuskan meninggalkan selain itu.

        Tidak pernah terdengar pada masa Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam dan juga masa para shahabatnya bahwa ada seseorang yang membaca Al-Qur’an kemudian menghadiahkan pahalanya kepada si mayit. Kalaupun itu merupakan kebaikan, pastilah mereka telah mendahului kita untuk mengerjakannya, karena mereka adalah orang yang paling mengetahui agama Allah dan Rasul-Nya.

        Pemberlakuan qiyas terhadap ibadah-ibadah yang diterangkan oleh dalil dapat membukakan pintu buat ahli bid’ah untuk memasukkan apa saja yang mereka sukai ke dalam agama Allah.

        Bahwa para ahli bid’ah di masa sekarang telah mengada-adakan hal-hal yang bathil, seperti mengupah para qaari’ untuk membaca Al-Qur’an dan sebagainya, yang seringkali dilakukan terhadap jenazah beberapa waktu setelah kematiannya. Oleh karena itu, menutup pintu ini berarti tidak memberikan peluang kepada mereka untuk berbuat sesukanya.

        Kebanyakan manusia pada masa sekarang (kecuali orang-orang yang dirahmati oleh Allah) telah melupakan ibadah-ibadah yang disyariatkan, yang terdapat dalil shahih tentang bolehnya menghadiahkan pahala kepada mayit; sebaliknya, mereka berpegang kepada apa-apa yang tidak terdapat dalil padanya.

        Jawaban kami :

        Disini nampaknya anda tidak mampu membedakan antara Ibadah yang bersifat Tauqifiy (Ibadah Mahdho yang tekhnis pelaksanannya telah ditetapkan) dengan Ibadah yang bersifat Muthlaq yang berupa kebaikan-kebaikan yang bernaung dibawah dalil-dalil ‘AM dimana tekhnis pelaksanaannya tidak ada ketetapan.

        Yang kedua, anda melarang apa yang tidak dilakukan oleh Rosululloh Saw, maupun para sahabat dengan hujjah “Seandainya hal itu baik, Niscaya mereka pasti telah mendahului kita”

        Ketahuilah Ukhti, Hujjah anda bukanlah kaedah Ushul maupun Kaedah Fiqih yang dapat digunakan sebagai haluan atau rambu-rambu dalam berisntinbath. Selanjutnya jika anda belum memahami “At Tark”, cukup bagi kami mengajukan sebuah pertanyaan. “Beranikah anda mengatakan Rosululloh Saw mengharamkan kenduri kematian” ? jika anda memaksa memberanikan diri untuk mengatakannya, maka cukup sampai disini saja diskusi kita, selanjutnya silahkan anda seenaknya mengharamkan apa yang tidak diharamkan Syari’ mewajibkan apa yang tidak diwajibkan Syari’… dst…. dan kami berlepas diri dari itu semua.. Wal ‘Iyadz Billah

        Selanjutnya tentang comment anda :

        “Pemberlakuan qiyas terhadap ibadah-ibadah yang diterangkan oleh dalil dapat membukakan pintu buat ahli bid’ah untuk memasukkan apa saja yang mereka sukai ke dalam agama Allah.”

        Jawaban kami:

        Pernyataan anda kotradiktif, karena memasukkan perkara sesuai kesukaan berarti meninggalkan metode Qiyas, Karena jika kita beristinhbath dengan menggunakan landasan hukum qiyas itu bererti kita tidak berbuat sesukanya, melainkan menggunakan salah satu landasan hukum yang disepakati….

        Tentang alenia terakhir dalam comment anda diatas, perlu kami tanyakan satu hal: apa yang dimaksud “Dalil” dalam pengertian anda?….

        Bersambung…. Insya Alloh

      2. Bismillah,

        JAWABAN BUAT UMMU ABDILLAH 2

        Comment selanjutnya dari Ummu Abdillah :

        Para imam madzhab syafiiyah telah menukil perkataan yang masyhuur dari Imam As-Syafii, yaitu perkataan beliau;

        مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَّعَ

        “Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara) maka dia telah membuat syari’at”

        (Perkataan Imam As-Syafi’i ini dinukil oleh para Imam madzhab As-Syafi’i, diantaranya Al-Gozaali dalam kitabnya Al-Mustashfa, demikian juga As-Subki dalam Al-Asybaah wa An-Nadzooir, Al-Aaamidi dalam Al-Ihkaam, dan juga dinukil oleh Ibnu Hazm dalam Al-Ihkaam fi Ushuul Al-Qur’aan, dan Ibnu Qudaamah dalam Roudhotun Naadzir)

        Oleh karenanya barangsiapa yang menganggap baik suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maka pada hakikatnya ia telah menjadikan ibadah tersebut syari’at yang baru.

        Jawaban kami :

        Ini adalah contoh akibat menolak bermadzhab namun mengambil pernyataan Imam Madzhab hanya sepotong… akibatnya dalam kesimpulan anda sangat tidak sesuai dengan pandangan Imam as Syafi’iy, dan jika hal tersebut anda sengaja berarti anda telah berdusta atas nama Imam Syafi’iy, berikut buktinya :

        Dalam Ar Risalah, Ushul Fiqih karya Imam Syafi’iy disana dijelaskan secara tersendiri dalam “BAB ISTIHSAN” jika anda tidak ingin salah mengartikan maksud dari pernyataan Imam Syafi’iy tsb (Man Istahsana Faqod Syaro’a), maka wajib bagi anda mempelajarinya secarah utuh…

        Berikut kami kutipkan sebatas sebagai gambaran :

        فهل تجيز أنت أن يقول الرجل أستحسن بغير قياس فقلت لا يجوز هذا عندي والله أعلم لاحد وإنما كان لاهل العلم ان يقولوا دون غيرهم لان يقولوا في الخبر باتباعه فيما ليس فيه الخبر بالقياس على الخبر

        Imam Syafi’iy rohimahulloh ditanya; “Apakah anda memperbolehkan jika seseorang berkata ‘ Aku menganggap baik dengan tanpa qiyas’? maka aku (Imam Syafi’iy) menjawab : Hal ini (berpendapat dengan menggunakan hujjah Istihsan/menganggap baik sebuah perkara dengan meninggalkan qiyas dan hanya bermodal penilaian akal) tidak boleh bagi seorangpun –wallohu a’lam- dan seharusnya bagi orang yang berilmu -bukan yang lain- hendaknya berpendapat mengikuti Khobar (hadits) sedang dalam perkara yang tidak ada dalam Khobar (hadits) maka dengan qiyas pada Khobar….

        Selanjutnya dalam kesimpulan anda : “Oleh karenanya barangsiapa yang menganggap baik suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maka pada hakikatnya ia telah menjadikan ibadah tersebut syari’at yang baru”

        Jawaban kami : kami pastikan itu bukan pernyataan Imam Syafi’iy dan bukan pula Istihsan yang dimaksud Imam Syafi’iy, namun itu hanyalah kesimpulan anda yang lahir dari ketidak fahaman atas pernyataan yang disampaikan Imam Syafi’iy, akibat dari mengambil pernyataan hanya sepotong….

        Selanjutnya, ketika kami mengajukan Hujjah Spesifik baik berupa Hadits Nabi Saw maupun pandangan para Ulama dalam masalah “Kenduri Kematian” anda tuduh kami membuat syari’at baru, di saat yang sama anda mengharamkan “Kenduri Kematian” dengan menunjukkan hujjah tentang qodho’ sholat dan puasa yang tentunya nggak nyambung, lantas siapa yang sebenarnya menetapkan Syari’at baru?….

        Selanjutnya dalam comment Ummu Abdillah:

        Imam As-Syafi’i rahimahullah berkata :

        وأكره أن يعظم مخلوق حتى يُجعل قبره مسجداً مخافة الفتنة عليه وعلى من بعده من الناس

        “Dan aku benci diagungkannya seorang makhluq hingga kuburannya dijadikan masjid, khawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya” (Al-Muhadzdzab 1/140, Al-Majmuu’ syarhul Muhadzdzab 5/280)

        Bahkan Imam As-Syafi’i dikenal tidak suka jika kuburan dibangun lebih tinggi dari satu jengkal. Beliau berkata :

        وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُزَادَ في الْقَبْرِ تُرَابٌ من غَيْرِهِ وَلَيْسَ بِأَنْ يَكُونَ فيه تُرَابٌ من غَيْرِهِ بَأْسٌ إذَا زِيدَ فيه تُرَابٌ من غَيْرِهِ ارْتَفَعَ جِدًّا وَإِنَّمَا أُحِبُّ أَنْ يُشَخِّصَ على وَجْهِ الْأَرْضِ شِبْرًا أو نَحْوَهُ وَأُحِبُّ أَنْ لَا يُبْنَى وَلَا يُجَصَّصَ فإن ذلك يُشْبِهُ الزِّينَةَ وَالْخُيَلَاءَ… وقد رَأَيْت من الْوُلَاةِ من يَهْدِمَ بِمَكَّةَ ما يُبْنَى فيها فلم أَرَ الْفُقَهَاءَ يَعِيبُونَ ذلك

        “Aku suka jika kuburan tidak ditambah dengan pasir dari selain (galian) kuburan itu sendiri. Dan tidak mengapa jika ditambah pasir dari selain (galian) kuburan jika ditambah tanah dari yang lain akan sangat tinggi. Akan tetapi aku suka jika kuburan dinaikan di atas tanah seukuran sejengkal atau yang semisalnya. Dan aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan…
        Aku telah melihat di Mekah ada diantara penguasa yang menghancurkan apa yang dibangun diatas kuburan, dan aku tidak melihat pera fuqohaa mencela penghancuran tersebut”(Al-Umm 1/277)

        Diantara bukti bahwa al-Imam al-Syafi‘i tidak memaksudkan bid‘ah dalam ibadah sebagai Bid‘ah hasanah adalah kritikan beliau terhadap kesinambungan berzikir secara keras selepas solat, yang tentunya amalan ini dianggap perkara yang baik/hasanah oleh sebagian pihak.

        Imam Syafi’i rahimahullah berkata :

        وأختار للامام والمأموم أن يذكرا الله بعد الانصراف من الصلاة ويخفيان الذكرَ إلا أن يكون إماما يُحِبُّ أن يتعلّم منه فيجهر حتى يَرى أنه قد تُعُلِّمَ منه ثم يُسِرّ.

        Pendapatku untuk imam dan makmum hendaklah mereka berdzikir selepas selesai sholat. Hendaklah mereka memelankan (secara sir) dzikir kecuali jika imam ingin mengajar bacaan-bacaan zikir tersebut, maka ketika itu dikeraskanlah dzikir, hingga dia menduga bahwa telah dipelajari darinya (bacaan-bacaan dzikir tersebut-pen), lalu setelah itu ia memelankan kembali dzikirnya (Al-Umm 2/288).

        Adapun mengenai hadits-hadits yang menunjukkan bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi terdengar suara dzikirnya maka Imam Syafi’i menjelaskan seperti berikut:

        وأحسبه إنما جهر قليلا ليتعلّم الناس منه وذلك لأن عامة الروايات التي كتبناها مع هذا وغيرها ليس يُذكر فيها بعد التسليم تَهليلٌ ولا تكبير، وقد يذكر أنه ذكر بعد الصلاة بما وصَفْتُ، ويذكر انصرافه بلا ذكر، وذكرتْ أمُّ سلمةَ مُكْثَه ولم يذكر جهرا، وأحسبه لم يَمكُثْ إلاّ ليذكرَ ذكرا غير جهْرٍ.

        Menurutku Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengeraskan (dzikir) sedikit agar orang-orang bisa belajar dari beliau. Karena kebanyakan riwayat yang telah kami tulis bersama ini atau selainnya, tidak menyebut selepas salam terdapat tahlil dan takbir. Kadangkala riwayat menyebut Nabi berdzikir selepas sholat seperti yang aku nyatakan, kadangkala disebut bahwa Nabi pergi tanpa berdzikir. Ummu Salamah menyebutkan bahwa Nabi selepas sholat menetap di tempat sholatnya akan tetapi tidak menyebutkan bahwa Nabi berdzikir dengan jahr (keras). Aku rasa beliau tidaklah menetap kecuali untuk berdzikir dengan tidak dijaharkan.

        فإن قال قائل: ومثل ماذا؟ قلت: مثل أنه صلّى على المنبر يكون قيامُه وركوعُه عليه وتَقهْقَرَ حتى يسجدَ على الأرض، وأكثر عمره لم يصلّ عليه، ولكنه فيما أرى أحب أن يعلم من لم يكن يراه ممن بَعُد عنه كيف القيامُ والركوعُ والرفع. يُعلّمهم أن في ذلك كله سعة. وأستحبُّ أن يذكر الإمام الله شيئا في مجلسه قدر ما يَتقدم من انصرف من النساء قليلا كما قالت أم سلمة ثم يقوم وإن قام قبل ذلك أو جلس أطولَ من ذلك فلا شيء عليه، وللمأموم أن ينصرفَ إذا قضى الإمام السلامَ قبل قيام الإمام وأن يؤخر ذلك حتى ينصرف بعد انصرافِ الإمام أو معه أَحَبُّ إلي له.

        Jika seseorang berkata: “Seperti apa?” (maksudnya permasalahan ini seperti permasalahan apa yang lain?-pen). Aku katakan, sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersholat di atas mimbar, dimana beliau berdiri dan rukuk di atasnya, kemudian beliau mundur belakang untuk sujud di atas tanah. Nabi tidaklah sholat di atas mimbar pada kebanyakan usia beliau. Akan tetapi menurutku beliau ingin agar orang yang jauh yang tidak melihat beliau, dapat mengetahui bagaimana cara berdiri (dalam solat), rukuk dan bangun (dari rukuk). Beliau ingin mengajarkan mereka keluasan dalam itu semua.

        Aku suka sekiranya imam berzikir nama Allah di tempat duduknya sebentar dengan kadar hingga perginya jama’ah wanita sebagaimana yang dikatakan oleh Ummu Salamah. Kemudian imam boleh bangun. Jika dia bangun sebelum itu, atau duduk lebih lama dari itu, tidak mengapa. Makmum boleh pula pergi setelah imam selesai memberi salam, sebelum imam bangun. Jika dia tunda/akhirkan sehingga imam pergi, atau ia pergi bersama imam, maka itu lebih aku sukai untuknya. ” (Al-Umm 2/288-289)

        Jawaban kami :

        Disini sekali lagi anda berhujjah atas masalah “Kenduri Kematian” dengan fatwa Imam Syafi’iy atas masalah dzikir Jahr ba’dal maktubah, menjadikan quburan sebagai masjid, meninggikan urukan tanah kuburan, akhirnya hujjah anda nggak nyambung. …

        Selanjutnya dalam kesimpulan Ummu Abdillah atas pernyataan Imam Syafi’iy diatas :

        Nyata sekali al-Imam As-Syafi’i rahimahullah tidak menamakan ini sebagai Bid‘ah Hasanah, sebaliknya beliau berusaha agar kita semua membiasakan diri dengan bentuk asal yang dilakukan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu asalnya Nabi berdzikir dengan pelan, dan hanya sesekali mengeraskan suara beliau untuk mengajarkan kepada para makmum. Seandainya maksud Bid‘ah Mahmudah/Hasanah yang disebut oleh al-Imam Asy-Syafi’i mencakup perkara baru dalam cara beribadah yang dianggap baik, sudah tentu beliau akan memasukkan dzikir secara kuat selepas sholat dalam kategori Bid‘ah Mahmudah. Dengan itu tentu beliau juga tidak akan berusaha menafikannya. Ternyata bukan itu yang dimaksudkan oleh beliau rahimahullah

        Jawaban Kami :

        Beliau Imam Syafi’iy tidak menyebutnya sebagai Bid’ah Hasanah karena ada dalil yang shorih conto dari Rosululloh Saw, sebagaimana dalam Al Um hal 1/127 yang tidak anda sampaikan :

        أخبرنا الرَّبِيعُ قال أخبرنا الشَّافِعِيُّ قال أخبرنا إبْرَاهِيمُ بن مُحَمَّدٍ قال حدثني مُوسَى بن عُقْبَةَ عن أبي الزُّبَيْرِ أَنَّهُ سمع عَبْدَ اللَّهِ بن الزُّبَيْرِ يقول كان رسول اللَّهِ صلى اللَّهُ عليه وسلم إذَا سَلَّمَ من صَلَاتِهِ يقول بِصَوْتِهِ الْأَعْلَى لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ له له الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وهو على كل شَيْءٍ قَدِيرٌ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِاَللَّهِ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ له النِّعْمَةُ وَلَهُ الْفَضْلُ وَلَهُ الثَّنَاءُ الْحَسَنُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ مُخْلِصِينَ له الدَّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

        “ Telah bercerita kepadaku Robi’, ia berkata As Syafi’iy telah bercerita kepadaku ia berkata, telah bercerita kepadaku Ibrohim bin Muhammad ia berkata, Musa bin ‘Uqbah telah bercerita kepadaku dari Abi Zubair, sesungguhnya ia telah mendengar Abdulloh bin Zubair berkata : “Adalah Rosululloh Saw jika selesai salam dari sholatnya beliau berkata dengan suaranya yang tinggi (keras) “Laa Ilaaha Illalloh Wahdahu Laa Syariika Lahu… dst.”

        Adakah terhadap apa yang pernah dilakukan Rosululloh (meskipun jarang) anda menuntut Imam Syafi’iy untuk menyebutnya Bid’ah meskipun dalam kategori Bid’ah Hasanah?…

        Jika anda tidak sependapat dengan kami dalam masalah dzikir Jahr ba’da sholat, itu hak anda…. tapi ketika anda menganggap buruk perbuatan tsb dengan berhujjah pada pernyataan Imam Syafi’iy, maka anda berbohong, mengingat tidak ada dalam pernyataan tsb Imam Syafi’iy memakruhkan apalagi mengharamkan dzikir jahr ba’da maktubah….

        Adapun pernyataan Imam Syafi dengan kalimat “Astahibbu” dan “Ahabbu Ilayya” samasekali tidak menunjukkan terlarangnya muqobalah, boleh jadi beliau menganjurkan pada yang lebih utama….

        Satu lagi yang menjadi catatan kami : Anda telah membelokkan pernyataan para Ulama : “Dan yang masyhur / populer dst… “ anda belokkan menjadi “Dan yang paling kuat…”

        Berhati-hatilah menyimpulkan pernyataan para Ulama…..

        1. @Ustadz Abu Hiya yth
          Si Ummu Abdillah itu kayanya ga ngerti yang dikutipnya sendiri, sama seperti yang dikatakan Abu Salafy terhadap Ustadz Firanda yang hanya sebagai beo MENIRUKAN kata majikannya. Dia hanya copy paste dari tulisan seseorang yang memang MEMANIPULASI ucapan para IMAM. Seperti kata dia yang katanya kita tidak boleh “mengedepankan AKAL”. Padahal kan AKAL diperlukan untuk mencerna pendapat ULAMA.

      3. Tentang klaim mansuukhnya QS. An-Najm, maka benar itu dikatakan oleh sebagian mufassiriin. Akan tetapi klaim itu – sependek pengetahuan saya – tidak didasari dalil.

        Di atas telah dijelaskan bahwa hukum umum dinyatakan bahwa orang yang meninggalkan tidak memperoleh apapun yang dilakukan oleh orang yang masih hidup, kecuali yang disebutkan oleh dalil. Pendek kata, ayat tersebut menerima takhshish oleh nash-nash yang lainnya.

        Tentang riwayat :

        لا يصلي أحد عن أحد ولا يصوم أحد عن أحد ولكن يطعم عنه مكان كل يوم مدا من حنطة

        ”Seseorang tidak boleh shalat untuk menggantikan shalat orang lain, dan tidak pula puasa untuk menggantikan puasa orang lain. Akan tetapi memberikan makanan darinya setiap hari sebanyak satu mud biji gandum” [HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 2918 dan Ath-Thahawi dalam Musykilul-Aatsaar 3/141; shahih].

        Justru ini menguatkan apa yang dinyatakan sebelumnya. Ini bukan qiyas. Seandainya seorang yang meninggal tetap dapat menerima manfaat amal ibadah dari orang lain (apalagi memakai dalil mansukhnya QS. An-Najm : 39), tentu itu tidak diperkecualikan.

        Perkataan Anda :

        “Disini nampaknya anda tidak mampu membedakan antara Ibadah yang bersifat Tauqifiy (Ibadah Mahdho yang tekhnis pelaksanannya telah ditetapkan) dengan Ibadah yang bersifat Muthlaq yang berupa kebaikan-kebaikan yang bernaung dibawah dalil-dalil ‘AM dimana tekhnis pelaksanaannya tidak ada ketetapan” [selesai].

        Apakah menurut Anda perkara diterima tidaknya kirim pahala pada orang yang meninggal itu bukan merupakan taufiqiy yang membutuhkan dalil ?. Di atas telah disebutkan dalil umum yang menyatakan tidak sampainya pahala, dan kemudian ada dalil khusus pada beberapa hal tertentu yang mengecualikannya.

        Perkataan Anda :

        “Selanjutnya jika anda belum memahami “At Tark”, cukup bagi kami mengajukan sebuah pertanyaan. “Beranikah anda mengatakan Rosululloh Saw mengharamkan kenduri kematian” ? jika anda memaksa memberanikan diri untuk mengatakannya, maka cukup sampai disini saja diskusi kita, selanjutnya silahkan anda seenaknya mengharamkan apa yang tidak diharamkan Syari’ mewajibkan apa yang tidak diwajibkan Syari’… dst…. dan kami berlepas diri dari itu semua.. Wal ‘Iyadz Billah [selesai].

        Kenduri kematian dalam arti makan-makan karena meninggalnya seseorang termasuk bagian dari meratap.

        Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajaly radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

        كنا نرى الاجتماع إلى أهل الميت وصنعة الطعام من النياحة

        “Kami (para shahabat) menganggap berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka (kepada para tamu) merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit)” (HR. Ahmad nomor 6905 dan Ibnu Majah nomor 1612).

        Dari Thalhah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

        قدم جرير على عمر فقال : هل يناح قبلكم على الميت. قال : لا. قال : فهل تجتمع النسآء عنكم على الميت ويطعم. قال : نعم. فقال : تلك النياحة.

        Jarir mendatangi ‘Umar, kemudian ‘Umar berkata : “Apakah kamu sekalian suka meratapi mayit ?”. Jarir menjawab : “Tidak”. ‘Umar berkata : “Apakah diantara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan memakan hidangannya ?”. Jarir menjawab : “Ya”. ‘Umar berkata : “Hal itu sama dengan niyahah (meratapi mayit)”. (HR. Ibnu Abi Syaibah 2/487).

        Dari Sa’id bin Jubair radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

        من عمل الجاهلية : النياحة والطعام على الميت وبيتوتة المرأة ثم أهل الميت لبست منهم

        “Merupakan perkara Jahiliyyah : An-Niyahah, hidangan keluarga mayit, dan menginapnya para wanita di rumah keluarga mayit” (HR. Abdurrazzaq 3/550 dan Ibnu Abi Syaibah dengan lafadh yang berbeda). Ketiga riwayat tersebut saling menguatkan.

        Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

        اثنتان في الناس هما بهم كفر الطعن في النسب والنياحة على الميت

        “Dua perkara yang dapat membuat manusia kufur : Mencela keturunan dan meratapi mayit (an-niyahah)”. (HR. Muslim nomor 67).

        Oleh karena itu, tentu saja haram hukumnya.

        1. @Ummu Abdillah :

          Saudara mengatakan :

          “Justru ini menguatkan apa yang dinyatakan sebelumnya. Ini bukan qiyas. Seandainya seorang yang meninggal tetap dapat menerima manfaat amal ibadah dari orang lain (apalagi memakai dalil mansukhnya QS. An-Najm : 39), tentu itu tidak diperkecualikan.”

          Jawaban kami adalah bahwa sudah jelas dalam Mazhab Syafi’i Qaul beliau sebelumnya telah ditakhsis/diperkecualikan dan diperjelas oleh ulama-ulama Mazhab Syafi’i berikutnya termasuk Imam Abu Zakaria Yahya ibn Syaraf Nawawi (Imam Nawawi). Ulama-ulama Syafi’iyyah paling mengerti pemahaman qaul Imam Syafi’i. Ucapan saudara diatas kami maklum, karena saudara bukan seorang Mujtahid ataupun ulama dengan sanad yang jelas, jadi mengatakan sesuatu hanya berdasar ilmu saudara pribadi.

          Selanjutnya saudara mengatakan :
          “Kenduri kematian dalam arti makan-makan karena meninggalnya seseorang termasuk bagian dari meratap.”

          Jawab kami :
          Ini jelas pendapat pribadi saudara yang kemudian saudara tambal dengan hadits yang disambung-sambungkan.

          Lihat prakteknya saudaraku, mungkin saudara belum pernah menghadiri kenduri, jadi membuat pernyataan yang tidak benar.

          Kenduri kematian intinya adalah berdoa untuk mayyit, sekaligus menghibur keluarganya agar tidak meratap (nihayah). Mengenai doa sudah sangat jelas sampainya, dalam shalat jenazahpun, Rasulallahpun mengajarkan kita juga berdoa kepada mayyit.

          Mengenai makanan/suguhan prakteknya, para tetangga dan sanak handai tolan mengirim bahan-bahan makanan, kemudian mereka membantu memasaknya sekalian untuk memberi makan yang hadir terutama kerabat dari jauh yang datang takziah.

          Kalaupun keluarga yang sangat tidak mampu, tidak jarang kami hanya diberi suguhan teh dan air putih, artinya ini lebih kepada memulyakan tamu yang hadir ikut berdoa untuk ahli kubur.

          Kebenaran hakiki hanya milik Allah
          Hamba Allah yang dhaif dan faqir
          Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    3. @ummu abdillah :

      Aha….ternyata saudara tambal sulam dari situsnya Si Firanda Dirja. Saya sudah baca semuanya. 😆

      Saudara ambil ucapan Si Firanda lalu saudara tambal sulam dengan pendapat saudara sendiri. Jadi yang kacau semakin kacau. Mungkin memang begitu cara kelompok Salafy Wahabi ini membuat fitnah dalam Islam.

      Contoh masalah dzikir Jahar, Si Firanda ini menggunakan qaul Imam Syafi’i Ra. untuk menyerang amaliah Ahlus Sunnah Wal Jamaah yang bermazhab Syafi’iyah. Lalu Si Ummu Abdilah ini menambahi dengan keterangannya sendiri. Sungguh licik dan kotor cara kalian.

      Kalian sendiri apa tidak membaca di situs VOA-ISLAM yang juga berafiliasi Salafy Wahabi membenarkan Dzikir Jahar setelah shalat ??? Di situs itu paling tidak Syaikh Utsaimin, Syaikh Ibnu Bazz, Syaikh Shalih Fauzan, bahkan Lajnah Daimah memfatwakan kebolehan dzikir jahar setelah shalat. Situs itu hanya menekankan agar tidak terjadi tasywis sesuai fatwa dalam Mazhab Syafi’i. Ini baca sendiri di situs VOA-ISLAM http://m.voa-islam.com//news/ibadah/2011/01/12/12739/menjaharkan-dzikir-sesudah-shalat-fardhu-ternyata-sunnah/

      Jadi, apakah kalian Salafy Wahabi sudah kehilangan pegangan dengan ulama kalian sendiri, kemudian mencoba menyerang kami dengan qaul ulama kami yang sangat kami hormati yaitu Imam Syafi’i Rahimahullah wa Radhiyallahu ‘anhu ??? Kalian tidak membaca fatwa ulama kalian sendiri, tapi mengurusi pendapat ulama lain, bahkan yang sangat berseberangan dengan kalian hanya demi memuaskan nafsu kalian sendiri. Benar pendapat beberapa admin situs semacam Abu Salafy, Salafy Tobat dll yang menyatakan kalian sudah putus asa dan semakin tersesat dengan pikiran kalian sendiri. Na’udzubillahi min dzalik tsumma na’udzubilah.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  8. Mas @Derajad : Artinya apa Kang ??? Apa ada menyebutkan hadiah pahala terputus ??? Sekarang saya tanya yang diartikan putus amalnya itu siapa ??? Monggo Kang….
    Pendapat tidak bolehnya membacakan Al Qur’an utk mayyit dan pahalanya tidak sampai kepada mayyit, sebetulnya berasal dari Al Imam Asy syafi’I sebagaimana penjelasan dalam Al Qur’an: “Dan bahwsanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya” QS An najm : 39.
    Pada tafsir Ibnu Katsir, 7/465 : Dari ayat yang mulia ini, Imam Asy syafi’I dan pengikutnya beristimbath bahwa bacaan (Al Qur’an) tidak sampai kepada orang-orang yang mati, karena bacaan tersebut bukan amalan mereka, bukan pula usaha mereka.
    Oleh karenanya Rasulullah tidak men-sunnah-kannya bagi umatnya, tidak mendorong mereka untuk melakukannya, tidak pula membimbing mereka dengan sebuah nash ataupun isyarat. Dan juga tidak dinukil hal itu dari seorang Shahabat pun. Andaikan itu baik, tentunya shahabat telah mendahului kita melakukannya.
    Dan masalah al-qurubaat (ibadah-ibadah khusus untuk taqqorub kepada Allah) harus berdasarkan nash-nash, tidak boleh berdasarkan kias-kias dan akal-akal. Adapun do’a dan sedekah telah disepakati ulama atas sampainya kedua amalan tersebut (kepada orang mati). Dan kedua amalan itu terdapat nash-nya dari Penetap Syari’ah.
    Jadi? Mau menyelisihi Al Imam Asy syafi’i?

    1. astaghfirullah… begini klo bacanya dengan nafsu..
      saya lucu+prihatin mmbaca komen anda..
      baca pelan” aja mas… pahami pelan-pelan… belanda masih jauh kok 🙂

    2. @ibn abdil chair dan ummu abdillah :

      Dari tulisan saudara ummu abdillah saya bisa pastikan hasil copas kemudian ditambah-tambahi memperkuat pendapat kalian dan kawan-kawan. He..he.. 😆

      Ini sangat cocok dengan judul diatas, kalian memang suka membawa Imam Syafii dalam memperkuat pendapat kalian… Wah kacau juga pemikiran kalian. Saya katakan kacau karena :
      1. Kalian pengikut Salafy Wahabi yang hanya mengenal 1 bid’ah yaitu dhalalah, tapi pada kesempatan lain kalian tiba-tiba menggunakan pendapat Imam Syafi’i Ra. (dimana secara tegas dan jelas beliau mendefinisikan bid’ah ada dua). Bahkan seakan kalian lebih mengerti dari kami tentang beliau. Bagaimana bisa kita menerima pendapat kalian ??? Kalian hanya mau menggunakan pendapat beliau untuk menyerang kami. Khususnya saya adalah ber-i’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah As Syafi’iyah.

      2. Tentang pendapat beliau bahwa tidak sampainya pahala bacaan Qur’an kepada mayit (Qaul Masyhur) sudah banyak dijelaskan oleh ulama Mazhab Syafi’i, termasuk Imam Abu Zakaria Yahya Bin Syaraf Nawawi Ad Dimasyqi As Syafi’i dalam Al Adzkar, Syaikh Sayyid Bakri Syata’ dalam I’anatut Thalibin dan beberapa ulama Syafi’iyyah yang pembahasannya cukup panjang lebar dan jelas, bahwa Mazhab Syafi’i mengakui sampainya pahala bacaan dengan syarat diniatkan/ditujukan untuk mayit, lebih kurang dengan lafadz “Allahumma Taqabbal Wa’autsil Tsawaba ma qara’na minal qur’an…dst”. Dalam Mazhab Syafi’i ini disebut Qaul Mukhtar. Jika ada kesempatan akan saya sampaikan nanti pendapat dari para ulama Syafi’iyyah tentang penjelasan beliau.

      3. Mazhab lain yang tiga, yaitu Mazhab Imam Maliki, Imam Hanafi dan Imam Hambali Radhiallahu ‘anhum semua sepakat sampainya pahala bacaan qur’an kepada mayit.

      4. Ini yang terpenting, para Imam Salafy Wahabi, seperti Syaikh Ibnu Taimiyah, Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, Syekh Ibnu Qayyim dan beberapa ulama Salafy Wahabi juga mengakui sampainya pahala bacaan Qur’an kepada mayit dalam kitab-kitab mereka. Dus…bagaimana kalian akan menyerang kami, khususnya yang bermazhabkan Syafi’iyyah dengan menggunakan pendapat beliau untuk menyerang kami. Sungguh perkataan yang blunder dan menyerang kalian sendiri. Disini jelas bahwa kalian sangat kotor dan sangat tidak jujur. Inikah ahlaqul karimah yang diajarkan junjungan kita Rasulallah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam ???

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  9. Gak di blog ini gak di blog itu… kl udah di”pentok”in pendapat Imam Asy syafi’i aja…udah deh….dikabur-kaburin. ALLAHUUMA YAHDIK

  10. MENGAPA HARUS TAHLILAN? INI FAKTANYA
    Saat musibah berupa berita kematian seorang tetangga disampaikan, beragam reaksi bisa kita temukan.sesuai dengan kadar ilmu dan pemahamannya.
    Tetangga 1 (ahlussunah): “Inna lillah wa inna ilaihi roji’un”, terkadang dilanjutkan dengan doa “Allahumagfirlahum warhamhum wa afihi wa’fu’anhum”. Kemudian ber-takziah mendatangi rumah ahlu mayyit tersebut. Jika sempat bahkan ikut mengantar men-sholati jenazah dan menguburkannya.
    Tetangga 2 (aswaja – awam): “Inna lillah wa inna ilaihi roji’un”, diikuti suara lirih “asyiiik nasi besek lagi niih”. (Sama… takziah….men-sholati jenazah dan ikut menguburkannya.)
    Tetangga 3 (aswaja – ustadz): “Inna lillah wa inna ilaihi roji’un”, mungkin dilanjutkan dengan doa “Allahumagfirlahum warhamhum wa afihi wa’fu’anhum”. Diikuti bisikan dalam hati: “ mantaaab, amplop lagi…nih” – nasi besek juga…he..he(Sama… takziah….men-sholati jenazah dan ikut menguburkannya.)
    Tetangga 4 (aswaja – kyai) sewaktu menerima kabar ini, sang kyai juga mendo’akan si mayit. Tetapi kepada yang menyampaikan berita, sang kyai bilang: “Kamu bilang sama si sontoloyo itu (maksudnya : kyai saingannya), jangan coba-coba lagi ambil jatah saya. Si mayyit ini jama’ah saya. (Sama… takziah….men-sholati jenazah dan ikut menguburkannya.)
    Ahli mayyit / kelg mayyit sibuk kalkulasi biaya-biaya utk peringatan-peringatan.
    1. Amplop sholat jenazah = (50 org x Rp. 20.000) + 1 org imam x Rp. 200.000
    2. Ongkos ngaji di kubur, biasanya selama 1 minggu seharga Rp. 10.000.000 (belum termasuk makan 3x sehari utk 4-5 org, kopi, rokok dll)
    3. Hari ke-1, kira-kira 75 nasi besek @ Rp. 15.000 + Amplop kyai Rp. 200.000
    4. Hari ke-2, (yg datang lebih banyak dan isi nasi beseknya lebih) kira-kira 100 nasi besek x Rp. 25.000 + Rp. 500.000-, utk 2 org kyai.
    5. Hari ke-3, 100 nasi besek x Rp. 25.000 + Rp. 500.000-, utk 2 org kyai.
    6. Hari ke-7, 100 nasi besek x Rp. 25.000 + Rp. 2.500.000-, utk 2 org kyai. (pd hari ke-7 biasanya yg datang kyai kondang, jadi amplopnya gedean).
    7. Hari ke-14, (dua kali nujuh) 100 nasi besek x Rp. 25.000 + Rp. 500.000-, utk 2 org kyai.
    8. Hari ke-40, 100 nasi besek x Rp. 25.000 + Rp. 2.500.000-, utk 2 org kyai. (pd hari ke-40 biasanya yg datang kyai kondang, jadi amplopnya gedean).
    9. Hari ke-100, 100 nasi besek x Rp. 25.000 + Rp. 2.500.000-, utk 2 org kyai. (pd hari ke-40 biasanya yg datang kyai kondang, jadi amplopnya gedean).
    10. Haul pertama, umumnya diadakan besar-besaran 300 nasi besek x Rp. 25.000 + Rp. 7.500.000-, utk 4 org kyai. (pd hari ke-100 biasanya yg datang kyai kondang lebih banyak, jadi amplopnya gedean).
    11. Hari ke-1000, kalau yang ini sih bisa-bisa wayangan, pasar malam, layar tancep, qosidah (baca: dangdutan islami katanya) bisa puluhan juta nih…
    Suatu hari kelg mayyit pindah rumah krn rumahnya disita rentenir (enggak bisa balikin pinjaman biaya tahlilan). Ketika kisah tragis ini sampai ke telinga sang kyai, maka dia pun diam sejenak seolah-olah berpikir…dan berkata dlm hatinya “emang gw pikirin…”
    Allah Azza wa Jalla berfirman:
    “Kami tidak menurunkan Al-Qur-an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” [Thaahaa: 2-4]
    Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sesungguhnya agama (Islam) itu mudah. Tidaklah seseorang mempersulit (berlebih-lebihan) dalam agamanya kecuali akan terkalahkan (tidak dapat melaksanakannya dengan sempurna). Oleh karena itu, berlaku luruslah, sederhana (tidak melampaui batas), dan bergembiralah (karena memperoleh pahala) serta memohon pertolongan (kepada Allah) dengan ibadah pada waktu pagi, petang dan sebagian malam.” [HR. Al-Bukhari (no. 39), Kitabul Iman bab Addiinu Yusrun, dan an-Nasa-i (VIII/122), dari Shahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. ]
    Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Permudahlah dan jangan mempersulit, berikanlah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” [HR. Al-Bukhari (no. 69, 6125), Muslim (no. 1734) dan Ahmad (III/131) dari Shahabat Anas z. Lafazh ini milik al-Bukhari. ]

    1. @ibnu abdul chair :
      Setelah tidak bisa mendukung dalil kacau Si ummu abdillah yang diacak-acak dari pendapatnya Si Firanda Dirja yang juga kacau karena hanya bermodalkan kemampuan berbahasa Arab mengomentari Qaul Imam Syafi’i Ra. Sekarang saudara membuat cerita karangan yang saudara hubungkan dengan hadits.

      Sungguh perbuatan kotor dan licik yang menandakan saudara tidak memiliki ilmu yang cukup, bermodalkan copy paste, kemudian berkata bagaikan ulama ahli fiqih. Sungguh hanya fitnah yang keluar dari lisan saudara. Jikalau saudara benar-benar muslim, inikah ahlaqul karimah yang diajarkan Rasulallah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wa alihi wasallam ???

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  11. Bismillah,

    Saudaraku, @ibn abdul chair,

    Adalah fakta: Disamping anda tukang “Ngigau” ternyata anda juga tukang “Fitnah”…

    Allohu Yahdzik

  12. Artikel ini berisi dua hal kemungkinan kedustaan. Pertama, berpendapat bahwa Al Imam Asy syafi’I telah menganjurkan, setidaknya berpendapat bahwa tahlilan /kenduri tidak terlarang karena bagian dari ibadah. Dan yang kedua sudah jelas karena telah menuduh salafi telah melakukan dusta atas nama Al Imam Syafi’i.
    Jika benar Al Imam Asy syafi’I berpendapat seperti tertera pada artikel ini, apakah sudah cukup bagi kita bersandar hanya pada pendapat ini?. Apakah kita tidak mau tahu darimana Al Imam Asy syafi’I mengambil pendapatnya?
    Perhatikan ucapan dari Al Imam Asy syafi’I yang mulia ini : “Setiap masalah yang shohih dari Rasulullah bagi ahlu naqli dan bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah matiku” (Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 9/107) Al Harawi 47/1 Ibnu Al Qoyyim di kitab I’lamu Al Muqawi’in 2/363 dan Al Fullani hal. 104.
    Dan ucapan Al imam Asy syafi’I di kesempatan yang lain: “Apabila kalian menjumpai dalam kitabku hal yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah, maka berpendapatlah kalian sesuai dengan Sunnah Rasulullah dan tinggalkan apa yang aku katakana. (Al Khotib dlm Al Ihtijaaj bisy syafi’I 8/2, Ibnu Asakir 15/9/1, Imam An nawawi dlm Al Majmuu’ 1/63, Ibnu Hibban dalam Shohiih-nya 3/248 dengan sanad yang shohih dari beliau (Al Imam Asy syafi’i)
    Bagaimana kalian bisa tahlilan/kendurian ketika istri salah satu dari kalian wafat dan mengatakan ini adalah pendapat ulama syafi’iyah sedangkan Rasulullah tidak tahlilan ketika istri beliau Khodijah rodhiallahu anha wafat? kepada siapa risalah agama ini diturunkan?.
    Bagaimana kalian bisa tahlilan/kendurian ketika kerabat salah satu dari kalian wafat dan mengatakan ini adalah pendapat ulama syafi’iyah sedangkan Rasulullah tidak tahlilan ketika paman beliau Hamzah rodhiallahu anhu wafat? siapa uswatun hasanah kalian?.
    Bagaimana kalian bisa tahlilan/kendurian ketika anak salah satu dari kalian wafat dan mengatakan ini adalah pendapat ulama syafi’iyah sedangkan Rasulullah tidak tahlilan ketika anak beliau Al Qosim rodhiallahu anhu wafat? darimana kalian ber-istimbat?.
    Sekali lagi, ini nukilan dari Al Imam Asy syafi’I : “Saya wasiatkan dengan taqwa kepada Allah dan berpegang teguh dengan sunnah dan atsar Rasulullah dan para shahabatnya, serta meninggalkan dan menjauhi hawa kebid’ahan dan hawa nafsu” (Wasyiatul Al imam Asy-Syafi’I hlmn. 47-48, I’itiqod Al imam Asy-Syafi’I hlmn 16 oleh al-Hakari, Al Amru bil Ittiba’ hlmn. 313 oleh Al imam As-Suyuthi dan Al Aqidah Asy-Syafi’I oleh Al Barzanji hlmn. 93.
    Kedua, menuduh kaum salaf berdusta. Ini tidaklah aneh dan sudah terlalu sering. Biasanya tuduhan ini dilakukan jika sudah tidak menemukan dalil untuk kalngsungan bid-ah-nya. Dan tuduhan ini hanyalah menjelaskan mana yang hizbullah dan mana yang hizbusyaithon. Ini kutipannya:
    “Sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, (24) kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: “Ia (Musa) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.” (Qs. Ghafir: 23-24) – Salafi juga dituduh pendusta.

    “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih.” (Qs. An Naml: 56) – KH Afrokhi yang sudah bertobat bukan cuma diusir tapi diancam mau dibunuh.

    “ Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya -yakni Nabi Shaleh ‘alaihissalam- di antara kita? Sebenarnya dia seorang yang amat pendusta lagi sombong.” (QS Al Qomar 25) – Dimana-mana salafi dibilang pendusta dan sombong.

    Jadi, banyaknya tuduhan-tuduhan jelek terhadap suatu golongan, mestinya tidak menghalangi kita untuk bersikap adil dan obyektif terhadap mereka. Karena boleh jadi kebenaran justeru ada pada mereka, dan dalam hal ini yang menjadi patokan adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih.

    1. Bismillah,

      JAWABAN BUAT IBN ABDUL CHAIR

      Ibnu Abdul Chair berkata:

      Artikel ini berisi dua hal kemungkinan kedustaan. Pertama, berpendapat bahwa Al Imam Asy syafi’I telah menganjurkan, setidaknya berpendapat bahwa tahlilan /kenduri tidak terlarang karena bagian dari ibadah. Dan yang kedua sudah jelas karena telah menuduh salafi telah melakukan dusta atas nama Al Imam Syafi’i.
      Jika benar Al Imam Asy syafi’I berpendapat seperti tertera pada artikel ini, apakah sudah cukup bagi kita bersandar hanya pada pendapat ini?. Apakah kita tidak mau tahu darimana Al Imam Asy syafi’I mengambil pendapatnya?

      Rupanya anda membaca artikel diatas disaat jenggot anda terbakar ya? Saya mau tanya; pada bagian mana artikel diatas yang mengatakan “Imam Syafi’iy tidak melarang karena bagian dari ibadah?”… Hayoooo siapa yang tukang bohong dan manipulasi?…

      Ibnu Abdul Chair berkata:

      Perhatikan ucapan dari Al Imam Asy syafi’I yang mulia ini : “Setiap masalah yang shohih dari Rasulullah bagi ahlu naqli dan bertentangan dengan apa yang aku katakan, maka aku meralatnya di dalam hidupku dan setelah matiku” (Abu Nu’aim dalam Al Hilyah 9/107) Al Harawi 47/1 Ibnu Al Qoyyim di kitab I’lamu Al Muqawi’in 2/363 dan Al Fullani hal. 104.
      Dan ucapan Al imam Asy syafi’I di kesempatan yang lain: “Apabila kalian menjumpai dalam kitabku hal yang bertentangan dengan Sunnah Rasulullah, maka berpendapatlah kalian sesuai dengan Sunnah Rasulullah dan tinggalkan apa yang aku katakana. (Al Khotib dlm Al Ihtijaaj bisy syafi’I 8/2, Ibnu Asakir 15/9/1, Imam An nawawi dlm Al Majmuu’ 1/63, Ibnu Hibban dalam Shohiih-nya 3/248 dengan sanad yang shohih dari beliau (Al Imam Asy syafi’i)

      Tunjukkan pada kami satu saja pendapat imam Syafi’iy yang bertentangan dengan hadits shohih dari Rosululloh Saw !!!

      Ibnu Abdul Chair berkata:

      Bagaimana kalian bisa tahlilan/kendurian ketika istri salah satu dari kalian wafat dan mengatakan ini adalah pendapat ulama syafi’iyah sedangkan Rasulullah tidak tahlilan ketika istri beliau Khodijah rodhiallahu anha wafat? kepada siapa risalah agama ini diturunkan?.
      Bagaimana kalian bisa tahlilan/kendurian ketika kerabat salah satu dari kalian wafat dan mengatakan ini adalah pendapat ulama syafi’iyah sedangkan Rasulullah tidak tahlilan ketika paman beliau Hamzah rodhiallahu anhu wafat? siapa uswatun hasanah kalian?.
      Bagaimana kalian bisa tahlilan/kendurian ketika anak salah satu dari kalian wafat dan mengatakan ini adalah pendapat ulama syafi’iyah sedangkan Rasulullah tidak tahlilan ketika anak beliau Al Qosim rodhiallahu anhu wafat? darimana kalian ber-istimbat?.
      Sekali lagi, ini nukilan dari Al Imam Asy syafi’I : “Saya wasiatkan dengan taqwa kepada Allah dan berpegang teguh dengan sunnah dan atsar Rasulullah dan para shahabatnya, serta meninggalkan dan menjauhi hawa kebid’ahan dan hawa nafsu” (Wasyiatul Al imam Asy-Syafi’I hlmn. 47-48, I’itiqod Al imam Asy-Syafi’I hlmn 16 oleh al-Hakari, Al Amru bil Ittiba’ hlmn. 313 oleh Al imam As-Suyuthi dan Al Aqidah Asy-Syafi’I oleh Al Barzanji hlmn. 93.

      Tolong tunjukkan satu saja hadits shohih dari Rosululloh Saw yang mengharamkan kenduri kematian!!! Jika anda tidak menemukannya, lantas dengan dasar hukum apa kalian mengharamkan apa yang tidak diharamkan Syari’?

      Ibnu Abdul Chair berkata:

      Kedua, menuduh kaum salaf berdusta. Ini tidaklah aneh dan sudah terlalu sering. Biasanya tuduhan ini dilakukan jika sudah tidak menemukan dalil untuk kalngsungan bid-ah-nya. Dan tuduhan ini hanyalah menjelaskan mana yang hizbullah dan mana yang hizbusyaithon. Ini kutipannya:
      “Sesungguhnya telah Kami utus Musa dengan membawa ayat-ayat Kami dan keterangan yang nyata, (24) kepada Fir’aun, Haman dan Qarun; maka mereka berkata: “Ia (Musa) adalah seorang ahli sihir yang pendusta.” (Qs. Ghafir: 23-24) – Salafi juga dituduh pendusta.
      “Usirlah Luth beserta keluarganya dari negerimu; karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang (mendakwakan dirinya) bersih.” (Qs. An Naml: 56) – KH Afrokhi yang sudah bertobat bukan cuma diusir tapi diancam mau dibunuh.
      “ Apakah wahyu itu diturunkan kepadanya -yakni Nabi Shaleh ‘alaihissalam- di antara kita? Sebenarnya dia seorang yang amat pendusta lagi sombong.” (QS Al Qomar 25) – Dimana-mana salafi dibilang pendusta dan sombong.
      Jadi, banyaknya tuduhan-tuduhan jelek terhadap suatu golongan, mestinya tidak menghalangi kita untuk bersikap adil dan obyektif terhadap mereka. Karena boleh jadi kebenaran justeru ada pada mereka, dan dalam hal ini yang menjadi patokan adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih

      Nampaknya anda juga punya bakat ngaku-ngaku… “SALAF” dan “SALAFI” jauh beda mas… ibarat “NEW ERA” dan “NEW ELA”. Mau tau bedanya?… Kalau “SALAF” ngikuti al qur’an dan Sunnah berdasar pandangan para Ulama Mu’tabar macam Imam Nawawi, Ibnu Hajar dll, sementara kalau “SALAFI” berhujjah dengan al qur’an berdasar pandangan KH. Afrokhi…. masak nggak bisa mbedakan….

    2. Ini tukang TIPU masih bawa-bawa dalil ga jelas nih. MENIPU dalam agama itu, lebih besar resikonya daripada MENIPU yang berbentuk harta benda. Saya kutipkan contoh perbuatan MENIPU yang kamu lakukan atas nama Ulama :

      ibn abdul chair says:
      November 5, 2012 at 10:33 pm
      1. Al-Iman Adz-Dzhabi berkata tentang Al Imam Ad Daruqutni, “Orang ini (yaitu, Ad Daruqutni tak pernah masuk ke dlm ilmu kalam dan jidal, dan tidak pula terjun kedalamnya, bahkan ia adalah salafi” (Syiar a’lam an nubala 16/457)
      2. Imam Adz Dzahabi berkata tentang Imam Muhammad bin Muhammad Al Bahroni, “Dia adalah org yg taat beragama, orgnya baik lagi salafi (Mu’jam Asy syuyukh 2/280)
      3. Imam Adz Dzahabi berkata ttg Al imam Shohaluddin abdurrohman bin Utsman bin Musa Al Kurdi Asy syafii, “Dia adalah seorg salafi bagus aqidahnya (Tadzkirah Al Huffazh 4/1431)
      Segini dulu deh….mau tahu responnya mang @ucep

      Komentar saya :
      Apa benar Az Dzahabi mengatakan istilah SALAFI ?

      1. @Bima asy syafi’i
        Didalam kitab dan halaman tsb, dikatakan Salafiyyan, jadi berarti SALAFY bukan Salafi.
        Memang yang dikatakan ustad @abu hilya benar, memang beda pengertian Salaf, Salafy dan salafi.
        Kata Salafi yang pernah ane komen, itu diproklamirkan oleh Muhammad Abduh dan bukan berarti Salafus saleh, tapi golongan yang disebut Salafi.

        1. @Akhina Ucep
          Terima kasih atas infornya. Ya jelas beda sekali. Pengikut Syehch M. Abdul Wahab itu jelas diakui sebagai WAHABI. Ulama sezamannya secara terang-terangan menyebut itu, termasuk Kakaknya Syeh Sulaiman. Juga Bin Baz. Kemudian karena mereka kurang PD disebut WAHABI, maka mereka menyebut diri dengan Salafi. Kok tiba-tiba salafi yang dikemukakan Muhammad Abduh, dihubung-hubungkan dengan Adz Dzahabi. Persis sama ama dongeng Wahbiyyah Rustamiyah dong. Jadi sengaja BOHONG atau tidak tahu?

  13. Akhy Abdul Khair,,,, Saya ingin bertanya:

    1. Mengapa setelah menyebut nama beliau Nabi Muhammad anda memberi tambahan shallallahu ‘alaihi wa sallam? Apa artinya itu? Bukankah beliau sudah lama wafat? Apakah sholawat serta salam anda itu bisa sampai pada Beliau?
    :mrgreen:
    2. Demikian juga dengan menyebut nama anbiya’ selain beliau, anda menambahi dengan ‘alaihissalam. Masih dengan pertanyaan yang sama, dan apa dasarnya?
    :mrgreen:
    3. Kalangan Wahaby juga melakukan sholat jenazah bukan? Dalam salah satu bait rukun dari sholat jenazah juga membaca doa untuk mayit. Sampaikah?
    :mrgreen:
    4. Dalam Al-Qur’an juga disebutkan: Rabbi ighfirly wa liwaalidayya wa lilmu’miniina yauma yaquumu alhisab. Menurut anda, apakah itu tidak cukup sebagai landasan diperbolehkannya berdoa untuk orang yang sudah meninggal dari kalangan orang muslimin.
    :mrgreen:
    5. Andai doa untuk orang yang sudah meninggal dari kalangan kaum muslimin itu bisa nyampai kepada mereka, adakah sebuah shadaqah itu tidak bisa sampai? 😆

  14. @ibn abdul chair :

    Wah semakin nyata, tidak perlu ditanggapi omongan saudara ibn abdul chair ini. Pembicaraannya sudah jelas semakin ngelantur dan kelihatan sudah sangat putus asa. Antara hujjah dan hal yang disampaikan tidak nyambung atau malah dipaksakan nyambung.

    Disini dia juga membawa nama Afrokhi Abdul Ghani penyusun buku berjudul Buku Putih Mantan Kyai NU. Mohon maaf saja, memang dia pernah mondok di daerah Kediri, tapi belum pernah dia menjadi seorang alim dalam i’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah, bahkan dia terpengaruh ajaran Salafy Wahabi.

    Prinsipnya kami, khususnya Warga NU tidak menganggap kalian Salafy Wahabi musuh, karena kami dan kalian sama-sama pernah bersaksi dengan kalimat syahadat yang sama. Hanya yang sangat kami sayangkan, kalian telah membuat pendapat-pendapat yang sering menyalahkan amaliah kami, terlebih pada masalah furu’iyyah. Hal ini yang menjadikan kami perlu menyampaikan hujjah sesuai i’tiqad ahlus sunnah wal jama’ah agar masyarakat muslim Indonesia tidak teracuni pendapat kalian. Mengenai terjadi perlawanan di masyarakat, tentu dikarenakan di akar rumput ucapan-ucapan kalian yang suka membid’ahkan, khurafat dan lain sebagainya menjadikan mereka terganggu dan menggunakan cara-cara mereka untuk menyelesaikannya dengan cara mereka. Seperti kasus pengusiran MTA dll. Dalam hal ini, PBNU pun sudah menyerukan agar para ulama dan warga NU untuk mengamati keadaan di daerah masing-masing atas upaya-upaya Salafy Wahabi untuk masuk mempengruhi masyarakat dengan berbagai cara, misalnya mengambil alih ta’mir masjid/mushalla, mengadakan pengajian dan lain sebagainya yang hanya berupa kedok doktrinasi Salafy Wahabi di masyarakat. Intinya kami sampaikan bahwa Tak mungkin ada asap tanpa api. Karena itu kami menganjurkan, silahkan saudara Salafy Wahabi menggunakan cara-cara yang baik dalam berdakwah tanpa menjelekkan golongan yang lain. Kita hidup di Indonesia yang bhinneka, kalau mau hidup di Indonesia, ya mari kita jaga negeri ini dengan baik. Silahkan dakwah saudara sampaikan di kalangan saudara sendiri, seperti yang dilakukan sebagian besar saudara-saudara dari Muhammadiyah. Tokoh-tokoh macam Bapak Amien Rais, AM Fatwa, Buya Syafi’i Ma’arif, Buya Hamka dan seafiliasi dengan beliau-beliau tidak mengumbar tuduhan bid’ah, khurafat, kafir dan lain sebagainya kepada sesama umat Rasulallah Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang faqir dan dhaif
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  15. @bu hilya, Bima Asyafi’i, Mas Derajad, Muhammad Syamsudin. Antum semua adalah akhfi fillah, saudara se-aqidah bagi saya dan mudah-mudahan selalu mendapatkan taufiq dari Allah Jalla wa ‘ala. Tak sedikitpun niat bagi saya untuk menghujat antum semua. Hanya saja terkadang sy terpancing emosi ketika membaca postingan dari antum yg menjelek-jelekkan salafi.
    Coba perhatikan paragraph terakakhir saya : “Jadi, banyaknya tuduhan-tuduhan jelek terhadap suatu golongan, mestinya tidak menghalangi kita untuk bersikap adil dan obyektif terhadap mereka. Karena boleh jadi kebenaran justeru ada pada mereka, dan dalam hal ini yang menjadi patokan adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih”.
    Mas Bima, mengenai ucapan Al Imam Adzahabi ttg Salafi, silakan di-cross cheq aja (sy khan sdh beritahu nukilan kitabnya). Jadi jangan tanya lagi

    1. ibn abdul chair said:
      November 16, 2012 at 6:48 pm

      Hanya saja terkadang sy terpancing emosi ketika membaca postingan dari antum yg menjelek-jelekkan salafi

      Contohnya yg mana mas, sebab kalau menurut saya postingan di sini bagus2 tdk ada yg menjelek2kan Salafy. Justru semuanya merupakan postingan jawaban atau kritikan atas kelakuan Wahabi yg sok bener sendiri, nah postingan di Ummati ini membongkar kedustaan2 di balik klaim kebenaran satu2nya milik Salafy Wahabi. Postingan2 di sini hanya respon Mas, antum sadar nggak kalau semua postingan2 di sini merupakan respon atas ulah Salafy Wahabi selama ini?

      antum bilang lagi:

      @bu hilya, Bima Asyafi’i, Mas Derajad, Muhammad Syamsudin. Antum semua adalah akhfi fillah, saudara se-aqidah bagi saya…. dst

      Ah, masak sih aqidah antum2 sama dg aqidah kami? Yang benar atuh kalu ngaku2 sama? Bukankah aqidah antum dan kaum Salafy Wahabi bertauhid Trinitas yg berbeda dg aqidah Ahlussunnah Wal jamaah (ASWAJA). Tidak ada itu ajarannya dari Rasul saw yg membagi Allah menjadi tiga OKNUM, kayak kaum Nasroni aja?

    2. @Ibn Abdul Chair :

      Kalau memang tulus saudara mengatakan dari lubuk hati yang paling dalam kamipun bisa menerimanya dan kami juga mohon maaf sekiranya ada ucapan dan pernyataan kami, khususnya saya yang menyakiti saudara.

      Saudaraku, situs-situs Ahlus Sunnah Wal Jamaah seperti ummatipress, sarkub, abu salafy, salafy tobat dan lain sebagainya adalah situs yang berisi i’tiqad ahlus sunnah wal jamaah dengan tujuan memperkuat aqidah yang kami telah yakini bersama.

      Kalau saudara perhatikan sejarah Islam di Indonesia, semuanya ber-i’tiqad ahlus sunnah wal jamaah. Termasuk KH. Ahmad Dahlan yang seangkatan dengan KH. Muhammad Hasyim Asy’ari. Bahkan beliau berdua satu kelas dibawah bimbingan ulama Nusantara ketika itu, diantaranya adalah KH. Shaleh Darat dan Hadratus Syaikh Ahmad Khatib Ibn Abdul Ghaffar As Sambasy. Pada masa KH. Ahmad Dahlan dulu masih memimpin Muhammadiyah, semua tata cara ibadah kita sama, seperti melafadzkan ushalli, qunut subuh, shalawat dengan sayyidina dst. Namun ketika kongres, saya lupa tahunnya, terbentuklah Majelis Tarjih yang kemudian merubah semua tata cara peribadatan, dan ketika itu KH. Ahmad Dahlan sudah wafat. Semoga Allah juga mengasihi dan meridhainya.

      Setelah tahun itu muncullah kelompok-kelompok yang mulai membuat pernyataan bid’ah, khurafat, kafir dan lain sebagainya mengikut ulama-ulama Wahabi masa-masa itu, seperti Muhammad Ibn Abdul Wahab, Utsaimin, Ibnu Bazz, Nashirudin al Albani dll. Hal ini tercatat dan muncul sanggahan-sanggahan dari ulama Nusantara masa itu diantaranya dalam buku 40 Masalah Agama sampai 4 jilid disusun oleh KH. Siradjuddin Abbas, juga buku/kitab berjudul Al Hujajul Bayyinah dan masih ada beberapa lagi. Demikian keadaan muslim di Nusantara yang terus bergejolak dengan berbagai macam pernyataan dari Salafy Wahabi. Jadi paling prinsip adalah TIADA ASAP TANPA API.

      Karena itu mohon kita berdakwah dikalangan kita sendiri tanpa menjelekkan golongan lain.

      Mohon maaf jika ada khilaf atau salah saya menyampaikan pernyataan.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    3. @Akhina Ucep
      Mohon kiranya Akhi sudi mengutip perkataan Adz Dzhabi di dalam kitab-kitab yang disebutkan @Ibnu Abdul Chair, yang Akhi miliki. Ini untuk membuktikan dua hal :
      1. Apa benar Adz Dzhabi mengucapkan “SALAFI”?
      2. Kalau ga benar, berarti dia telah BERBOHONG atas nama Ulama. Kalau yang dia rujuk adalah terjemahan, berarti Ustadz Wahabi telah MENIPU atas nama Ulama, sehingga Ibnu Abdul Chaer telah TERTIPU oleh Ustadz Wahabi, kemudian dia MENIRU Ustadz Wahabi MELAKUKAN PENIPUAN dalam berdakwah.

      Terima kasih Akhi Ucep

  16. Oh Ya Mas Junaidi, sy khilaf tadi. Saya ini ahlussunah wal jama’ah yang ber-manhaj sesuai dengan pemahaman salafushsholih (kl di blog ini disebut dgn salafi wahhabi). Ahlussunah-nya nggak cuma sekedar pengakuan mas (lain dibibir lain dihati, ciri ciri orang…….)
    Memahaminya seperti ini :
    – Segala sesuatu yang tercantum dalam al-Qur’an dan al-Hadits.
    -Sinonim “al-Hadits”, jika digandengkan dengan kata-kata “al-Qur’an”.
    – Lawannya Bid’ah.
    – Mengerjakan ibadah yg Mustahab (Jika dikerjakan mendapat pahala dan jika ditinggalkan tidak berdosa).

    1. okelah antum ahlussunnah yg asli, buktinya mana hadits Nabi yg menjelaskan pembagian Tauhid seperti yg diajarkan dalam agama Salafy Wahabi? Saya tunguuin jawaban antum, yhanks.

  17. Mari kita lihat pendapat Al Imam An nawawi :
    Dan yang sunnah adalah para tetangga dan karib kerabat membuatkan makanan bagi keluarga duka, bukan malah sebaliknya justru keluarga duka yang sudah bersedih malah direpotkan untuk menyiapkan makanan apalagi sampai kenduri setelah kematian. Al-Imam An-Nawawi berkata:
    “Nash-nash dari Imam As-Syafi’i dalam kitab al-Umm dan kitab al—mukhtashor telah sepakat dengan perkataan para ashab (para ulama besar madzhab syafi’iyah) bahwasanya disunnahkan bagi para kerabat mayit dan juga para tetangganya untuk membuatkan makanan bagi keluarga mayit, dimana makanan tersebut bisa mengenyangkan mereka pada siang dan malam mereka. Imam As-Syafi’i berkata dalam kitab al-Mukhtashor, “Wajib bagi kerabat mayit dan tetangganya untuk menyediakan makanan bagi keluarga mayat untuk siang dan malam mereka yang bisa mengenyangkan mereka. Hal ini merupakan sunnah dan sikap para pelaku kebaikan”….

    Penulis kitab Asy-Syamil dan selain beliau berkata, “Adapun keluarga mayit membuat makanan dan mengumpulkan orang-orang untuk makan maka tidak dinukilkan (dalilnya) sama sekali. Dan ini adalah perbuatan bid’ah yang tidak dianjurkan. Ini adalah perkataan penulis kitab As-Syamil, dan dalil akan hal ini adalah hadits Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Kami menganggap berkumpul-kumpul di keluarga mayit dan membuat makanan setelah dikuburkannya termasuk niyaahah”. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih. Dan dalam riwayat Ibnu Majah tidak ada lafal “setelah dikuburkannya mayat” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/319-320)

    1. @Ibnu Abdil Chair :

      Begini saja saudaraku, saya mau tanya ke saudara. Sebenarnya saudara ini mau bertanya tentang apa yang saudara baca dari situs lain lalu dicopas kemari ? Atau saudara mau membantah amaliah kami dengan menggunakan Qaul Ulama diatas ?

      Kalau saudara mau tanya kami akan jelaskan. Tapi kalau saudara mau membantah dengan pernyataan diatas apakah keilmuan saudara sudah cukup dengan sanad yang jelas ? Karena dalam Mazhab para ulama qaulnya saling mengisi dan menjelaskan satu sama lain, dan kesamaan diantara qaul ulama kita sebut sebagai ijma’. Itupun yang berhak mengeluarkan qaul/fatwa hanyalah ulama Mujtahid dengan segala tingkatannya. Kami yang dibawah ini hanya bisa membaca, mengumpulkan dan menyimpulkan dalam suatu forum yang kami sebut Bahtsul Masa’il.

      Nah mana yang sebenarnya akan saudara sampaikan ? Bertanya atau membantah ?

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. @Ibn Abdul Chair :

      Kalau membaca ucapan saudara ini berarti salah saya menganggap ketulusan ucapan saudara sebelumnya.

      Saya hanya bisa bicara menanggapi ucapan saudara : “Le ora tahu weruh piye guyup lan rukune wong tetulung marang sanak kadang kang lagi kepaten. Awakmu ora usah ngomong. Dalilmu sing kok gawe kuwi yo nduduhne guyup lan rukune tetonggoan. Luwih becik awakmu melu ngguyupi yen ono wong sedo, ben ngerti sejatine. Ora ngomong sak karepe dewe.”

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  18. Mas Jun, pembagian tauhid menjadi 3 tidak terdapat dlm al hadist tetapi Tauhid terbagi menjadi 3 ( Tauhid rububiyyah, uluhiyyah, dan Asma’ wa sifat ) berdasarkan istiqra’ ( penelitian menyeluruh ) terhadap dalil-dalil yang ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, sebagaimana ulama nahwu membagi kalimat di dalam bahasa arab menjadi 3 : Isim, fi’il, dan huruf, berdasarkan penelitian menyeluruh terhadap kalimat-kalimat yang ada di dalam bahasa arab. ( Lihat Kitab At-Tahdzir min Mukhtasharat Muhammad Ash-Shabuny fii At-Tafsir karangan Syeikh Bakr Abu Zaid hal: 30, cet. Darur Rayah- Riyadh )
    Contoh lainnya spt ulama fiqh membagi ada fardhu ‘ain, fardhu kifayah, sunnah muakkad dan lain-lain.

    1. ibnu Abdul khair@….

      Nah… sekarang antum ngaku tidak ada di hadits atau di Qur’an yg menjelaskan tentang pembagian Tauhid?

      Karena tidak ada di Qur’an dan Hadits tentang pembagian Tauhid tsb, lalu Syaikh2 Wahabi / salafy membuat Qiyas /analogi untuk mendukung tindakan pembagian Tauhid dg menganalogikan tentang pembagian kalimat: isim, fi’il dan harfun. Saya tanya deh, sudah benarkah cara menganalogikan Tauhid (aqidah) dg Nahwu (tata bahasa)? Apakah Syaikh2 itu masih antum anggap benar padahal tidak mengerti cara beranalogi yg benar? Qiyas atau analogi itu ada syarat nya, coba pelajari tentang ilmu qiyas nanti akan tahu bahwa Qiyas Tauhid dg Nahwu itu qiyas yg ngawur. Kalau mau bikin Qiyas itu minimal jenis dan sifatnya sama, apakah ada kesamaan jenis dan sifatnya antara Tauhid dg Nahwu? Jawab sendiri deh kalau masih merasa punya akal.

      Saya walaupun yg terbodoh dari kalangan Aswaja tahu kalau analogi yg antum paparkan itu salah total, tidak memenuhi standar ilmu Qiyas.

      Jadi mana dalilnya dari Al Qur’an dan Hadits tentang pembagian tauhid? Kata antum pembagian tsb berasal dari istiqro’ (penelitian total), sebutkan dong ayatnya yg dijadikan sandaran biar nanti akan saya jelaskan. biar antum mudeng di mana letak kesalahannya, oke akhi?

    2. @Ibnu Abdul Chair

      lebih baik saudara pelajari dulu, apa itu qiyas. Qiyas itu ada rukunnya, yaitu:

      1. pokok yg ada nas tentang hukumnya, dan yg dijadikan tempat mengqiyaskan.
      2. Cabang yg hendak diketahui hukumnya dengan jalan qiyas
      3. Hukum syara’ yg hendak ditetapkan terhadap cabang
      4. ‘Ilat yg bersamaan antara pokok dan cabang.

      yg dijadikan pokok haruslah telah diketahui hukumnya dengan jelas berdasarkan nas (Al-Qur’an dan hadist) dan ijma’ bukan berdasarkan qiyas.

      karena, yg ditetapkan dengan qiyas tidak dapat dijadikan tempat untuk mengqiyaskan.

      Saudara sendiri mengatakan bahwa tidak ada dalilnya pembagian tauhid menjadi 3 dalam Al-qur’an dan hadist. tapi saudara mengqiyaskannya dengan ilmu ilmu seperti nahwu dsb. artinya, qiyas anda itu tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    3. wkwkwkkwkw…… ketauan banget baghlul nya ente (maaf klo kasar,abisnya ini mas bedul ngegemesin sih) hahay… hadehhhh masih ngotot jg, udah salah ngeyel pula, maklum aja sih kita yg pada baca komen ente udah tau dri awal pasti muter” disitu jg ga jelas mana awal mana akhir…yg ada mumet bacanya ,asal copas aja, asal nukil aja, bocah juga bisa klo cuman bgtu mas bedul…. hadeh Alhamdulillah para ustadz kita ga henti”nya membantu tuk menyadarkan pemahaman ente yg ngawur… terima kasih kepada sahabat” ustadz aswaja… maju terus pantang mundur… perangin wahabbiyyun ampe pada kapok mereka dengan ulah mereka sendiri….

      1. maaf salah reply, komen ane sebelumnya ditujukan untuk @ibn abdul chair (saking gemesnya ampe salah reply) hehehe maafkan kebodohan saya…(jujur nih ane ngaku bodoh,drpd yg ga nyadar dengan kebodohannya)

  19. sekali lagi sy kutip :“Jadi, banyaknya tuduhan-tuduhan jelek terhadap suatu golongan, mestinya tidak menghalangi kita untuk bersikap adil dan obyektif terhadap mereka. Karena boleh jadi kebenaran justeru ada pada mereka, dan dalam hal ini yang menjadi patokan adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih”.

    1. Karena boleh jadi kebenaran justeru ada pada mereka, dan dalam hal ini yang menjadi patokan adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih”.

      Baik lah, saya sangat2 setuju yg jadi patokan kebenaran adalah dalil2 Al Qur’an dan Hadits yg shohih. Oleh karena itulah saya minta antum di surat apa ayat berapa ada yg menjelaskan tentang pembagian Tauhid? Atau Hadits Shohih raiwayat Siapa yg menjelaskan tentang pembagian Tauhid? Monggo dijawab.

      Jangan bikin analogi / qiyas yg salah kaprah lagi ya? Pelajari dulu ilmu tentang Qiyas / analogi, biar nggak asal ber-QIYAS ria sekenanya saja. Ya, saya tahu antum cuma ikut2an ustadz antum dalam membuat jawaban yg bergaya Qiyas di atas, berarti Ustadz2 atau Syaikh2 antum yang ngawur tidak mengerti tentang praktek ber-Qiyas ato beranalogi.

  20. Golongan TAKLIK BUTA pada ulama yang ga jelas. Ngaku doang berdasarkan Qur’an Hadits. Aqidah TIDAK SAMA DENGAN Nahwu. Kalau tidak mengerti Nahwu, keislaman seseorang tetap syah. Bagaimana orang yang Aqidahnya kacau? Apakah golongan yang demikian LEBIH BAIK dari pengikut Imam Mazhab? PIKIIIIIIIIIR. Orang awam aza tahuuuuu.

  21. @ASWAJA

    1. Pahala sedekah untuk orang yang sudah wafat.

    Hadits dari Abu Hurairah:
    “Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulallah saw.: ‘Ayah saya meninggal dunia, dan ada meninggalkan harta serta tidak memberi wasiat. Apakah dapat menghapus dosanya bila saya sedekahkan?’ Nabi saw. menjawab: Dapat!” (HR Ahmad, Muslim dan lain-lain)

    “Ibu Saad bin Ubadah meninggal dunia disaat dia (Saad bin Ubadah) sedang tidak ada ditempat. Maka berkatalah ia: ‘Wahai Rasulallah! Sesungguhnya ibuku telah wafat disaat aku sedang tidak ada disisinya, apakah ada sesuatu yang bermanfaat untuknya jika aku sedekahkan? Nabi menjawab; Ya! Berkata Sa’ad bin Ubadah: Saya persaksikan kepadamu (wahai Rasulallah) bahwa kebun kurma saya yang sedang berbuah itu sebagai sedekah untuknya’.” (HR Bukhori, Turmudzi dan Nasa’i)

    Hadits dari Sa’ad ibnu Ubadah ra. bahwa ia pernah berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya Ummu Sa’ad telah meninggal dunia, kiranya sedekah apa yang lebih utama untuknya?” Sabda beliau saw.: ‘Air ‘. Maka Sa’ad menggali sebuah sumur, kemudian ia berkata: “Sumur ini aku sedekahkan untuk Ummu Sa’ad”. (HR Abu Dawud, Ahmad dan Nasa’i)

    Hadist ini jelas menunjukkan bahwa amalan-amalan sedekah orang yang masih hidup dan diniatkan pahalanya untuk orang yang sudah wafat akan dapat membawa manfaat dan sampai pahalanya baginya.

    2. Pahala Puasa dan Sholat.

    Hadits dari Aisyah ra. Rasulallah saw. bersabda:
    ‘Barang siapa yang wafat dengan mempunyai kewajiban shaum (puasa) maka walinya berpuasa untuknya’. (Yang dimaksud wali disini yaitu kerabat- nya walaupun bukan termasuk ahli waris). (HR.Bukhari dan Muslim, Abu Daud dan Nasa’i)

    Hadits dari Ibnu Abbas:
    “Seorang lelaki datang menemui Rasulallah saw. ia berkata: ‘Ya Rasulallah, ibuku meninggal dunia, sedang ia mempunyai kewajiban berpuasa selama sebulan. Apakah saya wajib qadha atas namanya?’ Nabi saw. berkata; Bagaimana jika ibumu mempunyai hutang, apakah akan kamu bayarkan untuknya? ‘Benar’ jawabnya. Nabi berkata, maka hutang kepada Allah lebih layak untuk dibayar!” (HR.Bukhori dan Muslim)

    Hadits riwayat Daruquthni:
    “Bahwa seorang laki-laki bertanya: ‘Ya Rasulallah, saya mempunyai ibu dan bapak yang selagi mereka hidup saya berbakti kepadanya. Maka bagaimana caranya saya berbakti kepada mereka, setelah mereka meninggal dunia?’ Jawab Nabi saw: Berbakti setelah mereka wafat! , caranya adalah dengan melakukan sholat untuk mereka disamping shalatmu, dan berpuasa untuk mereka disamping puasamu!”.

    sabda Rasulallah saw.: ‘Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk mengganti- kan orang lain, dan seseorang tidak boleh melakukan shaum (puasa) untuk menggantikan orang lain, tetapi ia memberikan makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum?’ (HR An-Nasa’i)

    Makna hadits terakhir ini ialah: Misalnya si A malas untuk sholat Ashar maka si A minta pada Si B untuk menggantikannya, inilah yang di larang oleh agama. Karena orang yang masih hidup harus menunaikan sholat dan puasa sendiri-sendiri tidak boleh diwakilkan pada orang lain.

    Begitu juga bila orang yang masih hidup tidak mampu puasa lagi karena alasan-alasan tertentu yang dibolehkan agama umpama sudah tua sekali atau mempunyai penyakit chronis dan lain sebagainya tidak boleh digantikan oleh orang lain tetapi yang bersangkutan setiap harinya harus mengeluarkan sedekah untuk memberi makan orang miskin satu mud (± 800 gram).

    3. Pahala Haji.

    Dari Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi saw. dan bertanya: ‘Sesungguhnya ibuku nadzar untuk haji, namun belum terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya melakukan haji untuknya? Rasulallah saw. menjawab: Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang, apakah kamu membayarnya?, bayarlah hutang Allah, karena hutang Allah lebih berhak untuk dibayar’. (HR Bukhari)

    “Bahwa Nabi saw.pernah mendengar seorang laki-laki berkata: Labbaik an Syubrumah (Ya Allah, saya perkenankan perintahMu untuk si Syubrumah). Nabi bertanya: Siapa Syubrumah itu? Dia menjawab: Saudara saya atau teman dekat saya. Nabi bertanya: Apakah engkau sudah berhaji untuk dirimu? Dia menjawab: belum! Nabi bersabda: Berhajilah untuk dirimu kemudian berhajilah untuk Syubrumah! ”. (HR.Abu Daud)

    4. Pembacaan Al-Qur’an untuk orang yang telah wafat

    Hadits tentang wasiat Ibnu Umar ra yang tertulis dalam syarah Aqidah Thahawiyah
    “Dari Ibnu Umar ra: “Bahwasanya beliau berwasiat agar di atas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awal-awal surat al-Baqarah dan akhirnya..”.

    Hadits ini menjadi pegangan Muhammad bin Hasan dan Imam Ahmad bin Hanbal padahal Imam Ahmad ini sebelumnya termasuk orang yang meng- ingkari sampainya pahala amalan dari orang yang hidup pada orang yang telah mati. Namun setelah beliau mendengar dari orang-orang kepercayaan tentang wasiat Ibnu Umar ini beliaupun mencabut pengingkarannya itu (Mukhtasar Tazkirah Qurtubi)
    Hadits dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulallah saw.bersabda: ”Jika mati seorang dari kamu, maka janganlah kamu menahannya dan segeralah mem- bawanya kekubur dan bacakanlah Fatihatul Kitab disamping kepalanya”. (HR. Thabrani dan Baihaqi)

    Abu Hurairah ra.meriwayatkan bahwasanya Nabi saw. bersabda:
    “Barangsiapa yang berziarah di kuburan, kemudian ia membaca ‘Al-Fatihah’, ‘Qul Huwallahu Ahad’ dan ‘Alhaakumut takatsur’, lalu ia berdo’a Ya Allah, kuhadiahkan pahala pembacaan firman-Mu pada kaum Mu’minin dan Mu’minat penghuni kubur ini, maka mereka akan menjadi penolong baginya (pemberi syafa’at) pada hari kiamat”.

    ‘Bacalah Yaa Siin bagi orang-orang yang (akan atau telah) meninggal diantara kalian (muslimin)’.
    Riwayat serupa oleh Abu Hurairah ra juga telah dicatat oleh Abu Ya’la dalam Musnad beliau dan Hafidz ibn Katsir telah mengklasifikasikan rantai periwayatnya (sanadnya) sebagai Hasan/baik

    Ma’aqal ibn Yassaar ra meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda;
    “Yasin adalah kalbu (hati) dari Al-Quran. Tak seorang pun yang membaca- nya dengan niat menginginkan Akhirat melainkan Allah akan mengampuni- nya. Bacalah atas orang-orang yang (akan dan telah) wafat diantaramu.” (Sunan Abu Dawud). Imam Hakim mengklasifikasikan hadits ini sebagai Shohih

    Al-Baihaqi dalam Sya’bul Iman menjelaskan sebuah hadits riwayat Mi’qal bin Yasar bahwa Rasulallah saw. bersabda:
    “Barangsiapa membaca Yaa Sin semata-semata demi keridhaan Allah, ia memperoleh ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu. Karena itu hendaklah kalian membacakan Yaa Sin bagi orang yang (akan atau telah) wafat diantara kalian (muslimin)”. (Hadits ini disebutkan juga dalam Al-Jami’us Shaghier dan Misykatul Mashabih).

    Ma’aqal ibn Yassaar ra meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda;
    “Barangsiapa lewat melalui kuburan, kemudian ia membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ sebelas kali dengan niat menghadiahkan pahalanya pada para penghuni kubur, ia sendiri akan memperoleh pahala sebanyak orang yang mati disitu (atau mendapat pahala yang diperoleh semua penghuni kubur)”.

    Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw. Bersabda :
    “Barangsiapa yang menolong mayyit dengan bacaan Al-Qur’an atau dzikir, maka ia diwajibkan Allah swt. Masuk surga”. (HR. Imam Nasa-iImam Daramy)

    Nabi Muhammad saw. Bersabda :
    “Shadaqahlah kalian untuk diri kalian sendiri, untuk mayit mayit kalian, sekalipun hanya seteguk air. Bilamana tidak mampu memberikan seteguk air, maka bacakan ayat suci Al-qur’an. Bilamana sedikitpun tidak bisa membaca Al-Qur’an, maka berdo’alah kalian untuk mayyit dengan do’a pengampunan dan rahmat. Sesungguhnya Allah swt itu menepati janjiNya mengabulkan setiap permintaan”. (Hadist dalam kitab Tanqihul Qaul)

    “Imam Ahmad bin Hanbal; ulama-ulama dalam madzhab Hanafi, Maliki dan madzhab Syafi’i; Dan masih banyak lagi ulama-ulama berbeda madzhab yang membenarkan hadiah pahala bacaan Al-Qur’an.

    Imam Syafi’I memiliki dua qaul, qaul qadim dan qaul jadid (pendapat yg lama dan pendapat yg baru). Pernyataan tidak sampai, termuat dalam qaul qadim (pendapat lama), dan qaul jadid (pendapat baru) menyatakan sampai.

    Berkata Imam Nawawi :
    “Barangsiapa yang ingin berbakti pada ayah ibunya maka ia boleh bersedekah atas nama mereka (kirim amal sedekah untuk mereka), dan sungguh pahala shadaqah itu sampai pada mayyit dan akan membawa manfaat atasnya tanpa ada ikhtilaf diantara muslimin, inilah pendapat terbaik, mengenai apa – apa yang diceritakan pimpinan Qadhiy Abul Hasan Almawardiy Albashriy Alfaqiihi Assyafii mengenai ucapan beberapa Ahli Bicara (semacam wahabiy yang hanya bisa bicara tanpa ilmu) bahwa mayyit setelah wafatnya tak bisa menerima pahala, maka pemahaman ini Batil secara jelas dan kesalahan yg diperbuat oleh mereka yang mengingkari nash – nash dari Alqur’an dan Alhadits dan Ijma ummat ini, maka tak perlu ditolelir dan tak perlu diperdulikan. Namun mengenai pengiriman pahala shalat dan puasa, maka madzhab Syafii dan sebagian ulama mengatakannya tidak sampai kecuali shalat dan puasa yang wajib bagi mayyit, maka boleh di Qadha oleh wali nya atau orang lain yang diizinkan oleh walinya, maka dalam hal ini ada dua pendapat dalam Madzhab Syafii, yang lebih masyhur hal ini tak sampai, namun pendapat kedua yang lebih shahih mengatakan hal itu sampai. Mengenai pahala Alqur’an menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafii bahwa tak sampai pada mayyit, namun adapula pendapat dari sahabat sahabat Syafii yang mengatakannya sampai, dan sebagian besar ulama mengambil pendapat bahwa sampainya pahala semua macam ibadah, berupa shalat, puasa, bacaan Alqur’an, ibadah dan yang lainnya, sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Bukhari pada Bab : “Barangsiapa yang wafat dan atasnya nadzar” bahwa Ibn Umar memerintahkan seorang wanita yang wafat ibunya yang masih punya hutang shalat agar wanita itu membayar (meng qadha) shalatnya, dan dihikayatkan oleh Penulis kitab Al Hawiy, bahwa Atha bin Abi Ribah dan Ishaq bin Rahawayh bahwa mereka berdua mengatakan bolehnya shalat dikirim untuk mayyit, Telah berkata Syeikh Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad bin Hibatullah bin Abi Ishruun dari kalangan kita (berkata Imam nawawi dengan ucapan : “kalangan kita” maksudnya dari madzhab syafii) yang muta’akhir (dimasa Imam Nawawi) dalam kitabnya Al Intisharilaa Ikhtiyar bahwa hal ini seperti ini. (sebagaimana pembahasan diatas), berkata Imam Abu Muhammad Al Baghawiy dari kalangan kita dalam kitabnya At Tahdzib : Tidak jauh bagi mereka untuk memberi satu Mudd untuk membayar satu shalat (shalat mayyit yang tertinggal) dan ini semua izinnya sempurna, dan dalil mereka adalah Qiyas atas Doa dan sedekah dan haji (sebagaimana riwayat hadist – hadits shahih) bahwa itu semua sampai dengan pendapat yang sepakat para ulama. (Syarh Nawawi Ala Shahih Muslim)

    Maka jelaslah sudah bahwa Imam Nawawi menjelaskan dalam hal ini ada dua pendapat, dan yang lebih masyhur adalah yang mengatakan tak sampai, namun yang lebih shahih mengatakannya sampai, tentunya kita mesti memilih yang lebih shahih, bukan yang lebih masyhur, Imam nawawi menjelaskan bahwa yang shahih adalah yang mengatakan sampai, walaupun yang masyhur mengatakan tak sampai, berarti yang masyhur itu dhoif, dan yang shahih adalah yang mengatakan sampai, dan Imam Nawawi menjelaskan pula bahwa sebagian besar ulama mengatakan semua amal apahal sampai.

    “Sungguh sedekah untuk dikirimkan pada mayyit akan membawa manfaat bagi mayyit dan akan disampaikan padanya pahalanya, demikian ini pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, demikian pula mereka telah sepakat atas sampainya doa – doa, dan pembayaran hutang (untuk mayyit) dengan nash – nash yang teriwayatkan masing masing, dan sah pula haji untuk mayyit bila haji muslim, Demikian pula bila ia berwasiat untuk dihajikan dengan haji yang sunnah, demikian pendapat yang lebih shahih dalam madzhab kita (Syafii), namun berbeda pendapat para ulama mengenai puasa, dan yang lebih benar adalah yang membolehkannya sebagaimana hadits – hadits shahih yang menjelaskannya, dan yang masyhur dikalangan madzhab kita bahwa bacaan Alqur’an tidak sampai pada mayyit pahalanya, namun telah berpendapat sebagian dari ulama madzhab kita bahwa sampai pahalanya, dan Imam Ahmad bin Hanbal berpegang pada yang membolehkannya” (Syarh Imam Nawawi ala Shahih Muslim)

    Dan dijelaskan pula dalam Almughniy :
    “Tidak ada larangannya membaca Alqur’an dikuburan , dan telah diriwayatkan dari Ahmad bahwa bila kalian masuk pekuburan bacalah ayat Alkursiy, lalu Al Ikhlas 3X, lalu katakanlah : Wahai Allah, sungguh pahalanya untuk ahli kubur”. Dan diriwayatkan pula bahwa bacaan Alqur’an di kuburan adalah Bid’ah, dan hal itu adalah ucapan Imam Ahmad bin Hanbal, lalu muncul riwayat lain bahwa Imam Ahmad melarang keras hal itu, maka berkatalah padanya Muhammad bin Qudaamah : Wahai Abu Abdillah (nama panggilan Imam Ahmad), apa pendapatmu tentang Mubasyir (seorang perawi hadits), Imam Ahmad menjawab : Ia Tsiqah (kuat dan terpercaya riwayatnya), maka berkata Muhammad bin Qudaamah sungguh Mubasyir telah meriwayatkan padaku dari ayahnya bahwa bila wafat agar dibacakan awal surat Baqarah dan penutupnya, dan bahwa Ibn Umar berwasiat demikian pula!”, maka berkata Imam Ahmad :”katakan pada orang yang tadi ku larang membaca Alqur’an dikuburan agar ia terus membacanya lagi..”. (Al Mughniy)

    Dan dikatakan dalam Syarh Al Kanz :
    “dijelaskan pada syarah Al Kanz, Sungguh boleh bagi seseorang untuk mengirim pahala amal kepada orang lain, shalat kah, atau puasa, atau haji, atau shadaqah, atau Bacaan Alqur’an, dan seluruh amal ibadah lainnya, dan itu boleh untuk mayyit dan itu sudah disepakati dalam Ahlussunnah waljamaah. Namun hal yang terkenal bahwa Imam Syafii dan sebagian ulamanya mengatakan pahala pembacaan Alqur’an tidak sampai, namun Imam Ahmad bin Hanbal, dan kelompok besar dari para ulama, dan kelompok besar dari ulama syafii mengatakannya pahalanya sampai, demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar, Dan dijelaskan dalam Syarh Al Minhaj oleh Ibn Annahwiy : “tidak sampai pahala bacaan Alqur’an dalam pendapat kami yang masyhur, dan maka sebaiknya adalah pasti sampai bila berdoa kepada Allah untuk memohon penyampaian pahalanya itu, Dan selayaknya ia meyakini hal itu karena merupakan doa, karena bila dibolehkan doa tuk mayyit, maka menyertakan semua amal itu dalam doa tuk dikirmkan merupakan hal yang lebih baik, dan ini boleh tuk seluruh amal, dan doa itu sudah Muttafaq alaih (tak ada ikhtilaf) bahwa doa itu sampai dan bermanfaat pada mayyit bahkan pada yang hidup, keluarga dekat atau yang jauh, dengan wasiat atau tanpa wasiat, dan dalil ini dengan hadits yang sangat banyak”.
    (Naylul Awthar lil Imam Assyaukaniy, Al majmu’ Syarh Muhadzab lil Imam Nawawiy)

    Kesimpulannya bahwa hal ini merupakan ikhtilaf ulama, ada yang mengatakan pengiriman amal pada mayyit sampai secara keseluruhan, ada yang mengatakan bahwa pengiriman bacaan Alqur’an tidak sampai, namun kesemua itu bila dirangkul dalam doa kepada Allah untuk disampaikan maka tak ada ikhtilaf lagi. Dan kita semua dalam tahlilan itu pastilah ada ucapan : Allahumma awshil, tsawabaa maa qaraa’naa minalqur’anilkarim… dst (Wahai Allah, sampaikanlah pahala apa – apa yang kami baca, dari alqur’anulkarim…dst). Maka jelaslah sudah bahwa Imam Syafii dan seluruh Imam Ahlussunnah waljamaah tak ada yang mengingkarinya dan tak adapula yang mengatakannya tak sampai.

    5. Do’a Bersama
    “Dari Habib bin Maslamah al-Fihri RA beliau seorang yang dikabulkan doanya-, berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak lah berkumpul suatu kaum Muslimin, lalu sebagian mereka berdoa, dan sebagian lainnya mengucapkan amin, kecuali Allah pasti mengabulkan doa mereka.” (HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak. Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai persyaratan Muslim. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid, para perawi hadits ini adalah para perawi hadits shahih, kecuali Ibn Lahi’ah, seorang yang haditsnya bernilai hasan.”

    Dalam hadits lain diterangkan:
    ”Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Rasu/ullah SAW bersabda: “Orang yang berdoa dan orang yang membaca amin sama-sama memperoleh pahala.” (HR. al-Dailami dalam Musnad al-Firdaus dengan sanad yang lemah).

    Menurut al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari dalam kitabnya al-Mudawi li-’llal al-Jami’ al- Shaghir wa Syarhai al-Munawi, kelemahan hadits al-Dailami di atas dapat diperkuat dengan ayat al-Qur’an. Allah berfirman tentang kisah Nabi Musa AS “Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan doa kamu berdua, oleh karena itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus.” (QS. Yunus: 89).

    Dalam ayat di atas, al-Qur’an menegaskan tentang dikabulkannya doa Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS. Padahal yang berdoa sebenarnya Nabi Musa AS sedangkan Nabi Harun AS hanya mengucapkan amin, sebagaimana diterangkan oleh para ulama ahli tafsir. Nabi Musa AS yang berdo’a dan Nabi Harun AS yang menngucapkan amiin, dalam ayat tersebut sama-sama dikatakan do’a. Dalam hadits lain diterangkan:
    ”Ya’la bin Syaddad berkata: “Ayahku bercerita kepadaku, sedangkan Ubadah bin al-Shamit hadir membenarkannya.: “Suatu ketika kami bersama Nabi SAW, Beliau berkata: “Apakah di antara kamu ada orang asing? (Maksudnya ahlulkitab).” Kami menjawab: “Tidak ada ya Rasululah.” Lalu Rasul SAW memerintahkan agar mengunci pintu. Kemudian bersabda: “Angkatlah tangan kalian dan ucapkan la ilaha ilallah.” Maka kami mengangkat tangan kami beberapa saat. Kemudian Rasul SAW berkata; ”Ya Allah, Engkau telah mengutus aku membawa kalimat ini, dan Engkau janjikan surga padaku dengan kalimat tersebut, sedangkan Engkau tidak akan menyalahi janji.” Kemudian Rasul bersabda: “Bergembiralah, karena Allah telah mengampuni kalian.” (HR. Al-lmam Ahmad dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Hafizh al-Mundziri, al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan lain-lain.)

    Dalam hadits di atas Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat membaca kalimat tauhid (la ilaha illallah) bersama-sama. LaIu para sahabat pun mengucapkannya bersama-sama sambil mengangkat tangan mereka.. Kemudian Rasulullah SAW membacakan doa. Dengan demikian, dzikir bersama sebenarnya memiliki tuntunan dari hadits shahih ini.

    6. Keterangan singkat mengenai Peringatan Haul

    Allah swt. telah berfirman didalam alqur’an bahwa orang-orang Arab Jahiliyyah setelah menunaikan haji mereka hanya bermegah-megahan tentang kebesaran nenek moyangnya saja. Kemudian turun perintah Allah swt. agar mereka sebagaimana mereka menyebut-yebut nenek moyangnya agar banyak berdzikir pada Allah swt.:

    ‘Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-bangga kan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu’. (Al-Baqarah: 200)

    Dalam ayat di atas ini, Allah swt. tidak melarang adat mereka setiap tahun setelah usai haji menceriterakan riwayat hidup dan membangga-bangga kan nenek moyangnya, hanya Allah swt. menghendaki agar orang Arab Jahiliyyah disamping membangga-banggakan tersebut juga banyak berdzikir pada Allah swt.!

    Sebagian ulama mengatakan ayat ini bisa dijadikan sebagai dalil diboleh- kannya orang-orang setiap tahun memperingati para wali atau sholihin yang telah wafat (Haul). Karena dalam peringatan ini para ulama akan menyebut- kan/mengumandangkan kepada hadirin riwayat hidup para wali/sholihin yang diperingati ini, kemudian diakhiri dengan berdo’a kepada Allah swt. agar amalan-amalan para wali/sholihin ini diterima oleh Allah swt. dan para hadirin diberi taufiq oleh Allah sehingga bisa mencontoh amal perbuatan para sholihin yang terpuji, dimasa hidupnya mereka.

    Dengan demikian peringatan Haul ini banyak manfaat baik bagi orang yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Bagi yang sudah wafat mendapat do’a dari jama’ah, fadhilah atau pahala pembacaan Al-Qur’an yang ditujukan kepadanya. Sedangkan berkumpulnya jama’ah (para hadirin) yang membaca do’a ini sudah tentu akan mendapat pahala, rahmat dan berkah dari Allah swt., karena ziarah kubur pada orang muslim yang biasa saja sudah ter- masuk sunnah Rasulallah saw. apalagi menziarahi para ulama, para sholihin dan para wali yakni orang-orang yang dibanggakan, dipuji oleh Allah swt. dan Rasul-Nya.

    Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. : “Sesungguhnya Nabi Musa u berkata, “Ya Allah, dekatkanlah aku kepada tanah suci sejauh satu lemparan dengan batu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, seandainya aku ada disampingnya, tentu aku beritahu kalian letak makam Musa, yaitu di tepi jalan di sebelah bukit pasir merah.”

    Ketika menjelaskan maksud hadits tersebut, al-Hafizh al-’Iraqi berkata:
    “Hadits tersebut menjelaskan anjuran mengetahui makam orang-orang saleh untuk dizarahi dan dipenuhi haknya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan tanda-tanda makam Nabi Musa u yaitu pada makam yang sekarang dikenal masyarakat sebagai makam beliau. Yang jelas, tempat tersebut adalah makam yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.” (Tharh al-Tatsrib)

  22. @All Aswaja

    1. Pahala sedekah untuk orang yang sudah wafat.

    Hadits dari Abu Hurairah:
    “Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulallah saw.: ‘Ayah saya meninggal dunia, dan ada meninggalkan harta serta tidak memberi wasiat. Apakah dapat menghapus dosanya bila saya sedekahkan?’ Nabi saw. menjawab: Dapat!” (HR Ahmad, Muslim dan lain-lain)

    “Ibu Saad bin Ubadah meninggal dunia disaat dia (Saad bin Ubadah) sedang tidak ada ditempat. Maka berkatalah ia: ‘Wahai Rasulallah! Sesungguhnya ibuku telah wafat disaat aku sedang tidak ada disisinya, apakah ada sesuatu yang bermanfaat untuknya jika aku sedekahkan? Nabi menjawab; Ya! Berkata Sa’ad bin Ubadah: Saya persaksikan kepadamu (wahai Rasulallah) bahwa kebun kurma saya yang sedang berbuah itu sebagai sedekah untuknya’.” (HR Bukhori, Turmudzi dan Nasa’i)

    Hadits dari Sa’ad ibnu Ubadah ra. bahwa ia pernah berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya Ummu Sa’ad telah meninggal dunia, kiranya sedekah apa yang lebih utama untuknya?” Sabda beliau saw.: ‘Air ‘. Maka Sa’ad menggali sebuah sumur, kemudian ia berkata: “Sumur ini aku sedekahkan untuk Ummu Sa’ad”. (HR Abu Dawud, Ahmad dan Nasa’i)

    Hadist ini jelas menunjukkan bahwa amalan-amalan sedekah orang yang masih hidup dan diniatkan pahalanya untuk orang yang sudah wafat akan dapat membawa manfaat dan sampai pahalanya baginya.

    2. Pahala Puasa dan Sholat.

    Hadits dari Aisyah ra. Rasulallah saw. bersabda:
    ‘Barang siapa yang wafat dengan mempunyai kewajiban shaum (puasa) maka walinya berpuasa untuknya’. (Yang dimaksud wali disini yaitu kerabat- nya walaupun bukan termasuk ahli waris). (HR.Bukhari dan Muslim, Abu Daud dan Nasa’i)

    Hadits dari Ibnu Abbas:
    “Seorang lelaki datang menemui Rasulallah saw. ia berkata: ‘Ya Rasulallah, ibuku meninggal dunia, sedang ia mempunyai kewajiban berpuasa selama sebulan. Apakah saya wajib qadha atas namanya?’ Nabi saw. berkata; Bagaimana jika ibumu mempunyai hutang, apakah akan kamu bayarkan untuknya? ‘Benar’ jawabnya. Nabi berkata, maka hutang kepada Allah lebih layak untuk dibayar!” (HR.Bukhori dan Muslim)

    Hadits riwayat Daruquthni:
    “Bahwa seorang laki-laki bertanya: ‘Ya Rasulallah, saya mempunyai ibu dan bapak yang selagi mereka hidup saya berbakti kepadanya. Maka bagaimana caranya saya berbakti kepada mereka, setelah mereka meninggal dunia?’ Jawab Nabi saw: Berbakti setelah mereka wafat! , caranya adalah dengan melakukan sholat untuk mereka disamping shalatmu, dan berpuasa untuk mereka disamping puasamu!”.

    sabda Rasulallah saw.: ‘Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk mengganti- kan orang lain, dan seseorang tidak boleh melakukan shaum (puasa) untuk menggantikan orang lain, tetapi ia memberikan makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum?’ (HR An-Nasa’i)

    Makna hadits terakhir ini ialah: Misalnya si A malas untuk sholat Ashar maka si A minta pada Si B untuk menggantikannya, inilah yang di larang oleh agama. Karena orang yang masih hidup harus menunaikan sholat dan puasa sendiri-sendiri tidak boleh diwakilkan pada orang lain.

    Begitu juga bila orang yang masih hidup tidak mampu puasa lagi karena alasan-alasan tertentu yang dibolehkan agama umpama sudah tua sekali atau mempunyai penyakit chronis dan lain sebagainya tidak boleh digantikan oleh orang lain tetapi yang bersangkutan setiap harinya harus mengeluarkan sedekah untuk memberi makan orang miskin satu mud (± 800 gram).

    3. Pahala Haji.

    Dari Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi saw. dan bertanya: ‘Sesungguhnya ibuku nadzar untuk haji, namun belum terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya melakukan haji untuknya? Rasulallah saw. menjawab: Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang, apakah kamu membayarnya?, bayarlah hutang Allah, karena hutang Allah lebih berhak untuk dibayar’. (HR Bukhari)

    “Bahwa Nabi saw.pernah mendengar seorang laki-laki berkata: Labbaik an Syubrumah (Ya Allah, saya perkenankan perintahMu untuk si Syubrumah). Nabi bertanya: Siapa Syubrumah itu? Dia menjawab: Saudara saya atau teman dekat saya. Nabi bertanya: Apakah engkau sudah berhaji untuk dirimu? Dia menjawab: belum! Nabi bersabda: Berhajilah untuk dirimu kemudian berhajilah untuk Syubrumah! ”. (HR.Abu Daud)

    4. Pembacaan Al-Qur’an untuk orang yang telah wafat

    Hadits tentang wasiat Ibnu Umar ra yang tertulis dalam syarah Aqidah Thahawiyah
    “Dari Ibnu Umar ra: “Bahwasanya beliau berwasiat agar di atas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awal-awal surat al-Baqarah dan akhirnya..”.

    Hadits ini menjadi pegangan Muhammad bin Hasan dan Imam Ahmad bin Hanbal padahal Imam Ahmad ini sebelumnya termasuk orang yang meng- ingkari sampainya pahala amalan dari orang yang hidup pada orang yang telah mati. Namun setelah beliau mendengar dari orang-orang kepercayaan tentang wasiat Ibnu Umar ini beliaupun mencabut pengingkarannya itu (Mukhtasar Tazkirah Qurtubi)
    Hadits dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulallah saw.bersabda: ”Jika mati seorang dari kamu, maka janganlah kamu menahannya dan segeralah mem- bawanya kekubur dan bacakanlah Fatihatul Kitab disamping kepalanya”. (HR. Thabrani dan Baihaqi)

    Abu Hurairah ra.meriwayatkan bahwasanya Nabi saw. bersabda:
    “Barangsiapa yang berziarah di kuburan, kemudian ia membaca ‘Al-Fatihah’, ‘Qul Huwallahu Ahad’ dan ‘Alhaakumut takatsur’, lalu ia berdo’a Ya Allah, kuhadiahkan pahala pembacaan firman-Mu pada kaum Mu’minin dan Mu’minat penghuni kubur ini, maka mereka akan menjadi penolong baginya (pemberi syafa’at) pada hari kiamat”.

    ‘Bacalah Yaa Siin bagi orang-orang yang (akan atau telah) meninggal diantara kalian (muslimin)’.
    Riwayat serupa oleh Abu Hurairah ra juga telah dicatat oleh Abu Ya’la dalam Musnad beliau dan Hafidz ibn Katsir telah mengklasifikasikan rantai periwayatnya (sanadnya) sebagai Hasan/baik

    Ma’aqal ibn Yassaar ra meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda;
    “Yasin adalah kalbu (hati) dari Al-Quran. Tak seorang pun yang membaca- nya dengan niat menginginkan Akhirat melainkan Allah akan mengampuni- nya. Bacalah atas orang-orang yang (akan dan telah) wafat diantaramu.” (Sunan Abu Dawud). Imam Hakim mengklasifikasikan hadits ini sebagai Shohih

    Al-Baihaqi dalam Sya’bul Iman menjelaskan sebuah hadits riwayat Mi’qal bin Yasar bahwa Rasulallah saw. bersabda:
    “Barangsiapa membaca Yaa Sin semata-semata demi keridhaan Allah, ia memperoleh ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu. Karena itu hendaklah kalian membacakan Yaa Sin bagi orang yang (akan atau telah) wafat diantara kalian (muslimin)”. (Hadits ini disebutkan juga dalam Al-Jami’us Shaghier dan Misykatul Mashabih).

    Ma’aqal ibn Yassaar ra meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda;
    “Barangsiapa lewat melalui kuburan, kemudian ia membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ sebelas kali dengan niat menghadiahkan pahalanya pada para penghuni kubur, ia sendiri akan memperoleh pahala sebanyak orang yang mati disitu (atau mendapat pahala yang diperoleh semua penghuni kubur)”.

    Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw. Bersabda :
    “Barangsiapa yang menolong mayyit dengan bacaan Al-Qur’an atau dzikir, maka ia diwajibkan Allah swt. Masuk surga”. (HR. Imam Nasa-iImam Daramy)

    Nabi Muhammad saw. Bersabda :
    “Shadaqahlah kalian untuk diri kalian sendiri, untuk mayit mayit kalian, sekalipun hanya seteguk air. Bilamana tidak mampu memberikan seteguk air, maka bacakan ayat suci Al-qur’an. Bilamana sedikitpun tidak bisa membaca Al-Qur’an, maka berdo’alah kalian untuk mayyit dengan do’a pengampunan dan rahmat. Sesungguhnya Allah swt itu menepati janjiNya mengabulkan setiap permintaan”. (Hadist dalam kitab Tanqihul Qaul)

    “Imam Ahmad bin Hanbal; ulama-ulama dalam madzhab Hanafi, Maliki dan madzhab Syafi’i; Dan masih banyak lagi ulama-ulama berbeda madzhab yang membenarkan hadiah pahala bacaan Al-Qur’an.

    Imam Syafi’I memiliki dua qaul, qaul qadim dan qaul jadid (pendapat yg lama dan pendapat yg baru). Pernyataan tidak sampai, termuat dalam qaul qadim (pendapat lama), dan qaul jadid (pendapat baru) menyatakan sampai.

    Berkata Imam Nawawi :
    “Barangsiapa yang ingin berbakti pada ayah ibunya maka ia boleh bersedekah atas nama mereka (kirim amal sedekah untuk mereka), dan sungguh pahala shadaqah itu sampai pada mayyit dan akan membawa manfaat atasnya tanpa ada ikhtilaf diantara muslimin, inilah pendapat terbaik, mengenai apa – apa yang diceritakan pimpinan Qadhiy Abul Hasan Almawardiy Albashriy Alfaqiihi Assyafii mengenai ucapan beberapa Ahli Bicara (semacam wahabiy yang hanya bisa bicara tanpa ilmu) bahwa mayyit setelah wafatnya tak bisa menerima pahala, maka pemahaman ini Batil secara jelas dan kesalahan yg diperbuat oleh mereka yang mengingkari nash – nash dari Alqur’an dan Alhadits dan Ijma ummat ini, maka tak perlu ditolelir dan tak perlu diperdulikan. Namun mengenai pengiriman pahala shalat dan puasa, maka madzhab Syafii dan sebagian ulama mengatakannya tidak sampai kecuali shalat dan puasa yang wajib bagi mayyit, maka boleh di Qadha oleh wali nya atau orang lain yang diizinkan oleh walinya, maka dalam hal ini ada dua pendapat dalam Madzhab Syafii, yang lebih masyhur hal ini tak sampai, namun pendapat kedua yang lebih shahih mengatakan hal itu sampai. Mengenai pahala Alqur’an menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafii bahwa tak sampai pada mayyit, namun adapula pendapat dari sahabat sahabat Syafii yang mengatakannya sampai, dan sebagian besar ulama mengambil pendapat bahwa sampainya pahala semua macam ibadah, berupa shalat, puasa, bacaan Alqur’an, ibadah dan yang lainnya, sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Bukhari pada Bab : “Barangsiapa yang wafat dan atasnya nadzar” bahwa Ibn Umar memerintahkan seorang wanita yang wafat ibunya yang masih punya hutang shalat agar wanita itu membayar (meng qadha) shalatnya, dan dihikayatkan oleh Penulis kitab Al Hawiy, bahwa Atha bin Abi Ribah dan Ishaq bin Rahawayh bahwa mereka berdua mengatakan bolehnya shalat dikirim untuk mayyit, Telah berkata Syeikh Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad bin Hibatullah bin Abi Ishruun dari kalangan kita (berkata Imam nawawi dengan ucapan : “kalangan kita” maksudnya dari madzhab syafii) yang muta’akhir (dimasa Imam Nawawi) dalam kitabnya Al Intisharilaa Ikhtiyar bahwa hal ini seperti ini. (sebagaimana pembahasan diatas), berkata Imam Abu Muhammad Al Baghawiy dari kalangan kita dalam kitabnya At Tahdzib : Tidak jauh bagi mereka untuk memberi satu Mudd untuk membayar satu shalat (shalat mayyit yang tertinggal) dan ini semua izinnya sempurna, dan dalil mereka adalah Qiyas atas Doa dan sedekah dan haji (sebagaimana riwayat hadist – hadits shahih) bahwa itu semua sampai dengan pendapat yang sepakat para ulama. (Syarh Nawawi Ala Shahih Muslim)

    Maka jelaslah sudah bahwa Imam Nawawi menjelaskan dalam hal ini ada dua pendapat, dan yang lebih masyhur adalah yang mengatakan tak sampai, namun yang lebih shahih mengatakannya sampai, tentunya kita mesti memilih yang lebih shahih, bukan yang lebih masyhur, Imam nawawi menjelaskan bahwa yang shahih adalah yang mengatakan sampai, walaupun yang masyhur mengatakan tak sampai, berarti yang masyhur itu dhoif, dan yang shahih adalah yang mengatakan sampai, dan Imam Nawawi menjelaskan pula bahwa sebagian besar ulama mengatakan semua amal apahal sampai.

    “Sungguh sedekah untuk dikirimkan pada mayyit akan membawa manfaat bagi mayyit dan akan disampaikan padanya pahalanya, demikian ini pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, demikian pula mereka telah sepakat atas sampainya doa – doa, dan pembayaran hutang (untuk mayyit) dengan nash – nash yang teriwayatkan masing masing, dan sah pula haji untuk mayyit bila haji muslim, Demikian pula bila ia berwasiat untuk dihajikan dengan haji yang sunnah, demikian pendapat yang lebih shahih dalam madzhab kita (Syafii), namun berbeda pendapat para ulama mengenai puasa, dan yang lebih benar adalah yang membolehkannya sebagaimana hadits – hadits shahih yang menjelaskannya, dan yang masyhur dikalangan madzhab kita bahwa bacaan Alqur’an tidak sampai pada mayyit pahalanya, namun telah berpendapat sebagian dari ulama madzhab kita bahwa sampai pahalanya, dan Imam Ahmad bin Hanbal berpegang pada yang membolehkannya” (Syarh Imam Nawawi ala Shahih Muslim)

    Dan dijelaskan pula dalam Almughniy :
    “Tidak ada larangannya membaca Alqur’an dikuburan , dan telah diriwayatkan dari Ahmad bahwa bila kalian masuk pekuburan bacalah ayat Alkursiy, lalu Al Ikhlas 3X, lalu katakanlah : Wahai Allah, sungguh pahalanya untuk ahli kubur”. Dan diriwayatkan pula bahwa bacaan Alqur’an di kuburan adalah Bid’ah, dan hal itu adalah ucapan Imam Ahmad bin Hanbal, lalu muncul riwayat lain bahwa Imam Ahmad melarang keras hal itu, maka berkatalah padanya Muhammad bin Qudaamah : Wahai Abu Abdillah (nama panggilan Imam Ahmad), apa pendapatmu tentang Mubasyir (seorang perawi hadits), Imam Ahmad menjawab : Ia Tsiqah (kuat dan terpercaya riwayatnya), maka berkata Muhammad bin Qudaamah sungguh Mubasyir telah meriwayatkan padaku dari ayahnya bahwa bila wafat agar dibacakan awal surat Baqarah dan penutupnya, dan bahwa Ibn Umar berwasiat demikian pula!”, maka berkata Imam Ahmad :”katakan pada orang yang tadi ku larang membaca Alqur’an dikuburan agar ia terus membacanya lagi..”. (Al Mughniy)

    Dan dikatakan dalam Syarh Al Kanz :
    “dijelaskan pada syarah Al Kanz, Sungguh boleh bagi seseorang untuk mengirim pahala amal kepada orang lain, shalat kah, atau puasa, atau haji, atau shadaqah, atau Bacaan Alqur’an, dan seluruh amal ibadah lainnya, dan itu boleh untuk mayyit dan itu sudah disepakati dalam Ahlussunnah waljamaah. Namun hal yang terkenal bahwa Imam Syafii dan sebagian ulamanya mengatakan pahala pembacaan Alqur’an tidak sampai, namun Imam Ahmad bin Hanbal, dan kelompok besar dari para ulama, dan kelompok besar dari ulama syafii mengatakannya pahalanya sampai, demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar, Dan dijelaskan dalam Syarh Al Minhaj oleh Ibn Annahwiy : “tidak sampai pahala bacaan Alqur’an dalam pendapat kami yang masyhur, dan maka sebaiknya adalah pasti sampai bila berdoa kepada Allah untuk memohon penyampaian pahalanya itu, Dan selayaknya ia meyakini hal itu karena merupakan doa, karena bila dibolehkan doa tuk mayyit, maka menyertakan semua amal itu dalam doa tuk dikirmkan merupakan hal yang lebih baik, dan ini boleh tuk seluruh amal, dan doa itu sudah Muttafaq alaih (tak ada ikhtilaf) bahwa doa itu sampai dan bermanfaat pada mayyit bahkan pada yang hidup, keluarga dekat atau yang jauh, dengan wasiat atau tanpa wasiat, dan dalil ini dengan hadits yang sangat banyak”.
    (Naylul Awthar lil Imam Assyaukaniy, Al majmu’ Syarh Muhadzab lil Imam Nawawiy)

    Kesimpulannya bahwa hal ini merupakan ikhtilaf ulama, ada yang mengatakan pengiriman amal pada mayyit sampai secara keseluruhan, ada yang mengatakan bahwa pengiriman bacaan Alqur’an tidak sampai, namun kesemua itu bila dirangkul dalam doa kepada Allah untuk disampaikan maka tak ada ikhtilaf lagi. Dan kita semua dalam tahlilan itu pastilah ada ucapan : Allahumma awshil, tsawabaa maa qaraa’naa minalqur’anilkarim… dst (Wahai Allah, sampaikanlah pahala apa – apa yang kami baca, dari alqur’anulkarim…dst). Maka jelaslah sudah bahwa Imam Syafii dan seluruh Imam Ahlussunnah waljamaah tak ada yang mengingkarinya dan tak adapula yang mengatakannya tak sampai.

    5. Do’a Bersama
    “Dari Habib bin Maslamah al-Fihri RA beliau seorang yang dikabulkan doanya-, berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak lah berkumpul suatu kaum Muslimin, lalu sebagian mereka berdoa, dan sebagian lainnya mengucapkan amin, kecuali Allah pasti mengabulkan doa mereka.” (HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak. Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai persyaratan Muslim. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid, para perawi hadits ini adalah para perawi hadits shahih, kecuali Ibn Lahi’ah, seorang yang haditsnya bernilai hasan.”

    Dalam hadits lain diterangkan:
    ”Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Rasu/ullah SAW bersabda: “Orang yang berdoa dan orang yang membaca amin sama-sama memperoleh pahala.” (HR. al-Dailami dalam Musnad al-Firdaus dengan sanad yang lemah).

    Menurut al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari dalam kitabnya al-Mudawi li-’llal al-Jami’ al- Shaghir wa Syarhai al-Munawi, kelemahan hadits al-Dailami di atas dapat diperkuat dengan ayat al-Qur’an. Allah berfirman tentang kisah Nabi Musa AS “Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan doa kamu berdua, oleh karena itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus.” (QS. Yunus: 89).

    Dalam ayat di atas, al-Qur’an menegaskan tentang dikabulkannya doa Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS. Padahal yang berdoa sebenarnya Nabi Musa AS sedangkan Nabi Harun AS hanya mengucapkan amin, sebagaimana diterangkan oleh para ulama ahli tafsir. Nabi Musa AS yang berdo’a dan Nabi Harun AS yang menngucapkan amiin, dalam ayat tersebut sama-sama dikatakan do’a. Dalam hadits lain diterangkan:
    ”Ya’la bin Syaddad berkata: “Ayahku bercerita kepadaku, sedangkan Ubadah bin al-Shamit hadir membenarkannya.: “Suatu ketika kami bersama Nabi SAW, Beliau berkata: “Apakah di antara kamu ada orang asing? (Maksudnya ahlulkitab).” Kami menjawab: “Tidak ada ya Rasululah.” Lalu Rasul SAW memerintahkan agar mengunci pintu. Kemudian bersabda: “Angkatlah tangan kalian dan ucapkan la ilaha ilallah.” Maka kami mengangkat tangan kami beberapa saat. Kemudian Rasul SAW berkata; ”Ya Allah, Engkau telah mengutus aku membawa kalimat ini, dan Engkau janjikan surga padaku dengan kalimat tersebut, sedangkan Engkau tidak akan menyalahi janji.” Kemudian Rasul bersabda: “Bergembiralah, karena Allah telah mengampuni kalian.” (HR. Al-lmam Ahmad dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Hafizh al-Mundziri, al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan lain-lain.)

    Dalam hadits di atas Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat membaca kalimat tauhid (la ilaha illallah) bersama-sama. LaIu para sahabat pun mengucapkannya bersama-sama sambil mengangkat tangan mereka.. Kemudian Rasulullah SAW membacakan doa. Dengan demikian, dzikir bersama sebenarnya memiliki tuntunan dari hadits shahih ini.

    6. Keterangan singkat mengenai Peringatan Haul

    Allah swt. telah berfirman didalam alqur’an bahwa orang-orang Arab Jahiliyyah setelah menunaikan haji mereka hanya bermegah-megahan tentang kebesaran nenek moyangnya saja. Kemudian turun perintah Allah swt. agar mereka sebagaimana mereka menyebut-yebut nenek moyangnya agar banyak berdzikir pada Allah swt.:

    ‘Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-bangga kan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu’. (Al-Baqarah: 200)

    Dalam ayat di atas ini, Allah swt. tidak melarang adat mereka setiap tahun setelah usai haji menceriterakan riwayat hidup dan membangga-bangga kan nenek moyangnya, hanya Allah swt. menghendaki agar orang Arab Jahiliyyah disamping membangga-banggakan tersebut juga banyak berdzikir pada Allah swt.!

    Sebagian ulama mengatakan ayat ini bisa dijadikan sebagai dalil diboleh- kannya orang-orang setiap tahun memperingati para wali atau sholihin yang telah wafat (Haul). Karena dalam peringatan ini para ulama akan menyebut- kan/mengumandangkan kepada hadirin riwayat hidup para wali/sholihin yang diperingati ini, kemudian diakhiri dengan berdo’a kepada Allah swt. agar amalan-amalan para wali/sholihin ini diterima oleh Allah swt. dan para hadirin diberi taufiq oleh Allah sehingga bisa mencontoh amal perbuatan para sholihin yang terpuji, dimasa hidupnya mereka.

    Dengan demikian peringatan Haul ini banyak manfaat baik bagi orang yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Bagi yang sudah wafat mendapat do’a dari jama’ah, fadhilah atau pahala pembacaan Al-Qur’an yang ditujukan kepadanya. Sedangkan berkumpulnya jama’ah (para hadirin) yang membaca do’a ini sudah tentu akan mendapat pahala, rahmat dan berkah dari Allah swt., karena ziarah kubur pada orang muslim yang biasa saja sudah ter- masuk sunnah Rasulallah saw. apalagi menziarahi para ulama, para sholihin dan para wali yakni orang-orang yang dibanggakan, dipuji oleh Allah swt. dan Rasul-Nya.

    Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. : “Sesungguhnya Nabi Musa u berkata, “Ya Allah, dekatkanlah aku kepada tanah suci sejauh satu lemparan dengan batu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, seandainya aku ada disampingnya, tentu aku beritahu kalian letak makam Musa, yaitu di tepi jalan di sebelah bukit pasir merah.”

    Ketika menjelaskan maksud hadits tersebut, al-Hafizh al-’Iraqi berkata:
    “Hadits tersebut menjelaskan anjuran mengetahui makam orang-orang saleh untuk dizarahi dan dipenuhi haknya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan tanda-tanda makam Nabi Musa u yaitu pada makam yang sekarang dikenal masyarakat sebagai makam beliau. Yang jelas, tempat tersebut adalah makam yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.” (Tharh al-Tatsrib)

  23. 1. Pahala sedekah untuk orang yang sudah wafat.

    Hadits dari Abu Hurairah:
    “Bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulallah saw.: ‘Ayah saya meninggal dunia, dan ada meninggalkan harta serta tidak memberi wasiat. Apakah dapat menghapus dosanya bila saya sedekahkan?’ Nabi saw. menjawab: Dapat!” (HR Ahmad, Muslim dan lain-lain)

    “Ibu Saad bin Ubadah meninggal dunia disaat dia (Saad bin Ubadah) sedang tidak ada ditempat. Maka berkatalah ia: ‘Wahai Rasulallah! Sesungguhnya ibuku telah wafat disaat aku sedang tidak ada disisinya, apakah ada sesuatu yang bermanfaat untuknya jika aku sedekahkan? Nabi menjawab; Ya! Berkata Sa’ad bin Ubadah: Saya persaksikan kepadamu (wahai Rasulallah) bahwa kebun kurma saya yang sedang berbuah itu sebagai sedekah untuknya’.” (HR Bukhori, Turmudzi dan Nasa’i)

    Hadits dari Sa’ad ibnu Ubadah ra. bahwa ia pernah berkata: “Wahai Rasulallah, sesungguhnya Ummu Sa’ad telah meninggal dunia, kiranya sedekah apa yang lebih utama untuknya?” Sabda beliau saw.: ‘Air ‘. Maka Sa’ad menggali sebuah sumur, kemudian ia berkata: “Sumur ini aku sedekahkan untuk Ummu Sa’ad”. (HR Abu Dawud, Ahmad dan Nasa’i)

    Hadist ini jelas menunjukkan bahwa amalan-amalan sedekah orang yang masih hidup dan diniatkan pahalanya untuk orang yang sudah wafat akan dapat membawa manfaat dan sampai pahalanya baginya.

    2. Pahala Puasa dan Sholat.

    Hadits dari Aisyah ra. Rasulallah saw. bersabda:
    ‘Barang siapa yang wafat dengan mempunyai kewajiban shaum (puasa) maka walinya berpuasa untuknya’. (Yang dimaksud wali disini yaitu kerabat- nya walaupun bukan termasuk ahli waris). (HR.Bukhari dan Muslim, Abu Daud dan Nasa’i)

    Hadits dari Ibnu Abbas:
    “Seorang lelaki datang menemui Rasulallah saw. ia berkata: ‘Ya Rasulallah, ibuku meninggal dunia, sedang ia mempunyai kewajiban berpuasa selama sebulan. Apakah saya wajib qadha atas namanya?’ Nabi saw. berkata; Bagaimana jika ibumu mempunyai hutang, apakah akan kamu bayarkan untuknya? ‘Benar’ jawabnya. Nabi berkata, maka hutang kepada Allah lebih layak untuk dibayar!” (HR.Bukhori dan Muslim)

    Hadits riwayat Daruquthni:
    “Bahwa seorang laki-laki bertanya: ‘Ya Rasulallah, saya mempunyai ibu dan bapak yang selagi mereka hidup saya berbakti kepadanya. Maka bagaimana caranya saya berbakti kepada mereka, setelah mereka meninggal dunia?’ Jawab Nabi saw: Berbakti setelah mereka wafat! , caranya adalah dengan melakukan sholat untuk mereka disamping shalatmu, dan berpuasa untuk mereka disamping puasamu!”.

    sabda Rasulallah saw.: ‘Seseorang tidak boleh melakukan shalat untuk mengganti- kan orang lain, dan seseorang tidak boleh melakukan shaum (puasa) untuk menggantikan orang lain, tetapi ia memberikan makanan untuk satu hari sebanyak satu mud gandum?’ (HR An-Nasa’i)

    Makna hadits terakhir ini ialah: Misalnya si A malas untuk sholat Ashar maka si A minta pada Si B untuk menggantikannya, inilah yang di larang oleh agama. Karena orang yang masih hidup harus menunaikan sholat dan puasa sendiri-sendiri tidak boleh diwakilkan pada orang lain.

    Begitu juga bila orang yang masih hidup tidak mampu puasa lagi karena alasan-alasan tertentu yang dibolehkan agama umpama sudah tua sekali atau mempunyai penyakit chronis dan lain sebagainya tidak boleh digantikan oleh orang lain tetapi yang bersangkutan setiap harinya harus mengeluarkan sedekah untuk memberi makan orang miskin satu mud (± 800 gram).

    3. Pahala Haji.

    Dari Ibnu Abbas –radhiyallahu ‘anhuma- bahwa seorang wanita dari Juhainnah datang kepada Nabi saw. dan bertanya: ‘Sesungguhnya ibuku nadzar untuk haji, namun belum terlaksana sampai ia meninggal, apakah saya melakukan haji untuknya? Rasulallah saw. menjawab: Ya, bagaimana pendapatmu kalau ibumu mempunyai hutang, apakah kamu membayarnya?, bayarlah hutang Allah, karena hutang Allah lebih berhak untuk dibayar’. (HR Bukhari)

    “Bahwa Nabi saw.pernah mendengar seorang laki-laki berkata: Labbaik an Syubrumah (Ya Allah, saya perkenankan perintahMu untuk si Syubrumah). Nabi bertanya: Siapa Syubrumah itu? Dia menjawab: Saudara saya atau teman dekat saya. Nabi bertanya: Apakah engkau sudah berhaji untuk dirimu? Dia menjawab: belum! Nabi bersabda: Berhajilah untuk dirimu kemudian berhajilah untuk Syubrumah! ”. (HR.Abu Daud)

    4. Pembacaan Al-Qur’an untuk orang yang telah wafat

    Hadits tentang wasiat Ibnu Umar ra yang tertulis dalam syarah Aqidah Thahawiyah
    “Dari Ibnu Umar ra: “Bahwasanya beliau berwasiat agar di atas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awal-awal surat al-Baqarah dan akhirnya..”.

    Hadits ini menjadi pegangan Muhammad bin Hasan dan Imam Ahmad bin Hanbal padahal Imam Ahmad ini sebelumnya termasuk orang yang meng- ingkari sampainya pahala amalan dari orang yang hidup pada orang yang telah mati. Namun setelah beliau mendengar dari orang-orang kepercayaan tentang wasiat Ibnu Umar ini beliaupun mencabut pengingkarannya itu (Mukhtasar Tazkirah Qurtubi)
    Hadits dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulallah saw.bersabda: ”Jika mati seorang dari kamu, maka janganlah kamu menahannya dan segeralah mem- bawanya kekubur dan bacakanlah Fatihatul Kitab disamping kepalanya”. (HR. Thabrani dan Baihaqi)

    Abu Hurairah ra.meriwayatkan bahwasanya Nabi saw. bersabda:
    “Barangsiapa yang berziarah di kuburan, kemudian ia membaca ‘Al-Fatihah’, ‘Qul Huwallahu Ahad’ dan ‘Alhaakumut takatsur’, lalu ia berdo’a Ya Allah, kuhadiahkan pahala pembacaan firman-Mu pada kaum Mu’minin dan Mu’minat penghuni kubur ini, maka mereka akan menjadi penolong baginya (pemberi syafa’at) pada hari kiamat”.

    ‘Bacalah Yaa Siin bagi orang-orang yang (akan atau telah) meninggal diantara kalian (muslimin)’.
    Riwayat serupa oleh Abu Hurairah ra juga telah dicatat oleh Abu Ya’la dalam Musnad beliau dan Hafidz ibn Katsir telah mengklasifikasikan rantai periwayatnya (sanadnya) sebagai Hasan/baik

    Ma’aqal ibn Yassaar ra meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda;
    “Yasin adalah kalbu (hati) dari Al-Quran. Tak seorang pun yang membaca- nya dengan niat menginginkan Akhirat melainkan Allah akan mengampuni- nya. Bacalah atas orang-orang yang (akan dan telah) wafat diantaramu.” (Sunan Abu Dawud). Imam Hakim mengklasifikasikan hadits ini sebagai Shohih

    Al-Baihaqi dalam Sya’bul Iman menjelaskan sebuah hadits riwayat Mi’qal bin Yasar bahwa Rasulallah saw. bersabda:
    “Barangsiapa membaca Yaa Sin semata-semata demi keridhaan Allah, ia memperoleh ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu. Karena itu hendaklah kalian membacakan Yaa Sin bagi orang yang (akan atau telah) wafat diantara kalian (muslimin)”. (Hadits ini disebutkan juga dalam Al-Jami’us Shaghier dan Misykatul Mashabih).

    Ma’aqal ibn Yassaar ra meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda;
    “Barangsiapa lewat melalui kuburan, kemudian ia membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ sebelas kali dengan niat menghadiahkan pahalanya pada para penghuni kubur, ia sendiri akan memperoleh pahala sebanyak orang yang mati disitu (atau mendapat pahala yang diperoleh semua penghuni kubur)”.

    Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw. Bersabda :
    “Barangsiapa yang menolong mayyit dengan bacaan Al-Qur’an atau dzikir, maka ia diwajibkan Allah swt. Masuk surga”. (HR. Imam Nasa-iImam Daramy)

    Nabi Muhammad saw. Bersabda :
    “Shadaqahlah kalian untuk diri kalian sendiri, untuk mayit mayit kalian, sekalipun hanya seteguk air. Bilamana tidak mampu memberikan seteguk air, maka bacakan ayat suci Al-qur’an. Bilamana sedikitpun tidak bisa membaca Al-Qur’an, maka berdo’alah kalian untuk mayyit dengan do’a pengampunan dan rahmat. Sesungguhnya Allah swt itu menepati janjiNya mengabulkan setiap permintaan”. (Hadist dalam kitab Tanqihul Qaul)

    “Imam Ahmad bin Hanbal; ulama-ulama dalam madzhab Hanafi, Maliki dan madzhab Syafi’i; Dan masih banyak lagi ulama-ulama berbeda madzhab yang membenarkan hadiah pahala bacaan Al-Qur’an.

    Imam Syafi’I memiliki dua qaul, qaul qadim dan qaul jadid (pendapat yg lama dan pendapat yg baru). Pernyataan tidak sampai, termuat dalam qaul qadim (pendapat lama), dan qaul jadid (pendapat baru) menyatakan sampai.

    Berkata Imam Nawawi :
    “Barangsiapa yang ingin berbakti pada ayah ibunya maka ia boleh bersedekah atas nama mereka (kirim amal sedekah untuk mereka), dan sungguh pahala shadaqah itu sampai pada mayyit dan akan membawa manfaat atasnya tanpa ada ikhtilaf diantara muslimin, inilah pendapat terbaik, mengenai apa – apa yang diceritakan pimpinan Qadhiy Abul Hasan Almawardiy Albashriy Alfaqiihi Assyafii mengenai ucapan beberapa Ahli Bicara (semacam wahabiy yang hanya bisa bicara tanpa ilmu) bahwa mayyit setelah wafatnya tak bisa menerima pahala, maka pemahaman ini Batil secara jelas dan kesalahan yg diperbuat oleh mereka yang mengingkari nash – nash dari Alqur’an dan Alhadits dan Ijma ummat ini, maka tak perlu ditolelir dan tak perlu diperdulikan. Namun mengenai pengiriman pahala shalat dan puasa, maka madzhab Syafii dan sebagian ulama mengatakannya tidak sampai kecuali shalat dan puasa yang wajib bagi mayyit, maka boleh di Qadha oleh wali nya atau orang lain yang diizinkan oleh walinya, maka dalam hal ini ada dua pendapat dalam Madzhab Syafii, yang lebih masyhur hal ini tak sampai, namun pendapat kedua yang lebih shahih mengatakan hal itu sampai. Mengenai pahala Alqur’an menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafii bahwa tak sampai pada mayyit, namun adapula pendapat dari sahabat sahabat Syafii yang mengatakannya sampai, dan sebagian besar ulama mengambil pendapat bahwa sampainya pahala semua macam ibadah, berupa shalat, puasa, bacaan Alqur’an, ibadah dan yang lainnya, sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Bukhari pada Bab : “Barangsiapa yang wafat dan atasnya nadzar” bahwa Ibn Umar memerintahkan seorang wanita yang wafat ibunya yang masih punya hutang shalat agar wanita itu membayar (meng qadha) shalatnya, dan dihikayatkan oleh Penulis kitab Al Hawiy, bahwa Atha bin Abi Ribah dan Ishaq bin Rahawayh bahwa mereka berdua mengatakan bolehnya shalat dikirim untuk mayyit, Telah berkata Syeikh Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad bin Hibatullah bin Abi Ishruun dari kalangan kita (berkata Imam nawawi dengan ucapan : “kalangan kita” maksudnya dari madzhab syafii) yang muta’akhir (dimasa Imam Nawawi) dalam kitabnya Al Intisharilaa Ikhtiyar bahwa hal ini seperti ini. (sebagaimana pembahasan diatas), berkata Imam Abu Muhammad Al Baghawiy dari kalangan kita dalam kitabnya At Tahdzib : Tidak jauh bagi mereka untuk memberi satu Mudd untuk membayar satu shalat (shalat mayyit yang tertinggal) dan ini semua izinnya sempurna, dan dalil mereka adalah Qiyas atas Doa dan sedekah dan haji (sebagaimana riwayat hadist – hadits shahih) bahwa itu semua sampai dengan pendapat yang sepakat para ulama. (Syarh Nawawi Ala Shahih Muslim)

    Maka jelaslah sudah bahwa Imam Nawawi menjelaskan dalam hal ini ada dua pendapat, dan yang lebih masyhur adalah yang mengatakan tak sampai, namun yang lebih shahih mengatakannya sampai, tentunya kita mesti memilih yang lebih shahih, bukan yang lebih masyhur, Imam nawawi menjelaskan bahwa yang shahih adalah yang mengatakan sampai, walaupun yang masyhur mengatakan tak sampai, berarti yang masyhur itu dhoif, dan yang shahih adalah yang mengatakan sampai, dan Imam Nawawi menjelaskan pula bahwa sebagian besar ulama mengatakan semua amal apahal sampai.

    “Sungguh sedekah untuk dikirimkan pada mayyit akan membawa manfaat bagi mayyit dan akan disampaikan padanya pahalanya, demikian ini pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, demikian pula mereka telah sepakat atas sampainya doa – doa, dan pembayaran hutang (untuk mayyit) dengan nash – nash yang teriwayatkan masing masing, dan sah pula haji untuk mayyit bila haji muslim, Demikian pula bila ia berwasiat untuk dihajikan dengan haji yang sunnah, demikian pendapat yang lebih shahih dalam madzhab kita (Syafii), namun berbeda pendapat para ulama mengenai puasa, dan yang lebih benar adalah yang membolehkannya sebagaimana hadits – hadits shahih yang menjelaskannya, dan yang masyhur dikalangan madzhab kita bahwa bacaan Alqur’an tidak sampai pada mayyit pahalanya, namun telah berpendapat sebagian dari ulama madzhab kita bahwa sampai pahalanya, dan Imam Ahmad bin Hanbal berpegang pada yang membolehkannya” (Syarh Imam Nawawi ala Shahih Muslim)

    Dan dijelaskan pula dalam Almughniy :
    “Tidak ada larangannya membaca Alqur’an dikuburan , dan telah diriwayatkan dari Ahmad bahwa bila kalian masuk pekuburan bacalah ayat Alkursiy, lalu Al Ikhlas 3X, lalu katakanlah : Wahai Allah, sungguh pahalanya untuk ahli kubur”. Dan diriwayatkan pula bahwa bacaan Alqur’an di kuburan adalah Bid’ah, dan hal itu adalah ucapan Imam Ahmad bin Hanbal, lalu muncul riwayat lain bahwa Imam Ahmad melarang keras hal itu, maka berkatalah padanya Muhammad bin Qudaamah : Wahai Abu Abdillah (nama panggilan Imam Ahmad), apa pendapatmu tentang Mubasyir (seorang perawi hadits), Imam Ahmad menjawab : Ia Tsiqah (kuat dan terpercaya riwayatnya), maka berkata Muhammad bin Qudaamah sungguh Mubasyir telah meriwayatkan padaku dari ayahnya bahwa bila wafat agar dibacakan awal surat Baqarah dan penutupnya, dan bahwa Ibn Umar berwasiat demikian pula!”, maka berkata Imam Ahmad :”katakan pada orang yang tadi ku larang membaca Alqur’an dikuburan agar ia terus membacanya lagi..”. (Al Mughniy)

    Dan dikatakan dalam Syarh Al Kanz :
    “dijelaskan pada syarah Al Kanz, Sungguh boleh bagi seseorang untuk mengirim pahala amal kepada orang lain, shalat kah, atau puasa, atau haji, atau shadaqah, atau Bacaan Alqur’an, dan seluruh amal ibadah lainnya, dan itu boleh untuk mayyit dan itu sudah disepakati dalam Ahlussunnah waljamaah. Namun hal yang terkenal bahwa Imam Syafii dan sebagian ulamanya mengatakan pahala pembacaan Alqur’an tidak sampai, namun Imam Ahmad bin Hanbal, dan kelompok besar dari para ulama, dan kelompok besar dari ulama syafii mengatakannya pahalanya sampai, demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar, Dan dijelaskan dalam Syarh Al Minhaj oleh Ibn Annahwiy : “tidak sampai pahala bacaan Alqur’an dalam pendapat kami yang masyhur, dan maka sebaiknya adalah pasti sampai bila berdoa kepada Allah untuk memohon penyampaian pahalanya itu, Dan selayaknya ia meyakini hal itu karena merupakan doa, karena bila dibolehkan doa tuk mayyit, maka menyertakan semua amal itu dalam doa tuk dikirmkan merupakan hal yang lebih baik, dan ini boleh tuk seluruh amal, dan doa itu sudah Muttafaq alaih (tak ada ikhtilaf) bahwa doa itu sampai dan bermanfaat pada mayyit bahkan pada yang hidup, keluarga dekat atau yang jauh, dengan wasiat atau tanpa wasiat, dan dalil ini dengan hadits yang sangat banyak”.
    (Naylul Awthar lil Imam Assyaukaniy, Al majmu’ Syarh Muhadzab lil Imam Nawawiy)

    Kesimpulannya bahwa hal ini merupakan ikhtilaf ulama, ada yang mengatakan pengiriman amal pada mayyit sampai secara keseluruhan, ada yang mengatakan bahwa pengiriman bacaan Alqur’an tidak sampai, namun kesemua itu bila dirangkul dalam doa kepada Allah untuk disampaikan maka tak ada ikhtilaf lagi. Dan kita semua dalam tahlilan itu pastilah ada ucapan : Allahumma awshil, tsawabaa maa qaraa’naa minalqur’anilkarim… dst (Wahai Allah, sampaikanlah pahala apa – apa yang kami baca, dari alqur’anulkarim…dst). Maka jelaslah sudah bahwa Imam Syafii dan seluruh Imam Ahlussunnah waljamaah tak ada yang mengingkarinya dan tak adapula yang mengatakannya tak sampai.

    5. Do’a Bersama
    “Dari Habib bin Maslamah al-Fihri RA beliau seorang yang dikabulkan doanya-, berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Tidak lah berkumpul suatu kaum Muslimin, lalu sebagian mereka berdoa, dan sebagian lainnya mengucapkan amin, kecuali Allah pasti mengabulkan doa mereka.” (HR. al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak. Al-Hakim berkata, hadits ini shahih sesuai persyaratan Muslim. Al-Hafizh al-Haitsami berkata dalam Majma’ al-Zawaid, para perawi hadits ini adalah para perawi hadits shahih, kecuali Ibn Lahi’ah, seorang yang haditsnya bernilai hasan.”

    Dalam hadits lain diterangkan:
    ”Dari Ibn Abbas radhiyallahu ‘anhuma, berkata: “Rasu/ullah SAW bersabda: “Orang yang berdoa dan orang yang membaca amin sama-sama memperoleh pahala.” (HR. al-Dailami dalam Musnad al-Firdaus dengan sanad yang lemah).

    Menurut al-Hafizh Ahmad bin al-Shiddiq al-Ghumari dalam kitabnya al-Mudawi li-’llal al-Jami’ al- Shaghir wa Syarhai al-Munawi, kelemahan hadits al-Dailami di atas dapat diperkuat dengan ayat al-Qur’an. Allah berfirman tentang kisah Nabi Musa AS “Allah berfirman: “Sesungguhnya telah diperkenankan doa kamu berdua, oleh karena itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus.” (QS. Yunus: 89).

    Dalam ayat di atas, al-Qur’an menegaskan tentang dikabulkannya doa Nabi Musa AS dan Nabi Harun AS. Padahal yang berdoa sebenarnya Nabi Musa AS sedangkan Nabi Harun AS hanya mengucapkan amin, sebagaimana diterangkan oleh para ulama ahli tafsir. Nabi Musa AS yang berdo’a dan Nabi Harun AS yang menngucapkan amiin, dalam ayat tersebut sama-sama dikatakan do’a. Dalam hadits lain diterangkan:
    ”Ya’la bin Syaddad berkata: “Ayahku bercerita kepadaku, sedangkan Ubadah bin al-Shamit hadir membenarkannya.: “Suatu ketika kami bersama Nabi SAW, Beliau berkata: “Apakah di antara kamu ada orang asing? (Maksudnya ahlulkitab).” Kami menjawab: “Tidak ada ya Rasululah.” Lalu Rasul SAW memerintahkan agar mengunci pintu. Kemudian bersabda: “Angkatlah tangan kalian dan ucapkan la ilaha ilallah.” Maka kami mengangkat tangan kami beberapa saat. Kemudian Rasul SAW berkata; ”Ya Allah, Engkau telah mengutus aku membawa kalimat ini, dan Engkau janjikan surga padaku dengan kalimat tersebut, sedangkan Engkau tidak akan menyalahi janji.” Kemudian Rasul bersabda: “Bergembiralah, karena Allah telah mengampuni kalian.” (HR. Al-lmam Ahmad dengan sanad yang dinilai hasan oleh al-Hafizh al-Mundziri, al-Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir dan lain-lain.)

    Dalam hadits di atas Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat membaca kalimat tauhid (la ilaha illallah) bersama-sama. LaIu para sahabat pun mengucapkannya bersama-sama sambil mengangkat tangan mereka.. Kemudian Rasulullah SAW membacakan doa. Dengan demikian, dzikir bersama sebenarnya memiliki tuntunan dari hadits shahih ini.

    6. Keterangan singkat mengenai Peringatan Haul

    Allah swt. telah berfirman didalam alqur’an bahwa orang-orang Arab Jahiliyyah setelah menunaikan haji mereka hanya bermegah-megahan tentang kebesaran nenek moyangnya saja. Kemudian turun perintah Allah swt. agar mereka sebagaimana mereka menyebut-yebut nenek moyangnya agar banyak berdzikir pada Allah swt.:

    ‘Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-bangga kan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu’. (Al-Baqarah: 200)

    Dalam ayat di atas ini, Allah swt. tidak melarang adat mereka setiap tahun setelah usai haji menceriterakan riwayat hidup dan membangga-bangga kan nenek moyangnya, hanya Allah swt. menghendaki agar orang Arab Jahiliyyah disamping membangga-banggakan tersebut juga banyak berdzikir pada Allah swt.!

    Sebagian ulama mengatakan ayat ini bisa dijadikan sebagai dalil diboleh- kannya orang-orang setiap tahun memperingati para wali atau sholihin yang telah wafat (Haul). Karena dalam peringatan ini para ulama akan menyebut- kan/mengumandangkan kepada hadirin riwayat hidup para wali/sholihin yang diperingati ini, kemudian diakhiri dengan berdo’a kepada Allah swt. agar amalan-amalan para wali/sholihin ini diterima oleh Allah swt. dan para hadirin diberi taufiq oleh Allah sehingga bisa mencontoh amal perbuatan para sholihin yang terpuji, dimasa hidupnya mereka.

    Dengan demikian peringatan Haul ini banyak manfaat baik bagi orang yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Bagi yang sudah wafat mendapat do’a dari jama’ah, fadhilah atau pahala pembacaan Al-Qur’an yang ditujukan kepadanya. Sedangkan berkumpulnya jama’ah (para hadirin) yang membaca do’a ini sudah tentu akan mendapat pahala, rahmat dan berkah dari Allah swt., karena ziarah kubur pada orang muslim yang biasa saja sudah ter- masuk sunnah Rasulallah saw. apalagi menziarahi para ulama, para sholihin dan para wali yakni orang-orang yang dibanggakan, dipuji oleh Allah swt. dan Rasul-Nya.

    Sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. : “Sesungguhnya Nabi Musa u berkata, “Ya Allah, dekatkanlah aku kepada tanah suci sejauh satu lemparan dengan batu.” Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda: “Demi Allah, seandainya aku ada disampingnya, tentu aku beritahu kalian letak makam Musa, yaitu di tepi jalan di sebelah bukit pasir merah.”

    Ketika menjelaskan maksud hadits tersebut, al-Hafizh al-’Iraqi berkata:
    “Hadits tersebut menjelaskan anjuran mengetahui makam orang-orang saleh untuk dizarahi dan dipenuhi haknya. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah menyebutkan tanda-tanda makam Nabi Musa u yaitu pada makam yang sekarang dikenal masyarakat sebagai makam beliau. Yang jelas, tempat tersebut adalah makam yang ditunjukkan oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam.” (Tharh al-Tatsrib)

  24. Qiyas? emang ada disitu tertulis qiyas? yang saya tulis itu :Tauhid terbagi menjadi 3 ( Tauhid rububiyyah, uluhiyyah, dan Asma’ wa sifat ) berdasarkan istiqra’ ( penelitian menyeluruh ) terhadap dalil-dalil yang ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah.
    Sesungguhnya saya senang sekali antum semua begitu kritis terhadap aqidah, karena hanya dengan cara kritis spt inilah kebenaran bisa kita dapatkan.

    1. @Ibn Abdul Chair : “Mas Jun, pembagian tauhid menjadi 3 tidak terdapat dlm al hadist tetapi Tauhid terbagi menjadi 3 ( Tauhid rububiyyah, uluhiyyah, dan Asma’ wa sifat ) berdasarkan istiqra’ ( penelitian menyeluruh ) terhadap dalil-dalil yang ada di dalam Al-Quran dan As-Sunnah, sebagaimana ulama nahwu membagi kalimat di dalam bahasa arab menjadi 3”.

      Jawab :

      Anda mengaku bahwa hal tersebut tidak terdapat dalam hadist, namun berdasarkan penelitian menyeluruh, sebagaimana ulama nahwu….

      artinya, di dalam Al-Qur’an dan hadist, tidak ada kalimat yg secara jelas menerangkan pembagian tauhid menjadi 3. artinya itu adalah ijtihad. Pertanyaan nya adalah, ijtihad siapa?

      yg perlu digarisbawahi adalah kalimat “…….sebagaimana……” itu artinya saudara membandingkan, membandingkan sama saja artinya dengan mengqiyaskan.

    2. @Ibn Abdul Chair

      Salah satu bukti kesesatan pembagian tauhid menjadi 3 adalah pada keyakinan asma wa shifat.

      Mereka mengatakan bahwa Allah swt. memiliki wajah, tapi wajah allah bukan seperti makluk, meyakini Allah swt. bersemayam di ‘Arasy dll. semua itu adalah bid’ah yg sesat.

    3. @Ibn Abdul Chair

      Karena pembagian tauhid menjadi 3, mereka menganggap syirik orang yg bertawassul dengan Nabi Muhaam saw. di kala beliau telah wafat. padahal, ada sahabat yg melakukannya dan diketahui oleh sahabat yg lain, serta tdk divonis syirik.

    4. Bocah koraban fitnah Najd (ibn dul khoir) ini gak ngerti ucapannya sendiri rupanya? antum bilang pembagiagian tauhid tiga dg membandingkan pembagian isim, fi’il dan hiruf itulah QIYAS atau ANALOGI. Blo’on amat sih ente? Kayak Burung BEO beneran Nte gak ngerti ucapan sendiri?

  25. Mas Derajad, apakah kl guyub itu harus semuanya sama? tidak bisakah antum guyub dalam perbedaan?
    sdh beberapa bulan ini setiap sholat Jum’at, sy hrs dampingi orang tua sy krn beliau sdh sepuh, jalannya sdh susah (khawatir terjatuh).Tp orang tua sy yg nahdliyin sama sekali nggak keberatan sy tidak sholat qobliyah jum’at, tidak ikut angkat tangan ketika berdo’a. Orang tua sy tahu kl saya punya dalil sendiri. Dan hebatnya, diantara anak-anaknya hanya kepada sy saja dia merasa cocok utk didampingi sholat jum’at, dibantu membasuh kaki pd saat wudhu. pdhl secara pemahaman, anak-anak yg lain lebih cocok dgn beliau.

    1. @Ibn Abdul Chair :

      Koq jawaban saudara ngelantur ya ? 😀 Diatas kan saudara membahas kirim doa (diistilahkan tahlilan) untuk orang meninggal. Koq jawabannya kemana-mana ?

      Saudara mengatakan :

      ibn abdul chair says:
      November 16, 2012 at 8:02 pm
      Mari kita lihat pendapat Al Imam An nawawi :
      Dan yang sunnah adalah para tetangga dan karib kerabat membuatkan makanan bagi keluarga duka, bukan malah sebaliknya justru keluarga duka yang sudah bersedih malah direpotkan untuk menyiapkan makanan apalagi sampai kenduri setelah kematian. Al-Imam An-Nawawi berkata:
      “Nash-nash dari Imam As-Syafi’i dalam kitab al-Umm dan kitab al—mukhtashor telah sepakat dengan perkataan para ashab (para ulama besar madzhab syafi’iyah) bahwasanya disunnahkan bagi para kerabat mayit dan juga para tetangganya untuk membuatkan makanan bagi keluarga mayit, dimana makanan tersebut bisa mengenyangkan mereka pada siang dan malam mereka. Imam As-Syafi’i berkata dalam kitab al-Mukhtashor, “Wajib bagi kerabat mayit dan tetangganya untuk menyediakan makanan bagi keluarga mayat untuk siang dan malam mereka yang bisa mengenyangkan mereka. Hal ini merupakan sunnah dan sikap para pelaku kebaikan”….

      Penulis kitab Asy-Syamil dan selain beliau berkata, “Adapun keluarga mayit membuat makanan dan mengumpulkan orang-orang untuk makan maka tidak dinukilkan (dalilnya) sama sekali. Dan ini adalah perbuatan bid’ah yang tidak dianjurkan. Ini adalah perkataan penulis kitab As-Syamil, dan dalil akan hal ini adalah hadits Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Kami menganggap berkumpul-kumpul di keluarga mayit dan membuat makanan setelah dikuburkannya termasuk niyaahah”. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dan Ibnu Majah dengan sanad yang shahih. Dan dalam riwayat Ibnu Majah tidak ada lafal “setelah dikuburkannya mayat” (Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/319-320)

      Kan memang kalau ada orang meninggal tetangga dan kerabat yang menyiapkan makanan. Bahkan berlaku umum para tetangga dan kerabat membawa bahan makanan untuk dimasak di rumah keluarga yang meninggal. Hal ini untuk juga menghibur keluarganya agar tidak terus sedih (nihayah). Untuk keluarga yang tidak mampu sama sekalipun sudah guyub orang membantu. Nah…inilah karena saudara tidak pernah mengikuti kegiatan di kampung jadinya ya asal bicara.

      Ini dulu dibahas jangan dibawa ke cerita pribadi saudara. Guyub yang saya maksud adalah ikut membantu dan menghibur keluarga.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  26. @Ibn Abdul Chair

    Sholat Qobliyah Jum’at :

    Hadits riwayat Bukhori dan Muslim: “Dari Abdullah bin Mughaffal al-Muzanni, ia berkata; Rasulallah saw. bersabda: ‘Antara dua adzan itu terdapat shalat’”.

    Menurut para ulama yang dimaksud antara dua adzan ialah antara adzan dan iqamah.
    Mengenai hadits ini tidak ada seorang ulamapun yang meragukan keshohih- annya karena dia disamping diriwayatkan oleh Bukhori Muslim juga diriwayat kan oleh Ahmad dan Abu Ya’la dalam kitab Musnadnya. Dari hadits ini saja kita sudah dapat memahami bahwa Nabi saw. menganjurkan supaya diantara adzan dan iqamah itu dilakukan sholat sunnah dahulu, termasuk dalam katergori ini sholat sunnah qabliyah jum’at.

    Riwayat dalam sunan Turmudzi II/18: “Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud bahwasanya beliau melakukan shalat sunnah qabliyah jum’at sebanyak empat raka’at dan sholat ba’diyah (setelah) jum’at sebanyak empat raka’at pula”.

    Abdullah bin Mas’ud merupakan sahabat Nabi saw. yang utama dan tertua, dipercayai oleh Nabi sebagai pembawa amanah sehingga beliau selalu dekat dengan nabi saw. Beliau wafat pada tahun 32 H. Kalau seorang sahabat Nabi yang utama dan selalu dekat dengan beliau saw. mengamal- kan suatu ibadah, maka tentu ibadahnya itu diambil dari sunnah Nabi saw.

    Penulis kitab Hujjatu Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah setelah mengutip riwayat Abdullah bin Mas’ud tersebut mengatakan: “Secara dhohir (lahiriyah) apa yang dilakukan oleh Abdullah bin Mas’ud itu adalah berdasarkan petunjuk langsung dari Nabi Muhammad saw.”

    Hadits riwayat Abu Daud: “Dari Ibnu Umar ra. bahwasanya ia senantiasa memanjangkan shalat qabliyyah jum’at. Dan ia juga melakukan shalat ba’diyyah jum’at dua raka’at. Ia menceriterakan bahwasanya Rasulallah saw. senantiasa melakukan hal yang demikian”.(Nailul Authar).

    Penilaian beberapa ulama mengenai hadits terakhir di atas ialah: Imam Syaukani berkata: ‘Menurut Hafidz al-Iraqi, hadits Ibnu Umar itu isnadnya shohih’.; Hafidz Ibnu Mulqin dalam kitabnya yang berjudul Ar-Risalah berkata: ‘Isnadnya shohih tanpa ada keraguan’.; Imam Nawawi dalam Al-Khulashah mengatakan: ‘Hadits tersebut shohih menurut persyaratan Imam Bukhori. Juga telah dikeluarkan oleh Ibnu Hibban dalam shohihnya’.

    Hadits riwayat Ibnu Hibban dan Thabrani: “Dari Abdullah bin Zubair, ia berkata, Rasulallah saw. bersabda: ‘Tidak ada satupun sholat yang fardhu kecuali disunnahkan sebelumnya shalat dua raka’at’ “.

    Menurut kandungan hadits ini jelas bahwa disunnahkan juga shalat qabliyyah jum’at sebelum sholat fardhu jum’at dikerjakan.

    Mengenai derajat hadits ini Imam Hafidz as-Suyuthi mengatakan: ‘Ini adalah hadits shohih’ dan Ibnu Hibban berkata; ‘Hadits ini adalah shohih’.

  27. Mas Derajad, sy pun guyub dengan tetangga, saling memberi hadiah dan juga saling memberi perhatian. Di saat ada kerabat atau tetangga yg wafat,kamipun bahu membahu memberikan bantuan dari mulai penyelenggaraan jenazah dan mendokan mayyit,men-solatkan dan menghibur serta membantu ahlu mayyit.
    Namun ketika ada kegiatan yg menurut kami tidak ada contohnya dari Rasulullah, kami pun tidak ikut. Kami mengunjungi ahlu mayyit bkn pada saat diselenggarakannya acara tersebut. Dan ahlu mayyit pun sama sekali tidak keberatan.
    Masak yang begini dibilang enggak guyub dgn tetangga sih.

  28. @Ibn Abdul Chair :

    Nah… itu saudara sudah bisa guyub dan rukun. Lalu yang saudara permasalahkan apa ???

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  29. sekali lagi sy kutip :“Jadi, banyaknya tuduhan-tuduhan jelek terhadap suatu golongan, mestinya tidak menghalangi kita untuk bersikap adil dan obyektif terhadap mereka. Karena boleh jadi kebenaran justeru ada pada mereka, dan dalam hal ini yang menjadi patokan adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih”.

    Oh..ya, mas derajad sdh tahu fatwa MUI Jakart Utara tentang gerakan salafi di Indonesia? kl belum, nanti saya salin utk mas ya.

    1. Pak Ibn abdul chair memang benar ucapan anda “Jadi, banyaknya tuduhan-tuduhan jelek terhadap suatu golongan, mestinya tidak menghalangi kita untuk bersikap adil dan obyektif terhadap mereka. Karena boleh jadi kebenaran justeru ada pada mereka, dan dalam hal ini yang menjadi patokan adalah dalil-dalil dari Al Qur’an dan Hadits yang shahih” tp anda melakukan standart ganda memakai ucapan ini. Ente bilang tahlilan (furuiyah) bidah dholallah tapi untuk masalah tauhid (aqidah) yg jelas2 ente dah ngomong g ada hadisnya, ga berani bilang bida ah. Apalagi ini masalah Aqidah yg jauh lebih penting dr masalah tahlilan.

    2. @Ibn Abdul Chair :

      Saudara selalu menggunakan kalimat pernyataan itu, tapi maksud saudara tidak jelas apa ??? 🙄 😆 Fikiran yang aneh. :mrgreen:

      Jika dikaitkan artikel diatas bukankah sudah jelas bahwa kami Warga Ahlus Sunnah Wal Jamaah mengangkat masalah munculnya selebaran, buku dan lain sebagainya, baik yang terang-terangan mengaku sebagai Salafy Wahabi ataupun dengan cara licik dan kotor seperti bukunya Si Afrokhi Abdul Ghani, yang kalian embel-embeli KH. dan Mantan Kyai NU. Pertanyaan saya adalah bukankah kalian yang harus bersikap “adil dan obyektif ?”

      Kalian juga selalu mengatakan kembali kepada Qur’an dan hadits sahih. Sementara Imam Bukhari saja dengan jelas dikategorikan kafir oleh Si Nashirudin al Albani. Lalu kitab sahih mana yang kalian akan pakai ???

      Apa kalian tidak sadar bahwa kalianlah yang sering menyerang amaliah kami dengan istilah bid’ah, khurafat, kafir dan lain sebagainya ??? Sedang diatas dengan seenaknya kalian bawa nama Imam Syafi’i untuk memperkuat dalil kalian, padahal beliau kalian jauhi ??? Sungguh sudah tidak punya pegangan lagi kalian dengan Imam-imam kalian sendiri, kemudian mencatut Imam lain untuk memuaskan hawa nafsu doktrin kelompok kalian. Coba kalian pikir ulang saudaraku, jangan kalian ingin diperhatikan tapi kalian tidak memperhatikan kalian sendiri yang sudah kehabisan hujjah.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  30. @Mas Derajad
    Benar kata Abu Salafi, “Mereka itu laksana burung beo”! Ga ngerti kata-kata mereka sendiri. Tahlilan kita dibilang bid’ah, karena tidak ada contoh dari Nabi. Tapi aqidah dibagi 3 yang daikuinya tidak diajarkan Nabi, ga dibilang bid’ah. Sholat qabliyah Jum’at dipersoalkan? Jadi siapa yang mengejek? Sadar ga seh ?

    1. @Mas Bima As Syafi’i :

      Benar saudaraku, oleh karena itu kita harus mengajak mereka bicara. Semoga Allah membukakan hati mereka ke jalan yang baik.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  31. Mas Derajad, tentang Syaikh Albani yang mengkafirkan Al imam Al Bukhori, sy minta data-nya mas, maklum zaman sekarang ini antara fitnah dan fakta hampir gak ada bedanya.

    1. Jelaslah, FITNAH DARI NAJD (wahabi) kan sudah di wanti-wanti akan kemunculannya di akhir zaman, sekarang terbukti muncul di akhir zaman. Mereka hanya menjadi fitnah di tengah muslimin sejak pertama kali kemunculannya sampai saat ini.

  32. Mas Derajad, ini salinan fatwa MUI Jakarta Utara :
    FATWA MUI JAKARTA UTARA TENTANG SALAFI
    Pndangan Majelis Ulama Indonesia
    Kota Jakarta Utara tentang
    Salaf/Salafi
    Majelis Ulama Indonesia Kota Administrasi Jakarta Utara,
    Menimbang :
    a. Bahwa pada kahir-akhir ini berkemabang kajian salaf di beberapa daerah yang banyak masyarakat belum memahami makna salaf itu
    b. Bahwa terjadi kesalahpahaman dalam memaknai salaf
    c. Bahwa muncul vonis sesat kepada keberadaan kajian-kajian salaf
    d. Bahwa oleh karena itu, MUI kota administrasi Jakarta Utara perlu memberikan penjelasan tentang salaf/salafi, agar masyarakat tidak mudah terprovokasi.
    Mengingat : Firman Allah
    1. QS Al Hujaraat 6
    2. QS Ahzaab 36
    3. QS An nisaa 59
    4. QS Al an’am 116
    5. QS Al mu’minun 71
    6. QS At taubah 100
    7. Hadist Nabi Ash shohihain tentang “semua umatku masuk surga kecuali enggan…..”
    8. Hadist Riwayat Al Imam Malik tentang “taroktu fiikum sya’iain lan tadholuu…”
    9. Hadist Al Imam Al Bukhori dari Jabir bin Abdillah tentang para malaikat yang mendatangi Rasulullah sedangkan beliau sedang tidur….
    Memperhatikan :….dst
    Memutuskan
    Menetapkan PANDANGAN MUI KOTA ADMINISTRASI JAKARTA UTARA TENTANG SALAFI
    Pertama :
    1. Salaf/salafi tidak termasuk ke dalam 10 kriteria sesat yang ditetapkan oleh MUI, sehingga Salaf/Salafi bukanlah merupakan sekte atau aliran sesat sebagaimana yang berkembang belakangan ini.
    2. Salaf/salafi adalah nama yang diambil dari kata salaf yang secara bahasa berarti orang-orang yang terdahulu, dalam istilah adalah orang-orang terdahulu yang mendahului kaum muslimin dalam iman, Islam dst, mereka adalah para shahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka.
    3. Penamaan Salaf ini bukanlah penamaan yang baru saja muncul namun telah sejak dahulu ada.
    4. Dakwah salaf adalah ajakan untuk memurnikan agama Islam dengan kembali kepada Al Qur’an dan sunnah dengan menggunakan pemahaman para shahabat
    Kedua :
    1. Hendaknya masyarakat tidak mudah melontarkan kata sesat kepada suatu dakwah tanpa diklarifikasi terlebih dahulu.
    2. Hendaknya masyarakat tidak terprovokasi dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bertanggung jawab
    3. Kepada para da’I, ustadz, tokoh agama dan tokoh masyarakat hendaknya dapat menenangkan serta memberikan penjelasan yang obyektif tentang masalah ini kepada masyarakat
    5. Hendaknya masyarakat tidak bertindak anarkis dan main hakim sendiri sebagaimana terjadi di beberpa daerah di Indonesia.

    Ditetapkan di Jakarta, pada tanggal 12 Robi’ul akhir 1430H (08 April 2009)

    1. @ibn abdul chair :

      Apa yang saudara sebutkan itu bersifat penjelasan dan himbauan. Bagi kami biasa-biasa saja. Yang perlu kami sampaikan dari pernyataan MUI itu adalah :

      1. Kami tidak pernah menyatakan sesat kepada kelompok Salafy Wahabi, kecuali pemahaman yang secara i’tiqad Ahlus Sunnah Wal Jamaah sangat jauh tersesat dalam Tauhid dan Aqidah. Keadaan yang terjadi adalah sebaliknya, bahwa kelompok Salafy Wahabi justru yang sering menyerang amaliah Ahlus Sunnah Wal Jamaah, dengan mengaku mantan Kyai, Buku Putih dan lain sebagainya. Apakah hal ini tidak kalian sadari ?

      2. Kalau orang yang cukup pemahamannya ada media seperti situs ini untuk berdiskusi. Tapi di tingkat akar rumput, bagaimana kami bisa mencegahnya ? Lihat sendiri ucapan kalian yang suka menghukumi Bid’ah, Khurafat, kafir dan lain sebagainya ? Masyarakat terprovokasi dan bertindak sesuai cara mereka.

      3. Kami berusaha menenangkan masyarakat, tapi jika kalian terus memprovokasi dengan tuduhan-tuduhan kalian melalui radio, selebaran, buku, pengajian terbuka dan lain sebagainya, itu urusan kalian sendiri. Makanya jangan main api, jika tidak mau terbakar perbuatan kalian sendiri.

      5. Saya langsung pakai nomer 5, karena tulisan saudara juga tidak menyenutkan nomer 4 sebelum 5. Tindakan anarkis masyarakat tergantung kalian menempatkan diri di tengah masyarakat. Di Solo pun pernah ada kejadian seorang Salafy Wahabi tiba-tiba datang akan membubatkan Majelis Dzikir dan Maulid. Kalau begitu, siapa sebenarnya yang memancing kisruh dan memprovokasi masyarakat ???

      Jawaban saya sesuai himbauan MUI yang saudara kutip.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    2. @ibn abdul chair
      Keputusan MUI tersebut untuk SALAFI bukan WAHABI (pernah ane koment ke ente), kalau kata SALAFI yang diproklamirkan oleh Muhammad Abduh itu memang tidak berbahaya, yang berbahaya adalah Wahabi yang dibawa oleh Syeikh Muhammad ibn Abdul Wahab. Lihat aja, dikeputusan itu ada gak tulisan WAHABI.
      Memang sih aneh kaum Wahabi, kadang menyebut Salafi kadang menyebut Ahlus Sunnah Wal Jammah (Sunni), mana yang bener ane gak tau.
      Buku : Gerakan Radikalisme Islam di Indonesia dalam konteks Terorisme Internasional. penerbit LIPI
      Nah ente ikut yang mana ? SALAFI atau Wahabi ?.
      Gerakan Wahabi inilah yang di sak wasangka sebagai gerakan Radikalisme sampai menjurus kepada Terorisme, Apalagi dikhawatirkan ada hubungannya dengan Osama bin Laden dan Jaringan Islam.

      Gerakan Wahabi inilah yang dibicarakan disini oleh teman2 buat melindungi aqidahnya yang frontal, seperti pengkafiran kepada sesama muslim, Pembagian yang berbahaya kearah Tauhid.

  33. @Ibn abdul chair :

    Baca saja di Kitab Fatawa al Albani halaman 523. Di situs ini pun beberapa kali pernah disebutkan.

    Bahkan Si al Albani ini juga pernah dimarah oleh Syaikh Utsaimin dalam tulisannya, karena menyebut adzan jumat dua kali tidak ada tuntunannya. Jadi, kita sudah tahu keilmuan Si al Albani ini, seorang Muqallid, yang sok jadi Mujtahid, bahkan beraninya dia menilai hadits. Sungguh sangat berbahaya pemahaman Salafy Wahabi, jika benar dia, al Albani, dijadikan pionirnya.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  34. Mas Derajad, syukron atas tanggapannya.
    Ini yg sy ketahui mengapa pd kajian salafi sering dibahas masalah bid’ah. Org yg menyampaikan dakwah tauhid kpd ummat pastinya juga menyampaikan bahaya syirik krn tauhid lawannya syirik. Begitu juga Sunnah, org yg ingin menyampaikan sunnah pastinya juga menyampaikan bahayanya bid’ah,krn sunnah lawannya bid’ah.
    Mengenai kejadian di Solo, sy tdk bisa menanggapi krn kejadian spt ini dan kejadian yg sebaliknya, juga sering terjadi. Memang ini ekses dari sebuah dakwah. Ada mrk yg hanya memberi salam atau bersalaman dgn org tertentu saja, ada yg sholat jamaahnya pilih masjid yg lebih jauh drpd yg dekat. Sy sering mengingatkan ikhwan ttg hal ini. Sy juga sering mengalami tindakan yang tdk menyenangkan (maaf, sy nggak cerita disini, ntar dibilang tukang dusta lagi)

    1. @Ibn Abdul Chair : “Org yg menyampaikan dakwah tauhid kpd ummat pastinya juga menyampaikan bahaya syirik krn tauhid lawannya syirik.”

      Saya mau bertanya, apa hukum bertawassul dengan Nabi Muhammad saw. atau para salihin baik masih hidup atau telah meninggal dunia, boleh atau syirik?

  35. KItab fatawa al bani? bisa di info ke saya penerbitnya? maaf mas, agak njilimet, sy tdk punya bukunya dan berminat mau beli. Kitab-kitab Al bani yg sy punya selain sifat sholat Nabi kebanyakan digital (buku aslinya terus di-digitalisasi)

  36. @ibn abdul chair
    Kitab judulnya : Fatawa al Syeikh Albani, terbitan Maktabah al Turath al Islamiyah Tahun 1994
    Halaman yang menyatakan itu ada dihalaman dari 522-523.
    Kalau mau pesen coba aja di jakarta yang biasa import buku2 luar :
    Dar Al Kutub Al Islamiyah, PT
    Jl Kalibata Tmr I 21,Kalibata,Pancoran
    JAKARTA 12740

    Atau ente cari di google nama penerbitnya.

  37. @Ibn Abdul Chair

    Untuk memahami fatwa Albani yg mencela Imam Bukhori, ada baiknya juga saudara belajar tentang ayat ayat muhkamat dan mutasyabihat, serta bagaimana cara ulama ulama terdahulu yg lurus aqidahnya dalam memahami ayat ayat mutasyabihat.

  38. Mas Agung, yang sy punya justru puji-pujian syaikh Al Bani terhadap Al Imam Al Bukhori :
    Bagaimana mungkin Syaikh al-Albani rahimahullah mengkafirkan al-Imam al-Bukhari, padahal beliau sendiri selalu memujinya? Beliau menyifati al-Imam al-Bukhari sebagai Imam Dunia, Amirul Muhadditsin (pemimpin ahli hadits), dan Imam Muhadditsin. Beliau juga berkata dalam kaset Man Huwa Kafir, “Sesungguhnya al-Imam al-Bukhari tidak membutuhkan pujian orang, karena Allah telah menjadikan kitab Shahih-nya pada tingkatan setelah al-Qur’an yang mulia dan diterima oleh seluruh kaum Muslimin di setiap penjuru dunia yang notabene berbeda-beda.” (silakan ruju’ pada kitab Syaikh Albani – Silsilah Ash shohihah)
    Para penuduh tersebut menyandarkan hujatan mereka tersebut dengan berpedoman kepada buku Fatawa Syaikh al-Albani wa Muqoronatuha bi Fatawa Ulama karya Ukasyah Abdul Mannan, padahal buku ini telah diingkari sendiri oleh Syaikh al-Albani secara keras, sebagaimana diceritakan oleh murid-murid beliau seperti Syaikh Ali bin Hasan al-Halabi, Syaikh Salim al-Hilali, Syaikh Masyhur bin Hasan, dll.
    (Lihat Fatawa Ulama Akabir karya Abdul Malik al-Jazairi hlm. 106 dan Shofahat Baidho min Hayati Imam al-Albani karya Syaikh Abu Asma’ hlm. 88 dan Ta’liq Syaikh Masyhur bin Hasan Salman terhadap kitab Aroul Imam al-Albani at-Tarbawiyyah hlm. 36 oleh Iyad asy-Syami).

    1. @Ibn Abdul Chair

      Bagaimana pendapat kalian tentang orang yg mentakwil Ayat Ayat Al-Qur’an seperti kata wajhu yg artinya wajah kemudian ditakwil, boleh atau tidak serta jelaskan alasan saudara?

      Seingat saya, saudara pernah mengutip perkataan ustadz yg menjadi panutan saudara dengan kalimat : “Allah swt itu mempunyai wajah, tapi wajah Allah swt tidak seperti wajah makhluknya”. Menurut saya, perkataan tersebut adalah perkataan yg mungkar. trm ksh.

  39. @ibn abdul chair
    Bagaimana mungkin ulama pengarangnya hidup sejaman dengan Albani, buku itu juga diperkuat oleh seorang Mufti Makkah : Syeikh Zaini dahlan dengan kitabnya :
    1. Fitnah al Wahhabiyyah
    2. Durar al-Saniyah fi al Radd ‘ala al Wahhabiyah
    Dikedua kitab ini, Syeikh Zaini Dahlan memperkuat argumen terhadap kitabnya Albani.
    Jadi Bagaimana pendapat ente dengan Argumen2 nya Syeikh Zaini Dahlan ?

  40. @Ibn Abdul Chair :

    Semoga saudara tidak terlalu membabi buta dalam membela Nashirudin al Albani. Saya katakan demikian, karena beberapa situs, khususnya situs Salafy Wahabi, khususnya yang berbahasa Arab, seperti http://www.fatawa-alalbany.com dll juga mengutip ucapannya itu, tapi dengan pembelaan atas ucapannya itu, yang dikatakan oleh para pembela ini, sesuai ucapan Nashirudin al Albani sendiri, yaitu tidak mungkin itu diucapkan oleh Imam Bukhari Ra. Tapi coba cermati kutipan ucapan al Albani berikut ini :

    السؤاللي عدة أسئلة، ولكن قبل أن أبدأ أقول: أنا غفلت بالأمس عن ذكر هذه المسألة، وهي عندما قلت: إن الإمام البخاري ترجم في صحيحه في معنى قوله تعالى: { كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ } [القصص:88] قال: إلا ملكه.صراحة أنا نقلت هذا الكلام عن كتاب اسمه: دراسة تحليلية لعقيدة ابن حجر ، كتبه أحمد عصام الكاتب ، وكنت معتقداً أن نقل هذا الرجل إن شاء الله صحيح، ولازلت أقول: يمكن أن يكون نقله صحيحاً، ولكن أقرأ عليك كلامه في هذا الكتاب.إذ يقول: قد تقدم ترجمة البخاري لسورة القصص في قوله تعالى: { كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلَّا وَجْهَهُ } [القصص:88]، أي: إلا ملكه، ويقال: (إلا) ما أريد به وجه الله، وقوله: إلا ملكه، قال الحافظ في رواية النسفي وقال معمر فذكره، و معمر هذا هو أبو عبيدة بن المثنى ، وهذا كلامه في كتابه مجاز القرآن ، لكن بلفظ (إلا هو)، فأنا رجعت اليوم إلى الفتح نفسه فلم أجد ترجمة للبخاري بهذا الشيء، ورجعت لـ صحيح البخاري دون الفتح ، فلم أجد هذا الكلام للإمام البخاري ، ولكنه هنا كأنه يشير إلى أن هذا الشيء موجود برواية النسفي عن الإمام البخاري ، فما جوابكم؟الجوابجوابي تقدم سلفاً.السائل: أنا أردت أن أبين هذا مخافة أن أقع في كلام على الإمام البخاري .الشيخ: أنت سمعت مني التشكيك في أن يقول البخاري هذه الكلمة؛ لأن تفسير قوله تعالى: { وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالْأِكْرَامِ } [الرحمن:27] أي: ملكه، يا أخي! هذا لا يقوله مسلم مؤمن، وقلت أيضاً: إن كان هذا موجوداً فقد يكون في بعض النسخ، فإذاً الجواب تقدم سلفاً، وأنت جزاك الله خيراً الآن بهذا الكلام الذي ذكرته تؤكد أنه ليس في البخاري مثل هذا التأويل الذي هو عين التعطيل.السائل: يا شيخنا! على هذا كأن مثل هذا القول موجود في الفتح ، وأنا أذكر أني مرة راجعت هذه العبارة باستدلال أحدهم، فكأني وجدت مثل نوع هذا الاستدلال، أي: أنه موجود وهو في بعض النسخ، لكن أنا قلت له: إنه لا يوجد إلا الله عز وجل، وإلا مخلوقات الله عز وجل، ولا شيء غيرها، فإذا كان كل شيء هالك إلا وجهه، أي: إلا ملكه، إذاً ما هو الشيء الهالك؟!! الشيخ: هذا يا أخي! لا يحتاج إلى تدليل على بطلانه، لكن المهم أن ننزه الإمام البخاري عن أن يؤول هذه الآية وهو إمام في الحديث وفي الصفات، وهو سلفي العقيدة  والحمد لله

    Jadi silahkan saja saudara mau percaya atau tidak, tapi bukti ini sudah diungkap dengan pembahasan yang dibicarakan juga oleh sesama Salafy Wahabi.

    Mengenai jawaban saudara diatas, bahwa itu diingkari Kitab al Albani juga ada di situs Salafy Wahabi, mungkin saudara kutip dari sana. Mana mungkin saudara memberi jawaban demikian, karena saudara katanya juga belum punya kitab itu. Sedang situs Salafy Wahabi yang berbahasa Arab pun sudah membicarakannya, walaupun dengan pembelaan, yang menurut saya lemah.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  41. @Ibn Abdul Chair :

    Keraguan saudara yang mengutip dari situs lain persis sama yang diucapkan saudara ummu abdillah diatas, mengenai bid’ah dhalalahnya “Dzikir Secara Jahar Setelah Shalat Fardhu”. Dengan mengutip situs Si Firanda Dirja dia sampaikan pendapat Firanda dengan menambah pendapat sendiri. Bahkan seakan yakin sekali itu benar. Sayangnya saya sudah menemukan jawaban itu di situs Si Firanda.

    Konyolnya adalah diantara kalian sendiri, Salafy Wahabi, pendapat itu dibantah sendiri di situs VOA-Islam, yang juga berafiliasi Salafy Wahabi. Bahkan disitu lengkap menyebut bahwa bolehnya Dzikir Jahar setelah shalat didukung Fatwa Utsaimin, Bin Bazz, Shalih Fauzan dan bahkan Lajnah Daimah juga memfatwakannya. Monggo dibaca http://m.voa-islam.com//news/ibadah/2011/01/12/12739/menjaharkan-dzikir-sesudah-shalat-fardhu-ternyata-sunnah/

    Oleh karena itu lebih baik saudara baca dari sumbernya, jangan pendapat situs lain saudara pakai jawab sedang saudara sendiri tidak tahu. Saya sendiri, kalau ada berita itu lihat dulu di Kitab, gak asal COPAS.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    1. Setelah mencermati beberapa hari ini, diskusi2 di sini kok lama2 jadi sangat menarik ya? Jadi sangat ketagihan berkunjung di sini, syukron mas Ummatipress. Maaf ya, kemarin saya cuma bercanda mau ngehack web antum. Sebenarnya dalam hati saya suka dg ini web, namun keyakinan dalam hati masih cukup kuat pengaruh Salafy-nya. Maklum, saya gaulnya memang dg mereka sehari2 di tempat kerja.

      Selanjutnya, acungan jempol kiri kanan buat mas derajad, juga yg lainya, saya mulai agak2 ragu dg keyakinan yg saya ikuti selama ini. Setelah saya baca baik2 , hat2 dan sabar, ternyata koment2 pendukung blog ini sangat baik walaupun kawan2 kami dari Salafy juga baik tentunya. Tapi dari segi penalaran memang saya rasakan banyak pertentangan antara koment2 yg satu dg yg lainnya.

      Mohon maaf kpd semuanya karena selama koment2 di sini saya telah berlaku kasar dan sombong. Itu disebabkan karena saya memang benar2 masih awam soal2 agama.

      Selanjutnya saya akan jadi penyimak dan menimba ilmu dari diskusi2 dan postingan2 di sini,

      dari lubuk hati yg terdalam, sekali lagi saya minta maaf kpd semuanya, dan saya ucapkan banyak2 terimakasih.

  42. @bu Hilya
    Tentang klaim mansuukhnya QS. An-Najm, maka benar itu dikatakan oleh sebagian mufassiriin. Akan tetapi klaim itu – sependek pengetahuan saya – tidak didasari dalil.

    Di atas telah dijelaskan bahwa hukum umum dinyatakan bahwa orang yang meninggalkan tidak memperoleh apapun yang dilakukan oleh orang yang masih hidup, kecuali yang disebutkan oleh dalil. Pendek kata, ayat tersebut menerima takhshish oleh nash-nash yang lainnya.

    Tentang riwayat :

    لا يصلي أحد عن أحد ولا يصوم أحد عن أحد ولكن يطعم عنه مكان كل يوم مدا من حنطة

    ”Seseorang tidak boleh shalat untuk menggantikan shalat orang lain, dan tidak pula puasa untuk menggantikan puasa orang lain. Akan tetapi memberikan makanan darinya setiap hari sebanyak satu mud biji gandum” [HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 2918 dan Ath-Thahawi dalam Musykilul-Aatsaar 3/141; shahih].

    Justru ini menguatkan apa yang dinyatakan sebelumnya. Ini bukan qiyas. Seandainya seorang yang meninggal tetap dapat menerima manfaat amal ibadah dari orang lain (apalagi memakai dalil mansukhnya QS. An-Najm : 39), tentu itu tidak diperkecualikan.

    Perkataan Anda :

    “Disini nampaknya anda tidak mampu membedakan antara Ibadah yang bersifat Tauqifiy (Ibadah Mahdho yang tekhnis pelaksanannya telah ditetapkan) dengan Ibadah yang bersifat Muthlaq yang berupa kebaikan-kebaikan yang bernaung dibawah dalil-dalil ‘AM dimana tekhnis pelaksanaannya tidak ada ketetapan” [selesai].

    Apakah menurut Anda perkara diterima tidaknya kirim pahala pada orang yang meninggal itu bukan merupakan taufiqiy yang membutuhkan dalil ?. Di atas telah disebutkan dalil umum yang menyatakan tidak sampainya pahala, dan kemudian ada dalil khusus pada beberapa hal tertentu yang mengecualikannya.

    Perkataan Anda :

    “Selanjutnya jika anda belum memahami “At Tark”, cukup bagi kami mengajukan sebuah pertanyaan. “Beranikah anda mengatakan Rosululloh Saw mengharamkan kenduri kematian” ? jika anda memaksa memberanikan diri untuk mengatakannya, maka cukup sampai disini saja diskusi kita, selanjutnya silahkan anda seenaknya mengharamkan apa yang tidak diharamkan Syari’ mewajibkan apa yang tidak diwajibkan Syari’… dst…. dan kami berlepas diri dari itu semua.. Wal ‘Iyadz Billah [selesai].

    Kenduri kematian dalam arti makan-makan karena meninggalnya seseorang termasuk bagian dari meratap.

    Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajaly radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

    كنا نرى الاجتماع إلى أهل الميت وصنعة الطعام من النياحة

    “Kami (para shahabat) menganggap berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka (kepada para tamu) merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit)” (HR. Ahmad nomor 6905 dan Ibnu Majah nomor 1612).

    Dari Thalhah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

    قدم جرير على عمر فقال : هل يناح قبلكم على الميت. قال : لا. قال : فهل تجتمع النسآء عنكم على الميت ويطعم. قال : نعم. فقال : تلك النياحة.

    Jarir mendatangi ‘Umar, kemudian ‘Umar berkata : “Apakah kamu sekalian suka meratapi mayit ?”. Jarir menjawab : “Tidak”. ‘Umar berkata : “Apakah diantara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan memakan hidangannya ?”. Jarir menjawab : “Ya”. ‘Umar berkata : “Hal itu sama dengan niyahah (meratapi mayit)”. (HR. Ibnu Abi Syaibah 2/487).

    Dari Sa’id bin Jubair radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

    من عمل الجاهلية : النياحة والطعام على الميت وبيتوتة المرأة ثم أهل الميت لبست منهم

    “Merupakan perkara Jahiliyyah : An-Niyahah, hidangan keluarga mayit, dan menginapnya para wanita di rumah keluarga mayit” (HR. Abdurrazzaq 3/550 dan Ibnu Abi Syaibah dengan lafadh yang berbeda). Ketiga riwayat tersebut saling menguatkan.

    Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda :

    اثنتان في الناس هما بهم كفر الطعن في النسب والنياحة على الميت

    “Dua perkara yang dapat membuat manusia kufur : Mencela keturunan dan meratapi mayit (an-niyahah)”. (HR. Muslim nomor 67).

    Oleh karena itu, tentu saja haram hukumnya.

    Tentang at-tark, maka kaedah yang berlaku adalah :

    إذا تَرَكَ الرسول صلى الله عليه وسلم فعل عبادة من العبادات مع كون موجبها وسببها المقتضي لها قائمًا ثابتًا ، والمانع منها منتفيًا ؛ فإن فعلها بدعة

    ”Apabila Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam meninggalkan satu ibadah dari jenis-jenis ibadah yang ada, padahal faktor dan sebab yang menuntut dikerjakan ada, sementara faktor penghalangnya tidak ada, maka melaksanakan ibadah tersebut adalah bid’ah”.

    1. Bismillah,

      Ukhti @Ummu Abdillah,

      Tentang QS. An Najm : 39, kami tidak mengingkari adanya perbedaan pendapat para mufassirin ttg ayat tsb. Dan berikut kami sampaikan pendapat beberapa mufassirin, diantaranya adalah :

      – Sebagian berpendapat ayat tersebut Mansukhul Hukmi oleh QS. At Thur : 21. Pendapat ini dinisbatkan sebagai pendapat Ibnu Abbas ra.
      – Sebagian yang lain berpendapat ayat tsb bersifat ‘Am Makhshush (dalil umum yang dibatasi)
      – Sebagian yang lain berpendapat ayat tersebut berbicara tentang “Al Milk” (perkara yang dimiliki seseorang yang telah meninggal). Hal ini dapat dibuktikan dengan penggunaan Huruf Jar yang berupa “Lam” pada kata “Lil Insani” yang memberi pengertian yang dimiliki mayyit. Dan berarti ayat tsb tidak berbicara ttg “Intifa’” (beroleh manfaat dari amal orang yang masih hidup). Dan hujjah Intifa’ul Mayyit ‘An ‘Amalil Ghoir (Berolehnya manfaat simayyit dari amal orang yang masih hidup) sungguh sangat banyak dan shohih.
      – Sebagian yang lain berpendapat ayat tersebut merupakan rangkaian ayat sebelumnya yakni ayat 36-37, yang berarti ayat tsb merupakan ketetapan syari’at bagi ummat Nabi Ibrohim as dan Nabi Musa as.
      – Sebagian yang lain berpendapat ayat tsb berbicara tentang keadilan Alloh, bukan tentang Fadhol (anugerah) dari Alloh. Adalah hal yang sangat dzhohir jika penguasa hanya menetapkan hak milik seseorang berdasar usahanya dan tidak menghukum seseorang berdasar kesalahan orang lain, apalagi penguasa yang dimaksud dalam ayat tsb adalah Alloh Yang Maha Adil. Adapun tentang fadhol (anugerah) dari Alloh, keberadaannya tidak terikat dengan usaha seseorang, bahkan Alloh berhak mengampuni siapapun yang ia kehendaki dengan kuasa-Nya.
      – Tentang “Tahlilan” dan atau “Yasinan” atau shodaqoh, adalah milik mereka yang mengerjakannya, dan adalah hak mereka untuk tetap menjadikanna sebagai miliknya atau menghadiahkan kepada orang lain baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal. Khusus penghadiaan terhadap yang telah meninggal, kami berhujjah dengan setidaknya “Hadits Shodaqoh” dan “Hadits Hajji” untuk orang yang telah meninggal, dan tentunya masih banyak hadits-hadits lain tentang sampainya pahala dari orang yang masih hdup untuk orang yang telah meninggal.
      – Dll.

      Ketika kami mencermati uraian anda secara menyeluruh, sebenarnya anda tidak menafikan total Intifa’ul Mayyit ‘An ‘Amalil Ghoir (mayit beroleh manfaat dari amal orang lain), namun anda membatasi pada perkara yang telah ada contohnya. Dan ini berarti kita sedang berdiskusi tentang masalah Khilafiyyah antara “Wushul” (sampai) dan “tidak sampai”, bukan bid’ah atau sunnah. Karena sungguh kami yakin anda juga tahu hadits shodaqoh dan hajji untuk orang yang telah meninggal.

      Tentang riwayat :

      لا يصلي أحد عن أحد ولا يصوم أحد عن أحد ولكن يطعم عنه مكان كل يوم مدا من حنطة

      ”Seseorang tidak boleh shalat untuk menggantikan shalat orang lain, dan tidak pula puasa untuk menggantikan puasa orang lain. Akan tetapi memberikan makanan darinya setiap hari sebanyak satu mud biji gandum” [HR. An-Nasa’i dalam Al-Kubraa no. 2918 dan Ath-Thahawi dalam Musykilul-Aatsaar 3/141; shahih].

      Sebagaimana telah kami sampaikan, bahwa dalam Madzhab Syafi’iyyah terdapat pembagian ibadah Mahdho sbb:

      – Ibadah Badaniyyah Mahdhoh (murni ibadah badan) meliputi sholat, puasa dst…. Terhadap jenis ibadah ini para Ulama kami berpendapat: tidak dapat digantikan oleh orang lain. Oleh karenanya orang yang telah meninggal dalam keadaan berhutang sholat atau puasa, Jumhur Syafi’iyyah menyatakan sholat dan atau puasa yang ditinggal oleh si Mayyit tidak dapat digantikan (di qodho’) oleh ahli waris maupun orang lain. Makanya dari kami tidak ada yang mengqodho’ sholat atau puasa yang ditinggalkan mayyit, meskipun ada Qiil (pendapat lemah) tentang dibolehkannya, sebagaimana dalam Al Muhadzdzab.
      – Ibadah Maaliyyah Mahdho (Ibadah murni harta) meliputi Zakat, shodaqoh dst…. Terhadap Ibadah jenis ini pelaksanaannya dapat diwakilkan atau digantikan oleh orang lain. Oleh karenanya jika ada seseorang yang meninggal dalam keadaan berhutang belum menunaikan Zakatnya, maka wajib bagi ahli warisnya untuk menunaikan zakatnya sebelum tirkah (harta tinggalan) dibagi kepada ahli waris.
      – Ibadah Badaniyyah Wa Maliyyah (ibadah badan dan harta sekaligus). Meliputi Hajji…. Terhadap ibadah jenis ini kajiannya cukup luas berikut tata pelaksanaan bagi yang menggantikannya.

      Kesimpulannya : Riwayat yang anda sampaikan diatas, menurut para Ulama kami tidak membatasi Intifa’nya (berolehnya kemanfaatan mayit dari amalan orang lain).

      Selanjutnya tentang Niyaha :

      Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan

      قوله نهى النياحة والنوح أصله التناوح وهو التقابل ثم استعمل في اجتماع النساء وتقابلهن في البكاء على الميت

      Ketahuilah saudariku, ketika anda menggunakan Riwayat Sayyidina Jarir bin Abdillah, Sayyidina Tholhah, Sayyidina Sa’id Ibn Zubair untuk melarang kenduri kematian, sesungguhnya anda berhujjah dengan hukum “Qiyaas”, dan Insya Alloh anda menyadari akan hal ini. Dan kalau dibutuhkan Insya Alloh akan kami sampaikan penjelasan bahwa anda yang melarang dan kami yang membolehkan dengan hukum makruh, sama-sama menggunakan Qiyas.

      Selanjutnya sebagaimana yang ada dalam artikel diatas, sungguh telah kami sampaikan pandangan Imam Syafi’iy dan para Ulama Syafi’iyyah. Kami katakan disana hukumnya “Makruh”. Adapun selanjutnya apakah tradisi yang ada disekitar kita masuk kategori “Niyaha” atau malah termasuk “Al ‘Izaa’/Ta’ziyah”, maka diperlukan pemahaman tentang yang dimaksud dengan “Niyaha” dengan pemahaman yang menyeluruh dan membatasi (yang memiliki Jami’ dan Mani’) yang tepat, dan disamping itu diperlukan pula infestigasi terhadap waqi’iyyah yang terjadi disekitar kita sebelum menghukuminya, agar kita tidak salah menempatkan hujjah. Sebagaimana yang disampaikan Ust Mas Derajad.

      Tentang at-tark, maka kaedah yang berlaku adalah :

      إذا تَرَكَ الرسول صلى الله عليه وسلم فعل عبادة من العبادات مع كون موجبها وسببها المقتضي لها قائمًا ثابتًا ، والمانع منها منتفيًا ؛ فإن فعلها بدعة

      ”Apabila Rasulullah shallallaahu ’alaihi wasallam meninggalkan satu ibadah dari jenis-jenis ibadah yang ada, padahal faktor dan sebab yang menuntut dikerjakan ada, sementara faktor penghalangnya tidak ada, maka melaksanakan ibadah tersebut adalah bid’ah”.

      Maaf kaedah diatas anda sampaikan tanpa menyebutkan sumbernya, dan jika anda menggunakan kaedah tsb untuk melarang kenduri kematian, maka hendaknya dilakukan penelitian mendalam tentang:

      – Jika dalam hal ini (kenduri kematian) ditinggalkan oleh Rosululloh Saw padahal ada faktor pendorongnya, maka harus dibuktikan tentang adanya faktor pendorong yang dimaksud, tidak hanya menggunakan ilustrasi “seandainya”.
      – Harus pula dilakukan pembuktian tidak adanya “Mani’” (hal yang mencegah) Rosululloh Saw melakukannya.

      Bagi kami, perkara yang ditinggalkan atau tidak dikerjakan Rosululloh Saw tanpa adanya dalil lain yang melarang perkara tsb, atau yang disebut “At Tark”, maka hukumnya “Jawaz” (boleh) kami berhujjah pada hadits dari Ibnu Abbas :

      فَمَا أَحَلَّ فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ

      “Dan apa yang telah dihalalkan Alloh Swt maka dia adalah halal, dan apa yang telah diharamkan Alloh maka dia adalah haram, sedang apa yang Alloh diam darinya (tidak membicarakannya) maka dia adalah boleh” (HR, Abu Dawud, Al Hakim, Al Baihaqi)
      Hadits senada juga diriwayatkan oleh At Thobroni dan Al Bazzar dari hadits Abi Darda’ dengan sanad hasan, dan juga At Turmudzi dan Ibnu Majah dari hadits Salman, dan dari jalur-jalur yang lain.

      1. Bismillah,

        Tulisan kami diatas sebatas meluruskan penyimpangan terhadap pendapat Imam Syafi’iy dan para Ulama Syafi’iyyah atas masalah kenduri kematian. Sedang untuk Hujjah masalah kenduri kematian sungguh telah disampaikan oleh Ust Agung dengan hujjah yang kuat dan shorih….

        Wallohu a’lam

  43. saya sependapat dgn “kunjunganawal” semoga mendapat Hidayah…
    Buat Mas Derajat, Ucep dan Agung… thanks alot pemaparan/sanggahannya sangat lugas, jelas dan berisi…mudah bagi saya untuk mencernanya..semoga tetap rendah hati Bro…

  44. @abu hilya

    Singkat saja dari saya :
    Saya kira di artikel telah jelas bahwasannya para ulama sepakat tentang sampainya amal kepada mayit yang disebutkan oleh nash, diantaranya haji dan yang lainnya. Jadi, janganlah Anda berbicara gak jelas dan berputar-putar seperti di atas.

    Apa Anda tidak membaca uraian An-Nawawiy yang berkata :

    وأما قراءة القرآن فالمشهور من مذهب الشافعي أنه لا يصل ثوابها إلى الميت…….. ودليل الشافعي وموافقيه قول اللهِ تعالى : وَأَن لّيْسَ لِلإِنسَانِ إِلاّ مَا سَعَى. وقول النبي صلى الله عليه وسلم : إذا مات ابن آدم انقطع عمله إلا من ثلاث: صدقة جارية أو علم ينتفع به أو ولد صالح يدعو له

    ”Adapun bacaan Al-Qur’an (yang pahalanya dikirmkan kepada si mayit), maka yang masyhur dalam madzhab Syafi’i adalah bahwa perbuatan tersebut tidak akan sampai pahalanya kepada mayit yang dikirimi…… Adapun dalil Imam Syafi’i dan para pengikutnya (yang menyepakatinya) adalah firman Allah (yang artinya) : ”Dan tidaklah seseorang itu memperoleh balasan kecuali dari yang ia usahakan” (QS. An-Najm : 39); dan juga sabda Nabi shallallaahu ’alaihi wasallam (yang artinya) : ”Apabila anak Adam telah meninggal dunia, maka terputuslah amalnya kecuali atas tiga hal : shadaqah jaariyah, ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakannya” [LihatSyarh Shahih Muslim oleh An-Nawawi 1/90].

    Baca baik-baik ya…. An-Nawawiy mengatakan bahwa Asy-Syaafi’iy berpendapat bacaan Al-Qur’an itu tidak sampai ke mayit dengan dasar QS. An-Najm ayat 39 dan hadits terputusnya amal anak Adam. Kira-kira, logika pendalilan Asy-Syaafi’iy itu seperti yang Anda sampaikan ataukah tidak ?. Baca juga penjelasan Al-Haitsamiy dan Ibnu Katsiir di atas. Dan ini yang dikatakan ulama ushul Syaafi’iyyah, Al-‘Izz bin ‘Abdis-Salaam rahimahullah :

    وأما ثواب القراءة ، فمقصور على القارئ ، لا يصل إلى غيره لقوله تعالى : وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى [النجم :39] ، وقوله : لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ [البقرة : 286] وقوله : إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ وقوله عليه السلام : (( من قرأ القرآن وأعرابه , فله بكل حرف عشر حسنات )) فجعل أخر الحروف وأجر الاكتساب لفاعليها , فمن جعلها لغيرهم فقد خالف ظاهر الآية والحديث , بغير دليل شرعي , ومن جعل ثواب القراءة للميت , فقد خالف قوله تعالى :وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى. فإنّ القراءة ليست من سعي الميت ؛ وكذلك جعل الله العمل الصَّالح لعامليه بقوله : مَنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ ? [فصلت:46] , فمن جعل شيئاً من الأعمال لغير العاملين فقد خالف الخبر الصادق

    [Selengkapnya : Al-Fataawaa-Al-maushiliyyah, hal. 98-100]

    Coba baca baik-baik dan pahami perkataan ini. Setelah beliau rahimahullah menyatakan pahala membaca Al-Qur’an tidak sampai kepada mayit dengan menyebutkan dalil-dalilnya (diantaranya adalah QS. An-Najm : 39), maka beliau menyatakan bahwa orang yang memperuntukkan amal-amal kepada orang yang tidak melakukannya, maka ia telah menyelisihi nash.
    Ini indikasi kuat bahwa mereka tidak berpendapat hukum yang ada dalam QS. An-Najm ayat 39 itu mansukh (mansukh hukmi). Pendapat yang disandarkan pada Ibnu ‘Abbaas yang Anda katakan ia berpendapat mansukh, setahu saya itu gak ada sanadnya.
    Bung,… please, kalau nyusun bahasa, jangan seolah-olah jawaban ini saya yang ngarang ya.
    Terkait dengan hal tersebut, jika mereka (ulama yang saya sebutkan di atas) mengatakan kirim pahala bacaan Al-Qur’an tidak sampai kepada mayit, bukankah amal-amal itu pada hakekatnya merupakan kesia-siaan ?. Jika itu merupakan kesia-siaan, bukankah itu merupakan bid’ah ?. Jika bid’ah itu jelas-jelas menyelisihi nash, bukankah itu merupakan bid’ah madzmuumah ?.

    Jika Anda mengatakan bahwa perbuatan itu baik merupakan anggapan baik Anda semata (baca : istihsaan), maka inilah istihsaan yang dicela oleh Imam Asy-Syaafi’iy :
    أن حراماً على أحد أن يقول بالاستحسان إذا خالف الاستحسان الخبر
    “Sesungguhnya haram bagi seseorang untuk berkata berdasarkan istihsaan, apabila istihsan-nya itu menyelisihi nash”.

    Kemudian tentang kaedah yang saya sebutkan, maka itu ada dalam buku Qawaa’idu Ma’rifatil-Bid’ah karya Dr. Muhammad Al-Jizaaniy, seorang pakar ushul kontemporer. Dan itu bisa dibuktikan melalui nash-nash yang ada.
    Kalau cara memahami bid’ah versi Anda dengan bersandar pada hadits Ibnu ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhu, ya pasti gak akan ada kata bid’ah dalam kamus Anda. He..he…he….
    Yang kedua anda telah menukil hadist dari seluruh hadist tersebut yang mana jika diterapkan pada bentuk peribadahan maka itu tidak cocok.
    حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ دَاوُدَ بْنِ صَبِيحٍ حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ دُكَيْنٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ يَعْنِي ابْنَ شَرِيكٍ الْمَكِّيَّ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي الشَّعْثَاءِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ أَهْلُ الْجَاهِلِيَّةِ يَأْكُلُونَ أَشْيَاءَ وَيَتْرُكُونَ أَشْيَاءَ تَقَذُّرًا فَبَعَثَ اللَّهُ تَعَالَى نَبِيَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنْزَلَ كِتَابَهُ وَأَحَلَّ حَلَالَهُ وَحَرَّمَ حَرَامَهُ فَمَا أَحَلَّ فَهُوَ حَلَالٌ وَمَا حَرَّمَ فَهُوَ حَرَامٌ وَمَا سَكَتَ عَنْهُ فَهُوَ عَفْوٌ وَتَلَا} قُلْ لَا أَجِدُ فِيمَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا {إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

    Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Daud bin Shabih telah menceritakan kepada kami Al Fadll bin Dukain telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Syarik Al Makki dari ‘Amru bin Dinar dari Abu Asy Sya’tsa` dari Ibnu Abbas ia berkata, “Dahulu orang-orang jahiliyah biasa makan beberapa macam makanan dan meninggalkan beberapa makanan karena jijik. Kemudian Allah Ta’ala mengutus Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam dan menurunkan Kitab-Nya, serta menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Maka apa yang Allah halalkan adalah halal, apa yang Allah haramkan adalah haram, dan apa yang Allah diamkan maka hukumnya dimaafkan.” Kemudian Ibnu Abbas membaca ayat: ‘(Katakanlah: “Aku tidak mendapatkan dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan…) ‘ (Qs. Al An’aam: 145) hingga akhir ayat.” (ABUDAUD – 3306)
    Dalam hadist lain ini telah dijelaskan bahwa disini pendapat anda gugur..
    حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ عَبْدِ الْعَزِيزِ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ لَمْ يَبْعَثْ بَعْدَ نَبِيِّكُمْ نَبِيًّا وَلَمْ يُنْزِلْ بَعْدَ هَذَا الْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ عَلَيْهِ كِتَابًا فَمَا أَحَلَّ اللَّهُ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ فَهُوَ حَلَالٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَا حَرَّمَ عَلَى لِسَانِ نَبِيِّهِ فَهُوَ حَرَامٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ أَلَا وَإِنِّي لَسْتُ بِقَاصٍّ وَلَكِنِّي مُنَفِّذٌ وَلَسْتُ بِمُبْتَدِعٍ وَلَكِنِّي مُتَّبِعٌ وَلَسْتُ بِخَيْرٍ مِنْكُمْ غَيْرَ أَنِّي أَثْقَلُكُمْ حِمْلًا أَلَا وَإِنَّهُ لَيْسَ لِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ أَنْ يُطَاعَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ أَلَا هَلْ أَسْمَعْتُ
    : Telah menceraitakan kepada kami Musa bin Khalid telah menceritakan kepada kami Mu’tamir bin Sulaiman dari Ubaidullah bin Umar, bahwasanya Umar bin Abdul Aziz berhutbah, ia berkata: “Wahai sekalian manusia, Allah subhanallahu wa ta’ala tidak mengutus seorang nabi pun setelah Nabi kalian, dan Allah subhanallahu wa ta’ala tidak menurunkan sebuah kitab pun setelah kitab yang diturunkan kepadanya ini. Apa-apa yang telah Allah subhanallahu wa ta’ala halalkan melalui lisan NabiNya, hal itu halal sampai hari kiamat, dan apa-apa yang diharamkan melalui lisan NabiNya, hal itu haram sampai hari kiamat. Ketahuilah bahwasannya aku tidak dapat memutuskan, tetapi aku hanya bisa melaksanakan, aku tidak membuat amalan baru/bid`ah, tetapi aku hanyalah muttabi` (seorang pengikut sunah), aku tidaklah orang yang terbaik dari kalian semua, akan tetapi aku adalah orang yang paling berat bebannya dari kamu semua, dan seseorang dari makhluk Allah subhanallahu wa ta’ala tidak berhak ditaati dalam hal maksiat kepada Allah subhanallahu wa ta’ala, ketahuilah apakah aku telah memperdengarkan (kepada kalian)?” (DARIMI – 434)

    1. @Ummu Abdillah

      Imam Syafi’I memiliki dua qaul, qaul qadim dan qaul jadid (pendapat yg lama dan pendapat yg baru). Pernyataan tidak sampai, termuat dalam qaul qadim (pendapat lama), dan qaul jadid (pendapat baru) menyatakan sampai.

      Berkata Imam Nawawi : “Barangsiapa yang ingin berbakti pada ayah ibunya maka ia boleh bersedekah atas nama mereka (kirim amal sedekah untuk mereka), dan sungguh pahala shadaqah itu sampai pada mayyit dan akan membawa manfaat atasnya tanpa ada ikhtilaf diantara muslimin, inilah pendapat terbaik, mengenai apa – apa yang diceritakan pimpinan Qadhiy Abul Hasan Almawardiy Albashriy Alfaqiihi Assyafii mengenai ucapan beberapa Ahli Bicara (semacam wahabiy yang hanya bisa bicara tanpa ilmu) bahwa mayyit setelah wafatnya tak bisa menerima pahala, maka pemahaman ini Batil secara jelas dan kesalahan yg diperbuat oleh mereka yang mengingkari nash – nash dari Alqur’an dan Alhadits dan Ijma ummat ini, maka tak perlu ditolelir dan tak perlu diperdulikan. Namun mengenai pengiriman pahala shalat dan puasa, maka madzhab Syafii dan sebagian ulama mengatakannya tidak sampai kecuali shalat dan puasa yang wajib bagi mayyit, maka boleh di Qadha oleh wali nya atau orang lain yang diizinkan oleh walinya, maka dalam hal ini ada dua pendapat dalam Madzhab Syafii, yang lebih masyhur hal ini tak sampai, namun pendapat kedua yang lebih shahih mengatakan hal itu sampai. Mengenai pahala Alqur’an menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafii bahwa tak sampai pada mayyit, namun adapula pendapat dari sahabat sahabat Syafii yang mengatakannya sampai, dan sebagian besar ulama mengambil pendapat bahwa sampainya pahala semua macam ibadah, berupa shalat, puasa, bacaan Alqur’an, ibadah dan yang lainnya, sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Bukhari pada Bab : “Barangsiapa yang wafat dan atasnya nadzar” bahwa Ibn Umar memerintahkan seorang wanita yang wafat ibunya yang masih punya hutang shalat agar wanita itu membayar (meng qadha) shalatnya, dan dihikayatkan oleh Penulis kitab Al Hawiy, bahwa Atha bin Abi Ribah dan Ishaq bin Rahawayh bahwa mereka berdua mengatakan bolehnya shalat dikirim untuk mayyit, Telah berkata Syeikh Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad bin Hibatullah bin Abi Ishruun dari kalangan kita (berkata Imam nawawi dengan ucapan : “kalangan kita” maksudnya dari madzhab syafii) yang muta’akhir (dimasa Imam Nawawi) dalam kitabnya Al Intisharilaa Ikhtiyar bahwa hal ini seperti ini. (sebagaimana pembahasan diatas), berkata Imam Abu Muhammad Al Baghawiy dari kalangan kita dalam kitabnya At Tahdzib : Tidak jauh bagi mereka untuk memberi satu Mudd untuk membayar satu shalat (shalat mayyit yang tertinggal) dan ini semua izinnya sempurna, dan dalil mereka adalah Qiyas atas Doa dan sedekah dan haji (sebagaimana riwayat hadist – hadits shahih) bahwa itu semua sampai dengan pendapat yang sepakat para ulama. (Syarh Nawawi Ala Shahih Muslim)

      Maka jelaslah sudah bahwa Imam Nawawi menjelaskan dalam hal ini ada dua pendapat, dan yang lebih masyhur adalah yang mengatakan tak sampai, namun yang lebih shahih mengatakannya sampai, tentunya kita mesti memilih yang lebih shahih, bukan yang lebih masyhur, Imam nawawi menjelaskan bahwa yang shahih adalah yang mengatakan sampai, walaupun yang masyhur mengatakan tak sampai, berarti yang masyhur itu dhoif, dan yang shahih adalah yang mengatakan sampai, dan Imam Nawawi menjelaskan pula bahwa sebagian besar ulama mengatakan semua amal apahal sampai.

      “Sungguh sedekah untuk dikirimkan pada mayyit akan membawa manfaat bagi mayyit dan akan disampaikan padanya pahalanya, demikian ini pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, demikian pula mereka telah sepakat atas sampainya doa – doa, dan pembayaran hutang (untuk mayyit) dengan nash – nash yang teriwayatkan masing masing, dan sah pula haji untuk mayyit bila haji muslim, Demikian pula bila ia berwasiat untuk dihajikan dengan haji yang sunnah, demikian pendapat yang lebih shahih dalam madzhab kita (Syafii), namun berbeda pendapat para ulama mengenai puasa, dan yang lebih benar adalah yang membolehkannya sebagaimana hadits – hadits shahih yang menjelaskannya, dan yang masyhur dikalangan madzhab kita bahwa bacaan Alqur’an tidak sampai pada mayyit pahalanya, namun telah berpendapat sebagian dari ulama madzhab kita bahwa sampai pahalanya, dan Imam Ahmad bin Hanbal berpegang pada yang membolehkannya” (Syarh Imam Nawawi ala Shahih Muslim)

      Dan dijelaskan pula dalam Almughniy :
      “Tidak ada larangannya membaca Alqur’an dikuburan , dan telah diriwayatkan dari Ahmad bahwa bila kalian masuk pekuburan bacalah ayat Alkursiy, lalu Al Ikhlas 3X, lalu katakanlah : Wahai Allah, sungguh pahalanya untuk ahli kubur”. Dan diriwayatkan pula bahwa bacaan Alqur’an di kuburan adalah Bid’ah, dan hal itu adalah ucapan Imam Ahmad bin Hanbal, lalu muncul riwayat lain bahwa Imam Ahmad melarang keras hal itu, maka berkatalah padanya Muhammad bin Qudaamah : Wahai Abu Abdillah (nama panggilan Imam Ahmad), apa pendapatmu tentang Mubasyir (seorang perawi hadits), Imam Ahmad menjawab : Ia Tsiqah (kuat dan terpercaya riwayatnya), maka berkata Muhammad bin Qudaamah sungguh Mubasyir telah meriwayatkan padaku dari ayahnya bahwa bila wafat agar dibacakan awal surat Baqarah dan penutupnya, dan bahwa Ibn Umar berwasiat demikian pula!”, maka berkata Imam Ahmad :”katakan pada orang yang tadi ku larang membaca Alqur’an dikuburan agar ia terus membacanya lagi..”. (Al Mughniy)

      Dan dikatakan dalam Syarh Al Kanz :
      “dijelaskan pada syarah Al Kanz, Sungguh boleh bagi seseorang untuk mengirim pahala amal kepada orang lain, shalat kah, atau puasa, atau haji, atau shadaqah, atau Bacaan Alqur’an, dan seluruh amal ibadah lainnya, dan itu boleh untuk mayyit dan itu sudah disepakati dalam Ahlussunnah waljamaah. Namun hal yang terkenal bahwa Imam Syafii dan sebagian ulamanya mengatakan pahala pembacaan Alqur’an tidak sampai, namun Imam Ahmad bin Hanbal, dan kelompok besar dari para ulama, dan kelompok besar dari ulama syafii mengatakannya pahalanya sampai, demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar, Dan dijelaskan dalam Syarh Al Minhaj oleh Ibn Annahwiy : “tidak sampai pahala bacaan Alqur’an dalam pendapat kami yang masyhur, dan maka sebaiknya adalah pasti sampai bila berdoa kepada Allah untuk memohon penyampaian pahalanya itu, Dan selayaknya ia meyakini hal itu karena merupakan doa, karena bila dibolehkan doa tuk mayyit, maka menyertakan semua amal itu dalam doa tuk dikirmkan merupakan hal yang lebih baik, dan ini boleh tuk seluruh amal, dan doa itu sudah Muttafaq alaih (tak ada ikhtilaf) bahwa doa itu sampai dan bermanfaat pada mayyit bahkan pada yang hidup, keluarga dekat atau yang jauh, dengan wasiat atau tanpa wasiat, dan dalil ini dengan hadits yang sangat banyak”.
      (Naylul Awthar lil Imam Assyaukaniy, Al majmu’ Syarh Muhadzab lil Imam Nawawiy)

      Kesimpulannya bahwa hal ini merupakan ikhtilaf ulama, ada yang mengatakan pengiriman amal pada mayyit sampai secara keseluruhan, ada yang mengatakan bahwa pengiriman bacaan Alqur’an tidak sampai, namun kesemua itu bila dirangkul dalam doa kepada Allah untuk disampaikan maka tak ada ikhtilaf lagi. Dan kita semua dalam tahlilan itu pastilah ada ucapan : Allahumma awshil, tsawabaa maa qaraa’naa minalqur’anilkarim… dst (Wahai Allah, sampaikanlah pahala apa – apa yang kami baca, dari alqur’anulkarim…dst). Maka jelaslah sudah bahwa Imam Syafii dan seluruh Imam Ahlussunnah waljamaah tak ada yang mengingkarinya dan tak adapula yang mengatakannya tak sampai.

  45. @abu hilya
    Tentang bahasan kenduri kematian, perkataan Anda :

    “Selanjutnya tentang Niyaha :

    Al Hafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menjelaskan

    قوله نهى النياحة والنوح أصله التناوح وهو التقابل ثم استعمل في اجتماع النساء وتقابلهن في البكاء على الميت

    Ketahuilah saudaraku, ketika anda menggunakan Riwayat Sayyidina Jarir bin Abdillah, Sayyidina Tholhah, Sayyidina Sa’id Ibn Zubair untuk melarang kenduri kematian, sesungguhnya anda berhujjah dengan hukum “Qiyaas”, dan Insya Alloh anda menyadari akan hal ini. Dan kalau dibutuhkan Insya Alloh akan kami sampaikan penjelasan bahwa anda yang melarang dan kami yang membolehkan dengan hukum makruh, sama-sama menggunakan Qiyas” [selesai kutipan].

    Yang kita bicarakan adalah kenduri mayit, alias makan-makan pada acara kematian mayit (pada saat atau pasca kematian mayit).

    Saya merasa tidak berhujjah dengan qiyas, akan tetapi berhujjah dengan qaul shahabat. Bagaimana pendapat yang beredar di kalangan shahabat tentang hal itu. Ternyata, mereka berpendapat bahwa kegiatan itu merupakan bagian dari niyahah. Kalau bicara niyahah,maka asal hukumnya adalah haram.

    Kalau misal ada ulama Syaafi’iyyah yang berpendapat bahwa makan-makan kenduri adalah makruh, anehnya orang-orang kita di sini malah berlomba-lomba mengadakannya. Atau bahkan memang sudah dijadikan tradisi. Ketika sebagian yang pintar ditanya alasannya, mereka berkata : “Ulama kami berpendapat makruh”.

    Apa sih sebenarnya makna makruh ? Dibenci atau disukai ?. Dan ingat mas,… sebagian ulama mutaqaddimiin banyak menggunakan kata makruh itu untuk makna makruh tahriim.

  46. مَنِ اسْتَحْسَنَ فَقَدْ شَرَّعَ

    “Barangsiapa yang menganggap baik (suatu perkara) maka dia telah membuat syari’at”

    Ini adalah contoh akibat menolak bermadzhab namun mengambil pernyataan Imam Madzhab hanya sepotong… akibatnya dalam kesimpulan anda sangat tidak sesuai dengan pandangan Imam as Syafi’iy, dan jika hal tersebut anda sengaja berarti anda telah berdusta atas nama Imam Syafi’iy, berikut buktinya :

    Dalam Ar Risalah, Ushul Fiqih karya Imam Syafi’iy disana dijelaskan secara tersendiri dalam “BAB ISTIHSAN” jika anda tidak ingin salah mengartikan maksud dari pernyataan Imam Syafi’iy tsb (Man Istahsana Faqod Syaro’a), maka wajib bagi anda mempelajarinya secarah utuh…

    Berikut kami kutipkan sebatas sebagai gambaran :

    فهل تجيز أنت أن يقول الرجل أستحسن بغير قياس فقلت لا يجوز هذا عندي والله أعلم لاحد وإنما كان لاهل العلم ان يقولوا دون غيرهم لان يقولوا في الخبر باتباعه فيما ليس فيه الخبر بالقياس على الخبر

    Imam Syafi’iy rohimahulloh ditanya; “Apakah anda memperbolehkan jika seseorang berkata ‘ Aku menganggap baik dengan tanpa qiyas’? maka aku (Imam Syafi’iy) menjawab : Hal ini (berpendapat dengan menggunakan hujjah Istihsan/menganggap baik sebuah perkara dengan meninggalkan qiyas dan hanya bermodal penilaian akal) tidak boleh bagi seorangpun –wallohu a’lam- dan seharusnya bagi orang yang berilmu -bukan yang lain- hendaknya berpendapat mengikuti Khobar (hadits) sedang dalam perkara yang tidak ada dalam Khobar (hadits) maka dengan qiyas pada Khobar….

    Selanjutnya dalam kesimpulan anda : “Oleh karenanya barangsiapa yang menganggap baik suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maka pada hakikatnya ia telah menjadikan ibadah tersebut syari’at yang baru”

    Jawaban kami : kami pastikan itu bukan pernyataan Imam Syafi’iy dan bukan pula Istihsan yang dimaksud Imam Syafi’iy, namun itu hanyalah kesimpulan anda yang lahir dari ketidak fahaman atas pernyataan yang disampaikan Imam Syafi’iy, akibat dari mengambil pernyataan hanya sepotong….

    Selanjutnya, ketika kami mengajukan Hujjah Spesifik baik berupa Hadits Nabi Saw maupun pandangan para Ulama dalam masalah “Kenduri Kematian” anda tuduh kami membuat syari’at baru, di saat yang sama anda mengharamkan “Kenduri Kematian” dengan menunjukkan hujjah tentang qodho’ sholat dan puasa yang tentunya nggak nyambung, lantas siapa yang sebenarnya menetapkan Syari’at baru?….

    Jawaban kami

    Gambaran Anda itu sangat-sangat sempit. Membicarakan masalah istihsaan, maka itu akan sangat panjang jika dikaitkan konteks perkataan para fuqahaa madzhab.

    Imam Syaafi’iy itu membolehkan qiyas, tapi melarang istihsaan. Maka dari itu, ketika membahas istihsaan, Asy-Syaafi’iy membahas dua hal ini secara terperinci. Di antaranya Asy-Syaafi’iy berkata dalam bab Al-Istihsaan dalam kitab Ar-Risalaah :

    ولو قال بلا خبر لازم و قياس كان أقرب من الإثم من الذي قال وهو غير عالم وكان القول لغير أهل العلم جائزا

    “Dan seandainya seseorang berkata tanpa dalil dan qiyas, maka ia lebih dekat kepada dosa daripada orang yang berkata dalam keadaan ia bukan seorang yang berilmu. Perkataan dari orang yang bukan ulama adalah boleh (dimaafkan)”.

    Ditambaha lagi keterangan Asy-Syaafi’iy yang Anda kutip di atas.

    Jadi, istihsaan yang dicela Asy-Syaafi’iy adalah istihsaan yang keluar dari hukum nadhaair. Seandainya istihsaan yang dilakukan itu berdasarkan dengan qiyaas yang shahih, maka menurut Asy-Syaafi’iy itu boleh.

    Dan yang patut Anda garis bawahai sebelumnya, paham ‘Wahabi’ itu juga menerima qiyas mas. Orang-orang Wahabi juga membaca kitab-kitab Ushul Fiqh seperti Ar-Risalah nya Asy-Syaafi’iy atau Irsyaadul-Fuhuul nya Asy-Syaukaaniy. Seandainya Anda mau menyimpulkan bahwa pernyataan dalam artikel di atas itu mengkonsekuensikan penolakan terhadap qiyas, maka itu hanyalah kesimpulan Anda saja.

    Istihsan yang dicela Asy-Syaafi’iy itu adalah istihsan yang menyelisihi nash. Beliau rahimahullah berkata :

    أن حراماً على أحد أن يقول بالاستحسان إذا خالف الاستحسان الخبر

    “Sesungguhnya haram bagi seseorang untuk berkata berdasarkan istihsaan, apabila istihsan-nya itu menyelisihi nash”.

    Asy-Syaukani menukil perkataan Ar-Ruyani ketika menjelaskan perkataan Asy-Syafi’iy di atas :

    معناه أنه ينصب من جهة نفسه شرعًا غير الشرع

    “Maknanya adalah orang yang menetapkan hukum syar’iy atas dirinya dan tidak berdasarkan dalil-dalil syar’iy” [Irsyaadul-Fuhuul, hal. 240].

    Istihsan yang ditolak Asy-Syaafi’iy adalah istihsan yang didasari oleh hawa nafsu tanpa ilmu. Beliau rahimahullah berkata :

    كان حلال الله وحرامه أولى أن لا يقال فيهما بالتعسف والاستحسان وإنما الاستحسان تلذذ

    “Hukum halal dan haram Allah lebih pantas untuk tidak dikatakan dengan serampangan dan istihsaan, karena istihsaan itu hanyalah ingin enak saja”

    Jadi,…tolong Anda membedakan antara yang dimaksud istihsaan dan qiyas olrh Asy-Syaafi’iy.

    Perkataan Anda :

    “Selanjutnya dalam kesimpulan anda : “Oleh karenanya barangsiapa yang menganggap baik suatu ibadah yang tidak dicontohkan oleh Nabi maka pada hakikatnya ia telah menjadikan ibadah tersebut syari’at yang baru”

    Jawaban kami : kami pastikan itu bukan pernyataan Imam Syafi’iy dan bukan pula Istihsan yang dimaksud Imam Syafi’iy, namun itu hanyalah kesimpulan anda yang lahir dari ketidak fahaman atas pernyataan yang disampaikan Imam Syafi’iy, akibat dari mengambil pernyataan hanya sepotong….” [selesai kutipan].

    Memang itu adalah perkataan saya, bukan perkataan Asy-Syaafi’iy. Kalau perkataan Asy-Syaafi’iy, tentu sudah saya kasih referensi. Akan tetapi itu adalah konsekuensi logis dari perkataan beliau rahimahullah.

    [memangnya Anda paham perkataan Asy-Syaafi’iy ?].

    Tentang kenduri makan-makan setelah kematian, sudah jelas kok perkataan beberapa shahabat tentang hal ini :

    Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajaly radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

    كنا نرى الاجتماع إلى أهل الميت وصنعة الطعام من النياحة

    “Kami (para shahabat) menganggap berkumpul-kumpul di rumah keluarga mayit, serta penghidangan makanan oleh mereka (kepada para tamu) merupakan bagian dari niyahah (meratapi mayit)” (HR. Ahmad nomor 6905 dan Ibnu Majah nomor 1612).

    Dari Thalhah radliyallaahu ‘anhu, ia berkata :

    قدم جرير على عمر فقال : هل يناح قبلكم على الميت. قال : لا. قال : فهل تجتمع النسآء عنكم على الميت ويطعم. قال : نعم. فقال : تلك النياحة.

    Jarir mendatangi ‘Umar, kemudian ‘Umar berkata : “Apakah kamu sekalian suka meratapi mayit ?”. Jarir menjawab : “Tidak”. ‘Umar berkata : “Apakah diantara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan memakan hidangannya ?”. Jarir menjawab : “Ya”. ‘Umar berkata : “Hal itu sama dengan niyahah (meratapi mayit)”. (HR. Ibnu Abi Syaibah 2/487).

    Kalau Anda mengatakan boleh ya monggo saja… itu tanggung jawab Anda.

    NB : Aneh sekali kalau nanti ada yang memahami bahwa perkataan dua shahabat di atas menunjukkan hukum kenduri kematian adalah boleh.

    wallaahu a’lam.

    1. @Ummu Abdillah

      Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu dawud dan Baihaqi dari Ashim bin Kulaib dari ayah seorang sahabat Anshar, berkata:
      “Kami telah keluar menyertai Rasulallah saw. mengiringi jenazah, maka kulihat Rasulallah saw. berpesan kepada penggali kubur, kata beliau saw., ‘perluaslah arah kedua kakinya, perluaslah arah kepalanya’. Ketika beliau pulang ditemuilah orang yang mengundang dari pihak istrinya (istri mayyit), beliau pun memenuhi undangan itu dan kami menyertainya lalu dihidangkan makanan, maka beliau mengulurkan tangannya, kemudian hadirin mengulur- kan tangan mereka, lalu mereka makan, dan aku melihat Rasulallah saw. mengunyah suapan di mulutnya”.

    2. @Ummu Abdillah

      Jarir mendatangi ‘Umar, kemudian ‘Umar berkata : “Apakah kamu sekalian suka meratapi mayit ?”. Jarir menjawab : “Tidak”. ‘Umar berkata : “Apakah diantara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan memakan hidangannya ?”. Jarir menjawab : “Ya”. ‘Umar berkata : “Hal itu sama dengan niyahah (meratapi mayit)”. (HR. Ibnu Abi Syaibah 2/487).

      Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu dawud dan Baihaqi dari Ashim bin Kulaib dari ayah seorang sahabat Anshar, berkata:
      “Kami telah keluar menyertai Rasulallah saw. mengiringi jenazah, maka kulihat Rasulallah saw. berpesan kepada penggali kubur, kata beliau saw., ‘perluaslah arah kedua kakinya, perluaslah arah kepalanya’. Ketika beliau pulang ditemuilah orang yang mengundang dari pihak istrinya (istri mayyit), beliau pun memenuhi undangan itu dan kami menyertainya lalu dihidangkan makanan, maka beliau mengulurkan tangannya, kemudian hadirin mengulur- kan tangan mereka, lalu mereka makan, dan aku melihat Rasulallah saw. mengunyah suapan di mulutnya”.

      kedua hadist tersebut, secara zhahirnya saling bertentangan, bagaimana cara menyikapinya? atas penjelasannya saya ucapkan terima kasih.

    3. Bismillah,

      Saudariku @Ummu Abdillah,

      Maaf terlambat baru buka, namun demikian sungguh telah disampaikan oleh Mas Agung hujjah kami, sehingga nyatalah bagi kami dalam masalah kenduri kematian kami tidak berhujjah dengan “Istihsan” yang ditolak oleh Imam Syafi’iy.

      Selanjutnya disini kami hanya menambahkan beberapa hal :

      1. Seandainya kita memakai hadits Tholhah ra yang menyampaikan pernyataan Sayyidina Umar ra, maka Niyaha terdiri dari dua perkara :

      – “Berkumpulnya para wanita”, yang jika kita fahami dari keterangan alhafidh Ibnu Hajar dalam Fathul Barinya disebutkan batasan Niyaha “Berkumpulnya para wanita dan saling beradu tangisan (ratapan) atas mayyit”
      – Menghidangkan makanan (Shun’ut Tho’aam) .

      Sedangkan obyek yang kita diskusikan adalah “kenduri kematian” dengan praktek :

      – Berkumpulnya tetangga terutama kaum pria untuk berdo’a dan membaca tahlil serta yasiin.
      – Menghidangkan suguhan ala kadar seperti Teh, air mineral, ditambah tahu goreng, krupuk, semangka itupun kalau ada (sesuai dengan tradisi yang berlaku dilingkungan kami dan sekitarnya)

      Inilah yang membuat kami berkesimpulan anda menggunakan “Qiyas” dalam memvonis kenduri kematian, mengingat apa yang dinyatakan Sayyidina Umar ra sebagai Niyaha, tidaklah sama dengan apa yang terjadi disekitar kami. Dan kalaupun kita paksakan apa yang berlaku sebagai tradisi kami dianggap Niyaha dengan hanya mengacu pada adanya “Ijtima’un Naas” dan “Shun’ut Tho’am”, maka sungguh telah kami sampaikan hukumnya “MAKRUH” berdasar keterangan yang ada dalam I’anatuth Tholibin, Hasyiyah al Jamal, dll.

      2. Tentang pernyataan Kholifah Umar Ibn Abdul Aziz, jika pernyataan beliau dalam kesimpulan anda berarti beliau tidak pernah melakukan Bid’ah Hasanah dalam pandangan kami, maka bagaimana dengan tarowih di Madina yang jumlah roka’atnya mencapai 36 roka’at guna mengimbangi thowaf yang ada di Makka ? Insy anda tahu akan hal ini…

      3. Tentang hadits riwayat Abu Dawud, disana jelas tentang hukum perkara yang tidak dinyatakan hukumnya oleh Syari’… yakni mubah. Adapun anda membatasinya hanya pada konteks makanan, kami belum mengetahui adanya nash lain yang membatasi Qodhiyah “Wa Maa Sakata ‘Anhu fahuwa ‘Afwun”, kecuali dari konteks hadits itu sendiri… sedang kami memberlakukannya secara umum berdasar hadits riwayat Imam Bukhori dan Imam Muslim tentang seseorang yang bertanya “Apakah Kewajiban Haji Berulang setiap Tahun” dan Rosululloh menjawab “Tinggalkan aku dari apa-apa yang aku tinggalkan”. Imam Nawawi dan Imam Ibnu Hajar menjelaskan tentang pernyataan Rosululloh Saw ; “Tinggalkan aku… dst” dimana dalam Syarah Muslim dijelaskan “ Hadits tsb adalah dalil bahwa asal dari perkara adalah tidak adanya kewajiban, dan tidak ada hukum sebelum wurudnya syara’, dan inilah yang shohih dikalangan Muhaqqiqul Ushuliyyin”. Sedang dalam Fathul Bari Ibnu Hajar menjelaskan :”Tentang Sabda Rosul ; “Maa Taroktukum” yakni selama aku tinggalkan pada kalian tanpa adanya perintah untuk sesuatu dan larangan dari sesuatu.” Dari penjelasan dua Imam hadits diatas, jelas perkara yang ditinggalkan Rosululloh Saw tidak menimbulkan hukum apapun. Dan juga para Ulama’ Ushul mendefinisikan Sunnah denga tiga hal “Qouluhu Af’aaluhu dan Iqroruhu” di dalamnya tidak tercakup “tarkuhu”, sehingga Maa Taroka An Nabiy, bukan Sunnah yang bisa dijadikan hujjah.

      Bersambung…..

      Salam Ukhwah untuk Ustadz anda….

    4. Bismillah,

      Ukhti @Ummu Abdillah,

      4. Tentang sampainya pahala kebaikan untuk mayit

      a. Hujjah dari kalangan Hanafiyyah :

      Utsman Ibn Ali Az Zyla’iy dalam Syarah “Kanzud Daqo’iq” pada bab Hajji Untuk orang lain beliau berkata :

      وَالْأَصْلُ فِيهِ أَنَّ الْإِنْسَانَ لَهُ أَنْ يَجْعَلَ ثَوَابَ عَمَلِهِ لِغَيْرِهِ صَلَاةً أَوْ صَوْمًا أَوْ صَدَقَةً أَوْ قِرَاءَةَ قُرْآنٍ أَوْ ذِكْرًا أَوْ طَوَافًا أَوْ حَجًّا أَوْ عُمْرَةً أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ عِنْدَ أَصْحَابِنَا لِلْكِتَابِ وَالسُّنَّةِ

      “Pada dasarnya dalam masalah ini, Sesungguhnya manusia berhak menjadikan pahala kebaikan amalnya untuk orang lain, baik berupa sholat, puasa, shodaqoh, bacaan qur’an, atau dzikir, thowaf, hajji, atau Umroh atau yang lain menurut kalangan kami, berdasar al qur’an dan as sunnah” (Al Bahrur Roiq. Vol 7 hal 379, shameela)

      b. Hujjah dari kalangan Malikiyyah :

      Al Imam Al Qodhi ‘Iyadh dalam Syarahnya atas Shohih Muslim, ketika beliau menjelaskan hadits dua pelepah korma, beliau menjelaskan :

      أخذ العلماء من هذا استحباب قراءة القرآن على الميت لأنه إذا خفف عنه بتسبيح الجريدتين وهما جماد فقراءة القرآن أولى.

      “ Dari hadits ini para Ulama mengambil (landasan) di anjurkannya membaca al qur’an atas mayyit, karena jika mayyit diringankan sebab tasbihnya dua pelepah korma sedang keduanya adalah benda mati, maka bacaan al qur’an (justru) lebih utama.

      c. Hujjah kalangan Syafi’iyyah :

      Imam An Nawawi dalam Al Adzkaar (bersandar pada hadits Sayyidah ‘Aisyah ra):

      ويستحب للزائر الإكثار من قراءة القرآن والذكر ، والدعاء لأهل تلك المقبرة وسائر الموتى والمسلمين أجمعين.

      “Dan dianjurkan bagi orang yang berziyarah untuk memperbanyak membaca al qur’an, dzikir, dan do’a untuk ahli kubur tsb dan untuk orang-orang yang telah meninggal dari kalangan muslimin”

      d. Hujjah kalangan Hanabilah/Hanbaliyyah :

      Abu Abdillah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Hanbal dalam Al Iqna’ Fi Fiqhil Imam Ahmad Bin Hanbal :

      ولا تكره القراءة على القبر وفي المقبرة بل يستحب وكل قربة فعلها المسلم وجعل ثوابها أو بعضها كالنصف ونحوه لمسلم حي أو ميت جاز ونفعه لحصول الثواب له حتى لرسول الله صلى الله عليه وسلم: من تطوع وواجب تدخله النيابة: كحج ونحوه أولا: كصلاة ودعاء واستغفار وصدقة وأضحية وأداء دين وصوم وكذا قراءة وغيرها

      “ Dan tidak dimakruhkan membaca al qur’an diatas kubur dan di pekuburan, bahkan dianjurkan. Dan setiap Ibadah (Qurbah) yang dilakukan oleh orang islam dan dijadikan pahala qurbah (ibadah) tsb atau sebagian pahalanya, atau separuhnya untuk orang islam yang lain baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal maka hal itu boleh dan bermanfaat baginya (orang yang dihadiahi) karena mendapat pahala untuknya, meskipun (dihadiahkan) untuk Rosululloh Saw, baik berupa perkara wajib yang bisa digantikan (pelaksanaannya) seperti Hajji atau semacamnya, atau (perkara wajib) yang tidak dapat digantikan (orang lain) seperti sholat, do’a, istighfar, shodaqoh, qurban, membayar hutang, puasa, dan begitu pula baca al qur’an dan yang lain”

      e. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah :

      Dalam Majmu’ Al Fatawa, ketika beliau ditanya tentang menghadiahkan pahala bacaan qur’an :

      وَرُوِيَ عَنْ طَائِفَةٍ مِنْ السَّلَفِ عِنْدَ كُلِّ خَتْمَةٍ دَعْوَةٌ مُجَابَةٌ فَإِذَا دَعَا الرَّجُلُ عَقِيبَ الْخَتْمِ لِنَفْسِهِ وَلِوَالِدَيْهِ وَلِمَشَايِخِهِ وَغَيْرِهِمْ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ كَانَ هَذَا مِنْ الْجِنْسِ الْمَشْرُوعِ . وَكَذَلِكَ دُعَاؤُهُ لَهُمْ فِي قِيَامِ اللَّيْلِ وَغَيْرِ ذَلِكَ مِنْ مَوَاطِنِ الْإِجَابَةِ . وَقَدْ صَحَّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ أَمَرَ بِالصَّدَقَةِ عَلَى الْمَيِّتِ وَأَمَرَ أَنْ يُصَامَ عَنْهُ الصَّوْمَ ، فَالصَّدَقَةُ عَنْ الْمَوْتَى مِنْ الْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ وَكَذَلِكَ مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَّةُ فِي الصَّوْمِ عَنْهُمْ ، وَبِهَذَا وَغَيْرُهُ احْتَجَّ مَنْ قَالَ مِنْ الْعُلَمَاءِ إنَّهُ يَجُوزُ إهْدَاءُ ثَوَابِ الْعِبَادَاتِ الْمَالِيَّةِ وَالْبَدَنِيَّةِ إلَى مَوْتَى الْمُسْلِمِينَ كَمَا هُوَ مَذْهَبُ أَحْمَد وَأَبِي حَنِيفَةَ وَطَائِفَةٍ مِنْ أَصْحَابِ مَالِكٍ وَالشَّافِعِيِّ . فَإِذَا أَهْدَى لِمَيِّتِ ثَوَابَ صِيَامٍ أَوْ صَلَاةٍ أَوْ قِرَاءَةٍ جَازَ ذَلِكَ

      (maaf mengingat terbtasnya forum, kami cukupkan Satu Ulama dari masing-masing madzhab)

      5. Tentang QS. An Najm : 39

      Sebagaimana pernah kami sampaikan, bahwa para mufassirin berbeda pandangan tentang ayat tsb, dan berikut mungkin akan lebih menjelaskan hujjah kami mengenai ayat tsb :

      Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Majmu’ Al Fatawaa :

      وَسُئِلَ – رَحِمَهُ اللَّهُ تَعَالَى – :
      عَنْ قَوْله تَعَالَى { وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إلَّا مَا سَعَى } وَقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { إذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلَّا مِنْ ثَلَاثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ } فَهَلْ يَقْتَضِي ذَلِكَ إذَا مَاتَ لَا يَصِلُ إلَيْهِ شَيْءٌ مِنْ أَفْعَالِ الْبِرِّ ؟ .
      فَأَجَابَ :
      الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ، لَيْسَ فِي الْآيَةِ وَلَا فِي الْحَدِيثِ أَنَّ الْمَيِّتَ لَا يَنْتَفِعُ بِدُعَاءِ الْخَلْقِ لَهُ وَبِمَا يُعْمَلُ عَنْهُ مِنْ الْبِرِّ بَلْ أَئِمَّةُ الْإِسْلَامِ مُتَّفِقُونَ عَلَى انْتِفَاعِ الْمَيِّتِ بِذَلِكَ وَهَذَا مِمَّا يُعْلَمُ بِالِاضْطِرَارِ مِنْ دِينِ الْإِسْلَامِ وَقَدْ دَلَّ عَلَيْهِ الْكِتَابُ وَالسُّنَّةُ وَالْإِجْمَاعُ فَمَنْ خَالَفَ ذَلِكَ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْبِدَعِ

      Syaikh Ibnu Taimiyyah rahimahullohu ta’aala ditanya tentang Firman Alloh Swt, (“Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39) dan hadits (“Ketika anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”) adakah kedua nash tsb menunjukkan “jika seseorang telah meninggal maka tak sesuatupun sampai padanya dari perbuatan-perbuatan baik?”

      Maka Syaikh Ibnu Taimiyyah menjawab :

      “Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin, Tidak ada ayat dan juga hadits (yang menyatakan) bahwa mayyit tidak beroleh kemanfaatan dari do’a makhluk dan juga dari amal kebaikan untuknya, bahkan para Imam umat Islam sepakat berolehnya manfaat bagi mayyit dengan itu semua, dan masalah ini adalah termasuk perkara yang diketahui dari islam secara pasti, dan sungguh al qur’an , as sunnah dan ijma’ telah menunjukkan itu semua. Maka barangsiapa menyelisihinya maka dia termasuk ahli bid’ah.” (Majmu’ Al Fatawa Ibni Taimiyyah)

      Selanjutnya Syaikh Ibnu Taimiyyah menunjukkan hujjah dan alasan beliau yang kami simpulkan terkumpul 21 hujjah, Insya Alloh akan kami sampaikan lain waktu.

      1. Mas @bu Hilya

        saat ini, yg dipermasalahkan oleh saudari ummu abdillah adalah membaca Al-Qur’an di kuburan. Setahu saya, membaca Al-Qur’an di kuburan, oleh sebagian ulama di hukumkan makruh. sedangkan saudari ummu abdillah mengatakan makruh (tahrim). yg menjadi pertanyaan saya untuk ummu abdillah adalah kalimat tahrim, apakah hal tersebut merupakan tambahan dari saudari ummu abdillah atau siapa?

        kemudian saudari kita ini mengatakan bahwa hadist hadist yg berkaitan dengan pembacaan Al-Qur’an di kuburan adalah dhaif (walaupun ada yg menghasankannya), sedangkan, setahu saya hadist dhaif dapat digunakan untuk keutamaan amal. hadist dhaif yg diriwayatkan oleh banyak jalur, dan saling menguatkan, maka derajatya naik menjadi hasan lighairi dan dapat di jadikan hujjah.

        KESIMPULAN SAYA, BILA MEREKA MENOLAK PEMBACAAN AL-QUR’AN DIKUBURAN DENGAN MENGATAKANNYA SEBAGAI MAKRUH (TAHRIM?), YA SILAHKAN.

        BILA MEREKA MENGINGKARI SAMPAINYA PAHALA BACAAN AL-QUR’AN DARI YG HIDUP KEPADA MAYYIT, YA SILAHKAN.

        SARAN SAYA, SEBELUM MEREKA MENINGGAL DUNIA, JANGAN LUPA DI WASIATKAN KEPADA KELUARGA, JANGAN KIRIMI SAYA HADIAH PAHALA BACAAN AL-QUR’AN. JIKA KALIAN ZIARAH, JANGAN MEMBACA AL-QUR’AN DI KUBURAN SAYA.

        1. Bismillah,

          @Mas Agung, semoga Alloh mengkaruniakan keteguhan pada kita semua…

          selanjutnya mari kita tunggu jawaban saudari kita Ummu Abdillah tentang “Wushulnya Ihda’uts Tsawab” dulu, baru berlanjut kemasalah berikutnya agar tidak kabur…

        2. Untuk Saudaraku Mas @bu Hilya dan Mas Agung :

          Saya ikut menyimak diskusi saudara-saudaraku dengan saudari Ummu Abdillah. Hanya sekali lagi mengingatkan saudari Ummu Abdillah ini mengambil qaul para ulama Mazhab, padahal dia tidak mengaku bermazhab, tapi bermanhaj salafi dan wahabi. Qaul ulama Mazhab yang dia bawakan kebanyakan yang dibahas di kalangan Salafi Wahabitapi dengan tujuan dilemahkan. Saya berani mengatakan begitu karena dua hal : dia menyarankan mencari pembahasan hadits dan qaul di google, dan yang kedua pembahasan yang dia bawa kemari saya temukan di beberapa situs Salafy Wahabi dan isinya persis. Jadi saya yakin pemahaman dia secara akal. Sedangkan kita pemahamannya secara ijma’ ulama dari kitab ulama-ulama yang mu’tabar.

          Saya sangat setuju langkah Mas @bu Hilya yang justru menyampaikan fatwa dari ulama mereka sendiri, seperti pendapat Imam Ibnu Taymiah dan lain-lain yang justru mendukung pendapat ulama salaf Ahlus Sunnah Wal Jamaah.Hal ini, jika mereka memang murni menggunakan akal, akan menjadikan mereka mengalami distorsi pemikiran dengan penyerangan mereka menggunakan pendapat ulama mazhab. Jadi kelicikan dan kekotoran cara mereka itu, kita hadapi dan hadapkan mereka atas rujuknya beberapa ulama mereka sendiri.

          Kebenaran hakiki hanya milik Allah
          Hamba Allah yang dhaif dan faqir
          Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    5. @Ummu Abdillah

      Jarir mendatangi ‘Umar, kemudian ‘Umar berkata : “Apakah kamu sekalian suka meratapi mayit ?”. Jarir menjawab : “Tidak”. ‘Umar berkata : “Apakah diantara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan memakan hidangannya ?”. Jarir menjawab : “Ya”. ‘Umar berkata : “Hal itu sama dengan niyahah (meratapi mayit)”.

      maksudnya adalah jika keluarga mayyit membuat makanan untuk dihidangkan kepada para hadirin tersebut dengan tujuan tujuan al Fakhr ; berbangga diri supaya orang mengatakan bahwa mereka pemurah dan dermawan atau makanan tersebut disajikan kepada perempuan-perempuan agar menjerit-jerit, meratap sambil menyebutkan kebaikan-kebaikan mayit, karena inilah yang biasa dilakukan oleh orang-orang di masa jahiliyah, mereka yang tidak beriman kepada akhirat itu. Dan inilah Niyahah yang termasuk perbuatan orang-orang di masa jahiliyyah dan dilarang oleh Nabi shallallahu ‘alayhi wasallam .

  47. @Ummu Abdillah

    SAMPAINYA PAHALA BACAAN AL-QURAN KEPADA MAYYIT

    Hadits tentang wasiat Ibnu Umar ra yang tertulis dalam syarah Aqidah Thahawiyah
    “Dari Ibnu Umar ra: “Bahwasanya beliau berwasiat agar di atas kuburnya nanti sesudah pemakaman dibacakan awal-awal surat al-Baqarah dan akhirnya..”.

    Hadits ini menjadi pegangan Muhammad bin Hasan dan Imam Ahmad bin Hanbal padahal Imam Ahmad ini sebelumnya termasuk orang yang meng- ingkari sampainya pahala amalan dari orang yang hidup pada orang yang telah mati. Namun setelah beliau mendengar dari orang-orang kepercayaan tentang wasiat Ibnu Umar ini beliaupun mencabut pengingkarannya itu (Mukhtasar Tazkirah Qurtubi)

    Hadits dari Ibnu Umar ra. bahwa Rasulallah saw.bersabda: ”Jika mati seorang dari kamu, maka janganlah kamu menahannya dan segeralah mem- bawanya kekubur dan bacakanlah Fatihatul Kitab disamping kepalanya”. (HR. Thabrani dan Baihaqi)

    Abu Hurairah ra.meriwayatkan bahwasanya Nabi saw. bersabda:
    “Barangsiapa yang berziarah di kuburan, kemudian ia membaca ‘Al-Fatihah’, ‘Qul Huwallahu Ahad’ dan ‘Alhaakumut takatsur’, lalu ia berdo’a Ya Allah, kuhadiahkan pahala pembacaan firman-Mu pada kaum Mu’minin dan Mu’minat penghuni kubur ini, maka mereka akan menjadi penolong baginya (pemberi syafa’at) pada hari kiamat”.

    ‘Bacalah Yaa Siin bagi orang-orang yang (akan atau telah) meninggal diantara kalian (muslimin)’.
    Riwayat serupa oleh Abu Hurairah ra juga telah dicatat oleh Abu Ya’la dalam Musnad beliau dan Hafidz ibn Katsir telah mengklasifikasikan rantai periwayatnya (sanadnya) sebagai Hasan/baik

    Ma’aqal ibn Yassaar ra meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda;
    “Yasin adalah kalbu (hati) dari Al-Quran. Tak seorang pun yang membaca- nya dengan niat menginginkan Akhirat melainkan Allah akan mengampuni- nya. Bacalah atas orang-orang yang (akan dan telah) wafat diantaramu.” (Sunan Abu Dawud). Imam Hakim mengklasifikasikan hadits ini sebagai Shohih

    Al-Baihaqi dalam Sya’bul Iman menjelaskan sebuah hadits riwayat Mi’qal bin Yasar bahwa Rasulallah saw. bersabda:
    “Barangsiapa membaca Yaa Sin semata-semata demi keridhaan Allah, ia memperoleh ampunan atas dosa-dosanya yang telah lalu. Karena itu hendaklah kalian membacakan Yaa Sin bagi orang yang (akan atau telah) wafat diantara kalian (muslimin)”. (Hadits ini disebutkan juga dalam Al-Jami’us Shaghier dan Misykatul Mashabih).

    Ma’aqal ibn Yassaar ra meriwayatkan bahwa Rasulallah saw. bersabda;
    “Barangsiapa lewat melalui kuburan, kemudian ia membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’ sebelas kali dengan niat menghadiahkan pahalanya pada para penghuni kubur, ia sendiri akan memperoleh pahala sebanyak orang yang mati disitu (atau mendapat pahala yang diperoleh semua penghuni kubur)”.

    Dari Ibnu Abbas, Rasulullah saw. Bersabda :
    “Barangsiapa yang menolong mayyit dengan bacaan Al-Qur’an atau dzikir, maka ia diwajibkan Allah swt. Masuk surga”. (HR. Imam Nasa-i imam Daramy)

    Nabi Muhammad saw. Bersabda :
    “Shadaqahlah kalian untuk diri kalian sendiri, untuk mayit mayit kalian, sekalipun hanya seteguk air. Bilamana tidak mampu memberikan seteguk air, maka bacakan ayat suci Al-qur’an. Bilamana sedikitpun tidak bisa membaca Al-Qur’an, maka berdo’alah kalian untuk mayyit dengan do’a pengampunan dan rahmat. Sesungguhnya Allah swt itu menepati janjiNya mengabulkan setiap permintaan”. (Hadist dalam kitab Tanqihul Qaul)

    “Imam Ahmad bin Hanbal; ulama-ulama dalam madzhab Hanafi, Maliki Dan masih banyak lagi ulama-ulama berbeda madzhab yang membenarkan hadiah pahala bacaan Al-Qur’an.

    1. @Ummu Abdillah

      Diatas, saya sudah menjelaskan mengenai pembacaan Al-Qur’an kepada mayyit dalam mazhab syafi’i. Silahkan di baca.

      Yg menjadikan Istihsan sebagai pegangan adalah golongan Hanafiyah. Apa pengertian Istihsan dalam golongan Hanafiyah? trm kasih.

    2. Bismillah,

      @Mas Derajad, alhamdulillah dan semoga Alloh meneguhkan langkah kita semua… salam buat keluarga anda semua, dan kalau anda berkesempatan mohonkan do’a pada Guru anda buat kami dan segenap barisan Aswaja terutama yang aktif diblog ini agar Alloh senantiasa memberikan bimbingan buat kita semua supaya kehadiran kita disini bermanfaat….

  48. @Ummu Abdillah

    Pahala Bacaan Al-Qur’an dalam mazhab syafi’i

    Imam Syafi’I memiliki dua qaul, qaul qadim dan qaul jadid (pendapat yg lama dan pendapat yg baru). Pernyataan tidak sampai, termuat dalam qaul qadim (pendapat lama), dan qaul jadid (pendapat baru) menyatakan sampai.

    Berkata Imam Nawawi : “Barangsiapa yang ingin berbakti pada ayah ibunya maka ia boleh bersedekah atas nama mereka (kirim amal sedekah untuk mereka), dan sungguh pahala shadaqah itu sampai pada mayyit dan akan membawa manfaat atasnya tanpa ada ikhtilaf diantara muslimin, inilah pendapat terbaik, mengenai apa – apa yang diceritakan pimpinan Qadhiy Abul Hasan Almawardiy Albashriy Alfaqiihi Assyafii mengenai ucapan beberapa Ahli Bicara (semacam wahabiy yang hanya bisa bicara tanpa ilmu) bahwa mayyit setelah wafatnya tak bisa menerima pahala, maka pemahaman ini Batil secara jelas dan kesalahan yg diperbuat oleh mereka yang mengingkari nash – nash dari Alqur’an dan Alhadits dan Ijma ummat ini, maka tak perlu ditolelir dan tak perlu diperdulikan. Namun mengenai pengiriman pahala shalat dan puasa, maka madzhab Syafii dan sebagian ulama mengatakannya tidak sampai kecuali shalat dan puasa yang wajib bagi mayyit, maka boleh di Qadha oleh wali nya atau orang lain yang diizinkan oleh walinya, maka dalam hal ini ada dua pendapat dalam Madzhab Syafii, yang lebih masyhur hal ini tak sampai, namun pendapat kedua yang lebih shahih mengatakan hal itu sampai. Mengenai pahala Alqur’an menurut pendapat yang masyhur dalam madzhab Syafii bahwa tak sampai pada mayyit, namun adapula pendapat dari sahabat sahabat Syafii yang mengatakannya sampai, dan sebagian besar ulama mengambil pendapat bahwa sampainya pahala semua macam ibadah, berupa shalat, puasa, bacaan Alqur’an, ibadah dan yang lainnya, sebagaimana diriwayatkan dalam shahih Bukhari pada Bab : “Barangsiapa yang wafat dan atasnya nadzar” bahwa Ibn Umar memerintahkan seorang wanita yang wafat ibunya yang masih punya hutang shalat agar wanita itu membayar (meng qadha) shalatnya, dan dihikayatkan oleh Penulis kitab Al Hawiy, bahwa Atha bin Abi Ribah dan Ishaq bin Rahawayh bahwa mereka berdua mengatakan bolehnya shalat dikirim untuk mayyit, Telah berkata Syeikh Abu Sa’ad Abdullah bin Muhammad bin Hibatullah bin Abi Ishruun dari kalangan kita (berkata Imam nawawi dengan ucapan : “kalangan kita” maksudnya dari madzhab syafii) yang muta’akhir (dimasa Imam Nawawi) dalam kitabnya Al Intisharilaa Ikhtiyar bahwa hal ini seperti ini. (sebagaimana pembahasan diatas), berkata Imam Abu Muhammad Al Baghawiy dari kalangan kita dalam kitabnya At Tahdzib : Tidak jauh bagi mereka untuk memberi satu Mudd untuk membayar satu shalat (shalat mayyit yang tertinggal) dan ini semua izinnya sempurna, dan dalil mereka adalah Qiyas atas Doa dan sedekah dan haji (sebagaimana riwayat hadist – hadits shahih) bahwa itu semua sampai dengan pendapat yang sepakat para ulama. (Syarh Nawawi Ala Shahih Muslim)

    Maka jelaslah sudah bahwa Imam Nawawi menjelaskan dalam hal ini ada dua pendapat, dan yang lebih masyhur adalah yang mengatakan tak sampai, namun yang lebih shahih mengatakannya sampai, tentunya kita mesti memilih yang lebih shahih, bukan yang lebih masyhur, Imam nawawi menjelaskan bahwa yang shahih adalah yang mengatakan sampai, walaupun yang masyhur mengatakan tak sampai, berarti yang masyhur itu dhoif, dan yang shahih adalah yang mengatakan sampai, dan Imam Nawawi menjelaskan pula bahwa sebagian besar ulama mengatakan semua amal apahal sampai.

    “Sungguh sedekah untuk dikirimkan pada mayyit akan membawa manfaat bagi mayyit dan akan disampaikan padanya pahalanya, demikian ini pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, demikian pula mereka telah sepakat atas sampainya doa – doa, dan pembayaran hutang (untuk mayyit) dengan nash – nash yang teriwayatkan masing masing, dan sah pula haji untuk mayyit bila haji muslim, Demikian pula bila ia berwasiat untuk dihajikan dengan haji yang sunnah, demikian pendapat yang lebih shahih dalam madzhab kita (Syafii), namun berbeda pendapat para ulama mengenai puasa, dan yang lebih benar adalah yang membolehkannya sebagaimana hadits – hadits shahih yang menjelaskannya, dan yang masyhur dikalangan madzhab kita bahwa bacaan Alqur’an tidak sampai pada mayyit pahalanya, namun telah berpendapat sebagian dari ulama madzhab kita bahwa sampai pahalanya, dan Imam Ahmad bin Hanbal berpegang pada yang membolehkannya” (Syarh Imam Nawawi ala Shahih Muslim)

    Dan dijelaskan pula dalam Almughniy :
    “Tidak ada larangannya membaca Alqur’an dikuburan , dan telah diriwayatkan dari Ahmad bahwa bila kalian masuk pekuburan bacalah ayat Alkursiy, lalu Al Ikhlas 3X, lalu katakanlah : Wahai Allah, sungguh pahalanya untuk ahli kubur”. Dan diriwayatkan pula bahwa bacaan Alqur’an di kuburan adalah Bid’ah, dan hal itu adalah ucapan Imam Ahmad bin Hanbal, lalu muncul riwayat lain bahwa Imam Ahmad melarang keras hal itu, maka berkatalah padanya Muhammad bin Qudaamah : Wahai Abu Abdillah (nama panggilan Imam Ahmad), apa pendapatmu tentang Mubasyir (seorang perawi hadits), Imam Ahmad menjawab : Ia Tsiqah (kuat dan terpercaya riwayatnya), maka berkata Muhammad bin Qudaamah sungguh Mubasyir telah meriwayatkan padaku dari ayahnya bahwa bila wafat agar dibacakan awal surat Baqarah dan penutupnya, dan bahwa Ibn Umar berwasiat demikian pula!”, maka berkata Imam Ahmad :”katakan pada orang yang tadi ku larang membaca Alqur’an dikuburan agar ia terus membacanya lagi..”. (Al Mughniy)

    Dan dikatakan dalam Syarh Al Kanz :
    “dijelaskan pada syarah Al Kanz, Sungguh boleh bagi seseorang untuk mengirim pahala amal kepada orang lain, shalat kah, atau puasa, atau haji, atau shadaqah, atau Bacaan Alqur’an, dan seluruh amal ibadah lainnya, dan itu boleh untuk mayyit dan itu sudah disepakati dalam Ahlussunnah waljamaah. Namun hal yang terkenal bahwa Imam Syafii dan sebagian ulamanya mengatakan pahala pembacaan Alqur’an tidak sampai, namun Imam Ahmad bin Hanbal, dan kelompok besar dari para ulama, dan kelompok besar dari ulama syafii mengatakannya pahalanya sampai, demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar, Dan dijelaskan dalam Syarh Al Minhaj oleh Ibn Annahwiy : “tidak sampai pahala bacaan Alqur’an dalam pendapat kami yang masyhur, dan maka sebaiknya adalah pasti sampai bila berdoa kepada Allah untuk memohon penyampaian pahalanya itu, Dan selayaknya ia meyakini hal itu karena merupakan doa, karena bila dibolehkan doa tuk mayyit, maka menyertakan semua amal itu dalam doa tuk dikirmkan merupakan hal yang lebih baik, dan ini boleh tuk seluruh amal, dan doa itu sudah Muttafaq alaih (tak ada ikhtilaf) bahwa doa itu sampai dan bermanfaat pada mayyit bahkan pada yang hidup, keluarga dekat atau yang jauh, dengan wasiat atau tanpa wasiat, dan dalil ini dengan hadits yang sangat banyak”. (Naylul Awthar lil Imam Assyaukaniy, Al majmu’ Syarh Muhadzab lil Imam Nawawiy)

    Kesimpulannya bahwa hal ini merupakan ikhtilaf ulama, ada yang mengatakan pengiriman amal pada mayyit sampai secara keseluruhan, ada yang mengatakan bahwa pengiriman bacaan Alqur’an tidak sampai, namun kesemua itu bila dirangkul dalam doa kepada Allah untuk disampaikan maka tak ada ikhtilaf lagi. Dan kita semua dalam tahlilan itu pastilah ada ucapan : Allahumma awshil, tsawabaa maa qaraa’naa minalqur’anilkarim… dst (Wahai Allah, sampaikanlah pahala apa – apa yang kami baca, dari alqur’anulkarim…dst). Maka jelaslah sudah bahwa Imam Syafii dan seluruh Imam Ahlussunnah waljamaah tak ada yang mengingkarinya dan tak adapula yang mengatakannya tak sampai.

  49. @ ust. agung

    ini adalah tahrij atsar Ibnu umar..dan asar ini adalah lemah..

    Tersebut dalam kitab Syarh Al-‘Aqiidah Ath-Thahawiyyaholeh Ibnu Abil-‘Izz Al-Hanafiy rahimahullah hal. 675 (tahqiq, takhrij & ta’liq : ‘Abdullah bin ‘Abdil-Muhsin At-Turkiy & Syu’aib Al-Arna’uth; Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 9/1417 H), bahwa Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa berwasiat agar dibacakan surat Al-Baqarah setelah kematiannya. Berikut teks yang ada dalam kitab tersebut :

    استدلوا بما نقل عن ابن عمر رضي الله عنه : أنه أوصى أن يقرأ على قبره وقت الدفن بفواتح سورة البقرة وخواتمها

    “Mereka beristidlaal dengan riwayat yang ternukil dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya ia pernah berwasiat agar dibacakan di atas kuburnya bagian awal dan akhir surat Al-Baqarah pada waktu penguburan” [selesai].
    An-Nawawiy rahimahullah berkata :

    وروينا في سنن البيهقي بإسناد حسن؛ أن ابن عمر استحبَّ أن يقرأ على القبر بعد الدفن أوّل سورة البقرة وخاتمتها‏.

    “Dan kami telah meriwayatkan dalam Sunan Al-Baihaqiy dengan sanad hasan, bahwasannya Ibnu ‘Umar menyukai agar dibacakan di atas kubur setelah penguburan bagian awal dan akhir surat Al-Baqarah” [Al-Adzkaar, hal. 137, tahqiq : ‘Abdul-Qaadir Al-Arna’uth; terbitan khusus untuk Dr. Muhammad Fayyaadl Al-Baaruudiy, Daarul-Mallaah, 1391 H].
    Penghasanan riwayat oleh An-Nawawiy rahimahullah tersebut perlu ditinjau kembali. Berikut riwayat yang dibawakan oleh Al-Baihaqiy dalam Al-Kubraa :

    أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ، ثنا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: سَأَلْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ عَنِ الْقِرَاءَةِ عِنْدَ الْقَبْرِ، فَقَالَ حَدَّثَنَا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْحَلَبِيُّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْعَلاءِ بْنِ اللَّجْلاجِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّهُ قَالَ لِبَنِيهِ: ” إِذَا أَدْخَلْتُمُونِي قَبْرِي فَضَعُونِي فِي اللَّحْدِ وَقُولُوا: بِاسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسُنُّوا عَلَيَّ التُّرَابَ سَنًّا، وَاقْرَءُوا عِنْدَ رَأْسِي أَوَّلَ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتَهَا فَإِنِّي رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَسْتَحِبُّ ذَلِكَ ”

    Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Al-Haafidh : Telah menceritakan kepada kami Abul-‘Abbaas Muhammad bin Ya’quub : Telah menceritakan kepada kami Al-‘Abbaas bin Muhammad, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada Yahyaa bin Ma’iin tentangqiraa’ah di sisi kubur, maka ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Mubasysyir bin Ismaa’iil Al-Halabiy, dari ‘Abdurrahmaan bin Al-‘Alaa’ bin Al-Lajlaaj, dari ayahnya, bahwasannya ia pernah berkata kepada anak-anaknya : “Apabila kalian memasukkan aku ke kuburku, maka letakkanlah aku dalam liang lahad dan ucapkanlah : ‘bismillaahi wa ‘alaa sunnati Rasuulillah shallallaahu ‘alaihi wa sallam’. Lalu letakkanlah di atas (mayat)-ku tanah, dan bacalah di atas kepalaku awal dan akhir surat Al-Baqarah. Karena sesungguhnya aku melihat Ibnu ‘Umar menyukai hal tersebut” [As-Sunan Al-Kubraa, 4/56-57].
    Diriwayatkan juga oleh Al-Laalikaa’iy dalam Syarh Ushuulil-I’tiqaad[1] no. 2174, Al-Khallaal dalam Al-Qiraa’atu ‘indal-Qubuur[2] no. 1 & 3 dan dalam Al-Amru bil-Ma’ruuf wan-Nahyi ‘anil-Munkar[3] hal. 123 & 124-125, dan Ad-Diinawariy dalam Al-Mujaalasah[4] no. 757; semuanya dari jalan Mubasysyir bin Ismaa’iil, dari ‘Abdurrahmaan bin Al-‘Alaa’ bin Al-Lajlaaj, dan selanjutnya seperti riwayat Al-Baihaqiy.[5]
    Riwayat ini lemah dengan sebab ‘Abdurrahmaan bin Al-‘Alaa’ bin Al-Lajlaaj, majhuul. Tidak ada yang mentsiqahkannya kecuali Ibnu Hibbaan yang memasukkannya dalam Ats-Tsiqaat dan berkata : “Termasuk penduduk Syaam, meriwayatkan dari ayahnya, dan darinya Mubasysyir Al-‘Aamiriy Asy-Syaamiy”. Al-Bukhaariy menyebutkannya dalam Al-Kabiir tanpa memberikan penilaian jarh ataupun ta’diil. Sementara itu hanya ada satu orang perawi yang meriwayatkan darinya (yaitu Mubasysyir). Tautsiq Ibnu Hibbaan tidaklah mu’tamad karena ia dikenal sebagai ulama yang tasaahul mentautsiq para perawimajhuul. Oleh karena itu Ibnu Hajar dalam At-Taqriib menyimpulkan : “Maqbuul” – yaitu jika ada mutaba’ah, jika tidak, maka dla’iif. Dan di sini, ia tidak mempunyai mutaba’ahyang memadai.
    Ada ‘illat lain yang (semakin) menjatuhkan riwayat ini. Diriwayatkan juga secara marfuu’oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir[6] 19/220-221 no. 491 dari tiga jalan, semuanya dari Mubasysyir bin Ismaa’iil, dari ‘Abdurrahmaan bin Al-‘Alaa’ bin Al-Lajlaaj, dan selanjutnya seperti riwayat Al-Baihaqiy.
    Adanya perbedaan ini sangat besar kemungkinannya berasal dari ‘Abdurrahmaan bin Al-‘Alaa’ yang sekaligus menandakan kredibilitas hapalannya diragukan.
    [Namun jika di-tarjih dari riwayat-riwayat yang ada, yang kuat adalah jalur mauquf.Wallaahu a’lam].
    Kemudian,….. ada satu kisah menarik yang perlu disampaikan terkait riwayat ini (setidaknya bagi saya pribadi – Abul-Jauzaa’), yaitu bagaimana sikap Al-Imaam Ahmad dalam masalah pembacaan Al-Qur’an di sisi kubur (silakan lihat riwayat panjang yang disampaikan oleh Al-Khallaal dalam catatan kaki no. 2 dan 3).
    Satu ketika ‘Aliy bin Muusaa Al-Haddaad pernah bersama Al-Imaam Ahmad dan Muhammad bin Qudaamah Al-Jauhariy menyaksikan jenazah. Setelah jenazah tersebut dikubur, ada seorang laki-laki buta yang membaca Al-Qur’an di samping kubur. Melihat hal tersebut, Al-Imaam Ahmad berkata : “Hai, sesungguhnya membaca Al-Qur’an di samping kubur itu bid’ah”. Ketika Al-Imaam Ahmad dan Muhammad bin Qudaamah Al-Jauhariy keluar dari komplek pekuburan, berkatalah Muhammad kepada Al-Imaam Ahmad : “Wahai Abu ‘Abdillah, apa pendapatmu tentang Mubasysyir Al-Halabiy ?”. Beliau menjawab : “tsiqah”. Muhammad berkata : “Apakah aku menulis darinya sesuatu ?”. ‘Aliy menjawab : “Ya”. Muhammad berkata : “Telah mengkhabarkan kepadaku Mubasysyir, dari ‘Abdurrahmaan bin Al-‘Alaa’ bin Al-Lajlaaj, dari ayahnya bahwasannya ia pernah berwasiat apabila ia dikuburkan agar dibacakan awal dan akhir surat Al-Baqarah, karena ia mendengar Ibnu ‘Umar juga berwasiat demikian”. Mendengar itu Ahmad berkata : “Kembalilah, lalu katakan kepada orang tersebut agar membacanya”.
    Sayangnya, sanad kisah ini sampai Al-Imaam Ahmad dari jalur Al-Hasan bin Ahmad Al-Warraaq adalah lemah[7]; begitu pula jalur Abu Bakr bin Shadaqah (Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdillah bin Shadaqah Al-Baghdadiy).[8]
    Membaca Al-Qur’an di samping kubur menurut Ahmad adalah perbuatan bid’ah karena tidak ada contohnya dari salaf, inilah yang shahih dari beliau rahimahullah sependek pengetahuan kami; berdasarkan riwayat :
    سألت أبا عبد الله عن : القراءة على القبر ؟، قال : القراءة على القبر بدعة
    Aku pernah bertanya kepada Abu ‘Abdillah tentang qiraa’at di atas kubur ?. Beliau menjawab : “Qiraa’at di atas kubur adalah bid’ah” [Masaail Al-Imaam Ahmad Riwaayat Ishaaq bin Ibraahiim An-Naisaabuuriy, 1/190 no. 946; shahih].
    قَالَ الدُّورِيُّ: سَأَلْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ قُلْتُ: تَحْفَظُ فِي الْقِرَاءَةِ عَلَى الْقُبُورِ شَيْئًا، فَقَالَ: لا.
    Telah berkata Ad-Duuriy : Aku pernah bertanya kepada Ahmad bin Hanbal, aku berkata : “Apakah engkau menghapal riwayat tentang qiraa’at di atas kubur ?”. Ia menjawab : “Tidak” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam Al-Amru dan Al-Qiraa’aat; shahih].
    Idem dengan Al-Imaam Ahmad adalah Al-Imaam Abu Haniifah dan Al-Imaam Maalikrahimahullaah. Berkata Mahmuud As-Subkiy rahimahullah :
    يكره تحريمًا عند النعمان ومالك قراءة القرآن عند القبر ؛ لأنه لم يصح فيها شيء عن النبي صلى الله عليه وسلم ، وليس من عمل السلف، بل كان عملهم التصدق والدعاء لا القراءة
    “Makruh dengan makna haram menurut An-Nu’maan (Abu Haniifah) dan Maalik membaca Al-Qur’an di sisi kubur, karena perbuatan tersebut tidak dilandasi satupun riwayat dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula dari amal salaf. Akan tetapi amal yang mereka lakukan adalah bershadaqah (atas nama mayit) dan berdoa, bukan membaca Al-Qur’an” [Ad-Diinul-Khaalish].
    Ibnu Abi Jamrah rahimahullah berkata :
    مَذْهَبُ مَالِكٍ كَرَاهَةُ الْقِرَاءَةِ عَلَى الْقُبُورِ
    “Madzhab Maalik adalah makruh membaca Al-Qur’an di sisi kubur” [selengkapnya tentang bahasan madzhab Maalik dan Maalikiyyah bisa dibaca di :http://www.attaweel.com/vb/t26185.html%5D.
    Kebalikan dari Al-Imaam Abu Haniifah, Al-Imaam Maalik, dan Al-Imaam Ahmad adalah Al-Imaam Asy-Syaafi’iy rahimahumallah :
    أَخْبَرَنِي رَوْحُ بْنُ الْفَرَجِ، قَالَ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ بْنَ الصَّبَّاحِ الزَّعْفَرَانِيَّ، يَقُولُ: ” سَأَلْتُ الشَّافِعِيَّ عَنِ الْقِرَاءَةِ عِنْدَ الْقَبْرِ، فَقَالَ: لا بَأْسَ بِهِ ”
    Telah mengkhabarkan kepadaku Rauh bin Al-Faraj, ia berkata : Aku mendengar Al-Hasan bin Ash-Shabbaah Az-Za’faraaniy berkata : Aku pernah bertanya kepada Asy-Syaafi’iy tentang membaca Al-Qur’an di sisi/samping kubur, maka ia menjawab : “Tidak mengapa dengannya” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam Al-Amru hal. 126; shahih].
    Rauh bin Al-Faraj Al-Bazzaaz, seorang yang tsiqah [Tahriirut-Taqriib, 1/406-407 no. 1965]. Al-Hasan bin Ash-Shabbaah Az-Za’faraaniy adalah seorang yang tsiqah [idem, 1/279-280 no. 1281].
    Ibnu Abil-‘Izz Al-Hanafiy rahimahullah mencoba meringkas bagaimana madzhab empat imam sebagai berikut :
    واختلف العلماء في قراءة القرآن عند القبور، على ثلاثة أقوال : هل تكره ، أم لا بأس بها وقت الدفن ، وتكره بعده ؟ فمن قال بكراهتها ، كأبي حنيفة و مالك و أحمد في رواية – قالوا : لأنه محدث ، لم ترد به السنة ، والقراءة تشبه الصلاة ، والصلاة عند القبور منهي عنها ، فكذلك القراءة. ومن قال : لا بأس بها ، كمحمد بن الحسن و أحمد في رواية – استدلوا بما نقل عن ابن عمر رضي الله عنه : أنه أوصى أن يقرأ على قبره وقت الدفن بفواتح سورة البقرة وخواتمها. ونقل أيضاً عن بعض المهاجرين قراءة سورة البقرة . ومن قال : لا بأس بها وقت الدفن فقط ، وهو رواية عن أحمد – أخذ بما نقل عن عمر وبعض المهاجرين . وأما بعد ذلك ، كالذين يتناوبون القبر للقراءة عنده – فهذا مكروه ، فإنه لم تأت به السنة ، ولم ينقل عن أحد من السلف مثل ذلك أصلاً
    “Para ulama berselisih tentang hukum membaca Al-Qur’an di sisi kubur menjadi tiga pendapat : Apakah itu (1) dimakruhkan, (2) diperbolehkan pada waktu pengkuburan dan dimakruhkan setelahnya ?. Ulama yang mengatakan kemakruhannya adalah Abu Haniifah, Maalik, dan Ahmad dalam satu riwayat. Mereka berkata : ‘Karena hal tersebut adalahmuhdats/bid’ah, tidak ada contohnya dalam sunnah. Qiraa’at itu menyerupai shalat, sedangkan shalat di sisi kubur adalah terlarang. Begitu juga dengan qiraa’at (yang juga terlarang)’. Ulama yang mengatakan kebolehannya adalah Muhammad bin Al-Hasan dan Ahmad dalam satu riwayat. Mereka berdalil dengan riwayat yang ternukil dari Ibnu ‘Umarradliyallaahu ‘anhu : Bahwasannya ia pernah berwasiat agar dibacakan di atas kuburnya bagian awal dan akhir surat Al-Baqarah pada waktu penguburan. Dan dinukil juga dari sebagian Muhaajirin tentang qiraa’at surat Al-Baqarah. (3) Adapun ulama yang membolehkan membaca Al-Qur’an hanya pada waktu penguburan saja, maka ia adalah satu riwayat dari Ahmad yang mengambil riwayat yang ternukil dari ‘Umar dan sebagian Muhaajiriin. Adapun pembacaan Al-Qur’an setelah itu seperti orang-orang yang bergantian membaca Al-Qur’an di sisi kubur, maka ini makruh, karena perbuatan tersebut tidak ada dasarnya dalam sunnah, dan tidak pula ternukil satupun dari kalangan salaf perbuatan semisal itu” [Syarh Al-‘Aqiidah Ath-Thahawiyyah, hal. 675-676].
    Akhirnya yang ingin saya katakan adalah bahwa permasalahan membaca Al-Qur’an di sisi kubur adalah permasalahan yang diperselisihkan para ulama madzhab, termasuk di antaranya imam empat. Ini adalah perselisihan yang mu’tabar. Akan tetapi, yang raajihadalah pendapat yang menyatakan kemakruhannya (tahriim). Dalilnya adalah :
    حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ، حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقَارِيُّ، عَنْ سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ، إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِي تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ ”
    Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa’iid : Telah menceritakan kepada kami Ya’quub, ia adalah Ibnu ‘Abdirrahmaan Al-Qaariy, dari Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah : Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Janganlah kalian menjadikan rumah-rumah kalian sebagai kubur. Sesungguhnya syaithan akan lari dari rumah yang dibacakan padanya surat Al-Baqarah” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 780].
    Sisi pendalilannya adalah : Kita diperintahkan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallamuntuk meramaikan rumah kita dengan bacaan Al-Qur’an. Rumah yang tidak dibacakan Al-Qur’an diibaratkan oleh beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam seperti kuburan. Mafhumnya, kuburan (memang) bukan tempat untuk membaca Al-Qur’an dan mengkhatamkannya.
    Wallaahu a’lam.
    Ini saja yang dapat saya tuliskan. Lebih dan kurangnya mohon dihapunteunkeun…
    [abul-jauzaa’ – 1432 H].

    ________________________________________
    [1] Syarh Ushuulil-I’tiqaad (no. 2174) :
    أنا عَلِيُّ بْنُ عُمَرَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ، أنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: نا عَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ: نا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ، قَالَ نا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ الْحَلَبِيُّ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْعَلاءِ بْنِ اللَّجْلاجِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّهُ قَالَ لِوَلَدِهِ: ” إِذَا أَنَا مِتُّ، فَأَدْخَلْتُمُونِي فِي اللَّحْدِ فَهِيلُوا عَلَيَّ التُّرَابَ هَيْلا، وَقُولُوا: بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ، وَسُنُّوا عَلَيَّ التُّرَابَ سَنًّا، وَاقْرَءُوا عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا “، فَإِنِّي سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ يَسْتَحِبُّ ذَلِكَ. وَعَبْدُ اللَّهِ هُوَ ابْنُ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ
    [2] Al-Qiraa’atu ‘indal-Qubuur (no. 1) :
    أَخْبَرَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُبَشِّرٌ الْحَلَبِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلاءِ بْنِ اللَّجْلاجِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: ” إِنِّي إِذَا أَنَا مُتُّ، فَضَعْنِي فِي اللَّحْدِ، وَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ، وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ، وَسُنَّ عَلَيَّ التُّرَابَ سَنًّا، وَاقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَأَوَّلِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا، فَإِنِّي سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ، يَقُولُ ذَلِكَ، قَالَ الدُّورِيُّ: سَأَلْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ قُلْتُ: تَحْفَظُ فِي الْقِرَاءَةِ عَلَى الْقُبُورِ شَيْئًا، فَقَالَ: لا. وَسَأَلْتُ يَحْيَى بْنَ مَعِينٍ، فَحَدَّثَنِي بِهَذَا الْحَدِيثِ
    Al-Qiraa’atu ‘indal-Qubuur (no. 3) :
    وَأَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ الْوَرَّاقُ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ مُوسَى الْحَدَّادُ، وَكَانَ صَدُوقًا، وَكَانَ ابْنُ حَمَّادٍ الْمُقْرِئُ يُرْشِدُ إِلَيْهِ، فَأَخْبَرَنِي، قَالَ: ” كُنْتُ مَعَ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، وَمُحَمَّدِ بْنِ قُدَامَةَ الْجَوْهَرِيِّ فِي جِنَازَةٍ، فَلَمَّا دُفِنَ الْمَيِّتُ جَلَسَ رَجُلٌ ضَرِيرٌ يَقْرَأُ عِنْدَ الْقَبْرِ، فَقَالَ لَهُ أَحْمَدُ: ” يَا هَذَا، إِنَّ الْقِرَاءَةَ عِنْدَ الْقَبْرِ بِدْعَةٌ، فَلَمَّا خَرَجْنَا مِنَ الْمَقَابِرِ، قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ لأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ: يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، مَا تَقُولُ فِي مُبَشِّرٍ الْحَلَبِيِّ؟ قَالَ: ثِقَةٌ، قَالَ: كَتَبْتَ عَنْهُ شَيْئًا؟ قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: فَأَخْبَرَنِي مُبَشِّرٌ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْعَلاءِ بْنِ اللَّجْلاجِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّهُ أَوْصَى إِذَا دُفِنَ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا، وَقَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يُوصِي بِذَلِكَ. فَقَالَ لَهُ أَحْمَدُ: فَارْجِعْ، فَقُلْ لِلرَّجُلِ يَقْرَأْ “، وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ صَدَقَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ عُثْمَانَ بْنَ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الْمَوْصِلِيَّ، قَالَ: كَانَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ فِي جِنَازَةٍ وَمَعَهُ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ الْجَوْهَرِيُّ، قَالَ: فَلَمَّا قُبِرَ الْمَيِّتُ، جَعَلَ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ عِنْدَهُ، فَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ لِرَجُلٍ: تَمُرُّ إِلَى ذَلِكَ الرَّجُلِ الَّذِي يَقْرَأُ، فَقُلْ لَهُ: لا يَفْعَلْ، فَلَمَّا مَضَى، قَالَ لَهُ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ: مُبَشِّرٌ الْحَلَبِيُّ، كَيْفَ هُوَ؟ فَذَكَرَ الْقِصَّةَ بِعَيْنِهَا
    [3] Al-Amru bil-Ma’ruuf (hal. 123) :
    أنا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُغِيرَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُبَشِّرٌ الْحَلَبِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلاءِ بْنِ اللَّجْلاجِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ أَبِي: ” إِذَا أَنَا مُتُّ، فَضَعْنِي فِي اللَّحْدِ، وَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسِنَّ عَلَيَّ التُّرَابَ سَنًّا، وَاقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَأَوَّلِ الْبَقَرَةِ، وَخَاتِمَتِهَا، فَإِنِّي سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ هَذَا ”
    Al-Amru bil-Ma’ruuf (hal. 124-125) :
    وَأَخْبَرَنِي الْحَسَنُ بْنُ أَحْمَدَ الْوَارِقُ قَالَ: حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ مُوسَى الْحَدَّادُ، وَكَانَ صَدُوقًا، وَكَانَ ابْنُ حَمَّادٍ الْمُقْرِئُ يُرْشِدُ إِلَيْهِ، فَأَخْبَرَنِي قَالَ: كُنْتُ مَعَ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، وَمُحَمَّدِ بْنِ قُدَامَةَ الْجَوْهَرِيِّ فِي جَنَازَةٍ، فَلَمَّا دُفِنَ الْمَيِّتُ جَلَسَ رَجُلٌ ضَرِيرٌ يَقْرَأُ عِنْدَ الْقَبْرِ، فَقَالَ لَهُ أَحْمَدُ: ” يَا هَذَا، إِنَّ الْقِرَاءَةَ عِنْدَ الْقَبْرِ بِدْعَةٌ “، فَلَمَّا خَرَجْنَا مِنَ الْمَقَابِرِ، قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ لأَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ: ” يَا أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، مَا تَقُولُ فِي مُبَشِّرٍ الْحَلَبِيِّ؟ قَالَ: ثِقَةٌ “، قَالَ: ” كَتَبْتُ عَنْهُ شَيْئًا؟ قُلْتُ: نَعَمْ “، قَالَ: فَأَخْبَرَنِي مُبَشِّرٌ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْعَلاءِ بْنِ اللَّجْلاجِ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّهُ ” أَوْصَى إِذَا دُفِنَ أَنْ يُقْرَأَ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ، وَخَاتِمَتِهَا، وَقَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يُوصِي بِذَلِكَ “، فَقَالَ أَحْمَدُ: ” ارْجِعْ فَقُلْ لِلرَّجُلِ يَقْرَأُ. .. “. وَأَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ صَدَقَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ عُثْمَانَ بْنَ أَحْمَدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ الْمَوْصِلِيَّ، قَالَ: كَانَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ فِي جَنَازَةٍ وَمَعَهُ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ الْجَوْهَرِيُّ، قَالَ: فَلَمَّا قُبِرَ الْمَيِّتُ جَعَلَ إِنْسَانٌ يَقْرَأُ عِنْدَهُ، فَقَالَ أَبُو عَبْدِ اللَّهِ لِرَجُلٍ: تَمُرُّ إِلَى ذَلِكَ الرَّجُلِ الَّذِي يَقْرَأُ، فَقُلْ لَهُ: لا تَفْعَلْ. فَلَمَّا مَضَى قَالَ لَهُ مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ: مُبَشِّرٌ الْحَلَبِيُّ كَيْفَ هُوَ؟. .فَذَكَرَ الْقِصَّةَ بِعَيْنِهَا
    [4] Al-Mujaalasah (no. 757) :
    حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيٍّ الْوَرَّاقُ، نَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ، نَا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، نَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلَاءِ بْنِ اللَّجْلَاجِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ لِي أَبِي: يَا بُنَيَّ ” إِذَا مُتُّ ؛ فَضَعْنِي فِي اللَّحْدِ، وَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى سُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسُنَّ عَلَيَّ التُّرَابَ سَنًّا، وَاقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ وَخَاتِمَتِهَا “، فَإِنِّي سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ ذَلِكَ
    [5] Riwayat lain dari Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhu yang marfu’ :
    وَأَخْبَرَنِي الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدِ الْكَرِيمِ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَبُو شُعَيْبٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ أَحْمَدَ بْنِ شُعَيْبٍ الْحَرَّانِيُّ، مِنْ كِنَانَةَ قَالَ: حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الضَّحَّاكُ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ بْنُ نَهِيكٍ الْحَلَبِيُّ الزُّهْرِيُّ، مَوْلَى آلِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ: سَمِعْتُ عَطَاءَ بْنَ أَبِي رَبَاحٍ الْمَكِّيَّ، قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” إِذَا مَاتَ أَحَدُكُمْ فَلا تَجْلِسُوا، وَأَسْرِعُوا بِهِ إِلَى قَبْرِهِ، وَلْيُقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِهِ بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ، وَعِنْدَ رِجْلَيْهِ بِخَاتِمَتِهَا فِي قَبْرِهِ ”
    Telah mengkhabarkan kepadaku Al-‘Abbaas bin Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdil-Kariim, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Abu Syu’aib ‘Abdullah bin Al-Husain bin Ahmad bin Syu’aib Al-Harraaniy dari Kinaanah, ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Yahyaa bin ‘Abdillah Adl-Dlahhaak : Telah menceritakan kepada kami Ayyuub bin Nahiik Al-Halabiy maula keluarga Sa’d bin Abi Waqqaash, ia berkata : Aku mendengar ‘Athaa’ bin Abi Rabbaah Al-Makkiy, ia berkata : Aku mendengar Ibnu ‘Umar, ia berkata : Aku mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Apabila salah seorang di antara kalian meninggal, janganlah kalian duduk, bersegeralah kalian dengannya untuk menguburkannya, serta bacakanlah di dekat kepalanya awal surat Al-Baqarah dan di dekat kedua kakinya akhir surat Al-Baqarah di kuburnya” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam Al-Amru hal. 124 dan dalam Al-Qiraa’at no. 2].
    Diriwayatkan pula oleh Ath-Thabaraaniy dalam Al-Kabiir 12/444 no. 13613, Ad-Dailamiy dalam Musnad Firdaus 1/284 no. 1115, dan Al-Baihaqiy dalam Syu’abul-Iimaan no. 9294; semuanya dari jalan Abu Syu’aib ‘Abdullah bin Al-Husain bin Ahmad bin Syu’aib Al-Harraaniy, dan selanjutnya seperti hadits di atas.
    Hadits ini lemah (atau bahkan sangat lemah). Yahyaa bin ‘Abdillah dan Ayyuub bin Nahiik adalah dua orang perawi lemah. Bahkan Ayyuub ini, dikatakan oleh Abu Zur’ah : “Munkarul-hadiits”. Al-Azdiy berkata : “Matruuk” [dari perkataan pentahqiq kitab Al-Amru bil-Ma’ruuf lil-Khallaal, hal. 124].
    [6] Al-Mu’jamul-Kabiir (no. 491) :
    حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي أُسَامَةَ الْحَلَبِيُّ، ثنا أَبِي. ح وَحَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ دُحَيْمٍ الدِّمَشْقِيُّ، ثنا أَبِي. ح وَحَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ التُّسْتَرِيُّ، ثنا عَلِيُّ بْنُ بَحْرٍ، قَالُوا: ثنا مُبَشِّرُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَلاءِ بْنِ اللَّجْلاجِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ لِي أَبِي: ” يَا بُنَيَّ، إِذَا أَنَا مُتُّ فَأَلْحِدْنِي، فَإِذَا وَضَعْتَنِي فِي لَحْدِي، فَقُلْ: بِسْمِ اللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ، ثُمَّ سِنَّ عَلَيَّ الثَّرَى سِنًّا، ثُمَّ اقْرَأْ عِنْدَ رَأْسِي بِفَاتِحَةِ الْبَقَرَةِ، وَخَاتِمَتِهَا، فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَلِكَ ”
    [7] Al-Hasan bin Ahmad Al-Warraaq dan ‘Aliy bin Muusaa Al-Haddaad tidak diketemukan biografinya.
    [8] Abu Bakr bin Shadaqah, namanya adalah Ahmad bin Muhammad bin ‘Abdillah bin Shadaqah Al-Baghdadiy; seorang yang tsiqah. Adapun ‘Utsmaan bin Ahmad bin Ibraahiim Al-Maushiliy belum saya temukan biografinya. Wallaahu a

    tentang tahrij hadist tentang yasin mungkin ust agung bisa serching di google..sumuanya lemah..

    1. @Ummu Abdillah

      boleh saya bertanya, siapa yg mentarjih hal tersebut dan menjatuhkan pendapat Imam Nawawi dan shohibul Mughny? apakah iya seorang mujtahid jg?

    2. @Ummu Abdillah : “tentang tahrij hadist tentang yasin mungkin ust agung bisa serching di google..sumuanya lemah..”

      Agung :di kalangan ahli hadits ada dua kelompok berbeda dalam menyikapi hadits-hadits fadhilah surat Yasin. Pertama, kelompok yang menganggap hadits-hadits tentang fadhilah surat Yasin tidak ada yang shahih, yaitu kelompok Ibn al-Jauzi dalam kitab al-Maudhu’at. Dan kedua, kelompok moderat yang menganggap bahwa hadits-hadits tentang fadhilah surat Yasin ada yang shahih dan hasan, yaitu kelompoknya al- Imam al-
      Hafizh Abu Hatim bin Hibban dalam Shahih-nya, al-Hafizh Ibn Katsir al-Dimasyqi dalam Tafsi-nya, al-Hafizh Jalaluddin al-Suyuthi dalam Tadrib al-Rawi, al-Imam Muhammad bin Ali al-Syaukani dalam tafsir Fath al-Qadir dan al-Fawaid al-Majmu’ah.

      Seandainya Hadits Fadhilah Surat Yasin Dha’if?

      Syaikhul Islam al-
      Imam Hafizh al-’Iraqi berkata:
      “Adapun hadits dha’if yang tidak maudhu’ (palsu), maka para ulama telah memperbolehkan mempermudah dalam sanad dan periwayatannya tanpa menjelaskan kedha’ifannya, apabila hadits tersebut tidak berkaitan dengan hukum dan akidah, akan tetapi berkaitan dengan targhib dan tarhib seperti nasehat, kisah-kisah, fadhail al-a’mal dan lain-lain. Adapun berkaitan dengan hukum-hukum syar’i berupa halal, haram dan selainnya, atau akidah seperti sifat-sifat Allah, sesuatu yang jaiz dan mustahil bagi Allah, maka para ulama tidak melihat kemudahan dalam hal itu. Di antara para imam yang menetapkan hal tersebut adalah Abdurrahman bin Mahdi, Ahmad bin Hanbal, Abdullah bin al-Mubarak dan lain-lain. Ibn Adi telah membuat satu bab dalam mukaddimah kitab al-Kamil dan al-Khathib dalam al-Kifayah mengenal hal tersebut.” (Al-Hafizh al-lraqi, al-Tabshirah wa al-Tadzkirah)

      Hadist mengenai fadhilah surat yasin, seandainya memang dhaif, namuntidak bertentangan dengan hadist lainnya, yaitu :
      Ibn Mas’ud ra berkata: Rasulallah saw. bersabda:
      “Siapa yang membaca satu huruf dari kitab Allah, maka mendapat hsanat/kebaikan dan tiap hsanat mempunyai pahala berlipat sepuluh kali. Saya tidak berkata: Alif lam mim itu satu huruf, tetapi Alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf”.(HR. Attirmidzy).

      Diwayatkan bahwa Imam Masjid Quba menambahi bacaan surat Al Ikhlas setelah fatihah, ia selalu selesai fatihah ia membaca surat Al Ikhlas dulu, baru surat lainnya, maka ia telah menyamakan Fatihah dengan surat Al Ikhlas, ia membuat surat Al Ikhlas mesti ada pada setiap rakaatnya. bukankah hal ini tidak pernah diajarkan oleh Rasul saw..? Maka makmumnya protes, dan ia tetap bersikeras, maka ia dilaporkan pada Rasul saw, maka Rasul saw memanggilnya, dan menanyakan apa sebab perbuatannya itu..? Maka Imam Masjid Quba itu berkata : aku mencintai surat Al Ikhlas, maka aku tak mau melepasnya pada setiap rakaat. Maka Rasul saw menjawab : Cintamu pada surat Al Ikhlas akan membuatmu masuk sorga! (Shahih Bukhari Bab Adzan).

      Berkata Hujjatul islam Al Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy dalam kitabnya Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari mensyarahkan makna hadits ini beliau berkata : “pada riwayat ini menjadi dalil diperbolehkannya mengkhususkan sebagian suratAlqur’an dengan keinginan diri padanya, dan memperbanyaknya dengan kemauan sendiri, dan tidak bisa dikatakan bahwa perbuatan itu telah mengucilkan surat lainnya” (Fathul Baari Bisyarah Shahih Bukhari).

      Jelaslah sudah bahwa Rasul saw tak pernah melarang seseorang mengkhususkan Alqur’an atau lainnya dari beragam ibadah untuk dibaca disuatu waktu atau tempat, bahkan jika hal itu karena cintanya pada ibadah itu maka itu akan membuatnya masuk sorga, demikian kabar gembira dari Rasulullah saw.

    3. @Ummu Abdillah

      jangan panggil saya ustadz, saya ini orang awam. Pemberian gelar sayyidina kepada Nabi Muhammad saw. oleh sebagian orang, dianggap berlebih lebihan, padahal Nabi Muhammad adalah makhluk Allah swt. yg mulia. Nanti anda di vonis bid’ah karena memanggil saya ustadz. mks.

    4. @Ummu Abdillah

      Salah seorang ulama Madzhab Hanbali, Asy-Syaththi al Hanbali dalam komentarnya atas kitab Ghayah al Muntaha, hlm. 260 mengatakan : “Dalam al Furu’ dan Tashhih al Furu’ dinyatakan : Tidak dimakruhkan membaca al Qur’an di atas kuburan dan di areal pekuburan, inilah yang ditegaskan oleh al Imam Ahmad, dan inilah pendapat madzhab Hanbali. Kemudian sebagian menyatakan hal itu mubah, sebagian mengatakan mustahabb (sunnah). Demikian juga disebutkan dalam al Iqna'”.

      Imam an-Nawawi mengatakan: “Asy-Syafi’i dan tokoh-tokoh madzhab Syafi’i mengatakan: Disunnahkan dibaca di kuburan mayit ayat-ayat al Qur’an, dan jika dibacakan al Qur’an hingga khatam itu sangat baik”.

      Al Khallal juga meriwayatkan dalam al Jami’ dari asy-Sya’bi bahwa ia berkata: “Tradisi para sahabat Anshar jika meninggal salah seorang di antara mereka, maka mereka akan datang ke kuburnya silih berganti dan membacakan al Qur’an untuknya (mayit)”.

      Sedangkan yang sering dikatakan orang bahwa Imam Syafi’i menyatakan bacaan al Qur’an tidak akan sampai kepada mayyit, maksud asy-Syafi’i adalah jika bacaan tersebut tidak dibarengi dengan doa Ii-shal doa agar disampaikan pahala bacaan tersebut kepada mayit) atau bacaan tersebut tidak dilakukan di kuburan mayit karena asy-Syafi’i menyetujui kedua hal ini (membaca al Qur’an dengan diakhiri doa Ii-shal dan membaca al Qur’an di atas kuburan mayit).

    5. @Ummu Abdillah

      Saya sudah bertanya tentang makruh tahrim. sesuatu yg dihukumkan dengan makruh tahrim, maka hukumnya tetap makruh, tidak haram, namun perbuatan perbuatan tersebut sangat tidak di anjurkan.

      tapi saya tetap penasaran, yg menambahkan kalimat tahrim itu siapa, ulama mazhab atau siapa?

    6. Bismillah,

      Setelah cukup lama kami menunggu jawaban dari ukhti @Ummu Abdillah tentang sampainya pahala kepada mayyit, kini kami sampaikan pandangan tentang apa yang beliau ajukan :

      1. Tentang tarjih riwayat Ibnu Umar.

      Pertama: Majhulnya Abdurrahmaan bin Al-‘Alaa’ bin Al-Lajlaaj, dapat dipertanyakan, tersebab seorang perowi dinyatakan Majhul Ain jika tidak ada perowi yang tidak meriwayatkan darinya yang menilainya tsiqqoh, dalam hal ini Ibnu Hibban yang tidak meriwayatkan darinya telah memasukkannya dalam daftar perowi Tsiqqoh. meskipun dalam tulisan yang anda kutip tersebut beliau dipandang Tasaahul dalam menilai tsiqqoh perowi majhul. Dengan demikian majhulnya Abdurrahmaan bin Al-‘Alaa’ bin Al-Lajlaaj masih bisa ditinjau kembali.

      Kedua: banyaknya Muhaqqiqul Ushul mencantumkan riwayat Ibnu Umar tersebut dapat mengangkat status riwayat yang disampaikan.

      Ketiga: Dalam konteks perkara membaca al qur’an dikuburan, para ulama yang tidak memakruhkan dan yang menganjurkan, tidak hanya bersandar pada riwayat Ibnu Umar tsb, hal ini dapat kita ketahui dalam pandangan mereka berikut :

      2. Membaca al qur’an dikuburan :

      A. dari kalangan Madzhab Hanafiyyah :

      ( قَوْلُهُ : وَلَا يُكْرَهُ الدَّفْنُ لَيْلًا ) وَالْمُسْتَحَبُّ كَوْنُهُ نَهَارًا شَرْحُ الْمُنْيَةِ ( قَوْلُهُ : وَلَا إجْلَاسُ الْقَارِئِينَ عِنْدَ الْقَبْرِ ) عِبَارَةُ نُورِ الْإِيضَاحِ وَشَرْحِهِ وَلَا يُكْرَهُ الْجُلُوسُ لِلْقِرَاءَةِ عَلَى الْقَبْرِ فِي الْمُخْتَارِ لِتَأْدِيَةِ الْقِرَاءَةِ عَلَى الْوَجْهِ الْمَطْلُوبِ بِالسَّكِينَةِ وَالتَّدَبُّرِ وَالِاتِّعَاظِ .

      (Dan tidak dimakruhkan mengubur pada malam hari) yang dianjurkan mengubur disiang hari sebagaiman dalam Syarah Al Munyah (dan tidak dimakruhkan pula duduknya orang-orang yang membaca al qur’an disamping kubur) Ibarot (keterangan dalam) kitab Nurul Idhoh dan Syarahnya, “Dan tidak dimakruhkan duduk untuk membaca al qur’an diatas kuburan menurut pendapat yang dipilih, agar dapat membaca al qur’an dengan cara yang dikehendaki yakni dengan tenang, tadabbur, dan mengambil mau’idhoh.” (Roddul Mukhtar, vol : 6 hal, 413)

      B. dari kalangan Madzhab Malikiyyah :

      وَيُسْتَحَبُّ التَّصَدُّقُ عَنْ الْوَالِدَيْنِ وَيَنْتَفِعَانِ بِهَا كَالدُّعَاءِ وَالْقِرَاءَةِ كَانَتْ عَلَى الْقَبْرِ أَوْ لَا وَتَلْزَمُ الْإِجَارَةُ عَلَى الْقِرَاءَةِ وَيُسْتَحَبُّ زِيَارَةُ قَبْرِهِمَا كُلَّ جُمُعَةٍ لِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : { مَنْ زَارَ قَبْرَ أَبَوَيْهِ أَوْ أَحَدِهِمَا كُلَّ جُمُعَةٍ غَفَرَ اللَّهُ لَهُ وَكُتِبَ بَارًّا }.

      Dan dianjurkan bersedekah sebagai ganti dari kedua orang tua, dan kedua orang tua tersebut dapat memperoleh manfaat shodaqoh seperti halnya do’a dan bacaan al qur’an baik (yang dibaca) di kuburnya ataupun tidak. Dan di anjurkan menziyarahi kubur kedua orang tua setiap Jum’ah berdasar sabda Nabi Saw : “Barang siapa menziyarahi kubur kedua orang tuanya atau salah satunya setiap jum’ah maka Alloh mengampuni dosanya dan ia dicatat sebagai anak yang berbakti” (Hasyiyah As Showi ‘Alasy Syarhis Shoghir, vol : 11 hal, 274)

      C. dari kalangan Madzhab Syafi’iyyah :

      ويستحب للزائر الإكثار من قراءة القرآن والذكر ، والدعاء لأهل تلك المقبرة وسائر الموتى والمسلمين أجمعين. ويستحب الإكثار من الزيارة ، وأن يكثر الوقوف عند قبور أهل الخير والفضل.

      Dan disunnahkan bagi orang yang berziyaroh untuk memperbanyak membaca al qur’an dan dzikir dan juga do’a untuk ahli kubur tersebut dan untuk semua umat islam yang telah meninggal. Dan disunnahkan memperbanyak berziyaroh dan memperbanyak berhenti disisi kubur para ahli kebajikan dan ahlul fadhl. (Al Adzkaar, hal, 168)

      D. Para Ulama dari kalangan Madzhab Hanabilah/Hanbaliyyah :

      (مسألة) * (ولا تكره القراءة على القبر في أصح الروايتين) هذا هو المشهور عن أحمد فانه روي عنه انه قال: إذا دخلتم المقابر اقرأ آية الكرسي وثلاث مرار قل هو الله أحد ثم قل اللهم ان فضله لاهل المقابر، وروي عنه انه قال: القراءة عند القبر بدعة، وروي ذلك عن هشيم.

      Tidak dimakruhkan membaca al qur’an diatas kubur menurut riwayat yang paling sohih dari dua riwayat (yang ada), dan inilah (riwayat tidak makruh) riwayat yang masyhur/populer dari Imam Ahmad. Diriwayatkan dari Imam Ahmad, sesungguhnya beliau berkata : Jika kalian masuk kubur bacalah ayat kursi dan tiga kali al Ikhlash kemudian berdo’alah “Ya Alloh, sesungguhnya fadhilahnya untuk ahli kubur”. Dan diriwayatkan dari Imam Ahmad pula bahwa beliau berkata : Membaca al qur’an disisi kubur adalah bid’ah. Pernyataan Imam Ahmad tersebut diriwayatkan dari Hasyim. (Al Syarhul Kabir Li Ibni Qudamah, Vol 1 hal, 424)

      فَصْلٌ . لَا تُكْرَهُ الْقِرَاءَةُ عَلَى الْقَبْرِ وَفِي الْمَقْبَرَةِ ، نَصَّ عَلَيْهِ ، اخْتَارَهُ أَبُو بَكْرٍ وَالْقَاضِي وَجَمَاعَةٌ ، وَهُوَ الْمَذْهَبُ وَعَلَيْهِ الْعَمَلُ عِنْدَ مَشَايِخِ الْحَنَفِيَّةِ ، فَقِيلَ : تُبَاحُ ، وَقِيلَ : تُسْتَحَبُّ ، قَالَ ابْنُ تَمِيمٍ : نَصَّ عَلَيْهِ كَالسَّلَامِ وَالذِّكْرِ وَالدُّعَاءِ وَالِاسْتِغْفَارِ ، وَعَنْهُ : لَا تُكْرَهُ وَقْتَ دَفْنِهِ ، وَعَنْهُ : تُكْرَهُ ، اخْتَارَهُ عَبْدُ الْوَهَّابِ الْوَرَّاقُ وَأَبُو حَفْصٍ

      Tidak dimakruhkan membaca al qur’an diatas kubur dan di pekuburan, Imam Ahmad telah menetapkan hal ini, dan Abu Bakar juga Al Qodhi serta sekumpulan Ulama’ memilih pendapat tersebut, dan inilah pendapat Al Madzhab (Imam Ahmad). Dan pendapat tersebut berlaku dikalangan Masyayih Hanafiyyah, sebagian berpendapat diperbolehkan dan sebagian berpendapat dianjurkan. Ibnu Tamim berkata: Almadzhab (Imam Ahmad) menetapkan hal ini (tidak makruh) seperti halnya salam, do’a dan dzikir juga istighfar. Dan diriwayatkan darinya pula : Tidak dimakruhkan membaca al qur’an diwaktu pemakaman. Dan diriwayatkan darinya pula : Dimakruhkan membaca al qur’an (diwaktu pemakaman), Abdul Wahhab Al Warroq dan Abu Hafsh memilih pendapat dimakruhkan. (Al Furu’, Vol 3 hal, 354)

      “ولا تكره القراءة على القبر” وفي المقبرة في أصح الروايتين هذا المذهب روى أنس مرفوعا قال “من دخل المقابر فقرأ فيها {يس} خفف عنهم يومئذ وكان له بقدرهم حسنات” وصح عن ابن عمر أنه أوصى إذا دفن أن يقرأ عنده بفاتحة البقرة وخاتمتها ولهذا رجع أحمد عن الكراهة قاله أبو بكر

      Dan tidak dimakruhkan membaca al qur’an di atas kubur dan atau di tempat pemakaman menurut riwayat yang paling sohih dari dua riwayat (yang ada), inilah Al Madzhab (Imam Ahmad bin Hanbal). Anas bin Malik meriwayatkan secara Marfu’, beliau bersabda : Barangsiapa memasuku pekuburan dan membaca Yasiin didalamnya maka pada hari itu diringankan (beban/siksa) para ahli kubur, dan bagi pembacanya beroleh kebaikan sejumlah para ahli kubur. Dan telah sohih dari Ibnu Umar, sesungguhnya beliau berwasiat ; Jika Ia (Ibnu Umar) dikebumikan hendaknya seseorang membacakan awal suroh Al Baqoroh dan akhir suroh tersebut disisi kuburnya. Oleh karenanya Imam Ahmad mencabut kemakruhan (membaca al qur’an dikuburan). Pendapat tersebut dinyatakan oleh Abu Bakar. (Al Mubdi’ Syarah Al Muqni’, Vol 3 hal, 354)

      Sengaja kami cantumkan pendapat para Ulama Hanabilah lebih banyak dari yang lain, karena dalam tulisan yang anda kutip memberi kesan seakan pendapat yang kuat dalam madzhab Hanbaliyyah adalah makruh.

      Ketahuilah sesungguhnya apa yang kalian tuduhkan kepada kami sebagai amaliyah bid’ah dan sesat adalah masalah khilafiyah furuu’iyyah, dan kami mengamalkannya juga berdasar pendapat para ulama yang tentunya memiliki sandaran yang sah kepada al qur’an maupun as sunnah. mengingkari khilafiyah dalam masalah seperti ini dan masalah-masalah yang lain hanya lahir dari sikap jumud yang justru menjadi fitnah buat ummat islam dan isalm itu sendiri. Oleh karenanya berhentilah mempermasalahkan amaliyah orang lain terutama menyangkut masalah-masalah khilafiyah furuu’iyyah, karena hal itu justru menunjukkan kebodohan kita. Wallohu a’lam

  50. @Ummu Abdillah

    Kalau anda berpegang pada pendapat bahwa hal tersebut adalah dhaif dan lemah, saya persilahkan. Namun, ada baiknya kita memahami hal hal berikut :

    “Sepulangnya dari peperangan Ahzab, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:“Jangan ada yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” (HR. al-Bukhari [894]).

    Sebagian sahabat ada yang memahami teks hadits tersebut secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar–walaupun waktunya telah berlalu– kecuali di tempat itu. Sebagian lainnya memahaminya secara kontekstual, sehingga mereka melaksanakan shalat Ashar, sebelum tiba di perkampungan yang dituju. Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam menerima laporan tentang kasus ini, beliau tidak mempersalahkan kedua kelompok sahabat yang berbeda pendapat dalam memahami teks hadits beliau.” (HR. al-Bukhari)

    al-Imam al-Qasim bin Muhammad bin Abu Bakar al-Shiddiq berkata:

    “Perbedaan pendapat di kalangan sahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihiwasallam merupakan rahmat bagi manusia.” (Jazil al-Mawahib)

    Khalifah yang shaleh, Umar bin Abdul Aziz radhiyallahu ‘anhu juga berkata:
    “Aku tidak gembira seandainya para sahabat Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam tidak berbeda pendapat. Karena seandainya mereka tidak berbeda pendapat, tentu tidak ada kemurahan dalam agama.” (Jazil al-Mawahib)

    ini menjadi bukti bahwa perbedaan pendapat di antara sesama mujtahid dalam bidang fiqih, tidak tercela.

    SILAHKAN ANDA DENGAN KEYAKINAN ANDA, DAN BIARKAN KAMI MENGIKUTI KEYAKINAN KAMI.

    SEBELUM MENINGGAL DUNIA, BAGI MEREKA YG MENGINGKARI SAMPAINYA PAHALA BACAAN AL-QUR’AN KEPADA MAYYIT DLL, SILAHKAN ANDA SAMPAIKAN KEPADA KELUARGA ANDA UNTUK TIDAK MELAKUKAN HAL TERSEBUT. OK UMMU ABDILLAH?

  51. @Ummu Abdillah

    Mengenai membaca Al-Qur’an di kuburan, yg semuanya di vonis lemah, walaupun ada yg menghasankannya, yg saya tahu, hadist dhaif yg diriwayatkan oleh banyak jalur, dan saling menguatkan, maka derajatya naik menjadi hasan lighairi dan dapat di jadikan hujjah.

    mengenai mengirim hadiah pahala bacaan Al-Qur’an, maka hal tersebut sampai.

    “dijelaskan pada syarah Al Kanz, Sungguh boleh bagi seseorang untuk mengirim pahala amal kepada orang lain, shalat kah, atau puasa, atau haji, atau shadaqah, atau Bacaan Alqur’an, dan seluruh amal ibadah lainnya, dan itu boleh untuk mayyit dan itu sudah disepakati dalam Ahlussunnah waljamaah. Namun hal yang terkenal bahwa Imam Syafii dan sebagian ulamanya mengatakan pahala pembacaan Alqur’an tidak sampai, namun Imam Ahmad bin Hanbal, dan kelompok besar dari para ulama, dan kelompok besar dari ulama syafii mengatakannya pahalanya sampai, demikian dijelaskan oleh Imam Nawawi dalam kitabnya Al Adzkar, Dan dijelaskan dalam Syarh Al Minhaj oleh Ibn Annahwiy : “tidak sampai pahala bacaan Alqur’an dalam pendapat kami yang masyhur, dan maka sebaiknya adalah pasti sampai bila berdoa kepada Allah untuk memohon penyampaian pahalanya itu, Dan selayaknya ia meyakini hal itu karena merupakan doa, karena bila dibolehkan doa tuk mayyit, maka menyertakan semua amal itu dalam doa tuk dikirmkan merupakan hal yang lebih baik, dan ini boleh tuk seluruh amal, dan doa itu sudah Muttafaq alaih (tak ada ikhtilaf) bahwa doa itu sampai dan bermanfaat pada mayyit bahkan pada yang hidup, keluarga dekat atau yang jauh, dengan wasiat atau tanpa wasiat, dan dalil ini dengan hadits yang sangat banyak”. (Naylul Awthar lil Imam Assyaukaniy, Al majmu’ Syarh Muhadzab lil Imam Nawawiy)

    Kesimpulannya bahwa hal ini merupakan ikhtilaf ulama, ada yang mengatakan pengiriman amal pada mayyit sampai secara keseluruhan, ada yang mengatakan bahwa pengiriman bacaan Alqur’an tidak sampai, namun kesemua itu bila dirangkul dalam doa kepada Allah untuk disampaikan maka tak ada ikhtilaf lagi. Dan kita semua dalam tahlilan itu pastilah ada ucapan : Allahumma awshil, tsawabaa maa qaraa’naa minalqur’anilkarim… dst (Wahai Allah, sampaikanlah pahala apa – apa yang kami baca, dari alqur’anulkarim…dst). Maka jelaslah sudah bahwa Imam Syafii dan seluruh Imam Ahlussunnah waljamaah tak ada yang mengingkarinya dan tak adapula yang mengatakannya tak sampai.

    Ummu Abdillah : “Akhirnya yang ingin saya katakan adalah bahwa permasalahan membaca Al-Qur’an di sisi kubur adalah permasalahan yang diperselisihkan para ulama madzhab, termasuk di antaranya imam empat. Ini adalah perselisihan yang mu’tabar. Akan tetapi, yang raajihadalah pendapat yang menyatakan kemakruhannya (tahriim)”

    yg ingin saya tanyakan adalah kalimat “…….menyatakan kemakruhannya (tahriim)…….”. tahrim di sana, anda yg menambahkannya atau siapa, karena setahu saya, yg menolak pembacaan Al-Qur’an di kuburan, menghukumkannya dengan makruh, tapa ada kalimat tahrim?

  52. menarik diskusi dari ummu abdillah dan abu hilya dan agung

    tetapi diskusinya tidak terarah

    kebanyakan recylce..
    apa lagi pendapat agung

    oya saya mau nanya pada agung ini saya mengecek hadist dibawah ini bisa bantu saya mencari
    nya
    atau kasih tulisan arabnya gto

    Sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu dawud dan Baihaqi dari Ashim bin Kulaib dari ayah seorang sahabat Anshar, berkata:
    “Kami telah keluar menyertai Rasulallah saw. mengiringi jenazah, maka kulihat Rasulallah saw. berpesan kepada penggali kubur, kata beliau saw., ‘perluaslah arah kedua kakinya, perluaslah arah kepalanya’. Ketika beliau pulang ditemuilah orang yang mengundang dari pihak istrinya (istri mayyit), beliau pun memenuhi undangan itu dan kami menyertainya lalu dihidangkan makanan, maka beliau mengulurkan tangannya, kemudian hadirin mengulur- kan tangan mereka, lalu mereka makan, dan aku melihat Rasulallah saw. mengunyah suapan di mulutnya”.

  53. Salafi Wahabi itu memang setan2 berbentuk manusia, suka menghalangi muslimin yang akan melaksanakan kebaikan. Padahal yang namanya kebaikan itu pastilah bukan bid’ah. Dasar emang setan, kebaikan pun di matanya menjadi keburukan. Memang seperti itulah setan, sudah pada tahu kan karakter setan?

    Oh, ya… dikasih tulisan yg tak pakai dalil dibilng oleh Wahabi tidak ilmiyyah, kalau dikasih dalil dan hujjah yg kuat seperti artikel di atas pun masih dicelanya, itu membuktikan mereka memang setan2 berbentuk manusia, Sudah gitu aja dari saya.

  54. Sarah, maksudnya bikin tahlilan itu spy bisa kirim pahala bacaan Al Qur’an ya?. Emang pahala bisa ditransfer ke yg udah wafat?. Asyiik juga yah.kl bisa. Ada contoh nih buat sarah.
    Ada seorg korupsi 5M, trus…dia meninggal. Nah…spy bisa nebus dosa korupsinya… dibuatlah pengumuman….siapa sja yg hatam Al Qur’an 1 kali dan pahalanya dikirim ke koruptor itu, maka akan dibayar 1jt. kl korupsinya 5M..jadi bisa dapat pahala 5.000 kali hatam Al Qur’an.
    Eh….jgn deh…3M aja yg beli pahala…sebab yg 2M buat anak-anaknya cari modal kerja,… siapa tahu bisa jadi koruptor lagi…terus beli pahala lagi

    1. Ibnu Abdul Choir@

      Antum ini genmana Mas, orang beriman kok mikirnya kayak orang kafir aja? Jangankan pahala, kain kafan aja bisa dikirim ke alam kubur kok, apa antum gak pernbah dengar hadits shahih tentang kiriman kain kafan ke almarhumah yg terjadi padsa zaman Nabi Saw?

      Sekedar mengingatkan aja nih, pemikiran antum itu dg terang2an meremehkan kasih sayang Allah Swt. apakah antum gak takut dicabut kasih-sayang Allah nanti di kahirat?

    2. Bismillah,

      Saudaraku @Ibn abdul chair,

      berhati-hatilah dengan perkataan anda… coba anda baca sekali lagi comment anda diatas, semakin menunjukkan aqidah mujassimah…

      jika anda ingin tahu dalil transfer pahala coba anda buka karya ulama faforit anda Syaikh Ibnu Taimiyah, atau dalam Ar Ruh karya Ibnul Qoyyim, atau Syarah Al ‘Aqidah At Thohawiyah karya Ibn Abil ‘Izz. Berikut kami kutipkan sedikit :

      Syaikh Ibnu Taimiyyah -rahimahullohu ta’aala- ditanya tentang Firman Alloh Swt, “Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39) dan hadits “Ketika anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.” adakah kedua nash tersebut menunjukkan “jika seseorang telah meninggal maka tak sesuatupun sampai padanya dari perbuatan-perbuatan baik?”

      Maka Syaikh Ibnu Taimiyah menjawab :

      “Alhamdulillahi Robbil ‘Alamiin, Tidak ada ayat dan juga hadits (yang menyatakan) bahwa mayyit tidak beroleh kemanfaatan dari do’a makhluk dan juga dari amal kebaikan untuknya, bahkan para Imam umat Islam sepakat berolehnya manfaat bagi mayyit dengan itu semua, dan masalah ini adalah termasuk perkara yang diketahui dari islam secara pasti, dan sungguh al qur’an, as sunnah dan ijma’ telah menunjukkan itu semua. Maka barangsiapa menyelisihinya maka dia termasuk ahli bid’ah.” (Al Fatawwa Al Kubro, vol. 3 hal. 27)

      Selanjynya Syaikh Ibnu Taimiyah mengemukakan sedikitnya 21 dalil atas jawabannya diatas…

      maaf sebelumnya, dalam pandangan kami anda adalah orang uang memiliki ghiroh yang baik dalam beragama, sayang jika anda terjebak dalam…..

    3. @ibn abdul chair
      “Emang pahala bisa ditransfer ke yg udah wafat?. Asyiik juga yah.kl bisa. Ada contoh nih buat sarah”.

      Lucu juga koment ente ya, katanya ente sering mendoakan Ibunda ente ? gimana hubungannya dengan koment ente itu ?
      Nah, kita lihat hadist yang menyatakan si mayyit dapat di Hajikan oleh orang yang masih hidup, padahal sudah mati !!!
      Gimana hubungan komen ente sama hadist2 apa gak bertentangan ??? Hayo ente kan punya kitab2 nya ??

    1. @ibn abdul chair
      Coba aja ente bayangin, seandainya yang koruptor itu Orang tua ente (maaf beribu maaf), ente bisa jawab sendiri ya !!!! dengan melihat hadist2 yang ada ya !!!

    2. Bismillah,

      Mas @Ibn abdul chair,

      Ada contoh yang bisa diterima orang waras nggak? koq contohnya nggak “masuk dengkul” apalagi masuk akal…he…he… becanda mas gak usah sewot

      Masak iya ada orang ngebagi 5 M tanpa sisa ? hasil korup lagi ? lagian memangnya qori’ darimana yang menukar bacaan qur’annya dengan uang hasil korup?

  55. @Ibnu abd chair…
    Diantara para wahabiyun yg komen di ummati, sepertinya andalah yg paling ngeyel dan keliatan sekali dongonya…af1 😎 😎 😎 😎

    1. Abu kirana: hemat saya,kita sbgai orang awam, lbih baik kita sholat istikhoroh dahulu INGSYA ALLAH kita akan mnemukan kbenaran, intinya kita sdah berusaha, ALLAH lah yg mnentukan, selain sholat istikhoroh bnyak juga amalan2 yg lain untuk kita lakukan , dengan bgitu smga ALLAH slalu memberikan jlan yg lurus kpda kita. Tetap kita wajib terus untuk menuntut ilmu. La haula wa la quwwata illa billahil aliyyil adziim.

  56. Assalamualaikum wa rohmatullahi wa barokaatuh.
    Ana baru nemu ini website. Sungguh website yang sangat membuka wawasan. Yang berkomentar semua orang berilmu. Ana sendiri termasuk orang awam, ga sepintar antum sekalian. Ana ga hapal hadits, apalagi Qur’an (cuma beberapa surat pendek yang ana hapal yang ana baca saat sholat).
    Cuma, rasanya ana rada-rada sedikit kecewa dengan tata bahasa diskusinya. Buat ana yang awam ini, antum sekalian bisa dijadikan contoh untuk terus mau menyelami islam. Tapi kalau dalam diskusinya seperti ini, menggunakan bahasa yang masya Allah…. sungguh ga mencerminkan orang yang paham adab sopan santun orang yang berilmu. “Licik”, “culas”, “blo’on”, dan kalimat-kalimat lain yang sepintas tidak terlihat kasar tapi ana rasa tidak pantas untuk bahasa diskusi. Yang ana tau (antum semua pasti lebih tau) bahwa rasul melarang perdebatan karena hanya akan menimbulkan pertengkaran.
    Seandainya kondisi diskusinya dengan bahasa yang halus tentu lebih mengena dan mudah diterima tanpa harus melibatkan emosi.
    Kalau orang yang baru mengenal islam atau mau memeluk islam membaca/melihat hal seperti ini apa ga malah bikin mereka kabur ? Katanya semua orang islam itu bersaudara tapi kok malah saling tonjok, saling sikut, saling silang sih ? Terus saudaranya dimana ?
    Buat ana yang masih awam dengan ilmu yang pas-pasan untuk “sekedar” sholat fardhu, hal seperti ini malah bikin ana bingung dan timbul ketidakpercayaan terhadap orang-orang “alim yang berilmu” yang selalu mengembar-gemborkan saling menyayangi sesama muslim, saling menolong, saling menasehati dengan baik, selalu bertakwa, meningkatkan iman dan lain-lain seperti yang sering ana dengar di khutbah jum’at, tapi malah yang berilmu saling gontok-gontokan.
    Ana sangat menyayangkan website yang bagus ini membuat musuh islam (nashoro dan Yahudi khususnya) menang dan orang awam seperti ana malah menjauhi para ahli ilmu seperti antum sekalian karena takut.
    Rasa takut salah (karena dangkalnya ilmu), takut menjadi orang yang ga tau adab (karena pertengkaran emosi yang antum tunjukkan dalam diskusi ini), dan rasa takut lainnya.
    Ana bukan salaf, bukan NU, bukan Muhammadiyah, Persis, atau kelompok islam lainnya yang ada di Indonesia ini. Ana cuma orang awam yang bingung mau percaya sama siapa. Harapan orang-orang seperti ana ini ya antum sekalian yang memiliki ilmu.
    Sekiranya saran ana diterima, sebisa mungkin untuk menghilangkan emosi saat berdiskusi karena hal itu akan mengarahkan kepada perdebatan yang (menurut ana) ga jelas, akhirnya seperti kucing berebut pepesan kosong.
    Wassalam.

  57. Assalamualaikum wahai saudaraku seiman…janganlah berdebat soal perkara tahlilan…yg melaksanakan tahlilan ya laksanakan saja..dan bagi yg tidak melaksanakan tahlilan ya jangan laksanakan…karena masing masing nanti di hari kiamat akan diminta pertanggungan jawaban oleh Allah…dan rasullullah akan bersaksi dihadapan Allah nantinya. Apakah itu tahlilan di anjurkan atau tidak oleh rasullullah….nanti semuanya akan jelas di hadapan Allah…saran saya jangan lakukan hal hal yg tidak rasul lakukan..tentunya tidak berdosa bagi yg tidak melakukan tahlilan…namun hati hati bagi yg melakukan. Allah menciptakan manusia dan seluruh alam semesta tujuannya hanya untuk bertasbih dan bersujud pada Allah…karena manusia diberi akal dan pikiran juga raga untuk berdiamnya ruh, maka disebut makluk yg sempurna. Oleh karena itu manusia diberi pedoman atau standar yg Allah berikan pada manusia yaitu Alquran dan sunnah Rasulnya. Hendaknya janganlah manusia mempermak atau memodifikasi agama Allah
    Dan janganlah mencampurkan adukan ajaran Islam dengan Budaya yg diluar Islam walau dgn alasan apapun..renungkanlah wahai saudara saudaraku yg seiman, apa yg telah terjadi pada moyang kita yaitu Adam as dan Hawa..peperangan antara manusia dengan iblis telah dimulai pada saat Adam as diturunkan ke bumi…dan apa yg telah iblis mulai maka akan terus berlanjut sampai kiamat…bisikan,penyamaran,mengsamarkan,semua itu bertujuan agar manusia menganggap bahwa itu baik bagi manusia…sehingga tanpa sadar manusia telah menggap bahwa yg baik baik adalah benar..namun bahasa kebenaran bagi manusia belum tentu benar bagi Allah. Tahlilan memang baik menurut manusia namun coba teliti lagi apakah kejanggalan yg terjadi saat tahlilan..apakah manusia tidak percaya diri lagi pada dirinya sehingga perlu ngajak orang banyak dan memberi ongkos untuk mengirim doa ke roh…? Mestinya kalau kita sayang sama almarhum, kita lah sendiri sebagai keluarga atau anak anak almarhum bertindak berdoa untuk ampunan dari Allah terhadap roh. Dan doa itu sesudah shalat sangat di tekankan oleh Rasullullah..awalnya memuji Allah lebih dahulu sesudah itu baru ke pokok isi permohonan pada Rab dan sesudah itu memuji Allah dengan asma ul husna sebagai penutup isi permohonan doa..intinya percaya dirilah pada Allah tapi jgn lewat perantara untuk berdoa…maaf jika saya salah wahai saudaraku seiman…

  58. @ambia alex

    awalnya ente ngomong bener, eh kesininya ente mulai nuduh n fitnah, buktikan kalo tahlilan itu budaya di luar islam jangan cuma bisa ngeluarin statmen tanpa bukti kalo cuma ngeluarin statmen mah anak TK juga bisa, buktikan kalo tawassul ga boleh berdasarkan alqur’an, sunnah dan pendapat para ulama muktabar baca dulu baik2 artikel2 dan komentar para ustad yang berkompeten disini, disini bukan debat tapi menyanggah fitnah dari orang2 kaya ente.
    wassalam salam damai

  59. andai saja kata2 ini keluar dari hati yang tulus dan niat yang baik :

    ” janganlah berdebat soal perkara tahlilan…yg melaksanakan tahlilan ya laksanakan saja..dan bagi yg tidak melaksanakan tahlilan ya jangan laksanakan…”

    sayang seribu sayang ternyata hatinya tidak tulus dan niatnya pun kurang baik dan tidak konsekwen :

    ‘ ….. jangan lakukan hal hal yg tidak rasul lakukan..tentunya tidak berdosa bagi yg tidak melakukan tahlilan…namun hati hati bagi yg melakukan dst…..”.

  60. alhamdulillah ummatipress sudah bisa di akses lagi dengan tampilan yang lebih oye. lanjut terus ummati bongkar fitnah wahabi
    bravo ummati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker