Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Kajian Ilmiyah

TAHLILAN: PENJELASAN ILMIYYAH SOAL JAMUAN MAKAN

JAMUAN MAKAN PADA ACARA TAHLILAN tidak haram tapi diharamkan oleh kaum Wahabi diatasnamakan Imam syafi’i. Berikut ini PENJELASAN ILMIYYAH TENTANG JAMUAN MAKAN PADA JAMA’AH DZIKIR TAHLILAN.

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : Dari Aisyah ra bahwa sungguh telah datang seorang lelaki pada Nabi saw seraya berkata : Wahai Rasulullah, sungguh ibuku telah meninggal mendadak sebelum berwasiat, kukira bila ia sempat bicara mestilah ia akan bersedekah, bolehkah aku bersedekah atas namanya? Rasul saw menjawab : “Boleh” (Shahih Muslim hadits No.1004).

Berkata Hujjatul Islam Al Imam Nawawi rahimahullah : “Dan dalam hadits ini (hadits riwayat shahih muslim diatas) menjelaskan bahwa shadaqah untuk mayit bermanfaat bagi mayit, dan pahalanya disampaikan pada mayyit, demikian pula menurut Ijma (sepakat) para ulama, dan demikian pula mereka bersepakat atas sampainya doa doa” (Syarah Imam Nawawi ala Shahih Muslim juz 7 hal 90)

Dan juga telah tsabit di dalam shahih al-Bakhari dari Abdullah bin ‘Umar bin al-‘Ash, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam : “Ya Rasulullah apakah amal yang baik dalam Islam ? Nabi menjawab : “memberikan makan, mengucapkan salam kepada orang yang dikenal dan tidak dikenal”. (Shahih al-Bukahri no. 12 ; Shahih Muslim no. 39 ; Sunan Abi Daud no. 5194 ; Sunan an-Nasaa’i no. 5000 ; Sunan Ibnu Majah no. 3253 ; al-Mu’jam al-Kabir lil-Thabraniy no. 149.)

Dalam sebuah hadits dari Thawus radliyallahu ‘anh menyebutkan : “Sesungguhnya orang mati di fitnah (diuji dengan pertanyaan malaikat) didalam kubur mereka selama 7 hari, maka mereka menganjurkan untuk memberi jamuan makan yang pahalanya untuk mayyit selama masa 7 hari tersebut”. (Diriwayatkan oleh Imam Ahmad didalam az-Zuhd dan Abu Nu’aim didalam al-Hilyah.) Imam al-Hafidz As Suyuthi mengatakan bahwa lafadz “kanuu yustahibbuna”, memiliki makna kaum Muslimin (sahabat) yang hidup pada masa Nabi shallallahu ‘alayhi wa salllam, sedangkan Nabi mengetahuinya dan taqrir atas hal itu. Namun, dikatakan juga sebatas berhenti pada pada sahabat saja dan tidak sampai pada Rasulullah. (Lihat : al-Hawi lil-Fatawi lil-Imam as-Suyuthi [2/377],)

Berkata Shohibul Mughniy : Bila keluarga mayyit membuat makanan untuk orang, maka makruh, karena hal itu menambah atas musibah mereka dan menyibukkan, dan meniru – niru perbuatan jahiliyah. (Almughniy Juz 2 hal 215). Lalu Shohibul Mughniy menjelaskan kemudian: Bila mereka melakukannya karena ada sebab atau hajat, maka hal itu diperbolehkan, karena barangkali diantara yang hadir mayyit mereka ada yang berdatangan dari pedesaan, dan tempat – tempat yang jauh, dan menginap dirumah mereka, maka tak bias tidak terkecuali mereka mesti dijamu (Almughniy Juz 2 hal 215).

PENJELASAN TERKAIT HADITS KELUARGA JA’FAR

Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “hidangkanlah makanan untuk keluarga Ja’far, sebab sesungguhnya telah tiba kepada mereka perkara yang menyibukkan mereka”.

Imam asy-Syafi’i rahimahullah di dalam al-Umm beristidlal dengan hadits di atas terkait anjuran memberi makan untuk keluarga almarhum: “Aku mengajurkan bagi tetangga almarhum atau kerabat-kerabatnya agar membuatkan makanan pada hari kematian dan malamnya, sebab itu merupakan sunnah, dzikr yang mulya dan termasuk perbuatan ahlul khair sebelum kita serta sesudah kita”.

“Kami (sahabat Nabi) menganggap berkumpul ke (kediaman) keluarga almarhum serta (keluarga almarhum) menghidangkan makanan setelah pemakaman bagian dari niyahah”. (Musnad Ahmad bin Hanbal no. 6905.)

Adapun pengertian niyahah sendiri, sebagaimana yang Imam Nawawi sebutkan adalah :
“Ketahuilah, sesungguhnya niyahah adalah menyaringkan suara dengan an-nadb, adapun an-Nadb sendiri adalah mengulang-ngulang meratapi dengan suara (atau menyebut berulang-ulang) tentang kebaikan mayyit. qiil (ulama juga ada yang mengatakan) bahwa niyahah adalah menangisi mayyit disertai menyebut-menyebut kebaikan mayyit”. Ashhab kami (ulama syafi’iyah kami) mengatakan : “haram menyaringkan suara dengan berlebih-lebihan dalam menangis”. Adapun menangisi mayyit tanpa menyebut-menyebut dan tanpa meratapinya maka itu tidak haram”. (al-Adzkar lil-Imam an-Nawawi [147].)

Lebih jauh, juga perlu diingat bahwa dalam menghukumi sesuatu haruslah menyeluruh dan harus mempertimbangkan hadits-hadits lain yang saling terkait. Dalam hal ini, ada sebuah hadits lain yang shahih diriwayatkan oleh Abu Daud, dari ‘Ashim bin Kulaib, dari ayahnya, dari sahabat Anshar, yang redaksinya sebagai berikut:

BACA JUGA:  Arab Saudi Provokasi Iran dengan Eksekusi Sheikh Nimr al-Nimr

“Kami keluar bersama Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam pada sebuah jenazah, maka aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam berada diatas kubur berpesan kepada penggali kubur : “perluaskanlah olehmu dari bagian kakinya, dan juga luaskanlah pada bagian kepalanya”, Maka tatkala telah kembali dari kubur, seorang wanita (istri mayyit, red) mengundang (mengajak) Rasulullah, maka Rasulullah datang seraya didatangkan (disuguhkan) makanan yang diletakkan di hadapan Rasulullah, kemudian diletakkan juga pada sebuah perkumpulan (qaum/sahabat), kemudian dimakanlah oleh mereka. Maka ayah-ayah kami melihat Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam makan dengan suapan, dan bersabda: “aku mendapati daging kambing yang diambil tanpa izin pemiliknya”. Kemudian wanita itu berkata : “wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah mengutus ke Baqi’ untuk membeli kambing untukku, namun tidak menemukannya, maka aku mengutus kepada tetanggaku untuk membeli kambingnya kemudian agar di kirim kepadaku, namun ia tidak ada, maka aku mengutus kepada istinya (untuk membelinya) dan ia kirim kambing itu kepadaku, maka Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “berikanlah makanan ini untuk tawanan”. (Sunan Abi Daud no. 3332 ; As-Sunanul Kubrra lil-Baihaqi no. 10825 ; hadits ini shahih ; Misykaatul Mafatih [5942] At-Tabrizi dan Mirqatul Mafatih syarh Misykah al-Mashabih [5942] karangan al-Mulla ‘Alial-Qari, hadits tersebut dikomentari shahih.)

Hadits ini tentang Nabi shallallahu ‘alayhi wa sallam sendiri dan para sahabat beliau yang berkumpul dan makan di kediaman keluarga almarhum, yang berarti bahwa hadits ini menunjukkan atas kebolehan keluarga almarhum membuatkan makanan (jamuan) dan mengajak manusia memakannya.

Secara dhahir hadits Jarir telah berlawanan dengan hadits dari ‘Ashim bin Kulaib ini, sedangkan dalam kaidah ushul fiqh mengatakan jika dua dalil bertentangan maka harus dikumpulkan jika dimungkinkan untuk dikumpulkan. ( at-Tabshirah fi Ushul al-Fiqh lil-Imam asy-Syairazi [1/153]) Maka, kedua hadits diatas dapat dipadukan yakni hadits Jarir bin Abdullah dibawa atas pengertian jamuan karena menjalankan adat, bukan dengan niat “ith’am ‘anil mayyit (memberikan makan atas nama mayyit/shadaqah untuk mayyit) “ atau hal itu bisa membawa kepada niyahah yang diharamkan, kesedihan yang berlarut-larut dan lain sebagainya. Sedangkan hadits ‘Ashim bin Kulaib dibawa atas pengertian jamuan makan bukan karena menjalankan adat (kebiasaan), melainkan jamuan makan dan berkumpul dengan niat “ith’am ‘anil mayyit” atau pun ikramudl dlayf (memulyakan tamu). Oleh karena itu larangan tersebut tidaklah mutlak, tetapi memiliki qayyid yang menjadi ‘illat hukum tersebut.

Bariqatul Mahmudiyyah li-Abi Sa’id al-Khadami al-Hanafi [3/205] : “Mushannif berkata di dalam syarahnya dari pembesar al-Halabi “sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam ketika kembali dari pemakaman orang Anshar, Rasulullah menerima ajakan wanitanya, maka datang dan dihidangkanlah makanan, kemudian Rasulullah menelatakkan tangannya dan di ikutilah orang rombongan (sahabat), kemudian Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam makan sesuapan yaitu secabik daging ke mulutnya”. Maka ini menunjukkan atas kebolehan bagi ahl mayyit menyajikan makanan dan mengundang orang lain kepadanya. Selesai”.

Kemudian juga dijelaskan didalam Hasyiyah ath-Thahthawi ‘alaa Muraqi al-Falaah Syarh Nuur al-Iydlaah [1/617] Ahmad bin Muhammad bin Isma’il ath-Thahthawi al-Hanafi : “… Maka hadits ini (‘Ashim bin Kulaib) menunjukkan atas kebolehan bagi ahl mayyit menghidangkan makanan dan mengajak manusia padanya bahkan juga di sebutkan didalam al-Bazaziyyah dari kitab al-Ihtihsan “dan jika menghidangkan makanan untuk fuqaraa’ maka itu bagus”. Selesai.

BACA JUGA:  Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi dan Tabarruk Imam Syafi'i

Imam Ibnu Hajar al-Haitami di dalam Tuhfatul Muhtaj mengatakan : “dan apa yang diadatkan (dibiasakan) daripada keluarga almarhum membuat makanan demi mengajak manusia atasnya maka itu bid’ah makruhah (bid’ah yang makruh), sebagaimana menerima mereka untuk hal yang demikian berdasarkan hadits shahih dari Jarir “Kami (sahabat) menganggap berkumpul ke (kediaman) keluarga almarhum serta (keluarga almarhum) menghidangkan makanan setelah pemakaman bagian dari niyahah”, dan sisi dianggapnya bagian dari niyahah yakni apa yang terdapat didalamnya daripada berlebihanlebihan dengan perkara kesedihan”. ( Tuhfatul Muhtaj lil-Imam Ibnu Hajar al-Haitami [3/207 ])

Hal ini juga disebutkan oleh al-‘Allamah as-Sayyid al-Bakri Syatha ad-Dimyathi dalam I’anatuth Thalibin. Maka, illat tersebut tidak terdapat pada kegiatan tahlilan (kenduri arwah) yang dilakukan oleh kaum muslimin yang memang paham mengenai kenduri arwah (tahlilan). Jika tidak ada illat maka hukum makruh pun tidak ada, sebab dalam kaidah syafi’iyah hukum itu meliputi disertakannya illat. (Kifayatul Akhyar lil-Imam Taqiyuddin al-Hishni [1/526] ; Asnal Mathalib lil-Imam Zakariya al-Anshari [3/105]) Oleh karena itu, berkumpul (berhimpun) yang dimaksud pada hadits Jarir adalah jika bukan karena untuk membaca al-Qur’an, berdo’a dan dzikir-dzikir lain. Adapun jika berkumpul untuk tujuan tersebut, maka itu tidak makruh, sebagaimana telah jelas perkataan Syaikhul Madzhab Syafi’i yakni Imam an-Nawawi rahimahullah : “Sebuah cabang : tidak dihukumi makruh pada pembacaan Qur’an secara berkumpul (berhimpun) bahkan itu mustahabbah (sunnah)”( al-Majmu’ syarah al-Muhadzdzab lil-Imam an-Nawawi [2/166])

Imam an-Nawawi dalam al-Majmu’ syarah al-Muhadzdzab menukil perkataan ‘ulama lainnya didalam al-Majmu’ : “Shahibusy Syamil dan yang lainnya berkata ; adapun keluarga almarhum mengurusi (membuat) makanan serta berkumpulnya manusia padanya, maka itu pernah dinukil sesuatu pun tentangnya, dan itu adalah bid’ah ghairu mustahabbah, inilah perkataan shahibusy Syamil. dan istidlal untuk hal ini berdasarkan hadits Jarir bin Abdullah radliyallah ‘anh, ia berkata : “Kami (sahabat Nabi) menganggap berkumpul di kediaman mayyit serta membuat makanan setelah pemakaman mayyit sebagai bagian dari niyahah”, Imam Ahmad bin Hanbal dan Ibnu Majah telah meriwayatkannya dengan sanad yang shahih, namun dalam riwayat Ibnu Majah tidak ada kata “setelah pemakaman mayyit”. (al-Majmu’ syarah al-Muhadzdzab lil-Imam an-Nawawi [5/320] ; Raudlatuth Thalibin (1/145).)

Beliau mengatakannya tidak disukai (Ghairu Mustahibbah) bukan haram, tapi orang wahabi mencapnya haram padahal Imam Nawawi mengatakan ghairu mustahibbah, berarti bukan hal yang dicintai, ini berarti hukumnya mubah atau makruh, bukan haram.

Telah diceritakan oleh Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi’i rahimahullah (salah satu pengarang kitab tafsir Jalalain) sebagai kegiatan yang memang tidak pernah di tinggalkan kaum Muslimin, didalam al-Hawi lil-Fatawi disebutkan : “Sesungguhnya sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai kepadaku bahwa sesungguhnya amalan ini berkelanjutan dilakukan sampai sekarang (yakni masa al-Hafidz sendiri) di Makkah dan Madinah. Maka secara dhahir, amalan ini tidak pernah di tinggalkan sejak masa para shahabat Nabi hingga masa kini (masa al-Hafidz as-Suyuthi), dan sesungguhnya generasi yang datang kemudian telah mengambil amalan ini dari pada salafush shaleh hingga generasi awal Islam. Dan didalam kitab-kitab tarikh ketika menuturkan tentang para Imam, mereka mengatakan “manusia (umat Islam) menegakkan amalan diatas kuburnya selama 7 hari dengan membaca al-Qur’an’. (al-Hawi al-Fatawi [2/234] lil-Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi.)

Hal ini kembali di kisahkan oleh al-‘Allamah al-Jalil asy-Syaikh al-Fadlil Muhammad Nur al-Buqis didalam kitab beliau yang khusus membahas kegiatan tahlilan (kenduri arwah) yakni “Kasyful Astaar” dengan menaqal perkataan Imam As-Suyuthi :

BACA JUGA:  Bid'ah Menurut Penjelasan Para Ulama Aswaja

“Sungguh sunnah memberikan makan selama 7 hari, telah sampai informasi kepadaku dan aku menyaksikan sendiri bahwa hal ini (kenduri memberi makan 7 hari) berkelanjutan sampai sekarang di Makkah dan Madinah (tetap ada) dari tahun 1947 M sampai aku kembali Indonesia tahun 1958 M. Maka faktanya amalan itu memang tidak pernah di tinggalkan sejak zaman sahabat nabi hingga sekarang, dan mereka menerima (memperoleh) cara seperti itu dari salafush shaleh sampai masa awal Islam. Ini saya nukil dari perkataan Imam al-Hafidz as-Suyuthi dengan sedikit perubahan. al-Imam al-Hafidz As-Suyuthi berkata : “disyariatkan memberi makan (shadaqah) karena ada kemungkinan orang mati memiliki dosa yang memerlukan sebuah penghapusan dengan shadaqah dan seumpamanya, maka jadilah shadaqah itu sebagai bantuan baginya untuk meringankan dosanya agar diringankan baginya dahsyatnya pertanyaan kubur, sulitnya menghadapi menghadapi malaikat, kebegisannyaa dan gertakannya”.  (Kasyful Astaar lil-‘Allamah al-Jalil Muhammad Nur al-Buqir, beliau merupakan murid dari ulama besar seperti Syaikh Hasan al-Yamani, Syaikh Sayyid Muhammad Amin al-Kutubi, Syaikh Sayyid Alwi Abbas al-Maliki, Syaikh ‘Ali al-Maghribi al-Maliki, Syaikh Hasan al-Masysyath dan Syaikh Alimuddin Muhammad Yasiin al-Fadani.)

Tahlilan Juga Berbeda dengan Ma’tam

Perbedaan ini sebenarnya nampak jelas baik dari prakteknya, sebab pokok yang melatar belakangi juga tujuan masing-masing. Namun, kadang masih saja ada yang melarang bahkan mengharamkan tahlilan dengan beralasan ma’tam. Larangan ini tidak tepat apalagi dengan membawa-bawa qaul Imam Syafi’i.

Istilah ma’tam sebenarnya muncul karena perempuan berkumpul padanya dan ma’tam sendiri di dalam kamus arab didefinisikan antara lain :

Dalam Lisanul ‘Arab Ibnu Mandhur al-Anshari al-Ifriqii [12/3-4], dan di dalam kitab Fiqh Maliki yaitu Mawahibul Jalil karya al-Hathib ar-Ru’ayni [2/241 ] menyebutkan masalah ma’tam dengan cukup jelas: berkumpulnya manusia pada kematian dinamakan ma’tam. Di dalam an-Nihayah: ma’tam pada asalnya merupakan berkumpulnya perempuan dan laki-laki di dalam hal kegembiraan dan kesedihan, kemudian dengannya hanya di khususkan bagi perkumpulan perempuan pada kematian.

Di dalam Ash-Shihhah : ma’tam menurut orang arab adalah perempuan yang berkumpul di dalam hal kebaikan dan keburukan, umumnya pada mushibah. Mereka mengatakan : kami berada di ma’tam fulan, yang benar seharusnya di katakan ; kami berada di tempat ratapannya fulan.

Ucapan Imam Syafi’i rahimahullah yang kadang dijadikan dalil untuk melarang tahlilan bahkan mengharamkan tahlilan yaitu sebagaimana tercantum dalam kitab al-Umm: “Aku benci (menghukumi makruh) ma’tam, dan adalah sebuah kelompok (jama’ah), walaupun tidak ada tangisan pada kelompok tersebut, karena yang demikian memperbaharui kesedihan, dan membebani biaya bersamaan perkara yang sebelumnya pernah terjadi (membekas) padanya”.

Jadi…. Imam Syafi’i rahimahullah sama sekali tidak memaksudkan ma’tam sama dengan kegiatan seperti tahlilan. Oleh karena itu sama sekali tidak tepat jika membawanya pada pengertian tahlilan, yang kemudian dengan alasan tersebut digunakan untuk melarang (mengharamkan) tahlilan. Karena tahlilan memang berbeda dengan ma’tam. Penghukuman makruh oleh al-Imam Syafi’i di atas dengan mempertimbangkan ‘illat yang beliau sebutkan yaitu yujaddidul huzn (memperbaharui kesedihan), sehingga apabila ‘illat tersebut tidak ada maka hukum makruh pun tidak ada, sebab dalam kaidah ushul mengatakan : “ketahuilah bahwa ‘illat di dalam syariat adalah bermakna yang menunjukkan hukum” (al-Luma’ fiy Ushul Fiqh [1/104] Imam Asy-Syairazii).

Demikianlah, wallohu a’lam.

 

Oleh: Agung Gusti

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

14 thoughts on “TAHLILAN: PENJELASAN ILMIYYAH SOAL JAMUAN MAKAN”

  1. Ustadz Bengkok,LC : Tahlilan bid’ah pelakunya neraka titikk..
    Kang Jumadi : Lho kok bid’ah Kyai kampungku melakukanya

    Ustadz bengkok,LC : dasar bego kamu ikut Kyai kampung apa ikut Rosul
    Kang Jumadi : Kok begitu.. sergah Kang Jumadi penasaran

    Ustadz Bengkok,LC : Dg penuh percaya diri sambil matanya melotot sang Ustadz menerangkan
    Rosulullah bersabda, Setiap yg baru adalah bid’ah dan pelakunya di neraka…
    Kang Jumadi : Walah..walah Tahlilan itu bukan barang baru..Ustadz. bahkan sudah ada sejak para
    sahabat nabi masih hidup. jawab Kang Jumadi penuh selidik

    Ustadz Bengkok,LC : Mana dalilnya klo Tahlilan tidak Bid’ah.. dasar orang kampung, Ustadz bengkok mulai
    emosi..
    Kang Jumadi : Klo Tahlilan memang bid’ah..Ustadz bahkan Rosulullah mungkin tidak tahu apa itu Tahlilan

    Ustadz Bengkok,LC : Nah begitu seharusnya ahirnya kamu sadar juga. Kata ustadz penuh kemenangan
    Kang Jumadi : Rosulullah itu berbahasa Arab yg fasih mana mungkin Kanjeng Nabi tahu Tahlilan,
    Tahlilan itu bahasa kampungku… jawab Kang Jumadi cengengesann..

    Ustadz Bengkok,LC : Diamm.. kamu menghina ya , Klo tdk percaya berarti kamu kafir..
    Kang Jumadi : Jangan sembarangan gitu Ustadz, Jangan begitu Ustadz.. begini lho maksudku
    Tahlilan itu isinya Sedekahan, Membaca Ayat suci, Membaca Laailaaha Illallah, dsb
    Apakah itu Bid’ah?

    Sang Ustadz diam seribubasa sambil garuk-garuk kepala lalu mohon pamit..
    Seperti buah Durian di keranjang tentu semua orang tahu bahwa Durian halal dan enak rasanya, tetapi
    bila buah Durian ditempatkan di Kotak dan tertutup rapat tentu akan menimbulkan persepsi yg macam2,
    Apalagi bagi orang tdk tahu tentu akan membuangnya.. karena jangan2 ini bomm berbahaya..

    Buah durian yg halal dan enak rasanya akan berbahaya bagi seseorang hipertensi,dan Wahabiyun sebaiknya jangan hipertensi dg Tahlilan. Orang yg sakit hipertensi/ Tekanan darah tinggi sebaiknya jangan makan buah durian, sembuhkan dulu hipertensinya. Demikian juga Wahabiyun sembuhkan dulu hipertensi kalian dalam beragama baru membahas Tahlilan Apakah bener2 Bid’ah? Klo memang bener bid’ah apakah harus diharamkan?

    Internet adalah Bid’ah dan ini adalah ciptaan orang2 kafir, kebiasaan orang kafir, dan yg mengeruk keuntungan juga orang2 kafir. Apakah bid’ah ini harus diharamkan? lalu dibuang begitu saja.
    Kalau Internet ini untuk menyampaikan kebaikan mengapa tdk?
    Kalau Internet ini untuk berita2 porno Apakah Internetnya yg harus dibuang, ataukah hanya pornonya yg harus dibuang jauh2, Semoga bermanfaat

    1. hallala – yuhallilu – tahlilan, ini artinya membaca bacaan kalimat tahlil “laa ilaha illallah” kok diharamkan Wahabi ya? hmm…. mungkin karena mereka kaum sempalan jadi punya paham yg menyempal dari pemahaman mayoritas.

  2. Heee, mas agung promosi bukunya ust. Abdul Hakim ya, mas Agung beli dimana thu bukunya???? jadi mau beli, buat tambah ilmu.

    1. Abu Dazr@

      ustadzmu Abdul Hakim Amir Abdat itu saya yakin 100 persen mazhabnya “Mazhab Hawa Nafsu” makanya berani mengharamkan muslim yg bertahlil dan berdo’a untuk mayyit.

      Hati2 dg orang2 yang bermazhab “MAZHAB HAWA NAFSU”, mereka ini dibimbing setan dalam membuat hukum, dan kurang ajarnya hal itu diatasnamakan Allah dan Rasul-NYA.

  3. assalamu’alaikum mas admin n temen2 smw….
    kalau boleh saya mau berbagi masalah yang ada dlam benak dan fikiran saya…
    gini temen2… selama ini yang saya tahu entah itu dari blog atau web nya temen2 aswaja n temen2 wahabi, seringkali kata2 ma’tam di sambung dengan acara tahlilan atau selamatan ( di sebut selamatan krn umumnya diisi dengan doa memohon keselamatan) orang meninggal…
    kalau menurut sayang yang masih sangat bodoh ini, ma’tam itu tak ada hubunganya dngan acara tahlilan atau selamatan orang meninggal.
    1. karena dari semua definisi diatas mempunyai maksud bahwa ma’tam berkumpul dalam rangka berkabung. sedangkan tahlilan berkumpul dalam acara doa bersama yang biasanya diselenggarakan pada saat ada orang meninggal entah itu 1,2,3,40,100 dst.
    2. setahu saya, kebanyakan atau bisa dibilang hampir smw yang datang untuk tahlilan murni bukan untuk melayat, tp untuk berdzikir dan memanjatkan do’a krn biasanya mereka sudah ta’ziyah saat mendengar pengumuman si fulan meninggal…
    3. soal du2k2 saat di tempat ta’ziyah itu karena g mungkin jenazah 1 yang ikut ngerawat orang sekampung ya wajar kalo yang g kebagian du2k2 sambil nunggu mensholati dan menguburkan jenazah.
    4. yang repot menyediakan makanan saat ada orang meninggal setahu saya bukan ahli warist tapi para tetangga, itupun untuk orang2 yang sudah lelah mengurusin jenazah sebagai rasa trimakasih telah mau membantu mengurusi jenazah.
    5. menyediakan makanan saat acara tahlilan itu dikarenakan ikromud dzoif, apalagi tamunya datangnya krn diundang (bil isyaroh) untuk dimintai tolong mendoakan, beda dengan membuat makan untuk mengundang orang2 datang. yang pertama membuat makan karena ada tamu datang, yang kedua membuat makan agar tamu datang (kayaknya beda deh).
    ya.. itu pendapat saya yang tanpa membawakan hujjah atau dalil dikarenakan memang masih awam…
    kalau mungkin ada banyak kesalahan dari pemahaman saya mohon masukkanya agar bisa menambah wawasan dan hasanah keilmuan saya..
    syukron…

  4. wahai saudaraku para singa-singa ahlussunnah wal jam’ah, para pembela-pembela ahlussunnah wal jam’ah, para benteng-benteng ahlussunnah wal jam’ah. LA TAHZAN! selama makam yang terdapat didalamnya jasad agung dan mulia bersemayam di madinatul munawaroh tetap kokoh. selama makam para wali Allah di tanah jawa tetap ada, maka Insya Allah selama itu pula akidah islam ahlussunnah wal jam’ah tidak tergoyahkan oleh wabah virus wahabiyun di dunia dan di indonesia.
    kepada para penyebar virus wahabiyun! penjual ayat-ayat Allah dan sabda Rosulullah dengan harga obral, penyembah donatur penyanggah dana kelompoknya, yg hapal dan membaca al qur’an sebatas tenggorokan, yg hapal dan membaca hadits sebatas lidah dg guru abu google dan ustadz yahoo, gunakanlah segala cara dan semangat yg tinggi untuk menghapus amalan-amalan ahlussunnah wal jam’ah agar islam benar-benar murni dan bersih dari bid’ngah dan syirik. ayoooo…! semangat…! men…!

  5. MasyaAllah…agar aqidah tetap kokoh itu dengan tolabul ilmi “belajar tentang agama ini” dan wajib hukumnya setiap diri-diri yang mengaku ummatnya Rasulullah Muhammad dan hadits tentang hal ini sudah sangatlah masyhur. Aqidah kokoh itu bukan karena adanya kuburan para wali ataupun makam Rasulullah Shallallahu Alalihi wa Sallam. Mau jadi seorang yang dianggap Ahlus Sunnah wal Jama’ah itu juga harus belajar, tidak hanya slogan pengakuan saja…perumpamaannya “anda mengaku kekasih Fulanah tetapi ternyata Fulanah ndak mengakui bahkan tidak mengenal anda..kan runyam jadinya toh…” tinggalkan sifat suka mem”bebek” ataupun meng”ekor”. Mayoritas bukan ukuran suatu kebenaran..kebenaran itu datangnya dari Allah ta’ala dan Rasul Muhammad melalui pemahaman salafusholih.

    1. @abu ja’far

      mas, memang benar kita harus belajar agama dengan baik dan benar. tapi perlu di pahami, ilmu agama itu luas, dan tidak semua orang mampu menggali langsung dari Al-qur’an dan Hadist untuk menetapkan hukum. contoh sederhana, Bismillah itu adalah salah satu ayat dalam surah al-fatihah, jadi, bila seseorang tidak membaca al-fatihah, maka sholatnya tidak sah, itu mazhab syafi’i. tapi, dalam mazhab maliki, membaca bismillah itu makruh hukumnya. bila seseorang diharuskan menggali secara langsung kepada nash, kapan orang tersebut sholatnya? orang awam seperti saya, bila berijtihad sendiri, bila salah bukan pahala yg saya dapatkan, tapi dosa. oleh karena itulah, islam memberi keleluasaan, bila tidak tahu, bertanyalah kepada yang tahu. sama seperti salafi wahabi, kalau masalah hadist, rujukannya Al Bani. tata cara sholat, merujuk Al Bani juga.

  6. @abu ja’far ” Mayoritas bukan ukuran suatu
    kebenaran..kebenaran itu datangnya dari
    Allah ta’ala dan Rasul Muhammad melalui
    pemahaman salafusholih.”

    saya: la trus maksud dari hadist ini apa?
    “Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat
    pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian
    melihat terjadi perselisihan maka ikutilah
    kelompok mayoritas (as-sawad al a’zham).”
    (HR. Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at
    Tabrani, al Lalika’i, Abu Nu’aim. Menurut Al
    Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini
    adalah hadits Shohih)
    al-Imam as-Suyuthi rahimahullaah menafsirkan
    kata As-sawadul A’zhom sebagai sekelompok
    (jamaah) manusia yang terbanyak, yang bersatu
    dalam satu titian manhaj yang lurus. (Lihat:
    Syarah Sunan Ibnu Majah: 1/283). Menurut al-
    Hafidz al-Muhaddits Imam Suyuthi, As-Sawad
    Al-A’zhom merupakan mayoritas umat Islam.
    Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Atsqolani menukil
    perkataan Imam Ath-Thabari mengenai makna
    kata “jamaah” dalam hadits Bukhari yang
    berbunyi, “Hendaknya kalian bersama jamaah”,
    beliau berkata, “Jamaah adalah As-Sawad Al-
    A’zhom.” (Lihat Fathul Bari juz 13 hal. 37)
    Ibnu Hajar al-Atsqolani pun memaknai
    “Jama’ah” sebagai As-Sawad Al-A’zhom
    (mayoritas umat Islam).
    saya mohon pencerahanya mas abu

  7. mas mas woiii saya aja yg hidup dan menetap di tanah arab..ga pernah tuh denger org arab ngadain tahlilan apalg makan2 ditempat org yang mati….tahlilan itu dah jelas bid’ah karena rasul saw ga pernh mengjarkan krn putuslah perkara simayat dengan yg hidup didunia kecuali 3 HAL…..hehehe ngapain kudu ribet tahlilan .. kita aja jd masuk neraka karena ngada2in amalan yang ga jelas asal usulnya hehehe yang jelas asal usulnya dth dari ajaran hindu yg mengkeramatkan org yg sudah mati sampai hari ke 7…..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker