Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Opini Inspiratif

Menonton Film G30S / PKI, “Wajib”, “Sunnah” atau “Mubah”?

Hembusan kuat materi per-PKI-an akhir-akhir ini punya potensi besar untuk dimainkan dalam proses perebutan pengaruh politik dalam negeri.

Menonton Film G30S / PKI, “Wajib”, “Sunnah” atau “Mubah”?. Seperti biasa, hari itu kang Badrun touch down rumah tercinta pada jam 8 malam. Selesai bersih diri, diapun duduk manis di ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang keluarga skelaigus ruang makan. Istrinya terkasih segera menyiapkan makan malamnya sementara anaknya yang masih 3.5 tahun lagi sibuk nonton “Diva” di gadget edukasi bertitel Smart Hafiz, anteng sambil leyeh-leyeh.

Mak nyuk, tangannya memegang remote tv. Sejurus kemudian dia memilih channel yang menyajikan acaranya mbah Karni Ilyas, Indonesia Lawyers Club yang legendaris itu. Tema yang disajikan malem itu adalah sesuatu yang paling hot dalam beberapa waktu belakangan ini, tak lain tak bukan yaitu.. P..K..I.

“PKI, Hantu atau Nyata?”, begitu judul tayangan itu.

Sebenarnya mas Badrun nggak perlu lama-lama menonton hingga jelang tengah malam untuk bisa menjawab pertanyaan seperti itu. Karena jelas, PKI adalah Partai Komunis Indonesia jadi bukan hantu dan bukan pula nyata. Namun apa daya, keinginannnya untuk melihat diskusi (baca : debat) antara nara sumber yang dihadirkan di situ mengharuskannya untuk duduk diam sambil sesekali ngobrol sama Nimas, istrinya terkasih.

Tiba pada diskusi mengenai kevalidan Film G30S / PKI, ditandai dengan bantahan Ilham Aidit yang anak bungsu DN Aidit tentang adegan yang memvisualisasikan sang bapak yang memimpin rapat terakhir sambil merokok dengan fasihnya. Nimas yang tadinya hanya diam, ngomong ke suaminya.

BACA JUGA:  Terlambat Melawan Paham Wahabi, NKRI Bisa Menjadi Suriah

“Itu film kalau diputar lagi, aku juga males nonton..”.

Tanpa bertanya dimana letak kemalesan istrinya, mas Badrun menimpali, “Lha iya, wog kamu nonton DVD 2 jam saja pengennya segera the end… apalagi sampe 3 jam lebih.”

“..itu juga mas, adegannya itu lho, pake disilet-silet segala..”, Nimas menimpali. Mas Badrun maklum, lihat film action atau thriller saja istrinya itu suka nutup wajah kalau ada adegan yang kelihatan kejam.

Tapi nggak tahu dengan orang-orang yang di luar sana jika diminta menanggapi keengganan istrinya menikmati film kelam itu. Mungkin ada yang berceloteh, “Wah, istrimu mesti nggak mau mengenang kekejaman PKI, nggak mau waspada dengan agenda komunis yang mau merongrong lagi NKRI, mau melupakan sejarah..” dll, dll.

Ibarat nonton MotoGP, mereka itu adalah orang-orang yang sok ngerti seluk-beluk balapan dengan mengatakan “Jorge Lorenzo payah” padahal saat ditanya ban apa yang dipakai race, jawaban mereka adalah “Motul”, sama sekali bukan jawaban yang mengena.

BACA JUGA:  Pembantaian Guru Ngaji NU dengan Isu Kebangkitan PKI

Memang, sebuah hal yang semestinya sederhana bisa menjadi “wah” karena dibumbui dengan berbagai macam prasangka. Kerap kali, prasangka itulah vonis yang disematkan kepada orang lain yang tak sepaham. Tanpa mau menggali informasi lebih dalam.

Gestapu: Gerakan 30 September atau G30S / PKI tak mudah dilupakan

Bagi mas Badrun sendiri, kekelaman Gestapu bukanlah hal yang mudah dilupakan, meskipun dia sama sekali tidak mengalaminya.

Namun hikayat turun temurun yang didengarnya dari orang-orang yang lebih tua darinya, yang seumuran dengan bapaknya yang pernah duduk di Mustasyar MWC NU itu cukup terpatri di sanubarinya.

Saat SD dulu, gurunya juga pernah membawa murid-murid nglurug ke gudang Dolog untuk menyaksikan hidangan layar tancap dengan judul “Operasi Trisula”. Jadi, meskipun nggak pernah khatam nonton Film G30S / PKI di TVRI yang selalu diputar di malam hari, dia menganggap sudah cukup mengerti tentang kudeta berdarah itu.

Namun.. dia berpendapat bahwa hal yang patut dilakukan saat ini adalah melihat ke depan. Tentunya dengan tidak melupakan masa lalu. Masa lalu yang terasa sepahit brotowali bertatahkan sayur pare, yang seharusnya menjadi jamu bagi bangsa ini agar ke depannya tidak kembali terjerembab ke dalam konflik serupa.

BACA JUGA:  Salah Paham Hadits Jihad, Ilusi Libido Kaum Jihadis Kerdilkan Akal

Dia dengan sadar telah berbeda pendapat dengan orang-orang yang haqqul yaqin bahwa komunisme sedang berupaya kembali mengkristalkan diri dalam wujud milenial.

Dalam hal ini mas Badrun memilih untuk sependapat dengan Gubernur Lemhamnas, Letjen (Purn) Agus Widjoyo yang juga putra dari salah satu pahlawan Revolusi, Mayjen (Anumerta) Soetojo Siswomihardjo. Yakni bahwa hembusan kuat materi per-PKI-an akhir-akhir ini punya potensi besar untuk dimainkan dalam proses perebutan pengaruh politik dalam negeri.

Besarnya potensi itu tak lain didukung oleh keterbukaan arus informasi yang luar biasa lebar sehingga menyediakan beragam informasi dari yang bermutu sampai yang sama sekali nggak ada nutrisinya, serta yang fakta dan yang dipalsukan.

Jadi kembali ke masalah Film G30S / PKI …. Mari bersikap proporsional. Mau lihat monggo, nggak mau lihat ya itu hak pribadi. Yang pro penayangan filmnya nggak perlu bersikap sinis kepada mereka yang enggan menikmati tangan dingin Arifin C. Noer, apalagi menjulukinya sebagai pribadi yang tidak-tidak. Bayangkan kalau itu menimpa istrimu.. kaya istri mas Badrun yang ngeri-nan liat disturbing picture.

Oleh: Ahmad Indra

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker