Sufi - Tasawuf

Orang yang Lebih Tawadlu VS Orang yang Lebih Alim

Habib Lutfi bin Yahya mengatakan bahwa orang yang lebih Tawadlu dan bersih hatinya lebih diunggulkan (lebih utama) daripada yang lebih alim. Mau tahu alasannya….?

 

habib muhammad luthfi bin yahya - Orang yang Lebih Tawadlu VS Orang yang Lebih Alim
Habib Luthfi bin Yahya

 

Islam-Institute, Jakarta – Orang yang berilmu tapi bisa bersikap lebih tawadhu berarti akhlaknya lebih mulia, sementara orang yang lebih Alim tetapi kurang tawadhu menunjukkan belum bisa sepenuhnya menerapkan akhlak dalam sikapnya. Allah dan Rasul-NYA mencintai orang-orang yang memiliki akhlak mulia. Kalau Allah cinta, maka Allah dekat dengannya.

Habib Luthfi bin Yahya dalam fanpage di FB menerangkan bahwa yang lebih lebih alim belum tentu yang diunggulkan:

Imam Nawawi berumur lebih muda dari Imam Rafi’i, namun tidak lantas
membuat pendapat (qoul) Imam Rafi’I lebih unggul (rajih) daripada
pendapat Imam Nawawi yang lebih muda. Ibnu Hajr Al-Haitamy berkata:
“Jika terdapat pendapat yang berbeda antara Imam Nawawi dan Imam Rafi’I,
maka pendapat yang dipegang (al-‘ibrah) adalah yang disahihkan Imam
Nawawi.”

Kenapa?
Karena Imam Nawawi dikenal memiliki qulb (hati) yang spiritualitasnya lebih tinggi dibanding Imam Rafi’i. Imam Nawawi menjadi waliquthb (pemimpin para wali) selama 3 tahun 4 bulan, jadi batin
syariahnya lebih luar biasa. Sampai pada di sini kita dapat melihat
bahwa para ulama jaman dahulu memiliki pandangan yang jauh lebih dalam
untuk menggolongkan mana yang qoul rajah, arjah, shahih, ashah, dan
mu’tamad. Tidak hanya mengelompokkannya sesuai tingkat kealiman (karena
para ulama alimhya sudah luar biasa), namun sampai pada mempertimbangkan
tingkat spiritualnya.

Di kalangan para ulama, Imam Suyuthi bertemu dengan Baginda Rasulullah 70
kali yaqodzhoh (mata telanjang). Semua itu karena tingkat martabat
kewalian beliau yang agung di hadapan Allah. Sebenarnya Imam Suyuthi
sudah pada tingkat mujtahid muthlak seperti Imam Syafi’I yang kita kenal
dengan bapak Madzhab Syafi’I, tapi beliau lebih memilih bermadzhab
Syafi’i. Imam Suyuthi lebih memilih ittiba’ (mengikuti) madzhab Imam
Syafi’i daripada mendirikan madzhab baru, karena lebih baik mengikuti
dan mengembangkan yang sudah ada daripada membuat yang baru.

Sikap rendah hati (tawadlu’) seperti ini sudah jarang di jaman sekarang.
Seperti ketika di seminar/muktamar, kita malah rebutan: “Pendapat saya
yang ini lebih benar”.

 

BACA JUGA:  Ngaji Kitab Hikam ke-4: Serahkan Kepada Allah (Sumeleh)
Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker