Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Biografi Nabi Muhammad Saw

Menyebut Rasulullah Saw dengan Sebutan Sayyidina

Menyebut Rasulullah Saw dengan Sebutan Sayyidina Itu Bentuk Penghormatan kepada Nabi Muhammad.

Menyebut Rasulullah Saw langsung sebut namanya itu tak beradab atau su’ul adab. Sebutan Sayyidina, Nabiyallah, Rasulullah dan sebutan lain sebelum nama Muhammad SAW adalah bentuk penghormatan. Penghormatan ini diperintahkan oleh Allah dalam Al Qur’an Surat An Nur Ayat 63 :

لا تَجْعَلُوا دُعَاءَ الرَّسُولِ بَيْنَكُمْ كَدُعَاءِ بَعْضِكُمْ بَعْضًا قَدْ يَعْلَمُ اللَّهُ الَّذِينَ يَتَسَلَّلُونَ مِنْكُمْ لِوَاذًا فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَنْ تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ (63)

Artinya: Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul di antara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah telah mengetahui orang-orang yang berangsur-angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih.

Abu Al-Fida’ Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Al-Qursyiy Al-Damsyiqiy dalam kitab Tafsir Al-Quranil ‘Adlim, atau yang lebih dikenal adalah Tafsir Ibnu Katsir;

قال الضحاك، عن ابن عباس: كانوا يقولون: يا محمد، يا أبا القاسم، فنهاهم الله عز وجل، عن ذلك، إعظامًا لنبيه، صلوات الله وسلامه عليه، قال: فقالوا: يا رسولَ الله، يا نبيَ الله. وهكذا قال مجاهد، وسعيد بن جُبَير.
وقال قتادة: أمر الله أن يهاب نبيه صلى الله عليه وسلم، وأن يُبَجَّل وأن يعظَّم وأن يسود.

Dalam tafsir Ibnu Katsir tersebut, Muqotil bin Hayyan mengatakan tentang tafsir ayat ini: “Janganlah engkau menyebut nama Nabi Muhammad jika memanggil Beliau dengan ucapan: ‘Ya Muhammad’ dan janganlah kalian katakan: ‘Wahai anak Abdullah’, akan tetapi Agungkanlah Beliau dan panggillah oleh kamu: ‘Ya Nabiyallah, Ya Rasulullah’.

Nashiruddin Abu Al-Khairi Abdullah bin ‘Umar bin Muhammad Al-Baidhawiy dalam kitab Anwarul Tanzil Wa Asraril Takwil, atau yang lebih dikenal adalah Tafsir Baidhawiy;

لا تقيسوا دعاءه إياكم على دعاء بعضكم بعضاً في جواز الإِعراض والمساهلة في الإِجابة والرجوع بغير إذن، فإن المبادرة إلى إجابته عليه الصلاة والسلام واجبة والمراجعة بغير إذنه محرمة . وقيل لا تجعلوا نداءه وتسميته كنداء بعضكم بعضاً باسمه ورفع الصوت به والنداء من وراء الحجرات ، ولكن بلقبه المعظم مثل يا نبي الله ، ويا رسول الله مع التوقير والتواضع وخفض الصوت ، أو لا تجعلوا دعاءه عليكم كدعاء بعضكم على بعض فلا تبالوا بسخطه فإن دعاءه موجب، أو لا تجعلوا دعاءه ربه كدعاء صغيركم كبيركم يجيبه مرة ويرده أخرى فإن دعاءه مستجاب.

BACA JUGA:  Ucapan Nabi "Ummati, Ummati...", Benarkan Ini Hadits Syiah?

Dan masih banyak Kitab Tafsir lain yang menjelaskan dengan penjelasan yang senada dengan kedua kitab tafsir diatas.

Dalam Qur’an Surat Ali Imran Ayat 39 Allah juga memulyakan Nabi Yahya :

فَنَادَتْهُ الْمَلَائِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي فِي الْمِحْرَابِ أَنَّ اللَّهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللَّهِ وَسَيِّدًا وَحَصُورًا وَنَبِيًّا مِنَ الصَّالِحِينَ

Artinya: Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi termasuk keturunan orang-orang shaleh.”

Syeikh Muhayyiyisunnah Abu Muhammad Hasan bin Mas’ud AL-BUGHAWI (wafat 516 H.) dalam tafsir beliau MA’ALIMI AL-TANZIL menjelaskan Qur’an Surat Ali Imran ayat 39 sebagai berikut:

{وَسَيِّدًا} فعيل من ساد يسود وهو الرئيس الذي يتبع وينتهي إلى قوله، قال المفضل: أراد سيدا في الدين. قال الضحاك: السيد الحسن الخلق. قال سعيد بن جبير: السيد الذي يطيع ربه عز وجل. وقال سعيد بن المسيب: السيد الفقيه العالم، وقال قتادة: سيد في العلم والعبادة والورع، وقيل: الحليم الذي لا يغضبه شيء. قال مجاهد: الكريم على الله تعالى، وقال الضحاك : السيد التقي، قال سفيان الثوري: الذي لا يحسد وقيل: الذي يفوق قومه في جميع خصال الخير، وقيل: هو القانع بما قسم الله له. وقيل: السخي، قال رسول الله صلى الله عليه وسلم “من سيدكم يا بني سلمة”؟ قالوا: جد بن قيس على أنّا نبخِّله قال: “وأي داء أدوأ من البخل، لكن سيدكم عمرو بن الجموح”.

BACA JUGA:  Isu-isu bid'ah Seputar Maulid Nabi Muhammad SAW

Artinya: Dan (SAYYIDAN) itu adalah timbangan FA’IILAN dari SAADA. Sayyidan itu pemimpin yang diikuti dan berakhir kepada perkataannya. Al-Mufadhdhal berkata: yang dimaksud dengan sayyidan adalah sayyidan pada agama. Adh-Dhihak berkata: Sayyid itu bagus berakhlak. Sa’id bin Jubair berkata: Sayyid adalah orang yang patuh kepada Tuhannya yang maha tinggi. Sa’id bin Musayyib berkata: Sayyid itu orang yang faqih (ahli ilmu fiqh) lagi mengetahui. Qatadah berkata: sayyid itu pada ilmu, ibadat dan wara’, dan dikata orang : (Sayyid) itu lemah lembut yang tidak pernah marah kepadanya oleh sesuatu. Mujahid berkata: (Sayyid) itu yang mulia disisi Allah.

Adh-Dhihak berkata: Sayyid itu orang taqwa. Sufyan Sauriy berkata: (Sayyid) itu yang tidak ada hasad, dikata orang yang berada lebih diatas kaumnya pada sekalian perkara terpuji. Dan dikata orang juga: orang yang merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepadanya. Dikata orang: (Sayyid) itu Pemurah. Sabda Rasulullah صلى الله عليه وسلم Siapa Sayyid (Pemimpin) kalian wahai Bani Salamah? Mereka menjawab: Jud bin Qais yang kami anggap sangat kikir. Nabi bersabda: “penyakit apa yang lebih berat daripada kikir? Tetapi Sayyid (pemimpin) kalian adalah ‘Amr bin al-Jamuh.

Status hadits diatas dijelaskan pada catatan kaki dalam tafsir tersebut, yaitu;

روي هذا الحديث من طرق عن جابر وأبي هريرة وأنس مرفوعا وروي مرسلا عن حبيب بن أبي ثابت عن النبي صلى الله عليه وسلم فقد أخرجه البخاري في الأدب المفرد ص (90) طبعه مكتبة الآداب وأبو الشيخ الأصبهاني في كتاب الأمثال برقم (89 – 95) ص 56 – 59 وأبو نعيم في الحلية: 7 / 317 والحاكم في المستدرك: 3 / 219 عن أبي هريرة بلفظ “بل سيدكم البراء بن معرور” وقال: صحيح على شرط مسلم. وقال الهيثمي: رواه الطبراني في الأوسط ورجاله رجال الصحيح غير شيخ الطبراني مجمع الزوائد : 3 / 315 . وانظر : الإصابة لابن حجر : 4 / 615 – 616 أسد الغابة لابن الأثير: 4 / 206 – 207 مجمع الزوائد: 9 / 314 – 315 / 126 – 127 .

BACA JUGA:  Efek Samping Larangan Memuji dan Menyanjung Rasulullah Saw

Artinya: Telah diriwayatkan hadits ini dari berbagai thuruq (jalan) dari Jabir, Abi Hurairah dan Anas secara marfu’ (sampai sanad kepada Rasulullah). Dan riwayat secara mursal (gugur sahabat) dari riwayat Habib bin Abi Tsabit dari Nabi صلى الله عليه وسلم. Maka sungguh telah mengeluarkannya (meletakkan hadits pada tempatnya) oleh : Imam Bukhari pada BAB ADAB AL-MUFRAD hal 90 cetakan Maktabah Adab, oleh Abu Syaikh Ak-Ashbahani dalam kitab AL-AMTSAL nomor 89-95 halaman 56-59, oleh Abu Na’im dalam AL-HULIYYAH jilid 7 halaman 317, oleh Hakim dalam AL-MUSTADRAK jilid 3 halaman 219 dari Abi Hurairah dengan ucapan “tetapi pemimpin kalian adalah Al-Bara’ bin Ma’rur.  Hakim berkata ; “hadits Shahih atas syarat Imam Muslim. Baihaqiy berkata: telah meriwayatkan oleh Thabrani dalam AL-AWSATH, dan rijalnya itu rijal shahih

Mengenai sebutanSayyidina sendiri terdapat dalam hadits :

أنا سيد ولد آدم يوم القيامة ولا فخر

“Aku adalah sayyid anak Adam pada hari kiamat maka janganlah berbangga diri.” (HR. Ahmad, Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah).

Jadi kesimpulannya adalah tidak punya adab/sopan santun jika kita menyebut Rasulallah Muhammad SAW. langsung menyebut namanya. Sebutan Sayyidina di depan nama Nabi Muhammad saw adalah bentuk penghormatan. Sebutan Sayyidina bukan bentuk ghuluw sebagaimana sering dituduhkan oleh kaum yang anti menyebut Rasulullah Saw dengan sebutan Sayyidina.

Sebutan Sayyidina juga bukan bentuk perendahan seperti yang dikatakan oleh ustadz Salafi Wahabi bernama Khalid Basalah.

Oleh: Mas Derajad,

Kebenaran hakiki hanya milik Allah
Hamba Allah yang dhaif dan faqir
Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

44 thoughts on “Menyebut Rasulullah Saw dengan Sebutan Sayyidina”

  1. @al-faqir,
    yang dimaksud golongan sempalan itu yang mana? sebab semua golongan mengaku berdasarkan al-qur’an dan hadist, juga mengaku ahlussunnah. sebab kl gak mengaku kayak begitu, bakalan nggak laku dan enggak ada yg mau ikut. Tapi hati dan diri kita masing-masaing sajalah yg tahu kebenaran antara pengakuan dan perbuatan.

    1. Mas Abdul Chair, golongan sempalan itu adalah golongan yg pemahaman menyempal/menyelesihi dari paham Ulama Mayoritas, Ulama Mayoritas adalah Para Ulama Aswaja yg terdiri dari penganut paham empat Madzhab besar/mu’tabar .

      Contoh golongan sempalan itu ya Wahabi itu mas, jumlahnya minoritas tetapi merasa paling benar, setelah di diteliti ternyata pemahamannya sesat. Qur’an Sunnah dijadikan jargon belaka, praktiknya ikut Yahudi, gitu Mas Bro.

  2. Bismillah,

    Ahsantum Ustadz Derajad…

    selanjutnya disini kami ingin mengomentari pendapat yang membid’ahkan Istihdhor atau “fantasi ruh” (dalam istilah mereka) ketika Mahallul Qiyam ditengah pembacaan kitab-kitab maulid.

    Ketahuilah saudaraku dari kalangan yang menganggap bid’ah Istihdhor ketika baca sholawat bahwa:

    – Istihdhor ketika Mahallul Qiyaam (berupaya menghadirkan diri sedekat mungkin dengan Nabi saw) atau yang anda sebut dengan”fantasi ruh” adalah perkara yang semestinya harus anda upayakan sekurang-kurangnya 9 kali sehari semalam (selain hari jum’ah)

    – Sadarkah anda ? bahawa sesungguhnya anda dituntut berupaya “berfantasi ruh” setiap kali anda baca “ASSALAMU ‘ALAIKA AYYUHAN NABIYYU …..dst” atau anda tidak memahami maksud dari penggunaan kata ganti (dhomir) “KA” pada kalimat “ALAIKA” (atasmu).

    – Atau anda mau mengganti bacaan diatas dengan bacaan yang lain sebagaimana yang sempat terlintas dalam salah satu benak Syaikh al bani?

    – Atau anda telah membuang jauh-jauh cinta anda pada Rosululloh saw, hingga ummat yang menghormati beliau dengan menyebutnya “SAYYIDINA” anda hujat?

    – Jika anda menuduh kami berlebihan, tunjukkan pada kami batas menghormati Rosululloh saw ! yang menjadi batas bagi kami agar tidak berlebihan?

    – Jika hadits لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ ( “Janganlah kalian mengkultuskanku sebagaimana kaum Nashrani mengkultuskan Isa ibn Maryam, sesungguhnya akhu hanyalah hamba-Nya, maka katakanlah “hamba Alloh dan Rosul-Nya”. HR. Bukhori ) anda gunakan sebagai ukuran bahwa kami telah berlebihan, maka kami tanyakan pada anda :

    1. Adakah diantara ummat Islam yang menghormati Rosululloh saw dengan menyebut “SAYYIDINA” dan senantiasa “Istihdhor” dalam sholawat mereka yang menganggap Rosulullh saw adalah anak Alloh, sebagaimana anggapan Ummat Nashrani terhadap Nabi Isa as?

    2. Atau kami harus memanggil Rosululloh saw dengan panggilan “YAA ‘ABDALLOH” sebagaimana zhahirnya redaksi hadits tsb? (aneeh)

    1. Yah, begitulah ustfaz Abu Hilya, kaum sempalan itu tidak mengerti apa maksudnya, tetapi anehnya menganggap dirinya paling mengerti sehingga merasa paling benar. Blog ini dan diskusi-diskusi selama ini kan membeberkan kesalahan2 pemahaman mereka tentang ajaran Islam, dan mereka tidak mampu membantahnya dg argumentasi yg ilmiyyah, tetapi anehnya malah menganggap diskusi tidak bermutu, kan lucu itu jadinya? Kalau mereka masih bisa mendayagunakan akalnya, pastilah mereka akan sadar dan bertobat.

      Tapi sayang hatinya sudah tertutup aliar tercover, alias terhijab oleh doktrin2 yg menyesatkan, bagaimana bisa jadi sadar, yg terjadi malah semakin bubrah aja koment2 nya. Tapi saya yakin di antara sekian yg semakin bubrah, insyaallah ada yg mulai merenungkan apa2 yg selama ini diyakininya ternyata banyak dipersalahkan di mana2 di seluruh dunia, semoga blog ini menjadi wasilah bagi mereka mendapatkan hidayah-NYA, amin………..

  3. Bukan hanya Albani saja yg berpendapat demikian, dlm fathul bari-pun, Ibnu Hajar menjelaskan bahwa sebagian shahabat mengganti bacaan “assalamu’alaika ayyuhannabiyu” menjadi “assalamu ‘alaina ayyuhannabiyu” setelah Rasulullah wafat. (karena dhomir ka-nya menjadi tidak tepat setelah Rasulullah wafat). Tidak ada yg salah dari keduanya.
    Namun pd saat Rasulullah masih hidup dan tinggal di Madinah, beliau tidak melarang kaum muslimin yg berada di luar kota Madinah utk membaca dgn lafadz “alaika”.
    Ketahuilah ya akhi… tidak ada khilah yang begitu bayak dikalangan ulama kecuali dlm pembahasan sholat. Jadi, sepanjang berdasarkan dalil dan ilmu yg haq, boleh saja diambil salah satunya utk diamalkan. Contoh lain. mrk yg mendahulukan tangan ktk hendak sujud, tdk boleh bilang kl mendahulukan lutut adalah salah. Begitu jg sebaliknya.

    1. Bismillah,

      Saudaraku @Ibn abdul choir, apa anda baca utuh apa yang ada dalam fathul barinya Ibnu Hajar? berikut diantara yang dituangkan beliau :

      فإن قيل ما الحكمة في العدول عن الغيبة إلى الخطاب في قوله عليك أيها النبي مع أن لفظ الغيبة هو الذي يقتضيه السياق كأن يقول السلام على النبي فينتقل من تحية الله إلى تحية النبي ثم إلى تحية النفس ثم إلى الصالحين أجاب الطيبي بما محصله نحن نتبع لفظ الرسول بعينه الذي كان علمه الصحابة ويحتمل أن يقال على طريق أهل العرفان إن المصلين لما استفتحوا باب الملكوت بالتحيات أذن لهم بالدخول في حريم الحي الذي لا يموت فقرت أعينهم بالمناجاة فنبهوا على أن ذلك بواسطة نبي الرحمة وبركة متابعته فالتفتوا فإذا الحبيب في حرم الحبيب حاضر فأقبلوا عليه قائلين السلام عليك أيها النبي ورحمة الله وبركاته أه

      silahkan diterjemahkan sendiri

    2. tambahan to saudaraku @Ibnu abdul chair,

      – konteks permasalahan kami bukan pada orang yang tidak menggunakan sebutang penghormatan dengan gelar “SAYYIDINA”, tapi “Tuduhan yang menganggap kami berlebihan” karena penghormatan kami pada beliau saw dengan sebutan gelar “SAYYIDINA”

      – dalam konteks Tahiyyat, yang kami angkat adalah permasalahan “Istihdhor” atau dalam bahasa mereka “Fantasi Ruh” tidak sekedar dalam masalah penggantian dhomir “KA” dengan “An Nabiy” sehingga yang kami tanyakan: Salahkah “Istihdhor” atau dalam bahasa mereka “Fantasi Ruh” yang kami lakukan?

      semoga lebih jelas dan jawabannya nyambung….

      1. Ustadz @bu Hilya :

        Mohon maaf Ustadz hanya menambahkan masalah Istihdhor, yaitu bahwa menghadirkan keyakinan bahwa Rasulallah sedang kita uluk salami itu benar dan tidak salah adanya. Hal ini terkait juga beberapa hadits tentang keutamaan shalawat nabi.

        1. Dalam Kitab Sunan Abu Dawud :
        إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ قَالَ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ تُعْرَضُ صَلَاتُنَا عَلَيْكَ وَقَدْ أَرَمْتَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَرَّمَ عَلَى الْأَرْضِ أَجْسَادَ الْأَنْبِيَاءِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِمْ
        “Sesungguhnya hari jumat adalah di antara hari-hari kalian yang terbaik, karenanya perbanyaklah shalawat kepadaku pada hari itu. Karena sesungguhnya shalawat kalian disampaikan kepadaku.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana shalawat kami disampaikan kepadamu, sementara engkau telah meninggal?” Beliau bersabda, “Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta’ala telah mengharamkan atas bumi untuk menghancurkan jasad para nabi shallallahu ‘alaihim.” (HR. Abu Daud no. 1047)

        2. Dalam Kitab Sunan Abu Dawud dan Beberapa Ahli Hadits lainnya :
        إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ قُبِضَ وَفِيهِ النَّفْخَةُ وَفِيهِ الصَّعْقَةُ فَأَكْثِرُوا عَلَيَّ مِنْ الصَّلَاةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَيَّ

        “Sesungguhnya di antara hari kalian yang paling afdhal adalah hari Jum’at. Pada hari itu Adam diciptakan dan diwafatkan, dan pada hari itu juga ditiup sangkakala dan akan terjadi kematian seluruh makhluk. Oleh karena itu perbanyaklah shalawat di hari Jum’at, karena shalawat akan disampaikan kepadaku….” (HR. Abu Dawud, Nasai, Ibnu Majah, Ahmad, dan al Hakim dari hadits Aus bin Aus)

        3. Dalam Kitab Sunan Abu Dawud :
        مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلَّا رَدَّ اللَّهُ عَلَيَّ رُوحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ

        “Tak seorang pun yang mengucapkan salam kepadaku melainkan Allah mengembalikan ruhku kepadaku hingga aku menjawab salamnya.” (HR. Abu Dawud)

        Ketiga hadits diatas juga disahkan (disahihkan) oleh Albani (semoga kelompok salafy wahabi menerimanya)

        Jadi disini jelas bahwa walaupun beliau meninggal, shalawat dan salam tersebut disampaikan bahkan dijawab (dengan do’a beliau kepada kita). Oleh karena itu dianjurkan bersungguh-sungguh istihdhor (menghadirkan “sosok”) Rasulallah waktu ber-uluk salam dan bershalawat.

        Kebenaran hakiki hanya milik Allah
        Hamba Allah yang dhaif dan faqir
        Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

    3. @Ibn Abdul Chair

      Betul sekali yang disampaikan Ustadz @bu Hilya tentang apa yang termaktub dalam Kitab Fathul Bari Ibnu Hajar Atsqalani bukan membahas perubahan atau penggantian Assalamu ‘alaika menjadi Assalamu ‘alan nabi. Lalu saudara Ibn Abdul Chair baca darimana ? Jangan-jangan Fathul Bari yang sudah diterjemahkan atau bahkan dirubah-rubah oleh kelompok Salafy Wahabi ? Seperti juga Kitab I’anatut Thalibin yang juga mengalami perubahan dan pemaksaan penerjemahan oleh kelompok Salafy Wahabi.

      Kami kelompok Ahlus Sunnah Wal Jamaah khususnya Warga Nahdliyin sangat menjaga kitab-kitab ulama-ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah tersebut dengan banyak mengaji kembali kitab-kitab tersebut kepada para Ulama yang memang mendapat Ijazah atas kitab tersebut. Jadi kalau kelompok Salafy Wahabi coba-coba merubahnya, kami sudah siap mematahkannya.

      Sebaiknya saudara mengaji atau ta’lim kepada ulama-ulama yang musalsal jalur sanadnya, jangan sembarangan menggunakan terjemah yang tidak jelas.

      Kebenaran hakiki hanya milik Allah
      Hamba Allah yang dhaif dan faqir
      Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  4. AFwan, ada ralat stlh sy baca lagi comment sy ada kesalahan.
    Yg salah : assalamu ‘alaina
    yang betul adalah : Assalamu alannaabiyyu
    Demikian ralat.

  5. @ibn abdul Chair
    Disatu sisi albani memperjuangkan dengan jargonnya kembali ke sunnnah, disisi lain kebalikannya dari kembali ke sunnah. disini kita lihat :
    1. “assalamu’alaika ayyuhannabiyu” adalah letterlux bacaan yang langsung diberikan oleh Rasulullah saw.
    2. “Assalamu alannaabiyyu” adalah bukan letterlux dari Rasulullah saw.
    Bagaimana menurut ente dengan Jargon yang ente perjuangkan ??????

  6. Bismillaah..
    Assalaamu’alaikum..
    buat teman2 salafi/wahabi disini ada yg berminat dengan buku2 al albani, ibn Taimiyah & ibn qoyyim?. karena sejak kuliah saya tidak pernah ketinggalan menghadiri pameran2 buku yg ada (saya domisili di bandung) dan hampir dipastikan saya beli buku2 (terjemahan) mereka. mulai dari silsilah hadits dho’if, sampe tafsir ibn katsir yang ditahrif oleh muhaddits besar abad ini yg tiada tara. mungkin klo dihitung ada kali selemari..hehe..
    tapi..sekarang saya mau tobat ah..mau berguru sama guru yg ikhlas & bersanad.. saya akui dulu saya sangat antusias belajar agama (tanpa guru). hampir semua buku yg menarik saya beli & baca. tanpa pandang bulu.

    sekarang sejak saya ke “klinik aswaja” ini, alhamdulillah pola fikir saya kembali ter”defrag”. terimakasih ummatipress.
    bahkan saya “dihukum” oleh Allah SWT dengan bermertuakan seorang kyai yang klo kata salafi/wahabi sudah divonis masuk neraka karena seneng ratiban, manaqiban, dan bertasawuf. dan yang paling “parah”, banyak banget foto2 habaib di dinding rumahnya. termasuk assayyid Muhammad Alawi Al Maliki.
    dan mohon masukan dari rekan2 aswaja disini, kira2 saya bisa beli kitab2 asli aswaja terjemahan yg gak dimanipulasi di mana ya di bandung? saya jadi khawatiran sekarang klo beli2 buku agama. takut buang2 uang lagi.
    maaf kebanyakan.
    oh ya, salam kenal buat semuanya. mohon izin menambah ilmu.

    wassalaamu’alaikum..

    1. @ mas Abu Ahnaf, kalau mau beli kitab ulama2 aswaja yg asli belilah ditoko buku milik habaib, atau di toko buku aswaja online, Al Barokah, Pustaka Awsath dll cari saja di internet memang buku2 yg asli ulama aswaja peredarannya tidak meluas seperti buku2 terbitan penerbit wahabi yg disemua gramedia group bertebaran, maklum dananya disokong besar2an oleh arab saudi negara biangnya wahabi.

      untuk ke-hati2an inilah linknya daftar penerbit wahabi :
      http://ummatipress.com/2012/05/29/daftar-penerbit-wahabi-dari-berbagai-variant-wahabi-di-indonesia/
      Selamat berburu dan mengkoleksi kitab2 Aswaja yang asli yg sangat berharga.

  7. Mengenai ruju’nya sang kakak dan taubatnya menuju manhaj salaf ini disebutkan oleh Ibnu Ghannam (Tarikh Nejed 1/143), Ibnu Bisyr (Unwan Majd hal. 25), Syaikh Mas’ud An Nadawi (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlih Mazhlum 48-50), Syaikh Abdul Aziz bin Baaz (Ta’liq Syaikh Muhammadbin Abdul Wahhab hal. 95), Syaikh Ahmad bin Hajar Alu Abu Thami (Syaikh Muhammadbin Abdul Wahhab hal. 30), Syaikh Muhammad bin Sa’ad Asy Syuwa’ir (Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab Syaikh muftara ‘alaihi lihat majalah Buhuts Islamiyah edisi 60/1421H), Syaikh Nashir Abdul Karim Al Aql (Islamiyah la Wahhabiyah hal. 183), Syaikh Muhammad As Sakakir (Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab wa Manhajuhu fi Dakwah hal. 126), Syaikh Sulaiman bin Abdurrahman Al Huqail (Hayat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 26. yang diberi kata pengantar oleh Syaikh Shalih bin Abdul Aziz Alu Syaikh), dll.
    Syaikh Sulaiman menulis bantahan tersebut ketika menjabat menjadi qadli di Huraimila, disebabkan karena cemburu dan akhirnya diberi hidayah oleh Allah
    Beliau bertemu dengan Syaikh Muhammad di Dar’iyah tahun 1190 H. dan disambut baik oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab”.
    Para musuh Tauhid sangat gembira dengan adanya kitab Syaikh Sulaiman tersebut, namun mereka sangat malu untuk menyebut taubatnya Syaikh Sulaiman (Muhammad bin Abdul Wahhab Mushlih Mazhlum hal. 48-50).

    1. @Ibn Abdul Chair

      coba sebutkan bukti konkrit dan otentik akan kebenaran hal itu, seperti bukti tertulis karya Syeikh Sulaiman sendiri atau pernyataan orang yang sezaman dengan beliau, yg menyatakan syeikh Sulaiman telah bertobat dan mendukung Muhammad bin Abdul Wahab?

      di tunggu ya…..

    2. @Ibn abdul Chair

      Dari kalangan ulama madzhab al-Maliki, al-Imam Ahmad bin Muhammad al-Shawi al-Maliki, ulama terkemuka abad 12 Hijriah dan semasa dengan pendiri Wahhabi, berkata dalam Hasyiyah ‘ala Tafsir al-Jalalain sebagai berikut:
      “Ayat ini turun mengenai orang-orang Khawarij, yaitu mereka yang mendistorsi penafsiran al-Qur’an dan Sunnah, dan oleh sebab itu mereka menghalalkan
      darah dan harta benda kaum Muslimin sebagaimana yang terjadi dewasa ini
      pada golongan mereka, yaitu kelompok di negeri Hijaz yang disebut dengan
      aliran Wahhabiyah, mereka menyangka bahwa mereka akan memperoleh sesuatu (manfaat), padahal merekalah orang-orang pendusta.” (Hasyiyah al-
      Shawi ‘ala Tafsir al-Jalalain)

      Dari kalangan ulama madzhab Hanafi, al-Imam Muhammad Amin Afandi yang
      populer dengan sebutan Ibn Abidin, juga berkata dalam kitabnya, Hasyiyah Radd
      al-Muhtar sebagai berikut:
      “Keterangan tentang pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab, kaum Khawarij
      pada masa kita. Sebagaimana terjadi pada masa kita, pada pengikut Ibn Abdil
      Wahhab yang keluar dari Najd dan berupaya keras menguasai dua tanah suci.
      Mereka mengikuti madzhab Hanabilah. Akan tetapi mereka meyakini bahwa
      mereka saja kaum Muslimin, sedangkan orang yang berbeda dengan keyakinan
      mereka adalah orang-orang musyrik. Dan oleh sebab itu mereka menghalalkan
      membunuh Ahlussunnah dan para ulamanya sampai akhirnya Allah memecah
      kekuatan mereka, merusak negeri mereka dan dikuasai oleh tentara kaum
      Muslimin pada tahun 1233 H.” (Ibn Abidin, Hasyiyah Radd al-Muhtar ‘ala al-Durr
      al-Mukhtar, juz 4, hal. 262).

      Dari kalangan ulama madzhab Hanbali, al-Imam Muhammad bin Abdullah bin
      Humaid al-Najdi berkata dalam kitabnya al-Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-
      Hanabilah ketika menulis biografi Syaikh Abdul Wahhab, ayah pendiri Wahhabi,
      sebagai berikut:
      “Abdul Wahhab bin Sulaiman al-Tamimi al-Najdi, adalah ayah pembawa dakwah
      Wahhabiyah, yang percikan apinya telah tersebar di berbagai penjuru. Akan
      tetapi antara keduanya terdapat perbedaan. Padahal Muhammad (pendiri
      Wahhabi) tidak terang-terangan berdakwah kecuali setelah meninggalnya sang
      ayah. Sebagian ulama yang aku jumpai menginformasikan kepadaku, dari orang
      yang semasa dengan Syaikh Abdul Wahhab ini, bahwa beliau sangat murka
      kepada anaknya, karena ia tidak suka belajar ilmu fiqih seperti para pendahulu dan orang-orang di daerahnya. Sang ayah selalu berfirasat tidak baik tentang
      anaknya pada masa yang akan datang. Beliau selalu berkata kepada
      masyarakat, “Hati-hati, kalian akan menemukan keburukan dari Muhammad.”
      Sampai akhirnya takdir Allah benar-benar terjadi. Demikian pula putra beliau,
      Syaikh Sulaiman (kakak Muhammad bin Abdul Wahhab), juga menentang
      terhadap dakwahnya dan membantahnya dengan bantahan yang baik
      berdasarkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu alaihi wa
      sallam. Syaikh Sulaiman menamakan bantahannya dengan judul Fashl al-
      Khithab fi al-Radd ‘ala Muhammad bin Abdul Wahhab. Allah telah
      menyelamatkan Syaikh Sulaiman dari keburukan dan tipu daya adiknya
      meskipun ia sering melakukan serangan besar yang mengerikan terhadap
      orang-orang yang jauh darinya. Karena setiap ada orang yang menentangnya,
      dan membantahnya, lalu ia tidak mampu membunuhnya secara terang-terangan,
      maka ia akan mengirim orang yang akan menculik dari tempat tidurnya atau di
      pasar pada malam hari karena pendapatnya yang mengkafirkan dan menghalalkan membunuh orang yang menyelisihinya.” (Ibn Humaid al-Najdi, al-
      Suhub al-Wabilah ‘ala Dharaih al-Hanabilah).

      Dari kalangan ulama madzhab Syafi’i, al-Imam al-Sayyid Ahmad bin Zaini
      Dahlan al-Makki, guru pengarang I’anah al-Thalibin, kitab yang sangat otoritatif
      (mu’tabar) di kalangan ulama di Indonesia, berkata:
      “Sayyid Abdurrahman al-Ahdal, mufti Zabid berkata: “Tidak perlu menulis
      bantahan terhadap Ibn Abdil Wahhab. Karena sabda Nabi shallallahu alaihi wa
      sallam cukup sebagai bantahan terhadapnya, yaitu “Tanda-tanda mereka
      (Khawarij) adalah mencukur rambut (maksudnya orang yang masuk dalam
      ajaran Wahhabi, harus mencukur rambutnya)”. Karena hal itu belum pernah
      dilakukan oleh seorang pun dari kalangan ahli bid’ah.” (Sayyid Ahmad bin Zaini
      Dahlan, Fitnah al-Wahhabiyah)

  8. Koq jawabannya tentang Albany ga nyambung?

    Mengenai taubatnya Syaikh Sulaiman itu, kami kaum ASWAJA bukan ga mau percaya. Soalnya kalau beliau udah bertaubat, dimana kitab-kitabnya yang mendukung Tauhid 3 itu? Contohnya Syaikh Sulaiman berhujah dalam kitabnya, memang benar Kaum Musyrik itu Ahlu Tauhid, dengan bertauhid Rububiyah.

    Padahal ketika kaum Wahhaby mendakwa Imam Abu Hasan al-Asy’ari bertaubat, mereka bilang tuh buktinya ada dalam kitab al-Ibanah. Ternyata kitab al-Ibanah itu udah dirubah isi kandungannya oleh kaum Mujassimah sendiri. Kalau kagak percaya, silahkan baca sendiri di sini –

    http://al-fanshuri.blogspot.com/2010/12/kesalahan-cetakan-yang-tidak.html

  9. Siapakah Asy-Syaikh Al-Albani t?
    Al-’Allamah Asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz t ditanya tentang hadits:
    “Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini di penghujung tiap seratus tahun, orang yang memperbaharui agama mereka.” (HR. Abu Dawud no. 4291, dan hadits ini shahih)
    Beliau ditanya: “Siapakah pembaharu di abad ini?”
    Beliau menjawab: “Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dialah pembaharu abad ini menurut dugaan saya. Dan Allah I-lah yang lebih tahu.”
    Al-’Allamah Asy-Syaikh Muham-mad bin Shalih Al-’Utsaimin t ditanya tentang orang yang menuduh Asy-Syaikh Al-Albani dengan tuduhan berpaham Murji’ah (satu aliran sesat yang menganggap dosa besar tidak berpengaruh negatif terhadap iman, -pent), maka beliau menjawab:
    “Orang yang menuduh Al-Albani dengan tuduhan paham Murji’ah maka dia telah keliru. Mungkin karena dia tidak tahu siapa Al-Albani, atau dia tidak tahu apa itu Murji’ah.
    Al-Albani adalah salah seorang dari Ahlus Sunnah –semoga Allah I memberinya rahmat–. Ia membela Ahlus Sunnah. Dia seorang imam dalam ilmu hadits, saya tidak tahu ada seorangpun yang dapat menan-dinginya di masa ini. Namun sebagian manusia –saya mohon keselamatan dari Allah I– menyimpan kedengkian dalam qalbunya bila melihat seseorang diterima (umat) maka ia mulai menyindirnya. Bagaikan orang-orang munafiq yang menyindir orang-orang yang bersedekah dari kaum mukminin, dan menyindir orang-orang yang tidak mendapatkan kecuali sesuatu yang sedikit dengan jerih payah mereka. Mereka menyindir orang yang bersedekah dalam jumlah banyak dan orang fakir yang bersedekah.
    Al-Albani –semoga Allah I merahma-tinya–, aku mengenalinya dari buku-bukunya. Dan aku mengenalinya dengan bermajlis dengan beliau beberapa kali. Dia berakidah salaf, manhajnya bersih. Tapi sebagian orang hendak mengkafirkan hamba-hamba Allah I (umat) dengan sesuatu yang Allah I tidak kafirkan mereka dengannya, lalu menganggap –secara dusta, palsu dan kebohongan yang nyata– siapa saja yang menyelisihinya dalam cara pengkafiran seperti ini sebagai golongan Murji’ah. Oleh karenanya jangan kalian dengar ucapan itu, dari siapapun keluarnya.” (Diambil dari Fatawal ‘Ulama Al-Akabir, buah karya Abdul Malik Ramdhani)

    1. @Ibn Abdul Chair

      Al-Imam al-Bukhari dan Ta’wil
      al-Imam al-Bukhari mengatakan: Bab tentang ayat : Segala sesuatu akan hancur kecuali Wajah-Nya, Nah, kata wajah-Nya, oleh al-Imam al-Bukhari diartikan dengan mulkahu, artinya kekuasaan-Nya.

      Al-Albani berkata: “Pendapat al-Bukhari yang melakukan ta’wil terhadap ayat di atas ini tidak sepatutnya diucapkan oleh seorang Muslim yang beriman”.

      Inilah komentar Syaikh Anda, al-Albani tentang ta’wil al-Imam al-Bukhari.

      Bandingkan dengan pernyataan berikut ini :
      Berkata Imam Muslim dihadapan Imam Bukhari : “Izinkan aku mencium kedua kakimu wahai Pemimpin para Muhadditsin, guru dari semua guru hadits”.

      jd, apakah masih layak jika syaikh Al Bani disebut sebagai pembaharu atau Muhadist abad ini?

  10. @ibn abdul chair :

    Mungkin saudara Ibn Abdul Chair belum pernah baca baha Syekh Utsaimin pernah “memarahi” Albani secara tertulis ya ? 😆 Semoga bukti ini akan membuka cara pandang saudara siapa Albani ini.

    “ثم يأتي رجل في هذا العصر، ليس عنده من العلم شيء، ويقول: أذان الجمعة الأول بدعة، لأنه ليس معروفاً على عهد الرسول صلي الله عليه وسلم، ويجب أن نقتصر على الأذان الثاني فقط ! فنقول له: إن سنة عثمان رضي الله عنه سنة متبعة إذا لم تخالف سنة رسول الله صلي الله عليه وسلم، ولم يقم أحد من الصحابة الذين هم أعلم منك وأغير على دين الله بمعارضته، وهو من الخلفاء الراشدين المهديين، الذين أمر رسول الله صلي الله عليه وسلم باتباعهم.”

    “ada seorang laki-laki dewasa ini yang tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali mengatakan, bahwa azan Jumaat yang pertama adalah bid’ah, kerana tidak dikenal pada masa Rasul , dan kita harus membatasi pada azan kedua saja! Kita katakan pada laki-laki tersebut: sesungguhnya sunahnya Utsman R.A adalah sunah yang harus diikuti apabila tidak menyalahi sunah Rasul SAW dan tidak di tentang oleh seorangpun dari kalangan sahabat yang lebih mengetahui dan lebih ghirah terhadap agama Allah dari pada kamu (al-Albani). Beliau (Utsman R.A) termasuk Khulafaur Rasyidin yang memperoleh pentunjuk, dan diperintahkan oleh Rasullah SAW untuk diikuti”. Lihat: al-‘Utsaimin, Syarh al-’Aqidah al- Wasîthiyyah (Riyadl: Dar al-Tsurayya, 2003) hal 638.

    Pernyataan al-‘Utsamin yang menilai al-Albani, “tidak memiliki pengetahuan agama sama sekali”, menunjukkan bahwa al-Albani adalah bukanlah seorang yang ahli hadis bahkan bukan dari golongan ulama yang alim. Golongan Wahabi sendiri menetapkan hal itu.

    Kebenaran hakiki hanya milik Allah
    Hamba Allah yang dhaif dan faqir
    Dzikrul Ghafilin bersama Mas Derajad

  11. Bismillah,

    BUKTI SEMRAWUTNYA PEMAHAMAN JIKA TIDAK DILANDASI KELENGKAPAN KEILMUAN YANG MEMADAHI

    Comment diantara beberapa pengunjung dibawah ini kami ambil sebagai contoh semrawutnya pemahaman yang tidak didasari keilmuan yang memadahi. Sebelumnya kami mohon maaf kepada saudarakau semua yang commentnya kami ambil sebagai contoh, sungguh tak ada maksud dari kami melecehkan siapapun, dan pada tulisan kami inipun masih sangat mungkin terjadi kesalahan, dan kami berharap kita semua menyadari kebodohan kita hingga mau belajar agar tidak semakin menimbulkan fitnah, dan semoga Alloh berkanan mengampuni semua kesalahan kita serta memberikan petunju-Nya bagi kita semua…

    Contoh pertama tentang hadits :

    مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ وَمَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

    Terdapat comment sebagai berikut:

    Ahlussunah wal jama’ah memahami makna hadist ini dengan:
    “Barang siapa yang menjalankan suatu sunnah yang baik didalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tidak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa yang menjalankan suatu sunnah yang jelek didalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tidak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (HR. Imam Muslim no.1017)
    Ahlussunah yang lain memahami dengan makna ini :
    “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat-buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi).
    Perhatikan!, dengan ilmu lughotul arabiyah yg ada pd anda semua, tentunya mudah melihat siapa yang betul memahami dan siapa yg salah dlm memahami.

    Dalam comment tsb kita dapati adanya pemahaman tentang sebuah hadits hanya berdasarkan terjemah dan menyalahkan pemahaman orang lain yang belumtentu salah.

    – Ketahuilah kata “SANNA” dalam qodhiyah hadits “SANNA SUNNATAN HASANATAN” dan “SANNA SUNNATAN SAYYIATAN” tersebut jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia memiliki arti : Membuat / meletakkan / menetapkan.

    – Dalam hadits tsb tidak kita dapati batasan kebaikan yang di lakukan seseorang harus berupa perkara yang telah dicontohkan oleh Rosululloh saw maupun para sahabat.

    – Jika ada pemahaman kebaikan yang dilakukan harus sesuai dengan yang diconthkan oleh Rosululloh saw maupun para sahabat berdasarkan kata “SUNNATAN” yang ada dalam hadits tsb, maka pendapat tsb tidak dapat diterima akal orang beriman, mengingat dalam hadits tsb disamping ada “SUNNATAN HASANATAN” (perbuatan/ketetapan/peletakan baik) ada pula “SUNNATAN SAYYI’ATAN” (perbuatan/ketetapan/peletakan buruk). Lah masak Rosululloh saw mencontohkan keburukan?

    – Hadits diatas jika dikomparasi dengan hadits “KULLU BID’ATIN DHOLALAH” (setiap bid’ah adalah sesat), maka sungguh kita tidak memiliki kapasitas untuk menentukan, mana diantara kedua hadits tsb yang bersifat “MUTHLAQ” (absolut) sehingga yang lain berfungsi sebagai “MUQOYYID” (pengikat keabsolutan), atau mana diantara dua hadits tsb yang bersifat “AM” (umum) sehingga yang lain berfungsi sebagai “MUKHOSSHISH” (yang membatasi keumuman), dan juga mana yang bersifat “MUJMAL” (global) sehingga yang lain sebagai “MUBAYYAN” (yang menjelaskan lebih rinci). Sehingga cukuplah bagi kita kaum awam memahaminya berdasarkan pemahaman para ulama’ yang Mu’tamad (otoritatif) yang telah diakui sejak masanya hingga sekarang. Dan diantara mereka adalah Imam Nawawi dalam Syarah Muslimnya sbb:

    (من سن في الاسلام سنة حسنة فله أجرها ) إلى آخره فيه الحث على الابتداء بالخيرات وسن السنن الحسنات والتحذير من اختراع الاباطيل والمستقبحات وسبب هذا الكلام في هذا الحديث أنه قال في أوله فجاء رجل بصرة كادت كفه تعجز عنها فتتابع الناس وكان الفضل العظيم للبادى بهذا الخير والفاتح لباب هذا الاحسان وفي هذا الحديث تخصيص قوله صلى الله عليه و سلم كل محدثة بدعة وكل بدعة ضلالة وأن المراد به المحدثات الباطلة والبدع المذمومة وقد سبق بيان هذا في كتاب صلاة الجمعة وذكرنا هناك أن البدع خمسة أقسام واجبة

    Artinya: Hadits (“Barang siapa melukan kebaikan dalam islam, maka baginya pahalanya”) dst.. dalam hadits tsb terdapat dorongan/motifasi untuk memulai kebaikan, dan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik, dan (dalam hadits tsb) terdapat Tahdzir (peringatan/ancaman) untuk mengadakan perkara-perkara bathil dan buruk/menjijikkan dst…. (hingga ucapan beliau) dan dalam hadits ini terdapat “TAKHSHISH” (pembatasan keumuman) sabda Rosululloh saw, (yang berbunyi) “Setiap perkara baru adalah Bid’ah dan setiap Bid’ah adalah sesat”. Sesungguhnya yang dikehendaki dengan hadits tsb adalah “AL MUHDATSAAT AL BATHILAH DAN AL BIDA’ AL MADZMUMAH” (perkara-perkara baru yang bathil dan bid’ah-bid’ah yang tercela). Dan sungguh penjelasan tentang masalah ini telah lalu pada “Kitab Sholat Jum’ah” dan telah kami terangkan disana sesungguhnya bid’ah terbagi atas lima hukum. (Imam Nawawi dalam Syarah Muslim, 7/104 Shameela)

    Contoh comment yang lain :

    Barangsiapa yang menganggap baik sesuatu, sesungguhnya ia telah membuat syari’at” [Al-Mankhuul oleh Al-Ghazaliy hal. 374, Jam’ul-Jawaami’ oleh Al-Mahalliy 2/395, dan yang lainnya].

    “Sesungguhnya anggapan baik (al-istihsan) hanyalah menuruti selera hawa nafsu” [Ar-Risalah, hal. 507].

    Dan berikut perkataan guru imam syafi’i,yaitu imam malik:

    “Barang siapa yang membuat bid’ah dalam Islam yang ia memandangnya baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam mengkhianati risalah [Al-I’tisham oleh Asy-Syathibi, 1/49]

    Inilah yang dalam bahasa kalangan para ulama disebut “TALFIQ FI AT TAHKIM” (mencampur adukkan beberapa madzhab dalam menghakimi sebuah perkara). Hal ini mungkin disebabkan oleh sikap enggan bermadzhab namun disisi lain mengambil pemikira para “A’IMMATUL MADZAHIB” secara parsial (sepotong-sepotong). Berikut penjelasan kami :

    Dalam beberapa literatur ushul fiqih disebutkan bahwa, Sumber Hukum dalam Islam ada sepuluh, Empat diantaranya disepakati oleh mayoritas para Imam Madzhab dan para Ulama, terdiri dari; Al Qur’an, As Sunnah, Ijma’ dan Qiyas. Sedagkan enam yang lain dimana kebanyakan para Imam menolak atau setidaknya tidak bersepakat untuk menjadikannya sebagai sumber hukum adalah : Istihsan, Al Mashlahah Al Mursalah, Istishhab, ‘Urf, Madzhabus Shohabiy dan Syar’u Man Qoblana.

    Dalam tulisan kami ini yang ingin kami sampaikan hanyalah tentang berhujjah dengan “Istihsan”.

    Imam Syafi’i menolak Istihsan sebagai landasan hukum, namun pengertian Istihsan dalam pandangan Imam Syafi’i adalah : “Meninggalkan hujjah (petunjuk syar’iy) dan beralih menggunakan mujarrodur ro’yi (murni akal pikiran yang memandang adanya kebaikan/lebih baik/lebih dapat diterima akal) dalam menetapkan sebuah perkara.”

    Imam Nu’man Abu Hanifah menerima penggunaan Isihsan sebagai landasan hukum, namun yang dimaksud Istihsan dalam pandangan Imam Abu Hanifah adalah : “meninggalkan qiyas yang zhohir dan beralih kepada qiyas khofi”. Jadi pada dasarnya Imam Abu hanifah masih menggunakan salah satu dari sumber yang Empat dalam Istihsan.

    Selanjutnya tentang pernyataan Imam Malik :

    “Barang siapa yang membuat bid’ah dalam Islam yang ia memandangnya baik, maka sungguh ia telah menuduh Muhammad shallallaahu ’alaihi wasallam mengkhianati risalah [Al-I’tisham oleh Asy-Syathibi, 1/49]

    Ketahuilah pengertian bid’ah menurut para Ulama Malikiyyah (setidaknya sebagaimana dijelaskan As Syathibi dalam Al I’tishom pada bab “Ta’rifil Bida’ wa Bayaani Ma’aniha” adalah sebagai berikut :

    فمن هذا المعنى سمي العمل الذي لا دليل عليه في الشرع بدعة وهو إطلاق أخص منه في اللغة حسبما يذكر بحول الله

    Setelah menjelaskan ma’na bid’ah dari sudut bahasa (lughowiy) Imam Asy Syathibi berkata : “Dari pengertian ini amal (perbuatan) yang tidak memiliki landasan dalil dalam syara’ disebut Bid’ah, dan pengertian tsb adalah penggunaan yang lebih khusus daripada ma’na bid’ah dalam artian bahasa… dst (Al I’tishom, 1/26. shameela)

    Dari keterangan Imam Syathibi diatas, kita dapati pemahaman bid’ah dengan pendekatan Ishthilahi / Syar’iy yang bertitik tekan pada perkara yang tidak memiliki sumer hukum (dalil syar’iy) dan bukan pada perkara yang tidak dilakukan pada masa Rosululloh saw maupun para sahabat.

    Jadi yang dikecam Imam malik sebagaimana dalam kitab Al I’tishom tsb adalah “menanggap baik terhadap perkara yang sama sekali tidak memiliki landasan hukum (dalil syar’iy)” dan bukan bid’ah hasanah dalam pengertian kalangan Syafi’iyyah, mengingat yang disebut Bid’ah hasanah menurut pandangan Imam Syafi’iy dan Ulama Syafi’iyyah adalah “Kebaikan yang tidak menyelisihi Al Kitab, As Sunnah atau Atsar” sebagaimana sering kami sampaikan.”

    Himbauan kepada semua saudaraku dan kepada pribadi kami sendiri, marilah kita belajar dengan benar agar tidak terjadi kesalahan menginterpretasikan pendapat para Ulama’ yang pada akhirnya kita mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan apa yang mereka kehendaki.

    Wallohu a’lam

  12. @abu asnaf
    buat teman2 salafi/wahabi disini ada yg berminat dengan buku2 al albani, ibn Taimiyah & ibn qoyyim?.
    ——————
    Anda salah sih…belajar agama lewat buku, lewat ustadz dong spt saya.
    Tahap awal sy belajar (dgn ustadz tentunya) Ushulust-stalisah, terus…Kitabuttauhid – terus…hadist arbain, terus…Bulughul Marom, tersu…al-firqotunnajiah, terus… sifat sholat nabi..teruusssss sampe skrg banyak deh kitab yg sdh sy pelajari. Nah..kebalikan dari anda, temen deket wanita saya yg anak kyai asal (tempat banyak kaum asy’ariyyah) qodarullah malah enggak jelas terus “hilang” begitu aja.Dan sampe skrg, alhamdulillah sy berada di jln ahlussunnah – insya Allah yg ori niih…, bukan kawe-kawe an.

    1. ustad ente aja ustad abal2… :mrgreen:

      belajar kitab kok pake kitab terjemahan, mirip kristen aja gak pake bahasa asal…jadinya terjemahannya ngawur

      hasilnya jadi kek ente ini…. :mrgreen: 😆

    2. Ibnabd choi berkata:

      Anda salah sih…belajar agama lewat buku, lewat ustadz dong spt saya.
      Tahap awal sy belajar (dgn ustadz tentunya) Ushulust-stalisah, terus…Kitabuttauhid –

      Pantas antum nggak karu-karuan dalam pemahaman Islam, alias menjadi bagian kaum sempalan, sebab yg antum pelajari kitab2 induk Wahabi.

  13. @ibn abdul chair
    “buat teman2 salafi/wahabi disini ada yg berminat dengan buku2 al albani, ibn Taimiyah & ibn qoyyim?”
    Yang menisbahkan pertama kali kata SALAFI adalah Jalaluddin al Afghani.
    Yang menisbahkan pertama kali kata WAHABI adalah kakak kandung Muhammad bin Abdul Wahab, karena penentangannya kepada adik kandungnya.
    Jadi ikut siapa ente @ibn abdul chair ???

    Yang mengatakan Syeikh Sulaiman telah bertobat adalah anak Muhammad ibn Abdul Wahab dan murid-murid Muhammad ibn Abdul Wahab, bukan Syeikh Sulaiman ibn Abdul Wahab sendiri dan itu adalah rekayasa (baca kitab2 karangan Mufti Mekkah Syeikh Zaini Dahlan).

  14. @al-faqir, jgn tuduh sembarangan ya… ana belajar buku terjemahan. Ana belajar langsung pake kitab yg berbahasa arab. Kelakuan antum yg asal tuduh mencerminkan kwalitas antum yg sebenarnya.

  15. Mang@ucep, yg pertama menggunakan istilah salafi adalah jalaludin al-afgani. Bisa disebutkan terdapat di kitab apa?
    Imam al-auzai rahimahullaah (wafat 157h) seorg imam ahlussunnah dari Syam : “bersabarlah dirimu atas sunnah, tetaplah tegak sebagaimana para shahabat tegak diatasnya. Katakanlah sebagaimana yg mereka katakan dan tahanlah dirimi sebagaimana mrk menahan diri darinya. Dan ikutilah jalan SALAFUSH SHOLIH karena akan mencukupimu apa saja yg mencukupi mereka” -syarah ushuul i’tiqood ahlis sunnah wal jama’ah I/71 no. 315

    1. @Ibn Abdul Chair

      Mas, SALAFUSH SHOLIH itu merupakan kurun waktu terbaik umat ini, yg terdiri dari generasi sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in. Mereka lah yg kemudian dikenal dengan generasi salaf.

      Setelah Nabi Muhammad SAW meninggal dunia. Para sahabat seperti Khulafa’ur Rasyidin yang empat, Abdullah bin Mas’ud, Abu Musa al-‘Asy’ari, Mu’az bin Jabal, Ubay bin Ka’ab, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin ‘Abbas dll, kemudian meneruskan tugas Nabi Muhammad saw. untuk meneruskan dakwah islam. Pendapat para sahabat itulah yg kemudian dikenal dengan mazhab sahabat. Misal, madzhab Zaid bin Tsabit, Mu’az bin Jabal, Abdullah bin ‘Abbas dan yang lainnya.

      Pada zaman tabi’in, daerah ijtihad bertambah luas dan kaum muslimin pada zaman itu menggunakan cara yang sama seperti cara yang dipakai oleh para sahabat Rasulallah saw. Hanya saja ijtihad dimasa tabi’in dapat digolongkan kepada dua madzhab utama yaitu Madzhab Ahlu al-Ra’yi di Irak dan madzhab Ahlu al-Hadits.

      Diantara tokoh-tokoh madzhab Ahlu al-Ra’yi di Irak ialah Alqamah bin Qais an-Nakha’I; Sa’id bin Jubair; Masruq bin Al-Ajda’ al-Hamdani dan Ibrahim bin Zaid an-Nakha’i. Orang-orang awam Irak dan sekitarnya selalu bertaqlid kepada madzhab ini tanpa ada yang mengingkari.

      Adapun tokoh-tokoh madzhab Ahlu al-Hadits di Hijaz adalah; Sa’id bin al-Musayyab al-Makhzumi; ‘Urwah bin Zubair; Salim bin Abdullah bin Umar; Sulaiman bin Yasar dan Nafi’ Maula Abdullah bin Umar. Penduduk Hijaz dan sekitarnya senantiasa bertaqlid kepada madzhab ini tanpa ada seorangpun yang mengingkari.

      Setelah itu, muncullah ratusan mazhab, seperti mazhab hanafi, mazhab maliki, mazhab syafi’i, mazhab hambali, mazhab zahiri dll. Namun, yg sampai kepada kita hanyalah mazhab yg empat, yaitu mazhab hanafi, mazhab maliki, mazhab syafi’i, dan mazhab hambali. Karena keempat mazhab tersebut, terus mendapatkan dukungan dari ulama ulama setelah generasi mereka.

      dari zaman ke zaman, tidak pernah dikenal yg namanya mazhab salaf.

    2. @ibn abdul chair
      Tadi lagi dijalan jadi ane lupa dan MOHON MAAF bukan Jalaluddin al Afgani tapi Muhammad Abduh. Kata SALAFI bukan singkatan Shalafus Shalih ya, Ingat ya kata SALAFI.
      Judul Bukunya : Gerakan Radikal Islam di Indonesia dalam Konteks Terorisme Internasional.
      Tim Peneliti : Afadlal, Awani Irewati, Dhuroruddin Mashad, Dundin Zaenuddin, Dwi Purwoko, Endang Turmudi, M Hisyam, Riza Sihbudi.
      Penerbit : Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Project Penelitian dan Pengembangan Riset Unggulan
      Tahun : 2003

      Ente beli dan baca ya.

  16. Begini mang @ucep, jika buku yg menjadi sumber mang ucep sdh jelas, coba lihat lagi daftar muroja’ah dlm buku itu. kemudian setelah itu, cari lagi siapa ulama yg men-tahqiq ataw mentakhrij kitab-kitab itu. Begitu mas…

    1. @ibn abdul chair
      Lo itu buku yang ane sebutkan adalah Hasil penelitian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang diteliti dan disusun oleh beberapa orang Doktor, yang dibukukan, jadi bukan buku/kitab yang perlu di tahkik atau di takhrij apalagi di Syarah maupun harus ada Mukhtasarnya. Itu penelitian dan dalam daftar isi, semua dibahas sesuai dengan judulnya bahkan sampai sejarahnya.

  17. 1. Al-Iman Adz-Dzhabi berkata tentang Al Imam Ad Daruqutni, “Orang ini (yaitu, Ad Daruqutni tak pernah masuk ke dlm ilmu kalam dan jidal, dan tidak pula terjun kedalamnya, bahkan ia adalah salafi” (Syiar a’lam an nubala 16/457)
    2. Imam Adz Dzahabi berkata tentang Imam Muhammad bin Muhammad Al Bahroni, “Dia adalah org yg taat beragama, orgnya baik lagi salafi (Mu’jam Asy syuyukh 2/280)
    3. Imam Adz Dzahabi berkata ttg Al imam Shohaluddin abdurrohman bin Utsman bin Musa Al Kurdi Asy syafii, “Dia adalah seorg salafi bagus aqidahnya (Tadzkirah Al Huffazh 4/1431)
    Segini dulu deh….mau tahu responnya mang @ucep

    1. ENTE NGAWUR MULU OM BEDUL…. semua tulisan ente di sanggah trus kaga ada nyang benernya….haduhhh masih ga nyadar jga…ga capek apa otak ente mikir yg ga bener….ckckckkckc maaf om bedul ane bercanda aja,jgn dimasukkan ke hati ya, masa gtu aja dimasukkan hati sih…hihihi gak da selera humornya ah om bedul klo ampe kesel dimiasukkan ke hati…

  18. @ibn abdul chair
    He he he, kebetulan ane punya kitabnya no 1,2 : lihat dong disitu Shalafus shaleh bukan Salafi.
    Begini mas, ente kan menyebut Salafi itu maksud nya SHALAFUS SHALEH atau SALAH FIKIR. kan biasa ente tulis atau sebut SALAFI/Wahabi yang mana maksudnya, yang ane sebutkan bukunya jelas Salafi bukan singkatan Shalafus shaleh.
    Kalau Salafi tanpa singkatan ente berarti masuk ke dalam aliran Muhammad Abduh, Kalau Wahabi ente masuk ke Muhammad ibn Abdul Wahab, yang mana yang benar ????

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker