Fikih Sunnah

Nabi Muhammad Mencontohkan Haul, Wahabi Justru Melarangnya

KH Sya’roni: Peringatan Haul Perlu Dilestarikan

Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Sya’roni Ahmadi mengungkapkan, peringatan Haul penting dilaksanakan dan perlu untuk dilestarikan. Sebab Nabi Muhammad SAW pun menjalankan ritual tahunan tersebut.

Demikian diungkapkannya dalam peringatan Haul KH Muslim ke-35 di maqbarah (makam) desa Robayan kecamatan Kalinyamatan, Sabtu sore (15/12).

Menurut Kiai Sya’roni, Nabi Muhammad setiap setahun sekali melaksanakan ziarah ke makam para suhada perang Uhud. Jarak kediaman Nabi ke makam kira-kira 6 km. Waktu itu beliau setiap kesana dengan naik khimar, keledai kadang-kadang jalan kaki.

BACA :  Mencontoh Nabi Saw: Buat Mudah, Jangan Buat Sulit

Dalam kitab Syarah Nahjil Balaghah, Imam Allaqiti pernah mengatakan setiap tahun sekali Nabi Muhammad menziarahi sejumlah 70 sahabat. Meski demikian Kiai Sya’roni menghimbau kepada hadirin agar waspada pada kitab Syarah Nahjil Balaghah sebab ada yang dikarang ulama Sunni ada pula yang dikarang golongan wahabi. Dalam Nahjil Balaghah karya Ulama Sunni jelas Haul dilaksanakan juga oleh kanjeng Nabi. Sedangkan menurut kitab yang sama karya golongan Wahabi jelas-jelas diharamkan.
Kitab Fatkhul Majid yang ia dapatkan dari perguruan tinggi di Madinah tahun 1982 silam pun demikian. Dalam kitab karya versi Wahabi tersebut ia menemukan fasal yang menerangkan tentang pengkufuran pembuat burdah yang dianggap terlalu mengagung-agungkan Nabi Muhammad SAW. Hal itu tentu berbeda dengan Syarah Fatkhul Majid karya Imam Nawawi Al-Banteni.

BACA :  Maulid Nabi Tidak Diharamkan Allah dan Rasul-NYA
banner gif 160 600 b - Nabi Muhammad Mencontohkan Haul, Wahabi Justru Melarangnya

Untuk itu, kitab-kitab wahabi tersebut ia taruh di madrasah agar para guru membacanya dan bisa membedakan dengan kitab-kitab karangan ulama Sunni. “Saya menghimbau kepada para santri agar berhati-hati saat mengaji kitab-kitab kuning saat ini,” himbaunya.
Berkenaan dengan Haul kiai sepuh asal Kudus melansir sabda Nabi Muhammad yang menyatakan mauidloh ada 2. Mauidloh yang bisa berbicara yaitu Al-Qur’an dan asshamit , mauidloh yang berupa kematian. Karenanya Haul, sambungnya, merupakan kegiatan peringatan.  “Bersamaan dengan Haul KH Muslim keluarga maupun kita yang ditinggalkan perlu miker-miker kelak kita juga akan menyusulnya,” imbuhnya.

BACA :  Masalah Bid'ah oleh Ulama Ahlussunnah Waljama'ah

 

Jepara, NU Online,

Redaktur : A. Khoirul Anam
Kontributor: Syaiful Mustaqim

 

 

Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

58 thoughts on “Nabi Muhammad Mencontohkan Haul, Wahabi Justru Melarangnya”

  1. Sunnah apa yg dijalankan Salafy Wahabi? Sepertinya tidak ada kecuali celana cingkrang, jenggot Njebrak and jidat gosong, yg sebenarnya semua itu bukan sunnah Nabi Saw tetapi diklaim Wahabi sbg sunnah.

    1. Bingung ya, pingin tahu sunnah apa yg biasa dilakukan Wahabi? Saya juga nggak tahu lho Mas Jabir, selain yg anda sebutkan? Oh ya, ada satu lagi yaitu DOUROH HARI MINGGU. Kalau di Kristen itu disebut kebaktian.

  2. Sunnah wahabi yg lagi faforit:

    dimana2 : Kullu Bid’atin dlolalah … dlolalah finnaar..
    artinya :wahabi itu dlolalah dg dlolalah yg benaar..

    tahrif artinya: boleh disebut al-arifbelah bila kitab telah dibelahbelaah

    Flu dzikir Allah alergi sholawat tetapi enjoi dg dzikir Quburiyun,musyrikun, finnaar

  3. wahabi emang pinter bikin ane ketawa geli… :mrgreen:

    sering banget ajarannya bertolak belakang sama sunnah Kanjeng Nabi SAW. dan orang2 sholeh…

    btw, jidat gosong itu kewajiban keknya, soalnya itu adalah tanda dari orang yang sholatnya khusyuk 😆

  4. YA begini pendalilan orang aswaja..

    menghukumi Haul dengan Ziarah nabi pada para suhada perang Uhud.

    maaf bapak Qias anda tidak masuk akal…

    jelas sekali dalam sabda nabi..

    حَدَّثَنَا سُرَيْجٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَتَّخِذُوا قَبْرِي عِيدًا وَلَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَحَيْثُمَا كُنْتُمْ فَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي

    (AHMAD – 8449) : Telah menceritakan kepada kami Suraij berkata; telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Nafi’ dari Ibnu Abi Dzi`b dari Sa’id Al Maqburi dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian jadikan kuburanku sebagai hari raya, dan janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan serta bershalawatlah kepadaku di manapun kalian berada, karena sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku.”

    حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ صَالِحٍ قَرَأْتُ عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نَافِعٍ أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
    قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ قُبُورًا وَلَا تَجْعَلُوا قَبْرِي عِيدًا وَصَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ تَبْلُغُنِي حَيْثُ كُنْتُمْ

    (ABUDAUD – 1746) : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Shalih, aku membacakan kepada Abdullah bin Nafi’, telah mengabarkan kepadaku Ibnu Abu Dzi`bin dari Sa’id Al Maqburi, dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian sebagai kuburan (tidak pernah dilaksanakan di dalamnya shalat dan juga tidak pernah dikumandangkan ayat-ayat Al Quran, sehingga seperti kuburan), dan jangan kalian jadikan kuburanku sebagai ‘id (hari raya, yakni tempat yang selalu dikunjungi dan didatangi pada setiap waktu dan saat), bershalawatlah kepadaku, sesungguhnya shalawat kalian akan sampai kepadaku di manapun kalian berada.”

    http://125.164.221.44/hadisonline/hadis9/cari_detail.php?lang=Arabic&katcari=hadist&kunci=%D9%82%D9%8E%D8%A8%D9%92%D8%B1%D9%90%D9%8A%20%D8%B9%D9%90%D9%8A%D8%AF%D9%8B%D8%A7&imam=abudaud

    kalau anda mau mengQiaskan Ziarah nabi dengan Ziarah Antum yang ada lakukan pada HAUL

    tentu berbeda..
    Ziarah antum memakai Perayaan..he..he..

    1. ummu abdillah@

      Ummu Abdillah sendiri sudah pernah ziarah kemana aja, Ummu? Kalau pernah ziarah, lalu apa aja hikmah yg sudah Ummu rasakan? afwan, agak aneh pertanyaan ane, ya?

    2. Yang saya tahu sih nggak ada perayaan di haul, mungkin Ummu Abdillah salah melihatnya, banyak orang mondar-mondir dilihat sbg perayaan. Itu orang2 berziarah, ummu abdillah. Lihat yg bener dong, kalau perlu pakai microskop, he he he….

    3. Bismillah,

      Maaf saudariku, @Ummu Abdillah…

      Apa makna ‘Id dalam hadits yang anda sebutkan tersebut ?

      Sudahkah anda mengetahui secara persis praktek Haul yang anda hukumi dengan hadits tersebut ?

      Kami sarankan berhati-hatilah, karena sering kami jumpai anda menghakimi perkara sebelum anda tahu persis prakteknya, hingga sering kali anda salah menempatkan hujjah…

      1. ust abu hilya yang saya hormati..

        saya mengakui keilmuan anda tentang anda..

        jangan..jadikan hati anda ta’asub yang berlebihan …kepada golongan anda..sehingga menutup kebenaran pada hadist shohih..
        tidak perlu lagi dijelaskan ..tentang perayaan haul..saya kira anda lebih tau dari pada saya…

        saya kira hadist diatas sudah jelas..

        1. Ummu Abdillah, afwan sebelumnya. Bukankah sebaiknya antum meminta penjelasan kpd Ustadz Abu Hilya, sebab jelas sekali antum sebenarnya cuma bisa membawakan hadits tanpa tahu penempatannnya? Lebih baik bertanya bagi antum daripada menuduh ta’ashub kpda Abu Hilya. Antum tdk bisa menjelaskan duduk persoalan hsdits tsb, dan Abu Hilya isyaalah akan memberi penjelasannya.

          Jangan cuma bilang: “saya kira hadist diatas sudah jelas..”, ya emang jelas haditsnya, tetapi pemahaman antum tentang hadits tsb yg masih tidak jelas, karena berakibat pengharaman terhadap hal-hal yg sebenarnya tidak haram. Hati-hatilah…, afwan… sekedar mengingatkan saja.

        2. Bismillah,

          Mohon maaf saudariku @Ummu abdillah, ini bukan soal ta’assub apalagi sampai berlebihan, lah wong ta’assub sendiri sudah berlebihan…. dan juga nampaknya anda juga tidak tepat menilai saya, siapa tahu saya juga hanyalah tukang coppas…

          yang saya tahu dalam acara “Haul”, tradisi yang dilaksanakan di area pemakaman adalah pembacaan Tahlil, Yasiin, Khotmil qur’an atau yang lain. sedangkan pengajian, jamuan makan dan prosesi lain yang menjadi rangkaian acara haul dilaksanakan ditempat yang berbeda, baik itu dirumah keluarga yang di khoul-i ataupun di pesantren yang beliau dirikan atau ditemptat yang tidak jauh dari kediaman shohibul khoul…

          nah dari sini, dimana salahnya KH. Sya’roni yang menqiyaskan tradisi haul dengan Ziyaroh yang dilakukan baginda Nabi ke makam para Syuhada Uhud.

          sedangkan anda menyampaikan hadits “Jangan jadikan kuburku sebagai tempat ‘Id”… sedangkan praktek haul tidaklah menjadikan pemakaman orang yang di Khoul-i sebagai tempat pelaksanaan ‘Id sebagaimana dalam hadits yang anda sampaikan

          ini yang mendorong kami menyarankan agar kita berhati-hati dalam menggunakan hujjah, hendaknya kita memahami terlebih dahulu obyek perkara yang akan kita hukumi… dan juga memastikan maksud hadits berdasarkan pemahaman para ahlinya, agar tidak terjadi salah tembak…
          mohon maaf jika anda kurang berkenan….

  5. KH Sa’roni Ahmadi adalah murid dari KH Arwani Amin (satu2nya guru besar Alqur’an di Indonesia dan sampai sekarang belum tergantikan.)

    Beliau menguasai Qiro’ah yg 7 dan sangatlah jarang Ulama’ yg menguasai 7 qiro’ah sekalipun Syeh Albani atau syeh Al_utsaimin . belum pernah ada berita bahwan beliau (albani dan al-utsaimin) menguasai 7 Qiroah sab’ah.
    sebetulnya beliau KH Sa’roni Ahmadi sangat layak berkata “Kembali ke Al-Qur’an” dan pastilah tdk hanya “Jargon” menilik kemampuan menguasai 7 Qiro’ah.

    Sangatlah tdk layak mereka yg berkata “kembali ke AlQur’an dan ……” mencela Amalan2 yg beliau lakukan seperti “Haul”

    Klo hanya copy paste cukup dg Kyai Google dijamin fasih. ana mengingatkan saudara2 kita utamanya kaum salafi-manhaj salaf sebagai ganti wahabi agar hati2 menjaga perbuatan. copipaste berkomentar dg menulis hadist tetapi tdk menyentuh bahasan yg disampaikan Admin adalah tindakan lucu dan menunjukan kebodohanya.

    Siapa yg menjadikan rumah2 seperti kuburan, siapa yg berhari raya di kuburan?

  6. Ummu Abdillah, dan yg lainnya. ziarah qubur memang bagian dari syari’ah. tp kayfiah-nya juga hrs diperhatikan.
    Sebetulnya ada cara yg paling jitu utk mengetahui niat bagi mrk yg rajin ziarah qubur. 2 – 3 bulan stlh mrk ziarah qubur, baru ditanya kpd mrk “bagaimana hasil dari ziarah qubur?”. Pastinya kebanyakan dr mrk (bagi yg do’anya dikabulkan) akan menjawab “wah manjur habib/kyai/gus/wali fulan ini, sudah dikabulkan”. (nyata khan sesungguhnya mrk tidak meminta kpd Allah?)
    Atau mrk (yg merasa do’anya belum dikabulkan) akan menjawab “wah payah…habib/kyai/gus/wali fulan ini…do’a sy tidak dikabulkan.
    Nah dari jawaban ini bisa kita lihat sesungguhnya mrk itu ziarah qubur meminta/berdo’a kepada siapa. Jelas khan?

    1. ibn abdul chair…. dulu antum pernah ngaku mantan orang NU, tetapi koment antum ini mencerminkan antum tidak tahu apa2 tentang orang2 NU. Mungkin antum dulu mantan muslim abangan, sebab koment antum mencerminkan muslim abangan.

      Ingat, di Indonesia ini ada muslim basicnya santri, juga ada basicnya abangan, selain Wahabi dan Syi’ah tentunya. . NU adalah santri…. kalau antum abangan ya pantas aja kalau bagitu. nah… antum sekarang jadi wahabi, kasihan deh. Kalau abangan sih masih mendingan di banding Wahabi.

    2. mas ibn abdul chair ini kok selalu nambah-nambahi dosanya kalau berkomnetar, kenapa sih bisa begitu Mas? Ada dengan mas ibn abdul chair in?

      Ingat lho, nyaris semua penganut Islam Ahlussunnah waljamaah itu sangat hobby ziarah kubur sebab ziarah kubur adalah Sunnah nabi saw. Kalian selalu salah melihat apa2 yg biasa dilakukan kaum Aswaja karena penglihatan antum didasari oleh su’udzon di hatimu. Itu saja sebabnya…. apakah antum kira dapat pahala telah menuduh musyrikl kepada muslimin yg ziarah kubur? Renungkan deh kalau masih merasa punya otak dan hati nurani. jangan sampai hati nurani ditunggangi setan Najd, sehingga penglihatan menjadi kabur….

    3. @Ibnu Abdul Chair

      “wah manjur habib/kyai/gus/wali fulan ini, sudah dikabulkan”. (nyata khan sesungguhnya mrk tidak meminta kpd Allah?)” apakah melalui pernyataan ini anda bermaksud menuduh mereka yang ziarah/haul/tabaruk telah menjadi musyrik?

      tolong hati hati..ini serius atau bercanda? ini saya sampaikan hadist yang juga disahihkan oleh pujaan hati anda syaikh Albani…

      ” Sesungguhnya sesuatu yang aku takutkan atas kalian adalah seorang laki-laki yang membaca al-Qur’an, sehingga setelah ia kelihatan indah karena al-Qur’an dan menjadi penolong agama Islam, ia merubahnya pada apa yang telah menjadi kehendak Allah. Ia melepaskan dirinya dari al-Qur’an, melemparnya ke belakang dan menyerang tetangganya dengan pedang dengan alasan telah syirik.” Aku bertanya: “Wahai Nabi Allah, siapakah di antara keduanya yang lebih berhak menyandang kesyirikan, yang dituduh syirik atau yang menuduh?” Beliau menjawab: “Justru orang yang menuduh syirik [yang lebih berhak menyandang kesyirikan “. (Sahih Ibnu Hibban 1/282)

      Saya ulang perkataan favorit kalian dan ummu abdillah:
      ” Saya kira hadist diatas sudah jelas…”

  7. salam sejahtera bagi semua…

    untuk Ibn Abd Chair…

    “Sebetulnya ada cara yg paling jitu utk mengetahui niat bagi mrk yg rajin ziarah qubur”. saya ambil sebagian kata2 yang disampaikan oleh anda pada waktu lalu. tetapi saya bingung dengan metode yg anda gunakan ? bgt mdhnya ukuran2 untk menguji keshahihan niat seseorang.

    mengukur keabsahan sesuatu yang pada hakekatnya abstrak dengan sesuatu yang bisa kita indera??? bagaimana bisa? karena ini berkaitan dengan hakekat niat seseorang.

    karena jangankan mengetahui hakekat niat seseorang…..benda atau sesuatu yang dapat kita indera pun kita bs keliru dalam menggambarkannya karena adanya keterbatasan.

    jadi hati2 dalam menyimpulkan sesuatu. maaf bila tak berkenan.

    salam

  8. Barangkali Kang Ibn Chair ini bener2 seorang wali. Dia pernah berjalan dalam hujan dan tubuhnya tidak basah. Sekarang dia tau membaca niat sebenar para penziarah kubur juga. Nah, hanya seorang wali yang tangguh sepertinya dia yang bisa berbuat pelbagai kesaktian seperti itu.

    1. Hua ha ha ha… setuju kang Santri, dia ini sepertinya seorang wali dari kalangan Wahabi, atu mungkin bahkan satu2 nya wali yg ada di kalangan Wahabi. Sebab saya sendiri belum pernah dengar ada tokoh Wali Allah yg berasal dari kalangan Wahabi Salafy.

      1. @Galih Rasta 97,
        Wali Allah beda dengan Wali setan, saya kira Wali Allah tidak dipercayai ada bagi kalangan Wahabi sebab semaua manusia itu sama katanya.

        Jika Wali setan ada apa tidak, bagi Wahabi jawabnya mungkin aja ada dan bagi mereka yg tidak sama fahamnya dengan wahabi katanya syirik pengikut setan.

      2. @Kang Galih, saya juga belum pernah dengar ada Wali Allah di kalangan Wahhaby. Soalnya Kang Ibn Chair itu ada terlalu banyak kesaktian kayak seorang Wali, seperti bisa menghilang disatu topik diskusi yang dia gak mau jawab dan nongol di topik diskusi yang lain pula yach he he he :mrgreen:

  9. sungguh prihatin sekali dgn apa yg kalian persangkakan. Habiskan saja waktu kalian utk menghujat hingga kematian menghampiri kalian.

    1. ibn abdul chair@

      Kang ibnu, kok antum bisa tahu isi hati kaum Aswaja dalam berziarah, itu antum pakai ilmu apa Kang? Lalu sehingga antum memvonis kaum Aswaja sbg musyrik, ilmu apa itui kang, ilmu Nujum ya kang?

      1. Ilmu nujum versi Wahabi, pakai zikir juga lho, zikirnya bid’ah, syirik, kafir dll yg semacamnya…… dibaca selagi melihat orang yg tidak sama segolongan dengan mereka…..ha ha ha.

    2. trus anda bilang “wah manjur habib/kyai/gus/wali fulan ini, sudah dikabulkan”. (nyata khan sesungguhnya mrk tidak meminta kpd Allah?)”

      maksudnya itu apa?

      Itu lebih layak jadi prasangka buruk…habis waktu anda menghujat dan berprasangka terhadap mereka hingga kematian menghampiri anda.. sekalinya anda salah ternyata mereka tidak syirik..berbalik ke anda …seperti hadist shohih di atas.. tidak tanggung tanggung dishohihkan oleh Albani lho..

  10. @all
    kalo sudah begini terpojok.. mas ibnu abd chair mengeluarkan jurus andalan..
    menghilang…… untuk kemudian muncul tiba-tiba di artikel yang lain… atau muncul di bawah dengan pura-pura tidak baca … seperti tidak berniat mencari kebenaran…hmm typical.

  11. Cok, sy enggak kemana-mana. sy sedang senyum-senyum saja membaca postingan kalian, sambil berpikir dalam hati “yang kayak begini koq ngaku-ngaku ahlussunnah”

    1. ente sendiri, ngaku2 ahlusunnah kok dengki sama orang yang ziarah qubur… :mrgreen:

      dah tau yang ziarah qubur punya hujah, masih aja diusik pake dalil yang ente sendiri cuma bisa copas tanpa mengerti…

      jidat ente pasti dah gosong banget ya, sampe merasa paling bener? :mrgreen:

    2. Iya ente senyum senyum nakal,,habis berprasangka buruk masih bisa senyum senyum sambil berpikir dalam hati “yang kayak begini koq ngaku-ngaku ahlussunnah”

      Kayak hujjah2 ente bermutu aja…minjem istilah wahabi..”ga ilmiah”

  12. @Abdul chair
    Antum orang wahabi ini keras banget ya wataknya, sama banget seperti watak muhammad ibnu abdul wahab pendiri sekte wahabi, sudah dikasih tau sama saudara sulaiman ibnu abdul wahab dan bapak nya bhw sektenya sesat , malah ngebantah. Jelas antum sangat mirip wataknya dengan pendiri sekte wahabi ini.

  13. Salman, sy berterima kasih sekali disama-samain ama syaikh Muhammad ibn abd Wahhab.
    Al faqir, yakinlah…sy jadi tambah ngakak…
    Hati sy sekeras batu?..hah?. Mau bikin hati sy lembut? sampaikan aja qolaallah, qola rasul, qola shahabat… (pasti sy terima… tp di muroja’ah dulu) ITU BARU NAMANYA ILMU….

  14. izan gabung. saya bingung dengan gaya pemikiran temen – temen wahabi. mengapa tidak ada muslim yang boleh berbeda dengan pemikiran dan gaya beramaliyah mereka. saya kira sah – sah saja apabila terjadi perbedaan pentafsiran dalam memaknai Quran dan Hadits.
    acara haul apabila ditinjau lebih jauh kan bagian dari 1. tazdkirah maut 2. i’daautsawab 3. majlis dzikir/ilmi 4. wahana silaturrahim. dan saya yakin keempat hal tersebut mempunyai dasar yang sangat kuat baik dari al – Quran dan Hadits nabawi. mana yang salah wahai teman – teman wahab????

  15. MENGAPA WAHHABI TIDAK MENGADAKAN HAUL
    1. Karena tidak ada satupun hadist yg sampai kepada kami bahwa Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam yg memerintahkan haul. Yang ada tentang Ziarah kubur.
    2. Karena tidak ada satupun riwayat yg sampai kepada kami bahwa Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam mengadakan haul untuk istrinya Khodijah rodhiallahu anha, untuk pamannya Hamzah rodhiallahu anhu.
    3. Karena tidak ada satupun atsar yg shohih yg datang dari satupun shahabat bahwa para Khulafah Rosyidin membuat haul untuk Rasulullah Sholallahu Alaihi Wassalam.
    4. Tidak satupun kitab hadist shohih yg memuat tentang haul (ingat ya…haul, bukan ziarah… dan bukan dalil yg dipaksa-paksain.) Jika ada, tunjukkan pada kami.
    5. Karena wahhabi tidak melampaui batas dalam ibadahnya.

    1. @ibnu abdil chair

      wahabi tidak mengadakan haul itu adalah hak wahabi, dan aswaja sama sekali tidak mau ngomentarin, usil, bilang syirik atau sesat tentang hak wahabi itu, tapi sebaliknya kenapa wahabi bilang pelaku haul itu sesat, bid’ah dolalah, minta ama kuburanlah syirik lah…?

      pertanyaan yang sama dengan pertanyaan antum
      mungkin antum bisa tunjukan 1 dalil yang spesifik melarang haul, klo ada mungkin bisa di share disini…!

  16. ibn abdul chair
    kalau dasar dilarangnya haul
    1. karena tidak ada contoh dari nabi, lalu bagaimanakah stattus sekolah agama yang berjenjang dan berwaktu sprti madrasah diniyah, kuliah dsb. tidakkah itu semua juga tidak punya dasar contoh dari nabi?
    2. tidak ada riwayat bahwa nabi pernah melaukan
    lalu bagaimana dengan amaliah yang saat ini lestari dan dilakukan oleh seluruh umat islam di indonesia yaitu membayar zakat menggunakan beras dan uang. tidakkah ini semua tidak ada contohnya dari nabi?
    3. sepertinya saudara ibnu abdil khoir ini memahami agama hanya dari dhohirnya saja. bila terjadi pemahaman berbeda antara beberapa ulama tentang makna sebuah ayat atau hadits bagaimana?
    seharusnya melihat budaya haul bukan hanya dari kacamata ada dan tidaknya dalil contoh dari nabi. kalau semua harus bercontoh saya yakin banyak hal yang mungkin juga ibnu khoir melakukannya yang apabila ditinjau dari segi contoh tidak ada dalilnya.
    seharusnya haul itu dilihat dari segi manfaat dan tujuannya. apabila dilakukan dengan cara yang bertentangan dengan syariat tentu tidak boleh. namun apabila dilakukan sesuai dalil umum dalam al – quran dan hadits dan sesuai dengan maqoshidus syariaah dan maqhoshidud da’wah tentu itu hal yang sangat baik yang menurut definisi Imam syafii disebut dengan “bid’ah hasanah”

  17. Rasulullah ziarah dibilang haul
    Rasulullah berpuasa dihari kelahirannya dibilang merayakan maulid
    Rasulullah memerintahkan utkmendo’akan kaum muslimin yg sdh wafat dibilang tahlilan.
    —————-
    “Inna kadziban ‘alayya laysa kakadzibin ‘ala ahadin, (fa) man kadzaba ‘alayya muta’ammidan falyatawwa’ maq’aduhu minannaar” rowaahu albukhoriy, wa muslim wa ahmad.
    “sesungguhnya berdusta atas namaku tidak sama dengan berdusta atas nama orang lain. Maka barang siapa berdusta atas namaku dengan sengaja, hendaknya dia mengambil tempat tinggalnya di neraka”

  18. ibn abdul chair
    definisi haul menurut ibnu abdul choir mungkin disamakan dengan perayaan natal umat kristiani. tentu ini adalah definisi yang bathil karena umat kristiani memperingati 25 desember dengan semangat mengingat nabi Isa sebagai tuhan.
    haul apabila ditinjau dari makna semiotik adalah tahun. artinya mengingat wafatnya ulama dengan cara
    1. berziarah ke makamnya (ada riwayatnya nabi pergi ke makam syuhada Uhud)
    2. bersedekah dan menyampaikan pahalanya untuk yang wafat (ada haditsnya riwayat imam bukhori dan dikuatkan oleh Imam Ibnu taimiyah dalam majmu’ fatawanya)
    3. mengingat jasa dan perjuangan sang ulama yang dihaulkan (tidakkah nabi pernah menceritakan kebaikan dan jasa siti khodijah di depan Siti Aisyah)
    kata dusta kan berarti menyelisihi kebenaran. hal mana dari acara haul yang menunjukkan kedustaan wahai ibnu abdul chaoir? jangan sampai nanti engkau akan dituntut Allah di Akhirat karena menyalahkan dan menghukumi kebenaran karena kejumudan yang ada padamu.

    1. Bismillah,

      Mas @Ibn abdul chair,

      – Rosululloh menziyarahi Syuhada perang Uhud setiap tahun, Karenanya disebut “Khuolan” (Tahunan)
      – Rosululloh berpuasa dihari Senin, dan beliau menjelaskan alasannya, “Fiihi Wulidtu” (pada hari tersebut aku dilahirkan), karenanya disebut “Maulid” (Hari lahir)
      – Rosululloh memerintahkan untuk mendo’akan orang yang meninggal, sedangkan do’a adalah penutup dar rangkaian tahlilan…. lantas apa yang salah ?

      Sebaliknya

      – Rosululloh tidak pernah melarang Khoul, tapi anda mengharamkannya
      – Rosululloh tidak pernah melarang “Maulid”, namun anda membencinya…
      – Rosululloh melegalkan hadiah kebaikan untuk mayyit, tapi anda menghalanginya…

      SIAPA YANG BERDUSTA ATAS NAMA ROSULULLOH ?…..

    2. @ibn abdul chair
      Nah kan beda jauh maknanya.

      Kata Haul berasal dari bahasa arab al Haulu atau al Haulaini artinya kekuatan, kekuasaan, daya, upaya, perubahan, perpindahan, setahun, dua tahun, pemisah dan sekitar, sedang kata al-haul dalam arti satu tahun, dapat ditemukan dalam al-Qur’an dan Sunnah, yaitu :

      Firman Allah swt, berbentuk mufrad, dalam arti satu tahun untuk kasus perceraian, yaitu : “Dan orang-orang yang akan meninggal dunia diantaramu dan meninggalkan istri, hendaklah berwasiat untuk istri-istrinya (yaitu) diberi nafkah hingga satu tahun lamanya…” (QS. Al Baqarah : 240)

      Hadist, berbentuk mufrad dalam kasus zakat atau disebut Zakat Mall, yaitu : “Tidak wajib zakat terhadap harta yang belum Haul (berumur satu tahun)”. HR. Turmudziy.
      Kemudian kata Haul tersebut, berkembang menjadi istilah bahasa Indonesia, yang lazim dipakai kata Haul memiliki dua pengertian, yaitu :

      1). Haul berarti berlakunya waktu dua belas bulan Hijriyah terhadap harta yang wajib dizakati ditangan pemilik (muzakki). Arti ini berkaitan erat dengan masalah zakat.
      2). Haul berarti upacara peringatan ulang tahun wafatnya seseorang (terutama tokoh agama Islam) dengan berbagai cara yang, puncaknya menziarahi kubur almarhum / almarhumah.

      Dari dua pengertian tersebut, Haul yang menyangkut pengertian kedua, yaitu yang berhubungan dengan peringatan genap satu tahun dari wafatnya almarhum atau almarhumah, sebab Haul dengan arti : “Peringatan genap satu tahun, sudah berlaku bagi keluarga siapa saja, tidak terbatas pada orang-orang Aswaja saja, tetapi berlaku pula pada komunitas masyarakat lainya, sekalipun bukan muslim.

      Hukum Haul dan Landasan Amaliyahnya, secara Khusus Haul hukumnya adalah tidak ada larangan, sebagaimana hadist Nabi SAW, Al Baihaqi meriwayatkan dari al Waqidi mengenai kematian, bahwa Nabi saw, senantiasa berziarah ke makam para syuhada di bukit Uhud setiap tahun dan sesampainya di sana mengucapkan salam dengan mengeraskan suaranya. “Salaamun ‘alaikum bimaa shabartum fani’ma’ uqba dar” (Keselamatan tetap padamu berkat kesabaranmu, maka betapa baiknya tempat kesudahanmu itu). (QS. Ar Ra’d : 24) (HR. Baihaqi).

      Abu Bakar ra juga berbuat seperti itu setiap tahun, kemudian Umar ra, lalu Utsman ra, Fatimah rha juga pernah berziarah ke bukit Uhud dan berdo’a. Sa’d bin Abi Waqqash ra mengucapkan salam kepada para syuhada tersebut kemudian ia menghadap kepada para sahabatnya lalu berkata,”Mengapa kamu tidak mengucapkan salam kepada orang-orang yang akan menjawab salammu.

      Dari hadist inilah, maka al Musawiy berkomentar dalam Kitab Nahju al-Balaghah sebagai berikut :
      Dalam manaqib Sayyid al Syuhada Hamzah bin Abi Thalib yang ditulis Sayyid Ja’far al Barzanjy, dia berkataRasulullah saw mengunjungi makam syuhada Uhud pada setiap awal tahun.

      Akan tetapi jika dilihat dari sisi acara-acara ritual yang ada di dalam Haul, maka hukumnya dapat dilihat sebagai berikut :

      Ziarah kubur, ini hukumnya boleh bahkan dianjurkan (mustahab), sebab adanya perintah yang jatuh setelah larangan, yaitu hadis Nabi SAW sebagai berikut :
      Dari Sulaiman bin Buraidah ra dari ayahnya, beliau Berkata : Rasulullah bersabda : Aku dulu melarang Ziarah kubur, sekarang Ziarahlah, karena ziarah kubur itu mengingatkan kamu pada akhirat. HR.Turmudzi.
      Dalil lain yang dijadikan ulama sebagai alasan (Hujjah) tentang bolehnya melakukan peringatan Haul ialah muatan dalam acara Haul itu tersendiri yang terdiri dari pembacaan al Qur’an, dzikir-dzikir dan do’a-do’a yang dipanjatkan kepada Allah dimana semua amalan baik tersebut dihadiahkan buat orang yang kita peringati Haulnya, semua amalan-amalan ini telah disepakati ulama adalah boleh dilakukan dan ada dalil-dalilnya baik dari al Qur’an dan as Sunnah.

    3. wkwkwkw….ternyata pengetahuannya cuma segini si bedul…pemahaman haul aja salah…. :mrgreen:

      dah berkoar-koar gak jelas taunya maksudnya beda…wkwkwkwkwkwkw :mrgreen:

      mangkenye dul…jangan sok tau dan sok bener sendiri jadi orang….. :mrgreen:

  19. Al faqr, antum belajar siasah dulu aja yah…
    Intinya sama aja ama ibadah yg lain. sepanjang enggak ada larangan….
    Jadi inget kisah seorg pembesar tabi’in Imam Said ibn Musayyib. Suatu ketika ada seorg yg sholat dgn cara yg berlebihan (baik jumlah roka’at maupun gerakkannya).
    Melihat itu Said ibn Musayyib menegurnya. Kemudian org itu menjawab “apakah aku akan diazab hanya krn aku sholat?” Said ibn Musayyib menjawab “kamu tidak diazab krn kamu sholat, tapi kamu diazab krn menyelisihi Rasulullah”.
    Ibn Musayyib yg hidup dizaman tabi’in saja sdh melihat begitu penyimpangan, apa lagi beribu-ribu tahun setelahnya.
    Jadi apa yg kami lakukan dengan tidak menambah-nambah hanyalah untuk menjaga kemurnian Islam.

    1. wkwkwkw…itu kan karena dia menambah-nambah ibadah yang WAJIB…sekali lagi WAJIB, yang emang dah ada tuntunannya dari Rosul, dul….itu yan gak boleh… :mrgreen:

      dibilangin ngeyelnya minta ampun wahabi satu ini….

      kalo haul dalam rangkan mengingat sesorang karena kesholehan dan suri tauladannya emang ibadah WAJIB ya? :mrgreen:

      cape deh ngelayanin ente…..ente mungkin pinter, tapi sayang hidayah gak masuk ke otak ente…susah nerima pendapat yang berbeda, mungkin karena kesombongan ente yang merasa paling BENAR… :mrgreen:

      na’udzubillah deh dul…

    2. @ibn abdul chair
      “Jadi apa yg kami lakukan dengan tidak menambah-nambah hanyalah untuk menjaga kemurnian Islam”.

      Maksud kemurnian Islam yang bagaimana nih ? Apakah karena kita sudah merasa cukup, kemudian kita gak perlu mengetahui ajaran islam yang sebenarnya, jadi hal itu sudah murni ?

      Bagaimana nih menurut ente ????

  20. ibn abdul chair
    apa yang dilakukan oleh Said Ibnu Musayyab Rhm sangat benar dan riwayatnya juga tidak perlu diperselisihkan. namun yang perlu dibenerin itu maindsetnya akhi abdul choir. jika penambahan atau pengurangan terhadap ibadah yang Muqoyyad dan telah ditentukan oleh nabi seperti jumlah bacaan adzan, rokaat sholat, batas waktu berpuasa, batas dan tata cara haji, batas dan tata cara zakat dsb. tentu itu sangat dilarang.
    namun apabila itu bentuknya amal sholih yang Muthlaq yang tidak ada ketentuan tatacaranya dari nabi namun ada dalil umumnya ada tentu tidak bermasalah selama itu tidak bertentangan dengan syariat.
    buktinya ada hal – hal yang tidak dilakukan nabi tapi dilakukan oleh para sahabat, ada hal – hal yang tidak dilakukan oleh para sahabat namun dilakukan oleh generasi berikutnya dan seterusnya. saya yakin dalam pelaksanaan haul tidak ada sedikitpun keinginan untuk menandingi syariat atau pengingkaran terhadap kesempurnaan Islam.
    tuduhan itu hanya muncul dari hati mereka yang tidak mengenal hakikat ulama sehingga timbullah fitnah bahwa haul, tahlil, dsb adalah salah satu bentuk amaliah yang bertujuan melawan syariah.
    wahai teman teman Aswaja, mari kita bersatu padu menghadang pemikiran jumud yang dapat merusak persatuan umat Islam.

  21. “Apa yg merupakan ibadah pada saat itu, akan tetap menjadi ibadah selamanya. Apa yg bukan merupakan ibadah pada hari itu maka bukan juga ibadah selamanya” Inilah yg menjaga kemurnian Islam.

  22. @ibn abdul chair
    “Apa yg merupakan ibadah pada saat itu, akan tetap menjadi ibadah selamanya. Apa yg bukan merupakan ibadah pada hari itu maka bukan juga ibadah selamanya” Inilah yg menjaga kemurnian Islam”.

    Apakah dengan keterbatasan Ilmu kita, lantas kita bilang ibadah yang dilakukan oleh orang lain adalah tidak Murni ????????
    Contoh pada diri ente :
    Waktu dikoment ente tentang penyebutan dzikir “Allah… Allah…”, terus ente bilang itu bukan kemurnian islam..

    Coba lihat hadist.
    Pada suatu ketika seorang sahabat mengunjungi Nabi SAW dengan memakai baju yang jelek. Rasulullah SAW lalu bertanya : “Apakah engkau memiliki harta?” Ia jawab : “Iya”. Rasulullah SAW bertanya lagi : “Dari mana harta itu kau peroleh?” Ia menjawab : “Allah SWT telah memberikanku (harta berupa) unta, kambing, kuda dan budak” Rasulullah SAW kemudian bersabda : “Jika Allah SWT memberimu harta, maka tampakkanlah bekas (hasil / manfaat) nikmat dan kemurahan Allah SWT yang diberikan kepadamu itu” (HR. Abu Dawud).

    Suatu ketika Rasulullah SAW bersabda kepada para sahabatnya : ”Tidak akan masuk surga seorang yang di hati-nya terdapat sifat riya”. Kemudian ada yang bertanya tentang seorang yang memakai pakaian yang indah, sandal yang mewah dan sorban yang mahal. Apakah orang itu telah riya karena berpenampilan melebihi yang lainnya. Rasulullah SAW kemudian menjawab : ”Belum tentu, karena Allah SWT itu indah dan senang pada keindahan. Yang dimaksud riya adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia”. (HR. Bukhari dan HR. Muslim).

    Coba lihat perilaku sahabat Umar ibn Khatab, dia seorang khalifah (Raja), kenapa memakai pakaian yang bolong2 dan tambalan.
    Juga sahabat Abdurahman bin Aup, dia memberi menu makanan para fakir miskin sama menunya ketika dia menjamu para pembesar dizamannya, sedangkan dia (Abdurahman ibn Aup) memakan makanan hanya dari gandum, cuka dan susu.
    Dari kedua sahabat yang menyelisihi Hadist diatas, dapat dikatakan memurnikan Ajaran islam.

    Jadi kesimpulannya, janganlah kita ini merasa memurnikan islam, tapi ajaran islam itu sendiri kita gak atau belum tau, nti kita terbentur sama ayat al Qur’an : “Barangsiapa yang matanya buta didunia, maka dia akan lebih buta dan tersesat di akhirat”.

  23. Kami telah mengecek kitab Syu’abul Iman karya al-Imam al-Baihaqi, bahkan kami juga melacaknya melalui program “Maktabah Syamilah”, namun sayangnya hadits dengan redaksi di atas tidak kami temukan. Oleh karena itu, tanpa mengurangi rasa hormat kami berharap kepada saudara kami yang membawakan hadits di atas untuk mencantumkan sumbernya secara jelas juz dan halamannya, agar kita lihat sanad hadits ini, sebab bila tanpa sanad, maka semua orang bisa berbicara, sebagaimana kata al-Imam Ibnul Mubarok rahimahulloh.
    Kalau kita cermati nukilan di atas, kita akan merasakan kejanggalan, bagaimana al-Waqidi langsung meriwayatkan dari Rosululloh shalallahu ‘alayhi wa sallam, padahal beliau (al-Waqidi) wafat tahun 207 H. Berarti ada mata rantai sanad yang terputus. Apalagi, al-Waqidi telah dilemahkan haditsnya oleh mayoritas ulama ahli hadits seperti al-Bukhori, an-Nasa‘i, ad-Daroquthni, dan lain-lain, sehingga al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahulloh berkata menyimpulkan statusnya, “Matruk (ditinggalkan haditsnya) sekalipun dia luas ilmunya.[27]
    Anggaplah hadits ini shohih, tetap bisa dijadikan dalil tentang perayaan haul? Coba anda bayangkan, dari arah mana segi perdalilan hadits ini? Bukankah yang terdapat dalam hadits ini hanya berbicara tentang ziarah kubur saja, lantas bagaimana bisa disamakan dengan perayaan haul yang lazim diamalkan manusia zaman sekarang dengan aneka variasi acaranya yang khas? Pernah model perayaan seperti diamalkan oleh Nabi dan para sahabatnya?! Sungguh, ini adalah penyesatan yang sangat nyata dalam berdalil.
    Kami tambahkan di sini bahwa mimpi Syaikh Junaid al-Masro’i di atas adalah bukanlah hujjah sama sekali, karena mimpi bukanlah landasan dalam agama Islam[28] itu hanyalah bualan kaum sufi belaka yang beribadah dengan impian dan hawa nafsu. Demikian juga ritual rojabiyyah itu tidak ada dasarnya dalam agama, bahkan termasuk bid’ah dalam agama.[29]
    Penutup
    Demikianlah penjelasan singkat tentang perayaan haul. Semoga tulisan ini dapat menjadi sinar kebenaran bagi para pencari kebenaran. Carilah kebenaran itu dan peganglah erat-erat. Tinggalkan segala belenggu fanatik dan taklid yang acapkali membutakan pandangan orang dan yakinlah bahwa timbangan kebenaran itu bukanlah pada mayoritas atau minoritas, melainkan pada dalil yang dibangun di atas al-Qur‘an, hadits shohih sesuai dengan pemahaman salaf sholih. Semoga Alloh menjadikan kita termasuk para pencari kebenaran dan penegak kebenaran. Amin.

    Sumber :abiubaidah.com

  24. Yg gak ngerti memperingati hari kelahiran, Haul, gak usah ikut puasa sunnah senin – kamis saja, percuma ngamalin sesuatu amalan tp gak pernah paham maknanya. Dalilnya? Cari sendiri aja, ilmu kok disuapin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker