Advertisement

AffiliatBlog Solusi Berbagai Kebutuhan Affiliate Marketing Anda

Inspirasional

Menghadapi NIIS dengan Strategi Politik Luar Negeri

Strategi Politik Luar Negeri Menghadapi NIIS

 

 

Berbagai laporan menunjukkan makin banyak WNI yang berangkat ke medan pertempuran NIIS (Negara Islam Irak Suriah) dan bertambahnya kelompok radikal yang menyatakan kesetiaan kepada NIIS atau mengambil inspirasi dari aksi teror mereka. Beberapa waktu lalu dilaporkan bahwa aparat keamanan telah menggagalkan plot serangan teror Natal dan Tahun Baru yang diduga direncanakan kelompok pendukung NIIS.

Ancaman NIIS tidak bisa lagi dipandang sebagai sekadar ancaman terorisme layaknya kelompok Jemaah Islamiyah (JI) yang aktif hingga akhir tahun 2000-an. Kehadiran dan aktivitas NIIS sebagai ”negara khilafah” di Timur Tengah juga harus direspons dengan strategi kebijakan luar negeri sebagai bagian dari strategi raya kontra-teror.

Dalam hal ini, pemerintah perlu mengkaji tiga langkah kebijakan luar negeri. Pertama, karena episentrum NIIS berada di Timur Tengah, Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) harus lebih meningkatkan kehadiran, keterlibatan, dan sumber daya diplomatik di wilayah tersebut.

BACA JUGA:  Kyai Ahmad Dahlan dan Kyai Hasyim Asy’ari Ternayata Satu Guru Satu Ilmu

Masalahnya, data anggaran beberapa tahun terakhir menunjukkan rendahnya fokus kebijakan luar negeri kita di Timur Tengah. Dari total anggaran Dirjen Asia Pasifik dan Afrika, Kemenlu, sebesar Rp 185,4 miliar dalam APBN 2013, pemantapan hubungan luar negeri di Timur Tengah hanya mendapat alokasi Rp 3,9 miliar.

Belakangan, anggaran Asia Pasifik dan Afrika dalam APBN 2016 malah turun jadi Rp 59,2 miliar—meski anggaran diplomasi multilateralisme berlipat ganda menjadi Rp 610,2 miliar. Pos-pos ini tidak termasuk kegiatan perwakilan RI di luar negeri dan dukungan manajemen (termasuk gaji) yang masuk anggaran Sekretariat Jenderal Kemenlu (biasanya sebesar 80-85 persen anggaran total).

 

Kepemimpinan Indonesia

Peningkatan sumber daya diplomasi Timur Tengah ini juga terkait dengan pilihan langkah kebijakan luar negeri kedua: kepemimpinan Indonesia di kancah politik Islam global.

BACA JUGA:  Konflik Suriah Bisa Diselesaikan dengan Perang atau Politik

Berbagai kalangan sebenarnya sudah sejak lama menginginkan nuansa keislaman untuk lebih mewarnai politik luar negeri Indonesia. Argumen mereka: sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia yang mempunyai jiwa Islam moderat dan catatan sukses menyandingkan Islam dengan demokrasi, sudah sewajarnya Islam menjadi salah satu elemen soft power politik luar negeri Indonesia.

Sayangnya, Kemenlu tampak kurang menekankan persoalan NIIS dalam perencanaan strategis mereka. Dokumen Rencana Strategis Kemenlu 2015-2019 memang membahas dialog lintas agama (sebagai soft power), tetapi persoalan strategis NIIS tidak mendapat prioritas.

Mengingat urgensi dan kompleksitas tantangan dan amcaman NIIS yang mengisap negara-negara besar, seperti Rusia dan Amerika Serikat, ke dalam pertarungan strategis di Timur Tengah, pemerintah perlu membangkitkan kembali kepemimpinan Indonesia di kancah politik Islam global. Selain menjadi suara Islam moderat di kancah multilateral, Indonesia juga dapat menggunakan modal strategis kontribusi Kontingen Garuda di Timur Tengah untuk memperkuat keterlibatan aktif dan investasi diplomatik kita.

BACA JUGA:  Misteri Tafsir Akhir Ad-Duha dan Sodaqah Sirri

Terakhir, dalam posisi lemahnya sumber daya dan investasi strategis kita di Timur Tengah ataupun di kancah politik Islam global, kita perlu memperkuat operasionalisasi berbagai kerangka kerja sama regional (seperti Konvensi ASEAN tentang Kontra Terorisme) ataupun bilateral (seperti yang kita tanda tangani dengan Australia di pertengahan Desember 2015).

Pemerintah perlu melihat cermat hakikat ancaman NIIS bukan hanya tantangan keamanan dalam negeri, melainkan juga sebagai persoalan strategis kebijakan luar negeri.

 

(Diringkas dari tulisan berjudul: Strategi Politik Luar Negeri Menghadapi NIIS, Oleh Evan A Laksmana* / KOMPAS 20 Januari 2016

*Evan A Laksmana, Peneliti CSIS Jakarta; Kandidat Doktor Maxwell School of Citizenship and Public Affairs, Syracuse University)

Tags
Show More

Artikel Terkait :

loading...

Islam Institute

Islam Institute News: situs dakwah berhaluan Ahlus Sunnah wal Jamaah. Hadir sebagai media online penyeimbang informasi dari berbagai info Islam berbasis internet.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
Close

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker