Berita Suriah

Perbedaan Antara Serangan Udara Rusia dan AS di Suriah

Inilah perbedaan antara serangan udara Rusia dan Koalisi AS di Suriah, siapa yang hasil operasi militernya lebih efektif di Suriah dalam menumpas kelompo-kelompok teroris ?

 

Islam-Institute – Baru-baru ini sebuah laporan intelijen AS sangat merendahkan kelompok teroris ISIS (juga dikenal sebagai Daesh/ISIL /IS). Seakan-akan AS dan koalisinya telah berbuat banyak dalam melemahkan kekuatan kelompok-kelompok teroris di Suriah. Ada dua koalisi – salah satu koalisi dipimpin oleh AS dan lainnya dipimpin oleh Rusia – telah terlibat dalam memerangi kelompok-kelompok teroris di Suriah.

Bukankah ini sangat menarik untuk diperbandingkan di antara dua koalisi tersebut? Bukankah kita sudah bosan saling klaim siapa paling berjasa di Suriah dalam melemahkan kelompok-kelompok teroris. Sudah saatnya kita mencari tahu perbedaan antara dua pendekatan yang dilakukan oleh dua koalisi tersebut.

Perbedaan tujuan umum serangan antara AS dan Rusia

Rusia, Amerika Serikat, dan Suriah memiliki satu musuh bersama – kelompok teroris ISIS. Pada September 2014, Presiden AS Barack Obama berjanji akan menghancurkan ISIS dengan serangan udara besar-besaran.

Tujuan Koalisi AS: “Tujuan kami jelas: Kami akan menurunkan, dan pada akhirnya menghancurkan ISIS melalui strategi kontra terorisme yang komprehensif dan berkelanjutan. Kami juga akan melakukan kampanye sistematis dengan serangan udara terhadap teroris ini,” katanya dalam sebuah pernyataan seperti yang dikutip Reuters.

Sedangkan Rusia pada bulan November 2015, pemimpin Rusia Vladimir Putin menggambarkan tujuan dari serangan udara Rusia di Suriah adalah “untuk membersihkan Suriah dari teroris dan mengamankan Rusia dari kemungkinan serangan itu”. Sementara itu, ia juga menambahkan bahwa serangan itu juga untuk “menstabilkan pemerintahan yang sah dan menciptakan lingkungan yang kompromi politik”, kantor berita TASS melaporkan.

012748700 1448686146 20151128 rudal rusia - Perbedaan Antara Serangan Udara Rusia dan AS di Suriah

Penerbangan untuk serangan udara AS dan Rusia

Gugus tugas Rusia adalah mendukung tentara Suriah, yang berjumlah 150.000 sampai 200.000 personil. Menurut analis militer, pasukan pemerintah Suriah memiliki lebih dari 4.000 tank (buatan Rusia T-55, T-72 dan yang terbaru T-90A) dan hampir 400 pesawat tempur.

Sementara itu, koalisi pimpinan AS memulai penerbangan dengan memberikan dukungan udara untuk Angkatan Darat Irak (yang berjumlah 800.000 personil dan 389 tank), milisi Kurdi (70.000 pejuang) dan berbagai kelompok oposisi (40-60,000 pejuang).

Rusia memulai serangan udara di Suriah pada 31 September, atas permintaan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Dalam 100 hari pertama operasi, jet Rusia melakukan 5.600 sorti tempur, dengan rata-rata harian 50-60 sorti. Selama periode yang sama, Angkatan Udara AS melakukan hampir 3.500 sorti. Selama operasi, pesawat tempur AS melakukan total lebih dari 65.000 sorti, dengan rata-rata 120 sorti/hari. jet AS telah mencoba untuk memberikan dukungan udara permanen untuk oposisi dan pasukan Kurdi.

Rusia dan AS memilih pesawat sesuai dengan tugas-tugas operasional dan kapasitas lapangan udara yang tersedia. Gugus tugas Rusia dikerahkan ke pangkalan udara Hmeymim, Latakia, dekat dengan medan perang. Hampir 4.000 prajurit dan lebih dari 70 pesawat saat ini dikerahkan ke daerah tersebut, termasuk Su-30 dan Su-35 bomber generasi keempat, Su-24 dan Su-34 pembom taktis, dan Su-25.

BACA JUGA:  Perang Terbuka, Korut Putus Jalur Diplomasi dengan AS

“Pesawat-pesawat itu telah dipilih untuk menyelesaikan tugas yang diberikan,” kata ahli militer Mikhail Khodorenko kepada RBK News berbahasa Rusia.

Su-24 dapat membawa sampai 7.500 kg senjata, termasuk bom balistik fragmentasi, dengan jarak tempu hingga 560 km. Su-34 memiliki kemampuan yang lebih besar – hingga 8.000 kg bom dengan jarak tempu hingga 1.100 km. Menurut ahli, untuk terlibat penuh dalam pertempuran, pesawat tersebut harus lepas landas dari sebuah pangkalan udara yang dekat dengan medan perang. Dengan demikian, sebagian besar serangan udara Rusia di Suriah telah dilakukan oleh bomber Su-24 dan Su-34.

Sedangkan pembom jarak jauh Tu-22, Tu-95 dan Tu-160, juga telah terlibat dalam operasi itu. Pembom Tu-22 lepas landas dari sebuah lapangan terbang Mozdok di Rusia, sementara Tu-95 dan Tu-160 dari sebuah lapangan terbang di Engels. Sementara menurut Khodarenok menggunakan Tu-22 di Suriah tidak efektif.

“Dengan kapasitas maksimum dari 22 ton bom, Tu-22 tidak bisa terbang dari Mozdok ke Suriah. Pesawat itu hanya dapat terbang dengan delapan ton bom jika diterbangkan dari Mozdok, jelasnya.

Dalam satu minggu, bomber Tu-22 hanya melakukan 23 sorti. Namun menurut analis menggunakan pembom strategis adalah kesempatan baik untuk memamerkan kemampuan dan kekuatan Angkatan Udara Rusia.

AS tidak memiliki basis di zona konflik. Pesawat lepas landas dari lapangan udara di Qatar, Kuwait, Turki dan UEA serta empat kapal induk dari Armada Kelima Angkatan Laut AS di Teluk Persia dan Laut Merah. Pada saat yang sama, ini memungkinkan bagi AS untuk menggunakan lebih banyak pesawat dibandingkan Rusia.

Selama operasi, AS telah mengerahkan F-16 Fighting Falcon dan F-15 Eagle, yang mengungguli Su-30 Rusia. Jet tempur F-22 Raptor generasi kelima juga terlibat dalam operasi. Pesawat ini memiliki desain siluman, kecepatan jelajah supersonik, dan super-manuver.

Untuk pemboman strategis, AS telah terlibat pembom strategis B-1 Lancer, yang memiliki jangkauan operasi 12.000 km tanpa mengisi bahan bakar. Selama operasi, Lancers telah dilakukan lebih dari 5.000 serangan mendadak.

Angkatan Udara Rusia juga telah menggunakan Su-25. Ini melebihi A-10 Thunderbolt II AS di manuver dan kecepatan. Hal ini lebih efektif di daerah di mana pertahanan udara musuh dikerahkan tapi ISIS militan tidak memiliki senjata tersebut. Su-25 dipersenjatai dengan GSH-30/02 meriam yang mengalahkan persenjataan A-10 AS.

A-10 AS lebih berat dan kurang protek dari pada Su-25. Tapi Thunderbolt II membanggakan kekuatan api yang lebih besar, termasuk rudal anti-tank Maverick, GAU-8 dan Avenger 30-mm serta 7 barrel meriam otomatis. Mereka lebih efektif terhadap personil musuh dan peralatan di tanah. Jet A-10 jet telah melakukan lebih dari 7.000 sorti dalam operasi itu.

BACA JUGA:  ISIS Asal Arab Saudi Paling Bernafsu Beli Tawanan Wanita

kapal perang rusia jenis cruiser - Perbedaan Antara Serangan Udara Rusia dan AS di Suriah

Dukungan Kapal Perang AS dan Rusia

Penerbangan dan lapangan udara yang basis di Suriah dilindungi oleh gugus tugas angkatan laut yang dipimpin oleh Varyag cruiser rudal. Unit ini juga terdiri dari rudal Dagestan, yang Grad Sviyazhsk, Uglich dan Veliky Ustyug oleh kapal rudal kecil dari laut Caspian serta armada B-237 Rostov-on-Don kapal selam dari Armada Laut Hitam. Sementara Reconnaissance dilakukan oleh kapal pengintai Vasily Tatishchev.

Rusia juga telah meluncurkan rudal jelajah berbasis kapal terhadap ISIS selama operasi. Pada bulan Oktober 2015, kapal perang dari armada laut Caspian menembakkan 26 rudal jelajah pada 11 sasaran militan dengan jarak lebih dari 1.500 km. Sebulan kemudian, 18 rudal lain diluncurkan untuk menghancurkan kamp-kamp militer ISIS. Kapal selam itu juga menembakkan empat rudal terhadap sasaran Daesh. Sebanyak 48 peluncuran rudal dilaporkan telah dilakukan selama operasi.

Dua kapal induk AS telah menembakkan 47 rudal selama operasi. USS George Bush dan Carl Vinson di samping perusak Arleigh Burke, rudal penjelajah telah disediakan untuk take-off dan landing dari F/A-18F Super Hornet multirole jet di zona konflik dan meluncurkan rudal jelajah Tomahawk ke target Daesh.

Rudal jelajah adalah salah satu senjata terbaru Rusia dan tercanggih. Mereka mulai beroperasi pada tahun 2005 dan tidak pernah digunakan dalam pertempuran sebelum operasi di Suriah. Dibandingkan dengan Tomahawk, rudal Rusia memiliki payload lebih kuat dan meningkatkan jangkauan dan akurasi tinggi. Namun, dalam hal peluncuran rudal di Suriah, perbandingan langsung antara Rusia dan Amerika Serikat tidak benar, cetus Khodarenok.

“Sampai saat ini, Rusia tidak memiliki sarana non-nuklir untuk serangan pesisir. Tetapi mereka memiliki layanan yang membentuk kekuatan militer istimewa”, tegasnya.

Pada saat yang sama, peluncuran Tomahawk tidak dapat dianggap penting karena rudal telah digunakan dalam pertempuran selama lebih dari 20 tahun.

Biaya Perang Koalisi AS dan Rusia

Menurut Pentagon, AS telah menghabiskan hampir $ 11.400.000 per hari untuk operasi mereka terhadap ISIS di Suriah dan Irak. Seluruh operasi telah menelan biaya $ 5800000.000. Sebagai perbandingan, AS menghabiskan $ 2500000000 pada perang Teluk Persia pada tahun 1991.

Militer Rusia mampu melakukan operasinya dengan biaya yang lebih minim. Menurut analisis RBK NEWS, satu hari dari operasi militer di Suriah, biaya yang Rusia hampir $ 2,5 juta dengan total $ 225-300000000 untuk seluruh operasi sejauh ini.

Ada beberapa faktor yang membuat operasi AS lebih mahal dari kampanye Rusia. Karena pangkalan militer jauh dari zona konflik, F-22 Raptor lebih boros (dengan biaya per-penerbangan/jam $ 68.000), dan biaya mahal Tomahawk perpeluncuran dari Laut Merah menelan ($ 74.000.000).

Pada saat yang sama, koalisi pimpinan AS kehilangan satu pesawat tak berawak selama operasi, yakni ditembak jatuh oleh pasukan pemerintah Suriah. Selain itu, satu tentara AS dilaporkan tewas.

BACA JUGA:  Arab Saudi Siap Invansi Suriah, Benarkah untuk Berantas ISIS

Angkatan Udara Rusia telah kehilangan bomber Su-24 (yang ditembak jatuh oleh jet Turki pada 24 November) dan pilot ditembak mati saat terjun payung. Pada tanggal 26 Januari, sebuah pusat pelatihan militer di Homs berada di bawah tembakan mortir. Seorang penasehat militer Rusia dilaporkan tewas dalam penembakan tersebut.

Hasil Operasi di antara AS dan Rusia

Ada dua cara yang berbeda dari laporan Kementerian Pertahanan Rusia dan laporan koalisi pimpinan AS pada hasil operasi mereka.

Militer Rusia membeberkan jumlah target yang telah hancur dan daerah yang dibebaskan. Pada tanggal 15 Januari, Kepala Staf Direktorat Operasional Umum Sergey Rudskoy mengatakan kepada wartawan bahwa 217 daerah penduduk telah dibebaskan kurang dari dua bulan operasi atau hampir 1.000 km persegi wilayah. Selain itu, ribuan teroris dilaporan tewas akibat serangan udara Rusia. Serangan udara Rusia juga membuat perubahan signifikan dalam peta pertempuran yang membuat kelompok-kelompok teroris kehilangan kamp-kamp militer dan gudang senjata yang menyebabkan kehabisan persediaan senjata, roket dan amunisi. Sebuah laporan juga menyebutkan serangan udara Rusia menyebabkan para teroris lari dari basis-basis mereka ke Turki atau Irak.

Pada saat yang sama, kampanye Rusia telah membantu Tentara Suriah dan sekutunya melancarkan serangan yang lebih laus dan intensiv terhadap kelompok-kelompok teroris di Suriah. Pasukan pemerintah telah mengambil kontrol atas sejumlah daerah strategis di seluruh negeri, termasuk Nubl dan Al-Zahra yang baru dibebaskan serta pembebasan Aleppo secara keseluruhan dalam waktu dekat.

Menurut sebuah laporan dari monitor Konflik HIS, yang diterbitkan pada akhir Desember 201, menyebutkan bahwa serangan udara Rusia mulai dari akhir September-Desember telah membuat kelompok ISIS menyusut hingga 14%, dan belum termasuk kelompok yang lainnya.

Sementara, koalisi AS biasanya menerbitkan data tentang jumlah militan tewas, namun data yang dikeluarkan failed. Seperti pada Januari 2016, AS merilis data lebih dari 22.000 teroris tewas di utara Suriah dengan menggunakan gambar-gambar serangan udara yang pernah dirilis Rusia. Bahkan pilot-pilot AS juga memberikan kesaksian disaat mereka siap telah mengunci target teroris, justru mereka tidak mendapatkan perintah untuk menembak.

Yang lebih gamblang dari semua ini, bahwa koalisi AS tidak pernah benar-benar menarget ISIS atau teroris lainnya di Suriah dan Irak. Dan terbukti koalisi AS yang jauh sebelum Rusia, telah melakukan operasi udara namun tidak ada perubahan signifikan, sebaliknya teroris semakin kuat dan mencengkeram serta daerah-daerah kekuasaannya semakin luas.

Pemerintah Irak juga berkali-kali menegaskan AS berulang kali membantu teroris ISIS dengan menarget posisi pasukan pemerintah dan menjatuhkan paket senjata kepada teroris.  (AL/ARN)

 

Tags

Artikel Terkait :

loading...

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker