Inspirasional

Misteri Tafsir Akhir Ad-Duha dan Sodaqah Sirri

Misteri Tafsir Akhir Ad-Duha terkait Sodaqah Sirri – Catatan Kolo Kober Sang Murid. Sang Guru berpesan, “Kalau engkau memberi atau diberi sesuatu, jangan kau ceritakan pada orang lain.”

Pesan ini sungguh mengherankanku. Murid yang awam ini, tidak sekali ini menerima pesan cukup ‘aneh’. Namun demikian rasa tawadhu’ ku kepada beliau, meskipun masih dalam level tawadhu’ yang pas-pasan, menerima petuah langka itu dengan hati penasaran.

Kalaulah bukan rasa menerima, maka bukan murid namanya. Kalaulah banyak bertanya, khawatir itu bagian dari sikap pemberontakan. Maka hampir sepanjang langkahku, aku merenungi rahasia dibalik itu. Mungkin seperti salah seorang temanku yang susah tidur beberapa hari gara-gara memikirkan rahasia ilmu Alif. Entah ilmu apa lagi itu, meski aku tak mudeng, tapi aku menghargainya.

“Kalau engkau memberikan sesuatu kepada seseorang, maka jangan kau ceritakan kepada orang lain.” Begitu aku membatin, mengulang pesan itu dalam hati. Akupun melanjutkan penggalan berikutnya, “Jika engkau diberi sesuatu oleh orang lain, maka jangan kau ceritakan itu.”

Sekilas ada yang terdengar aneh dari pernyataan tersebut, batinku. Karena semua orang pasti mengetahui, jika amalan atau sedekah yang baik, adalah dengan merahasiakannya atau dengan cara sirri saja. Sehingga pesan tersebut nampaknya cocok jika diartikan sebagai anjuran untuk bersedekah sirri, dengan tidak usah menceritakan amalan tersebut kepada orang lain. Bahkan kalau mampu, sebaiknya kita berusaha untuk menutupi amalan itu. Itulah yang disebut sebagai sodaqah sirri (rahasia).

Sodaqah atau sedekah model ini, belakangan aku dengar dari orang-orang yang pernah nyantri di pesantren, katanya sangat dianjurkan karena menyimpan faedah yang luar biasa dahsyat. Di antaranya adalah dengan sodaqah sirri dapat merangsang tumbuhnya benih-benih rizki baru yang mungkin saja sebenarnya telah mati sebelumnya. Namun karena sodaqah sirri itu, Allah berkenan membuka kembali pintunya. Sehingga menjadikan rizki-rizki baru bermunculan. Bahkan tidak hanya itu, karena selain dapat menumbuhkan rizki baru, sodaqah sirri juga dapat meluruhkan murka Allah bila mana itu terjadi. Subhannallah…

banner gif 160 600 b - Misteri Tafsir Akhir Ad-Duha dan Sodaqah Sirri

Rahasia Tafsir Akhir Ad-Duha

Masalahnya, jika diberi sesuatu oleh orang lain, jangan diomong-omongkan atau diceritakan? Ini yang bagiku masih menimbulkan rasa penasaran. Kenapa mesti tidak boleh? Apakah selain ada sodaqah sirri, juga ada ‘penerima’ sirri? Atau apa gitu?

Aku dulu pernah mendapati seorang ustadz di kampungku. Beliau hampir selalu menyelingi perbincangannya bersama tamu-tamu yang datang berkunjung ke rumahnya, selain dengan canda juga dengan cerita-cerita ‘enak’ yang beliau  terima. Ia berdalih bahwa menerima keenakan atau rizki itu, sebaiknya diberitakan, diomongkan atau diberitahukan kepada orang lain. Sebab itu merupakan langkah pengamalan dari akhir surah Ad Dhuha, “Dan terhadap nikmat Tuhanmu, hendaklah engkau nyatakan,” (QS. 93/11).

“Kalimat nyatakan dalam ayat tersebut, diungkapkan dengan kata-kata fahaddis, dari kata hadasa, yang berarti berucap. Sementara kata hadis berarti orang yang berucap. Sehingga fahaddis bentuk kata Amar atau perintah dari  Hadasa berarti nyatakanlah, atau ucapkanlah.” Begitulah sang ustadz itu menjelaskan panjang lebar alasan sikapnya sering menceritakan nikmat dan rizqi Allah yang diterimanya di hadapan tamu-tamunya.

Selain itu, beliu juga menambahi dengan nukilan Hadis Nabi Muhammad SAW yang artinya, “Menyebut-nyebut nikmat Allah adalah bersyukur. Meninggalkannya adalah kufur. Barang siapa tidak bersyukur terhadap yang sedikit, maka dia tidak akan bersyukur kepada yang banyak. Barang siapa yang tidak bersyukur (berterima kasih) kepada manusia, maka dia tidak akan bersyukur kepada Allah. Berjamaah adalah berkah, sedangkan berpecah adalah azab.” Hadis ini belakangan aku ketahui diambil dari riwayat Imam Baihaqi dalam Asy Syu’ab. Meskipun derajat dan nilai hadisnya kurang kuat, namun masih dianggap sebagai hadis hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jaami’ no. 3014.

Lalu bagaimana dengan petuah yang menganjurkan untuk sebaiknya kita tidak menceritakan nikmat tersebut. Hal itu sampai beberapa hari membuatku masih tetap penasaran, dan mencoba merenungkan serta mencari-cari rahasia dan alasan di balik munculnya petuah klasik itu. Kenapa ya? Apa rahasia di balik itu?

Aku masih berusaha mencoba mencari jawabnya.

Pembaca, mungkinkah engkau sosok yang menemukan rahasia dan jawabannya….?

Tags
Show More

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Check Also

Close
Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker