Bedah Aliran Sesat

Pentingnya Mengenali Akar-akar Radikalisme Atas Nama Agama

Radikalisme Bukan Ajaran Islam

AKAR AKAR RADIKALISME ATAS NAMA AGAMA

—————————————–

Oleh: Drs.KH.Ahmad Buchori Masruri

بـســم الله الـر حـمـن الـر حـــيم

P e n d a h u l u a n

Segala puji bagi Allah SWT Yang telah menjadikan umat Islam sebagai umat yang moderat, sebagaimana firmanNya dalam surat Al Baqoroh ayat 143:

وَكَذَلِكَ جَـعَلْنَاكُمْ أُمـَّةً وَّسَطًا لِـتَكُـوْنـُوْا شُهَدَآءَ عَليَ الـنَّاسِ وَيـَكُـوْنَ الـرَّسُوْلُ عَلـَيْكُمْ شَهِـيْدًا..البقرة143

“Dan demikian pula Kami jadikan kamu umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan rosul menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…. “

Sholawat dan salam semoga terlimpahkan pada Nabi Muhammad yang diutus untuk membawa rahmat bagi segenap alam.

وَمآ  أَرْسَـلْـنَاكَ  إلاَّ رَحْـمَةً  لِّلـْعَالـَمِـْينَ * الأنـبياء 107

Atas permintaan pengurus Majlis Ulama Jawa Tengah, saya mencoba untuk merumuskan pengamatan saya tentang hal hal yang menjadi akar tumbuhnya sikap dan paham radikalisme, yang dalam kondisi tertentu dapat melahirkan terorisme.

Sebenarnya hal hal yang menjadi akar tumbuhnya radikalisme itu  banyak, me liputi  berbagai bidang  kehidupan; soaial, politik, ekonomi, ras, agama dll. Namun dalam makalah ini saya hanya akan membahas akar akar radikalisme yang bersumber dari ajaran agama, khususnya agama Islam, sesuai dengan yang diminta oleh pengurus MUI Jawa Tengah.

Pembahasan dalam makalah ini meliputi : Pengertian radikalisme, akar akar yang menjadi sebab lahirnya radikalisme, dan terakhir Mencegah sikap radikal.

 

Pengertian Radikalisme

Radikalisme berasal dari kata radical yang berarti “sama sekali” atau sampai ke akar akarnya. Dalam kamus Inggris Indonesia susunan Surawan Martinus kata radical disama-artikan (synonym) dengan kata “fundamentalis” dan “extreme”. Radikalisme yaitu suatu paham sosial/politik yang dalam usaha mencapai tujuan nya menggunakan cara cara kekerasan. Radikalisme atas nama agama yaitu sikap keras yang  diperagakan oleh sekelompok penganut suatu agama, dengan dalih mengamalkan ajaran agama itu.

Radikalisme dalam Islam sudah ada sejak zaman sohabat, yaitu ketika muncul kaum Khawarij setelah memuncaknya konflik antara para pendukung Aly bin Abi Tolib ra. dan pendukung Mu’awiyah ra. Kaum khawarij menganggap kedua pihak sama salahnya dan harus dibunuh. Mereka berhasil membunuh Aly ra. pada waktu subuh, tetapi tidak berhasil membunuh Mu’awiyah ra , mereka hanya bisa melukai nya, lalu tertangkap.

Pada saat sekarang radikalisme tetap ada, walaupun berbeda beda bentuknya. Ada yang terbatas pada sikap radikal untuk diri sendiri dalam melaksanakan ajaran Islam, tanpa memusuhi pihak lain yang berbeda, seperti kelompok fondamentalis yang berpendapat bahwa semua ajaran Nabi Muhammad saw itu fondamen, atau dasar yang harus ditaati. Dilaksanakan semua perintahnya serta dijauhi semua larangannya, tanpa membeda bedakan perintah wajib atau sunnah, larangan harom atau makruh, pokoknya semua tuntunan Nabi itu fondamen, maka mereka disebut Fundamentalis.Tetapi ada yang lebih keras dari pada mereka, sangat keras sampai  mengkafirkan pihak lain yang berbeda, bahkan tega membunuh orang yang bebeda dengan mereka walaupun sesasma muslim, seperti kaum Khawarij.

Radikalisme di mana saja, khususnya di Indonesia tetap ada dan sampai kapan pun akan tetap ada selagi akar akarnya ada. Maka untuk mencegah tumbuhnya radikalisme baru, terlebih dahulu harus dipahami apa akar akar yang menjadi sebab tumbuhnya radikalisme.

Akar Akar Radikalisme

Kelompok garis keras di Indonesia berbuat radikal dengan tiga dalih atau salah satu dari tiga dalih di bawah ini :

1.Taghyiirul munkar (mengubah kemungkaran), sebagaimana tersebut dalam hadits Nabi Muhammad saw :

مَـنْ رَأَي مِـنْكُمْ مُـنْكَراً فَلْـيُغَـيِّرْهُ بـِيَـدِهِ  فَإنْ لَّمْ يـَسْتَطِعْ فَـِبلـِسَانِـهِ  فَإنْ لَّمْ يَـسْتَطِعْ فَبِـقَلـْبِهِ

وَذَلـِكَ أضْـعَفُ اْلإ يـْمَـانِ. رواه مسلم

“Barangsiapa di antara kamu melihat kemunkaran  maka hendaklah mengubahnya  dengan  tangannya, lalu jika tidak  mampu  maka  dengan  lisannya,  lalu jika tidak  mampu  maka  dengan hatinya  dan  yang demikian itu  adalah selemah – lemah iman” (H.R.Muslim).

Menurut mereka; mengubah  kemunkaran dengan tangan  berarti  mrnghancurkan kemungkaran itu atau membunuh pelakunya.

 

2. Jihad Fi Sabilillah; menurut mereka kata jihad tidak punya  arti lain kecuali pe rang  bersenjata. Jadi  semua perintah  jihad  dalam Al Quran  dan  Hadits harus diartikan  perang  bersenjata, bahkan  diartikan  pula  membunuh, yakni  memerangi atau mrmbunuh orang kafir atau orang Islam yang dianggap murtad. Dalam hal ini mereka berpegang pada ayat Al Quran dan Hadits Nabi berikut:

 

قـاَتـِلـُوا الَّذِيـْنَ لاَ يـُؤْمـِنُـوْنَ بـِاللهِ وَلاَ بـِالْـيَـوْمِ اْلأخِـرِ وَلاَ يـُحَـرِّمُـوْنَ مَـا حَـرَّمَ اللهُ وَرَسُـوْ لـُهُ وَلاَ يـَدِيـْنُـوْنَ

دِيـْنَ الْـحَـقِّ مِـنَ الـَّذِيـْنَ أوْتـُوا الـْكِـتـَابَ حَـتَّى يـُعْطُـوا الْـجِـزْيـَةَ عَـنْ يـَدٍ وَّهُـمْ صَـاغِـرُوْنَ* الـتوبة   29

 

“Perangilah  orang orang yang  tidak beriman  kepada Allah  dan  tidak pula kepada hari akhir, dan  mereka tidak mengharamkan  apa yang diharamkan Allah dan  RasulNya, dan  mereka  tidak beragama  dengan  agama  yang benar,(yaitu orang orang yang) diberi Al Kitab  kepada  mereka,  sampai mereka  membayar jizyah  dengan patuh, sedang  mereka  dalam keadaan tunduk” (Q.S.9/29)

 

فَـإذاَ انـْسـَلـَخَ اْلأ شْهُـرُ الْـحُـرُمُ فَـاقْـتـُلـُوا الْـمُـشْـرِكِـيْنَ حَيْثُ وَجَـدْتـُمُـوْهُمْ وَخُـذُوْهُمْ  وَاحْصُـرُوْهُـْم

وَاقْـعُـدُوْا لـَهُمْ كُـلَّ مَـرْصَـدٍ،  فَـإنْ تـَابـُوْا وَأقـَامُـوْا  الـصَّـلاَ ةَ  وَأتـَوُا الــزَّكـاَة َ فـَخَـلـُّوْا سَـبِـيْلـَهُمْ ،  إنَّ اللهَ

غـَفُـوْرٌ رَحِـيْــمٌ *  الـتوبـة 5

“Apabila  sudah habis  bulan bulan  haram itu, maka  bunuhlah  orang – orang musyrik itu di mana saja kamu jumpai mereka, dan  tangkaplah  mereka, dan kepunglah mereka, dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubatdan mendirikan shalat dan  menunaikan  zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S.9/5).

 

أُمِـرْتُ أَنْ أُقـاَتـِلَ الـنـَّاسَ حَـتىَّ يـَشْهَـدُوْا أنْ  لآ إلـهَ إلاَّ اللهُ  وَأنَّ  مُحَـمَّدًارَسُـوْلُ اللهِ وَيـُقِـيْمُوا الـصَّلاَ ةَ

وَيـُؤْتـُوْاالـزَّكـاَةَ ،فَـإذَا فَـعَلُوْا ذلـِكَ عَصَمُوْا مِـنِّىْ دِمَـاءَهُمْ وَأمْـوَالَـهُمْ وَحِـسَابُـهُمْ عَـلىَ اللهِ *رواه الـشيخان

 

“Aku diperintah (oleh Allah) agar aku memerangi manusia sehingga mereka bersaksi  bahwa  tiada Tuhan  selain Allah dan  bahwa Muhammad  utusan  Allah, dan mereka  mendirikan  shalat  dan menunaikan  zakat. Maka apabila mereka mengerjakan itu semua, maka mereka  telah  menjaga  darah mereka dan harta benda mereka dari aku, dan hisabnya ada pada Allah”. (H.R.Buchori/Muslim).

Berdasarkan dua ayat dan satu  hadits tersebut di atas, mereka  menyimpulkan bahwa orang kafir harus diperangi  sehingga mereka masuk Islam, jadi kepada orang  kafir  hanya diberi  dua opsi: masuk Islam atau dibunuh.  Bahkan mereka berpendapat  bahwa  berdasar ayat lima surat  Al Taubah  tersebut  seorang muslim boleh membunuh orang kafir di mana pun mereka  berada. Ayat ini disebut “ayatus saif” atau ayat pedang. Dan semua ayat yang bertentangan atau berbeda  dengan  ayat ini  dinyatakan  “mansukh”  (diralat)

BACA :  Muslim Jerman Dihimbau Untuk Meniru Umat Islam Indonesia

 

Negara Kesatuan Republik Indonesia bukan  negara Islam  (bukan Darul Islam) melainkan negara kafir (darul kufri atau darul harbi), alasannya ialah:

  1. hukum yang diberlakukan  di Indonesia  bukan hukum Islam, melainkan  Pancasila, UUD’45 dan KUHAP/KUHP warisan  penjajah kafir Belanda.
  2. sistim  pemerintahannya  mengikuti  tatanan  pemerintahan  kafir dengan sistim trias politika, bukan sistim kekhilafahan.
  3. kepala  negara  bukan kholifah,  yang ditetapkan berdasarkan suara terba nyak dalam pemilihan umum.

Mereka mendasarkan pendapatnya pada ayat ayat Al Quran berikut:

     وَمَنْ لـَمْ يـَحْـكُـمْ بـِمَا أ نـْزَلَ اللهُ فـَأُولـَئـِكَ هُـمُ الـْكـَافِـرُوْنَ*الـما ئـدة  44

“Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan hukum yang diturunkan Allah maka mereka adalah orang orang yang kafir” (Q.S.5/44).

 

أَفـَحُـكْمَ الـْجَاهِـلِـيَّةِ يـَبـْغُـوْنَ، وَمَـنْ أَحـْسَـنُ مِـنَ اللهِ حُـكـْمًا لـِّقـَوْمٍ يـُّوقِـنُـوْنَ*  الـمائـدة 50

 

“Apakah hukum jahiliyyah yang mereka kehendaki?, dan (hukum) siapakah yang lebih baik  daripada (hukum) Allah bagi orang orang yang yakin”.(Q.S 5/50).

 

وَ إنْ تـُطِـعْ أَكـْثـَرَ مـَنْ فِى اْلأرْضِ يـُضِـلـُّوْكَ عَـنْ سَـبـِيْـلِ اللهِ، …..* الأنـعـام 116

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang  yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah…..(Q.S.6/116).

Kalau dilihat sepintas; ketiga dalih tersebut di atas sepertinya benar, dan dalil dalilnya pun kuat. Akan tetapi apabila diperhatikan dengan seksama maka akan terlihat bahwa mereka kurang teliti dalam memahami dalil dalil tsb, baik teks maupun konteksnya, sehingga melahirkan pandangan yang sempit, ekstrem dan radikal, dan pada gilirannya akan menimbulkan terorisme.

Untuk lebih jelasnya, perlu kita teliti satu persatu dari ketiga dalih tersebut di atas sebagai berikut :

Tentang taghyirul munkar :

1. Dalam hadits tersebut Nabi saw sudah  memberikan  tahapan pelaksanaan, sesuai dengan kemampuan orang yang akan melakukan taghyirul munkar.

2. Mengubah kemunkaran dengan tangan  dilakukan oleh orang yang punya  kekuasaan, seperti ayah  terhadap anaknya, suami terhadap istrinya, guru  terhadap muridnya, terutama oleh  pemerintah yang punya kekuasaan lebih luas.

3. Mengubah kemunkaran dengan tangan  tidak harus dengan cara merusak apalagi membunuh pelaku kemunkaran. Sebab yang  demikian  itu tidak  menyelesaikan masalah, justru  mengundang  reaksi yang membahayakan, bahkan  bisa  menimbulkan kemunkaran yang lebih besar.

4. Mengubah   kemungkaran  harus  tetap  dengan  memperhatikan  sikap  bijaksana (bil-hikmah), dan kaidah kaidah hukum  seperti :

 

دَرْءُ الْـمَـفَـاسِـدِ مُـقَـدَّم ٌعَـلَى جَـلْبِ الْـمَـصَـالـِحِ

“Menolak kerusakan itu didahulukan daripada menarik kebaikan”.

 

إذَا اجْـتـَمَعَ الـْمَـفْسَـدَتـاَنِ رُعِيَ أحَـدُهُـمَا بـِارْتـِكَـابِ أخَـفِّ الـضَّـرَرَيـْنِ

“Apabila berkumpul  dua  mafsadah  (kerusakan), maka dijaga  salah satu di antara keduanya, dengan  menempuh yang  lebih  ringan  bahayanya”.

 

Sebagai contoh misalnya  Nabi Muhammad saw  ketika  masih di Mekah, beliausabar shalat di  masjidil harom, walaupun  di dalamnya  terdapatr banyak  sekali arca. Padahal  sebenarnya  -kalau mau- beliau dapat menghancurkan arca arca itu. Akan tetapi kalau  hal itu dilaksanakan, maka akan  mengundang kemarahan besar orang orang  kafir  dari berbagai  suku Arab, hal mana  akan berbahaya bagi orang  orang  Islam yang jumlahnya masih sedikit, dan akan  menghambat jalannya dakwah. Oleh karena itu Nabi  memilih menempuh resiko yang lebih kecil, yaitu  mendiamkan  arca arca itu agar dakwahnya  tetap  berjalan, serta terhindar dari resiko yang lebih besar.

 

Tentang  makna  jihad:

1. Tidak benar kalau kata jihad hanya mempunyai arti perang bersenjata , di dalam Al Quran  dan  Hadits Nabi  terdapat banyak kata jihad yang berarti berjuang dengan dakwah, seperti ayat dan hadits berikut :

 

فـَلاَ تـُطِـعِ الْكَافِـرِيْـنَ وَجـَاهِدْهُمْ بِـهِ جِـهَادًا كَـبِـيْرًا*الـفرقـان 52

“Maka janganlah kamu mengikuti orang orang kafir, dan berjihadlah kamu dengan Al Quran, dengan jihad yang besar”.

Ayat ini diturunkan  di  Mekah , di  mana waktu itu belum ada  perintah  perang bersenjata, jadi kata jihad  dalam ayat ini  diartikan berjuang dengan dakwah menyebar luaskan  Al Quran. Bahkan  jihad  dengan  dakwah  dalam  ayat  ini  disebut sebagai “jihad besar”

 

أفـْضَـلُ الْـجِهَادِ كَلـِمَةُ حَـقٍّ عِـنْدَ سُـلْطَانٍ جَـائِـرٍ. رواه إبـن مـاجه

“Seutama utama jihad  ialah  menyampaikan kalimat yang benar di hadapan kepala Negara yang dhalim” (H.R.Ibnu Majjah).

 

2. Jihad  dalam  arti  perang  bersenjata dalam Islam  tidak dilakukan oleh orang seorang, melainkan  harus  dengan ijin sultan (kepala Negara), dengan dua  alasan sebagai berikut:

 

1). membela diri dari serangan orang kafir musuh (kafir kharobi), baik  serangan itu sudah terjadi atau pasti akan terjadi, sesuai dengan firman Allah dalam surat Al Baqoroh ayat 190 dan surat Al Taubah ayat 13 sbb:

 

وَقـاَتـِلـُوْا فِـى سَبِـيْلِ اللهِ الـَّذِيْـنَ يُـقَـاتـِلـُوْنـَكُـمْ، وَلاَ تـَعْـتَدُوْآ إنَّ اللهَ لاَ يـُحِـبُّ المُْـعْتـَدِيْـنَ.الـبقـرة 190

“Dan perangilah di jalan Allah orang orang yang memerangi kamu, dan jangan melampaui batas, sesungguhnya Allah tidak  menyukai  orang orang yang melampaui batas”. (Q.S.2/190).

 

ألاَ تـُقـَا تـِلـُوْنَ قَـوْمـًا نـَكَـثـُوْآ أيـْمَـانـَهـُمْ وَهَـمُّـوْا بـِإخْـرَاجِ  الـرَّسُـوْلِ، وَهُـمْ بـَدَؤُوْكُـمْ أوَّلَ مَـرَّةٍ.التوبة 13

    “Mengapakah kamu tidak memerangi orang orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rosul , danmerekalah yang pertama kali memulai memerangi kamu?…(Q.S.9/13).

 2). Melindungi pelaksanaan dakwah  dari  gangguan keamanan  dari orang orang yang tidak suka akan tersebar luasnya ajaran Islam. Jadi kalau  dakwah  tidak diganggu ya tidak ada perang, karena pada dasarnya dakwah hanya dilkasanakan  sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasulnya; tanpa paksaan, tanpa  kekerasan, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Nahl ayat 125:

banner gif 160 600 b - Pentingnya Mengenali Akar-akar Radikalisme Atas Nama Agama

 

أُدْعُ إلىَ سَبِــْيلِ رَبـِّكَ بـِالْـحِكْـمَةِ وَالْـمَـوْعِـظَـةِ الـْحَـسَـنـَةِ وَجَـادِلـْهُمْ بـِالـَّتىِ هِيَ أحْـسَنُ، إنَّ رَبـَّكَ

هُـوَ أعـْلـَمُ بـِمَنْ ضَـلَّ عَـنْ سَـبِـيْلـِهِ وَهُـوَ أعْـلـَمُ بـِالـْمُـهْـتَدِيـنَ .الـنـحل

125

 

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan  cara yang baik. Sesungguhnya  Tuhanmu Dia lah yang  lebih  mengetahui  tentang  siapa yang  tersesat dari  jalanNya, dan Dialah yang lebih mengetahui orang orang yang mendapat petunjuk. (QS.16/125).

BACA :  PENARIKAN BUKU BERHALA WALI TIDAK CUKUP HANYA JANJI

 

لاَ إكْـرَاه َفِى الـدِّيــْنِ ، قـَدْ تـَبَــيَّنَ الـرُّ شْـدُ مِـنَ الـْغَيِّ…الـبـقـرة 256

“Tidak ada paksaan untuk memasuki agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. (Q.S.2/256).

3. Tidak benar  bahwa  ayat lima dari surat Al Taubah dan Hadits  riwayat Buchori/Muslim  di  atas  menyuruh  orang Islam membunuh  orang orang  kafir di mana pun mereka berada tanpa sebab, dan bahwa  orang orang kafir hanya  diberi dua opsi; masuk Islam atau kalau tidak mau masuk Islam dibunuh, yang berarti mereka dibunuh atau diperangi itu karena kekafirannya. Ada beberapa ayat Al Qurandan Hadits Nabi yang menunjukkan bahwa  bagi orang orang kafir tersedia beberapa opsi, dan bahwa mereka diperangi bukan karena kekafirannya, tetapi karena mereka memerangi orang Islam. Perhatikan ayat ayat dan Hadits berikut :

 

فَـإذَا لـَقـِيـْـتُمُ الـَّذِيـْنَ كَـفَـرُوْا فَـضَـرْبَ الـرِّقـَابِ حَـتىَّ إذَا أثــْخَـنْـتُمـُوْهُـمْ  فـَشُـدُّوا الْـوَثـاَقَ فـَإمَّا مَـنًّـا

بـَعـْدُ وَإمـَّا فِـدَاءً حَـتـــَّى وَضَـعَ الْـحَرْبُ أوْزَارَهَا، …محمد 4

“Apabila kamu bertemu orang orang kafir (dalam medan perang) maka pancunglah  batang leher  mereka, sehingga  apabila  kamu  telah mengalahkan mereka maka  tawanlah  mereka, dan  sesudah itu kamu  boleh  membebaskab  mereka atau menerima tebusan (dari mereka) sampai perang selesai…(Q.S.47/4).

وَ إ نْ أَحـَدٌ مِـنَ الْـمُـشْـرِكِـيْـنَ اسْتـَجَـارَكَ  فـَأجِـرْهُ حَـتـَّى يـَسْـمَعَ كَـلاَ مَ اللهِ، ثـُمَّ أبـْلـِغْـهُ مـَأْ مَـنَـهُ،

ذَلـِكَ بِـأنــَّهـُمْ قَـوْ مٌ لاَ يـَـعْـلـَمُـوْ نَ . الـتـوبـة 6

“Dan  jika seorang di antara orang orang  musyrik itu meminta perlindungan kepadamu , maka lindungilah dia supaya sempat  mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah dia ke  tempat yang aman baginya. Demikian  itu disebabkanmereka kaum yang tidak mengerti”. (Q.S.9/6).

 

لاَ يـَنـْهـَاكُـمُ الله ُعَـنِ الـَّذِيْـنَ لـَمْ يـُقـَاتـِلـُوْكُمْ فِـى الـدِّيــْنِ  وَلـَمْ يـُخْـرِجُـوْكُـمْ مِـنْ دِيـَارِكُـمْ أنْ تـَبـَرُّوْهُمْ

وَتـُقـْسِـطُـوْآ إلـَيْـهِمْ ، إنَّ اللهَ يـُحِـبُّ الـْمُـقْـسِـطِــيْنَ . الـممـتحـنـة  4

“Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang orang yang tidak memerangimu  karena  agama dan tidak pula  mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang orang berlaku adil”. (Q.S. 60/8).

 

Tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia;

1. Sebelum masa penjajahan Portugis, Belanda dan Jepang, Indonesia  di  bawah kekuasaan  para  sultan Islam; sekitar 40  kesultanan  Islam. Selama  masa  penjajahan umat Islam berjuang  dan  terus berjuang untuk  merebut  kemerdekaan  dari kekuasaan penjajah. Sampai akhirnya berhasil dan merdeka pada tg 9 Romadlon 1334 H./17 Agustus 1945.

Menurut madzhab Syafi’iy; Negara Islam yang dijajah oleh orang kafir, tetap dianggap Darul Islam, apalagi Indonesia  sudah  berhasil direbutnya  kembali dari kekuasaan penjajah kafir, dan sekarang dikuasai penuh oleh rakyat Indonesia yg mayoritasnya beragama Islam,  kepala Negaranya  beragama Islam, umat Islam di  Indonesia  dapat   mengamalkan  ajaran Islam serta menegakkan syi’ar Islam, meskipun belum bisa memberlakukan hukum Islam secara penuh.

 

2. Mengenai  hukum  kafir  bagi yang tidak memberlakukan  hukum Islam, seperti tersebut  dalam  surat Al Maidah  ayat  44  di atas, perlu  dicari kejelasannya, sebab  ada dua ayat  berikutnya yang berbeda  thesisnya,  yaitu Al Maidah ayat 45 dan 47. Untuk lebih jelasnya perhatikan ketiga ayat berikut :

 

وَمَنْ لـَمْ يـَحْـكُـمْ بـِمَآ  أ نـْزَلَ اللهُ فـَأُولـَئـِكَ هُـمُ الـْكـَافِـرُوْنَ*الـما ئـدة 44

Artinya: Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan hukum yang diturunkan Allah maka mereka itu adalah orang orang yang kafir   (Q.S.5/44)

 

وَمَـنْ لـَمْ يـَحـْكـُم ْبـِمـَآ  أ نـْزَلَ اللهُ فـَاُو لـَئـِكَ هُـمُ الـظَّا لـِمُـوْنَ* الـمـائـدة  45

 

Artinya: Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan hokum yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang orang dholim. (Q.S.5/45).

 

وَمَـنْ لـَمْ يـَحْـكـُمْ بـِمَـآ  أ نـْزَلَ اللهُ فـَاُو لـَئـِكَ هُـمُ الـْفـَاسِـقـُونَ * الـمـا ئـدة

 

Artinya: Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang orang yang fasiq”. (Q.S.5/47)

 

Penjelasannya sebagai berikut :

a. Orang  yang   tidak  memberlakukan  hukum  Allah, dan dia  yakin  bahwa hukum Allah itu tidak baik, dan  bahwa  hukum  selain hukum  Allah itu lebih baik, maka dia kafir.

b. Orang  yang  meyakini  bahwa  hukum Allah  itu baik, tetapi dia tidak senang memberlakukan  hukum Allah  karena   mengikuti  kemauan hawa  nafsunya, maka  dia  dholim   (menyiksa  diri  sendiri  dengan berbuat  dosa)  dan  fasiq (durhaka pada perintah Allah).

c. Orang yang  meyakini  bahwa  hukum Allah  itu baik dan  benar, lalu dia  berusaha  memberlakukannya,  akan  tetapi  belum berhasil penuh, lalu  dia kompromi  dengan  hu kum  selain  hukum Allah, demi  kemaslahatan  umat serta menjaga  agar tidak timbul  madlorot yang lebih  besar, seperti  yang  dialami oleh  umat  Islam Indonesia,  maka dia  tidak kafir, tidak dholim dan tidak pula fasiq,  selagi  mereka  tetap  mengusahakan   berlakunya  hukum Allah, dengan alasan sebagai berikut:

 

  • Apa yang diperintahkan oleh Allah dan RosulNya, kendaklah dilaksana kan  sesuai  dengan kemampuan, sebagaimana  firman  Allah dan hadits Nabi saw berikut :

 

فـَاتـَّقـُوااللهَ مـَااسْـتَطَـعْـتُمْ وَاسْـمَـعُـوْا وَأطِـيْـعُـوْا…الايـة *  الـتغـابن 16

“maka  bertaqwalah kamu kepada Allah menurut  kesanggupanmu, dan dengarlah serta taatlah…..(Q.S.64/16).

 

  إِذَا أمَـرْتـُكـُمْ بـِأمْـرٍ فـَأْتـُوْا مِـنـْهُ مَـااسْـتـَطَـعْـتـُمْ .رواه الـشـيخـان

  “jika aku perintahkan kepada kamu suatu perkara maka kerjakanlah daripadanya  semampu kamu. (HR .Bukhori / Muslim).

 

  • Nabi Muhammad saw bersabda kepada ‘Aisyah ra:

وَلَـوْ لاَ أَنَّ قَـوْمـَكِ حَدِيْـثُـوْا عَـهْـدٍبـِشرْكٍ لَـبَـنَيْـتُ الـْكـَعْـبَـةَ عَـلَى قَـوَاعِـدِ إبْـرَاهِـيْمَ.رواه الشـيخان

“seandainya bukan karena kaummu masih baru dengan kemusyrikan niscaya akan kubangun (kembali) Ka’bah pada pilar pilar Ibrahim”.

 

Dalam hal ini Nabi Muhammad saw tahu bahwa bangunan Ka’bah harus dikembalikan pada  pilar pilar yang  asli seperti pada  saat dibangun oleh Nabi Ibrahim as, akan tetapi kalau hal itu dilaksanakan bakal  menimbulkan reaksi yang mambahayakan  keimanan  umat  yang masih baru lepas dari kemusyrikan. Maka beliau  memili h “tidak mengembalikan Ka’bah pada pilar pilar aslinya”, demi menjaga keimanan umatnya.

  • Hal yang  sama  dialami  oleh Najasyi raja Khabasyah {sekarang Eritrea); dia  beragama Islam tetapi  belum  bisa  memberlakukan  hukum  syariat Islam, sebab  para  pejabat  pembantunya  dan  mayoritas  rakyatnya  beragama Katholik. Kalau dia  memaksakan berlakunya  hukum Islam maka akan diberontak oleh  para  pejabat dan  rakyatnya, hal mana  akan menghambat  dakwahnya. Maka dia terpaksa belum bisa  memberlakukan  hukum Islam demi lancarnya dakwah dan menolak bahaya yang lebih besar.
BACA :  Salah Memahami Ibadah Menyebabkan Kaum Wahabi Terkenal Ngawur

 

Ternyata ketika raja Najasyi wafat, Nabi Muhammad saw manshalatinya. Ini berati bahwa  raja Najasyi dengan kebijaksanaannya itu tidak dihukumi kafir, dia tetap seorang muslim.

 

  • Umat Islam Indonesia meyakini bahwa hukum Allah (syari’t Islam) itu baik, dan sudah mengusahakan  agar hukum Islam berlaku di Indonesia, tetapi  belum berhasil penuh. Sejak sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK)  29 Mei 1945 sampai 1 Juni 1945, para wakil umat Islam sudah  mengusulkan  Syari’at Islam sebagai dasar negara namun belum berhasil. Demikian juga dalam sidang sidang Dewan Konstituante hasil pemilu th.1955  diusulkan agar Islam menjadi dasar negara, tetapi dalam  footing wakil wakil umat Islam hanya memperoleh  suara 42,5%. Sampai sekarang umat Islam Indonesia  masih terus berusaha  melalui jalan damai dan terhormat yaitu lewat parlemen, dan telah menghasil kan beberapa  undang undang hukum.

 

Dengan penjelasan tersebut maka dapat  disimpulkan  bahwa  Negara Kesatuan Republik Indonesia  bukan negara kafir .

3.  Adapun  tentang  sistim pemerintahan yang trias politika, kepala Negara bukan kholifah, ditetapkan berdasarkan suara terbanyak, dapat dijelaskan sbb.:

a). Pada zaman Nabi Muhammad saw kekuasaan legislative, eksekutiv dan yudikativ semua ditangan Nabi saw, tetapi tidak ada larangan untuk memi sahkan ketiga kekuasaan tersebut karena kondisi yang  berbeda, bahkan dalam beberapa hadits,  Nabi  telah  mengisyaratkan bahwa  suatu saat  kekuasaan yudikativ akan terpisah, sebagaimana tersebut dalam hadits berikut:

 

مَـنِ ابْـتـلُـِيَ بـِالْـقَـضَـاءِ بَـيْنَ الْـمُـسْـلِمِـيْنَ فـَلـْيَعْـدِلْ بَـيْـنَـهُمْ. رواه الـدار قظـنى

“barangsiapa diuji (oleh Allah) dengan (pemutus) hukum di antara musliminmaka hendaklah dia berlaku adil di antara mereka. (HR.Daruquthni).

 

إذَا حَـكَمَ الْـحَـاكِـمُ فـَاجْـتـَهـَدَ فَـأصَابَ فَـلـَهُ أجْـرَانِ، وَإذَا اجْـتَـهَـدَ فـَأ خْـطَأَ فـَلـَهُ أجْـرٌ وَاحِـدٌ.

رواه الـشـيخـان

“bila seorang hakim menghukumi, lalu dia berijtihad dan benar, maka baginya dua pahala. Dan bila berijtihad dan salah,  maka baginya satu pahala”. (HR.Bukhori/Muslim).

Kedua  hadits tersebut mengisyaratkan adanya kekuassan yudikativ  yang terpisah dari tangan kholifah, yakni ada qodli (hakim) yang bukan kholifah, Pada zaman kholifah Abu Bakar ra. sebahagian kekuasaan legislativ sudah tidak lag di tangan kholifah,  sebab hukum  tinggal mengambil dari Al Qurandan Haditas Nabi saw.ditambah dengan hasil ijtihad beliau sendiri. Jadi tidak ada masalah dengan trias p[olitika  sebab memang tidak ada larangan.

b).  Tentang sebutan kholifah; Islam tidak menentukan sebutan tertentu bagi kepala negara, ini terbukti ketika Rosulullah saw. wafat diganti Abu Bakar  ra. beliau disebut “Kholifatu Rosulillah. Setelah diganti Umar bin Khotthob beliau dipanggil “Kholifatu Kholifati Rosulillah”  tidak mau,  beliau  minta dipanggil “Amirul Mukminin”. Sesudah itu  ada  yang dipanggil Sultan, maka kiranya tidak salah kalau kemudia ada yang disebut “Presiden”.

c).  Tentang penetapan kepala negara (nashbul  imam); menurut ijmak Ulama hukumnya wajib, tetapi tentang tata cara penetapan kepala  negara tidak ada ketentuan  yang  pasti dan yang harus diikuti.  Ini terbukti  dari cara penetapan kholifah Abu Bakar ra.yang berbeda dengan cara penetapan  kholifah Umar bin Khoththob ra., dan berbeda pula dengan cara penetapan kholifah Usman bin Affan ra.

d.  Tentang demokrasi yang didasarkan pada suara terbanyak; nabi Muhammad saw. bersabda:

 

عـَلـَيْكـُم ْبـِالـسَّـوَادِ اْلأ عْـظَـمِ  . رواه الـظـبـرانى

“ikutilah  (nuktah)  hitam yang terbesar (maksudnya: suara terbanyak). Pada waktu  akan  perang Uhud, Nabi saw. berpendapat  sebaiknya orang orang Islam menunggu  kedatangan musuh di  dalam kota Madinah, tetapi suara terbanyak menghendaki agar orang orang Islam menjemput  musuh di luar kota agar tidak terjadi kerusakan dalam kota Madinah. Maka  Nabi mengikuti suara terbanyak; yaitu menjemput musuh di luar kota Madinah.

 

Jadi tidak ada  masalah dengan penetapan keputusan berdasar  suara  terbanyak, selagi tidak ada  ketetapan hukum yang sudah pasti, seperti misalnya hukum makan daging babi  tetap haram walaupun  kebanyakn orang menghendaki halal. Sampai di sini dapat diambil kesimpulan bahwa telah terjadi kesalah pahaman atau terjadi  pemahaman  yang  sepotong sepotong terhadap  dalil  naqly  dari  Al Quran maupun hadits Nabi saw.

Mengapa terjadi kesalah pahaman terhadap ayat ayat Al Quran dan Hadits Nabi sehingga melahirkan paham radikalisme yang pada gillrannya membuahkan sikap radikal dan terorisme? Menurut pengamatan saya ada tiga sebab:

1.  semangat  yang  tinggi  untuk  memperjuangkan Islam, tetapi  kurang  pertimbangan, karena kurangnya ilmu pengetahuan hukum  agama,  terutama  bagi yang masih muda muda.

2.  pemahaman terhadap agama Islam  yang sepotong sepotong, tidak konprihensiv (tidak menyeluruh).

3.  jauh dari  bimbingan para Ulama Ahlis Sunnah Waljama’ah.

 

 

MENCEGAH  RADIKALISME

Dengan diketahuinya sebab sebab terjadinya paham radikalisme, maka untuk mencegahnya perlu diambil langkah langkah sebagai berikut :

1. menyebar luaskan ajaran Islam yang benar dan konprihansiv (menurut paham Ahlis Sunnah wal Jama’ah) khususnya mengenai hal hal yang sering disalah-pahami dan  menimbulkan sikap radikal  seperti tentang  amar  makruf  nahi munkar, tentang jihad,  tentang kehidupan berbangsa dan bernegara (fiqhud daulah), dsb.

2. melakukan pendekatan rohani kepada generasi muda dan memberikan bimbingan keagamaan, sekali gus  mengawasi mereka  dari  pihak  pihak yang akan menyesatkan  mereka,  khususnya pendekatan oleh  para kiyai/ustadz.

 

3. oleh karena terjadinya radikalisme disebabkan oleh berbagai masalah dalam berbagai segi kehidupan, maka harus dilakukan kordinasi dengan berbagai pihak yang terkait.

 

Semoga makalah yang masih jauh dari sempurna ini ada manfaatnya dalam menanggulangi radikalisme. Kemudian apabila di dalam tulisan ini terdapat banyak kesalahan, itu semata mata karena kebodohan saya, dan kalau ada nilai nilai kebenaran, tidak lain karena hidayah Allah SWT.

والله أعـلـم بـالـصـواب

Semarang. 1  Desember  2011.

 

P  e  n  u  l  i   s

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

12 thoughts on “Pentingnya Mengenali Akar-akar Radikalisme Atas Nama Agama”

  1. akarnya nyambung / nyanad ke Najd, itulah radikalisme ajaran M ibn A Wahhab yg dulu katanya berjihad memerangi ummat Islam dan para Ulama yg tidak mau masuk sektenya. Katanya sih jihad fisabilillah, nggak nyadar mereka berjihad fi sabilisysyathiin, dosanya besar sekali karena membantai ummat Islam dan kaum muslimin.

  2. belajar ilmu agama kpd Ulama’ warisan para nabi (Ulama yg bersanad ) menjadi suatu keharusan / wajib. bolehlah belajar dg membaca sendiri tetapi hati2 bisa jadi kita akan disesatkan syethan.

    “Tiada ilmu tanpa sanad” (al-Imam Syafi’i)
    sebagai contoh abad 21 ini Syeh ALBANI alwahabi dg belajar sendiri tanpa guru yg berarti tanpa sanad sungguh diluar akal waras kita bagaimana syeh albani dg berani dg ilmunya yg sepotong2 secara tdk langsung ataupun langsung menyalahkan Al-Bukhori , Al-imam kita Asysyafi’i, Al-Imam Ibnu Hajar, Annawawi.

    Tetapi hati yg keruh akal yg tdk waras semacan ini tak akan mengerti juga.
    seseorang yg akalnya waras hati yg jernih tentu lebib memilih Al-Imam Syafi’i lebih memilih Ibnu Hajar memilih Imam Nawawi daripada pemahaman syeh Albani.
    Apakah kita akan mengikuti fatwa Syeh pujaan hati Albani yg berfatwa konuyol tentang Palestina? Bagaimana mungkin mereka menjiplak perkataan Imam Syafi’i lalu menyalahkan ini itu padahal mereka tdk berguru kepada sang Imam melalui murid2nya.

    Hati yg telah dimatikan Allah swt Mata yg telah dibutakan Allah swt Telinga yg telah tuli tentu TAK MERASA juga bahwa :
    – Membunuh muslim yg dianggap kafir (krn pemahaman sepotong sepotong) adalah NEO KHOWARIJ anak cucu Dzul Kuwaisaroh PENGHARDIK NABI
    -Berjihad dg nafsunya (karena ilmu agamanya sepotong)adalah bujukan syethan yg terkutuk. walaupun mereka berkata JIHAD- SURGA tdk merasa bahwa surga yg dijanjikan adalah surga buatan Almasih Dajjal
    -merasa berJIHAD FISABILILLAH dg mencela kaum muslimin apatah sampai membunuhnya adalah mencontoh IBNU MULJAM sang eksekutor Amirul Mukminin
    Ali bin AbiTholib,kw. Dan perhatikan apa yg dikatakan Ibnu Muljam kepada temanya sesama kaum Khowarij :”maukah kamu memperoleh kemuliaan dunia akhirat”?
    temanya berkata : Apa itu? MEMBUNUH ALI BIN ABITHOLIB.
    mirip perkataan seorang wahabi pengebom masjid di cirebon dikala sholat jum’at. katanya JIHAD – SURGA?

  3. Ketika Ibnu Muljam menebas AmirulMukminin Ali bin AbiTholib,kw ia berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” dan ia Ibnu Muljam membaca firman Allah:
    “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hambaNya.” (Al- Baqarah: 207).

    sekarang perhatikan perkataan neo khowarij alwahabiyah dlm kitab penuh darah KAUM MUSLIMIN dalam “KITAB KASYFU SYUBHAT” karangan ibnu wahab an-najdi

  4. Entah sdh berapa kali, setiap ada kekerasan selalu dihubungkan dengan Syaikhul Islam atau Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahhab. Tolong diingat ikhwah fillah, sebanyak apapun amaliah kalian, – itu juga belum tentu diterima oleh Allah Tabarooka Wa Ta’aala krn belum tentu ikhlash dan tidak ittiba’ pd Rasulullah, menjadi hancur lebur krn banyak menghina ulama.

    1. Sejarah mencatat berdirinya kerajaan saudi arabia (dulu Hijaz) di atas lumuran darah Ulama’2 yg berbeda faham dg Ulama’ Muhammad Ibnu Wahab dan sejarawan dari kalangan pengikut Syeh Muhammad ibnu Wahab sendiri juga mencatatnya. mengapa antum keberatan? Apakah antum juga tdk tahu sebelum menjadi raja Muhammad su’ud itu siapa?

      Dan memang kenyataanya pengebom masjid cirebon adalah dari kawan antum. dg mengatakan Jihad? apakah antum belum membaca berita2 pengeboman itu dan apa kata pengebom?

      memang tdk semua wahabi adalah jahil kpd sesama muslim (atau mungkin kami sudah dianggap kafir) dg mengatakan Takfir.i.dan semacamnya. tetapi perlu antum catat bahwa dakwah wahabi entah itu sebagian atau keseluruhan selalu saja mencela kami dimana2. apa hak kalian mencela kami?

      Betul Akhi amal kami belum tentu diterima Allah swt . tetapi kami belajar tasawwuf (ilmu membersihkan diri dari tdk keselain Allah swt dg mengharap rahmat Allah swt)
      yg oleh sebagian kalian atau lebih dianggap mengada2 dlm agama / bid’ah / dsb)
      bukankah begitu akhi?

      apakah dg mencela kami amalan antum diterima Allah swt? sangat jauh akhi.
      dan kami katakan mencela kaum muslimin adalah kefasikan.

      apakah antum juga akan berkata kami mencela Ulama’ Ibnu wahab? apanya yg kami cela. kami tdk mencela bahwa cingkrangnya celana antum adalah jelak, antum sholat berjamah kami senang. yg kami ingatkan adalah mengoreksi amalan kami dg berkata Bid’ah dsb adalah bathil, sedangkan antum enggan mengoreksi diri sendiri adalah kemungkaran.

  5. Assalamaikum, ini tidak menyentuh pada apa yg di pelajari dari bagian ilmu Agama Islam yg dipakai pada umumnya mengenai , Tauhid , Fiqih , dan bagian Ahklak , bagai mana munggkin bila Ahlak Rasulullah Muhammad SAW sebagi contoh suri tauladan, yg tidak banyak kita ketahui bagaimana kehidupan dan tutur kata yang lembut , tidak melarang dgn kata jangan, tak ada perdebatan, ataupun tidak,selalu menjaga hati orang bila menerima pemberian walaupun menolaknya dan sangat Ironis bila potongan dari Hadist Kullu Bid’ah Dholallah , bagai mana sampai akan timbul perpecahan, mengatas namakan memurnikan Al quran dan Sunah hadis, sehingga menjadi tuduhan merasa paling benar sendiri dan paling bersih yang lainnya sesat dan masuk neraka ,

    1. Kesimpulannya, jika salah dalam memahami hadits Nabi dan ayat2 Qur’an tentang jihad dan taghyiruk munkar, tentunya akan menjadi seorang radikal, Radikal itu cenderung menjadi destroyer, jelaslah ini bukan ajaran Rasul Muhammad Saw.

      Uraian di atas sangat bagus, tapi sayangnya kepanjangan sebenarnya itu kurang menarik buat kebanyakan orang mungkin bisa bikin pusing sebabb panjang banget, tapi saya maklum sebab artikel di atas adalah sebuah makalah seminar kayaknya.

      Tapi bagi saya sangat menarik untuk dibaca, thanks ya mas Admin?

  6. Bismillahirrohmanirrohim, Alhamdulillah atas nikmat Islam , Allahumma sholli wasallim ‘alaa sayyidinaa Muhammad wa’alaa aalii sayyidina Muhammad.

    Kami mengingatkan Umat Muhammad ibnu Abdillah utamanya dinegara tercinta ini untuk mewaspadai tuntunan Muhammad ibnulwahab pengasas wahabi yg sekarang berganti baju Salafi / Manhaj Salaf untuk mengelabuhi awwam seperti ana bahwa:

    1. di awal berdirinya wahabi yg dikomandanai duet Muhammad Su’ud dg Muhammad
    ibnulwahab kira2 abad 19 mereka banyak membunuh Ummat Muhammad bin
    bin Abdillah. silakan baca sejarah berdirinya SA dalam catatan seorang LA

    2. radikalisme dalam agama, wahabi / salafi / manhaj salaf mereka sangat berbahaya
    karena didukung dana yg besar seperti dana yg dibawa jamah haji umatmuhammad
    bin abdillah juga didukung Amerika Serikat , inggris , perancis , israel.

    3. Kontribusi Wahabi salafi Manhaj Salaf untuk Ummat Muhammad klo diprosentasi
    sangat sedikit kecuali untuk diri mereka sendiri.

    4.Semenjak tegaknya Manhaj Salaf / Salafi / Wahabi umat Muhammad bin Abdillah
    menjadi sedikit karena banyak dikafirkan , kemudian menjadi terpecah-belah spt
    yg kita lihat sekarang ini sehingga kelihatan sekali Islam yg Rahmat seprti Islam
    yg merusak.

    5.Hati2 terhadap Kitab-Kitab yg kalian baca, banyak sekali pemalsuan Kitab Kitab
    oleh madzab baru ini. Shohih Bukhori pun tdk luput dari pemalsuan ini, Alhamdulillah
    AlQuran selamat dari pemalsuan ini karena banyak yg menghafalnya.

    Himbauan kepada wahabi / Salafi / Manhaj Salaf :
    1. Berhentilah menyakiti Ummat Muhammad bin Abdillah untuk tdk berkata Kafir
    toh kalian tdk mengerti hati kami.

    2.Periksalah Kekafiranmu sebelum mengafirkan Umat Muhammad bin Abdillah,
    kenalilah dirimu dam kelompokmu sebelum mengenal selain kamu dan kelompokm

    3. Kembalilah ke Al-Jamah umat Muhammad bersatualh , saudara kita di Palestin
    memerlukan dana besarmu

    4.Perhatikanlah Umat Muhammad bin Abdillah tiap hari diintai agar lepas dari kalimat
    laailaaha illallah, biarkanlah yg sudah masuk didalamnya.

    5.Perhatikanlah Dzul Kuwaisaroh yg sangat rajin beribadah tetapi ibadahnya tdk
    bermanfaat untuk dirinya karna menghardik Nabi saw, berhentilah menghardik Umat
    Muhammad bin Abdillah

    Himbauan disampaikan atas:
    “surga diperuntukan kaum beriman , dan belum sempurna keimanan seseorang bila tdk saling mengasihi”

    Igatlah Kesombongan menghempaskan Iblis dari Surga dan sesungguhnya sombong bagian dari sifat Iblis.

    Menilai Ibadah seseorang adalah bentuk kesombongan karena amal ibadah semata2 untuk Allah swt bukan untuk kalian, bukan pula untuk dinilai kalian.
    semoga membuka hati yg lalai, amiin

  7. Jika radikalisme islam (menurut istilah orang kafir) itu salah, mengapa kebanyakan mujahidin jaman sekarang wafatnya dengan tanda-tanda karomah dan khusnul khotimah ? Contohnya di indonesia: Amrozi, Mukhlas, Imam samudera, dll Dan lihat kelakuan kebanyakan kiai-kiai jaman sekarang baik itu dari NU, Muhammadiyah, atau yang ngaku-aku Salafi, dll. Bobrok kan akhlaq mereka ?. Sudah gak pernah jihad melawan kafir zionis, salibis, musyrikin, mulhid, masih juga menjuluki mujahidin dengan julukan yang buruk seperti khawarij, terorist,dsb. Belum lagi menjilat penguasa-penguasa. ini fakta lho….
    Apa tokoh tokoh agama ini tidak mengerti ramalan Nabi tentang ummatnya yang terus berperang (yuqootiluuna) sampai hari kiamat ? Bahkan diantara tokoh-tokoh itu bekerja sama dengan penguasa yang antek kafir itu untuk menangkap dan kalau perlu menyiksa dan membunuh mujahidin karena dianggap teroris dan khawarij. lalu siapa sebenarnya yang khawarij.? sebainya anda-anda semua mempelajari apa khawarij itu agar tidak salah tempat dalam menerapkan tuduhan khawarij. Hati-hatilah memvonis khawarij.Lebih baik vonis itu untuk diri sendiri sebagai tazkiyyatunnafs. Kebanyakan mujahidin sekarang selalu khawatir ketika mengkafirkan muslim KTP (yang dianggap murtad) jangan-jangan berbalik kearah diri sendiri.Ini fakta lho… memang dilematis. itu karena tokoh-tokoh agama yang suu’ yang selalu menggoncangkan pikiran orang awam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker