Berita Fakta

Pemahaman Firanda Soal “Syubhat Ketiga” Bid’ah Hasanah yang Wajib Diluruskan

BANTAHAN UNTUK USTADZ FIRANDA TENTANG BID’AH HASANAH “SYUBHAT KETIGA” 

Oleh: Abu Hilya

Bismillah,

Al hamdulillah, berkat petunjuk dari salah satu pengunjung, kami mendapati sebuah artikel yang intinya menolak pembagian Bid’ah menjadi Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi’ah yang ditulis oleh salah seorang Ustadz, tulisan kali ini tiada maksud dari kami untuk menjatuhkan siapapun. Cukup bagi kita untuk menjadikan sanggahan kami atas artikel tersebut sebagai tambahan ilmu yang semoga dibarengi Hidayah Alloh, agar bermanfaat.

Untuk mengawali penolakan kami atas artikel yang berjudul “BID”AH HASANAH : Syubhat Ketiga” perlu kami ulangi sekali lagi sekilas tentang batasan Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi ah. Dengan jelas Imam Syafi’iy berkata :

اَلمُحْدَثَاتُ ضَرْبَانِ,مَا اُحْدِثَ يُخَالِفُ كِتَابًااَوْسُنَّةً اَوْ أثَرًا اَوْ اِجْمَاعًا فَهَذِهِ بِدْعَةُ الضّلالَةُ وَمَااُحْدِثَ مِنَ الْخَيْرِ لاَيُخَالِفُ شَيْئًامِنْ ذَالِكَ فَهَذِهِ بِدْعَةٌ غَيْرُ مَذْمُوْمَة

Bid’ah (muhdatsat) ada dua macam; pertama, sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat). Kedua,sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnahatau atsar atau Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela”. (Al-Baihaqi, Manaqib al-Syafi’i, 1/469).

والبدعة لغة كل شيء عمل علي غير مثال سابق وشرعا إحداث ما لم يكن له أصل في عهد رسول الله وهي عل قسمين بدعة ضلالة وهي التي ذكرنا وبدعة حسنة وهي ما رآه المؤمنون حسنا ولا يكون مخالفا للكتاب أو السنة أو الأثر أو الإجماع

“Bid’ah, secara bahasa adalah setiap sesuatu yang dikerjakan tanpa mengikuti contoh sebelumnya. Dan dalam syara’ adalah mengadakan sesuatu yang tidak ada asal (sumber) pada masa Rosululloh Saw. Bid’ah terbagi menjadi dua; Bid’ah Dholalah (sesat) yaitu apa yang telah kami jelaskan, dan Bid’ah Hasanah (baik) yaitu apa yang dipandang ummat Islam baik dan tidak menyalahi Kitab atau Sunnah atau Atsar atau Ijma’. (Umdatul Qori, 8/396. Shameela)

Dan masih banyak lagi pernyataan senada yang disampaikan oleh para ulama’ yang kredibilitasnya telah diakui, dan bahkan pernyataannya sering dinukil oleh orang-orang yang menuduh mereka sesat. Coba kita perhatikan penjelasan diatas, maka akan kita dapati batasan Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi ‘ah sbb:

Bid’ah Hasanah : sesuatu yang baru dalam kebaikan yang tidak menyalahi al-Qur’an, Sunnah atau Atsar atau Ijma’ dan itu disebut bid’ah yang tidak tercela.

Bid’ah Sayyi ah : sesuatu yang baru yang menyalahi al-Qur’an atau Sunnah atau atsar atau Ijma’, dan itu disebut bid’ah dhalalah (tersesat).

Dari penjelasan diatas, kita dapati barometer/standar yang jelas dalam mengidentifikasi Bid’ah, yakni jika ia tidak menyelisihi al-Qur’an, Sunnah atau Atsar atau Ijma’ maka disebut Bid’ah Hasanah, namun jika sebaliknya Bid’ah yang menyelisihi al-Qur’an, Sunnah atau Atsar atau Ijma’ maka dikategorikan Bid’ah tercela. Jelas bukan akal yang menjadi ukuran Baik dan Buruknya Bid’ah.

Jika ada orang yang menolak pembagian ini, dengan mengatakan :”Akal bukan menjadi ukuran dalam menentukan baik dan buruk.” Maka jelas ia tidak memahami obyek perkara yang ia tolak, sehingga rapuhlah semua hujjah dan atau argumentasi yang digunakan menolak pembagian Bid’ah menjadi Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi ah.

Selanjutnya kita ambil contoh penolakan seorang Ustadz atas pembagian Bid’ah menjadi Bid’ah Hasanah dan Bid’ah Sayyi ah. Dalam tulisannya kali ini beliau mencoba mengotak-atik hadits dari Jarir bin Abdillah ra, dengan cara yang tidak tepat.

Guna mempermudah pembaca, selanjutnya tulisan beliau kami tandai dengan Ustadz Firanda sedang penjelasan kami, kami beri tanda Penjelasan

Dalam artikel tersebut beliau sang Ustadz memulai dengan tulisannya sbb:

Ustadz Firanda:

Diantara dalil yang dipegang oleh pendukung bid’ah hasanah adalah sebuah hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Jarir bin Abdillah al-Bajali radhiallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَىْءٌ، وَمَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَىْءٌ

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim no 1016)

Sisi pendalilan mereka :

Dalam hadits ini dengan sangat jelas Rasulullah mengatakan: “Barangsiapa merintis sunnah hasanah…”. Pernyataan Rasulullah ini harus dibedakan dengan pengertian anjuran beliau untuk berpegang teguh dengan sunnah (at-Tamassuk Bis-Sunnah) atau pengertian menghidupkan sunnah yang ditinggalkan orang (Ihya’ as-Sunnah). Karena tentang perintah untuk berpegang teguh dengan sunnah atau menghidupkan sunnah ada hadits-hadits tersendiri yang menjelaskan tentang itu. Sedangkan hadits riwayat Imam Muslim ini berbicara tentang merintis sesuatu yang baru yang baik yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Karena secara bahasa makna “sanna” tidak lain adalah merintis perkara baru, bukan menghidupkan perkara yang sudah ada atau berpegang teguh dengannya”

Sanggahan :

Yang dimaksud Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً “Barang siapa yang merintis sunnah hasanah/baik” adalah mendahului dalam mengamalkan sunnah yang telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan membuat/merekayasa/berkreasi dalam membuat suatu ibadah yang baru. Hal ini sangat jelas dari beberapa sisi: ….

 

Penjelasan:

Dari sini, kami ingin memberi penjelasan bahwa:

Pertama : Jika yang dimaksud dengan mendahului mengamalkan “Sunnah yang telah valid” dalam pandangan beliau hanya terbatas pada “mendahului mengamalkan perkara yang telah ada contoh dari Nabi Saw maupun para sahabat”, maka akan memaksa hadits tsb berlaku Temporer (terbatas hanya pada waktu tertentu), setelah itu hadits tsb tidak berlaku, mengingat semua yang akan didahului tidak akan pernah ada lagi. Lantas untuk siapa motifasi mendahului mengamalkan sunnah yang telah valid tsb dikumandangkan oleh lisan mulia as Syari’?

Kedua : Jika pengertian “Sunnah yang valid” tidak sbegaimana yang dimaksudkan sang Ustadz (terbatas pada perkara yang telah ada contohnya), maka juga tidak akan tepat untuk digunakan menolak konsep Bid’ah Hasanah Imam Syafi’i dan para Ulama Syafi’iyyah, mengingat dalam konsep “Bid’ah Hasanah” tsb, membuka ruang untuk mendahului kebaikan yang bersumber dari petunjuk yang valid, meskipun sebelumnya tidak ada contohnya. (lihat penjelasan konsep beid’ah hasanah dalam artikel kami yang lain.)

Selanjutnya dalam artikel tsb beliau mengemukakan alasannya sbb:

Ustadz Firanda:

PERTAMA : Kronologi dari hadits tersebut menunjukkan akan hal itu. Jarir bin Abdillah radhiallahu ‘anhu berkata,

كنا في صَدْرِ النَّهَارِ عِنْدَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – فَجَاءهُ قَومٌ عُرَاةٌ مُجْتَابي النِّمَار أَوْ العَبَاء ، مُتَقَلِّدِي السُّيُوف ، عَامَّتُهُمْ من مضر بَلْ كُلُّهُمْ مِنْ مُضَرَ ، فَتَمَعَّرَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – لما رَأَى بِهِمْ مِنَ الفَاقَة، فَدَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ ، فَأَمَرَ بِلالاً فَأَذَّنَ وَأَقَامَ ، فصَلَّى ثُمَّ خَطَبَ ، فَقَالَ : { يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ } إِلَى آخر الآية : { إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً } ، والآية الأُخْرَى التي في آخر الحَشْرِ : { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ } تَصَدَّقَ رَجُلٌ مِنْ دِينَارِهِ، مِنْ دِرهمِهِ، مِنْ ثَوبِهِ ، مِنْ صَاعِ بُرِّهِ ، مِنْ صَاعِ تَمْرِهِ – حَتَّى قَالَ – وَلَوْ بِشقِّ تَمرَةٍ )) فَجَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ بِصُرَّةٍ كَادَتْ كَفُّهُ تَعجَزُ عَنهَا، بَلْ قَدْ عَجَزَتْ، ثُمَّ تَتَابَعَ النَّاسُ حَتَّى رَأيْتُ كَومَيْنِ مِنْ طَعَامٍ وَثِيَابٍ ، حَتَّى رَأيْتُ وَجْهَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم – يَتَهَلَّلُ كَأنَّهُ مُذْهَبَةٌ. فَقَالَ رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم -: ((مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أجْرُهَا، وَأجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ،مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورهمْ شَيءٌ، وَمَنْ سَنَّ في الإسْلامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيهِ وِزْرُهَا ، وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ ، مِنْ غَيرِ أنْ يَنْقُصَ مِنْ أوْزَارِهمْ شَيءٌ ))

“Kami bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di awal siang, lalu datanglah sekelompok orang yang setengah telanjang dalam kondisi pakaian dari bulu domba yang bergaris-garis dan robek, sambil membawa pedang. Mayoritas mereka dari suku Mudhor, bahkan seluruhnya dari Mudhor. Maka tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat kondisi mereka yang miskin, berubahlah raut wajah Nabi. Nabipun masuk dan keluar, lalu memerintahkan Bilal untuk adzan dan iqomat, lalu beliapun sholat, lalu berdiri berkhutbah. Beliau berkata, “Wahai manusia, bertakwalah kepada Rob kalian yang telah menciptakan kalian dari satu jiwa” hingga akhir ayat tersebut “Sesungguhnya Allah Maha Mengawasi kalian”. Lalu membaca ayat yang lain di akhir surat al-Hasyr “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaknya sebuah jiwa melihat apa yang telah ia kerjakan untuk esok hari”.

Hendaknya seseorang mensedekahkan dari dinarnya, atau dari dirhamnya, dari bajunya, dari gandumnya, dari kormanya -hingga Nabi berkata- meskipun bersedekah dengan sepenggal butir korma”
Lalu datanglah seorang lelaki dari kaum anshor dengan membawa sebuah kantong yang hampir-hampir tangannya tidak kuat untuk mengangkat kantong tersebut, bahkan memang tidak kuat. Lalu setelah itu orang-orangpun ikut bersedekah, hingga aku melihat dua kantong besar makanan dan pakaian, hingga aku melihat wajah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersinar berseri-seri. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,
“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR Muslim)

Dari kisah di atas jelas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaulah yang memotivasi para sahabat untuk bersedekah. Lalu sahabat anshor lah yang pertama kali bersedekah, lalu diikuti oleh para sahabat yang lain. Lalu setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً “Barang siapa yang merintis sunnah hasanah/baik”.
Dari kronologi ini jelas bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah sunnah yang valid dari Nabi, dalam kasus ini adalah sedekah yang dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

 

BACA JUGA:  Dzikir Brjama'ah Setelah Shalat dengan Suara Keras Itu Sunnah

Penjelasan:

Sanggahan kami :

– Tanpa menafikan peran Asbabul Wurud yang menjadi kronologi dalam memahami sebuah nash khususnya dalam hadits tsb, nampaknya disini beliau melupakan aturan yang lain yakni, “Al ‘Ibroh Bi Umumi al Lafzhi Laa Bi Khushusi as Sabab” (yang dianggap adalah keumuman lafadz bukan kekhususan sebab.)

Alasan selanjutnya dalam artikel tsb beliau mengemukakan sbb:

 

UstadzFiranda: 

KEDUA : Secara bahasa bahwa makna dari lafal سَنَّ adalah memulai perbuatan lalu diikuti oleh orang lain, sebagaimana hal ini kita dapati di dalam kamus-kamus bahasa Arab Al-Azhari rahimahullah (wafat tahun 370 H) dalam kitabnya Tadziib al-Lughoh berkata:
وكل من ابتدأ أمرا عَمل به قومٌ بعده قيل : هو الذى سنّه

“Setiap orang yang memulai suatu perkara lalu dikerjakan setelahnya oleh orang-orang maka dikatakan dialah yang telah merintisnya” (Tahdziib al-Lughoh, karya al-Azhari, tahqiq Ahmad Abdul Halim, Ad-Daar Al-Mishriyah, 12/306)

Hal ini juga sebagaimana disampaikan oleh Az-Zabidi dalam kitabnya Taajul ‘Aruus min Jawahir al-Qoomuus, 35/234, Ibnul Manzhuur dalam kitabnya Lisaanul ‘Arob 13/220)

Oleh karenanya lafalسَنَّ tidaklah berarti harus berkreasi amalan baru / berbuat bid’ah yang tidak ada contoh sebelumnya,akan tetapi lafal سَنَّ bersifat umum yaitu setiap yang memulai suatu perbuatan lalu diikuti, baik perbuatan tersebut telah ada sebelumnya atau merupakan kreasinya sendiri.

 

Penjelasan:

Mari kita perhatikan alinea terakhir dari penjelasan beliau diatas, dengan cermat beliau memaknai kata “SANNA” tanpa batasan, baik perbuatan tsb telah ada sebelumnya atau merupakan kreasinya sendiri. Selanjutnya dalam rangka menselaraskan hadits Sayyidina Jariri Ibn Abdillah ra agar sesuai dengan keinginannya, beliau mencoba mentakhsish (membatasi pengertian) hadits tsb dengan hujjah yang tidak tepat dan metode yang terbalik.

Dalam tulisan beliau selanjutnya,

 

Ustadz Firanda:

Namun dengan melihat sebab kronologi hadits tersebut maka dipahami bahwa yang dimaksud oleh Nabi dengan سَنَّ adalah yang mendahului melakukan sunnah yang telah diajarkan dan dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu bersedekah.

Karenanya al-Azhari berkata tentang hadits ini :

وفى الحديث . (( من سن سنة حسنة فله أجرها وأجر من عمل بها ومن سن سنة سيئة يريد من عمل بها ليُقتدى به فيها

“Dalam hadits “Barang siapa yang “sanna” sunnah yang baik baginya pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya, dan barang siapa yang “sanna” sunnah yang buruk …”, maksud Nabi adalah barang siapa yang mengamalkannya untuk diikuti” (Tahdziib al-Lughoh 12/298). Jadi bukan maknanya menciptakan suatu amalan !!

 

Penjelasan:

Disini nampaknya sekali lagi beliau melupakan aturan penting dalam memahami Nash yakni “Al ‘Ibroh Bi Umumi al Lafzhi Laa Bi Khushusi as Sabab” (yang dianggap adalah keumuman lafadz bukan kekhususan sebab) sehingga memaksa beliau membatasi keumuman makna kata “’Amila Biha” (mengamalkannya) hanya pada perkara yang telah ada sebelumnya.

 

Ustadz Firanda:

Dari sini makna “sanna sunnah hasanah” bisa dibawakan kepada dua makna,

Pertama : Mendahului/memulai menjalankan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu diikuti oleh orang-orang lain. Bisa jadi sunnah tersebut bukanlah sunnah yang ditinggalkan/dilupakan/telah mati, akan tetapi dialah yang pertama kali mengingatkan orang-orang lain dalam mengerjakannya. Sebagaimana dalam kasus hadits Jarir bin Abdillah di atas, sunnah Nabi yang dikerjakan adalah sedekah. Tentunya sunnah ini bukanlah sunnah yang telah mati atau ditinggalkan para sahabat, akan tetapi pada waktu kasus datangnya orang-orang miskin maka sahabat anshori itulah yang pertama kali mengamalkannya sehingga diikuti oleh para sahabat yang lain.

Hal ini didukung dengan hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Abu Huroiroh radhiallahu ‘anhu, ia berkata:
جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَحَثَّ عَلَيْهِ فَقَالَ رَجُلٌ عِنْدِي كَذَا وَكَذَا، قَالَ فَمَا بَقِيَ فِي الْمَجْلِسِ رَجُلٌ إِلاَّ تَصَدَّقَ عَلَيْهِ بِمَا قَلَّ أَوْ كَثُرَ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم مَنِ اسْتَنَّ خَيْرًا فَاسْتُنَّ بِهِ كَانَ لَهُ أَجْرُهُ كَامِلاً وَمِنْ أُجُوْرِ مَنِ اسْتَنَّ بِهِ وَلاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنِ اسْتَنَّ سُنَّةً سَيِّئَةً فَاسْتُنَّ بِهِ فَعَلَيْهِ وِزْرُهُ كَامِلاً وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِي اسْتَنَّ بِهِ وَلاَ يُنْقَصُ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا

“Datang seorang lelaki kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka Nabipun memotivasi untuk bersedekah kepadanya. Maka ada seseorang yang berkata, “Saya bersedekah ini dan itu”. Maka tidak seorangpun yang ada di majelis kecuali bersedekah terhadap lelaki tersebut baik dengan sedikit maupun banyak. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Barang siapa yang “istanna”/merintisi kebaikan lalu diikuti maka baginya pahalanya secara sempurna dan juga pahala orang-orang yang mengikutinya serta tidak berkurang pahala mereka sama sekali. Dan barang siapa yang merintis sunnah yang buruk lalu diikuti maka baginya dosanya secara sempurna dan dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sama sekali” (HR Ibnu Maajah no 204 dan dishahihkan oleh Al-Albani)

 

BACA JUGA:  Penting Buat Kaum Wahabi: Segera Menyadari Kesalahan Dalam Memahami Bid'ah

Penjelasan:

Hadits diatas dari Abi Huroiroh ra, adalah hadits senada dengan hadits pertama yang diriwayatkan dari Jarir Ibn Abdillah ra, yang berbeda hanyalah matan (redaksinya) dan juga keberadaannya lebih menjelaskan tentang Sababul Wurud dari hadits “Man Sanna…dst”, sehingga hadits kedua tidaklah tepat digunakan mentakhsis (membatasi) keumuman kata “SANNA” dalam hadits pertama. Oleh karenanya kita mendapati ketidak yakinan beliau atas opsi pertama untuk makna hadits dari Jarir ra, yang beliau tawarkan dengan bahasa “Boleh jadi”

 

Ustadz Firanda:

Kedua : Bisa jadi makna “sanna sunnatan hasanah” kita artikan dengan menghidupkan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah mati/ditinggalkan. Hal ini jika kita merujuk pada hadits yang diriwayatkan oleh sahabat ‘Amr bin ‘Auf Al-Muzani

مَنْ أَحْيَا سُنَّةً مِنْ سُنَّتِي فَعَمِلَ بِهَا النَّاسُ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِ مَنْ عَمِل بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيِئًا . وَمَنِ ابْتَدَعَ بِدْعَةً فَعَمِلَ بِهَا كَانَ عَلَيْهِ أَوْزَارُ مَنْ عَمِلَ بِهَا لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَوْزَارِ مَنْ عَمِلَ بِهَا شَيْئًا

“Barang siapa yang menghidupkan sebuah sunnah dari sunnahku lalu dikerjakan/diikuti oleh manusia maka baginya seperti pahala orang yang mengamalkannya tanpa mengurangi pahala mereka (yang mengikutinya) sama sekali. Dan barang siapa yang melakukan bid’ah lalu diikuti maka baginya dosa orang-orang yang mengerjakannya tanpa mengurangi dosa mereka sama sekali” (HR Ibnu Maajah no 209 dan dishahihkan oleh Al-Albani karena syawahidnya, karena pada sanad hadits ini ada perawi yang sangat lemah) Akan tetapi hadits ini masih diperselisihkan tentang keshahihannya.

 

Penjelasan:

Disini sekali lagi kita dapati rapuhnya keyakinan beliau atas opsi kedua yang coba beliau tawarkan untuk makna hadits dari Jarir ra, karena beliaupun nampaknya menyadari kualitas hadits yang beliau ajukan sebagai sandaran.

 

Ustadz Firanda:

Kedua makna di atas ini adalah makna yang tepat dan sesuai dengan keumuman hadits “Seluruh bid’ah sesat”, yang tidak sesat hanyalah sunnah-sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Berbeda halnya jika kita mengartikan makna “sanna sunnatan hasanah” dengan makna berbuat bid’ah hasanah yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka hal ini tidaklah tepat karena menyelisihi dua hal :

Pertama : Bertentangan dengan keumuman sabda Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ “Seluruh bid’ah sesat”

Kedua : Menyelisihi makna yang termaktub dalam kronologi hadits Jarir bin Abdillah, bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah bersedekah. Dan bersedekah bukanlah bid’ah.

Ketiga : Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً “Barang siapa yang merintis sunnah hasanah/baik” tidaklah mungkin dibawakan pada makna kreasi amal ibadah yang baru. Karena tidak mungkin diketahui itu baik atau buruk kecuali dari sisi syari’at. Akal tidak punya peran dalam menilai ibadah hasil kreasi baik atau buruk.

 

Penjelasan:

Disini kita dapati kebuntuhan beliau dalam mensikapi dua nash yang zhahirnya “mukholafah” (berselisih) atau “Ta’aarudh” (bertentangan), sehingga tanpa sadar beliau terpaksa mengkhususkan makna hadits tidak dengan metode yang tepat dengan penjelasan sbb:

– Terjadi paradoks pada alasan ketiga yang beliau kemukakan, dimana dengan tegas beliau menyatakan :
“Akal tidak punya peran dalam menilai ibadah hasil kreasi baik atau buruk.”
Namun disaat yang sama ketika beliau membatasi makna kata “SANNA” tanpa mengajukan dalil yang shorih yang menjelaskan pernyataannya.
– Pada alasan ketiga, beliau mengatakan : “Karena tidak mungkin diketahui itu baik atau buruk kecuali dari sisi syari’at. Akal tidak punya peran dalam menilai ibadah hasil kreasi baik atau buruk.” Maka kami katakan, adakah sang Ustadz menuduh pembagian Bid’ah menjadi “Bid’ah Hasanah” dan “Bid’ah Sayyi ah” hanya berdasar akal? Subhanak Hadzaa Buhtaan….
– Redaksi hadits “Setiap bid’ah adalah sesat” lebih umum ketimbang hadits “Barang siapa melakukan kebaikan maka baginya pahalanya dan pahala orang setelahnya yang mengamalkannya…dst”.  Sehingga membatasi kandungan “SANNA SUNNATAN HASANATAN” karena ta’aarudh (bertentangan) dengan “Kullu Bid’atin Dholalah” adalah metode yang terbalik, dan terkesan akal-akalan.

Maka cukuplah bagi kita pandangan para ahli yang memang telah diakui banyak kalangan dalam men-jam’i-kan hadits “Kullu Bid’atin Dholalah” dengan hadits “Man Sanna Sunnatan Hasanatan…dst”. Dan perlu diingat kredibilitas seorang ahli hadits dimata para ahli hadits yang lain, memiliki arti penting dalam term ini. Dan diantara para Ahli hadits yang men-jam’i-kan (mengkompromikan) dua hadits tsb dengan sangat baik adalah al Imam Yahya Ibn Syarof an Nawawi .

Berikut pandangan Imam an nawawi tentang posisi hadits “Man Sanna… dst” terhadap hadits “Kullu Bid’atin… dst:

وفي هذا الحديث تخصيص قوله صلى الله عليه و سلم كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وأن المراد به المحدثات الباطلة والبدع المذمومة وقد سبق بيان هذا في كتاب صلاة الجمعة وذكرنا هناك أن البدع خمسة أقسام واجبة

Artinya: “Dan dalam hadits ini terdapat “TAKHSHISH” (pembatasan keumuman) sabda Rosululloh saw, (yang berbunyi) “Setiap perkara baru adalah Bid’ah dan setiap Bid’ah adalah sesat”. Sesungguhnya yang dikehendaki dengan hadits tsb adalah “AL MUHDATSAAT AL BATHILAH DAN AL BIDA’ AL MADZMUMAH” (perkara-perkara baru yang bathil dan bid’ah-bid’ah yang tercela). Dan sungguh penjelasan tentang masalah ini telah lalu pada “Kitab Sholat Jum’ah” dan telah kami terangkan disana sesungguhnya bid’ah terbagi atas lima hukum. (Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, 7/104 Shameela)

Adakah terhadap penjelasan beliau yang tentunya berdasar pengamatan mendalam dan juga memperhatikan hadits-hadits yang lain, kita layak mengajukan gugatan dengan bukti-bukti yang rapuh?

Selanjutnya mari kita ikuti tambahan argumentasi dari sang Ustadz…

 

Ustadz Firanda:

Terlebih lagi saudara-saudara kita yang suka berkreasi membuat bid’ah hasanah mengaku bahwa mereka bermadzhab Asyaa’iroh. Padahal diantara madzhab Asyaa’iroh adalah mereka menolak at-Tahsiin wa at-Taqbiih al-’Aqliyaini, mereka hanya menerima at-Tahsiin wa at-Taqbiih as-Syar’iyaini.

Maksudnya yaitu bahwasanya menurut jumhur Asyaa’iroh bahwasanya suatu perbuatan tidak mungkin diketahui baik atau buruknya, terpuji atau tercela hanya dengan sekedar akal. Akan tetapi kebaikan atau keburukan suatu perbuatan hanyalah diketahui melalui syari’at atau dalil yang datang.

Berikut ini nukilan dari beberapa ulama besar madzhab Asyaairoh tentang hal ini.

Al-Baaqillaani rahimahullah (wafat 403 H) berkata :

ولا أصل لهذا عند أهل الحق, بل العقل لايحسن شيأ في نفسه لما هو عليه من الصفة والوجه . ولاشيأ يدعو إلى ما هذه سبيله, ولايقبح شيأ في نفسه وما هو عليه, ولا شيأ يدهو إلى فعله, كل هذا باطل لاأصل له, وإنما يجب وصف فعل المكلف بأنه حسن وقبيح إنه مما حكم الله بحسنه وقبيحه
“…Akan tetapi akal tidak memandang sesuatu perkarapun baik pada dzatnya yang dikarenakan sifat dan sisi, dan tidak pula memandang baik sesuatupun yang menyeru untuk melakukan perkara tersebut. Akal juga tidak menilai buruk sesuatupun pada dzatnya, dan juga tidak menilai buruk sesuatupun yang menyeru kepada melakukan perkara tersebut. Ini semua merupakan kebatilan, tidak ada asalnya. Yang wajib adalah mensifati perbuatan mukallaf (hamba) bahwasanya ia baik atau buruk hanyalah dengan hukum Allah yang menilainya baik atau buruk” (At-Taqrib wa al-Irsyaad as-Soghiir, karya al-Baaqilaani, tahqiq : DR Abdul Hamid, Muassasah ar-Risaalah, cetakan kedua, 1/279)
Al-Baqillaani juga menjelaskan bahwasanya sholat, haji, dan puasa tidak mungkin diketahui kebaikannya kecuali dari sisi syari’at, adapun akal tidak mungkin –secara independent- untuk mengetahui kebaikan atau keburukan perbuatan/amalan seorang hamba. Bahkan menurut beliau, keadilan, kejujuran, membalas budi, semuanya diketahui kebaikannya dengan dalil syari’at, bukan dengan akal. Sebaliknya zina, minum khomr, homoseksual, semuanya diketahui keburukannya dengan dalil sam’i (Al-Qur’an atau Al-Hadits) dan tidak diketahui dengan sekedar akal. (Lihat At-Taqriib wa al-Irsyaad 1/278-279. Lihat juga perkataan al-Baqillani dalam kitab beliau yang lain seperti at-Tamhiid fi ar-Rod ‘ala al-Mulhidah al-Mu’atthilah wa ar-Rofidho wa al-Khowaarij wa al-Qodariyah hal 97 dan 107, dan juga kitab al-Inshoof fi maa yajibu I’tiqooduhu wa laa yajuuzu al-jahlu bihi, tahqiq Al-Kautsari, AL-Maktabah al-Azhariyah, cetakan kedua, hal 46-47)

 

BACA JUGA:  Ibnu Taymiyah Antara Bid'ah Hasanah dan Maulid Nabi

Penjelasan:

Dari hujjah atau argumentasi diatas, sekali lagi kita dapat menyimpulan bahwa beliau tidak memhami konsep Bid’ah Hasanah dari para ulama’ Syafi’iyyah sebagaiman sering dikemukaan dalam forum ini oleh para asatidzah pengunjung Ummati Press. Adakah dari perkara-perkara yang kami anggap sebagai Bid’ah Hasanah tidak merujuk pada al qur’an atau as sunnah untuk menetapkannya sebagai Bid’ah Hasanah? Adakah kami tidak mengajukan dalil dalam masalah dzikir berjama’ah, atau kami hanya berargumentasi akal dalam masalah maulid dst… sungguh dalam semua amalan yang kami anggap Bid’ah Hasanah telah diuji dengan al qur’an dan atau as sunnah berikut Ijma’ dst… Namun sayang nampaknya beliau tidak memahami apa itu Dalil..?

Selanjutnya mari kita ikuti hujjah atau argumentasi beliau, yang menurut pengamatan penulis sejatinya argumentasi berikut diperuntukkan memperkuat argumentasi sebelumnya, namun apa boleh buat ketergesa-gesaan beliau mengakibatkan argumentasi “tambahan” berikut justru menjadi “senjata makan tuan.”

 

Ustadz Firanda

Abu Hamid Al-Gozali rahimahullah berkata :

لا يُستدرَك حسنُ الأفعال وقبحا بمسالك العقول, بل يتوقف دركها على الشرع المنقول
فالحسن عندنا ما حسنه الشرع بالحث عليه
والقبيح ما قبحه بالزجر عنه والذم عليه

“Tidak bisa diketahui baiknya perbuatan-perbuatan (hamba) dan juga keburukannya dengan melalui akal. Akan tetapi hanya bisa diketahui dengan syari’at yang dinukil.
Maka sesuatu yang baik di sisi kami adalah : apa yang dianggap baik oleh syari’at dimana syari’at memotivasi untuk melakukannya.
Dan yang buruk adalah : apa yang dinilai buruk oleh syari’at dengan melarangnya dan mencelanya” (Al-Mankhuul min Ta’liqoqt al-Ushuul, Tahqiq : DR Muhammad Hasan, Daarul Fikr, cetakan kedua, hal 8)

 

Penjelasan:

Inilah hujjah tambahan dari beliau yang justru merontokkan seluruh argumentasi dari awal hingga akhir, karena hujjah ini pula yang merontokkan konsep dasar bid’ah sesat versi beliau yang menggeneralisir atas setiap perkara yang tidak terdapat contohnya baik dari Nabi maupun para sahabat.

Anda cermati had (batasan) “al Hasan” (baik) : apa yang dianggap baik oleh syari’at dimana syari’at memotivasi untuk melakukannya.

Dengan jelas Hujjatul Islam al Ghozali membatasi kebaikan pada apa yang dianggap baik oleh syari’at, meski hanya dipandang dari adanya motivasi dari syari’at, dan Imam al Ghozali tidak membatasi kebaikan pada perkara yang telah ada contohnya dari Nabi SAW maupun para sahabat.

Dan “al Qobih” (buruk) : apa yang dinilai buruk oleh syari’at dengan melarangnya dan mencelanya”.

Perhatikan standar perkara yang buruk dari Imam al Ghozali tsb, jelas hanya pada perkara yang dilarang dan dicela oleh syari’at, lantas dengan dalil apa beliau melarang kebaikan-kebaikan yang bernaung dan atau selaras dengan nash atau dalil-dalil umum dari syari’at? Sedangkan tidak ada larangan maupun celaan dari syari’at pada perkara-perkara tsb?….

Berikutnya beliau melanjutkan argumentasinya…

 

Ustadz Firanda:

Imamul Haromain Al-Juwaini rahimahullah berkata :

لا يدرك بمجرد العقل حسن ولا قبح على مذهب أهل الحق وكيف يتحقق درك الحسن والقبح قبل ورود الشرائع مع ما قدمناه من أنه لا معنى للحسن والقبح سوى ورود الشرائع بالذم والمدح”

Dan tidaklah diketahui kebaikan atau keburukan hanya dengan berdasar akal, (hal ini) menurut madzhab ahlul haq (asya’iroh-pen). Bagaimana bisa diketahui kebaikan dan keburukan sebelum datangnya syari’at?. Tidak ada makna kebaikan dan keburukan selain datangnya syari’at dengan pencelaan atau pemujian” (At-Talkhiis fi ushuul al-Fiqh, tahqiq : Abdullah julim An-Nebali, Daarul Basyaair al-Islaamiyah, 1/157)

Jika kebaikan tidak mungkin diketahui dengan akal menurut mereka, maka lantas bagaimana mereka bisa menilai bahwa bid’ah hasanah adalah baik?.

Jangankan perkara ibadah, bahkan perkara mu’amalah menurut asyaa’iroh tidak bisa diketahui baik dan buruknya dengan akal, harus dengan dalil. Maka bagaimana lagi dengan perkara-perkara ibadah yang merupakan hasil kreasi?

 

Penjelasan:

Di sini kita dapati beliau entah dengan sadar atau tidak, mencoba membenturkan “Istihsan” yang ditolak oleh Syafi’iyyah, dengan “Bid’ah Hasanah” versi Syafi’iyyah, hal ini menunjukkan ketidak cermatan beliau dalam memahami perkara tsb, sekaligus mempejelas dampak buruk menolak ber Madzhab namun disisi lain mengambil pernyataan para Imam Madzahib secara parsial (sepotong-sepotong). Disini kita dapati dengan jelas ketidak fahaman beliau tentang “Istihsan” yang ditolak oleh Imam Syafi’iy dan “Bid’ah Hasanah” versi Madzhab Syafi’iy.

 

UstadzFiranda:

KEEMPAT : Kalau memang makna مَنْ سَنَّ في الإسلامِ سنَّةً حَسَنَةً adalah membuat kreasi ibadah baru yang tidak diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menganjurkan kita untuk sering berkreasi membuat ibadah baru (bid’ah hasanah). Semakin banyak berkreasi maka semakin bagus.

Jika perkaranya demikian lantas apa faedahnya anjuran Nabi tatkala terjadi perselisihan dengan barkata “فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي” (Hendaknya kalian berpegang teguh dengan sunnahku), “عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ” (Gigitlah sunnahku dengan geraham kalian) !!!. Apa faedahnya perkataan Nabi ini jika ternyata setiap orang boleh berkreasi membuat sunnahnya sendiri-sendiri??!!!

Penjelasan

Memangnya Sunnah Nabi saw hanya berupa apa yang pernah beliau contohkan? Lalu mau dikemanakan Sunnah Qouliyyah beliau…? Terutama yang bersifat umum (tidak ada penjelasan yang mengikat mengenai tata caranya), seperti anjuran memperbanyak kebaikan di bulan-bulan mulia, memperbanyak shodaqoh dst… Sekali lagi kita mendapati kengototan beliau dalam mengartikan apa yang beliau sebut dengan “Sunnah Yang Valid” terbatas pada perkara yang telah ada contohnya, tanpa mengajukan Hujjah pendukung yang benar atas pemahamnnya.

Ketahuilah saudaraku, klasifikasi bid’ah menjadi bid’ah hasanah dan bid’ah sayyi’ah adalah hasil kajian mendalam para sarjana ushul fiqh dari generasi klasik kaum muslimin seperti Al-Imam Al-‘Izz ibn ‘Abdissalaam, Al-Nawaawi, Al-Suyuuthi, Al-Mahalli dan Ibnu Hajar.

Hadits-hadits Nabi itu saling menafsirkan dan saling melengkapi. Maka diharuskan menilainya dengan penilaian yang utuh dan komprehensif serta harus menafsirkannya dengan menggunakan spirit dan persepsi syariah dan yang telah mendapat legitimasi dari para pakar.

Karena itu kita menemukan banyak hadits mulia dalam penafsirannya membutuhkan akal yang jernih, fikiran yang dalam, pemahaman yang relevan, dan emosi yang sensitif yang digali dari samudera syari’ah, yang bisa memperhatikan kondisi dan kebutuhan umat, dan mampu menyesuaikan kondisi dan kebutuhan tersebut dalam batasan kaidah-kaidah syari’at dan teks-teks Al-Qur’an dan hadits yang mengikat.

Wallohu a’lam

wAAACwAAAAAAQABAEACAkQBADs= - Pemahaman Firanda Soal "Syubhat Ketiga" Bid'ah Hasanah yang Wajib Diluruskan
Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

53 thoughts on “Pemahaman Firanda Soal “Syubhat Ketiga” Bid’ah Hasanah yang Wajib Diluruskan”

  1. Pemahaman ustadz Firannda tentang syubhat2 yg dituduhkan ke Bid’ah Hasanah memang harus diluruskan segera, sungguh urgensinya sangat mendesak untuk dilakukan.

    Saya sarankan kepada umat islam yg berkompeten (mungkin di bawah naungan ASWAJA NU) segera membentuk team khusus untuk menagani maslah-masalah seperti yg disebarkan ust Firanda CS yg jelas2 menimbulkan fitnah besar ini. Kalau tidak segera diatasi, jika mereka yg tertipu semakin membesar jumlahnya akan mustahil diatasi. Sebab mereka yg tertipu tidak sadar kalau mereka telah tertipu, bahkan mereka enjoy dalam ketertipuan tsb.

    Atau mungkin Ummati Press bisa memulainya dg merekrut pemuda2 yg cerdas2 yg bisa baca kitab berbahasa arab untuk diseleksi menjadi team mudzakaroh (diskusi/maaf…. debat). Nanti bisa undang (tantang) firanda CS. Insyaallah hanya cara ini yg akan bisa efektif meredam laju perkembangan Wahabi di Indonesia. Pasalnya, jika mereka selalu kalah dalam mudzakaroh, lalu di blow-up beritanya di berbagai media, maka hal itu akan membuat malu para pengikut Wahabi. Kalau mereka malu, tentu mereka akan bersembunyi seandainya mereka masih kekeh dg apa yg dianutnya tsb. Mereka tidak akan berani terang2an muncul di tengah masyarakat umum.

    Demikian usulan saya, oh ya, tentunya untuk bisa mewujudkan apa yg saya usulkan tsb akan memerlukan biaya / dana yg tidak sedikit. Saya akan menyumbangkan harta saya yg sedikit ini jika seandainya usulan saya ini diwujudkan. Laa khaula walaa quwwata illa billah….
    Syukron!

    1. usulan yang bagus Mbak Aryati , Insya Allah saya juga siap untuk menyumbang ……mudah2an Usulan mbak dapat segera terwujud amin.

    2. Saya juga sangat setuju dg usulan mBak Aryati, insyaallah juga mendukung pendanaannya jika sudah dibentuk teamnya, bravo Ummati!

    3. Subhanallah….bagus ini usulannya mba aryati, bagaimana klo diteruskan ke aswaja NU ,mungkin admin Ummati bsa kirim email atau surat ke aswaja NU untuk merealisasikan usulan mba aryati ini,insyaAllah kami siap membantu sekuat tenaga…Bagaimana Kawan” aswaja? Setuju?

      1. mbak Putri faham wahabi itu dimanapun berada pasti akan bikin kekacauan , sejak awal kemunculannya di Nejd dimesir , dilibiya ditunis dikuwait , dan memang kekuasan itu incaran mereka , karena akan lebih mudah menyebarkan fahamnya bila perlu pake tangan besi.

        dan tidak mustahil suatu saat nanti indonesiapun akan dikuasainya, apalagi kalo aswajanya bersikap masabodoh, tugas kita bersama untuk meluruskan faham2 keliru mereka.

  2. Saya juga siap mendukung usulan Mbak Aryati, termasuk menyumbang pembiayaan sesuai kemampuan saya. Firanda akan semakin besar kepala jika tidak ada yang membantah. Dia harus secara terbuka diminta pertanggungjawabannya atas subhat-subhat yang dibuatnya, yang tidak lain MEMELINTIR perkataan ulama.

  3. Kengeyelan firanda menunjukkan bahwa dia bukan menunjukkan kebenaran tapi menunjukkan bahwa dia sedang memperjuangkan “sesuatu” yang lebih besar di luar kebenaran

    1. Saya setuju mas Phir, kengototan yang dipertontonkannya itu sepertinya Firanda sengaja memancing kemarahan Ummat Islam, oleh karrena itu umat Islam nggak perlu ngamuk dah, sabar aja, innalloha ma’asshobirin…..

      hadapi saja dg santai, nanti juga ada solusinya. Tapi kalau kita bisa mendebatnya dg lebih ellegant maka itu adalah jalan terbaik untuk memperlambat pertumbuhan kaum Najd ini. Semoga Allah memberikan jalan terbaik demi kebaikan umat Islam seluruhnya.

  4. To All Sahabat Ummati,

    Kami sudah informasikan usulan dari Sahabat-sahabat Ummati kepada yang lebih berkompeten, dan mereka-mereka sudah membaca akan hal ini semuanya. Insyaallah akan ditindak-lanjuti, kita tunggu actionnya.

    Benar sekali apa yang dikatakan Mbak Aryati, bahwa untuk mewujudkan team mudzakaroh diperlukan biaya, untuk akomodasi, dll. Dan kami pada dasarnya juga se-ide dg kawan-kawan semuanya. Syukron untuk semuanya atas segala atensinya.

  5. Alhamdulillah, jazakumullah atas penjelasannya, Ustadz Abu Hilya.
    Kurang lebih begitu juga apa yang disampaikan oleh Al-Habib M. Rizieq Syihab pd pengajian bulanan yang lalu dikediaman beliau yang mengambil tema juga tentang masalah Bid’ah ini.

  6. Dear Team Ummati.

    Bismillah, kami siap sedia menyumbang apapun…………….. mohon info bila sudah ada kejelasan.

    Kami siap mendukung sepenuh hati.
    Jangan kasih Ampun tuch Ustadz Firanda.

    Salam hangat

    Salafy Totok

  7. saya barusaja berkunjung ke blog Firanda. Saya merasa aneh melihat salah satu judul di blog tsb. judulnya; KHUTBAH IBLIS YANG SANGAT MENYENTUH HATI…

    Ternyata setelah saya baca, justru menujukkan Firanda itu ternyata aneh dalam berbahasa. Khutbah Iblis itu sangat menghancur-leburkan para pengikutnya, tetapi oleh Firanda dikatakan MENYENTUH HATI. Padahal MENYENTUH HATI itu konotasinya baik, yaitu antara lain: TERHARU….

    Tapi kalau khotbah Iblis tsb bagaimana Firanda bisa mengatakannya sebagai khotbah yg MENYENTUH HATI?

    Sepertinya dia ingin bersastra, tetapi rasa bahasa yg dimilikinya terlalu rendah akibat suka berkata kasar kepada Abu Salafi dan habib Munzir. Kayaknya itu yg jadi sebab kegagalannya dalam keinginan bersastra.

  8. setuju dgn mbak aryati, model si firanda ni kalo dibiarkan lama2 bakin ngelunjak karena gak ada yg negor. kalo bisa ummati kerjasama lah ama web sehaluan kaya team sarkub sekalin ajak habib riziq biar lebih mantap lagi

  9. bagus sekali pemaparan kang Abu Hilya
    dan saran mbak Aryati juga keren…
    ana dukung habis dah….

    kenapa ummatipress kalau buka di hp ana rada berat ya…..

    1. Betul mas Dianth, kalau dibuka dg Hp cukup berat karena template webnya hanya punya rancangan buat PC, kami sedang mengusahakan untuk tampilan HP insyaallah.

      1. pantas saja …. hehehe
        anak muda kebanyakan bawa gadjet, jadi kalau nggak sedang di depan laptop atau pc, dengan membuka hp lihat situs ummati, tentu sip…

      1. Alhamdulillah Mas Ahmadsyhahid, semoga kita semua selalu di rahmati Allah dan semuanya termasuk pengikut wahabi selalu diberi hidayahNya, aamiin

          1. Mas Amad Syahid, mungkin mereka takut kemarin lagi ramai diusulkan mudzakaroh dg ust Firanda, sepertinya mereka takut jadi kenyataan, Bisa KO mereka, sebab dari tulisan di sini aja sdh sangat tergambar bagaimana parahnya kekeliruan pemahamannya mengenai seluk beluk bid’ah.

            Lebih dari itu, saya sebenarnya berharap dalam hati, Ummati Press berkenan merekrut Mas Ahmad syahid dan mas abu Hilya menjadi bagian dari team Ummati dalam mudzakaroh.

          2. sebenarnya diskusi lewat tulisan di web seperti Ummati ( menurut saya ) bisa juga dilakukan dan Hasilnya dibuat artikel , Misalnya diskusi ustadz Abu Hilya vs Firanda , Mas dianth dengan Abu Jauza , Mas Agung Mas Naka dll dengan Ustadz wahabi lainnya yang punya web.

            tinggal mas admin mengirim undangan ( tantangan ) kepada mereka , saya sendiri Insya Allah siap untuk menjadi moderator yang Netral, atau Mas admin langsung bertindak sebagai Moderator. gimana kawan2 Ummati…… Ustadz Abu Hilya mas dianth mas Naka dan yang lainnya siapkan………..?

  10. Dulu ketika negara kita baru merdeka pertentangan ini jadi perdebatan dimana². Seiring dengan kedewasaan berfikir cendekiawan agama (ustad,ulama) topik kecil ini jadi tawar. Mungkin karna merasa bahwa semua fihak tau kalu ini tidak ada maslahatnya bg umat. Anehnya sekarang muncul lagi. Timbul pertanyaan yang su uzzhan,jangan² ada unsur kesengajaan yang difasilitasi atau dibiayai oleh musuh Islam dengan menggunakan orang Islam sendiri yang beda mazhab. Da’wah yang harusnya fokus terhadap umat jadi ajang debat,yang bisa jd umat terlupakan. Kita coba dibenturkan dengan sesama kita,dengan menyerang sisi yg paling sensitif pada mazhab yang lain. Apa sih susahnya meninggalkan perkara yang jadi sengketa untuk berda’wah. Bukankah wilayah da’wah bukan cuma bid ah saja. Bagaimana mendidik generasi muda agar jangan seperti generasi tua seperti sekarang ini yang sdh membudayakan korupsi,adalah bidang garapan da’wah yang mulia. Kalo cendekia jadi fokus terhadap debat siapa yg bertanggung jawab terhadap generasi muda sekarang dimana dihadapan matanya para pejabat ramai² secara jamaah melakukan korupsi. Siapa yang menyadarkan anak² kita kalo koruptor itu sama dengan maling.kalo bukan para ulama dan ustad. Ingat lah bahwa kita sedang diintai oleh musuh. Marilah hentikan menyerang kelompok lain.karena bagaimanapun orang akan menyerang balik. Allah melarang orang yang suka menyerang.

    1. syeiba @

      antum ngomong seperti ini seharusnya lebih tepat dan akan efektif kalau ditujukan ke ustadz Firanda CS (Wahabiyyun), sebab blog ini dan kami para komentator hanya sekedar memberi perlawanan terhadap fitnah yg mereka sebarkan di tengan ummat Islam.

      Coba baca artikel di atas, lalu lihat artikel Firanda yg ditanggapi oleh artikel di sini. Bagaimana menurut antum, siapa yg menyerang siapa?

      Intinya adalah, fitnah itu memang tidak bisa dibiarkan begitu saja, kecuali menginginkan api fitnah itu semakin membesar hari demi hari dan akhirnya membakar umat Islam semuanya.

      Hasil perlawanan kami melalui sirus2 blog seperti Ummati Press, Salfy Tobat, Abu Salafy, dll… adalah bahwa kini dakwah Salafi Wahabi sudah mulai melunak tidak segarang dulu lagi, alhamdulillah. Mereka tampaknya mulai menyadari jika terus berteriak bid’ah dan syirik kepada kelompok Aswaja sesungguhnya teriakan itu benar2 menuju ke arah Salafi Wahabi sendiri.

      Hal ini bisa dilihat dg jelas dalam blog-blog Aswaja bagaimana Salafi wahabi itu terbukti sebagai the Truth of Ahlul Bid’ah Wal Munafikuun dengan akidahnya yg menyimpang dari ajaran Allah dan Rasulullah saw.

      Maaf jika koment saya terkesan vulgar, itu saya sengaja agar bisa cepat dimengerti oleh teman2 yang lain.

  11. Alangkah hebatnya iblis menghiasi ucapan dan tulisan anda sehingga kebathilan dibenarkan dan kebenaran dibenci. Allahu musta’an

    1. Betul… saya setuju dg analisa Mbak Aryati Kartika,
      tampaknya Ummu Hasanah ini langsung mengerti apa yg dimaksud oleh Mbak Aryati,
      meskipun mungkin tak punya jenggot di wajahnya akan tetapi jenggot-jenggot yg tumbuh di hatinya tampak kebakaran,
      sepertinya sudah sulit diselamatkan ini orang, laa haula walaa quwwata illa billah…..

    2. Bismillah,

      من لا يدري ولا يدري بأنه لايدري فإنه أبدا لايدري

      “Barang siapa tidak tahu sedang ia tidak merasa dirinya tidak tahu, maka sungguh ia tidak akan pernah tahu.”

    3. iblis teriak iblis…..aneh kata2 tersebut keluar dari seorang yang ngakunya “wanita muslimah”

      sanggah secara ilmiah dong, jangan cuma bisa caci maki aja….

      jadi ketauan kan begonya orang2 wahabiyun

  12. @Ummu Has, mungkin harus kita lihat dulu konteks and content artikelnya.
    Content artikel diatas hanyalah sebuah artikel sanggahan atas artikel yg dibuat Firanda karena menolak Bid’ah Hasanah, yang mana Bid’ah Hasanah adalah amalan kaum kami yg masih memiliki dalil2 yg cukup kuat.. Konteks nya disini si Firanda diposisi menggugah (baca menuduh) dan Ust. Abu Hilya cs diposisi membantah (baca memberi penjelasan duduk perkaranya).
    Jadi sudah jelas mana yg menuduh dan mana yang memberikan penjelasan, jika kita kembalikan ke masalah Iblis seperti yg anda katakan kepada sdri. Aryati, maka yg kita pahami adalah si Iblis lah yg selalu diposisi yang mengganggu, dan manusia diposisi yg diganggu….

  13. Tanya mas samaranji, asbanunnuzul ayat yang anda tulis itu bagaimana ya?
    Dan adakah dalam al quran letterlux pembagian bid’ah dun-yawi dan ukhrowi. Makasi
    Wallohu a’lam

  14. Afwan mas samaranji, karena tergesa-gesa membaca postingan panjenengan tentang bid’ah hasanah yg multitafsir, tanpa mendalami situs anda. Saya menyodorkan pertanyaan diatas. Mohon tidak usah di tanggapi, saya rujuk kembali. Sekali lg mohon maaf. Wallohu a’lam.

  15. Ummu@:bagi saya yg orang awam memba2 komen mba Ummu sungguh keterlaluan,bukannya memberi sanggahan yg ilmiah,eee… Mmalah mencaci maki begitu.
    Betuk kata yg saya dengarmah,hati orang tuh ibarat teko,teko d isi kopi yg keluar ya kopi,ga mungkin teko di isi kopi yg keluar madu.

  16. Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

    Bukannya Al Izz Abdussalam membidahkan salamn setelah shalat fardhu? Begitu juga Imam Nawawi membid’ahkan kata tambahan kata sayidina pada sholawat di waktu shalat?
    Dan keduanya itu dalam pikiran kita orang awam adalah “baik” dan “tidak bertentangan dengan sunnah”,
    dan Imam Syafii rohimahullah berkata : Barangsiapa yang menganggap baik suatu amalan maka dia telah membuat syariat”.
    Maka makna bidah hasanah Imam Syafii rohimahullah itu harus dikembalikan pada nash asal nya yaitu tentang perkataan Umar rodliyallhu’anhu tentang menghimpunkan shalat tarwaih pada satu imam: ni’mahtu bidah hadzihi”, padahal amalan itu pernah dicontohkan Nabi sholllallahu’alaihi wassalam. Hal ini menjadi jelas sesuai penjelasan Imam Subkhi rohimahullah tentang definisi bidah.

  17. Wa’alaikum salam
    Mas lavon kalo boleh Tanya, bida’ah yang dimaksudkan Imam Izz bin Abdisalam dan Imam Nawawi bid’ah yang gimana? Boleh di kasih teks arabnya, nanti kita urai bersama.
    Dan perkataan Imam Syafi’I itu dalam rangka apa? atau asbabul wurudnya gimana?
    Apakah nabi mencontohkah tarawih berjamaah? Ataukah pernah tarawih atau sholat malam saja? Ataukah nabi pernah mencontohkan 20 rokaat seperti di makkah? Tolong di kasi penguat teks arab.
    Coba devinisi imam subki tentang bid’ah apa? Jangan-jangan nanti bid’ah lughowiyyah. Makasih tanggapannya
    Wallohu a’lam

  18. KECERDASAN USTDZ. FIRANDA DALAM MEMAHAMI HADIST :

    “Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim no 1016).

    BERIKUT SEKELUMIT PENJELASAN FIRANDA :

    Yang dimaksud Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam dengan sabdanya مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً “Barang siapa yang merintis sunnah hasanah/baik” adalah mendahului dalam mengamalkan sunnah yang telah valid dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan bukan membuat/merekayasa/berkreasi dalam membuat suatu ibadah yang baru.

    Dari kisah di atas jelas bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaulah yang memotivasi para sahabat untuk bersedekah. Lalu sahabat anshor lah yang pertama kali bersedekah, lalu diikuti oleh para sahabat yang lain. Lalu setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata مَنْ سَنَّ فِيْ الإِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً “Barang siapa yang merintis sunnah hasanah/baik”. Dari kronologi ini jelas bahwa yang dimaksud dengan sunnah hasanah adalah sunnah yang valid dari Nabi, dalam kasus ini adalah sedekah yang dimotivasi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    JAWAB :

    Memang benar, hadist tersebut berkaitan dengan sedekah. namun ada hal yg di lupakan oleh ustdz. firanda cs, yaitu lanjutan hadist yg diriwayatkan oleh Imam Muslim : “…… merintis dalam Islam sunnah yang buruk……..”. pertanyaannya adalah, apakah mungkin Nabi Muhammad saw. maupun para sahabat mengajarkan sunnah yg buruk? tentu saja jawabannya adalah tidak mungkin. oleh karena itulah, hadist tersebut dipahami berdasarkan keumumannya, bukan karena sebab khususnya.

  19. @Lavon

    melihat komentra kalian, saya semakin yakin bahwa wahabi cuma bisa menjadi ahlul fitnah. sedikit penjelasan untuk mas lavon, di dalam islam itu, ada yg namanya masalah pokok/ushul, ada yg namanya cabang/furu’. masalah pokok itu biasanya berkaitan dengan aqidah atau tauhid. misal, mazhab muktazilah, jabariyah, karramiyyah, jahmiyyah, mujassim musyabbih, asy’ariyyah maturidiyyah. perlu juga saudara ketahui, Imam Izzudin ibn abdissalam dan Imam Nawawi, dalam masalah aqidah, mengikuti rumusan dalam mazhab asy’ariyyah maturidiyyah, yg mana kedua mazhab tersebut dianggap sesat oleh salafi wahabi mujassim musyabbih.

    masalah cabag biasanya berkaitan dengan masalah fiqih, dan bila anda mengikuti pengajian perbandingan mazhab, anda akan melihat perbedaan pendapat dikalangan ulama ulama mazhab. perbendaan tersebut bukanlah hal yg tercela, karena perbedaan dalam menafsirkan al-qur’an, dan hadist. perbedaan pendapat juga dapat disebabkan karena perbedaan dalam menilai riwayat suatu hadist. dimana satu hadist di shohihkan oleh muhadist lain, namun dianggap lemah oleh muhadist lainnya pula. perbedaan juga dapat disebabkan oleh metode ijtihad, misal Imam Hambali lebih mendahulukan hadist dhaif dibandingkan qiyas.

    dan juga perlu anda ketahui, dalil itu bukan hanya al-qur’an dan hadist, namun juga ijma’ dan qiyas. keempat dalil tersebut telah disepakati untuk dapat dijadikan hujjah dalam berhukum. selain itu, ada jg sumber hukum islam lainnya yg masih diperselisihkan, seperti istihsan, maslahah mursalah, syari’at umat terdahulu, mazhab sahabat, ‘urf dsb. itulah saah satu sebab salafi wahabi cuma menjadi fitnah, mereka tahunya cuma al-qur’an dan hadist. padahal, bila tidak ada keterangan dari kedua sumber tersebut (al-qur’an dan hadists), ada yg namanya ijtihad.

    Imam Syafi’i memang menolak istihsan. tapi perlu anda ketahui, yg ditolak imam syafi’i itu adalah hanya sekedar menganggap baik suatu amalan tanpa adanya sandaran, baik al-qur’an, hadist, maupun qiyas. istihsan itu dipelopori oleh mazhab hanafi, adapun definisi istihsan adalah berpaling dari qiyas yg jelas, kepada qiyas yg samar. dan definisi seperti inipun disetujui oleh imam syafi’i.

    kemudian, lebih baik anda pelajari pengertian bid’ah dalam mazhab syafi’i. karena menurut imam nawawi dan imam izzudin ibn abdissalam, hukum bid’ah dikembalikan kepada hukum islam yg asal, yaitu, wajib, sunnah, makruh, mubah dan haram. beda antara pengertian bid’ah dalam mazhab syafi’i dengan mazhab wahabi.

    kalau bersalaman setelah sholat itu tercela, apa yg anda lakukan setelah sholat, mana dalilnya?

  20. Mas Lavon,

    Mahzab anda itu mahzab untuk menulis skripsi, thesis, disertasi. Islam tidak menuliskan pengetahuan pada buku saja, tapi menghidupkan hati anda. Hati anda tahu apa memang sifat Imam Nawawi, Imam Syafii, bahkan Rasulullah.. Kenapa menurut anda pada saat kalangan Sahabat, sama-sama membaca Alquran, tapi tetap yang dikatakan sebagai Alquran Berjalan hanya Rasulullah Nabiyullah Muhammad SAW? Pemahaman jatuh pada kekasih Allah, orang tersebut akan dipercaya, dan dari dirinya kata-kata baik lagi mulia. Yang ini haram, yang itu haram, apakah maksud kalian mengharamkan perbuatan-perbuatan yang tidak mengambil Tuhan selain Allah, yang tidak mengalahkan akhlak nabiyullah Muhammad SAW. Tapi apapun yang sy katakan, sy tidak pernah bertemu para sahabat secara langsung.. Bersalaman bukankah itu bisa menambah persaudaraan. Kenapa risih? ada apa dengan hatimu? Lalu apakah bersalaman itu membahas masalah tauhid atau gimana. Bagaimana sebenarnya hatimu melihat ini haram melihat itu haram. Sy tidak tahu gimana menyikapi orang-orang ini, bahkan masjid di rw sy juga sudah dipenetrasi, padahal pengajiannya sepi, tapi speakernya kenceng. Sa’karepmu ngonoh..

  21. masalah korupsi penting….tapi lebih penting lagi adalah aqidah….kalo ust firanda CS ga segera diselesaikan ….bisa mempengaruhi ke golongan awam yang ga tau jadi ikut ikutan…
    saya juga pernah denger gaya dakwahnya orang wahabi di radio al fajri….saya pikir ustadnya dalam berdakwah gaya dakwahnya persis orang kristen…waspada temen-temen sekarang ada radio ngaku radio sunnah tapi ternyata sarang fitnah dan bid’ah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker