Opini Inspiratif

Pesan Nabi Saw dan Yesus: Terlupakan di Hari Maulid dan Natal

Pesan Nabi Saw dan Yesus: Terlupakan di Hari Maulid dan Natal. Dalam salah satu hadis-nya, Rasul saw pernah memberi isyarat kepada umatnya yang hendak bertemu dengan Allah.

Hendaknya temui Allah dalam laparnya orang-orang yang kelaparan dan rintihan kaum-kaum mustadh’afin (orang-orang lemah). Hal ini menunjukkan pentingnya ibadah sosial, peduli pada orang sekitar yang membutuhkan pertolongan dan bantuan.

 

 

Islam-Institute, JAKARTA – Membaca novel religi “Robohnya Surau Kami” bak membaca perilaku sebagian kaum beragama tanah air. Dengan cerdasnya AA Navis, sang pengarang novel, menyentil perilaku sebagian dari kita melalui tokoh fiktif karyanya, H. Saleh, sebagai gambaran dari realita kebanyakan kaum beragama saat ini.

Digambarkan tokoh H. Saleh ialah tokoh yang religius dalam ritual (baca: Ibadah kepada Tuhan), tetapi kurang religius dalam sosial. Hari-harinya disibukkan dengan shalat, puasa sunnah, wirid dan baca Alquran. Sementara kemiskinan terhampar jelas di sekitarnya. Dan H. Saleh tak peduli dengan semua itu.

Kita akan dengan mudahnya menemukan sosok individu seperti H. Saleh, yang Saleh hanya untuk dirinya tapi tidak untuk orang lain. Bukan tak mungkin H. Saleh adalah saya, anda, atau kita sendiri. Kita yang tekun dalam melaksanakan ritual saleh, tetapi melupakan ritual sosial. Kita sibuk dengan ibadah kepada Tuhan, tetapi melupakan Ibadah kepada makhluk Tuhan.

Kita boleh saja tertalar huruf demi huruf dari kitab suci, tetapi kita tak mengamalkan nilai-nilai yang dikandung oleh kitab suci itu. Kita boleh saja “kuat” menahan lapar dan haus di siang hari Ramadhan, namun melupakan makhluk Tuhan yang menjerit kelaparan di waktu yang sama. Malam-malam kita isi dengan tadarus Alquran, namun ada hak orang lain yang masih tertahan dalam harta kita.

BACA :  KH Marzuki Mustamar: Orang Yang Serakah Sama Saja dengan ‘Bedes’

Ketika malam Natal yang kudus anda habiskan dengan canda-tawa beserta keluarga, nun tak jauh di sekitar kita ada segelintir makhluk Tuhan yang melewatkan malam kudus itu dengan kesendirian, papa serta kelaparan. Jangan berharap terhampar hidangan Natal nan mewah di atas meja makan mereka.

Tak ada yang melarang kita untuk haji sebanyak puluhan kali dan umrah yang tak terhitung. Namun, jangan lupakan bahwa selain diri kita, masih ada saudara-saudara yang lainnya yang sedang menunggu kuotanya untuk haji pertama kalinya. Jangan sampai kita berbangga dengan surban dan gamis putih serta panggilan haji, namun mirisnya kita berada di tengah-tengah perkampungan yang kumuh.

Ketika agama menyuruh kita bersujud, agama tidak mengajarkan sekedar “tunggang-tungging” belaka. Sesungguhnya Tuhan ingin agar sujud tercermin dalam perilaku kita sehari-hari, yakni kerendahan diri. Takkala agama menyuruh kita berpuasa, maka agama tidak sedang mengajarkan kita untuk mengosongkan perut belaka. Sebenarnya agama menyuruh kita agar memiliki rasa keprihatinan terhadap sesama yang kurang mampu.

Seorang Rumi pernah berkata, bahwa Tuhan tak akan kalian temui di dalam masjid. Ucapan Rumi ini selaras dengan perkataan Bunda Theresa yang menyatakan “Tuhan hanya bisa ia temui saat mengusap orang-orang yang kelaparan”.

BACA :  Tawassul dengan Nabi Saw Itu Sunnah, Pelaku Tawassul Bukan Musyrik
banner gif 160 600 b - Pesan Nabi Saw dan Yesus: Terlupakan di Hari Maulid dan Natal

Rumi tidak sedang menggampangkan syariat. Sama halnya Bunda Theresia tidak hendak menafikan ritual ibadah Katolik. Tapi, baik Rumi dan Theressa menekankan agar ada keselarasan antara ritual saleh dengan ritual sosial. Seseorang, apapun agamanya, jangan pernah berharap surga Tuhan, bila ia tak memiliki keseimbangan perilaku, antara saleh dan sosial. Dan AA Navis dengan cerdasnya menangkap pesan moral agama ini, untuk Ia tuangkan ke dalam sebuah novel Religi “Robohnya Surau Kami”.

Bukankah Ali Syariati pada buku Haji-nya pernah berkata, “jika kita mengamati seluruh isi Alquran, niscaya kita akan menemukan bahwa yang terbanyak ialah penekanan pada kemanusian”. Dengan kata yang lain, Syariati menegaskan: Alquran 80 persen-nya berisi ritual sosial.

Lebih jauhnya Rasulullah Muhammad SAW pun menegaskan, “Khairun Nas Anfauhum Lin Nas”. Manusia yang terbaik ialah yang paling memberi manfaat kepada manusia lainnya.

Kesuksesan seorang manusia tidak semata dipandang dari seberapa banyak harta yang dikumpulkan, tetapi seberapa banyak orang, teman dan kerabat yang melayat tatkala ia menghadap Sang Pencipta.

Demikian pula dengan Yesus yang menegaskan bahwa ajaran ke dua yang paling utama yaitu menebar kasih kepada seluruh umat manusia. Sebagaimana halnya salah satu mukjizat Yesus Kristus yang terkenal ialah pada saat perjanjian makan.

Dalam salah satu hadis-nya, Rasul pernah memberi isyarat kepada umat yang hendak bertemu dengan Tuhan. Hendaknya temui Tuhan dalam laparnya orang-orang yang kelaparan dan rintihan kaum-kaum mustad’afin. Kira-kira demikian.

BACA :  Di Ahlussunnah Ada Wahabi, Di Syi’ah Ada Rafidhoh

Bukankah senada dengan pesan yang diterima oleh Yesus dalam Matius; Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.

Secara kebetulan, tahun ini, untuk sekali lagi Maulid Nabi bersamaan dengan hadirnya malam Natal. Perlu kiranya saya, anda dan kita menggaungkan kembali pesan yang telah disampaikan oleh Nabi Muhammad dan Yesus. Bukan hanya untuk dan sebagai umat muslim dan kristiani, tetapi bagi, untuk seluruh umat beragama dan sebagai sesama makhluk Tuhan.

Jadi, sudahkah kita memberi manfaat kepada sesama makhluk Tuhan? Sudahkah ibadah kita berdampak sosial? Apapun manfaatnya, baik lidah, tangan maupun tindakan. Sehingga Nabi SAW dalam satu hadistnya pernah menegaskan: “Tidak akan masuk surga orang yang tidur nyenyak sementara tetangganya kelaparan di tengah malam”. Sudahkan anda memberi manfaat?

Mari kita hormati mereka yang merayakan Hari Natal, juga mereka yang tak merayakan.

Kita hormati mereka yang tak mengucapkan “Selamat Natal”, juga mereka yang mengucapkan.

Mari saling menghormati dan menghargai antar sesama kita yang berbeda sikap karena beda pemahaman keagamaan.

Selamat memperingati Maulid Nabi dan Selamat Natal!  (AL/ARN/kompasiana)

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker