Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Opini Inspiratif

Peristiwa 30-S-PKI 1965 Bisa Lebih Jelas Dibaca di Koran

Mahfud MD mengingatkan bahwa koran bisa lebih menggambarkan peristiwa 30-S-PKI 1965.

Peristiwa 30-S-PKI 1965 Bisa Lebih Jelas Dibaca di Koran. Hal ini diingatkan Mantan Menteri Pertahanan (Menhan) Mahfud MD. Ia menyarankan agar masyarakat tidak hanya terpaku pada film G30S/PKI dalam melihat sejarah Partai Komunis Indonesia (PKI). Karena koran dan surat kabar yang terbit pada massa-massa sekitar peristiwa 1965, menurutnya bisa lebih menggambarkan Peristiwa 30-S-PKI yg sesungguhnya.

“Saudara baca koran-koran yang terbit pada saat itu. Itu asli, tanggal sekian Agustus 1965, PKI menyatakan ini melalui koran ini. Itu tulisan kejadian saat itu, tidak dikarang-karang,” kata Mahfud MD di Kota Malang.

Pernyataan Mahfud disampaikan menjawab seorang audience mahasiswa di Seminar Nasional Merajut Kebhinekaan Meneguhkan Karakter Ke-Indonesian. Bertempat di Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang, di Kota Malang, Kamis (5/10). Mahasiswa tersebut mengomentari tentang polemik film G30S/PKI yang ramai dibicarakan.

Ada pendapat, kata Mahfud, kejadian Peristiwa 30-S-PKI itu perang antara tentara dengan tentara atau konflik intern militer. Sementara ada pendapat lain mengatakan sebagai sebuah pemberontakan. Di sisi lain pembantaian para Jenderal terjadi 1 Oktober waktu Subuh. Bukan terjadi pada 30 September.

BACA JUGA:  Harusnya Adhyaksa Dault Belajar dari Kesalahan FPI

Sementara itu, Mahfud tidak membantah pula, bahwa film itu tergantung pada pembuatnya. Bahkan kalau tentara yang membuat film tersebut dipastikan PKI adalah kelompok pemberontak.

“Saudara jangan sepenuhnya percaya dulu pada film dan buku-buku sekarang. Meskipun itu benar,” katanya.

Mahfud berkisah tentang langkahnya yang pernah dilakukan untuk menggali sejarah PKI melalui koran-koran di Amerika. Eks Ketua Hakim Konstitusi itu mengklaim lewat tulisan-tulisan di koran tersebut lebih bisa menggambarkan peristiwa sesungguhnya.

“Saya pernah melakukan itu dulu tahun 1991. Saya pergi ke New York untuk disertasi saya. Koran yang sulit kita dapatkan di Indonesia, ternyata di sana masih ada,” ujarnya.

Mahfud akhirnya pada kesimpulan bahwa film G30S/PKI itu hampir keseluruhannya benar. Kejadian-kejadian penyerangan oleh PKI di banyak tempat tertulis di arsip-arsip media.

BACA JUGA:  Awas, Adu Domba Masyarakat dengan Isu Bangkitnya PKI

“Film G30S itu sebagian besar benar. Karena koran itu kan laporan langsung, PKI menyerang Kediri, kejadian Madiun dan lain-lain,” katanya.

Mahfud menceritakan, setelah Peristiwa 30-S-PKI, Rakyat Indonesia memuji-muji Soeharto. Ketika itu rakyat sangat mendukungnya untuk menjadi presiden. Bahkan ada sebuah buku, Soeharto dikatakan menolak waktu diminta menjadi presiden.

” ‘Saya tidak pantas menjadi presiden, yang pantas Soekarno, asal mau membubarkan PKI’. Bung Karno tidak mau membubarkan PKI. Kalau begitu Pak Nasution menjadi Presiden. Kata Pak Nasution, saya orang Batak, kamu saja. Di situ Pak Harto akhirnya mau tapi satu tahun saja. Menjadi pejabat presiden saja selama satu tahun,” jelas Mahfud MD.

“Nah itulah sejarah dan itu terbuka di koran-koran zaman itu. Kalau saudara baca koran pada saat itu, anda akan tahu,” lanjutnya soal Peristiwa 30-S-PKI tersebut.

 Mahfud MD: Jangan mengungkit-ungkit luka lama Peristiwa 30-S-PKI

Mahfud MD mengatakan, kini bukan saatnya mencari salah dan benar dalam Peristiwa 30-S-PKI 1965. Para keturunan anggota PKI juga sudah tidak terdiskriminasi. Mereka sudah seperti warga negara yang lain.

BACA JUGA:  PKI dan DI/TII, Dua Hantu Politik Terus Gentayangan

“Toh sekarang anak turun PKI sudah tidak terdiskriminasi. Sekarang sudah tidak ada lagi yang namanya ET (eks tahanan politik). Dulu ada, sekarang tidak. Dulu harus bebas dari anggota PKI, sekarang tidak ada. Sekarang sudah boleh menjadi anggota DPR, sekolah di mana saja sudah boleh,” kata Mahfud menjelaskan.

Namun Mahfud MD lagi-lagi mengingatkan agar jangan mengungkit-ungkit luka lama. Hal itu dapat menimbulkan dendam yang tidak berkesudahan. Apalagi pelaku sejarahnya terkait Peristiwa 30-S-PKI juga sudah banyak yang meninggal dunia.

“Mereka juga sudah tidak ada, yang hidup juga ndak banyak. Sehingga tidak membahayakan.” Terangnya masih terkait Peristiwa 30-S-PKI.

Maksudnya bahwa menurut Mahfud MD mengkuwatirkan akan terjadi banyak salah paham karena para pelaku Peristiwa 30-S-PKI sudah banyak yang meninggal.

source

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker