Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Sejarah

NU dan Muhammadiyah Adalah Benteng Sipil NKRI

Jika NKRI dalam Bahaya, NU dan Muhammadiyah Adalah Benteng Sipil Terakhir NKRI 

NU dan Muhammadiyah menurutnya sama-sama punya keinginan agar NKRI tetap dalam kesatuan yang aman, terus maju dan sejahtera. Intinya kita jangan gampang terbakar oleh kemarahan akibat hal-hal kecil. Ya, hal-hal kecil dibanding besarnya nilai NKRI tercinta ini.

Berikut ini kami suguhkan sebuah tulisan dari fan page fb seorang pengamat media sosial yang bernama Denny Siregar. Apa yang disampaikannya lewat tulisannya ini patut untuk direnungkan dan layak untuk diapresiasi kemudian dijadikan cermin.

Beliau  menulis mengenai peristiwa-peristiwa atau kejadian yang menimpa bangsa ini, di mana NU dan Muhammadiyah senantiasa cepat tanggap. NU dan Muhammadiyah menurutnya sama-sama punya keinginan agar NKRI tetap dalam kesatuan yang aman, terus maju dan sejahtera. Intinya kita jangan gampang terbakar oleh kemarahan akibat hal-hal kecil. Ya, hal-hal kecil dibanding besarnya nilai NKRI tercinta ini.

Berikut adalah tulisan Bang Denny siregar yang ditulis sewaktu ngopi dipagi hari….

Muhammadiyah, NU dan NKRI

Sebenarnya paling mudah mengukur bagaimana reaksi umat Islam terhadap suatu perkara, lihat reaksi NU (Nahdhlatul Ulama) dan Muhammadiyah.

Kedua organisasi besar ini berada di jalur yang sama, yaitu ingin menjaga NKRI ini tetap utuh berdasarkan Pancasila. Mereka sudah teruji sejak perjuangan melawan penjajahan, karena tokoh-tokoh mereka terlibat di dalamnya, berdarah-dara dengannya, dan turut menyusun dasar negara.

Total jumlah umat kedua organisasi besar ini jika disatukan, mencapai hampir separuh jumlah penduduk Indonesia. Bayangkan jika mereka radikal sejak awal, sudah mampus kita semua. Anda mungkin tidak bisa lagi nongkrong di toilet sambil fesbukan, sibuk berlarian menghindari desingan peluru akibat perang saudara yang tidak berkesudahan. Mungkin tidak sempat lagi meributkan asap di beberapa daerah, karena sudah begitu terbiasa dengan asap hitam yang mengepul di sekitar anda akibat dibakar.

BACA JUGA:  Ketika Islam Nusantara Berjuang Bersama Islam Berkemajuan

Anda yang mengalami langsung situasi di Ambon, Sampit, Mei 1998 dan beberapa daerah lain mungkin bisa sedikit merasakan situasinya, dan bayangkan itu terjadi selama 15 tahun lamanya seperti yang terjadi di Lebanon, 4 tahun di Suriah dan kalau anda pernah nonton film Black Hawk Down, bayangkan situasi negara dan kota-kota besar yang menghitam akibat perang seperti di Somalia.

Bersyukurlah bahwa kedua organisasi besar itu tidak mempunyai nafsu besar untuk berkuasa.

Sebenarnya mereka berdua pernah dibenturkan dengan hebat saat diturunkannya Gus Dur dari kursi Presiden. Ratusan ribu umat NU siap datang ke Jakarta. Belum lagi di daerah-daerah mereka membuat penghalang dengan merobohkan pohon-pohon di sepanjang jalan. Umat NU menyalahkan Amien Rais, aktor di belakang kejatuhan Gus Dur, dan Amien Rais identik dengan Muhammadiyah. Situasi panas dan genting itu membuat umat Muhammadiyah bersiap-siap melindungi wilayahnya.

Anda bisa bayangkan jika Gus Dur tidak mau turun dari kursi Presiden dan beralih membela diri karena konstitusi ? Indonesia akan bergolak seperti Mesir saat Morsy di turunkan paksa. Dan itu belum seberapa jika kemudian asing masuk secara diam-diam untuk menjual senjata.

BACA JUGA:  PENGHANCURAN SITUS SEJARAH ISLAM DI MAKKAH - MADINAH

Meski-pun dinilai toleran, ketika sudah pada puncaknya, bangsa Indonesia juga terkenal sadisnya. Peristiwa Sampit masih terbayang di benak, dimana kepala-kepala dipenggal dan di arak kemana-mana. Belum lagi kita bicara tragedi 30 september yang menghasilkan sejuta nyawa disembelih, dimutilasi, dibiarkan mengambang di sungai, dan kuburan-kuburan tak bernama yang berisi puluhan jasad manusia di satu liang, di eksekusi dengan serampangan.

Perlu-kah kita mengulang kisah itu lagi ? Jika masih belum puas membayangkan situasi negara kita coba nonton film tentang situasi Rwanda di Hotel Rwanda, Sometimes in April atau Shooting dogs. Film-film yang berkisah tentang genosida di Rwanda yang dilakukan suku Hutu terhadap suku Tutsi sudah cukup buat saya menggambarkan situasi apa yang pernah terjadi dan akan terjadi di negara kita jika kita masih menggunakan rasa marah sebagai ukuran kepuasan.

Belumkah kita belajar ? Kapankah kita mau belajar ? Tuhan memberikan kita peristiwa-peristiwa supaya kita belajar menjadi lebih baik dari sebelumnya dan supaya kita dewasa.

Jadi mengukur situasi di Singkil Aceh dan menyalahkan agama sebagai pelakunya adalah kebodohan yang nyata. Bodoh karena tidak memahami agamanya dengan benar dan tidak keluar dari cangkang ego yang keras. Begitu juga situasi di Tolikara.

Perhatikan bagaimana tokoh-tokoh NU dan Muhammadiyah mengutuk keras situasi itu. Mereka-lah yang lebih pantas mengutuk, bukan kita. Karena mereka mengerti benar sejarah kelam bangsa kita dan tidak ingin lagi terjadi hal yang sama.

BACA JUGA:  Sejarah NU: NU Penentu Langkah Kembali ke UUD 1945

Tidak perlu melibatkan Tuhan dalam hal ini, karena semua itu ulah manusia. Biarlah manusia pula yang mengakhirinya dan percayakan kepada pemerintah untuk menanganinya. Jihad terbaik kita adalah menahan rasa marah sedalam-dalamnya dan tidak membantu penyebaran provokasi dengan hal yang sama sekali tidak kita ketahui. Jihad terbaik kita adalah menyampaikan ketenangan dalam semua situasi yang sengaja diciptakan untuk membakar dan membenturkan.

Kaum nasrani di Singkil bisa belajar pada muslim Syiah di Sampang yang juga tidak mendapat keadilan. Meskipun sulit berbicara hasilnya, setidaknya bergeraklah melalui koridor hukum. Entah itu mau memakan waktu berapa tahun, tetapi bukankah yang dinilai Tuhan bukan hasilnya, tetapi proses dalam usahanya ?

Mari kita duduk dengan hati yang dingin dan kepala jernih. Biarkan foto-foto gedung terbakar sebagai cermin saja dan bukan untuk membakar diri. Kita juga tidak tahu agenda yang terselip dalam setiap penyebaran foto dan berita yang menyusahkan hati.

Tugas kita hanya belajar dari setiap peristiwa untuk memperkaya diri. Kebijaksanaan itu bukan hanya ada di kata-kata atau motivasi, tapi bagaimana semua itu berdampak besar pada diri kita sehingga kita bisa menempatkan benar dan salah sesuai pada tempatnya. (Sumber: fanpage Denny Siregar)

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker