Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Berita Asia

Pejuang Rohingnya : Kami Mati atau Mereka Mati!

Pemerintah Myanmar menyinggung ARSA sebagai 'ekstremis teroris Benggala', merujuk pada sebutan mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh.

Para pejuang Rohingya di Rakhine mengata “Kami Mati atau Mereka yang Mati!”. Militan lokal di Rakhine, Myanmar, yang menyinggung diri sebagai Tentara Keselamatan Arakan Rohingya (ARSA) tengah menjadi sorotan. Kelompok ini menyerang militer Myanmar dan mengklaim berusaha untuk mencairkan hak-hak penduduk Rohingya.

Seperti dikutip media Inggris, The Guardian, Senin (4/9/2017), nama militan ARSA marak diberitakan sejumlah pekan terakhir, sesudah konflik pulang pecah di Rakhine. Kata ‘Arakan’ dalam nama ARSA adalah sebutan lain guna wilayah Rakhine, yang tidak sedikit ditinggali etnis muslim Rohingya.

Otoritas Myanmar telah mengaku ARSA sebagai organisasi teroris. ARSA sekarang tengah dikejar militer Myanmar, sesudah mendalangi rentetan serangan. Pemerintah Myanmar menyinggung ratusan militan ARSA dengan senjata api, tongkat dan peledak rakitan melancarkan serangan terkoordinasi terhadap pos-pos ketenteraman polisi di Rakhine bagian unsur utara pada 25 Agustus lalu. Serangan tersebut menewaskan 12 anggota pasukan ketenteraman Myanmar.

BACA JUGA:  Pesan Presiden India dalam Menyambut Maulid Nabi Saw

Pemerintah Myanmar menyinggung ARSA sebagai ‘ekstremis teroris Benggala’, merujuk pada sebutan mereka sebagai imigran ilegal dari Bangladesh. Myanmar pun menuding ARSA sudah membantai penduduk sipil di Rakhine.

Melalui Twitter, ARSA memang mengklaim bertanggung jawab atas rentetan serangan terhadap pos kepolisian Myanmar sejumlah waktu terakhir. Namun ARSA menegaskan diri sebagai pejuang kemerdekaan dan menyinggung serangan tersebut sebagai ‘langkah sah’ untuk membalikkan hak-hak Rohingya, yang tertindas dan tidak mempunyai status kewarganegaraan di Myanmar.

BACA JUGA:  Pejuang ISIS Indonesia ditangkap di Marawi Filipina

Salah satu anggota ARSA yang bersedia berkata via sambungan telepon dengan The Guardian, menegaskan destinasi utama dari kelompoknya.

“Sekarang, kami tidak mati dan tidak pun hidup, jadi kami perlu mengerjakan sesuatu,” tegas Hashem (26), seorang penduduk Rohingya yang menyatakan telah bergabung dengan kumpulan militan ARSA. Dia merujuk pada nasib penduduk Rohingya di Rakhine pun di kamp evakuasi di Bangladesh yang tidak pantas huni.

“Kami hendak hak-hak kami. Jika ini tidak terjadi, kami mati atau mereka yang mati,” imbuhnya dari suatu kamp evakuasi di Bangladesh.

BACA JUGA:  132 Warga Malaysia yang Gabung ISIS Ditolak Kembali ke Malaysia

Rohingya yang jumlahnya menjangkau 1,1 juta jiwa di Rakhine, tidak mendapat akses pada kegiatan dan edukasi di Myanmar. Warga Rohingya yang tidak sedikit menganut Islam ini pun tidak mempunyai status kewarganegaraan. Para pengungsi Rohingya menyinggung militer Myanmar mengerjakan kekerasan dalam operasinya di Rakhine, dengan menghanguskan desa-desa setempat dan menembak secara membabi-buta.

Namun otoritas Myanmar menegaskan mereka mengerjakan operasi militer di Rakhine secara legal. “Untuk dalil keamanan, tidak ada lumayan personel polisi lokal dan pasukan penjaga perbatasan, itulah kenapa militer menolong mereka dalam pengamanan,” sebut Menteri Kesejahteraan Sosial Myanmar, Win Myat Are, untuk The Guardian.

sumber

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker