Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Fikih Sunnah

Abu Huroiroh dan Istighotsah, Sahabat Nabi Beristighotsah Musyrik ?

KAJIAN SEDERHANA TENTANG ISTIGHOTSAH. Abu Huroiroh dan Istighotsah, Sahabat Nabi Beristighotsah Musyrik ?

 

يَا أَكْرَمَ الْخَلْقِ مَا لِي مَنْ أَلُوْذُ بِهِ (*) سِوَاكَ عِنْدَ حُلُوْلِ الْحَادِثِ الْعَمِمِ

Wahai makhluk yang paling mulia, tiada seorang pun yang dapat aku bersandar padanya selain dirimu di saat turunnya bencana yang menimpa seluruh makhluk.

Demikianlah bunyi salah satu bait dalam Qoshidah “Al Burdah” yang disusun oleh Abu Abdillah Muhammad Ibn Zaid Al Bushiri (610-695.H/1213-1296.M) yang oleh sebagian kalangan dianggap sebagai qosidah syirik karena meminta pertolongan (Ber-Istighotsah) kepada selain Alloh.

Tidak hanya “Al Burdah” dan pengarangnya yang dituduh syirik, ada beberapa qoshidah lain yang notabene menjadi salah satu rutinitas kalangan ASWAJA juga ikut dituduh syirik, diantaranya adalah Qoshidah yang terdapat di akhir “Al Lujainid Daani” sebuah karya yang ditulis oleh As Syaikh Ja’far Ibn Hasan Ibn Abdil Karim Al Barzanji yang menyampaikan tentang biografi dan beberapa Karomah As Syaikh Abdil Qodir Al Jilaniy, dimana dalam akhir kitab tersebut terdapat Qoshidah Istighotsah yang berbunyi :

 

عِبَادَ الله رِجَالَ الله أَغِيْثُوْنَا لِأَجْلِ الله (*) وَكُوْنُوا عَوْنَنًا لِلّه عَسَى نَحْظَى بِفَضْلِ الله

 Wahai para hamba Alloh, Wahai para jagoan Alloh… bantulah/tolonglah kami karena Alloh… jadilah anda semua penolong kami kepada Alloh agar kami mendapat anugerah Alloh…

Mereka (baca; Wahabi) menganggap qoshidah-qoshidah seperti diatas dan atau redaksi permohonan yang sejenis sebagai perbuatan syirik dan pelakunya dianggap musyrik bahkan kafir…. Namun sebagian dari kalangan mereka ada yang bersikap agak aneh karena menganggap Istighotsah kepada makhluk tidak termasuk perbuatan syirik dengan beberapa syarat, diantaranya adalah :

– Perkara yang dimintakan pertolongan hendaknya perkara yang ‘Adiy (lumrah dapat dilakukan oleh manusia) seperti berobat ke dokter atau yang lain.

– Yang diminta pertolongan hendaknya orang yang masih hidup dan hadir (ada) di hadapan yang meminta tolong.

Bagi kami ini adalah syarat yang mengada-ada tanpa ada dasar yang bisa dipertanggung jawabkan sebagaimana yang akan kami jelaskan nanti, Insya Alloh…

Sebelum kami jelaskan secara singkat tentang Istighotsah, perlu kami tegaskan sekali lagi disini tentang keyakinan kami dan mayoritas ummat Islam ketika ber-Istighotsah :

Pertama : Bahwa siapa pun media Istighotsah kami (yang dimintai pertolongan) baik ia masih hidup atau sudah meninggal, baik ia hadir dihadapan kami atau tidak… I’tiqod kami adalah tiada yang dapat memberi pengaruh kemanfaatan atau menolak kemadhorotan kecuali Alloh atau atas izin Alloh.

 

Kedua : Dalam keyakinan kami, mereka yang kami mintai pertolongan baik para Nabi atau Awliyaa’ (para wali) adalah “Ahibbaaulloh” yang “Rodhiyallohu ‘Anhum Wa Rodhuu ‘Anhu” (orang-orang yang dicintai oleh Alloh dan mereka juga mencintai Alloh).

Selanjutnya yang kami maksud dengan Istighotsah yang tiada lain merupakan bentuk lain dari Tawassul, adalah sebagaimana dijelaskan oleh As Syaikh Jamil Afandi Shidqi Az Zahwi dalam kitabnya Al Fajrus Shodiq :

ان المراد بالاستغاثة بالانبياء والصالحين والتوسل بهم هو انهم اسباب ووسائل لنيل المقاصد وان الله تعالى هو الفاعل كرامة لهم لا انهم هم الفاعلون كما هو المعتقد الحق في سائر الأفعال

 Sesungguhnya yang dimaksud dengan Istighotsah dan Tawassul kepada para Nabi dan orang-orang sholih; bahwa mereka adalah sebab-sebab dan perantara untuk mencapai tujuan. Pada hakikatnya Alloh SWT adalah pelaku yang sebenarnya (yang mengabulkan do’a) sebagai penghargaan kepada mereka (para Nabi dan orang-orang sholih), sebagaimana I’tiqod yang benar dalam segala macam perbuatan. (Al Fajrus Shodiq, 53)

Adapun beberapa bukti yang menunjukkan bahwa Istighotsah adalah bukan perbuatan syirik diantaranya adalah :

BACA JUGA:  Memahami Islam Nusantara, Kenapa Mereka Gagal Paham?

Manusia Memita Pertolongan (beristighotsah) kepada Para Nabi Di Hari Kiamat

إِنَّ الشَّمْسَ تَدْنُو يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يَبْلُغَ الْعَرَقُ نِصْفَ الْأُذُنِ فَبَيْنَا هُمْ كَذَلِكَ اسْتَغَاثُوا بِآدَمَ ثُمَّ بِمُوسَى ثُمَّ بِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Sesungguhnya matahari akan mendekat pada hari kiamat, sehingga keringat akan sampai pada separuh telinga. Maka ketika manusia berada dalam kondisi demikian, mereka meminta pertolongan kepada Nabi Adam, kemudian kepada Nabi Musa, selanjutnya kepada Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wasallam.”  (HR, Al Bukhori)

Yang perlu digaris bawahi dari hadits diatas dalam konteks permasalahan Istighotsah (meminta pertolongan) kepada makhluk diantaranya adalah :

1-      Bahwa manusia meminta pertolongan kepada para Nabi (makhluk)

2-      Perkara yang dimintakan pertolongan adalah tentang hal yang mutlaq menjadi kewenangan Alloh, yakni tentang syafaat (pertolongan) dihari kiamat.

Selanjutnya jika ada yang berkata : “Bahwa meminta pertolongan yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah khusus tentang syafaat dan hanya boleh/dapat dilakukan nanti di hari kiamat.”

Maka perhatikanlah bukti berikut :

Abu Huroiroh Mengadukan Lupa

 

يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي أَسْمَعُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا أَنْسَاهُ قَالَ ابْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَطْتُهُ قَالَ فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدَهُ

“Wahai Rosululloh, saya mendengar banyak hadits darimu namun saya lupa. Saya ingin lupa ini hilang,” Abu Huroiroh mengadu.

“Bentangkan selendangmu,” perintah beliau.

Lalu Abu Huroiroh membentangkan selendangnya dan Nabi mengambil udara dengan tangannya dan meletakkannya pada selendang tersebut kemudian bersabda, “Lipatlah selendangmu!”

Lalu Abu Huroiroh melipat selendangnya. “Sesudah peristiwa itu saya tidak pernah mengalami lupa,” ucap Abu Huroiroh. (HR. Al Bukhori)

Yang menjadi catatan dari hadits diatas, diantaranya adalah :

1.       Abu Huroiroh mengadu kepada Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam

2.       Perkara yang dimintakan pertolongan adalah perkara Ghoiru ‘Adiy (tidak lumrah dapat dilakukan oleh manusia) yakni menghilangkan lupa.

3.       Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tidak menolak permintaan Abu Huroiroh apalagi menganggapnya musyrik, bahkan Rosululloh mengabulkannya.

4.       Seandainya apa yang dilakukan oleh Abu Huroiroh tersebut adalah perbuatan syirik karena meminta pertolongan kepada makhluk untuk urusan yang tidak lumrah dapat dilakukan oleh manusia, niscaya Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pasti akan melarangnya dan menyuruhnya langsung berdo’a kepada Alloh.

5.       Dalam redaksi hadits tersebut kita tidak mendapati Rosululloh berkata kepada Abu Huroiroh: Mengapa engkau meminta kepadaku padahal Alloh lebih dekat kepadamu daripada aku?. Nabi juga tidak mengatakan “Aku bukan tempat maminta dan memohon pertolongan, mintalah kepada Alloh”…

Ketahuilah…!!! Bahwa dalam keyakinan orang-orang beriman, apa yang dilakukan Rosululloh hanyalah sebagai sebab terkabulnya keinginan Abu Huroiroh. Sedangkan yang mengabulkan keinginan Abu Huroiroh tiada lain adalah Alloh.

Hal yang sama juga terjadi dalam perkara lain :

Memohon Pertolongan Dan Bantuan Kepada Alloh Lewat Nabi Dalam Mengatasi Musibah

 

فَهَذَا أَعْرَاِبّي يُنَادِيْهِ وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَائِمٌ يَخْطُبُ يَوْمَ الْجُمُعَةِ وَيَقُوْلُ : يَا رَسُولَ اللهِ هَلَكَتْ الْأَمْوَالُ وَانْقَطَعْتِ السُّبُلُ فَادْعُ اللهَ أَنْ يُغِيثَنَا فَدَعَا اللهَ وَجَاءَ الْمَطَرُ إِلَى الْجُمْعَةِ الثَّانِيَةِ ، فَجَاءَ وَقَالَ : يَا رَسُوْلَ اللهِ تَهَدَّمَتِ الْبُيُوْتُ وَتَقَطَّعَتِ السُّبُلُ وَهَلَكَتِ الْمَوَاشِي .. يَعْنِي مِنْ كَثْرَةِ الْمَطَرِ فَدَعَا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْجَابَ السَّحَابُ وَصَارَ الْمَطَرُ حَوْلَ الْمَدِيْنَةِ

Seorang A’rabi memanggil Rosululloh saat Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam berkhutbah pada hari Jum’at ; “Wahai Rosululloh, harta benda rusak parah dan jalan-jalan terputus. Berdo’alah engkau kepada Allah agar Dia menurunkan hujan.”

Beliau kemudian berdo’a dan turunlah hujan hingga jum’ah kedua. Berikutnya A’robi tadi datang lagi kepada beliau. “Wahai Rosululloh, rumah-rumah roboh, jalan-jalan terputus, dan binatang-binatang ternak mati…” yakni karena derasnya hujan.

BACA JUGA:  Hukum Puasa Rajab Menurut 4 Imam Mazhab

Akhirnya beliau shollallohu ‘alaihi wasallam berdo’a dan mendung pun hilang. Hujan terjadi di sekitar Madinah.” (HR. Bukhori, Muslim, dan yang lain)

Sekali lagi dalam konteks hadits diatas Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam tidak memerintahkan laki-laki tersebut untuk berdo’a langsung kepada Alloh, dan Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam juga tidak mengingkari laki-laki tersebut karena mengadukan perkara yang tidak dapat dilakukan kecuali oleh Alloh.

Selanjutnya jika dengan bukti-bukti diatas yang tentunya masih sangat banyak bukti-bukti yang lain yang tidak mungkin kami sebutkan semuanya dalam artikel terbatas ini masih ada yang berkata : “Bahwa hal tersebut hanya dapat dilakukan kepada Nabi.”

Maka kami katakan : “Argument tersebut rapuh berdasar beberapa bukti :

Pertama : Bahwa Alloh Yang Maha Suci tidak dapat disekutukan dengan apapun dan siapapun, baik dengan para Nabi atau yang lainnya.

Kedua : Perhatikan kisah dalam Al Qur’an berikut : 

قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

Berkata Sulaiman: “ Hai pembesar-pembesar, siapakah diantara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (QS, An Naml:38)

Nabi Sulaiman meminta kepada mereka untuk mendatangkan singgasana besar dari Yaman menuju tempatnya di Syam melalui cara di luar kebiasaan agar hal ini menjadi petunjuk bagi Bilqis dan pendorong untuk beriman.

Ketika ‘Ifrit dari golongan jin mengatakan :

أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ

“ Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu, “ (QS, An Naml : 39) Maksudnya dalam waktu singkat.

Nabi Sulaiman berkata, “Saya ingin yang lebih cepat dari itu.” Lalu seorang lelaki yang memiliki pengetahuan dari kitab yang notabene salah seorang paling jujur dan anggota majlis beliau berkata :

أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ

“ Aku akan membawa singgasana itu sebelum matamu berkedip, “ (QS, An Naml : 40)

Coba anda perhatikan kisah diatas: Bahwa Nabi Sulaiman Alaihis Salam meminta bantuan kepada pengikutnya (bukan seorang Nabi) untuk melakukan perkara yang tidak lumrah dapat dilakukan oleh manusia, dan yang menyanggupinya adalah seorang alim yang menjadi sekretaris Nabi Sulaiman yang dalam banyak riwayat beliau adalah Ashif Ibn Barkhiya’. Adakah Nabi Sulaiman telah melakukan perbuatan syirik karena meminta bantuan kepada selain Alloh untuk sesuatu yang tidak lumrah dapat dilakukan oleh manusia?… ataukah sang sekretaris telah menjadi sekutu bagi Alloh ?…. Renungkanlah!!!

Selanjutnya jika dengan bukti-bukti diatas masih ada yang berkata : “Bahwa hal tersebut hanya dapat dilakukan jika yang dimintai pertolongan masih hidup dan hadir dihadapan orang yang meminta tolong.” Maka perhatikanlah bukti berikutnya :

 

Utsman bin Hunaif Mengajarkan Tawassul

Dalam riwayat Imam At Thobaroni, sahabat ‘Utsman bin Hunaif menuturkan sebuah kisah yang berkaitan dengan hadits tawassulnya orang buta yang mengadu kepada Rosululloh :

أَنَّ رَجُلاً كَانَ يَخْتَلِفُ إِلَى عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ فِي حَاجَةٍ لَهُ ، وَكَانَ عُثْمَانُ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهِ وَلَا يَنْظُرُ فِي حَاجَتِهِ ، فَلَقِيَ الرَّجُلُ عُثْمَانَ بْنَ حُنَيْفٍ فَشَكَا ذَلِكَ إِلَيْهِ ، فَقَالَ لَهُ عُثْمَانُ بْنُ حُنَيْفٍ : اِئْتِ الْمِيْضأةَ فَتَوَضَّأْ ثُمَّ ائْتِ الْمَسْجِدَ فَصَلِّ فيه رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قُلْ : اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا نَبِيِّ الرَّحْمَةِ يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّكَ فَيَقْضِي حَاجَتِي . وَتَذْكُرُ حَاجَتَكَ. فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ فَصَنَعَ مَا قَالَ لَهُ ، ثُمَّ أَتَى بَابَ عُثْمَانَ فَجَاءَ الْبَوَّابُ حَتَّى أَخَذَ بِيَدِهِ فَأَدْخَلَهُ عَلَى عُثْمَانَ فَأَجْلَسَهُ مَعَهُ عَلَى الطَّنْفَسَةِ وَقَالَ : مَا حَاجَتُكَ ؟ فَذَكَرَ حَاجَتَهُ فَقَضَاهَا لَهُ ، ثُمَّ قَالَ: مَا ذَكَرْتَ حَاجَتَكَ حَتَّى كَانَتْ هَذِهِ السَّاعَةُ ثُمَّ قَالَ: مَا كَانَتْ لَكَ حَاجَةٌ فَائْتِنَا ، ثُمَّ إِنَّ الرَّجُلَ لَمَّا خَرَجَ مِنْ عِنْدِه لَقِيَ عُثْمَانَ بْنَ حُنَيْفٍ وَقَالَ لَهُ : جَزَاكَ اللهُ خَيْراً مَا كَانَ يَنْظُرُ فِي حَاجَتِي وَلَا يَلْتَفِتُ إِلَيَّ حَتَّى كَلَّمْتَهُ فِيَّ ، فَقَالَ عُثْمَانُ بْنُ حُنَيْفٍ: وَاللهِ مَا كَلَّمْتُهُ ، وَلَكِنْ شَهِدْتُ رَسُوْلَ اللهِ وَأَتَاهُ رَجُلٌ ضَرِيْرٌ فَشَكَا إِلَيْهِ ذِهَابَ بَصَرِهِ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ :أَوَ تَصْبِرُ ؟ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّهُ لَيْسَ لِي قَائِدٌ وَقَدْ شَقَّ عليَّ ، فَقَالَ لَهُ النَّبِي :اِئْتِ الْمِيْضأةَ فَتَوَضَّأْ ثُمَّ صَلِّ رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ ادْعُ بِهَذِهِ الدَّعَوَاتِ ،فَقَالَ عُثْمَانُ بْنُ حُنَيْفٍ: فَوَاللهِ مَا تَفَرَّقْنَا وَلَا طَالَ بِنَا الْحَدِيْثَ حَتَّى دَخَلَ الرَّجُلُ وَكَأَنَّهُ لَمْ يَكُنْ بِهِ ضَرَرٌ قَطُّ

BACA JUGA:  Kaum Wahhabi Melihat Makam Wali Sebagai Berhala

bahwasannya pada masa pemerintahan Kholifah ‘Utsman bin ‘Affan, Seorang lelaki berulang-ulang datang kepada ‘Utsman ibn ‘Affan untuk keperluannya. ‘Utsman sendiri tidak pernah menoleh kepadanya dan tidak mempedulikan keperluannya. Lalu lelaki itu bertemu dengan ‘Utsman ibn Hunaif. Kepada Utsman ibn Hunaif ia mengadukan sikap Utsman ibn ‘Affan kepadanya.

‘Utsman bin Hunaif menyuruh laki-laki tersebut : “Pergilah ke tempat wudlu, lalu masuklah ke masjid untuk sholat dua raka’at. Kemudian bacalah doa’ : Ya Alloh sungguh saya memohon kepada-Mu bertawassul kepada-Mu dengan Nabi-Mu Muhammad, Nabi rahmat. Wahai Muhammad, saya menghadap kepada Tuhanmu denganmu. Maka kabulkanlah keperluanku. ”  Dan sebutkanlah keperluanmu. (kata Utsman Ibn Hunaif)

Lelaki itu pun pergi melaksanakan saran dari Utsman ibn HunaifKemudian ia datang menuju pintu gerbang Utsman ibn Affan yang langsung disambut oleh penjaga pintu. Dengan memegang tangannya, sang penjaga langsung memasukkannya menemui Utsman ibn Affan. Kholifah (Utsman Ibn Affan) kemudian mempersilahkan keduanya duduk di atas  permadani bersama dirinya. “Apa keperluanmu?” tanya Kholifah. Lelaki itu pun menyebutkan keperluannya, kemudian Kholifah memenuhinya. “Engkau tidak pernah menyebutkan keperluanmu hingga tiba saat ini.” kata Utsman, “Jika kapan-kapan ada keperluan datanglah kepada saya,” lanjut Utsman Ibn Affan.

Setelah keluar, lelaki itu berjumpa dengan Utsman ibn Hunaif dan menyapanya, ia mengira sebelum dirinya bertemu Kholifah, terlebih dahulu ‘Utsman bin Hunaif telah menemui sang Kholifah guna menyampaikan hajatnya, akan tetapi ‘Utsman bin Hunaif menolak prasangka leleki tersebut, dan berkata : “Demi Alloh, saya tidak pernah berbicara dengan Utsman ibn Affan. Namun aku menyaksikan Rosululloh didatangi seorang lelaki buta yang mengadukan matanya yang buta. “Adakah kamu mau bersabar?” kata Nabi. “Wahai Rosululloh, saya tidak memiliki penuntun dan saya merasa kerepotan,”katanya. Maka Nabi berkata padanya : “Datanglah ke tempat wudlu’ lalu berwudlu’lah kemudian sholatlah dua roka’at. Sesudahnya bacalah do’a ini.” Utsman ibn Hunaif berkata: “Maka demi Alloh, kami belum bubar dan belum lama obrolan selesai, akhirnya lelaki buta itu masuk seolah ia belum pernah mengalami kebutaan.” (HR. At Thobaroni.) Setelah menyebut hadits ini At Thobaroni berkomentar, “Status hadits ini shohih.”

Perhatikan redaksi yang kami cetak tebal di atas (Wahai Muhammad, saya menghadap kepada Tuhanmu denganmu. Maka kabulkanlah keperluanku.)… betapa do’a tersebut diucapkan pada masa pemerintahan Kholifah Utsman Ibn Affan yang otomatis berarti Rosululloh shollallohu ‘alaihi wasallam telah berpulang ke pangkuan Ar Rofiiqil A’laa….

Sekali lagi ingin kami sarankan… Fahamilah agama ini dengan benar melalui pemahaman para Ulama yang Mu’tabar dan Mu’tamad serta bersanad jelas…. Agar agama kita tidak mengalami distorsi yang justru berakibat fitnah yang merugikan bagi Ummat Islam dan Islam sendiri….

Wallohu A’lam…

Oleh: Ustadz Abu Hilya

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

24 thoughts on “Abu Huroiroh dan Istighotsah, Sahabat Nabi Beristighotsah Musyrik ?”

  1. tetep aja dikasih pengertian gamblang sperti ini, orang2 golongan jidat hitam mujassimah gak akan ngerti 😆

    kapan pinternya sih mereka? wkwkw 😆

      1. Insya Alloh…. Al Ishobah.. Al Ishobah… Al ishobah… Yaa Alloh Narju Al Ishobata Wal Istiqomata ‘ala Maslaki Salafis Sholih, Ahlis Sunnah Wal Jama’ah… amin amin amin…

  2. Assalamu’alaikum..
    Terimakasih ustadz..
    Artikel ini semakin memantapkan saya dalam bertawassul,maaf kalau bisa minta teks doa tawassul seprti yang tercantum dalam hadits di atas..
    Maklum,saya hanya menggunaan hp jadi teks arabnya kurang begitu jelas..

  3. Just info :
    Sudah dua hari ini (tgl 4 dan 5 mei 2013) acara khazanah Islam pagi TRANS 7 narasinya sudah disusupi oleh Wahabiyyun yg mengambil tema syirik. Saya tidak bilang semua isinya tidak baik. Namun nuansa wahabinya sangat kental. Seperti misalnya : “Didahului oleh pembagian tauhid menjadi 3. Tawassul kpd orang sholeh disamakan dengan orang kafir minta2 kepada berhala. Ziarah dan Mendoa di makam dianggap nyembah kuburan. Jangan ikuti Ustadz, kyiai atau ulama kalau bertentangan dengan Al-Qur’an dan Hadits.”

    Terus Ulama kalau tidak ngikuti Qur’an dan hadits ngikut siapa?. Apa si awam yg membuka-buka Qur’an dan hadist secara langung lebih mengerti dari Ulama ???. Kalau acara spt itu adanya di TV atau radio Rodja si maklum. Ini di Trans 7 Bro. Mungkin setelah tema syirik ini mereka akan melanjutkannya dengan tema Bid’ah. spt biasa : Maulid Bid’ah (sesat), Dzikir bersama bid’ah (sesat) dsb.

    Lagi, Aswaja kalah selangkah…

    1. hhhmmmm
      saya mau komen bang Abdullah 🙂

      setahu saya, ulama salaf itu tidak mau sama sekali untuk di expose melalui poto / gambar, apalagi video or tayangan tv dalam dakwah nya,
      karena mereka menganggap itu haram . berdasarkan hadits2 tentang gambar makhluk bernyawa yang mereka pegang ( tidak hanya Rasullullah Shallallahu alaihi wasallam yang dihukumi tidak boleh ada gambarnya, akan tetapi semua makhluk hidup ) .
      jadi kalau ada dakwah yang keliatan seperti itu di tv, ana meragukannya 🙂

      1. yg bener….perasaan di saudi banyak ulama salapi/wahabi yang ngeluarkan fatwa di tv…yang di wawancara juga banyak….

        kalo misalnya gambar tv haram, sekalian aja gak usah disiarkan sholat tarawih langsung dari baitullah….bikin hukum kok setengah-setengah….

    1. mungkin sebentar lagi TRANS 7 akan menghilangkan acara Masih Dunia Lain, Dua Dunia ? dan selanjutnya menghilangkan acara Sinetron, Film film asing ?

      1. Harusnya Wahabi diajak debat soal tauhid 3 di trans 7, biar nyaho’ ketahuan jahilnya, merasa ikut ajaran Rasulullah tapi tauhidnya menyimpang dari ajaran rasulullah.

        Masak pembagian tauhid (aqidah) disamakan dg pembagian kalimat (tata bahasa): isim, fi’il dan harfun, opo ora koplak ini Wahabi akibat anti menggunakan logika jadinya salah kaprah, salah tapi merasa benar. Begitulah Wahabi.

      2. Isi dari acara masih dua dunia juga agak aneh… waktu ke makam wali, seolah-olah medium mengatakan banyak yang minta ma mbah, trus mbah minta ke gusti pangeran.. (ini mungkin menyinggung tawasul)… tp sy juga kurang yakin karena jarang nonton.. kebetulan pernah aja..

  4. Teman-teman ada yang pernah nyoba ke wahabi:

    Sing bener ngarepe gusti Allah kue sing takwa
    Takwa = Kerjakan perintah, jauhi larangan

    Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,
    “Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajiban (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.” (Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi)

    Misal bab Tahlil,
    ni tahlil ada gak di daftar kewajiban? Gak ada.. jadi jangan kerjakan dulu
    ni ada gak di daftar larangan? Gak ada.. jadi bukan hal yang pantang untuk dilanggar
    ni didalamnya ada yang haram gak?
    makanannya (nek utang ya perlu dibicarakan jamaah tahlilnya) – halal
    Yasin – halal
    Tahlil – halal
    dst – halal
    Gak ada yang haram…

    Jadi Allah SWT mendiamkan, jadi tahlil adalah tanda kasih Allah
    maka tidak perlu diperbincangkan…

    Antivirusnya gini bagus gak?
    🙂

  5. Sepertinya mereka sadar dan sengaja berpendapat bahwa istigotsah syirik, biar mereka bisa memusyrik-musyrikkan Sahabat Nabi tanpa mengatakannya secara langsunmg. Dasar Wahabi, licik banget cara mikirnya.

  6. Kalau merujuk kepada sabda Rasulullah Saw, bahwa akan muncul di akhir zaman “kaum lemah akal” yg berkata dg perkataan terbaik ( Al Qur’an dan as Sunnah), maka kaum Wahabi ini adalah sangat tepat mewakili perwujudan dari Sabda Rasulullah tsb.

    Contohnya dalam masalah istigotsah yg menurut kaum Wahabi syirik, padahal Sahabat dan Salafussolih juga beristigotsah, maka otomatis dg anggapan syirik terhadap istigotsah akan berakibat memusyrikkan para Sahabat dan Salafus sholih. Apakah mereka tidak perbah memikirkan konsekwensi yg seperti ini? Jelaslah, mereka tidak bisa berpikir sejauh ini mengingat akalnya yg lemah. wallohu a’lam.

  7. terimakasih ustadz atas penjelasannya, semoga kita tetap exsis dalam menyelamatkan umat dari Fitnah akhir zaman wahabi

  8. untuk keselamatan kita bersama dari kaum Zionis berbaju Islam yaitu : Wahabi Syi’i dan Konco2nya, maka semua Aswaja banyak2 baca Rotib Attos dan Rotib Haddad karena keduanya dapat membentengi kita dari Tipu muslihat mereka yg sesat. InsyaALLAH Ghobul amin amin ya Robbilalamin.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker